Raja Silat Jilid 06

 
Jilid 06

PADAHAL yang benar Liem Tou banya tahu kalau ilmu langkah Sah cap Lak Thian Kang Poh hoat yang dilakukan itu tidak mungkin bisa terkalahkan, sedang mengenai turun tangan memukul para hwesio itu menurut penglihatannya sendiri bukanlah merupakan suatu jurus serangan yang sesungguhnya, kesemuanya ini tidak lain hanya merupakan suatu pukulan serabutan yang tidak menurut peraturan.

Tetapi siapa sangka dia pernah membaca dan mempeladjari bagian dari kitab silat Toa Koe Cin Keng pada halaman ilmu pukulan sehingga tanpa sadar olehnya didalam melancarkan serangannya itu secara tidak langsung sudah mengandung jurus jurus serangan, hanya saja jurus jurus serangan itu dilakukan sangat kacau sekali, sebentar lempeng sebentar berbelok, bahkan Im serta Yang nya tidak dibedakan sebaliknya hal ini didalam pandangan orang lain hanya didalam waktu sepertanak nasi saja dia bisa mengeluarkan ilmu ilmu pukulan dari berbagai partai serta perguruan yang ada didalam Bu lim sudah tentu membuat para jago yang hadir ditempat ini menjadi sangat terkejut, heran bercampur kagum.

Sebenarnya si hwesio mayat hidup itu sudah melihat situasinya sangat tidak menguntungkan bagi pihaknya, tetapi sekalipun dia meiihat perubahan jurus jurus serangan dari Liem Tou sangat banyak dan lihay ketika terpukul ditubuh anak muridnya tidak terlatu berat sekali, selain tempat tempat yang berbahaya paling banyak juga terpukul hingga sampoyongan saja atau terjungkir balik roboh ketanah, sehingga sampai saat itu dia hanya berdiam diri saja memandang setiap jurus serangan yang digunakan oleh Liem Tou itu, agaknya dia ingin mengetahui asal usul dari permainan silatnya.

Tetapi akhirnya hasil yang dia inginkan tetap tidak berkunjung datang sebaliknya itu murid2 serta cucu2 muridrya dipukul dan dihajar oleh Liem Tou hingga berkaok kaok kesakitan.

Saat ini dia benar benar tidak dapat menahan kemarahan serta pergolakan didalam hatinya, mendadak bagaikan segulung angin keras bertiup datang dengan sangat cepat dia sudah berdiri dihadapan Liem Tou, teriaknya dengan keras.

"Liem Tou, serahkan nyawamu."

Perkataannya belum sampai tubuhnya sudah menerjang kedepan, tangannya dengan kekuatan tenaga murni yang sangat dahsyat mencengkeram kedepan wajah Liem Tou, dengan cepat Liem Tou nguab tubuhnya kebelakang, kakinya merasa tergelincir dengan sangat manisnya dia berhasil menghindarkan diri dari serangan ini.

Thiat Sie sianseng yang saat ini melihat hweesio mayat hidup itu sudah dibuat kalap saking gusarnya segera berteriak dengan sangat cemas.

"Hey pengemis busuk, celaka, celaka cepat turun tangan . cepat turun tangan kali ini bocah cilik itu tentu akan merasakan kerugian yang besar dibawah serangan mayat hidup tua itu,"

Hweesio mayat hidup itu melihat cengkeramannya yang pertama menemui sasaran kosong dengan cepat cengkeramannya yang kedua, gerakannya ini dilakukan dengan sangat cepat sekali sehingga hanya kelihatan bayangan buram yang berkelebat tahu-tahu cengkeramannya ini sudah menempel dihadapan dadanya:

Dengan perasaan cemas kaki Liem Tou sekali lagi berputar, sekalipun kali ini dia berhasil juga menghindarkan diri tetapi wajah serta kulit dadanya terasa angin dingin yang sangat menyesakkan dadanya memancar keluar dari cengkeramannya yang seperti kuku garuda itu, hampir-hampir membuat dia saking terkejutnya sepasang kakinya menjadi lemas tidak bertenaga jurus serangan apapun kini tidak sanggup digunakan kembali didalam pikirannya hanya mengharapkan bantuan dari pengemis pemabok itu menolong dirinya meloloskan diri dari ancaman bahaya maut ini.

Siapa tahu justru saat itu si pengemis pemabok sedang menyahut:

"Hey pedagang licik kau cemas apa? Dengan kelihayan dari ilmu yang dimiliki bocah cilik itu untuk beberapa saat lamanya mayat bangkotan tidak mungkin bisa berbuat apa2 terhadapnya, coba kita lihat lagi." Liem Tou yang melihat sipengemis pemabok itu beberapa kali menolak untuk menolong dirinya didalam hati benar2 merasa gemas, makinya,

"Ingat kau pengemis bau, pada satu hari tentu aku akan suruh kau orang rasakan siksaan seperti ini, aku melihat bagaimana kau melewati siksaan seperti ini”

Pada saat itu mendadak tubuh dari hweesio mayat hidup itu mumbul ketengah udara kemudian berjumpalitan beberapa kali, kepalanya kini berganti dibawah dengan kaki sebelah atas sedang sepuluh jarinya yang runcing bagaikan kuku garuda dengan kecepatan yang luar biasa menubruk kebawah, sehingga dalam waktu yang sangat singkat beberapa kaki disekeliling tubuh Liem Tou sudah berada dibawah lingkaran bayangan cengkeram mautnya.

Liem Tou yang melihat hal itu segera menjerit kaget. "Celaka, aduh mak tolong . . . "

Seluruh tubuhnya segera dijatuhkan keatas tanah, mendadak hawa murninya disedot dalam2 sehingga terkumpul didalam perutnya, didalam sekejap mata perutnya membesar sebesar gentong, dengan mengerahkan seluruh kekuatan tenaga murni yang berhasil dilatihnya begitu menanti tubuh hweecio mayat hidup itu tepat menubruk diatas tubuhnya, mendadak...

"Phuuu .." hawa murni yang dipusatkan dipusarnya segera disemburkan keatas dengan dahsyatnya.

"Oooh...aduh, neneknya . " Dangan disertai suara jeritan yang sangat mengerikan tubuh hweesio mayat hidup itu segera terpental keatas kemudian rubuh kembali keatas permukaan tanah dengan menimbulkan suara yang sangat keras sepasang tangannya dengan kencang2 ditutupkan keatas wajahnya sedang tubuhnya dengan terlentang rubuh diatas tanah untuk beberapa waktu lamanya tidak sanggup untuk merangkak bangun. Pada hal tubuh hweesio mayat hidup yang rubuh keatas tanah dan tidak bisa bangun kembali itu bukannya kerena dia terluka parah oleh semprotan hawa murni itu, hal yang sebenarnya adalah karena tubuhnya yang kaku seperti balok kayu itu dengan sangat tepat rubuh terlentang sehingga sedikitpun tidak punya tenaga untuk merangkak bangun.

Keadaannya yang sangat lucu itu membuat perasaan anti dari para jago dunia Kangouw yang kumpul ditempat itu tidak bisa ditahan lagi, mereka bersama-sama tertawa terbahak- bahak sambil memegang kencang perutnya, apa lagi sisiucay buntung, pengemis pemabok serta Thiat Sie sianseng dari Tionggoan Ngo Koay, mereka tertawa sangat keras sekali sehingga hampir-hampir melelehkan air matanya.

Sipembesar buta itu selamanya mempunyai sifat kasar, serta berangasan apalagi dia merupakan satu kornplotan dengan si hweesio mayat hidup itu kini lihat semua orang tertawa ia bukannya ikut tertawa sebaliknya mengerutkan alisnya, air mukanya berubah membesi dengan sangat gusar bercampur gemas berdiri disamping sedang dari hidungnya tak henti hentinya mendengus dengan sangat dingin.

Suara tertawa keras dari puluhan jago Bu lim secara berbareng ini membuat seluruh lembah cupu cupu yang terkurung diantara gunung gunung yang berdiri menjulang tinggi keangkasa itu bergema tak henti hentinya.

Tak lama kemudian suara tertawa dari para jago itu dengan perlahan mulai berhenti kembali, tapi suara tertawa keras yang bergema di lembah cupu cupu itu tetap saja berkumandang tak henti2nya bahkan semakin lama semakin meninggi.

Lama kemudian barulah suara tersebut merendah dan akhirnya lenyap. tapi pada saat suara sebut hampir lenyap itulah sekali lagi suara tertawa tersebut makin lama makin meninggi dan akhirnya tinggi melengking memekikkan telinga semua hadirin yang mendengar suara itu tak terasa pada termangu mangu dan berdiri mematung ditempatnya masing- masing.

Dengan perlahan suara tertawa itu makin meninggi bersamaan pula nadanya semakin nyaring dan akhirnya tinggi melengking memekikkan telinga, membuat Liem Tou segera dibuat menjadi bingung, ketika menoleh memandang orang orang lain tak tertahan lagi dia menjadi tertegun dibuatnya.

Kiranya saat ini setiap air muka para jago yang ada dilembah itu sudah berubah menjadi pucat pasi bagaikan mayat, wajah yang pucat dengan mengikuti suara tertawa itu perlahan lahan berubah kembali menjadi kehijau-hijauan, bahkan ada pula yang Iangkah kakinya dengan perlahan mulai bergeser mendekati lembah cupu cupu.

Suatu keistimewaan yang paling menyolok di antara peristiwa itu adalah siapapun tiada yang berani mengeluarkan suara sekecappun, masing masing berkumpul dengan kawan- kawannya atau kelompoknya sendiri kemudian mengundurkan diri dari lembah itu dengan tergesa gesa, tapi siapapun tak berani berlalu sangat cepat dibawah telapak kaki mereka seperti sedang dirembeti oleh seekor ular beracun, takut sekali mengejutkan dia sehingga terpagut.

Liem Tou yang melihat kejadian sangat aneh ini merasa sangat heran sekali, dengan tergesa gesa dia menoleh memandang kearah Tionggoan Ngo Koay, tampak merekapun sama halnya dengan yang lain air mukanya telah berubah menjadi sangat serius dan heran bahkan suatu hal yang membuat Liem Tou merasa terkejut dan heran adalah diantara Tionggoan Ngo Koay itu sebenarnya Sisiucay buntung, pambesar buta, hweesio mayat hidup serta pengemis pemabok musuh2 yang tak pernah bisa hidup rukun dan damai tapi entah karena apa begitu suara tertawa yang sangat aneh itu muncul maka mereka berlima segera bersatu padu dan berdiri berjajar menjadi satu. Sepasang mata dari sisiucay buntung, pengemis pemabok serta hweesio rnayat hidup dengan tajamnya memandang kearah sekeliling gunung yang menjulang tinggi serta pintu rembah cupu cupu itu sebaliknya sipembesar buta dengan mengandalkan sepasang telinganya yang sangat tajam melebihi mata itupun dengan memusatkan seluruh perhatiannya mendengarkan gerak-gerik pihak musuh.

Hanya si Thiat sianseng saja yang tetap menundukkan kepalanya memukul pulang pergi biji biji sie poanya, air mukanya yang murung dan dikerutkan kencang2 itu seperti sedang menggambarkan suatu bencana besar yang bakal menimpa dan merupakan suatu kejadian yg sangat mengenaskan selama hidupnya .

Dengan sikap dari setiap jago dilembah itu membuat Liem Tou yang tak tahu urusan apa yang terjadi itu merasa tegang juga tidak tertahan keringat dingin mengucur keluar dengan derasnya.

Lewat beberapa saat kemudian suara tertawa itu mendadak berhenti sama sekali kemudian di ikuti dengan suara pekikan ngeri dari burung elang.

Dari atas kepala para jago segera munculkan dua ekor burung elang yang sangat besar sekali dengan tak henti2nya menyambar diatas kepala para jago itu.

Sayap dari kedua elang itu kelihatan begitu besarnya sehingga hanya cukup bergoyang beberapa kali saja didalam sekejap mata mengitari lembah cupu2 itu sebanyak empat kali, hal ini bisa dibayangkan betapa cepatnya gerakan dari binatang itu.

Saat ini setiap orang memusatkan seluruh perhatiannya keatas, sedang sinar matanya pun dengan tajamnya mengikuti setiap putaran serta setiap gerak gerik dari kedua ekor burung elang tersebut, orang2 yang semula mulai menggeserkan kakinya mendekati pintu lembahpun saat ini menghentikan gerakan tubuhnya dan berdiri mematung dan tak berani bergerak sedikitpun.

Jelas sekali kelihatan air muka dari Tionggoan Ngo Koay makin berubah tegang lagi bahkan keringat sebesar kacang kedelai sudah tampak mulai menetes keluar membasahi keningnya.

Pada saat yang sangat tegang itulah mendadak diantara para jago itu terdengar suara yang sangat aneh sekali. " Sreet " suara yang sangat nyaring memecahkan kesunyian ini membuat Liem Tou hampir loncat saking terkejutnya, dia menoleh kebelakang terlihatlah seorang lelaki berusia pertengahan secara mendadak mencabut keluar pedang yang tersoren dipunggungnya, suara yang sangat nyaring serta aneh itu kiranya berasal dari suara sesaat dia mencabut keluar pedangnya itu.

Siapa tahu begitu pedang panjangnya keluar dari sarung sesorot sinar matahari tepat menyoroti tubuh pedang itu sehingga memantulkan suatu sinar pedang yang sangat menyilaukan mata, suara tertawa keras yang tadi sudah berhenti sekali lagi bergema ditengah lembah cupu cupu serta sekeliling gunung yang tinggi itu bahkan secara samar samar diikuti dengan suara suitan yang keras.

"Kuak ... kuak .. " dengan beberapa kali pekikan mengerikan kedua ekor burung elang itu secara mendadak muncuI dari antara awan kemudian menukik kebawah dengan kecepatan yang luar biasa menubruk kearah orang itu.

Semua jago yang melihat hal itu tidak bisa menahan pergolakan didalam hatinya lagi tak tertahan mereka pada menjerit kaget, tetapi di antara suara jeritan yang sangat mengerikan memecahkan jeritan kaget lainnya, kedua ekor burung elang itu dengan diikuti segulung angin sambaran yang sangat kuat sudah melayang kembali keangkasa menghilang dibalik awan. Ketika keadaan menjadi jelas kembali para jago hanya melihat orang itu sudah binasa diatas tanah dengan badan yang hancur serta darah segar yang berceceran diatas tanah, kiranya tulang tulang batok kepalanya sudah hancur sedang tubuhnyapun koyak koyak oleh kuku elang yang sangat tajam itu.

Keadaan yang sangat mengerikan dan menggoncangkan hati setiap orang ini membuat para jago tidak tertahan lagi pada bergidik sedang bulu roma pada berdiri semua.

Liem Tou yang melihat hal itu dalam hatinya sudah merasa ngeri, pikirnya.

"Siapa orang itu ?? wow . . . sungguh galak dan ganas benar".

Tanpa sadar lagi dia mulai berdiri bersandar pada punggung kerbaunya itu, sedang dalam hati diam diam doanya.

"Moga moga aku bisa menaiki punggung kerbau ini dan menerjang keluar dari lembah terkutuk ini, . . . Oooh Thian tolonglah aku”

Tetapi didalam hatinya mendadak berkelebat kembali keadaan yang mengerikan dari lelaki yang terkoyak oleh dua ekor elang raksasa itu, dalam hatinya sekali lagi timbul perasaan yang mencegah niatnya ini, ujarnya lagi.

"Tidak mungkin .tidak mungkin Liem Tou, Liem Tou, kau tidak mungkin bisa lolos dari lembah ini, sebelum kau orang mencapai depan lembah mungkin kedua binatang itu sudah menghancurkan dan mengoyak-oyak tubuhmu tidak

mungkin tidak mungkin, Oooh . siapa dia? Kenapa sampai

Tionggoan Ngo Koay juga takut seperti itu ? siapa orang itu?”

Dengan kejadian yang sangat mengerikan itu membuat hawa disekeliling lernbah itu berubah menjadi semakin berat dan semakin menyesakkan napas setiap orang, hanya cukup sekejap saja ternyata mirip dengan satu hari lamanya.. . .

yang paling menggemaskan kedua ekor elang raksasa itu dengan tidak henti hentinya terus menerus berputar dan berkeliling di sekitar lembah itu .

Tidak lama kemudian Liem Tou benar benar tidak sanggup untuk bersabar menanti dengan keadaan seperti itu, perasaanaya sekarang ini jauh lebih gemas dari pada tubuhnya dihajar atau dipukuli setengah mati.

Tangan kanannya dengan perlahan lahan mulai diletakkan diatas punggung kerbaunya sedang tubuhnya siap siap meloncat keatas punggung kerbau untuk kemudian dengan cepat cepat menerjang keluar dari lembah itu.

Mendadak pada saat yang bersamaan pula si pembesar

buta mendadak bersuit nyaring dengan tingginya membuat seluruh lembah tergetar dengan kerasnya, bersamaan pula bentaknya dengan keras.

"Kamu iblis terkutuk..iblis elang yang terkutuk aku kira sejak dulu sudah modar tidak kusangka sama sekali ini baru bisa berada ditempat ini he he kalau sudah datang kenapa

tidak muncul muncul? buat apa main sembunyi sernbunyi seperti anak kura kura?? cepat gelinding keluar biar semua orang bisa lihat batang hidungmu.”

Si pembesar buta sesudah berteriak demikian, ujarnya pula dengan nada yang perlahan dengan kawan kawannya.

“Hey buntung bangkotan, mayat hidup pengemis busuk serta Sie poa butut dengarkan dulu. . iblis anjing ini sekali lagi munculkan diri didalam bu lim terpaksa dendam kesumat diantara kita ditunda dahulu untuk bersama sama mengusir iblis busuk itu, pada masa yang lalu kita Tionggoan Ngo Koay bisa menahan serangan iblis itu kiranya ini haripun masih sanggup ..,hem. hemmm heran buat apa kita takut dia juga?”

“Ehmm. perkataan kamu sibuta sekalipun tidak salah" sahut si Thiat Sie sianseng, "tetapi masa yang silam tetap merupakan masa yang silam, masa yang silam sibuntung bukanlah buntung, sipicik bukarlah buta simayat hidup tidak kaku tetapi ini hari diantara Tionggoan Ngo Koay ada yang sudah bunturg, buta ditambah lagi sudah kaku seperti mayat hidup he- he he tidak disamakan lagi."

Sipembesar buta yang mendengar perkataan itu menjadi sangat gusar, ujarnya.

“Haaa - - - perkataan apa ini hey pedagang terkutuk? Kamu kira aku semua harus korbankan nyawa untuk dia orang??

Sekalipun pada masa yang lalu kita tidak buntung, tidak kaku tidak buta tetapi kepandaian yang kita miliki sekarang jauh lebih lihay dari pada kita semasa belum buntung, belum buta, belum kaku.”

"Tidak salah - - tidak salah” sahut Thiat-Sie sianseng tenang, tetapi sekarang aku mau tanya pada waktu yang lalu kamu masih bisa menahan serangan dari kedua binatang terkutuk itu, lalu ini hari kamu masih sanggup tidak?"

Beberapa perkataan ini membuat sipembesar buta bungkam seribu bahasa tanpa bisa mengucapkan sepatah katapun, tetapi dengan cepat Thiat Sie sianseng mengubah pokok pembicaraannya, ujarnya lagi.

"Tetapi kalian tidak usah kuatir tadi aku sudah menghitung dengan teliti, asalkan kita orang bisa menghadapi dia cukup seperempat jam saja maka kita akan dapat tertolong"

Sehabis berbicara dengan perlahan dia melirik sekejap kearan Liem Tou, tanyanya mendadak.

"Hey, Liem Tou! Sebenarnya kamu punya hubungan apa dengan Siok Li Sin Ken atau sicangkul pualam Lie Sang Loo jie dari partai Tun Si Pay? cepat beritahukan kepadaku"

Liem Tou yang ditanya seperti itu menjadi tertegun dibuatnya, sambil gelengkan kepalanya, sahutnya.

“Aku tidak tahu.” Si Thiat Sie sianseng yang mendengar jawabannya itu menjadi gemas, sambil melototkan sepasang mata ujarnya lagi.

"Kamu bohong, aku sudah hitung pasti punya hubungan dengan dia orang"

"Cianpwee.. cianpwee harus percaya omonganku" ujar Liem Tou sambil gelengkan kepalanya dengan keras.

Selamanya Liem Tou belum pernah omong kosong, aku benar2 tidak kenal dengan si Lie-Sang dari Tun Si Pay itu ."

Thiat Sie sianseng yang melihat Liem Ton menjawab begini tidak terasa gumamnya seorang diri.

"Haaaa ? kalau begini aneh sekali memang aneh sekali .”

Sekonyong konyong teriaknya dengan keras. "Binatang itu menyerang lagi…semua waspada.”

Saat itu juga dari tengah awan kelihatan sekali kedua ekor elang raksasa dengan ganasnya menukik turun kemudian menubruk kearah para jago itu. Si siucay buntung, pembesar buta. pengemis mabok hweesio mayat hidup serta Thiat Sie sianseng lima orang segera bersama sama membentak keras, sambaran kipas- tusukan toya besi, sambitan tasbeh, kebasan toya serta kemplangan Sie poa bersama sarna menutup kedepan menahan serangan dari elang pertama yang malah mementangkan cakar mautnya untuk mencari mangsa.

Saat itulah serangan maut dari elang raksasa yang kedua mendesak datang, dengan diikuti oleh segulung angin sambaran yang kuat elang tersebut menyambar tidak lebih dua kaki dari atas kepala semua orang kemudian melayang naik kembali.

Seluruh perhatian dan tenaga dari Tionggoan Ngo Koay mau tak mau terpaksa harus dipusatkan pada gerak gerik serta serangan dari elang2 raksasa itu kendor sedikit berarti maut menjelang datang karena itulah makin lama pada kening masing2 mulai di basahi oleh keringat yang mengucur keluar dengan derasnya.

Saat ini Liem Tou juga sedang memusatkan seluruh perhatiannya melihat seluruh gerak gerik dari elang raksasa itu, pada saat yang sangat tegang dan sangat kritis itulah mendadak muncul seseorang yang berseru dengan keras.

“Tionggoan Ngo Thay hiap, Jangan terlalu tidak tahu diri."

Liem Tou yang mendengar perkataan itu tidak tertahan lagi segera bergidik, dengan cepat dia mengalihkan pandangannya kearah dimana berasalnya suara itu kiranya dua kali dari Tionggoan Ngo Koay berdiri muncullah seorang lelaki berbaju hijau yang berdiri dengan angkernya air mukanya sangat tampan sedang tubuhnyapun tegap.

Tetapi dari Tionggoan Ngo Koay begitu mendengar suaranya orang itu seperti manusia yang bertemu dengan setan tidak tertahan pada menjerit kaget.

“Haaah - ?”

"Aduh . . . "

Karena perasaan terkejut itulah membuat perhatian mereka menjadi sedikit bercabang, agaknya kesempatan yang sangat baik itu tidak mau disia-siakan dengan begitu saja oleh elang raksasa tersebut, dengan mementangkaa sepasang cakarnya yang sangat tajam bagaikan pisau dengan kecepatan yang luar biasa menubruk kebawah, agaknya serangan itu akan membuat tubuh Tionggoan Ngo Koay terpukul hancur atau terkoyak koyak oleh serangan dahsyat ini membuat Liem Tou yang melihat hal ini merasa sangat terkejut sehingga tidak tertahan menjerit kaget.

Saat itulah sipendekar aneh berbaju hijau itu sudah mengebutkan ujung bajunya, sambil bentaknya.

“Kiem jie tunggu dulu.” Serangan yang dilakukan oleh elang raksasa itu dilakukan dengan sangat cepat sekali tetapi perginyapun sangat cepat bagaikan kilat, baru saja suara bentakan dari pendekar aneh berbaju hijau itu keluar dari mulut, sayapnya sudah di pentangkan kembali kemudian meluncur ke tengah awan dengan cepatnya. hanya didalam sekecap mata dia sudah mengejar kearah elang lainnya untuk kemudian melanjutkan terbang kelilingnya mengitari lembah tersebut.

Liem Tou sesudah melihat elang raksasa itu terbang pergi burulah dalam hatinya merasa lega, teriaknya dalam hati.

"Huuh . - - sungguh berbahaya . .. sungguh berbahaya - -“

Terdengar sipendekar aneh berbaju hijau sudah membuka mulut ujarnya kepada Tionggoan Ngo Koay dengan wegah- wegahan.

"Sehabis perpisahan kita diatas Tiong Lam san hanya didalam sekejap mata beberapa tahun sudah lewat, kiranya kalian Tionggoan Ngo Koay hiap masih belum melupakan Thian Pian Siauwcu aku orang Kie bukan?"

Sipembesar buta sesudah mendengar perkataannya segera membalikkan bola matanya yang tinggal putihnya saja itu, tongkat besi ditangannya dengan keras diketukkan diatas tanah baru akan buka bicara, Thiat Sie sianseng dengan cepat sudah berebut omong sahutnya.

"Nama besar dari Thian Pian Siauw cu atau rnajikan elang sakti dari daerah Thian Pian, Ke Hong sudah terkenal didalam Bu lim, bagaimana kita bisa melupakannya. Ke Siauwcu beberapa tahun tidak ketemu kelihatan sekali makin lama kau semakin keren dan semakin serius, entah kali ini datang kemari punya petunjuk apa?"

"He He He..” sahut Thian Pian Siauw cu sambil tertawa tawar. "Kitab pusaka To Kong Pit Liok merupakan sebuah kitab pusaka yang sangat sakti, aku kira orang orang Bu lim tidak ada seorangpun yang tidak ingin untuk mendapatkan kitab itu dengan cepat, apalagi kini kedatanganku tepat wakunya buat apa kau bertanya lagi?”

Sambil berkata dia putar tubuhnya sambil menggendong sepasang tangannya dia berjalan kedepan dengan perlahan, air mukanya masih tetap tersungging suatu senyuman yang sangat dingin, sikapnya sangat sombong dan tidak memandang sebelah matapun terhadap orang lain sesudah berjalan ketengah antara para jago itu ujarnya sambil menuding satu persatu.

"Ciangbunjin dari Bu tong pay, Ciangbunjin dari Siauw lim Pay. Hang san Jie Yu. In San Siang koay, Cian Phu Ngo Koei, Siok To Siang Mo..”

Berbicara sarnpai disini mendadak tanyanya kepada Hek Loo Jie.

"Mana Hek Loo toa?”

Saat itu air rnuka dari Loo Jie sudah menjadi pucat pasi seperti rnayat, sesudah membuka mulut setengah harian lamanya barulah sahutnya dengan gemetar.

“Loo toako kemana selamanya aku Loo jie tidak tahu, bilamana Siauw cu ingin rnemanggil dia datang, biarlah sekarana juga aku pergi cari "

Sambil berkata ia balikkan tubuhnya siap meminjam kesempatan yang bagus ini untuk melarikan diri dari lembah itu, siapa tahu baru berjalan satu langkah, terdengar Thian Pian Siauw cu sambil tertawa dingin sudah mernbentak.

"Aku tidak pernah suruh kamu orang pergi cari Hek Loo toa, buat apa kamu cemas begitu? cepat kembali"

Pada saat dia mengucapkan "Cepat kembali” dua kata, tangannya yang sebelah dengan sangat mudahnya sedikit menjawil kearah Hek Loojie, ternyata sangat aneh sekali tubuh Hek Loo jie yang sebenarnya sedang lari kedepan saat ini ternyata dengan sempoyongan beberapa langkah kebelakang, akhirnya dia tidak sanggup untuk berdiri tegak lagi, tidak ampun tubuhnya terjengkang keatas tanah dengan kerasnya.

Keadaan dari Hek Loo jie saat ini sudah mengenaskan sekali, keganasan serta kekejamannya tempo hari saat ini sudah hilang lenyap seperti tertiup angin kencang, sesudah berhasil merangkak bangun dia menjatuhkan diri berlutut dihadapan tubuh Thian Piauw Siauw cu itu ujarnya sambil meringis ringis menahan sakit.

"Bila aku telah membuat kesalahan terhadap Siauw cu, harap kamu orang mau memaafkan dosa dosa ku itu.”

Thian Plan Siauw cu sama sekali tidak mau ambil perduli atas ratapannya itu setindak demi setindak dia mulai berjalan kedepan tubuhnya.

Air muka Hek Loo jie segera berubah sangat hebat, kelihatan jelas sekali gigi serta bibir-nya gemetar sehingga saling terbentur satu sama lainnya bahkan tubuhnya seperti kena penyakit demam dengan kerasnya gemetar, sambil berjalan kaki merangkak mundur kebelakang teriaknya sambil meratap ratap.

“Siauw cu jangan ° . Siauw cu jangan”

Jubah hijau dari Thian Pian Siauw cu yang longgar itu kelihatan berkibar tertiup angin tetapi langkahnya masih tetap dilanjutkan kedepan,

sedang air muka tetap dingin kaku dan sombong sedikitpun tidak kelihatan perobahan apa pun, gerak geriknya seperti tidak pernah terjadi suatu urusan.

Hek Loo jie yang mundur terus menerus ke belakang akhirnya tidak tertahan juga, teriaknya:

“Hey orang she Ke aku dengar kamu orang tidak pernah mengikat tali dendam maupun sakit hati” Parkataannya belum selesai diucapkan mendadak tubuhnya meloncat bangun, telapak telapak tangannya dengan menggunakan jurus Tui Juang Jung Gwat atau mendorong jendela memandang bulan dengan kekuatan yang besar menghajar tubuh Thian Pian Siauw cu.

Sekali lagi si Thian Pian Siauw cu tertawa dingin, sambil rnengebutkan jubahnya yang ber warna hIjau ujarnya.

“Hek Loo jie sebetulnya aku tidak punya niat rnenyusahkan kamu orang kamu mau cari mati sendiri yaaah??”

Kebutannya memang kelihatan sangat enteng dan ringan sekali tetapi hal yang sebenarnya segulungan tenaga murni yang sangat dahsyat dengan mengikuti kebutan itu menyerang kedepan terdengar Hek Loo jie mendengus berat tubuhnya sudah terlempar sejauh satu kaki kedepan demikian menggeletak diatas tanah tidak bisa berkutik kembali.

Sejak semula hingga saat terakhir Liem Tou terus menerus melihat setiap kejadian yang mendebarkan dan mengejutkan hati itu, saat ini tidak terasa pikirnya,

“Mungkinkah Hek Loo jie terbinasa hanya degan satu kebutan pendekar aneh berbaju hijau itu? kalau begitu pesan terakhir dari Hek Loo toa yang minta aku bunuhkan itu manusia terkutuk Hek Loo jie men jadi tidak bisa terlaksana”

Baru saja pikirannya terpikir demikian terdengar Thian Pian Siauw cu sudah bicara lagi,ujarnya.

“Hek Loo jie dengan kekurang ajaranmu ini harusnya kau dihukum mati tetapi bilamana kau mau beritahu itu kitab pusaka To Kong Pit Liok sekarang berada ditangan siapa, maka aku Thian Pian Siauw cu segera akan buka satu jalan kehidupan bagi dirimu.”

LiemTou yang mendengar perkataan itu segera tahulah dia kalau Hek Loo Jie belum binasa, kiranya dia hanya terluka dalam saja, sejenak kemudian terlihatlah sambil merintih kesakitan dengan paksakan diri Hek Loo jie merangkak bangun, sedang mulutnya dengan nada yang rendah mengucapkan sasuatu hanya karena jarak yang jauh sehingga Liem Tou tidak bisa dengar dengan jelas.

Ujar Thian Pian Siauw cu lagi dengan keras.

' Hek Loo jie kamu orang tidak usah ucapkan terima kasih kepadaku, cepat katakan kitab pusaka To Kong Pit Liok sebetulnya berada ditangan siapa?”

Dengan perlahan sinar mata dari Hek Loo jie beralih keatas tubuh Liem Tou yang dipandang seperti itu tidak tertahan dalam hati merasa berdesir pikirnya.

“Aduh mak ...Tolong..Thian. .. kelihatannya kali ini aku sukar untuk loloskan diri.”

Mendadak sisiucay buntang yang berada di samping membuka mulut, ujarnya:

“Dari tempat kejauhan Ke Siauw cu datang kemari agaknya sudah punya pegangan yang tebal untuk mendapatkan kitab pusaka itu tetapi menurut penglihatanku sekalipun Siauw cu tahu kitab pusaka itu berada ditangan siapa belum tentu dengan mudah mendapatkannya.”

“Kenapa?” 'ujar Thian Pian Siauw cu dengan sangat dinginnya sedang kepalanya dengan per ahan ditolehkan kebelakang. “Apakah mungkin orang yang mendapatkan kitab pusaka itu mempunyai asal usul yang besar yang tidak bisa diganggu dengan seenaknya.?”

Dengan perlahan sisiucay buntung itu menudingkan tangan tunggalnya kearah Liem Tou, kemudian barulah sahutnya.

“Tentang itu masih belum memadahi, coba kamu lihat kitab pusaka itu berada ditangan orang ini, tetapi pernahkah kau terpikirkan bahwa orang yang kecil justru sukar dihadapi?" Semula ketika Thian Pian Siauw cu melihat sisiucay buntung itu menuding Liem Tou dan melihat keadaan Liem Tou yang demikian, tidak terasa menjadi tertegun, kemudian setelah mendengar sisiucay buntung itu menyebutkan kalau orang yang kecil justru sukar dihadapi mendadak angkat kepalanya tertawa terbabak bahak, kemudian dengan perlahan dia menoleh kearah ciangbunjin dari Bu tong pay, ciangbunjin dari Siauw lim Pay, Heng San Jie Yu, In San-Siang Koei serta Tian Pian Ngo Koei sekalian dengan perlahan tanyanya. 

"Kitab pusaka To Kong Pit Liok sudah men jadi milik aku orang she Ke, kalian siapa saja yang tidak puas”

Sambil berkata sepasang tangannya bertolak pinggang menantikan jawaban dari orang orang itu, tapi suasana masih tetap sunyi senyap para jago yang diajak bicara tetap membungkatn seribu bahasa.

Sesudab menanti sepertanak nasi lamanya, Thian Pian Siauw cu tetap tidak dengar sahutan mendadak bentaknya lagi:

"Kalian semua gentong nasi, cepat menggelinding dari sini."

Samba berkata ujung bajunya dikebutkan dan disambarkan kedepan segulung angin serangan yang sangat dahysat segera menggulung kedepan dengan kerasnya, tidak seorangpun yang tidak sempoyongan terkena sambaran angin ini. Meiihat kejadian ini para jago mana berani melawan dia lagi ? Dengan suatu gerakan yang sangat cepat mereka bersama semua pada bubaran keluar dari lembah cupu cupu itu.

Ditengah lembah kini hanya tinggal ciangbunjien dari Bu- tong Pay. Ciangbunjin dari Siauw lim pay, Heng San Jie Yu sekalian karena kedudukannya sebagai seorang cianpwee dari satu partai yang besar sudah tentu rnereka mera sa malu untuk ikut bubaran dengan lainnya tetapi meskipun demikian mereka hanya herdir ditempat kejauhan tanpa berani ikut mengangkat bicara lagi. Thian Pian Siauw cu yang malihat hal itu juga tidak ambil perduli lagi.

Menanti setelah para jago pada lari terbirit birit meninggalkan lembah itu Thian Plan Siauw cu barulah dengan perlahan membalikkan tubuhnya dan melirik sekejap kearah Liem Tou, ujarnya lagi terhadap Tionggoan Ngo Koay.

"Aku sudah mengambil kepastian untuk nahan orang ini, dari pihak Ngo Hiap masih punya petunjuk apa ?"

Si siucay buntung yang sudah kadung bicara saat ini untuk menarik kembali perkataannya sudah tentu tidak mungkin laga, terpaksa sahutnya dengan perlahan.

"Aku kira tidak begitu mudahnya, sekalipun pada pertemuan besar diatas gunung Tiong Lam san tempo hari Ke Siauwcu bisa mengalabkan para jago dengan mengandalkan sepasang telapal tangan, mengalahkan raja Auh Hay ClangCau, melukai Kiem Ko It Tiauw atau sipancing emas sakti Liem Tiong babkan dengan si- Giok Li Sin Koen Lie Loojie bertempur tiga hari dan tiga malam tanpa ada yang menang sehingga nama besarnya menggetarkan seluruh dunia kangouw dan terkenal hingga seluruh pelosok dunia, tetapi keganasan serta kekejamanmu jauh lebih manggetarkan seluruh jago-jago jago berkepandaian tinggi yang binasa ditanganmu semasa pertemuan besar diatas gunung Tiong Lam san entah barpuluh puluh orang banyaknya, bilamana kini kitab pusaka To Kong Pit Liok itu jatuh ketanganmu pula he he be . . . kiranya diseluruh dunia kangouw maupun disekitarnya akin menemui bencana yang sangat besar. Dari pada saat itu kami lima orang menemui bencana ditanganmu jauh lebih balk sekarang juga adu jiwa dengan kamu orang. Hey orang she Ke. Untuk medapat kitab To Kong Pit Liok itu tidak sukar tapi harus singkirkan kami berlima dulu."

Thian Pian Siauw cu begitu mendengar perkataan itu air mukanya masih tetap tenang tenang saja tanpa terjadi perubahan sedikitpun, hanya saja jubah hijau yang dipakai itu secara mendadak bergoyang terus menerus. Tiong-goan Ngo Koay begitu melihat hal itu secara diam-diam mengadakan persiapan juga, mereka tahu tenaga dalam yang dilatih Thian Pian Siauw cu ini sudah mencapai pada tarap kesempurnaan, apalagi tawa khikang yang tarpa berwujud sekalipun Giok Li Sin Kun, itu Lie loojie sendiri juga tidak mau berhadapan langsung karena kelihayaianya tdak usah diceritakan sudah sangat jelas sekali, Thian Pian Siauwcu sesudah selesai memusatkan hawa murninya, u jarnya kemudian dengan sangat dingin.

"Hemmn ... hem. jika dengar pembicaraanmu mungkin kalian akan memaksa aku turun tangan juga?? aku lihat Tiong goan Ngo Thay hiap untuk angkat nama bukanlah urusan yang gampang lebih baik kalian pikirkan lagi dengan masak masak".

Sipembesar buta yang mempunyai sifat paling berangasan menjadi sangat gusar sesudah dengar perkataan itu bentaknya.

“Perkataan dari buntung tua itusedikitpan tidak salah, turun tangan jauh turun tangan buat apa kamu orang banyak bicara

?"

Mendadak Thian Pian Siauw cu tertawa terbahak bahak kembali, air mukanya berubah menjadi membesi sedang mulutnya dengan cepat bersuit panjang dengan nyaringnya, ujarnya kemudian dangan keras.

"Bagus, aku akan hadapi kalian berlima seorang diri, jangan kalian kira lima orang bersatu padu bisa merajai seluruh daratan tiong goan lalu aku tidak bisa kalahkan kamu orang, ini hari dengan bekerja sama kalian berlima boleh terima tiga jurus seranganku, bila aku gagal sejak ini hari juga didalam dunia kang ouw tidak akan dengar nama Thian Pian Siauw cu lagi". Sambil berkata seluruh tubuhnya digetarkan sehingga secara mendadak tubuhnya membesar satu kali lipat dari keadaan biasanya, Liem Tou yang melihat keadaan ini dalam hati diam-diam merasa terkejut bercampur kuatir atas keselamatannya Tiong goan Ngo Koay, tidak terasa keringat dingin mulai mengucur keluar.

Saat ini Tionggoan Ngo Koay mulai bersiap sedia, mereka semua tidak berani berlaku terlalu gegabah lagi didalam menghadapi musuh yang sangat tangguh ini. Terlihatlah sipengemis pemabok berdiri ditengah tengah sedang sisiucay buntung serta Thiat Sie sianseng berdiri disamping kirinya kemudian si hweesio mayat hidup serta si pembesar buta berdiri disamping kanannya mereka bersama sama berdempet dempetan satu sama lainnya. Bersamaan pula kelima orang itu mendadak sedikit merendahkah tubuhnya, sedang kuda kudanya diperkuat, selain sipembesar buta yang memejamkan mata lainnya empat orang bersama sama memusatkan perhatiannya dan pandangannya kedepan .

Thian Pian Siauwcu mendadak mendengus dengan dinginnya, sepasang telapak tangannya dengan perlahan lahan diangkat sejarak dengan dada, pada jarak kurang lebih beberapa kali dari kelima orang itu berdiri mendadak sepasang telapak bersama sama didorong kedepan.

Segulung angin serangan yang sangat dahsyat bagaikan menggulungnya ombak ditengah amukan topan ditengah samudra babas dengan tidak hentinya mengalir kedepan menekan dari atas kepala kelima orang itu.

Segera terdengarlah Tionggoan Ngo Koay berlima sama membentak keras, lima orang sembilan tangan bersama sama melancarkan serangan balasan.

Pada saat telapak tangan masing masing terbentur satu sama lainnya itulah mendadak tubuh Thian Pian Siauwcu berjumpalitan ditengah udara kemudian tertawa terbahak bahak dengan kerasnya. Saat itu air muka dari Tionggoan Ngo Koay sudah berubah menjadi pucat pasi bagaikan mayat sedang dari wajahnya secara samar2 memperlihatkan perasaan kesakitannya yang luar biasa, sedang kesembilan buah tanganpun dengan tidak henti-hentinya gemetar dengan sangat hebat.

Liem Tou yang melihat keadaan mereka men jadi seperti tidak terasa dari dalam hatinya timbul perasaan simpatik, sekalipun sihwesio mayat hidup serta pembesar buta itu mempunyai niat untuk mencelakai dia dan merebut kitab pusakanya tetapi didalam keadaan yang sangat kritis dan menentukan mati hidupnya seorang ini ternyata Tionggoan Ngo Koay bisa berhasil menyatukan kekuatan tenaga murni mereka untuk bersama-sama menghadapi musuh tangguh hal lni sudah sangat jelas memperlihatkan kalau diantara Tionggoan Ngo Koay sebenarnya merupakan pasangan teman yang sangat akrab sekali hanya entah akhirnya karena apa mereka menjadi bentrok sendiri dan menganggap kawan sebagai musuh bebuyutan, kini didalam menghadapi musuh tangguh bisa juga bersatu padu menghadapi musuh, keluhuran hatinya boleh dipuji, Liem Tou yang punya pikiran demi kianpun tidak terasa lagi perasaan benci serta perasaan bermusuhan didalam hatinya menjadi hilang dengan sendirinya.

Didalam sekejap mata saja pukulan yang kedua sudah dilancarkan oleh Thian Pian Siauw cu itu, didalam hati sekalipun Liem Tou merasa sangat cemas tetapi dia sama sekali tidak punya cara untuk memberi pertolongan terpaksa dengan melongo dia memandang jalannya pertempuran.

Tampak sepasang telapak tangan dari Thian Pian Siauw cu sesudah didorong kedepan kali ini keadaannya jauh berbeda dengan keadaan pertama, pukulannya sesudah dilancarkan sedikit pun tidak membawa sambaran angin maupun kebulan debu tertiup angin keadaannya sangat tenang dan sunyi hanya saja keadaan dari Tionggoan Ngo Koay jauh lebih menegangkan lagi, seperti juga semula mereka berlima bersama-sama dengan sembilan buah telapak bersama2 menyambut datangnya serangan musuh ini.

Liem Tou yang sedang merasa heran mendadak melihat seluruh bulu roma dari Tionggoan Ngo Koay pada berdiri semua sepasang matanya melotot keluar, sedang keringat sebesar biji kedelai dengan derasnya mengucur keluar dari keningnya, apalagi kesembilan buah tangan yang sedang diulur kedepan itu ternyata tidak sanggup untuk ditarik kembali. telapaknya menghadap keluar sedang jari jarinya membuka dengan kakunya

Didalam sekejap saja membuat Liem Tau yang melihat pertempuran itu menjadi sangat terperanjat sedang hatinya camas seperti ditusuki beribu ribu jarum kecil, dia tahu kedua belah pihak sedang menggunakaa seluruh tenaga yang dimilikinya untuk mengadu jiwa, bahkan masing masing pihak sediktpun tidak mau mengalah terhadap pihak lainnya.

Ketika memandang lagi kearah Thian PianSiauw cu kelinatan dengan jelas pada bibirnya tersungging suatu senyuman yang sangat dingin, sepasang telapaknya dengan sejajar didada dengan tenangnya mengnadap kedepan kelihatannya dia sama sekali tidak terialu ngotot.

Dalam hati Liem Tou semakin merasa sedih lagi, dia tahu saat ini Thian Pian Siauwcu sama sekali tidak menggunakan tenaga penuh tetapi Tionggoan Ngo Koay sudah kelihatan demikian ngotot dan beratnya, bilamana dia sampai menggerakkan seluruh tenaga murninya lalu bagaimana keadaan dari Tionggoan Ngo Koay saat itu? dan mana mungkin mereka sanggup menahan serangan itu??"

Berpikir sampai disini tak tertahan lagi semangat kependekarannya rnuncul dari dasar lubuk hatinya dengan tidak perduli kelihayan pihak musuh rnendadak bentaknya.

"Hey orang she Ke lihat serangan." Thian Pian Siauwcu begitu mendengar bentakan ini tidak terasa tubuhnya sedikit tergetar, pada saat itulah Tionggoan Ngo Koay bersama sama membentak nyaring dengan paksakan di ri mereka berhasil rnendesak kembali serangan Khie kang tanpa berwujud yang dilancarkan oleh Siauw cu itu.

"Gelegar . “ Thian Pian Siauw cu tidak sempat untuk menarik kembali serangannya,suatu tenaga Khie kang yang sangat dahsyat tanpa bisa dicegah lagi menghantan tanah disisi tubuh Tionggoan Ngo Koay, terlihatlab abu dari pasir pada berterbangan, permukaan tanah yang ditumbuhi dengan suburnya oleh rerumput, didalam sekejap saja berubah menjadi liang yang dalam oleh pukulan dahsyat tenaga Khie kang itu.

Thian Plan Siauw cu melihat serangannya yang hampir mengenai sasaran ternyata telah dikacau oleh bentakan Liem Tou bahkan dengan demikian Tionggoan Ngo Koay berhasil meloloskan diri dari kurungan hawa pukulannya, tidak terasa menjadi sangat gusar sekali, dengan wajah yang merah padam dia menoleh kearah Liem Tou, makinya.

"Bangsat cilik, saat kamatianmu tidak jauh lagi"

Tetapi dia tidak melancarkan serangannya ke arab Liem Tou, hanya kepada Tionggoan Ngo Koay ujarnya dengan keras.

"Terima kembali satu jurus yang terakhir°.

Dengan menggunakan hawa Khie kangnya yang tak terwujut sekali lagi Thian Pian Siauwcu melancarkan serangan dahsyatnya, didalam sekejap saja dua gulung tenaga pukuien yang sangat kuat manempel satu sama lainya.

Dengan memandang dari perubahan wajah masing masing Liem Tou segera tahu bahwa walaupun Tiongoan Ngo Koay masih sanggup untuk menahan serangan dari Thian Pian Siauw cu itu tetapi lama kelamaan tidak akan sanggup bertahan dan akhirnya akan terluka dibawah serangan dahsyat dari Thian Pian Siauw cu.

Untuk menolong nyawa dari kelima orang ttu mendadak dalam pikirnya berkelebat suatu ingatan, dengan cepat dia meloncat naik ke atas punggung kerbaunya, sambil serunya dengan keras.

Orang she Ke, kitab pusaka To Kong Pit Liok kamu orang, jangan harap bisa mendapatkan kembali."

Sambil berkata sepasang kakinya menjepit kencang kencang perut kerbau itu sedang tangannya dengan cepat memukul pantatnya, bentaknya.

“Gouw Koko cepat..!”

Kerbau itu seperti tahu apa yang sedang di rerintahkan kepadanya, kakinya dengan cepat hergcrak kemudian dengan cepat lari keluar da ri le mbah cupu cupu itu.

Dengan perbuatannya ini segera mendatangkan hasil, Thian Plan Siauw cu rnemangnya datang dikarenakan kitab To Kong Pit Liok itu. kini Liem Tou pergi sudah tentu dia tidak punya minat untuk rnelukai nyawa dari Tionggoan Ngo Koay Iagi, sambil menarik kembali telapak tangannya dia tertawa panjang, bentaknya.

"Bangsat cilik kamu orang tidak akan bisa lolos"

Jubah hijaunya dikebutkannya dengan cepat dia mengejar dari belakang.

Gerakan tubuhnya itu sangat ringan bagaikan bertiupnya segulung angin, hanya didalam seke jap mata saja tubuhnya sudah berada beberapa kaki dari tempat semula, saat itulah Tionggoan Ngo Koey baru merasa tidak beres,teriaknya berbareng.

"Celaka!" Bersamaan pula sembilan buah kaki dengan cepat dipentangkan dan lari dengan cepatnya mengejar dari belakang.

Liem Tou yang merasa tubuh Thian Pian Siauw cu mulai mengejar dan mendekati belakang tubuh kerbaunya tidak dapat lari dengan cepat, dia merasa gemas kepada kerbaunya tidak punya sayap sehingga bisa terbang dari situ.

Setelah berlari beberapa waktu lamanya akhirnya Liem Tou berhasil juga keluar dari lembah itu, mendadak terdengar Thian Pian Siauw cu dengan suara, yang tinggi rnelengking sedang bersuit panjang, kemudian teriaknya.

"Hay bangsat cilik. Cepat berhenti dan serahkan itu kitab pusaka To Kong Pit Liok kepadaku, kalau tidak . . . Hemmm hemmm .. . coba bayangkan saja seekor kerbau bodoh mana mungkin bisa memadahi kecepatan dart Kiem Giok jieku itu?? Saat itu aku akan perintah mereka untuk mengoyak oyak tubuhmu sehingga hancur .. -hemm hemm saat itu walaupun kamu orang menyesal juga tidak berguna.”

Liem Tou yang mendengar suara dari Thian Pian Siauw cu itu sangat dekat dengan dirinya segera menoleh kebelakang terlihatlah dua kaki dibelakang tubuhnya sesosok bayangan hijau dengan cepatnya lari mendatang tidak terasa hatinya menjadi sangat cemas, bentaknya.

-Ooh . . kakak sapi yang baik cepat sedikit larinya."

Pada saat hatinya sedang cemas dan bingung itulah mendadak terdengar suara pekikan ngeri dari dua ekor burung elang yang sedang terbang, ketika diangkat kepalanya memandang, terlihatlah kedua ekor elang itu entah sejak kapan sudah terbang mengelilingi disekitar kepalanya.

Waktu itu Liem Tou sudah berhasil lari hingga diluar lembah, sebelah kirinya merupakan jalan kecil sewaktu dia datang kemari, sedang sebelah kanannya merupakan jalan dekat dengan bukit, pepohonan tumbuh dengan rapatnya sehingga kelihatan sangat rimbun, Liam Tou dengan cepat menarik tali kerbaunya dan menariknya kesebelah kanan.

Sesaat kerbaunya berhenti sebentar itulah suara tertawa dingin dibelakang tubuhnya semakin dekat. dengan cepat Liem Tou menoleh kebelakang begitu kepalanya menoleh tidak tertahan lagi dia menjerit keget.

“Aduh mak .. . tolong . . tolong .. .”

Kiranya saat ini tubuh Thian Pian Siauw cu tidak labih hanya tinggal dua tiga langkah darinya sedang tangannya disambarkan kedepan berusaha rnencengkeram ekor dari kerbau tersebut, keadaan yang demikian bahaya dan mengerikan ini mana tidak membuat Liem Tou menjerit kaget saking ketakutan dan terkejut??

Dengan sekuat tenaga Liem Tou paksa kerbaunya lari lebih cepat lagi, sepasang kakinya yang rnengapit perut kerbau semakin diperkencang sehingga kerbau itu merasa kesakitan, mendadak kecepatan larinya semakin bertambah hingga samping telinganya hanya terasa angin menyambar dengan kerasnya.

Ketika sekali lagi menoleh kebelakang tubuh Thian Pian Siauw cu yang tadinya tinggal dua tiga langkah sekali lagi ditinggal sejauh dua kaki dibelakang .

Tetapi baru menoleh kepalanya mendadak sesosok bayangan abu abu dengan kecepatan bagaikan menyarnbar sebuah anak panah dengan cepatnya, saat itu gerakan dari bayangan tersebut begitu cepatnya sehingga bagi Liem Tou sarna sekali tidak sanggup membedakan apakah bayangan itu manusia apa seekor binatang.

Liem Tou yang melihat bayangan abu-abu itu dengan kecepatan yang Iuar biasa terus menerjang kearahnya segera menjadi bingung, apa tujuannya? Sesaat dia men jadi tertegun itulah bayangan abu abu itu sudah menubruk kearah kepala kerbaunya yang tidak tertahan lagi dia menjerit kaget sedang dalam hati pikirnya.

Tidak perduli karnu manusia atau binatang sesudah menubruk kepala kerbau ini tentu akan runyam.

Siapa tahu gerak gerik dari bayangan abu-abu itu sangat Iincah sekali ketika kelihatan hampir saja tubuhnya menubruk kepala kerbau itu pada saat yang sangat kritis itulah mendadak tubuh dari bayangan itu sedikit mengerut dengan tepat sekali berhasil menerobos melalui bawah perut kerbau tersebut.

Setelah itu dibelakang tubuhnya terdengar suara benturan yang sangat keras sekali diikuti dengan suara bentakan gusar dari Thian Pian Siauw cu. Ketika Liem Tou menoleh kebelakang tampaklah dua sosok bayangan berwarna hijau dan abu-abu sudah bergumul menjadi satu walau pun Liem Tou sudah pentangkan seluruh kekuatan matanya tetap tidak berhasil melihat dengan jelas wajah bayangan itu.

Terlihat kedua orang itu makin bertempur semakin cepat dan akhirnya sampai bayangan manusia pun sukar untuk dibedakan.

Saat itulah dari tengah awan terkumandang datang suara pekikan ngeri yang sernakin lama semakin mendekat, mendengar suara itu Liem Tou mana berani melihat jalannya pertempuran lebih lanjut dengan cepat kakinya mengapit kencang perut kerbaunya sekali lagi lari dengan cepatnya kedepan seperti diuber setan.

Beberapa menit kemudian mendadak terasa olehnya pandangan matanya telah menjadi gelap sedang angin dingin yang menyambar diatas kepalanya pun semakin santar tidak perlu ditanya sudah sangat jelas katau elang raksasa itu sudah berada diatas kepalanya.

Waktu itu Liem Tou tidak punya keberanian untuk angkat kepalanya memandang lagi didalam keadaan yang sangat kritis itu dalam benaknya segera barkelebat suatu akal, tubuhnya dengan cepat ditekuk kedepan kemudian menggelintir menyusup kebawah perut kerbaunya, dengan memegang kencang kaki bagian belakang dari kerbau itu dia melanjutkan melarikan diri dengan cepatnya kemuka, sesaat dia berhasil menyusupkan tubuhnya kebawah itulah kuku elang raksasa seperti capitan besi itu sudah menyambar datang tepat diatas punggung kerbau.

Kerbau ini hidup bersama sama dengan Liem Tou tidak lebih baru beberapa hari malamnya bukannya dia punya kepandaian khusus didalam mengangon kerbau sebaliknya karena kepandaian dari Liem Tou yang sudah terbiasa berguling dan bergurau diatas punggung kerbau sehingga membuat kepandaiannya menyusup kebawah perut kerbau sangat mahir sekali.

Saat ini secara mendadak Liem Tou memegang kencang sebelah kaki bagian belakangnya membuat kerbau itu saking terkejutnya menjadi meloncat kedepan sedang tanduknya yang diangkat keatas tepat sekali menyambut datangnya sambaran dari elang raksasa itu.

Dengan demikian asalkan cakaran dari elang raksasa itu mencapai pada punggung kerbau itu sudah tentu ujung tanduk dari kerbau tersebut akan dengan tepat menghajar perut dari elang itu.

Elang raksasa itu ketika siap menerkam punggung kerbau tersebut begItu melihat tanduk yang runcing siap menerima perutnya segera berpekik nyaring dan melayang kembali ketengah angkasa.

Liem Tou sesudah melihat elang itu terbang keangkasa sekali lagi merangkak bangun keatas punggung kerbaunya, tali lesnya ditarik dengan cepatnya mereka rnenerjang ketengah hutan yang sangat lebat. Tetapi elang raksasa itu tidak mau melepaskan mangsanya dengan begitu saja beberapa kali memperoleh kesempatan baik segera menerjang kembali kebawah membuat Liem Tou beberapa kali hampir2 terluka oleh kuku elang yang sangat runcing dan tajam itu. Untung saja Liem Tou sudah lama bergaul dengan sapi sehingga kepandaian dan kemahirannya menunggang kerbau sudah mencapi taraf kesempurnaan, setiap kali menghadapi bahaya yang kritis berhasil menghindarkan diri sendiri.

Dengan keadaan seperti inilah Liem Tou terus menerus melarikan dirinya dari kejaran ke dua ekor elang raksasa itu sebaliknya kedua ekor elang itu pun tak mau melepaskan mangsanya dengan mudah. Saat itu sudah amat siang perut Liem Tou pun mulai keruyukan minta di isi tak terasa dalam hati pikirannya.

"Hei . binatang terkutuk itu kenapa tidak pergi ? ? perutku sudah mulai lapar sedang per jalanan harus ditempuh beberapa jauhnya ? ?? Nanti aku akan sampai dimana ?

Bilamana kedua ekor elang raksasa itu tidak enyah dari sana cepat atau lambat Thian Pian Siauwcu tentu akan mengejar sampai disitu juga, saat itu dia harus berbuat bagaimana untuk menghadapi 'Thian Pian Siauwcu ? untuk bertempur dengannya ?? tidak mungkin ? Hal itu sama saja dengan telur di adu mencari jalan kematian diri sendiri.

Berpikir sampai disini pikirannya segera bekerja untuk menghindarkan diri dari kuntitan kedua ekor elang raksasa itu, terpikir olehnya kalau tempat itu dekat sungai tentu keadaannya jauh lebih bagus, asalkan dia menceburkan diri kedalam sungai tentu kedua ekor elang raksasa itu tak akan dapat berbuat apa-apa terhadap dirinya, tetapi justru sekarang sekitarnya merupakan tanah pegunungan yang tinggi dan terjal membuat pikirannya sekali pun sudah di peras tetap tak sanggup mencari suatu jalan baik. Sambil berpikir dia tetap melanjutkan perjalanannya melarikan diri, setibanya pada sebuah hutan yang lebat mendadak suatu bayangan berkelebat dalam hatinya, tak terasa dia menjadi sangat girang pikirnya.

“Haaa…sudah ada… kenapa aku tidak mau menyembunyikan diri untuk sementara didalam hutan rimba yang lebat ini ? Menanti sesudah elang terkutuk itu pergi bukankah aku masih punya kesempatan untuk melarikan diri lagi ?"

Dengan cepat dia menepuk pantat kerbaunya sehingga larinya makin cepat, akhirnya tercapai juga tepi hutan rimba yang lebat itu.

Terlihattah pepohonan sebesar beberapa kaki Iebarnya tumbuh dengan suburnya di sekeliling tempat itu dedaunan yang lebat menutupi masuknya sorotan sinar matahari sehingga keadaan sangat lembab tapi dengan begitu terhindar juga dari serangan elang dari atas angkasa.

Liem Tou yang melihat keadaan disana tidak terasa menghembuskan napas lega, dengan perlahan dia meloncat turun dari punggung kerbaunya kemudian beristirahat disamping sebuah pohon yang sangat besar, telinganya masih tetap mendengar dengan jelas suara pekikan ngeri kedua ekor elang raksasa yarg tetap terbang disekeliling tempat itu.

Dengan perlahan kepalanya disandarkan pada dahan pohon sedang ingatannya melayang pada peristiwa yang mengerikan, mendebar serta mengejutkan yang baru saja terjadi dilembah cupu-cupu, saat yang menegangkan itu membuat tubuhnya terasa sangat letih, kini dapat sedikit beristirahat tidak terasa perasaan mengantuk yang sukar ditahan menjalar keseluruh tubuhnya, seluruh anggota tubuh merasa lemas, sedang matanyapun mulai terkatup sukar dipentangkan kembali. Tak lama kemudian Liem Tou tak bisa nahan lagi perasaan ingin tidurnya dengan perlahan tubuhnya mulai rubuh keatas tanah.

Sesaat mencapai pada kepulasannya itulah tiba tiba. . . batang kayu serta daun pada berguguran keatas tanah diikuti dengan rubuhnya batang kayu yang besar dengan menimbulkan suara yang sangat keras, suara itu begitu keras dan begitu dekatnya dengan sisi tubuh Liem Tou membuat dia yang baru saja hendak pulas saking terkejutnya hingga meloncat bangun. sambil mengangkat kepalanya keatas bentaknya.

"Siapa ?? kurang ajar. . binatang terkutuk kamu berani membokong aku dari atas pohon?”

Sesudah membentak keras dia menengok ke atas pohon dan makinya lagi dengan suara seperti geledek.

"Burung terkutuk; suatu hari tentu aku putuskan sayap- sayapmu itu dan pegal cakar cakarmu yang tajam."

Pada benaknya terbayang, kembali keganasan serta kekejaman dari Thian Pian Siauwcu teringat pula pada bayangan abu abu yang menerjang kerbaunya, siapa sebetulnya orang itu?? bagaimana bisa sanggup untuk bertempur melawan Thian Pian Siauwcu ??? kini elang elang raksasa terus menerus terbang keliling disekitar hutan bilamana si Thian Pian Siauwcu itu sampai terpancing datang lagi bukankah urusan akan semakin, tidak karuan???

Semakin berpikir Liem Tou merasa semakin takut dengan cepat dia memanjat kepuncak pohon, dengan menggunakam dedaun yang lebat sebagai penutup tubuh dengan cepat dia memandang keatas saat itu terlibat elang tersebut sedang terbang tinggi diangkasa,hanya dengan beberapa kali kebasan sayap dia sudah lenyapkan diri ditengah awan. Tapi saat itu elang itu hanya tinggal seekor saja sedang yang lainnya entah pergi kemana. Liem Tou yang melihat hal ini menjadi bergerak hatinya, pikirnya dalam hati,

“Celaka yang seekor tentu sedang mengundang Thian Pian Siauw cu kemari"

Dia tak berdiam disitu lebih lama lagi sekalipun harus menempuh serangan elang rakasasa yang ganas itupun dia harus melanjutkan perjalanan juga, dengan tergesa gesa dia merambat turun dari pohon dan jalan kesamping kerbau ujarnya kemudian.

“Kakak sapi yang baik kau seperti aku juga selalu menerima penderitaan, kita harus menempuh bahaya untuk lari keluar dari hutan ini”

Sambil berkata dia merangkak keatas punggung kerbaunya, waktu itulah mendadak dari belakang tubuhnya berkumandang datang suara langkah kaki manusia dengan cepat dia menoleh, terlihatlah seoraag kakek tua berbaju warna abu-abu dengan celana pendek dan kaki yang telanjang sedan berjaIan mendatangi, celana pendek yang dipakai itu ternyata sangat aneh sekali, yang sebelah lebih tinggi dari lainnya. Begitu dia melihat LiemTou menoleh segera digapenya sambil terrtawa tanyanya.

"Hei . bocah cilik, kamu mau kemana?”

Saat ini Liem Tou sudah mirip dengan burung yang dikejutkan oleh anak panah begitu melihat orang asing pada air mukanya segera memperlihatkan perasaan terkejut, takut serta ngerinya, dengan perasaan sangat takut dia memandang kakek tua itu beberapa saat lamanya kemudian barulah sahutnya.

"Aka tak kenal kamu orang, buat apa kamu tanya tujuanku

??" "Aku orang tua sedang melakukan perjalanan" ujar kakek tua itu sambil berjalan mendekati samping tubuhnya.

“Siapa tahu sudah sampai ditempat ini ternyata tersesat, hei bocah cilik tahu tidak tempat apakah ini ??"

Ketika Liem Tou mendengar dia berbicara begini dan mellhat pula kakinya telanjang tak terasa perasaan curiga didalam hatinya timbul semakin tebal, sambil gelengkan kepala ujarnya singkat.

“Aku tidak tahu."

Sehabis berbicara dengan cepat dia menarik tali les kerbaunya dan putar tubuh melanjutkan perjalanan kedepan.

"Hey bocah cilik " seru kakek tua itu mendadak "Tunggu, tunggu aku sebentar, bagaimana jika kita melakukan perjalanan bersama sama"