Raja Silat Jilid 44

 
Jilid 44

Kembali si pengemis pemabok mendengus dingin, air mukanya berubah jadi amat kering.

"Yang lain tidak usah kita bicarakan lagi," ujarnya. "Selama hidup aku si pengemis tua kecuali menderita rugi di tangan si penjahat naga merah si bangsat tersebut, boleh dikata Ke Hong bangsat cilik itulah yang memaksa aku menderita kecundang untuk kedua kalinya. Pada saat ini aku memang mengakui tenaga dalam dari aku si pengemis tua tidak dapat menandingi dirinya, tetapi tiga tahun kemudian aku si pengemis tua pasti akan mencoba-coba kepandaiannya, kau tentu mengerti maksudku bukan?" "Tidak paham !"

Si pengemis mabok kontan mendelikkan matanya bulat- bulat, teriaknya keras.

"Tinggalkan nyawa Ke Hong untuk diriku agar kemudian hari aku si pengemis tua berhasil melampiaskan rasa mangkelku, paham bukan . ..?"

Liem Tou segera mengangguk kendati dalam hati ia merasa rada keberatan karena dialah pembunuh supeknya Lie Sang.

Dengan kejadian ini maka ia jadi tak dapat membalas dendam dengan tangannya sendiri, karena itu tanpa terasa lagi matanya melirik sekejap ke arah si siucay buntung.

Waktu itu orang tua tersebut hanya tersenyum, melihat akan hal itu hatinya tiba-tiba saja jadi tergerak.

"Perkataan dari susiok tentu akan sutit ikuti," jawabnya kemudian, "tetapi... bila mana Ke Hong menderita luka dalam perlawanannya karena hendak sutit tangkap, waktu itu aku harus berbuat bagaimana?"

"Kalau sampai terjadi peristiwa itu maka aku akan mencari sutit untuk diminta pertanggungan jawab. Waktu itu ilmu kepandaian dari kitab pusaka Toa Loo Cin Keng serta ilmu kepandaian dari kitab pusaka Toa Kong Pit Liok akan memperlihatkan siapa yang lebih unggul," teriak si pengemis pemabok dengan keras.

Dalam hati Liem Tou menganggap dirinya sedang bergurau, maka itu ia tak sampai memikirkan hal tersebut, didalam hati ia tersenyum.

"Sutit tentu akan menurut perintah ! " sahutnya Kemudian dengan sangat hormat.

Mendadak dengan wajah tidak senang Giok jie berjalan mendekat, teriaknya kepada pemuda itu. "Eeei sebenarnya apa yang kau lakukan di gunung Go

bie san? jejak Ie tak ada di sini !"

"Kalau tidak mendatangi gunung Go bie bagaimana bisa tahu kalau enci Ie ada di mana ?" sahut Liem Tou sambil melirik sekejap ke arahnya. "Baiklah! kita segera meninggalkan tempat ini; tetapi di tengah perjalanan kita harus saling menyebut sebagai kakak beradik untuk menghindari percakapan yang bukan-bukan dari orang lain, dan lagi pada pakaianmu yang berwarna merah darah baiknya diganti saja."

Si siucay buntung serta si pengemis pemabok pernah menemui Giok jie sewaktu ada di gunung Cing Shia, sudah tentu mereka tahu pula kalau dia adalah anak murid dari Ke Hong tempo dulu.

Saat itu tak tertahan lagi teriak Si siucay buntung: "Ada perempuan ini disini, untuk mencari tempat

persembunyian dari Ke Hong rasanya tidak begitu sukar lagi bukan?"

"Sutit melakukan perjalanan bersama-sama dirinya justeru mempunyai maksud begini," sahut Liem Tou mengangguk. "Susiok berdua ada pesan apa lagi? kalau tak ada sutit segera akan berangkat ke pantai pasir emas di lautan Auw Hay guna mencari enci Ie, setelah itu mencari Ke Hong. Dengan begitu jejakku sejak kini pun tak menentu, harap susiok sekalian suka baik-baik saja berjaga diri."

Si siucay buntung serta si pengemis pemabok berdiam diri beberapa waktu lamanya, agaknya mereka sudah tak ada perkataan lain la gi untuk dibicarakan.

Liem Tou segera menyuruh Giok jie menunggang kerbau, setelah berpisah dengan si siucay buntung serta si pengemis pemabok dengan membawa gadis itu Liem Tou melakukan perjalanan turun gunung. Kedua orang itu setelah menuruni puncak Leng Ay di gunung Go bie dengan menyusuri sungai melanjutkan kembali perjalanannya menuju ke pantai laut Auw Hay.

Perjalanan kali ini lebih banyak melalui sungai-sungai dengan aliran yang deras. Selama beberapa hari ini Liem Tou serta Giok-jie melakukan perjalanan ke arah barat keluar dari tanah pegunungan memasuki daerah Liong Chuan.

Walaupun hanya beberapa hari perjalanan saja tetapi baik bagi Liem Tou maupun Giok jie sudah memperlihatkan tanda tanda kepayahan.

"Giok jie !" ujar Liem Tou kemudian. "Kita sudah ada beberapa hari memasuki daerah Liong Chuan yang berarti jarak dari Auw Hay tidak jauh lagi, untuk sementara kita beristirahat di kota kemudian baru melanjutkan perjalanan kembali."

Giok jie selama ini memang tidak banyak bicara, mendengar perkataan tersebut ia segera mengangguk, wajahnya amat kasihan sekali !

"Bilamana aku masuk ke dalam kota dengan membawa kerbau serta ketiga ekor burung elang itu maka para rakyat di sana tentu akan beranggapan kami adalah rombongan penjual silat," pikir Liem Tou di dalam hatinya. Bila sampai dikerumuni maka gerak-gerikku jadi kurang leluasa, lebih baik mencari sebuah rumah penginapan yang terasing dan jauh di luar kota saja, hal ini bisa menghindari semua kesulitan !"

Sesudah mengambil keputusan, ia tidak jadi masuk ke dalam kota sebaliknya mencari sebuah rumah penginapan di luar kota.

Baru saja ia melangkah masuk ke dalam pintu rumah penginapan itu, siapa sangka sang pelayan yang melihat bentuk Liem Tou seperti seorang pengemis ternyata sama sekali tidak ambil perduli. Dalam hati pemuda tersebut merasa amat gusar, baru saja ia mau mengumbar hawa amarahnya mendadak si pelayan itu dapat melihat adanya seekor kerbau di belakang tubuh pemuda tersebut.

Air mukanya berubah hebat, sikapnya sangat mencurigakan sekali. Tanpa banyak cakap ia putar tubuh dan buru-buru lari masuk ke dalam.

Sudah tentu Liem Toh merasa keheranan, ketika ditunggunya beberapa saat maka tampaklah dari dalam rumah penginapan itu berjalan keluar seorang laki-laki berusia pertengahan yang agaknya merupakan pemilik rumah penginapan itu.

Setelah memandang beberapa saat seluruh tubuh sang pemuda, tiba-tiba dengan wajah penuh senyuman, ujarnya:

"Khek koan! Kau hendak menginap disini? Rumah penginapan kami mempunyai kamar kamar bagus yang tenang dan bersih. Silahkan masuk!"

Sebetulnya Liem Tou lagi mendongkol, tetapi melihat sikapnya yang sangat hormat itu rasa gusarnya pun kontan hilang.

Bersama-sama dengan Giok-jie ia lantas masuk ke dalam rumah penginapan tersebut.

"Eeei ... kerbau ini tolong dirawat baik-baik. Nanti sewaktu menagih rekening dihitung sekalian ongkos-ongkosnya," ujarnya kepada Ciang Kwee.

"Sudah tentu ... sudah tentu !"

Tetapi mendadak ia seperti teringat akan sesuatu urusan, pada paras mukanya memperlihatkan perasaan serba salah dan memandang Liem Tou dengan termangu-mangu.

"Apakah kau tidak suka melakukannya?" tanya pemuda tersebut keheranan. "Bukan begitu! Bukan begitu !" teriak Sang Ciang kwee dengan saugat terkejut. "Hanya saja kerbau dari Khekkoan ini bisa melukai orang atau tidak ??"

"Akh ... soal itu sih tidak tentu, asalkan kau tidak mengusik dan mencari gara-gara dengan dirinya, sudah tentu ia tak ada alasan untuk melukai orang."

"Oooow..." si pemilik rumah penginapan itu dengan cepat memerintahkan sang pelayan untuk menuntun kerbau tersebut ke dalam istal.

Baru saja kerbau itu melangkah masuk ke kandangnya, dua ekor kuda yang semula ada di dalam istal itu tiba-tiba saja meringkik panjang dengan teramat gusar, bahkan menggunakan kaki belakangnya melancarkan serangan ke arah kerbau tersebut. Agaknya kerbau serta kuda tak dapat menjadi satu.

Dengan sombong dan gagahnya kerbau milik Liem Tou ini berdiri dengan tegak, terhadap datangnya serangan dari sang kuda ia tidak ambil gubris.

Kedua ekor kuda itu semakin gusar lagi, binatang itu meringkik tiada hentinya.

Dengan adanya peristiwa ini, sang pelayan itu tidak berani memasuki kandang untuk mencegah. Ia hanya berdiri di pinggir istal sambil menonton kemarahan dari sang kuda.

Lama kelamaan kerbau tersebut tidak dapat menahan rasa gusarnya lagi, ia tundukkan kepala sambil mendengus panjang.

Agaknya kedua ekor kuda itu tidak mengerti lihaynya musuh, binatang itu masih melanjutkan serangannya semakin ganas.

Mendadak sang kerbau berpekik nyaring, tubuhnya menerjang ke depan dengan ekornya menyapu dahsyat ke arah lambung kuda tersebut. Seorang jagoan lihay dari kalangan Bulim pun belum tentu bisa menerima datangnya sapuan ekornya itu, apalagi cuma seekor kuda.

Suara ringkikan yang mengerikan segera berkumandang memenuhi angkasa, kuda tersebut rubuh binasa di atas tanah, dari mulutnya mengucurkan darah segar dengan derasnya.

Kiranya sejak kerbau itu menerima bantuan dari Liem Tou guna belajar tenaga Iweekang. sapuan ekornya ini boleh dikata mempunyai kekuatan ribuan kati, sudah tentu kuda itu tak bakal bisa menahan datangnya hajaran tersebut.

Seluruh isi perutnya hancur remuk, dan seketika itu juga menemui ajalnya.

Liem Tou yaug ada di dalam kamar ketika mendengar kerbaunya mendengus panjang hatinya menjadi heran, belum sempat ia mengambil sesuatu tindakan mendadak tampaklah pelayan rumah penginapan itu berlari mendatangi dengan tergesa gesa.

"Khek koan!" teriaknya keras. "Kerbaumu sudah membinasakan seekor Kuda. Kuda itu pun merupakan kuda milik tamu yang dititipkan di sana, sekarang sudah mati oleh terjangan kerbaumu, apa yang harus diperbuat?"

Mendengar perkataan tersebut Liem Tou jadi melengak. "Tadi aku pernah berkata, bilamana kuda itu tidak

menyerang dirinya terlebih dulu, maka dia pun tidak akan mencelakai kuda tersebut..." serunya setelah termenung sebentar. "Siapakah pemilik kuda itu ? Coba kau bawalah aku pergi menemui dirinya."

Baru saja ia selesai berbicara, mendadak di luar kamar terdengar suara bentakan dari seseorang yang sangat kasar.

"Kau orang kalau ada maksud membuka rumah penginapan kenapa tidak baik-baik mengurusi kuda daripada tetamunya? Aku mau lihat apakah kau bisa mengganti kuda jempolan itu !' "Kbek koan kau jangan marah dulu," terdengar suara dari sang Ciang kwee berusaha meredakan hawa amarah orang itu. "Rumah penginapan kami kalau cuma mengganti seeekor kuda biasa sih masih mampu tetapi aku tidak percaya kalau kuda tersebut adalah seekor kuda jempolan. Walaupun pengetahuan dari aku si Ciang kwee sangat rendah tetapi terhadap sifat serta kemampuan seekor kuda jempolan masih mengetahui walaupun sedikit. Jangan dikata cuma seekor kerbau, sekalipun seekor macan pun belum tentu bisa membinasakan dirinya, mana mungkin kudamu itu sampai mati oleh terjangan kerbau? Aku benar-benar tidak mengerti dan tidak mau percaya."

Si orang yang bersuara amat kasar itu agaknya kena terdesak bungkam oleh omongan si pemilik rumah penginapan yang amat tajam dan pintar itu. Tetapi sebentar kemudian ia sudah membentak keras :

"Kurang ajar! Kau orang sungguh kurang ajar sekali. Kudaku sudah mati, masih untung aku si orang tua cuma minta ganti harganya saja! Apa kau tidak mau membayar? Terus terang aku kasih tahu padamu, di daerah Can Tian ini siapa yang tidak kenal dengan nama "Say Sian Hong" atau si angin puyuh Toan Bok Si dari Auw Hay?"

"Plaak ! plaak !" disusul suara gaplokan yang sangat keras. "Khek koan, kau cepat unjukkan diri untuk membereskan

persoalan ini, kalau tidak maka Ciang kwee kita bakal dihajar

terus oleh orang itu," teriak si pelayan dengan amat cemas.

Liem Tou cuma tersenyum saja kepadanya seperti tidak terjadi sesuatu urusan, ia tetap duduk tenang di tempat semula.

Pada waktu itulah terdengar si pemilik rumah penginapan itu kembali tertawa dingin tiada hentinya.

"Bagus bagus ! Kau berani memukuli orang si Angin

puyuh Toan Bok Si dari Auw Hay memang sudah lama aku dengar, tetapi apakah kau pernah dengan Liong Chuan ?" Belum habis ia berkata mendadak ucapannya diputus.

Hal ini menambah kegusaran dari si angin puyuh Toan Bok

Si.

"Hm!" dengusnya dingin. "di daerah Liong Chuan tidak lebih

cuma ada seorang Kiem Sah Ong yang menjagoi tempat tersebut, tapi kau cuma seorang pemilik rumah penginapan yang sangat kecil, apakah kau mirip sebagai dirinya? Manusia yang tidak tahu malu! Kuda ini harganya tiga ratus tahil perak, kau harus mengganti harga tersebut kepadaku, kurang sedikit saja aku mau lihat kau suka melanjutkan hidup atau tidak ?"

Si angin puyuh Toan Bok Si dari Auw Hay itu mempunyai perawakan tubuh yang kekar seperti kerbau, kepalanya mirip kepala macin dengan sepasang mata yang besar.

Ia memakai seperangkat pakaian singsat warna ungu menambah kegagahan serta keangkerannya.

Di sisi tubuhnya berdirilah seorang yang berperawakan pendek dengan sepasang mata tajam seperti tikus. Ia pun memakai pakaian ringkas cuma saja selama ini tak sepatah kata pun yang diucapkan. Jelas mereka berdua merupakan kawan sejalan.

Mendengar perkataan tersebut agaknya si pemilik rumah penginapan itu merasa amat tidak terima, tetapi dia orang sama sekali tidak menjadi terkejut maupun gugup, sekali pandang sudah cukup diketahui bila ia adalah seorang yang sangat berpengalaman.

Terdengar orang itu mendengus dingin. "Hmm! Harga tersebut rupanya merupakan harga kuaa yang termahal di kolong langit dewasa ini," serunya dingin. "Baiklah ! Kalau kau orang tidak pakai aturan akupun tak ingin banyak bicara dengan dirimu pada saat ini. Dua jam kemudian aku akan menunggu kedatanganmu untuk menerima uang tersebut di bangunan bssar dekat lapangan kuda dari Kiem Sah Ong, kau berani datang tidak? Heee... heee... aku mau lihat manusia yang disebut sebagai si angin puyuh Toan Bok Si yang tak takut langit tidak takut bumi apa benar-benar punya nyali?"

"Baik! pergi ya pergi„ siapa yang bisa menahan diriku orang she Toan Bok???"

Mendadak si pemilik penginapan itu bangun berdiri dan melangkah keluar dari pintu rumah penginapan tersebut.

"Tunggu sebentar!" mendadak terdengar Toan Bok Si membentak keras.

Si pemilik rumah penginapan itu tidak tahu apa yang telah terjadi. Dia menghentikan langkahnya dan melototi orang tersebut.

Toan Bok Si segera mengerling memberi tanda kepada si lelaki pendek yang ada di sisinya.

Orang itu setelah mendapatkan tanda dengan acuh tak acuh melangkah maju ke depan, tanpa banyak bicara lagi mendadak tangannya diayunkan ke depan dengan kecepatan yang luar biasa mengirim beberapa kali tamparan yang keras ke arah pipi si pemilik rumah penginapan tersebut.

"Plaaak! Ploook!" Karena gaplokannya ini dilakukan sangat keras, maka pipi si pemilik rumah penginapan tersebut kontan saja berubah jadi bengkak, dan mulutnya mengucurkan darah segar, sedangkan dua buah gigi depannya kena terpukul lepas

!

Tetapi ia tidak mengucapkan sepatah kata pun, dengan gemas dan bencinya Sang Ciang kwee melirik sekejap ke arah kedua orang itu kemudian tanpa menoleh lagi ia melangkah pergi dari situ.

Tetapi baru saja ia melangkah beberapa tindak, kembali dari belakang tubuhnya berkumandang datang suara teriakan dari seseorang ; "Tahan ! Ayo kembali!!!"

Walaupun sang pemilik rumah penginapan itu adalah seorang yang mempunyai pengalaman sangat luas tetapi ia tidak mempunyai sedikit kepandaian silat pun, mendengar suara panggilan tersebut tidak urung tubuhnya gemetar juga sangat keras.

Tak terduga olehnya setelah ia putar badan kali ini, kejadian apa yang bakal menimpa dirinya. Tetapi iapun mengerti jelas bilamana dirinya tidak ambil gubris dan dengan keraskan kepala melarikan diri dari sana maka ia bakal menderita suatu akibat yang jauh lebih hebat lagi.

Karena itu setelah mendengar teriakan tadi terpaksa sang Ciang Kwee tersebut menghentikan langkahnya dan perlahan- lahan putar badan.

Tampaklah Liem Tou sedang berdiri di ruangan rumah penginapan tersebut, agaknya teriakan terakhir tadi muncul dari mulut sang pemuda itu.

Menanti sang pemilik rumah penginapan itu sudah putar tubuh sehingga kelihatan pipinya yang membengkak bekas gablokan, Liem Tou baru mendengus dingin.

"Hey pengemis busuk, ada soal apa yang patut kau dengusi?" tiba-tiba si angin puyuh Toan Bok Si membentak dengan sangat gusar dan sombongnya.

Liem Tou sama sekali tidak menggubris maupun melirik ke arahnya, sebaliknya pemuda itu malah menoleh ke arah Ciang kwee yang lagi berdiri tertegun.

"Aku dengar kerbauku sudah membinasakan seekor kuda orang lain, apakah sungguh-sungguh telah terjadi peristiwa semacam ini?" tanyanya.

"Entah mengapa yang jelas si pemilik rumah penginapan tersebut menaruh rasa yang amat jeri terhadap Liem Tou, mendengar pertanyaan tadi sikapnya sama sekali berubah. Di atas pipinya yang bengkak mendadak terlintaslah satu senyuman yang sangat jelek dipandang.

"Memang benar-benar telah terjadi peristiwa ini memang

benar-benar telah terjadi peristiwa ini," sahutnya berulang kali; "Tetapi urusan ini sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan Khek koan. Hal tersebut terjadi karena kelalaian dari pelayan kami."

Wajah Liem Tou kembali berubah jadi keren. Ia menganggukkan kepalanya lalu bertanya lagi:

"Apakah pemilik kuda itu benar-benar minta ganti rugi tiga ratus tahil perak kepadamu?"

Si pemilik rumah penginapan melirik sekejap ke arah Toan Bok Si berdua, akhirnya ia pun manggut-manggut.

"Benar!"

"Eehmm ! Tidak mahal?" seru Liem Tou perlahan.

Dari dalam sakunya ia lantas mengambil keluar tiga buah kepingan uang emas dan diserahkan kepada sang Ciang kwee.

"Di sini ada tiga puluh tahil uang emas, tolong Ciang kwee suka berikan kepada pemilik kuda itu sebagai ongkos ganti rugi," katanya.

Melihat perbuatan dari Liem Tou ini baik Si pemilik rumah penginapan maupun Toan Bok Si berdua jadi tertegun untuk beberapa waktu lamanya.

"Setelah membinasakan kud'a milik orang lain sudah seharusnya diganti, cepat berikan kepadanya," bentak Liem Tou mendadak.

Sejak semula si pemilik rumah penginapan itu sudah tak ada cara yang lain terpaksa ia menyambut uang tersebut dan diserahkan ke hadapan Toan Bok Si. "Tiga puluh tahil emas nilainya sama dengan harga yang kau minta sebanyak tiga ratus tahil perak, kalian berdua tidak akan merasa rugi bukan?" serunya kembali.

Toan Bok Si tertawa dingin tiada hentinya dengan cepat ia merebut uang tersebut dan diselipkan ke dalam sakunya sendiri.

"Koei heng, ayoh pergi!" serunya mendadak terhadap lelaki kate itu.

Sambil berkata mereka berdua bersiap-siap hendak meninggalkan rumah penginapan itu.

"Saudara berdua harap tunggu sebentar," seru Liem Tou sambil tersenyum. "Bukankah masih ada sedikit hutang yang belum kalian lunasi?"

Toan Bok Si adalah salah seorang murid kesayangan Auw Hay Ong dari antara ke empat orang murid kesayangan lainnya dan boleh dikata dialah merupakan anggota partai Kiem Tien Pay yang memiliki kedudukan paling tinggi pada saat ini.

Mendengar teriakan tersebut, Toan Bok Si jadi rada kheki. "Hey pengemis busuk, apakah kau ingin cari mati?"

bentaknya dengan amat keras.

Liem Tou hanya tertawa tawar.

"Tadi disebabkan cayhe merasa kerbauku sudah membinasakan kuda dari Loo heng maka hatiku merasa kurang enak sehingga mengganti kerugian harga kuda itu tetapi perbuatan dari Loo heng berdua yang sudah turun tangan menampar orang lain, apakah tidak seharusnya diperhitungkan sekalian??"

Si angin puyuh Toan Bok Si jadi sangat murka.

"Aku lihat kau si pengemis busuk bisa berbuat apa ?" bentaknya. Kembali Liem Tou tersenyum, ia tak menjawab sebaliknya malah menoleh ke arah si pemilik rumah penginapan itu.

"Ciang kwee! apakah kau ada petunjuk ??" tanyanya.

Si pemilik rumah penginapan itu tidak menjawab sebaliknya dengan mata terbelalak dan mulut melongo memandang ke arah Liem Tou dengan kesima.

"Jika dipandang dari pipimu yang bengkak merah karena digaplok apakah kau merasa rela dirimu dihajar sanpai jadi begitu rupa?" tanya pemuda itu kembali.

"Hmmm ! Siapa yang suka dihajar orang sampai sedemikian rupa?" teriak si pemilik rumah penginapan itu dengan gemas. "Kalau mengikuti pikiran di dalam hatiku, kepingin sekali akupun balas menghajar pipinya sehingga jadi membengkak dan giginya pada rontok semua !"

Si angin puyuh Toan Bok Si yang mendengar nada ucapannya mengandung rasa mendongkol dan apa boleh buat, tak terasa lagi sudah tertawa terbahak-bahak.

"Haaa ... haaa ... soal ini karena kau jadi orang suka terlalu sungkan !!" teriaknya.

Siapa tahu suara perkataannya baru saja meluncur keluar dari ujung bibir dan suara tertawanya belum sirap kedua belah pipinya terasa amat sakit disusul suara gaplokan yang amat nyaring bergema memenuhi angkasa.

"Plaaaaaaakkk ! Ploooookk !"

Saking kerasnya gaplokan tersebut membuat giginya ada tiga biji terhajar rontok, pipinya sembab amat besar sekali.

"Akh .. sudah... sudahlah!" teriaknya tanpa terasa.

Tubuhnya dengan cepat merendah ke bawah tanpa melihat jelas lagi siapa yang sudah menghajar dirinya sang telapak dengan amat dahsyat sudah mengirim satu pukulan dahsyat membabat badan sang Ciang Kwee tersebut. Melihat munculnya serangan itu, dengan sebat Liem Tou menyambar tangan si pemilik rumah penginapan dan melemparkannya ke arah luar pintu.

Kemudian tubuhnya kembali berputar cepat, di antara berkelebatnya sang tangan tahu-tahu pipi si lelaki kate itu pun mendapat giliran untuk dihadiahi dengan beberapa buah gaplokan keras.

Kecepatan geraknya benar-benar luar biasa sekali, di tengah berkelebatnya bayangan manusia suara nyaring bergema memenuhi angkasa, wajah dari si angin puyuh Toan Bok Si kembali berhasil kena ditampar beberapa kali.

Tamparan keras kali ini kontan saja membuat Toan Bok Si memegangi pipinya rapat-rapat dan gembar-gembor seperti orang kalap.

Liem Tou sebaliknya malah tertawa terbahak-bahak dengan sangat kerasnya.

"Haaaa ... haa ... sebutan dua kali pengemis busukmu mendapat ganti dengan dua kali tempelengan. Aku rasa hal ini tidak akan terasa rugi lagi!" teriaknya.

Pada saat itulah si lelaki kate telah mencabut keluar goloknya dan meloncat keluar dari rumah penginapan tersebut.

"Toan Bok heng! Cepat lari keluar !" teriaknya.

Toan Bok Si yang disadarkan oleh perkataan tersebut dengan cepat meloncat ke tengah udara dan melayang keluar.

Sewaktu tubuhnya terputar dan mencelat ke tengah udara itulah pedang jarinya dengan sebat dan lihaynya melancarkan totokan ke arah Liem Tou.

Ilmu jari pengejar sukma Yen Wie Tui Hun Tjie dari partai Kiem Tien Pay sudah terkenal sebagai ilmu tunggal yang disegani banyak para jagoan Bu lim. Sewaktu Liem Tou terjunkan dirinya ke dalam Bu lim untuk pertama kalinya, ia sudah pernah merasakan kelihaiyan diri ilmu jari si nona dari kedua keluarga Tjiang. karena itu terhadap bagaimanakah perubahan gerak dari ilmu tersebut ia sudah rada memahami.

"Haaa ... haa ..." terdengar dia orang tertawa terbahak bahak: "Kendati ilmu jari Yen Wie Tui Hun Tjie dari partai Kiem Tien Pay sangat lihay, apakah kau kira bisa mengapa- apakan diriku??"

Sembari berkata tanpa menghindari lagi dari datangnya serangan tersebut, ia melanjutkan langkahnya keluar dari rumah penginapan itu.

Toan Bok Si yang melihat serangan jarinya berhasil mengenai tubuh Liem Tou dan ternyata tidak mendatangkan hasil apa pun, dalam hari tak terasa lagi mulai menggerung.

"Ini hari aku betul-betul sudah ketemu dengan setan, kenapa sampai ilmu silatku pun sampai tidak manjur lagi?" pikirnya dalam hati.

Buru-buru ia menyalurkan hawa murninya ke arah seluruh badan, serangan jarinya berubah menjadi serangan telapak, dengan menimbulkan deruan angin pukulan yang kencang ia menghajar tubuh Liem Tou yang sudah ada di luar rumah penginapan itu.

Melihat kejadian tersebut, Liem Tou hanya tersenyun, ia tidak berkelit, tidak menghindar maupun menangkis, langkah kakinya masih tetap seperti sediakala.

Dimana angin pukulan si angin puyuh berkelebat terasalah suara hawa yang hampa menyambar lewat dan terasa tak terhalang oleh sesuatu benda apapun.

Rasa terkejutnya kali ini benar-benar luar biasa sekali, tubuhnya segera mencelat ke tengah udara lalu mundur beberapa kaki ke belakang. Sepasang matanya melototi Liem Tou tajam-tajam, selama beberapa waktu lamanya tak sepatah kata pun yang bisa diucapkan keluar.

Di dalam benaknya pada waktu itu mulai terbayang macam-macam ingatan, apa mungkin Liem Tou bukan manusia tetapi setan atau roh halus?? Tetapi pipinya yang pedas sakit dan bengkak membuktikan kalau dia adalah manusia!

Pada jarak dua kaki dari kedua orang itu Liem Tou menghentikan langkahnya, sambil tertawa tanyanya:

"Aku terka kalian berdua tentunya jago lihav yang dibanggakan oleh partai Kiem Tien Pay sehingga memperoleh pelajaran ilmu jari Yen Wie Tui Hun Tjeng dari Loo Tjiang.

Tolong tanya apakah Loo Tjiang pada saat ini ada di tepi pantai pasir emas??"

Pada waktu itu si angin puyuh Toan Bok Si baru mengetahui bila si pengemis busuk tersebut memiliki kepandaian silat yang luar biasa lihaynya, karena itu sikapnya tak berani gegabah lagi, sinar matanya perlahan-lahan melirik sekejap mata ke arah kawannya si lelaki kate itu.

Dengan rasa yang gemas dan penuh rasa mendongkol si lelaki kate itu segera alihkan sinar matanya ke arah Liem Tou, bentaknya ketus : "Buat apa kau tanyakan persoalan itu ? siapakah kau ?"

Liem Tou hanya tersenyum tak menjawab.

Tetapi sebentar kemudian air mukanya sudah berubah hebat tanyanya tiba tiba:

"Siapakah Kiem Sah Ong dari Liong Chuan itu? Apa sangkut pautnya dengan perkumpulan Sin Beng Kauw?"

Mendengar perkataan itu, baik si lelaki maupun si Angin Puyuh Toan Bok Si merasa sangat terperanjat. "Soal ini aku sendiripun tidak tahu," sahutnya cepat. "Hanya saja Kiem Sah Ong adalah jagoan dari daerah dan merupakan tukang pemeras rakyat sekitarnya, boesu-boesu yang dipeliharanya sangat banyak bahkan merupakan kaki tangan yang setia di dalam menjalankan prakteknya.

Mendengar perkataan tersebut Liem Tou segera mendengus dingin, mendadak terlihatlah bibirnya bergerak- gerak tapi tidak kedengaran suaranya, jelas pemuda itu sedang menggunakan ilmu untuk menyampaikan suaranya memanggil Giok-jie.

Bibirnya sudah bergerak beberapa saat lamanya, pemuda tersebut baru berkata kembali:

"Kalian pulanglah dan beritahu kepada Loo Ciang ketua partai Kiem Tien Pay kalian asalkan dia orang tidak sampai mencelakai nona Lie yang dia tawan dari gunung Cing Shia, perkataan apa pun bisa kita rundingkan, kalau tidak . . . Hmm! Hmm! Bilamana cuma mengandalkan beberapa macam kepandaian silatnya itu aku rasa masih belum cukup untuk menahan terjangan dariku, aku akan paksa melihat bagaimanakah ngerinya bila mana pantai emasnya dinodai dengan banjir darah. Hee. sampai waktu itu janganlah

menyalahkan kalau aku bersikap terlalu telengas."

"Kurang ajar . . . kurang ajar !" teriak si Angin Puyuh

Toan Bok Si dengan keras. "Kau si pengemis busuk manusia macam apa? Hmm. ! Sungguh tak tahu diri. Di dalam dunia

persilatan sama sekali tidak kedengaran nama besarmu tetapi berani juga kau bicara besar? Jangan dikata membuat pantai emas banjir darah. sekalipun sebutir pasir dari pantai emas pun jangan harap kau orang bisa menginjaknya. Siapa kau sebetulnya?"

Liem Tou sama sekali tidak menyalahkan dirinya sebaliknya malah tertawa geli. "Haaa .... haaa kau orang masih belum kehilangan jiwa

gagah dari seorang manusia berangasan, setelah menderita kerugian besar masih berani juga bicara banyak! Sekarang aku tanya padamn, siapakah yang paljng dibenci oleh Loo Tjiang kalian? dan siapa pula yang paling dia takuti??"

"Hmm! yang paling dibenci adalah Liem Tou si bangsat cilik itu, sedang yang paling ditakuti pun Liem Tou si bangsat cilik itu," sahut Toan Bok Si lagi tanpa terasa dengan sepasang mata melotot lebar-lebar. "Cuma saja Liem Tou si bangsat cilik itu kemungkinan sekali pada saat ini sudah tinggal kerangkanya saja. Hee ... hee orang kedua yang paling

ditakuti adalah "

Belum habis ia berkata, Liem Tou sudah menyambung dengan cepat :

"Si perempuan tunggal Touw Hong bukan?" Toan Bok Si jadi sangat terperanjat, ia memandang Liem Tou tajam-tajam tanpa berkedip.

"Urusan dari pantai emas kami ternyata banyak sekali yang kau ketahui !" teriaknya kheki. "Hmm! Hmm! Si perempuan tunggal Touw Hong yang sudah melupakan budi selama setahun ini selalu saja muncul dan lenyap di daerah sekitar pantai emas sehingga membuat suhu membencinya setengah mati. Kalau tidak nona Lie kemuugkinan sekali sudah menjadi Auw Hay Ong Ho yang kedua !"

Mendengar perkataan tersebut, Liem Tou segera merasakan jantungnya tergetar keras, saat ini ia baru tahu kalau Auw Hay Ong Ciang Cau sebetulnya menaruh maksud tidak baik terhadap diri Siauw Ie.

Tetapi sewaktu didengarnya si perempuan tunggal Touw Hong sering kali munculkan dirinya di sekitar pantai emas, hatinya semakin terkejut bercampur keheranan. "Kalau memang ia munculkan diri dan lenyap sukar untuk diraba, bagaimana kalian bisa tahu kalau ia adalah si perempuan tunggal Touw Hong ?" tanyanya kemudian.

"Dia adalah seorang perempuan berpakaian serba hitam dan cuma kelihatan sepasang matanya yang jeli, kecuali si perempuan tunggal Touw Hong masih ada siapa lagi ?" seru Toan Bok Si dengan keras.

Pikiran Liem Tou jadi tenang kembali, teringat bayangan hitam yang pernah ditemuinya sewaktu di Lembah Kabut, dalam hati lantas punya dugaan kalau perempuan tersebut tentu adalah dia. Perempuan yang ada di lembah Kabutpun pernah berkata kalau ia hendak pergi menolong Lie Siauw Ie lolos dari mara bahaya, tidak terasa lagi pikirannya jadi tersadar kembali.

"Ciangkwee sudah datang membawa orang untuk mencari balas, kalian berdua cepat-cepatlah pergi !" katanya segera. "Beritahu kepada Loo Ciang, tiga hari kemudian aku pasti akan datang mencari dirinya !"

Sembari berkata pemuda itu melemparkan satu kerlingan ke arah samping; si Angin puyuh Toan Bok Si serta si lelaki kate itu deugan cepat mengikuti kerlingan tadi menoleh ke arah samping jalanan itu menuju ke arah kota itu.

Tampaklah dari hadapan mereka muncul berpuluh-puluh orang Boesu yang kelihatan kekar sekali.

Ketika itu para rakyat yang sedang berjalan hilir mudik di sekitar tempat tersebut ketika melihat situasi yang sangat tidak menguntungkan, cepat-cepat pada membubarkan diri dan jauh-jauh menghindarkan diri dari tempat itu.

"Jumlah sedikit sulit untuk memenangkan jumlah banyak, lebih baik kalian berdua cepat-cepat pergi saja ! Kalian mau tunggu sampai kapan lagi?" tegur Liem Tou kembali. Si Angin puyuh Toan Bok Si pun agaknya dapat melihat situasi rada tidak menguntungkan dirinya, tetapi bukannya dia tinggal pergi sebaliknya ia jadi marah.

"Kau anggap aku manusia macam apa ?" teriaknya dengan amat keras. '"Aku Toan Bok Si disuruh berangkat ke air ataupun ke api, selamanya tidak menolak. Kenapa saat ini harus merasa jeri?"

Diam-diam Liem Tou manggut-manggut. Dia tahu benar orang ini seorang lelaki sejati yang keras kepala. Kendati begitu, ujarnya juga:

"Terhadap Kiem Sah Ong memang kalian tidak perlu merasa jeri, tetapi apakah kalian tidak melihat bila di antara mereka terdapat juga orang-orang dari perkumpulan Sin Beng Kauw? Kiem Sah Ong sudah bersekongkol dengan persekutuan Sin Beng Kauw. Dia memang tidak mirip dengan pentolan daerah yang biasa."

"Haa . . . haa . . . perguruan Kiem Tien Pay kami di sekitar daerah Cian Tien sudah ada dasar puluhan tahun lamanya sebuah perkumpulan Sin Berg Kauw yang hanya mengandalkan nama busuk dari si iblis Chiet Cioe Loo Mo dan baru didirikan dua tahun yang lalu berani juga hendak menyebarkan pengaruh di sekitar daerah sini ... Hmm! Mereka belum punya kekuatan untuk tancapkan kaki!"

Siapa sangka baru saja perkataan itu selesai diucapkan mendadak dari dalam rumah penginapan itu berkumandang datang suara tertawa keras yang amat menyeramkan.

Haaa ... haaa ... besar benar omonganmu itu! Di daerah Ciang Tien bukan saja di segala tempat terdapat cabang- cabang dari perkumpulan Sin Beng Kauw, bahkan daerah pantai emas pun kemungkinan sekali sudah ada di bawah genggaman kami orang perkumpulan Sin Beng Kauw !"

Bersamaan dengan selesainya perkataan itu mendadak dari dalam rumah penginapan itu muncul dua orang kakek tua yang sudah lanjut usia dan dari sepasang matanya memancarkan cahaya tajam.

Pada waktu yang hampir berbareng orang orang dari kedua belah sisi jalan raya pun mulai mendesak semakin mendekat, dengan begitu posisi mereka jadi terjepit dari tiga jurus an yang berlainan.

Sebetulnya kedua orang kakek tua itu munculkan dirinya secara bersama-sama dari balik rumah penginapan itu, sedang Liem Tou waktu itupun berdiri di luar pintu, tetapi bukannya mereka berdua langsung mendekati sang pemuda sebaliknya malah berjalan langsung mendekati si angin Puyuh Toan Bok Si.

Walaupun begitu perjalanan mereka kena terhadang juga oleh Liem Tou !

Toan Bok Si serta si lelaki kate itu sewaktu melihat dari tiga jurusan yang berlainan muncul serombongan musuh dalam jumlah banyak, air mukanya berubah jadi amat serius. Dengan memusatkan seluruh perhatiannya, mereka siap-siap menghadapi serangan total dari pihak musuh terutama sekali serangan dari kedua orang kakek tua itu.

Sewaktu Toan Bok Si berdua dapat melihat si pemilik rumah penginapan itu pun terdapat di antara mereka, rasa gusar di hati semakin memuncak lagi hingga memenuhi seluruh benaknya.

Ketika itulah Sang Ciangkwee dengan marah menuding ke arah mereka berdua :

"Mereka berdua itulah orangnya! Dia tidak memandang sebelah mata pun terhadap Kiem Sah Ong serta perkumpulan Sin Beng Kauw !"

"Bangsat yang sangat licik sekali !'" diam-diam pikir Liem Tou di dalam hati. "Agaknya mereka sengaja datang kemari untuk mengantar kematiannya sendiri." Si Ciang kwee itupun membisikkan sesuatu ke samping telinga si orang lelaki berusia pertengahan yang memakai tanda tanda sebagai anggota perkumpulan Sin Beng Kauw, hal ini terlihat jelas dari sinar matanya yang semula menyapu tubuh si Angin Puyuh Toan Bok Si pada saat ini sudah beralih ke atas tubuhnya.

Liem Tou adalah seorang manusia yang luar biasa lihaynya, di dalam hal tenaga lweekang boleh dikata sudah dapat melebihi siapa pun juga. Walaupun mereka sedang berbisik- bisik dengan sangat lirih tetapi dengan ketajaman telinga pemuda tersebut ia dapat menangkap semua pembicaraan tersebut dengan amat jelas.

Terdengar orang berkata:

"Si pengemis itu adalah hasil penyaruan dari Liem Tou, kerbaunya pada saat ini ada di dalam istal. Selama beberapa hari ini Kau cu selalu mencari jejak beritanya tidak disangka ia sudah munculkan dirinya di tempat ini."

Anggota dari perkumpulan Sin Beng Kauw itupun dengan suara rendah menjawab:

"Coba kau racuni dulu makanan dari sang kerbau tersebut, kerbau itu sangat kuat sekali bahkan bisa menahan terjangan dari jago-jago lihay; Auw Hay Ong Bo justeru terluka di bawah injakan binatang tersebut."

"Hal ini sudah tentu, hal ini sudah tentu," sahut si pemilik rumah penginapan itu, "Mereka tidak bakal berhasil meloloskan diri dari cengkeramanku."

Liem Tou yang mendengar beberapa perkataan itu hawa amarahnya segera meluap, ia mendengus dingin tetapi tak nenunjukkan gerakan apa pun.

Dengan pandangan yang sangat dingin ia menyapu sekejap ke seluruh orang-orang yang ada di sana, dalam hati ia ada maksud hendak melihat orang-orang itu hendak menggunakan cara apa untuk menghadapi dirinya.

Kedua orang kakek tua yang pada waktu itu sudah berjalan keluar dari rumah penginapannya mendadak berpencar menjadi dua bagian, satu dari sebelah kanan, dan yang lain dari arah sebelah kiri, kemudi'n dengan melalui kedua belah sisi Liem Tou lalu memutar, mereka berjalan mendekati Toan Bok Si serta si lelaki kate itu.

Dengan amat tenang Liem Tou berdiri tak bergerak, lagaknya mirip dengan orang yang tidak menemui suatu persoalan.

Ketika dilihatnya kedua orang kakek tua itu sudah bergerak dari sisi tubuhnya mendadak...

Kedua orang itu secara tiba-tiba saja berteriak dan meloncat-loncat saking kagetnya.

Selagi Liem Tou menoleh dengan terperanjat pada waktu itulah kedua orang kakek tua itu sudah putar badan sambil membentak keras:

"Liem Tou, kau hendak lari kemana?"

Liem Tou segera merasakan dua gulung hawa pukulan yang maha dahsyat dengan cepat menekan seluruh tubuhnya.

Di mana pikirannya berkelebat tubuhnya segera menyingkir ke samping dengan gerakan sebat, bahkan menggunakan gerakan yang paling cepat laksana kilat.

"Braak ...!" Kedua orang kakek itu tak bisa menghindarkan diri lagi, mereka masing-ma sing saling mengadu pukulan dengan amat kerasnya.

Kontan saja tubuh mereka berdua tergetar keras hingga mundur dua langkah ke belakang tetapi pada saat yang bersamaan pula dari beberapa orang anak murid perkumpulan Sin Beng Kauw yang bagian dadanya bersulam lukisan arca sudah menjerit ngeri, dari tujuh lubangnya mengucurkan darah segar dan kontan seketika itu juga ada tiga orang yag menemui ajalnya.

Menanti kedua orang itu berhasil menenangkan pikirannya dan menoleh ke arah peristiwa itu, tampaklah Liem Tou masih berdiri di tempat semula dengan sangat tenangnya, lagaknya seperti tidak pernah terjadi suatu peristiwa apa pun.

Tetapi di pihak orang orang Sin Beng Kauw serta busu- busu Kiem Sah Ong yang datang bersama-sama si pemihk rumah penginapan itu keadaannya sudah kacau balau, bahkan ada di antara mereka yang mulai berteriak-teriak dengan gaduh dan ramainya.

"Aaakh! Ada orang yang terbunuh, ada orang yang terbunuh cepat tangkap pembunuhnya."

Ada pula beberapa orang yang berdiri mematung di tempatnya masing-masing saling bertukar pandangan tanpa mengucapka sepatah kata, mereka tidak mengerti dan merasa bingung, siapa yang sudah turun tangan membinasakan ketiga orang anggota perkumpulan Sin Beng Kauw itu.

Si lelaki berusia pertengahan yang berbisik bisik dengan sang pemilik rumah penginapan tadi merupakan salah satu korban yang menemui ajalnya. Terlihatlah kematiannya sangat mengerikan sekali, dengan mata melotot lebar-lebar ia sedang memperhatikan si pemi lik rumah penginapan itu.

Hal ini sudah tentu membuat sang Ciang kwee jadi terperanjat saking takutnya, tak kuasa lagi ia jadi terkencing- kencing.

Perlahan-lahan Liem Tou berjalan mendekati ke arahnya kemudian menepuk-nepuk pundak dari pemilik rumah penginapan yang masih belum merasa akan kedatangan pemuda itu. "Eeei Ciang kwee !" tegurnya, "beberapa waktu ini kau telah pergi kemana? kau membuat aku harus tersiksa menantikan kembali dirimu ...!"

Ciang kwee itu segera menoleh ke belakang tetapi sewaktu dilihatnya orang itu ada lah Liem Tou, air mukanya segera berubah pucat pasi bagaikan mayat.

"Aakh...!" dia berteriak keras, sepasang lututnva terasa jadi sangat lemas sehingga tak terasa ia sudah nenjatuhkan diri berlutut dan mengangguk-anggukkan kepalanya.

"Ya... ya... ampun! Ya... ya... ampun!" teriaknya berulang kali.

Keadaan pada saat ini jika dibandingkan dengan sikapnya semula sewaktu menghadapi si Angin puyuh Toan Bok Si boleh dikata mirip dengan dua orang yang berlainan.

Melihat sikapnya itu Liem Tou tersenyum, dengan cerat dia membimbing orang itu untuk bangun.

"Kenapa kau harus menjalankan penghormatan yang begitu besarnya ?" tanya sang pemuda sambil tertawa. Siapakah

orang orang yang datang mengikuti dirimu itu?"

Berbicara sampai disitu mendadak ia mempertinggi suaranya. Dengan nada yang keras gembornya :

"Hanya sedikit urusan yang kecil buat apa harus mengerahkan Boesu-Boesu yang begitu banyaknya! Suruh mereka pulang saja!"

Ia lepas tangan dan sambil tertawa bisiknya pula : "Kau pun ikut pulang saja "

Di tengah berputarnya sang tubuh kembali ia mengundurkan diri ke hadapan si kakek tua itu.

Pada waktu tubuhnya hampir mendekati di tubuh si orang tua itulah mendadak si pemilik rumah penginapan tersebut dengan tidak mergeluarkan sedikit suara pun rubuh ke atas tanah dalam keadaan lemas. Dari ke tujuh buah lubang inderanya nengucur darah segar, kembali selembar nyawa lenyap menuju ke dunia Baka.

Sampai waktu itulah semua orang yang hadir di tempat itu baru merasa amat terperanjat sehingga air mukanya pada berubah amat hebat, terutama sekali kedua orang kakek tua itu, mereka benar-benar kagetnya luar biasa.

Perlahan-lahan Liem menoleh ke arah ke dua orang kakek itu lalu tertawa, mendadak dengan wajah berubah amat keren bisiknya lirih :

"Jauh sebelum kejadian peristiwa ini, aku sudah memberi kabar kepada kauwcu kalian bila setelah urusanku selesai maka aku orang akan segera pergi mencari dirinya. Kenapa dia harus secara diam-diam main kuntit dan pula selalu main bokong ? Beberapa orang yang sudah mati itu anggap saja merupakan suatu peringatan bagi kalian semua dan cepat kamu orang kembali ke markas untuk beritahu kepada sang kauwcu, si perempuan cantik pengangon kambing yang berada di tempatnya bilamana memperoleh perlakuan yang sangat baik maka aku masih suka mengajak dia berunding secara baik-baik, kalau tidak . . . Hmm! Bilamana seorangpun dari anggota Sin Beng Kauw berhasil meloloskan diri dari cengkeramanku, aku orang she Liem merasa malu jadi manusia."

Selesai berkata dengan wajah serius pemuda itu menggigit lidahnya sendiri sehingga mengucurkan darah segar kemudian disemburkan ke atas wajah salah seorang kakek tua itu.

"Beritahu kepadanya inilah sumpah darah dari Liem Tou," kembali bentaknya keras.

Sepasang tangannya segera direntangkan dan perlahan- lahan mengebut ke arah depan. Kedua orang kakek tua itu segera merasa badannya tak dapat berdiri tegak lagi, tubuhnya kena tergulung oleh selapis tenaga lweekang yang amat dahsyat sehingga terpental sejauh tiga kaki ke arah depan.

Walaupun begitu mereka sama sekali tidak menderita luka, hanya saja pada tubuh mereka berdua kena terbanting dengan sangat keras di atas tanah.

"Pergilah!" pada waktu itulah terdengar sua ra dari Liem Tou berkumandang masuk ke dalam telinga mereka.

Ketika kedua orang kakek tua itu menoleh kembali ke tempat semula, jejak dari Liem Tou sudah lenyap tak berbekas.

Melihat kejadian itu kedua orang kakek tua tersebut hanya bisa saling berpandangan dengan hati terkesima.

"Aaakh... kiranya dia orang adalah Liem Tou si bangsat ci..." kata si Angin puyuh Toan Bok Si kepada kawannya si lelaki kate.

Kata-kata 'Cilik' belum selesai diucapkan mendadak hatinya sudah merasakan sesuatu, akhirnya dia orang tidak berani melanjutkan kata-kata itu lagi.

Menggunakan kesempatan sewaktu semua orang tidak bersiap sedia, tubuhnya segera menggenjot meloloskan diri dari kepungan para boesu-boesu Kiem Sah Ong kemudian dengan langkah lebar berlalu dari sana tanpa menoleh lagi.

Kedua orang kakek tua itupun tersadar kembali dari rasa kejutnya, buru-buru mereka ulapkan tangan untuk memimpin orang-orang meninggalkan tempat tersebut.

Liem Tou dengan mengandalkan kecepatan serta kegesitannya, setelah berhasil meninggalkan pintu depan rumah penginapan dengan cepat bergerak mencari diri Giok jie. Di dalam hati ia merasa heran mengapa suara panggilannya dengan menggunakan ilmu untuk menyampaikan suara sama sekali tidak digubris oleh gadis tersebut ? peristiwa apa yang sudah terjadi ?

Tubuhnya dengan cepat menerjang masuk ke dalam kamarnya. ketika pintu terbuka keadaan dalam kosong tak nampak sesosok bayangan manusia pun.

Hatinya jadi tergerak, dengan perasaan cepat dan buru- buru dia mengundurkan diri dari sana.

Ketika itulah kebetulan sekali ia sudah bertemu dengan seorang pelayan yang di atas tangannya membawa sebuah buntalan besar dan berlalu dengan sangat tergesa-gesa.

Tetapi sewaktu melihat Liem Tou ada di sana seluruh tubuhnya gemetar amat keras, hampir-hampir sepatah katapun tak sanggup untuk diucapkan keluar.

Dalam hati Liem Tou tahu, tentunya pelayan ini telah melihat keadaan di luar rumah penginapan sehingga orang itu merasa amat takut terhadap dirinya.

"Eeee ... kau jangan takut!" buru-buru katanya dengan wajah ramah. "Aku tidak akan melukai kamu, cepat beritahu kepadaku dimana nona cilik itu pergi ?

"Dia... dia... dia ada di... di istal ... sedang memberi... maa

... makan kerbau buas tersebut."

Liem Tou segera enjotkan kepalanya melayang sejauh beberapa kaki kemudian menerjang keluar dan langsung menuju istal.

Sedikitpun tidak salah, waktu itu Giok jie sedang memberi makan pada sang kerbaunya sedang kerbau itu sambil tundukkan kepala dengan amat tenangnya mengunyah rumput itu. Liem Tou tidak tahu dari manakah Giok jie memperoleh rumput rumput tersebut dan tidak tahu pula apakah pelayan pelayan di sana merupakan sekomplotan dengan orang itu atau tidak, hatinya jadi amat cemas sekali.

Tubuhnya belum tiba, sebuah pukulan yang amat dahsyat sudah dibabat ke depan dimana angin pukulan menyambar lewat, rumput di tangan Giok jie sudah tergulung jatuh berantakan.

"Giok jie !" teriak Liem Tou dengan cepat. "Darimana kau dapatkan rumput itu untuk makanan sang kerbau ? Apakah kau tidak pernah berpikir kalau rumput itu sudah diracuni ?"

Pada waktu itu hubungan Giok jie dengan Liem Tou sudah agak lama sehingga sikapnya pun jauh lebih baikan.

"Kau boleh berlega hati," sahutnya sambil tertawa. "Tentang soal itu Giok jie masih punya sedikit pengalaman. "

Mendengar perkataan tersebut Liem Tou baru bisa melegakan hatinya.

"Orang-orang perkumpulan sin Beng Kauw sudah melakukan penguntitan terus sehingga jejak kita dapat diketahui, sekarang waktu sdah senja, mari segera kita melakukan perjalanan malam sehingga bisa terhindar dari berbagai kesulitan !"

Giok jie mengangguk, kerbau tersebut dengan cepat dibawa keluar dari istal Ialu menuju keluar dari rumah penginapan tersebut.

Tetapi baru saja ia melangkah keluar dari pintu, nendadak dari tengah udara tercium suatu bau yang amat aneh sekali.

"Giok jie, cepat mundur," teriaknya dengan keras.

Dua orang manusia dan seekor kerbau dalam waktu yang bersamaan pada meloncat mundur ke belakang dan masuk lagi ke dalam rumah penginapan tersebut.

"Sejak Sun Ci Si berhasil mempelajari ilmu Pek Tok Toh, ia sudah amat pandai di dalam menggunakan beratus-ratus macam racun, sehingga mendapatkan julukan sebagai Boe Beng Tok su," kata Liem Tou. "Bau aneh yang baru saja kita tercium ada kemungkinan sekali sengaja dilepaskan oleh orang yang dikirim kemari, lain kali kita harus jauh lebih berhati-hati lagi!"

Baru ia menyelesaikan kata-katanya; mendadak terasa segulung hawa dingin yang sangat menggidikkan menerjang masuk ke dalam hatinya.

Ia jadi amat terperanjat, buru-buru hawa murninya disalurkan ke seluruh tubuh untuk paksa racun tersebut keluar dari dalam badan.

Sedikitpun tidak salah, sebentar saja peluh berwarna kuning sudah mulai mengucur ke luar membasahi seluruh tubuhnya.

Sejurus kemudian ia sudah tertawa dingin tiada hentinya. "Hee. . . heee. . . Liem Tou tidak bakal teracuni oleh

keganasan bisa yang bagaimana pun, lebih baik kalian tidak usah buang-buang tenaga lagi. Giok jie, untuk sementara kau tunggulah di sini, aku akan pergi sebentar," serunya.

Baru saja perkataannya selesai diucapkan tampak bayangan manusia berkelebat lewat dan hanya di dalam sekejap saja terdengar suara benturan keras berkumandang datang.

Dan dalam rumah penginapan itu melayang datang sesosok bayangan manusia yang langsung dibanting ke atas tanah tanpa mengeluarkan sedikit pun suara.

Baru saja Giok jie merasa kaget, kembali terdengar suara bantingan yang amat keras bergema datang. Setelah itu baru muncullah bayangan dari Lien Tou.

"Permainan semacam ini pun hendak dipamerkan di hadapanku," omelnya dengan nada keras. "Sungguh memalukan sekali Perkumpulan Sin Beng Kauw mana bisa berbuat suatu pekerjaan yang besar jika selalu saja bertindak semacam ini?"

Selesai berkata ia memerintahkan Giok jie untuk melakukan perjalanan kembali keluar dari rumah penginapan itu.

Bukannya masuk ke dalam kota Tiam Tzuan sebaliknya langsung melanjutkan perjalanan malam.

Menanti siang hari telah menjelang kembali pada keesokan harinya, kedua orang itu telah tiba di kota Ping Tzuan. Setelah lewat beberapa puluh li lagi maka mereka akan tiba di kota Hong Ih di tepi lautan Auw Hay.

"Membawa Giok jie di samping tubuhnya bagaimanapun merepotkan sekali," diam-diam pikir Liem Tou pada waktu itu. "Lebih baik di sekitar kota Ping Tzuan ini aku mencari tempat persembunyian saja lalu suruh dia serta sang kerbau menanti. Sedang aku pergi menyelidiki seorang diri ke pantai emas!"

Demikianlah mereka berdua lalu berjalan masuk ke dalam kota Ping Tzuan.

Liem Tou yang merasa jejaknya telah diketahui sekalipun menyamar percuma saja maka dia orang lantas memulihkan kembali wajahnya yang asli. Kemudian mengadakan kunjungan ke pantai emas itu.

Bagaimanapun situasi dan peristiwa yang bakal terjadi ia harus menerjang ke sana, kendati pun pantai emas tersebut merupakan gunung pedang serta lautan golok.

Setelah mengambil keputusan maka pertama-tama ia pergi ke toko pakaian untuk membeli seperangkat baju berwarna hijau kemudian sesudah bertanya jelas letak dari rumah penginapan yang terbesar lalu mereka beristirahat di sana.

Kali ini untuk menghindari jangan sampai terulang kembali suatu peristiwa yang tidak diinginkan, Liem Tou membawa kerbaunya ke dalam kamar; untuk beristirahat satu kamar dengan dirinya. "Giok jie," ujar Liem Tou kemudian sewaktu senja telah menjelang datang. "Kau serta kerbau ini untuk sementara waktu berdiamlah beberapa hari di sini, pada kentongan pertama nanti malam aku hendak berangkat ke pantai emas untuk menolong enci Ie. Sebelum aku kembali bermainlah dengan sang kerbau serta ketiga ekor burung elang itu!"

Semula Giok jie merasa sangat terperanjat, lama sekali ia memandang ke arah muka Liem Tou.

"Bila aku berangkat bersama-sama denganmu, apakah bakal merepotkan saja?" tanyanya kemudian.

"Aku meninggalkan dirimu di sini bukannya bermaksud begitu. Walaupun pusat kekuatan dari partai Kiem Tien Pay kemungkinan sekali sangat berbahaya terhadap banyak jagoan lihay tetapi Liem Tou tidak akan jeri terhadap mereka, apalagi kepergianku kali ini adalah terang-terangan ingin bertemu, jika aku bawa serta dirimu kemungkinan sekali banyak pekerjaan yang malah tak bisa aku kerjakan."

Perkataan dari Liem Tou ini walaupun kedengarannya enak didengar, tetapi jelas mengartikan bila membawa Giok jie turut serta kemungkinan sekali malah mengakibatkan terjadinya banyak persoalan.

Terpaksa Giok jie si gadis cilik itu menganggukkan kepalanya.

"Baik kau pergilah," sahutnya kemudian. "Tetapi, kau harus kembali dengan membawa enci Ie. Kalau tidak, aku tidak akan menggubris dirimu lagi."

"Hal itu sudah tentu," sahut sang pemuda sambil tertawa; Asalkan enci Ie masih hidup aku pasti akan berhasil mencari dirinya kembali !"

Selesai berkata Liem Tou lantas berteriak minta disediakan santapan, kemudian mereka berdua lantas bersantap di dalam kamar. Ketika kentongan pertama tiba, Liem Tou bersiap hendak berangkat.

"Giok-jie, aku berangkat," serunya kemudian kepada gadis cilik itu.

Setelah meninggalkan rumah penginapan tersebut terlebih dulu Liem Tou berputar-putar di dalam kota, sesudah dirasanya tak ada orang yang bakal menguntit dirinya pemuda tersebut baru meninggalkan kota berangkat menuju ke arah barat dengau menggunakan ginkangnya yang luar biasa lihaynya itu.

Dengan kekuatan gerak dari Liem Tou pada saat ini, jarak puluhan lie telah berhasil dilalui tak sampai satu jam lamauya.

Sebentar kemudian dia orang sudah sampai di tepi lautan Auw Hay. Ketika sinar matanya menyapu sekejap ke sekeliling tempat itu maka terlihatlah yang tampak hanyalah air melulu, sebuah perahupun tak nampak bahkan rumah pendudukpun tiada jejaknya.

"Walaupun lautan Auw Hay kecil tetapi tidak dapat dipandang dengan kekuatan mata," pikirnya. Pantai emas itu terletak di sebelah tenggara dari lautan Auw Hay tetapi dimanakah letaknya yang persis ? Aku harus meuanyakan dulu, tentang soal ini."

"Di sebelah utara kota Lam Hong Ih adalah Tiam Tzuan, bilamana aku menyeberangi lautan Auw Hay ini langsung ke depan mungkin bisa sampai di Tayli," pikirnya kembali, "Asalkan aku tidak meninggalkan perbatasan dari Auw Hay perduli ke Barat atau ke Timur paling cuma meliputi duapuluh lie saja."

Sesudah mengambil keputusan di hati, Liem Tou segera mengerahkan ilmu ginkangnya untuk melakukan perjalanan di atas permukaan air. Diri pantai Timur Lautan Auw Hay menuju ke pantai Barat jaraknya tidak lebih hanya sepuluh lie, hanya di dalam sekejap saja pemuda itu sudah tiba di tengah perjalanan.

Mendadak sinar matanya yang tajam telah bertemu dengan sebuah perahu yang sedang bergerak di permukaan air, di atas perahu itu lampu lentera memancarkan cahaya dengan terang benderang.

Suatu pikiran dengan cepat melintas di dalam benak Liem Tou, ia segera menyambut kedatangan perahu tersebut dengan gerakan yang cepat.

Siapa tahu sewaktu Liem Tou tiba kurang lebih sepuluh kaki dari perahu tersebut mendadak sinar lampu di atas perahu itu dipadamkan.

Dalam hati pemuda itu merasa terperanjat, dengan cepat ia kerahkan ilmu Hwee Yeu im Hong-nya laksana kilat meloncat naik ke atas geladak perahu.

Pada waktu itulah dari dalam ruangan perahu terdengar suara seseorang yang sedang berbisik:

"Apakah kau benar-benar melibat di atas permukaan air ada orang sedang lewat?"

"Sedikitpun tidak salah, terang-terangan aku melihat ada seorang yang memakai jubah berwarna hijau dan merupakan seorang pemuda yang gagah sedang berjalan mendekat, bagaimana aku bisa salah lihat??"

"Lalu pada saat ini ia sudah pergi kemana?"

Lama sekali suasana jadi hening sejurus kemudian, terdengar orang itu berbicara lagi:

"Menurut perhitungan, ini hari ulang tahun yang keenam puluh dari Loo Ciang. Orang-orang yang dikirim partai Kiem Tien Pay ke tempat luaran pun kebanyakan sudah pulang kembali untuk ikut merayakan hari ulang tahun tersebut. Siapa sangka secara mendadak perayaan itu dibatalkan dan katanya ada seseorang yang pada waktu dekat ini bakal mendatangi pantai emas untuk menyatroni, coba kau lihat siapakah yang bisa membuat partai Kiem Tien Pay jadi begitu tegangnya?"

"Kauwcu mengirim kita lima orang Siang-cu untuk menyelidiki pantai emas menurut Hong sian-cu katanya Loo Ciang sudah ada maksud untuk masuk menjadi anggota Sin Beng Kauw kita, cuma saja katanya pada saat ini ia sedang berpikir masak-masak. Kali ini perduli siapa orang yang hendak menyatroni dirinya asalkan Loo Ciang kena terpukul maka ada harapan dia orang suka menggabungkan diri dengan kita. Dengan begitu pengaruh kita di daerah Cian Tien pun jadi semakin kuat. Kenapa kita tidak menggunakan kesempatan gelapnya suasana pada saat ini untuk melakukan suatu tindakan sehingga siasat ini bisa berhasil ?"

"Bagus!" mendadak dari dalam ruangan berkumandang keluar suara seseorang. "Cara ini sangat bagus sekali. Tidak kusangka kau bsa mendapatkan cara semacam ini."

Agaknya orang-orang di dalam ruangan perahu itu sudah melupakan diri Liem Tou, mendadak tampaklah dua orang berjalan keluar dau mulai menggerakkan sang dayung uutuk memperkencang lajunya sang perahu menuju Utara.

Buru-buru Liem Tou menyusupkan badannya bersembunyi di tempat kegelapan, pada saat ini ia sudah tahu bila orang- orang yang ada di dalam ruangan perahu pada saat ini adalah beberapa orang Siangcu dari perkumpulan Sin Beng Kauw yang sedang melakukan perjalanan menuju pantai emas.

Diam-diam dalam hati Liem Tou mulai berpikir :

"Aku akan ikut mendarat bersama sama mereka dan ingin aku lihat dengan menggunakan cara apa mereka hendak menghantam Auw Hay Ong. Bilamana terpaksa akupun bisa turun tangan menawan mereka sehingga dengan begitu aku malah berjasa terhadap Auw Hay Ong sekalian." Perahu tersebut bergerak dengan amat cepatnya, tidak sampai seperminuman teh lamanya mereka sudah mulai melihat pepohonan di tempat kejauhan yang secara samar samar memancarkan cahaya lampu!

Pada waktu itulah dari dalam ruangan perahu terdengar suara seorang berbicara lagi:

"Para Siangcu sekalian, lebih baik pada saat ini juga kita mengenakan kerudung kita sehingga tidak sampai membuat kalian merasa gugup pada saatnya."

Baru saja perkataannya selesai diucapkan mendadak ratusan kaki dari perahu mereka berkumandang datang suara terpukulnya ombak yang sangat ramai disusul munculnya sebuah perahu menyongsong kedatangan perahu itu.

"Siangcu sekalian berhati-hatilah, kita segera akan hancurkan mereka," terdengar orang yang ada di dalam ruangan itu memberi tanda lagi.

Tidak lama kemudian perahu peronda itu sudah tiba kurang lebih tiga kaki dari mereka.

"Siapakah orang yang ada di dalam perahu?" bentaknya keras.

"Toaya kami sengaja datang hendak memberi selamat buat Ong ya!" sahut Siang cu yang pegang kemudi itu.

Di atas perahu peronda itu semuanya berjumlah tiga orang yang memakai pakaian ringkas dengan senjata tercekal di tangan.

Mendengar perkataan tersebut mendadak salah seorang yang berdiri di ujung perahu peronda itu berteriak keras.

"Loo Thia, hati-hati! Aku dengar orang-orang yang sengaja datang untuk memberi selamat kepada Ong ya kita sudah tiba di sana. Bagaimana mungkin di tengah malam buta kembali muncul orang yang datang memberi selamat? Hati-hati, jangan sampai kena siasat liciknya."