Raja Silat Jilid 21

 
Jilid 21

Karena lenyapnya si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie ditawan orang, dalam hati Liem Tou benar benar merasakan hatinya amat bingung sekali, sekalipun dia sudah bolak balik tapi tetap tidak bisa tidur juga.

Beberapa saat kemudian dia mulai merasakan matanya memberat, baru saja dia mau tertidur pulas tiba tiba .. ...

Suara Khiem yang amat merdu dengan halusnya mengalun memecahkan kesunyian, walaupun Liem Tou sama sekali tidak mengerti akan ilmu bunyi bunyian tetapi ditengah malam yang begitu sunyi mendadak berkumandang alunan Khiem, tak terasa lagi membuat hatinya merasa amat curiga sekali.

Aaah suara itu berasal dari mana? pikirnya. Terang terangan aku sudah memeriksa setiap rumah jangan dikata orang bermain Khiem sekalipun lampu jaga tidak kelihatan disulut, hal ini sungguh aneh sekali. Berpikir sampai disitu dia segera menghubungkan peristiwa itu dengan orang orang dari Kiem Thien Pay, tidak terasa lagi semangatnya berkobar kembali dan meloncat dari atas tanah.

Tubuhnya dengan amat cepatnya lantas berlari menuju ke arah dimana berasalnya suara Khiem tersebut.

Tidak jauh dia meninggalkan perkampungan dia sudah bisa membedakan kalau suara Khiem itu mengalun keluar dari ruanah bangunan besar yang tak berpenghum itu Liem Toa semakin dibuat keheranan.

Dia teringat kalau bangunan besar itu sama sekali tidak berpenghuni, rumput tumbuh setinggi lutut pintu serta jendela terpantek kuat bahkan secara samar samar membawa keseraman yang mendirikan bulu roma. Bagaimana suara khiem tersebut bisa mengalun keluar dari tempat itu?

Walaupun dia orang tidak percaya terhadap setan tak urung bulu romanya pada saat itu pada berdiri juga.

Tetapi dikarenakan urusan ini penting sekali dan mempunyai hubungan yang erat dengan lenyapnya si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie dengan cepat tubuhnya melanjutkan perjalanannya kembali menuju ke dalam rumah bangunan itu.

Sesampai di depan tembok halaman dia berhenti sebentar untuk mendengarkan dari mana berasalnya suara khiem tersebut, setelah benar yakin kalau suara tersebut berasal dari dalam bangunan tubuhnya baru melayang dengan cepatnya menuju ke arah dalam.

Siapa tahu baru saja dia tiba di depan halaman suara mengalunnya khiem mendadak berhenti sama sekali. Liem Tou jadi tertegun. Tetapi dengan cepatnya pula dia sudah berkelebat naik ke atas atap rumah lalu meluncur ke bangunan sebelah belakang.

Dengan tanpa mengeluarkan sedikit suarapun dia sudah ada di bangunan yang paling belakang di sana dia sudah menemukan sebuah kebun bunga yang amat besar sekali, ada gunungan, gardu, jembatan kolam teratai cuma saja keadaannya seperti juga di halaman depan sama sekali tidak terawat bahkan tidak tampak sesosok bayangan manusiapun.

Liem Tou segara meloncat naik ke atas gunungan dan berpikir bebarapa saat lamanya terhadap munculnya suara khiem yang secara mendadak itu dia merasa sangat tidak paham, sehingga hatinyapun terasa amat murung sekali.

Mendadak. . .dia menemukan di sebelah kiri dari kebun bunga itu terdapat serentetan tembok berwarna putih, di tengah tembok muncullah sebuah pintu berbentuk bulat, pikirannya segera menjadi tenang kembali.

Tubuhnya dengan cepat berkelebat menuju ke sana dia bisa melihat sebuah bangunan loteng yang amat indah sekali dengan ukiran yang menawan muncul dihadapannva, bangunan itu sangat megah dan di ke dua sampingnya tumbuh dengan sebuah pohon siong yang amat besar sekali, maka diam diam Liem Tou berpikir.

Tidak disangka ditempat yang demikian tidak terurusnya bisa muncul sebuah bangunan yang demikian indahnya, hal ini sungguh berada di luar dugaan.

Dia lantas meloncat naik keatas loteng dan memeriksa keadaan di sekitar tempat itu, tampak pintu serta jendela tertutup rapat, sama sekali tidak menemukan sesuatu apapun, dia meloncat pula ke atas pohon siong yang lebat itu dan memeriksa kembali dengan telitinya, tetapi tetap saja tidak tampak adanya tanda-tanda yang mencurigakan.

Jikalau ditinjau dari keadaan ini jelas sekali tempat ini suduh tak berpenghuni lagi, tidak di sangka dalam setengah malaman dia harus menubruk angin saja, sungguh menggelikan sekali. Berpikir akan hal ini semangat Liem Tou pun mengendor kembali, dengan lemasnya dia meloncat turun kepermukaan tanah lalu kembali ke desa dengan langkah perlahan.

Sesampainya didusun sinar surya sudah muncul di ufuk sebelah barat, orang dusun pun sudah mulai bangun dan pada berangkat bekerja.

Liem Tou yang masih tetap menaruh curiga terhadap perkampungan tersebut kepada seorang petani yang hendak ke sawah dia menanyakan bangunan rumah itu.

Orang itu ketika mendengar Liem Tou menanyakan bangunan itu dia melirik sekejap ke arahnya lantas dengan tidak semangat sahutnya.

"Rumah setan."

Sewaktu Liem Tou hendak bertanya kembali orang itu tanpa menoleh lagi sudah melanjut kembali perjalanannya menuju ke depan.

Liem Tou tidak bisa berbuat apa apa lagi sesampainya di dalam dusun itu dia berjalan masuk ke sebuah rumah makan yang baru saja buka pintu.

Ketika pelayan rumah makan itu melibat Liem Tou berjalan masuk ke kedainye dengan agak tertegun dia segera bertanya.

"Khek koan kau datang sebegitu paginya kami tak ada barang yang bisa dijual."

"Tidak mengapa" sahut Liem Tou sambil tertawa. Aku mau menunggu sampai kalian ada makanan yang dijual.

Dia berhenti sebentar untuk tukar napas lalu tanyanya lagi. "Dagangan dari kalian dalam waktu dekat ini tentunya

ramai bukan ?" Maksud Liem Tou dia ingin memancing jawaban dari pelayan itu apakah di tempat ini telah kedatangan orang asing.

Pelayan itu agak melengak.

Perkataan dari Khek koan terlalu berlebihan dagangan kedai kami sepi sekali bahkan boleh dikata pada waktu waktu dekat ini sama sekali tidak ada dagangan. . Heeei . . tahun ini dagangan sungguh amat sepi sekali.

Berbicara sampai disini dia menghela napas lagi dengan perlahan.

Eeei . . aku dengar pada beberapa hari ini ada banyak orang asing yang datang kemari dan menginap di bangunan rumah besar itu, apa kau tidak pernah mendengar? tiba tiba kata Liem Tou dengan wajah serius.

Mendengar perkataan tersebut, dengan sepasang mata melotot lebar lebar pelayan itu lama sekali memperhatikan diri Liem Tou.

"Siapa yang bilang?" tanyanya. Sejak tiga tahun yang lalu Cing Hoa Cung sudah tak ada yang berani tinggali lagi, katanya ada siluman rase yang main gila di sana, pada hari yang lalu bahkan ada yang melihat siluman rase itu main Khiem di bawah sorotan sinar bulan purnama katanya siluman rase itu adalah seorang gadis yang amat cantik sekali.

Mendengar omongan itu diam diam dalam hati Liem Tou berpikir.

Apa sungguh sungguh terjadi urusan ini??? Hmm, aku Liem Tou tidak akan mau percaya omongan tersebut, malam ini aku harus pergi ke sana untuK mengadakan penyelidikan, sekali pun dia adalah siluman rase, setan atau iblis aku juga harus melihatnya sampai jelas. Satelah mengambil keputusan didalam hati dia pun tidak bertanya lebih lanjut, denpan tenangnya dia menanti adanya makanan yang dihidangkan kepadanya.

Selesai itu dia baru melanjutkan perjalanannya menuju ke arah timur dan duduk beristirahat di bawah sebuah pohon besar di bawah kaki gunung.

Malamnya dia kembali lagi ke perkampungan tersebut, kurang lebih setelah kentongan kedua suara khiem yang muncul dari dalam perkampungan Cing Hoa Cung tersebut mulailah mengalun kembali dengan tenangnya, walaupun suara khiem itu amat halus merdu dan enak didengar tetapi membawakan nada yang amat sedih sekali, saking sedihnya sampai Liem Tou pun bisa merasakan.

Dia sudah hafal dengan jalan di sana, hanya di dalam sekejap saja sudah tiba di depan perkampungan tersebut dan meloncat melewati tembok pekarangan langsung menuju ke kebun belakang, setelah itu dengan langkah yang amat perlahan baru berjalan melewati pintu bundar tersebut.

Tubuhnya bersembunyi di tempat kegelapan, dengan meminjam sinar rembulan yang samar dia memandang keatas.

Seketika itu juga tampaklah seorang gadis dengan rambut yang terurai panjang sedang duduk di atas loteng tersebut bermain khiem, jari jari tangannya yang putih dan halus seperti salju dengan tak henti hentinya bergerak diantara tali khiem, kepalanya di dongakkan ke atas memandang rembulan sehingga keadaannya amat mempesonakan.

Tidak lama kemudian sembari bermain khiem dia mulai menyanyi dengan suaranya yang amat merdu.

Angin malam bertiup menyapu bintang. Duduk termenung di atas loteng menanti kekasih. Sepasang burung hong terbang berpasangan. Membuat hati terasa amat sedih. . .

Liem Tou dapat melihat seluruh keadaan itu dengan amat jelas sekali, dia tidak ragu ragu lagi kalau orang itu adalah seorang gadis benar, dia tahu cepat atau lambat tentu dirinya akan menganggu dia orang juga kerena itu jauh iebih baik munculkan dirinya pada saat ini juga.

berpikir sampai disitu dia orang lantas munculkan dirinya ke tempat yang lebih terang, lalu dengan hormatnya dia menjura kearah sang gadis yang ada diatas loteng itu

Siauwseng Liem Tou tidak sengaja datang kemari sehingga bisa melihat kecantikan wajah nona, sungguh merupakan satu keberuntungan selama hidupku, ujarnya dengan perlahan.

Liem Tou sebetulnya adalah seorang lelaki sejati yang berhati polos suka berterus tersng, saat ini dia harus memperlihatkan sikap yang ramah taman dan menarik perhatian perempuan tidak urung kelihatan kaku juga, sekali pun wajahnya amat tampan tetapi senyuman yang menghias bibirnya pada saat ini jauh lebih mirip dengan keadaan seorang desa yang merasa malu.

Begitu suara dan Liem Tou berkumandang ke luar agaknya perempuan yaag ada di atas loteng merasa sangat terkejut sekali, suara khiemnya mendadak bernenii lalu dia tunjukkan kepalanya memandang ke arah Liem Tou dengan menggunakan sepasang matanya yang amat jeli itu.

Dengan gugup sekali Liem Tou menjura.

"Malam ini Siauw seng bisa menemui wajah nona. dalam hati aku merasa kagum sekali entah siapakah nama nona itu ? Dapatkah di beri tahukan ?

Semula gadis itu memang rada terkejut tetapi saat ini sewaktu melihat keadaan Liem Tou yang sangat lucu sekali tidak tertahan lagi dia tertawa geli sehingga kelihatan sebaris gigi yang putih bersih, dengan perlahan dia putar badannya dan lenyap di balik loteng.

"Asal aku tahu kau berada dimana apa kau kira kau bisa meloloskan diri ?" Pikir Liem Tou di dalam hatinya. Kau orang adalah siluman rase atau setan aku pasti akan menyelidikinya sampai jelas.

Berpikir sampai di sini dengan menyalurkan hawa murninya melindungi seluruh tubuh dan menyilangkan telapak tangannya di depan dada tubuhnya deagan gaya bangau sakti menembus awan dengan cepat meluncur naik ke atas loteng itu.

Siapa tahu baru saja tubuhnya hampir mencapai permukaan loteng terdengarlah perempuan itu sudah memaki sambil tertawa.

"Dari mana datang seorang lelaki bau, ayob cepat menggelinding dari kamar nonamu"

Bersamaan dengan kata katanya itu Liem Tou segera merasakan adanya segulung angin pukulan yang amat keras sekali menghajar badannya.

Walaupun di dalam hati diam diam dia merasa amat terperanjat tetapi pikirannya juga di dalam hati.

Dengan mengandalkan kau seorang perempuan apa bisa menahan serangan dari diriku?"

Ternyata dia orang sama sekali tidak menghindarkan diri dari datangnya serangan yang menghajar dadanya itu, telapak tangan yang di pentangkan di depan dada dengan keras lawan keras menerima datangnya serangan tersebut.

Dua gulung angin pukulan yang amat dahsyat segera bertemu di tengah angkasa, akhirnya Liem Tou yang sepasang kakinya belum menempel tanah terkena getaran dari pihak lawan sehingga berjumpalitan melayang turun kembali, keatas tanah.. Diikuti belum sampai badannya mencapai tanah sekali lagi dia bersalto di tengah udara kemudian baru melayang dengan tenangnya ke atas tanah.

Sungguh berbahaya, seru Liem Toa diam diam.

Dengan termangu mangu dia berdiri tertegun di sana beberapa saat lamanya, dia cuma merasakan perbagai macam persoalan bersama sama memenuhi benaknya, pikirnya kembali.

Sungguh lihay orang itu, aku dengar siluman rase cuma bisa melatih ilmu ilmu yang tidak bisa mati tetapi apakah merekapun bisa berhasil melatih ilmu Iweekang untuk melindungi badan dan menyerang orang.

Liem Tou yang menerima serangan tadi dengan keras lawan keras segera merasakan kalau pihak lawan sama sekali tidak menggunakan ilmu hitam lainnya tetapi tertahan oleh ilmu pukulan dengan tenaga khiekang yang amat dahsyat, karenanya dia merasa kebingungan. 

Lama sekali dia berdiri termangu di atas tanah keadaannya seperti juga seseorang yang dimasuki oleh setan.

Pada saat Liem Tou berdiri tertegun dai tidak paham atas beberapa persoalan yang membingungkan hatinya itulah mendadak pandangannya menjadi terang benderang, diatas loteng itu mendadak tampak lampu yang menerangi seluruh ruangan.

Liem Tou segera mendongakkan kepalannyi memandang tampaklah sekalipun pintu serta jendela dari loteng itu masih tertutup tetap dsri celah celah yang agak besar serta dari bilik korden dia melihat munculnya bcberaps dosok bayangan perempuan dengan rambutnys yang terurai panjang.

Dalam hati Liem Tou jadi terperanjat, pikirnya. Bagaimana hanya di dalam sekejap saja sudah muncul empat orang perempuan?? tempat ini sungguh berbau hawa setan.

Baru saja dia berpikir sampai disitu mendadak terdengarlah suara kbiem itu berkumandang kembali disusul dengan suara alunan seruling yang amat merdu mengiringinya.

Liem Ton yang mendengar suara seruling itu segera merasa kalau seruling itu bukan lain berasal dari seruling pualam milik si gadis cantik pengangon kambing, tidak terasa lagi semangatnya berkobar kembali, gumamnya seorang diri.

Liem Tou . . Liem Tou. . malam ini untuk pertama kalinya kau bertemu dengan musuh tangguh, tidak perduli dia orang siluman rase atau malaikat iblis yang bigaimana lihaynya pun malam ini kau harus pergi mencoba ilmunya.

Setelah mengambil keputusan ini dia segera bersiap untuk meloncat kembali ke atas loteng.

Pada saat itulah pintu serta jendela dari loteng itu mendadak terpentang lebar. Lism Tou merasa matanya agak silau kemudian jelaslah si gadis cantik pengangon kambing serta Li -Siauw Ie berada di antara keempat orang perempuan itu.

Pada tangan dari gadis cantik pengangon kambing mencekal seruling pualamnya, tatapi

dia tidak meniupnya melainkan cuma dipegang ditangannya saja.

Urusan ini benar benar berada diluar dugaan Liem Tou semula membuat dia menjadi sangat terperanjat sekali dengan cepat dia mengirimkan ilmu untuk menyampaikan suaranya bertanya depada si gadis cantik pengangon kan bing serta Lie Siauw Ie.

Ie cici, Wan moay moay bagaimana kau bisa ada disini? siapakah kedua orang perempuan itu. Sembari berkata sepasang matanya dengan amat tajam sekali memperhatikan diri si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie melihat mereka berdua itu sama sekali tidak memberikan jawabannya bahkan si gadis cantik pengangon kambing yang memegang seruling itu duduk seperti patung, dalam hati dia jadi amat kaget.

Liem Tou yang melihat kejadian itu semakin lama merasa keadaan semakin tidak beres, dengan cepat dia membentak keras.

Ie cici, Wan moay moay.

Bagaikan bertiupnya angin taufan yang berlalu dengan amat cepat tubuhnya meloncat naik ke atas loteng kemudian menubruk Lie Siauw Ie serta si gadis cantik pengangon kambing.

Gadis berambut panjang yang ada di sebelah kanan mendadak bangun bsrdiri.

Mereka berdua cuma tertotok tidur pulas saja, bust apa kau orang begitu cemasnya ? Ujarnya sambil mengibaskan kedua tangannya.

Liem Tou segera merasakan tekanan sagulung angin yang amat dahsyat seperti semula menahan gerakannya untuk mendekati diri Lie Siauw Ie serta si gadis cantik pengangon kambing itu.

Dia yang mendengarkan kedua orang itu cuma tertotok tidur, di dalam hati segera rada lega juga.

Terhadap datangnya serangan dari si gadis yang amat dahsyat itu dia tak berpikir panjang lagi, mendadak telapak tangannya di dorong ke depan sehingga terasalah segulung angin pukulan laksana menggulungnya ombak di tengah samudra dengan dahsyatnya menekan gadis itu.

Kau manusia atau setan??" bentaknya keras Agaknya gadis itu tahu kalau serangan dari Liem Tou itu amat dahsyat sekali sehingga tidak berani menyambut dengan keras lawan keras, tubuhnya segera menyingkir ke samping menghindarkan diri dari serangan tersebut bersamaan pula dia menarik seorang perempuan berbaju hijau yang lantas berdiri di samping.

Piaak. , ."pukulan dari Liem Tou seketika itu juga menghajar di atas jendela berukir diatas loteng itu sehingga hancur berantakan.

Melihat hal itu si gadis segera tertawa dingin.

Kalau mau berkelahi benar benar siapa yang takut dengan dirimu?? buat apa kau orang memperlihatkan kelihayan dihadapanku??"

Liem Tou segera putar badannya siap melancarkan serangannya kembali, tetapi secara tiba tiba dia menyadari kalau perempuan berbaju hijau itu bukan lain adalah Toa Kong cu dari Kiem Ihien pay, Ciang Beng Hu yang tempo hari sudah terluka di bawah serangannya.

Sewaktu dia memandang pula ke arah gadis yang rambutnya terurai ke bawah itu mendadak dia merasa kalau dia orang pernah bertemu dengan dirinya di suatu tempat.

Saat ini perempuan dengan rambut terurai ke bawah itu sudah membereskan rambutnya ke belakang dan melepaskan pakaian luarnya sehingga tampaklah pakaian singsat berwarna hitamnya dengan sebuah medali tergantung didepan dadanya.

Seketika Itu juga Liem Tou menjadi sadar kembali, mendadak dia tertawa terbahak bahak.

Sungguh tajam sekali perasaanmu . .haa..haa haa, kiranya adalah kau seorang.

Perempuan itu memangnya si perempnsn tunggal Touw Hong adanya, mendengar perkataan itu tak terasa lagi wajahnya berubah memerah tetapi di dalam sekejap saja sudah lenyap kembali seperti biasa.

Kalau memang aku adanya kau orang mau berbuat apa? tanyanya dingin.

Aku kira dengan menyaru sebagai siluman rase bisa menakuti diriku?? tanya Liem Tou sambil tertawa dingin.

Tetapi sebentar kemudian di dalam benaknya, sudah berkelebat kembali satu ingatan.

Aku orung kenapa tidak menggunakan medali yang sama untuk membuat dia orang menjadi gusar ? ?

Segera ujarnya lagi.

Kau kira setelah menggantungkan medali perak itu lantas boleh unjuk gigi di depan orang lain ? ? Heee . heee . sungguh menggelikan sekali, kau kira barang itu menarik hati?"

Sembari berkata dari dalam sakunya ia mengambil medali perak yang ditemunya didaiam rumah yang besar di atas gunung Wu san itu lantas digantungkan di depan dadanya.

Di atas medali perak itu terukir juga sebuah gambar burung houg berkaki tunggal persis dengan yang digantungkan di depan dada perempuan tunggal Touw Hong itu, cuma yang tidak sama yang satu pincang kaki kanannya sedang yang lain pincang kaki kirinya.

Si perempuan tunggal Touw Hong sewaktu melihat medali perak yang tergantung di depan dada Liem Tou itu mukanya segera berubah sangat hebat, diikuti air mata mengucur keluar dengan derasnya.

Mendadak dari empat penjuru loteng tersebut terdengar suitan yang saling sahut menyahut memenuhi angkasa, belum sempat Liem Tou berpikir lebih panjang lagi. Sret . . Sreet, . di dalam sekejap saja terlibatlah berpuluh puluh sosok bayangan manusia dengan cepatnya melayang ke atas loteng dan mengepung tempat itu rapat rapat.

Setelah orang itu berdiri tegak, Liem Tou segera dapat mengenali kalau orang orang itu bukan lain adalah Auw Hay Ong Bo si jari beracun jarum emas, si rase salju, si pembesar buta, si hweesio mayat hidup, si pengemis liar serta seorang manusia tinggi besar yang berjubah lebar bersulamkan naga emas di bawah lindungan empat orang lelaki berbaju hitam yang menyoren pedang pada pinggangnya.

Si orang tua berjubah sulaman naga emas itu berumur kurang lebih lima puluh tahunan dengan alis yang tebal, mata bulat besar, cambang memenuhi seluruh wajah, keningnya menonjol ke depan jelas dia memilik tenaga dalam yang amat lihat sekali, sepasang matanya amat tajam dan memancarkan sinar yang berkilauan sehingga membuat orang yang melihat merasa bergidik.

Pada ujung bibirnya tersungginglah satu senyuman dingin dan memandang ke arah Liem Tou dengan gusar.

Keempat orang lelaki berjubah hitam yang ada dibelakangnya mempunyai wajah yang tampan, yang usianya belum sampai dua puluh tahun.

Tetapi keempat orang itupun memandang ke arah Liem Tou dengan pandangan yang amat gusar, nafsu membunuh menyelimuti wajahnya empat pasang mata dengan mengandung ras benci yang meluap luap memandang ke arahnya tanpa berkedip.

Liem Tou yang melihat situasi dihadapannya pada saat ini segera mengetahui kalau mereka sengaja datang mencari gara gara dengan dirinya di dalam hati diam dia dia merasa sedikit tergetar juga, dia tahu dirinya sudah masuk ke dalam jebakan musuh karenanya seluruh perhatiannya segera dipusatkan untuk menghadapi musuh. "Saudara sekalian harap tahan dulu, aku ada perkataan yang mau ditanyakan kepada dia orang" seru si perempuan tunggal Touw Hong secara tiba tiba sambil melelehkan air mata.

Sehabis berkata dia melirik sekejap kearah si kakek berjubah sulam naga emas serta Auw Hay Ong Bo dua orang, sekalipun mereka nerdia agak ragu ragu dan keberatan tetapi bersama sama mengangguk juga.

Setelah melihat mereka setuju perempuan tunggal Touw Hong dengan cepat segera menuding ke atas medali perak yang tergantung di dada Liem Tou dan tanyanya.

Liem Tou, kau dapatkan benda itu dari mana?

Liem Tou tahu kalau medali perak itu ada sangkut paut dan hubungan yang sangat erat dengan sinar matanya dengan perlahan menyapu sekejap ke arahnya lantas balik tanya dengai suara yang amat dingin.

Lalu kau sendiri dapatkan barang itu dari mana?"

Si perempuan tunggal Touw Hong sama sekali tidak menyangka kalau Liem Toa bisa balik bertanya kepadanya dia agak melengak.

Kau tanya aku, sudah tentu barang ini adalah milikku. Medali perak ini ada di badanku, sudah tentu milikku juga.

Sembari berkata dengan cepatnya dia bergeser ke samping badan si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie.

Segera terdengarlah dari antara orang yang mengepung dirinya ada yang berkata dengan suara yang perlahan.

He . . he . . lihatlah si malaikat tanah mau menyebrang sungai, untuk melindungi dirinya saja tidak sanggup dia masih mau menolong orang lain. Liem Tou tidak ambil gubris dia melirik sekejap ke arah si perempuan tunggal Touw Hong dia menduga dia orang tentu marah.

Siapa tahu si perempuan tunggal Touw Hong cuma tertawa saja kepada dirinya sehingga kelihatan sangat menggiurkan sekali. Liem Tou baru untuk pertama kalinya melihat si perempuan tunggal Touw Hong ini memperlihatkann seanyumnya dengan memakai pakaian singsat berwarna hitam, dia merasa mungkin sekali di balik senyumannya ini tersembunyi suatu siasat licik, karenanya dia orang segera mengerahkan tenaga dalamnya siap siap menghadapi segala kemungkinan

Kalau begitu kau adalah putra dari enciku ujar si perempuan tunggal Touw Hong sambil tartawa manis Kalau bsgitu aku adalah bibimu lalu kenapa kau orang she Lie bukannya she Sun??

Begitu perkataan dari si perempuan tunggal itu diucapkan keluar, Auw Hay Ong sekalian yang mengerubuti tempat itu dengan mata yang terbelalak lebar segera memandang diri si perempuan tunggal itu dengan rasa amat terperanjat, tetapi di antara mereka siapapun tidak ada yang mengucapkan sepatah katapun, pandangannya dengan perlahan dia memperhatikan wajah

Liem Tou menantikan jawabannya.

Si perempuan tunggal pun bisa melihat bagaimana rasa takut orang orang itu atas jawaban yang diberikan oleh Liem Tou, wajahnya dengan perlahan dialihkan ke arah si kakek berjubah sulaman naga emas itu.

Bilamana Liem Tou benar benar adalah saudaraku maka dendam atas terbunuhnya putrimu terpaksa kau orang harus membalasnya sendiri, ujarnya sambil tertawa.

Dengan perlahan si kakek tua berjubah sulaman naga emas itu menyapu sekeliling tempat itu mendadak dia tertawa serak. Dendam ada penyebabnya, hutang ada pemilik nya. Hu ji kami bukannya teriuka ditanganmu bagaimana dendam ini bisa ditempuh pada diri nona Hong? apalagi kami orang orang dari Kiem Thien pay pun berani datang dengan terus terang tentunya berani menghadapinya sendiri, lebih baik nona Hong jangan omong geguyon.

Sembari berkata dia memperlihatkan satu senyuman yang amat seram sekali.

Liem Tou yang mendengar dia berbicara begitu, saat itulah baru tahu kalau si kakek tua berjubah sulaman naga emas itu bukan lain adalah ciangbunjeu dari Kicm Thien pay. Auw Hay Ong Ciang Cau adanya, dia sama sekali tidak menyangka kalau orang yang mempunyai wajah alim itu ternyata mempunyai hati yang licik sukar untuk diduga, cukup dari senyuman serta pembicaraannya saja Liem Tou bisa menduga delapan sembilan bagian.

Si perempuan tunggal Touw Hong sewaktu mendengar perkataan dari Auw Hay Ong itu Air mukanya segera berubah jadi adem.

Ciss..,perkataanku sama sekali bukan omongan guyon belaka, ujarnya dengan serius. Terus terang saja aku beritahukan kepadamu.aku bisa turun gunung semuanya dikarenakan atas undanganmu untuk datang ke daerah Tionggoan dengan menggantungkan medali perak ini.

Tetapi yang didapatkan bukannya mencari ciciku melainkan cari gara gara terus sekarang medali perak dari ciciku sudah muncul sudah tentu berarti juga aku telah menemukan separuh dari ciciku sejak kini aku pun tidak usah menemui banyak urusan lagi.

Liem Tou sama sekeli tidak menyangka kalau medali perak itu bisa menghapuskan ikatan musuh dengan perempuan tunggal ini, tetapi dia mana mungkin adalah putra dari cicinya? yang dimaksudkan sebagai cicinya itu kemungkinan sekali adalah perempuan berbaju putih yang ditemuinya di dalam rumah besar diatas gunung wusan itu, dia orang sudah menyanggupi untuk menceritakan satu satunya putra kesayangannya Sun Ci Sie bahkan mendapat beban juga untuk memberitahu kepadanya kalau musuh besarnya adalah Kioe Lang Wau Kauw sungguh tidak disangka sama sekali ternyata ini hari dia orang sudah dianggap sebagai Sun Ci Sie bukankah satu kesusahan dditambahi dengan satu kesalahan lagi?"

Sebetulnya dia orang mau memberitahu keadaan yang sesungguhnya kepada perempuan itu tetapi di dalam sekejap saja dia melihat air muka Auw Hay Ong serta Auw Hay Ong Bo berubah amat hebat.

"Sekarang perkataanku sudah aku ucapkan dengan jelas terdengar si perempuan tunggal Touw Hong melanjutkan kembali kata katanya dengan amat dingin. Siapa saja diantara kalian kalau ada yang berani mengganggu seujung rambutnya aku segera turun tangan membinasakan dirinya.

Liem Tou yang mendengar perkataan itu diam diam merasa geli, dengan mengambil kesempatan ini dia bergeser kembali dua langkah ke belakang.

Waktu itulah dia bisa melihat keadaan si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie, wajah mereka tenang tenang saja dan berwarna merah padam, sedikitpun tidak kelihatan luka.

Tujuan kedatangannya kali ini sebetulnya memang ingin menolong kedua orang itu tetapi jikalau mereka tertidur terus dengan nyenyaknya dia harus menolong mereka dengan apa?? baru saja dia orang hendak menyadarkan kedua orang itu mendadak terdengar si peremnuan tunggal Touw Hong sudah berkata kembali.

Liem Tou. dimanakah ibumu? ? Aku tidak punya ibu, sahut Liem Tou sembari menoleh ke arahnya.

Tangan kanannya dengan cepat ditepukkan ke atas punggung diri si gadis cantik pengangon kambing.

Mendadak dari samping badannya bergulung mendatang serentetan hawa pukulan yang amat dahsyat sekali menghajar badannya, dengan tergesa gesa Liem Tou kirim satu pukulan menangkisnya.

Tahan, terdengar si Auw Hay Ong berteriak keras.

Kemudian kepada si perempuan tunggul ujarnya.

Perkataan dari nona Hong sedikitpun tidak salah, tetapi jikalau dia orang adalah putra dari encimu kenapa sama sekali tidak kelihatan terharu? apa mungkin ini hanya siasatnya saja? nona Hoag kau orang jangan sampai termakan siasatnya.

Mendengar perkataan tersebut si perempuan tunggal Touw Hong sama sekali tidak mengucapkan sepatah katapun dengan perlahan dia berjalan kurang lebih beberapa depa di depan Liem Tou.

Liem Tou, ujarnya kembali. Sebetulnya apa betul medali perak itu kau dapatkan dari ibumu?

Dalam hati Liem Tou tahu kalau malam ini urusan tidak bisa diselesaikan dengan mudah, jikalau tebalkan muka dia mengaku sebagai anak oraag lain bukankah urusan ini sangat memalukan sekali? tetapi diapun tabu jikalau dia orang berbicara terus terang kemungkinan sekali si perempuan tunggal itu segera akan mmenganggap musuh dengan dirinya.

Kepandaian silat dari parenpum ini sangat tinggi sekali, Walaupun dia orang sama sekali tidak takut dengan dirinya tetapi untuk turun tangan menolong si gadis cantik pengangon kambing dan Lie Siauw Ie tentu bakal menemui kesukaran.

Tidak terasa lagi Liem Toa termenung dan berpikir keras. "Kau orang minta aku beritahu soal apa??" Akhirnya dia berkata juga sambil angkat kepalanya.

Sepasang mata dari Si perempuan tunggal itu dengan tajamnya memperhatikan dirinya terus, sedang semua jago yang ada disekeliling tempat itupun pada melototi dirinya dengan tajam, hai ini membuat Liem Tou agak bergidik juga.

"Aku mau kau orang ngonaong terus terang" sahut si perempuan tunggal Touw Hong dengan cepat.

"Baiklah" sahut Liem Tou kemudian tidak ragu ragu lagi. Aku memperoleh medali perak ini dari dada sebuah kerangka manusia.

Mendengar perkataan tersebut si perempuan tunggal Touw Hong merasakan kepalanya seperti dipukul dengan martil besar, seperti juga disambar petir di siang hari bolong, segera dia berteriak kalap.

"Liem Tou, kau ulangi sekali lagi" Medali perak itu aku dapatk in di atas dada sebuah kerangka manusia di atas pegunungan yang amat sunyi.

Seketika itu juga si perempuan tunggal Touw Hong menangis tersedu sedu air matanya mengucur keluar dengan derasnya sehingga laksana air sungai Tiang Kang yang meluap.

"Ah .. dialah ciciku . . dialah ciciku ooh . . cici, kiranya kau orang sudah meninggal, aku sampai sekarang masih mencari dirimu" teriaknya dengan sedih.

Sembari menangis dia berteriak teriak dengan amat kerasnya, seketika itu juga membuat semua orang dari Kiem Tian Pay yang berada disekeliling tempat itu menjadi tertegun.

Dengan mengambil kesempatan itu Liem Tou segera maju lagi satu langkah menepuk sadar diri si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie. Baru saja kedua orang itu menjerit kaget dan sadar kembali dari pulasnya pada saat yang bersamaan pula terdengar si perempuan tunggal Touw Hong sudah berteriak gusar.

"Liem Tou kau sudah mencelakai ciciku!"

Baru saja Liem Tou mau membantah mendadak dia merasakan adanya segulung angin pukulan yang amat dahsyat sekali menggulimg datang.

Liem Tou sama sekah tidak menduga kalau si perempuan tunggal Touw Hong bsa melancarka serangan dengan begitu cepatnya. Jikalau dia menghindarkan diri tentu si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie yang berada di belakangnya akan terkena serangan tersebut, terpaksa dia kirim satu pukulan juga menerima datangnya serangan tersebut dengan keras lawan keras.

Dua gulung angin pukulan segera bertemu di tengah udara.

Braaak seketika itu juga angin topan melanda seluruh loteng membuat atap serta jendela pada beterbangan. Para jago yang hadir di sanapun tidak terasa pada berubah air mukanya.

Walaupun Liem Tou tahu kedudukan dari pihak musuh amat tangguh sekali, teapi melihat keberangasan dari si perempuan tunggal Touw Hong tidak terasa menjadi gusar juga, sepasang matanya melotot lebar lebar memancarkan sinar yang amat tajam, diapun membentak dengan keras.

Nona Touw Hong sungguh ganas dan berangasannya, mungkin orang orang Kiem Thien Pay takut akan dirimu, tetapi aku Liem Tou sama sekali tidak akan takut kepadamu.

Sambil berkata dia menyapu sekejap ke arah sekeliling tempat itu, ketika dilihatnya sepasang mata dari Auw Hay Ong serta Auw Hay Ong Bo sedang memandangi dirinya dengan amat gusar dia segera tertawa dingin.

"Hmmm... He...he..." Liem Tou, tiba tiba terdengar seseorang berseru sambil tertawa serem. Kau orang tidakusah memperlihatkan sifatmu yang begitu keren, jangan dikata kau adalah panglima yang pernah dikalahkan ditangan kamu sekalipun bukan, dihadapan kami orang kau janganlah harap bisa bermain gila.

Sambil berkata dia berjalan keluar dari barisan dan sambungnya lagi.

Biarlah aku menjajal kepadaian silat dari kawan yang sudah setahun tidak bertemu muka, apakah ketajaman lidahnya sesuai dengan kepandaian yang dimilikinya.

Liem Tou dengan cepat putar kepalanya memandang ke arah senjata orang itu, ternyata bukan lain adalah si jari beracun jarum Song Ceng lam, melihat wajah yang menyengir kejam serta senyuman dingin yang

menghiasi bibirnya diam diam di dalam hatinya merasa terperanjat.

Bajingan cilik, makinya di dalam bati. Malam ini jikalau kau orang kembali lolos dari tanganku makan orang tidak akan she Liem lagi.

Si gadis cantik pengangon kambing yang melihat wajah orang itu amat seram, karena takut Liem Tou kena kecundang di tangannya dia orang segera memberi peringatan.

Liem koko, serunya dengan keras. Biarlah Siauw moay yang menyambut orang itu, aku mau lihat dia orang mempunya kepadaian berapa tingginya.

Musuh tangguh ada di depan mata, nanti kaupun akan mendapat bagian, ujar Liem Tou segera dengan wajah serius. Lebih baik kau berjaga jaga terhadap dirimu, janganlah sampai dipecundangi orang lain dengan pinjam kesempatan ini, urusan yang ada disini lebih baik kau jangan ikut campur.

Tou titi, kau lebih baik jangan menempuh bahaya, terdengar Lie Siauw Ie memberi peringatan pula. Ie cici, Wan moay moay terima kasih atas rasa kuatir kalian, teriak Liem Tou dengan keras. Aku seorang lelaki sejati kenapa harus takut menempuh bahaya?? Hey orang She Song kalu kau benar benar punya kepadaian ayohh keluarkan, aku Liem Tou akan mengalah tiga jurus kepadamu.

Si jari beracun jarum emas, Song Beng lan segera mendengus dengan amat dinginnya, mendadak tubuhnya maju dua langkah ke depan, telapak kiri serta kepalan tangan kanannya dengan amat dahsyat dipentangkan melancarkan satu pukulan dahsyat menghajar dada dari Liem Tou, sedang yang lain mengancam jalan darah diatas keningnya.

Liem Tou dengan cepat menggeserkan badannya ke samping tanpa mengubah kedudukan kakinya yang semula, dengan amat mudahnya dia berhasil menghindarkan diri dari serangan tersebut.

Si jari beracun jarum emas dengan cepatnya mengubah serangannya, telapak tangan kanannya mendadak berubah jadi totokan bagaikan kilat cepatnya menghajar pusar dari Liem Tou sedangkan tangannya yang sebelah lagi mengambil kesempatan itu meraup segenggam senjata rahasia.

Liem Tou yang melihat hal itu cuma mendengus dingin saja, dengan cepat dia menarik dadanya kebelakang menghindarkan diri dari serangan tersebut.

Si jari beracun emas yang melihat jari tangannya yang hampir mengenai dada Liem Tou mendadak hanya mencapai sasaran yang kosong, dia menjadi amat gusar sekali.

Liem Tou, teriaknya dengan gusar, saat kematianmu sudah tiba, hari ini pada setahun kemudian adalah ulang tahunmu yang pertama dari kematianmu.

Sewaktu dia orang melancarkan jurus yang kedua itu, Liem Tou sudah mengadakan persiapan. Diapun segera tertawa dingin. Aku k'ra belum tentu" sahutnya.

Tenaga sakti yang ada di badannya segera disalurkan mengelilingi seluruh tubuh lantas teriaknya dengan keras.

Ie cici, Wan Moay Moay. baik baiklah kalian berjaga diri.

Tidak berpikir panjang lagi, bukannya tidak menghindar bahkan dia memapaki datangnya serangan dahsyat yang dilancarkan oleh Song Beng Lan itu.

Tubuhnya segera melayang ke atas udara ternyata jarum jarum racun yang dilancarkan oleh Song Beng Lan sama sekali tidak berguna terhadap dirinya membuat Auw Hay Ong Bo yang melihat jelas keadaan itu segera berteriak kaget.

Belum sempat dia memberikan pertolongannya, Liem Tou yang ada diatas udara sudah berhasil mencengkram belakang leher dari Song Beng Lan lantas putar setengah lingkaran di tengah udara dan melayang turun kembali ke atas permukaan tanah.

Dia orang lantas kirim satu senyuman mengejek ke arash si perempuan tunggal Touw Hong, Auw Hay Ong serta Auw Hay Ong Bo.

Beberapa orang itu ketika melihat Liem Tou hanya di dalam sekali gebrak saja sudah berhasil menguasai diri Song Beng Lan, dalam hati merasa terperanjat sekali mereka sama sekali bukannya kaget karena keselamatan dari Song Beng Lan terancam melainkan karena melihat ilmu sakti dari Liem Tou yang sama sekali tidak takut terhadap serangan jarum emas itu.

Liem Tou yang melihat orang orang itu memandang kearahnya dengan termangu mangu segera mengetahui kalau ada orang turun tangan membinasakan Song Beng Lan maka para jago lainnya segera akan turun tangan mengerubuti dirinya, tetapi sejak tadi dia orang sudah mengambil keputusan untuk membinasan si jari beracun emas ini. Sudah tentu dia tidak mau melepaskan dirinya dengan begitu saja.

Berpikir akan hal itu napsu untuk membunuh segera menyelimuti wajahnya, pikirnya kembali.

Jikalau ini hari aku tidak mengobrak abrik mereka sehingga kacau balau, tentu mereka masih mengira aku Liem Tou adalah seorang manusia yang mudah dipermainkan.

Dia segera menggigit kencang bibirnya lantas berteriak dengan amat keras.

"Hey orang orang Kiem Thien Pay kalian dengarlah semua, sakit hati ada panyebabnya hutang ada pemiliknya, kalian lebih baik turun tangan bersama sama saja."

Dsngaa cepat dia mencekal ujung kaki dari Song Beng Lan dan digunakan sebagai senjata yang secara tiba tiba dibabat dari arah Auw Hay Ong dari Kiem Thien Pay itu.

Dengan perbuatannya Ini seketika itu juga memancing rasa gusar dari seluruh oraag Khiem Thien pay terdengarlah suara bentakan gusar dari seluruh orang Khiem Thien Pay terdengarlah suara bentakan gusar memenuhi seluruh angkasa disusul berkelebatnya sinar tajam yang menyilaukan mata. Berbagai senjata tajam segera pada menyerang dari empat penjuru.

Dengan amat lincahnya Liem Tou mengobat ngabitkan tubuh si jari beracun jarum emas untuk menerjang ke kanan menghajar ke kiri, lagaknya mirip sekali dengan singa ganas yang terlepas dari kandangnya.

Siapa saja yang berani mendekati badannya seketika itu juga akan terhajar oleh serangannya membuat orang orang dari Kiem Thien pay menjadi kebingungan dan pada mundur berantaran.

Melibat kejadian itu Liem Tou segera tertawa, terbahak bahak. Haa. .. .haa. haa Hay orang Kiem Thien Pay kaiian

semua adalah gentong gentong nasi yang sama sekali tidak berguna, kau goblok, dungu has. buat apa kalian datang ke

daerah Tionggoan?? kalian jangan sampai membuat orang kang ouw kegelisahan sehingga tertawa kelepasan gigi depannya.

Baru saja dia berbicara sampai disitu mendadak terdengarlah suara bentakan yang amat keras sehingga menggetarkan seluruh ruangan dari loteng lersebut.

Liem Tou jadi terperanjat, dengan cepat dia melirik sekejap ke arah orang itu yang ternyata bukan lain adalah Auw Hay Ong, diam diam pikirnya.

Nama besar dari Auw Hay Ong ternyata bukanlah berita kosong belaka, cuma sayang kehebatannya masih tidak seberapa, tenaga dalam yang kau miliki saat ini masih tetap kalah satu tingkat dengan tenaga dalamnya Thian pian Siauw cu, kenapa aku harus takuti dirimu?"

Baru saja Liem Tou berpikir akan hal itu, terlihatlah berkelebatnya sinar emas yang menyilaukan mata tubuh Auw Hay Ong bagaikan bertiupnya angin berlalu dengan amat cepatnya sudah menerjang ke depan.

Para jago dari Kiem Thien Pay lainnya sewaktu melibat pimpinannya sudah turun tangan tentu cepat cepat pada mengundurkan dirinya ke belakang dan menonton di samping kalangan

Terhadap para jago yang ada disana Liem Tou sama sekali tidak mengambil perhatian di dalam hatinya diam diam cuma memperhitungkan serangan bokongan dari si perempuan tunggal Touw Hong itu.

Pada saat dilihatnya si perempuan tunggal Touw Hong cuma berpeluk tangan saja berdiri di samping tanpa bermaksud turun tangan hatinya baru merasa rada lega. Dengan perlahan kepalanya ditoleh kembali ke arah Auw Hay Ong yang saat ini saking khekhienya sudah berkaok kaok seperti halnya tiga ekor babi yang disembelih.

Oooh . . kau orang ternyata Ciang Tiau itu manusia yaug sudah dikalahkan oleh Thian Piu Siauw cu, haa . . ha . , bagus bagus sekali. Seru Liem Tou dengan nada tenang ejek. Coba kau beritahu kepadaku dengan cara bagaimana kau orang bisa terluka? ini hari aku juga mau melukai dirimu seperti apa yang dilakukan oleh dia kemarin hari.

Kekalahan yang diterimanya sewaktu bertempur dengan Thian Pian Siauw cu merupakan suatu peristiwa yang paling memalukan buat dirinya.

Kini lukanya dikorak korek kembali oleh Liem Tou bagaimana tidak membuat orang merasa kegusaran?

Jambangnya yang memenuhi wajahnya pada berdiri seperti kawat, sepasang matanya dipentangkan lebar lebar seperti dua buah bola dengam diiringi suara teriakannya yang amat keras sepasang telapak tangannya bersama didorong ke depan menghajar badan musuhnya.

Segera terasalah segulung angin pukulan laksana melandanya angin taufan dibarengi dengan deburan ombak yang dahsyat menggulung mendatang, Liem Tou segera tertawa geli.

Hawa murninya dikerahkan melalui sepasang kaki dari Song Beng lan dan menyambut datangnya serangan tersebut.

Sebetulnya Auw Hay Ong tidak bermaksud untuk melukai diri dari si jari beracun jarum emas melainkan cuman mau bertempur dengan dirinya, kini melihat Liem You sengaja menggunakan tubuh Song Beng lan untuk menyambut datangnya serangan itu dia menjadi amat terperanjat.

Tetapi dengan cepat dia menambahi lagi tenaganya dengan dua bagian. Pikirnya. Tenaga dalamku yang sudah berhasil dilatih sehingga bisa melukai orang dengan melewati halangan, pukulan ini sekalipun menghajar tubuh Song Beng lan tetapi yang luka adalah Liem Tou.

Di dala sekejap mata itulah pukulan dari Auw Hay ong ini dengan cepatnya sudah berhasil menghajar ubun dari Song Beng lan, tetapi sebejar saja dia sudah merasakan adanya segulung angin pukulan yang jauh lebih dahsyat mengalir dari ubun Song Beng lan itu memukul balik serangannya itu, dia menjadi amat terkejut sekali.

Di tengah suara teriakan yang memekikkan telinga, tenaga dalamnya dikerahkan sampai sepuluh bagian dan disalurkan keluar melalu pukulannya tersebut.

"Rraaak . . . !" ditambah suara benturan yang amat nyaring terasalah suara ledakan yang keras disusul dengan melandanya hawa murni yang menyesakkan dada memenuhi seluruh ruangan dan tiba tiba terlihatlah diantara desiran angin pukulan itu bercampur dengan muncratnya darah mengotori seluruh loteng bahkan setiap orang yang hadir di sana tidak ada yang bisa terhindar dari cipratan darah tersebut.

Bau amis darah bercampur aduk dengan darah membuat membuat orang merasa semakin mual.

Kiranya bentrokan yang terjadi antara Auw Hay Ong dengan Liem Tou tadi terhalang dengan tubuh Song Beng Lan yang ada di tengah.

Karena dahsyatnya bentrokan hawa murni itu, seketika itu juga membuat tubuh Song Beng lan tidak kuat menahan tekanan yang demikian dahsyatnya dan meledak sehingga darah segar beserti isi perutnya pada melayang memenuhi angkasa.

Liem Tou yang melihat Song Beng Lan sudah menemui ajalnya dalam keadaan yang begitu mengerikan sekali, dalam hati tahu mayat tersebut sudah tidak berguna lagi, karenanya dia segera berteriak keras.

"Hey orang she Ciang, sambutlah barangmu ini!"/ Begitu dia selesai berbicara mayat dari Song Beng lan

dengan membawa serti isi perutnya yang pada meledak keluar melayang ke arah diri Auw Hay Ong.

Belum sampai mayat itu tiba potongan daging serta isi perut sudah pada meluncur ke depan. Auw Hay Ong sama sekali tidak menyangka Liem Tou bisa melakukan serangan dengan menggunakan cara seperti ini, tubuhnya dengan cepat menyingkirkan ke samping dibarengi dengan satu pukulan menghajar mayat keluar dari ruangan loteng.

Sekalipun tidak sampai terkena, tidak urung saking gusarnya dia berkaok kaok juga sambil mencak mencak menahan hawa amarahnya.

Sebaliknya Liem Tou malah tertawa terbahak bahak.

Sampai saat ini Auw Hay Ong baru tahu kalau Liem Tou adalah satu satunya musuh yang paling sukar untuk dihadapi, air mukanya segera berubah asem kemudian dengan pandangan yang amat gusar bercampur benci dia orang melototi diri Liem Tou.

Dengan Kejadian ini Auw Hay Ong Bo pun tidak berani berlaku gegabah lagi, dia tahu suaminya Auw Hay ong kembali sudah menemui musuh yang amat tangguh, dia tahu kebiasaan dari Auw Hay Ong jikalau tidak berada dlam keadaan yang kepepet sehingga sama sekali tidak punya pegangan untuk memenangkan pihak lawannya dia orang tidak akan memperlihatkan sikapnya secara begini.

Dengan kejadian ini bersama sama dengan para jago lainnya dia segera berdiri disamping Auw Hay Ong, tanpa mengucapkan sepatah katapun mereka bersiap sedia menghadapi serangan selanjutnya dari Liem Tou. Mendadak si perempuan tunggal Touw Hong yang berdiri disamping tertawa ringan ujarnya.

Kalian berdua apakah hendak mempergunakan cara lama seperti sedang menghadapi diriku dulu untuk menghadapi dia orang?*

Auw Hay Ong melirik sekejap ke arah si perempuan tunggal Touw Hong, air mukanya segera berubah memerah.

Kepandaian orang ini amat tinggi tenaga dalamnyapun amat dahsyat, agaknya tidak berada dibawah kepandaian dari nona Hong ujarnya rikuh.

Kalau memangnya begitu sekalipun kalian berdua turun tangan juga tak ada gunnya, ujar si perempuan tunggal Touw Hong dengan dinginnya.

Beberapa perkataannya ini seketika itu juga membuat air muka Auw Hay Ong serta Auw-Hay Ong Bo berubah jadi pucat pasi. untuk beberapa saat lamanya mereka tidak dapat mengucapkan sepatah katapun.

Dengan menggendong Khiemnya dengan perlahan si perempuan tunggal Touw Hong berjalan meadekati Liem Tou, lantas tanyanya dengan nada serius.

"Liem Tou, apakah ciciku sudah kau binasakan??

Walaupun wajahnya amat tenang tetapi nada suaranya jelas amat mendesak dirinya, Liem Tou mana mau tunduk terhadap dirinya dia malah tertawa dingia.

"Terserah kau orang mau bicara secara bagaimana" sahutnya seenaknya.

"Liem Tou, aku bertanya sungguh sungguh" ujarnya si perempuan tunggal lagi.

"Lalu siapa yang mengajak guyon dengan dirimu?" Sehabis berkata dia melirik sekejap kearahnya lantas menoleh ke arah si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie.

Orang ini berhawa setan, lebih baik kita cepat cepat pergi dari sini ujarnya dengn cepat.

"Ooooh mau pergi ?" tidak begitu mudah, tiba tiba si perempuan tunggal Touw Hong nyeletuk

Mendengar perkataann itu seketika itu juga Liem Tou tertawa terbahak bahak.

Aku Liem Tou, bila ada yang bisa menghalangi diriku?

Bentaknya dengan keras.

Saat ini ia benar benar sudah teramat gusar kepada si gadis cantik pengangon kambing serti Lie Siauw Ie ujarnya lagi.

"Ie cici. Wan moay moay kau berangkatlah terlebih dulu" biar aku yang barjaga jaga dari belakang, aku mau lihat dia orang bisa berbuat apa terhadap diriku ?

"Liem Koko, terdengar si gadis cantik pengangon kambing itu tiba menyela, Ciang cici serta Hong cici sangat baik sekali menghadapi diriku, kau janganlah membuat dia terlalu sedih."

"Tidak usah banyak urusan lagi" ayoh jalan seru Liem Tou sambil kirim satu kerlingan mata kepadanya.

Liem Koko, kau kenapa begitu galak ? teriak si gadis cantik pengangon kambing tiba tiba.

Walaupun dia berkata begitu tetapi kakinya bersama sama Lie Siauw Ie bergeser meninggalkan loteng tersebut.

Jangan pergi, mendadak terdengar suara bentakan dari si perempuan tunggal Touw Hong serta Toa kongcu dari Kiem Thien Pay, Ciang Beng Hu secara berbareng. Baik si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie jadi amat terperanjat sekali, saat itulah mereka baru tahu kalau masing masing orang sudah diliputi hawa amarah yang berkobar kobar.

Lie Siauw Ie yang lebih tua bagaimanapunn juga lebih cermat daripada diri si gadis cantik pengangon kambing melihat kejadian itu, dia segera tahu suatu bentrokan sudah hampir meledak, dirinya yang berjumlah kecil memang lebih baik berlalu saja dari sini.

Nona Ciang, Nona Hong kenapa kalian maah marah?? tanyanya sambil tertawa. Bilamana bukannya atas bantuan dari kedua orang cici, kemungkinan sekali Ie moay moay sudah menemui bencana. Jikalau nona berdua ada perintah silakan berbicara buat apa berteriak teriak begitu ??

Dengan menggandeng tangan si gadis cantik pengangon kambing, dia berjalan ke tempat semula, si perempuan tunggal Touw Hong yang melihat mereka sudah ke tempat asalnya segera dia tertawa dingin.

Bagaimana ?? Kenapa tidak pergi ?? ujarnya kepada diri Liem Tou.

Tindakan yang dilakukan oleh Lie Siaw Ie ini seketika itu juga membuat Liem You menjadi termangu mangu dia memandang ke arash si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siaw Ie yang berdiri di sana sambil tersenyum senyum.

Terlihatlah Lie Siaw Ie serta si gadis cantik pengangon kambing itu mendadak bungkukkan badannya menjura.

Budi kebaikan yang begitu besarnya, kami berdua untuk sementara tidak bisa ...

belum habis dia berkata mendadak teriaknya dengan keras. " Ayoh lari!" Bagaikan dua gulung sinar kilat yang berkelebat di tengah udara mereka berdua dengan cepatnya melayang keluar dari tempat itu.

Menanti si perempuan tunggal serta Kiem Thien Pay sadar, mereka berdua sudah meloncar turun dari loteng tersebut.

Si perempuan tunggal menjadi amat gusar sekali, dia mencak mencak menahan hawa amarahnya yang bergolak semakin membara di dalam dadanya.

Kalian mau lari kemana?? bentaknya dengan keras. Tubuhnay dengan cepat bergerak siap untuk mengejari.

Saat itulah Liem Tou sudah sadar kembali dari lamunannya

mendadak dia melancarkan satu pukulan menghalangi perjalannnya, bentaknya dengan keras.

Mari sini, aku mau bertempur tiga ratus jirus dengan dirimu.

Segulung angin pukulan yang amat kencang segera berkelebat menghalangi perjalanan dari si perempuan tunggal Touw Hong membuat dia orang jadi benar benar mendongkol.

Liem Tou, bentaknya sembari putar tubuh, malam ini ada aku tidak akan ada kau.

Sepasang telapak tangannya segera di dorong ke depan, seketika itu juga bagaikan titikan air hujan yang diselingi angin topan berturut turut dia melancarkan dua belas pukulan dahsyat. Serangannya ganas tenaga dahsyat seketika itu juga membuat seluruh ruangan loteng itu dipenuhi dengan suara angin pukulan yang menderu deru bercampur deagan suara ambruknya jendela dan pintu, membuat suasana menjadi amat kacau sekali.

Liem Tou pun agaknya dibuat terperanjat pula oleh serangan yang amat gencar dari si perempuan tunggal Touw Hong ini, dia tidak berani berlaku gegabah tubuhnya dengan cepat menyingkir ke kiri dan ke kanan menghindar diri dari serangan serangan tersebut.

Tetapi serangan yang dilancarkan perempuan tunggal Touw Hong ini tak ada hentinya, semakin bertempur dia melancarkan serangan semakin gencar membuat Liem Tou lama kelama menjadi gusar juga.

Sepasang alisnya dikerutkan rapat rapat lalu bentaknya dengan keras.

Dimana bisa mengampuni orang laim ampunilah dia orang, kau kira aku betul betul takut kepadamu.

Dengan cepat dia salurkan hawa murninya ke sepasang telapak tangannya tanpa menyingkir dan menghidar lagi dengan mengerahkan tujuh bagian tenaga dalamnya dia menangkis datangnya serangan musuh.

Ternyata sedikit pun tidak salah dengan gerakannya ini angin serangan dari si perempuan tunggal Touw Hong itu semakin lama semakin perlahan.

Liem lou yang melihat dia orang berhasil merebut posisi baik mana mau dia membuang waktu dengan begitu saja, dari kedudukan bertahanu dengan cepat dia merubah jadi kedudukan menyerang, tenaga dalamnya ditambahi dengan dua bagian berturut turut melancarkan delapan buah serangan gencar.

Setiap serangannya pastilah diikuti dengan suara menderunya angin yang amat rapat, jurus yang digunakan semakin aneh dan sakti sekali.

Hanya di dalam sekejap saja si perempuan tunggal Touw Hong itu benar benar sudah terdesak, keringat dingin mulai mengucur keluar membasahi selurun tubuhnya, saat ini dia cuma mempunyai tenaga untuk menangkis saja tanpa ada kesempatan untuk balas menyerang. Pada wakiu itulah tiba tiba Liem Tou menyapu sekejap ke arah sekeliling tempat itu, dia menemukan semua jagoan dari Kiem-Thien pay sudah lenyap tak berbekas batinnya jadi sedikit berdesir.

Celaka, pikirnya di dalam hati. Mereka tentu pergi mengejar Ie cici serta Wan moay moay.

Berpikir akan hal ini mana dis orang mempunyai niat untuk bertempur lebih lanjut dengan si perempuan tunggal Touw Hong itu?" dia menarik napas panjang panjang bagaikan menyambarnya geledek dan berkelabatnya sinar kilat, dengan dahsyatnya Liem Tou melancarkan tiga buah serangan sekaligus.

Si perempuan tunggal Touw Hong yang harus menahan serangan dahsyat itu baru saja berhasil menangkis serangan kedua air mukanya berubah jadi pucat pasi, Liem Tou yang melihat kejadian itu dalam hati segera paham, asalkan dia melanjutkan serangannya yang ketiga maka si nerempuan tunggal Touw Hong ini tentu akan terluka kena serangannya.

Perempuan ini tidak ada dendam sakit hati apapun dengan dirinya, kepada dia orang harus turun tangan jahat terhadap dirinya? berpikir akan hal ini serangan yang ketiga cuma dilancarkan sampai separuh jalan saja lalu ditarik kembali.

Kehebatan dari nona aku Liem Tou sudah menjajalnya, teriaknya keras. Jikalau kau orang masih tidak puas pada bulan lima tanggal lima kita bertemu kembali diatas puncak pertama Cing Jan.

Selesai berkata tampak berkelebatnya bayangan hijau, hanya dalam sekejap saja dia sudah lenyap tak berbekas.