-->

Sampul Maut Jilid 10

Jilid 10

Begitu melihat Yu Leng roboh Pek Tiong Thian segera meloncat menghampiri sambil menusuk dengan senjata beracun Hian-peng- tok-bong ke arah jantung Yu Leng. Hian-peng-tok-bong yang pernah dipergunakan oleh Soat-hay-siang-hiong untuk menusuk jantung Wei Tan Wi, yang kini dipinjam oleh Pek Tiong Thian untuk menusuk jantung Ji Cu Lok.

Perlu dijelaskan di sini bahwa Soat-hay-siang-hiong adalah sahabat-sahabat karib Pek Tiong Thian, dan itulah sebabnya mengapa orang she Pek itu melarang Wei Beng Yan membunuh kedua iblis itu.

Setelah melihat bahwa Ji Cu Lok betul-betul sudah tidak berkutik lagi, Pek Tiong Thian lalu menggeledah segala sesuatu dengan maksud menemukan catatan ilmu Thay-yang-sin-jiauw, tetapi tiba- tiba terdengar tindakan kaki seseorang mendatangi ke arahnya. Ia mengetahui bahwa yang sedang mendatangi itu pasti murid Ji Cu Lok. Oleh karena tidak keburu melarikan diri lagi, maka lekas-lekas ia mengenakan selembar kain hitam di mukanya dan bermaksud menyamar sebagai Yu Leng dan meminjam kepandaian Wei Beng Yan untuk mengganyang orang-orang yang tidak disukainya.

Demikianlah Pek Tiong Thian telah berhasil mengelabui mata orang banyak tetapi tokh akhirnya rahasia itu terbongkar juga oleh si kakek pincang Ouw Lo Si.

duapuLuh tujuh

Selagi ia duduk menantikan kedatangan ‘murid-muridnya’ itu, tiba- tiba Siauw Bie berseru .

„Locianpwee! Beng Yan sedang mendatangi!”

Dari kejauhan tampak To Siok Keng sedang memondong Wei Beng Yan mendaki puncak Ci-sin-hong. Melihat keadaan ‘muridnya’, Pek Tiong Thian terkejut sekali.

„Beng Yan!” serunya. „mengapa kau terpincang-pincang?”

„Aku jatuh dari pohon, tulang betisku patah!” sahut Wei Beng Yan.

Dari terkejut Pek Tiong Thian jadi girang, karena meskipun telah memiliki banyak ilmu-ilmu aneh dari kitab Jit-gwat-po-lek, tetapi ia masih merasa gentar untuk menempur Wei Beng Yan yang memiliki ilmu Thay-yang-sin-jiauw dan Thay-yang-sin-kang. Sambil duduk di atas batu gunung ia mengawasi To Siok Keng yang sedang membantu pemuda itu.

„Beng Yan, siapa siocia itu?” tanyanya lagi.

To Siok Keng juga sudah memperhatikan sikap Yu Leng gadungan itu, dan ia merasa heran Ji Cu Lok yang berkepandaian demikian tinggi sekarang menutupi mukanya dengan selembar kain hitam.

„Aku To Siok Keng,” sahutnya.

Pek Tiong Thian tertawa berkakakan dan menanya lagi kepada Wei Beng Yan.

„Apakah kau sudah dapat cari buah yang berkulit kuning?”

Ketika itu Wei Beng Yan dan To Siok Keng sudah berada cukup dekat, mereka jadi terkejut sekali melihat Siauw Bie tengah duduk di atas satu batu gunung dengan sikap acuh tak acuh. Setelah melirik To Siok Keng, Wei Beng Yan lalu menyahut.

„Aku sudah berusaha mencari, menurut keterangan-keterangan buah itu sangat beracun, sebetulnya untuk apakah buah itu?”

Jawaban yang mengandung unsur-unsur tidak percaya itu membikin Pek Tiong Than marah sekali.

„Aku telah memerintahkan kau mencari buah itu,” katanya, „tentu ada gunanya, apa gunanya kau mengajukan banyak pertanyaan?” Wei Beng Yan tidak menyahut mendengar teguran yang keras itu, ia hanya menatap selembar kain hitam yang menempel di muka Pek Tiong Thian itu.

„Dari Siauw Bie aku telah mendapat keterangan bahwa kau telah terkena bujukan Ouw Lo Si, betulkah?” Pek Tiong Thian menanya lagi.

„Bujukan?” Wei Beng Yan berlagak tidak tahu sambil menoleh ke arah Siauw Bie.

„Ya! Bujukan agar kau mencurigai keaslianku sebagai Ji Cu Lok!” kata Pek Tiong Thian tegas.

Wei Beng Yan belum menyahut, ketika Pek Tiong Thian sudah menegur lagi.

„Mengapa kau sekarang jadi demikian kurang ajar?!”

„Karena peringatan si kakek pincang sangat beralasan!” sahut Wei Beng Yan dengan berani. „Apakah kau berani menanggalkan topengmu itu?!”

„Ha, ha, ha! Inilah yang dikatakan menolong anjing terjepit harus berani menerima gigitan anjing itu sendiri! Dua tahun yang lalu, kau masuk ke dalam lembah Yu-leng-kok, dan mulai saat itu aku telah dengan tekun mewariskan ilmu-ilmuku kepadamu, tetapi sekarang ” Wei Beng Yan tidak merasa takut sedikitpun, ia mengetahui bahwa betis kirinya sudah patah, tetapi karena mengingat ia berada di pihak yang benar, ia bertekad membela keadilan.

„Ketahuilah! Bahwa aku dapat melenyapkan kau dari dunia ini hanya dengan satu pukulan saja.........” Pek Tiong Thian mengancam.

„Aku masuk ke dalam lembah Yu-leng-kok dengan satu maksud,” Wei Beng Yan berkata dengan gusar, „maksud yang diperkuat dengan sumpah! Yalah, setelah aku berhasil memiliki ilmu-ilmu yang sakti, aku akan menuntut balas, dan jika setelah itu aku masih hidup, aku bermaksud berbuat kebaikan terhadap banyak orang!”

Pek Tiong Thian jadi melongo mendengar jawaban yang tegas serta ketus itu.

„Tetapi ” Wei Beng Yan melanjutkan. „tetapi sampai saat ini aku

belum juga berhasil malah sebaliknya aku telah diperintahkan

untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang terkutuk!”

Pek Tiong Thian jadi gugup dihujani kata-kata yang betul-betul kena sasarannya itu. Namun sebagai seorang yang berwatak kejam dan ingin menjagoi di dunia persilatan, ia tidak bersedia menerima saja ucapan ‘muridnya’ itu. Karena kewalahan ia lalu berkata.

„Bukankah kau telah bersumpah untuk mentaati segala perintahku?” „Ya! Tetapi aku tidak bersedia menjalani perintahmu yang terkutuk!”

„Terkutuk?! Apa yang kau maksud dengan yang terkutuk?”

„Membunuh Khouw Kong Hu, Ceng Sim Lo-ni dan jangan

menyentuh setengah lembar bulu Soat-hay-siang-hiong!”

„Jadi sekarang kau ingin membangkang?!”

„Suhu mencegah aku membunuh Soat-hay-siang-hiong yang senantiasa mengganas kalangan Bulim, lalu memerintahkan aku mencari buah Cian-jin-huang yang sangat beracun, dengan buah ini tentu Suhu ingin membunuh orang baik-baik dan...... jika aku tidak bersedia menjalankan perintah itu, aku kira aku tidak dapat dikatakan membangkang!”

Dengan tiba-tiba saja tampak Pek Tiong Thian berdiri untuk kemudian menghampiri ‘muridnya’ itu. Ia mengetahui bahwa betis kiri Wei Beng Yan sudah patah, dengan demikian meskipun ‘muridnya’ itu dapat melancarkan Thay-yang-sin-jiauw pun, ia yakin benar masih dapat melawan jurus yang dahsyat itu.

„Aku terpaksa harus menyingkirkan muridku sendiri!” katanya sambil terus menghampiri.

Betis Wei Beng Yan yang patah sudah diobati oleh To Siok Keng, tetapi agar dapat bergerak dengan leluasa lagi ia masih harus menunggu beberapa waktu lamanya. Ketika itu untuk berjalan ia masih harus dibantu oleh To Siok Keng. Pek Tiong Thian berhenti bertindak kira-kira lima meter di hadapan sepasang muda mudi itu.

„Kau telah memiliki ilmu-ilmu yang dahsyat,” katanya lantang,

„sehingga kau menganggap dapat melawan aku! Ayohlah unjuk kepandaianmu, aku mau lihat!”

Wei Beng Yan tidak bergerak, ia terus menatap gerak gerik Pek Tiong Thian dengan mata seolah-olah menyala karena gusarnya.

Suasana jadi tegang sekali, satu pertarungan hebat agaknya sudah tidak dapat dicegah lagi. Tiba-tiba terdengar suara To Siok Keng memecahkan keheningan itu.

„Apakah perselisihan ini harus dipecahkan melalui satu pertempuran?”

Siauw Bie yang dari semula tidak berkata-kata, sudah merasa girang sekali melihat Pek Tiong Thian ingin menghajar bekas kekasihnya, tetapi begitu melihat To Siok Keng menghalang- halangi pertempuran itu, ia jadi mendongkol bukan main.

„Hei cendil?” bentaknya, „apa perlunya kau mencampuri urusan guru dan murid ini?”

„Hii, hii, hii! Siapa bilang urusan ini adalah urusan guru dan murid?” To Siok Keng balik menanya.

„Apakah kau tidak mengetahui bahwa Ji locianpwee adalah guru Wei Beng Yan?” Siauw Bie menanya lagi. „Betul! Ji Cu Lok adalah guru suko ku ini,” sahut To Siok Keng, kemudian sambil menunjuk ke arah Pek Tiong Thian. Ia melanjutkan.

„Tetapi aku tidak merasa yakin jika Locianpwee ini bernama Ji Cu Lok!”

„Siapa gerangan Locianpwee ini jika begitu?” Siauw Bie sengaja menanya untuk memanaskan suasana agar pertempuran antara Yu Leng gadungan dengan Wei Beng Yan dapat segera dimulai, karena rasa cemburunya, ia sudah ingin lekas-lekas melihat Wei Beng Yan menjadi mayat dihajar ‘gurunya’ itu.

„Aku tidak tahu!” sahut To Siok Keng. „Yang pasti yalah Locianpwee ini BUKAN Ji Cu Lok!”

„Dapatkah kau membuktikan ucapanmu itu?!” tanya Pek Tiong Thian dengan sikap mengancam.

„Bukan aku yang harus membuktikan, tetapi Locianpwee sendirilah!”

„Aku?!”

„Dengan membuka selembar kain hitam yang menutupi mukamu!”

Pek Tiong Thian tertawa berkakakan mendengar kata-kata yang cerdik itu, sambil menatap To Siok Keng, tangan kanannya pelahan-lahan bergerak ke dalam bajunya, sejenak kemudian ia sudah memegang Ciam-hua-giok-siu. „Sumoay!” seru Wei Beng Yan terkesiap melihat Pek Tiong Thian bersikap ingin menyerang dengan sarung tangan ajaib itu.

„Suko, dapatkah kau berdiri tanpa bantuanku?” tanya To Siok Keng.

„Apakah kau ingin melawan orang yang bertopeng itu?” tanya Wei Beng Yan cemas, karena ia mengetanui betapa hebat sarung tangan ajaib itu.

„Ya!” sahut To Siok Keng tegas.

„Ha, ha, ha! Sekalipun tulang belulangmu terbuat daripada baja,” Pek Tiong Thian mengejek, „kau akan hancur lebur!”

„Adakah kau tahu bahwa aku adalah murid satu-satunya Thian- hiang-sian-cu? “ tanya To Siok Keng.

„Ha, ha, ha! Aku tidak perduli!” kata Pek Tiong Thian sambil mengangkat tangannya yang memegang Ciam-hua-giok-siu. „Aku akan segera menyerang!”

„Apakah kau mengetahui bahwa aku memiliki ilmu yang khusus diciptakan untuk mengimbangi kedahsyatan sarung tangan guruku itu?” To Siok Keng berkata lagi, „Yang disebut Ciam-hua-hut-soat- siu-hoat?!”

Kaget juga Pek Tiong Thian mengetahui masih ada suatu ilmu yang dapat mengimbangi terjangan Ciam-hua-giok-siu. Pelahan- lahan tampak tangannya yang sudah terangkat itu bergerak menurun. Tetapi justru pada saat yang bersamaan, secepat kilat To Siok Keng sudah meloncat sambil menyodok muka Pek Tiong Thian dengan jari tengah tangan kanannya!

Sungguh di luar dugaan Pek Tiong Thian bahwa gadis yang lemah lembut tampaknya itu berani menyerangnya, iapun tidak menduga jika gadis itu dapat bergerak demikian pesatnya, karena menurut pendapatnya, orang yang memiliki ilmu Thay-yang-sin-jiauw sajalah yang harus ia segani, selain itu ia menganggap semua orang remeh, mudah ditewaskan!

Lekas-lekas in mengangkat Ciam-hua-giok-siu dengan maksud menangkis untuk kemudian menghajar muka gadis itu, tetapi tepat pada waktu ia mengangkat tangannya itulah, ia mengendus suatu bau harum yang tajam sekali, yang seolah-olah menyelusup dan menusuk otaknya!

Pada saat ia terkejut, sekonyong-konyong suatu hembusan angin yang keluar dari sodokan jari To Siok Keng telah menyingkap untuk kemudian melucuti sama sekali kain hitam yang menutupi mukanya!

Wei Beng Yan dan Siauw Bie yang pun tidak menyangka To Siok Keng berani menyerang Pek Tiong Thian, mereka terkejut sekali ketika dapat melihat wajah pucat seperti mayat di balik kain yang sudah tergeletak di tanah itu.

Pek Tiong Thian tiba-tiba jadi kalap, ia meraung seram sambil dengan beringas menyerang dada To Siok Keng dengan Ciam- hua-giok-siu. Tetapi   tidak percuma To Siok Keng menjadi murid

Thian-hiang-sian-cu, meskipun hanya melalui kitab pendekar wanita yang lihay itu. Serangan Pek Tiong Thian yang cepat serta dahsyat itu dapat diegosinya dengan satu gerakan yang manis sekali, sehingga Yu Leng gadungan itu terjerumus sambil ternganga karena kagetnya!

To Siok Keng ternyata tidak berhenti hingga di situ, selesai lawannya bingung, sekonyong-konyong ia mengebut lengan baju dan bergerak ke samping sambil menyerang tempilingan Pek Tiong Thian dengan kedua jarinya yang dilancarkan dengan ilmu Sin-kang-cit!

Pek Tiong Thian lekas-lekas mengangkat tangan kirinya sambil membarengi menyerang dengan tangan kanannya yang memegang Ciam-hua-giok-siu, tetapi lagi-lagi ia telah menyerang angin!

„Aku telah mengatakan tadi,” kata To Siok Keng, “bahwa ilmu guruku yang bernama Ciam-hua-hut-soat-siu-hoat dapat mengimbangi kedahsyatan Ciam-hua-giok-siu!”

„Jahanam!” bentak Wei Beng Yan, „sungguh besar nyalimu berani menyamar sebagai guruku!”

„Ha, ha, ha! Kau sudah mengetahui aku siapa, mengapa kau tidak menyerang?” tanya Pek Tiong Thian.

To Siok Keng mengetahui bahwa setelah diberi obat menurut resep Thian-hiang-sian- cu, tulang betis Wei Beng Yan sudah mulai agak sembuh, tetapi ia merasa pemuda itu masih lemah untuk melancarkan Thay-yang-sin-jiauw. „Suko,” katanya. „Biarlah aku yang yang memberi hajaran kepada jahanam ini!”

Tetapi Wei Beng Yan sudah tidak lagi dapat menahan kegusarannya, rasa gusarnya makin berkobar ketika mengingat si jahanam yang kini sedang berdiri di hadapannyalah yang telah mencegahnya membunuh kedua musuh besarnya, Soat-hay- siang-hiong! Ia tidak akan merasa puas sebelum membunuh Yu Leng gadungan ini dengan tangannya sendiri.

Tampak tubuhnya bergemetar karena menahan hawa amarahnya yang kemudian meledak seperti gunung merapi!

„Jahanam! Betisku belum sembuh betul, tetapi kau pasti tewas hari ini!”

Wei Beng Yan membarengi ucapannya itu dengan mengangkat tangan kanannya, pelahan-lahan tinjunya berubah untuk kemudian mempijarkan sinar merah yang menyilaukan mata, tetapi tiba-tiba wajahnya sendiri berubah, karena ia merasa tenaganya sudah banyak berkurang, dengan demikian ia tidak lagi dapat melancarkan Thay-yang-sin-jiauw menurut kehendak hatinya!

„Celaka!” pikirnya cemas, „apakah sebelum aku berhasil membunuh kedua musuh besar ayahku, aku harus mati bersama- sama jahanam ini?”

Pek Tiong Thian yang tidak mengetahui hal ini, tiba-tiba mundur beberapa langkah ke belakang, ia mengetahui bahwa dirinya akan diserang dengan Thay-yang-sin-jiauw, belum lagi keburu ia mengambil keputusan melawan atau melarikan diri, mendadak terdengar.......

„Bung!!!”

Wei Beng Yan telah melepaskan serangannya! Apa yang terjadi kemudian?!

Tampak Pek Thong Thian terhuyung ke belakang diterjang hembusan angin serangan yang dahsyat itu, ia merasa sekujur tubuhnya jadi panas sekali, tetapi...... ternyata ia tidak roboh ataupun terluka! Ia berusaha menahan hawa panas yang seolah- olah ribuan semut sedang gerayangan di seluruh tubuhnya, sambil mengawasi Wei Beng Yan.

Ia melihat bahwa pemuda itu agaknya sedang berusaha menahan suatu perasaan juga, butiran-butiran peluh mengucur deras dari jidatnya, berbareng dengan itu, ia merasa pengaruh rasa panas sudah mulai menghilang dari tubuhnya, maka ia segera berkesimpulan bahwa tenaga Thay-yang-sin-jiauw yang diterimanya sekarang jauh di bawah nilai tenaga serangan Thay- yang-sin-jiauw yang dilancarkan dulu, yalah ketika si pemuda menggempur Ceng Sim Lo-ni di kota Bo-ouw!

Dengan tiba-tiba saja Pek Thong Thian memperlihatkan senyum iblisnya, ia merasa yakin betul dengan ilmu-ilmu yang diperolehnya dari kitab Jit-gwat-po-lek, ia akan mampu menewaskan murid Ji Cu Lok ini! Meskipun merasa kecewa sekali melihat serangannya tidak membawa hasil yang diharapkan, Wei Beng Yan tidak pernah putus asa. Begitu melihat Pek Tiong Thian mengangkat Ciam-hua- giok-siu, iapun mengangkat tangannya, dan......

„Darr!!!”

Dua tenaga raksasa telah berjumpa di tengah udara bebas sambil menerbitkan suara yang seperti meledaknya guntur.

Dan lagi-lagi tampak Pek Tiong Thian terhuyung ke belakang, ia terkejut sekali merasa seolah-olah sedang berada di dalam kamar dapur yang apinya berkobar-kobar membakar tubuhnya. Barulah ia insyaf betapa dahsyat Thay-yang-sin-jiauw itu, meskipun yang melancarkan ilmu itu sedang menderita luka cukup parah.

Lekas-lekas ia memutar Ciam-hua-giok-siu untuk menghalau pengaruh tenaga gaib ilmu yang betul-betul dahsyat itu, sambil menotol tanah dengan kedua kaki palsunya dan meloncat jauh ke belakang, dan selagi ia mencelat ke udara, tampak batu dan rumput-rumput kering berterbangan terbawa hembusan angin yang panas itu!

Ternyata Wei Beng Yan pun tidak kalah terkejutnya iapun merasa serangannya barusan telah tertahan oleh suatu tenaga yang hebat luar biasa, karena itu adalah tenaga serangan Ciam-hua-giok-siu, yang membuatnya terpaksa melangkah mundur untuk kemudian bersiap siaga lagi dan oleh karena mundurnya itulah, ia merasa betisnya sakit sekali, keringat dingin segera membasahi seluruh tubuhnya! Setelah meloncat mundur, Pek Tiong Thian tidak lagi merasa tubuhnya seperti dibakar, ia merasa girang sekali.

„Apakah Ciam-hua-giok-siu dapat menahan serangan Thay-yang- sin-jiauw?” pikirnya.

Sudah lama ia merasa ragu-ragu untuk menggempur Wei Beng Yan, karena merasa gentar terhadap ilmu pemuda itu. Meskipun Ciam-hua-giok-siu dapat menghalau api dan air, bahkan segala serangan senjata rahasia, namun untuk menguji Thay-yang-sin- jiauw ia merasa ragu-ragu! Tetapi sekarang ternyata sarung tangan ajaib dapat mengimbangi dan menghalau hawa panas yang membakar itu!

„Hei bocah!” serunya girang. „Apakah begitu saja kelihayan Thay- yang-sin-jiauw? Ha, ha, ha!”

Sayang, sungguh sayang sekali Wei Beng Yan sudah terkena racun Poa-gwat-an, itu saja sudah merupakan suatu kecelakaan hebat, ditambah dengan jatuhnya dari atas pohon dan betisnya patah, maka boleh dikatakan ia telah menyerang tadi hanya mempergunakan sisa-sisa tenaga yang masih ada saja, tetapi meskipun demikian, kalau saja pemuda itu dapat menyerang hanya sekali saja lagi, maka dapatlah dipastikan bahwa Pek Tiong Tian akan tewas di atas puncak Ci-sin-hong itu!

Pek Tiong Thian tidak mengetahui bahwa meskipun serangan Wei Beng Yan tadi tidak merobohkannya (berkat ilmu tenaga dalamnya yang hebat), tetapi bagian dalam tubuhnya yang telah menerima hawa panas Thay-yang-sin-jiauw tanpa disadari telah terluka. To Siok Keng merasa terharu sekali melihat keadaan Wei Beng Yan yang sudah betul-betul payah itu. Iapun mengetahui bahwa Pek Tiong Thian telah terluka bagian dalam tubuhnya, tetapi luka itu mungkin baru membawa akibat yang parah setelah melalui waktu yang agak lama, mengingat ilmu tenaga dalam si orang she Pek yang demikian hebatnya. Karena rasa cintanya terhadap pemuda itu, entah bagaimana, di dalam otaknya tiba-tiba terlintas suatu akal bulus yang baik sekali, maka ia lekas-lekas berkata.

„Suko, kau belum sembuh betul, biarlah aku saja yang melawan jahanam ini dengan..... Tok-beng-oey-hong......

Bercekat hati Pek Tiong Thian mendengar nama senjata rahasia yang disebut oleh gadis itu, senjata rahasia yang memang sedang diidam-idamkannya, meskipun ia belum mengetahui apa sebenarnya Tok-beng-oey-hong itu! Ia hanya mengetahui bahwa di antara ketiga benda pusaka itu, Tok-beng-oey-hong lah yang terdahsyat!

„Kau ingin melawan aku dengan Tok-beng-oey-hong?” tanyanya bernapsu.

„Betul.”

„Darimana kau peroleh senjata rahasia itu?”

„Dari guruku, Thian-hiang-sian-cu!”

Pek Tiong Thian jadi berdiri menjublek, ia mengetahui bahwa Tok- beng-oey-hong terkenal di kalangan Bu-lim karena Thian-hiang- sian-cu pernah mempergunakan senjata rahasia itu satu kali di atas pegunungan Liok-pan-san dahulu.

Pada waktu itu lebih dari duapuluh orang-orang jahat, terutama ke tujuh orang dari daerah Biauw-cian, telah datang ke pegunungan Liok-pan-san dengan maksud mengerubuti Thian-hiang-sian-cu.

Yang aneh yalah, tiada satu orangpun yang mengetahui jalannya pertempuran itu, orang-orang hanya mengetahui bahwa Thian- hiang-sian-cu telah keluar sebagai pemenang, semua musuhnya telah tewas!

Dua hari kemudian, setelah pertempuran itu terjadi, Tiong Sin, pemimpin partai di daerah Biauw-ciang, tampak berada di atas pegunungan itu.

Orang-orang yang berkecimpungan di dunia Kang-ouw pasti mengetahui bahwa Tiong Sin adalah seorang berkepandaian tinggi sekali, namun hatinya jahat serta kejam. Ia terkenal suka membasmi lawan-lawannya dengan senjata beracun atau serangan yang sangat berbisa.

Kedatangan Tiong Sin di atas pegunungan Liok-pan-san itu sudah dapat diduga, yalah untuk membikin pembalasan terhadap Thian- hiang-sian-cu.

Lalu datanglah orang-orang ke atas pegunungan tersebut untuk menyaksikan suatu pertarungan hidup mati, tetapi orang-orang ini menjadi kecewa ketika Thian-hiang-sian-cu memperingati agar mereka menonton dari kaki gunung itu saja, meskipun demikian mereka menunggu juga hasil pertarungan itu dengan hati berdebar-debar.

Tidak lama kemudian, tampak Tiong Sin sambil terhuyung-huyung berjalan turun dari puncak tersebut mukanya pucat sekali.

„Tok-beng-oey-hong!” tiba-tiba terdengar Tiong Sin berseru keras dan setelah memuntahkan darah, ia lalu tersungkur ke depan tidak berkutik lagi!

Melihat kematian Tiong Sin yang sangat mengerikan itu, orang- orang yang menunggu di kaki puncak itu mengambil kesimpulan bahwa Tiong Sin, maupun ke duapuluh lebih orang yang telah mengerubuti Thian-hiang-sian-cu telah menjadi korban Tok-beng- oey-hong!

Cara bagaimana Thian-hiang-sian-cu menghadapi lawan- lawannya itu, tiada satu orangpun yang mengetahui, dan semenjak itulah Tok-beng-oey-hong jadi sangat terkenal serta disegani!

duapuLuh delapan

Orang-orang yang berhubungan baik dengan Thian-hiang-sian-cu pernah melihat benda pusaka itu, tetapi mereka tidak mengetahui apa sebenarnya benda itu, yang menurut penglihatan hanya merupakan satu selubung terbuat daripada kuningan yang berkilau-kilau!

Pek Tiong Thian pun telah mendengar cerita itu, sehingga begitu mengetahui To Siok Keng ingin menggempurnya dengan senjata yang ampuh itu, tiba-tiba menjadi gentar. Tetapi untuk menggertak lawannya ia lalu berkata.

„Apakah kau tidak mengetahui bahwa Ciam-hua-giok-siu dapat memunahkan senjata gurumu?”

To Siok Keng lalu merogo sakunya, sejenak kemudian ia sudah memegang selubung kuningan yang kira-kira limabelas sentimeter panjangnya. Ia menatap Siauw Bie sejenak dan berkata .

„Siauw siocia, tenaga Tok-beng-oey-hong hebat sekali, aku khawatir kau akan turut terluka oleh serangan senjata rahasia yang dahsyat ini! Untuk keselamatan dirimu sendiri, aku minta kau saja turun dari puncak ini!”

Siauw Bie belum pernah mendengar tentang kelihayan senjata rahasia itu, ia merasa sungkan untuk mempercayai saja keterangan saingannya itu, tetapi walaupun demikian ia tokh melangkah mundur beberapa tindak.

„Baiklah!” kata lagi To Siok Keng, „jika kau bersedia mati bersama- sama jahanam ini, hanya...... ingat aku tidak pernah ingin melakukan sesuatu yang kurang baik terhadapmu, meskipun kau pernah menganiaya aku!”

Mendengar ucapan To Siok Keng yang sungguh-sungguh itu, Siauw Bie jadi percaya juga, maka Lekas-lekas ia berbalik dan turun dari puncak itu.

Pek Thong Thian merasa cemas sekali melihat Siauw Bie melarikan diri, karena iapun merasa takut diserang oleh Tok-beng- oey-hong, tetapi hatinya yang congkak tidak memperkenankannya untuk mengangkat kaki dari situ.

„Hei jahanam, perkenalkanlah namamu!” bentak To Siok Keng.

„Tok-beng-oey-hong tidak pernah mengambil nyawa kurcaci!”

Tiba-tiba Pek Thong Thian agaknya terkejut ketika mengingat sesuatu.

„Bukankah si pincang mengatakan Tok-beng-oey-hong berada di dekat mulut lembah Yu-leng-kok?” demikian pikirnya, „mengapa benda itu kini berada di dalam tangan gadis ini? Si pincang ingin menipu atau gadis ini memang seorang penipu ulung?!”

„Hei jahanam! Aku minta kau perkenalkan namamu!” To Siok Keng membentak lagi.

„Ha, ha, ha! Aku Pek Tiong Thian si Garuda Putih!”

„Apa pesanmu sebelum kau meninggal dunia?”

Pek Tiong Thian gusar sekali mendengar ejekan itu, namun karena telah terpengaruh oleh berita kelihayan Tok-beng-oey-hong, dan merasa tidak ungkulan melayani senjata rahasia yang terkenal sangat ampuh itu, ia tidak dapat menyahut, kalau saja tidak demikian, niscaya pertemuan itu akan berkesudahan berlain sekali.

„Ayohlah katakan!” To Siok Keng berkata, „aku tidak mempunyai banyak waktu untuk menunggu lama?!” Karena didesak terus, dari merasa gentar Pek Tiong Thian menjadi marah untuk kemudian menjadi kalap.

„Aku makan kau!!” bentaknya sambil menampar muka To Siok Keng dengan Ciam-hua-giok-siu.

To Siok Keng meloncat tinggi ke atas, kemudian ia memekik sambil melontarkan selubung kuningan ke arah muka lawannya.

Pek Tiong Thian jadi terkesiap, secepat kilat ia menggeser sebelah kakinya, lalu dengan tidak kalah cepatnya ia menggeprak selubung kuningan itu dengan sarung tangan ajaib dan......

„Bushh!!” selubung kuningan itu terpisah menjadi dua bagian, dengan tiba-tiba saja tampak asap hitam mengebul membuat pemandangan di sekitar tempat itu jadi gelap!

Pek Tiong Thian kelabakan, ia mengegos, berkelit dan meloncat sambil tidak henti-hentinya menyerang dengan Ciam-hua-giok-siu kalang kabut! Ia tidak melihat apapun di depan, bersamaan dengan itu suatu bau harum yang ganjil merangsang hidung yang membuat jantungnya goncang! Ia mengamuk terus dan akhirnya berhasil membuyarkan kabut asap hitam itu, tetapi...... ternyata ia kini berada seorang diri saja di situ, To Siok Keng dan Wei Beng Yan entah sudah kabur ke mana!

Ia telah berubah demikian beringasnya, namun ketika dapat melihat selubung kuningan yang sudah patah dua itu, lagi-lagi hatinya jadi bercekat. „Apakah di dalam selubung itu masih terdapat sesuatu yang membahayakan jiwa?” pikirnya. Sejenak kemudian, karena rasa ingin tahunya, ia lalu menghampiri benda itu dengan sikap waspada sekali.

Apa yang dilihatnya?

Tok-beng-oey-hong palsu! Apa yang dilihatnya hanya selubung kuningan kosong dengan bekas-bekas sisa semacam bubuk racun, hampir serupa dengan bubuk racun yang dipergunakan oleh Ouw Lo Si untuk mencelakai Wei Beng Yan, yalah yang berbau harum semerbak. Tetapi Racun To Siok Keng tidak membahayakan jiwa, racun itu hanya sekedar untuk menyerang urat syaraf lawannya.

„Bangsat! Aku telah diselomoti    !”

Memang Pek Tiong Thian telah diingusin oleh puteri Kiu It yang cerdik itu. Selagi tadi kelabakan mengira telah diserang oleh Tok- beng-oey-hong, To Siok Keng dengan lincah sekali telah mengajak Wei Beng Yan meninggalkan puncak itu dan bersembunyi di semak belukar. Karena meskipun telah mewarisi ilmu Thian-hiang- sian-cu, tetapi jika begitu jauh Pek Tiong Thian masih mempergunakan Ciam-hua-giok-siu sebagai senjata, ia merasa kewalahan juga.

Mereka berlari terus, setelah melalui beberapa belokan, mereka lalu tiba di suatu tempat yang penuh dengan batu-batu gunung yang besar-besar. „Su-ko,” kata To Siok Keng sambil menahan langkahnya, „betismu belum baik betul, aku kira ada baiknya jika kita bersembunyi saja dalam goa ini.”

„Baiklah,” sahut Wei Beng Yan. „tetapi dimanakah goa yang kau maksud itu?”

„Di sana!” kata To Siok Keng sambil mengajak Wei Beng Yan berjalan lagi. Kira-kira sepuluh meter dari tempat mereka tadi berhenti, tampak satu batu yang setelah digeser merupakan suatu goa.

„Dari mana kau ketahui di situ ada goa?” tanya Wei Beng Yan.

„Masakan aku tidak mengetahui keadaan tempat yang masih termasuk lingkungan daerahku ini,” sahut To Siok Keng, „Ayohlah masuk!”

Setelah mereka berada di dalam, si gadis lalu menutupi lagi mulut goa, sehingga sukar bagi seseorang untuk mengetahui tempat persembunyian mereka itu.

„Su-moay,” tiba-tiba Wei Beng Yan berkata dengan wajah memerah, karena merasa canggung mengetahui tubuhnya berada berdempetan dengan tubuh To Siok Keng, karena goa atau tempat yang lebih mirip lobang kecil itu sempit sekali. „Apakah tidak ada lain tempat yang lebih luas untuk tempat kita bersembunyi?”

„Tidak,” sahut To Siok Keng, „tetapi, biarlah aku menjaga di luar goa saja ” „Aku berkeberatan ”

„Jika..... demikian.... kita harus tetap bersembunyi dengan cara ini ”

„Ya...... keselamatan kita bersama adalah yang terpenting ”

To Siok Keng perlahan-lahan mengangkat kepalanya dan denyutan jantungnya jadi berdebar-debar ketika sinar matanya bertemu dengan sinar mata Wei Beng Yan yang sedang berpegangan pada pundaknya. Sebelum bertemu dengan puteri Kiu It itu, Wei Beng Yan telah jatuh cinta kepada Siauw Bie yang kemudian ternyata bukan saja telah cemburu tidak keruan, juga berwatak congkak serta kejam.

Justru sifat-sifat jelek yang telah disebutkan itulah yang telah memindahkan cinta pemuda itu kepada si gadis she To, yang bukan saja lemah lembut tetapi telah berhasil menolong jiwa si pemuda dari serangan Ciam-hua-giok-siu Yu Leng gadungan. Dan dilihat dari sikap To Siok Keng tatkala itu, dapatlah ditafsirkan bahwa cinta Wei Beng Yan telah mendapat sambutan yang sehangat-hangatnya dari pihak si gadis!

Meskipun mereka tidak mengatakan sesuatu, namun mereka dapat ‘mendengar’ apa yang dikatakan oleh sorotan mata mereka masing-masing!

Selagi berada dalam keadaan yang mesra itu, tiba-tiba terdengar suara tertawa Pek Tiong Thian.

„Su-ko, si jahanam sedang mendatangi!” bisik To Siok Keng „Aku kira ia tidak akan berhasil menemukan tempat bersembunyi kita ini,” sahut Wei Beng Yan.

Betul saja suara tertawa itu makin lama makin menjauh sehingga akhirnya tidak terdengar lagi, dan sebagai ganti suara tertawa itu kini terdengar suara tindakan kaki yang agaknya berhenti tidak jauh di depan mulut goa itu.

To Siok Keng lalu mengintip melalui satu lobang kecil.

„Siapa?” tanya Wei Beng Yan berbisik.

„Siauw siocia!”

„Ha? Siauw Bie?”

„Dia agaknya juga sedang mencari tempat berlindung, bagaimana jika kita ajak ia berlindung di sini?”

Wei Beng Yan berpikir sejenak dan menyahut.

„Baiklah!”

Mendengar persetujuan itu, To Siok Keng segera memanggil.

„Siauw siocia!”

Bukan main kaget Siauw Bie mendengar namanya dipanggil orang, ia memang sedang melarikan diri dari kejaran Pek Tiong Thian.

„Siapa?!” tanyanya sambil meneliti keadaan di sekitarnya. Dibalik satu batu besar ia melihat To Siok Keng melambai- lambaikan tangannya seraya berkata dengan suara rendah.

„Lekas sembunyi di sini!”

Sekonyong-konyong saja Siauw Bie jadi gusar melihat saingannya itu.

„Wanita liar!” bentaknya sambil melotot beringas, „mengapa, kau tidak berpeluk-pelukkan terus dalam lobang sesempit itu? Apakah kau ingin membanggakan bahwa kau telah berhasil merebut si pemuda she Wei dari tanganku?”

Wei Beng Yan jadi serba salah mendengar caci maki itu, ia lekas- lekas keluar dan turut berkata.

„Bie moay, To siocia dan aku dengan setulus hati ingin membantu, tetapi mengapa kau  ”

„Puih! Membantu?!” Siauw Bie memotong gusar. „Ketahuilah bahwa aku merasa jemu melihat wajahmu maupun paras si wanita cendil itu!”

Wei Beng Yan betul-betul putus asa melihat sikap Siauw Bie yang sudah seperti orang kurang waras pikirannya itu.

„Yah, jika kau mengatakan demikian,” sahutnya, „akupun tidak dapat berbuat apa-apa ”

Siauw Bie mengawasi sebentar, setelah itu ia meludah dan meninggalkan tempat itu. To Siok Keng lekas-lekas mengajak Wei Beng Yan masuk lagi sambil menutupi mulut goa itu, dengan batu besar.

Karena rasa cemburunya yang sudah meluap-luap, Siauw Bie berlari-lari ke dalam hutan tanpa menghiraukan segala sesuatu yang berada di samping atau di belakangnya. Ia baru terkejut ketika merasakan suatu cengkeraman menjambret pundak kirinya, hingga ia tidak lagi dapat bergerak!

„Sia..... siapa kau?!” tanyanya cemas sambil terus meronta-ronta nekad, tetapi cengkeraman itu tidak mau terlepas.

„Anjing betina kecil,” kata orang itu, „kau ingin mengetahui aku ini siapa?”

Mendengar suara orang itu, mendadak Siauw Bie jadi menggigil ketakutan, karena ia sudah dapat mengenali bahwa suara yang pecah seperti kecer itu adalah suara Yu Leng gadungan alias Pek Tiong Thian!

„Aku..... aku mengetahui siapa..... sebenarnya lo-cianpwee ”

sahutnya terputus-putus. „Tetapi ”

Pek Tiong Thian yang sedang gusar telah diingusi oleh To Siok Keng, sebetulnya ingin melampiaskan amarahnya itu kepada Siauw Bie, tetapi ketika mendengar kata ‘tetapi’ , ia berusaha menahan perasaannya itu dan menanya.

„Tetapi apa?!” „Meskipun aku telah melarikan diri, tetapi aku kira     sekarang aku

dapat membantu Locianpwee    ” jawab Siauw Bie.

Percakapan itu dilakukan di tempat yang tidak beberapa jauh dari goa yang dipakai bersembunyi oleh Wei Beng Yan dan To Siok Keng, hingga ucapan-ucapan dapat didengar dengan jelas sekali oleh ke dua muda-mudi itu.

„Su-ko......” bisik To Siok Keng, „lebih baik kita lekas-lekas keluar dari tempat persembunyian kita ini...... aku khawatir Siauw siocia membongkar rahasia kita!”

„Sshh......!” sahut Wei Beng Yan sambil menggeser mendekati mulut goa, „kita harus berlaku tenang ”

Kecemasan To Siok Keng memang sangat beralasan, bukankah jika Siauw Bie, yang karena ingin terhindar dari maut itu membeber rahasia tempat persembunyian mereka di dalam goa itu kepada Pek Tiong Thian, mereka pasti akan diganyang hancur?

„Kau ingin membantu aku?” terdengar Pek Tiong Thian menanya Siauw Bie dengan suara mengejek. „Tetapi sayang sekali aku tidak lagi dapat percaya kau! Aku bahkan tidak percaya kepada semua keluarga Siauw!”

„Mengapa Locianpwee beranggapan demikian?” tanya Siauw Bie yang sudah mulai agak tenang.

„Kau dan kakakmu, Siauw Cu Gie adalah sama! Yalah bangsat- bangsat besar! Ha, ha, ha!” „Apakah kakakku pernah menipu Locianpwee?”

„Ha, ha, ha! Aku telah pergi ke pegunungan Tay-piet-san, dan di luar lembah Yu-leng-kok aku telah dikerubuti oleh lima orang!”

„Apa hubungannya peristiwa itu dengan kakakku?”

„Karena salah satu daripada ke lima bangsat itu adalah kakakmu, Siauw Cu Gie, yang telah aku utus ke akherat! Hee, hee, hee!”

Siauw Bie jadi terbengong mendengar kakaknya telah dibunuh oleh Pek Tiong Thian. Kakaknya, yang semenjak ibu dan ayahnya meninggal dunia, telah memelihara serta mendidiknya dengan penuh kasih sayang.

„Kau telah membunuh kakakku?” serunya lantang.

„Betul! Dan kaupun akan mati sekarang!” sahut Pek Tiong Thian sambil mengejek terus.

Siauw Bie yang semula ingin memberitahukan tentang tempat bersembunyi Wei Beng Yan dan To Siok Keng, tiba-tiba jadi beringas ketika mengetahui bahwa Siauw Cu Gie, orang satu- satunya yang sangat dicintai itu telah dibunuh dan diejek-ejek.

„Jahanam!” bentaknya sambil tiba-tiba meronta dan berhasil melepaskan diri, setelah itu dengan sepenuh tenaga ia menyerang Pek Tiong Thian. Serangan yang dahsyat serta mendadak itu ternyata menemui juga sasarannya. Pek Tiong Thian yang sedang tertawa berkakakan sekonyong-konyong terpental mundur terpukul dadanya.

Ia tidak pernah menyangka Siauw Bie yang cantik menggairahkan itu memiliki ilmu lebih lihay daripada kakaknya sendiri. Terjangan tinju gadis itu membuatnya seolah-olah dihajar oleh palu baja! Kalau saja ia tidak keburu melancarkan seluruh tenaganya menahan damparan serangan itu, pasti ia sudah roboh tidak berdaya!

Siauw Bie yang sudah nekad lagi-lagi menyerang dan menghujani jotosan-jotosan sambil sebentar-sebentar berusaha menotok jalan- jalan darah yang mematikan.

Pek Tiong Thian berkelit, meloncat dan berusaha mendekati tanpa menghiraukan rasa sangat sakit di dadanya. Suatu ketika ia berhasil mencengkeram lagi pundak Siauw Bie dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya menyerang ke arah dada, hingga gadis itu menjerit seram, tubuhnya terdorong mundur untuk kemudian terjerumus ke dalam jurang!

Pek Tiong Thian yang telah mengerakkan seluruh tenaganya pun tiba-tiba terhuyung dan roboh di tanah akibat serangan Siauw Bie di dadanya tadi!

Semua kejadian itu dapat didengar jelas sekali oleh Wei Beng Yan dan To Siok Keng. Mereka bergidik mendengar jeritan Siauw Bie barusan. „Sumoay,” bisik Wei Beng Yan, „kita harus membantu Siauw siocia ”

„Luka-lukamu belum sembuh seluruhnya, sedangkan aku belum tentu dapat mengalahkan si jahanam she Pek itu,” sahut To Siok Keng cemas, „jalan satu-satunya untuk mengalahkan dia itu, adalah dengan menyeruduknya dan mati bersama-samanya!”

Wei Beng Yan mengawasi paras gadis yang cerdik itu, ia harus mengakui bahwa tenaganya sudah banyak berkurang, lagipula, dengan tulang betisnya yang masih belum sembuh seluruhnya, mana bisa ia melancarkan Thay-yang-sin-jiauw secara sempurna?

„Kita harus bersabar,” bisik lagi To Siok Keng sambil menghampiri batu penutup goa dan mengintip keluar, ternyata Pek Tiong Thian sudah tidak lagi berada di situ!

Setelah menunggu lagi beberapa lamanya, suasana sudah mulai menjadi gelap, kecuali suara serangga-serangga dan desiran- desiran angin senja pegunungan Oey-san, suasana di sekitarnya sunyi senyap.

Mereka belum berani keluar dari tempat persembunyian itu. Mereka bertekad bermalam di situ meskipun harus menderita kelaparan dan kehausan sangat semalam suntuk!

„Sumoay,” kata Wei Beng Yan tatkata fajar sudah menyingsing,

„harap saja si jahanam sudah berlalu dari daerah pegunungan Oey-san ini.” „Aku yakin jahanam itu tidak demikian mudah ingin meninggalkan daerah ini,” sahut To Siok Keng.

„Tetapi kita tidak dapat terus menerus berdiam secara ini ”

„Bagaimana kesehatanmu?”

„Aku merasa tenaga serta semangatku telah pulih, hanya tulang betisku masih memerlukan sedikit waktu lagi untuk menjadi sembuh seluruhnya ”

„Kita akan naik ke atas puncak Cie-sin-hong, dapatkah kau lakukan itu?”

„Mengapa justru naik ke atas, bukankah kita harus mencari jalan keluar?”

To Siok Keng bersenyum manis dan menyahut.

„Si jahanam tentu sedang menunggu di kaki puncak, maka untuk menghindarkan diri dari cengkeramannya kita justru harus mengambil jalan naik ke atas!!”

„Bagus!” seru Wei Beng Yan, „Ayohlah kita berangkat sekarang!”

Perlahan-lahan To Siok Keng mengerahkan tenaganya, kemudian dengan satu gentakan mendadak ia membetot batu besar yang menutupi mulut goa. Setelah meneliti keadaan di luar tetap aman, ia lalu memberi isyarat kepada Wei Beng Yan untuk lekas-lekas keluar dan mengikutinya mendaki puncak itu. Dengan napas tersengal-sengal akhirnya kedua muda mudi itu berhasil mencapai puncak Cit-sie-hong. Suasana di tempat yang tinggi itu tenteram sekali. Justru ketenteraman itulah yang memaksa mereka untuk tidak berbicara dengan suara keras, karena khawatir kehadiran mereka di situ diketahui oleh Pek Tiong Thian.

Sambil melepaskan lelahnya di atas rumput, Wei Beng Yan merasa cemas sekali telah gagal membunuh Pek Tiong Thian ilmu Thay- yang-sin-jiauw.

„Setelah tenagaku pulih seluruhnya, dapatkah aku menewaskan jahanam she Pek itu?” demikian pikirnya.

„Suko,” kata To Siok Keng yang dapat melihat gelisahan Wei Beng Yan itu, „apa yang tengah kau pikirkan? Bukankah sekarang kau sudah bebas untuk membunuh musuh-musuh besar ayahmu?”

„Yu Leng, guruku sudah meninggal dunia,” sahut Wei Beng Yan,

„dan orang yang menyamar sebagai guruku pun telah terbuka kedoknya, tetapi...... bagaimana aku tiba-tiba jadi kehilangan tenaga dalamku? Apa yang menyebabkan itu semua?”

Betapapun cerdiknya To Siok Keng, ia tidak mungkin dapat menuduh bahwa Ouw Lo Si lah yang telah menyebabkan malapetaka itu, karena dari pengakuan si pemuda sendiri, ia dapat mengambil kesimpulan bahwa tanpa kakek pincang itu Wei Beng Yan mungkin sudah menjadi korban cakaran Thay-yang-sin-jiauw! „Suko,” akhirnya ia berkata. „meskipun tenagamu sudah banyak berkurang, tetapi aku yakin kau masih dapat menggempur Soat- hay-siang-hiong! Percayalah!”

„Mungkin kedua musuh ayahku itu masih dapat aku tewaskan. Aku hanya khawatir terhadap Pek Tiong Thian yang telah membuktikan bahwa ia dapat menahan cakaran Thay-yang-sin-jiauw!”

„Tetapi aku meragukan jika iapun mampu menahan Tok-beng-oey- hong!”

„Tetapi...... aku kira tidak mudah untuk memperoleh benda itu    ”

„Kita akan mencari betapapun sukarnya! Yang harus kita kerjakan sekarang yalah mencari makanan dan air......” kata To Siok Keng sambil berbangkit dan mengajak Wei Beng Yan pergi ke tempat yang banyak pohon-pohon besar.

DuapuLuh Sembilan

Mereka masuk ke semak-semak dan untuk kegirangan mereka, belum lagi lama mencari, tiba-tiba tiga ekor kelinci meloncat. Secepat kilat To Siok Keng menubruk dan berhasil menangkap dua ekor, tetapi ia sendiri terjerumus ke dalam suatu lobang kecil yang tergenang air!

„Sumoay!” seru Wei Beng Yan terkejut sambil menghampiri dan melihat To Siok Keng sedang menikmati air yang menggenangi lobang itu. „Suko,” kata To Siok Keng, „peganglah dua ekor kelinci ini, aku akan mengambilkan air untukmu!”

Wei Beng Yan lekas-lekas bertiarap dan memegang kedua kelinci yang diangsurkan To Siok Keng lalu mengambil air dengan kedua telapak tangannya untuk kemudian dituang ke dalam mulut si pemuda.

Setelah mereka puas menikmati mata air itu, To Siok Keng segera meloncat dan dalam pakaiannya yang basah kuyup itu potongan tubuhnya yang menggiurkan jantung tampak jelas sekali......

Wei Beng Yan lekas-lekas membuka bajunya sendiri dan berkata.

„Sumoay, kerudungilah tubuhmu dengan bajuku ini ”

To Siok Keng sambil bersenyum menerima saja tawaran itu.

„Terima kasih, Suko! Tetapi, dapatkah kau membuat api?”

„Aku harus berusaha atau mati kelaparan!” sahut Wei Beng Yan yang segera berlalu untuk mencari kayu-kayu kering. Kemudian dengan menggosok-gosokkan satu kayu dengan kayu yang lain, ia berhasil membuat api unggun untuk memanggang kedua ekor kelinci itu. Tidak lama kemudian mereka sudah dengan lahap sekali menikmati daging binatang yang terkenal lezat serta halus itu.

„Daerah di sekitar puncak ini luas sekali, dan jika kita turun dari satu jalan yang terdapat di sini, aku kira kita takkan menjumpai Pek Tiong Thian,” kata Wei Beng Yan sambil mengunyah daging kelinci panggang.

„Baiklah,” sahut To Siok Keng. „kita akan turun setelah makan.”

„Sumoay, aku mendengar bahwa Tok-beng-oey-hong dan Cu-gan- tan masih tersimpan dalam kuil Cit-po-sie di atas puncak Beng- keng-ya yang letaknya di daerah pegunungan Ngo-tay-san ”

„Mengapa Suko mengatakan sukar untuk memperoleh benda itu?”

„Aku merasa sangsi jika pemimpin kuil itu sudi menyerahkan Tok- beng-oey-hong kepada kita ?”

„Kita coba saja ”

Begitulah, setelah menghabiskan kedua ekor daging kelinci itu To Siok Keng lalu mengembalikan baju Wei Beng Yan, karena bajunya sendiri sudah hampir kering lagi.

Mereka lalu turun dari puncak itu, dengan perut sudah diisi, dalam waktu yang singkat saja mereka sudah tiba di bawah untuk terus melanjutkan perjalanan ke pegunungan Ngo-tay-san, tanpa diketahui oleh Pek Tiong Thian yang masih menunggu di suatu tempat yang bertentangan!

Setelah menempuh jarak kira-kira seratus lie, Wei Beng Yan dan To Siok Keng terkejut sekali tatkala mendengar berita bahwa pemimpin kuil Cit-po-sie, Bak Kiam Taysu telah ditewaskan oleh seseorang yang menopengi mukanya dengan selembar kain hitam. „Menopengi mukanya?!” tanya Wei Beng Yan kaget. „Mungkinkah orang itu ”

„Orang itu pasti guru gadunganmu, Pek Tiong Thian!” sahut To Siok Keng tegas.

„Seperti telah kita lihat, si jahanam belum memiliki benda itu. Dengan demikian Tok-beng-oey-hong dan Cu-gan-tan masih berada di dalam kuil Cit-po-sie! Ayohlah kita lekas-lekas kesana!”

Demikianlah mereka meneruskan lagi perjalanan mereka.

Sepuluh hari telah lewat, dan mereka sudah berada di suatu desa yang terletak tidak beberapa jauh dari lereng gunung Ngo-tay-san. Makin hari makin akrab saja pergaulan mereka, tetapi setiap mereka bermalam di suatu rumah penginapan, mereka selalu menyewa dua kamar sebelah menyebelah, begitupun malam itu, Wei Beng Yan tidur sendiri dalam kamarnya.

Di tengah malam yang sunyi dan dingin, tiba-tiba Wei Beng Yan terjaga dari tidurnya. Peluh membasahi sekujur badannya, tetapi ia merasa mendadak tenaga serta semangatnya pulih kembali. Yang paling menggirangkan yalah, ia tidak lagi merasa apapun ketika membanting-banting kedua kakinya, tulang betisnya yang patah sudah sembuh!

Karena rasa girangnya yang meluap-luap itulah ia jadi tidak bisa tidur lagi, tetapi mendadak ia merandek dapat mendengar sesuatu yang agak ganjil di atas kamarnya. Lekas-lekas ia meniup lilin dan menengadah sambil mendengari lagi. „Apakah kau merasa yakin memang dia itu yang kita sedang cari?” Demikian terdengar seseorang berbisik.

Bercekat hati Wei Beng Yan ketika mendengar suara yang parau serta sember itu. Ia berusaha mengingat-ingat dan tiba-tiba telapak tangannya jadi berkeringat,

„Soat-hay-siang-hiong!” serunya tertahan.

Lekas-lekas ia mengintip melalui celah-celah jendela dan dapat melihat bayangan dua orang yang baru saja meloncat turun dari atas atap dan tengah menghampiri kamar di seberang kamarnya sendiri. Betul saja kedua orang itu adalah kedua jahanam Soat- hay-siang-hiong yang bernama Suto Eng Lok dan Hua Ceng Kin.

„Tadi aku dapat melihat dengan terang dan aku tidak melihat keliru!” sahut si nenek she Hua.

„Jika betul dia ini si Gaitan baja tinju besi, aku betul-betul tidak mengerti!” kata Suto Eng Lok, „bukankah ia selalu menyertai si pincang!”

„Mungkin mereka sudah bertempur dengan Pek Tiong Thian di kuil Cit-po-sie. Dari pemilik rumah penginapan ini aku dapat keterangan bahwa di waktu ia datang di sini, ia sudah terluka parah, ketika diserang demam katanya ia sering mengaco dan sebentar-sebentar menyebut Tok-beng-oey-hong! Apakah kemujizatan benda itu?” „Aku tidak ingin mengetahui kemujizatan benda itu, aku hanya ingin menewaskannya malam ini!”

Setelah berkata begitu, mereka lalu mengintip ke dalam kamar.

Dari percakapan mereka itu, Wei Beng Yan segera mengetahui bahwa orang yang ingin dibunuh oleh kedua jahanam itu adalah Khouw Kong Hu, yang diketahuinya sebagai seorang pendekar luhur dan telah melakukan banyak kebaikan di kalangan Bulim.

„Aku harus mencegah perbuatan kedua jahanam itu,” pikirnya, „di samping itu, inilah kesempatan yang terbaik untuk aku membalas dendam ayahku terhadap kedua musuh besarku ini!”

Perlahan-lahan ia membuka pintu kamarnya, dan begitu berada di luar, ia segera mengangkat tangan kanannya yang berjari seperti cakar burung garuda dan......

„B u n g !!”

Suto Eng Lok terpental sambil melepaskan jeritan seram, seluruh tubuhnya sudah terbakar oleh Thay-yang-sin-jiauw!

Hua Ceng Kin yang sangat cerdik dan licik masih keburu meloncat, hingga belum lagi Wei Beng Yan keburu melancarkan ilmunya yang dahsyat itu, ia sudah melarikan diri dan menghilang di tengah kegelapan malam......

„Suko, ada apa?” tanya To Siok Keng yang sudah bangun mendengar suara jeritan Suto Eng Lok tadi. „Siapakah orang yang kau tewaskan itu?” „Suto Eng Lok!” sahut Wei Beng Yan bangga, „salah satu musuh besar ayahku, Soat-hay-siang-hiong.”

„Kau sudah dapat melancarkan Thay-yang-sin-jiauw?”

„Sudah!”

To Siok Keng merasa girang sekali mendengar jawaban itu.

„Tetapi kita harus lekas-lekas berlalu dari sini!”

„Mengapa?”

Kita tidak boleh menarik perhatian orang banyak atau rencana kita akan gagal!”

„Mengapa kedua iblis ini berada di sini?”

„Mereka ingin membunuh Khouw Tay-hiap yang sedang menderita luka parah dalam kamar ini,” sahut Wei Beng Yan sambil menghampiri pintu kamar. „Mari kita tengok padanya sebelum kita berangkat.”

Baru saja Wei Beng Yan selesai berkata demikian, tiba-tiba pintu kamar itu terbuka dan Khouw Kong Hu sudah berada di hadapan mereka.

„Wei siohiap,” kata si orang she Khouw, mendadak mukanya yang memang sudah pucat jadi bertambah pucat saja ketika melihat mayat Suto Eng Lok, „apakah kau yang telah membunuh jahanam itu?” Wei Beng Yan mengangguk dan berkata.

„Betul! Kedua jahanam itu ingin membunuh Khouw Tay-hiap dan aku kebetulan dapat melihat mereka ”

Khouw Kong Hu jadi terpaku sambil mengawasi mayat Suto Eng Lok.

„Khouw Tay-hiap,” kata lagi Wei Beng Yan, „ayohlah kita lekas- lekas berlalu dari sini agar tidak menarik perhatian orang!”

„Marilah!” sahut Khouw Kong Hu.

Wei Beng Yan segera mengangkat mayat Suto Eng Lok dan mendahului berlari keluar rumah penginapan itu diikuti oleh To Siok Keng dan Khouw Kong Hu.

Setelah mengubur mayat Suto Eng Lok di suatu tempat yang terpencil, mereka lalu menjauhkan diri ke arah suatu hutan belukar. Tidak lama kemudian, mereka sudah berada di suatu kuil tua yang terbengkalaikan dan hampir ambruk. Di dalam kuil itulah mereka beristirahat sambil menantikan datangnya fajar.

„Khouw Tay-hiap,” kata Wei Beng Yan. „Siapa yang telah melukaimu? Katanya kau sering mengaco dalam tidurmu ”

„Siapa yang mengatakan demikian?” tanya Khouw Kong Hu terperanjat.

„Si iblis wanita, Hua Ceng Kin!” „Apakah si iblis wanita itu juga yang telah menggempur Tay-hiap?” tanya To Siok Keng.

Khouw Kong Hu tidak lantas menyahut, ia berpikir sebentar dan ketika mengingat bahwa tidak ada salahnya untuk memberitahukan tentang peristiwa yang pernah terjadi di kuil Cit- po-sie, ia lalu bercerita.

Bagaimana Pek Tiong Thian yang telah menyamar sebagai Yu Leng ingin merebut Tok-beng-oey-hong dan Cu-gan-tan dari tangan Bak Kiam Taysu. Bagaimana ia sendiri telah dilukai oleh Ji Cu Lok gadungan yang telah ditipu oleh Ouw Lo Si dan dibawa ke suatu tempat di dekat mulut lembah Yu-leng-kok.

„Kita justru sedang menuju ke kuil tersebut,” kata Wei Beng Yan setelah mendengar seluruh kisah itu. „Apakah kiranya Tok-beng- oey-hong masih berada dalam kuil itu?”

„Siohiap ingin mengambil benda mujizat itu?” tanya Khouw Kong Hu heran. „Untuk apakah?”

„Untuk membunuh Pek Tiong Thian!”

„Membunuh si jahanam she Pek dengan Tok-beng-oey-hong?! Bukankah siohiap memiliki ilmu yang dahsyat?”

„Tenaga dalamku baru saja pulih kembali, sedangkan tulang betisku baru saja sembuh, kalau tidak pasti Pek Tiong Thian telah tewas dikeremus Thay-yang-sin-jiauw.” „Apa yang telah terjadi dengan tenaga dalam siohiap? Mengapa tulang betismu?”

„Aku sendiri tidak mengetahui mengapa tiba-tiba aku jadi kehilangan tenaga dalamku, sehingga waktu aku meloncat turun dari suatu tempat yang tidak beberapa tinggi, tulang betisku patah!”

Khouw Kong Hu jadi terbengong, karena ia adalah orang satu- satunya yang mengetahui mengapa pemuda itu tiba-tiba kehilangan tenaga serta semangatnya. Ia jadi serba salah, apakah ia harus memberitahukan siasat busuk Ouw Lo Si?

Jika ‘ya’, ia menghianati saudara angkatnya!

Jika ‘tidak’, si pemuda yang berwatak luhur, yang baru saja kemarin malam menolong jiwanya dari cengkeraman Soat-hay- siang-hiong, pasti akan mengalami lagi penderitaan yang terlebih hebat dari serangan racun yang berada dalam sampul nomor satu itu!

Lama juga mereka bertiga tidak berbicara. Tetapi tiba-tiba Wei Beng Yan merogoh sakunya dan mengeluarkan satu sampul surat seraya kerkata.

„Sebelum aku masuk ke dalam lembah Yu-leng-kok, kakek Ouw pernah memberikan aku tiga sampul surat dengan pesan agar aku baru membuka ketiga sampul itu setelah berhasil membunuh musuh-musuh ayahku. Aku telah membuka sampul nomor satu ketika membunuh Eu-yong Lo-koay, dan aku kira sudah tiba saat untuk membuka sampul yang kedua ini, setelah aku kemarin membunuh Su-to Eng Lok!” Butiran-butiran peluh dingin menghias dahi Khouw Kong Hu, tubuhnya agak bergemetar. Ia bergidik ketika membayangi betapa para luka yang akan dialami oleh pemuda itu kelak. Ia merasa yakin betul jika Wei Beng Yan membuka sampul yang kedua itu, setelah lewat delapan hari, tenaga dalam pemuda itu akan menghilang lagi dan......, jika sampul yang ketiga, yang berisikan racun terhebat dibuka, pembuluh-pembuluh darah Wei Beng Yan akan putus seluruhnya dan ia akan tewas karena kehabisan tenaga!

Menurut aturan yang lazimnya berlaku, Khouw Kong Hu sebagai saudara angkat Ouw Lo Si yang telah bersumpah untuk sehidup semati dengannya, harus menganggap Wei Beng Yan sebagai musuhnya juga, tetapi Khouw Kong Hu tidak bisa menuruti saja aturan itu. Ia tidak tega melihat Wei Beng Yan mati meleras!

Maka ketika melihat Wei Beng Yan sudah ingin membuka sampulnya yang kedua itu, lekas-lekas ia berkata untuk mencegah.

„Wei siohiap!” katanya.

Wei Beng Yan menoleh ke arah Khouw Kong Hu sambil menunda sampul itu. Ia merasa agak heran melihat sikap Khouw Kong Hu yang tidak sewajar tadi itu.

„Ada apa tay-hiap memanggil aku?” tanyanya.

„Wei siohiap, aku...... aku ”

„Kau mengapa Tay-hiap?” „Hua Ceng Kin belum jauh melarikan diri dari desa ini, mengapa kita tidak mengejarnya?” sahut Khouw Kong Hu gugup.

Ucapan yang dikeluarkan bernada dengan penuh keragu-raguan itu membuat To Siok Keng melirik. Semenjak melihat butiran- butiran peluh di dahi si orang she Khouw tadi, ia memang sudah merasa curiga. Maka dengan ucapan yang hati-hati sekali ia lalu berkata.

„Khouw Tay-hiap, mengapa kau tiba-tiba jadi demikian gelisah?” Khouw Kong Hu tidak bisa menyahut, ia tampaknya gugup sekali.

„Bolehkah aku mengajukan suatu pertanyaan yang mungkin tidak enak didengar oleh Tay-hiap?” tanya lagi To Siok Keng.

„Pertanyaan apakah yang mungkin tidak enak?” tanya Wei Beng Yan heran.

„Aku tidak berkeberatan untuk mendengar pertanyaanmu itu,” sahut Khouw Kong Hu.

„Wei Koko telah memberitahukan padaku bahwa kau adalah seorang yang berbudi luhur dan kesatria, tetapi mengapa kau sekarang agaknya ragu-ragu? Kau agaknya menyembunyikan sesuatu dari kita,” kata To Siok Keng tanpa tedeng aling-aling.

„Aai! Mata To siocia tajam sekali!” kata Khouw Kong Hu sungguh- sungguh sambil menoleh ke arah Wei Beng Yan dan melanjutkan. „Wei siohiap, jika aku harus, menceritakan satu persatu, aku akan dicap sebagai penghianat, aku memang ingin meminta dengan sangat agar kau TIDAK membuka sampul surat yang kedua itu!”

„Mengapa?!” tanya Wei Beng Yan.

„Aku tidak dapat memberitahukan mengapa, tetapi jika kau dapat menyanggupi permintaanku itu, aku sangat herterima kasih!”

„Apakah surat di dalam sampul ini akan memerintahkan aku untuk melakukan suatu perbuatan yang terkutuk?”

„Aku tidak tahu apa yang tertera dalam surat itu, aku hanya minta kau tidak MEMBUKA sampul pemberian Ouw Lo Si!”

„Tetapi mengapa?!”

„Ya, mengapa Khouw Tay-hiap? Akupun ingin mengetahui!” To Siok Keng ikut mendesak.

Khouw Kong Su menundukkan kepalanya dan tidak lantas menyahut.

„Khouw Tay-hiap,” kata Wei Beng Yan, „Ouw Locianpwee adalah seorang sahabatku yang merupakan juga saudara sekandungku, apakah aku harus membangkang terhadap permintaannya agar aku membuka satu dari ke tiga sampul ini setelah aku berhasil membunuh seorang musuh ayahku?” „Wei siohiap, jika Ouw Si-ko berada di sini dan mengetahui bahwa kau telah menolong aku, dia pasti akan mengambil kembali kedua sampul itu!”

„Tetapi, mengapa?”

„Karena kau telah diberikannya TIGA SAMPUL MAUT!”

Begitu selesai mengucapkan kata-kata itu, tiba-tiba Khouw Kong Hu menjerit seram dan roboh!

Cepat luar biasa Wei Beng Yan meloncat keluar kuil dan masih dapat melihat satu bayangan berkelebat dengan gerakan yang pesat, yang dalam beberapa detik saja telah meninggalkannya jauh sekali!

Ia mengejar, namun setelah mengejar kira-kira satu lie jauhnya, di suatu pengkolan bayangan itu menghilang. Ia mengejar lagi tetapi bayangan itu sudah entah ke mana larinya, maka dengan perasaan kecewa ia lalu berlari balik.

Setibanya di kuil yang hampir runtuh tadi, ia melihat paras To Siok Keng sudah berubah sedangkan Khouw Kong Hu menggeletak di tanah.

„Sumoay, bagaimana keadaan Khouw Tay-hiap?” tanyanya cemas.

„Ia sudah tewas!” sahut si gadis sedih.

„Mati?!” „Ya! Ia tewas diserang oleh senjata rahasia! Apakah kau mengenal siapa orang yang telah menyerangnya tadi?”

„Tidak! Ilmu meringankan tubuhnya lihay sekali sehingga aku kehilangan jejaknya di tempat yang agak gelap  ”

To Siok Keng mencabut satu benda yang menancap di punggung Khouw Kong Hu sedalam sepuluh sentimeter.

„Benda inilah yang telah membunuh Khouw Tay-hiap!” katanya sambil mengangsurkan sebuah jarum yang sudah agak berkarat.

„Jahanam!” bentak Wei Beng Yan setelah mengenali jarum itu.

„Suko kenalkah orang yang telah menyerang itu?”

„Orang yang keji itu adalah Hua Ceng Kin, salah satu dari kedua Soat-hay-siang-hiong!”

„Bagaimana kau mengetahui hal itu?”

„Benda yang kau pegang itu adalah senjata rahasia yang terkenal dengan nama Hian-peng-tok-bong, yang telah merenggut jiwa ayahku!”

„Belum tentu!”

„Mengapa belum tentu?!”

„Suko, kau adalah seorang yang jujur, dan selalu mengurus segala sesuatu dengan ketulusan hati. Tetapi kenyataan membuktikan bahwa kebanyakan orang berhati palsu -- terlalu mementingkan diri sendiri!”

„Lalu?”

„Apakah tidak mungkin karena khawatir rahasianya terbongkar, Ouw Locianpwee lalu mempergunakan senjata rahasia ini untuk membunuh Khouw Tay-hiap?”

Wei Beng Yan bersenyum mendengar kesimpulan yang agaknya masuk diakal juga itu.

„Sumoay,” katanya, „pendapatmu itu beralasan, tetapi jika kau mengatakan bahwa Ouw Lo Si bermaksud menganiaya aku, aku tidak dapat percaya ”

„Mengapa tidak?”

„Karena untuk membunuh aku, Ouw Locianpwee hanya perlu memberikan aku petunjuk-petunjuk keliru dan memberikan aku satu lentera kertas yang bentuknya tidak disukai oleh guruku Ji Cu Lok dan aku sudah mati dua tahun lebih yang lalu!”

To Siok Keng jadi bungkam mendengar keterangan itu. Sejenak kemudian parasnya tiba-tiba berubah kaget.

„Suko!” serunya, „apakah kau tahu siapakah yang telah membunuh seluruh keluargaku?”

„Tidak!” sahut Wei Beng Yan terkejut melihat paras gadis itu yang tiba-tiba jadi beringas. „Mengapa kau menanyakan demikian?” „Karena aku sudah mengetahui!”

„Siapa?!”

„Yu Leng gadungan, Pek Tiong Thian!”

„Siapa yang mengatakan demikian?”

To Siok Keng atau Kiu Su Yin, puteri Kiu It, menunjuk ke arah mayat Khouw Kong Hu dan berkata.

„Dialah yang telah memberitahukan!”

„.......................????!”

„Sebelum menghembuskan napasnya yang terakhir,” To Siok Keng melanjutkan, „Khouw Tay-hiap dengan nada suara yang menyayatkan sekali telah meratap ”

„Apa ratapnya?” tanya Wei Beng Yan bernapsu.

„Ouw Si-ko!” To Siok Keng mengulangi kata-kata Khouw Kong Hu tadi, „Jika si jahanam Pek Tiong Thian tidak dibasmi, arwah Ku It sekeluarga akan penasaran sekali..... aai! Kiu Jiko ”

Wei Beng Yan menggertak giginya mengetahui Pek Tiong Thian juga telah membunuh seluruh keluarga Sumoaynya.

„Didengar dari panggilannya Kiu Ji-ko,” katanya sengit, „Khouw Tay-hiap dan Ouw Locianpwee adalah saudara-saudara angkat ayahmu!” „Maka dengan itu pula kau harus mendengar peringatan Khouw Tay-hiap untuk tidak membuka sampul surat pemberian si kakek Ouw itu!” To Siok Keng menekankan permintaan Khouw Kong Hu.

„Sumoay, mengapa kau begitu keras kepala? Masakan dalam sampul yang setipis ini tersimpan senjata rahasia untuk menganiayaku ?”

„Tetapi apa salahnya jika kau memperhatikan peringatan Khouw Tay-hiap?”

„Baiklah   ” sahut Wei Beng Yan kewalahan.

Dengan jawaban itu, ia bermaksud membuka juga sampul surat itu jika To Siok Keng tidak berada di dekatnya, karena di samping ingin mengetahui isi surat, ia tidak mau melanggar janjinya terhadap si kakek pincang. Ia masuki lagi suratnya itu dan segera menggali sebuah lobang untuk mengubur jenazah Khouw Kong Hu.

Baru saja selesai melakukan itu semua, tiba-tiba hujan turun yang seolah-olah ingin turut mengunjuk rasa belasungkawanya atas tewasnya Khouw Kong Hu.

Terpaksa mereka harus menunggu berhentinya hujan di dalam kuil bobrok itu.

„Sumoay,” kata Wei Beng Yan, „Sebelum kita lanjutkan perjalanan kita ke kuil Cit-po-sie, bagaimana jika kita mengejar Hua Ceng Kin dulu?” „Ya, nenek itu dululah yang harus kita gempur!” sahut To Siok Keng.

Setelah menunggu lagi sekian lamanya, barulah hujan mereda, mereka segera mengejar ke arah larinya Hua Ceng Kin tadi. Mereka tidak menjumpai siapapun sepanjang jarak duapuluh lie, hanya di permukaan tanah yang agak basah karena air hujan tampak jejak-jejak kaki.

Di antara satu jejak dan jejak kaki yang lain jaraknya kira-kira hampir dua meter. Yang aneh yalah, di samping bekas jejak-jejak kaki itu terlihat juga tanda bekas sodokan, kayu atau tongkat.

„Suko,” kata To Siok Keng sambil menghentikan larinya, „Apakah Hua Ceng Kin memakai tongkat?”

„Betul!” sahut Wei Beng Yan sambil menunjuk ke arah jejak-jejak kaki di tanah itu. „Aku baru ingat memang si nenek jahanam selalu. membawa tongkat. Melihat jejak kakinya yang masih segar ini, aku yakin kita masih keburu mengejarnya sekarang!”

To Siok Keng mengawasi permukaan tanah dan meneliti dengan cermat.

„Sumoay, ayolah!” kata Wei Beng Yan sambil membetot tangan gadis itu.

„Nanti dulu!” To Siok Keng mencegah. „Hua Ceng Kin terkenal sebagai iblis keji, ia sudah memperhitungkan bahwa ia akan kita kejar, maka ia telah meninggalkan tanda-tanda bekas kaki dan ujung tongkatnya ini. ia sengaja menunjukkan kepada kita ke mana ia telah melarikan diri!”

„Apakah kau menganggap jahanam itu tengah memasang perangkap?”

„Itu sudah jelas, jika kita mengejar terus, di suatu tempat kita akan dibokong dan dibinasakan dalam perangkapnya!”

„Tetapi inilah kesempatan terbaik untuk membalas dendam ayahku ”

„Kita harus mengejar! Aku hanya memperingatkan agar kita berlaku hati-hati! Ayohlah!”

Mereka segera mengikuti jejak kaki itu, setelah berlari kira-kira satu lie, dari kejauhan tampak sebuah rumah gedung besar yang dilingkari oleh tembok setinggi hampir dua meter.

Gedung itu terletak di tempat yang terpencil sekali dan agaknya sudah ditelantarkan, yang ganjil yalah, bekas-bekas telapak kaki justru menuju ke arah rumah gedung itu.

Wei Beng Yan yakin bahwa tenaga dalamnya sudah pulih kembali, dengan demikian ia dapat melancarkan Thay-yang-sin-jiauw dengan sempurna, maka dengan berani ia lalu mengajak To Siok Keng menghampiri pintu gedung tersebut yang tertutup rapat.

Dengan cermat mereka memeriksa keadaan di sekitarnya. „Apakah di dalam gedung sudah menunggu orang-orang lihay undangan Hua Ceng Kin?” tanya To Siok Keng perlahan.

„Kita lihat saja!” sahut Wei Beng Yan sambil tiba-tiba mengetuk kedua belah daun pintu rumah itu.

Tetapi setelah beberapa kali mengetuk dan memanggil-manggil, dari dalam tidak terdengar suara sahutan apapun.

To Siok Keng memutar gagang pintu dan ternyata pintu itu tidak dikunci. Segala sesuatu yang berada di dalam pun agaknya sudah ditelantarkan. Mereka segera melangkah masuk dan melihat semua jendela dan pintu depan gedung itu juga tertutup rapat.

„Hei,”seru Wei Beng Yan lantang, „apakah tidak ada orang-orang dalam gedung ini?”

Dan ketika masih tidak mendengar suara sahutan, ia segera mengangkat tangannya dan menyerang ke arah pintu , tiba-tiba

saja kedua daun pintu itu roboh sambil menerbitkan suara gaduh. Namun masih tidak tampak ada orang keluar dari rumah itu.

Dengan hati-hati sekali mereka lalu menghampiri untuk melongok ke dalam, keadaan di situ ternyata teratur rapih dan lantainya berkilat dan tidak terdapat abu sedikitpun. Suatu bukti bahwa rumah gedung itu ada penghuninya!

„Heran!” kata Wei Beng Yan. „ke mana perginya penghuni rumah ini?” Perlahan-lahan mereka bertindak masuk ke dalam ruangan depan rumah itu, di ke dua tembok yang kiri dan kanan dalam ruangan itu terdapat pintu.

„Sumoay,” bisik Wei Beng Yan. „kau masuk dari pintu yang sebelah kiri sedangkan akan masuk dari pintu yang di sebelah kanan, beri isyarat jika kau melihat ada orang di sana!”

„Suko, gedung besar ini merupakan teka-teki, mungkin suatu jebakan, kita harus menyelidiki dan menggempur musuh bersama- sama. Mengapa kau justru mengambil siasat ini?”

„Karena aku khawatir si jahanam dapat melarikan diri dari pintu yang di sebelah kiri itu ”

To Siok Keng yang mengira Wei Beng Yan ingin mengurung musuh, menuruti saja permintaan itu. Ia tidak mengetahui bahwa pemuda itu mempunyai suatu maksud tertentu, yalah untuk sementara berada sendirian dan membuka sampul pemberian Ouw Lo Si yang kedua! Maka begitu melihat Wei Beng Yan sudah berjalan ke arah pintu di sebelah kanan, iapun segera menghampiri pintu yang di sebelah kiri.

TigapuLuh