Raja Silat Jilid 27

 
Jilid 27

 “HARAP Thayhiap suka mengampuni Siauw Jien .. . Siauw Jien memang patut untuk menemui kematian,” sahutnya terpaksa.

“Ayoh cepat bicara. siapa yang tidak tahu kalau kau memang patut dibunuh?” Teriak orang itu dengan suara yang amat keras sekali. ”Tetapi asalkan kau orang suka berterus terang dan menceritakan semua cara-caramu untuk membunuh orang ini hari aku akan lepaskan satu jalan kehidupan buat dirimu bahkan aku jamin semua orang dan barang yang kau bawa malam ini tidak akan aku ganggu barang seujungpun.” Si Ang In Sin Pian Pouw Sak San benar-benar terdesak, mendadak dari kelopak matanya menetes keluar titik titik air mata dengan amat derasnya teriaknya.

”..Ooooh . . . Thian !! Kausuruh aku berbicara secara bagaimana?"

Mendadak dia busungkan lehernya kedepan meyambut datangnya ujung golok, kemudian sambil menoleh kebelakang bentaknya dengan suara yang amat keras.

„Liem Tou. kau bangsat cilik, anak kura-kura kalau bunuh ya

bunuh, buat apa kau banyak bicara?"

Begitu Si „Ang In Sin Pian" Pouw Sak San mengerahkan tenaga murninya Liem Tou segera merasa, tangannya dengan cepat ditarik kebelakang membuat tubrukan Si Ang In Sin Pian jadi menemui sasaran yang kosong.

Sewaktu kepalanya bcrputar itulah mendadak golok naga hijau yang ada ditangan Liem Tou dengan amat cepatnya menekan diatas pundaknya. sedikit dia menggunakan tenaga Si Ang In Sin Pian tidak kuat lagi bertahan diri dan jatuh terduduk kembali ke atas tanah. 

“Cung cu ! lebih baik aku lihat kau sedikit menurut saja dari pada menjadi gebuk buat dirimu !" seru Liem Tou sambil tertawa dingin. “Coba saja kau pikir. pada saat ini jangan dikata aku dapat membunuh dirimu sekalipun untuk memotong dagingmu segumpal demi segumpalpun bukanlah suatu urusan yang terlalu sukar untuk dilakukan." Sudah tentu Si "Ang In Sin Pian" Pouw Sak San tahu dengan jelas kalau perkataan Liem Tou ini sedikitpun tak salah. tak terasa lagi semangat serta nafsu amarahnya yang terkandung didalam hatinya barusan ini telah lenyap tak berbekas dia tundukkan kepalanya rendah rendah untuk berpikir kemudian baru mengangguk.

“Liem Tou !" jawabnya kemudian, "Tidak disangka ini hari aku sudah terjatuh ketanganmu. Baiklah !! Suruh aku bicara yaa bicara.

tetapi apakah kata kata yang kau ucapkan tadi bersungguh sungguh??"

“Siapa yang mau membohongi dirimu?" Sahut Liem Tou kurang senang.

Pada ujung bibir Si" Ang In Sin Pian" Pouw Sak San segera tersungginglah satu senyuman pahit, tetapi baru saja diperlihatkan sampai ditengah jalan sudah ditarik kembali. “Hmnim, aku tahu didalam keadaan seperti ini kau tentu akan melancarkan pertanyaan pertanyaanmu itu. Baiklah, aku terus terang beritahukan kepadamu aku pernah memfitnah orang sampai mati, mencongkel keluar sepasang biji mata orang lain, tetapi yang jelas orang yang mati dibawah serangan cambukku boleh dikata paling banyak.

Dengan perlahan Liem Tou mengangguk. “Yang lain?” tanyanya lebih lanjut.

“Aku pernah menggantung orang sampai mati pernah menotok orang sampai mati membunuh orang dengan sambitan senjata rahasia dan menghajar orang dengan telapak sampai modar,” sahut Si Ang In Sin Pian setelah berpikir sebentar, padahal didalam hati diam-diam dia merasa amat tegang sekali.

“Ehmm masih ada???”

Air muka si Ang In Sin Pian semakin berubah menghijau, bibirnyapun gemetar dengan amat keras sekali, lama sekali dia baru menjawab. “Aku pernah menyembunyikan orang di dalam peti untuk menusuk mati pihak musuh, mengerudungi muka untuk merampok barang kawalan orang lain.”

Berbicara sampai disini cepat cepat dia menutup mulutnya kembali.

“Masih ada yang lain?” Tiba tiba Liem Tou berteriak dengan suara yang amat keras.

Air muka si Ang In Sin Pian dari warna kehijau hijauan kini sudah berubah jadi hitam gelap seluruh tubuhnya gemetar dengan amat kerasnya sedang giginya saling beradu sehingga mengeluarkan suara yang amat nyaring sekali.

“Ti .. tidak . . tidak ada lagi,” jawabnya terputus putus.

Liem Tou yang mslihat dia orang mau mengaku hawa amarahnya benar2 memuncak, Mendadak dia bersuit nyaring kemudian bentaknya dengan suara laksana geledek yang menyambar disiang hari bolong,

"Cepat bilang, masih ada !.”

“Sungguh sungguh tidak ada lagi,” jawab Si Ang In Sin Pian dengan air muka yang amat sedih sekali.

Tangan Liem Tou mencengkeram semakin kencang. golok naga hijau yang ada ditangannya laksana besi baja seberat ribuan kati bersama-sama menikam badannya,

Dengan susahnya Si Ang In Sin Pian mendengus berat, napasnya jadi sesak sehingga sukar untuk berganti hawa, “Liem . . Liem tou .. tu .. tunggu sebentar maa . . masih . . masih ada , . . "

Air matanya mengucur keluar dengan sangat derasnya, didalam hati dia benar benar merasa bergidik.

"Liem Tou !" ujarnya kembali dengan terharu. “Aku Pouw Sak San mempunyai putra dua anak gadis bahkan mereka semua adalah kawan kawan permainanmu sewaktu kecil . . ba . . baiklah ! aku beritahu saja padamu aku pernah meracuni orang sampai mati." Baru saja Si Ang In Sin Pian Pouw Sak San selesai berbicara mendadak dia merasakan golok naga hijau yang disilangkan diatas lehernya tergetar dengan amat kerasnya kemudian terlihatlah Liem Tou membanting golok itu keatas tanah sehingga terputus menjadi dua bagian.

“Kau pergilah !" bentaknya kemudian sembari memungkiri dirinya.

Saat ini anak murid dari golok naga hijau Oei Poh yang berhasil ditolong Liem Tou dari kematian dibawah serangan cambuk Ang In dari Pouw Sak San sewaktu melihat Liem Tou memalangkan goloknya diatas leher si "Ang In Sin Pian" dalam anggapannya ia tentu akan membinasakan dirinya, maka dari itu selama ini dia cuma berdiri termangu mangu saja disamping.

Tidak disangka kini Liem Tou menyuruh dia orang pergi, darah panas segera bergolak dengan amat keras didalam dadanya mendadak dia membentak keras.

"Tahan dulu Liem Tou! bagaimana kau orang boleh lepaskan dia pergi ? Urusan ini disebabkan oleh dirimu, apa kau kira suhuku harus menemui ajalnya dengan sia sia belaka ?"

Semula Liem Tou tidak sampai disini kini setelah mendengar perkataan tsrsebut dalam hatinya dia merasa tergetar dengan amat kerasnya.

"Aaa.. Benar! urusan ini bagaimana aku harus bertanggung jawab ?”pikirnya didalam hati. "Orang orang Bu lim mengutamakan kepercayaan, kalau aku sudah berbicara satu yaaa satu, tadi aku sudah berjanji akan melepaskan dia pergi, sekarang sekalipun menyesal juga tidak berguna.”

Berpikir sampai disini dia dengan cepat menangkap tangannya menjura kearah diri Oei Poh, ujarnya.

“Oei heng harap mendengar perkataan dari cayhe, urusan ini semuanya dikarenakan oleh diri cayhe, dan cayhe tidak akan menampik tanggung jawab ini. Tiga laksa tahil perak, cayhe pasti akan menghantarkan sendiri ke-Oei heng, ini hari aku sudah berjanji untuk lepaskan dia pergi hal ini tidak bisa dimungkir lagi, untuk membalas dendam atas kematian dari suhumu kenapa Oei heng tidak pikirkan dikemudian hari saja ? apalagi Cayhe masih ada beberapa hari lagi harap Oei heng suka memaafkan didalam persoalan ini.”

Sehabis berkata dengan amat hormatnya dia ialu menjura kearah diri Oei Poh.

Oei Poh yang mendengar perkataan daji Liem Tou ini didalam hati benar benar sangat mendongkol dan kheki sekali, dikarenakan tidak kuasa untuk menahan golakan didalam hatinya mendadak air matanya mulai bercucuran membasahi kelopak matanya.

“Aku tahu kepandaian silatku tidak memadai orang lain, didalam urusan inipun aku tidak dapat banyak bicara,” ujarnya dengan sangat sedih. Tetapi, Liem Tou kau harus ingat, bilamana tadi kau tidak menolong aku sehingga aku lolos dari serangan cambuk Ang-in sin Pian hal ini tidak ada persoalan lagi justru aku berhasil kau tolong aku akan menunggu selama satu bulan. bilamana didalam satu bulan ini kau tidak berhasil membawa si Ang In keledai tua itu ketempatku maka perhitungan kau orang harus menanggung separuh bagian, atau mungkin aku langsung mencari kau untuk menuntut balas.”

Selesai berkata tanpa menanti jawaban dari Liem Tou lagi dia segera menggendong jenazah dari si golok naga hijau kemudian memberi tanda kepada kedua orang laki laki berbaju hitam lainnya untuk meninggalkan tempat tersebut.

Dengan pandangan melongo Liem Tou memandang bayangan punggung Oei Poh yang mulai lenyap dari pandangan. hatinya benar benar merasa bergolak.

Ketika dia menoleh kebelakang lagi terlihatlah Si Ang In Sin Pian sudah bantu membebaskan jalan darah dari Liong Ciang Lie-Kian Poo serta Hauw Jiauw Pouw Toa Tong saat ini mereka berdiri sejajar. enam pasang mata dengan amat tajamnya memperhatikan seluruh gerak gerik dari Liem Tou diantara mereka tak ada seorangpun yang mengucapkan kata kata.

Liem Tou yang baru saja kena semprot oleh kata kata Oei Poh dan maksud baiknya didalam sekejap sudah berubah jadi ikatan dendam didalam hati merasa amat sedih.

Didalam hal ini dia sendiripun ada hal hal yang menyulitkan dirinya. bilamana bukannya dia sudah menerima permintaan dari Pouw Jien Coei tempo hari mungkin pada saat ini tubuh Si Ang in Sin Pian sudah hancur lumur terkena serangannya.

Liem Tou benar benar merasa kebingungan air mukanya berkali kali berubah sedang tubuhnya dengan tiada hentinya berjalan bolak balik, diantara mayat lelaki berbaju hitam yang menggeletak, diatas tanah itu. terhadap diri si Ang In Sin Pian, Liong Ciang. Hauw Jiauw serta keenam orang anak buah-nya dia orang sama sekali tidak ambil perduli.

Sebaliknya Si Ang In Sin Pian yang melihat sikap dari Liem Tou ini pun didalam hati merasa berdebar debar harapan untuk hidup yang semula terkandung dihatinyapun kini telah lenyap tak berbekas,

Setiap kali Liem Tou melewati dihadapan mereka, tidak kuasa lagi dihati mereka merasa bergidik apalagi diri Ang In Sin Pian, dia semakin tidak berani berkutik,

Suasana diseluruh ruangan rumah penginapan itu sunyi senyap tak kedengaran sedikit suarapun. bahkan secara samar samar membawa rasa tegang yang mencekam hati setiap orang.

Mendadak Si Ang In Sin Pian mendengar Liem Tou sambari berjalan bolak balik. mulutnya tiada hentinya bergumam seorang diri.

"Hutan Belantara lebat bagaikan sutera. Gunung Bersalju membawa kepedihan di-hati "

Belum ssmpat dia memikirkan maksud dari dua patah syair yang dibaca olsh Liem Tou ini mendadak Liem. Tou sudah berhenti ber-gerak.

“Hey orang she Pouw kenapa kalian tidak cepat cepat menggelinding keluar dari sini ?” Bentaknya sambil putar badannya. “Ayoh cepat menggelinding pergi dari sini, semakin jauh semakin baik . . ayoh cepat menggelinding dari sini . . !"

Walaupun Si Ang In Sin Pian merasa terkejut atas kegusaran dari Liem Tou ini, tetapi terhadap kata kata menggelinding bagaikan mendapat karuniah dari kaisar dengan cepat dia maju kedepan mcnutup kembali peti petinya kemudian mengapai memberi tanda kepada anak buahnya yang sedang bersembunyi dipojokan tembok untuk menggotong pergi.

Pada saat ini Liong Ciang serta Hauw-Jiauw pun sudah pada berbuat meloncat keluar dari pintu penginapan itu, baru saja si Ang In Sin Pian hendak menyusul kawan kawannya mendadak terdengar Liem Tou kembali membentak dengan suara yang amat keras.

“Tunggu sebentar.”

Dalam hati Si Ang In Sin Pian merasa nyalinya jadi pecah, “Aduh celaka” teriaknya didalam hati, “bagaimana juga kali ini aku tidak boleh berhenti.”

Bukannya dia menghentikan gerakannya sebaliknya tenaga murni yang disalurkan ke arah kakinya diperlipat ganda kemudian dengan sekuat tenaga dia meloncat keluar dari pintu.

Siapa tahu baru saja badannya menerjang keluar pintu, belum sempat ujung kakinya menempel tanah Liem Tou yang ada dibelakang badannya sudah tertawa terbahak bahak, bersamaan pula dia merasakan lehernya amat sakit sekali.

Terlihatlah tubuh Ang In Sin Pian sudah kena dicengkeram kembali oleh Liem Tou dan dibanting keatas tanah.

“Hey orang She Pouw!" Bentaknya dengan gusar „Hari ini aku masih menghormati kau sebagai seorang Cung cu! Hmmm!

Terus terang saja aku beritahu padamu, bilamana bukannya ini hari Jien Coei cici memohon kepadaku sekalipun kau mempunyai sepuluh orang Ang In Sin Pian tidak bakal kau bisa meninggalkan tempat ini didalam keadaan hidup.

Heee....heee ...malam ini anggap saja kau merasakan keuntungan atas jasa putrimu! Tetapi kau jangan keburu girang hati. pada tanggal empat bulan duapuluh yang akan datang aku akan tangkap dirimu untuk diserahkan kepada diri Oei Poh. kau sudah dengar jelas?? Nah sekarang cepat

menggelinding pergi dari sini!"

Mendadak kakinya melancarkan satu tendangan kilat menghajar pantat Ang In Sin-Pian sehingga terguling guling diatas tanah.

Tanpa mengucapkan kata kata lagi dia segera menrangkak bangun kemudian dengan ketakutan cepat cepat melarikan diri terbirit birit dari sana.

Malam ini Liem Tou boleh dikata mendapatkan satu pengalaman yang lain dari pada yang lain terhadap kekejaman serta kelicikan yang ada didalam Bu lim pun dia semakin mengetahui lebih jelas lagi. hal yang benar benar membuat dia berkesan adalah perbuatan dari si golok naga hijau yang memasukan racun kedalam arak itu hal ini membuat dia orang sejak dari itu menaruh rasa lebih waspada lagi baik terhadap kawan mau pun lawan.

Malam ini dengan membawa rasa mangkel, sedih dan murung Liem Tou berjalan kembali keatas perahunya, terhadap kerbaunya tidak kuasa lagi dia sudah bergumam seorang diri.

“Oooh kerbau koko! aku rasa kau jauh lebih setia dari manusia manusia kau lebih bisa dipercaya dari yang lain! kaulah kawan karibku yang paling menyenangkan!"

Dia orang sama sekali tidak tahu kalau sesaat dia meninggalkan rumah penginapah itu kembali tampak seorang jagoan berpakaian serba hitam yang dengan terburu buru memasuki rumah penginapan itu dan khusus memeriksa mayat mayat yang menggeletak diatas tanah itu setelah diperiksanya dengan teliti akhirnya dia menghela napas panjang dan bergumam.

“Oooh Liem Tou..adik Liem, ternyata kau sungguh sungguh mendengarkan perkataan dari cicimu, aku Pouw Jien Coei benar benar merasa berterima kasih sekali terhadap dirimu.” Selesai berkata dengan tergesa gesa dia meninggalkan rumah penginapan itu dan meloncat keatas atap untuk kemudian lenyap di tengah kegelapan.

Keesokan harinya Liem Tou yang dalam hati masih murung segera membatalkan niatnya untuk menjalankan sang perahu menuju kearah Cing Shia. dia takut dimasa ini banyak jago yang pergi ke Cing Shia dan menemui dirinya karena itu selama seharian penuh dia terus menerus mengurung dirinya di dalam perahu.

Menanti malam hari sudah menjelang baru menghembuskan napas lega dengan perlahan mulai berjalan keatas geladak dan mandang kearah perahu yang sudah mulai membuang sauh, pikirnya dalam hati.

“Asalkan cuaca sudah menggelap aku segera akan menjalankan perahu melanjutkan perjalanan.”

Pada saat itulah ditengah cuaca magrib yang mulai menggelap mendadak dari tengah udara berkumandang datang suara pekikan burung yang amat nyaring sekali. “Aaaah bukankah itu suara pekikan burung rajawali?”

pikirnya dengan terkejut.

Dengan cepat dia mendongakkan kepalanya keatas, terlihatlah diantara remang-remangnya cuaca tampaklah beribu ekor burung elang bersama sama terbang mendatang bahkan yang aneh burung burung elang itu ternyata-terbang dengan amat rapi dan teratur sekali seperti sengaja diatur demikian.

Liem Tou yang berdiri diujung perahu diam diam merasa kagum juga terhadap ke-rapian kawanan burung elang itu. belum sempat pikiran yang kedua mendadak sepasang matanya yang amat tajam kembali dapat melihat dibelakang burung elang itu terbang mendatang tiga ekor burung rajawali yang amat besar sekali menembus awan dan berada di belakang barisan.

Diatas burung rajawali raksasa itu secara samar samar dapat dilihat duduk tiga orang, dua orang yang ada disamping memakai baju warna merah dan putih sedang yang ada di tengah memakai baju berwarna biru.

Melihat kejadian itu seketika itu juga Liem Tou jadi sadar kembali.

“Aaaah . .. kiranya dia orang!' pikirnya dihati. .Thian Pian Siauw cu ternyata benar amat gagah dan berwibawa sekaii, tetapi entah siapakah orang yang memakai baju warna merah serta putih itu??"„.

Didalam sekejap saja kawanan burung burung lang itu sudah lenyap dari pandangan, cuaca pun mulai menggelap. Lampu penerangan mulai bersinar dari antara perahu perahu yang membuang sauh, dengan seorang diri Liem Tou diam diam menjalankan perahunya ketengah sungai kemudian dengan mengerahkan tenaga dalam-nya dia mulai menjalankan perahunya,

Dari daerah Chuan Tiong melalui kota Hong Kiat memasuki daerah Chuan Si dan tiba dibawah gunung Cing serta dengan melalui jalan air ada seribu lima ratus li jauhnya, walaupun kecepatan perahu Liem Tou bagaikan terbang tetapi bukannya bisa ditempuh hanya didalam sehari semalam saja,

Keesokan harinya Liem Tou menghentikan perahunya ditengah sungai untuk istirahat, untuk kemudian pada malam harinya kembali menjalankan perahunya memasuki pegunungan Cing Shian.

“Aaaah..kentongan keempat baru saja berlalu. kentongan kelima belum tiba" pikir Liem Tou kemudian sembari memandang keadaan cuaca. "Bagaimana aku melakukan perjalanan lebih cepat lagi mungkin masih bisa tiba digunung Ha Mo San, dibelakang gunung Ha Mo San terdapat banyak sekali tempat persembunyian. kenapa aku tidak pergi saja kesana??"

Ketika teringat akan kerbaunya yang sudah ada dua hari tidak makan dengan cepat dia masuk kedalam gudang perahu untuk mengambil rangsum kemudian sambil menuntun kerbaunya dia mendarat dan mulai naik keatas gunung.

Tidak lama kemudian sungai kematian di bawah gunung Ha Mo San sudah terbentang didepan mata, teringat dua tahun yang lalu bilamana dia hendak berhubungan dengan Lie Siauw Ie harus mengirim kode kode dari sini tidak terasa dengan sedihnya dia menghela napas panjang.

Semakin berpikir pikirannya semakin terjerumus kedalam lamunan. lama kelamaan dia berdiri termangu-mangu disana tak bergerak..

Dengan cepatnya kentongan kelima berlalu, sinar sang surya mulai memancarkan sinarnya dari ufuk sebelah timur...„

Mendadak dari puncak gunung Cing Shia yang berkumandang datang suara pekikan burung elang yang amat tajam menembus awan, diikuti terbangnya burung elang mengelilingi seluruh kalangan.

“Eeei ada urusan apa?” Pikir Liem Tou tersadar kembali dari lamunannya. “Apakah Thian Pian Siauw-cu hendak menggunakan burung elangnya untuk menantang perang? bila mana dia orang hendak menggunakan binatang binatang itu untuk menghadapi orang-orang Bu lim yang lain mungkin masih bisa membawa hasil tapi untuk menghadapi diriku bukankah hanya akan mengorbankan beberapa burung elangnya saja?.”

Ketika dilihatnya cuaca mulai terang dia jadi terkejut, dia tahu bilamana pada saat ini tidak cepat cepat naik gunung, maka menanti setelah terang tanah dia akan diketemukan oleh orang lain, karenanya tanpa berpikir panjang lagi dia segera memukul pantat kerbaunya.

“Ayoh cepat jalan, waktunya sudah tidak ada seberapa lagi.”

Dengan cepat dia meloncat naik ke atas panggung kerbaunya, sepasang kakinya mengempit perutnya sedang sepasang tangan-nya memegang kencang tanduknya, sekali lagi bentaknya.

“Ayoh jalan.”

Kerbau itu segera mendengus panjang, sepasang kakinya segera menjepak kebelakang deagan kecepatan yang luar biasa segera menerjang kearah sungai.

Kejadian aneh segera berlangsung dihadapan mata, ternyata kerbau itu dengan amat mudahnya berhasil menyeberangi sungai itu tanpa rintangan apapun bahkan kecepatannya tidak berkurang.

Hanya didalam sekejap saja Liem Tou sudah berhasil melewati sungai lalu disusul menerjang kearah tebing maut yang dilewati hanya didalam sekali loncatan saja dan ter-akhir jembatan Pencabut nyawa.

Setelah melewati Pencabut nyawa Liem Tou baru meloncat turun dari atas punggung kerbau dan menerobos masuk kebawah perutnya. setelah itu dia menjalankan kembali kerbaunya masuk kedalam perkampungan.

Dari tempat kejauhan dia dapat melihat orang orang dari perkampungan Ie Hee Cung sudah pada bangun dan ada beberapa orang yang sedang membersihkan halaman.

Mendadak suatu ingatan berkelebat didalam benak Liem Tou, pikirnya.

“Aku harus menggunakan cara apa untuk melewati perkampungan ini untuk menuju perkampungan sebelah belakang ?”

Baru saja dia sedang ragu-ragu mendadak dari bawah tebing secara samar samar ber-kumandang datang suara dari Si Ang In Sin Pian Pouw Sak San.

"Kali ini kita kembali kedalam perkampungan, pertama tama melakukan pekerjaan itu dulu, nanti malam pada kentongan kedua semua orang harus sudah hadir didepan rumah keledai tua itu," ujarnya.

Liem Tou yang mendengar perkataan itu cari Ang In sin Pian itu tidak lagi mengartikan kata katanya tersebut lebih mendalam, saat ini yang pcnting buatnya adalah menyembunyikan diri beserta kerbau yang besar itu.

Pada saat ini Liem Tou sedang merasa cemas uatuk mencari tempat persembunyian itulah mendadak tcrdengar suara dari Ang In Sin Pian" Pouw Sak San berkumandang lagi.

“Didalam beberapa hari ini Liem Tou bangsat cilik ini pasti bisa kembali ke perkam pungan. sampai waktu itu apakah kita benar benar mau bersembunyi dan tidak menemui dirinya?

Sekarang juga lebih baik kita merundingkan cara cara untuk menghadapi dirinya dikemudian hari."

Terhadap beberapa perkataan itu Liem Tou dapat mendengar dengan amat jelas sekali. jika ditinjau dari kata- katanya yang terakhir itu jelas untuk sementara waktu mereka tak mau naik keatas tebing sedang dirinya masih ada kesempatan untuk melewati tebing itu.

Tetapi bukannya pergi dia malah ingin mendengarkan percakapan mereka lebih lanjut. saat itu terdengar „Hauw Jiauw" Pouw Toa long sudah berbicara.

„Bukankah Cung cu sudah mengirim Siauw Ling untuk mengundang suhu dari Cung cu??? Aku lihat lebih baik kita rundingkan soal ini setelah dia orang tua tiba saja, sekarang kita harus mengurusi pekerjaan itu terlebih dulu agar ..Liem Tou bisa dibikin setengah percaya setengah tidak dan kita pun untuk sementara dapat menghindar dari tangan jahat nya, setelah suhu dari Cung cu datang kita bersama sama membasmi dirinya."

“Perkataan dari Toa Tong Loo-te sedikit-pun tidak salah !" Sahut Si Ang In Sin Pian mengangguk. „Bagaimana dengan maksud Kian Poo heng??" “Semuanya terserah pada maksud hati Cung cu, Kian Poo tidak mempunyai maksud yang lain, tetapi aku ada satu perkataan entah maukah Cung cu mendengarkannya??"

"Ada perkataan apa silahkan Kian Poc-heng berbicara." ujar Ang In Sin Pian dengan cepat, "Kau dengan aku sudah menjadi satu badan, ada perkataan kenapa tidak langsung diucapkan saja?? Apa lagi perkembangan Ang In Piauw kiok selama satu tahun inipun semuanya berkat bantuan dari Toa Tong te sekalian. Siauw te sejak kapan tidak mau mendengar omongan kalian??"

„Perkataan dari Cung cu terlalu memberatkan Siauw te" Sahut Lie Kian Poo merendah, ,.Ada budi apa yang aku Kian Poo berikan kepada Cung cu sehingga memperoleh pujian yang begitu tinggi?? perkataan yang hendak Siauw te ucapkan itu harap Cung cu suka jangan marah.

Aku ingin setelah urusan ini dibikin beres harap Cung cu suka mengijinkan aku Kian-Poo untuk tetap tinggal dirumah saja.” Liem Tou yang seeara diam diam mendengar perkataan dari Lie Kian Poo ini segera mengangguk, pikirnya.

“Diantara orang orang ini. Paman Kian Poo adalah orang yang paling jujur dan baik hati, dia berbicara demikian sudah tentu disebabkan melihat tindak tanduk yang tidak beres dari Cung cu, aku lihat orang ini patut dikasihi dan dihormati.”

Lama sekali dia termenung berpikir keras, mendadak dengan perasaan yang amat terkejut Liem Tou memasang kuping lagi. “Celaka,” pikirnya, “Ang In Sin Pian adalah seorang manusia yang licik dan kejam" Paman Kian Poo sudah ada beberapa tahun mengikuti dirinya sudah tentu terhadap segala tindak tanduk Cung cu dia tahu jelas, apa mungkin Ang In Sin Pian mau melepaskan orang yang ada kemungkinan mendatangkan bahaya buatnya?? perbuatan Paman Kian Poo ini bukankah sudah melanggar pantangannya yang terbesar?”

Baru saja dia berpikir sampai dlsitu terdengar Ang In Sin Pian sudah bertanya kembali. “Apa maksud dari perkataan Kian Poo heng ini? apakah kau sungguh-sungguh sudah mengambil keputusan untuk berbuat demikian ?”

Liem Tou yang mendengar Ang In Sin Pian bertanya demikian dia segera tahu kalau dia orang tidak bermaksud baik. tetapi walau pun sudah ditunggu agak lama tidak terdengar juga suara jawaban dari Lie Kian Poo.

"Lie Kian Poo.” terdengar Ang In Sin Pian dengan gusarnya membentak. “Aku tanya padamu selama ini aku Pouw Sak San apakah pernah melupakan dirimu kenapa tak ada angin tidak ada hujan kau punya maksud untuk berbuat begitu ? apa mungkin ..."

Belum habis dia berbicara terdengar si-Liong Ciang Lie Kian Poo sudah memotong dari tengah.

“Harap Cung cu jangan menaruh banyak rasa cuiiga terhadap siauw-te, aku Kian Poo sama sekali tidak mempunyai maksud yang lain. aku cuma merasa kepandaian silatku terlalu rendah ditambah lagi jago jago Bu-lim yang berkepandaian tinggi amat banyak sekali. sedikit tidak waspada akan mcndatangkan kematian buat diri sendiri, bilamana sampai aku mati siapa yang akan melindungi dan memelihara istri dan anak anakku?? Aku sudah mengambil keputusan setelah kembali kedalam perkampungan, aku tidak akan ikut turun gunung lagi.”

"Haa .. haa kiranya kau takut mati . . haa.. kenapa tidak kau katakan sejak dahulu ??" Seru Si Ang In Sin Pian sambil tertawa terbahak-bahak, "Bilamana sejak dulu kau katakan mungkin aku tidak akan mengundang kau untuk turun gunung."

Perkataan dari Ang In Sin Pian ini bernadakan suatu penghinaan Si Liong Ciang" Lie Kian Poo yang merupakan seorang berhati lurus mana bisa menahan penghinaan ini ?? Liem Tou tahu bagaimana mereka itu, sampai bergebrak maka jikalau dibicarakan dari soal ilmu silat Lie Kian Poo bukanlah tandingan dari cungcu, dia pasti akan menerima kerugian. Baru saja Liem Tou merasa kuatir buat keselamatan Lie Kian Poo mendadak terdengar Ang In Sin Pian sudah mengubah nada suaranya.

"Bilamana Kian Poo heng memang sudah nengambil ketetapan untuk berbuat demikian akupun tidak akan terlalu memaksa dirimu" ujarnya dengan suara yang halus. “Baiklah aku akan mengabulkan permintaanmu itu tetapi didalam urusan ini Kian Poo heng harus membantu aku terlebih dahulu."

"Hal ini sudah tentu" sahut Lie Kian Poo lengan hati girang. "Baiklah didalam urusan ini kita tentukan demikian saja ..."

Liem Tou tidak menunggu mereka menyelesaikan pembicaraannya, dengan cepat dia nenerobos masuk kebawah perut kerbaunya dan melarikan sang kerbau kearah perkampungan. Dia tahu sebentar lagi mereka tentu akan naik keatas tebing.

Hanya didalam sekejap saja Liem Tou sudah tiba didalam perkampungan, orang-orang kampong yang secara tiba-tiba melihat tempat itu nyelonong keluar seekor kerbau segera berteriak kaget dan pada bubar semua.

XXX

"Aduh toiong ! . tolong. . . tolong, ada kerbau gila lagi ngamuk !" teriaknya dengan suara keras.

Suasana jadi amat kacau sekali, suara teriakan memenuhi angkasa sehingga mengejutkan penduduk yang lain.

Tetapi belum sempat mereka berbuat sesuatu kerbau itu sudah lari kebelakang perkampungan dan lenyap diantara batu batu yang tersebar ditempat itu.

Dengan cepatnya Liem Tou serta kerbau itu berlari kearah gunung sebelah belakang perkampungan, keadaan disana dia sudah hafal seperti melihat jari tangannya sendiri, dengan cepatnya dia berhasil memperoleh tempat persembunyian yang amat bagus. Walaupun begitu hatinya terus menerus muram kuatir pula atas keselamatan dari Lie Kian Poo serta maksud Si Ang Sin Pian kemball kedalam perkampungan kali ini?? Pouw Siauw Ling pergi mengundang suhunya yang bukan lain adalah si penjahat naga merah. kapan mereka sampai disitu???

Mendadak dia teringat kembali akan kata-kata dari Si Ang In Sin Pian yang mengatakan hendak berkumpul didepan kuburan keledai tua itu pada kentongan kedua.

“Siapakah yang ditunjuk Cung cu sebagai keledai tua itu?" pikirnya didalam hati.

Mendadak bagaikan kena strom badannya menggigil dengap amat kerasnya, secara tiba-tba dia sadar kembali.

„Apakah mereka hendak pergi kedepan kuburan ayahku? Kali ini mereka kembali ke atas gunung apakah dikarenakan urusan ini? Pikirnya lagi dihati. „Apakah maksud hatiku sudah diketahui pihaknya?"

Urusan dengan perlahan menjadi jelas lagi, Liem Tou merasakan hatinya seperti diiris-iris, dia merasa gemas dan benci sekali . . . dia ingin sekarang juga pergi mengorek keluar dari hati Si Ang In Sin Pian.

Pada saat itulah mendadak Liem Tou mendengar dari dalam perkampungan berkumandang suara tangisan yang sedih sekali suara tangisan itu serak dan membuat hati orang kacau, diikuti suara langkah orang yang amat banyak berjalan mendatang, agaknya penduduk perkampungan Ie Hee Cung pun ikut berkumpul menjadi satu bahkan kerbaunya pun ikut mendengus tiada hentinya.

Liem Tou jadi merasa terkejut bercampur heran, dia dapat mengetahui kalau suara tangisan itu berasal dari diri Lie Siauw Ie, dia mengerti Lie Siauw Ie tentunya sudah pulang ke perkampungan dan menemukan ibunya sudah meninggal sehingga tidak tertahan lagi dia menangis dengan amat sedihnya. Liem Tou setelah mengetahui kedatangan dari Lie Siauw Ie hatinya merasa terharu bercampur sedih dia kepirgin sekali pergi untuk menghibur dirinya tetapi keadaan disekitar tempat itu tak mengizinkan saat ini dia hanya dapat mendongak keatas untuk berdoa bagi keselamatan dari Lie Siauw Ie.

Pada saat itulah suara hiruk pikuk dari orang orang kampung semakin santar lagi, bahkan secara samar samar terdengar pula ada orang yang mulai berteriak teriak. “Ayoh pergi cari balas dengannya. kita tidak mau Cung cu seperti dia ! Nafsunya terlalu besar dia tak cocok untuk

dijadikan sebagai Cung cu dari perkampungan Ie Hee Cung !" “Betul kami ingin hidup aman dan tenteram" teriak yang lain pula, Kita tak mau mencampuri urusan kekerasan . , „. dia telah-membawa kaum perampok dan bajingan bajingan Bu-lim datang kedalam perkampungan menggunakan uang kita untuk mencari kesenangan buat dirinya sendiri. , . ayoh cepai kita usir dia pergi dari sini cepat kau usir dia dari dalam perkampungan, dia adalah bibit bencana dari perkampungan Ie Hee Cung kita,”

Liem Tou sama sekali tidak menduga bila peududuk dari perkampungan Ie Hee Cung sebetulnya menaruh rasa dendam terhadap diri Ang in Sin Pian, dia menduga kalau kemarahan dari penduduk ini tentunya dikarenakan rasa terharu mereka melihat keadaan diri Lie Siauw Ie dan membantu diri Lie Siauw Ie untuk menuntut balas terhadap diri si Ang In Sin Pian,

Liem Tou tahu bilamana Lie Siauw Ie sudah melancarkan gerakan ini dia tidak dapat bersembunyi lebih lanjut dia harus pergi memeriksa lebih jelas lagi.

Baru saja pikiran ini berkelebat dari dalam benaknya mendadak dari arah depan berkumandang datang suara langkah mamisia yang amat ramai sekali. untuk sementara ia mengesampingkan pikiran tersebut. dia akan melihat siapakah yang begitu menganggur datang kearah batu batu yang tersebar ini. Suara langkah kaki itu semakin lama semakin mendekat. bahkan kedengaran tidak hanya seorang saja dan arah yang dituju bukan lain adalah tempat persembunyiannya.

Mendengar suara langkah manusia tersebut Liem Tou jadi benar benar kuatir, dia takut tempat persembunyiannya diketahui oleh pihak musuh.

Tapi sebentar saja rasa takut itu sudah lenyap dari dalam hatinya, orang itu menghentikan langkahnya.

“Wan jie” terdengar salah seorang diantaranya membuka bicara. “Secara diam diam kau pergilah melindungi dirinya sehingga dia orang tidak sampai menemui bencaia. Kemarin malam Ke Hong sudah datang kemari dengan membawa binatang binatang berbulunya, sekarang juga aku mau pergi memeriksa dia orang sebetulnya sedang mempersiapkan permainan apa lagi? Masih ada lagi jagoan aneh itu selama ini aku tak pernah melupakan dirinya aku rasa saat ini dia pun tentunya sudah tiba ditempat ini,”

Liem Tou segera bisa membedakan kalau orang yang sedang berbicara ini bukan lain adalah si cangkul sakti Lie Sang beserta putrinya Wan Giok tentu mereka datang kemari bersama sama dengan Lie Siauw Ie,

"Tia silahkan kau pergi dari sini, tetapi harus lebih berhati hati lagi,” sahut si gadis cantik pengangon kambing cepat. “Nanti malam aku menanti kedatangan Tia ditempat ini ! sekalian harap Tia suka memeriksa apakah Liem Tou koko sudah tiba disini ataukah..”

"Wan jie !" terdengar Lie Loo jie berbicara sambil tertawa. "Beberapa hari ini kau tidak enak tidur, agaknya engkau merindukan diri Liem Tou . . apa mungkin kaupun sudah menaruh ..." ^

“Tia!" tidak menanti ayahnya selesai bicara si gadis cantik pengangon kambing sudah memotong. "Kau jangan mengejek putrimu lagi, didalam hati engkoh Liem cuma ada enci Ie seorang saja, mana mungkin diapun menaruh hati kepadaku

?? Tia ! lebih baik engkau cepat pergi dari sini !"

"Haa . . Wan jie ! ada perkataan kenapa tidak kau katakan terus terang saja kepadaku?" ujar Lie Loo jie lagi sambil tertawa. "Jika didengar dari perkataanmu tadi terang terangan kau menaruh hati kepadanya, bilamana kau sungguh sungguh

..."

"Tia! bilamana kau teruskan lagi kata katamu aku akan segera pukul kau orang tua, kau masih tidak pergi juga ?” Potong si gadis cantik pengangon kambing kembali dengan manjanya. “Sekalipun kau harus pukul aku dua kali, akupun akan menghabiskan dulu perkataan-ku.”

“Tia! terima seranganku!” Bentak si gadis cantik pengangon kambing dengan nyaring setelah mendengar perkataan tersebut.

Tidak lagi Liem Tou segera mendengar datangnya angin pukulan yang menyambar, agaknya si gadis cantik pengangon kambing benar benar sudah melancarkan serangannya mengancam badan Lie Loo jie.

Lie Loo jie segera tertawa terbahak bahak tiada hentinya.

„Haaa haaa,...Liem Tou adalah putra dari Liem Cong sute itu si pancingan emas sakti, sekarang dia tiada sanak tidak keluarga sudah tentu cuma aku sebagai supeknya saja yang bisa bertindak sebagai walinya, menanti setelah kita selesai menemui Ke Hong dipuncak pertama gunung Cing Shia dan melenyapkan rasa malu dari Tia, bilamana kau punya maksud. hee..Wan jie! terus terang saja aku katakan

asalkan kau suka mohon kepadaku, aku tentu akan menjodohkan dirimu kepadanya bersama sama dengan Ie jie. Omong yang benar saja bocah itu memang tidak jelek "

Liem Tou yang mendengar perkataan yang setengah guyon setengah sungguhan dari Lie Loo jie serta sigadis cantik pengangon kambing itu didalam hati merasa berterima kasih bercampur geli, didalam kolong langit pada saat ini mana ada seorang ayah yang berguyon secara demikian dengan putrinya? Dari hal ini saja sudah jelas memperlihatkan kalau hubungan antara Lie Loo jie dengan si gadis cantik pengangon kambing sekalipun adalah ayah beranak tetapi boleh dikata juga merupakan sahabat yang paling erat.

Mendadak Liem Tou teringat kembali akan pengalamannya semasa kecil yang penuh derita dan aniaya itu, saat ini melihat sikap yang begitu mesra antara Lie Loo jie dengan si gadis cantik pengangon kambing mengingatkan dia akan ayahnya yang sudah mcninggal. hati jadi terasa terkejut titik titik air mata mulai mengucur keluar membasahi pipinya.

Tiba tiba dia menjejakkan kakinya sehingga badannya meloncat keatas setinggi tujuh delapan kaki kemudian setslah bersalto beberapa kali segera menubruk kearah sigadis cantik pengangon kambing serta Lie Loo-jie.

Lie Loo jie yang sekonyong konyong merasakan adanya angin sambaran yang menerjang kearahnya tanpa melihat lebih jelas lagi terburu-buru dia mundur dua langkah kebelakang, telapak tangannya disilangkan di depan dada siap siap menghadapi sesuatu.

“Siapa?" bentaknya dengan keras.

“Liem Tou menghunjuk hormat buat supek!" sahut Liem Tou sambil jatuhkan dirinya berlutut.

Lie Loo jie yang melihat munculnya Liem Tou secara tiba tiba ditempat itu didalam hati merasa amat girang sekali. dengan cepat dia maju memegang pundak keponakan-nya lantas menariknya bangun.

"Aaah . . ha . . kiranya kau orang!" Teriak nya sembari tertawa terbahak bahak. "Kapan kau datang kemari?" Wah . . Wah .. hampir hampir membuat aku mati saking terkejut!"

Mendadak dia melihat wajah Liem Tou di penuhi titik titik air mata yang membasahinya. dia jadi terkejut.

"Eeei . .! Hiantit! setelah bertemu dengan aku kenapa kau malah menangis ?" teriaknya tertahan. "Apakah sudah terjadi suatu urusan yang berada diluar dugaan? cepat kau beritahukan kepada Supekmu!"

Si gadis cantik pengangon kambing yang masih polos dan berhati kekanak kanakan sewaktu melihat Liem Tou menangis dengan begitu sedihnya. dari dalam saku dia lantas mengambil keluar secarik sapu tangan dan diangsurkan kepadanya.

"Engkoh Liem, baru untuk pertama kalinya aku melihat kau orang menangis!" ujarnya sambil tersenyum.

Mendengar perkataan tersebut Liem Tou segera teringat pula atas pembicaraan antara Lie Loo jie serta si gadis cantik pengangon kambing baru baru ini, tidak terasa wajah-nya sudah berubah memerah dan lagaknya amat kikuk sekali.

Dengan cepat dia mengucapkan terima kasih dan menerima pemberian sapu tangan itu untuk menghapus kering air mata yang membasahi pipinya lalu dengan malunya dia kirim satu senyuman kepada Lie Loo jie serta putrinya. "Supek!" Tiba tiba wajahnya berubah jadi keren dan serius kembali. "Kalau memangnya sejak dulu kau sudah tahu akan asal usul keponakanmu kenapa tidak kau katakan sejak semula ? dahulu keponakanmu pernah berbuat kurang ajar terhadap diri Supek, Supek, maaf kan atas dosa dosa keponakanmu itu ?"

"Haa .. ha .. buat apa aku cepat cepat beritahu padamu ?” Tanya Lie Loo jie dengaa wajah penuh senyuman kegirangan, "Sekalipun aku beritahu padamu sejak semula lalu apa kegunaannya? hee.. . hee 1 . . bukankah kau melihat sendiri sedikit terlambatnya pun tidak mengapa. bukan begitu? haaa

.. ha . . "

Air muka Liem Tou berubah jadi sangat sedih sekali, alisnya dikerutkan rapat rapat, sedang wajahnya murung, dengan sedih dia gelengkan kepalanya.

"Bukannya begitu Supek, tahukah kau orang tua bagaimana ayahku menemui ajalnya? aku rasa didalam hai ini … “ serunya ragu ragu.

Belum habis berbicara dia sudah menarik kembali kata katanya.

Lie Loo jie yang mendengar dia memotong pembicaraan ditengah jalan, dengan sepasang mata yang terbelalak besar dan mengandung rasa terperanjat segera melototi dirinya tak berkedip.

Dengan perlahan lahan Liem Tou menghela napas panjang kembali, ujarnya lagi.

"Sekarang peristiwa ini belum sempat keponakanmu selidiki dengan jelas, harap Supek suka memaafkan akan perbuatan dari keponakanmu ini"

"Hian tit. bila kau ada perkataan ucapkanlah sampai habis sikapmu yang setengah dan sama sekali tidak bersemangat ini sungguh merabuat orang lain merasa tak ena& sekali" desak Lie Loo jie dengan hati yang kurang senang,

Dengan pandangan sedih Liem Tou memandang beberapa saat lamanya kearah diri Lie Loo jie, tidak kuasa lagi titik titik air mata kembali keluar membasahi pipinya.

"Supek,” ujarnya dengan perlahan. "Aku menaruh curiga kalau kematian dari ayahku tidak terlalu wajar, aku punya maksud sebelum kentongan pertama malam ini hendak membongkar kuburan Tia dan mengambil keluar kerangkanya untuk diperiksa"

"Perkataanmu ini apa betul ?" Teriak Lie-Loo jie dengan suara keras "setelah mendengar perkataan tersebut, agaknya dia merasa agak kaget.

Liem Tou segera mengangguk.

Pada saat itulah suara hiruk pikuk serta teriak teriakan makian dari dalam perkampungan berkumandang semakin santar lagi bahkan secara samar samar terdengar suara makian dari Lie Siauw Ie yang keras, jelas ditempat itu sudah terjadi suatu demontrasi anti cungcu mereka . . . Didalam hati tiba tiba Liem Tou memikirkan akan sesuatu, cepat cepat ujarnya kepada Lie Loo jie.

"Sebab sebab kematian ayahku malam ini juga bisa diketahui jelas, bilamana dugaan dari keponakanmu tidak salah maka pembunuh yang sebetulnya adalah Pouw Sak San itu Cungcu dari perkampungan Ie Hee Cung.

Saat itu kau mau bunuh dia bahkan Thiat-Bok Thaysu serta si penjahat naga merah tidak bisa dikesampingkan keluar. Saat ini enci Ie sedang menemui kesulitan, bersama sama dengan Wan moay moay aku kesana untuk lihat lihat, Supek! lebih baik kaupun pergi memeriksa keadaan dari Thian Pian Siauw cu, sutitmu disini mohon diri dulu!"

Lie Loo jie yang secara tiba tiba disadarkan oleh perkataan dari Liem Tou ini seperti baru saja sadar dari impian dengan cepat dia menjerit tertahan.

„Aaaah. benar, benar!" serunya keras." Bilamana bukannya

Hian tit yang msmberi peringatan hampir hampir aku melupakan akan tugasku ini. eeei ooooh yaah kalau begitu

semua geguyonku dengan Wan jie tadi tentu dapat kau lihat dan dengar semua bukan?"

Sehabis berkata mendadak dia putar kepalanya kirim satu muka setan kepada diri Si gadis cantik pengangon kambing kemudian sambil tertawa terbahak bahak ujung kakinya menutul permukaan tanah dan meloncat ketengah udara. diantara bergeraknya badan dia sudah mencapai sejauh puluhan kaki, kemudian disusul dengan beberapa kali tutulan tubuhnya lenyap dari pandangan.

Si gadis cantik pengangon kambing yang digoda oleh ayahnya pada saat ini dengan rasa kikuk menundukkan kepalanya tidak bergerak, wajahnya yang cantik halus dan menarik itu kini sudah berubah memerah seperti kepiting rebus, lama sekali dia tidak berani memandang diri Liem Tou. "Wan moay mari kita pergi !"* Akhirnya Liem Tou yang mengajak dia berlalu.

Tangan kirinya segera disambar kedepan menarik pergelangan tangannya kemudian berlari menuju kearah perkampungan Ie Hee Cung.

Hanya didalam sekejap saja mereka sudah mendekati perkampungan itu sedang suara hiruk pikuk dari penduduk kampung serta suara makian dari Lie Siauw Ie pun semakin lama semakin jelas didengar.

Terdengar Lie Siauv Ic dengan amat gusarnya sedang berteriak memaki.

"Pouw Sak San ! ayoh cepat menggelinding keluar dari tempat ini. kau tidak pantas untuk menjabat sebagai Cung cu dari perkampungan Ie Hee Cung ini, bila kau terus terusan begini tidak sampai dua tahun lagi kami penduduk perkampungan Ie Hee Cung dari ke luarga Lie dan keluarga Pouw bakal menjadi miskin karena pemerasanmu. Heey Pouw Sak San! buat apa kau mendirikan loteng pengintai dan tembok benteng ? kenapa kau gunakan uang rakyat untuk digunakan sendiri ? kau binatang tak berperi kemanusiaan kau sudah menyebabkan kematian ibuku. ini hari jikalau aku tidak bacok separoh otak dan separuh nyawamu rasa mangkel dihatiku tidak akan padam untuk selamanya.”

Liem Tou yang melanjutkan perjalanannya sambil menarik tangan si gadis cantik pengangon kambing, sewaktu mendengar suara makian dari Lie Siauw Ie itu ujarnya.

“Wan moay moay coba kau dengar enci Ie sungguh galak sekali, coba kau pikirlah dia mau bacok separoh otak dan separoh dari nyawanya. Waah . . bagaimana caranya kalau dikerjakan ?”

Selama ini si gadis cantik pengangon kambing membiarkan Liem Tou menarik dirinya untuk melakukan perjalanan tak sepatah kata pun diucapkan, kini diapun tidak menjawab dia cuma mengirim satu senyuman mesra ke arahnya.

Tidak lama kemudian mereka berdua sudah tiba ditengah pepohonan dibelakang perkampungan itu Liem Tou segera melepaskan diri gadis cantik pengangon kambing dan meloncat naik keatas pohon. Dengan melewati sederetan rumah tampak lah ditengah sebuah lapangan yang luas didepan perkampungan tersebut berkerumunlah seluruh penduduk perkampungan Ie Hee Cung sembari berteriak teriak, tepat berada didepan pintu sebuah bangunan megah dan jelas sekali tampak Lie Siauw Ie dengan memakai baju putih dan menyandang pedaug sedang memaki dan mengolok olok,

“Wan moay cepat kemari !” ujar Liem Tou cepat cepat sambil menggape diri si gadis cantik pengangon kambing.

„Kegagahan dari enci Ie sangguh mirip dengan seorang enghiong yang sudah banyak melakukan jasa terhadap negara"

Si gadis cantik pengangon kambing tersenyum, cuapun dengan cepat loncat naik keatas pohon.

Sewaktu melihat sikap serta gaya dari Lie biauw Ie itu dia lalu tertawa.

"Oooow . . . sungguh gagah sekali sikapnya !" serunya memuji, "Engkoh Liem. kau rasa bilamana Cung cu itu berani keluar apa kah enci Ie berani menandingi dirinya ?" “Dibawah pimpinan seorang Jenderal kuat. tiada serdadu lemah, enci Ie adalah anak murid dari supek sudah tentu kepandaian silatnya luar biasa" sahut Liem Tou sambil cari tempat yang enak untuk duduk. .Tetapi di dalam soal tenaga dalam kemungkinan dia masih kalah satu tingkat dari tenaga

dalam yang dimiliki Cung cu. Bagaimanapun juga enci Te baru saja memasuki perguruan sedangkan Cung cu sudah ada sepuluh tahun latihan. kita harus baik baik melindungi dirinya bilamana nanti dia terdesak !"

“Jikalau demikian adanya. bukankah tantangan bertempur yang dilakukan oleh enci Ie ini sama saja tidak mengetahui kekuatan sediri??" Seru si gadis cantik pengangon kambing sambil mengerutkan alisnya rapat rapat.

Didalam hati Liem Tou pun mempunyai perasaan demikian, dia termenung dan berpikir sebentar, akhirnya jawabnya pula. “Perkataan dari Wan moay memang sedikit pun tidak salah jika ditinjau dari situasi yang ada dihapan kita sekarang ini jejas enci Ie sudah dibuat gusar oleh karena kematian ibunya, sehingga tanpa terasa lagi dendam dan benci yang selama ini terkandung dihatinya bersama sama ditumpukkan kebadan Cung cu. Menurut penglihatanku, walaupun didalam urusan ini Cung cu tidak bisa lolos dari tanggung jawab tetapi bilamana enci Ie hendak berbuat demikianpun tidak ada gunanya, lebih baik untuk sementara kita suruh dia bersadar sebentar."

Berbicara sampai disini dia menghela napas panjang, kemudian sambungnya lagi.

“Aku lihat demikian saja, lebih baik Wan moay pergi memberi nasehat kepadanya untuk sementara waktu enci Ie bisa menahan sabar. Dengan kemunculanmu ini aku rasa Ang In Cung cu tidak bakal berani keluar karena dia pernah merasakan kelihayanmu asalkan dia tidak berani keluar maka penduduk yang lainpun bisa bubaran dengan sendirinya saat itulah kau boleh pergi menemui enci Ie untuk beristirahat dirumahnya sampai waktunya aku dengan supek pasti akan datang kesana.”

Si gadis cantik pengangon kambingpun merasa cara ini adalah cara yang paling bagus dengan cepat dia mengangguk dan meloncat lurun dari atas pohon.

Baru saja berjalan dua langkah mendadak dia berhenti dan menoleh kembali.

“Engkoh Liem,” serunya. “Apakah kau hendak pergi kepuncak pertama gunung Cing Shia untuk mencari ayahku?”

Siapa tahu tempat itu sama sekali tidak terdengar jawaban, ketika dilihat lebih teliti lagi dia baru tahu kalau Liem Tou sejak semula sudah pergi dari sana.

Terpaksa dia cuma gelengkan kepalanya sambil gumamnya seorang diri.

“Sebetulnya engkoh Liem melatih ilmu silat apa toh? kelihatannya ilmu silat yang dimilikinya sangat lihay sekali sehingga sukar untuk dicarikan tandingannya dikolong langit pada saat ini.”

Sembari bergumam dia berjalan mendekati tengah lapangan dimana para penduduk kampung pada berkumpul dan langsung menuju kesamping badan Lie Siauw Ie.

Waktu itu Lie Siauw Ie masih tidak merasa kalau disamping badannya sudah kedatangan seseorang terpaksa si gadis cantik pengangon kambing menepuk nepuk pundaknya untuk menyadarkan dirinya"

“Enci Ie,” panggilnya perlahan.

Lie Siauw Ie segera menoleh kebelakang sewaktu melihatnya si gadis cantik pengangon kambing sudah ada disampingnya tampak matanya mulai memerah agaknya dia bermaksud untuk menangis lagi, akhirnya dengan paksakan diri tanyanya.

“Mau apa kau datang kemari?”

Si gadis cantik pengangon kambing segera tersenyum dengan cepat dia tempelkan bibirnya ketelinga Lie Siauw Ie dan membisik-kan sesuatu kepadanya.

Sungguh aneh sekali, mendadak Lie Siauw Ie menarik kembali hawa amarahnya dan mengangguk.

“Hey Pouw Sak San,” teriaknya kembali dengan suara yang lantang. “Ini hari kau tidak berani keluar pintu untuk menemui aku.

Hmm! Untuk sementara aku lepaskan satu kali, besok pagi aku akan datang lagi! Hmm!-Hey Pouw Sak San cucu kura kura kau dengar, semua penduduk perkampungan Ie Hee Cung cu sudah tidak menghendaki kau sebagai Cung cu kami lagi, lebih baik kau sedikit cerdik dan cepat cepat menggelinding dari sini!"

Selesai berkata dia segera mengulapkan tangannya membubarkan orang orang kampung lainnya yang pada berkumpul disitu setelah itu bersama sama dengan si gadis cantik pengangon kambing mereka berjalan kembali kerumah yang sudah tidak berpenghuni itu.

Kita balik pada Liem Tou sesudah meninggalkan diri si gadis cantik pengangon kambing. Pikirnya dihati.

“Perduli bagaimanapun sekarang aku lagi tidak ada pekerjaan. Lebih baik pergi ke puncak pertama Cing Shia saja untuk melihat lihat. Thian Pian Siauw cu yang datang lebih pagi sepuluh hari dari tanggal perjanjian jelas mempunyai maksud maksud tertentu. Bilamana aku bisa mengetahui siasat yang sedang disusun sejak sekarang bukankah lain kali aku bisa melenyapkan pula beberapa kerepotan??".

Teringat akan hal ini dengan cepat dia mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya berlari menuju keatas gunung melalui jalan kecil yang ada dibelakang perkampungan itu-

Puncak pertama dari gunung Cing Shia ini terletak ditengah antara tiga puluh lima puncak lainnya disebelah kirinya ada Tiang Jien Hong disebelah kanannya ada Tian Can San.

Bilamana kita memanjat sampai puncak teratas dari puncak pertama ini, dari sana bisa dilihat beratus ratus puncak dari gunung Ming pan yang saling sambung menyambung bagaikan ular. keindahan alam dari daerah Sie Chuan pun dapat dilihat bahkan sampai puncak-puncak yang bersalju daerah

Si Ie pun secara samar samar dapat dilihat muncul diujung langit.

Saat ini bagaikan kilat cepatnya Liem-Tou berkelebat dari gunung Ha Mo San menuju ke gunung Gang san. dihadapannya muncul lagi sebuah gunung yang amat tinggi sekali dan puncak itu adalah puncak pertama. diam diam Liem Tou berpikir.

“Ehmmm apa mungkin Thian Pian Siauw cu sudah pergi?”

Belum habis dia berpikir mendadak tampaklah sesosok bayangan merah dengan amat cepatnya berkelebat datang dan menerjang kearah puncak pertama itu.

Baru saja bayangan merah itu mencapai permukaan tanah mendadak disertai dengan suara pekikan nyaring yang memekikkan telinga, dari empat penjuru puncak berkerumun datanglah beribu ribu ribu ekor burung elang yang bersama sama menubruk bayangan merah itu,

Terdengar bayangan merah itu membentak keras, tubuhnya meloncat kembali ketengah udara setinggi dua kaki, Saat ini walaupun Liem Tou berdiri pada puncak yang berlainan tetapi dia dapat melihat bayangan merah itu dengan jelas kiranya bayangan merah itu adalah bukan lain seorang gadis cilik dengan sepasang kuncirnya yang panjang dan hitam.

“Sungguh bagus gerakannya” diam-diam pujinya dihati. Tetapi kembali satu ingatan berkelebat dalam benaknya. “Kawanan elang bersama sama menyerang dari atas dan bawah entah dia hendak menghindarkan dengan cara apa? Belum habis Liem Tou berpikir kawanan elang itu ternyata sudah menarik kembali serangannya, tak terasa lsgi dia tertawa geli pikirnya.

“Ke Siauw cu bisa melatih kawanan elangnya untuk menyerang musuh jelas kepandaiannya amat lihay tetapi untuk menyusun satu barisan elang yang kuat aku rasa dia masih kurang sempurna.”

Terlihatlah bayangan merah itu hendak meloncat ketengah udara dan berjumpalitan beberapa kali, belum sempat kakinya mencapai permukaan tanah tiba tiba bembali kawanan elang itu melancarkan serangannya dengan menutup jalan turunnya dan tepat menutup jalan mundur dari bayangan merah itu.

Melihat keadaan itu Liem Tou jadi terkejut pikirnya lagi. “Hmm. sungguh licik binatang berbulu itu ..”

Bersamaan pula diam diam Liem Tou menaruh rasa kuatir pula atas keselamatan dari bayangan merah itu, mendadak bayangan itu menekuk pinggang dengan gaya yang amat luwes dan lincah dia sudah mencabut keluar pedang emasnya yang memancarkan sinar ke emas-emasan kemudian dengan dahysatnya dia melancarkan serangan membentuk dinding pedang yang kuat untuk menahan datangnya serangan kawan burung elang tersebut,

"Ehmmm." untung sekali dia mcmiliki pedang lemas" kalau tidak bagaimana mungkin dia bisa memberikan perlawanannya?” Pikir Liem Tou sambil mengangguk. Tetapi dengan berbuat demikian dia cuma bisa melindungi dirinya sendiri tanpa dapat melukai kawanan burung elang.”