Raja Silat Jilid 38

 
Jilid 38

Begitu tubuhnya mencapai permukaan tanah mendadak terdengar suara seseorang dari antara delapan orang itu membentak keras : "Setan cilik nyalimu sungguh tidak kecil, malam ini kau bisa datang jangan harap bisa pergi dalam Keadaan selamat."

Diikuti suara bentakan tersebut cahaya emas berkelebat menyilaukan mata, senjata rahasia yang menyilaukan mata dengan disertai suara sambaran angin yang tajam menghajar tubuh Pouw Siauw Ling.

Untung saja Pouw Siauw Ling memiliki kepandaian silat yang amat lihai dan nyali yang besar pula, dengan sedikitpun tidak gugup cambuk panjangnya digetarkan ke depan membentuk bunga-bunga cambuk yang amat banyak melindungi seluruh jalan darah di tubuhnya; diikuti suitan nyaring dan berseru dengan lantangnya:

"Tindakan dari Sin Beng Kauw sungguh kejam sekali, aku Pouw Siauw Ling hendak meminta beberapa petunjuk dari kalian."

Siapa tahu baru saja dia selesai berkata mendadak . . . "Aduuh ...!" teriaknya keras, di atas kakinya tanpa terasa

sudah kena dihajar sebatang senjata rahasia; seketika itu juga

dia merasa kakinya jadi kaku. Dalam hatipun dia lantas tahu kalau senjata rahasia tersebut mengandung racun jahat, tubuhnya sedikit menggetar, tak kuasa lagi dia jatuhkan diri ke dalam sungai. Dia orang mimpipun tidak pernah menduga kalau sebelum rintangan kedua ini berhasil ditembusi, kakinya sudah terhajar senjata rahasia berbisa, teringat akan jerih payahnya selama setahun ini di atas gunung Soat san ditambah pala dendam ayahnya belum terbalas membuat Hatinya merasa amat kecewa.

Matanya mulai berkunang-kunang, kepala terasa amat pusing sukar ditahan sedang badan pun jadi amat lemas, mendadak dia jadi sadar kembali; sambil menggigit kencang bibirnya ia berseru:

"Siauw Ling! Siauw Ling! Apa kau rela menemui ajalmu dengan demikian saja? Apakah kau tidak mencari kesempatan untuk mempertahankan hidupmu?"

Setelah pikiran tersebut dengan cepat berkelebat di dalam benaknya, semangat pun berkobar kembali, mendadak dia membentak keras:

"Baik! hari ini biar aku Pouw Siauw Ling sebelum harus menemui ajalnya di dalam lembah tak bernama ini, harus kubasmi kalian bajingan-bajingan terkutuk!"

Sehabis membentak tubuhnya yang hampir terjatuh ke dalam sungai itu kembali mencelat ke atas, cambuk Pek Kuk Mo Piannya dengan membawa angin serangan yang menderu segera menubruk ke arah delapan orang lelaki berbaju hitam itu.

Hanya di dalam sekejap saja dia sudah berhasil memukul mundur mereka berdelapan diikuti cambuknya digetarkan membentuk tombak panjang bagaikan kilat cepatnya meluncur ke arah Be Ci Hoa. Melihat datangnya serangan itu, Be Ci Hoa jadi amat terperanjat; kaki kirinya bergeser ke samping mundur setengah langkah untuk menyingkir.

Siapa tahu gerakan cambuk dari Pouw Siauw Ling ini amat aneh dan dahsyat sekali, di tengah getaran pergelangan tangannya, cambuk itu mendadak memutar dan tepat melingkar bagian leher Be Ci Hoa.

Terburu-buru dia lantas mencengkeram cambuknya siap untuk melepaskan diri dari libatan tersebut.

"Be Ci Hoa!" terdengar Pouw Siauw Ling membentak keras. "Tahun besok adalah ulang tahun yang pertama dari kematianmu!"

Dia menarik napas panjang panjang; cambuk itu digetarkan lalu ditarik ke belakang. Seketika itu juga telapak tangan dari Be Ci Hoa yang sedang mencekal tubuh cambuk itu tergetar pecah diikuti cambuk tersebut bagaikan seekor ular melibat ke lehernya semakin kencang.

"Akh ...!" di tengah suara teriakan yang amat mengerikan tubuhnya rubuh ke atas tanah dengan lidah terjulur keluar, dari mata hidung serta mulutnya mengucur keluar darah segar dengan banyaknya.

Waktu itu wajah Pouw Siauw Ling sudah berubah menghijau, dia tahu racun yang bersarang di dalam tubuhnya sudah mulai bekerja.

Hatinya jadi semakin gusar setelah cambuknya berhasil membinasakan diri Be Ci Hoa kembali menyerang ke depan.

Waktu itulah mendadak segulung angin pukulan menerjang dari belakang tubuhnya, di dalam keadaan terkejut buru-buru ia putar cambuknya ke belakang lalu menyapu ke arah bawah.

Dengan mengambil kesempatan itulah tubuhnya meluncur ke depan, bagaikan kilat cepatnya dia menggerakkan tangannya menyambar ke kiri kanan dengan dahsyatnya seketika itu juga cambuknya sudah memecah jadi tiga bagian menyerbu ke empat penjuru.

Kedelapan orang berbaju hitam itu bukan lain adalah kedelapan pelindung lukisan perkumpulan Sin Beng Kauw yang semula adalah manusia-manusia yang tak bernama sudah tentu mereka tak akan bisa menahan serangan cambuk dari Pouw Siauw Ling yang menggunakan ilmu cambuk Suo Kuk Mo Pian ini.

Waktu itu juga terdengar dua orang menjerit ngeri, dada dan pundaknya sudah kena ditembusi oleh serangan dari Pouw Siauw Ling sehingga satu mati satu terluka.

Tidak sampai disitu saja, Pouw Siauw Ling kembali memutar cambuknya ke depan dan melancarkan jurus-jurus serangan yang mematikan sedang diam-diam dia mulai mengerahkan tenaga dalam Kioe Im Tong Ci Lo Han Kangnya yang amat lihai.

Hanya di dalam sekejap mata saja sisanya lima orang kena dikurung di dalam serangan cambuk yang dahsyat itu. Waktu ini bilamana dia bermaksud untuk membereskan nyawa mereka berlima sangat gampang sekali bagaikan membalik telapak tangan saja.

Tetapi pikirannya waktu itu sudah berubah mendadak, permainan cambuknva diubah tampaklah bayangan putih berkelebat menyilukan mata di antara orang-orang itu.

Belum sempat kelima orang itu mengerti apa yang sudah terjadi tahutahu tubuhnya terasa jadi lemas, mereka sudah kena ditotok jalan darah lemasnya.

Dengan membawa serta cambuknya Pouw Siauw Ling melanjutkan kembali gerakannya meloncat sejauh beberapa depa dan meluncur ke arah pintu kuil itu. Baru saja dia bermaksud untuk melewati tembok, mendadak kepalanya terasa semakin pening. Dia tahu daya racun tersebut sudah mulai bekerja di dalam tubuhnya!

Terburu-buru tenaga murninya disalurkan untuk mendesak racun itu ke sudut sedang tubuhnya melanjutkan gerakannya melompat ke depan pintu kuil.

Waktu itu pintu kuil terpentang lebar lebar, dua orang penjaga yang ada di sana sudah tertidur dengan pulasnya di samping.

Walaupun Pouw Siauw Ling merasa keheranan dengan kejadian itu tapi tidak ada waktu baginya untuk berpikir lebih lanjut, tubuhnya dengan cepat menerjang masuk ke dalam kuil.

Setelah melalui sebuah halaman yang luas sampailah dia orang di dalam sebuah ruangan yang besar.

Waktu itulah mendadak telinganya dapat menangkap suara bentrokan senjata yang amat ramai diselingi suara bentrokan keras berkumandang keluar dari belakang kuil.

Pouw Siauw Ling jadi melengak dibuatnya, dengan cepat tubuhnya melayang ke depan dan lari ke ruangan belakang.

Tampaklah olehnya seorang perempuan dengan ikat kepala hijau sedang dikurung oleh dua orang lelaki berbaju hitam dengan lukisan obor berwarna biru, kedua orang lelaki itu berjenggot panjang, sedang usianya ada lima, enam puluh tahunan sedangkan perempuan tersebut bukan lain adalah perempuan yang ditemuinya sewaktu ada di rumah makan tadi.

Selagi Pouw Siauw Ling berdiri murung itulah mendadak terdengar gedis berbaju hitam itu membentak keras:

"Eeeei... buat apa berdiri termenung di sini? cepat masuk ke dalam ruangan paling belakang untuk menemui kauwcu. Untuk sementara biarlah aku orang ikut dulu kedua orang jagoan dari tingkatan warna biru ini."

Setelah diperingatkan oieh gadis tersebut, Pouw Siauw Ling jadi sadar kembali dengan cepat dia putar tubuh dan menyingkir ke samping untuk lari ke belakang ruangan.

Mendadak:

"Liem Tou, kau tidak akan berhasil melarikan diri dari sini," teriak seorang lelaki tua berbaju hitam dengan kerasnya.

Sebatang senjata rahasia dengan disertai suara desiran yang amat tajam dengan dahsyatnya menyambar datang.

Pouw Siauw Ling yang kena dihajar oleh senjata rahasia dalam hati sudah menaruh dendam terhadap pelepas senjata rahasia itu, dia sebenarnya sudah melangkah keluar dari tempat itu mendadak berhenti dan putar badannya kembali, lalu dengan pandangan dingin dia melototi orang tua tersebut.

"Kalian berdua sungguh goblok dan buta matamu, aku beritahu kepadamu dia bukanlah Liem Tou," terdengar gadis berbaju hitam itu menegur.

Kembali dia melancarkan pukulan dahsyat mendesak kedua orang itu mundur tiga langkah ke belakang; setelah itu kepada Pouw Siauw Ling ujarnya:

"Cepat pergi    cepat pergi! Buat apa kau balik kembali

kemari? Walaupun mereka berdua sangat lihay tetapi belum tentu bisa melukai diriku."

Kembali Pouw Siauw Ling tertawa dingin.

"Terima kasih atas perhatian yang nona berikan kepaaaku; aku Pouw Siauw Ling merasa sangat berterima kasih sekali tetapi kedua orang bajingan tua ini harus aku hajar dulu, harap nona suka menyingkir untuk sementara waktu."

Gadis berbaju hitam itu memangnya tidak tahu kalau Pouw Siauw Ling sudah kena racun; melihat dia orang tidak suka pergi bahkan hendak menempuri mereka berdua diapun lantas mengundurkan dirinya ke samping kalangan.

Pouw Siauw Ling mendengus dingin mendadak kakinya menginjak kedudukan Tiong-Koan lalu bergeser ke kedudukan Hong Bun, lalu dengan hebatnya menyerang ke arah si orang tua yang ada di samping kanan.

Tetapi waktu itulah pukulan si orang tua yang ada di sebelah kiri sudah meluncur datang.

Melihat serangan tersebut diam-diam Pouw Siauw Ling lantas berpikir :

"Biarlah aku menerima datargcya pukulan tersebut dengan keras lawan keras."

Telapak kirinya dengan cepat dibabat ke depan menangkis datangnya serangan tersebut dengan keras lawan keras.

"Brak . . . !" dengan cepstnya dua gulung angin pukulan menjadi satu.

Si orang tua yang baru saja melancarkan serangan itu kontan kena digetar mundur sejauh dua langkah ke belakang sebaliknya Pouw Siauw Ling merasa tubuhnya tergetar amat keras, matanya berkunang-kunang sedang kepalanya terasa amat pening.

Kakinya jadi lemas sehingga tak kuasa lagi tubuhnya mulai gontai, dia tahu racun yang bersarang di dalam tubuhnya sudah mulai bekerja.

Teringat akan dirinya yang berada dalam keadaan bahaya pemuda itu dengan paksakan diri menggigit kencang bibirnya lalu dengan sempoyongan menyingkir ke pintu.

"Aku sudah kena racun, harap nona suka mencegat mereka berdua aku pergi dulu," teriaknya.

"Baik! kau pergilah dulu, mereka tak akan lolos dari tanganku," sahut gadis berbaju hitam itu. Sepasang telapak tangannya dengan cepat dibabat ke depan melancarkan serangan berantai menutup jalan pergi dari kedua orang itu, setelah itu memberi kesempatan kepada Pouw Siauw Ling untuk meloncat keluar dari kalangan.

Mereka berdua yang tadi sudah merasakan pahit getirnya di bawah serangan pukulan gadis itu, saat ini melihat dia orang menghalangi perjalanannya terpaksa pada menarik kembali serangannya dan mundur kebelakang»

Dengan cepatnya Pouw Siauw Ling lari keluar dari ruangan tersebut, dia mengerti tiga rintangan sudah berhasil dilalui olehnya tetapi luka yang dideritapun terasa semakin parah.

Dengan menahan rasa sakit yang amat luar biasa dia masuk ke ruangan belakang dengan langkah sempoyongan.

Sembari berjalan teriaknya dengan keras:

Hey Boe Beng Tok Su! Kau sungguh kejam, ayoh cepat keluar, aku mau bertanding dengan dirimu."

Dia berhenti sebentar untuk mengatur napas. Setelah itu sambungnya lagi;

"Sebetulnya aku mau bertemn dengan dirimu dengan menggunakan peraturan, tak disangka tindakanmu amat kejam sekaii. Walaupun mati, akupun tak rela. Ayoh cepat keluar, aku mau lihat seberapa ilhai kepandaian silatmu!"

Sesampainya di ruangan belakang, tampakllah sebuah pintu kecil muncul di hadapannya.

Pemuda itu tak pedulikan apakah disana ada penjaganya atau tidak dengan cepat tubuhnya menerjang ke depan.

Di balik pintu adalah sebuah halaman, walaupun tidak luas tapi diatur dengan amat rapi dan bersihnya.

Kurang lebih tiga puluh kaki di depan halaman itu kembali muncul suatu ruangan yang amat megah dengan di atasnya terpancang sebuah papan nama dengan ukiran kata-kata "Boe Beng Tong."

Dalam hati pemuda itu lalu mengerti ruang an inilah tempat peristirahatan dari Boe Beng Tak Su itu.

Samhil menarik napas panjang-panjang tubuhnya dengan cepat meluncur ke depan ruangan itu, bentaknya:

"Hey Boe Beng Tok Su. Ayoh lekas menggelinding keluar.

Seorang kauwcu dari suatu perkumpulan apakah penakut seperti cucu kura-kura semacam kau? Kalau kau tidak suka keluar juga jangan salahkan aku bakar habis sarang kura- kuramu ini..>"

Walaupun Pouw Siauw Ling sudah berteriak beberapa kali tetap tak terdengar juga suara sahutan, hawa amarah yang bergolak di dalam tubuhnyapun tak bisa dikuasai lagi.

Tubuhnya dengan cepat menerjang ke depan dengan kalapnya. Baru saja beberapa tindak dia berjalan, tubuhnya kembali sempoyongan sukar untuk berdiri.

Hatinya jadi amat cemas sekali pikirnya :

Bilamana aku Pouw Siauw Ling harus mati didalam lembah tak bernama ini tanpa bisa menemui wajah Boe Beng Tok Su itu bukankah diriku sangat tak berharga ?

Berpikir sampai disini tak kuasa lagi dia menghela napas panjang, kakinya semakin lemas . . .

Waktu itulah mendadak dari dalam ruangan Boe Beng tong berkumandang keluar suara tertawa terbahak-bahak yang amat keras membuat pemuda itu merasakan telinganya tergetar dengan amat keras sekali.

Dengan paksakan diri dia menggigit bibirnya kencang- kencang, matanya melotot lebar-lebar sedang tubuhnya dengan paksakan diri berdiri tegak. "Haa ... haa ... Thian sungguh punya mata!" terdengar orang yang ada di dalam ruangan itu berseru dengan suaranya yang amat berat. "Liem Tou! Aku dengar kau hendak membuka suatu perjamuan di atas gunung Cing Shia untuk mengawini putri dan murid dari Lie Seng si capgkul sakti. Aku memangnya lagi mencari dirimu kini kau mendatangi tempat ini sendiri heee... hee... hee ..., kau tak bakal lolos dari tanganku."

Walaupun pada saat ini Pouw Siauw Ling masih berdiri tegak tapi kesadarannya sudah mulai punah, kini setelah mendengar nama Liem Tou, rasa dendam yang tersimpan di dalam dadanya kembali tergolak keras.

"Liem Tou! Kau ada dimana? Aku bunuh dirimu!" bentaknya tak terasa lagi.

Tubuhnya tidak kuasa untuk mempertahankan diri lebih lama lagi, begitu kata-kata terakhir diucapkan keluar, tubuhnyapun ikut rubuh ke atas tanah.

Pouw Siauw Ling sama sekali tidak menyangka kalau perkataan terakhir yang diucapkan dalam keadaan tidak sadar itu sudah menolong nyawanya dari kematian.

Sewaktu tubuhnya belum rubuh ke atas tanah itulah tampak sesosok bayangan manusia dengan amat cepatnya meluncur datang melancarkan serangan menotok ke tujuh buah jalan darah penting di tubuh Pouw Siauw Ling diikuti tangannya menyambar membawa dirinya masuk ke dalam ruangan Bie Beng Tong.

"Keponakan Ci Sie!" Tiba-tiba terdengar suara yang amat nyaring dari seorang perempuan bergema dari balik pohon. "Jangan kau kira setelah bersembunyi di dalam lembah ini maka tak akan ada orang yang bisa menemukan dirimu, aku sekarang mau bertanya padamu, apakah tujuan dari perkumpulan Sin Beng Kauwmu ini? Orang yang ada di tanganmu ini kau orang siap hendak apakan dirinya?" Kiranya Kauw cu dari perkumpulan Sin Beng Kauw ini bukan lain adalah Sun Ci Sie, anak murid dari si hweeshio gundul tujuh jari itu.

Setelah dia terluka dan melarikan diri ke gunung dengan membawa kitab pusaka 'Cian Tok Kian Toh' setengah tahun lamanya dia mendalami ilmunya dengan mempelajari kitab itu, walaupun kepandaiannya belum mencapai kesempurnaan tapi separuh bagian boleh dikata sudah berhasil dia kuasai terutama sekali ilmu menyambit senjata rahasia beracun, boleh dikata sangat mahir sekali.

Setelah lewat setengah tahun dia mulai membentuk perkumpulan Sin Beng Kauw dengan siang cu. Ciang koan dan Ketua cabang yang terdiri dari para anak buah si Hweeshio tujuh jari tempo hari.

Demikianlah sejak itu dia bertindak sebagai Kauw cunya dan malang melintang di dunia kangouw.

Berkat kepandaian yang lihai maka hanya di dalam setengah tahun saja pengaruhnya sudah amat luas sekali di dalam dunia kangouw.

Boe Beng Tok Su yang mendengar perkataan tersebut dia pun lantas mengerti kalau suara itu berasal dari nada suara bibinya si perempuan tunggal yang berkawan dengan Liem Tou karenanya tempo hari sudah perseni jarum emas kepadanya.

Sama sekali tak disangkanya ini hari mendadak bisa muncul kembali di sini untuk mencari dirinya.

Boe Beng Tok Su sama sekali tidak menunjukkan reaksi apa-apa; dengan perlahan dia angkat kepalanya dan melirik sekejap ke arah gerombolan pepohonan, pikirnya:

"Kini dia orang sudah menunjukkan dirinya di dalam lembah tanpa nama ini, sudah tentu Liem Tou si bangsat cilik itu pun sudah tiba pula!" Dengan perlahan kepalanya menoleh dan memandang sekejap ke arah Pouw Siauw Ling, pikirannya kembali berputar.

"Tadi dia orang berteriak hendak membinasakan Liem Tou, jelas bukanlah satu komplotan dengan bangsat tersebut. Lalu siapakah dirinya? Be Ci Hoa bilang dia adalah Liem Tou padahal dia bukanlah bangsat cilik itu, aku sama sekali tak kenal dengan dirinya. Ada urusan apakah dengan menempuh bahaya dia orang masuk ke dalam lembah tanpa nama untuk menemui diriku?"

Walaupun pikirannya sudah diperas beberapa waktu lamanya tak didapatkan juga jawabnya.

Waktu itulah terdengar si perempuan tunggal Touw Hong sudah berseru:

"Ci sie! Aku mau bertanya padamu, apakah tujuan dari perkumpulan Sin Beng Kauw? Kau hendak mencelakai dunia kangouw?"

Boe Beng Tok Su yang mendengar berulang kali dia meneriakkan sebutan Ci Sie, hatinya sudah amat gusar sekali.

Justru dia menggunakan nama Boe Beng Tok Su adalah bermaksud hendak melupakan namanya yang semula Sun Cie Sie, kini mendengar si perempuan tunggal Touw Hong berulang kali sebut dia begitu, air mukanya berubah hebat.

Beberapa saat kemudian tampak ranting bergoyang, sesosok bayangan hitam dengan cepatnya meloncat keluar lalu melayang turun ke atas tanah.

"Siapa yang bernama Ci Sie?" terdengar Boe Beng Tok Su membentak gusar. "Apa sangkut pautnya tujuan Sin Beng Kauw dengan dirimu?"

Sepasang telapak tangannya bersama-sama diayunkan ke depan. Sepuluh batang jarum beracun bagaikan kilat meluncur keluar dari antara kesepuluh jarinya dan mengancam seluruh jalan darah kematian dari si perempuan tunggal. Si perempuan tunggal yang mengetahu Sun Ci Sie telah memperoleh kitab pusaka 'Cian Tok Kian Toh" dalam hati pun mengerti kalau dia pasti memiliki serangan yang mematikan, sejak semula dia sudah mengadakan persiapan.

Begitu melihat Boe Beng Tok Su menggerakkan pundaknya; dengan cepat tangan kirinya menyambar sebatang ranting kayu dan meminjam kesempatan itu meloncat kembali ke dalam gerombolan pepohonan.

"Ci Sie! Tak kusangka kau orang sudah berubah begitu tak berbudi bagaikan seekor binatang," serunya dengan serius. "Aku sudah pergi kemana-mana pun untuk mencari jejakmu bahkan menggunakan waktu setahun untuk mencari dirimu ke dalam lembah ini; siapa sangka kau bersikap begitu kurang ajar dan kejam terhadap diriku. Ci Sie! Kau tidak suka mengenal diriku, aku tak mengapa, tapi terhadap ibumu kau tak mau mengenalinya kembali? dimanakah liangsimmu itu?"

Boe Beng Tok Su yang melihat serangan jarum beracunnya tidak berhasil mengena sasaran dalam hati meraba amat gemas, tetapi dia pun tidak berani melanjutkan serangannva karena dia tahu si perempuan tunggal bukanlah manusia yang mudah diganggu.

"Heee . . . heee . . . kau tidak bermaksud jahat? Lalu apakah kau bersikap baik terhadap diriku?" serunya sambil tertawa dingin tiada hentinya. "Dimanakah Liem Tou? Ayoh suruh dia keluar! Kau kira aku tidak tahu akan urusan ini?"

Mendengar perkataan tersebut si perempuan tunggal jadi ragu-ragu, pikirnya:

"Selama di dalam perjalanan aku belum pernah menemui LiemTou, tetapi jika didengar dari pekataaanya itu apakah Liem Tou sudah datang kemari?"

Tetapi pikirannya kembali berputar: "Aakh, tidak benar!

Tadi aku masih dengar Sun Cie Sia bilang Liem Tou mengadakan perjamuan di gunung Cing Shia untuk memperingati hari pernikahannya dengan Lie Siauw Ie serta si gadis cantik pengangon kambing, bagaimana mungkin bisa tiba di sini? terang-terangan dia berkata demikian untuk mempertahankan kedukaannya."

Setelah mengetahui jelas akan urusan ini si perempuan tunggal semakin kecewa lagi. Mendadak bentaknya keras:

"Sun Ci Sie. kau binatang ... kau manusia tak berbudi.

Baiklah, aku tidak akan mencampuri urusanmu lagi; tetapi kau harus ingat bila mana perbuatanmu tidak kau rubah maka sewaktu-waktu terjadi gerakan di dalam dunia kangouw untuk menumpas kejahatan, waktu itu sekalipun kau merasa menyesal juga tak ada gunanya..."

Selesai berkata dia enjotkan tubuhnya, dengan amat cepat si perempuan tunggal itu sudah berlalu dan lenyap di tengah kegelapan.

Boe Beng Tok Su hanya tertawa dingin saja melihat kepergian dari si perempuan tunggal itu. Setelah itu sambil memandang kearah wu wungan dihadapannya dia tertawa dingin:

"Hmm! aku berani membentuk perkumpulan sudah tentu berani pula menghadapi segala macam rintangan," gumamnya seorang diri. "Baiklah kali ini aku lepaskan dirimu pergi tapi lain kali jangan coba-coba kembali lagi. Hmm! Hmm! Kalau tidak, akan kubunuh dirimu! Lembah tanpa nama bukannya tempat yang bisa dilalui dengan begitu mudah."

Sebentar kemudian air mukanya sudah berubah hebat, mendadak bentaknya keras:

"Coe siang cu, Liuw siang cu kalian ada dimana?"

Dari samping rerumputan segera muncullah dua orang tua yang kena dicegat oleh si perempuan tunggal itu. Dengan amat hormatnya mereka berdua mendekati Boe Beng Tok Su dan menjura dengan sangat hormatnya:

"Siauw cu ada perintah apa?" serunya berbareng.

Walaupun sikap mereka sangat menghormat tetapi tubuhnya gemetar amat keras, agaknya dalam hati mereka merasa amat ketakutan.

Boe Beng Tok Su mendengus dingin, sewaktu dilihatnya sikap mereka berdua amat mengenaskan sekali, diapun lantas mengulapkan tangannya.

"Sana mundur!" bentaknya keras. "Kalau bukannya memandang di atas wajah suhumu tempo hari ini, hari ini aku orang tak akan meng ampuni diri kalian."

Diam-diam kedua orang itu menghembuskan napas lega, tanpa mengucapkan kata-kata lagi mereka mengundurkan diri dari ruangan.

Setelah kedua orang itu berlalu, Boe Beng-Tok Su baru menggendong tubuh Pouw Siauw Ling masuk ke dalam ruangan dan memberi obat penawar kepadanya.

Menanti Pouw Siauw Ling mulai membuka matanya itulah mendadak Boe Beng Tok Su kembali menggerakkan tangannya menekan ke atas dada pemuda tersebut.

"Kau punya sangkut paut apa dengan diri Liem Tou? Ayoh cepat bicara! Kalau tidak jangan salahkan aku hajar badanmu," bentaknya dengan keras.

Dengan perlahan Pouw Siauw Ling menghembuskan napas panjang dan kesadarannya pun pulih kembali.

Mendengar suara bentakan dari Boe Beng Tok Su ini, tak terasa lagi dia sudah berseru keras:

"Aku mau bunuh dirinya! Dia sudah membinasakan ayahku." Boe Beng Tok Su jadi amat girang. Dia mengerti, inilah salah seorang pembantunya yang amat kuat."

Tetapi sewaktu melihat cambuk bertulang putih yang digunakan oleh Pouw Siauw Ling itu, dalam hati kembali terasa tergetar pikirnya :

"Bagaimana mungkin orang ini bisa menggunakan senjata ini? Apakah dia adalah anak muridnya?"

Sinar matanya secara tiba-tiba memancarkan cahaya yang amat tajam dan serasa menusuk tulang; dengan tanpa berkedip melototkan matanya ke arah Pouw Siauw Ling.

Pouw Siauw Ling yang waktu itu kesadarannya sudah pulih kembali; melihat pihak lawan melototi dirinya, dia pun balas melototi orang itu.

Empat mata bertemu, diam-diam masing-masing pihak merasa terkejut.

Dan pada saat itulah mendadak Pouw Siauw Ling meloncat bangun lalu mundur tiga langkah ke belakang; cambuk Suo Kuk-Piannya dilintangkan di depan dada, siap-siap menghadapi serangan.

Melihat kejadian itu, Boe Beng Tok Su segera mendengus dingin, ujarnya dengan ketus:

"Kau orang tidak usah bersikap begitu tegang; bilamana aku bermaksud membinasakan dirimu, apakah kau bisa hidup sampai waktu ini?"

"Siapakah kau? Kenapa kau menolong diriku?" teriak Pouw Siauw Ling dengan penuh rasa curiga.

Mendadak sinar matanya terbentur dengan sesuatu; Dia melihat orang ini pun memakai baju hitam dengan sebuah obor berwarna merah darah menghiasi dadanya, tidak terasa lagi dia lantas berpikir: "Apakah orang ini adalah kauw cu dari Sin Beng Kauw; Boe Beng Tok Su?"

Tapi sewaktu melihat usianya yang masih muda, dalam hati merasa rada ragu-ragu, dia menganggap tidak mungkin seorang muda bisa menjabat sebagai kauw cu atau ketua perkumpulan.

Tampaklah Boe Beng Tok Su tertawa tawar:

"Kau tidak usah tanya dulu siapakah diriku. Jawab dulu pertanyaanku, apakah maksud tujuanmu datang ke lembah tak bernama ini untuk menemui Sin Beng kauw cu?"

Pouw Siauw Ling kembali memperhatikan sekejap ke arah Boe Beng Tok Su, setelah itu menarik kembali senjata cambuk Suo Kuk Piannya.

"Jika didengar dari nada suaramu, tentu kau orang adalah Sin Beng kauw cu Boe Beng Tok Su sendiri bukan? Ataukah kau adalah orang kepercayaan?"

"Boleh dibilang begitulah!" sahut Boe Beng Tok Su sambil mengangguk. "Jika ada perkataan silahkan bicara dengan aku saja. Terus terang saja aku jelaskan, untuk menemui kauw cu pribadi bukanlah suatu perbuatan yang mudah dilakukan.

Untung sekali nasibmu ini hari lagi mujur. Kauw cu sudah buka satu jalan untuk mengampuni nyawamu."

Pouw Siauw Ling termenung sejenak, mendadak ujarnya: "Baiklah, kalau memangnya kau hendak menyampaikan

kepada kauw cu, sebetulnya aku pun tidak usah tahu apakah

kau adalah kauw cu atau bukan. Yang jelas, aku sama sekali tak ada urusan yang penting; cuma saja sewaktu mendengar perkataan dari Be Ci-hoa, salah seorang dari delapan pelindung lukisan itu, agaknya kauw cu kalian ada ikatan permusuhan yang sedalam lautan dengan Liem Tou, sedang aku pun sama seperti dirimu, benci pada Liem Tou.Karena itu aku sengaja datang untuk menyambanginya; aku bermaksud bilamana kauw cu kalian benar benar ada permusuhan dengan Liem Tou, kita bisa bekerja sama untuk mencari balas."

Berbicara sampai di sini, pemuda itu berhenti sebentar untuk kemudian sambungnya lagi:

"Ditambah pula sewaktu ayahku mendekati ajalnya, dia pernah meninggalkan pesan; "Bilamana hendak membalas dendam kecuali mendapatkan kitab Cian Tok Toh," kini kitab tersebut sudah terjatuh di tangan kauwcu kalian, aku sendiripun tidak mau merebutnya kembali. Karena itu bilamana kauwcu kalian mengijinkan aku untuk belajar isi kitab tersebut sehingga bisa membalaskan dendam ayahku, maka selama hidupku, aku Pouw Siauw Ling akan berbakti buat perkumpulan Sin Beng kauw."

Setelah mendengar perkataannya sampai di situ, Boe Beng Tok Su lantas tersenyum tapi sebentar kemudian wajahnya sudah jadi dingin kembali. Dengan perlahan dia menoleh keluar jendela dan termenung beberapa saat lamanya, kemudian baru memandang ke arah pemuda itu lagi.

"Apakah perkataan dari Pouw heng ini sungguh-sungguh?" tanyanya.

"Selamanya cayhe belum pernah berbohong!" sahut Pouw Siauw Ling dengan kukuh.

Boe Beng Tok Su segera mendengus dingin, dia kembali bungkam dalam seribu bahasa. Kali ini dia termenung lebih lama lagi. Walau pun Pouw Siauw Ling tidak tahu apa yang sedang dipikirkan olehnya tetapi melihat sikapnya yang serba susah dia tahu urusan yang sedang dipikirkan di dalam hatinya tentu merupakan suatu urusan yang sangat besar, karenanya dia pun termenung tak bercakap sedang matanya memandang ke arah Boe Beng Tok Su tak berkedip.

Kurang lebih seperminuman teh kemudian baru terdengar Boe Beng Tok Su bertanya kembali: "Pouw heng! senjata yang kau gunakan adalah cambuk Suo Kuk Pian, tentunya kau pun tahu akan diri Suo Kuk Mo Pian dan Thiat Bok Thaysu dua orang bukan?"

Mendengar perkataan itu, Pouw Siauw Ling segera merasakan hatinya tergetar amat keras, baru saja dia hendak memberitahukan hubungan antara dirinya dengan kedua orang itu, mendadak dia menemukan sinar mata Boe Beng Tok Su amat aneh. Tak terasa lagi perkataan yang hendak diucapkan ketelan kembali, pikirnya;

"Jika dilihat dari sinar matanya, jelas dia tak bermaksad baik, lebih baik untuk sementara waktu jangan aku jelaskan dulu."

Setelah berpikir demikian, diapun lantas menjawab: "Walaupun nama besar dari Suo Kuk Mo Pian serta Thiat

Bok Thaysu pernah aku dengar tetapi belum pernah menemui

orangnya. Bila mana di kemudian hari ada kesempatan aku tentu akan menemui kedua orang itu."

Dengan dinginnya Boe Bsng Tok Su mendengus dingin, mendadak jari tangannya bagaikan kilat cepatnya melancarkan serangan menotok jalan darah Sin Kau Hiat pada tubuh Pouw Siauw Ling.

Pouw Siauw Ling yang berada dalam keadaan tidak bersiap sedia melihat datangnya serangan itu jadi amat terperanjat untuk menghindar tak sempat lagi, terpaksa dia membentak keras;

"Bangsat cilik, kau sungguh tak punya malu!"

Telapak kirinya dibabat ke depen menghajar urat nadi dari Boe Beng Tok Su bersamaan pula telapak kanannya dengan menggunakan jurus "Tui San Tiam Hay" mendorong gunung menggolak samudra menyambar ke depan.

Boe Beng Tok Su melancarkan totokan bagaikan angin, sedang telapak tangannya membabat bagaikan kilat, serangan orang berkepandaian tinggi justru terletak peda kecepatan gerak, hanya di dalam sekejap saja mereka berdua sudah bergebrak dengan amat serunya.

Boe Beng Tok Su adalah anak murid dari si hweeshio tujuh jari.Setahun yang lalu kepandaian silatnya pun seimbang dengan kepandaian dari si cargkul pualam Lie Siang, walaupun saat ini dia melancarkan serangan dengan menggunakan kesempatan sewaktu Pouw Siauw Ling tidak bersiap sedia tetapi dia pun tahu kalau orang ini memiliki kepandaian silat yang lumayan.

Jari tangannya yang menyerang ke depan mendadak di balik ke bawah berubah jadi telapak tangan kembali, dengan keras lawan keras dia menangkis datangnya serangan angin pukulan dari perlawanan Pouw Siauw Ling itu.

Kali ini dia melancarkan serangan dengan sepasang telapak sedang Pouw Siauw Ling menerima dengan tangan tunggal, bilamana sampai terbentur maka Pouw Siauw Linglah yang bakal menderita kerugian.

Perubahan jurus yang dilakukan oleh Boe Beng Tok Su ini benar-benar amat cepat sehingga membuat Pouw Siauw Ling tak sempat untuk menarik kembali telapak tangannya.

Terpaksa dia menarik napas panjang panjang telapak kirinya berputar lalu meluncur ke depan mengiringi telapak tangan yang lainnya.

"Braak. !" di tengah suara ledakan yang amat keras

terasalah gulungan angin bagaikan ambruknya gunung Thay san serta bergolak nya ombak di tengah samudera memenuhi seluruh angkasa.

Baik tubuh Boe Beng Tok Su maupun Pouw Siauw Ling segera tergetar, lantas mundur tiga tingkah ke belakang karena bentrokan ini, masing-masing dengan mata melotot pada memperhatikan pihak lawannya sedangkan dalam hari merasa terkejut akan kedahsyatan dari tenaga dalam yang dimiliki lawannya itu.

Sewaktu mereka berdua lagi berdiri tertegun itulah mendadak Boe Beng Tok Su tertawa terbahak-bahak dengan kerasnya membuat Pouw Siauw Ling jadi kebingungan sekali dibuatnya.

"Haa. . . haa. . . haa . . . sudah, sudah jangan bergebrak lagi! Kau sanggup, kau benar benar sanggup! Asalkan ada kita berdua bekerjasama maka Liem Tou tidak bakal bisa berkutik lagi; Terus terang ssja aku beri tahu padamu, akulah Kauwcu dari Sin Beng kauw ini. Baiklah! Aku mengijinkan Pouw heng masuk jadi anggota perkumpulan dan menduduki jabatan sebagai pimpinan dari seluruh siang cu, bagaimana? Apakah Pouw heng suka menerima jawaban ini?"

Pouw Siauw Ling yang mendengar perkataan ini benar- benar merasa di luar dugaan, untuk sesaat lamanya dia berdiri termangu mangu tanpa bisa mengucapkan sepatah kata pun.

Boe Beng Tok Su pua tahu kalau Pouw Siauw Ling sudah dibuat kebingungan oleh sikapnva yang aneh itu, dengan cepat ia maju ke depan mencekal tangannya:

"Maaf, tadi Cayhe sudah berbuat kurang ajar terhadap dirimu," ujarnya sambil tertawa. "Tempat ini bukanlah tempat yang baik untuk bercakap-cakap. Mari masuk ke dalam ruangan untuk berunding. Kali ini aku tidak bakal melepaskan Liem Tou lagi! Haa... haa... Pouw heng, dendam kita pasti akan terbalas!"

Sehabis berkata sambil menarik tangan Pouw Siauw Ling untuk diajak masuk ke dalam ruangan, bersamaan itu pula dia perlihatkan jari tangan sebelah kiri yang tinggal empat.

"Pouw heng coba kau lihat jari tanganku tinggal empat buah. Hmm! Inilah perbuatan dari Liem Tou bangsat tersebut," teriaknya dengan gusar, "Walaupun dendam antara diriku dengan Liem Tou tidak sedalam Pouw heng, tetapi aku bersumpah harus membalas sakit hati ini."

Pouw Siauw Ling yang mendengar perkataan tersebut hanya mengangguk dan tertawa pahit.

oo) dw (oo Tiga bulan kemudian . . .

Angin musim Chiu bertiup sepoi-sepoi, di tengah jalan raya Gong Si tampaklah dua belas ekor kuda berwarna putih dengan dua belas orang lelaki berbaju hitam sebagai penunggangnya melakukan perjalanan cepat.

Orang yang paling depan adalah Sin Beng Kauw cu Boe Beng Tok Su yang pada punggungnya menyoren sebilah pedang hitam dengansimbol obor berwarna merah darah pada dadanya.

Di sampingnya tampak seorang pemuda yang bukan lain adalah Pouw Siauw Ling, saat ini dia pun memakai baju hitam dengan simbol obor berwarna biru di dadanya, cambuk Pek Kuk Piannya dilingkarkan pada pinggangnya sehingga kelihatan sikapnya yang amat gagah.

Saat itu mereka lagi melakukan perjalanan menuju ke gunung Cing Shia.

Mendadak Boe Beng Tok Su yang berjalan paling depan menghentikan kudanya lalu kepada Pouw Siauw Ling ujarnya:

"Hari Tiong Chiu masih ada tiga hari lamanya, kita harus mengadakan suatu persiapan yang cermat agar nantinya berhasil menjebak mereka masuk ke dalam perangkap kita. Menurut perhitunganku, malam ini jaraknya tak jauh lagi dari gunung Cing Shia. Malam harinya kita menginap dulu di kota Boen Chuan untuk kemudian kita mengadakan penyelidikan terlebih dahulu dan baru kita berangkat besok pagi ke atas gunung tersebut." Setelah memberikan wanti-wanti, Boe Beng Tok su lantas menyentak tali les kudanya melanjutkan perjalanan ke depan disusul kesebelas orang anak buahnya.

Mereka sama sekali tidak menduga kalau pada jarak satu li di belakang mereka terdapat seekor kuda berwarna abu-abu yang sedang menguntit dan selalu mengawasi gerak-gerik mereka. Orang itu bukan lain adalah si Perempuan tunggal Touw Hong.

Sejak meninggalkan lembah Boe Beng Kok ia tidak pergi menjauh sebaliknya malam bersembunyi di sekitar lembah tersebut untuk me ngawasi gerak-gerik dari Sin Beng Kauw, ini hari sewaktu didengarnya Boe Beng Tok su hendak turun gunung dengan membawa kedua belas orang pengiringnya, secara diam-diam ia lantas menguntit dari belakang.

Hanya sayang, perempuan ini cuma mengetahui kalau kepergian Boe Beng Tok su meninggalkan gunung Ciong Lam sekali ini hendak membereskan satu persoalan besar. Dia tak mengetahui kalau kepergiannya ini hendak mencari Liem Tou untuk menuntut balas.

Bilamana ia sampai tahu akan hal ini, apakah perempuan itu berani menguntit dengan seenaknya tanpa memberikan kabar terlebih dulu sehingga Liem Tou dapat mengadakan persiapan?

Untuk sementara waktu kita tinggalkan mereka, kita balik pada lembah mati hidup di gunung Heng San.

Pagi hari itu dari tengah lembah berkumandang datang suara suitan yang amat keras disusul berkelebatnya sesosok bayangan manusia dengan cepatnya.

Dengan pandangan yang amat tajam orang itu berhenti di atas puncak tebing yang curam sambil memperhatikan ketujuh puluh lima puncak yang terdapat di atas gunung Heng San itu. Lama sekali dia termenung dalam lamunan akhirnya tak kuasa lagi ia menghela napas panjang, kakinya yang tinggal sebelah dengan cepat menutul permukaan tanah lalu meloncat setinggi lima kaki.

Kiranya orang itu hanya mempunyai kaki sebelah saja yang bukan lain adalah murid ke empat dari Si Golok Naga Hijau Sie Piauw tauw, Oei Poh adanya.

Tubuhnya yang di tengah udara dengan cepat berjumpalitan beberapa kali, sewaktu tubuhnya hendak melayang ke atas tanah itulah mendadak tubuhnya meletik sedang sepasang telapaknya dengan ringan diayunkan ke belakang.

Sekali lagi tubuhnya meluncur sejauh tiga kaki; diikuti sang badan memutar dengan menggunakan gaya "In Yen Cuan Liang" atau burung walet menembusi pagar, dengan amat ringannya bagaikan daun kering melayang ke atas permukaan tanah.

Kembali sewaktu kakinya hendak menempel di tanah, sepasang telapak tangannya dipentangkan lebar-lebar lalu dengan menggunakan jurus 'Ku Lang Hun Poo' atau ombak besar pecah bergelombang membabat ke depan.

Segulung angin pukulan yang amat keras laksana tindihan gunung Thay san meluncur keluar dari telapaknya.

Tubuhnya kembali meloncat setinggi lima kaki; tubuhnya memutar punggung melengkung dengan tangan dipentangkan ke depan menggunakan kesepuluh jarinya yang kuat melancarkan serangan yang ketiga.

Hanya di dalam sekejap saja dia orang telah melancarkan tiga buah serangan berturut-turut, dan setiap jurus memiliki perubahan yang sukar diduga, hal ini benar-benar menunjukkan bagaimana dahsyatnya gempurannya itu. Sewaktu Oei Poh selesai melancarkan serangannya yang ketiga itulah, dari dalam lem bah mati hidup mendadak berkelebat datang sesosok bayangan hijau yang amat cepat bagaikan sambaran kilat. Melihat munculnya orang itu, buru- buru pemuda itu merangkap tangannya menjura:

*Aaakh, kedatangan dari enci Cing sungguh tepat sekali, baru saja aku merasa ketiga jurus serangan maut tersebut sudah memperoleh kemajuan yang pesat, siauw to memang lagi membutuhkan petunjuk-petunjuk yang berharga dari dirimu."

Sehabis berkata tubuhnya kembali bergerak siap-siap berlatih kembali.

Orang yang baru saja datang itu bukan lain adalah putri kesayangan dari It Tiap Cin jien dari gunung Heng san, Siauw Giok Cing adanya, begitu ia mendengarkan perkataan tersebut, diatampak mengerutkan alisnya rapat-rapat.

"Tidak usah berlatih lagi," cegahnya. "Asalkan kau berlatih dengan giat dan tekun, sudah tentu bakal memperoleh kemajuan yang pesat! Heei . . beberapa hari ini hatiku merasa sangat tidak tenang, entah apa sebabnya?"

"Sejak kepergian Liem Tou itu si bangsat cilik, setiap hari enciCing selalu merasa murung dan tidak merasa senang," sahut Oei Poh setelah berpikir sebentar. "Selama setahun ini enci Cing pun sudah ada dua kali menaiki gunung Cing Shia secara diam-diam tan pa menemui Liem Tou ada disana, dari hal ini saja sudah cukup menunjukkan kalau Liem Tou sama sekali tidak bakal kembali ke gunung tersebut sejak meninggalkan tempat ini. Enci Cing! Buat apa kau pikirkan terus seorang bocah yang perkataannya tidak bisa dipercaya??"

Dengan dinginnya Giok Cing mengirim satu kerlingan mata ke arah pemuda tersebut. Wajahnya kelihatan senaakin murung dan tidak senang hati. Dia selama setahun ini ia hampir-hampir boleh dikata sudah berubah menjadi seorang yang lain. Sifat polos serta kekanak-kanakannya sudah lenyap berganti dengan wajah yang selalu murung.

Kini setelah mendengar perkataan dari Oei Poh itu, wajah yang semula diliputi kesedihan segera berubah hebat. Dengan gusar, makinya:

"Oei Poh! Berapa kali aku sudah peringatkan kepadamu untuk jangan sebut lagi soal Liem Tou si bangsat cilik itu. Kenapa kau lupakan hal ini terus menerus? Bilamana sampai kau bicarakan lagi soal ini, jangan salahkan kalau aku tidak sudi gubris dirimu lagi!"

"Enci Cing!" seru Oei Poh dengan penuh dihiasi senyuman pahit, "Janganlah dikarenakan urusan ini kita beribut kembali, anggap saja ini kesalahanku, sudah! Tetapi enci harus ingat bahwa dia adalah musuh besarku, bagaimana juga aku harus membereskan hutang sakit hati itu."

Air muka Giok Clng kontan berubah amat hebat; hatinya benar-benar terpukul keras sehingpa tampaklah air mukanya berubah pucat pasi.

"Oei Poh!" teriaknya gusar, "Aku sudah bilang; mau balas dendam atau tidak, aku tidak akan ikut campur, tapi aku larang kau menjelek-jelekkan atau menghina dirinya di hadapanku "

Belum habis Giok Cing bicara, agaknya Oei Poh sudah tahu apakah kata-kata selanjutnya yang hendak dikatakan olehnya, karena iiu buru-buru sambungnya:

"Cing jie, jangan sebutkan lagi kata-katamu itu, bukankah kau hendak berkata bahwa Liem Tou sama sekali tidak bersalah? Aku tidak bakal sudi mendengarkan perkataan itu, sekalipun siapa saja yang coba memberi penjelasan kepadaku; aku tetap tidak sudi mendengarkan, karena bilamana bukannya gara-gara Liem Tou ikut campur maka suhuku tidak bakai mati; aku anggap kematian suhuku adalah di tangan Liem Tou. Bila aku tak mencari dia untuk menuntut balas, harus pergi mencari siapa lagi?"

Saking terharu oleh bakaran hatinya tanpa terasa semakin berkata suaranya semakin keras, sebentar kemudian dia merasa sikapnya rada keterlaluan, buru-buru ia tutup mulut dan termenung beberapa saat lamanya.

"Enci Cing! Maafkan perbuatan dari aku si orang cacad, ada kalanya memang hatiku sangat jahat; tidak seharusnya aku membuat kesalahan di hadapan enci Cing!" katanya lagi dengan perlahan.

Cing jie yang mendengar beberapa patah perkataannya ini di dalam hati jadi amat sedih sekali, dengan gemas serunya:

"Hmmm! Gara-gara Oei Tiap supek membawa kau datang ke gunung Heng san ini benar benar membuat aku jadi kesusahan dan payah, bilamana kakimu tidak putus karena soal ini, Hnmm . . . ! tidak bakal aku orang jadi bersikap begitu baik terhadap dirimu."

Selesai berkata dengan perlahan dia menundukkan kepalanya dan menghela napas panjang.

Kembali mereka berdua berdiam diri beberapa saat lamanya tanpa mengucapkan sepatah kata pun, akhirnya Cing jie tidak kuasa untuk bersabar lebih lama lagi, pundaknya sedikit bergerak, tahu-tahu sudah melayang sejauh tiga kaki.

"Persediaan daging kita sudah hampir habis, aku hendak pergi menangkap beberapa ekor kijang!" serunya sambil menoleh.

"Enci Cing tunggu dulu, ada perkataan hendak aku sampaikan kepadamu!!" tiba-tiba seru Oei Poh mencegah kepergian dari gadis tersebut.

Dengan rasa keheranan Cing jie segera menghentikan gerakannya dan balik ke tempat semula. "Ada urusan apa?" tanyanya. "Kalau ditinjau dari perubahan air mukamu, agaknya urusan ini sangat penting sekali, ayoh cepat katakan!"

Oei Poh termenung berpikir sejenak, setelah mengetuk- ngetuk kaki kayunya ke atas batu gunung, ujarnya serius:

"Enci Cing. Kini aku ingin segera berangkat ke gunung Cing Shia."

"Apa kau bermaksud hendak mencari Liem Tou? Apakah kau tahu kalau dia kini sudah kembali ke gunung Cing Shia? Kalau memangnya sudah tahu, kenapa kau tidak suka memberitahukan kepadaku?"

"Heei ... Aku tidak tahu apakah dia sudah kembali ke gunung Cing Shia atau belum," sahut Oei Poh sambil gelengkan kepalanya berulang kali. "Aku cuma merasa tempo hari Liem Tou sudah menipu enci Cing? Kalau katanya pada malam Tiong Chiu yang lalu ada urusan tapi ternyata tak tampak orangnya maka malam Tiong Chiu tahun ini aku kepingin pergi ke sana untuk melihat-lihat, bilamana dia memang ada di sana aku pun harus menyelesaikan dulu persoalan kita."

Cing jie segera melototkan sepasang matanya lebar-lebar dan memandang tajam pemuda tersebut, mendadak tanyanya dengan nada mendesak: "Apakah kau merasa sudah yakin bisa menangkan dirinya? Apakah kau merasa begitu tega untuk menghantam seorang yang tidak memiliki kekuatan untuk mengadakan perlawanan?"

Oei Poh yang mendengar teguran tersebut pada wajahnya terlintaslah rasa jengah, tapi hanya di dalam sekejap saja sudah lenyap kembali dari mukanya.

"EnCi Cing; aku tidak akan memperdulikan hal ini," teriaknya keras. Tiba-tiba tubuhnya meloncat ke tengah udara, di antara berkelebatnya bayangan tajam, tahu-tahu dia sudah berada di tempat yang amat jauh sekali.

Melihat kejadian itu, Cing Jie jadi amat terkejut, bentaknya keras:

"Oei Poh! Kau tidak bakal berhasil!"

Dan terlihatlah bayangan hijau berkelebat, kiranya dia pun ikut melayang keluar dari lembah mati hidup tersebut dan menuruni gunung Heng san.

Kita balik kembali pada Sin Beng kauw cu, Boe Beng Tok su serta Pouw Siauw Ling sekalian berdelapan. Setibanya di sebuah rumah penginapan untuk beristirahat dan karena jarak dengan malam Tiong Chiu itu masih ada tiga hari lamanya maka untuk manghindarkan diri dari terbongkarnya jejak mereka terdengarlah Boe Beng Tok su memberi wanti-wanti kepada tujuh orang Toa Siang cu nya:

"Pada kentongan ketiga malam ini, aku serta Pouw Siang cu akan berangkat dulu untuk meninjau keadaan daerah serta gerak-gerik di perkampungan Ie He San Cung sedang kalian semua boleh berangkat besok malam saja langsung menuju puncak kedua gunung Cing Shia. Setibanya malam Tiong Chiu, kami bisa bergabung kembali dengan kalian untuk membagi tugas lebih lanjut."

Para siang cu pun segera mengiakan.

Di tengah malam yang amat sunyi, angin bertiup sepoi- sepoi menyejukkan badan. Sengan rembulan jauh berada di tengah angkasa; tampaklah dua sosok bayangan hitam berkelebat dari atas atap rumah penginapan menuju ke arah sebelah Utara.

Mereka bukan lain adalah Boe Beng Tok su serta Pouw Siauw Ling yang sedang berangkat menuju ke gunung Cing Shia. Baru saja kedua sosok bayangan hitam itu berangkat, belum lenyap dari pandangan mata muncullah di tengah kegelapan malam di atas atap rumah penginapan itu sesosok bayangan hitam yang lagi menjerit tertahan kemudian memperhatikan tajam-tajam bayangan punggung dari Boe Beng Tok su serta Pouw Siauw Ling yang hampir lenyap dari pandangannya itu.

"Ehm ... kemana mereka hendak pergi?" gumamnya seorang diri. "Kenapa sisanya tak dibawa sekalian untuk melakukan perjalanan bersama-sama?"

Bayangan hitam ini bukan lain adalah si perempuan tunggal Touw Hong yang selama ini selalu membuntuti terus diri Boe Beng Tok su, setelah ragu-ragu sejenak dia lantas berpikir;

"Perduli mereka berdua hendak pergi ke mana saja baiknya aku buntuti terus diri mereka."

Berpikir sampai di sini ia pun segera enjotkan badannya dengan beberapa kali loncatan mengejar ke sebelah Utara.

Tidak lama kemudian tampaklah olehnya di tempat kejauhan Boe Beng Tok Su dan Pouw Siauw Ling sedang melakukan perjalanan berdampingan dengan gerakan yang amat aneh dan cepat laksana mengalirnya air di sungai.

Si perempuan tunggal Touw Hong pun dengan cepat mengerahkan ilmu meringankan tubuh Liuw Im Hwee Sin untuk membuntuti terus diri mereka.

Kurang lebih satu kentongan lamanya sampailah mereka di suatu tempat yang terhalang oleh sebuah sungai dengan ombak yang amat besar.

Dengan mengikuti aliran sungai itu kembali Boe Beng Tok Su serta Pouw Siauw Ling melanjutkan perjalanannya sejauh tujuh, delapan lie, si perempuan tunggal Touw Hong yang melihat mereka berdua tidak menunjukkan tanda-tanda untuk berhenti walaupun dalam hati mereka keheranan bercampur curiga atas kemisteriusan gerak-gerik mereka berdua tetapi ia pun tak bisa berbuat apa-apa kecuali menguntit terus dengan kencangnya.

Kembali mereka melanjutkan perjalanannya beberapa saat, mendadak kedua orang itu menghentikan larinya dan memperhatikan ke tengah sungai.

Si perempuan tunggal Touw Hong tidak berani berlaku gegabah, maka buru-buru dia bersembunyi di balik sebuah gundukan tanah di samping sungai untuk mengawasi mereka dengan tajam.

Di tengah sorotan sinar rembulan yang sangat terang, tampaklah dari atas sungai berlayar datang sebuah perahu kecil yang tidak berpenghuni, perahu itu tidak besar sedangkan ruangan perahu pun terbuat dari bambu dengan cepatnya meluncur datang.

Lama sekali Boe Beng Tok Su dan Pouw Siauw Ling memperhatikan ke tengah sungai, mendadak Pouw Siauw Ling enjotkan badannya meluncur ke arah perahu itu dengan gerakan cepat; setibanya di atas perahu gerakannya tidak berhenti sebaliknya dengan cepat dia menerjang masuk ke dalam ruangan perahu yang lalu menyeret keluar sebuah benda berwarna putih.

Sehabis meletakkan benda putih itu kembali dia meloncat ke buritan dan kirim satu pukulan ke permukaan air untuk menjalankan perahu tersebut menuju ke tepian.

Setibanya di tepi pantai Pouw Siauw Ling segera meloncat ke daratan dan membisikkan sesuatu di samping telinga Boe Beng Tok su yang kemudian mereka berdua lantas meloncat ke dalam perahu. sejenak kurang lebih seperminum teh kemudian tampak kedua orang itu sudah meloncat lagi ke atas daratan dan melanjutkan perjalanannya kedepan dengan mengikuti terus aliran sungai itu.

Menanti kedua orang itu sudah pergi jauh si perempuan tunggal Touw Hong baru munculkan dirinya dari balik gundukan tanah dan mencoba mendekati perahu tersebut, saking tertariknya dia kepingin juga melihat apakah gerangan yang ada di sana.

Tetapi sebentar kemudian dia sudah buang muka dengan wajah jengkel, kiranya di atas geladak perahu itu berbaringlah sesosok mayat lelaki yang kurus kering dalam keadaan telanjang bulat.

Adakah keanehan pada mayat itu, si perempuan tunggal Touw Hong tidak berani memperhatikan lebih lama, buru-buru dia mengerahkan ilmu meringankan tubuh melanjutkan pengejarannya ke depan.

Akhirnya di atas deretan bambu yang ada di tengah sungai gadis itu menemukan kembali Boe Beng Tok su lagi bercakap- cakap dengan Pouw Siauw Ling.

Dengan besarkan nyali, si perempuan tunggal Touw Hong segera menerobos melalui tumbuhan alang-alang mendekati mereka.

Terdengar waktu itu Pouw Siauw Ling lagi berkata dengan nada suara yang amat kaget.

"Sungguh aneh sekali, yang satu adalah Hek Loo jie yang merupakan salah satu anggota dari Siok to Siang Mo sedang yang lain adalah Loo toa dari Heng san Jie Yu. Mereka berdua pada memiliki kepandaian silat yaug amat lihay, bagaimana mungkin bisa mati bersama-sama? Bahkan jika ditinjau dari kematian mereka jelas tak tampak tanda-tanda terluka. Hal ini benar-benar merupakan satu peristiwa yang sangat mengherankan sekali."

Si Boe Beng Tok su segera mendengus dingin sehabis mendengar perkataan dari Pouw Siauw Ling ini.

"Ada kemungkinan peristiwa ini hanya terjadi secara kebetulan saja. Mungkin mereka berdua menderita sakit lalu mati di tengah jalan, bahkan menurut pemikiranku ada kemungkinan mereka sedang melakukan perjalanan untuk menghadiri hari pernikahan dari Liem Tou si bangsat itu!"

Pendapat dari kauw cu cayhe rasa kurang sesuai," seru Pouw Siauw Ling kemudian setelah termenung sebentar. "Bilamana mati dikarenakan sakit kenapa setelah menemui ajalnya mereka berdua dapat berada di dalam keadaan telanjang bulat tanpa memakai selembar benang pun? Bahkan mereka berdua dalam keadaan yang sama. Hal ini sedikit pun tidak masuk di akal!"

Si perempuan tunggal Touw Hong yang secara diam-diam bersembunyi di tepi sungai sehabis mendengar perkataan tersebut diam-diam amat terkejut, terhadap Hek Loo jie dari Siok To Siang Mo dia orang tidak pernah menemui maupun mengerti asal-usulnya tetapi terhadap Loo toa dari Heng San Jie Yu, dia pernah menemuinya dengan kepala mata sendiri bahkan boleh dikata dia pun merupakan ciang bunjien dari partai Heng san pay, bagaimana mungkin kini bisa menemui ajalnya dalam keadaan tidak jelas?

Setelah mendengar kalau Liem Tou hendak merayakan hari perkawinannya, di hatinya pun dan dia baru tahu kalau kedua orang itu pasti lagi akan menuju ke gunung Cing Shia.

"Pouw siang cu, lebih baik tidak usah pikirkan urusan orang lain! Mari kita lanjutkan perjalanan kita!" sambung Boe Beng Tok su dengan cepat. "Sebelum kentongan keempat atau kelima kita harus sudah tiba di gunung Cing Shia."

Selesai mendengar perkataan itu, si perempuan tunggal Touw Hong pun mengerti kalau dugaannya sama sekali tidak meleset dan sewaktu teringat dendam serta sumpah yang pernah diucapkan oleh Sun Ci Sie sambil menebas jari tangannya sendiri pada setahun yang lalu, hatinya jadi berdebar, pikirnya: "Liem Tou hendak kawin? Apakah hendak kawin dengan Lie Siauw Ie . . .? Berpikir sampai di sini wajahnya segera terasa jadi panas, hatinya rada berdebar-debar . . .

Sewaktu hatinya berhasil ditenangkan kembali dan dongakkan kepalanya waktu itulah jejak dari Boe Beng Tok-su serta Pouw Siauw Ling sudah tidak kelihatan lagi. Saking cemasnya dengan cepat dia enjotkan badannya melakukan pengejaran kembali.

Kurang lebih mendekati kentongan ketiga dia berhasil menyandak diri Boe Beng Tok Su serta Pouw Siauw Ling, terlihatlah di hadapannya pada saat ini terdapat sebuah kuil sedangkan Boe Beng Tok Su berdua sudah berada tidak jauh dari pintu kuil tersebut.

Pada saat itulah mendadak dari atas tembok kuil itu berkelebat sesosok bayangan dan munculnya seorang berbaju putih-putih.

"Siapa?" bentak Pouw Siauw Ling dengan cepat.

Bayangan putih yang berdiri di atas tembok itu bergoyang dengan lemasnya laksana pohon Liuw yang tertiup angin. Baru saja suara tersebut bergema keluar terdengarlah suara tertawa yang amat merdu menindas suara bentakan tersebut disusul dengan suara seorang perempuan lagi berseru:

*Eeeei . . . orang yang melakukan perjalanan, kenapa kau begitu kasar dan begitu berangasan? Apakab kalian tidak takut ditertawakan orang?"

Dengan gesit dan ringannya bayangan putih itu segera melayang turun ke atas permukaan tanah di hadapan Boe Beng Tok Su serta Pouw Siauw Ling, pinggangnya yang halus dan lemas bergoyang laksana pohon Liuw yang tertiup angin. Hal ini benar-benar amat menggiurkan sekali.

Boe Beng Tok Su dan Pouw Siauw Ling yang melihat perempuan berbaju putih itu dapat melayang turun ke atas tanah tanpa mengeluarkan sedikit suara pun dalam hati jadi amat terkejut, mereka mengerti kalau perempuan ini pasti memiliki ilmu silat yang amat tinggi sekali bahkan tidak diketahui asal-usulnya. Tak tahan lagi mereka berdua pada mundur dua tiga langkah ke belakang.

Si Boe Beng Tok su yang sejak kecil dididik oleh si Hwesio tujuh jari pada saat ini dibuat melengak juga. Dia merasa bahwa gadis berbaju putih yang ada di hadapannya ini adalah seorang perempuan tercantik yang pernah dijumpai selama ini, kecuali itu tidak ada perasaan lain yang berkecamuk di hatinya.

Perasaan ini lain lagi di hati Pouw Siauw Ling. Sebelum naik ke gunung Soat san dia merupakan seorang pemuda yang gemar akan pipi licin; tempo hari sewaktu bertemu muka dengan si gadis cantik pengangon kambing, dia pernah merasakan kalau itu adalah yang paling cantik. Tetapi kini setelah berjumpa dengan gadis berbaju putih ini dia merasa perempuan ini lebih cantik lagi dan lebih genit beberapa kali lipat jika dibandingkan dengan gadis cantik pengangon kambing sehingga tanpa terasa dia sudah melototi dirinya dengan pandangan terpesona.

Apalagi si gadis berbaju putih itu sedang kirim satu senyuman yang amat manis ke arahnya membuat Pouw Siauw Ling merasa seluruh tubuhnya jadi lemas dibuatnya, sukmanya boleh dikata kini sudah terhisap oleh kecantikan gadis berbaju putih tersebut.

"Saudara berdua kenapa tidak beristirahat sebentar di dalam rumahku ini?" ujarnya halus, lalu dengan langkah yang lenggak-lenggok menggiurkan dia berjalan mendekat.

-oo0dw0oo-