Raja Silat Jilid 28

 
Jilid 28

SAAT itulah dari tempat kejauhan tiba-tiba berkumandang datang suara teriakan dari seorang bocah ! ,,Suci, aku datang

!"

Diantara berkelebatnya sinar keperak-perakan seorang bocah cilik berusia delapan, sembilan tahunan dengan mencekal sebilah pedang perak menubruk dating.

Dengan gerakannya ini maka serangan mereka berdua merupakan satu kerja sama yang baik, dengan cepatnya berpuluh-puluh ekor burung elang sudah berhasil mereka gencet dibawah serangan yang gencar sehingga puluhan elang tersebut terancam keselamatannya.

Pada saat yang amat kritis itulah tiba-tiba dari puncak gunung berkumandang datang suara tertawa panjang yang amat nyaring.

“Liem jie; Peng jie jangan membunuh terlalu banyak !" serunya.

Begitu mendenpar suara teriakan, Liem Tou sudah mengenal kalau teriakan itu berasal dari Thian Pian Siauwcu, Kie Hong tetapi dia keheranan jika ditinjau dari nada ucapannya jelas dia sedang memberi ijin kepada kedua orang itu untuk msmperoleh burung-burung elang peliharaannya.

Baru saja Liem Tou berpikir sampai disitu mendadak tampaklah bocah yang disebut sebagai Kiem jie serta Peng jie itu memperkecil kurungan pedangnya sehingga tinggal beberapa depa saja.

Diantara berkelebatnya sinar pedang, suara pekikan ngeri berkumandang memenuhi angkasa.

Berpuluh-puluh ekor burung elang sudah terbabat mati dibawah pedangnya, darah segar memancar keluar dan berceceran diatas tanah sedangkan kawanan elang yang memenuhi angkasa seluas puluhan kaki itu kini sudah kosong melompong.

Begitu mendapat hasil kedua orang bocah itu dengan cepat segera menerjang turun kebawah.

Liem Tou yang berdiri diatas puncak yang kedua tidak dapat melihat bagaimana kelanjutan dari kedua orang yang sudah melayang turun itu, tetapi dari beribu-ribu ekor burung elang yang ikut menerjang pula kebawah dia menduga kalau kawanan burung itu belum menariknya kembali serangannya.

Diam diam dia merasa amat terkejut sama sekali tak terduga olehnya kalau Thian Pian Siauwcu bisa berhasil melatih kawanan burung elang yang untuk menerjang musuh dengan demikian dahsyatnya . . .

Pada saat suara burung rajawali berkaok untuk kedua kalinya, kawanan burung elang itu baru menghentikan serangannya dan melayang naik keangkasa.

Kawanan burung elang yang semula menutupi sang surya dengan cepat terbang pergi hingga bersih, suasana diatas puncak pertamapun dengan sendirinya menjadi terang kembali.

Pada saat ini Liem Tou tidak ingin bertemu dengan diri Thian Pian Siauw-cu, dengan cepat dia mengundurkan diri dari sana sambil memikirkan cara-cara untuk menghadapi kawanan burung elang itu.

Mendadak . . .terdengar suara dari Lie-Loo jie berkumandang datang dari belakang badannya. “Hian tit, kaupun sudah datang,” serunya perlahan.

“Kelihatannya kawanan burung burung itu sukar sekali untuk dihadapi.”

Liem Tou segera menoleh waktu dilihatnya Lie Loo jie berada kurang lebih dua kaki dari arahnya dengan cepat dia melompat kehadapannya.

“Walaupun kawanan burung elang itu ganas tetapi buat supek dan aku rasanya masih belum seberapa msrepotkan” jawabnya tersenyum “tetapi bilamana enci Ie serta Wan moay yang diserang ada kemungkinan mereka jadi kalang kabut dibuatnya.”

“Perkataan ini sedikitpun tidak salah” sahut Lie Loo jie mengangguk. “Pengalaman Ie-jie serta Wan-jie didalam menghadapi musuh masih terlalu cetek sampai waktunya ada kemungkinan memang bisa menemui kerugian lebih baik mereka berdua disuruh menonton saja disuatu tempat yang aman saat itu bukan saja mereka bisa menonton jalannya pertempuran antara jago jago Bu-lim bahkan keselamatannyapun tidak terganggu, bukankah hal ini amat bagus sekali ?”

Saat ini terhadap Lie Loo jie Liem Tou berlaku sangat normal sekali, dia lantas menyahut tanpa membantah. Lie Loo jie segera mengalihkan bahan pembicaraannya, menanyakan seluruh keadaannya.

Selesai mendengar penuturan dari Liem Tou ini Lie Loo jie mengangguk.

“Memang seharusnya demikian” sahutnya sambil tertawa. “Selama satu tahun aku tidak bertemu dengan diri Hian tit bukan saja badanmu semakin menginjak dewasa bahkan kepandaian silat serta pengalamanmu pan sudah memperoleh kemajuan beratus ratus kali lipat hal ini patut diberi selamat, patut merasa girang, arwah Kongcu yang ada dialam bakapun tentu akan ikut gembira pula.”

Mendengar perkataan itu dengan sedihnya Liem Tou menggelengkan kepalanya.

“Berkat kemujuran dari sutit secara tidak sengaja aku berhasil memperoleh kitab pusaka To Kong Pit Liok” ujarnya dengan sedih. “Kemungkinan semuanya itu pun berkat perhatian dari supek, enci Ie serta Wan-moay

pada masa yang lalu, eey ! seharusnya aku mengucapkan terima kasihku kepada kalian semua, tentang pengalaman didalam Bu-lim sutit rasa masih terlalu cetek, lain kali harap supek suka banyak memberi petunjuk”

„Ha ha Sutit, kau jangan terlalu memuji” seru Lie Loo jie tertawa terbahak-bahak setelah mendengar perkataan ini. Sekonyong-konyong - - - - - - -

Dari puncak pertama gunung Cing Shia tiba-tiba berkumandang datang suara tertawa terbahak-bahak yang amat nyaring sekali sehingga menggetarkan seluruh lembah, diikuti suara pekikan burung rajawali yang amat keras memekikkan telinga !

Liem Tou segera mengartikan sesuatu, dia tahu suara pekikan itu bukan lain adalah tanda yang dikirim kepada kawanan burung elang untuk bersiap melancarkan serangannya.

Dengan gugup dia lantas berseru kepada Lie Loo djie :

„Supek, waktunya masih belum tiba, lebih baik kita menyingkir dulu untuk sementara waktu."

Selesai berbicara pertama-tama dialah yang meloncat terlebih dahulu untuk menuruni puncak kedua dan berlari menuju gunung Thian Cang San, kemudian kembali ke gunung Ha Mo San.

Tidak lama setelah Liem Tou serta Lie Loo jie angkat kaki kawanan elang sudah mulai memenuhi angkasa untuk mencari jejaknys musuh.

Beribu-ribu ekor burung bersama-sama menyebar menutupi seluruh angkasa dari ketigapuluh enam puncak gunung Cing Shia itu.

Melihat hal itu Liem Tou semakin mempercepat larinya.

"Sutit, hal ini tidak bisa jadi," teriak Lie Loo-jie mendaiak. "Lebih baik untuk sementara waktu kita mencari sebuah gua untuk menghindari dulu dari pengamatan kawanan elang itu."

Mendengar perkataan tersebut Liem Tou segera menarik kembali langkahnya, sewaktu menoleh ke belakang dan dia sudah tidak melihat bayangan dari Lie Loo djie, dia tahu dia orang pasti sudah bersembunyi, Tetapi pada saat dia sedikit berayal itulah kawanan burung2 elang yang ada diangkasa sudah menemukan jejaknya, disertai pekikan nyaring berpuluh puluh ekor burung elang bersama-sama menerjang kearahnya dengan dahsyat.

Sampai waktu ini Liem Tou tidak sempat menghindar lagi. satu pikiran segera berkelebat dalam benaknya.

“Hmm, lebih baik aku kecepatan kaki saja dergan kawanan burung berbulu ini aku mau lihat siapa yang lebih cepat” pikirannya.

Berpikir sampai disitu tanpi ragu ragu lagi dia meloncat kesamping menghindar diri dari kawanan burung elang itu kemudian dengan mengerahkan tenaga murninya bagaikan segulung bayangan hijau dengan cepatnya berlari menuju ke arah gunung Thian Cang San. Agaknya berpuluh puluh burung elang itu pun tidak mau melepas mangsanya dengan begitu saja, sambil berpekik nyaring memberi tanda kepada kawan kawannya dengan cepatnya mereka pun melakukan pengejaran dari belakang Liem Tou.

Setelah adanya pekikan peringatan itu, kawanan burung elang yang ada ditengah udara segera berkumpul menjadi satu untuk kemudian bersama-sama menubruk kearah Liem Tou. Hanya dalam sekejap saja beribu-ribu ekor burung elang yang semula memencar di empat arah delapan penjuru; sudah berkumpul datang semuanya.

Sembari berlari Liem Tou tiada hentinya mendongak keatas didalam hati diam-diam dia tertawa dingin.

"Hmm ! kawanan burung burung jelek-jelek itu apa sengaja datang untuk mengantar kematiannya ?" pikirnya.

Saat itulah dihadapan mendadak muncul beberapa pohon siong yang amat lebat dan tumbuh dengan angkernya dipunggung gunung.

Satu ingatan segera berkelebat didalam ha linya, dengan cepat dia berkelebat ke samping pohon siong itu lalu menutulkan ujung kakinya untuk menerjang naik keatas pohon siong tersebut.

Sewaktu tubuhnya mencapai diatas permukaan tanah kembali, didalam sakunya dia sudah menggembol segenggaman besar jarum-jarum pohon siong yang tajam untuk kemudian melanjutkan kembali perjalanannya.

Saat ini dia yang harus melihat gunung Thian Cang San dengan jalan yang berbelok belok sudah tentu gerakannya sangat jauh lebih perlahan lagi dari kawanan burung yang terbang lurus diangkasa, tidak lama kemudian kawanan burung yang terbang lurus diangkasa, tidak lama kemudian kawanan burung itu sudah berhasil menyandak diatas kepala Liem Tou, kemudian dengan disertai sambaran angin tajam mereka mulai melancarkan serangannya kearah kebawah.

Liem Tou sedikitpun tidak kelihatan jeri, dengan cepat dia meraup segenggam jarum pohon siong, menanti datangnya serangan itu.

Begitu kawanan burung elang itu berada sangat dekat dengan dirinya, dengan menggunakan cara Hwee Hoa Tiap Yap tanpa mengeluarkan sedikit suarapun seraup jarum itu dengan disertai hawa murni yang amat dahsyat menyambar keatas menembus kedalam lambung burung burung itu. Hanya didalam sekejap saja ada berpuluh puluh ekor burung elang sudah terkena bokongannya dan jatuh keatas tanah dalam keaadaan binasa.

Liem Tou yang secara tidak sengaja sudah nenemukan jarum pohon siong sebagai senjata rahasia didalam hati diam- diam merasa sangat girang, pikirnya.

“Mengapa aku tidak berputar-putar beberapa kali ditengah pegunungan yang sunyi ini untuk membasmi habis kawanan burung elang yang ganas itu ? bilamana aku berhasil berbuat demikian bukankah sama saja dengan sudah melenyapkan satu beneana ? atau sedikit dikitnya bilamana aku berhasil melenyapkan separuh saja diantara kawanan burung itu hal ini sudah merupakan satu pukulan yang berat bagi Thian Pian Siauw-cu”

Berpikir sampai disini dia segera mengubah arah tujuannja dan lari kembali kedepan.

Kawanan burung-burung elang yang semula ada ditengah udara kini mulai berkaok kaok lagi memberi kabar kepada kawan-kawan lainnya, hanya didalam sekejap saja kembali beribu-ribu ekor kawanan burung berkerumun datang sehingga seluruh angkasa tertutup rapat, keadaannya amat mengerikan sekali.

Mendadak dari atas puncak kedua gunung Cing Shia melayang turun tiga sosok bayangan biru, merah serta putih yang menerjang datang dengan keceoatan yang luar biasa sekali, dan sekali pandang saja Liem Tou segera tahu kalau mereka pastilah si-Thian Pian S-iauw-cu beserta Kiem Jie dan Peng jie. Liem Tou yang tidak bisa ingin bertemu muka dengan mereka gerakannya pun semakin dipercepat, setelah mengitari satu lingkaran besar dia munculkan dirinya kembali diatas puncak kedua gunung Cing Shia tersebut.

Walaupun dia berhasil menghindarkan diri dari pengamatan Thian Pian Siauw-cu tetapi kawanan burung elang itu dengan amat kencangnya masih terus mengawas-awasi dirinya, dan kawanan burung elang yang tidak mati menerjang kebawah.

Terpaksa dengan menggunakan cara yang sama Liem Tou memberikan perlawanannya antara berkelebatnya daun-daun pohon siong kembali ada berpuluh-puluh ekor burung elang rontok ke atas tanah.

Semakin menerjang merasa makin bangga dan semakin senang, tidak kuasa lagi suara tertawa yang sangat nyaring meledak dari mulutnya, suara tertawa itu amat keras, kaku dan keras laksana pekikan naga yang ke luar dari gua membuat seluruh gunung tergetar tiada hentinya.

Terhadap suara tertawa nyaring yang memekikkan telinga itu baik Thian Pian Siauw-cu maupun Lie Loo jie selamanya mengingat terus didalam hatinya, mereka mengetahui orang yang tertawa seperti inilah yang sudah pernah mempermainkan mereka.

Liem Tou yang secara tidak sengaja sudah mengerahkan hawa murninya yang disalurkan kedalam suara tertawanya ketika itu juga membuat mereka jadi amat terkejut.

Thian Pian Siauw-cu yang dikarenakan berada ditempat kejauhan sama sekali tidak tahu kalau orang yang baru saja tertawa adalah Liem Tou, tetapi Lie Loo-jie yang tempat persembunyiannya hanya ada beberapa dari tempat Liem Tou berada sudah tentu bisa melihat seluruh kejadian itu dengan jelas.

Didalam hati diam-diam dia merasa terkejut bercampur girang. dia merasa gembira musuh tangguh yang ditakutinya selama ini ternyata keponakannya sendiri bersama pula dia merasa kagum atas kesempurnaan ilmu silat yang dimiliki Liem Tou,

Tetapi terhadap permainan yang dilakukan Liem Tou terhadapnya didalam hati Lie Loo jie merasa sangat tidak senang, tanpa perduli apakah saatnya sudah tiba atau belum dengan wajah gusar mendadak dia meloncat keluar dari tempat persembunyiannya.

"Bangsat cilik ! Kiranya kau orang yang sudah mempermainkan aku waktu ada ditebing Leng Ai diatas gunung Go-bie" bentak-nya dengan keras. "Hmmm ! Aku mau lihat sebetulnya kau memiliki kepandaian yang seberapa tinggi sehingga berani mempermainkan aku, lihat serangan !"

Begitu kata-kata terakhir selesai diucapkan, bagaikan kilat cepatnya dengan menggunakan jurus "Pek Loh Heng Hwee" atau seruni putih terbang melintang melancarkan pukulan dahsyat menghajar dada Liem Tou.

Dengan cepat Liem Tou menggeserkan badannya dua langkah ke samping untuk menghindarkan diri dari serangan tersebut.

"Supek ! Kau jangan salah paham. Sutit sama sekali tidak bermaksud jahat !" teriaknya dengan suara gugup.

Sepasang mata Lie Loo-jie melotot lebar-lebar tubuhnya berputar setengah linpkaran belum sempat telapak kanannya ditarik kembali telapak kirinya dengan menggunakan jurus "Im Liong Siam Cu" atau naga marah mengunjukkan cakar menerobos kedepan mencengkeram dada Liem Tou.

“Liem Tou,” bentaknya dengan keras. “Kau orang tidak usah banyak bicara lagi, cepat terimalah datahgnya serangan ini.”

Kelihatan cengkeraman tangan kiri dari Lie Loo-jie hampir mencapai pada sasarannya, mendadak Liem Tou menarik dadanya ke belakang dan meloncat mundur lima langkah. “Supek, kau jangan marah dulu, dengarkanlah perkataan dari sutitmu !” teriaknya dengan gugup.

Tetapi Lie Loo-jie tidak mau tahu, dia tetap melancarkan serangannya dengan gencar.

“Bangsat cilik” bentaknya dengan suara yang keras sekali, “Ternyata kau orang yang mempunyai simpanan. Hmm, Liem Tou, terima lagi seranganku ini.” Tubuhnya maju beberapa langkah kedepan sepasang telapak tangannya dengan bersama-sama melancarkan serangan kedepan.

Yang kiri dengan menggunakan ilmu serangan aliran Siauw lim pay sedang yang kanan menggunakan ilmu serangan dari aliran Thay Khek Pay bersama-sama menyerang ke-depan.

Melihat datangnya serangan tersebut tanpa terasa Liem Tou jadi tertegun.

“Ilmu pukulannya ini mana mirip dengan satu serangan yang dilancarkan oleh seorang jagoan terkenal?” Pikirnya didalam hati.

Tidak lebih serangannya mirip dengan tukang jamu mencari uang.

Sewaktu melihat kearah kakinya Liem Tou lantas dapat melihat kalau gerakan dari Lie Loo-jie ini diantara sungguh- sungguh sebetulnya kcsong, tidak terasa lagi dia tertawa ringan, baru saja dia bermaksud untuk mundur kebelakang mendadak satu ingatan berkelebat didalam hatinya, tiba-tiba dia menjerit kaget.

“Supek, kau ingin menggunakan akal?”

Bukannya mundur dia malah maju kedepan sekali jejak, tubuhnya sudah melayang sejauh dua kaki lebih. Begitu tubuhnya mencapai tanah angin serangan sudah menyambar lewat dibelakang badannya. Dengancepat Liem Tou putar badannya dan tepat saling berhadap-hadapan dengan diri Lie Loo-jie.

Lie loo jie yang melihat gerakan dari Liem Tou ini seketika itu juga dibuat tertegun, lama sekali dia berdiri termangu- mangu tanpa mengucapkan sepatah katapun.

Liem Tou tidak mau membuang kesempatan ini lagi, dengan cepat dia membungkukkan badannya menjura.

„Supek" panggilnya dengan hormat.

“Haa. . . haa Liem Tou; kali ini supekmu baru benar-benar merasa takluk dengan dirimu !” seru Lie Loo jie sembari tertawa terbahak-bahak. “Orang-orang Bu-lim paling mengutamakan perjanjian yang sudah diucapkan, kau sudah mengundang aku datang keatas gunung Cing Shia bilamana tidak bertempur bagaimana hal ini bisa jadi ? Baiklah ! Kali ini aku sudah menyerang tiga jurus terhadap dirimu tetapi berhasil kau hindari semua tanpa membalas. hal ini masih tidak temasuk bilangan, mari sekarang kita ulangi sekali lagi, aku mengalah tiga jurus buatmu,"

„Supek sudahlah buat apa kita berguyon semacam itu ? Hal itu mana mungkin boleh ?" teriak Liem Tou sambil goyangkan tangannya.

Air muka Lie Loo jie segera berubah jadi amat keren, mendadak dengan gusarnya dia membentak keras:

„Liem Tou ! Siapa yang lagi berguyon dengan dirimu ? Apa kau ingin merusak nama baik yajg telah aku pupuk selama ini? Ayoh cepat mulai turun tangan !"

Sembari berkata dia lantas mempersiapkan kuda-kudanya untuk menyambut datangnya serangan.

Liem Tou yang melihat akan hal ini diam diam didalam hati merasa bergidik tidak menyerang tidak enak menyerangpun tidak mungkin bisa terjadi sewaktu dia sedang merasa serba susah itulah mendadak terdengar suara pekikan burung rajawali kembali berkumandang datang.

Liem Tou dengan cepat dongakkan kepalanya memandang, terlihatlah diatas gunung Thian Gang san yang berada paling berhadap-hadapan dengan dirinya berdua, berdiri-lah Thian Pian Siauw cu itu, Kiem jie serta Peng jie tiga orang.

Diatas udara berbarislah berderet-deret burung elang yang membentuk satu barisan di atas ditengah; dibawah masing- masing dibagi menjadi tiga lapis diantara masing-masing lapis jaraknya ada berpuluh kaki tingginya sehingga kelihatan amat menyeramkan sekali. Diam-diam dalam hati Liem Tou merasa amat terkejut dia tahu bilamana kawanan burung elang ini mulai melancarkan serangannya mska keadaannya pasti sangat berbahaya sekali.

Dengan mengambil kesempatan ini Liem Tou lantas menoleh kearah Lie Loo jie dan ujarnya;

“Supek, keadaan pada waktu ini sangat berbahaya sekali apa lagi burung burung elang itu bersama-sama melancarkan serangan ke arah bawah, untung saja janji yang sudah Sutit ucapkan masih ada sembilan hari lamanya tiga jurus serangan itu bagaimana kalau kita undurkan dilain waktu saja ?"

Mendengar perkataan itu Lie Loo jie berpikir sebintar, akhirnya mengangguk.

„Itu baru bagus ! Tetapi perlu aku beritahu padamu, tidak perduli bagaimanapun juga ketiga buah jurus ini tidak bisa kau hindari lagi !" katanya.

„Hal ini sudah tentu !" jawab Liem Tou dengan cepat.

Dia berhenti sebentar untuk kemudian berganti bahan pembicaraan, ujarnya lagi :

„Jika ditinjau dari keadaan saat ini agak-nya tidak terhindar lagi kita harus bertempur sengit dengan kawanan burung- burung elang itu; menurut pendapat Supek sekarang bagaimana enaknya ?”

Belum sempat Lie Loo jie memberikan jawabannya, Thian Pian Siauw-cu yang ada di gunung sebelah depan sudah berteriak :

„Loo Sang ! Kau yang disebut sebagai seorang jago kawakan yang sudah punya nama besar didalam Bu-lim, sungguh tidak tahu malu waktu perjanjian belum tiba kenapa kau sudah datang kemari melukai burung elangku ? Aku mau dengar apa alasanmu kau berbuat demikian !"

Sepasang mata dari Lie Loo jie segera dikerutkan rapat- rapat

“Aaah.. sudah ada !" teriaknya dalam hati. Mendadak dia tertawa dingin. „Ke Hong !" balas teriaknya. ,.Kau jangan menggunakan cara kuno ini; terang-terangan kau sudah perintahkan burung-burung jelekmu itu untuk menyerang aku; sekarang dengan tidak tahu malu ternyata kau sebaliknya malah menyalahkan orang lain - - - hm! mukamu ternyata makin tahun makin bertambah tebal."

"Haa - - -haa" tidak kuasa lagi Thian Pian Siauw cu tertawa terbahak-bahak. "Lie Sang! bilamana kau orang tidak mendatangi puncak pertama ini untuk mengganggu mereka, apa mereka dapat terbang ketebing Leng Ay di-atas gunung Go bie mu untuk mengganggu kau orang ?"

"Cuh ! Ke Hong, tidak kusangka kau orang masih bisa mengucapkan kata-kata seperti itu" Maki Lie Loo jie dengan gusarnya “kalau aku tidak diperkenankan datang sebelum waktu perjanjian, apa lantas cuma kau saja yang boleh ? aku lihat lebih baik kau tarik kembali terlebih dahulu kawanan burung-burung jelek kesayanganmu itu, buat apa kau mencari malu dihadapan kami dengan mempamerkan barang-barang sejelek itu.”

Thian Pian Siauw cu sama sekali tidak menggubris akan kata-kata dari Lie Loo jie ini, mendadak tanyanya dengan suara keras :

“Hey Lie Sang, siapa yang di samping itu ?”

Dikarenakan jaraknya yang cukup jauh ditambah pula Liem Tou yang kini sudah menginjak dewasa sehingga dandanannya pun sudah berubah pula sudah tentu membuat dia sama sekali tidak kenal.

„Ke Hong, kau mau mengetahui siapakah orang ini ? Heee .

. . heee . . . dia orang mempunyai sangkut paut yang amat besar sekali dengan dirimu masih ingatkah kau dengan sute- ku si pancingan emas sakti Liem Ceng ? dia adalah putranya; sudah tentu sutit-ku sampai waktunya kan boleh mencicipi bsgaimana rasa pedasnya jahe !"

“Ha ! Si pancingan emas adalah panglima yang pernah menderita kekalahan ditanganku buat apa aku gubris dia orang ?”

„He, kalau memangnya putranya mau mencari gara-gara janganlah kau salahkan aku Thian Pian Siauw cu terlalu menghina orang, selamat bertemu dikemudian hari," Teriak Thian Pian siauw-cu kemudian dengan suara yang mengandung nada penghinaan.

Selesai berkata tangan kirinya segera di-gape, segera terdengarlah suara pekikan nyaring dari burung rajawalinya disusul dua kali pekikan pendek burung elang yang ada diangkasa bagaikan tawon bersama-sama melayang menuju kepuncak pertama, Lie Loo jie yang melihat mereka berhasil meloloskan diri dari kurungan segera menoleh kearah Liem- Tou.

“Sutit, mari kitapun harus pergi.” Agaknya mendadak dia menemukan wajah Liem Tou sudah berubah merah padam, dengan termangu-mangu berdiri tak bergerak sepasang matanya melotot keluar saat ini dengan suaranya sedang memandang kearah gunung dihadapannya.

Melihat akan hal itu diam-diam Lie Loo jie merasa hatinya sedikit bergerak, dia tahu dia orang sudah terbakar hatinya oleh gosokan Thian Pian Siauw cu dengan terburu-buru hiburnya.

“Sutit mari kita pergi saat ini kita tidak perlu banyak beribut dengan dirinya.”

Tidak menanti jawabannya dari Liem Tou lagi dia segera menepuk pundaknya kemudian dengan gerakan yang berkelebat menuju kebawah puncak kedua sebelum menemui puncak tersebut.

Dengan gemas bencinya Liem Tou kirim satu kerlingan kearah Thian Pian Siauw cu kemudian baru terburu buru menyusul Lie Loo jie.

Setelah mengitari sebuah bukit akhirnya sampailah mereka dibelakang gunung Ha Mo Leng dan tiba didepan rumah Lie Siauw Ie.

Lie Siauw Ie yang melihat munculnya Liem Tou disana, sepasang matanya segera berubah memerah kembali, kata- kata pertama yang diucapkan keluar adalah memaki diri Liem- Tou.

“Liem Tou !" Teriaknya." Sejak semula kau sudah tahu kalau ibuku meninggal kenapa tidak kau sampaikan kepadaku ?" kau terus-menerus mengelabui diriku, bukankah . . ."

Berbicara sampai disini dia segera melengos kearah lain.

Liem Tou yang semula memang sedang mangkel dan murung saat ini terpaksa dengan menahan sabar menjawab : "Enci Ie kau jangan terlalu sedih, sebetulnya aku bermaksud baik terhadap dirimu."

Lie Siauw Ie segera mendengus dan tidak mengucapkan kata kata lagi.

Dengan mengambil kesempatan itu Lie Loo jie segera menghibur dirinya :

"Ie jie, perkataan dari Liem Tou sedikit-pun tidak salah, dia bermaksud baik terhadap dirimu janganlah menyalahkan dirinya lagi.”

"Tidak ! semuanya ini memang kesalahanku" tiba-tiba kata Liem Tou dengan gugup." Semuanya ini akulah yang bersalah tidak seharusnya aku mengelabui enci Ie."

Saking terharunya air matanya segera berubah jadi memerah, tetapi dengan sekuat tenaga dia berusaha untuk menahan golakan tersebut dan melengos memandang kedepan jendela ....

Lama sekali dia termenung, akhirnya dengan suara yang perlahan serunya : “Aku pergi dulu !"

"Liem Tou, kau hendak kemana ?" Teriak Lie Siauw Ie dengan terkejut setelah mendengar perkataan tersebut. Terlihatlah sesosok bayangan hijau dengan amat cepatnya berkelebat keluar melalui pintu dan sebentar kemudian sudah lenyap tak berbekas.

“Adik Tou !" teriaknya kemudian sambil memburu keluar pintu. "Kau jangan menaruh rasa marah terhadap cicimu. cicimu sama sekali tidak menyalahkan dirimu."

Tetapi bayangan tubuh dari Liem Tou sudah lenyap tak berbekas sekalipun dia sudah berteriak sampai pecah tenggorokannya pun tidak berguna.

Sekeluarnya dari rumah Lie Siauw Ie dengan beberapa kali loncatan Liem Tou sudab berada kembali dibelakang perkampungan, pada saat ini hatinya merasa amat sedih, kecut dan pedih.

Sesampainya ditempat persembunyian kerbaunya, sambil mendeprok keatas punggungnya dia berseru dengan sedihnya. “Oooh, engkoh kerbau ? bilamana aku mati kau hendak membawa aku pergi kemana ?”

Semakin dipikirkan semakin sedih tidak kuasa lagi dia menangis tersedu-sedu.

Lama . . . lama sekali, cuaca mulai menggelap . . .burung- burung pada terbang kembali kesarangnya suasana begitu sunyi cuma terdengar suara tiupan angin yang menderu-

deru mengiringi suara ramainya jangkerik bernyanyi.

Akhirnya Liem Tou sadar kembali dari kesedihannya dengan cepat dia bangkit berdiri dan berlari menuju kehadapan kuburan ayahnya.

Dia melihat tumbuhan alang-alang tumbuh dengan tebalnya disekeliling kuburan tersebut hatinya merasa jadi kecut sehingga tidak kuasa lagi titik air mata menetes keluar.

“Tia.” Mohonnya dalam hati “Maafkanlah putramu sudah lama berkelana ditempat luaran sehingga tidak dapat menyambangi dirimu, kali ini putramu sengaja datang untuk mengunjuk hormat kepada dirimu.”

Sehabis berkata dia jatuhkan diri berlutut dan menjalankan penghormatan didepan kuburan itu sebanyak delapan kali, setelah dari habis berdoa dengan perlahan dia baru bangkit berdiri dan memindahkan batu nisan tersebut kesamping.

Kini dihadapannya muncullah sebuah liang yang tertutup dengan batu bata, sebuah demi sebuah dia memindahkan pula batu-batu tersebut kesamping sebingga akhirnya muncullah sebuah peti mati yang hancur dan berantakan didalam liang itu.

Liem Tou segera membungkukkan badannya untuk membuka penutup peti mati itu. Seketika itu juga tampaklah seperangkat kerangka manusia yang hitam mengkilap muncul dihadapannya begitu melihat kejadian tersebut Liem Tou segera merasa telinganya mendengung keras, kepalanya seperti dipukul, tidak kuasa lagi air mata bercucuran dengan derasnya :

"Binatang !" Teriaknya dengan suara gusar sekali. “Binatang itu . . . binatang itu harus kubunuh , . . . ! Bajingan tua anjing laki-laki ! Ternyata ayah benar-benar mati karena diracuni olehnya. bangsat anak sundal ' Aku tidak akan melepaskan dia sampai besok pagi, aku merasa bersalah terhadap Tia ...!"

- o)(o- — SEMBILANBELAS

LAMA kelamaan dari rasa sedih dan pedihnya kini berubah menjadi rasa gusat yang memuncak . .. .

Dia tidak berani menggunakan tangannya untuk mengambil tulang belulang yang sudah menghitam itu karena takut terkena racun, dengan menggunakan kayu-kayu lapuk yang semula menutupi kuburan itu kemudian memasang pula batu nisannya.

"Aku mau bunuh mati dirinya !" teriaknya didalam hati. "Aku mau cukil keluar sepasang matanya, mengorek keluar jantungnya, aku buktikan didepan penduduk kampung kalau mereka mempunyai seorang Cung-cu yang berhati kejam." Dia segera berjalan meninggalkan kuburan ayahnya menuju kedalam hutan, belum sampai berapa jauhnya dia berjalan mendadak dari dalam hutan muncul kembali seorang, sekali pandang saja Liem Tou sudah tahu kalau dia adalah Lie Loo jie tetapi dia sama sekali tidak mengucapkan sepatah kata bahkan sama sekali tidak menggubris dirinya! Lie Loo jie segera berjalan kehadapsn Liem Tou, sewaktu dilihat wajahnya sudah berubah jadi hijau membesi dan memperlihatkan rasa gusar yang menyala-nyala dalam hati segera menjadi paham.

“Liem Tou !'" ujarnya dengan perlahan. ”Biarkanlah Supekmu menjaga dirimu dari samping !"

Liem Tou dengan perlahan memandang Lie Loo jie kemudian mengangguk. “Aku mau bunuh dia !" katanya. Sesampainya ditengah hutan dia lantas meloncat naik keatas pohon untuk menantikan kedatangan dari 'Ang In Sin Pian' Pouw Sak San.

Kentungan pertama. Kentongan kedua dengan cepatnya berlalu, malam semakin kelam bulan dan bintang bersemburyi dibalik awan.

Ditengah kesunyian yang mencekam seluruh perkampungan itu, mendadak, dari balik pepohonan muncul empat sosok bayangan manusia yang dengan cepatnya melayang kearah kuburan disamping hutan itu.

Begitu mereka berempat mencapai depan kuburan segera terdengarlah salah seorang di antara mereka tertawa dingin. “Liem Cong !" serunya dingin. “Payah-payah kau menyembunyikan nama dan kedudukanmu, mungkin orang lain dapat kau kelabui tetapi jangan harap bisa lolos dari penglihatan aku si Ang In Sin Pian ! Ini hari aku mau suruh kau pindah rumah, agar putramu yang ganas itu mendapatkan hasil yang sia-sia !"

Dengan perlahan dia menoleh kembali me mandang kearah kawan-kawannya kemudian sambungnya :

“Malam ini kita harus cepat-cepat turun tangan, Susiok couw dan Suhu sudah menunggu kita didalam perkampungan !" “Ayo mulai !"

Batu nisan itu segera diangkat keatas sehingga muncullah liang kubur yang tertutup oleb batu bata itu, baru saja dia hendak memindahkan batu-batu itu mendadak dengm tergesa-gesa dia bangkit berdiri lagi menoleh kearah Si 'Liong Ciang' Lie Kian Poo.

“Kian Poo heng." serunya. ,,Coba kau kemari pindahkan batu- bata itu !"

Lie Kian Poo segera menyahut dan mewakili dirinya untuk bungkukkan badan memindahkan batu-bata tersebut.

Saat itulah si 'Ang In Sin Pian' Pouw Sak San yang dibelakang badannya dengan perlahan angkat telapak tangannya keatas untuk siap-siap digaplokkan keatas jalan darah Thian Seng diatas ubun-ubunnya.

"Hauw Jiaw." Pouw Tong yang ada disampingnya sewaktu melihat perbuatan dari Cungcunya ini dalam hati merasa amat terperanjat sekali, mendadak ujarnya :

"Cungcu, kau bilang kepandaian silat yang dimiliki Susiok couw amat tinggi sehingga sukar untuk dicarikan tandingannya bila perkataan ini sungguh-sungguh bukankah Liem Tou bangsat cilik itu datang kemari cuma mengantarkan kematiannya dengan sia-sia belaka? Kita tak perlu takut kepada dirinya lagi

!"

Si " Aig In Sin Pian" Pouw Sak San yang baru saja mau gaplokkan telapak tangannya kebawah mendadak diganggu oleh perkataan dari Hauw Jiauw ini dengan cepat dia menarik kembali tangannya kemudian dengan gemasnya melototi diri Pouw Toa Tong.

"Pouw Toa Tong !" sahutnya. "Bila kau tidak percaya sampai waktunya kau bisa mengetahui sendiri."

Sembari putar badannya sekali dia angkat telapak tangannya siap-siap digaplokkan kembali keatas ubun-ubun dari Lie Kian Poo, siapa tahu baru saja tangannya diangkat mendadak tampaklah secarik dedaunan dengan sangat cepatnya terjatuh ketangannya membuat saking terkejutnya dengan gugup dia menarik kembali tangannya.

Ketika mendongakkan kepalanya keatas terlihat olehnya pepobonan yang tumbuh disekitar sana ada tiga kaki jauhnya dari kuburan tersebut, tetapi bagaimana daun tersebut bisa begitu tepat terjatuh keatas tangannya ? bahkan pada saat ini adalah permulaan musim panas, mana mungkin ada daun hijau yang tanpa sebab rontok dari rantingnya ? Tidak terasa lagi dalam hati dia mulai timbul rasa curiga.

Pada saat itulah mendadak Lie Kian Poo yang sedang berjongkok sudah meloncat ke samping; kemudian dengan pandangan ragu-ragu memandang terpesona diri Ang In Sin Pian, lama sekali barulah tanyanya :

“Cungcu, kenapa kau mau memukul aku orang Lie Kian Poo ?"

Mendengar perkataan tersebut air muka Ang In Sin Pian segera berubah sangat hebat sekali.

“Kian Poo heng !" ujarnya dengan dingin. “Kenapa kau ngomong yang bukan-bukan ?" Secara samar-samar pada ujung bibirnya tersungging suatu senyuman yang licik, sembari berjalan dia mendekati diri Lie Kian Poo.

"Kian Poo-heng !" ujarnya lagi. "Kau merasa, apakah aku dapat melancarkan serangan untuk menghantam kau ?

Kenapa aku harus turun tangan menghantam dirimu ?'* Dengan pandangan ragu-ragu Lie Kian Poo memperhatikan sekejap kearahnya kemudian baru jawabnya :

"Tadi sepertinya disamping telingaku ada orang yang lagi berbisik"

"Paman Kian Poo cepat menyingkir. Cung cu mau menghantam kau sampai mati, karenanya aku lantas meloncat kesamping"

Mendengar perkataan tersebut sepasang biji mata dari Ang In Sin Pian berputar-putar kemudian mengerutkan alisnya rapat-rapat. "Apa sungguh ?" tanyanya.

Tetapi didalam hatinya diam-diam dia tertawa geli, ujarnya lagi :

"Terang-terangan didalam hati kau sudah menaruh curiga kepada diriku sehingga didalam hati kau tidak berhasil menguasai pikiranmu sendiri, dengan sendirinya telingamu pun samar-samar seperti mendengar suara orang lagi berbicara . . . Hmm ! kau orang tidak usah banyak pikir yang bukan-bukan lagi."

Dia berjalan maju dua langkah kedepan.

Si "Liong Ciang" Lie Kian Poo yang melihat dia mendesak maju lebih mendekat lagi, tak kuasa lagi dia mundur satu langkah kebelakang.

"Cung cu !" Serunya dengan ccmas. "Kenapa kau memandang aku seperti itu? Kenapa kau mendekati aku terus ? Wajahmu sungguh menyeramkan sekali!"

Ang In Sin Pian segera tertawa tergelak kepada Pouw Toa Tong tiba-tiba ujarnya ;

"Toa Tong-heng, ksu lanjutkan membongkar batu-batu yang menutupi itu !"

Waktu ini sekalipun pada wajahnya tidak memperlihatkan sedikit perubahan apapun padahal didalam hati dia merasa amat tegang sekali, diam diam dia mengerahkan seluruh tenaga dalamnya keseluruh lengan untuk siap siap menghadapi segala kemungkinan.

Orang yang lain Pouw Siauw Ling pun bisa melihat maksnd hati dari ayahnya Si Ang In Sin Pian tersebut, saat ini walaupun dia kepingin melihat gerak-gerik dari ayahnya serta Lie Kian Poo, tetapi dia tidak berani melaksanakan niatnya itu, sepasang matanya terpaksa diarahkan kepada Pouw Toa Tong.

Karena itulah tanpa disadari lagi suasana diaatara keempat orang itu jadi berubah semakin tegang dan semakin sunyi tiga orang diantaranya dalam hati sudah mempunyai rencana maka wajahnya pada mantap sebaliknya Lie Kian Po yang tidak mcngetahui maksud hati dari Ang In Sin Pian diam-diam selalu waspada.

Pada saat itulah mendadak mereka ber-empat dapat mendengar suara langkah manusia yang semaiin lama semakin mendekat disusul suara seoeorang yang sedang bergumam dengan nada gemetar :

"Hutan belantara lebat bagaikan sutera- Gunung bersalju membawa kepexihan di-hati "

Mendengar suara tersebut seluruh tubuh Ang In Sin Pian jadi gemetar keras, sambil putar badan dan dia membentak keras :

"Siapa ? Siapa kau ?"

Dari tengah kegelapan yang mencekam sekeliling hutan itu dengan perlahan muncul seseorang,

"Cung cu ! jangan gugup, aku adalah Liem Tou" jawabnya dengan kalem.

Ang In Sin Pian jadi melengak, belum sempat dia memikirkan sesuatu tahu-tahu tanpa mengeluarkan sedikit suara maupun menimbulkan debu Liem Tou sudah melayang dan berdiri dihadapannya bahkan dengan sikap yang amat tenang dan penuh dihiasi senyuman dia berkata :

“Cung cu, tahukah kau ada urusan apa aku datang pada saat ini kemari ?"

Air muka Ang Ing Sin Pian sejak semula sudah berubah jadi pucat pasi bagaikan mayat, untuk sesaat lamanya dia orang tidak dapat mengucapkan sepatah katapun.

Mendadak Pcuvv Siauw Ling yang ada disampingnya sudah melayang kedepan menghalangi didepan tubuh ayahnya Ang Ing Sin Pian.

“Liem Tou kau jangan berlaku kurang ajar terhadap ayahku.” Bentaknya keras.

“Siauw Ling heng, bagaimana kau orang bisa tahu kalau aku hendak berbuat kurang ajar terhadap ayahmu ?” ujar Liem Tou sambil tertawa ringan. “Tidak Siauw Ling heng saat aku masih tidak ingin berbuat kurang ajar terhadap ayannya, cuma saja - - -“

Berbicara sampai disini dia sengaja menghentikan kata katanya. “Cuma bagaimana ?” Teriak Pouw Siauw Ling sambil membelalakkan matanya lebar-lebar.

Sekali lagi Liem Tou tertawa ringan dengan perlahan-lahan dia putar badannya sedang tepalak tangannya dengan amat ringannya diayun kedepan kemudian badannya berputar kembali dan kirim satu senyuman kearah Pouw Siauw Ling serta Ang In Sin Pian.

Mendadak . . .Pouw Toa Tong yang selama ini berdiri tertegun didepannya liang kuburan itu meraung kesakitan kemudian dari mulutnya memuntahkan darah segar, seketika itu juga dia rubuh didepan kuburan dalam keadaan tak bernyawa.

Melihat kejadian yang mengerikan itu, Pouw Siauw Ling merasakan seluruh bulu romanya pada berdiri, mendadak teriaknya dengan kalap.

“Liem Tou kau sudah bunuh dia... kau sudah bunuh paman Toa Tong.”

Sikap Liem Tou masih tetap tenang-tenang saja, pada wajahnya sedikitpun tidak mengalami perubahan. “Benar, aku sudah bunuh mati Pouw Toa Tong” sahutnya

dengan nada yang amat dingin. “Sekarang kau tidak usah banyak ngomong lagi, aku mau tanya pada ayahmu, masih iagatkah dia akan perpisahan tiga puluh hari yang lalu di kota Hong Kiat?”

Mendengar perkataan tersebut Pouw Siauw Ling segera menyambar kearah pinggangny untuk mencabut keluar cambuk baja yang dililitkan disana.

“Air rauika Liem Tou segera berubah adem.

“Pouw Siauw Ling, "apa kau orang benar ingin mencari mati?? Haa...?” Bentaknya gusar. “Coba kau lihat apa yang dipegang di tangannya Pouw Toa Tong itu?”

Dengan cepat Pouw Siauw Ling meloncat kedepan dan berjongkok disamping mayatnya Pouw Toa, terlihatlah olehnya ditangan kanannya dengan kencang masih mencekal beberapa batang paku pencabut nyawa. "Sudah melihat dengan jelas belum ?" ujar Liem Tou lagi dengan dingin. "Siapa yang berani menggerakkan senjata tajam. aku segera akan mencabut nyawamu!"

Selesai berkata dia menuding kearah Ang In Sin Pian ujarnya lagi.

"Cung-cu! aku mau tanya akan tiga hal padamu. baik-baiklah kau orang memberikan jawabannya. Pertama, kenapa kau hendak membinasakan paman Liong Ciang ?"

Selama ini Ang In Sin Pian terus-menerus berdiri disamping tanpa bergerak. Saat ini dia tahu kemunculan Liem Tou banyak membawa bahaya daripada kemujuran sehingga dalam hati dia terus menerus memikirkan cara cara untuk melarikan diri.

Dia pun ingin sengaja mengulur waktu sehingga memancing rasa curiga dari Thiat Bok Thaysu serta penjahat naga merah yang ada didalam perkampungan sehingga mereka datang memberikan bantuannya.

Mendengar perkataan tersebut dia sengaja memperlihatkan rasa herannya jawabnya kemudian :

“Liem Tou! Apa maksud perkataanmu itu? Liong Ciang, Kian Poo-heng adalah salah satu jago berkepandaian tinggi pelindung perkampungan kami dan merupakan tenaga yang paling diandalkan oleh perusahaan ekspedisi Ang In Piauw kiok, ada urusan apa aku hendak membunuh dirinya ? Liem Tou ! Bukankah perkataanmu itu terlalu menggelikan?”

"Baiklah ! Anggap saja pertanyaanku yang pertama sudah kau jawab" ujar Liem Tou mengangguk. "Sekarang yang kedua: Kenapa kau hendak membongkar kuburan ayahku?" Ang In Sin Pian termenung berpikir sebentar, dia merasa bilamana jawaban yang diberikan tidak hati-hati maka ada kemungkinan segera akan terjadi bentrokan dengan dirinya, karena itu dia tidak berani berlaku gegabah !

„Jika membicarakan soal ini boleh dikata merupakan satu adat istiadat dari perkampungan kami." ujarnya dengan hati hati. “Han San heng terhadap kita anggaota perkampungan boleh dikata mendatangkan banyak rejeki. Kematiannya yang mendadak itu sungguh merupakan satu kejadian yang diluar dugaan, karena menurut peraturan dari perkampungan kita, asalkan orang yang kita hormati setelah dikubur selama dua tahun tulangnya harus di ambil untuk dipindah kedalam kuil yang ada didalam perkampungan, sehingga penduduk lainnyapun bisa ikut menghormatinya !"

Perkataan yang diucapkan oleh Ang In Cung cu ini semuanya beralasan dan seperti sungguh-sungguh terjadi, bilamana bukannya Liem Tou sudah tentu tahu terlebih dahulu akan hal ini mungkin diapun bakal kena dikibuli.

Liem Tou segera tertawa dingin, gumamnya : “Kalau memangnya bermaksud sebagai penghormatan,

kenapa menggali kuburan harus dimalam hari ? apa mungkin didalam hal inipun tidak memperkenankan orang lain untuk ikut mengetahuinya ? baiklah anggap saja urusan ini sudah kau jawab dengan baik,” Liem Tou termenung sebentar mendadak alisnya dikerutkan rapat-rapat, dari sepasang matanya secara samar samar memancar keluar nafsu untuk membunuh yang tebal.

“Sekarang yang ketiga” ujarnya dengan keras: “Pouw Sak San sekarang aku minta kau beritahukan kepadaku, kenapa tulang ayahku bisa berubah jadi hitam ?”

Mendengar pertanyaan itu air muka Ang In Sin Pian segera berubah sangat hebat, mendadak dia mundur satu langkah kebelakang seluruh tubuhnyapun gemetar dengan amat keras, untuk beberapa saat lamanya dia tidak sanggup untuk mengucapkan sepatah katapun.

Pada saat ini darah, panas yang ada didalam dadanya sudah bergolak amat dahsyat dia benar tidak kuat menahan rasa mangkel dan dendam yang selama ini dipendam dalam hatinya, tubuhnya mendadak bergeser dua langkah kedepan Ang In Sin Pian. “Cung cu ?” ujarnya keras. “Sekarang kau tentunya mengetahui, kenapa aku Liem Tou bisa sampai disini . Perjanjian kita pada sepuluh hari yang lalupun harus kita selesaikan pada saat ini juga, bilamana kau masih ada urusan lain cepatlah sampaikan kepada Siauw Ling-heng untuk mewakili kau menyelesaikannya.”

Sehabis berkata mendadak tubuhnya ber-putar setengah lingkaran ditengah udara, belum sempat Ang In Sin Pian melihat jelas datangnya bayangan tahu-tahu Liem Tou sudah ada dibelakang tubuhnya dan telapak tangannya sudah menempel pada jalan darahnya Sin Ming Hiat pada punggungnya.

“Pouw Sak San,” bentaknya dengan keras “Aku ayah beranak dari keluarga Liem ada yang sakit hati dengan kalian

? Kenapa kalian turun tangsn kejam terhadap kami ? Ini hari kau sudah terjatuh ketanganku. Hm, kau tidak boleh lolos dari kematian bilamana kau masih ada perkataan yang kira-kira hendak kau sampaikan buat putramu cepatlah katakan, bilamana aku sudah kerahkan tenaga dalam maka untuk berbicara tidak bakal kau lakukan lagi untuk selamanya."

Didalam keadaan seperti ini sekalipun Ang Ln Sin Pian mempunyai beribu ribu patah kata yang hendak disampaikan juga tidak dapat diucapkan keluar, tidak terasa lagi dari rasa terkejut dia jadi merasa putus asa dan menghela napas panjang, dua titik air mata tidak kuasa lagi menetes keluar membasahi pipinya.

“Liem Tou !" ujarnya dengan sedih. „Aku membunuh si pancingan emas sakti Liem Cong adalah dikarenakan dendam perguruan, sekarang aku cuma merasa menyesal kenapa tempo hari tidak sekalian membereskan nyawamu sehingga meninggalkan bencana buat ini hari. Hey ! Kau turun tanganlah, aku tidak ada perkataan lagi yang bisa dikatakan !"

“Tahan!" tiba-tiba Pouw Siauw Ling yang ada dtsampingnya membentak dengan suara yang keras. Tanpa memperdulikan apa pun dia segera maju kedepan. “Pouw Siauw Ling !" Bentak Liem Tou, dengan gusar sewaktu melihat tindakannya itu! ,,Cepat kau menyingkir dari sini, kalau tidak aku segera akan turun tangan mencabut nyawa ayahmu."

Pouw Siauw Ling mana mau memperdengar suara bentakan dari Liem Tou itu, dengan tanpa peduli nyawanya sendiri kembali dia menubruk mendatang.

Liem Tou segera menggigit kencang bibirnya, mendadak dia mengerahkan tenaga dalamnya menghantam punggungnya dihadapannya, membuat Ang In Sin Pian saking sakitnya lantas menjerit ngeri, isi perutnya terpukul luka sedang darah segar memancur keluar dari mulutnya.

“Pouw Siauw Ling !" sekali lagi Liem Tou membentak keras. "Bila kau maju lagi, ayahmu segera tidak ada nyawa lagi."

Pouw Siauw Ling tidak dapat berbuat apa-apa lagi, mendadak dia menjatuhkan diri di-hadapan ayahnya Ang In Sin Pian.

"Tia ! kau sungguh-sungguh tidak bermaksud untuk berbicara

?” Serunya sambil menangis.

Saat ini air mata pun mulai bercucuran membasahi kelopak mata Ang In Sin Pian, dengan paksakan diri dia menarik hawa murninya untuk menahan rasa sakit dari luka dalam yaog dideritanya.

"Kau . . . kau , , . dan adikmu . . . tidak becus semua . . . tenaga . . . da. . . lam kalian terlalu cetek Heeeeeii !”

Dia menghela napas panjang, kemudian sekali lagi memuntahkan darah segar, mendadak sepasang matanya melotot lebar-lebar lalu bentaknya dengan keras.

"Leng-jie ! Kecuali kau bisa menemukan kitab pusaka "Cian Tok Toh", kalau tidak jangan harap bisa membalas dendam ini

! Cepat kau tinggalkan tempat ini unruk mencari adikmu "

Berbicara sampai disini dia gelengkan kepalanya dan pejamkan mata rapat-rapat, bibirnya tiada hentinya gemetar. Liem Tou tahu pada saat ini dia merasakan penderitaan yang amat menyiksa dirinya, baru saja dia bermaksud untuk menambahi dengan dua bagian tenaga dalamnya mendadak

....

Segulung angin pukulan dengan amat santarnya membokong dirinya dari belakang, tidak sempat berpikir panjang lagi sepasang telapaknya bersama-sama mengerahkan tenaga, telapak kanannya mendadak ditekankan keatas pundak Ang In Sin Pian lebih keras sedangkan telapak kirinya dengan mengikuti gerakan tubuh menyambut datangnya serangan bokongan itu dengan keras lawan keras.

Dalam sekejap saja tiga buah jeritan keras memenuhi seluruh angkasa bersama pula meledaknya satu bentakan yaag memekikkan telinga.

Mendadak Liem Tou merasakan tenaga pukulan yang dilancarkan kearah belakang sudah tertahan oleh satu hawa pukulan yang amat aneh sekali, Pikirannya segera berkelebat tubuhnya bersamaan dengan ditariknya angin pukulan meloncat dua kaki jauhnya ke depan.

Ketika menoleh tanpaklah Ang In Sin Pian sudah menggeletak diatas tanah tanpa bernyawa lagi sedang Pouw Siauw Ling sedang menubruk diatas mayatnya dan menangis tersedu-sedu, Si" Liong Ciang" Lie Kian Po sambil menyilangkan telapak tangannya didepan dada duduk bersila tidak bergerak, wajahnya amat pucat sekali, sebaliknya Lie Loo jie tanpa mengucapkan sepatah katapun sudah berdiri disampingnya.

Saat inilah Liem Tou baru tahu kalau orang yang baru saja melancarkan serangan bokongan dari belakang bukan lain adalah ,,Si-Liong Ciang" Lie Kian Poo bilamana bukannya Lie- Loo jie tepat pada waktunya turun tangan memberikan pertolongannya kemungkinan sekali diapun bakal menemui ajalnya pula didalam serangan dahsyat tersebut. Setelah dia orang dapat melihat semua kejadian itu dengan jelas didalam hati dia mulailah rasa menyesalnya dengan sedihnya dia berjalan mendekati Lie Loo jie lalu ujarnya dengan suara yang perlahan :

"Berkat doa restu dari Supek ini hari Su-titmu berhasil memenuhi keinginan untuk membalas dendam sakit hati ini, tidak kusangka tanpa sengaja akupun sudah melukai diri paman Lie, harap Supek suka membantu dirinya untuk menyembuhkan luka yang diderita nya.”

Dengan perlahan Lie Loo jie mengangguk, baru saja dia mau berjongkok untuk memeriksa luka dari Lie Kian Poo mendadak dia sudah meloncat menghindar.

“Liem Tou !" bentaknya dengan marah. "Kau terlalu kejam ! siapa yang kesudian menerima bantuan ? Sekalipun harus mati aku-pun tidak sudi menerima bantuan dari kalian” “Paman Kian Poo kau jangan marah” seru Liem Tou coba menghibur dirinya. "Kesemuanya ini salah aku orang tidak terlalu hati-hati sehingga sudah melukai diri paman, Hei-- - -

sudahlah, paman Lie ! lukamu tidak ringan, biarlah Supekku tolong memeriksakan lukamu itu."

Si "Liong Ciang” Lie Kian Poo segera melepaskan diri dari cekalan Liem Tou, mendadak telapak tangan kanannya melancarkan satu pukulan kearahnya, kemudian dengan rasa amat gusar bentaknya ;

"Liem Tou ! cepat kau menggelinding pergi dari sini. aku Lie Kian Poo sebagai seorang penjaga keamanan perkampungan tidak akan mengijinkan kau sebagai seorang pembunuh tinggal disini. Hmm ! Bocah cilik nyalimu sungguh besar, kau berani membinasakan Cung cu dihadapanku, terus terang saja aku beritahukan kepadamn. Aku yang tidak bisa membalaskan dendam baginya saja sudah merasa amat malu apalagi menerima bantuan kalian !"

„Paman Kian Poo !" Seru Liem Tou coba menghibur dirinya lagi setelah dia berhasil menghindarkan diri dari datangnya pukulan tersebut. "Cung-cu jadi orarg amat kejam dan berpikiran licik, terhadap paman Kian Poo pun menaruh maksud jahat, ditambah lagi dia mau membongkar kuburan ayahku. meracuni ayahku sampai mati kesemuanya ini paman Kian Poo dapat melihat dengan mata kepala sendiri. Cung-cu semacam ini sekalipun mati, ada apanya yang patut di- sayangkan ?”

“Sekalipun Cung-cu tidak berperi kemanusiaan apakah aku tidak boleh mengingat budinya ?" Bentak si " Liong Ciang" Lie Kian Poo lagi dengan amat gusar. "Tentang hal ini adalah urusanku sendiri kau tidak boleh ikut campur, lebih baik kau cepat cepat menggelinding pergi dari sini, walaupun aku tidak dapat membalaskan deadam ini tetapi aku bisa melaporkan hal ini kepada suhu serta susiok-couw nya, bilamana kau tidak mau pergi juga dari sini, sampai waktunya aku mau lihat kau bisa berbuat apa terhadap dirinya!" 

Liem Tou mendengar dia berkata demikian mendadak dari nada ucapannya itu sudah menemui sesuatu, bukankah terang-terangan dia sedang memberikan peringatan kepada

dirinya untuk berjaga-jaga atas serangan dari si-penjahat naga merah serta Thiat Bok Thaysu,

Tidak kuasa lagi dia tertawa terbahak-bahak.

“Baiklah” gumam Kian Poo “haa . haa kau tidak malu disebut sebagai seorang lelaki sejati" serunya.

"Aku Liem Tou dengan melihat diatas wajahmu ini hari ampuni jiwa Pouw Siauw Ling, Paman Kian Poo selamat tinggal." "

Selesai berkata dia segera menjura dengan sangat hormatnya.

Mendadak ujung matanya dapat melihat Pouw Siauw Ling sambil menggendong jenasah dari ayahnya Ang In Sin Pian hendak meninggalkan tempat itu.

Pada saat itulah Liem Tou teringat kembali akan hutangnya kepada Oei Poh itu anak murid dari si golok naga hijau sewaktu ada dikota Hong Kiat, cepat-cepat bentaknya dengan keras.

“Pouw Siauw Ling, tunggu sebentar !"

Tanpa disadari lagi Pouw Siauw Ling segera menghentikan langkahnya, Liem Tou cepat cepat maju kedepan mendadak tangannya mencengkeram leher dari mayat Ang In Sin Pian dan dengan sekuat tenaga diputarnya ke samping.

“Kraak . . . !" dengan menimbulkan suara yang amat keras tulang lehernya sudah putus, sewaktu Liem Tou mengerahkan tenaganya untuk yang kedua kalinya batok kepala dari Ang In Sian Pian dengan disertai kulitnya pula terlepas dari tempatnya semula.

Liem Tou menyambar pula kejubah yang dipakainya untuk menyobek sekerat kain lalu membungkuk memungut batok kepala itu, setelah itu dia baru- mengulapkan tangannya sambil berseru :

"Pouw Siauw Ling, sekarang kau boleh pergi"

Pouw Siauw Ling yang melihat batok kepala ayahnya ditarik oleh Liem Tou hingga putus seketika itu juga merasakan kepalanya pening matanya berkunang-kunang,... hawa amarah berkobar dihatinya.

Ditengah suara teriakannya yang amat keras mendadak dia melemparkan mayat ayahnya yang tak berkepala kearah Liem Tou bersamaan pula sepasang tangannya dipentangkannya lebar-lebar bagaikan se-orang gila dengan dahsyatnya menubruk ke-arah Liem Tou.

Dengan gesitnya Liem Tou bergeser ke samping menghindarkan diri dari tubrukan tersebut.

"Hey Pouw Siauw Ling!!" Teriaknya, "Harus kau ketahui ayahmu sadah menggunakan akal membunuh mati sigolok naga hijau Sie Piauw-tauw sekarang muridnya yang keempat Oei Poh lagi bermaksud untuk membalaskan dendam suhunya ini maka terpaksa aku harus mennbawa batok kepalanya ini untuk disumbangkan kepadanya buat apa kau sekarang menubruk-nubruk aku seperti orang gila? Bilamana bukannya karena perkataan dari adikmu, hmmm hm . . . kemungkinan saat inipun kau sudah jadi setan gentayangan"

Saat ini Pouw Siauw Ling sudah kehilangan kesadarannya, mana dia orang mau mendengarkan perkataan ini? Sambil mementangkan jari-jari tangannya dengan serabutan dia mencakar, mencengkeram dan menghantam tubuh Liem Tou. Berturut-turnt Liem Ton berkelebat kesana kemari hampir- hampir membuat dia orang tak bisa berbuat apa-apa, sebentar kemudian satu ingatan sudah berkelebat didalam benaknya sehingga tidak kuasa lagi dia tertawa geli.

"Lie Supek ! Dia sudah jadi gila . . . haaa-haaa . . . haaa . , . hal ini sangat bagus sekali !" Teriaknya sembari menoleh kearah Lie Loo jie. “Supek ! Mari kita pergi saja dari sini. tak ada gunanya mengurus orang gila semacam dia "

Lie Loo jie mengangguk, ujung kakinya sedikit menutul tanah dengan beberapa kali-kelebatan dia sudah menerjang masuk kedalam hutan disusul Liem Tou dari belakang.

Pouw Siauw Ling pun sambil berteriak-teriak dan berkaok- kaok kalap ikut menerjang kedalam hutan, tetapi sewaktu tiba di tepi hutan tersebut bayangan Liem Tou sudah tidak terlihat sama sekali olehnya.

Keadaan seperti itu membuat dia tidak bisa banyak berbuat, mendadak teriaknya :

“Liem Tou ! Kau kira bisa lolos dari sini dengan selamat ?Hmm bisa menghindari Hwee sio, jangan haiap bisa lolos dari tangan Ni-kouw kecuali kau tidak pergi kerumah Lie Siauw Ie lagi.”

Liem Tou yang mendengar perkataan tersebut dalam hati sedikit tergerak.

“Supek !" serunya kepada Lie Loo jie dengan gugup. “Apakah kau orang tua bisa menangkap maksud dari perkataannya ini

?"

“Apa mungkin Thiat Bok thaysu serta si penjahat naga merah dua orang setan tua itu sudah berbuat sesuatu yang tidak menguntungkan diri Ie jie serta Wan jie dua orang ?" tanya Lie Loo jie setelah berpikir sejenak.

Liem Tou pun segera merasakan perkataannya ini ada kemungkinan; hatinya jadi merasa sangat cemas.

“Kalau begitu mari kita cepat-cepat pergi kesana; mereka berdua bukanlah tandingan dari kedua orang setan tua itu !" katanya.

Sehabis berkata dia putar badannya berlari menuju kedalam perkampungan.

Tetapi baru saja hendak menerjang masuk kedalam perkampungan mendadak tampaklah olehnya dua sosok bayangan hitam dengan kecepatan yang luar biasa meluncur keluar.

Liem Tou serta Lie Loo jie dengan ter-buru-buru berkelebat kesamping untuk bersembunyi ditempat kegelapan, tampaklah seorang yang berbadan kuat serta seorang berperawakan kurus bersama-sama melayang datang.

Orang itu bukan lain adalah si penjahat naga merah serta Thiat Bok Thaysu adanya, melihat munculnya kedua orang itu disini Liem Tou serta Lie Loo jie segera merasa hatinya rada lega.

Menanti kedua orang itu sudah pergi jauh Liem Tou berdua baru meloncat ke atas atap rumah dan kemudian dengan beberapa kali loncatan melayang turun didepan pintu rumah Lie Siauw Ie.

Terlihatlah jendela rumah itu terpentang lebar-lebar tetapi tidak kedengaran sedikit suarapun, melihat kejadian ini tidak terasa mereka jadi merasa curiga.

Liem Tou dengan cepatnya segera menerjang masuk kedalam rumah melalui jendela yang terbentang lebar, tetapi di kedua bilik rumah itu dia sama sekali tidak menemukan bayangan si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie!

"Kemana mereka berdua pergi. ?”