Raja Silat Jilid 08

 
Jilid 08

Perkataannya Liem Tou ini sebetulnya keluar dari hati sanubarinya siapa tahu gadis berbaju putih itu hanya tertawa ringan ujar nya.

"Siauwko, apa itu jago2 dari Bu Lim ?? Apa mereka lihay semua, tapi aku takkan takut."

Liem Tou tak bisa bicara apa apa lagi sambil berjalan disamping tubuhnya mereka melanjutkan perjalanannya kedepan sedang gadis itu pun mulai menggerakkan seruling pualam di tangannya memberi tanda pada kawanan domba dibelakangnya, demikianlah mereka mulai melanjutkan perjalanannya menuju keluar.

Terlihatlah jalan raya dipenuhi dengan kawanan donba yang sangat banyak sehingga mengganggu perjalanan dari orang orang lain seluruh jalan raya hanya terlihat serombongan berwarna hitam yang berjalan dengan perlahan- lahan.

Gadis berjubah putih itu sambil berjalan sambil tertawa, dia sungguh sungguh menganggap Liem Tou sebagai saudaranya sendirl sedang terhadap domba dombanya yang menutupi jalan raya sama sekali tak mau ambil perduli.

Sebaliknya dalam hati Liem Tou terus menerus sedang memikirkan hilangnya kitab pusaka "Toa Loo Cin Keng serta

`gilanya' Ie Cicinya itu bahkan dalam hati sedang memikirkan cara yang baik dan sempurna untuk kembali keatas gunung Ha Mo San untuk bertemu dengan Ie cicinya, karena itulah dengan berdiam diri dia melanjutkan perjalanan bersama sama dengan gadis berbaju putih itu.

Lewat lagi beberapa waktu lamanya mendadak dari belakang tubuh mereka berkumandang datang suara derapan kaki kuda yang sangat ramai sekali, untung saja telinga dari gadis berbaju putih itu sangat tajam, ujarnya dengan cepat sambil tersenyum.

"Siauwko dari belakang kita muncul enam penunggang kuda.

Mendengar perkataan itu Liem Toa menjadi sedikit heran, pikirnya.

"Bagaimana dia bisa mendengar kalau yang datang adalah enam ekor kuda?"

Tidak terasa matanya dipentangkan lebar lebar agaknya dia tidak percaya terhadap perkataan ini. Mendadak gadis berbaju putih itu seperti juga sedang teringat sesuatu ujarnya lagi.

“Koko, kamu orang apa mau menghilangkan kemangkalan didalam hati?"

Liem Tou semakin dibuat bingung oleh perkataannya ini, dengan melongo dia memandangi wajah gadis yang terlapis oleh topeng berwarna kuning itu, saat itu suara derapan kuda semakin santar baru saja Liem Tou menoleh kebelakang terlihatlah tidak lebih tidak kurang enam orang penunggang kuda dari jauh berlari mendatang membuat debu mengepul memenuhi angkasa.

Melihat mereka itu tidak terasa hati Liem Tou menjadi bergerak, pikirnya.

"Apa mungkin mereka?"

Begitu terpikir akan hal ini tanpa sadar lagi air mukanya sudah terjadi perubahan yang sangat hebat sedang hatinyapun ikut berdebar dengan keras, gadis berbaju putih yang berada disisinya ketika melihat perubahan itu dengan gugup tanyanya.

"Hey Siauw ko sudah terjadi urusan apa? Ooooh aku teringat kembali, mungkin yang kau ceritakan itu sudah datang?" Liem Tou yang sedang memusatkan seluruh perbatiannya pada para penunggang yang makin lama makin mendekat itu hanya menjawab seenaknya saja terhadap perkataan gadis berbaju putih itu.

"Mungkin benar, tapi sebelum melihat dengan jelas siapa mereka mereka itu aku tidak mau ambil kesimpulan dengan cepat."

"Yang datang ada enam orang" ujar gadis itu dengan cepat" yang pertama agaknva usianya paling muda kurang lebih baru dua puluh tahunan sedang yang berada dibelakang merupakan orang orang dari usia pertengahan, Oooh ada

orang yang sudah berusia lima puluh tahunan pada pingganguya terikat seuntai kain merah.”

Mendengar perkataan itu Liem Tou menjadi sangat terkejut. tanyanya dengan penuh perasaan heran.

“Bagairnana?? apa kamu sungguh sungguh bisa melihat? orang itu apa betul punya beutuk seperti apa kamu bicarakan sekarang ini??”

“Aku tidak akan menipu kamu” ujar gadis berbaju putih itu dengan manja.

Semua ini memang sungguh2 jika dilihat sikapmu yang sangat cemas agaknya kamu orang takut dengan mereka yaaah?? jangan takut, Siauw ko kita harus melanjutkan perjalanan seperti tidak ada urusan apapun, semua urusan serahkan saja pada diriku.”

“Orang orang itu semuanya memiliki kepandaian silat yang sangat tinggi, kamu merupakan seorang gadis yang lemah bagaimana bisa menahan serangan mereka, tidak mungkin , tidak mungkin, saat ini aku masih tidak ingin dikenal oleh mereka.” "Hi hi.. kiranya kamu adalah seorang gentong nasi" ujar gadis itu sambil tertawa ringan. “Seorang lelaki sejati kenapa harus takut pada

manusia?"

Liem Tou yang disindir demikian tidak tertahan saking jengkelnya membuat seluruh tubuhnya gemetar keras, ujarnya dengan suara

seperti geledek.

"Kamu orang tidak usah menyindir diriku, kalau nanti mereka datang kamu orang tidak usah ikut campur biarpun ini hari aku harus binasa ditangan mereka tetapi aku Liem Tou tak akan jeri sedikitpun juga"

Liem Tou yang tanpa sadar sudah menyebutkau namanya sendiri, membuat hatinya secara mendadak merasa sangat terkejut, pikirnya.

"Aduh . kenapa aku menyebutkan namaku sendiri?"

Siapa tahu gadis berbaju putih itu mendadak tertawa manis ujarnya.

"Perkataan Liem koko sendiripun tidak salah ayahku sendiri pernah bilang bahwa seorang lelaki sejati memang harus bersikap begini, biarlah aku beritahu padamu, aku bernama Lie Wan Giok puteri dari ayahku, karena satiap harinya pekerjaanku hanya mengangon domba, maka orang lain menyebut aku sebagai Mu Jang Giok Li atau gadis cantik pengangon kambing".

"Apa maksud dia memberi tahu namanya?? "Pikir Liem Tou dalam hati, belum sempat dia buka mulut untuk bicara, sigadis cantik pangangon kambing itu sudah menampakkan lagi sambil tertawa.

"Liem koko, kau legakanlab hatimu ayahku pergi merebut kitabmu itu tidak lain hanyalah omongan guyon saja, bahkan ayahku mamerintahkan diriku untuk mengambilkan kitab tersebut kepadamu."

Sambil berkata dari dalam sakunya dia mengambil sejilid kitab yang sangat tipis dan diserahkan Liem Tou, ujarnya.

"Liem koko coba kau lihat, bukankah ini?"

Dengan cepat Liem Tou rnenerima kitab tersebut dari tangan gadis itu, ketika memandang terlihatlah kitab itu tidak lain adalah kitab pusaka "Toa Loo Cin Keng" yang dicuri kakek tua kemarin malam membuat dia segera menjadi tertegun dan memandang sigadis cantik pengangon kambing Lie Wan Giok dengan melongo sedang dalam hatinya berpikir ubek ubekan mencari maksud yang sebenarnya dari gadis tersebut.

Saat itu sigadis cantik berbaju putilt itu sudah bicara lagi. "Liem koko bila ada pertanyaan lain kali saja bicarakan,

coba kamu dengar mereka sudah semakin dekat. Kalau kamu

tidak ingin dikenali oleh mereka cepat pergunakan topengmu itu. sekalipun dalam hati kamu orang gemas dan benci kepada mereka tapi kesempatan dikemudian hari masih sangat banyak, biarlah kali ini Siauw moay yang menggoda mereka.”

Dalam hati Liem Tou tahu benar benar kalau Pouw Cungcu sekalian sudah menganggap kalau dirinya sungguh sungguh sudah binasa tenggelam disungai bilamana sampai saat ini ditemui mereka mungkin sekali akan mendapatkan cemoohan dan ejekan yang menusuk hati, daripada harus menerima penderitaan itu jauh lebih baiknya kini sembunyikan wajahnya terlebih dahulu dikemudian hari bilamana kepandaian silatnya sudah berhasil dilatih untuk membalas sakit hsti masih punya banyak kesempatan.

Sesudah berpikir sampai disini Liem Tou tidak kukuh lagi dengan pendiriannya, dengaa cepat topengnya dipakai diatas wajahnya membua air mukanya didalam sekejap saja sudah berubah menjadi seorang lelaki berusia partengahan dengan wajah berwarna kehijau hijauan bahkan kelihatan sekali keseramannya.

Sesaat dia selesai menggunakan topeng itu derapan kaki kuda sudah semakin dekat lagi hanya didalam sekejap saja si cambuk sakti sekalian akan tiba disana, mau tak mau hati Liem Tou berdebar keras juga.

Ujar Lie Win Giok dengan perlahan.

"Kita harus jalan seperti biasa, jangan sekali kali melihat mereka walau sekejap pun"

"Kamu orang akan menggunakan cara apa untuk menghadapi mereka?"

"Ini urusanku!'

Mendadak suara ringkikan kuda yang panjang berkumandang dari belakang tubuh mereka, ujar Lie Wan Giok lagi dengan perlahan,

"Liem koko, ilmu menunggang kuda dari mereka sungguh sangat sempurna walaupun didalam keadaan yang sangat cepat mereka masih bisa menahan kendali mereka"

Pembicaraannya ini seperti saja dia melihat dengan mata kepala sendiri, membuat Liem Tou tidak tertahan menoleh sekejap kebelakang, terlihatlah Pouw Siauw Ling sudah berada dibelakang tubuh mereka berdua, begitu

melihat Liem Tou menoleh, mendadak bentaknya, "Cepat minggir!”

“Hey Siauwko" seru sigadis cantik pengangon kambing itu dengan nada sedikit mengomel “Sudah aku katakan jangan menoleh, kenapa sengaja kamu menoleh juga?"

Pouw Siauw Ling yang tidak mendengar suara sahutan dari mereka berdua segera teriaknya lagi dengan keras. "Hee..kalian berdua cepat singkirkanlah kambing kambing kalian kepinggir, dengan menghalangi jalanan begini kalian suruh kami harus lewat dengan cara bagaimana ?"

Liem Tou serta sigadis cantik pengangon kambing itu dengan masing masing menunggang kerbau serta kambingnya dengan langkah perlahan tetap melanjutkan perjalanannya kedepan, mereka sama sekali tak mau ambil perduli terhadap teriakan Pouw Siauw Ling itu.

Melihat mereka sama sekali tak mau gubris hawa amarah dari Pouw Siauw Ling semakin memuncak, bentaknya dengan gusar.

"Hey dua anjing didepan cepat menyingkir, Toayamu sekalipun _mau lewat kalau tidak jangan salahkan kami akan menerjang kawanan kambing kalian hingga binasa semua."

Dua orang itu tetap tidak menggubris. Dengan mengerang gusar teriak Pouw Siauw Ling lagi,

“Dua manusia laki perempuan yang tak tahu diri, kalian jangan menyesa1"

Mendadak terdengar suara pekikan kuda yang sangat panjang disusul dengan suara bentakan Pouw Siauw Ling.

Liem Tou hanya merasakan sambaran segulung angin yang keras berkelebat dibelakang tubuhnya, dia tahu begitu bicara biasanya Pouw Siauw Ling tentu melaksanakan perkataannya dan kini sungguh2 dia menerjang kearah kawanan kambing tak terasa hatinya merasa sangaz terperanjat.

Ketika ia menoleh kearah sigadis cantik pengangon kambing itu terlihat sikapnya masih tenang tenang saja tanpa gugup sedikitpun, bahkan masih tetap melanjutkan perjalanannya ke depan.

Pada saat pikiran Liem Tou sedang berputar keras itulah Pouw Siauw Ling sudah menerjarg hingga dibelakang tubuh orang itu, Liem Tou hanya merasakan sambaran angin yang sangat tajam kearah tubuhnys.

Mendadak si gadis cantik pengangon kambing itu tertawa ujarnya.

"Liem koko, coba kau libat."

Sambil berkata pinggangnya yang ramping sedikit ditarik kebelakang sehingga pundaknya sekonyong konyong menempel pada punggung kambing dan pada waktu yang bersamaan pula Pouw Siauw Ling sudah menerjang datang pada saat kritis itulah tangan dari gadis cantik pengangon kambing itu diangkat, seruling pualam ditangannya dengan tepat menotok kepala dari kuda tersebut.

Kuda tersebut yang secara mendadak mendapatkan serangan dahsyat menjadi sangat terkejut sambil meringkik panjang dua kaki depannya mendadak mengangkat keatas, gadis cantik pengangon kambing itu tidak mau membuang kesempatan ini, tangannya sedikit digetarkan seruling pualamnya sudah menotok kearah perut kuda tersebut, memaksa kuda ttu menjungkir dan rubuh keatas tanah dengan empat kaki diatas.

Pouw Siauw Ling yang melihat kudanya rubuh dengan gerakan tubuh yang sangat lincah mendadak melayang keatas dengan cepatoya sehingga terhindar dari tindihan tujuh kuda itu, air mukanya sudah berubah merah padam saking gusarnya.

Tetapi hanya sekejap saja air mukanya sudah pulih pada senyuman riangnya, waktu itulah tepat Liem Tou sedang menoleh kearahnya begitu

melihat senyuman tersebut hatinya jadi panas dia ingat betul betul akan senyumnya ini hanya didalam sekejap saja bayangan ketika dia dianiaya oleh Pouw Siauw Ling memenuhi seluruh benaknva, mendadak mulutnya dengan capat mengucapkan kata "Beng" dari delapan kata rahasia itu. Kerbau tunggangannya dengan cepat mundur kebelakang hingga Liem Tou merasa sudah cukup mendadak bentaknya dengan keras.

"Beng" Kerbaunya dengan cepat memutar kebelakang dan tepat menerjang dimana Pouw Siauw Ling berdiri, bentak Liem Tou lagi.

"Tong” Kerbaunya menundukkan kepalanya sehingga tanduknya dipersiapkan kedepan, kemudian dengan ganasnya menanduk tubuh Pouw-Siauw Ling, melihat keadaan yang sangat barbahaya dengan seluruh kekuatan Pouw Siauw Ling meloncat kesamping serunya dengan gusar. 

“Kurang ajar . . , . kurang ajar ...”

Dari pinggangnya dengan cepat dia menurunkan cambuk panjangnya tangannya sedikit digerakkan cambuknya siap disapu kedepan, mendadak dari tempat kejauhan terdengar suara teriakan seseorang.

“Ling Jie, tahan..”

Terlihat si cambuk sakti basarnya Liong Ciang Houw Jiauw, Siang Hui Hok berlari mendatang tanyanya dengan cemas.

"Ling jie, sudah terjadi urusan apa?"

Saat ini saking gemasnya Pouw Siauw Ling tidak bisa mengucapkan sepatah katapun lama lekali barulah sahutnya.

“Mereka - mereka terlalu menghina orang."

Pouw Peng, Pouw Liang dari Siang hui hok yang selamanya jadi orang paling berangasan begitu mendengar perkataan ini segera menjadi gusar, masing2 meloncat turun dari kudanya dari berjalan menerjang kearah Liem Tou.

Baru saja Liem Tou akan memberi perintah pada kerbaunya untuk melancarkan serangan mendadak si gadis cantik pengangon kambing itu muncul dari belakang tubuhnya, sambil menghalangi perjalanan dari Siang Hui Hok, ujarnya sambil menuding kearah Pouw Siauw Ling.

“Kalian jangan mau dengar omongannya, dengan jelas tanpa perduli mati hidup orang lain dia memerintahkan kudanya menerjang kami kini masih bilang orang lain yang menghina dia sungguh tidak tahu malu.”

Sambil berkata ujarnya pada Liem Tou.

“Koko muka hijau tidak usah peduli mereka lagi mari kita pergi.”

Sejak kecil Pouw Siauw Ling sudah terbiasa dengan sifat ingin menang dan sombong, kini dihina secara begini mana bisa meuerima, sambil membentak keras ujarnya .

“Hui Hok Jie siok harap tunggu sebentar, ini hari keponakanmu harus membasmi kedua anjing laki perempuan ini” sambil berkata cambuknya dengan menggunakan jurus Sin Liong Pok Wi atau naga sakti menggoyangkan ekor menghajar kearah leher Liem Tou yang masih berada diatas punggung kerbau.

Sebenarnya sigadis cantik pengangon kambing itu memang berdiri ditengah antara Liem Tou serta Siang Hui Hok.. begitu serangan cambuk dari Pouw Siauw Ling dilancarkan kearah Liem Tou maka serangan itu harus melewati samping tubuh Lie Wan Giok terlebih dulu terlihatlah secara meadadak dia mengangkat serulirg pualamnya dan diketuk dengan perlahan disamping cambuknya, ujarnya sambil tertawa.

"Koko muka hijau kamu orang turun tangan terlalu berat, sedikit-sedikit saja sudah bunuh orang kali ini biarlah siauw moay yang menerima."

Serangan dari Pouw Siauw Ling ini sebetulnya sudah menggunakan tenaga penuh, dalam anggapannya dalam satu kali serangan saja sudah cukup menjirat Liem Tou, hingga jatuh dari punggung kerbaunya, tahu hanya cukup ketokan perlahan dari seruling pualam Lie Wan Gok seperti juga secara mendadak canmbuknya diputus dari tengah dengan dahsyat sekali

ujung cambuknya melibat kembali menyapu kesamping tubuh Siang Hui Hok.

Pouw Siauw Ling segera sadar sudah bertemu dengan musub tangguh, didalam keadaan yang tergesa gesa itu dengan cepat disentaknya kembali cambuk bajaya, teriaknya dengan keras.

"Tia, paman2 sekalian harap berhati hati, kepandaian dari sepasang laki perempuan sangat dahsyat . mereka bukan tandingan kita."

Mendcngar perkataan itu si gadis cantik pangangon kambing menjadi tersenyum ujarnya.

"Ling jie, jadi kamu baru tahu akan hal ini?? ooh - kasihan .

. kasihan . , mari coba lagi"

"Nenek muka kuning …kamu bilang saya apa ?" teriak Pouw Siauw Ling aemakin gusar.

"Bukankah kamu bernama Ling-jie ?"

Saking gusarnya kontan saja air muka Pouw Siauw Ling berubah menjadi kehijau hijauan, tanpa perduli musuhnya itu lihay atau tidak tubuhnya dengan cepat berkelebat cambuk baja di tangannya dengan sekuat tenaga diayun kedepan, tenaga murninya dipusatkan pada cambuk sehingga cambuk itu berubah menjadi sebuab tombak panjang berwarna kehijau-hijauan, kemudian dengan menggunakan jurus Tok Coa To Sim atau ular beracun mengulur lidah dengan sangat dahsyat menusuk tenggorokan si gadis cantik pengangon kambing itu.

Dengan sangat cepat sekali cambuk baja itu mendekati tubuhnya, tetapi sigadis cantik pengangon kambing itu tidak ambil gubris, sambil tetap tertawa ujarnya lagi. "Aaai . . tidak kusangka kepandaianmu lumayan juga.”

Perkataan sigadis cantik pengangon kambing itu baru saja selesai ujung cambuk tersebut sudah tiba, jika dia betul2 membiarkan cambuk itu menusuk tubuhnya walaupun kepandaian gadis cantik pengangon kambing itu jauh

Lebih tinggi juga sukar untuk menahannya.

Pada saat ujung cambuk Pouw Siauw Ling hampir mangenai tubuhnya itulah didalam keadaan yang sangat kritis tangan gadis itu diulur kedepan, kecepatannya sangat luar biasa sehingga orang2 yang hadir dikalangan tak ada yang melihat dengan jelas.

Pouw Siauw Ling hanya merasa ujung cambuknya sudah terjepit oleh dua jari gadis tersebut.

Pouw Siauw Ling menjadi sangat terperanjat, dengan cepat dia berusaha menarik kembali cambuk bajanya, siapa tahu walau pun sudah mengerahkan tenaga dalam yang dia miliki itu cambuk tetap tidak bergeming sedikitpun.

Sampai waktu itulah gadis cantik pengangon kambing itu baru tersenyum ujarnya,

"Eh eh .. Ling jie kenapa kau?? masih tidak kau lepas tangan? dengan i1mu silat cakar ayammu itu masih terpaut jauh jika ingin mengadu tenaga dalam dengan aku"

Waktu itu Pouw Siauw Ling benar2 serba salah untuk lepas tangan sudah tentu tidak mungkin bisa dilakukan sebaliknya untuk mencabut kembali cambuknya tidak sanggup, saking cemas dan bingungnya tidak terasa !agi air mukanya berubah merah padam. Mendadak dengan gusar bentaknya dengan keras.

“Nenek muka kuning..aku mau adu jiwa sama kamu orang.” Sehabis berkata dia menggigit kencang bibirnya dengan memperlihatkan wajah mau mengadu jiwa dengan seluruh kekuatan dia menarik cambuknya kebelakang, mendadak tenaga dalamnya berubah dengan meminjam tenaga si gadis cantik pengangon kambing yang sedang bertahan mendadak tenaganya didorong kedepan.

Si gadis cantik pengangon kambing itu tidak disangka Pouw Siauw Ling bisa menggunakan siasat busuk seperti itu, tangannya sedikit tergetar hampir hampir saja tak sanggup untuk bertahan dan kena siasat beracunnya.

"Hmm..kamu sendiri yang cari penyakit”

Mendadak„..tangan sebelahnya yang mencekal seruling pualam dengan sangat dahsyat, memukul keatas cambuk bajanya itu. Criing . . . , kemudian disusul dengen jeritan mengaduh dari Pouw Siang Ling sepasang tangannya tergetar oleh tenaga pantulan itu membuat telapak kontan pecah mengucur keluar darah segar dengan derasnya.

Liem Tou yang berdiri disamping bisa melihat kajadian ini dengan sangat jelas sekali, dia melihat Pouw S:auw Ling yang selalu menyiksa dan menganiaya dirinya sejak kecil kini memperoleh penderitaan dalam hati menjadi sangat girang sekali, bersamaaan pula dia punya anggapan yang lain terhadap gadis cantik pengangon kambing ini.

Tidak disangka olehnya seorang gadis cantik yang bagitu lemah lembut bisa memiliki tenaga dalam yang begitu sempurnanya, diam-diam dia merasa terkejut bercampur heran bahkan ketika teringat kembali pada sikakek tua yang tersesat "Hui Tui Jie" jika betul betul dia adalah ayahnya maka kepandaiannya sudah tentu jauh lebih luar biasa lagi.

Sampai saat ini barulah dia teringat kembali perasaan herannya sewaktu mendadak melihat elang raksasa yang menguntit dirinya sejak dari lembah cupu cupu secara mendadak bisa rubuh binasa dengan sendirinya, hal ini tentu merupakan pekerjaan dari kakek aneh" Hui Tui Jie" itu secara diam diam.

Sewaktu Liem Tou berpikir dengan nikmatnya itu mendadak terdengar si Ang in sin pian Pouw Sak San sudah angkat bicara ujarnya.

"Cayhe adalah Sak San Cung cu dari Ie Hee Cung diatas Cing Jan, putraku tidak hormat harap nyonya memaafkan. Tolong tanya juga siapa nama besar dari nyonya?”

Dengan cepat Liem Tou menoleh, tampaklala saat itu si Ang in sin pian sedang merangkap tangannya memberi hormat sedang sigadis cantik pengangon kambing itu sedang merasa bingung, bagaimana seharusnya berbuat, hatinya

kelihatan sangat tidak tenang juga tidak berbicara sepatah katapun, mendadak dia putar tubuhnya bertanya kepada Liem Tou.

"Koko muka hijau, dia minta maaf kepadaku kamu orang kira bagaimana enaknya?"

Teringat kembali oleh Liem Tou keadaan sewaktu dia diusir dari atas gunung Ha Mo San, segera teriaknya dengan keras.

"Moay moay muka kuning, orang ini pura - pura gagah . . pura pura berbudi kamu harus berhati hati terhadap bokongannya."

"Baiklah. " sigadis cantik pengangon kambing itu kemudien

."Kalau begitu biar aku coba coba kepandaiannya, aku mau lihat dia bisa berbuat apa”

Sesudah mengucapkan kata kata itu barulah dia putar tubuhnya kembali, kepada si Ang in sin pian sahutnya.

“Kamu tidak usah tanya aku lagi. sekalipun kamu orang merengek rengek aku juga tidak akan menyebut namaku, jika kamu ingin bergebrak, tentu aku melayani ." "Aku bukan maksudkan begitu," ujar Ang sin pian dengan suara halus.

"Nyonya kepandaian silat yang sangat tinggi saat ini juga sudah berada diatas angin. kenapa tidak mau meminggirkan kambing kambing itu sedikit

kesamping agar cayhe bisa lewat? Buat apa karena urusan yang sangat sepele sampai terjadi bentrokan satu sama lainnya? "

“Tidak mungkin, kalian semua merupakan manusia manusia tidak berbudi manusia manusia kasar, kalian ingin merebut jimat koko muka hijauku, aku harus hajar kalian semua."

Ketika Si Ang in sin pian Pouw Sak San melihat gadis cantik pengangon kambing itu bicara tidak pakai aturan air mukanya segera berubah sangat hebat, pada alisnya pun secara samar samar mulai muncul hawa napsu untuk membunuh, sambil memandang tajam gadis cantik pengangon kambing itu ujarnya„

"Kamu orang sungguh sungguh mau berhantam? siapa betulnya kamu? diantara kita tidak ada ganjelan dan sakit hati apa, buat apa kalian begitu ngotot mau memaksa orang??"

Sambil berkata dengan perlahan lahan dia melepaska cambuk merahnya yang dilititkan pada pinggang, melihat hal itu gadis cantik pengangon kambing itu menjerit tertahan, diam diam pikirnya.

“Ohh..kiranya ahli waris dari partai itu ."

Semangatnya menjadi berkobar kembali, pecut baja yang dirampas dari Pouw Siauw Ling tadi dengan cepat disentakkan keatas udara sehingga menimbulkan suara yang menderu- deru, kenada Ang in sin pian Pouw Sak San teriaknya.

"Ayahku pernah bilang pada dua puluh tahun yang lalu pernah muncu1 sebuah cambuk merah didalam Bu Lim, kepandaiannya sangat lihay sekali sehingga banyak jago2 dari dunia kangouw yang dikalahkan ditangannya, kemudian secara mendadak melenyapken diri dari keramaian Bu lim, kini kamu juga menggunakan cambuk merah ini, apa mungkin kamu orang punya hubungan dengan dia ?"

Mendengar perkataan itu Ang in sin pian Pouw Sak San menjadi melengak, ujarnya.

"Jika didengar perkataanmu itu dia memang suhu cayhe, siapa ayahmu?”

"Ha ha ha . bicara selama setengah harian lamanya tak tahu kiranya kamu marid dari bajingan besar perampok kaki tunggal itu, kamu mau tanya siapa ayahku belum memadahi."

Beberapa patah perkataan ini seketika mernbuat Ang in sin Pouw Sak San menjadi sangat gusar, seluruh rambutnya pada berdiri matanya melotot keluar dengan besarnya sedang mulutnya tak henti2nya mendesis.

Ujar gadis cantik pengangon kambing itu lagi.

“Entah kamu orang punya kepandaian silahkan keluarkaa semua, ayahku bilang pada tiga puluh tahun yang lalu dia tak sempat menemui perampok besar itu, ini hari aku bisa bertemu dengan muridnya sudah seharusnya minta pelajaran beberapa jurus cambuk merahnya, aku mau lihat apa betul dia sangat lihay."

Kemudian bentaknya nyaring. "Cepat keluarkan jurus2mu."

Ang in sin pian Pouw Sak San tidak bisa menahan diri lagi, tangannya diulapkan menyuruh Pouw Siauw Ling serta para pembantunya mundur kebelakang, kemudian sambil tertawa dingin ujarnya.

“Nenek muka kuning kamu kira aku betul2 jeri sama kamu orang ??? kali ini kamu yang cari gara gara terhadap diriku jangan salahkan aku Ang In Sin Pian Pouw Sak San berlaku telengas dan kejam terhadap kamu."

Sehabis berkata bentaknya dengan keras, "Terimalah seranganku."

Cambuk merahnya diayun kedepan mendadak terpancar sinar merah yang memenuhi angkasa. Gadis pengangon kambing itu tidak berani berayal lagi cambuk bajanya digetar keatas, dengan menimbulkan bayangan cambuk yang bersusun2 menyambut datangnyaserangan itu semuanya.

"Jurus ini merupakan ilmu cambuk buntut harimau, tiada keindahannya sama sekali."

Tubuh Ang in sin pian Pouw Sak San dengan cepat berputar. ujung cambuknya diputar kemudian ditarik didalam sekejap mata saja cambuk panjangnya dengan mengeluarkan 'selapis sinar merah’ dengan lurus menusuk kedepan, gerakkannya mirip seekor ular emas yang sedang mematuk mangsanya, dengan tepat menerjang masuk tubuh gadis cantik pengangon kambing itu.

Gadis cantik pengangon kambing itu hanya tersenyum saja, tubuhnya berturut-turut mundur dua langkah kebelakang mendadak bayangan putih berkelebat dengan satu gerakan yang sangat indah tubuhnya melayang beberapa kali di tengah angkasa. cambuk bajanya dengan meminjam gerakan ita menekan keatas kepala Pouw Sak San ujarnya.

“Ilmu cambuk ular malas juga tidak aneh."

Perkataannya belum selesai angin serangan Ang in sin pian Pouw Sak San menarik kembali cambuk merahnya, tenaga dalamnya dengan cepat dikerahkan pada pargelangan tangan cambuk panjang itu sekali lagi melilit keatas kepalanya, tatapi baru saja melilit satu lingkaran cambuk panjang itu mendadak melurus kedepan dengan jurus "Kie Hwee Sauw Thian' atau menyulut api membakar langit cambuknya membumbung tinggi keangkasa kemudian menekuk menotok tubuh gadis cantik pengangon kambing itu.

Liem Tou yang berdiri disamping ketika melihat tubuh gadis itu masih berada diangkasa sudah mendapatkan serangan dahsyat tidak terasa merasa sangat kuatir sekali.

Siapa tahu kepandaian silat dari gadis cantik pengangon kambing itu betul2 sangat lihay dan sudah mencapai pada kesempurnaan, bayangaa cambuk Pouw Sak San baru saja tiba seruling pualam ditangan kiri gadis dengan tidak menimbulkan sedikit suarapun sudah sedikit menutul diatas tubuh cambuk merah itu, dengan meminjam tenaga ini tubuhnya melayang pergi bersamaan pula cambuk baja ditangan kanannya mendadak melilit keatas pergelangan Pouw cungcu, mulutnya tetap berteriak.

"Jurus Kiem Ling Pian Hoat ini masih belum sanggup untuk menahan diriku.”

Saat itu berturut-turut Ang in sin pian Pouw Sak San melancarkan tiga serangan sekaligus dengan menggunakan tiga macam ilmu cambuk yang berbeda, bukan saja semua jurus serangannya mencapai sasaran kosong bahkan setiap ilmu cambuk yang dia gunakan bisa diketahui orang lain dengan begitu jelasnya tidak tertahan hatinya merasa terkejut juga, pikirnya.

"Nenek muka kuning ini sungguh hebat sekali dengan kepandaian silat yang dimilikinya sekarang ini boleh dikata merupakan seorang jago yang sangat terkenal didalam dunia kangouw, bisa kuingat slapa yang bisa memadahi kepandaian silatnya ini."

Berpikir sampai disini mendadak ilmu cambuknya berubah lagi, hanya didalam sekejap mata saja bayangan cambuk bagaikan gunung, mendadak berubah kembali bagaikan mega2 merah yang melayang rendah dipermnukaan tanah dengan perlahan lahan mengurung tubuh sigadis cantik pangangon kambing itu.

Melihat serangan yang sangat dahsyat inilah gadis cantik pengangon kambing ini baru memuji.

"Hmm cambuk yang hebat."

Dengan cepat cambuk bajanya melancarkan serangan dahsyat pula dengan gerakan cepat menyambut gerakan cepat menahan serangan musuh, didalam sekejap saja beberapa kaki sekeliling tempat itu hanya terasa angin cambuk yang menderu deru, diantara bayangan merah dan kuning bayangan manusia bergebrak tidak terpisahkan, sampai akhirnya samakin bertempur semakin cepat - - - semakin cepat semakin seru sehingga bayangan dari Pouw Sak San serta gadis cantik pengangon kambing itu tidak bisa dibedakan lagi, pasir serta kerikil pada beterbangan. Debu mengepul naik membumbung ke angkasa membuat pandangan hadirin menjadi buram, untuk membedakan mana hitam mana merah sudah sangat sukar sekali.

Liem Tou, Pouw Siauw Ling, Siang hui hok, Hauw jiauw serta Liong ciang yang menonton jalannya pertempuran disamping menjadi begitu

terpesonanya, mareka mamandang ketengah termangu mangu matanya melotot keluar dengan bulatnya, hatinya berdebar debar keras sedang keringat dingin mengucur keluar dengan derasnya.

Beberapa ssat kemudian tiba tiba Ang in sin pian Pouw Sak San mnjerit keras kedua orang yang sedang bertempur dengan serunya itu secara mendadak berpisah. Gadis cantik pengangon kambing itu dengan tertawa merdu berdiri disamping dengan tenangnya sedang si Ang in sin pian Pouw Sak San dengan air muka yang sudah berubah dingin kaku bardiri tertegun disana, untuk sesaat tidak sepatah katapun yang bisa diucapkan keluar, sepasang matanya itulah yang sudah kehilangan sinar terang, yang melotot keluar dengan besarnya.

"Budi kebaikan nyonya tidak sampai turun tangan jahat cayhe merasa sangat berterima kasih. Tapi aku Ang in sin pian sejak berpisah dari suhuku sekalipun sangat jarang berkelana didalam dunia kangouw tetapi mengingat kebesaran dari nama suhuku pada masa yang silam aku parcaya didalam dunia kangouw selain beberapa orang cianpwee yang bisa mengeluarkau ilmnu cambuk Ang In Pian hoat sukar untuk dicari yang lain, sebetulnya nyonya berasal dari partai mana

??? apa boleh cayhe ketahui ?"

"Ayahku pernah bilang kalau kami tidak suka berebut dengan orsng2 dunia kangouw, karenanya tidak punya perguruan maupun partai. Kalau ada juga karena orang lain yang paksa beri kepadakami tetapi orang lain panggil aku sebagai gadis cantik pengangon kambing, kamu boleh ingat2 nama itu saja.”

Mendengar nama sebutan itu dengan mata yang melotot keluar Ang in sin pian Pouw Sak San memandang beberapa saat kearahnya baru saja mau buka mulut memberi jawaban mendadak terdengar Pouw Siauw Lirg yang berada disampingnya sudah berteriak.

"Ayah kamu orang tua jangan mau mendengar omongan setannya, dengan wajahnya yang sudah keriputan dan berwarna kuning bagaimana bisa disebut gadis cantik ? sungguh suatu omong kosong yang sangat besar sekali."

Ketika gadis cantik pengangon kambing mendengar perkataan yang begitu menghina dari Pouw Siauw Ling tidak menjadi marah, kepada Liem Tou ujarnya.

"Koko muka hijau, cepat kamu pejamkan matamu aka mau perlihatkan kembali asalku.”

"Jangan jangan . .." seru Liem Tou dengan cemas. "Kamu jangan sembarangan . . ." Tetapi seorang gadis muka yang cantik siapa yang tidak suka dipuji, tangannya dengan cepat sudah mengusap wajahnya mencopot topeng dari kulit kambing itu, kemudian dengan perlahan lahan menoleh.

Ang in sin pian Pouw Sak San, Pouw Siauw Ling, Siang hui hok, Liong ciang serta Hauw jiauw hanya merasakan pandangannya mendadak menjadi terang, tidak terasa lagi pada menjerit kaget.

"Haaaa???"

“Aaah . . . sungguh cantik. " "Heeey . tidak kusangka."

"Ooh Thian begitu cantik gadis ini."

Enam orang dengan dua belas mata memandang dengan tajamnya memandang gadis cantik pengangon kambing itu tanpa berkedip sedikit pun juga.

Terdengar gadis cantik itu tersenyum, ujarnya. "Eh eh . . . kenapa kalian ? ada apanya yang baik dari aku nenek muka kuning ??"

"Tidak kusangka kamu masih seorang nona yang amat muda."

Sedang Pouw Siauw Ling tidak bisa mengucapkan kata kata lagi, air mukanya sebentar berubah putih kehijau hijauan sebentar berubah kembali jadi merah padam, dengau tajamnya memandangi terus menerus wajah gadis cantik pengangon kambing itu, lama sekali barulah dengan perlahan muncul kembali senyuman ringannya. Dengau perlahan dia berjalan maju kedepan dan membisikkan sesuatu kedalam telinga Ang in sin pian Pouw Sak San.

Sesudah mendengar bisikan itu si Ang in sin pian, Pouw Sak San termenung sebentar, kemudian barulah mangangguk memberi hormat kepada gadis cantik pengangon kambing itu ujarnya.

"Gadis cantik pengangon kambing wajahmu sangat cantik sekali kepandaian silatnyapun sangat tinggi aku Ang in sin pian orang she Pouw

dapat berkenalan kamu orang sungguh merupakan suatu keuntungan, kali ini aku membawa putra serta pembantu2 ku turun gunung sebetulnya bertujuan menyambangi setiap enghiong hoohan yang terkenal didalam dunia kang ouw beserta para Poo Touwcu dari daratan maupun lautan untuk menyetujui usaba cayhe yang baru, yaitu pembukaan ekspedisi "Ang in Piauw Kiok" pada bulan sepuluh yang akan datang cayhe mengundang enghiong hoohan untuk menghadiri perjamuan yang diadakan didesa Ie Hee Cung diatas gunung Ha Mo San, cayhe sampai waktunya sangat mengharapkan saudari gadis cantik pengangon kambing serta Hengtay ini mau menghadiri kampung kami; bagaimana pendapat kalian ?"

Sambil berkata dia mengambil keluar dua pucuk surat undangan besar berwarna merah, dan menanti jawaban dari gadis cantik pengangon kambing itu.

Dengan cepat gadis itu menyambut surat undangan itu kemudian menoleh memandang sekejap kearah Liem Tou, saat itu sepasang mata Liem Tou yang berada dibalik topeng dari kulit kambing itu sedang dipejamkan rapat rapat sedang tubuhnya pun gemetar dengan sangat keras sekali, agaknya dalam hati dia merasa sangat tegang.

Gadis cantik pengangon kambing itu sesudah menerima surat undangan dan melihat keadaan Liem Tou begitu tegangnya tidak terasa tanyanya.

"Koko muka hijau, bagaimana? Kita pergi tidak ?"

Liem Tou yang mendengar si Ang in sin pian Pouw Sak San punya maksud mendirikan usaha ekspedisi "Ang In Piauwkok " bahkan mau dibuka diatas kampung Ie Hee Cung dalam hati betul betul merasa sangat terperanjat. hingga mengenai diundangnya mereka untuk menghadiri pertemuan itu sama sekali tidak dipikirkan kini begitu ditanyai gadis cantik pengangon kambing itu membuat dia menjadi bingung.

Dalam hati diam diam pikirnva.

"Jaraknya dari sekarang hingga bulan sepuluh sangat dekat, saat itu jika kepandaianku belum cukup tidak mungkin bisa melewati tiga rintangan mereka dengan selamat, buat apa aku sanggupi mereka terlebih dulu? Jika waktu itu kepandaiannya sudah berhasil dilatih sekalipun mereka tidak mengundang aku juga mau pergi lihat."

Berpikir sampai disini segera sahutnya. "Pergi atau tidak sampai waktunya baru kita bicarakan lagi.”

"Betul "ujar gadis cantik pengangon kambing itu sambil tersenyum. "Perkataan dari koko muka hijau sedikit pun tidak salah, pergi atau tidak sampai waktunya baru dibicarakan lagi.

Sehabis berbicara seruling pualamnya ditempelkan pada bibirnya dan mulai ditiup, segera terdengariah suara seruling yang lembut dan halus berkumandang diseluruh penjuru, terlihatlah kawanan kambing kambing itu dengan perlahan lahan menyahut dan menyingkir kesamping jalan.

Setelah itu barulah dia melemparkan cambuk bajanya kepada Pouw Siuw Ling, ujarnya. "Ini aku kembalikan senjata rongsokkanmu, cepat ….cepat pergi, lain kali berani kurang ajar lagi hemmm hemmm tidak semudah hari ini."

Dengan perasaan sangat malu dan air muka yang sudah berubah merah padam Pouw Siauw. Ling menerima kembali cambuk bajanya, dengan cepat Ang in sin pian maju kedepan memberi hormat, ujarnya.

“Terima kasih atas kemurahan nona, cayhe sekalian dengan ini mohon diri terlebih dulu, kampung Ie Hee Cung diatas gunung Ha Mo San di Cing Jan kami dengan hormat menanti kunjungan saudara saudara sekalian”

Sehabis berkata dia memberi hormat lagi berulang kali, sesudah itu barulah mengulap tangannya memberi tanda kepada yang lain untuk, segera berangkat.

ooOoo

TERLIHATLAH debu membumbung tinggi keangkasa, suara derapan kuda yang amat ramai dengan perlahan semakin menjauh dan akhirnya lenyap dari pendengaran.

Sesudah bayangan Pouw Sak San sekalian lenyap dari pandangan barulah Liem Tou melepaskan topeng kulit kambingnya itu, dengan memandang bayangan Pouw Sak San sekalian dengan termanngu mangu gumamnya seorang diri.

"Ehmmm akhirnya pergi juga"

Mendengar suara gumaman itu gadis cantik pengangon kambing tersebut mennjadi bingung, tanyanya.

“Liem koko kamu kenal dengan mereka itu?? Jika kamu tidak pakai topeng bagaimana mereka bisa tahu kamu adalah Liem Tou?

Liem Tou yang sedang melamun ketika mendengar perkataan gadis cantik pengangon kambing itu segera meno!eh. Terlihatlah sepasang biji matanya yang bening sedang memandangi dirinya menanti jawaban. Hatinya dengan cepat berputar teringat kembali kalau kepandaian gadis ini sangat tingggi sekali sehinggs Pouw Sak San pun bukan tandingannya, kedatangannya yang sangat mendadak ditambah lagi dengan alasan yang berbeda beda, pertama dia bilang mau cari ayahnya kemudian bilang sedang mengembalikan kitab pusaka " Toa Loo- Cin Keng kepadanya, hal ini jelas sekali sedang berpura pura dan punya maksud tertentu. Berpikir sampai disini perasaan curiga didalam hatinya segera timbul kembali mendadak teriaknya dengan keras.

"Kalau betul nona datang kemari bertujuan mengembalikan kitab pusaka Toa Loo Cin Keng yang diambil ayahmu, aku Liem Tou merasa sangat berterima kasih sekali, kini didepan masih ada urusan yang harus aku selesaikan secepat mungkin, terpaksa aku mohon diri terlebih dulu.”

"Liem Koko," seru gadis itu dengan cemas. 'Kamu mau pergi kemana? Ayahku perintahkan aku sesudah kembaiikan kitab pusaka Toa Loo Cin Keng itu harus mengikuti dirimu, kamu tidak bisa tinggalkan aku seorang diri.”

Liem Tou yang mendengar perkataan dari gadis cantik pengangon kambing itu sangat polos jujur segera berpikir kembali.

“Kakek Hui Tui Jie itu suruh dia mengikuti aku terus sudah tentu sedang mengincar kitab pusaka To Kong Pit Liok-ku itu, kalau tidak masih ada urusan apa?”

Berpikir sampai disini dengan cepat dia menepuk kepala kerbaunya, serunya.

"Hoa”

Kerbaunya serera menyahut dan lari dengan sangat cepatnya kedepan, bersamaan pula Liem Tou menoleh kebelakang sambil sahutnya.

"Kita bukan sanak bukan saudara buat apa berjalan bersama-sama? lebih baik kamu cari bapakmu saja”

Sehabis berkata dengan tidak menoleh 1agi dia melanjutkan perjalanannya, siapa tahu begitu si gadis cantik pengangon kambing itu melihat Liem Tou lari pergi dengan cepat seruling pualamnya ditiup, kawanan kambingnya pun dengan cepat mengikuti dibelakang tubuhnya. Liem Tou yang menunggang kerbau dalam hati merasa sangat geli atas kelakuan gadis cantik pengangon kambing yang mau bertanding lagi dengan kerbaunya, hal ini boleh dikata sedang mimpi, siapa tahu pikiran itu baru berkelebat didalam batinya kemudian terdergarlah suara derapan kaki yang sangat ramai sekali menggetarkan seluruh permukaan tanah. Dengan cepat dia menoleh kawanan kambing yang berjumlah ratusan ekor itu dengan kencangnya lari kedepan membuat debu mengepul memenuhi angkasa bahkan kali ini gadis cantik pangangon kambing itu berada dipaling depan memimpin kawanan kambing peliharaannya.

Melihat kedahsyatannya dari gerakan gadis itu perasaan ingin menang dalam hati Liem Tou segera timbul, sambil mengapit kencang perut kerbaunya dia terus menerus berteriak dengan keras.

"Hoa, hoa, hoa, . "

Sebetulnya kerbau itu memang sedang lari dengan kencangnya kini mendapatkan perintah yang sangat gencar membuat larinya semakin cepat lagi, seperti anak panah yang lepas dari busurnya dengan sangat cepat dia lari kedepan.

Gadis cantik pengangon kambing yarg berada dibelakang ketika melihat kerbaunya Liem Tou lari semakin cepat, seruling pualam yang ditiuppun semakin nyaring lagi. Dalam sekejap mata kawanan kambing itu bagaikan meletusnya gunung berapi seperti juga mengamuknya samudra tertiup angin topan dengan suara memekikkan telinga menguruk kedepan semakin cepat lagi.

Demikianlah kedua orang itu saling kejar mengejar dan lari kedepan dengan kecepatan bagaikan kilat, apalagi gerakan kawanan kambing yang jumlahnya mendekati ratusan itu semakin mengejutkan setiap orang.

Gerakan ini bukan saja mengejutkan rakyat yang tinggal disekitar sana bahkan orang orang yang sedang melakukan perjalananpun merasa sangat terperanjat sehingga air muka mereka pada berubah menjadi pucat pasi, rumah pada ditutup dengan rapatnya sedangkan orang orang pada lari serabutan mencari perlindungan.

Didalam anggapan mereka ada berlaksa laksa tentara sedang menyerbu tempat itu, suasana begitu kacaunya tidak kalah seperti keadaan zaman peperangan.

**o** 6

Sesudah barlari lagi beberapa waktu lamanya didalam anggapan Liem Tou kali ini berhasil meloloskan diri dari kejaran gadis cantik pengangon kambing itu, siapa tahu suara derapan kaki kambing-kambing gadis cantik pengangon kambing itu semakin lama makin mendekat. Saat itulah dia baru tahu kecepatan dari kawanan kambing itu sehingga kini dia sudah kalah satu gerakan darinya, dalam hati benar2 merasa jengkel dan mangkel, mendadak dia menarik kembali tali kerbaunya sambil serunya.

Kerbaunya segera berbenti berlari, terdengar kawanan kambing serta gadis yang berada dibelakangnya dengan cepat sudah menyusul datang.

Sesampainya disamping tubuh Liem Tou seruling pualam itu sekali lagi ditiup gadis cantik pengangon kambing itu untuk menghentikan kambing kambingnya, ujarnya kemudian sambil tertawa.

"Liem koko, sungguh menarik sekali permainan ini.

Bagaimana? Kenapa berhenti?"

"Hey!" ujar Liem Tou yang hatinya semakin jengkel. "Siapa yang mau guyon dengan kamu orang? Aku beritahu padamu sekarang aku tidak punya waktu lagi, kenapa kamu terus menerus saja mengikuti diriku?” 'Liem koko, buat apa kamu marah marah?" ujar gadis itu dengan tersenyum, "Ayahku betul betul suruh aku ikuti dirimu, kalau tidak dengan melihat wajahmu itu aku tidak akan mau bermain dengan kamu"

Liem Tou yang dikatai begitu hatinya semakin mangkel, serunya.

“Ayahmu suruh kamu ikuti aku tidak lebih seperti juga maksud orang yang lain ingin menipu kitab pusaka "To Kong Pit Liok" ku, aku beri tahu padamu, kamu orang jangan harap bisa mendapatkan barang itu”

"Tapi.." bantah gadis itu dengan cepat.

“Ayahku belum pernah suruh aku menipu kitab pusaka 'To Kong Pit Liok" mu itu. Oooh..Liem koko, aku bermain bersama sama kamu tidak akan mandatangkan kerugian terhadap dirimu.

Semakin bicara Liem Tou semakin gusar mendadak bentaknya. “Omonganmu semuanya menipu, aku tidak mau dengar. aku tidak mau deugar lagi, ayahmu mencuri kitab pusaka "Toa Loo Cin Keng" ku tentu dia mengira kitab itu adalab kitab pusaka " To Kong pit Liok" siapa tahu kitab itu bukan, makanya kini suruh kamu datang kesini menipu aku, kamu kira aku bisa ditipu mentah mentah cepat cepat pergi dari sini aku tidak mau bertemu lagi dengan manusia2 tidak jujur hatinya separti kalian.”

Perkataaan yang tajam ini, memaksa gadis cantik pengangon kambing itu hampir hampir menangis dibuatnya tetapi perkataan dari Liem Tou itu memang beralasan dan merupakan urusan yang betul betul sudah terjadi sehingga gadis cantik pengangon kambing betul betul tidak bisa membantah barang sepatah katapun.

Liem Tou yang melihat gadis cantik pengangon kambing itu tetap bungkam ejeknya. “Cantiknya memang cantik seperti bidadari yang turun dari kahyangan, hanya saja hatinya licik sukar diduga.”

Sehabis bicara dia angkat kepalanya memandang keatas udara kemudian siap menjalankan kerbaunya lagi, mendadak ditengah udara yang berwarna biru itu dari tempat jauh muncul suatu titik hitam yang bagaikan kilat cepatnya meluncur datang kemari. Melihat hal itu Liem Tou menjadi tertegun, pikirnya.

“Apa mungkin elang jahanam itu datang lagi?”

Pada saat pikirannya sedang berputar itulah titik hitam itu semakin lama semakin besar, menanti Liem Tou berhasil melihat jelas benda itu hatinya menjadi berdesir serunya dalam hati lagi.

"Celaka baru saja dia mau merintahkan kerbaunva lari kencang ketika dia menoleh terlihatlah gadis cantik pengangon kambing itu sedang mengucurkan air mata dengan derasnya dan duduk tidak bergerak diatas kambingrya sambil memandang kearahnya membuat Liem Tou merasa kasihan.

Sesudah disemprot dengan kata kata yang tajam tadi hatinya betul betul merasa sangat sedih, untuk membawa kambingnya meninggalkan tempat itu sudah tentu tidak mungkin bisa, tetapi untuk tetap mengikuti, Liem Tou juga serba salah.

Bagaimana juga Liem Tou masih tetap sangat welas kasih, melihat keadaan gadis cantik pengangon kambing yang sangat kasihan itu tak tertahan ujarnya dengan cemas.

"Nona aku tahu kamu tidak punya maksud jahat terhadap diriku, tetapi aku selalu menemui bahaya dimanapun banyak jejak musuh yang sedang mengintai jika kamu tetap ikut aku maka bahaya selalu akan mengancam tubuhmu, hal ini buat apa? Coba kamu lihat saja binatang jahanam itu datang lagi”

Gadis itu ketika mendengar nada suara Liem Tou sudah berubah menjadi sangat halus, hatinya menjadi sangat girang, ujarnya. "Liem koko kalau begitu kamu sudah setuju kita jalan bersama sama bukan? Apa itu?"

"Jangan banyak bicara lagi, cepat pergi.”

Pada saat dia sedang bicara dengan gadis cantik peugangon_kambing itulah mendadak dihadapannya menjadi gelap, tak terasa dia menjadi sangat terkejut, teriaknya.,

"Hati hai..."

Tidak salah lagi elang raksasa yang sangat menyeramkan itu dengan sangat dahsyat sudah menyambar diatas kepala kedua orang itu tetapi dengan cepat sudah melayang kembali ketengah udara dan melenyapkan diri dibalik awan yang tebal.

Dengan tergesa gesa Liem Tou menepuk-nepukkan kerbaunya untuk melanjutkan perjalanan. Gadis cantik pengangon kambing yang berjalan disampingnya tidak tahan tanyanya.

"Liem koko, apakah binatang2 juga memusuhi kamu ?" “Kamu pernah dengar manusia yang bernama Thian Pian

siauwcu ? aku dengan mata kepala sendiri pernah melihat dia

mengalahkan para jago dari dunia kangouw hanya dengan satu pukulan saja bahkan sekalipun Tionggoan Ngo Koay sudah bekerja sama masih belum sanggup menahan serangannya, elang itu adalah binatang peliharaannya, keganasannya luar biasa. Kini aku sudah diketahui jejaknya oleh binatang terkutuk itu mungkin sekali sebentar lagi Siauwcu itu sudah akan tiba disini."

"Haaaa ?” seru gadis itu dengan sangat terkejut. “Kiranya dia . tidak aneh kalau ayahku benar serius.”

Sehabis bicara dia bungkam diri tidak bicara lagi.

Sebetulnya Liem Touw merasa sangat curiga terhadapnya tetapi dikarenakan ditengah perjalanan dia hanya memikirkan gilanya Ie Cici maka hatinya sedang merasa gemas tidak bisa dengan cepat tiba dibawah kaki gunung Ha Mo San kemudian dengan mengikuti jalan rahasia menaiki gunung itu untuk mengetahui keadaan yang sesungguhnya, sehingga dengan demikian perasaan kuatir terhadap gadis itu tidak dipikirkan lagi.

Sesudah melakukan perjalanan beberapa waktu lamanya elang itu tetap saja belum munculkan dirinya kembali, hal ini membuat hatinya jauh lebih lega. Tidak lama kemudian sampailah mereka disuatu sungai yang sangat lebar, ombak bergulung dengan santarnya sedang angin sepoi-sepoi, hati Liem Tou betul2 merasa sangat girang pikirnya.

“Kali ini sekalipun elang itu jauh lebih besar dan lebih ganas beberapa kali-lipatpun aku tidak akan merasa takut !agi.”

Hatinya betul2 merasa sangat gembira, dengan cepat dia meloncat turun dari punggung kerbaunya dan lari menuju ketepi sungai, tanpa membuka pakaian lagi dia ceburkan diri kedalam sungai. Menanti gadis cantik pangangon kambing itu tiba ditepi sunngai, bayangan dari Liem Tou sudah lenyap tanpa bekas lagi.

Lewat beberapa menit kemudian gadis cantik pengangon kambing itu baru melihat Liem Tou munculkan diri ditengah sungai tetapi didalam sekejap saja sudah lenyap lagi ditengah sungai.

Terpaksa gadis itupun turun data tunggangannya dan menanti ditepi sungai, saat itu siang hari sudah lewat, satu hari penuh tidak dahar membuat perutnya terasa sangat lapar sekali.

Siapa tahu walaupun sudah ditunggu sangat lama tetap tidak tampak Liem Tou munculkan dirinya keatas permukaan dalam hatinya betul2 merasa sangat kesal baru saja dia mendengar deburan yang sangat keras Liem Tou sudah munculkan dirinya lagi diatas permukaan bahkan tangannya mencekal seekor ikan yang sangat besar. Melihat hal itu gadis cantik pengangon kambing itu menjadi sangat girang, ujarnya.

"Liem koko, tidak kusangka kamu punya kepandaian menyelam yang sangat hebat sekali, ikan itu cukup buat kita menangsal perut Hey..Liem koko .aku benar2 lapar."

"Kalau tidak lapar buat apa aku tangkap dia? kamu apa bawa api?

"Oh ada.. ada, biar kuambilkan untukmu"

Tempat penyimpanan barang barangnya juga merupakan tempat tempat yang cukup aneh,dari atas tanduk seeaor kambingnya dia mengambil keluar korek apinya yang kemudian diangsurkan kepadanya. Melihat hal itu diam diam Liem Tou memuji, pikirnya.

"Cara ini sangat bagus sekali, entah kerbauku apa bisa digunakan juga seperti milik dia? jika dapat digunakan uutuk menyembunyikan kitab pusaka “Toa Loo Cin Keng" hal itu sungguh bagus sekali, dengan begitu bisa juga digunakan untuk menghindari pencuri pencuri yang punya maksud tertentu"

Sambil berpikir dia menerima korek api setelah memungut ranting ranting kering menyulut api membakar ikan, maka mulailah dahar. Walaupun ikan itu tanpa diberi bumbu apapun dikarenakan perut yang sangat lapar membuat

mereka menghabiskan seluruh ikan itu dengan nikmatnya.

Selesai dahar Liem Tou naik kembali keatas kerbaunya melanjutkan perjalanan mengikuti aliran sungai itu, gadis cantik pengangon kambing yang melihat Liem Tou tidak gubris dirinya lagi sekalipun hatinya merasa tidak gembira terpaksa mengikuti mereka dari belakang.

Berjalan beberapa waktu lagi sampailah mereka disebuah jalan raya yang lebar, tetapi Liem Tou tidak mengambil jalan itu hanya dengan mengikuti tepian sungai melanjutkan perjalanannya, melihat hal yang sangat aneh ini tidak terasa tanya gadis itu.

"Liem koko, sebetulnya kamu mau pergi ke mana?" "Aku mau pergi Cing Jan"

"Kenapa tidak menggunakan jalan raya?"

"Tidak!" ujar Liem Tou sambil gelengkan kepalanya. "Aku tidak akan meninggalkan pinggiran sungai lagi, aku tahu dengan mengikuti

tapian sungai ini akhirnya akan sampai juga di Cing Jan, aku sudah beritahu padamu ikut aku tidak ada gunanya, kitab pusaka „To Kong Pit Liok" yang kau inginkan saat ini tidak berada didalam tubuhku, sekalipun ingin juga percuma.”

Gadis cantik pengangon kambing itu tidak mau beribut lagi dengannya,sesudah melakukan perjalanan beberapa waktu matahari sudah condong kearah barat, magrib menjelang datang haripun makin lama semakin gelap, jalan yang tidak rata dan liar memaksa mereka berdua tidak sanggup melanjutkan perjalanan lagi terpaksa mereka mencari sebuah hutan kecil ditepi sungai untuk beristirahat.

Malam itu bulan muncul remang remang, beberapa detik bintang memancarkan sinarnya samar samar, Liem Tou yang banyak urussn didalam hatinya tidak sanggup untuk memejamkan mata barang sekejap pun. Kurang lebih mendekati kentongan tengah malam mendadak dia duduk kembali ditengah kegelapan ujarnya.

“Hey nona Wan Giok, kamu sudah tertidur?” Tetapi pertanyaan itu tidak memperoleh jawaban, tanyanya lagi.

“Hey nona Wan Giok kau dengar apa tidak? Aku mau tanya padamu kenapa kau terus menerus mengikuti aku?”

Tetap saja suasana tenang tenang tidak memperoleh jawaban, tak terasa dalam hati Liem Tou berpikir. "'Heei . . .. mungkin kalakuanku yang kasar tadi siang membuat hatinya tidak senang sehingga kini tidak mau beri jawaban.”

Berpikir sampai disitu tidak terasa otaknya berputsr kembali, terasalah olehnya kalau gadis cantik pengangon kambing ini memang merupakan seorang nona yang betul2 berhati tulus bahkan tidak mergandung maksud jahat apapun terhadap dirinya, perasaan curiga yang muncul didalam hati tidak lain dikarenakan ayahnya yang pernah mencuri kitab pusaka Toa Loo Cin Keng-nya itu sehingga tidak punya pikiran begitu.

Berpikir sampai disitu tidak terasa ujarnya lagi. “Nona Wan Giok, aku Liem Tou betul betul tidak tahu

maksud tujuanmu yang sebenarnya sehingga berbuat tidak sopan, harap nona mau beri maaf atas kesalahanku itu.”

Tetapi dari arah tempat tidur gadis cantik pengangon kambing itu tetap sunyi senyap tak terdengar sedikit suarapun, Liem Tou menjadi sangat heran dengan perlahan lahan dia bangkit dan berjalan menuju kearah dimana gadis tadi merebahkan diri, tetapi sesampainya disana tidak tampak bayangannya terlihat hanya kambing2 sedang tertidur dengan nyenyak tapi jejaknya sama sekali tidak kelihatan.

Dalam hati Liem Tou menjadi sangat heran lagi, pikirnya. “Ditengah malam buta dia pergi kemana?”