Raja Silat Jilid 01

 
Jilid 01

Puncak Ha Mo Leng yang terletak dekat kota Ceng Shia dalam propinsi Coan See merupakan sebuah gunung yang sangat tinggi, curam serta berbahaya. Batu-batu cadas menghiasi seluruh puncak gunung disamping jurang yang tak terhingga dalamnya, sedang jalan-jalan yang menghubungi tempat itu pun tak ada, dengan demikian hubungan dengan dunia luar boleh dikata putus sama sekali.

Sebaliknya pada lereng gunung banyak terdapat sungai serta air terjun yang penuh dengan batu cadas yang tajam disamping pusaran air yang amat dahsyat. Perahu yang berani melayari tempat itu tak lebih hanya mencari mati saja.

Saat itu merupakan tengah malam pada pertengahan musim gugur, bulan purnama yang berada jauh ditengah awan menyinarii seluruh jagad dengan terangnya. Suasana pada saat itu begitu sunyi serta tenangnya, hanya terlihat mengalirnya air sungai mengisi keheningan malam yang semakin kelam, tak ubahnya seperti irama surga membelah bumi.

Tiba-tiba ditengah sungai yang tenang serta berkilauan memantulkan cahaya rembulan itu beriak dan memecah keempat penjuru disertai dengan suara deburan ombak yang keras, pancaran air sungai memancar keatas setinggi beberapa kali yang kemudian jatuh kembali kedalam sungai yang saat itu mulai menjadi tenang kembali.

Tak selang lama kemudian dari permukaan sungai muncullah seorang pemuda yang baru berusia kurang lebih lima enam belas tahun. Tampak dia terus berenang hingga mencapai tepi sebuah batu cadas, sambil menengadah keatas, mulutnya berkemak-kemik dengan perlahan:

‘Sungai kematian, Tebing maut, Jembatan pencabut nyawa, bagaimana aku harus melalui tempat-tempat itu?’

Dia duduk sejenak diatas batu cadas tersebut, beberapa saat kemudian mendadak meloncat bangun lagi, ujarnya dengan nada yang penuh semangat. ‘Bagaimanapun juga aku harus pergi sekalipun dipukul atau dibinasakan oleh mereka aku tetap akan menemui cici Siauw Ie’

Sehabis berkata kakinya menjejak tanah, sekali lagi tubuhnya meluncur ketengah sungai yang kemudian berenang dengan cepatnya kedepan.

Pada saat yang bersamaan ruangan Cie Eng Tong atau ruangan para orang gagah didalam perkampungan Ie Hee Cung diatas puncak Ha Mo Leng terlihat terang benderang oleh sorotan sinar lampu.

Cungcu atau ketua perkampungan yang bergelar Ang in sin piau atau si cambuk mega Pouw Sak San sedang berkumpul dengan keempat jago penjaga kampungnya yang paling diandalkan, Liong ciang atau lengan naga, Houw jiauw atau si Kuku harimau, Siang hui kok atau sepasang bango terbang serta putranya yang bernama Pouw Siauw Ling guna merundingkan siasat penjagaan ketiga tempat-tempat berbahaya tersebut.

Tetapi, mereka sama sekali tidak menduga kalau putri dari cungcu yang bernama Pouw Jin Cui bersembunyi dibalik horden mencuri dengar perundingan mereka dengan hati yang kebat-kebit, keringat dingin mengalir keluar membasahi seluruh bajunya, sedang jantungnya hampir-hampir terasa copot dibuatnya.

Beberapa saat kemudian tak tersadar olehnya dengan perlahan ujarnya berkali-kali.

“Sungai kematian, Tebing maut, Jembatan Pencabut nyawa….Sungai kematian, Tebing maut, Jembatan Pencabut nyawa…”

Kemudian pikirnya lagi:

“Biasanya ayah sangat welas asih dan ramah terhadap siapa pun, kenapa terhadap seorang anak yang tidak memiliki kepandaian serta yatim piatu semacam Liem Tou dapat bersikap demikian kejam serta tanpa perikemanusiaan? Apalagi pada saat ayah Liem Tou yaitu Liem Han San masih hidup telah diakui oleh ketua perkampungan yang terdahulu Lie Cungcu sebagai warga perkampungan Ie he cung ini. Dulu dengan menggunakan alasan ayah telah mengusir Liem Tou dari kampong tindakannya ini sudah tak pantas, ini hari merupakan hatri yang telah ditetapkan baginya untuk balik keatas perkampungan, tetapi kenapa ayah akan mencelakakannya? Bukankah tindakannya ini kelewat kejam?”

Pada saat Pouw Jin Cui sedang berpikir dengan perasaan sangat bingung, Cungcu dari Ie hee cung telah meneruskan pesannya pada para jago berkepandaian tinggi dari perkampungan itu.

“Ingat, bilamana Liem Tou si cecunguk itu benar-benar berani menempuh bahaya mendaki atas puncak ini harap saudara sekalian tanpa perasaan was-was membinasakan dirinya. Tindakanku ini semata-mata hanya dikarenakan aku tidak ingin melihat perkawinan diantara keluarga Lie dan keluarga Pouw kami diberantakkan oleh campur tangan seorang bocah dungu”

Sehabis berkata dia menoleh memberi perintah kepada putranya Pouw Siauw ling.

“Siauw Ling, saat tengah malam hampir tiba lekas turun gunung melakukan pemeriksaan apakah bocah itu telah datang atau belum? Tetapi bila sampai bertemu dengan dia jangan sampai diketahui olehnya. Lekas pergi dan cepat balik kembali”

Pouw Siauw Ling menyahut, tubuhnya dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat melayang meninggalkan ruangan itu.

Pouw Jin cui yang mencuri dengar dibalik horden menjadi bingung dan tidak mengerti kenapa ayahnya dapat mengambil tindakan sedemikian kejamnya terhadap Liem Tou, bagaimana pula dia merasakan sedih bagi Lie Siauw Ie yang hidup bagaikan kakak beradik dengan dirinya itu.

===ooo===

Sementara di puncak sebelah timur Ha Mo Leng seorang gadis berbaju putih berusia enam tujuh belas tahun sedang berdiri tertekur dibawah sorotan sinar rembulan, wajahnya sangat cantik, bibirnya kecil mungil berwarna merah muda, hidungnya mancung sedang alisnya kelihatan hitam, hanya sayang wajahnya sedikit pucat, rambutnya riap-riap bergoyang tertiup oleh angina malam sedangkan matanya yang sayu serta mengandung kesedihan yang amat sangat itu dengan terpesona memandang ke bawah gunung dengan tak berkedip.

Tak selang berapa lama dari bawah gunung terdengar siulan panjang yang memecahkan kesunyian, tak terasa alisnya dikerutkan, sedang dari air mukanya menampilkan perasaan yang sangat girang, ujarnya seorang diri.

“Adik Tou…Adik Tou, kau benar-benar dating, cicimu telah sangat lama menantikan kedatanganmu disini, sekali pun cicimu tidak percaya kalau dalam setahun ini kau berhasil memiliki kepandaian silat guna menerobos tiga tempat berbahaya itu untuk bertemu denganku tetapi dengan melalui siulan yang panjang dengan jurang atau lembah sebagai penghalang, kita masih bisa saling berhubungan, bukankah itu sangat bagus?”

Sehabis berkemak-kemik seorang diri dipetiknya sehelai daun dan ditiupnya kencang-kencang sehingga mengeluarkan suara siulan yang panjang, hal ini diulangi beberapa kali.

Mendadak dia berhenti meniup, teriaknya:

“Adik Tou…Adik Tou…dengarkah kau cicimu sedang menantimu disini?”

Sekali pun teriakan dari Lie Siauw Ie sangat tinggi sehingga menembus awan tetapi suaranya mana mungkin menandingi suara siulan dari daun itu sehingga dapat berkumandang hingga tempat yang sangat jauh?

Setelah berteriak beberapa kali dia mulai sadar kembali, sekalipun berteriak hingga tenggorokannya pecah juga tak mungkin suaranya bisa terdengar kebawah gunung.

Pikirannya segera berubah, dengan perlahan kain putihnya dilepaskan dan disentakkan keatas hingga berkibar-kibar.

Dibawah sorotan rembulan dipertengahan musim gugur yang cerah kain putih itu melambai-lambai dengan indahnya, tak ubahnya bidadari yang turun dari khayangan sambil menari- nari .

Tak selang lama dari bawah gunung terlihat berkelebatnya sinar api yang bergerak dari arah sebelah kiri ke sebelah kanan, ditengah berkelebat sinar api itu Siauw Ie dapat melihat sesosok bayangan manusia yang bergerak dengan perlahan, sudah tentu dia tahu kalau bayangan itu tak lain dan tak bukan adalah Liem Tou, kekasihnya yang dirindukan siang dan malam, hanya saja karena jaraknya terlalu jauh hingga dia tak dapat melihat lebih jelas lagi.

Mendadak dibawah sinar rembulan Siauw Ie melihat bayangan berkelebat dengan cepatnya dari dalam perkampungan Ie hee cung, gerakan tubuhnya begitu gesit serta tangkasnya sedang pada tangannya membawa dua buah benda persegi panjang, segera dia paham kalau benda tersebut merupakan benda yang biasa digunakan untuk melalui sungai kematian.

Terlihat bayangan manusia itu dengan kecepatan yang luar biasa meneruskan larinya kebawah gunung.

Siauw Ie yang sedang mengumpulkan seluruh perhatiannya dapat melihat bayangan itu agak merandek sesampainya diatas Jembatan pencabut nyawa, tetapi dengan cepat dia meloncat kembali sebanyak beberapa kali diatas tempat itu, tebing curam setinggi beberapa kai tersebut dengan mudahnya berhasil dilalui. Adapun jembatan Pencabut nyawa itu luasnya tak kurang dari dua puluh lima depa yang menghubungkan dua tebing diantara sebuah jurang sedalam ratusan kaki. Kedua tebing itu dihubungkan dengan seutas tali baja sebesar jari kelingking, selain orang yang memiliki ilmu meringankan tubuh yang sempurna, jangan harap bisa melewati tempat itu dengan selamat.

Siauw Ie yang melihat ilmu meringankan tubuh dari orang itu telah mencapai demikian tingginya bahkan tidak dibawah kepandaian keempat jago penjaga perkampungan, hatinya menjadi bergerak segera ia tahu kalau orang itu tak lain adalah Pouw Siauw ling, putra dari Cungcu Ie Hee cung, tak terasa pikirnya:

“Untuk apa dia turun gunung disaat begini?”

Ketika memandang lagi daerah tebing sebelah sana tampaklah sinar api dibawah gunung itu masih tetap bergerak- gerak terus, mendadak olehnya teringat akan sesuatu hal dan hatinya menjadi sangat cemas sekali karena dia mengetahui dengan sangat jelas bahwasanya Liem Tou serta Pouw Siauw Ling selamanya bermusuhan terus. Selagi Liem Tou masih berada di perkampungan, Pouw Siauw Ling lah yang sering menganiaya dirinya. Kini dia telah turun gunung bilamana bertemu dengan Liem Tou tak dapat dihindarkan lagi suatu pertarungan sengit pasti akan terjadi dan sudah tentu pula Liem Tou lah yang akan menderita kalah.

Berpikir sampai disini tak ayal lagi dengan cepat Siauw Ie membunyikan siulannya susul menyusul. Inilah tanda rahasia yang digunakan mereka berdua sejak dahulu bila hendak berhubungan.

Benar saja begitu siulan itu berbunyi, sinar api dibawah gunung itu dengan sekonyong-konyong menjadi kecil. Melihat hal itu Siauw Ie menjadi sedikit lega. Tetapi pada saat ini dia tahu Liem Tou telah datang hanya dia tidak tahu apakah dia akan mendaki gunung atau tidak, bersamaan pula apabila dia benar-benar naik keatas gunung bagaimana sikap tindakan cungcu dengan dirinya? Atas beberapa hal ini membuat hatinya tetap merasa tak tenang.

Didalam beberapa saat itulah Pouw Siauw Ling telah selesai melakukan pemeriksaannya dan kembali keatas gunung.

Siauw Ie hanya merasakan berkelebatnya sesosok bayangan dihadapan matanya. Pouw Siauw Ling telah berdiri kira-kira dua depa dihadapannya sambil tersenyum licik ujarnya:

“Siauw Ie moay, kiranya kau seorang diri sedang berdiri di tempat ini. Tampaknya kau belum juga bisa melupakan Liem Tou si bocah dungu itu? Ha..ha..”

Siauw Ie yang merasa ia sedang menyindir dirinya, air mukanya segera berubah dengan dingin sahutnya:

“Apa hubungannya aku berdiri seorang diri disini denganmu? Kau tak usah banyak omong”

Siauw Ling dengan sikap yang ceriwis perlahan-lahan mendekati tubuh Siauw Ie ujarnya sambil tersenyum tengik.

“Justru aku tidak mengerti Liem Tou si bocah dungu yang sangat goblok, sifatnya pemurung serta tak memiliki kepandaian silat sedikitpun bahkan boleh dikata seluruh anggota perkampungan jauh lebih lihay sepuluh kali lipat dari dirinya, bagaimana Siauw Ie moay bisa demikian memperhatikan dirinya? Aku kira Ie moay-moay seorang yang cerdik, lupakan saja si bocah dungu itu”

Siauw Ie mendengar ocehan yang makin lama makin tidak karuan itu menjadi amat gusar, seluruh tubuhnya menjadi gemetar dengan keras menahan pergolakan didalam dadanya, teringat kembali olehnya ketika Liem Tou masih berada didalam perkampungan, beberapa kali dia dianiaya oleh Pouw Siauw Ling hingga babak belur dan seluruh tubuhnya penuh dengan luka-luka hanya dikarenakan sifatnya yang keras kepala serta ketus itulah membuat dia merintih pun tidak.

Teringat pula olehnya kalau dia adalah seorang anak yang sangat kuat tetapi bandel, biarpun lagaknya ketolol-tololan tetapi sepasang matanya memancarkan sinar yang terang dan bening, dikarenakann seringnya dia menerima siksaan serta aniaya dari seluruh anggota perkampungan itulah membuat perasaan kasihan dari dirinya lama kelamaan menjadi perasaan cinta kasih.

Kini dia mendengar ocehan serta cemoohan dari Siauw Ling membuat amarahnya meledak tanpa tertahan lagi, bentaknya dengan keras.

“Tutup mulut, manusia yang tak tahu malu kau masih bisa menganiaya Liem titi, tetapi jangan coba-coba main-main denganku”

Pouw Siauw Ling melihat Siauw Ie dibuat gusar olehnya, dengan cepat dia tersenyum-senyum tengik, ujarnya dengan cepat:

“Oh Ie moay-moay jangan marah adikku yang manis, kakakmu hanya guyon saja”

Perkataannya belum sempat diucapkan, mendadak Siauw Ie membentak lagi dengan nyaring:

“Siapa yang mau menjadi adikmu?” Muka tebal tak tahu diri, lekas bergelinding dari hadapanku!”

Selesai berkata, tangannya diayun dengan cepatnya, “Plaak” tamparan dari Siauw Ie itu dengan tepat mengenai pipi dari Pouw Siauw Ling , air mukanya berubah menjadi sangat keren, sepasang matanya melotot keluar, dengan gusarnya dia memandang wajah Pouw Siauw Ling yang telah menjadi merah karena gaplokan tadi dengan gemetar makinya:

“Jika bukannya karena kau si muka tebal, Liem Tou tak mungkin akan diusir dari perkampungan, lekas pergi dari sini, aku sebal..sebal melihat tampangmu lagi..cepat bergelinding dari sini” Sekali lagi tangan yang putih mulus melayang kedepan siap melancarkan tamparan berikutnya, sekali ini Pouw Siauw Ling telah siap sedia, dengan cepat dia mundur beberapa langkah ke belakang sambil mendengus dengan dingin balas makinya:

“Kau budak yang tidak tahu diri, kapankah aku Pouw Siauw Ling pernah menderita rugi darimu? Kini kau berani turun tangan memukul orang”

Dia berhenti sejenak, kemudian ujarnya lagi:

“Baiklah, akan kuberitahukan padamu ini hari bila Liem Tou si bocah dungu itu tidak berusaha naik gunung masih tidak mengapa, bila dia sungguh berani akan kubunuh cecunguk itu, aku mau lihat engkau bisa berbuat apa?”

Siauw Ie begitu mendengar ancaman tersebut hatinya terasa tergetar dengan keras, tetapi pada air mukanya sedikitpun tidak memberi reaksi apapun apalagi memperlihatkan kelemahannya, mendadak dari dalam tubuhnya dia meraup segenggam senjata rahasia yang berupa jarum perak, bentaknya dengan keras:

“Cepat bergelinding dari hadapanku..hmm..hmmm, jangan salahkan aku berlaku kurang sopan terhadapmu bila mukamu masih tebal”

Kiu cu gin ciam atau Sembilan jarum perak maut merupakan senjata rahasia yang ampuh dari keluarga Lie, sudah tentu Pouw Siauw Ling mengenal kelihayannya.

Mendengar ancaman itu air mukanya segera berubah dengan hebatnya, dengan cepat dia mundur beberapa depa dari tempat semula, tetapi didalam sekejap saja marahnya memuncak, tangannya dengan cepat mencabut keluar Joan pian yang melilit dipinggangnya dengan gusar makinya:

“Budak tebal, kau kira benar-benar aku takut denganmu? Seluruh kepandaian yang kau miliki boleh dikeluarkan semua, coba kau lihat apakah aku Pouw Siauw Ling bisa berlaga seperti Liem Tou si cecunguk yang menjadi cucu kura-kura” Selesai berbicara dengan cepat joan piannya diputarnya, sehingga menjadi bayangan yang menyilaukan mata, terdengar angin serangan menderu-deru memekik telinga dengan cepat dia mulai melancarkan jurus-jurus serangan menurut ajaran ayahnya Ang in sin pian.

Seorang yang bertabiat berangasan seperti Siauw Ling mana mau menerima hinaan serta pandangan rendah dari musuhnya, saking gusarnya dia mendepak-depakkan kakinya keatas tanah sedang mulutnya tak henti-hentinya memaki.

Tangannya digerakkan dengan kecepatan yang luar biasa, senjata rahasia Kiu cu gin ciam yang berada di tangannya segera dilancarkan di depan dengan menggunakan jurus ‘Man thian hoa ie’ atau seluruh jagad menjadi hujan bunga.

Tampak sinar berwarna keperak-perakan berkelebat dengan kecepatan luar biasa keseluruh penjuru tempat itu.

Pouw Siauw Ling memiliki kepandaian yang tidak rendah, dengan cepat menyentak serta memutar joan pian ditangannya melindungi seluruh tubuhnya, terlihat sinar tajam memancar disekeliling tubuhnya, jarum-jarum yang melayang mendekati tubuhnya dengan cepat berhasil dipukul jatuh, tak terasa dia memperlihatkan perasaan bangganya, sambil tertawa terkekeh-kekeh godanya:

“Bagaimana? Hanya cukup kepandaian ini saja sudah lebih dari cukup bagi si bocah dungu itu untuk berlatih selama berpuluh-puluh tahun. He..he…aku heran gadis cantik seperti kau masa mau dengan bocah goblok, tak ubahnya seperti bunga segar tertancap diatas tahi kerbau, sungguh sayang..sungguh sayang.”

Siauw Ie yang mendengar cemoohan itu saking gusarnya wajahnya telah berubah menjadi putih kehijau-hijauan, baru saja dia siap sedia hendak menerjang kedepan beradu jiwa dengan dia, pada saat itu pula Pouw Jin Cui muncul secara tidak terduga di tempat itu.

Pouw Jin Cui yang tampak mereka berdua sedang bertempur dengan serunya, segera makinya terhadap Pouw Siauw Ling:

“Adik Ling, lagi-lagi kau mengganggu dan menyiksa Ie moay. Masih tidak lekas pulang, ayah sedang menanti kedatanganmu”!

Pouw Siauw Ling hanya tersenyum mengejek mendengar perkataan itu, segera dia melibatkan kembali senjatanya kedalam pinggang, setelah memandang sekejap lagi kearah Siauw Ie barulah meninggalkan tempat itu.

Siapa tahu pada saat itu Siauw Ie telah membenci dirinya hingga menusuk kedalam tulang sumsum, sebuah jarum perak yang tergenggam ditangannya segera dilancarkan kedepan sambil membentak dengan keras:

“Cepat menggelinding dari sini!”

Pouw Siauw Ling sama sekali tidak pernah menduga akan terjadi peristiwa seperti ini, ketika dia merasa adanya sambaran dari senjata rahasia dengan cepat dia mengangkat tangannya berusaha menangkis serangan tersebut, tetapi keadaan sudah terlambat, jarum Kiu cu gin ciam tersebut telah berada dihadapannya sehingga tak ampun lagi pundaknya kena terhajar jarum itu.

Pouw Jin Cui menjadi sangat terkejut, baru saja hendak mencegah perbuatan dari Siauw Ie itu tak tersangka olehnya setelah dia melancarkan serangan senjata rahasianya ternyata telah balik menubruk kedalam pangkuannya dan menangis tersedu-sedu dengan sedihnya.

Untuk sesaat Pouw Jin Cui dibuat gugup dan melongo kesana itu, setelah tertegun untuk beberapa saat lamanya barulah Pouw Jin Cui menjadi sadar kembali dari lamunannya, sambil memeluk tubuh Siauw Ie bentaknya terhadap diri Pouw Siauw Ling.

“Kau masih tidak cepat meninggalkan tempat ini untuk minta obat dari Lie Pe bo, apa kau ingin mencari mati?”

Pouw Siauw Ling setelah terkena serangan senjata rahasia sebenarnya merasa sangat gusar sekali, tetapi kini malah sebaliknya tersenyum sambil memandang tajam kearah kedua orang gadis itu.

Pouw Jin Cui yang melihat keadaan tersebut segera tahu kalau dia sedang menaruh niat untuk membalas dendam, oleh sebab itu sengaja dia membentak dengan keras memaki dirinya.

Begitu diperingatkan oleh kakaknya Pouw Siauw Ling menjadi teringat kalau senjata rahasia Kiu cu gin ciam dari keluarga Lie mempunyai dua macam, yang satu beracun sedang yang lain tak beracun. Ketika dia terkena senjata rahasia tadi oleh karena sedang dalam keadaan gusar sehingga tidak merasakan macam yang manakah senjata rahasia yang terkena didalam tubuhnya, ingin dia menanyakan pada diri Siauw Ie tapi kuatir dia tak mau memberi jawaban terpaksa dia tetap membungkam.

Terpikir sampai disini dia tak berani mengulur waktu lebih lama lagi, dengan hati yang mendongkol dengan cepat dia berlalu dari tempat itu.

Pouw Jin Cui tampak Siauw Ling telah meninggalkan tempat itu, sambil menghibur tanyanya kepada Siauw Ie.

“Ie moay, jangan menangis lagi beritahu kepada diriku apa adik Tou telah datang? Kita harus mencegah dia untuk melanjutkan usahanya menempuh bahaya mendaki keatas gunung”

Mendengar perkataan itu, Siauw Ie berhenti menangis, dengan tertegun tanyanya: “Mereka mau berbuat apa atas dirinya?” “Mereka…aku kuatir mereka…mereka..hendak….”

Agaknya sukar baginya untuk meneruskan perkataan selanjutnya, tetapi dengan menggigit kencang bibirnya ujarnya lagi:

“Mungkin mereka akan menghabiskan nyawanya”

Mendengar penjelasan tersebut Siauw Ie hanya merasakan dadanya terasa menjadi sesak hingga sukar untuk bernapas, bagai baru saja terpukul suatu serangan dahsyat hingga sakit sukar ditahan, air mukanya berubah menjadi pucat kehijau- hijauan, tetapi dengan paksa dirinya dia tetap mempertahankan pergolakan didalam benaknya, tanyanya lagi:

“Cici Cui, benarkah perkataannmu itu? Kenapa mereka bisa bertindak demikian kejamnya?

Bukankah cungcu yang terdahulu mengakui mereka ayah beranak sebagai warga Ie he cung ini dan mereka mempunyai hak untuk menerima hukuman sepantas dengan peraturan perkampungan tetapi berhak juga untuk merasakan kebahagiaan serta hak untuk melindungi perkampungan ini?

Lagi pula menurut peraturan perkampungan orang-orang yang sudah diusir dari perkampungan ini masih mempunyai kesempatan kembali kedalam perkampungan sebanyak tiga kali dan bilamana didalam ketiga kesempatan itu dia berhasil melewati ketiga rintangan berbahaya yang berupa Sungai kematian, tebing maut dan Jembatan pencabut nyawa, bukan saja dia diperbolehkan berdiam kembali didalam perkampungan bahkan kedudukan sebagai cungcu pun harus diserahkan kepadanya. Kenapa sekarang baru saja pertama kali dia mencoba kembali kedalam perkampungan mereka telah siap hendak mencelakai dirinya? Bukankah dengan demikian peraturan perkampungan Ie hee cung telah diinjak- injak sendiri secara keji oleh mereka?” “Dalam hal ini aku pun tidak mengerti, aku hanya tahu tentang perundingan penjagaan ketiga tempat bahaya tersebut dengan mencuri dengar dibalik horden, karena pentingnya serta kritisnya keadaan dengan cepat aku lari kemari beritahu padamu, bagaimanapun juga kita harus mencari akal untuk berusaha mencegah adik Tou menghantarkan nyawanya secara percuma”

Perkataan ini sudah tentu masih banyak terdapat hal-hal yang tidak disebutkan olehnya, karena bagaimana pun juga Cung cu yang sekarang adalah ayahnya sendiri, bila dia berbicara terus terang seluruh apa yang diketahuinya sudah tentu terdapat banyak tempat yang akan memaksa dia tak enak untuk membicarakannya.

Setelah mendengar penjelasan itu, Siauw Ie hanya berdiam diri tak berbicara, hatinya terasa ditusuk oleh beribu-ribu batang jarum.

Tiba-tiba air matanya meleleh keluar membasahi pipinya, sambil menahan isak tangis ujarnya lagi:

“Cici Cui, habis bagaimana sekarang? Bilamana adik Tou mendapatkan cidera atau binasa Cici Cui, adik Ie mu juga tak mau hidup lebih lama lagi didalam dunia ini..”

Untuk sesaat Pouw Jin Cui pun merasa bingung harus berbuat bagaimana untuk mencegah usaha Liem Tou untuk menghantarkan nyawanya dengan percuma, sedang Siauw Ie dengan perlahan menundukkan kepalanya kembali, agaknya sedang memikirkan sesuatu.

Tak lama kemudian terdengar ia berkata lagi dengan terisak-isak:

“Sungguh kasihan benar dia, hei… kasihan benar adik Tou yang malang”

Mendadak dia mengangkat kepalanya keatas, dengan keras lanjutnya: “Cici Cui, kau harus menolong dia, kau pasti bisa menolong dia, kau lihat dia sebatang kara tanpa sanak keluarga, sungguh amat kasihan”

Perkataan Siauw Ie ini membuat seluruh tubuh Pouw Jin Cui terasa berdesir, tak tertahan air matanya pun keluar meleleh membasahi seluruh wajahnya, tapi mendadak teringat olehnya kenapa tadi Siauw Ie bisa bilang kalau pasti bisa menolongnya? Apa mungkin dia sudah menemukan cara untuk menolongnya.

Pada saat Pouw Jin Cui terbenam dalam lamunannya itu, dari samping tunuhnya, suara tajam memekikkan telinga memecahkan kesunyian yang mencengkam disekitar daerah itu, ketika dia menoleh terlihat Siauw Ie sedang meniup daun ditangannya dengan keras, sedang suara yang memekikkan telinga itu terdengar berasal dari daun tersebut.

Begitu suara suitan itu berkumandang beberapa saat lamanya dari arah bawah terlihat munculnya sinar api yang bergerak-gerak, dengan cepat ujarnya pada Pouw Jin Cui.

“Cici Cui, lihatlah…dia, Liem Tou, antara kita berdua kepandaianmu telah mencapai taraf yang sangat tinggi tentu kau sanggup untuk melewati ketiga tempat berbahaya itu.

Bilamana cici Cui punya niat untuk menolong nyawa adik Tou, saat ini juga cepatlah turun gunung memberi tahu padanya agar dia jangan sampai menempuh bahaya dengan percuma, bilamana kepandaianku sudah berhasil kulatih tentu aku bisa turun gunung mencari dia. Cici Cui maukah kau? Adik Ie mu selamanya tak akan melupakan budimu yang besar ini”

Sambil berkata tak tertahan butiran air mata menetes keluar semakin deras, sudah tentu Pouw Jin Cui tak tega untuk menolaknya.

Dalam hati dia tahu jelas bilamana ayahnya mengetahui perbuatannya ini kemungkinan kecil harapan untuk bisa lolos dari suatu makian serta hukuman yang berat tapi urusan ini telah menjadi begini, berpikir panjang juga tiada gunanya. Sekalipun akhirnya akan mendapatkan hukuman yang sangat berat dari ayahnya juga tidak mengapa. Tak disangka olehnya ketika dia hendak mengabulkan permintaan dari Siauw Ie itu, dari dalam perkampungan Ie hee cung terlihat berkelebat datang empat lima buah bayangan manusia, sekali pandang saja segera dia tahu kalau bayangan manusia itu terdiri dari ayahnya serta beserta keempat orang penjaga perkampungan yang paling diandalkan. Tak terasa teriaknya:

“Celaka, adik Ie aku pergi dulu”

Perkataannya baru saja keluar dari mulut, tubuhnya melayang jauh beberapa kaki tetapi dia tak berani terlalu memperlihatkan gerak tubuhnya, terpaksa dengan membungkukkan tubuhnya melayang dengan cepatnya kedepan, tidak selang lama Siauw Ie telah melihat Pouw Jin Cui sudah berada disamping jembatan pencabut nyawa, dengan beberapa kali lompatan saja dia sudah berhasil lompati jembatan tersebut.

Tetapi setelah melewati jembatan pencabut nyawa itu, ditengahnya masih terdapat jarak yang cukup panjang, merupakan sebuah tebing yang kosong, sebaliknya cung cu beserta Liong ciang Houw jiauw Siang hui hok sekalian telah berada tidak jauh dari jembatan pencabut nyawa itu, dengan demikian sekali sebelum Pouw Jin Cui tiba di ujung tebing untuk menyembunyikan diri telah diketahui oleh mereka.

Tanpa sadar seluruh tubuh Siauw Ie basah kuyup oleh mengalirnya keringat dengan derasnya, diam-diam pikirnya:

“Apabila cici Cui diketahui oleh mereka, semuanya tentu akan berantakan”

Dalam keadaan yang sangat cemas, mendadak tanpa berpikir panjang lagi teriaknya dengan keras:

“Tolong…Tolong…!” Dugaannya ternyata benar, begitu suara teriaknya berkumandang segera terlihatlah beberapa orang itu memutar kembali arahnya menuju kearah dia berdiri dengan gerakan yang sangat cepat, dia tahu kalau siasatnya berhasil, segera dengan nada yang keras teriaknya lagi:

“Ada ular…ada ular…!”

Sambil berteriak tubuhnya ikut berloncat-loncatan dan melayang kearah perkampungan Ie hee cung dengan gerakannya yang amat lincah, setelah dilihatnya tempat itu tertutup dan sukar untuk melihat keadaan dibawah gunung, barulah dia pura-pura membungkuk berlagak seperti sedang memandang sesuatu sedang kakinya menjejak dengan kerasnya kearah dedaunan diatas tanah.

Begitu cung cu sekalian tiba dihadapannya segera dia dihujani dengan pertanyaan-pertanyaan:

“Siauw Ie, telah terjadi urusan apa?”

“Ooh, paman-paman, bagaimana sampai disini? Seekor ular, ooh.., ular beracun yang amat besar, kurang sedikit saja aku tergigit olehnya untung saja ketika itu aku melepaskan senjata rahasia hingga dia melarikan diri karena kesakitan”

Apa yang diucapkan Siauw Ie begitu lancar, lincah serta menyenangkan membuat beberapa orang itu sama sekali tidak menaruh curiga apa pun. Lebih-lebih si telapak naga yang bernama Lie Kian Po yang merupakan satu she dengan diri Siauw Ie, dengan penuh perasaan kuatir tanyanya:

“Siauw Ie, hari telah demikian malamnya tapi mengapa dan kenapa kau masih berada disini. Andaikata benar-benar kau sampai dipagut ular beracun bukankah hal ini hanya akan menyusahkan ibumu?”

Siauw Ie telah mendengar nasehat itu sekali pun dalam hati dia merasa sangat berterima kasih atas perhatiannya, tetapi diam-diam dia pun merasa geli. Sambil tersenyum dia menutup mulutnya tidak menjawab.

Tak disangka tiba-tiba terlihat Cung cu Pouw Sek San mendengus dengan dinginnya sambil mendesak dia memandang gusar kearah Siauw Ie.

Siauw Ie yang merupakan seorang gadis cilik yang sangat cerdik begitu melihat perubahan wajahnya segera teringat kemungkinan sekali dia gusar karena dirinya telah menyambitkan sebuah senjata rahasia Kiu cu gin ciam kearah Pouw Siauw Ling, dalam hati dia semakin gusar bercampur cemas sedang pikirannya terus berputar, pikirnya:

“Kenapa tidak sejak sekarang juga aku berusaha menguasai dirinya? Disamping bisa memaki dia dengan beberapa kata hingga rasa mangkal dalam hati menjadi berkurang, dengan demikian aku pun bisa mengulur waktu lebih lama lagi agar cici Cui mempunyai kesempatan untuk balik kembali”

Berpikir sampai disitu dia tidak ambil diam, air mukanya segera berubah menjadi sangat dingin, dengan nada yang serius ujarnya pada diri Pouw Cung cu:

“Paman cung cu, keponakan ada suatu hal yang perlu disampaikan kepadamu, entah paman mau tidak memberi kesempatan kepada keponakanmu ini?”

Cung cu tidak pernah menyangka dia bisa berbuat demikian, setelah tertegun beberapa saat lamanya barulah sahutnya:

“Ada urusan apa cepat kau katakana?”

“Sejak kecil keponakanmu ini telah kehilangan ayah dan aku menjadi besar berkat rawatan serta didikan dari ibu, aku sadar kalau tidak punya kekuatan didalam membantu melakukan pekerjaan yang menguntungkan bagi perkampungan kita dalam hatiku sering merasa sangat menyesal, aku semakin sedih…”

“Tentang ini aku sudah tahu jelas, buat apa kau banyak bicara?” potong Cung cu ketika dia mendengar yang dibicarakan semakin jauh.

“Bila semua menolong dan memberi bantuan kepada kalian ibu beranak sebenarnya sudah merupakan tugas kami, kau tak perlu berpikir lebih jauh lagi”

Siauw Ie menjadi mendelik, dengan gusar ujarnya lagi: “Sekali pun paman sekalian dengan setulus hati menjaga

serta membantu kami, tapi kakak Siauw Ling selamanya

berpura-pura baik, pada hal pekerjaannya hanya melulu mengganggu aku serta mencemooh diriku, bahkan adakalanya gerak-geriknya kurang sopan. Oleh karena itu tadi didalam keadaan yang amat gusar, keponakanmu telah menghadiahkan sebuah jarum Kiu cu gin ciam kepadanya, aku kira paman sekalian serta Cung cu tidak sampai menyalahkan tindakan kasar dari keponakanmu ini”

Atas dari kata-kata dari Siauw Ie yang tajam dan sukar dibantah itu membuat Pouw Sek San untuk sesaat lamanya tidak bisa menjawab. Siauw Ie yang melihat Cung cu dibuat tidak bisa berkutik oleh kata-katanya yang pedas serta tajam itu segera menambahnya lagi:

“Masih ada lagi, keponakanmu tahu kalau paman Pouw Cung cu telah mengutus orang untuk bertemu dengan ibu guna meminang diriku bagi kakak Siauw Ling, aku ingin paman menghapuskan niatmu ini untuk selamanya, aku merasa tidak sanggup untuk menerima penghargaan yang demikian tingginya”

Saking gusarnya air muka Pouw Sek san berubah menjadi putih kehijau-hijauan sekali pun hanya disoroti oleh sinar rembulan yang remang-remang, tetapi dapat terlihat dengan jelas, agaknya hawa amarahnya telah mencapai pada puncaknya, seluruh tubuhnya gemetar dengan keras, sedang untuk sesaat lamanya membuat dia merasa bingung harus berbuat bagaimana untuk memberi jawaban atas perkataan dari Siauw Ie itu.

Untung saja si telapak naga Lie Kiam Po yang melihat keadaan bertambah tegang segera memakinya:

“Siauw Ie, kenapa kau?”

Tak tertahan lagi Siauw Ie menangis tersengguk, sambil menahan isak tangisnya menyahut:

“Paman Kiam Po aku tidak apa-apa, aku benar-benar tidak tahan”

Beberapa orang lainnya melihat dia bersikap demikian, hanya bisa saling pandang memandang tanpa berkata-kata, untung saja pada saat itu Pouw Jin Cui muncul secara mendadak di tempat itu, dengan cepat dia menarik Siauw Ie menyingkir sambil ujarnya:

“Adik Ie, coba lihat sikapmu seperti anak kecil saja, mari kita pulang saja”

Siauw Ie melihat Pouw Jin Cui telah kembali keinginan untuk mengetahui keadaan Liem Tou mendesak dia untuk mengakui ajakan Pouw Jin Cui tanpa membantah.

Cung cu yang menerima makian tersebut juga tak dapat berbuat apa apa hingga terpaksa dengan hati yang mendongkol mengaajak keempat anak buahya melanjutkan untuk menjaga Sungai kematian tebing maut atau jembatan pencabut nyawa.

Lie Siauw le setelah meningalkan tempat semula dengan diri Pouiw Jin Cui tak tertahan lagi dengan gugup tanyanya.

“Cici Cui, kau sudah bertemu dengan dia ?”

Pouw Jin Cui mengangguk dengan sahutnya perlahan: “Bagaimana juga, dia tetap ingin menemui mu, sekalipun aku sudah bilang keadaan sangat berbahaya tetapi dia tetap menggelengkan kepala bahkan kukuh dengan pendiriannya untuk bertemu dengan kau.”

Mendengar perkataan itu bukan main rasa girang dalam hati Siauw Ie, tapi dibalik kegembiraannya itupun merasa sangat cemas, teringat olehnya dalam keadaan bahaya didalam saat men daki ketiga tempat bahaya itu, tak terasa jantungnya berdebar dengan keras, teriaknya dengan keras.

“Tidak, bagaimanapun juga dia tidak boleh datang, Cici Cui, sebelum tiba diatas gunung tentu dia telah dibunuh mati oleh mereka.”

“Adik le, untuk sementara kau tidak perlu cemas sekalipun adik Tou bilang pasti ingin menemui kau, tetapi dia juga bilang tidak akan sampai menemul bahaya.”

Mendengar itu Siauw le menjadi sangat he¬ran tanyanya: “Jika demikian adanya apa boleh dikata, benar-benar dia

telah memiliki kepandaian untuk melewati ketiga tempat

bahaya itu? Selain itu masih ada cara apalagi dia bisa datang menemui aku”

Pouw Jin Cui menggelengkan kepala tidak menjawab, padahal dalam hatinya diapun tidak tahu dengan cara apa Liem Tou bisa bertemu dengan Siauw Ie.

Terdengar Siauw Ie telah bertanya lagi:

“Katau begitu dia bilang kapan mau datang?”

“Katanya begitu terang tanah segera dia naik kegunung menemui kau.”

Ketika mengetahui kalau Liem Tou baru akan naik gunung setelah terang tanah, kedua orang itu setelah berunding sebentar segera pulang untuk beristirahat dan siap pada hari esoknya naik kepuncak menanti kedatangan Liem Tou. Setelah sampai dirumah tanpa tukar pakaian Siauw le segera naik kepembaringan, tetapi mana dia bisa tidur? Dalam otaknya telah penuh dengan bayangan Liem Tou, sepasang matanya melotot hingga jauh malam.

Tetapi akhirnya saking lelah serta sedihnya ketika hari mendekati fajar tanpa dapat tertahan lagi dia tertidur pulas.

Menanti dia mendusin kembali matahari telah jauh tinggi sekonyong konyong terdengar olehnnya suara ribut yang amat berisik dari orang orang perkampungan, agaknya telah terjadi sesuatu hal.

Dengan kecepatan yang luar biasa segera dia meloncat bangun dan lari keluar rumah, tetapi sebelum dia mencapai luar pintu secara tiba-tiba terdengar diantara suara yang amat ribut itu terdengar seorang menjerit kaget sambil ujarnya dengan keras:

"Aah, si Liem Tou yang malang telah tenggelam didalam sungai, Ooh..matinya sungguh mengenaskan sekali".

Ada pula yang berteriak:

“Jenazahnya segera akan dibawa balik keatas gunung oleh si Telapak naga paman Lie. 0oh Penguasa Liem hanya meninggalkan seorang putra dungu itu, kini dia telah mati tenggelam dalam sungai — - Ooh Thian sungguh kau tidak adil, kenapa penguasa Liem yang begitu baiknya diberi hukuman demikian beratnya."

Siauw le yang mendengar perkataan itu bagaikan disambar petir disiang hari bolong telinganya terasa berdengung dengan keras sedang darah didalam dadanya bergolak dengan kerasnya, seluruh tubuhnya gemetar dengan keras, air mukanya berubah menjadi putih kehijau-hijauan. Sedang tubuhnyo. dengan tertegun berdiri mematung ditempat, pada mulutnya tak henti hentinya berkemak-kemik: -Mungkin aku sedang bermimpi, apa mung¬kin aku bermimpi?? Mimpi ini sungguh menakutkan. Aku tidak ingin mimpi lagi , . ah . bagaimana adik Tou bisa mati tenggelam dalam sungai?? Orang lain menganggap dia tolol padahal sama sekali dia tidak bodoh, bagaimana bisa tenggelam dalam sungai? Tidak, tidak ,tentu aku sedang bermimpi..”

Sambil berkemak kemik mendadak dengan keras dia menjambak rambutnya sendiri, teriaknva dengan keras:

“Aku tidal mau mimpi lagi .. aku tidak mau... mimpi lagi

..Ooh aku sedang bermimpl."

Mendadak rambutnya yang dijambak menjadi rontok, sedang darah segar menetes keluar membasahi wajahnya, pada saat itulah dia baru tahu kalau dirinya sebenarnya bukan sedang bermimpi, pukulan batin kali ini semakin berat rasanya. Tiba-tiba sepasang matanya melotot keluar bagaikan seorang gila dengan cepat berlari kedepan sambil teriak dengan keras:

“Adik Tou. Kau sungguh kejam. Kiranya kau bilang pada fajar menyingsing hendak menemui aku ternyata dengan jalan ini, baiklah, kita akan segera bertemu, aku akan segera bertemu, aku segera akan menyusul dirimu”

“Adik le, kau jangan pergi, untuk sementara kau jangan pergi, Ie moay-moay, dengarlah perkataanku, untuk sementara kau jangan pergi”

Ketika berkata sampai disitu air matanya tak tertahan lagi menetes keluar membasahi wajahnya, pada saat seperti ini mana mungkin Siauw Ie mau mendengar perkataannya sambil berlari terus kedepan mulutnya tetap berteriak-teriak:

“Aku mau menemui dia, aku mau menemui dia”

Pouw Jin Cui melihat, mencegahpun tak ada gunanya terpaksa melepaskan Siauw Ie yang meneruskan larinya, sedang dirinya sambil meneteskan air mata berjalan disamping tubuhnya untuk mencegah terjadinya sesuatu hal yang tidak diinginkan.

Dengan melototkan sepasang matanya serta air muka yang telah berubah hijau membesi, Siauw Ie terus lari menerjang kedepan, tidak perduli dimukanya ada orang atau tidak dia tetap menerjang kedepan. Semua orangyang melihat perubahan wajahnya tak terasa lagi pada menyingkir dengan sendirinya.

Baru saja dia berlari sampai didepan perkampungan dilihatnya si Telapak naga Lie Kiam Po dengan membawa sesosok mayat yang basah kuyup berjalan mendatang, kedua belah sampingnya berjalanlah Cung cu perkampungan Ie hee cung, Houw jiauw, Sian hui hok serta Pouw Siauw Ling lima orang, air muka semua orang terlihat sangat serius serta berat kecuali Pouw Siauw Ling seorang yang masih menampilkan senyuman ejeknya.

Siauw Ie begitu tiba pada jarak yang tidak begitu jauh dari beberapa orang itu, secara mendadak dia memperlambat langkah kakinya, bahkan boleh dikata saking lambatnya hingga sukar dilukiskan.

Pouw Jin Cui yang berdiri disampingnya pun merasa hatinya berdebar dengan keras, dia tak dapat menduga bakal terjadi peristiwa apa.

Rombongan Cung cu sekalian ketika sampai di hadapan Siauw Ie dan melihat air mukanya sangat aneh, tanpa disadari oleh mereka bersama-sama menghentikan langkah kakinya, sepasang mata Siauw Ie terlihat makin memancarkan sinar merah berapi-api menahan kegusarannya, sambil menuding kearah si Telapak naga bentaknya:

“Lepaskan dia keatas tanah”

Si Telapak naga Lie Kiam Po yang dibentak secara demikian dihadapan orang banyak semula menjadi tertegun, kemudian disusul dengan hawa amarah yang meluap. Baru saja dia hendak memaki atas kekurang ajaran dari Siauw Ie itu, dilihatnya Pouw Jin Cui yang berdiri disampingnya telah memberi kerdipan mata sebagai tanda, sambil berebut maju satu langkah kedepan ujarnya:

“Paman Kian Po, jangan gusar, ikutilah permintaan dari Siauw Ie moay itu”

Lie Kian Po melihat air muka kedua orang gadis itu berbeda dari keadaan biasa segera tahu kalau didalam hal ini pasti terselip suatu sebab tak terasa dia menoleh memandang kearah cung cu minta persetujuannya, dengan perlahan cung cu mengangguk menyetujui, kemudian membalikkan tubuhnya berlalu dari tempat itu.

Terpaksa Lie Kian Po melepaskan mayat yang telah menjadi kaku itu, Siauw Ie segera mengenali mayat itu bukan lain dari Liem Tou adanya.

Terlihat perutnya kembung menandakan kalau dia baru saja kenyang minum air sungai, hanyalah biarpun dia suduh putus napas dan matanya tertutup rapat, air mukanya masih tetap segar bugar, sedikit pun tidak memperlihatkan tanda seorang yang telah binasa, hanya rambutnya saja yang tidak karuan sedang warna kulitnya pun sedikit berubah kehitam- hitaman.

Siauw Ie yang memandang kearah jenazah itu makin dilihat hatinya semakin sedih, terasa suatu aliran yang amat panas dengan cepat mengalir keseluruh tubuhnya, tak terasa seluruh tubuhnya gemetar dengan keras. Dia tak dapat mempertahankan dirinya lagi bagaikan seluruh tubuhnya serasa hendak meledak mendadak dengan menjerit keras dengan cepat dia menubruk keatas tubuh Liem Tou yang telah berubah menjadi mayat sedang air matanya menetes keluar dengan derasnya, teriaknya dengan keras.

“Adik Tou..adik Tou kau tak boleh mati, aku disampingmu, bukalah matamu, aku berada disampingmu..Ooh..adik Tou..” Suara tangisannya yang demikian sedih membuat suasana disekeliling tempat itu diliputi oleh kesedihan, sedang Pouw Jin Cui pun tak dapat menahan menetesnya air mata demikian juga sekalian orang-orang juga merasa sangat sedih akan terjadinya kisah ini, hanya Pouw Siauw Ling yang merasa senang, pada bibirnya tersungging suatu senyuman mengejek, sedikitpun tak tergerak hatinya melihat kepedihan itu.

Setelah menangis dengan sedihnya beberapa waktu lamanya dengan keadaan yang tak sadar benar dia membopong jenazah dari Liem Tou dan meninggalkan tempat itu dengan cepat. Beberapa orang yang berada disekeliling tempat itu menjadi sangat terkejut dengan cepat mereka berusaha menghalangi tindakan dari Siauw Ie itu sedang Pouw Jin Cui dengan cepat bertanya:

“Adik Ie kau hendak kemana?”

Tapi Siauw Ie hanya sedikit mengangkat kepalanya saja dengan dinginnya dia memandang sekejap kearah beberapa orang itu, kemudian melanjutkan lagi berjalan kedepan.

Orang-orang itu menjadi semakin bingung harus berbuat bagaimana baiknya, ketika Siauw Ie berjalan sampai dihadapannya dengan tanpa sadar mereka menyingkir memberi jalan, kemungkinan sekali mereka terpengaruh oleh sikapnya yang serius, berwibawa serta dapat menguasai orang lain tanpa sadar.

Sambil membopong jenazah dari Liem Tou, dengan langkah yang perlahan Siauw Ie berjalan melewati perkampungan Ie hee cung kemudian meneruskan perjalanannya menuju kebelakang kampong ditengah sebuah hutan yang sunyi.

Setelah berjalan keluar dari perkampunga, Pouw Jin Cui kuatir terjadi sesuatu hal dengan diri Siauw Ie segera mengikuti terus dibelakang tubuhnya, tetapi tiba-tiba terdengar dengan nada yang rendah ujar Siauw Ie: “Cici Cui, aku sangat berterima kasih atas perasaan simpatikmu. Kini kau boleh kembali, adik Ie mu tak mungkin akan berbuat hal-hal yang nekad”

Sekalipun Pouw Jin Cui mendengar dia berkata dengan tegas, tetapi hatinya tetap merasa kuatir, baru saja mau memberikan jawabannya Siauw Ie telah melanjutkan lagi:

“Cici Cui, coba pikirlah dirumah aku masih ada ibu, apa mungkin aku bisa berbuat sesuatu yang nekad? Aku hanya ingin berdua dengan Liem Tou ditempat yang sunyi, lebih baik kau pulang terlebih dulu, orang-orang yang mengikuti dibelakangku tolong cici uruskan, adikmu tentu akan merasa sangat berterima kasih”

Setelah mendengar perkataan dan dipikirnya bolak-balik, Pouw Jin Cui merasakan kalau perkataannya sangat beralasan, segera dia mengikuti apa yang diucapkan untuk melaksanakannya, terlihatlah dengan perlahan-lahan Siauw Ie berjalan masuk kesebuah hutan yang lebat dibelakang perkampungan Ie hee cung.

Siauw Ie segera membawa jenazahnya Liem Tou yang telah kaku kedalam hutan yang berada disitu, ketika itu juga didalam pikirannya timbui kenangan lama sewaktu masih bermain main dan berjalan jalan bersama dirinya terasa air matanya menetes keluar semakin deras, setelah terpekur beberapa saat kemudian ujarnya seorang diri:

"Adik Tou, masih ingatkah dulu ketika kau bermain bersama ditempat ini derganku? Suara siulan dari dedaunan juga kau belajar dari aku ditemnat ini. Mereka bilang kau anak gobloke padahal hanya cukup dua kali saja aku memberitahu padamu kau sudah bisa."

Sambil berkata tak terasa air mukanya jatuh menetes keatas wajah Liem Tou dia mengawasi kekasihnya dengan penuh haru. Pada saat itulah tubuh yang semula telah mulai kaku kini menjadi lemas secara tiba tiba. Tak terasa Siauw le menjadi sangat terkejut. Tetapi dari dalam hatinya segera terlintaslah suatu pikiran, diam-diam batinnya:

'Apa mungkin adik Tou telah, merasakan kesedihanku, hingga roh halusnya hendak munculkan diri dihadapanku?”

Ketika berpikir sampai disitu dia tidak merasa terkejut lagi, sambil meneruskan perjalanannya menuju kedalam rimba mulutnya bergumam dengan perlahan:

“Adik Tou. Mari kita pergi lihat tempat kita beristirahat sewaktu telah lelah, tempat itu hingga kini tak seorang pun yang mengetahuinya. Adik Tou, mau tidak? Lihatlah, sudah hampir tiba!”

Pada saat itu Siauw Ie telah berjalan kearah lereng dibelakang puncak Ha Mo Leng, sesampainya dibawah sebuah pohon yang amat lebat dia berhenti ujarnya lagi:

“Adik Tou, kita telah sampai..”

Sambil berkata dia meletakkan jenazah Liem Tou kebawah pohon, sedang dia sendiri duduk termenung disampingnya, dengan terpesona memandang awan awan yang bergerak dan beriring itu diten gah udara, sebentar dia tertawa sendiri sebentar meneteskan air matanya dan menangis dengan sedihnya.

Sekonyong konyong. dilihatnya dedaunan serta cabang

pada pohon yang besar diatas kepalauya tanpa sebab ternyata bargoyang sendiri padahal waktu itu tak ada angin yang sedang bertiup, dia merasa sangat heran dan bingung, apa yang telah terjadi? Dengan cepat dia melompat bangun dan termangu-mangu memandang kearah jenazah Liem Tou keatas tanah perutnya yang kencang dengan air sungai masih terlihat mengembang dengan besarnya hingga menyerupai sebuah gundukan gunung kecil, siapa tahu dalam sekejap saja telah lenyap tak tanpa bekas. Setelah termangu-mangu memandang beberapa saat ketika Siauw Ie melihat perubahan dari perut Liem Tou tidak menampilkan perubahan aneh lainnya barulah dia merasa lega dan berjalan ketempat semula, setelah berpikir bolak-balik sambil menghela napas ujarnya lagi:

“Adik Tou kau pergilah dengan hati yang tenang, selama hidup cicimu akan selalu mengingat dirimu, tetapi dunia dan alam baka berpisah jauh, entah titik apa akan selalu mengingat cicimu?” Sambil berkata dia menghela napas panjang.

“Akan kuingat selalu. Sekalipun aku teiah berubah menjadi setan aku akan selalu ingat diri Cici. Ciciku yang tercinta kau tak usah kuatir tak akan kulupa diri Clci untuk selamanya”

Siauw Ie merasakan kalau suara itu berasal dari tubuh Liem Tou yang berbaring disampingnya, dia rnenjadi sangat kaget, tak terasa bulu tengkuknya pada berdiri semua.

Tiba tiba dilihatnya Lim Tou mulai meluruskan kakinya dan merangkak bangun dengan perlahan-lahan dari atas tanah, rasa terkejutnya kali ini bukan alang kepalang dengan kecepatan kilat dia segera meloncat bangun tangannya dengan kencang mencekal beberapa batang jarum perak dengan keraas bentaknya:

"Kau--- kau manusia atau setan!"

Dengan lagak yang ketolol-tololan Liem Tou tersenyum setelah membereskan rambutnya yang basah ujarnya:

“Cici Ie kau jangan demikian galaknya, adik mu adalah manusia bukan setan"

Siauw Ie tetap tidak mau percaya satelah berdiam diri selama beberapa waktu dengan perlahan barulah dia memegang Liem Tou, tapi dengan cepat ditariknya kembali ujarnya:

“Kalau manusia kenapa tanganmu demikian dinginnya?” "Adikmu telah merendamkan diri didalam air sangat lama sekali hingga sekarang merasa kedinginan. Cici maukah sekarang kau memberi kehangatan tubuh kepadaku?"

Slauw le tersipu sipu karena malunya, sambil tersenyum manis dia memandang tajam ke arah Liem Tou, tetapi tiba tiba dia melelehkan air matanya kembali ujarnya dengan sedih:

"Apabila adik Tou benar-benar binasa, Cici mu juga tak mau hidup lebih lama lagi.”

Liem Tou tidak menjawab, hanya dengan senyuman yang ketolol-tololan memandang diri Siauw Ie.

ooooOOoooo

Adapun perkumpulan Ie Hee Cung yang terdiri dari keluarga Lie serta keluarga Pouw, pada ratusan tahun yang lalu mereka merupakan suatu keluarga yang bekerja sebagai pengusaha Piau kok atau pengawal barang-barang angkutan.

Oleh karena hasil usaha mereka banyak menanam permusuhan, untuk menghindarkan diri dari pembalasan dendam orang-orang jahat terpaksa dengan membawa seluruh keluarga mengasingkan diri ketempat yang sunyi.

Tahun ketemu tahun anak beranak mereka semakin banyak akhirnya dari perkampungan yang kecil berubah menjadi perkampungan besar.

Sedangkan ayab dari Liem Tou yaitu Liem Han San merupakan seorang Siucay atau terpelajar yang mempunyai kepandaian sangat tinggi didalam bidang Bun atau surat menyurat. Oleh Lie Ek Beng Cung Cu yang terdahulu dia diundang datang kedalam perkampungan untuk memberikan pelajaran surat kepada penduduk kampung pada saat itu Liem Tou baru berusia lima enam tahun, sifatnya yang pendiam serta alim itu membuat dia suka menyendiri. Padahal anak- anak yang sebaya dengannya semuanya telah memperoleh pelajaran silat, sudah tentu tubuhnya jauh lebih kekar serta gesit dari dirinya.

Hanya dia seorang diri yang paling lemah tanpa memiliki kepandaian apa pun, lagipula penduduk kampung itu sangat benci terhadap orang luar, tak heran kalau Liem Tou sama sekali tidak diberi pelajaran silat.