Raja Silat Jilid 10

 
Jilid 10

“Hmm, dengus Song Beng Lan dengan sangat dingin. "Liem Tou, mati hidupmu kini berada ditanganku, buat apa kamu ngotot terus?”

Sehabis berkata dia mengulap tangannya, kedua orang lelaki berbadan kuat itu segera berjalan mendekati pagar kayu itu dan membuka pintunya, melihat hal ini Liem Tou bertambah gusar lagi, bentaknya dengan keras. "Kalian pingin berbuat apa?"

Sehabis berkata dia mundur dua langkah kebelakang, sepasang telapaknya dikencangkan siap memberikan perlawanannya.

Dengan langkah yang sangat perlahan Song Beng Lan berjalan ketepi pagar kayu itu sambil mengangkat tinggi tinggi obornya dengan nada yang sangat dingin.

"Liem Tou aku lihat lebih baik kau ikuti perintahku tanpa membantah. Pada saat ini sekalipun kau mau melawan juga tidak berguna ."

"Huuh..tutup mulut anjingmu Hey bangsat cabul."

Mendadak ..dua orang lelaki kesar bertubuh kuat itu dengan cepat maju dua langkah kedepan tangannya dengan kecepatan bagaikan kilat mencengkeram tubuh Liem Tou.

Melibat datangnya serangan itu Liem Tou menjerit keras sepasang kepalannya dengan cepat melancarkan serangan kedepan untuk menahan datangnya cengkraman itu, siapa tahu baru saja tangannya diangkat terasa olehnya kepalan itu lemas sedikitpun tidak bertenaga, serangannya belum sempat mencapai pada sasarannya badannya sudah berhasil dicengkram oleh lelaki kasar lainnya, tidak tertahan lagi Liem Tou dengan sempoyongan maju kedepan, kesematan itulah digunakan oleh kedua lelaki kasar itu untuk mcnangkap tubuh Liem Tou kemudian mengikatnya dengan tali.

Sekalipun Liem Tou saking gemas dan jengkelnya berteriak teriak dan memaki dengan enaknya tapi apa gunanya ?"

Tubuh Liem Tou sesudah diikat dengan kencang kedua lelaki kasar itu segera menggotong tubuhnya keluar gua, sesudah berputar putar beberapa saat lamanya sampailah mereka disebuah lorong gua yang sangat panjang sekali.

Dengan membawa obor Song Beng Lan berjalan didepan membuka jalan. Kurang lebih sesudah berjalan berpuluh puluh kaki jauhnya gua itu perlahan lahan semakin sempit dan semakin sampai akhirnya, tempat itu hanya bisa dilalui oleh seseorang dengan membungkukkan badan.

Kurang lebih berjalan lagi dua kaki jauhnya sampailah mereka dimulut gua.

Liem Tou dengan cepat memandang sekeliling tempat itu waktu itulah dia baru tahu kalau dirinya sudah berada dipunggung gunung, dibawahnya terlihat air selokan mengalir dengan derasnya keadaan amat bahaya sekali, ketika memandang kesamping lagi terlihatlah sebuah air terjun yang amat besar sedang memuntahkan airnya kepunggung gunung, keadaannya mirip dengan seekor naga terbang yang ganas, sungguh amat angker dan agung sekali.

Song Beng Lan segera mematikan obornya dan putar tubuh berjalan mendekati samping air terjun itu, didalam sekejap saja tubuhnya sudah lenyap dari pandangan.

Liem Tou melihat hal itu dengan amat jelas dalam hati diam diam merasa sangat heran, pikirnya.

"Aaah bangsat cabul itu sudah kemana perginya?"

Baru saja dia berpikir sampai disitu kedua lelaki kasar berotot kuat itu sudah mengangkat tubuhnya mendekati samping air terjun tersebut.

Kiranya dibalik tebing air terjun itu sedikitpun tidak ada air yang mengenai tempat itu dibelakang air terjun yang sangat dahsyat itulah terdapat sebuah gua yang sangat besar sekali.

Liem Tou dengan cepat diseret masuk kesana, dalam gua itu sangat besar dan megah sekali, empat penjuru dindingnya terbuat dari batu porselen yang berbentuk tumpuk menumpuk tidak teratur, kelihatan sekali kalau dinding itu merupakan kejadian alam. Sesudah masuk lagi beberapa kaki mendadak Liem Tou dapat melihat didepannya berdirilah sepuluh orang lelaki dengan rapinya, jika ditinjau dari pakaian dan dandannya serta usianya dapat dilihat diantara mereka terdapat perbedaan yang sangat menyolok sekali, ada kakek-kakek yang usianya sudah amat lanjut sehingga rambutnya sudah pada memutih, ada pula anak anak kecil yang masih ingusan, bahkan dandanan mereka serta kedudukannyapun sangat berbeda.

Hweesio, Nikouw, pengemis, kuli, serta nelayan nelayan semuanya ada ditempat itu. Sedang ditengahnya duduklah seorang nyonya berusia pertengahan dengan pakaian yang amat perlente, di samping kanannya berdirilah itu gadis cantik berbaju hijau Ciang Beng Hu.

Kedua orang lelaki itu segera meletakkan Liem Tou keatas tanah kemudian menyingkir berdiri kesamping.

Nyonya berusia pertengahan itu dengan perlahan bertanya

.

"Orang itukah yang bernama Liem Tou"

Liem Tou tetap membungkam, sekali lagi nyonya itu

bertanya tetapi Liem Tou tetap menutup mulutnya rapat rapat.

Melihat hal itu Ciang Beng Hu segera ikut berbicara, ujarnya.

"Hey Liem Tou kamu tuli yaah?? Ratu Au Hay Au Hay Ong Bo sedang menanyai kamu tetap membisu ?"

“Hmm..” Dengus Liem Tou dengan gusar. Kalian bajingan- bajingan yang tidak tahu malu, dengan mengikat badanku seperti ini bagaimana suruh aku bicara ?”

"Liem Tou "Bentak Ciang Beng Hu sambil melotot kearahnya. "Didepan Ong Bo kamu orang berani berlaku tidak sopan hay Beng Lan pukul dia terlebih dulu sehingga dia rasakan sedikit pelajaran, sesudah itu barulah kau lepaskan tali yang mengikat kakinya".

Song Beng Lan segera menyahut, dengan mengikuti perintahnya dia cambuk seluruh tubuh Liem Tou dengan kerasnya, membuat badannya terluka dan mengucurkan darah segar, tetapi Liem Tou dengan menggigit kencang bibirnya terus bertahan, sedikit suara dengusan pun tidak kedengaran.

Melihat kegagahan serta keketusan Liem Tou yang jadi orang keras kepala itu Ciang Beng Hu tertawa dingin tak henti-hentinya, ujarnya lagi.

"Liem Tou, sekalipun ini hari kau tetap keras kepala, aku mau lihat besok hari kamu masih bisa keras kepala tidak?"

Sekali lagi Song Beng Lan pukul tubuh Liem Tou dengan cambuknya setelah itu barulah lepaskan tali yang mengikat kakinya.

Dengan perlahan-lahan dia bangkit berdiri, sepasang matanya dengan berapi-api menahan hawa amarahnya yang sudah meluap pandang tubuh Ciang_Beng Hu dengan amat gusarnya.

Dengan perlahan Au Hay Ong Bo barulah buka bicara lagi, ujarnya.

"Liem Tou, kesemuanya ini karena kebandelanmu sendiri, jika kamu mau katakan tempat persembunyian kitab pusaka To Kong Pit Liok itu maka kamu orang tidak akan merasakan siksaan serta penderitaan seperti ini"

Perkataan dari Au Hay Ong Bo ini diucapkan sangat perlahan dan halus bahkan air mukanya membawa senyuman yang amat ramah, sikapnya jauh lebih halus dan lebih lunak dari Ciang Beng Hu.

Waktu itu Liem Tou sudah membenci diri Song Beng Lan serta Ciang Beng Hu hingga menusuk ketulang samsumnya, pikirnya didalam hati. "Hmmm..hmm..asalkan aku Liem Tou bisa lolos dari cengkeramanmu, tunggu saja pada suatu hari aku bisa datang menuntut balas sakit hati hari ini"

Terhadap situasi yang dihadapinya sakarang ini dalam hati dia sudah ambil keputusan untuk tidak mengeluarkan sepatah katapun, karenanya walaupun Au Hay Ong Bo sudah bertanya berkali-kali dia tetap bungkam tidak mengucapkan sepatah katapun juga.

Au Hay Ong Bo tetap tidak menjadi marah karena keketusannya itu, ujarnya lagi.

"Liem Tou, manusia cerdik tidak akan menelan kerugian didepan mata sendiri, kamu sudah jatuh katangan orang lain menurut pangihatanku jauh lebih baik sedikit penurut dan lunak sehingga tidak sampai merasakan penderitaan dari siksaan siksaan kejam, tidak urung kamu orang sudah sampai didalam istana terlarang dari partai Kim Tian Pay diatas puncak gunung Ngo Lian Cong, untuk pikir melarikan diri ehmm.. ehmm..itu urusan yang sangat mudah asalkan kamu orang bisa melaksanakannya saja.”

Ciang Beng Hu meluap hawa amarahnya terhadap Au Hay Ong Bo ujarnya.

"Ibu, bangsat cilik itu keterlaluan sekali, lebih

baik kita pukul dia dulu sampai kapok baru ditanyai lagi" "Hu jie!" ujar Au Hay Ong Bo dengan halus. "Kamu salah

besar jika dilihat sifat orang ini sungguh bersemangat sekali,

tidak mungkin dia berbuat begini hanya pura pura saja, jika kamu orang hendak manggunakan cara kekerasan untuk menaklukkan dia, hei tidak mungkin"

Dia berbenti sebentar, kemudian sambungnya lagi.

"Jika kamu bertamtah kejam dengan menggunakan cara ini, sekalipun mati tidak akan dia mau bicara, lebih baik untuk sementara simpan saja didalam penjara kemudian dengan perlahan-lahan kita cari suatu cara untuk menaklukkan dia.

"Ibu lebih baik kamu orang tua serahkan padaku saja, aku mau lihat dengan siksaan berat dia masih mau mengaku tidak”

Au Hay Ong Bo segera gelengkan kepalanya, sambil mengulap tangan ujarnya.

"Hu jie kamu harus dengar omonganku, kamu kira ibumu bisa salah bertindak?”

Saat inilah Ciang Beng Hu baru tidak mengucapkan kata- kata lagi.

Liem Tou pun segera dibawa kedalam penjara didalam gua yang sangat gelap itu kembali.

Hanya saja kali ini ada orang yang menghantar makanan untuk dirinya.

Semula Liem Tou yang dikurung didalam gua merasa sangat gemas dan berteriak teriak tidak karuan, akhirnya karena tidak ada orang yang manggubris dirinya, lama kelamaan dia sendiri merasa sekalipun kemarahannya memuncak bagaimanapun tidak ada gunanya karena itulah dia mulai menjadi tenang kembali, dengan mengikuti cara mengatur pernapasan yang diajarkan He Loo toa perlahan dia melatih dirinya.

Tiga hari kemudian hatinya semakin tenang lagi, didalam keadaan yang tidak disadari napsu kemarahannya mulai lenyap dari dalam hatinya. Selain kadang-kadang teringat akan Lie Siauw Ie hatinya terasa sedikit goncang, terkurungnya dia didalam gua sama sekali tidak membingungkan dirinya bahkan membuat hatinya semakin tenang.

Diantara saat ini baik Au Hay Ong Bo mau pun Ciang Beng Hu tidak ada yang datang untuk mencari dia lagi. Sampai hari yang keenam pada waktu Liem Tou sedang enak-enaknya bersemedi, mendadak terasa oleh dirinya segulung hawa yang sangat panas muncul dari daerah Hiat hay terus menerjang naik hingga Ni-Tan. Keringat mengucur dengan amat derasnya pikirannya menjadi kosong badannya merasa sangat nyaman, hawa panas itu dengan perlahan naik dari Ni Tan menuju ke Yan Hay, hawa murninya berhasil mengelilingi tubuhnya satu kali.

Dalam hati Liem Tou tahu bahwa saat ini merupakan saat yang paling penting dan paling kritis didalam seorang melatih ilmu pernapasannya, segera dia tidak berani barkhayal lagi dan melanjutkan latihannya hingga berturut-turut hawa murninya mengitari tiga pulah enam barulah berhenti.

Mencapai hari yang kasepuluh tenaga murni yang dilatih Liem Tou sudah mencapai pada hasilnya, dirinya pun merasa didalam tubuhnya terjadi perubahan yang luar biasa karenanya dia berlatih terus hingga hawa murninya sambil menerobosi tiga urat nadi terpenting lagi.

Hari itu baru saja Liem Tou selesai bersemedi, mendadak terlihatlah Ciang Beng Hu dengan membawa obor berjalan masuk, ujarnya terhadap diri Liem Tou.

"Liem Tou, ibuku boleh dikata menghormati kamu orang dengan amat ramah selama sepuluh hari ini agar kamu orang bisa sadar dari kesalahan. Bagaimana sudah berpikir matang

?"

“Hmmm . . hmmm.. !” Liem Tou tertawa dingin tak henti- hentinya.

"Walaupun kamu orang bilang baik atau buruk aku Liem Tou tidak akan menggubris kamu orang lagi, aku mau lihat bisa berbuat apa terhadap diriku ?"

"Sejak dulu aku sudah tahu kamu harus merasakan siksaan dulu barulah tahu rasa," seru Ciang Beng Hu dengan gusarnya. Segera dia menoleh kebelakang sambil teriaknya. "Hey pengawal kemari."

Segera terlihatlah empat lima orang lelaki dengan cepat berjalan mendekati jeriji kayu itu dari belakang tubuh Ciang Beng Hu, agaknya mereka mau menangkap Liem Tou lagi.

Dalam hati Liem Tou sudah tahu kalau kepandaiannya saat ini sudah tidak seperti waktu yang lalu, dia percaya ketiga empat orang ini bukanlah tandingannya jika dia mau memberontak hanya beberapa orang ini tidak mungkin bisa menangkan dia. Persoalan yang membingungkun dia adalah apakah saat ini dia punya pegangan yang kuat untuk menerobos keluar dari goa untuk melarikan diri?? Karenanya dia membiarkan orang orang itu menangkap dirinya tanpa memberikan sedikit perlawanan pun.

Siapa tahu setelah orang-orang itu berhasil menangkap dirinya kemudian menekan badannya keatas tanah dan diikatnya dengan tali kuat ujar Ciang Beng Hu lagi.

"Pukul badannya sampai hancur!"

Orang itu segera menyahut, dari pinggangnya mengeluarkan sebuah cambuk berwarna hitam.

Liem Tou yang melihat diatas cambuk itu penuh dengan duri yang tajam dalam hati merasa aangat terkejut sekali. Didalam keadaan tidak sadar dia sudah mengerahkan tenaga murninya, tangan serta kakinya sedikit disusutkan, tali-tali yang mengikat tubuhnya itu segera terputus sama sekali, dengan cepat dia meloncat bangun melancarkan serangan dahsyat, angin pukulan menyambar segulung demi segulung membuat orang orang yang berada didalam goa penjara itu segera terpental dan jatuh terlentang diatas tanah.

Bersama pula bentaknya keras. "Hmmm..siapa yang berani bergerak aku segera minta nyawanya" Sambil berkata dia berdiri bertolak pinggang disana, sepasang matanya melotot keluar dengan bulatnya.

XXX

Ketika Ciang Beng Hu yang berada diluar pagar kayu yang melihat keadaan yang demikian gagahnya dari Liem Tou, dalam hati diam-diam sedikit merasa terperanjat, dia tahu sekalipun dirinya sendiri masuk kedalam belum tentu bisa menguasai dirinya. Sedang dia merasa serba salah terlihat Song Beng Lan berjalan mendatang sambil ujarnya.

"Oooh kiranya kuncu berada disini, Ong Bo sedang mencari kamu orang."

“Kedatanganmu sangat tepat sekali, mari kita masuk kedalam menguasai bangsat cilik itu terlebih dahulu."

Sambil berkata dia menarik Song Beng Lan masuk kedalam pagar kayu dan berdiri dikedua samping yang berlawanan, ujarrya.

"Hey Liem Tou, ini hari mari kita bertempur dikandang binatang, aku mau lihat seberapa kelihayanmu."

o000o0000o00000 7

Begitu Ciang Beng Hu masuk kedalam pagar kayu itu, lelaki-lelaki kasar yang dipukul rubuh Liem Tou tadi dengan cepat merangkak bangun untuk mengepung kembali.

Liem Tou begitu melihat sekelilingnya sudah dikepung rapat-rapat oleh pihak musuh bahkan kedua orang jago berkepandaian tinggi satu berada didepan yang lain dibelakang mengepung dirinya mombuat hatinya merasa sedikit jeri juga.

Bagaimana juga pengalamannya didalam menghadapi musuh masih terlalu cetek sehingga sebelum turun tangan keadaannya sudah amat bingung dan gugup, teringat akan kekejaman, keganasan serta penghinaan yang dilontarkan Ciang Beng Hu kepadanya tidak terasa hawa amarahnya memuncak, bentaknya dengan keras.

“Pelacur bau, terima seranganku ini.”

Mendadak ...hawa murninya dipusatkan pada telapak tangannya kemudian dengan hebat dibabat kearah dada Ciang Beng Hu, dengan cepat bahu Ciang Beng Hu sedikit miring kesamping Liem Tou hanya merasakan secara tiba-tiba belakang punggungnya ada segulung angin yang santer membokong tubuhnya, pinggangnya dengan cepat ditekuk kedepan gerakannya berubah dengan jurus serangan yang lain telapak kirinya menyerang ketubuh Ciang Beng Hu.

Ciang Beng Hu melihat Liem Tou hanya khusus menyerang dirinya saja membuat hawa amarahnya berkobar kobar, air mukanya berubah sangat hebat kuda-kudanya diperkuat tanpa menghindarkan diri lagi sepasang telapaknya didorong kedepan secara berbareng.

“Bluuk . . . " Dengan keras lawan keras dia menerima datangnya serangan Liem Tou itu.

Ciang Beng Hu merupakan Putri kedua dari Au HAy, sejak kecil dia sudah dimanja oleh orang tuanya, kepandaian silat yang diterima dari partai Kiem Tian Pay sekalipun belum berhasil dilatih hingga mencapai kesempurnaan tetapi boleh lihay juga.

Kalau tidak bagaimana didalam pengadilan kota Tiong Leng bisa menahan serangan dan Kioe Long Wan Kauw yang sudah lama punya nama besar didalam dunia kangouw?

Sabaliknya kapandaian silat Liem Tou sekalipun baik, tenaga murninya bagaimanapun juga masih merupakan hasil latihannya selama sepuluh hari ini saja, sekalipun boleh dibilang tenaga murninya boleh juga tetapi didalam keras lawan keras ini dengan sangat jelas sekali boleh diketahui siapa yang lemah siapa yang kuat.

Begitu sepasang telapak tangan Ciang Beng Hu dilancarkan berbareng Liem Tou segera merasakan segulung hawa pukulan yang sangat keras sekali dan berat menekan tubuhnya dengan sangat dahsyat, tidak tertahan lagi tubuhnya bergoyang mundur kebelakang dengan cepat, sebaliknya Ciang Beng Hu masih tetap saja berada ditempat semula.

Baru Liem Tou terdorong dua langkah kebelakang mendadak jalan darah "Ie Sun Hiat" pada punggungnya serta jalan darah "Cing-Ju Hiat" pada pinggangnya terasa menjadi kaku, tidak kuasa lagi badannya rubuh keatas tanah dengan sangat keras, mulutnya terbuka lebar lebar lidahnya menjulur keluar tidak sanggup untuk bangun kembali.

Terdengar Song Beng Lan sambil tertawa dingin ujarnya. "Hmmm . .. aku mau lihat kamu orang bisa galak seperti

apa lagi”

Ciang Beng Hu pun dengan girang berteriak.

“Ha ha ha , . aku sudah salah duga dirimu pada waktu yang lalu, kiranya kamu orang hanya macan-macanan dari kertas hanya bisa mengejutkan kamu orang saja."

Sehabis berkata dia lalu merebut cambuk hitam dari orang itu, tanpa mengucapkan sepatah kata lagi dengan sekeras kerasnya dia menghajar seluruh tubuh Liem Tou dengan menggunakan cambuk berduri tersebut.

Saat ini kedua jalan darah penting pada tubuh Liem Tou sudah tertotok sehingga untuk bersuara tidak bisa bergerak pun tidak murgkin terpaksa sambil menggigit kencang bibirnya menahan siksaan dan perasaan sakitnya.

Beberapa saat kemudian seluruh tubuh Liem Tou sudah basah kuyup oleh darah segar yang mengucur keluar dengan derasnya terkena cambuk yang berduri tajam itu, sakitnya luar biasa hingga meresap di dalam tulang sumsumnya, saat ini dia sudah membenci Ciang Beng Hu sehingga meresap dalam hatinya, dia pingin menelan bulat-bulat tubuhnya semakin dia memukul lebih keras sepasang matanya yang merah darah dipentangkan semakin lebar lagi dalam hati diam-diam sumpahnya.

“Dalam sepuluh hari ini aku Liem Tou tentu akan membalas dendam sakit hati ini.”

Tapi Ciang Beng Hu tetap memukul tanpa berhenti sebentarpun juga, akhirnya Liem Tou tidak dapat menahan perasaan sakit yang luar biasa ini tidak tertahan lagi dia jatuh tidak sadarkan diri.

Sekali pun dia sudah jatuh pingsan tetapi sepasang matanya masih tetap melotot betul betul dengan besarnya.

Menanti dia sadar kembali dari pingsannya, orang itu sejak semula sudah meninggalkan tempat itu, dengan perlahan dia mulai mencoba menggerakkan tubuhnya dia tahu jalan darahnya sudah dibebaskan hanya saja kulit serta tubuhnya penuh dengan luka yang merekah lebar, sedikit bergerak saja terasa begitu sakitnya hingga sukar ditahan.

Mendadak dalam ingatannya terbayang kembali tali pengikat pinggang dari Hek Loo Toa itu dengan cepat dia lepaskan tali itu dari pinggangnya sendiri tanpa parduli apa- apa lagi, dengan cepat digigitnya satu utas.

Semula didalam anggapannya tentu sukar sekali dalam menelan tali itu, siapa tahu begitu masuk kedalam mulutnya terasa sangat mujarab sekali tidak terasa lagi diam-diam dia sudah menghabiskan satu kerat.

Jangan dikira tali itu tidak berguna, kiranya benda itu merupakan barang berharga yang sangat mujarab sekali, begitu dia menelan tali itu didalam sekejap saja seluruh bekas pukulan cambuk berduri itu tidak terasa sakit lagi, sekalipun bekas lukanya belum tertutup sama sekali. Mana dia tahu kalau tali yang kelihatannya sangat sederhana itu sudah membuang waktu serta tenaga yang besar dari Hek Loo toa untuk membuatnya, disamping beratus ratus macam tumbuhan obat yang sukar dicari didalamnya juga mengandung obat kuat serta jien som yang berusia ribuan tahun. Kalau tidak penderitaan dari Hek Loo toa didalam penjara yang gelap itu dimana setiap hari menerima cambukkan yang kejam, jangan dikata tiga tahun sekalipun tiga hari saja dia tidak mungkin bisa bertahan.

Luka cambukan yang diderita Liem Tou sudah tidak sakit lagi teringat kembali kekejaman dari Ciang Beng Hu membuat Liem Tou tidak mau melepaskan sedetik waktupun dengan sia-sia setiap detik, setiap waktu dia duduk bersemedi melatih ilmunya, jika ada orang yang menengok kedalam penjara itu segera dia pura-pura rebahkan diri diatas tanah seperti orang yang sakit parah, merintih kesakitan tidak henti-hentinya.

Dengan tidak henti-hentinya Liem Tou melatih tenaga dalamnya ditambah dengan obat dari Hek Loo toa yang sangat mujarab lama kelamaan pendengaran telinganya secara mendadak menjadi sangat tajam dengan sendirinya

ditengah gua penjara yang sangat gelap sekali bukan saja dapat melihat benda yang ada disana dengan amat jelas sekali bahkan seperti di siang bari saja. Bahkan suara terjunan air diluar gua bisa didengarnya sangat jelas sekali.

Sampai waktu itu asalkan ada orang yang mau masuk gua memeriksa keadaannya sejak mereka masuk kemulut gua dia sudah tahu terlebih dahulu, karenanya beberapa kali Ciang Beng Hu menjenguk dirinya setiap kali dia rebah terlentang ditanah pura-pura sakit parah.

Tidak terasa sepuluh hari lewat lagi, hari itu sewaktu Liem Tou duduk barsemedi melatih tenaga dalamnya mendadak terasa olehnya hawa panas yang menerjang naik didalam tubuhnya secara tiba-tiba lenyap tanpa bekas, dalam hati terasa dibuat tertegun. Dengan cepat dia menarik kemudian menyerahkan seluruh tenaga murninya yang berada didalam tubuhnya, siapa tahu tubuhnya yang sedang duduk bersila diatas tanah itu secara mendadak melayang meninggalkan permukaan tanah.

Perasaan terkejut kali ini benar-benar membuat Liem Tou hampir jatuh pingsan, dengan cepat pikirannya berputar memikirkkan akan hal ini tetapi walaupun sudah berputar beberapa lama tetap tidak paham apa yang sudah terjadi.

Tetapi semakin lama dia merasa penglihatannya semakin tajam, keadaan gua itu jauh lebih terang lagi seperti disiang hari bolong, ketika dilihatnya atap gua itu tidak lebih hanya beberapa kaki tingginya dari permukaan tanah suatu pikiran aneh mancul didalam benaknya.

Dengan cepat tubuhnya sedikit menutul permukaan tanah badannya dengan sangat ringan sudah mencapai atap gua itu, hatinya merasa sangat girang sekali, baru saja tubuhnya mencapai permukaan tanah telapak

tangannya dengan sangat dahsyat menghajar kayu itu.

Didalam anggapannya dia hanya ingin mencoba-coba kekuatan telapak tangannya sudah mencapai tingkat yang bagaimana siapa tahu pukulannya ini jauh berada diluar dugaannya.

"Bluuk - - -“ pagar kayu sebesar mangkok itu secara mendadak terpukul patah menjadi tiga empat bagian.

Saking girang dengan hasil yang dicapainya ini sekali lagi Liem Tou melancarkan serangan dahsyat dengan mengguaakan tangan kirinya suatu suara yang sangat nyaring berkumandang kembali pagar kayu itu sekali lagi terputus menjadi beberapa bagian.

Melihat hal ini dia meloncat-loncat saking girangnya sepasang telapaknya berbareng melancarkan serangan bersama-sama . . Blummm . . . seluruh pagar yang tersiap terpukul hingga melayang keempat penjuru. Saat ini kegembiraannya sudah memuncak tanpa perduli apa-apa dia meninggalkan gua itu.

Padahal beberapa hari sebelumnya dia sudah sanggup meninggalkan goa itu, hanya saja sewaktu melatih ilmunya tadi dia baru merasakan akan hal ini. Padahal dengan ketiga urat nadi terpentingnya yang sudah ditembus ditambah dengan latihannya siang malam secara giat selama beberapa hari ini mungkin hanya untuk memberikan suatu tenaga murni untuk melindungi badannya sudah jauh lebih cukup.

Gerakkannya menerjang keluar gua itu sudah mengejutkan orang-orang yang menjaga goa tersebut dengan cepat terlihatlah beberapa orang dengan cepat berlari masuk gua untuk melihat apa yaag sudah terjadi tidak menanti mereka berlari mendekat dari tempat jauh dia sudah melancarkan satu serangan kilat, gua itu sangat kacil sekali ditambah datangnya serangan sangat dahsyat membuat orang-orang itu tidak bisa bertahan lagi, berturut turut terdengar suara dengusan berat orang-orang itu rubuh keatas tanpa bisa bangkit kembali.

Tanpa ambil perduli lagi dia melewati orang orang itu berjalan keluar dari gua itu, ketika kepalanya memandang keangkasa terlihatiah bulan dan bintang bertebaran dilangit, saat itu sedang di tengah malam yang buta, kiranya dia yang tertawan didalam gua yang gelap gulita sadar untuk menentukan saat itu siang atau malam karenanya dia tak tahu kalau saat dia keluar gua ini adalah ditengah malam buta.

Satu satunya keinginan pada saat ini adalah mencari Ciang Beng Hu untuk balas dendam dengan mengikuti jalanan kecil disamping air terjun itu dia memasuki gua yang amat besar dibalik tempat itu, tapi disana tak terlihat sesosok bayangan manusiapun, tak terasa dia jadi sangat heran pikirnya.

"Apa mereka tidak bertempat tinggal disini?”

Dengan cepat dia mengundurkan diri dari tempat itu dan berdiri disamping air terjun tersebut, lama sekali dia herpikir keras tapi belum dapat bayangan juga pergi kekanan untuk mencari Ciang Beng Hu itu mendadak suatu pikiran bagus berpikir dalam benaknya, dengan cepat dia putar tubuhnya memeriksa sekeliling tempat itu, tak salah lagi dibawah gunung disamping selokan yang mengalir itu terlihatlah titik sinar yang sangat samar-samar hatinya menjadi bergerak pikirnya.

"Ditengab gunung yang demikian sunyi dan liar bagaimana ada orang yang berdiam disana?”

Berpikir sampai disini dengan cepat tubuhnya bergerak menuruni bukit itu, tapi ditengah gunung yang terjal ditambah dengan batu batu cadas yang tajam mana ada jalan baik untuk dilalui ? Terpaksa dengan sangat berhati hati dia merambat turun dengan pegangan dinding tebing yang curam saat itulah mendadak sebuah batu cadas yang dipegang olehnya jatuh menggelinding kebawah, agaknya badannya akan ikut terjatuh kedalam jurang, saat yang sangat kritis itulah mendadak kakinya menutul batu itu dengan cepat tubuhnya melayang keatas sebuah batu cadas yang menonjol keluar, saking terkejutnya keringat dingin sudah mulai mengucur keluar.

Ketika dia menoleh kebelakang terlihatlah batu dimana dia berdiri tadi ada dua tiga kaki jauhnya dari tempat sekarang ini puluhan dirinya tidak mengerahkan tenaga yang sangat besar saat itulah dia baru tahu tenaga dalam yang dilatihnya selama ini sudah mendapatkan kemajuan yang sangat pesat sehingga tanpa dia sadari tubuhnya bertambah ringan lagi.

Didalam keringanan itu dia tak berpikir panjang lagi dengan cepat dikerahkannya lagi, ilmu meringankan tubuhnya berlari menuruni tebing itu dengan lincahnya, sekarang dihadapannya sudah muncul sebuah bangunan besar yang sangat megah sekali pikirnya dalam hati.

"Ciang Beng Hu itu pasti berdiam dirumah ini." Dengan cepat dia berlari kesamping tembok pagar, dengan satu kali loncatan tubuhnya sudah melayang keatas atap bangunan itu. Tubuhnya begitu ringan sehingga gerakannya ini tidak menimbulkan suara sedikitpun juga.

Sesudah melewati dua buah bangunan dari tempat kejauhan terlihatlah sinar lampu yang dilihatnya itu berasal dari bangunan sebelah selatan, dengan tidak berpikir panjang lagi tubuhnya melayang kearah sana.

Dari luar jendela terlihatlah keadaan dalam ruangan itu dengan sangat jelas, kiranya orang-orang dengan dandanan yang berbeda yang ditemuinya waktu yang lalu kini sedang duduk berkumpul disana dan bermain judi dengan ramainya.

Melihat orang-orang itu mendadak dalam ingatan Liem Tou berkelebat suatu bayangan bagus pikirnya.

“Ehmm . aku harus menggunakan orang-orang ini baru bisa memancing keluar Ciang Beng Hu pengemis terkutuk itu.”

Matanya dengan cepat berkelebat memeriksa keadaan disekeliling itu sesudah didapatkan satu tempat persembunyian yang sangat bagus barulah diangkatnya sebuah batu besar itu ke arah orang-orang yang sedang berkumpul bentaknya dengan sangat keras.

"Cepat suruh Kuncu terkutuk kalian keluar".

Sambil berkata tubuhnya dengan cepat melayang bersembunyi pada tempat persembunyian yang sudah dicarinya terlebih dahulu.

Terdengar dua kali jeritan yang sangat mengerikan, dua orang diantara orang yang sedang berjudi itu seketika itu juga binasa dengan kepala yang pecah hancur berantakan terkena sambitan batu besar dari Liem Tou yang dilakukan tanpa mereka sadari, suasana menjadi kacau balau.

Dengan tergesa-gesa mereka pada lari keluar ruangan dan meloncat naik keatas atap rumah. Pada saat yang bertepatan juga dari ruang sebelah berkelebat keluar dua sosok bayangan manusia yang melayang datang, tanyanya.

"Saudara saudara sekalian, telah terjadi urusan apa?”

Liem Tou yang bersembunyi dibelakang gunung-gunungan ditengah taman bagitu mendengar suara itu darah panasnya segera bergolak, orang itu tidak lain adalah Ciang Beng Hu yang paling dia benci itu, kemudian telah terdengar suara suara yang ribut dari orang itu sedang menceriterakan keadaan yang sebenarnya, terdengar suara dari Au Hay Ong Bo sedang berkata.

"Kalau memang begitu, tentu orang itu belum meninggalkan tempat ini..bangsat dari mana yang bernyali besar berani lari kesini mengacau ?”

"Ibu" ujar Ciang Beng Hu pula yang berdiri disampingnya, "Apa mangkin kawan-kawan dari Bu Lim sudah dapat berita kalau Liem Tou berhasil kita tawan kemari sehingga datang mengacau ??"

Mendengar perkataan itu didalam hati diam-diam Liem Tou tuerasa sangat geli sekaii.

Liem Tou yang bersembunyi ditempat kegelapan mendadak sangat terkejut, kiranya saat itu terlihatlah seorang dengan langkah yang mantap berjalan mendekati tempat persembunyiannya, segera pikirnya dengan cepat.

"Aduh..dia datang kesini, agaknya tempat ini tidak mungkin bisa aku gunakan lag!, jika mereka tahu aku bersembunyi disini dengan jumlah yang banyak aku tidak akan bisa lobos dari kepungan mereka, lebih baik kini juga aku mengundurkan diri kemudian baru cari kesempatan mencari balas."

Berpikir sampai disini dengan tidak perduli disana banyak orang atau tidak, mendadak tubuhnya meloncat keluar dari tembok pagar kemudian lari dengan cepatnya keluar dari bangunan itu mendekati sebuah sungai yang amat deras.

Begitu dia munculkan diri, jejaknya segera diketahui orang- orang itu terdengar suara teriakan yang sangat ramai.

"Bangsat itu melarikan diri keluar perkampungan, cepat kejar."

Liem Tou yang berlari hingga tepi sungai hatinya menjadi mantap, sambil putar tubuhnya ia membentak dengan keras.

"Hey Ciang Beng Hu, kamu kemari."

Orang-orang itu ketika melihat orang tersebut tidak lain adalah Liem Tou yang dipenjarakan didalam gua yang gelap tak terasa dibuat tertegun dibuatnya, Au Hay Ong Bo serta Ciang Beng Hu pada saat itu juga tepat sedang tiba disana, begitu melihat orang itu Liem Tou pada air mukanya jelas memperlihatkan perasaan herannya.

Teriak Liem Tou lagi dengan keras

"Ciang Bang Hu, aku Liem Tou sudah merasakan penderitaaa dan siksaan yang kejam dari kamu manusia tidak tahu malu sekarang kamu berani tidak menerima satu kali pukulanku ?"

Mendengar tantangan itu Ciang Beng Hu tertawa cekikikan kegelian, sahutnya sambil tertawa.

"Liem Tou, kepandaian cakar ayammu itu aku sudah merasakan kehebatannya, kini walau pun aku mengikat salah satu tanganku kiranya kamu orang juga tidak akan bisa lolos dari cengkeramanku."

Sehabis berkata tangannya yang sebelah ditekuk kebelakang kemudian dengan langkah perlahan berjalan mendekati kearah Liem Tou.

Melihat sikapnya yang pandang rendah pihak musuh Au Hay Ong Bo segera berteriak memberi peringatan. “Hu jie kamu harus sedikit berhati-hati jangan terlalu gegabah sehingga terkena pukulan mematikannya."

"Ibu kamu orang tua harap berlega hati” sahut Ciang Beng Hu sambil berjalan sembari menjawab. "Dia tidak lebih hanya sebuah macan kertas saja, kelihatannya memang galak padahal sedikitpun tidak berguna"

Melihat Ciang Bang Hu itu begitu tidak melihat sebelah matapun kepada Liem Tou dia merasa sangat girang, pikirnya.

“Hmmm..kebetulan sekali, kini mau kuperlihatkan suatu pemandangan indah kepadamu."

Diam-diam tenaga dalamnya segera disalurkan kedalam telapak tangannya sedangkan pada air mukanya sengaja memperlihatkan perasaannya yang sangat tegang, teriaknya lagi dengan keras.

"Ciang Beng Hu, kau berdiri saja disana jangan bergerak, kalau kamu berani maju mendekati lagi jangan salahkan aku segera turun tangan membinasakan kamu orang"

Bersamaan pula tubuhnya dengan perlahan-lahan mulai bergeser mundur kebelakang.

Melihat sikapnya yang ketakutsn itu tak terasa lagi Ciang Beng Hu tertawa keras, ujarnya.

"Liem Tou kamu orang jangan takut sebelum memberitahukan tempat penyimpanan kitab To Kong Pit Liok itu aku takkan membiarkan kau binasa dengan cepat."

Sambil berkata tubuhnya setindak demi setindak maju mendesak mendekati tubuh Liem Tou.

Sekali lagi Liem Tou mundur dua langkah ke belakang sehingga sekarang badannya sudah sangat dekat dengan sungai itu, saat itulah baru dia membentak dengan sangat keras. "Hmmm - - - hmmm — - jika kamu berani maju satu langkah lagi, aku segera akan turun tangan”

"Kamu turun tanganlah," ujar Ciang Beng Hu sambil tertawa, "Aku akan menyambut semua seranganmu itu."

Dalam hati Liem Tou tahu siasatnya sudah termakan oleh pihak lawannya, kini melihat jarak Ciang Beng Hu dengan dirinya tidak lebih hanya terpaut tiga lima tindak saja mendadak telapak kirinya diangkat bentaknya.

"Terima seranganku ini"

Dengan cepat Ciang Beng Hu mengangkat telapaknya menutup seluruh tubuhnya siapa tahu serangan dari Liem Tou ini tidak lebih hanya gertakan kosong saja, mendadak tangannya ditarik kembali sedang telapak kanannya secara mendadak melancarkan satu serangan dahsyat.

Dengan cepat Ciang Beng Hu menghindarkan diri ke samping, tetapi jurus serangan Liem Tou ini entah didapatkan dari mana sedikit tenaga pukulan tidak tampak.

Segera terdengarlah suara tertawa ejekan serta makian dari orang orang disekitar tempat itu.

"Bangsat cilik ini sungguh tidak tahu kekuatan sendiri, dengan kebodohan seperti ini masih berani bergebrak lawan Kuncu kita . , ha ha ha ha . .”

Pada saat itulah mendadak Liem Tou miringkan badan kesamping, seluruh tenaga dalamnya disalurkan pada sepasang telapak tangannya kemudian didorongnya segera bersama-sama kedepan, bentaknya.

"Ciang Beng Hu jangan keliwat kegirangan dulu, terimalah serangan mautku ini”

Ciang Beng Hu tetap dengan menggunakan tangan tunggalnya menerima serangan tersebut, sahutnya sambil tertawa ewa. "Tidak lebih sama juga.”

Perkataannya belum selesai diucapkan mendadak air mukanya berubah sangat hebat, teriaknya.

"Celaka."

Perkataannya baru saja keluar dari mulutnya segulung angin serangan yang sangat dahsyat sudah menggulung datang bagaikan menggulungnya ombak besar ditengah samudra.

'Bluuk..bluuuk..”

Terdengar suara dengusan yang sangat berat tubuh Ciang Beng Hu seketika itu juga terpental sejauh tiga kaki lebih dan roboh keatas tanah dengan sangat kerasnya dari mulutnya kelihatan darah segar menyembur keluar dengan derasnya disertai dengan jeritan melengking yang sangat mengerikan.

“Liem Tou kau . .”

Suaranya mendadak terputus dan suasana jadi hening sejenak.

Au Hay Ong Bo sekalian dengan cepat menyerbu kedepan mengurung tubuh Liem Tou rapat-rapat, tetapi saat itu juga Liem Tou sudah menyeburkan badannya kedalam sungai, terlihat percikan air memancar keempat penjuru bayangan tubuh Liem Tou sudah lenyap ditelan oleh aliran air sungai yang sangat deras itu.

Kota Li Cian Ko dibawah gunung Cin Jan hari ini mendadak kedatangan berbagai jago-jago berkepandaian tinggi dari dunia kangouw pada umumnya, semua jago jago itu secara serentak bersama-sama menginap dirumah penginapan di dalam kota tersebut sehingga suasana menjadi sangat ramai sekali.

Kiranya mereka adalah jago-jago yang mendapat undangan dari si Ang in sin pian Pouw Sak San untuk menghadiri pembukaan serta peresmian dibukanya Ang In Piauw kiok diatas gunung Ha Mo San.

Hari itu diperkampungan Ie Hee Cung diatas gunung Ha Mo Leng suasana pun tidak kalah ramai serta repotnya ruangan Cie Eng Toug sudah dihiasi dengan alat-alat perlengkapan yang sangat mewah khusus diperuntukkan perjamuan yang diadakan untuk para jago-jago dari dunia kangouw itu.

Malam itu Si Ang In Sin pian Pouw Sak San akan membuka perjamuan itu dengan segala kemegahan serta kemewahannya karena suasana sangat kacau dan ribut, siapapun tidak memperhatikan gerakan-gerakan yang terdapat disekeliling tampat itu.

Mendadak dibelakang perkampungan Ie Hee Cung itu terlihat sesosok bayangan manusia dengan gerakan yang mencurigakan dan bersembunyi-sembunyi menyelinap kedalam perkampungan itu.

Kiranya orang itu adalah Liem Tou yang baru saja meloloskan diri dari ceragkeraman raja Au Hay dari partai Kiem Tian Pay, siang malam dia melakukan perjalanan dari daerah Chuan Tien melalui Ngo Lian Hong terus menuju kearah gunung Cing Jan hingga mencapai bawah gunung Ha Mo Leng, kemudian dengan tidak pikir-pikir panjang lagi, dengan melalui jalan rahasia ditengah sungai itu dia terus lari menaiki puncak gunung.

Ketika dia tiba dimulut gua hari masih terlalu pagi karenanya dia tidak berani munculkan dirinya, dia takut ditemui orang lain sehingga niatnya untuk menemui Ie cici menjadi gagal total, karenanya menanti cuaca sudah menjadi gelap dengan merindip-rindip mulai melakukan perjalanan menuju kernmah Lie Siauw Ie.

Jalanan didalam perkampungan Ie Hee Cung boleh dikata sudah sangat hapal sekali, beberapa saat kemudian dia sudah tiba didepan pintu rumah Lie Siauw Ie, dia menemukan tempat itu masih terang benderang oleh sinar lampu dengan perlahan dia mulai mendekati rumah itu dan mengintip kedalam melalui celah-celah jendela, terlihatlah waktu itu Lie Siauw Ie sedang duduk sendirian didalam rumah wajahnya penuh dengan bekas-bekas air mata.

Dengan perlahan-lahan Liem Tou mengetuk pintu rumahnya baru saja mau berteriak memanggil mendadak terlihatlah Lie Siauw Ie dengan sangat terkejut meloncat bangun, sepasang matanya dengan melotot bulat bulat memandang tajam luar jendela, teriaknya kemudian.

"Ibu . - - setan itu datang lagi, setan itu datang lagi.” Melihat sikapnya yang begitu, dalam hati Liem Tou betul-

betul merasa sedih, ujarnya dengan perlahan.

“Ie cici aku bukan setan aku Liem Tou aku adalah adik Tou mu - - - Tou titimu.”

Mendengar perkataan itu agaknya Lie Siauw Ie menjadi melengak, tapi segera tertawa kalap lagi, ujarnya.

“Ha ha ha ha , . ibu, kau sudah dengar belum, setan itu bilang dia adalah Tou titi, Tou titi sudah binasa sangat lama sekali.”

Mendadak . . air mukanya berubah sangat hebat, dengan wajah yang sangat menyeramkan bentaknya keras.

"Pouw Siauw Ling, aku mau adu jiwa sama kamu orang.”

Sehabis membentak tangannya diayunkan kedepan beberapa sinar keperak-perakan berkelebat menyilaukan mata berpuluh batang jarum Kioe Cu Gin Ciam sudah disambit keluar sehingga menancap pada jendela itu.

Dalam hati Liem Tou betul-betul merasa sangat sedih seperti diiris-iris baru saja mau berteriak memanggil namanya, mendadak Lie Siauw Ie menyambar bangku didepannya kemudian dilemparkan keluar jendela dengan kerasnya. "Bruuk . . .” Suara yang sangat nyaring segera memecahkan kesunyian, terlihatiah ibu dari Lie Siauw Ie dengan tergesa-gesa masuk kedalam kamarnya sambil ujarnya kepada Lie Siauw Ie.

"Siauw Ie ada apa? Dia datang lagi?"

Lie Siauw Ie memandangi ibunya sejenak kemudian mengangguk.

Melihat gerak-gerik dari Ibu beranak itu Liem Tou menjadi bingung dibuatnya, dalam hati diam-diam pikirnya.

“Haaa bagaimana sebetulnya? Kenapa didalam sekejap saja Ie cici sudah sadar kembali??”

Baru saja pikirannya berputar mendadak dari samping tembok diujung tempat itu secara samar-samar muncul sesosok bayangan manusia yang dengan langkah perlahan berjalan mendekat, saat ini dia bisa melihat benda ditempat gelap seperti melihat pada siang hari saja karenanya begitu memandang segera mengetahui kalau orang itu tidak lain adalah Pouw Siauw Ling, hatinya menjadi sangat terkejut sekali, tanpa berpikir panjang lagi tubuhnya menyusup kesamping hendak menyembunyikan diri.

Begitu dia bergerak Pouw Siauw Ling segera sadar, mendadak dengan suara yang keren bentaknya.

"Siapa yang sedang mengintip rumahnya Ie moay moay?"

Sebetulnya Liem Tou hanya ingin bertemu dengan Ie cicinya saja, tetapi kini jejaknya sudah diketahui oleh Pouw Siauw Ling mau tak mau terpaksa berhenti juga, pikirannya dengan cepat berputar pikirnya.

"Kini dia sudah mangejar datang, kenapa aku tidak permainkan dirinya terlebih dulu?"

Berpikir sampai disini tubuhnya dengan cepat meloncat keatas kemudian melayang kearah belakang kampung melihat hal ini Pouw Siauw Ling tidak mau melepaskan dengan begitu saja dengan cepat menyusul dari belakangnya.

Liem Tou segera mengerahkan tenaga murninya, dengan menutul tanah tubuhnya melayang pergi, makin lama Pouw Siauw Ling semakin ketinggalan sehingga akhirnya sampailah mereka didalam hutan dibelakang perkampungan itu.

Liem Tou pun semakin lari semakin bertambah perlahan Pouw Siauw Ling sudah sangat dekat dengan dirinya mendadak dia putar tubuhnya dan berdiri tidak bergerak disana.

Didalam sekejap saja Pouw Siauw Ling sudah tiba disana, bentaknya dengan keras.

"Manusia pengecut dari mana berani mengacau ditempat ini, cepat sebut namamu untuk terima kematian."

Liem Tou tetap tidak bergerak dari tempat semula, mendadak sepasang matanya melotot keluar dengan bulatnya. Phuuu segulung angin yang sangat dingin segera

disemburkan kearah Pouw Siauw Ling yang semakin mendekati kearahnya itu, sengaja dengan nada yang menyeramkan ujarnya.

"Pouw Siauw Ling, ini hari aku sengaja datang hendak mencabut nyawamu kau coba lihat siapa aku ini?”

Sesudah mendengar perkataan itu barulah Pouw Siauw Ling memperhatikan kearah Liem Tou dengan cermat, mendadak teriaknya setengah kalap.

"Ada setan. Ada setan."

Dengan cepat dia putar tubuh dan lari meninggalkan tempat itu dengan terbirit-birit. Liem Tou tidak mau melepaskan begitu saja dengan segera dia mengejar dari belakang, ujarnya. "Pouw Siauw Ling kamu orang jangan pergi. Perbuatanmu sungguh bagus sekali, ditengah sungai kamu orang membegal barang kawalan orang kemudian bunuh orangnya . Hmmmm orang-orang didunia tidak akan tahu tapi kami yang berada diakhirnya tahu semua perbuatanmu dengan sejelas jelasnya."

Beberapa saat kemudian Liem Tou dapat melihat Pouw Siauw Ling sambil terkencing kencing saking ketakutannya sudah memasuki dalam perkampungan, makanya dia berhenti mengejar ujarnya kemudian.

"Hmmm . , ma!am ini aku biarkan kamu orang melarikan diri, besok pagi sesudah dibukanya perjamuan aku akan cari kamu untuk hitung hutang-hutang kita yang lalu.”

Sehabis berkata dia berkelebat kesamping dan menyambunyikan diri ditengah hutan yang lebat dipingiran perkampungan itu.

Kita balik pada Pouw Siauw Ling yang melarikan diri kembali kerumahnya, dengan air muka yang sudah berubah pucat pasi dengan perlahan-lahan dia masuk kedalam ruangan, tubuhnya gemetar sangat keras untuk setengah harian lamanya tidak sepatah katapun yang sanggup diucapkan keluar.

Menanti sesudah dia menceritakan urusan ini dengan jelas maka keesokan harinya urusan munculnya roh Liem Tou dibelakang perkampungan sudah tersebar luas didalam perkampungan itu, bahkan kata-kata itu menyebutkan juga kemungkinan Liem Tou akan munculkan diri pula disiang hari ini untuk menghadiri pertemuan yang akan diadakan itu.

Tetapi perkataannya ini siapa yang mau percaya? Sampai Si Ang in sin pian Pouw Sak San yang melihat dengan mata kepala sendiri parasaan takut yang tergambar pada air mukanya tidak percaya juga, hanya saja secara mendadak dia teringat akan perkataan dari Pouw Siauw Ling sewaktu membagi-bagikan kartu undangan pada para jago itu, tanyanya kemudian pada Pouw Siauw Ling.

“Ling jie, yang kamu temui kemarin adalah Liem Tou sungguh-sungguh atau setan?”

"Setan, pasti setan."

“Menurut penglihatanku, jika betul betul kamu melihat dia terang dia adalah manusia, di dalam dunia ini mana bisa ada setan?"

"Tapi Tia,” Bantah Pouw Siauw Ling lagi dengan ngotot. “Hal ini tidak mungkin bisa salah, bangsat cilik Liem Tou itu kita melihat sendiri dengan mata kepala kita kalau dia sudah mati bagaimaua bisa hidup kembali, bahkan ..“

Mendadak Pouw Siauw Ling merendahkan nada ucapannya, ujarnya lagi.

"Tia, Peristiwa kita membegal barang-barang kawalan itu dia ternyata tahu juga. Lingjie dengan telinga sendiri mendengar perkataan itu dengan sangat jelas, coba kamu pikir dia manusia atau setan.?”

Perkataan ini seketika itu juga membungkamkan si Ang in sin pian Pouw Sak San. Lama kemudian barulah sahutnya sambil gelengkan kepalanya.

"Kalau begitu sangat aneh sekali.”

Tapi rakyat didalam perkampungan Ie Hee Cung itu hanya seorang saja yang percaya Liem Tou sudah munculkan dirinya, orang itu tidak lain adalah Lie Siauw Ie sendiri.

Pagi pagi itu begitu dia dengar berita tentang bertemunya Pouw Siauw Ling dengan roh halus Liem Tou semangatnya tidak terasa berkobar kembali didalam dadanya, dengan cepat dia lari menuju kearah luar perkampungan bahkan berteriak- teriak memanggil nama Liem Tou dengan tidak henti-hentinya. Setelah dilihatnya tidak ada orang yang menguntit dirinya dengan diam-diam dia memeriksa keadaan gua yang tersembunyi itu, terlihatlah diatas permukaan tanah didalam gua itu masih terlihat bekas-bekas air yang masih belum mengering, dia semakin percaya kalau Liem Tou sudah munculkan dirinya disana, teringat juga percakapan kemarin malam diluar jendela, dengan jelas suara itu adalah suara dari Liem Tou tapi dia sudah salah menduga kalau Pouw Siauw Ling yang sudah munculkan dirinya kenapa waktu itu dia tidak bisa membedakan suara-suara tersebut??

Kiranya hari itu sesudah Liem Tou pura-pura mati naik ke gunung dan bersembunyi didalam gua, malamnya secara diam-diam Lie Siauw Ie menghantar makanan dan minuman kepadanya tetapi begitu tiba disana tidak ditemui jejaknya lagi, semalaman itu dia merasa

sangat cemas dan menangis hingga menjelang pagi hari.

Keesokan harinya dia kembali lagi kedalam gua itu, ketika dilihatnya jejak kaki Liem Tou berjalan menuju kearah dalam gua maka dia pergi cari Pouw Jien Coei, kemudian bersama- sama memasuki gua itu.

Ditengah perjalanan mereka bertemu dengan ular aneh berkepala dua itu dengan tenaga gabungan mereka berhasil membasmi binatang tersebut dan akhirnya ditemui juga kalau gua itu menghubungkan puncak dengan sungai, waktu itulah Lie Siauw Ie baru tahu Liem Tou sudah pergi melewati tempat itu sehingga hatinya menjadi sangat girang sekali.

Siapa tahu beberapa hari kemudian si Ang in sin pian Pouw Sak San mendadak mendatangi ibunya kembali untuk membicarakan perkawinannya, sedang Pouw Siauw Ling pun setiap hari tentu pergi mengacau kerumahnya, didalam keadaan gusar dan apa boleh buat terpaksa Lie Siauw Ie mendatangi rumah Ang in sin pian Pouw Sak San dan memaki- maki disana dengan pinjam kesempatan ini pura- pura menjadi gila dibuatnya. Pouw Siauw Ling sendiri walaupun melihat gerak geriknya yang seperti orang gila padahal didalam hati dia sangat tidak percaya, maka selalu menyelidiki kerumah Lie Siauw Ie secara diam-diam.

Walaupun begitu Lie Siauw Ie juga bukan seorang yang tolol, sejak semula dia sudah mempersiapkan dirinya, karena itulah sampai saat ini rahasianya tetap tidak sampai terbongkar.

Tetapi dengan sebab-sebab ini pula dia sudah membuang suatu kesempatan yang sangat baik untuk bertemu dengan Liem Tou.

Kita balik pada Lie Siauw Ie yang menuju keluar parkampungan mencari jejak Liem Tou, padahal saat itu Liem Tou menyembunyikan dirinya ditengah rerumputan tidak jauh dari tempat dimana Lie Siauw Ie berdiri, tapi saat ini dia melihat sikap serta gerak gerik dari

Lie Siauw Ie yang kegila-gilaan menjadi tidak berani keluar. Pikirnya didalam hati.

"Ehmmm... sejak Ie cici menjadi gila tentu secara diam diam ada orang yang mengawasi gerak-geriknya secara diam- diam. Untuk menghindari kemungkinan-kemungkinan yang tidak menyenangkan aku tidak boleh menempuh bahaya untuk menemui dia ..."

Tidak lama kemudian pagi yang cerah sudah berlalu dengan cepat, siang haripun menjelang didalam sekejap mata, Lie Siauw Ie, sekalipun sudah pulang kedalam perkampungan, pikirnya lagi dalam hati.

"Mungkin saat ini sudah banyak jago yang naik keatas gunung menghadiri pertemuan itu, aku harus hadir juga kesana."

Dengan perlahan dia mengambil keluar topengnya dari dalam saku kemudian dikenakan pada wajahnya, setelah itu secara diam-diam mengitari belakang perkampungan menuju kepuncak gunung itu, dari sana terlihatlah sangat jelas sepasang binatang, sepasang bangau beserta Pouw Siauw Ling secara berpisah sedang menyambut para tamu-tamunya dipinggiran ketiga rintangan yang paling diandalkan Ie Hee Cung tersebut.

Disamping sungai sebelah sana terlihatlah berpuluh- puluh orang sudah berkumpul, hanya saja setelah dilihatnya cara menyeberangi sungai dan mendaki gunung ada beberapa yang merasa sulit, sedangkan orang-orang yang dapat melewati ketiga buah rintangan itupun hanya setengah dari jumlah seluruhnya, orang-orang yang tidak sanggup terpaksa dengan menahan malu meninggalkan tempat itu dengan cepat.

Setelah melihat beberapa saat lamanya kesana, Liem Tou segera teringat kembali para jago-jago yang sudah berkumpul didalam ruangan Cie Eng Tong pikirnya.

"Kenapa aku tidak meminjam kesempatan ini menyelundup kedalam ruangan dan melihat-lihat siapa saja yang menghadiri perjamuannya ini?”

Pikiran ini baru saja berkelebat didalam hatinya, mendadak dari pantai seberang terlihatlah munculnya segerombolan kawanan kambing sangat banyak sekali, itulah gadis cantik pengangon kambing dengan perlahan-lahan munculkan dirinya dibalik hutan, melihat hal ini

Liem Tou segera menyembunyikan dirinya agar gadis pengangon kambing itu jangan sampai dapat mengetahui dirinya.

Pada saat Liem Tou mengalihkan pandangannya kedalam ruangan Cie Eng Tong tanpa disadari olehnya gadis pengangon kambing yang dilihatnya telah menghampiri dirinya. Setelah gadis pengangon kambing telah berada semakin mendekat dengan dirinya, Liem Tou baru dapat menyadari bahwa didekat dirinya ada terdengar suara derap kaki orang mendekat kepadanya.

Waktu itu gadis cantik pengangon kambing sedang memanggil Liem Tou dengan cepat ia menoleh kebelakang terlihatlah lelaki kasar berwajah hijau yang ditemuinva ditengah jalan pada tempo hari kini sudah berada dibelakang badannya tidak terasa dia menjadi melengak pikirnya.

"Eh. kapan dia naik keatas gunung ? kenapa aku tidak

melihat dia ?"

Gadis cantik pengangon kambing itu dengan cepat menyongsong Liem Tou sambil mencekal tangannya.

"Oooh. Koko muka hijau ayahku bilang kamu orang

menemui kesusahan, aku merasa sungguh amat cemas."

Liem Tou melihat perhatian dari gadis cantik pengangon kambing itu kapadanya begitu mendalam teringat pula kebaikan budi serta kejujurannya tidak terasa dalam hati merasa sangat berterima kasih sekali tapi mendadak didalam ingatannya berkelebat bayangan dari Lie Siauw Ie serta sikap gerak-geriknya, tidak terasa hatinya merasa amat sedih dengan cepat dia menarik kembali tangannya sambil ujarnya dengan dingin.

"Ayo jalan"

Segera dia berjalalan lebih dulu menuju keruangan Cie Eng Tong, ketika dia berjalan masuk kedalam ruangan terlihatlah didalam ruangan itu sudah terdapat berpuluh-puluh orang yang duduk ditempat masing-masing. Diam-diam gadis cantik pengangon kambing menarik ujung baju Liem Tou sambil ujarnya dengan perlahan.

"Liem Koko orang-orang itu bukan orang baik-baik, kita duduk disebelah sini saja." Kedua orang itu segera mencari suatu tempat dekat pojokan ruangan.

Ujar Liem Tou kemudian.

"Nona aku terus terang beritahu padamu. Sejak kecil aku dibesarkan diatas gunung Ha Mo san ini sehingga seluruh rakyat disini tiada seorang pun yang tidak kenal dengan aku tapi Cung cu itu tak punya maksud baik terhadap diriku sehingga tidak sampai diketahui oleh mereka."

"Agaknya kau orang takut sama mereka yaah?” "Bukannya aku takut pada mereka" sahut Liem Tou sambil

gelengkan kepalanya."Hanya saja dikarenakan peraturan

gunung ini sudah menentukan sebelum tiba pada waktunya meyambangi gunung tidak boleh mencuri naik keatas gunung secara diam diam."

“Ooh... kiranya begitu, kalau begitu kamu orang tak usah bicara lagi, semuanya biar aku yang uruskan.”

Dengan perlahan Liem Tou mangalihkan pandangannya kesekeliling tempat itu, mendadak dari luar pintu ruangan berjalan masuklah seorang lelaki, yang satu tua yang lain muda.

Dengan cepat Liem Tou memandang sangat teliti kearah orang itu ternyata pemuda tersebut bukan lain adalah Piauwsu muda yang berhasil melarikan diri dari perahunya malam itu, ketika melihat kearah kakek tua itu lagi terlihatlah pada janggutnya sudah penuh tumbuh jenggot putih tapi kakinya masih tetap mantap, matanya memancarkan sinar yang sangat tajam sedang kedua buah keningnya menonjol keluar, sekali pandang sudah tahu kalau kakek tua itu sudah berhasil melatih tenaga dalamnya hingga mencapai pada taraf kesempurnaan.

Tanyanya Liem Tou pada gadis cantik pengangon kambing sesudah melihat munculnya kedua orang itu. "Nona kau tahu siapa kedua orang itu?"

Dengan perlahan gadis cantik pengangon kambinq itu menoleh memandang kearah dua orang tersebut.

"Aku juga belum pernah bertemu dengan orang ini, tapi jika ditinjau dari dandanan serta usianya mungkin dia adalah pemilik ekspedisi barang Cing Liong Piauw kok dikota Yong Jan itu golok naga hijau atau Cing Liong To Sie, kau tanya dia ada perlu apa ?”

"Kalau begitu memang betul, kalau begitu memang betul” gumam Liem Tou seorang diri.

Mendadak ujarnya lagi kepada gadis cantik pengangon kambing itu.

"Nona, kau pernah dengar tidak kalau ekspedisi Cing Liong Piauw kiok dibegal orang?”

“Bukan dibegal barang kawalannya saja bahkan semua Piauw su yang mengawal perahu itu dibunuh habis."

"Tidak.. . salah kau salah, sudah lolos satu orang." "Bagaimana kau bisa tahu?” tanya gadis cantik pengangon

kambing itu dengan nada terkejut bercampur heran.

Liem Tou sebenarnya mau bicara terus terang tetapi hatinya tetap ragu-ragu karenanya dia hanya gelengkan kepalanya tetap membungkam.

Waktu itu didalam ruangan bertambah lagi dengan berpuluh-puluh orang banyaknya, Liem Tou dapat melihat diantara orang-orang itu terdapat juga Hek Loojie serta Tian Pian Ngo Koei.