Raja Silat Jilid 07

 
Jilid 07

Dalam hati Liem Tou merasa curiga kalau orang ini tidak punya niat baik sudah tentu tidak menggubris omongannya lagi, dengan cepat dia pukul pantat kerbaunya dan lari menuju keluar hutan dengan sangat cepatnya.Si kakek tua yang berada dibelakang segera berseru dengan semakin keras.

“Hey bocah cilik jangan lari, jika kamu pergi bukankah aku semakin tersesat? Hey…tunggu”

Ketika Liem Tou menoleh dan melihat kakek itu lari terpontang panting mengejar dirinya.

“Jika dilihat dari gerak geriknya mana mungkin dia berhasil mengejar kerbauku yang lari dengan kecepatan penuh?”

Sambil berpikir dia mengapit perut kerbau semakin kencang membuat larinya kerbaupun semakin kencang, didalam beberapa saat dia sudah hampir keluar dari hutan itu, asalkan sudah keluar dari hutan mau tak mau terpaksa Liem Tou harus menjaga serangan dari elang raksasa itu lagi, membuat hatinya saat ini semakin tegang.

Tanpa sadar dia menoleh kebelakang melihat si kakek tua yang sedang mengejar kearahnya, siapa tahu bukan saja kakek tua itu tidak ketinggalan bahkan jaraknya semakin dekat dengan dirinya, ketika dia melihat Liem Tou menoleh sambil tertawa hingga kelihatan gigi, ujarnya.

“Hey bocah cilik, jika kamu lebih cepat dari aku orang tua tidak akan sanggup untuk mengejar”

Liem Tou melihat dua kali gagal meninggalkan kakek tua itu tidak terasa dalam hati timbul perasaan gusarnya, dengan cepat dia menarik tali kerbaunya sehingga berhenti, kemudian makinya dengan gusar.

“Kamu kakek tua sungguh menjengkelkan sekali, bicara sesungguhnya aku sendiri juga orang yang tersesat, buat apa kamu orang terus ikuti aku?”

“Perkataanmu bagaimana bisa membuat aku percaya?”. Ujar kakek tua itu sambil geleng kepalanya tidak percaya.

“Kalau memang kamu tersesat kenapa tidak boleh membiarkan aku berjalan bersama sama kamu orang? Dua orang jalan bersama sama bukankah semakin baik?”

Liem Tou yang mendengar perkataan ini hampi2 tidak ada perkataan lain untuk diucapkan lagi, dengan sangat gusar ujarnya dengan keras.

“Aku tidak ingin jalan ber sama2 kamu orang semuanya demi keselamatanmu sendiri, tahu tidak? Mukin kamu sudah bosan hidup”

Kakek tua itu menjulur lidahnya, sepasang matanya melotot keluar dengan besarnya lama kemudian baru ujarnya. “Kalau begitu kamu bukannya seorang pencuri tentu seorang perampok”

“Ha..ha..ha” ujar Liem Tou dengan gugup, sedang sepasang matanya melotot keluar. “Hati hati kalau bicara, siapa yang pencuri? Siapa yang jadi perampok?”

“Bukankah kamu orang bilang sendiri, kalau bukan kamu orang jadi pencuri apa perampok bagaimana aku bisa kehilangan nyawa hanya karena jalan bersama sama?”

Liem Tou dengar dia sudah salah tangkap pembicaraannya tak terasa geli juga, sahutnya:

“Aku bukan pencuri juga bukan perampok, sekalipun jadi pencuri aku juga tidak mau merampok seorang kakek tua miskin seperti kamu hingga sebuah sepatupun tidak kau punya”

Sambil berkata dia tunding keatas langit dan sambungnya “Sudah lihat jelas belum? Binatang terkutuk itu?”

Dengan cepat kakek itu angkat kepala melihat, mulutnya dipentang lebar2 lama kemudian baru sahutnya sambil gelengkan kepalanya.

“Binatang apa yang dapat begitu ganasnya?” Liem Tou semakin gusar, cemas, dan geli, sahutnya:

“Kkau lihat dengan keras, seekor burung elang raksasa yang suka makan manusia, asalkan kamu keluar dari hutan ini segera dia menubruk kebawah, sudah dengar jelas belum?”

Sehabis berkata dengan cepat dia meloncat dari punggung kerbau untuk mematahkan setangkai kayu kemudian meloncat naik kembali keatas punggung kerbaunya, serunya.

“Cepat lari”

Kerbau itu dengan cepat menerjang keluar hutan dan lari dengan cepatnya kedepan. “Koak..koak!!!” dugaan Liem Tou sedikitpun tidak meleset, baru saja dia keluar dari dalam hutan burung elang raksasa itu dengan mengeluarkan suara pekikan ngeri sudah menubruk kebawah dengan dahsyatnya, saat itu Liem Tou sudah siap sedia, baru saja dia akan mengelincir masuk kebawah perut kerbau saat itulah terdengar jeritan kaget suara kakek tua itu.

“Aduh mak…sungguh ganas binatang terkutuk ini…tolong dia mau makan tubuhku”

Liem Tou menjadi sangat terkejut dengan cepat dia menoleh kearah kakek tua yang terus mengikuti kerbaunya itu, saat ini elang raksasa ini sudah menubruk kedepannya Liem Tou tak bisa pikirkan lainnya lagi dengan cepat dia menerobos kebawah perut kerbaunya. 

Kelihatan sekali cakar maut dari elang itu sudah berada kurang lebih beberapa depa saja dari atas kepala kakek itu, mendadak kakek itu menjerit kaget, sepasang tangannya dengan kencang menutupi kepalanya, saat itulah terdengar elang raksasa itu dengan mengeluarkan suara pekikan ngeri yang sangat keras, sayapnya sekali lagi dipentangkan dan terbang keatas awan dengan cepatnya, kiranya sebuah batu besar bagaikan kilat cepatnya sudah menyambar keatas tubuh elang itu dan menghajar perutnya dengan keras.

Baru saja elang raksasa itu terbang sampai di tengah perjalanan mendadak tubuhnya meluncur dengan cepat menuju kebawah dengan cepatnya dan bisa seketika itu juga, kiranya batu tadi dengan cepat menghajar tubuhnya sekaligus mencabut nyawanya.

Melihat hal itu kakek tua tersebut menjadi sangat girang, ujarnya:

“Hey…bocah cilik, binatang yang maka orang itu sudah jatuh kebawah, mari kita lihat” Liem Tou segera menghentikan kerbaunya yang hendak lari kedepan itu dalam hatinya ia merasa mengkel, mendadak sambil memandang tajam kewajah kakek tua itu, tanyanya dengan nada keras.

“Siapa kamu sebenarnya?”

“Sudah tentu aku orang yang tersesat jalan” sahut kakek tua itu sambil tersenyum heran. “Bocah cilik, agaknya kamu orang pelupa, cepat kita pergi lihat elang itu”

Semakin lama Liem Tou semakin merasa kalau kakek tua itu semakin mencurigakan, tanyanya lagi.

“Elang itu bagaimana bisa rubuh kebawah? Tahukah kamu siapa yang memelihara elang tersebut?”

“Haa?...jika didengar perkataanmu agaknya elang itu dipelihara orang?” tanya kakek tua itu sedikit tidak percaya.

“Benar, jika kamu orang mau pergi lihat pergilah lihat sendiri, aku mau pergi”

“Kamu orang tidak jadi pergi?”ujar kakek tua itu dengan gugup. “ayolah jalan tapi kamu jangan lari terlalu cepat, usiaku sudah demikian tingginya, larikupun tidak secepat dahulu lagi, orang lain panggil aku sebagai Hui Tui Jie”

Liem Tou tidak ambil komentar apa2, hanya dalam hati pikirnya:

“Sekalipun kakek tua itu sedikit aneh tetapi agaknya tidak mengandung maksud jahat, kiranya untuk jalan bersama- sama dia juga tidak mengapa”

Berpikir sampai disitu segera ujarnya.

“Kalau begitu kita jalan pelan2 saja, tapi kamu orang mau pergi kemana?”

“Sebelumnya aku mau pergi kegunung Gobie tapi kini sudah tersesat jalan terpaksa kemana pun jadi” Liem Tou yang mendengar perkataan ini tidak tahan tertawa geli, ujarnya:

“kalau begitu baiklah, Hui Tui Jie, aku seperti juga kamu orang kemanapun boleh juga tapi kamu punya uang tidak?”

“Ada sih ada” sahut si kakek sambil mengerut alis “kenapa?

Kamu niat turun tangan terhadap aku?”

Liem Tou dengar dia punya uang hatinya menjadi mantap lagi segera dengan menarik tangan kakek tua itu mereka melanjutkan perjalanan bersama-sama.

Saat itu matahari sudah condong ke barat agaknya tak lama kemudian malam akan tiba tapi Liem Tou sama sekali tak gubris akan hal itu, yang penting baginya sekarang isi perutnya yang sudah satu harian lamanya belum diisi.

Untung saja tak lama kemudian kelihatan atap rumah mengepul, tidak sadar lagi Liem Tou mempercepat langkahnya, ujarnya.

“Hey, Hui Jie coba lihat didepan ada rumah orang, bagaimana kalau malam ini kita nginap disana?”

“Kenapa tidak? Selain mencangkul sawah pekerjaan apaun aku tak tahu, jika dibandingkan dengan kamu pengalamanku jauh ketinggalan baiknya kamu saja ambil putusan”

“Hui jie” ujar Liem Tou

“Aku sendiri juga hanya tahu menggembala kerbau saja, bagaimana pengalamanku bisa luas? Lebih baik kita berunding saja, aku bicara terus terang saja sekarang setahil perak pun aku tidak punya”

“Kalau begitu aku akan beri pinjam kau terlebih dahulu” ujar kakek tua itu dengan ramah.

“Lain kali kalau kamu sudah punya uang boleh kembalikan kepadaku, tapi pokoknya kita makan dan tidur dulu” Sesudah berjalan beberapa lama kemudian sampailah mereka disebuah kota kecil, sesudah bertanya tanya barulah mereka ketahui tempat itu sudah masuk daerah Oen Kiang sendag kota itu disebut Toan Bok Ceng segera Liem Tou dengan kakek tua itu mencari sebuah penginapan untuk tinggal.

Malam itu kedua orang tsb memangil semeja perjamuan dan dahar didalam kamar, Liem Tou yang satu hari penuh tidak makan sebutir nasihpun saat ini benar2 sudah lapar dengan lahapnya, sebaliknya kakek tua itu dengan memegang cawan arak sepasang matanya memandang Liem Tou dengan terpesona, tak tahan Liem Tou dibuat heran juga, tanyanya:

“Hey Hui Jie kenaoa kamu orang pandang aku terus menerus?”

Dengan perlahan kakek tua itu meletakkan cawan araknya keatas meja sambil memandang ke wajah Liem Tou ujarnya dengan perlahan:

“Aku sedang heran kenapa kamu tersesat jalan? Apalagi jika dilihat keadaaan kamu orang juga bukan orang daerah sini, hal ini membuat aku merasa bingung, hei bocah cilik sebetulnya siapa namamu?”

Saat ini Liem Tou sudah merasa kenyang hingga hatinyapun merasa sangat gembira, perasaan curiganya terhadap kakek ini makin lama makin hilang kini mendengar dia bertanya segera sahutnya tanpa ragu ragu.

“Aku bernama Liem Tou bertempat tinggal diatas gunung Ha Mo San didaerah Cing Cen, sesudah ayahky meninggal secara turun gunung bekerja sebagai pengangon sapi tidak disangka dituduh orang sebagai pencuri sapi hngga mereka tangkap aku kedalam penjara, ditempat itulah aku bertemu dengan seorang yang bernama…”

Agaknya kakek tua itu sudah dibuat terpesona oleh cerita Liem Tou ini, dengan cemas tanyanya: “Kamu ketemu dengan siapa? Lalu bagaimana?”

Liem Tou tidak segera menjawab, dengan tertegun dia pandang kakek tua itu mendadak tanyanya:

“Hui Tui Jie sebetulnya siapa namamu?”

Agaknya kekek tua iru menemukan sesuatu persoalan yang rumit, sesudah berpikir beberapa waktu lamanya barulah sahutnya:

“Waktu kecil semua orang panggil aku sebagai Hui Tui Jie mungkin juga aku orang memang she Lie”

Sehabis berkata dia segera mengubah pembicaraannya, tanyanya lagi.

“Siapa nama ayahmu?”

“Liem Han San” sahut Liem Tou cepat tanpa pikir panjang lagi.

Mendadak Liem Tou merasa bahwa pertanyaan yang diajukan oleh kakek tua itu terlalu banyak, membuat pertanyaan curiga didalam hatinya timbul kembali, dalam hati segera dia memperingatkan diri sendiri, pikirnya.

“Orang ini kelihatanya sangat aneh, aku jangan sampai terpancing”

Sedang dia berpikir begitu mendadak kakek tua itu dengan mencekal cawan araknya seorang diri berguman.

“Peng Liem Mo Mo Jan Lu Sie, Han San It Sang Sim Pek…”

Sehabis bicara mendadak dia angkat kepalanya, dari sepasang matanya memancarkan sinar yang sangat tajam tapi hanya dalam sekejap saja sudah lenyap kembali sedang matanya pun memandang terpesona kearah Liem Tou.

Liem Tou ketika mendengar dia mengucapkan syair dari Sian Jien Lie Pek segera dalam harinya memastikan kalau dia bukanlah seorang kakek tua yang sedang tersesat jalan, bahkan namanya Hui Tui Jie pun tak bisa dipertanggung jawabkan.

Tapi pada saat ini dia sama sekali tidak mau bongkar rahasia ini sebaliknya sambil tertawa ujarnya.

“Ooh…ooh..sungguh rak disangka Hui Tui Jie juga seorang siucay yang senang dengan syair terkenal, sungguh mengagumkan…sungguh mengagumkan”

“Ha..ha..aku orang tua mana bisa disebut seorang siucay??” ujar si kakek sambi tertawa pahit.

“Hanya secara tiba tiba teringat akan seorang yang sudah meninggal dia sering membaca syair ini, sudah tentu dengan sendirinya aku jadi ikut2an membaca syair itu juga, hey bocah cilik kau juga pernah dengar syair ini?”

“Pada masa yang lalu ayahku paling suka syair ini”

Sesudah Liem Tou menjawab pertanyaan ini mendadak hatinya tergerak terhadap kakek tua inipun seara tiba2 timbul perasaan yang sangat aneh sekali, dia merasa walaupun kakek tua ini sedikit ketolol tololan dan aneh tapi merupakan seorang yang sangat ramah

Tidak lama kemudian kedua orang itu selesai dahar, sesudah pelayan membersihkan sisa2 makanan Liem Tou naik keatas pembaringan untuk istirahat sedang kakek tua dengan alasan mau nanya jalan menuju gunung Gobie berlalu dari kamar.

Liem Tou buka pakaiannya untuk istirahat, pada waktu itulah dia mendadak merasa kitab Toa Loo Cin Keng –nya sudah lenyap. Tidak terasa hatinya sangat terperanjat, dengan cepat dia periksa lagi dengan telitinya disekeliling tempat itu tapi tetap tidak nampak bahkan kapan hilangnyapun tidak diketahui olehnya.

Liem Tou yang kehilangan kitab pusaka menjadi sangat bingung sekali, sesudah berdiri mematung beberapa saat lamanya didalam kamar dengan perlahan lahan dia baru merasa kalau urusan ini sangat mencurigakan sekali, mendadak teringat akan gerak gerik yang aneh dari kakek tua itu pikirnya diam diam.

“Urusan ini mungkin ada hubungan yang erat dengan dia, sekarang dia sedang keluar untuk mencari berita jalan menuju kedaerah gunung Gobie..”

Teringat sampai disini mendadak hatinya semakin terperanjat dia memakai baju dan lari keluar sedang pada mulutnya gumamnya seorang diri.

“Tua bangka bangkotan, mana dai sedang tanya jalan?

Sudah berhasil mendapatkan kitab pusaka dengan sendirinya meminjam kesepatan ini untuk melarikan diri”

Sesudah sampai dipintu depan penginapan itu terlihat kakek tua itu sudah berada ratusan tindak dari pintu penginapan kakinya masih tetap telanjang sedang tubuhnya berjalan menuju kearah sebelah timur.

Melihat kakek itu belum kabur dalam hati Liem Tou merasa sangat girang, teriaknya keras keras.

“Hey, Hui Tui Jie tunggu sebentar aku ada perkataan yang hendak disampaikan”

Tapi kakek itu sama sekali tidak mau gubris, dia tetap melanjutkan perjalanan kearah timur.

Seru Liem Tou lagi

“Hey, Hui Tui Jie tunggu aku sebentar…hey…tunggu sebentar!!!!”

Kakek itu tetap tak ambil peduli dirinya seolah olah dia tuli Liem Tou menjadi cemas dengan cepat dia lari lagi

mengejar kearahnya tapi kejadian aneh terjadi didepan matanya. Liem Tou yang lari dengan cepat kedepan walaupun belum bisa dikatakan cepat bagaikan kilat tapi jauh lebih cepat jika dibandingkan dengan orang biasa, kelihatan sekali kakek itu berjalan dengan langkah yang sangat perlahan tapi tetap saja dia tidak berhasil mengejarnya.

Makin lama kakek itu sudah semakin dekat dengan ujung jalan tapi Liem Tou masih tetap berada ratusan tindak dibelakangnya, saat ini Liem Tou baru tahu dan sadar bahwa kakek tua iru sama sekali bukan orang yang sedang tersesat jalan, sikapnya yang pura2 itu kesemuaanya hanya bertujuan mencari kirab pusaka tersebut saja.

Dalam hatinya dia tahu kalau tujuan yang sebetulnya dari kakek tua itu tentunya kitab pusaka To Kong Pit Liok, siapa tau yang dicuri merupakan Toa Loo Cin Keng peninggalan ayahnya, sungguh merupakan kejadian yang sangat sial.

Kini melihat kakek itu makin pergi makin jauh dan akhirnya lenyap ditengah kegelapan, Liem Tou tahu sekalipun dia mengejar juga tidak ada gunanya, teringat kembali situasi sesaat ayahnya menyerahkan kitab pusaka Too Loo Cin Keng, kepadanya tak terasa hatinya menjadi sangat sedih, air mata bercucuran denga langkah yang sempoyongan dia kembali ke penginapan.

Dalam hati dia merasa sangat gemas dan benci kepada kakek tua itu, makinya:

“Tak tahu malu, bangsat tua, cucu kura2, anak haram jadah…tunggu saja sesudah aku berhasil melatih ilmu silatky sekalipun kau lari keujung langit aku tetap akan cari kau dan merampas kembali kitab pusaka peninggalan ayahku itu”

Diam-diam Liem Tou memaki maki terus, lewat beberapa saat kemudian tiba tiba teringat olehnya kalau isi dari kitab Toa Loo Cin Keng itu walaupun belum berhasil dpahami tetapi semua perkataannya sudah dia hafalkan, kini sekalipun kitab tersebut hilang tetapi tidak sampai mengganggu latihannya tidak tertahan dia merasa untung juga. Liem Tou yang sembari jalan sembari memaki mendadak dikejutkan oleh suara derapan kuda dibelakang tubuhnya yang sangat ramai bersamaan pula terdengar suara tentakan keras dari seseorang.

Ditengah ramainya pasar malam mendadak terdapat orang yang bertindak kasar dengan menerjang orang yang berada ditengah jalan membuat Liem Toa seketika itu juga merasa sangat terkejut, dengan cepat dia menoleh kebelakang, empat lima ekor kuda jempolan dengan cepat sedang menerjang datang.

Dengan tergesa gesa Liem Tou menghindar kesamping ketika dia memandang lebih teliti lagi kearah penunggang kuda itu tidak tertahan saking terkejutnya dia dibuat tertegun seketika itu juga, kiranya orang2 itu adalah Cungcu dari Ie Hek Cung, si Ang In Sin Pian Pouw Sak San beserta keempat jagonya

Dengan cepat Liem Tou bersembunyi ditempat kegelapan, menanti sesudah kelima orang itu lewat barulah dengan tergesa gesa dia balik ke dalam penginapan.

Waktu dia sampai didapan pintu penginapan justru waktu juga terdengar suara bentakan yang keras dari si Ang In Sin Pian Pouw Sak San dari dalam rumah penginapan, jika dengan begitu saja Liem Tou berjalan masuk bukankah dengan tepat bertemu dengan mereka? Sudah tentu dia tidak berani masuk dengan begitu saja dengan cepat tubuhnya menyelinap kesamping tempat kegelapan.

Beberapa waktu kemudian akhirnya Liem Tou teringat juga sesaat dia meninggalkan rumah penginapan itu dia sudah memandang situasi dari tempat tersebut dengan teliti terpaksa dengan merangkak dari jendela dia masuk kembali kedalam kamarnya.

Untung saja waktu itu tidak ada seorangpun yang melihat perbuatannya itu, Liem Tou yang didalam satu hari penuh mengalami berbagai kejadian yang menegangkan kemudian kehilangan pula kitab pusaka Toa Loo Cin Kengnya tidak tertahan membuat hatinya sangat kecewa, dengan lemasnya dia menjatuhkan diri berbaring diatas pembaringan.

Mendadak matanya terbentur dengan sebuah sampul surat beserta sekarat uang perak yang terletak diatas bantal, diatas sampul itu tertulis beberapa kata dengan terangnya.

Pinjam kerbaumu satu malam, besok pagi pergilah kesebelah utara disana kau bisa menerima kembali kerbau itu, To Jen. Yu Heng, Hoo- Beng, Cian Cie, Tu tong Ti Pian, Pen Hoa, Ting Su, kitab pusaka Toa Loo Cin Keng sekalian dikembalikan.

Dibawahnya hanya terlihat satu tulisan Lie saja.

Liam Tou yang membaca surat itu walaupun sudah melihat setengah harian lamanya tetapi semakin melihat semakin bingung kata kata Co Jen, Yu heng, Ho beng, Cian cin, Tu Tong, Ti Pian, Pen hoa serta Ting Su itu sebetulnya punya arti apa? Tetapi sedikit dikitnya dia tahu kalau surat ini ditulis oleh kakek tua tersebut jika di lihat dari isi surat agaknya kitab pusaka Toa Loo Cin Keng pun akan dikembalikan kepadanya, hal ini ssuatu kcjadian yang jauh diluar dugaan dari Liem Tou.

Sedang kata kata pinjam kerbaumu satu malam panya tujuan apa lagi? Sedang dia berpikir keras saat itulah terlihat seorang pelayan dengan tergesa gesa datang menghampiri kamarnya sambil mengetuk pintunya dengan gencar, dengan perasaan penuh ketakutan ujarnya.

“Khek koan. kerbaumu itu entah sejak kapan sudah menghilang.”

Liem Tou yang mendengar perkataan itu menjadi sedikit tertegun dia tahu kalau perkataan dari diri kakek tua itu sedikirpun tidak bohong, dia tidak ingin ribut, ulapkan tangan ujarnya. “Pergi ...pergi, aku sudah tahu.”

*** LIMA

Air muka dari pelayan itu segera memperlihatkan perasaan bingungnya, sambil membuka pintu berjalan keluar, gumamnya seorang diri.

“Apa yang terjadi dcngan urusan ini?"

Mendadak pada ingatan Liem Tou terbayang kembali si cambuk sakti Pouw Sak San sekalian dengan cepat ujarnya kepada pelayan ini.

"Hey tunggu sebentar, aku mau tanya itu kelima penunggang kuda yang baru saja datang apa menginap disini juga?"

"Benar" sahutnya sambil mengangguk., "Mereka tinggal dikamar sabelah mana?"

"Eh! Mungkin Khek koan kenal dengan mereka?" Tanya pelayan itu sambil mengerdipkan matanya. "Mereka istirahat dikamar yang berpisah, salah satu diantara mereka tinggal dikamar sebelah ini, apa perlu harnba panggil?"

"Tidak perlu . tidak perlu" sahut Liem Tou cemas. "Kamu boleh pergi."

Sesudah pelayan itu pergi barulah Liem Tou berbaring diatas pembaringan untuk beristirahat tetapi walaupun sudah berbolak balik namun tetap tak bisa tertidur nyenyak, pikirannya terus menerus bekerja teringat kembali akan pencurian kitab pusaka Toa Loo Cin Keng oleh kakek tua itu beserta kata kata yang ditinggalkannya, apa maksud yang: sebenarnya dari dia orang? Kenapa secara mendadak si cambuk sakti Pouw Sak San turun gunung bersama sama dengan keempat jago jagonya? Bagaimana dengan keadaan Siauw Ie cici saat ini?" Pikirannya terus menerus diperas tidak terasa lagi kentongan kedua sudah berlalu, saat itu baru saja siap memejamkan matanya mendadak diluar rumah penginapan itu berkumandang datang suara ringkikan kuda kemudian disusul dengan suara seseoraug yang sangat dikenal olehnya sedang berteriak dengan keras.

"Hey pelayan buka pintu!"

Segera Liem Tou bisa membedakan kalau suara itu berasal dari suara Pouw Siauw Ling putra dari Pouw Cungcu, tidak terasa dalam hatinya muncul kembali perasaan benci, dendam serta gemas, pikirnya dengan gusar.

"Hem dia lagi, yang memisahkan aku denga Ie cici juga dia."

Liem Tou yang teringat akan sakit hatinya ini membuat niatnya untuk tidur segera lenyap tanpa bekas, dengan perlahan lanan dia turun dari pembaringannya dan mendorong jendela luar hingga terpentang, terlihatlah sinar rembulan memancarkan sinarnya dengan remang2, suara gemerisiknya binatang kecil memberikan suatu suasana yang sangat mengharukan, buat perasaan sedih muncul meliputi seluruh benaknya.

Saat itulah pintu dari rumah penginapan itu terbuka kemudian disusul dengan langkah kaki yang berhenti dikamar sebelah, sambil mengetuk pintu ujarnya.

"Tia. kamu orang tua belum tidur? Ling jie datang".

Segera Liem Tou dapat mengetahui kalau orang yang berdiam dikamar sebelah adalah Cungcu, tidak terasa lagi dengan perlahan dia menutup jendelanya kembali dan pusatkan perhatiannya untuk mendengarkau apa yang hendak mereka bicarakan.

Saat itu terdengar dibukanya pintu kamar disusul dengan suara dari Pouw Cungcu yang sedang bertanya. "Ling jie, kenapa sampai waktu ini baru datang? Sudah kamu temui kawan kawan sealiran kita?"

"Orarg lain sudah menganggap anakmu sebagai seorang tamu yang sangat terhormat tentang hal ini tidak bisa salah lagi, hanya saja di tangah perjalanan kali ini aku sudah dengar suatu berita yang sangat aneh, membuat anakmu merasa bingung.”

“Urusan aneh apa?" Tanya Pouw Cungcu, “Cepat kamu orang ceritakan."

"Tia, tahukah kamu orarg tua siapa yang sudah mendapatkan kitab pusaka To Kong Pit Liok yang sangat menggetarkan sungai telaga itu?

"Ohhh.. aku kira urusan aneh apa tidak tahunva tentang kitab pusaka itu, bukankah sejak dulu aku sudah bilang kitab pusaka To Kong Pit Liok itu sudah berada ditangan Siok to Siang Mo?? Apanya yang aneh?"

"Bilamana sungguh sungguh terjatuh ditangan Siang to Siang Mo anakmu juga tidak akan merasa heran, yang paling aneh barang itu adalah sudah berpindah tangan lagi bahkan jika dikatakan sukar membuat orang percaya, katanya majikan yang baru dari kitab pusaka itu adalah seorang bocah cilik yang bernama Liem Tou”

“Siapa!" seru Pouw Cungcu dengan sangat terperanjat, "Liem Tou? mana mungkin bisa terjadi peristiwa ini? tentu kamu orang sudah salah dengar, saat ini mungkin mayat dari Liem Tou tinggal tulang tulang putih saja"

Liem Tou yang sedang mencuri dengar pembicaraan mereka saat ini tidak bisa menahan pergolakan didalam hatinya lagi air mukanya bcrubah sangat keren sedang dalam hati dengan gemas sumpahnya. "Lihat saja, asalkan suatu hari Liem Tou masih bernapas dendam ini tidak akan aku lupakan sedikitpun, tunggu saja permainan yang kalian terima.”

Saat itu terdergar Pouw Cungcu menghela napas panjang ujarnya.

"Heei..bila kita ungkap Liem Tou bocah bangsat itu sampai ini hari juga aku masih merasa gemas dan benci. Hei Lie Siauw Ie itu budak juga keterlaluan sekalian hanya kematian dari bocah bangsat itu dia sudah berubah menjadi gila seperti tni, kalau tidak boleh dikata kau dengan dia merupakan sepesang jodoh yang sangat setimpal.”

Liem Tou yang mendengar sampai disitu tidak tertahan menjadi sangat terperanjat sekali. Ie cicinya sudah gila, Ie cicinya sudah gila bagaimana mungkin?

Terdengar Pouw Siauw Ling saat itu sedang terkata.

"Tia, kgmu orang tua jangan mengungkap urusan ini lagi, Siauw Ie memang seharusnya jadi gila, semakin gila semakin baik dan lebih tepat lagi kalau saat ini dia binasa saja".

Beberapa perkataan ini sungguh sungguh seperti beribu ribu batang anak panah yang menembus hati Liem Tou membuat dia sangat menderita... sargat sedih, sekali lagi gumamnya seorang diri.

"Ie cici sudah jadi gila, Ie cici sudah jadi gila, tidak mungkin bisa terjadi urusan ini, aku tidak percaya, aku tidak percaya, dia sama sekali belum binasa"

Tetapi dengan sangat jelas sekali bahkan dengan mata kepala sendiri dia mendengar perkataan dari si cambuk sakti Pouw Sak San serta Pouw Siauw Ling yang mengatakan Lie Siauw Ie sudah gila, walaupun dalam hati ia tak percaya tetapi saat ini mau tak mau dia harus mempercayainya.

Didalam sekejap mata dia dibuat tertegun dan duduk termangu mangu ditengah kamar yang gelap, perkataan selanjutnya Pouw Sak San serta dari Pouw Siauw Ling tidak ada yang masuk kedalam telinganya lagi didalam hatinya setiap kali hanya sedang berkata.

"Aku tidak percaya . . aku tidak percaya . . aku tidak akan percaya."

Lama kelamaan, dia tidak bisa menahan perasaan sedihnya lagi, air matanya setetes demi setetes jatuh membasahi wajahnya menetes keluar dengan derasnya.

Dia membiarkan butiran air matanya menetes melalui wajahnya, pada saat seperti ini dia sama sekali tidak bisa memikirkan benda apa yang bisa kekal didalam dunia ini, benda apa yang ada didalam dunia ini, bahkan penderitaaanya, siksaan yang pernah diterima kesukaran, kepedihan serta macam2 penderitaan lainnya.

"Aku tidak percaya, aku tidak percaya, aku tidak percaya, aku tidak percaya"

Aumannya kali ini merupakan suatu pekikan yang paling keras paling nyaring selama hidupnya bahkan membuat seluruh ruangan tergetar dengan sangat keras, membuat seluruh tamu rumah penginapan itu terbangun dari tidurnya, bahkan suara bentakan serta teriakan muncul dari seluruh penjuru.

"Siapa yang sedang gembar gembor?" “Hey pelayan, sudah terjadi urusan apa?”

"Kurang ajar, bangsat mana yang tidak tahu diri, ditengah malam seperti ini gembar gembor tidak karuan."

Apa lagi si cambuk sakti Pouw Sak San serta Pouw Siauw Ling sejak semula sudah meloncat keluar dari kamarnya, "dok

.. dok . . suara ketokan yang semakin keras berbunyi terus di atas pintu kamarnya bahkan ada yang bertanya. "Hey siapa yang berdiam didalam? Sudah terjadi urusan apa?"

Liem Tou yang mendengar Pouw Cungcu serta Pouw Siauw Ling sudah menggedor pintu kamarnya seperti bari saja sadar dari suatu impian segera dia merasa sangat terkejut, dia sadar kalau dirinya sudah telanjur berteriak sehingga mengejutkan mereka sedang saat inipun dia tidak bisa buka pintu untuk menemui mereka berdua bagaimana baiknya?

Untuk sesaat lamanya membuat Liem Tou menjadi kalang kabut dan bingung, untuk melarikan diri dari jendela dia merasa bukanlah suatu cara yang sempurna, bilamana mereka berdua mendorong pintu masuk dan melibat orang didalam kamar sudah melarikan diri tentu akan segera mengadakan pengejaran, waktu ini ketukan dari Pouw Cungcu serta Pouw Siauw Ling semakin gencar, mendadak dalam benak Liem Tou berkelebat suatu akal dengan cepat dia menekuk lidahnva keatas sengaja mempertinggi nada suaranya dan lanjut berteriak.

"Aku tidak percaya, aku tidak percaya tidak berhasil tangkap kamu hey ikan bodoh kamu mau lari kemana lagi?"

Kemudian tambahnya lagi.

"Cici cepat ambil jala, Ooh .. seekor ikan yang sangat besar sekali”

Sesudah dia bicara begini ternyata mendatangkan hasil yang gemilang, terdengar Pouw Siauw Ling yang berada diluar kamar sedang memaki.

"Huuu, Setan, kiranya seorang manusia malas yang sedang mengigau."

Sehabis berkata dia berjalan kembali kedalam kamar sebelah.

Liem Tou yang berhasil meloloskan diri disaat yang sangat kritis saat ini tidak berani banyak omong lagi, dengan perlahan lahan dia kembali keatas pembaringannya dan merebahkan diri.

Tetapi sesudah mendapat berita kalau Siauw Ie menjadi gila mana bisa memaksa dia memejamkan matanya? dengan mata yang melotot besar dengan termangu mangu dia memandang kearah sinar matahari yang mulai muncul dari ufuk Timur, lama sekali barulah dengan perlahan dia bangkit kembali dari atas pembaringan.

Tetapi dalam hati dia sadar asalkan dia keluar dari pintu kamar tentu akan ditemui oleh Pouw Cung cu sekalian, karena itulah dia tidak berani berjalan keluar, dengan diam diam dia meletakkan sekeping uang perak itu keatas meja kemudian dengan tidak menimbulkan suara sedikitpun ngeloyor pergi melalui jendela, dengan mengikuti petunjuk perjalanannya kearah Utara.

Dalam perjalanan didalam hati Liem Tou hanya punya satu pikiran saja yaitu memikirkan keselamatan Siauw Ie, sambil berjalan pikirnya.

“Aku pasti akan naik keatas gunung Ha Mo San untuk bertemu dengan Ie cici, betulkah dia sudah gila? Mana aku bisa percaya? Aku harus kesana untuk melihat sendiri”

Tidak lama kemudian dia sudah meninggalkan kota Toan Bok Ceng tersebut, dikala itu cuaca baru saja terang tanah, burung-burung yang terbang diatas pohon disamping jalan berkicau dengan ramainya membuat semangat Liem Tou bangkit kembali, tak terasa langkah kakinya pun bertambah cepat.

Dalam waktu yang sangat singkat dia sudah berjalan kurang lebih sepuluh lie lebih, dari tempat kejauhan mendadak terdengar suara dengusan kerbau, tidak terasa hatinya menjadi tergerak, dengan cepat dia berhenti dan menengok kesekeliling tempat itu, terlihatlah disebelah depannya berdiri sebuah kuil yang sudah hampir rusak dengan cepat dia berjalan mendekat.

Terlihatlah seekor kerbau sedang menundukkan kepalanya makan rumput, melihat hal itu Liem Tou menjadi sangat girang sekali dengan cepat dia berjalan kesamping kerbau tersebut, sambil menepuk lehernya ujarnya dengan perlahan.

"Gouw koko, bagaimana kamu bisa lari sampai sini?”

Begitu dia menepak leher kerbaunya segera terasalah air keringat membasahi tangannya itu tak terasa dia menjadi sangat heran, tanyanya.

"Hey . . kenapa kamu ?? mungkin satu malaman kamu lari terus ? "

Kerbau itu begitu melihat munculnya Liem Tou secara mendadak merasa sangat girang sambil mendengus perlahan, dengan perlahan dia bergeser kesamping tubuh Liem Tou.

Mendadak . . . matanya tertumbuk dengan daun yang tergantung diatas tanduk kerbau itu, dengan cepat diambil benda itu terlihatlah diatasnya tcrtuliskan delapan huruf dengan jelasnya"Jien, Heng, Cu, Beng, Tong, Pian, Hua, Su"

Dengan perlahan Liem Tou mengulangi perkataan itu beberapa kali walaupun tidak tahu apa arti kata kata itu tetapi teringat kembali olehnya pada surat kemarin malam kakek tua itu pun pernah menuliskan delapan huruf yang membingungkan itu, dalam hati dia tahu tentu kata kata itu punya suatu arti yang sangat mendalam hanya saja saat ini tak mungkin dapat di pahami olehnya.

Ketika itu Liem Tou juga tak mau terlalu banyak menghamburkan waktu untuk memikirkan tulisan itu, dengan langkah yang perlahan dia menarik kerbaunya meninggalkan kuil itu untuk melanjutkan perjalanannya.

00000000 SEPERTANAK nasi kemudian sampailah mereka disamping lereng gunung. waktu kelihat ada seorang penebang kayu dengan perlahan sedang berjalan mendatang, dengan cepat Liem Tou menyongsong kedepan sambil ujarnya.

"Toasiok tolong tanya jalan menuju ke Cing Cen harus melalui mana ?"

"Ooh kamu man ke Cing Cen?" ujar penebang itu dengan penuh keheranan.

"Tempat itu tidak dekat, dari tempat ini harus menuju ke daerah Pi Sian dulu kemudian dengan mengikuti pinggiran sungai menuju ke daerah Cian Sian. Baru dari sana menuju kekaki gunung Cing Cen.Saudara kecil jalan ini merupakan aatu satunya jalan brsar menuju ke daerah Pi Sian."

Sesudah mengucapkan terima kasih pada penebang itu Liem Tou pergi mencari sebuah sungai kecil untuk membersihkan kerbaunya sesudah itu barulah dia menaiki punggung kerbaunya untuk melanjutkan perjalanan.

Kini didalam hati Liem Tou sudah mengambil keputusan untuk kembali keatas gunung Ha Mo San untuk bertemu dengan Ie-cicinya.

Sesudah berjalan beberapa lama kemudian mendadak teringat kembali akan parkataan kakek tua itu yang menyatakan kitab pusaka Toa Loo Cin Keng akan dikembalikan kepadanya. Kitab pusaka Toa Loo Cin Keng merupakan kitab pusaka yang sama-sama berharganya dengan kitab To Kong Pit Liok, kitab pusaka tersebut sudah dicuri tetapi katanya akan dikembalikan lagi kepadanya membuat hatinya tidak terasa berdebar dengan sangat keras, sambil melanjutkan perjalanannya dengan nunggang kerbau matanya menengok kekiri kanan untuk menanti munculnya kakek tua itu. Tetapi walaupun sudah lewat beberapa jauh pun tetap tidak tampak bayangan dari kakek tua tidak tertahan gumamnya.

"Terang-terangan . . .”

Tidak disangka baru saja dia bilang terang-terangan, atau huruf 'Beng' dan belum selesai mengucapkan `menulis demikian' kerbau tunggangannya mendadak berhenti kemudian berjalan mundur kebelakang.

Liem Tou menjadi sangat heran dengau cepat dia meloncat turun dari kerbaunya, tetapi kerbau itu masih tetap berjalan mundur kebelakang.

Semakin melihat Liam Tou semakin merasa heran, teriaknya keras.

"Gouw koko . . . kenapa ? sudah . . sudah cukup jangan mundur 1agi, cepat berhenti jangan bergerak"

Siapa tahu baru saja dia mengucapkan bergerak atau ‘tong` terlihatlah kerbau itu menundukkan kepalanya, tandukuya secara mendadak disiapkan didepannya sedang suaranyapun semakin keras, bahkan boleh dikata sifat liarnya kembali lagi pada tubuhnya.

Liem Tou yang melihat hal ini menjadi semakin bingung, jika dilihat dari perubahan wajahnya boleh dikata dalam hati kian merasa sangat terperanjat, sambil berdiri disamping dengan tak henti hentinya bergumam seorang diri.

“Didalam satu malaman saja bagaimana kerbau ini bisa berubah. .”

Perkataan "berubah' atau "Pian" baru saja keluar dari mulutnya kerbaunya mendadak menghentikan dengusannya kemudian menendangkan kakinya kebelakang dengan sangat hebat membuat pasir dan tanah beterbangan memenuhi angkasa. Sampai disini barulah dengan perlahan lahan Liem Tou sadar kembali apa yang sudah terjadi, sedang pada air mukanyapun dengan perlahan lahan mulai menampilkau perasaan terkejut bercampur girangnya, dalam hati pikirnya.

"Apa sungguh begini?? Didunia ini apa betul ada orang yang berkepandaian sedemikian tingginya.”

Berpikir sampai disini mendadak serunya dengan keras. "Su" Kerbau itu dengan cepat menghentikan seluruh

gerakannya dan berdiri mematung disana, seketika itu juga

membuat Liem Tou berdiri mematung ditempat dengan melongo dia memandang kerbaunya itu, saking girangnya tidak tertahan lagi dia lari kedepan untuk memeluk kencang kerbau itu, ujarnya.

“Ooo Gouw koko. Kamu sunguh hebat sekalih, tidak aneh kalau tubuhmu penuh dengan keringat busuk, kiranya satu malaman kamu terus menerus berlatih dengan giat”

Sambil berkata dia meloncat naik keatas punggung kerbaunya kembali, bentaknya.

"Hoa" Kerbau itu dengan cepat mementangkan kakinya kemudian lari dengan kencang kedepan.

Waktu ini Liem Tou betul betul merasa sangat girang, dalam hati terus menerus dia mengingat ingat delapan kata itu.

‘Jen, Heng, Ci, Bang, Tong, Pian, Hoa, Su’

Karena perasaan girang yang meluap luap itulah membuat perasaan ingin tahu meliputi seluruh tubuhnya, waktu itu kerbaunya sedang lari kencang, mendadak Liem Tou sudah berseru.

"Jen " Kerbau itu dengan cepat memutarkan seluruh tubuhnya dan lari dengan kencangnya kesebalah kiri, sebelah kirinya itu merupakan sebuah bukit kecil tetapi hanya dua tiga lompatan saja kerbau itu sudah barhasil menerjang hingga puncak bukit. Ketika itulah Llem Tou baru mengetahui kalau bukit iiu merupakan sebuah tebing curam yang banyak batu bau cadasnya bahkan tingginya beberapa kaki, didalam keadaan yang sangat terkejut itulah dengan cemas teriaknya lagi.

"Beng" Dengan cepat kerbau itu menghentikan larinya dan mundur beberapa langkah kebelakang, untung saja Liem Tou berteriak dengan cepat kalau tidak dua langkah lagi mereka akan terjatuh kedalam jurang.

Sesudah menghembuskan napas lega barulah Liem Tou berseru lagi.

"Su " Dengan cepat kerbau itu menghentikan larinya, dengan hati yang masih berdebar keras Liem Tou meloncat turun dari punggung kerbaunya dalam hati betul betul dia merasa terperanjat bercampur ngeri, diam-diam pikirnya.

"Sungguh berbahaya.”

Kini Liem Tou tahu jelas kalau kerbaunya sudah mendapatkan latihan yang masak hanya didalam satu malaman saja kerbaunya sudah berubah menjadi seekor kerbau sakti bahkan disamakan dengan seekor kuda jempolan, tanduknya bisa digunakan untuk mengadakan penyerang an punggungnya bisa ditunggangi apalagi ketika kerbau itu lari dengan kencangnya kecepatan luar biasa, ditambah lagi bisa mundur secara mcndadak membuat orang lain sama sekali tidak menduga.

Liem Tou melihat kerbaunya sudah lelah segera merasa sayang dengan perlahan dia menarik kerbaunya berjalan kesebelah lapangan rumput untuk beristirahat.

Baru saja dia duduk melamun memandang ke arah awan yang melayang jauh ditengah awan sekonyong konyong. . , dari tempat kejauhan kelihatan debu mengepul dengan tebalnya dalam hati Liem Tou menjadi terasa terkejut sekali, tidak terasa perasaan tubuhnya sudah berubah menjadi tegang, pikirnya. “Mungkin Pouw Cung cu sudah sampai disini? Ditempat yang terbuka seperti ini tentu mereka menemukan aku.”

Berpikir sampai disini dengan cepat keinginan untuk kaburkan diri meliputi seluruh benaknya, tetapi sesaat hendak menaiki punggung kerbaunya dengan tanpa sadar kepalanya sudah menoleh kearah dimana munculnya debu yang mengepul itu, begitu memandang tidak tertahan dia tertawa geli sendiri.

Kiranya suara derapan serta debu yang mengepul jauh keangkasa itu bukan berasal dari kuda tunggangan Pouw Cung cu sakalian melainkan beratus ratus ekor domba yang bersama sama lari mendatang.

Domba itu berwarna hitam gelap semua sehinga dari tempat kejahuan kelihatan bertumpuk warna hitam yang makin lama berlari mendatang, kedatangan domba2 yang secara mendadak itu membuat Liem Tou merasa tertarik, tidak terasa dia sudah duduk sendirian disamping kerbaunya sambil memandang dengan terpesona kearah kawanan domba tersebut.

Lewat beberapa saat kemudian kawanan domba itu sudah berada dibawah bukit, mendadak Liem Tou melihat seorang gadis cantik berbaju putih dengan menunggang seekor kambing yang besar mengikuti dari belakang kawanan kambing itu.

Tidak terasa Liem Tou menjadi tertegun di buatnya, pikirnya dalam hati.

“Seorang gadis yang sangat aneh sekali, aku menunggang kerbau sebagai pengganti kuda sudah termasuk hal yang aneh, tetapi dia menggunakan kambingnya sebagai pengganti kuda hal ini sungguh merupakan suatu peristiwa yang sangat mencengangkan hati orang.”

Dengan tidak terasa lagi Liem Tou menoleh memandang beberapa kejap lagi kearah gadis cantik berbaju putih yang menunggang kambing itu. Terlihatlah ujung baju putihnya menari-nari tertiup angin, gayanya mirip sekali dengan bidadari yang baru saja turun dari kahyangan, cantiknya luar biasa. Pada tangan kirinya dia mencekal sebuah seruling yang terbuat dari batu pukulan yang digunakan sebagai pengganti cambuk, dengan gaya yang sangat lembut dia sedang mengiring kawanan dombanya menaiki bukit itu.

Gadis cantik berbaju putih itu benar2 membuat Liem Tou terpesona tetapi hanya dalam beberapa waktu saja Liem Tou sudah sadar kembali dari lamunannya, sambil menoleh kearah lain dalam hati teriaknya.

"Oooh - Liem Thu, Liam Tou kamu tidak boleh lihat gadis itu lagi, didalam dunia ini tidak akan ada gadis yang lebih cantik dari Ie ci ci, kamu orang tidak boleh lihat dia tidak boleh . . . tidak boleh . . . "

Dia berusaha untuk tiadk lihat kecantikan wajahnya, keagungan sikapnya serta keanehan dari gerak geriknya membuat Liem Tou terpesona bahkan benar benar di buat terpesona.

Mendadak suatu suara yang empuk halus serta lembut sekali berkumandang masuk kedalam telinga Liem Tou membuat dia tersadar kembali dari lamunannya.

"Hey.. Siauwko yang ada diatas bukit tolong tanya kamu orang apa melibat ayahku?”

Liem Tou yang mendengar perkataan itu di dalam hati merasa sangat geli, pikirnya.

"Siapa yang tahu ayahmu itu macam apa ?”

Tanpa sadar lagi dia menoleh dan memandang lagi kearah gadis cantik berbaju putih itu, mendadak pandangannya menjadi terang benderang, pada saat dia menoleh itulah gadis cantik berbaju putih itu sudah berjalan naik keatas bukit dengan langkah yang sangat perlahan sekali jaraknya saat ini dengan dirinya berdiri sangat dekat sekali. Terlihatlah wajah si gadis itu cantik dan sangat halus sepasang matanya yang bening dan menggiurkan ditambah dengan bibirnya yang kecil mungil berwarna merah membuat hati setiap orang merasa benar-benar terpesona apalagi ketika dia tersenyum boleh dikata kecantikannya melebihi bidadari manapun juga.

Tidak tertahan lagi hati Liem Tou berdebar dengan kerasnya, dengan cepat dia memandang kearah lain sedang pada mulutnya menyahut dengan keras.

“Aku tidak pernah melihat ayahmu, kamu orang jangan berjalan terlalu dekat”

“Ayahku berjalan melalui jalan ini, kamu sudah pasti melihatnya” ujar gadis itu dengan manjanya.

Ketika Liem Tou mendengar suaranya semakin dekat lagi dalam hati semakin merasa cemas, teriaknya lagi.

“Aku beritahu padamu aku belum pernah lihat ayahmu, kamu jangan maju lagi sekalipun maju lebih dekat aku juga tak pernah melihat ayahmu”

"Tidak mungkin” ujar gadis cantik berbaju putih itu dengan nada yang tak percaya, “"Ayah sudah bilang dia mau menunggu aku dijalan ini, kamu orang tentu sedang menipu aku sudah melihat tapi tak mau beritahu.”

Liem Tou tak berani menoleh lagi dalam hati dia pingin marah tapi entah kenapa sekali pun kena marah juga tak berhasil dilampiaskan terpaksa teriaknya lagi.

"Oooh. . kamu gadis datang dari mana. . kenapa tak mau pakai aturan, cepat kamu orang turun dari bukit ini kalau tidak aku akan berlaku tidak sungkan2 lagi.”

"Oooh Ie cici kamu lihat dia orang tetap tak mau pergi, dia sangat cantik sekali . memang sungguh2 cantik tapi aku tak mau lihat dia, aku tak mau lihat..” Saat itu gadis cantik berbaju putih tersebut sudah berjalan hingga samping lapangan rumput itu, Liem Tou hanya merasakan bayangan putih berkelebat didepannya dengan cepat dia pejamkan matanya rapat rapat sambil ujarnya dengan keras.

“Kamu jangan kedepanku . sebetulnya kamu orang datang dari mana?? Jangan. . . jangan kedepanku "

Padahal waktu ini didalam hati Liem Ton merasa sangat canggung sekali, dia tak ingin melihat gadis cantik berbaju putih itu karena kecantikannya boleh dikata hampir2 menutupi seluruh kecantikan dari Ie cici idaman hatinya„ tapi walaupun begitu kenapa dia tak mau pergi dari sana dengan menunggang kerbaunya ? Sifat menyenangi yang indah, yang cantik merupakan sifat manusia pada umumnya, kini seorang gadis yang sangat cantik muncul dibadapan matanya walaupun dia sama sekali tak punya niat jahat tapi dalam hati juga merasa sayang untuk ditinggal pergi.

Sesudah ditunggu beberapa waktu lamanya Liem Tou tetap tak mendengar suara jawaban dari gadis itu dalam hati dia mengangpap gadis tersebut sudah pergi; tak terasa sambil menghela napas panjang ujarnya.

"Oooh- - - tak kusangka didalam dunia bisa muncul seorang gadis yang demikian cantiknya.”

Dengan sendirinya dia membuka matanya kembali untuk melihat keadaan sesungguhnya,

Siapa tahu baru saja dia membuka matanya terlihatlah gadis cantik berbaju putih itu sedang duduk diatas batu cadas didepan tubuhnya bahkan pada waktu itu sedang memandang dirinya sambil tersenyum manis.

*** Liem Tou menjadi sangat terkejut tidak terasa lagi dia menjerit kaget, dengan cepat mata nya dipejamkan kembali dan menoleh kearah lain.

Terdengar gadis cantik berbaju putih itu tertawa cekikikan dengan merdunya kemudian ujarnya.

"Kamu orang sungguh naenyenangkan sekali, kenapa kalau lihat aku tentu pejamkan mata? Ayahku sering panggil aku sebagat budak jelek, mungkin aku sungguh sungguh orang yang sangat jelek ?"

"Bukan . bukan, aku cuma tidak mau lihat kamu, cepat pergi.cepat pergi dari sini."

"Kalau begitu kamu takut sama diriku ? bapakku sering juga takut sama aku."

Liem Tou menjadi jengkel, ujarnya dengan keras.

"Tadi sudah aku beritahu, aku takut sama kamu orang. Aku cuma tidak mau lihat kamu . . tidak usah banyak tanya lagi cepat pergi."

“He hi hi hi kalau tak mau lihat jangan lihat, bukankab sudah beres ? ? Buat apa kamu orang harus usir aku ? 00oh . . benar. kamu belum bilang dimana ayahku sekarang ?"

Kini Liem Tou betul betul dibuat gemas tak bisa tertawapun, sesudah berdiam beberapa saat lamanya barulah pikirnya.

“Heei..aku harus berbuat bagaimana untuk menghadapi gadis cantik ini?”

Yang membuat dia semakin menemui kesulitan adalah perkataan gadis itu yang masih amat polos bagaikan sekerat batu giok yang belum digosok, jika dibandingkan dengan kecerdikan dan kelincahan dari Ie cicinya boleh dikata kelainan yang berbeda, terhadap seorang gadis dia juga tidak bisa berbuat kasar apalagi mengusirnya dari sana. Mendadak suatu akal bagus herkelebat dalam benaknya, ujarnya kemudian.

"Baiklah, aku tidak mengusir kau pergi tetapi aku tak mengijinkan kamu orang berdiri dihadapanku, kalau kau mau baru aku mau bicara, baiklah sekarang kamu boleh bilang siapakah bapakmu”

Agaknya gadis itu juga sedikit merasa jeugkel, dengan menggerutu ujarnya.

"Hmm, kalau bukannya sedang cari ayah, aku juga tak mau mengalah padamu, baiklah lain kali jangaa harap kamu bisa melihatku lagi”

Liam Tou yang mendengar perkataan itu menjadi bingung, apa arti dari perkataannya ini? dengan tidak terasa lagi dia melirik sekejap kebelakang, terlihatlah gadis itu walaupun masih tetap menggunakan pakaian putih tetapi kecantikan wajahnya yang melebihi bidadari itu hanya didalam sekejap mata saja sudah berubah menjadi seorang nenek barwajah kuning yang penuh dengan keriputan.

Liem Tou yang melihat hal itu menjadi melongo dibuatnya, sesudah memandang setengah harian lamanya barulah diketahui olehnya kaau dia sedang memakai sebuah topeng dari kulit kambing, hanya saja topeng itu dibuat demikian teliti dan sempurnanya sehingga sukar untuk diketahui kalau bukannya dipandang dengan teliti.

Ketika gadis berbaju putih itu melihat LiemTou dibuat melongo olehnya tidak terasa tertawa geli, ujarnya.

“Bukankah begini bagus? Sekaraug kamu harus beritahu ayahku berada dimana?"

Sebetulnya siapakah ayahmu itu? Kamu harus beritahu dulu sehingga aku bisa pikir pernah bertemu atau tidak."

Gadis berbaju putih itu berpikir beberapa saat lamanya, kemudian barulah sahutnya. "Ayahku bilang dia mau melalui jalan ini bahkan dia bilang juga ada sebuah kitab yang sudah didapati oleh seorang yang bernama Liem Tou dia bilang Liem Tou itu tidak seharusnya mendapatkan kitab itu maka dia hendak pergi cari Liem Tou."

Berbicara sarnpai disini mendadak sambungnya lagi. "Oooh ... siauw-ko, aku lihat kamu jadi orang sangat baik,

aku harus panggil kamu bagaimana?? Tentu kau mau bukan menolong aku menceritakan ayahku?"

Ketika Liem Tou mendengar sesudah dia bicara setengah harian lamanya kiranya ayahnya adalah salah seorang yang ingin merebut kitab pusaka "To Kong Pit Liok”-nya dalam hati benar benar merasa gemas bercampur jengkel, didalam beberapa hari ini karena didesak oleh jago jago dari berbagai partai yang menginginkan kitab pusaka To Kong Pit Liok" nya mendesak dia hingga berkali kali menemui bahaya, sudah tentu kini dia merasa benci terhadap setiap orang yang menginginkan kitabnya itu.

Mendadak air mukanya berubah, ujarnya.

“Maaf nona aku tidak pernah melihat ayahmu„ waktuku sudah terbuang terlalu banyak, aku pergi dulu.'

Sambil berkata dia berjalan kesamping kerbaunya. Melihat hal itu gadis berbaju putih menjadi cemas, serunya.

"Hey siauw ko, tunggu dulu aku masih ada perkataan lain!"

Terpaksa Liem Tou berjalan kembali, terlihatlah gadis itu mengambil keluar selembar topeng dari dalam sakunya, ujarnya sambil mengacungkan topeng tersebut.

"Siauw ko asalkan kau menyanggupi untuk menemani aku mencari ayahku maka barang ini akan kuberikan kepadamu, bagaimana?”

Liem Tou yang melihat seorang gadis cantik hanya cukup memakai selembar topeng saja maka wajahnya segera berubah menjadi orang nenek yang penuh keriputan tidak terasa hatinya menjadi tergerak pikirnya.

"Asalkan aku jaga punya benda itu maka di tengah perjalanan tidak akan takut lagi dikejar dihadang oleh orang"

Berpikir sampai disini dengan berdiam diri ia melirik sekejap kearah gadis berbaju putih itu tetapi dimulutnya tetap membungkam.

Sigadis berbaju putih tersebut ketika melihat perubahan wajah Liem Tou ini menjadi amat girang serunya.

'Kau tentu sudah setuju bukan? Baiklah mari berangkat.-“

Tanpa perduli apapun gadis tersebut segera melemparkan topeng itu ketangan Liem Tou, ditengah berkelebatnya bayangan putih dia sudah berjalan kebawah bukit meninggalkan Liem Tou yang memegang topeng itu sambil berdiri tertegun beberapa saat Iamanya, gumamnya seorang diri.

"Gadis ini memang sangat cantik hingga melebihi batas hanya saja membuat orang menjadi bingung "

Dia yang sudah menerima topeng pemberianaya sudah tentu tak bisa menampik lagi, sambil menuntun kerbaunya dengan perlahan berjalan menuruni bukit itu.

Saat ini gadis berbaju putih itu sudah menunggang diatas punggung kambingnya menanti kedatangan Liem Tou, Liem Tou yang menunggang kerbaunya itu dengan perlahan berjalan kesamping tubuh gadis itu, ujarnya mendadak.

“Nona, terus terang saja aku beritahu padamu, setiap waktu dan setiap saat selalu aku dibuntuti dengan maut bahkan orang dari Bu-lim semuanya punya niat untuk menahan aku, bilamana nona jalan bersama-sama dengan aku mungkin saja akan ikut tertimpa bencana”