Raja Silat Jilid 20

 
jilid 20

Berbicara sampai disini agaknya si siucay buntung sudah tidak sabaran lagi. Hey sebetulnya siapa?" tanyanya keras. Cepat kau katakan, buat apa putar putar kalangan dulu?

Heeii Loojiau, kenapa kau terburu nafsu?" ujar si pengemis pemabok sambil menghela napas panjang, bukanlah aku orang sengaja memutar kalangan, aku cuma takut kalian tidak mau percaya," tentu kalian ingat dengan Liem Tou si bocah cilik itu bukan?

Mendengar disebutnya nama Liem Tou oleh si pengemis pemabok itu, si siucay buntung segera tertawa terbahak bahak.

Liem Tou sudah lama meninggal terjatuh ke dalam jurang bagaimana dia bisa muncul kembali di gunung Wu san?" serunya keras, bukankah omonganmu terang terangan bohong?

Tetapi terang terangan kemarin malam sewaktu ada didalam kuil Siang Lian si kita mendengar sendiri kalau murid dari Lie Loo jie itu sudah mengatakan baru saja bertemu dengan Liem Tou apa kau tidak mendengar, apalagi kerbau itu milik dari Liem Tou tentang ini tentunya kau tahu bukan," ujar si pengemis pemabok.

Sepasang biji mata dari si siucay buntung berputar berulangkali lalu teriaknya keras.

Kalian tak usah berkata lagi, aku tidak percaya . . . tidak percaya..

Kau tidak percaya yaah sudah, aku kan tidak suruh kau untuk mempercayainya, teriak si pengemis pemabok dengan kerasnya pula, agaknya dia sudah dibuat gusar.

Kalian bedua tidak usah beribut lagi seru Ciat Siauw Taysu dari Siauw lim pay melerai.

Percayi tidak, tak ada keharusan jikalau kau orang percaya yaaah percaya kalau tidak percaya yaah tidak percaya buat apa diributkan? kini ada si jago main sie poa disini kenapa tidak menyuruh dia orang menghitungkannya untuk mengetahui keadaan yang sesungguhnya?

Betul . . .betul . . .sokong Heng san Jie Yu dengan gembira sekali. Memang pikiran dari Loo tayhiap jauh lebih cepat.

Ternyata tidak susah, setelah itu terdengarlah suara dipukulnya biji biji sie poa pulang pergi.

Liem Tou yang mendengar suara tersebut jadi terperanjat, diam diam pikiriya. Sie poa dari Thiat Sie sianseng ini selamanya amat tepat jikalau hal ini sampai terhitung olebnya dan tersiar di tempat luaran, perjanjian di atas puncak pertama Ciang Jan bulan lima tanggal lima yang akan datang bakal berabe juga.

Pikirannya segera berputar untuk memikirkan satu siasat, dengan cepat dia meloncat ke atas atap kuil dan memperhatikan keadaan di dalam ruangan, terlihatlah beberapa orang itu sedang duduk bersila dialas tanah dengan ditengahnya duduk seorang hweesio.

Sudah tentu hweesio itu adalah Chiet Siauw-Thaysu. Dia itu ciangbunjin dari Siauw Lim Pay. Di samping kanan dan kirinya duduklah dua orang toosu berupa pertengahan yang bukan lain adalah Heng san Jie Yu, sedangkan Tionggoan Sam Koay duduk di paling bawah. 

Mereka semua duduk mengerubungi sebuah api unggun yang sedang memanggang seekor ayam yang amat gemuk, dan tempat kejauhan saja sudah terciumlah bau harum yang semerbak membuat orang mengiler.

Waktu ini si Thiat Sie sianseng sedang tundukkan kepalanya menghitung pulang pergi biji sie poanya, sisanya lima orang melotot memandangi dirinya, agaknya mereka merasa amat tegang sekali, Liem Too tidak berpikir panjang lagi dengan cepat dia meioncat turun ke belakang meja sembahyang yang terbuat dari batu dan mengerahkan ilmu jarinya yang lihay, membuat batu tersebut seketika itu juga membekas satu gambaran sedalam beberapa coen, jelas memperlihatkan kalau Tenaga dalamnya sudah mencapai taraf yang sangat dahsyat sekali.

Setelah menggambar diam diam Liem Tou tidak tarasa merasa geli juga. mendadak disamping gambaran ini dia menulis.

Burung Hong tidak meninggalkan ayam, ayam tidak meninggalkan burung Hong. Harap pada bulan lima tanggal lima pada berkumpul dipuncak pertama Cing Jan untuk menentukan menang kalah.

Setelah semuanya selesai dia mengerahkan iimu meringankan tubuhnya kembali berkelebat melalui hadapan ke enam orang itu.

Mereka berenam seketika itu juga merasakan aedikit tidak beres saat itulah Liem Tou sudah menyambar ayam yang sudah dipanggang itu dan melarikan diri keluar dari kuil tersebut lalu meloncat naik keatas pohon siong untuk menonton permainan yang lucu.

Ternyata sedikitpun tidak salah, sewaktu Liem Tou menikmati panggangan ayam itu dengan nikmatnya, suasana di dalam kuil menjadi kacau balau, mereka berenam dengan berpisah pada meloncat naik ke atas dari enam penjuru yang berlainan, enam pasang mata dengan amat tajamnya memperhatikan keadaan di sekeliling tempat itu untuk memeriksa setiap pohon siong yang berada disana.

Pakaian yang dipakai Liem Tou berwarna hijau, apalagi suasana diluar sangat gelap sekali sudah tentu mereka tidak bisa menemukan dirinya.

Si pengemis pemabok adalah seorang yang paling doyan makan, kini melihat seekor ayam yang gemuk dan berbau wangi telah dicuri orang bahkan tak tampak jejaknya segera memaki kalang kabut, dari anaknya, bapaknya sampai neneknya dimaki semua. Tongkat pemukul anjing yang ada ditangannya diketukkan ke atas atap rumah membuat suasana amat ramai, air liur muncrat muncrat ke tengah udara sedang giginya gemeretuk menahan kegemasan hatinya.

Liem Tou yang bersembunyi di atas pohon siong sewaktu melihat si pengemis pemabok memai tidak hentinya walaupun didalam hati merasa geli sekali tetapi terhadap makian dan omongannya yang amat kotor semakin lama merasa tidak tahan juga.

Tulang ayam yang ada ditangannya segera disambit kearahnya dengan disertai desiran angin yang sangat keras, bersamaan waktunya pula tubuhnya meloncat ke arah pohon siong yang lain.

Si pengemis pemabok yang mendengar adanya suara sambaran benda yang mememecahkan kesunyian mengancam tubuhnya dengan cepat dia miringkan kepalanya ke samping untuk menghindarkan diri, dengan santarnya tulang ayam itu lewat di samping telinganya.

Tidak terasa lagi dia menjadi amat gusar sekali, ujung kakinya segera menutul permukaan tanah laksana seekor elang raksasa dengan dahsyataya menubruk ke arah pohon tersebut.

Melihat kehebatan dari ilmu meringankan tubuhnya tidak terasa Liem Tou mengangguk memuji kehebatannya. si siucay buntung, Thiat Sie sianseng, Heng-san Jie Yu serta Thiat Siauw Thaysu yang takut sipengemis pemabok mendapatkan bokongan bersama sama berteriak.

"Hey pengemis busuk hati hati jangan sampai kena dibokong orang"

Diikuti mereka berlima bersama sama berkelebat menuju kearah yang sama, tetapi di tempat itu sama sekali tidak terlihat sesosok manusia pun. Orang itu memiliki ilmu meringankan tubuh yang amat tinggi, ujar Thiat Siauw Thaysu kemudian sambil menghela napas panjang. Bahkan boleh dikata sudah mencapai pada taraf kesempurnaan, ayam panggang yang ada dihadapan kita saja sudah berhasil dicuri oleh orang tanpa kita rasakan apalagi untuk mengejar dirinya?? aku lihat sia sia saja pekerjaan kita ini"

Perkataan dari Thaysu sedikitpun tidak salah Sambung Loo toa dari Heng san Jie Yu. Lebih baik untuk sementara waktu kita kembali ke kuil dulu untuk memeriksa apakah ada tanda tanda yang ditinggalkan olehnya, setelah itu kita baru menyelidiki siapakah sebenarnya orang tersebut.

Tionggoan Sam Koay pun mengetahui kalau perkataan ini sedikitpun tidak salah, terpaksa mereka balik ke dalam kuil lagi.

Di antara mereka cuma si pengemis pemabok saja yang masih tidak puas, dia tidak mau ikut turun sebaliknya memaki maki dulu di atas atap dengan kalang kabut lalu baru melayang turun ke dalam kuil.

Mendadak dia menemukan mereka berlima sedang berdiri termangu mangu di depan meja batu tempat sembahyangan, tak kuasa lagi dia berteriak.

Hey .. ayamnya sudah dicuri orang lain apa kalian sedang bersembahyang kepada malaikat malaikat agar bisa membantu kalian merebut kembali ayam itu? kenapa kalian pada termangu mangu disana?"

Sembari berkata diapun berjalan mendekati meja batu tersebut, tetapi sebentar kemudian air mukanya sudah berubah sangat hebat.Matanya terbelalak lebar mulutnya melongo, 'Sungguh dahsyat tenaga jarinya 'lama sekali dia baru berseru. Agaknya di dalam kolong langit saat ini sukar untuk dicarikan keduanya. Sewaktu melihat pula gambar binatang yang mirip dengan burung hong juga mirip ayam itu dia segera menjulurkan lidahnya ketakutan.

Apa munjkin si perempuan tunggal Touw Hong sudah datang kemari?" tanyanya. Jika dilihat dari ilmu jarinya saja sudah cukup buat dirinya untuk mengangkat nama di dalam Bulim.

Siapa tahu baru saja dia selesai berkata mendadak dari belakang tubuh mereka berkumandang suara tertawa yang amat ringan sekali, ke enam orang itu menjadi sangat terperanjat dan terburu buru putar kepalanya.

Terlihatlah kurang lebih beberapa depa di belakangnya berdirilah seorang gadis berbaju hitam yang amat cantik sekali.

Gadis itu memakai baju maupun celana yang berwarna hitam, alisnya panjang lentik, bibinya kecil mungil matanya bulat sehingga kelihatan amat cantik sekait.

Walaupun pada wajahnya tidak dihiasi dengan senyuman bahkan kelihatan sedikit agak murung tetapi bila ditinjau dari sikapnya bukanlah menyerupai seorang jahat, sebaliknya membuat orang merasa kagum dan menghormat.

Mendadak sinar mata mereka berenam berhenti di atas dadanya dimana tergantung sebuah medali yang bergambarkan burung Hong hitam berkaki tunggal, tak kuasa lagi saking terperanjatnya pada mundur dua langkah kebelakang.

Lama sekali baru terdengar si pengemis pemabok membentak keras.

"Kau, kau adalah perempuan yang bernama Touw Hong? kau . . kau berani mencuri ayam panggang kami? ayoh cepat kembalikan ayam panggangku, kalau tidak kita orang akan menuntut kerugian. Sembari berkata dia menggebukkan tongkat pemukul anjingnya ke atas tanah sehingga terdengar suara benturan yang amat nyaring sekali.

Si gadis berbaju hitam mendengar suara bentakan dari pengemis pemabok itu diam diam alisnya dikerutkan rapat rapat, dari sepasang matanya yang amat jeli itu memancar keluar sinar yang amat tajam sekali memaksa mereka berenam tidak tahan untuk bergidik, bulu roma pada berdiri semua.

Dengan cepat mereka berenam pada mengerahkan tenaga dalamnya siap siap menghadapi sesuatu, apalagi si pengemis itu.

Walaupun dia orang sedang merasa mendongkol tetapi bagaimanapun juga dis orang adalah seorang jago kawakan yang sudah nempunyai pengalaman yang amat luas sekali ketika melihat kekuatan jari di atas meja batu itu ditambah pula dengan kerlipan sinar mata sang gadis yang amat tajam segera mengetahui kalau tenaga dalam gadis itu sudah mencapai pada tingkat yang paling atas karenanya dia tidak berani banyak bercakap lagi, diam diam tenaga dalam sudah disalurkan keseluruh tubuh siap menghadapi sesuatu.

Lama sekali gadis berbaju hitam itu memperhatikan diri keenam orang itu, mendadak sinar matanya diarahkan ke atas meja batu.

Lama sekali baru terlihatlah gadis berbaju hitam itu menoleh kearah keenam orang itu.

Kecuali kalian berenam ada siapa lagi yang pernah datang kemari?, tanyanya.

Suaranya tidak begitu keras tetapi setiap patah kata bisa didengar dengan amat jelasnya, jelas tenaga dalamnya sudah berhasil dilatih mencapai pada taraf yang amat tinggi sekali. Mendengar perkataan ini keenam Orang itu pada melengak semua, pikirnya.

"Kecuali kau ada siapa lagi yang pernah datang kesini".

Si Thiat Sie sianseng jadi orang yang paling tenang dan pikirannya pun paling tajam, karena takut si pengemis pemabok berbicara tidak karuan lagi cepat cepat sahutnya.

Entah apa maksud perkataan nona ini, apakah gambar yang terukir di atas meja sembahyangan ini bukan digambar oleh nona sendiri ?

Jika dilihat dari sie poa besi yang ada ditanganmu tentunya kau orang adalah Thiat Sie sianseng salah satu anggota dari Tionggoan Ngo Koay bukan? ujar gadis berbaju hitam itu sambil melirik sekejap ke arah Thiat Sie sianseng. Kau berdasarkaa hal apa mengatakan kalau gambar itu aku yang bikin ?

Nona bukankah si perempuan tunggal Touw Hong yang muncul dari daerah Si Lam dan didalam tiga jurus mengalahkan suami istri she Ciang dari Kiem Thian Pay? tiba tiba si siucay buntung menimbrung.

Si gadis berbaju hitam yang mendengar si siucay buntung itu meyiggung pekerjaannya yaag paling membanggakan hatinya pada wajahnya segera terlintas senyuman kegembiraan, dia segera mengangguk cuma tetap tak mengucapkan sepatah katapun.

si siucay buntung segera menunjuk ke arah gambar ayam bukan ayam burung hong bukan burung hong yang terukir di atas meja sembahyangan itu, lantas ujarnya.

"Pada saat ini orang yang menggunakan burung hong sebagai tanda cuma ada nona seorang saja, jika burung hong yang terukir di atas meja ini bukan nona yang tinggalkan ada siapa lagi yang mengukirnya ?" Si gadis berbaju hitam itu segera putar kepalanya, memandang ke arah gambar itu lagi, semakin dilihat dia semakin mendongkol, gambar burung hong itu jelas sekali sengaja dibuat seperti ayam membuat air mukanya berubah merah padam kembali.

Mendadak telapak tangannya menyambar ke depan lalu menghapus gambar serta tulisan yang ada di atas meja tersebut.

Seketika itu juga abu pada beterbangan sewaktu telapak tangannya diangkat kembali permukaan batu yang semula ada lima coen tebalnya didalam sekejap sudah tinggal beberapa coen saja, hal ini membuat Tionggoan Sam-Koay, Heng san Jie Yu serta Ciangbunjin dari Siauw Lim Pay pada merasa terperanjat.

"Tenaga dalam yang amat sempurna" tiba tiba teedengar suara pujian yang berkumandang datang dari luar kuil.

Mendengar suara pujian ini si gadis berbaju hitam itu dengan cepat berkelebat keluar dari dalam ruangan, Tionggoan Sam Koay sekalian merasakan matanya menjadi kabur si gadis berbaju hitam yang semula ada di hadapan mereka kini sudah lenyap tak berbekas lagi, dengan gerakan apa dia berkelebat meninggalkan tempat itu siapapun tidak bisa mengetahuinya.

Mereka berenam menjadi tertegun, lama sekali tidak dapat mengucapkan sepatah katapun

"Siapakah kau?" terdengar suara bentakan dari gadis berbaju hitam berkumandang datang dari tempat kejauhan.

"Di luar langit masih ada langit, di atas manusia masih ada manusia, kau orang tidak perlu mengurusi diriku" segera terdengar suara sahutan seseorang yang amat berat sekali.

Gambar yang ditinggalkan di dalam kuil itu apakah hasil perbuatanmu?" bentak gadis berbaju hitam itu lagi. Orang itu segera tertawa terbahak bahak dengan amat kerasnya.

"Aku yang lakukan juga boleh, bukan aku juga sama saja, selama berada di dalam dunia kangouw aku orang belum pernah bertemu dengan seseorang yang suka mencampuri urusan orang lain semacam kau"

Beberapa perkataannya ini agaknya sudah membuat kegusaran di dalam hati gadis berbaju hitam itu semakin memuncak, segera terdengar suara bentakan yang amat nyaring.

Aku Touw Hong sejak terjunkan kedalam dunia kangouw belum pernah bertemu dengan manusia semacam kau, terimalah seranganku ini.

Setelah itu terdengarlah suara menderunya angin pukulan disusul dengan suara patahan ranting ranting pohon siong yang amat ramai sekali.

Mendengar suara tersebut si siucay buntung tidak bisa menahan sabar lagi, segera teriaknya.

Ayoh jalan, kita pergi melihat.

Keenam orang itu dengan saling susul menyusul pada meninggalkan kuil untuk berkelebat menuju dimana berasalnya suara pertempuran tadi.

Beberapa saat kemudian mereka sudah tiba disebuah tempat yang penuh berserakan patahan ranting ranting pohon siong yang amat banyak tetapi bayangan mereka berdua sama sekali tidak kelihatan, membuat keenam orang itu jadi berdiri termangu mangu.

Kurang lebih seperminuman teh kemudian mendadak terdengar Si Thiat sie sianseng berseru.

Aaaah . . jika ditinjau dari keadaan ini jelas sekali gambar yang terukir di atas meja batu tadi bukan nerbuatan dari Touw Hong, si gadis berbaju hitam tadi, sedang surat tantangan agar kita menghadiri pertemuan di atas puncak pertama Cing Jan pada bulan lima tanggal lima menunjukkan waktu yang sama dengan perjanjian yang diadakan Lie Loo jie, lalu apa mungkin Lie Loo jie yang sudah datang kemari?? tetapi apa maksudnya?? apa dia orang juga mau bertempur dengan kita?"

"Kemungkinan sekali Lie Loo jie sudah tahu kalau Touw Hong ada disini sehingga sengaja berbuat demikian" sahut Loo jie dari Hengsan Jie Yu.

"Tidak benar, .. .tidak benar" seru Loo toa dari Heng san Jie Yu sambil gelengkan kepalanya, jikalau Lie Loo jie mau pergi mencari Touw Hong dia bisa langsung mencari dirinya, kenapa harus berputar putar seperti ini?? apalagi Lie Loo jie jadi orang bersifat pendekar, dia tidak akan mau berbuat demikian.

Sewaktu mereka berbicara dan saling bantah membantah dengan amat ramainya itulah mendadak tampak bayangan hitam berkelebat turun dari sebuah pohon siong, tampaklah si gadis berbaju hitam yang semula pergi kini balik kembali.

Apa Lie Loo jie . .Lie Loo jie" serunya dengan sinis, orang itu tidak lebih seorang bocah cilik yang usianya amat muda sekali, tetapi tenaga dalamnya amat dahsyat. Kalian cianpwee berenam mempunyai pengalaman yang amat luas, apakah kalian tahu dari aliran mana yang akhir ini muncul seorang jago muda yang amat lihay sekali??"

Walaupun wajahnya masih amat murung tetapi nada ucapannya jauh lebih ramah. Si pengemis pemabok yang selalu menaruh curiga terhadap diri Liem Tou mendadak bertanya.

"Bagaimana dandanan orang ini, dan bagaimana wajahnya?" Entah mengapa setelah mendengar perkataan dari si pengemis pemabok ini mendadak air muka gadis berbaju hitam itu berubah menjadi merah lalu dengan cepat cepat meloncat keatas pohon dan berlalu deraan tergesa gesa.

Tidak terasa lagi keenam orang itu dibuat kebingungan dan saling pandang memandang tak mengucapkan sepatah katapun.

Waktu itu cuaca sudah hampir mendekati terang tanah, Thiat Sie sianseng segera menjura ke arah Ciat Siauw Thaysu serta Heng san jie Yu, ujarnya.

"Kalian bertiga harus cepat cepat datang ke Bu tong pay untuk menyelesaikan urusan ini, atas hal ini kami tidak akan melupakan budi tersebut. Ini hari kami bertiga sudah menjelaskan semua kejadian, maaf kami masih ada urusan yang harus diselesaikan dan harus berpisah, selamat tinggal.

"Untuk mencari si penjahat naga merah pada bulan lima tinggal lima di atas puncak pertama Ciang Jan kalian pasti bisa bertemu sambung si siucay buntung dengan cepat"

Selesai berkata bersama sama dengan Thiat Sie sianseng serta si pengemis pemabok dengan cepatnya berkelebat melewati hutan.

Kita balik kembali pada diri Liem Tou kiranya yang berteriak memuji kebebatan dari tenaga dalam Touw Hong itu perempuan tunggal. Sejak semula dia orang sudah melihat munculnya seorang perempuan tunggal Touw Hong disana dikarenakan dirinya besembunyi di antara pepohonan yang amat lebat karenanya dia tidak sampai diketahui oleh Touw Hong, tetapi ilmu meringankan tubuh yang di perlihatkan olehnya cukup membuat Liem Tou merasa terperanjat.

Akhirnya ketika enam orang itu kembali ke dalam kuil dan berdiri termangu mangu didepan meja batu, Touw Hoog pun turut masuk ke dalam. Liem Tou segera membuntuti dari belakang, dia mengambil keputusan untuk menemui orang ini.

Tetapi ketika matanya tertumbuk dengan medali yang tergantung di depan dada gadis itu hatinya menjadi bergerak kembali pikirnya.

"Medali perak yang tergantung di depan dadanya mirip sekali dengan medali yang tergantung didepan perempuan di mana tersembunyinya kitab pusaka To Kong Pit Liok apa di antara mereka ada hubungan antara satu dengan lainnya?"

Berpikir akan hal itu dia segera memancing keluar untuk membuktikan pikirannya ini, siapa tahu sifat dari Touw Hong agak congkak sedang Liem Tou pun ingin menjajal kepandaiannya sehingga begitu bertemu dengan mereka sudah saling bertempur dengan amat serunya.

Sejak berhasil mempelajari kitab pusaka To Kong Pit Liok boleh dikata untuk pertama kali Liem Tou bertemu dengan musuh tangguh.

Sebaliknya Touw Hong merasa keheranan, semakin bertempur hatinya semakin terperanjat, akhirnya Liem Tou yang mendengar Tiong goan Sam Koay sudah pada berdatangan dia cepat cepat berkelebat pergi dari sana, sembari berlari dia berseru dangan perlahan

"Ini hari bisa bertemu dengan nona, cayhe betul betul merasa bangga sekali"

Mendadak Liem Tou meloncat ke samping menuding ke arah medali perak yang ada di dadanya, baru saja mau bertanya tiba tiba suatu pikiran berkelebat lagi di dalam benaknya pikirnya.

Saat ini aku masih ada urusan yang harus diselesaikan, jikalau aku menceritakan kepadanya kalau akupun mempunyai medali seperti itu, hal ini tentu akan mendatangkan kerepotan saja, lebih baik untuk sementara waktu jangan membicarakannya dulu.

Sebetulnya si gadis berbaju hitam itu melihat ketampanan wajah Liem Tou dari dalam hatinya sudah muncul suatu perasaan yang sangat aneh sekali, kini melibat dia orang menuding kearah medali perak yang tergantung didepan dadanya senyuman segera menyusuri bibirnya sambil menunggu ucapan selanjutnya dari dia orang siapa tahu Liem Tou bukannya membicarakan hal ini sebaliknya berkata.

Kepandaian dari nona, cauhe sudah menjajalnya, jika ada kesenangan jangan sampai lupa pada bulan lima tanggal lima di atas puncak pertama gunung Cing Jan.

Selesai berkata dia segera putar badannya meninggalkan hutan tersebut.

Si gadis berbaju hitam yang melihat Liem Tou lari pergi bahkan sampai namanya pun dia tidak tahu, pikirannya dengan cepat berputar, tubuhnya pun ikut berkelebat ke depan Liem Tou menghalangi perjalanannya.

"Hey siapa namamu?" tanyanya.

Mendadak air mukanya berubah merah sambil tundukkan kepalanya dia berganti bahan pembicaraan, tanyanya lagi.

'Kepandaian silat dari Kongcu amat dahsyat sekali, dapatkah aku orang mengetahui asal usul perguruanmu?"

Melihat sikapnya itu diam diam Liem Tou berpikir didalam hatinya.

Hmmm . . . sombong ... aku mau lihat kau bisa sombong seperti apa, ini hari aku akan membuat kau orang tidak dapat sombong lagi sehingga tidak lagi terlalu memandang rendah orang lain.

Berpikir sampai disini dia segera melirik sekejap kearah Touw Hong dengan pandangan dingin, tiba tiba dengan menggunakan gerakan sah cap lak Thian Kang Poh Hoat dia berkelebat melewati diri Touw Hong lalu dengan lang kah lebar berjalan keluar dari hutan tersebut.

Tindakannya ini benar benar diluar dugaan Touw Hong, dia berdiri termangu mangu di sana lama sekali tidak mengucapkan sepatah katapun juga.

Tidak lama kemudian Tionggoan Sam Koay pun pada berdatangan kemudian dia munculkan dirinya seperti apa yang terjadi diatas.

Kini kita berbalik kembali pada Liem Tou yang berjalan keluar dari hutan lalu berangkat menuju ke kota Tang Yang.

Sewaktu tiba di kota tersebut hari sudah menunjukkan tengah malam, suasana di dalam kota amat sunyi sekali bahkan kelihatan sangat mencurigakan sekali, hatinya menjadi keheranan, dengan tergesa gesa dia berlari menuji ke rumah penginapannya.

Saat ini ilmu meringankan tubuhnya sudah mencapai pada taraf kesempurnaan, hanya di dalam sekejap saja dia sudah tiba di depan pintu rumah penginapan tersebut, saat ini pintu rumah sudah tertutup tetapi dari balik kamar terdengar suara dengus kerbaunya yang amat keras.

Kau binatang aku mau melibat bisa berbuat ganas lagi tidak? keganasanmu yang terdahulu kini berada dimana semua?"

Disusul suara cambuknya yang amat keras sekali berkumandang tak henti hentinya dari dalam kamar.

Liem Tou segera mengetahui tentu urusan sudah terjadi perubahan telapak tangannya dengan cepat kirim satu pukulaa menghajar ke atas pintu membuat papan itu terpukul hancur berantakan, terlihatlah olehnya dua orang lelaki berbaju singsat sedang mencambuki kerbaunya yang rubuh di atas tanah di balik pintu itu. Melihat kejadian itu Liem Tou menjadi amat gusar sekali, dengan cepat dia membentak keras, tangannya segera bergerak dan segera terdengar suara jeritan ngeri yang menyayatkan hati,tubuh orang itu sudah kena hajar sehingga darah segar muncrat keluar dari mulutnya.

Dia orang tidak mau berdiam sampai di situ saja tangan kirinya berbareng mengirim lagi satu pukulan gencar menghajar lelaki yang satunya lagi.

Mendadak pikirannya bergerak, serangan telapaknya dengan cepat diubah menjadi serangan totokan menotok jalan darah Sian Khiei di atas tubuh lelaki itu, seketika itu juga lelaki itu rubuh jatuh ke atas tanah dan lemes, tetapi tidak sampai membahayakan jiwanya.

Liem Tou mau memeriksa kerbaunya lebih dulu, tampak bayangan hijau berkelebat dia melayang masuk ke dalam kamar, karena di dalam hati dia merasa amat kuatir terhadap keselamatan dari gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie.

Ie cici. ..Wan moay moay. . .teriak berulang kali.

Tetapi tidak terdengar suara jawaban suasana amat sunyi sekali.

Hal ini semakin membuat hatinya cemas dengan cepat dia mendorong pintu kamarnya dan melongok masuk, di dalam kamar tidak tampak adanya sesosok bayangan manusiapun dia menjadi tertegun, tetapi sebentar kemudian dia sadar kembali dan meloncat naik ke atas atap.

Suasana disekeliling tempat itu sunyi senyap tidak terdengar sedikit suarapun mana tampak adanya bayangan manusia?"

Dari cemas hatinya semakin lama berubah semakin gusar, diam diam pikirnya lagi Aku Liem Tou sungguh merasa malu sudah memiliki ilmu silat yang tinggi, ternyata Ie cici serta Wan moay moay pun tidak bisa dijaga keselamatannya, jika dilihat dari kerbauku yang dicambuki orang lain jelas Ie cici serta Wan moay moay sudah menemui bencana.

Berpikir sampai disini hatinya merasa semakin gemas lagi. dia orang tidak seharusnya meninggalkan rumah penginapan itu sewaktu Ie cicinya sedang terluka sehingga kesempatan ini digunakan oiang lain untuk melancarkan serangannya.

Di dalam sekejap saja hatinya terasa amat bingung sekali, mendadak dia teringat kembali lelaki yang tertotok olehnya tadi dengan cepat tubuhnya melayang turun kembali ke dalam ruangan dan mengurut punggungnya untuk menyadarkan kembali dirinya.

Dengan perlahan lelaki itu pentangkan mata nya kembali, Liem Tou tidak dapat menahan sabar lagi dia segera membentak.

"Ayoh cepat bilang . . ayoh cepat bilang, aku segera berikan jalan hidup buat dirimu."

Di dalam keadaan bingung dia sudah berbicara tanpa ujung pangkalnya membuat lelaki itu merasa kebingungan, apa lagi lelaki itupun baru saja sadar dari pingsannya, kepalanya masih terasa pening sehingga apa yang dibicarakan oleh Liem Tou pun tidak begitu jelas didengarnya.

Mendadak dia jatuhkan diri berlutut dan mengangguk anggukkan kepalanya tak henti hentinya.

Liem Tou semakin marah, dengan cepat dia cengkeram ujung bajunya.

Siapa yang suruh kau berlutut? bentaknya dengan gusar. Aku suruh kau cepat beritahu padaku Ie cici serta Wan moay moayku sudah kalian bawa kemana? kalian bajingan bajingan berasal dari mana? ayoh cepat jawab. "Baik.. baik aku jawab, aku jawab, harap Siau Hiap ampuni jiwaku" seru lelaki tersebut dengan gemetar.

Liem Tou segera melepaskan cengkeramannya.

Asalkan kau mau berbicara aku sudah tentu akan beri satu jalan hidup buat dirimu ujarnya cepat. Tetapi bilamana omonganmu bohong, kawanmu itulah suatu contoh yang paling bagus buatmu.

Mendengar perkataan tersebut lelaki berbaju singsat itu baru sedikit lega bati.

Untuk membalas dendam terbunuhnya putri tercintanya Ong Bo sudah menawan kedua orang pendekar perempuan itu sahutnya.

Mendengar perkataan itu Liem Tou menjadi benar benar terperanjat sehingga kepalanya terasa pening sekali teriaknya.

"Si pengemis busuk itu sudah seharusnya mati, jika mau membalas dendam balaslah dengan aku Liem Tou apa hubungannya urusan ini dengan Ie cici serta Wan moay moay

?"

Ie cici serta Wan moay moay merupakan murid yang paling lihay dari si cangkul pualam Lie Sang, bagaimana mungkin Oog Bo serta perempuan berbaju hijau itu berhasil menawannya apalagi Wan moay moay sudah memperoleh seluruh Kepandaian silat dari ayahnya, sekalipun terjadi pertempuran sengit tidak seharusnya Auw Hay Ong Bo bisa begitu mudahnya berhasil menawan mereka.

Berpikir akan hal ini dia segera membentak lagi.

"Siapa yang sudah datang ke mari ??" ayoh cepat jawab.

Si jari beracun jarum emas Song Beng Lan si hweesio rase salju, pengemis liar, hweesio mayat hidup dan pembesar buta.

Mendengar disebutnya si hweesio mayat hidup serta pembesar buta tidak terasa lagi Liem Tou menjadi kaget. Apa si hweesio mayat hidup serta pembesar buta juga ikut datang? ? teriaknya.

Lelaki berbaju singsat itu mengangguk.

Pikiran Liem Tou dengan cepat berputar, sekalipun ada hweesio mayat hidup serta pembesar buta belum tentu si gadis cantik pengangon kambing bisa tertawan dengan begitu mudahnya, dia teringat kembali akan si perempuan tunggal Touw Hong kembali.

Dari perkataan Ciat Siauw thaysu tadi dia tahu perempuan itu sudah punya hubungan dengan pihak Kiem Thien pay, jika perempuan ini pun ikut datang maka ada kemungkinan si gadis cantik pengangon kambing berhasil mereka tawan.

Karenanya dia bertanya kembali.

Aku dengar dari pihak Kiem Thian pay ada seseorang yang bernama perempuan tunggal Touw Hong, apa diapun ikut datang kemari?

Agaknya lelaki berbaju singsat itu amat takut sekali mendengar disebutnya nama itu, seketika itu juga dia orang memandang diri Liem Tou dengan melongo, lama sekali tidak mengucapkan sepatah katapun.

Liem Tou yang melihat perubahan wajahnya ini didalam hati segera sudah menduga beberapa bagian, karenanya dia mendesak lebih lanjut.

Akhirnya lelaki tersebut mengangguk, dalam hati Liem Tou semakin menyesal lagi, dia tidak seharusnya menghabiskan waktu setengah harian di tengah jalan, kalau tidak mungkin dia masih bisa memberi pertolongan kepada mereka.

Sekarang dia terpaksa menanyakan tempat tinggal dari si perempuan tunggal Touw Hong serta Au Hay Ong sekalian dan berusaha untuk menolong kedua orang itu lolos dari cengkeraman musuh. "Hey sekarang mereka berada di mana? cepat beritahu kepadaku dan pimpin aku kesana" perintahnya kemudian setelah berpikir sebentar.

Sekalipun pada mulutnya lelaki itu terus menerus memberi jawaban terhadap pertanyaan pertanyaan yang diajukan oleh Liem Tou tapi di dalam hatinya dia sedang berpikir bagaimana caranya untuk meloloskan diri dari sana.

Kini sewaktu didengar Liem Tou sedang menanyakan tempat tinggal dari si perempuan tunggal Touw Hong sedang Auw Yang Ong sekalian menyuruh dia orang pimpin jalan, dalam hati merasa amat girang sekali.

Hmm, cuma mengandalkan kau seorang saja mau pergi ke sana? pikirnya didalam hati. Bukankah sama saja pergi menghantarkan kematiam buat dirimu sediri? aku beritahu kepadamu juga tidak ada halangannya apalagi aku yang menunjukkan tempat itu, setelah sampai di sana tentu aku bisa meloloskan diri.

Tanpa berpikir panjang lelaki itu segera menjawab.

Mereka berdiam tidak jauh dari sini, kurang lebih sepuluh li dari pintu sebelah timur tempat itu bernama . ..

Belum habis dia berbicara mendadak Liem Tou dapat mendengar desiran senjata yang berkelebat menyampok angin mengancam tubuh mereka berdua, dengan cepat tubuhnya berputar ke belakang.

Tampaklah segerombolan sinar yang sangat menyilaukan mata dengan amat cepatnya melanda datang, dia segera membentak keras.

"Kawanan tikus sungguh berani perbuatan kalian."

Telapak tangannya segera didorong ke depan melancarkan satu pukulan dahsyat menghajar ke atas senjata rahasia yang menghantam tubuh mereka. Sekalipun begitu dikarenakan halusnya jarum jarum emas itu ditambah lagi disebar dalam jumlah yang amat banyak sekali dengan menggunakan cara Man Thian Hoa Yu atau seluruh angkasa penuh dengan bunga hujan, dimana angin pukulan Liem Tou berkelebat walaupun berhasil membebaskan dirinya dari bahaya tetapi si lelaki itu tak dapat terhindar lagi dari serangan tersebut.

"Aaaaaaadddduuuh "

Disertai dengan suara teriakan yang amat keras tubuhnya roboh terjengkang ke belakang.

Dalam hati Liem Tou sedang merasa cemas untuk mengetahui tempat si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie ditawan, terhadap orang yang melancarkan serangan bokongan itu dia orang tidak mengambil perduli lagi, dengan terburu buru dia menarik tubuh lelaki itu sambil tanyanya dengan suara yang keras.

"Mereka berada di tempat mana, cepat katakan."

Lelaki yang bersandar di tangan Liem Tou itu memejamkan sepasang matanya erat erat untuk sesaat lamanya dia tak sanggup untuk mengucapkan sepatah katapun.

Liem Tou lantas tundukkan kepalanya memeriksa, tampaklah di atas badannya sudah terkena delapan, sembilan jarum emas yang menancap pada jalan jalan darah terpenting, tidak terasa lagi dia menghela napas.

Sewaktu diperiksa ternyata orang itu belum menemui ajalnya, tetapi kenapa dia tidak mau bicara.

Liem Tou memeriksa keadaannya lebih teliti lagi, akhirnya dia menemukan juga sebabnya.

Kiranya pada jalan darah bisu di atas tenggorokannyapun sudah tertancap sebatang jarum emas sehingga membuat dia orang tidak dapat berbicara. Dengan cepat Liem Tou mencabut jarum tersebut, waktu itulah di dalam benaknya mendadak berkelebat satu ingatan, dia merasa orang yang baru saja melancarkan serangan bokongan dengan menggunakan senjata jarum emas ini adalah perbuatan dari si jari beracun jarum emas Song Beng Lan dari Kiem Thien Pay, tak terasa lagi hatinya jadi merasa amat gemas sekali.

Orang ini sungguh amat kejam dan ganas sekali pikirnya apalagi merupakan seorang penja hat pemetik bunga yang sudah terkenal, nanti jikalau aku bertemu kembali dengan dirinya tentu dirinya tidak aku lepaskan kembali.

Kepada si lelaki yang terluka itu dia berkata: "Orang yang melukai kau orang adalah si jari beracun jarum emas Song Beng Lam, kau tahu tidak ?"

Air muka lelaki itu sudah berubah menjadi pucat kehijau hijauan agaknya dia sedang menahan rasa sakit yang amat sangat di dalam tubuhnya, mendengar perkataan tersebut dia mengangguk.

Kalau begitu beritahukanlah kepadaku tempat mereka untuk membalas dendam, sera Liem Tou dengan cepat.

Dari tenggorokan orang itu segera terdengarlah suara yang amat serak sekali disusul matanya dipentangkaa lebar lebar.

Liem Tou yang melihat wajahnya sudah mulai berkerut dia tahu orang tersebut sudah dekat masa ajalnya hal ini membuat batinya semakin cemas lagi.

Cepat katakanlah, cepat katakan! Aku akan pergi cari mereka untuk membalaskan dendanmu.

Akhirnya lelaki itu memejamkan matanya kembali. Sebelum dia orang mengucapkan sepatah katapun dari tenggorokannya kembali terdengar suara yang serak dan keras, sebentar kemudian orang itu sudah menemui ajalnya. Liem Tou merasa sangat kecewa sekali, mendadak dia mengangkat mayat dan lelaki itu lantas dilemparkan ke atas.

Seketika itu juga mayat tersebut melayang sejauh dua kaki lebih lantas jatuh ke atas tanah dengan amat kerasnya, kepalanya hancur berantakan darah bercampur otak berceceran diatas tanah.

Liem Tou yang usianya masih amat muda apa lagi pengalamannya di dunia kangouwpun masih amat cetek, karena terjadinya perubahan ini segera membuat hatinya amat sedih sekali sehingga dia dibuat termangu mangu beberapa saat lama nya. Saking terpesonanya sampai kerbaunya yang merintih teruspun tidak digubris.

Mendadak dari sepasang matanya memancarkan sinar yang amat aneh sekali ujung kakinya segera menutul permukaan tanah dan meloncat ke atas wuwungan rumah.

Kiranya di atas tembok sebelah atas dia sudah menemukan satu tanda gambar ular merah dengan amat jelasnya, Liem Tou yang melihat munculnya tanda ular merah di sana segera merasakan hatinya amat kaget gumamnya seorang diri.

Apa mungkin si penjahat naga merah sudah datang kemari?? atau mungkin pihak Kiem Thien Pay yang sudah memalsukan tanda dari si penjahat naga merah ini?? perbuatannya ini sungguh membuat orang merasa agak bingung.

Hampir selama setengah harian lamanya dia berpikir keras keras tetapi tidak mendapatkan jawabannya juga, akhirnya dia melepaskan pemikirannya itu untuk memeriksa keadaan luka dari kerbaunya.

Tampaklah seluruh kerbau itu sudah tersayat sayat sehingga hancur dan mengalirkan darah amat banyak sekali, tetapi lukanya tidak lebih cuma luka luar yang tidak membahayakan jiwanya hanya saja luka dalamnya yang terdahulu kini kambuh lagi membuat ia agak sedikit tidak tahan.

Terpaksa Liem Tou mengeluarkan kembali tali obat peninggalan dari Hek Loo toa itu untuk diberikan seutas kepada kerbaunya lantas merawatnya dengan teliti

Saat ini pemilik rumah penginapan pelayan maupun para tetamu yang menginap disana pada tidak kelihatan semua, hatinya agak ragu ragu, pikirnya.

Menurut keadaan biasanya dimana tanda ular merah itu muncul manusia maupun binatang tidak ada yang tertinggal, kerbauku ini bisa tetap hidup boleh dikata amat untung sekali. Tetapi si pelayan serta pemilik rumah penginapan ini sudah pergi kemana? apa mereka sudah menemui bencana?? kenapa tak seorangpun yang kelihatan.

Berpikir sampai disitu dia segera mengadakan pemeriksaan di sekeliling rumah penginapan itu, ternyata dugaannya sedikitpun tidak salah.

Di dalam sebuah kamar dia menemukan pemilik rumah penginapan dan pelayan pelayannya sudah menggeletak diatas tanah dan darahnya berceceran di seluruh lantai, keadaannya amat mengerikan sekali.

Melihat keadaan ini Liem Tou benar benar merasa amat gusar, dengan cepat dia angkat sumpah dengan menghadap dinding.

"Aku Liem Tou jika tidak berbasil menyelidiki pembunuhan malam ini dan menghancurkannya aku sumpah tidak akan jadi manusia"

Saat itupun dia teringat kembali atas keselamatan atas gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie dengan tergesa gesa dia berjalan keluar dari ruman peaginapan itu tanpa memperdulikan lagi kerbau itu yang masih terluka dia segera mengangkat sang kerbau di pundak dan berjalan keluar dari tempat itu.

Untung saja keadaan di seluruh kota Tang Yang amat sepi sekali, agaknya mereka takut dimasuki pencuri sehingga rumah rumah tertutup dengan amat rapatnya. Suasana di tengah jalan amat sunyi sekali tak terlihat seorang manusiapun yang berjalan di tengah jalan kalau tidak dengan perbuatan dari Liem Tou yang menggendong seekor kerbau seberat tiga ratus kati tentu akan menggemparkan seluruh kota.

Ditengah perjalanan tiba tiba Liem Tou teringat kembali dengan kata kata dari lelaki itu dia segera mengambil jalan keluar menuju ke kota sebelah timur.

Tidak lama kemudian pintu kota sudah tampak di depan mata, pintu masih tertutup rapat cuma saja tak kelihatan ada penjaganya.

Liem Tou tidak ambil perduli lagi dengan menggendong kerbaunya dia melewati tembok kota dan melanjutkan perjalanannya ke arah depan.

Sesampainya ditepi sebuah sungai yang tidak dikenal dia segera meletakkan kerbaunya ke atas tanah dan dengan telitinya membersihkan tubuhnya dari bekas darah, lalu gumamnya lagi:

"Aku mau menyembuhkan dulu luka dalam dari Gouw koko lantas baru pergi menyelidiki keadaan dari Ie cici serta Wan moay moay"

Ditengah malam yang buta kelihatan sekali keadaan dari Liem Tou amat menyedihkan sekali, kerbaunya yang ada di samping dengan mata penuh terharu melirik sekejap ke arahnya, agaknya sang kerbau tahu kalau majikannya sedang murung. Setelah semuanya selesai dengan perlahan Liem Tou duduk bersila dan mulai mengatur pernapasan hawa murninya dengan perlahan di salurkan dari pusar menuju ke sepasang telapak tangannya lantas disalurkan ke perut kerbau itu dengan mengikuti jalan darahnya.

Haruslah diketahui urat urat dan jalan darah yang ada di badan binatang sekalipun berbeda dengan manusia tetapi yang dimaksud delapan nadi denggan dua belas kunci kehidupan tak ada bedanya dengan manusia, sehingga dengan demikian Liem Tou pun dengan lancar dapat menyembuhkan kerbaunya.

Kurang lebih sepertanak nasi kemudian kerbau itu mulai mengangkat kepalanya dan mendengus rendah, saat itulah Liem Tou baru bisa menghembuskan napas lega dan menyeka keringat yang membasahi jidatnya.

Sekali dia pejamkan matanya untuk pulihkan kembali tenaganya lantas baru bangkit berdiri.

Saat itu sang kerbau yang sudah bangkit berdiri dan dengan tenangya sedang makan rumput.

Liem Tou segera menepuk nepuk pundaknya dan tertawa pahit.

Engko kerbau, ujarnya perlahan. Kali ini kau tentunya merasa sedikit menderita bukan ayoh pergilah ke sana dan makanlah rumput sampai kenyang.

Agaknya kerbau itu mengerti perkataan manusia, dia segera mengangguk angguk kepada Liem Tou dan dengan tenangnya pergi makan rumput disamping sungai.

Liem Tou vang melihat kerbaunya begitu penurut tanpa terasa dia semakin menaruh rasa sayang lagi kepadanya, diapun duduk di tepi sungai melihat dia makan rumput.

Terhadap keselamatan si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie di dalam hatinya Liem Ton merasa amat kuatir sekali, lewat beberapa saat kemudian dia benar benar tidak bisa bersabar lagi, kepada kerbaunya dia segera berseru.

Engko kerbau ayoh jalan, orang itu bilang Ie cici serta Wan moay moay ada di suatu tempat sepuluh li dari kota Tang Yang, mari kita ke sana dengan menyeberangi sungai ini.

Walaupun kepandaian silat dari Liem Tou pada saat ini amat tinggi sekali tetapi karena adanya perubahan yang memukul hatinya membuat keadaannya pada saat ini sudah berubah kembali seperti setahun yang lalu, dia orang yang mengajak kerbaunya berbicara sebetulnya adalah suatu pekerjaan yang amat bodoh sekali tetapi dikarenakan sifatnya yang amat peramah apalagi dengan pembicaraan ini dia ingin mencari satu semangat baru di dalam hatinya, maka dia tidak mau perduli atas kesalahannya ini.

Dengan menuntun kerbaunya Liem Tou menyeberangi sungai tersebut, setelah sampai di tepi seberang dia melihat badan sang kerbau amat besar segera di dalam pikirannya segera berkelebat kembali akan satu ingatan.

Gumamnya lagi seorang diri.

Jika dilihat dari keadaannya dia harus dicarikan satu tempat persembunyian yang aman agar bisa istirahat untuk beberapa saat lamanya.

Berpikir akan hal ini Liem Ton segera memandang ke sekeliling tempat itu, dia mencoba memeriksa apakah disekeliling tempat ini ada rumah petani atau tidak.

Dengan mengikuti aliran sungai itu akhirnya dia bisa melihat banyaknya sawah yang tersebar di sana, dengan melalui antara sawah sawah itu terlihatlah satu jalan kecil yang menghubungkan tempat itu dengan dua tiga rumah para kaum petani.

Liem Tou segera menuntun kerbaunya mengikuti jalan tersebut menuju kerumah itu. Sesampainya di depan pintu rumah, dia orang melihat baik jendela maupun pintunya masih tertutup rapat rapat, dia tahu tenntunya pemilik rumah itu masih tidur deagan nyenyak untuk mengganggu dia merasa tidak eaak, untuk pergi dari sana diapun tidak ingin, hatinya benar benar merasa bingung.

Pada saat dia merasa serba susah itulah mendadak seorang petani muncul keluar dan dua ekor anjing dari dalam rumah itu yang menggonggong tiada hentinya, apalagi setelah dilihatnya ada kerbau disana suara gonggongannya semakin mengeras bahkan tubuhnya siap siap untuk menubruk ke arah sang kerbau.

Kerbau itu agaknya juga dibuat marah oleh keganasan sang anjing, diapun mendengus tak ada hentinya.

Liem Tou takut kerbaunya menjadi marah dengan adanya kejadian itu sehingga menunjukkan kembali sifat binatangnya dia segera menepuk nepuk pundaknya.

"Bersabarlah sebentar, mereka takkan dapat mengganggu dirimu" serunya perlahan.

Kedua ekor anjing itu melibat sang kerbau tak menunjukkan perlawanan suara menggonggongnya semakin keras lagi membuat Liem Tou yaag ada disampingnyapun menjadi rada jengkel.

"Kalian dua ekor binatang yang tidak ber biji mata, cepat megggelinding dari sini" bentaknya dengan gusar.

Sambil berkata dia angkat telapaknya siap melancarkan satu pukulan.

Pada saat itulah dari dalam rumah petani itu tampak berkelebatnya sinar terang disusul suara seseorang sedang bertanya.

"Siapa yang ada di luar rumah di tengah malam buta ini ?" Liem Tou yang mendengar ada orang yang sudah bangun hatinya merasa girang sekali, tubuhnya dengan cepat melayang mendekati pintu tersebut.

Tanpa terasa pintu itu dengan perlahan-lahan dibuka dan muncullah seorang petani tua yang berdandanan sangat sederhana sekali dengan membawa sebuah lampu minyak, dengan me-ngedipngedipkan matanya yang baru saja bangun dari tidur dia memandang ke arah diri Liem Tou, jelas dari air mukanya memperliihatkan rasa keheranan.

Kerena temanku sakit sacara tiba tiba entah bolehkah paman memberi satu tempat buat dia buat menginap selama beberapa hari.

Si petani yang melihat dandanan Liem Tou sangat polos dan tidak mirip dengan penjahat ia segera mengangguk.

Orang melakukan perjalanan ditempat luaran tidak akan terhindar dari kemalangan, cuma saja tempatku amat kotor dan kalau hujan bocor entah kau orang bisa menempati tidak, jawabnya dengan halus.

Liem Tou yang mendengar petani itu sudah menyanggupi dalam hati merasa sangat berterima kasih sekali, sekali lagi dia menjura memberi hormat.

"Kau orang tidak usah banyak berlaku adat, seru petani itu mencegah. Silahkan kawanmu itu masuk untuk beristirahat."

Liem Tou segera menggape ke arah kerbaunya itu. dan kerbau dengan langkah yang amat perlahan lantas berjalan mendekat.

Melihat kejadian itu si petani tersebut menjadi kaget, dia menjerit tertahan.

"Aaah . . . apakah dia kawan karib yang kongcu katakan tadi?" tanyanya keheranan.

"Benar" sahut Liem Tou mengangguk. Tidak terasa lagi petani tua itu memperhatikan diri Liem Tou beberapa saat lamanya, melihat dia orang memakai jubah panjang yang terbuat dari sutera dengan sebuah kain pengikat kepala yang terbuat dari sutera pula jelas merupakan seorang si siucay dari kalangan kaya, bagaimana dia bisa bergaul dengan seekor kerbau?? tidak terasa lagi perasaan curiga mulai menyelimuti dirinya.

Mendadak matanya melotot lebar lantas bentaknya keras. "Silahkan kau orang pergi mencari tempat lain saja, aku

disini tidak mau menerima kau orang yang sudah banyak melakukan kejahatan"

Selesai berkata dia putar badan dan menutup pintu rumahnya kembali.

Liem Tou yang melihat petani itu berubah sikap, dia segera tahu kalau dia orang sudah salah paham.

Loo pek tunggu dulu. Serunya dengan cepat. Biarlah cayhe jelaskan terlebih dulu nanti Loo pek baru tutup pintu kembali. cayhe tahu Loo pek tentu sudah salah paham dan menganggap kerbau ini datangnya tidak jujur. Terus terang saja ini kerbau sudah mengikuti diriku selama satu tahun lamanya dan merupakan kawan karib dari cayhe.

Harap Loo pek jangan salah paham karena cayhe ada urusan penting yang harus dikerjakan sedang kerbau inipun sedang sakit maka terpaksa aku datang kemari harap Loo pek mau menerimanya.

Sembari berkata dari dalam sakunya dia mengambil keluar dua butir mutiara yang memancarkan sinar berkilauan lantas diangsurkan ke depan.

Sedikit hadiah harap Loo pak mau menerimanya ujarnya lagi, tentu hal ini bisa membuyarkan rasa curiga di hati Loo pek karena dengan kedua mutiara ini barganya ratusan kali lipat lebih mahal dari kerbau ini, ini hari cayhe mau memberikan barang ini kepada diri Loo pek tentunya kau orang bisa tahu bukan kalau cayhe bukanlah orang jahat.

Si petani yang melihat di tangan Liem Tou ada dua butir mutiara yang amat berharga sekali bahkan memancarkan sinar yang berkilauan dia segera tahu kalau perkataannya sedikiipun tidak bohong, pikirnya.

Di tangannya ada mutiara yang begitu berharga buat apa dia pergi mencuri seekor kerbau? kelihatannya apa yang diucapkannya sedikit pun tidak salah, hanya salah aku terlalu banyak curiga saja.

Berpikir sampai disini dia segera mengangguk dan minta maaf kepada diri Liem Tou, tetapi bagaimanapun juga dia tidak mau menerima pemberian dari Liem Tou sebaliknya Liem Tou pun tetap ngotot mau petani itu menerima kedua butir mutiara tersebut, akhirnya petani tua itu terdesak dan menerimanya.

Saking girangnya tidak kuasa lagi titik titik air mata menetes keluar, karena selama dia bekerja bertani sampai saat ini belum pernah mendapatkan hasil seharga dua butir mutiara tersebut.

Liem Tou melihat urusan sudah selesai dia baru menjura kembali kepada petani itu untuk memberi hormat.

Setelah urusan cayhe selesai dikerjakan aku orang baru kemari lagi, semua urusan harap Look pek suka menguruskannya.

Kepada kerbau itu diapun menepuk nepuk pundaknya.

Engkoh kerbau ujarnya. Kau berdiamlah secara tenang tenang beberapa hari di sini kau jangan melukai orang, beberapa hari kemudian aku akan kembali lagi kesini.

Selesai berkata dia sengaja memperlihatkan kepandaiannya di hadapan petani itu agar dia baik baik merawat kerbaunya, tangannya segera digapaikan sambil berseru. "Loo pek. ..".

Belum selesai berkata tubuhnya dengan cepat berkelebat dan meloncat setinggi satu dua puluh kaki tingginya dan melanjutkan kembali kata katanya dari udara.

"Cayhe pergi dulu".

Sekali lagi tubuhnya berjumpalitan di tengah udara lalu berkelebat ke depan lenyap di tengah kegelapan.

Dengan kejadian itu si petani tua yang jujur itu segera menganggapnya sebagai dewa yang sudah turun dari kahyangan, saking terkejut dan girangnya dia cepat cepat memanggil bangun seluruh keluarganya dan berlutut didepan pintu untuk bersembahyang ke atas langit, bersamaan pula mereka menganggap kerbau itu sebagai malaikat yang sakti.

Kita balik pada Liem Tou setelah meninggalkan rumah petani itu, saat ini pikirannya benar benar butek dan kuatir sekali atas keselamatan si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie, dengan cepat dia mengeluarkan ilmu meringankan tubuhnya dan dengan cepatnya berkelebat di tengah malam buta.

Hanya di dalam sekejap saja puluhan li sudah dilewati dengan amat cepatnya, sebentar kemudian dia sudah berada di depan sebuah dusun yang amat besar.

Melihat hal itu diam diam dalam hati berpikir. Perkataan dari lelaki itu apa mungkin mengartikan tempat ini??"

Berpikir akan hal ini tubuhnya dengan cepat meloncat naik ke atas atap rumah dan memeriksa di seluruh keadaan desa itu tampaklah tubuhnya dengan amat cepatnya melayang dan meloncat di atas ratusan rumah itu.

Kurang lebih seperminuman teh kemudian dia sudah memeriksa hampir sebanyak tiga kali di seluruh perkampungan tersebut tapi tidak kelihatan juga tanda tanda yang mencurigakan. Apa mungkin tidak berada disini ? ? apa di sebelah depan masih ada rumah ? pikirnya.

Dia segera meloncat turun kembali ke atas tanah dan melanjutkan larinya menuju ke arah depan.

Mendadak dari arah selatan ditempat kejauhan terlihatlah berkelebatnya sinar lampu yang amat terang sekali, Liem Tou tidak berpikir panjang lagi dengan cepat dia berlari menuju dimana berasalnya sinar terang itu.

Tidak lama kemudian dia sudah sampai disana, kiranya tempat itu bukan lain adalah sebuah halaman bangunan yang amat besar, dikarenakan pada mulanya dia tidak melihat adanya sinar lampu karenanya tidak sampai menemukan tempat tersebut

Dengan penemuannya ini dalam hati segera timbul berbagai pikiran.

Kalau cuma tempat ini saja kiranva tidak perlu membuang tenaga terlalu banyak untuk memasukinya. demikian pikirnya didalam hati.

Dengan cepat meloncat masuk melewati tembok halaman, tembok di balik halaman tersebut adalah sebuah halaman seluas sepuluh kaki persegi dengan di atasnya masih ditumbuhi rumput yang amat lebat amat. agaknya sudah lama sekali tidak pernah dilewati.

Liem Tou dengan cepat melewati kamar tersebut dan berhenti di depan sebuah pintu bangunan yang amat besar dan tertutup rapat, di atas pintu tampaklah dua buah kayu yang memantek pintu tersebut dengan bentuk silang dan pada waktu itulah Liem Tou baru tahu kalau tempat itu adalah sebuah bangunan rumah yang telah tak berpenghuni lagi dan membuat hatinya rada kecewa.

Tubuhnya dengan cepat meloncat naik ke atas dan memeriksa sekejap di sekeliling tempat itu melihat. Di dalam rumah sama sekali tak ada gerak gerik yang mencurigakan dengan hati yang kecewa dia meloncat turun kembali ke atas tanah.

Dia lantas meloncat keluar dari rumah itu dan melanjutkan perjalanannya menuju kearah depan, selama perjalanan ini keadaan disekelilinguya cuma ada pegunungan belaka dan akhirnya tibalah dia di di ujung dan tidak bisa dilalui lagi.

Liem Tou jadi merasa heran, pikirnya.

Apa mungkin orang orang Kiem Tnien Pay berdiam juga di dalam gua gua gunung seperti halnya diatas puncak Ngo Lian Hong?

jika didengar dari pembicaraan Thaysu dari Siauw lim pay itu agaknya berkembangnya pengaruh Kiem Tnien pay didaerah Tionggoan masih baru bisa saja terjadi tidak lama bagaimana mungkin dengan begitu cepatnya mereka sudah berhasil menggali gua? sebagai tempat tinggai?"

Walaupun Liem Tou tidak mau percaya terhadap apa yang dipikir di dalam hatinya itu tetapi dia mau tidak mau harus melakukan pemeriksaan juga di sekeliling pegunungan tersebutt. dia orang sudah mengambil keputusan bagaimanapun juga keadaannya dia harus mencari si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie sampai dapat.

Dengan cepat dia tarik napas panjang panjang dan salurkan hawa murninya mengelilingi tubuh, dengan amat cepatnya bagaikan berkelebatnya sinar kilat dia berlari naik ke atas gunung hingga mencapai pada puncaknya, dari sana dia memandang keempat penjuru tetapi tidak menemukan sesuatu apapun.

Saking gusarnya dia segera berlari seenak nya saja mengelilingi tempat itu, tetapi telah lama tidak menemukan sesuatu juga. Saat ini waktu sudah menunjukkan kentongan keempat, terpaksa Liem Tou balik kembali ke perkampungan tadi untuk siap siap pada keesokan harinya bertanya kembali dengan penduduk disana apakah ada oraag asing yang mendatangi tempat tersebut.

"Kalau memangnya di tempat ini tidak ditinggali oleh orang orang asing maka sudah pasti perkataan dari lelaki itu adalah bohong, terpaksa dia orang harus pergi mencari ke tempat yang lain"

Kini tinggal satu kentongan lagi sebelon hari akan terang tanah, Liem Tou yang sudah berlari semalaman sekarang merasakan badannya amat lemah sekali, dia segera mencari pintu rumah yang rada bersih untuk beristirahat.