Raja Silat Jilid 19

 
Jilid 19

Lie Siauw Ie dengan pelan menganguk agaknya di dalam hatinya ada sesuatu urusan sehingga lama sekali dia tidak memberikan jawabannya.

Sepasang matanya dengan termangu mangu memandang kearah tembok kota Tang Yang yang ada di tempat kejauhan, terlihatlah sesosok bayangan manusia melewati tembok itu disusul dengan kerbau tersebut mengikuti dari belakangnya, tak terasa lagi dia menghela napas panjang

"Heey . . . tidak kecandak, tidak kecandak. setelah masuk ke dalam kota jangan barap bisa kecandak" serunya perlahan.

Ternyata dugaannya sedikitpun tidak salah, sebentar kemudian kerbau itu tampak sudan berlari kembali dan tak lama berselang sudah tiba di belakang rumah penginapan itu.

"Ie cici, Wan Moay" terdengar Liem Tou berseru dengan amat kerasnya. "Tempat ini tidak bisa ditinggalkan lebih lama lagi, mari kita cepat pergi dari sini"

Si gadis cantik pengangon kambing itu segera menoleh ke belakang, sewatktu dilihatnya ada beberapa orang tosu yang meloncat naik ke atas atap rumah lalu ujarnya

"Pengemis busuk itu sudah melarikan diri ke dalam kota Tang Yang, kita pun harus pergi, lebih baik kalian menolong kawan kawan yang terluka untuk dibawa pulang, sedangkan orang yang membinasakan ciangbunjin kalian benar benar adalah si penjahat naga merah itu, mau percaya atau tidak terserah dirimu"

"Sedangkan mengenai pengemis yang melukai kalian kami akan melakukan pemeriksaan setelah setelah tiba dikota Tang Yang" sambung Lie Siauw Ie lagi.

"Jika kami berhasil mengetahuinya tentu kami akan memberi kabar kepada kalian, oh yaah, kalian tinggal dimana?"

Toosu itu tidak langsung menjawab termenung berpikir sebentar lalu baru sahutnya.

'Untuk mencari orang yang sudah membinasakan ciangbunjien kami di seluruh daerah serta keresidenan di seluruh daerah Tionggoan tentu ada anak murid Bu tong pay kami, tiga hari kemudian tentu ada orang yang muncul menemui kalian berdua, selamat tinggal.

Selesai berkata dia segera menjura memberi hormat lalu bersama sama meloncat turun ke bawah dan mengikuti kawan kawannya yang masih mengerang nerang kesakitan berlalu dari sana.

Si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie sehabis mengatur urusan ini sehingga jelas, barulah ujarnya kepada Liem Tou. "Ayoh perg" dari sini, untuk sementara waktu lebih baik kita menginap beberapa hari dulu di dalam kota Tang Yang untuk menyelidiki asal usul dari pengemis tersebut, apalagi baju yang compang camping dari adik Tou inipun harus diganti.

Liem Tou tertawa, sepasang kakinya menjepit kencang perut kerbaunya dengan memimpin dimuka dia berlari terlebih dahulu sedang si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie pun pada meloncat turun dari atap dan berkelebat mangikuti dari belakangnya. 

Sesampainya di dalam kota Tang Yang, Liem Tou tidak bisa terus menerus menunggang di atas kerbaunya sehingga bisa menimbulkan kecurigaan orang lain, terpaksa dia meloncat turun dari kerbaunya bersama sama dengan Lie Siauw Ie serta gadis cantik pengangon kambing berjalan masuk ke dalam kota.

Saat ini hari sudah siang, beberapa orang yang sudah ada satu hari satu malam tidak makan maupun minum segera berjalan memasuki sebuah rumah makan.

Liem Tou mengikat kerbaunya di depan kedai itu lalu bersama sama dengan kedua orang gadis itu berjalan masuk ke dalam rumah makan dan mencari tempat dekat dengan ujung jalan.

Terlihatlah sambil berdahar ujar Lie Siauw Ie dengan suara perlahan.

"Eei jangan makan terlalu banyak, untung sekali kemarin malam bisa bertemu dengan adik Tou, apalagi adik Tou pun sudah pernah pergi ke perkampungan Ie Hee Cung, waktu seperti ini paling bagus kita membicarakan soal soal tersebut, apalagi kitapun harus menentukan langkah langkah selanjutnya bagaimana kalau kita minum arak?"

Si gadis cantik pengangon kambing yang tinggal di atas gunung Go Bie selain tiap hari minum sari buah atau madu belum pernah dia orang merasakan arak yang sesungguhnya, dialah yang pertama berteriak setuju.

Sebaliknya Liem Tou yang mendengar Lie Siauw Ie menyuruh dia menceritakan apa yang dilihatnya di perkampungan Ie Hee Cung hatinya menjadi sangat terperanjat, pikirnya.

Suruh aku bicara? Lie Pek bo sudah meninggal dunia apakah aku harus memberitahukan kepada Ie cici pada waktu ini??"

Berpikir sampai disitu dia segera berseru menolak.

Tidak, lebih baik kita jangan minum arak, Ie cici serta Wan Moay selamanya belum pernah minum arak, kalau sampai mabok lalu bagaimana??"

"Kita minum sedikit saja bukankah tidak mengapa?" ujar Lie Siauw Ie sambil tertawa.

"Betul.. .betul" sahut si gadis cantik pengangon kambing dengan cepat. "Hey pelayan, cepat kemari?"

Segera tampaklah seorang pelayan berlari mendatang, dengan sangat hormat sekali tanyanya.

Khek koan membutuhkan apa?" Ambilkan arak yang paling bagus" seru si gadis cantik pengangon kambing dengan gagahnya.

Pelayan itu segera menyahut dan dengan cepat berlalu dari sana.

Pada saat itulah terdengar suara derapan kaki yang amat ramai tampak dua orang muncul di balik tangga loteng, sekail pandang saja Liem Tou segera mengenali kembali kalau kedua orang itu adalah si hweesio serta si toosu yang pada setahun yang lalu diperintahkan oleh Auw Hay Ong Bo untuk menawan dirinya. Liem Tou tidak ingin dirinya sampai dikenali, cepat cepat dia melengos keiuar jendela menghindarkan diri dari bentrokan pandangan dengan mereka berdua.

Kedua orang itu segera memilih tempat sewaktu melihat Lie Siauw Ie serta Si gadis cantik pengangon kambing ada disana mereka dibuat tertegun, agaknya merekapun mengenali kembali kalau kedua orang gadis ini adalah orang orang dari perkampungan Ie Hee Cung. 

Walaupun Liem Tou tidak melibat ke arah mereka tetapi ketajaman pendengarannya saat ini jauh melebihi orang lain, segera terdengar olehnya si hweesio itu sedang berbisik kepada sang Toosu.

Tidak kusangka mereka bisa demikian cepatnya tiba di dalam kota, bangsat cilik yang melengos itu pastilah Liem Tou.

Betul, sahut Toosu itu dengan suara yang amat lirih.

Setahun yang lalu kita tidak berhasil menawan dirinya, kali ini dia sendiri cari jalan mati kita tidak boieh melepaskan dirinya kembali.

Eih.. .bangsat cilik itu sudah melihat kita, cepat kita pergi dari sini kau awasi mereka dari depan pintu biar aku pergi memanggil Kuncu datang.

Selesai berkata dengan tergesa gesa kedua orang bangkit berdiri dan berlalu dari tempat itu.

Saat itulah Liem Tou baru menoleh ke arah si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie, ujarnya.

Ie cici. Wan moay moay kalian kenal dengan mereka berdua??'

"Tidak kenal, jawab Lie Siauw Ie sambil gelengkan kepalanya. Tetapi akupun rasanya pernah bertemu tetapi untuk sesaat sudah lupa entah ketemu dimana. Pada setahun yang lalu mereka berdua mengikuti Auw Hay Oag Bo mendatangi perkampungan Ie Hee Cung dan memaksa aku lari kalang kabut ini hari Ie cici serta Wan moay harus membalaskan sakit hatiku ini.

Liem koko kenapa tidak kau katakan sejak tadi? Tiba tiba Si Gadis cantik pengangon kambing itu sambil meloncat bangun dari tempat duduknya. Saat ini mereka berdua sudah mengeloyor pergi bagaimana kita bisa membalaskan sakit hatimu tempo hari??

Liem Tou segera bersenyum.

Jangan cemas jangan keburu buru sahutnya. Sebentar lagi mereka bakal kembali lagi, kata mereka mau segera pergi untuk memanggil kuncunya kalu tidak percaya coba kalian lihatlah di depan rumah makan ini kan masih tertinggal seseorang yang sedang mengawasi diri kita.

Si gadis cantik pengangon kambing itu segera menengok keluar jendela ternyata sedikitpnn tidak salah tampaklah sitoosu itu sedang berdiri bolak balik disamping rumah makan mengawasi mereka.

Melihat hal itu Si Gadis cantik pengangon kambing menjadi agak mendongkol, ujarnya kepada Liem Tou serta Lie Siauw Ie sambil lari menuruni tangga loteng.

"Kalian lihat saja, aku segera tawan dirinya"

"Eei .. Wan moay jangan pargi!" Cegah Liem Tou dengan cepat. Bukankah lebih baik kita menanggu kuncirnya terlebih dahulu"

Tetapi si gadis cantik pengangon kambing itu tetap tidak mau tahu dia ngotot mau turun kebawah memberi hajaran kepada orang tersebut.

Melihat hal itu terpaksa ujar Liem Tou kembali. "Jikalau Wan moay benar benar ingin memberi hajaran kepadanya lebih baik jangan turun tangan sendiri, begini saja kau lepaskan tali pengikat kerbau itu biar dia mencari gara gara dengan dirinya, sedangkan kita menonton permainan bagus dari atas loteng bagaimana?"

Si gadis cantik pengangon kambing itu berpikir pikir sebentar akhirnya dia tertawa.

Baiklah, sahutnya dengan gembira. Selama setahun ini bukannya kau berhasil melatih ilmu silatmu sebaliknya melatih seekor kerbau ajaib sungguh merupakan suatu peristiwa yang sangat mengherankan sekali.

Selesai berkata dia segera turun dari loteng untuk melepaskan tali pengikat kerbau tersebut lalu kembnli lagi ke atas loteng, mereka bertiga dengan serta merta melongokkan kepalanya ke bawah untuk menonton tontonan tersebut.

Padahal seluruh perbuatan kerbau itu turus mengikuti perintah dari Liem Tou yang kirim dengan menggunakan ilmu menyampaikan suara, sudah tentu sebelum diperintah Liem Tou kerbau itu tidak akan menunjukkan gerakan apapun.

Saat ini Liem Tou sama sekali tidak bermaksud untuk melukai toosu tersebut, dia cuma gemas sehingga punya niat untuk mempermainkan dirinya.

Setelah tali yang mengikat kerbau itu dilepaskan oleb si gadis cantik pengangon kambing, Liem Tou secara diam diam lantas mengerahkan ilmu menyampaikan suaranya mnmberi pe rintah.

Tampak kerbau tersebut tenang di tengah jalan lalu pandang keki kekanan, tiba tiba sambil menyentakkan kakinya di atas tanah sehingga membuat debu pada beterbangan memenuhi angkasa dengan amat ganasnya lari menerjang ke arah sang toosu. Melihat kejadian itu si gadis cantik pengangon kambing menjadi amat girang sekali.

"Ha haa .... haa .... sudah hampir teriaknya keras, kali

ini sang toosu bau pasti akan kehilangan nyawanya.

"Aku kira belum tentu, sabut Liem Tou dengan perlahan.

Kelihatannya kerbau itu tak suka melukai dirinya."

"Aku tidak percaya, bantah gadis cantik pengangon kambing itu dengan ngotot. "Bagaimana kalau kita bertaruh siapakah yang kalah harus didenda dengan tiga cawan arak."

Diam diam di dalam hati Liem Tou merasa sangat geli sebab jika betul betul mau bertaruh si gadis pengangon kambing pasti akan menderita kekalahan.

Sebentar saja kerbau itu sudah hampir mendekati tubuh sang toosu tapi dia orang masih iidak merasakan adanya bahaya yang mengancam.

Saat itulah mendadak tampak si hweesio sudah berlari mendatangi sambil berteriak keras.

"Mao heng awas bahaya, cepat nyingkir . . !"

Padahal sejak kerbau itu berhasil membubarkan kepungan toosu toosu Bu tong pay terhadap Tionggoan Sam Koay serta kehebatannya pada waktu berada di rumah penginapan, diluar kota Tang Yang sudah membuat namanya tersebar iuas diseluruh dunia kangouw, orang orang Bu lim yang berada di sekitar tempat itu siapa saja sudah tahu kalau di tempat tersebut sudah kedatangan seekor kerbau yang sangat ajaib dan lihay sekali.

Sang toosu yang diperingatkan oleh sang bweesio atau si rase terbang Jien Hwee tidak terasa lagi menjadi terperanjat, telapak tangannya segera dilintangkan kedepan dada lalu kirim pukulan dahsyat menghajar kerbau tersebut. Liem Tou yang ada didekat jeadela dapat melibat seluruu kejadian itu dengan jelas, pikirnya.

"Manusia tidak tahu diri . . . aku punya maksud melepaskan dirimu sebaliknya kau malah melancarkan serangan hendak menghajar kerbauku .. "

Melihat itu dia mengeluarkan suaranya dengan nyaring. "Jadi kau Coe"

"Kerbau itu segera berputar kekiri lalu berbalik kesebelah kanan dengan amat cepat sekali berhasil menghindarkan diri dari serangan pukulan toosu tersehat, disusul berkumandangnya suara jeritan aneh lalu menerjang kembali ke depan.

Sang toosu yang melancarkan pukulannya untuk menghantam kerbau itu dalam bati mengira pukulannya pasti akan mencapai pada sasarannya, dia sama sekali tidak menyangka kalau gerakan dari kerbau itu bisa begitu cepatnya, di dalam keadaan yang amat terperanjat ujung kakinya segera menutul permukaan tanah lalu meloncat naik ke tengah udara.

Agaknya dia kermaksud untuk meloncat naik ke atas punggung kerbau tersebut lalu turun tangan dari atas. Waktu itu sekalipun sang kerbau memiliki kepandaian yang lebih tingipun tidak akan bisa mengapa apakan dirinya.

Sejak semula Liem Tou sudah menduga dia orang bisa berbuat demikian, baru saja sepasang pundak dari toosu itu sedikit bergerak, Liem-Tou sudah kirim perintah lagi.

Tong . . .

Kerbau itu tiba tiba angkat kepalanya sepasang tanduknya diterjangkan kedepan tepat menghajar pada diri toosu itu membuat sang toosu menjerit kesakitan. "Aduuuh .. disertai suara jeritan yane amat keras, hawa murni yang semula dikumpulkan dibagian kaki seketika itu juga terbuyar lagi.

Braak .. tiada kuasa lagi tubuhnya terjengkang ke atas tanah lalu berguling guling seperti halnya seekor anjing yang kena gebuk, seluruh tubuhnya kotor kena debu.

Seketika itu juga memancing tertawa Si Gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie yang amat keras, secara diam diam Liem Tou pun merasa hatinya sangat puas sekali.

Mendadak . . segulung angin pukulan yang amat tajam sekali menerjang dari belakang tubuhnya disusul berkelebatnya sesosok bayangan hijau dengan amat cepatnya.

Liem Tou menjadi sangat terkejut sekali, pada saat pikirannya berputar hawa murninya dengan cepat disalurkan keselurub tubuhnya untuk menerima datangnya serangan tersebut dengan keras lawan keras.

Dia cuma merasakan hatinya sedikit tergetar hebat, diam diam pikirnya.

"Sungguh lihay ilmu jarinya."

Dengan cepat dia menoleh kebelakang, entah sejak kapan di tempat itu sudah bertambah seorang gadis berbaju hijau, sepasang alisnya dikerutkan rapat rapat dan berdiri termangu mangu disana. Lama sekali baru terdengar dia membentak keras.

"Bangsat cilik, dendam sakit hati atas kematian adikku belum terbalas, hari ini engkau hendak menggunakan kerbaumu untuk melukai orang. Hmm jika punya kepandaian ayoh keluar kita bertempur sebanyak tiga ratus jurus."

Liem Tou yang melihat gadis berbaju hijau yang ada dihadapannya sekarang ini semakin dilihat semakia mirip dengan Ciang Beng Hu itu pengemis cilik yang ditemuinya sewaktu ada di dalam penjara lalu kena hajar mati di tangannya, dalam hati segera menduga tentunya dia orang adalah Toa Kuncu dari Kiem Thia Pay.

"Siapa toh musuh besar pembunuh adikmu?" tanyanya mengejek. Dengan tidak tanya tanya dulu kamu sembarangan melancarkan serangan menotok orang, macam manusia apa itu?"

Saat itu si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie pun sudah menoleh sewaktu mereka berdua melihat wajah gadis berbaju hijau itu amat cantik dengan alis yang hitam lengkat dengan bibir yang kecil muncul diam diam memuji tak hentinya.

Gadis cantik pengangon kambing yang sekali pandang saja sudah menaruh simpatik kepadanya segera berseru.

"Cici ini kenapa harus marah marah?" ada perkataan kita bicarakan dengan perlahan mari. . mari silahkan duduk, jarang sekali aku bisa bertemu dengan manusia seperti cici didalam Bu lim saat ini bagaimana kalau kita saling meneguk satu cawan arak?"

Sehabis berkata dia bangkit berdiri dan mempersilahkan tamunya untuk duduk.

Sebelumnya gadis berbaju hijau itu datang dalam keadaan gusar, setelah melihat sikap gadis cantik pengangon kambing yang amat menarik dan ramah sekali walaupun dia orang dibuat serba susah tapi hawa amarah bisa dipadamkan separuh bagaian.

Dengan paksakan diri dia melemparkan sebuah senyuman pada gadis cantik pengangon kambing itu.

Moay moay ini tentunya adalah Si Gadis cantik pengangon kambing bukan," ujarnya dengan perlahan, aku dengar dari ibu katanya kepandaian silatmu amat tinggi wajahnyapun amat cantik sekali. Ini hari bisa bertemu sendiri dengan kau sudah tak terkira ternyata berita itu tidak bohong.

Ahhh mana mana. . . cici mu mana bersni menerima penghargaan itu. Seru gadis cantik pengangon kambing berulang kali. Siauw moay Lie Wan Giok tidak lebih cuma seorang gadia dusun yang kasar, soal kepandaian silat aku orang tidak lebih cuma memahami sebagian bulu luarnya saja.

Lalu dia memperkenalkan diri Lie Siauw Ie kepadanya. Ini adalah Siauw Ie cici, diapun she Lie yang merupakan suci moay dengan diriku. Gadis berbaju hijau itupun segera tertawa dengan menganggukkan kepalanya kepada Lie Siauw Ie tetapi dia tahu Lie Siauw Ie inilah yang dahulu menerjunkan dirinya ke dalam jurang untuk munyusul kekasihnya.

Tidak terasa lagi dia memperhatikan Siaw Ie dengan pandangan aneh membuat Lie Siauw Ie merasa malu dan melengos ke arah lain.

Saat inilah dengan perlahan gadis berbaju hijau tersebut menoleh ke arah gadis cantik pengangon kambing lagi dan bertanya

"Menurut pandanganku, moay moay dengan usia yang masih amat muda ternyata sudah berhasil mencapai taraf kesempurnaan di dalam hal ilmu silat tentunya kaupun berasal dari perguruan yang sangat terkenal sekali, entah maukah moay moay menyebutkan asal perguruanmu?

Mendengar perkataan itu diam gadis cantik pengaugon kambing berpikir keras. Walaupun dari pihak Kiem Tian pay tidak ada ganjalan sakit hati apa apa dengan Tia tetapi mereka selamanya tidak akur, jika kalau aku terus terang memberi tahu kepadanya tentu dia tidak mau besikap halus lagi terhadap kita, tetapi akupun tidak bisa menipu dirinya.

Berpikir akan hal ini tidak terasa lagi dia berpikir keras beberapa saat lamanya tanpa bisa menjawab. Si gadis berbaju hijau yang melihat pihak lawan sama sekali tidak memberikan jawaban, sekali pandang saja dia sudah bisa mengetahui tentunya sigadis cantik pengangon kambing itu mempunyai sesuatu kesukaran karenanya dengan cepat ujarnya.

"Jikalau moay moay merasa ada

kesukaran untuk dibicarakan lebih baik jangan dikatakan lagi."

"Tentang hal ini bukannya ada perkataan yang sukar untuk diucapkan sahut si gadis cantik pengangon kambing itu dengan cepat. Cuma saja sesudah Siauw moay katakan kemungkinan sekali cici akan menganggap diri kami sebagai musuh besar, begini saja setelah aku katakan kau jangan menganggap kita sebagai musuhmu. Biarlah urusan mereka diselesaikan oleh mereka urusan kita, kita yang menyelesaikannya sendiri??"

Mendengar perkataan ini mendadak si gadis cantik berbaju hijau itu meloncat bangun, air mukanya berubah amat hebat.

Apa maksud perkataanmu itu? teriaknya keras, jikalau moay moay adalah musuh besar dari kami keluarga Ciang maka maafkan aku orang tidak bisa mengikuti petunjukmu itu

.

Gadis cantik pengangon kambing yang melihat gadis berbaju hijau itu begitu bernafsunya dia segera tersenyum.

Soalnya ini sebenarnya tidak begitu memberatkan, ujarnya perlahan, ayahku adalah si cangkul pualam Lie Sang, tentunya cici mengetahuinya bukan??"

Si gadis berbaju hijau yang mendengar disebutnya nama Lie Loo jie seketika itu juga dia buat berdiri melongo dengan mata terbelalak lebar lama sekali baru ujarnya. Oooo kiranya kau adalah putrinya tidak aneh kalau harus berbicara demikian.

Tetapi secara tiba tiba gadis cantik pengangon kambing itu menuding ke arah Liem Tou. Lalu tahukah kau siapakah dia orang? tanyanya kepada gadis berbaju hijau.

Liem Tou yang ada disampingnya tak terasa lagi dibuat kebingungan, pikirnya.

Aku bukankah apa apanya ayahmu, buar apa dia bertanya tanya?"

Buat apa kau mengurusi, siapakah dia orang?? terdengar Si Gadis berbaju hijau itu berteriak dengan amat gusarnya. Aku cuma kenal dia adalah musuh besar pembunuh adikku, sekalipun ini hari aku tidak turun tangan membinasakan dirinya tiga hari kemudian dia orang tidak akan berhasil lolos dari tangan kami orang pihak Kiem Thian Bun.

Semakin berbicara Si Gadis berbaju hijau itu semakin marah membuat Lie Siauw Ie yang ikut mendengarkan disamping merasa tidak sabaran lagi sepasang alisnya dikerutkan rapat rapat sedang wajahnya berubah menjadi merah padam.

"Aku kira belum tentu berhasil, serunya dingin. "Cis, bukankah dia adalah kekasihmu? Seru gadis berbaju hijau itu mendadak sambil meloncat bangun. Di dalam urusan ini maaf tidak bisa dihapuskan lagi, waktu itu harap kau orang bisa menahan sakit batimu.

Air muka Lie Siauw Ie berubah memerah, mendadak dia bangkit berdiri wajahnya yang merah padam kini sudah berubah menjadi kehijau hijauan.

Dia betul kekasihku atau bukan kenapa kau orang ikut campar? bentaknya keras. Kau tidak usah banyak berbicara disini jikalau ada kapandaian cepat kerahkan keluar, aku mau coba lihat seberapa kelihayan dirimu" "Oooh . . oooh . . baru saja belajar ilmu silat beberapa hari dari Lie Loo jie cianpwee sekarang sudah mau menantang orang untuk berkelahi Ejek gadis berbaju hijau itu. Kau orang iihat dulu kekuatanmu sendiri apakah bisa menangkan diriku"

"Tutup mulutmu, bentak Lie Siauw Ie tak dapat menahan sabar lagi"

Tangannya dengan cepat disilangkan ke depan dada lalu kirim satu pukulan menghajar kearah dada lawan.

Gadis berbaju hijau itu tertawa dingin, dia tetap berdiri ditempatnya semula sama sekal tak bergerak menanti serangan dari Lie Siauw Ie mendekati badannya mendadak telapak kirinya menyilang ke depan dada sedangkan tangannya dengan cepat bagaikan kilat menerobos menotok ke depan.

Liem Tou tahu ilmu jari si gadis berbaju hijau itu sangat lihay sekali, tidak terasa dia menjadi amat terperanjat, di dalam keadaan yang amat terdesak untuk menolong jiwa dari Lie Siauw Ie ini tanpa berpikir panjang lagi dia segera membentak keras.

"Jangan melukai Ie ciciku !"

Sreett dengan dahsyatnya dia orang kirim satu pukulan

menghantam tubuh gadis berbaju hijau itu'

Gerakan masing masing pihak dilancarkan amat cepat sekali bagaikan menyambarnya kilat di tengah angkasa, baik Si Gadis berbaju hijiau serta Lie Siauw Ie tidak bisa menghindarkan diri dari serangan tersebut, segera terdengarlah dua kali jeritan kaget tubuh gadis berbaju hijau maupun Lie Siauw Ie pada waktu yang bersamaan pada rubuh ke atas tanah.

Si Gadis cantik pengangon kambing serta Liem Tou cepat cepat meloncat bangun dari tempat duduknya dan lari menghampiri Si Gadis berbaju hijau serta Lie Siauw Ie untuk memeriksa keadaan lukanya.

Tampaklah gadis berbaju hijau itn terkena pukulan Liem Tou sehingga lengan kirinya patah sebaliknya Lie Siauw Ie berhasil ditotok ja lan darah "Ci Bun Hiat" pada tetek sebelah kanannya oleh serangan gadis berbaju hijau itu.

Jalan darah "Ci Bun Hiat" ini merupakan salab satu jalan darah penting, di dalam keadaan tergesa gesa si gadis berbaju hijau itu melancarkan serangannya bahkan harus melewati hembusan angin pukulan dari Lie Siauw Ie pula membuat serangannya tidak begitu keras lagi, dengan demikian Lie Siauw Ie pun berbasil meloloskan diri dari bahaya maut.

Ilmu silat partai Kiem Thian Pay mengutamakan ilmu jari Yen Wis Tui Hun Ci dapat mengangkat namanya di dalam Bu lim, sekalipun serangan tadi enteng saja tetapi membuat Lie Siauw Ie cukup terpukul pingsan.

Liem Tou tidak menggubris lagi pantangan lelaki dan perempuan lagi, dengan cepat dia salurkan hawa murninya menguruti dada Lie Siauw Ie untuk membebaskan dirinya dari totokan jalan darah tersebut.

Gadis cantik pengangon kambing yang sedang memeriksa keadaan luka dari Si Gadis berbaju hijau itu dapat melihat tangan kirinya sudah patah oleh serangan tadi.

Sekalipun demikian sambil menggigit bibir menahan rasa sakjt dia meronta ronta bangun dengan pandangan rasa mendendam teriaknya pada diri Liem Tou

"Kau . . . kau . . . jika aku tidak bunuh diri mu, aku sumpah tidak mau jadi manusia.

"Ciang cici, cepat hibur gadis cantik pengangon kambing dengan halus. Lebih baik kau mengurusi keadaan lukamu sendiri, buat apa kau mengumbar nafsu pada saat ini? Sembari berkata dari dalam sakunya dia mengambil keluar sebuah botol batu giok dan mengeluarkan dua butir pil berwarna putih dan didekatkan dengan mulut gadis berbaju hijau itu.

"Cici, ujarnya kembali. Telanlah kedua butir ini, setelah tulangnya disambung segera akan sembuh seperti biasa.

Saat ini si gadis berbaju hijau itu sudah benar benar amat benci terhadap mereka, dia segera gelengkan kepalanya menolak.

Siapa yang mau memakan barangmu itu? Bentaknya kasar.

Cepat bawa pergi sekalipun aku Ciaug Beng Hu mati jupa tidak akan mau makan barangmu itu, kalian kucing sedang menangisi tikus . . . Hma? buat apa berbuat susah susah begitu?

Selesai berkata dengan jalan terbuyung huyung dia menuruni anak tangga loteng itu tapi baru saja berjalan dua langkah lengannya terasa amat sakit sekali sehingga sekali lagi berjongkok ke bawah.

Si gadis cantik pengangon kambing dengan cepat bantu membimbing dirinya.

Cici lukamu penting, lebih baik makan dulu pil ini, ujarnya dengan perlahan.

Sekali lagi Si Gadis berbaju hijau itu gelengkan kepalanya, air mata menetes keluar membasahi pipinya.

Cici cepatlah kau makan pil ini, ujar gadis cantik pengangon kambing itu sekali lagi. Sekalipun di antara kita satu sama lain tidak saling mengenal tetapi boleh dikata punya jodoh untuk bertemu.

Si gadis berbaju hijau itu gelengkan kepalanya kembali, dengan tangan kanannya menggendong tangan kiri dia berdiam diri tak menjawab. Si Gadis cantik pengangon kambing yang melihat dia orang tidak mau menelan pilnya diam diam segera berpikir.

Jika aku membiarkan dia pergi seorang diri maka dendam di antara Liem Tou dengan pihak Kiem Thien Pay akan semakin mendalam lagi apalagi kekuatan serta pengaruh dari pihak Kiem Thien Pay sudah semakin meluas dari daerah Can Tian ke seluruh daerah Tionggoan serta Kanglam, jikalau dendam ini makin mendalam bukankah urusan semakin merepotkan?

Dia yang berpikir sampai disini tak banyak bicara lagi mendadak dia menotok jalan darah pulas dari gadis berbaju hijau itu, sewaktu menoleh ke belakang terlihat Liem Tou sedang mengobati dada Lie Siauw Ie sedangkan Lie Siauw Ie sendiri setelah jalan darahnya terbebas ktni sudah sadar kembali.

Gadis cantik pengangon kambing itu segera memberikan kedua butir pil itu pada Liem Tou.

Kedua butir pil ini berikanlah kepsda cici untuk dimakan, nanti kita bicarakan lagi sesudah kembali ke rumah penginapan.

Selesai berkata dia segera mengambil keluar sebutir mutiara dan diletakkan di atas meja, hal ini membuat para tetamu lainnya menjadi terbelalak dibuatnya.

Gadis cantik pengangon kambing tidak mau membuang waktu lebih banyak lagi, dia segera menggendong tubuh Si Gadis berbaju hijau itu dan lari turus ke bawah loteng, Liem Tou pun dengan cepat memberikan pil itu kepada Lie Siauw Ie lalu menggendong tubuhnya meninggalkan loteng tersebut.

Sesampainya di bawah loteng terlihatlah Toosu itu sudah diinjak oleh sang kerbau sehingga hancur lebur sukar untuk dikenal kembali, sebaliknya di atas punggung dari kerbau itupun jelas sekali tertera dua buah bekas telapak Thay Su Ing yang amat jelas sekali kaki depan nya berlutut di atas tanah sedang mulutnya tak hentinya mendengarkan suara rintihan yang berat.

Sedangkan itu hweesio si rase terbang entah sudah lari kemana?"

Liem Tou yang melihat dikarenakan dirinya harus pecah perhatian atas kedatangan gadis barbaju hijau itu, kerbaunya sudah menerima pukulan Thay Su Ing hatinya merasa gemas juga.

Ilmu pukulan Thay Su Ing ini merupakan ilmu telapak tunggal dari aliran Thian San Pay, jika seseorang kena pukulan ini walaupun diluarnya cuma kelihatan bekas telapak tangan saja padahal di dalam isi perutnya sudah tergoncang hebat, bilamana tidak diobati dengan cepat tentu akan menemui ajalnya.

Liem Tou tahu kerbaunya sudah menderita luka yang tidak ringan, diam diam dia merasa benci terhadap sang hweesio, tetapi saat ini dia sudah meninggalkan tempat itu terpaksa dengan tergesa gesa dia mengambil keluar tali peninggalan Hek Loo toa dan dimasukkan kedalam mulutnya.

Setelah kerbau itu menghabiskan satu ikatan Liem Tou baru menepuk nepuk punggungnya.

Gouw ko, ujarnya. Kau dapat melanjutkan perjalanan dengan menahan sakit bukan?.

Agaknya kerbau itu mengerti apa yang diucapkan olehnya, kaki depan yang semula berlutut di atas tanah kini bangkit berdiri, tetapi baru saja berdiri tidak lama sekali lagi ia jatuh berlutut kembali sedangkan dari mulutnya memperdengarkan suara dengusan yang amat rendah, diantara dengusan itu membawa beberapa bagian rasa sedihnya

Liem Tou yang melihat kerbau itu tidak bisa bangkit berdiri dia menjadi teramat cemas. Gouw ko, ujarnya kembali. Tidak perduli bagaimanapun kau harus paksakan diri untuk berjalan beberapa langkah, tidak jauh . .rumah penginapan disebelah depan sana, nanti aku akan segera menyembuhkan lukamu, coba kau lihat sekarang berlutut di tengah jalan memancing banyak orang yang menonton, bukankah hal itu amat jelek sekali??""

Saking cemasnya sehingga pikirannya buntu memaksa Liem Tou harus berbicara sedemikian rupa terhadap kerbaunya, sang kerbaunya dengan membelalakkan matanya lebar lebar memandang ke arah Liem Ton, setelah mendengus pedih mendadak ia tundukkan kepalanya

Melihat hal itu diam diam pikir Liem Tou didalam bati. Obat dari Hek Loo toa itu amat sakti dan mujarab sekali,

beberapa kali dicoba pasti membawa hasil, kenapa kali ini gagal.?

Dia merasa tentunya daya obat itu belum berjalan karenanya kepada si gadis cantik pengangon kambing, kembali dia minta kembali dua butir pil mujarapnya lalu dimakankan kepada kerbaunya kemudian secara diam diam kerahkan tenaga dalamnya melalui bekas telapak tangan tertera diatas perutnya.

Si gadis cantik pengangon kambing tidak mengetahui kalau Liem Tou sudah memiliki kepandaian silat yang sakti, dia kira kepandaiannya tidak lebih juga seperti setahun yang lalu, saat ini terdengar dia berteriak keras,

Liem Koko, biarlah aku menolong kau, dia tentu terluka karena darahnya menggumpal, aku harus menghancurkan gumpalan darah itu. terlebih dahulu sehingga dengan demikian lukanyapun tidak akan terluka bahaya".

Walaupun di dalam hati Liem Tou merasa geli tetapi dia mengalah juga, gadis cantik pengangon kambing itu segera menempelkan telapak tangannya keatas perut kerbau itu. Beberapa saat kemudian si Gadis cantik pengangon kambing itu baru berhenti, Liem Tou cepat cepat angkat tangannya ke depan perut kerbau itu sambil membentak keras.

"Ayoh bangun".

Kerbau itu cepat bangkit berdiri cuma saja kedua kakinya masih tetap gemetar dengan amat kerasnya, saat itulah Liem Tou baru tahu kalau kerbau tersebut sudah menderita luka yang amat berat sekali, terpaksa dia tempelkan kembali telapak tangannya ke atas perut kerbaunya lalu secara diam diam mengerahkan tenaganya menahan jangan sampai dia roboh ke atas tanah.

"Wan moay ayoh jalan" serunya kemudian.

Demikianlah masing masing dengan menggendong Si Gadis berbaju hijau serta Lie Siauw Ie dan Liem Tou menyeret juga kerbaunya melanjutkan perjalanannya.

Waktu itu banyak orang orang pendaduk di sekitar tempat ini mengikuti dari belakangnya, bahkan berita ini dengan cepatnya mengalir ke seluruh penjuru kota.

Hanya di dalam sekejap saja berita tentang munculnya seekor kerbau ajaib ini sudah tersebar keseluruh kota Tang Yang bahkan rumah penginapan dimana Liem Tou serta si gadis cantik pengangon kambing berdiam telah di datangi banyak orang yang ingin melihat keanehan kerbau itu.

Melihat hal itu Liem Tou jadi kuatir atas keselamatan dari kerbaunya yang ditaruh di kandang kuda, dia takut kerbaunya yang sedang terluka mendapatkan serangan lagi dari orang lain sehingga menemui ajalnya.

Setelak dia orang mengurusi Lie Siauw Ie dan mengetahui kalau lukanya tidak terlalu bahaya, kepada Si Gadis cantik pengangon kambing lalu ujaraya. "Wan moay. aku merasa tidak lega hati bila kerbau itu disimpan di dalam kandang kuda, kau pikir baiknya kita taruh di mana ??

"Apa kau punya maksud untuk memasukkan kerbau itu ke dalam kamar tinggal bersama kita ? " goda gadis cantik pengangon kambing sambil tertawa.

"Benar" sahut Liem Tou mengangguk aku punya, maksudnya demikian, cuma saja aku takut Wan moay menggoda diriku.

"Buat apa aku menggoda dirimu?" ujar si gadis cantik pengangon itu sambil tertawa. Sekarang kerbau itu sudah jadi barang wasiatmu, diapun merupakan pengawalmu, memang seharusnya kau bersikap hormat seperti murid bersikap hormat terhadap suhunya.

Dengan pandangan tajam Liem Tou memperhatikan diri gadis cantik pengangon kambing itu, dia takut di dalam perkataannya ini mengandung maksud mengejek, tetapi sewaktu melihat wajah si gadis cantik pengangon kambing itu dihiasi dengan senyuman yang menyenangkan dia baru tidak menaruh curiga lagi, diapun jadi turut tertawa.

"Kalau begitu bagus sekali" biar aku suruh dia kemari.

Baru saja Liem Tou mau keluar pintu mendadak terdengar si gadis cantik pengangon kambing sudah berteriak.

"Kau harus mandikan dia bersih-bersih baru bawa masuk kemari, kalau masih bau aku akan mengusir dia keluar."

"Baik ... baik" sahut Liem Tou sambil tertawa, aku pasti akan mandikan dirinya terlebih dulu, moay moayku yang tercinta."

Seaera dia berjalan keluar dari kamar itu. Si gadis cantik pengangon kambing yang mendengar dia orang memanggil dirinya dengan kata kata moay moay yaug tercinta dari dalam segera makinya

"Kau orang semakin lama semakin jahat, jika menimbulkan hawa amarahku jangan salahkan aku segera potong lehermu."

Kepada Lie Siauw Ie yang sedang berbaring diatas pembaringan sambil tersenyum memandang dirinya dia berkata lagi.

"Ie cici, inilah hasil dari dirimu yang terlalu memanjakan dirinya, kau harus baik baik mengurusi dirinya.

Lie Siauw Ie yang baru sembuh dari lukanya tidak leluasa untuk menjawab dia hanya kirim satu senyuman kepadanya. Kamar itu sebenarnya adalah dua ruangan yang disambung menjadi satu. Si Gadis cantik pengangon kambing segera berkata kepada Lie Siauw Ie.

"Ie cici, kau berbaringlah disini. Aku akan melihat keadaan dari Ciang cici" Lie Siauw Ie mengangguk.

Dengan langkah yang perlahan Si Gadis cantik pengangon kambing berjalan masuk ke dalam kamar dan membuka kordin yang menutupi tempat tersebut, terlihatlah Ciang Beng Hu masih tidur dengan amat nyenyaknya dia tidak mau mengganggu setelah melihat sejenak cepat cepat dia undurkan diri kembali kesamping pembaringan Lie Siauw Ie dan men bicarakan soal soal di dalam dunia kangouw dan jejak selanjutnya dari mereka bertiga.

Tidak lama kemudian Liem Tou balik lagi ke dalam kamar dengan menuntun kerbaunya itu, begitu sang kerbau masuk kedalam kamar seketika itu juga memancing tertawaannya dari pemilik rumah penginapan itu serta para tamu lainnya, Liem Tou sama sekali tidak menggubris bahkan kirim satu senyuman ketolol tololan kepada mereka. Seseorang diantara mereka yang melihat Liem Tou tidak dibuat marah oleh ejekan mereka segera mengggoda.

"Hey engkoh cilik, kau membawa kerbau itu ke dalam kamar apakah mau mengajaknya tidur bersama sama satu ranjang kau berhati hatilah jangan sampai dikencingi kerbau tersebut.

Haaa . . haaa . . Liem Tou pun tartawa terbahak bahak dengan kerasnya. Kalian apa tidak tahu kalau kerbau ini kerhau ajaib? kerbau ajaib selamanya tidak pernah kencing dipembaringan, tetapi aaah . . nanti malam sewaktu tidur aku harap kalian mau berhati ha-ti "

Liem Tou sengaja memperhatikan sikap serta gerak geriknya yang amat misterius lalu memperhatikan para tetamu sambil kerutkan alisnya rapat rapat.

Orang itu sewaktu melihat sikap dari Liem Tou amat serius tidak terasa menjadi amat tegas.

"Ada apa?" tanyanya.

Liem Tou berpikir sebentar, akhirnya dia gelengkan kepalanya.

Lebih baik aku tidak berbicara saja nanti jika aku bilang tentu kalian akan ketakutan sehingga satu malaman tidak bisa tidur kalau sampai terjadi urusan itu bukankah kalian semua akan menyalahkan aku?"

Orang orang itu setelah mendengar perkataan ini hatinya semakin tidak lega lagi, mereka pada mendesak Liem Tou untuk mengatakan urusan apa yang akan terjadi.

Melihat suasana yang semakin ribut, Liem Tou baru menjawab dengan suara perlahan.

Jikalau kalian benar mau mengetahui urusan ini akupun tidak bisa bardiam diri terus, tetapi asalkan ada aku disini kalian tidak usah takut. Kerbauku ini tidak ada jeleknya cuma saja ada kalanya sewaktu menjadi marah dan nafsu binatangnya berkorbar dia sering tidak mengenal orang lain sehingga berlarian melukai orang lain secara sembarangan, makanya sebelum urusan terjadi aku beri peringatan dulu kepada kalian, jikalau dia betul betul marah dan menubruk nubruk kalian tak usah menjadi gugup sehingga mengakibatkan bencana besar. waktu itu urusan bisa berabe."

Para pedagang itu sewaktu mendengar perkataan ini ditambah pula berita terinjak matinya seorang toosu serta melayangnya sang kerbau melewati atap rumah membuat mereka menjadi percaya seratus persen, tidak terasa lagi air muka mereka pada berubah menjadi amat hebat, setelah tertegun beberapa saat lamanya mendadak pada berteriak keras.

Haaaduuuh . . payah . . payah . . jikalau di dalam rumah penginapan ada penyebab bencana ini bagaimana suruh kita berdiam disini dengau tenang? hey engkob cilik cepat bawa dia keluar, jikalau kerbau itu sampai melukai orang buat dirimu juga tidak ada gunanya.

Hey pelayan .. pelayan . .! Teriaknya salah seorang di antara mereka. Aku mau batalkan rencanaku tinggal disiai, aku tidak mau tinggal bersama binatang penyebab bencana ini.

Seketika itu juga suasana di dalam ruangan penginapan itu menjadi kacau balau. Liem Tou yang melihat hal ini diam diam merasa amat geli sekali, setelah masuk ke dalam dan bertemu dengan gadis cantik pengangon kambing tidak kuasa lagi dia tertawa terbahak bahak.

Si gadis cantik pengangon kambing yang melihat sikapnya yang amat aneh itu tidak urung dibuat curiga dan ragu ragu.

Hey ada urusan apa yang membuat kau tertawa terbahak bahak? tanyanya keheranan. Mereka menggoda aku lalu aku balik menggoda mereka dengan menipu yang bukan bukan siapa tahu mereka sudah menganggapnya sungguh sungguh dan pada membatalkan niatnya untuk berdiam ditempat ini, aku rasa rumah penginapan ini bakal sepi.

Baru saja berbicara sampai disini mendadak terdengar suara orang yang sedang mengetuk pintu. Liem Tou segera membukanya terlihat pemilik rumah penginapan itu sedang berdiri dimuka pintu dengan wajah yang serba susah, bibirnya sedikit bergerak mau mengucapkan sesuatu pada Liem Tou, tapi sewaktu dilihat kerbau itu berdiri di samping pinta dia menelan kembali kata katanya.

Liem Tou segera menduga apa yang sudah terjadi, kepada Si Gadis cantik pengangon kambing ujarnya sambil tertawa.

Wan moay mutiaramu apa masih ada?? para tamu sudah dibuat ketakutan oleh kerbau sehingga pada melarikan diri terbirit birit kini si pemilik rumah penginapan mencari aku seharusnya kau orang bantu aku usir dia pergi.

Hmm, aku tidak mau ikut campur urusanmu yang merepotkan ini, seru Si Gadis cantik pengangon kambing sambil mencibirkan bibirnya. Seorang lelaki sejati berani berbuat tentu berani menanggung jawab. Buat apa kau mencari aku??"

Ooooh.. .adikku yang baik, mohon Liem Tou cepat. Kenapa kau begitu teganya melihat aku kesusahan? cukup kau mengambil keluar sebutir mutiara bukankah urusan akan segera menjadi beres?"

Si gadis cantik pengangon kambing segera termenung berpikir sebentar.

Demikian saja, ujarnya kemudian. Asalkan kau menyanggupi diriku untuk melakukan tiga macam urusan maka aku beri kau orang sebutir mutiara, bagaimana? Diam diam di dalam hati Liem Tou berpikir.

Sungguh lucu sekali, mutiara yang kau miliki sekarang ini bukankah aku yang memberikan kepadamu? padahal saat ini aku masih mempunyainya sangat banyak sekali hanya saja tidak leluasa untuk mengambilnya, entah apakah ketiga syaratnya itu?"

tapi aku kira tentunya tidak sukar lebih baik aku menyanggupinya.

Berpikir sampai disitu segera menyanggupinya.

Kalau memangnya Wan moay yang menghendakinya, jangan dikata cuma tiga macam urusan saja sekalipun tigapuluh atau tigaratus pun aku akan melakukan dengan sepenuh tenaga."

Baiklah, ujar si gadis cantik pengangan kambing itu kemudian sambil tertawa dan mengambil keluar sebutir mutiara.

Tapi kau harus ingat urusan ini kau tak mungkir lagi Ie cici kau harus jadi saksi.

L

iem Tou segera mengangguk

Melihat dia orang sudah menyanggupinya si gadis cantik pengangon kambing beru bicara.

Pertama, untuk selanjutnya kau tidak diperkenankan untuk berbuat kurang ajar terhadap cici, kau bisa melakukannya, bukan?"

Soal itu tak perlu dikuatirkan.

Kedua segera pergi mencari satu stel pakaian yang bersih dan bagus kalau tidak jangan kembali lagi.

Liem Tou segera tertawa terbahak bahak. Aku kira urusan berat macam apa, soal inipun tidak sukar diselesaikan.

Kau orang jangan gembira dulu, sambung si gadis cantik pengangon kambing dengan perlahan. Urusan yang sulit ada di belakang, ketika di dalam tiga hari ini kau harus mencari berita siapa yang sudah membinasakan kawanan kambingku. Ini bawa pergi.

Sembari berkata dia melemparkan mutiara itu ke tangan Liem Tou, lalu sambungnya lagi.

Sekarang mutiara itu sudah kau dapatkan urusankupun harus kau selesaikan cepat cepat jikalau diantara ketiga urusan ini tidak bisa melaksanakannya jangan harap aku berlaku sungkan lagi terhadap dirimu.

Liem Tou yang mendengar permintaannya yang ketiga itu tidak terasa lagi diam diam merasa kepayahan, pikirnya

Sungguh licik pengangon kambing ini, ternyata aku sudah kena pancingannya, tapi kau tunggu saja nanti ada permainan bagus bakal menyusul di belakang.

Berpikir sampai disitu dia segera tertawa, sahutnya.

" Apa susahnya urusan ini? kau legakanlah hatimu, kalau aku sudah menyanggupi untuk melaksanakan pekerjaan itu orang pasti akan melakukannyanya sampai beres."

Liem Tou segera putar badannya untuk menyerabkan mutiara itu kepada si pemilik rumah penginapan sebagai ganti batalnya para tamu untuk menginap disana.

Saat itulah mendadak.. ."Plaaak" ada sebuah benda berat yang memecahkan jendela melayang masuk ke dalam dan tepat jatuh di tengahi kamar.

Sepasang mata dari Liem Tou yang amat tsjam hanya di dalam sekali pandang saja sudah mengetahui macam benda tersebut, dengan cepat dia menoleh keluar jendela, tampaklah sesosok bayangan hijau dengan amat cepatnya berkelebat lenyap dibalik tembok.

Aaaah emas.. .terdengar si gadis cantik pengangon kambing menjerit keras. Bagaimana bisa ada emas yang melayang masuk ke dalam kamar kita??"

Liem Tou sebenarnya adalah seorang yang cetdik, setelah berpikir sebentar mendadak dia gelengkan kepalanya.

Heee. .Ciang cici sudah pergi serunya sambil menghela napas panjang, ternyata dia orang tidak mau menerima budi kebaikan kita.

Perkataannya ini mana si gadis cantik pengangon kambing mau mempercayainya?? Bukankah tadi dia orang tertidur dengan amat pulasnya bagaimana sekarang bisa pergi? dengan cepat dia berlari masuk ke kamar dalam, tapi sebentar saja dia sudah menjadi tertegun. 

Kiranya jendela sudah terbentang lebar sedangkan orangnya telah lenyap tidak berbekas.

Orang itu sungguh aneh sekali., tulangnya yang patah masih belum sembuh jikalau terkena angin lagi bukankah sukar diobati dan semakin mendatangkan kerepotan buat dirinya sendiri?" seru Si Gadis cantik pengangon kambing dengan perlahan. Liem Tou tidak menjawab, dia putar badan memungut emas itu dan ditimang timangnya di atas tangan, segera dia merasa emas itu ada lima, enam kati beratnya, dengan cepat disusupkan ke dalam sakunya.

Waktu itulah Si Gadis cantik pengangon kam-sedang berjalan masuk kedalam kamar, melihat Liem Tou memasukkan emas itu ke dalam sakunya segera berseru.

Eei Liem Tou koko bagaimana kau boleh memasukkan emas itu ke dalam sakumu?"

Liem Tou meagerutkan alisnya rapat rapat. Perempuan semacam ini tidak ada harganya untuk Wan moay menaruh rasa kuatir kepada nya . . aku mau pergi cari dirinya lalu menggunakan emas ini menimpuk wajahnya.

Mendengar perkataan itu Si Gadis cantik pengangon kambing menjadi amat gusar makinya.

Aku masih mengira kau adalah seorang lelaki sejati, pintu kamar saja belum dilewati sudah mengingkari janji , Hmm, bukankah baru saja kau orang menyanggupi tiga buah permintaanku

Saat ini mutiara tersebut masih ada ditangan Liem Tou, mendengar perkataan tersebut dia segera mengangsurkannya kembali.

Kau ambillah kembali barang ini, ujarnya. Jikalau kau orang suruh aku menganggap tapak seorang perempuan yang begitu tidak tahu diri, aku tidak akan menyanggupinya.

Si gadis cantik pengangon kambing menjadi teramat gusar, dengan cepat dia rebut kembali mutiara yang ada di tangan Liem Tou lalu putar badannya

"Baiklah, ujarnya. Kau mau berbuat apapun terhadap dirinya aku tidak akan ikut mencampurinya kembali, soal siapa yang membinasakan kambing kambingku tidak perlu kau orang bersusah payah menyelidikinya sendiri. Ie cici aku serahkan kepadamu kembali, aku mau pergi dulu.

Selesai berkata dia segera menjejak kakinya dan melayang keluar dari jendela

Liem Tou sama sekali tidak menyangka kalau dia bisa begitu marah, padahal dia orang cuma merasa kheki saja melihat kekasaran dan ketidak tahu aturan dari Ciang Beng Hu itu karena itu berbicarapun agak kasar, kini melihat Si Gadis cantik pengangon kambing mau pergi dia menjadi cemas, tangannya dengan cepat menyambar tangannya sambil berseru. "Wan-moay kau jangan,pergi, semuanya adalah kesalahanku buat apa kau pergi? " apalagi jika harus pergi. yang pergi seharusnya aku, Ie cici scrta kerbau itu masih ada disini biarlah Wan moay tolong menjaganya, aku pergi dulu.

Kata kata terakhir baru saja diucapkan ke luar dia sudah menarik tandan si gadis Cantik pengangon kambing itu ke belakang menbuat dia orang tidak terasa lagi mundur beberapa langkah kebelakang.

Liem Tou segera maju ke depan lalu menutulkan ujung kakinya diatas permukaan tanah lalu berkelebat keluar dari jendela, ujarnya sambil merangkap tangannya menjura.

"Selamat tinggal."

Dengan cepatnya dia orang sudah melayang pergi tak berbekas.

Si gadis cantik pengangon kambing menjadi cemas, teriaknya.

"Liem koko . . - kau tunggu dulu, aku ada perkataan yang hendak disampaikan kepadamu' Heeey kenapa kau marah terhadap diriku . . . Liem koko "

Sekalian Liem Tou mendengar suara panggilan tersebut tapi dia orang tidak mau memberikan jawabannya dalam hati dia kepingin memecahkan rahasia pencurian yang dilakukan oleh si penjahat naga merah itu.

Adanya tanda ular di kota yang menemui bencana memang jelas menunjukkan si naga merah lah yang melakukan perampokan tersebut, tapi terang terangan si penjahat naga merah pada malam itu ada di kuil Siang Lian si, bagaimana mungkin dia orang bisa pergi ke kota Tang Yang untuk melakukan perampokan.

Karena itu dengan mengambil kesempatan ini dia meninggalkan rumah penginapan untuk mencari seperangkat pakaian yang berwarna hijau untuk berganti pakaian lalu membeli pula sebuah topi terbuat dari rumput.

Sebentar saja seorang gembala kerbau yang kotor dan dekil kini sudah berubah meujadi seorang kongcu yang amat perlente dan tampan sekali, sedikitpun tidak mirip dengan Liem Tou yang dahulu.

Hari ini Liem Tou berjalan masuk keluar di setiap rumah makan dan mencari berita di dalam kota Tiang Yang tetapi tidak ada sebuah beritapun yang didapatkan, tiba tiba di dalam pikirannya teringat akan sesuatu, pikirnya.

"Orang yang melukai empat orang toosu Bu tong pay sekaligus dengan menggunakan senjata rahasia pada waktu itn adalah pengemis, bila orang itu pula yang melakukan pem bunuhan terhadap kawanan kambing dari si gadis cantik pengangon kambing seharusnya aku pergi ketempat yang banyak pengemisnya, buat apa pergi kerumah makan ?"

Berpikir sampai disini tidak tertahan lagi dia merasa geli sendiri, siasatnya segera dirubah, dia khusus pergi ke dalam kuil yang bobrokan atau tempat tempat yang banyak ditemui pengemis.

Tetapi walaupun sudah dicari setengah harian dan sang suryapun sudah berada di ufuk barat dia orang sama sekali tidak memperoleh sedikit beritapun. Akhirnya sampailah dia orang di sebuah pohon siong yang amat lebat dan tinggi sekali membuat setiap orang yang melalui tempat itu merasa hatinya bergidik.

Diam diam dalam hati Liem Tou berpikir.

Tidak urung ini hari aku orang tidak berhasil mendapatkan jejak dari pengemis itu, kemungkinan juga sejak semula dia sudah meninggalkan kota Tang Yang ini, jikalau memang begitu adanya sekalipun aku harus mencari sepuluh, dua haripun tidak berguna. Dengan bergendong tangan dia segera berjalan memasuki pohon siong itu kurang lebih setengah jam kemudian mendadak dihadapanaya muncul dinding tembok yang amat nyata, agaknya ditempat tersebut merupakan aebuah kuil kaum toosu yang kecil.

Liem Tou segera mempercepat langkahnya menuju kesana, tampaklah olehnya pintu kuil itu setengah terbuka di atas pilar tergantunglah sebuah papan yang bertuliskan Ceng Coen Koan tiga huruf dari emas.

Cepat tubuhnya masuk kedalam ruangan itu, mendadak dia merasakan bau wanginya panggangan ayam berhembus keluar dari dalam kuil tersebut bahkan di dalam kuil tidak nampak adanya dupa maupun lilin yang dipasang, diatas dan di sekitar patung arca tampak debu yang amat tebal menutupi semua tempat, bahkan tidak kelihatan adanya sesosok manusiapun.

Liem Tou memerikasa sejenak keadaan disekeliling tempat itu, baru saja dia mau masuk kedalam kuil mendadak terdengarlah suara seseorang sedang bicara.

Jika demikian adanya kematian dari Leng-Ceng Too heng bukanlah kalian bertiga yang melakukannya, soal ini mungkin aku masih bisa percaya, tetapi kalau memang begitu apakah kitab pusaka To Kong Pit Liok itu juga sudah didapatkan oleh si penjahat naga merah?"

"Semula kamipun punya pikiran begitu sahut seseorang lagi. Tetapi sewaktu kemarin malam kita bertempur sendiri dengan penjahat tua itu kami rasa tenaga dalamnya tidak memperoleh kemajuan seberapa jika dibandingkan dengan setahun yang lalu.

Kitab pusaka To Kong Pit Liok merupakan sebuah kitab yang berisikan ilmu silat yang amat dahsyat sekali, jikalau dia orang betul betul sudah mendapatkan nya jangai dikata kami sekalipun Lie Loo-jie juga belum tentu merupakan tandingannya. Liem Tou yang mendengar perkataan itu segera bisa membedakan kalau suara itu berasal dari si Thiat Sie Sianseng, dengan demikian si siucay buntung serta si pengemis pemabokpun seharusnya ada disana.

Terdengar orang yang pertama membuka mulut dan berbicara lagi. Jikalau begitu si penjahat naga merah tentu nya belum memperoleh kitab pusaka To Kong Pit Liok itu. lalu kitab pusaka tersebut sudah di dapatkan oleh siapa??"

"Aku tahu akan seseorang" tiba tiba sipengemis pemabok menyambung, sewaktu aku terluka, waktu itu aku sedang mengerahkan tenaga dalamku untuk menyembuhkan luka dari si penjahat naga yang telah pergi mengejar si Thiat Sie Sianseng, aku melihat ada orang berjalan masuk kedalam lembah.

Berbicara sampai disini mendadak si pengemis pemabok meghela napas panjang.

"Jikalau memang benar sudah dia peroleh hey.. rejeki bocah cilik itu sungguh bagus" ujarnya. Hey Heng San Jie Yu, aku dengar kalian berdua pandai berpikir coba kalian terka siapakah orang itu??"

Suasana seketika itu juga dicekam kesunyian yang amat sangat tidak terdengar sedikit suarapun. Liem Tou yang mendengar perkataan dari si pengemis pemabok itu tidak urung di dalam hati diam diam memaki.

"Kau setan arak, ternyata mau membocorkan rahasiaku."

Pada saat itulah mendadak terdengar seseorang berbicara kembali.

"Soal ini tidak sukar untuk diduga, apakah bukan itu si perempuan tunggal atau Ku Li Touw Hong? menurut berita yang tersiar didalam Bulim katanya si perempuan tunggal Touw Hong ini pernah mengalahkan Auh Hay Ong suami isteri dari Kiam Thien Pay hanya di dalam tiga jurus saja, dan kini perempuan tersebut sudah diterima Auh Hay Ong sebagai jagoannya.

Karena itulah pengaruh dari Kiam Thien pay di dalam beberapa hari ini amat dahsyat sekali sehingga sebagian daerah Kang lam sudah dikuasai oleh mereka, aku dengar pula katanya si perempuan tunggal Touw Hong tidak lama kemudian akan membuka cabang cabang diseluruh daerah, jika berita ini benar maka Loolap kira kitab pusaka To Kong Pit Liok itu tentunya sudah didapatkan olehnya.

Mendengar perkataan itu diam diam Liem Tou merasa hatinya amat murung, pikirnya.

Aku belum pernah dengar dari daerah Si Lam sudah muncul seorang perempuan yang demikian jumawanya, jikalau urusan ini benar benar terjadi aku kepingin sekali menemui dirinya, aku benar benar mau lihat dia orang mempunyai kelebihan apa yang patut dibanggakan

Saat ini si pengemis pemabok sudah tertawa lagi, ujarnya.

Perkataan yang Chiet Siauw Thaysu ucapkan sudah terpaut amat jauh sekali, sekalipun si perempuan tunggal, Touw Hong itu aku pernah mendengarnya tetapi belum percaya benar benar, siapa tahu kabar itu juga kabar kosong dari Loociang saja ??

Sebetulnya orang yang sudah memasuki lembah itu memang membuat hatiku sedikit ragu ragu. tetapi setelah kejadian itu kemarin malam dikuil Siang Lian Si ....