Raja Silat Jilid 02

 
Jilid 02

Tahun ketemu tahun akhirnya dia jadi besar, biarpun tampangnya ganteng dan cakap, tetapi kelihatan sekali sifatnya yang masih ke tolol-tololan.

Pada waktu itulah oleh karena perasaan kesatuan dan simpatiknya dari Siauw Ie yang selalu melindungi dirinya, akhirnya mereka menjadi sepasang kekasih yang saling sayang menyayangi.

Tak terkira pada suatu malam, pertengahan musim salju ayah Liem Tou yaitu Liem Han San meninggal dunia secara mendadak, sewaktu dia mau menarik napas yang penghabisan telah memberikan sejilid kitab kepada anaknya bahkan memesan untuk dipelajari dengan baik, di samping itu dia memesan juga, agar kitab itu jangan sampai diketahui oleh orang lain.

Setelah meninggalkan pesan-pesannya dia menghembuskan napasnya yang penghabisan.

Karena kesedihan atas meninggalnya Liem Han San, membuat Liem Tou tak terlalu memperhatikan hal itu. Pada saat itu juga Lie Ek Hong dihadapan orang-orang kampung telah mengangkat Liem Tou ayah beranak sebagai warga perkampuugan le Hee Cung bahkan dengan segala upacara besar mengubur jenazah Liem Han San. Siapa tahu Lie Ek Beng pun menyusul kealam baka, dengan menurut peraturan2 perkampungan sesudah diadakan pibu atau pertandingan silat Pauw Sak San menjadi cungcu yang baru.

Sejak malam itu juga Liem Tou mulai mempelajari kitab peninggalan ayahnya.

Pada suatu malam ketika Liem Tou sedang mempelajari kitab peninggalan ayahnya, dari luar jendela terdengar suara tertawa dingin, begitu mendengar suara tertawa mengejek itu segera Liem Tou tahu kalau orang itu tak lain adalah Pouw Siauw Ling, dengan cepat dia menyembunyikan kitabnya.

Pada waktu itu juga terdengar dari luar Pouw Siauw Ling telah menggape kearahnya sambil serunya dengan keras:

"Liem Tou ! Ayahku memanggilmu untuk menghadap."

Karena perjntah dari Cung-cu, Liem Tou terpaksa keluar dari rumah. Siapa tahu baru saja dia melangkah keluar dari pintu secara mendadak Pouw Siauw Ling telah memberikan hajaran yang hebat keatas tubuhnya, tangannya melayang tak henti2-nya memukuli seluruh tubuhnya bahkan ancamnya:

“Adik Siauw Ie merupakan menantu dari keluarga Pouw kami, coba pikir macam apakah kau ini berani demikian kurang ajarnya, harus kuberi hajaran yang setimpal pada kau cecunguk busuk, rasakanlah kelihayanku"

Pada waktu itu sekalipun dia menerima pukulan yang amat kejam hingga tubuhnya babak belur oleh pukulan tangan serta terdangan keras dari Pouw Siauw Ling tetapi merintihpun ia tidak. Kelakuan tersebut sudah menjadi kebiasaan baginya sejak kecil bahkan dia pun tahu dengan jelas sekalipun didalam perkampungan punya paraturan bahwa keluarga Lie harus dikawinkan dengan keluarga Pouw, tetapi pada saat itu dia telah diizinkan dan dianggap sebagai warga dari perkampungan Ie Hee Cung oleh Cung cu yang terdahulu, sudah tentu dia tak dapat dianggap sebagai orang luar lagi. Sesudah dipukuli babak belur oleh Pouw Siauw Ling, segera dia digusur kehadapan Pouw Sak San. Tampak dengan mandelikkan matanya Cung cu memandang gusar kearahnya, air mukanya amat keren, bentak dia kemudian.

"Liem Tou. Disini tak dapat menampungmu lagi, kau harus cepat2 turun gunung."

Begitu mendengar perkataan dari Cung cu itu Liem Tou merasa terkejut sekali bagaikan diguyur dengan air dingin air matanya hampir-hampir meleleh keluar membasahi wajahnya, tetapi dengan paksakan dirinya dia tetap bersabar, diam2 pikirnya:

"Liem Tou, Liem Tou, kau tak boleh menangis, walaupun mereka bersikap bagaimanapun juga kau tak boleh menangis, sekalipun mereka melihat kau meneteskan air mata."

Berpikir sampai disitu pula, dengan cepat dia menahan mengalirnya air mata dari kelopak matanya, dengan tersengguk-sengguk tanyanya:

"Cung cu aku kenapa aku diusir dari perkampungan ? ? ? ?" "Apa kau tidak mau mendengar perkataan dari Cung cu ? ?

? Menyuruh kau turun gunung.Buat apa kau tanya sebab2-nya

??" bentak Cung cu dengan gusarnya.

Liem Tou yang dibentak seperti itu hatinya menjadi membeku, sama sekali tak disangka olehnya kalau Cung cu ini bisa bartindak demikian tak tahu aturannya, pada saat itu terpikir kembali Lie Siauw Ie yang sangat menyayang dirinya. Mandadak entah dari mana datangnya suatu semangat jantan membuat nyalinya menjadi semakin besar, dengan keras sahutnya.

"Baik. Turun gunung yah turun gunung . .? Tetapi bolehkah aku menemui Siauw le cici terlebih dahuIu ?" Sama sekali Cung cu tak pernah menduga kalau nyali Liem Tou demikian besarnya, tak terasa dia menjadi tertegun dibuatnya. Setelah berpikir bolak balik dengan tegas sahutnya.

"Tidak bisa, segera aku akan menghantar kau turun gunung. Ingat perkampungan Ie Hee Cung ini tidak akan membiarkan seorang asingpun berdiam terus menerus ditempat ini."

Liem Tou tak bisa berbuat apa-apa lagi, pada malam itu juga dia diusir dari perkampungan Ie Hee Cung. Menanti setelah Cung Cu balik dari atas gunung tak tertahan lagi dia menangis tersedu-sedu dipinggir sungai.

Setelah puas mengeluarkan air matanya rasa mangkal didalam hatinyapun lenyap, dengan berlutut diatas tanah segera ia angkat sumpah.

"Aku Liem Tou pasti akan menemui Cici Ie lagi, Pasti… pasti kulakukan."

Hari-hari selanjutnya Liem Tou bekerja sebagai pengangon sapi ditepi sungai dibawah gunung Ha Mo leng bahkan disamping mengangon sapi sering juga dia belajar berenang didalam sungai serta mempelajari kitab peninggalan ayahnya.

Tak disangka olehnya ternyata kitab tersebut berisi tulisan2 yang tak dimengerti olehnya, maksudnyapun sangat mendalam. Tetapi dia tidak menjadi putus asa karena hal tersebut, akhirnya setelah berjerih payah selama beberapa bulan barulah dia berhasil memahami maksud dari bagian keenam dari kitab tersebut yaitu ilmu pernapasan. Pada waktu itu pula dia baru tahbu kalau kitab itu merupakan sebuah kitab pelajaran silat yang amat hebat, hatinya menjadi sangat girarg, dengan demikian dia setiap hari berlatih dengan kerasnya, tetapi bagaimanapun juga dikarenakan tak ada orang yang memberi petunjuk sehingga rahasia dari ilmu pernapasan itu tetap tak dipahaminya, tenaga murni yang tersimpan didalam tubuhnyapun, tak berhasil dialirkan mengitari seluruh tubuhnya.

Oleh karena itu sekalipun dia berlatih dengan rajin juga tak lebih baru bisa mengembangkan perutnya sehingga besar sesuai dengan kehendaknya, sekalipun demikian sebaliknya ilmunya itu malah membantu didalam ilmu berenangnya, sekali dia menghirup udara maka dapat menyelam didalam air selama dua tiga jam lamanya.

Disaat itu dengan menggunakan ilmu pernapasan tersebut dia segera menutup seluruh pernapasannya pura2 mati tengggelam, bukan saja berhasil menipu Cung cu sakalipun hingga bisa melewati ketiga tempat berbahava tanpa rintangan bahkan dapat berjumpa pula dangan diri Siauw Ie.

Liem Tou melihat dengan wajah yang amat girang Siauw Ie mencekal tangannya, tak terasa hatinya malah menjadi sedih, ujarnya.

"Ci ci Ie, adiktmu berhasil menipu mereka hingga bisa tiba disini bertemu dengan Cici, tetapi aku tak bisa bardiam terlalu lama ditempat itu, kini aku harus berbuat bagaimana untuk turun gunung?"

Sepasang mata Siauw le dengan sangat tajam memandang kewajahnya, dengan cepat dia menggelengkan kepalanya ujarnya,

"Adik Tou, untuk sementara kita tak usah menyebutkan hal ini, selama satu tahun kita tidak bertemu kita harus menggunakan waktu ini sebaik2nya coba pikirlah selama satu tahun cici mu tidak bisa bertemu dengan kau setiap hari aku selalu merindukan dirimu." 

"Adikmu juga begitu." sahut Liem Tou dengan perlahan. "Didalam dunia ini dalam hatiku hanya terisikan cici seorang bilamana aku, bisa hidup bersama cici untuk selamanya diatas gunung ini tentu akan sangat bahagia sekali.” Dia berbenti sejenak sedang air mukanya berubah, terlintaslah perasaan gemas serta dendamnya, tetapi didalam sekejap saja telah lenyap ujarnya lagi.

"Cici. Nasib adikmu sungguh sangat buruk, setelah turun gunung kali ini kemungkinan sekali akan mengembara kesemua tempat, bila aku berhasil mempelajari kepandaian silat tentu adikmu akan datang kembali keatas gunung, tetapi masa depan sukar diduga, mungkin juga aku menemui ajal ditengah jalan."

Tak tertahan lagi titik2 air mata menetes keluar tetapi dengan cepat dia menahan mengalirnya cucuran air mata yang semakin deras itu, ketika dia menoleh memandang kearah Siauw le lagi, terlihatlah sepasang matanya dipejamkan rapat2, dengan wajah yang penuh air mata ujarnya,

"Adikku, teruskanlah, ucapanmu cici suka mendengarkan perkataanmu "

Sambil berkata dengan cepat dia menubruk menjatuhkan diri kedalam rangkulan Liem Tou, isak tangisnya semakin menjadi. Dengan sekuat tenaga Liem Tou berusaha mempertahankan dirinya, batinnya.

"Liem Tou . . , Liem Tou. Tahanlah rasa sedihmu.

Dihadapan Ie Cici jangan menangis, siapapun jangan harap memaksa aku meneteskan air mata, tahanlah perasaan sedihmu. Tahanlah . tahan terus. Sampai tua.”

Setelah menangis dengan sadihnya beberapa saat lamanya, mendadak terdengar dengan nada yang halus ujar Siauw Ie:

“Adik Tou. Cicimu selalu akan menantikan pulang keatas gunung, tidak perduli kau kembali atau tidak, pokoknya Cicimu pasti menantikan kedatanganmu untuk selamanya”

Baru saja Liem Tou mau menjawab, mendadak saja dari puncak gunung itu terdengar suara panggilan Pouw Jin Cui dengan nada yang keras : “Ie moay moay..ibumu suruh kau cepat pulang”

Dengan cepat Siauw Ie bangun, sambil mengusap keringat bekas air matanya ,dengan cemas ujarnya.

"Adik Tou dengan tipu daya aku berhasil naik gunung, rahasia ini jangan sampai diketahui orang lain. Cepat kau menyembunyikan diri kedalam gua kita yang dahulu, aku akan pulang sebentar bilang kalau kau telah dikubur, nanti malam aku akan datang kembali membawakan makan malam bagimu"

Sehabis berkata dengan cepat Lie Siauw le loncat dan lari keatas puncak gunung Ha Mo Leng.

Liem Tou segera mengusik rumput2 didekat akar pohon yang amat besar itu, disitu terdapatlah sebuah liang gua yang cukup untuk seorang, tanpa ragu2 lagi deugan cepat dia menerobos masuk ke dalam.

Kurang lebih setelah berjalan puluhan tindak, gua itu semakin lama semakin melebar makin luas, mendadak bau yang sangat apek dan amis bertiup datang, tak tahan lagi dia bersin beberapa kali, diam2 pikirnya.

"Tempat ini bagaimana bisa demikian dinginnya, moga- moga saja Cici le tidak lupa membawakan api untuk membuat api unggun hing¬ga bajuku bisa kering"

Berpikir sampai disitu segera dia duduk bersandar didinding gua, terlihatiah gua itu makin kedalam makin seinpit, agaknya sangat dalam sekali sehingga sukar diukur ditambah keadaannyapun sangat gelap, tetapi dia tak mau mengurusi hal itu, dengan memejamkan mata ia menantikan kedatangan Siauw Ie.

Sepertanak nasi kemudian rasa dingin yang menerjang tubuhnya terasa semakin menusuk tulang hingga terasa sangat tidak enak dibadan. Segera ia bangkit berdiri pikirnya hendak berjalan keluar dari gua tersebut. Siapa tahu baru saja berjalan beberapa langkah dari luar gua tiba terdengar suara. "Kok .. . Kok . ."

Suara itu kedengaran sangat aneh sekali tetapi waktu itu Liem Tou tidak begitu memperhatikannya dan tetap melanjutkan perjalanannya kearah depan.

Kelihatannya tinggal dua langkah lagi dia berhasil keluar dari gua itu, mendadak suara yang sangat aneh itu berbunyi lagi yang kemudian disusul munculnya sepasang kepala berwarna merah darah yang amat aneh sekali didapan gua itu.

Liem Tou melihat munculnya seekor binatang aneh saking terkejutnya hingga menjerit keras, dengan cepat dia mundur kebelakang balik ketempat semula.

Dengan sepasang matanya yang dipentangkan lebar-lebar, Liem Tou mengawasi luar gua, napas pun tak berani keras- keras. Tampak dua buah kepala merah darah yang sangat aneh itu dengan empat buah mata mendesiskan lidahnya yang mirip dengan desisan ular berjalan makin mendekat,hanya bentuknya amat aneh serta menakutkan sekali.

Liem Tou yang melihat bentuk binatang itu segera mengetahui kalau binatang itu merupakan binatang beracun, dia semakin mempertajam matanya memandang kearah tempat itu, ketika itulah binatang aneh berkepala dua tersembur setelah mengeluarkan suara, kok, kok, yang aneh dengan perlahan mulai menjulurkan kepalanya masuk kedalam gua.

Pada waktu itu juga Liem Tou baru dapat melihat binatang aneh berkepala dua itu mempunyai bentuk tubuh yang sangat besar dan bulat, seluruh tubuhnya penuh bersisik merah darah, pada perutnya terlihat empat buah kakinya hanya sayang sangat pendek sekali sehingga kelihatan sangat tidak sesuai dengan tubuhnya yang sangat besar. Dengan perlahan binatang aneh itu mulai merangkak masuk kedalam gua, terpaksa Liem Tou setindak demi setindak mundur kebelakang.

Tetapi justru semakin dia mundur kedalam gua yang sangat gelap itu binatang aneh itu tetap tak henti2nya merangkak maju mendekati dirinya.

Entah telah lewat berapa saat lamanya Liem Tou barulah merasakan kalau dia semakin terjerumus lebih dalam lagi kedalam gua yang sangat sempit lagi apek itu, pandangannya makin lama makin gelap. Kiranya dia telah berada di tengah2 dari gua tersebut.

Mandadak hatinya menjadi tergerak teriaknya "Celaka. . ."

Selamanya dia belum pernah memasuki jauh kedalam gua itu, sudah tentu tak tahu pula gua tersebut menembus kearah mana, jika bergerak mundur terus kebelakang bukankah dengan begitu secara tidak langsung dirinya masuk kedalam parangkap binatang aneh berkepala dua tersebut ????

Berpikir sampai disitu dia menyedot napas dalam2, perutnya dengan perlahan mulai berkembang menjadi sangat besar, dengan sekuat tenaga disemburkannya kearah binatang aneh itu.

Sepasang kepala dari binatang aneh itu segera berpisah kesamping dan mangeluarkan jeritan aneh, tapi ternyata tak mengalami cedera apapun bahkan kakinya yang berada di depan menjangkau meloncat beberapa depa tingginya manubruk kearah Liem Tou.

Liem Tou yang ditubruk demikian hebataya segera menjerit kaget tanpa pikir panjang lagi tergesa2 dia mundur tapi binatarng itu sedikitpun tak mau melepaskannya, sedikitpun tak mau melepaskan sekalipun perutnya agak besar hingga gerakannva agak terintang tapi langkahnya sangat cepat sekali diluar dugaan Liem Tou. Sampai waktu itu Liem Tou juga tak dapat berbuat lagi sekalian semakin dia berjalan jauh kedalam gua keadaan semakin gelap, ter-paksa dengan sepenuh tenaga lari kearah dalam, bahkan beberapa kali dia jatuh terguling2 hingga menumbuk dinding gua, tapi dia tak mau ambil perduli, hanya terdengar suara aneh yang makin lama makin mendekat membuat keringat dingin mengucur keluar semakin deras membasahi seluruh tubuhnya.

Setelah lari lagi beberapa saat lamanya keadaan gua itu makin lama makin menjarok ke bawah, bahkan dari tanah pasir telah barubah menjadi tanah lumpur yang tebal membuat langkahnya makin lama makin bertambah perlahan.

Ketika dia menoleh kebelakang lagi terlihatlah keempat buah mata yang barwarna hijau mengkilat memancarkan sinar yang tajam memandang kearahnya sedang tubuhnya tetap barada tidak jauh dari tubuhnya. Tak terasa pikirnya.

"Kali ini habis sudah, entah tempat didepan itu menembus kemana, kini binatang aneh itu pun terus mengejar."

Tapi sejenak kemudian pikirnya lagi.

"Tak perduli gua ini menembus kearah mana bagaimanapun juga aku tak bisa tunggu disini saat kematian."

Berpikir sampai disitu segera dia mcnyedot hawa dalam2 sekali lagi menerjang kedepan, makin lama tanah didalam gua itu terasa mulai ada airnya, bahkan makin lama makin dalam, didalam sekejap saja air itu telah mencapai lututnya, setelah berjalan beberapa langkah lagi air itu telah mencapai dipinggangnya, pada saat itu dia menjadi sadar, kiranya gua tersebut menghubungkan diri dengan sungai yang mengalir dipuncak Ha Mo Leng, dia yang mengerti akan ilmu dalam air tak terasa menjadi sanagat girang dengan cepat dia merendamkan seluruh tubuhnya kedalam air dan menyelam lebih dalam lagi. Setelah merasa kalau binatang aneh itu tak mengejar dirinya lagi barulah dia muncul kembali keatas permukaan, tapi dia tak berani balik ketempat semula, dengan cepat mangikuti mengalirnya arus sungai itu barenang kearah depan.

Tak lama kemudian tiba2 arus yang sangat santar menerjang, kaki kirinya maju kedepan, didalam keadaan yang sangat terkejut segera dia munculkan dirinya untuk melihat. Kiranya dia telah berada didepan gua tarsebut dan sama sekali tak diduga olehnya kalau gua itu ternyata menghubungkan puncak gunuag dengan kaki gunung Ha Mo Leng.

Hatinya menjadi demikian girangnya, pikirnya kemudian. "Bila aku ingin naik gunung lagi bukankah akan sangat

gampang sekali ?"

Tapi tiba-tiba dalam otaknya berkelebat bayangan dari binatang aneh berkepala dua tersebut, hatinya segera menjadi beku separuh, bila binatang aneh itu masih tetap hidup didalam gua tersebut maka seluruh keinginannya akan buyar menjadi bayangan saja.

Sekonyong2 teringat pula olehnya.

'Nanti malam Siauw Ie akan menghantarkan makan malam bagiku, bila dia sampai bertemu dengan binatang aneh berkepala dua itu bukankah akan runyam ??"

Tapi teringat pula kalau Lie Siauw Ie memiliki kepandaian silat yang sangat tinggi, apalagi dalam tubuhnya menggembol senjata rahasia Kin cu gin ciam, tak terasa hatinya menjadi lega kembali.

Ketika dia munculkan dirinya pada permukaan sungai hari telah jauh siang, matahari tepat berada diatas kepalanya memancarkan sinarnya dengan sangat terang, angin sepoi- sepoi bertiup menyejukkan tubuh mcmbuat setiap orang merasakan sangat nyaman sekali. Setelah mengingat benar-benar letak dari gua rahasia itu dengan cepat dia berenang ketepi sungai, pikirnya lagi.

"Ketika ini bisa meninggalkan Siauw Ie untuk sementara waktu juga jauh lebih baik, diatas gunung akupun tak bisa tinggal terlalu lama akhirnyapun aku harus meninggalkan tempat itu jua.”

Berpikir sampai disitu tiada pikiran lagi yang berada dalam otaknya, terlihat gunung yang berwarna biru serta sawah yang berwarna hijau membentang dengan indahnya, air sungai mengalir dengan tenangnya disamping burung yang berkicau mengisi suasana yang kosong tapi ditempat yang kosong demikian luasnya haruskah dia pergi ketempat mana ??

Dengan menundukkan kepalanya dengan perlahan dia mulai berjalan kedepan terasa tubuhnya yang basah kuyup tak enak dibadannya. Apalagi perutnya pun terasa mulai lapar dengan pikiran yang bingung sekali lagi dia menerjun sekali lagi dia menerjunkan dirinya kedalam sungai untuk menangkap beberapa ekor ikan sebagai menangsal perutnya, kemudian dengan tergesa-gesa kembali kerumah majikan dimana selama kurang lebih beberapa tahun dia bekerja sebagai pengangon sapi.

Malam harinya dia tak bisa memejamkan matanya, otaknya penuh diliputi oleh soal-soal yang terasa amat rumit baginya terpikir olehnya alangkah baiknya kalau dia bisa terus menerus tinggal bersama sama dengan Siauw Ie, tapi pikirannya menjadi sadar lagi satu-satunya jalan mencapai cita-cita itu hanyalah harus belajar ilmu silat hingga mencapai kesempurnaan.

Keesokan harinya pagi-pagi sekali Liem Tou telah pamitan dengan majikannya untuk meninggalkan rumah itu sekalipun sang majikan berkali-kali mencoba untuk menahannya tapi tetap ditolak olehnya dengan bulatkan semangat Liem Tou meninggalkan rumah itu pergi mencari suhu untuk belajar silat. Dua hari semenjak dia meninggalkan rumah majikannya, Liem Tou masih tetap berjalan tanpa arah, dia tak tahu harus menuju kemana baiknya, dalam perjalanan yang tak menentu itu pada malam hari dia tidur di k elenting, sedang makan pun hanya ikan-ikan yang ditangkap sendiri olehnya, dalam hatinya dia hanya terpikirkan satu tujuan, cepat-cepat berhasil melatih ilmu silatnya dan balik keatas gunung menemui Cici Siauw Ie- nya.

Hari itu setelah manempuh perjalanan selama setengah harian dia mulai merasakan tubuhnya sangat penat, didalam sebuah rimba yang lebat dan rindang dia manyatukan diri duduk bersandar pada sebuah pohon untuk beristirahat, tak terasa lagi saking letihnya dia jatuh tertidur dengan nyenyaknya.

Ketika mendusin kembali matahari telah jauh condong kearah barat, haripun hampir gelap, Liem Tou yang melihat keadaan cuaca itu segera bangkit siap meninggalkan tempat itu mendadak dari dalam rimba berkumandang keluar suara tertawa yang sagat keras sambil berkata.

"Hee. Pembesar Buta, rasakanlah langkah bentengku menghancurkan pertahananmu, Bagus, Bagus sekali hanya sayang kau masih belum punya kepandaian untuk menahan aku si orang siucay, hati-hatilah."

Mandadak sebuah suara yang tajam melengking memotong ucapannya.

"Hati-hati dengan kudaku mengepung rajamu siucay rudin yang tak tahu malu, jangan sombong dulu, lihatlah kelihayanku ini "

"Pembesar sombong, hati2 dengan bentengku menghancurkan kubu pertahananmu he.. he jangan keburu girang kau" Sahut suara yang pertama sambil tertawa terbahak- bahak.

"Haim, . , tak usah banyak omong rasakan kelihayanku." "He... he. . . kau tak mau menghindar malah menggunakan siasat keras lawan keras. Hm... hm. . kau kira aku siucay buntung takut padamu?”

Liem Tou ketika mendengar suara teriakan itu seperti orang yang sedang main catur rasa ingin tahunya meliputi seluruh otaknya, oleh karena sejak keciI dia sering bermain catur dengan ayahnya Liem Han San kini mendenger ada orang sedang bermain catur tak terasa dengan mengikuti jalan kecil disamping rimba itu berjalan makin masuk kedalam rimba tersebut.

Semakin dia berjalan kedalam suara bentakan dua orang yang sedang main catur semakin terdengar makin keras bahkan keadaannya kelihatanya seimbang dan telah mencapai puncak ketegangan.

Liem Tou yang mcndengar suara itu begitu jelasnya tak merasa hatinya makin tertarik, segera langkah kakinya dipercepat dengan setengah berlari dia berjalan masuk kedalam rimba dimana suara tersebut berasal.

Tak lama kemudian dimana suara berkumandangnya orang sedang main catur secara samar2 terdengar pula suara angin yang menyambar dengan kerasnya, sebuah batu cadas sebesar gentong air dengan kecepatan yang luar biasa melayang melalui atas kepalanya, malihat hal itu dengan tergesa2 Liem Tou menghindarkan diri sedang dalam hatinya terasa semakin heran.

Pada saat itu pula dia lebih hati-hati dan waspada, sekalipun langkah kakinya tetap berjalan menuju kedepan tapi matanya tetap memandang tajam sekitar tempat itu, takut ada batu besar lagi menyambar kearahnya.

Semakin lama dia berjalan makin dekat pula dengan tempat berasalnya suara itu, kalau tak melihat kedua orang yang sedang bermatn catur tersebut tak terasa saking terkejutnya keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya, dia semakin tak berani munculkan dirinya, dengan cepat menyembunyikan diri dibelakang sebuah pohon besar memandang kearah kedua orang itu.

Kiranya ditengah rimba yang lebat itu terlihatlah sebuah tanah lapang yang luas dan kosong dimana terdapat dua orang yang semula Liem Tou menduga sedang bermain catur itu

tetapi mereka bukannya sedang bermain catur, sebaliknya sedang bertempur dengan seru dan dahsyatnya, pasir beterbangan keempat penjuru, bayangan tangan berkelebat menyilaukan mata serta angin pukulan yang menyesakkan dada.

Yang aneh adalah dikedua orang itu yang satu memakai jubah kebesaran berwarna merah tua yang telah kumal, kepalanya memakai kopiah kebesaran pula hal ini memperlihatkan kalau dia merupakan seorang pembesar kerajaan hanya sayang kedua matanya telah buta, pada tanganya mencekal sebuah tongkat besi yang berkepalakan naga dengan ganasnya menusuk dan menyambar pihak lawannya, sedang yang seorang lagi adalah seorang tua yang mengenakan pakaian model seorang Siucay, pada janggutnya terurai janggut yang panjang berwarna hitam pekat sepanjang dada, wajahnya masih terlihat sisa-sisa ketampanannya semasa muda sedang tangannya mencekal sebuah kipas berwarna putih cuma yang heran orang ini hanya mempunyai kaki tunggal, demikian juga dengan tangannya yang tinggaI sebelah. Usia kedua orang aneh itu kelihatan lebih dari lima puluh tahunan.

Liem Tou yang melibat kejadian itu segera merasa heran bercampur curiga, diam2 pikirnya:

Orang buntung berkelahi dengan orang buta, sungguh merupakan peristiwa yang jarang terdengar didunia ini, bahkan setiap kaii mereka melancarkan serangannya pada mulutnya tentu mengucapkan langkah2 dari jalanan catur, sedang apa-apaan mereka itu sebenarnya.

Rasa curiganya semakin tebal meliputi dirinya, ketika dia memandang lagi kearah langkah kaki mereka tak terasa perasaan herannya makin menjadi-jadi, kiranya tempat dimana kedua orang itu bergebrak dengan sangat jelas tergoreskan kotak-kotak catur, sedang kedua orang itu meloncat loncat dan saling serang menyerang diantara kotak kotak catur tersebut.

Pada saat itu Siucay buntung itu sedang berdiri di perbatasan kotak-kotak caturnya, tiba-tiba kakinya yang tinggal sebelah itu mentul keatas tanah dan meloncat tinggi beberapa depa sambil bentaknya dengan keras.

“Hey pembesar buta, hati hati bentengku maju enam langkah”

Liem Tou yang melihat mereka bergebrak sesuai dengan jalannya biji catur segera menduga kalau Siucay buntung itu telah meloncat ketengah udara tentu akan menubruk dengan ganasnya kearah pembesar buta tersebut, siapa tahu mendadak tubuhnya dimiringkan kesamping kemudian dengan ringannya melayang turun keatas tanah, sedikitpun tidak menmbulkan suara.

Siapa duga telinga dari pembesar buta itu sangat tajam dan jauh lebih tajam dari semua orang, dengan amat gusar bentaknya dengan nada yang melengking:

“Budak yang tak tahu diri, kau sedang menggunakan siasat apa?"

Sehabis berkata tongkatnya diangkat siap menyerang kearah pihak musuhnya, pada saat itulah Siucay buntung itu secara mendadak meloncat maju Iagi beberapa tindak bentaknya dengan keras: “Kudaku maju tiga langkah, suara ditimur memukul Barat, aku sedang melancarkan siasat macam apa coba kau katakan"

Kipas putih ditangannya dilipat menotok kearah jalan darah didepan dada Pembesar buta tersebut, gerakannya sangat cepat bagaikan sambaran, kilat.

Liem Tou hanya melihat berkelebatnya sebuah bayangan manusia segera terdengar pembesar buta itu telah membentak dengan keras.

"Sungguh bagus seranganmu. Menteri maju lima langkah benteng mundur empat langkah pembawa bunga menyembah Budha”

Tangan kiri Pembesar buta itu dengan cepat diangkat menutup serangan kipas dari Siucay buntung tersebut, sedang tongkat besi ditangan kanannya mendadak digetarkan dengan menggunakan ujung tongkat bergambarkan naga2an dia menotok punggung Siucay buntung.

Siucay buntung itu segera memutarkan tubuhnya, kakinya yang tinggal sebelah dengan tidak menimbulkan suara sedikitpun menutul permukaan tanah kemudian meloncat beberapa

depa dibelakang sambil tertawa keras ujarnya.

"Benteng maju sembilan langkah dengan berkecepatan luar biasa mundur kebelakang. Hei pembesar buta kita tidak bertemu hanya beberapa tahun saja kepandaian bermain caturmu ternyata telah maju satu tingkat.”

“Apa kau kira sejak mataku kau butakan, sejak itu pula aku benar2 menjadi cacat!,"Sahut pembesar buta itu sambil tertawa terkekeh2.

Sebabis berkata wajahnya mendadak berubah menjadi pucat pasi, tongkat berkepala naganya pun dengan secara mendadak melancarkan serangan dahyat ketengah udara sambil bentaknya dengan keras. “Aku beritahu padamu hei si buntung bangkotan, pada suatu hari tentu aku akan membalas dendam atas butanya sepasang mataku ini, kau tunggu saja peristiwa ini baru terbukti kau

mengundurkan diri, sudah tentu telah kalah satu tingkat dari aku. Kitab rahasia To Kong Pit Liok sudah tentu menjadi milikku."

Mendengar perkataan itu si Siucay buntung itu segera mengebutkan lengannya yang tinggal sebelah. sambil tertawa keras ujarnya.

"He .. he Pembesar buta, matamu buta kau mau balas dendam, lalu aku harus balas dendam pada siapa atas hilangnya sebuah langan serta kakiku ini? Pada waktu yang lalu bila kau menginginkan pangkat dan kedudukan terhormat kita sebenarnya merupakan sepasang kawan karib yang disegani oleh setiap orang, kini coba jadi apa kita sekarang?. Kitab rahasia To Kong Pit Liok dengan cara demikian saja diserahkan kepadamu, he.. he, . kau jangan mimpi di siang hari”

Liem Tou yang bersembunyi dibalik pohon setelah mendengar ucapan dari kedua orang itu barulah menjadi sadar. Kiranya kedua orang itu sebenarnya merupakan sepasang kawan karib, kamudian karena pembesar buta itu gila pangkat dan menjadi Pembesar Kerajaan mereka berbalik menjadi saling bermusuhan dan saling serang menyerang dengan mengadu jiwa yang akhirnya menjadi musuh bebuyutan. Bahkan pertempuran ini hari agaknya sedang memperebutkan sebuah kitab rahasia yang bernarna “To kong Pit Liok"

Tetapi kepandaian kedua orang itu sama-2 mengejutkan sekali bahkan Liem Tou mengira kalau kepandaian mereka jauh lebih liehay beberapa kali lipat dari Ang in sin pian si cung cu dari perkampungan le Hee Cung itu. Ketika Liem Tou sedang melamun itulah mendadak dari tempat kejauhan berkumandang datang suara siulan yang amat panjang dan nyaring sehingga menembus awan. Liem Tou yang mendengar suara siulan itu menjadi sangat heran sekali, pada saat itu Pembesar buta telah angkat bicara, ujarnya.

“Hm..bagaimana sisetan ramal Thiat Sie Poa bisa datang juga kesini? Urusannya bisa berabe nih".

“Heei Pembesar buta kau takut? tanya si siucay buntung dengan nada yang mengejek.

“Apa yang harus kutakutkan? Balas si pembesar buta dengan seramnya.

Pada waktu itu juga Liem Tou dapat melihat dengan sangat jelas sekali kedua alis dari pembesar itu dikerutkan dalam2 sedang tongkat berkepala naga ditangannya dengan secara telak menyambar dengan datar kedepan dengan gerakan yang meneter melancarkan serangan dashsyat mendesak si siucay buntung tersebut. Tongkatnya dengan tak henti2nya mengancam tenggorokan, dada serta perut.

Melihat kejadian itu Liem Tou menjadi sangat terkejut. Sungguh kejam dan licik si mata picik itu.

Menanti si siucay buntung itu merasakan adanya serangan membokong yang mengancam tubuhnya tongkat berkepala naga dari sipembesar itu telah mencapai tenggorokannya tidak lebih beberapa coen untuk menghindarkan diri tak sempat lagi terpaksa mau tak mau didalam keadaan yang sangat kritis itu dengan keras dia membentak sedang kipas yang berada ditangannya dengan kerasnya, mengancam ulu hati sipembesar buta tersebut, pikirya dengan demikian mungkin dirinya juga bisa membalas kekalahan tersebut.

Pada saat yang sangat kritis itulah mendadak terasa sesuatu gulungan angin pukulan yang sangat dahsyat menyambar datang dari tengah udara kemudian disusul dengan berkelebatnya suatu bayangan manusia, seorang yang mempunyai bentuk tubuh pendak gemuk telah muncul ditengah kalangan, ujarnya.

“He --- he siucay buntung, Pembesar picik makin bertempur makin jadinya tidak karuan apa mungkin kalian tidak mau berhenti juga.”

Tongkat serta kipas dari kedua orang itu begitu ditekan oleh angin pukulan dari orang pendek gemuk itu segera mencapai pada sasaran yang kosong.

“Hei Thiat Sie poa kau pergi urus untung rugimu sendiri saja, jangan mencampuri urusan orang lain apalagi dari tubuh kami berdua kaupun tidak mungkin akan berhasil mendapatkan keuntungan apapun juga.”

Sebaliknya siucay buntung begitu melihat munculnya si gemuk pendek itu segera tertawa keras ujarnya.

“Thiat Sie heng kedatanganmu sungguh sangat tepat, kalau tidak sejak tadi Siauw te telah binasa dibawah serangan bokongan dari pembesar picik yang rakus itu, kedatangan dari Thiat Sie heng kali ini apa juga karena mempunyai perhatian tarhadap kitab rahasia To Kong pit Liok tersebut?”

Liem Tou melihat bentuk dari si gemuk pendek itu bukan saja cara berpakaiannya sangat mirip sekali dengan seorang pedagang besar bahkan pada tangannya mencekal sebuah Sie poa tak terasa menjadi sangat tertarik, dengan perlahan-lahan dia mulai merangkak maju beberapa tindak kedepan, sekalipun saat itu cuaca dengan perlahan-lahan mulai menjadi gelap tetapi dia tidak mau ambil perduli, dengan berdiam diri dia meneruskan pengintaiannya.

Thiat Sie poa itu setelah mendengar perkataan dari si siucay buntung segera tertawa tergelak, sahutnya, “Bukan saja aku si Thiat Sie sianseng yang menginginkan kitab rahasia To Kong Pit Liok" itu, aku lihat Tionggoan Ngo Koay kini sudah pada datang semuanya, selain kalian berdua Siucay buntung, Pembesar buta serta aku sendiri masih ada si mayat hidup serta Pengemis pemabok yang masing-masing dengan membawa anak buahnya telah datang semua, bahkan hampir-hampir terjadi pertempuran."

Begitu Si Pembesar buta mendengar perkataan dari Thiat Sie poa, mukanya segera be¬rubah hebat, dengan sombong tanyanya.

"Hee - he - si pengemis pemabok itu juga ikut datang??" ejek siucay buntung tersebut.

“Kalau tahu begitu adanya aku gemas kenapa sejak dulu tidak bereskan saja anjing Tar-tar itu.”

Si Pembesar buta itu menjadi sangat gusar sambil membentak keras tongkatnya diayunkan menyerang kearah siucay buntung tersebut, tetapi keburu ditangkis oleh Thiat Sie poa, sambil tertawa ujarnya.

"Eh - e - - Pembesar buta kau memangnya masih memiliki kegagahan pada waktu yang lalu, kini kenapa harus main kasar??"

Ketika si pembesar buta mendengar perkataan itu segera dia sadar kalau Si Thiat Sie poa itu berdiri dipihak si siucay buntung, kegusarannya tak dapat ditahan lagi hanya pada saat ini tak dapat berbuat apa-apa, saking gemasnya tongkat berkepalakan naga itu diketukkan dengan kerasnya keatas tanah kemudian dengan cepat melayang pergi menerobos kedalam rimba yang mulai menggelap itu.

Begitu si pembesar buta pergi, si siucay buntung bersama dengan Thiat Sie poa segera bertepuk tangan sambil tertawa keras sejenak kemudian barulah tanya si siucay bunting itu. "Thiat Sie-heng, perhitungan Sie-poa mu ini selamanya sangat cocok, kini kita hanya tahu kalau buku pusaka "To Kong Pit Liok" itu berada ditangan Siok To Siang mo atau sepasang iblis dari daerah Siok To yang kini bersembunyi didalam daerah Cong-teng ini, sedangkan manusianya bersembuuyi dimana kita sama se-kali tidak mengetahuinya, apalagi golongan Pek to maupun golongan Hek to didalam dunia kangouw berduyun duyun telah datang mambanjiri daerah ini, sebenarnya kitab pusaka itu akhirnya akan jatuh ketangan siapa, apa kau pernah melihatnya dengan perhitungan sie-poa mu itu?"

"Jika aku ceritakan memang sangat mengherankan sekali".

Sahut Thiat Sie poa sambil tertawa pahit. "Biasanya perhitungan Sie poaku ini sangat manjur, tetapi entah bagaimaaa sekali ini biarpun sudah kuhitung pulang pergi selama tiga hari tiga malam, hasilnya membuat aku benar benar sangsi. Aku hanya dapat melihat buku pusaka itu kini sedang terkurung dalam suatu tempat yang tertutup dan akhirnya orang yang akan berhasil mendapatkan kitab pusaka itu tak lebih hanya seetor kerbau adanya. bukankah ini merupakan suatu peristiwa yang sangat aneh."

Liem Tou yang mencuri dengar dibalik pohon, begitu mendengar perkataan itu tak terasa tertawa keras, Si siucay buntung serta Thiat Sie poa begitu mendengar suara tertawa tersebut, dengan cepat memutar tubuhnya, terlihatlah seorang anak lelaki barusia enam belas tahunan dengan memakai baju yang compang camping bersembunyi dibalik pohon, segera bentaknya dengan berbareng.

"Kau siapa? Kenapa mencuri dengar pembicaaraan orang lain?"

Liem Tou yang secara tidak sengaja mengeluarkan suara tertawanya sehingga diketahui oleh kedua orang itu segera dia sadar kalau kedua orang itu memiliki kepandaian yang sangat tinggi dan tak boleh diusik seenaknya, terpaksa dengan sejujurya dia menceritakan pengalamannya dimana dia terpancing datang oleh suara permainan catur sehingga dirinya tiba ditempat itu.

Si siucay buntung itu begitu selesai mendengar kisahnya segera tersenyum, ujarnya kepada Thiat Sie-poa.

"Hitung hitung dia punya rejeki yang besar, mari kita pergi saja.”

Thiat Sie poa mengangguk, baru saja hendak berangkat mendadak seperti teringat akan sesuatu segera dia manoleh lagi memandang sekejap kearah Liem Tou, tanyanya.

"Siapakah namamu, kau tinggal dimana?"

Liem Tou yang melihat tubuh Thiat Sie poa yang gemuk pendek itu apalagi seluruh tubuhnya berlapiskan minyak merasa tidak begitu simpatik, tetapi jawabnya juga.

"Aku bernama Liem Tou, tidak punya rumah"

Si siucay buntung itu melihat Thiat Sie poa mengajukan partanyaan tersebut tidak terasa memandang juga kearah Liem Tou dengan teliti, kemudian sambil tersenyum ujarnya.

“Thiat Sie heng, orang ini sangat bagus dan berbakat alam, apa mungkin Thiat Sie heng punya minat terhadap dirinya?”.

Thiat Sie poa tidak memberikan jawaban, mendadak dia mengambil keluar Sie poanya dan dihitungnya pulang pergi selama beberapa saat lamanya, tampak kelimaa jari tangannya dengan tak henti2nya bergoyang diatas Sie poa tersebut, setelah menghitung sekali diulangi sekali lagi kemudian berulah dengan perlahan dia angkat kepalanya melirik sekejap kearah Liem Tou, tangannya memungut sebuah ranting kayu lantas melukis satu bulatan berangkai sebanyak tiga puluh enam buah diatas tanah. Setelah itu dia menoleh pada Si siucay buntung, sambil menghela napas panjang dia menggelengkan kepalanya, sahutnya:

"Aku tidak punya rejeki begitu besarnya, mari berangkat."

Sesaat sebelum meninggalkan tempat itu entah secara sengaja atau tidak mendadak Thiat Sie poa itu menoleh dengan memandang ke arah Liem Tou s ambil teriaknya dengan keras:

“Bocah ingatlah, pikiran harus lurus jangan sembarangan pergi ketempat yang tak berguna, karena akan mencelakai dirimu sendiri."

Sehabis berkata jubahnya yang lebar itu dikebutkan, bersama2 dengan Si siucay buntung meloncat kcatas pohon dan melayang pergi, tidak selang lama telah lenyap dari pandangan.

Sesudah kepergian dari si Siucay bunturg serta Tniat Sie poa itu Liem Tou menjadi tertegun untuk sesaat lamanya, ketka teringat kembali akan siucay buntung serta Thiat Sie poa mendadak dia tepok batok kepalanya sendiri teriaknya.

"Ooh sungguh sayang, kenapa tidak terpikirkan waktu tadi'? Bukankah aku sedang mencari guru pandai untuk belajar ilmu? sebenarnya tadi merupakan kesempatan yang sangat bagus bagi diriku, ternyata kubuang dengan percuma, hai - - sungguh konyol aku ini. Untuk pergi mengejar sudah tentu tidak mungkin bisa terjadi, tiba2 teringat oleh gambaran lingkaran yang dilukis Thiat Sie poa diatas tanah, sebenarnya gambar apakah? Achirnya dengan perlahan dia mulai mendekati itu dan memandangnya lebih teliti, mendadak terasa olehnya gambaran itu pernah dilihatnya bahkan mirip sekali dengan apa yang pernah dia dengar, cepat dia berpikir lebih teliti lagi dan teringatlah olehnya kitab pusaka peninggalan ayahnya memang terdapat gambaran seperti itu didalamnya. Untung saja saat itu cuaca belum sampai gelap seluruhnya, dengan cepat dia mengambil keluar kitabnya dicocokkan dengan tulisan itu ternyata sangat persis tak ada bedanya, hanya dia tak tahu apa gunanya gambaran itu bahkan dia anggap tentu hal itu merupakan perhitungan aneh yang sangat mendalam dari Thiat Sie poa, tetapi jika menurut kitab pusaka peninggalan ayah, gambaran itu termasuk didalam hal ilmu langkah kaki.

Mendadak hatinya menjadi bergerak pikirnya:

"Thiat Sie Poa itu membuatkan gambaran lingkaran ini diatas tanah tentu punya maksud bahkan didalam kitap pusaka ini tertuliskan ilmu langkah kaki, kenapa aku tidak mencobanya??.”

Perasaan ingin tahu dari Liem Tou segera meliputi seluruh pikirannya, dengan mengikuti lingkaran yang terdapat diatas tanah itu dia mulai berjalan berputar putar, siapa tahu baru saja berjalan dua tindak kakinya tergelincir dan jatuh terjengkang keatas tanah. Melihat kejadian itu diam-diam Liem Tou memaki ketololan dirinya sendiri, dengan cepat dia merangkak bangun lagi, sedang mulutnya bergumam.

“Bagaimana jadinya ini, jalan datar saja terjungkir seperti ini?”

Sekali lagi dia mulai berjalan mengikuti lukisan itu, siapa tahu seperti pertama kali tadi dia jatuh terjungkir kembali keatas tanah, sedang kali ini jatuhnya lebih keras lagi.

Kali ini dia mulai sadar kalau didalam lukisan itu tentu memiliki keajaiban lainnya, Kiranva jangan dipandang lukisan lingkaran yang tidak rata diatas tanah itu sekalipan sangat kacau tetapi memiliki kesaktian serta ke lihayan yang tidak terkira dalamnya, jangan di kata Liem Tou seorang bocah cilik yang tak tahu apa apa sekalipun orang lain yang memiliki ilmu silatpun juga tidak akan ada yang bisa mempertahankan tubuhnya hingga tidak sampai terjatuh. Liem Tou yang berturut turut jatuh dua kali. segera merangkak bangun kembali, sambil menggigit kencang bibirnya ujarnya.

“Aku tidak akan pecaya kalau demikian gaibnya, sekalipun malam ini tidak tidur aku juga harus bisa berjalan sampai bisa,"

Keputusan itu begitu diambil didalam hatinya dengan segera dia mengulangi lagi berjalan diantara lingkaran lingkaran itu, tidak lama kemudian akhirnya ditemuinya juga sedikit titik terang dan berhasil menerobos satu langkah, hatinya menjadi sangat girang sekali, demikianlah selama semalam suntuk dia terus menerus belajar berjalan diantara lingkaran itu hingga sampai hapal.

Saat itu seluruh tubuhnya terasa amat lelah sekali, keringat mengucur keluar membasahi seluruh tubuhnya, saking lelahnya tidak terasa lagi dia jatuh tertidur dengan pulasnya dibawah sebuah pohon yang besar.

Menanti dia mendusin dari tidurnya, hari telah jauh siang, matahari memancar sinarnya dengan sangat terang Mendadak terlihat olehnya tidak jauh dari dirinya berbaring, berdiri seekor kerbau yang sangat tenangnya memakan rumput.

Sejak Liem Tou diusir dari puncak Ha Mo Leng selama beberapa tahun lamanya dia hidup sebagai pengangon sapi, begitu melihat sapi ia menjadi sangat girang sekali. Dengan perlahan dia berjalan mendekati sambil menepuk nepuk tubuh kerbau itu, ujarnya.

"Kakak kerbau; bagaimana kau bisa seorang diri ditempat ini? Apa kau telah tersesat? Mari aku temani kau bermain”

Kerbau itu agaknya mengerti akan perkataannya dengan suara perlahan mengeluarkan desiran. Liem Tou yang sejak kecil dianiaya terus oleh orang, begitu ada orang yang sedikit baik sraja terhadap dirinya maka dia seperti akan merasakannya, kini tak terasa menjadi sangat girang, dengan cepat ditepuk-tepuknya pundak kerbau itu.

Sekonyong konyong dari belakang tubuhnya muncul seorang lelaki kasar yang sangat gusarnya membentak.

"He, kau cecunguk kecil cepat pergi!, he he kau mau mencuri kerbauku?"

Siapa yang mau mencuri kerbaumu?, balas maki Liem Tou dengan gusarnya. "Kau jangan sembarangan memfitnah. Kau barulah mirip sebagai seorang pencuri kerbau"

Lelaki kasar itu menjadi sangat gusar sekali, bentaknya. "Bocah edan, kau berani menaaki Jieya mu? Aku harus

memberi pelajaran padamu biar kau tau rasa kellhayan dari Jieya mu ini"

Sehabis berkata tubuhnya maju satu langkah kedepan; dengan cepat Liem Tou mengundurkan dirinya kebelakang, tetapi gerakan dari lelaki kasar itu jauh lebih cepat dari dirinya, tamparannya dengan cepat mengenai pipi sebelah kirinya.

Liem Tou menjadi sangat gusar sekali bentaknya. “Bagus, Kau berani pukul aku"

Pada saat kegusarannya sedang memuncak itulah mendadak dari luar rimba terdengar suara hiruk pikuk yang sangat ramai sekali, terdengar ada salah satu orang yang berteriak dengan kerasnya.

“Cepat semua datang kemari, orang yang mencuri kerbau berada disini. Cepat tangkap, jangan sampai pencuri kerbau itu melarikan diri"

Lelaki kasar itu begitu mendengar ada banyak orang mengejar datang, sambil mendepakkan kakinya keatas tanah makinya. "Sialan. Hu.."

Dengan cepat ia memutar tubuhnya dan melarikan diri kedalam rimba tersebut.

Kini tinggal Liem Tou seorang diri tertegun ditempat itu dia merasa bingung entah telah terjadi urusan apa ditempat itu, pada saat itu juga orang-orang kampung telah meluruk datang kedalam rimba itu, beberapa orang yang berada dipaling depan telah berhasil mencekal diri Liem Tou dan ditekannya kebawah tanah, tangannya dengan tak henti-hentinya mengirim jotosan serta tendangan yang keras.

Diperlakukan seperti itu Liem Tou berteriak, serunya. "Siapakah kalian semua? Kenapa tanpa bilang merah atau

hijau sembarangan memukul orang? Aduh, kalian pukullah aku sampai mati, Ooh .. aduh!"

Orang kampung yang datang itu makin lama makin banyak, dengan tepatnya mereka mengurung diri Liem Tou sedang mulutnya tak henti- hentinya memaki, mencelah, sehingga suasana menjadi sangat ramai sekali, bahkan diantaranya ada seorang wanita dusun yang berteriak.

"Kau cecunguk kecil tidak terlihat usiamu yang begitu masih muda telah melakukan perbuatan mencuri kerbau yang sangat memalukan ini, banyak waktu ini didusun kita telah kehilangan beberapa ekor kerbau secara berturut turut, kau maling kecil sebenarnya telah kau bawa kemana semua kerbau-kerbau itu?”

Seluruh tubuh Liem Tou yang dipukuli tak hentinya oleh orang orang kampung itu mulai terasa amat sakit segera dia ber-teriak2 dengan keras.

“Kalian jangan pukul aku, aku tidak mencuri kerbau kalian, aku bukan pencuri yang mencuri kerbau kalian"

Orang lelaki pertama yang menangkap dirinya segera membentak keras. "Bukti hasil pancurianmu telah berada didepan mata kau masih berani mungkir he .. he . rasakan kepalanku ini"

Liem Tou hanya merasakan kepalan orang itu dengan kerasnya menghajar pundaknya, saking sakitnya hingga sukar ditahan.

"Aduh .." teriaknya sambil napasnya mengenggas-enggos, "Aku tidak mencuri, aku bukan orang yang mencuri kerbau kalian “

Orang-orang kampung itu tidak memperdulikan mati hidup dari Liem Tou lagi, mereka semua mengira kerbau itu kini berada bersama dengan Liem Tou sudah tentu orang yang mencuri kerbau itu tidak ragu-ragu lagi adalah Liem Tou yang melakukannya, sehingga tanpa merasa sedikit kesihanpun kepalan serta tendangan mereka semakin menghebat, membuat seluruh tubuh Liem Tou luka-luka dan membengkak.

Semakin lama Liem Tou mulai merasa tidak dapat bertahan lebih lama lagi untuk menjelaskan duduk persoalan yang sebenarnyapun tidak ada gunanya terpaksa sambil memejamkan matanya dia menahan terus kesakitan yang luar biasa itu, diam diam pikirnya.

"Terus pukullah, aku Liem Tou memang memiliki nasib buruk, sekalipun begitu aku juga tidak dapat barbuat apa lagi, untung aku masih ada le cici yang sangat baik terhadap diriku.

Dia memejamkan matanya sedang pada mulutnya tersungging suatu senyuman yang manis, mendadak dadanya terhajar satu pukulan tak tertahan Liem Tou mengerutkan alisnya setelah mendengus berat dia jatuh tak sadarkan diri.

ooOoo

Entah telah lewat beberapa lamanya ketika dia sadar kembali terasalah olehnya orang orang dusun itu teriaknya.

"Hi--- pencuri kerbau itu telah sadar kembali, biar dia jalan sendiri.” Orang yang menyeret tubuh Liem Tou itu begitu mendengar teriakan tersebut segera melepaskan tangannya. Tetapi Liem Tou setelah dihajar habis habisan oleh orang orang dusun itu selain seluruh tubuhnya sangat linu dan sakit hingga sukar ditahan tubuhnyapun menjadi sangat lemas tak bertenaga, kini begitu dilepaskan mana dia berhasil berdiri tegak, kakinya tertekuk kedepan sedang tubuhnya sekali lagi rubuh keatas tanah.

Dua orang yang melihat Liem Tou benar-benar tidak kuat untuk berjalan sendiri segera menarik, kembali makinya dengan gusar.

"Hai bocah bangsat ayoh jalan, kita harus menyerahkan dirima kepada pembesar negeri biar kau dihajar hingga mati tidak dapat hidup-pun susah, Hmm..hmm bangsat cilik dengar tidak!”

Liem Tou tetap tidak mengeluarkan sepatah katapun, entah setelah ditarik oleh orang itu beberapa lama dan entah telah melakukan perjalanan beberapa jauhnya sampailah rombongan orang dusun itu pada sebuah kota dusun yang tidak begitu besar.

Liem Tou tetap diseret jalan ditengah jalan raya itu, orang- orang dalam kota, tersebut dengan terheran-heran menyaksikan kejadian tersebut sambil menggelengkan kepala makinya.

“Ha --- bocah secilik ini sudah mencuri kerbau, sungguh memalukan harus dihajar biar tahu rasa. . . “

Tidak selang lama seluruh penduduk diluar kota telah tahu kalau Liem Tou adalah seorang pencuri kerbau, sambil menuding mereka mencaci maki, meludahi wajahnya bahkan ada yang melempari batu2 kearah tubuhnya, sekalipun diperlakukan seperti itu Liem Tou juga tidak dapat berbuat apa apa, terpaksa sambil manahan seluruh penderitaan itu dia meneruskan jalannya dengan diseret. Tidak seberapa lama kemudian sampailah mereka disebuah pengadilan, tetapi sekalipun telah ditunggu seberapa lama juga tidak muncul2 pembesar pengadilan itu, bahkan ada beberapa orang yang telah mulai ribut dan berteriak-teriak.

Seperminum teh kemudian munculah dua orang pengawal pengadilan dari dalam ruangan itu, ujarnya terhadap mereka.

“Pembesar kota itu sedang mengadakan pemeriksaan diluar dan kini masih belum kembali, pencuri ini biar ditinggal saja menunggu keputusan.”

Semua orang setelah mendengar perkataan itu segera bubaran, sedang kedua pengawal itu bagaikan mencincing seekor anak ayam membawa Liem Tou kedalam Bui sambil bentaknya.

“Heei bangsat kecil, ayo jalan.”

Sesampainya kedalam penjara segera didorong kesebuah kamar yang sangat gelap sekali keadaannya, bahkan untuk melihat sesuatu apa pun sangat sukar sekali, tak tertahan dia menjadi sangat terkejut dan berturut-turut mundur kebelakang beberapa tindak.

Kiranya dihadapannya telah berdiri seorang sipir bui yang sangat tinggi besar, dan kuat sekali saat itu orang sambil bertolak pinggang mendelik kearahnya, seluruh wajahnya ditumbuhi dengan berewok yang sangat tebal sedang matanya besar bagaikan bola.

Liem Tou melihat orang itu tidak mengucapkan apapun, dengan membesarkan nyalinya ujarnya dengan gemetar.

“Loo ya, aku tidak mencuri kerbau mereka, mereka telah salah menangkap orang.”

Sipir bui itu hanya mendelikkan sepasang matanya, didalam sekejap saja tangannya telah bertambah dengan sebuan pecut yang dibuat dari kulit berwarna hitam, sedang mulutnya mendenguspun tidak. Sejak Liem Tou dilahirkan selamanya dia dibesarkan diatas perkampungan tetapi tidak sampai pergi tertalu jauh sehingga pengalamannya didalam dunia kangouw boleh dikata sangat cetek sekali, jangan dikata penderitaan didalam bui, hanya cukup sikap yang seram dari sipir bui itu sudah cukup membuat hatinya sungguh merasa sangat terkejut bercampur takut dengan paksaan diri.

“Loo ya…”

Tak disangka baru saja dia memanggil Looya dua buah kata, pecut kulit yang berada ditangannya dengan mengeluarkan suara yang keras siap dihajarkan keatas tubuhnya, didalam saat itulah mendadak dari samping orang ini muncullah seorang pengemis cilik yang sangat dekil, Liem Tou belum sempat melihat jelas keadaan serta bentuknya segera dia merasa tubuhnya telah ditumpuk kesamping sehingga tergeser beberapa langkah dari tempat semula, makinya.

“Hee,..bocah cilik yang baru datang, bilamana kau mengetahui sedikit aturan panggilah Toako padanya, dan serahkan seluruh uang perak yang ada didalam sakumu.”

Ketika Liem Tou mendengar perkataan itu segera dibuat menjadi melongo dan bingung atas sikapnya itu, entah harus berbuat bagaimana baiknya, saat itulah orang itu dengan tanpa sungkan sungkan lagi merogo kedalam sakunya Liem Tou dan mengambil seluruh uang yang berada didalam sakunya, sambil tersenyum ujarnya pada sipir bui itu.

“Harap Toako jangan marah atas kelancangan dari aku si pengemis, silahkan Toako terima sedikit uang ini.”

Sipir bui ini berkedippun tidak, setelah memandang sekejap kearah pengemis cilik itu segera disambarnya uang ditangannya, kemudian memutar tubuhnya siap hendak memborgol tangan dari Liem Tou.