Raja Silat Jilid 41

 
Jilid 41

THIAT SIE sianseng sama sekali tidak menjawab sebaliknya dengan perlahan ia bangun berdiri. Sedang biji matanya berputar dan melirik sekejap kearah Liem Tou kemudian kembali menghela napas.

Si pengemis pemabok yang berada disampingnya saat ini tak tahan lagi untuk bersabar. Tiba-tiba bentakrya keras ;

"Hey sie poa rongsokanmu sebetulnya telah mendapatkan kesimpulan apa ? cepat katakanlah pada muridmu ! Bilamana aku yang mempunyai murid seperti dia sekalipun minta nyawaku juga saya berikan kepadanya.”

Thiat Sie sianseng tidak jadi tergerak hatinya, tapi dengan serius. dia maju dua langkah kedepan lalu menoleh dan memandang kembali diri Liem Tou, agaknya dalam hati ia merasa amat sedih sakali.

Sekonyong-konyong Liem Tou teringat kembali akan kejadian yang dialaminya sewaktu berada dilembah kabut dimana ia melihat tulisan yang terukir diatas dinding tebing serta tutup peti mati, tanpa berpikir panjang lagi segera katanya :

"Suhu... suhu !” apakah tecu benar-benar hendak mati?”.

Mendengar perkataan itu, Thiat Sie sianseng jadi amat terperanjat sekali; sepasang matanya terbelalak lebar-lebar dan memandang.kearah pemuda tersebut dengan pandangan tajam.

“Kau sudah pergi kelembah kabut ?” tanyanya.

Liem Tou pun mengangguk, sedang ia bermaksud untuk menceritakan kisahnya dimana tanpa sengaja dirinya sudah memasuki lembah kabut dan menemui apa yang dilihatnya didalam lembah tersebut, entah karena apa tidak terlihatlah satu senyuman terlintas menghiasi bibir seorang tua itu.

“Muridku tidak usah berkata lagi aku sudah tahu,” ujarnya. Sebentar kemudian senyuman itupun telah lenyap kembali, tanyanya lagi .

“Muridku, aku menghitung diriku sewaktu tiba di gunung Heng san telah memperoleh pengalanan yang aneh, apakah urusan ini sungguh-sungguh akan terjadi ?”

Liem Tou yang mendengar Thiat Sie sianseng mengungkat peristiwa yang terjadi di gunung Heng san dimana ia sudah bertemu dengan Cing jie yang berhati polos lincah dan sangat romantis itu tak kuasa lagi wajahnya berubah memerah.

Tetapi ketika dipikirkan yang dimaksudkan sebagai pertemuan aneh oleh Thiat Sie sianseng ia jadi bingung hampir hampir saja nyawanya akan lenyap bagaimana mungkin hal ini dikatakan sebagai pertemuan apa yang kau maksudkan ? karena teecu benar-benar tidak mengerti,” ujarnya kemudian.

Selesai berkata dengan mata terbelalak lebar-lebar ia memandang kearah Tiat Sie sianseng dan menanti jawabannya.

Tiat Sie sianseng yang melihat Liem Tou tak dapat menjawab pertanyaannya, selintas rasa cemas serta kuatir berkelebat diatas wajahnya.

"Muridku, urusan ini sangat penting kau tidak boleh lupa !” serunya kembali, “Urusan ini pun aku tidak bisa membicarakan kepadamu rahasia langit tak boleh bocor karena dirimu sama sekali tak ada gunanya; ingat ! ingat ! semua peristiwa yang dialami oleh manusia telah ditetapkan oleh Thian. bilamana kau tak berangkat ke gunung Heng-san, maka ini hari sukar bagimu untuk meloloskan diri….”

Perkataan selanjutnya tidak sampai dibicarakan tetapi dengan kecerdikan Liem Tou ia sudah mengetahui kalau perkataan tersebut sama sekali tak ada keuntungannya bagi dirinya karena itu buru-buru sambungnya : "Petuah serta peringatan dari suhu, LiemTou tidak akan melupakannya, dikemudian hari mungkin bisa mengingatnya kembali.”

Dengan perlahan Thiat Sie sianseng mengangguk lalu termenung berpikir sebentar; mendadak wajahnya jadi sedih, air matanya kembali bercucuran membasahi kelopak matanya.

Liem Tou jadi terperanjat dibuatnya, baru saja ia bermaksud untuk menanyakan sebab-sebabnya terlihatlah Thiat Sie sianseng dengan wajah keren dan serius telah bertanya kembali:

"Muridku, tentunya kau masih ingat dengan kitab pusaka yang paling aneh dikolong langit pada saat ini, Toa Loo Cin Keng bukan ???"

Mimpipun Liem ,Tou tidak pernah menyangka kalau Thiat Sie sianseng tanpa sebab bisa menanyakan persoalan ini.

Kitab pusaka “Toa Loo Cin Keng” adalah kitab pusaka milik supeknya Lie Loo jie, buat apa dia menanyakan persoalan ini?

Setelah berpikir sebentar, ia baru menjawab:

"Toa Loo Cin Keng merupakan benda pusaka aliran Toen Si pay dan menjadi milik supek. Bagaimana mungkin tecu bisa melupakannya?."

“Bagus sekali! Kalau kau memang masih ingat itulah amat bagus” kata Thiat sie sianseng selanjutnya. Ingat ilmu silat aliran ini sekalipun tidak bisa dibandingkan dengan kitab pusaka To Kong Pit Liok”, tetapi cara berlatih tenaga. dalam melebihi cara berlatih tenaga dalam menurut kitab pusaka “To Kong Pit Liok" ditambah lagi dengan perubahan jurusnya jauh lebih hebat kitab pusaka Toa Loo Cin Keng ini.”

Liem Tou tidak mengetahui apakah maksud dari perkataan suhunya ini terpaksa rnengiyakan saja.

“Baiklah aku dengan kedua orang susiokmu akan berangkat terlebih dulu” ujar Thiat sie Sianseng lagi. “lngat kau sewaktu menemui Iagi kitab pusaka “Toa Loa Cin Keng” saat itu pula kau bertemu muka kembali dengan diriku. Ingat! Ingat !”

Liem Tou yang mendengar Thiat Sie sianseng beserta susiok-susioknya sisiucay buntung serta sipengemis pemabok hendak meninggalkan tempat itu, hatinya segera tergetar amat keras.

“Suhu !” serunya dengan sedih. “Kenapa pada saat ini kau hendak pergi meninggalkan kami ?” Apakah suhu tidak tahu kalau tecu pada ini hari …..”

Berbicara sampai disitu Liem Tou tak kuasa melanjutkan kembali, buru-buru Thiat Sie sianseng menghibur.

"Muridku, kau tidak usah bersedih hati ! Suhumu bukannya tidak ingin mengikuti perayaan perkawinanmu ini, hanya saja urusan terlalu mendesak, salah jalan setindak saja, pasti bakal mendapatkan penyesalan dikemudian hari; apalagi aku tinggal disini pun tiada gunanya, Muridku ! Tentunya kau mengerti maksud dari perkataan suhunmu ini bukan ?”

“Liem Tou hanya setengah mengerti dan setengah tidak, pikirannya teringat kembali sebentar lagi bakal menemui musuh tangguh, bukankah lebih banyak orang, kekuatannya semakin besar ? Kenapa tidak ada gunanya ?”

Berpikir akan hal ini biji rnatanya lantas berputar baru saja ia bermaksud untuk berbicara siapa tahu Thiat Sie Sianseng jauh lebih cepat dari padanya. Buru-buru ia goyangkan tangannya.

“Muridku kau tak usah berbicara lagi,” katanya. “Maksud hatimu aku sudah memahaminya….”

Mandadak ia ganti bahan pembicaraan, ujarnya mendadak

:

"Ooow yaaa , Hampir-hampir saja aku melupakan satu

urusan. Apakah kau masih mempunyai seorang susiok ?” Liem Tou yang mendengar pertanyaan itu kontan saja teringat olehnya akan si perempuan tunggal Touw Hong buru- buru sahutnya dengan camas.

“Benar ! Dia bukan lain adalah si perempuan tunggal Touw Hong yang pernah suhu temui tempo hari. Dan baru saja kemarin malam kami bertemu muka !”

“Ada kemungkinan pada saat ini dia sudah berada diujung langit karena aku hanya bisa rnenghitung dia berada diujung langit tempat mana yang sebenarnya aku sendiri juga tidak tahu."

Hati kecil Liem Tou segera terasa seperti dipukul dengan martil besar, lama sekali ia berdiam termangu-mangu tak sanggup untuk mengucapkan sepatah katapun.

Dan dengan kesempatan itulah Thiat Sie sianseng sisiucay buntung serta sipengemis pemabok telah pergi tujuh delapan langkah dari dirinya.

Liem Tou yang berdiri termangu mangu di sana seketika itu juga merasakan darah panas bergolak didalam dadanya, ia tidak mengerti bagaimanakah rasanya pada saat itu.

Mendadak selintas napsu mernbunuh berkelebat diatas wajahnya, hal ini membuat seluruh tubuhnya gemetar dengan amat keras sekali .

“Suhu !” teriaknya tiba-tiba.

Suara tertahan ini terasa bernadakan sedih yang membawa kekerasan tanpa ia sadari napsu membunuh yang terlintas dihatinyapun sudah disalurkan keluar.

Sisiucay buntung serta si pengemis pemabok yang merasa wajah Liem Tou sangat aneh tak kuasa lagi pada menjerit kaget dan menoleh kearahnya.

Sebaliknya Thiat Sie sianseng tetap meIanjutkan Iangkahnya kedepan tanpa menoleh barang sedikitpun, baru saja suara jeritan kaget dari sisiucay buntung serta pengemis pemabok sirap dari udara mendadak tubuhnya yang gemuk pendek berputar ditengah udara laksana putaran angin taupan, ujung kakinya memutar permukaan tanah lalu melayang ke hadapan Liem Tou.

Tanpa membedakan hijau atau merah lagi tangannya melayang memerseni beberapa tamparan diatas pipi sang pemuda.

"Plaak ploook . . plook !" suara nyaring segera bergema memenuhi angkasa.

Seketika itu juga pipi Liem Tou jadi merah membengkak oleh tamparan yang amat keras.

"Liem Tou !" bentaknya dengan suara yang amat keras. "Masih ingatkah kau dengan kata-kata sumpah yang kau ucapkan sewaktu mengunci telapak tanganmu? bilamana ini hari mengumbar napsumu untuk membunuh maka seluruhnya akan habis sudah, Liem Tou, ingat bagaimanapun juga ini hari kau harus bersabar.”

Berbicara sampai disini, pada akhirnya Thiat Sie sianseng merasa tenggorokannya seperti tersumbat, tak tertahan lagi isak tangis terdengar keluar dari mulutnya.

Dengan sabar dan penuh kasih la mambelai pipi pemuda yang masih membengkak itu.

Terhadap Thiat Sie sianseng suhunya ini Liem Tou menaruh rasa hormat bagaikan dewa, maka buru-buru ia menundukkan kepalanya dan mohon ampun.

“Tecu tidak patut berkata demikian sehingga hampir- hampir melanggar kata-kata sumpah, tecu mengucapkan terima kasih atas budi kebaikan suhu,” serunya.

Waktu bicara sampai disitu tiba-tiba dari sisi tubuhnya terasa sambaran angin berlalu buru-buru ia mendongakkan kepalanya, Tampaklah saat itu Thiat Sie sianseng si-siucay serta sipengernis pemabok telah pergi jauh dan kebetulan bertemu muka dengan para jago yang sedang menuju kedalam perkampungan.

Lie Loo jie yang melihat mereka bertiga buru-buru hendak meninggalkan tempat itu, agaknya di dalam hati merasa amat, terkejut bercampur keheranan, maka ia buru-buru menahan mereka untuk tetap tinggal disana.

Bagi sisiucay buntung serta si pengemis pemabok masih tidak mengapa, tetapi Thiat Sie sianseng sebaliknya kukuh hendak berlalu dari sana.

Lie Loo jie yang melihat sikapnya yang kukuh itu hatinya jadi tidak senang, tetapi ia, pun tidak berhasil menahan mereka, karena terpaksa si orang tua itu melepaskan mereka bertiga untuk berlalu dari sana.

Diatas mulut sisiucay buntung serta si pengemis pemabok sama sekali tidak menaruh hormat terhadap Thiat Sie siangseng, padahal sebetulnya dalam hati mereka sangat menghormati dirinya mereka yang mengetahui kalau urusan ini tentu penting sekali sehingga membuat Thiat Sie siarseng begitu tenang oleh karena itu dengan hati yang sabar diikutinya saja kernana sigemuk pendek itu bendak pergi.

Lie Loo-jie pun tidak mengetahui diantara Liem Tou, serta Thiat Sie sianseng bertiga sudah terjadi apa dengan disertai Liong ciang Lie Kilan Poo buru-buru mereka berjalan menuju kehadapan Liem Tou.

Terlihat oleh mereka pada saat itu Liem Tou sedang berdiri termangu-mangu tanpa bergerak sedikitpun.

Suasana diluar ruangan Ci Ing Tong itu pun seketika itu juga jadi sunyi senyap mereka pada mengalihkan pandangannya kearah pemuda tersebut. Lie Loo jie yang melihat sikap Liem Tou sedikit agak aneh dengan menekan rasa ketidak senangan dihatinya ia bertanya dengan suara yang sangat halus:

"Sutit kenapa suhu serta susiokmu pergi semua ? Apakah kau menaruh rasa tidak hormat terhadap mereka ?”

Bagaikan baru saja terbangun dari impian, buru-buru pemuda itu menggeleng.

"Sutit sama sekali tidak menaruh rasa tidak hormat terhadap suhu serta susiok sekalian, hanya saja mereka ada urusan penting yang harus cepat-cepat meninggalkan tempat ini.”

Si telapak naga Lie Kian Poo yang melihat disana tak ada urusan lagi, sedang kepergian dari Thiat Sie sianseng sekalipun tidak mungkin bisa dikecam kembali, segera menoleh kearah Lie Loo jie dan katanya:

“Ini hari adalah hari bagus, cianpwee lebih baik mengundang para tetamu untuk memasuki meja perjamuan. Biarlah aku menemani Liem Tou untuk masuk kedalam perkampungan berganti pakaian.”

Lie Loo jie segera mengangguk kepada Liam Tou ujarnya: "Enci le serta adik Wan mu sudah ada setahun lamanya

menantikan ketanganmu cepatlah kau mengikuti Lie Kian Poo

untuk berdandan dan segera melangsungkan perkawinan !"

Selesai berkata ia lantas puter badan dan menuju kearah para tamu.

“Supek !” Tiba-tiba Liem Tou berseru sewaktu dilihatnya orang tua itu hendak berjalan pergi.

Saar ini hatinya benar-benar merasa amat tegang dan dia tahu dengan kepergiannya ini maka kesempatan baginya untuk, bercakap-cakap pun harus menanti upacara perkawinan selesai. Lie Loo jie dengan perlahan putar badannya, tetapi sewaktu dilihatnya wajah pemuda itu berubah pucat-pasi dan sikapnya sangat aneh alisnya segera dikerutkan rapat-rapat.

"Sutit ! Kau masih ada urusan apalagi?" tanyanya. Liem Tou ragu-ragu sebentar, akhirnya ia menjawab :

“Supek !, Sewaktu diadakannya upacara perkawinan nanti janganlah lupa untuk menggembol senjata dibadan. Bahkan suruh juga enci Ie serta adik Wan pada menggemtol senjata tajam.”

Lie Loo jie yang mendengar perkataan tersebut jadi keberanan dibuatnya.

“Sutit ! Apakah maksud dari perkataanmu itu?” tanyanya. “Dikolong langit mana ada temanten yang membawa senjata tajam untuk mengadakan upacara perkawinan? Hal ini akan dijadikan bahan geguyon bagi orang-orang dikolong langit nanti.”

“Supek, kau tidak tahu…“ seru sang pemuda sambil menggeleng dengan sedihnya.

Baru saja ia hendak menceritakan kisah munculnya dan tersebarnya musuh-musuh tangguh disekeliling gunung Ha Mo san ini, mendadak terdengar para rakyat kampung Ie Hee San cung yang telah berdiri disebelah sisi ruangan Cie lng Tong sudah pada berteriak keras:

"Liem Tou! Liem Tou ! Saat hari bagus hampir tiba, cepatlah berganti pakaian dan siap-siap untuk menjalankan upacara perkawinan diruang tengah”.

Si ‘Liong clang’ Lie Kian Poo pun merasa hatinya rada cemas, buru-buru la menarik tangan sang pemuda untuk diajak berlalu dari situ. Liem Tou yang melihat akan hal tersebut baru tahu bahwa nasib tidak bakal dirintangi dengan kekuatan manusia, ia menghela napas panjang dan tidak terbicara lagi:

Dengan mengikuti Lie Kian Poo pemuda itu berjalan masuk kedalam sebuah ruangan untuk ganti dengan pakaian yang sudah dipersiapkan itu.

Tidak lama kemudian dari tengah ruangan Ce Ing Tong mulai bergema suara tambur serta terompet yang dibunyikan ramai untuk mengiringi masuknya sang pengantin kedalam ruangan untuk menjalankan upacara.

Buru-buru Lie Kian Poo menyampaikan beberapa patah kata ,tentang tata cara diruangan tengah nanti, kemudian baru menarik tangan Liem Tou untuk diajak jalan keluar. Didalam hati sang pemuda pada saat itu benar-benar amat kacau dan kebingungan, wajah gembira yang seharusnya diperlihatkan, saat ini telah tersapu lenyap dan berganti dengan wajah yang amat kucal dan murung.

Dengan mengikuti dibelakang tubuh Lie Cung cu selangkah demi selangkah sang pemuda berjalan memasuki ruang upacara.

Dia orang sama sekali tidak takut terhadap bencana yang bakal menimpa dirinya, tetapi sebaliknya karena merasa takut kalau dia telah mengundang bencana yang mangerikan bagi seluruh rakyat Ie Hee san cung karena bilamana hal ini benar- benar terjadi, sampai mati pun ia pasti akan menyesal.

Ketika Liem Tou berjalan sampai ditengah perjalanan; dari dalam ruangan Cie, lng Tong mulai meledak suara selamat yang gegap gempita.

Kebanyakan suara tersebut berasal dari rakyat perkampungan Ie Hee San cung yang sedang menyambut kedatangan Liem Tou. Tetapi suara tertawa yang ramai dan ucapan selamat itu bagi Liem Tou sendiri terasa hatinya bagaikan tertusuk dengan beribu-ribu batang golok. Hatinya sangat tidak tenang.

Pada saat itulah mendadak dari samping, telinga sang pemuda kembali berkumandang suara helaan napas yang amat sedih disusul dari Cing jie yang perlahan dan menggunakan ilmu untuk menyampaikan suara berkumandang masuk.

“Liem Tou. aku sama sekali tidak menaruh maksud jahat terhadap dirimu. Tadi aku sudah nasehati dirimu janganlah kesana kenapa kau tetap kukuh? baiklah aku tunjukkan sesuatu kepadamu coba kau tolehkan kearab sebelah Timur.

Mendengar perkataan Liem Tou berhenti dan rnenoleh kearah timur tampaklah diatas puncak pada waktu itu sudah berdiri sejajar empat orang berbaju hitam dengan angkernya mereka ternyata begitu bernyali dan tanpa mengandung rasa jeri sedikitpun juga telah memperlihatkan diri .

“Sekarang kau tolehkan kearah hutan dibelakang perkampungan. Dan tengok pula ketengah udara," seru Cing jie kembali.

Jarak antara hutan dengan perkampungan itu amat dekat sekali pandang saja Liem Tou dapat menangkap dari antara ceIah pepohonan telah muncul kurang lebih dua puluhan orang jagoan.

Hatinya jadi berdesir, karena saat ini ia mulai kalau orang itu adalah jagoan dari partai Kiem Tian Pay.

"Baiklah !” pikirnya kemudiian. “Aku sudah dua kali mengampuni mereka, mereka masih juga tidak tahu malu dan terus menerus mencari gara-gara dengan diriku. Kali ini aku harus hajar mereka sampai hancur lebur!" Kepalanya dengan perlahan menengadah keatas, tampaklah dua ekor burung rajawali raksasa dengan gagahnya terbang kian kemari.

lapun sadar bila burung-burung itu adalah burung piaraan dari Thian Pian siauw cu.

Kini ia mulai merasa bila bencana bagi dirinya tak bakal terhindar lagi menimpa diri enci Ie, adik Wan serta seluruh rakyat perkampungan Ie Hee San Cung.

Si telapak naga Lie Klan Poo yang melihat Liem Tou ragu- ragu untuk melangkah maju kernbali menariknya supaya berjalan lebih cepat Iagi.

Liem Tou terdesak akhirnya sambil menggigit bibir dengan langkah yang cepat ia berjalan masuk kedalam ruangan Cie Ing Tong dibawah sorakan rakyat perkampungan le Hee Son Cung serta tambur dan terompet yang gegap-gempita.

Acara perkawinan segera akan dimulai di dalam ruangan.

Liem Tou langsung berjalan menuju ketengah-tengah ruangan dimana kedua orang pengantin perempuan telah rnenanti disisi meja upacara.

Setelah pertemuan sebentar mereka bertiga bersama-sama menuju kedepan meja sembahyang untuk mulai menjalankan upacara.

Pada waktu itu mendadak sitelapak naga Lie Kian Po dengan wajah penuh senyuman berteriak keras :

“Tunggu sebentar ! Cayhe ada sepatah dua patah kata yang hendak diutarakan terlebih dahulu. Atas kecintaan dan penghargaan dari para cianpwee dua golongan Pouw dan Lie, aku Lie Kian Po telah meneruskan jabatan sebagai Cung cu dari tangan Ang In Sin Pian selama setahun tiga bulan lamanya. Cay he merasa bahwa hal ini merupakan suatu tugas yang maha berat dan tak mungkin bisa dilaksanakan dengan baik oleh aku orang she Lie.” “Kini Liem Tou sudah kembali kedalam perkampungan, bahkan ia berhasil pula melewati ketiga buah rintangan alam itu dengan sempurna. Lagipula bukan begitu saja ia pun memiliki kepandaian silat yang maha dahsyat karena itu menurut peraturan perkampurgan, jabatan Cung cu harus dibebankan pada dirinya. Baiklah ! Mulai saat ini juga jabatan Cung-cu dari perkampungan le Hee san cung aku serahkan pada diri Liem Tou untuk menjabatnya !”

Parkataan dari si telapak naga Lie Kian-Poo diucapkan dengan amat nyaring dan ceng li, hal ini membuat Liem Tou sulit untuk menampik.

Suara tepukan tangan serta sorak sorai dari seluruh rakyat perkampungan dengan cepatnya meledak dan menggetarkan seluruh angkasa.

Ditengah tiupan terompet serta pukulan genderang yang amat ramai, berpuluh-puluh orang jagoan kangouw yang datang mangikuti upacara perkawinan mulai maju kedepan memberi selamat kepada Liem Tou.

Suasana. didalam ruangan Cie lng Tong telah dipenuhi dengan suasana kegembiraan, mereka sama sekali tak ada yang merasa bila jantung sang pamuda pada waktu itu berdebar amat keras, ia hanya berharap bencana tersebut jangan cepat-cepat berlangsung dan upacara inipun cepat- cepat selesai.

Matanya melirlk sekejap kearah Lie Siauw le serta sigadis cantik pengangon kambing yang berdiri dikanan kirinya sambil menundukkan kepalanya rendah-rendah mereka tak berbicara dan tidak bergerak.

Bilamana mengikuti nafsunya yang sudah tak sabaran lagi, kepingin sekali dia menyambar kedua orang ini untuk dibawa lari kedalam gunung dan bercakap-cakap sepuasnya.

Tetapi hal ini tak mungkin bisa dilakukan, perkawinan ini adalah ia sendiri yang menyanggupi bahkan ada pula suhunya Thiat Sie poa sebagai saksi sekalipun ini baru terjadi bencana yang lebih besar pun ia harus menerimanya dengan hati terbuka karena suhunya pernah berkata kalau itu adalah

,NASIB!”

Sewaktu suasana sedang ramai-ramainya itulah mendadak suara tertawa seram yang sangat mengerikan berkumandang datang memenuhi ruangan.

Munculnya suara tertawa yang mendadak itu kontan saja membuat semua orang jadi tertegun dan memandang kearah orang itu dengan termangu-mangu.

Tak seorang pun diantara mereka yang mengenal siapakah orang itu !

Tampak orang itu perlahan-lahan melepaskan topeng yang dikenakan kemudian sambil menyapa keseluruh ruangan kembali dia memperdengarkan suara tertawa yang amat menyeramkan.

“Aaakh! Pouw Siauw Ling!” suara teriakan kaget segera bermunculan dari empat penjuru.,

Liem Tou yang mendengar disebutnya kata-kata Pouw Siauw Ling hatinya merasa tergetar amat keras.

Bukannya dia menaruh rasa jeri terhadap dirinya tetapi justru dengan munculnya orang itu berarti pula bencana sudah tiba didepan mata.

Hatinya benar-benar kuatir atas keselamatan dari Lie Siauw le serta sigadis cantik pengangon kambing serta seluruh rakyat perkampungan le Hee San Cung tetapi pada waktu ini adalah seorang pengantin bagaimana pun juga tak leluasa baginya untuk melakukan sesuatu tindakan.

Suara tertawa dari Pouw Siam Ling yang amat seram itu semakin lama semakin meninggi mendadak tertawa dengan wajah yang berubah menghijau bentaknya keras: “Liem Tou! kembalikan batok kepala ayahku!”

Lem Tou sama sekali tidak menggubris atas bentakan dari Pouw Siauw Ling itu dalam hati ia cuma mengingat-ingat terus perkataan terakhir dari suhunya sesaat meninggalkan dirinya.

“Liem Tou, masih ingatkah dirimu akan sumpah yang pernah kau ucapkan menjelang mengunci tangan ? bilamana ini hari kau mulai dengan suatu pembunuhan maka kau bakal habis. Ingat Liem Tou ? bagaimanapun juga kau harus lewatkan hari ini".

. Teringat akan perkataan itu perlahan-lahan ia menoleh kearah Lie Siauw serta si gadis cantik pengangon kambing.

“Enci Ie, adik Wan waspada ! peringatan ini hari diempat penjuru ruangan ini sudah bermunculan musuh-musuh tangguh, nanti kalian harus baik-baik melindungi diri kalian sandiri dan jangan sekali-kali menggubris diriku.

Begitu perkataan dari pemuda itu diucapkan keluar, serentak Lie Siauw Ie serta sigadis cantik pengangon kambing menjerit kaget, tubuhrya gemetar amat keras.

Dengan cepat mereka berdua pada melirik sekejap kearah sang pemuda, saat ini Liem Tou telah berubah jadi tenarg kembali wajahnya yang tampan memancarkan cahaya berkilat bibirnya tersungging satu senyuman manis agaknya ia sama- sekali tidak gubris terhadap muncuInya musuh tangguh dihadapan mata.

Si gadis cantik pengangon kambing yang usianya rada lebih muda dan kini sedang menjadi pengantin malu untuk berkata sebaliknya Lie Siauw le yang lebih tua buru-buru berseru:

“Adik Tou legakanlah hatimu. Kami sudah tahu. Tetapi kau telah mengunci tangan. Engkoh tahu kau harus baik-baik berjaga diri.”

Liem Tou hanya tersenyum saja mulutnya tetap membungkam. Pow Siauw Ling yang melihat perkataannya sama sekali tidak digubris oleh Liem Tou hatinya benar-benar dibuat amat gusar. Selangkah demi selangkah ia berjalan rnerdekati sang pemuda itu. Sitelapak naga Lie Kan Poo yang berdiri disamping walaupun merasa amat terperanjat mellhat munculnya Pouw Siauw Ling secara mandadak itu tetapi bagaimanapun juga ia adalah seorang jagoan yang memiliki pengalaman luas, hatinya sama sekali tidak jadi gugup.

Dengan kecepatan bagaikan kilat ia meloncat kedepan Pouw Siauw Ling dan menghadang jalan perginya.

“Pouw Siauw Ling setahun tak bertemu, apakah kau masih kenal dengan aku sitelapak naga Lie Kian Foo?” tegurnya.

Pouw Siauw Ling yang dihalangi jalan perginya segera merandek.

“Hee .. hee . . Lie Kian Poo ! Kau masih punya muka untuk menemui diriku?” balas sindirnya.

Bagaimanapun juga “Si Liong Ciang" LieKian Poo adalah seorang lelaki sejati yang berhati halus. Mendengar perkataan yang sama sekali tak kenal sopan itu, wajahnya kontan berubah jadi merah padam dan akhirnya berubah jadi pucat pasi. Ia benar-benar terkesima buatnya.

"Pouw Siauw Ling !” bentaknya kemudian dengan suara yang keras laksana sambaran geledek. “Kedatanganmu kesini untuk mencari balas terhadap diri Liem Tou dan aku tidak ikut campur, tetapi kau jangan lupa dengan kadudukanmu. Aku pernah berbuat salah apa terhadap dirimu sehingga kau menaruh rasa gusar terhadap aku orang she Lie ?”

Rakyat perkampungan Ie Hee San Cung yang berdiri dikedua belah sisi ruangan Cie Ing Tong, sejak tadi sudah merasa tidak senang melihat munculnya Pouw Siauw Ling yang mengganggu jalannya upacara, kini mendengar ia bertindak tidak sopan pula terhadap cung-cu mereka. Tak kuasa lagi dalam hati merasa semakin gusar. “Usir dia turun dari gunung. Binatang itu kurang ajar sekali, lemparkan dia kedalam jurang !”

“Betul ! usir dari perkampungan !”

“Usir dia dari gunung dan pecat dari keanggotaan kampung

!"

Suara teriakan teriakan marah dari rakyat yang ada disana

tak tertahan lagi segera meledak suara bentakan gusar yang gegap gempita memecahkan kesunyian dan memekik laksana membelah bumi.

Pouw Siauw Ling segera dongakkan kepalanya tertawa terbahak-bahak dengan seramnya. Mendadak ia merobek hancur pakaian luar yang dikenakannya itu sehingga muncullah jubah hitam yang didepan dadarya terukir sebuah patung arca yang berwarna kuning emas.

Dengan sombong putra Ang In Sin Pian ini menyapu sekejap keseluruh ruangan, lagaknya seperti disana tak ada orang manusiapun.

Hong tiang (ketua ) dari partai Siauw lim pay Ciat Siuw Siansu yang melihat lagaknya itu tidak bisa menahan sabar lagi; perlahan-lahan ia meninggalkan tempat duduknya dan melangkah kedepan.

Belum sempat hweesio itu mengucapkan kata-katanya, mendadak terdengar Pouw Siauw Ling kembali memekik keras.

"Lie Kian Poo!" teriaknya setengah menjerit. "Kau”bajingan durhaka, penghianat terkutuk; Aku tak akan membiarkan kau hidup lebih lama lagi!".

Begitu perkataannya selesai diucapkan, tubuhnya menubruk kedepan, sedang telapak tangannya dengan mengeluarkan ilmu “Kioe lm Tong Ci Loe Han Kang” nya yang lihay rnenghajar kedepan. Segulung angin pukuIan berhawa dingin„ dengan cepatnya menyambar dada Lie Kian Poo.

Lie Kian Poo yang mempunyai julukan sebagai si telapak naga, sudah tentu ilmunya yang paling diandalkan adalah pukulan telapaknya. Melihat serangan Pouw Siauw Ling yang datangnya secara mendadak ini, seketika itu juga membuat dia jadi gusar.

Tubuhnya maju selangkah kedepan; tangannya bersama- sama didorong kedepan rnenyambut datangnya serangan tersebut.

Tenaga dalam yang dimiliki Pouw Siauw Ling pada saat ini sudah memperoleh kemajuan yang pesat, mendadak tampak dia orang membuyarkan serangan yang didepan; tubuhnya Iaksana sambaran kilat tahu-tahu sudah berputar kebelakang punggung Lie Kian Poo.

Sitelapak naga Lie Kian Poo yang melihat serangannya mencapai sasaran yang kosong dalam hati sudah mengerti kedaan sangat berbahaya.

"Tahan” terdengar suara bentakan keras dari Ciat Stauw Siansu itu Hong tiang dari partai Stauw lim-pay tubuhnya dengan cepat meloncat maju kedepan.

Pouw Siauw Ling mendengus dingin. Laksana kilat cepatnya ia mengirim satu pukulan dahsyat keatas punggung sitelapak naga.

“Suara jeritan ngeri, dari sitelapak naga Lie Kian Poo berkumandang memenuhi seluruh ruangan, tubuhnya dengan sempoyongan maju tiga langkah kedepan lalu rubuh keatas tanah. Ia muntahkan darah segar dengan derasnya.

Bagaimapun Ciat Siauw siansu yang berusaha turun tangan menolong terlambat setindak kini jaraknya tinggal beberapa kaki saja dari Pouw Siauw Ling. Ditengah suara bentakan yang keras laksana sambaran geledek disiang hari bolong telapaknya dengan dahsyat berkelebat membabat keatas batok kepala Pow Siauw Ling.

Pouw Siauw Ling yang merasa adanya sambaran angin dibelakang tubuhnya, buru-buru tutulkan ujung kakinya keatas permukaan tanah lalu meloncat ketengah udara.

Dengan gesitnya ia berhasil menyingkir dari datangnya angin pukulan dahsyat si Ciat Siauw Siansu itu.

Ciat Siauw Siansu bukanlah manusia lemah, ia bisa menjabat sebagai Hong tiang dari partai Siauw lim-pay tentu telah mendapatkan seluruh ilmu silat aliran Siauw-lim pay.

Dengan gusarnya mendengus, telapak tangannya berturut- turut melancarkan tujuh, delapan buah serangan dengan menggunakan ilmu telapak “Siauw Lim Sah Cap Lok Hu Mo Ciang Hoat” atau tigapuluh enam jalan penduduk Iblis.

Angin pukulan menderu-deru, setiap serangannnya mengancam jalan darah berbahaya di tubuh Pouw Siauw Ling.

Tetapi putera Ang In Sin Pian ini dengan gerakan yang lincah berhasil meloloskan diri dari setiap ancaman bahaya.

Hanya didalam sekejap, mata dua puluh jurus telah bertalu dengan cepatnya. Ciat Siauw Siansu yang melihat serangan gencarnya sama sekali tidak mendatangkan hasil, hatinya jadi cemas bercampur murung; tidak terasa pula serangannya jadi rada kendor.

"Hey hweesio tua. kau cari mati !” Mendadak Pouw Siauw Ling membentak keras.

Gerakan tubuhnya tiba-tiba berubah, sepasang telapak tangannya laksana titiran air hujan dengan serangan yang paling keji dan buas balas menggencet Ciat Siaw Siansu.

Hweesio itu jadi terkesirna, ia sudah merasa dirinya tidak bakal menangkan orang itu apalagi setelah melihat serangan dari Pouw Siauw Ling yang laksana sambaran kupu-kupu sebentar kesana sebentar kemari menghajar jalan-jalan pentingnya, ini membuat dia jadi semakin gelagapan.

Hanya didalam sekejap mata Ciat Siauw Siansu sudah terdesak hebat wajahnya yang samula berwarna merah padam kini telah berubah jadi pucat pasi bagaikan mayat.

Pada saat yang amat kritis itulah mendadak . . .

“Siansu jangan gugup pertahankan sekuat tenaga biarlah aku bereskan bangsat ini!” suara bentakan dari Lie Loo jie berkumandang keluar.

Baru saja suara bentakan dari Lie Lao jie keluar dari balik bibir diantara tetamu undangan mendadak tampak dua sosok bayangan manusia berbuat maju terlebih dulu menubruk kearah Pouw Siauw Ling.

Mereka adalah Lam Yang Jie Kongcu putra dari Lam Yang it Kiam sahabat karib Lie Loo jie.

“Supek jangan cemas biarlah siauw tit sekalian mewakili dirimu untuk bereskan mereka,” teriak Toa Kongcu dengan suara keras.

Di tengah teriakan yang amat keras mereka berdua segera melayang turun kehadapan Ciat Siauw siansu dan pada waktu yang sama pula pedangnya sudah dicabut keluar, kemudian bersama-sama melancarkan serangan dahsyat kearah depan.

Lie Loo jie yang melihat munculnya Lam Yang Jie Kongcu untuk menyambut datangnya serangan musuh walaupun dalam hati mengerti kalau mereka berdua bukan tandingan dari Pouw Siauw Ling, tetapi iapun masih tidak ingin turun tangan sendiri.

Maka itu dengan pandangan gusar ia melototi diri Pouw Siauw Ling. Waktu ttu keadaan Ciat Siauw siansu benar-benar amat berbahaya bilamana tidak ditolong lagi nyawanya tentunya bakal habIs diatas telapak putera dart Ang In Sin Pian itu.

Lam Yang Jie Kongcu yang bersama-sama mencabut keluar pedangnya untuk melancarkan serangan kearah Pouw Siauw Ling, belum berhasil menolong hweeshio dari Siauw lim pay itu lolos dari bahaya, mendadak dari sisi tubuhnya berkumandang datang suara tertawa dingin yang amat menyeramkan.

“Heeee . heee . , . cari mati !”

Suara tersebut yang amat dingin dan seram membuat setiap orang yang mendengar merasa hatinya bergidik.

Lie Loo jie jadi amat terperanjat, belum lagi tubuhnya bergerak maju kedepan mendadak dihadapannya berkelebat cahaya hitam yang menyilaukan mata disusul suara jeritan kaget dari Lam Yang Jie Kongcu.

Dengan cepat ia alihkan pandangannya ke depan. tampaklah seorang yang berbadan sebagai rakyat kampung dengan menyekal sebilah pedang hitam yang menyilaukan mata telah berhasil membabat putus pedang panjang dari Lam Yang Jie Kongcu.

Lie Loo jie segera mengetahui asal usul darl pedang itu, hatinya jadi amat terperanjat, kakinya sedikit menutul permukaan tanah lalu laksana tiupan angin berlalu dia menggulung kearah depan.

Tetapi gerakannya kembali terlambat ..,.suara jeritan ngeri yang menyayatkan hati bergema memenuhi angkasa, tubuh Lam Yang Jie Kongcu sudah rubuh keatas tanah dengan bermandikan darah.

Kedua jeritan ngeri tadi hampir-hampir saja meledakkan hati Lie Loo jie seketika itu juga ruangan upacara perkawinan berubah jadi medan pejagalan yang yang mengerikan. Suasana dalam ruangan Cie Ing Tong kacau-balau, rakyat kampung Ie Han San Cung pada melarikan diri terbirit-birit.

Waktu ini Lie Loo jie tak ada perhatian lagi untuk mengurus rakyat kampung le He, San Cung yang kacau balau. kini dia hanya memperhatikan pedang hitam yang bagaikan samberan ular beracun serta angin pukulan Pouw Siauw Ling yang menderu-deru mendesak Ciat Siauw sianseng kepojokan tembok sehingga keadaannya sangat berbahaya sekali.

Lie Loo jie tak bisa berdiam diri lagi ia salurkan hawa murninya keseluruh tubuh kemudian meloncat maju kedepan.

"Pouw Siauw Ling kau berani!"

Suara bentakannya ini keras sekali bagaikan sambaran geledek disiang hari bolong membuat Pouw Siauw Ling jadi sangat terperanjat.

Pada saat itulah Lie Loo jie sudah menubruk datang, sepasang telapak tangannya dengam menggunakan jurus. “Jie Lang Tan San” atau Jie-lang memikul gunung yang kiri menangkis serangan pedang hitam sedangkan tangan yang kanannya membabat tubuh Pouw Siauw Ling.

Pouw Siauw Ling yang merasa dari belakang tubuhnya menyambar datang segulung angin pukulan dahsyat. Buru- buru meloncat ke samping untuk menghindar.

Mengambil kesempatan itu Ciat Siauw siansu menarik napas panjang-panjang, tubuhnya melayang mundur sejauh lima langkah kebelakang. Walaupun begitu napasnya sudah ngos-ngosan sedangkan matanya melotot bulat-bulat.

Pouw Siauw Ling yang melihat Lie Loojle berhasil menolong Ciat Siauw siansu lolos dari bahaya, ia segera tertawa tiada hentinya.

“Kauw-cu !" serunya. Lebih baik kita bereskan dulu anjing tua ini !” Tangannya dibalikkan mencabut keluar cambuk Pek Kut piannya kemudian dengan disertai sambaran angin tajam menyapu kedepan.

Kiranya orang yang mencekal pedang hitam itu bukan lain adalah Sin Beng Kauw cu Boe Beng Tok Su adanya.

Tampak dengan perlahan ia melepaskan topengnya yang berwajah seram dan melepaskan pula pakaian rakyat kampung yang dikenakan sehingga muncullah sebuah jubah hitam yang berukiran patung arca berwarna merah darah.

Ia sama sekali tidak menggubris terhadap kata-kata dari Pouw Siauw Ling, mendadak Boe Bang Tok su, kauw cu, dan Sin Beng Kauwcu ini bersuit nyaring sehingga menggetarkan seluruh ruangan Cie Ing Tong.

Begitu suara suitan berkumandang keluar, didalam sekejap mata saja dari luar ruangan Cie Ing Tong bermunculan empat orang tua berbaju hitam yang mencekal senjata tajam dan pada jalan darah “Thay Yang Hiat" di keningnya pada menonjol keluar, jelas mereka telah berhasil meyakinkan tenaga dalamnya paling sedikit puluhan tahun latihan

Kiranya Boe Beng Tok su telah membawa keenam orang Siangcunya kini empat orang sudah masuk kedalam ruangan dan dua orang sisanya tertinggal didepan pintu.

Belum saja mereka berempat tegak Boe Beng Tok su sudah kebatkan pedangnya menuding Lie Loo jie.

"Tangkap dia,” perintahnya.

Sejak munculnya Pouw Siauw Ling dan terjadinya perubahan-perubahan yang diluar dugaan ini Liem Tou sama sekali tak ambil gubris dengan tenangnya ia berdiri ditengah ruangan diantara apitan sigadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw agaknya merasa urusan tersebut bukanlah suatu urusan yang berat. Keempat orang siangcu berbaju hitam itu bagaikan menerima perintah dari kaisar dengan cepat menggerakkan senjata tajamnya mengurung Lie Loo jie rapat-rapat.

Mereka adalah anak buah Chiet Cie Tauw Thouw tempo dulu setiap orang bukan saja memiliki pengalaman bertempur yang luarbiasa bahkan bersikap dingin dan tidak gugup.

Sekalipun Lie Loo jie mempunyai kepandaian silat yang lebih tinggi, bilamana terkurung oleh beberapa orang itu untuk sesaatpun tak bisa berbuat apa-apa.

Dengan cepatnya suatu pertempuran sedarah yang amat seru berlangsung dalam ruangan Cie Ing Tong tersebut.

Ditambah pula mereka berempat sama sekali tidak mencari-cari jasa, dengan sabarnya keempat orang itu bertempur secara bergilir sehingga memaksa Lie Loo jie menjadi camas dan sulit untuk meloloskan diri.

Boe Beng Tok su yang rnelihat Lie Loo jie sudah terkurung dengan perlahan baru menoleh kearah Liem Tou, tetapi dengan cepatnya ia sudah dibuat tertegun oleh sikap sang pemuda yang begitu tenang dan angkernya.

Hatinya jadi ragu-ragu untuk bertindak maju, bisiknya kemudian kepada Pouw Siauw Ling:

"Pouw siangcu, coba kau lihat sikap dari Liem Tou si bangsat cilik itu, tentu dibalik kesemuanya ini ada hal-hal yang tidak beres?”

Pouw Siauw Line pun waktu itu mengerti maksud hati dari Boe Beng Tok su; dia tahu dia sengaja melepaskan diri Lie Loo Jie justru dikarenakan hendak mencari balas dengan tujuan mereka yang utama, Liem Tou.

"Menurut penglihatanku agaknya tidak ada siasat apa-apa dibalik itu, tetapi biarlah aku mencobanya terlebih dulu, kemudian kauwcu baru turun tangan," sahut Pouw Siauw Ling. Boe Beng Tok su segera mengangguk.

“Liem Tou ! Kembalikan kepala ayahku,” bentak Pouw Siauw Ling kemudian dengan suaranya yang keras.

Tubuhnya dengan cepat menubruk kedepan sedangkan cambuknya dengan menimbulkan suara desiran yang tajam menyapu tubuh Liem Tou.

Seluruh cambuk itu dipenuhi dengan duri yang tajam ditambah pula permainan cambuk yang lihay dari Pouw Siauw Ling, membuat cambuk Pak Kut Pian itu dengan membawa suara desiran yang tajam menghajar kedepan.

Tubuh Liem Tou kelihatan gemetar keras, selintas hawa amarah berkelebat pada wajahnya; tetapi hanya sebentar saja telah lenyap tak berbekas, paras mukanya kembali tenang.

Sinar matanya yang tajam dan memancarkan cahaya berkilat perlahan-lahan menyapu sekejap kearah musuhnya.

Pouw Siauw Ling yang sinar matanya terbentur dengan sinar mata pemuda itu dengan cepat merasakan suatu daya pengaruh yang mendebarkan hati mendesak dirinya hingga menusuk kedalarn tulang sumsum, hal ini memaksa ia tak kuasa lagi dan menarik kembali serangan cambuk Pak Kut Piannya dan mundur dua langkah kebelakang.

Tubuh Liem Tou tetap tenang dan tak bergerak dari tempat semula.

Liem Tou bisa bersabar sebaliknya kedua orang pengantin perempuan tak bisa menahan kegusaran dihatinya mereka bersama-sama melepaskan pakaian pengantin sehingga munculnya seperangkat pakaian singsat yang menutupi tubuhnya Pouw Siauw Ling terdengar Lie Siauw Ie membentak dengan nada gusar. “Liem Tou sudah lama mengunci tangan dengan perbuatanmu ini hari apakah masih bisa disebut perbuatan seorang jagoan Bu lim.?” Sebaliknya sigadis cantik pengangon kambing yang melihat ayahnya terkurung dengan cepat enjotkan badan hendak menubruk kedepan membantu ayahnya tetapi keburu dicegah oleh Liem Tou.

"Wan moay jangan pergi !" katanya halus.

" Tetapi engkoh Liem ayahku terkurung,” teriak si gadis cantik pengangon kambing dengan hati cemas.

Baru saja perkataan itu di ucapkan Pouw Siauw Ling yang melihat Liem Tou sama sekali tidak memperlihatkan gerakan apa-apa, rasa jerinya telah lenyap. Cambuk Pek Kut Pian-nya dengan dahsyat kembali melancarkan serangan menusuk kedada sang pemuda.

Melihat datangnya serangan itu Liem Tou hanya melirik sekejap dia sama sekali tidak menghindar, didalam hati ia sudah mengambil keputusan tidak perduli siapa pun yang melancarkan serangan kearahnya dia tak akan menyingkir.

Lie Siauw Ie yang melihat kejadian itu jadi terkejut. "Adik Tou cepat menyingkir" teriaknya cemas

Sambil berkata ia rnenyambar tangan Liem Tou untuk ditarik kesamping siapa sangka mendadak Liem Ton angkat tangannya keatas dan tersenyum mesra kearahnya sehingga hal ini membuat sambaran dari Lie Siauw Ie mencapai pada sasaran yang kosong.

Kini cambuk Pek Kut pian dari Pouw Siau Ling telah mencapai beberapa cun diatas dada sang pemuda. Lie Siauw Ie yang melihat Liem Tou tak ada maksud untuk menghindar bahkan melepaskan diri dari pertolongannya, saking cemas wajahnya berubah jadi menghijau dan melototkan matanya lebar-lebar.

Akhirnya ia menjerit keras tubuhnya nubruk kehadapan Liem Tou dan bermaksud hendak menerima datangnya serangan Pouw Siauw Ling itu. Dengan badannya sigadis cantik pengangon kambing yang melihat Lie Siauw Ie telah turun tangan pada mulanya ia sendiri tak melakukan gerakan apapun, kini setelah dilihatnya Liem Tou tidak ingin di tarik oleh Lie Siauw Ie bahkan dengan rela menerima datangnya serangan cambuk lawan dengan cepat kebaskan tangannya melepaskan diri dari cekalan sang pemuda.

Tangannya yang lain dengan kecepatan bagaikan kilat menjepit datangnya serangan cambuk dari Pouw Siauw Ling.

Didalam pandangannya Pouw Siauw Ling adalah pengalaman yang pernah menderita kekalahan ditangannya karena itu ia bermaksud hendak menjepit cambuk tersebut dan merebutnya.

Barpikir akan hal itu mendadak telapak kirinya menghantam kedepan; bersamaan itu pula tangan kanannya mengerahkan tenaga dalam bermaksud hendak pukul lepas cambuk Pek Kut Pian ditangan Pouw Siauw Ling.

Dimana angin pukulan menyambar datang Pouw Siauw Ling tertawa dingin, separuh badannya berputar setengah lingkaran untuk menghindarkan dari angin serangan setelah itu diam-diam ia mengerahkan ilmu ‘Kioe-Im Tong Ci Loo Han Cin Kang’ nya.

Kontan saja sigadis cantik pengangon kambing merasakan segulung hawa pukulan yang sangat dingin dengan cepat menghajar tangannya bagaikan kena stroom lengannya jadi kaku dan buru-buru lepas tangan untuk mundur.

Melthat tindakan dari gadis itu, Pouw Siauw Ling membentak keras.

Cambuk Pek Kut Plannya didorong kedepan laksana seekor ular putih langsung menghantam tubuh si gadis cantik pengangon kambing.

Lie Wan Giok sama sekali tidak menduga hanya didalam setahun saja perpisahannya dengan itu kini Pouw Sauw Ling sudah jadi sedemikian lihay, saking terkejutnya ia menjerit keras:

“Hiaaa …!”

Belum habis ia menjerit ujung cambuk dari Pouw Siauw Ling sudah menyambar datang.

Pada saat-saat yang sangat kritis itulah mendadak mendengar Lie Siauw Ie membentak keras.

"Pouw Siauw Ling, kau berani..!”

Bersama waktunya pula, tubuh sigadis cantik pengangon kambing telah didorong seseorang sehingga mundur satu langkah kebelakang sebuah pundak yang lebar tahu-tahu telah menghalang di hadapannya.

Sedangkan Pouw Siauw Ling pun buru-buru mengundurkan dirinya beberapa kaki kebelakang.

“Bluuum…. !" dengan menimbulkan suara yang amat keras, kedua gulung angin pukulan itu dengan tepat berhasil menghajar permukaan tanah tidak jauh dari tempat itu.

Ketika sigadis cantik pengangon kambing menoleh dan memperhatikan lebih teliti maka terlihatlah angin pukulan itu adalah hasil dari pukulan Lie Siauw Ie yang membokong diri Pouw Siauw Ling, sedang Liem Tou entah sejak kapan tahu- tahu sudah menghadang dihadapannya darah segar tiada henti menetes keluar dari pundaknya yang lebar tentunya pundak tersebut berhasil dilukai oleh Pouw Siauw Ling.

Waktu itulah sigadis cantik pengangon kambing baru sadar bilamana dirinya sama sekali tidak terluka justru dikarenakan Liem Tou tanpa memperdulikan keselamatannya sudah unjukkan diri untuk menolong.

“Engkoh Liem kau tak usah mengurusiku lagi," teriaknya kemudian dengan alis dikerutkan rapat-rapat. Mereka sama sekali tidak mengikuti peraturan Bulim kaupun boleh melanggar sumpah untuk turun tangan untuk balas melancarkan serangan !"

Agaknya dalam hati ia merasa amat terharu sehingga titik- titik air mata mengucur ke luar dengan derasnya.

"Wan moay kau tak usah bersedih hati,” hibur Liem Tou sambil menoleh dan tertawa pahit. “Kau serta enci le baik baiklah berjaga diri kalian tak usah mengurusi diriku lagi. Sekalipun bencana yang akan kualami pada hari ini akan berubah, jadi bagaimanapun aku tidak akan melanggar sumpah.”

“Adik Tou, perkataan dari Wan moay memang benar,” timbrung Lie Siauw Le dari samping dengan suara yang keras. “Musuh yang munculkan diri pada saat ini luar biasa kosennya, bilamana kau tidak juga turun tangan mungkin…..”

Perkataan selanjutnya ia telah kembali karena tenggorokannya terasa seperti tersumbat.

Tetapi Liem Tou hanya tundukkan kepalanya saja tanpa mengucapkan sepatah kata.

Mendadak sigadis cantik pengangon kambing mengangkat kepalanya dan memandang kearah depan, waktu itu Lie Loo lie dengan sekuat tenaga lagi melancarkan serangannya melawan serangan-serangan gencar dari ke empat orang berbaju hitam itu, walaupun tidak sampai terkalahkan tetapi dari keningnya sudah mengucurkan keringat sebesar kacang kedelai.

Ketika memandang pula kearah keempat orang berbaju hitam itu, mendekati senjata tajam mereka tak berhasil mendekati Li Loo jie tetapi kerja samanya sangat erat.

Suatu ingatan dengan cepat berkelebat dalam benaknya. "Bilamana ia harus bergebrak terus seperti ini, lama

ketamaan bukankah tenaga murninya akan menemui kerugian dan akhirnya kalah?” pikirnya dihati. Tanpa terasa lagi hatinya sudah berdebar keras. “Engkoh Liem !” teriaknya kemudian dengan cemas.

“Apakah kau tidak mau turun tangan juga sehingga

mengharuskan ayahku mati ditangan orang lain ?

Sekalipun Liem Tou mempunyai ketenangan yang tinggipun setelah mendengar perkataan itu hatinya terasa seperti digodam dengan martil besar, hawa murninya dengan cepat mengalir dari pusar membuat darah lega mengucur keluar dengan derasnya dari mulut luka dipundaknya.

Wajahnya mendadak berubah menghijau ia berdiri terkesima dan untuk beberapa saat lamanya tak mengerti apa yang harus dilakukan.

Karena hatinya kacau, maka ketetapan hatinya pun ikut goyang, nafsu membunuh mulai berkelebat memenuhi wajahnya. bilamana ada orang yang membakar hatinya sekali lagi mungkin ia segera akan turun tangan!

Ketika itulah mendadak terdengar suara bentakan yang amat keras dari Ciat Siauw siansu itu Hong tiang dari partai Siauw lim pay ; "Lie Siang ! aku datang membantu."

Bersamaan waktunya pula tampak seorang hweesio muda memutarkan tubuhnya ditengah udara kemudian bagaikan sebatang anak panah yang terlepas dari busur menubruk kesisi tubuh Lie Loo jie yang terkurung didalam kepungan keempat orang siancu dari perkumpulan Sin Beng Kauw itu.

Dengan demikian situasi pertempuran pun segera berubah sekalipun sukar untuk menentukan siapa yang menang siapa yang kalah tetapi kedua belah pihak sama-sama ngotot itu untuk bertahan pada posisinya masing-masing.

Si gadis cantik pengangon kambing yang melihat situasi pertempuran sudah berubah dalam hati baru bisa menghembuskan napas lega, sedang Liem Tou pun kembali jadi tenang. "Suhu aku akan mendengarkan perkataanmu !" dalam batinnya.

Baru saja ia selesai berpikir, mendadak suara tertawa keras yang amat menyeramkan kembali berkumandang masuk kesamping telinganya diikuti Boe Beng Tok su mengayunkan tangan kirinya sambil membentak nyaring :

“Liam Tou! apakah selama ini kau baik-baik saja? tentunya kau orang masih ingat dengan aku Ay Lauw…”

Liem Tou sudah tentu tak akan melupakan diri Ay Lauw Hek Tiauw atau sirajawali hitam dari gunung Ay Lauw Hek san, Sun Ci Si, ketika melihat jari tangan kirinya yang tinggal empat buah itu ia tertawa sedih.

“Sun Ci Si ! sebenarnya aku ada janji satu tahun dengan dirimu, untuk melakukan pembalasan dendam, tetapi aku sendiripun sama sekali tidak menduga kalau pada setahun yang lalu diatas puncak pertama gunung Cing Shia dihadapan jago-jago Bulim aku orang sudah mengunci tangan.

Yaaa …. sekarang akupun tidak ingin banyak bicara lagi, kau ingin potong kepala atau turun tangan kecil cepatlah turun tangan aku tidak akan balas menyerang."

Walaupun Sun Ci Si sendiri pernah juga mendengar bilamana Liem Tou telah mengunci tangan, tetapi selama ini ia tidak percaya, didalam anggapannya berita itu tentunya berita bohong atau siasat dari Liem Tou guna menghindarkan diri dari kepungan-kepungan musuh tangguhnya.

Tetapi kini, sesudah mendengar pengakuan dari pemuda itu sendiri, ia baru terkesima; untuk beberapa saat lamanya tak sepatah katapun, bisa diucapkan keluar.

Liem Tou yang melihat wajah Boe Beng Tok-su memperlihatkan sikap yang serba saIah segera tertawa terbahak-babak, sambungnya kembali. “Sun Ci Si, bilamana aku melihat dandananmu serta tanda pada dadamu mungkin kaulah kauw-cu dari Sin Beng Kauw yang namanya mulai terdengar di dalam Bulim ? Aku dengar kau sudah mengangkat dirimu sebagai kauw cu dengan julukan Boe Beng Tok su. Jika ditinjau dari hal ini tentunya kau sudah ada persiapan untuk menjagoi seluruh kolong langit bukan?"

Boe Beng Tok su melirik sekejap ke arah Liem Tou, kemudian ia mendengus dengan beratnya.

Pouw Siauw Ling yang ada disisinya ketika mendengar perkataan dari Liem Tou. mendadak sadar bilamana pemuda itu sudah mengandung suatu maksud tertentu, buru-buru selanya:

"Kauw cu, bilamana kau tidak cepat-cepat bereskan Liem Tou si bangsat cilik ini; bagaimana mungkin dirimu bisa tancapkan kaki didalam dunia persilatan ?"

"Pouw Siauw Ling !” Maki Lie Siauw Ie dengan gusar. "Kau tidak usah banyak bacot disini. Bilamana adik Tou sungguh- sungguh ada maksud untuk mencabut nyawamu, pada setahun yang lalu kau musnah dari bumi. Apakah kau tidak malu pada perbuatanmu pada saat ini?”

Pouw Siauw Ling jadi amat gusar.

“Liem Tou sudah membunuh ayahku bahkan memenggal batang lehernya, bilamana dendam ini tidak kubalas, bagaimana aku bisa bertanggung jawab terhadap arwah ayahku?”

Mendengar perkataan itu Liem Tou segera tertawa terbahak-bahak dengan kerasnya, dia mencegah perdebatan sengit antara Lie Siauw le dengan Pouw Siauw Ling lalu terhadap Boe Beng Toksu ujarnya:

“Sun Ci Si aku orang she Liem sudah berkata kalau diriku pada saat ini telah mengunci tangan, sekalipun ada orang yang bermaksud untuk membunuh dirikupun, aku tidak akan membalas. Tetapi aku sebelumnya, aku ingin memperingatkan kepadamu. bilamana kau ingin tancapkan diri didalam Bu lim dalam kedudukan terhormat maka janganlah sekali-kali melanggar peraturan Bu lim; kalau tidak kendati aku Liem Tou mati ditanganmu pun kau tak bakal punya muka lagi untuk munculkan diri didalam Bu lim."

Pouw Siauw Ling yang mendengar perkataan itu sampai disitu wajahnya kontan berubah hebat. dalam hari ia benar- benar terasa takut bilamana hati Boe Bang Tok-su benar- benar kena dibakar sehingga meninggalkan tempat itu.

Karena pergaulannya selama beberapa buIan ini sudah cukup baginya untuk bisa meraba sifat dingin dan sifat kesombongan darl Boe Beng Tok su, biarpun dalam saat gusar ia sangat berbahaya dan bisa bertindak keji, tetapi perubahan sikapnya luar biasa pula.

Bilamana dibiarkan terus dan digosok pula oleh Liem Tou, mungkin sekali ia bisa angkat kaki.

Pouw Siauw Ling yang takut kejadian itu sampai terjadi, segera angkat cambuknya menghantam kedepan.

“Liam Tou ! Kau berani memaki kauw-cu kami!” bentaknya.

Cambuknya dengan disertai sambaran angin yang tajam menyapu datang tetapi baru saja cambuknya meluncur sampai ditengah jalan mendadak batok kepalanya terasa seperti ditekan dengan segulung angin pukulan yang maha dahsyat hal ini membuat dia jadi menjerit kaget dan meloncat mundur kearah belakang.

Ditengah ruangan Cie Ing Tong mendadak melayang turun Oei Poh itu akan murid dari si Cing Liong To Si Piauw tauw wajahnya sukar untuk dilukIskan dan dengan tajam ia melototi Pouw Siauw Ling sambil bertertak: "Kau tidak usah berlagak jago! Kau tidak usah berlagak jago !”

SambiI berkata mendadak dia putar badan dan mengirim satu pukulan kearah Liem Tou.

“Liem Tou !” bentaknya keras, “Asalkan aku bisa melampiaskan kemangkelan hatiku maka urusan bakal beres sudah, kau terimalah pukulanku ini !”

Lie Siauw Ie serta si gadis cantik pengangon kambing sama sekali tidak menduga dia bisa melancarkan serangan secara tiba-tiba, didalam keadaan terperanjat mereka berdua buru- buru mendorongkan sepasang telapaknya untuk memunahkan datangnya serangan tersebut.

Siapa sangka ilmu pukulan yang digunakan Oei Poh pada waktu itu adalah ilmu pukulan “Sian Hong Cian” dari Heng san pay. Walaupun angin pukulannya menyambar dari depan tetapi kekuatan serangannya memutar dari belakang tubuh.

Baru saja sepasang telapak Lie Siauw Ie serta sigadis cantik pengangon kambing dilancarkan kedepan, terdengarlah Liem Tou mendengus berat tubuhnya terjengkang maju satu langkah kedepan.

Walaupun begitu sang pemuda tidak sampai memuntahkan darah segar; jelas Oei Poh sudah turun tangan ringan terhadap dirinya.

Oei Poh yang melihat serangannya berhasil mencapai pada sasarannya dengan amat gembira ia tertawa tergelak, kemudian meloncat ketengah udara sambil serunya.

"Liam Tou; untuk ini hari urusan diantara kita aku permisi sampai disini dulu!”

Tubuhnya yang ada ditengah udara berjumpalitan beberapa kali kemudian laksana sambaran kilat meluncur kearah Pouw Siam Ling. Pouw Siauw Ling ketika melihat Oei Poh memiliki gaya gerakan yang begitu indah buru-buru melintangkan cambuk Pek Kut Pian-nya keatas kepala untuk menantikan datangnya serangan dari pihak musuh.

Hanya didalam sekejap saja seluruh ruangan sudah dipenuhi dengan bayangan Oei Poh seorang diri yang menyambar kian kemari, sedang jagoan lainnya pada berdiri melongo-longo disisi kalangan.

Sebaliknya Lie Siauw Ie serta sigadis cantik pengangon kambing dengan cemas membimbing bangun tubuh Liem Tou.

"Kau sudah terluka? Bagaimana dengan keadaan lukamu?" Tanya kedua gadis itu dengan hampir berbareng.

Air muka Liem Tou pada saat itu amat pucat sedang keadaannya rada payah kepalanya terasa amat pening sedang dadanya mual, untung saja tenaga dalam yang dimilikinya sudah mencapai pada taraf kesernpurnaannya. Setelah mengatur pernapasan beberapa saat lamanya perasaan itu berhasil ditekan keluar dari dalam tubuhnya.

"Aaakh …… tidak mengapa !” sahutnya kemudian sambil tertawa ketika mendengar pertanyaan dari dua orang gadis itu. “Oei Poh tidak akan bertindak kejam. Kemungkinan pula ia bukan hanya sekali saja mendatangi perkampungan Ma Mo san cung kita ini !”