Raja Silat Jilid 14

 
Jilid 14

“Oooh kau.. kau bernama Liem Tou ???„ Seru orang itu. "Baiklah tapi kau tak usah bertemu, aku hanya seorang nenek yang buta sepasang matanya, pada lima tahun yang lalu berkat pertolongan tuan penolongku nyawaku berhasil diselamatkan hingga hari ini maka aku mau dengan rela menjagakan harta kekayaannya di tempat ini dan menanti orang yang menggunakan kode rahasia itu datang mengambil barang tersebut sekarang kau sudah datang, aku boleh serahkan barang itu kepadamu."

Hati Liem Tou terasa bergetar oleh kata-katanya ini, dia merasa ikut berduka atas kejadian yang menimpa padanya karena itu segera sahutnya:

“Kalau memangnya cianpwee tidak ingin bertemu dengan cayhe, cayhe akan turut perintah.”

"Sekarang aku mau beritahukan tempat simpannya barang barang tuan penolongku, ujar orang itu lagi. "Barang itu sekarang disimpan didalam sebuah sumur kering di belakang halaman rumah ini, karena mataku sudah buta belum perlu aku kesana untuk melihat dan tak tahu barang barang berharga apa saja yang berada disana, tapi aku hanya tahu di dalam sumur kering itu ada sebuah jalan rahasia yang menghubungkan tempat itu dengan sungai. Baiklah perkataan sudah kujelaskan sekarang aku mau pergi."

Mendadak terdengarlah orang itu menangis dengan amat sedihnya, Liem Tou yang teringat akan kata-kata terakhir mendadak hatinya menjadi bergidik, cepat tanyanya.

"Cianpwee, kau kenapa ??"

"Bagaimana pun aku tak bisa hidup lebih lama lagi " jawab orang itu dengan nada gemetar.

"Dulu aku terus menerus menahan siksaan dari hweesio gundul terkutuk itu hal ini dikarenakan

urusan dititipkan tuan penolong padaku belum selesai kerjakan kini urusan sudah selesai kerjakan kini urusan sudah selesai berarti hari siksaan bagiku juga sudah habis. Hanya saying aku tidak pernah melihat wajah puteraku dan menceriterakan ayahnya dan membutanya mataku sehingga sampai akhir hidupku aku benar-benar merasa sayang.”

Liem Tou segera termenung berpikir sebentar, sahutnya kemudian.

“Asalkan boanpwee berhasil mendapatkan kitab pusaka To Koan Pit Liok itu dan berhasil

memperoleh kepandaian silatnya, sesudah keluar dari selat ini boanpwee akan bantu menyelesaikan urusan cianpwee itu, asalkan cianpwee ada perintah aku Liem Tou pasti akan mengerjakannya, hanya saja siapa nama puteramu itu?”

"Putraku bernama Sun Ci Sie" jawab orang itu dengan suara yang penuh berterimakasih. “Musuh besarnya adalah Kioe Lang Wan Kouw dari gunung Im San tolong sampaikan urusan ini kepada putraku."

Terhadap nama Sun Ci Sie ini Liem Tou sama sekali belum pernah mendengar tapi Kioe Lan Wan Kouw dari gunung Im san dia pernah bertemu sewaktu berada di lembah cupu-cupu, dia tahu urusan ini pasti menyangkut suatu pembunuhan yang berdarah tapi mendadak dia teringat kembali si hwcesio gundul yang sedang keluar dari selat itu, ujarnya kemudian.

“Boanpwee sudah tahu harap cianpwee legakan hatimu, hweesio bangsat itu mungkin segera akan kembali, boanpwee saat ini bukan tandingannya. Selamat tinggal."

Baru dia selesai berbicara mendadak suara jeritan ngeri berkumandang datang dari arah kamar itu. Liem Tou menjadi amat terperanjat, teriaknya.

“Cianpwee..cianpwee…”

Suasana tetap sunyi tak terdengar suara jawaban dari orang itu, hal ini membuktikan kalau orang itu sudah menemui ajalnya, tanpa disadari Liem Tou sudah meneteskan air matanya saking sedih melihat kejadian yang menyedihkan itu

Sesudah lewat beberapa waktu kemudian pikirmya kemudian didalam hati.

“Tempat harta dari Hek Loo toa birada di-tempat ini, tentunya kitab pusaka To Kong-Pit Liok berada ditempat ini pula, kini harus cepat-cepat keluar dari rumah bangunan ini kemudian bersama sama dengan si pengemis pemabok yang terluka masuk kedalam sumur kering itu, apalagi sumur itu menembus kedalam sungai, aku tak takut sampai menjadi lapar karena ini."

Selesai mengambil keputusan segera dia berjalan keluar dari rumah bangunan itu mendadak

dia berdiri melongo. Kiranya si pengemis pemabok yang semula duduk semudi didepan bangunan itu kini sudah

lenyap dari tempat itu. cepat cepat dia berlari mencari dirinya disekeliling tempat itu.

Walaupun sudah dicari setengah harian jangan dikata si pengemis pemabok sampai di bayangannya pun tak kelihatan, pada perjalanan kembali itulah dia menjumpai pohon buah- buahan yang amat banyak, selesai menangsal perutnya dipetiknya lagi beberapa buah untuk bekal.

Sedang dia enak-enaknya mendahar buah-buahan itu, dari seberang hutan sebelah sana tiba tiba terdengar suara pekikan kera yang amat ramai, Liem Tou tahu tentu si penjahat naga merah itu sudah kembali.

Dia tidak berani berayal, bagaikan kilat cepatnya dia berkelebat melalui rumah bangunan itu menuju ke belakang halaman di samping sumur kering.

Semula dia menggunakan sebuah buah yang dilemparkan kedalam untuk mengukur dalamnya sumur kering itu, setelah dirasanya tidak terlalu dalam dengan tangan kiri mencekal pisau belati untuk melindungi dirinya, tanpa berpikir panjang lagi dia meloncat masuk ke dalam.

Sesampainya didasar sumur terlihatlah olehnya ditempat itu terdapatlah sebuah lubang kecil yang cukup untuk seorang saja, karena takut ada binatang binatang berbisa yang berada didalam sesudah dipandangnya beberapa saat baru dia mecorobos masuk ke dalam.

Belum jauh dia menerobos sampailah di sebuah tempat yang tempat itu tertutup dengan pintu yang terbuat dari kayu, perlahan lahan dia mendorong pintu itu dan masuk kedalam.

Begitu pintu tersebut terbuka, segera terlihatlah sinar yang cemerlang dan menyilaukan mata berkelabat menyinari ruangan, Liem Tou yang baru saja keluar dari tempat kegelapan seketika itu juga merasa matanya pedas dan perih oleh sinar tajam tersebut.

Lama sekali barulah Liem Tou membuka matanya dengan perlahan, saat itulah dia baru melihat sebuah ruangan batu yang mewah muncul dihadapannya, disebuah pojok ruangan terdapat sebuah intan sebesar batu kepalan memancarkan sinarnya, semuanya berjumlah sembilan buah.

Disamping sebelah kiri itu terdapat pembaringan, disamping pembaringan berjejer lima buah peti besar berwarna merah darah.

Melihat hal itu pikiian Liem Tou segera bekerja dia tahu basil rampokan Hek Lootoa selama hidupnya tentu disimpan didalam kelima peti besar berwarna merah darah itu.

Perlahan lahan pandangannya dialihkan ke samping, dinding ruangan sebelah kanan tergantung sebuah lukisan pemandangan yang indah.

Sesudah dipandangnya beberapa waktu lukisan itu, mendadak dalam pikirannya berkelebat suatu ingatan, cepat cepat dia berjalan mendekati lukisan itu dan mengangkatnya kesana ke samping. Tidak salah di belakang lukisan itu terdapat sebuah pintu kecil pada dinding itu, dia tahu pintu inilah yang menghubungkan ruangan ini dengan sungai.

Sekali lagi dia memeriksa isi ruangan ini dengan amat teliti, sesudah dirasanya tidak ada tempat lain yang mencurigakan barulah dia mulai membuka peti peti besar berwarna merah itu, didalam sebuah peti semuanya berisikan intan intan permata serta mutu manikam yang indah dan berharga, harganya jauh melebihi sebuah kota, tetapi terhadap semuanya ini dia tidak ambil perduli.

Akhirnya didalam peti keempat dia menemukan kotak pualam yang berwarna hijau mengkilap, cepat-cepat dijemputnya kotak itu dan dibuka. Isinya tak lain dan tak bukan kitab pusaka "To Kong Pit Liok" yang sudah menggegerkan dunia kangouw.

Saking girangnya Liem Tou sudah lupa daratan, dia berteriak teriak dan meloncat didalam ruangan itu serunya.

"Oooh akhirnya aku dapatkan juga."

Mendadak teringat kembali olehnya waktu dia terjatuh dari atas jembatan pencabut nyawa itu, bagaimana keadaan Ie cicinya sekarang??? Jika dia mengira dirinya sudah binasa, didalam keadaan amat sedih bilamana mengambil keputusan pendek apa jadinya???"

Ketika berpikir sampai disini perasaan girang yang meluap luap seketika itu juga lenyap tanpa bekas, perasaan bergidik muncul memenuhi seluruh benaknya, hampir hampir dia mau membuka pintu rahasia itu untuk berlari keluar dan kembali keatas gunung Ha Mo leng untuk melihat hal yang sesungguhnya.

Setelah melalui suatu pemikiran yang lebih mendalam dan lebih teliti akhirnya dia berhasil menguasai golakan di dalam hatinya, dia harus berhasil memiliki kepandaian silat yang termuat didalam kitab pusaka To Kong Pit Liok itu terlebih dahulu kemudian baru pergi mencari dia.

Demikianlah sejak hari itu Liem Tou berdiam didalam ruangan batu didasar sumur kering iiu untuk mempelajari ilmu sakti yang termuat di dalam kitab pusaka To Kong Pit Liok tersebut.

Hari berganti hari bulan berganti bulan, di dalam sekejap saja satu tahun sudah berlalu dengan amat cepatnya . . .

Didalam satu tahun ini topan yang melanda dunia kangouw bergolak semakin merghebat, di setiap kota kota besar selalu terjadi beberapa kejadian perampokan yang menggetarkan seluruh dunia kangouw bahkan gerak gerik dari perampok itu sangai gesit dan amat misterius. Siapa saja tidak ada yang pernah melihat wajah sesungguhnya dari perampok itu, hal ini membuat setiap pelancongan dan hartawan-hartawan disetiap kota dan disetiap karesidenan menjadi kacau dan setiap hari merasa hatinya tidak tenteram.

Bersamaan dengan kejadian itn pembunuhan serta bentrokan yang terjadi antara orang orang golongan Pek to maupun dari Kalangan Hek to semakin hari semakin menghebat membuat seluruh dunia kongauw menjadi lautan darah,

Setiap orang yang hidup pada waktu itu hanya merasakan hatinya terus menerus berdebar, tidak ada sehari pun bisa hidup dengan tenang.

Hari itu cahaya matahari memancarkan sinarnya dengan amat tenang menerangi seluruh tebing curam diatas gunung Go bie yang juga merupakan tempat kediaman dari si cangkul pualam Lie Sang beserta putrinya si gadis cantik pengangon kambng Lie Wan Giok, pemandangan yang indah ditambah dengan kicauan burung memecahkan kesunyian di pagi hari membuat suasana betul betul terasa nyaman dan menyegarkan.

Tebing Leng Ay tempat kediaman Lie Sang terletak dipuncak yang teratas dari gunung Go bie ini, awan bersih berkelompok kelompok berjubal jubal memenuhi angkasa sehingga laksana ombak yang menggulung ditengah samudra, puncak Go bie lainnya muncal ditengah mega laksana kelompok naga yang sedang menari, pemandangannya amat indah sekali.

Saat itu Lie Loo jie dengan menggendong tangan berdiri ditepi tebing, sambil memandang awan yang berkejar kejaran senandungnya dengan suara yang nyaring.

"Hutan belantara (Liem) lebat bagaikan sutera, gunung bersalju (Han San) dan daerah sekitarnya membawa keperihan hati. ". Kiranya dia sedang merindukan sutenya Liem Cong yang karena dikalahkan oleh Thian Pian Siauw cu kemudian bersama sama putranya meninggalkan keramaian Bu lim untuk mengasingkan diri ditempai pegunungan yang sunyi.

Mendadak. , . dari bawah tebing terdengar suara dengusan kerbau yang amat keras kemudian disusul berkelebatnya dua orang gadis cantik berbaju putih dengan masing masing menunggang seekor kambing yang tinggi besar dengan menerjang awan berlari mendatang, gadis gadis cantik yang berada diatas kerbau serta kambing itu kelihatan sedikitpun tidak terasa payah di dalam mendaki pegunungan Go bie yang amat terjal dan berbahaya itu, bahkan bagaikan kilat cepatnya berlari mendatang.

Sesampai diatas tebing mereka berdua bersama sama menghentikan tunggangannya masing masing. Terdengar si cangkul pualam Lie Sang dengan tertawa ujarnya.

"Wan jie. le jie, kalian berdua bukannya berlatih silat sebaliknya berlari lari turun tebing jika sampai bertemu kembali dengan Siauw cu di jalanan yang naik kegunung Go bie untuk mencari balas aku mau lihat dengan menggunakan cara apa kalian hendak menghadapi dia??"

"Tia." Jawab si gadis cantik pengangon kambing sembari tertawa manis. "Jangan dikata Siauw cu jahanam itu tidak berani datang lagi, sekali pun datang dengan kepandaian silat yang dimiliki Ie cici sekarang ini ditambah dengan tenaga gabungan kami berdua aku kira cukup untuk menahan serangannya."

Selesai berkata dia menoleh kearah gadis cantik berbaju putih lainnya kemudian tambahnya sembari tertawa.

"Ie cici, kau bilang betul tidak??"

Kiranya gadis cantik berbaju putih itu bukan lain adalah Lie Siauw le tempo hari sewaktu dia meloncat kedalam jurang disamping Jembatan pencabut nyawa itu untuk menyusul Liem Tou untung berhasil, ditolong oleh si gadis cantik pengangon kambing yang tepat pada waktunya tiba ditempat kejadian kemudian membawanya ke atas gunung Go-bie, saat ini dia sudah mengangkat si cangkul pualam Lie Sang sebagai suhunya dengan sendirinya terhadap si gadis cantik pengangon kambing boleh dikata sebagai suci-moay .

"Perkataan dari suhu sedikitpun tidak salah” terdengar Lie Siauw le menjawab sembari tertawa. “Lain kali kita lebih baik tidak usah bermain main lagi kebawah puncak.”

'Hmma    Wan jie coba kaulihat Ie cicimu sangat penurut”

Puji Lie Sang sembari mengangguk. “Dengan kepandaian silat yang kalian miliki saat ini walaupun untuk beberapa waktu Siauw cu jahanam itu tidak sanggup melukai kalian terapi lebih baik sadikit berhati hati lagi.”

Belum selesai dia berbicara ditengah lautan awan di bawah puncak secara tiba-tiba muncul berpuluh puluh bintik hitam disertai dengan suara tertawa panjang yang memekikkan telinga berkelebat mendatang.

Begitu si cangkul pualam Lie Seng mendengar suara panjang itu ditambah dengan beberapa titik hitam tersebut segera ujarnya kepada si gadis cantik pengangon kambing serta Siauw Ie yang berada disisinya.

"Coba kalian lihat, baru saja membicarakan Cau Chau, Cau Chau sudah datang. Ini hari aku mau lihat kalian berdua melawan dia secara berbareng.”

Selesai berkata diapun tertawa terbahak-bahak kepada banyangan hitam yang berada di bawah tebing serunya.

“Untuk kedua kalinya Ke Siauw cu mendatangi Tebing Leng Ay ku ini. aku kira pasti ada petunjuk petunjuk lainnya, aku Lie loo jie sudah menduga kedatangamu sejak tadi sudah menanti di tempat ini." “Perkataanku sudah aku jelaskan pada waktu yang lampau” Terdengar suara jawaban dari Thian Pian Siauw-cu dari bawah tebing. “Bilamana bukannya kau terus menerus mengganggu urusanku aku juga tidak dua kali mangganggu ketenanganmu, waku ini kita berdua boleh dikata merupakan pimpinan dari seluruh jago didalam Bu-lim, untuk mencari orang ketiga yang bisa melawan kita agaknya merupakan urusan yang mustahil, pada waktu yang lalu didalam perubahan jurus serangan kau sudah menemui sedikit kemenangan, ini hari bagaimana jika kau mene ima tiga kali pukulan telapakku kembali?? jika sekali kau peroleh kemenangan maka aku takluk kepadamu bahkan sejak ini hari tidak akan datang mengganggu tempat tinggalmu ini”

"Ha ha ha . . . Perkatasn dari Ke Siauw-cu apa tidak merasa terlalu berlebih lebihan?” Seru si cangkul pualam Lie Sang sambil tertawa terkekeh-kekeh. “Jangan dikata diluar orang ada orang diluar langit ada langit, cukup kita bicarakan urusan yang berada dihadapan kita. Loo ciang dari partai Kiem Thian Pay sesudah melakukan latihan bertahun-tahun sekarang bukanlah Loo ciang dahulu sewaktu berada dipertemuan Tiong Lam san. saat ini daerah sekitar Thien Ling sudah berada dalam kekuasaannya bahkan orang didalam Bu lim tidak ada yang berani bermusuhan secara terang-terangan dengan mereka”

Dia berhenti sebentar kemudian sambungnya lagi. “Apalagi perampokan-perampokan yang terjadi baru baru

ini ada orang yang mengatakaa itu semua perbuatan dari si penjahat naga merah yang sudah lenyap pada tahun yang lalu, kepandaiannya sangat tinggi dan lihay sekali, apa kau berani berkata selain kau serta aku Lie Loo Jie sudah tidak dapat orang yang merupakan tandinganmu?"

Waktu itu titik titik hitam terbang diatas mega ini sudah menyebar keempat penjuru kemudian mengepung seluruh puncak Leng Ay dengan rapatnya, kiranya titik titik hitam itu adalah sejenis burung elang yang besar kecil banyak sekali. Sebentar kemudian terlihatlah bayangan hijau berkelebat si Thian Pian Siauw cu sudah berdiri dihadapannya Lie Loo jie.

Dandanannya saat ini persis dengan dandanannya sewaktu berada di dalam lembah cupu cupu, dengan memakai jubah berwarna hijau dia menuding tajam wajah Lie Loo jie, sahutnya.

“Perduli amat bagaimana dengan si penjahat naga merah atau si Loo Ciang, ini hari aku biar menganggap Lie Sang seorang sebagai musuhku”

“Mereka berdua yang satu adalah musuh yang dikalahkan dibawah serangan aku orang she Ke yang lain adalah cecunguk yang tidak berani menongol di siang hari, hal ini sama sekali tidak perlu aku orang sbe Ke pikirkan, mari . mari

. . . mari. Sebetulnya kau berani tidak menerima tiga kali puhulanku??”

Lie Sang yang melihat sikap Thian pian Siauw cu begitu congkak tanpa terasa hatinya merasa sedikit gusar juga, air mukanya berubah semakin keren baru saja mau buka suara untuk berbicara, mendadak dari antara awan yang berbaris itu berkumandang datang suara yang amat nyaring sekali.

"Hey Ke Siauwcu, omonganmu sungguh besar sekali, ini hari aku mau buktikan kepadamu kalau didalam dunia kangouw saat iai masih ada orang yang bisa mengalahkan dirimu."

Perkataan ini diucapkan amat tegas dan kuat sekali, setiap kata diucapkan penuh disertai tenaga dalam yang kuat, hal ini memperlihatkan kalau tenaga dalam orang itu sudah dilatih mencapai pada taraf kesempurnaan.

Lie Sang maupun Thian Pian Siauwcu yang mendengsr perkatan itu bersama-sama merasa terperanjat, tanyanya berbareng. "Jago dari mana yang sudah berkunjung, silahkan munculkan diri untuk bertemu.”

"Seorang Bubeng Siauwcut, tidak berani mengutarakan nama sebutanku," Sahut orang itu cepat.

Terdengar orang itu secara tiba-tiba mempertinggi suaranya.

"Ke Siauwcu " bentaknya dengan keras. "Sekarang juga aku mau minta petunjuk dari dirimu."

Pada saat dia selesai berbicara itulah mendadak kawanan elang yang berteriak ngeri kemudian disusul satu demi satu rontok jatuh ke bawah dan binasa seketika itu juga.

Melibat hal ini Thian Pian Siauwcu menjadi teramat kaget, sembari teriak keras badannya bagaikan kilat cepatnya berkelebat kebawah menubruk kearah dimana berasalnya suara itu. Saat itu sigadis cantik pcngangon kambing mau pun Lie Siauw le sesudah melihat ada beberapa elang yang terjatuh di depannya, cepat-cepat dijemputnya beberapa ekor. Tanpi berasa mereka bersama sama menjulurkan lidahnya.

Kalian tahu apa yang sudah terjadi?

Bilamana ada burung elang yang rontok terkena senjata rahasia hal itu bukankah urusan yang aneh, tetapi hal ini sudah terjadi. Burung burung elang yang sedang terbang di angkasa itu terkena sambaran senjata rahasia dan binasa seketika itu juga bahkan senjata rahasia yang digunakan bukao lain adalah butiran butiran mutiara yang mengeluarkan sinar cahaya yang amat terang dan sangat berharga sekali, sudah tentu gadis cantik pengangon kambing maupun Lie- Siauw le dibuat menjulurkan lidahnya.

Sampai si cangkul pualam Lie Sang yang memiliki pengalaman amat luaspun tidak tahu asal usulnya dari orang itu, jangan dikata siapa yang sudah dating pun dia tidak tahu. Kemisteriusan orang itu betul betul membuat orang menjadi bingung dan diliputi oleh tanda tanya. Setelah termenung, pikirnya kemudian.

"Apa mungkin Au Hay Ong dari Kiem Thian Pay sudah tiba?

Tapi Au Hay Ong pernah bertemu satu kali dengan aku sewaktu diadakan pertemuan diatas gunung Tiong Lam San, agaknya nada suaranya bukan dia.

Sewaktu dia sedang termenung berpikir, keras itulah tampak bayangan hijau itu berkelebat kembali. Thian Pian Siauwcu sekali lagi meloncat naik kepuncak gunung dari antara lautan mega yang tebal itu. Terlihatlah air mu kanya sudah berubah hijau membesi, dengan pandangan mata amat tajam dia pandang diri Lie Loo jie.

"Tentu Keheng sudah berjumpa dengan orang itu bukan?" Tanya si cangkul pualam Lie Sang dengan nada lembut. "Dia orang sebenarnya macam apa? Jika dilihat ternyata dia berani mencari setori dengan kamu orang, manusia itu pastilah memiliki kepandaian yang amat lihay."

Mendengar perkataan sicangkul pualam Lie-Sang ini, sepasang mata dari Thian Pian Siauw cu melotot keluar dengan amat bulat, teriaknya gusar.

"Lie Sang, kau tidak perlu ikut bersusah atas bencana yang kualami, ini hari aku orang she Ke kecundang ditangan orang lain bahkan sampai bayangan orang lain pun tidak kelihatan sungguh memalukan sekali.”

"Hmm. hmm, manusia yang beraninya bersembunyi sembunyi bisa terhitung Hoohan macam apa?"

Baru saja dia selesai berbicara mendadak orang orang yang berada dibawah puncak sudah mengangkat bicara kembali.

"Ke Siauwcu!" serunya. "Aku bukannya takut kepadamu, ini hari karena ada urusan yang harus aku bereskan tak bisa melayani kau lebih lama lagi, tapi bilamana kau merasa tidak puas boleh kita tentukan saja waktu untuk bertanding. Heee ,

. heee . . bagaimana?"

"Siapa sebetulnya kau orang?" Teriak Thian Pian Siauwcu keras keras.

"Maaf hal ini tidak bisa kuberitahukan."

"Baiklah, kalau begitu tanggal lima bulan kelima aku menanti kau dipuncak pertama daerah| Cing Jan."

Sehabis berkata kepada Lie Loojie ujarnya pula. "Lie Sang, sampai waktunya kau pun datang juga,

perkataan yang aku orang she Ke katakan selamanya tak akan diubah kembali. Tiga kali pukulan telapak sampai pada waktunya aku mau menjajal juga"

Selesai berkata dia tidak menanti jawaban dari Lie Loojie segera dia putar tubuh dan meloncat setinggi tiga kaki kedepan lalu berjumpalitan beberapa kali ditengah udara hanya di dalam sekejap mata dia sudah lenyap tanpa bekas.

Si cangkul pualam yang melihat kedatanganya amat cepat perginya pun amat cepat tanpa terasa sudah tertawa. Ujarnya kepada orang yang berada dibawah puncak.

"Jago berkepandaian tinggi darimana yang sudah datang berkunjung, kenapa tidak munculkan diri untuk bertemu?"

Sekalipun berulang kali perkataan itu diucap tapi keadaan dari bawah puncak tetap sunyi sunyi saja sedikitpan tidak ada suara sahutan.

Dalam anggapan Lie Looojie tentu orang itu sudah pergi karenanya sehabis berdiri beberapa saat lamanya dia menoleh kebelakang.

Waktu itulah mendadak dia merasakan segulung angin yans amat ringan berkelebat dari sisi tubuhnya, bagaimanapun juga kepandaian silat dari si cangkul pualam ini sangat lihay sekali. Mendadak dia hanya merasakan sesosok bayangan manusia berkelebat, belum sempat dia melihat jelas wajah orang itu bayangan tersebut sudah lenyap, cepat cepat dia menoleh kembali kebelakang terlihatlah kambing yang semula berdiri sejajar dengan kerbau itu tiba tiba berpekik nyaring kemudian lari keempat penjuru dan menerjang terus kebawah tebing.

"Siapa kau berani mengacau di atas puncak Leng Ayku ini!" bentak Lie Loo jie dengan keras.

Tubuhnya dengan cepat menerjang kebawah tebing mengejar kearah dimana berlarinya kerbau tersebut. Tenaga dalam mau pun ilmu meringankan tubuh yang diiatih Lie Loojie waktu ini boleh dikata sudah mencapai pada taraf kesempurnaan dan jauh berada diatas jago jago berkepandaian tinggi dari Bu lim lainnya.

Sesudah dilihatnya ada orang yang mengajak guyon didepannya dengan tak sadar dia tidak mau melepaskannya dengan begitu saja, siapa tahu ternyata kejadian kali ini diluar dugaannya, kerbau yang semula menerobos ketengah gumpalan mega kini larinya semakin cepat lagi hanya di dalam sekejap mata kecepatannya bertambah puluhan kali lipat.

Jangan dikata untuk menangkap, hanya untuk mengejar saja sudah tidak sanggup.

Tanpa disadari si cangkul pualam Lie Sang sudah berdiri tertegun ditepi puncak, perasaan gusar mulai membakar hatinya tetapi ketika teringat akan kepandaian silat orang itu ternyata bisa lewat disamping badannya tanpa dia sadari hatinya terasa tergetar juga, dalam hati diam diam pikirnya.

"Didalam Bu Iim waktu ini masih ada siapa lagi yang memiliki kepandaian silat begitu tingginya? Apa mungkin Au Hay Ong Bo dari Kiem Thian Pay. Ciang Can adanya? Tetapi kelihatannya tidak mirip sewaktu didalam pertemuan diatas gunung Tiong Lam san kepandaiannya bisa sejajar dengan suteku Liem Coe sekalipun didalam beberapa tahun ini dia berlatih mati matian belum tentu bisa mencpaai taraf yang seperti ini selain dia hanya ada seorang penjahat naga merah saja yang memiliki kepanduan yang sedemikian tingginya.

Tetapi aku tidak percaya kepandaian silatnya sudah berhasil dilatih sebegitu lihaynya, apa mungkin seorang penjahat bisa memiliki kepandaian yang demikian lihaynya "

Sedang dia berpikir dengan amat serius terdengar si gadis cantik pengangon kambing sudah berteriak dangan keras.

"Tia, Tia cepat kembali."

Didalam anggapan Lie Sang, ditempat sana pasti sudah terjadi suatu urusan, dengan gugup ia meloncat naik ke atas puncak kemudian berlari ke samping badan si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw le.

Terlihatlah mereka berdua waktu ini sedang berdiri mematung disana sedang pada tangan masing-masing mencekal sebuah kantongan kecil yang terbuat dari kulit.

"Wan jie, le jie sudah terjadi urusan apa ?” tanya si cangkul pualam dengan perasaan cemas.

Perlahan lahan gadis cantik pengangon kambing mengangsurkan kantong kecil yang dibuat dari kulit itu ke tangan Lie Loo jie.

Lie Loojie segera menerima dan membuka buntalan tersebut, serentetan sinar yang amat menyilaukan mata segera memancar keluar dari dalam kantongan, itu berisikan intan permata yang sangat indah indah dan mahal harganya.

Hal ini berada jauh diluar dugaan Lie Loojie semula, seketika itu juga membuat dia berdiri termangu mangu, sesaat kemudian barulah tanyanya.

"Wan jie, ini ini . . . sebetulnya sudah terjadi urusan apa ?

Barang barang ini berasal dari siapa ?“ "Tia, kantongan kantongan ini digantungkan diatas tanduk kambing itu, putrimu sama sekali tidak memperhatikan orang yang menghantarkan barang-barang ini."

"Haaa ?" Teriak Lie Loojie keheranan. "Hal ini amat aneh sekali. Ehmm sungguh aneh sekali."

Segera tanyanya pula kepada Lie Siauw Ie. "Didalam kantonganmu itu apa juga berisikan intan permata yang mahal harganya ?"

Lie Siauw Ie segera mengangsurkan kantongan itu ke tangan Lie Loo jie sembari sahutnya.

“Tecu belum melihatnya."

Cepat Lie Loojie membuka kantangan itu dan melihat isinya, didalam kantongan itu selain berisikan intan permata yaug mahal harganya masih terdapat juga dua buah lempengan besi yang besar. Melihat benda itu Lie Loojie menjadi tertegun bercampur terperanjat.

Sebelum dia sempat angkat bicara si gadis cantik pengangon kambing yang berdiri disisinya sudah berkata.

"Tia, ke dua buah lempengan besi itu bukankah barang yang tidak pernah menjauhi badanmu ? Bagaimana bisa berada di kantongan itu?"

Waktu itulah si pacul pualam baru sadar kembali cepat cepat dia merogoh kedalam sakunya Ternyata kedua lempengan besi yang berada di dalam sakunya itu entah sejak kapan sudah lenyap dan muncul di dalam kentongan kulit itu. Walaupun dia tahu hal ini pasti kerjaan tangan tangan jahil tetapi tidak usah dikatakan sudah jelas tertera, dia sudah menemui kekalahan ditangan orang lain.

Teringat akan hal ini tanpa terasa dia merasa bergidik dan berdiri mematung beberapa waktu lamanya disana, air mukanya perlahan demi perlahan berubah menjadi amat angker. Si gadis cantik pengangon kambing maupun Lie Siauw Ie yang berdiri disisinya setelah melihat kejadian ini pun didalam hati diam-diam merasa ngeri bercampur sedih.

Lama sekali baru terdengar Lie Loo jie bergumam seorang diri.

"Siapa yang begitu berani mempermainkan aku? aku pasti akan cari dia umtuk menjajal ilmunya.”

Walaupun perkataan ini diucapkan dengan amat perlahan sekali tetapi agaknya orang yang berada di bawah tebing itu dapat mendengar dengan amat jelas.

Baru saja dia selesai berbicara terdengar orang itu dengan nada yang kuat bagaikan pukulan martil tertawa tergelak ujarnya.

"Bilamana bukannya kau berani mempermainkan orang lain terlebih dulu, orang lain masa berani mempermainkan dirimu? Lie Loo jie waktu ini didalam Bu lim sudah bergolak dengan amat dahyatnya, banjir darah mulai membasahi seluruh daratan Tionggoan bagaimana kau bisa tenangnya bisa hidup disini? sungguh membuat orang merasa menyesal"

"Kau orang kalau memangnya tidak ingin hunjukkan diri apa tidak mau meninggalkan nama juga?" teriak Lie Loo jie kemudian. "Siapa sebenarnya kamu orang, dengan aku Lie Sang merupakan kawan atau lawan?"

“Ha ha ha. . Lie Loo jie, asalkan kau mau melakukan perjalanan di daerah Tionggoan sudah tentu kenal siapakah aku, tapi maaf ini kali aku tak bisa memberitahukan.”

"Baiklah" seru Lie Loo jie kemudian sesudah termenung berpikir sebentar.

"Tidak perduli bagaimanapun aku mau temui kau orang. Besok pagi aku akan melakukan perjalanan ke arah

Tionggoan, coba kau bicara kita mau bertemu dimana.” "Saat itu aku percaya bisa bertemu kembali dengan kau buat apa kita tentukan waktu dan tempat saat ini juga? masih ada lagi aku mendapat pesan dari kawanku katakan kepada muridmu supaya dia jangan lupa akan janjinya untuk bertemu pada musim rontok yang akan datang.”

Lie Siauw le yang mendengar omongan itu segera merasakan badannya tergetar dengan amat kerasnya didalam dada, urusan yang dipikirkan siang malam selama satu tahun ini ternyata bisa diucapkan orang lain pada hari ini juga membuat dia menjadi lupa, teriaknya dengan keras, "Siapa nama kawanmu itu?? cepat katakan,” Lie Siauw le ingin cepat- cepat mengetahui nama orang itu sebaliknya jawab dari orang yang berada dibawah tebing amat lambat sekali baru terdengar dia memberikan jawabannya.

"Dia she Liem, namanya apa kiranya kau tahu bukan".

Ketegangan dari Lie Siauw le betul betul mencapai pada puncaknya, mendadak dengan mengeluarkan suara teriakkan keras dia menangis dengan amat keras, kemudian dengan cepat menubruk kearah diri gadis cantik pengangon kambing, ujarnya dengan perasaan amat girang.

"Oooh, benar benar dia masih hidup. Adik Tou masih hidup”

Mendadak dia putar kepalanya kembali, dengan menahan melelehnya air mata teriaknya kembali kearah lautan mega itu.

"Kawanmu itu kini berada dimana? cepat beritahukan kepadaku, aku mau bertemu dengan dia".

Dari bawah puncak tetap tenang tidak terdengar suara jawaban.

"Hey . , . . dimana temanmu sekarang berada??" Sekali lagi Lie Siauw le berteriak keras. Tetapi walaupun dia berteriak berkali kali tetap tidak terdengar suara jawaban dari bawah tebing, agaknya orang itu sudah pergi dari sana membuat Lie Siauw le merasa sangat kecewa.

Tetapi tiba tiba didalam benaknya berkelebat suatu ingatan, kepada Lie Loo jie ujarnya.

"Suhu, kapan kau orang tua melakukan perjalanan kedaerah Tionggoan? dapatkah le jie ikut dengan suhu??"

Lie Loojie melirik sekejap kearahnyn, didalam hati dia tahu kali ini dia mau ikut berkelana sudah tentu bermaksud hendak mencari berita dari Liem Tou.

Sebetulnya bagi dia untuk melakukan perjalanan bersama sama dengan gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw le bukanlah urusan yang berat, tetapi ketika teringat akan gerak gerik yang misterius dari orang itu ditambah lagi kepandaian silatnya yang amat lihay membuat hatinya mendadak ragu ragu.

Ujarnya kemudian dengan serius.

"Apa yang le pikirkan loohu sudah tahu semua, sejak dari dulu aku sudah beritahukan kepadamu, Liem Tou punya sangkut paut dan hubungan yang sangat erat dengan aku orang tua, kali ini aku melakukan perjalanan kedaerah Tionggoan sudah tentu sekalian mencari berita tentang dirinya, lebih baik kau bersama sama Wan jie tinggal disini untuk berlatih ilmu silat bilamana aku memperoleh berita tentang Liem Tou maka akan segera kembali memberi kabar kepadamu"

Mendengar perkataan dari Lie Loo jie ini Lie Siauw le tidak berani membantah, dengan berdiam diri dia menyingkir kesamping.

Ujar Lie Loo jie kembali kepada mereka berdua. "Wan jie, sekalipun terhadap kepandaian silat yang dimuat dalam kitab pusaka Toa Loo-Cin Keng kau sudah pernah belajar tetapi belum sampai pada taraf kesempurnaan, ini hari aku pergi bilamana dalam waktu tiga bulan belum kembali, kalian berdua boleh pergi ke puncak pertama di daerah Cing jan pada tanggal lima bulan lima, tetapi didalam waktu waktu ini kalian harus berlatih dengan sungguh sungguh ilmu kalian."

Si gadis cantik pangangon kambing mau pun Lie-Siauw le berkail kali menyahut atas nasehat tersebut.

Selesai memberikan pesan pesannya, bagaikan kilat cepatnya Lie Loo jie melayang turun ke bawah puncak, laksana seekor burung elang hanya didalam sekejap saja dia sudah ditelan lautan mega yang amat tebal itu.

Setelah dilihatnya bayangan dari Lie Loo jie lenyap dari pandangan barulah sigadis cantik pengangon kambing beserta Lie Siauw le dengan masing maiing membawa kantongan kulit berjalan kembali kedalam gua.

"Ie Cici aku benar benar merasa kuatir atas keselamatan Tia" ujar Lie Wan Giok sesampainya didalam gua "Orang yang datang ini hari entah berasal dari aliran mana? Pertama tama dia mengejutkan Thian Pian Siauw cu sehingga membuat dia melarikan diri kemudian mencuri lempengan besinya Tia, hal ini memperlihatkan kalau kepandaian orang itu amat lihay sekali, bilamana dia adalah musuh ayahku mungkin dengan berkelananya Tia kali ini bisa menemui suatu urusan"

Lie Siauw Ie yang melihat kekuatiran dari gadis cantik pengangon kambing cepat cepat menghibur.

“Wan moay, perkataanmu ini memang tidak salah, tetapi aku berani memastikan orang itu bukan musuh ayahmu, bahkan mungkin ayahmu adalah tuan penolongnya? kalau tidak kenapa tidak ada angin tidak ada hujan dia memberi dua kantongan intan berlian? bahkan jika di dengar dari nadanya agaknya dia sama sekali tidak punya maksud bermusuhan dengan kita. Wan moay, harap kau bisa berlega hati.”

Biasanya Lie Siauw le jadi orang berpikiran tajam, dengan diucapkannya perkataan ini segera membuat gadis cantik pengangon kambing itu menjadi tenang kembali, tetapi pada saat itulah sewaktu ia mengangkat kepalanya terlihatlah diatas dinding gua tertancap sebuah pisau belati yang amat tajam.

"Haaa . . “ teriak gadis cantik pengangon kambing itu dengan amat terperanjat, “Ie cici hati- hati dalam gua ini sudah kedatangan orang.”

Dengan cepat dia meloncat keatas mencabut kembali pisau belati itu, sesudah dilihatnya dengan teliti sekali lagi dia berteriak keras.

"le cici, pisau belati ini milikku, pada tempo hari ini pisau belati ini aku berikan kepada Tou koko, bagaimana sekarang bisa tertancap di sini?"

Mendengar perkataan ini dalam hati Lie-Siauw Ie merasa tergetar dengan keras, serunya.

"Wan moay moay kau harus memeriksa lebih teliti lagi, pisau belati ini apa betul betul pisau belati yang kau berikan kepada adik Tou?"

"Barangku sendiri bagaimana aku bisa salah, tapi . . sungguh aneh urusan ini" Mendadak suatu ingatan berkelebat didalam benaknya, sinar matanya yang indah memancarkan suatu sinar yang amat aneh.

"Ie cici, aku punya suatu pikiran yang aneh entah benar atau tidak?" Ujarnya kemudian sambil memandang tajam wajah Lie Siauw le.

“Kenapa.? Yang sedang kau pikirkan urusan apa?"

"Aku pikir orang yang baru saja datang itu apa mungkin . .

" "Kau bilang dia adalah adik Tou?" sambung Lie Siauw le dengan cepat.

Teringat akan diri Liem Tou sepasang mata dari Lie Siauw le memerah kembali dan meneteskan air matanya.

Hal ini membuat gadis cantik pengangon kambing yang berada disisinya menjadi bingung, ujarnya.

"Ie cici, kenapa kau menangis? Kalau pisau belati ini bisa muncul disini berarti juga Liem Tou koko masih hidup, seharusnya kau bergembira bagaimana malah menjadi menangis?"

"Adik Wan pikiranku tidak sama dengan pikiranmu" sahut Lie Siauw le sembari menahan isak tangisnya. "Sekalipun adik Tou tidak mati sewaktu jatuh dari Jembatan pencabut nyawa, tetapi orang yang datang ini hari pasti bukanlah dia, coba kau pikir hanya di dalam satu tahun apa mungkin dia berhasil melatih kepandaian silatnya sebegitu tinggi? Jika bukan dia yang datang tapi pisau belati ini bisa muncul disini berarti juga dia. . dia . . "

Bicara sampai disini dia tidak bisa menahan perasaan sedihnya lagi, suara tangisan yang lebih menyedihkan bermunculan dari mulutnya.

"Cici" hibur gadis cantik pengangon kambing itu dengan lembut sedang tangannya mulai membimbing badannya. "Kiranya kau berpikir begitu, tetapi terang terangan orang tadi mengatakan supaya kau jangan melupakan perjanjian pada musim Rontok yang akan datang, apakah hal ini adalah palsu??"

Mendengar peringatan dari gadis cantik pengangon kambing ini, Lie Siauw le menjadi sadar kembali, segera dia menghentikan tangisnya dan berganti dengan senyuman malu. "Wan moay" ujarnya dengan perlahan. "Aku punya satu permintaan entah kau mau mengabulkan atau tidak. Setelah aku tahu kalau adik Tou tidak binasa didasar jurang Jembatan pencabut nyawa itu hatiku menjadi kacau, aku rencana besok pagi mau turun gunung untuk mencari dia, apakah Wan moay mau menemani aku turun gunung?"

"Ie cici, bukankah Tia menyuruh kita berlatih kepandaian silat?" bantah gadis cantik pengangon kambing tersebut. "Bukankah sama saja dengan sewaktu kita bersama-sama turun gunung menghadiri diatas puncak pertama daerah Ciog Jan pada bulan lima tanggal lima saat itu masih ada kesempatan untuk mencarinya?"

Lie Siauw le menggelengkan kepalanya perlahan. "Suhu memang berpesan begitu, tetapi aku . Ooh, Wan

Moay. Aku benar benar tidak punya cara yang lain lagi, aku

hanya ingin cepat cepat bertemu kembali dengan adik Tou, Wan Moay mari temani aku turun gunung, nanti bilamana suhu menegur bisa aku yang memikul semuanya.”

Si gadis cantik pengangon kambing tahu walau pun dia mencegah Lie Siauw le untuk turun gunung juga percuma, dia pasti tak akan bisa pusatkan perhatiannya uatuk berlatih silat, setelah termenung beberapa waktu lamanya akhirnya mengangguk juga.

"Baiklah, besok pagi kita turun gunung."

Saking girangnya Lie Siauw le segera menubruk memeluk diri gadis cantik pengangon kambing erat erat.

“Ooo kau betul betul adik yang baik”

Kedua orang gadis itu segera bersama-sama tertawa riang.

Keesokan harinya menyiapkan buntalannya si gadis cantik pengangon kambing maupun Lie Siauw le segera turun gunung bersama sama dengan kawanan kambingnya sesudah menutup pintu gua terlebih dahulu. Kedua orang yang membawa bekal butiran intan permata yang mahal harganya sudah tentu tidak takut kekurangan biaya ditengah jalan.

Dengan menumpang sebuah perahu layar mereka melanjutkan perjalanannya menuju kearah le Cho, melalui selat Sam Shia setelah mengarungi sungai selama tiga hari akhirnya sampai juga di daerah keresidenan Oh Cing.

Hari itu perahu yang mereka tumpangi berlabuh dttepi pantai, pemandangan tempat itu amat indah sekali.

Sewaktu gadis cantik pengangon kambing beserta Lie Siauw le menikmati keindahan alam

itulah mendadak dari tepian sebelah kiri berkumandang datang suara bentrokan senjata yang amat ramai sekali diselingi dengan suara jeritan ngeri yang amat menyeramkan.

"Ie cici" ujar gadis cantik pangangon kambing itu. "Coba kau dengar ditepi sebelah kiri ada orang yang sedang melakukan pertempuran sengit, kedengarannya tidak kurang dari puluhan orang banyaknya, entah mereka bertempur disebabkan urusan apa. Bagaimana kalau kita pergi melihat sebentar?”

Keinginan dari gadis cantik pengangon kambing ini timbul karena ingin tahunya, tetapi Lie Siauw le tidak sama dengan jalan pikirannya. Dia tahu Liem Tou punya banyak musuh, kini dia masih hidup didunia sudah tentu setiap saat bisa berjumpa dengan musuh musuh tangguhnya itu, kini setelah mendengar ada orang sedang bertempur dengan amat seru hatinya menjadi tertarik, kemungkinan sekali orang yang sedang bertempur itu adalah diri Liem Tou. Tidak menanti gadis cantik pengangon kambing itu mendesak untuk kedua kalinya dia sudah siap meloncat turun dari perahu.

"Baiklah, Wan moay ayoh kita kesana” serunya. Cepat cepat mereka perintahkan pemilik perahu itu untuk minggir ketepi, belum sampai perahu itu betul betul mepet dengan tepian, mereka berdua bagaikan burung walet dengan sangat ringannya sudah meloncat ke daratan dan lari menuju kearah pertempuaran itu. 

Setelah melewati tanah bekas sawah sampailah disebuab kaki gunung yang ditumbuhi dengan rerumput yang amat subur terlihatlah berpuluh puluh orang toosu dengan pakaian hijau kuning tak menentu sedang mengurung tiga orang yang melawan serangan pedang mereka dengan menggunakan seluruh tenaga yang ada.

Gadis cantik pengangon kambing maupun Lie Siauw Ie siapa pun tidak tahu asal usul mereka, karenanya saat ini hanya menonton jalannya pertempuran dari samping.

Terhadap nama nama jagoan Bu lim gadis cantik pengangon kambing ini pernah mendapat tahu dari ayahnya Lie Loo jie, sekali pun dia tidak tahu semuanya, tetapi sebagian besar kenal juga karenanya setelah melihat dandanan ketiga orang itu tanpa terasa lagi saking herannya dia sudah menjerit tertahan, pikirnya.

"Orang yang dikurung di tempat itu bukankah anggota anggota dari Tionggoan Ngo Koay yaitu sisiucay bunutung, si pengemis pemabok serta Thiat Sie sianseng?? selamanya mereka bertiga melakukan pekerjaan bajik, kenapa kini dikeroyok oleh kawanan toosu itu?"

Berpikir sampzj disini s;gera ujarnya kepada Lie Siauw Ie. "le cici, coba kau lihat orang yang dikeroyok itu bukankah si

siucay buutung, pengemis pemabok serta si Thiat sie sianseng dari Tionggoan Ngo Koay?"

Swwaktu Liem Tou bersembunyi didalam rumahnya di gunung Ha Mo Leng dia telah mendengar cerita tentang Tionggoan Ngo Koay ini dari mulut Liem Tou, karenanya tanpa terasa diapun menjerit tertahan, ujarnya.

"Kawanan toosu ini pasti bukan orang baik-baik, selamanya Tionggoan Sam Koay ini melakukan kebajikan, mari kita tolong mereka"

"Ie cici kau belum pernah melakukan perjalanan didalam dunia kangouw bagaimana bisa tahu kalau toosu itu bukan manusia baik-baik?" tegur gadis cantik pengangon kambing itu, “Lebih baik kita menonton saja.”

Air muka Sie Siauw le segara berubah merah dan tak bisa mengucapkan sepatah katapun, sedang didalam hatinya dia merasa kuatir dan risau atas keselamatan dari si siucay buntung, si pengemis pemabok serta si Thiat sie sianseng.

Keadaan dari si pengemis berserta kawan-kawannya waktu ini memang benar benar amat berbahaya, tampak mereka bertiga dengan pundak menempel pundak masing masing melawan musuh musuh yang menyerang dari arah depannya, kipas si siucay buntung, tongkat Tah Kauw Pang dari pengemis pemabok serta siepoa dari Thiat sie lianseng dengan menimbulkan suara santar dan sambaran angin yang amat tajam mempertahan dirinya dari serangan musuh, membuat toosu-toosu itu tidak berani berlaku gegabah.

Sebaliknya juitru toosu-toosu itu menyerang dengan tidak mernperdulikaa nyawanya sendiri, terlihatlah diantara puluhan orang itu hanya ada tiga orang saja ilmu kepandaiannya agak tinggian. Tetapi siapapun diantara setiap toosu tooosu itu tidak mau mundur, dengan nekat dia menerjang terus kedepan membuat pertempuran kali ini benar benar sengit dan jatuh korban amat banyak sekali.

Si siucay buntung, pengemis pemabok mau pun Thiat Sie Sianseng dengan air muka sangat serius menghadapi terus musuh musuhnya yang kalap ini, agaknya pertempuran sengit ini ditimbulkan aleh suatu urusan yang amat besar. Pada saat yang amat kritis itulah dari kaki gunung sebelah kiri secara tiba tiba muncul kembali dua puluh orang Toosu dengan dandanan sama berlari mendatang.

Salah seorang Toosu berpakaian warna kuning yang bertindak sebagai pimpinan didalam rombongan itu dari kejauhan, sudah berteriak keras.

“Saudara-saudara sekalian ayoh pada maju tangkap bangsat terkutuk ini, walaupun ini hari anak murid dari Bu tong Pay harus binasa semua kita harus tangkap juga ketiga orang bangsat terkutuk ini untuk membalaskan dendam sakit hati dari Ciangbunjin kita."

Toosu toosu itu segera berteriak keras menyambut perintah pimpinan mereka kemudian maju menyerang lebih nekad lagi.

Si gadis cantik pengangon kambing beserta Lie Siauw te yang mendengarkan percakapan mereka dari pinggiran saat ini baru merasa sedikit tidak sabaran, kini mereka baru tahu si siucay buntung, pengemis pemabok serta si Thiat Sie sianseng sudah membunuh mereka punya ciangbunjin dan kini mereka bersama-sama mengerubuti diri mereka bertiga untuk membalaskan sakit hati Ciangbunjin mereka.

Tiba tiba terdengar pengemis pemabok menggembor dengan suara keras.

"Kalian hidung hidung kerbau dari Bu tong pay yang tidak tahu diri, sebetulnya dari antara kalian siapa yang sudah melihat kalau Ciangbunjin si hidung kerbau kalian itu kami yang bunuh! Mata kalian sudah buta semua yaaah!"

"Anak jadah yang harus dicacah tutup mulut anjingmu!" balas bentak salah seorang toosu dari antara gerombolan toosu toosu lainnya. “Pada waktu ini didalam Bu lim siapa yang tidak tahu kalau Ciangbun suheng kami dibunuh oleh kalian bertiga? serahkan nyawamu" Diikuti suara teriakan yang membakar semangat kawan kawannya.

"Ayoh murid murid Bu tong pay. terjang terus maju bunuh mereka mereka ini.”

Diikuti dengan suara bentakan yang nyaring Toosu Toosu sekalian yang mengepung di empat penjuru segera bersama sama membentak nyaring sehingga menggetarkan seluiuh dataran pegunungan itu.

"Ayoh bunuh!" Bagaikan air bah yang menerjang pantai mirip juga geiombang dahsyat yang menggulung ditengah samudra bebas, para Toosu itu dengan mempertaruhkan nyawanya sendiri melancarkan serangan bergabung mengarah si siucay buntung, pengemis pemabok serta Thiat Sie sianseng bertiga.

Keadaan yang demikian menegangkan dan mengerikan ini membuat si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw le yang menonton di pinggir merasa ikut tegang, keringat dingin mengucur dengan amat derasnya sedang air mukanya perlahan demi perlahan berubah menjadi pucat pasi, pikirnya.

"Habis . . habis sudah, walaupun kepandaian mereka bertiga jauh lebih tinggipun tak akan sanggup untuk menshan serangan gabungan Toosu-toosu itu yang laksana menggulungnya ombak dahsyat ditengah samudra bebas."

Tetapi urusan ternyata sudah terjadi jauh diluar dugaan mereka berdua, sekali pun Bu-tong serta Siauw lim merupakan dua partai besar yang disegani didalam Bu lim dan kepandaian silat mereka mempunyai kemampuan yang meyakinkan tetapi pada saat ini merupakan saat saat lemahnya kedua partai besar tersebut, sehingga walaupun mereka mempunyai anak murid yang berjumlah sangat banyak tetapi kini justru bertemunya dengan tiga orang anggota Tionggoan Ngo Koay sudah tentu tak sanggup untuk mengapa apakah mereka. Ketika mereka bertiga milihat para Toosu-Toosu dari Butong pay itu menyerang mereka dengan tidak memperdulikan nyawanya sendiri, si siucay buntung, pengemis pemabok mau pun Thiat Sie sianseng pun terpaksa menggerakkan senjata andalannya, masing masing orang sendiri-sendiri,

Terdengar suara bentakan yang amat keras masing masing pihak segera bertemu muka dan terjadilah suatu pertempuran yang amat sengit.

Suara teriak-teriakan ngeri bermuncullan iring mengiring disertai dengan muncratnya darah segar membasahi empat penjuru, murid murid Bu tong pay ada tujuh delapan orang lagi yang celaka di tangan senjata mereka bertiga.

Pertempuran yang sangat menyeramkan inilah membuat gadis cantik pengangon kambing mau pun Lie Siauw le yang menonton hampir saja merasa tidak tahan, ujar gadis cantik pengangon kambing itu tiba tiba.

"le ciei mereka bunuh membunuh dengan demikian mengerikannya, cepat kita carikan jalan untuk menghindarkan hal hal yang tidak di inginkan"

“Omonganmu sedikitpun tidak salah," sahut Lie Siauw le mengangguk. "Kita harus cepat-cepat cari cara yang lain untuk memisah pertempuran yang mengerikan ini”

Mendadak didalam benaknya berkelebat suatu ingatan, tambahnya lagi.

"Tetapi urusan ini sangat bahaya sekali, sedikit kita salah bertindak bisa bisa api yang berkobar akan membakar badan kita sendiri."

"Hhmmm . . , benar, bilamana bukannya karena hal itu sejak tadi aku sudah turun tangan.”

Berpikir akan hal ini membuat mereka berdua ragu ragu, masing masing saling pandang memandang untuk beberapa waktu lamanya, mereka betul betul dibuat gugup dan kelabakan sendiri.

Mendadak . . suara dengusan kerbau yang berat tetapi sangat dikenal olehnya berkumandang datang dari tempat kejauhan, mendengar suara itu baik gadis cantik pengangon kambing itu maupun Lie Siauw le sendiri masing masing dibuat melengak, walaupun sampai waktu ini mereka tidak mengucapkan sepatah katapun juga tetapi anggapan mereka sudah merasa kalau dengusan kerbau itu mirip sekali dengan suara dengusan kerbau milik mereka.

Baru saja Lie Siauw le mau membuka mulutnya untuk berbicara mendadak dari sebelah pinggiran pegunungan itu terdengar suara derapan kaki yang amat ramai tetapi mantap berlari mendatang, mereka berdua cepat cepat menoleh kearah mana ... sedikitpun tidak salah, kerbau itu memang milik mereka, kerbau yang berada dipuncak Leng Ay gunung Go bie tempo hari tetapi larinya kali ini amat aneh sekali bahkan amat cepat sekali.

Terang-terangan tadi terdengar suara dengusannya masih jauh bagaimana didalam sekejab mata saja sudah tiba disini? Saking heran dan tertegunnya mereka berdua seketika itu juga dibuat olehnya melongo longo dan melompong sambil memandang datangnya kerbau itu dengan pandangan terpesona.

Tampak kaki kerbau itu berlari dengan cepatnya tanpa menempel tanah, hanya didalam sekejap mata sudah menerjang ketengah kalangan pertempuran yang sedang mencapai pada puncak ketegangannya bahkan menerjang kiri dan kanan samping dengan seenaknya laksana ditempat itu tak ada orangnya saja.

Kalau hanya menerjang saja masih biasa, kali sambil menerjang kerbau itu menyepak dan menanduk orang orang itu, seekor kerbau bagaikan bayangan setan saja menerjang kesana menerjang kemari tanpa ada yang bisa menahan serangannya dalam sekejap saja membuat orang-orang yang sedang bertempur itu menjadi kalang kabut dibuatnya sehingga suasana menjadi kacau balau termasuk juga Tionggoan Sam Koay mereka dibuat terheran heran oleh munculnya kerbau secara misterius ini.

Kerbau ini seperti ada sukmanya saja tidak perduli dia menerjang menyepak maupun menanduk orang orang yang sedang bertempur itu ditepi tidak seorangpun yang terluka oleh terjangannya yang kalap ini bahkan senjata senjata tajam yang dicekal oleh toosu toosu itu hanya cukup didalam seperminuan teh saja sudah pada terlepas dari tangan mereka, seorang pun tak ada yang lolos.

Toosu-toosu itu menjadi benar benar terperanjat oleh munculnya keajaiban ini. ketika mereka berusaha untuk memandang kerbau itu lebih teliti lagi kerbau itu sudah berkelebat bagaikan angin yang berlalu, sehingga mereka hanya bisa melihat bayangan kerbau yang kerkelebat menyambar kesana menyambar kesini saja.

Seketika itu juga membuat Tionggoan Sam-Koay, gadis cantik pesangon kambing serta

Lie Siauw Ie menjadi melongo dibuatnya, bagaimana pun juga mereka percaya kalau seekor kerbau yang bodoh dan tidak berakal itu bisa melakukan pekerjaan seperti ini bahkan sudah terjadi di depan matanya sendiri, mau tidak percaya juga tak mungkin bisa.

Sewaktu Tionggoan Sam Koay sedang termangu mangu itulah mendadak kerbau itu dengan k-kecepatan yang luar biasa sudah menerjang kearah mereka bertiga.

“Celaka. . . " teriaknya tertahan, mereka belum habis diteriakkan senjata kipas pentungan Tah Kau Pang serta Sie Poa mereka bertiga sudah dipukul jatuh oleh terjangan kerbau itu. Tanpa terasa mereka bertiga menjadi amat gusar sekali, cepat cepat tubuhnya menubruk kedepan merebut kembali senjatanya masing-masing kemudian putar tubuhnya siap menerjang ke arah kerbau itu, siapa tahu kerbau tersebut sudah lari dengan amat cepatnya dari sana dan berada kurang lebih puluhan kaki jauhnya dan kemudian terdengar lagi suara derapan kakinya yang amat ramai diselingi dengan suara dengusan beratnya, hanya dalam sekejap mata dia sudah lari tanpa bekas.

Kini ditengah lapangan itu hanya tinggal para toosu-toosu. Tionggoan Sam Koay, gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie yang berdiri terpaku di tempat masing masing.

Lama sekali . . . tiba tiba terdengar salah seorang murid Bu tong pay berteriak dengan keras.

"Ayoh maju, bunuh" seketika itu juga mem buat semua orang menjadi sadar kembali dari lamunannya.

Dengan menggunakan kesempatan itu juga Thiat Sie sianseng cepat cepat berteriak kepada si siucay buntung serta si pengemis pemabok.

"Ayoh jalan, kita cari si penjahat naga merah untuk bikin perhitungan."

Seketika itu juga mereka bertiga menggerakkan kakinya bagaikan kilat cepatnya berlari melewati gunung itu untuk melarikan djri dari sana.

Anak murid dari Bu tong pay sudah tentu tidak mau untuk melepaskan mereka bertiga dengan begitu saja, bagaikan kawanan tawon mereka bersama-sama melakuka pengejaran dengan kencangnya, hanya didalam sekejap mata semua orang sudah pada pergi dari sana dan kini hanya tinggal beberapa sosok mayat serta Toosu-toosu yang terluka parah, mereka yang terluka pada merintih dan mengaduh dengan lemahnya, keadaannya sangat ngeri dan menyeramkan. Si gadis cantik pengangon kambing maupun Lie Siauw le yang memiliki hati yang welas kasih kini melibat pemandangan yang demikian mengerikan sudah tentu tidak mau berdiam diri, cepat cepat mereka mendskati Toosu-toosu yang terluka itu untuk membantu membalut luka luka mereka.

Setelah semuanya selesai barulah mereka berdua kembali keperahu.

Lama sekali Lie Siauw Ie tundukkan kepalanya termenung terus, si gadis cantik pengangon kambing yang melihat keadaannya segera mendekati dirinya.

"Cici, kau sedang pikirkan apa ? " tanyanya.

"Urusan tadi sungguh aneh sekali," sahut Lis Siauw Ie sambil memandang kearah tempat kejauhan. "Kau merasa tidak kalau kerbau itu sedikit mencurigakan ?"

"Ehmmm . . . aku kira peristiwa tadi pasti ada sangkut pautnya dengan orang yang menghadiahkan intan permata kepada kita ini, sewaktu kerbau tadi menerjang ke tengah kalangan pertempuran kecepatannya luar biasa, sebelum aku melihat lebih jelas lagi kerbau itu sudah berhasil menjatuhkan senjata senjata orang itu, kemungkinan sekali disamping kerbau ada seseorang bersembunyi."

“Betul" Teriak Lie Siauw Ie kemudian. "Kenapa aku tak berpikir sampai disana? Orang itu pasti bersembunyi disamping kerbau tersebut hanya saja kita tak sempat untuk meiihat lebih jelas lagi."

Dia berhenti sebentar lalu sambungnya lagi "Wan Moay, aku lihat memangnya kerbau itu muncul di tempat ini maka orang itu pun pasti berada tidak jauh dari tempat sini, bagaimana kalau kita melanjutkan perjalanan melalui darat saja ?"

Gadis cantik pengangon kambing itu tidak punya usul lagi maka kedua orang itu lalu mendarat di tempat itu, sesudah menyuruh tukang perahu itu pergi mereka berdua dengan menunggang seekor kambing melakukan perjalanan kedepan.

Belum jauh mereka berjalan mendadak si gadis cantik pengangon kambing itu menghentikan tunggangannya.

"Cici, kita mau kemana??" tanyanya tiba tiba. Diingatkan akan hal ini Lie Siauw Ie menjadi melengak, tetapi pikirnya cepat berputar.

“Wan moay , bukankah kerbau tadi berlari ke sana?" ujarnya kemudian sembari menunding kearah Utara, “Lebih baik kita melanjutkan perjalanan kearah sana."

“Benar. benar” jawab gadis cantik pengangon kambing

itu sembari mengangguk. "Bagaimanapun juga kita harus mengadu nasib, bilamana bisa bertemu yah syukur kalau tidak bertemu dengan melalui berbagai daerah keresidenan di daerah Tionggoan ini kita bisa menanti sekalian pertemuan di puncak pertama di daerah Cing Jan pada bulan kelima tanggal lima yang akan datang."

Baru saja dia selesai berbicara mendadak di atas tanah ditepi jalan terlihatlah gambar seekor kerbau dengan dua tanduknya yang runcing menunjuk kearah Utara tanpa terasa gadis cantik pengangon kambing itu menjerit tertahan, serunya.