Raja Silat Jilid 42

 
Jilid 42

SETELAH mendengar perkataan tersebut Lie Siauw Ie serta si gadis cantik pengangon kambing baru merasa lega.

Waktu itulah mendadak…. “Pergi bentak Lie Loo jie dengan suara amat keras. “Braaak

..!” salah satu dari keempat orang berbaju hitam yang mengepung diri Lie Loo jie sejak tadi itu berhasil kena dihantam sehingga terpental keluar dari kalangan dan rubuh tidak bisa bangun lagi.

“Tia. jangan lepaskan mereka barang seorangpun.” Teriak si gadis cantik pengangon kambing,

Mendengar teriakan itu Liem Tou jadi kaget, ia tahu urusan akan berubah semakin ruyam lagi.

Sedikit pun tidak salah, mendadak terdengar Boe Beng Tok su mendengus dingin kemudian mengangkat pedang hitamnya keatas dan melototi sekejap kearah si gadis cantik pangangon kambing.

"Liem Tou, siapakah orang itu,” tanyanya kepada sang pemuda dengan nada dingin.

Yang ditanya oleh Boe Bang Tok cu bukannya si gadis cantik pengangon kambing melainkan Oei Poh.

Kiranya Oei Poh dengan mengandalkan ilmu meringankan tubuhnya yang sangat sempurna berhasil berkelebat kesana kemari dengan gesitnya hal ini membuat Pouw Siauw Ling jadi kelabakan dan untuk beberapa saat lamanya tak sanggup untuk melakukan tindakan sesuatu apapun.

Liem Tou yang dicintai lantas saja tahu bilamana Boe Beng Tok su ada maksud pinjam alasan tersabut untuk turun tangan, karenanya ia lantas tertawa.

"Sun Ci Si ! Jadi kau anggap dia adalah jagoan yang aku sewa untuk membantu diriku?" akhirnya ia tertawa.

Liem Tou tahu keadaannya pada saat ini amat berbahaya sekali, didalam pikirannya ia terus-menerus mencari jalan guna menjepit diri Boe Beng Tok su sehingga dia tak sanggup lagi untuk turun tangan, setelah usahanya ini berhasil maka baru berusaha untuk menolong Lie Loo jie meloloskan diri dari kurungan dan menghindar bencana ini.

Siapa sangka Boe Beng Tok su bukanlah seorang manusia bodoh, tampak dia orang sambil tertawa dingin dengan perlahan maju mendekati diri sang pemuda.

“Liem Tou teriaknya, "Bagaimana juga aku tak akan melepaskan dirimu !”

Sembari berkata pedangnya dilintangkan di depan dada dan bertindak maju, walaupun begitu matanya sama sekali tidak memperhatikan sang pemuda, jelas dia orang tak memandang sebelah mata pun terhadap diri Liem Tou.

Waktu itu kembali Oei Poh melancarkan dua buah serangan gencar kearah Pouw Siauw Ling kemudian melayang kembali ketengah udara, Sekali loncatkan badan tubuhnya berhasil melayang sejauh dua kaki dari diri Siauw Ling. Mendadak… cahaya hitam berkelebat memenuhi angkasa Boe Beng Toksu bersuit nyaring sehingga membuat suasana didalam ruargan Cie lng Tong diliputi oleh napsu membunuh yang semakin menebal.

"Sungguh keji siasat dari bangsat ini !”. Batin Liem Tou yang berdiri disisi kalangan. Kiranya mengambil kesempatan sewaktu Oei Poh melayang mundur kebelakang, Boe Beng Toksu telah meloncat maju kedepan sambil memainkan pedang hitamnya sedemikian rupa beberapa kaki disekelilingnya dengan cepat kena terkurung dibawah sambaran hama pedang yang tajam.

Kepandaian yang paling diandalkan oleh Oei Poh adalah meloncat dan menyambar di tengah udara kemudian mencari kesempatan yang bagus untuk melukai orang, kini Boe Beng Toksu telah mendahului dirinya dengan merebut posisi yang lebih menguntungkan kemudian melancarkan serangan pedang yang menimbulkan desiran tajam seketika itu juga membuat hatinya jadi amat terperanjat. Keringat dingin membasahi seluruh tubuh, tenaga dalamnya segera disalurkan kesatu titik dan siap-siap dibabat kearah depan.

Tiba tiba …

Bayangan hijau berkelebat disusul segulung angin pukulan yang maha dahsyat menyambar kearah Boe Beng Tok su.

“Tahan !”

Boe Beng Toksu tak berani berlaku gegabah, buru-buru ia menarik kembali

pedang hitamnya dan melayang beberapa depa ke belakang setelah itu ia baru

pentangkan matanya lebar-lebar untuk memandang kearah orang yang baru

datang itu.

Kiranya dia hanyalah seorang gadis berbaju hijau yang masih muda saat itu dengan hati yang amat cemas gadis itu lagi berteriak kearah Liem Tou:

“Cepat lari, Boen Ing telah datang !”

Sejak semula Liem Tou sudah mengetahui kalau orang itu adalah Cing jie ia kerutkan alisnya rapat-rapat tanpa bergerak dari tempatnya semula.

Boe Beng Tek su yang berhasil mengurung Oei Poh dibawah kurungan hawa pedangnya tetapi kini kena digagalkan oleh Ceng jie hatinya jadi amat gusar!

Pedang hitam dilintangkan kedepan dada, lalu bagaikan segulung angin taufan manggulung kearah Cing jie.

Cing jie yang mencekal pedang Lan Beng Kiam sudah tentu tidak akan takut terhadap ketajaman pedang musuhnya, melihat ujung pedang dari Boe Beng Tok su hampir mendekati tubuhnya dengan gesit ia menyentakkan pedangnya kedepan untuk merangkis.

“Traaaang ….!” dengan menimbulkan suara bentrokan laksana pekikan naga dan bunga-bunga api memecik keangkasa dan masing-masing pihak pada meloncat mundur kebelakang.

Baik Boe Beng Tok su maupun Cing jie dengan hati terparanjat buru-buru memeriksa pedangnya masing-masing ketika melihat pedangnya tak cedera kembali mereka bergerak jadi satu dengan serunya.

Hanya didalam sekejap mata seluruh angkasa telah dipenuhi dengan berkelebatnya cahaya hitam serta cahaya putih yang saling melibat, saling mengejar dengan ramainya. Keadaan pada waktu itu benar-benar amat menegangkan.

Lie Siauw Ie serta sigadis cantik pengangon kambing sama sekali tidak kenal dengan Cing jie tetapi melihat gadis tersebut kenal dengan Liem Tou, dengan hati penuh tanda tanya ia bertanya dengan suara yang lirih:

“Siapakah gadis berbaju hijau itu?”

“Puteri It Tiap Cing jie dari gunung Heng san yang telah memperoleh seluruh kepandaian silat aliran Heng san pay"

"Dan siapa pula Boen Ing yang dimaksudkan?” tanya Lie Siauw Ie sesudah termenung sebentar.

“Anak murid dari It Tiap Cing jie perempuan siluman itu amat keji buas dan cabul!”

Baru saja ia selesai berkata dari arah luar ruangan Cie Ing Tong tiba2 melayang datang sesosok bayangan tubuh yang bukan lain adalah Boen Ing siperempuan langsing dan menawan hati itu .

Melihat kejadian itu tak kuasa lagi Lie Si auw Ie berseru memuji . "Oooo…, seorang gadis yang amat cantik sekali!"

Sebaliknya Liem Tou jadi amat kaget, mukanya berubah menegang dan kini kelihatan amat serius sekali.

Air muka Boen Ing diliputi oleh suatu sikap yang seperti tertawa tapi tidak mirip dengan tertawa dengan sepasang mata yang jeli dan mempesonakan ia memandang kearah Liem Tou.

Terhadap pertempuran yang sedang berlangsung ditengah kalangan dia orang sama sekali tidak mengambil perduli - selangkah demi selangkah perempuan itu semakin mendekat diri Liem Tou.

Ketika Boen Ing sudah berada sangat dekat sekali dengan pemuda itu, sigadis cantik pengangon kambing yang ada di sisinya tak bisa menahan sabar lagi.

"Apa yang hendak kau lakukan?” bentaknya.

Sambil tersenyum Boen Ing melirik sekejap kearah sigadis cantik

pengangon kambing, ia sama sekali tidak menjawab, bahkan melanjutkan kembali langkahnya kedepan.

Melihat kejadian tersebut Lie Siauw Ie serta sigadis cantik pengangon kambing bersama-sama membentak keras lalu melayang ke hadapan Liem Tou.

Saat itulah Boen Ing baru menghentikan gerakannya. "Aduuuh . . !” teriaknya kaget, “apakah kalian berdua

merasa ada tenaga untuk menghalangi diriku? Liem Tou, lebih

baik kau ikuti saja diriku tanpa membangkang; Karena kau hingga kini aku sampai belum juga merasakan nikmatnya kawin!"

Liem Tou tahu bila Lie Siauw Ie serta gadis cantik pengangon kambing bukanlah tandingannya karena takut mereka berdua bakal mendapat cidera. Buru-buru ia mendesak maju kehadapan kedua orang gadis itu. Sambil memandang kearah Boen lng, lalu pikirannya dalam hati: “Tidak aneh kalau anak murid dari partai Heng san pay pada terjebak kedalam perangkapnya. Tarnyata ia mempunyai wajah yang begitu menawan hati.

Belum sempat ia memberikan jawaban mendadak dari sisi kiri kembali berkelebat datang sesosok bayangan abu-abu yang langsung menerjang kearah diri Boen lng.

Dengan ketajaman mata Liem Tou sekilas pandang saja ia sudah bisa lihat kalau orang itu bukan lain adalah Lie Loo jie dari Hang san Jie Yu tampaklah dengan wajah yang diliputi oleh kegusaran dan dengan geram ia menerjang diri perempuan itu.

Ketika tubuhnya tiba disamping perempuan itu, sepasang telapaknya bersama-sama didorong kedepan dan melancarkan satu pukulan yang maha dahsyat.

Boen Ing hanya tersenyum terhadap datangnya serangan itu dan dia orang sama sekali tidak menggubrisnya.

"Nona Boen, kau hati-hati !" teriak Pouw Siauw Ling yang berada disamping dengan amat cemas.

Sejak munculnya Boen Ing tadi, Pouw - Siauw Ling sudah mengenalkan kembali dan diam-diam hatinya merasa amat girang.

Cuma saja disebabkan selama ini Boen -Ing hanya memperhatikan Liem Tou terus menerus maka untuk beberapa waktu dia orang sama sekali tidak menyapa dirinya.

Liem Tou yang melihat Heng san Loo jie secara mendadak melancarkan serangan bokongan dalam hati jadi amat kaget, tak kuasa lagi ia pun sudah berteriak keras,

“Boen jie jangan !” Tetapi waktu sudah tidak mengijinkan lagi, baru saja angin pukulan dari Heng san Loo jie menyambar keluar mendadak Boen-ing tekuk pinggang lantas berputar.

Kecuali Liem Tou sendiri, orang-orang lain sama sekali tidak dapat melihat dengan menggunakan cara apakah perempuan itu turun tangan, tahu-tahu terdengar Heng san Too jie berteriak keras.

Dengan sifat yang berangasan dan ingin menang dari Heng san Too jie, dia orang mana mau mandah digebuk, sambil menggigit kencang, bibirnya mendadak tubuhnya meloncat kembati kedepan.

Kendati tubuhnya masa sempoyongan, matanya melotot lebar-lebar sedang mulutnya tiada bentinya memaki dengan kata-kata yang kotor.

“Anak jadah, sundal tengik ...! perempuan cabul, Loo toa ku sudah kau bawa kemana ? bilamana kau tidak suka bicara yang jelas ini hari juga aku Loo jie akan mengadu jiwa dengan dirimu !”

Sembari berkata tubuhnya kembali menerjang kearah tubuh Boen lng.

Perempuan itu hanya tersenyum saja tanpa memperlihatkan gerakan apapun juga menanti tubuh Heng san Loo jie hampir mendekati tubuhnya mendadak ia kebutkan ujung jubah kirinya kedepan.

Segulung angin sambaran yang amat keras kontan menggulung tubuh Loo jie dan melemparkannya kebelakang.

Heng San Loo jie yang sudah terluka parah kini tak sanggup lagi untuk menghindar. Kelihatannya ia bakal mati dibawah serangan yang maha dahsyat itu.

Pada saat yang amat kritis itulah mendadak tampak bayangan hitam dan putih yang sedang bertempur sengit saling berpisah. Cahaya putih laksana serentetan pelangi langsung meluncur kearah tubuh Boen Ing yang lagi melancarkan serangan.

Melihat datangnya serangan tersebut Boen Ing buru-buru menarik kembali serangannya dan menangkis cahaya putih itu, melihat munculnya Cing jie dengan gusar ia membentak:

"Bangsat kiranya kau kembali rasakanlah pukulanku."

Tubuhnya dengan gesit meloncat ke tengah udara kemudian memancarkan sebuah serangan gencar kedepan.

Cing jie tidak jadi gugup; pedang Lau Beng Kiam ditangannya dikebaskan membentuk bunga-bunga pedang yang dengan cepat mengguIung ketubuh Boen Ing.

Hanya didalam sekejap mata mereka berdua sudah saling bergebrak dengan sengitnya.

Ketika itulah Pouw Siauw Ling melihat suatu kesempatan yang amat bagus…

"Kauwcu !” teriaknya dengan cepat, "Bilamana kita tidak bergerak pada saat ini, kau man tunggu sampai kapan lagi?”

Sambil berkata cambuk Pek Kui Pian di tangannya dimainkan sehingga menimbulkan suara angin pukulan yang menderu-deru dan menggulung seluruh tubuh Oei Poh.

Boe Beng Tok su yang mendengar suara teriakan tersebut kontan menjadi tersadar kembali.

“Liem Tou, hutang kita pada setahun yang lalu kita bereskan sekarang juga

!” bentaknya dingin.

Ditengah berkelebatnya cahaya hitam, tubuhnya dengan dahsyat menubruk kearah dirinya Liem Tou. Melihat perubahan situasi itu sang pemuda baru merasa bilamana waktunya telah tiba; sambil menghela napas dia segera menutup matanya rapat rapat.

Suara bentakan gusar dari Lie Siauw le serta sigadis cantik pengangon kambing berkumandang saling susul-menyusul mengiringi suara tertawa dingin dari Boe Beng Tok-su.

“Breet.. !", Liem Tou hanya merasakan dadanya perih dan amat sakit sekali; pikiran pertama begitu berkelebat didalam benaknya buru-buru ia berteriak keras.

“Enci Ie ! Adik Wan cepat lari ! Jangan urusi diriku lagi !”

Ketika ia membuka matanya kembali tampaklah dadanya sudah tergores. Sebuah luka sepanjang beberapa coen oleh babatan pedang hitam Boe Beng Tok su sehingga mengenai tulang dadanya, darah segar mengucur keluar dengan amat derasnya.

Pada saat yang bersamaan dari luar perkampungan berkumandang datang suara teriakan yang ramai disertai suara tangisan dari bocah serta kaum perempuan yang memilukan hati, dan dari jendela ruangan Cie Ing Tong dapat terlihat api berkobar dengan besarnya membakar seluruh perkampungan.

Hatinya semakin sedih seperti diiris-iris, lalu gumamnya seorang diri: “Angin topan melanda dari empat penjuru, api lilin sirap dan ruangan hancur…, asap mengepul dan membuyar tertiup angin …”

Teringat akan hal itu tak kuasa lagi seluruh tubuhnya gemetar dengan amat keras, air mata mengucur keluar membasahi wajahnya.

Mendadak terdengar suara dengusan kerbau yang memanjang menyadarkan kembali pemuda itu dari lamunannya, ketika menoleh kekalangan pertempuran terlihatlah Lie Siauw Ie serta sigadis cantik pengangon kambing dengan mengandalkan tangan kosong sedang bergebrak melawan Boe Beng Tok su. Keadaannya amat kritis dan berbahaya sekali.

Walaupun kini ia sudah terluka parah tetapi pikirannya masih juga memikirkan keselamatan dari kedua orang gadis itu dengan paksakan diri ia menarik napas panjang dan serunya kepada kerbaunya yang ada diluar:

“Engkoh kerbau cepat kemari dan tolonglah enci Ie serta adik Wan keluar dari sini.”

Tiba tiba bayangan hitam kembali berkelebat datang disusul segulung angin sambaran yang tajam menghajar lengannya tahu-tahu tangan kirinya sudah kena tersayat oleh pedang Boe Beng Toksu sehingga darah segar mengucur semakin deras.

“Liem Tou kenapa kau masih belum juga pergi !” teriak Lie Siauw Ie serta si gadis cantik pengangon kambing berbareng ketika melihat keadaannya yang amat mengenaskan itu. “Apakah kau rela mati dibunuh oleh mereka itu ?”

Walaupun dalam hati Liem Tou merasa sedih bagaikan ditembusi dengan beribu-ribu batang anak panah tetapi ia tetap menuruti atas perkataan suhunya.

Ia merasa bahwa kejadian ini adalah takdir yang tak mungkin dapat dihindarkan oleh tenaga manusia.

Karenanya ia cuma tundukkan kepalanya sambil menggeleng dan memandang kucuran darah segar yang mengalir keluar dari luka pada dada serta lengannya itu.

Pada saat saat yang amat kritis itulah mendadak ditengah ruangan kembali

bertambah dengan dua orang yang bukan lain adalah Thian Pian Siauw cu serta Thiat Bok Taysu, mereka berbisik sebentar, kemudian secara mendadak

bersama-sama menubruk ke arah Lie Loo jie. “Haa…ha…haa.. Lie Loo jie," teriak Thian Pian Siauw cu

sambil tertawa

seram, “Baiknya ini hari kita saling adu kepandaian !”

Didalam sekejap mata angin pukulan menderu-deru diselingi suara suitan serta jeritan melengking yang menyeramkan dari Thiat-Bok Taysu membuat keadaan diri Lie Loo jie semakin berbahaya.

Sejak munculnya Thian Pian Siauw cu serta Thiat Bok Taysu di tengah kalangan perhatian dari sigadis cantik pengangon kambing sudah bercabang ia mulai menguatirkan keselamatan diri ayahnya Lie Lojie disamping itu harus pula menahan serangan-serangan gancar dari Boe Beng Toksu teriaknya tibatiba

dengan suara keras;

“Tia ! Kau orang tua jangan bergebrak dengan mereka..!”

Lie Lojie yang mendengar suara teriakan dari sigadis cantik pangangon kambing dalam anggapannya gadis itu sudah terbunuh ditangan pihak musuh didalam keadaan amat terperanjat pikirannya jadi bercabang.

Mengambil kesempatan sangat baik itulah Thian Pian Siauwcu melancarkan satu pukulan yang amat dahsyat kedepan bersamaan waktunya pula ketiga orang berbaju Hitam lainnya bersama-sama menggerakkan senjatanya membacok kearah tubuh siorang tua itu.

Lie Loo jie jadi gelagapan dibuatnya.,

“Braak !” tidak ampun lagi dadanya kena dihajar dengan keras oleh pukulan dari Thian Pian Siauwcu itu sehingga sang tubuh dari siorang tua tak kuasa untuk berdiri tegak lagi kepalanya terasa pening dadanya terasa mual, tubuh terpukul mundur selangkah kebelakang dengan sempoyongan.

Karena tubuhnya mundur kebelakang dengan tepat sudah menyongsong datangnya tusukan ketiga bilah golok dari ketiga orang si angcu dari perkumpulan Sin Beng Kauw.

Terdengar salah seorang siangcu membentak keras tangannya mendorong kedepan senjatanya dengan cepat menusuk punggung Lie Loo jie sehingga menembus kedadanya.

Lie Loo jie menjerit ngeri darah segar muncrat keluar dari mulutnya kemudian rubuh ke arah depan.

Siangcu yang baru saja berhasil menusuk Lie Loo lie ketika mendengar suara jeritannya itu saking kagetnya tanpa mencabut kembali pedangnya buruburu

mundur kebelakang.

Sedang Thian Pian Siauw cu segera tertawa terbabak- bahak dengan kerasnya.

"Haa …… haa Lie Sang biarlah aku orang she Ke beri satu kematian yang wajar untuk dirimu !” teriaknya.

Ketika tubuhnya maju kedepan hendak menambahi lagi satu pukulan, Thiat Bok Taysu yang ada disisinya tiba-tiba mencegah.

“Ke Siauw cu, buat apa kau orang harus turun tangan sendiri ?”

Sembari berkata tubuhnya maju selangkah kedepan, sepasang telapak tangannya yang sudah kehilangan kesepuluh jarinya dengan cepat diangkat dan siap siap dibabat kebawah.

Tetapi mimpipun ia tidak pernah menyangka secara tiba tiba Lie Loo jie meloncat bangun, ditengah menyemburnya darah segar sepasang telapaknya bersama sama didorong kedepan. Thiat Bok Taysu jadi gugup setengah mati, belum sampai pikiran kedua melayang didalam benaknya Thiat Bok Taysu sudah menjerit ngeri, tubuhnya terlempar jauh beberapa kali ketengah udara,

Kiranya hweesio itu sudah termakan oleh pukulan terakhir Lie Loo jie yang menggunakan seluruh tenaga dalam yang dimilikinya sehingga isi perutnya hancur berantakan. Sepasang matanya yang hijau melotot keluar sedang darah segar mengucur keluar terus dari panca inderanya. Seketika itu juga Thian Bok thaysu menemui ajalnya.

Lie Loo jie pun sesudah melancarkan pukulannya yang terakhir ia menghembuskan napas panjang, tubuhnya dengan perlahan-Iahan melemas untuk berbaring kembali keatas tanah dan akhirnya jago tua menghembuskan napas yang penghabisan.

Demikian seorang jagoan yang dihormati olen seluruh orang-orang Bulim telah menemui ajalnya dibawah serangan gabungan dari Thiau Pian Siauw cu serta orang-orang dari perkumpulan Sin Bang Kauw, Lie Loo jie mati dalam keadaan mata melotot lebar-lebar agaknya ia merasa tidak rela dengan kematiannya itu.

Dengan kematiannya ini, Hong tiang dari Siauw lim pay, Ciat Siauw siansu yang selama ini bertempur mendampingi dirinya mendadak menggigit kencang bibirnya dan melancarkan tiga buah pukulan gencar kedepan, menanti musuhnya terdesak mundur tubuhnya buru-buru maju kedepan mendekati mayat dari Lie Loo jie.

Dengan hati terharu teriaknya keras:

“Lie Sang heng, kematianmu sungguh mengenaskan sekali

! Aku pasti akan

membalaskan dendam bagimu !” Selesai berkata ia enjotkan badannya malayang sejauh tiga kaki kemudian meluncur ke luar dari jendela dan lenyap tak berbekas.

Si hweesio cilik yang selama ini mengikuti jejak Hong tiangnya pun buru buru mengikuti jejaknya berlalu dari sana.

Sekali lagi Thian Phian Siauw cu tertawa panjang, setelah melihat Thiat Bok Thaysu tidak tertolong lagi ia putar badan menghadapi Liem Tou yang sudah bermandikan darah, sekali lagi ia tertawa terbahak-bahak dengan seramnya.

Ketika itu didalam ruangan Cie Ing Tong kembali berdatangan segerombolan manusia.

Ketika Thian Pian siauwcu menoleh kearah gerombolan orang-orang itu mendadak ia tertawa keras kembali.

“Haaa . . haaa Loo Ciang kau sudah datang terlambat satu tindak; Le Sang sudah pergi !” teriaknya.

Kiranya orang dua yang baru datang bukan lain dialah Auw Hay Ong, Ciang Cau suami istri bersama anak buahnya.

“He he hee he ! Ke hong. kau jangan keburu bangga disini masih ada Liem Tou,” teriak si Auw Hay Ong Ciang Cau sambil menyapu kearah pemuda tersebut.

Baru saja ia selesai berkata mendadak terdengar suara dengusan keras dari sang kerbau yang berada diluar ruangan.

Auw Hay Ong yang mengetahui betapa dahsyatnya kerbau tersebut dalam hati jadi amat cemas.

“Cepat bereskan Liem Tou !” teriaknya.

Ditengah suara bentakan yang amat ramai para jago dari Kiem Tien Pay pada bubarkan diri dan bersama-sama menerjang kedepan.

Liem Tou yang pada waktu itu sudah dipenuhi dengan luka, sekalipun tenaga dalamnya tinggi tetapi berhubung banyaknya darah yang mengalir keluar, tubuhnya sudah sempoyongan sedang pemandangannyapun mulai buram, apalagi sesudah Lie Loo jie menemui ajalnya, kejadian ini membuat hatinya terasa terjerumus kedalam gudang salju

Tubuhnya gemetaran amat keras, wajahnya berubah pucat pasi bagaikan mayat sedang matanya mendelong memandang ketempat ke jauhan, dalam hati ia mulai merasa menyesal, menyesal karena ia harus mengunci tangan dan mengucapkan sumpah yang berat sehingga kini walaupun ada tenaga tak kuasa untuk memberikan perlawanan.

Si gadis cantik pengangon kambing yang melihat ayahnya terbunuh tak bisa menahan goncangan dihatinya lagi, ia menjerit ngeri dan rubuh tak sadarkan diri diatas tanah.

Kini tingggal Lie Siauw Ie seorang saja sambil menahan kepedihan dihati tetap melanjutkan pertempurannya bergebrak mati-matian menahan seranganserangan

dari Boe Beng Tok-su.

Tetapi sejak kemunculan orang-orang Kiem Tien Pay tiba- tiba saja Boe Beng Tok su mengundurkan dirinya kesamping.

“Liem Tou !” katanya dingin. “Aku lihat Iukamu tidak ringan, untuk melarikan diri pun tak bakal sanggup biarlah orang-orang yang tertinggal disini untuk bereskan dirimu. Hutang piutang diantara kitapun sampai disini saja kita selesaikan.”

“Baiklah, Sun Ci Si" sahut Liem Tou sambil tertawa sedih. “Semoga, saja kau bisa membahagiakan dunia persilatan, hutang piutang diantara kitapun sudah sampai disini.”

Baru berbicara sampai disitu mendadak kakinya jadi lemas sehingga tubuhnya rubuh setengah berlutut, tetapi dengan alis yang dikerutkan rapat-rapat ia berusaha bangun kembali lalu memandang kearah Boe Beng Tok su sambil tersenyum. Boe Beng Tok su mengangguk, baru saja dia putar tubuh mendadak satu

ingatan barkelebat didalam benaknya.

Matanya menyapu sekejap kearah si gadis cantik pengangon kambing yang

menggeletak diatas tanah, tubuhnya mendadak maju kedepan dan membopong

tubuh gadis tersebut.

“Sun Ci Si. kau ingin berbuat apa ?” bentak Liem Tou dengan gusar.

"Heee..heee … Liem Tou, kau boleh berlega hati ! ! Aku Boe Beng Tok su paling tidak suka bermain perempuan."

Selesai mengucapkan beberapa patah kata itu tanpa perduli diri Liem Tou lagi; ia putar badan dan bersuit dengan nyaring.

Pouw Siauw Ling yang mendengar suara suitan tersebut hatinya jadi cemas.

“Kauw cu, apakah kau hendak melepaskan Liem Tou dengan begitu saja ?”“ teriaknya.

Tubuhnya dengan cepat menubruk kedepan; cambuk ditangannya laksana kilat menyambar keatas menghajar tulang punggung dari pemuda itu, disusul tangannya yang lain menarik kebawah, cambuk bertulang putih yang dipenuhi dengan duri itu kontan saja menggores pada punggung pemuda dengan beberapa liang Iuka yang dalam dan panjang.

Saking sakitnya kembali Liem Tou rubuh keatas tanah sambil menggigit kencang bibirnya. Ia menahan suara rintihan yang rasanya hendak meloncat keluar dari ujung mulut.

Agaknya Pouw Siauw Ling tak rela melepaskan Liem Tou begitu saja cambuknya kembali diayunkan siap menghajar mati pemuda tersebut. “Pouw Siancu !” Bentak Boe Beng Toksu dengan gusar. "Apakah kau orang hendak melanggar perintah dari kauwcu mu ?”

Mendengar suara bentakannya yang begitu dingin Pouw Siauw Ling merasa hatinya bergidik cambuk Pek kut Pian yang telah diayunkan ketengah udara diletakkan kembali akhirnya ia meludahi tubuh pemuda itu sembari teriaknya gemas:

“Bilamana aku tidak terhasil menghancurkan tubuhmu dendam hatiku tak bakal dapat lenyap !"

Dengan gemasnya ia jejakkan kakinya keatas tanah, bersama-sama dengan Boe BengTok su berlalu melalui jendela.

Dengan sekuat tenaga Liem Tou berusaha untuk bangun duduk, tetapi ia tak ada tenaga lagi untuk berdiri; melihat Lie Siauw Ie masih juga bertempur mati-matian melawan orang- orang dari partai Kiem Tien Pay, tak tertahan lagi pemuda jadi menghela napas panjang.

“Enci Ie!! cepatlah kau pergi dari sini!! Urusan sudah jadi begini . . . !! "

Berbicara sampai disitu, titik-titik air mata mulai mengucur keluar membasahi wajahnya.

Mendadak matanya melotot lebar-lebar; dengan geram dan wajah menyengir seram teriaknya dengan keras.

“Biarkan aku mati! Biarkan aku mati! kenapa kalian tidak biarkan aku mati saja?"

Setelah melihat peristiwa yang terjadi didepan mata, dalam hati dia semakin menyesali atas sumpah berat yang pernah diucapkan sewaktu mengunci tangannya, kalau semisalnya dulu ia tidak bersumpah berat maka kini hari tak bakal terjadi peristiwa yang menyedihkan ini. Ketika kepalanya didongakkan tampaklah Thian Pian Siauwcu serta Auw Hay Ong suami isteri dengan tenangnva berdiri di tengah-tengah ruangan Cie lng Tong, mereka tidak turun tangan, juga tidak berlalu dari sana.

Cuma saja anak buah dari partai Kiem Tien Pay dengan gencarnya menyerang terus kearah Liem Tou membuat Lie Siauw Ie terpaksa harus memberikan perlawanan dengan sepenuh tenaga.

"Liem Tou !”, terdengar Oei Poh berteriak secara tiba tiba “Dahulu kau pernah menolong nyawaku, aku tidak akan berhutang budi terhadap dirimu lagi".

Sembari berkata tubuhnya menerjang ke depan sembari mengeluarkan ilmu simpanannya aliran "Heng San Pay" Sepasang telapaknya dengan melancarkan pukulan berputar hanya didalam sekejap saja menghantam tubuh berpuluh- puluh orang jagoan dari partai Kiem Tien Pay sehingga kocar- kacir Iari tunggang-langgang. tak seorang pun yang berhasil mendekati badannya.

Melihat kejadian itu, Auw Hay Ong Bo jadi teramat gusar sepasang matanya melotot bulat-bulat; sembari mengetrukkan tongkatnya keatas tanah ia berteriak kearah Thian Pin- Siauwcu:

"Hey Ke Hong kenalkah kau orang dengan bangsat cilik ini?

Ilmu pukulannya sungguh kukoay!"

“Bagaimanapun pengetahuan Thian Pian - Siauwcu jauh lebih luas jika dibandingkan dengan Auw Hay Ong Bo,” terdengar dia menjawab dengan keras.

“Itulah ilmu pukulan Siang Hong Ciang Hoat dari partai Heng San Pay, lebih baik itu orang sedikit berhati hati."

Dengan hampir bersamaan waktunya Auw Hay Ong serta Auw Hay Ong Bo bersama-sama menjejakkan kakinya keatas tanah kemudian laksana sambaran kilat masing-masing melancarkan satu pukulan gencar memaksa Oei Poh terdesak dan mundur kebelakang.

Tenaga dalam yang dimiliki Oei Poh sebetulnya biasa-biasa saja dan hanya boleh dihitung sebagai jagoan kelas satu didalam dunia persilatan. Selama ini ia bisa begitu dahsyat dan hebatrya kesemuanya ini tidak lain hanya mengandalkan keampuhan dari ilmu pukulan Sian Hong Ciang serta kedua buah jurus sakti yang terukir diatas batu didalam lembah mati- hidup.

Saat ini walau pun untuk menghadapi serangan musuh yang sangat gencar ini dia bisa mengeluarkan ketiga buah jurus sakti Lang -Gong Sam Cat nya, tetapi dengan perbuatannya itu sudah tentu Liew Tou pun akan ikut menemui ajalnya.

Menghadapi situasi yang amat mendesak dan kritis ini Oei Poh tak urung jadi kelabakan juga, untuk sesaat ia merasa kebingungan apa yang harus dilakukan untuk menghadapi hal tersebut.

Pada detik detik terakhir tiba-tiba terdengar suara dengusan dari sang kerbau disusul derapan kaki yang amat keras merasa menerjang masuk kedalam ruangan Cie Ing Tong.

Melihat munculnya kerbau tersebut Auw Hay Ong suami isteri tadi sangat terperanjat.

"Ke Hong, tahan binatang itu !” gembornya keras Thian Pian Siauw cu yang belum pernah merasakan

bagaimana dahsyatnya kekuatan kerbau itu, mendengar peringatan itu ia lantas tertawa ringan.

"Loo ciang kau boleh legakan hati buat apa urusan yang sekecil itu kau ributkan?”

Sembari berkata ia putar badannya sambil mengirim satu pukulan kearah binatang itu.

Siapa cangka kerbau itu sangat cerdik sekali, bukan saja kulitaya keras laksana baja. bahkan setelah memperoleh didikan selama satu tahun lamanya dalam hal tenaga dalam kini ia boleh dikata sudah merupakan seekor kerbau yang benar-benar Ajaib.

Dimana angin pukulan Thian Pilan Siauwcu mnenyamnbar lewat, kerbau itu

dengan sebatnya menundukkan kepalanya menghindar, ditengah suara dengusan gusar yang amat keras tanpa perduli segala rintangan dengan cepatnya ia menubruk kearah depan

.

Thian Pian Siauw cu sudah tentu tidak pernah menyangka bilamana kerbau itu bisa sedemikian lihaynya tubuhnya buru- buru manekuk kemudian manyingkir kesamping .

“Sreeet .!” dengan menimbulkan suara - desiran yang tajam tahu-tahu

kerbau itu sudah lewat dari sisi rubuhnya kemudian langsung mempersiapkan

tanduknya menerjang kearah Auw Hay Ong suami isteri.

“Binatang kau berani cari gara-gara dengan aku orang ?” Teriak Auw Ong Bo dengan gusarnya.”Sekarang juga aku kirim kau pulang keasalmu !"

Tongkat besi ditangannya dengan menggunakan jurus Lek Pit Hoat San” atau membabat hancur gunung Hoa san menghantam kearah bawah dengan kerasnya.

Dia cepat, kerbau itu jauh lebih cepat tahu-tahu binatang itu sudah memutar kesamping ekornya yang panjang laksana sebuah cambuk lemas dengan menimbulkan desiran angin serangan yang menajam menggulung - kearah besi di tangan Auw Hay Ong Bo. Auw Hay Ong Bo yang mempunyai tenaga dalam hasil latihan selama sepuluh tahun lamanya ketika melihat perbuatan dari kerbau itu hatinya jadi teramat girang pikirnya:

“Hmm ! tongkat besi dari Loo nio sangat berat sekali, asalkan aku gunakan

sedikit tenaga untuk menekan kebawah maka kau binatang celaka tak bakal bisa lobos dari kematian !”

Diam-diam hawa murninya disalurkan ke seluruh tangan, baru saja ia bermaksud untuk menekankan tongkat besinya kebawah, mendadak sang kerbau ini mendahului setindak dari dirinya.

Ditengah dengusan yang amat keras, ekornya yang panjang ditampar kesamping dengan kecepatan laksana kilat.

Auw Hay Ong Bo kontan merasakan telapak tangannya tergetar amat keras. hampir hampir saja tongkat besi ditangannya tergetar lepas dari cekalannya.

Gerakan dari sang kerbau ini tidak berhenti sampai disitu saja; mengambil kesempatan yang sangat baik ini sepasang kaki belakangnya dengan kecepatan penuh menendang kearah lambung musuhnya.

Seluruh geraknya ini dilakukan dalam waktu sekejap mata, bagi Auw Hay Ong Bo sadar tentu tak ada waktu lagi untuk menghindar.

“Aduuh…!”, ditengah suara jeritan ngeri yang mendirikan bulu roma, lambungnya sudah kena tendangan sehingga tubuhnya rubuh keatas tanah dengan bermandikan darah segar.

Agaknya kerbau itu masih menaruh rasa benci terhadap perempuan itu, tubuhnya itu kembali kebelakang dan menginjak injak beberapa kali keatas tubuh Auw Hay Ong Bo yang menggeletak diatas tanah. Kejadian ini kontan saja membuat para jagoan dari partai Kiem Tien Pay pada ketakutan dan mengundurkan diri beberapa, kaki jauhnya dengan wajah pucat pasi.

Sehabis merubuhkan seorang musuh kerbau itu dengan gagah dan sepasang mata berwarna merah darah berdiri tegak di tengah kalangan kelihatannya ia siap siap hendak melancarkan serangannya kembali kearah musuh.

“Engkoh kerbau, cepat bawa adik Tou menyingkir dari sini," teriak Siauw Ie dangan cepat.

Dengan terburu-buru gadis itu menarik lengan Liem Tou untuk menaikkan keatas punggung kerbaunya.

Kiranya Liem Tou sama sekali tidak jatuh pingsan cuma saja disebabkan lukanya terlalu parah, maka tubuhnya sama sekali tidak bisa bergerak lagi.

Waktu itu pemuda itu pun merasa bilamana dirinya diangkat oleh Lie Siauw le ke atas punggung kerbaunya, mendadak dengan mata membelalak lebarlebar teriaknya setengah mendesis.

“Enci le, kau pergilah ! Kau hendak menyingkir dengan cara apa ?”

"Sesudah kau pergi, aku bisa mencari akal sendiri, legakanla hatimu !"

"Tidak Enci le ! kau harus maningggalkan tempat ini bersama-sama diriku kita bersama saja naik kerbau ini !” Bantah Liem Tou sambil goyangkan kepalanya berulang kali.

"Tidak bisa jadi. kerbaumu tak bakal sanggup untuk mengangkat kira berdua apa lagi musuh tangguh ada dibadapan mata. Kerbau itu sembari melarikan diri harus menahan pula serangan musuh !"

Air mata yang mengucur keluar dari kelopak mata Liem Tou kini telah berubah jadi cucuran darah segar, ketika melihat pertempuran sengit yang sedang berlangsung antara Cing jie dengan Boen lng dimana beberapa kali Boen Ing hendak mengejar kedepan untuk merebut dirinya tetapi setiap kali pula tertahan oleh serangan gadis itu, hatinya jadi tergerak. Sambil menarik napas panjang tiba-tiba saja teriaknya keras.

“Oei Poh ! nona Cing ! aku Liem Tou merasa sangat berterima kasih sekali atas budi pertolongan kalian yang begitu besar. Kini aku sudah terlalu parah dan tidak bisa bergerak lagi, jika kalian berdua suka menolong aku tolonglah sampai selesai, sampai kalian suka menjagakan keselamatan dari Lie Siauw le anak murid diri Lie Sang serta gadis cantik pengangon kambing yang telah diculik oleh Sin Beng Kauw cu untuk itu asalkan aku Liem Tou tidak sampai mati dikemudian hari tentu akan kubalas budi kebaikan kalian ini."

Menanti nada ucapannya sudah lemah dan sama sakali tak bertenaga, dalam pikirannya mendadak teringat kembali akan nasib dari si perempuan tunggal Tauw Hong, cuma sayang akhirnya ia tak sempat untuk mengucapkan hal itu, karena darah yang mengucur ke luar terlalu banyak, akhirnya pemuda tersebut jatuh tak sadarkan diatas punggung kerbau.

Lie Siauw le yang melihat kejadian ini tak mau banyak berpikir panjang lagi.

"Engkoh kerbau, cepat pergi,” teriaknya keras.

Dengan keras ia tabok pantat dari sang kerbau tersebut,

Diantara suara dengusan yang memberat, kerbau itu jejakan kakinya keatas

tanah lalu dengan kecepatan bagaikan kilat menerjang keluar dari ruangan Cie

Eng Tong.

Melihat Liem Tou yang tak sadarkan diri dengan menunggang kerbau Thian Pian siauw Cu segera tertawa dingin, tubuhnya dengan cepat meloncat kedepan menghadang didepan pintu.

Sang kerbau yang bertujuan menolong majikannya sama sekali tak menggubris keadaan disekelilingnya, dengan dahsyat ia tundukkan kepalanya dan menerjang kedepan.

Thian Pian Siauw -cu yang melihat gerak- gerik kerbau itu segera membentak keras, dengan amat dahsyat ia mengirim dua pukulan sekaligus menghantam keatas kepala binatang tersebut.

Agaknya kerbau itu mengerti bila kekuatan pukulan tersebut amat dahsyat. ia meraung keras tubuhnya buru-buru mundur beberapa kaki kebelakang. Tetapi kerbau tersebut tidak berhenti sampai disitu saja setelah mundur, dengan garangnya kembali menerjang kearah depan. Thian Pian siauwcu bukanlah seorang manusia yang bodoh, serangan demi serangan dilancarkan tiada hentinya memaksa kerbau tersebut berulang kali harus mengundurkan dirinya kebelakang.

Lama kelamaan kerbau itu jadi gusar juga, sifat kebinatangannya mulai meliputi kembali. Ia mendengus gusar dengan kerasnya sehingga membuat seluruh ruangan Cie Eng Tong tergetar hebat.

Pada saat itu "Ia" berdiri kurang lebih dua kaki didepan tubuh Thian Pian siauwcu matanya yang besar berwarna merah melotot kedepan tak berkedip. Ekornya yang tegak lurus bagaikan pit menegak laksana tombak sedang dari ujung mulutnya menyiarkan hawa panas yang diiringi gerengan marah . ..

Disebelah belakang, sejak kematian Auw Hay Ong Bo terinjak injak oleh sang kerbau beberapa kali Auw Hay Ong, Ciang Cau bermaksud hendak menerjang kedepan tetapi setiap kali kena terhadang oleh serangan-serangan Oei Poh serta Lie Siauw le. . Pedang Boen Ing pun kena terhadang oleh Cing Jie, hal ini membuat siapa pun sulit untuk memisahkan diri guna ikut campur didalam bentrokan antara sang kerbau dengan Thian Pian siauwcu.

Si Thian Pian siauwcu yang mengerti bagaimana lihaynya sang kerbau tersebut sedikit pun tidak berani berlaku gegabah, demikianlah akhirnya sang binatang serta sang manusia berdiri saling berhadapan tanpa ada pihak lain yang mulai bergerak.

Mendadak suatu ingatan terkelebat didalam benak Thian Pian siauwcu,, pikirnya dalam hati:

“Yang aku maui adalah nyawa dari Liem Tou si bangsat cilik itu, asalkan aku berhasil membinasakan dirinya sehingga membabat bibit bencana dikemudian hari, maka keadaan bereslah sudah, buat apa kau orang harus ngotot bergebrak terus dengan kerbau itu ?"

Berpikir akan hal itu, mendadak tubuhnya meloncat kesamping memberikan satu jalan bagi kerbau itu untuk melewati pintu tersebut.

Didalam hatinya ia bermaksud apabila kerbau itu menerjang keluar melalui sisi tubuhnya, mengambil kesempatan tersebut Thian Pian siauwcu hendak meloncat ketengah udara dan mencengkeram tubuh Liem Tou seperti gerakan diri burung elang menyambar anak ayam sewaktu gerakan itu berhasil bukankah persoalan mudah dibereskan.

Setelah mengambil keputusan didalam hatinya ia mulai tersenyum dan melirik kearah kerbau itu dengan maksud memancing. Kembali sang kerbau mendengus berat kakinya yang didepan disepak sepak berulang kali tetapi tubuhnya sama sekali tidak menerjang kedepan, agaknya iapun sedang memikirkan sesuatu. Thian Pian siauwcu yang melihat kerbau itu kendati sangat marah tubuhrya tidak juga suka bergerak, dalam hati merasa amat mendongkol.

Ia mulai ada maksud untuk mengusiknya mendadak telapak kirinya dibabat kedepan mengirim satu pukulan tajam menghajar tubuh sang kerbau tersebut.

Sedikitpun tidak salah agaknya kali ini sang kerbau itu tak bisa menahan sabar lagi. Kepalanya ditundukkan rendah- rendah, dari mulutnya mengeluarkan busa putih. Akhirnya dengan gerakan yang amat ganas ia menerjang maju kedepan.

Thian Pian siauwcu yang melihat kerbau tersebut kena terpancing oleh siasatnya dalam hati merasa sangat girang.

Tetapi sebentar kemudian ia sudah menjerit kaget, kiranya kerbau tersebut sama sekali tidak menerjang kearah pintu luar. sebaliknya dengan ganas dan garangnya menerjang kearahnya.

Laksana sambaran kilat ia menjejakkan kakinya keatas permukaan tanah kemudian melayang keluar sejauh beberapa depa dari tempat semula.

Mengambil kesempatan itulah sang kerbau menggoyang- goyangkan ekornya yang panjang, tanpa menoleh lagi menerjang dari ruangan Cie Eng Tong tersebut.

Dengan kecepatan yang penuh, binatang itu lari menuruni gunung Ha Mo san dengan melalui tiga rintangan, Tanpa banyak membuang waktu lagi, setelah tiba dibawah gunung segera lari menjauh. Hanya didalam sekejap saja bayangannya telah lenyap tak berbekas.

“Thian Pian siauwcu yang melihat gagal total dan sebaliknya malah memberikan kesempatan bagi kerbau itu untuk menerjang keluar dari dalam ruangan, hatinya merasa teramat gusar, ia bersuit keras memanggil burung elangnya kemudian tanpa banyak waktu lagi dengan menunggang diatas punggung burung peliharaannya ia melakukan pengejaran cepat terhadap kerbau itu.

Sang kerbau kesayangan Liem Tou ini sambil membawa tubuh majikannya, menggerakkan keempat kakinya terus menerus jauh meninggalkan gunung Ha Mo san, terhadap kuntitan dari Thian Pian siauwcu ia sama sekali tidak mengambil gubris.

Thian Pian siauwcu yang menunggang burung elangnya pun tidak suka melepaskan mangsanya dengan begitu saja, ia menguntit terus dari atas udara kemana kerbau itu pergi.

Ditengah perjalanan Liem Tou pernah tersadar satu kali tetapi badannya pada saat terasa amat sakit. seperti hancur berantakan sedikitpun tak bisa berkutik.

Apabila badannya bukan dilibat erat-erat oleh ekor sang kerbau tersebut mungkin sejak tadi ia sudah rubuh terjungkal keatas tanah. Akhirnya pemuda itu jatuh pingsan kembali … menanti ia tersadar untuk kedua kalinya pikirnya jadi terang kembali atau paling sedikit ia sudah merasa bila dirinya kena ditolong oleh kerbaunya dan kini sedang melarikan diri dari kejaran musuh.

Tubuhnya yang mendeprok diatas punggung kerbau hanya bisa melihat permukaan tanah, yang berlalu dengan cepat bersamaan itu pula ia mulai merasakan luka didadanya yang terkena sabetan pedang Boe Beng Toksu terasa amat sakit seperti ditusuk-tusuk dengan beribu ribu bilah golok tajam sakitnya luar biasa.

Akhirnya ia tak kuat menahan diri lagi dari mulutnya mulai memperdengarkan suara rintihan yang amat lirih. Sang kerbau seketika mendengar suara rintihan dari Liem Tou, larinya mulai perlahan, Tetapi berhubung Thian Pian siauwcu mengikutinya terus ia tak

berani berhenti. Dengan kejadian itu maka rasa sakit didada pemuda itupun rada jauh berkurang, ia mulai teringat kembali dengan peristiwa yang baru saja terjadi diruangan Cie Eng Tong, bagaikan baru sadar dari impian buruk keringat dingin mengucur keluar dengan derasnya Terakhir is cuma bisa bergumam perlahan “Oooo…. suhu ! akhirnya aku

berbuat seperti apa yang kau pesan."

Baru saja ia selesai bergumam mendadak ekor kerbau itu menyambar badannya dan dengan gerakan yang manis melemparkan badannya ketengah udara.

"Aduh” !” teriak pemuda itu saking kaget nya.

Tubuhnya yang jauh terlempar setinggi dua depa dengan cepat berjumpalitan beberapa kali, dan akhirnya dengan empuk berhasil duduk tenang diatas pantat kerbau kembali.

Saat itulah sang pemuda baru mengerti maksud tujuan dari kesayangannya ini.

Liem Tou yang berhasil duduk enak; pikirannya mulai teringat kembali dengan obat yang ada didalam sakunya.

Dengan bersusah payah dan mengeluarkan banyak tenaga akhirnya Liem Tou berhasil juga mengeluarkan obat itu; tetapi pada saat itu juga tangannya yang merogoh kedalam saku telah terbentur dengan suatu benda. Ia mulai teringat kembali semua pesan yang diberikan suhunya Thiat sie poa kepada dirinya, disamping itu iapun mulai memahami apa yang harus dikerjakan sesuai dengan pesan suhunya itu.

Kiranya sewaktu Thiat sie poa hendak berlalu pernah memberi pesan wanti wanti

supaya pemuda itu dengan penemuan anehnya sewaktu ada dilembah mati hidup digunung Heng san, pada waktu itu tak terpikirkan olehnya penemuan aneh apa yang sedang di maksudkan suhunya. Tetapi kini, ketika tangannya merogoh ke dalam saku, mendadak jari tanganrya sudah tersentuh dengan daun pohon. ia mulai teringat kembali

pengalamannya sewaktu Cing jie menghadiahkan daun tersebut kepadanva sewaktu untuk pertama kali ia mendatangi lembah mati hidup itu.

Waktu itu tak terpikirkan olehnya apa kegunaan daun tersebut, tetapi kini ia terasa daun itulah obat yang paling tepat untuk menyembuhkan seluruh lukanya.

Karena untuk menuntut balas atas dendam dari Lie Lo jie serta sitelapak naga Lie Kian Pao untuk mencari kembali sigadis cantik pengangon kambing; siperempuan tunggal Touw Hong serta Lie Siauw le sekalian ia harus memulihkan kembali seluruh kepandaian ilmu silatnya.

Tetapi kembali pemuda itu teringat dengan sumpahnya yang pernah diucapkan waktu mengunci tangan, sebelum dirinya mati walaupun memiliki kepandaian ilmu silat yang lihay pun tak mungkin bisa digunakan.

Karena itu ia harus menggunakan daun mati hidup itu untuk mati satu kali, setelah mati setahun lamanya ia bisa bangkit kembali untuk menuntut balas.

Dengan cepat kerbau itu melakukan perjalanan persis seperti apa yang dilalui kemarin, baru kurang lebih satu setengah jam kemudian sampailah mereka dimulut lembah berkabut tersebut .

"Engkoh kerbau cepat terjang masuk kedalam lembah kabut itu,” bisik Liem Tou dengan lirih.

Agaknya kerbau itu mengerti apa yang diucapkan oleh Liam Tou; ekor yang membelit diatas tubuh pemuda tersebut dilibatkan semakin kencang lagi, lalu membelok pada ujung tebing dihadapannya. Seperti juga halnya kemarin hari kerbau itu langsung menerjang masuk kedalam lembah yang penuh diliputi oleh kabut tebal itu. Pada waktu itulah tengah angkasa berkumandang datang suara pekikan keras dari burung elang diikuti suara teriakan tajam dari Thian Pian siauwcu:

“Liem Tou! Liem Tou …..”

Dari balik kabut yang tebal pada saat yang bersamaan berkumandang pula suara panggilan yang amat keras . “Liem Tou! Liem Tou!.....

Agakrya Thian Pian siauwcu pun mendengar pula yang muncul dari dalam

lembah berkabut itu . "Siapa kau?” tegurnya keras

"Siapa kau ?” dari dalam lembah berkumandang pula suara seseorang yang

menirukan ucapannya.

“Haaa… haaa… aku siorang tua adalah Thian Pian siauwcu" Ke Hong adanya !”

“Hmmm! manusia yang tak tahu malu !”

Mendadak dari dalam lembah berkumandang keluar suara seorang perempuan diikuti menyambar datangnya tiga buah batu cadas yang laksana sambaran kilat menerjang keluar dari balik kabut.

Diantara suara desiran angin serangan yang amat tajam batu-batu cadas itu langsung meluncur ketengah udara menyerang kearah burung elang yang ditunggangi Thian Pian siauwcu itu.

Mendengar adanya desiran tajam menyampok udara Thian Pian Siauwcu segera sadar bila ada serangan senjata rahasia mengarah dirinya, kakinya buru-buru mengempit burung elangnya kencang-kencang lalu menyingkir kesamping. Dua buah batu cadas berhasil menyambar lewat dengan tajamnya dari sisi tubuhnya tapi batu cadas yang ketiga bagaimanapun juga tak bisa dihindari lagi.

Tanpa ampun batu itu dengan amat keras menghajar lambung burung elang tersehut membuat burung peliharaan dari Thian Pian Siauwcu ini

berpekik kesakitan dan kebaskan sayapnya semakin mengencang, hanya dalam sekejap saja mereka sudah menerjang masuk kebalik awan dan lenyap tak berbekas.

Thian Pian Siauwcu yang melihat kelihaian orang itu didalam hal manyambitkan senjata rahasia, dalam hati sadar bila dirinya sudah bertemu dengan musuh tangguh ia tak berani berlaku gegabah lagi, buru-buru burungnya diterbangkan kebalik awan dan tidak menerjang turun lagi.

Liem Tou yang menunggang diatas punggung kerbau menerjang masuk kedalam lembah berkabut walaupun matanya tidak dapat melihat tetapi telinganya masih bisa menangkap pembicaraan dari Thian Pian Siauwcu, lapun mendengar pula bila suara panggilan terhadap namanya itu berasal dari mulut sang burung beo.

Kerbaunya setelah menerjang hingga dasar lembah segera menghentikan gerakannya dan berdiri tenang ditempat itu.

"Liem Tou kau sudah datang! kau sudah datang!” terdengar kedua ekor burung beo itu berteriak tiada hentinya.

Kerbau itu setelah menghentikan gerakannya mulai berpekik dan jongkokkan sang badan untuk meletakkan tubuh Liem Tou keatas tanah. Agaknya ia tahu bila didalam lembah berkabut ini pasti ada penghuninya dan orang itu menaruh maksud baik terhadap majikannya, karena itu ia berpekik dengan tiada hentinya minta bantuan.

“Liem Tou ! sekarang semuanya sudah berlalu," terdengar perempuan itu berkata dengan tenangnya dari balik dinding yang berotan seperti juga keadaan

kemarin.

“Bencana ini tidak ada seorang manusia pun yang bisa menolongimu, orang-orang yang tidak tersangkut didalam bencana ini kau boleh legakan hati; mereka telah berada didugaan suhumu sejak semula ….. kau mengerti bukan perkataanku ini ?”

Seluruh tubuh Liem Tou telah dipenuhi dengan luka bacokan pedang yang amat parah, saat ini badannya yang terbaring diatas tanah sama sekali tak dapat berkutik.

Ketika mendengar perkataan tersebut ia merasa bahwa saat untuk menelan daun mati-hidup telah sampai, tetapi didalam pikirannya mulai terbayang kembali dengan banyak persoalan.

Ia berpikir, jika ia menelan daun mati-hidup itu maka sewaktu tersadar kembali. satu tahun telah berlalu, pada saat itu bagaimanakah keadaan dari si gadis cantik pengangon kambing yang ditawan oleh Boe Beng Tok su, bagaimana pula nasib dari Lie Siauw Ie serta siperempuan tunggal Touw Hong

? hatinya mulai merasa amat khawatir sekali. Teringat akan persoalan itu ia tak bisa menahan golakan dihatinya lagi;

sambil mengerahkan hawa murninya ia berteriak keras : "Nasib Nasib . . . tolong tanya apakah enci Ie, adik Wan

serta Hong Susiok itu juga termasuk orang-orang yang

tersangkut didalam bencana ini ?”

Perempuan yang ada dibalik dinding berotan itu sewaktu mendengar pertanyaan sagera menghela napas panjang,

"Heeei..! sudah tentu." merekapun termasuk didalam orang-orang yang terkena bencana, cuma . . .” Liem Tou segera merasakan hatinya seperti mau meledak saking sedih dan tergoncangnya tanpa perduli badannya terluka parah ia mencak-mencak dengan keras.

"Apa ? cuma kenapa ?" teriaknya laksana gemuruh disiang hari bolong.

"Ouw…. Thian kenapa aku tidak termasuk diantara orang- orang yang mendapat bencana kematian ?"

Karena goncangan itu seluruh mulutnya juga jadi pecah dan sakitnya luar biasa tetapi tidak ambil perduli sambil menggigit kencang bibirnya ia bertahan terus.

“Kau tidak usah bersedih hati !" hibur perempuan itu dengan suara yang perlahan. "Siapa yang bilang kau tidak termasuk orang yang harus menemui bencana kematian ? badanmu sudah terluka parah dan segera berbaring kedalam peti mati yang disediakan oleh suhumu itu. Apakah soal ini bukan termasuk bencana kematian ?”

Ia berhenti sebentar, kemudian dengan tenang dan kalem sambungnya kembali,

“Cuma walaupun enci le, adik Wan serta Hong susiok mu termasuk didalam orang-orang yang terkena bencana, tetapi mereka tidak termasuk didalam golongan orang orang yang terkena bencana kematian.”

“Kalau mereka tidak termasuk didalam bencana kematian, lalu mereka seharusnya dikatakan terkena bencana apa? apakah ..?" seru Lien Tou dengan air mata bercucuran.

Ketika teringat akan suatu akibat yang jauh lebih mengerikan ia jadi tertegun dan menghentikan pembicaraannya.

“Tidak! Tidak ! Liem Tou, kau jangan berpikir begitu banyak," teriak perempuan secara mendadak. “Aaakh.. suhumu masih berpesan agar sebelum kau mati makanlah dulu seutas tali obat, dengan berbuat begitu maka sewaktu kau bisa melihat matahari lagi keadaanmu akan pulih seperti sedia kala. Kalau tidak maka diatas badanmu akan meninggalkan banyak sekali bekas-bekas luka, hal itu akan menyeramkan sekali.”

Sampai saat itu Liem Tou tidak bisa banyak berbicara lagi, dengan gerakan yang sangat payah ia menelan dulu seutas tali obat kemudian baru menelan daun mati-hidup tersebut.

Sebelum napasnya berhenti dan mati untuk setahun lamanya, ia masih sempat bergumam sendiri.

“Oooow….. selamat tinggal semuanya kita berjumpa lagi dikemudian hari.”

Ia mulai merasakan matanya memberat dan merasa sangat lelah napasnya semakin lama semakin ringan akhirnya ia jatuh tidak sadarkan diri memejamkan mata dan mati.

Tidak selang lama setelah pemuda itu mati dari balik dinding, yang tertutup tumbuhan rotan muncullah seorang gadis berbaju hitam.

Tampak gadis tersebut dengan wajah penuh air mata menggendong mayat dari Liem Tou dan dengan perlahan berjalan masuk kerumah gubuk tersebut. Ia membuka penutup peti berwarna hitam itu untuk meletakkan jenazah Liem Tou ke dalamnya setelah itu ia meletakkan pula pedangnya itu didasar punggungnya.

Setelah semua pekerjaannya selesai gadis itu baru mengangkat penutup peti mati tersebut untuk ditutupkan diatasnya.

"Adik Tou !” gumam gadis itu kemudian sambil meletakkan beberapa kuntum bunga diatas peti mati, “Kau beristirahatlah dengan lega hati, kini adik Ie ada susah, aku tidak bisa tinggal disini untuk mengawasi terus jenazahmu, aku harus pergi membantu adik meloloskan diri dari bahaya, aku sangat berterimakasih sekali kepadamu, karena tempo dulu kau suka mendengarkan perkataanku dan tidak membunuh mati engkohku, setahun kemudian, aku masih menghadapkan kau suka melepaskan dirinya, waktu itu sekalipun harus mati akupun bisa mati dengan mata meram !”

Air mata bercucuran semakin deras sehingga mirip sekali dengan hujan deras yang sedang melanda. Beberapa saat kemudian perlahan-lahan ia baru bangun berdiri untuk mengundurkan diri dari dalam gubuk tersebut. Yang aneh, ternyata ia tidak menutup pintu itu sebaliknya membiarkannya terbuka lebar lebar.

Akhirnya gadis tersebut berjalan keluar dari lembah.

Setelah menggape kedua ekor burung beonya agar hinggap diatas pundaknya kepada sang kerbau yang berdiri tenang disana ujarnya:

“Kerbau yang baik ! baik-baiklah kau menjaga jenazah dari majikanmu, aku mau pergi !"

Selesai berkata tubuhnya dengan cepat berlalu dari tempat itu dengan membawa serta kedua ekor burung beonya.

Hanya dalam sekejap mata bayangan tubuhnya sudah lenyap ditengah kabut yang tebal.

Tidak lama la meninggalkan tempat itu dari balik kabut tampak bayangan putih berkelebat dan muncullah seorang gadis yang amat cantik sekali.

Sewaktu melihat adanya kerbau itu disana bagaikan memperolen harta kekayaan yang berlimpah-limpah mendadak ia tertawa terkekeh-kekeh.

"Hiii hii . Liem Tou!" teriaknya, “Ternyata kau bersembunyi di sini, jejak kaki kerbaumu adalah suatu petunjuk jalan yang paling baik buatku, aku tahu lukamu sangat parah tetapi tidak sampai membahayakan nyawamu aku bisa menunggu hingga lukamu menjadi sembuh kembali.” Sinar matanya perlahan-lahan menyapu ke arah peti mati berwarna hitam yang ada di dalam rumah gubuk itu, bahkan terhadap mengamuknya sang kerbau yang siap menerjang kearahnya itu Boen Ing sama sekali tidak ambil perduli.

Tubuhnya sedikit bergerak dan tahu-tahu sudah melayang turun didepan peti mati tersebut.

Tetapi sewaktu dapat mellhat kata-kata yang ada diatas tutup peti mati tersebut ia jadi menjerit keras.

"Hal ini tidak mungkin, hal ini tidak mungkin …"

Kiranya perempuan tersebut sudah manemukan kata-kata yang bertuliskan:

“Jenazah dari Liem Tou !”

Berbagai ingatan dengan cepat berkelebat didalam benaknya, mendadak ia mengangkat telapak tangannya siap- siap melancarkan serangan menghajar peti mati tersebut.

Tetapi sebentar kemudian ia sudah berpikir kembali : ”Hmm ! lebih baik aku periksa dulu sebenarnya apa yang

ada didalam peti mati ini “

“Ia berjalan mendekati peti mati itu, ketika dilihatnya penutup peti mati tersebut tidak terpaku dengan cepat diangkat dan disingkirkan kesamping.

Untuk menjaga segala kemungkinan, begitu kayu penutup peti mati itu terbuka dengan kecepatan yang paling tinggi, ia mengundurkan diri untuk manantikan kemungkinan yang bakal terjadi.