-->

Sampul Maut Jilid 11

Jilid 11

Dengan satu dorongan enteng saja Wei Beng Yan berhasil membuka pintu itu yang ternyata tidak dikunci. Ia segera masuk ke dalam ruangan samping, dari situ ia melihat serambi yang panjang sekali, yang menjurus ke bagian belakang rumah gedung itu. Keadaan tetap sunyi senyap, tidak tampak satu orang pun. Ia bersenyum girang dan mengeluarkan sampul Ouw Lo Si yang kedua tetapi baru saja ingin membeset sampul itu, sekonyong- konyong ia dibikin kaget oleh berkelebatnya satu bayangan di ujung serambi yang panjang itu.

„Hei berhenti sebentar!” bentaknya sambil memasukkan kembali sampul suratnya dan mengejar orang itu yang mendadak membuka pintu dan menghilang di ujung serambi. Ia mengejar terus dan tiba di suatu taman bunga, dari situ ia dapat melihat satu ruangan besar yang bagian tengah-tengahnya digantungi selembar papan merek.

„Ruangan untuk berlatih silat.”

Justru ke ruangan itulah orang yang dikejarnya tadi menghilang. Ia menunggu sambil meneliti ke seluruh ruangan itu. Tiba-tiba tampak orang itu berlari mendatangi ke arahnya! Orang yang mengejar orang itu ternyata To Siok Keng.

Orang itu agaknya menjadi nekad ketika mengetahui ia tidak lagi dapat melarikan diri. Ia mencabut goloknya dan menyerang To Siok Keng.

„Hei, siapa kau?” tanya Wei Beng Yan gusar.

Orang itu tidak manghiraukan, ia menyerang terus, sehingga To Siok Keng jadi sibuk mengegosi bacokan-bacokan golok yang ganas itu. Ternyata orang itu bukan tandingan si gadis she To, karena baru saja pertarungan berlangsung beberapa jurus, ia mendadak terhuyung terpukul kepalanya, dan ketika To Siok Keng meloncat ke depan dengan jurus Si-yun-kiauw-peng (Awan gelap meliputi angkasa), goloknya yang besar itu dapat direbut oleh gadis itu.

Wei Beng Yan kagum sekali melihat kelincahan sumoaynya itu.

„Hebat!” serunya tanpa terasa.

Serentak dengan itu, terdengar suara tertawa berkakakan yang menegakkan bulu roma, dan sekejap saja tiga orang yang rata-rata sudah berusia limapuluh tahun sudah berada dalam ruangan untuk berlatih silat itu.

Wei Beng Yan mengawasi ketiga orang yang baru datang itu, yang sudah berjalan menghampiri secara berdampingan.

Yang di tengah berkulit muka kuning, kedua matanya bersinar tajam dan mengenakan pakaian yang indah sekali. Dengan tubuhnya yang tinggi besar serta tegap, ia tampaknya gagah sekali.

Yang di sebelah kiri berwajah tampan, juga bertubuh tinggi besar dan bersenjata sebilah pedang hitam yang panjangnya satu meter lebih.

Yang disebelah kanan bertubuh pendek tetapi kuat tegap seperti seorang jago yudo. Dari cahaya wajahnya, orang dapat segera melihat bahwa ia memiliki ilmu tenaga dalam yang lihay sekali.

Wei Beng Yan belum pernah melihat ke tiga orang itu, begitu pun To Siok Keng, tetapi dari wajah-wajah yang telah dilihat itu mereka segera dapat mengambil kesimpulan bahwa ketiga orang itu bukanlah orang-orang yang jahat.

Begitu berada cukup dekat, tanpa mengatakan apapun orang yang berada di sebelah kiri tiba-tiba meloncat dan menyabetkan pedangnya ke arah Wei Beng Yan.

Dengan serentak Wei Beng Yan dan To Siok Keng meloncat mundur mengelakkan sabetan pedang yang dahsyat itu.

„Tay-hiap!” seru Wei Beng Yan sambil menghunus pedangnya sendiri, „kedatangan kita di sini yalah untuk menjumpai tuan rumah di sini.”

Orang itu agaknya kagum sekali melihat gerakan kedua muda mudi itu, tetapi dengan gusar ia membentak.

„Apakah untuk menjumpai tuan rumah, kalian harus mendobrak pintu rumah ini?!”

Baru saja Wei Beng Yan ingin menjelaskan mengapa ia mendohrak pintu rumah itu, sekonyong-konyong orang itu telah menyerang lagi. Maka terpaksa ia menangkis.....

„T i n g       !!”

Kedua pedang itu beradu di udara dan menggetarkan yang menyerang maupun yang diserang!

„Hei,” bentak orang itu, „Pedang apakah yang kau pergunakan itu?” „Tentu saja pedang Ku-tie-kiam,” sahut Wei Beng Yan, „pernahkah kau melihat lain pedang, yang berwarna seperti pedang ini?”

„Ku-tie-kiam?! Apakah kau memperoleh pedang itu dari Soat-hay- siang-hiong?”

„Dari Wei Tan Wi!”

„..................???!!”

„Yang telah dibunuh secara keji oleh Soat-hay-siang-hiong. Justru kedatanganku di sini yalah untuk membekuk jahanam itu!”

„Ada hubungan apa Wei Tan Wi dengan kau sendiri?”

„Beliau ayahku!”

„Aai! Tidak kunyana Wei tay-hiap mempunyai seorang putera segagahmu ini!”

„Kau kenal ayahku?”

„Kita bukan saja kenal, tetapi ayahmu adalah saudara angkat kita yang keempat!”

Terkejut sekali Wei Beng Yan mengetahui bahwa ketiga orang itu adalah susiok-susioknya. Ia mengawasi orang yang barusan bertempur dengannya, kemudian ia mengalihkan pandangannya ke orang yang di tengah dan yang di kanan. „Anak muda,” kata orang yang tadi sambil menyimpan pedang.

„siapakah namamu?”

„Aku...... aku Wei Beng Yan....... bolehkah aku mengetahui nama susiok ?” sahutnya agak gugup.

„Aku bernama, Lim Ceng Yao, Ji-susiokmu! Marilah kuperkenalkan. -- Yang berdiri di tengah ini adalah Toa-susiokmu yang bernama Lee Beng Yan, pemimpin partai di ibu kota, yang bernama julukan Hian-hok-lay-ji, si Orang sakti yang berbudi luhur! Dan..... yang di sebelah kanan ini adalah Sam-susiokmu, Song Thian Hui yang bernama julukan Kim-gan-sin-tiauw, si Rajawali sakti bermata mas!”

Wei Beng Yan membungkukkan tubuhnya kepada kedua orang yang telah diperkenalkan Lim Ceng Yao tadi, kemudian ia berkata.

„Dan apakah nama julukan Lim susiok sendiri?”

Lim Ceng Yao bersenyum ditanya demikian. Sebelum ia menjawab, Song Thian Hui sudah mendahului berkata.

„Dia adalah seorang ahli pedang dari propinsi Hok-kian yang bernama julukan Bun-tiong-it-kiam, si Ahli pedang dari propinsi Hok-kian!”

„Ha, ha, ha!” Lim Ceng Yao tertawa berkakakan girang, „Tetapi siapakah siocia ini?”

„O...... ia sumoay ku ” „Aku To Siok Keng merasa beruntung sekali dapat berkenalan dengan ketiga Locianpwee!” To Siok Keng mendahului memperkenalkan dirinya.

„O..... kalian adalah saudara-saudara seperguruan?” kata Lee Beng Yan sambil tertawa, „Aku kira kalian ”

Merah paras To Siok Keng mendengar ucapan yang sudah dapat menduga artinya itu. Ia menundukkan kepala dan tidak mengatakan sesuatu. Melihat demikian, Wei Beng Yan lekas-lekas berkata.

„Mengapa ke tiga susiok berada di sini?”

„Gedung ini adalah rumahku sendiri,” kata Lee Beng Yan, „yang berbareng dipergunakan juga sebagai markas besar partaiku. Kita bertiga merasa menyesal sekali sudah memperlakukan kalian dengan kasar tadi ”

Wei Beng Yan bersenyum dan menyahut.

„Itu salahku sendiri yang telah lancang masuk di sini, tetapi mengapa kedatanganku di sini agaknya sudah ditunggu-tunggu oleh ketiga susiok?”

„Aku telah berdiam dengan tenteram di sini, tetapi entah mengapa, pada kira-kira satu bulan yang lalu Soat-hay-siang-hiong telah menyuruh orang membawa surat kepadaku yang memberitahukan bahwa pada hari ini mereka akan datang untuk membikin perhitungan dengan partaiku!” demikian Lee Beng Yan menjelaskan. To Siok Keng mengangguk-anggukkan kepalanya sambil mendengar terus.

„Karena khawatir aku tidak sanggup melawan kedua iblis itu,” Lee Beng Yan melanjutkan, „maka aku telah mengundang Lim dan Song kedua saudara angkatku ini untuk membantuku membasmi jahanam-jahanam itu. Kita telah membikin persiapan seperlunya untuk menyambut kedatangan mereka, tetapi ternyata yang datang adalah kau dan To siocia! Ha, ha, ha!”

Keterangan itu membuat Wei Beng Yan maupun To Siok Keng berpendapat bahwa Hua Ceng Kin memang sengaja meninggalkan jejak-jejak kakinya di tanah dengan maksud mengadu dombakan mereka dengan Lee Beng Yan, Song Thian Hui dan Lim Ceng Yao.

Perangkap yang telah direncanakan dengan sempurna itu, hampir saja berhasil jika Lim Ceng Yao sendiri tidak mengenali pedang pusaka Ku-tie-kiam milik Wei Tan Wi.

„Lee susiok,” kata Wei Beng Yan, „ke mana anggota-anggota partaimu? Mengapa gedung ini demikian sepinya?”

„Aku sudah mengetahui kelihayan Soat-hay-siang-hiong,” sahut Lee Beng Yan, „maka setelah kedua saudara angkatku ini datang, aku segera membubarkan orang-orangku demi keselamatan mereka, karena kita bertiga telah bertekad untuk bertarung sampai mati untuk membasmi kedua jahanam itu!”

Wei Beng Yan terharu sekali mengetahui ketiga susioknya itu rela berkorhan demi kepentingan orang banyak. „Beng Yan,” kata Lim Ceng Yao. „Kau tadi mengatakan ingin membekuk ke dua jahanam yang telah mengancam kita itu, mengapa kau dan To siocia justru datang di sini?”

„Karena kita telah mengikuti jejak kaki Hua Ceng Kin yang agaknya masuk ke dalam gedung ini!” sahut Wei Beng Yan.

„Si nenek sudah datang di sini? Apakah nenek itu datang seorang diri saja?”

„Soat-hay-siang-hiong kini tinggal seorang saja, karena Suto Eng Lok telah aku tewaskan!”

„Bagus! Jika hanya tinggal Hua Ceng Kin, aku merasa yakin kita bertiga masih dapat melayaninya!”

„Mungkin juga si nenek jahanam itu kini tengah bersembunyi dalam gedungku ini!” kata Lee Beng Yan, „Ayohlah kita cari!”

Demikianlah, mereka segera berpencar untuk mencari si nenek jahanam itu. Entah berapa lama mereka berlima menjelajahi seluruh ruangan gedung yang besar itu, tetapi ketika mereka berkumpul lagi di tengah hari, Hua Ceng Kin tidak berhasil mereka temukan.

Mereka lalu duduk mengitari satu meja bundar untuk memperbincang hal itu lebih lanjut.

„Beng Yan,” kata Lim Ceng Yao, „sebetulnya hendak ke manakah kau bersama To siocia?” „Kita sedang dalam perjalanan menuju ke kuil Cit-po-sie,” sahut Wei Beng Yan.

„Apa maksud kunjungan kalian ke kuil yang katanya sudah dihancur leburkan oleh Pek Tiong Thian?”

„Susiok sudah ketahui hal itu?”

„Ya berita itu sudah tersiar luas!”

„Apakah kepergian kalian ke pegunungan Ngo-tay-san itu hanya untuk sekedar melihat akibat perbuatan si orang she Pek yang katanya telah menyamar sebagai Ji Cu Lok?” tanya Song Thian Hui

„Bukan!” sahut Wei Beng Yan, „Kunjungan kita ke kuil itu untuk mencari benda mujizat Tok-beng-oey-hong!”

„Mencari Tok-beng-oey-hong?” tanya Lim Ceng Yao. „Untuk apakah?”

„Untuk membunuh Pek Tiong Thian!”

„Apakah kau ingin membalaskan dendam Bak Kiam Taysu?”

„Ya! Tetapi di samping itu semua, untuk mencuci nama guruku yang telah dinodai oleh si orang she Pek itu!” kata Wei Beng Yan.

Dan agar ketiga susioknya itu mengetahui dosa-dosa Pek Tiong Thian, ia lalu menceritakan bagaimana Pek Tiong Thian telah menyamar sebagai Ji Cu Lok, gurunya, untuk kemudian melakukan perbuatan-perbuatan terkutuk. Bagaimana ia telah diperintahkan membunuh Ceng Sim Lo-ni tetapi dilarang membunuh Soat-hay-siang-hiong yang justru menjadi musuh- musuh besar ayahnya.

To Siok Keng tidak berdiam saja, iapun bantu memberikan keterangan bagaimana ketika Wei Beng Yan sudah bertekad membunuh guru gadungannya itu, tiba-tiba si pemuda kehilangan tenaga dalam sehingga tidak mampu melancarkan Thay-yang-sin- jiauw dengan sempurna, ia lalu menutup keterangannya dengan menanyakan.

„Sebagai orang-orang yang sudah berpengalaman, apakah ketiga Locianpwee mengetahui mengapa tenaga Suko ku bisa dengan tiba-tiba menghilang dari tubuhnya?”

Pertanyaan itu membuat Lee Beng Yan dan Song Thian Hui menggeleng-gelengkan kepala mereka, tetapi Lim Ceng Yao, si Ahli pedang dari propinsi Hok-kian berpikir dan berusaha memecahkan teka-teki yang telah dialami oleh si pemuda she Wei itu. Setelah agak lama berpikir, baru ia berkata.

„Aku mengetahui ada serupa bubuk racun yang dapat membuat seseorang kehilangan tenaga serta semangatnya setelah mengendus racun tersebut, dan keadaan Beng Yan agaknya mirip benar dengan gejala-gejala orang yang telah terkena racun itu!”

„Suko,” kata To Siok Keng, „Mungkinkah Siauw siocia yang memberikan kau racun itu?” „Tidak mungkin! Jika aku diracuni tentu aku sudah lama meninggal dunia. Mungkin aku kehilangan tenaga dalamku karena lain sebab,” si pemuda menolak pendapat itu.

Demikianlah mereka menebak-nebak, tetapi meski bagaimanapun Wei Beng Yan tetap tidak merasa yakin jika ia telah terkena racun. Malam harinya, setelah bersantap, Lee Beng Yan dan To Siok Keng, mereka langsung ke masing-masing kamarnya untuk beristirahat.

Kesempatan yang baik itulah telah dipergunakan oleh Wei Beng Yan untuk membuka sampul surat Ouw Lo Si. Sambil bersenyum lebar ia mengawasi sampul yang sedang dipegangnya itu, tiba- tiba.....

„Breet!”

Serentak dengan itu, bau harum semerbak yang ganjil dan tajam sekali merangsang hidungnya, tanpa menghiraukan itu semua ia lalu membaca isi surat itu, yang berbunyi.

„Selamat! Lagi sekali aku menghaturkan selamat!”

demikian kata pembukaan surat itu, ia bersenyum dan melanjutkan membaca.

„Dua orang musuhmu telah tewas! Dan aku yakin dalam waktu singkat kaupun akan berhasil membunuh yang masih ketinggalan itu! Bila semua musuh-musuhmu telah kau basmi habis, dan pembalasan dendam ayahmu sudah terlaksana, aku minta kau tidak lupa untuk membuka sampul surat nomor tiga!

Tetapi justru musuhmu yang paling belakang inilah yang harus kau hadapi dengan hati-hati sekali, karena dialah seorang yang betul-betul keji, licik dan licin seperti belut, yang pernah diketahui oleh orang-orang yang berkecimpung di kalangan Bu-lim!

Sekali lagi selamat!

Tertinggal hormatku

Si pincang Ouw Lo Si

Demikianlah bunyi surat yang kedua, yang hampir serupa dengan isi surat yang pertama. Dengan itu pula ia telah mengendus lagi semacam racun yang kekuatannya lebih hebat. Setelah merobek- robek surat surat itu, ia lalu merebahkan dirinya sambil mengenang peristiwa-peristiwa yang lalu.

Esok harinya, ia tidak merasakan akibat buruk apapun, begitu juga setelah hari yang kelima lewat, bahkan ia masih bisa mengikuti latihan berlima dengan ketiga susioknya dan To Siok Keng.

Ketika sedang bersantap tengah hari, Song Thian Hui yang merasa kagum melihat kegesitan To Siok Keng tadi lalu menanya.

„To siocia, mengapa sebagai sumoay Beng Yan, ilmu silatmu agaknya berlainan?” „Aku bukan murid Ji Cu Lok Tay-hiap!” sahut To Siok Keng.

„Bukankah kau sumoaynya?”

„Aku murid Thian-hiang-sian-cu Gui Su Nio, isteri Ji Cu Lok Tay- hiap,” To Siok Keng menjelaskan, „maka aku dengan sendirinya aku jadi pernah sumoay dengan Wei Koko ”

„O To siocia murid Thian-hiang-sian-cu?’ seru Lim Ceng Yao,

„bolehkah aku mengetahui siapa ayah siocia?”

„Ayah sumoayku adalah Kiu It!”

„Kiu It yang telah dibunuh sacara misterius bersama seluruh keluarganya?” tanya Lee Beng Yan terkejut.

„Betul!” sahut To Siok Keng gemas.

„Tetapi mengapa ber-she To?”

„Untuk menghindarkan cengkeraman Pek Tiong Thian?” kata lagi To Siok Keng.

Dan waktu melihat Lee Beng Yan, Song Thian Hui dan Lim Ceng Yao agaknya tidak mengerti dengan pengakuannya itu, ia lalu menjelaskan sejelas-jelasnya apa yang telah terjadi atas seluruh keluarga dulu, sehingga ketiga susiok Wei Beng Yan tiba-tiba jadi beringas.

„Kejam!” seru mereka hampir serentak. „Dan aku merasa khawatir jika Hua Ceng Kin nanti membantu Pek Tiong Thian untuk menggempur kita di sini, itulah berbahaya sekali!” kata si gadis.

„Ya, akupun mengetahuinya bahwa Pek Tiong Thian adalah sahabat karib si nenek iblis itu,” kata Lim Ceng Yao.

„Beng Yan,” kau pernah bertarung dengan si jahanam she Pek, bagaimana pendapatmu, apakah kita berlima masih dapat melawan jika ia betul-betul datang membantu Hua Ceng Kin?” tanya Thian Hui.

„Aku harus mengakui kepandaian kedua jahanam itu sangat lihay,” sahut Wei Beng Yan, „tetapi bukankah kepandaian mereka yang harus kita segani, tetapi senjata-senjata merekalah. Yalah senjata rahasia Hian-peng-tok-bong Hua Ceng Kin dan Ciam-hua-giok-siu Pek Tiong Thian!”

„Mendengar kenyataan-kenyataan itu aku merasa tidak enak telah mengundang kalian datang di tempatku ini,” kata Lee Beng Yan sedih.

„Lee Heng, kau kira kita ini orang macam apa?” tanya Lim Ceng Yao agak mendongkol. „Untuk membalas kebenaran, kita tidak takut mati, apalagi orang yang sedang terancam sekarang ini adalah kau sendiri, saudara angkat kita yang tertua!”

„Aku sudah berusia lebih dari setengah abad, dan aku kira tidak lama lagi aku akan meninggal dunia,” kata Song Thian Hui, „Di masa muda, aku telah belajar silat dengan giat serta tekun dan setelah memiliki hasil daripada jerih payahku itu, aku lalu berkelana dan bolehlah dikatakan aku telah menjelajahi seluruh pelosok dunia persilatan.”

Semua orang jadi terbengong mendengar kata-kata yang diucapkan sungguh-sungguh itu.

„Sewaktu-waktu aku merasa terhibur juga jika mengenang peristiwa-peristiwa yang telah lampau itu,” Song Thian Hui melanjutkan, „karena aku yakin telah banyak berbuat kebaikan- kebaikan, maka jika sekarang aku memperoleh kesempatan untuk mengulangi perbuatan-perbuatanku dulu itu. Apalagi terhadap kau, Toa-suhengku, apakah aku harus lari tunggang langgang karena mengetahui lawan atau mungkin lawan-lawan yang akan itu dari kaliber berat?!?”

Lee Beng Yan jadi berlinang air mata karena terharu mendengar kesetiaan saudara angkatnya yang ketiga itu.

„Baiklah......” katanya parau, „Tetapi bagaimana kita harus menghadapi mereka itu, maksudku, apakah kita berlima sekalian mengerubuti?”

„Jika Hua Ceng Kin betul-betul mengajak Pek Tiong Thian,” kata To Siok Keng, „bagaimana jika diatur begini saja. Lim Locianpwee harus bertarung melawan Hua Ceng Kin, sedangkan kita berempat akan menghadapi si jahanam she Pek?”

„Bagus! Siasat yang baik sekali!” seru Lim Ceng Yao.

Begitulah setelah siasat pertahanan itu disetujui oleh semua orang, mereka lalu menantikan kedatangan musuh mereka itu. Tigapuluh Satu

Sambil menantikan, berturut-turut lima hari mereka berlatih di ruangan yang khusus disediakan untuk berlatih silat.

Pada pagi hari yang keenam, seperti biasa semua orang sudah berkumpul di ruangan berlatih kecuali Wei Beng Yan. Mereka menantikan dan mengira si pemuda she Wei terlambat bangun, maka setelah sekian lamanya menunggu dan pemuda itu masih juga belum muncul, To Siok Keng segera berkata.

„Lee Locianpwee, biarlah aku pergi menengok di kamarnya.”

Baru saja selesai kata-kata itu diucapkan, ketika mendadak tampak Wei Beng Yan dengan tindakan agak limbung, mukanya pucat pasi.

„Suko!” seru To Siok Keng, „Mengapa kau? Apakah kau sakit?” Wei Beng Yan memaksakan diri untuk bersenyum dan berkata.

„Pagi ini aku merasa lelah sekali, lagi-lagi tenagaku agaknya sudah menghilang ”

„Dapatkah kau melancarkan Thay-yang-sin-jiauw seperti waktu kau membunuh Suto Eng Lok?”

„Aku....... aku rasa tidak ”

„Heran!” kata Lim Ceng Yao. „Gejala-gejala yang kau alami itu membuktikan bahwa kau telah terkena semacam bubuk racun tepat seperti yang telah aku ceritakan beberapa hari yang lalu! Aai heran.”

„Lim Tay-hiap,” kata To Siok Keng sambil mengawasi si pemuda she Wei, „apakah kau yakin bahwa bubuk racun yang kau ceritakan itu tidak lantas menewaskan orang yang mengendusnya?”

„Aku yakin!” sahut Lim Ceng Yao tegas, „bubuk racun itu hebat sekali, tetapi cara bekerjanya betul-betul sangat ganjil, yalah perlahan-lahan merusak pembuluh-pembuluh darah orang yang mengendusnya untuk kemudian menyeret orang itu ke liang kubur!”

To Siok Keng tiba-tiba mengalihkan pandangannya dan berkata lagi.

„Suko, akuilah bahwa kau sudah membuka SAMPUL KEDUA pemberian Ouw Lo Si!”

„Tidak..... aku...... aku belum ”

„Jika belum, dapatkah kau membuktikan kata-katamu itu?”

„Sumoay, apakah kau tidak percaya?”

„Aku tidak percaya sebelum melihat sampul itu! Ayohlah perlihatkan!”

„Tidak dapat aku ” Belum lagi Wei Beng Yan selesai dengan kata-katanya itu, ketika tampak To Siok Keng dengan gerakan yang lincah sekali meloncat dan berhasil menotok dada pemuda itu, sehingga ia roboh di lantai tidak berdaya!

Secepat kilat To Siok Keng merogoh ke saku pemuda itu, sejenak kemudian tangannya sudah memegang satu sampul yang terterakan NOMOR TIGA di sudut sampul itu!

„Mana sampul NOMOR DUA?” tanyanya ketus.

Wei Beng Yan memejamkan matanya dan tidak menyahut.

„Suko, aku tanyakan mana sampul yang bernomor dua?” Si pemuda she Wei masih tidak menyahut.

To Siok Keng mengawasi sampul yang sedang dipegangnya itu sambil berlinang air mata.

„Aku kira kau sudi mendengar nasehatku,” keluhnya parau. „Aku merasa heran kau tidak mau mengindahkan omonganku!”

„Aku tidak mau mengingkari janjiku terhadap Ouw locianpwee!” tiba-tiba Wei Beng Yan berkata agak sengit.

„Hah! Tidak ingin mengingkari janji? Meskipun kau mengetahui akibatnya akan membuat kau mati karena kekurangan tenaga?!” „Aku tidak yakin jika Ouw Locianpwee telah menaburkan racun dalam sampul itu! Bagaimana mungkin orang semacam dia melakukan perbuatan sekeji itu!”

„Baik! Dalam beberapa detik ini, aku mengharap dapat meyakinkan bahwa kau sangat keliru dalam hal ini!”

Setelah berkata demikian, To Siok Keng segera melemparkan sampul ketiga itu ke lantai. Ia lalu menghunus pedang Ku-tie-kiam si pemuda dan berkata.

„Lim Locianpwee, sudikah kau menolong aku?”

„Tentu!” sahut Lim Ceng Yao, „Apa yang harus aku lakukan?”

„Hunus pedang Locianpwee dan bantu aku membuka sampul ini!”

Lim Ceng Yao menghunus pedangnya dan menekankan ujung pedangnya itu ke sudut sampul. Dengan satu goresan saja To Siok Keng berhasil membeset untuk kemudian dengan hati-hati sekali mengeluarkan surat yang berada dalam sampul itu.

Tampak asap putih yang tipis sekali mengebul. Sejenak kemudian terenduslah suatu bau harum yang sangat merangsang hidung.

Lim Ceng Yao yang lebih luas pengetahuannya tentang racun tiba- tiba berseru lantang.

„Mundur!” Serentak dengan itu ia sendiri meloncat dan menyambar tubuh Wei Beng Yan yang tergeletak di lantai.

Karena kaget, Lee Beng Yan, Song Thian Hui dan To Siok Keng pun meloncat.

Tiba-tiba Lim Ceng Yao menyerang dengan kedua tinjunya dan hembusan angin dari serangannya yang dahsyat itu menyapu asap putih yang menyiarkan bau harum, sehingga gagallah rencana Ouw Lo Si yang bermaksud membunuh si pemuda she Wei dengan racunnya yang terhebat itu!

Ketika sudah menunggu lama juga, agar asap yang berbahaya itu lenyap di udara, To Siok Keng lalu menghampiri. Kemudian dengan mempergunakan ujung pedangnya, ia dapat membaca tulisan yang tertera di atas kertas itu.

Setelah membaca, mendadak tampak parasnya berubah. Ia menepuk pundak Wei Beng Yan untuk membebaskan totokan yang menyumbat jalan darah pemuda itu.

Wei Beng Yan perlahan-lahan berbangkit dan serta merta ia menuding To Siok Keng seraya membentak.

„Sumoay! Caramu merampas surat di dalam sakuku sangat kasar, liar! Mungkin kau tidak mengetahui bahwa membaca surat seseorang tanpa memperoleh ijin dari orang itu sendiri adalah kurang ajar?” „Aku merasa lebih baik bersikap kurang ajar daripada membiarkan kau mati penasaran!” sahut To Siok Keng sambil bersenyum getir.

„Bacalah surat SAHABAT mu yang pincang itu!”

„Apa yang telah ditulisnya dalam surat itu?”

„Kau baca saja sendiri!”

Wei Beng Yan segera menerima pedangnya yang diangsurkan oleh gadis itu kemudian sambil merekan surat itu dengan ujung pedang ia membaca. Ternyata isi surat itu berlainan sekali dengan surat yang pertama dan kedua, yang boleh dikatakan hanya untuk menyampaikan selamat saja.

„Wei siohiap yang terhormat.”

Demikianlah permulaan kata-kata isi surat yang ketiga. Dengan hati-hati sekali Wei Beng Yan melanjutkan membaca.

„Waktu kau membaca suratku yang pertama, kau telah mengendus serupa racun, dan aku kira racun yang pertama itu hanya bisa melumpuhkan kau untuk sementara waktu saja, mengingat tenaga dalammu yang sudah sempurna betul.

Dan ketika kau membuka lagi sampulku yang kedua, maka tenaga dalammu sudah menghilang lagi kira-kira satu-pertiga bagian dan kau akan menderita suatu kelemasan yang agak lama, tetapi jika keadaan demikian didiamkan terus menerus, kau pasti akan tewas! Kau harus lekas-lekas diobati oleh semacam obat yang aku sendiri tidak mengetahui apa namanya!” Baru saja membaca hingga di sini, tubuh Wei Beng Yan sudah menggigil hebat! Ia melirik ke arah To Siok Keng dengan perasaan jengah telah mencaci maki gadis ia barusan.

„Jahanam!”--.geramnya seram sambil melanjutkan membaca lagi

„Kau tentu ingin mengetahui mengapa aku ingin membunuh kau bukan? O kisahnya panjang dan bertele-tele lagi, tetapi

agar kau tidak mati secara penasaran aku akan coba menerangkan juga di sini.

Pertama-tama aku ingin kau mengetahui bahwa kakiku yang pincang ini adalah akibat dari pada kelihayan permainan pedang ayahmu, Wei Tan Wi! Maka meskipun ayahmu sudah mati dikerubuti oleh Soat-hay-siang-hiong, tetapi sebelum aku membunuh kau atau sedikitnya melukai sehingga kau cacad, aku belum merasa puas!

Kau telah mengendus racunku yang terakhir dan terhebat, maka kau sudah merupakan mayat hidup kini, karena sepanjang pengetahuanku, tiada lagi obat yang bagaimana mujarab pun dapat menolong kau menghindarkan SAMPUL MAUT yang sudah mencengkeram jantungmu dan mencengkeram ginjalmu!

Tertinggal Salamku,

Si pincang Ouw Lo Si.

Bergolak amarah si pemuda setelah membaca isi surat itu, betapa tidak, jika seseorang yang senantiasa dianggapnya sebagai seorang penolong yang luhur, ternyata adalah seorang musuhnya yang berada di dalam selimut. Bagus saja To Siok Keng keburu bertindak cepat, jika tidak bukankah ia sudah mati sebelum berhasil membunuh musuh besar ayahnya yang ketiga?

„Sumoay,” katanya perlahan, „aku mohon maaf sebesar-besarnya atas sikapku yang kasar tadi!”

To Siok Keng menundukkan kepala dan tidak menyahut.

„To siocia,” Lim Ceng Yao turut bicara. „apakah kau tidak sudi memaafkan suko mu itu?”

To Siok Keng mengangkat kepalanya dan menatap si pemuda.

„Aku tidak pernah merasa gusar,” sahutnya, „Bahaya yang suko derita sudah demikian hebatnya, aku hanya memikiri bagaimana menyembuhkan luka-luka yang telah terkena racun itu?”

Wei Beng Yan menarik napas panjang. Ia merasa sangat menyesal telah mengabaikan peringatan Khouw Kong Hu.

„Aai! Memang aku sangat ceroboh,” keluhnya. „Jika sekarang Pek Tiong Thian datang maka kita semua pasti akan dihancur leburkan!”

„Beng Yan, kau tidak usah terlalu memikiri jahanam itu,” kata Lim Ceng Yao. „Mungkin jahanam itu takkan datang sama sekali!”

„Aku malah mengharap agar ia datang,” kata Song Thian Hui gemas. „Mengapa kau mengharap demikian?” tanya Lim Ceng Yao.

„Karena lebih baik kita menghadapinya sekarang daripada menanti-nantikannya dengan perasaan gelisah. Lagipula kita tokh pada suatu hari akan menjumpainya juga, maka daripada digempur seorang diri, aku kira lebih baik kita mengerubutinya sekarang!”

Pada saat itu To Siok Keng sedang memikiri tentang jalan untuk mengobati Wei Beng Yan. Untuk menggempur Pek Tiong Thian, menurut pendapatnya, ia hanya memerlukan Tok-beng-oey-hong, tetapi berada dimanakah benda itu?

Menurut dugaan Wei Beng Yan benda mujizat itu berada di kuil Cit- po-sie yang berada jauh di pegunungan Ngo-tay-san.

„Lim Locianpwee,” katanya, „Dapatkah kau mengusulkan suatu obat yang mungkin dapat menyembuhkan luka-luka suko ku?”

Lim Ceng Yao nampak muram sekali ditanya demikian.

„Dari siapa kau mengetahui bahwa luka Beng Yan masih dapat disembuhkan?” tanyanya cemas karena mengetahui beberapa bagian jalan darah penting pemuda itu telah tersumbat atau membeku karena telah mengendus racun Ouw Lo Si yang hebat itu.

„Di dalam suratnya Ouw Lo Si menegaskan bahwa Wei Koko baru akan mati setelah mengendus sampul yang ketiga,” sahut si gadis,

„maka aku kira racun yang telah disedotnya itu masih dapat dipunahkan.” „Mungkinkah Cu-gan-tan dapat menyembuhkan luka-luka Beng Yan itu?” tanya Song Thian Hui.

„Hui-tee,” Lee Beng Yan ikut bicara, „Cu-gan-tan hanya mampu membikin orang tetap tinggal muda! Aku belum pernah mendengar pil mujizat itu dapat menyembuhkan orang yang terkena racun!”

Ketika mereka sedang sibuk memikiri hal yang pelik itu, tiba-tiba terdengar......

„Lee tai-hiap! Ada orang menggantung lentera-lentera kertas merah di depan pintu markas kita!”

Sejenak kemudian orang yang berteriak tadi sudah masuk ke dalam ruangan untuk berlatih silat itu. Ia ternyata salah satu orang anggota partai Lee Beng Yan yang tidak sudi meninggalkan pemimpinnya.

„Bagaimana bentuk lentera kertas itu?” tanya Wei Beng Yan kaget.

Dengan muka pucat dan napas termengih-mengih orang itu memberi hormat dan berkata.

„Lentera kertas biasa, hanya di bagian tengah masing-masing lentera kertas itu terdapat satu huruf PEK!”

Mendengar laporan itu, tiba-tiba Lim Ceng Yao tertawa berkakakan.

„Kita telah menduga bahwa jahanam itu bakal datang,” katanya,

„dan sekarang ternyata ia betul-betul sudah datang! Ha, ha, ha!” Lim Ceng Yao adalah seorang jago silat pedang yang tiada taranya di propinsi Hok-kian. Maka ia telah memperoleh gelar sebagai Jago silat pedang nomor wahid dari propinsi Hok-kian atau Bun-tiong-it- kiam, dan adalah seorang yang telah banyak melakukan perbuatan-perbuatan luhur.

Ketika tadi mendengar bahwa ada orang menggantung lentera kertas merah di depan gedung markas partai saudara angkatnya itu, untuk beberapa saat lamanya ia terpesona.

Kemudian ia mendadak sadar dan mengetahui bahwa musuh yang sangat disegani mereka itu akan datang, maka seperti orang kalap ia tertawa berkakakan, karena menurut pendapatnya kesempatan untuk membasmi jahanam yang terakhir yang masih mengancam kalangan Bu-lim telah tiba saatnya. Mungkin ia dan kawan-kawan itu tidak berhasil membasmi musuh yang terkenal luar biasa kepandaiannya itu, namun ia lebih condong mencoba kekuatannya sendiri dari pada meninggalkan tempat itu dan selamat!

Lee Beng Yan dan Song Thian Hui tidak mengatakan sesuatu. Mereka tengah memikirkan siasat yang terbaik untuk menghadapi lawan-lawan mereka itu.

Tetapi Wei Beng Yan yang sudah kehilangan lagi tenaga dalamnya menjadi gelisah sekali. Ia merasa menyesal sudah tidak mendengar nasehat To Siok Keng. Jika Pek Tiong Thian datang pada waktu itu juga, maka ia seolah-olah hanya menantikan kedatangan seorang algojo untuk memenggal kepalanya!

Orang yang bersikap paling tenang adalah si gadis she To, maka meskipun berada dalam suasana segawat itu, ia masih dapat mencetuskan siasat-siasat dalam otaknya, tetapi ia agaknya belum mau mengeluarkan akal apa, yang telah dipikirnya itu.

„Dengan menggantungi lentera-lentera merah,” kata Wei Beng Yan. „tentu si jahanam bermaksud menggertak kita dulu, sebelum kita sendiri digempurnya!’

„Betul!” sahut To Siok Keng, „marilah kita tengok lentera- lenteranya itu, untuk kemudian membikin persiapan!”

Saran itu diterima baik oleh Lee Beng Yan yang sudah mendahului berjalan keluar diikuti oleh ke empat kawannya.

Di luar tampak ke lima anggota setia Lee Beng Yan sudah bersiap sedia menghadapi segala kemungkinan, tetapi Lee Beng Yan yang tidak mau mereka itu terembet-rembet segera berkata.

„Untuk banyak tahun kalian telah mengikuti aku dengan setia sekali, dan meskipun kalian sudah mengetahui bahwa musuh akan segera datang untuk menggempur kita, kalian masih tidak sudi meninggalkan aku! Aku bukan mengecilkan semangat kita sendiri, tetapi memang sudah jelas bahwa mungkin kita tidak sanggup menghadapi lawan kita ini!”

Ia berhenti sejenak dan meneliti ke lima orangnya itu. Ketika tidak mendengar reaksi mereka, ia lalu melanjutkan.

„Aku merasa sungkan jika kalian harus mati di sini, maka aku minta dengan sangat agar kalian segera meninggalkan gedung markas ini!” Ke lima orang itu terperanjat sekali mendengar pesan pemimpin besar mereka itu. Menginsafi kemuliaan pemimpin mereka yang selalu memegang teguh disiplin, maka begitu mendengar perintah itu meskipun merasa berat untuk pergi, mereka harus mengangkat kaki juga. Kecuali seorang kakek yang sudah berambut putih seluruhnya, bagaimana pun didesak, ia tetap tidak mau meninggalkan majikannya.

Lee Beng Yan menghampiri kakek itu dan berkata.

„Lo Hok, kau sudah mengikuti aku selama tigapuluh tahun, maka kau mengetahui bahwa aku ini tidak takut mati. Tetapi musuh yang kita akan hadapi kali ini lain dari yang lain, aku tidak sudi melihat kau menyertai aku mati di sini ”

Si kakek yang dipanggil Lo Hok menatap pemimpinnya sejenak kemudian ia menyahut.

„Cong Piauw-tauw (Pemimpin besar), aku sudah berusia tujuhpuluh enam tahun, aku tidak mempunyai sanak keluarga, ke mana harus aku pergi!! Aku hanya minta Cong Piauw-tauw mengingat jasa-jasaku dulu dan tidak mendesak aku meninggalkan gedung ini!”

„Kau dapat berlalu dari sini dan menyelamatkan diri, bukankah itu lebih baik?”

„Aku lebih suka mati di sini!”

„Kau akan mati secara sia-sia ” „Tidak! aku telah mengabdi pada partai selama tigapuluh tahun dan inilah kesempatan terbaik untuk aku menyumbangkan dharma baktiku!”

Lee Beng Yan tidak lagi dapat mendesak kakek itu dan ketika mengingat bahwa ia memang memerlukan seorang pelayan untuk mengurus keperluan-keperluan tamu-tamu atau kawan-kawannya, ia akhirnya meluluskan juga permintaan kakek yang setia itu.

Ia lalu mengajak rombongannya untuk memeriksa lentera kertas yang katanya sudah digantung di gedung itu. Rumah gedung yang dibangun oleh Lee Beng Yan itu sangat indah serta megah. Ia telah menghamburkan banyak waktu dan uang, karena segala sesuatu adalah bahan yang terpilih.

Di atas pintu depan yang besar dan dicat dengan warna merah digantungi dua lentera kertas yang besar. Tiap-tiap lentera bertuliskan huruf Lee, tetapi kini lentera itu telah dilemparkan ke tanah dan sebagai gantinya telah digantungkan empat lentera yang masing-masing bertuliskan huruf

PEK dan CAP JIT

yang berarti sepuluh hari!

Tergetar hati Wei Beng Yan ketika dapat mengenali ke empat lentera kertas itu, yang berbentuk sama benar dengan lentera- lentera kertas merah yang dapat dilihatnya ketika ia masuk ke dalam lembah Yu-leng-kok dulu. Ia mengetahui bahwa lentera- lentera kertas merah itu adalah sebagai pertanda bahwa si penghuni rumah yang telah digantungi lentera-lentera itu, akan digempur habis oleh si jahanam yang pernah menyamar sebagai Ji Cu Lok!

Sambil terbengong mengawasi lentera-lentera itu, ia jadi terkenang akan peristiwa-peristiwa sebelum dan sesudah ia diterima sebagai murid oleh Yu Leng. Ia merasa kecewa sekali setelah mempelajari dengan susah payah, ternyata Thay-yang-sin-jiauw kini tidak lagi dapat ia lancarkan!

„Apakah kalian mengetahui apa arti huruf SEPULUH HARI itu?” tanya To Siok Keng.

„Itu berarti dalam waktu sepuluh hari Pek Tiong Thian akan datang di sini!” kata Wei Beng Yan gemas.

„Tetapi......” kata Lim Ceng Yao, „Pek Tiong Thian yang telah melakukan banyak pembunuhan-pembunuhan keji mungkin akan datang sebelumnya jangka waktu yang ditetapkan olehnya itu tiba! Mungkin ia akan datang pada hari keempat atau kedelapan dan mungkin hari ini ”

To Siok Keng bersenyum. Ia harus mengakui memang Pek Tiong Thian bukan saja seorang yang kejam tetapi jahanam itupun berwatak licik.

„Aku mempunyai satu usul untuk mengimbangi kelicikannya itu!” katanya.

„Usul apakah?” tanya Lim Ceng Yao. „To siocia, katakanlah usulmu itu,” kata Song Thian Hui, „mungkin pendapatmu dapat membantu banyak.”

„Beberapa hari berselang kita masih belum dapat memastikan bahwa Pek Tiong Thian akan membantu Hua Ceng Kin,” To Siok Keng mengutarakan usulnya.

„Lalu,” kata Lim Ceng Yao.

„Sekarang ternyata setelah si nenek mengetahui bahwa Wei Koko dan aku bermaksud membantu Lee Locianpwee, ia betul-betul telah memohon bantuan Pek Tiong Thian dan itu berarti kita kini hanya menanti datangnya kematian......” kata To Siok Keng tenang.

„Apakah kau mengusulkan agar kita melarikan diri?” tanya Lim Ceng Yao.

„Betul!”sahut si gadis. Hening sesaat.

Tetapi mendadak terdengar Lee Beng Yan, Song Thian Hui dan Lim Ceng Yao tertawa berkakakan. Mereka agaknya tidak dapat menerima usul yang sehat itu?

„Mengapa ke tiga Locianpwee tertawa?” tanya To Siok Keng heran.

„Sumoay, jika ke tiga susiokku menerima usulmu itu,” kata Wei Beng Yan, „Itu berarti kita melarikan diri hanya karena desakan ke empat lentera kertas merah itu!” „Apa salahnya dengan itu?” tanya To Siok Keng agak mendongkol.

„Apa salahnya?! Mana dapat kita melarikan diri hanya karena diusir oleh lentera?” kata Lim Ceng Yao yang pun sudah agak gusar.

„Mengapa To siocia berpikiran demikian pendek?” To Siok Keng bersenyum getir.

„Jika kita lari sekarang, kita seolah-olah diusir oleh lentera-lentera kertas,” sahutnya. „Tetapi kita lari untuk menanti suatu kesempatan baik untuk mengganyang jahanam ita. Apa gunanya kita menantikan kedatangannya sedangkan kita sudah mengetahui bahwa kita, memang tidak sanggup melawannya? Bukankah itu suatu pikiran yang tolol?”

Ketiga susiok si pemuda she Wei jadi menjublek mendengar ucapan yang sangat beralasan itu.

„Kita sudah terdesak, maka kita harus berusaha.” To Siok Keng melanjutkan. „kita harus menggempur Pek Tiong Thian dengan siasat.”

Tetapi usul itu tidak ada gunanya terhadap ke tiga susiok si pemuda she Wei. Karena mereka terlalu kukuh dan lebih rela mati daripada dibuat ejekan bahwa mereka telah melarikan diri karena diancam oleh lentera-lentera.

Watak itu agaknya juga dimiliki oleh Wei Beng Yan sendiri yang menganggap nama seseorang adalah lebih penting daripada segala apapun! Wei Beng Yan mengawasi To Siok Keng dengan perasan yang sukar dilukiskan. Rasa sangat menyesal sudah tidak mendengar nasehat gadis itu berkecamuk dalam otaknya.

„Suko, mengapa kau tampaknya demikian gelisah?” tanya To Siok Keng.

„Aku khawatir kau akan meninggalkan aku di sini......” sahut Wei Beng Yan.

„Wei Koko, aku hanya memberikan saran, jika kau dan ke tiga susiokmu tidak dapat menerima saranku itu, masakan aku harus meninggalkan kau di sini. Kepandaian Pek Tiong Thian dan Hua Ceng Kin lihay sekali, tetapi menurut pendapatku bukankah kepandaian kedua jahanam itu sendiri yang harus ditakuti!”

„Jika demikian, apanya yang sangat disegani orang banyak?” tanya Song Thian Hui.

„Senjata-senjata mereka! Ciam-hua-giok-siu dan Hian-peng-tok- bong!” sahut To Siok Keng. „Karena tanpa senjata-senjata yang ampuh itu, aku yakin kita masih dapat melawan mereka!”

„Tetapi bukankah beberapa hari yang lalu kalian mengatakan ingin mencari Tok-beng-oey-hong di kuil Cit-po-sie untuk membunuh Pek Tiong Thian?” tanya Lim Ceng Yao.

„Betul!” sahut To Siok Keng, „dan aku merasa yakin jika kita memberitahukan maksud kita mencari benda mujizat itu, Bak Kiam Taysu pasti akan membantu usaha kita itu ” „Tetapi sayang Bak Kiam Taysu sendiri telah meninggal dunia! Dan katanya benda mujizat ini bersama-sama Cu-gan-tan telah dicuri orang!”

„Siapa yang mencuri?”

„Entahlah, Bak Kiam Taysu sendiripun tidak mengetahui dan

justru itulah yang telah membikin Yu Leng gadungan mengamuk dan membunuh pendeta itu ”

To Siok Keng berpikir sejenak. Kemudian sambil bersenyum ia berkata.

„Lee Locianpwee, bolehkah aku pergi dari sini untuk beberapa hari lamanya?”

„To siocia ingin pergi ke mana?” Lee Beng Yan balik menanya.

„Apakah siocia ingin mencari bantuan?” tanya Lim Ceng Yao.

„Aku takkan merembet-rembet lain orang!” sahut si gadis, „Pek Tiong Thian telah berjanji akan datang dalam waktu sepuluh hari dan iapun mengetahui bahwa kita takkan lari karena gertakannya itu. Maka aku bermaksud pergi dan kembali dalam waktu yang telah dijanjikan oleh jahanam itu!”

„Sumoay, apa yang ingin kau lakukan?” tanya Wei Beng Yan.

„Suko, aku berlalu dari sini bukan karena takut mati, aku berjanji dalam waktu sembilan hari sudah kembali lagi di sini!” „Aku tidak pernah mengatakan kau ingin melarikan diri, aku hanya ingin mengetahui ke mana kau ingin pergi?”

“Berani kau berjanji tidak mencegah jika aku memberitahukan?”

Wei Beng Yan mengawasi gadis itu dengan tajam sekali, perlahan- lahan ia kemudian mengangguk.

„Aku ingin pergi ke kuil Cit-po-sie!”

„Untuk?”

„Untuk mencari Tok-beng-oey-hong!”

„Aai! Apakah kau tengah bermimpi? Kau tidak mengetahui di mana letak kuil tersebut, lagipula apakah kau tidak mendengar barusan Ji susiokku mengatakan bahwa Tok-beng-oey-hong dan Cu-gan- tan telah dicuri orang?!”

„Akupun berpendapat percuma saja To siocia pergi ke kuil tersebut!” kata Song Thian Hui.

„Tidak mungkin kedua benda mujizat itu telah dicuri orang!” sahut si gadis.

„Dapat kau membuktikan ucapanmu itu?” tanya Lee Beng Yan,

„Aku akan mencoba meyakinkan Lee Locianpwee!” sahut To Siok Keng tenang, „menurut, aku tandaskan MENURUT orang bahwa kedua benda mujizat itu telah dicuri orang. Tetapi selama beberapa tahun ini, semenjak tersiarnya kabar itu, siapakah yang pernah melihat benda-benda itu? Dan aku merasa ragu jika ada orang yang ingin mencuri kedua benda itu sekedar untuk kenang- kenangan, mengingat usaha pencurian itu harus dilakukan dengan menjudikan nyawa seseorang!”

Ke tiga susiok si pemuda she Wei jadi saling pandang mendengar penjelasan itu.

„Apakah Bak Kiam Taysu telah berdusta?”tanya Lim Ceng Yao.

„Aku tidak berani mengatakan bahwa Bak Kiam Taysu telah berdusta, tetapi aku yakin betul kedua benda mujizat itu masih berada dalam kuil Cit-po-sie!”

Tigapuluh Dua

Memang pertanyaan Lim Ceng Yao ini beralasan, karena beberapa tahun yang lalu, pemimpin kuil Cit-po-sie, Bak Kiam Taysu pernah berkunjung ke markas partai Tiang-pek-san untuk mencari kedua benda itu yang dikatakannya telah dicuri orang.

Tetapi karena kebijaksanaan Kong-ya Coat, Bak Kiam Taysu dapat diyakinkan dan pertarungan antara partai Cia It Hok dengan partai Siauw-lim itu dapat dihindarkan.

Kabar itu telah tersiar dan diketahui oleh hampir semua partai- partai dan tokoh-tokoh silat kenamaan, tetapi yang aneh yalah Tok- beng-oey-hong atau Cu-gan-tan tidak pernah muncul di dunia persilatan. Kemudian banyak orang mencurigakan bahwa Bak Kiam Taysu sengaja menyiarkan kabar bahwa kedua benda itu telah tercuri orang agar ia dapat menyimpan kedua benda mujizat itu dengan tenteram tanpa khawatir orang-orang lihay yang tamak lagi-lagi menyatroni kuilnya! Kemungkinan ini memang ada.

Tetapi jika maksud To Siok Keng tadi dapat persetujuan, sudah tentu Wei Beng Yan harus menyertainya, karena pemuda itu mengetahui betul dimana letak kuil yang dimaksud itu.

„Jadi siocia tetap bertekad herkunjung ke pegunungan Ngo-tay- san?” tanya Lim Ceng Yao.

To Siok Keng mengangguk,

„Usaha pembasmian Pek Tiong Thian ini, bukan saja untuk menyelamatkan kita dan kalangan Bulim,” katanya sengit, „tetapi juga untuk membalaskan sakit hati ayah serta seluruh keluargaku serentak!”

„Kalau begitu aku akan menyertaimu!” kata Wei Beng Yan. Lalu ia menoleh kepada ketiga susioknya dan melanjutkan.

„Tetapi dapatkah ke tiga susiok menyetujui kepergianku ini?”

Ketiga orang yang ditanya itu dengan serentak mengangguk, karena mereka menginsyafi tanpa Tok-beng-oey-hong, Pek Tiong Thian sukar dilawan.

Bukan main girang si gadis, ia segera memberi hormat seraya berkata. „Ketiga Locianpwee tidak usah khawatir, sebelum ke dua jahanam itu datang di sini, kita pasti sudah kembali!”

Setelah berkata begitu, ia segera berbalik dan mengajak Wei Beng Yan berlalu.

Setibanya di luar, untuk beberapa saat lamanya, mereka mengawasi ke empat lentera kertas yang bertulisan SEPULUH HARI.

„Sumoay,” kata Wei Beng Yan cemas, „dapatkah kita kembali dalam waktu sesingkat seperti telah dijanjikan oleh si jahanam? Yalah sembilan hari?”

„Kita harus berusaha sedapat mungkin agar tidak melampaui batas waktu itu!” sahut si gadis. „Ayolah kita berangkat sekarang!”

Wei Beng Yan menoleh ke belakang dan masih melihat ketiga susioknya sedang berdiri mengawasinya dari kejauhan, ia memberi hormat lagi dan segera mengikuti To Siok Keng yang sudah berjalan lebih dulu.

◄Y►

Setelah muda mudi itu tidak kelihatan lagi, terdengar Lim Ceng Yao, berkata.

„Kini kita hanya bertiga dalam gedung ini.” Song Thian Hui bersenyum dan berkata. „Aku kira kita berlima atau bertiga itu sama saja!”

„Kita bertiga sudah lama mengangkat saudara,” kata Lee Beng Yan, „dan aku merasa kalian memang bersungguh hati ingin membantu aku, tetapi tidak demikian dengan To Siok Keng, aku kira ia akan mendesak Wei Beng Yan agar tidak kembali!”

„Ya, ia barusan bahkan mendesak dengan segala alasan!” sahut Lim Ceng Yao.

Song Thian Hui tertawa.

„Kita tidak usah memikiri mereka,” katanya, „bukankah aku sudah mengatakan bahwa kita berlima atau bertiga itu sama saja?”

Begitulah mereka masuk lagi ke dalam ruangan untuk berlatih silat dan mengadakan latihan bersama.

Tengah mereka berlatih sambil memperbincangkan siasat-siasat menghadapi musuh-musuh mereka pada keesokan harinya, tiba- tiba Lo Hok masuk, ke dalam ruangan itu seraya berkata.

„Cong Piauw-tauw! Di luar telah digantungi lagi empat lentera kertas merah!”

Tanpa menunggu lagi Lim Ceng Yao segera meloncat dan memburu keluar, dan betul saja, di dekat ke empat lentera yang telah digantung di situ kemarin, tampak empat lentera tambahan. Lentera-lentera itu selain bertulisan huruf PEK, juga tertera tulisan.

„SEMBILAN HARI.” „Hm! Rupanya bangsat itu takut kita lupa menghitung hari sehingga ia merasa perlu untuk memperingatkan kita bahwa jangka waktu kedatangannya di sini tinggal sembilan hari!” kata Lee Beng Yan sengit.

„Aku mengetahui watak si jahanam she Pek, di samping berangasan ia sangat kejam dan keji,” kata Lim Ceng Yao, „Ia tentu belum berada di sekitar tempat ini karena aku meragukan jika ia bisa bersikap sabar untuk tiap-tiap hari menggantungi empat lentera di sini!”

„Dia tentu memerintahkan seseorang untuk melakukan tugas ini,” kata Song Thian Hui.

„Ya, Hua Ceng Kin!” sahut Song Thian Hui.

„Jadi kalian menganggap Pek Tiong Thian masih berada jauh dari tempat ini?” tanya Lee Beng Yan.

„Itulah maksudku!” sahut Lim Ceng Yao.

Lee Beng Yan bersenyum lebar dan berkata,

„Jika Pek Tiong Thian belum datang di sini, mengapa kita sekarang tidak menggempur si nenek terlebih dulu?”

„Betul!” Song Thian Hui menyetujui saran itu.

„Malam ini Hua Ceng Kin tentu akan datang lagi untuk menggantung lagi empat lentera-lentera yang bertulisan DELAPAN HARI di sini, dan itulah kesempatan terbaik bagi kita menyergap serta mengerubutinya!” kata Lee Beng Yan.

Song Than Hui dan Lim Ceng Yao menyetujui, maka mereka segera masuk untuk mempersiapkan segala sesuatu untuk membokong si nenek she Hua itu.

Malam harinya, mereka mencari tempat yang baik untuk bersembunyi sambil menantikan datangnya lawan mereka.

Suasana gelap, tidak tampak bintang atau rembulan di langit, kesunyian malam yang dingin itu kadang kala hanya dipecahkan oleh desiran-desiran angin atau jeritan-jeritan burung hantu yang menambah ketegangan bagi ketiga orang yang sedang menantikan korbannya.

Mereka bertiga sengaja mengenakan pakaian serba hitam dan menentukan isyarat-isyarat yang hanya diketahui oleh mereka saja.

Suasana gelap sekali sehingga sukar bagi mereka sendiri untuk melihat benda atau orang yang berada dalam jarak duapuluh meter.

Belum beberapa lama setelah lewat tengah malam, tiba-tiba mereka mendengar suara derap kaki yang ditindakkan enteng sekali, sayup-sayup derap kaki yang empuk serta pesat itu membuktikan bahwa orang yang sedang mendatangi adalah seorang yang sudah mahir betul ilmu meringankan tubuhnya. Mereka menahan napas sambil memperhatikan terus. Tidak lama kemudian satu bayangan mencelat ke udara dan dengan gaya yang menakjubkan sekali melayang melalui tembok yang melingkari rumah gedung itu, ternyata orang itu menenteng empat tentera kertas merah yang bertulisan

DELAPAN HARI!

Lee Beng Yan memberi isyarat agar kedua kawannya tidak bertindak sembrono.

„Kita tunggu saja, setelah dia datang dekat sekali baru kita sergap ” bisiknya.

Sambil berindap-indap orang itu yang belum dapat dikenali wajahnya menghampiri terus. Tiba-tiba ia berhenti sebentar dan celingukan ke kanan ke kiri, ketika merasa tidak mendengar atau melihat sesuatu yang mencurigakan, ia lalu melanjutkan tindakannya.

Lee Beng Yan, Song Thian Hui ataupun Lim Ceng Yao, ketiga orang ini sudah memiliki nama tenar dan disegani di kalangan Bu- lim, namun pada saat segawat serta setegang itu, mereka harus mengakui bahwa jantung mereka masing-masing berdebar keras! Betapa tidak, orang yang sedang mendatangi dengan langkah- langkah lincah serta sudah diperhitungkan masak-masak itu ternyata membawa sebatang tongkat di samping menenteng empat lentera kertas merah!

Meskipun demikian, mereka bertiga belum dapat memastikan bahwa orang itu adalah si nenek Hua Ceng Kin. Karena orang itu menenteng ke empat lentera kertas demikian rupa sehingga wajahnya tetap tidak kelihatan!

Setelah orang itu berada cukup dekat dan sudah siap menggantung keempat lentera yang dibawanya itu, tiba-tiba......

„Terkam!!”

Lee Beng Yan berseru lantang agar kedua kawannya mengikuti jejaknya menerkam dengan serentak.

Begitu mendengar komando itu, Lim Ceng Yao dan Song Thian Hui segera meloncat keluar dari tempat persembunyian mereka dan berusaha menghadang orang itu.

„Yaa !”

Pekik orang itu sambil mengelakkan terkaman Lee Beng Yan, setelah itu sambil tetap memegangi keempat lentera kertas, ia meloncat dan menyabetkan tongkatnya ke arah Lim Ceng Yao dan Song Thian Hui.

Suara serabutan terdengar, abu berterbangan menyuramkan keadaan yang memang gelap itu. Cahaya satu-satunya yang tidak begitu terang adalah cahaya yang dipancarkan oleh keempat lentera kertas merah yang ditenteng orang itu.

Lim Ceng Yao menghunus pedangnya dan menusuk ke arah dada orang itu, tetapi lagi-lagi dengan gerakan yang lincah sekali orang itu berhasil mengelakkan serangan itu. Song Thian Hui jadi penasaran sekali, iapun meloncat dan menerkam orang itu tetapi ia menjadi terkejut sekali tidak dapat melihat lawannya, karena dengan satu tiupan saja, orang itu berhasil memadamkan keempat lenteranya, sehingga dengan tiba- tiba saja keadaan di situ jadi gelap gulita. Dengan satu pekikan yang seram sekali orang itu meninggalkan ketiga lawannya dalam keadaan terbengong.

„Lo Hok!” seru Lee Beng Yan, nyalakan penerangan!”

Dalam kegelapan tampak Lo Hok berlari-lari dari dalam. Sejenak kemudian ia telah menyalakan lentera.

Setelah memeriksa lari sekitar pekarangan itu, Lee Beng Yan dengan masgul lalu mengajak kedua kawannya masuk ke dalam.

„Malam ini kita bertiga kurang cepat sehingga musuh kita dapat meloloskan diri!” keluhnya.

„Dengan kegagalan kita ini, aku khawatir Hua Ceng Kin tidak lagi berani datang pada malam berikutnya ” kata Lim Ceng Yao.

„Lim Heng, apakah kau menganggap orang tadi adalah Hua Ceng Kin?” tanya Song Thian Hui.

„Orang tadi pasti Hua Ceng Kin!”

„Bagaimana kau mengetahui, bukankah kita tidak bisa melihat wajahnya?” „Disamping gerakannya gesit luar bjasa, orang tadi pun membawa tongkat -- suatu bukti nyata ia adalah Hua Ceng Kin!”

„O   ya, aku lupa pada kenyataan itu!”

„Tetapi tidak ada salahnya jika besok malam kita mencoba menghadangnya lagi.”

„Dan kali ini kita harus bersembunyi di tiga tempat. Si Jahanam tidak boleh lolos!”

Lee Beng Yan segera memanggil Lo Hok, setelah mengisikki beberapa ucapan di dekat telinga pesuruh itu, ia lalu mengajak Lim Ceng Yao dan Song Thian Hui beristirahat.

Tetapi apa yang terjadi pada saat ketiga orang itu melepaskan lelahnya?

Di depan pintu rumah gedung itu keesokan harinya telah diketemukan secarik kertas yang penuh dengan coretan-coretan tidak keruan. Tampak empat lentera kertas merah yang kemarin malam ditenteng oleh Hua Ceng Kin sudah tergantung dipayon gedung besar itu!

„DELAPAN HARI.”

Demikianlah dua perkataan yang tertulis di keempat lentera itu!

Lee Beng Yan jadi gusar sekali, ia segera melepaskan secarik kertas yang melekat di daun pintu dan membaca isinya. „Aku yang bernama Hua Ceng Kin mengaturkan ‘selamat’ kalian bertiga telah gagal menjebak aku!

Tetapi sayang aku tokh akhirnya berhasil juga menggantung keempat lentera kertas ini!

Dan agar kalian bertiga dapat bersiap siaga menyambut kedatanganku pada malam yang ketiga ini, aku tidak berkeberatan untuk memberitahukan bahwa aku PASTI datang lagi pada waktu yang sama seperti telah aku datang malam yang kemarin!

Sekian saja, sampai jumpa lagi nanti malam!”

„Betul-betul kurang ajar si iblis wanita ini!” teriak Lee Beng Yan.

„Tetapi malam ini jangan harap kau dapat lolos!”

Tengah hari tiba yang kemudian diganti dengan datangnya lohor, tidak lama kemudian kegelapan malampun sudah membungkus suasana di situ.

Lee Beng Yan dan kedua kawannya tidak lagi mengenakan pakaian serba hitam, bahkan lampu dinyalakan seluruhnya hingga keadaan di seluruh pekarangan gedung itu jadi terang benderang!

Mereka lalu mengambil tempat duduk tepat di tengah pintu, di suatu bagian tertentu dan tidak kelihatan, Lo Hok sudah bersiap- siap dengan panah dan busurnya.

Detik-detik dirasakan lewat lambat sekali, sebentar-sebentar Lim Ceng Yao yang agaknya sudah hilang sabar, berdiri dan meronda tempat di sekitar pekarangan, namun tidak tampak tanda-tanda si nenek jahanam akan segera muncul di situ.

Hingga menjelang tengah malam, mereka masih belum juga melihat atau mendengar sesuatu yang mencurigakan.

Beberapa saat telah lewat lagi dan tiba-tiba terdengar suara tertawa cekikikan seperti suara tertawa kuntilanak, itulah suara tertawa Hua Ceng Kin yang sangat tidak enak bagi pendengaran siapapun. Ketiga orang itu segera mengerahkan tenaga dalam mereka dan ketika mendengar suara tertawa itu makin lama makin menjauh, mereka segera mengejar ke arah datang suara tertawa tadi.

Tetapi setelah berlari-lari hampir satu lie, dan masih tidak melihat orang yang tertawa seperti kuntilanak tadi, mereka segera mengetahui bahwa mereka telah lagi-lagi tertipu!

„Kita telah dipancing hingga ke tempat ini, maka dengan mudah saja Hua Ceng Kin akan menggantung lentera kertas merahnya!” keluh Song Thian Hui.

„Ayohlah kita lekas kembali!” kata Lim Ceng Yao sambil mendahului meloncat balik diikuti oleh Lee Beng Yan dan Song Thian Hui.

Mereka jadi gemas sekali ketika tiba di depan gedung Lee Beng Yan, karena di depan tiang pintu telah tergantung lentera kertas yang bertulisan.

„TUJUH HARI.” „Kita telah dipermainkan oleh jahanam itu!” seru Lee Beng Yan sambil membanting kakinya.

„Apa mau dikata?” sahut Song Thian Hui, „kita bertiga telah ditipu mentah-mentah, kita hanya dapat menjaga lagi pada esok malam.”

Tigapuluh Tiga

Demikianlah mereka menantikan lagi kedatangan Hua Ceng Kin pada malam berikutnya, tetapi mereka senantiasa dapat diingusi oleh si jahanam perempuan itu.

◄Y►

Sementara menantikan datangnya hari yang kesepuluh, marilah kita tengok To Siok Keng dan Wei Beng Yan yang tengah menuju ke pegunungan Ngo-tay-san. Pada suatu senja kala mereka sudah tiba di kaki gunung tersebut.

Mereka tidak menginap di rumah penginapan, tetapi tidur di dalam hutan di bawah kaki gunung itu.

„Suko,” kata To Siok Keng dengan paras gelisah, „apa anggapan ketika susiokmu dengan kepergian kita ini?”

Wei Beng Yan yang tidak secerdik To Siok Keng selalu mengukur orang lain seperti mengukur dirinya sendiri.

„Aku tak dapat membaca isi hati mereka, tetapi aku kira mereka setuju kita pergi mencari benda mujizat Tok-beng-oey-hong,” sahutnya. „Aku kira mereka menganggap kita tak akan datang kembali?”

„Tidak bisa jadi!”

„Kau mungkin tidak melihat wajah mereka, tetapi aku masih sempat melihatnya. Mereka mencurigai kepergian kita ini!”

„Tetapi kita tokh tidak bermaksud demikian!”

To Siok Keng berlagak bersikap hianat dengan mengusulkan.

„Ini adalah kesempatan yang baik untuk kita menyelamatkan diri. Kita sudah tiada di dalam gedung itu, dan kita dapat menjauhkan diri dari Pek Tiong Thian!”

Wei Beng Yan terkejut mendengar usul itu, dan ia tak mau percaya jika kupingnya mendengar ucapan begitu dari To Siok Keng. Dengan kedua mata melotot ia berkata.

„Sumoay, apakah kau sedang bersenda-gurau! Misalnya kita gagal mencari Tok-beng oey-hong, kita sudah berjanji akan kembali, maka kita harus kembali. Tidak pantas jika kita mengingkari janji kita sendiri!”

To Siok Keng tertawa dan menyahut.

„Suko, aku hanya berlagak saja. Aku tidak mengusulkan itu dengan sungguh-sungguh!”

„Aku menyesal sekali sudah tidak mendengari nasehatmu sehingga aku menjadi seorang yang tak berguna kini. Namun, meskipun aku harus menghadapi maut, aku tak akan mengingkari janji. Berhasil atau tidaknya kita peroleh Tok-beng-oey-hong kita harus kembali sebelum Pek Tiong Thian datang ke markas Lee susiok!”

„Aku hanya berdoa agar kita berhasil memperoleh Tok-beng-oey- hong!”

Demikianlah mereka bercakap-cakap sambil meneruskan perjalanan. Pada tengah hari mereka sudah tiba di kaki satu jurang yang sangat tebing dan curam.