Raja Silat Jilid 18

 
Jilid 18

Dengan cepat Liem Tou menggapai ke arahnya dan menunjukkan jalan keluar buat dirinya, Lie Siauw Ie menyahut dan memerintahkan kerbaunya untuk berjalan maju.

Beberapa saat kemudian sesudah membuang tenaga yang amat besar akhirnya dia berhasil bersatu kembali dengan Liem Tou untuk siap melewati gua itu mencari jalan keluar.

Kita balik pada Lie Loo jie serta si gadis cantik pengangon kambing yang tergantung di dalam ruangan kuil tersebut, keadaannya pada saat ini benar benar sangat mencemaskan sekali, sepasang mata mereka dengan terbelalak memandang kearah telaga air yang amat tenang sama sekali tidak tampak gerakan yang mencurigakan.

Karena mereka takut didalam air sudah dipasang alat alat rahasia karenanya sampai saat ini mereka masih tidak berani menggunakan ilmu meringankan tubuhnya untuk berjalan di atas permukaan air, mereka takut pula jikalau Thiat Bok Thaysu dengan mengambil kesempatan ini melancarkan serangan yang akan mengancam jiwa mereka.

Lewat beberapa saat kemudian si gadis cantik pengangon kambing sudah merasa tidak sabaran lagi, bisiknya kepada Lie Loo jie.

"Tia, ayolah kita turun ke bawah saja, kita harus bergantungan sampai kapan disini?? apa lagi bergantung seperti begini harus membuang tenaga amat banyak, lebih baik kita meloncat turun saja."

"Wan jie kau bisa bartahan sabar sahut Lie-Loo jie dengan suara yang amat halus, jika lihat dari barang barang yang diatur di dalam kuil Siang Lian si ini kemungkinan sekali di bawah telaga ini sudah dipasang sesuatu alat rahasia yang amat berbahaya, apalagi kita tidak tahu berapa dalamnya air kolam ini jika didalamnya dia sudah pasangi sesuatu benda sedikit kita salah menginjak tentu akan terkena jebakannya, lebih baik kita menunggu sebentar lagi.

Dengan amat tenangnya mereka berdua menunggu kembali entah seberapa lamanya sedangkan sampai saat itu dari pihak Thiat Bok Thay su pun sama sekali tidak memperlihatkan gerak gerik yang mencurigakan.

Keadaan semakin tenang Lie Loo jie semakin dibuat tegang lagi, sedetikpun dia orang tidak pernah memecahkan perhatian untuk mengawasi air kolam serta keadaan di sekeliling ruangan kuil itu. Beberapa saat kembali berlalu dengan tenangnya, mendadak. . ."

Permukaan air yang semula tenang mendadak beriak dan bergelombang dengan amat kerasnya diikuti gelembung gelembung air yang memenuhi permukaan kolam. Segera terdengar suara dari Thiat Bok Thaysu yang berteriak dengan amat gusarnya.

"Hey orang she Lie, ini hari anggap saja aku kurang waspada sehingga terjatuh ketanganmu asalkan nyawaku masih ada pada bulan lima tanggal lima yang akan datang aku pasti akan mencari dirimu diatas puncak pertama diatas Cing Jan, saat ini aku bisa melepaskan kamu orang satu kali tetapi lain kali. .. Hmmam. kau pasti akan binasa ditanganku".

Selesai berkata suasana kembali menjadi hening sekali, saat ini Lie Loo jie benar benar di buat kebingungan, dia orang mana mau mempercayai perkataannya?? cepat cepat ujarnya kepada putrinya si gadis cantik pengangon kambing.

"Entah si hweesio sedang memainkan permainan setan apa lagi? kita jangan cepat mempercayai perkataannya, lebih baik kita sedikit berjaga jaga.

Saat ini keadaan di dalam ruangan kuil itu sangat gelap sekali sehingga sukar untuk melihat lima jarinya sendiri, baik Lie Loo jie maupun si gadis cantik pengangon kambing dengan perhatian penuh terus menerus memperhatikan gelembung gelembung air yang semakin banyak di atas permukaan air tersebut.

Tiba tiba terdengar si gadis cantik pengangon kambing berseru dengan amat kaget

"Tia coba kau lihat, kenapa di tengah air itu amat terang sekali?"

Padahal sejak tadi Lie Loo jie sudah dapat melihatnya, cuma saja tidak sampai diutarakan keluar. Kini ketika dilihatnya sinar terang itu semakin lama semakin membesar semakin lama semakin jelas hatinyapun terasa semakin menegang di dalam anggapannya Thiat Bok Thaysu sudah mengeluarkan permainan kotornya lagi.

"Wan-jie berhati hati" serunya kepada si gadis cantik pengangon kambing memberi peringatan, kemungkinan sekali hweesio terkutuk itu mengeluarkan permainan terkutuknya."

Siapa tahu baru saja dia selesai berkata mendadak dari permukaan tanah memancar keluer tiang tiang setinggi dua, tiga kaki keatas disusul munculnya seekor binatang besar dari dasar air tersebut.

Melihat binatang itu kembali si gadis cantik pengangon kambing itu berteriak kaget.

"Aduh.. .seekor kerbau, lalu Ie cici serta Liem Tou bocah cilik tukang mencelakai orang sudah pergi kemana??"

Lie Loo jie yang melihat munculnya kerbau itu didalam benaknya segera teringat kembali pemandangan sewaktu ia membinasakan para hweesio di luar kuil, hawa amarahnya sekali lagi berkobar di dalam hatinya.

"Kurang ajar, kembali kerbau terkutuk ini."

Lalu ujarnya kapada si gadis cantik pengangonn kambing. "Binatang ini jika dibiarkan hidup terus cuma akan

mendatangkan bahaya saja buat manusia, kau tunggulah sebentar disini aku mau turun kesana membinasakan dirinya"

Gadis cantik pengangon kambing yang pernah tinggal bersama sama kerbau itu diatas gunung Go bie dalam hatinya tahu benar kerbau ini penurut sekali, terhadap pembunuhan secara besar besaran terhadap para hweesio hweesio di kuil itu sekalipun dia melihat dengan mata kepala sendiri tapi dia masih tidak man percaya kalau sang kerbau telah berubah sifat. "Tia, kau jangan binasakan kerbau itu, ujarnya dengan gugup. Aku lihat kerbau ini beebuat demikian tentu ada sebab sebabnya, lebih baik kau orang tua ampuni nyawanya sekali ini.

Lie Loo jie tidak mau menggubris, tangannya mengendor melepaskan pegangannya pada rantai baja itu lalu berjumpalitan di tengah udara dan menubruk ke bawah, sahutnya.

Jika dibiarkan hidup lama lagi, kemungkinan tidak ada oraag yang bisa meaguasai dirinya kembali.

Bersamaan dengan gerakannya itu tubuhnya meluncur kebawah sedang tangannya dengan dahsyat melancarkan pukulan gencar menghantam ke bawah membuat permukaan air pada muncrat muncrat ke empat penjuru.

Agaknya kerbau itupun merasakan adanya bahaya yang mengancam, kepalanya segera diangkat mendengus panjang.

Saat itu angin pukulan telah menghantam ke bawah, kelihatannya kerbau itu dengan cepat akan terbinasa di tangan Lie Loo jie.

Tiba tiba dari samping tubuhnya muncrat keluar butiran air yang amat besar, diikuti munculnya Liem Tou sambil meaggendong erat erat tubuh Lie Siauw Ie.

"Hey, Hui Tui Jie, jangan melukai kerbauku" teriak Liem Tou dengan suaranya yang amat keras.

Lie Loo jie menjadi tertegun, dengan cepat dia menarik lagi angin pukulannya, saat itu Liem Tou sudah melempar tubuh Lie Siauw Ie yang kecil ramping itu kearah Lie Loo jie.

Lie Loo jie tidak bisa berbuat apa apa lagi terpaksa dia menyambut datangnya tubuh Lie Siauw Ie sedangkan tubuhnya yang hampir mencapai permukaan air dengan cepat mengerahkan tenaga dalamnya kembali sedikit menutul ujung tanduk sang kerbau itu dengan menggunakan jurus Pek Hok Cong Thian atau bangau putih menerjang ke langit, tubuhnya dengan lurus meloncat keatas dan menyambar kembali rantai baja itu untuk bergantungan.

Dan pada saat bersamaan pula Liem Tou dengan cepat berenang kemudian menaiki pungguug kerbaunya, teriaknya dengan keras kepada Lie Loo jie.

"Hey Hui Tui Jie sudah lama kita tidak bertemu, walaupun larimu sangat cepat sekali tetapi kali ini tidak bisa menandingi kecepatan dari larinya kerbauku, tadi kenapa kau orang mau membinasakan dirinya ?"

Lie Loo jie yang melihat munculnya Liem Tou secara tiba tiba di dalam ruangan itu diam diam hatinya merasa ragu ragu bercampur curiga pikirnya.

Selama setahun ini entah bocah gendeng ini pergi kemana saja? Terang terangan tadi aku melihat dia orang tergantung di atas tanduk kerbaunya dalam keadaan terluka bagaimana sekarang bisa jadi sehat waalfiat kembali ?

Tak terasa lagi dengan mengggunaksn sepasang biji matanya yang jeli dan tajam dia orang memperhatikan diri Liem Tou dengan sanngat telitinya, tampak sinar matanya amat halus sekali, kedua belah keningnya terlihat biasa agaknya sama sekali tidak mengerti akan ilmu silat, Tetapi sewaktu teringat kembali akan keganasan dari kerbaunya dia menjadi khekie juga.

Aku lihat kerbaumu, itu memang cepat sekali, tetapi aku rasa semakin lama kerbaumu itu akan jadi seekor kerbau liar yang ganas.

Hui Tui Jie kau jangan omong guyon. Seru Liem Tou membantah. Kerbauku bukan saja larinya cepat bahkan bisa membedakan mana yang jahat mana yang baik, asalkan orang jahat pasti dia akan bertemu dengan tandingannya. Mendengar perkataan itu Lie Loo jie menjadi semakin gusar, pikirnya.

Terang terangan bocah cilik ini sedang mencari bahan guyon buat diriku, di badan orang jahat tidak ada tanda tanda yang lain juga tidak ada bau yang istimewa, cuma binatang saja bagaimana bisa membedakan hal itu?"

Baru saja dia mau berbicara untuk memberi sedikit nasehat pada diri Liem Tou mendadak terdengar Lie Siauw Ie sudah menimbrung. Suhu perkataan dari adik Tou sama sekali tidak palsu, hal ini memang benar benar nyata.

Siapa yang suruh kau banyak omong?" maki Lie Loo jie dengan wajah keren, sekalipun kau berbicara lebih banyak akupun tidak akan percaya, manusia saja kadang kala tidak bisa membedakan baik buruknya manusia apalagi seekor kerbau."

Lie Siuuw Ie tidak mau ambil perduli makian dari Lie Loo jie ini timbrungnya kembali.

"Tapi sedikitnya para hweesio dari kuil Siang Lian si tidak ada seorangpun yang baik"

"Sudah. . . sudahlah, si gadis cantik pengangon kambing dengan cepat. Ie cici kau jangan berbicara lagi.

Lagi ujarnya pula kepada Lie Loo jie.

Tia, tidak usah banyak omong lagi, coba kau lihat kita bergantungan di atas rantai baja seperti macam apa?" cepat kita cari akal untuk keluar dari sini "

Lie Loo jie segera merasa bahwa perkataannya sedikitpun tidak salah, ujarnya kemudian kepada Liem Tou.

Liem Tou aku dua kali menolong kau orang lolos dari kematian. Kenapa kau selalu mencari ribut dengan aku si orang tua?" sekarang kau bilang punya kerbau yang berkepandaian lihay coba aku lihat kau bisa keluar kuil ini tidak?

Apa yang sukar?" sahut Liem Tou tertawa. Jika kerbauku ini tidak bisa keluar dari ruangan kuil seperti ini mana mungkin bisa disebut kerbau ajaib?"

"Hee . .. sejak kapan kerbaumu ini mendapat julukan sebagai kerbau ajaib?"

Kerbau yang tidak seperti kerbau biasa sudah tentu disebut sebagai kerbau ajaib. Sembari memberikan jawabannya ia memperhatikan dengan amat teliti di sekeliling tempat itu, terlihatlah dinding empat penjuru dari ruangan itu terbuat dari baja yang amat kuat dan tidak ada jalan yang bisa ditembus.

Jalan semula yang dilaluinya tadi beserta kerbaunyapun kini sudah tertutup oleh pintu baja yang amat kuat, jika ditinjau dari keadaan sekarang ini agaknya satu satunya jalan untuk menerjang keluar hanyalah melalui jalan pintu depan saja.

Liem Tou yang melihat tempat itu dapat di coba coba dengan diam diam dia kerahkan tenaga dalamnya yang disalurkan kearah lengannya, bersamaan pula dengan menggunakan ilmu untuk menyampaikan suara perintahnya kepada sang kerbau.

"Su ". Seperti baru saja mendapat firman kaisar, kerbau itu dengaa cepat dongakkan kepalanya mendengus panjang, dengan berenang dia menerjang terus ke arah pintu depan.

Walaupun gerakannya amat perlahan tetapi jauh berbeda dari binatang biasa, hanya di dalam sekejap saja sang kerbau sudah tiba disamping pintu depan. Diam diam Liem Tou menjepit perutnya sehingga kerbau itu kesakitan dan menundukkan kepalanya menerjang pintu depan dengan mengambil kesempatan inilah Liem Tou melancarkan satu pukulan dahsyat ke depan. Braak . . . dengan disertai suara bentrokan yang amat keras pintu besar itu berhasil dipukul hancur sehingga terpental lebar lebar.

Lie Loo jie, Lie Siauw Ie serta gadis Cantik pengangon kambing yang melibat kehebatan tersebut sudah menganggap hal itu hasil dari terjangan sang kerbau tak terasa lagi sudah pada merasa bergidik dan menjulurkan lidahnya kekaguman.

Lie Loo jie yang melihat pintu ruangan kuil itu terbuka dengan amat girangnya cepat-cepat berseru. Ie jie Wan jie, cepat lari keluar.

Perkataannya baru saja salesai diucapkan dengan menggunakan gerakkan tubuh Hwee Yan Cuan Lian atau burung walet melewati pagar dia sudah berkelebat keluar diikuti oleh si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie dari belakangnya.

Siapa tahu baru saja Lie Loo jie mencapai pinggiran pintu mendadak dari bawah permukaan tanah terdengar suara desiran yang keras di dalam sekejap saja seluruh air yang menggenangi ruangan itu lenyap tak berbekas sebaliknya permukaan tanah dari ruangan kuil yang sebenarnya secara tiba tiba menaik lebih tinggi sedang pada saat yang bersamaan pula Lie Loo jie sedang melewati pintu, kurang sedikit saja dia akan terbentur dengan pintu itu.

Melibat hal itu gadis cantik pengangon kambing menjadi sangat kaget sekali.

"Tia hati hati teriaknya dengan keras."

Dia menjadi agak tertegun, tampaklah bayangan hitam berkelebat di depannya, patung Buddha yang semula berada di depan pintu kini sudah mumbul kembali ke atas dan menghalangi di depan tubuhnya.

Saat ini sepasang lengannya yang terbuat dari besi sedang dipentangkan siap merangkul pinggang dari Lie Loo jie. Lie Loo jie benar benar amat terperanjat sekali. "Celaka ..." teriaknya keras.

Di dalam keadaan yang amat kritis tubuhnya dengan cepat melayang beberapa kali menjauh tempat tersebut sedangkan hatinya merasa berdebar debar amat kerasnya.

Pikiran kagetnya belum lenyap dari benaknya tiba tiba ....

"Braak " terdengar suara bentrokan yang amat keras

patung Buddha itu sudah kena tubruk kerbau yang sedang menerjang dari belakangnya sehingga seketika itu juga hancur berantakan menjadi lima bagian kecil kecil.

Bersamaan dengan itu pula terdengar suara tertawa terbahak bahak yang amat keras dari Liem Tou.

"Huui Tui Jie jangan takut, asalkan ada kerbau ajaibku disini tanggung kau tidak akan menemui kerugian".

Lie Loo jie yang dikatai begitu mau tertawa tidak dapat mau marahpun sungkan dengan wajah yang adem dia berjalan keluar dari pintu ruangan lalu memandang kearah Liem Tou tanpa mengucapkan sepatah katapun.

Saat ini si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie pun mengikuti dari belakangnya berjalan keluar, setelah memandang cuaca yang mendekati fajar pandangannya segera beralih ke arah Liem Tou yang sedang duduk diatas punggung kerbaunya.

Selama setahun ini kelihatannya dia bertambah tampan dan gagah, sepasang matanya walaupun tidak memancarkan sinar aneh tetapi bening bagaikan kaca jeli laksana mutiara cuma saja pakaian yang dipakai terlalu kotor dan sudah koyak koyak sehingga tidak sedap dipandang.

Melihat potongannya si gadis cantik pengangon kambing segera tertawa cekikikan, ujarnya. "Koko muka hijau selama setahun ini Ie cici setiap hari merindukan dirimu kau sudah pergi ke mana saja??"

Begitu perkataan tersebut diucapkan keluar baik Lie Siauw Ie maupun Liem Tou menjadi amat malu, air mukanya seketika itu juga berubah memerah, mereka merasa amat malu bercampur gembira sedangkan Liem Tou juga tidak banyak membantah cuma dengan tertawa malu malu dia bungkam dalam seribu bahasa.

Lie Siauw Ie segera memberitahukan apa yang diketahuinya kemarin malam dari Liem Tou.

Seiama setahun ini adik Tou berlontang lantung di dalam dunia kangouw dan berkelana ke seluruh daerah Tionggoan ini.

"Hmmm, Liem Tou" tiba tiba Lie Loo jie mendengus dengan amat dinginnya, orang budiman tidak akan main umpet umpetan, sejak kapan kitab pusaka To Kong Pit Liok kau dapatkan ? ? Ayoh cepat bilang !"

Mendengar perkataan tersebut Liem Tou jadi sangat terperanjat, diam diam pikirnya.

"Aku masih mengira dia tidak dapat melihat keadaanku yang sebenarnya, kiranya dia tidak ingin membuka kartu di tengah orang banyak.

Baru saja dia mau menceritakan kisah yang sebenarnya terdengar Lie Loo jie sudah melanjutkan kata katanya.

"Jikalau kitab pusaka To Kong Pit Liok itu tidak kamu ambil ambil kemungkinan sekali barang itu akan diambil oleh orang lain."

Dengan perkataannya ini jelas membuktikan kalau perkataannya tadi cuma merupakan dugaannya saja dan bukan karena dia sudah bisa melihat kalau dirinya telah memiliki kepandaian silat yang amat tinggi sekali. Tetapi kini Lie Loo jie sudah berbicara kalau tidak diberitahu tidak enak tetapi kalau di beri tahu juga tidak baik sekalipun dia adalah seorang yang cerdik tetapi di dalam keadaan yang kepepet dia tidak dapat mengucapkan sepatah katapun juga, dengan wajah yang berubah merah seperti kepiting rebus duduk dengan malunya di atas punggung kerbau.

Lie Loo jie sekalian yang melihat lama sekali dia tidak mengucapkan sepatah katapun tak terasa pada menengok ke arahnya dengan disertai penuh harapan, mereka sangat mengharapkan Liem Tou sudah berhasil memperoleh kitab pusaka To Kong Pit Liok itu.

Mendadak Lie Loo jie mendepakkan kakinya ke atas tanah lalu makinya terhadap si gadis cantik psngangon kambing serta Lie Siauw Ie.

"Kalian berdua bisa mengambil keputusan sendiri untuk turun gunung, sudah tentu kalian tidak membutuhkan aku orang lagi yang ikut mengurus bukan?"

Sambil berkata mendadak sepasang telapak tangannya melancarkan serangan ke depan sehingga terasalah segulung angin pukulan laksana bertiupnya topan melanda permukaan tanah di samping badannya sehingga membuat pasir dan batu krikil pada berterbangan memenuhi angkasa.

Tubuhnya pada saat itu pula dengan kecepatan bagaikan kilat meloncat ke atas lantas berlalu dari tempat itu.

Ketika si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie sadar kembali Lie Loo jie sudah ada puluhan kaki jauhnya dari sana.

Didalam keadaan lemas, tak terasa lagi si gadis cantik pengangon kambing melelehkan air matanya, panggilnya dengan keras.

"Tia ...!" Belum selesai dia mengucapkan kata kata selanjutnya Lie Loo jie sudah berjumpalitan kembali di tengah udara lalu lenyap dibalik tembok pekarangan kuil Siang Lian Si.

Kini tinggal gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie saling berpandangan, tertawa si gadis cantik pengangon kambing itu dengan setengah berbisik ujarnya.

"Ie Cici selamanya ia belum pernah marah seperti bal ini, aku ingin pulang ke gunung."

Wan moay semuanva ini aku yang salah ujar Lie Siauw Ie dengan nada menyesal.

Lain kali jika bertemu kembali dengan suhu aku tentu akan memberitahukan kepada suhu dia orang tua untuk tidak menyalahkan dirimu lagi, semua ini hanyalah kesalahanku seorang.

Sambil berkata tak terasa lagi dari ujung matanya yang jeli menetes keluar titik air mata yang membasahi pipinya.

Liem Tou yang melibat mereka berdua pada menangis, dengan bingung hiburnya.

"Wan moay, Ie cici kalian jangan menangis lagi, lain kali jika bertemu kembali dengan Lie Loo cianpwee biarlah aku membantu kalian berbicara, aku tentu akan menyuruh dia orang jangan menyalahkan diri kalian kembali, tetapi kalianpun salah kenapa tidak mau mendengar nasehat dia orang tua.

Si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie dapat turun gunung tanpa pamit sebetulnya dikarenakan hendak mencari diri Liem Tou, kini mendengar dari nada ucapannya dia malah sebaliknya menyalahkan tindakan mereka berdua tak terasa lagi si gadis cantik pengangon kambing melototi dirinya sekejap sebaliknya Lie Siauw Ie semakin merasakan hatinya tidak enak sekali.

"Adik Tou bentaknya dengan nyaring. "Kau sedang bilang apa? kita turun gunung tanpa pamit semuanya dikarenakan kau, tidak kusangka sama sekali kau bisa mengucapkan kata kata seperti ini"

Liem Tou sebenarnyapun sudah tahu dia cuma sengaja berbicara untuk menggoda mereka saja apalagi diapun tahu Lie Loo jie bukan bersungguh sungguh sedang memarahi mereka sebaliknya dikarenakan berturut turut dikalahkan olah kelihayan kerbau ajaibnya ini sehingga untuk melindungi kewibawaan serta mukanya sengaja dia berpura pura marah dan mengambil kesempatan itu untuk berlalu dari sana.

Kini mendengar bentakan dari Lie Siauw Ie, ia segera tertawa kecil, mohonnya dengan suara setengah merengek.

"Oooh Ie cici aku cuma berguyon saja. bagaimana kalian sudah menganggapnya bersungguh sungguh? urusan ini bukanlah dikarenakan kesalahan dari kalian berdua, lain kali jika bertemu kembali dengan Lie Loo cianpwee biarlah aku suruh dia orang pukul diriku satu kali untuk merendahkan hawa amarahnya.

'Hmm, siapa yang mau berguyon dengan dirimu?" bentak Lie Siauw Ie sambil melotot. Jikalau kau orang sampai kena pukul suhu, mungkin tulangpun akan remuk.

"Remuk ya biar remuk toh, siapa suruh kau berdua turun gunung tanpa pamit."

Sekalipun tulangku dipukul remuk aku juga tidak bisa berkata apa apa lagi.

Perkataannya ini diucapkan sangat lucu sekali membuat si gadis cantik pengangon kambing menjadi tertawa cekikikan.

Hujan segera reda dan awan tersapu bersih kelihatan sekali wajahnya semakin cantik. "Wan Moay moay kau mentertawakan apa?" Seru Liem Tou dengan suara yang keras.

Apakah kau kira omonganku sudah salah?" Sepasang mata yang amat jeli dari si gadis cantik pengangon kambing segera melirik sekejap ke arah Liem Tou lalu melirik pula ke arah Lie Siauw Ie, ujarnya sambil tertawa.

Jika kalau ayahku sampai memukul remuk tulangmu kemungkinan sekali hati Ie cici pun akan ikut hancur lebur. Liem Tou yang mendengar perkataan tersebut benar benar merasa sangat kegirangan.

Eeeeeh.. omongan kok lucu sekali serunya sambil tertawa geli. Lie locianpwee pukul badanku bagaimana sakit di badannya Ie cici??'

Lie Siauw Ie yang mendengar tanya jawab dari si gadis cantik pengangon kambing serta Liem Tou sejak tadi tadi sudah dibuat kemalu maluan, wajahnya memerah hingga sampai dilehernya.

"Sudah. . .sudahlah." serunya dengan manja, Wan moay kau jangan cari gara gara terus, coba kau lihat cuaca sudah mulai terang tanah, orang yang melakukan perjalananpun sudah tidak sedikit ayo kita kembali ke rumah penginapan.

"Ehmmm tetapi kuil Siang Lian si ini merupakan tempat mesum yang amat kotor jika tidak dibakar bukankah hanya meninggalkan bencana buat orang lain??"

Lie Siauw Ie lantas mengangguk tanda menyetujui, baru saja dia mau menjawab Liem Tou sudah keburu berkata.

Menurut penglihatanku para hweesio dari kuil ini kebanyakan sudah mati atau terluka aku kira tidak ada kekuatan lagi buat mereka untuk berbuat jahat aku kira sekalipun kuil Siang Lian si ini tidak kita hancurkan orang lain sama saja akan menghancurkannya, buat apa kita repot-repot membuang tenaga??"

"Betul, perkataannya sedikitnun tidak salah" sela si gadis cantik pengangon kambing menyetujui. Kalau begitu cepat kita berangkat kembali ke rumah penginapan." Mereka bertiga setelah mengambil Keputusan ini, si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie segera meloncat keluar melewati tembok pekarangan sedangkan Liem Tou dengan menunggang kerbau berjalan keluar melalui pintu depan.

Sesampainya di jalan raya mereka segera mempercepat langkahnya kembali ke kota. Tidak selang lama kemudian sampailah mereka di depan rumah penginapan di luar kota di mana mereka menitipkan kambing kambingnya itu.

Dari tempat kejauhan tampaklah orang yang sedang berkerumun di depun rumah penginapan itu agaknya kurang lebih berada di atas ratusan orang banyaknya.

Melihat hal ini si gadis cantik pengangon kambing menjadi keheranan dibuatnya. "Eeeeh sudah terjadi urusan apa?"

Tubuhnya dengan cepat menerobos terlebih dahulu ke depan seorang kakek yang berada di sana cepat katanya.

"Aeey orang tua. sebenarnya didalam penginapan ini terjadi urusan apa"

Sewaktu si kakek tua itu melihat si gadis cantik pengangon kambing adalah seorang perempuan yang sangat cantik sekali, semula dibuat tertegun tetapi sebentar kemudian sambil menghela napas panjang sahutnya.

"Aaaaiii . . , tahun ini semakin lama semakin berbahaya, nona, pernahkah kamu orang mendengar nama penjahat naga merah ?

Jika kau kepingin mengetahui urusan ini, cuma tahu namanya saja tentu mengetahui sendiri apa yang telah terjadi di tempat ini."

Mendengar disebutnya nama si penjahat naga merah, si gadis cantik pengangon kambing menjadi amat terperanjat sekali. "Apakah kemarin malam si penjahat naga merah sudah menggerayangi rumah penginapan ini ? tanyanya dengan cemas.

Memang aneh sekali, lalu besarkah kerugian yang di derita di dalam rumah penginapan ini ?"

"Kerugian . ? Seru kakek tua itu sambil memandang sekejap ke arah gadis cantik pengangon kambing itu. Kalau tempat yang sudah digerayangi oleh si penjahat naga merah sudah tentu barangnya akan ludas semuanya.

Si gadis cantik pengangon kambing yang secara tiba tiba mendengar kemarin malam si penjahat naga merah sudah melakukan pencuriannya kembali sudah tentu tidak mau percaya, bukankah kemarin malam jelas sekali si penjahat naga merah sedang melakukan pertempuran sengit melawan ayahnya, bagaimana dia melakukan pencuriannya ditempat ini?

Tak tertahan lagi saking herannya pergelangan tangan kakek tua itu dicekal semakin kencang teriaknya.

Didalam dunia ini mana mungkin bisa terjadi urusan ini, coba kau orang tua jelaskan lebih terang lagi.

Kakek tua yang pergelangan tangannya di cekal erat erat oleh gadis cantik pengangon kambing itu segera merasakan kesakitan sehingga menyusup ke dalam tulang sumsumnya, teriaknya dengan keras.

"Aduh tolong ... ! "

Saking sakitnya dia jatuh tak sadarkan diri ke arah belakang, waktu itulah si gadis cantik pengangon kambing menjadi gugup apalagi kakek itu pada saat ini pucat pasi bagaikan mayat.

Saat itulah orang orang yang sedang menonton keramaian dengan suara yang ramai pada berpindah mengerubungi diri gadis cantik pengangon kambing. Untung saja Lie Siauw Ie serta Liem Tou cepat datang, Lie Siauw Ie yang sejak kecil sudah terbiasa menghadapi segala perubahan yang terjadi secara mendadak dengan cepat maju ke depan menepuk punggung kakek itu.

Sebentar kemudian kakek tua itu baru sadar kembali dari pingsannya, si gadis cantik pengangon kambing segera minta maaf berulang kali mengiringi kakek tua itu berlalu dari sana sambil mengelus elus pergelangan tangannya

si gadis cantik pengangon kambing yang kepingin cepat cepat mengetahui keadaan yang sesungguhnya segera ujarnya kepada Liem-Tou.

"Hay Koko muka hijau kau tunggu sebentar di sini biarlah aku serta Ie cici pergi kesana memeriksa sebentar ."

Liem Tou mengangguk tanda menyetujui, dengan demikian si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie segera mendesak orang orang lainnya untuk maju kedepan.

Sesampainya di depan pintu rumah penginapan baik Lie Siauw Ie maupun si gadis cantik pengangon kambing segera bau amis darah yang sangat menusuk hidung, tak terasa lagi hati mereka berdua pada berdebar debar amat kerasnya.

Tiba tiba. , .mereka menjerit keras saking kagetnya dan berdiri tertegun didalam ruangan itu.

Kiranya didalam rumah penginapan tersebut penuh berceceran darah segar dengan mayat mayat yang bergelimpangan dengan amat ngerinya, suasana sungguh menyeramkan sekali.

Melihat keadaan yang demikian mengerikan ini si gadis cantik pengangon kambing segera memejamkan matanya rapat, serunya dengan terharu.

"Ie cici, sungguh kejam si penjahat naga merah itu." Bagaimanapun juga Lie Siauw Ie yang usianya jauh lebih tua jadi orang pun semakin tenang, setelah bertanya dengan seorang dia baru mengetahui kalau penghuni penginapan kecil ini hanya didalam satu malaman saja sudah dibinasakan semuanya, bahkan sampai para tamu yang sedang menginap di rumah penginapan itu pun tidak luput dari penjagalan secara besar besaran ini.

Karenanya setelah mengetahui jelas akan hal itu dia tak perlu memeriksa kembali keadaan rumah penginapan tersebut, teringat akan kawanan kambing yang dititipkan di rumah penginapan itu segera dia menarik tangan si gadis cantik pengangon kambing untuk diajak ke kandang,

Si gadis cantik pengangon kambing segera menyambut dan mengikuti dari belakangnya.

Sesampainya di depan pintu rumah penginapan itu mereka berbelok ke sebelah kanan yang merupakan kandang kuda.

Lie Siuw Ie masih ingat kalau kawanan kambing mereka ditempatkan di dalam kandang kuda itu.

Hubungan antara si gadis cantik pengangon kambing dengan kawanan kambingnya benar benar sangat erat sekali, tempo hari masih berada diatas puncak Ay Leng diatas gunung Go bie, kecuali ayahnya Lie Loo jie dia cuma berkawan dengan kawanan kambingnya itu.

Saat ini hatinya benar benar merasa sangat ketakutan sekali, dia takut kambing kambingnya itu sudah terbunuh semuanya, diam diam doanya did alam hati.

"Semoga saja kawanan kambingku berada di dalam keadaan sehat sehat saja"

Si Gadis dengan cepat mencabut seruling pualamnya lalu ditiup dengan amat nyaringnya. Siapa tahu kawanan kambing yang biasanya pasti akan mengembek setelah mendengar tanda itu sekarang sama sekali tak memberikan reaksinya.

si gadis cantik pengangon kambing menjadi amat terperanjat, tanpa perduli disekitarnya banyak orang yang menonton mendadak tubuhnya meloncat ke tengah udara setinggi beberapa kaki lalu melewati atas kepala semua orang dan berkelebat menuju ke kandang kuda itu.

Dengan kejadian ini seketika itu juga memancing kegaduhan di antara para penonton, mereka beribut ribut untuk menuju ke kandang kuda semuanya.

Si gadis cantik pengangon kambing sesampainya di depan pintu kandang kuda itu seketika itu juga merasakan hawa dingin berdesir dari dasar lubuk hatinya, seluruh tubuhnya gemetar dengan amat keras tampaklah kawanan kambingnya sudah pada menggeletak dan ceceran darah membanjiri seluruh permukaan tanah. Tidak ada seekorpun yang berhasil meloloskan diri dari bencana ini.

Dengan termangu mangu si gadis cantik pengangon kambing itu berdiri di sana, semakin dipikir dia merasa semakin sedih tak kuasa lagi titik air mata menetes keluar membasahi pipinya.

Waktu itupun Lie Siauw Ie sudah menyusul di sana, sewaktu melihat keadaan yang sangat mengerikan itu hatinya merasa terjeblos ke dalam jurang yang sangat dalam, apalagi semuanya ini dikarenakan dirinya yang ngotot mau turun gunung mencari Liem Tou sehingga dirinya menemui kerugian yang demikian besarnya, tak terasa lagi hatinya benar benar terasa amat berduka.

Lama sekali mereka berdua berdiam diri tak berbicara, dan pada saat itu orang orang yang menonton keramaian sudah pada mengumpul datang untuk melihat gadis cantik yang baru saja lewat di atas kepala mereka, melihat hal itu Lie Siauw Ie segera menepuk pundaknya dengan perlahan.

"Wan-moay kau jangan bersedih hati, hiburnya.

Kesemuanya ini adalah kesalahanku sendiri, sekarang orang orang itu sudah pada ngumpul kemari, lebih baik kita pargi saja."

"Tidak, bal ini tidak ada sangkut pautnya dengan Ie cici!" bentak gadis cantik pengangon kambing itu dengan suara tegas. "Kesemua ya ini disebabkan kekejaman dan keganasan diri si penjahat naga merah itu, aku sangat benci kepadanya, tadi ayah marah marah sebetulnya aku kepingin puiang ke gunung saja tapi sekarang tidak akan puiang lagi, ayahku sudah mengadakan perjanjian dengan si hweesio kurus hitam untuk bertemu di puncak pertama Cing Jan. Waktu itu si penjahat naga merah pasti ikut datang, saat itulah aku akan menyu ruh dia menggantikan kambing kambingku itu"

"Benar, urusan lain kali bisa kita bicarakan di kemudian hari saja, sekarang kita harus berangkat meninggalkan tempat ini terlebih dahulu.

Si gadis cantik pengangon kambing itu lama sekali tidak menjawab, sedangkan waktu itu sudah ada banyak orang yang mengerubungi tempat itu sambil mengutarakan pendapatnya masing masing.

"Aaa. . .sungguh cantik kedua orang gadis muda ini. "Hmmmn . .cantiknya seperti bidadari yang turun dari

kahyangan."

Perempuan itu mempunyai kepandaian yang begitu tinggi sudah tentu perempuan yang lainnya mempunyai kepandaian silat yang tidak jelek"

"Kedua orang perempuan ini sangat aneh sekali, apa mungkin mempunyai hubungan dengan si penjahat naga merah itu??" Semakin mendengar Lie Siauw Ie semakin tidak puas. terpaksa dia mendesak si gadis cantik pengangon kambing itu untuk cepat cepat meninggalkan tempat itu,

si gadis cantik pengangon kambing tetap tidak menjawab, tiba tiba sambil menunding ke arah mayat kambingnya dia berseru keras.

"Ie cici, coba kau lihat."

"Lihat apanya??" tanya Lie Siauw Ie keheranan.

Coba kau lihat pada leher setiap kambing itu pasti ada satu bekas darah yang memancang, tetapi kambing itu bukan binasa dikarenakan hal itu mereka pasti binasa tertusuk pedang.

"Apa mungkin itulah yang disebut tanda pengenal ular merah?" tanya Lie Siauw Ie setelah termenung sebentar.

"Aku kira mungkin benar" jawab si gadis cantik pengangon kambing sambil mengangguk tetapi ada satu urusan yaug aku merasa kebingungan, kemarin malam si penjahat naga merah yang kita temui menggunakan cambuk Ci Liong pian ssdangkan kawanan kambing ini binasa tertusuk padang, bukankah hal ini sangat aneh sekali ???

Lie Siauw Ie sebera merasakan perkataannya sedikitpun tidak salah, dia mengangguk.

"Kelihatannya ada orang yang memalsukan namanya."

Mungkin, tetapi aku rasa kita harus menginap beberapa hari di dalam kota kemungkinan sekali dengan demikian kita bisa memperoleh sedikit tanda tanda yang jelas.

Demikianpun baik juga, sekarang lebih baik kita cepat cepat meninggalkan tempat ini. Si gadis cantik pengangon kambing itu segera mengangguk, setelah memandang beberapa kejap lagi ke atas mayat kambing kambing kesayangannya dia baru putar badan berlalu dari sana. "Tiba-tiba". Suara menyambarnya senjata rahasia memecahkan udara mengancam tubuh mereka, si gadis cantik pengangon kambing menjadi sangat terperanjat bentaknya.

"Ie cici, hati hati senjata rahasia." Tubuhnya dengan cepat menyingkir kesamping sedangkan Lie Siauw Ie yang agak terlambat untuk menyingkir segera merasakan adanya sambaran senjata rahasia itu terpaksa cepat cepat menjatuhkan diri ke depan.

"Sreet. sreeet, . dua batang paku pencabut nyawa dengan amat cepatnya menancap pada tiang kandang kuda itu untung saja mereka cepat cepat menyingkir kalau tidak, mungkin, tubuh mereka berdua sudah kena dihajar.

Si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie segera menoleh kebelakang mereka berdua bersama sama mencabut keluar pedang serta seruling pualamnya.

Para penonton yang melihat kedua orang gadis itu secera tiba tiba mencabut keluar senjata tajamnya bahkan dari wajahnya kelihatan sangat mencurigakan sekali segera pada ketakutan dan saling dorong mendorong untuk cepat cepat mengundurkan diri dari tempat itu.

Di dalam keadaan yang sangat kacau itu bila si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ia mau mencari orang yang menyambitkan senjata rahasia itu menjadi sukar sekali.

Mereka berdua berdiri saling berpandangan lama sekali, kelihatannya kita tidak bakal bisa mencarinya Lie Siauw Ie berseru dengan gemas.

Wan Moay bajingan ini sangat licik sekal1 tampaknya kita tak perlu nguber dia lagi, baiklah kita mengikuti perkataanmu tadi untuk sementara tinggal di kota Tang Yang dulu jika dia orang mau mencelakai kita berdua lagi bukankah kita tidak usah pergi mencari dirinya dengan susah ?? "Betul, mari kita berangkat," seru gadis cantik pengangon kambing itu kemudian sambil mengangguk.

Mereka berdua segera menyimpan kembali senjatanya masing masing dan berjalan keluar dari tempat itu.

Saat itulah terdengar Liem Tou sedang tertawa terbahak bahak diikuti dengan suara teriakan "Jan, Seng, Cu, Beng, Tong, Piah Hoan" serta Jan Seng, Seng Beng, Cu Piah, Cu Beng serta Tong Su delapan buah kata secara bergantian, sedangkan orang yang semula menonton keramaian itu pun kedengaran sedang tertawa terbahak bahak dan bersiul dihadapan mereka.

Mendengar suara tersebut Lie Siauw Ie menjadi sangat cemas, ujarnya.

"Wan Moay cepat sedikit, entah adik Tou sudah memancing kegaduhan apa lagi?"

Si gadis cantik pengangon kambing itu segera menarik ujung bajunya.

Ie cici sahutnya. Kita lewat samping sini saja biar sampai lebih cepat.

Lie Siauw Ie, tidak menjawab lagi mereka berdua dengan cepat memutar ke samping jalan lalu berlari dengan cepatnya kedepan.

Beberapa puluh kaki jauhnya kemudian mendadak tampaklah oleh mereka sinar golok yang menyilaukan mata berkelebat dengan tak henti hentinya di bawah sinar matahari.

Sedangkan Liem Tou dengan menggunakan kerbaunya sedang menerjang ke kanan menerjang ke kiri di antara bayangan golok tersebut, tetapi sungguh aneh sekali ternyata tak ada sebilah golokpun yang berhasil mengenai ujung bajunya. Liem Tou kelihatan sangat bangga sekali, wajahnya riang sedang mulutnya tak hentinya memperdengarkan suara tertawa terbahak bahaknya yang amat keras.

Sewaktu Lie Siauw Ie sera si gadis cantik pengangon kambing itu dapat melihat siapa-siapa yang sudah mengayunkan golok goloknya itu tak terasa lagi pada berseru keheranan.

Kiranya orang orang itu berjumlah delapan orang yang bukan lain adalah Toosu toosu dari Bu tong pay.

"Wan moay, ujar Lie Siauw Ie keheranan Hidung hidung kerbau dari Bu tong pay itu tidak ada ganjalan sakit hati apa apa dengan adik Tou kenapa ini hari sengaja mencari gara gara dengan dirinya ?"

"Mari kita maju bertanya sendiri saja" sahut si gadis cantik pengangon kambing itu "Jikalau mereka tidak tahu aturan dan mau teruskan untuk bergebrak biarlah cukup aku seorang diri pergi mengejar mereka itu biar aku hajar sampai babak belur"

Selesai berkata tanpa ragu ragu lagi dengan menarik tangan Lie Siauw Ie berjalan maju ke tengah lapangan.

"Berhenti" bentak si gadis cantik pengangon kambing keras sambil bertolak pinggang.

Para toosu2 itu sewaktu mendengar ada orang yaag membentak segera pada tertegun dibuatnya, dengan sendirinya gerakannya pun menjadi berhenti.

Bersamaan pula Liem Tou pun membentak keras. "Su" Kerbau itu segera berhenti bergerak.

"Hey toosu toosu dari Bu tong pay teriak si gadis cantik pengangon kambing itu kemudian setelah kedua belah pihak pada berhenti " Kalian meiakukan perjalanan di tengah jalan raya, sedang Liem Koko dia melewati jambatan kayu (diantara kalian air sumur tidak melanggar air kali, kenapa ini hari tanpa angin tanpa hujan sudah pada mencari Liem Koko untuk diajak berkelahi?"

Beberapa perkataan dari si gadis cantik pengangon kambing itu ada sepuluh bagian merupakan ceng li di dalam Bu lim, tetapi para toosu dari Bu tong pay ini mana tahu macam apakah gadis cantik pengangon kambing ini? segera ada seorang tootiang berbaju kuning yang usianya paling muda merangkap tangannya memberi hormat lalu.

Bu liong so hud Bu liang so hud siapa yang cari Liem

Kokomu untuk diajak berkelahi? yang kami inginkan adalah kerbau tersebut. Apakah Kerbau tersebut adalah Liem Kokomu?.

Pertanyaannya ini boleh dikata merupakan kata kata makian yang amat pedas dan sama sskali tidak pandang sebelah matapun terhadap si gadis cantik pengangon kambing.

Lie Siauw Ie yang mendengar suara toosu muda itu dalam hatinya merasa mendongkol,

Orang yang ada di punggung kerbau itu adalah Liem koko.

Wan moay, apakah kalian toosu toosu sudah picak semua matanya?"

Perkataannya semakin tajam lagi membuat air muka kedelapan toosu tersebut berubah dengan amat hebatnya.

Kalianlah dua orang budak liar sungguh kurang ajar sekali teriak salah seorang toosu dengan amat gusarnya. Kalian harus tahu kelihayan dari Bu tong pay kami, ayo cepat menggelinding pergi dari sini, jangan coba coba banyak cerewat lagi dengan kami.

si gadis cantik pengangon kambing segera tertawa tergelak dengan amat kerasnya,

Oooow sungguh lihay sekali kalian toosu bau dari Bu tong pay sehingga dengan ciangbunjin sendiri dibinasakan oleh siapapun tidak tahu, sungguh hebat, memang benar omonganmu toosu toosu dari Bu tong-pay memang semuanya libay.

Kedelapan toosu itu setelah mendengar perkataan dari si gadis cantik pengangon kambing ini pada berteriak dengan amat gusarnya, teriaknya dengan keras.

"Kau budak jelek siapa yang memberitahukan kepada kalian soal terbunuhuhnya ciangbunjin kami? Terang terangan Leng Cen Tojin terbinasa di tangan Tionggoan Sam Koay bagaimana kalian berani bilang kami tidak becus."

"Hiii . . . hiii . . . siapa yang sudah memberitahukan kepada kalian kalau ciangbunjien kalian dibinasakan oleh Tionggoan Sam Koay?"

"Kalian melihat dengan mata kepala sendiri ataukah cuma dengar orang bilang saja ?"

Seketika itu juga kedelapan orang toosu itu dibuat tertegun oleh perkataan si gadis cantik pengangon kambing ini, tetapi urusan ini menyangkitt nama baik mereka di dalam Bu lim.

Bagaimana mereka berani percaya atas omongan dari si gadis cantik pengangon kambing itu?"

Terus terang saja aku beritahukan kepada kalian, sambung si gadis cantik pengangon kambing lagi. Tionggoan Sam Koay sama sekali tidak pernah membinasakan ciangbunjien kalian, ciangbunjien kalian itu dibinasakan oleh si penjahat naga merah yang sengaja mau mencelakai diri Tionggoan Sam Koay, kini Tionggoan Sam Koay sedang pergi mencari si penjahat naga merah untuk membuat perhitungan.

Lama sekali mereka kedelapan orang toosu dibuat tertegun dan berdiri termangu mangu beberapa saat kemudian baru terdengar seorang toosu bertanya. Perkataanmu ini apakah sungguh sungguh?" Kita tidak punya dendam tidak punya sakit bati buat apa kami sengaja menipu kalian??"

Sehabis berkata dia berdiam diri memikirkan sesuatu persoalan kembali, lalu sambungnya.

"Oooh . , . . aku telah melupakan sesuatu, baiklah aku berikan kepada kalian juga, bila kalian mau mencari si penjahat naga merah tidak ada halangannya pada bulan lima tangga lima pergilah ke puncak Cing Jan untuk mencari dirinya."

Lalu tangannya menggape kearah Lie Siauw Ie dan serunya.

"Ie cici, ayoh kita pergi saja dari sini "

"Tahan !" tiba tiba bentak seorang toosu di antara kedelapan orang toosu toosu Bu tong pay itu. "Penjahat naga merah adalah penjahat besar masa kini, jejaknya sangat rahasia dan misterius sekali muncul dan lenyapnya tak seorang pun yang mengetahuinya bagaimana kalian dua orang budak bisa mengetahui jejaknya? kami takkan bisa kau tipu mentah mentah."

"Betul perkataan ini sangat beralasan" sambung toosu yang lainnya, "Terang terangan orang ini sengaja mencari satu akal untuk menolong kerbau yang terkurung sekarang ini"

"He . . he . , jika kalian tidak percaya akupun tidak ada cara lain untuk memaksa kalian harus percaya!" seru si gadis cantik pengangon kambing sambil tersenyum apa boleh buat. "Bagaimanapun juga dengan kekuatan kerbaunya Liem koko itu kalian tidak akan berhasil menandinginya, jika kalian mau menguasainya . .he . . hey toosu kau jangan mimpi disiang hari bolong"

Sejak tadi kedelapan orang toosu ini sudah merasakan kelihayan dari kerbau itu cuma saja sang kerbau tidak melakukan pembunuhan besar terhadap mereka seperti halnya sewaktu ada di dalam kuil Siang Lian Si karenanya walaupun dalam hati mereka agak merasa jeri tetapi tidaklah terlalu takut.

Saat ini si toosu yang usianya jauh lebih lanjut dengan sinar mata yang amat tajam sedang memperhatikan diri gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie.

si gadis cantik pengangon kambing yang melihat mimik wajahnya tak tertahan lagi segera tertawa manis.

"Bagaima ? Ujarnya. Lebih baik kalian percayai omonganku saja dari pada menyesal dikemudian hari"

Toosu itu tetap memperhatikan mereka berdua tanpa berkedip barang sedikitpun juga, saat itulah seorang toosu mendekati dirinya dan membisikan sesuatu kepadanya, toosu itu segera mengangguk bersamaan pula memberi kedipan mata kepada toosu lainnya.

Kiranya para penduduk yang semula mengerubungi rumah penginapan kecil itu saat ini sudah mulai mengerubungi tempat ini untuk menonton keramaian.

Si gadis cantik pengangon kambing yang melihat gerak gerik mereka sangat mencurigakan dengan berbisik ujarnya kepada Lie Siauw Ie.

"Coba kau lihat gerak gerik mereka sangat mencurigakan sekali, apakah mungkin mau me lancarkan serangan bokongan terhadap kerbau itu?"

Lie Siauw Ie gelengkan kepalanya tanda tidak tahu.

"Hey, kalian toosu toosu bau sebetulnya mau berbuat apa

?" teriak si gadis cantik pengangon kambing kemudian dengan suara yang sangat nyaring.

Toosu berusia lanjut itu segera menjura memberi hormat kepada mereka berdua. Perkataan dari nona, kami tidak benar benar, sahutnya dengan perlahan. Sekalipun perkataan dari nona tadi betul Tionggoan Sam Koay memang bukan pembunuh Ciangbunjien Bu tong pay kami tetapi mereka bertiga sudah melukai banyak anak buah kami, sekalipun tidak ada sakit hati kini pun sudah terikat, kerbau ini punya kesalahan sudah meloloskan itu ketiga orang dari kurungan kami, ini hari kami harus membinasakan dirinya juga."

Selesai berkata tangannya diulapkan memberi tanda, segera terlihatlah kedelapan toosu itu dengan mencekal sebilah pedang mulai memencar diri mengurung tempat tersebut dengan rapat rapat.

"Hey bangsat cilik" bentak toosu toosu itu lagi dengan suara yang amat keras.

Cepat kau orang mengelinding turun dari punggung kerbau tersebut, yang kami mau adalah nyawa kerbau itu bukan nyawamu?"

Liem Tou segera tertawa.

"Nyawa kerbau adalah nyawa juga, jika kalau kalian memang menginginkan nyawa kerbau ini kenapa tidak sekalian menginginkan nyawaku?"

Mendengar perkataan itu para toosu dari Bu tong pay pada melengak dibuatnya, tampak toosu yang berusia agak lanjut itu bergumam seorang diri.

"Eei . .sungguh aneh. . .sungguh aneh sekali, ternyata di dalam dunia ini ada juga orang yang tidak takut mati??"

Tetapi dengan cepat dia bisa mengambil keputusan di dalam hati. Serunya kemudian.

"Baiklah, kalau memangnya demikian, itulah yang dinamakan mencari gebukan buat dirinya sendiri". Selesai berkata pedang yang semula sudah dicabut keluar kini dimasukan kembali kedalam sarungnya diikuti ketujuh orang toosu lainnya pun pada menyimpan kembali senjata tajamnya.

Si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie yang melihat hal ini dibuat jadi keheranan ujar si gadis cantik pengangon kambing itu.

"Eeei kenapa mereka ini?? katanya mau membinasakan kerbau itu kenapa kini malah menyimpan kembali senjata tajamnya masing masing??"

Lie Siauw Ie pun tidak tahu mereka sedang memainkan permainan setan macam apa lagi, dia cuma melirik sekejap ke arah si gadis cantik pengangon kambing tanpa mengucapkan sepatah katapun.

Pada saat itulah para toosu bersama sama menyingkap jubah luarnya sehingga terlihatlah kantongan senjata rahasia yang tergantung pa da pinggangnya masing masing. Saat itulah Lie Siauw Ie baru paham kembali.

"Aduh kiranya mereka mau menggunakan senjata rahasia untuk melukai kerbau tersebut waah.. . waah . .tindakan mereka ini sungguh kejam sekali. Wan moay kau lihat bagaimana baiknya??"

Ternyata dugaan mereka sedikitpun tidak salah para toosu itu pada merogoh ke dalam kantong senjata rahasianya mengambil keluar senjata rahasia yang bentuknya masing masing tidak sama, ada piauw mata uang ada jarum Bwee Hoa Tsu, ada lempengan besi tipis ada pula piaaw piauw dalam bentuk yang biasa. . .walau pun senjata senjata rahasia itupun merupakan senjata yang sering ditemui di dalam Bu lim tetapi jika dilancarkan dari arah yang berlawanan secara serentak ada siapa yang sanggup untuk melawannya7? apa lagi cuma seekor kerbau bodoh. Si gadis cantik pengangon kambing itu segera berseru memberi peringatan kepada Liem Tou.

"Liem koko mereka mau menggunakan senjata rahasia untuk melukai kerbaumu kau cepatlah pergi.

Mau pergi? kau kira begitu mudah? Seru kedelapan toosu itu sambil tertawa dingin.

Mendadak toosu berusia agak lanjut itu membentak kembali.

"Hey bangsat cilik, sebetulnya kau orang mau pergi tidak?"

Liem Tou tetap bungkamkan diri, cuma saja senyuman manis penuh menghiasi bibirnya.

Wajah toosu itu segera berubah menjadi adem napsu membunuh melintasi wajahnya sepasang matanya melotot lebar lebar tiba tiba dia mem bentak keras.

"Serbu"

Tangannya melayang menyambitkan senjata rahasia yang penuh tergenggam ditangannya, ketujuh orang toosu lainnyapua tidak berani barlaku ayal lagi masing masing segera menyambitkan senjata rahasianya ke depan.

Di dalam sekejap mata saja suara berdesirnya senjata rahasia memenuhi seluruh angkasa, tetapi kerbau itu tetap berdiri tidak bergerak bahkan Liem Tou yang ada dipunggungnyapun tetap tidak ambil gubris, dia tetap tersenyum senyum manis.

Sebaliknya hal ini segera membuat si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie jadi kaget bercampur cemas, mereka berdua segera melancarkan satu pukulan dahsyat meng antam ke arah senjata rahasia yang memenuhi angkasa itu.

Pada saat itulah mendadak terdengar kerbau itu mendengus perlahan disusul suara teriakan kesakitan dari empat orang Toosu yang masing masing sepasang matanya sudah terhajar oleh senjata rahasia sehingga menguncurkan darah segar, sakiag sakitnya mereka pada berguling gulingan di atas tanah sambil mengerang ngerang kesakitan, keadaannya sungguh mengerikan sekali.

Si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie yang melibat perubahan yang terjadi secara mendadak ini segera tahu tentu ada sesuatu yang telah terjadi, diam diam mereka gemas atas keganasan dari kerbau itu.

Siapa tahu baru saja pikiran ini berkelebat di dalam benaknya terdengar kerbau itu sekali lagi mendengus hebat disusul kepalanya ditundukkan menerjang ke arah orang orang yang menonton di samping kalangan gerakaannya amat cepat sekali bagaikan berkelebatnya kilat ditengah udara.

Seketika itu juga suasana menjadi amat kacau sekali, orang orang yang semula menonton di samping kalangan menjadi ketakutan dan pada lari serabutan.

"Aduh, mak tolong . . tolong!" Bagaikan air bah mereka pada lari terbirit-birit meninggalkan tempat itu, mereka gemas kenapa orang tua mereka tidak melahirkan mereka dengan kelebihan dua buah kaki, bahkan ada diantaranya yang kurang berhati hati pada berjatuhan di atas tanah dan kena injak orang orang lainnya.

Tetapi dimana kerbau itu menerjang datang semua orang pada menyingkir ke samping memberi jalan kepadanya, sehingga dengan sendirinya kerbau tersebut dapat lari dengan kencangnya ke arah depan.

Kerbau itu berlari dengan amat cepatnya di antara orang orang tersebut tanpa melukai mereka barang seorangpun, dan lama kelamaan orang orang tersebut baru bisa berasa lega hati, cuma saja mereka tidak tahu kerbau itu sedang berbuat apa disana?" Tampaklah kerbau itu dengan amat cepatnya ia berlari ke depan mengejar seorang pengemis yang sedang melarikan diri terbirit birit.

Pengemis itu dengan amat gesitnya menerobos di sisi antara orang banyak membuat sang kerbau untuk sementara waktu tidak berhasil menyandak dirinya tetapi kelihatan sekali mimik pengemis itu pun sangat tegang sekali dibuatnya.

Pada saat itu para toosu lainnya sudah memeriksa luka dari kawan kawan mereka, kiranya ada jarum pencabut nyawa di luka matanya.

Si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie yang melihat senjata rahasia yang melukai mata para toosu itu

merupakan jarum pencabut nyawa yang ditemuinya sewaktu masih ada dikandang kuda dan kini melihat pula Liem Tou menunggang kerbaunya sedang mengejar seorang pengemis segera paham kembali, pikirnya.

"Sungguh kejam tindakannya ternyata dia ingin memancing dendam sakit bati antara kita dengan pihak Batong pay, untung saja kerbau itu sangat pintar sehingga cepat cepat menemui bajingan tersebut, kalau tidak tentu kita sudah terkena siasat beracunnya.

Berpikir sampai disini si gadis cantik pengangon kambing segera memberikan kedipan mata kepada Lie Siauw Ie dan teriaknya dengan keras.

Hey hidung kerbau dari Bu tong pay cepat kejar si pengemis busuk itu, merekalah yang menyambitkan senjata rahasia melukai keempat orang saudara saudara kalian, ayoh cepat kejar jangan sampai membiarkan dia berhasil meloloskan diri."

Sambil berkata begitu bersama sama dengan Lie-Siauw Ie berdua segera mengerahkan ilmu meringankan badannya bagaikan dua ekor kupu kupu putih dengan amat cepatnya berkelebat melalui atas kepala orang yang menonton jalannya partempuran tadi mengejar kedepan.

Hey hidung kerbau dari Bu tong pay ayoh cepat kejar, teriak si gadis cantik pengangon kambing kembali di tengah udara.

Para toosu dari Bu tong pay agak tertegun sebentar, akhirnya sambil mencabut keluar senjata tajamnya pada berebut menyerbu ke arah orang yang berkumpul di sana itu.

Baru saja gadis cantik pengangon kambing, Liem Tou serta para toosu dari Bu tong pay itu mendekati orang tersebut mendadak terdengar berkumandangnya suara terbahak bahak dari antara orang orang yang badir disana diikuti melayangnya sesosok bayangan manusianya yang dengan amat cepatnya menerjang ke atas atap rumah penginapan itu sambil serunya dengan nyaring.

"Ha a ha a . selamat tinggal"

Ujung kakinya sekali lagi menutul dengan cepat, tubuhnya meluncur ke belakang rumah penginapan itu.

"Ayoh cepat kejar jangan sampai bajingan itu berhasil meloloskan diri seru si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie, berbareng.

Ujung kakinya dengan cepat menutul permukaan tanah dengan cepat tubuhnya meloncat ke tengah udara dan mengejar keatas atap rumah terseout.

Tetapi walaupun gerakan tubuh dari si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie amat cepat, gerakan dari kerbau itu lebih cepat lagi.

Terdengar kerbau tersebut mendengus rendah lagi disusul dengan bentakan Lirm Tou yang sangat keras.

"Bangun !" Dengan disertai sambaran angin yang amat keras kerbau itu dengan amat cepatnya melewati rumah penginapan itu. menanti setelah si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siaw Ie tiba di atas atap, kerbau yang ditunggangi Liem Tou itu sudah lenyap tak berbekas lagi,

Tak terasa lagi baik si gadis cantik pengangon kambing maupun Lie Siauw Ie dibuat melengak di atas genting, lama sekali baru terdengar si gadis cantik pengangon kambing itu berkata.

"Ie cici, sama sekali tidak kusangka kerbau itu bisa demikian libaynya jikalau tubuhnya berhasil dilatih sampai tak mempan senjata tajam di dalam Bu lim pada saat ini ada siapa lagi yang bisa menangkan dirinya?"