Raja Silat Jilid 17

 
Jilid 17

"Tia, Lalu Ie Cici apa mungkin sudah.."

"Tidak usah banyak tanya lagi, aku sudah tahu!' Potong Lie Loo jie dangan cepat.

Berbicara sampai disitu dia segera menarik tangan si gadis cantik pengangon kambing untuk menyusup dengan cepatnya kedepan, dia bisa melihat pada dinding pintu itu ternyata telah terbuka sebuah pintu yang menghubungkan tempat itu dengan sebuah lorong yang sangat panjang sekali.

Si gadis cantik pengangon kambing menjadi amat girang, dengan gerakan badan yang Cepat dia siap siap hendak menerjang masuk terlebih dulu ke dalam lorong.

"Jangan terburu buru, jangan sampai terkena bokongannya" mendadak teriak Lie Loo jle sambil menarik tangannya kebelakang.

Tubuh gadis cantik pengangon kambing itu segera mundur baberaba laagkah kebelakang, dan pada saat itu pula terdengar Thiat Bok Thaysu tertawa kembali dengan amat seramnya.

"Hee .. hee . . heee .. sungguh hebat sekali kau orang, tidak kuduga si cangkul pualam Lie Sang jadi orang amat teliti sekali, tapi sekalipun begitu apa gunanya?? saat ini walaupun kau punya sayappun jangan harap bisa terbang lolos dari tempat ini."

Dengan perlahan pintu tadi ditutup kembali dengan rapatnya disusul dengan bergemanya suara lonceng yang berbunyi tak henti hentinya didalam ruangan tersebut.

Kiranya genta yang semula digantung pada ujung tembok sebelah kiri saat ini secara otomatis sudah bergoyang dengan amat kerasnya sehingga suaranya memekikkan telinga.

Didalam ruangan kuil yang demikian besar dan ditutup dengan begitu rapatnya suara pantulan dari gema tersebut benar benar dahsyat sekali, membuat Lie Loo jie serta gadis cantik pengangon kambing benar benar kewalahan, untuk berbicarapun terpaksa harus berteriak teriak keras

Ditengah bergemanya suara genta yang mengacaukan pikiran terdengar suara tertawa yang mengerikan dari Thiat Bok Thaysu berkumandang kembali, makinya:

"Hey orang she Lie, tidak kusangka sama sekali kamu orang ternyata begitu kejamnya, seluruh hweesio dari Siang Lian Si ku hampir-hampir sudah terbinasa ditanganmu semua, jika tidak berhasil membalas dendam ini hari aku bersumpah tidak akan jadi manusia."

Saat ini Lie Loo jie benar benar memperhatikan berasalnya suara dari Thiat Bok Thaysu, akan tetapi walaupun dia sudah memperhatikan dengan amat teliti jsngan dikata bayangan manusia sekalipun letak berasalnya suaranya pun dia tidak bisa mengetahui. "Mendadak . . ."

"Kraaak. . .kraaak." suara yang amat berisik sekali bergema memenuhi seluruh ruangan tersebut.

"Tia, coba kau lihat" terdengar si gadis cantik pengangon kambing itu berbisik kepada diri Lie Loo jie. Dengan mengikuti tudingannya Lie Loo jie segera memandang kesana. tampaklah ketiga buah patung Budha yang ada dibelakang meja sembahyang itu meloncat turun dari tempatnya. Ujung kakinya dengan cepat menutul permukaan lalu dengan gerakan yang amat cepat sekali ketiga buah patuug itu menyerang ke arah si gadis cantik pengangon kambing serta diri Lie Loo jie.

Bersamaan waktunya pula ketiga buah patung Budha itu mementangkan mulutnya secara tiba tiba bagaikan kilat cepatnya tiga rentetan sinar yang berbeda memancar keluar.

Dan mulut patung Budha yang ada ditengah ternyata sudah memancar keluar sinar yang amat dingin, dari patung Budha yang ada disebelah kanan memancar keluar sinar api yang sangat panas sedangkan dari patung sebelah kiri memancar keluar sebuah sumber air berwarna hijau tua, sekali pandang saja sudah tahu bila air itu sangat beracun sekali.

Mendadak Lie Loo jie membentak keras telapak kirinya dengan keras melancarkan Suatu pukulan dahsyat ke depan menghantam ke atas patung Budha itu, serunya dengan cepat.

"Wan-jie, cepat menyingkir !"

Tubuhnya sendiri dengan cepat meloncat sejauh tiga kaki menghindarkan diri dari serangan gabungan dari ketiga buah patung Budha itu, si gadis cantik pengangon kambing yang mendengar suara suara seruan dari ayahnya dia segera tahu bahaya, tanpa berpikir panjang lagi ujung kakinya segera menutul ke permukaan tanah tubuhnya dengan cepat sudah menghindarkan diri dari ketiga buah serangan tersebut, sehingga dengan demikian serangan dari patung patung Budha itu mencapai pada sasaran yang kosong.

Siapa tahu patung patung Budha itupun sangat gesit sekali pada saat mereka berdua meloncat menyingkir itulah patung patung Budha yang semula berdiri sejajar saat ini mendadak memencar ke samping kiri, sedangkan patung yang berada di depan tetap meluncur dengan cepatnya ke arah depan.

Dengan demikian si gadis cantik pengangon kambing benar benar sudah berhasil menghindarkan diri dari serangan patung Budha itu tetapi Lie Loo jie kini sudah terdesak oleh serangan patung Budha yang berada disebelah kiri.

Dia menjadi sangat terperanjat, sama sekali tak terduga kalau di dalam ruangan itu bisa dipasangi suatu alat alat rahasia ysng demikian lihaynya, tetapi kenapa tak ada orang tahu??

Aiii kuil Siang Lian Si ini memang merupakan salah satu kuil yang masih angker dan tidak boleh dengan secara gegabah masuk kedalam kuil tersebut.

Tetapi ketika teringat kembali kalau dirinyapun merupakan seorang jagoan yang terkenal di dalam Bu lim kini ternyata sudah terkurung didalam kuil tak terasa hatinya merasa gusar juga, melihat patung Budha menerjang ke arahnya itu dia segera menyalurkan hawa murninya ke seluruh tubuhnya, setelah patung Budha tersebut menerjang sampai satu depa dari dirinya tangan kirinya yang mencekal golok membabat ke depan sadangkan tangan kanannya dengan mengerahkan tenaga penuh mengejar ke depan.

Pukulan Lie Loo jie kali ini sudah menggunakan tenaga sebesar delapan bagian, kalau dihitung kekuatannya diatas ribuan kati.

Walaupun patung Budha tersebut amat lihay sekali tetapi bagaimana pun juga dia hanyalah barang mati yang tidak tahu menghindar pukulan pukulan tersebut dengan amat dahsyatnya menghantam dada patung itu membuatnya seketika itu juga berhenti tak bergerak kembali.

Lie Loo jie yang melihat patung itu menghentikan gerakannya dia tidak berani berlaku gegabah, sepasang matanya dengan amat tajam sskali memperhatikan terus patung yang berdiri kurang lebih satu depa di depan tubuhnya itu.

Suasana menjadi amat sunyi sekali. . .mendadak dari dada patung itu mengeluarkan suara hiruk pikuk yang amat ramai sekali. Lie Loo jie yang tahu tentu ada permainan lagi dia semakin tidak berani berlaku gegabah. Tampak tangan dari patung itu dengan perlahan direntangkan ke samping lalu dengan perlahan diangkat naik keatas, walaupun suasana didalam ruangan itu amat gelap tetapi Lie Loo jie masih bisa melihat dengan amat jelas seluruh gerak geriknya.

Tiba tiba sepasang tangan dari patung Buddha yang diangkat ini ditetapkan di depan dada, Lie Loo jie segera tahu dia akan berbuat sesuatu di ujung kakinya dengan cepat menutul permukaan tanah dengan menggunakan jurus" Pek Hok Cong Thian" atau bangau putih menerjang langit meloncat ke atas setinggi dua kaki lebib.

Pada saat yang bersamaan dari sepasang tangan patung Buddha itu menyambar keluar senjata senjata rahasia yang amat halus sekali dengan memencar dari kiri kanan menghajar kearah depan.

Melihat kejadian itu Lie Loo jie segera merasakan hatinya bergidik, pikirnya,

Sungguh amat bahaya, asalkan aku sedikit berayal menghindar kesamping kiri atau kanan bukankah aku akan segara terkena permainan busuknya ini??"

Tubuhnya yang masih ada di tengah udara segera berjumpalitan, dengan gerakan "Ku Ing Leng Gong" atau burung elang menembus awan golok tipis ditangan kirinya digetarkan sehingga menimbulkan berbagai bunga golok yang amat menyilaukan mata, dengan dahsyatnya dia membacok kearah patung tersebut.

Di mana sinar golok itu berkelebat patung Buddha tersebut tetap berdiri tidak bergerak. "Trang...!" dengan menimbulkan suara yarg amat nyaring bagian kepala dari patung Budha itu sudah terkena tusukan dari Lie Loo jie.

Tiba tiba patung itu merendahkan badannya dari punggungnya kembali berhamburan jarum jarum kecil yang menyambar dengan kecepatan luar biasa ke arah atas.

Bokongan senjata rahasia yang meluncur secara tiba tiba ini benar benar luar biasa. hebatnya, jikalau bukannnya Lie Loo jie dapat mengikuti perubahan selekas mungkin dia pun akan terkena serangan tersebut.

Kiranya pada saat Lie Loo jie berhasil menghantam bagian kepala dari patung Budna it dari jurus "Ku Ing Ban Gong" cepat ceoat dia mengubah menjadi "Sian Niauw Hua Sih" burung cerdik mengorek pasir melayang ke arah samping, dengan demikian diapun telah behasil menghindarkan diri dari serangan jarum rahasia itu.

Dia menjadi termangu mangu berdiam disamping, dia orang sama sekali tidak menduga patung Budha itu dipasangi alat rahasia sehingga demikian lihaynya.

Beberapa saat kemudian dari arah patung itu tetap tidak memperlihatkan gerak gerik lainnya, bagian pinggangnya mendadak patah rata jadi dua bagian berbungkuk tidak bangkit berdiri, saat itulah Lie Loo jie baru teringat serangan berturut turut sebanyak tiga kali dari alat alat rahasia yang dipasang di dalam patung tersebut semuanya disebabkan oleh usikannya sendiri, kemungkinan sekali bila dirinya tidak mengganggu, alat itupun tidak akan mencelakai dirinya kembali.

Saat ini dia baru menghembuskan napas lega, dengan perlahan kepalanya menoleh memandang ke arah patung Budha lainnya yang berdiri pada dinding sebelah kanan. Waktu itu si gadis cantik pengangon kambing bagaikan sebuah pa tung saja berdiri termangu mangu ditengah ruangan, agaknya dia dibuat kebingungan oleh gerak gerik yang amat aneh dari ketiga buah patung Budha tersebut.

Baru saja Lie Loo jie mau bergerak maju menuju kearahnya mendadak dia menemukan genta yang besar sejak kapan ternyata sudah bergeser ke atas kepala si gadis cantik pengangon kambing tak terasa lagi dia menjadi amat terperanjat.

"Wan jie cepat mundur." bentak Lie Loo jie dengan suara keras.

Baru saja dia selesai berbicara genta besar yang mengarah tepat di atas kepala si gadis cantik pengangon kambing itu sudah mulai bergerak turun kebawah, tetapi si gadis cantik pengangon kambing masin tetap berdiri tertegun tak bergerak.

Lie Loo jie tidak berani berlaku ayal lagi, tubuhnya dengan cepat meloncat kedepan untuk menyelamatkan kembali putrinya.

Ketika genta tersebut dengan perlahan mulai turun ke bawah, hanya didalem sekejap sudah berada kurang lebih beberapa depa diatas kepala gadis cantik pengangon kambing itu.

Lie Loo jie yang melihat keselamatan putrinya terancam, tubuhnya belum mencapai tempat itu sepasang telapak tangannya sudah didorong ke depan sehingga terasalah segulung angin pukulan yang sangat dahsyat menggulung kedepan.

Agaknya saat itulah si gadis cantik pengangon kambing baru merasakan keadaan yang amat berbahaya bagi dirinya.

"Addduh. "saking kagetnya dia berdiri melongo longo

disana. Untung saja angin pukulan yang dahsyat dari Lie Loo jie tepat pada saatnya berhasil memukul miring kesamping dan berdiri kesamping tubuh Lie Loo jie.

Bersamaan dengan melayangnya gadis cantik pengangon kambing kesamping genta itupun ikut melayang kembali keatas.

Melihat hal itu Lie Loo jie menjadi sangat gusar sekali tubuhnya melayang ke depan, golok tipis di tangannya mendadak membabat ke arah rantai baja yang mengikat genta tersebut sehingga menjadi putus, dengan disertai suara yang amat keras genta itu jatuh ke atas tanah dan hancur berantakan.

Setelah genta itu berhenti berbunyi suasana seketika itu juga berubah menjadi sunyi senyap saking sunyinya sehingga terasa amat menakutkan sekali.

Lie Loo jie dengan tenangnya melayang kembali ke samping tubuh si gadis cantik pengangon kambing, baru ssja tangannya memeriksa pergelangan tangan putrinya mendadak dia merasakan permukaan tanah yang diinjaknya agak kendor batinya menjadi bergerak.

"Celaka.. . pikirnya.

Dengan menarik tangan putrinya dan melayang ke tengah udara.

Saat itulah permukaan tanah yang semula amat kuat mendadak dengan menimbulkan suara gemuruh yang amat keras sudah muncul sebuah liang seluas tubuh, delapan kaki diikuti mengalirnya air yang amat deras menerjang masuk dari empat penjuru,

Hanya di dalam sekejap saja seluruh ruangan kuil yang amat megah itu sudah berubah menjadi kolam yang amat dalam sekali, berapa dalam yang sesungguhnya tidak ada orang yang tabu. Satu satunya tempat yang tidak tenggelam dalam air cuma ketiga tempat patung Budha tadi.

Saat ini Lie Loo jie serta si gadis cantik pengangon kambing masih ada di tengah udara, melihat keadaan yang begitu mengerikan dari ruangan tersebut serta melihat pula kalau disekeliling tempat sana sama sekali tidak menemui tempat untuk berpijak kaki, hatinya diam diam berseru kaget.

"Aduh celaka, kali ini aku akan terjerumus ke dalam perangkap yang amat lihay dari semua orang orang kuil Siang Lian Si"

Pada saat hatinya terasa amat kacau itulah mendadak matanya dapat menangkap rantai potongan baja yang semula digunakan untuk menggantung genta tadi, pikirannya dengan cepat berputar.

Mendadak dia melancarkan pukulan ke depan, dengan meminjam tenaga pantulan tersebut tubuhnya dengan menembus ketengah udara meluncur kearah sana dan menyambar rantai baja itu.

Si gadis cantik pengangon kambing yang mencekal erat erat tangan ayahnya Lie Loo jie dengan cepat ikut meluncur kesana, sehingga dengan demikian mereka berdua jadi bergantungan dengan hanya mengandalkan rantai baja itu saja.

Keadaan benar benar sangat berbahaya sekali sedikit saja tidak waspada nyawa segera akan melayang, karenanya mereka berdua sama sekali tidak mengucapkan sepatah katapun mereka hanya melihat air bah yang semakin lama semakin memenuhi seluruh ruangan dan berpikir keras untuk mendapatkan suatu cara untuk meloloskan diri dari sana.

Pada saat itu si gadis cantik pengangon kam bing teringat kembali keselamatan dari Lie Siauw Ie, teringat dia sudah masuk kedalam kuil ini hatinya terasa sangat berduka sekali, tak terasa lagi dua titik air mata menetes membasahi wajahnya.

Titik titik air itu menetes jatuh membasahi tangan Lie Loo jie membuat dia agak mendongkol, ujarnya sambil memandang dirinya.

"Wan jie, kenapa kau menangis? pada saat dan tempat seperti ini mana kau orang boleh menangis?"

"Tia, aku teringat kembali kepada Ie cici, maka..."

.aku menangis" kata kata terakhir ini belum sempat diucapkan Lie Loo jie sudah memotong.

"Suruh kau jangan menangis ya jangan menangis, hati hati jangan sampai tercebur kedalam air"

Terpaksa si gadis cantik pengangon kambing berhenti menangis dan mencekal tangan Lie Loo jie semakin kencang lagi.

Sebenarnya saat ini Lie Loo jie serta si gadis cantik pengangon kambing itu sudah memiliki ilmu meringankan tubuh yang amat sempurna sehingha bisa melayang di atas permukaan air, tetapi mereka ragu ragu untuk meloncat turun dikarenakan dalam hati mereka takut kalau diantara air masih ada jebakan jebakan yang lain, karenanya mereka tidak berlaku gegabah, dengan pusatkan perhatian mereka berpegangan pada rantai baja menunggu kesempatan yang baik.

Kita sekarang kembali pada Lie Siauw Ie yang melihat tubuh Liem Tou tersangkut pada tanduk kerbau kemudian dia dibawa lari dengan cepatnya ke dalam ruangan kuil, dengan cepatnya dia mengikuti terus dari belakangnya.

Tampak kerbau itu bagaikan sudah hafal dengan keadaan di tempat itu, dengan cepatnya sudah menerjang kearah kanan lal lenyap tak berbekas. Lie Siauw Ie yang ada setahun lamanya mengangkat Lie Loo jie dari Toen Si Pay sebagai gurunya sudah tentu kepandaian silatnya memperoleh kemajuan yang sangat pesat, tenaga dalamnya walaupun tidak bisa menandingi si gadis cantik pengangon kambing yang berlatih sejak kecil tetapi dasarnya sangat bagus sekali sehingga ilmu meringankan tubuhpun sudah amat lihay.

Saat ini melihat kerbau itu lenyap dibilik sebelah kanan, karena takut sampai ketinggalan dengan cepat menggunakan ilmu "Liuw Im Hwee Si" dari Toen Si Pay mengejar terus ke depan.

Tampak di balik sebuah pintu tersebut terdapat sebuah lorong kecil yang berbelok belok ke arah kiri tanpa berpikir panjang lagi dia mengerahkan seluruh tenaga dalamuya mengejar terus kedalam.

Kurang lebih tiga depa dia berlari segera terlihat kembali bintang bintang yang penuh menghiasi langit, kiranya tempat itu merupakan sebuah halaman kecil yang amat tenang dan dikelilingi tumbuhan bambu yang amat rapat,dari tumbuhan bambu itu dapat dilihat sebuah bangunan besar dibaliknya, ruangan disana persis seperti ruangan yang dilihatnya didepan tadi.

Cuma saja ruangan itu jauh lebih mewah dan megah sekali, lampu menerangi seluruh ruangan sehingga seperti di siang hari saja, kedua belah pintu terbuka lebar iebar dan tampak banyak perempuan yang berdandan amat menyolok berjalan mondar mandir disana.

Lie Siauw le yang sedang memandang keadaan itu dalam keadaan kebingungan mandadak mendengar suara ringkikan kerbau yang panjang tampak seekor kerbau dengan amat cepatnya menyusup keluar dan menerjang kedalam ruangan yang rerang benderang itu. Melihat munculnya seekor binatang yang sangat besar ke arah mereka para perempuan itu menjadi amat panik, diiringi suara teriakan teriakan kaget yang amat keras mereka pada lari terbirit birit meninggalkan tempat tersebut.

Lie Siauw Ie yang melibat munculnya kerbau itu segera membentak keras dan ikut munculkan dirinya disana, segera terlihatlah sesosok bayangan putih berkelebat menuju ke tengah ruangan menyusul kerbau tersebut yang pada saat ini sudah menerjang ke tengah kamar.

Ternyata kerbau itu tidak melukai seorangpun, dia hanya berlari kesana kemari menakut nakuti perempuan perempuan dengan dandanan menyolok itu sehingga membuat mereka itu pada jatuh bangun dan melarikan diri terbirit-birit dari sana.

Hanya didalam beberapa saat saja sebuah ruangan yang amat besar sudah ditinggal pergi oleh penghuninya sehingga kosong melompong.

Kerbau itupun sudah berhenti tidak bergerak ditengah ruangan, Lie Siauw Ie cepat cepat berlari mendekat untuk menolong diri Liem Tou.

Tetapi walaupun dia sudah menggunakan ilmu apapun dan menggerakkan badannya sebagai mana cepatnya dia tidak bisa juga mendekati kerbau itu, membuat Lie Siauw Ie saking gemasnya terus menerus mendepakan kakinya berulang kali dan memanggil adik Tou tak henti hentinya.

Liem Tou yang berada di tanduk kerbau itu sama sekali tidak bergerak agaknya dia sudah jatuh tidak sadarkan diri. Sebaliknya kerbau itu kadang kala sengaja menghadapkan pantatnya ke depan tubuh Lie Siauw Ie sekalipun begitu sepertinya dibelakang punggungnya ada mata asalkan Lie Siauw Ie coba merebut maju ia pasti bergerak untuk menhindar.

Lie Siauw Ie tidak berbuat apa apa lagi, mendadak tangannya meraup senjata rahasia Kioe Cu Gien Ciamnya siap disambitkan ke arah kerbau tersebut tapi dia takut sampai terkena badan Liem Tou yang ada di tanduk terpaksa dia pun membatalkan niatnya ini, sambil berteriak gemas dia cuma melototi kerbau itu saja, pikirannya benar benar dibuat bingung oleh kelakuannya itu.

Sekonyong konyong kerbau itu mendengus panjang sepasang matanya yang bulat benar melotot keluar lalu memandang tajam kearah Lie Siaw Ie yang sedang kebingungan.

Lie Siauw Ie yang melihat sifat ganas dari kerbau itu secara mendadak kambuh kembali tanpa terasa lagi dia sudah pusatkan seluruh perhatiannya untuk menghadapi segala kemungkinan.

Pada saat itulah kerbau itu menyepakkan kakinya ke belakang lalu dengan amat cepatnya menerjang ke depan.

Lie Siauw Ie segera membentak keras, pedang panjang di tangan kanannya diangkat dengan menggunakan jurus" Tok Coa Cut Tong" atau ular berbisa keluar goa dia meayambut datangnya kerbau tersebut dengan satu tusukan kilat.

Siapa tahu kerbau itu ternyata sama sekali tidak menhindarkan diri dari serangan tersebut dengan ganasnya ia melanjutkan terjangannya kedepan memaksa Lie Siauw Ie harus menarik kembaii serangannya dan menghindar kesamping.

Pada saat itulah sang kerbau dengan amat cepatnya lewat disamping badannya membuat Lie Siauw Ie bsnar benar dibuat mendongkol.

Tanpa banyak berpikir lagi tangan kirinya diangkat meraup senjata rahasia Kioe Cu Gien Ciam lalu disambitkan menghajar tubuh kerbau tersebut.

Waktu ini jaraknya dengan sang kerbau cuma ada beberapa depa saja, untuk menjawil dengan tanganpun masih sampai apa lagi melancarkan serangan dengan menggunakan jarum rahasia begitu banyaknya, didalam sepuluh bagian ada sembilan pasti mengenai sasarannya.

Tetapi dia cepat, gerakan dari kerbau itu jauh lebih cepat lagi, baru saja pikirannya sedang berputar dan jarum rahasia di tangan kirinya baru akan disambitkan ke depan mendadak ekor dari kerbau itu sudah menyapu ke tangannya dengan amat dahsyat.

Lie Siauw Ie tidak sempat untuk menghindar lagi. Jarum yang ada di tangan kirinya sudah tersampok jatuh keatas tanah tidak ketinggalan barang sebatang pun.

Setelah berhasil menyampok Jatuh senjata r hasia kerbau itu cepat cepat menerjang kembali kedepan dengan amat cepatnya.

Lie Siauw Ie benar benar sangat mendongkol matanya dengan cepat melotot kearah kerbau itu, tiba tiba. . ."

Matanya dapat melihat si hweesio kurus dan berbadan hitam atau Thiat Bok Thaysu dengan membawa beberapa orang hweesio sudah munculkan dirinya di depan pintu ruangan kuil itu, saat itulah sang kerbau sedang berdiri menerjang ke arah mereka dengan amat ganasnya.

Kiranya Thiat Bok Thaysu dapat muncul disini kerena mendapatkan laporan penting dari anak buahnya dan bertepatan pula sewaktu Lie Loo jie serta si gadis cantik pengangon kambing sedang menemui bahaya, jika kalau bukannya Thiat Bok Thaysu berhasil dipancing kemari maka bencana yang akan ditemui Lie Loo jie serta si gadis cantik pengangon kambing itu akan jatuh lebih hebat lagi bahkan keselamatannya pun semakin berbahaya,

Saat ini kerbau itu dengan tidak mengenal lihay sudah menerjang dengan dahsyatnya ke arah Thiat Bok Thaysu. Thiat Bok Thaysu yang sudah mendapatkan laporan dari para hweesio atas kelihayan dari sang kerbau dan tahu pula kaiau banyak anak buahnya sudah mati di atas ujung tanduk kerbau itu dia sudah mengambil keputusan untuk membinasakannya, segera dia tertawa dingin menanti setelah kerbau itu menerjang hingga dekat sekali dengan tubuhnya mendadak dengan kecepatnya bagaikan kilat dia melancarkan suatu pukulan dahsyat menghajar batok kepala kerbau tersebut.

Tidak terduga kerbau itu jauh berbeda dengan kerbau biasa, baru saja pundak dari Thiat Bok Tnaysu bergerak dia agaknya sudah tahu apa yang hendak dilakukan olehnya, tiba tiba tubuhnya yang semula menerjang ke depan kini malah mundur terus ke belakang tanpa putar badan lagi.

Thiat Bok Tiiaysu sama sekali tidak menyangka sang kerbau bisa mundur kebelakag sehingga pukulannya mencapai pada sasaran yang kosong, saking keheranannya dia menjadi berdiri tertegun, sinar matanya dengan amat dinginnya memperhatikan kerbau tersebut.

Yang paling membuat dia heran adalah seorang pemuda gembala berbaju compang camping yang tergantung di antara tanduknya, agak nya saat ini pemuda itu sedang tertidur lelap, tetapi gerakan yang bagaimana cepatnyapun dari sang kerbau sama sekali tidak membuat dia jatuh terguling diatas tanah.

Melihat keanehan dari hal ini tak terasa hatinya menjadi bergerak, dia segera maju lagi beberapa langkah kedalam ruangan

Tampaklah Lie Siauw Ie dengan melintangkan pedangnya berdiri tegak di tengah ruangan. dia segera mendengus dingin tangannya diulapkan segera terlibatlah dua orang bweesio dengan perlahan mendekati diri Lie Siauw Ie.

Lie Siauw Ie yang melihat gerak gerik mereka di dalam sekali pandang saja dia sudah tahu kalau mereka mengandung maksud yang tidak baik, pedangnya segera dicekal kencang kencang lalu bentaknya dengan nyaring "Berhenti, jika kalian maju setindak lagi nonamu segera akan bunuh kalian!"

Suara Bentakan dari Lie Siauw Ie ini amat keras dan keren sekali padahal di dalam hatinya berdebar debar amat keras. Dia yang melihat munculnya Thiat Bok Thaysu disana segera merasakan keadaannya sangat berbahaya sekali, untuk menghindarkan diri tiada jalan lagi terpaksa dengan paksakan diri menantikan kesempatan yang baik buat meloloskan diri.

Kedua orang hweesio yang baru saja diperintahkan untuk maju ini bukanlah termasuk hweesio yang dibuat kalang kabut oleh terjangan sang kerbau tadi, mereka berdua dengan langkah yaeg mantap terus maju mendekati tubuh Li Siauw Ie.

Melihat hal tersebut Lie Siauw Ie segera tahu kalau keadaannya sangat berbahaya sekali. Diam diam tangannya dimasukkan ke dalam saku meraih kembali segenggam senjata rahasia Kioe Cu Gian Ciem siap menghadapi segala kemungkinan.

Kembali terdengar teriakan dari Thiatt Bok Thaysu, "hati bocah perempuan itu sangat licik sukar diduga, lebih baik biar aku sendiri yaag menawan dirinya."

Lie Siaw Ie yaag melihat Thiat Bok Thaysu mau turun tangan sendiri saking kagetnya air mukanya sudah berubah pucat pasi, pikirnya didalam hati.

"Suhu yang merupakan jago nomor wahid dari Bu lim pun masih bukan tandingannya apa lagi aku ? Untuk melukai diriku bukankah dia orang seperti membalikkan tangan gampangnya

? ? Aku orang mana mungkin berhasil untuk bertahan diri ?"

Baru saja dia berpikir sampai disana kedua orang hweesio yang semula perintahkan untuk maju itu kini sudah mengundurkan dirinya kembali, sedangkan Thiat Bok Thaysu dengan panduangan yang amat tajam menyapu ke arah kerbau tetsebut lalu memandang seluruh badannya membuat Lie siauw Ie bergidik beberapa kali, pedang serta senjata raflasia Kioe Cu Gien Ciam yang dicekalpun semakin mengencang dengan mata yang melotot dia memperhatikan terus seluruh gerak gerik dari Thiat Bok Thaysu.

Mereka saling pandang memandang saling melotot beberapa waktu lamanya tiba tiba tampak Thiat Bok Thaysu berkata kembali sambil tertawa seram.

"Hee... hee... kau bocah perempuan sebetulnya ada hubungan apa dengan tua bangka she Lie itu? sekarang sudah ada di dalam kendiku He . .. hee siapapun jangan harap bisa menolong mereka lolos dari kurungannya.

Sehabis berkata dengan pandangan yang amat aneh dia memandang tajam seluruh lekukan tubuh Lie Siauw Ie.

Bagaimanapun juga Lie Siauw Ie bukanlah seorang yang tolol, dari pandangan mata serta perubahan wajahnya yang amat aneh itu ditambah pula dengan banyaknya perempuan didalam kuil dia segera tahu dinawahnya tentu ada maksud yang tersembunyi, saking malu dan gusarnya dia segera membentak keras, pedangnya dengan melancarkan serangan dahsyat menubruk kearah dirinya.

Thiat Bok Thaysu yang melihat dia orang menjadi malu bercampur gusar segera tertawa terbahak bahak dengan seramnya.

"Hay bocih perempuan," serunya sambil menyengir cabul. "Sebelum aku jelaskan omonganku kau sudah mengerti dengan sendirinya hal ini membuktikan kalau memang pikiranmu cerdik sekali, haaa . . . haaa . . . bagus, bagus sekali, baiknya kau menuruti kemauanku saja, dengan begitu nyawa dari tua bangka she Lie itu pun bisa tertolong.

Lie Siauw Ie yang dibuat amat gusar serangannya menjadi semakin gencar menghajar sang hweesio cabul.

Thiat Bok Thaysa segera tertawa dingin tubuhnya miring ke samping menghindarkan diri dari tusukan tersebut. sedang cengkeramannya yang seperti kuku garuda dengan dahsyatnya mengancam jalan darah pada pergelangan tangan nya.

Pada saat yang bersamaan pula mendadak terdengar suara dengusan dari kerbau itu lalu dengan cepatnya menerjang kearah orang hwee sio yang berada disacapingnya.

Melihat hil tersebut Lie Siauw Ie menjadi sangat girang, bentaknya. "Bagus ... bagus. . .sekarang sambutlah barang ini!"

Senjata rahasia Kioe Cu Gien Ciam yang ada ditangannya mendadak disambitkan keluar mengincar seluruh tubuh dari Thiat Bok Thaysu,

Senjata rahasia Kioe Cu Gien Ciam ini halus sekali seperti bulu kerbau saja, senjata semacam ini paling sukar untuk dihindari tetapi manusia semacam Thiat Bok Thaysu sudah tentu tidak akan memandang dengan sebelah mata, ujung jubah nya dikebut ke depan sehingga menimbulkan segulung angin pukulan yang dahsyat menghajar jatuh puluhan senjata rahasia Kioe Cu Gien-Ciam yang mengancam tubuhnya itu.

Pada saat dia melancarkan serangan pukulan untuk memukul jatuh senjata rahasia itulah mendadak terdengar suara jeritan ngeri yang menyayatkan hati sehingga menggetarkan seluruh ruangan, seorang hweesio anak buahnya kembali kena sambar tanduk kerbau itu sahingga punggungnya berlubang dan binasa seketika itu juga.

Atas kejadian ini dia tidak mau bergebrak lebih lama lagi melawan Lie Siauw Ie, sepasang lengannya dipentangkan disertai dengan suara bentakan yang amat nyaring ilmu beracun "Hek Khie Cie Kang" yang dilatih selama puluhan tahun untuk kedua kalinya digunakan.

Tampak pada ujung ke sepuluh jarinya secara samar samar muncul bawa hitam yang makin lama semakin menebal meluncur ke atas tubuh kerbau. Lie Siauw Ie yang melihat hal itu walaupun tidak tahu Thiat Bok Thaysu sedang menggunakan ilmu macam apa tetapi melihat kedahsyatan dari serangan tersebut segera mengetahui kalau serangannya itu tentu sedang menggunakan semacam ilmu yang amat beracun.

Dia orang karena takut kalau serangan tersebut sampai melukai Liem Tou, dengan cemas teriaknya dengan suara keras.

"Ciag Gouw ko, cepat mundur . . cepat mundur."

Bagaimanapun juga binatang tetap binatang, kerbau yah tetap kerbau mana mungkin bisa mengerti perkataan dari manusia? ? Bukannya mengundurkan diri dari belakang sebaliknya dengan disertai dengusannya yang amat panjang dia malah menyambut datangnya serangan kabut hitam yang mengancam tubuhnya itu.

"Binatang saat kematianmu telah tiba, buat apa kau begitu bangga? " pikir Thiat Bok Thaysu sewaktu melihat hal itu.

Baru saja dia orang merasa gembira karena kerbau tersebut bakal terbunuh di bawah serangan beracunnya siapa tahu tiba tiba dia merasakan serangannya seperti terhalang oleh sesuatu, tenaga dalamnya sukar untuk disalurkan lancar, dalam hati dia benar benar merasa keheranan.

Tenaga dalamnya segera dilipat gandakan kelihatan seluruh jalur hitam seketika itu juga mengumpul menjadi segulung awan yang sangat hitam yang amat tebal dengan memecahkan udara menerjang kedepan.

Kerbau itu tetap tidak dibuat jeri, ekornya yang panjang dengan sekonyong konyong dikebaskan sehingga menjadi mengencang bagaikan pit, secara aneh sekali dari ujung kedua belab tanduk kerbau itu mendadak menerjang keluar segulung angin pukulan yang menyambut datangnya serangan dari Thiat Bok Thaysu sehingga punah menjadi angin yang berlalu. Thiat Bok Thaysu segera merasakan situasi yang tidak mengutungkan bagi dirinya air mukanya segera berubah meringis kejam tububnya mundur tujuh delapan tindak dan dengan cepat menarik kembali hawa pukulan beracunnya.

Sekalipun gerakannya cepat tetapi baru saja berhasil menarik separuh dari tenaga pukulan hawa beracun yang separuhnya lagi sudah berhasil dipunahkan sehingga buyar tak berbekas di dalam seluruh ruangan.

Kali ini Thiat Bok Thaysu benar benar dibuat amat gusar sekali, dia orang sama sekali tidak menyangka ilmunya yang didapatkan dengan susah payah selama puluhan tahun dengan mencari benda benda beracun yang sudah berusia ratusan tahun dan ulat, ulat yang banyak ada di dasar kuburan ternyata sudah punah separuh bagian hanya di dalam sekejap saja

Sepasang matanya dengan amat tajam sekali memperhatikan diri Liem Tou yang tergantucg di atas tanduk kerbau itu, mendadak bentanknya dengan suara yang amat keras. Bangsat cilik, siapa kau orang??"

Dengan pengetahuan serta pengalaman yang luas dari Thiat Bok Thaysu mana mungkin dia orang tidak mengenal para jago jago yang ada didalam Bu lim?? kini melihat sang kerbau ternyata bisa memunahkan ilmu pukulan beracunnya sudah tentu dia orang tidak mau percaya karena itu didalam anggapannya sudah tentu Liem Tou yang tergantung di atas tanduk kerbau itulah yang sudah bermain main dengan dirinya.

Tetapi sekalipun Thiat Bok Thaysu sudah berteriak teriak beberapa kali Liem Tou tetap tertidur dengan amat nyenyaknya sama sekali tidak bergerak.

Pada saat itulah mendadak terdengar kerbau itu mendengus panjang sambil mendepakkan kakinya kebelakang, kepalanya ditundukkan dengan dahsyatnya ia menerjang ke arah tubuh Thiat Bok Thaysu.

Thiat Bok Thaysu menjadi teramat gusar, ujung jubahnya dikebutkan ke depan melancarkan satu pukulan dahsyat menghantam tubuh kerbau itu. pada saat dia sedang augkat tangan nya itulah mendadak terasa segulung angin pukulan yang jauh lebih kuat dengan dahsyatnya sudah menggulung menghantam tubuhnya, dia menjadi terperanjat dengan cepat serangannya ditarik dengan tergesa gesa lalu meloncat kesamping untuk menghindarkan diri.

Tibt tiba kerbau itu miringkan badannya ekornya yang panjang dengan dahsyatnya menghajar scoraug hweesio yang berdiri disampingnya.

"Aduh. .." disertai dengan suara teriakan kesakitan yang amat mengerikan hweesio tersebut terjatuh ke atas tanah tidak dapat bangun kembali.

Gerakan kerbau itu tidak berhenti sampai di situ saja, tubuhnya dengan amat cepatnya menerjang kambali kearah Thiat Bok Thaysu.

Thiat Bok Thaysu yang melihat berturut turut kerbau tersebut berhasil membinasakan dua orang anak buahnya dengan sangat mudah hatinya dibuat benar benar ketakutan, kini melihat datangnya terjangan yang sangat dahsyat dia tidak berani menyambut keras lawan keras.

Tubuhnya meloncat ke samping lalu melirik sekejap ke arah Lie Siauw Ie yang berdiri di depannya, hatinya menjadi bergerak pikirnya.

"Terjangan yang secara mendadak dari kerbau ini sangat aneh sekali, tentunya dia ada sangkut pautnya dengan Lie Loo jie itu, sedangkan perempuan inipun anak murid Lie Loo jie lebih baik aku tawan dia terlebih dulu lalu dengan cara yang lain berusaha untuk menangkan pertempuran kali ini." Berpikir akan hal ini tubuhnya yang berkelebat ke samping memdekati tubuh Lie Siauw Ie.

Sebaliknya Lie Siauw Ie yang melihat sang kerbau itu terus menerus mendesak, Thiat Bok-Thaysu geser kesamping perhatiannya segera dipusatkan seluruhnya ke sana, terhadap mara bahaya yang bakal mengancam dia orang sama sekali tidak merasakan.

Thiat Bok Thaysu yang mempunyai perawakan kurus kering sewaktu melihat Lie Siauw Ie sama sekali tidak mengadakan persiapan dalam hati diam diam merasa amat girang sekali, dia tahu asalkan kali ini berhasil mencapai hasil maka pertempuran malam ini seluruh kemenangan akan diperoleh dirinya.

Dengan perlahan tenaga dalamnya disalurkan dengan penuh ke atas dua belah telapak tangannya, sewaktu dia melihat kerbau itu menerjang kembali kearahnya dan melihat jaraknya dengan Lie Siauw Ie cuma tinggal beberapa kaki saja tanpa berpikir panjang lagi tubuhnya segera meloncat keatas lalu berjumpalitan ditengah udara mendesak ke arabnya.

"Hey bocah perempuan, terimalah seranganku ini" bentaknya dengan amat keras.

Kedua belah telapak tangannya yang sudah dipersiapkan sejak tadi pada saat inilah bagaikan menggulungnya ombak di tengah samudra menggencet dari kedua belah samping Lie Siauw Ie sedang tuhuhnyapun mendesak lebih mendekat berusaha mencengkram mangsanya.

Menanti Lie Siauw Ie sadar kembali apa yang telah terjadi kedua belah samping badannya sudah terhalang oleh angin pukulan dari Thiat Bok Thaysu itu, untuk menghindarkan kesamping tidak dapat lagi terpaksa dia mundur ke belakang.

Tetapi pada saat dia agak ragu ragu itulah cengkeraman dari Thiat Bok Thaysu sudah tiba dihadapannya membuat dia menjadi amat terperanjat, dengan air muka ketakutan teriaknya keras.

"Aouw adik Tou tolong.. .!"

Melihat untuk menghindarkan diri tiada jalan lain lagi, Lie Siauw Ie segera pejamkan matanya pasrah terhadap semua perbuatan dari Thiat Bok Thaysu.

Pada saat yang amat kritis itulah mendadak terdengar suara dengusan kerbau yang amat berat lalu disusul dengan suara jeritan Liem Tou.

"Toloag .. tolong . . !"

Baru saja suara itu lenyap dari pendengaran mendadak terdengar Thiat Bok Thaysu menjerit ngeri lalu terhuyung huyung mengundurkan diri kebelakang sambil muntahkan darah segar.

Kerbau itu terayata sudah berdiri dengen tenangnya disamping badannya sedangkan Liem Tou berbaring diatas tanduk kerbau sambil tangannya diobat abitkan tidak keruan.

'Aduh tolong . . tolong . ."

Gerak geriknya amat lucu sekali seperti sedang menghadapi bahaya.

Lie Siauw Ie yang melihat hal itu tanpa men perdulik«n keselamatan jiwanya sendiri pedang yang ada ditangannya segera melancarkan tusukan mengancam tubuh kerbau itu sedang tangannya yang lain dengan amat cepatnya menyambar tubuh Liem Tou yang tersangkut diatas tanduk kerbau iiu.

Belum sempat pedangnya melancarkan serangan mendadak dia merasakan pinggangnya seperti dililit dengan sesuatu tahu tahu tubuhnya sudah terangkat oleh lilitan ekor kerbau dan dijatuhkan keatas punggungnya. "Aaaiih Ie cici, akhirnya kau datang juga" terdengar Liem Tou sambil tertawa girang memeluk pinggangnya kencang kencang. "Kau sudah kemana selama ini??? eeeh sekarang kita berada dimana?"

Lie Siauw le yang melihat Liem Tou sudah sadar kembali dari pulasnya seketika itu juga sudah melupakan kalau baru saja dia lolos dari bahaya dan lupa juga kalau pada saat ini dia sudah berada diatas punggung kerbau, sahutnya dengan amat girang.

"Oooh adik Tou kau sungguh mengagetkan diriku, bagaimana kau orang bisa tergantung diatas tanduk kerbau?"

"Aku sendiripun tidak tahu" jawab Liem Tou sambil gelengkan kepalanya.

"Sewaktu aku melibat hweesio hweesio itu amat lihay sekali, maka cepat cepat aku melarikan diri keluar kuil, siapa sangka aku sudah kena pukul rubuh oleh dua orang hweesio jahanam.

Setelah itu semuanya aku tidak tahu, sampai baru saja aku sadar kembali dan melihat cici baru meloncat kemari."

Mendengar perkataan itu Lie Siauw Ie segera tertawa cekikikan.

"Mana mungkin aku bisa meloncat kemari. Kan terang terangan aku dililit oleh ekor kerbau ini ?.,

Pada mukanya Liem Tou sengaja berpura pura bingung padahal dalam hati diam diam merasa geli, pikirnya.

Jikalau bukannya aku sudah menolong dirimu kemungkinan sekali kau kini sudah berada di dalam cengkeraman Thiat Bok Thaysu ini, tetapi kini aku harus mengelabui dirimu untuk sementara waktu karena musuhku terlalu banyak, jikalau berita ini sampai tersiar diluaran sekalipun pun aku memiliki kepandaian yang lebih tinggi pun belum tentu berhasil menahan kerubutan dari orang orang kalangan Hek to yang begitu banyak."

Setelah tertawa cekikikan Lie Siauw Ie berkata kembali. "Tidak kusangka kerbau itu yang sudah menolong dirimu,

tetapi kerbaumu itu terlalu ganas sekali, seluruh hweesio penghuni kuil Siang Lian Si ini hampir sebagian besar terbunuh oleh serudukan tanduknya."

"Haaa sungguh ?? Dia benar benar mempunyai kepandaian seperti itu ?" tanya Liem Tou keheranan.

Padahal dalam hati dia sedang berpikir.

"Ie cici kau sama sekali tak tahu kejahatan serta kecabulan dari hweesio hweesio penghuni kuil ini, bila sejak tadi kau sudah tiba di dalam ruangan ini dan melihat perempuan perempuan itu maka akan segera tahu kalau mereka it anak gadis orang orang dusun yang ditawan mereka untuk kesenangan, coba kau bayangkan kerbauku atau dia yang lebih jahat dan ganas ?"

Pada waktu itulah kerbau tersebut mendadak meloncat turun dari tempat ketinggian mereka berdua yang sedang berbicara sama sekali tidak memperhatikan akan hal ini hingga hampir hampir saja terlempar jatuh dari atas punggung kerbau, sedangkan Liem Tou pun tahu bila kerbau itu kehilangan tenaga bantuannya mana mungkin bisa memenangkan Thiat Bok-Thuysu yang amat libay?"

Thiat Bok Thaysu yang telah terluka mana berani bertempur dengan kerbau itu, dengan cepat dia ngeloyor pergi dari sana melalui pintu pintu sebelah kanan

Ketika kerbau itu melihat dia lari pergi dengan cepat menyerbu kembali kedepan mengejar dari arah belakang, sedikitpun ia tak mau mengendorkan kejarannya.

Sewaktu tadi Lie Loo jie sedang bertempur dengan amat serunya melawan si penjahat naga merah, Liem Tou melakukan pemeriksaan yang amat teliti sekali terhadap keadaan diseluruh ruangan kuil itu sehingga diapun mengetahui bagaimana sifat yang sebenarnya dari hweesio tersebut.

Kini melihat dia telah melarikan diri melalui pintu sebelah kanan dia orang segera mengetahui kalau tempat itu merupakan sebuah jalan rahasia, karenanya dengan amat kencang dia membuntuti terus dari belakangnya.

Ternyata dugaannya sedikipun tidak salah, tempat tersebut memangnya merupakan sebuah jalan rahasia yang amat panjang sekali dan saat itu Thiat Bok Thaysu sedang melarikan dirinya kedalam.

Pikirnya Liem Tou kemudian.

Orang ini jika kalau dibiarkan tinggal didalam Bu lim terus tentu akan menimbulkan bencana saja, lebih baik aku basmi saja dia orang selekas mungkin."

Berpikir sampai disitu tangannya diam diam segera meraba ke samping telinga dari kerbau itu, sang kerbau segera mengerti dan mendengus panjang.

Dengan meminjam kesempatan itulah diam-diam Liem Tou membalikkan pergelangan tangannya lalu melancarkan satu pukulan dahsyat menghajar belakang punggung Thiat Bok Thaysu.

Seluruh gerakkannya ini dilakukan sangat hati hati sekali sehingga Lie Siauw Ie yang ada dibelaksngnya sama sekali tidak menyangka kalau dia orang sedang mengerahkan tenaga dalamnya untuk menghajar tubuh Thiat Bok Thay su.

Tampak sambil menoleh dia tertawa ringan.

"Adik Tou, ujarnya perlahan. Kiranya didalam kuil inipun ada jalan rahasianya. kerbau ini sangat lihay sekali jangan sampai terkena bokongan dari hweesio keparat itu." Thiat Bok Thaysu yang benar benar sudah terdesak melihat datangnya serangan tersebut dia orang tidak berani menyambut, dengan menahan getaran yang amat hebat dari luka dalamnya tanpa palingkan kepalanya lagi dengan sekuat tenaga dia meloncat kearah jalan rahasia itu dan di dalam beberapa kali kelebatan saja sudah lenyap dari padangan.

Liem Tou yang takut dia orang lolos dari pengawasannya, segera mengempit kencang kencang perut kerbaunya dengan amat cepatnya kerbau tersebut segera menerjang pula kearah dalam jalan rahasia.

Setelah berbelok belok beberapa kali akhirnya Lie Siauw Ie hanya merasakan pandangannya menjadi terang pemandangan yang dilihatnya sama sekali berubah.

Tampak ruangan tersebut amat mewah dan megah sekali laksana sebuah istana kaisar seluruh dinding serta tiang pilarnya tersebuat dari batu pualam yang amat menyilaukan mata, tempat itu mana mirip dengan sebuah bangunan kuil dari kaum beribadat? tak tertahan lagi dia berseru keras.

"Aaaah, adik Tou tempat ini mirip sekali dengan sebuah istana kaisar "

Liem Tou yang sedang pusatkan seluruh perhatiannya untuk menangkap Thiat Bok Thaysu mendengar perkataan itu dia cuma mengangguk saja, sahutnya.

"Ehmm . ."tempat itu tidak mirip dengan sebuah kuil, tentunya mereka adalah kaum perampok yang sengaja menyamar sebagai hweesio. kiranya kerbauku sudah tidak

salah membinasakan orang orang.

Matanya yang jeli dengan amat tajamnya menyapa keseluruh ruangan itu tetapi ditengah bangunan megah laksana istana tersebut sama sekali tidak tampak adanya sesosok bayangan manusia pun membuat Liem Tou diam diam merasa keheranan pikirnya. Perempuan yang dikumpulkan Thiat Bok Thaysu tadi pada berkumpul disini mencari kesenangan dan melakukan permainan kotornya kenapa sekarang pada lenyap tak tampak seorangpun, mereka sudah pergi ke mana ? Apa mungkin masih ada tempat lainnya ?

Berpikir sampai disitu segera ujarnya kepada diri Lie Siauw

Ie.

Tadi kerbau ini membawa kita kemari sudah tentu ia

bermaksud untuk menangkap Thiat Bok Thaysu itu, cuma saja tidak tahu dia sudah pergi kemana, Ie cici, coba kau lihat adakah tempat yang patut kita curigai ?"

Tiba tiba tiba Lie Siauw Ie teringat atas perkataan dari Thiat Bok Thaysu yang mengatakan Lie Loo jie sekarang sedang terkurung, ujarnya kepada Liem Tou kemudian.

' "Adik Tou, kelihatan dia sudah pergi dari sini, bagaimana kalau kita lihat lihat di tempat luaran ??"

'Baik," sahut Liem Tou menyetujui. "Tetapi kuil Siang Lian Si ini benar benar sangat kotor dan merupakan tempat mesum yang sangat cabul, nanti setelah aku bertemu dengan itu Si "Hui Tui Jie" aku mau usulkan agar kuil ini dihancurkan dari pada meninggalkan bencana di kemudian hari."

Selesai berkata dia kirim satu ciuman mesra ke atas pipinya Lie Siauw Ie.

"E-eehmmram kau jangan nakal, seru Lie Siauw le

sambil mencubit pahanya. Siapa yang beritahukan kepadamu kalau suhuku mempunyai julukan sebagai Hui Tui Jie ? ? Kau harus ingat ingat terus si cangkul pualam Lie Sang adalah jagoan berkepandaian tinggi nomor wahid pada saat ini, karena dia orang paling suka mengasingkan diri dan tak gemar meucampari persoalan dunia kangouw maka orang orang Bu lim memberikan julukan sebagai partai Toen Si Pay. Mendengar perkataan teraebut Liem Tou segera berpura pura bertanya.

"Jika didengar dari pembicaraan Ie cici dia orang paling tidak suka mencampuri urusan dunia kangouw kenapa kali ini bisa munculkan diri untuk mencari gara gara dengan si penjahat naga marah ?"

Perkataan ini memang kalau dibicarakan sangat aneh sekali, jawab Lie Siauw Ie kemudian sambil menghembuskan napas panjang. Di dalam Bu lim saat ini muncul seorang jagoan tanpa bernama yang amat misterius sekali, orang itu sudah membuat Thian Pian Siauw cu menjadi mendongkol dan berlalu dari atas gunung bahkan mengolok olok suhu tidak berani turun gunung, oooh, dia masih tinggalkan sepucuk surat"

Berbicara sampai disini mendadak Lie Siauw Ie dengan sinar mata yang aneh mempehatikaa Liem Tou dengan pandangan yang amat tajam.

Dalam hati Lie Toum segera tahu kalau dia orang telah mengingat ingat kembali bal hal yang mencurigakan hatinya, cepat cepat dengan nada kebingungan tanyanya lagi.

"Di mana pisau belati pemberian Wan moay kepadamu itu?" Tiba tiba tanya Lie Siauw Ie sambil memperhatikan wajahnya tajam tajam.

"Aaah . . pisau belati itu sudah hilang sewak tu tempo hari aku terjatuh dari Jembatan pencabut nyawa, waah . . waah pisau belati itu benar benar amat tajam sekali, sungguh amat sayang barang tersebut sudah hilang"

Lie Siauw Ie yang mendengar perkataan itu sama sekali tidak menaruh curiga sedikitpun dan tidak mendesak lebih banyak lagi, sekali lagi dia memperingatkan Liem Tou untuk melarikan kerbaunya kembali ke dalam ruangan kuil yang megah itu, Liem Tou segera mengangguk dan menepuk-nepuk kepala kerbaunya.

Hey Gouw koko ayoh kembali" serunya keras.

Kerbau itu dengan mengikuti jalan keluar dari jalan rahasia itu berlari ke depan tetapi ketika sampai didepan tampaklah pintu jalan rahasia itu sudah tertutup dengan sebuah pintu besi yang amat kuat

Liem Toa dengan terburu buru meloncat turun dan menariknya, tetapi sedikitpun tidak bergeming, sekalipun sudah kerahkan seluruh tenaga dalamnya pintu itu tetap tidak dapat terbuka.

Terpaksa sambil mengangkat bahu ujarnya. "Waduh.

..pintunya sudah terhalang, terpaksa kita hsrus mencari jalan keluar yang lain".

"Lalu bagaimana baiknya?" Seru Lie Siauw Ie dengan amat cemasnya. Jika kita tidak bisa mencari jalan keluar maka hweesio itupun tidak mungkin sudah lolos dari tempat ini.

Jelas sekali daiam hati Lie Siauw Ie pun merasa gugup sekali, cepat cepat dia meloncat turun dari punggung kerbau untuk mendekati pintu tersebut dan mendorongnya kebelakang, tetapi pintu tersebut tetap tak ber gerak sedikitpun juga.

"Sudah, sudahlah seru Liem Tou kemudian. Sekalipun kau menariknya sekuat tenaga juga tidak berguna, lebih baik kita mencari cara yang lain saja"

Selesai berkata matanya dengan oerJahan menyapu keadaan disekeliling tempat itu mendadak matanya tertumbuk dengan empat buah pilar besar vaug ada di tengah ruangan, hatinya menjadi bergerak.

Pikirnya didalam hati. Ruangan didalam kuil Siang Lian Si ini dibuat sedemikian bagus dan sempurnanya sudah tentu didalamnya dipasangi alat alat rahasia, asalkan aku orang memeriksanya lebih teliti bukankah segera akan memperoleh jalan keluar?

Berpikir sampai disini dia segera berjalan mendekati pilar pertama yang berukiran naga dari emas, dengan pandangan yang teliti dia memeriksa seluruh bagian dari pilar tersebut.

Pada saat itulah ruangan istana yang semula terang benderang bagaikan disiang hari mendadak menjadi padam sehingga suasana menjadi amat gelap tidak dapat untuk melihat kelima jarinya sendiri.

Liem Tou menjadi sangat terperanjat dia takut Thiat Bok Thaysu sudah menggukan siasatlicik untuk melukai mereka dengan menggunakan alat alat rahasia dengan cepat tubuhnya meloncat mendekati samping tubuh Lie Siauw Ie.

"Ie cici, kita benar benar terkurung ditempat ini" serunya perlahan

Siapa tahu baru saja dia selesai berbicara mendadak terdengar suara mendeburnya air yang amat keras berkumandang memenuhi seluruh ruangan.

Sepasang mata diri Liem Tou tersebut bisa melihat di tempat kegelapan seperti disiang hari saja, sekali sapu saja dia sudah bisa melibat pada dinding sebelah kiri serta sebelah kanan dari ruangan istana itu mendadak sudah terbuka sebuah lubang yang amat besar sekali seluas dua kaki persegi, dua gulung air yang menderu dengan dahsyatnya mengalir keluar dengan amat derasnya memenuhi seluruh ruangan, kederasan disana jika dibandingkan dengan aliran air disungai Sam Sia diatas gunung Wu San boleh dikata dua kali lipatnya.

Didalam sekejap saja air yang menggenangi ruangan istana itu sudah meninggi selutut, melihat keadaan yang amat berbahaya Liem Tou tegera berteriak. "Ie cici, hweesio jahanam itu sudah mulai melancarkan serangannya, kau tidak mengerti ilmu di dalam air lebih baik cepat cepat naik keatss punggung kerbau saja.

"Adik lalu bagaimana dengan kau? " balas tanya Lie Siauw Ie dengan amat cemas.

"Kau jangan mengurusi diriku, apakah kau sudah lupa kalau aku pandai didalam ilmu menyelam ? Air tidak berhasil mengurung diriku"

Sewaktu mereka berbicara itulah air sudah mulai meninggi sepinggang, mendadak ditengah kegelapan memancar sinar yang amat terang sekali berkelebat datang.

Lie Siauw Ie dengan memegang sebuah mutiara sedang berteriak dengan suara keras.

"Adik Tou kau tidak akan kegelapan lagi, ini aku kasih buat dirimu"

"Tidak usah, kau pakailah sendiri" Sahut Liem Tou sewaktu dilihatnya dia orang mau menghadiahkan barang pusaka dari suhunya itu kepadanya. "Pagi hari maupun malam buat aku orang adalah sama saja, hmm, harus dipukul . . harus dipukul.

. . kau ini bagaimana toh? apa kau sudah lupa sewaktu masih ada dipuncak Ngo Lian Hong aku sudah berhasil melatih mataku untuk melihat di tengah kegelapan?"

"Aaah, betul. . . betul . , . aku memang harus dipukul, lalu kita mau keluar dari mana?"

"Kau jangan cemas dulu, kita pasti akan memperoleh cara untuk keluar dari sini"

Dengan mengikuti aliran air yang amat deras dia memperhatikan sejenak keadaan disekelilingnya lalu sambungnya.

"Ie cici, untuk sementara kau tunggulah aku ditempat ini, aku akan pergi sebentar dan segera akan kembali lagi" Sejak semula Lie Siauw Ie sudah dibuat gugup hatinya oleh keganasan air yang mengalir dengan amat derasnya, segera serunya dengan gugup.

"Aaaah kau jangan pergi, kamu mau kemana ? ? Jika air

ini menggenangi sampai keatap lalu bagi mana ?"

"Mana mungkin" ujar Liem Tou tertawa. "Kau tidak mengerti ilmu berenang sebaliknya kerbau itu merupakan jagoan di dalam ilmu berenang"

Selesai berkata dia memperendah tubuhnya dan menyelam ke dalam air, sebenarnya dia orang bisa berjalan diatas permukaan air dengan menggunakan ilmu meringankan tubuhnya tetapi dia tidak mau berbuat demikian disebabkan dia tidak ingin Lie Siauw Ie tahu akan kepandaian silat yang dimikinya sehingga berita ini tersiar luas dikalangan Bu lim dan mempersulit pekerjaannya dikemudian hari.

Saat ini air sudah meninggi sampai diatas kepalanya! Lie Siauw Ie dengan menunggang kerbaunya mengambang mengikuti aliran air.

Liem Tou sekali lagi mendongakkan kepala nya ke atas permukaan air, ketika dilihatnya Lie Siauw Ie sudah lolos dari mara bahaya segera dia berseru.

"Ie Cici, aku pergi dulu"

Sekali lagi badannya menyusup ke dalam air dan menyelam mengikuti arus air.

Beberapa saat kemudian dikarenakan tekanan air semakin lama semakin deras dia tidak dapat maju kembali barang selangkah langkah pun, pikirannya segera berputar . . .

mandadak dia menemukan suatu cara.

Telapak tangannya dengan mengerahkan tenaga dalam melancarkan suatu pukulan dahsyat kedepan sehirgga terbukalah sebuah lorong di tengah air, cepat cepat tubuhnya maju beberapa langkah kedepan menanti air tersebut menutup kembali pukulan yang kedua menyusul kembali ....

akhirnya perlahan demi perlahan dia berhasil mendekati gua air tersebut.

Tetapi dia semakin mendekati gua itu kelihatan aliran dari air yang mengalir keluar semakin deras sehingga sukar untuk ditahan bahkan sampai pukulan saktinyapun tidak bisa terhindar sudah tentu tubuhnya tidak dapat ma ju lebih dekat lagi.

Pada sampai saat sekarang ini dia tidak dapat maju kedepan, tidak punya tempat untuk digunakan sebagai tempat mempertahankan diri sehingga tak kuasa lagi tubuhnya terpental mundur kembali beberapa kaki jauhnya.

Bersamaan pula dia mendadak dia merasakan pinggangnya terbentur dengan suatu barang dengan cepat dia menoleh kebelakang terlihatlah barang yang baru saja ditumbuk olehnya adalah badan dari kerbau itu terpaksa sekali lagi dia memukul keatas permukaan.

Terlihatlah saat ini air semakin lama semakin memenuhi seluruh ruangan, Lie Siauw Ie dengan tangan memegang mutiara dan duduk di atas punggung kerbau, sikapnya amat gugup dan ketakutan sikali, sewaktu melihat Liem Tou munculkan dirinya diatas permukaan air segera teriaknya dengan suara yang amat keras.

Adik Tou sebentar lagi air akan meninggi hingga sampai diatas ruangan ini, kita harus berbuat bagaimana??.

Dalam hati Liem Tou pun merasa amat cemas sekali, sembari menjejak air serunya kembali terhadap Lie Siauw Ie.

Ie cici kau jangan cemas, air ini tidak akan menenggelamkan kita.

Selesai berkata sekali lagi tubuhnya menyusup kedalam air dan berenang menuju kearah dimana berasalnya aliran air itu, setelah berenang sampai tidak bisa maju kembali sekali lagi dengan menggunakan angin pukulannya paksakan diri maju lebih dekat lagi.

Tidak lama kemudian dia sudah hampir sampai didepan pintu gua itu, tanpa berpikir panjang lagi tubuhnya dengan cepat miring kesamping mendadak bergeser beberapa langkah kedepan menghindarkan diri dari pintu gua tersebut, ternyata gulungan air disana jauh lebih kecil bahkan tidak terasa adanya tekanan yang amat kuat, diam diam mengerahkan hawa murninya lalu berturut turut melancarkan air pukulan berantai, tubuhnya dengan amit cepat menyusup maju kembali beberapa kaki kedepan dan tepat tiba disamping gua dimana air tersebut mengalir keluar.

Dia tidak berani berlaku ayal lagi, tangannya dengan cepat memegang dinding batu disamping gua tersebut dan memegangnya erat erat lalu dengan cepatnya muncul kembali ke atas permukaan air.

Tampaklah air tersebut saat ini sudah hampir mencapai keatap. Lie Siauw Ie yang ada diatas punggung kerbau sedang bungkukkan badannya menghindarkan diri dari benturan dengan atap ruangan.