Raja Silat Jilid 49

 
Jilid 49

"Braaak!" telapak kirinya dengan tepat menghajar diatas punggung orang itu. tampak cahaya hitam menyambar lewat orang itu muntahkan darah segar berwarna hitam.

Beberapa saat kemudian pemuda she Liem ini telah berhasil meloloskan diri dari barisan kabut beracun dan bergabung kembali dengan sigadis cantik pengangon kambing serta Siauw Giok Tjing.

"Bagaimana?? apakah kalian menjumpai mara bahaya??" buru-buru tanya Liem Tou lirih.

"Masih baikan panah beracun, barisan bubuk beracun belum bisa mengurung k mi berdua." jawab si gadis cantik pengangon kambing.

"Engkoh Liem!" ujar Siauw Giok Tjing kemudian. Cepat kau menuju keSelatan dan kami bergerak ke Utara dengan demikian barisan Kioe To Tin ini segera akan hancur, setelah itu kita bersama-sama berjumpa kembali diair terjun beracun untuk merundingkan kembali bagaimanakah caranya untuk menghancurKan alat rahasia Naga Berpekik Bangau Berteriak serta Harimau Mengaum Monyet Menjerit."

"Baik. tapi aku rasa alat rahasia Naga Berpekik Bangau Berteriak serta Harimau Mengaum Monyet Menjerit tidak perlu dihancurkan lagi."

"Kenapa?? apa gunanya kita biarkan alat rahasia itu??" Seru Siauw Giok Tjing agak tercengang.

"Sampai waktunya kita bicarakan lagi!" Ia merandek untuk tertawa, kemudian tambahnya: "Aku lihat begini saja apabila Tjing-moay serta Wan-moay berhasil menghancurkan barisan beracun disebelah Utara segera berangkatlah menuju kemulut lorong rahasia dan lepaskan api dari mulut lorong tersebut!" .

Siauw Giok Tjing tertegun, sepasang biji matanya berputar tapi ia menjawab juga: "Baiklah. Bukankah kau takut ia berhasil melarikan diri??..."

Liem Tou mengangguk tubuhnya segera menerobos masuk kedalam barisan jarum beracun dan berangkat kearah kelatan.

Padahal barisan Kioe Tok tin dari lembah Boe Beng Kok ini mana mungkin bisa menahan terjangan dari Liem Tou sebagai seorang jago nomor wahid dikolong langit pada saat ini?? sekalipun barisan seratus racun pun belum tentu bisa berkutik.

Kurang lebih seperminum teh kemuiian Liem Tou telah tiba didepan mulut lorong rahasia yang menghubungkan lembah Boe Beng Kok dengan tempat luaran, tampak mulut gua telah tersumbat oleh sebuah batu yang sangat besar, sehingga tidaklah mungkin bagi orang lain untuk memasukinya kembali.

Melihat kejadian itu Liem Tou merasakan hatinya agak bergerak, pikirnya dihati:

"Aaakh! Terlambat sudah ia telah pergi, kalau tidak apa gunanya ia sumbat mulut gua ini dengan batu besar??"

Ketika ia berpaling lagi maka dilihatnya berpuluh-puluh orang anggota perkumpulan Sin Beng Kauw berdiri ditempat kejauhan mereka hanya memandang dan tak seorang pun yang berjalan mendekat.

Bahkan tak seorangpun diantara mereka yang turun tangan mencegah Liem Tou membongkar batu besar yang menyumbat mulut lorong tersebut.

Pada saat itulah tiba-tiba Liem Tou menemukan diatas batu besar itu memancar cahaya kehitam-hitaman yang mengkilap, seperti diatas batu tersebut telah dilabur dengan selapis tir. Buru-buru ia tarik kembali tangannya sedang dalam hati diam-diam pikirnya:

"Aduuh.. hampir-hampir saja aku kena tertipu, terang serangan diatas batu ini sudah dilapisi dengan racun yang ganas . ."

Ia tidak memperdulikan batu besar itu lagi. sebaliknya malah putar badan menyerang kembali anggota Sin Beng Kauw yang berdiri disekitar sana.

Kali Ini ia Tidak melancarkan pukulan telapak lagi. jari tangannya bekerja merobohkan seorang musuh diantaranya kemudian dibawah kesamping batu, teriaknya keras:

"Aku mau bertanya kepadamu, asalkan kau suka menjawab akan kuampuni selembar jiwamu. Kauwcu kalian apakah melarikan diri melalui lorong rahasia ini???"

Saking takutnya anggota Sin Beng Kauw itu sudah kehilangan sukma, ia tak dapat menjawab hanya dari tenggorokannya memperdengarkan suara senggukan yang keras. Menanti Liem Tou mengulangi kembali pertanyaan itu dengan wajah kalem. ia baru mengangguk.

"Lalu sejak kapankah ia pergi?? dan dimanakah pouw Siangtju kalian?. "

"Kauwtju .suu ..sudah pergi sangat laama .. seee .. sedang Pouw Siangtju lee ..lenyap tak berbekas."

Liem Tou berpikir sebentar, akhirnya ia mengangguk. "Baiklah" ujarnya kemudian. "Cepat kau beritahu kepada

temanmu suruh cepat-cepat bubarkan barisan sehingga jangan sampai lebih banyak lagi korban yang harus mati dan menderita luka. Suruh mereka melarikan diri semua dan bubarkan perkumpulan ini karena Kauwcu kalian sudah tidak maui kamu semua lagi, apa gunanya kalian mati-matian membelai sang Kauwcu yang melarikan diri terlebih dulu???"

. Orang itu mengangguk. bangun berdiri dan menyampaikan ucapan itu Kepada kawan-kawan lainnya setelah berunding sebentar akhirnya orang-orang itu membubarkan diri dan buru-buru melarikan diri.

Melihat keadaan yang terbentang di depan mata Liem Tou hanya bisa menghela napas panjang ia segera berangkat kearah air terjun beracun dimana si gadis cantik pengangon kambing seorang diri berdiri di sana dengan termangu-mangu dan pandangan terpesona.

"Wan-moay, apa yang sedang kau pikirkan???" tegur Liem Tou seraya berjalan menghampiri gadis itu.

Melihat sekarang sang pemuda sudah datang si gadis cantik pengangon kambing jadi kegirangan.

"Aku sedang berpikir, air terjun ini telah mengurung diriku selama satu tahun lamanya."

Liem Tou mengerti gadis ini sedang mengenang kembali pengalaman pahitnya beberapa waktu berselang, segera hiburnya;

"Urusan yang sudah berlalu lupakan saja, buat apa kau pikirkan terus didalam hati??? Eaeei. . dimana Tjing-moay???".

"Bukankah kau suruh dia melepaskan api dimulut lorong rahasia ???"

"Boe Beng Tok-su telah pergi. aaai entah kepergiannya kali ini bakal menimbulkan peristiwa apa lagi??? mari kita pergi!"

Ia mencekal tangan Si gadis cantik pengangon kambing untuk diajak meninggalkan air terjun beracun itu, tapi baru saja berjalan beberapa langkah ia sudah berhenti kembali. secara mendadak ia teringatkan bahayanya membiarkan air terjun beracun tetap berfungsi seperti sedia kala.

Ia segera berjalan menuja kedinding sebelah kiri, setelah menemukan tombol rahasianya ia tekan tombol itu. Dengan cepat air terjun berhenti mengalir dan tidak setetes air pun yang menetes ke luar.

Hal ini membuat pemuda kita menjadi keheranan, pikirnya:

"Alat rahasia ini sungguh bagus sekali, bahkan membuat cairan racun mengalir keluar tiada hentinya, apa yang terjadi?"

Ia berjalan mendekati telaga di bawah air terjun. dilihatnya telaga tersebut tidak besar juga tidak ada setetes air pun yang menyalir kelain tempat, lalu mengapa cairan racun bisa mengalir terus menerus?

Setelah dipikir dan diperiksa beberapa saat, akhirnya ia jadi sadar kembali. kiranya telaga kecil itu langsung berhubungan dengan sumber dimana berasalnya air terjun tersebut dalam kenyataan air itu hanya mengalir dengan berputar terus dari telaga dialirKan kembali ke arah sumber dialirkan kembali ke air terjun. tidak areh ka 'au alat rshasiacya dipencet dan saluran tertutup maka air tidak mengalir lagi.

Setelah memahami hal tersebut Liem Tou tidak dibuat tercengang lagi, seraya menggandeng tangan si gadis cantik ia balik lagi kelembah Boe Beng Kok.

Suasana di tempat itu telah sunyi, tak seorang anggota Sin Beng Kauw pun yang tersisa disana.

Memandang bangunan rumah yang berderet-deret, tiba- tiba Liem Tou berpaling seraya ujarnya kepada si gadis cantik pengangon kambing.

"Wan-moay, kiia tak perlu masuk lagi, lebih baik kita bakar habis rumabh-rumah ini dari pada ditinggalkan sehingga digunakan orang lain untuk buat jahat, setelah itu kita harus buru-buru mengejar si Boe Bek Tok-su dan membasminya dari muka bumi."

Sigadis cantik pengangon kambing mengangguk, mereka berdua segera menyulut api dan mulai membakar seluruh bangunan perkumpulan Sin Beng Kauw tersebut. Dalam sekejap mata markas besar yang di gunakan pihak Sin Beng Kauw selama banyak tahun telah terjilat didalam kobaran api, membuat seluruh gunung Tjiong Lay-san jadi terang benderang.

Ditengah kobaran api yang sangat santer itulah Liem Tou serta si gadis cantik pengangon kambing berlalu.

"Eeei.. . engkoh Liem." tiba-tiba Lie Wan Giok berseru, "Apakah kau tidak ingin menonton pertarungan antara Suo Kut Mo Pian melawan sihwesio gundul yang kakinya buntung itu ?"

"Jika kita harus balik lagi kesana kemungkinan besar kedua orang itu sudah berlalu aku lebih menguatirkan tentang keadaan diri Pouw Sauw Ling."

.

Mendengar disebutkannya nama Pouw Sauw Ling air muka si gadis cantik pengangon kambing segera berubah hebat.

"Hmm! bila aku bisa berjumpa kembali dengan dirinya, akan Kusuruh ia tak bisa hidup terlalu lama lagi."

Liem Tou tahu hampir saja si gadis cantik pengangon kambing menderita kerugian besar ditangannya sehingga tidak aneh kalau ia membenci dirinya hingga merasuk ketulang

sum-sum.

Tetapi demi Pouw Djien Tjoei mau tidak mau ia harus melindungi juga keselamatannya. setelah berpikir sebentar ujarnya.

"Wan-moay, aku hendak memberitahukan satu hal kepadamu, Entji Ie bisa lolos dari mara bahaya tahukah kau siapa yang telah menolong dirinya?"

"Bukan kau yang tolong dirinya ? lalu siapa ?"

"Adik dari Pouw Siuw Ling yang bernama Pouw Djien Tjoei, ia mohon kepadaku agar aku suka mempertahankan jiwa Pou w Sauw Ling, sudah tentu aku harus menyanggupinya." kata Liem Tou sambil tertawa sedih.

Sigadis cantik pengangon kambing termenung berpikir sejenak, akhirnya ia menggenggam tangan Liem Tou erat- erat.

"Aku sudah memahami maksudmu, kalau begitu lakukanlah sesuai dengan keinginanmu."

"Aaah. akupun mengerti kesemuanya ini kau lakukan demi diriku. . ." Seru Liem Tou tak tertahan lagi. ia putar badan dan menciumi pipi serta bibir gadis cantik pengangon kambing dengan penuh kemesraan.

Tak terasa lagi kedua orang itu sudah tiba dikaki gunung, mendadak terdengar suara rintihan berkumandang datang.

Liem Tou yang mendengar suara tersebut segera pasang telinga baik-baik kemudian setelah tentukan arah bergerak mendekati.

Akhirnya ia temukan seorang menggeletak ditepi tebing. orang itu bukan lain adalah Pouw Sauw Ling.

Lengan kirinya yang kena dipatahkan Liem Tou dengan ilmu pukulan, belum sampai sembuh kini kena dihantam pula oleh Boe Beng Tok-su keras-keras, setelah terjatuh kebawah badannya terluka hampir memenuhi seluruh tubuhnya. ia tak dapat berkutik sedang darah segar mengucur keluar membasahi tanah.

Tanpa berpikir panjang lagi Liem Tou angkat bangun badannya karena takut pemuda she Pouw itu berbuat keanehan, lagi kendati dalam keadaan luka, Liem Tou sekalian menotok jalan darah pingsannya kemudian baru digotong dipunggung.

Seraya menoleh kearah sigadis cantik pengangon kambing ujarnya: "Terpaksa aku akan serahkan orang ini kepada diri Enci Djien Tjoei. ". Lie wan Giok tersenyum dan mengangguk.

Demikianlah dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuh, selama perjalanan selanjutnya kedua orang ini tidak menemui halangan apapun!

Menanti mereka tiba disuatu bukit, tampaklah Siauw Giok Tjing dengan keren telah menanti disana.

"Enci Tjing!" tak kuasa lagi si gadis cantik pengangon kambing berseru memanggil,

"Ayoh cepat kemari! coba kalian lihat kematian mereka berdua sungguh teramat mesra!" teriak Siauw Giok Tjing.

Liem Tou dan si gadis cantik pengangon kambing buru- buru mengejar kemuka dilihatnya si hweesio tujuh jari Tjhiet Tji Tauw Too saling berpeluk pelukan dengan eratnya diri Suo Kut Mo Pian, mayatnya menggeletak ditepi jalan. sedang telapak tangan masing-masing pihak saling menempel dipunggung lawan dan tangan yang lain saling mencekal cambuk panjang kuat-kuat.

Keadaannya mirip dengan dua ekor ular yang saling bergulat sehingga susah untuk dipisahkan.

Lama sekali Liem Tou berdiri disana akhirnya ia menggunggam:

"Dosa! dosa! dengan begini boleh dihitung dendam sakit hati mereka selama empat puluh tahun sudah bisa diselesaikan!"

Pemuda ini segera meletakkan tubuh Pouw Sauw Ling keatas tanah, meminjam pedang Lam Beng Kiam dari Siauw Giok Tjing dan membuat sebuah lubang untuk mengubur jenasah dari Tjhiet Tji Tauw Tou serta Sou Kut Mo Pian dalam satu liang yang sama, setelah itu baru ujarnya kepada Siauw Giok Tjing serta sigadis cantik pengangon kambing. "Mari kita pergi, tubuhku sudah penuh berpelepotan darah. kita harus membeli pakaian baru dulu dikota kemudian baru melanjutkan pengejarannya terhadap diri Boe Bang Tok-su."

Ia bergerak terlebih dahulu kemuka sehabis berbicara, terpaksa sigadis cantik pengangon kambing serta Siauw Giok Tjing mengiringi dari belakang.

Setelah mereka memandang sejenak kobaran api yang membakar seluruh markas besar perkumpulan Sin Beng Kauw di lembah Boe Beng Kok dari sebuah bukit, Liem Tou dengan menggendong Pouw Sauw Ling serta membawa si gadis cantik penganton kambing dan Siauw Giok Tjing malam itu juga keluar dari daerah pegunungan Tjiang Lay-san untuk beristirahat di sebuah rumah penginapan di kota dekat pegunungan tersebut.

Setelah tukar pakaian, mereka pun berisrirahat untuk sementara.

Malam itu Liem Tou bersemedi dua jam untuk memulihkan kembali tenaga sinkangnya yang banyak berkorban sewaktu bergebrak melawan Suo Kut Mo Pian, menanti pagi hari telah menjelang datang ia baru selesai dan tepat waktu itu si gadis cantik pengangon kambing serta Siauw Giok Tjing sedang mengetuk pintu.

Liem Tou segera buka pintu, tetapi . .

"Aaah! engkoh Liem, coba lihat selembar wajahmu, kenapa jadi begitu?" Sigadis cantik

pengangon kambing serta Siauw Giok Tjing sama-sama berkaok-kaok kaget ketika melihat tampang dari Liem Tou.

"Aku masih baik-baik saja, kenapa dengan wajahku???" Liem Tou kelihatan rada tercengang.

"Kau tentu keracunan, coba lihat wajahmu timbul gelembung air hitam yang menemui wajah." Setelah mendengar ucapan dari ke dua orang itu Liem Tou baru ikut merasa cemas, setelah berpikir sebentar akhirnya ia teringat kembali sewaktu kemarin malam harus menghindarkan diri dari sambitan dua batang senjata rahasia beracun, ketika tubuhnya menerobos lewat melalui asap beracun badannya pernah terasa gatal dan kaku, mungkinkah hal ini disebabkan oleh karena asap beracun itu?

"Cepat ambil sebaskom air biar aku cermini wajahku sendiri," buru-buru serunya,

Siauw Giok Tjing dengan sebat berjalan keluar, tidak lama kemudian ia sudah masuk kembali dengan membawa sebaskom air, setengah mangkok minyak dan hancurkan rumput pemunah racun untuk kemudian direndam kedalam minyak tersebut.

Ketika Liem Tou mencerminkan wajahnya diatas air. ia baru naik pitam sehingga berkaok-kaok tiada hentinya.

Ternyata selembar wajahnya yang tampan kini sudah tidak mirip manusia, tampannya kelihatan begitu tua dan galak sekali bahkan jeleknya luar biasa.

"Anggota perkumpulan Sin Beng Kauw sungguh ganas. jika aku tahu begini kemarin malam tak kulepaskan seorang pun diantara mereka, coba kau lihat setelah wajahku jadi begini, apakah entjie Ie serta Wan-moay masih mau dengan aku ?"

Ucapan ini seketika itu juga menimbulkan rasa geli dari Siauw Giok Tjing sehingga tertawa cekikikan, Sedangkan si gadis cantik pengangon kambing dengan nada manja berseru:

"Engkoh Liem, tutup mulutmu, siapa yang suruh kau bicara sembarangan!. ."

Liem Tou hanya tertawa meringis belaka, segera ia menceritakan secara bagaimara kemarin malam ia keracunan di dalam barisan asap beracun. "Tidak mengapa, tidak mengapa." potong Siauw Giok Tjing dengan wajah tenang, "Hal ini sudah kuduga sebelumnya, asalkan kita gosokkan rumput pemunah racun tersebut maka wajahmu segera akan pulih kembali tanpa membuang waktu yang terlalu lama !"

"Tidak bisa jadi." teriak Liem Tou kembali. "Sedetikpun aku tak boleh berdiam diri, coba kau pikir Hong Susiok kena ditangkap ke-Hong, bagaimanakah keadaannya pada saat ini kita tidak tahu. Boe Beng Tok-su pun berhasil melarikan diri. Aaaaaai.. . sebenarnya aku harus pergi mencari siapa dahulu

?"

.

"Sudah tentu harus mencari Hong Susiok terlebih dahulu." sela si gadis cantik pengangon kambing dengan cepat-

Siauw Giok Tjing tidak ikut bicara,ia hanya bantu poleskan minyak bercampur hancuran rumput pemunah racun itu keatas wajah Liem Tou.

Ketika mendengar timbrungan dari Lie Wan Giok, pemuda she Liem ini termenung sejenak. kemudian mengangguk berulang kali.

"Benar, benar. kita harus pergi mencari Hong Susiok dahulu bahkan balaskan dendam bagi kematian supek. tetapi aku harus kembali dulu kegunung Tjing Shia untuk membawa serta Giok djie, karena dia tahu tempat persembunyian dari Thian Pian Siauw tju".

"Betul! aku harus turun tangan membunuh sendiri diri Thian Pian Siauw-tju, untuk balaskan dendam kematian ayahku." Samsung si gadis cantik pengangon kambing dengan sedih. "Luka racunmu belum sembuh, beristirahatlah dua hari disini. biar enci Tjing tetap tinggal disini melayani dirimu. aku pulang dulu kegunung Tjing Shia untuk membawa serta Giok djie turun gunung tiga hari kemudian kita berjumpa kembali dikota Ih Djan lalu menungang perahu menuju ke Timur". Sewaktu mengucapkan kata-kata itu wajahnya kelihatan sangat teguh dan bulat tekad, kemudian tidak menanti jawaban dari Liem Tou serta Siau Giok Tjing lagi ia segera putar badan dan berlalu dari rumah penginapan itu dengan langkah lebar.

Menanti Siauw Giok Tjing selesai mempolesi wajah Liem Tou dengan minyak rumput pemunah racun, bayangan sigadis cantik pengangon kambing telah lenyap tak berbekas.

Kedua orang itu tak bisa berbuat apa-apa terpaksa menuruti ucapan sigadis cantik pengangon kambing untuk berangkat kekota Ie Djan.

Waktu itu luka racun diwajah Liem Tou telah mengering dan lepas dari wajahnya sehingga kulit muka pemuda iiu terkupas dengan ganti kulit muka lain.

Setelah membeli dua ekor kuda dan membawa serta Pouw Sauw Ling mereka berangkat melanjutkan perjalanan, tetapi ditengah perjalanan dibikin terheran dan terperanjat.

Ternyata disepanjang jalan mereka banyak menjumpai mayat-mayat yang bergelimpangan ditepi jalan. rata-rata sebab kematian orang-orang itu adalah tertembusnya dada mereka oleh tusukan pedang.

Pada mulanya menemukan dua sosok mayat Liem Tou serta Siauw Giok Tjing masih menganggap sebagai penemuan secara kebetulan saja, tetapi setelah jang ditemukan makin lama semakin banyak hatinya baru mulai diliputi kecurigaan.

"Eeei. . apa yang telah terjadi?!??" Seru Liem Tou tertegun. "Siapa yang tahu??"

Siauw Giok Tjing sendiripun tidak paham mengapa begitu banyak mayat yang berserakan disepanjang jalan.

Menanti mereka tiba dikota Sam Khe Tjeng untuk beristirahat, mendadak ditengah jalan menemukan kembali dua sosok mayat laki dan perempuan, yang satu tua dan yang lain muda kemudian disampingnya berserakan alat-alat senjata yang bisa digunakan untuk menjual obat.

Lama kelamnan Liem Tou tak dapat menahan diri lagi, ia segera menanyakan persoalan ini dengan si pelayan kedai.

Sang pelayan yang ditanyai kontan menjulurkan lidahnya. "Aiaahh! Khee-koan. inilah yang dinamakan takdir!"

"Takdir?? apa yang dinamakan takdir???"

"Takdir adalah kehendak dari para malaikat. sudah. . jangan ditanyakan lagi aku mohon kau kau jangan menanyakan urusan ini lagi!"

.

Sepasang alis Liem Tou berkerut. mendadak ia naik pitam. seraya meloncat bangun bentaknya keras:

"Dikolorg langit tak akan ada malaikat sejahat ini cepat katakan apa yang telah terjadi!"

Dengan sebat Liem Toa mencengkeram pergelangan sipelayan itu erat-erat sehingga menjeritlah orang itu kesakitan.

Setelah Mendengar orang itu menjerit, Liem Tou baru tersadar kembali dan segera mengendorkan tangannya.

"Aaakh! maaf, maaf! aku sudah bikin kau jadi sakit." katanya penuh rasa penjesalannya. "Cepat kau katakan, apa sebenarnya yang telah terjadi. . ."

Dengan mendongkol sipelayan itu melototi sekejap wajah pemuda she Liem, lalu setelah matanya menyapu empat penjuru ujarnya;

"Anggota perkumpulan Sin Beng Kauw telah membinasakan ayah beranak dua orang itu dengan kejam, kau tidak tahu kemarin sewaktu anggota Sin Bing Kauw lewati tempat ini bagaikan hujan badai saja mereka sudah membinasakan tiga puluh orang?"

Mendadak Liem Tou melotot bulat-bulat, ia semakin gusar lagi.

Seraya melirik sekejap wajah Siauw Giok Tjing tiba-tiba teriaknya. "Entji Tjing; perbuatan ini pasti dilakukan oleh Boe Beng Tok-su. aku lihat ia sudah hampir gila. "

"Apa yang ingin kau lakukan?' tanya Siauw Giok Tjing perlahan. sikapnya masih sangat tenang.

"Ayoh berangkat, kita cepat berangkat menyusul dia. sebab membiarkan dia hidup mungkin beratus-ratus orang bakal mati konyol, aku lihat pikiranrya sudah jadi sinting "

Bicara sampai disitu matanya melirik sekejap diri Pouw Sauw Ling yang masih tidak sadarkan diri, kepingin sekali pada saat ini juga ia kirim satu pukulan mencabut nyawanya.

Pada waktu itu hidangan sayur yang di pesan telah siap. tetapi Liem Tou tidak ingin membuang waktu terlalu banyak. ia robek pakaiannya untuk bungkus santapan tersebut, kemudian dengan tangan kiri mencekal tubuh Pouw Sauw Ling segera melayang keluar dari kedai.

Tanpa perduli diri Siauw Giok Tjing lagi ia kempi perut kudanya dan Siauw Giok Tjing yang melihat hal itu tak bisa berbuat apa2 lagi, terpaksa ia mengejar dari belakang.

Menanti gadis itu hampir menyandak diri, tampaklah wajah Liem Tou penuh diliputi kegusaran yang memuncak. ia lemparkan tubuh Pouw Sauw Ling yang tidak sadarkan diri ketengah udara seraya ujarnya keras;

"Enci Tjing, cepat terima orang itu dan tolong bawa kembali kegunung Ha Moo San untuk diserahkan kepada Pouw Djien Tjoei. aku sudah bertekad untuk mengejar Boe Beng Tok-su. kau serta Wan-moay dan Giok djie boleh menunggu diriku dikota Ih Djan. nah, selamat berpisah!!" Sekali kakinya menjejak tanah, badannya segera meluncur sejauh puluhan kaki dan akhirnya lenyap dari pandangan.

Kita tinggalkan dulu Liem Tou yang mengejar Boe Beng Tok-su dan kembali pada diri Siauw Giok Tjing yang menunggang kuda dengan membawa serta Pouw Sauw Ling dikuda yang lain, ia tetap melanjutkan perjalanan dengan cepat.

Sejak ia tinggalkan kota terakhir, selama perjalanan tidak dijumpai lagi barang sesosok mayatpun dalam hati terpikir olehnya apa bila Liem Tou pasti tak akan menemukan keadaan seperti ini. lalu apa sebabnya???

Apakah mungkin pikiran Boe Beng Tok-su sudah normal kembali dan berhenti membunuh orang??

Dan kemana pula perginya Liem Tou untuk mencari jejak Boe Beng Tok-su. ??

Walaupun pikiran Siauw Giok Tjing ruwet, tetapi kini Liem Tou sudah pergi dan ia tak dapat berbuat apa-apa lagi.

Terpaksa kudanya dilarikan cepat-cepat melanjutkan perjalanannya menuju ke arah Selatan.

Sepanjang jalan ia tidak menemui kesulitan tetapi menjelang magrib mendadak awan tebal menutupi seluruh angkasan hujan pun turunlah dengan sangat derasnya.

Sekitar tempat itu sunyi tak kelihatan sebuah rumah penduduk pun yang dapat digunakan untuk berteduh, ia tak bisa berbuat apa-apa. terpaksa dengan menempuh hujan lebat, ia melanjutkan perjalanannya kedepan, ia hanya berharap sebelum tengah malam tiba bisa sampai di kota Liong Wo, untuk kemudian esok harinya berangkat lagi ke gunung Tjing Shia dan menyerahkan Pauw Sauw Ling kepada adiknya Pouw Djien Tjoei.

Melakukan perjalanan ditengah hujan yang deras sungguh susah sekali, kurang lebih sepertanak nasi kemudian secara lapat-lapat ia temukan adanya cahaya lampu di tempat kejauhan.

"Aaaah. . .! tempat itu pasti rumah tinggal penduduk." pikirnya dihati.

Karena tiada tempat lain yang dapat digunakan untuk berteduh. maka tanpa berpikir panjang lagi gadis ini mendekati rumah penduduk dimana berasalnya cahaya lampu tadi,

Tak selang berapa saat ia sudah mendekati tempat itu yang bukan lain terdiri tiga rumah gubuk, cahaya lampu memancar keluar dari salah sebuah bangunan gubuk tadi.

Gadis she Siauw ini segera berjalan mendekati tempat itu, siapa sangka sewaktu ia tiba tiga, lima tombak dari pintu rumah mendadak dilihatnya sesosok bayangan hitam berjubah panjang berkelebat lewat, hatinya segera bergerak, pikirnya.

"Dalam dusun yang miskin seperti ini, darimana munculnya seseorang memakai jubah panjang?"

Karena berpikir sampai disitu buru-buru ia menghentikan gerakannya dan melompat turun dari atas pelana, kemu dan dengan membawa Pouw Sauw Ling mendekati wuwungan rumah serta menambatkan tunggangannya di pohon.

Pada saat itulah dari dalam ruangan terdengar suara langkah kaki yang berat berjalan hilir mudik, Siauw Giok Tjing tahu bila ia berkelebat lewat melewati jendela maka jejaknya pasti konangan.

Akhirnya ia berputar kepintu depan yang terbuat dari bambu serta rumput kering. di antaranya masih terdapat pula beberapa buah lubang yang bisa digunakan untuk mengintip.

Tanpa ragu-ragu lagi ia mengintip kedalam, lalu berseru tertahan. "Aaakh. .! beruntung aku belum masuk ke dalam rumah ini dengan ceroboh. „"

Kiranya didalam ruanpan tersebut terdapat enpat orang, mereka bukan lain adalah Boe Beng Tok-su beserta tiga orang anggota Sin Bang Kauw yang berusia pertengahan. jelas mereka tentu adalah jago-jago lihay yang paling diandalkan.

Orang yang berjalan bolak balik barusan adalah Boe Beng Tok-su, sedangkan ketiga orang lainnya duduk termenung disamping.

Dengan sangat tenang Siauw Giok Tjing mengintip terus diluar pintu, beberapa saat kemudian terdengarlah Boe Beng Tok-su dengan mata melotot alis menjungkat dan depak- depakkan kakinya berseru kelang kabut;

"Liem Tou! Lien Tou! aku benci dirimu. Sehingga ingin kubongkar kuburan nenek moyangmu !"

Merandek sejenak kemudian gumamnya kembali, "Entah bagaimana keadaan guru? mungkinkah ia terluka dengan Suo Kut Mo Pian?"

Ia mendengus berat kemudian sambungnya, "Kedatangan suhu sungguh terlalu kebetulan, kenapa ia justru datang sewaktu Liem Tou bergebrak mati-matian melawan Suo Kut Mo Pian. Aaai . , kalau tidak maka mereka berdua pasti akan sama-sama terluka parah dan mengambil kesempatan itu kubasmi mereka berdua, bukankah hal ini jauh lebih bagus?"

Mendadak ia berhenti bergebrak kemudian berpaling ke arah ketiga orang lainnya.

"Markas besar sudah hancur, perkumpulan Sin Beng Kauw tinggal puing-puing berserakan, walaupun di daerah Utara maupun daerah Selatan masih ada istana cabang yang bisa digunakan untuk bersembunyi sementara waktu. tapi apa gunanya?" Ketiga orang anggota Sin Beng Kauw itu menghela napas berat-berat, ask seorang pun yang menyahut.

Suasana di dalam ruangan kembali pulih jadi sunyi senyap Boe Beng Tok-su pun berjalan bolak-balik lagi kesana kemari.

Siauw Giok Tjing setelah berhasil melihat jelas keadaan disana dengan jalan menginti ia segera berpikir.

"Sebenarnya apa yang sedang mereka inginkan? dari Tjiong Lay-san melarikan diri kemari, sepanjang jalan membinasakan orang apakah semua orang yang ada di kolong langit mempunyai dendam sakit hati dengan dirinya?. ,

Hujan turun makin lebat, mendadak kuda yang di tempat dekat pohon meringkik panjang.

"ADUUH CELAKA!" TAK KUASA LAGI Siauw Giok Tjing

berseru tertahan.

Sedikitpun tidak salah ketika mendengar suara ringkikkan kuda Boe Beng Tok-su serta ketiga orang anggota Sin Beng Kauw yang ada didalam ruangan segera memadamkan lampu lentera dan meloncat ke luar.

Melihat munculnya keempat orang itu Siauw Giok Tjing menyembunyikan dirinya rapat-rapat dari pandangan mata mereka, tetapi setelah dilihatnya beberapa orang itu meluncur keatas pohon dimana kudanya tertambat dan teringat pula Pouw Sauw Ling masih ada disini, gadis she Siauw ini baru merasa sangat cemas, badannya segera bergerak menubruk kedepan.

"Kauwtju, kau hendak melarikan diri ke mana?" bentaknya. Badannya mengenjot segera melayang ke arah Boe Beng Tok-su dengan sebat mencabut keluar pedang hitamnya, air muka berubah dingin, berat dan menyeramkan.

"Apakah kalian sungguh-sungguh hendak membinasakan diriku??" serunya kaku.

Siauw Giok Tjing tetap berdiri tak berkutik, sepasang matanya dengan tajam memperhatikan wajahnya kemudian perlahan-lahan mencabut keluar pedang Lam Beng Kiam.

"Aku dengar dari Liem Tou katanya pedang hitam kautju sungguh luar biasa bahkan selama ini diantara kita berdua tiada kesempatan saling bergebrak, mari-mari, malam ini merupakan kesempatan baik yang susah ditemukan. Silahkan Kauwtju memberi petunjuk."

Boe Beng Tok-su mendengus dingin selagi ia hendak menyahut mendadak salah seorang anak buah datang berbisik

:

"Lapor Kauwtju Pouw siangtju ada disini."

Pada mulanya Boe Beng Tok-su kelihatan rada tertegun. akhirnya dengan gusar ia meraung, "Dia berada dimana?? Cepat tangkap dirinya."

Orang itu segera putar badan dan berlalu, Siauw Giok jing yang mendengar ucapan itu dengan sangat jelas hatinya jadi cemas, dengan cepat ia putar badan pedang Lam Beng Kiamnya laksana sambaran kilat berkelebat lewat kedepan.

Walaupun orang itu adalah salah seorang jago lihay yang paling diandalkan didalam perkumpulan Sin Beng Kauw tetapi mimpi pun ia tidak pernah menyangka apabila Siauw Giok Tjing yang berdiri didepan Boe Beng Tok-su bisa melancarkan serangan sedemikian cepatnya.

baru saja ia berseru keget, Siauw Giok Tjing telah membentak keras pedang Lam Beng Kiamnya menembusi dada orang itu dan tanpa berteriak lagi orang itu roboh binasa diatas tanah. Buru-buru Siauw Giok Tjing cabut keluar pedangnya, darah segar muncrat memerah.

Pada saat itulah dari belakang tubuhnya menyambar datang serentetan hawa pedang yang dingin bagaikan orang gila Boe Beng Tok-su menerjang kedepan. Pedang hitamnya laksana serentetan jaringan pedang mengurung datang.

Melihat datangnya serangan Siauw Giok Tjing segera menggetarkan pedang Lam Beng Kiamnya menciptakan serentetan bunga pedang untuk mengunci datangnya serangan, sedang badannya mundur tiga langkah kebelakang, bentaknya keras;

"Kauwcu, tunggu sebentar! bagaimana pun malam ini aku harus merasakan bagaimanakah kelihaian dari ilmu pedang hitammu ini. Cuma, aku ingin bertanya kepadamu, mengapa kau begitu benci dengan Pouw Siauw Ling?"

"Pouw Siauw Ling sebagai anggota Sin Beng Kauw berani coba membunuh kauwtjunya, orang semacam ini tak boleh diampuni lagi".

Siauw Giok Tjing tertawa dingin,

"Heeh...heeh...heeh . .kauwtju, perkataanmu sama sekali salah besar!" serunya. Suhumu Tjhiet Tji Tauw Tuo serta suhu dari Pouw Sauw Ling, Suo Kut Mo Pian telah saling mengikat permusuhan sedalam lautan sejak dahulu, kalau mereka bersumpah tidak akan hidup bersama Sudah tentu saja waktu mereka saling bertempur Pouw Sauw Ling harus membelai gurunya, inilah yang dinamakan berbakti pada sang guru, Tidak bisa kau cap dirinya sebagai penghianat!"

Boe Beng Tok-su kontan sirap hawa amarahnya seraya menggetarkan pedangnya membentuk serentetan cahaya pedang.

"Jika demikian adanya apakah tindakannya lah yang benar?" "Sudah tentu dia yang benar," Siauw Giok Tjing pun mulai naik pitam "Kini aku hendak serahkan dirinya kepada adiknya, maka dari itu aku peringatkan kepadamu. Jika kau berani mengganggu barang seujung rambutnya pun aku tak akan berlaku sungkan-sungkan lagi kepadamu. Terus terang saja kuberitahu, apa yang telah terjadi di dalam perkumpulan Sin Beng Kauw serta beberapa besar kekuatan yang kalian miliki sudah kuketahui bagaikan melihat jari tangan sendiri. Seluruh rencanamu tak bakal lolos dari perhitunganku." 

Sembari berkata pedang Lam Beng Kiamnya digetarkan membentuk selapis cahaya merah, sambungnya lebih lanjut:

"Kauwcu, aku lihat luka yang kau derita bekas terkena pukulan Kiem Tou belum sembuh benar-benar, bila sungguh- sungguh bergebrak didalam lima puluh jurus saja kemungkinan kau masih bisa bertahan, tapi setelah lewat jumlah itu kau bakal kalah total. Apalagi karena bentrokan serta gebrakan yang dipaksakan, maka luka yang belum sembuh akan kambuh lagi sehingga lukanya akan sepuluh kali lebih hebat. Aku menasehati dirimu lebih baik segera lepaskan pedang dan mengundurkan diri kepegunungan yang sunyi, sejak ini tidak mengganggu kaum Bu-lim lagi. Asalkan kau suka menyanggupi permintaanku ini sudah tentu akan kuberikan satu jalan hidup untukmu."

Boe Beng Tok-su yang mendengar ucapan ini saking khekinya seluruh wajahnya berubah pucat pasi bagaikan mayat. Ia mendongak tertawa seram.

"Budak busuk yang tidak tahu diri, kau ingin paksa aku lepaskan pedang? haah... haah. .haah . .kau anggap aku bisa menurut perkataanmu dengan demikian saja? Terus terang saja kuberitahukan kepadamu Pedangku ini adalah pemberian dari suhuku tempo dulu Sebelum memperoleh perintah dari suhuku siapapun jangan harap bisa paksa aku buang pedang". Melihat ketentuan orang itu, Siauw Giok Tjing mulai berpikir didalam hatinya. 'Agaknya aku harus turun tangan dengan kekerasan!'

"Kauwtju, ucapanku ini adalah bermaksud baik untuk pribadimu sendiri, akupun sudah dapat menduga apabila kau tak mau mendengar. Baiklah, setelah kau berhahil menerima limapuluh jurus seranganku. akan kuberitahukan satu persoalan padamu."

Mendengar gadis itu hendak memberitahukan suatu urusan kepadanya, sepasang mata Boe Beng Tok-su melotot bulat- bulat.

"Urusan apa???"

"Terima dulu kelimapuluh jurus seranganku!" bentak Siauw Giok Tjing keras-keras.

Pedang Lam Beng Kiamnya di getarkan sehingga membentuk selapis bayangan pedang yang menyilaukan mata menghajar dada lawan.

Boe Beng Tok-su tidaK mau mengalah, pedang hitamnya balas digetarkan menerima datangnya serangan lawan.

Boe Beng Tok-su mendengus berat, sepasang pundaknya sedikit bergerak mengundurkan diri sejauh lima depa kebelakang, wajahnya yang selalu dingin kini makin pucat.

Sedangkan Siauw Giok Tjing pun buru-buru tarik kembali pedangnva untuk diperiksa apakah gumpil atau tidak.

Setelah mendongak kembali ia mulai melancarkan serangan gencar meneter pihak lawannya, kali ini ia menggunakan jurus serangan lihay dari Beng san-pay dalam sekejap mata delapan jurus sudah dikerahkan.

Tetapi Boe Beng Tok-su benar-benar bisa dikatakan sebagai seorang ahli didalam penggunaan ilmu pedang, dengan tenang ia hadapi serangan-serangan musuh. setiap menjumpai jurus dihancurkan dengan jurus pula selembar wajahnya yang pucat pasi kini pulih kembali seperti sediakala, bahkan senyum pun mulai menghiasi wajahnya.

Siauw Giok Tjing yang melihat desaknya yang gencar sama sekali tidak mempengaruhi keadaan ditengah kalangan, didalam hati kembali berpikir:

"Jelas ia masih bisa mempertahankan diri, aku harus ganti cara bertempur,"

Mendadak permainan ilmu pedangnya berubah dari gerakan yang sangat cepat berganti dengan gerakan yang sangat lambat. setiap jurus dilancarkan dengan mengerahkan hawa murni yang dimilikinya. khusus ia tunjukkan untuk menghajar ujung pedang Boe Beng Tok-su. 

Baru saja permainan pedangnya berubah Boe Beng Tok-su telah waspada, air mukanya telah berubah hebat. seluruh perhatian dipusatkan untuk menghadapi lawan dan sedikitpun tak berani berlaku ayal.

Terutama sekali di dalam menghindari bentrokan-bentrokan kekerasan dengan ujung pedang Siauw Giok Tjing yang tajam. Setelah Siauw Giok Tjing berhasil menemukan titik kelemahan dari Boe Beng Tok-su, serangannya semakin ganas memaksa Kauwtju dari perkumpulan Sin Beng Kauw ini harus menggunakan gerakan badan yang lincah untuk mengimbangi gerakan lawan.

Dalam sekejap mata tiga puluh jurus sudah lewat.

Melihat pihak lawan belum berhasil juga dirubuhkan Siauw Giok Tjing mulai naik pitam, cahaya pedang di perketat bersamaan itu pula telapak kirinya mengeluarkan sejurus ilmu pukulan Sian Hong Tjiang.

Boe Beng Tok-su yang belum sembuh dari lukanya terhajar oleh pukulan Liem Tou, saat ini tak berani menerima datangnya serangan dengan kekerasan, setiap kali ia harus meloncat ataupun berkelit dari bentrokan-bentrokan kekerasan Hingga tiba pada suatu saat secara tiba-tiba gadis she Siauw mengirim sebuah ilmu pukulan Sian Hong Tjiang-hoat bersamaan pula pedang Lam Beng Kiamnya menyambar datang

Buru-buru Boe Beng Tok-su menyingkir kesamping, pedang hitamnya dibalik membabat lengan gadis tersebut.

Dengan cepat Siauw Giok Tjing mundur selangkah kebelakang pedang Lam Beng Kiamnya diayun setengah jalan.

"Kauwtju kali ini kau menderita rugi!" bentaknya keras.

Ujung pedang laksana sambaran kilat meneter lebih kedepan, untuk kedua kalinya sepasang ujung pedang itu saling bentrok dengan nyaringnya sehingga menimbulkan percikan bunga-bunga api.

Boe Beng Tok su segera merasakan darah panas didalam rongga dadanya bergolak, wajahnya pucat pasi bagaikan mayat hampir saja ia roboh terjungkal keatas tanah.

Ia tahu luka dalamnya kembali kambuh, tapi dengan paksakan diri ia mempertahankan diri.

Siapa sangka pada saat itulah ilmu pukilan Sian Hong Tjiang yang dilancarkan Siauw Giok Tjing tadi telah menyambar lewat dari belakang punggungnya.

Menanti ia menyadari akan datangnva serangan dari belakang untuk menghindar sudah terlambat satu langkah.

"Braaak!" pundaknya kontan terkena hajar dengan telaknya.

Tak kuasa lagi Boe Beng Tok-su muntah darah segar badannya mundur dua langkah kebelakang dengan sempoyongan, menggunakan pedang hitamnya ia coba mempertahankan badannya sehingga tidak sampai roboh keatas tanah. Setelah mengetahui pihak lawan tidak sanggup untuk bergebrak lagi, Siauw Giok Tjing pun mengundurkan diri kesamping, kedua orang anggota Sin Beng Kauw yang melihat kauwcunya terluka, dengan cepat maju menghampiri untuk membimbing bangun dirinya, tetapi dengan penuh kegusaran Boe Beng Tok-su telah mendorong mereka kebelakang,

"Minggir!" teriaknya keras,

"Tapi ...kauwcu, lukamu sangat parah!"

"Minggir, minggir! siapa yang suruh kalian ikut campur." Boe Beng Tok-su semakin gusar lagi.

Kedua orang anggota Sin Beng Kauw itu terpaksa lepas tangan dan mundur tiga langkah bebelakang.

Diatas wajah Boe Beng Tok-su yang pucat pasi tiba-tiba berkerut, agaknya ia sudah teringat akan sesuatu hal.

Sinar mata yang sayu perlahan-lahan menyapu sekejap wajah kedua orang itu, kemudian dengan nada lemah katanya

:

"Kiem siangtju, Than siangtju berpalinglah kesana !"

Kedua orang siangtju itu kelihatan tertegun, tetapi perintah dari sang Kauwtju tak terbantahkan terpaksa mereka berpaling juga.

Dengan tenang Siauw Giok Tjing memperhatikan semua gerak-gerik Boe Beng Tok-su, dilihatnya orang itu tarik napas panjang seraya memandang langit nan gelap dengan mata mendelong.

Sekonyong-konyong....

Cahaya hijau berkelebat lewat diiringi suara jeritan ngeri yang menyayatkan hati.

"Aku terpaksa harus berbuat begini." terdengar ia berseru. Batok kepala kedua orang itu siangcunya sudah terbabat putus sehingga mengelilingi diatas tanah, darah segar bagaikan sumber mata air menyembur ke udara dan menggeletaklah dua sosok mayat tak berkepala itu diatas genangan darah mereka sendiri.

Lama...lama sekali perlahan-lahan ia baru putar badan memandang wajah Siauw Giok Tjing dengan pandangan mendelong sinar matanya penuh diliputi kesedihan, mendendam serta benci

"Masih ada perkataan apa lagi yang belum habis kau ucapkan?? cepat katakan !" bentaknya keras.

Melihat sinar mata yang begitu menggidikkan kepingin sekali gadis she Siauw membereskan dirinya didalam sekali tusukan sehingga untuk selamanya ia tak dapat berbuat kejahatan lagi.

Tetapi sewaktu melihat wajahnya telah digenangi dengan air mata, ia jadi tidak tega.

"Lepaskan pedangmu!" ujarnya halus. "Karena hanya inilah satu-satuaya jalan kehidupan untukmu.

Tetapi Boe Beng Tok-su masih melototi gadis itu dengan pandangan mendelong, wajahnya bergetar dengan mimik yang mengenaskan.

Pedang pemberian suhu sampai mati tak akan kulepaskan!" "Jikalau suhumu sudah tak ada dikolong langit lagi??"

sambung Siauw Giok Tjing sambil tertawa ringan.

Mendadak sepasang kaki Boe Beng Tok-su jadi lemas. badannya gontai hampir-hampir saja roboh keatas tanah.

SeteTah berpikir sebentar, wajahnya mulai jadi tenang kembali. "Kau jangan coba mengibul apakah dia orang tua sungguh- sungguh " Ucapan selanjutnya sudah tidak jelas lagi,

kacau balau tidak karuan, ,

Selagi Siauw Giok Tjing siap hendak berbicara, mendadak angin dingin menyambar lewat. Tahu-tahu Liem Tou sipahlawan kita sudah berdiri disana dengan angkernya.

Siauw Giok Tjing kegirangan setengah mati, sebaliknya Boe Beng Tok-su dengan andalkan pedangnya sebagai pengganti tongkat mundur tujuh delapan langkah kebelakang.

Terdengar pemuda she Liem mendengus dingin.

"Aku sudah mencari dirimu disekitar beberapa ratus li, tidak disangka ternyata kau berada disini!" serunya.

Selangkah demi selangkah ia berjalan mendekati Boe Beng Tok-su.

"Engkoh Liem jangan bunuh dirinya," tiba-tiba Siauw Giok Tjing mencegah. "Ia sudah terluka parah, tiada bertenaga lagi baginya untuk berbuat sesuatu."

Liem Tou tidak menggubris ucapan gadis itu, ia melanjutkan langkahnya mendekati Boe Beng Tok-su

"Engkoh Liem, ia sudah bersiap sedia akan lepaskan pedang mengundurkan diri dari dunia kangouw mengapa kau mengharuskan ia mati???" kembali Siauw Giok Tjing berteriak.

Liem Tou merandak sebentar lalu tertawa dingin.

"Heee .. heee. ..hee. melepaskan pedang apa gunanya???

sebelum ia suka menyerahkan kitab Pek Tok Toh nya maka orang ini masih bisa berbuat keonaran dan meninggalkan bencana dikemudian hari."

"Aaakh. !" sehabis mendengar ucapan tersebut gadis she

Siauw baru berseru tertahan, ia tidak pernah berpikir sampai hal itu. "Kauwtju! segera teriaknya keras. "Terus terang kuberitahu kepadamu, gurumu telah bertempur mati sewaktu melawan Suo Kut-mo-pian dilembah Boe Beng Kok, cepat lepaskan pedang dan serahkan kitab pusaka Pek Tok Toh kemudian berlalulah! kalau tidak mungkin engkoh Liem sungguh- sungguh akan membinasakan dirimu. "

Sampai detik inilah Sang Kauwtju dari perKumpulan Sin Beng Kauw tak berkutik lagi. ia hanya jatuhkan diri berlutut kearah Barat dan angguk anggukkan kepalanya berulang kali. Setelah bangun berdiri katanya penuh ketegasan;

"Liem Tou, apabila kau ingin membinasakan diriku cepatlah turun tangan." Dengan sikap jumawa ia mendongak ke angkasa, sedikitpan tidak menunjakan rasa jerih.

"Kauwcu. kau tak boleh berbuat demikian." Cegah Siauw Giok Tjing dengan nada keras. "setelah aku melepaskan satu jalan hidup untukmu mengapa kau malah tidak mau terima?? dengan kepandaian silat yang kau miliki, saat ini, asalkan bisa lemparkan kesesatan kembali kejalan yang benar. maka dalam kalangan Bu-lim kau tentu bakal menerima satu nama yang dikagumi."

Boe Beng TOK SU tidak memperdulikan ucapan dari Siauw Giok Tjing. hanya teriaknya kepada Liem Tou dengan suara keras.

"Liem Tou, kau mau turun tangan membunuh atau tidak??"

Liem Tou tetap berdiri ditempat semula sambil melototi wajahnya, ia sama sekali tak berkutik.

Lama sekali Boe Beng Tok-su menanti, tapi akhirnya ia menghela napas sedih.

"Liem Tou, bila malam ini kau tidak membinasakan diriku maka dikemudian hari kau bakal menyesal!!"

Sesudah melirik sekejap wajah Siauw Giok Tjing. dari dalam sakunya ia ambil keluar sejilid kitab yang tebal bersama-sama dengan pedang hitamnya dibuang keatas tanah, lalu putar badan tanpa menoleh lagi berlalu dari sana dan lenyap ditangan kegelapan.

Menanti bayangan dari Boe Beng Toksu lenyap dari pandangan, Liem Tou serta Siauw Giok Tjing baru berpaling kearah kitab pusaka Pek Tok Toh serta pedang hitam yang menggeletak diatas tanah.

"Tjing-moay! ujar Liem Tou memecahkan kesunyian. "Tindakan ini bukaakah sama halnya melepaskan harimau pulang ke gunung?? menanti ia munculkan dirinya lagi, mungkin kita bukan tandingannya."

"Liem Tou kau jangan mengucapkan kata-kata itu" teriak Siauw Giok Tjing penuh kegusaran, "Jika kau menyesal, kenapa tidak kau bunuh sekalian orang itu sewaktu ia belum pergi tadi?? setelah melepaskan dia pergi, seharusnya jangan kau ucap kata-kata macam begini lagi."

Liem Tou membungkam dalam seribu bahasa, ia berbongkok memungut kembali pedang hitam itu, setelah dipandangnya sebentar ia memuji.

"Pedang bagus, pedang bagus., sungguh sebilah pedang bagus".

Ia memandang pula kearah kitab pusaka Pek Tok Toh tersebut mendadak pedang hitam yang dicekalnya berkelebat berulang kali menusuk kitab tadi sehingga hancur berantakan.

"Barang macam begini ditinggalkan dalam kolong langit hanya bisa mencelakai orang saja. lebih baik aku musnahkan saja."

Untuk menolong Siauw Giok Tjing tidak sempat lagi, ia hanya bisa menghela napas panjang seraya menegur.

"Apa gunanya kau hancurkan kitab tersebut sehingga musnah??? Kauwtju telah hapalkan seluruh isi kitab tadi masak-masak dan bila ingin digunakan hanya tinggal tarun tangan belaka, apa gunanya menggunakan kitab ini lagi?? jika kau membiarkan ia tetap bertahan mungkin sekali di kemudian hari kita masih bisa gunakan cara racun melawan racun untuk memusnahkan dirinya, eei. kenapa kau begitu keburu napsu?"

Liem Tou yang telah berbuat salah kini berbuat salah lagi hatinya merasa sangat kecewa.

"Baik-baik, hitung-hitung aku yang salah, Lebih baik kau tak usah menegur diriku lagi. Eei, dimana Pouw Sauw Ling? apakah ia masih ada??"

Siauw Giok Tjing mengangguk. ia simpan kembali pedang Lam Beng Kiamnya dan membawa Liem Tou menuju ke arah bawah pohon dimana kedua ekor kudanya ditambat.

Tampak Pouw Sauw Ling masih berada diatas punggung kudanya, Siauw Giok Tjing segera melepaskan tali les kudanya yang sebuah diserahkan ketangan Liem Tou.

"Mari kita pergi, malam ini kemungkinan besar masih bisa menginap dikota Boen Tjing, besok pagi segera berangkat menuju ke kota Ie Djan. Aaah, kali ini kau harus pergi ke gunung Tjing Shia dahulu."

"Kau tidak ikut pergi??"

Mendengar ucapan tersebut sang pemuda berseru. "Apa gunanya aku pergi kesana??".

"Kau harus pergi kesana, jika Wan-moay tahu kau tidak ikut hatinya tentu tidak tenang. Apalagi selama setahun ini harus menyusahkan dirimu kaupun seharusnya pergi beristirahat, tentang soal menghadapi Thian Pian Siauwtju serta menolong Hong Susiok biarlah aku berangkat kesana bersama Wan- moay serta Giok djie."

"Baiklah." akhirnya gadis itu mengangguk, "Biarlah aku pergi bantu Oei-heng membangun kembali perusahaan Tjing Liong Piauw-kiok disamping menantikan beritamu. Mari kita pergi." Demikianlah Siauw Giok Tjing serta Liem Tou segera melanjutkan perjalanannya menuju ke kota Ie Djan dengan menempuh dibawah hujan gerimis.

Diatas sungai yang lebar sebuah sampan laksana kilat meluncur kemuka mengikuti arus sungai yang deras. Diatas sampan terbanglah tiga ekor burung rajawali yang berkaok- kaok tiada hentinya.

Mendadak dari atas sampan meluncur lewat sepuluh titik hitam mengarah ketiga ekor burung elang tadi.

Sang burung elang bersama-sama berkaok dan menyambar kearah bayangan tadi dengan kecepatan luar biasa.

Tak sebuah hitampun yang akhirnya jatuh kembali keatas permukaan, semuanya lenyap tak berbekas

Kiranya titik-titik hitam tadi bukan lain adalah sepulun potong daging yang segera dilalap habis oleh ketiga ekor burung elang itu,

Bersamaan itu pula dari atas sampan terdengar suara tepuk tangan serta sorakan memuji yang gegap gempita, seorang bocah perempuan dengan suara yang merdu berseru:

"Paman Liem, kepandaianmu sangat lihay tapi untuk saling berebut daging dengan rasa-rasanya belum tentu menang. bukankah begitu?"

Diatas sampan itu duduk tiga orang, mereka adalah Liem Tou sigadis cantik pengangon kambing serta Giok djie.

Saat ini mereka bertiga dengan menunggang sampan sedang bergerak kearah Timur menuju kelautan Timur untuk mencari Tian Pian Siauwtju serta menolong si perempuan tunggal Touw Hong

Terdengar Liem Tou segera tertawa "Jikalau aku sama sekali tidak becus untuk mengalahkan ketiga ekor binatang berbulu itu, lalu apa gunanya kau mengatakan kepandaianku sangat lihay."

"Engkoh Liem. kau jangan bergurau lagi." Si gadis cantik pengangon kambing ikut tertawa. "Kau telah melepaskan Boe Beng Tok-su, dan cabang-cabang Sin Beng Kauw yang tersebar dimana -mana belum menderita kerugian apa2. apakah kau berani tanggung mereka tidak akan munculkan dirinya kembali?"

Liem Tou menggeleng, "Boe Beng Tok-su merasa kepandaiannya tidak becus sekali dan munculkan dirinya kembali juga percuma saja. Apalagi Tjhiet Tji Tauw Tuo baru saja mati sehingga ia kehilangan kekuatan yang menyokong dirinya jelas ia tak akan berani munculkan dirinya kembali",

"Tetapi. kau pun harus tahu sekalipun markas besar Sin Beng Kauw berhasil dipukul hancur tetapi kantor-kantor cabangnya masih melanjutkan berbuat jahat agaknya ia masih belum tahu apabila markas besar mereka sudah kau obrak- abrik."

.

"Soal ini memang bisa dirasakan benar, paling sedikit harus ada orang untuk memberitahukan urusan ini kepada mereka," setelah berpikir sebentar Liem Tou mengangguk.

"Cuma. setelah kepergian Boe Beng Tok-su malam itu, ia tentu punya rencana baru lagi. Menurut pandanganku lebih baik kita tinggalkan jalan air menempuh jalan darat saja disamping menyeliki urusan ini. Menurut perhitunganku apalagi cabang- cabang Sin Beng Kauw dipelbagai tempat telah bubar maka ini bisa diduga dibalik hal tersebut masih tersembunyi sesuatu, tetapi jikalau ia pergi dengan begitu saja maka ini berarti apabila ia sudah kecewa dan putus asa..."'

"Engkoh Liem, otakmu sungguh cermat, baiklah. Kita akan segera mendarat." Sewaktu Liem Tou hendak menggerakan sampannya menepi, mendadak dari arah depan muncul sebuah perahu yang memmuat seorang pemuda berbaju putih.

Dari tempat kejauhan Liem Tou dapat mengenali kembali bila orang itu bukan lain adalah Boe Beng Tok-su.

Segera serunya kepada sigadis cantik pengangon kambing; "Wan-moay coba kau lihat, bukankah orang itu adalah Boe

Beng tok-su?? bila di tinjau dari pakaiannya yang dikenakan

berwarna putih, terang ia sudah bubarkan diri sebagai kauwtju perkumpulan Sin Beng Kauw. Entah apa maksudnya mengenakan baju putih ini adalah menandakan apabila ia sudah tobat dari perbuatan jahatnya dan kini kembali kejalan yang benar atau sebaliknya"?'

"Bagus sekali. benar-benar dia orang adanya!" sela Giok djie pula dari samping. "Biar aku perintahkan burung-burung elangku untuk patuk buta sepasang matanya." '

"Giok djie, jangan ceroboh!" bentaknya Liem Tou segera.

Si gadis caritik pengangon kambing yang melihat kemunculan Boe Beng Tok-su dengan terang terangan, hatinya mulai curiga, pikirnya: "Dikolong langit mana mungkin ada peristiwa yang begitu kebetulan?? Jelas pada mulanya ia sudah menyelidiki dahulu jejak kita kemudian baru sengaja memapaki. ."

Dengan suara rendah ia segera kasih peringatan kepada diri Liem Tou:

"Engkoh Liem, hati-hati apabila ia sedang menggunakan siasat. Seharusnya pada saat seperti ini ia bersembunyi di gunung atau alam yang sunyi, dan kini sebaliknya ia malah menyongsong kita. dibalik hal tersebut tentu ada hal-hal yang tidak beres. Kita jangan sampai kena tertipu!"

Liem Tou mengangguk. "Aku rasa dalam keadaan seperti ini ia tak bakal bisa main setan dengan kita, cuma, bilamana ia sudah tahu tujuan kepergianku kaii ini dan ia keburu bekerja sama dengan Thian Pian siauwtju maka hal ini merupakan tanda bahaya bagiku tapi sekarang kita masih bisa menghadapinya kau boleh berlega hati!"

Kedua buafh sampan itu makin lama makin mendekat, saat itulah Liem Tou dapat menangkap wajah Boe Beng Tok Su penuh diliputi keseriusan, alisnya berkerut dan matanya berkilat.

Sikapnya amat jumawa, dingin dan gagah mendatangkan perasaan kagum dihati semua orang.

Walaupun terang-terangan ia dapat melihat perahu yang ditumpangi Liem Tou sekalian bergerak mendekat, tetapi ia tetap tak menggubris maupun berbicara, hanya sepasang matanya melototi diri Liem Tou tajam-tajam.

Perahu dengan cepatnya bergerak hingga jaraknya tinggal seratus tombak saja, apabila salah satu tidak menyapa terlebih dahulu maka perahu itu tentu akan berlalu lewat dari sisinya.

Liem Tou pertama-tama yang tak dapat menahan diri. ia segera berteriak menegur: "Orang yang berada diujung perahu sebelah depan benarkah Kauwtju dari perkumpulan dari Beng Kauw, Boe Beng Tok-su adanya??? tidak kusangka dunia sesempit ini, dimanapun kita selalu berjumpa."

Mendadak Boe Beng Tok-su mengebutkan ujung bajunya mengirim satu pukulam kosong keatas permukaan sungai, perahu yang sedang meluncur datang seketika itu juga menjadi perlahan.

Liem Tou pun dengan gerakan yang sama melancarkan satu pukulan ketengah sungai, perahu yang ditumpangi ikut menjadi perlahan. Pada sast itulah Boe Beng Tok-su buka suara berseru. "Liem Tou, jangan kau sebut aku sebagai Kauwtju lagi. perkumpulan Sin Beng Kauw telah musnah di tanganmu, kini markas kami tinggal puing-puing yang berserakan." Ia merandek sejenak, kemudian sambungnya: "Cuma saja, walaupun perkumpulan Sin Beng Kauw telah musnah tetapi dendam diantara kita berdua belum selesai. kau harus membayar kerugianku ini dengan suatu nilai yang jauh lebih besar."

Liem Tou bergidik mendengar ucapan itu, kemudian tertawa tergelak.

"Haaahh...haaaaahh.. .Sun Tji Si. aku lihat kau sedang bermimpi disiang hari bolong, setelah kau ketahui bahwa kepandaian silatmu tidak becus, mana mungkin bisa kau tuntut balas dendam tersebut?? terus terang saja kuberitahu kepadamu' dengan dosa yang keu perbuat selama setahun ini ber-sama2 perkumpulan Sin Beng Kauswmu sekalipun belum bisa menebus dosa sebesar ini, bilamana buktinya aku masih teringat akan ucapan yang pernah diutarakan Tjing-moay, ingin sekali aku cabut jiwamu."

Air muka Boe Beng Tok-su sangat hambar sedikitpun tidak kelihatan adanya perubahan.

"JUstru inilah letak kebodohanmu, karena itu kau bakal mendatangkan bencana kematian buat dirimu sendiri"

.

Suara gelak tertawa Liem Tou semakin keras lagi.

"Haaaahh...haaahh,,.sungguh menggelikan, kau lagi mengigau di siang hari bolong, ayoh cepat katakan kau hendak membinasakan diriku dengan cara apa?? terus terang saja kuberitahu kepadamu, aku Liem Tou adalah seorang manusia yang tidak mempan terhadap tusukan pedang maupun bacokan golok, tidak hancur terbakar api dan tidak tenggelam ditelan air, sekali pun kau hendak menggunakan cara membokong juga percuma saja," Bibir Boe Beng Tok-su tampak bergerak-gerak tapi tak kedengaran sedikit suara pun tidak usah diragukan lagi ia tentu semasih sedang marah sehingga sukar ditahan tapi kini ia berusaha untuk mengendalikan sendiri.

Beberapa saat kemudian ia baru berkata dengan nada dingin.

"Liem Tou, asalkan kau ingat-ingat perkataanku itu sudah cukup, sebelum aku menemui ajalnya pasti akan datang kemari untuk menuncut balas dendam sedalam lautan ini.

Sepuluh tahun, dua puluh tahun masihi belum terlambat, bahkan lima puluh tahun kemudian pun belum terlalu lama pokoknya kau tunggu saja saatnya!"

Liem Tou yang mendengar perkataan itu hatinya mulai merasa tidak tenang, karena selama ini apa yang telah diucapkan Boe Beng Tok-su selalu dilaksanakan.

Kendati begitu air mukanya masih tetap tenang-tenang saja.

"Itu terserah kepadamu sendiri, tetapi sebelumnya aku ada pertanyaan yang hendak kutanyakan padamu, apakah istana- istana cabang perkumpulan Sin Beng Kauw sudah pada bubarkan diri??"

"Soal ini kau tak usah kuatir lagi, setelah aku bukan menjadi kauwcu lagi, sudah tentu perkumpulan Sin Beng Kauw telah lenyap dari kalangan Bu-lim."

"Itulah dia." kata Liem Tou seraya mengangguk, air mukanya berubah membesi. "Bukankah kau ingin menuntut balas terhadap aku orang she Liem, nah! Silahkan turun tangan. setiap saat aku akan menantikan kedatanganmu, tapi bila kau berani membunuh seorang manusia yang tak berdosa

.heeee .. heeee.. terus terang kuberitahu kepadamu, kau jangan harap bisa hidup lebih lama lagi dikolong langit." Ketika Liem Tou menyelesaikan pembicaraannya sampai disitu, mendadak dari tengah udara berkelebat datang tiga titik bayangan hitam yang menyambar kearah Boe Beng Tok- su dengan kecepatan laksana sambaran petir, ia segera merasa keadaan tidak beres.

Tapi waktu sudah terlambat ketiga sosok titik hitam tersebut dalam sekejap mata telah menubruk keatas tubuh Boe Beng Tok-su.

"Sun Tji i! hati-hati. " Bentak sang pemuda she Liem

keras-keras.

Bersamaan dengan suara bentakan tersebut ia mengirim sebuah angin pukulan yang santer menghadang jalan pergi ketiga ekor burung elang tersebut.

Siapa nyana ketiga ekor burung elang yang sudah lama memperoleh didikan keras dari Thian Pian Siauw tju, memiliki kegesitan yang sangat luar biasa.

Dimana angin pukulan Liem Tou menyambar lewat, dua ekor diantara ketiga ekor burung elang tersebut kena terpukul pental sejauh lima, enam tombak dari tempat semula.

Sebaliknya burung elang terakhir yang tidak terkena sambaran aDgin pukulan mendadak terbang menukik beberapa tombak lebih kebawah.

Angin pukulan menyambar lewat dari sisi badannya, dan dalam sekejap mata itulah burung tersebut berpekik nyaring.

Paruhnya yang runcing dan kuat bagaikan baja langsung menutul mata sebelah kiri dari Boe Beng Tok-su.

Boe Beng Tok-su jadi gelagapan setengah mati, tahu-tahu mata kirinya terasa amat sakit sehingga tak kuasa lagi ia menjerit ngeri.

Bersamaan itu pula tangannya menyambar kedepan dengan tepat menangkap tubuh burung elang tersebut dengan kalap badan burung itu dibetoti kedua arah yang berlainan.

"Kraak!" seketika itu juga burung elang yang besar dan kuat kena dibetot Boe Beng Tok-su sehingga robek menjadi dua bagian, usus serta isi perutnya muncrat keluar di iringi semburan darah segar, matilah burung tersebut seketika itu juga.

Boe Bang Tok-su yang kesakitan saat ini merasa benci dan mendendam, tubuhnya gemetar keras dengan penuh kemurkaan teriaknva serak:

"Liem Tou, tidak kusangka manusia macam kaupun bisa turun tangan sekeji ini untuk membokong diriku. terhitung jagoan gagah macam apakah kau?? Baik! kita lihat saja akhirnya, pada suatu hari kau akan menyesal dengan perbuatanmu ini hari."

Liem Tou tak bisa berbuat apa-apa, ia berdiri termangu- mangu ditempat semula.

Ketika itulah suara dari Giok djie kembali berkumandang datang: "Paman Liem. terhadap manusia penuh dosa macam dia sekalipun dibunuh mati juga tak perlu disesali, bila tidak sekarang juga kita lenyapkan bangsat itu dari muka bumi, apakah kita sengaja tinggalkan dirinya untuk membalas dendam kepada kita dikemudian hari??"'

Liem Tou tersentak kaget dan tersadar kembali dari lamunannya setelah mendengar teriakan tersebut, ujarnya penuh kegusaran:

"Giok djie! kau jangan banyak ikut campur dalam urusan ini. Perkataan seorang lelaki sejati selamanya tak perrah ditarik kembali setelah aku menyanggupi untuk biarkan ia hidup lebih lanjut apakah kau suruh aku jilat kembali ludah yang telah kukeluarkan??? kau perempuan cilik tahu urusan apa???" "Paman Liem! kau berbuat demikian bukankah sama artinya mendatangkan bencana buat diri sendiri." Teriak Giok djie kembali, agaknya iapun dibikin mendongkol, "Jikalau kau diganti dengan Thian Pian Siauwtju. maka selamanya ia belum pernah memberi kesempatan bagi musuhnya untuk melancarkan pembalasan. apakah kau tidak mengerti pepatah yang mengatakan babat rumput seakar-akarnya untuk lenyapkan bencana dikemudian hari???."

Liem Tou yang kena terdesak semakin gusar lagi dibuatnya. "Giok djie! jika kau berani bicara sepatah kata lagi, aku

segera akan bertindak tidak sungkan-sungkan lagi kepadamu."

ancamnya penuh kemarahan. "Secara bagaima boleh bandingkan aku dengan Thian Pian Siauwtju?? dia adalah manusia macam apa? dia adalah seorang iblis sasat."

Pada dasarnya Giok djie memang seorang gadis berwatak keras, mendengar ancaman itu ia makin mendongkol.

"Tidak salah, dia adalah seorang iblis sesat tetapi siapa yang bilang dari tubuh seorang iblis sesat tak dapat kita contoh kebaikannya??" kembali bantahnya.

Pada saat itu air muka Liem Tou sudah berubah hijau membesi, padahal yang sebetulnya Liem Tou sendiripun bukannya tidak tahu, melepaskan Boe Beng Tok-su dari kematian merupakan suatu perbuatan yang tolol! tetapi justru kesalahan terletak pada janji yang pernah ia ucapkan sendiri, setelah salah ia bersikeras untuk melanjutkan kesalahan tersebut, dan kebetulan waktu itulah Giok djie mengorek- korek rahasia hatinya, tidak aneh jikalau ada hawa gusar yang terpendam dalam hatinya kontan meledak.

Sigadis cantik pengangon kambing dapat melihat seluruh peristiwa ini dengan sangat jelas, karena ia takut percekcokkan antara Liem Tou dengan Giok djie makin lama semakin membesar, ia segera menukas dari samping: "Boe Beng Tok-su sudah lama berlalu, apa gunanya kalian bercekcok terus menerus?? setelah kejadian jadi begini terpaksa kita harus berbuat mengikuti keadaan. Ayoh! kita harus segera melanjutkan perjalanan. aku rasa setelah kali ini Boe Beng Tok-su menderita Kekalahan hebat bahkan kehilangan sebuah mata kirinya sejak kini ia tak dapat berbuat apa-apa lagi!"

Mendengar ucapan tersebut Liem Tou serta Giok djie sama- sama mendengar, sedikitpun tidak salah tampak oleh mereka berdua Boe beng Tok-su dengan menunggang perahu sampannya ketika ia sedang melarikan diri ketengah sungai kemudian menyeberangi dan menepi ditepian seberang.

Setelah melihat pihak musuh melarikan diri Liem Tou melirik sekejap kearah Giok djie lalu menghela napas panjang. "Aiaai. . coba kau lihat dia! betapa risihnya manusia macam orang itu, semoga saja sejak ini hari ia bisa melepaskan kesesatan kembali kejalan yang benar dan baik-baik jadi manusia, bila ia bisa berubah pendirian aku Liem Tou dengan hati gembira akan membantu dirinya."

Giok djie yang mendengar ucapan tersebut dari samping kalangan segera mendengus berat.

Liem Tou termangu mangu, setelah termenung sejenak ia baru meresapi bahwa tindakan Giok djie tadi sebenarnya adalah bermaksud baik. ia segera berjalan menghampiri dia menepuk-nepuk pundaknya,

"Giok djie. kau jangan menyalahkan paman Liem mu!" ujarnya dengan nada yang halus.

"Terus terang kukatakan bahwa ucapanmu memang cengli dan bukannya aku tidak mengetahui, cuma setelah kujanjikan akan melepaskan sebuah jalan hidup buat dirinya, bagaimanapun juga aku tak bisa menjilat kembali ludahku sendiri. bila aku pungkiri apa yang telah kujanjikan maka tindakan ini bukan tindakan seorang lelaki sejati. kau mengerti maksudku bukan??? tadi. sebenarnya aku tidak patut marah- marah dengan kau, eku rasa kau sudah tidak menyalahkan diriku lagi bukan?"

Giok djie mengerling sekejap ke arah Liem Tou, mendadak ia tertawa cekikikan dan melengos.

Melihat sikap gadis cilik ini, dalam hati Leim Tou tahu ia sudah tidak menyalahkan dirinya lagi, segera ia bertepuk tangan memerintahkan para pengemudi perahu untuk menjalankan kembali sampan itu melanjutkan perjalanan.

Ketika matahari lenyap dibalik gunung, mereka telah keluar dari keresidenan Tsuan Ching.

Setelah melewati karesidenan Auh Wan dan Su kurang lebih tiga, empat hari maka simpan itu tiba di Lautan Timur

Setelah sampan berada ditengah lautan timur yang luas, beberapa orang itu menemukan sebuah samudra yang luas tidak kelihatan ujung pangkalnya.

Liem Tou baru kebingungan kemana mereka harus pergi mencari diri Thian Pian SiauWtju???

Sekalipun mereka tahu Thian Pian Siauwtju tinggal diatas sebuah pulau kecil tapi di arah sebelah mana letak pulau kecil itu??

Tidak kuasa lagi Liem Tou bertanya kepada diri Giok djie: "Kini kita sudah berada di Lautan Timur, tahukah kau Thian

Pian Siauwtju tinggal di sebuah pulau kecil yang berbentuk seperti apa??"

"Aku hanya tahu diriku datang dari tengah samudra luas, tentang diarah manakah pulau kecil itu. aku sendiri juga bimbang dan kebingungan!. ," Jawab Giok djie dengan alis berkerut.

Mendengar jawaban tersebut kontan semangat Liem Tou mendingin separoh, pikirnya: "Samudra demikian luasnya dengan empat penjuru tiada bertepian. jikalau ia tidak tahu diarah sebelah manakah Thian Pian Siauwtju berdiam, apakah suruh aku membawa sampan ini mengarungi seluruh penjuru samudra??? bila demikian adanya sampai bulan dan tahun yang keberapa aku baru dapat menjumpai Thian Pian Siauwtju?? semisalnya sungguh- sungguh harus berbuat demikian, bukankah Hong susiok sudah keburu mati tersiksa olehnya?"

Setelah berpikir sejenak. tiba-tiba suatu pikiran cerdik berkelebat dalam benaknya.

"Giok djie, kau sudah banyak tahun berdiam diatas pulau kecil yang jauh letaknya dari daratan, tidak aneh kalau kau tidak mengetahui diarah sebelah manakah pulau itu terletak. Tapi tahukah kau diatas pulau tersebut mempunyai sesuatu ciri-ciri khas yang mudah diingat??"

"Di segala penjuru pulau kecil itu banyak terdapat batu- batu karang." jawab Giok djie dengan cepat. "Burung-burung elang baik yang besar maupun yang kecil semuanya dipelihara diantara gua-gua karang tersebut. bahkan diseluruh pulau dipenuhi dengan tumbuhan pohon Lie Hoa, setibanya bulan tiga atau bulan empat bunga Lie Hoa mekar diempat penjuru, pemandangannya sangat indah sekali. Inilah keistimewaan dari pulau kecil itu."

"Aaah! Kalau begitu pulau tersebut bernama pulau Lie Hoa To?"

Giok djie segera mengangguk.

"Kemungkinan benar, tetapi ia belum pernah mengungkap nama pulau tersebut".

Dalam benaknya Liem Tou segera mengambil keputusan, kepada Giok djie serta si gadis cantik pengangon kambing ujarnya. "Aku rasa disekitar tepi lautan ini tentu banyak penduduk yang hidup disana sebagai kaum nelayan penangkap ikan, malam ini kita menginap disebuah rumah nelayan tersebut sekalian mencari tahu letak dari pulau Lie Hoa To ditambah pula sampan yang kita tumpangi sekecil ini mana mungkin bisa digunakan untuk keluar lautan? kita harus berganti dengan sebuah perahu besar untuk mengarungi samudra, entah bagaimana merurut pendapat kalian ?"

Si gadis cantik pengangon kambing serta Giok Djie sudah tentu tak ada perkataan lain mereka membungkam dalam seribu bahasa.

Mendadak Liem Tou taringat kembali akan kemampuan dirinya untuk berenang didalam air, jikalau menggunakan sebuah sampan kecil untuk melakukan perjalanan bukankah gerakannya akan jauh lebih cepat dan gesit dalam penyelidikan letak pulau Lie Hoa To tersebut?

"Aakh. . benar. biar aku gunakan sampan kecil untuk menyelidiki terlebih dahulu kemudian baru bicara soal yang lain." pikir pemuda she Liem itu dihati.

Tetapi ia tidak sampai mengutarakan ke luar maksud hatinya ini. demikianlah mereka bertiga dengan menumpah sampan kecil itu mendarat disebuah tepi pantai desa kaum Nelayan.

Melihat mnnculnya tiga orang manusia asing didesa tersebut, kaum nelayan penduduk disekitar sana jadi tercengang dan keheran-heranan, karena dalam dusun tersebut jarang sekali dikunjungi oleh orang asing.

Ketika Liem Tou melihat datang dari dusun Nelayan tersebut sangat miskin. dan jumlah perempuan jauh lebih banyak dari kaum lelaki. dalam bhati lantas berpikir;

"Kaum perempuan jelas tidak pernah keluar lautan untuk tangkap ikan, dari mulut mereka tidak mungkin bisa ditanyakan letak dari pulau Lie Hoa To tersebut, lebih baik aku pergi mencari sebuah keluarga yang kelihatannya rada kaya saja untuk berdiam sementara waktu,"

Setelah mengambil keputusan dalam hatinya ia lantas bertanya kepada seorang nelayan.

"Saudara, entah rumah siapa dalam dusun ini yang agak longgar dan dapat menampung kami bertiga untuK sementara waktu???"

Nelayan itu tidak langsung menjawab. ia melirik wajah Liem Tou, sigadis cantik pengangon kambing serta Giok djie lalu berpikir sejenak.

"Entah ada urusan apakah Khe-koan harus berdiam selama beberapa hari dalam dusun ini???" akhirnya ia bertanya.

"Urusan penting sih tidak ada, kami hanya ingin mencari tahu apakah disekitar lautan ini ada sebuah pulau kecil yang bernama Lie Hea To??"

.

Kembali Nelayan itu berpikir kembali mengeleng.

"Disekitar Lautan Timur sebelah sini hanya ada sebuah pulau Tauw Hoa To saja, belum pernah aku dengar nama pulau Lie Hoa To. Koan djien! mungkin kau salah mendengar!" serunya.

"Salah sih tidak mungkin salah lagi, atau mungkin karena kecilnya pulau ini sehingga kalian tidak begitu memperhatikan. Aaaakh? benar, aku ingin menanyakan satu hal lagi.

Pernahkah kalian melihat beribu-ribu ekor burung elang yang terbang berbareng melewati tempat ini? jikalau pernah menjumpainya, masih ingatkah kau dari arah sebelah manakah mereka munculkan diri?"

Pertanyaan ini kontan membuat nelayan itu berdiri melongo dengan mata terbelalak keheranan lama sekali ia baru berseru. "Pertanyaan yang Koan-djien ajukan sungguh lucu sekali , . cuma, pada suatu ketika agaknya pernah terjadi peristiwa macam ini.. coba biar aku berpikir sebentar. . . Aaakh- benar, agaknya peristiwa ini terjadi dua tahun berselang, agaknya pernah ada beribu-ribu ekor burung elang kecil maupun besar berbareng terbang lewati lempat ini. sedang dari arah menakah mereka datang aku kurang begitu ingat, pokoknya mereka datang dari tengah Lautan."

Mendengar kabar berita itu Liem Tou kegirangan setengah mati, buru-buru ia mengucapkan terima kasih kepada si nelayan tersebut.

Sang Nelayan pun tertawa.

"Koan-djien! bilamana aku ingin mengetahui keadaan tersebut lebih jelas lagi lebih baik pergilah kedusun sebelah Utara untuk menjumpai Tjiau Toa pek. dia adalah Kepala kampung dusun ini dan banyak urusan yang ia ketahui".

Sembari berkata nelayan itu menuding ke arah rumah kediaman Tjiau Toa pek yang dimaksudkan.

Liem Tou segera ucapkan terima kasih, dengan membawa serta sigadis cantik pengangon kambing serta Giok djie mereka berangkat menuju kedusun sebelah Utara.

Ditengah perjalanan si gadis cantik pengangon kambing tak dapat menahan rasa ingin tahunya lagi ia bertanya.

"Aku lihat sewaktu tadi kau mendengar pernah ada burung elang yang lewati tempat ini, wajahmu lantas kelihatan begitu gembira. sebenarnya apa sebabnya??".

"Usalkan kau pikir persoalan ini lebih cermat maka kau segara akan mengetahui alasan-alasannya" jawab Liem Tou setelah memandang sekejap gadis tersebut. "Burung-burung elang tersebut terbang lewat tempat ini. ini berarti mereka sedang melakukan perjalanan dari pulau Lie Hoa To menuju kegunung Tjing Shia. asalkan kita bisa mengetahui arah gunung Tjing Shia yang tepat kemudian mengikuti arah kebalikannya pergi mencari, aku rasa tidak sulit untuk menemukan dimanakah letak pulau Lie Hoa To tersebut. coba kau pikir betul tidak???"

Baik si gadis cantik pengangon kambing mau pun Giok djie setelah mendengar ucapan tersebut jadi kegirangan seten gah mati.

Tidak lama kemudian mereka telah tiba didusun sebelah Utara, Kiranya Tjiau Toa pek yang di maksudkan berdiam disebuah bangunan rumah yang dikelilingi oleh pepohonan bambu yang hijau dan tumbuh sangat rapi, jelas tempat itu di atur dengan cermat sekali sehingga di pandang dari luar tempat itu tenang. bersih dan menyenangkan.

Liem Tou segera mengetuk pintu dan berseru keras; "Tempat inikah rumah kediaman dari Tjiau Toa pek??"

Dari dalam ruangan rumah. "Yaya lagi keluar laut tangkap ikan, ada urusan??"

Belum selesai suara itu bergema Liem Tou mimpipun tidak menyangka orang yang keluar hanya seorang bocah cilik berusia delapan. sembilan tahun dangan perbatasan pagar bambu ia mengalihkan separang matanya yang kecil dan jeli untuk perhatikan Liem Tou beberapa orang.

"Ooouw. . sungguh bagus dan bersih wajah bocah ini," Tidak kuasa Liem Tou berseru memuji setelah melihat bocah kecil tersebut,

Tidak lama pintu pagar dibuka dan bocah tadi munculkan diri untuk memberi hormat.

"Kalian bertiga tentu tamu-tamu yang datang dari tempat kejauhan, untuk mencari yayaku ada urusan apa? sebentar lagi yaya akan pulang dari laut."

"Engkoh cilik, usiamu masih sangat muda tapi banyak urusan yang telah kau ketahui, sungguh hebat ! Sungguh mengagumkan." puji Liem Tou sambil tertawa, "Kami datang ke sini hanya ingin menyambangi yayamu belaka dan sebetulnya tak ada urusan yang penting. bolehkah kami duduk di dalam?"

Buru-buru si bocah cilik itu membuka pintu pagar mempersilahkan Liem Tou bertiga masuk kedalam.

Tanpa sungkan-sungkan lagi Liem Tou melangkah masuk, tampak olehnya pintu jendela bersih dari debu. ruang tamu diatur dengan perabot yang sederhana tapi menarik, sedikitpun tidak mirip rumah kediaman seorang nelayan !

Teringat pula akan kecepatan gerak sang bocah sewaktu melongok keluar pagar tadi, diam-diam pemuda she Liem ini ambil perhitungan didalam hatinya

"Tentu rumah ini adalah kediaman seorang pendekar silat yang tidak suka menampakkan kepandaiannya jelas mereka bukan kaum nelayan biasa ." pikirnya dihati.

Karena berpendapat demikian timbullah hasrat Liem Tou untuk menyelidiki urusan tersebut dari mulut sang bocah yang sedang menghidangkan air teh".

"Engkoh cilik!" ujarnya sambil tertawa. "Kau berdiam diri disini hanya dengan yayamu saja?? dimana Tia mu???"

Air muka sang bocah kontan berubah hebat sewaktu mendengar pertanyaan dari Liem Tou ini. tetapi dengan cepat ia sudah berubah tenang kembali.

"Soal ini aku sendiri juga tidak tahu. sejak aku mengerti urusan aku telah hidup berdua bersama yaya seorang bahkan iapun belum pernah membicarakan persoalan ini dengan diriku, harap suka memaapkan. bolehkah aku menanyakan nama besar dari Koei-khek (Tamu terhormat)?? Menanti Yaya pulang dari laut akupun bisa beritahu kepadanya sehingga tidak perlu Koei-khek repot-repot menperkenalkan diri lagi." Melihat cara serta sikap bocah ini berbicara Liem Tou segera menyadari bahwa bocah cilik ini bukan saja mengerti urusan bahkan sangat terlatih.

Selagi Liem Tou hendak memberikan jawaban, mendadak terdengar Giok djie sudah berebut berkata.

"Aakh! kulihat usiamu masih sangat muda kenapa sikapmu begitu pakai aturan sehingga bikin orang kurang leluasa melihatnya, nah? biarlah aku yang beritahukan urusan ini kepadamu. Dia she Liem bernama Liem Tou, sedang aku bernama Giok djie. sekarang aku? siapa namamu?"

,

Sembari berkata Giok djie bersuit nyaring, kearah luar pintu. dua ekor elang raksasa dengan cepat segeta meluncur masuk ke dalam ruangan dan hinggap di atas kedua belah pundak Giok djie,

"Giok djie ! kenapa kau begitu nakal?" Tegur Liem Tou sewaktu melihat kecerobohan si gadis tersebut." Bukankah usiamu jauh lebih tua daripada dirirya?? coba kau lihat bocah ini sungguh tahu kesopanan".

Bocah itu hanya tertawa ringan. ia melirik sekejap keatas wajah Giok djie kemudian memandang ke dua ekor burung elang itu dengan cermat, beberapa saat kemudian mendadak ia bertanya.

"Kau benar bernama Gok djie?"

Siapa yang lagi membohongi dirimu ??" seru Giok djie cemberut, ia merasa sedikit diluar dugaan dengan pertanyaan tersebut.

Bocah itu menelan air liur, ujarnya ragu-ragu. "Aku bernama Tjioe. . ."

Siapa nyana belum selesai ia berkata mendadak dari pintu luar berkumandang datang suara teguran seseorang dengan suara yang berat dan mantap. "Cucuku, kau lagi bicara dengan siapa? apakah rumah kita telah kedatangan tetamu?"

Mendengrr suara tersebut bocah lelaki itu segera menubruk ketempat luaran.

"OOUW . . yaya kau sudah kembali!" teriaknya keras. "Benar, rumah kita telah kedatangan tiga orang tetamu. mereka datang dari tempat kejauhan !"

Buru-buru Liem Tou bangun menyambut kedatangan orang yang disebut „Yaya" oleh bocah cilik itu.

Dari luar pintu berjalan masuk seorang nelayan tua yang telah berusia lima enam puluh tahunan, pada pundaknya ia menjinjing sebuah jaring ikan yang besar, dandanannya tiada berbeda dengan nelayan-nelayan lainnya.

Tapi sewaktu sinar mata mereka berdua saling berbentrok satu sama lainnya, seketika ke dua orang itu sama-sama dibikin melengak.

Terang orang ini bukan seorang manusia biasa, kenapa ia bisa berdiam ditempat ini?" pikir Liem Tou dihati.

Siorang tua itu sendiri setelah memandang sekejap wajah Liem Tou, dengan wajah penuh dihiasi dengan senyuman, ujarnya,

"Aaaaakh. . .! aku si orang tua tidak tahu akan kedatangan tetamu terhormat harap di maafkan ! harap dimaafkan !"

"Tidak berani!" Seru Liem Tou seraya menjura, "Cianpwee terlalu banyak adat justru seharusnya Kamilah yang minta maap karena dengan lancang telah mengganggu ketenangan Loocianpwee!"

Orang tua itu mendongak memperdengarkan suara gelak tertawa yang nyaring dan lantang, mendadak sinar matanya berkelebat dan melototi sepasang burung elang yang hinggap diatas pundak Giok djie dengan pandangan melotot. iem Tou yang dapat melihat sikap aneh dari siorang tua itu timbullah rasa curiga dalam hatinya.

"Apa yang sebenarnya telah terjadi??" pikirnya dihati. "apakah burung elang ini mempunyai hubungan yang erat dengan kakek serta cucunya itu??"'

Dihati ia berpikir demikian sedang diluaran ujarnya. "Tjayhe datang kemari menyambangi Cianpwee, tentu

Cianpwee merasa tercengang dan heran atas kedatangan

kami bukan?? padahal kami tidak ada urusan penting lainnya. tjayhe bertiga kecuali ingin minta ijin kepada cianpwee untuk berdiam beberapa hari disini, disamping itu tjayhe pun ingin minta keterangan akan letak sebuah pulau kecil. entah dapatkah cianpwee mengetahuinya!"

Mendengar ucapan tersebut Tjiau Toa pek Siorang tua itu mendongak kembali tertawa tergelak,

"Tju-wi adalah tamu terhormat yang datang dari tempat kejauhan, asalkan aku si orang tua tahu tentu akan kami beritahu sejelas-jelasnya. sedangkan mengenai tempat tinggal aku si orang tua merasa bangga karena kalian suka berdiam disini, hanya gubuk kami kotor mungkin tidak menyenangkan hati kalian. .!"

"Mana. . mana. . mana, terlebih dahulu tjayhe ucapan banyak terima kasih atas kemurahan hati cianpwee!" ujar Liem Tou ambil tersenyum. "Pulau kecil yang ingin tjayhe cari bernama Lie Hoa To, tahukah cianpwee akan letak pulau tersebut??",

Mendengar disebutkannya nama pulau itu kontan Tjiau Toa pek kerutkan keningnya.

Belum sempat ia berkata si bocah cilik cucunya yang berada di samping sudah berteriak terlebih dahulu.

"Ooouw. . pulau Lie Hoa To, ada. .. ada. "

Mendadak air muka Tjiau Toa pek berubah hebat. "Tjioe djie, apa yang kau ketahui? cepat pergi siapkan santapan, sekalian masak beberapa ekor ikan segar untuk menghormati tetamu."

Kena ditegur Tjioe djie membungkam dan segera putar badan berjalan masuk kedalam. Setelah sang bocah masuk kedalam. Tjieu Toa pek baru berpaliag kearah Liem Tou.

"Tolong tanya siapakah nama besarmu?" "Boanpwee Liem Tou." jawab sang pemuda berterus

terang.

Secara samar-samar dari sepasang mata Tjiau Toa pek memarcarkan cahaya berkilat tapi hanya sebentar saja sudah lenyap kembali.

Hal ini semakin menambah tebal rasa curiga Liem Tou dalam hatinya, ia pertinggi kewaspadaannya.

Terdengar Tjiau Toa pek tertawa terbahak-bahak. "Haaa. .

. haa . . haa. . . aku si orang tua perrah mendengar berita bahwa dari daerah Tionggoan telah muncul seorang pendekar kerbau hijau yang bernama Liem Tou, apakah Koei-khek adalah si Tjing Gouw Hiap khek?"

Sewaktu mengucapkan perkataan tersebut dengan pandangan yang tidak leluasa ia pelototi wajah sang pemuda tajam-tajam.

"Tidak berani, gelar itu hanya pemberian kawan-kawan dunia kongouw kepada tjayhe belaka." kata Liem Tou tertawa, "Padahal kepandaian tjayhe peroleh hanya ilmu silat kaki tiga belaka, mana berani menerima gelar sebagai seorang Hiap- khek? bila pandanganku tidak melamur justru locianpweelah seorang Tjianpwee dari Bu-lim, tjayhe masih mengharapkan banyak petunjuk dari diri tjianpwee !"

"Haa. . .haaa. . . haa. . seorang kakek tua yang hidup tergantung dari menangkap ikan mana boleh disebut seorang Bu-lim tjianpwee?" sekali lagi Tjiau Toa Pek tertawa tergelak. Melihat si orang tua itu tidak suka menerangkan asal usul sendiri Liem Tou merasa tidak enak untuk mendesak lebih lanjut.

Waktu itu ketika Giok djie mendengar apa yang diucapkan kedua orang itu makin lama makin menjauh dan sama sekali tidak menyinggung-nyinggung soal pulau Lie Hoa To lagi, hatinya merasa sedikit tidak sabaran, diam-diam ia bangun berdiri dan menyelinap masuk kedalam bilik.

Tampak olehnya Tjioe djie seorang diri sedang menanak disana. Giok djie segera berjalan menghampiri.

"Heei. . .! aku lihat wajahmu ada sedikit kukenal" tegurnya.

Tjioe-djie memandang pula sekejap kearah gadis itu kemudian mengagguk.

"Akupun demikian, agaknya aku pernah berjumpa dengan dirimu, benarkah kau bernama Giok djie?"

Pertanyaan yang sekali lagi diulang Tjioe djie ini membuat Giok-djie jadi kaget dan tercengang.

"Mengapa kau selalu saja menanyakan namaku?" tegurnya. "Karena aku merasa pernah mendengar nama ini!".

GioK-djie tertegun, ia berpikir keras tapi hasilnya tetap nihil karena itu tanyanya kembali:

"Eeei, . pulau Lie Hoi To yang tadi kau katakan sebetulnya terletak dimana??".

"Ditengah lautan! dahulu Yaya sering membawa aku pergi kesana, ditempat itu banyak terdapat burung-burung elang tapi setelah aku menjadi besar. yaya tidak pernah mengajak aku pergi kesana lagi'".

"Apakah yayamu tidak suka membawa kau pergi kesana??" "Aku tidak tahu, yaya belum pernah mengungkap persoalan

tersebut sampai kesoal ini". Giok-djie membungkam. sejurus kemudian mendadak ia teringat akan satu persoalan. tiba-tiba tanyanya;

"Kau pernah berlatih ilmu silat??"

Lama sekali Tjioe-djie melototi dirinya, akhirnya ia mengangguk.

"Pernah!" jawabnya lirih.' Tapi yaya melarang aku beritahu urusan ini kepada orang lain, kau jangan katakan kepada orang lain lho!"

"Aku tahu, dan sekarang kau harus harus beritahu kepadaku dimana letak pulau Lie Hoa To tersebut !"

Kembali Tjioe-djie berpikir kemudian ujarnya lirih. "Bukankah tadi kau mendengar sendiri apa bila yaya

sedang marah kepadaku? agaknya ia tidak perkenankan diriku untuk beritahu letak pulau tersebut kepada kalian, apa maksudmu mencari tahu letak pulau Lie Hoa To?"

Giok-djie yang makin melihat makin menaruh simpatik terhadap bocah ini, sekarang sama sekali tidak mengelabuhi dirinya,

"Kami hendak pergi mencari seseorang, kepandaian silat yang ia miliki luar biasa lihaynya dan dahulu aku mengikuti dirinya." sahutnya setengah berbisik.

"Aaakh. sekarang aku teringat sudah, bukankah ramamu Tjioe Leng Tju ?"

Sepasang mata Tjioe-djie yang terbelalak semakin melebar lagi. ia pelototi diri Giok-djie tak berkedip.

"Eeei. . benar! darimana kau bisa tahu??" serunya terkejut bercampur tercengang.

"Ooouw. . tidak kusangka kau adalah Tjioe Leng Tju." waktu itu Giok-djie sendiripun pun rasa kaget dan

melengak. "Aku adalah enci Giok mu. sewaktu berada diatas pulau Lie Hoa To kita hanya pernah berjumpa dua kali, tapi begitu kujumpai dirimu aku lantas suka padamu kau sangat baik dan penurut! kejadian itu mungkin telah berlangsung lima tahun berselang, bukankah waktu itu kau berdiam didalam rumah putih yang ada diatas pulau, bagaimana sekarang bisa berada disini??".

AKU SUDAH tidak lagi semua urusan ini. Oouw...enci Giok ! maukah kau beritahu kepadaku tentang hal itu??".

Dengan adanya penemuan ini perasaan hati Giok djie semakin tertekan lagi, ia menggeleng.

"Aku sendiripun tak dapat menceritakan persoalan itu. cuma bila dugaanku tidak salah kau seharusnya adalah putra Thian Pian Siauwtju coba lihat! potongan wajahmu sangat mirip sekali dengan dirinya."

"Thian Pian Siauwtju?? siapa itu Thian Pian Siauwtju, aku belum pernah mendengar nama orang ini !"

Sewaktu mereka sedang bercakap-cakap dengan asyik. mendadak dari luar jendela dapur Tjioe djie menemukan adanya bayangan putih yang berkelebat lewat, tak kuasa lagi dengan seluruh tenaga yang ada dia berteriak:

"Yaya kau dimana! Coba kau lihat dari luar jendela agaknya ada bayangan manusia sedang berkelebat lewat."

Teriakan tersebut seketika membuat hati Liem Tou tergetar bayangan hijau berkelebat lewat tahu-tahu ia sudah melayang keluar kamar dan sekali enjotkan badan berdiri diatas atap rumah. dimana sinar matanya berkelebat mendadak dari tempat kejauhan ia temukan adanya sesosok bayangan putih sedang berlari menjauh.

Bila ditinjau dari potongan badan mau pun caranya berlari tak usah diragukan lagi Liem Tou dapat mengenali sebagai potongan badan Boe Beng Tok-su. tidak kuasa lagi ia menggerutu didalam hati:

"Kurang ajar, sungguh orang itu bernyali berani mengikuti aku sampai disini!"

Dengan hati gemas Liem Tou segera meloncat turun kebawah.

"Benar-benar ada orang??" buru-buru si gadis cantik pengangon kambing menegur.

"Benar!" Liem Tou mengangguk, "Kembali simanusia yang tidak tahu diri itu."

"Siapa ??" tanya Tjiau Toa Pek secara tiba-tiba dengan sinar mata berkilat. "Aku Tjiau Toa pek seharusnya merasa bangga bisa mendapat kunjungan begitu banyak kawan."

"Tjianpwee kau jangan marah, Cayhe telah membawa datang kerepotan buat diri Tjianpwee, bila dibicarakan sebetulnya orang ini mempunyai nama besar yang sangat terkenal, dia adalah Sin Beng kauwtju yang bernama Boe Beng Tok-su. Tjianpwe! pernahkah kau mendengar nama orang ini? "

Seluruh tubuh Tjiau Toa Pek tergetar keras setelah mendengar nama orang itu, wajahnya kelihatan begitu ketakutan.

"Sin Beng kauwtju? Siapa yang tidak tahu nama besarnya?

Aduuh celaka, jika ia betul-betul datang habislah sudah..."

Melihat sikap siorang tua yang berpura-pura Liem Tou diam-diam tertawa dingin tiada hentinya. "Kendati aku Liem Tou lebih tak becus pun masih dapat melihat apabila kau pandai bersilat." pikirnya dihati, "Mungkin kepandaianmu tidak berada di bawah ilmu silat Boe Beng Tok- su apa gunanya kau perlihatkan sikap yang berpura-pura macam ini?"

Hingga detik inilah Liem Tou tahu Tjiau Toa pek yang berada di hadapannya saat ini kemungkinan besar mempunyai hal-hal yang tidak cocok dan berdiri pada posisi berlawanan dengan dirinya, teringat akan hal ini Liem Tou pun tidak sungkan-sungkan lagi.

"Kedatangan cayhe kali ini ke Timur terus terang saja sebetulnva hendak pergi mencari pulau Lie Hoa To untuk menjumpai Thian Pian Siauwtju, Ke Hong guna menghitung piutang tempo dulu, hanya sayang tidak kami ketahui dimanakah letak pulau Lie Hoa To tersebut, apabila loocianpwee mengetahui letak pulau tersebut harapkan suka memberi petunjuk. Tjayhe tentu merasa sangat berterima kasih sekali."

"Aku si orang tua sudah hidup puluhan tahun lamanya ditempat ini, dan nama pulau Lie Hoa To pernan kami dengar hanya saja arah yang sebetulnya kurang terang. Jikalau thayhiap ada maksud pergi kesana, demikian saja. bagaimanapun ini hari cuaca sudah menggelap, untuk sementara kalian berdiamlah sehari disini besok pagi aku akan bantu kalian pergi mencari tahu letak pulau Lie Hoa To tersebut, tentu aku tak akan bikin thayhiap jadi kecewa."

Liem Tou yang merasa ucapan itu memang rada cengli segera menyanggupi, hanya saja pada waktu itu pemuda kita dapat menemukan air muka Tjiau Toa pek rada sedikit tidak beres, timbullah rasa curiga dalam hatinya.

"Mungkinkah dibalik kesemuanya ini sedang menjalankan suatu siasat licik? Aku harus waspada dan selalu bersiap sedia." pikirnya didalam hati. Ketika itu Giok djie telah berjalan keluar dari dalam dapur, sekalipun ia berhasil mendapat tahu keadaan yang sebenarnya dari Tjioe djie tapi ia gagal dalam mencari tahu letak dari pulau Lie Hoa To tersebut.

Malam itu setelah habis bersantap malam Giok-jie mencari satu kesempatan baik untuk memberitahukan urusan ini pada diri Liem Tou!

"Paman Liem. aku ingin memberitahukan satu urusan kepadamu, bocah cilik itu pernah kujumpai sewaktu masih berada diatas pulau Lie Hoa To. Kemungkinan besar dia adalah putra dari Thian Pian Siauwtju!".

"Hakh, dikolong langit mana ada urusan seaneh ini??" mendengar perkataan itu mendadak Liem Tou tertawa. "Ke Hong tidak punya istri, darimana ia bisa punyak anak?"

"Benar, tentang urusan itu aku sendiri pun kurang jelas cuma aku masih ingat bukankah pernah aku bercerita kepalamu apa bila diatas pulau itu terdapat sebuah rumah berwarna putih kecuali siauwtju seorang siapapun dilarang memasuki tempat itu, menurut pemikiran kemungkinan besar istrinya ia sembunyikan disana".

Liem Tou tetap menggeleng.

"Persoalan ini tidak mendekati kenyataan aku masih kurang percaya.." katanya.

GIOK jie langsung mencibirkan bibirnya dengan mendongkol katanya:

"Thian Pian siauwtju justru merupakan seorang manusia yang tidak kenal aturan, apanya yang perlu diherankan??" Ia segera putar badan menemani sigadis cantik pengangon kambing pergi istirahat.

Liem Tou tetap beristirahat diruang tetamu.tapi mana ia sanggup pejamkan mata? teringat akan kelihayan dari sikap Tjiau Toa pek tak terasa ia bangun dan duduk bersemedi sebentar. perlahan-lahan pikiran serta semmgatnya jadi segar kembali

Pendengarannva semakin tajam, ratusan tombak disekeliling tempat itu dapat ia dengar dengan jelas bahkan rontoknya setangkai daun keringpun tak bakal lolos dari telinganya.

Pada saat itulah telinganya dapat menangkap suara lari seseorang yang ringan tapi cepat melayang turun dari ratusan tombak jauhnya di luar gubuk tersebut orang itu datang dari tempat luaran.

Liem Tou dapat mendengar suara berkibarnya ujung baju tersampok angin, dalam beberapa kali loncatan saja orang itu sudah berada disamping gubuk tersebut lalu disusul dengan suara sentilan jari mengetuk jendela.

Suara itu berasal dari kamar Tjiau Toa Pek siempunya rumah.

"Oooow . kiranya ia mendatangkan pembantu." diam-diam pikir Liem Tou dalam hati.

Tidak selang beberapa saat Liem Tou kembali dapat menangkap suara dibukanya sang jendela disusul dengan suara lirih dari sang bocah.

"Yaya kau pergi kemana !" Kau pergilah tidur?" sahut Tjiau Toa pek lirih. "Disini tak ada urusanmu lagi, dan haruslah kau ketahui persoalan ini sangat menegangkan, setelah kau menginjak dewasa kau bakal tahu sendiri, jikalau besok pagi orang-orang itu bertanya kemana aku pergi, kau harus menjawab aku sedang pergi kedusun untuk mencari tahu letak pulau Lie Hoa To. jangan sekali-kali kau ceritakan persoalan malam ini."

suasana kembali sunyi senyap. Liem Tou tahu Tjiau Toa pek telah meloncat keluar dari jendela dan kini ia telah berada diluar rumah. "Asalkan mereka belum keluar dari seratus tombak dari sini, aku tak boleh mengejutkan mereka, aku harus dengar dulu siapa yang barusan datang kemari." pikir Liem Tou didalam hati.

Sedikitpun tidak salah, kedua orang itu sama-sama berhenti disuatu tempat lima puluh tombak dari ruangan gubuk.

Terdengar Tjiau Toa pek berkata: "Jikalau dugaanku tidak salah, kau pastilah Sin Beng Kauwtju."

.

"Ooow.. dia?" seru Liem Tou sangat terperanjat didalam hatinya. "Jika kudengar dari nada ucapannya jelas mereka saling mengenal."

Boe Beng Tok-su tertawa ringan. "Bila dugaanku tidak meleset, kau dapat mengelabuhi sepasang mata Liem Tou si bangsat cilik itu tapi tak bakal bisa mengelabuhi diriku kau tentu adalah mertua Thian Pian siauwtju yang disebut orang sebagai Siauw Bian Thiat Tjiang atau si Telapak besi berwajah riang Tjiau Thian Kie adanya."

Tjian Toa pek mendengus dingin.

"Tempo dulu kau kirim orang datang untuk mengundang aku masuk perkumpulanmu sekarang apa maumu?? walaupun tempo dulu aku dengan si hweesio tujuh jari Tjhiet Tjie Tauw tuo mempunyai sedikit ikatan persahabatan, tapi akhirnya aku menyesal telah bergaul dengan dirinya. apa maksud kedatanganmu kemari jika kau tidak mau bicara ajoh cepat pergi dari sini."

.

"Orang budiman tidak bicara kata-kata sembunyi." ujar Boe Beng Tok-su kembali tertawa, "Tjiau Susiok aku lihat bukankah kau hendak menyeberang kepulau Lie Hoa To untuk mengirim kabar kepada diri Ke Hong?? aku lihat tak berguna usahamu ini, Liem Tou sudah bulatkan tekad dengan taruhan nyawa hendak menjumpai dirinya, cepat atau lambat ia bakal terluka ditangan Liem Tou' apa gunanya kau pergi mengirim kabar buat dirinya?"

"Siapa yang bilang aku mau pergi kepulau Lie Hoa To??" Seru Tjiau Toa pek gusar, "Siapa yang mau mengurusi urusan menantu jahanam tersebut?"

"Heee ..heeee. heeee . aku lihat kau sedang bicara lain diluar lain dihati! Walau pun Ke Hong dengan paksa mengawini putrimu bahkan dalam keadaan gusar ia telah menyelesaikan istrinya ditangan sendiri. tapi menantumu sampai akhirpun tetap merupakan menantumu apalagi kau sekarang sudah mempunyai cucu luar!"'

Agaknya Tjiau Toa pek telah dibikin gusar oleh ucapan tersebut. ia membentak gusar, "Kau siluman jahanam. sebenarnya ada urusan apa datang kemari???..."

"Sekarang ku masih belum boleh beritahu hal ini kepadamu, tapi lambat laun kau akan jadi jelas dengan sendirinya. Cuma kau boleh berlega hati, terhadap dirimu aku tidak bermaksud untuk mencelakai, nah sekarang bila kau mau pergi cepatlah pergi, maaf badanku masih menderita sedikit luka yang parah sehingga tak dapat membantu diri Ke hong. tetapi Liem Tou sibangsat cilik itu pada suatu hari pasti akan menemui ajalnya ditanganku. aku bisa bicara pasti bisa melakukannya,"

Terhadap apa yang diucapkannya Sun tji si, agaknya Tjiau Toa pek masih merasa tidak berlega hati. desaknya lebih lanjut:

"Setelah kedatanganmu punya maksud tertentu kenapa tidak cepat kau utarakan? seorang lelaki sejati bisa berbicara bisa berbuat kenapa tidak kau sekalian terangkan?? kemungkinan sekali aku sitelapak besi berwajah riang bisa menyembuhkan dirimu !"

"Urusan yang lain mungkin kau masih bisa menyempurnakan diriku. tapi urusan ini kau pasti tak dapat melakukannya." Seru Boe Beng Tok-su dengan memperendah suaranya. "Sekali lagi kuulangi perkataanku kepadamu kedatanganku kemari adalah bermaksud baik. kita sama-sama memperoleh manfaat yang tidak saling merugikan, dan malam ini sekalipun kukatakan kepadamu kau juga tak akan percaya, tapi sepuluh tahun kemudian kau pasti akan berterima kasih sekali kepadaku."

"Sepuluh tahun . .?" Saking kaget dan tertegunnya Tjiau Toa pek berseru tertahan,

Liem Tou dapat mendengar kesemuanya itu dengan sangat jelas. Kembali Boe Beng Tok-su tertawa diiringi dengan ujung baju tersampok angin ia telah meloncat keluar dari lingkungan seratus iombak dan tidak kedengaran lagi suaranya.

Hingga saat inilah Liem Tou sudah tahu kedudukan yang sebenarnya dari Tjiau Toa-pek bahkan mengetahui pula bila malam ini ia hendak berangkat menuju pulau Lie Hoa To, kesempatan baik susah dipastikan ia segera bangun berdiri dan mengintip dari celah-celah pintu.

Tampak olehnya Tjiau Toa-pek dengan berpangku tangan sedang berjalan bolak-balik diluar pintu pagar.

Tidak usah diragukan lagi ia sedang memikirkan apa maksud kedatangan Boe Beng Tok-su kemari, tujuan orang itu membuat hatinya tidak tenang.

Beberapa saat kemudian ia mendongak, setelah diketahui waktu telah menunjukkan kentongan ketiga hatinya semakm cemas dan gelisah lagi, sepasang telapak tangannya mengepal kencang dan merasa cemas.

Akhirnya ia hentakkan kakinya ketanah kemudian berkelebat menuju kearah tepi lautan. Melihat orang itu telah berlalu Liem Tou pun enjotkan badannya menerobos keluar dari jendela dan menguntil dari belakang. Setelah berlarian beberapa ketika, sepasang mata Liem Tou yang bisa melihat sesuatu dengan jalan ditengah kegelapan dapat menemukan munculnya sebuah teluk alam disisi lautan dimana berpuluh-puluh sampan nelayan berlabuh disana.

Tjiau Toa pek langsung berkelebat menuju keteluk itu dengan kecepatan laksana sambaran kilat, Liem Tou yang melihat gerakan tubuhnya segera dapat menduga apa bila tenaga sinkang yang dimiliki orang tua ini telah berhasil mencapai kesempurnaan.

Diam-diam hatinya kegirangan, ia berpikir:

"Asalkan malam ini kau bisa tiba dipulau Lie Hoa To sudah tentu akupun bisa sampai juga."

Tapi iapun tahu jelas. asalkan membiarkan ia melepaskan perahunya untuk berangkat ketengah lautan kemudian baru melakukan pengejaran dari belakang maka tindakannya ini pasti konangan.

Daripada berbuat demikian ia ambil keputusan untuk mendahului orang tua itu bersembunyi terlebih dahulu dibawah perahunya, setelah ia berangkat bukankah ia bakal ikut??

Ketika ia sudah berhasil mengambil keputusan. jarak mereka dengan teluk dimana pada berlabuh tinggal seratus tindak belaka. sedang Tjiau To pek hanya lima puluh tomdak didepan. Liem Tou dengan kepandaian pemuda ini ia masih sempat mengejar sebelum orang itu menjalankan perahunya.

Dengan cepat badannya berkelebat lewat sejauh tujuh delapan tombak, dalam dua kali loncatan ia telah berada tiga puluh tombak jauhnya lalu dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya ia berputar satu kalangqn besar dan muncul kembali dari arah yang berlawanan dengan Tjiau Toa pek. Setibanya ditengah teluk tersebut pemuda ini bersembunyi dibalik perahu para nelayan lainnya, dengan demikian Tjiau Toa pek sama sekali tidak menemukan jejaknya.

Pada waktu itu Liem Tou dapat melihat Tjiau Toa pek telah berjalan naik keatas sebuah perahu sampan dengan layar tunggal, diatas sampan tersebut hanya terdapat sebuah barak kecil yang hanya muat untuk menampung seseorang dari curahan hujan,

Setelah melepaskan jangkar Tjiau Toa pek siap menjalankan perahunya menuju ketengah lautan.

Melihat keadaan dari sampan tersebut, Liem Tou mulai berpikir didalam hatinya, "Untuk bersembunyi diatas perahu sampan sekecil ini tanpa konangan rasanya merupakan suatu hal yang mustahil."

Terpaksa secara diam-diam ia turun kedalam air untuk bersembunyi di belakang barisan perahu sampan itu turun dan membonceng dari sana.

Pada dasarnya ilmu berenang dari Liem Tou sangat lihay, setelah berada di dalam lautan ia tidak takut lagi kena didorong oleh ombak lautan yang besar.

Tidak lama kemudian Tjiau Toa pek dengan menggunakan sampan kecil itu telah meninggalkan teluk menuju kelautan bebas.

Suasana diempat penjuru sunyi senyap tak ada sedikit suarapun. yang terlihat hanya rembulan yang tergantung di tengah awang-awang dan bintang berkelip di tempat kejauhan, angin laut berhembus tajam mendatangkan rasa perih di badan.

Setelah berada ditengah samudra bebas, Tjiau Toa pek bekerja makin keras. sampan kecil tersebut bagaikan sebuah daun kering saja laksana anak panah yang terlepas dari busur meluncur kearah depan. Kurang lebih setengah jam kemudian sampan telah berada ditengah samudra yang amat dalam, ombak segulung demi segulung bergelora mendatang membuat perahu sebentar naik sebentar turun.

Sampan itu dimainkan ombak bagaikan sebentar berada diatas puncak gunung sebentar kemudian terperosok kedasar lembah yang dalam sungguh membuat hati merasa bergidik.

Tapi Tjiau Toa pek sebagai seorang nelayan yang kerjanya setiap hari ada ditengah lautan, ombak sebesar itu sama sekali tidak mempengaruhi dirinya.

Kembali setengah jam lewat dengan cepatnya, agaknya Tjiau Toa-pek merasa jalannya perahu terlalu lambat terlihat tangan kirinya mencekal dayung dan tangan kanan mulai mengirim pukulan kosong menghantam permukaan air laut. Dengan demikian gerakan sang perahu jadi lebih cepat berkali kali lipat, terutama sekali pukulan Tjiau Toa pek yang berat bagaikan hantaman benda ribuan kati ini semakin mempercepat gerakan perahunya.

Liem Tou yang membonceng dibelakang, sembari secara diam-diam memperhatikan arah yang mereka tuju pikirnya dihati:

"Kenapa aku tidak membantu dirinya sehingga bisa lebih cepat tiba dipulau Lie Hoa To ???"

Berpikir secara demikian tanpa berpikir panjang lagi telapak tangannya mengirim sebuah pukulan lunak keatas permukaan, pukulan ini halus dan sama sekali tidak meninggalkan bekas diatas permukaan laut walaupun kekuatannya sangat luar biasa.

Sang perahu kontan saja meluncur kedepan dengan kecepatan bertambah puluhan kali lipat. Bantuan yang diberikan Liem Tou secara diam-diam ini segera mendatangkan rasa kaget dan tercengang bagi diri Tjiauw Toa pek, terdengar ia bergumam seorang diri:

"Sungguh aneh sekali, perahuku kenapa bisa meluncur dengan kecepatan beberapa kali lipat lebih hebat dari biasa?".

Mendengar ucapan itu Liem Tou mengerti dihati Tjiau Toa pek telah timbul perasaan was-was, karena bersamaan dengan berhentinya si orang tua itu mengirim pukulan kosong keatas permukaan laut Liem Tou terpaksa berhenti pula membantu.

Dengan demikian setelah perahu itu menerjang puluhan tombak jauhnya kedepan perlahan-lahan jadi lambat kembali.

Melihat hal tersebut tak terasa lagi Tjiau Toa pek tertawa geli sendiri.

"Aku sungguh bodoh, buat apa kukhawatirkan hal yang tak berguna, kejadian apa lagi yang bisa menimbulkan keanehan kecuali perbuatan sendiri."

Karena berpikir demikian iapun kembali mengirim pukulan kosong keatas permukaan sehingga Liem Tou dapat membantu pula mempercepat perjalanan yang sedang mereka tempuh.

Perahu bergerak dengan cepatnya dan kentongan keempat pun telah tiba. Liem Tou yang bersembunyi dibelakang perahu tidak berhasil mengetahui apakah mereka telah tiba dipulau Lie Hoa To atau belum, hanya secara mendadak ia dapat menangkap suara suitan Tjiau Toa pek yang nyaring dan bergema memenuhi seluruh permukaan lautan yang luas.

Suitan panjangnya berkumandang jauh sampai puluhan lie, dimana suara suitan lewat angin pukulanpun kembali menyambar. "Aah, mungkin sudah hampir sampai pikirnya dalam hati, "Jelas suara suitan itu ditujukan untuk mengirim kabar ke arah pulau."

Dengan tenaga murninya yang hebat Lim Tou menghantam keatas permukaan air laut. Siapa sangka justru ketika itulah perahu sedang bergerak dengan kecepatan penuh. tenaga tekanan dari Liem Tou ini kontan mengangkat sampan tersebut meninggalkan permukaan air setinggi beberapa coen dan menyusup puluhan tombak jauhnya.

Tjiau Toa pek yang ada diatas perahu segera merasakan badannya gontai sehingga hampir hampir saja terlempar jatuh ke dalam laut. Saat ini ia tak dapat menahan diri lagi segera bentaknya:

"Keadaan pada malam ini sangat mencurigakan, hei siapa yang ada didasar perahu, ayoh cepat munculkan diri untuk berjumpa dengan diriku."'

Teguran ini membuat Liem Tou berdesir, pikirnya: "Pulau Lie Hao To belum kelihatan bayangannya, jikalau

jejakku benar ditemukan bukankah usahaku selama ini akan menemui kegagalan??"

Ketika itulah Liem Tou secara mendadak merasakan kaki Tjiau Toa pek bergeser ke arah belakang perahu dan agaknya hendak melongok kebawah perahunya.

Liem Tou gelisah, diam-diam ia menyusupkan diri kedasar lautan sedangkan tangannya mencekal bagian perahu yang berada didasar air. dengan berbuat demikian maka jejaknya akan terhindar dari pemeriksaan Tjiau Toa pek.

Sedikitpun tidak salah. Tjiau Toa pek benar-benar bongkokkan badan untuk memeriksa dasar perahu tapi mana mungkin ia temukan bayangan manusia disana? tak terasa lagi siorang tua ini bergumam seorang diri: "Sungguh ini hari kutemui setan, kenapa baik perahuku bisa terbang sendiri?? apa mungKin ada ikan hiu raksasa yg lewat dibawah lantas sekalian mengangkat badan perahuku? tapi ...siapa yang mau percaya dengan hal tersebut?"

Sejurus kemudian Liem Tou munculkan dirinya kembali keatas permukaan air laut tanpa menimbulkan sedikit suarapun, ia kuatir benarkah mereka sudah tiba dipulau Lie Hoa To atau belum! sembari mencekal pinggiran perahu sedikit demi sedikit ia bergeser keujung perahu dan memandang kedepan.

"Aaah... bukankah itu adalah sebuah pulau kecil??' serunya dalam hati.

Dihadapan matanya tampak terbentang sebuah palau dengan bukit yang menjulang keangkasa sungguh indah dan megah pemandangannya.

Liem Tou kegirangan setengah mati melihat munculnya pulau tersebut. meminjam tertutupnya pemandangan dari arah belakang kedepan oleh sebuah bilik kecil Liem Tou menerobos masuk kedalam perahu dan bersembunyi dibalik bilik tadi.

Pada dasarnya perahu itu sudah dibasahi oleh ombak maka walaupun dengan badan basah kuyup ia naik keperahu sama sekali tidak meninggalkan bekas apapun juga. diam-diam ia menghembuskan napas panjang.

"Kenapa tidak sejak tadi aku datangi tempat ini??? tahu begini tak perlu repot-repot badanku terendam air laut selama satu kentongan lebih.

Dengan badan capai ia membaringkan diri didalam perahu dan pejamkan mata atur pernapasan.

Sedangkan Tjiau Toa pek yang ada diluar satu pukulan demi satu pukulan masih menggerakan perahunya. hanya saja kali ini kendati ia sudah keluarkan seluruh tenaga perahunya tidak juga berhasil bergerak secepat waktu tadi. Tidak lama kemudian perahu sudah menepi dan Tjiau Toa pek pun gerakkan perahunya mendekati pantai teriaknya secara tiba-tiba:

"Ke Hong! Ke Hong! jika kau berada di atas pulau cepatlah datang kemari, aku Tjiau Thian Kie ada perkataan yang hendak disampaikan kepada kamu,"

Walaupun ia sudah berteriak beberapa saat dari atas pulau belum juga kedengaran suara sahutan seorang manusiapun.

Terpaksa ia menjalankan kembali perahunya mengikuti sepanjang pantai dari tempat kejauhan akhirnya ia temukan cahaya lampu'

Buru-buru teriaknya kembali: "Adakah manusia diatas pulau?? cepat datang menjumpai aku Tjiau Thian Kie!"

Suara teriakan ini amat lantang dan nyaring tidak mungkin kalau orang yang ada diatas pulau tidak mendengar suaranya. Siapa sangka begitu suara tadi meluncur keluar lampu yang semula berkelip-kelip di atas pulau kini padam sama sekali.

Tjiau Thian Kie jadi gusar dan mencak-mencak dengan langkah berat berjalan keujung perahu untuk melemparkan jangkar kelaut sedang ia sendiri meloncat naik ke atas pantai.

Liem Tou yang berada didalam bilik segera ikut bangun untuk menguntil dari belakang tapi belum sempat ia melakukan sesuatu mendadak tampak sesosok bayangan manusia berkelebat lewat diatas pantai dan menghadang jalan pergi siorang tua itu.

"Siapa kau?? berani benar kau berteriak-teriak diatas pulau Lie Hoa To." tegur orang itu penuh kemarahan. "Malam ini Siauwtju sedang merayakan hari perkawinannya berani benar kau merusak kesenangannya, ayo cepat menggelinding pergi dari sini !"

Liem Tou yang mendengar Thian Pian Siauwtju sedang kawin hatinya tergetar keras. Kiranya orang yang barusan datang adalah Thiat Bok Thaysu, agaknya ia sudah kebanyakan meloloh air kata-kata, walaupun pikirannya belum sinting tapi wajahnya tidak sedingin keadaan biasanya.

Tjiau Thian Kie yang mendengar Tjian Pian Siauwtju sedang kawin. seketika itu meladaklah rasa gusar dihatinya, tanpa banyak berbicara lagi telapak tangannya segera diayun kedepan mengirim sebuah pukulan yang maha dahsyat,

Setelah itu barulah bentaknya: "Budak jahanam itu berani kawin??? kurang ajar ia berani kawin dengan siapa ayoh cepat suruh ia menggelinding keluar menemui diriku!"

Walaupun ilmu pukulan tunggal beracun yang paling diandalkan Thiat Bok Thaysu telah dihancurkan oleh Liem Tou. tetapi kepandaian yang sebenarnya sama sekali belum hilang. dengan gesit ia melejit dan mundur beberapa tombak kebelakang.

Dengan demikian ia berhasil menghindarkan diri dari serangan dahsyat Tjiau Toa pek itu.

"Thiau Thian Kie! kau kira aku benar-benar tidak mengenali dirimu lagi?" teriaknya penuh kegusaran. "waktu itu beruntung kau lari terlalu cepat sehingga tidak sampai mati bersama dengan Tjiat Tjie siiblis tua dipuncak Lau Hong selama puluhan tahun kemudian kita berjumpa lagi disini. hal ini sungguh merupakan suatu pertemuan yang amat menggembirakan."

Oleh teguran itu sebaliknya Tjiau Thian Kie yang dibikin melengak, setelah memandang beberapa kejap wajah Thiat Bok Thaysu dengan teliti mendadak ia mendongak tertawa terbahak-bahak.

"Haaa ...haaa. ,aku kira siapa tidak tahunya ialah Thiat Bok-heng. bagaimana kabar Thiat Bok-heng selama perpisahan kita?" "Tjiau Thian Kie, siapa yang mengaku saudara dengan kau?? mau bergebrak ayoh cepat turun tangan." teriak Thiat Bok Thaysu dengan muka masam.

Liem Tou yang menonton kejadian itu disisi kalangan, dalam anggapannya Tjau Thian Kie pasti tak kuat menahan diri dan diantara mereka tentu terjadi suatu pertarungan yang amat sengit,

Siapa sangka Thiau Toa pek malah mendongak tertawa terbahak-bahak.

"Thiat Bok-heng, kau jangan salah sangka, aku bukannya takut dan jeri kepadamu justru karena kedatanganku kemari ada persoalan penting yang tak boleh diulur lagi waktunya. mau bergebrak waktu dikemudian hari masih panjang. cepat kau suruh Kie Hong keluar menjumpai diriku, aku hanya akan memberitahukan sesuatu kepadanya kemudian segera balik kembali. "

"Hmm, Siauwtju kau boleh menemuinya, tapi kau jangan berpikir untuk pulang lagi dari sini." .

Sembari berkata tangannya diayun kedepan melemparkan sebuah benda ke tengah udara. Benda tadi dengan meninggalkan suitan nyaring dan meledak diudara.

Dalam pada itu Liem Tou telah menyelinap keluar dari bilik perahu, diam-diam merangkap ketepi pantai dan bersembunyi dibalik semak belukar. Terhadap apa yang terjadi antara Thiat Bok thaysu dengan Tjiau Toa pek ia dapat melihatnya dengan sangat jelas.

Tak selang beberapa saat setelah tanda pengenal tadi dilempar ketengah udara, di tengah kegelapan muncullah seorang lelaki berjubah biru yang berjalan lambat-lambat dan limbung dengan didampingi seorang perempuan berusia empat atau lima belas tahunan.

Sekali memandang Liem Tou segera mengenali orang itu sebagai Tian Pian siauwtju yang didampingi oleh Kiem djie. Sebelum Thian Pian siauwtju tiba ditengah kalangan, ia sudah berseru menegur.

"Thiat Bok-heng, waktu perkawinan tiba, ada urusan apa kau mengirim tanda memanggil aku datang kemari??"

"Siauwtju belum sadar dari maboknya mana mungkin bisa kawin?" kata Thiat Bok Taysu sambil tertawa. "Apalagi malam ini kita telah kedatangan tamu tak diundang. Aku lihat lebih baik siauwtju kerahkan tenaga sinkang untuk paksa keluar arak tersebut dari badan dan persegar dikit pikiranmu. Aku lihat urusan tak akan segampang itu."

"Haah.,.haah.. haah. .siapa yang telah datang kemari," seru Thian Pian siauwcu sambil tertawa tergelak. "Kebetulan kedatangannya tepat sewaktu pulau kita sedang merayakan hari perkawinanku.".

Beberapa patah kata ini membuat Tjiau Thian Kie naik pitam, ia tak dapat mengendalikan hawa gusar yang bergelora dalam dadanya lagi, sekali loncat ia telah berada disisi Thian Pian siauwtju.

"Ke Hong, aku Tjiau Thian Kie datang memberi ucapan selamat kepadamu." teriaknya keras-keras. "Aku lihat kematianmu sudah berada diambang pintu kau masih mengigau!"

Mendengar disebutkannya nama "Tjiau Thian Kie" Thian pian siauwtju jadi terperanjat badannya buru-buru mundur tiga langkah kebelakang sedang pengaruh arak pun hilang separuh.

Pada saat itu Thiat Bok taysu telah meloncat ke depan dan menghadang dihadapan Tjiau Thian Kie.

Dengan gusar Si orang tua she Tjiau meraung keras. sepasang telapak bersama-sama bergerak mengancam seluruh bagian tubuh yang berbahaya diatas badan Thiat Bok thaysu, bersamaan itu pula teriaknya keras. "Ke Hong, aku bunuh mati dulu Thiat Bok sibajingan tua ini kemudian akan mendatangi pulau ini untuk mencari balas. kau disini masih mabok-mabokan sembari mengigau. siapa yang suruh kau kawin lagi? siapakah perempuan itu? ayoh cepat jawab pertanyaanku!"

Diiringi raungan keras, angin pukulan menderu-deru memenuhi seluruh angkasa. berturut-turut ia mengirim delapan buah serangan sekaligus.

Thiat Bok Thaysu menderita rugi karena kesepuluh jari tangannya telah putus semua, mana ia bisa melancarkan serangan balasan badannya terdesak hebat dan terpaksa harus menggunakan ilmu meringankan tubuh berkelit kekiri menyingkir kekanan, sama mempunyai kekuatan untuk balas melancarkan serangan.

Melihat kejadian itu Thian Pian Siauwtju segera berteriak keras:

"Mertua yang terhormat, kau salah paham, untuk sementara bagaimana kalau mendengar dulu penjelasan menantumu???"

"Sreet! sreet! sreet!" kembali Tjiau Toa pek melancarkan tiga buah serangan gencar kemudian baru menarik diri kebelakang.

"Cepat bicara ."teriaknya gusar, "Aku sudah tidak mengakui kau sebagai menantuku lagi, bilamana bukan memandang diatas wajah Tjioe Leng Tju saat ini sudah kucabut nyawamu."

Entah mengapa sikap Thian Pian Siauwtju terhadap Tjiau Toa pek amat halus dan menurut, hal ini membuat Liem Tou agak mendongkol dan mangkel.

Tampak Thian Pian Siauwtju dengan sangat hormat kepada orang tua itu ujarnya:

"Gak-hu Thaydjie jangan keburu marah, dengarlah dulu ucapan menantumu, perempuan itu bukan lain adalah susiok dari Liem Tou dan merupakan anak murid Auw Haa Siang Hiap" Lok Yong tempo dulu. aku berbuat demikian justru ingin menghukum dirinya sehingga selama hidup ia malu untuk menjumpai orang lagi."

"Omong kosong. apa maksud ucapanmu itu??" Bukannya mereka hawa amarah Tjiau Toa-pek semakin berkobar. Mau menghukum boleh dibunuh sampai mati, jikalau kau berani menggunakan alasan ini untuk menipu orang . Hmm! jangan salahkan kalau aku tak akan mengampuni dirimu lagi."

Sepasang telapak disilangkan didepan dada, agaknya ia akan melancarkan serangan kearah Thian Pian Siauwtju.

Kiem djie yang berdiri disamping suhunya, melihat sikap pihak lawan dengan sebat ia meloncat kedepan sembari melototi diri orang tua itu dengan pandangan gusar.

Tjiau Toa-pek melihat Kiem djie berani mengacau ditengah jalan, hawa gusar tak bisa dikendalikan lagi. sepasang lengan ditekan kebawah dengan melancarkan sebuah pukulan yang berat bagaikan gunung thay-san membabat tubuh bocah tersebut.

Kiem diie yang berusia sangat muda sama sekali tidak menunjukan rasa jeri barang sedikitpun juga, ia mengempon napas meloncat kedepan. agaknya dengan keras lawan keras ia akan menerima datangnya angin pukulan tersebut.

Gerakan kedua belah pihak cepat laksana sambaran kilat, sewaktu telapak masing-masing pihak hampir bertemu mendadak terdengar Thian Pian Siauwtju menjerit ngeri.

"Gak-hu Thaydjien! jangan bunuh bocah itu!"

Braak .. .! sepasang telapak berbentrok satu sama lain, sekalipun Kiem djie telah memperoleh seluruh warisan dari Thian Pian siauwtju tapi tenaga sinkangnya masih tidak memadahi. mana ia sanggup menerima datangnya serangan pukulan seorang kenamaan??? terutama sekali pukulan Thiau Thian Kie sebagai sitelapak besi yang amat tersohor???