Raja Silat Jilid 29

 
Jilid 29

Saat ini Lie Loo jie pun sudah muncul di samping badan Liem Tou, sewaktu dilihatnya wajah yang cemas dari keponakannya ini tidak kuasa diapun jadi melengak.

"Mereka berdua sudah pergi kemana ?"

Dengan perlahan Liem Tou gelengkan ke palanya, mendadak dia menyerahkan batok kepala dari si Ang In Sin Pian itu ke tangan Lie Loo-jie lalu ujarnya dengan tergesa- gesa.

"Supek, kau tunggulah sebentar disini, aku akan pergi dulu untuk mengadakan suatu penyelidikan, di dalam urusan ini tentu ada hal hal yang tidak beres.

Selesai berkata tanpa menunggu jawaban dari Lie Loo jie lagi dia segera meloncat ke luar melalui jendela, dengan beberapa kali salto tubuhnya sudah berada di atas atap kembali lalu dengan gesitnya melayang kebangunan baru dari si Ang In Sin Pian.

Ketika tiba dibagian luar dari bangunan Ang In Sin Pian itu, tiba tiba melihat si "Liong Ciang" Lie Kian Poo menggeletak di atas tanah dalam keadaan terluka parah, saat ini dia sama sekali tidak ada niat untuk memeriksa keadaan lukanya, dari dalam sakunya diambil keluar tali obat yang didapatkan dari Hek-loo-toa lalu diputuskan sekerat dan dijejalkan kemulutnya Lie Kian Poo.

Setelah itu tanpa banyak cakap lagi tubuhnya melayang dengan cepatnya menuju ke ruang dalam dari bangunan Ang In Sin Pian.

Kecepatan geraknya luar biasa, hanya di dalam sekejap saja dia sudah mengelilingi satu kali seluruh bangunan tersebut. Tetapi kecuali gundik gundik serta pelayan-pelayan dari Ang In Sin Pian baik bayangan dari si gadis cantik pengangon kambing maupun bayangan dari Lie Siauw Ie. sama sekali tidak kelihatan.

Liem Tou beiar-benar sangat cemas, dengan cepat dia berlari keluar dari bangunan itu menuju kegunuug Ha Mo San.

Sinar matanya yang amat tajam mendadak secara samar- samar dapat menangkap bayangan seorarng yang lagi menangis di tempat dimana Ang In Sin Pian menemui ajalnya. "Siapa dia orang?" Pikirnya di hati. Jikalau dikatakan Pouw Siauw Ling agaknya tidak mirip."

Hawa murninya segera ditarik panjang-panjang kakinya mempercepat gerakannya menerjang ke arah depan.

Agaknya pendengaran dari orang itupun amat tajam. begitu mendengar di belakang tubuhnnya berkumandang datang suara sampokan baju yang terkena angin. Mendadak dia meloncat bangun dan berkelebat menuju ke sisi hutan tersebut.

Pada saat orang itu meloncat pergi itulah, jarak antara dirinya dengan Liem Tou cuma tinggal sepuluh kaki saja, sekali pandang saja dia bisa melihat kalau orang itu memiliki rambut yang panjang terurai dibelakang pundaknya, jelas dia adalah seorang perempuan.

"Jien Coei-clci, kau jangan pergi!" Teriak nya kemudian tanpa terasa lagi. Tubuhnya dengan cepat ikut menerjang masuk ke dalam hutan, tetapi agaknya gadis itu tidak ingin bertemu dengan dirinya, begitu tubuhnya berkelebat masuk ke dalam hutan dengan cepatnya lantas lenyap tak berbekas

Liem Tou yang lehilangan jejak dari Pouw Jien Coei dalam hati merasa rada cemas, bertarut-turut dia ber teriak beberapa kali lagi, sewaktu di dengar tiada jawaban, dia jadi bergumam seorang diri.

"Jien-Coei cici! aku tidak punya akal lagi, aku harus membunuh ayahmu. Pokoknya aku akan melaksanakan seluruh perkataanmu itu, aku tidak akan membunuh Siauw Ling-heng bahkan selamanya aku tidak akan membunuh dirinya.

Demikianlah sembari bergumam reorang diri dia berjalan kembali menuju ke rumah Lie Siauw-Ie.

Belum jauh dia berjalan meninggalkan hutan tersebut, mendadak serentetan suara tertawa dingin yang amat menyeramkan berkumandang datang dari arah sebelah kiri, dengan terburu-buru Liem Tou menoleh kearah sana.

Terlihatlah dari balik sebuah pohon itu yang amat besar sekali muncullah sipenjahat naga merah serta Thiat Bok Thaysu dua orang.

Si penjahat naga merah sama sekali belum pernah bertemu muka dengan Liem Tou sedangkan Thian Bok Thaysu pun cuma melihat dia berada di atas punggung kerbau sewaktu ada di kuil Siang Lian si , karena itu sampai saat ini mereka sama sekali tidak mengetahui akan kelihayannya.

Si penjahat naga merah yang melihat Liem Tou sama sekali tidak pandang sebelah matapun terhadap mereka bahkan menggubrispun tidak. dalam hati jadi teramat gusarnya, mendadak tubuhnya menerjang ke depan menghalangi perjalanannya.

Apakah kau sudah membunuh mati muridku!"' bentaknya dengan suara seperti geledek. Kaukah yang bernama Liem Tou ? Kemapa sesudah bertemu muka dengan kami berdua masih tidak berlutut menyerahkan jiwamu ?"

Malam ini aku tidak ingin terlalu bannyak melukai orang" Ujar Liem Tou dengan pelahan sambil gelengkan kepalanya berulang kali. "Kalian janganlah mengganggu aku lagi. Ang In Sin Pian adalah pembunuh ayahku.

Sebeaarnya menurut keharusan kalian berduapun merupakan musuh-musuh besar ayahku dan aku boleh bunuh kalian pula, tetapi kini aku tidak ingin membunuh orang lain, lebih baik kalian menyingkirlah jauh-jauh dari hadapanku.

Bilamana kalian sungguh-sungguh mau berkelahi tunggu saja sembilan hari kemadian kita bertemu muka di puncak pertama gunung Cing Shia.

Sehabis berkata sembari gelengkan kepalanya, dengan perlahan dia berjalan keluar dari hutan tersebat.

Si penjahat naga merah yang merupakan seorang manusia ganas yang berhati kejam. Sewaktu dilihatnya gerak gerik Liem Tou Sama sekali tidak mirip dengan seorang jagoan Bu Lim yang sering melakukan perjalan-an, dia sama sekali tidak pandang sebelah matapun terhadap dirinya.

Saat ini sehabis mendengar perkataannya itu bukannya jadi marah sebaliknya malah tertawa terbahak-bahak.

"Susiok!" ujarnya sembari menoleh ke arah Thiat Bok Taysu.

„Coba kau libatlah bocah cilik yang baru terjunkan dirinya ke dalam dunia kangouw ini. ha .. ha . sungguh lucu sekali! sungguh merupakan anak kerbau tidak takut pada macan haa

. . haa . . haa . , bilamana berganti dengan orang lain mungkin sejak tadi sudah berlutut minta ampun"

Mendengar perkataan dari keponakan muridnya ini, dengan pandangan yang tajam Thiat Bok Thaysu memperhatikan beberapa kejab ke arah Liem Tou, beberapa saat ke-mudian dia gelengkan kepalanya.

"Bocah cilik ini ke1ihnannya rada mencurigakan, Cie Liong sutit. janganlah berlaku terlalu gegabah, aku lihat lebih baik kau tanyai dulu asal perguruannya".

Pada saat ini agaknya Liem Tou sudah tidak sabaran lagi. mendadak dia membentak keras "Hey! sebetulnya kalian mau menyingkir atau tidak?? aku lihat lebih baik kalian jangan paksa aku turun tangan, hmm! nanti Kalian akan menyesal sendiri".

,' Haa. . .haa Liem Tou! kau sudah bunuh muridku sekarang kau ingin pergi dari sini? haaa ... haaa . . .ini hari jangan harap kau bisa lolos lagi dari tanganku" teriak si penjahat naga merah sembari tertawa ter bahak-bahak.

.'.'He ! aku mau tanya padamu siapakah suhumu? sungguh goblok suhumu itu. Hm ternyata dia tak becus memberi pelajaran sehingga mendapatkan seorang murid yang begitu sombong dan jumawa!"

Agaknya pada jaat ini Liem Tou benar-benar tidak ingin turun tangan melukai orang lagi, mendengar perkataan tersebut dia tertawa.

"Bilamana aku ingin pergi setiap saat aku bisa pergi, kalian jangan harap bisa menahan diriku." sahutnya sambil tersenyum. 'Kalian mau tahu siapakah suhuku? aku sama sekali tidak ada suhu, si cangkul sakti Lie Seng tidak lebih cuma supekku saja.

Mendengar jawaban itu si penjahat naga meran jadi melengak lalu disambung dengan tertawa terbahak-bahak yang amat keras. Aku si hweesio naga merah sudah hidup seusia ini tetapi belum pernah mendengar ada orang punya supek tapi tak punya suhu, Liem Tou aku lihat lebih baik kau bicara terus terang saja, ada kemungkinan kau masih bisa hidup lebih lama" katanya

Liem Tou tetap gelengkan kepalanya, dia melirik ke arah si penjahat naga merah.

"Hey bajingan tua naga merah, kau kira aku benar benar tidak kenal dengan dirimu? Mendadak ia berteriak dengan khe-kinya "Jikalau kau bermaksud menghalangi perjalananku lagi segera aku akan memberi tahu hajaran yang akan menyiksa dirimu.

Si penjahat naga merah yang mendengar secara tiba-tiba Liem Tou menyebut akan gelarnya, dia menjadi terperanjat sekali saat inilah dia baru merasa kalau dugaannya sama sekali meleset, tidak terasa lagi hawa murninya segera disalurkan ke seluruh tubuh siap-siap menghadapi sesuatu sedang badannya secara mendadak mundur satu langkah ke belakang.

? "Hey bajingan tua naga merah" terdengar Liem Tou melanjutkan kembali kata-kata nya" Kau janganlah mengira orang-orang Bu-lim masih merasa jeri dengan gelarmu yang pernah menggetarkan dunia kangouw pada dua puluh tahun yang lalu, di mata aku Lien Tau Hmm! hmmm kau tidak lebih cuma manusia yang tidak becus. Heee ...he... coba tanyakan pada susioknu, aku pernah sambil menunggang kerbau turun tangan menghajarnya dan si Thiat Bok setan tua jtu tidak bisa menahan seranganku apalagi kau..he hee... kau belum becus aku lihat lebih baik janganlah kau cari gara-gara minta digebuk.

Terhadap peristiwa si kerbau sawah yang mengacau Bu- Lim bahkan memperlihatkan kegagahannya di kuil Slang Lian Si, si penjahat naga merah pernah mendengarnya bahkan diam-diam menaruh rasa jeri terhadap dirinya, kini mendengar Liem Tou adalah penuggang kerbau itu dalam hati merasa semakin terperanjat lagi,

Tetapi bagaimanapan dia merupakan seorang jago kawakan, sekalipun dalam hati diam-diam merasa terkejut tetapi dia tidak mempercayainya seratus persen.

Diam-diam hawa murninya segera disalurkan ke seluruh tubuh siap-siap melancarkan serangan yang bisa membinasakan Liem Tou.

Seluruh gerak geriknya yang dilakukan secara diam-diam ini tidak dapat lolos dari ketajaman mata Liem Tou, terdengar dia tertawa ringan.

"Hey bajingan tua naga merah, apa kau sungguh-sungguh ingin berkelahi??" bentaknya. "Apa kau sudah tidak sabar menunggu sampai pertemuan di puncak pertama digunung Cing Shia ?"'

Saat ini si penjahat naga merah sudah salurkan sepuluh bagian tenaga murninya ke seluruh tubuh dan siap-siap melancarkan serangan.

"Ci Liong sutit, lebih baik untuk sementara kita ampuni dulu jiwanya. Cegah Thiat Bok Taysu tiba tiba. ,.Setelah kita mengetahui dia adalah keponakan murid dari Lie Sang apakah kau takut dia orang bisa melarikan diri lagi ?"

Dengan perlahan dia segera menoleh ke arah Liem Tou, lalu sambungnya lagi :

"Hey bangsat cilik, pertemuan di puncak Cing Shia sebetulnya adalah Lie Sang yang bertindak sebagai penyelenggara. Hm ! sekarang kau berjanji pula dengan kami baik-lah, sampai waktunya tentu akan aku kasih satu hajaran yang setimpal buat dirimu, sekarang kau boleh berlalu dulu".

Sebenarnya dalam hati Thiat Bok Thaysu sudah menaruh rasa yang was was terhadap diri Liem Toa, sejak kesepuluh hawa pukulan beracunnya dipecahkan oleh sang kerbau sewaktu masih ada di kuil Siang Lian Si dalam batinnya dia sudah menaruh curiga kalau peristiwa ini tentu perbuatan dari Liem Tou sehingga sekarang diam diam terhadap Liem Tou sudah merasa rada gentar.

Kini melihat dia sama sekali tidak tergeak oleh nama besar dari si penjahat naga merah, sudah tentu dalam hati mereka merasa kalau dia orang tentu memiliki suatu kepandanian yang hebat!

Karena belum tahu betul betul akan asal usul dari Liem Ton, maka sewaktu melihat keponakan muridnya hendak turun tangan terburu buru dia segera turun tangan mencegah.

Mendengar perkataan dari Thiat Bok Thay ini. Liem Tou segera tertawa.

"Haa.. . haa . . . bagus sekali, hey coba kau lihat susiokmu jauh lebih tahu aturan dari kau ," Serunya sambil menoleh ke arah si penjahat naga merah. "Sekarang aku mau tanya padamu, dimanakah suhumu Suo Kuk Mo Pian berada ?

Kenapa dia orang tidak sekalian datang ke gunung Cing Shia? aku masih ada utang lama yang harus diselesaikan dengan dirinya.

,,Susiokku sudah suruh kau pergi. kenapa kau tidak cepat cepat pergi dari sini ? apakah kau baru man pergi sesudah lidahmu aku potong ?"' bentak si penjahat naga merah dengan gusarnya. Sepasang matanya melotot keluar bulat bulat.

Kau tidak suka memteri tahu kepadaku, yaah sudahlah, sahut Liem Tou kemudian sambil angkat bahu. Pokoknya asal dia tidak mati ada satu hari aku bisa menyuruh kalian berdua Susiok-tit serta suhumu itu menemui ajalnya di tengah pegunungan yang sunyi.

Mendadak air mukanya berubah hebat, lalu bentaknya lagi. Thiat Bok Thaysu, penjahat naga merah kalian dua orang bajingan tua dengarlah pertanyaanku baik-baik, setiap perkataan yang aku ucapkan benar benar akan aku laksanakan, lebih baik mulai sekarang kalian berdua mengadakan persiapan terlebih dahulu.

Selesai berkata tubuhnya segera berkelebat pergi dari sana. Thiat Bok serta si penjahat naga merah cuma merasakan di hadapannya melayang pergi segulung asap hijau, tahu-tahu bayangan dari Liem Tou sudah lenyap tak berbekas. Melihat kejadian itu tidak kuasa lagi dalam hati mereka berdua merasa bergidik !

Sewaktu mereka sedang merasa terkejut daa saling herpandangan itulah mendadak dari dalam perkampungan berkelebat datang lagi seorang yang berlari ke hadapan Thiat Bok Taysu serta si penjahat naga merah lalu jatuhkan dirinya berlutut !

Leng jie mengunjuk hormat buat susiok couw. Harap susiok couw suka membantu Leng jie untuk membalaskan dendam berdarah ini, mohonnya sambil menangis tersedu-sedu.

Sehabis bsrkata dia mengangguk-anggukkan kepalanya sehingga batok kepalamya membentur tanah dengan amat keras.

Melihat akan hal itu sipenjahat naga merah rada mengerutkan alisnya, mendadak dia maju satu langkah membangunkan diri Poaw-Siauw Ling lalu ujarnya.

Leng jie kau tidak boleh berbuat demikiau. ,aku serta susiok couwmu tentu akan berusaha untuk membalaskan dendam ayahmu cuma saja - - -cuma saja - - -

Berbicara sampai di sini mendadak dia menutup mulutnya dan menoleh ke arah Thiat Bok Thaysu.

i

Thiat Bok Thaysu yang melihat perubahan wajah dari sutitnya itu segera bisa menduga apa yang dipikirkan dihatinya pada saat ini dengan cepat dia menyambung dengan wajah serius : Cie Liong sutit apakah bermaksud hendak menemui suhumu untuk mengepalai urusan ini ? Dengan perlahan si penjahat naga merah mengangguk. 'Sutit yang baru saja melihat gerakan badan Liem Tou si bangsat cilik itu sewaktu meninggalkan tempat ini dalam

hatiku segera merasa kalau gerakannya amat cepat dan aneh sekali, bilamana tenaga dalamnya belum berhasil dicapai sampai pada taraf kesempurnaan tidak mungkin dia berhasil memiliki ilmu meringankan tubuh yang demikian luar biasanya, karena itu aku rasa pertemuan di gunung Cing Shia yang akan datang, aku mau mengundang suhu untuk dapat memimpin urusan ini, sutit mcrasa cuma dengan kekuatan kita bertiga baru sanggup untuk melawannya.

Mendengar perkataan tersebut Thiat Bok Thaysu segera mengangguk, pada wajahnya yang kurus dan hitam pekat bagaikan arang itu terlintaslah perasaan keberatannya, setelah termenung sebentar akhirnya dia ber kata :

Menurut penglihatanku, tenaga dalam dari Liem Tou si bangsat cilik itu sudah berhasil mencapai seperti apa yang dimiliki Hoa siong salah seorang anggota dari Auh Hay Siong- Hiap tempo hari. Sewaktu Hoa siong naik ke gunung Ai Lau san masa lampau, sekalipun aku serta suhumu dan si hweesio tujuh jari harus bekerja sama pun meraja rada berat apa lagi sekarang harus menghadapi bangsat cilik ini aku rasa lebih baik kita sedikit berhati-hati.

Dia berhenti sebentar untuk mendehem beberapa kali setelah itu tambahnya lagi :

Walaupun mengundang suhumu adalah sangat penting sekali, tetapi dia masih belum memenuhi tujuh tahun latihannya apakah ilmu yang termuat didalam kitab pusaka Kioe Im Cang Ci Loo Han Cin Keng sudah selesai dipahami atau belum kita masih belum tahu, ditambah lagi bagaimana perubahan sifatnya selama tujuh tahun ini juga tidak ada orang yang tahu, aku rasa maukah dia turun gunung masih merupakan satu persoalan yang berat.

Perkataan dari susiok sedikitpun tidak salah. Sahut si penjahat naga merah membenarkan. Tetapi menurut pendapat dari sutitmu, orang kali ini harus naik kegunung Soat san untuk mengundang suhu turun gunung bukanlah sulit, melainkan meminta Leng jie untuk melakukannya disamping hendak menggembleng hatinya kitapun mengadu keuntungan.

ada kemungkinan suhu yang melihat dia ber bakat baik suka menerimanya sebagai murid.

Baiklah, jawab Thiat Bok Thaysu kemudian sanbil menyipitkan sepasang matanya. biarlah dia yang melakukan tugas ini, tetapi di dalam prrjalanan ini boleh dikata menempuh bahaya, kau harus menjelaskan terlebih dulu kepadanya,

Si penjahat naga merah segera mengangguk, lalu dengan perlahan dia menoleh ke arah Pouw Siauw Ling.

Leng jie kau dengarkanlah baik baik perkataanku, ujarnya. Aku tahu didalam hati kamu ingin sekali membalas dendam ini tetapi terus terang sucouw beritahu padamu tenaga dalam yang dimiliki Liem Tou benar benar luar biasa sekali, sampai aku serta Suthay siok yang bekerja sama pun belum pasti dapat memenangkan dirinya. Masih untung pertemuan di puncak gunung Cing Shia masih ada sembilan hari lamanya dan dari sini me nuju ke gunung Soat san pun tidak begitu jauh. Aku lihat lebih baik kau berangkat saja, ke gua Im Han Hong Tong digmung Soat san untuk mengundang Suthay couwmnu turun gunung dan ikut serta dalam pertempuran digunung Cing Shia kali ini, apakah kau punya keberanian untuk melaksanakan tugas ini?

Mendengar perkataan tersebut tanpa berpikir panjang lagi Pouw Siauw Ling segera menyanggupi.

"Leng jie" ujar si penjahat naga merah lagi dengan wajab yang tiba-tiba serius. Kau jangan terlalu pandang kekuatanmu sendiri, aku beritahu padamu gunung Soat san sepanjang tahun ditutupi salju walaupun saat ini musim panas tetapi salju yang ada di sana masih tebal dan dinginnya menusuk tulang, apalagi gua Han Hong Tong tersebut sepanjang tahun tidak pernah menemui sinar matahari, tempat itu semakin sukar untuk didaki, walaupun kamu sudah menggunskan ilmu meringankan tubuh, sedikit kau salah perhitungan ada kemungkinan bahaya longsornya gunung salju bisa mengubur mati kau. Maka itu sebelum berangkat lebih baik kau berpikir terlebih mantap lagi.

Pouw Siauw Ling yang mendengar begitu bahayanya perjalan yang hendak ditempuh dalam hati merasa bergidik juga.

Tbiat Bok Thaysu yang selama ini terus menerus memperhatikan diri Pouw Siaw Ling, dari begitu melihat perubahan wajahnya dalam hati segera mengerti apa yang sedang dia pikirkan. tak terasa lagi suara dengusan yang amat dingin keluar dari hidung nya.

Pouw Siauw Ling yang sudah lama mengikuti ayahnya Ang In Sin Pian berkelana di dalam Bu-lim pikirannya pun semakin bertambah tajam, mendengar suara dengusan itu hatinya segera tergetar keras, mendadak teriaknya keras.

Leng lie sekalian harus terkubur dalam runtuhan tumpukan salju dan menderita dinginnya salju yang menusuk tulang juga akan pergi unmk menemui Suthay couw.

Leng jie sudah bulatkan tekad, harap Su couw suka menyerahkan tanda kenal kepada Leng jie pada kentongan kelima nanti Leng jie segera akan berangkat.

Waktu itulah si penjahat naga merah serta Thiat Bok thaysu baru tertawa terbahak-bahak, dari dalam sakunya si penjahat naga merah lantas mengeluarkan tanda kepercayaan-nya berupa ulai merah yang terbuat dari tembaga merah dan diserahkan kepada Pouw Siauw Ling,

Sedangkan Thiat Bok thaysu pun menghadiahkan dua butir pil kepadanya.

Untuk sementara kita tinggalkan dulu Pouw Siauw Ling yang serang menuju ke gunung Soat san untuk mengundang suthay couwnya Si Suo Kuk Mo Pian atau suhunya si penjahat naga merah. kita balik pada Liem Tou setelah meninggalkan Thiat Bok thaysu serta si penjahat naga merah.

Dengan gerakan yang cepat dia berlari menuju kerumahnya Lie Siauw Ie, waktu itu Lie Siauw Ie serta si gadis cantik pengangon kam bing sudah kembali kerumah. Ie cici Wan moay moay kalian tadi pergi kemana ? ? Tanya Liem Tou begitu bertemu muka dengan mereka.

Mendadak dia menemukan wajah Lie Siauw Ie penuh diliputi dengan kesedihan yang mencekam hatinya dan duduk disamping tanpa mengucapkan sepatah katapun, hatinya jadi rada melengak.

Apakah dia lagi merasa sedih karena kehilangan ibunya?? pikirnya.

Ie cici ujarnya kemudian sambil bertindak maju ke depan. Adik Tou tahu perbuatanku yang menyembunyikan dar cici atas berita dari kematian Pek bo adalah salah, tetapi urusan sudah lewat apakah Ie cici tidak mau memaafkan kesalaban dari adikmu itu ? ?

Dengan perlahan Lie Siauw Ie melirik sekejap kearah Liem Tou, dia bisa melihat dari sinar mata Liem Tou benar-benar memancar keluar rasa sayang dan cintanya yang amat sangat bahkan menaruh pula rasa menyesal yang mendalam membuat hatinya tergetar.

Adik Tou, sejak tadi aku sudah beritahu padamu aku sama sekali tidak menyalahkan dirimu sahutnya dengan sedih.

Urusan yang sudah lewat tidak usah kita ungkap lagi mulai saat ini keadaanku sama dengan keadaan kau. Kita tidak dapar berdiam lagi di dalam perkampungan Ie Hee san Cung. "Ie cici bagaimana kau bisa berbicara demikian ?" Tanya Liem Tou keheranan. "Sekalipun Pek bo sudah meninggal tetapi paman-paman serta kawan kawan masih banyak sekali. bagaimana Ie cici bisa punya pikiran demikian ?'

"Adik Tou kau tidak tahu, sampai Jien Coe cicipun tidak mau gubris aku lagi, apakah aku bisa tetap tinggal di perkampungan Ie Hee san Cung lebih lama lagi ?" Ujar Lie Siauw Ie sambil menghela napas panjang. "Tadi aku bersama- sama Wan moay-moay pergi mengejar dirinya, siapa tahu dia tidak mau menemui aku lagi, akhirnya setelah aku kembali disini dan melihat suhu masih memegang batok kepalanya dari Cung Cu aku baru tahu tentunya dia masih merasa benci kepada kita karena kau telah membunuh mati ayahnya ! Di dalam perkampungan Ie Hee san Cung kecuali ibuku dialah satu-satunya kawan karibku, sekarang dia sudah merasa benci terhadap diriku aku.,."

Belum habis berbicara tidak tertahan lagi air mata mulai bercucuran membasahi seluruh wajah Lie Siauw Ie.

Saat inilah Liem Tou baru tahu kejadian apa yang sudah terjadi, diam-diam mulai termenung dan memikirkan jejak dari Jien Coei dari permulaan sampai akhir, sewaktu teringat akan ketiga buah permintaannya itu mendadak hatinya menjadi sadar kembali. .

"Aaah . . .ternyata pikirannya amat tajam sekali, agaknya dia sudah memikirkan peristiwa ini jauh hari sebelumnya" gunamnya seorang diri. "Cuma sayang ayah dan kakak-nya tidak suka mengubah cara hidupnya . . . Heey justeru

mereka mengambil jalan yang bertentangan dengan sifatnya." Lie Siauw Ie yang melihat Liem Tou bergumam seorang diri, dia jadi bingurg. lalu dengan pandangan keheranan memandang dirinya tak berkedip.

Mendadak terdengar Liem Tou menghela napas panjang lapi.

"Ie cici, Jien Coei cici tidak akan membenci dirimu bahkan bilamana dugaanku tidak salah, kematian ayahnya ini hari sudah ada pada dugaannya jauh sebelumnya !" ujarnya dengan perlahan "Tetapi dia adalah seorang gadis yang paling kasihan dan paling menyedihkan."

Liem Tou segera menceritakan kisahnya sewaktu ada diselat Wu san dimana dia berhasil menawan Pouw Siuw Ling untuk paksa Ang In Sin Pian mengambilkan lima laksa tahil perak yang dirampok dari tangan si golok naga hijau lalu memaksa pula Pouw Siauw Ling untuk mengakui kematian ayahnya dan akhirnya disusul oleh Pouw Jin Coei meminta agar Pouw Siauw Ling dilepaskan ditambah pula ketiga permintaan.

Permintaannya yang terakhir ialah mengharapkan Lie Siarw Ie suka melupakan dirinya dan untuk selamanya jangan mencari dia lagi. Sehabis bercerita Liem Tou menghela napas lagi.

"Aku tahu Jien Coei cici secara diam-diam terus menerus membuntuti diriku" katanya. 'Tetapi aku rasa sejak ini hari dia akan terbang jauh keujung langit, bilamana Ie cici mau mencari jejaknya maka hal ini sama saja dengan mencari jarum di tengah samudra maksud hatimu ini tidak bakal bisa dipenuhi."

Selama ini Lie Siauw Ie terus menerus berdiam diri tetapi air mata mengucur terus semakin deras. lewat kurang lebih seperminum teh kemudian dia baru menghela napas panjang. ' Ah„. Jin Coei cici sungguh kasiban sekali !" serunya

.

Saat itu si gadis cantik pengangon kambing yang melihat Lie Siauw Ie merasa kesedihan, segera menghibur dirinya dengan kata kata yang halus.

Liem Tou sendiripuu sengaja memperlihatkan senyuman yaag menghiasi dirinya.

"Ie cici kau jangan bersedih hati lagi hi burnya "Aku rasa Jien Coei cici mungkin cuma tidak ingin menemui kita di dalam waktu yang singkat saja, asalkan dia masih hidup d1 dunia maka ada satu hari tentu bisa kita jumpai kembali.

Lie Loo jie yang paling tidak terbiasa dengan cara-cara pemuda pemudi yang banyak sedih dan cucuran air mata, selama ini terus menerus berada disamping tanpa mengucapkan sepatah kata.

Lewat beberapa saat kemudian setelah melalui berbagai macam kata-kata hiburan dari si gadis cantik pengangon kambing akhirnya Lie Siauw Ie berhenti menangis.

Waktu ini kentongan keempat sudah berlalu mendadak dari sebelah Barat dari perkampungan Ie Hee san Cung berkumandang datang suara tangisan yang gegap gempita memecahkan kesunyian yang mencekam di malam hari yang sunyi itu.

Lie Siauw Ie segera meloncat bangun. "Suara teriakan serta tangisan ini berasal dari bangunan keluarga Pouw, apakah sudah terjadi lagi peristiwa di luar dugaan ?" tanyanya.

Lie Loo jie yang paling tidak suka mendengarkan suara jeritan serta tangisan itu segera mengerutkan alisnya rapat rapat.

"le-jie, Wan jie coba kalian pergi lihat di sana sudah terjadi peristiwa apa, biarlah aku serta sutit beristirahat sebentar disini" perintahnya kepada dua orang nona itu.

Lie Siauw Ie serta si gadis cantik pengangon kambing segera menyahut, baru saja mereka hendak keluar dari pintu mendadak dari luar rumah itu menyorot sinar api yang sangat terang benderang diikuti segerombolan api obor bergerak mendatang.

Beberapa orang yang berada diluar rumah itu jadi dibuat melongo longo, baru saja mereka merasa keheranan mendadak sinar obor itu sudah berhenti diluar rumah disusul suara teriakan gembira yang gegap gempita memecahkan kesunyian.

Diantara suara teriakan-teriaka itu terde-ngar ada beberapa orang yang lagi berteriak:

"Hooooreeee . . . Pouw Sak San sudah dibu nuh, bagus, bagus sekali ! Dia tidak sesuai menjabat sebagai Cung cu kami. Liem Tou ! Lie Siauw le ! Kalian ada di rumah atau tidak? Ayoh cepat keluar . . . Hey Liem Tou ! Kita sudah lama tidak bertemu muka '."

Ada pula yang berteriat dengan suara keras : "Besok pagi di dalam lapangan silat di dalam

perkampungan Ie Hee san Cung akan di buka pertandingan

pie-bu untuk memilih Cung cu yang baru. Liem Tou ! Lie Siauw Ie ! Kalian berdua haras mengalahkan seorang she Pouw itu !"

Baik Liem Tou maupun Lie Siauw Ie yang mendengar teriakan itu dalam hati merasa terkejut.

Dalam pikiran Liem Tou. dia sudah diusir keluar dari perkampungan bagaimana mungkin boleh ikut didalam pie bu untuk mencari Cung cu yang baru ini ?

Keluarga Lie serta keluarga Pouw menetap di gunung Ha Mo San ini belum pernah ada seorang Cung cu perempuan, dirinya apa mungkin boleh ikut ?

"Ie cici !" Terdengar Liem Tou berkata terhadap diri Lie Siauw Ie. "Tempat ini seharusnya kaulah yang berhak untuk memangku jabatan sebagai Cung cu. apa lagi ini hari kaulah yang memimpm mereka untuk mencari diri Pouw Sak San seharusnya kau keluar sebentar menyambut kedatangan mereka"

Lie Siauw Ie segera mengangguk, pada pagi hari dikarenakan dia lagi merasa sedih maka keadaannya lain dengan keadaan saat ini yang lagi tenang. tidak terasa hatinya merasa rada gugup juga.

"Adik Tou, mari kita keluar bersama-sa-ma !', ajaknya.

Liem Tou lantas mengangguk dan bersama sama berjalan keluar dari rumah.

Setibanya diluar pintu itu terlihat dihadapan mereka sudah berdiri berpuluh puluh orang penduduk perkampungan Ie Hee san Cung baik lelaki, perempuan tua maupun muda dan kebanyakan merupakan angkatan yang lebih tua dari mereka berdua.

Sewaktu para penduduK kampung melihat munculnya kedua orang itu dihadapan mereka suara pekikan memuji segera bergema memenuhi angkasa, ada yang menanyakan bagaimana caranya Liem Tou membunuh Pouw-Sak San bahkan ada pula menyanjung-nyanjung kepandaian mereka berdua.

Liem Tou yang mendengar perkataan mereka sama sekaii tidak karuan. dengan cepat merangkap tangannya menjura. "Paman-paman dan saudara-saudara sekali-an !" Teriaknya dengan keras "Pouw Sak San baru saja boanpwee bunuh, dan hal ini moerupakan suatu peristiwa yang menyedihkan buat kita penduduk perkampungan Ie Hee san Cung.

tetapi kalian harus tahu, bilamana dia tidak meracuni ayahku sampai mati maka aku tidak akan membunuh dirinya.

Walaupun tinda kan Pouw Sak San selama ini adalah salah tetapi dia tetap merupakan Cung cu kalian.

maka dari itu boanpwee harap paman-paman serta saudara- saudara sekalian suka menganggapnya sebagai seorang Cung cu sekalipum hayatnya sudah binasa."

Sewaktu Liem Tou mengumumkan bagaimana ayahnya mati keracunan suasana menjadi amat gempar, suara jeritan kaget bergenma.

Pada saat itulah dari perkampungan Ie Hee San Cung sebelah lain muncul kembali sinar obor yang amat terang disusul suara makian yang kotor semakin lama semakian mendekat.

Liem Tou serta Lie Siauw Ie yang melihat kejadian itu mereka segera mengetahui kalau dari keluarga Pouw sudah mengirim datang orang-orangnya untuk menuntut balas.

Pada saat itulah mendadak dari penduduk golongan Lie ada orang yang berteriak keras:

"Hey Cung cu yang sebegitu jeleknya buat apa kalian tuntut untuk membalaskan dendam? sungguh memalukan sekali!" Seketika itu juga suasana jadi panas, untuk membela Lie Siauw Ie serta Liem Tou tanpa ragu-ragunya keluarga Lie sudah bertekad bulat untuk bermusuhan dengan keluarga Pouw yang selama ini hidup bersama.

"Selama ini keluarga Lie serta keluarga Pouw hidup berdampingan secara damai, aku tidak boleh hanya kareua persoalan pribadiku serta Ie cici membuat kedua orang kelompok keluarga ini jadi bertempur satu sama lainnya bilamana kejadian sampai berlangsung bagaimana aku serta le cici harus bertanggung jawab terhadap para paman serta saudara saudara seperti yang lalu ?

Saat ini orang-orang dari keluarga Pouw sudah semakin mendekat lagi,

Mendadak satu akal yang bagus berkelebat di dalam pikirannya. Liem Tou segera menoleh ke arah para penduduk dari keluarga Lie ini dan katanya :

Si Liong Ciang. Lie Kian Poo jadi orang jujur dan patut dijadikan sebagai Cung cu dari perkampungan ini, walaupun dalam hal ini dia lagi terluka tetapi tidak ada halangannya, sekarang dia dimana?

Para penduduk mulai berhisik bisik membicarakan perkataan Liem Touw ini, mendadak tampaklah seorang perempuan sambil menggandeng tangan seorang bocah cilik berjalan ke hadapan Liem Tou.

Liem Tou, katanya. Kau bilang lukanya tidk mengapa tetapi sekarang dia berbaring di atas tempat pembaringan tidak bisa bangun, baru saja Pouw Siauw Ling datang kepadanya mengatakan hendak pergi ke suatu tempat hampir hampir dia mau ikut pergi ke sana bersama samanya.

Dia bersama sama dengan Pouw Siauw Ling hendak pergi kemana? Bagaimana akhir nya? Tanya Liem Tou keheranan. "Akhirnya Pouw Siauw Ling bilang mau pergi kesuatu tempat yang cuma dia seorang saja yang boleh tahu, karenanya dia baru ber diam diri" jawab perempuan itu.

Pada saat itulah para penduduk dari keluar ga Pouw sudah berdatangan, tampak seorang lelaki berusia pertengahaa dari keluarga Pouw dengan mata melotot lebar lebar dan wajah penuh kegusaran menerjang kehadapan Liem Tou lalu memaki sambil menuding dirinya : 

"Liem Tou kau bangsat cilik, kau berani tidak menurut peraturan perkampungan, kau sudah diusir turun gunung dan sekarang tidak ada hak untuk disini lebih lama lagi. Hm !

Bilamana kau ternnata masih maumenaiki gunung ini dengan mengikuti peraturan kami masih bisa terima tetapi sekarang kau melanggar peraturan bahkan membunuh Cung cu . , .kau . . . kau bangsat cilik ! Kau sudah menjadi musuh kami penduduk dari perkampungan Ie Hee San Cung.

disini kami se-mua menuntut dirimu untuk bertanggung jawab di dalam peristiwa ini."

Liem Tou yang mendengar perkataan tersebut sedikitpun tidak salah, dalam hati mera sedikit sedih.

Baru saja dia hendak menjelaskan bagaimana Ang In Sin Pian meracuni ayahnya sampai mati mendadak dari gerombolan keluarga Lie sudah meloncat keluar seorang lelaki yang sambil melintangkan tangannya didepan dada menerjang kehadapan lelaki berusia pertengahan dari keluarga Pouw itu.

"Hey Cia-heng ! dalam urusan ini aku me ngetahui jauh lebih jelas darimu," Bentak-nya dengan keras. "Sekalipun perbuatan Liem Tou naik ke gunung sebelum waktunya adalah melanggar peraturan tetapi Pouw Cung cu yang berhati binatang memang ada seharusnya dibunuh mati !"

Liem Tou bisa tahu kalau orang itu bukan Iain si Liong Ciang. Lie Kian Poo adanya.

Lelaki berusia pertengahan itu bernama Pouw Ci Cia dan merupakan orang yang paling menonjol diantara penduduk keluarga Pouw lainnya, sewaktu mendengar perkataan tersebut dia jadi tertegun. tapi sebentar kemudian hawa amarahnya sudah menerjang naik ke otaknya.

"Kian Poo heng, tidak kusangka sampai kau pun ikut membantu diri Liem Tou, apa maksudmu yang sebenarnya?" bentaknya dengan gusar.

"Cia-heng, jangan salah paham dulu."

bila tidak terluka mungkin pada saat ini aku sudah ikut Siauw Ling pergi kegunung Soat san, tetapi terhadap kejahatan serta kelicikan dari Cung cu Siauw te mengetahuinya jauh lebih jelas dari siapa pun juga.

Waktu itu para penduduk dari keluarga Pouw sudah berkumpul semuanya, semangat dari Pouw Ci Cian pun semakin berkobar, tiba tiba dengan wajah beringis merah bentaknya kembali :

Lie Kian Poo, terang terangan kau sendirl benci kepadanya sekarang sengaja membusuk busukkan dirinya setelah dia mati, Hmm, kenapa kau bantu Liem Tou berbicara? Apakah Cung cu pernah me]akukan kesalahan terhadap kalian? Kau manusia yang tak tahu budi..,„ Mendengar perkataan tersebut agaknya Lie Kian Poo pun dibuat gusar juga, saking kerasnya golakan hati dan luka didadanya terasa menjadi sakit kembali. Ci Cia heng, ujarnya sesudah mendehem, beberapa kali . , .

Bilamana dikatakan Cung Cu tidak pernah melakukan kesalahan terhadapku sekalipun aku terangkan kaupun tidak percaya. bilamana bukannya nasib siauw-te lagi mujur mungkin sejak semula aku sudah mati ditangannya, tetapi hal ini tidak perlu kita ingat lagi terus terang aku jelaskan kepadamu, Liem Tou bisa bunuh mati karena dikarenakan ayahnya Han San Koan cu mati karena diracuni oleh Cung-cu. Jelas Pouw Ci Cia jadi tertegun setelah, ia mendengar perkataan itu, dia sama sekali tidak menyangka kalau Liem Tou membunuh Cungcu mereka dikarenakan peristiwa ini mendadak dia maju kedepan dan memegang erat-erat tangan dari Lie Kian Poo.

Kian Poo heng, kau jangan berbohong di depanku. Serunya dengan setengah percaya setengah tidak. Bukankah Han San Koan cu mati karena sakit keras?? mana mungkin kematiannya disebabkan oleh racun dari Cung cu? apakah kau punya bukti?

Saat ini penduduk keluarga Pouw serta keluarga Lie yang berkumpul ditengah lapangan sudah meijadi tenang kembali. Dengan perhatian penuh mereka memperhati tan diri Lie Kian Poo.

Terdengar Lie Kian Poo mendehem beberapa kali terlebih dulu, setelah itu baru merangkap tangannya menjura kepada semua orang.

Cayhe bukannya sengaja berbicara omong kosong belaka. Ujarnya dengan perlahan. Biasanya setelah orang mati maka tulang be-lilangnya akan berubah jadi putih, tetapi tulang dari Han Koan cu berubah jadi hitam, apakah itu bukan terbukti karena keracunan? ? ? Sedangkan sewaktu meracuni Han San Koan cu inipun telah diakui oleh Cungcu sesaat menjelang kematiannya. apakah hal ini bisa salah lagi?"

Setelah mendengar perkataan itu Pouw Cin-Cia tidak bisa berkata lagi, semua orangpun menjadi bungkam diri sehingga suasana jadi amat sunyi senyap.

Mendadak terengar suara tangisan yang amat keras memecahkan kesunyian.

Peristiwa itu tidak mungkin terjadi Teriaknya." semasa hidupnya Han San Koan cu, Cung cu sangat baik sekali menghadapi diri nya, dia tidak mungkin meracuni Han Soan Koan-cu sampai mati.

Cung-cu dengan dia sama sekali tidak ada ikatan dendam apapun buat apa dia mencelakai dirinya?

Lie Kian Poo segera bisa melihat kalau orang itu bukan lam adalan isteri dari Cung cu dan merupakan adik keponakannya sendiri, dengan cepat dia maju mendekat dan menghibur dengan kata-kata yang halus.

Tong-moay! perkataan yang aku katakaa-sedikitpun tidak salah urusan ini memang tenar sudah terjadi, buat apa aku harus membantu Liem Tou berbicara? didalam urusan ini keadaan benar-benar sangat ruwet dan bukanlah bisa dijelaskan dengan dua tiga patah kata saja. Tong moay percayalah terhadap perkataanku ini, aku sama sekali tidak akan menipu dirimu maka dari itu lain kali aku bisa menjelaskan persoalan ini lebih jelas lagi.

"Sekarang Cungcu sudah mati aku rasa lebih baik kita urus jenazahnya untuk dikuburkan, walaupun perbuatannya kurang cemerlang semasa hidupnya tetapi kitapuu harus meagadakan suatu upacara penguburan buat dirinya"

Dengan perlahan dia segera menoleh ke arah Liem Tou dan tambahnya lagi.

"Liem Tou, ada suatu urusan aku minta bantuanmu, apakah suka mengabulkan permintaanku ini ? Lie Kian Poo walaupun tidak becus tetapi rasa hormat kepada Cungcu tak akan hilang dari hatiku,dapatkah kau mengembalikan batok kepala dari Cung cu yang sudah kau ambil ?"

Liem Tou sama secali tidak menyangka dia bisa meagajukan permintaan seperti ini. tidak terasa dalam hati dia merasa amat sedih, setelah termenung berpikir sebentar akhirnya dia gelengkan kepalanya. Paman Kian Poo, keadaanmu pada saat ini.aku benar benar menaruh rasa simpatik.

tetapi pembunuhanaya terhadap si golok naga hijau tentunya paman Kian Poo melihat nya dengan mata kepala sendiri bukan ? Kalau batok kepala dari Cungcu itu aku serahkan kepadamu, tetapi bagaimana aku harus bertanggung jawab dihadapan Oei Poh muridnya si golok naga hijau ?"

Mendengar perkataan dari Liem Tou ini, Lie Kian Poo jadi teramat gusar.

,,Liem Touw!" bentaknya. Kau gunakan cara bagaimana untuk bertanggung jawab di hadapan Oei Poh hal itu bukanlah urusan aku orang, apakah sekiranya kau bersedia mengembalikan batok kepala dari Cung cu hal ini terserah padamu sendiri, tetapi bagaimanapun juga kau tetap merupakan salah seorang dari penduduk perkampungan Ie Hee San Cung ini, kau boleh pikirkan hal ini uengan baik-baik. Perkataan ini seketika itu juga mendesak Liem Tou kepojokan yang benar benar kepepet. Lie Siauw Ie yang melihat keadaan adik nya yang kebingungan pun tidak bisa berbuat apa apa.

Akhirnya Liem Ton yang mempunyai hati jujur dan polos segera mengambil keputusan dihatinya, mendadak dia putar tubuhnya masuk kedalam rumah untuk memungut kembali batok kepala dari Ang In Sin Pian kemudian diserahkan ketangan Lie Kian Poo dengan wajah serius.

Perkataan dari paman Kian Poo sedikit-pun tidak salah, aku lebih baik menerima makian dari Oei Poh dari pada membawa batok kepala ini buatnya, nah paman Kian Poo silahkan menerima kembali batok kepala dari Cung-cu ini. Siapa tahu karena kejalahan ini dia harus mengalami kesulitan di kemudian hari. Setelah itu dia segera menoleh kearah para penduduk keluarga Lie serta keluarga Pouw dan berseru:

"Paman Kian Poo jadi orang jujur dan berlapang dada, dia pantas sekali untuk menjabat sebagai Cung-cu di perkampungan Ie Hee san Cung ini, buat apa saudara saudara sekalian melakukan pertandingan lagi untuk memperebutkan kedudukan Cung cu ini"

Begitu mendengar perkataan tesebut diucapkan, maka seluruh penduduk keluarga Lie menyambut dengan sorak sorak sebaliknya dari pihak keluarga Pouw kelihatan rada ragu ragu. Liem Tou tahu urusan ini harus minta persetujuan dulu dari pentolan keliarga Pouw tersebut, karenanya dia lantas menoleh kearah Pouw Ci Cia.

,.Paman Ci Cia, kau bilang benar tidak ?,, tanyanya. Terpaksa Pouw Ci Cia mengangguk.

Seketika itu juga Liem Tou tertawa terba bahak ujarnya lagi dengan nyaring.

"Paman Ci Cia sudah setuju paman Kian Poolah yang men jabat sebagai Cung-cu. ada siapa lagi yang tidak setuju " Penduduk keluarga Pouw yang melihat Pouw Ci Cia sudah setuju merekapun tidak ada yang membangkang lagi, seluruh penduduk segera menyambut keputusan itu dengan sorak- sorai yang keras.

Tidak terasa lagi hari sudah menjelang kembali, Liem Tou segera memberi hormat kepada semua orang dan bersama sama dengan Lie Siauw Ie mengundurkan diri.

Sebaliknya para penduduk dari keluarga Lie serta keluarga Pouw pun mulai bubar pula.

Sejak Lie Kian Poo menjabat sebagai Cung cu inilah maka penghidupan di dalam perkampungan Ie Hee san Cung semakin makmur lagi melebihi sedia kala.

Setelah masuk rumah Lien Tou kelihatan wajahnya amat murung rekali. Lie Loo jie, si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie yang melihat keadaannya ini dalam hatipun merasa agak cemas.

..Sutit!" terdengar Lie Loo jie coba meng hibur dengan kata kata yang halus. "Urusan sudah lewat, apalagi pertemuan di puncak pertama pun sudah hampir tiba, kenapa kau tidak beristirahat terlebih dahulu ? Ada urusan kita pikirkan lain kali saja "

"Setelah batok kepala dari Ang In Sin Pi an aku kembalikan kepada paman Kian Poo maka terhadap perjanjian dengan Oei Poh muridnya sigolok naga hijau jadi meleset, dalam hati sutit merasa sangat tidak tenang.

kerbauku sekarang ada dibelakang perkampungan disamping tebing, tolong supek jagakan, sutit bermaksud hendak pergi ke kota Hong Kiat terlebih dulu, beberapa hari kemudian baru kembali" kata Liem Tou kemudian.

Lie Siauw Ie serta sigadis cantik pengangon kambing yang sudah ada delapan, sembilan hari tidak bertemu muka dengan Liem Tou kini bisa bertemu kembali dalam hati merasa girang, tetapi sewaktu mendengar dia mau pergi lagi tak terasa wajahpun ikut jadi murung.

"Adik Tou ada urusan apa yang begitu terburu-burunya ?" Tanya Lie Siauw Ie sambil melirik sekejap kearahnya. "Apakah urusanmu itu tidak bisa diselesaikan setelah peristiwa diatas gunung Cing Shia ini diselesaikan ?"

"Karena urusan ini dalam hatiku merasa tidak tenang, lebih baik aku bereskan dulu pekerjaan ini pokoknya tidak sampai melewati janji di gunung Cing Shia aku sudah tiba disini kembali ujar Liem Tou sambil geleugkan kepalauya.

Didalam beberapa hari ini di atas gunung Cing Shia ada kemungkinan bakal kedatanga banyak jago, mulai sekaranh harap Ie cici serta Wan moay-moay suka berlaku sedikit berhati-hati sehingga tidak sampai mendatangkan banyak kerepotan, Lie-Siauw Ie yang mendengar perkataan itu dalam hati jadi merasa kesal.

Uuu - - -Adik Tou kau jangan terlalu menghina kami teriaknya. Kami pun bukan bocah yang baru berumur tiga tahun yang masih minta diteteki oleh ibunya, apa kau kira kami tidak bisa berjaga diri ?

Liem Tou yang kebentur batu dalam hati. merasa tidak sabar, tanpa banyak cakap lagi dia segera berjalan keluar dari ruangan itu.

Supek, Ie cici, Wan moay-moay aku pergi dulu serunya keras.

" Sebentar kemudian dia sudah meninggalkan perkampungan Ie He san Cung dan kembali ke atas perahunya dibawah gunung Cing Shia.

Kali ini karena melakukan perjalanan dengan mengikuti aliran air sungai maka hanya di dalam sehari semalam dia sudah tiba kembali dikota Hong Kiat.

Siang itu dia melompat ke tepian dan kem bali lagi kerumah penginapan semula tetapi Oei Poh tidak kelihatan ditempat itu.

Berturut-turut Liem .Tou segera menanyakan beberapa rumah penginapan dan akhir-nya sampailah di sebuah rumah penginapan yang rada besar.

Setelah bertemu dengan pemilik rumah penginapan itu lantas tanyanya :

Apakah disini ada orang Piauw su she Oei?

Pemilik rumah penginapan itu memandang sekejap kearah Liem Tou lalu dengan gusar-nya mendengus.

Orang she Oei ada satu tetapi bukan Piauw su, ada keperluan apa kau mencari dirinya?

Heey, aku baik-baik tanya padamu kenapa kau marah marah ? tanya Liem Tou keheranan.

Siapa saja yang menyebut orang she Oei hatiku tentu akan marah, jawab pemilik rumah penginapan itu dengan gusar.

Coba kau bayangkan kami orang yang berdagang bukannya menerima uang biaya penginapan serta makanannya bahkan harus menerima pukulan dari bangsat cilik itu apakah itu pantas?

Haa, bilamana dia bukannya mempunyai sedikit pegangan tentu aku akan suruh orang hajar habis-habisan.

, hmm . . . sekarang dia .berada dimana tanya Liem Tou sambil mengangguk.

"Siapa yang tahu dia ada dimana ?" teriak pemilik rumah penginapan itu dengan mendongkol. "Sejak pagi dia sudah keluar bermabok-mabokan, ada kalanya baru pulang ditengah malam buta. Aaah . . . sungguh menjengkelka hati sekali !"

Liem Tou segera merasa ada kemungkian orang itu adalah Oei Poh, dari dalam saku nya dia segera mengambil keluar sekeping perak dan diserahken kepada pemilik rumah penginapan itu.

"Sekeping perak ini harap kau suka menerimanya, coba. kau suruh orang melihat dia ada di rumah atau tidak, bilamana bertemu dengan dirinya katakan saja ada seorang she Liem yang sedang mencari dirinya."

Si pemilik rumah penginapan yang melihat ada uang bisa diterima sudah tentu dalam hatinya merasa girang.

"Dia tidak ada dikamar, harap Khek koan tunggu sebentar biarlah aku kirim orang untuk mencarinya kembali !" katanya. Liem Tou tertawa dan duduk menanti.

Beberapa saat kemudian orang yang dikirim sudah kembali dan melaporkan tidak bertemu dengan Oei Poh.

Terpaksa Liem Tou kembali ke dalam perahunya untuk kemudian pada malamnya dia kembali kerumah penginapan tersebut.

Sewaktu dia bertemu muka dengan pemi Ilk rumah penginapan itu mendadak terasa olehnya orang itu memandang dirinya dengan pandangan yang aneh sekali membuat hatinya jadi rada heran.

"Dia sudah pulang sebentar tapi pergi lagi" jawab pemilik

,rumah penginapan itu sambil gelengkan kepalanya. "Katanya dia tak mau bertemu lagi dengan dirimu, bahkan surah kau cepat cepat pergi dari sini I"

Liem Tou jadi melengak. "Dia menunggu disini justeru sedang me-nanti kedatanganku, kenapa dia tidak suka menemui diriku?" pikirnya.

"Lalu apa yang dikatakan olehnya?" tanyanya kemudian. "Dia tanya kau datang cuma seorang atau dua orang, lalu tanya pula apakah ditanganmu membawa bungkusan kecil, aku jawab tidak ada, mendengar jawaban itu bagaikan orang gila dia lantas berjalan keluar dari pintu dan berteriak teriak tidak ingin bertemu muka dengan dirimu lagi, bahkan dia bilang,."

Berbicara sampai disitu mendadak, pemilik rumah penginapan itu menghentikan. kata katanya.

Liem Tou segera mengetahui apa yang hendak dibicarakan olehnya.

"Dia bilang mau bunuh aku, bukan begitu?" sambungnya. Sepasang mata dari pemilik rumah penginapan itu segera terbelalak lebar lebar, lama sekali baru kemudian jawabnya. Bagaimana kau bisa tahu ?? dia memang benar benar mau bunuh kau, aku lihat lebih baik orang itu jangan kau temui lagi, saat ini ada kemungkinan dia sudah pergi keluar kota lagi untuk bermabok mabokan.

Kau bilang dia keluar kota, arah mana yang dituju olehnya tadi???

Aku mengetahui tak begitu jelas, cuma dengar orang bilang dia menuju ke arah pintu barat dan seharian penuh ada disitu apa yang diperbuat siapapun tidak tahu. Aaah . . khek koan, aku beritahu padatnu, ada kalanya ditengah, malam buta dia tentu ada suatu peristiwa yang menyedihkan hatinya.

Liem Tou segera mersgangguk, dalam hati dia pun merasa sedih.

Kau terima uang emas ini sebagai biaya menginap dari Oei Poh dan janganlah kau berbuat kurang hormat lagi dengan dirinya. Ujar Liem Tou kemudian sembari mengeluarkan sekeping uang emas dan diletakkan di atas meja.

Setelah itu Liem Tou baru keluar dari rumah penginapan itu untuk memasuki setiap rumah makan guna mencari jejak dari Oei Poh, tetapi pekerjaan ini pun sia-sia belaka.. Akhirnya dia berangkat menuju ke pintu sebelah barat, terlihatlah di sebelah selatan dari tempat itu merupakan sungai, sedang di sebelah utara sebuah bukit kecil.

Liem Tou mulai melakukan pencarian dari samping sungai, sewaktu sudah berjalan duapuluh lie masih tidak msnemukan juga bayangan dari Oei Poh, dan dia berjalan kembali ke samping gunung dan mencarinya pada bukit yang berada disebelah utara.

Walaupun gunung itu tidak berapa tinggi tetapi duri serta semak memenuhi seluruh tempat. Tidak jauh Liem Toa menaiki bukit itu mendadak terdengarlah suara tangisan yang amat sedih berkumandang datang dari sisinya.

Liem Tou jadi merasa keheranan, sambil menyingkirkan duri serta semak belukar yang menghalangi perjalanannya dia mulai meacari berasalnya suara tangisan itu.

Akhirnya dia menemukan Oei Poh lagi menangis didepan gundukan tanan. yang kelihatannya masih baru.

Melihat pemandangan seperti itu dalam hati Liem Tou pun ikut merasa sedih, sambil meeringankan gerakan kakinya dia berjalan mendekati diri Oei Poh.

Tampaklah olehnya seluruh wajahnyn kotor, bajunya butut dan penuh dengan bau arak yang menusuk hidung.

Untuk beberapa saat lamanya Liem Toa berdiri disamping badannya tanpa mengucapkan sepatah katapun.

Agaknya Oei Poh sama sekali tidak merasa kalau disamping badannya sudah kedatangan seseorang, dia masih menangis dengan sedihnya.

"Oei-heng !" Akhirnya dengan memberanikan diri Liem Tou menegur.

Suara panggilannya ini seketika itu, juga terasa oleh Oei Poh bagaikan geledek yang menyambar disiang hari bolong, dengan cepat dia menarik kembali suara tangisannya dan berlutut tidak bergerak. . Agaknya dia merasa tegang atas kehadiran diri Liem Tou yang tanpa terasa olehnya, itu.

Liem Tou yang takut diserang olehnya punt segera mengundurkan diri dua langkah ke belakang

, "'Oei-heng aku sengaja datang untuk menepati janji" katanya lagi.

Lama sekali Oei Poh berdiam diri tanpa menoleh, mendadak dengan suara yang sedih ujarnya:

"Liem Tou! Apakah kau membawa serta bajingan tua Ang In Sin Pian ?"

"Dia sudah mati!" sahut Liem Tou sambil menggigit kencang bibirnya.

Kelihatan pundak Oei Poh sedikit tergetar oleh berita ini diikuti badannya gemetar dengan kerasnya, tetapi hnnya didalam sekejap saja sudah menjadi tenang kembali.

"Lalu apakah batok kepalanya sudah kau bawa serta?" tanyanya.

'Tidak'." jawab Liem Tou setelah termenung sebentar. "Dia sudah dikubur diatas per kampungan Ie Hee san Cung !" Sekali lagi selurun tubuh Oei Poh gemetar dengan amat kerasnya, diikuti bergetarnya seluruh rambut dan badannya. Liem Tou yang melihat kejadian itu dari samping segera mengerti kalau dia lagi merasa gusar.

"Oei Poh !" hiburnya dengan cepat. "Kau jangan marah dulu dan dengarkanlah perkata anku, dia benar-benar sudah mati dan aku yang berhasil membunuhnya dengan tanganku sendiri, sebenarnya aku sudah potong batok kepalanya tetapi barang itu sudah diminta kembali oleh Lie Kian poo "

Oei Poh segera merasakan hatinya terpukul sangat hebat, mana dia mau memper cayai perkataannya, sambil meraung keras dia meloncat bangun.

' "Lim Tou kau tidak usah berbohong dihadapanku lagi"' Teriaknya dengan keras.

"Kau manusia yang tidak pegang jajji, aku mau bunuh kau, Liem Tou kau dengar baik-baik aku mau bunuh kau!" Sembari berteriak keras bagaikan orang gila dia menubruk kearah Liem Tou.

Dengan gesitnya Liem Tou segera me nyingkir ke samping. Oei heng, coba kau deigarlah dulu perkatataan dari Siauw~te. orang she Pouw benar sudah mati ditanganku, bilamana kau tidak percaya marilah akan aku temani kau pergi ke perkampungan Ie Hee-san Cung untuk melihatnya sendiri.

Aku tidak percaya. . . aku tidak percaya . . * , bilamana tidak melihat sendiri batok kepalanya aku tidak akan berdiam, diri perkataan yang kau ucapkan semuanya adalah kata bohong bilamana ada kuburan maka kuburan itu adalah kuburan palsu, bila ada mayat maka mayat itu adalah mayat palsu Liem Tou, kau sungguh-sungguh sudah mencelakai diriku, aku mau bunuh dirimu . . . aku mau bunuh dirimu.

Diikuti pekikan yang amat mengerikan dengan dahsyatnya dia menubruk ke tubuh Liem Tou.

Liem Tou yang melihat kesadarannya sama sekali sudah pudar dalam hati lantas tahu sekalipun dia beri keterangan juga tak berguna, terpaksa tubuhnya miring dua langkah ke samping untuk menghindarkan diri dari tubrukannya itu.

Oei Poh. ujarnya deigan serius. Kali ini aku benar terpaksa harus mengembalikan batok kepala dari Pouw Sak San kepada Lie Kian Poo tetapi kau jangan kuatir, Pouw,Sak San benar- benar sudah mati, kau mau percaya atau tidak aku tidak akan memaksamu lagi.

Sekarang aku masih ada urusan perjanjian dengan orang lain, selamat tinggal. bilamana kau merasa dendam dengan aku orang, lain kali datang saja mencari diriku, Selesai berkata dia segera putar badannya siap-siap meninggalkaii tempat itu.

Mendadak Oei Poh berkelebat ke depan menghalangi perjalanannya.

Liem Tou, kau pergilah., Bentaknya dengan keras Kau pergilah

. . . aku bisa cari dirimu pada suatu hari aku akan bunuh kau. kau tidak akan lolos dari tanganku.

Sembari berkata dia meremas-remas tanngannya, wajahnya kelihatan berubah sangat menyeramkan.

Baiklah, sahut Liem Tou tidak sabaran lai gi. Kalau kau ingin mencari aku carilah setiap saat aku bisa menunggu kedatanganmu, dan setiap saat aku bisa mengalah tiga jurus kepadamu, tetapi sekarang kau menyingkirlah dulu, Liem Tou tidak akan banyak ngomong dengan orang gila seperti kau.

Oei Poh segera melototkan sepasang mata nya. dengan gusar dan bencinya dia memandang diri Liem Tou tak berkedip setelah itu barulah menyingkir kesamping.

"Kau pergilah Liem Tou !" teriaknya ke mudian. "Sekarang walaupun kau sudah hancur jadi abu aku masih bisa mengganti dirimu kembali !"

Tetapi mendadak seperti baru saja teringat akan sesuatu hai. tiba tiba membentak lapi :

"Tunggu dulu Liem Tou kau bilang apa ??? Kau ingin mengalah tiga jurus kepadaku ???? Aku tidak mau mengalah terhadap dirimu, kau masih hutang tiga laksa tahil perak dari Cing Liong Piauw-kiok . . . kau pernah dua kali merolong aku maka akupun akan melepas dirimu dua kali, setelah hutang di antara kita lunas aku baru akan turun tangan membinasakan dirimu."

Liem Tou yang mendengar perkataan yang sama sekali tidik waras itu dalam hiti merasa tidak tega untuk mendengar,

Baru saja dia siap-siap meninggalkan tempat itu mendadak dari samping pepohonan dia mendengar suara yang mencurigakan. terdengar olehnya ada orang yang sedang berjalan di antara rerumpuian.

Dengan cepat Liem Tiu mengheitikan langkahnya dan manoleh kearah semak belukar itu.

"Siapa yang sedang mencuri dengar pembicaraan kami?" bentaknya.