Raja Silat Jilid 30

 
Jilid 30

BARU saja dia selesai membentak dari balik pepohonan terdengarlah berkumandang datang suara tertawa yang amat keras disusul munculnya seorang kakek tua yang rambut serta jenggotnya sudah putih semuanya, sambil tertawa dia berjalan mendekat.

“Kalian dua orang engkoh cilik bunuh ini bunuh itu, sebetulnya siapa yang mau membunuh siapa ?" tanyanya.

Saat ini hati Liem Tou sudah dibuat kebingungan dan kacau oleh perkataan yang diucapkan oleh Oei Poh itu, mendengar perkataan tersebut dia segera mengerutkan alisnya rapat- rapat kemudian tanpa mengucapkan sepatah katapun segera putar badannya siap siap meninggalkan tempat itu.

Siapa tahu pada saat itulah terasa ada segulung angin pukulan yang menyambar datang dari belakang badannya. Liem Tou yang sama sekali tidak menduga datangnya serangan tersebut dalam hati merasa sangat terperanjat, baru saja dia mau melihat lebih jelas lagi tahu tahu angin pukulan itu sudah berubah arah putar menyerang dari depan badannya.

Kali ini Liem Tou benar benar dibuat gelagapan, seketika juga tubuhnya terdesak oleh datangnya angin serangan tersebut sehingga mundur tiga langkah kebelakang. Baru saja Liem Tou berhasil berdiri tegak terdengarlah kakek tua yang rambutnya sudah memutih semua itu telah tertawa terbahak bahak dengan amat kerasnya.

“Hey erngkoh cilik, jika dilihat dari sinar matamu kelihatannya kau mempunyai asal asul yang besar, haa . . baa . . siapa sangka ternyata ssma sekali tidak becus.”

Sejak berhasil melatih ilmu silat dari kitab pusaka To Kong Pit Liem Tou belum pernah menderita kekalahan seperti kejadian ini hari sudah tentu rasa terperanjatnya kali ini sukar untuk dilukiskan, bersarnaan pula dia merasa amat gussr sekali.

“Aku sama sekali tidak kenal dengan dirinva. Kenapa dia melancarkan serangan membokong diriku?” Pikirnya di dalam hati.

Berpikir sampai disini mendadak ia memutar badannya. tampaklah si kakek tua berambut putih itu masih tertawa dengan senang-nya.

Mendadak ujung bajunya kembali dikebut kedepan, terasalah segulung angin pukulan yans amat keras menyerang kearah Oei Poh dengan gaya yang sama seperti tadi.

Oei Poh yang tak mengetahui akan kelihayan dari datangnya angin pukulan si kakek tua itu segera menperkuat kuda-kudanya lalu dengan mengerahkan seluruh tenaga dalam yang di milikinya menyambut datangnya serangan tersebut dengan keras lawan keras.

Siapa tahu baru ssja pukulannya didororong kedepan bayangan musuh sudah lenyap tak berbekas membuat dia jadi sempoyongan ke depan.

Dengan rasa yang amat terperanjat dia segera menarik kembali angin serangannya, pada saat itulah terasa ada segulung angin pukulan yang amat keras sudah menghantam punggungnya membuat dia tak kuasa lagi segera jatuh tersungkur keatas tanah.

Sewaktu merangkak bangun kembali matanya sudah terbelalak besar sedang mulutnya melongo.

Liem Tou yang dikalahkan oleh kakek tua itu dalam hati merasa rada tidak terima, dengan wajah yang amat marah dia membentak.

"Kiranya sudah kedatangan seorang jagoan berkepandaian tinggi, kita saling tidak kenal satu sama lainnya, kenapa dengan meminjam kesempatan orang lagi tidak siap kau melancarkan serangan bokongan?” Kakek tua itu cuna tertawa keras saja.

"Engkoh cilik ! bilamana aku sungguh sungguh hendak berkelahi dengan kalian apa kalian kira bisa menangkan aku ?" katanya sambil tertawa tergelak. "Tetapi . . haruslah kalian ketahui aku terpaksa turun tangan memberi hajaran kepada kalian hal ini dikarenakan telinga aku si orang tua tidak terbiasa mendengarkan kata kata saling bunuh membunuh yang kalian ucapkan tadi."

"Tidak kusangka sama sekali kau orang tua yang usianya sudah lanjut masih suka saja mengurusi pekerjaan orang lain .

. !" Teriak Liem Tou pula dengan gusar. "Jika didengar dari pada suaramu agaknya kau memiliki kepandaian silat yang amat tinggi, Hm. mari, mari, aku minta beberapa jurus petunjuk darimu, aku mau lihat apakah kau berar benar sangat luar biasa !"

"Apa? kau berani menantang bertempur dengan aku .. ?" gertak si orang tua berambut putih itu sambil melototkan matanya. "Apakah badanmu sudah benar benar gatal sehingga minta digebuk ? Aku orang paling tidak suka bermain geguyon dengan bccah cilik seperti kalian-kalian ini!" Mendadak suatu pikiran sudah berkelebai dihati Liem Tou tangannya segera direntangkan kedepan siap siap menghadapi serangan.

Dugaannya sedikitpun tak salah, begitu selesai berbicara, kakek tua itu sudah mengebutkan ujung bajunya kembali kedepan.

Kali ini Liem Tou tidak mau tertipu lagi dia tahu walaupun serangannya dilancarkan dari depan, tetapi angin pukulan yang sebetulnya adalah menyerang dari belakang.

Terdengar si orang tua berambut putih itu tertawa terbahak bahak, ujung baju sebelah kirinya dengan cepat kirim satu pukulan lagi kedepan, kali ini serangannya adalah angin pukulan yang lurus kedepan. Liem Tou Tou yang sedang membelakangi musuh segera merasakan punggungnya tertekan hebat. tubuhnya jadi terhuyung huyung dan terdesak maju tujuh delapan langkah jauh-nya.

Seketika itu juga, air muka Liem Tou berubah sangat hebat, dan baru saja dia mau mengumbar hawa ararahnya tiba tiba teringat kembali olehnya akan semacam ilmu pukulan dari Heng San pay yang pernah dilihatnya dikitab pusaka Toa Loo Cin Keng, cuma sayang ilmu pukulan itu sukar dilatih dan sudah lama lenyap dari Bu lim sehingga dengan demikian tiada orang yang berhasil mempelajarinya.

“Hey orang tua tunggu dulu!" Teriak Liem Tou setelah berpikir sampai disitu.

"'Apakah kau adalah cianpwee dari partai Heng san Pay ?"

Mendengar pertanyaan itu si orang tua jadi tertegun, tetapi sebentar kemudian air mukanya sudah berubah sangat hebat. "Kau tidak usah banyak berbicara lagi bukankah kau minta pelajaran tiga jurus dari diriku ? sekarang baru satu jurus !" Tidak menanti jawaban dari Liem Tou lagi ujung jubahnya lantas dikebutkan kedepan segulung angin pukulan yang amat dahsyat segera menggulung kedepan.

Kali ini Liem Tou jadi lebih berpengalaman, dia sama sekali tidak mau menerima datangnya angin pukulan tersebut sebaliknya menyingkir kesamping untuk menghindarkan diri.

Siapa tahu angin pukulan dari si kakek tua itu seperti mempunyai serasang mata saja, baru saja tubuhnya menyingkir kesamping angin pukulan tersebut dengan mengikuti gerakan tubuhnya sudah berkelebat datang lagi.

Liem Tou segera merasakan tangan kirinya jadi amat sakit, dengan amat tepatnya angin pukulan itu menghajar badannya.

Hawa amarah mulai muncul dari dasar hati Liem Tou.

"Jurus kedua sudah lewat, cepat lancarkanlah jurus ketigamu !" Bentaknya.

Pada saat ini didalam hatinya dia sudah mengambil keputusan hawa murninya secara diam diam disalurkan mengelilingi seluruh tubuh.

"Haa . .haa . .engkoh cilik nyalimu sungguh tidak kecil" Teriak si kakek tua rambut putih itu dergan keras. “Sudah ada puluhan tabun lamanya tiada orang lain lagi yang berani menantang aku untuk berkelahi. Kalau begitu rasakanlah kelihayan dari aku si orang tua !”

Liem Tou tidak menjawab lagi, kuda kudanya lantas diperkuat siap siap menghadapi musuh.

Si kakek tua berambut putih itu kembali tertawa terhahak bahak, pukulan yang ketiga secara mendadak menerjang keluar dengan dahsyatnya.

Liem Tou segera mantapkan hatinya, kali ini tidak mau menghindar sebaliknya diam-diam mengerahkan tenaga murninya sampai delapan bagian lalu dibabat kedepan dengan amat gencar.

Segulung angin pukulan yang amat tajam dengan cepat menyambut datangnya tubuh si kakek tua itu.

Air muka siorang tua jadi berubah hebat, wajah yang semula merah padam kini sudah berubah jadi pucat pasi.

"Sungguh telengas seranganmu . . ." Bentaknya dengan keras.

Baru saja perkataannya selesai diucapkan, tiba tiba . . . "Braaak . . . ! " tubuhnya dengan kerasnya sudah kena dihantam satu kali oleh pukulan dari Liem Tou ini, dia segera terpukul mundur tiga langkah kebelakang dengan terhuyung- huyung, wajahnya yang pucat pasipun kini sudah berubah jadi menghijau sedang tubuhnya goncang dengun amat keras sekali.

Sebaliknya Lim Tou sendiripun terkena pukulan "Cian Hong Clang" dari kakek tua itu sehingga maju dua langkah kedepan, agaknya sikakek tua itu tidak bermaksud melukai dirinya sehingga walaupun badannya terpukul tapi sama sekali tidak terluka.

Akhirnya siorang tua berambut putih itu berhasil menenangkan badannya kembali

"Kau . . . kau murid siapa?" tanyanya sambil menuding dengan tangannya yang gemetar keras.

Melihat kejadian itu Lim Tou merasa rada menyesal. "Orang tua apakah lukamu parah?” tanyanya. "Bilamana bukannya kau memukul aku terlebih dulu, aku tidak akan . ." “Siapa yang nyuruh kau mengucapkan kata-kata itu?" Potong siorang tua berambut putih itu dengan keras. 'Cepat sebutkan siapakah gurumu dan berasal dari perguruan mana?”

“Boanpwee bernama Liem Tou, tidak mempunyai suhu maupun perguruan" jawabnya terpaksa "Bilamana harus berbicara sesungguhnya maka Thio Too Leng Sucouw adalah suhu boanpwee yang sebenarnya".

Mendengar jawaban itu siorang tua berambut putih jadi melengak.

“Kalau hegitu urusan ini sungguh aneh sekali.. Sungguh aneh sekali . . . haaayaa apakah aku sudah terluka dibawah serangan yang termuat didalam kitab pusaka To Tong Pit Liok?" teriaknya berulang kali.

Berbicara sampai disitu ia termenung sebentar, lalu secara mendadak angkat kepalanya dan membentak terhadap diri Oei Poh:

“Lalu siapakah kau? Apa sangkut pautnya dengan dia?"

Oei Poh sejak semula sudah melihat akan asal usul yang tidak kecil dari dia orang tua; mendengar pertanyaan itu dia lantas bungkukkan badannya memberi hormat.

"Boanpwee Oei Poh, dengan Liem Tou bukan sanak bukan keluarga, suhuku sigolok naga hijiu Sie Ie menemui aialnya karena siasat yang sudah dia lancarkan, aku mau bunuh dia . . aku bunuh dia untuk balas dendam suhuku " Selesai mendengar jawaban dan Oei Poh ini sambil menahan rasa sakit di dadanya tiba-tiba si orang tua berambut putih itu mencengkeram pergelangan tangan dari 0ei Poh, wajahnya dari pucat pasi kini berubah menjadi biru kehijau hijauan sehingga seram dipandang.

Sewaktu siorang tua berambut putih itu rrendengar Oei Poh dengan Liem Tou ada dendam dia segera membentak dengan suara yang sangat keras sekali :

"Bangsat cilik, kau tidak bersemangat bilamana kau benar benar punya nyali ikutilah aku kegunung Heng San !" Inilah merupakan suatu kesempatan yang selalu diidam idamkan oleh Oei Poh, mendengar perkataan itu dengan

paksa dia melepaskan diri dari cengkeramannya lalu jatuhkan diri berlutut dan menjalankan penghormatan empat kali, "Suhu !" panggilnya dengan keras. "Kau orang tua suka menerima aku sebagai muridmu, teecu Oei Poh tidak akan melupakan budi ini untuk selamanya."

Siapa tahu tiba tiba sikakek tua itu menjadi gusar sehingga rambutnya pada berdiri se muanya.

"Cuh . . !" segumpal darah segar sudah disemburkan keatas wajahnya disusul sepasang tangannya melayang merseni beberapa kali gapelokan keatas wajah Oei Poh.

Seketika itu juga Oei Poh jadi sembab dan bengkak sangat besar, saking tidak tertahan menahan rasa sakit yang menyerang pipinya dia jatuh terduduk keatas tanah.

Sebaliknya siorang tua yang karena mengumbar hawa amarah luka yang dideritanya didada mulai kambuh lagi; untuk kedua kalinya dia muntahkan darah segar.

Melihat kesemuanya ini dalam hati Liem-Tou merasa menyesal akan tindakannya tadi yang terlalu kasar, tidak terasa dia sudah berjalan mendekati si orang tua itu bermaksud untuk membimbingnya bantun. Baru saja dia berjalan dua langkah kedepan tiba tiba siorang tua berambut puiih itu sudah meronta bangun lalu bentaknya terhadap diri Liem Tou.

"Kau cepat nenyingkir dari sini ! Aku masih belum mati, aku masih bisa bergerak sendiri ! Sekalipun misalnya aku mati kau juga tidak boleh memegang badanku”

Terpaksa Liem Tou menyingkir kesamping dan dengan termangu mangu memandang dirinya.

Dengan perlahan siorang tua itu bangkit berdiri, setelah menenangkan hatinya dia segera menuding Oei Poh sambil memaki dengan mendongkolnya

"Kau manusia yang tidak kenal budi, manusia yang melupakan gurunya sendiri. Bukankah kau sudah angkat sigolok naga hijau sebagai gurumu kenapa didalam sekejap saja sudah bermaksud untuk mengangkat aku orang tua sebagai guru ?? aku beritahu padamu. aku tak akan mirip It Tiap yang sembarangan menerima murid sehingga mendatangkan nama yang jelek di Bu-lim membuat nama Heng san Pay jadi tak cemerling, tak bercahaya, aku tak akan menerima murid baru apa kau masih berlutut ditanah ?".

Walaupun Oei Poh mendengar siorang tua itu suruh dia bangkit berdiri tetapi mana dia mau melaksanakan perintahnya itu, cuma saja didalam hati diam diam lagi bsrpikir

:

"Kalau memangnya kau tak suka terima aku sebagai murid, kenapa tadi menyuruh aku ikut kegunung Heng san ?".

"Suruh bangun ya bangun, kenapa kau tak berdiri juga ?" Sekali lagi si orang tua itu membentak keras. “Kau harus mengetahui aku orang tua suruh kau pergi ke gunung Heng san sebetulnya hendak meaggembleng keteguhan hatimu saja, bersamaan pula paling banter aku cama turunkan satu dua macam ilmu saja kepadamu untuk mengalahkan sibocah cilik terseout, sudah . , sudanlah, ayo cepat berangkat” Sehabis berkata tanpa menggubris diri Oei Poh lagi dia putar badannya menerobosi hutan.

"Heeey . .. tak kusangka kalau 'To Kong Pit Liok" dari Shio Too Leng ini sangat dahsyat, tidak aneh kalau buku itu sudah lama sekali dicari orang tak ketemu juga. Hmm, soal ini tentu sudah diduga sebelumnya oleh Thio Too Leng. Kini kitab pusaka itu sudah miunculkan dirinya kembali, ada kemungkinan pembunuhan secara besar-besaran pun bakal terjadi."

Mendengar perkataan itu dalam hati Liem Tou merasa sedikit tergetar, teringat kembali olehnya sejak dia munculkan dirinya untuk pertama kali dari gunung Wu San maka selama beberapa bulan ini dia benar-benar sudah membunuh banyak orang, terutama sekali sewaktu ada dikuil Siang Lian Si, waktu itu dia benar-benar sudah mengumbar napsu membunuhnya.

Berpikir akan hal ini Liem Tou jadi merasa menyesal, mendadak teriaknya dengan keras :

“Cianpwee tunggu dulu, kalau Liem Tou ada sepatab kata yang hendak aku sampaikan"

Tetapi siorang tua itu tidak menoleh lagi dia cuma gelengkan kepalanya sambil menghela napas panjang.

"Sudah terlambat . . . tidak usah bicara lagi, tidak usah bicara lagi ! Tidak usah . . ."

"Kata kata tidak usah" 'yang ketiga kalinya keluar dari mulut dia sudah lenyap dibalik pepohonan.

Liem Tou yang hendak menyampaikan rasa menyesalnya segera meloncat kedepan dengan cepatnva didalam anggapannya si kakek tua yang lagi menderita luka pasti tidak akan pergi terlalu jauh, siapa sangka baru saja tiba dibalik pepohonan itu bayangan dari siorang tua itu sudah lenyap tak berbekas.

Liem Tou segera mengetabui kalau diri nya telah mengikat suatu bencana buat dirinya sendiri, dengan sedih dan lemasnya dia berjalan lagi ketempat semula.

Di tempat itu bayangan dari Oei Poh pun sudah lenyap tak berbekas, cuma diatas tanah tertuliskan beberapa huruf yang besar 'Asalkan aku sehari bernapas, dendam ini tak kan terlupakan."

Sewaktu menoleh lagi keatas kuburan dari si golok naga hijau, dia nenemukan potongan duri sudah tersebar memenuhi pusara, melihat akan hal ini Liem Tou segera mengetahui kalau rasa benci Oei Poh terhadap dirinya sudah sangat mendalam, dia tentu sudah berangkat kegunung Heng san untuk belajar ilmu.

Dengan rasa hati yang sedih Liem Tou berdiri termenung beberapa saat lamanya di depan kuburan sigolok naga hijau ketika dilihatnya sang surya sudah lenyap dibalik gunung diapun mulai turun dari bukit itu menuju kesamping sungai dengan langkah perlahan.

Dengan pandangan yang sayu dia memandang air sungai yang gulung-menggulung saling menyusul, hatinya terasa semakin sedih lagi.

Ketika teringat pula akan diri Lie Siauw Ie serta sigadis cantik pengangon kambing tidak kuasa gumamnya seorang diri : "Ie cici ! Wsn moay moay ! Aku tentu akan menarik diri dari dalam golakan dunia kang ouw, aku tidak akan menbunuh orang lagi ! Setelah pertemuan digunung Cing Shia untuk menyelesaikan dendam ayahku, aku akan . , . ."

Tiba tiba daritengah sungai berkumandang darang suara perahu yang menerjang ombak bergerak mendatang disusul suara tertawa terbahak-bahak yang amat keras sekali.

"Hey Liem Tou ! Aduh . . . kau bocah cilik ! Kiranya kau ada disini ..." teriak seseorang dengan keras.

Liem Tou dengan perlahan angkat kepalanya. tampaklah dari ruangan perahu tersebut muncul seorang manusia yang kate dengan badan yang sangat gemuk.

Lien Tou segera kenali orang itu bukan lain adalah si Thiat Sie sianseng, hatinya jadi merasa amat girang.

"Ah . . . Thiat Sie cianpwee kau hendak kemana ?” teriaknya pula dengan keras.

Perahu itu segera berputar dan melaju mendekati diri Liem Tou.

Setibanya di tepian Thiat Sie sian seng segera meloncat naik kedaratan dan dengan hangatnya menepuk nepuk pundak Liem Tou.

"Aaah - - Liem Tou ! kiranya kau benar-benar masih hidup haa--haa" serunya sambil tertawa keras. "Mereka semua bilang kau sudah mati, terapi aku percaya kalau perhitungan sie poa bututku tidak bakal salah, ha-- -ha - -ha tctapi pada waktu itu aku merasa ragu ragu juga karena menurut perhitungan siepoaku kau berada di suatu tempat yang sama sekali tiada sinar matahari. tetapi aku tidak percaya tempat itu bukanlab satu kuburan sebenarnya kau telah pergi kemana ?"

Liem Tou yang melihat Thiat Sie sianseng amat lincah dan gembira, rasa murung yang semula mencekam hatinya pun ikut tersapu bersih.

"Terima kasih atas perhatian yang cian-pwee curahkan kepadaku, padahal beberapa tahun ini aku selalu lari saja kesana kemari dengan menunggang kerbauku" jawab Liem Tou.

Sambil berkata mendadak dia memperlihatkan pula ilmu langkah Sah Cap Lak Thian Kang Pohnya, lalu sambungnya: “Tiat Sie cianpwee, akupun sudah mengajarkan permainanmu ini kepada kerbauku“

Thiat Sie Sianceng segera tertawa terbahak-bahak, pada saat itulah sisiucay buntung pun sudah meloncat kedaratan. Melihat munculnya dua orang cianpwee yang dikagumi. Liem Tou segera menjura memberi hormat.

"Aaaah .. . !" tiba tiba Thiat Sie Siameng menjerit kaget disusul targannya mencekai kencang tangan Liem Tou dan memperhati-kan wajahnya dengan teliti, air mukanyapun sudah berubah menjadi sangat serius sekali.

“Liem Tou, kenapa diatas wajahmu terdapat begitu banyak hawa kesialan ? aah ! disini terdapat garis pembunuhan yang membahayakan !"

Sembari berkata Thiat Sie Sianseng memegang tangan Liem Tou kencang- kencang, sepasang matanya melotot bulat bulat dan memandang Liem Tou tak berkedip, sepasang matanya yang tajam hampir hampir bcleh di kata hendak menembusi panca indera dari Liem Tou.

Liem Tou yang secara tiba tiba dikatai demikian dalam hati merasa sangat terkejut sekali, dia segera teringat kembali akan kata yang diucapkan oleh orang tua berambut putih tadi hatinya jadi bergidik bercampur sedih. tidak kuasa lagi dia sudah dijatuhkan diri berlutut dan berkata sambil tundukkan kepalanya rendah-rendah :

“Thiat Sie Sianceng, aku Liem Tou sudah terlalu banyak melakukan pekerjaan dosa, kali ini ada kemungkinan benar benar bisa mati. Loo cianpwee kau ada cara tidak untuk menolongku ? aku ingin “

Berbicara sampai disitu mendadak dia menutup mulutnya kembali.

"Kau ingin berbuat apa ?" tanya Thiat Sie Sianseng sambil melepaskan batok kepalanya. "Sebenarnya kau sudah melakukan pekerjaan dosa apa ? coba ceritakanlah.”

Liem Tou sama sekali tidak mengatakan kesalahamya, dia hanya menghela napas.

"Thiat Sie cianpwee ! Cianpwee siucay buntung ! kalian naik perahu lewat disini apakah hendak menuju ke gunung Cing Shia untuk manonton keramaian ??".

Thiat Sie sianseng tidak menjawab sebaliknya menarik Liem Tou untuk bangun.

"Liem Tou, kau dengan aku tidak sangkut paut maupun hubungan apapun. kau jangan berlutut terus, ayo cepat beritahu bagaimana kaupun mengetahui tentang urusan ini ?

?" Serunya keheranan. "Kami memang betul betul hendak berangkat kegunung Cing Shia untuk menonton pertempuran antara si cangkul pualam Lie Sang melawan si penjahat naga merah serta seorang hweesio yang hitam kurus dan kering itu".

Dia berpikir sebentar, lalu sambungnya lagi.

“Ahhh . . . ! masih ada dua orang manusia lihay lagi ! Heeeeei aku sendiri juga sampai dibuat keheranan bagaimana dua orang manusia lihay itupun bisa mengadakan perjanjian ditempat dan waktu yang sama pula? mereka berdua adalah si perempuan tunggal Touw Hong serta seorang pemuda yang kedengarannya memiliki kepandaian sangat tinggi. bagaimana

? apa kau pun mendengar tentang hal ini ?".

Liem Tou mengerti apa yang dimaksud sebagai psmuda lihay itu bukan lain adalah dirinya sendiri yang sudah mengakibatkan terjadinya suatu peristiwa disebuah hutan siong diluar kota Tang Yang tempo hari dia lantas tertawa pahit.

"Thiat Sie cianpwee, tahukah kau masih ada lagi Thian Pian Siauw-cu serta toosu-tooosu dari Bu tong pay ! bukankah cianpwee yang memberi tahukan kepada mereka ? mereka pun mau mencari sipenjahat naga merah untuk menuntut balas !"

“Liem Tou, kau bocah cilik semakin ku koay! bagaimana sampai urusan ini pun kau mengetahui dengan begitu jelas ?". Teriak Thiat Sie sianseng dengan suara yang keras. 'Apa kaupun bisa seperti aku si Thiat Sie menghitung kejadian yang akan dataag?”

"Soal ini sih bukan begitu ! Thian Pian Siauw cu adalah boanpwee yang undang dia pergi !" ujar Lism Tou tersenyum lalu gelengkan kepalanya dengan perlahan "Bu<ankab cianpwee yang memheritahukan kepada toosu toosu Bu tong pay lewat Heng san Jie Yu ? saal boanpweee bisa mendengarnya dengan mata kepala sendiri".

Tidak kerasa lagi Thiat sie sianseng mau-pun sisiucay buntung jadi dibuat terbelalak dengan mulut melongo, lama sekali baru terdengar Thiat Sie Sianseng menghembuskan napas lega.

"Bagaimana hal ini bisa terjadi? kau orang bukanlah si dewa mendengar jauh atau si dewa melihat jauh . „ urusan ini sungguh aneh sekali."

Si siucay buntung yang sifatnya berangasan Waktu ini tidak dapat menahan sabar lagi.. mendadak dia membentak keras. “Hey Liem Tou! Bilamana kau tidak suka menerangkan urusan ini dengan sejelas-jelasnva. Hee . . . hee ... hidungmu yang kecil itu akan aku gencet sampai keluar kecapnya. '. . . kau tahu sendiri bukan aku si siucay buntung paling tidak suka main-mam !".

Sembari berkata dia pentangkan lengannya yang tinggal sebelah untuk perlihatkan satu gaya yang amat aneh.

Liem Tou memandang sekejap kearahnya, setelah itu tertawa.

“Cianpwee kau jangan begitu terburu-buru ingin tahu ! soal ini tentu boanpwee akan ceritakan. Sesungguhnya sewaktu ada dikota Tang Yang tempo hari boanpwee sudah ada tiga kali bertemu dengan cianpwee sekalian cuma saja waktu itu cianpwee sekalian tidak melihat diriku. Pertama kali, sewaktu aku dengan menunggang kerbau melepaskan cianpwee sekalian dari kurungan para toosu dari Bu tong pay !”

Mendengar sampai disini baik Thiat Sie-sianseng maupun Sisiucay buntung sama-sama dibuat melotot, meieka memandang Liem Tou tanpa berkedip apalagi Sisiucay buntung itu saking terpesonanya air liurnya mengalir keluar membasahi bibirnya.

"Kedua kalinya sewaktu ada d kuil Siang Lian Si"" Terdengar Liem Tou meneruskan kata katanya. "Secara diam diam aku menahan datangnya angin pukulan jari beracun "Hek Khie Tok Ci" dari Thiat Bok Thaysu setelah itu dengan menunggang kerbau melakukan pembunuhan secara besar besaran terhadap para hweesio laknat” Berbicara sampai disanaa Si siucay buntung maupun Thiat Sie sianseng sudah mengeluarkan suara aah - - hii - - iih tiada hentinya mulut mereka terpentang lebar dan berdiri seperti patung. jelas hati mereka berdua di buat benar benar merasa kaget.

"Ketiga kalinya adalah waktu ada didalam kuil ditengah hutan Siong luar kota Tang Yang” ujar Liem Tou kembali. "Waktu itu aku menirggalkan gambar untuk permainan Touw Hong dan waktu itu pula mendengar cianpwee lagi memberi keterangan kepada Heng San Jie Yu kalau si penjahat naga merah yang sudah membinasakan diri Leng Cing Cian cien dari Bu tong pay "

Si siucay buntung serta Thiat Sie Sianseng yang mendengar penjelasan dari Liem Tou ini seperti baru saja bangun dari impian mereka merasa urusan terjadi diluar dugaan.

Pada saat itulah tiba tiba dari dalam perahu nelayan itu berkumandang datang suara bentakan serta makian yang teramat gusar;

"Bajingan cilik, bagus sekali kiranya kaulah yang sudah mencuri ayam panggangku lalu menyambit aku orang tua sehingga gigiku hampir rontok semua . , ! kau sudah berbuat salah kini masih menceritakan pekerjaanmu itu dengan bangga , , , kurang ajar ! kurang ajar ! kau bangsat cilik harus dihajar, aku mau libat ini hari kau bisa melarikan diri ke mana

?"

Ditengah suara bentakan yang amat keras itu dari dalam perahu nelayan ini berkelebat keluar sesosok bayangan manusia.

Begitu tiba dihadapan Liem Tou lantas melancarkan satu cengkeraman dahsyat menghajar dadanya.

Sekali pandang saja Liem Tou sudah tahu orang itu bukan lain adalah si pengemis pemabok, dengan terburu buru dia lantas berkelit kesamping dan bungkukkan badannya menjura. "Coei Kay cianpwee kau jangan salah paham dulu, boanpwee sama sekali tidak bermaksud mencuri ayam panggang cianpwee, waktu itu terpaksa boanpwee berbuat demikian karena takut sie poa dari Thiat Sie Sianseng berhasil mengetahui jejak dari diri ku, karenanya terpaksa boanpwee harus berusaha untuk memecahkan perhatian dari cian-pwee sekalian.” dia berhenti lalu lanjutnya.

"Cianpwee pengemis pemabok, kau jangan marah marah biarkan boanpwee minta maaf kepadamu !"

Si pengemis pemabok mana mau mempercayai atas perkataannya, tongkat penggebuk anjing yang ada ditangannya mendadak dengan disertai angin pukulan yang amat dahsyat menghajar kepalanya.

"Bocah cilik, kau masih mau mungkir?” teriaknya dengan suara yang keras. “Terang-terangan kau sudah mengincar ayam panggangku terus merebutnya pergi sekarang kau mau mungkir lagi ? Hnm ! sesudah kejadian itu kau pun melukis sebuah lukisan kepala ayam ekor burung hong untuk mencelakai orang lain, kau bocah cilik sungguh kurang ajar sekali ! Ini hari jika kau tidak suka berlutut untuk minta ampun, nyawa kecilmu tidak akan lolos dari tongkatku ! terimalah seranganku!”

Jurusnya diubah mendadak dengan menggunakan jurus "Heng Siauw Ciang Cin" atau menyapu hancur selaksa tentara dia membabat pinggang sang pemuda.

"Hmmm ! Jurus serangan yang begitu jeleknya hendak digunakan untuk menghadapi aku, bukankah hal ini sama saja dengan orang buta main petak, membuang tenaga dengan sia-sia ?? " pikir Liem Tou dihati.

Berpikir akan hal itu Liem Tou tidak menghindar 1agi, hanya ditempat seluas tiga depa dia menghindar dan menyingkir kesana kemari untuk berkelit dari seluruh serangan sang pengemis.

Si penoemis pemabok yang melihat serangannya tidak mencapai hasil bahkan sampai menjawil ujung bajunya pun tidak berhasil, diam diam dalam hati lantas berpikir.

“Bocah cilik ini ternyata sungguh sungguh luar biasa, bilamana dia balas melancarkan serangan bukankah sejak tadi aku sudah berhasil dikalahkan olehnya ?"

Permainan tongkat segera diubah, dengan menggunakan jurus jurus serangan dari ilmu tongkat 'Kioe Kioe Lian Huan Pang Hoat yang paling diandalkan dia mulai meneter musuhnya.

Jurus serangan ini amat dahsyat sekali setiap serangan pasti mengandung gerakan yang ganas dan membahayakan, seketika itu juga seluruh angkasa dipenuhi dengan suara menderunya angin pukulan. bayangan tongkat berkelebat menyilaukan mata . . .sepuluh kaki disekeliling tempat itu seketika itu juga terkurung didalam bayangan tongkatnya.

Haruslah diketahui dari antara Tionggoan Ngo Koay, si pengemis pemabok adalah orang yang pertama tama mempunyai nama besar didalam Bu lim, jejaknva yang tidak menentu dan sering suka menangkapi ular ular serta binatang binatang beracun untuk dimakan membuat sifatnya serta penghidupannya amat aneh, dengan demikian namanyapun jauh terkenal dari pada si siucay buntung, Thiat Sie sianseng, sihweesio mayat hidup serta si pembesar buta.

Sedangkan mengenai tongkat pemukul anjingnya itu hamrir hampir sudah berhasil dilatihnya hingga mencapai kesempurnaan. jago jago yang sudah menemui kekalahannya di bawah serangan Tah Kau Pang ini boleh dikata tiada sedikit jumlahnya.

Waktu ini benar benar bermaksud untuk menjajal kepandaian silat dari Liem Tou dia merasa sama sekali tidak percaya kalau kepandaian silat dari Liem Tou amat tinpgi sekali sehingga sewaktu mencuri ayam panggangnya diluar kota Tang Yang dia tidak berhasil melihat bayangan tubuhnyapun. Serangan yang dilancarkan keluar semakin lama semakin gencar dan semakin dahsyat lagi, dia menyerang bagaikan menghadapi musuh tangguh sedikitpun tidak mau kendor maupun mengalah.

Liem Tou sedikitpun merasakan kepandaian silat dari sipengemis pemabok ini sudah berhasil dilatih sehingga mencapai pada kesempurnaan, dia mulai menghadapinya dengan sikap yang jauh berbeda, seluruh perhatian-nya dipusatkan untuk menghadapi sipengemis dengan jauh lebih berhati hati lagi.

Tiat Sie sianseng serta sisiucay buntung yang ada disamping kalangan sewaktu melihat sipengemis pemabok sudah mengeluarkam ilmu simpanannya yang jarang bisa dilihat segera mengetahui juga maksud hatinya, si Siucay buntung tetap bungkam diri sambil memperhatikan gerakan tubuh dari Liem Tou sebaliknya si Thiat Si Sianseng tidak bisa menahan rasa gelinya, dia tertawa terbahak bahak.

"Hey pengemis busuk, Liem Tou bisa mencuri ayam panggangmu tanpa bisa kau lihat bayangan tubuhnya, apa kau kira ilmu Tah Kau Pang mu ini bisa dipandang sebelah mata oleh dia orang?"

Liem Tou pun pada saat itu bisa melihat maksud si pergemis pemabok yang ingin mengalahkan dirinya, dalam hati dia lantas mengambil keputusan untuk sedikit mengalah terhadap diri si pengemis pemabok itu.

"Hey cianpwee pengemis pemabok, cepat tarik kembali tongkatmu . . . aduh .. ampun, boanpwee tidak kuat untuk bertahan lagi !" teriaknya berulang kali.

Tetapi dia masih belum juga meninggalkan kalangan seluas tiga depa itu, bahkan membalas pun tidak.

Selama ini dia selalu saja menghindarkan diri dengan menggunakan gerakan tubuh yang amat aneh sekali, hanya dengan beberapa gerakan yang sederhana saja dengan mudahnya dia telah dapat memunahkan datangnya serangan tongkat tersebut

Ada beberapa kali kelihatannya dia tidak bakal berhasil lolos dari serangan tongkat yang dahsyat dari sipengemis pemabok itu tapi hanya sedikit dia goyangkan dan dengan sangat mudahnya Liem Tou kembali berhasil lolos dari kurungan.

Si siucay buntung yang melihat gerakannya itu diam diam merasa keheranan, pikirnya.

"Sebenarnya bocah cilik ini menggunakan cara apa sih ?" “Cui Kay cianpwee . . , kau ampunilah diriku untuk kali ini," terdengar si Liem Tou sudah merengek rengek kembali. "Aku benar benar tidak kuat menahan dirimu lagi. aduh . . . !

Celaka jurus pukulan "Coen Kauw Lah Liauw" atau anjing

terjongkok terkencing kencing ini harus aku hindari dengan cara apa ?"

Dia bungkukkan badannya, sedang sepasang kaki berkelebat menghindarkan diri dari serangan itu, setelah itu teriaknya kembali :

"Hwaduuuh . . . celaka     !" "Aku Kauw Yauw Jien" atau

sianjing busuk menggigit orang. "Sam Kiauw Kauw Sa Liauw" atau si anjing kaki tiga ngompol. "lie Ci Kauw Tauw Wie Pah" atau dua ekor anjing menggigit ekor Coei Kay cianpwee,

apa kau sungguh sungguh mau mencabut nyawaku ?"

Mendadak bagaikan putaran roda kereta dengan cepatnya dia meloncat ketengah udara lalu jatuh bergelinding keatas tanah dengan mudahnya dia berhasil menghindarkan diri dari ketiga buah serangan dahsyat tersebut.

Kali ini sisiucay buntung bisa melihat semua kejadian dengan amat jelas melihat sang pemuda berhasil menghindarkan diri dari ketiga jurus tersebut dengan manis tidak kuasa lagi dia lantas berteriak memuji :

"Ilmu bagus . .ilmu sakti cuma ssyang gerakannya terlalu kasar !" "Haa . . haa. . haa . .hey pengemis busuk, aku lihat lebih baik kau tahu diri dan cepat cepat menarik kembali seranganmu" Seru Thiat Sie Sianseng pula tertawa terbahak- bahak. " Sejak semula Liem Tou cuma menggunkan ilmu langkah Sah Cap Lak Kang Poh Hoatnya saja kau sudah tidak bisa mengapa apakan dirinya, buat apa kau bertempur lebih lanjut ? apalagi tempat yang dipijakpun tidak lebih daii tiga depa saja apa kau masih merasa tidak puas ?”

Si siucay buntung yang tidak secermat Thiat Siesianceng setelah mendengar perkataan ini dia lalu memperhatikan dengan teliti sekali, sedikitpun tidak salah ! apa vang diucapkan oleh si tukang ramal ini ternyata cocok semua, seketika itu juga didalam hati dia merasa benar benar kagum terhadap Liem Tou.

Dengan menggunakan kesempatan inilah Liem Tou pun lalu berteriak dengan keras :

"Coei Kay Cianpwee .. . sudah . . . sudah-lah. jangan berkelahi lagi, nanti boanpwee ganti seekor ayam panggang .. bahkan mengundang juga Cianpwee sekalian untuk minum arak sepuas puasnya dirumah makan .. bukankah dengan begitu boleh juga”

Setelah mendengar perkataan itu si pengengemis pemabok baru menarik kembali tongkat Tah Kau Pang-nya, dengan wajah merah dan napas sedikit ngos ngosan diapun tersenyum.

"Haaaa... haaaa... nah begitu” katanya. Padahal hal yang sebenarnya waktu ini dia pun sudah merasa kalau dirinya bukanlah tandingan dari Liem Tou. diam diam dia pun merasa amat kagum atas kemajuan pesat yang diterima Liem Tou.

Sehabis tertawa terbahak bahak mendadak dia menarik tubuh Liem Tou dan membentak lagi:

"Hey, bukankah kau hendak menjamu kami ? ayoh cepat jalan, liur arak yang ada di tenggorokan aku si pengemis tua sudah mulai merambat keatas . , ayoh cepat . . ayoh cepat .. aku sudah kepingin cepat cepat minum arak!"

Tidak peduli segalanya lagi, tanpa memanggil si siucay buntung serta Si Thiat Sie sianseng dia lari kedepan sambil menarik tangan Liem Tou.

Ditengah malam buta yang gelap, mereka berdua dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya yang amat tinggi, bagaikan kilat cepatnya berlari menuju ke kota Hong Kiat.

Sejak semula Thiat sie sianseng sudah dapat melihat kalau Liem Tou cuma menghindar dengan menggunakan ilmu langkah Sah Cap Lak Thian Kang Poh Hoat saja. tetapi setelah ditelitinya lebih cermat dia segera merasakan kalau didalam ilmu langkah itu secara diam diam sudah terselip suatu perubahan yang sangat mendalam hal ini membuktikan

kalau kepandaian dari pemuda itu sudah memperoleh kemajuan beberapa kali lipat.

Semakin nelihat Thiat Sie sianseng merasa semakin girang, kini nampak sipengemis pemabok sudah pergi sambil menarik tangan Liem Tou, dia pun dengan cepatnya menyambar tangan si siucay buntung.

“Loo jan , . , ayo kita pun harus pergi.”

Dengan mengerahkan seluruh tenaganya dia melakuksn pengejaran kearah depan.

Jarak sejauh sepuluh lie hanya dilalui didalam beberapa saat saja, hanya didalam waktu yang sangat singkat mereka sudah saling susul menyusul masuk kedalam kota.

Waktu itu lampu sudah mulai dipasang, mtreka berempat yang mempunyai dandanan aneh segera menarik perhatian orang banyak, masing masing lantas mulai membicarakan keadaan dari mereka itu.

Mereka berempat tidak banyak mengurusi hal tersebut, dengan langkah yang lebar segera berjalan masuk kedalam sebuah rumah makan yang terbesar dikota Hong Kiat itu,

Si pengemis pemabok sedikitpun tak sungkan sungkan begitu duduk dia lantas berteriak :

“Heeei pelayan.”

Pelayan vang mendengar seorang pengemis busuk seperti dia ternyata sudah memanggil sayur demikian mahal serta banyaknya, saking terkejutnya mata pada meiotot mulut melongo-longo ., . untuk beberapa saat lamanya dia berdiri termangu-mngu disana.

Sipengemis pemabok yang melihat dia di-buat tertegun, hatinya jadi kurang senang.

“Hei bukannya cepat cepat ambil sayur yang aku pesan buat apa kau berdiri melongo-longo disini ayoh cepat pergi, bawa kemari dulu seguci arak.”

Liem Tou yang melihat sikap dari pelayan itu dalam hati lantas mengerti apa yang sedang dipikirkan olehnya, diapun lantas membentak.

“Hei Coei Kay loocianpwee suruh kau ambil arak kenapa tidak ambil ?”

Liem Tou yang memakai kain jubah hijau kelihatan seperti kongcu kaya, sang pelayan yang mendengar perkataan itu dengan terburu-buru lantas berlalu.

Tak lama kemudian sang pelayan sudah datang dengan membawa seguci arak Pek Lian Hoa yang amat harum baunya.

Sipenpemis pemabok yang dapat mencium bau harum itu. air liur mulai menetes keluar membasahi mulutnya.

“Akhh . . . akhh , .. arak wangi ... arak wangi,” pujinya dengan keras.

Tidak nanti lagi guci arak itu lantas dipeluk dan diteguknya hingga habis separuh, setelah itu dia baru menghembuskan napas panjang.

“Liem Tou.” Teriaknya, “Malam ini kau ada perintah apa silahkan dibicarakan, aku sipengemis tua asalkan ada arak yang bisa diminum sekalipan harus korbankan nyawa juga akan aku kerjakan menurut kemauanmu itu” Liem Tou yang mendengar perkataan itu tidak kuasa lagi lalu menghela napas panjang.

Sisiucay buntung sipengemis pemabok serta Thiat Sie Sianseng yang tidak mengerti mengapa secara tiba tiba Liem Tou menghela napas panjang dalam hati merasa keheranan.

Sipengemis pemabok tidak dapat menahan sabar lagi. mendadak dia melancarkan cengkeramannya mengancam pergelangan tangan dari Liem Tou. “Hey pengemis busuk, kenapa kau orang tidak pakai aturan, sedikit turun tangan lantas main cengkeram ?” Seru Sisiucay buntung sambil melancarkan serangan pula menahan pergelangan tangan dari sipengemis pemabok itu.

sipengemis pemabok yang pergelangan tangannya kena ditangkap dalam hati jadi jengkel.

“Hey buat apa kau main main dengan aku?” makinya. “Aku sipengemis tua paling suka terus terang, aku mau tanyai dia kenapa menghela napas panjang.”

Sambil berkata dia meronta berusaha untuk melepaskan diri dari cengkeraman sisiucay buntung. seketika itu juga diantara mereka berdua jadi saling berebut.

Thiat Sie siangseng yang melihat sisiucay buntung sedang ribut dengan pengemis pemabok dia tak ambil perduli, dengan perlahan menoleh kearah Liem Tou.

“Liem Tou, kelihatannya kau ada suatu keluhan. coba kau ceritakan,” katanya.

“Thiat Sie cianpwee, haruslah kau ketahui kepandaian silat yang aku miliki saat ini adalah berasal dari kitab pusaka To Kong Pit-Liok” ujarnya sedih. “Tetapi karena kitab pusaka To Kong Pit Liok itulah sudah membawa napsu membunuh buat diriku sehingga banyak melakukan kejahatan. Setelah pertempuran di gunung Cing Shia kali ini aku bermaksud untuk mengunci kembali tanganku dan tidak bertempur dengan orang lain.”

“Oo,. kiranya begitu” seru Thiat Sie sianseng paham kembali. “Tak aneh kalau kepandaian yang kau miliki sangat tinggi sekali, tetapi kau yang baru saja munculkan dirinva satu tahun bagaimana boleh msngunci tanganmu ? hal ini benar benar membuat aku tidak paham.”

Si pengemis pemabok serta sisiucay buntung yang mendengar Liem Tou berhasil melatih ilmunya menurut kitab pusaka To kong Pit-Liok segera pada berhenti beribut. dengan tenangnya mereka mendengarkan apa yang diucapkan oleh sang pemuda.

Demikianlah maka Liem Tou segera menceritakan bagaimana dia terjatuh dari atas jembatan pencabut nyawa serta seluruh kejadian yang pernah dialami dengan jelas.

Ketiga orang yang mendengar kisahnya itu lantas melongo- longo, bernapas lebih keras pun tidak berani.

Thiat Sie Sianseng yang mendengar kemunculannya seorang kakek tua berambut putih dalam hatinya merasa keheranan, dia berpikir sebentar kemudian menoleh kearah si pengemis pemabok.

“Hey pengemis busuk, tahukah kau siapakah orang itu ?”

Saat ini sipengemis pemabok sudah ads tiga bagian terpengaruh oleh air kata kata, matanya lantas mendelik. “Perduli siapakah dia siorang tua yang tidak tahu urusan lantas turun tangan memang seharusnya terima ganjaran yang setimpal, sekali pun mati juga tidak perlu disayangkan” teriaknya.

“Ilmu pukulan Sian Hong Ciang adalah ilmu sakti dari Heng San pay yang sudah lenyap beberapa tahun yang lalu” ujar Thian Sie sianseng dengan wajah serius.

“Tetapi menurut apa yang aku dengar dari suhuku pada tiga puluh tahun yang lalu dari pihak Heng San pay masih ada seorang bisa menggunakan ilmu pukulan semacam itu, cuma saja orang ini sifatnya tidak suka berkelahi sehingga jarang sekali munculkan dirinya didalam Bu lim, bagaimana asal usulnya serta bagaimana kedudukannya siapa pun tiada yang tahu, tetapi dia paling suka ber-pesiar kesemua tempat kenamaan sekali pun misalnya turun tangan dia pun tidak suka melukai orang, paling-paling cuma menggoda orang saja

. . .tapi siapakah dia aku pun tidak tahu.”

Si pengemis pemabok yang mendengar perkataan itu lantas mengerutkan alisnya rapat-rapat.

“Kalau demikian adanya maka Liem Tou memang sudah turun tangan terlalu berat” katanya.

“Ah . . aku teringat sekarang, cianpwee apakah pernah mendengar di Heng san pay ada seorang bernama It Tiap Ceng jien?”

“Siapapun tahu” jawab si pengemis pemabok sehabis meneguk araknya “Toosu ini sudah terima murid sebanyak tiga puluh enam orang dan bermaksud hendak membangun kecemerlangan dari Heng San pay, tetapi karena muridnya yang terlalu banyak inilah didalam tubuh Heng San pay sendiri sudah terjadi pergolakan diantara orang orang sendiri yang mengakibatkan saling bunuh membunuh, hanya di dalam sekejap saja bakat bakat baik pada musnah... : .

.kecemerlangan dari Heng San pay pun hancur berantakan. It Tiap Ceng jien yang mendengar berita ini dalam hati bisa jengkel dan akhirnya mati, tetapi urusan ini sudah terjadi pada seratus tahun yang lalu, buat apa kau menanyakan soal ini?”

Setelah mendengar perkataan tersebut air muka Liem Tou berubah semakin pucat, lama sekali dia dibuat tertegun. “Aku lihat agaknya siorang tua berambut putih itu saudara seperguruan dari It Tiap Ceng Jien” serunya.

Mendengar perkataan tersebut, Sisiucay buntung, sipengemis pemabok serta Thiat Sie sianseng jadi merasa sangat terkejut.

“Liem Tou, tidak aneh kalau gara garamu kali ini mengakibatkan wajahmu dipenuhi dengan hawa yang membahayakan.” Ssru Thiat Sie sianseng dengan hati kuaiir. “Tetapi jikalau dilihat cahaya terang yang ada di keningmu aku rasa walaupun ada bahaya tetapi tidak pada sekarang baiklah biar aku hitungkan lagi buat dirimu.” Liem Tou yang mendengar dia orang suka menghitungkan kembali buat dirinya dalam hati juga merasa amat girang, dengan cepat dia bangun untuk memberi hormat.

“Cianpwee suka memberi petunjuk kepadaku, boanpwee benar2 mengucapkan banyak terima kasih” katanya.

Thiat Sie Sianseng tidak banyak bicara lagi, dia lantas duduk kembali kstempatnya semula dan mulai memukul biji sie poanya pulang pergi sedang mulutnya tiada hentinya bergumam.

“Angin hitam bertiup dari enpat penjuru sinar lampu lilin penuh berasap menggelapkan suasana, angin taufan meneteskan air mata.”

Lama sekali Thiat Sie Siangseng pandangi sie poanya tanpa mengucapkan sepatah kata pun agaknya dia lagi memikirkan maksudnya.

Liem Tou yang mendengar dari suara gumamnya mengandung kata kata Pergi, Air mata. Sepi dan Sedih dalam hati merasa rada kurang tenang.

“Thiat Sie cianpwis, apa kau tahu maksudnya?” tanya sang psmuda dengan cemas.

Thiat Sie Sianseng yang dibuat sadar dari lelamunannya oleh teriakan Liem Tou segera menghela napas panjang.

Liem Tou yang mendengar dia orang menghela napas panjang, hatinya mulai merasa berdebar dengan amat kerasnya.

“Liem Tou” terdengar Thiat Sie Sianseng berkata kembali “Jika dilihat dari musuhmu yang begitu banyak dikemudian hari kau bakal menemui satu bencana, cuma saja bencana ini walaupun ada bahaya tapi tidak sampai membahayakan jiwamu bahkan ada suatu ketika bisa menjadi tenang kembali, tapi kau harus diam! ingat perubahan dikemudian hari masih bisa berganti lagi sesuai dengan keadaan, pokoknya kau ingat saja perkataanku, asal hati lurus, kejadian yang tidak diinginkan bakal musnah sendiri, kau tidak perlu sedih lagi memikirkan hal ini.”

Liem Tou bungkam tidak menjawab.

"Liem Tou" ujar Thiat Sie sianseng lagi dengan suara yang lirih.

"Urusan ini tergantung kelakuan orangnya musuh tangguh yang paling kesalkan hatimu saat ini ada kemungkinan orang tua bsrambut putih dari Heng san Pay, menunggu setelah urusan digunung Cing Shia selesai coba kau

pergilah ditempat kediamannya untuk minta ampun, ada kemungkinan bencana ini pun bakal sedikit mendapat keringanan.”

Liem Tou segera mengangguk, setelah menghabiskan isi cawannya dia lantas berkata :

"Cianpwee bisa menaruh perhatian yang begitu serius terhadap boanpwee dalam hati aku merasa sangat berterima kasih sekali! Pertemuan dipuncak pertama gunung Cing-Shia kali ini ada kemungkinan sudah tersiar luas didalam Bu lim, jago-jago yang ada berkumpulpun ada kemungkinan amat banyak sekali, boanpwee hanya berharap agar cianpwee sekali suka menonton saja jalannya pertempuran tanpa ikut campur sedang boanpwee pun tak ingin turun tangan membunuh! maaf boanpwee harus berangkat terlebih dulu, kita berjumpa kembali diatas gunung Cing Shia!”

Sehabis berkata dia menjura dengan amat hormatnya. bersamaan pula dari dalam tubuhnya mengambil segenggam mutiara lalu dengan menggunakan gerakan gerakan yang amat cepat memasukkan mutiara itu kedalam keranjang butut dari sipengemis pemabok.

"Cianpwee, harap baik baik jaga diri!" Seru Liem Tou kemudian.

Sisiucay buntung, sipengemis pemabok serta Thiat Sie siangseng cuma merasakan ada-nya segulung angin yang keras menyambar keluar, bayangan Liem Tou sudah lenyap tak berbekas. Mandadak sipengemis pemabok teringat akan sesuatu teriaknya keras :

"Heei bangsat cilik kau ingin moior ? perjamuan ini adalah kau yang menjamu sebelum membayar rekening kau pingin lari ?"

Sehabis berkata scpasang kakinya menutul permukaan tanah dan msloncat keluar siap-siap mengejar sang pemuda. Si siucay buntung yang melihat diatas keranjang ada mutiara dengan cepat pentangkan tangannya mencegah.

"Hey cuma setengah guci arak saja sudah membuat matamu jadi kebingungan coba kau lihat bukankah didalam keranjang butut-mu sudah ditinggali uang arak yang besarnya sepuluh kali lipat ?" teriaknya sambil tertawa.

Sipengemis pemabok segera menoleh. air mukanya terasa jadi panas. sambil duduk kembali ketempatnya semula tak terasa lagi dia sudah bergumam :

“Dia memiliki tenaga dalam serta kepandaian silat yang demikian tingginya, aku tidak percaya dia akan menemui suatu bencana."

Thiat Sie sianseng pun waktu itu lagi tertawa, mendengar perkataan tersebut air mukanya segera berubah jadi sangat serius. "Perkataan tidak bisa dimaksudkan begitu, sekalipun seseorang memiliki kepandaian silat yang amat tinggi ada satu kali tentu akan terjatuh juga; walaupun Liem Tou berhasil melatih kepandaian silatnya hingga mencapai pada kesempurnaan tetapi siapa yang bisa menduga akan nasibnya sendiri ? manusia ada kemauan tetapi Thian punya kuasa bilamana nasib lagi sial sekalipun memiliki kepandaian silat yang amat tinggi pun tidak bakal ada kekuatan untuk menghindarinya..."

Mendengar perkataan itu si pengemis pemabok lantas tertawa terbahak bahak.

"Walaupun perhitungan siepoa mu amat lihay dan bisa menghitung gunung tembaga mana yang bisa tumbuh rumput, ayam besi yang mana bisa tumbuh bulu tapi aku tak akan percaya penuh akan omonganmu ! aku sipengemis tua selamanya melakukan pekerjaan dengan teliti, waspada hati hati dan pakai pikiran, aku rasa urusan ini bisa dilalui dengan selamat."

Beberapa perkataan yang sangat pakai aturan ini segera membuat semua tamu yang ada diloteng itu pada mengangguk memuji.

Terdengar si Thiat Sie sianseng tertawa terbabak bahak. “Haaa . . . haaa ... haaa ., . percaya atau tidak terserab padamu, mari kita pun harus berangkat." ujarnya kemudian sambil meneguk habis isi cawannya.

Dengan lahapnya si pengemis pemabok segera menghabiskan sisa arak yang ada setelah itu dia baru menyambar rekening.

ooovv(X)vvooo

ANGIN BERTIUP sepoi sepoi, cuaca terang benderang ini hari adalah bulan lima tanggal lima . „

Tampaklah diatas puncak pertama gunung Cing Shia berdirilah seorang siucay berbaju biru yang berusia pertengahan, kurang lebih tiga kaki diatas kepalanya melayang tiada hentinya tiga ekor burung rajawali yang sangat besar.

Dengan hati tidak sabaran dia menoleb kekiri memandang kekanan memperhatikan keadaan disekelihng tempat itu.

Suasana disekeliling puncak pertama gunung Cing Shia tampak tenang tak nampak sedikit gerakan pun, dengan perlahan dia menggape keatas, mendadak tampaklah seekor burung elang melayang turun dan berdiri dengan tenangnya diatas tangannya.

Wajah burung ini amat seram, dengan sepasang mata yang bulat dan memancarkan sinar tajam, paruhnya dengan bulu yang berwarna hitam. walaupun tubuhnya tidak begitu besar. tetapi jelas kelihatan amat angker. Kiranya sisiucay berbaju biru itu bukan lain adalah Thian Pian siauwcu Ke Hong adanya. dia sedang menantikan kedatangan Lie Loo jie serta orang yang sembunyi digunung Go-bie tempo hari.

Tampak Thian Pian Siauw cu berdiri beberapa saat lamanya tiba tiba bergumam seorang diri.

“Kenapa mereka tidak datang datang juga? bukankah terang terangan mereka sudah tahu kalau aku ada digunung Cing Sbia ? apakah mereka hendak menanti sampai tengah malam baru datang ? Hmmm ! tentunya mereka sengaja berbuat demikian untuk menghindarkan diri dari serangan burung burung ku . .hee . . hee . . sekalipun ada sepuluh orang Lie Loo jie pun jangan harap bisa menghindar diri dari serangan bokongan burung tersebut."

Sewaktu dia bergumam seorang diri itulah mendadak dari tempat kejauhan berjalan mendatangi dua orang hweesio yang satu kekar yang lain kurus.

Gaya dari kedua orang hwesio itu amat congkak dan jumawa sekali walaupun terang terangan mereka melihat Thian Pian Siauw cu ada disana tetapi tak melirik sekejappun mereka bercakap-cakap sendiri dengan tenangnya.

Thian Pian Siauw cu yang selamanya menyendiri dipegunugan dan jarang berkelana didalam Bu lim selamanya tak pernah mengurusi soal dendam yang sering terjadi di-Bu lim, setiap kali dia turun gunung maka yang dicari tentu adalah orang- orang kenamaan yang sudah punya nama untuk diajak bertanding, terhadap orang yang pekerjaannya merampok sudah tentu tak suka berkenalan.

Karena itulah walaupun dia pernah mendengar nama dari sipenjahat naga merah tapi belum pernah menemui orangnya apalagi terhadap diri Thiat Bok Thaysu.

Ketika dilihatnya ada dua orang hweesio berjalan naik keatas puncak pertama ujung jubah birunya segera dikebut kedepan dengan beberapa kali loncatan saja dia sudah menerjang kehadapannya,

"Hmm ! dari mana datangnya dua orang hweesio liar?" bentaknya dengan keras, "Cepat berhenti ! Aku ini hari diatas puncak Cing Shia ada urusan. lebih baik kalian melakukan perjalanan dengan jalan berputar saja!”

Begitu Tnian Pian Siauw cu meloncat kedepan ketiga ekor burung elang yang ada di aias kepalanya pun ikut terbang kedepan.

Walaupun suara bentakan dari Thian Pian Siauw cu ini amat keras tetapi Thiat Bok-Thaysu sama sekali tidak gerakkan kelopak matanya.

Si penjahat naga merahpun dengan dingin-nya mendengus lalu melirik sekejap kearahnya.

"Hmm ! apa kau kira puncak pertama gunung Cing Shia ini adalah milikmu ?" serunya tawar

Sembari bertanya dia melanjutkan kembali langkahnya kedepan.

Thian Pian Siauw-cu yang merdengar perkataannya sama sekali tak digubris hatinya jadi panas sekali lagi bentaknya. "Kau hweesio liar berani mencari gara-gara dengan aku orang

? Ini hari puncak pertama gunung Cing Shia adalah miiikku. justeru aku sengaja tak memperkenankan kalian hweesio liar melewati tempat ini lalu kau mau apa ?"

Baru saja Thian Pian Siauwcu berbicara sampai disitu mendadak hatinya sedikit tergerak pikirnya.

"Apa mungkin kedua orang hweesio ini adalah pembantu yang diundang Lie Loo jie untuk membantu dirinya ? Walaupun aku Thian Pian siauw cu jarang sekali berkelana didalam dunia kangouw tetapi bukanlah seorang manusia yang belum pernah muncul di Bu lim, seharusnya aku menanyakan dulu siapakah nama mereka apalagi ketiga ekor burungku ini adalah tanda yang bisa aku gunakan untuk merebut kemenangan. kenapa terhadap tandaku ini si hwecsio sama sekali tidak takut ?

Jikalau dikatakan mereka berdua tidak mengerti ilmu silat tapi jika dilihat dari langkahnya jelas, memiliki kepandaian silat yang tinggi”

Berpikir sampai disini mendadak dia berganti dengan nada suara yang jauh lebih lunak lagi.

"Sebetulnya siapakah kalian berdua ? cepat sebutkan namamu

! apakah kalian adalah pembantu yang diundang si cangkul pualam Lie-Siang! aku Thian Pian siauw-cu tidak akan menyerang manusia kerdil yang tak bernama.”

Mendengar perkataan tersebut si penjahat naga merah baru menghentikan langkahnya lantas tertawa terbahak bahak dengan seram-nya.

"Ke Hong kau tidak laporkan namamu apa kau kira kami tidak tahu kalau kau adalah Thian Pian siauw cu ? justeru aku mau tanya padamu apakah kau adalah pembantu yang diundang oleh Lie Siang ?"

Thian Pian Siauw cu yang mendergar si hweesio itu memanggil langsung dengan namanya semula agak mengelak tapi setelah teringat kalau mereka stma sekali tidak menjadi takut setelah mendengar namanya dalam hati lantas nenganggap kedua orang itu tentu memiliki asal usul yang penting pikirnya diam diam.

"Untuk sementara lebih baik tanyai asal usulnya lebih dulu, biarlah aku mencoba dulu tenaga dalam yang dimilikinya."

Dia terus mengerahkan tenaga dalamnya, biarpun pada wajahnya masih tersenyum tapi di hati dia sudah mengambil persiapan.

"Kalau kau orang sudah tahu namaku, kenapa tidak cepat cepat berhenti ? Buat apa kalian menerjang naik keatas puncak ini, kalian mengandalkan apa berani sombong dihadapan aku orang ?"

Begitu perkataan terakhir selesai diucapkan mendadak telapak tangannya diayun kedepan, segulung angin pukulan yang amat keras dengan cepatnya mengurung kedepan. "Kau manusia macam apa ? berani betul memanggil namaku !" bentaknya dengan sangat keras.

Selamanya Thian Pian siauw cu angkat nama dengan mengandalkan kehebatan dari ilmu pukulannya, sekalipun Lie Loojie sendiri setiap kali harus berusaha keras baru berhasil lolos dari perubahan pukulan yang di-lancarkan olehnya.

Sipenjahat naga merah sama sekali tidak pernah menyangka kalau Thian Pian siauw cu bisa turun tangan dengan begitu mendadaknya, hatinva menjadi gugup dengan tanpa berpikir lebih panjang lagi dengan terburu buru melancarkan pula satu pukulan menerima datangnya serangan itu dengan keras lawan keras.

"Brak . . . !" dua belah telapak tangan segera terbentur satu sama lainnya, sipenjahat naga merah yang tenaga dalamnya kalah satu tingkat dari Thian Pian siauweu harus menerima datangnya serangan itu dalam keadaan tergesa gesa tubuhnya tak kuasa untuk berdiri tegak, dan dengan sempoyongan terus mundur tiga langkah kebelakang.

Thian Pian siauw-cu yang melihat serangannya mendapatkan hasil semakin tidak memandang mata lagi terhadap kedua orang hweesio tersebut, tidak kuasa lagi dia sudah angkat kepalanya tertawa terbahak bahak.

"Haaa . , . haaa ,. . haaa . , dengan mengandalkan kepandaian seperti itu kalian ingin mengikuti pertempuran puncak digunung Cing Shia ini . . . aku lihat kalian lebih baik cepat-cepat lari dari sini !”