Raja Silat Jilid 24

 
Jilid 24

Menurut apa yang didengarnya dari Lie Loo jie itu apakah benar ayahnya bernama si pancingan emas sakti Liem Ciong?

Tetapi Liem Tou mau tidak mau harus mempercayai juga apa yang diucapkan oleh Lie Loo jie itu karena Toa Loo Cin Keng serta kedua baris syair itu memang sama sekali tidak salah, kalau tidak bagaimana Liem Tou bisa merasa begitu sedihnya setelah mendengar perkataan tersebut.

Saat ini muncul kembali seorang perempuan tunggal yang mengaku sebagai susioknya, bagaimana Liem Tou mau percaya dengan demikian saja??

Setelah termenung berpikir beberapa saat lamanya mendadak dia bertanya.

Kau menyebut dirimu sebagai susiok, lalu si cangkul pualam Lie Sang itu apamu?

Sudah tentu dia adalah Suhengku, sahut si perempuan tunggal dengan cepat. Tetapi dia adalah anak murid dari Hoa supek sedangkan aku adalah ahli waris dari Lok Yong. Hoa supek dengan suhuku orang orang dunia kangouw menyebutkan sebagai Auw Hay Siang Hiap, akhir nya Hoa supek menemui ajalnya di tangan si hweesio tujuh jari sedangkan suhuku mengasingkan diri di atas gunung Boe Liang san, tiga puluh tahun kemudian baru menerima aku sebagai murid maka itu aku orang sama sekali tidak mengenal diri Lie Suheng, sampai kali ini dia menolong nyawaku waktu itulah aku baru tahu, dan aku tahu pula kalau jie Suheng sudah menemui kekalahan di tangan Tbian Pian-Siauw sehingga dia mengasingkan dirinya, aku benar benar ikut bersedih hati atas kejadian yang dialaminya itu.

Lien Tou yang mendengar dia sedang membicarakan tentang perguruan dari ayahnya dan mendengar pula kalau perkataan Lie Loo jie yang mengatakan sudah tentu dia mau percaya atas perkataan tersebut, mendadak dia merasakan keringat yang mengucur keluar semakin deras air mukanya berubah jadi pucat pasi keadaannya seperti baru saja menderita satu penyakit yang smat berat.

Si perempuan tunggal Touw Hong yang melihat wajahnya ada sedikit tidak beres dia menjadi sangat terperanjat sekali.

Sute kau kenapa?? tanyanya.

Liem Tou tidak menjawab, lama sekali dia memperhatikan diri si perempuan tunggal itu kemudian bagaikan kilat cepatnya dia jatuhkan diri berlutut di hadapannya.

Susiok harap suka memaafkan segala pcrbuatan dari Liem Tou yang telah menyakiti hati susiok, ujarnya dengan tersengguk sengguk menahan isak tangisnya. Bilamana dilain waktu aku berbuat salah kembali kepada susiok harap susiok suka memaafkan.

Selamanya si perempuan tunggal ini belum pernah mendapatkan penghormatan sedemikian rupa, apalagi Liem Tou pun merupakan orang yang dirindukan siang malam tidak terasa lagi wajahnya berubah jadi merah padam.

Cepat bangun, Cepat bangun, serunya dengan gugup.

Tidak usah Banyak adat, tidak usah banyak adat.

Dengan cepat dia mengulur tangannya untuk membimbing Liem Tou bangun tetapi tak jauh dari badan Liem Tou mendadak dia menarik kembali tangannya ke belakang sedang air mukanya berubah semakin merah lagi.

Kalau, .kalau, .kalau sutit sudah tahu kedudukanku, lain kali kenapa harus terbuat salah lagi kepadaku? apa maksud dari perkataanmu itu? ujarnya terputus putus. Liem Tou segera bangun berdiri, ujarnya dengan nada gemetar.

Kiranya orang yang baru saja mengejar dirimu itu adalah anak murid dari si hweesio tujuh jari yang sudah mencelakai Sucouwku, sekarang aku sudah tahu dia adalah musuh besarku, aku punya alasan untuk membalas dendam ini.

Sekalipun sute tidak membunub dirinya, aku beserta suhengpun akan membinasakan dirinya. Ujar si perempuan tunggal sambil tertawa. Apa lagi pembunuhan serta perampokan yang terjadi baru baru ini dunia kangouw di mana setiap kejadian itu meninggalkan tanda ular merah adalah perbuatan dari dirinya, orang yang sudah menemui ajalnya di bawah serangan dari pedang hitamnya itu sudah amat banyak sekali, bilamana orang ini tidak dibunuh buat apa meninggalkan bencana di kemudian hari.

Oooh . . kiranya begitu, ujar Lem Tou jadi paham kembali duduknya perkara. Tidak aneh kalau di dalam petinya berisikan penuh dengan emas serta uang perak, kiranya harta tersebut dia dapatkan dengan jalan merampok.

berbicara sampai disini mendadak dengan pandangan mata yang amat tajam, Liem Tou memperhatikan diri si perempuan tunggal itu,

lama sekali baru terdengar dia menghela napas panjang. "Susiok, apa kau benar benar mau membunuh dia orang?"

tanyanya ragu.

Mandengar perkataan tersebut si perempuan tunggal jadi merasa keheranan.

Sute, jika didengar dari ucapanmu agaknya kau tidak punya maksud untuk membinasakan dirinya? tanyanya.

Aku bukannya bermaksud demikian, bahkanm aku sudah bisa melihat kalau dia bukanlah manusia dari kalangan lurus. Sahut Liem Tou gelengkan kepalanya lantas menhela napas panjang.

"Sudahlah .. biar aku lepaskan dia orang supaya dia orang bisa membalas dendamnya tarlebih dahulu, sambungnya kemudian. Susiok. sampai waktu itu kau janganlah menyalahkan aku sudah turun tangan kejam tarhadap dirinya.

Saat ini si perempuan tunggal Touw Hong, sudah menangkap kalau di dalam perkataan dari Liem Tou ini mengandung maksud maksud tertentu, sepasang matanya dipentangkan lebar lebar dan memandang dirinya dengan sangat tajam sekali.

Sute, serunya keras. Inilah kesalahanmu bila mana ada urusan cepatlah beritahu dengan berterus terang, buat apa kau ragu ragu.

Jikalau susiok memerintahkan aku berkata, aku terpaksa akan mengatakannya keluar, ujar Liem Tou kemudian dengan wajah yang serius sekali. Tahukah susiok siapakah nama dan orang ini.

Mendengar perkataan itu si perempuan tunggal segera merasakan hatinya tergerak seluruh tubuhnya gsmetar dengan amat kerasnya sedang air mukanya berubah sangat hebat, agaknya dia sudah merasa amat tegang sekali.

Aaa . . apa? tanyanya sepatah demi sepatah. Apa dia orang She Sun? apa namanya Sun Ci Sie?

Sehabis berkata deagan pandangan matanya yang amat tajam sekali dia memperhatikan diri Liem Tou dan menantikan jawabannya, tetapi diapun takut kalau perkataan dari Liem Tou ini akan menusuk hatinya.

Pada saat ini Liem Tou pun dengan sepasang matanya yang amat tajam sedang memperhatikan diri si perempuan tunggal, empat buah mata bertemu jadi satu masing masing merasakan hatinya tergetar dengan amat kerasnya, tetapi sebentar kemudian sudah diliputi oleh rasa yang amat tegang dan berat sekali. Pada waktu itulah dari atas puncak bukit tampaklah berkelebatnya sesosok bayangan hitam yang berkelebat datang dengan sangat cepatnya.

Liem Tou segera menemuinya, teriaknya dengan keras. Susiok, kau tanya dirinya saja.

Di dalam sekejap saja bayangan hitam itu sudah melayang ke arah perahu tersebut sudah tentu yang datang bukan lain adalah si rajawali sakti dari gunung Ai Lau san Sun Ci Sie adanya.

Dengan tanpa mengeluarkan sedikit suarapun begitu tubuhnya mencapai tepian perahu, pedang hitam yang ada di tangan kanannya dengan dahsyat melancarkan serangan menusuk tubuh si perempuan tunggal itu.

Gerakannya amat ganas dan buas sekali sehingga sukar di duga sebelumnya.

Melihat hal itu dengan cepat Liem Tou melancarkan satu pukulan menangkis datangnya serangan tersebut.

Sun heng tahan dulu, teriaknya keras.

Sudah tentu si rajawali sakti dari gunung Ai Lau San ini tahu akan lihaynya serangan, tubuhnya dengan cepat melayang turun dari ruangan perahu, dia benar banar merasa terkejut bercampur gusar.

Dia sama sekali tidak menyangka kalau orang yang menyebut dirinya sebagai saudara ini di dalam sekejap saja sudah menjadi bisul di atas ketiak, perubahan yang terjadi secara mendadak ini benar benar membuat hatinya merasa sangat gusar sekali, seluruh tubuhnya gemetar dengan amat kerasnya.

Liem Tou tidak mau ambil perduli atas kemarahannya itu. ajarnya lagi dengan keras. Harap Sun heng mau mendengarkan dulu perkataan cayhe, yang benar cayhe bukan seorang pelajar yang gagal ujian, pada kentongan ketiga nantipun kau tidak perlu menemui orang yang sudah membalikkan perahumu itu, karena orang tersebut adalah cayhe sendiri.

Sun Ci Sie mendengar perkataan tersebut untuk sesaat lamanya tidak mengucapkan sepatah katapun cuma saja kelihatannya air mukanya yang pucat pasi kini sudah berubah menjadi hijau ke biru biruan.

Sebenarnya persahabatan kita sesaat sebelum bertemu susiokku ini adalah persahabatan yang betul betul, tetapi setelah mendapatkan penjelasan dari susiokmu saat ini aku sudah menganggap dirimu sebagai penjahat penyebab bencana yang harus dibasmi dari muka bumi. Ingat nyawa kau si rajawali sakti dari gunung Ai Lau san tinggal satu tahun saja, sampai saat itu kau harus menggunakan pedang hitammu untuk berusaha mempertahankan nyawamu.

Mendengar perkataan dari Liem Tou ini Sun Ci Sie semakin gusar, bentaknya.

Aku Sun Ci Sie sanggup menerima kematian pada saat ini juga, ayoh mulai turun tangan.

Sambil berkata pedangnya di lintangkan ke depan, dari sepasang matanya memancar keluar sinar yang amat tajam memperhatikan diri Liem Tou.

Kau jangan keburu jual lagak disini, bentak Liem Tou pula.

Perkataanku belum aku ucapkan selesai jikalau bukannya aku sudab mendapatkan pesan dari ibumu mungkin pada saat ini kau sudah mati tenggelam di dasar sungai.

Sun Ci Sie yang mendengar Liem Tou mengungkap kembali soal ibunya tidak terasa lagi ia di buat tertegun juga, sehingga pedang hitam yang ada ditangannya pun sudah diturunkan lagi ke bawah. Liem Tou menghembuskan napas panjang, ujarnya lagi.

Di dalam sebuah lembah batu di atas gunung wu san aku sudab menemukan seorang perempuan yang sudah hampir menemui ajalnya karena terkena siksaan dari si penjahat naga merah, saat sebelum meninggal dia meminta pertolonganku untuk mencari kau seorang yang bernama Sun Ci Sie yang merupakan putranya, diapun minta aku menyampaikaa kepadanya kalau musuh besar yang sebenarnya adalah Kioe Ling Wa Kauw dari gunung Im san dan bagaimana persoalan dendam yang sudah terjadi di antara kalian aku sendiri juga tidak tahu. Sekarang aku sudah menjelaskan seluruh persoalannya, dan beri waktu satu tahun kepadamu untuk membalas dendam ini, setelah genap satu tahun aku bisa datang kembali untuk mencari balas dendamku terhadap dirimu.

Saat ini si perempuan tunggal yang ada di samping tidak berbicara, dia cuma menangis tersedu dengan amat sedihnya, karena dia tahu pemuda berbaju hitam yang ada dihadapannya sekarang ini adalah Sun Ci Sie keponakannya yang sudah amat lama di cari cari.

Setelah mendengar perkataan dari Liem Tou itu Sun Ci Sie termenung berpikir seebentar, mendadak dia tertawa dengan amat seramnya agaknya dia orang sama sekali tidak percaya kalau ibunya sudah menemui bencana seperti apa yang telah diceritakan itu.

Kau berdasarkan apa mau membalas dendam terhadap diriku? tanyanya dengan suara yang amat dingin. Aku sudah berbuat kesalahan apa terhadap dirimu?

Liem Tou yang melihat psrempuan tunggal dibuat menangis oleh sikapp keponakannya yang sangat dingin itu di dalam hati dia sudah merasa kurang senang, dia merasa si penjahat yang gemar membunuh dan berbuat jahat ini sudah seharusnya menemui kematiannya. Kini mendengar perkataannya yang amat dingin itu seketika itu juga membuat dia benar benar jadi marah.

Kau tidak usah banyak bacot. Bentaknya dengan amat marah. Apa kau kira terbunuhnya Sucouwku Hoa Siong dari Auw Hay Siang Hiap oleh suhumu si hweesio tujuh jari aku orang dilarang membalasnya??"

Jikalau kau adalah seorang manusia yang mengetahui situasi cepatlah lipat kuping menyembunyikan ekor berlalu dari sini.

Setahun kemudian aku bisa pergi mencari dirimu.

Sun Ci Sie segera menggetarkan pedang hitamnya sehingga memperdengarkan suara dengungan yang amat nyaring sekali laksana suara pekikan harimau dan naga yang membubung ke angkasa diiringi suara tertawa seramnya yang amat mengerikan.

Haaa. haaa. . Kiranya kau adalah anak murid dari Lie Sang si tua bangka itu, ejeknya dengan suara keras. Omongan besarmu itu sungguh menarik sekali didengar. Sebetulnya untuk sementara waktu aku masih menaruh rasa tidak tega terhadap Lie Sang si tua bangka itu siapa tahu ini hari terayata sudah bertemu dengan manusia penghianat semacam kau.

Kau cuma mendatangkan bencara buat perguruanmu sendiri, aku harus turun tangan menyingkirkan dirimu dari muka bumi ini.

Berkata sampai di sini warna kehijau hijauhan yang menghias wajahnya dengan perlahan lain mulai membesar, pedangnya digetarkan siap melancarkan serangan dahsyat menubruk ke atas jubah Liem Tou.

Saat itulah terdengar si perempuan tunggal Touw Hong sudah membentak keras.

Ci Sie jangan. Dia bukan anak murid dari Lie Sang Lie suheng, apa yang dikatakan oleh nya adalah suatu urusan yang benar benar sudah terjadi, kau cepatlah pergi, kau tidak mungkin bisa menangkan dirinya.

Berbicara sampai disitu tidak tertahan lagi dia menangis tersedu sedu.

Keadaan yaug amat menyedihkan ini tidak urung membuat Liem Tou yang menonton di samping merasakan hatinya perih juga, akhirnya hatinyapun jadi lembek.

Susiok, kau jangan begitu terharu, hiburnya dengan halus aku tahu orang yang berada dihadapun kita sekarang ini adalah satu satunya saudara dari susiok yang masih hidup, bagaimana aku tega untuk turun tangan membinasakan dirinya?

cuma saja dosa yang dia perbuat sudah bertumpuk tumpuk, aku tidak bisa melepaskan dia dengan begitu saja. Tetapi jikalau di dalam satu tahun ini dia bisa berubah sifat dan jadi orang baik sehingga mendatangkan keberuntungan buat umat manusia sudah tentu sekalipun hatiku keras seperti baja juga akan lumer tak berbekas.

Si perempuan tunggal yang mendengar perkataan dari Liem Tou ini dalam hatinya segera tahu kalau Liem Tou sudah memberikan satu kesempatan hidup buat diri Sun Cie Sie, di dalam hatinya jadi amat girang.

Tanpa memperdulikan bagaimana kaadannya sekarang mendadak diangkat kepalanya berteriak.

Ci Sie, kenapa kau masih tidak cepat cepat mengucapkan terima kasih atas kebaikan budinya ini?

Sun Ci Sie yang melihat si perempuan tunggal menangis dengan amat sedihnya dalam hati dia merasa kalau dalam hal ini pasti ada sebab sebabnya kalau tidak, tak mungkin ada orang menangis dengan begitu sedihnya. Tetapi ketika dia mendengar setiap kali si perempuan tunggal memanggil dirinya dengan kata Ci-Sie . . . Ci Sie terus, tidak urung alisnya dikerutkan rapat rapat juga.

Kau adalah setan yang baru saja lolos dari serangan pedangku Bentaknya dengan suara berat. Jikalau bukannya Lie Loo jie si tua bangka itu datang pada waktunya pada saat ini nyawa mu sudah berada di tanah akhirat, kau orang itu manusia macam apa? Ayoh pergi, mengaca dulu, kau kira wajahmu cantik dan tidak ada tandingannya ? Ci Sie . . . Ci Sie, kau kira Toaya-mu adalah kekasihmu? Sungguh tidak tahu malu, muka tebal, perempuan tunggal, hati bati kau, jika berani panggil aku dengan sebutan Ci Sie, jangan salahkan aku akan turun tangan kejam terhadap dirimu.

Mendengar suara makian yang benar benar kurang ajar dan kasar ini si perempuan tunggal jadi amat malu dan gemas sekali.

Ci Sie, teriaknya hampir hampir kalap. Aku adalah bibimu kenapa kau begitu kurang ujar.

Sun Ci Sie, kau jangan coba coba memaki dengan menggunakan kata kata yang kotor lagi, teriak Liem Tou yang ada disampingnya memberi peringatan keras. Dia adalah susiok juga merupakan bibimu, dia orang sudah memintakan belas kasihan untuk tidak membunuhmu, kenapa kau sekarang memaki bibimu dengan kata kata yang demikian kotornya dan kasar sekali? Kau sudah tidak mau hubungan antara bibi dengan keponakan di antara kalian berdua?

Mendengar perkataan ini Sun Ci Sie dengan perlahan mengalihkan sinar matanya ke atas wajah si perempuan tunggal, pada waktu yang lalu dia belum pernah memperhatikan dirinya dengan csrmat, kini setelah memperhatikannya dengan teliti secara samar samar di dalam benaknya terbayang kembali wajah dari ibunya yang berkelebat dengan cepatnya, bahkan dia merasa bahwa wajah dari perempuan tunggal ini mirip dengan wajah ibu kandungnya. Goncangan hati yang amat keras dan mengharukan ini seketika itu juga membuat hatinya tergetar keras sekali, sepasang matanya dengan perlahan menjadi basah . . . dua titik air mata mulai membasahi kelopak matanya dan menetes keluar membasahi pipinya.

Si perempuan luaggal yang melihat kejadian ini dalam hatinya betul betul merasa terharu, air mata sejak semula sudah mengucur dengan deras.

Tetapi agaknya Sun Ci Sie dapat mengendalikan dirinya kembali saking girangnya pada ujung bibirnya tersungging suatu senyuman.

Menndadak Sun Ci Sie angkat kepalanya dan berteriak keras dengan amat sedih dan seramnya serunya.

"Aku Sun Ci Sie tidak berayah dan tidak beribu, tidak ada sanak dan tidak ada keluarga dan tidak ada bibi segala, aku Sun Ci Sie kecuali suhu seorang siapapun tidak dikenal.

Pedang hitam yang ada ditangannya mendadak digetarkan, di dalam sekejap saja sinar gemerlap yang menyilaukan mata berkelebat memenuhi seluruh ruangaa dan menekan kedua orang itu dengan dahsyatnya.

Liem Tou serta si perempaan tunggal sama sekali tidak menyangka dia bisa berbuat demikian, mereka bersama sama menjadi amat terkejut sekali.

Si perempuan tunggal yang pernah merasakan kelihayan dari ilmu pedang hitam ini, melihat datangnya seraagan dari pedang pusaka tersebut ujung kakinya dengan cepat menutul permukaan perahu dan meloncat keluar dari ruangan tersebut.

Sebaliknya Liem Tou yang diserang secara tiba tiba dalam hati merasa sangat terkejut sekali.

Sun Ci Sie kau mencari mati?? bentaknya dengan gusar. Dia tidak menyingkir maupun menghindar, menanti sinar ke hitam-2an itu mengurung badannya, dengan cepat tenaga murni yang ada di dalam tubuhnya disalurkan keluar, dengan menggunakan tenaga tujuh bagian sepasang telapak-nya mendadak dibalik, kemudian dengan diikuti satu hawa pukulan yang tak terhingga dahsyatnya menyambut datangnya serangan tersebut.

Si rajawali sakti dari gunung Ai Lau san ini sewaktu melihat Liem Tou ternyata hendak menggunakan sepasang kepalannya menerima datangnya serangan pedang hitamnya itu, di dalam hati dia segera mengira pastilah akan terbinasa di bawah serangannya, sehingga darah bereceran diatas tanah, tenaga dalamnya segera ditambahi dengan dua bagian bersamaan pula bentaknya keras.

Aku mau lihat siapa yang cari mati ?? Mendadak dia merasakan angin pukulan yang dilancarkan oleh Liem Tou ini merupakan angin pukulan tenaga Im tetapi juga tenaga Yang. di dalam kelunakan ada kekerasan membuat seluruh serangan yang dilancarkan olehnya terasa kena terhalang.

Baru saja dia merasakan keadaan sedikit tidak beres mendadak angin pukulan dari Liem Tou sudeh dilipat gandakan sepuluh bagian, pedang hitam di tangannya tidak sempat ditarik kembali ujung pedangnya segera terkena bentrok dengan hawa angin pukulan yang melanda datang.

Segera terasalah seluruh tubuhnya tergetar amat keras sehingga sukar ditahan, apalagi yang lebih celaka lagi ternyata angin pukulan itu melampaui ujung pedang lantas menekan ke atas dadanya.

Rasa terkejutnya kali ini bukan alang kepa ang, dia tahu untuk menyingkir tidak sempat untuk menghindar ke belakang juga tidak berguna, di dalam hati dia segera mengambil keputusan uatuk beradu jiwa. Tekanan hawa pukulan ini semakin lama semakin memberat sehingga hampir hampir membuat dia sukar untuk bernapas.

Tetapi dia yang sudah kebiasaan menirukan sifat dari si hweesio tujuh jari yang amat dingin dan sombong membuat keadaannya pada saat ini dari dingin kaku jadi ganas dan amat buas, tidak takut mati.

Terang terangan dia tahu dirinya bakal tidak sanggup uatuk menangkis datangnya serangan tersebut dia malah paksakan diri untuk berbuat demikian.

Didalam sekejap saja dadanya terasa amat mual dan kepalanya amat pening, tetapi dengan menggigit kencang bibirnya sehingga keluar darahnya dia angkat telapak kirinya dengan menyalurkan seluruh tenaga dalam yang dimilikinya untuk menangkis serangan tersebut.

Sun Ci Sie sebetulnya sudah memperoleh didikan dan perawatan langsung dari si hwoesio tujuh jari di karenakann si hweesio tujuh jari sudah menaruh seluruh harapannya yang terakhir di tangan Sun Ci Sie ini, karena tenaga pukulan yang dilancarkan oleh Sun Ci Sie dengan seluruh tenaga ini seperti juga sedang mengadu jiwa, keadaannya tidak dapat dipandang remeh.

Jikalau digantikan dengan orang lain, di dalam keadaan seperti ini walaupun dia berhasil menerima datangnya serangan tersebut tetapi tidak urung tergetar mundur juga beberapa langkah ke belakang.

Tetapi Liem Tau bukanlah manusia sembarangan, melihat Sun Ci Sie berbuat demikian dia segera tertawa dingin.

Haee. .beee. .kau masih ketinggalan jauh. serunya.

Baru saja dia kerahkan hawa murninya untuk menekan lebih dahsyat lagi mendadak terdengar si perempuan tunggal sudah menjerit keras. Liem Tou jangan...

Liem Tau secara tiba tiba menjadi sadar kembali dengan tergesa gesa dia pentangkan telapak tangannya ke samping kemudian dengan meminjam kesempatan ini tubuhnya meloncat keluar.

Tetapi sebelum hawa pukulannya ditarik semua, tiba tiba.. "Plaask. . "dua gulung angin pukulannya sudah menghajar kedua samping tubuh perahu tersebut diikuti suara ledakan keras yang menggetarkan seluruh ruangan.

Sun Ci Sie yang tidak berhasil menarik kembali serangannya seketika itu juga membuat hawa pukulannya dengan dahsyat menghajar diatas ujung perahu sehingga terhajar hancur berantakan.

Sun Cie Sie mengira Liem Tou takut menerima serangannya sehingga tidak terasa lagi dia tertawa panjang.

Liem heng kenapa tidak menerima serangan ku itu ejeknya bangga.

Siapa tahu baru saja dia selesai berkata dari kedua sisi perahunya mendadak terdengar suara ledakan laksana ambruknya gunung dan jebolnya bendungan membuat seketika itu juga menggetarkan seluruh ruangan.

Dari dalam sungai mendadak bergolak dan nenyemprot ke atas pancuran air setinggi dua puluh kaki yang disertai ombak yang menggulung dengan dahsyatnya, keadaan pada waatu itu benar benar amat menyeramkan sekali.

Sun Ci Sie yang melihat kejadian itu saking kagetnya seluruh air mukanya sudah berubah pucat pasi bagaikan mayat, dia tahu tenaga dalam yang dimiliki Liem Tou sekarang ternyata benar benar dahsyat sekali sehingga sukar diukur.

Dia tidak berani memikirkan bagaimana akibat yang bakal diterima apabila tenaga yang sangat dahsyat itu bersarang di badannya. Sewaktu dilihatnya pula air sungai bergolak dengan amat dahsyat sehingga membuat sang perahunya montang manting dengan hebatnya, dia jadi kaget, bukankah dengan demikian perahunya telah menemui bahaya.

"Aduh,, perahuku!" teriaknya keras.

Sun Ci Sie kau masih tidak msaggelinding dari tempat ini? terdengar suara Liem Ton memberi peringatan. Aku mamberi waktu satu tahun buatmu untuk mengubah sifat sifatmu yaug jahat itu, perahu ini sejak ini hari adalah milikku.

Sun Ci Sie mana mau mengalah dengan begitu saja, dia jadi amat gusar sekali.

Tetapi hanya di dalam waktu sekejap saja kembali ada dua gulung ombak yaug amat dahsyat menerjang badannya, dia orang yaug tidak mengerti ilmu didalam air dengan cepat tubuhnya meloncat naik ke atas lantas berkelebat menuju ke tengah sungai sejauh tiga kaki setelah itu dengan menggunakan ilmu meringankan tubuhnya yang paling lihay dia berjalan mengelilingi perahu tersebut, dia tidak berani mendekati tetapi tidak tega pula untuk ditinggal pergi terpaksa dengan mendongkol berputar terus disekeliling tempat tersebut.

si perempuan tunggal yang melihat sikap serta tindak tanduk dari keponakannya itu dalam hati merasa amat cemas dan sedih sekali, baru saja di dalam pikirannya memikirkan akan sesuatu itu mendadak terdengar Liem Tou sudah tertawa kembali.

Sun Ci Sie. kau masih tidak mau menggelinding pergi dari sini? bentaknya.

Sepasang telapak tangannya bersama sama melancarkan serangan kembali ke arah depan terasalah serentetan desiran angin yang amat tajam menghajar keatas permukaan air membuat sekeling tempat tersebut segera timbul gelombang yang amat besar menggulung keras ke atas tubuh Sun Ci Sie. Sun Ci Sie sudah tentu tidak berani menerima datangnya gulungan ombak itu dia tidak bisa berbuat apa apa lagi terpaksa tubuhnya sekali Lagi meloncat menuju ke arah tepi sungai.

Di tengah suara tertawa terbahak babak dari Liem Tou itulah tampak dua gulung ombak yang keras menggulung kembali di tengah sungai membuat perahu tersebut jadi tenang kembali.

Heyy. Sun Ci Sie terdengar Liem Tou berteriak lagi sambil

tertawa terbahak bahak. Lebih baik kau cepatlah pergi dari sini, tetapi kau harus ingat apa yang sudah aku ucapkan pasti akan kulaksanakan benar benar setahun kemudian aku pasti akan pergi mencari dirimu . Jikalau mulai saat ini kau sudah tidak berbuat jahat lagi maka sampai maka sampai waktunya aku akan melenyapkan permusuhan dan bersahabat dengan dirimu, tetapi bilamana kau masih terus berbuat kejahatan .. Hemm, hemm kau boleh merasakan pukulan dahsyatku yang

akan menghancurkan badanmu.

unn Ci Sie mana pernah menerima hinaan seperti ini? Cuma saja dia tahu dirinya tidak bakal bisa menangkan lari Liem Tou karenanya dia cuman berdiri termangu mangu ditepi sungai tanpa bergerak sedikitpun juga.

Lama sekali barulah dia secara tiba tiba jatuhkan diri berlutut menghadap ke arah barat daya kemudian lantas sambil mengangguk anggukan kepalanya dia berkata.

Ooooh . ., Suhu, tecu tidak bisa memenuhi harapac kau orang tua lagi, lebih baik kau orang tua menghilangkan maksud hatimu untuk menyingkirkan diri Thiat Bok Tbaysu serta Su Kok Mo Piau. Semua urusan kita bicarakan di kemudian hari saja.

Selesai berkata dia bangkit berdiri dan mengangkat pedangnya dengan menggunakan tangan kanan lalu perlahan lahan dia ulurkan tangan kirinya kedepan. Ci Sie, kau mau berbuat apa? terdengar si perempuan tunggal segera berteriak keras Sun Ci Sie cuma tertawa dingin dengan amat seram nya dan suara tertawanya itu tajam sehingga mendirikan bulu roma.

Tampaklah diantara barkelebatnya sinar pedang yang berwarna hitam, jari kelingking dari tangan kirinya sudah tertabas putus.

Kau mau berbuat apa? sahutnya dengan ketus Heee . . . heee , . .

Hitung hitung saja aku sudah kecudang di tangan bangsat cilik she Liem itu tetapi mulai sekarang juga aku mau berganti nama dan berlatih giat, tiga tahun kemudian jika aku tidak berhasil membinasakan kau Liem Tou bangsat cilik, aku segera akan bunuh diri seperti keadaan jariku ini.

Sahabis berkata dia memperdengarkan kembali suara tertawa dinginnya yang amat menyeramkan kemudian baru putar tubuh dan berlalu dari sana dengan diringi suara suitan panjang yang menyayatkan hati.

Untuk beberapa saat lamanya Liem Tou cuma bisa saling berpandangan dengan si perempuan tunggal tanpa bisa mengucapkan sepatah katapun, mereka sama sekali tak menyangka Sun Ci Sie sebetulnya seorang manusia yang begitu dingin, kaku dan amat jumawa sekali.

Lama sekali baru terdengarlah si perempuan tunggal menghela napas panjang.

Sutit, ujarnya. Kau sudah mendatangkan bencana yang tidak terkira buat hari mendatang.

Haaa . . . dia bilang tiga tahun sebaliknya aku sudah pergi mencari dia setahun kemudian sahut Liem Tou sambil tertawa ringan. Aku rasa dia yang sudah mengangkat sumpah sebelum ilmu silatnya berhasil menyamai dirimu dia orang tak mungkin akan memperlihatkan dirinya sehingga berhasil kau temui.

Liem Tou mengangguk, dia tertawa lagi. Dia tidak ingin membicarakan persoalan ini kembali, sinar matanya dengan perlahan beralih ke dalam ruangan perahu itu dan ujarnya dengan perlahan.

Susiok, perahu ini aku serahkan kepadamu untuk mengurusnya, dia adalah keponakan dari susiok sudah seharusnya perahu ini aku serahkan kepadamu.

si perempuan tunggal mana mau menerima barang barang tersebut? kini tujuannya yang di cita citakan sejak turun gunung sudah terlaksana tetapi hal itu pun cukup mendukakan hatinya, mulai hari ini dia cuma ingin mengembara saja karenanya dengan perlahan dia gelengkan kepalanya.

Aku tidak mau barang barang ini, biarlah kau saja yang mengambil keputusan.

Sekali lagi Liem Tou paksa si perempuan tunggal itu untuk menerimanya kembali dia menggelengkan kepalanya.

Liem Tou melihat di dalam hatinya sudah mengambil ketetapan diapun tidak dapat memaksa lebih lanjut lagi segera pikirnya.

Baiknya aku pergi kegunung Wu san saja, untuk sementara waktu aku titipkan harta kekayaan tersebut jadi satu dengan harta kekayaan miliknya Hek Loo toa, di kemudian hari jika aku rasa berguna saat itulah baru mengambil

keluar kembali.

Berpikir sampai disitu dia tidak menolak kembali. Mendadak dalam benaknya teringat akan sebuah peti besi yang dipasang kunci, sehingga ujarnya kemudian. Di dalam ruangan perahu ini semuanya ada enam buah peti hitam yang di antaranya sebuah peti terkunci, bagaimana kalau kita menggunakan waktu yang luang ini untuk membukanya dan lihat lihat apakah sebenarnya isi peti itu?

Ehmn. .sahut si perempuam tunggal. Mereka berdua segera berjalan memasuki ke dalam ruangan. Liem Tou lalu mengaagkati peti peti yang tak terkunci itu ke samping dan akhirnya mengangkat peti yang terakhir ke tengah ruangan kemudian dengan menggunakan kekuatan jarinya merusak gembok tersebut.

Liem Tou dengan perlahan membuka tutup peti itu, terasalah serentetan sinar yang menyilaukan mata memancar keluar dan dalam peti tersebut, terlihatlah satu peti penuh dengan intan permata yang sangat berharga sudah terbentang dihadapan mereka.

Pada saat ini Liem Tou sama sekali tidak tertarik dengan intan intan permata itu sedang si perempuan tunggal pun tidak menyukai barang barang barharga tersebut, melihat benda itu tak terasa lagi didalam hatinya merasa kecewa sekali.

Dalam anggapan mereka berdua, peti peti lain yang berisikan intan permata sama sekali tidak dikunci sudah tentu peti terakhir yang terkunci sudah disimpan suatu barang pusaka yang sangat berharga sekali, siapa sangka isinya pun melulu benda benda berharga itu saja.

Pada waktu ini Liem Tou hendak menutup penutup peti itu. tiba tiba terdengar si perempuan tunggal berseru.

Sute tunggu dula, coba diantara intan intan itu kita mencari beberapa butir mutiara yang dapat menerangi di tempat kegelapan aku rasa barang itu ada kegunaannya dikemudian hari. Liem Tou yang dapat melihat di tempat kegelapan seperti siang hari saja sudah tentu tidak membutuhkan barang tersebut dia segera menyingkir kesamping.

Susiok kau carilah sendiri, ujarnya sambil tertawa. Kau suka apa ambillah sesuka hatimu.

Aku cuma menginginkan sebutir mutiara saja, yang lain aku tidak mau. Sahut perempuan tunggal tertawa juga.

Selesai berkata dia segera berjongkok dan mulai mencari di antara tumpukan intan permata itu tak lama kemudian mendadak tangannya sudah terbentur dengan sebuah benda kerss, dengan cepat serunya kepada Liem Tou.

Sutit, kemungkinan sekali diantara tumpukan intan permata ini masih terdapat sebuah peti kecil lagi?

Coba kau ambillah keluar, teriak Liem Too dengan cepat.

Si perempuan tunggal segera merogoh tangannya ke dalam peti dan mengambil keluar sebuah peti besi berwarna hitam yang kecil dan piph, di dalam sekali pandang saja Liem Tou bisa melibat beberapa tulisan yang terukir di atas peti tersebut.

Hati manusia amat kejam itulah yang dicari manusia.

Pada ujung kiri dari peti hitam itu kembali terukir beberapa hurf dari emas. "Cian Tok Cin Keng"

Liem Tou sarta si perempuan tunggal yang melihat adanya kitab pusaka seribu racun pada melengak semua dibuatnya, mereka sama sekali tidak mengerti apa yang tertulis di dalam kitab tersebut juga tidak mengetahui dari mana sumber ilmu tersebut, cuma saja di dalam hati mereka berdua merasa sedikit berdesir, mereka tahu jika ditinjau dari tulisan yang terukir di atas kitab tersebut tentulah kitab itu merupa kan satu kitab yang sangat beracun sekali. Baru ssja mereka dibuat termangu mangu oleh kejadian itu mendadak pada ujung perahu tersebut terdengarlah suara bentrokan yang amat keras sekali membuat seluruh tubuh perahu itu tergetar dengan amat kerasnya, bersamaan pula terdengar suara dari sirajawali dari gunung Ai Lau San, Sun Ci Sie sudah balik kembali.

Liem Tou teriaknya dengan suara yang amat keras. Ayoh cepat menggelinding keluar, kita bertanding siapa yang lebih lihay diantara kita.

Liem Tou sama sekali tidak mengira kalau dia bisa kembali lagi, tanpa ragu ragu lagi tubuhnya segera meloncat keluar dari ruangan perahu tersebut.

Tampaklah suasana disekeliling tempat itu amat sunyi sekali, sinar rembulan memancarkan sinar dan kerlipan bintang bintang yang tersebar memenuhi angkasa di tempat itu sama sekali tidak tampak sesosok bayangan manusiapun.

Mendadak satu bayangan berkelebat di dalam benaknya, hatinya terasa berdebar amat keras sekali, belum sempat dia mengambil satu tindakan mendadak terdengarlah suara mengaduh dari si perempuan tunggal yang ada di dalam ruangan perahu dengan amat kerasnya.

Liem Tou cuma merasakan hatinya seperti ditusuk tusuk dengan beribu ribu batang anak panah, dia segera berteriak keras.

Sun Ci Sie, kau sungguh kejam sekali.

Ternyata sedikitpun tidak salah, dia melihat tubuh si perempuan tunggal sudah roboh di atas ruangan perahu dengan amat kerasnya disusul dengan berkelebatnya sesosok bayangan manusia yang menerjang keluar dari jendela dengan amat cepatnya.

Liem Tou menggigit kencang bibirnya, tenaga saktinya disalurkan keluar kemudiaa dengan menggunakan ilmu meringankan tubuhnya dia melakukan peagejaran dengan amat cepatnya dari belakang.

Sun Ci Sie tinggalkan nyawamu, teriaknya dengan keras.

Dari tempat jauh dia segere melancarkan satu pukulan dahsyat kearahnya, siapa tahu justru.

karena pukulannya inilah membuat Sun Ci Si mendapatkan kesempatan yang baik untuk meloloskan dirinya pada saat angin pukulannya mendekati tubuhnya itulah Sun Ci Sie dengan meminjam tenaga pukulan tersebut melayang lebih cepat lagi ke atas tepian kemudian dengan sedikit terhuyung huyung dia melarikan diri masuk ke dalam hutan.

Dalam hati Liem Tou benar benar merasa sangat gusar sekali, mana dia orang mau melepas kan dirinya dengan begitu saja, langkah kakinya semakin dipercepat. Sreeet Sreeet berturut turut dia menutul beberapa kali di atas permukaan air kemudian mengejar dengan cepatnya dari belakang tubuh Sun Ci Sie.

Hey Liem Tou bangsat cilik, tiba tiba bentak Sun Ci Sie sambil menoleh kebelakang dan mengayunkan tangannya. Kau cepatlah pergi menolong susiokmu.

Liem Tou dengan cepat mangebutkan ujung jubahnya menjatuhkan senjata rahasia yang mengancam tubuhnya, sebetulnya dia masih ingin pergi mengejar lebib lanjut tetapi setelah mendapatkan peringatan dari Sun Ci Sie ini, dia baru teringat kembali kalau si perempuan tunggal tadi memang menjerit kesakitan dan rubuh ke atas permukaan ruangan perahu, dia tidak tahu si perempuan tunggal sudah kena dibokong sebagaimana yang dikatakan oleh Sun Ci Sie.

Sedikit dia berpikir itulah kakinya menjadi tambah perlahan.

Sun Ci Sie bukanlah manusia bodoh, dengan mengambil kesempatan itulah dia lebih mempercepat larinya sehingga hanya di dalam sekejap saja dia sudah meninggalkan diri Liem Tou lebih jauh lagi. Liem Tou yang dikarenakan perhatiannya sedikit bercabang sudah ketinggalan jauh oleh diri Sun Ci Sie dengan cepat dia meloncat maju lebih cepat lagi, tetapi pada saat itu bayangan dari Sun Ci Sie sudah lenyap dibalik kegelapan, terpaksa dia putar badaauya kembali ke perahu.

Begitu masuk ke dalam ruangan perahu, dia dapat melihat air muka perempuan tunggal itu pucat pasi bagaikan mayat, agaknya dia sedang merasakan suatu penderitaan yang amat berat sehingga giginya saling beradu dengan amat kerasnya.

Liem Tou jadi amat cemas sakali, dengan cepat dia membungkukkan badannya dan bertanya.

Susiok, susiok bagaimana deagaa lukamu? kau sudah terbokong oleh siapa?

Lama sekali si perempuan tunggal tidak bisa berbicara, akhirnya dengan paksakan diri dia menjawab juga.

"Senjata rahasia"

Dengan cepat Liem Tou membantu dirinya memeriksa seluruh tubuhnya yang berbahaya, akhirnya dia bisa melihat pada kaki kiri serta lengan kirinya masing masing terhajar dua batang jarum kecil, jarum itu menancap dalam dalam di dalam dagingnya sehingga cuma ketinggalan sedikit ujungnya yang kelihatan di luar.

Dengan sangat berhati hati sekali dan amat telitinya Liem Tou membantu dirinya untuk mencabut keluar senjata rahasia itu, setelah dilihatnya di atas ujung jarum itu sama sekali tidak beracun dia baru bisa menghembuskan napas lega.

Untung tidak beracun, sehingga tidak begitu merepotkan, ujarnya perlahan.

Tetapi sebentar saja dia melihat di atas kelopak mata dari si perempuan tunggal itu tampak tergenang oleh air mata yang dengan sekuatnya sedang ditahan sehingga jangan sampai mengalir keluar dia menjadi bingung. Susiok untuk sementara kau berlega hati. hiburnya dengan halus. Asalkan jarum ini tidak beracun aku rasa sebentar saja sudah akan sembuh kembali. Keponakanmu itu benar benar sudah sangat keterlaluan, sepantasnya dia orang mau tak mau harus dibasmi juga dari muka bumi.

Beberapa psrkataan dari Liem Tou ini jika tidak dibicarakan masih tidak mengapa, begitu dia berkata demikian si perempuan tunggal itu semikia merasa sedih lagi air mata yang samula cuma menggenang di kelopak matanya kini

sudah mulai bercucuran, dia segera gelengkan kepalanya dengan perlahan.

"Aaa . . aaaku . . di badanku . . masih . ."

Mendengar perkataan tersebut Liem Tou jadi sadar kembali dari lamunannya, mendadak dia mengerutkan alisnya rapat rapat dan bertanya

"Dimana lagi senjata rahasia itu menghajar tubuhmu?"

Waktu itulah dia baru merasakan urusan agak sedikit memberatkan jikalau dia harus menghadapi sesama laki laki hal ini bukanlah suatu urusan yang besar, justru si perempuan tunggal adalah seorang gadis yang masih suci.. , hal ini benar benar membuat dia orang agak kebingungan.

Aku sendiri juga tidak tahu dimana senjata rahasia tersebut berada. Terdengar si perempuan tunggal itu menyahut sambil gelengkan kepalanya berulang kali.

Aku cuma merasa di seluruh tubuhku sudah terkena hajar oleh senjata rahasia tersebut.

Sekali lagi Liem Tou merasa terkejut, diam diam pikirnya.

Kini cuma ada satu cara saja yaitu suruh ia cabut sendiri jarum jarum itu tapi . . . kalau tidak dapat bergerak, lalu bagaimana baiknya.

Berpikir akan bal ini dia lantas bertanya. Susiok, kau bisa mencabut sendiri jarum jarum emas itu aku . . aku . .

Lama sekali dia mengucapkan kata kata 'aku" tanpa dapat melanjutkan kembali kata kata sambungannya sedangkan wajahnyapun sudah berubah menjadi merah padam bagaikan kepiting direbus.

Si perempuan tunggal Touw Hong yang melihat Liem Tou pun dibuat kikuk sekali dia lalu berpikir sebentar.

Begini saja, ujarnya kemudian. Kau keluarlah dulu. biar aku coba coba sendiri.

Bagaikan baru saja bebas dari tugas yang berat, Liem Tou segera berjalan keluar dari ruangan dan berdiri di ujuug perahu tidak bergerak, kepalanya didongakkan ke atas memandang bintang bintang yang tersebar memenuhi angkasa, teringat akan asal usul si perempuan tunggal Touw Hong tak terasa lagi di dalam hati dia menaruh rasa simpatiknya, ketika teringat pula keadaan sendiri pun persis, tetapi apa yang dialami oleh perempuan tersebut mendadak dia menghela napas panjang.

Dia teringat juga diri Lie Siauw Ie sejak dia mengetahui ibu dari gadis itu sudah meninggal hatinya sedikit tidak tenang setiap kali mereka bergaul bersama sama beberapa kali dia hendak memberitahukan berita ini dia agak ragu ragu dia takut Lie Siauw Ie jadi amat sedih sekali. setelah dia

melanjutkan lamunannya memikirkan diri Thian Pian Siauw cu, si hweesio tujuh jari, Sun Ci Sie dan lain latanya pada saat teringat kalau perjanjian pada bulan lima tanggai lima sudah tidak jauh di dalam hati dia segera mengambil keputusan untuk segera berangkat menuju ke Cin Jan.

Dia berpikir berpikir terus mendadak teringat kembali

akan kerbaunya yang sudah lama sekali dititipkan kepada orang lain, kenapa se karang juga dia tidak mau pergi ke sana membawanya kembali? walaupun tempat itu amat jauh tetapi, dengan kecepatan dari gerakan tubuhnya sekarang tidak lebih dari dua jam kemudian subah bisa kembali ke sini.

Setelah mengambil keputusan itu dia lanjut berteriak.

.Susiok, kau menemui kesukaran?.

Dari dalam ruangan sunyi senyap tak terdengar suara sahutan, sekali lagi Liem Tou mengulangi pertanyaannya akhirnya terdengar juga suara jawaban dari si perempuan tunggal Touw Hong yang lemah dan halus itu.

Sudah kucabut keluar tiga batang, maa. masih . masih

ada masih ada lagi. Liem Tou yang mendengar sudah

dicabut keluar tiga batang diam diam dia merasa sedih juga buat diri perempuan tunggal ini, kini mendengar pula kalau masih ada lagi yang belum tercabut saking kagetnya keringat dingin sudah mengucur keluar membasahi keningnya.

Susiok kau bersabarlah sedikit serunya dengan gugup.

Cabutlah dengan perlahan aku rasa sesudah jarum emas itu dicabut keluar, luka itu dengan cepatnya akan sembuh dengan sendirinya.

Sambil berkata dia melepaskan tali obat pemberian dari Hek Loo toa itu dan berjalan masuk ke dalam ruangan perahu.

Susiok terimalah ini, serunya dengan membelakangi dirinya.

Tali ini adalah suatu obat yang mujarab sekali, bilamana susiok merasa pertahanan badannya semakin berkurang cepatlah makan satu utas, bilamana daya obatnya sudah berjalan maka semangat dan tenaga yang di dalam badan segera akan pulih kembali seperti sedia kala. Sutit ada urusan yang bakal di bereskan dulu di tepian sana, tetapi sebentar kemudian akan kembali lagi . . selamat tinggal, harap susiok jaga diri baik baik.

Baru saja dia siap siap hendak meloncat ke tepian mendadak dia teringat kembali akan sesuatu. Kalau aku pergi dan Sun Ci Sie tiba tiba balik ke sini bukankah susiok bakal celaka?

Dia segera gelengkan kepalanya berulang kali dan menghentikan gerakan badannya.

Aku tidak boleh pergi, aku tidak boleh pergi, pikirnya lagi. Tidak perduli bagaimanapun aku harus menunggu setelah dia selesai mencabut keluar seluruh jarum yang menghajar badannya.

Berpikir sampai disini dia segera memaki ketololannya sendiri, untuk membetulkan kesalahan tadi dia lalu berteriak kembali.

Susiok, aku tidak jadi pergi. . kau berlegalah bati untuk mencabut keluar jarum jarum tersebut dengan perlahan lahan.

Terpaksa dia balik lagi di ujung perahu dan duduk disana menanti.

Kentongan keempat dengan cepatnya berlalu tetapi dari dalam ruangan perahu sama sekali tidak terdengar sedikit suarapun, akhirnya Liem Tou tidak bisa menahan sabar lagi dengan cepat dia meloncat bangun.

Susiok. kau kenapa? tanyanya dengan suara yang keras.

Dia menanti lagi beberapa saat lamanya tetapi tidak mendapatkan jawaban juga, terpaksa untuk ketiga kalinya dia berteriak kembali tetapi suasana tetap sunyi senyap.

Liem Tou merasakan hatinya berdebar dengan amat keras , satu ingatan tidak beres berkelebat dalam benaknya.

Susiok, kau sedang apa?? kau kenapa?? teriaknya dengan keras.

Dari dalam ruangan perahu itu keadaan tetap tenang tenang saja tidak terdengar suara sahutan. Liem Tou jadi semakin cemas lagi tubuhnya dengan cepat berkelebat menuju kedepan pintu ruangan perahu tersebut. Baru saja hendak menerjang masuk untuk melihat apa yang sudah terjadi kembali satu ingatan berkelabat di dalam benaknya, bagaikan kepalanya digodam martil berat dia merasakan hatinya tergetar amat keras, akhirnya dia mem batalkan juga maksudnya itu.

Tetapi urusan sudah terjadi di hadapan matanya, untuk tidak masuk melihat keadaan yang sesungguhnya tak mungkin bisa terjadi, di dalam keadaan yang mendesak mendadak dia mendapat satu akal.

Anaaa . , . sudah ada, teriaknya.

Saat itu dia sudah meedapatkan satu cara yang amat tolol sekali, dia dengan cepat pejamkan matanya lalu dengan jalan meraba raba dia berjalan masuk ke dalam ruangan perahu itu.

Terhadap keadaan di dalam ruangan perahu itu sudah tentu dia sangat hafal sekali, tanpa membuang banyak waktu dia sudah berhasil mendapatkan tubuh si perempuan tunggal Touw Hong itu.

Tetapi sewaktu tangannya terbentur dengan sebuah kulit badan yang sangat halus dan hangat ditambah pula tersiar bau harum yang sangat aneh sekali menusuk hidungnya membuat dia jadi sangat terperanjat.

Susiok, suuok . . - teriaknya keras.

Suasana tetap tenang tak terdengar sahutan apapun, walaupun sepasang matanya dipejamkan letapi dia bisa tahu tentunya saat ini perempuan tunggal sudah jatuh tidak sadarkan diri di karenakan tidak dapat menahan rasa sakit yang kelewat batas itu.

Di dalam keadaan yang seperti ini menolong orang adalah lebih penting dari segala galanya, dia tidak memikirkan batas susila antara lelaki dau perempuan lagi, dengan cepat dia duduk di atas tanah dan dengan perlahan dan sangat hati hati sekali dia ulurkan tangannya ke depan, karena takut sudah meraba anggota badannya yang terlarang beberapa kali sudah hampir menempel di badan perempuan itu dia menarik tangannya kembali.

Diam diam di dalam hatinya merasa tersiksa. Susiok, dimanakah kepalamu?? ujarnya kemudian.

Bagaimana aku bisa menemukan kepalamu dengan cara meraba begini? jika yang saya raba bukan kepalamu urasan bukankah jadi berabe?

Mendadak dia mendapatkan satu akal dia tahu saat ini si perempuan tunggal Touw Hong berada dalam keadaan telanjang bulat berbaring di dalana ruangan perahu itu, maka dengan sendirinya pakaian yang dilepas tentu targeletak disisinya, asalkan dia berbasil menutupi badannya dengan pakaian tersebut bukankah sesudah itu dia bisa membantu dirinya untuk mengerabkan tenaga dalam dengan mata terbuka.

Berpikir sampai disini dia tidak ragu ragu lagi, dengan cepat dia maraba di atas tanah.

Akhirnya didapatkan juga pakaian itu disamping badannya kemudian dengan cepat ditutupkan ke atas badannya.

Tetapi pada saat ini dia tetap tak berani membuka kedua matanya secara berbareng, dengan perlahan lahan dia membuka dulu sebelah matanya, karena dia takut setelah matanya terbuka akan menemukan pandangan yang menggairahkan dan mendebarkan hatinya, keadaan seperti itu bukankah luar biasa bekali . . .

Untung saja tempat yang ditutupi tadi tepat dari lutut sampai dilehernya saat itu Liem Tou baru bisa menghembuskan napas lega.

Sungguh berbahaya, teriaknya di dalam hati.

Setelah itu dia baru duduk bersila disisinya dan menempelkan telapak tangannya di atas punggungnya, matanya dipejamkan dan mulai menyalurkan hawa murninya ke dalam badan Touw hong

Terhadap susiok yang masih sangat muda ini dia menaruh rasa simpatik bercampur rasa hormatnya yang secara tidak sadar sudah timbul rasa ingin melindungi dirinya, dia gemas tidak bisa menyalurkan selurub tenaga murni yang ada pada dirinya untuk menolongnya supaya cepat cepat sadar kembali, tetapi pikiran ini tidak mungkin bisa terlaksana, sekalipun tenaga dalam yang dimilikinya sangat tinggi tetapi bilamana dia berbuat demikian hal ini cuuia mendatangkan bencana saja daripada kebaikan . ...

Seperti apa yang telah diduga olah Liem Tou semula, si perempuan tunggal Touw Hong yang berhasil mencabut keluar jarum yang terakir dikarenakan tenaganya sudah habis dan amat lelah sekali ditambah pula rasa sakit yang terasa menusuk tulang akhirnya dia tidak kuat menahan diri dan jatuh tidak sadarkan diri.

Saat ini setelah dibantu oleh tenaga yang disalurkan Liem Tou melalui jalan darah Giok Liang Hiat pada punggungnya menerjang ke atas urat nadi melalui jembatan pemisah, Keng Pek Hee terus naik ke atas ubun ubun menerjang jalan darah penting Nie Tan Coe di dalam sekejap saja hawa murni itu sudah mengelilingi seluruh badannya satu kali dan bergabung dengan bawa murni yang ada di badannya sendiri.

Dengan tanpa disadari pula seluruh rasa sakit yang ada di badannya sudah tersapu lenyap tak berbekas, badannya jadi terasa amat nyaman dan segar.

Dengan perlahan lahan dia membuka kembali sepasang matanya untuk sesaat lamanya dia sudah lupa kalau celana serta pakaiannya sudah dia lepas sehingga kini berada didalam keadaan telanjang, ketika dilihatnya Liem Toudu duduk bersila disamping dan membantu dia megerahkan tenaga dalamnya dengan cepat dia tersenyum manis. Sutit, terima kasih, serunya dengan rasa amat terharu.

Waktu itu Liem Tou sedang menarik hawa murninya karena itu dia tidak dapat menjawab, setelah hawa murninya ditarik kembali dia ba ru bangkit berdiri kemudian tanpa menoleh lagi sudah berjalan keluar.

Sutit tidak dapat baik baik menjaga diri susiok harap susiok suka memaafkan, serunya setelah berada di depan pintu ruangan perahu tersebut.

Mendadak terdengar suara jeritan, kaget dari si perempuan tunggal Touw Hong yang berkumandang keluar dari dalam ruangan setelah itu suasana jadi sunyi senyap tak terdengar sedikit suarapun.

Liem Tou menduga tentu dia sedang msrasa terkejut karena menemukan dirinya di dalam keadaan telanjang bulat sehingga tanpa terasa sudah menjerit kaget.

Berpikir akan hal itu dari luar ruangan dia lantas berteriak kembali dengan suara yang sungguh sungguh.

Susiok. kau merasa sutit adalah manusia macam apa?? Dari dalam ruangan perahu tidak terdengar suara jawaban. Liem Tou segera menyambung kembali perkataannya.

Maksud dari sutit berkata demikian cuma mengharapkan susiok jangan mengira aku Liem Tou adalah seorang manusia yang tidak tahu diri.

Sehabis berkata dia angkat kepalanya memandang keadaan cuaca yang mulai menjadi terang tetapi pada saat yang bersamaan pula dari dalam ruangan perahu itu berkumandang keluar suatu isak tangis yang amat sedih dari si perempuan tunggal Touw Hong.

Liem Tou menduga saat itu si perempuan tunggal Touw Hong tentunya sudah berpakaian karenanya dengan perlahan dia menoleh memandang kearah dalam ruang&n, secara samar samar dia bisa melihat si perempuan tunggal Touw Hong duduk bersandar pada dinding perahu, sepasang tangannya menutupi wajahnya dan dia menangis dengan sedihnya.

Liem Tou segera berjalan masuk menghampiri dirinya.

Susiok kenapa kau menangis?? tanyanya dengan suara yang rendah.

Cepat keluar dari sini, tidak ada urusanmu ditempat ini tiba tiba si perempuan tunggal angkat kepalanya dan membentak dengan suara yang amat Keras.

Walaupun sejak kecil Lem Tou bergaul dengan Lie Siauw Ie terhadap hati seorang gadis yang sudah menanjak dewasa mana dia bisa mengetahuinya dia menganggap si perempuan sedang merasa marah terhadap dirinya, karena itu dengan amat rikuh dia mengundurkan diri dari sana.

Baru taja dia tiba di samping pintu ruangan mendadak terdengar suara dari si pererapuan tunggal berkumandang lagi.

Aku tidak sedang marah kepadamu, kau jangan merasa tersinggung.

Liem Tou segera menoloh ke arahnya, terlihatlah si perempuan tunggal dengan menggunakan sepasang biji matanya yang jeli dan menggiurkan sedang memandang dirinya dengan rasa penuh cinta dan mesranya, sikap ini jelas se kali memperlihatkan kalau dia sudah menaruh rasa cinta muda mudi terbadap dirinya, hal ini membuat Liem Tou jadi agak terperanjat.

Aduh. .dosa, teriaknya di dalam hati. Cepat cepat ujarnya sambil melengos.

Susiok, jarum yang menancap di badanmu sudah dicabut keluar semua, kenapa kau tidak keluar dari ruangan itu untuk melihat munculnya sang surya? Aku pikir sesudah sang surya muncul segera akan melanjutkan perjalanan untuk menyimpan beberapa peti emas intan ini ke dalam gunung Wu san sehingga bisa digunakan di kemudian hari.

Dengan termenung si perempuan tunggal berpikir sebentar akhirnya dengan menundukkan kepalanya rendah dia berjalan keluar dan berdiri di sisi Liem Tou sampai waktu itu dia tidak berani mengangkat kepalanya barang sekejappun.

Liem Tou yang melihat cuaca sudah mulai terang tanah dia segera merasa sang kerbau harus cepat cepat diambil kembali, karenanya dia lantas berkata.

Susiok kau tunggulah sebentar disini aku pergi sebentar dan akan balik lagi kesini.

Waktu ini cuaca masih amat pagi sekali, Liem Tou tanpa menanti jawaban dari si perempuan tunggal lagi dengan cepat meloncat ke atas tepian sungai kemudian dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya yang amat lihay dia berkelebat menuju ke rumah petani dimana dia menitipkan kerbaunya itu.

Tepat sebelum fajar menyingsing Liem Tou sudah tiba di sana dan saat itu seluruh keluarga dari petani itu sudah pada bangun.

Sang petani tua itupun sedang memberi makan kerbau tersebut, Liem Tou dengan wajah tersenyum lalu berjalan mendekati dirinya.

"Loo pek, selamat pagi".

Petani tua itu dengan cepat menoleh ke belakang, sewaktu dilihatnya Liem Tou sudah mendekatinya dia jadi amat girang

Ooo . . yaya malaikat, kau sudah datang, ada orang bilang kau tidak bakal datang lagi kemari tetapi aku sama sekali tidak mau percaya coba kau Lihat yaya malaikat, kerbau itu memang lain dari pada yang lain, aku sudah mencoba dengan membawa kerbau yang lain datang kemari tetapi setiap kerbau yang sudah bertemu dengan dirinya lalu tanpa berani angkat kepalanya sudah pada lari terbirit birit.

Mendengar dirinya disebut sebagai "yaya- malaikat" Liem Tou lantas tertawa.

"Loo pek kau jangan memandang aku sebagai yaya malaikat" serunya. Aku tidak lebih adalah seorang manusia biasa yang berlatih ilmu silat dan jika dibandingkan dengan orang lain badanku memang agak jauh lebih enteng saja, aku She Liem bernama Tou dan tinggal diatas gunung Ha Mo San di daerah Cing Jan, lain kali bila Loo pak membutuhkan bantuanku boleh saja berangkat kesana mencari aku karena ini hari aku masih ada urusan yang harus diselesaikan maka tidak bisa lama ada di sini, sekarang aku mau bawa kerbau ini meninggalkan tempat ini"

Sambil berkata dari dalam sakunya Liem Tou mengambil keluar dua butir mutiara yang kemudian diserahkan kepada petani tua itu, tapi sang petani tidak mau menerimanya.

Akhirnya setelah Liem Tou mendesak dia terus menerus dan mengatakan kalau benda tersebut sebagai hadiah yang diberikan kepadanya dengan tulus ikhlas akhirnya petani tua tersebut pun mau menerimanya juga.

Pada saat itulah mendadak terlihatlah seorang bocah cilik berusia enam, tujuh tahun berlari lari keluar dari dalam rumah, begitu keluar dari pintu dengan cepat dia berlari mendekati petani tua itu.

Sepasang matanya yang bulat dan berwarna hitam itu dengan jelinya memandang diri Liem Tou lalu kirim satu senyuman lucu kepadanya.

Liem Tou yang melihat tubuh bocah cilik itu diam diam didalam hatinya merasa sedikit berdebar. Sungguh tidak kusangka di rumah seorang pe tani tua ini ternyata terdapat seorang bocah yang mempunyai tulang serta bakat alam yang demikian bagusnya, demikianlah pikirnya di dalam hati.