Raja Silat Jilid 50 Tamat

 
Jilid 50 (Tamat)

Walaupun dari bentrokan ini angin pukulan Tjiau Thian Kie sebagian telah tertahan oleh bentrokan tersebut, tapi air muka Kiem djie berubah hebat, badannya mundur beberapa langkah kebelakang dengan sempoyongan dan akhirnya jatuh di dalam pelukan suhunya.

"Kiem djie. kenapa kau?" teriak Thian Pian siauwtju penuh rasa kuatir.

Tampak badan Kiem djie gemetar sangat keras. kesepuluh jarinya bengkok bagaikan pancingan. sepasang mata terpejam rapat-rapat dan air mukanya dari pucat pasi telah berubah hijau membiru.

Liem Tou yang melihat peristiwa itu diam-diam Herseru dihati:

"Habis,.. habislah sudah! memang hebat sitelapak besi berwajah riang ini !"

Dugaan Liem Tou tidak salah, setelah seluruh urat nadi dan otot Kiem jie berkerut, ia menjerit ngeri lalu muntahkan darah segar. Bersamaan itu pula pemuda cilik ini berteriak:

"Suhu Kiem djie berangkat dulu!"

.

Akhirnya ia meronta untuk bangun berdiri sepasang matanya melotot bulat-bulat mengawasi wajah Tjiau Thian Kie sedang sepasang telapak tangannya pelahan-lahan diangkat keatas dengan gaya hendak melancarkan serangan tetapi akhirnya ia muntah darah kembali dan badannya roboh keatas tanah binasa !

Dalam pada itu Thian Pian siauwtju sama sekali dibikin tertegun di tempat itu. ia memandang bodoh wajah Tjiau Thian Kie lalu memandang pula jenasah Kiem djie yang menggeletak diatas tanah. "Siauwtju, kau telah bikin persiapan??" mendadak Thiat Bok taysu menegur dingin.

Bagaikan kehilangan pikiran Thian Pian Siauwtju berdiri tertegun ditempat itu, ia tidak bergerak maupun bicara.

"Ke Hong!" kembali Tjiau Thian Kie berteriak keras. "Aku hendak beritahu kepadamu Liem Tou segera akan tiba di pulau ini untuk menuntut balas. Perkataan ku telah selesai dan sekarang aku mau pergi."

Sekali lagi Thiat Bok taysu mendengus dingin

Pada saat itulah kesadaran Thiat Pian siauwtju telah pulih kembali. Ia mendongak dan tertawa terbahak-bahak.

"Haah , haah..,baah .. Liem Tou mau datang? bagus, bagus sekali. Justru aku ingin menjumpai dirinya! terima kasih atas pemberitahuan Gak-hu untuk membalas budi ini harap kau tunggu sebentar. aku akan pergi dan segera kembali lagi".

Habis berkata ia putar badan dan berlalu.

Melihat orang itu pergi, Liem Tou merasa agak kaget, pikirnya: "Hong Susiok ada disimpannya. Apa maksud Ke Hong pergi dari sini?? apakah ia hendak turun tangan jahat terlebih dahulu terhadap diri Hong Susiok??"

Berpikir akan soal itu tentu tanpa banyak cakap lagi ia meluncur keluar dari persembunyian dan bergerak ke depan. Menanti Tjiau Thian Kie serta Thiat Bok Taysu menemukan adanya manusia yang lewat dari samping mereka, Liem Tou telah berada puluhan tombak jauhnya menguntil di belakang Thian Hian siauwtju.

Tampak Thian Pian sisuwtju dengan langkah lebar berjalan maju kedepan. menanti tiba diluar sebuah rumah berbatu disisi gunung ia agak merandek, agaknya ia bermaksud masuk kedalam tapi akhirnya ia batalkan maksudnya dan berputar menuju kekaki gunung, Liem Tou mengempos napas menguntil terus dari belakang. tidak lama kemudian dibawah sorotan sinar rembulan muncullah sebuah bangunan rumah berwarna putih.

Melihat bangunan tersebut tanpa terasa Liem Tou teringat kembali akan ucapan Giok djie yang pernah mengatakan bahwa rumah putih ini kecuali Thian Pian siauwtju seorang tak seorang manusiapun diperkenankan masuk kedalam. Setelah mantapkan hati Liem Tou berpikir, "Malam ini aku hendak memasuki rumah berwarna putih ini untuk memeriksa rahasia apakah yang ia sembunyikan disana!"

Pintu bangunan berwarna putih itu terkunci rapat-rapat. dari dalam sakunya Thian Pian siauwtju mengambil keluar sebuah kunci dan membuka pintu tersebut.

Liem Tou yang mengintip dari tempat kejauhan dapat melihat keadaan di dalam ruangan

itu gelap dengan diterangi oleh sebuah lentera berbentuk panjang, suasana amat menyeramkan sehingga membuat bulu kuduk pada bangun berdiri.

Ketika itu Thian Pian siauwtju telah berjalan masuk kedalam, buru-buru Liem Tou mengejar dari belakang dan bersembunyi dibalik pintu kemudian menyelinap masuk kedalam.

Thian Pian siauwtju perlahan-lahan masuk kedalam ruangan dan langsung mendekati sebuah tempat yang tertutup oleh kelambu warna ungu, lampu lentera tergantung tepat diatasnya

Melihat benda yang ada dalam ruangan itu hanya terbatas itu-itu saja, Liem Tou jadi keheranan.

Sebuah ruangan kosong macam begini bisa mengandung rahasia apa? ada apa pula maksudnya dalam keadaan seperti ini ia mendatangi tempat ini? Tanpa disadari sinar mata Liem Tou dialihkan keatas kelambu berwarna ungu itu ia merasa apibila Thian Pian Siauwtju mempunyai rahasia yang tidak ingin diketahui orang maka rahasia tersebut pasti berada dibalik kelambu tersebut.

Sedikitpun tidak salah. Thian Pian Siauwtju menerangkan dulu lentera untuk menerangi seluruh ruangan, wajahnya pada saat ini penuh diliputi kerisauan, suasana hening sunyi dan tak kedengaran sedikit suarapun.

Lama sekali Thian Pian siauwtju berdiri termenung dibawah lampu lentera, agaknya ia sedang memikirkan suatu hal yang memberatkan hatinya.

Lama. . .lama sekali akhirnya ia berpaling memandang keluar ruangan, buru-buru Liem Tou menyembunjikan diri.

Tapi sepintas lewat itulah ia temukan wajah Thian Pian siauwtju penuh dibasahi dengan air mata. keadaan ini sungguh diluar dugaan semua orang.

Beberapa saat kemudian Liem Tou dapat melihat Thian Pian siauwtju telah berdiri di depan kain kelambu itu.

Tiba-tiba Liem Tou mencium bau harum yang amat aneh, bau harum itu muncul dari balik ruangan dan terasa sangat aneh, . .

Akhirnya Thian Pian siauwtju menyingkap kain kelambu, Liem Tou semakin keheranan lagi melihat pemandangan yang berada dihadapannya.

Ternyata di balik kelembu itu merupakan sebuah pembaringan be warna merah yang berukiran naga serta ourung hong kain sutra yang mewah dan mahal harganya, menutupi hampir seluruh pembaringan.

Liem Tou membelalakan matanya bulat-bulat selagi ia merasa keheranan mendadak terdengar Thian Phian siauwtju menangis ter-isak2. "Tjioe Ling, aku merasa berdosa terhadap dirimu, malam ini aku hendak antar kau pergi."

Dari atas pembaringan tak terdengar suara jaaban, juga tak nampak seseoraog yang bangun berdiri.

Ketika itulah Liem Tou menemuKan adanya sebuah Hioloo yang mengepulkan asap tebal. dapat diduga bau harum yang sangat aneh tadi berasal dari asap dupa ini.

Kembali Thian Pian Siauwtju menangis tersedu-sedu. "Semuanya ini adalah ayahmu yang paksa aku berbuat

demikian" serunya setengah merengak, "Sukmamu yang ada diatas tentu tahu bukan tidak lama kemudian aku akan datang menjumpai dirimu. Liem Tou telah datang, aku menyadari dengan kekuatanku tak mungkin dapat menandingi kepandaian silatnya, asal ia turun tangan aku punya maksud tidak membalas. Tapi. , Tjioe Ling! ayahmu kembali membinasakan satu-satunya ahli warisku, dalam keadaan begini aku merasa tidak rela meninggalkan dunia yang penuh dosa ini."

Sembari bergumam ia menyingkap kelambu yang menutupi pembaringan tersebut.

Setelah mendengar serangkaian ucapannya Liem Tou dapat memahami apa sebenarnya yang telah terjadi. Yang berada diatas pembaringan tentu istrinya. yaitu putri Tjiau Kie yang ia kawini dengan paksa, tapi sekarang perempuan itu telah menjadi sesosok mayat dan Kematian perempuan itu justru terhajar oleh angin pukulannya.

Bersamaan itu pula Liem Tou mempunyai suatu pandangan yang lain terhadap Thian Pian Siauwtju, ia tidak menyangka sijagoan dari Lautan Timur ini sebenarnya adalah seorang manusia yang dibodohi oleh cinta. Tanpa disadari lagi Liem Tou berkelebat mesuk kedalam. geraK geriknya sama sekali tidak meninggalkan sedikit suarapun,

Tapi pada saat itu pula setelah Thian Pian Siauwtju membopong tubuh Tjioe Ling dan secara mendadak menemukan Liam Tou telah berdiri dibelakangnya, air muka orang ini langsung berubah hebat.

Tapi Liem Tou sudah punya perhitungam didalam hatinya, tampak ia tersenyum,

"Ke-heng! kau tidak menyangka bukan bahwa aku bisa muncul disini pada saat dan keadaan seperti ini, tapi kau boleh berlega hati. detik ini aku masih tidak ingin mengganggu diri Ke-heng barang seujung rambut pun, kau boleh pergi menyelesaikan pekerjaanmu", 

Sembari berkata sepasang mata Liem Tou mengerling sekejap wajah sang perempuan yang berada dalam bopong Thian Pian Siauwtju, tampak wajah perempuan itu masih tetap utuh dan bagus seperti semasa hidupnya. tubuh mayat itu tidak kaku dan keadaannya mirip seorang perempuan cantik yang berada dalam impian. kecantikan wajahnya bila dibandingkan dengan kecantikan wajah ke dua orarg istrinya Lie Siauw Ie serta sigadis cantik pengangon kambing maka perempuan ini boleh dikata jauh lebih menarik beberapa kali lipat.

Pada saat itulah sekalipun Liem Tou tahu perempuan yang berada didalam bopongan ke Hong hanya mayat belaka, tapi sinar matanya terasa rada berat untuk dialihkan dari atas wajahnya.

Selama ini Thian Pian Siauwtju hanya berdiri memandang diri Liem Tou dengan termangu-mangu, ia sama sekali tak berkutik.

Akhirnya Liem Tou tersentak kaget. buru-buru ia melengos. "Ke-heng! besok siang aku akan menyelesaikan urusun kita yang belum selesai. aku rasa seharusnya kau memahami apa yang kuucapkan bukan setahun berselang ketika berada digunung Tjing Shia kau telah mengingkari janji datang mencari balas terhadap diriku, perbuatanmu itu sudah melanggar peraturan Bu-lim yang terbesar."

.

Thian Pian Siauwtju tetap membungkam dalam seribu bahasa, sembari membopong tubuh Tjioe Ling selangkah demi selangkah ia maju kedepan.

Terpaksa Liem Tou ikut mundur kebelakang sehingga akhirnya hampir keluar dari ruangan tersebut.

Ketika itulah Thian Pian Siauwtju buka suara, ujarnya; "Susiokmu berada didalam rumah berbatu didepan sana,

kau bawalah pergi! besok siang aku pasti menantikan

kedatanganmu".

Liem Tou sendiripun tahu dalam keadaan begini Thian Pian Siauwtju tidak ingin banyak berbicara. ia segera mengangguk.

Sedikit kakinya menutul permukaan tanah badannya laksana petir menyambar telah berkelebat keluar dari pintu.

Pemuda ini tidak menggubris diri Tnian Pian Siauwtju lagi, ia segera menerobos masuk ruangan berbatu itu, suasana amat gelap susah melihat kelima jari tangan sendiri, pemuda she Liem berhasil melatih sepasang matanya dapat melihat ditengah kegelapan.

Dalam rumah berbatu terdapat belasan kamar .satu demi satu ia lakuKan pemeriksaan, akhirnya dikamar yang terakhir ia temukan sebuah pembaringan dan diatas pembaringan terlentang siperempuan Tunggal Touw Hong.

Saat ini ia hampir telanjang. hanya bagian-bagian terlarang saja yang masih tertutup oleh selapis kain dalam yang tipis dan tembus lihat, sedangkan perempuan itu sendiri berada dalam keadaan tidak sadar.

Dengan cermat Liem Tou melakukan pemeriksaan disekitar badannya, segera diketahui olehnya apabila jalan darah tidur perempuan ini telah tertotok.

Dengan cepat ia totok bebas jalan darah tersebut kemudian berkata dari luar ruagan,

"Susiok. maaf sutit Liem Tou datang terlambat sehingga mengharuskan susiok lama sekali menjalankan penderitaan. silahkan cepat berpakaian dan kita harus buru-buru meninggalkan tempat itni.".

"Ehmm. . ." dari dalam ruangan terdengar suara sahutan dari si perempuan tunggal Touw Hong, "Liem Tou, Liem Tou. . kau benar-benar adalah Liem Tou? Siauwtju mengatakan bahwa kau sudah mati pada setahun berselang bagaimana kau bisa mengaku dirimu bernama Liem Tou ?"

"Ke Hong sama sekali tidak tahu apabila aku belum mati, hanya hampir saja jiwaku melayang."

"Aaaakh ! kalau begitu kau benar-benar adalah Liem Tou?" Mendengar ucapan dari si perempuan tunggal Touw Hong,

Liem Tou berpikir didalam hatinya.

"Susiok sudah setahun lamanya ditawan di atas pulau ini, jikalau dikatakan menderita seharusnya sudah sangat tersiksa. mengapa terhadap diri Ke Hong ia tak memperlihatkan rasa benci atau menyalahkan ? sungguh aneh urusan ini. Apakah rela dirinya dikawini oleh orang itu?".

Karena menjumpai hal-hal yang tidak dipahami ia lantas berkata.

"Susiok, aku pikir selama setahun ini kau tentu amat menderita sekali ?". . . "Masih untung agak baikan. siauwtju tak bermaksud jahat terhadap diriku, iapun belum pernah memperlihatkan tindakan-tindakan yang menyeleweng dari kesopanan, selama ini aku tidak pernah diganggu . .."

"A-akh. . .! begitu?", saat inilah Liem Tou baru tahu peristiwa yang bakal terjadi nanti malam sama sekali tidak diketahui oleh gadis ini, jikalau malam ini ia tidak keburu datang kemari entah apa yang bakal terjadi besok pagi?

Liem Tou pun tidak membocorkan rahasia Thian Pian siauwtju lagi, sambungnya.

"Susiok, cepat kau berpakaian, malam ini kita harus segera meninggalkan tempat ini apalagi ditempat luaran masih ada tontonan bagus yang dapat kita tonton."

Sewaktu ia menyelesaikan kata-katanya, si perempuan tunggal Tauw Hong telah berjalan keluar.


Bersamaan itu pula meraka pun merasa bahwa hidup manusia sebenarnya hampa belaka bagaikan sesosok mayat yangg tertelan di tengah deburan ombak. semua cinta kasih. kekayaan, kecemerlangan tersapu bersih oleh gulungan ombak yang sambung menyambung.

Perlahan lahan mayat itu tertelan ombak dan bergerak lambat tenggelam ke dasar lautan, lelenyaplah sudah sudah jenasah seorang perempuan yang memiliki wajah sangat cantik.

Liem Tou menghela napas panjang sepasang telapak tangannya dengan kerahkan seluruh tenaga dalam yang dimilikinya serta mendorong perahu itu untuk bergerak lebih ke depan.

Tidak selang beberapa saat kemudian perahu telah menepi ketika mereka sudah berada di atas daratan, Ciau Thian Kie yang mendarat paling akhir mendadak melancarkan satu pukulan dahsyat menghajar hancur perahu sampan tersebut.

Sedang ia sendiripun muntahkan darah segar tapi orang tua ini tidak menggubris keadaan dirinya. Dengan lari kencang ia pulang ke rumah karena hatinya sangat menguatirkan akan keselamatan dari Cioe Leng Cu setelah ditinggalnya sehari semalam.

Liem Tou serta si perempuan tunggal Touw Hong membuntuti dari belakang ikut kembali ke rumah si orang tua itu.

Si gadis cantik pengangon kambing dan Giok jie yang telah menanti kedatangan mereka di luar pagar rumah, sewaktu melihat munculnya beberapa orang ini jadi kegirangan setengah mati.

“Engkoh Liem, kau telah pergi kemana?' teriak si gadis cantik pengangon kambing keras keras.

Tapi setelah menjumpai si perempuan tunggal Touw Hong mengikuti di sisi pemuda tersebat. ia jadi tersadar kembali. Aaah! engkoh Liem! kau berhasil menemukan dirinya, kau telah berhasil menolong Hong susiok lolos dari mara bahaya!”

Buru buru ia maju ke depan untuk memberi hormat kepada si perempuan tunggal Touw Hong ini.

"Sudahlah jangan banyak adat'. kita bicara lagi seteiah kembali ke gunung Cin Shia!” kata si perempuan tersebut seraya membangunkan sang gadis.

Setelah itu ia berpaling ke arah Liem Tou. ujarnya lebih lanjut. “Liem Tou! aku akan berangkat terlebih dahulu karena hendak kembali dulu ke gunung Go bie kemudian baru pergi ke gunung Cing Shia, kapan kau kembali?”

'Setelah urusan disini selesai kami segera berangkat pulang ke gunung... jawab sang pemuda setelah berpikir sebentar, “Tapi sewaktu sutit pulang ke gunung mungkin akan berputar dulu untuk mampir sebentar di pantai Sah Kiem Than, paling lambat sepuluh hari kemudian aku pasti sudah tiba di gunung Cing Shia!”

Si perempuan tunggal Touw Hong segera mengangguk setelah mendengar ucapan tersebut.

Pada saat itulah terdengar Ciau Thian Kie berteriak keras "Cioe Ling Cu! kau berada dimana, yaya, telah kembali !".

Ia lari masuk ke dalam ruangan kemudian keluar lagi ke depan seraya berteriak teriak tiada hentinya, tapi belum juga menemukan jejak bocah itu

Pada waktu itulah si gadis cantik pengangon kambing berjalan menghampiri Liem Tou dan berbisik lirih. “Kemarin malam pada kentongan keempat Cioe Ling Cu si bocah tersebut.,.."

Belum habis ia berkata hati Liem Tou sudah terasa tergetar keras. Ia segera sadar apa yang sebenarnya telah terjadi.

“Kau tak usah lanjutkan ucapanmu, bukankah ia kena diculik Boe Beng Tok su?' sambungnya.

Si gadis cantik pengangon kambing mengangguk. Air muka Liem Tou berubah membesi. Ia menghela napas panjang panjang.

"Aai.. ternyata Boe beng Toksu belum juga matikan niatnya! aku takut di kemudian hari kembali akan terjadi suatu badai yang menimbulkan banjir darah! aku sudah mulai bosan dengan dendam mendendam balas membalas yang terjadi di dalam dunia persilatan, entah sampai kapan keadaan seperti ini akan berakhir?? .

Si perempuan tunggal Touw Hong pun ikut bersedih hati "Bagaimanapun aku telah berjuang sepenuh tenaga demi enciku" katanya sambil menghela napas panjang "Jikalau Sun Ci Si tetap tidak sadarkan diri, biarlah ia berbuat sesuka hatinya! Pada suatu hari ia pasti mati tanpa liang kubur.

Selamat tinggal ! aku hendak berangkat dahulu". Bayangan hitam berkelebat lewat tahu tahu tubuhnya berada sepuluh tombak lebih dari tempat semula.

Liem Tou serta si gadis cantik pengangon kambing buru buru memberi hormat. "Maaf kami tidak mengantar susiok lebih jauh!".

Si perempuan tunggal Touw Hong berpaling memandang sekejap wajab Liem Tou akhirnya ia melengoskan buru buru berlalu.

Belum saja bayangan perempuan itu lewat, Ciau Thian Kie telah menerjang datang, kepada si gadis cantik pengangon kambing teriaknya keras,

"Kau bawa kemana Cioe Ling cu ku ? apakah kau perempuan rendah yang mencelakai dirinya?"".

Ciau Thian Kie telah kehilangan kesadarannya, ia mulai berteriak dan menerjang datang dengan kalap.

Si gadis cantik pengangon kambing yang kena dimaki dalam hati merasa mendongkol bercampur kasihan. Ciao Toa pek!' bentaknya. " Apa maksudmu berkata demikian??? kenapa pentang mulut kau lantas menyakiti hati orang? Aku sama sekali tidak mencelaki Cioe Ling Cumu, siapa yang tahu ia telah pergi ke mana'”

Ciau Thian Kie meraung kalap. Badannya berputar kemudian menerjang ke arah dusun kaum nelayan. Sembari berlari teriaknya berulang kali:

"Cioe Ling Cu, yaya telah kembali. kau ada dimana?? Tidak lama kemudian seluruh penduduk dusun nelayan itu sudah tahu akan lenyap nya Cioe Ling Cu, berbondong

bondong mereka ikut mencari sehingga suasana jadi gaduh dan gempar.

Ketika itulah Liem Tou berkata kepada diri si gadis cantik pengangon kambing: “Tahukah kau siapa Cioe Ling Cu itu? "Sudah tentu cucu dari Ciau Toa pek!"

“Bukan!" sembari tertawa Liem Tou menggeleng, “Dia adalah cucu luar Ciau Toa pek atau yang jelas bocah tersebut adalah putra dari Thian Pian Siauwcu.”

"Aaaah..! ada kejadian seperti ini!' teriaknya sang gadis dengan mata terbelalak.

Liem Tou mengangguk.

“ Ayoh kita segera berangkat!' serunya mengajak si gadis cantik pengangon kambing berangkat. “Kita beritahu dulu kepadanya kemudian segera berangkat menuju pulau Lie Hoa To Thian Pian Siauw cu, Ke Hong sedang menantikan kita di sana! "

Demikianlah mereka bertiga segera berangkat menuju ke dusun kaum nelayan itu, dari kejauhan mereka dapat melihat banyak nelayan yang sedang berkerubung disekeliling Ciau Thian Kie sembari bicara dan berpendapat dengan ramainya. Ada yang mengatakan pagi itu masih menjumpai Cioe Ling Cu, ada pula yang mengatakan dia seorang diri menuju ke tengah lautan.

Sedangkan Ciau Thian Kie tetep berteriak teriak keras. Liem Tou segera mendesak maju dari antara kaum nelayan yang sedang berdesak desakan dan menghampiri diri orang tua itu. "Ciau Toa Pek, kau tak usah pergi mencari Cioe Ling Cu lagi, mungkin sebelum sepuluh tahun ia tak akan kembali!"

"Apa??' teriak Ciau Tnian Kie dengan sepasang mata melotot bulat bulat. Liem Tou, apa kau kata??"

“Terus terang kuberitahu kepadamu! masih ingatkah kau terhadap ucapan yang diutarakan Boe Beng Tok su kepadamu kemarin malam?” kata Liem Tou sembari tertawa hambar. “Ingat. kenapa aku bisa lupa? ia datang karena bermaksud untuk berbuat sesuatu.”

"Nah! itulah dia, jikalau kedatangannya karena hendak berbuat sesuatu apakah kau sekarang tidak tahu kemana Cioe Ling cu telah pergi???.."

Seketika Ciau Thian Kie berdiri mematung tak berbicara juga tak berkutik, sepasang matanya terbelalak lebar melototi diri Liem Tou. Beberapa saat kemudian ia muntah darah segar dan roboh ke atas tanah.

Liem Tou buru buru berkelit dari semburan darah segar yang meluncur ke badan nya sekali bergerak telapak tangannya di tabokan ke atas punggung Ciau Thian Kie. “Ciau Thian Khie baik baik kusampaikan berita kepadamu apa sebabnya kau malah bersikap demikian terhadap diriku?” bentaknya keras.

Gerakan yang dilakukan Liem Tou cepat laksana sambaran kilat, di dalam beberapa kali getaran ia telah menotok beberapa buah jalan darah penting di seluruh tubuh si orang tua itu.

Setelah urat urat peredaran darah menjadi lancar kembali. Ciau Thian Kie pun sadar dari kalapnya.

Terdengar ia tertawa sedih. ujarnya : "Tidak aku sangka kedatangannya justru hendak melakukan pekerjaan ini, ia berani benar membawa lari cucu kesayanganku! Tempo dulu si hwesio tujuh jari Ciet Ci Tauw Tuo berbuat keji melebihi peri kemanusiaan, aku si telapak besi berwajah riang merasa tak senang dengan perbuatannya maka secara diam diam menyelinap pergi tidak disangka ini hari Cioe Ling Cu telah terjatuh ke tangan anak muridnya. apa yang harus kulakukan saat ini''?''

Ia merandek beberapa saat mendadak teriaknya kembali: “Liem Tou. soal Ke Heng aku tidak mau ikut campur lagi kau boleh menghukum dirinya dengan cara apapun, tapi luka parah yang sedang kuderita kini dapatkah kau sembuhkan?? sekalipun harus menyeberangi lautan luas ataupun menuju ke ujung langitpun aku harus mencari balik diri Cioe Ling Cu'. dapatkah kau bantu diriku untuk kali ini?'

Dari sepasang mata Ciau Thian Kie memancar cahaya kebulatan tekadnya, sikap ini muncul dari rasa sayang terhadap cucunya yang tak terkendalikan dan menimbulkan rasa hormat di hati Liem Tou, Dari dalam sakunya ia mengambil ramuan obat berbentuk tali yang tinggal sedikit itu lalu diserankan ke tangan Ciau Thian Kie.

"Telanlah obat ini!' katanya lirih. 'Biasanya seutas saja sudah lebih dari cukup untuk menyembuhkan luka parahmu tidak sam pai tiga hari, Ciau Thian Kie! aku Liem Tou merasa amat kagum terhadap dirimu. jikalau bcrjodoh aku bisa menumpai Cioe Ling Cu, aku Liem Tou pasti akan membantu sampai berhasil Nah! selamat tinggal.”

Dengan tangan gemetar Ciau Thian Kie menerima angsuran tali obat itu air mata jatuh bercucuran membasahi kelopak matanya.

'Cing Gouw Thayhiap! terima kasih” serunya.

Liem Tou ulapkan tangannya. bersama sama si gadis cantik pengangon kambing serta Giok jie mereka menuju ke tepi pantai. dari seorang nelayan mereka pinjam sebuah perahu dan segera berangkat menuju ke lautan bebas.

Setelah perahu berada di tengah lautan Liem Tou serta si gadis cantik pangangon kambing segera menggerakan perahunyu dengan melancarkan pukulan pukulan kosong ke atas permukaan air sehingga perahu dapat bergerak lebih cepat lagi.

'Wan moay! sekarang aku baru merasa kasihan terhadap nasib Thian Pian Siauwcu' kata sang pemuda lirih.

"Ooooow .. jadi kau simpatik terhadap dirinya" seru si gadis cantik pengangon kambing sambil mengerling sekejap kearahnya.

"Aku sendiri juga tak tahu hatiku sebenarnya menaruh rasa simpatik kepadanya atau tidak, henya aku merasa amat kasihan atas nasibnya yang begitu buruk coba kau pikir salah tidak caraku berpikir??? "

'"Tidak. sama sekali tidak lucu dan perlu ditertawakan. Ayahku mati di tangannya dan sekarang kau malah menaruh simpatik terhadap dirinya, bukannya lucu aku malah merasa sedikit takut!"

Agaknya Liem Tou benar benar ada maksud untuk menaklukan perasaan hati gadis ini. ia merasa sebenarnya Thian Pian siauwcu adalah seorang yang romantis dan baik hati.

“Ia mengasingkan diri di sebuah pulau yang sunyi dan terpencil di tengah lautan untuk hidup bersama istri dan berkawan dengan burung burung elang sehingga akhirnya ia pandai berbicara dengan binatang peliharaannya, Selama itu belum pernah ia melakukan perbuatan jahat.

Tapi sejak ia kesalahan membunuh mati istrinya dan bentrok dengan sang mertua Si telapak besi berwajah riang Ciau Thian Kie wataknya jadi berubah hebat. Tindak tanduknya jadi kukoay dan mengikuti perasaan sendiri, kendati begitu tidak banyak kejahatan yang telah ia lakukan.

Menurut pendapat Liem Tou, Thian Pian Siauwcu bisa berbuat demikian justru karena tekanan batinnya yang begitu menghebat sehingga tanpa disadari telah mengubah watak asalnya.”

Liem Tou yang melihat sikap si gadis cantik pengangon kambing amat tegas tak terasa ia menghela napas panjang "Wan moay, maafkan diriku. Aku tidak seharusnya punya pikiran demikian' katanya dengan nada minta maaf”

Dengan ucapan ini bukankah urusan jadi lebih baik, sebaliknya si gadis cantik pengangon kambing dibikin makin terperanjat. Air mukanya berubah serius. “Engkoh Liem kau benar benar bermasud menaruh simpatik terhadap dirinya??' kenapa secara mendadak kau bisa punya pikirkan demikian? jikalau kau sudah punya pikiran demikian mengapa pada mulanya kau mengusulkan diriku untuk datang mencari dia ?”

Liem Tou jatuhkan diri berbaring keatas perahu. Dia memandang ke angkasa. Lama sekali ia berpikir kemudian baru katanya. Wan moay tahukah kau bahwa kemarin malam dengan mengikuti diri Ciau Toa pek aku telah mengunjungi pulau Lie Hoa To, saat itulah aku baru memahami watak Tian Pian siauwcu dahulu aku hanya memandang dari perbuatan perbuatan jahatnya tapi kemarin aku dapat melihat pula hal hal yang mulia dan bajik dari perbuatannya. Terutama cinta kasih terhadap isterinya. aku rasa di kolong langit sukar untuk mencari orang kedua macam dirinya".

Demikianlah, Liem Tou lantas menceritakan seluruh kejadian yang telah dialami kemarin malam, akhirnya sewaktu ia menceritakan secara bagaimana Thian Pian Siauwcu melempar mayat istrinya ke tangan Ciau Thian Kie seraya melancarkan serangan. si gadis cantik pengangon kambing tak dapat menahan lelehnya air mata membasahi pipi.

Buru buru ia menggelengkan kepalanya berulang kali "Aku berharap kau jangan melanjutkan kembali kata katamu. kematian ayahku di tangannya adalah suatu peristiwa nyata. Ia tidak menepati janji sendiri dan diam diam menyelinap ke dalam gunung Cing Shia sehingga mengakibatkan hampir hampir saja kau mati juga merupakan suatu peristiwa yang

nyata. Hong susiok dikurung selama setahun lamanya bahkan terakhir kali ia masih punya maksud jelek terhadap dirinya kejadian ini juga nyata. Terhadap manusia macam begini dapatkah kau mengampuni jiwanya?”

Liem Tou dipaksa membungkam dalam seribu bahasa setelab gelagapan beberapa waktu ia berkata lirih, “Akupun merasa tidak seharusnya punya pikiran demikian maka dari itu aku minta maaf terhadap diri Wan moay"

Selamanya si gidis cantik pengangon kambing belum pernah marah, tapi kali ini ia agak sedikit naik pitam.

Sembari putar badan mengirim dua babatan kosong teriaknya keras:

"Terhadap urusan lain kau hendak bicara secara bagaimanapun aku pasti akan menuruti dirimu, tapi dendam berdarah sedalam lautan ini tak bisa mengubah jalan pikiranku!"

Liem Tou tahu si gadis cantik pengangon kambing benar benar telah marah. terpaksa ia memobon dengan suara lirih: “Wan moay kau jangan marah! baiklah! aku pasti akan membiarkan kau membalas dendam dengan tanganmu sendiri!' Setelah mendengar ucapan itu si gadis cantik pengangon kambing baru tidak bersuara lagi, sepasang telapak secara beriring mengirim pukulan kosong ke atas permukaan air. Liem Tou pun duduk bantu melancarkan pukulan kosong, dengan demikian perahu segera berlayar dengan kecepatan penuh.

Tidak selang beberapa saat kemudian dari atas permukaan air laut di tempat kejauhan muncullah sesosok bayangan hitam. Ketika kedua ekor burung elang yang ada di perahu dapat melihat titik hitam itu mereka berkaok kaok dengan kecepatan penuh burung burung elang itu melayang ke udara dan meluncur terlebih dahulu ke depan.

Hal ini membuat Giok jie jadi kalang kabut teriaknya keras keras: 'Aaaah . burung elangku terbang, .burung elangku terbang .." Liem Tou menoleh dan memandang sekejap wajah si gadis cantik pengangon kambing, tampak air mukanya penuh keseriusan semakin perahu bergerak ke depan wajahnya makin menegang sedang bayangan hitam itu makin lama semakin besar dan akhirnya muncullah sebuah pulau kecil dengan tebing yang tegak lurus tinggi menjulang ke angkasa.

Teringat akan kematian ayahnya si cangkul pualam Lie Sang dalam keadaan mengerikan, sembari melancarkan pukulan kosong ke atas permukaan air laut si gadis cantik pengangon kambing menangis tersedu sedu.

Liem Tou segera membawa gadis itu duduk di atas geladak sedang ia sendiri menggantikam kedudukan gadis cantik pengangon kambing untuk menjalankan perahu sampan itu, Selang beberapa waktu kemudian mereka telah tiba ditepi pantai puiau Lie Hoa To. Setelah perahu merapat ke pantai, Liem Tou serta si gadis cantik pengangon kambing bersama sama meloncat ke tepi pantai, sebaliknya Giok jie kelihatan agak ragu ragu. Melihat gadis itu ketakutan. Liem Tou segera berkata:

“Giok jie. kau tidak seharusnya takut terhadap dirinya lagi, ada aku disini kutanggung kau tak bakal menjumpai mara bahaya."

Giok jie mengangguk, namun segera meloncat naik ke tepian.

Tak jauh mereka berlalu. Diatas sebuah tanah berbukit di tepi pantai beberapa orang itu menemukan seperangkat tengkorak manusia yang penuh berpelepotan darah, tengkorak itu berwarna hitam pekat dan memacarkan cahaya berkilat.

Melihat hal tersebut kepada si gadis cantik pengangon kambing serta Giok jie, Liem Tou menerangkan :

“Bila dugaanku tak salah, tulang belulang ini tentu tengkorak dari Thiat Bok Thaysu. Ilmu pukulan beracun yang dilatih Thiat Bok Thaysu adalah suatu ilmu berbisa yang amat jahat dan dapat mengubah tulang tengkorak seseorang jadi berwarna hitam pekat. Setelah Thian Pian Siauwcu membinasakan dirinya tentu mayat ini ia hidangkan buat burung burung elangnya."

Mendengar tentang burung elang seluruh tubuh gadis cantik pengangon kanbing bergidik.

“Kalau ini hari ia mengeluarkan burung elangnya untuk bergebrak melawan kita. maka kita harus membuang banyak tenaga serta pikiran lagi”. bisiknya lirih.

“Hal itu merupakan suatu peristiwa yang di luar dugaan dan kita harus menghadapi dengan hati tenang '. asalkan ia tidak pergi dengan menunggang burung elangnya maka tak bakal orang she Kie itu meloloskan diri dari serangan telapakku.” Mereka bertiga dengan mengikuti jalan kecil yang ada memasuki sebuah hutan lebat tapi belum jauh mereka melangkah mendekati di atas tanah ditemuinya mayat beratus ratus ekor burung elang yang kebanyakan mati karena keracunan.

Tanpa berpikir lagi Liem Tou menjulurkan lidahnya sembari berkata:

“Burung burung elang ini mencari mati sendiri, sedang Thiat Bok Thaysu pun luar biasa kejinya.

sampai matipun ia masih bisa membunuhi burung elang sebanyak ini. Jikalau bukannya aku berhasil mematahkan kesepuluh jari tangannya sewaktu bergebrak di gunung Cing Shia tempo dulu selama beberapa tahun ini entah berapa banyak jago kangow yang akan mati di tangannya. bicara sesungguhnya jlkalau kesepuluh jari tangannya bukan kuputus lebih dahulu dalam bergebrak belum tentu Thian Pian Siauw cu bisa mengalahkan dirinya dengan begitu gampang "

Tapi dengan cepat pemuda ini telah berganti nada ucapannya: "Tapi urusan ini ada sedikit aneh, terang terangan Thian Pian siauw Cu tahu bila mana seluruh tubuh Thiat Bok thaysu beracun, kenapa ia membiarkan burung burung elang kesayangannya menyantapi daging tersebut? bukankah dengan berbuat demikian sama artinya ia ada maksud meracuni burung burung elang tersebut??."

Karena berpikir demikian ia makin tegang rasanya. Tidak jauh dari tempat itu Liem Tou menemukan rumah kediaman Thian Pian Siauw cu telah hancar barantakan tinggal batu batu yang berserakan, tempat itu sudah punah sama sekali.

"Aaakh! Thian Pian siauw cu telah menghancurkan rumah kediaman sendiri, ia pasti telah melarikan diri teriak Liem Tou penuh rasa terperanjat. "Bangsat! ternyata dia adalah seorang manusia yang tidak pegang janji!

Dengan kerahkan ilmu meringankan tubuhnya buru buru pemuda ini lari ke rumah berwarna putih diiringi si gadis cantik pengangon kambing serta Giok jie dari belakang.

Tapi setibanya di tempat itu rumah gedung warna putih itupun sudah hancur berantakan tidak berwujud lagi. Sekali lagi Liem Tou berseru tertahan lalu memaki kalang kabut :

“Anjing, anak jadah... "

Waktu sudah hampir siang hari berarti waktu yang telah dijanjikan dengan Thian Pian Siauw cu kemarin malam hampir tiba. si gadis cantik pengangon kambing jadi cemas.

“Bila ia sudah pergi, bukankah kedatangan kita kemari hanya sia sia belaka?? hendak kemana kita pergi mencari dirinya??" teriaknya dengan hati mendongkol.

"Selamanya aku selalu mempercayai orang lain, kalau tahu begini kemarin malam tak akan kulepaskan dirinya."

Si gadis cantik pengangon kambing makin marah lagi, gembornya :

'Ke Hong sudah satu kali mengingkari janji. kenapa kau masih juga mempercayai dirinya?? '

Kena ditegur, Liem Tou tak bisa berbicara, ia bungkam Mendadak terdengar Giok jie berteriak keras sambil menuding ke arah puncak bukit yang tertinggi.

'Coba lihat! Bukankah itu adalah burung elang kita??? Apa yang sedang ia lakukan di atas sana???”

Liem Tou segera mendongak. dilihatnya kedua burung elang tersebut sedang berputar putar tiada hentinya di atas puncak.

Hati sang pemuda jadi sedikit tergerak, seraya menarik tangan si gadis cantik pengangon kambing katanya :

“Ayoh cepat pergi, kita tengok ke atas puncak tersebut!'

Dengan salurkan hawa murninya ia berlari menuju ke atas puncak bukit tersebut.

Gerakan mereka kali ini benar benar cepat laksana kilat. dalam sekejap mata mereka, sudah tiba di kaki puncak, tapi mungkinkah Giok jie dapat mengimbangi mereka??

Saking cemasnya gadis ini berteriak teriak: “Eeee...kalian jangan tinggalkan aku seorang diri!” Terpaksa Liem Tou menanti kedatangan Giok jie kemudian satu tangan mencekal Giok jie lain tangan mencekal Lie Wan Giok dibawanya lari ke atas puncak.

Tebing ini hampir boleh dikata tegak lurus, masih beruntung tenaga sinkang Liem Tou telah berhasil mencapai puncak kesempurnaan, sekalipun di tangan kanan mencekal si gadis cantik pengangon kambing sedang tangan kiri mencekal Giok jie tapi larinya masih tetap cepat bagaikan terbang.sekali loncat sepuluh tombak jauhnya telah dilewati.

Si gadis cantik pengangon kambing serta Giok jie yang ditarik hanya merasakan sepasang kaki mereka mengambang di tengah udara.

Kurang lebih seperminum teh kemudian sampailah mereka di atas puncak sedang jidat sang pemuda penuh dibasahi dengan air keringat.

Puncak tebing itu hanya seluas tiga tombak persegi tapi mayat burung elang berserakan dimana mana. Thian Pian siauwcu dengan memakai seperangkat baju baru, duduk terpekur di tengah bangkai bangkai burung elangnya.

Si gadis cantik pengangon kambing sama Giok jie yang melihat kejadian ini diam diam menghembuskan napas dingin, 'pikir mereka di dalam hati:

Apa yang sebenarnya telab terjadi? Liem Tou tenangkan dulu hatinya kemudian berkata:

Ke Hong, kali ini kau telah menepati janji,

.

Mindengar suara dari Liem Tou. perlahan lahan Thian Pian Siauw cu membuka matanya dan melirik sekejap wajah ketiga orang itu, tapi sewaktu sinar matanya terbentur dengan Wan Giok jie mendadak dari sepasang matanya memancar cahaya kebuasan, tapi hanya dalam sekejap saja telah lenyap kembali.

Di ujung bibirnya tersungging suatu senyuman yang memilukan hati. “Sekalipun kau tidak datang kemari aku pun telah bersiap sedia untuk bunhn diri di atas puncak It Ci Hong ini!" “Kenapa?? kenapa kau bendak berbuat demikian?” tanya Liem Tou serta si gadis cantik pengangon kambing hampir berbareng mereka sama sama dibikin tertegun.

Thian Pian Siawcu tertawa:

" Tidak karena apa apa aku sedang gembira berbuat demikian! '

Mendengar ucapan itu si gadis cantik pengangon kambing segera naik pitam, teriaknya:.

“Ke Hong, kau jangan bicara terlalu sombong tahukah kau bahwa ini hari kau tidak bakal lolos dari ganjaran atas perbuatan jahatmu''? kedatanganku ini hari justru hendak menuntut balas atas kematian ayahku."

Air muka Thian Plan Siauw cu sama sekali tidak berubah ia tertawa bambar.

"Justru aku sedang menantikan kedatangan kalian di sini, bagaimanapun juga seorang manusia hanya memiliki selembar nyawa kalau kalian mau mah, ambillah sendiri! aku mengerti kepandaianku tak bakal menangkan kepandaian Liem Tou.

Tapi jikalau membicarakan soal melarikan diri, asalkan aku Ke Hong benar benar berniat demikian mungkin saat ini aku sudah berada di ujung langit sebelah Barat. Selama hidup kalian jangan harap bisa menjumpai diriku lagi.”

Perkataan ini aku bisa mempercayainya' Liem Tou perlahan lahan mengangguk. "Kau punya kawanan burung elang yang bisa digunakan sebagai kendaraan. kemanapun kau ingin pergi bisa kau datangi, tapi ada satu urussn yang belum kupahami, apa sebabnya kau begitu tega menghancurksn seluruh burung elang yang tak berdosa ini????."

Sekali lagi Thian Pian Siauwcu tertawa sedih.

'Setelah aku mati, siapa yang kesudian mengurusi mereka'? apalagi mereka adalah kawan karibku selama banyak tahun, asalkan aku mati merekapun tidak akan suka hidup lebib lanjut, dari pada mereka tersia sia jauh lebih baik kubunuh dulu mereka ini."

"Oooouww , di kolong langit tak akan ada kejadian semacam ini' seru Liem Tou tidak percaya.

Thian Pian Siauwcu tidak membantah lagi, mendadak air mukanya membesi, perlahan lahan ia bangun berdiri dan bentaknya terhadap diri Giok jie:

“Giok jie, setiap orang yang pernab mengikuti diriku kecuali putraku hanya kau seorang yang tetap hidup bahkan melanggar pula peraturan perguruan sebetulnya aku ingin membunuh mati dirimu. tapi sekarang aku tidak ingin menyusahkan kau lagi, hanya ada satu tugas yang harus kau laksanakan. kalau tidak Hmmm.Hmmm.! sekalipun jadi setan aku tak akan mengampuni dirimu,”

Sembari berkata dari dalam sakunya ia mengambil keluar sebuah bungkusan kecil kemudian dilemparkan ke depan.

Tanpa banyak bicara Giok jie menerima benda tersebut, ketika itulah Thian Phian Siauwcu telah melanjutkan kembali kata katanya.

“Serahkan benda itu kepada putraku Ciu Ling Cu, tapi aku larang kau membuka untuk dilihat"

Giok jie setelah menerima benda tersebut jadi kebingungan sendiri. Sebentar ia memandang Liem Tou lalu memandang pula wajah si gadis cantik pengangon kambing menantikan pendapat mereka.

Pada dasarnya si gadis cantik pengangon kambing memang sangat suka dengan Giok jie, ia bermaksud hendak terima gadis cilik ini sebagai muridnya. Ia tertawa dingin tiada hentinya

"Heeee . heee...Ke Hong, sebenarnya urusan ini patut bila kita penuhi, tapi tahukah kau kemanakah Ciu Ling Cu pergi?"

Oleh ucapan tersebut mendadak sepasang mati Thian Pian Siauwiju memancarkan cahaya tajam

"Bukankah ia ikut Ciau Thian Kie???" teriaknya keras. "Tidak. ia dibawa pergi Boe Beng Tok-su” jawab si gadis cantik pengangon kambing berterus terang.

"Aaaakh. .!” suara seruan tertahan bargetar memenuhi angkasa, tapi sebentar kemudian dengan nada yang kukuh Thian Pian Siauw cu telah berkata kembali:

“Soal ini aku tak mau tahu, perduli ia berada dimana Giok jie harus menyelesaikan tugas ini".

Mendengar ucapan yang tidak pakai aturan si gadis cantik pengangon kambing bermaksud mengobarkan hawa amarahnya. tapi tindakan tersebut keburu dicegah oleh Liem Tou.

"Biarlah urusan ini serahkan ditanganku. aku pasti bisa menyelesaikaa tugas ini. Nah! kau masih ada urusan lain???' kata pemuda itu menyela.

"Tidak ada, kalian boleh mulai turun tangan.”

Dengan perlahan lahan Ke Hong memejamkan matanya.

Tapi berada dalam keadaan tiada perlawanan, jangan dikata Liem Tou sekalipun si gadis cantik pengangon kambing yang mempunyai dendam sedalam lautanpun tidak dapat turun tangan. ia merasa serba salah.

Seketika kedua orang itu berdiri tertegun dan tidak sanggup mengucapkan sepatah katapun,

Beberapa saat berlalu dengan cepatnya, mendadak Thian Pian siauwcu membuka mata kembali, dengan ragu ragu tanyanya,

"Kenapa? bukankah siang hari sudah tiba dan saat perjanjian kita sudah lewat ?? apa yang kalian nantikan lagi?'.

“Ke Hong!' ujar sang pemuda dengan perasaan kikuk. “Selama ini kami belum pernah melancarkan serangan terhadap seseorang yang sama sekali tidak memberikan perlawanan. lebih baik kau bangunlah dan bergebrak secara sungguh sungguh melawan, bukankah tempo dulu kita belum pernah berjumpa dalam keadaan macam begini ?'

'Liem Tou, bukannya aku tidak berani bergebrak melawan kalian justru karena pada seat ini semangat maupun napsuku untuk bergebrak sudah punah, mati bidup buatku sangat hambar, aku tidak ingin bergebrak melawan siapapun juga'

Ketika itulah si gadis cantik pengangon kambing melayang ke depan memerseni sebuah tempelengan ke atas pipi Thian Pian siauwcu bentaknya keras.

“Kau lelaki konyol, kau anggap dengan berbuat demikian maka jiwamu bisa selamat ?? kau anggap darah ayahku mengalir dengan sia sia belaka?”

Thian Pian siauwcu hanya memandang gadis itu sambil tertawa hambar, ia sama sekali tidak menjawab sedang matanya tak bergerak.

Saking cemasnya si gadis cantik pengangon kambing mengucurkan air mata.

“Engkoh Liem ! aku tak akan perduli banyak urusan lagi. Ia tak mau melawan, hal ini dikarenakan kerelaannya sendiri.

Kau tak bisa salahkan aku bertindak keji.”

Sembari berkata ia maju dua langkah ke depan dan mengirim satu pukulan dahsyat ke atas dada Thian Pian Siawcu..

"Braaak . . !" serangan tadi dengan telak bersarang di tubuh Ke Hong. Seluruh tubuhnya bergetar keras tapi tidak roboh ke atas tanah. Dari ujung bibirnya perlahan lahan mengucurkan darah segar.

Ia buka matanya memandang wajab si gadis cantik pengangon kambing, sinar matanya begitu halus dan berperasaan, hal ini membuat Lie Wan Giok merasakan badannya semakin bergidik. 'Ke Hong, kenapa kau tidak membalas ?? jika kau mau membalas aku rela membiarkan diriku kena dipukul satu kali kemudian sekali lagi kita bertempur dari depan!"

Thian Pian siauwcu tetap menggeleng tanda tidak mau.

Habis sudah kesabaran si gadis cantik pengangon kambing, telapak tangannya diayunkan sekali lagi melancarkan satu serangan dahsyat mengamcam dada lawan.

Tapi belum sempat serangannya dilancarkan tangan kanan Liem Tou secepat kilat sudah menangkap pergelangan tangannya.

“Wan moay maukah kau dengar dulu sepatah kata ucapanku?? asalkan Ke Hong suka berubah watak dan berbuat kebajikan maka dia adalah seorang tayhiap yang susah didapat di dalam dunia persilatan. Mungkin pada saat ini kau dapat melihat sendiri bukan, betapa halus dan ramahnya sinar mata orang ini?? Bagaimanapun juga kita harus memberikan satu kesempatan bagi dirinya."

“Engkoh Liem. sudah tentu aku dapat melihat kesemuanya itu, tapi dendam sakit hart ayahku apakah harus ditinggalkan demikian saja?? seru sang gadis cantik pengangon kambing sambil menangis.

“Wan moay. Supek sebagai seorang pendekar sejati yang membela keadilan akhirnya mati di tangan Ke Hong yang tidak pegang janji, Seharusnya kita tidak boleh melepaskan dirinya. tapi asalkan Ke Hong dapat melepaskan kejahatan kembali ke jalan yang benar dan melakukan kebajikan buat semua orang, aku rasa sukma supek yang ada di alam bakapun setelah tahu ini, dia tidak akan menyalahkan Wan Moay, karena tidak balaskan dendam bagi dirinya!

Wan moay! coba kau pikir benar bukan??”

Ia merandek sejenak kemudian sambil berbisik katanya lagi: 'Wan moay! masih ada satu urusan lagi harus kuberitahukan kepadamu, kita suami istri belum pernah berkumpul karena banyaknya peristiwa dalam dunia kangouw yang harus kita tangani. Jikalau kita biarkan dia terjunkan diri ke dalam dunia persilatan untuk mewakili kita mengurusi persoalan persoalan itu bukankah kita bisa bersenang senang?? Inilah sedikit keinginanku yang terlalu serakah. Nah Wan Moay ampunilah dirinya!..”

Merah padam selenbar wajah si gadis cantik pengangon kambing sebab mendengar ucapan tersebut, tapi ia tidak banyak bicara.

Melihat si gadis cantik pengangon kambing sudah setuju. Liem Tou segera mengambil kembali buntalan kecil tadi dari tangan Giok jie dan dikembalikan ke tangan Thian Pian Siauwcu.

"Ke heng, keadaan kita ini haru jauh berbeda dengan keadaan tempo dulu. mengingat kau ada maksud untuk kembali ke jalan yang benar, Wan moay hendak melupakan dendam sakit hati atas kematian si cangkul pualam Lie Sang untuk sementara waktu dan tiga tahun kemudian kita baru bereskan kembali. Asalkan Ke Hong sungguh sungguh ada maksud menjadi orang baru, urusan ini akan kami sudahi sampai disini saja. Nah! pikirkanlah urusan ini sebaik baiknya.”

Tidak menanti jawaban dari Thian Pian Siawcu lagi, ia tarik tangan si gadis cantik pengangon kambing serta Giok Jie untuk diajak berlalu turun dari puncak.

Setelah Liem Tou membawa si gadis cantik pengangon kambing serta Giok Jie turun dari puncak It Ci Hong mereka tidak lagi berdiam lebih lama di atas pulau Lie Hoa To, dengan menunggang perahu semula perlahan lahan berangkat ke tengah lautan. Liem Tou menghela napas panjang, sinar matanya dialihkan kembali ke atas it Ci Hong, mendadak ia berseru tertahan.

“Ahhh...! Wan Moay, coba kau lihat kenapa di atas puncak ada bayangan putih yang sedang bergerak?"

"Sungguh aneh!, teriak si gadis cantik pengangon kambing pula setelah melihat ke arah puncak.

"Menurut apa yang kamu ketahui di atas puncak Lie Hoa To kecuali Ke Hong serta kedua ekor burung elang itu sudah tidak ada kehidupan lagi, tapi darimana datangnya bayangan putih itu?.

Makin dilihat Liem Tou makin keheranan, mendadak hatinya sedikit tergerak, teriaknya keras keras.

"Cepat kembali! Cepat kembali!"

Dengan kerahkan tenaga dalam sepenuhnya ia mengirim pukulan kosong ke atas permukaan air laut, perahu yang ditumpangi sekali lagi berputar haluan dan menuju ke tepian, menanti pukulan kedua dilancarkan. perahu tersebut telah meluncur dengan cepatnya ke arah pantai.

Si gadis cantik pengangon kambing tidak mengerti apa yang telah terjadi. dengan cemas tanyanya.

“Kau teringat apa? kenapa sikapmu bagitu gelisah?". 'Wan moay. untuk sementara kau jangan bertanya, cepat

bantu aku mendorong perahu balik ke pantai," teriak Liem Tou sembari mnggerakkan tangannya berulang kali.

Padahal perahu itu sudah meluncur cepat hanya pemuda ini merasa terlalu lambat.

Melihat sikap orang pemuda yang gugup si gadis cantik pengangon kambing ikut cemas. 'Engkoh Liem, sudah tentu akan kubantu dirimu. tapi beritahu dulu kepadaku apa yang telah terjadi" teriaknya keras.

"Bayangan putih itu pasti Boe Beng Tok su adanya, jikalau benar dirinya maka keadaan Ke Hong sangat berbahaya"

“Tapi bukankah Boa Beng Tok su dengan Thian Pian siauwcu tidak terikat dendam sakit hati apapun ? mengapa kau mengatakan keadaannya dalam bahaya??.Agaknya gadis ini masih tidak paham maka dari itu ia mendesak terus.

"Wan Moay! coba kau pikir apa maksudnya Boe Beng Tok Su membawa pergi putra Thian Pian Siawcu?? Pertama, karena bocah ini memiliki bakat yang bagus sehingga dapat dididik menjadi seorang jago lihat. Kedua asalkan Thian Pian Siawcu dapat dibinasakan ini hari maka dilain waktu ia bisa menggunakan alasan ini untuk memerintahkan bocah tersebut menuntut balas kepada kita. Boe Beng Tok Su telah mengambil keputusan untuk mendidik bocah ini selama sepuluh tahun. Ia akan pinjam kekuatan bocah tersebut membalas dendam sakit hatinya tapi ini hari setelah ia naik ke puncak Ie Cie Hong dan melihat Thian Pian Siawcu tidak mati karena takut rencananya gagal. coba kau pikir, dapatkah ia melepaskan diri Thian Pian Siawcu???"

Mendengar ucapan itu rada cengli, si gadis cantik pengangon kambing mengirim pukulan kosong makin santer lagi.

Ketika itulah dari tempat kejauhan di tengah lautan mendadak Giok Jie menemukan sebuah titik hitam sedang bergerak mendatang.

“ach. . ! di sanapun datang sebuah perahu” teriaknya tak tertahan.

Liem Tou adalah seorang pemuda yang cerdik, setelah berpikir sebentar segera ujarnya. "Perahu itu pasti dltumpangi Ciau Toa Pek. tentu ia berhasil menemukan jejak Boe Beng Tok Su maka segera mengejar kemari".

Ketika perahu mereka tiba sepuluh tombak jauhiya dari tepi pantai, mendadak Liem Tou bangun berdiri.

"Tak bisa ditunggu lagi, aku harus berangkat selangkah terlebih dahulu.." Serunya.

Ia enjotkan badan kemudian dalam bebeerapa kali tutulan di atas permukaan air laut tubuhnya sudah berada di tepi pantai. lalu dengan kerahkan ilmu meringankan tubub meluncur ke atas puncak It Cie Hong.

Sawaktu ia lari naik dengan cepatnya itulah tiba tiba terdengar dua kali pekikan nyaring bergema di tengah angkasa, tampak kedua ekor burung elang tersebut mendadak meluncur ke bawah dengan gerakan sedang menyerang musuh.

Liem Tou makin mempercepat larinya, seluruh tenaga sinkang yang dimiliki dikeluarkan semua.

Di bawah sorotan sinar sang surya tampaklah sesosok bayangan manusia berkelabat naik ke atas puncak, saking cepatnya sehingga susah dibedakan lagi lelaki atau perempuan orang itu.

ketika itulah dari atas puncak berkumandang keluar suara gelak tertawa Boe beng Tok Su.

mendengar suara itu, Liem Tou merasakan hatinya bergidik, pikirnya.

"Suara gelak tertawanya ini menunjukkan rasa bangga karena ia berhasil memenuhi maksud hatinya. atau mungkin ia sedang melangsungkan suatu pertarungan sengit melawan Thian Pian Siauwcu? Mereka berdua sama sama menderita luka, hanya saja luka Thian Pian Siawcu baru sana diterima sedangkan luka Boe Beng Tok su sudah agak lama dan hampir mendekati kesembuhan..." Sedikitpun ia tidak berani berhenti, dalam sekejap mata ia sudah tiba di puncak gunung tersebut. Ketika itulah terdengar suara tertawa dingin yang pendek dan rendah berkumandang keluar, suara itu berasal dari Thian Pian Siawcu hal ini menandakan apabila Thian Pian Siawcu belum menemui ajalnya.

Liem Tou segera bersuit panjang dan tertawa bergelak. "Sun Ci Si, kau jangan pergi! tindakanmu sungguh

keterlaluan!"

“Haa . . haaa. . haaa. , . Liem Tou; kedatanganmu terlambat satu langkah" suara sautan dari Boe Beng Tok Su bergema turun dari puncak.

Bagaikan selapis cahaya Liem Tou meluncur naik ke atas puncak

"Sun Ci Si, jika kau berani mencelakai Thian Pian Siauwcu, maka kau tak bakal lolos dari tanganku lagi!"

Ketika Liem Tou tuba kurang lebih sepuluh tombak dari puncak mendadak tampak bayangan putih berkelebat lewat.

"Aduh celaka..!" tak terasa lagi ia berseu tertahan.

Tubuhnya meluncur makin cepat lagi. Siapa sangka ketika ia tiba di atas puncak tampaklah tubuh Thian Phian Siawcu telah terlentang di atas tumpukan bangkai bangkai burung elangnya, dada bagian depan basah oleh nada dorah.

Sepasang matanya melotot bulat sedang sinar matanya sudah buyar. Jelas ia tak ada harapan untuk hidup lebih lama.

Menanti keadaan itu Liem Tou jadi sangat gusar, melihat bayangan putih tadi sedang bergerak menuju bawah puncak. Ia sengera mengejar dari belakang.

Tapi, waktu itulah Thian Pian Siawcu muntah darah dan menegur lirih.

"Liem Tou!" Buru buru Liem Tou menghampiri dirinya, “Ke heng. bagaimana keadaan lukamu'" tanyanya serius." Biarlah aku kejar dulu Boe Beng Tok su kemudian baru kembali menjumpai dirimu!"

Tapi Thian Pian siauwcu menggeleng. Ia meronta kemudian meloncat bangun.

“Liem Thayhiap, aku serahkan anakku kepadamu !' teriaknya keras.

Kembali ia muntah darah berulang kali, tubuhnya roboh ke atas tanah dan si jagoan aneh dari Bu Lim ini pun menghembuskan napasnya yang penghabisan.

"Apa yang Ke Heng pesankan pasti akan siawte lakukan" Kata Liem Tou dengan sedih.

Menanti ia berpaling kembali ke bawah puncak, bayangan putih tadi sudah lenyap di tengah hutan.

Waktu itulah si gadis cantik pengangon kambing serta Giok Jie sama sama telah tiba di atas puncak, melihat Thian Pian Siawcu sudah mati buru buru tanyanya.

"Benar ia mati di tangan Boe Beng Toksu?"

Liem Tou mengangguk. “Kali ini aku tidak akan mengampuni dirinya lagi, aku akan segera mengejar kebawah puncak, aku rasa ia belum jauh melarikan diri dari tempat ini.”

Baru saja pemuda ini menyelesaikan kata katanya, dari bawab puncak sudah terdengar suara teriakan seseorang.

'Sun Ci Si, cepat kembalikan Cioe dji-ku, kau tak bakal lolos dari sini".

Tampak si telapak besi berwajah riang Cau Thian Kie lari naik ke atas puncak.

Liem Tou yang ingin memperlihatkan diri kepada Ciau Thian Kie apabila Thian Pian Siawcu mati di tangan Boe Beng Tok Su, ia segera menyongsong kedatangan sembari berseru. "Ciau Locianpwee. aku ada satu perkataan hendak diutarakan kepadamu' dan kami berharap cianpwee mau mempercayainya".

Ketika Ciau Thian Kie menemukan diri Liem Tou ada di sana, air mukanya berubah serius, seluruh tubuhnya tergetar keras.

'Bukankah kau telah berhasil menuntat balas? buat apa kau beritahukan urusan ini kepadaku?"

“Dendam sih telah kami balas. tapi Thian Pian Siauwcu tidak kami bunuh, ia masih hidup" kata Liem Tou sambil mengangguk. “Siapa sangka ketika kami datang kesini lagi, ia telah dicelakai orang. Sebelum Ke heng menemui ajalnya, ia memberi pesan terakhir untuk serahkan putranya Cioe Ling Cu kepadaku, dan aku sudah menyanggupi untuk pikul tugas ini. Inilah yang hendak kuberitahukan kepada Cianpwee, serahkan saja soal Cioe Ling Cu ke tangan aku Liem Tou, aku pasti pergi mencari diri Boe Beng Tok Su"

Agaknya Ciau Thian Kie merasa sedikit diluar dugaan setelah mendengar ucapan itu, ia berdiri melengak.

"Jika sungguh sungguh demikian. Aku harus mengucapkan terima kasih dahulu padamu...tapi Cioe Ling Cu tetap akan kucari sendiri..ohh, aku ingin bertanya kepadamu..."

Mendadak air mukanya berubah jadi serius. sambungnya: 'Kau mengatakan bahwa Ke hong mati di tangan orang lain

apakah ia mati di tangan Boe Beng Tok Su? Antara Ke Hong

dengan Boe Beng Tok su tiada ikatan dendam sakit hati apapun.

mengapa ia akan turun tangan keji terhadap dirinya??

"Inilah sebabnya ia hendak mercelakai dan memfitnah diriku, sepuluh tahun kemudian setelah Cioe Ling Cu menginjak dewasa. ia punya alasan untuk secara berterus terang untuk menuntut balas kepada diriku" “Hmm! Liem Tou! kau takut setelah Cioe Ling Cu menginjak dewasa lantas datang menuntut balas terhadap dirimu" teriak Ciau Tbian Kie sambil mendengus dingin.

Mendengar ucapan tersebut Liem Tou jadi sangat terperanjat, “Ciau Thian Kie, apa maksud ucapanmu ini??? aku Liem Tou adalah seorang manusia yang suka berterus terang dan belum pernah melakukan suatu pekerjaan yang tidak boleh diketahui orarg lain, Siapa yang patut kutakuti??? yang kukatakan kesemuanya adalah benar. Kau aku anggap aku bicara begini karena aku takut ada orang datang mencari balas dengan diriku?? kau anggap Ke Hong mati ditanganku dan kini menimpahkan kesalahan ini ke pundak orang lain??.”

"Liem Ton soal ini Kau tak perlu pungkiri lagi. aku bisa pergi cari Boe Beng Tok su untuk bertanya sendiri kepadanya" Teriak Ciau Thian Kie dengan nada berat.

Tanpa menanti jawaban dari pemuda itu lagi ia putar badan lari turun dari puncak.

Melihat orang tua itu berlalu Liem Tou tidak turun tangan mancegah, ia pikir biarlah Ciau Thian Kie pergi dari sana untuk mencari jejak Boe Beng Tok su.

Setelah orang itu berlalu Liem Tou balik lagi ke atas puncak, sinar matanya dengan tajam menyapu sekejap seluruh pandangan di pulau Lie Hoa To tersebut. menanti ia gagal mendapatkan jejak Boe Beng Tok su. dalam hati lantas berpikir;

"Asalkan Boe Beng Tok su masih ada disini, apa yang perlu kukatakan lagi.. mungkinkah ia berhasil lolos dari tangaku?”

Kepada si gadis cantik pengangon kambing segera ujarnya. "Bagaimanapun juga sekarang kita harus pergi mencari diri

Boe Beng Tok su, tapi bilamana kita tidak menghancurkan dahulu perahu yang ia tumpangi maka mungkin sekali menggunakan keadaan gelap nanti malam ia bisa ngeloyor pergi dari sini, ayo jalan! setelah menemukan perahunya, kita tak perlu takut ia berhasil meloloskan diri lagi"

Si gadis cantik pengangon kambing mengangguk.

Bila ditinjau dari atas bukut dapat dilihat sekeliling pantai pulau itu banyak terdapat tempat tempat yang digunakan untuk persembunyian. Kembali Liem Tou berkata.

"Kau tunggulah aku di atas puncak ini, paling banyak setengah jam, aku akan kelilingi seluruh pantai pulau Li Hoa To ini, setelah kuhancurkan perahu yang ditumpangi Boe Beng Tok Su kita baru cari tempat persembunyiannya."

Setelah memperoleh ijin dari si gadis cantik pengangon kambing, Liem Tou segera lari turun gunung dan melakukan pemeriksaan di sepanjang pantai pulau kecil itu, akhirnya di ujung sebelah barat laut pulau tersebut sang pemuda berhasil temukan perahu yang digunakan Boe beng Tok Su. perahu tersebut kosong tak berpenghuni.

Dari pinggir pantai Liem Tou segera mengirim satu pukulan gencar menghantam perahu kecil itu, dengan kekuatan daya pukulan pemuda itu, kontak perahu tadi hancur dan tenggelam tersapu ombak.

Setelah berhasil menenggelamkan perahu tersebut, ia berpaling sembari bersuit panjang memberi tanda buat si gadis cantik pengangon kambing sedang ia sendiri berkelebat menuju ke atas puncak.

Siapa nyana di atas puncak kosong tak tampak bayangan gadis itu, hatinya menjadi kaget.

"Wan Moay, kau berada di mana?” Teriaknya dari atas puncak

Suaranya halus tapi memanjang sehingga seluruh pulau Lie Hoa To dapat menangkap suaranya itu, setelah lama ditunggu akhirnya dari arah sebelah barat terdengar suara sebutan dari si gadis cantik pengangon kambing serta bentakan Ciau Thian Kie.

Tak usah diragukan lagi tentu mereka berhasil menemukan diri Boe Beng Tok su dan kini mungkin telah bergebrak dengan sengitnya.

Buru buru ia salurkan hawa sinkang dengan ilmu meringankan tubuh lari turun ke bawah puncak.

Seperminum teh kemudian dari tempat kejauhan Lien Tou dapat menangkap suara hembusan angin pukulan serta suara Boa Beng Tok su sedang berkata.

“Ciau Thian Kie, aku lihat lebih baik kita jangan bergebrak kembali, kalau kau samapai berhasil membinasakan diriku. maka hal ini berarti Cioe Ling Cu selama hidup tidak akan berhasil kau temukan kembali".

"Sun Ci Si ! Kau dengan si bangsat tua Ciat Ci Tauwto boleh dikata berasal dari satu cetakan, banyak akal dan keji”. Teriak Ciau Thian Kie sangat gusar! 'Hmm jikalau ini hari kulepaskan dirimu. dikemnudian hari kau tentu akan mencelakai Cioe jie sehingga mati tanpa mendapatkan tempat kubur.”

'Pada malam itu aku pernah berkata kepadamu. aku berbuat demikian kesemuanya adalah bermaksud baik. Jikalau Cioe Ling Cu ikut diriku maka sepuluh tahun kemudian aku tanggung dia tak bakal menjumpai tandingan di kolong langit. Di samping itu iapun bisa balaskan dendam sakit hati kematian ayahnya.”

'Boe Beng Tok su ! kau bilang siapakah si pembunuh ayah Cioe Ling Cu? . .' Bentak si gadis cantik pengangon kambing gusar.

'Sudah tentu Liem Tou si bangsat cilik serta itu si gadis cantik pengangon kambing, apa yang perlu kau tanyakan lagi?” “Haaa .haaa . Sun Ci Si, tindakanmu ini hanya merupakan suatu permainan lagu lama dari Thiat Ci Tauw to, mungkin kau bisa mengelabui orang lain tapi jangan harap bisa mengelabui diriku" teriak Ciau Thian Kie sambil tertawa tergelak. 'Sun Ci Si, cepat katakan kau sembunyikan Cioe Ling Cu dimana? aku mau mencari kembali dirinya guna balaskan dendam sakii hati terbunuhnya Ke Hong. karena musuh besarnya bukan lain adalah kau sendiri"

“Eeeiii. Ciau Thian Kie, kau jangan bicara begitu, aku dengan Ke Heng tiada ikatan dendam maupun sakit hati apalagi putranya sudah angkat diriku sebagai guru, apa gunanya aku mencelakai dirinya??”

Ketika itu Liem Tou telah bersembunyi di belakang sebuah pohon besar mencuri dengar pembicaraan mereka, di samping itu ia pun menonton jalannya pertarungan antara Boe Beng Tok Su melawan Ciau Thian Kie.

Pada dasarnya baik Sun Ci Sie maupun si telapak besi berwajah riang sama sama telah terluka parah, sekalipun di dalam pertarungan ini mereka sama sama menggunakan tenaga penuh, kedahsyatannya tidak sehebat tadi lagi, angin pukulannya tidak santer.

Selama ini si gadis cantik pengangon kambing serta Giok Jie berdiri disisi kalangan hanya menonton belaka, mereka tidak ikut campur dalam pertarungan tesebut.

Agaknya Ciau Thian Kie sengaja mengulur waktu untuk menanti kedatangan Liem Tou ke sana, sudah tentu saja maksudnya ini dapat diketahu pula oleh Boe Beng Tok Su.

Beberapa kali ia ingin melarikan diri dari sana, tapi takut kalau si gadis cantik pengangon kambing yang ada di sisi kalangan setiap saat turun tangan mencegah, saking ragu ragunya terakir ia harus melepaskan kesempatan bagus.

Setelah Liem Tou merasa waktunya telah tiba, iapun meloncat keluar dari tempat persembunyiannya. Melihat munculnya sang pemuda, Boe Beng Tok Su menjerit kaget, dengan kalap ia mengirim dua babatan dahsyat ke depan memaksa Ciau Thian Kie mundur dua langkah ke belakang.

“Sun Ci Si. kau jangan pikir untuk pergi lagi" seru Liem Tou sembari tersenyum. “Kenapa kita tidak berjumpa dalam keadaan bersahabat saja seperti waktu perjumpaan kita di atas sampan tempo dulu??”

Setelah melihat munculnya Liem Tou di sana, Boe Beng Tok Su pun mengerti tidak mungkin baginya lagi berhasil melarikan diri, dalam keadaan seperti ini, karenanya ia berdiri tak berkutik.

"Liem Tou, apa yang kau kehendaki?? ucapanmu masih mengus di telingaku, apakah sekarang kau ada maksud berubah pikiran??

"Sun Ci Sie aku bisa saja mengampuni selembar jiwamu. tapi aku takut ini hari ada orang lain yang tak bakal suka melepaskan dirimu" jengek Liem Tou kembali sambil tertawa.

Mendengar di antara ucapan pemuda she Liem itu mengandung maksud hendak membinasakan dirinya, dengan gusar Boe Beng Tok Su membentak keras.

“Liem Tou! kau bangsat cilik, ucapanmu lebih bau daripada kentut anjing.”

Liem Tou hanya tertawa saja mendengar makian tersebut, sejak ia memperdalam ilmu semedi, napsu angkara murkanya sudah banyak berkurang. Terhadap ucapan macam begitu sudah tidak banyak mmpengaruhi dirinya lagi.

"Sun Ci Si!" ujarnya hambar. "Ada baiknya kau jangan memaki orang lain, terus terang kuberitahukan kepadamu. Ke Heng telah menitipkan putranya Cioe Ling Cu kepadaku.

Sekarang aku hendak tuntut dirimu,bocah itu telah kau sembunyikan dimana??" 'Heee.. heee. . heee, . kau jangan harap bisa menemukan dirinya, apalagi tidak mungkin Thian Pian Siauwcu bisa titipkan anaknya kepadamu! !'. seru Boe Bang Tok su sambil tertawa dlngin tiada hentinya.

Melihat kelakuan lawannya, timbul rasa gusar di dalam diri Liem Tou. Air mukanya membesi dan menunjukkan sikap wibawa yang membuat orang lain bergidik, katanya serius: 'Sun Ci Si! sewaktu kau berada di puncak It ci Hong aku dengar kau berteriak: "Liem Tou, kedatanganmu terlambat satu tindak!", ini membuktikan apabila Thian Pian Siawcu menemui ajalnya ditanganmu, kenapa tidak kau akui saja seluruh perbuatan terkutukmu di hadapan Ciao Loo Cianpwee saat ini? Aku lihat ada baiknya cepat dikit kau beritahu dimana kau sembunyikan Cioe Ling Cu berada, kalau tidak...hmm!

Selamanya Liem Tou tidak takut orang lain tak suka bicara terus terang"

Kembali Boo Beng Tok su tertawa dingin tiada hentinya. “Aku lihat belum tentu!"

Mendadak tampak bayangan putih berkelebat lewat, sesosok tubuh meloncat tiga tombak ke angkasa.

Liem Tou tegap berdiri tak berkutik di tempat semula, hanya sepasang matanya dengan cepat mengikuti semua gerak geriknya.

Mendadak dari tengah udara Sun Ci Si merogoh sakunya, melihat hal tersebut hati Liem Tou rada tergerak.

"Wan Moay, Giok Jie cepat mundur ke belakang" Teriaknya keras.

Pada saat itulah Boe Beng Tok Su telah membentak keras. "Liem Tou! Kau terlalu mendesak diriku, sekarang

rasakanlah kelihayanku..." Sepasang tangan bersama sama diayunkan ke depan, mendadak dari telapak tangannya menyambaar datang dua gulung angin pukulan yang santar.

Di balik kesantaran angin pukulan tersebut dengan ketajaman mata Liem Tou mendadak ia temukan adanya segulung bubuk warna merah ikut menyambar datang.

Liem Tou makin terperanjat lagi, diam diam pikirnya: "Jika akupun mengirim sebuah pukulan untuk memukul

buyar bubuk merah itu, si gadis cantik pengangon kambng dan Giok jie serta Thian kie beberapa orang pasti akan jadi korban. jikalau aku tidak mengirim pukulan maka dirikulah yang akan terkurung di bawah ancaman serangan lawan. Terhadap angin pukulannya sich tak perlu takuti. justru bubuk merah inilah yang berbahaya, benda itu pasti semacam bubuk beracun yang sangat ganas".

Setelah ingatan tersebut berkelebat lewat dalam benaknya, mengetahui urusan amat bahaya buru buru teriaknya:

"Wan moay! Giok Jie! cepat kirim angin pukulan untuk menahan datangnya bubuk bubuk beracun itu mengenai badan",

Bersamaan itu pula sepasang telapaknya bersama sama didorong ke depan melancarkan sebuah pukulan bertenaga singkang lunak yang maha hebat, tanpa suara tanpa gerakan tahu tahu bagaikan selapis tembok baja yang sangat kuat menahan datangnya serangan angin pukulan Boe Beng Tok Su.

Si gadis cantik pengangon kambing yang ada di samping buru buru menarik Giok jie berdiri berdempet dengan dirinya, lalu bersama sama mengirim angin pukulan dengan mengikuti gerakan dari Toa loo Cin Keng.

Setelah melihat si gadis cantik pengangon kambing selamat, Liem Tou siap mengirim sebuah pukulan dahsyat lagi untuk merubuhkan diri Sun Ci Si, tapi ketika itulah mendadak terdengar Ciau Thian Kie berkaok keras.

"Sun Ci Si, kau berani turun tangan keji terbadap diriku!” Sepasang tangannya dengan kalap mencakar wajah sendiri disusul badannya bergelindingan di atas tanah bagaikan orang berpenyakit ayan.

Melihat keadaan seperti ini diam diam Liem Tou menghembuskan napas dingin, telapak tangannya segera dibabat keluar sehebat hebatnya.

Boe Beng Tok su menjerit tertahan, badannya kena tersapu mental sejauh lima tombak dan jatuh terbanting di atas tanah keras keras.

Liem Tou sama sekali tidak berhenti sampai disitu saja, kembali bentaknya keras:

'Wan moay. Giok jie cepat mundur seratus tombak ke belakang!”

Si gadis cantik pengangon kambing serta Giok jie sama sama menurut dan meloncat mundur beberapa tombak ke belakang.

Menanti kedua orang gadis tersebut telah mengundurkan diri, Liem Tou muli menggerakkan sepasang telapaknya mengirim pukulan maut yang menggidikkan hati, seketika itu juga lima puluh tombak di sekeliling kalangan dipenuhi dengan desiran angin pukulannya.

BEBERAPA saat kemudian bubuk beracun telah tersapu bersih dari tempat itu.

Tapi pada saat itu pula bayangan tubuh Boe Beng Tok su telah lenyap tak berbekas entah orang itu telah melarikan diri kemana? Sekalipun begitu Liem Tou tahu Boe Beng Tok su telah menderita luka, ia tak bakal berhasil melarikan diri terlalu jauh.

Tanpa berpikir panjang lagi badannya segera menyusup masuk kedalam sebuah hutan Lie Hoa Liem disisi kalangan. Ketika itulah ia temukan sesosok bayangan putih dengan gerakan yang cepat sedang menerobos masuk kedalam hutan.

"Sun Ci Si.kau hendak melarikan diri kemana?” Bentak Liem Tou keras keras.

Bagaikan sebatang anak panah ia meluncur masuk kedalam hutan Lie Hoa Liem dimana Boe Beng Tok su sedang melarikan diri terbirit birit.

Liem Tou tertawa dingin tiada hentinya. diam diam ia kumpulkan tenaga sinkang nya keatas kedua jari tangan serta telunjuknya, lalu dengan gusar bentaknya. “Sun Ci Si! berhenti."

Bersamaan dengan suara bentakan tersebut jari taagannya berkelebat lewat mengirim sebuah sentilan tajam kedepan, segulung angin pukulan yang maha dahsyat laksana angin taupan menghajar punggung Boe Beng Tok su.

Bagaimanapun juga Boe Beng Tok su adalah seorang jago Bu lim yang memiliki pengalaman sangat luas mendengar adanya angin serangan mengancam punggungnya dengan sebat ia berkelit kesamping.

Liem Tou tidak menjadi bingung. hawa murninya disalurkan lebih menghebat sekejap mata ia melancarkan tujuh, delapan buah totokan sekaligus.

Setiap desiran jari tangan meluncur tanpa menimbulkan suara yang keras tapi bagi Boe Beng Tok su cukup mengejutkan batinya ia tahu kali ini dirinya akan musnah.

Sembari putar badan tanpa menghindar atau berkelit bentaknya kalap” “Liem Tou, seluruh kolong langit sejak ini menjadi milikmu, kenapa kau begitu mendesak aku orang?”

Sembari membentak ia kumpulkan seluruh kekuatan yang dimilikinya mengirim segulung angin pukulan yang maha dahsyat.

Tetapi bagaimana pun juga Boe Beng Tok su yang masih menderita luka tidak memadahi untuk melawan serangan jari tangan Liem Tou.

Terdengar ia mendengus berat tahu-tahu badannya sudah tertotok kaku dan roboh keatas tanah. kendati begitu dengan gusar ia melototi diri Liem Tou tajam2.

Saat itulah lambat lambat Liem Tou berjalan menghampiri diri Boe Beng Tok su, meroooh sakunya dan mengambil keluar sebungkus bubuk warna merah,

'Heee.. . hee Sun Ci Si ! sekarang akan kulihat kau dapat berbuat jahat lagi tidak? ayoh terangkan dimana kau sembunyikan diri Cioe Ling Cu??*

Sekalipun seluruh tubuh Sun Ci tak dapat berkutik, dengan paksakan diri ia menggeleng juga.

Liem Tou tertawa dingin mendadak ia cengkeram lehernya lalu dengan menggunakan ilmu melepaskan otot dan tulang ditekannya keras-keras.

Seketika itu juga Boe Beng Tok Su merasakan seluruh badannya sakit hingga merasuk ke tulang sumsum.

“Liem Tou!” makinya kalang kabut. "Aku benci kau sehingga pingin kutelan dagingku mentah- mentah, jangan harap kau bisa mendapatkan jawaban dari mulutku,'

Liem Tou menambahi lagi tenagaaya dengan dua bagian, kontan Boe Beng Tok-su merasa kesakitan. keringat dingin sebesar kacang kedelai bagaikan curahan hujan mengucur keluar tiada hentinya, bedan pun gemetar keras. Tetapi sambil gertak gigi ia tetap mempertahankan diri. Melihat keketusan serta kekerasan kepala orang ini, Liem

Tou tertawa dingin tiada hentinya.

“Oooouw, ..jadi kau ingin mencari siksaan buat dirimu?? baik! Satu detik kau tidak mau bicara satu detik pula tak akan kulepaskan cengkeramanku!'

Kelima jarinya yang mencengkeram tengkuk Sun Ci Si makin diperkencang lagi bahkan makin lama makin kuat dan makin kencang.

Lama kelamaan Boe Beng Tok-su tak dapat menahan rasa sakitnya lagi, ia mulai menjerit-jerit bagaikan babi disembelih, air mukanya pucat pasi melebihi mayat, ia tidak kuat menahan diri lagi.

"Ayoh cepat bicara, asal kau suka bicara akan kulepaskan dirimu""

Jeritan Boe Beng Tok-su yang keras ini segera memancing datangnya sigadis cantik pengangon kambing serta Giok-jie. terdengar gadis itu berbisik kepada diri Liem-Tou dengan suara yang lirih:

“Ciau Thian Kie sudah mati, sepasang matanya berubah jadi dua buah lubang darah”

Bila tidak mendengar berita ini masih tidak mengapa, setelah mendengar berita kematian si orang tua itu Liem Tou jadi gusar, cengkeramannya makin diperkencang.

Kali ini Boe Beng Tok-su benar-benar tidak kuat menahan diri, teriaknya keras;

“Cepat lepas tangan. aku bicara, aku bicara!" Liem Tou segera lepas tangan. “Kau bebaskan dulu jalan darahku yang tertotok, aku hantar kalian kesana!" kata Boe Beng Tok-su sambil menghembuskan napas panjang.

Liem Tou memandang sekejap kearahnya kemudian tertawa dingin.

"Heee.. .heee.,,. aku takut kau bisa melarikan diri dari hadapanku "

Sekali tabok punggungnya sepasang lutut Boe Beng Tok-su melemas dan jatuh berlutut diatas tanah,

Tapi sebentar kemudian ia sudah meloncat bangun dan berjalan menuju ketepi pantai.

"Eeei...kau hendak kemana???'' tegur Liem Tou cepat, "Menumpang perahu kembali ke daratan”

'Haaa... haaaa perahumu sudah hancur, lebih baik ikut bersama-sama kami saja!"

Mendengar perkataan itu Boe Beng Tok-su tertawa dingin tiada hentinya.

“Perahumu pun sudah kuhancurksn sejak tadi”

Kali ini Liem Tou yang tertegun. tapi sebentar kemudian ia sudah teringat akan perahu yang ditumpangi Ciau Kie, segera pemuda ini tertawa dingin.

"Kalau begitu kita gunakan perahu dari Ciau Thian Kie saja”

Untuk ketiga kalinya Boe Beng Tok su tertegun, akhirnya ia menunduk dan bungkam dalam seribu bahasa. Liem Tou memimpin beberapa orang itu menuju keperahu Ciau Thian Kie, dengan si gadis cantik pengangon kambing yang pegang kemudi Liem Ton serta Boe Beng Tok su duduk di ujung perahu.

Waktu itu sang surya telah condong ke-barat, cahaya keemasan memancarkan sinarnya keempat penjuru membuat permukaan air laut berwarna kemerah merahan, pemandangan waktu itu amat indah sekali.

Liem Tou serta Boe beng Tok su, si jagoan dari kalangan putih serta dari kalangan hitam itu duduk diujung perahu dengan pikiran yang berbeda beda.

Dengan waiah penuh senyuman mendadak Liem Tou berbisik lirih:

“Cahaya sang surya waktu sore amat indah sekali, hanya sayang senja telah menjelang datang"

Beberapa ucapan ini sekalipun tiada bermaksud apa-apa tetapi dalam pendengaran Boe Beng Tok-su bagaikan sebilah pisau yang dihunjamkan kedalam perutnya, kontan wajahnya berubah hebat, dengan sinar mata mendongkol ia melirik sekejap wajah Liem Tou.

Tapi pemuda kita tidak ambil perduli“Sun Ci Si!” ujarnya kembaii "Aku ingin bertanya satu hal kepadamu, Ah-ie mu begitu menaruh perhatian kepadamu bahkan berharap kau bisa lepaskan kejahatan kemball ke jalan yang benar. Kenapa kau selalu tidak menggubris dirinva??" (Ah-ie adalah panggilan untuk adik ibu.)

Boe beng Tok su mendengus dingin. "Liem Tou! Aku tidak ada perkataan yang bisa diutarakan kepadamu kau jangan ngaco belo lagi”

“Tidak! Aku tetap merasa apabila kau dapat melepaskan jalan yang sesat, kembaii ke jalan yang benar tanpa kehilangaa kejantananmu serta juga kegagahan seorang jago Bu lim sejati” kata Liem Tou seraya menggeleng. 'Karena itulah beberapa kali aku memberi kesempatan bagimu untuk memilih jalan yang benar, Siapa nyana kau tidak mau tahu maksud baikku, bukannya berbuat kebaikan sebaliknya malah berbuat kejahatan. „aaaai ! kali ini kau tak dapat salahkan diriku lagi, karena Ah-ie mu sendiripun tak suka menggubris dirimu lagi " “Hmm! siapa yang minta ia mengurusi diriku??? aku tidak punya Ah ie macam dia " tapi secara mendadak ia mengucurkan air mata.

Mengambil kesempatan itulah Liem Tou segera membentak keras :

“Sun Ci Si, asal kau suka kembali ke jalan yang benar aku Liem Tou pasti akan memberikan satu jalan hidup buat dirimu”

Siapa nyana Boe Beng Tok su tetap menggeleng, suara tangisannya makin terisak.

'Lebih baik kalian bunuh saja diriku kapan pun juga aku tak bisa kembali kejalan yang benar, aku benci diriku sendiri! aku benci diri kalian pula !”

Liem Tou jadi melengak, pikirnya.

“Bila kutinjau dari kucuran air matanya, jelas ia muiai menyesali semua perbuatannya, tapi kenapa ia perlihatkan sikap begitu lagi ?? jikalau demikian adanya ia pasti punya kesulitan yang tak dapat diutarakan keluar”

Ia termenung, otaknya mulai berputar memikirkan persoalan ini. Akhirnya Liem Tou berhasil juga mendapatkan suatu gambaran ujarnya kembali:

“Sun Ci Si ! kau dapat memiliki sikap tidak takut terhadap suatu kematian, aku Liem Tou merasa sangat kagum ! tapi aku pikir dalam hati kecilmu pasti ada suatu rahasia suatu kesulitan yang susah diutarakan kepada orang lain, kenapa tidak kau beritahukan kepadaku ?? aku Liem Tou bukan seorang yang berhati keji, mungkin sekali kesulitanmu bisa kubantu”

Boe Beng Tok-su tidak menggubris sekali pun Liem Tou mengulangi pertanyaan itu berulang kalli ia tetap membungkam. Tapi lama kelamaan Boe beng Tok-su dibikin terharu juga dengan suara yang hampir tidak terdengar katanya :

"Bagaimanapun juga aku tidak ingin hidup lagi, akupun tak takut beritahukan urusan ini kepadamu, tahukah kau seorang manusia yang normal mempunyai berapa macam napsu yang paling dibutuhkan?”

Liem Tou melengak, ia tidak mengerti apa maksud Sun Ci Si mengungkap persoalan ini, tapi jawabnya juga :

"Menurut apa yang kuketahui, manusia mempunyai dua macam napsu dasar yang harus dipenuhi. Pertama adalah napsu untuk tetap hidup dan kedua adalah napsu sex, napsu mengadakan hubungan senggama dengan lawan jenisnya."

Boe beng Tok su mengangguk, tetapi ia tak bicara lagi

Melihat orang itu membungkam, Liem Tou jadi tercengang. “Apa maksudnya bicara demikian? ' diam diam pikir sang

pemuda dalam hati mendadak hatinya bergerak.

“Apakah kehidipanmu mendapat tekanan dari sesuatu ? benda atau orang?? Aku rasa dahulu tak mungkin demikian”

Boe beng Tok su tetap menggeleng dan tidak menjawab Tapi perlahan lahan Liem Tou dapat meraba kejadian yang

sebenarnya.

“Ia bukan tertekan hidupnya, hal ini tentu di sebabkan alat kelaminnya ada suatu masalah yang tak dapat di berltahukan kepada orang lain” pikirnya dalam hati.

Karena berpikir sampai kesitu, iapun teringat kembaii akan sikap Boe Beng Toksu yang sama sekali tidak mendekati perempuan walaupun semua tindakannya adalah pekerjaan busuk.

Hatinya langsung terbuka, segera tanyanya lirih :

“Sun heng! Apakah anumu telah dikebiri oleh seseorang??" "Liem Tou, kau jangan bertanya lagi, mau bunuh ayoh cepat bunuh!' bentak Boe beng Tok su keras keras dari sepasang matanya memancarkan cahaya tajam.

Detik ini juga Liem Tou dapat memabami persoalan tersebut, ia merasa kejanggalan ini tak mungkin ditolong siapapun iapun tahu justru karena persoalan inilah membuat pikirannya mempeoleh pukulan yang berat sehingga tanpa terasa ia berbuat jahat. Timbulah rasa simpatik di hati liem Tou.

Perlahan lahan Boe Beng Tok su bangun berdiri, sinar matanya memandang ketengah samudra dengan terpesona kemudian duduk kembali.

"Liem Tou, terus terang kuberi tahu kepadamu, Cioe Ling Cu berada disebuah hutan kurang lebih dua puluh li disebelah dusun kaum nelayan, kau pergi carilah sendiri ! "

Mendengar ucapan itu Liem Tou merasa berterima kasih. "Asalkan Sun heng suka berubah pikiran hal ini merupakan

rejeki bagi kalangan Bu-lim kita"

Boe Beng Tok su tersenyum, mendadak air mukanya berubah hebat, telapak tangannya laksana kilat menyapu keluar.

"Liem Tou, kolong langjt ini menjadi milikmu" bentaknya keras.

Dalam keadaan tidak bersiap sedia pundak Liem Tou terpukul telak badannya dengan sempoyongan mundur kebelakang hampir hampir saja terjatuh kedalam lautan.

"Eeeei ,, buat apa kau berbuat demikian?" teriak Liem Tou kaget.

Dengan cepat iapun ikut meloncat keda1am air lalu menyelam cepat cepat untuk menolong diri Boe Beng Tok su. Segulung ombak besar menghajar datang membuat Liem Tou terpelanting beberapa tombak jauhnya dari tempat semula, menanti ia menyelam kembali kedalam air jejak Boe Beng Tok su lenyap tak berbekas,

Liem Tou segera muncul kembali keatas permukaan air, segulung ombak datang menghajar badannya.,

Sekuat tenaga ia berusaha menenangkan hatinya, melihat jarak dengan perahu sudah terpaut sejauh lima puluh tombak, ia tidak berani berbuat gegabah, dengan cepat pemuda ini berenang kembaii ke perahu.

“Wan moay! Berhenti, berhenti, Sun Ci Si sudah mati tenggelam dalam laut”

Si gadis cantik pengangon kambing mengirim dua buah pukulan menghentikan gerakan perahu, Liem Tou segera meloncat naik.

”Bagaimana?? ia berhasil melarikan diri?” tanya sang gadis cemas.

Liem Tou menggeleng tanpa banyak bicara lagi ia mengirim sebuah pukulan mengundurkan perahunya ke belakang sehingga sang perahu berturut-turut mundur sejauh puluhan tombak lebih.

Maksud Liem Tou ia ingin mengitari samudra itu sekalian menolong Boe Beng Tok su, tapi sejak Sun Ci Si meloncat kedalam laut jejaknya lenyap tak berbekas sekali pun dapat dicari beberapa waktu tidak berhasil juga menemukan dirinya,

Akhirnya Liem Tou menghela napas panjang, ia mengerti Boe Beng Tok su tentu sudah tertelan oleh ombak samudra yang sangat deras ini, ujarnya.

“Aaaaai    tidak kusangka sebetulnya dia seorang cacad.

tidak aneh kalau sifatnya demikian kasar, berangasan dan keji” “Bukankah baik baik saja kenapa kau bilang cacad ?”

“Ia memang cacad, hanya dibagian manakah ia cacad aku merasa kurang leluasa untuk beritahu kepadamu " kata Liem Tou sambil melirik sekejap kearahnya. Liem Tou mengatakan kurang leluasa, pada hal kenyataan telah beritahukan hal ini kepadanya, kontan merah padam selembar wajah gadis itu sehingga buru buru melengos.

Liem Tou tersenyum sepasang telapaknya bergerak berulang kali, tidak selang beberapa saat mereka telah tiba kembali di tepian.

Ucapan Boe Beng Tok su sedikitpun tak salah, disebuah hutan kurang lebih dua puluh li disebelah utara dusun nelayan mereka berhasil menemukan Cioe Ling Cu tapi bocah itu telah diikat diatas pohon selama sehari semalam.

Terpaksa Liem Tou menceritakan kejadian naas yang dialami yayanya Ciau Ihian Kie serta ayahnya Thian Pian Siauwcu, walaupun bocah itu menangis sedih iapun tak bisa berbuat apa apa.

Sejak itu hari Cioe Ling Cu mengikuti diri Liem Tou, karena melihat bakatnya yang bagus pemuda kita jadi kegirangan karena ia bisa menerima murid sebaik ini.

Malam itu Liem Tou dengan membawa si gadis cantik pengangon kambing, Giok-jie serta Cioe Ling Cu beristirahat di sebuah rumah makan dalam sebuah kota kecil tapi yang aneh kali ini Liem Tou bersikap istimewa memesan dua buah kamar,

Tindakan dari sang pemuda ini tentu saja mendatangkan rasa heran dihati si gadis cantik pengangon kambing.

"Eeeei biasanya kita hanya menggunakan sebuah kamar saja. kenapa ini hari kau minta dua kamar?”

Liem Tou hanya tertawa tidak menyahut kembali ia suruh sang pelayan menyediakan sayur serta arak. Setelah itu barulah ujarnya; “Wan moay, apakah ini hari kau merasa tidak senang?”

"Hm! ini hari ada tiga orang yang mati, kenapa aku harus gembira?"

"Kenapa tidak gembira? pertama, dendammu sudah terbalaskan, kedua. permusuhanku dengan para jago Bu lim pun telah beres dan sejak ini aku dapat hidup tenang. ketiga dua orang iblis pentolan yang sering mengacau dunia kangouw sudah lenyap, ke empat malam ini kita boleh menikah secara resmi, kenapa kau tidak gembira ?"

Bicara tentang hal yang terakbir Si gadis cantik pengangon kambing jadi malu dengan gemas ia menowel pipi Lien Tou, "Hmm aku tidak mau menggubris dirimu,'

Liem Tou tidak mengurusi perbuatan gadis ini ia meneguk secawan arak lalu ujarnya lagi:

"Wan moay, aku tidak boleh tidak harus berbuat demikian”

Ia merendek sejenak, lalu dengan suara yang lirih bisiknya disisi telinga gadis itu:

"Karena kau sudah menjadi hujien-ku !”

Saking malunya si gadis cantik pengangon kambing tak berani mendongakan kepalanya, dengan suara lirih ia hanya berkata:

'Lain kali enci Ie bisa menyalahkan diriku.”

Liem Tou mendongak dan tertawa terbahak-bahak ia segera memerintahkan Giok-jie serta Cioe Ling Cu tidur dikamar yang lain.

Perjamuan telah selesai. Lampu dimatikan.

Kehidupan manusia pun dimulai di atas ranjang. XXXX Diatas jalan raya Cian Tiam tampak seekor kerbau dengan di tunggangi seorang pemuda berusia tujuh, delapan belas tahunan perlahan lahan berjalan melakukan perjalanan.

Wajah pemuda perlente itu penuh dihiasi senyuman, sembari menyanyi tiap kali ia menyapa orang orang yang sedang melakukan perjalanan disepanjang jalan raya. Ia begitu bangga dan gembira menunjukkan ada sesuatu hal yang telah terpenuhi olehnya

Orang itu bukan lain adalah Liem Tou, baru saja ia mengambil kerbaunya dipantai Sat Kiem Than dilautan Auh Hay, Auh Hay Ong dengan kumpulkan semua anggotanya menghantar perjalanan pemuda ini dengan penuh kemeriahan hal ini membuat pemuda she Liem jadi gembira dan bangga.

Kini ia sedang melakukan perjalanan ke rumah kegunung Go bie setelah melakukan perjalanan sehari semalam melewati daerah keresidensn Tsuan Tiam.

Setelah berlari keras, kini Liem Tou menjalankan kerbaunya lambat lambat disamping ia hendak beristirabat sebentar.

'Engkoh Cing Houw-ko! "ujar Liem Tou sambil tertawa " Selama beberapa tahun ini kau telah banyak menbantu diriku. entah bagaimana seharusnya kuucapkan terima kasih padamu?? beruntung sejak kini kita tak akan berpisah kembali, kita akan selalu bersama sama!”

Kerbau itu mendengus psnjang tanda mengerti.

Mendadak dalam hati Liem Tou timbul suatu pikiran aneh, sembari tertawa keras ujarnya.

“Engkoh kerbau! orang mengatakan kuda larinya paling cepat. sekarang aku hendak pergi ke gunung Go bie, dapatkah kau membawa aku kesana dengan cepat?"

Sekali lagi kerbau itu mendengus berat. 'Bagus sekali engkoh kerbau. ayoh cepat kita berangkat kegurung Go bie!” seraya berteriak ia menjepit kakinya keatas perut kerbau itu.

Kerbau milik Liem Tou ini sangat pintar mendengar perintah tersebut ia mulai berlari cepat, larinya kerbau itu boleh dikata laksana petir yang menyambar di tengah udara.

Dengan mata serta telinga biasa, orang hanya mendengar suara derapan kaki yang santar tapi dalam sekejap mata hanya terasa angin tajam menyambar lewat kemudian suara derapan kaki tersebut lenyap tak berbekas.

Selama perjalanan kerbau ini entah sudah mengejutkan berapa banyak orang, bahkan ada kalanva ketika Liem Tou sedang gembira sewaktu kerbaunya berkelebat lewat disisi orang orang itu pemuda Liem Tou sekalian menoleh wajah orang orang itu.

Tidak aneh kalau orang tersebut ketakutan setengah mati sehingga berteriak kalang kabut.

Ada siluman! Ada siluman!' Demikianlah, didalam beberapa hari saja mereka telah tiba dikaki gunung Go bie.

Demi menghormati gurunya jauh-jauh Liem telah turun dari binatang tunggangannya dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.

Tidak selang beberapa saat telah tiba di tebing Leng Ay pintu gua tampak tertutup rapat-rapat, suasana sunyi senyap tak kedengaran suara sedikitpun.

Dengan sangat hormat Liem Tou berlutut di depan pintu, setelah memberi hormat katanya lirih:

“Tecu Lien Tou datang menghunjuk hormat kepada sucouw, suhu dan susiok sekalian.”

Lama sekali ia menunggu di depan pintu, tapi di balik ruangan sama sekali tak terdengar suara sahutan.

Akhirnya pemuda ini bangun berdiri siap berlalu dari sana. Mendadak, suara ledakan keras bergema memenuhi angkasa, pintu batu tersebut tahu-tahu hancur berantakan jadi berkeping-keping.

Liem Tou terperanjat, dengan cepat ia berpaling. Tampak olehnya didalam ruang tersebut duduk empat orang dalam kedudukan setengah busur.

Orang yang duduk ditengah adalah Lok Yong Sucouw, salah seorang Auw Hay Siang Hiap, disebelah kanan adalah suhunya Thiat Sie poa, sedang disebelah kiri si siucay buntung serta si pengemis pemabok.

Liem Tou jadi keheranan, gumamnya.

"Pintu batu baik-baik menutupi ruangan tersebut, kenapa secara mendadak bisa hancur sendiri?? jelas hal ini dikarenaka suatu pukulan yang maha dahsyat "

Bila ditinjau dari besarnya pintu tersebut, paling sedikit beratnya ada ribuan kati, mana mungkin bisa dihancurkan dalam satu kali hantaman saja?? Kecuali seorang telah berhasil melatih tenaga sinkangnya mencapai puncak kesempurnaan kalau tidak siapa yang bisa berbuat demikian?

Lalu siapakah yang diantara keempat orang itu yang berbuat??

Ia tak berani berlaku ayal lagi, dengan cepat badannya menjatuhkan diri berlutut walaupun ia tahu saat ini mereka berempat sedang bersemedi dan tak bakal tahu akan kedatangannya, tapi sebagai adat istiadat ia tak mau melanggarnya.

Ketika itulah mendadak sepasang mata Thiat Sie poa terpentang, melibat sorotan cahaya matanya Liem tou merasa terperanjat karena cahaya itu tajamnya luar biasa dan belum pernah ia temui selama ini diam diam ia merasa girang buat kesuksesan gurunya. Thiet Sie poa pun memandang sekejap ke arahnya kemudian mengangguk setelah melirik sekejap kearah sisiucay buntung serta sipengemis pemabok kembali ia pejamkan mata.

Liem Tou tidak mengerti apa maksudnya si Thiat Siepoa berbuat demikian, iapun berpaling memandang sekejap wajah si siucay buntung serta si pengemis pemabok. Bila tidak melihat masih tidak mengapa justru kerena itulah keringat dingin mengucur keluar membasahi seluruh tubuhnya.

Terlihat olehnya air muka siucay buntung maupun si pengemis pemabok telah berubah menguning dan hijau membiru, seluruh tubuh mereka gemetar keras sedang keringat mengucur membasahi seluruh jidatnya. Jelas mereka telah salah jalan menuju ke neraka.

Keadaan semacam ini sangat membahayakan jiwa seseorang sekalipun tidak sampai binasa paling sedikit akan membuat seseorang jadi cacad selama hidupnya.

Liem Tou segera mengerti maksud dari lirikan Thiat Sie poa kearahnya tadi.

Ia tak berani buang banyak waktu lagi. buru buru berjalan menghampiri sisiucay buntung serta si pengemis pemabok lalu duduk di belakang mereka, sepasang telapak bersama sama ditempelkan keatas punggung kedua orang itu.

Dengan mengerahkan tenaga menurut ajaran So Kong Sim hoat ia salurkan hawa murninya mengelilingi seluruh tubuh mereka berdua dan menembusi bagian urat yang membeku di badan mereka sewaktu berlatih tadi.

Kurang lebih sepertanak nasi kemudian si siucay buntung serta si pengemis pemabok sama sama batuk dan muntahkan riak kental. dengan demikian napas pun jadi lancar kembali.

Tapi Liem Tou tidak melepaskan mereka dengan demikian saja, bisiknya lirih : 'Susiok berdua harap pejamkan mata mengatur pemapasan menanti seluruh badan sudah merasa leluasa barulah bangun."

Kedua orang itu benar benar mengikuti ucapan pemuda tersebut, mereka pejamkan mata kembali untuk mengatur pernapasan pula.

Si siucay buntung serta pengemis pemabok bersama sama bangun berdiri. mereka mengerti barusan saja jiwa mereka ditolong Liem Tou.

Diam diam kedua orang itu merasa sedih tak disangka olehnya karena ingin mempelajari ilmu silat yang lebih tinggi hampir hampir saja jiwa sendiri ikut melaysng.

“Eeeei . . pengemis busuk bagaimama kita sekararang ?” tanya sisiucay buntung kemudian.

Si pengemis pemabok tertawa terbahak-bahak. “Bagaimana lagi? aku si pengemis bisa bermabok-mabokan

sepanjang hari sekali mabok semua kemurungan lenyap dengan sendirinya. justru kau si kutu bukulah yang harus menanggung sengsara !”

Mendengar ucapan itu si siucay tertawa tergelak :

“Justru didalam kitab terdapat emas segudang, kitab dapat membuat aku lupa makan lupa tidur. apa yang perlu kutakuti

?”

“Bagus, bagus , . , bagus kau membaca buku aku minum arak, kita sama sama kehilangan semangat seorang enghiong hoohan, ,ayo jalan, temani aku si pengemis minum arak dulu, selama beberapa bulan ini sepasaug kakiku sudah terlalu linu untuk duduk terus”

“Eeei apa yang perlu kau cemaskan, Bocah cilik itu sudah menolong selembar jiwa kita, bagaimanapun juga kita harus menantikan dirinya." Tapi baru saja ucapannya selesai sambil tersenyum Liem Tou telah berjalan keluar dari dalam gua.

"Susiok berdua! Kalian tak boleh pergi dengan begitu saja pada saat ini!" serunya cepat.

“Kenapa tidak boleh?? Apakah kau berani menanggung kelinuan sepasang kakiku?" teriak sipengemis pemabok sambil mendelik.

"Bukannya begitu.' kata Liem Tou sambil menggeleng, 'Pintu gua sudah hancur berantakan, kita harus berusaha untuk membetulkan. apakah kalian hendak membiarkan sucouw serta suhu yang ada didalam gua mandah tertiup angin?”

“Aaakh!! Aku tidak pernah berpikir sampai disini. Baik. kita cepat turun tangan” sambung si siucay buntung cepat.

Demikianlah mereka bsrtiga dengan bekerja sama mencari sebuah batu besar seberat ribuan kati untuk menutup kemtali gua tersebut.

Sewaktu Liem Tou menceritakan secara bagaimaoa suhunya Thiat Sie poa pukul hancur gua tadi, mereda berdua sama-sama mengagumi disamping mereka pun mulai memaki

:

'Dengan andalkan sebuah sie poa bututnya dimana pun ia tak pernah menderita kerugian, justru kita berdua yang jujur malah jadi kujur kurang ajar,.. kurang ajar !"

Liem Tou melihat urusan telah selesai, segera ujarnya kepada sisiucay buntung serta sipengemis pemabok;

“Daripada susiok bsrdua berjaga disini dengan percuma, jauh lebih baik ikut aku saja pergi keperkampungan Ih hee sancung di gunung Cing Sbia, disana sutit bisa baik menjamu susiok berdua dengan arak serta sayur bagus". Mendengar ada arak bagus, sipengemis pemabok nomor satu berteriak terlebih dahulu.

“Bagus sekali, kita segera berangkat" Liem Tou segera menggape kerbaunya, seraya menepuk pantat binatang itu katanya lagi.

“Engkoh kerbau, dapatkah kau mengangkut kami bertiga?". Kerbau itu segera goyang-goyangkan ekornya.

'Bagus sekali" Liem Tou kegirangan ' Silahkan susiok berdua naik didepan".

Si siucay buntung saling bertukar pandangan sekejap dengan sipengemis pemabok lalu sambil tertawa terbahak- bahak meloncat naik ke atas punggung kerbau dan tinggalkan sedikit tempat dipantat kerbau itu untuk Liem Tou.

Setelah meloncat naik Liem Tou pun membentak. 'Engkoh kerbau, ayoh berangkat!"

Kerbau itu mendengus berat, dengan cepat ia meloncat turuni tebing Leng Ay menuju ke bawah puncak gunung Go bie, larinya gesit dan mantap sedikit pun tidak terlihat keberatan,

Demikianlah mereka bertiga pun dengan menunggang seekor kerbau berangkat menenuju kegunung Cing Shia.

Malam hari telah tiba, mereka bertiga tetap melanjutkan perjalanan, kurang lebih kentongan keempat sampai juga mereka dibawah gurung Ha Mo san ditepi sungai yang besar.

Suasana amat sunyi dan gelap, susah melihat jari-jari tangan sendiri.

Liem Tou saat ini amat gembira. tidak lagi ikut mengganggu ketenangan rakyat dalam perkampungan, bisiknya kepada diri si-siucay buntung serta sipengemis pemabok: "Kurang ajar, mereka lagi enak enakan tidur kita pulang mana boleh tidak disambut oleh mereka??"

Pemuda ini segera mengepos napas bersuit nyaring, dengan tidak sungkan sungkan ia berteriak.

"Eeeei. . adakah manusia diatas gunung??? Cung-cu telah kembali! . . "

"Hey Liem Tou, kau sudah gila? bukankah perkampungan Ih Hee San cung sudah musnah??”

Tegur si siucay buntung serta si pengemis pemabok hampir berbareng dengan nada curiga.

Liem Tou tidak menjawab, ia tersenyum.

Saar itulah dari atas gedung tampak berkelebatcya cahava lampu disusul dengan munculnya lampu diseluruh penjuru, dalam sekejap mata puncak gunung Ha Mo san seperti meledak, seluruh penjuru bermandikan cahaya suara riuh pun meledak gegap gempita.

Dibawah sorotan cahaya yang amat terang benderang itulah sisiucay buntung, sipengemis pemabok serta Liem Tou dapat melihat beratus-ratus manusia berkerumun di samping jembatan Pancabut nyawa seraya menggape gape kearah mereka.

Melihat suasana itu mereka bertiga jadi melengak.

Keadaan dari perkampungan Ie Hee San cung telah berubah sama sekali, rumah rumah gedung berdiri berjajar dengan megahnya, pepohonan, gardu semuanya lengkap.

Si siucay buntung serta si pengemis pemabok yang melihat kejadian itu merasa agak tercengang, merasakan pula keadaan diri sendiri yang kusut tidak karuan mereka merasa malu pada diri sendiri.

Mendadak Liem Tou membentak keras; "Engkoh kerbau, ayoh jalan !'

Kerbau tersebut mendengus, badannya segera menyusup kedepan menyeberangi sungai dengan aliran yang deras itu.

Karena takut kerbaunva tidak kuat, Liem Touw segera salurkan hawa murninya mengelilingi seluruh badan kemudian disalurkan kedalam tubuh kerbau tadi, dengan demikian kerbau itu dapat bergerak diatas permukaan air dengan cepatnya.

'Ooo .. . sungguh lihay" teriak si siucay buntung serta sipengemis pemabok hampir berbareng seraya menjulurkan lidahnya. "Kita berdua jadi ketinggalan bila dibandingkan dengan berbau ini”

Liem Tou tersenyum.

'Susiok berdua !' katanya. "Sekalipun kalian jalan api menuju ke neraka dan gagal mempalajari ilmu sakti, tapi tenaga sinkang kalian telah bertambah beberapa kali lipat jika di bandingkan dengan keadaan dahulu, kalau tidak percaya, nah cobalah sendiri.”

Pertama-tama si pengemis pemabok yang tidak tahan, ia segera meloncat turun dari atas punggung kerbau dan menutul di atas permukaan air untuk bergerak ke depan.

Sekalipun tidak salah, ia merasakan badan sendiri ringan bagaikan burung walet, tak kuasa lagi pengemis ini mendongak dan tertawa terbahak-bahak.

Melihat kejadian itu, si siucay buntung segera berteriak. "Bagus, akupun ikut !"

Badannya segera menutul dari ujung air dan iapun bergerak dengan ringannya diatas permukaan sungai dengan kaki tunggalnya.

Melihat tontonan itu orang yang ada di atas gunung segera bertepuk tangan memuji, suasaca makin gempar. Si pengemis pemabok jadi girang, teriaknya.

"Eei, buntung tua. begaimana kalau kita coba bertanding ilmu silat kita berdua ??"

Tidak menanti jawaban dari si siucay buntung lagi badannya segera menubruk kedepan, angin pukulan dengan membawa suara desiran tajam di hantam ke dada lawan.

Si siucay buntung pun tidak ingin perlihatkan kelemahannya, ia berteriak keras.

"Bagus !"

Ujung kaki menutup permukaan air, badannya berkelebat menyingkir dari datangnya serangan tersebut kemudian telapaknya menyambar mengirim sebuah serangan balasan.

Seketika itu juga terjadilah suatu pertarungan yang amat ramai diantara mereka berdua, air sungai muncrat keempat penjuru mengiringi berkelebatnya bayangan manusia kesana kemari, suasana amat ramai.

Melihat tontonan gratis itu, orang-orang yaug ada diatas gunung bersorak sorai memberi semangat mereka berdua.

Siapa sangka mereka bergebrak semakin lama mereka berdua makin gembira. siapa pun tak mau berhenti terlebih dahulu.

Bila demikian terus mungkin bergebrak sepanjang tiga hari tiga malam pun tiada habis nya.

Melihat keadaan mereka Liem Tou tertawa,

"Susiok berdua harap berhenti ssbentar,, kalau bergebrak demikian terus menerus tak akan selesai, lebih baik lain kali kalian cari musuh tangguh dalam dunia kangouw saja.”

Si siucay buntung serta sipengemis pemabok bersama- sama menarik kembali serangannya dan tertawa terbahak bahak. Mendadak terdengar si pengemis pemabok berkata; "Eei...buntung tua. Karena barusan aku kepingin minum

arak maka badanku agak lemah, kalau sudah minum arak...ha

haa haa... siapa yang sudi kalah ditanganmu??”

"Baik” teriak si siucay buntung tidak terima. “Besok kita bergebrak lagi, sebelum berhasil temukan siapa menang siapa kalah jangan berhenti..."

Mendadak si siucay buntung teringat akan sesuatu hal, tanyanya kepada diri Liem Tou.

“Bocah buyung, menurut pendapatmu bagaimana kalau suhu si sie poa butut-mu dibandingkan dengan kami?”

Liem Tou tertawa.

"Menurut pendapatku, sie poa suhuku telah banyak membantu kita, dengan kelihayannya meramal Kioe Keng Pat Kwa ia mencampurkan diri dengan hasil latinan yang diterimanya saat ini, menurut pandanganku kalau tidak salah maka tenaga sinkang yang ia miliki sudah berada diatas sucouw, tenaga lweekangnya sudah berhasil mencapai puncak kesempurnaan"

Mendengar ucapan itu semangat si siucay buntung serta pengemis pemabok jadi mendingin.

"Aaaakh! aku tak percaya* teriaknya.

"Mau percaya atau tidak itu urusan susiok sendiri". Siapa sangka baru saja ia menyelesaikan kata katanya,

mendadak sesosok bayangan kuning menggulung datang.

Sebelum Liem Tou dapat melihat jelas wajah orang itu, tahu tahu angin pukulan tela h menyambar datang.

Merasakan kadahsyatan serangan itu Liem Tou berteriak keras.

"Bagus! susiok, cepat terima datangnya serangan !” Si siucay buntung serta si pengemis pemabok bersama- sama membentak keras, kedua orang itu segera meloncat kedepan menghadang datangnya orang itu sedangkan telapak dibabat keluar dengan mengirim sebuah pukulan yang maha dahsyat.

Tapi gerakan dari bayangan kuning itu sangat cepat, dengan gesit dan lincah ia berhasil menerobos masuk kemudian melayang keluar di antara menyambarnya angin pukulan gencar itu.

Melihat kelihayan pihak lawan Liem Tou menjulurkan lidahnya.

"Entah manusia darimana memiliki kepandaian silat sedahsyat ini??' pikirnya di hati.

Biarpun dia mengamati, sampai saat ini belum berhasil juga mengingat siapakah orang ini.

Pada saat itulah bayangan kuning yang sedang beegebrak melawan si siucay buntung serta si pengemis pemabok tertawa terbahak-bahak.

"Bocah cilik, kau sungguh gembira sekali, setelah dikelilingi istri yang cantik ternyata melupakan aku si bangkotan tua yang hampir mati, aku tak akan membiarkan dirimu enak- enakkan terus, 1ihat serangan !”

Dari antara berkelebatnya bayangan tubuh si siucay buntung serta si pengemis pemabok segulung angin pukulan yang keras menyambar kearah Liem Tou.

Sebelum mengetahui asal usul yang sebetulnya dari orang itu, Liem Tou tidak ingin turun tangan secara gegabah, badannya buru buru mundur lima depa kebelakang

Siapa sangka ternyata angin pukulan itu menyambar datang dari arah belakang. “Braak !" dengan telak pukulan tersebut bersarang di pungggungnya membuat Liem Tou hampir saja tak dapat berdiri tegak.

Tapi dengan adanya serangan ini pemuda she Liem pun jadi tersadar kembali, dengan rasa girang teriaknya:

"Aaah ..' Oei Yap Loocianpwee telah datang, bagus ! bagus sekali, sudah jangan bergebrak lagi, aku benar-benar benar konyol, bukankah tahun ini adalah tahun bangkitnya kembali diri Oei Yap loocianpwee?? maaf ..maaf."

Bayangan kuning itu tertawa terbahak-bahak, badannya segera berhenti bergerak dan muncullah seorang kakek tua berambut putih.

"Bagaimana muridku lebih bisa dipercaya,” katanya sambil tertawa ringan. “Aku tidak membiarkan dia hidup dari pengawal barang lagi, setelah aku si orang tua melihat Cing- jie menikah, segera akan kubawa Oei Poh pergi, karena Heng san pay membutuhkan tenaganya”

Mendengar kabar itu sudah tentu Liem Tou sangat gembira, mendadak ia berseru tertahan.

“Eei.., Loocianpwee, nona Cing akan kawin dengan siapa??” “Kau jangan bertanya dulu, sampai waktunya kau bakal

tahu sendiri!” teriak Oei Yap Loojien seraya tarik tangan Liem

Tou untuk diajak naik keatas gunung.

Si siucay buntung serta si pengemis pemabok yang ada dibelakangnya kontan tertawa terbahak-bahak.

“Haa haa baa., kalau sungguh sungguh begitu, kita bakal ikut minum arak kegirangan.”

Kedua orang itu dengan membawa serta kerbau segera berlari naik kegunung, setelah melewati sungai Kematian, menaiki Tebing Maut dan menyeberangi Jembatan pencabut nyawa sampailah mereka di Ie Hee San cung. Ketika itu keadaan dalam perkampungan Ie Hee San cung aman sekali berbeda dengan keadaan dahulu, pohon bunga- bungaan tumbuh disana sini pagoda loteng maupun bangunan terbesar dimana mana membuat si siucay buntung serta sipengemis pemabok terbelalak keheranan.

Tiba didepan perkampungan pertama-tama Lie Siauw Ie, si gadis cantik pegangon kambing, Giok-jie serta Cioe Ling Bu yang menyambut kedatangan mereka untuk diantar masuk kedalam ruangan sebuah bangunan bercahaya emas,

Pada saat itulah mendadak muncul Pouw Siauw Ling, menjumpai orang ini Liem Tou segera maju mencekal tangan pemuda itu erat-erat.

"Siauw Ling heng, apakah lukamu telah semhuh ? dahulu siaute telah banyak berbuat kesalahan terhadap dirimu, harap kau suka memaafkan !”

Pouw Siuw Ling yang sekarang lain dengan Pouw Siauw Ling dulu, saat ini ia sudah berubah bagaikan manusia lain.

'Urusan yang telah terjadi tempo dulu tak usah kita ungkap kembali, setelah menghadiri perkawinan adikku, aku segera akan mengasingkan diri digunung Soat san, sejak ini tak kembali lagi.”

"Aaakh!” Liem Tou berseru tertahan. ia tidak mengerti dan menaruh rasa keheranan Pouw Jien Coi, enci dari Pouw Siauw Ling ini tak diketahui olehnya gadis ini hendak kawin dengan siapa,

"Ooouw. . kalau begitu Kionghie dulu! entah enci Jien Coei akan kawin dengan siapa?” serunya cepat.

Pouw Siauw Ling termenung sebentar, lalu ujarnya: "Aku titipkan seluruh keselamatan, serta kebahagiaan

adikku kepadamu!" "Benar! "sambung Oei Yap Loojien sambil tertawa. “Kau pun harus baik-baik menjaga Cing djie!".

Selama hidup Liem Tou belum pernah memikirkan persoalan tersebut sampai disitu, mendengar ucapan kedua orang ini ia merasa otaknya mendengung dengan mata terbelalak dan mulut melongo dlpandangnya wajah Lie Siauw Ie serta si gadis cantik pengangon kambing. 

Melihat tingkah pola pemuda tersebut. kedua orang gadis itu bersama-sama tersenyum, Bibir Liem Tou bergerak ingin mengucapkan sesuatu. Lie Siauw Ie yang pintar segera putar biji matanya, mendadak ia maju menutup bibirnya sembari berkata lirih.

"Adik Liem, pakailah sedikit otakmu, kau jangan menusuk perasaan enci Jien Coei serta enci Cing, mereka berdua sangat baik terhadap dirimu, kau jangan menyia-nyiakan rasa cinta yang mereka utarakan kepadamu, aku serta Wan moay ikut gembira atas perkawinanmu ini. Nah! meja upacara telah di siapkan, Pengantin perempuan telah berdandan. cepat pergi!".

Saking tertegunnya Liem Tou tak sanggup mengucapkan sepatah katapun, kebetulan waktu itu Oei Poh serta Oei Yap Loojien berada di belakangnya. sepasang mata mereka dengan tajam melototi dirinya tak beekedip.

Liem Tou bergidik, teringat kembaii olehnya akan ucapan yang pernah diutarakan sewaktu berada di gunung Ciong Lay san, kini ia baru sadar dan akhirnya menganghguk.

"Asalkan enci Ie serta adik Wan bersikap demikian kepadaku, aku Liem Tou sudah tentu akan menerima dengan tangan terbuka.”

Wajah Oei Yap Loojien, Oei Poh serta Pouw Siauw Ling pun mulai dihiasi dengan senyuman, mereka bersama-sama mengerumuni Liem Tou dan diajak masuk ke dalam ruangan. Suara ledakan mercon serta tabuhan gembrengan dengan cepat berbunyi gegap gempita membuat seluruh bukit serasa goncang dibuatnya.

Ditengah sorak sorai para pendudak perkampungan Ie Hee San cung itulah Liem Tou berjalan masuk kedalam ruang upacara diiringi Pouw Jien Coei serta Siauw Giok Cing dibelakangya yang dibimbing oleh Lie Siauw Ie serta si gadis cantik pengangon kambing.

Upacara perkawinan inipun berlangsung dalam suasana penuh kegembiraan.

Ketika mereka selesai menjalankan upacara, meadadak terdengar si siucay buntung serta si pengemis pemabok berteriak keras; “Aakhh. ! suhu serta suheng pun ikut badir.”

Liem Tou sekalian segera putar badan dan menjatuhkan diri berlutut.

"Tecu Liem Tou menghunjuk hormat kepada sucouw serta suhu!” katanya penuh rasa hormat.

Perlahan-lahan Lok Yong Li hiap serta Thiat Sie poa berjalan masuk ke dalam ruangan, sembari mengelus kepala Liem Tou pendekar wanita ini tersenyum dan mengucapkan selamat kepada cucu muridnya.

Bersamaan itu pula Thiat Sie poa memberi wejangan, katanya.

“Asal manusia berhati lurus, semua persoalan akan berjalan dengan lancar tanpa rintangan.

Muridku! baiklah kau berjaga diri, aku serta Sucouw mu harus buru-buru kembali karena pelajaran belum kami selesaikan. Nah! selamat tinggal!”

Bayangan manusia berkelebat lewat, tahu tahu kedua orang itu sudah lenyap.

Liem Tou sekalian dengan berlutut menghantar kepergian mereka. Diikuti Oei Yap Loojien, Oei Poh serta Pouw Sauw Ling berpamitan, mereka pun mengucapkan kata kata perpisahan dengan Pouw Jien Coei dan Siauw Giok Cing.

Dalam suasana gembira beberapa orang itu meninggalkan perkampungan Ie Hee San cung dibawah hantaran Liem Tou sekalian.

Mulai hari itu Liem Tou dengan dikelilingi oleh istri-istrinya yang cantik, Lie Siauw Ie, si gadis cantik pengangon kambing, Pouw Jien Coei serta Siauw Giok Cing menetap di perkampungan Ie Hee San cung untuk melewatkan sisa hidupnya dengan gembira dan aman dibawah layanan Giok- jie dan Cioe Ling Cu yang telah angkat Liem Tou sebagai guru.

Dengan demikian cerita "Lahirnya dedengkot silat" pun kami akhiri sampai disini...-

-TAMAT-