Raja Silat Jilid 05

 
Jilid 05

LIEM TOU yang melihat itu menjadi amat terperanjat, didalam keadaan yang cemas serta bingung itu air mukanya berubab menjadi amat keren, dengan amat gusar bentaknya. ”Tutup mulutmu” Bersamaan pula tubuhnya maju satu tindak ke depan dan mencengkeram pakaian dari kakek petani itu sambil ujarnya lagi. “Persetan dengan maling atau bukan maling, kau jangau coba coba memfitnah orang baik2, pada waktu kemarin aku masih belum buat perhitungan dengan kau, ini hari kau tidak sopan lagi..Hmm..Hmm.. jangan salahkan aku kalau bertindak tidak sopan kepadamu”

Saat ini Liem Tou merupakan seorang yang sangat besar oleh sebab itulah begitu dia mencengkram pakaian kakek itu kemudian diangkatnya membuat wajah dari petani itu segera berubah menjadi merah padam sedang napasnya tersengkal sengkal

Dengan perlahan Liem Tau melepaskan cekalannya, petani itu berubah menjadi bisa menghembus nafaf lega dengan perasaan terkejut bercapur gusar, bentaknya: “Hai maling kerbau kau ingin bagaimana?

“Siapa yang mencuri kerbaumu? Kau melihat sendiri aku mencuri kerbaumu?” Kakek tua yang dibentak seperti itu menjadi tertegu, dengan sinar mata yang cermat dia memandang sekejap seluruh tubuh Liem Tou, melihat wajahnya yang tampan serta bersih memang tidak mirip sebagai pencuri. Hanya saja sampai saat ini dia masih tak mau percaya penuh atas perkataannya itu, tanyanya lagi : “Tetapi bagaimana kerbau itu bisa bersama-sama kau?”

Terpaksa dengan hati yang mangkel bin mendongkol Liem Tou sekali lagi menceritakan pengalamannya pada hari itu, bahkan maki2 ketololan orang-orang desa itu. Kakek itu setelah mendengar kisahnya segera termenung berpikir sejenak, barulah kemudian sambil mengangguk sahutnya. “ Oh.. kiranya demikian adanya memang hal ini bisa saja terjadi begini, kalau begitu memang diantara kita telah menjadi kesalahan.

Liem Tou yang mendengar nada ucapannya segera tau kalau dia masih setengah percaya itu saking gemasnya hampi- hampir saja perutnya pecah dengan cepat dia putar tubuhnya siap meninggalkan tempat itu, baru saja berjalan beberapa langkah tiba2 terdengar kakek yang berada dibelakang tubuhnya berseru dengan keras.

“Hei..balik, kau mau kemana?”

Liem Tou yang sedang gusar dan mangkel, dengan ketus segera sahutnya: “ Aku sudah kalian pukul sehingga seluruh tubuhku sampai kini masih belum sembuh apa kau mau mengumpulkan kawan2mu untuk mengeroyokku lagi?”

“Hei… Kau yang tidak tau, pada masa dekat ini disekitar tempat ini sering kehilangan kerbau sehingga bisa timbul kesalah pahaman seperti itu, tempat meneduhpun kau tidak milik daripada malam ini kau menginap didalam hutan lebih baik tinggal dirumahku saja, bagaimana?”

Liem Tou mendengar ucapannya yang ramah itu segera membuat perasaan mengkel didalam hatinya lenyap separuh. Pikirnya dalam hati “Hmm…kini aku tak ada tujuan yang tetap, tempat tidurpun tak punya lebih baik ikut saja”Pikirnya. Sesudah berpikir sejenak barulah dai menyanggupi. Kakek itu segera membereskan dengan memimpin Liem Tou berjalan kea rah kesebuah dusun yang berpenghuni kurang lebuh puluhan keluarga saja.

Orang2 dusun yang tempo hari ikut menangkap Liem Tou sebagai pencuri kerbau ketika melihat Liem Tou yang saat ini diajak kakek itu masuk dusun segera menjadi gempar, tidak lama berselang berpuluh-puluh orang membanjiri rumah kakek itu sehingga suasana menjadi ramai, tetapi setelah diberi penjelasan dengan kakek itu urusan menjadi tenang dengan sendirinya.

Dengan keramah tamahan kakek itu yang terus menerus menyuruh Liem Tou tinggal di rumahnya memaksa dia terpaksa berdiam disana tiga hari lamannya, dalam tiga hari ini Liem Tou dengan mengikuti petunjuk dari Hei Loo Jie melatih ilmu pernafasannya sedang oada siang harinya membantu kakek itu mengangonkan sapinya.

Hari keempat pagi2 dengan paksakan diri Liem Tou minta diri pada kakek tua itu, siapa tahu dengan perasaaan iba hari dan hati yang jujur ujar petani tersebut “ Kau tidak punya rumah, tidak punya tujuan, sekarang mau kemana? Lebih baik tinggal saja dirumahku bilamana kau merasa tidak enak biarlah bekerja sebagai pengagon sapi disini saja”

Agaknya kakek itu telah tahu maksud dair Liem Tou yang sebernarnya, sebenarnya dia memang tidak mau meninggal tempat itu kini sesudah mendengar perkataan itu Liem Tou pun tidak menapik lagi.

Tidak disangka pada hari kelima didalam dusun itu secara mendadak berturut-turut muncul pengemis-pengemis serta hweesio yang dandanannya sangat aneh sebang dimalam harinyapun sering dengan jelas Liem Tou mendengar suara dari orang2 sedang berjalan malam. Dengan demikian Liem Tou yang tinggal didalam dusun itu menjadi tidak tenang, jantungnya terus menerus berdebar dengan keras, tetapi untuk sesaat diapun tidak dapat minta ijin dari kakek itu untuk meninggalkan dusun tersebut.

Suatu hari Liem Tou dengan membawa kerbau menuju kebelakang gunung makan rumput, dia sendiri duduk disamping sebuah batu besar meng ingat2 kembali jurus2 dari ilmu pukulan dari kitab rahasia Toa Loo Gin Keng, mendadak dari samping muncul seorang tousu berusia pertengahan yang dengan perlahan berjalan mendekati dirinya, terlihatlah toosu itu memberi hormat padanya sambil Tanya.

“ Hei bocah cilik, didalam beberapa hari ini didalam kampungmu apa melihat munculnya seorang asing?”

Liem Tou mendengar pertanyaan itu hatinya menjadi bergerak, dengan tidak berubah wajah balas tanyanya.

“ Orang asing macam apa?”

“ Oh.. orang itu aku sih belum menemuinya, hanya aku tahu dia bernama Liem Tou”

Liem Tou yang tau namanya disebut hampir saja air mukanya berubah menjadi hijau sangking terkejutnya, tubuh meloncat mundur beberapa tindak. Sahutnya sedikit gugup “ aku juga belum pernah mendengar nama orang ini, hanya hal ini sangat aneh bilamana tooya tidak kenal dengannya mengapa mencarinya?”

Toosu itu memandang sekejap kearah Liem Tou kemudian bentaknya “Buat apa kau tanya ini, sudah tentu aku punya urusan cari dia”

“lalu siapa sebutan dari tooya? Bilamana pada kemudian hari aku bertemu dengan orang bernama Liem Tou akan kusampaikan kalau seorang tooya sedang mencari dia”

“hmm… tentang hal ini tidak perlu” Sesudah itu dia lalu putar tubuh dan berlalu dari tempat itu, tetapi baru saja dia berjalan beberapa langkah dari tempat semula dari bawah bukit telah berkumandang suara tertawa ter galak2 dari seorang sambil ujarnya “ ha..ha..ha..Ciangbujin dari Butongpay Leng Ceng Cu juga dating.. wakakakak.. selamat bertemu.. tentu kaupun sendang mencari berita dari Liem Tou, bukan?”

Liem Tou yang mendengar suara tertawa itu sangat dikenal olehnya segera angkat kepala memandang, terlihatlah Thiat Sie Sian Seng dengan langkah lebar sedang jalan mendekat, hatinya menjadi sangat teperanjat saat ini dia baru tau kalau toosu tadi tidak lain ciangbujin dari Butongpay.

Ling Ceng Cu yang melihat munculnya Thiat Sie Sian Seng secara mendadak ditempat itu semula dibuat tertegun untuk beberapa saat lamanya, kemudian diapun tertawa tergelak sahutnya “ Haha..ha.. aku kira siapa kiranya Tiat sie heng yang telah dating selamat bertemu.. selamat bertemu. Kitab silat To Kong Pit Liok merupakan sebuah kitab silat yang berisikan ilmu silat yang sakti dan dahsyat, siapapun dari dunia kang ouw tentu mengunginkan kitab ini tidak terkecuali aku Leng Ceng Cu, Thiat sie heng kau kira bukankah begitu?”

“Bagus..bagus…memang tepat memang tepat”

Bersamaan pula kedua orang itu tertawa terbahak bahak nampak mereka berdua sangat girang sekali.

Liem Tou sejak melihat munculnya Thias sie Sianseng ditempat itu hatinya sudah amat kuatir kini melihat mereka berdua tertawa terbahak bahak dengan diam2 mengambil kesempatan ini melepaskan tali kerbau dan siap melarikan diri dari tempat itu. Pada saat itu terdengar olehnya Leng Ceng cu berkata “ pada kemudian hari bila ada kesempatan harap Thiat Sie heng segera naik keatas Butong untuk berkunjung,haha..ha selamat tinggal” Liem Tou tahu Leng Ceng cu telah meninggalkan tempat itu diapun meminjam kesempatan itu lari dari tempat tersebut, siapa tahu pada saat itu juga terdengar suara bentakan keras dari Thiat Sie Sianseng.

“Liem Tou kembali..”

Ketika Liem Tou memalingkan wajah memandang, wajah dari Thiat Sie Sianseng pada waktu mana seperti Thiat Sie Sianseng tempo hari yang wajahnya selalu tersungging senyuman manis. Terlihat air mukanya berubah sangat keren sepasang matanya yang tajam bagaikan pisau dengan tak berkedip memandang dirinya.

Tak tertahan lagi Liem Tou merasa mengkirik, pikirnya “ agaknya diapun akan memaksa aku memberitahukan tempat penyimpanan kitab To Kong Pit Liok itu, bilamana dia mendesak sunguh2 bagaimana harus kuperbuat?? Hai..lebih baik kuberitahukan saja padanya, bagaimanapun juga dua merupakan jago yang berbudi luhur dan berhati baik”

Berpikir sampai disini hatinya menjadi terasa tentram, dengan langkag mantap dia berjalan sampai dihadapan Thiat Sie Sianseng, dengan hornat ujarnya “ Cianpwee ada pesan apa. Siaweu Liem Tou pasti akan melaksanakannya” siapa tahu dengan gusar bentak Thiat Sie Sianseng.

“Liem Tou kau dengan tidak sengaja mendapatkan kitab silat kenapa masih tidak melarikan diri jauh2 untuk bersembunyi dari becana? Kau tetap berada didaerah Cong Ling ini apa sedang menanti saat kematianmu?”

Semula kitaka Liem Tou melihat wajah Thiat Sie Sianseng yang penuh dengan hawa amarah hatinya merasa amat takut, tetapi kini setelah mendengat perkataannya yang demikian memperhatikan dirinya tak terasa lagi timbul perasaan terima kasihnya yang mendalam, dia tahu saat para jago baik dari kalangan Hek to maupun dari kalangan Pek To sedang mencari jejaknya, dirinya sendiri sedang berada dalam keadaan yang sangat kritis dan bahaya bahkan kemungkinan sekali setiap saat diculik oleh orang, makin lama makin ketakutan sedang keringat dingin mengucur bertambah deras.

Tak tahan lagi dia menjatuhkan diri berlutut dihadapan Thiat Sie Sianseng, ujarnya “Boanpwee berita kita ini tentu bersumber dari pengemis laknat itu, harap cianpwee mau menolongku” Thiat Sie Sianseng hanya berdiam diri saja, dengan pandangan tajam dia memperhatikan seluruh tubuh Liem Tou.

Tiba2 didalam pikiran Liem Tou terbayang kembali tujuan dirinya sekarang yaitu mecari guru pandai untuk belajar ilmu, kemudian sekali lagi dia naik kepuncak Hi Mo Ling untuk bertemu dengan Ie Cicinya, kini kesempatan baik sudah berada didepanya kenapa juga dia memohon Thiat Sie Sianseng mengangkat dia sebagai muridnya””

Berpikir sampai disini tanpa berpikir panjang lagi segera dia menggangguk anggukkan kepalanya sembilan kali sebagai upacara pengakatan guru. Semula agaknya Thiat Sie Sianseng masih tak merasakan akan hal ini tetapi anggukan Liem Tou belum habis sembilan kali Thiat Sie sudah merasakannya, dengan cepat dia melayang kesamping dan mencekal tangan Liem Tou untuk ditarik bangun, bentaknya dengan gusar

“ Kau ingin berbuat apa?”

“Cianpwee merupakan orang aneh yang berilmu tinggi, harap mau menerima aku Liem Tou sebagai murid, selama hidup melayani kebutuhan cianpwee” Sepasang mata Thiat Sie Sianseng melotot keluar, dengan gusar bentaknya lagi.

“ Hei bocah cilik kau masih tak terima dengan kepandaian yang bakal kau terima? Hmm… sungguh kurang ajar, bilamana aku ingin gurumu sejak dulu aku sudah pergi mencari kau buat apa kau mencari aku? Hmm..lain kali jangan coba2 untuk berbuat demikian lagi” Liem Tou dimaki secara begini menjadi sangat murung, terpaksa ujarnya lagi. “ Sekarang cianpwee mau datang memberi peringatan Liem Tou merasa berterima kasi sekali. Kini situasi dari hamba sangat berbahaya, sekeliling tempat ini penuh dengan jebakan2 yang setiap saat dapat mencabut nyawa hamba, bilamana cianpwee memangnya tak punya niat menerima harap mau kasih keterangan untuk meloloskan diri dari bahaya kepungan ini”

Ketika Thiat Sie Sianseng melihat nada suara berubah barulah mengangguk, bagaikan keadaan semula dai mengambil Siepoanya dan dipukul pulang pergi beberapa kali sedang seluruh perhatiannyapun dipusatkan kesana. Liem Tou dengan tenang menati hasilnya disamping, terlihatlah jari2 tangan Thiat Sie Sianseng dengan cepat dan lembut menari diantara biji2 siepoanya, sedang air muka sebentar murung sebentar girang akhirnya tangannya pada pojokan dan berhenti sambil tertawa terbahak2 dia memandang wajah Liem Tou, dengan tajam membuat yang dipandang itu menjadi tertegun tak menentu.

Siapa tahu tiba2 suara tertawa dari Thiat Sie sianseng berhenti agaknya dia telah teringat akan sesuatu, jari tengah serta jari telunjuk sekali lagi dimainkan dari baris ketiga Sinpoanya lama sekali dia berpikir tanpa mengucapkan sepatahkatapun.

Beberapa saat kemudian terlihat keningnya sudah penuh dibasahi oleh keringat yang mengucur bagaikan hujan sendang mulut tetap membaca dengan perlahan. “Tiga kali tiga sama dengan sembilan, tiga kali tiga sama dengan sembilan, naik sembilan binasa, mata buta satu masih dapat melihat ditengah matahari melihat bintang, sapi berputar manusia budiman berjalan tiga hari tidak makan”

Thiat sie sianseng yang membaca terus dengan perlaha itu menjadi berhenti ari mukanya berubah hebat, serunya dengan keras. “ Hai bocah cepat lari” Liem Tou yang melihat sikapnya yang sangat tegang itu menjadi ributkan cemas dengan sendirinya dengan gugup tanyanya.

“aku harus pergi kemana?”

“Cepat naik kerbaumu lari kearah timur laut. Cepat…cepat terlambat sedikit kau tidak punya nyawa lagi”

Mendengar teriakan ini tak tertahan lagi Liem Tou menjerit keras. Dengan cepat dia meloncat naik keatas punggung kerbaunya dan melepaskan tali pengikat dengan kecepatan yang luar biasa dia melarikan kerbaunya kearah timur laut tetapi baru saja lari kurang lebih ratusan tindak terdengarlah suara bentakan orang banyak yang semakin lama makin mendekat, terdengar salah seorang berteriak.

“Hai Liem Tou kamu mau lari kemana?”

“hai bocah cilik, sekalipun kau terbang keangkasa atau masuk kedalam tanah kami juga tetap akan mengejar, kitap To Kong Pit Liok jangan harap kau bisa miliki seorang diri”

Bahkan saat itu terdengar pula suara teriakan dari Thiat Sie Sianseng yang sedang memeperingatkan dirinya. “hai bocah cilik cepat lari, terlambat satu tindak berarti binasa”

Liem Tou semakin merasa ketakutan sambil menggigit kencang bibirnya sepasang kakinya dengan sekuat-kuatnya mengapit perut kerbau sedang ujung kakinya dengan seluruh kekuatannya menedang peru kerbau tersebut, serunya dengan keras. “Gouw ko, cepat lari…oh..kakak kerbau yang baik lari cepatttttttttttttttttttt”

Kerbau itu sesudah ditendang dengan keras Liem Tou saking kesakitan sambil cawat ekor bagaikan sambaran kilat cepatnya dengan tidak perduli apa2 lagi melarikan diri 80KM/jam dengan sangat cepatnya. Didalam sekejap saja Liem Tou sudah merasa sambaran angin men deru2 disamping telinganya, sedang pemandangan kedua belah sampingnyapun sangat cepat berkelebat menghilang kebelakang.

Tidak lama mereka sampailah disebuah tanah lapang rumput luas dihadapan dari lapangan rumput itu menjulang tinggi puncak2 gunung uang tersebar disekelililingnya, sehingga bentuknya seperti melingkar dengan perlahan2 Liem Tou menoleh memandang kebelakang dilihatnya orang2 yang mengejat sudah tidak Nampak sama sekali hatinya menjadi sedikit lega, sedangkan kerbau itupun sudah melihat rumput yang segar tidak mau lari lagi dengan menunduk kepalanya mulai mendahar dengan enaknya.

Liem Tou yang dibawa lari kerbau itu selama beberapa saat lamanya dengan lari yang demikian kencangnya semula masih tidak mengapa tetapi sesudah berhenti mulailah terasa seluruh tulangnya pada linu dan kaku, tak tertahan lagi dia menjatuhkan diri rebah diatas tanah rumput itu.

Baru saja duduk tidak lama tiba2 dari sekitar tanah lapang itu berkumandang datang suara bentakan yang sangat ramai kemudian disusul pula dengan suara tertawa yang terbahak2 memekikkan telinga, terdengar suara teriakan seseorang.

“Liem Tou, Liem Tou…dimana mana ada jalan kau tidak mau lewat sebaliknya sengaja memasuki lembah cupu2 ini, kali ini aku mau lihat kay bisa lari kemana lagi?” mendengar perkataan ini saking terkejutnya Liem Tou menjadi meloncat bangun kembali dan memandang kearah berasalnya suara itu tidak terasa lagi dia menjadi berdesir.

Kiranya kitab silat To Kong Pit Liok ini merupakan kitab rahasia yang turun temurun dari Sucouw keluarga Thio, sucouw sendiri sebenarnya bernama Ling Hu Han berasal dari kerajaan Bu Kong Hong, menurut berita turun termurun katanya dia merupakan turunan dari Thio Liang yang termasur itu, oleh orang2 selanjutnya yang mengikuti ajaran tersebut disebutnya sebagai Thio Too Leng. Thio Too Leng sejak kecil sudah pandai mengusai seluruh kepandaian yang ada pada masa itu, ketika pada masa mendekati tua dia secara tidak sengaja telah bertemu dengan orang aneh yang memberikannya kepandaian silat kepadanya dan menetap diatas gunung Ho Uh Sar.

Sampai jaman kerajaan Song dimana perkumpulan Ceng Ie Kauw ini sedang jaya2nya didalam dunia kang ow, perkumpulan Ceng Ie Kauw ini merupakan yang didirikan pengikut2 Thio Too Leng dan mendapat hak untuk melindungi kitab rahasia, To Kong Pit Liok, padahal yang sebenarnya perkumpulan Ceng Ie Kauw itu sama sekali tidak memiliki kitab silat To Kong Pit Liok itu, meraka hanya sengaja membual untuk meluaskan pengaruhnya didalam dunia kang ouw. Akhirnya perkumpulan itu berakhir dengan dimusnahkan oleh orang2 dari golongan lurus.

Tidak disangka saat ini kitab silat, To Kong Pit Liok sekali lagi munculkan diri bahkan jatuh ketangan Hel Loo Toa dari Siok To Siang Mo yang mengakibatkan seluruh dunia kangouw menjadi gempar para jago bail dair kalangan pek to maupun dari kalangan hek to pada keluar dari sarangnya, hanya sayang kedatangan mereka telah terlambat satu tindak, tempat penyimpanan kitab silat To Kong Pit Liok sudah didapat oleh Liem Tou ketika mereka mendengar berita ini mana mau berdiam diri masing2 berusaha untuk mendapakan jejak selanjutnya dari Liem Tou, tetapi baru saja ditempat itu mereka hendak turun tangan diketahui oleh Thiat Sie Sianseng terlebih dahulu dan memperingatkan Liem Tou untuk melarikan diri.

Kini mereka semua sesudah mengejar setengah harian lamanya dan melihat Liem Tou dengan sendirinya memasuki lembah cupu-cupu yang buntu sudah tentu mereka sangat girang sekali.

Liem Tou dapat melihat orang2 yang datang hari itu sangat banyak sekali selain yang dia kenal yaitu Tiong goan Ngo Koay, Ciangbujin Butong Pay Leng Cen Cu, Hek Looji serta pengemis cilik lainnya masih sangat banyak sekali yang belum dia kenal maupun ditemuinya.

Pada saat ini setiap orang dengan wajah yang iri dan pingin ber sma2 berjalan mendekati dirinya, sedang Liem Tou yang melihat orang2 yang datang semakin lama semakin banyak saking takutnya membuat air mukanya berubah menjadi pucat pasi sedang tubuhnya berdiri mematung disana entah harus berbuat bagaimana baiknya, dalam hati diam2 merasa sedih pikirnya.

“Aku harus berbuat bagaimana? Aku harus berbuat bagaimana?”

Rombongan orang2 sesudah berjalan kurang lebih dua kaki dari dirinya barulah berhenti. Diantara orang2 itu yang belum melihat wajah Liem Tou tentunya mengira dia merupakan jagi yang memiliki kepandaian tinggi, siapa tahu begitu melihat bentuk serta sikapnya yang ke tolol2an sedang dandanannya pun merupakan seorang anak dusun pengembala kerbau tak terasa lagi dalam hatinya merasa sedikit ragu2, dengan sinar mata yang kurang percaya mereka memandang wajah Liem Tou tak berkedip.

Perasaan diluar dugaan ini terasa dalam hati Ciangbujin Botongpay Leng Ceng Cu ini sebenarnya dia sebanrnya sudah meninggalkal Liem Tou untuk pergi tapi ketika mendengar suara bentakan serta teriakan yang ramai itu segera membalikkan tubuh mengejar datang kembali. Kini ketika melihat Liem Tou ternyata adalah bocah pengembala kerbau yang ditanyainya tadi tak terasa menjadi tertegun, Tanya dengan cepat.

“Ooh…kaukah yang dimanakan Liem Tou”

Dua orang toosu yang berdiri disamping Leng Ceng Cu segera bertanya dengan nada yang heran. “ Leng Ceng Cu toosu apa mungkin pada sebelumnya sudah kenal dengan orang ini? Tahukah kau berasal dari partai mana?”

“Hei…heng San Jie Ya, jika dibicarakan sungguh menggelikan sekali, ketika tadi aku mencari berita mengenai jejak dari Liem Tou siapa tahu ternyata telah bertanya pada orangnya sendiri masih tidak merasa, bukankah hal ini sangat mengelikan sekali?”

Saat ini diatara orang2 itu mendadak mucul dua orang lelaki dan perempuan yang kepalanya seperti burung elang serta kepala kera, dandannanya sangat aneh sedang wajahnya jelek sekali, mereka sambil menunding kea rah Liem Tou bentaknya.

“Kamu bocah cilik busuk dari mana, apa kitab silat To Kong Pit Liok berhak kau dapatkan? Cepat serahkan padaku”

Liem Tou tidak mengucapkan sepatah katapun diam2 dia berpikir tentunya kedua orang ini adalah Lo San Kioe Long serta Wan Kauw, baru saja berpikir demikian terdengar pembesar buta angkat bicara.

“Siapa yang sedang bicara itu? Menurut kata2mu kita silat To Kong Pit Liok itu harus kau yang dapatkan?”

Kioe Long segera menoleh memandang, terlihat pembesar buta dari Tionggoan Ngo Koay berdiri sejajar dengan Hwesio manyat hiduo, ketika sinar matanya beralih menyapu kearah orang2 lain terlihat sinar maata orang dengan penuh perasaan gusar sedang memandang dirinya, tidak terasa hatinya menjadi berdesir dia tahu dirinya sekalipun mempunyai kepandaian yang lebih tinggipun juga suka untuk memusuhi jago2 dunia kangouw yang puluhan banyaknya ini, berpikir sampai disini bagaikan kepalanya secara mendadak diguyur dengan air dingin, niatnya pun mejadi dingin separuh.

Bersamaan waktunya pula menjadi sadar akan situasi dirinya segera menarik lengan Wan Kauw mundur kebelakang dan ujarnya terhadap pembesar buta itu dengan sangat dingin. "Kitab silat To Kong Pit Liok sekarang sudah jadi banda tanpa pamilik, kita harus mengunakan kepandaian dan kecerdikan kita sendiri untuk meadapatkannya."

Sehabis berbicara dia menari Wan Kauw kesamping dan secara diam2 merundingkan siasat untuk mendapatkan kitab silat tersebut. Liem Tou sendiri sesudah mendengar perkataannya dalam hatinya merasa semakin terkejut, pikirnya “ hei…hanya cukuo salah seorang dari mereka saja aku tidak sanggup untuk melawannya, apalagi sekarang berjumlah puluhan orang banyaknya. Bilamana sunguh2 mereka menggunakan kepandaian maju merubut bukankah badanku segera akan menjadi hancur lulu oleh keroyokan mereka ini?”

Baru saja Liem Tou berpikir sampai disini terlihat orang2 itu dengan perlahan-lahan mulai menyebar secara tidak langsung pula mengepung Liem Tou ditengah kalangan membuat Liem Tou sekalipun punya maksud untuk melarikan diri juga tidak berani untuk melakukannya.

Liem Tou yang melihat situasi sekelilinya telah berubah menjadi begini segera dia tahu kalau harapannya untuk melarikan diri tidak mungkin bisa tercapai lagi, satu2nya harapan baginya adalah mengharapkan petunjuk dari Thiat Sie Sianseng untuk sementara melindungi dirinya, oleh karena itulah sinar matanya dengan per lahan2 beralih ke arah Thiat Sie Sian Seng yang berdiri disebelah kirinya, pikirnya lagi.

“Thian Sie Sianseng merupakan satu rombongan dengan si sincay bunting serta pengemis pemabok, tetapi sekarang kenapa mereka tidak jadi satu?” Ketika dia memandang lagi terlihatlah si sincay bunting berada disebelah kanannya sedangkan pengemis pemabok berada dibelakangnya, mereka bertiga telah berdiri dengan bentuk segitiga.

Liem Tou melihat hal ini hatinya menjadi sadar, bersamaan pula ketika matanya melirik terlihatlah sipengemis cili itu berdiri sejajar dengan seorang pemuda tanpan yang memakai pakaian singset, saat ini perasaan bencinya terhadap pengemis cilik sudah meresap ketulang sumsuny, pikirnya dalam hati. “ Bencana ini semuanya tentu disebabkan oleh pengemis busuk yang banyak mulut”

Mendadak pada otaknya berkelebat sesuatu akan, teringat kembali ketika masih berada didalam penjara Hek Lo Toa pernah membuat gusar pengemis cilik itu dan menyuruhnya dia menghadapi Kiow Long Wan terlebih dahulu sebelum menginginkan kitab silat itu. Kini tak terasa lagi berkelebat memenuhi pikirannya, mendadak sambil menunding kearah pengemis cilik itu teriaknya.

“Kitab silat To Kong Pit Liok hanya sebuah, mana mungkin bisa dibagi rata pada saudara sekalian yang demikian banyak jumlahnya, kini aku Liem Tou sudah ambil keputusan untuk menyerahkan kitab silat itu kepada kalian. Asalkan siapa saja yang sanggup menangkap pengemis cilik itu dan serahkan kepadaku untuk diberi hukuman, maka kitab silat itu akan segera kuserahkan kepadanya.”

Begitu perkataan ini diucapkan segera memancing perundingan diantara orang2 di sekeliling tempat itu, ketika Liem Tou memandang kearah sipengemis cilik terlihat dengan mata melotot gusar dia sedang memandang kearahnya, sedang air mukanya kelihatan sangat jelek sekali menahan perasaan marah dan gusar dalam hati, tapi diikuti pula menengok kekanan kiri agaknya takut ada orang yang turun tangan terhadap dia sehingga sikapnyapun semakin bertambah tegang. Saat itulah dari belakang tubuh Liem Tou terdengar seorang berteriak dengan keras.

“Perkataanmu itu sunggu sungguh??”

“Perkataan seorang laki-laki sejati sebesar gunung thaysan, sekali diucapkan tidak ditarik kembali”

Bersamaan pula Liem Tou menoleh kearah dimana berasal suara itu, terlihatlah tidak jauh dari sipengemis pemabok berdiri lima orang berwajah menyeramkan dengan memakai pakaian serta celana dari kain blaco, orang yang baru saja angkat bicara adalah salah satu dari lima orang tersebut.

Orang itu melihat Liem Tou menoleh kearahnya segera memperlihatkan sebaris giginya yang putih runcing serta menyeramkan, itu membuat tubuh Liem Tou segera merasakan bergindik sedang perasaan berdesir muncul dari dasar lubuk hatinya.

Bersamaan waktunya pula salah seorang diantara mereka tanya kepada empat orang yang lainnya kemudian ber sama2 mendekati sipengemis cilik itu. Mendadak seorang pemuda tanpan yang selama ini berdiri disisi pengemis cilik itu memperdengarkan suara yang sangat menyeramkan kepada kelima orang lelaki jelek berbaju blaco itu, bentaknya dengan amat gusar.

“Cian Pia Ngo Koei agaknya kalian sudah makan nyali macan..hmm…hmm…siapa saja yang berani mengganggu seujung rambutnya jangan salahkan aku Tok Ci Kiam Tan (sijari beracun jarum emas) Song Beng Lan berlaku terlalu ganas”

Cian Pian Ngo Koei (silima setan dari daerah Cian Pian) sama sekali tidak memperdulikan omongannya, langkahnya masih tetap melajutkan menuju pengemis cilik itu, sahutnya. “Sijari beracun jarum emas Song Beng Lan tidak lebih hanya seorang Jay Hoa Cat (penjahat pemetik bunga) yang gemar dupa pemabok, kita orang mau lihat kau mau berbuat apa?”

Air muka pemuda itu segera berubah menjadi ke hijau2an menahan perasaan gusar yang memuncak, bentaknua dengan keras.

“Kowncu harap berhati hati, Siauw Jin akan turun tangan”

Sehabis berkata terlihat tubuhnya berkelebat dengan cepatnya menyambut datangnya tubuh Cian Pian Ngo Koei, bersamaan pula jarinya di keraskan, kemudian dengan kekuatan dahsyat jarinya menyerang dada dari salah satu dari lima orang tersebut. Orang yang diserang itu bukan lain adalah yang disebut sebagai Bo Beng Koei atau setan tanpa nama Loo Toa, terlihat dengan ter gesa2 dia mundur satu langkah kebelakang kemudian bentaknya.

“Song Beng Lan, kamu sendiri yang datang cari mati, jangan salahkan aku turun tangan kejam. Saudara2 sekalian bereskan dia dulu baru bicara lagi” sambil berkata tubuh dari Bo Beng Koei itu miring kesamping, tangan kirinya mendadak dibalik menotok jalan darah pada pundak Song Beng Lan sedang tangan kanannya bagaikan sambaran angina dahsyat menghantam iganya.

Song Beng Lan berani dengan seorang diri menyambut datangnya serangan lima setan sudah tentu bukanlah orang yang lemah, tubuhnya maju kedepan kemudian sedikit berputar dengan tangan dia menangkis datangnya pukulan dari Bo Beng Koei, jari kanannya tetap dengan jurus semula menotok kedadanya.

Tapi Bo Beng Koei sama sekali tidak menghindar maupun berkelit dari serangan ini bahkan melancarkan serangan balasanpun tidak, hanya dengan wajah yang dingin kaku memandang kearah Song Beng Lan.

Song Bengk Lan menjadi tertegun dibuatnya, saat itulah mendadak dari balik punggungnya terasa tiga gulungan angina pukulan yang sangat dahsyat menyerang datang, tidak terasa teriaknya.

“Celaka”

Ujung kakinya dengan seluruh kekuatan menutul tanah sehingga tubuhnya mumbul keatas setinggi tujuh delapan depa tingginya dan dengan berhasil menghindarkan diri dari serangan gabungan dari Ngo Koei itu, tangannya dengan cepat meraut segenggam jarum emas siap disabit kedepan, saat itulah mendadak dari sebelah utara terdengan seseorang berteriak dengan keras. “Pengemis cilik mau kabur, cepat cegah dia, tangkap dia”

Didalam keadaan yang sangat terkejut Song Beng Lan jarun emasnya tidak jadi disebarkan kedepan, tubuhnya dengan cepat melayang sejauh puluhan kaki kemudian melayang turun kebawah, ketika memandang kesana terlihatlah si pengemis cilik itu sudah terdesak oleh serangan lima orang sekaligus, dengan cemas dia meninggalkan Ngo Koei untuk lari menolong si pengemis cilik meloloskan diri dari acaman bahaya.

Didalam sekejap mata seluruh perhatian orang2 yang hadir disana tertuju pada pengemis cilik serta Song Beng Lan didalam menghadapi serangan para jago, terlihatlah tubuh si pengemis cilik itu bagaikan melentiknya ikan dengan sangat lincahnya berkelebat dan meloncat diantara sambaran bayangan serta diselingi sambaran angina pukulan yang dahsyat membuat beberapa saat lamanya para jago nomor wahid dari Bulim ini sulit untuk berbuat sesuatu terhadap dirinya.

Liem Tou yang melihat hal ini diam2 dalam hatinya merasa girang, karena siasat licin yang diatur ternyata termakan juga hingga sebagian besar orang2 yang mengepung dirinya berhasil terpancing pergi, kini tinggal dia memancing pergi si hweesio manyat hidup serta sipembesar buta dari Tionggoan Ngo Kay, Ciangbujin dari Butongpay, Heng San Jie Yu, serta seorang hweesio, maka segera dia akan berhasil lolos dari kepungan melarikan diri dari situ.

Sesudah berpikir bolak balik akhirnya dia tertawa ter mehek mehek sangat keras, dengan nada menyindir ujarnya.

“hei..simata picek, kamu orang juga mau merebut kitab pusaka To Kong Pit Liok> kamu sungguh tak tahu kekuatan sendiri, sekalipun aku beri itu kitab pusaka kepadamu, kamu juga tak bisa lihat isinyam lalu apa gunanya?” Sipembesar buta mendengar ejekan itu segera mengaum gusar, kakinya bagaikan kilat cepatnya tahu2 sudah berkelebat mendekati tubuh Liem Tou, tingkat besi ditangannya dengan cepatnya ditusuk kedepan menotok tubuh Liem Tou.

Bersamaan pula teriaknya dengan gusar.

“Bocah busuk tutup bacotmu, kitab pusaka To Kong Pit Liok tidak mungkin bisa didapatkan orang lain”

Liem Tou sama sekali tidak mengira kalau gerak gerik sipembesar buta itu bisa secepat sambaran kilat, gerakannyapun sangat lincah sejak tadi saking terkejutnya dia sudah dibuat menjadi melongo, kini tongkat besinya sudah tiba didepan dadanya, untuk menghindarkan diripun tidak mungkin lagi didalam saat yang sangat kritis inilah terdengar suara gulungan angin yang sangat keras, sincay buntung tepat pada waktunya tiba disampingnya, kipas ditangannya dengan cepat menangkis serangan tongkat besi itu sambil ujarnya.

“Pembesar rakus yang buta, aku kira belum tentu”

Serangan pembesar buta yang ditinggalkan oleh kipas sincay buntung menjadi sangat gusar, dengan keras2 dia menancapkan tongkat besinya keatas tanah, sehingga terbenam beberapa depa didalam tanah, ujarnya dengan gusar bercampur keki.

“Buntung bangkotan!..ini hari tidak mati kita akan buyar”

Sambil berkata tongkat besinya sekali lagi diangkat dengan mengunakan juru Thaysan Jah Ting (gunung Thaysan ambruk) menghajar wajah dari sincay buntung itu, si sincay buntung tidak melihat datangnya serangan itu hanya tertawa ringan saja, kakinya yang tinggal sebelah sedikit menutul ketanah tubuhnya dengan sangat ringan berhasil meloncat sejauh beberapa depa terhindar dari serangan itu, lengannya yang tinggal sebelah segera menggerakkan kipasnya, dengan kekuatan yang luar biasa dia menghajar ujung tongkat besi bersamaan pula tangannya menggelincir dengan mengikuti gerakan dari tongkat besi tersebut melancarkan jurus Hoa Liam Tiam Cing (mengambar naga menutul mata) dari gerakan menjaga jadi gerakan menyerang dan menotok jalan darah Khie Ban Hiat didada sebelah kiri dari pembesar buta itu.

Sipembesar buta segera berteriak membentak keras “Bagus sekali!””Buntung bangkotan ini hari apa kau tidak

akan ada aku”

Tongka besinya tidak ditari kembali bahwa diteruskan membacok kedepan, bacokan ini bilamana mengenai sasarannya mungkin pundak serta lengan dari sincay buntung yang tinggal sebelah itu akan terpotong menjadi dua bagian pula.

Si sincay buntung yang gagah didalam keadaan yang sangat kritis ini tidaknya mundur atau menghindar sebaliknya berteriak dengan keras.

“Loo Kiem buta, bagus sekali seranganmu ini”

Kelihatannya tongkat besi itu akan mencapai pada sasarannya tapi entah dengan mengunakan ilmu apa tanpak tubuhnya sedikit mendak kebawah kakinya tidak meloncat hanya dengan sedikit berputar dia sudah berhasil berdiri dibelakang tubuh pembesar buta itu.

Pembesar buta merasa pukulannya meleset segera merasakan jalan darah Giok Liang Hiat dipunggungnya terancam bahaya kali ini mau tidak mau terpaksa dia harus maju satu langkah kedepan dengan kekuatan yang luar biasa tongkat besinya menyambar lagi kebelakang dengan menggunakan jurus Tag To Kiem Cong (memukul rubuh lonceng emas) berebut menyerbu ketubuh pihak musuh.

Liem Tou yang berhasil dibebaskan sincay buntung dari bahaya sambaran tongkat pembesar buta kini melihat dua orang iru saling serang menyerang tanpa loncat kesamping kerbaunya, disamping memperhatikan seluruh gerak gerik dari jalan pertempuran yang sangat seru itu diam2 dia memikirkan siasat untuk melarikan diri secara diam2.

Pada waktu itu pula mendadak didalam ingatannya berkelebat ilmu silat yang tercantum dan tertera diatas kitab pusaka Toa Lo Kin Keng ketika memandang lagi kearah jurus serangan maupun jurus bertahan si sincay buntung serta pembesar buta ternyata ada beberapa bagian yang rasanya pernah diketahui olehnya, tidak tertahan lagi dia semakin menaruh perhatian terhadap jalannya pertempuran itu, akhirnya dia menyadari juga tidak tidak tertahan lagi perasaan girang meliputi seluruh wajahnya sendang ingatan untuk melarikan diripun segera tersapu bersih dari dalam benaknya.

Tidak disangka pada saat dia sedang memusatkan perhatiannya itulah mendadak lehernya terasa menjadi dingin dengan cepat dia menoleh memandang kebelakang, tak tertaha teriaknya dengan keras.

“Ooh….tolong!!!” saking takutnya seluruh tubuhnya menjadi lemah tanpa tenaga. Kiranya hweesio berbentuk manyat hidup itu entah sehak kapan secara diam2 tanpa mengeluarkan suara sudah berada dibelakang tubuh Liem Tou kemudian mengulurkan cakar mencengkeram tubuhnya.

Saat itulah hweesio manyat hidup itu tertawa terkekeh kekeh dengan anehnya, suara itu membuat semua orang yang mendengar tidak terasa menjadi pada bergindik. Sesudah tertawa beberapa saat lamanya barulah ujarnya terhadap Liem Tou dengan nada yang sangat dingin.

“Liem Tou kau ingin hidup atau modar?”

Saat ini Liem Tou merasa tubuhnya bergindik sedang bulu romanya pada berdiri semua, keringat dingin yang mengucur dengan derasnya membuat keningnya serta perutnya basah kuyup dia sangat terkejut bercampur takut apalagi dari hweesio manyat hidup yang mencengkeram tengkuknya dengan sangan kencang terasa sangat dingin dan keras, saat ini sepatah katapun tidak sanggup untuk diucapkan keluar.

Tetapi sepasang matanya menjadi bisa memandang keadaan disekeliling tempat itu, hanya didalam waktu yang sangat singkat itulah seluruh jago yang ada ditempat itu tanpa terasa sudah pada berhenti dari pertempuran, dengan perasaan tertegun mereka semua pada memandang kemari sedang air muka setiap orang dengan jelas memperlihatkan perasaaan kecewa bercampur gusar yang tak terhingga.

Sekonyong konyong dalam benaknya teringan akan si Thiat Sie Poa (Thiat Sie Sianseng) dengan cepat dia menoleh kearah sebelah kiri saat itu kelihatan sekali air mukanya berubah sangat serius dan keren dengan kencang tangannya merangkul siepoanya yang sedang dipukul bolak balik, agaknya dia sedang berusaha mencari suatu jalan hidup bagi Liem Tou.

Saat itu dengan setengah berbisik ujar hweesuo manyat hidup itu dengan perlahan. “Liem Tou jika kau kepingin modar cukup dua jariku ini aku tekan maka batok kepalamu segera pidan kerumah hingga kau akan menjadi satu setan tanpa kepala. Tapi jika kau pingin hidup terus cepat beritahukan tempat penyimpanan kitab pusaka To Kong Pit Liok itu kepadaku, maka aku beri satu jalan hidup kepadamu”

Sambil berkata hweesio manyat hidup itu dengan tidak henti hentinya meniup hawa murninya kedepan membuat leher Liem Tou merasa dingin dan seperti suatu hawa dingin menyusup masuk kedalam tulang sumsum, Liem Tou hanya merasa tubuhnya sangat tidak enak dengan paksakan diri sahutnya kemudian.

“Tanganmu sangat dingin seperti es aku merasa sangat susa cepat lepaskan tanganmu, nanti aku akan beritahukan kepadamu” Tetapi manyat hidup itu hanya tertawa terkekeh kekeh dengan anehnya.pada waktu itulah puluhan jago jago sudah mengepung kalangan itu seperti semula, hweesio manya hidup itu segera berteriak dengan nadanya yang serak dan aneh.

“he…he…he kamu semua boleh maju lagi, tapi jangan salahkan aku akan pencet bocah cilik ini sampai mati sehingga kitab pusaka To Kong Pit Liok akan ikut terkubur bersama dia”

Semua orang begitu mendengar ancamannya yang kelihatannya bersunguh sungguh itu tidak berani membangkang, terpaksa mereka berdiri dua kaki jauhnya dari tempat dimana hweesio manyat hidup itu berdiri.

Terdengar hweewi manyat hidup bertanya sekali lagi. “Liem Tou sebenarnya kau sudah ambil kepurusan belum? Kalau tidak jangan salahkan tooyamu akan pencet batok kepalamu ini”

Sambil berkata tenaganya benar2 ditambahi dengan beberapa bagian tenaga murni, Liem Tou merasakan kesakitan yg luar biasa sehingga menusuk kedalam tulang sumsumnya, sedang air yang berada dimukanyapun makin lama mulai kelihatan semakin berubah menjadi pucat pasi. Tapi dengan sekuat tenaga dia tetap mempertahankan dirinya, untung sejak lama kemudian si hweesio manyat hidup itu sudah mengendor kembali pencetannya, saat itulah Liem Tou baru bisa menghembus nafas lega.

Tiba2 pojokan matanya terbentur dengan air muak Thait sie sianseng yang penuh dihiasi oleh senyuman manis dan sedang berjalan mendekat, tak terasa hatinya berpikir. “mungkin aku ada harapan tertolong, kalau tidak kenapa dia begitu girang” siapa sangka Thiat Sie Sianseng sama sekali tak memandang kearahnya sampai melirik sekejappun tidak, hanya dengan tenangnya dia berjalan menuju kebelakang tubuh salah satu dari Heng San Jie Yu, mendadak bentaknya dengan keras. “Heng San jie Yu. Hutang piutang diatara kita harus diperhitungkan sekarang juga” sambil berkata tangannya dengan kecepatan luar biasa melancarkan serangan menotok kearah jalan darah Thian Cu Hian di leher bagia belakang orang itu.

Agaknya orang itu sama sekali tak menduga akan adanya serangan ini, dalam keaadan yang sangat terkejut terpaksa dia merendahkan tubuhnya kebawah, tubuhnya tanpa berputar, kepalanya tanpa menoleh segera melancarkan ilmu Hwee in Su (membalik tangan mencekal mega) sedang tangan kanannya dari ketiak sebelah kiri menerobos kebelakang dengan menggunakan jurus Hwee Kuang Huan Cao (Sinat terakhir bercahaya) memukul kedepan secara bersamaan.

Thiat Sie Sianseng segera tertawa besar serunya. “Ilmu Hwee In Su yang sangat lihay”

Liem Tou yang mendengar hal itu tak terasa hatinya menjadi tergerak, segera teringat kembali kalau dalam kitab silat Toa Loo Cin Keng memang termuat ilmu telapak macam itu dengan cepat dia mengingat kembalu gerakan yang dilakukan orang itu kedalam benaknya sedang dalam hatinyapun dengan cepat menjadi paham lagi.

ketika memandang kembali kearah Thiat Sie Sianseng ternyata telah melenyapkan diri entah kemana. Saat ini Thiat Sie Sianseng merupakan satu satunya orang yang paling diandalkan oleh Liem Tou, kini begitu kehilangan dia tidak terasa hatinya menjadi sangat cemas, pikirnya “habis sudah nyawaku hari ini”

bertepatan dengan waktu itu tiba2 terdengar suara Thiat Sie Sianseng sudah mucul dibelakang tubuhnya, terdengar dia dengan suara keras sedang berteriak. “hweesio manyat hidup…kamu orang tidak mau lepas tangan, aku segera akan memperlihatkan kamu akan kelihayanku, lihat senjata rahasia” Liem Tou yang mendengar perkataan itu segera tahu Thiat Sie Sianseng sedang bantu dia untuk meloloskan diri, terpikir olehnya dengan perbuatannya yang sama sekali tidak terduga ini si hweesio manyat hidup itu tentu terpecah juga perhatiannya, pada saat dia kurang perhatian dirinya itulah segera gigit bibirnya dengan seluruh kekuatan yang ada dia paksakan tubuhnya menekan kebawah, sekalipun lehernya terasa sangat sakil tetapi akhirnya dia lolos juga dari jepitan keras hweesio manyat hidup itu.

Diikuti pula segera denga melancarkan ilmu Hwee In Su (membalik tangan mencekal mega) dari Heng Su dari Heng San pay yaitu tangan kirinya menggunakan jurus Huan Su Liauw In sedangkan tangan kanannya melancarkan Hwee Koang Huan Cao (Sinat terakhir bercahaya) yang secara bersamaan dilancarkan kedepan. Si hweesio manyat hidup segera mengaum keras, mau tidak mau harus meloncat mundur dua langkah kebelakang.

Liem Tou yang sudah merasakan kesakitan dari tangannya segera mengeraskan niatnya, mendadak dia melancarkan serangan kembali dengan menggunakan jurus serangan Ooh Koei Ciat Hun (Setan lapar menubruk sukma) dari ilmu Sam In Ghiat Ciang yang diajarkan Hek Loo Toa kepadanya, baru saja hweesio manyat hidup itu mundur kebelakang tiba2 Liem Tou menjerit kesakitan kemudian rubuh kebelakang. Rubuhnya dia tanpa sebab musabab ini membuat semua jago yang ada disitu dibuat menjadi terkejut bercampur tercengang.

Siapa tahu belum sampai tubuh Liem Tou yang rubuh keatas tanah itu mencapai permukaan tanah hingga mendadak bagaikan seekor ular beracun yang besar mengeliat keatas tanah dan memutar tubuhnya, bersamaan pula waktunya bagaikan kilat cepatnya meluncur kea rah hweesio manyat hidup itu.

Jarak dari hweesio manyat hidup itu dengannya tidak lebih hanya dua tiga kaki saja sedang diapun pada saat itu berada dalam keadaan tanpa bersiap siaga, terdengar suara gebukan yang sangat keras tanpa ampun lagi dada hweesio manyat hidup yang kekar itu terhajar oleh kepalan Liem Tou dengan kerasnya, tak terasa lagi…berturut turut dia melompat mundur tujuh delapan kaki baru bisa berdiri tegak. Waktu itulah Liem Tou baru bisa menghembuskan nafas panjang, makinya:

“melihat kamu orang manusia tidak mirip manusia, setan tidak mirip setan. Hmm…berani juga membohongi toaya-mu. Lain kali terjatuh ketanganku lagi jangan harap aku dapat lepaskan kamu orang yang dengan mudahnya”

Hweesio manyat hidup ini sejak mencukur gundul rambutnya diatas gunung Ngo Thaysan kemudian mendapatkan warisan dari ilmu silat Liauw In Hweesio bersama sama mengangkat namanya dengan sincay buntung, pembesar buta, pengemis mabok dan Thiat Sie Sian Seng sehingga namanya disebut sebagai Tionggoan Ngo Koay, didalam ilmu silat yang paling diandalkan adalah ilmu Han Tiauw Kang-nya (ilmu cakar maut), jago jago Bulim yang terbasmi dibawah cakar mautnya entah berapa banyak jumlahnya, siapa tahu ternyata ini hari dapat dihajar bocah ingusan seperti Liem Tou ini sehingga terpukul semponyongan, tak tertahan lagi hawa amarahnya memucak dari mulutnya segera memperdengarkan suara jeritan aneh seperti pekikan setan dimalam hari.

Didalam waktu yang singkat dari antara kepungan Liem Tou bertiga itu muncul ber puluh2 hweesio yang bersama sama melaruk datang, tanpa ditanya sudahlah sangat jelas kalau hweesio2 itu merupakan murid2 serta cucu2 murid hweesio manyat hidup. Hweesio2 itu begitu sampai dihadapan hweesio manyat hidup segera bersama sama memberi hormat kemudian berdiri berjajar disampingnya.

Mendadak …hweesio manyat hidup itu menunding kearah Liem Tou sambil teriaknya sengah menjerit. “cepat tangkap bocah setan itu” Ber-puluh2 hweesio itu segera menyahut dengan serentak kemudian bersama sama berjalan mendekat kearah Liem Tou.

Liem Tou yang melihat datangnya berpuluh puluh hweesio sekaligus menjadi sangat terperanjat, baru saja dia mau cari akal untuk loloskan diri waktu itulah terdengar Thiat Sie Sian Seng tertawa nyaring kembali ujarnya.

“Hey pengemis bau, aku bilang urusan kali ini haru kuserahkan padamu bila dia sampai menderita rugi seujung rambutpun aku tak cari kamu untuk minta ganti rugi”

Liem Tou mendengar perkataan itu diam diam menjadi sangat girang, terlihat pengemis pemabok itu dengan mementangkan mulutnya yang besar seperti baskom tertawa termehek mehek sedang pentung Tah Kauw Pangnya yang besar kasar serta panjang disabetkan ketengah udara, ujarnya kalem.

“Hey pedangang licik, bocah cilik itu aneh sekali!... he..he..he kamu orang tahu ilmu apa yang digunakan dia untuk menghadiahkan satu bogem mentah kepada hweesio manyat hidup tua bangkotan itu? He he aku mau lihat dia punya ilmu apa lagi yang akan digunakan…nanti turun tangan juga belum terlambat.

“Eh ehe, tidak mungkin” sahut Thiat Sie Sian Seng dengan cepat.

“jurus serangan dari bocah cilik aku juga tidak tahu ilmu apa tapi menurut serangan waktu terdesak…he he tidak mungkin bisa digunakan lagi, cepat kau suruh kesayanganmu turun kegelanggang”

Pengemis mabok itu tertawa besar lagi, ujarnya: “Pedagang licik kau cemas apakah? Coba kau lihat bocah

cilik itu memang punya simpanan” Kiranya saat itulah seorang hweesio mendadak melancarkan serangan kearah Liem Tou untuk mencengkeram dadanya.

Sebenarnya Liem Tou sedang menantikan bantuan dari sipengemis mabok sehingga perhatiannya tidak ditujukan pada hweesio2 itu, siapa tahu pada saat dia lengah itulah hweesio tersebut berhasil mencekeram baju dibagian dadanya bahkan jarinya yang seperti papaya dengan sangat tepat sekali menotok jalan darah Sim Kan Hiat.

Jalan darah Sim Kan Hiat ini merupakan salah satu jalan darah penting lainnya, bilamana salah satu saja dari jalan darah itu tertotok maka nyawanya segera melayang.

Didalam keadaan yang sangat terkejut dengan cepat Liem Tou menarik kembali dadanya kedalam, tangan kirinya mendadak menyambar kedepan, agaknya hweesio itu mempunyai dugaan Liem Tou akan mencekal urat nadinya baru saja berganti jurus siap menahan serangannya itu, siapa tahu gerakan tangan kiri dari Liem Tou jauh lebih cepat darinya, sejal semula sudah ditarik kembali ketempat semula.

Tidak terasa lagi hweesio itu menjadi tertegun, pikirnya: “jurus serangan apa ini? Menurut keadaan yang sebenarnya gerakannya ini dengan jelas akan memaksa cengkeramanku ini ditarik kembali tetapi kenapa sebelum aku menarik kembali jurus serangannya sebaliknya dia mendahului menarik kembali serangannya?”

Pada saat dia dibuat tertegun itul telapak tangan kana dari Liem Tou dengan tanpa mengeluarkan suara sedikitpun sudah menyerang datang dari bawah keatas bagaikan kilat cepatnya menghajar dada orang itu, jurus ini tidak lain merupakan jurus Un Hun Put San (sukma halus tidak buyar) dari Ilmu silat Hek Lootoa yang diturunkan kepadanya sesaat menjelang kematiannya. Hweesio itu sama sekali tidak pernah menyangka didalam keadaan yang sangat menguntungkan baginya itu dia bisa kena hajar oleh kepalan pihak lawan, tidak tertahan lagi dia mundur semponyongan sejauh lima enam tindak kebelakang, dadanya terasa sakit dan mual hampir2 tidak tertahan akan muntah2 disana, tetapi akhirnya tak tertahankan lagi tubuhnya rubuh terjengkang kebelakang.

Peristiwa yang sangat diluar dugaan ini sekalipun Liem Tou sendiri juga merasa bingung sama sekali dia tidak percaya kalau disaat seperti ini dia bisa melancarkan serangan dahsyat membuat orang lain terpukul hingga terluka parah.

Pukulan itu sendiri masih tidak mengapa tetapi dengan demikian memancing hawa amarahnya dari hweesio lainnya segera mereka bersama sama berteriak marah dan mengerubut maju secara bersamaan, bagaikan air bah ditengah samudera mereka melaruk maju terus tanpa pikirkan keselamatan sendiri.

Liem Tou yang melihat sipengemis pemabok itu tetap saja tidak turun tangan menolong dia, didalam keadaan yang apa boleh buat terpaksa dia memperkeras niatnya, sedangkan kakinya dengan menggunakan ilmu Sah Cap Lak Thian Kang Hwee Sian Poh (ilmu langkah tiga puluh enam langkah badai) memutar menerjang ketengah larukan hweesio itu, sebentar dia meloncat sebentar lagi maju kemudian mundur tetapi sedikitpun tidak kelihatan terhalang, bahkan tangan kanan dan tangan kiri serta kakinya tidak mau ambil diam, membuat para hweesio yang melaruk maju itu terpukul hingga kocar kacir.

Begitu Liem Tou memperlihatkan ilmu gerakan ini, sipengemis pemabok yang berada disamping hampir hampir tidak mempercayai pandangannya sendiri, teriaknya dengan keras”

“HEI..PEDAGANG LICIK!!! Coba lihat, gerakan langkah kakinya sangat aneh sekali aduh sepertinya mirip sekali dengan permainanmu itu?” Si Thiat Sie Sian Seng yang melihat gerakan kaki Liem Tou itu segera tahu kalau ilmu itu merupakan ilmu Thian Kong Poh yang pernah dia ajarkan padanya lewat corat coret ditanah tanpa memberi petunjuk padanya, bahkan sekarang ini dilakukan tanpa sedikitpun salah. Didalam hatinya tidak terasa menjadi terkejut bercampur heran, diam diam dia memuji tak henti hentinya.

Saat ini Liem Tou yang berkelebat dengan sangat aneh membuat perasaan girang muncul didalam hatinya tanpa memikirkan akibatnya lagi segera dia mengubar seluruh hawa amarah serta kemengkelannya keatas tubuh hweesio2 itu, tangan serta kakinya yang melancarkan serangan semakin keras lagi, sedikitpun tidak menaruh belas kasihan.

Mendadak…Pengemis Pemabok yang berada disamping berteriak lagi dengan keras.

“Hei pedangan licik, kau sudah lihat dengan jelas belum?

Kedua jurus yang dilancarkan itu dengan jelas merupakan ilmu telapak Lian Hian Ciang dari kunlunpay, coba lihat ini jurus Peng Jut Tiauw Ciauw (ombak menggulung tubuh ular), coba lihat lagi jurus Hong Hut Po Haua (perempuan menangkap macan).

Perkataan ini baru selesai diucapkan dia menjerit kaget lagi “Aduh mak…pedangang licik bagaimana sebenarnya urasan

ini? Ilmu kepalan dari bocah itu berubah lagi. Neneknya, Ilmu telapak Hauw Pauw Tauw dari Siauwlim Liok Lo Heng Ciang, hey pedagang licik coba lihat lagi Ilmu telapak, Su Leng dari Butong Tiang Ciang, haaa?? Ilmu telapak Hong Hwei Thian Hui dari Gak Jie Sam Su, Ilmu kepalan Jie Cu Tong Kwei dari Kang Lam Cu Uh Cian, Haah…Haaah?? Coba lihat lagi. Tung Mo Ciang dari Tay Ie Ciang, Cau Siang Ciang, Neneknya…pedangang licik sebenarnya dia anak murid dari partai mana??” Saat itu agaknya Thiat Sie Sian Seng juga merasa terperanjat, sahutnya dengan cepat.

“Pengemis busuk kau jangan sembarangan berteriak teriak seperti setan kelaparan, aku sendiri juga tidak tahu, bocah cilik ini memang sedikit aneh, jurus ini merupakan jurus Yeh Be Hun Lieh dari Thay Khek Ciang, coba lihat lagi jurus ini merupakan jurus Jie Lang Tan San dari Ngo Heng Ciang, kau lihat…tentu dia punya hubungan yang rapat dengan Lie Loo Jie dari partai Tun Si Pay, kalau tidak siapa lagi yang bisa menurunkan ilmu sebanyak ini kepadanya?”

“Ehmm..ehm…benar benar” sahut pengemis mabok sambil mengangguk

“aku lihat memang beberapa bagian mirip, bilamana benar asal usul bocah cilik ini tidak kecil ini tidak kecil juga”

Saat itu kawanan hweesio tersebut sudah dipukul Liem Tou hingga kocar kacir, setiap orang pada bengkak mukanya dan berubah kehijau hijauan saking kerasnya kepala yang bersarang dimukanya.