Raja Silat Jilid 37

 
Jilid 37

DENGAN adanya perubahan ini maka bilamana ada orang yang memandang ke arahnya maka tak seorang pun yang tahu bila mana pemuda ini berkepandaian tinggi, mereka tentu menganggap dia orang sebagai seorang siucay yang lemah dan berpenyakit.

Setelah dihitung waktunya dengan pertemuan malam Tiong Chiu tinggal beberapa hari lagi dia baru mulai meninggalkan kuil itu untuk berangkat menuju ke gunung Cing Shia. Sesaat meninggalkan tempat itu dia pun memungut pedang milik hweeshio itu walaupun pedang tersebut tak bisa dikatakan pusaka tetapi merupakan pedang yang baik juga.

Kita tinggalkan dulu Liem Tou yang berangkat menuju ke gunung Cing Shia untuk mengawani Lie Siauw Ie serta si gadis cantik pengangon kambing.

Marilah kita melihat di atas salju yang tebal di gunung Tou Soat san dimana tak terlihat sesosok bayangan manusia maupun binatang.

Di tengah kesunyian yang mencekam serta tiupan angin yang dingin menusuk tulang itu lah mendadak tampak sesosok bayangan putih berkelebat mendatangi dengan cepatnya, orang itu bukan lain adalah seorang hweeshio cilik berkepala gundul yang kelihatannya baru berusia tujuh; delapan tahun.

Keadaan dari hweeshio gundul berbaju putih ini amat aneh sekali, matanya besar bulat dengan alis yang tebal hidung dan mulutnya amat kecil sekali dengan wajah yang pucat pasi bagaikan mayat.

Keadaannya mirip sekali dengan sesosok mayat yang baru bangun dari kuburan. Hanya saja sepasang matanya memancarkan sinar yang amat tajam sekali.

Dengan tidak mengucapkan sepatah kata pun dia berdiri di atas puncak dengan memandang sebuah gulungan bola salju yang lagi menggelinding mendatangi, mulutnya yang kecil rada bergerak tapi sebentar kemudian sudah mendengus.

Pundaknya sedikit bergerak tahu-tahu di tangannya sudah bertambah sebuah cambuk lemas berwarna putih kelihatannya cambuk itu bukan terbuat dan kulit maupun rotan, akhirnya setelah dilihat dengan jelas, tahulah sudah kalau cambuk itu terbuat dari tulang-tulang putih yang saling sambung menyambung. "Leng-jie terimalah tiga jurus serangan dari suthay!" terdengar dia berseru dengan suara seperti bayi. Cambuk Pek Kut Piannya dengan cepat laksana putaran roda kereta sepera menyambar ke depan, sedang bola salju itupun mendadak membesar satu kali lipat.

Hanya di dalam sekejap saja bola salju itu sudah memisah dan muncullah tubuh Pouw-Siauw Ling serta hweesio gundul berbaju putih itu.

Tampak Pouw Siauw Ling secara tiba-tiba menjatuhkan diri berlutut di hadapan bocah tersebut.

"Bakat Leng-jie kasar, sulit bagiku untuk menerima tiga serangan dari suthay!" serunya.

Air mukanya berubah sangat kecewa tapi tidak berani memandang ke arah bocah tersebut.

Tampaklah sinar mata dari hweesio gundul itu berputar sejenak lalu mendengus dengan dinginnya, mendadak dia tertawa cekikikan dengan amat kerasnya persis seperti seorang bocah cilik saja membuat setiap orang yang mendengarnya merasakan badannya bergidik, bulu roma pada berdiri.

"Haa .... hii.... hiii. Leng jie! Walaupun kau masih tidak

sanggup untuk menerima tiga jurus serangan dari suthaymu ini tetapi jikalau dibandingkan dengan Hoa Siong itu Auh Hay Hiap adalah jauh lebih dahsyat lagi, aku rasa Liem Tou si manusia itu pun bukanlah tandingan dari Leng-jie yang sekarang!"

Dengan cepat Pouw Siauw Ling menganggukkan kepalanya melapor.

"Terus terang suthay; tenaga dalam Liem Tou benar-benar tinggi dan dahsyat sukar diukur, entah Leng jie "

Belum habis Pouw Siauw Ling berkata mendadak air muka si bocah berbaju putih itu sudah berubah hebat, hawa dingin menyelimuti seluruh wajahnya. "Leng-jie, kau jangan terlalu memandang tinggi kepandaian musuh. Liem Tou bukanlah malaikat sakti, dengan kepandaian silatmu saat ini mana mungkin bisa kalah di tangannya? Ayoh sekarang juga kau menggelinding turun dari gunung. Ayoh cepat pergi...!"

Kiranya orang itu bukan lain adalah suhu si penjahat naga merah yaitu si hweeshio gundul sembilan jari yang pernah membinasakan Hoa Siong si Auh Hay Hiap di bawah serangan cambuk Su Kuk Mo Pian-nya.

Sejak dia mengundurkan diri ke atas gunung Soat san dan mempelajari kitab pusaka "Kioe Im Tong Ci Lo Han Cin Keng" tubuhnya semakin lama berubah semakin kecil sehingga mirip dengan seorang bocah berumur tujuh, delapan tahun, cuma dia sudah bersusah payah tak berhasil juga mengubah kedua belah alisnya yang tebal itu.

Pouw Siauw Ling setelah tiba di gunung Soat san dan menempuh perjalanan yang susah payah akhirnya diapun berhasil juga menemukan dirinya.

Selama setahun ini Pouw Siauw Ling mengikuti dirinya belajar ilmu cambuk Suo Kuk Pian, sedang di dalam tenaga dalam dengan tak sayangnya si hweesio gundul sembilan jari ini menurunkan cara cara belajar ilmu "Kioe Im Tong Ci Kang" kepadanya.

Karena itu tenaga dalamnya pun memperoleh kemajuan yang amat pesat ditambah lagi makanan yang dihasilkan di atas gunung Soat San itu amat baik sekali bagi orang orang yang berlatih ilmu silat; oleh sebab itu walaupun Pouw Siauw Ling hanya berlatih selama satu tahun lamanya tetapi hasil yang diperolehnya seperti hasil latihan selama sepuluh tahun lamanya.

Kini Pouw Siauw Ling melihat Suo Kuk Mo Pian jadi marah, buru-buru dia mengangguk anggukkan kepalanya minta ampun. Tangan yang kecil dari hweesio itu dengan cepatnya lantas kirim dua kali tamparan menggaplok pipi Pouw Siauw Ling sehingga jadi merah membengkak, disusul tendangan kilat membuat tubuh Pouw Siauw Ling jadi terpelanting jatuh.

"Pergi. . . pergi...! Kalau tidak mau pergi lagi jangan salahkan aku hajar kau sampai setengah mati," teriaknya sambil memutar biji matanya yang kecil itu. "Setelah bertemu dengan Thiat Bok serta si naga merah, katakan suruh mereka tidak usah mencari aku lagi, aku tidak akan turun gunung!

Sekalipun kalian datang lebih banyak orang pun percuma saja, bilamana aku ingin turun gunung aku bisa pergi mencari kalian sendiri sendiri."

Selama setahun ini Pouw Siauw Ling sudah banyak mengetahui sifat dari Suthay si bocah cilik ini, saat ini dia tak berani banyak cakap lagi, menanti dia selesai berkata dia pun baru angkat kepalanya.

Tetapi waktu itu bayangan tubuhnya sudah lenyap dari hadapan matanya walaupun begitu dalam hati dia tahu kalau si suthay bocah itu pastilah lagi bersembunyi di sekelilingnya untuk mengawasi seluruh gerak-geriknya karena itu setelah merangkak bangun tanpa banyak melirik lagi tubuhnya bagaikan kilat cepatnya sudah lari turun gunung.

Sesudah dirasanya dia telah jauh meninggalkan gunung Soat san lembah Han Hong Kok itu langkahnya baru diperlambat.

Siapa tahu dari samping telinganya berkumandang datang suara dari Sao Kuk Mo Pian yang lagi berseru :

"Bangsat Cilik, kenapa kau berhenti? Ayoh cepat lari sebelum malam hari ini bilamana kau tak turun dari gunung ini aku siorang tua akan hajar kau manusia yang tak punya semangat ini." Di dalam keadaan terperanjat Pouw Siauw Ling mana berani berlaku ayal lagi, sekali lagi tubuhnya berkelebat lari ke arah depan dengan kalapnya.

Kemajuan yang dicapai oleh Pouw Siauw Ling selama setahun ini sungguh sungguh luar biasa sekali, telapak kaki yang terasa di atas permukaan salju jelas kelihatan setiap langkah lima enam kaki jauhnya; dari hal ini saja jelas sudah menunjukkan kalau dia termasuk seorang jagoan kelas wahid di dalam Bu lim.

Dalam hati pemuda ini tahu apa yang diucapkan oleh Suo Kuk Mo Pian pasti akan dikerjakan bahkan ada kemungkinan saat ini masih mengikuti terus di samping tubuhnya, karenanya tanpa berani banyak menoleh lagi tubuhnya bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya berkelebat dengan amat cepatnya ke arah sebelah depan.

Menanti sang surya sudah condong ke arah barat, seluruh tubuhnya sudah basah kuyup oleh keringat yang mengucur keluar dengan amat derasnya, napasnya memburu tetapi apa yang dihadapinya di depan mata masih merupakan permukaan salju yang amat luas.

Hatinya semakin lama semakin cemas sehingga akhirnya dengan sekuat tenaga dia berusaha cepat-cepat meninggalkan tempat itu.

Cara berlari dengan jalan ini walaupun Pouw Siauw Ling memiliki kepandaian silat yang lebih dahsyatpun belum tentu bisa kuat menahan rasa lelah yang amat mencekam hatinya, menanti cuaca mulai menggelap pemuda itu sudah benar- benar kehabisan napas dengan badan yang lemas tak bertenaga.

Tetapi apa yang dihadapinya masih merupakan permukaan salju yang saling sambung menyambung dengan ujung langit membuat hatinya semakin cemas lagi. Pada saat itulah terdengar suara dari Suo Kuk Mo Pian kembali berkumandang keluar.

"Hey bangsat cilik, ayoh percepat larimu, seperempat jam lagi sudah mendekati malam hari, bilamana kau tidak berhasil keluar dari gunung ini maka nyawamu sukar untuk dipertahankan lagi!"

Mendengar perkataan itu Pouw Siauw Ling jadi terperanjat, walaupun saat ini dia amat lelah dan kehabisan napas, terpaksa sambil menggigit kencang bibirnya dia terus berlari.

Seperempat jam kemudian cuaca pun mulai menggelap mendadak di hadapannya muncul sebuah bukit kecil yang amat curam.

Dengan cepatnya Pouw Siauw Ling berlari menaiki bukit tersebut dan memandang ke arah bawah puncak; yang amat dalam itu.

Cepat-cepat dia menoleh ke belakang, di bawah sorotan sinar yang samar-samar tampaklah sesosok bayangan putih berkelebat dengan cepatnya menuju ke arahnya. Dalam hati dia tahu bayangan tersebit tentu bayangan dari Suo Kuk Mo Pian yang lagi mengejar dirinya.

Dalam keadaan terpaksa menggigit kencang bibirnya dan teriaknya sambil menoleh ke belakang.

"Suthay, kau silahkan kembali, Leng jie pergi dulu!"

Sehabis berkata tanpa perduli keselamatannya sendiri lantas lari menuruni bukit tersebut.

Saat ini walaupun kesadarannya masih penuh tapi tenaganya sudah habis, kakinya jadi lemas tubuhnya pun ikut tergelincir dan menggelinding jauh ke bawah bukit.

Untung sekali di atas permukaan tanah sudah dilapisi oleh salju yang amat tebal sehingga tidak sampai terluka. Dengan membiarkan dirinya menggelinding Pouw Siauw Ling berusaha untuk mengumpulkan sisa tenaganya.

Tidak lama kemudian diapun mulai merasa badannya jadi segar kembali sedang hawa pun terasa jauh lebih hangat, tangan dan kakinya segera digerakkan untuk mengerem daya luncurnya ke bawah.

Setelah bersusah payah akhirnya Pouw Siauw Ling berhasil juga menghentikan daya menggelindingnya ke arah bawah.

Waktu itu dia sudah hampir berada di bawah kaki gunung, setelah beristirahat sebentar dia pun mulai pasang mata memperhatikan keadaan di sekeliling tempat itu.

Jauh di depan terlihatlah kumpulan sinar lampu memancarkan sinarnya secara samar-samar dalam hati Pouw Siauw Ling tahu itulah pasti sebuah kota kecil.

Semangatnya berkobar kembali dia lantas meloncat bangun dan melanjutkan perjalanannya menuruni gunung itu.

Tidak lama kemudian Pouw Siauw Lingpun sudah tiba di sebuah kota yang tak diketahui namanya. Di dalam keadaan terburu-buru dia lantas mencari sebuah rumah makan.

Begitu kakinya menginjak pintu rumah makan itu mulutnya sudah mulai berteriak keras:

"Hey pelayan, ayam bebek semuanya keluar kan."

Tetapi suasana tetap tenang-tenang saja tak kedengaran suara sahutan, pemuda ini jadi amat gusar sekali.

"Hey, apakah orang-orang sini sudah pada mati semua?" bentaknya dengan keras.

Mendengar suara bentakannya yang amat keras itu dari dalam ruangan segera muncul seorang pelayan berusia pertengahan yang dengan tak sungkan-sungkan sudah menegur : "Khek koan mau makan apa silahkan bicara dengan baik- baik; kenapa kau harus berteriak-teriak tidak karuan?

Bilamana sampai didengar oleh Toaya sekalian yang ada di da lam ruangan ini, kau tidak akan mendapat kebaikan.

ooo )( O )( ooo

SEBELUM menaiki gunung Soat san, Pouw Siauw Ling memangnya sudah mempunyai sifat manja, walaupun kini kepandaian silatnya sudah memperoleh kemajuan yang pesat tetapi sifatnya sama sekali tidak berubah.

Kini begitu mendengar perkataan yang amat kasar apalagi diucapkan oleh seorang pelayan, sudah tentu hatinya jadi amat marah.

Mendadak dia meloncat bangun dan memerseni dua kali gaplokan ke atas pipi pelayan tersebut membuat wajahnya kontan jadi bengap dan bengkak.

"Kau sudah pasang mereka disini apakah tidak boleh aku orang bersantap...? Kenapa kalian membeda-bedakan diriku dengan Toaya yang ada di dalam?" bentaknya dengan gusar. "Ayoh cepat sediakan ayam panggang serta bebek panggang, kalau tidak ... Hm! hati-hati saja dengan rumah makanmu ini, aku akan hancurkan sampai berantakan sama sekali."

Sehabis berkata dia lantas kirim satu tendangan membuat pelayan tersebut jatuh menggelinding dan berkaok-kaok kesakitan.

Pada saat itulah dari balik gorden muncul suara seorang yang lagi membentak keras.

"Dari mana datangnya kelinci liar yang berani mencari gara-gara di hadapan Toayamu sekalian. Bilamana tahu keadaan ayoh cepat sipat kuping menggelinding dari sini, jangan sampai membuat aku si orang tua jadi gusar... Hm! Kecuali kalau sudah bosan hidup lebih lama lagi..." Walaupun Pouw Siauw Ling yang ada di luar diam-diam lagi berpikir siapakah orang itu, tetapi dia orang yang selama hidupnya kecuali jatuh kecundang di tangan Liem Tou, siapa pun tak ada yang berani mengutik-utik dirinya, mana bisa menahan sabar lagi?

Air mukanya lantas berubah menjadi merah padam, dengan gusarnya dia membentak keras :

"Siapa yang bicara di dalam, ayoh lekas menggelinding keluar!"

Keadaan di balik gorden seketika itu juga jadi gempar, terdengarlah suara langkah kaki yang amat ramai hanya sebentar saja sudah muncul tujuh delapan orang lelaki berbaju hitam yang semua berusia pertengahan.

Walaupun perawakan tubuh lelaki berbaju hitam itu tidak semua sama tapi di bagian dada setiap orang tentu terukir sebuah malaikat yang berdasar putih dengan pinggiran emas. Ketujuh, delapan orang itu dengan sinar mata yang gusar pada melototi diri Pouw Siauw Ling tak berkedip.

Baru saja Pouw Siauw Ling hendak buka mulut untuk menanyai siapakah mereka mendadak terdengarlah dari balik hordeng kembali berkumandang suara yang amat dingin sekali:

"Untuk membereskan seekor anjing kecil yang buta, apa membutuhkan begitu banyak orang? Ayoh lekas dibereskan."

Dari antara tujuh delapan orang itu mendadak terdengar lima orang tertawa ringan dan mengundurkan diri kembali dari sana dan kini tinggal tiga orang saja.

Dua orang pendek dan seorang lelaki berbaju hitam yang kurus.

Dengan pandangan yang sangat dingin Pouw Siauw Ling menyapu sekejap ke arah mereka bertiga, lalu sambil melototkan mata bulat-bulat, bentaknya : "Kalian beberapa orang, kenapa buka mulut lantas memaki orang?"

Lelaki kurus itu tidak menjawab, sebaliknya menoleh ke arah kedua orang pendek dan tertawa.

Tanpa banyak cakap lagi mendadak tubuhnya mendesak ke samping tubuh Pouw Siauw Ling dan melancarkan satu serangan mengancam leher pemuda tersebut.

Kedua orang itu pun bersamaan waktunya berpisah ke kiri dan ke kanan lalu melancarkan serangan dari kedua belah sisi Pouw Siauw Ling.

Orang yang satu menotok jalan darah Siauw Tauw Hiat, pada iga bawah pemuda itu sedang yang lain menotok jalan darah "Thian Yong Hiat" pada belakang telinganya, gerakan dilakukan amat cepat bagaikan sambaran kilat.

Pouw Siauw Ling waktu ini kepandaiannya telah mengalami kemajuan yang amat pesat, tampak sepasang pundaknya sedikit bergerak tubuhnya sudah melompat menyingkir.

"Rupanya kalian sudah tidak menghargai nyawamu lagi!" bentaknya keras.

Tubuhnya bersalto di tengah udara, sepasang tangannya dipentang lalu melancarkan segulung angin pukulan yang menekan ke bawah secara tiba-tiba.

Setelah meninggalkan gunung Soat San, Pouw Siauw Ling belum pernah menjajal ilmunya, apalagi untuk mengumbar hawa mangkel yang ditahannya selama setahun lebih ini membuat dia turun tangan dengan sepenuh hati.

Seketika itu juga terdengar suara dengusan berat dari kedua orang lelaki pendek dan seorang lelaki kurus itu, tanpa mengeluarkan suara jeritan batok kepalanya sudah kena digempur sehingga jatuh terkulai ke atas tanah. Pouw Siauw Ling yang melihat mereka bertiga rubuh ke atas tanpa berkutik, buru-buru dia berjongkok untuk memeriksa.

Sebentar kemudian dia sudah menarik napas dingin, dia tidak menyangka kalau pukulan yang kelihatan ringan itu sudah lebih dari cukup untuk mencabut nyawa mereka bertiga.

Sebetulnya dalam hati Pouw Siauw Ling tisak bermaksud untuk mencelakai nyawa ketiga orang itu, tidak disangka pukulan yang rasanya ringan itu terasa amat berat bagi mereka sehingga tak dapat dihindarkan lagi mereka sudah kena dibunuh.

Dengan termangu-mangu pemuda itu memandang sekejap kearah tiga orang tersebut. Dalam hati ia merasa amat bingung sekali.

"Aku harus berbuat bagaimana ? " pikirnya.

Dengan cepat otaknya diputar keras beberapa saat

kemudian:

"Aakh bagaimana pun aku sudah menimbulkan urusan,

lebih baik aku bersikap tenang saja dan menghadapi segala peristiwa dengarn hati mantap," pikirnya lagi.

Setelah mengambil keputusan hatipun menjadi semakin mantap.

"Hey pelayan!" teriaknya kemudian dengan suara keras. "Mana panggang ayam dan panggang bebeknya? kenapa tidak dikeluarkan juga buat Siauwyamu? Apa kalian benar-benar tidak kepingin berdagang lagi di sini?"

Sembari berteriak telapak tangannya melancarkan satu pukulan ke arah hordeng yang menghalangi di hadapannya.

"Braak !" dimana angin pukulannya menyambar, kayu

hordeng itupun patah menjadi dua lalu rubuh ke samping sehingga terlihatlah sebuah meja perjamuan muncul di balik hordeng dengan tujuh orang duduk mengelilingi meja tersebut.

Sekilas pandang Pouw Siauw Ling dapat menangkap pada tengah meja perjamuan itu duduklah dua orang yang sudah berusia lima puluh tahunan, walau pun mereka memakai jubah warna hitam tapi lukisan obor pada dadanya berwarna dasar kuning dengan pinggiran merah, kelihatannya kedudukan mereka amat tinggi.

"Hey, cepat seret kawan-kawanmu pergi!" teriak Pouw Siauw Ling kembali sambil menuding ke arah tiga mayat yang menggeletak di atas tanah itu.

Sewaktu hordeng tadi rubuh ke atas tanah, mereka bertujuh sudah pada melompat bangun, hanya dikarenakan perisriwa terjadi sangat mendadak mereka pada melengak semua dibuatnya.

Kini setelah mendengar suara bentakan dari Pouw Siauw Ling ini, semua orang menjadi terperanjat. "Anjing cilik! Bagus sekali perbuatanmu. Ayoh serbu?" bentak mereka berbareng dengan amat gusarnya.

Tujuh orang bersama-sama meninggalkan tempat duduknya, di antara mereka ada lima orang yang sudah turun tangan mengerubuti diri pemuda Itu.

Pouw Siauw Ling segera tertawa dingin, kedua tangannya segera dibabatkan ke depan melancarkan satu pukulan dahsyat ke depan.

Kelima orang penyerang itu segera merasakan segulung angin pukulan yang amat kuat menekan mereka sehingga tak terasa mereka pada mundur menghindar.

Melihat kejadian itu Pouw Siauw Ling kembali tertawa dingin. "Hee . . . heeee . . . kalian gentong-gentong nasi lebih baik menyingkir saja dari sini9 kalian masih bukan tandinganku!"

Kepalanya menoleh ke arah dua orang berusia lanjut itu lalu tegurnya :

"Aku Pouw Siauw Ling tak pernah mengikat permusuhan apa-apa dengan kalian, air sungai tidak melanggar air sumur, kenapa kalian berani bersikap sangat begitu kurang ajar terhadap diriku? Siapakah sebetulnya kalian? Ayoh lekas sebutkan nama dan asal usulmu!"

"Bangsat cilik, kau tidak usah galak-galak dulu! Aku mau melihat bagaimanakah kau hendak meninggalkan daerah ini dengan selamat!" seru orang yang ada di sebelah kiri sambil melototkan matanya bulat-bulat. "Kau mau tanya asal usul dari aku orang tua? Perkumpulan Sin Beng Kauw sudah lama terkenal di seluruh kolong langit, apakah kau tidak punya mata?"

Sembari berkata dia mengirim kerdipan mata pada kawan yang berada di sisinya, segera tampaklah dua orang maju ke samping ketika sosok itu untuk mengadakan pemeriksaan sedang dua orang lainnya dengan cepat berjalan keluar dari rumah makan tersebut.

Tidak malu Pouw Siauw Ling pernah ikut Ang In Sin Pian melakukan perjalanan di dalam dunia kang-ouw. Melihat kedua orang itu hendak meninggalkan rumah makan tersebut, dalam hati dia pun lantas tahu apa yang hendak mereka kerjakan.

Air mukanya sama sekali tidak berubah, dia tetap berdiri dengan tenangnya di tempat itu.

Heee... heee... bagus... bagus sekali nama perkumpulan Sin Beng Kauw ini, cuma sayang... apakah di dalam dunia kangouw benar-benar ada perkumpulan yang menggunakan nama Sin Beng Kauw? Siapakah nama kauwcu kalian?" bentaknya keras. Baru saja selesai berbicara tubuhnya mendadak melompat ke depan. Bagaikan kilat cepatnya dia sudah menghalangi perjalanan dari orang berbaju hitam yang sudah berada di pintu rumah makan itu.

Haa... haa... lebih baik kalian berdua tidak usah bermain curang dengan diriku," ejeknya sambil tertawa.

Sembari berkata sepasang telapak tangannya dipentangkan sejajar dada sedang matanya melorot lebar-lebar memandang ke arah dua orang itu.

Kedua orang lelaki berbaju hitam itu menjadi terperanjat; dengan ketakutan mereka mundur tujuh, delapan langkah ke belakang dan balik ke tempatnya semula.

Dengan perlahan Pouw Siauw Ling pun berjalan kembali ke tempatnya semula.

"Hey siapakah kauwcu kalian? Ayoh cepat jawab sejujurnya!" bentaknya kembali sambil menuding ke arah si orang tua yang berada di di tengah perjamuan, orang tua yang sama sekali tidak berbicara, sepasang matanya melototi diri Pouw Siauw Ling dengan tak berkedip.

Kini; setelah mendengar suara bentakan dari Pouw Siauw Ling yang amat kasar itu dengan perlahan dia baru maju dua langkah ke depan.

"Cayhe adalah satu pelindung lukisan dari Sin Beng Kauw di bawah pemimpin Boe Beng Tok Su, Be Ci Hoa Be su ya adanya. Kau berani melukai anak murid perkumpulan Sin Beng kauw kami, tentunya kau pun mempunyai nama besar bukan?"

Pada setahun yang lalu Pouw Siauw Ling sama sekali tidak pernah mendengar nama dari Boe Beng Tok Su ini tetapi jika didengar dari nada suara orang ini agaknya nama orang itu serta nama dari Sin Beng kauw sudah amat terkenal sekali di dunia persilatan, hal ini membuat dia menjadi termenung. Mendadak tanyanya dengan suara yang jauh lebih halus : "Nama besar dari Boe Beng Tok Su aku belum pernah

mendengar, apalagi namamu Be Ci hoa, tetapi kau bilang di

dalam Sin Beng Kauw ada delapan orang pelindung hukum, sebetulnya kalian lagi melindungi lukisan apa?"

Be Ci Hoa segera tertawa dingin:

"Apakah soal ini kau pun tidak tahu? Sin Beng Kauw didirikan di gunung Jong Lay San pada setengah tahun yang laiu, kepandaian kauwcu kami yang yang mengandalkan dari kitab pusaka 'Cian Tok Kian To' sudah menggetarkan seluruh dunia kang-ouw; kalau hanya persoalan ini saja kau tidak tahu buat apa berkelana di dalam dunia kang-ouw ?"

Pouw Siauw Ling yang mendengar disebutnya kitab pusaka "Cian Tok Kian Toh" hatinya terasa amat berdebar, teringat kembali akan kata-kata terakhir dari mendiang ayahnya Ang In Sin Pian yang memerintahkan dia untuk mencari kitab pusaka Cian Tok Kian Toh guna dipelajari membalas dendam pada diri Liem Tou, sepasang matanya segera memancarkan sinar yang amat aneh sekali.

"Cian Tok Toh, sekarang berada dimana?" desaknya lebih lanjut.

Be Ci Hoa yang melihat sikap Pouw Siauw Ling sangat aneh sekali, dalam hati merasa rada tidak paham, mendadak tangannya diulapkan ke depan lima orang lelaki berbaju hitam yang berada di sampingnya kini pada bergeser dan berdiri di belakang tubuhnya.

"Siapakah sebetulnya kau orang?" tanyanya dengan dingin. "Bilamana dugaanku tak salah, kau orang tentunya Liem Tou bukan?"

Berbicara sampai disini dia berhenti sejenak, tujuh orang empat belas mata dengan tajamnya memperhatikan ke arahnya. Pouw Siauw Ling yang secara tiba-tiba mendengar disebutnya nama Liem Tou, air mukanya segera berubah hebat.

"Liem Tou. Liem Tou..." gumamnya seorang diri.

Mendadak, di dalam keadaan tak tersangka bagaikan kilat cepatnya dia maju dua langkah ke depan dengan dahsyatnya menyambar dan menyengkeram pergelangan tangan dari Be Ci Hoa.

Be Ci Hoa yang secara tiba-tiba diserang dengan terburu- buru mundur satu langkah ke belakang, tubuhnya berputar sedang telapak kirinya didorong ke depan menghajar dada Pouw Siauw Ling.

"Liem Tou, kau berani?" bentak enam orang yang ada di belakang Be Ci Hoa berbareng.

Jari tangan saling menyambar dan menyerang, keenam orang itu segera melancarkan serangan bersama-sama ke arahnya.

Pouw Siauw Ling segera mengetahui kalau mereka bertujuh sudah salah paham terhadap dirinya, mendadak dia melepaskan cengkeramannya pada pergelangan tangan Be Ci Hoa itu dan mundur beberapa langkah ke belakang, tangannya dengan gesitnya menangkis datangnya pukulan dari orang itu.

"Tahan!" bentaknya keras. "Aku bukan Liem Tou! Sejak kapan kalian berkenalan dengan Liem Tou? Hmm! Liem Tou ... aku memang lagi mencari dia untuk menuntut balas. Sekarang dia berada dimana? Cepat katakan, aku mau pergi membunuh bangsat cilik itu."

Mendengar suara teriakan itu, Be Ci Hoa terburu-buru menarik kembali serangannya dan menghembuskan napas panjang. Lama sekali dia memperhatikan pemuda tersebut, agaknya dalam hati ia belum mau percaya.

"Kau bukan Liem Tou?" tanyanya ragu-ragu. Tetapi dengan usiamu yang demikian muda telah memiliki kepandaian silat yang begitu lihai, kecuali Liem Tou masih ada siapa lagi?

Lelaki sejati tak akan berbohong. Siapakah sebetulnya kau ini

?"

Pouw Siauw Ling yang dalam hati kepingin cepat-cepat mengetahui jejak dari Liem Tou segera menjawab :

"Cayhe adalah Pouw Siauw Ling bukan Liem Tou, kalian jangan salah melihat orang..."

"Be su ya, jangan dengarkan omongan seruatunya," tiba- tiba terdengar suara si orang lainnya sudah berteriak dulu sebelum Be Ci Hoa memberi jawaban. "Orang ini berhati licik, kau jangan sampat kena ditipu oleh dirinya."

Sembari membentak tangannya diayunkan ke depan, beberapa rentetan sinar senjata rahasia segera menyambar ke depan.

"Tangkap dirinya!"

Lima orang lelaki yang berada di belakang Be Ci Hoa dengan cepat sadar kembali, masing-masing merogoh sakunya mengambil ke luar senjata rahasia.

Pouw Siauw Ling yang melihat pundak orang itu bergerak, dia lalu mengerti apa yang hendak diperbuat olehnya. Dengan cekatan tubuhnya meluncur ke samping lalu dengan menggunakan gerakannya yang aneh tapi gesit dia sudah mencengkeram kembali pergelangan tangan dari Be Ci Hoa.

"Hey orang she Be!" bentaknya dengan gusar. "Cepat perintahkan orang-orangmu untuk menarik kembali serangan tersebut, kalau tidak menyalahkan aku akan bersikap tidak sopan pada dirimu." Be Ci Hoa yang kena dicengkeram pergelangan tangannya sehingga terasa sakit dalam hati mengerti walaupun dia mempunyai maksud untuk menyerang, hal inipun tidak mungkin terjadi, pikirannya segera mulai berputar pikirnya;

"Jika didengar dan dilihat sikapnya yang amat tegang setelah mendengar disebutnya kitab pusaka Cian Tok Toh serta nama dari Liem Tou agaknya dia tidak bermaksud untuk melukai kami, kalau tidak dia telah turun tangan dua kali tak akan mengampuni orang dia berbuat demikian. Tentunya karena di balik ini semua ada sangkut paut dan hubungan dengan Cian Tok Toh serta Liem Tou, kemungkinan juga dia mempunyai ikatan-ikatan pemusuhan."

Berpikir sampai di sini diapun lalu mengulapkan tangan kirinya.

"Saudara-saudara, sementara jangan keburu napsu dulu.

Tenanglah! Kita bicarakan persoalan ini perlahan-lahan!" bentaknya.

Diikuti lengan kanannya segera tergetar meronta dari cengkeraman pemuda itu.

"Kepandaian silat dari Pouw Siauw Ling amat aneh dan dahsyat sekali aku Be Ci Hoa benar-benar merasa kagum, bilamana Siauwhiap mempunyai perintah atau pesan, silakan berbicara!"

"Ehmmmm . . . aku mau tanya, kenapa Sin Beng kauw kalian begitu membenci Liem Tou? Ada ikatan permusuhan apakah antara Liem Tou dengan Sin Beng kauw kalian?

Be Ci Hoa termenung berpikir sebentar.

"Perintah ini dikeluarkan oleh Kauwcu sendiri," sahutnya kemudian. "Dia berpesan, setiap kali bertemu dengan Liem Tou haruslah melaporkan peristiwa ini ke markas pusat, bahkan harus mengawasi jangan sampai dia berhasil meloloskan diri, sedang mengenai Liem Tounya sendiri kami cuma tahu dia adalah seorang pemuda tampan dengan memiliki kepandaian silat yang amat tinggi dan aneh, dari manakah asal-usul perguruannya tidak seorangpun yang mengetahui soal ini. Lebih baik kau tanyakan kepada Kauwcu kami Boe Beng Tok su sendiri saja." 

"Kalau begitu kitab pusaka Cian Tok Kian Toh yang kau sebut tadi adalah milik kaucu kalian? Kini barang tersebut disimpan dimana?"

Air muka Be Ci Hoa berubah hebat dengan tajamnya dia memperhatikan sekejap ke arah Pouw Siauw Ling, dia kepingin mengumbar hawa amarah tetapi takut pula dengan kepandaian silatnya yang amat lihay. Akhirnya setelah ragu- ragu sejenak katanya :

"Soal ini menyangkut rahasia dari kauwcu kami, maaf cayhe tidak bisa mengutarakan keluar."

Dengan perlahan Pouw Siauw Ling mengangguk, sikapnya berubah kembali jadi amat sombong.

"Kalau begitu aku merepotkan sebentar dirimu untuk menyampaikan pesan kepadanya, katakan aku hendak menemui kauwcu kalian itu sendiri."

Be Ci Hoa yang mendengar dia berkata demikian dalam hati menjadi amat girang, pikirnya :

"Di atas langit ada jalan kau tidak mau menempuh neraka tak berpintu kau terjang. Kau ingin menemui kauwcu sama saja dengan mencari jalan kematian buat dirinya sendiri."

Tetapi dia sama sekali tidak memperlihatkan perasaan tersebut pada wajahnya, mendadak dia merangkap tangannya menjura :

"Kauw cu kami bisa mendapat kunjungan dari Pouw Siauw hiap, hal ini benar-benar merupakan satu penghormatan buat kami. Entah Pouw Siauw hiap bermaksud hendak berangkat hari apa?" Pouw Siauw Ling termenung berpikir sebentar; baru saja dia bermaksud menjawab mendadak terdengar suara keleningan bergema dari jauh semakin lama semakin mendekat dan tidak lama kemudian muncullah seekor kuda jempolan berwarna hitam.

Di atas kuda terteout duduklah seorang gadis berbaju hitam dengan ikat kepala ber

warna hijau, wajahnya amat cantik sekali.

Dengan termangu-mangu pemuda tersebut memperhatikan beberapa kejap wajah yang cantik dari gadis tersebut, beberapa saat kemudian dia baru berkata kembali :

"Perkumpulan kalian mengijinkan aku untuk berkunjung, cayhe benar-benar merasa berterima kasih. Be heng, silahkan berangkat setindak terlebih dulu dan beritahukan kepada Kauw cu kalian bahwa Pouw Siauw Ling yang baru turun dari gunung Soat san ada urusan ingin berjumpa dengan Kauw cu. Di samping itu harap Be heng suka meninggalkan satu orang penunjuk jalan buat cayhe, sebentar lagi akupun akan melakuan perjalanan kembali."

Sewaktu gadis berbaju hitam itu mendengar perkataan Pouw Siauw Ling agaknya dia menaruh perhatian penuh dan melirik sekejap ke arah pemuda tersebut.

Sebaliknya Pouw Siauw Ling pun sudah mengawasi terus gadis tersebut sejak dia masuk ke dalam rumah makan.

Empat mata segera bertemu menjadi satu, walaupun hanya di dalam sekejap saja tetapi dalam hati setiap orang sudah mempunyai perhitungan sendiri.

Diam-diam pemuda itu merasa terperanjat sekali, pikirnya: "Kelihatannya gadis ini bukan sembarangan orang,

kepandaiannya sungguh dahsyat sekali!" Be Ci Hoa yang merupakan jago kawakan Kangouw sudah tentu diapun mengetahui kalau gadis tersebut mempunyai asal-usul yang besar, tak terasa dia pun memperhatikan lebih teliti lagi terhadap dirinya, setelah itu baru kepada Pouw Siauw Ling ujarnya sambil menjura:

"Kalau begitu aku berangkat terlebih dulu, menanti kedatangan Siauw hiap di lembah tanpa nama di gunung Jong Lay san."

Sehabis berkata, dengan memimpin lima orang yang lain serta mendorong ketiga sosok mayat itu mereka meninggalkan rumah makan tersebut dengan hanya meninggalkan seorang lelaki berbaju hitam yang usianya rada muda, hendak bertindak sebagai penunjuk jalan.

Siapa tahu, baru saja Be Ci Hoa bertindak keluar dari rumah rumah makan terebut mendadak terasa iganya menjadi kaku. Belum sempat dia berteriak, segulung angin pukulan yang sangat keras sudah mendorong ke arahnya.

Tak kuasa lagi tubuhnya segera terpukul maju tiga langkah ke depan dengan sempoyongan dan jatuh tertelungkup di tanah.

"Eeeei Be heng, kau kenapa? Kenapa tiba-tiba kau jatuh?" seru Pouw Siauw Ling terburu-buru sambil membimbing Be Ci Hoa bangun.

Air muka Be Ci Hoa berubah memerah, dalam hati dia pun tahu kalau dirinya sudah kena dibokong oleh orang lain, tetapi dia tidak mengetahui siapakah orangnya yang sudah turun tangan itu.

Ujung matanya segere menyapu sekejap ke arah gadis berbaju hitam yang baru masuk ke dalam pintu itu, melihat dia membelakangi dirinya tanpa bergerak kecurigaan ini pun lantas beralih ke tubuh Pouw Siauw Ling. "Akh . . tidak ada urusan, tidak ada urusan?" sahutnya sambil tertawa paksa. "Kakiku tersangkut tangan, terima kasih atas perhatian Siauw hiap!"

Sehabis berkata kakinya segera menginjak ke atas batu sebesar telur bebek sehingga hancur lebur setelah itu dengan membawa kelima orang lainnya dia meninggalkan tempat itu tergesa gesa.

Setelah melihat orang orang itu pergi jauh, Pouw Siauw Ling baru tertawa tiada hentinya.

Kiranya orang yang melancarkan pukulan tadi bukan lain adalah Pouw Siauw Ling tetapi pemuda ini pun tidak mengetahui kalau sebelum dia turun tangan terlebih dulu sudah ada orang yang melancarkan totokan untuk menotok jalan darah di bawah iga Be Ci Hoa, kalau tidak manusia yang sudah lama berkecimpung di dalam dunia kangouw mana mungkin bisa jatuh terjungkal dengan begitu mudahnya.

Tetapi pada saat ini, air muka gadis berbaju hitam itu memperlihatkan keragu-raguan pikirannya ;

"Totokanku tadi kenapa tak mengenai tempat berbahaya?

Apalagi pukulan dari orang itu sungguh aneh sekali, seharusnya setelah terkena pukulan orang itu akan rubuh, kenapa dia maju dulu beberapa langkah kemudian rubuh ke atas tanah? Kepandaian dari pemuda itu sungguh aneh sekali."

Tak terasa lagi dia sudah menaruh perhatian yang lebih mendalam lagi terhadap diri Pouw Siauw Ling.

Tidak lama kemudian pelayan Sudah menghidangkan sayuran yang lezat di atas meja, Pouw Siauw Ling yang selama setahun tak pernah mendahar masakan yang matang maka dengan rakus dan lahapnya menghabiskan seluruh hidangan itu, setelah itu baru memerintahkan anak murid Sin Beng Kauw untuk melakukan perjalanan ke lembah Boe Beng di gunung Jong lay san. Selama ini dia terus menerus menaruh curiga terhadap gadis berbaju hitam itu, sesaat meninggalkan tempat itu matanya kembali melirik beberapa kejap ke arahnya.

Siapa tahu semakin dilihat dia merasa gadis itu semakin cantik sehingga hatinya benar-benar terpikat sambil berjalan sambil menoleh akhirnya dengan paksakan diri dia berlalu juga dari sana.

Setelah dia pergi jauh, gadis berbaju hitam itu pun terburu buru membayar rekening dan berlalu menuju ke Timur.

Kita balik kepada Pouw Siauw Ling yang melakukan perjalanan bersama-sama dengan anak murid Sin Beng Kauw itu, tidak lama kemudian dia sudah melakukan perjalanan sejauh dua puluh lie.

Pouw Siauw Ling yang masih belum mengetahui seluk beluk tentang perkumpulan Sin Beng Kauw dalam hati merasa ragu-ragu juga akhirnya dia tak kuat menahan sabar lagi, tanyanya ;

"Kita sudah melakukan perjalanan sejauh dua puluh lie dan mulai memasuki pegunungan Jong Lay san; sebetulnya dimanakah letak lembah Boe Beng Ku itu?"

Dari sini menuju ke arah Timur kurang lebih kentongan kelima nanti. Sudah tiba nanti kan Pouw Siauw hiap tahu sendiri," jawab orang berbaju hitam itu.

Sehabis berkata dia bungkam kembali dalam seribu bahasa. Diam-diam dalam hati Pouw Siauw Ling mulai berpikir :

Saat ini baru kentongan pertama, bilamana harus melakukan perjalanan sampai kentongan kelima paling sedikit harus menempuh jarak ratusan lie lagi!

Dia termenung lalu pikirnya kembali: "Dengan kekuatan larinya dua ratus lie memang harus ditempuh sampai kentongan ke lima, tapi dengan kecepatanku paling banter cuma satu kentongan saja sudah tiba.

Setelah di dalam hati mengambil keputusan dia pun lantas bertanya:

"Boe Beng Tok Su sebenarnya manusia macam apa? dapatkah kau memberi penjelasan?"

Agaknya orang itu sudah diberi pesan untuk jangan berbicara, mendengar pertanyaan itu dia lalu menggeleng.

"Setelah bertemu muka dengan kauwcu, siauw hiap tentu akan tahu sendiri," sahutnya singkat.

Diam-diam pemuda itu merasa gemas juga melihat sikapnya itu, makinya di hati :

"Hmm! Maknya, kau tidak suka berbicara juga tidak meagapa, apa kau kira aku merasa takut dengan kauwcu kalian?"

Tetapi yang penting dia ketahui bukanlah soal ini, karena itu tanyanya kembali:

"Lembah Boe Beng Ku merupakan markas besar dari perkumpulanmu, di sepanjang jalan tentu tersebar penjagaan yang ketat, kini kita melakukan perjalanan siang malam, bilamana secara mendadak mereka melancarkan serangan dengan panah gelap, kita harus menghadapi dengan menggunakan cara apa?"

"Haa... haa... soal ini aku bisa menghadapinya, harap siauw hiap jangan kuatir," sahut orang berbaju hitam itu sambil tertawa.

"Kau bisa memberi tanggapan tapi aku tidak bisa!" kata Pouw Siauw Ling. "Cukup dengan baju putihku ini saja sekali pandang mereka sudah mengetahui kalau aku bukan anggota perkumpulan kalian, bilamana sampai mereka mempunyai maksud dan mengarah aku semua bukankah diriku konyol? Sekalipun kepandaian silatku jauh lebih tinggi pun pasti akan menemui kerugian."

"Hmm! heee... hee... Be Su ya sejak semula sudah kembali ke dalam lembah, urusan di sana ada dia yang turun tangan, harap Siauw hiap jangan kuatir. Kalau memangnya Siauw hiap bersungguh-sungguh hendak menemui kauw cu, siapa lagi yang berani turun tangan menhhadang?"

Pouw Siauw Ling yang mendengar perkataannya cengli, dia jadi bungkam seribu bahasa, tetapi berhubung urusan ini menyangkut keselamatan bahkan dalam hati dia sudah punya rencana sendiri, alisnya segera dikerutkan rapat-rapat.

"Dia tidak suka berterus terang, aku harus tiba sebelum waktunya untuk selidiki adakah rencana busuk yang sedang mereka susun," pikirnya di hati. "Bilamana hanya karena perkumpulan Sin Beng kauw yang tak bernama aku sudah dibuat ketakutan, akan kemanakah wajahku ditaruh? Apakah aku masih bisa menancapkan kaki lagi di dalam Bu lim?"

Sebetulnya di dalam hati mengambil keputusan, ujarnya mendadak:

"Aku akan berangkat satu tindak lebih dulu, kau susullah dengan perlahan dari belakang."

Mendengar perkataan tersebut orang berbaju hitam itu kontan menghentikan langkahnya.

"Bagaimana soal ini boleh jadi? Siauw hiap tidak kenal jalan, apalagi. "

Baru saja berbicara sampai di sini mendadak dia teringat kembali akan sesuatu dari Be Ci Hoa, mulutnya lalu bungkam kembali.

Pouw Siauw Ling yang mempunyai pengalaman luas; cukup melihat sikapnya itu dalam hati lantas mengerti kalau dugaannya tidak meleset. Tak kuasa lagi dia segera tertawa terbahak bahak: "Haaa... haaa... tidak mengapa, tidak mengapa, aku bisa

menemukan sendiri," sahutnya.

Sehabis berkata ujung kakinya menutul permukaan tanah; tubuhnya dengan cepat meluncur sejauh tiga kaki ke depan.

Orang berbaju hitam itu menjadi cemas; teriaknya dengan keras:

"Siauw hiap, jangan, kalau kau berangkat sendiri bagaimana aku harus bertanggung jawab?"

Sudah tentu Pouw Siauw Ling tidak akan menggubris dirinya lagi; hanya di dalam beberapa kali loncatan saja tubuhnya sudah ada dua; tiga puluh lie jauhnya.

Di antara suitannya yang amat keras dia segera mengeluarkan ilmu meringankan tubuh yang berhasil dipelajari di atas gunung Soat-san. Laksana seekor burung rajawali dengan amat cepatnya dia berkelebat di tengah pegunungan Jong Lay san yang tak rata itu. Hanya di dalam beberapa saat kemudian dia sudah berada amat jauh sekali dari tempat semula mendadak dari belakang tubuhnya berkumandang datang suara tiupan seruling yang amat panjang.

Dalam hati pemuda itu menjadi keheranan, hawa murninya dikerahkan semakin dahsyat sehingga laksana sepasang anak panah yang terlepas dari busurnya dia meluncur ke depan.

Tak lama kemudian suara tiupan seruling di belakang tubuhnya berkumandang semakin keras bahkan semakin lama semakin mendekat.

Waktu itu Pouw Siauw Ling sudah tiba di antara batu batu cadas yang berbentuk aneh, di atas sebuah gundukan tanah tumbuhlah tujuh delapan batang pohon. Mendadak suara seruling itu berkumandang datang dari tiga kaki di hadapaa tubuhnya dengan cepat meluncur ke depan laksana seekor elang menubruk ke atas.

Dengan matanya yang tajam, sekali pandang dia dapat melihat kalau di atas pohon itu sudah bersembunyi seseorang. Tanpa pikir panjang dia melancarkan satu pukulan dahsyat ke depan menghajar tubuh orang itu.

Suara dengusan bergema datang; orang yang berada di atas pohon itupun rubuh ke atas tanah tak berkutik lagi, sedang suara seruling berhenti berbunyi.

Pouw Siauw Ling mengetahui keadaan pada saat ini amat genting, tanpa perduli orang itu lagi, tubuhnya berkelebat semakin cepat ke arah depan, suara tiupan seruling dari dua suara memanjang kini menjadi satu memanjang.

Diam-diam Pouw Siauw Ling merasa geli, pikirnya: "Kiranya dua suara memanjang kini menjadi satu suara

memanjang, bilamana perkumpulan Sin Beng kauw menggunakan suara seruling untuk mengirim berita maka suara seruling itu jauh lebih kendor dari keadaan semula, akupun bisa memasuki lembah lebih mudah lagi."

Dia melanjutkan kembali perjalanannya selama setengah jam lamanya, akhirnya di depan mata sudah muncul sebuah gunung berbatu yang aneh sekali. Puncaknya tak begitu tinggi, cuma saja keadaannya amat curam dan berbahaya sekali.

Pouw Siauw Ling yang melihat jalan itu adalah sebuah jalan buntu pikirannya kembali bergetar:

"Apa mungkin untuk menuju ke lembah tak bernama itu harus melewati dulu gunung berbatu yang amat curam dan berbahaya ini? Aku harus berjaga-jaga terhadap serangan yang dilancarkan oleh mereda, apalagi gunung berbatu itu merupakan tempat bersembunyi yang amat baik sekali." Tetapi sebentar kemudian dia sudah berpikir kembali:

"Be Ci Hoa sudah pulang memberi laporan. Bilamana kauwcu tersebut mempunyai minat untuk bertemu dengan diriku, ada kemungkinan dia bisa membubarkan jebakan- jebakan yang dipasang tetapi bilamana tidak suka bertemu, pastilah dia orang akan mengatur siasat untuk membinasakan diriku... Hmm! Aku Pouw Siauw Ling tidak akan membiarkan diriku terkurung di dalam gunung berbatu ini!"

Berpikir sampai di sini dia lantas tertawa dingin, dari pinggangnya dia mengambil ke luar sebuah cambuk berwarna putih, kemudian meluncur ke atas gunung.

Kurang lebih tiga kaki di atas gunung berbatu itu akhirnya pemuda tersebut menemukan juga sebuah jalanan seperti usus kambing yang amat kecil sekali memanjang ke atas.

Dengan mengikuti jalan kecil itu, Pouw Siauw Ling melanjutkan perjalanannya.

Nampaklah jalan kecil itu membelok dan menurun ke bawah, sewaktu hatinya merasa ragu-ragu itulah tiba-tiba dari belakang tubuhnya terdengar suara desiran yang amat tajam.

Dengan gesitnya Pouw Siauw Ling memutar badannya, terlihatlah dua titik cahaya keemas-emasan dengan cepat meluncur ke arahnya.

Terburu-buru dia miringkan kepalanya ke samping, titik cahaya enas itu dengan disertai desiran tajam berkelebat dari samping telinganya.

Pouw Siauw Ling segera tertawa dingin: "Kawan, apakah kau orang anggota perkumpulan dari Sin Beng Kauw? Hmm!" serunya. "Cayhe adalah Pouw Siauw Ling yang sengaja datang untuk menyambangi kauw cu kalian. Bahkan, Be Su ya Be Ci Hoa salah satu pelindung lukisan kalian sudah melaporkan urusan ini kepada kauw cu. Harap kawan suka memberi jalan!" Sembari berkata Pouw Siauw Ling mernperhatikan keadaan di sekeliling tempat itu. Melihat senjata rahasia tersebut meluncur keluar dari arah di balik batu, dia pun lantas mengawasi tempat tersebut dengan tajam.

Sedikit pun tidak salah, di balik batu itu memang ada orang yang lagi bersembunyi terdergar suara yang berat berkumandang keluar.

"Be Su ya sudah mengirim perintah dan kami telah mengetahui urusan ini, tetapi kenapa kau datang seorang diri? Dimanakah saudara kami yang bertindak sebagai penunjuk jalanmu itu?"

"Sebentar lagi dia bakal tiba," sahut Pouw Siauw Ling dengan cepat, "Kawan; kau tidak usah menaruh curiga, aku Pouw Siauw Ling bukanlah manusia semacam itu."

"Heee... heee... kawan, kalau memangnya kau bermaksud untuk menyambangi kauw cu kami, kenapa saudara tersebut kau tinggalkan di tengah jalan dan berangkat kemari lebih dulu? Lebih baik untuk sementara waktu saudara menunggu dulu disini, menanti setelah saudara kami tiba di sini, kalian baru masuk ke dalam lembah bersama-sama."

Sehabis berkata mendadak dia mengambil keluar serulingnya dan mulai meniup kencang-kencang.

Melihat kejadian itu, Pouw Siauw Ling menjadi amat terperanjat, bentaknya:

"Kawan, aku masuk ke dalam lembah Boe Beng Ku ini untuk mengunjungi Sin Beng Kauw cu, sama sekali tidak bermaksud jahat. Harap kau jangan memandang diriku sepertf memandang musuh!"

Dengan cepat cambuknya menutul tanah dan tubuhnya dengan cepat meluncur ke balik batu besar, gerakannya amat gesit dan cepat, sedikitpun tidak menimbulkan suara apa pun. Siapa tahu sewaktu tubuhnya tiba di balik batu, di tempat itu sama sekali tidak tampak adanya bayangan manusia.

Hatinya benar-benar merasa amat terperanjat, pikirnya :

"Seorang penjaga gunung dari Sin Beng-Kauw saja memiliki ilmu yang demikian dahsyatnya, aku tidak boleh memandang terlalu rendah kekuatan mereka!"

Tetapi dia tidak berhenti sampai di situ, cambuk panjangnya dibabat ke depan, tubuhnya pun dengan mengikuti gerakan tersebut meloncat ke depan dengan mengambil jalan usus kambing itu, dia lanjutkan perjalanan ke atas gunung.

Belum sempat dia meloncat untuk ketiga kalinya, suara seruling di belakang tubuhnya bergema kembali diikuti suara bentakan keras dari seseorang.

"Hey orang she Pouw! Kau orang janganlah nekad begitu rupa dengan melanjutkan terjanganmu ke dalam lembah.

Kami orang-orang Sin Beng kauw tak akan membiarkan orang asing keluar masuk seenaknya di tempat kami. Hmm! Kalau tak cepat-cepat menghentikan gerakanmu, nanti kau orang akan menyesal."

Siapa tahu baru saja suara bentakan tersebut selesai diucapkannya, mendadak suara jeritan ngeri yang menyayatkan hati berkumandang keluar.....

Dengan terperanjat Pouw Siauw Ling menoleh, tampaklah di tengah kegelapan berkelebat lewat sesosok bayangan hitam yang hanya di dalam sekejap saja sudah lenyap dari pandangan.

Dalam hati pemuda itu tahu bahwa suatu peristiwa telah terjadi, tanpa pikir panjang lagi dia pun meluncur ke tengah gunung dengan cepatnya. Dengan mempergunakan ilmu meringankan tubuh yang dimilikinya saat ini, bilamana tak ada rintangan hanya di dalam sekejap saja dia sudah tiba di dalam puncak gunung tersebut.

Dengan meminjam cahaya rembulan yang samar-samar, matanya mulai menyapu keadaan tempat itu, secara samar- samar tampak olehnya di bawah puncak tersebut merupakan sebuah lembah buntu. Di tengah lembah tampak sebuah selokan kecil memanjang ke depan.

Di samping sungai tersebut, tumbuhlah pepohonan dengan amat lebatnya dengan sebuah kuil kecil muncul di antara tumbuhan tersebut.

Diam-diam di dalam hati Pouw Siauw Ling mulai mengadakan perhitungan, dia tahu kauw cu dari Sin Beng Kauw yang disebut Boe Beng Tok Su itu pastilah berdiam di ruangan belakang, tetapi dia orang yang bermaksud untuk menyambangi orang itu dengan terang-terangan, dalam hati dia mulai mengambil keputusan untuk muncul dari ruangan depan.

Sewaktu dalam hati sedang berpikir itulah mendadak di sekelilingnya muncul empat orang berbaju hitam yang mencekal pedang panjang dan berdiri kurang lebih tiga kaki dari dirinya. Saat itu mereka sedang mengawasi pemuda tersebut dengan amat tajamnya.

Melihat kejadian itu, Pouw Siauw Ling jadi melengak, serunya dengan rasa keheranan:

"Apakah Be Su ya Be Ci Hoa dari perkumpulan Sin Beng Kauw tak memberitahu kepada kalian kalau malam ini ada orang yang hendak masuk ke dalam lembah untuk menyambangi kauw cu?"

"Sudah tentu Be Su ya sudah memberitahukan hal ini kepada kami," sahut si orang berbaju hitam yang ada di sebelah selatan dengan suara dingin. "Tetapi sebelum menemui kauw cu, kau harus memecahkan dulu tiga rintangan dari lembah ini."

Mendengar perkataan itu, Pouw Siauw Ling segera mengerti kalau Be Ci Hoa sudah menaruh rasa gemas dan mendongkol terhadap dirinya terasa lagi dia tertawa terbahak- bahak.

"Haa ... ha... haa ... Baiklah mulai!! Jago-jago lihay Sin Beng kauw silakan mulai melancarkan serangan tetapi harus kita jelaskan dulu, mulai sekarang bilamana kalian sampai terbinasa di tanganku maka kalian tidak boleh mencari gara- gara lagi dengan diriku. Bagaimana?"

"Soal ini sudah tentu," seru orang berbaju hitam yang ada di sebelah utara sambil tertawa dingin. "Asalkaa kau bisa melewati ke tiga rintangan ini maka Sin Beng kauw akan menganggap kau sebagai tetamu terhormat."

Pada saat itulah lelaki berbaju hitam yang ada di sebelah timur mendadak melompat dua kaki ke depan kemudian melancarkan satu tusukan mengancam ulu hati pemuda tersebut.

"Tidak usah banyak cakap lagi, terima seranganku ini!" bentaknya keras.

Dengan tenangnya Pouw Siauw Ling mundur setengah langkah untuk menghindarkan diri dari serangan tersebut.

Pada saat itulah kembali dari samping tubuhnya terasa sambaran angin serangan yang amat tajam, pundaknya dengan cepat dikebaskan lalu berputar satu lingkaran ke depan.

Serangan pedang dari belakang yang dilancarkan lelaki berbaju hitam di sebelah Barat itu pun mengenai sasaran kosong.

"Hmm! gerakan bagus!" dengus lelaki yang ada di sebelah Timur dengan dinginnya. Pedangnya menekan ke bawah dan dilanjutkan dengan mencukil ke atas, ujung pedang dengan cepat mengancam iga dari Pouw Siauw Ling.

Dengan cepat pemuda itu menggeserkan kaki kirinya ke samping menanti. Serangan pedang dari lelaki yang ada di sebelah Timur kembali mencapai pada sasaran yang kosong, baru dia tertawa:

"Aku Pouw Siauw Ling yang baru saja menginjak wilayah kekuasaan kalian sebagai penghormatan aku sudah mengalah tiga jurus kepada kalian, mulai saat ini harap kalian sedikit waspada karena cayhe mau turun tangan!"

Selesai berkata cambuk putihnya segera digetarkan; mendadak senjatanya tegak bagaikan pit dilintangkan di depan dada.

Lelaki yang ada di sebelah Timur melihat serangannya mengalami kegagalan, hawa amarahnya malai memuncak kembali. Dia menyerbu ke depan sambil melancarkan beberapa kali sambaran.

Diikuti ketiga orang lainnya, dari arah Selatan, Barat serta Utara mereka maju mengerubut ke depan. Di antara berkelebatnya sinar pedang mereka pada menyerang jalan darah kematian dari pemuda tersebut.

Dengan cepat Pouw Siauw Ling memutar cambuknya untuk melindungi seluruh tubuh, seketika itu juga angin serangan menderu-deru laksana tiupan angin topan.

Sampai waktu itu Pouw Siauw Ling sama sekali tidak menyerang dengan sepenuh tenaga, dia bermaksud untuk mempermainkan terlebih dahulu musuh-musuhnya itu.

Tetapi waktu semakin lama, mendadak dia memaki dirinya sendiri: "Kenapa aku harus membuang waktu disini dengan percuma?" Berpikir akan hal itu tenaga murninya pun segera disalurkan keluar.

Sambaran angin serangan semakin menghebat sedang bayangan cambukpun berputar menyilaukan mata dan seketika itu juga mengurung keempat orang itu di dalam angin serangannya.

"Saudara berempat, kalian jangan salahkan aku lagi. Aku pergi terlebih dulu!" serunya kemudian sambil tertawa.

Mendadak pergelangan tangannya digetarkan, cambuknya segera melingkar ke atas dan menyabet ke samping.

"Lepas tangan!" bentaknya.

Keempat orang lelaki berbaju hitam itu hanya merasakan pedangnya tergetar amat keras, pergelangannya jadi kaku sedang pedang mereka telah mencelat ke tengah udara, diikuti berkelebatnya sesosok bayangan manusia. Pouw Siauw Ling sudah meloncat sejauh satu kaki lebih.

"Haaa ... haaa... kalian berempat masih kurang lihay, maaf aku tak punya waktu lagi untuk melayani lebih lanjut," ejeknya.

Ujung kakinya segera menutul tanah, tubuhnya dengan amat cepat meluncur masuk ke dalam lembah tak bernama itu.

Sewaktu mereka berempat lagi berdiri termangu-mangu disana, saat itulah kembali terasa bayangan hitam berkelebat

....

"Plak... Plok... Plok... setiap orang sudah kena digaplok sekali di atas mulutnya membuat mereka berempat jadi sadar kembali.

Walaupun begitu mereka tak berhasil melihat jelas siapakah gerangan tangan jahil tersebut, terasa bayangan hitam berkelebat tahu-tahu mereka sudah kehilangan jejak musuhnya.

Akhirnya mereka cuma berdiri melongo-longo sambil saling tukar pandangan dengan benak penuh tanda tanya.

Kita balik pada Pouw Siauw Ling. Setelah meninggalkan empat orang itu; hanya di dalam sekejap saja dia sudah menuruni bukit tersebut dan kini perjalanannya terhalang oleh sungai dengan airnya yang amat jernih. Semangat pemuda itu berkobar kembali, tiba-tiba teriaknya:

"Hey Sin Beng Kauw cu Boe Beng Tok Su Cianpwee, harap kau orang suka unjukkan diri, cayhe Pouw Siauw Ling sengaja datang menyambangi dirimu!"

Lututnya segera ditekuk lalu menjejak permukaan tanah dan meluncur ke depan dengan gerakan "Lok Yen Huan Cau" atau burung walet kembali ke saraug dengan cepatnya menyeberangi sungai tersebut.

Sungai itu luasnya tidak sampai tiga kaki, buat Pouw Siauw Ling sebenarnya tidak sulit untuk melewatinya. Siapa tahu sewaktu tubuhnya lagi meloncati sungai itulah, mendadak dari tepi seberang berkelebat pula beberapa sosok bayangan manusia.

Hanya sekejap saja di tepi pantai seberang sudah berdiri delapan orang tua berbaju hitam dengan wajah meringis kejam.

Melihat perubahan yang terjadi secara mendadak, Pouw Siauw Ling segera mengerti kalau suatu pertempuran yang amat sengit tidak akan terhindarkan lagi. Dia tidak berani menempuh bahaya dengan gegabah, lengannya segera menekan ke bawah dan dengan menggunakan kekuatan tersebut dia bersalto beberapa kali di tengah udara.

Di antara sambaran cambuk panjang, tubuhnya melayang kembali ke tempat semula. Semua gerakan tersebut dilakukan hanya di dalam sekejap saja, tapi hasil yang diperoleh pun luar biasa.