Raja Silat Jilid 36

 
Jilid 36

BAGI CING JIE perbuatan ini sangat menarik sekali tetapi dengan kejadian ini Liem Tou merasa amat menderita sekali bahkan hampir hampir memancing dia kedalam jalan api neraka sehingga badannya cacad.

Kiranya Liem Tou sehabis mengisap darah ular raksasa itu dia merasa hawa panas yang menyerang hatinya membuat seluruh tubuh menjadi terbakar, dia tahu kejadian ini tentulah dikarenakan darah ular raksasa tersebut.

Karena itu dia lantas duduk bersila menuruti ajaran Sim hoat dari kitab pusaka To-Kong Pit Liok dan menyalurkan hawa panas tersebut mengelilingi seluruh urat nadi serta jalan darah yang ada didalam tubuh, waktu itulah dia merasa badannya mulai nyaman dengan segera oleh sebab itulah dia melanjutkan semadinya diujung ruangan batu itu.

Siapa tahu sewaktu ia sedang berlatih hingga mencapai pada puncak sesuatu latihan mendadak dari hadapannya muncul sesuatu yang tidak beres, bukan saja didalam tubuhnya mulai bergolak dengan amat kerasnya bahkan hawa murni didalam dada serta lambungnya menerjang keatas dengan dahsyatnya sehingga sukar untuk ditahan.

Didalam keadaan amat terperanjat dia lantas kerahkan lweekang menurut ajaran kitab pusaka To Kong Pit Liok untuk menguasai seluruh keadaan. hanya didalam sekejap saja ia sudab berada didalam keadaan lupa segala-galanya.

Pada saat itulah mendadak hidungnya mencium bau harum yang sangat aneh menjalar masuk kedalam tubuhnya melalui hidung masuk kedalam pusar lalu melanjutkan alirannya berputar ke 'Jien Tok' dua urat nadi akhirnya kedalam 'Nie Tan' serta "Sin Teng”

'Nie Tan' serta "Sin Teng" merupakan dua buah pusat urat syaraf yang penting didalam tubuh, sekalipun tenaga dalam Liem Tou amat dahsyatpun waktu itu tidak bakal bisa menahan golakan yang timbul disebabkan oleh bau harum yang semerbak dari tubuh seorang gadis. Napsu birahi muncul dari hatinya membuat pikiran cabul pun terbayang didalam ingatannya bagaikan didalam impian saja segala pemandangan yang indah serta sorga dunia muncul saling susul menyusul didalam benaknya.

Aliran darah yang sedang berputar dengan teraturnya didalam tubuh pun mulai buyar dan mengalir simpang siur amat kacau.

Cing jie yang meniupkan udara kedalam hidung Liem Tou sewaktu dilihatnya pemuda tersebut sama sekali tidak menimbulkan reaksi apa apa lantas bersiap siap untuk meniup kembali beberapa kali.

Mendadak dia melibat tubuh Liem Tou tergetar amat keras diikuti wajahnya berubah jadi merah padam bagaikan kepiting rebus; semakin lama semakin memerah sehingga akhirnya mirip dengan sekuntum bunga yang sedang mekar, sangat menarik sekali.

Cing jie yang melihat ketampanan wajah sang pemuda semakin lama semakin menyenangkan, hatinya jadi bergirang hati kepada pemuda itu lalu serunya:

"Liem Tou" kau sedang malu? aku tidak percaya kalau kau berhasil duduk bersemedi sehingga berada didalam keadaan lupa akan segala-galanya. Hey Liem Tou, Boen Ing itu sangat galak kenapa kau terus menerus berpura-pura? bilamana kau tidak suka buka mata aku akan hajar badanmu !”

Sehabis berkara dia lalu mengayunkan tangannya siap menggaplok pipi Liem Tou.

Siapa tahu sewaktu tangannya sedang di ayunkan inilah mendadak terdengar pemuda itu buka mulut,

'Aakh ! enciku yang baik kau sunggub cantik bagaikan bidadati yang turun dari kahyangan ! Aku mohon kepadamu biarlah aku cium wajahmu . "

Cing jie yang mendengar Liem Tou angkat bicara dia lantas menarik kembali tangannya, tetapi setelah mendengar perkataan itu dia jadi jengah.

"Liem Tou ! Kau sungguh tak tahu malu, apa kau kata

?'bentaknya nyaring.

Setelah suara bentakan tersebut. dalam perkiraannya, Liem Tou sudah tentu akan membuka matanya setelah mendengar suara bentakan itu lalu minta maaf kepadanya.

Siapa tahu pemuda itu masib tetap duduk tak bergerak; seluruh tubuhnya gemetar keras sedang wajahnya semakin lama berubah semakin merah.

"Enci yang baik kita dibesarkan bersama-sama, aku cinta padamu benar benar. kenapa kau tidak memperkenankan aku mencium dirimu ? Mari cici biar aku cium dirimu perlahan- lahan. Aaaakh enci yang baik aku mohon "

Cing jie yang mendengar perkataannya semakin iama semakin tidak karuan mendadak putar badannya.

'Liem Tou. kau jangan terlalu menggoda orang !” bentaknya dengan nyaring 'Siapa yang menjadi encimu ? Siapa yang dibesarkan bersama sama dirimu ?'

Tubuh Liem Tou yang lagi bersemedi di atas tanah gemetar amat keras sekali. wajahnya yang merah padampun sudah lenyap bergpanti dengan air muka yang pucat pias bagaikan mayat; suaranya berubah semakin kecil sehingga sukar untuk didengar.

'Enci Ie !" ujarnya lagi. 'Kau tidak meng gubris aku, tapi jangan marah . ? aahh . . aku merasa rada dingin . . , Aduuh .

. . !"

Hanya didalam sekejap mata saja wajah Liem Tou dari pucat pasi semakin lama berubah menjadi semakin hijau menyeramkan seluruh tubuhnya gemetar semakin keras.

Cing jie yang mendengar Liem Tou berteriak keras dengan kagetnya lalu menoleh.

Waktu dilihatnya keadaan wajahnya tidak beres dengan gugup tanyanya : 'Liem Tou kau kenapa ?' Seluruh tubuh Liem Tou masih gemetar tidak hentinya air mukanya berubah semakin menghijau membuat Cing jie jadi amat gugup.

Mendadak teringat olehnya akan kata dari Oei Tiap Loojien yang pernah memberitahu bagaimana bahayanya orang berkepandaian yang terpancing kedalam jalan api menuju neraka, kini dicocokkan dengan kata kata ingatan yang diucapxan oleh Liem Tou sudah jelas merupakan tanda yang nyata.

Didalam keadaan gugup pedang Lan Beng Kiamnya bagaikan kilat menyambar kedepan wajah Liem Tou membikin hawa pedang yang amat dingin menyeramkan menusuk wajahnya.

Liem Tou yang berada didalam keadaan amat kritis dan bahaya mendadak dikejutkan oleh sambaran hawa pedang yang sangat dingin menyeramkan segera membentak keras, kesadarannya pun pulih kembali seperti sedia kala.

Bagaikan baru saja terbangun dari suatu impian buruk aliran darah didalam badannya menjadi lancar kembali semangatnya pun pulih kembali seperti sedia kala; dengan sendirinya dari mulutpun memperdengarkan suara rintihan yang perlahan.

Melihat akan hal itu Cing jie jadi amat girang sekali.

“Liem Tou ! Liem Tou ! lekas bangun .” serunya berulang kali.

Walaupun telinganya Liem Tou bisa mendengar suara teriakan dari Cing jie itu tapi berhubung waktu itu dia harus membalik dulu hawa murninya seperti sedia kala sehingga tidak sampai merugikan badan maka dia tetap pejamkan matanya tidak bercakap-cakap .

Cing jie yang melihat suara panggilannya sama sekali tidak digubris oleh Liem Tou dia pun lalu menghela napas panjang . Liem Tou merasa tubuhnya tiba tiba digendong oleh Cing jie dan entah dibawa kearah mana. Dia merasa hawa murni dibadannya menjadi lancar kembali. setelah mengelilingi seluruh tubuh satu kali diapun lantas membuka matanya.

Tampaklah waktu itu dia duduk bersila di sebuah ruangan batu yang rada mewah dengan alat alat meja kursi yang lengkap, di tengah ruangan diatas dinding tergantunglah sebuah lukisan orang tua yang amat ramah sekali sedang dirinya berada diatas pembaringan batu dengan Cing jie berada disisinya.

“Iiih.. tempat manakah ini?” teriak Liem Tou kaget.

Dengan perlahan Cing jie bungkukkan badannya dan ujarnya dengan halus:

'Liem Tou; ini adalah kamarku, kau rada baikan bukan?'

Liem Tou yang baru saja lolos dari bahaya maut seluruh tubuhnya telah dibasahi oleh ke ringat, dari dalam sakunya Cing jie lantas mengambil keluar sebuah sapu tangan dan mengusap kering keringat dibadan pemuda itu.

Liem Tou yang tiba tiba mencium bau harum dari sapu tangan itu hatinya jadi paham beberapa bagian, dengan perlahan dia mengangguk.

'Untung sekali ada sebuah benda yang dingin menyeramkan sehingga dapat membuka aku sadar kembali sakinq terkejutnya; kalau tidak selama hidupku kali ini akan tersiksa!'

Dia berhenti sebentar untuk kemudian tanyanya lagi; "Bagaimana aku bisa sampai ditempat ini? Ah ! nona, bukankah kalian sudah memasuki barisan bunga itu ?

Dmanakah Oei Tiap loo-ciunpwee dan Boen Ing si perempuan silmuan itu 7"

'Heei - - perkataan itu amat panjang sekali kalau dibicarakan" ujar Cing jie dengan sedih bercampur gembira, "Boen Ing sudah terkurung didalam ruangan batu ditempat luaran, untuk beberapa saat lamanya dia tidak bakal bisa lolos dari sana sedang supek, dia - dia sudah mati !' Liem Tou yang mendengar Oei Tiap Loo jien sudah mati mendadak melomupat bangun dari atas pembaringan batu itu. ”Kau bilang apa ?" teriaknya dengan keras. 'Oei Tiap loocianpwee sudah mati, bagaimana dia bisa mati ? Setelah dia mati lalu siapa yang bakal memberi pelajaran ilmu silat buat Oei Poh ?"

Cing jie yang meiihat sikap terharu yang terpancar dart wajah Liem Tou dengan sedihnya lalu menghela napas panjang-

"Liem Tou kau jangan terburu napsu” hiburnya, "Oei Tiap supek memang benar benar sudah mati tapi tiga tahun kemudian dia akan hidup kembali hal ini tak usah terlalu diisedihkan saat ini kita masih menghadapi satu kesukaran yang harus cepat cepat diselesaikan.”

"Kita berdua bukankah amat baik sekali ? kesukaran apa lagi yang sekarang kita hadapi?” tanya penuda itu dengan keheranan.

Cing jie pun lantas menceritakan kisahnya dimana dia bertempur melawan Boen Ing didalam barissn bunga lalu bagaimana memancing dia masuk kedalam ruangan batu dan terjebak, dan terakhir tambahnya lagi 'Liem Tou!! ruangan batu ini adalah ruangan yang digunakan sucouku tempo hari untuk bersemedi sehingga pintu masuk cuma ada satu saja kini Boen Ing ada didalam ruangan yang menutupi pintu keluar, walau pun dia tak mengetahui akan alat alat rahasia dari ruangan tersebut sehingga tak bisa lolos tetapi kitapun tidak bakal bisa keluar! ! bilamana kini tidak mencari akal untuk keluar, maka kita bakal menemui kesulitan! ! ' .

Liem Tou yang mendengar perkataan itu segera tertawa dirgin.

”Soal itu tidak sulit! ! " serunya dengan cepat. “Mari kita terjang keluar dan tempuri dirinya, apa dikira kita menaruh rasa jeri terhadap dirinya? ? " .

Sembari berkata dia mulai menggosok-gosok kepalanya. Dengan dinginnya Cing-jie mengerling ke-arab pemuda tersebut tanpa mengucapkan sepatah katapun, cuma dari hidungnya dia mendengus dingin.

Waktu itulah Liem Tou baru ingat kembali kalau dirinya sudab mengunci tangan setelah mengetahui dirinya sudah salah berbicara wajahnya berubah merah karena jengah, terburu-buru dia mengubah bahan pembicaraan.

"Nona, dimanakah jenasab Oei Tiap Loojien diletakkan? dapatkah kau orang membawa diriku untuk pergi manyambanginya? Oie-Tiap Loojien jadi orang ramah dan agung; aku Liem Tou benar-benar menaruh rasa kagum terhadap dirinya.

Dengan perlahan Cing jie mengangguk dan membawa dia masuk kedalam ruangan yang terdapat empat buah peti mati itu.

'Liem Tou. kau mendatangi gunung Heng san ini apakah khusus hendak mencari supekku?" tanya Cing jie dengan perlahan. " Atau mungkin karena kau tahu tidak bakal menangkan dirinya lantas menutup tangan sendiri?” kenapa tadi kau bilang hendak menghajar diri Boen Ing; hanya didalam sekejap saja sudah berubah pendapat ?”

Pikir Liem Tou waktu ini sedang diperuhi dengan berbagai persoalan. Dia sama sekali tidak menjawab sebaliknya berjalan kedepan peti peti mati tersebut.

Ketika dilibatnya ditempat itu ada empat peti mati tidak terasa ia jadi melengak dan kebingungan.

Cing jie tertawa tawar; dia menuding dari peti mati yang ada disebelah paling kiri lalu ujarnya ;

“Kau jangan keheranan, mari aku beritahu kepadamu; ini adalah ibuku Su Sim Koan Im, sedang yang ini adaiab ayahku Ie Tiap Cing jie Sedang yang ketiga adalab milik supekku Oei Tiap loojien ' Sembari berkata air mata mengucur keluar dengan derasnya; dengan terburu-buru Liem Tou berlutut memberi hormat kepada jenazah jenazah tersebut.

Mendadfik terdengar Cing jie berkata kembali dengan sedihnya.

"Cuma sayang masih kurang dua peti mati 1agi "

'Buat apa kedua buah peti mati itu? apakah ada jenazah yang belum dimasukkan ke dalam peti mati?"

"Kau sebuah dan aku sebuah bukankah semuanya kekurangan dua buah peti mati lagi?' ujar Cing jie dengan dingin.

Da berkata begitu walaupun nada suaranya rada tidak sesuai tapi dari sepasang matanya memancarkan cahaya yang sangat aneh memandang kearah Liem Tou.

Hatinya yang semula suci bersih dan tenang laksana permukaan air telaga kini sudah berubah kacau dan bergolak laksana menggulungnya ombak ditengah samudera.

Liem Tou pernah bercintaan dengan Lie Siauw Ie, dan terhadap sikap serta tindak tanduk pemuda pemudi pun dia sudah paham, kini melihat sinar mata Cing jie rada aneh hatinya jadi tergetar keras; pikirnya didalam hati : “Nona, kau sudah salah melihat orang. bilamana aku tidak bersikap tawar terhadap dirimu mana aku punya muka untuk bertemu kembali dengan Ie cici? apalagi sesaat meninggalkan gunung Cing-Shia perkataan yang diucapkan oleh supek masih berkumandang didalam telinga . . . "

Berpikir sampai disitu hatinya berdebar amat keras, sikapnya pun rada tidak biasa.

"Liem Tou! " Cing jie sudah berkata lagi sambil tertawa. "Saat ini di dalam ruangan batu yang amat besar ini, tinggal kau serta aku dua orang walaupun aku cuma mengijinkan kau berada disini hanya semalam saja tapi kini Boen Ing ada diluar, sekalipun aku ingin mengantar kau pergipun tak bisa”

Liem Tou yang mendengar perkataan dari Cing jie semakin lama semakin mendekat, jelas sudan memberi pertanda kepadanya maka dengan gugup lantas menjawab: "Walaupun perkataan dari nona sedikitpun tidak salah, tapi aku rasa seharusnyalah kita mencari suatu cara untuk keluar dari sini apalagi aku masih ada urusan penting yang harus

diselesaikan dengan segera tempat ini tak bisa aku diami lebih lama lagi."

"Liem Tou apakah tempat ini tak ada barang yang bisa dikerjakan?” seru Cing-jie sambil memutar-mutar biji matanya. “Kau begitu terburu buru hendak pergi kemana? apa lagi kini Boen Ing ada diluar apakah kau bisa keuar dari sini dengan lancar?'

Liem Tou tertawa pahit, ia pun lalu menceritakan tujuannya datang kemari, akhirnya dia menambahi.

"Kini Oei Tiap cianpwee sudah mati, sudah tentu Oei Poh pun tak ada yang menuruni pelajaran silat kepadanya, walau pun hal ini bukanlah harapan dari aku Liem Tou tapi karena urusan itu kini akupun semakin jelas."

"Lalu setelah keluar dari sini kau hendak melanjutkan membuka pantangan membunuh?" seru Cing jie dengan air muka berubah sangat hebat.

“Soal itu sih tidak murgkin" ujar Liem Tou sambil menggelengkan kepala, “Aku mau sembunyi dan tidak lagi terjunkan diri kedalam dunia kang ouw."

Sinar mata Cing jie jadi bersinar, lama sekali dia memperhatikan diri Liem Tou lalu bisiknya dengan suara yang amat lirih.

'Kalau begitu, kau berdiamlah disini saja aku .., aku bisa bersikap baik terhadap dirimu.'

Berbicara sampai disini air mukanya sudah berubah merah jengah, kepalanya ditundukkan rendah-rendah dan tak berami lagi memandang kearah pemuda itu.

Liem Tou yang mendengar perkataannya itu segera merasakan hatinya berdesir,

'Nona Cing,” ujarnya dengan serius, “Aku tahu sikapmu terhadapku Liem Tou adalah baik tapi dalam hati aku hanya bisa mengucapkan banyak terima kasih, tetapi uku Liem Tou ada kesusahan yang tak bisa diucapkan karena ini harap nona suka memasfkan aku yang tak bisa menerima permintaanmu itu."

Perkataan yang diucapkan Liem Tou itu benar benar berada diluar dugaan Cing jie seluruh tubuhnya bergidik sedang air mata bercucuran dengan derasnya.

"Liem Tou . , , aku memang patut dipukul," teriaknya dengan keras. "Aku tidak menyangka diriku bisa berkata begitu kepadamu !'

Terhadap diri Cing jie waktu ini benar benar menaruh rasa simpatik, kini gadis itu sudah tak berayah dan tak beribu, seorang diri tinggal didalam gunung yang sunyi memang sangat tidak menyenangkan.

Bilamana seorang gadis meminang dia seorang lelaki sudah tentu merupakan perbuatan yang melanggar kebiasaan apalagi kini di tolak oleh Liem Tou. perasaannya sudah tentu kena terpukul. Tetapi Liem Tou tahu kalau gadis itu masih bersifat kekanak-kanakan bila ada perkataan, langsung diucapkan karena itu terburu buru dia menangkap tangannya dan menghibur dengan suara perlahan :

'Nona Cing; kau jangan begitu; aku tahu kau yang tinggal seorang diri ditempat yang sunyi ini sangat membutuhkan seorang kawan, akupun menaruh rasa simpatik terhadap dirimu, mari, jangan menangis lagi ! Bagaimana kalau aku ajak kau keluar dari gunung untuk berjalan-jalan oidalam dunia kang ouw?"

'Aku tidak bisa berbuat demikian " ujar Cing jie sambil goyangkan kepala. "Aku harus menjaga jenazah dari supek.” Sembari berkata air mukanyapun sudah berubah sangat kecewa.

Liem Tou segera merasakan hatinya menjadi lemas.

“Nona Cing, sudahlah jangan sedih," serunya sambil menghela napas panjang. “Biarlah aku temani kau untuk beberapa saat lamanya disini; apakah kau punya makanan untuk menangsal perut ?”

Cing jie yang mendengar Liem Tou suka tinggal disana mendadak dari murung dia jadi bergirang hati, dengan cepat tubuhnya loncat kedalam lorong rahasia itu.

Liem Tou yang bisa nemandang ditempat kegelapan seperti ditempat terang saja dengan cepat mengejar kedepan.

'Nona Cing kau hendak pergi kemana?” teriaknya dengan keras.

Bagaikan melayangnya segumpal asap dengan cepatnya Cing jie meluncur kedalam ruangan batu itu sewaktu Liem Tou menyandak kesana dia sudah mencekal sebuah bola batu yang ada pada ujung dinding tersebut.

Semula dia memutar kekiri terlebih dulu kemudian baru memutar kekanan dua kali pintu batu yang amat besar dengan cepat lantas bergeser kesamping.

Dibaiik pintu batu itu terdapatlah baban makanan yang cukup digunakan selama tiga sampai lima hari lamanya, Setelah melihat sebentar kearah dalam ruangan itu Cing jie mulai memaki maki diri Boen Ing semula dia mendengar Liem Tou suka tinggal disana mengawasi dirinya dalam hati merasa amat girang tetapi setelah dilibatnya bahan makanan hanya cukup buat tiga sampai lima hari saja dia jadi merasa kecewa. Liem Tou yang melihat kecintaannya dalam hati merasa terharu.

"Nona Cing “ ujarnya sambil tertawa. "Kita cuma ada bahan makanan yang cuknp buat tiga sampai lima hari saja. lebih baik kita lewati dulu hari ini mari sekarang kita makan dulu kemudian mengajak aku dolan kedalam ruangan batu ini. aku mau meninjau tempat tempat yang menarik."

Cing jie lalu mengaagguk lalu berlalu untuk mempersiapkan santapan buat pemuda tersebut.

Sewaktu bersantap itulah sepasang mata Cing jie dengan tiada hentinya memperhatikan terus diri Liem Tou membuat pemuds itu jadi rada tak leluasa.

“Nona Cing kau terus menerus memperhatikan diriku apakah tak takut sampai aku merasa malu ?” tanyanya sambil tersenyum.

Cing jie tak menjawab sebaliknya malah bertanya : "Liem Tou kau sungguh sungguh mau tinggal disini ? kau jangan menipu aku lho !"

Dalam hati Liem Tou merasa amat sedih 'Nona Cing; aku tidak akan mengapusi dirimu, aku sudah bilang untuk sementara waktu aku akan mengawssi dirimu, tapi.."

Liem Tou melihat sepasang mata Cing jie tajam bsgaikan dua bilah pisau tajam yang mendesak terus kearahnya dia berhenti sebentar; akhirnya dengan tegas sambungnya lagi- “Tetapi ditempat ini paling banter aku hanya bisa tinggel selama satu bulan saja sebab sebelum bulan Tiong Chiu aku sudah harus kembali digunung Cing Shia”

Air muka Cing jie segera jadi pucat pasi lama sekali dia baru bisa berkata kembali “Sejak itu kau tidak akan datang lagi ?"

Liem Tou segera memejamkan matanya rapat rapat dia berusaha untuk menahan golakan didalam hatinya.

“Untuk sementara lebih baik tidak usah membicarakan soal ini lagi setelah kenyang bersantap baik baiklah beristirahat biar aku pergi untuk memeriksa keadaan di sekeliling tempat ini. aku mau lihat sendiri ruangan batu yang sangat hebat bangunan serta arsitekturnya ini.”

Dengan perlahan Cing jie mengangguk tidak terasa dia sudah mengucurkan air matanya

Lama sekali mereka berdua berdiam diri; waktu itu mendadak terdengar suara bentrokan yang amat keras berkumandang datang.

"Aaaaakh . . . suara apa itu ?" terdengat Liem Tou berteriak dengan amat kaget. 'Aku sendiri juga tidak tahu ! Apa mungkin Boen Ing sedang main setan ? Mari kita pergi melihat!”

Sehabis berkata dia lalu meluncur dengan cepatnya kearah lorong rahasia itu.

Liem Tou yang sedang ikut lari ke depan mendadak teringat akan sesuatu; setelah minum darah ular raksasa dia tidak mengetahui bagaimanakah dengan tenaga dalam yang di-milikinya kini; walaupun dirinya telah menutup tangan tapi bilamana perlu dia masih bisa menempelkan telapak tangan keatas punggung gadis itu untuk membantu tenaga pukulannya.

Berpikir sampai disitu dia lalu kerahkan tenaga dalamnya menghsjar ke arah dinding batu, didalam angpapannya pululannya itu paling sedikit akan menghajar gumpil dinding tersebut,

Siapa tahu pada saat itulah mendadak terasa olehnya ada segulung angin pukulan yang maha dahsyat tanpa mengeluarkan sedikit suaarapun sudah membokong dari arah belakang bersamaan itu pula tangannya yang digunakan untuk melancarkan serangan tadi dengan amat tepat sudah menggerakkan alat rahasia membuat sang pintu dengan perlahan menutup kembali seperti sedia kala.

Didalam keadaan terperanjat dia mengira ada orang yang lagi membokong dirinya. tubuhnya yang atas dengan cepat miring kesamping untuk menhindar sedangkan tubuhnya berputar kebelakang bersama-sama melancarkan satu pukulan

'Siapa yang membokong diriku !" bentaknya keras Menanti dia sudah menoleh kembali hatinya menjadi keheranan, disana sama sekali tak tampak sesosok bayangan manusiapun.

Pada saat dia lagi keheranan itulah kemball segulung angin pukulan menggulung dan mengancam dadanya.

Dalam hati pemuda itu mulai terperanjat pikirnya:

"Ilmu meringankan tubuh dari orang ini sangat dahsyat sekali, ternyata sampai bayangan tububpun aku tak dapat menemuinya . .!”

Pada saat pikirannya sedang berputar itulah tubuhnya sudah berkelebat kesamping, punggungnya menempel pada dinding ruangan dan sepasang talapak tangannya disilangkan didepan pada siap siap menghadapi sesuatu.

Walaupun begitu dia tidak melihat adanya bayangan seorang manusiapun sedang serangan kembali melanda datang dari arah samping.

Liem Tou yang melihat dalam ruangan itu sama sekali tidak tampak adanya orang ke dua, hatinya jadi paham kembali, kiranya angin serangan itu berasal dari angin pentalan serangannya yang menghajar dinding, tak terasa lagi dia lalu tertawa, sedang tangannya dikebut kebutkan kedepan memunahkan kembali serangan tersebut.

Tetapi pintu dinding kini sudah tertutup, bagamana dia bisa keluar untuk bertemu dengan Cing jie ? hatinya jadi sangat cemas sekali.

"Nona Cing, lekas buka pintu !” Ruangan batu itu dibuat dengan amat cermat dan rapi sekalipun dia sudah berteriak sehingga tenggorokannya kering ditempat luaran tak dapat mendengarkan suaranya, apalagi tempat itu masih terbatas oleh lorong yang amat panjang, walaupun Liem Tou sudah berteriak amat keras tak kedengaran suara jawaban juga.

Liem Tou semakin cemas lagi seperti semut kepanasan mendadak hatinya tergetar sangat keras karena secara samar samar berkumandang datang suara yang keras memekikkkan telinga.

Liem Tou yang tidak mengetahui sudah terjadi urusan apa hatinya semakin ingin bertemu dengan Cing jie.

Tiba-tiba pintu batu itu tergetar keras agaknya hendak terbuka kesamping, Liem Tou yang melihat hal itu segera mengadakan persiapan.

Tetapi walaupun sudah lewat lama keadaan masih tetap tenang saja. Liem Tou jadi semakin cemas lagi.

Makin lama pemuda ini semakin tidak bisa menahan sabar lagi, telapak tangannya dengan perlahan diangkat sejajar dada siap siap dihantamkan kearah depan,

Mendadak , , pintu batu itu terbuka. Cing jie sambil menenteng pedang Lan Beng Kiam dengan wajah pucat pasi berkelebat masuk kedalam ruangan.

'Boen Ing ayoh masuk,” teriaknya dengan napas tersengkal sengkal.

Belum habis dia berkata mendadak terdengar suara tertawa yang amat menveramkan berkumandang datang disusul Boen Ing dengan rambut awut awutan hendak masuk ke dalam, "Cing moay . . haa , , haa , , , kau sudah menipu aku, kini aku tidak akan mengampuni dirimu lagi !"

Sepuluh jarinya dipentangkan lebar lebar siap menubruk kearah Cing jie.

Cing jie dengan cepat lintangkan pedangnya kedepan lalu dengan disertai rentetan sinar biru yang menyilaukan membabat kearah jari tangan Boen Ing.

Terburu-buru Boen Ing manarik kembali tangannya kebelakang tubuhnya melayang maju dua langkah kesamping dan menubruk kembali kearah gadis itu.

"Ini hari bukannya kau yang mati akulah yang hidup!” bentak Cing jie gusar.

Pedang Lan Beng Kiamnya pun segera membentuk bayangan cahaya biru yang rapat sekali melindungi seluruh tubuhnya disamping sekalian melindungi diri Liem Tou.

Liem Tou sejak menghisap darah ular raksasa walaupun kurang sedikit telah menginjak api neraka sehingga melenyapkan sebagian dari darah pusaka itu tetapi manfaat yang didapatnya tidak sedikit pula, saat inilah merupakan suatu kesempatan yang baik untuk mencoba coba kekuatan sendiri.

Berpikir sampai disitu dia pun lantas menempelkan telapak tangannya pada punggung Cing jie.

'Nona Cing, hantam dia!" bentaknya keras.

Cing jie yang mendadak mendapat bantuan tenaga yang amat panas dari Liem Tou merasakan badannya sangat tidak enak untuk beberapa saat lamanya bukannya dia bisa menggunakan kekuatan itu untuk menghajar musuh sebaliknya malah menjadi lemas sehingga serangannya pun jadi rada kendor.

Boen Ing adalah seorang marusia yang sangat lihay, dengan mengambil kesempatan itu dia menerjang kedepan, kesepuluh jarinya bagaikan kilat cspatnya sudah mencengkeram ke luar.

Liem Tou yang melihat keadaan itu dalam hati merasa terperanjat,

'Nona Cing, hati-hati ! Hantam dia !" bentaknya keras.

Ditengah suara bentakan yang amat keras itu kaki kirinya mundur ke belakang sedang tangan kanannya menarik pundak Cing jie kearah belakang pula, karena teriakan itu tubuh Cing jie pun lantas ikut mundur satu langkah kebelakang sehingga dia berhasil mengundurkan diri dari cengkeraman Boen Ing itu.

'Nona Cing, musuh tangguh ada didepan mata; cepat lawan dia dengan sekuat tenaga !" kembali Liem Tou membentak keras.

Cing jie yang ditegur oleh perkataan itu hatinya jadi tergetar sedang pikirannyapun jadi sadar kembali, dalam hati dia merasa rada kecewa.

Gerakan pedangnya diperkencang memaksa Boen Ing kembali mundur dua langkah ke belakang.

Dia yang merasa telapak tangan Liem Tou menempel pada punggungnya dalam hati segera mengetahui kalau dia lagi membantu dirinya, karena itu dia lantas menarik napas panjang panjang dan menggabungkan tenaga bantuan tersehut menjadi satu. Air mukanya jadi semakin mantap lagi mendadak pedang Lan Beng Kiamnya sengaja membuka satu lubang kelemahan, Boen Ing yang tidak tahu siasat sambil menjerit seram teriaknya :

'Cing moay jangan salahkan encimu akan turun tangan kejam terhadapmu.'

Tidak jelas dia menggunakan cara apa tahu tahu kesepuluh jari tangan Boen Ing bagaikan sepuluh bilah pisau tajam mengancam kedepan.

Cing jie yang sejak semula sudah mengadakan persiapan sama sekali tidak menjadi gugup melihat datangnya serangan itu.

Air muka gadis tersebut sudah berubah jadi dingin menyeramkan, matanya berubah merah berapi-api.

'Boen Ing saat kematianmu sudah tiba !" bentaknya keras.

Pedangnya digetarkan kedepan sehingga memancarkan sinar biru yang menyilaukan mata sedang telapak kirinya dengan menimbulkan hawa pukalan yang dahsyat bagaikan menggulungnya ombak ditengah samudera menghajar kearah depan.

Keadaan didalam ruangan batu itu amat sempit apalagi tubuh Boen Ing lagi menubruk kedepan sudah tentu dia orang tak kuasa untuk menahan datangnya serangan tersebut.

Hanya didalam sekejap saja seluruh tubuh Boen Ing sudah tergulung didalam angin pukulan yang dahsyat itu.

Tampak tubuhnya berputar keras dan dengan diiringi suara suitan yang nyaring tubuhnya mundur kearah pintu dengan tubuh sempoyongan.

Liem Tou mengetahui dia orang tentu sudah luka parah capat cepat bentaknya keras: 'Nona Cing ayo kejar.!"

Telapak tangannya dengan perlahan didorong kedepan Cing jie pun dengan mengikuti tenaga dorongan tersebut mengejar kearah depan sedang Liem Tou membuntuti dari belakang. Hanya didalam sekejap saja mereka sudah melewati lorong rahasia itu dan tiba didalam ruangan batu yang kecil.

Siuar mata Liem Tou dengan cepat berputar tampaklah pada dinding tersebut muncul sebuah gua kecil yang cukup diterobosi oleh seorang manusia saja jelas dinding itu tergetar hancur oleh tenaga pukulan dari Boen Ing tadi.

Walaupun Boen Ing menderita luka parah tetapi begitu tiba didalam ruangan batu tersebut dia lantas berkelebat laksana seekor burung walet dengan cepatnya lenyap dibalik dinding.

Cing jie yang melihat Boen Ing menerobos masuk kedalam ruangan tersebut ujung kakinya dengan cepat menutul permukaan tanah dan mengejar kearah depan.

Bagaimacapun juga Liem Tou adalah seorang kang-ouw kawakan jika dibandingkan dengan diri Cing jie jauh lebih mengerti banyak melihat gadis itu bendak mengdakan pengejaran dengan capat tangannya menyambar menyekal pundaknya.

'Nona Cing musuh digelap kita di terang !" teriaknya. Telapak tangannya sedikit mengerahkan tenaga dalam dia berhasil menahan gerakan tubuh dari gadis itu.

"Liem Tou!" seru Cmg jie sambil mengirim satu kerlingan mata kearah pemuda itu.

“Terang-terangan Boen Ing sudah terluka parah bilamana saat ini tidak dibasmi mau tunggu sampai kapan lagi ?'

"Bukannya begitu ' ujar Liem Tou sambil gelengkan kepalanya 'Sekalipun Boen Ing kini sudah terluka parah tapi saat ini dia tak berada didalam kalangan yang luar jikalau misalnya dia melarikan diri kedalam sebuah ruangan yang lebar dan besar pastilah dia orang bukan tandingan nona Cing tapi saat ini keadaan berbeda ! Bilamana nona hendak menerjang kedalam juga maka hal ini sama saja dengan masuk kedalam perangkapaya dia

bisa melancarkan serangan bokongan yang akan membinasakan dirimu !" Setelah mendengar penjelasan tersebut Cing jie baru jadi sadar kembali.

“Lalu sekarang kita harus barbuat bagaimana?" tanyanya. 'Apakah kita akan tetap menunggu disini terus? bilamana dia terus menerus berjaga disana kita akan berbuat bagaimana? siapa yang punya kesabaran untuk menunggu?”

“Urusan sudah jadi begini kita punya cara apa lagi?" kata Liem Tou sambil tertawa. “Untung saja dia cuma seorang diri sedang kita berdua sejak kini kita bisa berjaga saling bergilir bilamana dia berani meninggalkan gua ini maka kita harus cepat cepat basmi dirinya.”

Dengan perlahan Cing jie mengangguk mendadak seperti teringat akan sesuatu ujarnya.

"Liem Tou kita harus berjaga terus disini sekalipun kita harus lapar juga harus berjaga sampai dia mati dulu karena kelaparan”

'Soal ini kau tak usah katakan lagi sejak semula aku sudah pikirkan hal ini”

"Tetapi!" ujar Cing jie lagi; "Bilamana dia punya maksud untuk meninggalkan ruangan tersebit bukankah satu pekerjaan yang sukar baginya."

Liem Tou yang mendengar gadis tersebut berkata demikian terburu buru

mencegah dia berkata lebih lanjut.

"Liem Tou; apakah kau benar benar tidak lama diam disini?' tanya Cing jie kemudian berganti bahan pembicaraan. “Secara perlahan-lahan aku sudah mulai merasakan kalau kau adalah seorang yang baik bilamana kau suka berkawan dengan diriku disini hal itu sungguh merupakan suatu kejadian yang amat bagus."

Berbicara sampai disini tak kuasa lagi matanya berubah merah, titik titik air mata menetes keluar dengan derasnya.

"Nona Cing kau jangan sedih!' hibur Liem Tou sambil mencekal tangannya. “Aku benar benar ada urusan dan harus tiba digunung Cing Shia sebelum malam Tiong Chiu, bilamana dikemudian hari ada waktu tentu akan sering sering datang kemari, bukankah hal tersebut amat bagus sekali ?'

Mengambil kesempatan itu Cing jie lalu jatuhkan diri kedalam pelukan Liem Tou.

Liem Tou yang mencium bau gadis perawan yang merangsang dalam hati terasa bergerak amat keras makinya diam diam. 'Liem Tou . .Liem Tou.. kenapa kau begitu tolol ? kau menyanggupi perkataan dari supek pada sebulan yang lalu apa kau sudah lupa ? rasa cinta dari enci Ie serta adik Wan adalah cinta murni bagaimana aku boleh jatuh hati lagi kepada nona Cing ?”

Berpikir sampai disini dia lalu kebutkan ujung bajunya dan bangun berdiri tapi pikirannya kembali berputar.

"Nona Cing kini sebatang kara dan sangat kasihan ! dia minta aku jangan tinggalkan dirinya, hal ini tak sampai melanggar kesopanan apalagi waktu masih lama biarlah aku bersikap rada mesra terhadap dirinya."

Teringat akan hal itu diapun lalu membiarkan Cing jie rebahkan diri didalam pelukannya,

“Liem Tou kau jangan pergi !" terdengar dia bergumam seorang diri. 'Kau tak boleh pergi ! Lembah mati hidup sangat indah dengan bunga gunung selokan serta bangunan ruangan batu yang indah kau ingin pergi ke mana untuk mencari kebahagiaan lagi ? asalkan kau sudah mengucapkan sepatah kata maka tempat ini segera akan berubah menjadi suatu sorga buat kita berdua."

Liem Touyang sudah mengambil ketetapan dihati kalau didalam hatinya cuma bisa terisi oleh Lie Siauw Ie serta si gadis cantik pengangon kambing sudah tentu tidak terpancing oleh rayuan dari Cing jie ini,

'Nona Cing harap kau suka sedikit sadar" sahutnya dengan tegas sekali “Soal ini tak mungkin bisa terjadi. perkataan dari nona Cing ini cuma bisa kirim dihati saja . . selamanya aku tidak akan melupakan kebaikan dari nona ini . "

Air mata yang mengucur keluar dari kelopak mata nona Cing jie mengalir semakin deras.

"Kau ingin pergi juga dari sini? bukankah perkataanmu tadi hanya sia sia belaka? heeei . . , selama jni kenapa aku Cing jie harus berdiam sebatang kara disini? "

Setelah menangis dengan sedihnya mendadak dia meloncat bangun.

'Liem Tou kalau begitu aku ikut kau pergi! asalkan kau pergi kemana akupun ikuti dirimu bukankah kau mengijinkan?

Walaupun aku Giok Cing cuma seorang gadis liar aku tidak akan mengganggu maupun menghalangi dirimu, kau mengabulkan bukan?"

Liem Tou yang mendengar perkataan tersebut cuma bisa melongo saja, untuk beberapa saat lamanya tak dapat mengucapkan sepatah katapun.

"Soal ini mana boleh jadi? " pikirnya di-hati, 'Kali ini aku kembali kegunung Cing Shia justeru Supek hendak kawinkan aku dengan enci Ie serta adik Wan bilamana aku kembali dengan membawa nona Cing ini maka apa yang akan dikatakan oleh Supek dan bagaimana pula aku menjelaskan urusan ini kepada kedua orang gadis itu hati merekai pasti akan semakin tertusuk, aku tidak berbuit demikian !"

Berpikir sampai disini diam-diam dia menggelengkan kepalanya, dalam hati dia berpikir keras bagaimana baiknya menberi jawaban kepada Cing jie sang gadis itu. Cing jie yang melihat Liem Tou hanya menggelengkan kepalanya saja segera bertanya dengan suara yang amat keras:

'Kenapa tidak boleh ? aku sudah bilang tidak akan mengganggu dirimu!”

Liem Tou kembali berpikir keras. dia merasa tidak leluasa untuk menceritakan soal Lie Siauw Ie? dan si gadis cantik pengangon kambing kepada gadis ini. Cing jie yang melihat pemuda ini sama sekali tidak mengucapkan sepatah katapun di dalam benaknva segera teringat akan enci Ie yang digumam pemuda tersebut sewaktu berada didalam keadaan lupa daratan dia lalu merasa kalau perkataan dari Liem Tou ini sama sekali bukanlah perkataan yang kosong.

Perasaan kecewa kontan meliputi seluruh tubuhnya; bayangan indah yang semula memenuhi benaknya kini tersapu bersih.

Walaupun dia baru satu harian berkumpul dengan diri Liem Tou tapi rasanya yang membutuhkan cinta kasih sudah tsk bisa dikuasai lagi, bukan saja rasa cinta itu tidak bisa di tarik kembaii mengakibatkan kini hatinya terasa semakin pedih.

Air mata kembali mengucur keluar semakin deras; mohonnya : 'Liem Tou, kenapa tidak kau katakan sejak dahulu? bilamana sejak tadi kau memberitahu hal ini kepadaku. aku. , . aku..” Perkataan selanjutnya tak sanggup diteruskan kembali.

Liem Tou yang melihat keadaan semakin runyam dia pun cuma bisa menghibur saja dengan kata-kata yang halus, akhirnya setelah bersusah payah Cing jie baru bisa berhenti menangis.

Pada saat itulah mendadak pandangan Liem Tou jadi terang benderang; serentetan sinar yang amat kuat dan tajam menusuk matanya hampir hampir membuat dia orang tak dapat melihat barang apapun, setelah itu disusul suara tertawa yang amat menyeramkan berkumandang keluar. 'Aaah... pintu batu bsrhasil dia buka! dia mau pergi !" teriak Cing jie dengan keras.

Liem Tou segera pusatkan tenaga pikiran-nya, perlahan lahan dia baru bisa melihat kembali keadaan disekeliling tempat itu, sedikitpun tidak salah pintu batu itu sudah terbuka sedang ujung baju Boen Ing berkelebat lewat dari pintu tersebut.

Bilamana Boen Ing sampai lolos dari kurungannya maka sama saja dengan melepaskan harimau pulang ke gunung keadaannya sangat berbahaya sekali. Liem Tou tidak bisa berpeluk tangan lagi terburu-buru bentaknya keras: “Nona Cing ayoh lekas kita kejar"

Selesai berkata tubuhnya bagaikan burung walet dengan cepat menerobos keluar dari tempat itu diikuti oleh Cing jie dari belakang.

Liem Tou tidak berani berlaku ayal lagi setelah tiba ditepi pintu batu dia menengok kearah luar.

Tampaklah Boen Ing sedang menghindari barisan bunga Sam Nie Kioe Kong Khei Bun-Toa Tin tersebut dengan mengambil jalan melalui tebing curam yang tegak lurus bagaikan pit itu, dia yang lagi menderita luka dalam gerakannya tidak dapat gesit, dengan lambatnya dia orang melayang dan merangkak naik.

Liem Tou yang merasa ada kekuatan untuk menyusul dirinya dengan cepat menoleh keluar dari pintu batu. 'Nona Cing, ayoh cepat kita kejar dari belakang, jangan sampai dia berhasil melarikan diri dari lembah ini "

Sehabis berkata tubuhnya meloncat sejauh beberapa kaki dan menyusul kearah perempuan cabul itu.

Didalam ilmu meringankan tubuh Cing-jie ada diatas diri Liem Tou. tetapi saat ini pemuda tersebut sudah menghisap darah ular raksasa yang membuat kepandaiannya kini jadi seimbang.

Boen Ing yang melihat kedua orang itu mengadakan pengejaran kearahnya dengan menahan rasa sakit dia menambah tenaga melarikan diri semakin cepat lagi.

Hanya didalam sekejap saja mereka bertiga bagaikan sambaran kilat cepatnya berkelebat kearah depan.

Semakin lama semakin cepat dan tempat yang ditempuh pun semakin meninggi. jarak antara pemuda tersebut dengan Boen Ing pun dari tujuh delapan kaki kini jadi lima kaki jauhnya. Waktu ini asalkan dia melancarkan satu serangan pukulan saja kearah depan maka Boen Ing pasti akan berhenti dan putar tubuh untuk menyambut datangnya serangan itu.

Cuma sayang kini dia sudah mengunci tangannya dan tidak ingin melanggar sumpahnya lagi, karena itu terpaksa dia cuma berteriak keras saja .

“Boen Ing, kau cepat hentikan larimu; kau kira masih bisa melarikan diri dari sini?”

"Liem Tou" balas Boen Ing sambil menjerit keras. 'Aku tahu kau hendak pergi ke gunung Cing Shia, aku bisa pergi kesana untuk mencari dirimu,"

Mendengar perkataan itu Liem Tou jadi merasa amat terperanjat, dia tak mengerti bagaimena Boen Ing bisa mengetahui keadaan dirinya dengan begitu jelas ? tapi pikirannya segera menjadi jelas kembali, dia tahu tentunya Boen Ing sudah mendengar seluruh pembicaraannya dengan Cing jie dari balik tembok.

Hatinya mulai merasa cemas dia takut Boen Ing benar benar mendatangi gunung Cing Shia sehingga keadaan diatas gunung Ha Mo San jadi berbahaya.

Sewaktu pikiran Liem Tou sedikit bercabang itulah Boen Ing sudah berkelebat beberapa kali lebih cepat lagi.

Liem Tou yang teringat akan keseraman dari Boen Ing yang amat nenakntkan itu dalam hati segera mengambil suatu keputusan untuk tidak lepaskan perempuan itu dari cengkeramannya, gerakan tubuhnya pun dengan sendirinya semakin cepat sekali .

Beberapa saat kemudian Liem Tou sudah hampir mendekati puncak gunung dalam hati dia sadar bilamana sampai membiarkan perempuan cabul itu mencapai puncak itu maka dia dengan mudahnya akan berhasil meloloskan diri dari sana.

Maka hawa murninya dikerahkan semakin dahsyat membuat tubuhnya dengan cepat meluncur semakin dekat dengan diri Boen Ing, Dia kepingin sekali waktu itu meluncurkan satu serangan dahsyat menghajar jatuh perempunn itu kedalam jurang tapi teringat akan sumpahnya yane tak akan menggunakan sepasang telapak tangannva kembali tak terasa dalam hati sudah berpikir :

"Aku tak bisa turun tangan melukai orang tetapi sedikitnya boleh juga mendorong tubuhnya jatuh kedalam jurang dorongan itu sama sekali tak menggunakan jurus serangan dari aliran manapun sudah tentu tak bisa dikatakan pula sudah melanggar sumpah sendiri."

Berpikir sampai disini hawa murninya disalurkan semakin menghebat membuat gerakannya lebih cepat.

Didalam sekejap saja dia sudah berada hanya beberapa depa dibelakang tubuh Boen Ing kiranya dua langkah lagi dia sudah berhasil menubruk tubuh Boen Ing dan mendorong dia jatuh kedalam jurang.

Liem Tou menarik napas panjang. didalam benakrya teringat kembali akan jurus anah yang dipelajaiinya untuk pertama kali dari kitab pusaka Toa Loo Cin Keng itu, saat ini justru merupakan satu kesempatan yang amat baik menggunakan ilmu pukulan perut tersebut untuk melukai Boen Ing, hatinya jadi amat girang, hawa murni yang sudah dipusatkan di perut lalu dikerahkan siap siap menghajar tubuh perempuan itu.

Mendadak terdengar suara senjata rahasia yang menyambar datang menyampok udara, didalam keadaan terperanjat Liem Tou lalu menyingkirkan diri dari titik titik hitam yang menghajar tubuhnya dengan gerakan cepat.

Bersamaan itu pula dari atas puncak terdengar suara bentakan yang keras dari seorang.

"Liem Tou, kemanapun kau pergi aku tak perduli, kenapa justru baru mendatangi gunung Heng san ini? kurang ajar ! rasakan seranganku." Dengan cepatnya Liem Tou menyingkir ke samping menghindarkan diri dari sambitan sebuah batu cadas disusul dua buah cadas yang lain menyambar datang pula.

Pemuda itu cepat cepat gerakkan tangannya menyampok jatuh batu itu; terlihatlah Oei Poh yang sedang berdiri diatas puncak dengan menyekal sebuah tongkat penahan badannya, waktu itu dia sedang memandang ke arahnya dengan pandangan amat gusar.

Sewakiu Liem Tou lagi menyingkir ke samping untuk menghirdarkan diri dari sambitan senjata rahasia dari Oei Poh itulah Boen Ing dengan cepatnya sudah tiba di atas puncak gunung itu.

Dia melirik sekejap kearah Oei Poh lalu tertawa panjang ujung bajunya yang kena ditebas putus itu dilemparkan keatas kemudian setelah bersalto beberapa kali tubuhnya sudah meluncur dengan amat cepatnya kebawah puncak,

Menanti Liem Tou berhasil tiba diatas puncak dia orang itu sudab lenyap tak berbeks.

Dengan perlahan pemuda itu melirik sekejap kearah Oei Poh lalu menghela napas panjang.

“Oei Poh, kau sudah melepaskan dirinya, sejak ini hari dunia kang ouw tidak bakal aman lagi.”

Baru saja Liem Tou habis berkata mendadak tampaklah bayangan hijau berkelebat di susul suara gaplokan yang amat nyaring sekali berkumandang datang.

Kiranya pipi Oei Poh sudah kena digaplok dengan kerasnya oleh Cing jie si gadis berbaju hijau itu.

'Kau lelaki bau darimana berani mencari gara gara didalam lembah mati hidup ini ?” bentak Cing jie dengan gusarnya. "Kau telah berani melancarkan serangan dengan menggunakan senjata rahasia, hati-hati nyawamu bilamana Boen Ing si perempuan siluman itu berhasil melarikan diri dari sini."

Pedang Lan Beng Kiam ditangannya dengan cepat diangkat lalu melancarkan satu serangan menusuk ke tubuh Oei Poh. Mslihat akan hal itu Liem Tou jadi kaget.

"Nona Cing tahan, orang ini jangan kau bunuh!" cegahnya dengan suara amat keras.

Pedang Cing jie yang sudah dilancarkan sampai setengah jalan dengan cepat ditarik kembali lalu memandang kearah Liem Tou dengan mata meltot lebar lebar.

Liem Tou lalu melirik sekejap kearah diri Oei Poh yang waktu ini saking terkejutnya air mukauya sudah berubah pucat pasi.

"Nona Cing, tahukah kau siapakah orang ini ?” tanya Liem Tou pada diri Cing jie.

“Liem Tou kau bilang apa ? mana mungkin aku bisa kenal dengan dirinya?'

Dalam hati Lem Tou rada bergerak, setelah termenung berpikir beberapa saat lamanya mendadak dia memandang kearah Cing jie dan berkata.

'Nona Cing," bisiknya dengan perlahan. "Jika dikatakan sungguh kebetulan sekali; kedatangannya keatas gunung Heng san ini justru ingin belajar ilmu silat dari Oei Tiap Loo jien !”

Sepasang mata Cing jie segera melotot semakin besar, sambil maju dua langkah ke depan tudingnya kearah Oei Poh sambil memaki.

“Kau orang apanya supekku? kau manusia macam apa ?”

Oe Poh tetap tak bergerak barang sedikit pun dia cuma berdiri disana ssmbil memperhatikan seluruh tubuh Cing jie dengan amat teliiti.

'Siapakah namamu? kalau memangnya kau ingin belajar ilmu silat dari supekku lalu kenapa harus mendatangi lembah mati hidupku ini?" tanya Cing jie lagi.

Oei Poh yang tanpa sebab sudah kena gaplokan dua kaii daiam hati masih merasa tidak puas.

"Kedatanganku kemari adalah ingin mencari Oei Tiap cianwee” sahutnya dengan ketus . “Usianya pada saat ini sudah seratus tahun lebih mana mungkin dia bisa mempurysi seorang keponakan murid yang masih begitu muda?”

Liem Tou takut Cing jie dibuat gusar oleh perkataan Oei Poh ini terburu buru lantas ujarnya.

“Oei Poh kau jangan berlaku begitu kurang ajar walaupun usia nona ini masih amat muda tetapi kepandaian silatnya jauh diatas kita berdua sekarang kau tidak akan menemui Oei Tiap cianpwee lagi; tiga tahun kemudian kau bisa bertemu muka dangan dirinya. tetapi yang jelas diapun berada didalam lembah mati hidup ini. aku lihat lebih baik kau minta ijin kepada nona Cing ini agar kau diperekenankan menghunjuk hormat dan menyambangi dirinya."

"Lem Tou kau jangan mendorong urusan yang bisa merepotkan ini kepadaku," teriak Cing jie sambil membentak keras. "Aku tidak punya banyak waktu untuk ikut mengurusi urusan tersebut.

Agaknya Liem Tou merasa amat tidak puas dengan perkataan dari Cing jie ini dengan hormatnya dia lalu menjura.

"Nona Cing aku Liem Tou mengucapkan banyak terima kasih kepada nona yang suka mendengar peraturan yang berlaku dengan meuerima aku menginap satu malam didalam lembah Mati Hidup, sejak kini Liem Tou akan mengingat dirimu terus menerus.."

Belum habis dia berkata Cing jie sudah merasa didalam nada suaranya ini agak mencurigakan, mendadak dia menjerit kaget:

'Liem Tou, kenapa secara tiba-tiba kau mengucapkan kata kata itu ?" tanyanya.

Dari sepasang matanya yang hitam dan lebar itu dengan tajamnya memancar keluar sinar aneh yang memaksa diri Liem Tou.

Liem Tou termenung sebentar, akhirnya dia menghela napas panjang. "Nona Cing, dikolong langit tak ada perjamuan yang tidak bubaran, aku mau pergi!”

Selesai berkata dia lantas putar badan dan memperdengarkan suara suitan yang amat nyaring.

'Liem Tou, bukankah kau sudah bilang baru akan meninggalkan tempat ini satu bulan kemudian? Kenapa kau sekarang mau pergi?' bentak Cing jie dengan cepat, 'Dengan perbuatan ini apakah kau orang bisa disebut lelaki sejati yang bisa pegang janji ?'

"Nona Cing, kapan aku pernah mengatakan perkataan begitu?' bantah Liem Tou dengan murung. "Aku cuma bilang satu bulan kemudian masih ada kerjaan yang barus aku selesaikan, maka Cayhe tidak pernah menyanggupi dirimu untuk tinggal selama sebulan disini ! Kini aku benar benar mau pergi nona Cing, ada kemungkinan besok aku bisa datang kembali untuk menengok dirimu"

Untuk setengah harian lamanya Cing jie tak dapat mengucapkan sepatah kata pun.

"Oh . . . Thian !" akhirnya dia bergumam.

Hanya didalam sekejap mata itulah air mukanya sudah berubah jadi dingin kaku, saking dinginnya sampai membuat pemuda itu merasa hatinya bergidik.

Baru saja dia bermaksud untuk menghibur dirinva dengan baberapa patah kata mendadak terdengarlah suara dengusan yang ramai dari kerbaunya.

Liem Tou jadi amat girang, diapun lalu bersuit panjang beberapa kali.

Tidak lama kemudian tampaklah seekor kerbau dengan cepatnya berlari mendatang menghampiri pemuda itu.

Liem Tou benar benar kegirangan tubuhnya bergerak siap menyambut kedatangannya sang kerbau.

Pada saat itulah terdengarlah Cing jie sudah membentak dengan suara yang amat keras. “Liem Tou kau pergilah! cepat tinggaikan gunung Heng san ini aku tak ingin menemui dirimu lagi !"

Liem Tou benar benar merasa terperanjat oleh sikap yang kasar dari gadis itu. tetapi setelah mengetahui apa sebabnya dia berbuat begini diapun tidak ambil gubris.

"Kalau begitu nona Cing silahkan kembali kedalam lembah. Aku Liem Tou permisi duiu” serunya kemudian sambil merangkap tangannya memberi hormat.

Sehabis berkata tubuhnya bergerak lari menyambut datangnya sang kerbau itu .

Waktu itulah terdengar Oei Poh kembali membentaK keras

:

"Liem Ton jaugan lupa dengan hutang kita, aku bisa pergi mencari dirimu aku akan mencari dirimu walaupun kau ada di ujung langit sekali pun”

Tubuh Liem Tou yang ada di tengah udara menekuk bagaikan busur lalu melirik sekejap kearah Oei Poh dan ujung kakinya menjejak permukaan tanah bagaikan kilat cepatnya lantas meluncur puluhan kaji jauhnva kedepan kemudian dengan beberapa kali loncatan dia sudah ada diatas punggung kerbaunya.

Seka1i sentak tadi kerbau, di bawah sorotan sinar sang surya dengan cepatnya dia berlalu dari sana.

Padahal Liem Tau setelah meninggalkan gunung Heng san sama sekali tidak langsung kembali ke gunung Cing Shia; perkataannya yang diucapkan kepada Cing jie tentang perkawinannya dengan Lie Siauw Ie serta si gadis cantik pengangon kambing bukanlah kata kata yang bohong cuma bukan malam Tiong Chiu tahun ini tetapi tahun depan.

Sebenarnya Liem Tou tidak ingin membohongi Cing jie; cuma saja dikarenakan keadaan yang memaksa membuat dia mau tak mau terpaksa harus barbuat begitu.

Niiknya Liem Tou kegunung Heng san untuk minta ampun dari Oei Tiap Loojien sebenarnya bukan karena dia takut kepada orang tua itu sebaliknya muncul dari dasar hatinya selama serahun ini dia merasa napsu membunuh yang berkobar didalam hatinya sudah keterlaluan karena dia ingin minta nasehat dari Oei Tiap Loojien.

Tetapi kini orang tua itu sudah mati dan tiga tahun kemudian baru muncul kemoali di tambah munculnya Oei Poh disana membuat pemuda ini jadi tak kerasan dia ingin cepat cepat meninggalkan tempat tersebut.

Berbagai ingatan kembali berkelebat didalam benak pemuda ini sembari menunggang kerbau gumamnya seorang diri :

"Liem Tou. Liem Tou ! kiranya kaupun merupakan seorang

manusia yang bisanya menganiaya orang-orang lemah !"

Selama perjalanan ini dalam hati dia merasa tak tenang perjalanan dilakukan dengan seenaknya masuk satu kota lewat kota yang lain dan selama ini tak pernah tanya jalan.

Setelah meninggalkan gunung Heng san selama setengah bulan akhirnya dia tiba kembali disebuah tanah pegunungan yang amat sunyi, curam dan tinpgi sekali.

Kembali beberapa hari sudah lewat dengan amat cepatnya pada suatu hari dari tempat kejauhan Liem Tou dapat melihat sebuah kuil bobrok ditengah tanah pegunungan yang sunyi. Didalam keadaan girang dia lantas menjalankan kerbaunya kesana, turun dari tunggangannya mendorong pintu dan berjalan masuk.

Suasana didalam kuil itu amat kotor dengan, sarang laba- laba serta debu menghiasi seluruh tempat walaupan begitu keadaan masih tetap rapi sekali,

“Akh . tentunya tempo hari ada orang yang mendiami tempat ini., .” ikirnya,

Waktu itulah mendadak terasa bau mayat yang menusuk tersiar mendatang, ia mengerutkan alisnya rapat-rapat dan berjalan masuk kedalam. Tetapi sebentar kemudian dia sudah mengundurkan diri dari tempat itu kiranya didekay tembok tampaklah sesosok mayat hweeshio yang sudah mati lama mengeletak di sana, hawa bau itu justru tersiar keluar dari badannya.

Liem Tou berpikir sebentar diluar ruangan tersebut, akhirnya dia mendorong pintu dan berjalan masuk kembali untuk memerisa keadaan disekeliling ruangan tersebut.

Tampaklah diatas mayat hweeshio itu tertancap sebilah pedang pusaka yang menembus batok kepalanya, dari tubuh pedang tersebut masih memancarkan sinar yang menyilaukan mata.

Liem Tou soma sekali tidak mengutik utik pedang tersebut, Cuma di dalam hati diam-diam pikirnya:

“Mungkin hweeshio ini tidak bermurid sehingga walaupun sudah mati disini tidak ada yang menguburkan mayatnya.”

Berpikir sampai disini diapun lantas keluar dari kuil itu untuk membuatkan sebuah liang besar, setelah itu kembali lagi kedalam

ruangan untuk mengangkut mayat hweeshio itu keluar.

Mendadak diatas tempat duduknya semula muncul sebuah kitab berwarna kuning yang bertuliskan “Ting Sim Liok” tiga kata.

Liem Tou sama sekali tak ambil gubris, dia melanjutkan pekerjaannya mengubur mayat itu ke tempat liang itu.

Menanti setelah dia selesai mengubur mayat itu, barulah ia membuka buku kitab itu yang isinya merupakan kunci rahasia bagaimana duduk bersemedi yang baik.

Pikirannya mulai berputar, batinnya :

"Bagaimanapun juga jarak antara pertemuan di gunung Cing Shia masih amat lama lebih baik aku bersihkan tempat ini dan berdiam selama setahun disini bilamana aku berbuat demikian maka hal ini sangat menguntungkan juga bagi diriku sendiri". Tanpa banyak membuang waktu lagi diapun mulai bekerja membersihkan seluruh tempat itu.

Akhirnya setelah bersusah payah selama setengah harian penuh semuanya baru bisa dibikin beres dan muiai saat itulah Liem Tou lantas berdiam didalam kuil bobrok tersebut, Bilamana lapar dia menangsal perutnya dengan daun-daunan serta buah-buahan sedang setiap hari pekerjaannya hanyalah bersemedi dan latihan belaka.

Hanya didalam sekejap saja setahun sudah lewat dengan cepatnya, didalam setahun ini tenaga dalam Liem Tou sudah mendapat kemajuan yang amat pesat sekali sedang kerbau itu pun dibawah rawatan yang teliti dari pemuda itu badan serta tenaganyapun jauh lebih besar beberapa kali.

Cuma yang aneh adalah sepasang mata Liem Tou yang semula amat tajam kini sudah berubah jadi suram sehingga dia mirip sekali dengan seorang pemuda lemah yang berpenyakitan.