Sampul Maut Jilid 12

Jilid 12

Wei Beng Yan segera mengenali bahwa jurang itu adalah jurang Beng-keng-ya.

Mereka menjadi cemas ketika melihat tangga tali untuk naik atau turun ke atas dari jurang itu sudah putus. Dilihat dari keadaan, mungkin juga satu orang pun tidak ada dalam kuil Cit-po-sie itu, sebab tangga tali yang putus itu tidak diganti. Untuk turun dari atas ke bawah, orang masih dapat melakukannya, tetapi untuk naik ke atas, rupanya sukar sekali!

„Sumoay,” kata Wei Beng Yan, „apakah kita harus naik juga ke atas puncak itu?”

„Mengapa tidak?”

„Tangga tali sudah diputus orang, bagaimana kita akan naik?” To Siok Keng mengawasi jurang itu dengan teliti, lalu berkata. „Jika orang-orang dari kuil Cit-po-sie bisa naik dan turun, mengapa kita tidak bisa?”

„Tangga tali itu sudah putus, tetapi tidak diganti. Itu dapat membuktikan bahwa kuil Cit-po-sie sudah tiada penghuninya!”

„Apakah orang harus turun atau naik dengan mengandeli tangga tali itu saja?”

Wei Beng Yan tak dapat menyahut.

To Siok Keng melanjutkan omongannya.

„Orang yang pertama naik ke atas jurang ini tentu tidak naik dengan perantaraan tangga tali, bukan?”

Tetapi bagaimana kita dapat naik ke atas? Jurang ini tebing sekali.”

„Tenagamu sudah banyak berkurang. Kau dapat mengorek lubang di permukaan jurang ini dengan ujung pedangmu, lalu lubang- lubang itu dapat digunakan sebagai anak tangga untuk naik ke atas!”

„Sumoay! Jurang ini tinggi sekali. Jika aku harus naik dengan mengorek-ngorek lubang dengan ujung pedangku, sampai kapan baru kita sampai ke atas!”

„Jika kau ulet, selonjor besi dapat kau gosok sehingga menjadi sebatang jarum!” Wei Beng Yan segera mengerti maksud To Siok Keng, yang selalu menganjurkannya agar jangan putus asa. Ia segera mecabut pedangnya dan mulai mencongkel lubang untuk dibuat tangga mendaki jurang yang tebing itu.

Setelah mencongkel beberapa lubang, Wei Beng Yan segera mendaki dengan pelahan dan hati-hati sekali, diikuti oleh To Siok Keng.

Pekerjaan itu memerlukan kesabaran, ketekunan dan keuletan, mungkin juga mereka akan mengambil waktu sampai tiga hari untuk tiba di atas jurang.

Apakah mereka akan berhasil mendaki jurang itu? Karena itu berarti berada di permukaan jurang selama tiga hari tiga malam tanpa makan dan minum? Tetapi mereka sudah bertekad mendaki jurang itu dengan harapan berhasil mencari Tok-beng-oey-hong di kuil Cit-po-sie, mereka maju terus!

Ketika sudah mendaki jurang itu selama setengah hari, Wei Beng Yan berkata kepada To Siok Keng yang berada di bawah kakinya.

„Sumoay, apakah kau merasa takut?”

„Ya! aku merasa takut!” sahut To Siok Keng.

„Sumoay, apa yang kau takuti? Misalnya kita jatuh dan mati bersama di sini, aku kira sama saja seperti kita akan tewas di gedungnya Lee Susiok! Pek Tiong Thian pasti datang ke sana, dan tanpa Tok-beng-oey-hong kita tak dapat melawan dia!” „Suko, sekarang giliranku untuk mencongkel lubang. Berikanlah pedang itu kepadaku!”

Dari atas Wei Beng Yan memberikan pedangnya kepada To Siok Keng yang segera menusukkan ujung pedang itu ke dalam permukaan jurang, dan ujung kakinya menendang lubang, sehingga tubuhnya melonjak ke atas melewati Wei Beng Yan dan secepat kilat menusukkan ujung pedangnya ke permukaan jurang lagi.

Demikianlah mereka mencongkel lubang di permukaan jurang itu dan mendaki jurang tersebut dengan ulet dan tekun. Mereka kehujanan pada malam harinya, maka pada keesokan harinya mereka sudah menjadi sangat letih.

Angin gunung meniup keras dan tiupan itu hanya tambah mengganggu usaha mereka saja. Mereka sudah melupakan bahaya, dan bertekad akan mendaki terus pantang mundur walaupun apa yang akan terjadi. Waktu mereka tiba di birai jurang lalu duduk untuk beristirahat di atas birai itu. Namun mereka tak berani beristirahat terlalu lama, sebab sang waktu mendesak terus. Sinar matahari menjemur kering pakaian mereka yang basah dan mengangatkan tubuh, tetapi tak dapat mengangkat perasaan lapar mereka.

Pada hari kedua, mereka merasa lebih letih lagi. Tapi mereka tidak putus asa, mereka mendaki terus, hanya kini tampak mereka mencongkel lebih lambat. Pada tengah malamnya turun hujan besar lagi sehingga permukaan jurang itu jadi makin licin. Mereka terpaksa berhenti sambil menempelkan tubuh di permukaan jurang itu. Kaki tangan mereka menjadi kaku karena kedinginan. Jika lengah, maka mereka pasti tergelincir dan jatuh terhampar di bawah! Tiba-tiba Wei Beng Yan melantun.

„Angin utara meniup keras

Hujan lebat turun bebas,

Jika kita harus tewas,

Kita tewas menunaikan tugas!”

Suaranya bergema di pegunungan itu, dan mereka selalu insaf akan kedudukan mereka yang sangat berbahaya.

Setelah hujan berhenti, mereka meneruskan mencongkel lubang dan terus mendaki jurang!

Pada pagi hari yang ketiga, mereka sudah hampir tiba di atas jurang. Mereka menjadi pening ketika menoleh ke bawah!

„Sumoay, jika kita berhasil mendaki jurang ini, aku yakin kitapun akan berhasil mencari Tok-beng-oey-hong dan membasmi Pek Tiong Thian!” kata Wei Beng Yan.

To Siok Keng bersenyum dengan perasaan terhibur, karena ia telah melihat bahwa Wei Beng Yan sudah mulai memperoleh kembali kepercayaan atas dirinya sendiri.

Mereka mendaki terus dengan susah payah, dan empat meter lagi mereka akan segera tiba di atas jurang. Tiba-tiba Wei Beng Yan, merasa pusing dan kedua matanya gelap! To Siok Keng juga melihat bahwa muka pemuda itu mendadak menjadi pucat.

„Suko!” serunya „Kau mengapa? Kau berhenti dulu, biar aku yang mendaki terus lalu menarik kau ke atas dengan tali!”

Wei Beng Yan memejamkan kedua matanya dan tidak menyahut.

To Siok Keng menjadi gelisah. Ia berada di sebelah atas. Apakah ia harus turun memegangi Wei Beng Yan, apakah ia harus terus mendaki ke atas jurang, lalu mencari tali mengangkat Wei Beng Yan?

Wei Beng Yan membuka kedua matanya dan berusaha mendaki jurang itu lagi. Tetapi ia seolah-olah kehilangan tenaga dan tak

dapat memegang sesuatu di permukaan jurang itu. Ia kejengkang ke belakang dan jatuh ke bawah!

Bukan main kaget To Siok Keng melihat kejadian itu. Ia pejamkan kedua matanya dan menjerit.

Justru pada saat Wei Beng Yan terjengkang ke belakang, satu tali lasso berhasil menjirat tubuhnya, dan ia terangkat ke atas jurang!

Kejadian yang mujizat itu tak dapat dipercaya oleh To Siok Keng. Apakah ia sedang bermimpi? Ia lekas mendaki lagi, dan segera tiba di atas jurang di mana ia lihat Wei Beng Yan yang masih belum sadar, telah diletakan di atas tanah dan tali lasso masih menjirat tubuhnya. To Siok Keng mencari penolong Sukonya, tetapi ia tak melihat orang di sekitar tempat itu. Lalu ia buka tali lasso yang menjirat tubuh Wei Beng Yan, mengurut beberapa urat nadinya dan sejenak kemudian, Wei Beng Yan sudah sadar lagi.

„Suko, kita sudah tiba di atas jurang!” seru si gadis girang.

„Sumoay, apakah kau yang telah menolong aku?” tanya Wei Beng Yan.

To Siok Keng menggeleng-geleng kepalanya seraya menyahut.

„Bukan!”

Wei Beng Yan bangun dan menanya lagi.

„Jika bukan kau, siapakah yang telah menolong aku?”

„Akupun tidak tahu, aku hanya melihat tali lasso menjirat tubuhmu dan kau terangkat ke atas jurang! Aku kira aku sedang bermimpi menyaksikan kejadian yang mujizat itu!”

„Hm! Penolongku tentu masih berada di atas jurang ini,” kata Wei Beng Yan „Ayoh, kita cari. Aku ingin menghaturkan terima kasih kepadanya!”

Baru saja ia mengucapkan kata-kata itu, tiba-tiba tampak, entah dari mana datangnya, seorang yang sudah sangat lanjut usianya sudah berdiri di hadapan mereka. Rambut, alis, jenggot dan kumis kakek itu sudah putih semua, tetapi kedua matanya masih bersinar sekali dan mengenakan jubah putih, sebelah tangannya memegang satu tongkat kayu dari dahan pohon. Melihat orang itu, Wei Beng Yan dan To Siok Keng terkejut sekali, tetapi mereka segera insyaf bahwa tentu orang inilah yang telah menolong Wei Beng Yan barusan, maka mereka segera berlutut.

Kakek itu segera mengebut lengan bajunya dan Wei Beng Yan maupun To Siok Keng, yang sudah hampir berlutut mendadak terangkat naik sehingga mereka jadi berdiri lagi!

Wei Beng Yan terhuyung ke samping, dan jika tidak keburu ditahan oleh To Siok Keng, ia pasti sudah roboh terkena dorongan tenaga kebutan lengan baju yang ternyata hebat sekali itu.

„Seumur hidupku, aku tidak pernah menolong ataupun menganiaya orang!” kata kakek itu ketus. “Kalian tidak usah menghaturkan terima kasih!”

Wei Beng Yan lekas-lekas mengangkat kedua tangannya memberi hormat seraya berkata.

„Locianpwee, jika aku tidak ditolong barusan, maka pasti sudah menjadi mayat!”

Kakek itu agaknya berpikir, lama juga baru ia menyahut. „Kau telah menolong dirimu sendiri!”

„Bukankah Locianpwee yang telah menjirat aku dengan tali lasso barusan?”

„Aku telah mengatakan tadi bahwa seumur hidup aku tidak pernah menolong atau menganiaya orang! Tapi setelah menyaksikan kau bertekad dan bergiat mendaki jurang yang tebing dan berbahaya ini, aku terpaksa harus mengulurkan tangan menolongmu ketika kau pingsan dan tidak berdaya mengendalikan dirimu lagi! Kaulah yang menjadi sebab sehingga aku terpaksa menolong juga.”

Sahutan kakek itu betul-betul sangat ganjil. Itu berarti bahwa Wei Beng Yan sajalah yang pernah menerima pertolongan kakek sakti itu.

Setelah rasa bingungnya agak reda, To Siok Keng lalu berkata.

„Locianpwee, bolehkah aku yang rendah mengetahui nama besar Locianpwee?”

„He, hee, hee! Menyesal sekali aku tidak mempunyai nama,” sahut kakek itu. „Aku sekarang sudah hampir masuk ke liang kubur sehingga tidak perlu lagi aku memusingkan otak untuk memilih- milih nama!” ia berhenti sejenak untuk mengawasi Wei Beng Yan dan To Siok Keng. Kemudian ia melanjutkan.

„Kalian berdua sudah tidak menghiraukan bahaya, apa maksud kalian mendaki jurang ini?”

To Siok Keng menoleh ke arah Wei Beng Yan untuk kemudian mengalihkan lagi pandangannya ke arah si kakek seraya berkata.

„Kisahnya panjang sekali!”

Si kakek bersenyum dan berkata.

„Meskipun demikian aku mau juga mengetahui kisah yang panjang itu!” To Siok Keng tidak lantas menyahut, parasnya yang sangat letih ternyata dapat dilihat oleh kakek yang bermata sangat tajam itu.

„Marilah kita mencari barang makanan dulu, baru kemudian kalian menceritakan kisah yang panjang itu, karena kalau aku mendesak agar kau menceritakan sekarang juga pasti kau akan semaput!”

„Kita telah berada di atas jurang itu selama dua hari, aku merasa sangat lapar!” sahut Wei Beng Yan.

Si kakek tertawa berkakakan dan berkata.

„Baiklah, aku saja yang menceritakan tentang diriku terlebih dulu. Aku datang dari Sit-bie-keng dengan maksud menjumpai pendeta tua yang tinggal dalam kuil Cit-po-sie ini. Tetapi...... sayang si pendeta tua ternyata telah meninggal dunia. Ayohlah kita mencari makanan dulu, baru kemudian kita bicara lagi!”

To Siok Keng terperanjat sekali mendengar nama tempat asal kakek itu, karena ia agaknya pernah mendengar nama tempat itu.

„Ayohlah, nona kecil!” kata lagi si kakek, „kaulah yang harus pergi mencari makanan, kawanmu ini sudah kehabisan tenaga!”

To Siok Keng lekas-lekas berlari ke arah kuil untuk mencari apa saja yang masih dapat dimakan.

Seperginya gadis itu, si kakek lalu mengawasi wajah Wei Beng Yan dan berkata. „Dasar dan pengawakanmu bagus sekali untuk mejadi seorang jago silat kelas utama!”

„Aku telah dianiaya orang sehingga tenagaku hilang sama sekali!” sahut Wei Beng Yan cemas.

„Jangan khawatir, nak! Aku rasa aku masih mungkin menolongmu!”

Wei Beng Yan jadi berlinang air mata karena girangnya.

Tetapi girangnya dilenyapkan dengan ucapan orang sakti itu yang menjelaskan caranya memulihkan tenaga dan semangatnya.

„Tenaga dan semangatmu sudah berkurang lebih dari separuh! Sekarang aku harus membebaskan jalan-jalan darahmu yang tersumbat oleh racun agar darah itu dapat menyembuhkan luka- luka di dalam tubuhmu! Maka setelah lewat tujuh hari, luka-luka di dalam tubuhmu itu akan sembuh. Seterusnya, tiap-tiap lewat tujuh hari, tenaga dan semangatmu pulih sepuluh persen, dan setelah lewat tujuhpuluh hari, kau akan menjadi sembuh dan sehat sebagaimana sediakala!”

Mendengar penjelasan itu, Wei Beng Yan menjadi kecewa lagi, dan ia menanya.

„Locianpwee, apakah kau tak dapat memulihkan tenaga dan semangatku dalam jangka waktu tujuh hari?”

Orang sakti itu menggeleng-geleng kepala seraya menyahut. „Di waktu aku belajar silat, mungkin ayahmu belum terlahir. Selama seratus tahun lebih aku belum pernah mengetahui cara memulihkan tenaga dan semangat dalam jangka waktu tujuh hari!”

Wei Beng Yan menarik napas dan ia merasa kecewa sekali yang ia tak akan dapat berbuat apa-apa untuk menggempur Pek Tiong Thian jika tenaga dan semangatnya tidak pulih.

Si kakek bersenyum dan berkata pula.

„Aku tadi bilang bahwa selama seratus tahun lebih aku belum pernah mengetahui cara memulihkan tenaga dan semangat dalam jangka waktu tujuh hari, itu adalah sekedar untuk menguji dan mengetahui maksudmu yang ingin lekas-lekas sembuh!”

Wei Beng Yan meringis sambil menatap kakek itu.

„Sebetulnya aku pernah juga mempelajari ilmu memulihkan tenaga yang terkena racun dalam jangka waktu satu minggu seperti yang kau telah katakan tadi,” kata lagi si kakek, „tetapi...... akibat dari pada pengobatan ini sangat tidak enak, menyakitkan sekali! Sekujur tubuhmu akan merasakan suatu yang betul-betul sangat tidak tertahankan, selama tenaga pijatanku belum berhasil mengusir atau memunahkan semua racun-racun di tubuhmu itu ”

Wei Beng Yan yang sudah bersumpah untuk membalas dendam, meski dengan cara bagaimanapun, segera berlulut di hadapan kakek itu seraya berkata.

„Locianpwe, aku bersedia menerima semua akibat itu!” Si kakek menatap wajah Wei Beng Yan sambil bersenyum, tapi mendadak wajahnya berubah jadi sungguh-sungguh dan berkata.

„Mengingat tugasmu belum terlaksanakan, dan orang yang ingin kau basmi itu adalah satu jahanam keji, maka aku akan mencoba menolongmu!”

Setelah berkata begitu, si kakek segera menghampiri untuk kemudian mengurut seluruh tubuh pemuda she Wei itu.

Selang beberapa saat, betul saja, Wei Beng Yan jadi meringis- ringis, wajahnya yang pucat berubah merah lalu dengan tiba-tiba pula berubah jadi pucat lagi. Tubuhnya mengeluarkan keringat dan menggigil keras seperti orang yang menderita demam hebat!

Tatkala si kakek selesai dengan cara pengobatannya yang ganjil itu, mendadak Wei Beng Yan memekik seperti orang yang kehilangan ingatannya sambil melonjak ke atas untuk kemudian terbanting di tanah tidak sadarkan diri!

To Siok Keng yang tidak berhasil menemukan barang makanan dari dalam kuil Cit-po-sie sudah berada di situ lagi, ia terkejut bukan main melihat keadaan Wei Beng Yan itu. Ia mengulur tangannya untuk menolong, tapi begitu tangannya bersentuhan dengan tubuh pemuda itu, mendadak berseru.

„Aai!”

Karena tubuh pemuda itu dirasakannya seperti membara, panas sekali! Ia mengawasi kakek itu seolah-olah ingin menanya apa yang telah terjadi dengan Suko nya itu. „Jangan khawatir nak,” kata .si kakek tenang. „kawanmu sedang melalui saat gawat. Sedikit waktu kemudian dia pasti akan sembuh!”

Tubuh Wei Beng Yan perlahan-lahan berhenti menggigil, hawa panas yang keluar dari tubuhnya pun sedikit-sedikit mereda. Ia membuka matanya dan melihat To Siok Keng dan kakek itu tengah berduduk mengawasinya.

„Suko,” kata To Siok Keng. „bagaimana rasanya sekarang?” Sambil meringis-ringis Wei Beng Yan lalu berkata.

„Rasanya     tenagaku sudah hilang sama sekali!”

„Menghilangnya tenagamu itu hanya bersifat sementara saja!” kata si kakek, „Kau harus berusaha menenangkan pikiranmu. Aku berani memastikan dalam duabelas jam saja kesehatan serta tenagamu sudah kembali lagi.”

Ia merogoh sakunya seraya melanjutkan.

„Karena kau tidak berhasil menemukan makanan maka makanlah barang kering ini!”

Sambil berkata demikian, si kakek mengangsurkan tangannya yang memegang satu bungkusan kecil, yang setelah dibuka oleh To Siok Keng ternyata berisikan barang makanan kering yang berupa buah-buahan. Tanpa sungkan-sungkan lagi Wei Beng Yan dan To Siok Keng segera menghabisi isi bungkusan itu.

„Locianpwee,” kata To Siok Keng setelah selesai makan. „Aku sudah tidak berhasil menemukan Tok-beng-oey-hong dalam kuil Cit-po-sie, apakah lo-cianpwee sudi menolong kita membasmi si jahanam Pek Tiong Thian?”

„Mengapa kalian jadi bermusuhan dengan orang itu?” tanya si kakek.

Wei Beng Yan lalu menceritakan segala malapetaka yang telah menimpa dirinya, bagaimana Pek Tiong Thian telah menyamar sebagai Ji Cu Lok dan mengacau balaukan kalangan Bu-lim. Ia menceritakan juga tentang Ouw Lo Si yang telah dengan keji sekali memberikan padanya TIGA SAMPUL MAUT!

Kakek itu tiba-tiba jadi gemas setelah mendengar kisah itu.

„Jahanam itu harus dibasmi!” geramnya.

„Jika Locianpwe tidak membantu kita, kalangan Bu-lim pasti hancur lebur diacak-acak oleh jahanam itu!” seru To Siok Keng.

Kakek itu menghela napas panjang.

„Aai itulah takdir yang tidak bisa ditentang oleh siapapun!” keluhnya. Setelah berkata demikian, si kakek segera menotok ujung tongkatnya, bersamaan dengan itu, tampak tubuhnya mencetat ke atas untuk kemudian berlari meninggalkan kedua muda-mudi itu.

„Locianpwee!” seru Wei Beng Yan. „Tunggu sebentar, aku masih ingin minta petunjuk-petunjuk!”

Si kakek tidak menghiraukan panggilan itu, ia meloncat dan menghilang ke bawah jurang yang curam.

„Ai! Sayang sekali!” kata To Siok Keng, „Orang sakti itu pasti mampu menggempur Pek Tiong Thian!”

„Kita akan mencari di tempat tinggalnya!”

„Ia hanya mengatakan tempat tinggalnya di Sit-bie-keng, tahukah kau dimana letak tempat itu?”

Dengan perasaan gelisah Wei Beng Yan lalu memejamkan matanya untuk beristirahat sebentar. Setelah lewat setengah jam, ia merasa perlahan-lahan tenaganya sudah mulai kembali lagi, maka pada keesokan harinya ia segera mengajak To Siok Keng, meninggalkan jurang itu.

Ketika mereka tiba di Rumah Lee Beng Yan, di depan rumah itu mereka melihat lentera kertas merah yang bertulisan.

„SATU HARI.”

Itu berarti mereka sudah kembali tepat pada waktunya, yalah hari yang kesepuluh. Tigapuluh Empat

Mereka segera masuk ke rumah gedung itu, dan ketika tiba di luar ruangan untuk berlatih silat, Lim Ceng Yao dan Song Thian Hui yang kebetulan berada di situ jadi kaget sekali.

Lee Beng Yan berjalan menghampiri dari lain ruangan seraya berkata.

„Lim-heng dan Song-heng tentu sekarang baru percaya omonganku bahwa kedua muda-mudi ini akan kembali, bukan?”

„Aku minta maaf kepada Beng Yan dan To siocia atas tafsiranku yang tidak baik itu!” kata Lim Ceng Yao jengah.

„Bagaimana hasilnya?” tanya Lee Beng Yan, „Apakah kalian sudah berhasil menemui Tok-beng-oey-hong?”

Dengan nada yang kecewa To Siok Keng menyahut. „Menyesal sekali kita gagal memperoleh benda itu!”

„Tanpa Tok-beng-oey-hong, kita hanya menunggu waktunya untuk mati di sini!”

◄Y►

Belum selesai ucapan itu, ketika terdengar suara orang tertawa dari luar seraya mengejek.

„Betul! Kalian sudah mengetahui bahwa kalian hanya menunggu waktunya untuk mati! Ha, ha, ha!” Mereka terkejut, dan menoleh kejurusan suara ejekan itu. Mereka mengawasi dengan mata terbetalak seorang nenek yang mukanya sangat jelek dan kejam berjalan dengan berlagak sekali.

Nenek itu bersenjata satu toya kayu, dan di belakangnya tampak seorang berjalan dengan gagah dengan wajah seperti burung elang dengan kedua mata yang bersinar!

Kedua orang itu telah mendobrak pintu tembok di depan, dan berjalan masuk menghampiri mereka di ruangan untuk berlatih silat.

Nenek itu adalah Hua Ceng Kin, si jahanam tuaan dari Soat-hay- siang-hiong, dan si muka burung elang adalah Pek Tiong Thian binatang buas dalam bentuk manusia!

Lee Beng Yan, Lim Ceng Yao, Song Thian Hui, Wei Beng Yan dan To Siok Keng melangkah mundur ketika kedua jahanam itu datang menghampiri. Setelah Pek Tiong Thian masuk ke dalam ruangan untuk berlatih silat, ia mengawasi musuhnya dengan sikap yang mengejek, dan ia kelihatan gembira sekali setelah melihat Wei Beng Yan dan To Siok Keng juga berada di situ. Ia lalu berkata dengan lantang dan congkak.

„Aku tidak menduga aku juga dapat menjumpai kedua anak anjing ini! Apakah kedua anak anjing ini sudah mengetahui bahwa aku akan datang ke sini? Ha, ha, ha!”

Wei Beng Yan gelisah memikiri tenaga dan semangatnya yang masih belum pulih dan ia tak dapat menggempur iblis itu dengan ilmu Thay-yang-sin-jiauw. Hanya To Siok Keng yang agak tenang, dan ia berbisik.

„Kita akan bertempur dengan rencana yang sudah kita tetapkan. Lim Tay-hiap, musuh Suko ku Hua Ceng Kin, adalah makanan Tay- hiap!”

Mereka sudah mengetahui bahwa jika mereka tidak bertempur dengan sekuat tenaga, mereka pasti tewas. Maka setelah mendengar bisikan To Siok Keng, dengan pedang terhunus Lim Ceng Yao meloncat dan menusuk pundak Hua Ceng Kin dengan jurus Liu-seng-pun-gwat (Bintang sapu mengejar bulan)!

Hua Ceng Kin telah berhasil mengajak Pek Tiong Thian menggempur musuh-musuhnya dengan omongan bahwa Wei Beng Yan dan To Siok Keng sedang bersembunyi di markas Lee Beng Yan. Dan setelah Pek Tiong Thian melawan Wei Beng Yan di atas puncak Cie-sin-hong, jahanam itu sudah mulai mengetahui bahwa ilmu Wei Beng Yan dapat dilawan dengan Ciam-hua-giok- siu. Hanya ia masih belum dapat memastikan sampai di mana kelihayan Thay-yang-sin-jiauw yang sebenarnya.

Hua Ceng Kin merasa tenang melawan semua musuh-musuh yang ia hadapi, karena yakin bahwa musuh-musuhnya itu kelak akan dilalap oleh Pek Tiong Thian.

Ketika ujung pedang Lim Ceng Yao hampir menusuk pundaknya, dengan melangkah mundur satu tindak ia tangkis tusukan pedang itu.

Sebetulnya Lim Ceng Yao telah mengerahkan seluruh tenaganya untuk menusuk musuhnya itu, karena ia yakin bahwa tusukannya itu pasti tidak gagal! Setelah tusukannya ditangkis, ia menarik pedangnya dan secepat kilat membacok ke kepala Hua Ceng Kin!

Iblis wanita itu betul-betul lihay, ia mengegos ke samping sambil menyapu betis Lim Ceng Yao dengan toya kayunya.

Bukan main gemas si orang she Lim, bukan saja serangannya itu tidak mengenai sasarannya, bahkan ia menjadi sibuk meloncat untuk menghindari sapuan toya kayu lawannya itu.

Hua Ceng Kin segera mengetahui bahwa lawannya itu gesit sekali. Ia lekas-lekas menyerang untuk mengetahui betapa kuat pertahanan lawannya itu dengan lagi-lagi menyapu ke arah badan bawah tubuh Lim Ceng Yao yang tampak mengapung ke atas untuk kemudian melayang jauh ke belakang.

Hua Ceng Kin merasa heran juga melihat lawannya itu tidak balas menusuk dengan pedangnya, padahal kesempatan untuk melakukan itu terbuka lebar sekali. Ia tidak mengetahui bahwa Lim Ceng Yao yang sudak kawakan merasa khawatir terjebak jika menusuk iblis yang keji itu.

Selagi si iblis wanita bingung itulah, Lim Ceng Yao memutar pedangnya secepat kilat sehingga hembusan angin pedang mendesing dan sinar yang menyilaukan mata berpantulan.

Hua Ceng Kin dengan berani melangkah maju dan menangkis toyanya......

„Ting!” Pedang Lim Ceng Yao terpukul tetapi...... dari bawah pedang itu berputar untuk kemudian menyodok ke arah dada.

Hua Ceng Kin menjerit bahwa kagetnya, lekas-lekas ia meloncat mundur untuk mengelakkan tusukan itu, namun ujung pedang sudah bergerak lebih cepat lagi, dadanya tergores dan mengeluarkan darah banyak sekali.

Lim Ceng Yao yang tidak mau menyia-nyiakan kesempatan yang baik itu segera meloncat sambil mengemplang dengan pedangnya, tetapi tiba-tiba tampak ia terhuyung ke samping dan roboh!

„Jahanam!” bentak Lee Beng Yan sengit, „kau sudah membokong kawanku!”

„Ha, ha, ha! Aku membokong? Aku hanya sekedar membantu kawanku yang sudah tergores dadanya!” sahut Pek Tiong Thian yang sementara pertarungan tadi berlangsung belum mau bertempur melawan musuh-musuhnya.

Setelah berkata demikian ia lalu melangkah mundur khawatir diserang oleh Wei Beng Yan. Ia telah diserang oleh Thay-yang-sin- jiauw di atas puncak Cie-sin-hong, tetapi ia berhasil mengelakkan serangan yang terkenal itu berkat bantuan Ciam-hua-giok-siu. Dengan demikian, dia adalah orang satu-satunya yang tidak tewas terkena serangan ilmu tersebut.

Ia lalu mengeluarkan sarung mujizatnya dan mengejek.

„Hm! Rupanya kalian berempat ingin mengerubuti aku seorang, ya?” Lee Beng Yan jadi gelisah sekali melihat Lim Ceng Yao sudah dilukai oleh Pek Tiong Thian.

„Dapatkah Song Thian Hui, To Siok Keng dan aku sendirian lawan jahanam she Pek ini?” tanyanya dalam hati, „Wei Beng Yan kini masih merupakan “kartu mati”!”

Belum lagi ia mengambil keputusan, tampak Hua Ceng Kin sudah berdiri di samping kawannya.

Wei Beng Yan menatap Pek Tiong Thian. Ia merasa gelisah sekali, tetapi ia harus bersikap tenang, agar musuhnya tidak mengetahui bahwa tenaga dan semangatnya sudah banyak berkurang sehingga ia belum bisa melancarkan Thay-yang-sin-jiauw.

Dengan nada yang mengejek, Pek Tiong Thian berkata.

„Empat jago silat nomor wahid bertarung melawan aku seorang! Apa kata orang di kalangan Bu-lim nanti jika mereka mengetahui hal ini? Aku tak gentar melawan kalian semua! Ayoh! Kalian boleh menyerang!”

Ia berjalan maju dua langkah.

Wei Beng Yan juga berjalan maju dua langkah dan berkata.

„Hei, Pek Tiong Thian! Kau salah! ‘Mengapa kita berempat menggempur kau seorang? Aku sendiri cukup untuk mengkeremusmu!” Lee Beng Yan dan kawan-kawannya tidak mengerti maksudnya Wei Beng Yan, tetapi tidak demikian dengan To Siok Keng, ia sudah mengetahui siasatnya, maka lekas-lekas ia berkata dengan suara yang lantang.

„Betul! Tay-yang-sin-jauw dapat menghajar jahanam yang pernah menyamar sebagai Yu Leng! Suko, biarlah jahanam itu merasai Thay-yang-sin-jiauw!”

Dengan tak terasa Pek Tiong Thian mundur lagi dua langkah mendengar anjuran gadis cerdik itu kepada saudara seperguruannya.

Wei Beng Yan membentak lagi.

„Hei! Jahanam she Pek! Sebetulnya kau harus diganyang dengan Thay-yang-sin-jiauw jika melihat perbuatanmu yang sangat terkutuk! Namun sebelum guruku meninggal dunia, ia pernah memperingatkan aku untuk mengampuni orang jika perlu. Tetapi Hua Ceng Kin itu tak dapat aku ampuni. Aku ingin membunuh jahanam itu, dan aku dapat mengampuni jika kau berjanji merubah sepak terjangmu dan menjadi orang yang baik!”

„Kau dapat mengancam aku, tetapi aku tak gentar,” sahut Pek Tiong Thian. „Aku datang ke sini dengan maksud mengirim kalian ke neraka! Kau boleh melancarkan Thay-yang-sin-jiauw. Aku tak gentar!”

Ia mengatakan itu karena yakin bahwa ia dapat melawan Wei Beng Yan dengan sarung tangan mujizat Ciam-hua-giok-siu. Di atas puncak Cie-sin-hong sarung tangan itu telah melindunginya dari Thay-yang-sin-jiauw. Ketika itu ia tidak binasa karena Wei Beng Yan tak dapat mengerahkan tenaga dalamnya seratus persen.

„Sekarang juga kau akan kugempur dengan ilmu yang dahsyat itu!” kata Wei Beng Yan sambil mengangkat lengan kanannya!

Lengan yang diangkat itu sudah mencekal pedang pusaka ayahnya.

Tiba-tiba ia meloncat ke depan dan menusuk.

Pek Tiong Thian yang selalu mengawasi gerak-gerik Wei Beng Yan, dan mengira ia akan diserang dengan Thay-yang-sin-jiauw, dapat mengegosi tusukan maut itu dengan mengebat Ciam-hua- giok-siu. Pada waktu itu juga ia sudah dapat melihat bahwa tenaga yang dikerahkan oleh itu pemuda sangat lemah, seolah-olah dilancarkan oleh satu anak kecil!

„Apakah ia sudah tak mampu melancarkan Thay-yang-sin-jiauw?” pikirnya.

Tusukan tadi sudah diperhitungkan dengan masak-masak agar dapat menusuk mati Pek Tiong Thian dalam satu gerak saja! Tetapi Pek Tiong Thian yang sudah mempelajari dan berlatih ilmu silat dari kitab Jit-gwat-po-lek, betul-betul sangat tangkas. Ciam-hua- giok-siu dikebat, dan pedang pusaka Wei Beng Yan terpental ke samping!

Meski Wei Beng Yan menusuknya dalam keadaan sehat wal’afiat sekalipun, Ciam-hua-giok-siu pasti dapat menghindarkan segala serangan-serangannya itu kecuali serangan-serangan Thay-yang- sin-jiauw dan Tok-beng-oey-hong!

Thay-yang-sin-jiauw tak dapat dilancarkan dengan tenaga dalam yang lemah, dan Tok-beng-oey-hong-pun tidak dimiliki! Keadaan pihak Lee Beng Yan betul-betul gawat!

Dengan terpentalnya pedang pusaka itu maka dada Wei Beng Yan merupakan sasaran yang mudah diserang karena kedua tangan atau lengannya terbentang lebar-lebar.

Satu tinju segera dikirim oleh Pek Tiong Thian dengan tenaga dalam hebat dan secepat kilat, untuk menonjok dada pemuda she Wei itu.

To Siok Keng yang mengawasi dengan cermat serangan Wei Beng Yan tadi, dan melihat juga tusukan maut itu ditangkis, segera mendorong Wei Beng Yan ke pinggir dan berhasil menghindarkan Wei Beng Yan dari jotosan mautnya Pek Tiong Thian.

Tetapi tidak urung hembusan angin dari jotosan maut itu telah mengenakan juga pundak kirinya Wei Beng Yan. Dan setelah ia didorong ke samping, dengan wajah pucat ia lekas-lekas mengerahkan tenaga dalamnya sambil menahan sakit.

Pek Tiong Thian gagal membunuh dengan jotosannya, dan ia ingat akan pertarungan di atas puncak Cie-sin-hong ketika To Siok Keng telah menipu dia dengan Tok-beng-oey-hong yang palsu, sehingga mereka berhasil melarikan diri. Ia menjadi murka sekali. Ia kebat Ciam-hua-giok-siu. Tetapi Wei Beng Yan sudah meloncat ke belakang dan menjotos punggungnya.

Dengan cepat Pek Tiong Thian berbalik dan berhasil mencekal tinjunya Wei Beng Yan, dengan demikian ia gagal menghajar To Siok Keng dengan Ciam-hua-giok-siu!

Wei Beng Yan merasa seolah-olah tangan dan kelima jarinya dikeramas hancur. Ketika ia merasa cemas sekali, tiba-tiba tampak Pek Tiong Thian mendorongnya sehingga ia roboh tertelentang!”

Itulah ilmu apa yang disebut Sit-gu-ciong-sin (Badak menyeruduk gunung).

Sementara itu. Song Thian Hui sudah melawan Hua Ceng Kin yang sudah berhasil mengemplang Lee Beng Yan dengan toya kayunya.

„Suko, seru To Siok Keng sambil menghampiri Wei Beng Yan yang masih menggeletak di lantai. „Kau harus melarikan diri sekarang!”

„Tidak!” sahut si pemuda she Wei gemas.

„Semangat serta tenagamu belum pulih semua, dan kau kini sudah dilukai lagi. Bukankah jika kau mati sekarang, dendam ayahmu bakal tidak terbalaskan?”

Wei Beng Yan mengerti akan maksud To Siok Keng itu. Karena untuk membunuh Pek Tiong Thian yang berkepandaian tinggi sekali, hanya benda mujizat Tok-beng-oey-hong dan ilmu Thay- yang-sin-jiauw saja yang masih mampu melaksanakan tugas itu. Ia juga menginsafi akan maksud gadis itu yang sudah bertekad mengorbankan jiwanya untuk melawan si jahanam she Pek, agar ia dapat kesempatan untuk melarikan diri.

Tapi justru pengorbanan inilah yang membuat hatinya berat meninggalkan tempat itu, karena sejak gadis itu nyaris dibakar oleh Siauw Bie di pegunungan Oey-san, ia sudah jatuh cinta kepada gadis she To itu.

Kini ia didesak untuk melarikan diri dan membiarkan kekasihnya diganyang oleh jahanam itu...... Ia lebih suka dibunuh dan mati bersama-sama gadis itu!

„Suko,” kata lagi To Siok Keng, „Ayohlah lekas tinggalkan tempat ini!”

„Tidak! Aku ingin mati bersama-samamu di sini!” sahut Wei Beng Yan.

Sementara itu, Lee Beng Yan sudah menyerang Pek Tiong Thian dengan rantai besi yang panjangnya kira-kira satu meter setengah dan dapat menyabet musuh dengan hebat.

Rantai besi yang diputar-putar itu mendesing dan mengeluarkan cahaya yang menyilaukan mata. Lee Beng Yan sangat dimalui di kalangan kang-ouw, karena dengan senjatanya yang ampuh itu ia pernah berkali-kali membasmi musuh yang jauh lebih besar jumlahnya, dan ia telah terkenal sebagai seorang yang luhur serta budiman. Kini ia berhasil menahan Pek Tiong Thian menyergap Wei Beng Yan yang barusan dibikin tidak berdaya.

Pek Tiong Thian yang telah memiliki kepandaian demikian hebat, menganggap Lee Beng Yan sebagai seorang lawan yang tidak ada artinya sama sekali. Hanya dengan meloncat ke kanan dan ke kiri saja, ia sudah bisa menghindarkan sabetan-sabetan rantai besi lawannya itu.

Karena sudah ingin lekas-lekas membunuh Wei Beng Yan, Pek Tiong Thian lalu mendesak Lee Beng Yan dengan jotosan-jotosan yang dikerahkan dalam jurus Pau-hong-to-hay atau Angin taufan menggolakkan lautan.

Selagi melayani Pek Tiong Thian, Lee Beng Yan dapat mendengar permintaan To Siok Keng agar Wei Beng Yan lekas-lekas meninggalkan tempat itu, dan penolakan si pemuda she Wei membikin hatinya cemas sekali.

„To siocia!” serunya lantang sambil menyabetkan rantai besinya,

„Kau harus membawa Wei Beng Yan berlalu dari sini. Biarlah kita bertiga yang mati di tangan jahanam ini!”

„Ha, ha, ha! Gampang saja kau mementang bacot!” ejek Pek Tiong Thian.

Selesainya kata-kata itu, tampak tubuh Pek Tiong Thian mencelat ke atas untuk menghadang jalan keluar dari tempat itu.

Song Thian Hui yang sedang melawan Hua Ceng Kin, tiba-tiba melepaskan lawannya untuk membantu dan menghajar kepada Pek Tiong Thian yang baru saja menginjakkan kakinya di atas lantai lagi.

Tetapi mendadak si orang she Song menjerit seram dengan wajah bermandikan darah. Setelah terhuyung sejenak ia roboh untuk tidak bangun lagi.

Melihat keadan yang sudah betul-betul membahayakan sekali itu, To Siok Keng segera membetot tangan Wei Beng Yan dan melarikan diri.

Pek Tiong Thian jadi gusar sekali, baru ia ingin mengejar tiba-tiba Lee Beng Yan menghadang di hadapannya, maka terpaksa ia harus melayani lawannya itu.

Baru saja tiba di luar pintu ruangan untuk berlatih silat itu, To Siok Keng dan Wei Beng Yan dikejutkan oleh suara seseorang yang melengking tinggi.

“Hee, hee, hee! Kalian ingin melarikan diri ke mana?”

To Siok Keng segera mengenali suara orang yang mengejar mereka itu, ialah Hua Ceng Kin. Ia tidak menoleh ataupun menghentikan langkahnya. Perlahan-lahan dan sambil berlari terus ia menghunus pedang Wei Beng Yan yang sedang diajak melarikan diri. Ketika pedang sudah berada di tangannya, tiba-tiba ia berhenti dan secepat kilat berbalik sambil menusuk ke arah jantung lawan.

Iblis Hua Ceng Kin itu hanya mengetahui bahwa Wei Beng Yan terluka parah, tetapi tidak mengetahui kelihayan To Siok Keng. Ia hanya melihat bahwa gadis itu masih muda dan belum pernah menyaksikan bagaimana gadis itu dapat menyelomoti Pek Tiong Thian!

Ia mengejar dengan tekad membunuh muda-mudi itu, maka ia tidak menduga sedikitpun jika tiba-tiba ia ditusuk oleh gadis itu.

Perlu diketahui bahwa tusukan yang secepat kilat itu dilakukan dengan jurus Tok-coa-pun-si (Ular berbisa menyemburkan maut), dan tak pernah gagal membunuh korbannya!

Si iblis Hua Ceng Kin tak diberikan kesempatan untuk mempertunjukkan kelihayannya. Mendadak terdengar ia menjerit.

„Aduh!” darah yang hangat muncrat keluar, dan ia jatuh tersungkur di tanah dengan mata terbelalak ke atas!

Tiga musuh ayahnya Wei Beng Yan – Eu-yong Lo-koay, dikeremus Thay-yang-sin-jiauw Wei Beng Yan di tempat bertapa Tang Ceng Hong, Suto Eng Lok juga dikeremus ilmu yang sama di suatu rumah penginapan, dan Hua Ceng Kin ditusuk jantungnya dengan pedang pusaka Wei Tan Wi.

Wei Beng Yan terhibur dengan terbunuhnya ke tiga musuh ayahnya itu, karena itu berarti ia telah menunaikan sumpahnya. Tetapi jiwanya sendiri sekarang terancam oleh Pek Tiong Thian, satu binatang dalam bentuk manusia yang seribu kali lebih kejam dari pada ke tiga musuh ayahnya atau manusia manapun!

To Siok Keng mencabut pedangnya keluar dari jantung iblis wanita itu, dan menabas putus kepalanya. Lalu ia betot lagi Wei Beng Yan dan meneruskan larinya keluar dari pintu tembok. Ketika itu mereka terkejut mendengar jeritan Lee Beng Yan yang mengerikan sekali.

To Siok Keng maupun Wei Beng Yan mengetahui bahwa Lee Beng Yan juga tewas dibunuh oleh Pek Tiong Thian dalam usahanya menahan jahanam itu mengejar mereka!

Hanya Lim Ceng Yao yang sudah dapat memulihkan lagi tenaganya yang masih dapat bertahan melawan Pek Tiong Thian. Tapi berapa lamakah dapat si orang she Lim bertahan terus?

Lim Ceng Yao sudah mengetahui bahwa ia akan mati dalam tangan jahanam itu, maka untuk membantu Wei Beng Yan dan To Siok Keng melarikan diri, ia lalu dengan nekad menubruk dan berhasil memeluk lawannya sehingga Pek Tiong Thian jadi kelabakan.

Kesempatan yang baik itu telah dipergunakan oleh kedua muda mudi untuk mempercepat langkah mereka.

Tapi...... Wei Beng Yan yang sudah dilemparkan oleh Pek Tiong Thian tadi tidak bisa berlari cepat-cepat, maka terpaksa To Siok Keng harus menggunakan siasat seperti telah digunakan mereka di pegunungan Oey-san, yalah dengan jalan menyembunyikan diri.

Sambil celingukan, To Siok Keng berhenti di suatu tempat, ia lalu melemparkan Pedang Wei Beng Yan ke arah timur dan lekas-lekas mengajak si pemuda berlari ke arah barat.

Mereka sudah melarikan diri cukup jauh, ketika terdengar suara jeritan Lim Ceng Yao yang menyayatkan hati. „Suko,” kata To Siok Keng, „Lim Tay-hiap sudah dibunuh oleh si jahanam!”

„Ya ” sahut Wei Beng Yan sedih.

„Dapatkah kau mempercepat langkahmu?”

„Aku akan...... berusaha ”

Begitulah mereka segera melarikan diri lagi.

Di suatu tempat To Siok Keng kebetulan melihat sebuah sumur tua, maka lekas-lekas ia mengajak Wei Beng Yan menghampiri sumur tersebut. Ia melongok ke dalam sumur itu dan menjadi girang bukan main.

Wei Beng Yan pun turut melongok ke dalam sumur tua itu.

„Suko,” kata To Siok Keng. „Kita terpaksa harus bersembunyi dalam sumur ini. Dapatkah kau menyelam dalam air?”

Wei Beng Yan mengangguk.

To Siok Keng segera mendahului turun ke mulut sumur itu yang kebetulan airnya hanya sedalam satu meter lebih saja.

Dengan susah payah akhirnya Wei Beng Yan pun bisa juga turun ke dalam sumur itu.

Demikianlah mereka bersembunyi dalam sumur sambil mendengari segala sesuatu yang terjadi di atas mereka. Tidak lama kemudian, mereka mendengar suara bentakan seram.

„Anjing!”

Begitulah terdengar Pek Tiong Thian berteriak-teriak kalap, yang kemudian dilanjutkan dengan ucapan-ucapan seperti berikut.

„Kalian tidak akan terlolos dari tanganku hari ini!”

Setelah itu terdengar derap kaki tembaga jahanam itu yang menerbitkan suara berisik sekali.

To Siok Keng dan Wei Beng Yan jadi bercekat mendengar derap kaki itu yang makin lama makin mendekati ke arah mereka tengah bersembunyi. Lekas-lekas mereka memasukkan tubuh mereka ke dalam air sumur dan menantikan segala sesuatu yang mungkin terjadi atas diri mereka.

Pek Tiong Thian menghampiri sumur dan melongok ke dalam dan tiba-tiba terdengar ia tertawa berkakakan seram seraya berkata.

„Mereka tentu tidak akan turun ke dalam sumur ini! Ha, ha, ha!”

Setelah menantikan beberapa saat lamanya, ia lalu berjalan meninggalkan sumur itu, untuk mencari di tempat lain.

Wei Beng Yan dan To Siok Keng menahan napas agar dapat tetap tinggal hidup dalam air itu. Mereka dapat bertahan cukup lama berkat ilmu tenaga dalam mereka yang sudah sempurna betul. Setelah merasa agak aman, mereka lalu menonjolkan kepala mereka sambil mengawasi ke atas mulut sumur. Mereka tidak mendengar suara apapun, kecuali suara embusan angin yang meniup daun-daun pohon.

„Sumoay,” bisik Wei Beng Yan. „Apakah si jahanam sudah berlalu dari tempat ini?”

„Entahlah...... kita tunggu saja beberapa saat lagi......” sahut To Siok Keng.

Hari itu adalah hari yang kedua sejak Wei Beng Yan diobati oleh kakek sakti dari Sit-bie-keng. Khasiat dari pada pijatan-pijatan kakek itu sudah mulai dirasakan oleh pemuda itu.

Ia merasa kelemasannya sudah mulai meninggalkan tubuhnya, dan tenaganya pun agaknya sudah mulai pulih kembali.

Setelah seperempat jam lewat lagi, To Siok Keng segera merambat-rambat dinding sumur itu dan ketika ia menggerakkan kedua kakinya, tubuhnya sudah mulai mendaki sumur itu, diikuti Wei Beng Yan yang ternyata sudah dapat mengikuti jejaknya itu.

Mereka merasa girang sekali, karena setibanya di atas, mereka tidak melihat siapa pun.

„Sumoay,” kata Wei Beng Yan sambil bersenyum, „lagi-lagi kau sudah menolong jiwaku, aku ” „Sudahlah...... kita sekarang harus berusaha melarikan diri lagi,” sahut To Siok Keng. „Jangan sebut-sebut lagi tentang tolong menolong ini!”

Wajah Wei Beng Yan jadi merah mendengar kata-kata gadis itu, yang sudah menganggap dirinya sebagai orang sendiri.

„Ke manakah kiranya si jahanam sudah melarikan diri?” tanyanya.

„Menurut pendapatku Pek Tiong Thian tentu sudah berlalu dari gedung Lee tay-hiap.”

„Ingin ke manakah kita sekarang?”

„Aku akan balik kembali ke gedung Lee tay-hiap dan jika tempat itu aman untuk sementara waktu kita akan bersembunyi di sana.”

Setelah berkata begitu, To Siok Keng segera melarikan diri ke arah gedung yang dimaksud.

Setibanya di depan gedung itu, si gadis she To melihat tembok di luar sudah roboh. Di suatu bagian tampak mayat Hua Ceng Kin masih menggeletak tanpa kepala. Di luar ruangan untuk berlatih silat tampak mayat Song Thian Hui, mayat Lim Ceng Yao yang sudah sukar dikenali karena kepalanya telah hancur dikeremus oleh Ciam-hua-giok-siu. Mayat Lee Beng Yan tampak tertiarap di lantai seperti orang yang sedang tidur nyenyak.

Di sana sini darah berhamburan dan menyiarkan bau yang memuakkan sekali. To Siok Keng lalu berjalan masuk ke arah lebih dalam. Segala sesuatu yang terdapat di situ hancur berantakan tidak keruan, pemandangan itu semua adalah pekerjaan sarung tangan mujizat Ciam-hua-giok-siu.

Ia menjadi tambah terkejut, ketika melihat Lo Hok yang tidak bersalah sedikitpun dalam urusan itu, sudah dibunuh mati juga! Karena sangat terharu melihat itu semua, ia lalu berbalik dan lekas- lekas keluar dari rumah gedung itu lagi.

„Bagaimana?” tanya Wei Beng Yan. „Apakah kau melihat suatu tempat untuk kita menyembunyikan diri?”

„Tidak bisa kita menyembunyikan diri di sana,” sahut To Siok Keng.

„Apa yang telah terjadi dengan ke tiga Susiok ku?”

„Mereka telah ditewaskan! Tidak ada satu orang pun yang masih hidup dalam gedung itu!”

„Aai! Mereka telah berkorban untuk kita! Sampai kapan baru dapat dendam ini dibalas?”

To Siok Keng bersenyum getir dan menghibur.

„Nasi sudah menjadi bubur. Tak usah kita bicarakan lagi! Sekarang kita harus melihat ke depan, dan berusaha mencari jalan menyelamatkan diri agar. ”

Belum selesai ucapan itu ketika mereka mendengar derap kaki orang yang berlari-lari mendatangi. To Siok Keng maupun Wei Beng Yan terkejut.

„Kita tak dapat melarikan diri lagi! Kita akan terbunuh juga!” pikir mereka berdua.

◄Y►

Pesat sekali orang yang berlari-lari itu, yang dalam sekejap saja sudah berada di hadapan mereka!

Siapakah gerangan yang baru datang itu? Dia ternyata bukan Pek Tiong Thian!

Dia itu adalah si kakek pincang Ouw Lo Si, si Ahli nujum kipas baja!

Semula Wei Beng Yan tampaknya tidak percaya akan apa yang dilihatnya itu. Tapi sejenak kemudian mendadak wajahnya berubah jadi beringas ketika mengingat bahwa si pincang inilah yang telah meracuni sehingga ia kehilangan tenaga dalamnya.

Dan si pincang inilah yang menjadi sebab utama sehingga Lee Beng Yan, Song Thian Hui, Lim Ceng Yao ke tiga susioknya dan Lo Hok, si pelayan setia, kehilangan jiwanya masing-masing!

Tigapuluh Lima

Pada saat itu Wei Beng Yan hanya bisa merasa gusar bukan main tanpa dapat memberikan ganjaran setimpal kepala kakek yang licik itu, karena pada saat itu tenaga dalamnya belum pulih seluruhnya. „Sumoay.......” bisiknya kepada To Siok Keng. „Kakek inilah yang bernama Ouw Lo Si, orang yang telah memberikan aku ke TIGA SAMPUL MAUT!”

To Siok Keng, mengawasi Ouw Lo Si dari atas hingga ke bawah, kemudian sambil berbisik ia menanya.

„Apa yang dikehendaki olehnya kini??”

Wei Beng Yan tidak menjawab pertanyaan gadis itu, ia sebaliknya jadi melotot dan membentak.

„Hei, anjing pincang! Sungguh tidak dinyana watakmu lebih mirip watak binatang dari pada watak manusia!”

Ouw Lo Si melangkah mundur bahna kagetnya mendengar bentakan yang keras itu. Ia segera mengetahui bahwa pemuda itu tentu telah membuka ketiga sampul suratnya.

Ia merasa heran sekali, mengapa setelah membaca suratnya yang ketiga, pemuda itu masih segar bugar. Tapi sebagaimana layaknya orang yang bersalah, orang itu pasti berhati kecil, begitulah sama halnya dengan si kakek pincang itu.

„Wei siohiap!” katanya merendah, „kaupun berada di sini? Siapakah siocia ini?”

Wei Beng Yan tidak menyahut, kedua matanya bersinar karena gusarnya. Ouw Lo Si jadi menggigil ditatap demikian, dengan suara terputus- putus ia berkata lagi.

„Apakah...... siohiap sudah mengetahui...... siapa...... siapa yang telah menyamar sebagai gurumu? Jika..... jika belum, aku dapat menjelaskan dan memberikan bukti-bukti ”

To Siok Keng segera memberi isyarat agar Wei Beng Yan tidak bertindak sembarangan, dan karena anjuran itulah, Wei Beng Yan jadi merasa kasihan juga pada kakek pincang itu.

„Aku sudah tahu siapa jahanam yang telah menyamar sebagai guruku itu!” sahutnya ketus. „Pembunuhan besar-besaran atas seluruh keluarga siocia inipun adalah perbuatan jahanam she Pek itu juga!”

Ouw Lo Si terkejut sekali mendengar keterangan itu. Tiba-tiba saja ia jadi teringat akan Kiu It, saudara angkatnya, yang telah dibunuh bersama seluruh keluarganya.

„Siapakah sebetulnya siocia ini?” tanyanya sambil mengawasi To Siok Keng dengan matanya yang tinggal sebelah itu.

„Siocia ini adalah puteri Kiu It Locianpwee yang bernama Kiu Su Yin!” sahut Wei Beng Yan.

Sebelah mata Ouw Lo Si yang sedang mengawasi To Siok Keng tiba-tiba terbelalak, mukanya mendadak jadi tampak terharu sekali, kemudian dengan suara tergetar ia berkata. „Hai! Tidak. tidak kusangka aku masih diberi kesempatan untuk

berjumpa dengan puteri saudara angkatku, Kiu It!”

To Siok Keng pun merasa terharu sekali mengetahui si kakek pincang adalah saudara angkat ayahnya almarhum. Ia hanya tidak mengerti mengapa Ouw Lo Si bersikap demikian keji memberikan racun kepada Wei Beng Yan.

Dengan wajah masih sedih, Ouw Lo Si menoleh kepada Wei Beng Yan dan berkata lagi.

„Wei siohiap, jika kau sudah mengetahui bahwa Pek Tiong Thian telah menyamar sebagai gurumu, mengapa kau tidak membunuh jahanam itu dengan ilmu Thay-yang-sin-jiauw?”

Wei Beng Yan tidak bisa menjawab pertanyaan itu karena ia sudah gemas sekali melihat wajah Ouw Lo Si yang telah membuatnya tidak berdaya melancarkan ilmunya yang dahsyat itu.

To Siok Keng yang pun merasa jengkel dengan kakek itu, lekas- lekas berkata sambil menyindir.

„Ouw Locianpwee, sebetulnya aku harus memanggilmu susiok bukankah?”

„Ya ” sahut Ouw Lo Si.

„Baiklah, mulai saat ini aku akan memanggilmu susiok! Susiok ingin mengetahui mengapa suko ku belum menggempur Pek Tiong Thian?” „Ya ”

„Karena suko ku telah dianiaya secara licin sekali oleh seseorang sehingga ia kehilangan tenaganya dan tidak mampu melancarkan ilmu Thay-yang-sin-jiauw!”

„O ”

„Dan Pek Tiong Thian tadi sudah datang di markas Lee Beng Yan Locianpwee. Setelah bertempur mati-matian, akhirnya Lee locianpwee bersama-sama Lim Ceng Yao dan Song Thian Hui Locianpwee telah dibunuh oleh jahanam itu!”

To Siok Keng berhenti sejenak dan mengawasi Ouw Lo Si yang sedang berdiri terpaku.

„Bahkan suko ku juga sudah dilukai oleh jahanam itu!” To Siok Keng melanjutkan. „Aai! Karena orang yang keji itu menganiaya suko ku, Pek Tiong Thian jadi hidup terus dan bertindak sewenang- wenang di kalangan Kang-ouw!”

Bukan main terharu hati Ouw Lo Si mendengar sindiran tajam itu. Dan pada saat itu juga ia sudah merasa menyesal sekali atas perbuatan yang memang sangat keji itu.

To Siok Keng dapat membaca pikiran kakek itu, dan ia sengaja bertanya.

„Susiok, mengapa kau jadi demikian muram? Apakah kau juga takut dibunuh oleh Pek Tiong Thian? Bukankah orang yang menganiaya suko ku itu harus diganyang terlebih dulu?” Dari nada suara gadis itu Ouw Lo Si sudah dapat menduga bahwa kedua pemuda dan pemudi itu sudah mengetahui bahwa dialah, yang telah menaruhkan racun dan menganiaya Wei Beng Yan.

Pada saat yang gawat itu dengan nada yang menyesal ia menanya.

„Kalian sudah mengetahui siapa yang    ”

Tiba-tiba mereka semua dibikin terkejut oleh suara orang yang mengejek.

„Ha! Tiga anjing sudah berkumpul di sini!”

Mereka terpaku mendengar suara ejekan itu, karena suara itu adalah suara yang tidak asing lagi bagi mereka.

Lekas-lekas mereka menoleh ke arah suara itu, dan melihat Pek Tiong Thian meloncat turun dari satu dahan pohon yang besar tidak beberapa jauh dari sumur itu!

To Siok Keng mulai berkata dengan beringas kepada Ouw Lo Si.

„Karena kau, kita sekarang semua akan mati konyol! Dan karena kau Khouw Tay-hiap, saudara angkatmu juga telah tewas dibunuh oleh Hua Ceng Kin! Kouw Tay-hiap tak akan terbunuh jika Suko ku dapat melancarkan Thay-yang-sin-jiauw untuk membunuh iblis wanita Hua Ceng Kin itu!”

Ouw Lo Si makin menjadi menyesal mendengar tewasnya Khouw Kong Hu juga sebab akibat perbuatannya yang keji! Ia tiba-tiba memukul kepalanya sendiri seraya berkata.

„Ai! Aku ini menganiaya Wei siohiap hanya untuk menganiaya aku sendiri dan membunuh saudara angkatku! Tetapi Wei siohiap masih dapat ditolong. Aku membawa obat yang mujarab untuk melenyapkan racun itu. Dan setelah makan obatku ini, setelah lewat 4 x 4 = 16 hari ia dapat memulihkan seluruh tenaga dan semangatnya!”

To Siok Keng menyahut.

„Suko ku telah ditolong oleh si orang sakti dari Sit-bie-keng. Aku kira dia tak lagi memerlukan obatmu itu! Setelah lewat tujuh hari, Suko ku sudah pasti dapat memulihkan tenaga dan semangatnya lagi! Tetapi ”

„Apa katamu? Orang sakti dari Sit-bie-keng?” tanya Ouw Lo Si.

Ketika itu Pek Tiong Thian sudah menghampiri dan berada hanya beberapa meter saja dari mereka, maka iapun dapat mendengar pertanyaan Ouw Lo Si yang menanya dengan suara yang agak keras itu.

Pek Tiong Thian juga terperanjat mendengar orang sakti dari Sit- bie-keng disebut-sebut oleh Ouw Lo Si, karena dengan obat dari orang sakti itu, ia yakin ia dapat mengobati kedua betisnya dan ia tak memerlukan lagi betis dan kaki palsu yang dibuat dari logam!

Iapun menanya meskipun tidak diajak bercakap-cakap. „Apa kau bilang? Orang sakti dari Sit-bie-keng?!” lalu ia tertawa gelak-gelak.

Ouw Lo Si yang sudah menyesal akan perbuatannya terhadap Wei Beng Yan, sekarang menjadi beringas menghadapi Pek Tiong Thian yang telah membunuh mati dua saudara angkatnya, Kiu It dan Khouw Kong Hu, meskipun pembunuhan terhadap Khouw Kong Hu tidak langsung dilakukan olehnya. Dengan gusar ia membentak.

,,Hei! Bangsat she Pek! Apa yang kau tertawai?!” Pek Tiong Thian sambil terus tertawa menyahut.

„Kalian bertiga sudah pasti akan mati di tanganku! Tetapi kalian masih saja bermimpi! Bukankah itu lucu?”

„Kaulah yang bermimpi!” bentak Wei Beng Yan.

Sebetulnya mereka bertiga itu sudah tiada harapan lagi, sembarang waktu Pek Tiong Thian dapat turun tangan membunuh mereka.

Pek Tiong Thian sudah yakin bahwa mereka bertiga tak dapat meloloskan diri lagi, dan ia dapat membunuh mereka menurut kehendak dan dengan caranya sendiri. Ia tak perlu terburu napsu. Maka ia berkata.

„Orang sakti dari Sit-bie-keng itu tidak mau turut campur urusan orang lain. Pendirian hidupnya aku sudah mengetahui ia tidak sudi menolong ataupun menganiaya orang. Jika dibilang ia telah menolong kalian bukankah kalian ini sedang bermimpi? Ha! Ha! Ha!”

„Jahanam!” bentak To Siok Keng, “Masih ingatkah kau akan Kiu It?”

„Kiu It!” Pek Tiong Thian balik menanya. „Pernah apa kau dengan si orang she Kiu itu?”

„Beliau adalah ayahku!”

Pek Tiong Thian mengawasi sejenak, sesaat kemudiaa ia tertawa berkakak seram seraya berkata.

„Dulu kau dapat lolos dari tanganku, tapi kini akhirnya tokh kita berjumpa lagi! Kau tadi mengatakan bahwa anjing kecil kawanmu ini telah ditolong oleh si kakek dari Sit-bie-keng?”

„Betul!”

Pek Tiong Thian yang berwatak kejam, dan setelah kedua betisnya menjadi lumpuh terpaksa harus bersembunyi di suatu rumah gubuk kecil dekat markas partai Tiang-pek di pegunungan Tiang- pek-san.

Karena kedua kakinya telah dibikin cacad, wataknya yang kejam jadi terlebih kejam lagi. Ia bertekad membasmi semua orang pandai di kalangan Bu-lim dengan cara yang kejam serta keji.

Pembunuhan-pembunuhan yang telah dilakukannya terhadap Kiu It dan sanak keluarga, kedua saudara Kim, Pendeta wanita Ceng Sim Lo-ni, ke tiga saudara Tie, Bak Kiam Taysu serta paman guru dan murid-murid pendeta itu, Kong-ya Coat, Liong Kie Thian, Leng Cui, Siauw Cu Gie, Siauw Bie dan paling akhir ia membunuh Lim Ceng Yao, Song Thian Hui dan Lee Beng Yan adalah suatu bukti yang tidak dapat diragukan lagi akan kekejamannya yang betul- betul melampau batas prikemanusiaan!

Kini untuk membunuh To Siok Keng, Wei Beng Yan dan Ouw Lo Si yang pernah menipunya mentah-mentah, ia akan membunuhnya dengan cara yang terlebih kejam lagi. Ia akan mempermainkan mereka bertiga seperti seekor kucing mempermainkan seekor tikus sebelum si kucing sendiri membunuh tikus-tikus itu.

Ia melangkah maju beberapa langkah, dengan tiba-tiba saja ia menjotos ke arah pundak gadis itu.

To Siok Keng sudah siap, begitu melihat lawannya menyerang ia segera menangkis sambil meloncat ke samping. Baru ia ingin balas menyerang ketika tampak Ouw Lo Si menggeprak kipas bajanya ke arah punggung Pek Tiong Thian.

Ia ingin menyiksa mereka sehebat-hebatnya sebelum ia membasmi ketiga orang itu dengan sarung tangan mujizatnya Ciam-hua-giok-siu!

Hembusan angin kipas baja Ouw Lo Si, telah terasa olehnya, maka lekas-lekas ia mengegos untuk kemudian berbalik sambil melepaskan tinjunya dengan jurus Yan-hui-ceng-mia atau Angin topan menghalau asap dan abu, sehingga Ouw Lo Si terpental beberapa meter jauhnya! Serentak dengan itu, ia lagi-lagi menyerang si gadis.

Tetapi tidak percuma To Siok Keng menjadi murid Thian-hiang- sian-cu, isteri kesayangan Yu Leng, yang semasa hidupnya telah mencatat ilmu-ilmunya untuk kemudian dijadikan sejilid kitab yang berjudul Kok-cit-po-lek. Dengan menggunakan salah satu jurus yang tercatat dalam kitab pusaka itulah, si gadis she To, dengan mudah saja mengelakkan serangan lawannya itu.

Meskipun penasaran melihat serangan yang secepat kilat itu dapat dielakkan, Pek Tiong Thian tidak lantas menyerang lagi. Ia mengawasi gadis itu dengan beringas seraya berkata.

„Kau mengaku sebagai murid Thian-hiang-sian-cu, apakah jurus yang tadi kau pelajari dari gurumu itu?”

„Tentu saja! Apakah kau kira aku barusan kebetulan saja dapat mengelakkan seranganmu tadi?” sahut To Siok Keng sambil mengejek.

„Aku belum pernah mendengar Thian-hiang-sian-cu mempunyai murid, pengakuanmu tadi tentu untuk menggertak-gertak saja, betul tidak?”

„Kau percaya atau tidak itu terserah!”

Pek Tiong Thian mendadak memekik tinggi sambil menyerang dengan jurus Tie-ciang-pa-ciong atau palu besi menumbuk tembok. To Siok Keng meloncat mundur mengelakkan serangan itu, tetapi belum lagi ke dua kakinya berdiri jejak, ketika serangan, yang kedua sudah menerjang lagi. Lekas-lekas ia meloncat ke samping, namun tiba-tiba ia merasa pundak kirinya jadi panas seolah-olah peredaran darahnya di bagian itu terhenti.

„Celaka!” katanya dalam hati.

Lekas-lekas ia mengerahkan tenaga dalamnya untuk membebaskan totokan yang menyumbat jalan darahnya itu, tetapi untuk sementara waktu lengan kirinya menjadi lumpuh!

Pertarungan itu baru saja berlangsung tiga jurus, tetapi ternyata si gadis she To tidak sanggup melayani lawannya, yang dengan lincah sekali telah berhasil mencengkeram batang lehernya!

Wei Beng Yan menjadi cemas melihat kesudahan itu.

„Hei, jahanam she Pek!” bentaknya gusar, „lepaskan gadis itu!” Pek Tiong Thian tertawa berkakakan mengguntur.

„Anjing kecil! Apa tebusannya jika aku melepaskan gadis ini?” tanyanya seram.

Untuk menolong To Siok Keng yang telah banyak kali menolong jiwanya, Wei Beng Yan rela mengorbankan apa saja bahkan jiwanya sendiri.

„Apa yang kau kehendaki sebagai tebusan?” tanyanya tegas. Sementara itu, Ouw Lo Si yang sudah dilemparkan tadi, merasa pusingnya sudah mulai menghilang, pandangannya pun sudah mulai terang kembali, tetapi ia masih terus mengerahkan tenaga dalamnya.

„Dapatkah kau memenuhi syarat tebusanku?” tanya Pek Tiong Thian yang sudah merasa yakin betul ke tiga orang itu akan ditelannya mentah-mentah.

„Katakanlah! Dan lepaskanlah dulu gadis itu!” bentak Wei Beng Yan.

„Ha, ha, ha! Jika kau betul-betul seorang laki-laki. Setelah mendengar syaratku, kau tentu tidak sudi menawar-nawar lagi bukan?”

Tanpa pikir panjang lagi, Wei Beng Yan segera menyanggupi dengan menganggukkan kepalanya.

„Tentu!” sahutnya. „Aku pasti akan melaksanakan syaratmu itu! Ayohlah lepaskan gadis itu!”

„Suko, jangan gegabah!” seru To Siok Keng. „Dia mungkin akan meminta yang bukan-bukan!”

„Ya......” Ouw Lo Si turut bicara. „Jangan Wei siohiap kena dicurangi oleh jahanam she Pek yang telah membunuh kawan akrabnya sendiri, Kiu It!”

Pek Tiong Thian melirik ke arah si kakek pincang tetapi ia lalu berkata lagi kepada Wei Beng Yan. „Dengarlah baik-baik syaratku ini! Aku akan melepaskan gadis itu dan kau harus mengorek kedua biji matamu!”

„Suko, jangan!” seru To Siok Keng terkejut mendengar permintaan Pek Tiong Thian yang kejam itu.

Ouw Lo Si yang sudah merasa tobat meloncat dan menyergap Wei Beng Yan yang ternyata tidak menghiraukan permintaan To Siok Keng. Si pemuda she Wei sudah siap untuk mengorek kedua biji matanya.

„Wei siohiap,” seru Ouw Lo Si sambil memeluk tubuh Wei Beng Yan. „Kau seorang yang luhur, tetapi apakah kau mengetahui watak jahanam ini? Jangan kau kena tipunya, dia pasti akan mengingkari janjinya sendiri!”

Pek Tiong Thian memperlihatkan senyum iblisnya seraya berkata.

„Ayohlah, laksanakan syaratku tadi! Koreklah kedua biji matamu atau gadis ini akan mati dalam cengkeramanku!”

„Jangan lakukan permintaan jahanam itu!” bisik Ouw Lo Si.

„Setelah kau menjadi buta, To siocia juga akan dibunuh oleh jahanam itu. Percayalah padaku, Wei siohiap!”

Wei Beng Yan melepaskan tangan Ouw Lo Si yang memeluk tubuhnya seraya berkata kepada Pek Tiong Thian.

„Jika kau melepaskan gadis itu sekarang, aku akan mengorek dua biji mataku!” „Hei, pincang! Kau mau turut campur juga dalam urusanku ini?” tanya Pek Tiong Thian beringas.

„Hee, hee, hee! Aku, si pincang tidak takut mati lagi sekarang!” sahut Ouw Lo Si tenang, „aku sudah mengetahui siapa kau, kau binatang alas!”

„Kau pernah menipu aku dulu, kali ini kau tidak akan dapat lolos lagi dari tanganku,” bentak Pek Tiong Thian, „Kiu It pernah menipu aku, dan dia sudah menerima ganjarannya! Sekarang adalah giliranmu untuk menyusul kawanmu itu ke neraka! Tetapi sebelum kau mati, kau akan merasakan suatu siksaan hebat!”

Ouw Lo Si merasa seolah-olah hatinya disayat mendengar disebutnya nama Kiu It. Ia bermaksud membalas dendam terhadap Wei Tan Wi yang telah membikin sebelah kakinya pincang dengan memberikan racun kepada putera orang she Wei itu. Tetapi sekarang ternyata perbuatannya yang keji itu telah membuat Wei Beng Yan jadi kehilangan tenaga dalamnya dan tidak mampu melancarkan ilmu Thay-yang-sin-jiauw.

Ia kini tengah menderita tekanan batin yang hebat sekali atas perbuatannya dulu itu, dan ia bertekad melawan Pek Tiong Thian hingga titik darahnya yang terakhir untuk menebus dosa-dosanya itu.

Ia terkenal sebagai si Ahli nujum yang otaknya penuh dengan tipu- tipu muslihat, karena mengetahui bahwa untuk bertempur dengan Pek Tiong Thian, ia pasti akan kalah, maka ia bermaksud mempergunakan keahliannya sebagai ahli nujum untuk membela Wei Beng Yan dan To Siok Keng tanpa menghiraukan jiwanya sendiri!

„Aku memang ingin pergi ke neraka!” katanya, „mungkin di sana keadaannya akan terlebih ramai lagi daripada di dunia ini. Di sana aku akan menjumpai saudara-saudara angkatku Kiu It dan Khouw Kong Hu. Jika kau ingin menyiksa aku sebelum aku mati, aku yakin namaku di neraka akan jadi tambah terkenal saja! Ha, ha, ha!”

„Hei, Pek Tiong Thian!” bentak To Siok Keng yang masih dicengkeram batang lehernya. „Jika kau ingin membunuh aku, ayohlah bunuh! Mengapa kau menggertak-gertak orang tidak karuan?”

„Sabar anjing betina! Kalian bertiga, akan mati secara bergilir, yalah satu setelah yang lain, aku tidak takut kalian dapat melarikan diri, maka mengapa aku harus tergesa-gesa?”

„Mengapa kau masih mencengkeram aku jika kau tidak takut kita nanti melarikan diri?” tanya lagi To Siok Keng.

Pek Tiong Thian yang congkak mendadak merasa jengah mendengar ucapan yang beralasan itu, lekas-lekas ia mendorong sambil melepaskan cengkeramnya sehingga si gadis she To terjerumus dan hampir roboh.

„Aku lepaskan kau sekarang!” katanya. „Aku tadinya mengira kau sebagai murid Thian-hiang-sian-cu memiliki ilmu yang lihay sekali, tetapi kenyataannya, baru tiga jurus kau sudah aku kalahkan! Ha, ha, ha!” Begitu dibebaskan, To Siok Keng segera berdiri di samping Wei Beng Yan sambil mengawasi gerak gerik Pek Tiong Thian.