Raja Silat Jilid 43

 
Jilid 43

PADA SAAT itulah sang kerbau dengan gusarnya kembali melancarkan serudukan ke arahnya, hal ini membuat perempuan itu jadi rada marah, segera ujung jubahnya dikebutkan kedepan mengirim satu pukulan dahsyat.

Sang kerbau yang merasakan datangnya serangan dahsyat segera mendengus panjang; ia pernah merasakan bagaimana dahsyatnya pukulan Thian Pian siancu, buru-buru tubuhnya mengundurkan diri sejauh dua kaki lebih,

Boen Ing yang melihat dari dalam peti mati itu sama sekali tidak menimbulkan suatu apa pun rasa curiga didalam hatinya mulai mereda.

Perlahan-lahan ia berjalan mendekat sebentar kemudian ia sudah menemukan tubuh Liem Tou yang putih keabu-abuan dan berbaring terlentang didalamnya.

Tangannya dengan cepat meraba kearah dada pemuda tersebut tetapi sebentar kemudian ia sudah menemukan kalau kematian Liem Tou adalah kematian yang benar-benar.

Hatinya mulai merasa kecewa.

Lama sekali perempuan itu dengan mata melo!ot memperhatikan tubuh sang pemuda yang berlepotan darah itu.

Mendadak sinar matanya membentur dengan serentetan cahaya hijau yang muncul dari atas wajahnya yang kuning pucat itu sinar tersebut amat tipis bila diperhatikan oleh kacamatanya yang benar-benar sempurna sukar untuk ditemukannya.

Dalam hati ia merasa rada bergerak dan menjadi sadar kembali apa yan g sudah terjadi.

“Haa…. Haa…. kiranya kau lagi berpura-pura mati," teriaknya sambil tertawa terbahak-bahak, "Bilamana berganti sama orang lain. mungkin berhasil kau dikibuli, tetapi terhadap diriku apa kau anggap dengan mudah bisa kau bohongi?”

Selesai berkata kembali ia tertawa terkekeh kekeh, pikirannya mulai berputar;

“Akh, daun mati hidup itu memang tak ada cara yang bisa menolongnya, selembar berarti setahun, selamanya tak bakal lewat, tetapi dia sudah menelan berapa lembar daun tersebut?”

Hatinya mulai merasa kecewa kembali.

Pada waktu itulah sang kerbau yang ada dibelakarg tubuhnya mulai mendengus dan menerjang datang kembali tubuhnya dengan cepat berputar sambil mengirim satu pukulan kedepan,

Kerbau itu dengan ketakutan cepat-cepat mengundurkan dirinya kembali kebelakang.

"Baiklah !” gumamnya kemudian setelah lama berdiri disana . "Tahun depan aku akan datang menengok dirinya kembali.”

Perlahan lahan ia menutup kembali kayu penutup peti mati ketempatnya semula kemudian berlalu dari gubuk kecil tersebut.

==mch==

WAKTU berlalu bagaikan aliran air, hanya dalam sekejap mata setahun sudah berlalu .

Hari itu tepat pada waktunya Boen Ing sudah munculkan dirinya kembali didalam lembah berkabut.

Kerbau tersebut jauh lebih kurusan jika dibandingkan dengan setahun yang lalu, dengan amat tenangnya dia berbaring didepan pintu rumah gubuk itu. Sewaktu meIihat munculnya Boen lng untuk kedua kalinya, seperti hatinya merasa terperanjat, mendadak ia mendengus panjang mengirin tanda bahaya sedang tubuhnya dengan sebatnya meloncat bangun dan melototi diri Boen Ing tajam- tajam.

Perempuan itu tetnyata sama sekali tidak berjalan menuju kesana, sambil berdiri tegak teriaknya.

“Liem Tou ! Liem Tou ! Kau bangunlah !"

Dari balik ruangan gubuk itu sama sekali tidak terdengar suara sahutan, perlahan-latan tubuhnya berjalan maju mendekat sambil memukul mundur kerbau itu.

Sewaktu tangannya hendak mengangkat kayu penurup peti mati itu, mendadak dari baIik peti mati berkelebat keluar cahaya tajam disusul munculnya tubuh Liem Tou mencelat keluar.

"Bunuh!" teriaknya keras.

Ditengah berkelebatnya cahaya tajam suara jeritan ngeri yang menyayat hati berkumandang memenuhi seluruh lembah tersebut.

Liem Tou sambil menenteng pedang sudah meloncat keluar dari dalam peti mati, pedangnya kini berhasil menembusi ulu hati Boen Ing; membuat darah segar berceceran memenuhi permukaan tanah.

Tubuh perempuan itu perlahan-lahan jadi lemas dan akhirrya rubuh keatas tanah dalam kedaan tak bernyawa lagi.

Sang kerbau itu sewaktu melihat majikannya hidup kembali, dengan penuh kegirangan, ia mendengus panjang dan menggoyang-goyangkan ekornya.

Dari kelompok matanya yang besar manetestah titik-titik airmata kegirangan. Liem Tou yang hidup untuk kedua kalinya didalam kolong langit walaupun dalam hati merasa amat girang tetapi iapun rada termangu mangu, dengan dengan pikiran kosong ia menengadah keatas memandang awan yang berlalu dengan cepat hatinya merasa amat sedih.

Melihat bekas darah yang telah menghitam serta wajahnya yang kusut dengan rambut terurai tidak karuan, hatinya semakin sedih apa yang pernah terjadi pada waktu yang lalu kembali terbayang didalam benaknya.

Supeknya sicangkul sakti Lie Sang sudah terbunuh mati! sitelapak naga Le Kian Poo juga mati sigadis cantik pengangon kambing di culik Boen Bong Tok Su jajak enci le nya tidak diketahui..........” masih ada lagi lanyapnya Hong Susiok ……. sewaktu teringat dengan beberapa orang itu hatinya semakin pedih rasanya, ia menyadari bahwa orang-orang itu menderita semuanya disebabkan dia sendiri.

Hatinya jadi kecut, sepasang matanya jadi semakin basah oleh air mata yang mengalir keluar dengan deras.

Kepingin sekali ia menangis sekeras kerasnya pada waktu itu, apalagi ketika dilihatnya sang kerbau itu sedang mengucurkan air mata.

Mendadak suatu perasaan yang maha aneh bergolak didalam hatinya, kontan saja air mukanya berubah hebat.

“Engkoh kerbau !” mendadak bentaknya dengan amat gusar. “Apa yang sedang kau tangisi ?”

Tubuhnya mulai gemetar amat keras, air mata hampir- hampir saja manetes keluar, tetapi ia berusaba mempertahankan diri, tubuhnya gemetar semakin keras, akhirnya...

Sekonyong konyong Liem Tou memutar badan, pedang ditangan kirinya dengan cepat digerakkan membentuk bunga- bunga pedang yang; amat banyak sedang telapak kanannya dibalik mengirim satu pukulan kedepan.

"Aku akan membalas dendam        ” teriaknya murka.

“Aku mau membalas dendam     ”

Ketika suara teriakan yang ketiga baru saja meluncur keluar dari mulutnya mendadak terdengar suara gemuruh yang amat keras berkumandang memenuhi angkasa.

Gubuk kecil yang digunakan pemuda itu untuk beristirahat selama setahun pada saat ini sudah hancur berantakan terkena hajaran angin pukulannya itu.

Melihat kejadian itu pada mulanya pemuda tersebut rada melengak tetapi sebentar kemudian ia sudah tertawa terbahak-bahak.

“Haha, haaa dunia kangouw…. Haa… haaa.. suatu peraturan Bu lim yang tak patut dipercayai. Aku mati mengobrak-abrik seluruh dunia persilatan; teriaknya keras, “Aku tidak malui lagi kepercayaan dunia kang-ouw. Haha… haa. aku mau bunuh habis mereka.”

Selesai berkata kembali ia ayunkan telapak tangannya melancarkan satu pukulan ke depan.

Walaupun kelihatannya ia sama sekali tidak gunakan banyak tenaga serta desiran angin pukulannya tidak tajam tetapi laksana menggulungnya ombak dahsyat ditengah samudra sekali lagi ia menghajar gubuk serta peti mati itu membuat benda-benda tersebut semakin hancur berkeping- keping ..!

Pada waktu itu kerbaunya sudah menarik kembali rasa gembiranya, matanya terbelalak lebar-lebar memperhatikan diri Liem Tou tanpa berkedip .

Setelah melancarkan dua serangan Liem Toa baru berjalan menuju kedepan sebuah air terjun, ia mulai mencuci mukanya dan minum sepuas-puasnya. Menanti kesadarannya mulai pulih kembali perlahan ia baru duduk diatas tanah dan memikirkan banyak urusan.

Satu jam…; dua jam ... menanti sang surya sudah lenyap diufuk sebelah Barat dan magribpun telah tiba pemuda tersebut masih juga duduk terpekur disana.

Lama.. lama sekali menanti sang rembuIan sudah menyinari seluruh jagat Liem Tou baru bangun berdiri dan berjalan kesisi tubuh kerbaunya.

“Engkoh kerbau, “mari kita pergi ” serunya lembut.

Wajahnya pada waktu ini sudah kelihatan dingin kaku dan tawar, sambil menuntun sang kerbaunya perlahan-lahan ia berjalan keluar dari lembah tersebut.

Sejurus kemudian ia sudah keluar dari balik kabut yang tebal dan kini berdiri dibawah sorotan sinar rembulan yang cemerlang.

Dengan langkah yang sangat perlahan pemuda itu berjalan terus kedepan, menanti pagi hari hampir menyingsing dia baru tiba dibawah gunung Ha Mo san.

Dengan termangu-mangu dia memandang keatas gunung tersebut, mendadak tubuhnya meloncat naik keatas punggung kerbaunya dan membentak dengan suara rendah.

“Engkoh kerbau, mari kita naik dan menengok sejenak.”

Selama satu tahun lamanya kerbau itu belum pernah melakukan perjalanan jauh, kini mendengar majikannya mengajak ia untuk berlari dengan girangnya la lantas mendengus ditengah suara derapan kakinya yang amat ramai dengan amat cepat mereka menerjang naik keatas gunung Ha Mo san.

Dengan tanpa membuang banyak tenaga Liem Tou berhasil metewati Sungai kematian, Tebing maut serta Jembatan pencabut nyawa tetapi sewaktu tiba diatas gunung hatinya jadi amat terperanjat sekali.

Lama sekali ia terdiri tertegun disana kiranya diatas gunung itu sams sekali sudah tak terlihat adanya dusun serta rumah tinggat penduduk lagi pada saat ini yang tersisa cuma bekas- bekas puing yang berserakan dimana-mana.

Liam Tou tak bisa menahan rasa kesedihan dihatinya lagi air mata bercucuran dengan amat derasnya.

“Karena aku rakyat perkampungan le Hee San Cung, jadi tersiksa dan menderita dengan adanya kejadian ini bagaimana aku masih punya muka untuk menemui rakyat kampung ? sekalipun badanku harus hancurpun tidak mungkin bisa manebus dosa yang demikian besarnya ini.”

Mendadak hatinya rada bergerak, sewaktu kepalanya menoleh kebelakang maka tampaklah diatas jembatan percabut nyawa pada saat ini sudah terpancang sebuah jembatan kayu yang amat besar sedang diatas tebing maut itupun terdapat sebuah tali yang menggantung kebawah.

Dalam hati Liem Tou mulai sadar, para penduduk perkampungan tersebut tentu sudah pada turun gunung berhubung rumah mereka kena dimusnahkan.

Dengan hati sedih akhirnya ia putar mengelingi seluruh perkampungan dalam hati diam-diam pikirnya:

"Aku harus membangun kembali perkamnungan Ie Hee san cung, aku mau sambut lagi semua penduduk yang ada, aku akan membahagiakan mereka dan hidup dengan gembira."

Akhirnya sampailah pemuda itu didepan kuburan ayahnya si pancingan sakti Liem Cong, mendadak ia menemukan pula disisi kuburan ayahnya terdapat pula sebuah kuburan baru.

Dengan cepat ia bergerak mendekati kuburan itu, tetapi sebentar kemudian ia sudah menjerit dan berlutut diatas tanah. Kiranya kuburan tersebut kuburan dari si cangkul pualam Lie Sang adanya.

“Sapek teriaknya keras

Air mata bercucuran dengan amat derasnya, lama kelamaan yang mengucur keluar bukan air lagi melainkan darah ! Kesadarannya mulai punah.

Tepat pada saat yang bersamaan terdengar kerbau itu mendengus panjang disusul suara pekikan nyaring dari dua ekor burung elang, Liem Tou jadi tersadar kembali, hawa murninya buru-buru disalurkan mengelilingi seluruh tubuh sedang semangatnyapun mulai berkobar kembali.

Ketika kepalanya didongakkan maka tampaklah diatas kuburan Lie Sang berdiri tegak sekor burung elang raksasa yang sedang memandang kearah pemuda itu dengan penuh kegusaran.

Liem Tou mengenali kembali kalau burung elang itu adalah burung yang berhasil ia menangkan sewaktu bertempur melawan Thian Pian siauwcu ia masih teringat pula bila ketiga ekor burung itu sudah dihadiahkan kepada Lie Siauw Ie.

Semangatnya semakin berkobar mendadak sambil melompat bangun teriakrya keras:

"Enci le!"

Suara teriaknya kali ini disertai dengan hawa murni yang sempurna kedahsyatanrya benar-benar luar biasa sekali.

“Bukan saja suara itu menggetarkan seluruh angkasa disekeliling tempat itu bahkan dari ketiga puluh enam puncak gunung Cing Shia pun berkumandang suara pantulan.

Kehebatan tenaga dalamnya yang mamperoleh kemajuan yang sangat pesat ini kontan saja membuat sang kerbau yang ada disisinya jadi terperarjat bahkan ia sendiripun merasa tidak percaya dengan hasil yang diperolehnya pada saat ini. Untuk beberapa saat lamanya ia jadi terkesima dan berdiri mematung.

Tetapi bayangan dari Lie Siauw Ie sama sekali tidak kelihatan.

Burung elang pun mendadak mengebaskan sayapnya, terbang ketengah angkasa, hanya di dalam sekejap mata telah lenyap tak berbekas.

“Apakah burung-burung itu sudah jadi binatang liar kembali?” gumam pemuda itu tak tertahan

Liem Tou tak ada maksud untuk memikirkan burung itu kembali, ia mulai duduk disana dan membayangkan kembali kejadian tempo hari. Ia teringat bila si gadis cantik pengangon kambing kena ditawan oleh Boe Bang Toksu, tetapi Lie Siauw Ie telah pergi kemana? Sewaktu dirinya tertolong oleh kerbaunya di dalam ruangan Cie Eng Tong masih ada orang- orang dari Kiem Tien Pay serta Thian Pian Siauwcu.

Bilamana dikatakan ada orang yang menculiknya maka dia tentu bukan lain adalah orang partai Kiem Tien Pay, atau mungkin juga perbuatan dari Than Pian Siauwcu?

Berpikir akan hal itu hatinya berdebar-debar sangat keras, ia mulai teringat kembali dengan pesan yang diucapkan suhunya Thian Sie Poa sesaat meninggalkan dirinya.

“Liem Tou. sewaktu kau bertemu kembali dengan kitab Toa Loo Cin Keng, waktu itu pula untuk bertemu kembali dengan diriku".

Yang jelas kitab pusaka Toa Loo Cin Keng itu hanya dimiliki oleh supeknya dari partai Toen Si Pay dan tak mungkin terjatuh ketangan orang lain.

Bilamana kitab itu tidak dibawa oleh supek, maka benda tersebut tentu ditinggal di gunung Gobie-san, dengan demikian menunjukkan pula kalau suhunya tentu ada disana. Semakin berpikir ia semakin gembira. Liem Tou adalah seorang yang sangat cerdik. Mendadak ia jadi tersadar kembali dan berteriak keras:

"Aduuuh celaka….!”

Selagi ia ada maksud hendak meloncat bangun, mendadak dari balik hutan disisi tubuhnya berkumandang, datang suara dari seorang gadis yang menyambung perkataannya: "Apanya yang celaka ?? Kau sudah membiarkan saudara sendiri dibunuh orang tanpa mencegah; apanya yang patut celaka lagi??”

Beberapa patah perkataan itu laksana sebilah pisau belati yang tajam menusuk kedalam hatinya membuat tubuh pemuda tersebut gemetar sangat keras. Wajahnya yang putih bersih perlahan-lahan menunjukkan keadaan yang tersiksa dan terkesima. Lama sekali ia memandang kearah hutan dengan termangu-mangu:

Sejenak kemudian ia baru menghela napas panjang, wajahnya putih kembali seperti sedia kala.

"Giok jie” tegurnya dengan suara halus, "Perkataanmu sedikitpun tidak salah. Aku tidak manyalahkan dirimu, aku sudah menemukan dirimu, kau keluarlah !”

"Empek Le, enci Ie serta enci Wan sangat baik terhadap dirimu tetapi mereka sudah kau celakai semua, aku tidak ingin bertemu lagi dengan dirimu.”

Untuk sesaat Liem Tou jadi kheki juga mendengar perkataan itu, mendadak bentaknya:

"Apa maksud dari perkataan itu? Peristiwa terbunuhnya supek memang kenyataan, tapi enci Ie serta adik Wan mana mungkin bisa ikut mati? Giok kau cepat keluar aku ada perkataan yang hendak ditanyakan kepadamu !”

“Hee ... hee ... walaupun enci le tidak mati diperkampungan Ie Hee sin Cung tetapi sudah ditawan orang !" seru Giok jie dengan ucapannya yang sangat dingin. Coba kau bayangkan bilamana dia sampai tersiksa apakah enci Ie serta enci Wan bisa tahan? apakah sampai ini hari masih bernyawa?"

Perkataan dari Giok jie ini benar-benar menusuk hati Liem Tou.

“Giok jie ! kau tidak usah bicara lagi” teriaknya gusar “Bilamana enci Ie serta adik Wan menemui cidera kau lihat saja, aku Liem Tou akan mengobrak abrik seluruh dunia persilatan!”

“Hee.. hee.. lebh baik kau jangan bicara besar, aku ingin menunggu kau disini dan melihat dengan cara apa kau hendak mengobrak abrik seluruh dunia persilatan”. ejek Giok jie kembali sambil tertawa dingin.

Mendadak sinar mata Liem Tou menajam. "Giok jie jangan pergi dulu; eku ada perkataan yang hendak ditanyakan kepadamu" teriaknya keras.

Giok jie sama sekali tidak menyahut.

Liem Tou rada melengak; tetapi sebentar kemudian ia sudah merasa amat gusar, tubuhnya berkelebat laksana sambaran kilat menerobos masuk kedalam hutan.

Hanya didatam sekejap saja ia sudah menemukan bayangan tubuh Giok jie yang memakai baju merah itu sedang berlari kedepan dengan cepat dan gesit.

Tetapi bila ia hendak membandingkan ilmu meringankan tubuhnya dengan Liem Tou, masih terpaut sangat jauh.

Tanpa meninggalkan jejak hanya didalam sekejap saja pemuda itu sudah berhasil mengejar sampai dibelakang tubuhnya kemudian mencengkeram ujung baju sebelah belakangnya. Sedikit menggunakan tenaga tubuh bocah perempuan itu sudah kena diangkat tangan kirinya dengan gerakan gesit segera mencengkeram pergelangan tangannya.

"Aaaah!” teriak Giok jie saking kagetnya mendadak ia menoleh kebelakang.

Liem Tou hanya merasa pandangannya jadi kabur, seorang gadis yang amat cantik sekali sudah muncul dihadapan matanya,

Ternyata Giok jie yang waktu itu masih bocah kini sudah jadi seorang gadis yang sangat cantik sekali, pada saat ini ia sedang memanclang kearah Liem Tou dengan melongo-longo tak sepatah katapun yang bisa diucapkan keluar.

“Giok-jie aku ada perkataan yang hendak ditanyakan kepadamu” ujar Liem Tou sambil melepaskan cekalannya. “Enci Ie, sudah kena tertawan oleh siapa?”

Gadis itu menggeleng tidak menjawab.

“Lalu sewaktu terjadinya peristiwa itu pada tahun yang lalu kau ada dimana ? apakah kau sudah bertemu dengan Thian Pian Siauw cu,” tanya pemuda itu lagi.

Giok jie tetap menggeleng mendadak dengan nada yang amat dingin ujarnya:

"Aku melihat burung rajawalinya terbang kesana kemari waktu itu aku sedang menjaga ketiga ekor burung elang sehingga jangan sampai mengikuti mereka pergi sewaktu mereka membakar habis seluruh perkampungan Ie - Hee san Cung. aku bersembunyi didalam tebing batu dibelakang perkampungan.

Liem Tou perlahan-lahan mengangguk “Giok jie mereka semua sudah pergi kenapa kau tidak ikut pergi ?” tanyanya lagi. “Aku mau menjaga kuburan dari empek Lie disamping itu enci le ada kemungkiran juga bisa pulang aku mau menunggu mereka, kaulah yang sudah mencelakai mereka."

Perkataan dari Giok jie yang secara langsung dan terbuka ini membuat Liem Tou merasa semakin sedih sekalipun begitu dalam hati ia merasa rada kheki juga.

“Giok-jie ujarnya dengan nada berubah, “Kau tidak boleh berkata demikian aku sama sekali tidak bermaksud hendak mencelakai mereka. Lain kali kau tidak boleh berbicara begitu lagi. Baiklah ! Demikian saja ini hari kau ikut diriku turun gunung untuk mencari jejak enci Ie. Bagaimana?”

Dengan pandangan yang sangat dingin Giok-jie memandang wajah Liem Tou tajam-tajam ia tetap membungkam.

Melihat sikapnya tersebut pemuda itu keheranan. "Kenapa kau tidak menjawab ? Kenapa kau menganggap

aku sebagai musuh?” tanyanya cepat,

"Hmm! Kau ingin pergi kemana untuk mencari mereka,” tegur gadis itu dingin.

Liem Tou yang mendengar gadis itu sudah menyetujui untuk ikut turun gunung bersama-sama dirinya teringat pula saat kitab pusaka Toa Loa Cin Keng seperti yang diucapkan oleh suhunya, dalam hati terasa amat gelisah dan cemas.

Buru-buru ia meroleh memanggil kerbaunya ia Ialu berseru:

"Cepat panggil burung-burung elangmu. Kita melanjutkan perjalanan dengan menunggang kerbau.”

Giok jie tetap tidak bergerak, dengan pandangan ragu-ragu ia melototi diri Liem Tou tajam-tajam.

“Giok jie kau jangan ragu ragu lagi, ayo-jalan !” teriak pemuda itu dengan cepat. Tidak menanti si gadis itu menunggu jawabannya lagi ia menarik tangan Giok jie untuk dinaikkan keatas punggung kerbaunya lalu teriaknya.

“Puncak Leng Ay puncaknya digunung Go bie, cepat berangkat."

Tangannya dengan cepat menghajar pantat kerbau itu.

Ditengah suara dengusan berat, kerbau tersebut menurut perintah dan laksana gulungan angin cepatnya ia berlalu dari sana.

Menanti kerbau itu sudah lenyap dari pandangan Liem Tou baru berkelebat kedepan kuburan ayahnya serta kuburan dari Lie Loojie sesudah bersembahyang mendadak ujarnya,

"Tia Supek! Kalian baik-baiklah beristirahat disini, putramu yang tak berbakti segera akan mencari enci le serta adik Wan, sebelum berhasil membasmi semua musuh-musuhku aku tak akan pulang ke perkampungan Ie Hee San Cung ini!”

Selesai berkata ia mendongakkan kepalanya bersuit nyaring kemudian ditengah gerakan tubuhnya yang gesit hanya didalam sekejap saja bayangan tubuhnya sudah lenyap tak berbekas.

==mch==

BULAN delapan tanggal enambelas, cuaca amat cerah diatas jalan raya yang menghubungkan gunung Cing Shia dengan gunung Go bie mendadak muncul tiga titik bayangan hitam yang terbang dengan sangat cepatnya di angkasa .

Diatas permukaan tanah muncul pula segulung debu kuning yang mengepul laksana tiupan angin taupan.

Siang itu, disebuah kota Pek Tiang Sian muncullah tiga orang pemuda berbaju Hitam yang baru saja keluar dari dalam rumah penginapan, mereka bertiga pada menunggang kuda yang dijalankan perlahan-lahan; ditinjau dari keadaannya jelas ketiga orang itu sedang dimabokkan oleh air kata-kata.

Mendadak dari belakang tubuh mereka berkumandang datang suara derapan kaki yang amat ramai sekali disusul mengepulnya debu warna kuning yang menggulung laksana air topan, hal ini membuat ketiga orang itu jadi sangat terperanjat.

"Aduh celaka ! cepat menyingkir kesamping !"

Pada saat ketiga orang itu baru saja menyingkir kesisi jalan, dari sini tubuhnya berkelebat segulung angin kencang yang disertai dengan debu mengepul memenuhi angkasa.

Hanya dalam waktu yang amat singkat bayangan debu itu sudah tidak kelihatan lagi, hanya terdengar suara derapan kaki yang sangat ramai dan memberisikkan telinga, semakin lama pun semakin menjauh.

Melihat kejadian itu ketiga orang berbaju hitam itu jadi terpesona, terdengar seorang lelaki berbaju Imam yang ada disebelah kiri menoleh kearah kawannya yang ada ditengah sambil bertanya :

“Than cu, apakah kau dapat melihat jelas binatang apakah itu ? mengapa larinya begitu cepat ?”

Orang berbaju hitam yang ada ditengah pada dadanya tersulam sebuah gambar arca yang berwarna biru.

Diatas dada kedua orang yang ada disisinya pun bersulamkan sebuah lukisan arca berwarna putih, jelas mereka adalah orang-orang dari perkumpulan Sin beng Kauw.

Tampak orang itu mengerutkan alisnya dan menggelengkan kepalanya.

“Jika ditinjau dari derapan kaki mirip sekali dengan derap kaki kuda, tetapi dikolong langit pada saat ini apa ada kuda yang bisa berlari sedemikian cepatnya ?” jawabnya perlahan. “Sekalipun kuda jempolan yang dihasilkan dari gunung Thian san serta gurun pasir pun tidak mungkin bisa berlari cepat. Mungkin sekali bukan kuda tetapi semacam binatang aneh yang bisa berlari cepat !

“Thancu !" terdengar si orang berbaju hitam yang ada disebelah kanan mendongakkan kepalanya memandang kearah orang yang ada ditengah itu. “Kau berkata kuda jempolan yang barnama Hiat Tui Im Kauw, sebenarnya macam apakah kuda tersebut ?”

"Akh Apakah kau tidak tahu tentang hal ini? kuda itu adalah semacam kuda yang bisa mengucurkan keringat merah seperti darag, sewaktu lari kecepatannya luar biasa sekali dan merupakan kuda yang sangat jempolan."

“Akh ! Kalau begitu kemungkinan sekali binatang yang baru saja lewat itu adalah binatang ini;” seru orang berbaju hitam yang ada disebelah kanan. “Tadi agaknya aku melihat sesosok bayangan merah bergerak lewat bukankah apa yang aku lihat persis seperti apa yang diterangkan pada saat ini?”

Agaknya Than cu tersebut rada merasa tidak percaya tetapi iapun tidak tahu binatang apakah itu, akhirnya sambil kerutkan alisnya rapat-rapat, gumamnya seorang diri,

“Aneh! Sungguh aneh!”

Mendadak didalam benaknya terlintas suatu ingatan, sinar matanya jadi berkilat.

“Dikolong lagit pada saat ini,” katanya “ada semacam binatang yang amat buas dan garang, larinya sangat cepat.Hianti berdua apakah tahu binatang apakah itu?" katanya mendadak kepada kedua orang yang ada disisinya dengan nada serius.

Mendengar perkataan tersebut kedua orang itu rada tertegun setelah berpikir sejenak terdengar orang berbaju Imam yang ada disebelah kanan sambil menggeleng menyahut;

“Tidak mungkin Than-cu hal itu tidak mungkin terjadi aku dengar majikan dari binatang buas itu sudah terluka parah bahkan ada kemungkinan sudah mati atau cacad untuk selamanya? bagaimana mungkin binatang tersebut bisa muncul disana!"

“Yang kalian maksudkan apakah seekor kerbau!” terdengar orang berbaju hitam yang ada disebelah kiri menyambung "Aduuh mungkin benar-benar memang binatang tersebut kecuali dia dikolong langit pada saat ini ada binatang apa lagi yang bisa lari dengan begitu cepatnya?”

Berbicara sampai disitu mereka berdua bersama-sama bungkam, diri hati mereka mulai terasa berdebar-debar sangat keras.•

Akhirnya terdengartah si Thian cu itu buka suara; tanyanya dengan suara rendah:

Menurut Hian ti berdua apakah mungkin munculnya kerbau ini ada hubungan yang sangat erat dengan kedudukan kauwcu kita perlukah kita melaporkan hal ini kemarkas besar,?”

Mendengar perkataan itu untuk beberapa saat lamanya kedua orang itu bungkam diri.

Lewat baberapa saat kemudian silelaki berbaju hitam disebeiah kanan yang agaknya pikirannya jauh lebih tajam menjawab . “Didalam menghadapi urusan ini kita tidak boleh bertindak secara gegabah; kita tidak melihat jelas dan ada kemungkinan juga sudah salah melihat, bilamana semisalnya berita kita sama sekali tidak benar dan Cong Than cu menyalahkan kita bukankah kedudukan Than-cumu itu sukar untuk dipertahankan lebih lanjut?”

Agaknya sang Than-cu itu merasa perkataan tersebut sedikitpun tidak salah, ia mengangguk, “Kalau begitu aku tidak usah menggubris lagi binatang apakah itu, ayoh lalan !” serunya kepada kedua orang kawannya itu sambil tertawa.

Tali les kudanya disentakkan keras untuk kemudian melanjutkan kembali perjalanannya

Mendadak dari belakang tubuh mereka muncul seorang pengemis yang amat dekil dengan kaki telanjang, badan bungkuk serta membawa sebuah tongkat warna hijau. selangkah demi selangkah pengemis itu berjalan mendekat.

Melihat munculnya orang itu sang Than-cu mendadak menahan larinya kuda dan putar badan menghadang didepan tubuh pengemis tersebut, cambuknya dengan dahsyat lantas dipecutkan keatas kepadanya.

Pengemis itu jadi sangat terperanjat tubuhnya buru-buru menjatuhkan diri ke belakang sedang mulutnya dengan gusar memaki,

"Anak kura-kura, cucu anjing!! Ditengah hari bolongpun kau ingin menganiaya aku si pengemis yang tak punya uang, matamu sudah buta apa ??”

Sebenarnya Than-cu tersebut hendak menanyakan sesuatu kepadanya, kini setelah mendengar suara makian tersebut hatinya jadi teramat gusar.

"Pengemis busuk, apa kau kata ??" bentaknya keras. "Kau berani memaki diriku kurang ajar!! Agaknya kau mencari mati".

Sembari berkata cambuknya diayunkan ke depan dan dihajarkan kembali kearah tubuh pengemis tersebut.

Kelihatannya cambuk itu akan segera mengenai badannya yang dekil, mendadak ia menarik kembali serangannya dan memandang sekejap kearah pengemis tersebut. "Hey pengemis buruk" tegurnya dingin, “Untuk sementara aku ampuni dirimu sekarang aku mau bertanya; apakah barusan kau pun melihat lewatnya seekor keledai atau kuda ditempat ini?”

"Hmm! agaknya perkataanku, tadi yang memaki matamu sudah buta sedikitpun tidak salah,” maki pengemis itu sambil melototkan matanya. “Terang terangan seekor kerbau bagaimana mungkin bisa kau katakan sebagai seekor keledai atau kuda?, diatas punggung kerbau itu duduk seorang gadis berbaju merah apakah kau tidak bisa melihat juga kerbau itu..?”

Mendengar perkataan itu air muka dari si Than-cu dengan cepat berobah hebat, mendadak tubuhnya meloncat turun dari atas kuda diikuti dua orang lainnya.

Melihat tindakan dari ketiga orang itu si pengemis tersebut jadi kebingungan dibuatnya.

“Hey Looheng, kau jangan bergurau” tegur sang Than cu sambil mendesak maju beberapa langkah kedepan. “Apakah perkataanmu itu sungguh coba kerbau yang kau lihat itu bagaimanakah bentuknya?? “

“Sudah ada dua hari aku tidak makan nasi, siapa yang banyak waktu senggang untuk mengucapkan kata-kata bohong,” seru pengemis itu keras. “Jikalau kalian sampai menanyakan begaimanakah bentuk dari seekor kerbau, pertanyaan ini semakin mengherankan lagi, apakah kau orang sejak lahir sampai saat ini belum pernah melihat kerbau?”

Than cu yang kena batu untuk kedua kalinya kontan saja membuat air mukanya berubah membesi.

Lo heng,” serunya dengan serius. Aku sedang bertanya kepadamu dengan sungguh-sungguh hati, harap kau jangan menyindir diriku lagi. Kalau tidak…. heee aku takut mayatmu akan tertelentang ditengah jalan tanpa ada yang suka mengurusinya.” Pengemis itu memandang sekejap keatas wajah Than-cu tersebut, mendadak sambil tertawa dingin ia melengos dan melangkah pergi dari sana.

Melihat pengemis itu mau pergi. Than cu tersebut dengan cepat menggerakkan badan menghadang dihadapannya.

"Loo heng, jangan pergi dulu," teriaknya keras. Coba kau terangkan dulu bagaimana bentuk dari kertau tersebut ? warnanya hijau atau hitam ?"

Tongkat bambu yang ada ditangan pergemis itu sedikit menutul permukaan tanah entah dengan cara yang bagaimana tahu-tahu tubuhnya sudah lewat dari sisi tubuh Than cu tersebut tanpa menoleh lagi ia melanjutkan perjalanannya kedepan.

Kali ini Than cu dari ketua cabang perkumpulan Sin Beng Kauw ini benar-benar dibuat mendongkol sampai mencak- mencak dengan gusarnya, bentaknya keras :

"Pengemis busuk, aku akan bunuh kau dan suruh kau merasakan bagaimana kalau mayat-mayat menggeletak ditengah perjalanan tanpa ada yang mengurusinya ”

Tubuhnya maju beberapa langkah kedepan telapak tangannya dengan cepat melancarkan satu pukutan dahsyat menghantam punggung dari pengemis tersebut.

Pengemis itu mendengus dingin, mendadak tubuhnya membalik, bambu ditangannya dicukil dan tepat menutul diatas urat nadinya.

Mendadak dari sepasang mata pengemis itu memancarkan cahaya tajam, dimana tangan-menyambarnya terdengar Than cu itu menjerit kesakitan.

Lengannya kontan kena dihantam sehingga hancur berantakan. Biji mata pengemis itu berputar, sesosok tongkat bambu laksana sambaran naga sakti kembali berkelebat kearah depan.

Kedua orang anggota Sin Beng Kauw yang menjerit kesakitan, tau-tau telinganya sudah kena dibabat hingga putus.

Pada saat itulah pengemis itu baru membentak dengan wajah yang dingin,

“Hmm ! Kalian gentong-gentong nasi yang tak berguna belum becus kalau mau melawan diriku kalian jangan menganggap kalau aku tidak tahu bila kalian adalah murid murid murtad dari perkumpulan Sin Beng Kauw, laporkan kepada kauwcu kalian tidak lama kemudian aku bisa datang mencari balas terhadap dirinya."

Selesai berkata tongkat bambunya diayunkan ke belakang, tubuhnya laksana sambaran kilat hanya didalam sekejap saja sudah melesat jauh tiga puluh kaki kemudian diiringi dengan suara tertawa dinginnya yang sangat menyeramkan tubuhnya melayang jauh.

Kini tinggal tiga orang anggota Sin Bang Kauw yang berdiri termangu-mangu ditempat semula sambil memandang kearah dimana bayangan pengemis itu lenyapkan diri.

Ternyata pengemis tersebut adalah hasil penyamaran dari Liem Tou.

Setelah meninggalkan beberapa orang anak murid perkumpulan Sin Berg Kauw sepanjang jalan pemuda itu mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya yang paling sempurna untuk berangkat ke gunung Go bie.

Pikirnya setelah ada ditengah jalan.

"Dengan perbuatanku ini maka Sun Ci Si tentu akan tahu pekerjaan itu adalah hasil perbuatanku. sebelum aku murculkan diri hatinya pasti akan selalu tak tenteram: Diam-diam Liem Tou merasa amat bangga sekali dengan perbuatannya ini, dengan mengerahkan tenaga murninya ia semakin mempercepat gerakannya melesat kearah gunung Go bie .

Satu jam kemudian rentetan pegunungan Go bie sudah terbentang didepan mata; sedang Giok jie yang menunggang kerbau itu pun mulai kelihatan didepannya.

Pemuda itu semakin mempercepat gerakannya, hanya didalam sekejap saja ia sudah berlari sejajar dengan kerbau tersebut.

Giok jie yang melibat Liem Tou berhasil mengejar datang dengan keras tanyanya: “Gunung apakah ini? apakah enci Le ada.di sana?”

“Walaupun enci Ie tak ada digunung Go bie tetapi kemungkinan sekali kita bakal mengetahui jejaknya” sahut Liem Tou sambil tertawa.

Giok jie agak tidak percaya tetapi tidak mengulangi lagi pertanyaannya.

Liem Tou pun membungkam agaknya ia sendiri tidak ada maksud untuk memberi penjelasan atas perkataannya itu.

Dengan cepatrya kedua orang itu sudah memasuki daerah pegunungan yang curam, walaunun dataran disana tinggi rendah tidak menentu, ditambah pula tebing-tebing yang curam dan sukar tetapi bagi kerbau itu sama sekali tidak menemui kesukaran.

Bagaikan Iari ditanah dataran yang rata saja mereka melanjutkan perjalanannya.

Liem Tou yang melihat sikap Giok jie sewaktu menunggang kerbau tersebut, mendadak hatirya tergerak dan teringat kembali akan diri Thian Pian Siauw cu, "Giok jie” tegurnya tiba tiba "Sudah ada berapa lama kali mengikuti diri Thian Pian Siauwcu.”

“Aku sendiripun tidak tahu sudah ada berapa lama; yang pasti sejak aku mengerti urusan, diriku sudah berkumnul dengan dia," sahut Giok jie dengan wajah murung.

"Kalau begitu sifat dari Ke Hong tentu kau sangat memahami bukan ? sebetulnya tinggal dimana? dan bagaimana sifatnya ?”

Giok-jie termenung berpikir sebentar akhirnya ia menjawab.:

“Dia tinggal diatas sebuah pulau kecil pulau ini tak ada penduduk lainnya, ia menyebut pulaunya sebagai “Thian Pian Hu Ping" atau ombak diujung langit, menurut apa yang aku ketahui Siauw cu adalah seorang manusia yang suka menyediri, ia cuma suka bergaulan dengan burung-burung elangnya saja "

Mendengar perkataan itu agaknya Liem Tou merasa urusan rada ada diluar dugaan.

“Kalau begitu tentunya dia seorang yang amat kejam ?” tanyanya kembali.

“Aaakh tidak, aku belum pernah melihat dia orang melakukan pekerjaan yang kejam” bantah Giok jie sambil menggeleng. “Yang benar, sewaktu burung elang sakit atau terluka, dengan sabar dan penuh kasih sayangnya ia mengobati dan merawat mereka, dikolong langit agaknya tak ada seorangpun yang bisa menandingi keramah-tamahannya ini.”

Dengan rasa keheranan Liem Tou berdirl termangu-mangu ditempatnya, ia sama sekali tidak menyangka kalau Thian Piau siauw cu yang disebut sebagai iblis pembunuh manusia dan manusia berhati kejam sebenarnya adalah seorang yang sangat ramah terhadap seorang bocah. Perlahan-lahan Liem Tou mengangguk lama sekali ia tidak belbicara.

Pada saat itu hanya terdengar suara derapan kaki kerbau yang memecahkan kesunyian siapapun diantara mereka berdua tak ada yang mengangkat bicara terlebih dulu.

Waktu dengan cepatnya berlalu mendadak terdengar Liem Tou bertanya kembali,

“Kalau begitu kau tentu mengetabui asal-usul dari Ke Hong bukan ? pernahkah kau menemui isterinya ?”

”Aku tidak tahu selamanya dia orang belum pernah mengungkap soal ini,” jawab Giok jie sambil menggeleng. “Diatas pulau ada sebuah rumah bangunan kecuali dia dilarang untuk masuk kedalam. Katanya dtdalam rumah bangunan itulah tinggal istrinya yang tercinta„ apa yang sebenarnya ada disana kami tidak ada yang tahu ! bahkan tempo dulu aku serta Kiem jie sering merasa curiga bila di dalam ruangan itulah tersimpan rahasia yang paling besar dari Thian Pian Siauwcu.”

Liem Tou menganggukkan kepalanya berulang kali walaupun dia adalah seorang yang cerdik, tetapi pemuda inipun tak dapat menebak rahasia apa yang terkandung didalam rumah tersebut, walaupun begitu ia mengingat ingat perasaan itu didalam hatinya

Tidak lama kemudian dihadapannya sudah terbentang sebuah puncak gunung yang sangat tinggi, puncak gunung itulah letaknya puncak Leng Ay.

“Giok jie puncak Leng Ay sudah ada didepan mata, tempat itulah dabulu empek Lie -berlatih diri.” ujar Liem Tou sambil menuding kearah depan.

Selesai berkata mereka kembali melanjutkan perjalanannya kearah puncak tersebut. Pada saat itulah diatas puncak mendadak berkumandang datang suara tertawa terbahak-bahak disusul suara teguran dari seseorang;

Haaa….. haa , haahaa . Liem Tou kau bocah cilik ternyata sungguh-sungguh datang, permainan sepoa dari Thiat Sie heng benar-benar amat mengagumkan sekali, Hey sibuntung tua coba kau lihat Liem Tou pada saat ini sudah berubah jadi bagaimana ? sinpoa rongsokan bilang bencana dunia kangouw dalam tubuhnya, apakah Liem Tou si bocah cilik ini benar- benar akan menjadi seorang pembunuh yang kejam ?”

Mendengar nada suara tersebut Liem Tou segera mengenal kembali kalau ucapan itu berasal dari sipengemis pemabok ketika kepalanya didongakkan maka nampaklah dua sosok bayangan manusia dengan kecepatan luar biasa meluncur turun dari atas puncak.

Dengan ketajaman mata Len Tou sejak semula ia sudah dapat melihat jelas akan ke dua orang itu, tetapi sewaktu melihat gerakan mereka yang begitu cepat hatinya merasa rada tertegun juga dibuatnya.

Pikirnya dalam hati :

“Sejak kapan sisiucay buntung serta sipengemis pemabok berhasil memperlajari ilmu meringankan tubuh Hwee Si Liuw Im dari partai Toen Sin Pay.

Ketika memperhatikan lagi gerakan dari kedua orang susioknya itu, iapun mulai merasakan bila tenaga dalam dari kedua orang itu sudah memperoleh kemajuan yang amat pesat.

Telapi sebentar kemudian ia sudah menjadi sadar kembali tentunya kedua orang telah mempelajari ilmu dari kitab pusaka Toe Loo Cin Keng sehingga kepandaian silatnya memperoleh kemajuan yang amat pesat. Pada saat itulah mendadak hatinya terasa rada bergetar buru-buru ia menoleh kearah Giok jie dan teriaknya ;

“Grok jie cepat, kau bawa kerbau itu untuk sementara menyingkir dulu aku ada urusan hendak berangkat selangkah lebih cepat setengah jam kemudian aku akan menanti kedatanganmu diatas puncak Leng Ay !”

Walaupun selama ini Giok jie merasa kurang senang tetapi ia sangat penurut mendengar perkataan tersebut tanpa membantah atau mengucapkan sesuatu sambil menuntun kerbaunya buru-buru ia menyingkir ke bawah gunung.

Menanti kerbau itu sudah pergi jauh Liem Tou secara mendadak meraup segenggam pasir lalu berkelebat menyongsong kedatangan dari sisiucay buntung serta si pengemis pemabok.

Kiranya sisiucay buntung serta sipengemis dari atas puncak telah melihat munculnya sang kerbau jauh dibawah puncak di dalam anggapan mereka tentu Liem Tou sudah datang, maka dengan kecepatan bagai kilat mereka berdua meluncur kebawah untuk menyambut kedatangannya.

Siapa sangka mereka sama sekali tak menduga bila Liem Tou sudah menyaru sebagai seorang pengemis.

Kini sewaktu dilihatnya dari bawah gunung meluncur datang seorang pengemis, hati mereka rada bingung juga dibuatnya.

Menanti mereka sadar kembali dari lamunan, jaraknya dengan pengemis itu tinggal dua kaki saja.

“Lihat senjata I' terdengar Liem Tou membentak keras.

Pasir yang digenggam diatas tangan dengan cepat diayun kedepan menyebar seluas tujuh delapan kaki lebih, bahkan setiap batu kerikil itu menyambar dengan diiringi sambaran yang tajam. Sisiucay buntung serta sipergemis pemabok segera merasakan lihaynva serangan tersebut mereka bersama-sama pentangkan telapak tangannya.

Dengan menggunakan jurus 'Kong Cio Kay Peng! dari kitab puaaka "Toa Loo Cin Keng.' kedua orang itu bersama-sama melancarkan satu pukulan dahsyat kedepan.

Liem Tou segera mengetahui bila sisiucay buntung serta si gpengemis pemabok sudah mempelajari isi dari kepandaian silat Toa Loo Cin Keng dalam hati diam-diam merasa amat terperanjat pikirnya,

“Kecuali mereka berdua bersama sudah masuk kedalam perguruan Toen Sin Pay kalau tidak hasil ini tentu didapatkan dari cara mencuri dan peristiwa ini tak bisa dihindari lagi tentu ada hubungan dengan suhu Thiat Sie Sianseng tetapi mengapa ia berbuat demikian tololnya ?"

Pikiran dengan cepat berkelebat didalam benak ini ia tak menggubris lagi terhadap datangnya serangan dari kedua orang itu.

Mendadak tubuhnya mencelat setinggi beberapa kaki kemudian didalam beberapa kaki jumpalitan saja tubuhnya sudah berada jauh ratusan kaki dari kedua orang itu.

Menanti sisiucay bantung serta sipengemis pemabok merasa kehilangan jejak dari sipengemis tersebut, saking gusarnya mereka baru berkoak-koak kegusaran.

“Huh ! sungguh sialan, disiang hari bolong juga bertemu dengan setan” teriak sipengemis pemabok dengan marahnya. "Binatang itu sungguh kurang ajar sekali …! Aaakh ! apakah kita lagi bermimpi ?”

Sisiucay buntung melengak dan berdiri melongo-longo, lama sekali ia saling bertukar pandangan dengan kawannya. Pada saat kedua orang itu dibuat tertegun Liam Tou dengan gerakan yang amat cepat sudah berkelebat mencapai atas puncak gunung tersebut.

Sinar matanya yang tajam dengan cepat, menyapu sekejap sekeliling tempat itu, ketika dilihatnya ditempat itu tampak bayangan manusia lain, pemuda tersebut rada merandak.

Tetapi dengan cepatnya ia sudah menerjarg kembali masuk kedalam ruangan batu yang pada saat ini terpentang lebar- lebar.

==mch==

DIDALAM ruangan batu itu sangat terang benderang; didepan meja duduklah seorang nikouw tua yang amat ramah dan lagi tersenyum kearah Liem Tou disamning nikouw tua itu duduklah suhunya Thiat Sie sianseng dengan wajah serius.

Liem Tou agak malengak hatinya terasa berdebar-debar amat keras. Tetapi sebentar kemudian ia sudah berkelebat maju dan menjatuhkan diri berlutut dihadapan suhunya.

Belum sempat ia mengucapkan sesuatu, Thiat Sie sianseng sudah goyangkan tangannya berulang kali.

"Muridku, Cepat unjuk hormat buat sucouwmu,“ tegurnya perlahan.

Mendengar perkataan ini Liem Tou jadi melengak, tetapi sewaktu pikirannya teringat kembali dengan suhunya siperempuan tunggal Touw Hong. Salah satu dari Auw Hay Siang Hap yang pernah menggetarkan seluruh Bu-lim, hatinya jadi tergetar keras.

Tubuhnya baru-buru menjatuhkan diri berlutut dihadapan Nikouw tua tersebut.

Pada waktu itulah dari ruangan batu berkelabat datang bayangan manusia disusul suara bentakan gusar dari sisiucay buntung serta si pengemis pemabok. “Pengemis liar, kiranya kau berani juga datang mencari gara-gara diatas puncak Leng Ay di gunung Go bie."

Tubuh mereka berdua berpisah, mendadak satu dari sebelah kiri yang lain dari sebelah kanan bersama-sama melancarkan satu pukulan dahsyat menghajar tubuh Liem Tou.

Nikouw tua yang ada dihadapannya masih tetap tersenyum ramah, ia sama sekali tidak mengucapkan sepatah katapun. demikian pula. halnya dengan Thiat Sie sianseng, ia tetap duduk ditempat semula sambil memandang tajam wajah Liem Tou dangan air muka serius.

Hanya didalam sekejap saja angin pukulan dari sisiucay buntung serta sipengemis pemabok sudah menyambar datang dengan kekuatan tenaga pukulan mereka yang telah menggunakan dalapan bagian hawa lweekangnya ini keadaan benar benar sangat dahsyat sekali.

Tetapi Liem Tou sama sekali tidak mengambil gubris akan datangnya hawa pukulan itu, setelah menggunakan ”To Kong simhoat-nya, untuk melindungi seluruh tubuh ujarnya tenang.

“Susiok berdua kalian jangan marah dengarlah perkataan dari keponakanmu Liem Tou.”

Ketika sisiucay buntung serta sipengemis pemabok mendengar pengemis yang ada di hadapan mereka bukan lain adalah Liem Tou, kelihatan rada tertegun pukulan yang dilancarkanpun buru-buru ditarik kembali.

Sekalipun begitu Liem Tou secara mendadak hanya merasakan segulung hawa tekanan yang maha dahsyat mengurung seluruh tubuhnya.

Pemuda itu jadi terperanjat, dengan cepat hawa murninya dikerahkan keluar mengelilingi seluruh tubuh. Tenaga yang semula cuma tiga bagian kini sudah berubah menjadi delapan bagian; sudah tentu hasilnya lebih dahsyat lagi;

"Akh ...! sungguh tak kusangka tenaga dalam dari sisiucay buntung serta pengemis pemabok kedua orang susiok hanya didalam satu tahun saja sudah memperoleh kemajuan yang sangat pesat,” pikirnya dihati.

Tenaga murni yang dihasilkan oleh Too-Kong Sin Kang benar-benar luar biasa sekali, ketika kedua gulung angin pukulan itu bentrok menjadi satu mendadak terdengar Thiat Sie sianseng menjerit keras :

“Muridku, kau hendak berbuat apa ?”

Tubuhnya dengan cepat meloncat bangun, sepasang telapak tangannya bersarna sama melancarkan satu pukulan yang amat hebat menggulung tubuh pemuda tersebut.

Buru-buru Liem Tou menarik kembali serangannya dan meloncat mundur dua kaki ke belakang, sinar mata yang jeli dengan penuh kebingungan menyapu sekejap kearah beberapa orang itu.

“Muridku tidak tahu diri sehingga melukai kesehatan suhu, tecu rela menanggung dosa tersebut!” terdengar Thiat sie sianseng berkata dengan suara perlahan.

Hati Liem Tou jadi bergerak, dengan cepat ia mengalihkan pandangannya ketengah ruangan.

Tampaklah wajah Gong Gong sin nie pucat-pasi bagaikan mayat, ia segera menjadi sadar bila tekanan yang berat tadi ternyata berasal dari serangan sucouwnya; dalam hati mulai merasa bergidik.

Sepasang lututnya terasa lemas sehingga tidak kuasa lagi ia jatuhkan diri berlutut dihadapannya. "Cucu murid Liem Tou merasa sangat berdosa dan patut mendapat hukuman, harap Sucouw suka mengambil tindakan,” teriaknya keras.

Si Nikouw tua Gong Gong Nie cuma memejamkan matarya rapat-rapat tidak berbicara maupun bergerak sehingga sisiucay buntung serta sipengemis pemabok yang melihat kejadian tanpa terasa pada ikut jatuhkan diri berlutut.

Sejenak kemudian Gong Gong Nie baru membuka matanya memandang sekejap kearah Thiat Sie sianseng, sisiucay bantung, si pengemis pemabok, serta Liem Tou yang sedang berlutut dihadapannya. Selintas terlihatlah senyuman yang amat sedih berkelebat diatas wajahnya.

“Kalian bangunlah semua,” katanya dengan suara rendah. “Soal ini tidak bisa menyalahkan Tou jie. Tenaga dalam yang ia miliki memang benar-benar luar biasa tingginya.

Sebenarnya Loo nie tadi ada maksud untuk mencoba kekuatannya tidak disangka tenaga lweekang yang berhasil ia latihpun ternyata sangat tinggi dan jauh berada diluar dugaan Loo nie semula. Bahkan kelihatan ia belum mengerahkan seluruh tenaga dalamnya, Partai kita beruntung sekali bisa memperoleh seorang akhli waris seperti dia. kenapa kita harus berbicara yang bukan-bukan?”

Selesai berkata dengan paksaan diri ia bangun berdiri dan membimbing Liem Tou.

“Liem Tou !” bentak Thiat Sie sianseng dengan keras “Ayoh cepat ucapkan terima kasih atas terpunahnya dosa yang menimpa dirimu, lain kali kalau berbuat sesuatu lebih baik jangan sembrono dan berangasan.”

Liem Tou mengiyakan sambil manggut.

“Sudah sudahlah !" seru Gong Gong Nie kemudian.

“Aku tak menyalahkan dirimu ayoh cepat bangun!" Empat orang sama-sama pada bangun berdiri Gong Gong Nie pun dengan memperhatikan diri Liem Tou dari ujung rambut sampai kebawah kaki kemudian dengan wajah serius ujarnya lagi;

"Liem Tou ! Setelah kau hidup dan terjunkan dirimu dalam kalangan persilatan, haruslah mulai berhati-hat atas segala tindakanmu sewaktu turun tangan, peristiwa tempo duru diatas gunung Cing Shia bilamana bukannya suhumu mempunyai kepandaian untuk melihat kejadian yang akan datang, hampir-hampir saja partai kita akan menemui bencana kemusnahan. Dan kini Thiat Sie Poa, sisiucay buntung serta si pengemis pemabok tiada masuk kedalam aliran kita, sudah seharusnya mereka merupakan susiok yang sesungguhnya, suhumu serta kedua orang susiokmu akan tetap tinggal disini untuk tutup diri selama tiga tahun lamanya guna memperdalam ilmu silat aliran kita, sedang kau sekarang boleh turun gunung untuk mencari suci, sumoay serta Hong susiok ,"

Berbicara sampai disini ia rada merandek sejenak, agaknya napasnya rada tersengal-sengal. Jelas kalau luka dalamnya agak parah. tetapi setelah mengatur pernapasannya sejenak, akhirnya ia menyambung kembali:

“Dendam sakit hati diantara orang orang kangouw denganmu boleh kau selesaikan dengan bijaksana. Tetapi kau harus ingat bila Thian mengutamakan kebajikan kau orang janganlah melakukan pembunuhan semuanya.”

Selesai berkata ia menyapu sekejap keatas wajab Liem Tou kemudian perlahan-lahan memejamkan matanya.

Dengan amat hormat Liem Tou menjatuhkan dirinya berlutut dan memberi hormat.

"Cucu murid tentu akan mendengarkan pesan dari sucouw, dan tidak sampai melanggar pesan perguruan." katanya perlahan. Pada waktu itulah dari bawah tebing Leng Ay secara samar samar terdengar dengusan kerbau yang memanjang.

“Muridku. ujar Thiat Sie sianseng tiba-tiba, "tahun

lalu sewaktu terjadi kekacauan di atas gunung Cing Shia tahukah kau orang mengapa kau kalian buru-buru meninggalkan tempat itu? Karena bilamana aku tidak berbuat demikian, maka kitab pusaka Toa Loo Cin Keng akan terjatuh ketangan Ke Hong. Untung saja tempo dulu aku serta kedua orang susiokmu tiba terlebih dulu di atas gunung Go bie dan bersama sama mencoba menahan serbuan Ke Hong yang ingin merebut kitab pusaka itu. Setelah bergerak satu hari satu malam lamanya untung sekali sucouwmu datang dan dapat dengan segera melenyapkan mara bahaya kalau tidak maka partai Toe Si pay bakal musnah orangnya mati semua. Coba bayangkan bagaimanakah bila sampai terjadi keadaan macam itu?"

“Suhu mengetahui keadaan bahaya dari partai kita terlebih dahulu. Tentu Lie supek yang ada diakhirat mengetahui akan hal ini dan membantu kita untuk menegakkan kecemerlangan partai kita,” kata Liem Tou dengan amat sedih.

Teringat akan sikap yang baik dari Lie Loo-jie terhadap dirinya bahkan menganggap ia sebagai putrarya sendiri. tak kuasa lagi titik air mata mengucur keluar dengan amat deras.

“Suhu! tecu mau pergi " katanya kemudian sambil perlahan-lahan bangun berdiri. “Sucauw, suhu serta susiok berdua apakah masih ada pesan-pesan lain lainnya?”

Gong Gong Nie yang selama ini pejamkan matanya rapat- rapat mendadak membuka matanya kembali.

"Setelah menolong kembali suci serta sumoaymu, mereka boleh beralih menjadi anak murid Hong susiokmu" katanya halus.

"Menurut perhitunganku,” ujar Thiat pie sianseng pula, "Ada kemungkinan Lie Siauw-Ie terjatuh didaerah Tiem Lam ditangan partai Kiem Tien Pay, sedang Hong susiokmu kena terbokong oleh Ke Hong, sebaliknya Lie Wan Giok "

"Sewaktu Wan moay kena diculik oleh Sun Ci Si tecu melihatnya dengan sangat jelas sekali !” sela Liem Tou dengan cepat. “Sun CI Si sebagai anak murid dari Chiet Ci Tauw Tou tempo dulu setelah berhasil mempelajari racun beribu macam dan mendirikan pula perkumpulan Sin Beng Kauw yang pengaruhnya semakin hari semakin meluas serta mencelakai orang-orang Bu lim semakin menghebat, satelah tecu turun gunung narti tecu pikir ingin sekali mencari Sun CI Si terlebih dulu untuk melenyapkan bencana dari Bu lim.

Thiat sie sianseng termenung berpikir beberapa lamanya, akhirnya ia menggeleng.

“Bilamana Wan jie dilIndungi oleh Thian maka sekalipun keadaannya pada saat ini rada tersiksa tetapi tidak akan sampai membahayakan, aku rasa keadaan diri enci le serta Hong susiokmu yang lebih berbahaya, maka kau harus cepat cepat menolong mereka untuk keluar dari ancaman bahaya.”

Pada waktu itu kerbaunya yang ada dibawah tebing kembali mendengus memandang.

Mendengar suara tersebut Liem Tou segera mengerutkan alisnya rapat-rapat.

“Binatang kenapa kau terus mendengus terus ?” bentaktya “sebentar lagi aku pasti datang.”

"Muridku kau pergilah !” kata Thiat Sie-sianseng. Ingat- ingat saja perkataan dari sucouwmu, jangan sembarangan membunuh, tiga tahun kemudian setelah selesai berlatih ilmu silat aku serta kedua orang susiokmu mendatangi sendiri perkampungan Ie Hee San Cung untuk mencari dirimu.

Sekali lagi Liem Tou jatuhkan diri memberi hormat, sedang dalam hati diam-diam butatkan tekad untuk membangun kembali perkampungan Ie Hee San Cung didalam tiga tahun ini guna menyambut kedatangan suhu serta susioknya dikemudian hari.

Sisiucay buntung serta sipengemis pemabok pun pada bangun berdiri, tampaklah sipengemis pemabok sambil tertawa sehingga mulutnya terperanjat, terpentang lebar lebar katanya kepada pemuda tersebut.

“Hey Liem Tou, jika ditinjau dari potongan pakaianmu kau memang rada mirip seperti anak murridku ! heee ,...........

heee …. Buntung tua, mari kita antar dia sampai ditengah jalanan.”

Liem Tou yang melihat cakap dari sipengemis pemabok masih juga sekonyol dulu tak tahan lagi ia lantas tertawa, demikianlah mereka bertiga segera berjalan keluar.

Waktu itu kerbau tersebut telah menanti di lapangan batuan diatas puncak Leng Ay. Giok jie pun sudah turun dari tunggangannya dan menanti disamping dengan tenang, sedangkan ketiga ekor burung elangnya berputar putar terus diangkasa.

"Liem Tou ! sekarang aku mau bertanya kepadamu," tiba- tiba secepat sambaran kilat sipengemis pemabok melancarkan cengkraman mencekal urat-nadi dari pemuda tersebut. “Kenapa sewaktu berjumpa dibawah puncak tadi secara mendadak kau turun tangan membokong kami? sekarang kau harus memberikan penjelasan yang memuaskan hati.”

Semula Liem Tou rada terkejut tetapi setelah mendengar jelas apa yang sedang dibicarakan ia tertawa tawar.

“Susiok, kau jangan ribut dulu kaupun harus bertanya pada dirimu sendiri kitab pusaka Toa Loo Cin Keng merupakan kepandaian silat dari “Toen Si Pay" yang tidak pernah diturunkan kepada orang lain,” katanya perlahan. “Dan kini susiok sudah berhasil mempelajari sebelum urusan ini terjadi. Akupun tidak tahu kalau susiok sudah mengangkat su-couw sebagai guru oleh karena itu hal ini mudah sekali menimbulkan kesalah-pahaman. Saat itu aku tidak lebih cuma, ingin membuktikan apakah susiok benar-benar berhasil mempelajari isi dari kitab pusaka Toa Loo Cin Keng atau tidak maka dari itu aku menggunakan batu serta pasir untuk mengadakan percobaan.”

Sipengemis pemabok melototkan matanya bulat bulan ia mendengus dengan dingin.

“Kau anggap aku dan si buntung tua manusia macam apa? apakah kita kita berdua paling suka mencuri rahasia orang lain

?".

Diam-diam Liem Tou menggerutu, ia tak menyangka kalau sipengemis pemabok bisa begitu gusarnya, terpaksa pemuda tersebut tertawa paksa.

"Susiok harap jangan marah-marah !" katanya. Bilamana susiok menegur tentang soal ini sutit sudah tentu tak ada perkataan lain lagi yang bisa diucapkan, kau hendak menjatuhkan hukuman macam apa kepadaku, silahkan diberitahukan saja !”