Raja Silat Jilid 09

 
Jilid 09

MENDADAK terasalah olehnya disamping tubuhnya terdapat bayangan putih sedang berkibar nan berputar dengan cepatnya bahkan terdengar suara tersampoknya pakaian terkena angin, dengan cepat dia menolea kearah sana entah sejak kapan gadis cantik pengangon kambing itu sudah berada ditepi sungai dan sedang memutarkan tububnya dengan cepat, tangannya yang halus dengan lemah lembut sedang berputar menari.

Melihat kejadian itu Liem Tou menjadi heran, tanyanya. "Nona Wan Giok, kamu sedang berbuat apa?" Gadis itu

tetap bungkam, sedang gerakannya tetap dilanjutkan tanpa berhenti

Liem Tou melihat dia tidak diberi jawaban juga tidak bertanya lagi, dengan tenangnya dia berdiri disamping memandang seluruh gerakannya, sejenak kemudian barulah dia sadar kalau gadis cantik pengangon kambing itu sedang berlatih silat, terlihat jurus jurus serangannya berubah dengan cepat bahkan tangan serta kakinya melancarkan serangan serangan dengan kecepatan luar biasa.

Liem Tau yang menandingi jurus jurus serangan itu semakin dilihat terasa olehnya seperti pernah ditemui disuatu tempat, setiap jurus yang dimainkan sangat hafal dalam ingatannya.

Pikirnya dalam hati.

"Dia sedang berlatih ilmu silat, kenapa aku tidak melihat lagi beberapa saat ?"

Karenanya dia tetap berdiri disana tanpa mangucapkan kata kata lagi, seluruh perhatiannya di tujukan pada gerakan jurus jurus serangannya, semula jurus itu memang mudah, tetapi makin lama jurus jurus serangan yang dilatih gadis cantik pengangon kambing berubah semakin mendalam bahkan perubahannya pun semakin rumit.

Liem Tou semakin memusatkan perhatiannya lagi, dengan matanya yang melotot keluar sangat besar dia memperhatikan gerakan itu, bahkan ketika diam diam mengingat kembali jurus jurus serangan yang tercantum dalam kitab pusaka "Toa Loo Cin Keng" dalam bagian "ilmu pukulan serta telapak" terasa olehnya itu sangat mirip bahkan boleh dikata persis dengan jurus yang dimainkan gadis ini.

Liem Tou tidak berpikir panjang lagi, dengan cepat dia menghafalkan huruf yang pernah dihafalkan dari kitab itu.

Setiap kali Liem Tou mengucapkan sepatah kata tubuh gadis itu pun memainkan jurus-jurus sesuai dengan kata kata Liem Tou itu.

Waktu itulah Liem Tou baru sadar kalau gadis itu mempunyai niat untuk membantu dia melatih ilmu silatnya tidak terasa hatinya betul - betul merasa sangat berterima kasih, siapa tahu ketika dia selesai membaca huruf itu gadis itupun berhenti melatih, sambil berjalan ke arahnya bentaknya dengan nyaring.

“Liem Tou aku kira kau seorang lelaki sejati yang betul- betul bijaksana, tidak tahunya kamu berani mencuri lihat orang lain sedang berlatih ilmu silat.”

Sekalipun Liem Tou merasa sangat diluar dugaannya atas semprotan kata-katanya ini tetapi dia tahu dalam hatinya punya niat mengajari jurus jurus silat itu karenanya sambil tersenyum sahutnya.

"Nona Wan Giok. kamu bantu aku memahami bagian ilmu pukulan dari kitab pusaka "Toa Loo Cin Keng" dalam hatinya merasa sangat berterima kasih, tetapi perkataan tadi yang menuduh aku mencuri belajar ilmumu seharusnya dibalik menjadi kamu yang mencuri belajar ilmuku”

Gadis cantik pengangon kambing itu menjadi sangat gusar ujarnya lagi.

“Jelas sekali kau yang mencuri belajar ilmu silatku kini balik biiang aku yang curi belajar IImumu , kamu punya kepadaian apa sehingga berharga bagiku untuk mencuri belajar."

“Ayahmu mencuri kitab pusaka Toa Loo Cin Keng-ku dan baru dikembalikan pagi tadi, kepandaian silat yang termuat didalamnya sejak lama kalian sudah curi belajar, masih ada apanya yang bisa diributkan lagi ?”

Gadis cantik pengangon kambing itu semakin gusar lagi, ujarnya.

“Kepandaian silat yang temuat dalam kitab pusaka Toa Loo Cin Keng sudah aku pelajari sampai tidak sudi belajar lagi, buat apa aku harus curi ilmumu itu ? Baiklah kalau memangnya kamu tidak pakai aturan seperti itu. Hey LiemTou, terimalah seranganku ini .” 

Liem Tou tahu sampai Ang-in sin pian Pouw Sak San pun bukan tandingnnnya apa lagi dirinya, kini dengar dia sungguh sungguh mau turun tangan tidak terasa teriaknya.

“Nona tunggu dulu aku hanya bicara guyon saja”

Tubuh gadis itu dengan sangat cepat sudah berkelebat mendekati tubuhnya, dengan menggunakan jurus serangan "To Ju Cin Ciauw" atau Cu Ju meninggal ular menyerang kedepan bentaknya.

"Siapa yang sedang main main dangan kamu?"

Liem Tou yang terdesak terpaksa mengundurkan diri dua langkah kebelakang, siapa tahu jurus serangan yang digunakan gadis cantik pengangon kambing saat ini merupakan jurus serangan Lian Huan Ciang atau pukulan berantai dari partai Kun lun pay, jurus pertama baru saja dilancarkan jurus kedua Hang Hu To Hauw atau orang wanita pukul harimau sudah tiba. "Bluuk: . ." dengan tepat sudah berhasil menghajar jalan darah Can Ching Hiat pada pundak Liem Tou membuat Liem Tou marasa tubuhnya linu dan kaku, teriaknya kemudian.

"Nona. .. kau mau sungguh-sungguh bertempur ?? "

Gadis cantik pengangon kambing itu tidak mau ambil perduli lagi, jurus jurus serangan Liauw Hay Tiauw Tan atau Liauw Hay kail katek serta Ping Ci Bun Gouw atau Ping Ci tanya kerbau dengan cepat dilancarkan keluar, "Bluk .. ," Bluuk . jalan darah Kie Bun Hiat dikanan kiri tubuh Liem Tou kena hajar lagi dengan sangat keras.

Liem Tou yang terkena dua hajaran lagi karena tak merasa sakit makanya ia bangkit lagi kerena ia mengira gadis cantik pengangon kambing itu tentu bisa berhenti sendiri, siapa tahu jurus serangan gadis itu berubah lagi, dengan gencarnya dia melancarkan serangan dahsyat bahkan tangan kakinya dengan cepat menghajar seluruh tubuh Liem Tou tak bisa bersabar lagi, dengan gusar bentaknya.

"Kamu sudah gila ?"

Sehabis membentak dengan mengepal sepasang tangannya ia mengerahkan gerakan kaki tiga puluh enam langkah badai memutar dengan gencarnya melancarkan serangan keseluruh tubah gadis itu.

Saat inilah gadis cantik pengangon kambing itu baru tertawa, ujarnya.

"He he he .. . tidak takut kamu turun tangan."

Sambil berkata dengan tidak perduli Liem Tou menggunakan langkah badai memutarnya asalkan pinggangnya sedikit berputar tangannya dengan cepat sudah menghajar lagi jalan darah "Giok Liong Hiat" pada punggungnya membuat

Liem Tou merasa seluruh tubuhnya menjadi kaku, ujar gadis itu lagi sambil tertawa besar.

"Liem Tou, ini hari aku harus menghajar seluruh tubuhmu hingga lecet."

Dengan gusar Liem Tou mengaum keras angin pukulan semakin santar, sekali pun tidak berhasil menjamah tubuh gadis itu barang satu kalipun tapi semakin bergebrak dia semakin girang, seluruh jurus jurus serangan yang termuat didalam kitab pusaka "Toa Loo Cin Keng dengan demikian semakin maju lagi setingkat.

Sesaat Liem Tou sedang dibuai dalam kegembiraan itulah mendadak gadis cantik pengangon kambing itu menarik kembali serangannya. dengan serius ujarnya.

“Liem Tou kau ingat, aku bukan musuh besarmu” Sehabis berbicara mendadak dia membentak keras,

sambungnya lagi.

"Lain kali kamu akan tahu sendiri, terima seranganku ini”

Mendadak tubuhnya meloncat kedepan, angin pukulan yang sangat dahsyat segera memenuhi angkasa, didalam keadaan yang sangat terkejut itulah Liem Tou sudah terkurung ditengah sambaran angin pukulan gadis cantik pengangon kambing yang sangat dahsyat tersebut menanti Liem Tou sadar akan bahaya serangan gadis itu sudah begitu santarnya sehingga memaksa seluruh urat nadi didalam tubuhnya terasa hancur dan linu, tenaganya sama sekali hilang lenyap bahkan daya untuk bertahan pun lenyap tanpa bekas.

Walaupun begitu justru tubuhnya terkurung ditengah sambaran angin pukulan yang sangat hebat sehingga mau rubuh pun tidak sanggup, didalam sekejap saja seluruh tubuhnya serasa ditusuk dengan berjuta juta batang jarum tajam panas, linu sakit dan sangat perih tak tertahan lagi dia menjerit keras kesakitan.

Gadis cantik pengangon kambing itu tetap tidak gubris terhadap keadaannya, makin lama Liem Tou merasa seluruh tubuhnya penuh dengan bayangan tubuh gadis cantik pengangon kambing itu, sesudah lewat sesaat kemudian sampai bayangannya pun tidak kelihatan. Sesaat ini dia hanya bisa bernapas tersengkal sengkal saja, tubuhnya terasa begitu panas sehingga sukar ditahan, tidak terasa teriaknya dengan keras.

“Aduh.. panas sekali”

Begitu dia berteriak, hawanya tidak bisa mengalir lagi sehingga tanpa bisa ditahan lagi dia jatuh tak sadarkan diri.

Sekarang walaupun Liem Tou sudah berhenti bernapas tapi dia merasa gadis itu terap tidak menghentikan gerakannya, akhirnya dia hanya merasa perut serta punggungnya sangat sakit waktu itulah tubuhnya baru rubuh ketanah.

Ujar gadis cantik pengangon kambing itu.

“Liem Koko ingatlah delapan buah urat nadimu kini sudah terbuka, lain kali asalkan bisa mundur ke In Hu kemudian memasuki Yang Hwee dengan menggunakan cara Hung Ho Ci Ing Coan mempertahankan hawa murni jangan sampai tersebar kemana-mana tentu mendatangkan kebaikan untukmu, siauw moay kini pergi dulu lain waktu bertemu lagi.”

Dengan mengalunnya suara seruling pualam kawanan kambingnya dengan menimbulkan suara derapan yang ramai makin lama makin pergi jauh dan akhirnya suasana sunyi kembali, bersamaan waktunya pula Liem Tou merasakan kepalanya sangat pening kemudian tidak tahu apa apa lagi.

Entah lewat berapa lamanya mendadakLiem Tou merasakas sinar matahari yang sangat tajam menusuk matanya, membuat dia sadar kembali dengan terkejut, saat itu merupakan pagi hari yang amat cerah matahari memancarkan sinarnya yang sangat tajamnya suara air yang mengalir tenang menambah keindahan suasana saat itu, dengan cepat dia bangkit berdiri.

Dia merasakan tubuhnya sangat nyaman sekali sedikitpun tidak merasakan linu kaku serta kesakitan itu, waktu inilah dia teringat kembali akan gadis cantik pengangon kambing itu tetapi walau sudah mencarinya kemanapua tetap tidak tampak bayangannya.

Saat itulah dia baru tahu gadis cantik pengangon kambing itu memang betul betul berniat datang memberi pelajaran silat kepadanya, sebaliknya dirinya sudah anggap dia sebagai orang orang kangouw biasa yang akan bertujuan merebut kitab pusaka "To Kong Pit Liok' nya, hal ini sungguh merupakan satu kesalahan besar diantara kesalahan.

Berpikir sampai disini dia merasa betui betul menyesal atas tindakannya kemarin hari, tetapi gadis itu sudah pergi..entah pergi kemana…walaupun menyesal tetapi sudah terlambat.

Teringat kembali olehnya akan kata kata gadis cantik pengangon kambing itu sesaat meninggalkan dirinya.

Delapan buah urat nadi aneh kini sudah terbuka asalkan lain kali bisa mundur ke In Hu kemudian memasuki Yang Hwee dengan menggunakaa cara Heng Ho Ci Ing Coan mempertahankan hawa murni jangan sampai tersebar kemana mana.

Berpikir sampai disini hatinya menjadi bargerak dengan cepat dia mengambil kembali kitab pusaka "Toa Loo Cin Keng" nya pada halaman bagian urat nadi disana tertuliskan.

'Urat urat nadi didalam tubuh manusia yang biasa ada dua belas buah yang aneh ada delapan, Wie Jin Tu dua buah urat mempunyai hubungan yang erat dengan mati hidup seorang msnasia, dua buah urat itu terletak didepan dan belakang yang dipisahkan sehingga terdapat perubahan perubahan yang sangat banyak, hawa yang terdapat disana mempengaruhi panjang panjangnya usia manusia, jika urat nadi pusat bisa bertemu dengan urat urat nadi yang tersebar maka ratusan urat yang lain akan tertembus juga karenanya harus mundur ke In Hu kemudian memasuki Yang Hwee, sedang cara Heng Ho Ci Ing Coan bisa memusatkan hawa pada satu titik tertentu yang disebut sebagai akarnya, dengan tidak menyebarkan hawa hawa ini maka hawa itu akan berusaha menerjang ke atas, dengan demikian seluruh urat didalam tubuh bisa tertembus.’

Melihat hal itu Liem Tou menjadi sangat girang mendadak dia menjatuhkan diri duduk bersila diatas tanah untuk mencoba mengerahkan tenaganya, ternyata tidak salah lagi seluruh tubuhnya terasa sangat nyaman, dengan cepat dia merangkak bangun sambil gumannya.

“Liem Tou..Liem Tou, coba coba kekuatanmu, apakah kamu sudah bisa naik keatas gunung untuk bertemu dengan Ie cici, semua harapanmu hanya tergantung tindakanmu kali ini"

Tenaga murninya dengan cepat dipusatkan pada lengannya, dengan mengarah sebuah pohon sebesar mangkak dengan cepat dia melancarkan serangan membabat pohon itu.

Dalam anggapannya tebasan inl sekalipun tidak sanggup mematahkan pohon itu tetapi sedikitpun juga berhasil merontokkan daun serta ranting rantingnya. Siapa tahu pohon itu tetap tidak gemilang sedikitpun bahkan bekas seperti ditiup angin pun tidak ada.

Tidak terasa Liem Tou menjadi sangat kecewa dan berdiri mematung disana beberapa waktu lamanya. Padahal dia mana tahu sekali pun urat nadinya sudah tertembus tapi hawa murninya belum sampai terpusat pada satu tempat sudah tentu tidak mungkin bisa melancarkan serangan. Sesaat dia sedang merasa kecewa itulah mendadak dari samping tubuhnya terdengar suara tertawa dingin yang sangat menyeramkan ujarnya.

“He he..bangsat cilik kiranya kamu jadi orang cepat putus asa, kunanti kamu setengah harian lamanya, jika bukannya kamu sebut namamu sendiri hampir hampir saja aku tertipu olehmu”

Liem Tou dengan cepat menoleh memandang terlihat pada dua kaki pada dirinya Thian Pian Siauw cu dengan tindakan perlahan berjalan mendatang. Keadaannya saat ini jauh berbeda dengan keadaannya sewaktu masih berada dilembah cupu cupu kecuali pada punggungnya bertambah dengan sebilah pedang panjang, terdapat pula tiga ekor elang yang mengikuti dirinya dua ekor berputar pada kurang Iebih beberapa kaki diatas kepalanya sedang seekor lagi berada diatas pundak kanannya.

Ketiga ekor elang itu bentuknya jauh lebih kecil dari elang biasa, tetapi matanya berwarna biru tua, seluruh bulu tubuhnya berwarna hitam pekat, sekali pandang saja sudah tahu kalau elang itu termasuk binatang yang sangat buas.

Dalam hatinya ia sangat terperanjat, hatinya berdebar dengan sangat keras seluruh perhatian dicurahkan pada tubuh Thian Pian Siauw cu yang berjalan mendekatinya dengan langkah perlahan, ketegangannya sudah mencapai pada puncaknya tidak tertahan lagi selangkah demi selangkah dia mengundurkan dirinya kebelakang.

Thian Pian Siauw cu hanya tertawa dingin terus menerus, ujarnya lagi dengan perlahan.

"Sampai waktu seperti ini kamu masih mau berusaha lari?

Lebih baik cepat cepat kamu orang berlutut dan kamu serahkan itu kitab pusaka 'To Kong Pit Liok" kepadaku, kemungkinan sekali aku masih bisa mengampuni jiwamu".

Sambil mengundurkan diri kebelakang, pikiran Liem Tou terus menerus berputar, berbagai ingatan dengan cepat muncul didalam benakvya, ketika dia menoleh kearah kerbaunya justru saat itu berada beberapa kaki dari tempat dimana berada dan sedang makan rumput dengan tenangnya. Jika dirinya berlari kesana mungkin sekali sebelum mencapai tujuan sudah berhasil ditangkap oleh Thian Pian Siauw cu itu.

Tetapi jika harus berbuat demikian bukanlah suatu cara yang bagus, diam-diam matanya berputar kembali memandang keadaan sekeliling tempat itu. Tempat dimana dirinya berada sekarang masih ada kurang lebih dua kaki jauhnya dari tepi sungai, asalkan dia bisa meloncat ke dalam air maka nyawanya pun akan berhasil diselamatkan.

Sesudah berpiki begitu hatinya semakin tenang sambil berhenti ditempat ujarnya dengan keren.

"Ke Siauw cu tunggu sebentar, dengarlah kata kataku orang she Liem dulu. Dengan kepandaian silat dari Siauw cu saat ini sampai Tiong goan Ngo Koay yang bekerja samapun sukar untuk menahan tiga jurus serangan dari Siauw cu apalagi aku, kini aku sudah ditemui kembali aku mengakui memang nasibku yang buruk, perhitungan manusia tidak bisa menangkan kemauan Thian. Hal ini boleh dikata memang nasibku. Tetapi suruh aku dengan begitu saja serahkan diri Liem Tou sekalipun harus mati juga tidak meram."

Mendengar perkataan itu Thian pian siauw cu segeta menghentikan langkahnya bertanya dengan dingin.

"Lalu apa maumu?”

"Begini .. . " ujar Liem Tou dengan tegas, “Jika Ke Siauw cu inginkan aku orang serahkan itu kitab pusaka To Kong Pit Liok kepadamu sebetulnya tidak sukar tapi kamu harus bisa menahan tiga kali seranganku terlebih dulu setelah itu barulah aku serahkan itu kitab pusaka kepadamu, bahkan terserah Siauw cu mau kasih hukuman apa padaku "

Mendengar kata itu Thian Pian Siauw cu menjadi melengak, sapasang matanya dengan sangat tajam memperhatikan seluruh tubuh Liem Tou dari atas sampai kebawah. Satu kali pandangannya ini membuat air mukanyapun ikut berubah berulang ulang, sesudah termenung beberapa saat lamanya dengan air muka kecut tanyanya.

"Hey Lie Loojie itu apa suhumu ?" Pikiran Liem Tou dengan cepat berputar beberapa kali, diam-diam dia pikirkan kata kata apa yang tidak sampai mendatangkan kesukaran baginya akhirnya ujarnya pula.

"Kamu jangan tanyakan hal ini, aku berani saling bergebrak dengan kamu sudah tentu tidak usah aku banyak bicara lagi.”

Didalam benaknya teringat kembali peristiwa ketika elang raksasa itu terluka dan jatuh ke atas tanah sambungnya kemudian.

"Jika kamu tidak percaya, aku mau tanya padamu elangmu yang kemarin ikuti aku sudah pulang kesamping Siauw cu belum?"

Mendengar kata ini air muka Thian Pian Siauw cu berubah sangat hebat sekali, teriaknya.

"Lenyapnya Giok jie kiranya hasil kaki tanganmu, hmmm, hemm.."

Sepasang matanya menjadi sangat tajam dengan wajah yang meringis menyeramkan dia maju selangkah kedepan jelas sekali napsu membunuhnya sudah timbul.

Melihat air muka yang begitu menyeramkan itu Liem Tou menjadi sangat terperanjat, diam diam teriaknya.

"Celaka.”

Dengan capat dia pusatkan seluruh perhatiannya siap menerima serangannya, ujarnya lagi.

"Ke Siauw Cu, pada masa yang lalu kita tidak ada ganjalan apa apa ini haripun tidak ada dendam sakit hati tetapi bila bertemu selalu saja terjadi pertarungan, sepertinya pada penghidupan yang lalu merupakan musuh buyutan saja.

Baiklah, biar aku adu jiwa sama kamu orang kita tentukan siapa yang akan binasa kali ini."

Sehabis berkata dengan perlahan Liem Tou mengerahkan tenaganya dan angkat telapaknya siap siap melancarkan satu serangan, sikapnya mirip dengan orang yang sedang mengerahkan tenaga murni sebaliknya dalam hati diam-diam sedang merencanakan untuk melarikan diri dengan ceburkan diri kedalam sungai.

Thian Pian Siauwcu melihat sikapnya yang sungguh- sungguh itu segera menganggap dia betul-betul mau melancarkan serangan, dia tidak berani berlaku ayal dengan berdiri tegak ditempat matanya dengan tajam memperhatikan seluruh gerak gerik dari Liem Tou padahal dalam tubuh dengan perlahan lahan mengerahkan hawa khiekangnya untuk melindungi badan.

"Aaah, Siauw cu aku masih ada perkataan",

Thian Pian Siauw cu tidak tahu tindakannya itu hanya merupakan satu siasat saja mau menunggu perkataan selanjutnya mendadak Liem Tou berseru.

"Siauw cu selamat tinggal."

Ujung kakinya dengan keras menutul tanah kemudian dengan cepatnya lari menuju ketepi sungai. Menanti Thian Pian Siauwcu sadar apa yang sudah terjadi sejak tadi dia sudah tiba ditepi sungai untuk mencegah tidak keburu lagi.

Dalam hati diam diam Liem Tou merasa sangat girang, mendadak depan matanya berkelebat bayangan hitam kemudian kepalanya terasa seperti dipukul dengan sebuah martil berat sakitnya luar biasa, hampir hampir saja dia tidak

kuat dan tiba tiba jatuh tidak sadarkan diri, ketika kepalanya ditoleh kebelakang

kiranya yang melancarkan serangan itu tidak lain adalah elang yang dibawah Thian Pian Siauw cu itu.

Didalam sekejap saja elang yang kedua sudah menubruk datang Liem Tou menjerit keras tangannya dipentangkan melancarkan serangan kearahnya , tetapi gerakan dari elang itu jauh lebih gesit sayapnya dengan sangat kuat berhasil menghajar lengannya.

Kelihayan dari elang itu justru terletak pada kedua sayapnya ini, pada ujung sayap mereka masing masing tumbuh sebuah gumpalan daging yang bulat dan keras sekali, sewaktu bertarung kehebatannya luar biasa. Jangan dikata tubuhnya tidak sebesar elang biasa kenyataannya elang elang lain begitu melihat dia seperti juga macan bertemu dengan macan tutul sebelum tarung sudah jeri tiga bagian terlebih dulu.

Saat ini kedua pundak Liem Tou masing masing sudah terhajar satu kali oleh sayap elang itu, didalam keadaan tidak sadar kakinya pun sudah bergeser menjauhi tepi sungai.

Terdengar Thian Pian Siauwcu berteriak dengan keras. “Bangsat cilik, kamu tidak akan bisa lolos lagi”

Segulung angin santer berkelebat dengan cepatnya, air sungai segera terpukul hingga ombak bergulung dengan sangat keras. Liem Tou sadar jika saat ini dia meloncat kedalam sungai lagi sebelum mencapai permukaan air tentu akan terpukul binasa oleh angin pukulannya yang sangat dahsyat, sudah tentu dia tidak berani menempuh bahaya lagi.

Diam diam dia gigit kencang bibirnya, tubuhnya dengan cepat menjatuhkan diri kebelakang, kakinya dengan mengerahkan seluruh tenaga yang dimiliki bergelinding kesamping, dia merasa seluruh badannya menjadi jauh lebih ringan lagi sekali gelinding berhasil menerobos sejauh satu dua kali lebih, dengan cepatnya bersalto bangkit berdiri.

Waktu itulah Thian Pian Siauwcu sudah tiba dan melancarkan cengkeraman maut kebadannya, didalam keadaan yang sangat cemas sekali lagi dia menerjang kedepan hingga mencapai pinggiran hutan. Thian Pian Siauw cu mana mau melepaskan begitu saja dengan cepat tubuhnya berkelebat mengikuti dari belakangnya.

Langkah Liem Tou dengan cepat berubah dan bergeser kesamping, sepasang pundaknya sedikit merendah dengan tanpa sadar dia sudah mengeluarkan ilmu tiga puluh enam langkah badai memutar, tubuhnya kelihatan dengan sangat cepat berkelebat mencapai ketengah hutan kemudian mengelilingi ketengah hutan, Thian Pian Siauw-cu tidak melepas, dengan kencangnya membuntuti dari belakangnya.

Liem Tou yang lari dengan cepat itu diam-diam dalam hatinya merasa sangat heran, kenapa larinya ini hari bisa begitu cepatnya ? Mana dia tahu hal ini adalah hasil dari gadis cantik pengangon kambing yang membantu dia menembuskan kedelapan urat nadi anehnya ? jika saat ini dia mencoba untuk meloncat mungkin bisa mencapai setinggi satu kaki. Jika hal ini ditambah lagi dengan hasil semedinya maka kehebatannya jauh lebih hebat lagi.

Dengan mengandalkan penemuannya yang tidak terduga Liem Tou melarikan diri mengelilingi hutan itu. Tapi kelamaan caranya ini diketahui juga oleh Thian Pian Siauwcu sebagai seorang iblis sakti yang kenamaan. Sehingga sekalipun dia mau melarikan diri dengan cara apapun akhirnya akan tertangkap juga.

Semakin jauh larinya Liem Tou merasa hatinya semakin merasa berdebar keras, waktu itulah terlihat kerbau tunggangannya berdiri dengan tenangnya disana, pikiran bagus segera terbayang dalam benaknya.

Begitu terpikir akan hal ini dengan tanpa banyak pikir lagi dia mengeluarkan kitab pusaka. "Toa Loo Cin Keng-nya dari dalam saku kemudian berlari mendekati kerbaunya, tangannya diulurkan dengan tidak perduli lagi kitab pusaka Toa Loo Cin Keng merupakan salah satu kitab aneh dalam Bu lim, dengan keras ditancapkan keatas tanduk kerbaunya, setelah itu barulah teriaknya berulang kali.

"Hoa hoa hoa. .”

Melihat kejadian itu Thian Pian Siauw cu jadi sangat gusar, mendadak dia berhenti berlari ujarnya kepadaLiem Tou.

"Hmm hmm bangsat cilik benda apa yang dibawa kerbau itu?"

Sambil berkata sepasang matanya memandang tajam kearah Liem Tou, kelihatan sekali hatinya yang tidak tenang.

Dengan bersembunyi dibalik pohon yang besar Liem Tou munculkan kepalanya balik tanyanya dengan perlahan.

“Kamu terka benda apa itu?”

“Bangsat cilik” ujar Thian Pian Siuwcu tiba-tiba dengan gusarnya.

“Jika kitab pusaka To Kong Pit Liok itu sampai terjatuh ketangan orang lain, aku mau hancurkan tubuhmu hingga berkeping-keping”

Sambil berkata dia mencabut keluar padang yang memancarkan sinar keemas-emasan yang sangat menyilaukan mata, pedangnya memang terlihat sebilah pedang yang bagus, sedikit tangannya digerakkan sebuah pohon sebesar mangkok dengan mengeluarkan suara yang gemerisik roboh keatas tanah dalam keadaau dua bagian yang terpisah.

Kepandaian yang sangat tinggi ini membuat Liem Tou sangat terkejut, dengan cemas ujarnya.

"Siauwcu kamu tanyakan itu kitab pusaka To Kong Pit Liok

? mungkin saat ini sudah dibawa pergi kerbau itu sangat jauh”

“Perkataan itu sungguh-sungguh?” bentak Thian Pian Siauwcu dengan sangat gusar. “Siapa yang mau menipu kamu, kamu tidak percaya ya sudah”

Thian Pian Siauwcu tetap ragu-ragu akan perkataannya, untuk membuat dia percaya Liem Tou dengan gusar bentaknya lagi.

"Hey orang she-Ke, aku beritahu kepadamu kepandaian silat didalam kitab pusaka To Kong Pit Liok itu merupakan kepandaian silat yang sangat hebat, siapapun didalam dunia ini ingin memperolehnya, tetapi aku Liem Tou melihat keganasan atau kekejamanmu sudah merasa muak, makanya sekalipun didapatkan orang lain juga tidak mengijinkan kitab itu sampai jatuh ke tanganmu."

Mendeagar sampai disana, Thian Pian Siauw cu tidak bicara lagi, mendadak dengan sangat cepat tubuhnya berkelehat, dengan tidak menoleh lagi dia mengejar kearah dimana kerbau itu melarikan diri.

Liem Tou melihat dia pergi dalam hati diam diam merasa sedih dan sayang atas hilangnya kitab pusaka Toa Loo Cin Keng itu, tapi dia tak dapat berbuat apa apa kecuali merasa sayang saja.

Dengan cepat dia lari ketepi sungai siap terjunkan diri kedalam air, karena dia tahu sabentar lagi Thian pian Siauw cu tentu kembali, sekonyong konyong dari belakang tubuhnya terdengar seseorang berteriak.

"Hey Engkoh cllik tunggu sebentar."

Liem Tou dengan cepat menoleh dilihatnya kakek aneh yang ditemuinya kemarin dengan menuntun kerbaunya berjalan mendatang, ujarnya lagi sambil tertawa tawa.

"Hey Engkoh cilik perbuatanmu sungguh bagus sekali.

Bagus..bagus "

Liem Tou menjadi terlengak, dia tahu jika kerbau itu tertangkap olehnya sudah tentu kitab pusaka "Toa Loo Cin Keng" itu ddapatnya, karena sambil ulur tangannya kedepan ujarnya.

"Hey Tui Jie kiranya kamu, kamu sudah curi taku punya kerbau dan kitab pusaka "Toa Loo Cin Keng kenapa berani muncul lagi didepan aku?? cepat cepat kembalikan barangku itu, ayo cepat bawa sini”

Mendengar omongannya itu si kakek tua menjadi tertawa lebar ujarn ya.

"Ha ha ... Liem Tou bagus sekali kamu, jika dilihat wajahmu kelihatannya memang seorang yang jujur tidak tahunya sifatmu juga licik Baiklah kamu orang boleh dihitung aku yang curi kerbau serta kitab pusaka Toa Loo Cin Keng-mu itu.

Tapi aku mau tanya itu kitab pusaka Toa Loo Cin Keng apa barang peninggalan ayahmu buat kamu orang? pada pipi sebelah kiri dari muka ayahmu apa ada tahi lalat hitam? ? ? sewaktu main catur apa sering menggunakan benteng terlebih dahulu untuk rebut menyerang?"

Liem Tou teringat kembali keadaan dari ayahnya semasa hidup, lama kelamaan barulah sahutnya dengan sedih.

“Hui Tui Jie aku tahu kamu seorang yang luar biasa, tapi kenapa kamu orang menanyakan wajah ayahku terus menerus”

Kakek tua Hui Tui Jie melihat Liem Tou tidak mau mengaku tapi juga tidak mungkir diam-diam mengangguk, ujarnya.

“Liem Tou jika aku beri tahu padamu saat ini hanya mendatangkan bencana saja, kemarin malam Wan jie sudah beritahu padamu kami ayah beranak bakanlah musuhmu.

Sekarang aku lihat kesalahanmu semakin tebal hal ini perlihatkan bencana yang akan menimpa belum lenyap didepan mata masih banyak berbahaya yang harus kamu tempuh, tapi jika tidak berani tidak mungkin, karenanya kerbau serta kitab pusaka Toa Loo Cin Keng tidak berguna dibadanmu, bahkan malah memancing perhatian orang banyak, karenanya untuk sementara waktu kamu boleh pergi ke tebing Ling-Ai di gunung Go-bie san untuk minta kembali barang-barang itu”

Dia berhenti sebentar, sesudah menghela napas panjang sambungnya lagi.

"Heey . . . sebentar lagi iblis itu mungkin akan kembali kesini, kamu cepatlah pergi."

Sehabis berkata dia lalu meloncat naik punggung kerbau itu, sambil goyangkan tangannya dia menjalankan kerbaunya kearah dalam hutan tidak lama kemudian sudah lenyap dari pandangan.

Dengan termangu-mangu Liem Tou berdiri disana beberapa saat lamanya teringat kembali kata-kata yang diucapkan kakek tua Hui Tui Jie itu, dalam hati dia merasa kakek itu tentu punya hubungan yang sangat erat dengan ayahnya, kalau tidak bagaimana terus menerus dia menanyakan asal usul dirinya.

Tapi kakek tua itu tidak mau beritahu dengan terus terang bahkan meninggalkan tempat itu dengan tergesa gesa, sudah tentu Liem Tou tidak bisa berbuat apa apa lagi dan sementara tidak mau pikirkan urusan itu nanti sesudah bertemu dengan le Cici diatas gunung Ha Mo San baru pikirkan lagi.

Berpikir sampai disini dengan cepat dia menyeburkan dirinya dalam sungai dengan mengikuti aliran air yang cukup deras tubuhnya mengalir terus kedepan. Untung saja kepandaiannya bermain didalam air sudah mencapai pada taraf kesempurnaan sehingga gerakkannyapun sangat lincah tapi cepat.

ooo0Oooo

Ditengah jalan kecuali beristirahat tidak ada peristiwa yang terjadi lagi, ketika cuaca mendekati magrib dia sudah berenang sejauh puluhan li, saat itu udara menjadi sangat gelap, ketika Liem Tou melihat ditepi hadapannya terdapat sebuah perahu layar yang sedang berhenti disana, segeta didalam hati pikirnya.

"Kenapa malam ini aku tidak menginap diatas perahu itu saja??"

Berpikir sampai disitu dengan cepat dia berenang kesana dan mohon pemilik perahu itu untuk menginap satu malam diatas perahunya. Orang orang didalam perahu begitu melihat keadaannya yang begitu kasihan segera dia diberi makan dan dibiarkan dia tidur dibelakang buritan bahkan membiarkan dia tidur bersama-sama orang lain.

Ketika itulah dia baru tahu kedua buah perahu itu milik dari suatu perusahaan ekspedisi yang bernama Cing Liong Piauw kiok, dengan diam diam dia melihat kalau diatas setiap perahu ada dua orang pengawal yang menjaga perahunya, pada perahu dimana dia menginap terdapat dua orang yang menjaga yang seorang tua yang lain muda, jika dilihat dari sikap mereka agaknya hubungan mereka sangat erat sekali.

Hari itu Liem Tou sudah melakukan perjalanan mendekati ratusan li jauhnya karenanya saking lelahnya tidak lama kemudian sudah tertidur dengan nyenyaknya.

Malam itu udara sangat gelap tidak terlihat bintang atau bulan yang menyinari jagad, angin bertiup sangat kencang membuat udarapun semakin dingin, ditepi pantai dimana kedua buah perahu itu berlabuh terdapat tiga orang berpakaian malam dengan gerak gerik mencurigakan mendekati perahu.

Saat itu orang yang berdiri diujung kiri bertanya. "Tia kamu lihat malam ini apa mereka mengadakan

persiapan?” "Cing Liong Piauw kiok selamanya berlaku sumbar" sahut orang yang ditanyai itu, “Dia mengira sesudah Siok to Siang Mo dibasmi, maka didaratan maupun lautan sudah aman, dimaaa bendera Cing Liong Piauw Kiok berada maka tak akan ada orang yang berani turun tangan lagi, sudah tentu tidak akan ada persiapan diantara mereka”

“Tia” ujar orang itu lagi, “Aku dengar orang bilang kepala pengawal dari Cing Liong Piauw kiok si pemetik bintang Kwan Piauw sangat hebat didalam penrmainan sepasang martilnya, nanti bolehkah aku hadapi dia??"

"Ling jie kamu jangan bicara tidak karuan" bentak orang itu dengan nada memberi peringatan, "Gerakan malam ini punya hubungan yang sangat besar dengan bukanya Aug In Piauwkiok dikemudian hari, untuk bereskan malam ini semakin cepat semakin baik, jika ini hari sampai loloskan salah seorang saja diantara mereka, pada hari kemudian jika mereka sampai bisa ketahui hal ini perbuatan kita lalu bagaimana kita tancapkan kaki lagi didalam dunia

kangouw ??"

Diantara ketiga orang yang berada diseberang tepi ketiga orang semula salah seorang angkat bicara pula dengan perlahan.

"Kian Po hang, coba kamu lihat pekerjaan yang Cung cu kita kerjakan selalu sangat terlatih dan rapat, sungguh membuat orang lain menjadi kagum."

Lama sekali orang itu baru menjawab, ujarnya sambil mengangguk.

"Ehm . tapi Toa Toang heng. Apa kamu tidak merasa pekerjaan ini sangat bertentangan dengan peraturan Bu lim ?" Saat itulah mendadak orang ketiga sudah buka omongan .

"Coba lihat, Cung cu sudah kirim tanda.” Kedua orang itu tidak bicara lagi dan angkat kepalanya memandang kearah tepian seberang, terlihatlah suatu sinar berwarna kehijau hijauan dengan cepat lenyap ditengah kegelapan. Saat itulah dengan perlahan mereka bertiga bangkit berdiri membereskan pakaiannya dan mengambil keluar senjata tajam masing- masing.

Ketiga orang yang berada ditepi sebelah kiri saat itu sudah menyebrangi sungai dengan menggunakan dua buah papan persegi empat yang diinjak pada kedua kakinya, dengan demikian mereka bisa meluncur ketengah sungai dengan Iancarnya.

Ketiga orang yang berada disini ketika secara samar-samar melihat ketiga orang itu sudah bampir mendekati perahu dengan cepat meloncat naik keatas perahu tersebut ilmu meringankan tubuh dari mereka bertiga walaupun sangat tinggi tapi perahu itu tidak urung sedikit oleng juga.

Dua orang dari tepi sebelah sini bertepatan waktu juga sudah tiba, mereka masing-masing meloncat naik perahu dengan sangat cepat.

Mendadak dari dalam ruangan perahu terdengar suara menjerit kaget kemudian disusul dengan bentakan sedang bertanya.

"Siapa?"

Suara bentakan itu begitu kerasnya membuat Liem Tou yang tertidur nyenyak segera sadar kembali dari pulasnya.

Ketika dia buka mata terlihatlah cuaca masih sangat gelap mungkin baru kentongan ketiga, dua orang berbaju hitam yang memakai kerudung mendadak menerjang masuk kedalaun bilik itu bahkan salah satu diantaranya tepat berdiri disisinya.

Waktu itu baru saja dia sadar dari pulasnya sehingga pikirannyapun belum begitu sadar, atas kejadian yang muncul secara tiba tiba dihadapannya membuat dia menjadi sangat terkejut, dengan cepat dia mengusap beberapa matanya sehingga terang ternyata tidak salah lagi, kejadian itu memang betul-betul sudah terjadi bahkan berada dihadapan matanya tak terasa lagi hatinya berdebar dengan sangat keras.

Pada waktu hatinya sedang merasa sangat terkejut itulah mendadak dari dalam ruangan perahu berkumandang datang suara jeritan yang amat ngeri yang sangat memilukan kemudian di susul dengan suara tertawa dingin yang keras, ujarnya,

"Hemm. , . Hemmm. . – gentong-gentong nasi seperti ini juga mau jadi pengawal barang."

Liem Tou mendadak menjadi sangat terkejut karena suara itu tidak lain adalah suara Pouw Siauw Ling. Kemudian disusul dengan suara bentrokan senjata tajam yang sangat ramai teriak seorang dengan keras.

"Kalian siapa ? Kami Cing Liong Piauw kiok punya dendam sakit hati apa dengan kalian ?"

"Tidak usah banyak bicara, serahkan nyawamu" Bentak Pouw Siauw Ling dengan gusar..

Setelah itu teriaknya lagi.

"Jangan berada diluar apa Liok Siok siok ? Sampai waktu ini kenapa tidak juga turun tangan ? Kamu orang mau tunggu sampai kapan lagi?"

Orang yang berdiri disamping Liem Tou ketika mendengar perkataan itu segera menggeserkan kakinya lagi, Liem Tou tahu keadaan saat itu betul-betul amat kritis dan membahayakan jiwanya sehingga tubuhnya tanpa terasa sudah meringkuk kepojokan perahu tanpa berani bergerak lagi, tapi sepasang matanya dengan memperhatikan gerak gerik dari orang itu hatinya berdebar keras, hampir-hampir terasa mau copot dari dalam tubuhnya.

Pengemudi perahu yang semula berbaring di samping Liem Tou mendadak meloncat bangun sambil berteriak keras.

'Aduh...mak.. tolong ada penjahat”

Melihat hal itu diam diam pikir Liem Tou dalam hati. "Hemmm ... cari mati sendiri."

Ternyata dugaannya tidak salah, terdengar penjahat berkerudung yang berdiri disampingnya itu mendadak membentak keras dengan gusarnya.

"Pergi temui makmu "

Golok ditangannya dengan cepat berkelebat, terlihatlah sinar golok yang menyilaukan mata menyambar tubuh pengemudi itu, tanpa sempat menjerit kesakitan lagi tubuhnya rubuh keatas perahu dan binasa seketika itu juga.

Melihat kejadian yang sangat mengerikan itu hati Liem Tou menjadi tergetar dalam hati dia tahu saat inilah kesempatan yang paling bagus baginya untuk melarikan diri, tanpa pikir panjang lagi tubuhnya dengan sekuat tenaga menggelinding ketepi perahu. Menanti penjahat berkerudung itu merasa dan membacok tubuhnya. Liem Tou sudah menceburkan dirinya kedalam sungai sepasang tangannva dengan cepat digerakkan menyelam kedasar perahu tersebut.

Waktu itulah hatinya baru berasa agak tenang, teringat akan kata tadi dengan jelas didengar olehnya berasal dari Pouw Siauw Ling; hal ini membuat hatinya merasa terkejut bercampur heran, pikirnya.

"Kemarin sewaktu bertemu dengan mereka, dia masih bilang mau mendirikan sebuah perusahaan ekspedisi, bagaimana sekarang malah berbuat kejahatan menjadi perampok ?? bahkan merampas barang barang kawalan orang lain ??..

Semakin berpikir Liem Tou merasa semakin bingung, dengan perlahan lahan dia munculkan diri kembaii keatas permukaan dan bersembunyi dibelakang kemudi , saat itu malam semakin kelam cuacapun begitu gelap hingga sukar untuk ditemui tempat persembunyian itu, ditambah lagi saat ini Liem Tou sudah berada didalam air, sekalipun ditemui dia juga tidak merasa takut .

Sesudah muncul keatas permukaan air Liem Tou segera mendengar suara teriakan teriakan yang memilukan hati serta bentrokan bentrokan senjata senjata tajam yang sangat ramai berkumandang dari kedua buah perahu itu, keadaannya demikian mengerikan membuat hati setiap orang terasa bergidik.

Tidak lama berselang dari atas perahu sebelah tidak terdengar suara lagi, keadaan begitu tenang sunyi serta menyeramkan, sebalikaya dari atas perahu dimana dia menyembunyikan dirinya sekarang masih terdengar suara bentakan bentakan senjata tajam yang sangat ramai.

Hati Liem Tou menjadi tergerak, dengan perlahan-lahan dia merangkak naik melalui tali yang ada dan mengintip dari celah lobang yang sangat kecil pada perahu itu, terlihatlah tiga orang perampok berkerudung dengan rapatnya sedang mengepung Piauwsu yang masih muda itu, ditengah remang- remangnya cuaca terlihatlah tubuh pemuda sudah basah oleh darah segar yang mengucur keluar dengan derasnya, tapi dia tidak mengucapkan sepatah kata pun dengan mencekal pedang panjangnya dia melawan ketiga orang itu dengan seluruh tenaga.

Melihat situasi seperti itu tidak tertahan lagi Liem Tou merasa sangat gemas, dendam dan sakit hati. Mendadak terdengar Pouw Siauw Ling yang berada salah satu diantara ketiga orang berkerudung itu berkata dengan keras. "Tia, bangsat cilik ini semakin bertarung semakin menggila, biar aku bunuh dia saja"

Salah satu diantara ketiga perampok berkerudung yang melawan musuhnya dengan menggunakan sepasang telapaknya, membuka mulut sahutnya.

"Hmm..hm..sekalipun kepandaian silatnya lebih tinggi ini hari tidak mungkin bisa meloloskan diri dari bencana.”

Mendangar perkataan itu Liem Tou yang sedang bersembunyi menjadi terkejut karena suara itu bukan lain berasal dari Pouw Sak San itu Cungcu dari le Hee Cung. Tentang urusan ini dia tidak ragu ragu lagi karenanya didalam hati dia merasa sangat enak, dendam sakit hati dan gemas, bersamaan pula merasa sedih atas nasib para rakyat yang hidup dalam kampung Iee Hee Cung diatas gunung Ha Mo San.

Saat ini dendam dan sakit hati pribadinyapun muncul bercampur dengan perasaan gemasnya, darah segarnya serasa bergolak dengan keras, dalam hati dia punya niat untuk menolong pengawal itu lolos dari kematiannya.

Mendadak dengan mengerahkan seluruh terra ga Nang dimilikinya berteriak dengan keras.

"Hey bangsat, bangsat tahan!"

Ditengah sungai yang lebar dan jauh dari keramaian ditambah lagi ditengah malam buta yang sunyi tenang, suara bentakannya ini membuat para penjahat itu merasa sangat terperanjat apalagi itu Ang in sin pian Pouw Sak San serta Pouw Siauw Ling mereka sama sekali tidak menduga ditempat itu bisa muncul seseorang, pada waktu mereka bertiga sedang tertegun itulah piauw su yang masih muda itu menggerakkan pedangnya kedepan, seraya teriaknya dengan gusar.

“Dendam sakit hati ini kami dari Cing Liong Pauw kiok bersumpah akan membalas dendam" Sambil berkata tubuhnya meloncat setinggi dua kaki lebih kemudian menceburkan diri ke dalam sungai.

Gerakan ini dilakukan hanya pada sekejap mata saja, Liem Tou pun dengan cepat ikut menyusupkan tubuhnya kedalam air. Cuaca yang gelap gulita sudah cukup membuat mereka tidak melihat jelas apalagi kini berada didalam air. Walaupun dalam hati Liem Tou punya niat mencari Piauw su muda itu untuk mcmbantu dia meloloskan diri dari bahaya tapi karana takut terjadi salah paham makanya terpaksa tidak berani bergerak, dalam hati diam diam dia berdoa agar dia bisa lobos dari mara bahaya ini.

Dengan kejadian ini niatnya untuk bertemu Lie Siauw Ie semakin menebal lagi. Sesudah berenang hingga ketengah sungai barulah dia munculkan diri kembali keatas permukaan sungai sambil memandang kearah dua buah perahu itu makinya.

"Hmmm..kiranya bajingan-bajingan itu adalah kawanan perampok yang tidak tahu malu, manusia macam binatang seperti itu harus dibunuh”

Sambil memaki badannya mengikuti aliran air sungai melanjutkan berenang kedepan, bersamaan pula pada benaknya teringat akan kejujuran serta budi halus dari rakyat dusun Ie Hee hiung. Teringat pula kehidupan didalam dusun sewaktu masa kecilnya tidak terasa saking sedihnya air mata menetes keluar dari kelopak matanya.

Suasana ditengah sungai begitu sunyi senyap tidak terdengar suara bisikan sesosok manusiapun, Liem Tou dengan seorang diri perlahan-lahan berenang menuju kedepan. Sebentar bentar dia memandang bintang-bintang yang tersebar luas diatas langit hatinya beratus ratus macam kesedihan yang sekaligus memenuhi pikirannya, mendadak tangannya ditepukkan keatas kepalanya sendiri sembari tangannya yang sebelah mencopot topeng kulit yang dikenakan pada wajahnya, kepada langit sumpahnya dengan sungguh sungguh.

"Pada suatu hari jika aku Liem Tou berhasil melatih ilmu silat yang lihay aku bersumpah akan membunuh kaum bajingan itu hingga binasa, sebelum tercapai cita cita ini aku tidak akan berdiam diri"

Sambil berkata dia manyimpan kembali topeng kulitnya kedalam saku sedang titik air matanya mengucur keluar dart kelopak matanya dengan deras.

Beberapa saat kamudian haripun menunjukkan saat kentongan kelima. Liem Tou pun merasakan sepasang lengannya mulai terasa linu kaku dan capai sedikitpun tidak bertenaga lagi, mendadak ditengah sungai dihadapannya secara samar samar muncul sebuah perahu kecil dengaa perlahan lahan bergerak mendatang, bahkan dari atas perahu kelihatan sinar lampu berkedip kedip.

Perahu itu mungkin milik seorang nelayan yang sedang inenangkap ikan dimalam hari, kenapa aku tidak beristirahat sebentar disana?? bila mereka ada makanan kemungkinan sekali sedikit menangsal perutku yang lapar?"

Tidak lama kemudian dia sudah mendekati perahu kecil itu, Liem Tou dengan cepat mencekal pinggiran perahu dengan kencang.

Waktu itulah terdengar dari dalam perahu berkumandang suara pertanyaan yang disusul dengan jeritan kaget.

"Heey siapa diluar ??"

"Seorang yang kecebur dalam sungai karena bertemu perampok, dapatkah aku beristirahat sebentar diatas perahu saudara ?"

Dari dalam perahu tak terdengar suara sahutan - - lama sekali ditunggu tetap saja tidak terdengar sedikit suarapun. Pada saat Liem Tou sedang merasa kecewa itulah mendadak terdengar pertanyaan lagi dari dalam perahu.

"Siapa namamu? bertemu perampok dimana?"

"Aku bernama Liem Tou, baru saja bertemu dengan perampok diatas dua buah perahu pangawal barang disungai sebelah depan. Hey pemilik perahu bolehkah aku beristirahat sebentar ??"

"Ehm . . .kalau begitu naiklah.”

Mendengar pemilik perahu itu menyanggupi Liem Tou dengan cepat meloncat naik keatas perahu, Tapi . . . belum tubuhnya berdiri tegak mendadak jalan darah "Hong Hui Hiat" serta jalan darah gagunya sudah tertotok oleh orang lain, tak tertahan lagi tubuhnya rubuh keatas perahu dengan keras kemudian disusul dengan suara tartawa keras dari orang ini sambil ujarnya.

"Liem Tou . Liem Tou, kami cari kamu kemanapun tak bertemu, tidak disangka kamu hantarkan diri sendiri kemari ha ha ha ha . aku tidak bisa banyak bicara lagi ha ha..”

Jalan darah " Hong Hui Hiat” serta jalan darah gagu Liem Tou sekalipun tertotok sehingga tidak dapat bergerak dan berbicara tetapi sepasang matanya masih bisa memandang kearah orang yang menotok jalan darahnya itu.

Orang itu tidak lain adalah Si jari beracun jarum cams Song Beng Lan yang ditemui dilembah cupu cupu bersama sama pengemis busuk itu. Dalam hati dia tahu orang ini tentu sangat benci kepadanya hingga tidak terasa diam diam menghela napas panjang, pikirnya.

"Heei ..kemauan Thian sudah begitu aku juga tidak bisa berbuat apa apa lagi mau dibunuh mau disiksa aku terpaksa ikuti saja kemauannya."

Sepasang matanya segera dipejamkan rapat rapat tanpa berbicara sepatah kata lagi. Mendadak Liem Tou merasakan badannya di tendang hingga berguiing dengan keras diatas perahu kemudian terdengar suara Song Beng Lan sedang berkata.

"Hey Liem Tou kamu orang tidak usah pura pura mati, coba kamu lihat siapa yang berada dihadapanmu ?"

Mendengar perkataan itu barulah Liem Tou membuka matanya dengan perlahan, mendadak pandangannya menjadi terang terasa olehnya badannya sekarang sudah terlenteng didepan pintu ruangan perahu ditengah ruangan dalam perahu duduklah seorang gadis berbaju hijau yang tipis dengan usia kurang lebih baru tujuh belas delapan belas tahunan, alisnya yang melengkung tipis dengan bibirnya yang kecil mungil sungguh merupakan seorang gadis yang cantik menarik sekali .

Melihat hal itu Liem Tou menjadi melengak, mendadak teringat makian Cian Pian Ngo Koei sewaktu berada didalara lembah cupu cupu yang mengatakan Song Beng Lan ini adalah Jay Hoa Cat, tidak terasa pikirnya.

"Hemmnm ternyata dia memang seorang bangsat cabul, ditengah sungai yang begini jauh dari keramaian serta sunyi masih menyembunyikan seorang gadis cantik juga hemmm sungguh tidak malu, Konyol . "

Baru raja pikiran itu berkelebat dalam bcnaknya, mendadak gadiscantik berbaju hijau Nang ducluk didalarn ruangsn perahu sudah tar senaum kearabuya, kemudian ujarnya

"Hey Liem Tou, orang yang berjodoh dimanapun selalu bertemu, kamu masih kenal aku tidak?”

Mendengar perkataan itu tak terasa Liem Tou merasa sangat heran, pikirnya dalam hati.

"Aku Liem Tou merupakan seorang lelaki sejati, salamanya belum pernah main perempuan diluaran bagaimana bisa kenal dia ?” Sekalipun didalam benaknya dia berpikir begini tetapi tanpa terasa matanya memandang teliti kearah gadis berbaju hijau itu, saat itulah gadis berbaju hijau itu sedang memandang dirinya sambil tersenyum manis.

Semakin dilihat Liem Tou merasakan gadis ini seperti pernah ditemuinya disuatu tempat, matanya semakin memandang tajam kearahnya… lama sekali mendadak

pikirannya menjadi sadar.

Gadis berbaju hijau itu melihat air muka Liem Tou sedikit berubah segera tahu kalau dia sudah mengenal dirinya kembali maka ujarnya dengan merdu.

"Hey Beng Lan, cepat bebaskan jalan darahnya yang tertotok."

Mendengar pekataan itu Song Beng Lan dengan cepat maju dan menepuk dengan perlahan leher Liem Tou. Saat itulah dengan keras teriak Liem Tou.

"Aaaah bukankah kamu orang pengemis busuk itu?”

Gadis cantik berbaju hijau itu begitu mendengar dia memaki dirinya sebagai pengemis busuk tidak terasa alisnya dikerutkan rapat rapat. Song Beng Lan yang berdiri disampingnya seketika itu juga melancarkan satu tendangan membuat tubuhnya sekali lagi berguling diatas permukaan perahu, bentaknya.

"Hey bangsat cilik kamu orang sungguh tak tahu sopan, hati-hati aku tendang badanmu sampai tulangmu copot."

Tiba tiba gadis cantik berbaju hijau itu mencegah perbuatan Song Beng Lan, ujarnya.

“Beng Lan, kamu orang jangan menyakiti dia sampai keterlaluan, lebih baik kamu ikat kaki tangannya dengan tali dulu kemudian baru membebaskan jalan darahnya, setelah itu naikkan jangkar lanjutkan parjalanan sekarang juga.” Sikap Song Beng Lan terhadap gadis cantik berbaju hijau itu agaknya begitu menghormatnya, sesudah memberi hormat, dengan sangat patuhnya baru sahutnya dengan perlahan.

"Baik Kungcu.”

Dengan mengikuti perintahnya dia mengikat kaki tangan Liem Tou dengan tali kemudian membebaskan jalan darah Hong Hui Hoat-nya setelah itulah baru menaikkan jangkar untuk melanjutkan perjalanannya.

Saat itu berkatalah gadis cantik berbaju hijau itu kepada Liem Tou sambil tertawa.

"Liem Tou, kamu merasa sangat heran bukan? Aku beritahu padamu, aku bernama Ciang Beng Hu dan bertempat tinggal dipantai Say Kiem Thay tepi danau Au Hay didaerah In Lam”

Sejak Liem Tou mengetahui kalau gadis cantik berbaju hijau yang berada dihadapannya ini adalah pengemis busuk yang ditemuinya di dalam bui segera teringat kembali keganasan serta kelakuannya yang kasar dalam hati tidak tertahan muncul kembali perasaan benci serta gemasnya, dengan gusar sahutnya.

"Siapa yang mau dengar namamu yang sangat memalukan itu, ini hari aku Liem Tou sudah terjatuh ketanganmu, mau dibunuh mau disiksa silahkan kamu orang lakukan, aku Liem Tou tidak akan takut dan bukan seorang manusia pengecut yang takut mati.”

Mendengar hal itu Ciang Beng Hu tertawa nyaring, ujarnya. "Cis. Liem Tou - - - Liem Tou, binasa dengan begini mudah

apa kamu tidak merasa sayang?? kalau kamu orang memang kepingin mati tapi jangan begitu cemasnya.”

Sepasang mata dari Liem Tou mendelik melotot kearahnya dengan gusar ujarnya lagi dengan jengkel. "Kau ingin apakan aku ?”

"Kamu boleh pikirkan sendiri” sahutnya sambil tertawa ringan sedang kepalanya dimiringkan kesamping.

Tetapi air muka dengan ceoat berubah menjadi serius kembali, dengan pandangan tajam dia memandang sekejap kearah wajah Liem Tou kemudian ujarnya lagi dengan keren.

“Liem Tou, perkenalan kita didalam bui walaupun belum begitu lama tapi aku tahu dengan jelas kamu merupakan seorang yang sangat cerdik. Aku tidak perlu bicara tentunya kamu orang sudah tahu sendiri. Buat apa aku yang hidup enak-enak didaerah Cian Pian sebelah selatan dengan susah payah pergi kemari, hey Liem Tou aku belum gila ??.

"Siapa yang mau urus kamu gila atau tidak, hey pengemis gila kau mau bawa aku kemana?”

Ciang Beng Hu hanya memandang sekejap kearahnya sambil tersenyum sedang mulutnya tetap membungkam.

Tidak terasa hawa amarah Liem Tou muncul kembali, teriaknya keras dengan amat gusar.

“Terhadap kawanan bajingan yang tidak tahu malu seperti kalian aku Liem Tou walaupun binasa juga tidak akan menyerah, aku omong terus terang saja padamu, jika kalian mau paksa aku barterus terang mengakui tempat penyimpinan kitab pusaka To Kong Pit Liok itu.. hemm hemm jangan harap."

"Hemm, , kau tak usah banyak bacot, tunggu saja" ujar Ciang Beng Hu dengan amat dingin.

Sehabis berkata teriaknya denagn keras.

"Beng Lan masuk, bangsat cilik ini sampai sekarang masih tetap bandel saja kelihatannya dia belum merasakan kelihayan kita. Hemm totok jalan darah pulasnya dulu." Song Beng Lan segera menyahut dan menotok jalan darah pulas dari Liem Tou. Saketika itu juga Liem Tou hanya merasakan matanya menjadi kabur kemudian tertidur dengan nyenyaknya .

Menanti dia sadar kembali entah sudah lewat berapa saat lamanya, juga tidak tahu kini sudah berada dimana. Dia hanya merasa tempat itu begitu gelap gulitanya sehingga tak sanggup untuk melihat lima jarinya sendiri. Tempat itu begitu gelap serta apeknya sehingga terasa susah untuk bernapas.

Dengan cepat Liem Tou menggerakkan badannya, kiranya seluruh tubuhnya sudah terlepas dari totakan maupun ikatan tali, tidak terasa gumamnya seorang diri.

“Mereka bawa kemana aku ini ?"

Perlahan lahan dia bisa melihat juga keadaan ditempat itu, ditengah keadaan yang sangat gelap secara samar-samar terlihat olehnya kalau dia kini berada dalam sebuah gua yang penuh lumpur didepan gua terdapat sebuah ruji-ruji kayu yang sangat besar sekali sebagai penghalang jaIan, tapi diluar gua itupun kelihatan tidak terdapat sedikit sinarpun juga.

Tangannya dengan perlahan lahan didorong kearah kayu- kayu perintang jalan itu, tapi walau sudah didorong sekuat tenaga kayu tersebut tetap tidak gemilang sedikit pun juga kuatnya laksana batu. Melihat hal itu Liem Tou menjadi amat gusar, campur dahaga yang makin lama semakin tidak kuat untuk ditahan, teriaknya dengan gusar.

“Hey kalian manusia bangsat yang tidak tahu malu. . . kamu bawa aku ketempat apa ini ?” Hey pengemis busuk kamu jangan bersembunyi aku Liem Tou tak kan memberikan kitab pusaka To Kong Pit Liok itu kepadamu."

Sekalipun dia sudah berteriak sehingga tenggorokannya terasa sakit tiada seorangpun yang menyahut atau menggubris, bahkan suara yang aneh sedikitpun tak terdengar. Hal ini membuat Liem Tou menjadi gemas pikirnya dalam hati.

“Jika mereka kurung aku ditempat ini tanpa mau gubris aku lagi lama kelamaan aku bisa dimatikan dengan perlahan..

Aduh. . . Aduh. perutku mulai merasa lapar”

Baru saja dia berpikir sampai disini mendadak dari tempat kejauhan secara samar-samar berkumandang datang suara tindakan kaki yang sangat perlahan kemudian disusul dengan munculnya sinar merah yang samar-samar.

Semangat Liem Tou tidak terasa muncul kembali dengan tergesa gesa dia bangkit berdiri menempel pada pagar kayu yang besar itu untuk menengok kedepan, sinar merah itu makin perlahan semakin menajam semakin lama semakin mendekat. Tidak tertahan lagi teriak Liem Tou dengan keras.

"Hey Siapa itu ? cepat kalian lepaskan aku keluar” Terlihat sesosok bayangan manusia berkelebat Song Beng

Lan dengan membawa dua orang lelaki kasar yang bertubuh kuat dengan membawa obor berjalan mendekat, melihat hal itu Liem Tou semakin gusar, teriaknya.

"Hey kamu bajingan cabul kenapa kurung aku ditempat ini

?"