Raja Silat Jilid 03

 
Jilid 03

LIEM TOU yang selamanya diperlakukan tidak adil membuat sifatnya penurut, kini baru saja sepasang tangannya diulur kedepan siap menerima borgolan tersebut, tiba tiba sipengemis kecil itu sambil tertawa ujarnya lagi pada Sipir Bui itu.

“Toako, coba kau lihat bangsat kecil itu seluruh tubuhnya telah luka parah, untuk berdiri saja sudah tidak sanggup buat apa harus diborgol tangannya apa dia takut melarikan diri?."

Liem Tou sama sekali tidak pernah menyangka kalau didalam penjara dapat bertemu dengan seorang yang selalu menolong dirinya tak terasa dia melirik kearah pengemis kecil itu, diam diam pikirnya.

“Aku Liem Tou selama hidupku ini orang yang terbaik denganku kecuali ayah serta le Cici selamanya tidak terdapat orang ketiga lagi, pengemis cilik ini ada sedikit aneh?”

Baru saja dia berpikir sejenak, tidak disangka si pengemis cilik itu telah menoleh kearahnya sambil membentak keras.

“Hei bocah cilik kau sedang memikirkan apa, cepat kesudut sebelah sana buka baju dan rawatlah luka lukamu itu.”

Liem Tou ketika melihat si pengemis cilik sangat keren dan berwibawa tetapi secara samar samar memperlihatkan sikapnya yang sangat ramah dan halus segera menerima teguran itu dengan berdiam diri dia merasa bahwa pengemis cilik itu sedang melindungi dirinya, tak terasa lagi seperti seorang dewasa yang memarahi anak kecil dengan tanpa banyak komentar dia berpindah kearah sudut ruangan itu.

Siapa tahu baru saja dia duduk diatas tanah mendadak terdengar suara rintihan yang sangat lemah berkumandang keluar dari samping tubuhnya, dengan cepat menoleh untuk memandang, air mukanya segera berubah hebat agaknya dia merasa sangat terkejut sekali, tampaklah seorang buronan tua yang rambutnya terurai panjang sepundak dengan air mukanya yang pucat pasi bagaikan mayat sedang berbaring disamping sudut tembok dan merintih tak henti hentinya.

Ketika Liem Tou memandang lagi kearah kakinya, terlihatlah kudis serta koreng yang penuh tumbuh diseluruh permukaan kulit, baunya bukan buatan sehingga sukar untuk bertahan lebih lama.

Beberapa saat kemudian Liem Tou melihat si pengemis kecil itu berbicara beberapa patah kata kearah sipir bui itu, terlihatlah sipir bui itu amat girang sekali sambil tertawa terbahak bahak, setelah itu berjalan kearah sebuah kursi dan tertidur dengan pulasnya.

ooOOoo

Dengan langkah yang perlahan sipengemis kecil itu berjalan kesamping tubuh Liem Tou tanyanya kemudian

"Hei--- bocah cilik yang baru datang siapa namamu?

Kenapa dimasukkan kedalam penjara oleh orang?"

Dalam hati Liem Tou masih merasa sangat gemas dan mangkal mendengar pertanyaan itu dengan gemasnya menyahut.

“Mereka bilang aku mencuri kerbau mereka.,"

Tiba-tiba si pengemis kecil itu tertawa terbahak bahak, ujarnya.

"Ha ha ha . kalau begitu engkau melanggar hukum yang serupa dengan diriku, kau sudah merupakan kawan sejalan aku kira kita lebih baik bekerja sama terus kalau sudah keluar dari penjara ini,"

“Aku tidak mencuri," Teriak Liem Tou dengan keras, "Mereka yang secara seenaknya menuduh aku yang mencuri." Si pengemis kecil itu masih tertawa terus tak henti- hentinya, mendadak dia bangktt berdiri, ujarnya,

"Perduli kau mencuri atau tidak pokoknya kini kau sudah ditangkap oleh mereka sekalipun tidak mencuri yah sudah mencuri, kau tunggu sebentar, aku akan pergi beli sedikit arak serta sayuran untuk menyambut kedatanganmu."

Liem Tou yang mendengar perkataannya ini merasa sangat bingung, didalam penjara seperti ini darimana datangnya sayur serta arak? baru saja akan buka mulut untuk bertanya si pengemis kecil itu sudah berlari kesamping tubuh Sipir bui itu, dengan perlahan dia mulai mendorong tubuhnya sambil ujarnya.

“Toako kepala penjara, aku akan keluar sebentar.”

Menanti Sipir bui mendusin dan membuka matanya dia telah lari, keluar dari pintu penjara dan lari terus keluar.

Dalam hati Liem Tou menduga tentunya Sipir bui itu akan merasa terkejut bercampur gugup, siapa tahu dia hanya membuka mulutnya dengan suara yang sangat serak barteriak.

“Hei pengemis bangsat. Tetapi pulang kembali, gentong araknya diangkut sekalian kesini.”

Sehabis berteriak gumamnya seorang diri. “Neneknya, beberapa hari ini perutku terus menerus

kosong, sikap dari Loo ya terhadap dirikupun sedikit berubah.”

Mendadak dia memutarkan tubuhnya dengan matanya yang mendelik besar itu mendatangi kearah Liem Tou, ketika Liem Tou melihat kedatangannya amat galak dan seram segera tahu tentu dia akan turun tangan jahat, hatinya terasa berdebar dengan kerasnya sedang matanya tak terasa lagi memandang tajam kearahnya, pikirnya: Apa mungkin mau menggunakan pecut kulitnya untuk memukul tubuhnya. Berpikir sampai disini segera dia menyusupkan seluruh tubuhnya menjadi satu sampai bernapas keraspun tidak berani.

Sebenarnya Liem Tou merupakan seorang yang tidak takut dipukul, oleh karena saat ini seluruh tubuhnya telah terluka hingga pecah pecah bila dipukul serangan apa pun juga tentu sukar untuk ditahan Iagi, disamping itu setelah dirinya dijebloskan kedalam bui dan bilamana mengadakan perrlawanan maka waktu bagi dirinya keluar dari bui tentu akan sangat lama sekali.

Sipir bui itu baru saja berjalan tidak jauh dari tubuhnya terlihatlah tangannya membalik melancarkan pecutannya memukul keras keatas sedang hidungnya tak henti-hentinya mendengus dengan sangat dinginnya.

Penjara itu sebenarnya sudah sangat gelap sekali, lagi pula lembab menyeramkan pula kini ditambah dengan wajahnya yang meringis menakutkan bayangan pecut serta aungan keras membuat suasana semakin mengerikan, tak tertahan lagi seluruh tubuh Liem Tou menggigil dengan kerasnya, sedang dalam hatinya merasa takut kalau pecut itu melayang menghajar tubuhnya.

Pada waktu itulah dari samping tubuhnya mendadak terdengar suara sahutnya.

"Aku tidak akan barbicara, sekalipun kalian menyiksa aku sampai mati aku juga tidak akan memberi tahukan kepada kalian."

Sipir bui itu mendengus dingin lagi, sambil berjalan dua langkah kedepan tangannya menyambar menjinjing tubuh tawanan tua itu dan dibanting ketengah ruangan bentaknya:

“Neneknya… Kakekmu tidak perduli kau mau bicara apa dengan Loo ya aku hanya terima perintah untuk setiap hari hajar kau sehingga setengah mati, hee tua bangkotan she Kan. Aku sungguh sangat sial, karena kau seorang membuat aku pun ikut serta tersiksa salama tiga tahun lamanya, cepat kau tahan hajaranku ini."

Sehabis berkata dia mulai melucuti seluruh baju kakek tua itu, ketika Liem Tou memandang tubuhnya terlihatlah bekas bekas luka yang memenuhi seluruh tubuhnya bahkan warnanya telah berubah menjadi matang biru, saking terkejutnya dengan cepat dia memejamkan matanya diam diam teriaknya.

“Ooh Thian, kau berada dimana?"

Disebelah sini dia sedang ketakutan setengah mati sedang disebelah sana sipir bui itu sudah mulai melancarkan pecutannya menghajar seluruh tubuh kakek tua itu, setiap kali pecutnya menyambar segera terdengar suara dengusan kesakitan dari mulut kakek tua itu. Hanya saja suara kesakitan itu kini didengar dalam telinga Liem Tou mirip sekali dengan teriakan ngeri yang mendirikan bulu roma. bahkan jauh lebih tidak enak dari tubuhnya sendiri, tak tertahan lagi seluruh tubuhnya gemetar tak henti-hentinya.

Sejenak kemudian seluruh tubuh sipir bui itu sudah penuh dibasahi oleh keringat yang mengucur keluar dengan derasnya, tetapi hajarannya masih terus berlangsung tak hentinya. Sekalipun Liem Tou sejak kecil selalu dianiaya oleh orang lain tetapi belum pernah dia merasakan hajaran yang demikian kejam serta mengerikan. Baru saja dia hendak mencegah perbuatan itu mendadak terdengar sipengemis kecil itu telah berteriak keras dari depan pintu penjara.

“Toako kepala bui, cepat hentikan hajaranmu, kenapa kau pukul dirinya lagi?".

Begitu sipir bui itu mendengar pengemis cilik kembali, segera dia menyimpan kembali pecut kulitnya, dengan sangat dingin dia memandang sekejap kearah kakek tua yang aneh itu, dengan kasar makinya.

“Neneknya kenapa kau tidak cepat cepat mati saja ?". Sehabis berkata kakinya melayang menendang tubuh kakek aneh itu kemudian lari kearah pintu penjara menyambut datangnya sayur arak yang dibawa oleh pengemis cilik itu.

Liem Tou melihat sipir bui itu sudah pergi segera membawa kakek aneh itu bersandar ditempatnya semula bahkan memakaikan pakaian yang tadi dilucuti oleh sipir bui tersebut kemudian barulah tanyanya dengan perlahan.

“Orang tua, kau masih bertahan tidak, Kenapa mereka memukuli dirimu demikian kejamnya?”

Siapa tahu kakek aneh itu tidak memperdulikan dirinya, bahkan seperti tidak mendengar pertanyaan Liem Tou, hanya tangannya merogoh kedalam pinggangnya mengambil keluar sebuah benda, tetapi sampai ditengah jalan berhenti lagi agaknya dia merasa ada Liem Tou disampingnya sehingga tidak mengambil keluar, sepasang matanya dengan sangat tajam memandang kearahnya.

Ketika sinar mata Liem Tou bertemu dengan sinar matanya dengan tak terasa menjadi sangat terkejut sekali dan tak tertahan bersin beberapa kali. Kiranya sepasang matanya memancarkan sinar yang sangat keren, buas serta benci, membuat setiap orang merasa pada berdiri bulu kuduknya.

Pada ketika itulah waktu kakek tua itu melihat Liem Tou agaknva tidak punya maksud berbuat jahat terhadap dirinya segera mengambil keluar sebuah benda dari dalam pinggangnya, waktu Liem Tou melihat benda itu ternyata adalah sebuah tali dari celananya segera pikirnya dalam hati.

“Apa mungkin kakek aneh itu mau bergerak? Didalam sebuan ruangan penjara ini bila dia mau buang kotoran bukankah akan berabe?”

Berpikir sampai disini dia bermaksud hendak memberitahu pada sipir bui itu, tetapi ketika dia menoleh melihat lagi tak terasa dia menjadi tertegun dibuatnya, kiranya kakek aneh itu telah menelan tali celana tersebut, tanyanya dengan cepat, 'Kau orang tua sedang makan apa? Bagaimana bisa dimakan benda seperti itu?"

Begitu kakek aneh itu mendengar pertanyaan dari Liem Tou itu seperti takut kalau dia merebut bendanya dengan cepat tali celana itu disimpan dan disembunyikan kedalam pinggangnya sedang mulutnya tak henti hentinya mulai merintih kembali, sama sekali dia tidak mau perduli terhadap sikap dari Liem Tou itu.

Liem Tou terpaksa hanya bisa menggelengkan kepalanya saja tanpa bisa berbuat apa apa lagi, tiba-tiba terdengar sipengemis kecil itu berteriak:

“Toako kepala bui agaknya masih sangat banyak cepat kau teguk segentong ini aku sipengarnis kecil tentu akan mengiringi kau untuk menghabiskan arak ini"

Ketika Liem Tou menoleh memandang kesana terlihatlah tubuh sipir bui itu sudah bergoyang tak hentinya agaknya dia sudah dibuat mabuk oleh pengemis cilik itu, bahkan mulutnya berbicara tak karuan.

"Baiklah, mari minum, kau sunggah baik sekali, Loo-ya agaknya telah berubah sikap terhadap diriku.”

Si pengemis itu segera mengangkat sebuab gentong arak lagi dan diloloh kedalam mulut sipir bui itu, ujarnya.

“Toako kepala bui mari teguk lagi".

Tidak disangka perkataannya baru selesai diucapkan tubuh sipir bui itu telah rubuh tak sadarkan diri diatas tanah, saat itulah dengan perlahan lahan sipengemis cilik itu baru bangkit berdiri, tangannya dengan perlahan mengangkat tubuh lelaki itu dan dilemparkan kedepan, dengan mengeluarkan suara yang amat keras tubuh Sipir bui itu sudah terjatuh keatas sebuah pembaringan sehingga hampir hampir rubuh kembali keatas tanah. Diam-diam Liem Ton yang melihat kejadian itu merasa sangat heran pikirnya:

“Jika dilihat usianya yang tidak begitu berbeda dengan usiaku, darimana datangnya tenaga yang begitu besarnya?"

Pada waktu itulah sipengemis cilik itu sudah menggape kearahnya sambil parggilnya.

"Hee . Pencuri kerbau. kau demikian sungkannya?? Sayur serta arak ini sengaja aku buatkan untuk menyambut kedatanganmu, cepat kemari”

Liem Tou yang mendengar begitu dia pentang mulutnya ternyata memanggil dirinya sebagai sipencuri kerbau dalam hati sudah merasa kekhie tetapi diapun merasa berterima kasih atas bantuannya untuk menghapuskan dirinya dari hajaran pecut kulit itu segera dia maju kedepan, dengan dingin ujarnya.

"Kita selamanya tidak saling mengenal dan bukan merupakan kawan senasib pula, buat apa kau mengadakan perjamuan ini untuk menjamu diriku ?"

Ternyata si pengemis cilik itu tertawa merdu sahutnya. "Hee .. siapa yang menyuruh kau memiliki ilmu surat yang

begitu sempurna?? Aku sipengemis cilik tidak akan paham akan hal tersebut, sudahlah, mari cepat makan."

Liem Tou yang mendengar nada suara tertawanya ternyata telah bcrubah bahkan hampir mirip dengan suara tertawa dari Ie cicinya tak terasa menjadi tertegun dibuatnya, urusan ini rungguh sangat aneh.Tak terasa lagi dia melotot matanya dengan tajam memandang kearahnya.

Si pengemis cilik itu begitu melihat sikapnya sangat aneh sepasang matanya segera berputar, sambil tertawa ujarnya lagi. “Bagaimana? Kau takut makan apa karena jeri dengan setan itu? Kuberitahukan kepadamu. Hei si pencuri kerbau, didalam arak yang diminum telah kucampuri dengan obat tidur, tidak sampai besok pagi jangan harap dia bisa mendusin kembaii."

Mendengar perkataan itu Liem Tou merasa sangat terkejut sekali, dahulu dia pernah mendengar cerita ayahnya yang mengatakan bahwa obat bius itu biasanya digunakan oleh kedai-kedai gelap didalam membius tamu tamunya. Kini si pengemis cilik itu ternyata menggunakan benda itu membuat Liem Tou benar benar merasa sangat curiga sekali.

Agaknya si pengemis cilik itu tahu apa yang sedang dipikir dalam hatinya, mendadak tertawa semakin merdu ujarnya.

“Hee si pencuri kerbau, kau berlega hatilah, kita merupakan kawan dari satu jalan tidak mungkin kita bisa menggunakan obat bius membius dirimu, apalagi sampai namamupun aku masih tidak tahu buat apa aku membius kau? Heee. Cepat makanlah. Aku dengan setulus hati hendak berkawan denganmu.”

Sehabis berkata dia mengambil poci itu dan diisi penuh dengan arak wangi kemudian diteguknya hingga habis, ujarnya.

“Aku si pengemis cilik menghormati kau si pencuri kerbau agar sukses selalu, Hee. sipencuri kerbau, sebenarnya siapa namamu?”

Liem Tou yang dibegitukan oleh si pengemis cilik membuat ia tertawa tak dapat menangispun susah, terpaksa dia meneguk habis secawan arak kemudian sahutnya.

“Aku bernarna Liem Tou.”

Mendadak teringat olehnya kalau si pengemis cilik itu memanggil dirinya sebagai si pencuri kerbau, tak terasa teriaknya dengan keras. “Aku beritahu padamu, aku tidak pernah mencuri kerbau jangan panggil aku sebagai pencuri kerbau.”

“Sungguh gagah sekali namamu,” ujar si pengemis cilik sambil tertawa lagi, “Kau mencuri atau tidak mencuri apa bedanya? Aduh. Aku sungguh tolol kurang sedikit saja telah melupakan iblis tua itu.”

Sehabis berkata dia menyobek sekeras paha ayam dan di lemparkan kearah sudut penjara itu sambil teriaknya.

“Hee - - - Loo toa apa benar benar kau tidak mau memberitahukan kepadaku, ayahku pernah beritahu pada kau katanya pada puluhan tahun yang lalu Siok To Siang Mo pernah malang melintang di daratan maupun lautan bahkan pernah berbuat kejahatan yang tak terhingga banyaknya sehingga anak kecil pun tahu kejahatan kalian, tetapi pada tiga tahun yang lalu mendadak Siang Mo telah melenyapkan diri tanpa bekas, baru kini barulah didalam dunia kangouw tersiar berita katanya Siang Mo telah mendapatkan sebuah kitab pusaka To Kong Pit Liok peninggalan Thio sucouw kemudian menyembunyikan diri untuk berlatih, sejak semula berita itu telah menggemparkan seluruh dunia kangouw, berbagai jago dari berbagai aliran mulai mencari jejak orang tersebut sampai dimana untuk merebut buku pusaka tersebut, akupun setelah melakukan pengejaran yang jauh serta tenaga yang amat besar akhirnya baru menemukan dirimu di tempat ini bahkan mengetahui kalau urat nadi kakimu telah diputus. Sekalipun kepandaian silatmu tidak sampai hilang tetapi juga tidak dapat digunakan, maka itu coba kau pikirlah secara masak-masak. Bilamana kau mau menyerahkan kitab rahasia itu aku akan segera menolong kau keluar hingga dapat hidup ja¬uh lebih bahagia, kalau tidak coba kau rasakanlah siksaan atau pecutan dari Loo Jiemu yang sangat kejam itu.”

Sehabis berkata dia menoleh memandang kearah Liem Tou dan ujarnya lagi. “Aku heran didalam dunia ini ternyata masih ada juga manusia setolol dia, mau menolong malah ditolak bahkan mau menerima siksaan serta penderitaan didalam penjara. Hee si pencuri kerbau..Oooh..tidak, Tou loote mari kita makan punya kita sendiri, jangan urusi dia lagi”

Perkataan dari pengemis cilik tentang kakek aneh itu telah menarik perhatian diri Liem Tou, teringat kembali olehnya perkataan dari si siucay buntung serta pembesar buta sewaktu mereka bertempur dengan sengitnya itu kemudian teringat pula perkataan antara si siucay buntung serta Thiat Sie poa, apa mungkin orang yang sedang mereka cari itu adatah kakek aneh ini?

Baru saja dia berpikir sampai disitu kakek tua yang aneh itu telah menggumam sendiri.

“Aku tidak akan memberi tahu pada kalian, siapa yang akan mendesak djriku, aku juga tidak akan membuka mulut.”

Mendadak dengan suara yang amat keras bentak kakek aneh itu lagi.

“Apa kau kira penderitaan siksaan serta cambukan selama tiga tahun ini telah membuat aku jeri?”

Liem Tou sagera menoleh memandang kearahnya, terlihatlah sepasang mata kakek aneh itu memancarkan sinar yang amat tajam tetapi sangat dingin, air mukanya yang pucat pasi segera berubah menjadi kehijau-hijauan, pada saat itulah si pengernia cilik sambil tertawa telah berkata.

“Aku bilang Loo toa tentang hal ini kau salah menduga, menurut apa yang kuketahui sekarang ini, para jago dari golongan Pek to maupun dari golongan Hek to sekarang ini telah pada berkumpul didalam kerisidenan Ciong ling ini sedang Loo jie mu yang kejam serta berhati binatang itu sekalipun sifatnya sangat licik dan banyak aka! telah menyembunyikan dirimu di dalam penjara yang sangat gelap tanpa menimbulkan suara apapun, orang lain aku tidak berani bilang tetapi Tionggoan Ngo Koay terutama sie poa itu apa kau kira bisa berhasil mengelabui dirinya?"

"Dia datang mencari diriku bilamana tidak mau bilang, dia bisa berbuat apa lagi" sahut kakek itu sambil tertawa serak.

“Kitab pusaka To Kong pit Liok itu apabila terjatuh ketangan orang jahat bukankah akan menimbulkan gelombang yang dahsyat didalam Bu-lim, coba kau pikir sekali lagi kini dia sudah tahu kalau kau berada disini apa mungkin dia mau melepaskan dirimu begitu saja ? Sekalipun sekarang kau punya perasaan menyesal atas perbuatanmu yang dahulu dahulu dan bertaruh dengan nyawa juga tidak mau menyerahkan kitab rahasia Tok Kong pit Liong itu kepada Loo jie mu itu tetapi Thiat Sie Sie sianseng yang mempunyai sepasang mata yang tajam apa dia mau mempercayainya?

Pada saat itu kau boleh merasakan tindakan yang diambil dari tangannya.”

Omongan dari sipengemis cilik itu ternyata membuat kakek aneh itu termenung berpikir keras.

Liem Tou yang mendengar seluruh perkataan yang diucapkan oleh si pengemis cilik itu sangat beralasan bahkan dia dengan mata kepala sendiri melihat kalau si siucay buntung serta sipembesar buta telah datang ditambah simayat hidup serta pengemis pemabok pun te¬lah tiba segera timbrungannya.

"Aee orang tua. Sekalipun aku tidak tahu ia menghendaki benda berharga apa dari tanganmu tetapi ketika aku mendengar perkataannya segera ia tahu kalau benda itu bukan merupakan benda yang berharga, lebih baik kau berikan kepadanya."

"Kiranya kaupun sekomplotan dengan pengemis cilik itu" maki kakek aneh itu dengan sangat gusar. "Hm . . . hm . . . kalau kalian punya kepandaian gunakanIah terhadap diriku, saya mau lihat seberapa lihay kepandaian kalian itu." “Orang tua…” bantah Liem Tou dengan cemas, “Harap kau jangan salah paham, aku berkata demikian sebenarnya punya maksud baik terhadap dirimu sedang saudara ini sama sekali tidak percaya padanya, mana mungkin aku bisa sekomplotan dengan dirinya?”

Liem Tou baru saja habis berkata segera terlihatlah kakek tua yang aneh itu sudah memalingkan kepalanya tidak mau bicara lagi, sebaliknya terlihatlah si pengemis cilik itu sambil tersenyum manis menepuk nepuk pundaknya, ujarnya.

"Tou Loo te kau sungguh merupakan kawan karibku yang sangat baik, marl kita teguk arak ini."

Liem Tou yang dikatai seperti ini mana mau menerima araknya, dengan sangat serius sahutnya.

"Apa maksudmu yang sebenarnya ? Apa kau neminta aku menampar mulutku sendiri ? Aku Liem Ton bukanlah orang semacam itu."

Si pengemis cilik itu melihat sikapnya berubah sccara mendadak juga ujarnya dengan keras.

"Ini apa-apaan? Hemm kau bicara apa ? Bukankah kau sedang menasehati iblis tua itu untuk menyerahkan kitab pusaka To Kong Pit Liok kepadaku, bagaimana kini malah mungkir ? Demikianpun juga boleh, aku lihat kau bukanlah orang dari kalangan dunia kangouw lebih baik janganlah terlalu mencampuri urusan ini, kalau tidak aku bukannya orang yang terlalu baik. bila waktu aku sampai dibikin marah, he he he hati-hati dengan batok kepalamu."

Liem Tou yang melihat sipengemis cilik itu ternyata hendak menakuti dirinya menjadi sangat gusar, apalagi dirinya sejak kecil dianiaya terus orang lain kemudian tak ada hujan tak ada angin dirinya dianggap sebagai sipencuri kerbau, dalam dadanya sudah amat mangkel, sekarang dibegitukan lagi oleh pengemis cilik kegusarannya tak dapat ditahan lagi, dengan gemas dia berdiri dan bentaknya. "Sekarang aku akan membuat kau merasa tak senang. kau mau berbuat apa ?'

Sebaliknya bukannya marah si pengemis cilik itu tertawa terbahak-bahak, dengan halus sahutnya.

"He ... he . . coba kau lihat sikapmu amat kasar sehingga kelihatan ketololannya, kau punya kepandaian apa silahkan keluarkan semua, ini hari aku tidak ingin menyusahkan dirimu.”

Liem Tou yang melihat dia sama sekali tidak menggubris dirinya bahkan memandangpun tidak, semakin merasa gusar, diam diam pikirnya.

"Ini hari aku harus menghilangkan kemangkalanku ini, aku melihat dia bisa berbuat apa terhadap diriku?”

Berpikir sampai disini segera dia mengangkat cawannya dan menyedot isi cawan itu sekeras-kerasnya kemudian dengan dibarengi dengan hawa murninya disemprotkan kedepan Si pengemis itu sama sekali tidak mengadakan persiapan disemprot seperti itu segera seluruh

wajahma basah oleh arak dari mulut Liem Tou,

Tak terasa lagi dia menjadi sangat gusar, dengan cepat dia bangkit berdiri dan bentaknya dengan keras.

"Bangsat cilik, 'kau bosan hidup lebih lama lagi yah ?"

Tengannya diulur kedepan, jari tengah serta telunjuknya dengan bentuk seperti gunting mencukil kearah mata Liem Tou serangannya pertama saja sudah amat kejam, sedikitpun tidak memperlihatkan belas kasihannya.

Tak disangka begitu dia mengeluarkan jurus itu, kakek aneh yang berada disamping itu segera menjerit tertahan, ujarnya.

"Hee - - Yan wie tui hun ci atau ilmu jari pengejar ayawa, kiranya kau adalah anak buah dari partai Kiem Tian pay dari telaga Auh Lay, hee . bocah cilik pencuri kerbau kau haruslah berhati hati untuk menghadapi dirinya,”

Liem Tou yang melihat serangan jari dari si pengemis cilik itu digerakkan demikian cepatnya dan tahu-tahu telah sampai dihadapannya segera miringkan kepalanya menyingkir sedepa, langkah kakinya secara tidak sadar telah mengeluarkan suatu langkah-langkah yang sangat aneh yang dipelajari kemarin malam ditengah hutan menurut lukisan lingkaran sebanyak tiga puluh enam buah itu, sedang diriya entah secara bagaimana dan entah dengan cara apa namanya ternyata hanya cukup dua langkah saja telah berhasil bergeser kebelakang tubuh sipengemis cilik itu.

Melihat hal itu dia manjadi amat girang sambil mencubit keras keleher sipengemis itu ujarnya.-

"Kau boleh galak, sekarang galaklah kepadaku”

Kakek tua aneh yang berada disamping begitu melihat langkah ajaibnva segera teriaknya.

"Ha . . . bocah pencuri kerbau tak ku sangka kalau kaupun merupakan jago dari dunia kangouw ilmu Iangkah ajaib Sah cap lak Thian Kang Hwie Sian Poh atau tiga puluh enam langkah badai memutar ternyata kau telah memahaminya, tentunya kau ahli waris dari Lie Loo jie Tun si pay, kalau tidak tentu murid dari pedagang terkutuk itu.”

Sipengemis cilik itu setelah dicubit sekali oleh Liem Tou dari belakang tubuhnya semakin gusar sekali, tapi baru saja dia hendak memutar tubuhnya sejak tadi Liem Tou telah memutar lagi kebelakang tubuhnya.

llmu silat dari partai Kiem Tian Pay dari telaga Auh Hay selamanya mengandalkan ilmu jari serta ilmu meringankan tubuhnya sehingga bisa menjagoi selururuh Bu-lim, bahkan si pengemis itu mempunyai kedudukan yang sangat terhorrmat di dalam partai Kim Tian Pay sehingga bolehh dikata dia telah mewarisi seluruh kepandaian dari partai itu, siapa tahu ini hari ternyata telah terpedaya dibawah tangan seorang pencuri kerbau seperti Liem Tou itu, mana mungkin dia tidak gusar benar-benar?

Didalam headaan yang sangat cemas itu memandang sipengemis cilik itu mendapat akal, segera dia mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya dan meloncat keatas tonggak diatas penjara itu, kelihatannya dia siap hendak menubruk kebawah.

Terdengar kakek aneh itu mendadak mengeluarkan suara tertahan lagi, agaknya secara tak sadar terus rnemperingatkan keadaan yaug sangat bahaya bagi keselamatan Liem Tou.

Sebenarnya Liem Tou sendiri memangnya tak memiliki kepandaian silat sedang jurus-jurus yang dilancarkan juga merupakan ketepatan saja kini ketika telah menjerumus kedalam keadaan yang sangat kritis itu barulah sadar kembali dan memandang tajam keatas tiang tonggak diatas ruangan itu sedang dalam hatinya merasa amat cemas.

Terpaksa dia hanya dapat berlari secara ngawur didalam ruangan penjara itu agar sipengemis itu tIdak dapat turun kembali.

Pada air mukanya sekalipun Liem Tou kelihatan ketolol- toiolan padahal seperti perkataan dari si siucay buntung itu dia merupakan seorang yang amat cerdik dan memiliki bakat yang sa¬ngat bagus sekali.

Sambil berdiri mengitari ruangan penjara itu dia terus menerus berpikir mencari daya untuk meloloskan diri, mendadak pikiraanya berkelebat suatu cara yang bagus teringat olehnya akan perkataan dari kakek tua yang aneh itu, mendadak bentaknya dengan keras. 

"Aku ahli waris dari Thiat sie poa takkan takut padamu, sekalipun kau merupakan orang partai dari Kiem Tian Pay paling banyak aku akan bertempur mati-matian melawan kau." Sehabis berkata ternyata dangan mengarah tepat dibawah sipengemis cilik itu dia membaringkan dirinya, sedang hawa murninya segera dipusatkan pada perutnya hingga mengembung besar ujarnya lagi.

"Marilah kalau kau benar-benar punya kepandaian turunlah untuk coba-coba kelihayanku,”

Perbuatan dari Liem Tou kali ini ternyata mendatangkan hasil, sipengemis itu tak dapat meraba apa yang hendak diperbuat olehnya ternyata tak berani menggunakan nyawanya sebagai taruhan untuk menerjang turun kebawah terpaksa dengan sangat mangkal mendelik memandang kearah Liem Tou dari atas tiang penjara itu.

Bersamaan pula kakek aneh itu juga tidak berteriak lagi, terdengar dia seorang diri gumamnya.

"Bagaimara ini bisa jadi ?? Jika dilihat cara mengerah tenaga barusan ini terbukti sangat jelas sekali kalau merupakan ilmu pernapasan dari perguruanku, apa mungkin Lao jie yang mewarisi padanya ?? Tidak benar, Tidak benar. Kalau memangnya Loo jie yang mewarisi dia dalam ilmu pernapasan itu dia tak mungkin akan mengangkat pedagang terkutuk itu menjadi gurunya. Kalau demikian adanya tentu dia merupakan ahli waris Lie Loo jie dari partai Tun Si Pay, hanya dari kitab pusakanya saja barulah termuat berbagai macam ilmu silat dari setiap partai. Tapi .. tapi, kenapa dia mengaku sebagai anak murid dari pedagang terkutuk itu.

Mendadak tanyanya dengan keras.

“Hee.. bocah cilik pencuri kerbau, aku mau tanya padamu, sebenarnya kau punya hubungan apa dengan Lie Loo jie dari partai Tun Si pay itu

Mendengar pertanyaan itu diam-diam pikiran Liem Tou mulai bekerja, “urusan telah menjadi begini, aku seharusnya mengatakan kalau kepandaianku semakin tinggi semakin baik bilamana kakek aneh ini menyebut Lie Loo jie dari partai Tun Si Pay itu tentunya dia merupakan seorang yang memiliki kepandaian sangat tinggi aku tak dapat melepaskan kesempatan ini”

Berpikir sampai disini segera sahutnya dengan cepat. "Dia adalah paman Lie Ku."

"Ooooh kiranya begitu."

Si pengemis cilik yang mendengar perkataan itu diatas tonggak kayu segera memejamkan matanva tak membuka mulut lagi ketika memandang lagi kearah Liem Tou terlihatlah perutnya masih tetap mengembang besar dan berbaring diatas tanah, keadaannya mirip sekali dengan mayat yang ditemukan tenggelam dalam laut.

Sekarang dia tak ingin bergebrak mati-matian melawan Llem Tou lagi, mendadak sambil tersenyum ujarnya.

"Sudahlah Tou Loo te. Kau jangan membuat aku tertawa sampai mati, cepat bangun, aku takkan memukul kau lagi "

Liem Tou yang berbaring diatas tanah, mana mau percaya terhadap perkataaanya sahutnya dengan cepat,

"Kau turunlah terlebih dulu."

Terpaksa sipengemis cilik itu meloncat terlebih dulu dari samping sedang pada saat itu dalam hati pikir Liem Tou.

"Hm. . . aku harus memperlihatkan sediklt kelihayanku dihadapan sipengemis busuk itu agar dia tak berani terlalu memandang rendah diriku lagi."

Mendadak hawa murni yang dikumpulkan perutnya itu dikerahkan keatas.

"Braaaak..." genting ruangan penjara itu segera dipukul oleh hawa murninya hingga menimbulkan sebuah lubang yang sangat besar, debu beterbangan mengotori empat penjuru sedang orang orang yang berada disanapun sangat terkejut akan kelihayannya itu. Setelah itu baru Liem Tou dengan perlahan bangkit berdiri.

Melihat kejadian itu dalam hati si pengemis cilik itu merasa sangat terperanjat, pikirnya.

“Untung saja aku tak sampai bergebrak melawan dia, kalau tidak susah juga. . ."

Tidak selang lama, matahari sudah terbenam diarah barat sedang malampun telah tiba.

Dengan melototkan matanya kakek aneh itu tiba2 memanggil diri Liem Tou sambil ujarnya:

"Dua buah kitab pusaka didalam dunia ini kini yang satu telah didapatkan oleh Lie Loo jie, apa mungkin kau datang kedalam penjara ini bertujuan meminta kitab pusaka yang satunya lagi?"

Pada saat ini Liem Tou telah amat terkejut serta kagum terhadap kakek aneh itu kini mendengar perkataan itu itu dengan gugup sahutnya:

“Mana aku berani, aku benar benar dikarenakan orang lain menganggap aku telah mencuri kerbaunya hingga ditangkap dan dimasukkan kedalam penjara, mana aku berani punya niat serakah terhadap barang dari cianpwee?”

“Ehm. . sahut kakek aneh itu perlahan kemudian ujarnya lagi. "Kalau begitu kau kemarilah "

Liem Tou tahu kalau kakek aneh itu sekalipun memiliki kepandaian silat yang sangat tinggi tapi tak dapat digunakan lagi, dengan membesarkan nyalinya dia berjalan mendekat.Tidak disangka baru saja dia menggerakkan kakinya untuk bergerak maju dari depan penjara itu berkumandang suara gemerisik yang sangat nyaring kemudian disusul dengan suara tertawa tergelak yang sangat keras, ujarnya. "Hek Lootoa.. kiranya selama puluhan tahun ini kau telah menyembunyikan diri ditempat ini tak dapat disalahkan iagi kalau aku tak berhasil mendapatkan dirimu. Kawan karibmu dari gunung Im San datang menyambangi."

Mendengar perkataan itu kakek aneh itu merasa amat terkejut, air mukanya berubah hebat sedang rambutnya pada berdiri menahan kegusarannya. Mendadak bagaikan orang gila tubuhnya meloncat keatas beberapa depa tingginya, belum saja tubuhnya mencapai tanah tiba-tiba dengan mengeluarkan suara kesakitan tubuhnya rubuh keatas tanah katanya dengan gusar makinya:

“Kalian enyahlah dari sini, tempat ini tidak ada yang bernama Hek Lootoa, Hek Lootoa sudah mati”

Sipengemis cilik yang setelah meloncat turun dari atas tonggak sebenarnya sedang menyulut lampu pada saat itu dengan cepat meniup padam lampu itu sambil ujarnya dengan perlahan.

"Aku bilang Loo toa, lebih baik cepat-cepat ambil keputusan didalam hatimu dan serahkan kittab pusaka To Kong Pit Liok itu kepadaku. 0rang yang berada diatas genting saat ini adalah Kioe Long dari gunung Im san didaerah Mo Pak. Bila benar-benar dia yang datang mungkin juga si Wan Kouw juga ikut datang, aku dengar kedua orang itu sangat jarang memasuki daerah Tiouggoan, kali ini mereka datang juga tentu ada urusan yang penting. He …tindakan dari Kioe Liong Wan Kouw sangat kejam dan gusar, lebih baik kau pikir lebih masak !agi.”

Kakek aneh itu hanya mendengus dingin saja sedikitpun tidak memberikan jawabannya.

"Saat ini !” ujar sipengemis cilik itu lagi. “bilamana kau mau menyerahkan kitab pusaka itu aku masih bisa menolong kau untuk keluar dari penjara ini, tetapi sejenak lagi kemungkinan sekalipun aku sanggup juga belum tentu punya tenaga yang besar untuk menolong kau kini cepatlah ambil keputusan”

Mendengar perkataan itu kakek aneh tersebut semakin gusar, bentaknya dengan keras.

"Cepat kau menggelinding dari sini."

Tiba-tiba orang yang berada diluar penjara itu telah melanjutkan lagi ucapannya.

“Hek Loo toa, cara bekerja serta sifat dari aku Kioe Long dari gunung Im San tentu kau telah sangat jelas sekali ini hari aku telah berhasil menemukan dirimu bilamana kau ingin mengenyahkan diriku dengan gampang sebenarnya bukan sebuah urusan yang amat susah asalkan kau mau memperlihatkan sekejap kitab pusaka yang kau dapatkan itu, aku akan segera pergi dari sini dan tidak akan menyusahkan dirimu lagi.”

Saat itu tiba-tiba terdengar suara dari seorang wanita menyambung ucapan itu.

“Benar, Hek Loo toa - - - sekalipun boleh dikata kita tidak punya hubungan persahabatan yang sangat erat tetapi juga pernah bertemu beberapa kali, ini kali kami banya ingin meminjam sebentar apa kau merasa keberatan?"

"Loo toa kau dengar dengan jalas bukan?” ujar sipengemis kecil itu dengan suara yang perlahan sambil melirik sekejap kearahnya. “Bukankah perkataanku sedikitpun tidak salah?

Kioe Long Wan Kouw selamanya tidak pernah melakukan gerakan dan pekerjaan dengan seorang diri, sekarang coba kau akan menggunakan cara apa untuk menghadapi mereka berdua?."

Kakek aneh itu masih tetap tidak memperdulikan diri sipengemis cilik itu, sedang pada saat itu Kioe Long yang berada diatas genting ruangan penjara itu sudah tidak sabar lagi, dengan berat ujarnya. “Hek Loo toa, kau sebenarnya hendak berbuat bagaimana?

Aku Kioe Long merupakan seorang berangasan yang sudah terkenal, he he he .. aku tidak akan sabar untuk menanti lebih lama lagi."

Entah kenapa tiba-tiba kakek aneh itu memandang dengan tajam kearah sipengemis cilik itu agaknya pikirannya telah berubah tanyanya.

“Apa benar kau menginginkan kitab pusaka To Kong Pit Liok itu? Aku akan memberitahukan padamu, benda aneh yang terdapat didalam dunia ini pasti terdapat pemilik yang sebenarrya, bilamana bukannya pemilik yang sesungguhnya maka mendapatkan benda itu sama saja dengan mendatangkan . . . bencana untuk diri sendiri, kau apa sudah pikir masak-masak menghadapi bencana-bencana tersebut?, Hmm.. "

Si pengemis cilik itu begitu mendengar ucapan dari kakek aneh segera tahu kalau dia punya niat untuk menyerahkan kitab pusaka To Kong Pit Liok itu kepadanya, tak terasa lagi menjadi sangat girang, cepat sahutnya.

"Loo cianpwee punya perintah apa, boanpwee tentu akan melaksanakannya tanpa membantah."

"Sebelum kita membicarakan kitab pusaka itu terlebih dahulu aku hendak memberitahukan padamu dengan jelas. Bilamana kau berhasil mendapatkan batok kepala dari Kioe Long serta Wan Kouw sehingga dapat membasmi dua orang penjahat dari dunia ini maka Loolap akan segera menyerahkan kitab pusaka To Kong Pit Liok itu kepadamu tanpa membantah, bagaimana kau sanggup?"

Mendengar perkataan itu air muka sipenge¬mis cilik itu sedikit berubah, ujarnya.

“Ini , .ini... „"

Dengan keras barkata kakek aneh itu lagi. “Kalau kau tidak sanggup untuk melaksanakan tugas ini lebih baik sekarang juga menghilangkan pikiran itu dan cepat pergi dari sini”

Saking khekinya air muka si pengemis cilik itu telah berubah menjadi merah padam, sambil mendepak kakinya keatas tanah sahutnya:

"Baiklah."

Dangan cepat dia membuka pintu penjara dan meloncat kaluar. Tidak selang lama diatas atap penjara itu agaknya terdengar orang yang bergerak disertai dengan suara bentakan yang tidak henti-hentinya. Sejenak kemudian terdergar suara terbentaknya senjata tajam sehingga suasana amat ramai.

Saat itulah kakek aneh itu tertawa terbahak-bahak ujarnya terhadap Liem Tou.

'Cepat tutup penjara itu, kau masih tunggu apa lagi?" "Hanya demikian saja bisa menahan serangan mereka?"

diam-diam pikiran Liem Tou terus berputar.

Tetapi dia tidak mengucapkan apapun dengan mengikuti permintaannya mengunci pintu penjara tersebut. Siapa tahu pada saat itu juga mendadak terdengar suara tertawa terbahak dari si siucay buntung serta Thiat Sie sianseng, ujar si Thiat Sie poa itu dengan keras.

"Hee siucay buntung Loo te, aku bilang disini telah ada yang mendahului kita tidak salah bukan?. Haa . . , kiranya sepasang binatang itu , bagaimanapun juga bangsa binatang jauh lebih tajam penciumannya dari manusia."

Tidak disangka baru saja dia mengucapkan perkataan itu, Liem Tou telah mendengar lagi seorang yang memiliki suara yang serak tapi keras melanjutkan lagi. "Si siucay bunting Loo te, tidak disangka aku yang merupakan seorang yang cerdik kini telah menjadi demikian tololnya. Sie poa dari pedagang terkutuk itu selamanya hanya menghitung yang masuk dan tidak akan menghitung yang keluar, apa kau tidak tahu bilamana jalan bersama dengan dia selamanya tidak akan mendapatkan keuntungan apa pun?”

"Heee, kamu pengemis pemabok yang tldak mati-mati, bukannya pergi menangkap cacing, laba-laba serta kodok untuk teman arakmu, kini lari kemari mau apa?" balas si siucay buntung itu.

Mendengar suara itu Liem Tou segera tahu kalau sipengemis pemabokpun telah tiba, diam-diam pikirnya.

“Malam ini selain Koen Long Wan Kouw yang datang terlebih dahulu, Tionggoan Ngo Koay telah hadir tiga orang, aku kira didalam sekejap lagi kaum jago dari dunia kangouw tentu akan bertambah banyak yang sampai didini.

Pertempuran sengit ini tentu segera menarik sekali.”

Saat dia sedang melamun itulah tiba tiba terdengar suara panggilan dari kakek aneh itu:

“Bocah cilik cepat kemari”

“Cian pwee mau member perintah apa lagi?” tanya Liem Tou dengan kaheranan tetapi kakinya tetap berjalan mendekati kaarahnya.

Agaknya kakek aneh itu mau mengucapkan sesuatu tetapi dibatalkan kembali, hanya sepasang matanya dengan sangat tajam memandang kearah Liem Tou, mendadak dia menunjuk kedepan tubuhnya sambil ujarnya dengan perlahan:

"Kau duduklah disini, dan cobalah mengerahkan tenaga murnimu untuk aku lihat."

Liem Tou ketika melihat air muka kakek aneh itu sangat serius dan kerena sekali dia tidak berani membangkang, dengan mengikuti perintahnya dia duduk didepan tubuhnya kemudian mulai memusatkan selurah hawa murni dalam pusat.

Dengan perlahan kakek aneh itu meletakkan tangannya diatas perutnya kemudian ujarnya lagi:

"Bagus, sekarang mulailah."

Liem Tou segera mengikuti cara mengerahkan tenaga murni yang dipelajarinya dari kitab peninggalan ayahnya itu, dengan cepat dia menarik napas panjang panjang sehingga membuat perutnya membesar seperti bola setelah itu ditarik kembali seperti biasa. Tidak disangka kakek aneh itu tertawa terbahak ujarnya.

"Aku kira kitab pusaka"Tou Loo Cin Keng" benar benar memuat berbagai jurus silat dari semua aliran, tidak disangka ternyata hanya begini saja, boleh dikata aku orang tua tidak sia sia mengetahui rahasia ini sehingga matipun tidak sayang"

Liem Tou yang melihat sikapnya itu menjadi bingung dan tidak tahu sedang berbuat apa dia itu, kakek aneh itu setelah tertawa keras beberapa saat lamanya barulah berhenti dan tanyanya lagi.

"Lie Loo Jie dari partai Tun Si Pay apa benar merupakan pamanmu? Aku dengar sipedagang terkutuk itupun kini telah tiba disini apa dia benar benar suhumu?"

Tadi Liem Tau secara ngawur mengaku sebenarnya hanya bertujuan menipu sipengemis cilik itu saat ini urusan telah berlalu sehingga untuk berbohong baginya tidak berguna lagi, akhirnya dengan terpaksa dia menceritakan keadaan yang sesungguhnya.

'Oooh..begitulah agaknya" sahut dari kakek yang aneh itu setelah dia mendengar kisah yang sesungguhnya dari Liem Tou ini, kali ini dia tidak berani tertawa lagi. Setelah termenung berpikir keras beberapa saat lamanya barulah ujarnya dengan perlahan. "Apa kau mau meminjamkan kitab pusaka peninggalan ayahmu itu untuk aku lihat sebentar?”

Begitu perkataan ini keluar dari mulutnya, Liem Tou segera merasakan serba susah, oleh karena pesan terakhir dari ayahnya meninggalkan wanti-wanti pesan baginya untuk tidak secara sembarangan memperlihatkan kitab pusaka itu kepada siapapun juga.

Kakek aneh itu begitu melihat sikapnya yang serba salah segera mengira kalau mungkin dia merasa kuatir terhadap dirinya, dan ujarnya.

"Kau tidak usah merasa kuatir, Loo lap jadi orang selamanya pegang janji apa lagi seluruh jalan darah terpenting ditubuh Loolap telah di totok oleh orang lain sedang urat nadi kakipun telah dipotong bagaimana Loolap berani punya niat serakah?”

"Cianpwee telah salah menduga" sahut Liem Tou.

Bukannya aku punya maksud demikian hal ini tidak dapat dilakukan karena menurut pesan yang ditinggalkan ayahku almarhum tidak memperkenankan aku untuk meminjamkan kitab ini kepada orang lain secara sembarangan.

Mendengar perkataan ini diam-diam pikir kakek aneh itu. “Ternyata bocah cilik ini benar-benar jujur dan menurut

perkataan, orang ini patut dipuji” Berpikir sampai disitu segera ujarnya.

"Sebenarnya Loolap tidak punya maksud untuk memaksa orang lain, tetapi jika didengar dari perkataanmu agaknya kau sama sekali tidak paham terhadap isi dari kitab pusaka Toe Loo Cin keng itu kini kau perlihatkan kepadaku bila buku itu benar benar asli kemungkinan sekali kepandaian yang terdapat didalamnya aku pernah melatihnya dengan meminjam kesempatan ini aku akan menurunkannya padamu, perkataan dari Loolap ini surgguh sungguh dan tidak akan membohongi dirimu.”

Pada saat itu orang orang yang berada diatas atap penjara itu agaknya telah mencapai pada sengit sengitnya bertempur, bahkan kedengarannya telah bertambah lagi dengan beberapa jago, suara bantakannya disertai dengan suara angin pukulan semakin santar, membuat suasana semakin kacau.

Diam diam Liem Tou memikirkan perkataan dari kakek aneh itu dan merasakan kalau perkataannya sedikitpun tidak salah, segera dia tidak kukuh lagi dengan pendiriannya, dan mengambil keluar kitab pusaka itu untuk diperlihatkan pada sikakek aneh.

Setelah dia menerima kitab itu segera terlihatlah perasaan yang sangat bergolak, sepasang tangannya terlihat sedikit gemetar, sedang dari sepasang matanya memancarkan sinar yang sangat tajam, didalam kegelapan itulah selembar dami selembar dibukanya, semakin dia melihat isi dari kitab itu gemetarnya semakin keras hingga akhirnya giginyapun gemerutuk dengan kerasnya, tiba tiba bentaknya dengan keras:

"He ... aku Hek Loo- toa sekalipun harus mati juga akan mati dengan meramkan sepasang mataku ."

Sehabis berkata, buku itu segera diangsurkan ditangan Liem Tou sambil ujarnya.

"Keuntunganmu tidak kecil, mulai saat ini aku akan memberitahukan rahasia dari ilmu pernapasan yang termuat didalam kitab pusaka itu, tetapi yang kuketahui juga tidak lebih hanya sebagian dari "Ilmu pernapasan” tersebut oleh karena ilmu tersebut merupakan ilmu dari perguruanku sehingga aku baru dapat mewariskannya padamu, tetapi sisanya harus melihat kau punya kepandaian serta kecerdikan untuk mempelajarinya". Liem Tou berdiam diri mendengarkan saluruh uraiannya.

Sekonyong konyong dari luar penjara itu terdengar suara teriakan orang yang sangat ramai kemudian disusal dari luar jendela itu bermunculan sinar api yang menerangi tempat itu, bahkan ada yang berteriak teriak.

"Tangkap penjahat, tangkap penjahat, ada penjahat berani mengacau pengadilan."

Mendengar teriakan itu Liem Tou segera tahu kalau orang orang yang sedang bertempur diatas genting itu telah mengejutkan pengawal dari pengadilan itu sehingga mereka terjaga dan mengadakan pengepungan disekeliling tempat itu.

Kakek aneh yang mendengar suara itu segera terlihatlah air mukanya berubah menjadi kehijau-hijauan, dengan cepat ujarnya pada Liem Tou.

“Loo jie bila tahu jejak Loolap telah diketahui oleh orang lain, tentu tidak akan melepaskan diriku lagi, kini waktunya tidak banyak lagi cepat pusatkan seluruh perhatianmu untuk mendengarkan penjelasan dari diriku."

Dengan tergesa gesa Liem Tou metnusatkan seluruh perhatiannya untuk mendengarkan penjelasan dari ilmu pernapasan itu urusan yang semula diketabui hanya setengah saja kini setelah mendapatkan penjelasan dari kakek aneh itu menjadi bertambah paham.

Tidak lama kemudian kakek aneh itu telah selesai menjelaskan inti sari semua rahasia dari ilmu pernapasan sedang Liem Tou sendiripun semakin paham terhadap ilmu itu, tak terasa lagi pada wajahnya menampilkan perasaan yang amat girang.

Tidak disangka kakek aneh itu mendadak melototkan sepasang matanya, dengan gusar bentaknya pada diri Liem Tou. “Bocah yang tak tahu diri kau jangan merasa bangga terlebih dahulu, ilmu yang tersebut di dalam kitab pusaka Toa Loo Cin Keng ini sangat luas sekali sehingga laksana samudra luas. Apa yang aku Hek Loo toa turunkan pada mu tak lebih hanya merupakan ilmu dari aliran hitam terhadap dirimu sebenarnya hanya akan membawa celaka saja hanya dikarenakan waktu yang amat mendesak untuk sementara waktu masih bisa digunakan untuk melindungi diri sendiri bilamana kau menginginkan nama yang cemerlang didalam Bu-lim dan menjadi seorang jago yang tanpa tandingan sebenarnya harus melihat kejodohanmu sendiri, kau sekarang tidak perlu girang dulu.”

Dengan cepat Liem Tou menarik kembali perasaan girangnya, dengan serius sahutnya.

“Silahkan cianpwee memberikan petunjuk.”

Sikap dari kakek aneh itu semakin bertambah serius dan keren, lama sekali tidak mengeluarkan sepatah katapun juga.

Diam-diam dalam hati Liem Tou berpikir: “Kenapa dia harus berbuat demikian?”

Tiba-tiba terdengar kakek aneh itu bergumam sendiri: “Mo Ku Tiauw Cong Ci cien Tong..”

Sejak kecil Liem Tou telah belajar ilmu surat dari ayahnya Liem Han San oleh sebab itulah terhadap segala syair maupun pantun dia paham benar-benar, begitu mendengar perkataan itu dengan cepat perasaan herannya memenuhi seluruh otaknya, pikirnya:

“Kenapa tidak ada angin tidak ada hujan dia membaca syair dari Tong Po Ci Su?”

Karena perasaan keheranan itulah tak terasa olehnya telah menyambung syair selanjutnya. "Pit Hun Kong Cen Tui Jan Kang . . " Kakek aneh itu ketika mendengar syair selanjutnya ini mendadak sepasang matanya melotot keluar, dengan cepat lanjutnya lagi:

“Pek Hwie Sian Po Tong Ang Hwie” “Wu Ting Siauw Soat Ta Cuang..”

Tidak disangka baru saja dia selesai mengucapkan syair itu, mendadak kakek aneh itu dengan cepat meloncat bangun sambil bentaknya dengan keras:

“Siapa kau?”

Didalam keadaan yang terkejut itulah tidak terasa lagi Liem Tou mengundurkan diri dua langkah kebelakang dan dengan tertegun memandang kearah air muka kakek aneh telah berubah menjadi sangat menyeramkan itu, mana dapat memberikan jawabannya.

Ketika kakek aneh itu melihat Liem Tou sama sekali tidak memperlihatkan sikap permusuhannya mendadak dia tertawa sedih kemudian duduk kambali ditempat semula dan memejamkan sepasang matanya.

Pada ketika itulah diluar penjara terdengar suara yang sangat berat berkumundang datang.

“Loo toa . . Loo-toa .tiga tahun siksaan pecut ternyata belum juga membuat kau benar-benar takluk kepadaku, janganlah kau menyalahkan aku Loo Jie akan turun tangan lebih kejam dan ganas lagi. Sebenarnya kau mau menyerahkan kitab pusaka To Kong pit Liok itu atau tidak?”

Ketika mendengar perkataan dari orang itu segera terlihatlah orang aneh itu membuka matanya lebar lebar, tetapi Liem Tou yang berdiri disampingnya dapat melihat seluruh tubuhnya gemetar tak henti hentinya sedang giginya gemerutuk dengan kerasnya, dengan cepat Liem Tou mendekati tubuhnya sambil tanyanya, “Siapakah dia?” Siapa tahu kakek aneh itu ternyata telah mendorong tubuh Liem Tou dengan kerasnya sambiI ujarnya.

“Pergi …. pergi .!”

Liem Tou tidak tahu akan sebabnya tetapi dia tahu tentu telah terjadi sesuatu peristiwa. Diam diam dia mulai menggeserkan dirinya ke sudut penjara itu pada ketika itulah dari atas genting telah terdengar suara pembicaraan dari Kioe Long yang sedang berteriak:

“Hee .. . Hek Loo Jie, kau jangan ikut campur.”

“Didalam daerah Ciong ling ini aku tidak akan membiarkan Im San Siang Koay membikin huru hara, cepat kau bergelinding dari tempat ini” bentak orang itu dengan gusarnya.

Dibentak seperti itu Kioe long itu segera tertawa dingin yang tidak enak didengar membuat seluruh bulu kuduk Liem Tou pada berdiri, terdengar dengan sangat dingin ujarnya.

“Hek loo Jie, tidak disangka hanya berpisah selama beberapa tahun saja kini kami harus memandang dengan cara lain kapadamu.”

Tiba tiba dengan gusar tambahnya lagi.

“Hek Loo Jie apa kau dapat melakukannya? Kau bangsat cilik yang tidak tahu budi, semua orang didalam dunia ini boleh kau basmi tetapi tak akan seorangpun yang mau memandang wajahmu lagi.”

Agaknya Si Hek Loo Jie itupun telah dibuat gusar oleh perkataannya sambil membentak keras dia melancarkan serangan dahsyat. Serunya.

“Hee - - he - - lihat pukulan.”

Suara perkataan baru saja berhenti sagera terdengar suara bentrokan yang amat dahsyat membuat atap pada rontok kebawah. Kioe Long itu tertawa aneh lagi, kemudian diikuti dengan suara suitan nyaring yang memekikkan telinga memecahkan kesunyian, menembus awan, dengan gusar bentaknya lagi.

“Hek Loo jie, kami lm San Siong Kioe Long selamanya selalu melakukan pekerjaan sesuai dengan perkataan. Ini hari kami telah turun tangan sebelum mencapai hasil tidak akan mengundurkan diri. Hmm sampai waktu itu janganlah kau manyalahkan aku Kioe Long turun tangan terlalu kejam sehingga membasmi habis pengawal pengawal kerocomu itu.”

Ternyata suara ucapan itu baru saja selesai dari tempat kejauhan berkumandang datang suara suitan panjang yang amat nyaring, diikuti dengan suara suitan pertama yang makin lama makin jauh.

Liem Tou yang sedang mendengarkan dengan penuh perhatian itu tiba-tiba dibuat kaget oleh perkataan kakek aneh itu ujarnya.

“Loo Jie telah dipancing pergi oleh Kioe long, bocah cilik itu cepat kemari, aku akan menurunkan beberapa macam ilmu pukulan kepadamu, asalkan kau bisa belajar rajin pada kemudian hari sekalipun dikejar oleh Loo Jie pasti bisa mempertahankan jiwamu”

Mendengar perkataan itu dengan cepat Liem Tou bangkit berdiri tetapi baru saja berjalan satu langkah terdengar suara jeritan ngeri dari pengawal yang berada diluaran, kemudian disusul dengan suara sipengemis cilik itu yang sedang membentak.

"He .. Nenek kera ! turun tangan kejam ter¬hadap gentong-gentong nasi itu apa gunanya? Coba kau terima pukulanku ini."

Sejak sipengemis cilik itu keluar dari penjara mulai saat itulah bagaikan batu yang tenggelam dalam lautan bebas, sedikitpua tidak mengeluarkan suara, kini secara tiba-tiba terdengar suaranya tak tarasa lagi ujar Liem Tou dengan cepat.

"Locianpwee coba kau dengar, dia benar-benar telah bergebrak melawan orang orang itu.”

Tetapi teringat pula akan Si siucay buntung, Thiat Sie Sianseng serta pengemis pemabokan yang datang terakhir, entah dimana mereka-mereka ini?

Baru berpikir sampai disitu langkah kaki pun tidak terasakan telah menjadi lambat lagi, dengan sangat gusar bentak kakek aneh itu.

“Hei bocah cilik kau tidak bersungguh-sungguh hati, jodohmu hanya sampai disini"

Mendengar ancaman itu dengan cepat Liem Tou lari menghampiri kakek itu, siapa tahu sepasang matanya telah dipejamkan rapat rapat, sekalipun Liem Tou telah berulang kali memanggil Locianpwee tetapi kakek aneh itu masih tetap berdiam diri tidak menjawab.

Saat itulah Liem Tou baru menyesal karena telah menghilangkan kesempatan yang baik, terpaksa dia kemball ketempat semula dan mulai bersemedi sesuai dengan petunjuk dari kakek aneh itu.

Ternyata tidak salah, kali ini dia merasa jauh berbeda dengan waktu semula, hawa murninya tidak mengumpul didalam pusar lagi sebaliknya telah mulai menyebar keseluruh tubuh sehingga terasa olehnya tubuhnya menjadi sangat nyaman.

Semula ketika Liem Tou mulai melakukan semedinya dia masih dapat mendengar suara bentrokan senjata yang berada diluar, tetapi lama-kelamaan akhirnya terasa seluruh tubuhnya menjadi kosong, sehingga membuat lupa akan segala-galanya.

Keesokan harinya ketika dia mendusin kembali, terdengarlah suara kokokan ayam yang memecahkan kesunyian, sinar matahari dengan perlahan-lahan memancarkan sinarnya menembus jendela penjara itu tetap keadaan diluar penjara sangat sunyi, ketika dia mengalihkan pandangannya terlihatlah kakek aneh itu masih tetap duduk ditempat semula agaknya dia belum sadar dari pulasnya,