Sarang Perjudian Bagian 3 : Perburuan

Bagian 3 : Perburuan

Sarang Perjudian kembali mulai sibuk, terutama Sun Lohu-cu yang bertanggung-jawab mempersiapkan semua data dan keterangan yang dibutuhkan, sedemikian sibuknya hingga waktu untuk pulang mencicipi santapan malam yang disediakan putrinya pun tak sempat, sebab perburuan yang konon paling menegangkan dalam dunia persilatan pada tigapuluh tahun terakhir segera akan dimulai:

Mengenai aksi perburuan yang akan diadakan kak ini, sudah banyak jago dari pelbagai daerah yang mencari informasi ke Sarang Perjudian, menanyakan apakah mereka sudah siap menerima uang taruhan, oleh sebab itu data dan keterangan yang menyangkut dua orang aktor yang terkbat langsung dalam perburuan ini harus segera dikumpulkan dari pelbagai sumber dan daerah.

Tentu saja kedua orang aktor yang terkbat dalam aksi perburuan ini adalah orang-orang kenamaan.

Pihak yang mengejar adalah Thia Siau-kim, seorang opas yang belum lama tersohor namanya, konon dia nyaris dihukum mati gara-gara sebuah kasus yang mengkambing-hitamkan dirinya, sejak itu dia memutuskan untuk mengurusi semua persoalan di kolong langit yang tak adil, membekuk para buronan kelas kakap dan membongkar kasus ketidakadilan dan pengkambing- hitaman seseorang dalam pelbagai masalah.

Secara garis besar data yang berhasil dihimpun mengenai orang ini adalah: Nama : Thia Siau-kim.

Usia : 25 tahun.

Kelebihan : Sejak kecil gemar berburu oleh sebab itu daya tangkap dan

penglihatannya bagus, reaksinya cepat bahkan sangat ahli mempertahankan hidup dialam keras.

Ilmu silat : Aneka jenis, biasanya serangan yang dilancarkan jarang meleset Ciri khas : Menggunakan tangan kiri, lengan kanannya sebatas pergelangan

patah.

Latar belakang keluarga : Ayahnya bernama Thia Goan, orang menyebutnya Pat-pit-

sinliong(Naga Sakti Berlengan Delapan), merupakan jagoan dari wilayah barat-laut, pernah mempelajari ilmu senjata dari pelbagai perguruan dan partai, semasa muda tewas karena serangan angin duduk.Ibunya bernama Kwan Giok-sian, rnerupakan adik kandung "Sengliat-hau-paKwan Giokbun" (Kwan Giok-bun yang sanggup merobek harimau dan kumbang) orang menyebutnya Sam-oh naynay(nyonya ketiga), ketika bertarung melawan orang gagah, ganas dan pemberani, kemampuannya masih jauh diatas kehebatan Kwan Ji sianseng, berkeliaran diwilayah barat-laut dan namanya menggetarkan sungai telaga.

Sementara pihak yang diburu Thia Siau-kim bukan saja merupakan perampok ulung yang sudah lama malang melintang di kolong langit, dia pun terhitung seorang jago berbakat alam yang diakui dan dikagumi umat persilatan, orang ini memiliki watak suka menyendiri dan seringkah hidup seorang diri di alam bebas.

Orang ini dari marga Pek bernama Ti, orang memanggilnya Pek-ti hoa (Bunga Ti Putih), biasanya selesai melakukan sebuah kasus dia selalu meninggalkan sekuntum bunga Ti berwarna putik sebagai tanda pengenal, oleh sebab itu dia hanya melakukan pelbagai kasus di saat musim bunga Ti sedang mekar, suatu jangka waktu yang amat singkat.

Adapun data mengenai orang itu, pada garis besarnya adalah sebagai berikut: Nama : Pek Ti, Pek-tiHoa.

Usia : tidak jelas, lebih kurang dua puluh lima tahun. Latar belakang keluarga : Tidak jelas

Kelebihan : konon sejak kecil hidup bersama gerombolan serigala, terhadap

seluk beluk dialam bebas boleh dibilang sangat menguasai ibarat melihat jari tangan sendiri, daya tahan hidupnya dialam bebas sangat kuat, bahkan ceritanya memiliki banyak kemiripan dengan kemampuan Siau Cap-it Long.

Ilmu silat : Kepandaian silatnya aneh, daya tahannya sangat kuat, suatu ketika pernah mdarikan diri ketengah gunung dan rnampu melakukan perlawanan selarna tiga hari tiga malam melawan dua puluh sembilan orang jago lihay yang mengejarnya, terakhir dia tetap berhasil melarikan diri sementara kawanan jago yang rnengejarnya ada dua puluh satu orang yang tewas di atas bukit. Sejak peristiwa itu orang persilatan tak ada yang mau menyinggung kembali peristiwa perburuan itu, sementara kawanan jago yang ikut serta dalam aksi perburuan tersebut, sebagian besar segera cuci tangan hidup mengasingkan diri setelah kejadian itu

Ciri khas : setiapkali melakukan pencurian, dia hanya turun tangan terhadap

keluarga orang kaya, benda yang diambilpun biasanya intan permata dan barang mestika lainnya.

Orang ini pun sangat memperhatikan soal penampilan, sekalipun hidup dialam bebas namun selalu menjaga penampilan dan pakaian yang dikenakan, ada orang pernah melukiskan begini- "suatu ketika sewaktu kami melaksanakan perburuan yang sangat ketat, ketika bertemu lagi dua hari kemudian,dia masih tampil begit urapi dan perlente seakan-akan orang yang siap menghadiri perjamuan.''

Kedua orang ini boleh dibilang merupakan dua orang manusia berbakat aneh dari dunia persilatan, sejak diadakannya aksi perburuan kali ini, nama mereka berdua jadi tersohor dan amat menggemparkan sungai telaga. Setelah memperhatikan dan mempelajari data dari kedua belah pihak, maka stan terakhir yang dipasang pihak Sarang Perjudian adalah satu melawan satu.

Mengenai hasil akhir dari pertarungan ini, tak seorang pun punya jaminan yang pasti siapa yang bakal menang dan siapa yang bakal kalah

Bab 1 : Pertarungan yang Harus Menang

Musim gugur, akhir dari musim gugur, angin berhembus kencang menggoncangkan daun dan ranting. Ketika angin musim gugur menembusi hutan dan menggoyangkan dedaunan, suaranya kedengaran seperti mata golok yang baru saja menggorok tenggorokan musuh bebuyutan. 

Jalan setapak di tengah tanah perbukitan itu sudah dilapisi daun yang berguguran, tak nampak bayangan manusia dalam hutan itu, jangan lagi bayangan manusia, burung gagak yang biasa beterbangan di angkasa pun tak nampak bayangannya.

Dalam suasana seperti itulah terlihat ada seseorang sedang berbaring di atas dahan pohon waru sambil memegang sebuah kantung kulit kambing yang berisi arak, ketika angin menggoyangkan daun dan ranting, tubuh orang itu pun seolah ikut bergoyang mengikuti hembusan.

Dia berkepala botak seperti paruh elang, sorot matanya pun setajam mata elang, tapi memiliki penciuman yang lebih tajam dan hidung anjing pemburu, telinga yang sensitip melebihi telinga kelinci, lambung yang besar bagai lambung seekor unta dan tangan besar yang kuat bagai seekor gorilla.

Oh Toa-siocia, kekasih hatinya pernah melukiskan orang ini sebagai berikut... "orangini seakan gabungan dan pelbagai macam binatang, kadar manusianya justru amat sedikit, mungkin yang paling minp manusia hanya mulutnya, sebab hanya mulut manusia yang pandai memilih makanan bahkan hanya mau makan hidangan pilihan yang paling lezat."

Menghadapi kritikan dan penilaian semacam ini, dia tak pernah membantah ataupun mendekat.

.........Seorang lelaki bila suka berdebat dengan seorang wanita, maka ibarat dia sedang berebut tulang dengan seekor anjing kelaparan....

Tentu saja orang ini adalah Pok Ing.

Tak lama kemudian dari jalan setapak itu kembali muncul seseorang, seorang pemuda berbaju putih, putih bersih bagai salju, sama sekali tak berdebu, sama sekali tak kusut. Di punggungnya tersoren sebilah pedang dengan sarung berwarna hitam dan pita berwarna hitam pula, pita hitam yang terbuat dari kulit kerbau.

Sepintas lalu orang ini mirip dengan seorang kongcu kaya yang sedang berpesiar ke atas gunung, tapi mimik mukanya jauh lebih serius dan gerak-geriknya lebih gesit dan cekatan, ketika berjalan di atas daun yang berserakan di tanah, suara yang ditimbulkan tidak lebih keras dan suara yang ditimbulkan seekor bajing.

Sorot matanya teramat tajam, sama seperti sorot mata Pok Ing, kelihatan seperti sorot mata seekor elang.

Dengan cepat dia telah melihat kehadiran Pok Ing.

Perawakan tubuh yang tinggi kekar ditutup dengan sebuah jubah panjang berwarna hitam, kaki yang mengenakan sepatu kain tipis, di tangannya membawa sebuah kantung kulit kambing dan bagaikan segumpal mega berbaring di atas dahan pohon.

Siapa lagi yang berpenampilan seperti ini? Orang muda itu tertawa, senyumannya polos membawa sifat kekanak-kanakan, ketika senyuman semacam ini muncul di wajahnya yang gelap karena sering ketimpa angin dan salju, ibarat sinar matahari yang tiba-tiba muncul dari balik awan hitam.

"Tuan Pok? Pok Ing?" dia bertanya.

"Betul, akulah Pok Ing," dengan kemalas-malasan Pok Ing meneguk arak wangi dari kantung kulit kambingnya kemudian baru menyahut, "Pek ti? Pek-ti Hoa?"

"Benar."

Pok Ing segera tertawa tergelak. "Hahahaha... dalam sekali pandang kau telah mengenaliku, aku pun dalam sekali pandang mengenali dirimu, tampaknya kita berdua boleh terhitung sebagai orang kenamaan."

"Apalagi aku, belakangan tampaknya jauh lebih termasyhur lagi," Pek Ti tertawa getir, "bila kau memang khusus menantiku di sini, aku tak bakalan merasa heran."

"Kenapa aku harus menunggumu? Memangnya aku ingin membawa batok kepalamu untuk menerima uang hadiah?"

Dia melemparkan kantung kulit kambingnya ke arah anak muda di bawah pohon, arak yang kecut lagi pedas, begitu mengalir melewati tenggorokan segera berubah jadi segumpal bara api yang panas.

"Aku tak lebih hanya datang menonton," ucap Pok Ing lagi. "Menonton apa?"

"Menonton manusia membunuh manusia, menonton orang yang membunuh manusia," sahut Pok Ing, "aku rasa ini lebih menarik ketimbang menonton manusia dibunuh."

"Memangnya di sini ada manusia membunuh manusia?" tanya Pek Ti, "memangnya di sini ada orang yang membunuh manusia?"

"Sekarang memang tak ada, tapi segera akan ada."

"Kalau ada orang yang membunuh manusia, tentu ada orang yang terbunuh bukan?" "Tentu saja!"

"Menurut kau, manusia macam apa diriku ini?" "Aku tidak tahu."

Pok Ing menerima kembali kantung araknya yang dilemparkan anak muda itu ke atas, setelah meneguk lagi dua tegukan, ia baru berkata:

"Aku hanya dapat melihat kalau tempat ini adalah sebuah tempat yang bagus, terlepas bagi yang mau membunuh atau terbunuh, tempat ini tetap merupakan tempat yang bagus."

"Apa lagi yang bisa kau lihat?"

"Seandainya aku sedang diburu orang maka aku pasti akan berhenti setelah kabur sampai di sini, sebab jalan gunung yang ada di depan sana teramat sulit dilalui, orang yang mampu memasuki tempat ini pasti tidak terlalu banyak jumlahnya.''

"Bukan saja tidak terlalu banyak, bahkan kemungkinan besar hanya ada satu orang." "Oleh sebab itu aku akan menunggu di sini, memeriksa dulu keadaan dan situasi di seputar

tempat ini, memilih dulu sebuah tempat paling strategis, kalau bisa tempat itu adalah tempat yang bisa menguasai musuh dalam sekali gebrakan, bisa menangkan pertarungan dalam satu serangan."

"Bagi jago berilmu tinggi yang ingin bertarung, hal ini merupakan hal yang paling penting," kata Pok Ing.

"Kemudian?"

"Kemudian, mungkin aku akan memasang sedikit perangkap atau jebakan, tak ada pantangan untuk menggunakan siasat dalam sebuah pertempuran, apalagi pertempuran yang menyangkut mati hidup, memakai sedikit siasat merupakan hal yang wajar," kata Pok Ing, "apalagi hal tersebut merupakan hal yang lumrah dalam sebuah pertempuran."

"Oleh sebab itu kau sama sekali tak berminat untuk mencampuri urusan ini?"

"Sudah kukatakan, kedatanganku hanya ingin menonton keramaian," ucap Pok Ing, "maka dari itu mulai sekarang kau boleh anggap aku sebagai sebutir batu atau sebatang ranting pohon, lakukanlah apa yang ingin kau lakukan, anggap saja seolah-olah di tempat ini tak ada wujudku."

Dengan sikap yang amat yakin dan mantap Pek Ti segera menyahut: "Baik, aku percaya kepadamu-"

Awan tebal sudah mulai menyelimuti empat penjuru, langit pun lambat laun berubah jadi gelap gulita.

Sedari tadi Pok Ing sudah pejamkan matanya, seakan sudah tertidur nyenyak, terhadap apa pun yang dilakukan Pek Ti, dia seakan benar-benar tidak tahu.

Tiba-tiba ia bertanya kepada Pek Ti: "Persiapanmu sudah selesai?" "Ehmm."

"Sekarang kau sudah mempunyai berapa persen keyakinan atas pertarungan yang bakal berlangsung?" "Sekarang aku hanya ingin minum arak." "Arak kemenangan?"

"Betul, arak kemenangan."

"Sebelum pertarungan berlangsung, sudah minum arak kemenangan terlebih dulu, apakah kau sudah memiliki keyakinan pasti akan memenangkan pertarungan ini?" tanya Pok Ing.

Pek Ti tersenyum, dia hanya meneguk arak.

"Apakah kau tidak merasa kelewat memandang rendah kemampuan lawanmu? Kelewat tinggi menilai kemampuan sendiri?" tanya Pok Ing lagi.

Pek Ti tersenyum, dengan nada yang paling tenang dia menjawab: "Dalam perjalanan hidupku, bila ada satu kali saja aku salah dalam penilaian, cukup sekali saja, sekarang aku sudah menjadi sesosok mayat."

Bagi dua jago yang sedang bertarung, bila kelewat tinggi menilai diri sendiri, kelewat rendah menilai kemampuan lawan, terlepas dalam keadaan apa pun dan terhadap siapa pun, kesalahan itu merupakan sebuah kesalahan fatal yang tak bisa dimaafkan.

Pok Ing mengawasi anak muda yang berada di bawah pohon, dari balik sorot matanya terpancar perubahan mimik muka yang sangat anek.

"Kalau begitu sekarang tunggulah," kata Pok Ing, "dan aku percaya orang yang datang untuk membunuhmu telah tiba."

Bab 2 : Golok Iblis Muncul Kembali

Tanah lapang di dalam hutan itu luasnya lebih kurang dua-tiga depa. Pepohonan yang tumbuh di sekitar situ entah karena sudah ditebangi orang atau tak tahan menghadapi terpaan hujan dan teriknya matahari, sejak masih tumbuh sudah layu mari.

Tanah lapang yang luas penuh dilapisi sampah daun kering yang berguguran, seandainya tempat itu bukan tanah perbukitan yang jarang terkena curah hujan, mungkin sejak dulu sudah berubah menjadi sebuah kubangan atau rawa-rawa.

Terhadap tempat dengan situasi seperti ini jelas Pek Ti sangat menguasai, dalam waktu singkat dia telah membuat tujuh-delapan buah jebakan di sekitar tempat itu. Di antaranya ada yang dipasang ranting katapel yang biasa dipakai untuk berburu burung, ada yang dipasangi batu runcing atau lubang jebakan di bawah lapisan daun kering, sekalipun semuanya merupakan jebakan yang paling sederhana, tapi bagi jago tangguh yang sedang berduel sengit, setiap jebakan sesederhana apa pun bisa jadi akan berubah menjadi jebakan yang mematikan.

Ketika dua jago sedang bertarung, sedikit saja badan kehilangan keseimbangan maka kesempatan ini akan memberi peluang kepada lawannya untuk melancarkan serangan mematikan

Pek Ti memilih sebatang pohon yang tinggi dan berdiri di bawahnya, gagang pedang yang berada di punggungnya sudah diatur pada sudut yang paling strategis baginya untuk melancarkan serangan.

Tempat ini pun merupakan tempat terbaik yang ada di tanak lapang itu, membelakangi sumber cahaya sehingga tak sampai membuat pandangan jadi silau, berdiri menghadap arah angin, hal ini membuat kecepatan serangannya bertambah lebih cepat.

Setiap bagian, setiap detil sudah ia perhitungkan secara cermat dan seksama. Yang lebih penting lagi adalah kini dia sudah mengambil keputusan, mengendalikan perasaan balikan sebisa mungkin memulihkan kembali kekuatan tubuhnya dalam waktu paling singkat.

Walaupun Thia Siau-kim adalah sang pemburu, namun berada dalam keadaan seperti ini tak urung dia pasti gelisah, cemas dan sedikit tak bisa mengendalikan diri.

Oleh sebab itu dia bersihap menunggu.

Menunggu dalam ketenangan, dalam kondisi dan keadaan apa pun selalu merupakan salak satu sebab utama untuk meraih kemenangan yang cemerlang.

Waktu itu, tentu saja dia pun mendengar suara langkah kaki Thia Siau-kim.

Biarpun langkah kaki Thia Siau-kim sangat lambat, tapi mantap dan tenang, kelihatannya selangkah demi selangkah perlahan-lahan dia berjalan ke atas. Berada dalam situasi seperti ini, ternyata dia pun masih mampu mengendalikan gejolak perasaan hatinya.

Dia seakan tidak terburu-buru untuk mengejar Pek Ti, dia pun tidak kuatir Pek Ti mendengar suara langkah kakinya.

Lawan tangguh yang menakutkan ini sebenarnya sedang merencanakan apa?

Kelihatannya dia jauh lebih menakutkan ketimbang apa yang diperkirakan Pek Ti sebelumnya.

Menilai kelewat rendah musuh yang harus dihadapi jelas merupakan satu kesalahan fatal yang bisa mematikan, perasaan Pek Ti mulai tak tenang, ia mulai sedikit gelisak. Bagi dia yang segera akan berhadapan dengan musuh tangguh, jelas keadaan ini pun termasuk sebuah gejala yang tidak menguntungkan.

Pada saat itulah dia mendengar semacam suara gemerisik yang sangat aneh, seperti suara nelayan yang sedang menebar jaringnya di tengah samudra.

Pek Ti bisa membayangkan berada di tempat macam apakah ia pernah mendengar suara semacam ini, namun sama sekali tidak mengira kalau di tempat ini pun benar-benar ada orang sedang menebarkan jaringnya.

Sebuah jaring ikan yang amat besar, seperti segerombol awan hitam yang terjatuh dari tengah udara. Seluruh tanah lapang, seluruh pepohonan yang berada di sekeliling tempat itu ternyata sudah berada di bawah kurungan jaring raksasa itu.

Pek Ti menyusup keluar, dia ingin menyusup lepas dari bawah jaring raksasa itu.

Reaksinya selalu dilakukan sangat cepat, gerakannya pun jauh lebih cepat, tapi sayang kak ini dia terlambat satu langkah.

Sebelum tubuhnya sempat menyusup keluar dari dasar j aring, di hadapannya sudah menunggu selapis cahaya golok yang menyilaukan mata. Cahaya golok yang begitu rapat hingga angin tak mampu menembusi, gerakan golok menyambar silih berganti, semuanya menggunakan jurus serangan Ji-gi-thian-mo-lian-huan-si (Jurus Berantai Iblis Langit) yang konon merupakan ilmu golok ciptaan Mokau dari Timur yang sangat tangguh, sekalipun ilmu goloknya belum mencapai kesempurnaan namun daya pengaruh yang dicipta-kan sudah cukup membuat siapa pun tak sanggup maju barang selangkah pun.

Seketika itu juga gerakan tubuh Pek Ti terhadang hingga mesti mundur kembali. Begitu gerakannya terhadang, jaring raksasa pun segera mengurung seluruh tubuhnya. Saat itulah terdengar seseorang sedang bertepuk tangan.

Rupanya Pok Ing yang sedang bertepuk tangan.

"Ternyata ilmu menebar jaring yang dimiliki Tkay-ouw sacap-lak-yu (Tigapuluh Enam Sahabat dari Telaga Thay-ouw) memang luar biasa hebatnya, tak heran kalau memiliki catatan rekor yang amat mengejutkan, dalam sekali tebaran jaring sanggup mengangkat seribu delapanratus delapanpuluh kati ikan dari dalam telaga," seru Pok

Ing lantang, "sayang Pek Ti yang sudah berkelana mengarungi seluruh kolong langit, ternyata tidak mengenal seorang nelayan pun yang ada di seputar telaga Thay-ouw, kalau tidak, tak nanti dia bisa masuk jaring seperti seekor ikan."

Ternyata Pek Ti mencari sebuah tempat di balik jaring dan duduk dengan tenang, wajahnya tidak berubah, air mukanya tak berubah, dia malah berpaling ke arah Pok Ing dan melempar senyuman.

"Jaring ini memang ada di sini, kalau bukan aku yang masuk jaring, siapa yang sudi masuk jaring?" katanya

"Ekmm, cengli!"

"Apalagi kedatanganmu kak ini toh bukan khusus mekkat aku masuk jaring, aku lihat kak ini pun kau pasti berhasil menang taruhan."

"Ya, sembari menonton sembari bertaruh, kalau cuma menonton tanpa bertaruh, apa menariknya'"

"Cengli, cengli sekali ," Pek Ti tersenyum, "hanya sayang kau

tak sempat menyaksikan kejadian yang jauh lebih menarik." "Kejadian apa lagi yang lebih menarik?"

"Golok iblis," jawab Pek Ti, "Ji-gi-thian-rno, Ji-gj-mo-to, Heng-sau-thian-hee, Coat-tay-thian- kiau (Iblis Langit, Golok Iblis, Menyapu Kolong Langit, Tokoh Sakti SepanjangMasa)." " Waah, tentu sebilah golok yang hebat." "Jelas, jelas sebilah golok luar biasa"

"Beruntung aku pun pernah melihatnya," kata Pok Ing, "sekalipun yang digunakan Tkia Siau- kim, Thia toa-koanjin bukan ilmu pedang Siau-lo-it-ya-teng-cun-yu (Semalam Mendengar Hujan Musim Semi di Loteng Kecil) yang pernah menyapu kolong langit, bagaimanapun aku toh sempat juga menyaksilan ilmu golok andalannya"

Kembali Pek Ti tertawa, tertawa keras.

"Kau pernah melihatnya? Apa yang pernah kau lihat?" serunya, "dulu ketika Mokau kaucu dengan sebilak Siau-lo-teng-yu (Loteng Kecil Mendengar Hujan) malang melintang di kolong langjt, dia telah menciptakan delapan jurus iblis langit berantai yang setiap jurusnya terdiri dari tigapuluh enam gerakan, setiap gerakan terkandung seratus delapan perubahan, jurus demi jurus silih berganti menyerang bergantian, sekali dia mulai membacok, tak akan memberi kesempatan lagi kepada orang untuk berganti napas."

Setelah tertawa tergelak, tanyanya kepada Pok Ing:

"Kau mengatakan pernah melihatnya, apa yang telah kau lihat?" Pok Ing tertawa getir.

Tiba-tiba Thia Siau-kim buka suara, ujarnya dingin:

"Bila kakan ingin menyaksikan ilmu golokku, itu sik gampang!"

Thia Siau-kim memang sudah berubah, berubah jadi amat tenang dan dingin, hanya saja keangkuhan dan kesombongannya tak pernah bisa berubah untuk selamanya.

Bila seseorang kehilangan sikap pongah seperti ini maka kehidupan orang tersebut menjadi sangat tak berarti, tapi bila seseorang sudah memiliki sikap pongah seperti itu, maka pihak lawannya akan memperoleh kesempatan untuk memancingnya melakukan kesalakan fatal

Tidak terkecuali bagi Thia Siau-kim.

Dia telah melanggar kesalahan pertama, yaitu minta orang untuk mengangkat tinggi jaring raksasa tersebut.

Ternyata ia ikut menerobos masuk ke dalam jaring, membawa serta golok lengkung berbentuk aneh yang belum lama selesai ditempa oleh Si Hwi-cu, seorang ahli tempa golok kenamaan yang khusus diundang untuk membuatkan senjata itu baginya, memasuki jaring raksasa sambil menenteng golok andalannya.

Dia bukan saja ingin membiarkan Pek Ti menyaksikan ilmu goloknya, dia pun berharap Pok Ing ikut menyaksikan. Dia seolah lupa kalau golok iblis dari Mokau sesungguhnya bukan benda yang boleh dipamerkan kepada orang lain.

Dalam hal ini bukan cuma dia sendiri yang lupa, Pok Ing serta Pek Ti pun seakan ikut lupa akan hal ini.

Seharusnya Pek Ti tidak boleh melupakan akan hal ini, juga tak seharusnya melupakannya.

Di tengah alam bebas yang penuh misteri, di tengah gurun yang penuh rahasia, di balik kegelapan malam yang penuh kesendirian, keseraman dan kengerian, dia seharusnya pernah mendengar tentang jampi-jampi rahasia, mantera sakti dari seorang iblis langit:

Hasami, bansakikuku, anosakikuku, kayaya, tisiteni, kasaya, kinomisi   Arti dari mantera itu adalah: Golokmahasaktimahaagung,

membuat darah mmuhbenibahmenjadiapidalam neraka, Maadaorangyangpernahrndihatnya, mata itu pasti akanjadi buta, perasaan akan disiksa oleh api abadi,

selama hidup masuk neraka dan takpernah bisa bangkit kembali

Mungkin Pek Ti pernah mendengar mantera itu, dalam hati kecilnya dia pun memang tak pernah bersungguh hati ingin melihat golok itu, golok iblis, dia hanya berharap menggunakan peluang di saat tubuh Thia Siau-kim menerobos masuk ke dalam jala, dia pun memanfaatkan peluang itu untuk menerobos keluar.

Oleh sebab itu baru saj a jala raksasa terangkat satu kaki lebib sedikit, tubuhnya sudah menerobos keluar dari kurungan. Seluruh tubuhnya seakan menempel rata dengan permukaan tanak, menyusup keluar dalam posisi datar dan rata, seperti sebatang anak panah yang terlepas dari busurnya. Gerakan tubuh semacam ini sama sekali tidak indah, pun tak mungkin bisa digunakan setiap saat, tapi untuk melatihnya, dia membutuhkan pengorbanan dan penderitaan yang jauk lebih hebat ketimbang berlatih ilmu meringankan tubuk mana pun, itulah sebabnya tidak banyak orang persilatan yang pernah mempelajari ilmu meringankan tubuh semacam ini.

Tentu saja Thia Siau-kim sendiri pun tidak menyangka kalau dia bisa menggunakan ilmu gerakan seperti itu, di saat ia mencabut goloknya, keadaan sudah terlambat.

Satu sentilan jari paling banter hanya enampuluh detik, tapi dalam keadaan dan situasi tertentu, sedetik yang singkat berarti sudah menentukan antara mau dan hidup.

Sekilas waktu berkelebat, mati hidup sudah berada dalam perjalanan Kehidupan manusia memang begitu lemah, begitu rentan.

Dalam walau yang teramat singkat, Pek Ti sudah menerobos keluar melalui sisi kanan tubuh Thia Siau-kim.

Tentu saja dia harus menerobos melalui sisi kanan, sebab Thia Siau-kim adalah kidal, menggunakan golok di sisi tangan larinya, itu berarti salah satu sudut tertentu di sisi kanan tubuhnya merupakan satu-satunya sudut mati bagi tubuhnya.

Begitu Pek Ti menggerakkan tubuhnya, bukan saja ia dapat menggunakan kesempatan itu untuk menerobos keluar, bahkan bisa melancarkan serangan yang mematikan ke arah sudut mati dari tubuhnya.

Gempuran tersebut kemungkinan besar akan merupakan gempuran yang mematikan, sebab dalam pertarungan antara dua jago tangguh, setiap serangan yang dilancarkan selalu akan merupakan gempuran yang mematikan.

Tapi gempuran kak ini sama sekali tak sempat dilancarkan, Pek Ti sendiri pun belum berhasil menerobos keluar dari kepungan. Sebab pada saat itulah tiba-tiba ia mendengar suara desingan angin tajam yang halus dan lembut menembusi angkasa, suara senjata rahasia yang menerobos di udara.

Pek Ti hanya merasakan persendian tulang kirinya seakan digigit nyamuk, seakan ada sesaat dia seperti kehilangan kesadaran.

Keseimbangan tubuhnya seketika punah, walaupun hanya berlangsung dalam waktu sesaat namun sudah lebih dan cukup.

Lebih dari cukup buat Thia Siau-kim untuk mencabut goloknya sambil melancarkan serangan, lebih dari cukup untuk memusnahkan nyawa seseorang dan menjebloskannya ke dalam api neraka.

Cahaya golok berkelebat, membawa garis guratan setengah lingkaran yang aneh dan sakti, seperti bayangan bulan sabit di atas permukaan air yang bergoyang dan berubak karena terhembus angin dan gerakan riak air.

Tak ada orang yang bisa melukiskan perubahan aneh dan bayangan rembulan itu, sebab setiap kak hembusan angin menggoyangkan riak air, perubahan bayangan rembulan yang muncul di atas permukaan selalu tak sama dan berbeda.

Setiap perubahan yang terjadi, tak mungkin bisa diduga dan diramalkan oleh siapa pun sebelum terjadi.

Pek Ti tidak menghindari babatan golok itu.

Cahaya golok berkelebat lewat, serentet butiran darah bagaikan seutas mutiara yang putus benang, terurai dan menyebar ke mana-mana.

Pek Ti mengerahkan segenap kekuatan yang dimiliki, ingin mengubah gerakan tubuh serta langkah badan yang telah dilakukan sebelumnya.

Dia tahu betapa menakutkannya golok iblis.

Asal ayunan golok pertama telah berhasil, ayunan golok ke dua segera akan menyusul tiba, menyapu datang mengikuti setiap langkah dan gerakan dari lawannya, seperti roh jahat yang sudah menempel di tubuhmu, selamanya akan mengikuti dan mengendon di tubuhmu.

Bila ayunan golok kedua berhasil, segera akan muncul ayunan ketiga, ayunan keempat....

Walaupun Pek Ti cukup memahami betapa menakutkannya dia, tapi nasib tragis sudah tak mungkin bisa dirubak lagi.

Iblis langit sudah menempel dalam sukmanya, menempel kuat kuat. Ayunan golok ketiga, keempat, kelima butiran darah demi darah memancar keempat

penjuru, membuat suasana makin kelam, membuat langit makin gelap.

Tapi Pek Ti belum mati, opas itu pun tidak menghendaki kema-tiannya, dia masih butuh dirinya untuk diinterogasi, dia butuh data dan pengakuannya yang menyangkut harta sebesar ratusan laksa tahil emas, ada kalanya pengakuan semacam ini jauh lebih penting dan berharga ketimbang berapa puluh lembar nyawa.

Kini Pek Ti sudah tak mampu bangkit berdiri, tapi kesadarannya masih utuh, sekalipun kulit mukanya mengejang karena harus menahan rasa sakit namun mimik mukanya sekarang justru seakan penuh dengan senyuman kebencian yang menakutkan.

Dia seolah sedang tertawa kepada Pok Ing, tertawa sambil ujarnya sepatah demi sepatah kata: "Pok toa-tauke, terima kasih kau datang menengokku, agar aku punya kesempatan untuk

mengetahui lebih jelas manusia macam apakah dirimu itu, selama hidup aku tak bakal melupakannya lagi."

Pok Ing tertawa, sahutnya:

"Tapi sayang sisa waktu dalam hidupmu kak ini sudah teramat sedikit."

Bab 3 : Putri Bidadari

Semua orang sudah berlalu, kantung kulit kambing pun sudah kosong, tapi senyuman masih menghiasi wajah Pok Ing, seakan senyuman itu sudah membeku.

Seperti ada orang menggunakan sebilah golok, mengukir setiap lekukan senyuman yang mengkiasi wajahnya saat ini.

Di luar hutan yang gelap gulita justru terlihat ada secercah cahaya lentera, cahaya yang memancar dari sebuah lentera berbentuk sangat indah, bergerak melayang dari balik kegelapan, dilihat di tengah pegunungan yang terpencil, sinar itu tampak seperti api setan yang sedang melayang di udara, tapi seakan juga bukan.

Mana mungkin ada api setan yang begini cantik dan indah di dunia ini?

Empat orang budak Kunlun yang berwajah hitam bergigi putih, dengan menggotong sebuah tandu datar sepanjang dua depa dan lebar satu setengah depa bergerak mendekat dengan langkah lebar.

Seorang wanita cantik bak bidadari dan kahyangan duduk di atas tandu datar tersebut, dia mempunyai rambut yang panjang, halus bagaikan embun pagi, sepasang mata yang bening jek bagai bintang malam, pakaian yang dikenakan terbuat dari bahan seperti sutera, seperti juga kain goni, berwarna-warni sangat indah, setengah bahu kirinya terbuka lebar hingga nampak kulit badannya yang putih mulus bak salju abadi.

Dari tangannya pun memancarkan sinar terang, sebuah cawan yang terbuat dan porselen Persia berisi penuh arak wangi yang harum semerbak.

Senyuman di bibirnya kelikatan jauh lebih manis dan menawan hati.

Berjumpa dengan manusia seperti ini, Pok Ing segera menghela napas panjang. "Rupanya kau," dia tertawa getir sambil menghela napas, "mau apa kau datang kemari?

Tempat semacam ini bukan tempat yang cocok untuk didatangi seorang putri."

"Kau boleh datang, berarti aku pun boleh datang," sahut putri bak bidadari itu manja, "kalau aku mau datang, aku segera akan datang, tak seorang pun bisa melarangku."

Sewaktu marah, ternyata senyumannya nampak jauh lebih manis dan menawan hati. Tapi Pok Ing justru seakan tidak melihat.

"Betul, kau boleh datang, beruntung aku pun sudah akan pergi," katanya, "kalau aku hendak pergi, aku akan pergi, orang lain jangan harap bisa menahanku," dia sudah menggerakkan badannya seakan siap pergi dari situ. Tapi putri bak bidadari itu segera berteriak keras bagai bertemu setan di tengah hari bolong:

"Tidak bisa, kau tak boleh pergi!" "Kenapa?"

"Sebab aku khusus kemari untuk mencarimu," biji mata putri bak bidadari itu berputar beberapa kali, "ada urusan penting yang ingin kusampaikan kepadamu." "Urusan penting apa?"

"Menagih hutang, tentu saja mencarimu untuk menagih hutang."

Sekali lagi Pok Ing menghela napas panjang, mau tak mau dia harus mengakui, tak banyak urusan di dunia ini yang jauh lebih penting daripada menagih hutang.

"Kali ini pun aku ikut memasang taruhan di Sarang Perjudian kalian, aku bertaruh Pek Ti-hoa tak nanti mampu kabur," putri bak bidadari itu tertawa bangga, "akhirnya kali ini kau harus merasakan kekalahan."

Ternyata yang dipertaruhkan Pok Ing adalah Pek Ti, jika Pek Ti berhasil melarikan diri maka dialah yang menang. Lantas kenapa dia harus menggunakan ilmu Li-khong-ta-hiat (Lewat Udara Menotok Jalan Darah), dengan sebutir batu kerikil menotok jalan darah di kaki kanan Pek Ti sehingga membuat Pek Ti membencinya sepanjang hidup?

Perbuatan yang dilakukan Pok Ing memang tak banyak yang paham, sementara dia sendiri pun enggan memberi penjelasan.

Pada dasarnya manusia macam beginilah dirinya, berbuat semau-nya, tak pernah peduli dengan orang lain.

Maka sekarang pun dia hanya bertanya satu patah kata kepada putri bidadari: "Kali ini kau bertaruh berapa banyak?"

"Tidak banyak, sedikit pun tidak banyak," putri bak bidadari itu tertawa makin manis, "kali ini aku hanya memasang taruhan sebesar dua juta limaratus ribu tahil saja."

Kali ini giliran Pok Ing yang terperanjat, hampir saja akan terjatuh dari atas pohon.

"Dua juta limaratus ribu tahil?" kembali Pok Ing menjerit kaget, "memangnya kau anggap uangmu kelewat banyak? Memangnya kau sudah mengidap sakit edan?"

"Aku tidak sakit, juga tidak punya duit banyak, aku tak lebih hanya ingin mencari sedikit uang kemenangan."

"Bagaimana kalau kau sampai kalah?"

"Kalau kalah kepadamu juga tak masalah, toh kau bukan orang luar, dua juta limaratus ribu tahil juga bukan terhitung uang yang kelewat banyak"

Pok Ing bukan saja harus mengatur napasnya yang tersengal, dia bahkan mulai merintih.

Seorang gadis berusia delapan-sembilanbelas tahun ternyata memandang uang sebesar dua juta limaratus ribu tahil bagaikan sama sekali tak berharga, berhadapan dengan manusia macam begini, apa lagi yang bisa kau perbuat? Kecuali minum arak, apa yang bisa kau lakukan?

Baru saja dia merampas cawan porselen yang berada di tangannya, baru saja meneguk habis isi cawan itu dalam sekali tegukan, Pok Ing sudah menyaksikan Sik Pak-jin, salah satu di antara Thay-ou-sacap lak-yu sedang berlarian mendekat dengan langkah tergesa-gesa, seperti orang yang baru saja bertemu setan.

Thay-ou-sacap-lak-yu adalah kawanan pemancing, seorang pemancing biasanya sangat memperhatikan soal kesabaran, ketenangan, menunggu, harus pandai menunggu, harus pandai menahan diri, dengan begitu ikan di dalam air baru bisa terpancing.

Sekarang si pemancing ini telah membuang jauh-jauh seluruh kemampuan yang telah dilatihnya selama bertahun-tahun, dengan napas tersengal teriaknya:

"Celaka, celaka.....sudah kabur, sudah kabur "

"Urusan apa yang celaka? Siapa yang kabur?" tanya Pok lng.

"Pek Ti-hoa telah kabur," sahut pemancing itu, "padahal tubuhnya sudah menderita duapuluh satu bacokan golok, tak nyana ternyata ia berhasil kabur."

"Kabur ke mana?"

"Kecuali jalan kematian, dia masih bisa kabur ke mana lagi.”

Paras muka Thia Siau-kim yang hijau membesi tiba-tiba muncul di bawah cahaya lentera, di atas wajahnya sama sekali tak nampak secercah perubahan pun, katanya:

"Kalau dia tidak kabur, mungkin masih bisa hidup selama beberapa hari lagi, tapi dia kabur berarti dia harus mati."

"Mati dengan membawa serta lima juta tahil?"

Sekonyong-konyong wajah Thia Siau-kim mengejang keras, seperti dilecut orang secara tiba- tiba Lewat lama kemudian ia baru menyahuti. "Benar, dia belum sempat memberi pengakuan atas jejak uang rampokannya atas tujuh buah kasus besar yang dia lakukan di sepanjang kotaraja, tahu-tahu tubuhnya sudah terjun ke dalam jurang”

Setelah berhenti sejenak, lanjutnya dengan suara dingin:

"Rupanya dia memang berniat untuk mati, dia mau mati, maka jangan harap dia bisa menjumpai lagi uang sebesar lima juta tahil itu."

Cahaya lentera masih bersinar redup, Thia Siau-kim sudah pergi jauh, sementara putri bak bidadari itu pun mulai menghela napas panjang, sambil memegang dada sendiri serunya tertahan:

"Wouw, sungguh menakutkan orang ini, aku betul-betul takut bertemu dengannya" "Sebetulnya dia bukan macam begitu," kata Pok Ing sambil memandang bayangan punggung

Thia Siau-kim yang menjauh, sorot matanya seakan sedang melamun, "sebetulnya dia adalah seorang pemuda yang gagah dan berjiwa besar."

"Kenapa bisa berubah?"

"Gara-gara sebilah golok," paras muka Pok Ing berubah makin serius, "sebilah golok yang cukup membuatnya malang melintang di kolong langit."

"Golok iblis?"

Senyuman manis yang semula menghiasi bibir putri bak bidadari itu hilang lenyap seketika, katanya:

"Setahuku, di kolong langit hanya terdapat sebilah golok iblis beneran, yaitu golok Siau-lo-it-ya- teng-cun-yu yang berada di tangan kaucu dari Mokau, kelihatannya golok tersebut sama sekali tidak berada di tangannya."

"Golok sebetulnya tak beriblis, iblis justru muncul dari hatimu," kata Pok Ing, "bila ada hati iblis yang menempel di atas golok, peduli jenis golok macam apa pun yang dia gunakan, hasilnya sama saja."

"Seorang anak muda yang begitu baik, kenapa bisa memiliki hati iblis?" "Karena ilmu golok yang dipelajarinya."

.........Bulan sabit di atas permukaan air, butiran air bak senyuman siluman, bayangan rembulan yang berubah mengikuti riak ombak, kecepatan luar biasa yang tak terlukiskan dengan mata, butiran darak yang menetes dan berhamburan ke mana-mana bacokan demi bacokan yang silih

berganti....

Dari balik mata Pok Ing seakan terpancar perasaan ngeri dan seram yang luar biasa. "Selama hidup belum pernah kusaksikan ilmu golok semacam itu, tapi aku tahu, itulah golok

iblis," katanya, "bila dalam hati seseorang telah muncul ilmu golok semacam itu, berarti dalam hatinya sudah muncul iblis. Hati iblis berarti iblis langit, bila iblis langit sudah menempel di badan, bila hati ibhs sudah menempel di golok, maka semua perubahan akan terjadi sesuai dengan jalan pikirannya, dan dia pun akan malang melintang di kolong langit."

Setelah berhenti sejenak, perlahan-lahan Pok Ing melanjutkan: "Bila seseorang sudah mulai malang melintang di kolong langit, bagaimana mungkin dia tidak berubah?"

Bab 4 : Gadis Cantik di Rumah Biara

Ketika Pek Ti membuka matanya kembali, dia tidak tahu berada di manakah dirinya sekarang, pun tidak tahu apakah dirinya sudah mati atau tidak.

Baginya, membuka mata atau memejamkan mata sama saja hasilnya, yang terlikat di depan mata hanya kegelapan, apa pun tak ada yang terlihat.

Dia hanya merasa dirinya seperti sedang berbaring di atas sebuah batu datar yang keras lagi dingin, tubuhnya seperti ditutup dengan selembar selimut, bahkan tidak jelas apa sebabnya, ternyata seluruh tubuhnya tak satu bagian pun yang bisa digerakkan.

Dimulai dari tengkuknya, tubuk bagian bawahnya seakan sama sekali sudah lenyap, sama sekali tak terasa, malah luka bekas bacokan golok pada sendi tulangnya yang semula sakitnya hingga merasuk ke tulang, sekarang ikut terasa kaku dan mati rasa.

Tiba-tiba saja ia merasa sangat ketakutan. Sejak mengalami begitu banyak penderitaan dan pengalaman dalam mengkadapi krisis hidup, belum pernah ia merasakan rasa takut yang begitu hebat seperti hari ini.

Tapi jika seseorang hanya tersisa kepalanya saja....

Ia tak berani berpikir lebih jauh, lewat lama kemudian, akhirnya sepasang matanya mulai terbiasa dengan suasana gelap, lambai laun secara lamat-lamat ia mulai dapat menangkap bayangan kabur di sekelilingnya.

Bayangan dari dinding rumah, bayangan dari daun jendela, kain putih yang menyelimuti badannya, bayang-bayang cekung dari tubuk seseorang, kegelapan malam di luar jendela serta bayang-bayang pohon yang ada di balik kegelapan malam.

Pek Ti nyaris bersorak gembira.

Tubuhnya masih utuh, ternyata hanya mati rasa saja, bahkan tubuhnya saat ini sudah diikat orang dengan tehti, membuat ia sama sekali tak mampu bergerak.

Berada di manakah dia sekarang? Kenapa bisa berada di situ? Siapa yang telah mengikatnya di atas ranjang yang dingin, keras dalam rumah kecil yang gelap gulita itu? Ke mana perginya Thia Siau-kim yang sedang melakukan pengejaran? Kemudian ia terbayang pula akan golok iblis yang mendatangkan perasaan ngeri dan seram yang luar biasa.

Tiba-tiba sebuah pintu dibuka orang, cahaya yang redup segera memancar ke dalam, menyinari sesosok bayangan manusia, kelihatannya seperti bayangan tubuh seorang wanita, sama-samar dia kelihatan agak tinggi, langsing dan membawa bau khas dari seorang wanita.

Gerak-geriknya amat berhati-hati namun cukup gesit, sewaktu bergerak sama sekali tidak menimbulkan sedikit suara pun, begitu menyelinap masuk, pintu segera dirapatkan kembali, dengan cepat ia sudah berjalan menuju ke pembaringan yang keras lagi dingin itu.

Jantungnya berdebar keras, berdetak kencang, napasnya sedikit memburu, kelihatan seperti orang gembira, seperti juga merasa amat tegang, bila dapat melihat perubahan wajahnya saat itu, bisa dipastikan pipinya tentu bersemu merah.

Siapakah dia? Mau apa datang ke situ? Apakah ingin membunuh 'PekTi?

Pek Ti dapat mendengar debaran jantungnya, dapat mendengar napasnya yang memburu, tapi tak bisa menebak bagaimana perubahan rriirnik mukanya saat ini, apakah karena gembira yang meluap membuatnya jadi tegang? Atau lantaran dendam kesumat ia jadi tegang? Apakah dalam tangannya menggenggam golok pembunuh?

Di tangan perempuan itu tak ada golok.

Lewat lama kemudian, akhirnya dia menggerakkan tangannya, melakukan satu perbuatan yang tak akan terbayangkan oleh siapa pun.

Ternyata dia menggerakkan tangannya hanya untuk meraba wajah PekTi.

Jari tangannya dingin bagaikan es bahkan sedang gemetar, dengan menggunakan jari telunjuknya pelan-pelan ia membelai pipi dan bibir Pek Ti, sebentar menarik kembali tangannya, sebentar mengulurkan lagi tangannya, kemudian ia menarik kain selimut dan menutupkan ke badan Pek Ti.

Terasa ada angin berkembus lewat, Pek Ti segera dapat merasakan bahwa tubuhnya berada dalam keadaan telanjang bulat.

Yang lebih aneh lagi, bukan saja perempuan itu merabanya, malah sambil membungkukkan badan, dengan bibirnya yang hangat menyengat mulai menciumi pipi dan bibirnya, kemudian sekujur badannya mulai gemetar tiada hentinya, seperti orang kesurupan, seperti orang yang kena mantera jakat hingga tak mampu mengendalikan diri.

Sebenarnya apa yang dilakukan perempuan ini? Apa yang dia kekendaki? Atau jangan-jangan dia memang bukan manusia tapi setan perempuan cabul?

Padahal secara lamat-lamat Pek Ti sudah dapat merasakan apa yang sedang dilakukan perempuan itu, kalau hanya sebatas perbuatannya sekarang memang tak masalah, yang dikuatirkan justru bila selanjutnya dia akan melakukan tindakan dan perbuatan yang jauh lebih menakutkan.

Namun di sisi lain, Pek Ti pun sangat ingin mengetahui bagaimana bentuk wajahnya, cantikkah perempuan ini?

Semua lelaki di dunia pasti akan berpikiran begitu, karena dari dulu hingga sekarang, apa yang dipikirkan kaum lelaki di dunia ini nyaris hampir sama satu dengan lainnya. Oleh karena itu walaupun sekujur badan Pek Ti kaku dan mati rasa, namun perasaannya tetap bergolak.

Di luar dugaan tiba-tiba perempuan itu berlalu dengan begitu saja, selesai menyelimuti badan Pek Ti, ia segera merapatkan pintu kamar dan sama seperti sewaktu datang tadi, lenyap di balik kegelapan bagai sukma gentayangan.

Yang lebih di luar dugaan adalah setelah yang satu pergi, segera muncul lagi tiga orang wanita, mereka pun sama seperti wanita yang pertama, mengenakan mantel berwarna hitam dengan gerak gerik yang sama sekali tidak menimbulkan suara, apa yang mereka lakukan terhadap Pek Ti pun hampir tak jauh berbeda.

Ternyata kawanan wanita misterius itu telah menganggap Pek Ti sebagai sebuah barang permainan baru, di antara mereka seolah sudah ambil undian terlebih dulu kemudian secara rombongan tampil ke dalam untuk bermain dan menikmatinya, tapi karena kuatir perbuatannya diketahui orang maka gerak-geriknya amat hati-hati dan penuh waspada.

Kalau toh mereka semua telah datang untuk menikmati, kenapa masih kuatir ketahuan orang?

Bila ditinjau gerakan tubuhnya yang begitu gesit, cekatan dan lincah, semestinya kawanan perempuan itu merupakan jago-jago tangguh yang pernah berlatih ilmu meringankan tubuh, tapi sikap mereka seolah begitu haus terhadap kaum lelaki, seakan-akan sudah sekian tahun tak pernah bersentuhan dengan lelaki.

Pek Ti tak bisa menduga asal-usul mereka, dia pun tak punya kekuatan untuk menebaknya. Semalaman boleh dibilang ia disiksa habis-habisan oleh kemunculan kawanan perempuan itu.

Sekarang dia baru tahu, ternyata seorang wanita yang sudah haus terkadang jauh lebih menakutkan daripada sepuluh ekor serigala kelaparan.

Untung tak lama kemudian hari sudah terang tanah.

Begitu fajar mulai menyingsing, kawanan wanita itu pun bagai setan gentayangan yang tak tahan menghadapi cahaya pagi, seketika hilang lenyap tak berbekas.

Cahaya fajar yang terang mulai menyinari seluruh jagad, menerobos masuk melalui jendela, menerangi seluruh ruangan. Kini Pek Ti baru bisa menyaksikan dengan jelas suasana di sekeliling sana. Dia pun dapat melihat, meski bangunan rumah itu sedikit lembab namun semuanya dalam keadaan bersih, tak nampak debu, tak nampak kotoran, kain yang menyelimuti badannya berwarna putih bersih, seakan baru saj a selesai dicuci hingga tak kelihatan ada noda kotoran.

Halaman di luar sana pun tersapu bersih, bukan saja di situ ada pepohonan, terlihat pula bunga seruni kuning yang indak, ada pula akar daun yang merambat di atas dinding halaman, boleh dibilang suasana di situ amat hening dan tenang.

Kemudian Pek Ti mendengar suara lonceng yang dibunyikan bertalu, tak selang berapa saat tampak ada tiga orang dengan kepala tertunduk muncul di luar jendela dan berjalan dengan tenang menyeberangi halaman luar.

Ketiga orang itu mengenakan baju pendeta berwarna abu-abu, kepalanya yang gundul tertera bekas sundutan hio yang dalam, ternyata mereka adalah kaum biarawan.

Tapi ketiga orang itu berusia sangat muda, tubuknya ramping semampai, walaupun ketika berjalan berusaha melangkah dengan tenang, namun tak dapat menutupi penampilannya sebagai seorang gadis muda.

Ternyata tempat itu adalah sebuah biara nikou, bukan saja ketiga orang itu adalah nikou-nikou yang sudah dicukur gundul, kelihatannya kawanan wanita kelaparan yang muncul semalam pun merupakan sekawanan nikou.

Gerak-gerik mereka amat sopan, hati-hati dan serius, mungkin disebabkan peraturan biara yang biasanya amat keras, namun bagaimanapun mereka masih kelewat muda, terkadang gadis muda memang susah untuk mengendalikan rangsangan birahi yang tiba-tiba muncul dalam hati.

Sebenarnya ada berapa banyak nikou dalam biara ini yang termasuk dalam kelompok mereka?

Apakah kedga orang nikou muda itu terkbat pula dalam perbuatan semalam?

Selewat bunyi lonceng, saatnya sembahyang pagi dan sarapan. Ketika mendengar suara doa yang berkumandang di keheningan pagi hari, kemudian ketika membayangkan tangan-tangan gemetar yang meraba dan mencium penuh kehausan dirinya semalam, Pek Ti tak bisa melukiskan bagaimana perasaan hatinya saat ini. Kembali setengah harian sudah lewat, kini muncul orang untuk membersihkan halaman serta bangunan rumah kecil itu.

Yang muncul semuanya berjumlah tiga orang, dua di antaranya berperawakan agak tinggi dengan wajah model kwaci yang bersih dan cantik, hanya sayang mimik muka mereka sama sekali tanpa ekspresi, seakan-akan wanita cantik yang baru saja dibekukan dalam kubangan salju.

Sejak awal hingga akhir ketiga orang itu tak pernah melirik ke arah Pek Ti walau sekejap pun, sebaliknya Pek Ti mengawasi terus gerak-gerik mereka, dia berharap ada di antara mereka yang akan meliriknya secara sembunyi-sembunyi sambil melemparkan senyuman, atau diam-diam mengedipkan mata memberi kode rahasia, memberi tanda kalau dia pernah datang kemari semalam dan pernah melakukan perbuatan yang amat mesra dengan dirinya

Sayang dia amat kecewa, sama sekali kecewa.

Setiap hari selalu ada orang datang menggantikan obat pada luhanya, menyuapinya makanan, tapi mereka selalu tampil dengan wajah dingin, hambar dan tanpa perasaan, hampir semua nikou itu seolah menganggap Pek Ti seperti seorang narapidana atau sejenis benda. Ketika malam tiba, suasana hangat, mesra, penuh napsu berlangsung tapi setelah pagi semuanya itu akan hilang lenyap, jangan harap bisa menjumpainya lagi.

Pek Ti sadar, mustahil baginya untuk bisa membedakan mana di antara mereka yang pernah mengunjunginya di tengah malam dan mana yang tidak.

Waktu pun berlalu dalam suasana dingin di pagi hari dan hangat di malam hari, bukan saja kawanan nikou misterius itu memiliki kungfu yang luar biasa hebatnya, mereka pun sangat ahli dalam mengobati luka.

Tak selang beberapa saat kemudian mulut luka Pek Ti sudah mulai sembuh, keempat anggota badannya juga sudah mulai dapat merasa.

Hal ini membuktikan bahwa golok iblis dari Thia Siau-kim tidak sampai membuatnya cacad seumur hidup, peristiwa yang sekarusnya membuat hati gembira ini justru ditanggapi sebaliknya oleh Pek Ti, dia merasa penghidupannya kian hari kian bertambah sukt, kian kari kian bertambah tersiksa.

Di pagi hari, terkadang keempat anggota badannya secara tiba-tiba terasa gatal sekali, sedemikian gatalnya sehingga membuat orang ingin mengiris bagian dagingnya yang gatal itu.

Ketika malam hari menjelang tiba, rasa gatal itu semakin susah dihadapi, tangan-tangan yang gemetar, bibir yang haus dan panas, pada hakekatnya membuat orang nyaris jadi gila.

Untung hari-hari penuh siksaan akhirnya terlewatkan juga.

Pada pagi kari keenam, akhirnya muncul seseorang yang mengakkiri seluruh penderitaan dan siksaannya.

Orang itu adalah seorang nikou setengah umur yang berperawakan tinggi, meskipun tubuhnya mengenakan jubah pendeta berwarna keabu-abuan, namun jubah itu terbuat dari bahan yang berkualitas tinggi dan dijahit oleh tukang jahit yang ahli, bahkan pakaiannya amat bersih, sepasang kaus kakinya pun sangat bersih, sama sekali tak nampak setitik debu atau kotoran pun.

Sepasang tangannya pun dicuci sangat bersih bahkan terpelihara amat baik, kukunya digunting rapi, tampaknya dia mempelajari sejenis ilmu pukulan tenaga dalam yang kebat.

Yang paling penting adalah raut mukanya.

Selama hidup belum pernah Pek Ti menyaksikan raut muka yang bisa membuat hatinya merinding dan bergidik, permukaan wajah nikou itu menonjol tak karuan, seakan-akan terpahat dari batuan cadas yang dilakukan secara kasar dengan sebilah pisau tembaga, penuh dengan sifat buas dari jaman purba, penuh dengan hawa pembunuhan yang dimiliki seekor hewan buas.

Siapa pun orangnya, asal pernah melihat raut wajah tersebut, bukan saja selama hidup tak pernah akan melupakannya kembali balikan pasti tak ingin untuk memandang kedua kalinya.

Beruntung kedatangannya ke sana hanya mengajak Pek Ti untuk pergi menjumpai hongtiang biara tersebut, Thian-ci suthay. Kemudian Pek Ti baru tahu, ternyata nikou itu adalah satu-satunya adik seperguruan Thian-ci nikou yang bernama Thian-heng. Bab 5 : Thiat Losat

Thian-ci suthay sama sekali berbeda dibandingkan sumoay-nya, dia adalah seorang nikou kurus kering, kecil, pendek dan berwajah penuh welas asih.

Mungkin dulunya dia tidak sekurus dan sekecil ini, tapi sekarang keempat anggota badannya sudah menyusut karena dimakan usia, hanya sepasang matanya masih kelihatan bening bersih bagai sumber mata air, lamat-lamat masih terlihat sisa kecantikan wajahnya di masa muda dulu.

Kamar pribadinya bersih bak sebuah ruang batu dalam kuburan kuno, perabot dan interiornya pun amat sederhana. Tak disangkal Thian-ci suthay adalah seorang nikou pertapa yang rajin beribadah, tapi kalau dilihat kulit tubuhnya yang mengkilap serta sorot matanya yang tajam, dapat diketahui bahwa selain menjadi rahib pertapa, dia pun seorang jagoan dalam tenaga dalam.

Dengan ketajaman mata Pek Ti, ternyata dia pun tak dapat mengetahui sampai taraf manakah kesempurnaan tenaga dalam yang dimiliki nikou itu, maka dia hanya bisa berkata, dalam dunia persilatan dewasa ini, paling banter hanya ada lima orang yang memiliki tenaga dalam jauh melebihi kemampuannya.

Sikap Thian-ci nikou terhadapnya sangat datar dan ramah, mul-mula dia menanyakan dulu nama serta asal-usulnya, terhadap nama Pek Ti, ternyata ia tidak memberikan reaksi yang berlebihan. Tampaknya tidak banyak yang dia ketahui tentang urusan dunia persilatan, tapi begitu menyinggung soal latar belakang asal-usulnya, ia jadi amat tertarik dan kekelihatan amat menaruh perhatian.

Setelah mengajukan beberapa pertanyaan, nikou itu baru berkata:

"Aku tidak tahu apakah sekarang kau sudah tahu berada di manakah dirimu, tempat ini bernama Thian-ci-am, atau yang lebih dikenal umat persilatan sebagai Kua-hu-am (Kuil Kaum Janda)."

Thian-ci-am (Kuil Kaum Janda), nama tersebut memang sudah cukup menjelaskan tentang banyak hal.

Sudah barang tentu Pek Ti pernah mendengar tentang nama kuil ini.

Sebagian besar wanita yang menjadi nikou di tempat ini adalah para istri pendekar atau prajurit yang gugur dalam medan pertempuran serta para perampok, kaum begal wanita yang secara sukarela melepaskan golok pembunuhnya. Konon Thia Losat, seorang gembong iblis wanita yang malang melintang di wilayah Kanglam dan sudah banyak membunuh manusia pun menjadi biarawati di tempat ini.

Terhadap kawanan nikou yang hidup dalam biara ini, orang persilatan selalu menaruh rasa hormat yang tinggi bahkan ada kesepakatan bersama bahwa mereka tak akan datang mengusik ketenangan mereka hidup bertapa. Oleh sebab itu radius sepuluh li di seputar biara tersebut boleh dibilang merupakan daerah terlarang bagi umat persilatan untuk memasukinya. Andaikata ada yang ingin menerjang masuk, mereka mempunyai wewenang untuk membunuh sang pelanggar tanpa ampun, oleh sebab itulah selama tahun belakangan tak pernah ada orang yang berani melanggar larangan tersebut dengan mendatangi biara itu.

"Kau sedang diburu orang, tubuhmu menderita duapuluh satu luka bacokan, bila tidak ada yang menolong, dapat dipastikan jiwamu akan melayang," ujar Thian-ci suthay kepada Pek Ti, "oleh sebab itu aku menolongmu bahkan merawat lukamu di sini."

Dari balik nada suaranya yang dingin tiba-tiba terlintas semacam luapan perasaan yang sangat aneh, lewat lama kemudian ia baru mengkela napas panjang sambil tambahnya:

"Tentu saja hal ini disebabkan di antara kita memang berjodoh."

Dalam keadaan begini Pek Ti sendiri pun tidak tahu apa yang harus dikatakan, dia hanya mendengarkan.

"Di antara kawanan pemburu dirimu, ada seorang di antaranya bermarga Thia, konon bernama Thia Siau-kim, dia pernah datang kemari satu kali, tapi tidak berani menyerbu masuk ke dalam biara."

Kalau Thia Siau-kim berani menyerbu masuk, memangnya dia bisa keluar lagi dari situ dalam keadaan hidup? "Tapi aku tahu selama berapa hari belakangan, dia selalu melakukan penjagaan dan patroli di luar wilayah daerah terlarang, bahkan dia kumpulkan begitu banyak jago silat yang berilmu hebat, asal kau keluar dari sini, dapat dipastikan mereka akan menghabisi nyawamu," kata Thian-ci nikou, "kau adalah seorang pria, dia tahu, tak mungkin kau bisa berdiam terlalu lama di tempat ini."

"Benar," Pek Ti segera berkata, "asal thaysu menyuruh aku pergi, aku segera akan pergi."

Walaupun sudah terperosok dalam situasi seperti ini, sifat keangkuhannya sama sekali tak berubah.

Tak nyana Thian-ci nikou meski sudah tua dan kelihatan lemah ternyata memiliki juga sifat angkuh semacam itu, dengan hambar ia bertanya

"Bila aku memaksa untuk menahanmu di sini?"

"Berarti dia harus dikebiri terlebih dulu!" tiba-tiba Thian-heng nikou menyela dengan suara lantang.

"Apa kau bilang?"

"Aku bilang, jika ingin menahan dia di sini maka terlebih dulu dia mesti dikebiri, kalau tidak, dia akan merusak semua peraturan yang berlaku di tempat ini."

Dengan penuh amarah dia berjalan masuk dengan langkah lebar, api amarahnya memang kelewat besar, sedemikian besarnya hingga sukt bagimu untuk menemukan orang kedua di antara kawanan begal wanita itu yang memiliki api amarah macam dirinya.

Thian-ci suthay menghela napas panjang.

"Aaai! Sudah hampir duapuluh tahun, tak nyana wataknya masih begitu berangasan, api kemarahannya masih begitu besar, terutama terhadap dirimu," ditatapnya Pek Ti sekejap, "kelihatannya sejak bertemu dengan kau, dia sudah menaruh perasaan sentimen terhadapmu."

Pek Ti hanya bisa tertawa getir.

Mengapa dia ngotot ingin mengebiri dirinya? Apakah lantaran dia tahu kalau dirinya mustahil bisa memperoleh kepuasan maka lebih baik memusnahkan dirinya? Lalu siapakah nikou tinggi yang selalu muncul setiap tengah malam? Apakah tangannya yang gemetar sewaktu meraba sekujur badannya memiliki kuku jari yang serapi dirinya?

Kembali Thian-ci suthay berkata:

"Gara-gara wataknya yang kelewat berangasan, kelewat berapi-api maka kehidupannya jadi sangat menderita, jangan dilihat dia pernah malang melintang dalam dunia persilatan tanpa tandingan, padahal dia sendiri sudah banyak merasakan kerugian, banyak merasakan penderitaan dan siksaan batin."

"Tapi, bukankah setiap umat persilatan memiliki pengalaman yang sama seperti itu?"

"Tapi siksaan yang ia derita jauh lebih banyak ketimbang orang lain, cukup berbicara dari rasa sakit yang karus dialaminya setiap kak hujan tiba, rasa sakit gara-gara luka dalam yang dideritanya, mungkin tidak banyak orang yang bisa menandinginya. Ditambah lagi seluruh wajahnya hancur tak berwujud, tahukah kau, kulit mukanya yang sekarang adalah kulit baru yang khusus diambil dari kulit pantatnya?" kata Thian-ci suthay sedih, "padahal dulu dia adalah seorang wanita cantik bak bidadari dari kahyangan, tapi kini, dia berubah jadi begitu rupa. Apakah penderitaan dan siksaan batin yang dirasakan seorang wanita bisa diselami dan dipahami kaum lelaki?"

"Apalagi ditambah dengan kesepian," kata Pek Ti, "kesepian yang tak mungkin bisa dilepas, kesepian yang harus dia rasakan sepanjang sisa hidupnya."

"Betul, kesepian, tak punya rumah, tak punya sanak, tak punya keturunan, apa pun tidak ia miliki, berbicara bagi seorang wanita, terlepas kesalahan apa yang pernah dilakukan dulu, hukuman semacam ini sudah lebih dari cukup."

"Oleh sebab itu aku selalu tak pernah menyalahkan dirinya." "Selalu?"

"Betul, sejak awal hingga sekarang," jawab Pek Ti, "sebab sedari pertama kali bertemu dengannya, aku sudah tahu siapakah dia."

"Siapakah dia?" "Thiat Losat (Iblis Wanita Besi), Thiat Losat yang pernah membunuh seratusan orang jago dari Ngo-tay-tong di wilayah utara sungai besar dalam semalaman saja, sebelum akhirnya dia dirusak wajahnya oleh Lui-hwee Tongcu dengan api beracunnya."

Thian-ci suthay termenung sampai lama sekali, dari ujung matanya seolah-olah muncul senyuman mengejek.

"Kau keliru, dia bukan Thiat Losat," akhirnya ia berkata, "Lui-hwee Tongcu tak mungkin bisa merusak wajah Thiat Losat."

"Lalu siapakah dia?"

"Tentu saja dia pun seorang tokoh termasyhur dalam dunia persilatan, meskipun gemar membunuh dan tak kenal ampun, dia masih terhitung seorang wanita cantik rupawan."

"Apakah yang thaysu maksud adalah Giok Ji-gi?" tanya Pek Ti tiba-tiba. "Benar, dialah Giok Ji-gi, wajahnya dirusak lantaran dia kelewat cantik."

"Tapi menurut berita yang tersiar dalam dunia persilatan, katanya Thiat Losat telah mencukur rambutnya menjadi pendeta di tempat ini, sewaktu dia mencukur gundul rambutnya dulu, ada orang yang pernah menyaksikan dengan mata kepala sendiri."

"Berita itu tidak salah, Thiat Losat memang berada di sini, hanya saja dia adalah seseorang yang lain."

"Seseorang yang lain? Siapakah dia?" "Aku!"

Thian-ci suthay memandang sekejap wajah Pek Ti yang sedang terkejut, katanya lagi dengan suara yang datar: "Akulah Thiat Losat yang sebenarnya."

Bab 6 : Malam yang Menyeramkan

Malam, tengah malam.

Pek Ti tahu, kawanan tamu tak diundang yang selalu berkunjung setiap tengah malam tak mungkin akan muncul kembali, sebab semua ikatan pada tubuhnya telah dilepas, keempat anggota badannya sudah mampu bergerak bebas, tak mungkin dia sudi dipermainkan orang lagi bagaikan sebuah boneka kayu.

Dia paksakan diri untuk tidur sejenak dan baru bangun setelah lewat kentongan ketiga, suasana di empat penjuru amat kening, tak kedengaran sedikit suara pun, dia pun tidak melihat ada sinar rembulan yang menerangi jagad, udara seolah-olah berubah jadi lebih dingin membeku, sebab musim dingin memang segera menjelang tiba.

Dia mulai merobek kain selimut putih yang semula digunakan untuk menyelimuti badannya, merobek jadi lembaran kain selebar satu inci, kemudian mengikat kencang setiap ruas sendi tulang yang terluka, dia seakan-akan sedang bersiap sedia untuk menghadapi sebuah kejadian di luar dugaan.

Mustahil baginya untuk pergi dari situ, para kuku garuda yang sedang memburunya masih mengintai dari luar hutan sana, tempat inilah merupakan tempat yang paling aman dan dia seharusnya mengerti akan hal ini, dan dia seharusnya memahami maksud baik Thian-ci suthay yang telah diutarakan pada pagi hari tadi.

Dia memang tidak pergi dari situ.

Selesai melakukan persiapan yang bisa membuatnya setiap saat pergi, dia malah duduk kembali di situ.

Di tengah halaman, di bawah pohon waru terdapat dua buah bangku yang terbuat dari batu, ia menempati salah satu di antaranya, duduk dengan gaya yang amat santai, kelihatannya dia sudah siap untuk duduk dalam jangka waktu yang cukup lama.

Apakah ia sedang menunggu orang?

Keadaan cuaca makin lama semakin bertambah gelap, tiba-tiba dari kejauhan sana berkumandang suara deruan angin yang sangat aneh, seperti suara angin yang sedang menggulung guguran dedaunan di atas tanah, selain menimbulkan suara desisan yang lirih, terasa pula betapa cepat datangnya deruan angin aneh itu. Berbareng dengan suara angin, terlihat pula sesosok bayangan manusia bagai seekor burung raksasa terbang melintas di tengah kegelapan, ujung kakinya terlihat menutul di atas wuwungan rumah dan ... "Weesss!" dengan gaya Peng-sah-lok-eng (Burung Manyar Meluncur di Pasir Datar) dia melayang turun persis di hadapan Pek Ti.

Walaupun berada di tengah kegelapan malam yang remang, secara lamat-lamat dapat dikenali kalau orang itu tak lain adalah Thian-heng nikou.

Semenjak malam pertama, mungkinkah nikou tinggi besar yang menjadi "tamu langganan"-nya setiap malam adalah Thian-heng nikou? Tapi sikap Pek Ti terkadapnya justru sangat menaruh hormat, dengan cepat ia menyongsong kedatangannya.

Thian-heng nikou menatapnya dengan sorot mata bermusuhan, tegurnya ketus: "Kau sedang menunggu aku?"

"Benar."

"Kau sangka akulah 'tamu langganan' yang setiap malam datang mengunjungimu?"

Pek Ti tidak menyangka kalau Thian-heng nikou pun mengetahui akan kejadian ini, maka segera jawabnya dengan jujur:

"Sebetulnya aku memang berpendapat begitu." "Dan sekarang?"

Sekarang Pek Ti sudah tahu kalau dugaan itu keliru, dalam hal nafsu birahi dan nafsu cinta, kelihatannya Thian-heng nikou tidak seperti wanita lain, dia seakan sama sekali tidak membutuhkan, dia seolah sudah belajar mengendalikan napsu dan perasan, tubuh dan perasaan hatinya sudah kelewat sarat dengan penderitaan yang perlu dia kendalikan dan pertahankan.

"Bagaimana dengan kau?" Thian-heng nikou menatap tajam wajah Pek Ti, "sebenarnya siapakah kau?"

"Aku? Aku adalah Pek Ti-hoa!"

"Benarkah kau terluka parah karena diburu orang dan tanpa sengaja kabur kemari dan ditolong orang?"

"Bukan!" ternyata Pek Ti mengakui secara berterus-terang, "sebetulnya apa yang terjadi hanya sebuah siasat, tujuannya tak lain agar aku sempat menyusup masuk ke dalam kuil Thian-ci-am."

"Seandainya tak ada orang datang menolongmu?"

"Berarti aku bakal mati," jawab Pek Ti, "tapi mereka selalu berpendapat, hanya cara ini saja yang bisa dilakukan."

Sebab Pek Ti-hoa bukan saja merupakan seorang perampok ulung yang susah dikendalikan, dia pun tersohor sebagai seorang pemuda tampan, bahkan setiap orang berpendapat, lelaki ganteng tak bakalan mati di seputar wilayah Kuil Kaum Janda. Pek Ti tertawa getir, ujarnya lagi:

"Mereka selalu bilang, kejadian ini tak akan mematikan aku, di balik jalan kematian pasti akan muncul jalan kehidupan, padahal aku sendiri sadar, apa yang mereka lakukan tak lebih hanya merupakan sebuah percobaan, menjadikan diriku sebagai kelinci percobaan, mau berhasil atau gagal, sama sekali tak ada urusannya dengan mereka."

Tampaknya Thian-heng nikou sedikit terperangah, tercengang oleh pengakuan itu. Agaknya dia tak menyangka kalau Pek Ti bakal mengakui secara terus terang semua rahasia tersebut di hadapannya, bahkan pemuda itu masih melanjutkan kembali perkataannya:

"Tujuan yang paling utama dari percobaan ini adalah untuk mencari seseorang di tempat ini." "Siapa yang kau cari?"

"Seseorang lain yang selama ini selalu dianggap sebagai si perampok ulung Pek Ti-hoa," sahut Pek Ti sambil tertawa getir, "belakangan, secara beruntun dia telah melakukan tujuh buah kasus perampokan di seputar kotaraja, semua orang persilatan menuduh akulah pelakunya."

"Cara kerjanya persis sama seperti cara yang kau gunakan?"

"Nyaris tak ada bedanya," Pek Ti membenarkan, "satu-satunya yang berbeda adalah dia sangat gemar membunuh, menyaksikan orang lain mati secara perlahan-lahan, setiap korban yang mati di tangannya, paling tidak di tubuhnya akan ditemukan tigapuluhan luka bacokan, bahkan ada satu di antaranya meski sudah menderita seratus tujuh-belas bacokan, dia belum sampai putus nyawa."

Setelah menghela napas panjang, lanjutnya:

"Walaupun belakangan muncul banyak sekali orang buas dalam dunia persilatan, namun orang yang begitu ganas, buas dan kejam seperti dia itu tak banyak jumlahnya." Tiada perubahan apa pun wajah Thian-heng nikou, wajahnya memang mustahil bisa menampilkan perubahan apa pun, tapi nada suaranya telah berubah, berubah jadi parau lantaran amarah yang meluap.

"Dari mana kau bisa tahu kalau orang itu bukan aku?" serunya. "Karena aku sudah tahu siapakah orang itu."

"Dari mana bisa tahu?"

"Berdasarkan hidungku, banyak orang menganggap daya penciumanku jauh lebih tajam ketimbang daya penciuman seekor anjing," Pek Ti menjelaskan, "setiap manusia, dari tubuhnya pasti akan mengeluarkan bau kkas, bau khas itu berbeda pada setiap orang, asal kau bisa membedakan bau khas yang dipancarkan dan tubuhnya, maka bagaimana pun kau akan berlagak dan berpura-pura, hal tersebut sudah sama sekali tak berarti lagi."

Tamu tinggi besar yang datang berkunjung setiap malam untuk melampiaskan nafsu birahinya itu mengeluarkan pula semacam bau kkas dan tubuhnya, kalau dia bukan Thian-heng nikou, lalu siapakah dia?

Suara kentongan bergema dari kejauhan sana, waktu sudah menunjukkan kentongan keempat, angin berhembus makin dingin, daun-daun pada ranting pohon waru pun nyaris berguguran karena tiupan angin, hawa dingin yang terbawa oleh hembusan angin musim gugur secara diam- diam telah menguasai seluruh jagad.

Sekonyong-konyong muncul secercah cahaya lentera dan balik kegelapan malam, api setan serasa menari-nan, melayang, melambung dan terbang melewati wuwungan rumah kemudian melayang turun di tengah halaman.

Di bawah cahaya lentera yang redup terlihat sesosok bayangan manusia yang kurus dan lemah, ternyata orang itu adalah Thian-ci suthay.

Jubah pendeta yang longgar dan kedodoran di tubuhnya berkibar terhembus angin kencang, tubuhnya seolah-olah seuap saat akan turut terseret oleh hembusan angin tersebut, terseret entah sampai ke mana.

Dalam kal ini kelihatannya dia sama sekali tak ambil peduli, mungkin memang tak ada manusia di dunia ini yang tahu urusan apa yang benar-benar dia pedulikan, apa yang dia sukai dan apa pula yang dia benci.

Menjadi seorang biarawati, segala sesuatunya adalah kosong, tampaknya orang ini benar-benar telah membawa diri ke alam kekosongan yang sebenarnya.

Namun dari balik tubuhnya seakan penuh dengan tenaga yang bergolak tiada hentinya, asal disulut orang, terlepas bagian mana yang disulut maka kekuatan tersebut segera akan meledak dengan hebatnya.

Beruntung penampilannya saat ini amat tenang dan penuh kedamaian, dia malah sempat melempar senyuman ke arah Thian-heng nikou sambil menegur:

'Tampaknya kedatanganmu kali ini bukan untuk mengebiri dirinya bukan?" "Ya, bukan," Thian-heng nikou mengakui.

"Lalu apa yang hendak kau lakukan sekarang?"

Mimik muka Thian-heng nikou sama sekali tidak menampilkan perubahan apa pun, tapi bagian tubuhnya yang lain telah melakukan reaksi yang luar biasa.

Nikou yang tenang bagaikan batu karang itu ternyata telah melakukan gerak serangan yang luar biasa, dalam waktu bersamaan, dengan menggunakan dua macam jurus serangan yang berbeda, jurus demi jurus ia melancarkan serangan maut ke tubuh Pek Ti.

Biarpun serangan itu disertai tenaga penghancur yang mengerikan, namun tidak sulit untuk dihindari. Sebab suara gemuruh dahsyat yang ditampilkan menjelang dilancarkannya serangan itu telah memberi kesempatan kepada lawannya untuk berkelit.

Betul saja, Pek Ti berhasil menghindar dari gempuran itu.

Di saat tubuhnya sedang berkelit itulah, ia saksikan tubuh Thian-heng nikou ikut melayang ke udara.

Ketika ia bergerak setengah lingkaran, berjalan keluar dan wilayah pengaruh tenaga gempuran dari Thian-heng nikou, tubuh nikou tersebut sudah meluncur ke udara dan menumbukkan kepalanya di pohon waru. Ketika tubuhnya roboh terkulai ke tanah, seluruh ruas tulang belulang tubuhnya seperti mercon berantai yang meletus tiada henti nya, di saat badannya sudah mencium tanah, seluruh tubuhnya telah berubah jadi lemas bagaikan seonggok lumpur.

Jelas dia sudah berhasil melatih ilmu gwakang dan lweekangnya hingga mencapai tingkat penggabungan yang luar biasa, dalam perjalanan untuk mencapai tingkatan sehebat ini, penderitaan dan siksaan yang dialaminya jelas tak bisa dibayangkan pihak ketiga. Tapi sekarang, hanya dalam waktu sekejap, seluruh tenaga kekuatannya berhasil dibuyarkan oleh getaran yang dilancarkan orang lain dengan ilmu imkang sejenis Siau-thian-seng, kenyataan seperti ini benar- benar sungguh mengejutkan

Senyuman ramah masih menghiasi wajah Thian-ci suthay, dengan senyuman yang paling halus dan nada paling lembut tanyanya kepada Pek Ti

"Menurut pandanganmu, sanggupkah kau menerima jurus serangan yang barusan kulancarkan?"

Pek Ti seakan terperangah, tertegun dibuatnya.

Ia merasa sekujur tubuhnya seolah direndam dalam air es yang sangat dingin, bahkan dia tak sempat melihat dengan jelas dengan cara apa Thian-ci suthay melancarkan serangannya.

Kembali Thian-ci suthay menghela napas panjang.

"Aku tahu, apa yang kau ucapkan tadi bukan ditujukan kepada Thian-heng, melainkan sengaja ditujukan kepadaku," katanya, "kecerdasan maupun bakat alammu sungguk mengagumkan, hanya sayang ilmu silat yang kau miliki masih kelewat cetek, oleh sebab itu walaupun kau secara tepat bisa menduga kalau orang yang sedang dicari adalah aku, bahkan bau tubuh yang tercium olehmu pun sudah menunjukkan kalau bau itu berasal dan badanku, tapi tampaknya kau masih belum begitu yakin. Sebab kau pasti berpikir, tak mungkin seorang wanita yang tinggi besar bisa orang yang sama dengan seorang nikou tua yang kurus dan lemah macam aku."

Mau tak mau Pek Ti harus mengakui.

"Oleh karena persoalan ini, maka kau pun berharap bisa melihat aku turun tangan sendiri," Thian-ci suthay kembali menghela napas panjang, "tapi sayang, kau masih melupakan akan satu hal."

"Soal apa?"

"Sewaktu aku turun tangan, kau pasti akan merasa sangat menyesal."

Padahal sebelum nikou tua itu turun tangan pun Pek Ti sudah mulai menyesal. Siapa pun orangnya, bila menjumpai kalau lawan tangguh yang harus dihadapi adalah tokoh setangguh Thian-ci suthay, dia pasti akan merasa sangat menyesal.

Kini Thian-ci suthay sudah turun tangan.

Caranya melancarkan serangan sangat aneh, tanpa gaya, tanpa jurus, pun sama sekali tak perlu persiapan.

Ketika ia melancarkan serangan, sikapnya seakan sama sekali bukan sedang melakukan serangan ke tubuh lawan, sebab dengan perawakan tubuhnya yang kecil, kurus dan lemah, gempuran yang ia lancarkan sama sekali tidak menimbulkan kesan ancaman terhadap lawannya.

Tapi ketika serangan itu sudah dilontarkan, perawakan badannya tiba-tiba membengkak besar dan mulai tumbuh, menanti jurus serangan yang dilancarkan sudah dilontarkan secara keseluruhan, seluruh tubuh musuh tahu-tahu sudah berada di bawah kendali kekuatan penghancurnya.

Perawakan badannya yang semula kurus, kecil dan lemah pun tiba-tiba berubah jadi tinggi besar dan sangat kuat, seluruh kulit badannya mengencang dan berkilat, dia nampak berubah jadi amat menakutkan.

Padahal Pek Ti sudah menduga bakal terjadinya perubahan semacam itu, tapi sayangnya biar sudah diduga pun sama sekah tak ada gunanya.

Ia mulai merasa pernapasannya jadi sukar, seluruh tubuhnya serasa berada dalam lingkup daya tekanan yang tak terlukiskan dengan kata, tekanan yang menghimpit seluruh tubuhnya, membuat airmatanya meleleh, air liurnya meleleh, ingusnya meleleh, butiran keringatnya meleleh, dia sudah kehilangan kendali, bahkan dia seperti ingin kencing, ingin buang air besar........

Untung pada saat itu tujuh-delapan buah jalan darahnya telah ditotok orang. Tenaga tekanan hilang seketika, seluruh badan pun serasa bagai dilolosi, seperti sebuah karung goni kosong yang tergeletak di atas tanah.

Thian-ci suthay masih dengan sikapnya yang santai dan lembut berkata:

"Kau masih muda, tentu tak ingin mati, aku pun tak akan membiarkan kau mati kelewat cepat. Menyaksikan seorang pemuda yang segar, gagah dan penuh tenaga, mati secara berlahan-lahan di hadapanku, bukan saja hal ini merupakan satu kenikmatan, juga termasuk semacam seni, seni kematian "

Kemudian sambil menengok ke arah Pek Ti, tanyanya: "Kau berkarap kematianmu dimulai dari bagian tubuh yang mana?"

Pek Ti hanya merasakan seluruh badannya kedinginan, kedinginan sangat hebat.

Selama ini dia adalah seorang pemuda yang punya semangat hidup yang luar biasa, belum pernah terpikirkan olehnya untuk menghadapi kematian.

Tapi sekarang mau tak mau dia harus berpikir.

Sekarang dia baru sadar, ternyata hidup bukanlah satu hal yang gampang, bahkan terkadang mau mati pun amat susah.

Suara kentongan kembali bergema, waktu sudah menunjukkan kentongan kelima, dan kejauhan sana, di balik kegelapan malam yang masih mencekam lamat-lamat terdengar suara ayam berkokok.

Thian-ci sutkay yang sebetulnya berdiri santai dan tenang, tiba-tiba terjadi perubahan pada kulit tubuhnya, kulit yang semula berkilat seolah berubah jadi gelap, tubuhnya pun kelihatan mengejang dua-tiga kali, disusul kemudian mengejang lagi dua-tiga kali.

Perubahan semacam ini sebenarnya tidak mudah diketahui orang, sekalipun bisa dirasakan, biasanya tak akan dimasukkan ke dalam kati.

Akan tetapi berbeda untuk Thian-ci suthay, tiba-tiba paras mukanya berubah, mendadak dan wajahnya terlintas perasaan takut dan ngeri yang luar biasa, perlahan-lahan ia berpaling, memandang ke arah Thian-heng, seakan-akan dia sebenarnya tak berani menengok ke arahnya, namun mau tak mau harus menengoknya.

Paras muka Thian-heng masih hambar tanpa perubahan, dia terkapar lemas di atas tanah sambil mengawasi Thian-ci suthay.

Sekahpun paras mukanya tiada perubahan namun dari balik matanya justru memperlihatkan perubahan bahkan perubahan yang rumit dan aneh, entah ia sedang menderita kesakitan? Atau sedang mengejek? Atau sedang membenci? Atau bahkan sedang merasa iba?

"Kau? Perbuatanmu?"

"Benar," jawab Thian-heng nikou tenang, "aku tahu mengapa kau turun tangan keji kepadaku, aku pun tak akan menyalahkan dirimu. Seharusnya kau pun sudah tahu mengapa aku pun turun tangan keji kepadamu."

"Bagaimana kau lakukan semuanya ini?"

Jawaban yang diucapkan Thian-heng nikou seakan sama sekali tak ada hubungannya dengan pertanyaan yang diajukan Thian-ci suthay, dia hanya berkata:

"Aku bermarga Ni, Ni dari huruf telinga yang bersusun tiga!" "Keluarga Ni? Keluarga Ni dari Hee-ngo-bun?"

"Betul," jawab Thian-heng nikou hambar, "Hee-ngo-bun memiliki banyak ilmu sesat untuk mencelakai orang, ilmu sesat yang tak mungkin bisa dipunahkan oleh anak murid perguruan kaum lurus macam kalian."

Sorot mata Thian-ci suthay memancarkan ketakutan yang luar biasa. "Racun apa yang kau gunakan terhadapku?" teriaknya ngeri.

"Sebenarnya bukan terhitung racun yang ganas, aku hanya mencampurkan sedikit bubuk It- tiam-ki-beng-ngo-ku-toan-hun-san (Satu Titik Bubuk Putus Sukma Saat Ayam Berkokok di Kentongan Kelima)!" kata Thian-heng nikou tenang, "sifat bubuk racun ini sangat istimewa, kapan pun kau campurkan racun itu, racun baru mulai bekerja di saat kentongan kelima ketika ayam mulai berkokok, bahkan begitu saatnya tiba, racun itu langsung mulai bekerja."

Setelah menghela napas panjang, imbuhnya:

"Aku benar-benar tak menyangka, pada akhirnya kita berdua harus mati bersama di hari dan tempat yang sama." Bab 7 : Penutup

Permadani bulu domba buatan Persia yang halus dan lembut dibentangkan di atas lapisan batu yang sudah dihangatkan, rasanya persis seperti tanah berumput yang hijau di musim semi.

Aneka macam buah anggur, buah pear, melon balikan buah-buah langka lainnya berjajar di atas tempat buah yang terbuat dari emas.

Waktu itu Pek Ti sedang mengawasi Pok Ing sembari mengkela napas.

"Aku sungguh mengagumimu, aku selalu akan mengagumimu," katanya, "tak bisa kubayangkan manusia mana lagi di dunia ini yang pantas dan berharga kukagumi semacam kau."

"Sebentar lagi, kau segera akan melewati penghidupan yang penuh dengan kebahagiaan dan kegembiraan," kata Pok Ing, "kini namamu semakin tersohor, kehidupanmu juga akan semakin membaik, khususnya setelah kau berhasil memecahkan kasus besar ini." Setelah tersenyum, katanya lagi:

"Selesai kasus ini, kau hanya perlu menggoyangkan badan dan segera berubah menjadi seorang hongtiang kuil nikou yang disanjung dan dihormati setiap umat persilatan, hanya mengandalkan sedikit tenaga, setiap saat kau telah mengubah bentuk badanmu, kal yang mustakil bisa dilakukan orang lain, ternyata bisa kau lakukan semua, jika bukan kau yang tersohor lantas siapa yang akan tersohor?"

Dengan pandangan mata yang misterius Pek Ti menatap lawannya, tiba-tiba ia bertanya: "Bersediakah kau bertukar tempat denganku? Bertukar satu hari saja."

"Bertukar apa?"

"Kau menjadi Pek Ti dan aku menjadi Pok Ing!" Pok Ing hanya tertawa, belum sempat buka suara, seseorang telah mewakilinya menjawab

"Tidak bisa!"

Seorang wanita cantik rupawan bak bidadari dalam lukisan muncul di samping Pok Ing kemudian menyandarkan tubuhnya di pangkuan lelaki itu, suara tertawanya lebih manis dari madu, sinar matanya lebih jek dari bintang timur.

"Tidak bisa," kembali perempuan itu tertawa manis, "yang lain boleh saja ditukar, hanya Pok Ing yang tak bisa ditukar, barang lain kalau tertukar bisa dicari penggantinya, tapi Pok Ing hanya ada satu."

Paras muka Pek Ti berubah jadi merah jengah, buru-buru ia meneguk arak untuk menutupi perubahan wajahnya

Pok Ing tertawa tergelak.

"Kau belum pernah bertemu dengannya bukan? Ingin tidak untuk mengetahui siapakah dia?" kemudian dengan berlagak serius, lanjutnya, "kalau begitu kuberitahu kepadamu, dia adalah seorang tuan putri, seorang tuan putri yang betul-betul tulen, betul-betul asli, tanggung bukan gadungan."

"Tuan putri?" Pek Ti terperanjat, seolah tidak percaya, tapi setelah diamati dengan seksama, mau tak mau dia harus mempercayainya juga.

"Sayang tempat kami terlalu kecil, pemandangan alam tidak terlalu bagus, hasil produksi pun kurang beragam dan kurang enak," tuan putri menghela napas panjang, "sesungguhnya di tempat kami hanya menghasilkan sejenis barang saja, barang produksi kami tidak enak dimakan, tidak enak dibuat mainan."

"Ya betul, perkataan itu memang sejujurnya, barang itu memang benar-benar sama sekali tak berarti," seru Pok Ing menambahkan, kemudian setelah membuat muka setan ke arah Pek Ti, lanjutnya:

"Kenapa tidak kau tanyakan kepadanya, barang macam apakah itu?"

Tak ingin bertanya pun mustahil, maka Pek Ti segera bertanya: "Barang apa sih itu?" "Sebetulnya bukan bernama apa-apa, orang menyebut barang itu sebagai emas murni." "Apa? Emas murni?" Pek Ti semakin terperanjat, "Emas? Emas murni?" "Ya, hanya semacam barang itu saja," Pok Ing mengikuti tuan putri menghela napas panjang, "hasil produksi wilayah mereka pun tidak terlalu banyak, paling banter hanya menyamai produksi emas dari empat propinsi di Kanglam ditambah sedikit lagi."

Pek Ti tertawa, tertawa terbakak-bahak, dia segera melemparkan cawan arak dalam genggamannya keluar dan jendela.

Tiba-tiba ia merasa kehidupan ternyata merupakan satu kejadian yang begitu indah.