Raja Silat Jilid 04

 
Jilid 04

Dengan cepat dia merangkak bangun, terasa olehnya seluruh tubuhnya merasa sangat nyaman, ketika melirik kearah sipir bui itu terlihatlah dia masih mendengkur dengan enaknya, dengan perlahan dia mulai berjalan keluar terlihatlah diatas tanah darah segar berceceran memenuhi seluruh ruangan, teringat kembali olehnya pengalaman kemarin malam tak terasa bulu kuduknya pada berdiri.

Baru saja dia hendak melangkah keluar lagi tiba tiba terdengar suara peringatan dari si pengemis cilik itu .

"Hei, pencuri kerbau cepat bersembunyi, Hek Loo jie mau datang memeriksa tempat ini”

Mendengar perkataan itu dengan tergesa gesa Liem Tou memeriksa sekeliling tempat itu tapi tetap tak melihat bayangan dari sipengemis cilik itu, baru saja mau menyusup mengundurkan dirinya kebelakang terdengar sipengemis cilik itu berteriak lagi.

"Keadaan disekeliling tempat itu sekarang sangat bahaya, baik jago dari kalangan Hek to maupun dari kalangan Pek To pada bersembunyi disekeliling tempat ini siap munculkan dirinya, cepat kau balik bilang sama itu Hek Loo toa bilamana nanti Loo jie datang memeriksa bui dia harus sedikit berhati- hati karena dia secara diam-diam mau turun tangan jahat terhadap dirinya." Setelah mendengar perkataan itu tak tertahan lagi seluruh tubuh Liem Tou gemetar dengan keras dia sama sekaIi tak menyangka kalau di tempat yang semakin sunyi suasananya keadaannya makin bahaya dan semakin mengerikan.

Dia tahu saat ini telah sangat mendesak sekali, dengan tergesa gesa dia putar tubuhnya lari kesamping tubuh kakek tua yang aneh itu sambil dorong tubuhnya serunya.

"Locianpwee cepat bangun, Locianpwee cepat bangun."

Pada saat yang bersamaan itu pula mendadak dari luar penjara terdengar suara digetarkannya pecut kulit sehingga mengeluarkan suara yang nyaring kemudian disusul dengan teriakan seorang dengan suara yang amat keras.

"Pembesar kota datang mengunjungi penjaga bui harap keluar menyambut"

Dalam hati Liem Tou tahu dengan jelas yang dimaksud sebagai pembesar kota itu tentunya bangsat Hek Loo jie itu, hatinya semakin cemas tapi justru kakek aneh itu sudah di dorong beberapa kali tetap saja tak mau sadar dari pulasnya didalam keadaan yang sangat cemas dan terdesak itu dengan tak memperdulikan peraturan serta adat istiadat lagi sepasang tangannya mencekal batok kepala kakek aneh itu dan menggoyang-goyangkan beberapa kali sedang mulutnya teriaknya dengan keras.

"Loocianpwee cepat bangun, apa kau tak ingin nyawamu."

Saat itulah dengan perlahan kakek aneh itu baru sadar kembali dari pulasnya, sambil me-mandang kearah LiemTou yang berdiri disampingnya dengan amat dingin ujarnya.

"Siauwcu kau tak bersungguh sungguh hati pikiranmu pun tak menentu sekarang datang kesini mau apa ?”

Segera Liem Tou menyampaikan apa yang dikatakan sipengemis cilik itu kepadanya, dalam hatinya dia mengira setelah kakek aneh itu mendengar perkataan itu air mukanya tentu akan berubah menjadi tegang.

Siapa tahu sesudah mendengar perkataan tersebut keadaannya masih tetap saja seperti semula, sahutnya sambil tertawa tawar.

-Oooh. . . loo jie mau datang ? Itulah sangat bagus sekali.

Aku Hek Loo toa sudah dapat melihat kedua buah kitab rahasia didalam dunia ini sekalipun binasa juga rela."

Perkataan ini diucapkan dengan nada yang demikian menyedihkan mcmbuat hati Liem Tou yang mendengar disampingnya tak tertahan Iagi bergidik, tiba tiba sepasang matanya yang sangat tajam itu dengan tak berkedip kedipnya memandang sekejap kearah Liem Tou, tanyanya.

"Heei bocah cilik, kenapa kau demikian cemasnya?” "Selama tiga tahun lamanya Loocianpwee merasakan

siksaan didalam penjara gelap serta merasakan penderitaan pecut yang setiap hari menghajar tubuh cianpwee semuanya ini tidak lebih hanya dikarenakan sejilid ilmu kitab silat yang tak mau diserahkan kepada orang jahat, hal ini memang membuat hati satiap orang merasa kagum juga merasa sedih kini situasi telah demikian mendesak serta bahayanya kenapa boanpwee tak ikut cemas melihatnya?"

Atas perkataannya ini rnenbuat air muka kakek aneh itu segera berubah jadi sangat serius agaknya hatinya sangat berterima kasih sekali atas ucapannya, sepasang matanya bersinar dengan sangat tajam memandang muka Liem, tanyanya kemudian:

"Hei bocah cilik, perkataanmu ini apa sungguh-sungguh keluar dari dasar hatimu ? Hek Loo toa pada masa yang lalu merupakan seorang iblis yang paling ditakuti didaerah Siok lo, tapi benar-benar aku merupakan seorang yang patut dipuji patut dikasihani?" Seseorang yang berhasil melepaskan dirinya dari kejahatan dan kemhali kejalan yang benar bahkan telah melalui penderitaan serta siksaan yang maha berat maka orang itu secara tidak sadar akan, merasakan suatu pergolakan yang hebat, begitu mendengar perkataan yang menghibur dirinya, demikian juga halnya dengan Hek Iootoa ini sesudah dia menderita siksaan selama tiga tahun lamanya achirnya dari jalan yang sesat dia telah berhasil kemball kejalan yang benar, dan kini setelah mendengar perkataan dari Liem Tou ini sudah tentu hatinya segera bergolak dengan kerasnya.

Liem Tou yang melihat sikap dri kakek aneh itu tidak terasa lagi menganggukkan kepalanya, sahutnya:

"Tidak salah, bukan saja boanpwee seorang diri yang merasa kagum terhadap loocianpwee, aku kira sekalipun para jago dalam dunia persiiatan pun seharusya menaruh rasa kagum terhadap diri loocianpwee."

Semakin mendengar perkataan dari Liem Tou ini air muka dari kakek aneh itu berubah semakin cepat, sebentar terlihat perasaan girangnya sebentar lagi timbul perasaan ragu ragu tetapi sepasang matanya dengan sangat tajam tetap memperhatikan wajah Liem Tou.

Tiba tiba . , tangannya yang kurus kering itu diulur kedepan mencekal kencang-kencang pundak dari Liem Tou, dari kelopak matanya yang teJah menekuk kedalam itu secara mendadak menetes keluar titik-titik air mata dengan derasnya, sambil tertawa girang ujarnya.

“Hei bocah cilik, Hei bocah cilik apa sungguh sungguh perkataanmu ini ? Maukah kau ulang sekali lagi perkataanmu itu ?? Ha ... ha . .Hek Loo toa tidak sia-sia menerima siksaan selama tiga tahun ini,"

"Perbuatan dari cianpwee sedikitpun tidak salah, bagaimana bisa bilang siksaan ini tidak sia-sia?”. Kakek anek itu dengan cepat melepaskan cekalannya dan bangkit berdiri, mulutnya tetap tertawa ternahak bahak denga kerasnya tetapi suara tertawa ini jika didengar didalam telinga Liem Tou penuh mengandung perasaan sedih serta dukanya yang amat sangat.

Suara tertawa dari kakek aneh itu bukannya tambah berhenti sebaliknya semakin lama suaranya semakin keras pada saat itulah suara sambatan pecut diluar panjara berbunyi kembali, Liem Tou menjadi sangat terkejut, teriaknya.

"Loocianpwee hati hati!, dia sudah hampir datang.”

"Ha ha ha ha . . - Loo jie mau datang ??? biar dia datang aku tidak takut padanya lagi, aku tidak akan takut padanya lagi.”

Sehabis herkata terlihatlah tubuhnya mendadak merendak kebawah, sepasang tangannya dipentangkan keluar sedang air mukanya berubah kembali menjadi amat seram, serius keren serta menakutkan, sikapnya mirip sekali dengan seorang dari angkatan yang lebih tua. 

Liem Tou yang melihat perubahan wajahnya menjadi tertegun untuk beberapa saat lamanya sedang dalam hati diapun semakin menghormat dan kagum lagi terhadap kakek ini.

Kakek aneh itu sesudah merentangkan tangannya terhadap Liem Tou tiba tiba ujarnya.

"Kau perhatikanlah dengan teliti, inilah tiga jurus terakhir yang merupakan jurus paling lahay dari ilmu Sam In Chiat Cuang Cing atau ilmu telapak dingin penjebol hati yang telah mengangkat namaku atau ilmu didalam Bu lim pada waktu yang lalu, pada masa yang lampau suhuku hanya menurunkan ilmu ini pada aku seorang saja Loo jie sama sekali tidak mendapatkan, didalam kitab silat Toa Lo Cin keng sekalipun terdapat juga ilmu ini tetapi tidak lebih juga garis besarnya saja sadang perubahan yang penting justru tidak terdapat. Sabenarnya aku tidak ingin menurunkan ilmu ini kepadamu tetapi saat ini entah apa sebabnya aku sendiri juga tak tahu mendadak telah berubah pendapat, sekarau kau lihatlah dengan teliti."

Tiba tiba telapak tangan kirinya didorong setengah lingkaran kedepan kemudian sambil menebas ditarik kebelakang kembali sedang tangannya, mendadak bagaikan kilat cepatnya mambabat dari atas turun kebawah dengan kerasnya, teriaknya dengan keras.

"Jurus pertama In Hun Put San atau sukma halus tidak buyar”

Diikuti tubuhnya berputar setengab lingkaran ditengah udara, kedua buah pundaknya diangkat secara mendadak men jatuhkan diri kebawah dan bersalto. Liem Tou yang melihat disamping merasa sangat heran, diam diam pikirnya.

"Ilmu telapak macam apa ini?"

Pada saat ini pundak dari kakek aneh itu belum sempat mencapai pada permukaan tanah tiba tiba pinggangnya memutar ternyata bagaikan seekor ular menggeliat keatas dan mumbul keatas dengan cepatnya, bersamaan pula sekarang telapaknya didorong kedepan, teriaknya.

"Jurus kedua Ooh Koei Ciat Hun atau setan lapar menubruk sukma."

Sesudah itu dia berdiri tegak tak bergerak sedang napasnya terengah engah, ujarnya lagi kepada Liem Tou.

"Jurus ketiga Chie Mey Hang atau siluman iblis bergoyang baru dilakukan bilamana memiliki IImu meringankan tubuh yang agak lumavan, kini otot-otot kakiku sudah diputar oleh Loo Jie sekalipun dalam hati punya kemauan apa daya kekuatan tidak memadainva, apa boleh buat.?” "Hanya cukup sampai disini saja budi yang loocianpwee sedikit kalau memangnya demikian biarlah boanpwee pada kemudian hari belajar sendiri dari atas kitab silat Toa Loo Cin Keng itu saja ."

“Hmm … “ sahut kakek aneh itu sambil mengangguk, memang terpaksa harus berbuat begini.

Sehabis berbicara menundukkan kepalanya termenung berpikir sebentar mendadak kepalanya diangkat memandang wajah Liem Tou ujarnya dengan terengah engah.

“Sedang mengenai . .. mengenai tempat penyimpanan kitab silat To Kong pit Liok .. “

Liem Tou begitu mendengar kalau kakek aneh itu ternyata mau memberi tahu padanya tempat penyimpanan kitab rahasia To Kong pit L,ok itu mcnjadi sengat girang sekalt dia samna sekali tak pernah menyangka kalau dirinya bisa kejatuhan untung yang demikian besar, tak tahan lagi wajahnya memperlihatkan sikap yang sangat dan berubah dengan hebatnya, sikap yang ketololan muncul kembali pada wajahnya disaat amat tegang ini.

Baru saja kakek aneh itu mau mengucapkan sesuatu ketika melihat sikap dari Liem Tou yang ketolol tololan itu mendadak matanya dipejamkan kembali, sambil menggelengkan kepalanya sahutnya,

“Aku tidak akan bicara, siapa tahu kalau kau bocah cilik mau juga dengan sipengemis busuk itu sesgaja datang dengan bertujuan benda itu.”

Liem Tou juga tidak dapat berbuat apa spa, sebenarnya dia memang tidak punya minat un tuk mendapatkan kitab rahasia ilmu silat ini, hanya saja karena secara kebetulan menemuinya saja membuat hatinya merasa tertarik, kini dia tidak mau bicara tentu dia juga tidak mau terlalu mendesak. Pada saat ini suara gendereng berbunyi untuk ketiga kalinya kemudian dari luar pen jara disusul dengan suara bentakan keras, segera terlihat petugas penjara sebagai petunjuk jalan membentang pintu penjara dan berjalan masuk.

Begitu kakek aneh itu melihat masuknya penjaga penjara itu segera terlihatlah alisnya dikerutkan dalam dalam, mendadak tangannya dengan keras mencengkeram tubuh Liem Tou dan dilemparkan kearah pojokan yang gelap, ujarnya.

“Bocah cilik, disini tidak ada urusanmu lagi cepat pejamkan matamu pura pura tidur.”

Liem Tou yang didorong dengan tenaga besar oleh kakek aneh itu segera terhuyung beberapa tindak kedepan baru berhasil menegakkan tubuhnya kembali tetapi saat itu kakek aneh tersebut memalingkan kepalanya memandang kearah pintu luar penjara yang berjeruji besi itu sejak tadi telah terlihat beberapa orang petugas penjara memasuki penjara dan berdiri didepan dengan tegapnya.

Terpaksa Liem Tou mengikuti ucapannya duduk bersandar dipojok dinding penjara tetapi hatinya tetap berdebar dengan kerasnya, dia tahu kini tempat persembunyiannya dari Hek Loo Toa telah diketahui orang lain kemungkinan sekali setiap saat dia akan diculik untuk dibawa ketempat lain, kali ini Hek Too Jie sendiri yang menjenguk kedalam penjara sudah tentu dia tidak akan melepaskan dia dengan demikian mudahnya, bahkan diluar penjara secara diam diam sudah ada beberapa orang yang siap turun tangan, dengan demikian agaknya Hek Loo-toa sukar untuk meloloskan diri dari bencana itu.

Berpikir sampai disai tidak tertahan lagi teriaknya. "Cianpwe kau baik2 jaga diri" Didalam nada ucapan itu

agaknya masih mengandung maksud yang rnerdalam, kakek

aneh itu mendengar per kataannya segera menoleh tanyanya. “Bocah cilik, kau bicara apa?.”

Tidak disangka baru saja perkataannya selesai diucapkan dua orang petugas penjara telah menggotong sebuah anggun api yang sangat panas berjalan masuk kedalam penjara, api yang bergolak didalam angun itu berkobar dengan sangat besarnya ditangan petugas penjara lainnya terlihatlah sebuah japitan besi yang besar diangkat masuk pula, begitu melihat melihat besar tersebut tat tertahan lagi Liem Tou serta kakek aneh itu merasa bergidik sedang hatinya te rasa berdesir.

000O000

3

Pada saat itu sipir bui yang diberi obat tidur oleh pengemis cilik mendadak dicekal oleh penjaga penjara itu kemudian pipinya diga¬plok dengan kerasnya terdengar suara yang amat nyaring berkumanding datang tetapi dia masih tetap belum sadarkan diri dari tidurnya yang sangat nyenyak .

Terdengar dari luar penjara seseorang telah berteriak dengan keras.

“Thay ya tiba.”

Liem Tou segera menoleh memandang kearah sana terllihatlah seorang lelaki berusia kurang lebih tiga puluh tahunan dengan memakai kopiah pembesar serta jubah pembesar dengan senyuman berjalan masuk kedalam penjara, tubuhnya tak begitu besar sedang wajahya licin, diam diam dalam hati Liem Tou berpikir.

“Jika dilihat dari sikapnya yang halus bagaikan seorang siucai ini sedikitpun tidak mirip dengan penjahat yang suka main bunuh tanpa pilih bulu”

Sebaliknya kakek aneh itu begitu melihat dia beralan masuk sepasang matanya dengan sangat tajam memandang dirinya tanpa berkedip, bahkan sepasang tangannya disiapkan sehingga terlihatlab sepuluh jarinya yang runcing bagaikan cakar garuda.

Dengan langkah yang sangat perlahan sekali pembesar kota itu setindak demi setindak berjalan mendekati arahnya tetapi sepasang matanya tak memandang sekejappun kearahnya, sebaliknya sepasang mata kakek itu tetap memandang tak berkedip.

Pembesar kota itu berjalan maju dua langkah lagi, mendadak sambil balikkan tubuhnya dia membentak dengan keras.

“Kau mau brabuat apa?”

Jubahnya dikebitkan kemudian dibabat kebawah dalam sekejap saja dia berhasil mencekal urat nadi dari tangan kiri kakek aneh itu, serangan yang dilakukan didalam keadaaan yang tidak terduga ini membuat Liem Tou yang hendak disampingpun saking terkejutnya tak terasa Iagi keringat dingin mengucur keluar dengan derasnya.

Kakek aneh itu mana mau menyerah dengans begitu saja terdengar sambil membentak yang sangat mengerikan dengan seluruh kekuatannya dia berusaha membebaskan urat nadinya yang dicekal oleh pihak musuh ini, diam-diam Liem Tou merasa amat cemas melihat keadaannya ini.

Tiba tiba tangan kanannya membalik dengan cepat salah satu jurus serangan dahsyat dari ilmu telapak dingin penjebol hati yakni jurus lh Hun Put San atau sukma halus tak buyar dilancarkan kedepan, serangan ini dilakukan demikian cepatnya sehingga sukar untuk dilihat dengan pandangan mata biasa. terdengar pembesar kota itu menjerit kesakitan tanpa bisa menghindarkan diri lagi dadanya kena hajar serangannya yang dahsyat ini, sedang kakek aneh itu pun dengan mengambil kesempatan ini melarikan diri kesamping.

Tetapi langkah kakinya kelihatan sedikit terhuyung huyung sehingga sukar untuk berdiri tegak. Liem Tou yang memandang wajahnya terlihatlah menjadi pucat kehijau- hijauan sungguh menakutkan sekali, dia tahu seluruh jalan darah penting didalam tubuhnya telah tertotok ditambah lagi serangan dilancarkan dengan sepenuh tenaga membuat dia menjadi kehilangan keseimbangan.

Ketika memandang lagi kearah pembesar kota itu terlihatlah sepasang tangannya mencekal kencang-kencang dadanya, tetapi dari atas wajahnya yang putih halus itu memancarkan sepasang sinar mata yang amat buas, melihat hal itu diam diam pikir Liem Tou didalam hati.

"Hm . . bukannya saat ini Koay Loo tauw tak punya tenaga, mana mungkin kau bisa hidup lebih lama lagi."

Pcmbesar kota atau si Hek Loo jie itu sesudah berdiri beberapa saat lamanya saling berhadapan dengan kakek aneh itu selangkah demi selangkah dia maju kembali dengan dingin bentaknya.

“Loo toa, aku memandang diatas hubungan persaudaraan diantara kita memberikan kesempatan sekali lagi bagimu untuk berpikir kau mau menyerahkan itu kitab atau tidak ?

Sebentar lagi aku akan mengambil keputusan.”

"Kau binatang yang tak tahu malu, enyahlah dari sini."

Hek Loo jie hanya tertawa dingin saja sama sekali tak ambil perduii atas makiannya, sambungnya lagi.

"Siok To Siang Mo sudah terkenal sabagai penjahat gemar bunuh orang, sekalipun kau tidak mau menyerahkan kitab silat orang-orang dari dunia kangouw juga tidak akan mengampuni dosa- dosamu ?”

Sambil berkata setindak demi setindak Hek Loo jie mulai mendekati tubuh kakek aneh itu lagi.

Liem Tou yang menyembunyikan dipojokan penjara, dengan sangat jelas sekali melihat seluruh peristiwa yang terjadi sejak dia melancarkan cengkeraman mencekai urat nadi Loo-toa sampai saat ini dalam hatinya segera dia sadar kalau dia merupakan seorang manusia yang berhati kejam, licik serta banyak akal, saat ini sekali lagi dia melangkahkan kakinya mendekati tubuh Loo toa, kebanyakan dalam hatinya sudah mengandung maksud jahat.

Siapa tahu ketika Hek Loo jie itu melihat sipir bui masih tidur terlentang dengan nyenyaknya itu, mendadak dia barjalan kearahnya, sesudah memandang beberapa saat kearahnya barulah dia mengulurkan tangan memeriksa dadanya, bentaknya.

"Seret dia keluar dari sini."

Sejak Hek Loo jie masuk kedalam ruangan penjara tak seorangpun diantara penjaga bui itu yang angkat bicara, agaknya mereka amat jeri terhadapnya,

Saat ini seorang diantara para penjaga itu menyahut dan mulai berjalan keluar sambil menyeret sipir bui yang kekar besar itu.

Siapa duga begitu dia menyeret turun dari sipir bui itu Liem Tou yang berada disamping hamper-hampir saja menjerit keras saking kagetnya. Kiranya tubuh dari sipir itu begitu digerakkan dari mulutnya mendadak menyemburkan darah segar membuat penjara yang menyeret tubuhnya itu saking terkejutnya hampir saja melemparkan tubuhnya.

Tetapi begitu dilihatnya Hek Lok Jie dengan mata yang melotot sedang memandang kearahnya sekalipun mau dilepaskan juga tidak berbuat demikian.

Dengan perlahan Hek Loo jie memutar tubuhnya kembali kearah Loo-toa, bentaknya sambil tertawa dingin.

“Loo toa, bagaimana?, aku lihat lebih baik kau serahkan padaku saja.”

Kakek aneh itu tetap tidak mau menggubris dirinya dengan tenangnya dia berdiri mematung ditempat. Tiba-tiba sinar mata yang amat tajam dari Hek Loo-jie dengan perlahan lahan mulai bergeseser kearah tubuh Liem Tou yang bersembunyi dipojokan ruangan. Liem Tou yang dipandang seperti itu tidak terasa lagi jadi meringkik saking takutnya seluruh tubuhnya gemetar dengan sangat keras, sedang dalam hatinya diam diam berteriak.

"Dia turun tangan padamu seperti juga pada saat turun tangan pada sipir bui itu, aku harus menggunakan cara apa untuk meladeni dirinya.”

Tidak salah dengan langkah yang perlahan tapi mantap, setindak demi setindak Hek Loo¬jie mulai mendekati tubuhnya, hati Liem Tou semakin bardesir bibirnya digigit kencang kencang sedang dalam hatinya secara mendadak teringat akan Lie Siauw Ie, doanya.

"Ie cici, kau dimana, aku adik Tou sekarang sedang menemui bahaya! mungkin selama hidup kita tidak akan dapat berjumpa kembali”

Bersamaan waktunya pula sepasang kakinya yang lurus kedepan ditarik kembali, sikapnya menjadi duduk bersila sedang hawa murninya pun secara diam diam dipusatkan pada pusarnuya siap menghadapi musuh, sehingga setiap saat dapat melancarkan serangan untuk melindungi dirinya sendiri.

Saat itu Hek Loo jie semakin berjalan satu tindak mendekat, hatinya semakin tegang satu kali lipat, tidak lama kemudian jarak dariHek Loo jie dengan tubuhnya tidak lebih tinggal tiga lima langkah lagi, seluruh bulu kuduknya menjadi berdiri peluh dingin mengucur dengan derasnya sedang sepasang matanya dengan melotot memandang tak berkedip atas wajahnya, mana berani berlaku ayal didalam saat seperti itu, teriaknya didalam hati.

"Jangan dekati aku .jangan dekati aku lagi.."

Waktu itu sekalipun jumlah orang yang berada didalam penjara itu tidak sedikit tetapi suasananya sunyi senyap tak terdengar suara sedikitpun juga, siapapun tidak berani mengeluarkan suara sehingga keadaan pada saat itu ngeri menyeramkan.

Pada saat yang kritis itulah tiba tiba terdengar teriakan dari kakek aneh itu dengan keras.

“Hei kau binatang, kau kira dengan bunuh babi jagal kambing bisa membuat aku ketakutan?, jangan mimpi!”

Suara makiannya makin lama makin keras, bentaknya lagi dengan semakin keras.

"Aka beri tahu hei binatang, sekalipun kitab silat To Kong Pit Liok" aku beri padamu kau kira bisa dengan aman lolos dari daerah Cong Ling ini?"

Mendengar perkataan itu, Hek Loo jie segera menghentikan langkahnya dan membalik tubuhnya kembali, waktu itulah Liem Tou baru bisa menghembuskan napas lega.

"He .. hei ..! bentak Hek Loo jie, apa maksud ucapan itu?

Apa mungkin sudah berubah maksud untuk menyerahkan kitab silat itu padaku?"

Kakek aneh itu tertawa serak, dengan perlahan lahan jarinya yang kurus kering ditudingkan keluar penjara sambil ujarnya.

"Sekalipun akal dan sifat diri Hek Loo jie sangat keji dan kejam, dengan tersenyum bisa membunuh orang tetapi selamanya terhadap kecerdikan serta akal dari Loo toa sangat jeri sekali oleh karena itulah begitu Loo toa bicara demikian diapun terpaksa secara diam diam mengambil kewaspadaan lagi."

Saat ini air muka Hek Loo jie berubah pucat kehijau hijauan, hatinya setengah percaya setengah tidak terhadap perkataan dari Lao toanya itu, sebentar sebentar dia memandang keluar penjara sebentar lagi beralih memandang terpesona keatas wajah Loo toa. Air muka kakek aneh itu mendadak berubah menjadi amat keren, bentaknya.

“Kau mau coba coba ?"

Sesaat sesudah Hek Loo jie mendengar perkataan dari Loo toanya itu sebenarnya didalam hatinya sudah timbul perasaan curiga kini melihat sengaja dia memperbesar omongannya tak terasa lagi tertawa dingin tak henti hentinya, sahutnya.

"He .. he .. he . agaknya kau tidak mau padam hatimu sebelum melihat sungai Hoang Hoo, tidak akan melelehkan air mata, sebelum melihat peti mati, sudah sampai keadaan seperti ini masih ingin menggunakan perkataan apa lagi?"

"Hmm..hmm baiklah," sahut kakek aneh itu sambil mengangauk." Bagus sekali, kau tunggu saja.”

Sekonyong konyong . . terdengarlah kakek aneh itu dengan suara yang keras berteriak ke arah luar penjara, serunya.

“Kitab silat To Kong Pit Liok merupakan salah satu kitab rahasia pada saat ini seharusnya dimiliki oleh orang yang budiman dan berhati luhur, Loo jie kau binatang bilamana kau terus menerus mendesak jangan salahkan aku kalau segera akan merobek robek kitab ini, siapa saja jangan harap bisa memilikinya kembali.”

Liem Tou sesudah mendengar perkataan itu tidak terasa lagi menjadi sangat heran dengan sangat jelas diketahui olehnya kalau kitab silat "To Kong pit Lok " tidak berada didalam tubuhnya bagaimana dia kini bisa bicara demikian ??"

Tidak disangka baru saja pikiran ini berkelebat didalam benak Liem Tou dari luar penjara terlihatlah melayang datang bayangan manusia dengan kecepatan luar biasa, tahu tahu didepan pintu penjara telah berdiri dua orang menghadang jalan perginya, bersama sama mereka membentak dengan keras.

"Hek Loo toa, tahan.", Liem Tou yang bersembunyi ditempat gelap dipojokan ruangan penjara dengan sangat jelas sekali segera dapat mengenal salah seorang diantaranya merupakan pembesar buta yang memakai baju kebesaran serta kopiah kebesaran itu sedang orang yang satunya lagi mempunyai bentuk tubuh kurus kering tetapi sangat tinggi, air mukanya pucat pasi kehijau hijauan wajahnya kurus lancip sedang pada tangan kirinya membawa tasbeh melihat hal itu tak terasa hatinya menjadi tergerak diam diam pikirnya,

"Apa mungkin orang ini adalah hweesio yang disebut sebagai mayat hidup oleh Thiat Sie sianseng?"

Begitu kedua orang itu munculkan dirinya didepan pintu penjara sesudah merandek segera berjalan masuk kelalam ruangan penajara.

Liem Tou yang memperhatikan hweesio itu secara diam diam segera dapat melihat sewaktu dia berjalan tubuhnya memang sangat kaku bagaikan mayat hidup, setiap langkahnya tentu kedua kakinya bersama sama meninggalkan permukaan tanah, boleh dikata dia sedang meloncat, melihat hal ini Liem Tou segera sadar kalau dugaannya ternyata tidak meleset, orang ini tentu adalah hweesio mayat hidup.

Perasaan terkejut yang mencekam hati Hek Loa jie jauh lebih hebat lagi, mimpipun dia tidak pernah mengira kalau ditengah hari siang bolong seperti ini masih terdapat juga orang-orang yang menyatroni dirinya.

Jangan dikata hweesio mayat hidup serta pembesar buta itu turun tangan bersama-sama sekalipun salah seorang turun tangan sendiripun dia tidak akan sanggup melayaninya, didalam keadaan terkejut bercampur cemas tangan diulapkan memberi tanda para penjaga penjara, sambil teriaknya.

"Kalian gentong nasi, cepat tangkap mereka!" Para penjaga penjara itu mana tahu kelihayan dari kedua orang, ditengah suara bentakan yang keras bersama sama mereka menerjang maju.

Si hweesio mayat hidup dengan pembesar buta itu sama sekali tidak bergerak, kakinya tidak bergeser, sampai kepalanyapun tidak diputar sedikitpun. Terdengar sihwcesio mayat hidup itu dengan perlahan berdoa.

"Omintohud."

Tasbeh yang berada ditangannya diayunkan, Liem Tou hanya melihat suatu bayangan hitam berkelebat dengan sangat cepat, penjaga yang berada dipaling depan segera menjerit ngeri, kepalanya hancur luluh, sedangkan tubuhnya rubuh keatas tanah binasa seketika itu juga.

Begitu dia memperlihatkan kepandaiannya bagaikan anjing yang kena kemplangan, penjaga penjaga lainnya saking ketakutan air mukanva berubah menjadi pucat pasi, kaki tangannya berubah menjadi lemas mana berani maju setengah tindak lagi.

Dalam hati Hek Loo jie tahu kalau keadaan tidak mengijinkan, baru saja hendak meminjam kesempatan ini untuk melarikan diri siapa tahu begitu matanya melirik keluar penjara hatirya menjadi sangat terkejut sekali.

Kiranya entah mulai kapan, si Siucay buntung, pengemis pemabok dan Thiat Sie Sian¬sang sekalian dengan tidak manimbulkan suara sedikitpun telah berdiri diluar penjara, hanya dalam sekejap saja tempat itu telah dihadiri oleh Tionggoan Ngo Koay coba kau pikir dia merasa terkejut tidak akan kejadian ini ?

Si pembesar buta yang memiliki telinga yang sangat tajam saat ini agaknya juga merasakan sesuatu, dengan cepat dia putar tubuhna sambil bertanya.

'Siapa ?” Mendengar suara bentakan itu si hweesio mayat hidup dengan cepat putar tubuhnya berpaling saat itulah terdengar suara tertawa tergelak yang sangat nyaring dari sisiucay buntung, pengemis pemabok dan Thiat Sie Sianseng, sambil mengayunkan Tha Kauw Pang-nya maki pengemis pemabok itu.

“Hei mayat hidup, pembesar picek, kemarin malam kita belum puas bertanding mari hari ini kita lanjutkan pertandingan ini”

Si hweesio mayat hidup yang diejek dengan perkataan ini tetap tidak ambil perduli, air mukanya yang pucat pasi sedikitpun tidak menampilkan perubahan sabaIiknya saking kekhira si pembesar buta itu membentak keras tongkat, tongkat besi ditangannya dengan cepat diayunkan ke depan secara mendadak sekali mengancam tenggorokan sipengemis pemabok itu serangannya amat ganas, bertenaga dan dilakukan bagaikan kilat cepatnya.

Tetapi sekalipun dia cepat, orang Iain lebih cepat dari dirinya baru saja tongkat penggebuk anjing dari pengemis pemabok hendak memunahkan serangannya itu, sie poa ditangan Thiat Sie Sianseng dengan cepat telah dibalik menahan serargannya, ujarnya dengan kalem.

"Kau pembesar picek, tunggu sebentar, dengar dulu omonganku.”

Kepada si Siucay buntung dan Thiat Sie Sianseng Liem Tou memangnya pernah bertemu sekali dan terhadap mereka berdua pun didalam hatinya telah timbul rasa simpatiknya, kini melihat mereka berdua munculkan dirinya ditempat ini bahkan saat ini mendengar Thiat Sie Sianseng hendak berbicara tanpa terasa lagi semangatnya menjadi terbangun kembali sedang seluruh perhatannyapun dipusatkan padanya, perhatiannya terhadap kakek aneh serta Hek Loo jie pun tidak terasa menjadi semakin kendor. Kedengaran Thiat Sie Sianseng dengan perlahan telah berkata kembali.

“Selama berpuluh tahun lamanya Tionggoan Ngo Koay mengasingkan dirinya masing-masing, ini hari bisa berkumpul kambali ditempat ini tidak lebih karena sejilid kitab silat To Kong pit Liok, kini kali bukannya memusatkan seluruh perhatian untuk mendapatkan kitab silat bahkan sebaiiknya berebut kembali soal dendam sakit hati pada masa yang lalu, bukannya ini sangat aneh sekali, kemarin malam kalianpun sudah melihat sendiri orang orang yang menghendaki kitab silat ini bukan kami Tionggoan Ngo Koay saja, bahkan para jago dari partai-partai lain pun sudah pada berdatangan disamping itu menurut apa yang aku ketahui Partai Kiem Tian pay dari Telaga Auh Hay serta partai Tun Sin pay yang tidak pernah mencampuri urusan dunia luarpun telah mengirim orang datang”

Sipembesar buta yang melihat dia berbicara tidak henti- hentinya sejak tadi sudah merasa tidak sabaran, kini potongnya dengan nada yang sangat keras.

“Persetan mereka mau mengirim berapa banyak orang, kitab silat To Kong pit Liok ini bila kalau bukannya milikku maka kau peda¬gang licik jangan harap bisa mendapatkannya, dengan mengandalkan Siepoa bututmu tidak usah banyak omong.

“Ha ha ha - - . “ ujar Thiat Sie Sianseng sambil tertawa terbahak-bahak, “Kau sudah buta sepasang matamu sekalipun mendapat kitab silat To Kong pit Liok, apa gunanya? Tidak perlu terlalu berangasan dengar dulu omonganku. Sekalipun jago dari Bu lim maupun dari lain perkumpulan disini juga tidak akan membuat kita jeri hanya saja tali hubungan yang paling penting sekarang ini terletak diatas tubuh Hek Loo Jie, sejak dahulu dia sudah punya maksud membunuh dan mencelakai Hek Loo toa, bilamana dia sampai binasa lalu siapa lagi yang tahu kitab silat To Kong pit Liok, disimpan dimana?” Begitu dia mengucaplan kata kata ini diam-diam Liem Tou merasa sangat kagum atas kecerdikannya, dengan cepat sinar matanya digeser keatas wajah Hek Loo Jie, dalam hati dia mengira tentunya air mukanya telah berubah pucat kehijauan, siapa tahu air muka dari Hek Loo Jie saat ini masih seperti semula memasuki penjara, senyumannya menghiasi seluruh wajahnya sedang sikapnyapun tenang-tenag saja tidak terasa lagi hatinya menjadi sangat heran.

Pada saat itulah terdengar Thian Sie Sianseng membentak dengan keras.

“Hati hati tangkap dia!”

Perkataan dari Thiat Sie Sianseng belum diucapkan selesai sejak semula Hek LooJie membentak keras, tubuhnya berputar ditengah udara kemudian dengan meminjam kesempatan tersebut dia melancarkan suatu serangan yang dahsyat kearah dada dari Hek Loo toa membuat dia saking tak tertahan tubuhnya terjengkang kebelakang, darah segar memancar keluar dengan derasnya dari mulut, sedang tubuhnya bergelinding hingga kesamping tubuh Liem Tou.

Setelah itu dengan tidak membuang kesempatan lagi tubuhnya bagaikan kilat cepatnya mererobos keatas membuat genting pada rontok kebawah sedang tubuh dari Hek Loo jie itu dengan cepat keluar dari atas genting dan melarikan diri.

Keadaan yang berubah dengan demikian cepatnya inilah mem buat Tionggoan Ngo Koay dibuat bingung secara mendadak, dengan tidak memperdulikan lagi pada diri Hek Loo toa dengan cepat mereka mangejar kearah Hek Loo Jie yang melarikan diri itu, inipun termasuk perhitungan bintang atau takdir mengharuskan Liem Tou yang mendapatkan kitab silat ini secara tidak disengaja.

Kita balik lagi pada tubuh Hek loo toa yang terkena pukulan dahsyat dari Hek Loo Jie hingga terpental jatuh kesamping tubuh Liam Tou. Dengan tergesa gesa Liem Tou mentangkan tubuhnya, sehingga untuk sementara masih bisa mempertahankan tubuhnya untuk sekejap hanya saja saat ini darah segar mengucur keluar dengan derasnya, dia telah terluka dalam parah sekali, sekalipun dewa turun dari kahyangan pun tidak mungkin bisa menolong jiwanya lagi.

Dengan sangat berhati-hati Liem Tou meletakan tubuh Loo toa keatas tanah, memandang keadaan yang sangat mengenaskan itu dia dibuat men jadi bingung, tanyanya dengan gugup.

“Loocianpwee, aku Liem Tou, lukamu sangat parah masih bisa disembuhkan tidak?”

Saat itu mendadak terlihat dua orang penjaga penjara berjalan mendekat kearah mereka Liem Tou yang melihat hal itu saking gusarnya seluruh wajahnya berubah menjadi merah padam bentaknya dengan keras.

“Kalian cepat menggelinding dari sini kalau tidak hemm , .. hem . . . jangan menyalahkan aku turun tangan kejam.”

Begitu selesai berbicara tangannya diajukan melancarkan serangan, angin pukulan yang dikerahkan keluar sekalipun tidak begitu dahsyat tapi kedua orang penjaga penjara itu tidak sanggup untuk menerimanya dengan cepat dan tergesa gesa mereka mengundurkan dirinya kebelakang.

Dengan cemas ujar Liem Tou lagi sambil menggoyang- goyangkan tubuh dari Hek Lao toa,

"Loocianpwee, kau bicaralah dengan cara apa aku harus menolong untuk menyembuhkan luka mu ini ?”

Dia tidak tahu saat ini Hek Loa toa sudah amat susah untuk barbicara terlihatlah dengan paksakan dirinya dia menggelengkan kepalanya tak terasa lagi Liem Tou menjadi amat sedih ujarnya.

"Kalau begitu Loocianpwee memang sungguh tak ada harapan lagi?” Loo cianpwee, aku adalah Liem Tou bilamana Loo cianpwee punya urusan yang penting sampaikanlah kepadaku , aku pasti akan melaksanakan harapan Loo cianpwee hingga berhasil."

Tidak disangka begitu Liem Ton mengucapkan kata-kata itu sepasang mata dari Hek loo toa yang tadinya dipejamkan rapat rapat itu secara mendadak dipentangkan lebar lebar sesudah me¬mandang beberapa saat lamanya kearah Liem Tou barulah dengan perlahan dia mengangguk sedang dari kelopak matanya tak tertahan lagi melelehkan titik air mata.

Liem Tou yang melihat dia me!elehkan air mata semakin dibuat bingung baru saja hendak buka mulut untuk bicara mendadak terlihatlah tangan kanan dari Hek Lao toa dengan perlahan menggeser pada pinggangnya.

Hati Liem Tou segera bergerak teringat lagi ketika kemarin hari sesudah dia dihajar dengan pecut dan makan tali pinggangaya maka lukanya segera sembuh hatinya menjadi girang de¬ngan cepat tanyanya.

“Loo cianpwee apa mau cari tali pinggang itu?"

Hek Loo toa mengangguk kembali dengan cepat Liem Tou melepaskan tali pinggang itu dan menghantarkan kepinggir mulutnya, dengan tak menunggu nunggu lagi kira-kira dua coen dari tali pinggang itu telah ditelan kedalam perutnya.

Tak lama lagi Hek Loo ton sudah tidak muntah darah, sedang suara rintihannyapun mulai terdengar, Liem Tou menjadi sangat girang sambil berlutut disampingnya serunya.

"Loocianpwee, kau merasa baikan bukan?"

Hek Loo toa hanya menggelengkan kepalanya sambil memejamkan matanya dengan perlahan gumamnya.

“Mo Ku Tiauw Cong Ci Cie Tong."

Liem Tou yang mendengar perkataan itu diam-diam merasa sangat bingung pikirnya dalam hati. "Ehm- - kematiannya sudah diambang pintu ternyata dia masih punya niat untuk membaca syair ini Aaaai sungguh kasiban sekali."

Siapa tahu begitu Hek Loo toa selesai mambaca kalimat pertama tetap tak mendengar sahutan dari Liem Tou mendadak sepasang matanya melotot keluar memandang kearah Liem Tou, sedang air mukanyapun telah terjadi perubahan besar.

Liem Tou menjadi tertegun secara tiba-tiba dia sadar kembali, dengan cepat lanjutnya dengan suara perlahan.

"Pit Bun Kong Can Tui Jan Kang."

Saat itu barulah terlihat pada bibir Hek loo toa tersungging suatu senyuman, lanjutnya lagi.

"Pak Hwie Sian Po Tong Ang Hwee." "Wu Ting Stauw Liauw Soat Ta Cuang."

Seperti juga pada semula menanti Liem Tou selesai membaca syair ini tanyanya dengan -cepat, “Siapa kau?"

"Boanpwee Liem Tau" sahut Liem Tou tanpa ragu-ragu. "Cianpwee punya perintah apa lagi terhadap diriku?"

"Bukan . . bukan” ujar Hek Loo toa sambil gelengkan kepalanya, "Bukan bukan Liem Tou ingat kau bukan Liem Tou, kau adalah….”

Agaknya secara mendadak Liern Toupun telah merasa kalau perkataan ini masih mengandung mak sud yang sangat mandalam dengan cemas tanyanya.

"Locianpwee, slapa kau?”

Bukannya menjawab tiba-tiba pada mulut Hek- Loo toa tersungging suatu senyuman yang amat dingin, ujarnya dengan tawar. "Sanggupi aku untuk bunuh binatang itu, maka aku akan segera beri tahu padamu."

"Hek Loo jie jadi orang licik menganiaya saudara sendiri siapapun yang tahu tentu akan berusaha membasmi dirinya."

"Aku minta kau bunuh dia" bentak Hek loo toa sambil melototkan matanya.

"Asalkan boanpwee berbasil melatih ilmu silat tentu akan membantu cianpwee membalaskan dendam ini."

Setelah rnendengar perkataan itu Hek Loo toa barulah menjadi puas sambil mengangguk sahutnya:

"Siapa kau ? Makan tanpa ikan, pergi tanpa kereta, mana- mana tiada rumah tinggal, hamba bukan manusia."

Diam diam Liem Tou mengingat ingat perkataan ini didalam hatinya, terdengar dengan paksakan diri ujar Hek Loo toa lagi.

"Akt sudah tak bisa bertahan lebih lama lagi untuk mendapatkan kitab rahasia To Kong Pit Liok" itu kau harus ingat perkataan tadi, kitab itu disembunyikan di . .."

Parkataan selanjutnya belum sempat diucapkan tiba tiba terlihatlah sipengemis cilik itu dengan cepat lari masuk kedalam penjara, tangannya dengan cepat mencengkeram tubuh Hek Lo toa sambil bentaknya dengan keras.

"Hek Lao toa, kau tak bisa binasa dengan demikian saja, kitab silat "To Kong Pit Liok" kau semunyikan dimana? Cepat bicara. Karena perbuatan jahatrnu selama puluhan tahun lamanya ditambah lagi dengan dosamu yang sudah tumpuk tumpuk sekalipun harus binasa juga tidak sayang, tapi bilamana kitab silat "To Kong Pit Liok" itu sampai musnah dikarenakan kematianmu maka dosa ini sangat besar sekali, kau harus binasa dengan keadaan yang mengerikan.”

Liem Tou yang mendengar ucapannya yang kasar itu tak terasa menjadi sangat gemas, dengan gusar bentaknya. "Kini Loo cianpwee sedang mederita luka parah bagaimana kau berani bertindak demikian kasarnya ? Cepat lepaskan."

Sejak Hek Loo toa menelan tali pinggang itu sebenarnya dengan paksakan diri dia masih sanggup untuk mempertahankan dirinya, saat ini begitu dicengkeram oleh sipengemis cilik dadanya terasa sangat sesak dan kesakitan tak kuasa lagi darah segar menyembur keluar dari mulutnya dengan sangat deras sedang dia sendiri jatuh tak sadarkan diri

.

Baru saja Hek Loo toa mau memberitahukan tempat penyimpanan kitab silat "To Kong Pit Liok" kepadanya secara mendadak telah terjadi perubahan demikian besarnya, membuat hawa amarah didalam tubuh Liem Tou tak kuasa lagi memuncak, tangannya menyambar , Plaaak.. . dengan tidak dapat dihindar lagi pipi dari pengemis cilik itu telah terkena gaplokannya yang sangat keras ini dengan gusar bentaknya.

"Bangsat tak tahu malu terjun sumur mengangkat batu, menyiram minyak menyulut api cepat menggelinding dari sini."

Sipengemis cilik yang merupakan jago yang memiliki kedudukan sangat tinggi didalam partai Kiem Tian Pay ditelaga Auh Hay ditambah lagi disekitar daerah telaga Auh Hay kecuali Auh Hay Ong sendiri siapapun jeri tiga bagian terhadapnya siapa sangka ini hari merasakan gaplokan dari Liem Tou membuat wajahnya segera berubah menjadi hijau seperti besi saking gusarnya dengan suara yang melengking tinggi bentaknya.

'Bangsat anjing busuk, kau berani pukul aku” Tangannya diangkat melancarkan ilmu yang paling lihay,

Yan Wie Cui Hun Cie atau ilmu dari burung walet mengejar nyawa menotok wajah Liem Tou, sedang pada saat yang bersamaan pula Liem Tou yang melihat tubuh Hek Loo toa bergoyang sedang membungkukkan tubuhnya sehingga dengan tepat terhindar dari serangan jari dari pengemis cilik itu, tanyanya.

"Loocianpwee, kau kenapa ? Kau belum sempat berbicara dengan ku."

Dari tenggorokan Hek Lootoa hanya terdengar suara serak yeng tidak enak didengar sedang sepatah katapun tidak sanggup untuk dibicarakan lagi.

Si pengemis cilik yang berdiri disamping begitu mendergar perkataan Liem Tou ini segera berhenti menyerang, bentaknya.

He .. . he .bagus sekali, kiranya sejak tadi sudah beritahu padamu "

Liem Tou tidak mau perduli terhadap dirinya tetap saja dia melanjutkan bertanya pada Hek Loo toa, tapi keadaan dari Hek Lootoa sudah parah benar-benar, terIihatlah tubuhnya mendadak berkerut, sepasang kakinya diluruskan kedepan napasnya putus dan demikianlah dia menemui kematiannya dengan sangat mengenaskan.

Hubungan antara Liem Tou dengan Hek Lao toa selama dua hari ini sekalipun tidak dapat dikatakan sangat rapat tetapi bagaimnapun juga budi menurunkan kepandaian silat serta pemberitahuan untuk menemukan kitab silat To- Kong Pit Liok membuat hatinya tak terasa lagi timbul perasaan simpatiknya, apalagi terhadap kematian dari Hek Lootoa yang kembali ke jalan yang lurus membuat hatinya sangat kagum. Sekarang sudah tentu merasa amat sedih sekali, tanpa sadar dengan periahan dia menjatuhkan diri berlutut disamping tubuhnya, untuk beberapa saat lamanya tidak mengucapkan sepatah katapun juga.

Si pengemis cilik yang menunggu disampingnya mana bisa bersabar lebih lama lagi teriak nya: "Hei bangsat cilik, tamparanmu tadi untuk sementara aku tidak mau menraih, aku mau tanya padamu tempat penyimpanan kitab silat To Kong Pit Liok apa Hek Lootoa benar benar sudah beritahukan pada dirimu?”

Saat ini Liem Tou yang berlutut disamp;ng jenazah Hek Loo toa secara tiba- tiba menemukan tangan kanan dari mayat Hek Loo toa masih tergetar dengan keras, dengan tidak memperdulikan lagi perkataan dari si pengennis cilik itu seluruh perhatiannya dipusatkan.

Kiranya entah pada saat kapan tangan kanan Hek Lootoa telah menuliskan sebuah kata “Wu" pada tanah dengan menggunakan darah segar yang dimuntahkan itu.

Liem Tou yang melihat tulisan itu dalam hatinya segera berputar, pikirnya.

"Wu? Bukankah yang dimaksud gunung Wu San? Hek Loo toa merupakan saIah satu iblis dari Siok To Siang Mo, pada masa yang lampau seluruh kejahatan yang dilakukan juga hanya terbatas pada daerah Siok To ini saja, sudah tentu tulisan Wu yang dimaksudkan sesaat menjelang kematiannya adalah gunug Wu San”

Liem Tou yang berpikir sampai disini segera menjadi paham semuanya dengan cepat dan sa¬ngat hormat dia menganggukkan-kepalanva didepan jenasah Hek Loo toa sambil ujarnya.

“Terima kasih atas petunjuk Loocianpwee, boanpwce sudah benar benar paham,."

Dengan perkataan dari Liem Tou ini semakin mcmbuat kecurigaan didalam hati si pengemis cilik bertambah tebal, dengan cemas tanyanya.

"He bangsat cilik, dia sungguh-sungguh sudah beri tahu padamu tempat penyimpanan kitab silat To Kong Pit Liok itu?" Saat ini Liem Tou sudah benar-benar benci terhadap sipengemis cilik ini, dengan periahan-lahan dia bangkit berdiri dan siap berjalan keluar dari penjara itu, bagaimananun juga saat ini sudah tidak ada orang lagi yang bisa mengurusi dirinya bilamana tidak pergi maka akan tunggu kapan lagi?"

Baru saja dia berjaIan dua langkah tiba-tiba teringat kembali akan ikat pinggang dari Hek Lao toa itu, dalam hati pikirnya.

"Ehm .. tali ikat pingaarg itu tentu merupakan obat yang sangat mujarab sekali, lebih baik aku simpan untuk digunakan dikemudian hari.

Berpikir sampai disitu segera dia putar tubuhnya memungut kembali ikat pinggang itu yang ditalikan pada tubuh sendiri.

Si-pengemis cilik ying sudah tahu kalau Liem Tou telah mengetahui tempat penyimpanan kitab silat "To Kong Pit Liok", mana mau malepaskan dia dengan demikian mudahnya, tubuhnya berkelebat dengan cepatnya menghalangi jalan pergi Liem Tou bentaknya lagi.

"Bangsat cilik, bilamana kau tidak mau beritahu tempat penyimpanan kitab silat “To Kong pit Liok” ini hari jangan harap bisa lolos dari tempat ini dengan selamat.”

"Hmm.. pengemis busuk, siapa yang bilang aku tahu tentang kitab silat itu, engkau jangan edan.”

Dalam hati Liem Tou tahu urusan ini menyangkut perebutan benda didalam dunia kang ouw, bilamana dia sampai mengakuinya secara terus terang maka pasti akan menemui bencana kematian, oleh karena itu bagaimanapun juga ia tidak berani mengakuinya secara terus terang, tetapi pengemis cilik yang mendengar dari Liem Tou dengan mata telinga sendiri mana mau mempercayainya dengan begitu saja, sudah tentu tidak akan melepaskan dirinya dengan demkian mudahnya. Hal ini membuat hawa amarah Liem Tou sekali lagi memuncak, sambil mendelik ujarnya.

"Kau mau paksa aku?"

Tetapi didalam hati Liem Tou tahu dengan jelas bilamana dia benar benar bergebrak melawan pengemis cilik, sudah tentu bukanlah tandingannya, oleh sebab itulah sekalipun pada mulutnya dia bicara membuat amat gusar, tetapi tetap saja tidak mau turun tangan. 

Dalam hati sipengemis cilik sendiri juga ragu-ragu, jika dilihat dari sikapnya yang ketolol-tololan serta langkah kakinya yang berat slapapun tidak akan percaya kalau kepandaian silatnya lumayan, tetapi dia sendiri sudah dua kali mengalami kerugian ditangannya, oleh karena itu diapun tak berani turun tangan dengan segera.

Demikianlah kedua orang itu saling berdiri berhadap- hadapan, sepasang mata dari masing masing pihak melotot saling memperhatikan gerak gerik musuhnya, sipengemis cilik yang memandang wajah Liem Tou itu semakin dipandang dia semakin merasa wajahnya yang tampan, kulitnya yang putih bersih serta pengetahuannya yang luas, sekalipun lagaknya seperti orang ketolol-tololan tetapi juga tidak kehi¬langan sifat jantan dari seorang lelaki sejati, sebaliknya Liem Tou yang memandang wajah pengemis cilik itu semakin dilihat terasa olehnya semakin mangkal terasa olehnya sekalipun wajahnya kotor pakaiannya yang dipakai sangat dekil tetapi pancainderanya sangat indah, giginya yang rata putih bersih serta kulitnya yang halus lembut sungguh sangat indah dan menarik sekali.

Tiba tiba bayangan dari Lie Siauw Ie berkelebat didalam hatinya pikirnya.

"Bagaimana aku bisa membuang waktu dengan percuma ditempat ini?. le cici setiap hari tentu sedang menanti kedatanganku di perkampungan Ie Hee Cung, bilamana aku harus menyia-nyiakan kesempatan menyerang gunung pada dua tahun mendatang maka aku harus mananti tiga tahun lagi, bukankah membuat Ie cici semakin sedih?"

Berpikir sampai disini tidak tertahan lagi hatinya berdebar dengan sangat kerasnya, saat ini dia tidak ingin membuang waktu lagi, didalam ruangan penjara itu sambil mementangkan sepasang matanya yang jeli bentaknya dengan amat gusar.

"Minggir, bilamana kau tetap menghadang jangan salahkan aku akan berbuat kesalahan°

Sambil berkata dengan Iangkah yang lebar dia berjalan keluar penjara, si pengemis cilik yang diterjang dengan cepat mementangkan tangannya menghalau, melihat hal ini Liem Tou semakin gusar, bentaknya lagi:

"Minggir."

Tangan kirinya diulur kedepan mencengkeram tangan dari si pengemis cilik itu sedang tubuhnya maju lagi kedepan.

Pengemis cilik itu tertawa dingin, ejeknya.

"Hmmm .. dengan kepandaianmu apa kau kira dengan mudah bisa keluar dari sini ?”

Tangannya yang hendak dicengkeram itu mendadak dibalik mencekal urat nadi tangan kiri Liem Tou, siapa tahu jurus yang dilancarkan oleh Liem Tou ini merupakan salah satu jurus dari ilmu telapak Sam In Ciat Cuang Ciang yaitu jurus In Hum Put Sam atau sukma halus tidak buyar, tangan kiriaya hanya dikembangkan sedikit kemudian secara tiba-tiba ditarik kembali, telapak kanannya dengan tenaga murni yang amat dahsyat secara mendadak menyambar dari bawah keatas, kekuatannya ternyata tidak lemah.

Sebenarnya seluruh perhatian dari pengemis cilik itu sedang dipusatkan pada urat nadinya, siapa tahu serangan ini datangnya amat ganas dan aneh ketika dia merasakan datangnya serangan telapak tangan dari Liem Tou sudah berada didepan dadanya, tidak terasa lagi dia menjerit kaget dengan kerasnya dan dengan tergesa gesa meloncat mundur, tetapi sekalipun serangan dari Liem Ton ini tidak sampai menyebabkan dia teriuka parah tetapi dadanya sudah ditekan dengan keras.

Berturut turut pengemis cilik itu mundur beberapa langkah kebelakang seluruh tubuhnya gemetar saking gusarnya, tetapi air mukanya telah berubah menjadi merah padam sampai pada lehernya dengan termangu-mangu dia berdiri mamatung beberapa saat lamanya memandang diri Liem Tou, tiba-tiba perasaan sedihnya mencekam seluruh hatinya tidak tertahan lagi menangis tersedu-sedu dengan sedihnya, sedang tubuhnya bagaikan seekor burung walet dengan cepat melayang keluar.

Liem Tou yang melihat kepergian dari pengemis cilik itu begitu cepatnya menjadi sedikit tertegun, tetapi sebentar saja dia merasa geli sekali dengan perlahan diamenoleh memandang sekali lagi ke jenazah Hek Loo toa yang terlentang ditengah darah yang berceceran membasahi lantai, ujarnya dengan sedih.

“Loocianpwee beristirahatlah dengan tenang, Liem Tou minta diri”

Sehabis barkata dengan langkah tenang dia berjalan keluar dari penjara terus kejalan raya, dalam hatinya diam diam dia merasa sangat heran ruangan pengadilan yang menjadi satu dengan penjara itu sekalipun sangat luas tetapi tak nampak sesosok bayangan manusiapun, agaknya pertempuran kemarin malam membuat para penjaga dibikin kalang kabut oleh para jago yang datang menyerang sehingga sekarang pada melarikan dirinya.

Liem Tou juga tidak mau menggubris hal ini, dengan langkah perlahan dia berjalan keluar jalan raya terlihat orarg yang sedang lalu Ialang ditengah jalan hampir sebagian besar merupa kan jago-jago Bu lim yang membawa senjata ta jam sekali, sedang saja sudah tahu kalau mereka merupakan jago pasaran yang tidak boleh disalahi, tidak aneh lagi kalau kaum pengemis serta hwesio banyak yang muncul disitu.

Liem Tou yang kini sudah mengetahui tempat penyimpanan kitab silat To Kong Pit Liok, malah membuat dia merasa tidak tentram, hatinya berdebar terus dengan kerasnya.

Begitu dia bertemu dengan orang orang itu tidak dia sadari lagi kepalanya ditundukan rendah-rendah sinar matanya memandang kebawah dan jalannyapun semakin tergesa gesa.

Sambil berjalan hatinya terus berputar sesudah ini dia harus pergi kemana? langsung ke gunung Wu san atau pergi kelain tempat terlebih dahulu ? Sebagai pengangon sapi untuk menabung uang guna berangkat ke gunung, Wu san mencari itu kitab silat To Kong Pit Liok pada waktu-waktu yang senggang dalam mengangon sapi itu mungkin juga dia bisa memperdalam ilmu silatnya dari kitab To Loo Cin Keng, mungkin juga dengan demikian kepandaiannya mendapatkan kemajuan.

Sambil berpikir sambil berjalan tidak terasa lagi dia sudah berada jauh diluar kota, sawah yang luas terbentaag disekelilingnya, dia tidak mau ambil perduli terus saja dia melanjutkan perjaIanannya kedepan.

Tidak lama kemudian di tempat kejauhan terlihatlah olehnya seorang petani yang sedang mencangkuli sawahnya, dengan cepat berjalan mendekat sambil ujarnya.

"Tolong tanya, disekitar dusun ini apa terdapat orang yang sedang butuhkan seorang pengangon sapi ?"

Petani itu ketika mendengar ada orang sedang mengajak dia bicara dengan perlahan menoleh memandang tapi segera ia jadi tertegun sesaat lamanya, kiranya petani itu tak Iain adalah pemimpin para petani yang pada dua hari yang lalu membawa Liem Tou masuk kedalam penjara.

Pada saat dia melihat Liem Tou yang sedang bicara dengan dirinya tak tertahan lagi mendadak mementangkan mulutnya sambil menjerit keras.

"Tolong.. , tangkap maling sapi”