Raja Silat Jilid 26

 
Jilid 26

Sungguh !...sungguh.... - pikir Si Ang In Sim Pian anak murid dari si penjahat naga merah, apakah mereka mengetahui keadaan dari ayahku yang sebenarnya? kalau tahu. Hmm! Si penjahat naga merah serta si hweesio tujuh

jari bersama sama membinasakan Hoa Sucouw salah satu dari Auw Hay Siang Hiap, sedang ayahku adalah anak murid dari Hoa Sucouw, sudah tentu mereka punya alasan untuk membinasakannya.

Berpikir sampai di sini tidak terasa lagi seluruh keningnya sudah dibasahi oleh keringat yang mengucur keluar dengan amat derasnya, sepasang matanya dipentangkan lebar lebar.

Tiba tiba dia melihat dari sinar mata Pouw Siauw Ling kelihatannya sedikit mencurigakan ketika terbentur dengan matanya mendadak dia menundukkan kepalanya rendah rendah.

Liem Tou merasa hatinya semakin tegang, lagi, pikirnya kembali.

Jikalau benar benar demikian adanya .. aaah Liem Tou!

kau harus membuka pantangan membunuh! hmmm .. diantara mereka tidak bakal ada seorangpun yang bisa lolos dari cengkeramanku.

Mendadak satu ingatan kembali berkelebat di dalam benaknya, dia gelengkan kepalanya kembali.

Tidak mungkin .. tidak mungkin ,. pikir nya "Bagaimana mereka bisa tahu akan nama serta julukan dari ayahku yang sebenarnya?"

Dengan cepat dia memandang kearah diri Pouw Siauw Ling lagi, mendadak satu ingatan berkelebat lagi di dalam benaknya.

Dia ingin menjajal Pouw Siauw Ling apakah dia tahu akan nama serta julukan dari ayahnya, jikalau dia tahu maka urusan ini segera akan tersingkap.

Mendadak Liem Tou tersenyum ramah. "Perkataan dari Siauw Ling heng sedikit pun tidak salah" sahutnya kemudian dengan halus. "Sewaktu ayahku masih hidup Pouw Cung cu memang benar merawat dirinya, di dalam hati aku merasa Liem Tou benar benar merasa sangat berterima kasih, cuma saja maksud dari aku Liem Tou kali ini sama sekali tidak bermaksud jahat, terus terang saja aku katakan, bilamana aku tidak berbuat demikian kemungkinan sekali Siauw Ling heng saat ini sudah terkubur di dasar sungai.

Pouw Siauw Ling yang mendengar perkataan dari Liem Tou ini benar benar merasa kebingungan.

Apa maksud dari perkataan Liem heng itu? tanyanya sambil angkat kepalanya.

Liem Tou sama sekali tidak menipu dirinya, dengan terus terang dia segera menceritakan bagaimana si golok naga hijau Sie Piauw tauw bermaksud hendak menenggelamkan perahu mereka.

Selesai mendengar kisah itu Pouw Siauw Ling baru menghembuskan napas panjang.

Kalau demikian adanya boleh dikata Liem heng sudah turun tangan menolong kami, tetapi kenapa kau minta kami menyerahkan uang sebesar tiga laksa tahil perak ?

Liem Tou segera gelengkan kepalanya.

Siauw Ling heng, ujarnya. Perahu dari Cing Liong Piauw kiok adalah kalian yang rampok, bagaimana dia orang mau mendengarkan omonganku ??

Mendengar perkataan tersebut, Pouw Siauw Ling tidak dapat mengucapkan sepatah kata pun juga.

Liem Tou tertawa lantas ujarnya lagi.

Aku rasa Siauw Ling heng tentunya sudah lapar bukan, untung saja di sini banyak makanan, silahkan kau bersantap dulu. Pouw Siauw Ling yang melihat sikap Liem Tou sudah berobah amat ramah di dalam anggapannya dia mengira orang sudah dibuat tergerak hatinya oleh perkataannya tadi, diam diam dia segera memikirkan satu cara untuk meloloskan diri.

Setelah mendengar perkataan dari Liem Tou ini tanpa sungkan sungkan lagi dia segera bersantap dengan lahapnya.

Sungguh tidak kusangka sama sekali kalau dalam setahun saja kepandaian silat Liem-heng sudah berhasil dilatih hingga mencapai pada taraf kesempurnaan ujarnya sambil makan, entah cianpwee dari mana yang sudah menerima Liem heng sebagai muridnya???

Mendengar perkataan tersebut di dalam hati Liem Tou segera mendapatkan satu akal.

Aaah . . . kau mau tanya siapakah suhuku?" serunya dengan wajah menampilkan rasa girang. Suhuku adalah seorang yang mempunyai nama yang sangat terkenal sekali bila aku katakan mungkin Siuaw Ling heng pun sudah lama mendengarnya."

Siapa??" tanya Pouw Siauw Ling dengan mata terbelalak lebar.

Sengaja Liem Tou tertawa lagi.

Pengetahuan Siauw Ling heng terhadap jago jago Bu lim jauh melebihi diriku coba kamu terka" ujarnya perlahan.

Lama sekali Pouw Siauw Ling termenung berpikir keras tetapi dia tidak bisa menebak juga siapakah suhu dari Liem Tou itu.

Dengan meminjam kesempatan sewaktu dia berpikir keras itulah mendadak ujarnya Liem Tou.

Si pancingan emas sakti !" Aaaa . . . si pancingan emas sakti????????'" Seru Pouw Siauw Ling tanpa berpikir panjang lagi.

Mendengar jawaban tersebut seketika itu juga air muka Liem Tou berubah sangat hebat sekali.

Pouw Siauw Ling tahu dia sudah salah bicara, didalam keadaan gugup air mukanya pun berubah pucat pasi, cepat cepat ujarnya lagi dengan gugup.

Aaaa .... siapa . . . siapa itu si Kim-Tiauw It Kiauw (pancingan emas sakti) ??

Liem Tou tidak banyak berbicara lagi. tangan kanannya dengan cepat bagaikan kilat mencengkeram pergelangan tangan kiri dari Pouw Siauw Ling, saat ini seluruh badannya gemetar dengan amat keras sekali, wajahnya berobah putih kehijau hijauan, untuk beberapa saat lamanya dia tidak bisa mengucapkan sepatah katapun.

Lewat beberapa lama kemudian dia baru bisa mengeluarkan beberapa patah kata. "Pouw Siauw Ling! Urusan ini aku mau memegang kau untuk ditanyai sampai jelas."

Pouw Siauw Ling sengera merasakan lima jari dari Liem Tou yang mencengkeram pergelangan tangannya yang makin lama makin mengencang sshingga terasa amat sakit sekali, saking tak tertahannya akhirnya dia menjerit keras seperti babi yang mau dipotong.

Liem Tou!" ada perkataan kita ucapkan perlahan lahan" teriaknya dengan keras.

...Cepat kau lepaskan diriku !"

Liem Tou yang mendengar suara teriakannya itu segera menjadi sadar kembali dia segera merasa kalau tenaga yang dikerahkan ke luar terlalu dahsyat sehingga membuat pihak lawan tidak kuat untuk bertahan lebih lama, karenanya dia lalu mengendorkan sedikit cengkeraman tangannya. Pouw Siauw Ling !" teriaknya kemudian dengan hati yang agak tenang. «Cepat kau katakan, ayahku meninggal dengan cara bagaimana?' asalkan kau berani berbicara bohong, hmm

!! Kau lihat saja kelihayanku ini"

Pergelangan tangan kiri dari Pouw Siauw Ling yang dicengkeram Liem Tou walau saat ini agak kendor tetapi peristiwa tersebut bagaimana boleh diberitahukan kepadanya? Bilamana perkataan ini diceritakan kepada Liem Tou maka dirinya beserta Ang Ie Cung cu segera akan menjadi musuh bebuyutan sedalam lautan.

Bukan saja dirinya seketika itu juga akan menemui ajalnya di dalam serangan yang dahsyat bahkan dengan kepandaian silat yang dimilikinya ini tidak lebih dari dua jam kemudian ayahnyapun bakal menemui ajal di bawah serangannya.

Berpikir akan hal ini saking sedih dan cemasnya, air matanya mulai mengucur keluar membasahi wajahnya.

"Aku tidak tahu . . . ! aku tidak tahu. . . !" teriaknya dengan keras. -

Asalkan pada saat ini Pouw Siauw Liang agak tenang dan mengambil kesempatan ini untuk menipu diri Liem Tou dengan mengatakan Liem Han San mati karena sakit, urusan ini tentu agak tidak seberapa tegang, justru karena kebingungannya inilah membuat urusan semakin diperbesar lagi.

Karena sikap dari Pouw Siauw Ling yang cemas dan ketakutan inilah kini Liem Tou semakin merasa kalau ayahnya tentu binasa dianiaya oleh ayah beranak itu kelima jari yang mencengkeram pengelangan tangan Pouw Siauw Ling semakin mengencang lagi.

.Pouw Siauw Ling!" Bentaknya dengan keras. .Bilamana ini hari kau tidak suka berbicara terus terang aku segera akan menyuruh kau merasakan siksaan yang paling kejam dan yang paling ganas yang ada di dalam dunia ini, tetapi bilamana kau suka berterus terang Pouw Siauw Ling! Kau dengar bai kbaik perkataanku, aku bilang satu ya...satu! Aku e gera akan melepaskan satu jalan hidup buat dirimu!".

Pouw Siauw Ling yang merasakan cengkeraman dari Liem Tou itu semakin lama semakin kencang tidak kuasa lagi dia menjerit kesakitan, sembari menggigit bibir menahan rasa sakit yang menusuk tulang dia menjerit keras.

Aku tidak tahu..!Aku tidak tahu !"

Lima jari yang mencengkeram pergelangan Pouw Siauw Ling semakin diperkeras lagi beberapa kali lipat sehingga menembus ke dalam daging tangannya beberapa coen dalamnya sepasang alisnya dikerutkan rapat rapat sedang dari sepasang matanya secara samar samar memperlihatkan nafsu membunuh nya.

Pouw Siauw Ling, kau benar benar tidak tahu?? teriaknya dengan amat dingin. "Hmm ...! Jangan menyesal di kemudian hari!".

Saking sakitnya sepasang mata Pouw Siauw Ling melotot keluar lebar lebar giginya gemeretukan dengan keras, kesadarannyapun berangsur angsur berkurang.

.Aku tidak tahu....aku tidak tahu. !"

Pouw Siauw Ling, bilamana kau tidak mau bicara lagi aku segera akan menggunakan ilmu pembetot urat untuk mencabuti otot ototmu, aku mau lihat kau masih keras kepala tidak!" ancam Liem Tou semakin gusar tangan kirinya dengan cepat membalik mencengkeram leher dari Pouw Siauw Ling.

Fauw Siauw Ling yang mendengar perkataan "Ilmu pembetot urat" mendadak menjatuhkan diri berlutut.

"Urusan ini tidak ada sangkut pautnya dengan aku, aku tidak tahu.. Liem heng kau lepaskan diriku!" Mohonnya setengah merengek. Pada saat ini Liem Tou mana mau mendengar perkataannya, lima jari yang mencengkeram Pouw Siauw Ling pun semakin dipertajam sehingga membuat Pouw Siauw Ling merasa kesakitan dan menjerit jerit dengan suara yang menyayatkan hati.

"Ayoh cepat bilang. , ! ayoh cepat bilang ,.!" teriak Liem Toa lagi.

Pouw Siauw Ling yang merasa kesakitan wajahnya segera berkerut, sepasang matanya sebentar memejam sebentar lagi membuka, giginya yang saling berada mengucurkan darah yang amat banyak. Akhirnya dia tidak kuat untuk menahan diri lagi, bibirnya mulai bergerak untuk mengaku.

Pada saat yang bersamaan pula mendadak terdengar suara senjata rahasia menyambar datang dengan suara yang amat tajam.

Liem Tou dengan cepat mencengkeram badan Pouw Siauw Ling yang berjongkok untuk menghindar.

"Sreet . . ! sreet. . ! Sreet .. !" tiga batang jarum pencabut nyawa dengan melewati jendela perahu menyambar datang dan tepat menancap di dinding ruangan.

Pouw Siauw Ling bukanlah ovang bodoh, melihat datangnya serangan senjata rahasia itu dia segera mengetahui kalau bala bantuan telah tiba, perkataan yang hendak diucapkanpun dengan cepat ditelannya kembali.

Liem Tou yang melihat usahanya gagal total wajahnya segera berubah merah padam, mendadak dia membentak keras.

"Ayoh cepat bicara !"

Bibirnya digigit kencang, tenaga yang mencengkeram pergelangan tangan Pouw Siauw-Ling pun ditambahi dengan dua bagian. Pouw Siauw Ling yang sejak kecil dimanja mana mungkin bisa menahan suatu siksaan yang demikian hebatnya, dia menjerit ngeri sepasang kakinya diluruskan dan menggelinding meronta ronta di atas tanah.

Waktu ini Liem Tou pun sudah menaruh rasa dendam yang amat sangat, dia tidak mengira kalau ayahnya menemui ajalnya ditangan manusia rendah ini, sudah tentu terhadap diri Pouw Siauw Ling pun dia tidak menaruh rasa kasihan lagi.

Sekalipun Pouw Siauw Ling menjerit dan meronta ronta dia tak mengambil gubris dia hanya mau agar ini orang suka ngomong terus terang.

Pada saat itulah tubuh perahu sedikit miring. Liem Tou sudah tahu kalau di atas perahu sudah kedatangan seseorang tapi dia tak mau mengambil gubris, dia tetap menyiksa diri Pouw Siauw Ling.

Liem Tou sekonyong konyong mendengar suara seorang perempuan membentak dengari suara yang amat cemas.

Cepat kau lepaskan - engkohku.

Begitu mendengar suara tersebut Liem Tou segera merasa hatinya tergetar amat keras sepasang matanya perlahan lahan dipejamkan lalu diam diam pikirnya.

.Aaaah . . . habis sudah, kiranya dia yang sudah datang.

Teringat akan kematian ayahnya hatinya merasa amat sedih sekali, sewaktu matanya dipentangkan untuk kedua kalinya titik titik air mata mulai mengucur keluar dengan amat derasnya, cengkeramannya pun dengan perlahan dilepaskan.

Jien Coe cici. apakah kau yang datang kesini? tanyanya sambil menoleh.

Sedikitpun tidak salah, orang yang berdiri di depan ruangan perahu itu adalah Pouw Jien Coei, saat ini dia memakai baju singsat berwarna hitam, sebuah pedang panjang tersoren pada pinggang, sedang pada pinggang itu juga tergantung sebuah kantongan senjata rahasia.

Mendengar perkataan dari Liem Tou itu dia segera tertawa dingin,

"Hmm, jikalau aku tidak datang maka engkohku akan mati tersiksa ditanganmu," serunya.

Jien Coei cici, tahukah kau kenapa aku harus menyiksa engkohmu ini? tanya Liem Tou dengan hati yang sedih seperti di iris iris. Tahukah engkau bagaimana ayahku menemui ajalnya ?? Jien Cie cici, tahukah kau akan kesemuannya ini ?

Mendengar perkataan dari Liem Tou ini Pouw Jien Coei segera dibuat tertegun, sepasang alisnya dikerutkan rapat rapat.

Soal ini aku tidak mau tahu aku hanya tidak mengijinkan turun tangan kejam terhadap engkohku, teriaknya dengan keras.

Walaupun pada mulutnya Pouw Jien Coei berbicara demikian, tetapi diapun diam diam merasa terkejut.

Liem Tou yang dikarenakan hubungan Lie Siauw le dengan Pouw Jien Coei. terhadap dirinya dia menaruh rasa hormat yang amat sangat, perkataan yang diucapkan olehnya didalam pendengaran Liem Tou seperti juga perintah. Dia lalu mengangguk berulang kali.

Jien Coei cici, perkataanmu sedikit pun tidak salah, aku tidak seharusnya berbuat begitu kurang ajar terhadap Siauw Ling heng aku tidak akan membunuh Siauw Ling heng di hadapannmu kau boleh legakan hati.

Sehabis berkata tangannya tak ada henti-hentinya menghapus kering titik titik air mata yang membasahi wajahnya. Lewat beberapa saat kemudian dia kembali bergumam seorang diri. "Apakah urusan yang menyangkut Tia aku habisi sampai disini saja ? Heei , . "

Berturut turut dia gelengkan kepalanya berulang kali kemudian teriaknya dengan suara yang amat keras.

"Liem Tou. Liem Tou, tidak perduli bagai manapun juga aku harus mengetahui jelas bagaimana ayahku menemui ajalnya kemudian baru membunuh kaum bajingan yang tidak berperi kemanusiaan itu."

Pouw Jien Coei yang mendengar perkataan itu dari ruangan perahu segera merasakan hatinya gemetar dengan amat kerasnya.

"Liem Tou, Liem Tou, kau sudah gila " teriaknya dengan suara keras. Beritahukan padamu, Tia serta engkohku tidak mungkin berani mencelakai Liem pepek. Empek Liem mati karena sakit apakah kau tidak tahu??

Aku tahu . . Aku tahu . . jawab Liem Tou dengan keras pula. Tetapi tahukah kau siapakah nama dari ayahku ? Pouw Siauw Ling tahu kau tahu tidak?? Jien Coei cici, kau pasti tidak akan tahu.

Siapa bilang aku tidak tahu, apa betul betul kau sudah gila

??

Mendengar perkataan itu Liem Tou segera berkelebat

menubruk kehadapannya entah dengan menggunakan cara apa pada saat Pouw Jien Coei belum sadar pergelangan tangannya sudah kena dicengkeram oleh diri Liem Tou.

Kau tahu., kau tahu ayahku bernama siapa ? tanyanya dengan suara keras serta mata melotot.

Pouw Jien Coei yang melihat rasa tenang dari Liem Tou yang secara tiba tiba ini, air mukanya berubah hebat juga. Liem Han San. sahutnya keras. Dia adalah penduduk dari perkampungan Ie Hee Cung siapa yang tidak tahu nama ayahmu ?

Mendengar jawaban Liem Tor dengan perlahan lahan melepaskan tangannya dan menghembuskan napas panjang.

Paru saja dia mau berbicara mendadak. Plaaak pipinya sudah kena digaplok keras oleh Jien Coei, saking kerasnya sehingga ter dengar suara yang keras sekali.

Liem Tou. terdengar Puow Jien Coei membentak dengan suara yang sangat keras. Bila mana kau berbuat tidak sopan lagi aku tidak akan berlaku sungkan sungkan terhadap dirimu."

Liem Tou tidak bisa berbuat apa apa lagi dengan lemasnya dia menundukkan kepalanya rendah kemudian sambil gelengkan kepalanya dia berkata dengan suara yang rendah

Jien Coei cici, kau pukullah. Tapi kau tak tahu nama dari ayah, itu sangat bagus sekali. aku tidak akan mencari gara gara dengan dirimu, pada saat ini cuma kau serta Ie cici dua orang saja yang boleh memukul aku karena kalian adalah cici yang paling baik padaku sekalipun kalian pukul aku sampai mati aku juga tidak akan menyalahkan kalian.

Titik titik air mata mulai mengucur keluar dengan derasnya, mendadak tangannya diluruskan kebawah sambil melengos teriak nya lagi dengan keras.

Tetapi setelah aku berhasil mengetahui sebab sebab kematian ayahku dendam ini harus aku balas. Jien Coei cici, maafkanlah aku, aku harus dapat mencari pembunuh ayahku untuk menuntut balas.

Lama sekali Pouw Jien Coei berdiri ter mangu mangu dan memandang Liem Tou dengan terpesona, akhirnya dia menghela napas panjang. Baiklah Liem Tou kita jangan membicarakan persoalan ini lagi aku mau tanya kepadamu apakah Ie moay moay sudah ada kabar beritanya ? ujarnya dengan suara perlahan.

Dengan cepat Liem Tou menekan rasa terharu dan goncangan di dalam hatinya setelah itu barulah jawabnya.

Dia sangat baik, dia bersama sama dengan "Wan moay moay.

Mendengar perkataan itu Pouw Jien Coei merasakan pandangannya menjadi terang, agaknya dia merasa sangat gembira, tetapi sebentar kemudian diapun merasa sedih kembali.

Tetapi . . tetapi sayang Lie Pek bo sudah meninggal ujarnya dengan suara yang rendah. Bilamana dia tahu akan hal ini entah bagaimana rasa sedihnya itu ?

Aku tahu, tapi aku belum pernah memberitahukan hal ini kepadanya, jawab Liem Tou sambil mengangguk.

Bagaiman kau bisa tahu akan hal ini ? ? tanya Pouw Jien Coei keheranan. Siapa yang sudah beritahukan hal ini kepadamu ? ? setelah kalian terjatuh ke dalam jurang dibawah jembatan pencabut nyawa itu berturut turut dia menangis selama lima hari lima malam, dan akhirnya meninggal karena tidak makan minum maupun tidur, bagaimana kau bisa tahu

???

Aku sudah pulang ke sana jawab Liem Tou dengan sedih. Jien Coei cici, hatiku merasa sangat sedih sekali, bagaimana kalau kita tidak membicarakan urusan ini lagi. Pouw Jien Coei mengangguk, setelah memperhatikan diri Liem Tou beberapa saat lamanya akhirnya dia bergumam seorang diri.

Oooo . . . kiranya kepandaian silatnya sudah berhasil dilatih, tidak aneh kalau dia orang bisa berbuat segalanya. Tiba tiba dia angkat kepalanya dan berteriak keras.

Engkoh, kau jangan pergi. Jien Coei cici jangan urus dia. Biarkanlah dia pergi ujar Liem Tou sambil tertawa.

Pada saat ini Pouw Siauw Ling yang ada di ruangan perahu sudah meloncat keluar melalui jendela ruangan dan kini sudah mencapai tepian sungai untuk lari menjauhi.

Sebaliknya mulai wakta itu Liem Tou tidak pernah menoleh barang sekejappun.

Pouw Jien Coei yang melihat engkohnya sudah lari pergi, di dalam hati dia merasakan sangat tidak enak sekali, dengan sedihnya dia menundukkan kepalanya rendah rendah.

Jien Coei cici tidak usah urusi dia lagi ujar Liem Tou sambil tertawa pahit, sudah setahun lamanya kita tidak bertemu, selama ini. Jien Coei cici bekerja apa? mari kita masuk ke dalam untuk bercakap cakap.

Pouw Jien Coei menganguk. tetapi sewaktu melihat bekas titik titik darah yang mengotori lantai dia menghentikan langkahnya kembali.

Kalau begitu kita duduk duduk saja di tepian sungai sebelah sana, ujar Liem Tou kemudian sambil tertawa.

Sehabis berkata dengan menggunakan gaya yang sangat indah sekali tubuhnya meloncat ke tengah udara untuk kemudian meloncat ke tepian sungai.

Pouw Jien Coei segera mengikuti dari arah belakang meloncat ketepian dan bersama sama dengan Liem Tou duduk di atas sebuah batu besar ditepi sungai.

.Jien Coei cici, bagaimana kau bisa sampai kemari?" tanya Liem Tou kemudian.

Pouw Jien Coei segera menghela napas panjang.

Sejak ayahku membuka perusahaan ekspedisi Ang Piauw kiok aku terus menerus berkelana di dalam Bu lim berlari ke sana kemari mencari pengalaman, disamping itu guna mencari jejakmu serta jejak dari Ie moay moay pula. boleh dikata selama setahun ini aku tidak ada arah tujuannya, kebetulan ini hati aku lewat di kota Hong Kiat dan bertemu dengan Tia, setelah dia orang tua memberitahukan akan urusan ini aku lalu berangkat menuju kemari!"

Setelah itu dia lalu menanyakan juga kenapa dia meminta Ang In Sin Pian untuk menyerahkan uang sebesar tiga pulah laksa tahil perak? dengan sejujurnya Liem Tou pun lalu menceritakan kepadanya.

Pouw Jien Coei mengangguk dengan per lahan, tidak terasa lagi mereka berdua pada bungkam diri.

Saat ini sang surya dengan perlahan mulai tenggelam ke arah sebelah Barat, dari tempat kejauhan kelihatan kawanan burung terbang kembali ke sarang, waktu dengan perlahan lewat tetapi mereka berdua masih tetap bungkam di dalam seribu bahasa.

Air muka Pouw Jien Coei perlahan lahan berubah jadi merah padam, sebentar lagi berupah putih pasi bibirnya rada sedikit gemetar kelihatan sekali hatinya sedang bergolak dengan amat keras.

Jien Coei cici, kau merasa kedingnan?? tanya Liem Tou dengan keberatan.

Pouw Jien Coei dengan perlahan menggelengkan kepalanya, air mukanya berubah semakin hebat, tetapi dia tetap bungkam diri.

Liem Tou lantas ulur tanganya memegang keningnya, Pouw Jien Coei tetap tidak bergerak barang sedikitpun juga.

Liem Tou merasakan pada keningnya terasa ada keringat yang membasahinya, dalam hati dia merasa semakin keheranan lagi.

Jien Coei cici tanyanya. Sebetulnya kau. kenapa?? apakah kau sakit?? Mendadak dia menutupi wajahnya dengan kedua belah tangan kemudian menangis tersedu sedu dengan amat sedihnya.

Liem Tou semakin dibuat kebingungan lagi tindakannya yang amat aneh ini terpaksa dia mendesak dirinya untuk berbicara.

Jien Coei cici, beritahukan kepadaku kau ada urusan apa? kenapa kau tidak beritahukan kepadaku ?

Pouw Jien Coei menangis semakin sedih lagi, dia tidak mau menggubris perkataan dari Liem Tou tidak bisa beruiat apa apa terpaksa dia duduk termangu mangu sambil memandang terpesona ke arahnya, dia orang yang tidak mengetahui urusan apa yang sudah terjadi sudah tentu tidak tahu pula dia harus ber bicara dengan cara bagaimana.

Lewat beberapa saat kemudian sang surya sudah lenyap dari pandangan, cuaca makin lama makin menggelap.

Bersamaan dengan semakin menggelapnya cuaca suara tangisan dari Pouw Jien Coei pun semakin keras hal ini benar benar membuat Liem Tou jadi bingung.

Akhirnya saking tak tertahannya dia menjerit keras dengan hati agak jengkel.

Jien Coei cici ada urusan apa cepatlah kamu katakan sekalipun mengharuskan aku terjun ke dalam lautan api akupun akan melakukannya buat cici, di dalam kolong langit ini ada urusan apa yang sangat luar biasa?? Buat apa kau menangis terus ??

Teriakannya kali ini ternyata sangat manjur sekali, akhirnya Pouw Jien Coei menghentikan suara tangisannya dan angkat kepalanya.

Sembari membereskan rambutnya dia memandang terpesona ke arah permukaan sungai, sepatah katapun tak diucapkan. Jien Coei cici!" Ujar Lien Tou lagi dengan suara yang sangat halus. Ada urusan apa cepat katakan kepadaku ! Malam ini sebelum kentongan ketiga aku harus menjalankan perahu untuk menuju ke kota Hong Kiat."

Mendengar perkataan itu agaknya Pouw Jien Coei jadi terkejut, dengan perlahan lahan dia putar kepalanya.

Sebelum kentongan ketiga kau hendak menuju ke kota Hong Kiat?? Aaaa'. . . tidak .."

Baru saja berbicara sampai disitu mendadak dia berhenti sebentar, agaknya di dalam hati dia sedang mengambil keputusan yang sangat berat, akhirnya dia tidak kuasa Lagi melanjutkan kembali kata katanya.

.Baiklah !! Kau pergilah . . .kau pergilah.... Tetapi . . . tetapi

. . . ."

Berbicara sampai disini dia tidak sanggup lagi untuk melanjutkan kembali kata katanya jelas dia kepingin menangis lagi,

Jien Coei cici, tetapi kenapa????" desak Liem Tou dengan cepat.

Liem titi, maukah kau orang mendengarkan perkataanku?" tanya Pouw Jien Coei kemudian dengan perlahan. Terus terang aku beritahukan kepadamu, ayahku telah melenyapkan harapanku , . . tetapi bagaimanapun dia tetap ayahku !"

Cici ada urusan apa. silahkan berkata aku tentu akan mendengarkan perkataan dari cici."

Mendadak Pouw Jien Coei bangkit berdiri dari tempat duduknya ujarnya dengan serius.

Kalau begitu kau harus menyanggupi tiga macam urusan bilamana kau mau mendengarkan perkataanku itu maka aku akan menaruh rasa terima kasih padamu."

Selesai berkata kembali dia menangis lagi. Jien Coei cici. kau jangan menangis lagi "ujar Liem Tou dengan cemas. Kau cepatlah berbicara aku akan mendengarkan seluruh perkataanmu."

..Pertama, setelah tiba dikota Hong Kiat kau dilarang membunuh seorang manusia pun ujar Pouw Jien Coei kemudian sambil menahan tetesan air mata.

Mendengar perkataan tersebut Liem Tou jadi kebingungan, dalam hati dia merasa amat terperanjat tetapi akhirnya dia menyahut juga.

Aku pasti turut perintah, sesampainya di kota Hong Kiat aku tidak akan membunuh seorangpun.

Kedua, Selamanya aku larang kau membunuh engkohku. Mendengar perkataan itu Liem Tou semakin terkejut lagi,

sepasang matanya dipentangkan lebar lebar.

baiklah aku tidak akan membunuh engkohmu sahutnya kemudian sesudah ragu ragu sebentar.

saat itulah Pouw Jien Coei baru menundukkan kepalanya rendah rendah, beberapa

saat kemudian dia baru angkat kepalanya keatas. Ketiga

Tubuhnya mendadak meloncat keatas, dengan beberapa kali tutulan dia sudah ada di pinggang gunung sehingga jaraknya kurang lebih dua, tiga puluh kaki dari diri Liem Tou, setelah itu baru sambungnya dengan suara yang amat keras.

Beritahu pada Ie moay moay, Pouw Jien Coei sudah mati, selamanya dia tidak usah mencari aku lagi.

Mendengar perkataan tersebut Liem Tou benar benar merasa sangat terperanjat sekali, dengan cepat dia membentak keras.

Jien Coei cici, kau jangan pergi. Ujung kakinya segera menutul permukaan tanah dan mengejar ke arah depan.

Dengan kepandaian silat yang dimilikinya pada saat ini hanya didalam sekali loncatan s£ja dia sudah berada kurang lebih sepuluh kaki tingginya, jaraknya dengan Pouw Jien Coei pun cuma tinggal tiga kaki saja.

Sejak semula Pouw Jien Coei sudah mendengar sambaran angin di belakang badannya dia tahu Liem Tou tentu sedang mengejar diriiya, karena itu mendadak dia menghentikan langkahnya lalu putar badannya ke arah belakang.

Liem Tou berhenti ! bentaknya dengan keras. Bilamana kau mengejar lebih lanjut aku segera akan meloncat kebawah untuk bunuh diri.

Mau tidak mau terpaksa Liem Tou haru menghentikan langkahnya.

Jien Coei cici, mohonnya dengan keras. Kau tidak boleh berbuat demikian, kau mau pergi kemaaa ??

Soal ini kau tidak usah ikut campur!. Bentak Pouw Jien Coei kembali dengan suara yang keras. "Kau sudah menyanggupi urtuk mendengar perkataanku, ayoh cepat kau pergi dari sini

!"

. Dengan termangu mangu Liem Tou berdiri tertegun di sana, seperti baru saja terbangun dari suatu impian yang amat buruk dia memperhatikan diri Pouw Jien Coei meninggalkan tempat itu dan lenyap ditelan kegelapan.

Kurang lebih selama satu kentongan lamanya dia berdiri di sana, tanpa bergerak sedikitpun dia baru sadar kembali dari lamunannya setelah dirasanya ada segulung angin malam berlalu dengan santarnya.

Dia teringat kembali kalau pada kentongan ketiga malam ini masih ada urusan yang harus diselesaikan. Ketika teringat pula akan permintaan Pouw Jien Coei yang meminta dia. jangan membunuh seorangpun dikota Hong Kiat membuat dia jadi melongo longo, dia tidak tahu di kota Hong Kiat bakal terjadi urusan apa ??

Dengan cepatnya Liem Tou lari turun dari gunung itu dan meloncat naik ke atas perahu, melepaskan jangkar kemudian melancarkan pukulan menjalankan perahunya.

Kurang lebih dua, tiga jam kemudian sampailah dikota Hong Kiat yang sudah tenggelam di tengah kesunyian, saat ini waktu menujakkan kentongan kedua dia lantas menjalankan perahunya dan berhenti di antara perahu perahu lainnya.

Setelah menghentikan perahunya dia baru meloncat naik ke atas tepian dan meniggalkan kerbaunya tetap ada di atas perahu itu Dengan seorang diri dia berjalan di tengah jalan raya, setelah mengetahui letak rumah penginapan yang terbesar di seluruh kota Hong Kiat dia lantas berjalan kesana.

Cuaca sudah menujukkan tengah malam, pintu rumah penginapan itu kelihatan setengah tertutup setengah terbuka suasana di tengah ruangan pun amat sunyi kecuali diterangi oleh sebuah lampu minyak yang amat samar.

Dari celah celah pintu Liem Tou mengintip ke arah dalam tampaklah pemilik rumah penginapan itu sudah tertidur pulas, di sebuah kursi panjang di samping sebelah kanan ruangan duduklah dua orang lelaki kasar berbaju hitam.

Sekali pandang saja Liem Tou segera bisa tahu kalau orang orang itu adalah anak buah dari si golok naga hijau Sie Hiauw tauw, dia tahu tentunya mereka sedang menanti kedatangan dari orang orang Ang In Piauw kiok yang hendak mengantarkan uang.

Saking lamanya mereka harus menunggu tidak terasa lagi kedua orang lelaki tersebut jadi mengantuk juga.

Mendadak Liem Tou berkelebat masuk ke dalam ruangan kemudian meloncat naik ke atas tiang yang ada dihadapannya. tetapi sewaktu melihat tempat itu kurang aman dia meloncat turun kembali dan meloncat ke samping pemilik rumah penginapan itu kemudian menotok jalan darah tidurnya.

setelah itu dengan perlahan lahan dia mendekati badannya dan melepaskan pakaian serta topengnya untuk dipakai sendiri, sedang tubuh pemilik rumah penginapan yang sudah kena tertotok pulas itu diletakkan di bawah lemari.

Diam diam pikirnya kemudian setelah dia berpura pura bertindak sebagai pemilik rumah penginapan itu.

Jien Coei cici melarang aku membunuh orang! Baiklah, Aku tidak akan membunuh orang tetapi aku pasti akan melihat hal ini sejelas jelasnya malam ini pasti akan terjadi satu peristiwa tetapi peristiwa apakah itu?? Apa mungkin Ang In Cung cu tidak jadi kirim uang perak kemari?? Hmm! Kalau dia berani berbuat demikian hal ini sama saja dengan mencari penyakit sendiri!"

Waktu berlalu dengan cepatnya mendadak terlihatlah lelaki kasar yang ada dihadapan nya tersentak bangun dari pulasnya, sewaktu dia melihat kawan yang ada disampingnya tertidur pulas juga tidak terasa lagi dia sudah mendorong badannya.

Hey, bagaimana kau orang boleh tidur dengan begitu nyenyaknya?" serunya mengomel. Waktu ini adalah saat yang penting dan berbahaya, kenapa kau berani tidur dengan begitu nyenyaknya?'

Liem Tou mendengar perkataan itu diam diam tertawa geli makinya dalam hati.

..Gentong nasi ini sangat pandai mengomeli orang lain ! Hmnmm ! Itu si golok naga hijau bukannya mencari orang yang lebih bagus justru mencari dua orang gentong nasi yang gobloknya seperti mereka untuk melakukan tugas ini!" Tampaklah orang yang dibangunkan dari pulasnya itu mengeliat sebentar lalu sahutnya dengan tidak bersemangat.

Aduh. sekarang sudah kentonpan keberapa? Haaaii

mungkin mereka tidak akan da tang ! Aku tidak akan percaya kalau bangsat cilik itu akan dapat membereskan urusan ini.

Piauw tauw kita itu sungguh menaruh kepercayaan terhadap dirinya."

Benar!" sahut lelaki berbaju hitam itu sam bil mengangguk, Aku sendiripun tidak melihat adanya suatu keistimewaan dari bangsat cilik itu. Heey Piauw tauw kita dengan membuang

waktu satu tahun lamanya untuk menyusun rencana yang begitu bagus nya tidak disangka rencana itu sudah digagalkan olehnya hanya di dalam setengah hari saja, hal ini sungguh membuat orang merasa agak tidak percaya, cukup kita bicarakan tentang peti hitam itu dia orang kecuali mempunyai tenaga sebesar beratus ratus kati, aku melihat dia orang sama sekali tidak memiliki kepandaian yang lebih istimewa.

Haaa buat apa kita urusi persoalan itu lagi, seru lelaki

berbaju hitam yang mulutnya penuh liur itu Lebih baik kita pergi tidur saja. duduk terus disini rasanya sangat tidak enak.

Tetapi akhirnya lelaki berbaju hitam itu gelengkan kepalanya.

Bagaimanapun juga jaraknya dari sekarang sampai kentongan ketiga sudah sangat dekat apalagi sebentar lagi Piauw-tauw pun akan datang kemari juga . . bilamana sampai waktunya dia tidak m;nemukan kita ada disini waaah. kalau

dia marah marah kita bakal konyol.

Melihat kelakuan kedua orang itu diam diam Liem Tou menghela napas panjang, pikirnya.

Eeeei tidak disangka merekapun bisa me ngerti akan

tugas dan takut dimarahi Sie Piauw tauw, kelihatannya lumayan juga. Mendadak Liem Tou dapat mendengar diatas atap rumah berkumandang datang suara langkah manusia.

Hmmm, sudah datang, aku sudah mengetahui kalian pasti akan datang kemari, pikirnya dalam hati.

Dengan cepat dia mengintip dari antara celah celah sikutnya tampaklah sesosok ba yangan manusia berkelebat mendatang, dari pintu luar rumah penginapan itu melayang, datang seseorang yang dalam sekali pandang saja Liem Tou dapat mengenal kembali kalau dia orang bukan lain adalah si golok naga hijau Sie Loo Piauw tauw.

Kedua orang lelaki kasar yang melihat munculnya si golok naga hijau Sie Piauw tauw secara tiba tiba ditempat itu tidak terasa pada melengak semua dibuatnya.

Tampaklah Sie Piauw tauw begitu tiba di depan pintu dengan suara terburu buru segera memberikan perintahnya.

Ang In sudah tiba di bandar dan sebentar lagi akan tiba disini, cepat kalian bangunkan semua orang dan ingatkan kepada mereka jangan sampai lupa membawa serta senjata ta jam. Kedua orang lelaki kasar itu segera me nyahut dan berlalu dari ruangan tersebut. 

Sedang si golok naga hijau Sie Piauw tauw sambil berjalan mondar mandir di dalam ru-angar tiada hentinya dia bergumam seorang diri.

Kalau cuma berbuat demikian bukankah dendam sakit hatiku tidak bisa terbalas ?? Oooh Liem Tou, Liem Tou. Kau orang kenapa begitu suka mencampuri urusan orang lain ? kalau sudah ikut campur kenapa berlaku begitu tidak adil ?

Liem Tou yang mendengar suara gumamannya itu dalam hati diam diam merasa rada kheki jaga, dia lantas menghela napas panjang. Waaah waaah kiranya jadi orang baik pun amat susah"

Pikirnya didalam hati."

Aku bantu dia untuk meminta kembali uang sebesar tiga laksa tahil perak yang dirampok bukannya berterimakasih kepadaku sebaliknya dia malah menyalahkan aku banyak ikut campur urusan orang lain sehingga dendamnya tidak bisa terbalas "

Mendadak Liem Tou dapat melihat Sie Piauw tauw mengerutkan alisnya rapat rapat, dari balik pundak dia mencabut keluar golok naga hijaunya kemudian disentilnya beberapa kali

Oooh naga hijau, naga hijau!" Serunya

dengan suara yang amat pedih! "Aku Sie Ie untuk terakhir kalinya minta bantuanmu untuk membalaskan dendam ini sekalipun dikemudian hari Liem Tou menyalahkan diriku tetapi harus juga membalas dendam ini. ,,"

Sembari berkata nafsu membunuh mulai melintasi wajahnya, disusul suara tertawa terbahak bahak yang amat seram memenuhi seluruh angkasa.

Dari pojokan tembok dia menggotong arak yang kemudian diletakkan diatas meja, lalu dari dalam kantongnya dia mengambil keluar sebungkus buntalan dan dituang ke dalam gentong arak itu masing masing separuh bagian.

Setelah semua pekerjaannya selesai dia baru menutup kembali gentong arak itu seperti sedia kala dan diletakkan kembali ke Pijakan tembok ruangan tersebut.

Liem Tou dapat melihat semua kejadian itu dengan amat jelasnya, tidak terasa lagi dalam hati dia merasa terkejut.

Hmmm Kiranya kau pun bajingan tua yang tidak tahu malu Makinya didalam hati. Hatinya ternyata kejam juga seperti ular...-mataku sungguh sudah buta ternyata manusia kejam dan licik kau sudah aku anggap sebagai seorang manusia pendekar yang berhati lurus.

Heeeey . . . sudah, sudahlah! Manusia berhati binatang seperti itu biarkanlah saling gebuk gebukan sendiri !!

Semakin dipikir Liem Liem Tou merasakan perbuatan orang orang kangouw ini tidak ada yang jujur, dia makin waspada lagi terhadap orang lain dan dia menganggap semua orang tidak ada yang bisa dipercaya.

Pada saat itulah anak murid Sie Piauw tauw Oei Poh beserta keenam lelaki berjubah hitam sudah bersiap sedia dan berkumpul disana, diantara mereka itu tampaklah seorang lelaki berbaju hitam mendekati diri Liem Tou yang pura pura sedang tidur dan menggoyangkan badannya beberapa kali.

Belum sempat Liem Tou melakukan suatu tindakan sudah terdengar si golok naga hijau membentak untuk mencegah perbuatan dari anak buahnya itu.

Jangan goyangkan dia. biarkan dia tertidur pulas bilamana kita bangunkan dirinya nanti malah merepotkan pekerjaan kita saja.

Kalau begitu totok saja jalan darah tidurnya. sambung Oei Poh dengan cepat.

Baru saja dia selesai bicara Liem Tou hanya merasakan sambaran angin serangan yang mengancam jalan darah tidur dibela kang lehernya dengan terburu buru Liem Tou tarik napas panjang pura pura sudah tertotok kemudian mendengus berat sehingga tindakannya itu tidak sampai ketahuan.

Hal ini membuat hati Liem Tou merasa se makin berat lagi, teringat akan kata kata dari Pouw Jien Coei yang melarang dia membunuh orang di kota Hong Kiat dia merasa perkataannya itu mempunyai arti yang sangat mendalam sekali bahkan dapat membuat hatinya berdebar debar keras, dia sendiri pun tidak mengetahui mengapa hatinya bisa begitu tegang bahkan terasa sangat tak enak.

Tidak lama kemudian dari arah jalan berkumandang datang suara langkah manusia yang sangat ramai sekali.

Dengan tergesa gesa Sie Pauw tauw memerintahkan anak buahnya untak menduduki tempatnya masing masing dan siap siap menghadapi sesuatu.

Pada saat anak buah Sie Piauw tauw selesai bersembunyi itulah terdengar dari luar pintu rumah penginapan itu berkumandang datang suara dari Si Ang In Sin Pian yang amat keras.

Eeeei didalam sana ada orang tidak. Piauw cu dari Ang In Piauw kiok Pouw Sak San sudah tiba.

Haa .. . haa ." . orang she Pouw ternyata kau sungguh sungguh datang terdengar si golok naga hijau Sie Piauw tauw tertawa terbahak bahak. Lohu sudah lama sekali menanti kedatanganmu disini.

Tangannya dengan cepat diulapkan memberi perintah, kedua orang lelaki berbaju hitam yang ada disamping pintu segera merentangkan pintu penginapan itu lebar lebar.

Secara diam diam Liem Tou melirik keluar, terlihatlah Si Ang In Sin Pian Pouw Sak can dengan memakai pakaian ringkas dengan sebuah cambuk Ang In Pian tersoren pada pinggangnya, sepasang matanya yang sangat tajam bagaikan mata elang itu dengan telitinya memperhatikan keadaan sekeliling tempat itu, ketika dilihatnya keenam tubuh orang yang berdiri pada posisi disekeliling ruangan tidak kuasa dia sudah mendengus dingin.

Terhadap Liem Tou yang sedang tertidur dimeja dia melirik beberapa kali ke arah nya kemudian dengan suara yang amat dingin jawabnya. Hmmm ! Tidak berani .... tidak berani... Sie Piauw tauw sudah capai menanti kedatangan kami !'

«Haa , . . haa . . . Pouw Cung cu suka datang sendiri kemari hal ini membuat loohu benar benar berdosa . . . mari .

. . mari kita minum arak dulu dalam ruangan" seru sigolok naga hijau sambil tertawa terbahak bahak lagi.

Si Ang In Sin pian mengerutkan alisnya, kemudian sambil membusungkan dada dia berjalan masuk kedalam.

Liem Tou segera melihat orang yang ada di belakangnya adalah si Liong Ciang Lie Kian Poo diikuti enam orang pelayan yang menggotong tiga buah peti besar.

Liem Tou yang tidak melihat munculnya si Hauw Jiauw Pouw Toa Tong dalam hati diam diam merasa sedikit bergerak, tetapi sewaktu teringat kalau di atas perahupun membutuhkan penjagaan dia tidak menaruh perhatian lebih jauh.

Si Ang In Sin Plan setelah berdiri ditengah tengah ruangan kembali melirik sekejap kearah Liem Tou, agaknya dia merasa tak lega.

Mendadak tubuhnya bergeser dua langkah ke belakang kemudian mendorong pundak Liem Tou dengan keras.

Heey kau orang sungguh doyan tidur" teriaknya dengan keras. Bagaimana boleh jadi saat ini sudah tertidur begitu pulas?"

Diam diam dalam hati Liem Tou merasa se dikit terperanjat, baru saja pikirannya berpu tar untuk menghadapi sesuatu lebih lanjut, terdengar si golok naga hijau S1 Piauw tauw sudah mencegah diri Ang In sin Pian untuk mendorong dirinya untuk kedua kalinya.

Pemilik rumah penginapan itu sudah aku totok jalan darah tidurnya, hal itu tidak usah Pouw Cung cu kuatirkan lagi." Terpaksa Ang In Sin Pian membatalkan maksud hatinya, sambil menoleh kearahnya dia berkata dengan suara yang amat nyaring.

Cayhe selamanya suka berbicara terus terang, ini hari sengaja cayhe datang kemari untuk mengantarkan uang. Permusuhan di antara Ang In serta Ciong Liong Piauw kiok pun sejak ini hari kita hapuskan untuk selamanya."

Haaa haaa soal yang demikian kecilnya ini buat apa diributkan lebih panjang?" ujar sigolok naga hijau sambil tertawa terbahak bahak." Sekalipun kedatangan Pouw Cung cu agak terlambat tetapi loohu harus menjamu juga. mari..mari... silahkan Pouw- cung cu teguk beberapa cawan arak terlebih dahulu baru kita bicarakan lagi."

Buat apa Sie Piauw tauw begitu sungkan-sungkan.

Si golok naga hijau segera memerintahkan muridnya Oei Poh untuk menyediakan arak. setelah itu sambil tertawa nyaring ujarnya kembali.

Beberapa cawan arak ini anggap saja merupakan penghormatan loohu kepada Cung-cu, buat apa kau orang berlaku begitu rikuh??

Sembari berkata dari tangan Oei Poh dia menerima dua buah cawan arak dan yang secawan diangsurkan kepada si Ang In sin-Pian.

Ang In Sin Pian segera menerimanya dan memandang sebentar ke arah isi cawan tersebut, beberapa saat kemudian dia baru angkat cawannya siap hendak diteguk habis.

Liem Tou dapat melihat seluruh kejadian itu dengan amat jelas sekali diam diam pikirnya.

Pouw Sak San Pouw Sak San. sekalipun kau orang adalah siluman rase tua yang bagaimana liciknya pun. kali ini kau akan terkena tipuan dari sigolok naga hijau juga. Siapa tahu baru saja dia berpikir sampai disitu, cawan arak yang sudah diangkat Ang in sin Pian dan mendekati bibirnya itu sudah ditarik kembali dan diletakkan ke atas meja.

Maksud baik dari Sie Loo Piauw tauw aku orang she Pouw terima di dalam hati saja, ujarnya sambil tertawa paksa.

Selesai berkata mendadak dia mengambil cawan arak itu kembali dan dituang keatas lantai hingga tumpah.

Si golok naga hijau yang melihat kelakuan dari Pouw Sak San ini air mukanya berubah sangat hebat. Belum sempat dia mengumbar hawa amarahnya terdengar Si Ang in sin pian Pouw Sak San sudah menyambung kembali kata katanya.

Sekarang silahkan Sie Loo Piauw tauw menerima uang perak itu, aku orang she Pouw tidak akan lama lama tinggal disini lagi.

Sekali lagi Liem Tou secara diam diam memuji akan kewaspadaan dan kelicikan dari Pouw Sak San, ternyata kedahsyatan dan ketajaman pikirannya bukanlah nama kosong belaka

Terlihatlah Pouw Sak San segera memerintahkan anak buahnya untuk menggotong peti besar yang pertama dan dibuka kuncinya, terlihatlah isi dari peti itu penuh dengan uang perak yang gemerlapan.

.Uang perak ini ada satu laksa tahil perak banyaknya, harap Sie Piauw tauw suka menerimanya terlebih dahulu,' ujar Ang In Sin Pian dengan sikap yang amat tenang sekali.

Diikuti peti yang kedua pun dibuka kuncinya, saat ini Liem Tou benar benar pusatkan seluruh perhatiannya ke arah seluruh ge rak geriknya. dia takut, secara diam diam dia orang sudah main gila.

.Tetapi ketika peti yang kedua dibuka kem bali terlihatlah uang perak yang gemerlapan dan menyilaukan mata terbentang didepannya. Pada saat peti yang kedua dibuka itulah diam diam Liem Tou melirik sekejap kearah si golok naga hijau, terlihatlah secara diam-diam dia orang menarik napas lega dan senyuman pertama menghiasi bibirnya.

Tangannya segera diulapkan memerintahkan keempat orang lelaki berbaju hitam untuk menggotong pergi kedua buah peti tersebut kemudian bersama sama dengan anak murid nya Oei Poh dia bertindak maju satu langkah kedepan.

..Pouw Cung cu kau orang boleh dipercaya" ujarnya sambil tertawa.

Ang In Sin Pian segera mendengus dingin, sambil putar badannya dia berseru dengan suara yang tak enak didengar.

.Sie Piauw tauw lebih baik kurangi bicara kosong, berpura pura didepan orang bukankah suatu tindakan yang terlalu cemerlang "

.Selamanya Loohu memuji diri Cungcu, bagaimana Cung cu bisa berkata kalau aku sedang menyindir dirimu ? Harap Pouw Cung cu jangan banyak menaruh hati." ujar si golok naga hijau sambil tertawa.

..Tanpa sebab aku orang She Pouw harus menyerahkan uang sebesar tiga laksa tahil perak kau kira aku orang rela???? Hmnm Bilamana aku tidak pergi mencari balas dengan kau orang She Sie sedikit dikitnya aku akan pergi mencari orang She Liem bangsat cilik itu untuk mencari balas." Bentak Si Ang In Sin Pian Pouw Sak San secara men dadak.

Selesai berkata mundadak dia ayunkan tangannya untuk menyambitkan sebuah kunci ke arah si golok naga hijau.

Si golok naga hijau dengan cepat mengulurkan tangannya untuk menjepit datangnya sambaran kunci dengan menggunakan jari jari tangannya lalu tertawa terbahak bahak.

Heey orang she Sie " bentak Si Ang In Sin Pian lagi dengan keras. Bilamana kau orang suruh aku orang She Pouw menyerahkan tiga laksa tahil perak dengan tangan terbuka hal ini tidak mungkin dapat aku laksanakan, peti yang ketiga ini lebih baik kau buka sendiri saja i"

Selesai berkata dia sengaja putar badan dan berjalan keluar dari rumah penginapan itu. jelas sekali wajahnya memperlihatkan hawa kegusarannya yang memuncak.

Tindak tanduknya yang amat bersungguh sungguh ini ternyata berhasil juga memancing si golok naga hijau masuk kedalsm jebakannya, bahkan sampai Liem Tou sendiri pun kena tertipu, di dalam hati diam diam dia masih berpikir,

Oooh cungcu., cungcu, ini hari rasakanlah pembalasan orang lain.

Si golok naga hijau sesudah menerima kun ci peti yang ketiga dengan bangganya kembali tertawa keras.

DELAPAN BELAS

Cung Cu kenapa harus begitu marah-marah? ejeknya dengan suara dingin. Kau orang boleh bayangkan bagaimana perasaan hati loohu tempo hari sewaktu barang kawalanku kau rampok sedang anak murid loohu kau bunuh.

Sembari berkata dia maju dua langkah ke depan siap membuka gembokan dari peti yang ketiga itu.

Sesaat dia memasukkan kunci itu kedalam genbokan terdengar si Ang In Sin Pian yang ada dibelakangnya sudah berseru kembali.

Orang she Sie lain kali bilamana kau bertemu dengan Liem Tou bangsat cilik itu katakanlah kepadanya, pada waktu dia orang menyambangi gunung pada malam Tiong Chui yang akan datang aku si Ang In Sin Pian pasti akan membalas dendam akan perhitungan lama ini.

Selesai berkata dengan suara yang berbisik dia bergumam kembali. .Seorang keledai tua ternyata mempunyai seorang bocah seperti binatang, bilamana sejak dahulu aku tahu bakal begini, seharusnya aku tidak boleh membiarkan dia orang turun gunung"

Beberapa patah perkataan ini seketika itu juga membuat Liem Tou teringat kembali akan dendam berdarah ayahnya, hatinya bergolak dengan amat kerasnya, bilamana bukannya teringat akan kata kata dari Pouw Jien Coei yang melarang dia orang membunuh di kota Hong Kiat. mungkin sejak tadi dia sudah munculkan dirinya untuk paksa dia orang mengaku seluruh perbuatannya.

Pada saat itulah sigolok naga hijau sudah membuka kunci peti yang ketiga itu dan membuka penutupnya.

Mendadak Satu jeritan ngeri yang menyayatkan hati berkumandang memenuhi angkasa, dari antara lambungnya memancur keluar darah segar dengan amat derasnya.

Dari dalam peti tampaklah Hauw Jiauw-Pouw Toa Tong dengan tangan kiri mencekal pedang yang masih berlumuran darah me loncat keluar.

Serahkan nyawamu, bentaknya dengan sua ra yang amat keras.

Diikuti tangan kanan diayun kedepan. Sreeet...Sreeet...tiga batang senjata rahasia dengan gaya berantai menyambar kedepan seketika itu juga ada tiga orang lelaki berbaju hitam menjerit kesakitan dan rubuh binasa diatas tanah.

Perubahan yang terjadi barusan ini hanya berlangsung di dalam sekejap mata saja, menanti Liem Tou merasakan adanya ke jadian ini dan hendak turun tangan untuk memberi pertolongan waktu sudah tidak mengijinkan, empat orang sudah menemui ajalnya ditangan Pouw Toa Tong.

Pada saat ini Ang In Sin Pian pun sudah putar badannya, sembari tertawa terbahak bahak dia menggetarkan cambuk Ang In Sin Pian yang dililitkan pada pinggangnya kemudian ujung kakinya sedikit menutul permukaan tanah, dengan dahsyatnya dia menubruk diri Oei Poh.

Si Liong Ciang, Lie Kian Poo pun dengan cepat meloncat kedepan menyerang tiga orang lelaki berbaju hitam diantara berkelebatnya bayangan telapak kembali seorang lelaki kasar terkena hajarannya dan rubuh binasa diatas tanah.

Murid keempat dari sigolok naga hijau Oei Poh ini bagaimanapun juga usianya masih sangat muda sekali, apalagi pengalamannya di dalam Bu lim pun masih amat cetek se hingga dia orang masih tidak bisa menghadapi perubahan yang sudah terjadi ini.

Ditambah pula kejadian yang diluar dugaan ini berlangsung amat cepat sekali membuat dia orang seketika itu juga berdiri tertegun diatas tanah dan gugup tidak keruan.

Pada saat dia berdiri melongo longo itu lah cambuk dari Si Ang In Sin Pian bagaikan seekor ular beracun yang keluar dari sarangnya sudah menyambar ke arah lehernya.

Menanti Oei Poh sadar akan bahaya dari ujung cambuk itu sudah berada kurang lebih tiga coen dari jalan darah "Thian Tu Hiat" pada tenggorokannya.

Keadaan sudah kepepet dan tidak ada kesempatan untuk menghindar lagi, terpaksa dia menghela napas panjang dan menanti saat kematiannya.

Pada saat yang amat kritis dan berbahaya itulah, sewaktu Si Ang In Sin Pian hendak mengerahkan tenaganya untuk menusuk tembus tenggorokan dari Oei Poh, Pouw Sak San merasakan pergelangan tangannya menjadi kaku, cambuk Ang In Pian yang semula tegang dan keras .laksana baja kini melemas kembali diikuti rubuhnya si Liong Ciang Lie Kian Poo serta Hauw Jiauw, Pouw Toa Tong ke atas tanah

. Si Ang In Sin Pian tahu pasti ada orang yang bersembunyi disamping memperlihatkan permainan setan, cambuknya dengan cepat dipindahkan ke tangan kiri kemudian diputar dengan kencang memainkan bunga cambuk yang melindungi seluruh badannya.

Tetapi baru saja dia berputar beberapa kali terdengarlah satu suara yang amat dingin sekali berkumandang datang.

Cung cu! Perbuatanmu yang begitu licik dan kejam dengan menggunakan akal membunuh orang apakah boleh dianggap sebagai suatu perbuatan dari enghiong hoohan dari kalangan persilatan.

Begitu mendengar perkataan tersebut Si Ang In Sin Pian segera mengetahui kalau suara itu adalah suara dari Liem Tou sekali pun begitu dia sudah memeriksa keadaan di sekeliling tempat itu dari antara celah celah bayangan cambuknya itu dia tidak dapat menemukan juga tempat persembunyian dari Liem Tou, sewaktu melihat tubuh Liong-Ciang" Lie Kian Poo serta Hauw Jiauw Pouw Toa Tong dengan lemasnya tubuhnya roboh keatas tanah dengan cepat tubuhnya berkelebat menuju kearah sana."

Lebih baik kau cepat cepat tolong orang dan meninggalkan tempat ini'' pikirnya didalam hati.

Tubuhnya dengan cepat berjongkok untuk memeriksa jalan darah mereka yang tertotok,

siapa tahu mendadak dari belakang lehernya berkelebat

datang hawa yang

dingin yang amat tajam sekali diatara pandangaunya yang kabur golok naga hijau milik Sie Loo Piauw tauw sudah dipalangkan dibelakang lehernya.

Ujung goloknya kelihatan dari antara pundaknya, dia dapat melihat seluruh kejadian itu dengan amat jelasnya hal ini membuat dia orang jadi sangat ketakutan sehingga air mukanya berobah pucat pasi untuk bergerak dia tidak berani waktu itu terpaksa sambil pejamkan matanya dia berjongkok tidak ber gerak, keringat dingin mulai bercucuran ke luar.

Cung-cu, terdengar suara yang amat dingin kembali berkumandang datang. Golok naga hijau ini asalkan aku kirim sedikit lebih ke depan maka batok kepalamu segera akan pindah rumah, tahu tidak kau hee??

Terang terangan Ang In Sin Pian, Pouw-Sak San tahu kalau orang yang ada dibela kangnya adalah Liem Tou tetapi saat ini dia tetap berpura pura tidak tahu dan cepat jawabnya dengan suara yang gemetar.

Siauw Jien tahu. . . Siauw Jien tahu harap Thay hiap suka mengampuni jiwaku.

Kalau begitu harap Cung cu suka berterus terang dihadapanku, beritahukan kepadaku kenapa kau orang bersifat begitu ganas, buas dan kejam? Ujar orang itu lagi dengan suara yang amat dingin. Bagaimana kau orang bisa memikirkan satu siasat yang demikian kejam nya untuk membunuh orang? Kau pernah menggunakan cara apa lagi untuk membunuh orang?????

Ayoh jawab, asalkan ini hari kau suka berterus terang dan menjawab semua pertanyaanku maka aku pun tidak akan mengganggu barang seujung rambutmu aku akan melepaskan satu jalan hidup buatmu."

Si Ang In Sin Fian Pouw Sak San yang mendengarkan perkataan itu tidak kuasa lagi seluruh bulu romanya pada beidiri. karena dia mendengar pembicaraan dari orang yang berada dibelakang badannya amat dingin, kaku dan ketus sekali semakin didengar suaranya semakin mengejutkan hati.