Raja Silat Jilid 35

 
Jilid 35

DALAM hati Liem Tou paham bahwa pada saat ini Oei Tiap Loojien pasti lagi bergebrak dengan amat seriusnya melawan Boen Ing siperempuan iblis itu, tetapi justru pada waktu perutnya amat sakit sekali, untuk membantunya jelas tak mungkin sekali sehingga membuat hatinya amat cemas.

"Akh, lebih baik aku mencari suatu tempat untuk istirahat dan salurkan hawa murni ada kemungkinan sebentar lagi akan sembuh."

Dia berpikir kembali:

"Jika tadi aku tahu kalau darah ular raksasa itu membuat orang merasa tersiksa bagaimana pun juga aku tidak akan meng hisapnya,"

Sembari berpikir, jalan sempoyongan dia-pun masuk kedalam ruangan batu dimana gadis berbaju bijau mengajaknya masuk tadi, perutnya benar benar terasa separti dibasar keringat mengucur keluar bagaikan curahan bujan, bahkan batok kepalanyapun seperti mau meledak dibuatnya

Dengan tubuh terhuyung huyung akhirnya dia tiba juga disebuah pojokan ruangan untuk duduk bersila, dengan perlahan hawa -murninya disalurkan kedalam perut untuk menekan hawa panas itu kembali kepusat se telah itu dengan mengikuti pelaj.ran yang termuat didalam kitab To Kong Pit Liok dia mulai berlatih dan memimpin hawa panas teisebut mengaliri seluruh tubuh, dan seluruh urat nadi dan akhirnya masuk kejalaa darah yang terpenting, sebentar saja dia sudah ber ada didalam keadaan lupa akan segala gala nya Waktu itu dia sama sekali tidak ingat kalau 0ei Tiap Loojien serta gadis berbaju hijau itu lagi terjadi suatu pertempuran yang amat seru dan mendebarkan hati didalam barisan bunga itu.

Kiranya setelah gadis berhaji hijau itu membuang pedang dan menerjang masuk ke-dalam barisan bunga, dengan kehafalan terhadap tempat itu dan dengan amat cepatnya dia sudah menemukan tempat dimana Boen Ing terjerbak,

Beberapa saat kemudian terdengarlah Oei Tiap Loojien mengejar dari arah belakang sambil berteriak keras.

”Cing jie, .! kau jangan membuat aku orang tua jadi jengkel untuk mencari Boen Ing di dalam barisan bunga ini bukanlah pekerjaan yang harus dilakukau dengan tergesa gesa,"

"Supek.” Teriak gadis berbaju hijau itu dengan amat gusarnya yang menanti Qei Tiap Loo jien mendekati dirinya, "Bukankah kau orang tua ingin mengisap darah dari Gien -jie? buat apa kau ikut datang kemari?"

Dengan perlahan Osi Tiap Loo jien meng hela napas panjang sambil membelai rambut gadis berbaju hijau yang amat panjang itu -ujarnya dengan suara yang amat halus

'Cing jie. Selama hidup ayahmu selalu ber bakti demi Heng san Pay dan kini cuma tinggal kau serta Boen Ing dua orang saja yang mana memperoleh pendidikan langsung dari beliau. Dan Ciangbunjien Heng San Pay saat ini Heng San Jie Yu pun tidak lebih merupakan murid angkatan yang amat muda, terhadap ilmu silat Heng San Pay paling paling cuma memperoleh sedikit kulitnya saja! Dan akupun sudah bersumpah tidak akan menerima murid sudah tentu lain kali kesemuanya ini harus tergantung pada dirimu seorang, aku inginkan kau sukses karena itu akusuruh kau menghisap aarah mujijat dari Gien jie itu, siapa tahu . . .” "Supek kau tidak usah melanjutkan kembali kata katamu itu" potong gadis berbaju hijau itu cepat. "Bagaimanapun juga aku tidak akan menghisap darah dari Gien jie !"

"Ehmm . . . aku tahu kalau kau tak tega untuk menghisap darah Gien jie dan sekarang bukankah aku sudah menurut ?? " ujar Oei-Tiap Loojien lagi sambil mengangguk. :'Baik lah ! Sekarang kita tidak usah lagi mengungkap kembali persoalan ini, kini aku ingin tanya padamu, tahukah kau kemana perginya Boen Ing siperempuan iblis itu ?"

Dengan perlahan Cing jie gelengkan kepalanya.

Oei Tiap Loojien lantas tertawa. ”Sekarang kita harus mengambil keputusan untuk menyusun suatu rencana, kita hendak kurung dia didalam barisan bunga ini sampai mati ataukah mencari dirinya dan basmi dirinya dari muka bumi ini, Ceng jie kau merasa cara yang mana lebih bagus?'

'Kurung mati dia didalam barisan bunga bukanlah suatu persoalan yang mudah lebih baik kita basmi saja!" sahut Cing jie dengan kukuh dan gagah.

"Baiklah, mari ikut aku pergi?" Berbicara sampai disini Oei Tiap Loojien lantas putar badan dan berlalu dari sana.

Walaupun didalam hati gadis berbaju hijau itu rada ragu ragu tetapi terpaKsa dia ikuti juga dari belakang tubuhnya, berjalan mendekati seratus tindak mendadak Oei Tiap Loo jien menuding kearah jejak darah yang ada diatas tanah.

"Cing jie coba kau lihat, jari kaki Boe lag sudah terpapas sampai putus, kita cukup mencari jejaknya dengan mengikuti jejak darah itu sudah tentu akhirnya bakal ketemu”. Demikian mereka berdua dengan mengikuti jejak darah yang berceceran diatas tanah berjalan maju kedepan.

Tidak lama kemudian mereka pun sudah -menemukan boen Ing yang lagi duduk dibawah tumbuhan bunga yang rimbun tetapi saat ini dia berada didalam keadaan telanjang bulat tanpa selembar kainpun yang menutupi tubuhnya.

Melihat akan hal itu Oei Tiap Loojien jadi melengak tetapi sebentar kemudian sudah jadi gusar.

"Boen Ing!" Bentaknya dengan keras "Kau perempuan cabul kau membuat partai Heng San pay merasa malu, kau perempuan sundal tidak tahu malu!"

Boen Ing tetap tidak ambil perduli dengari pandangan melongo perempuan itu memandang mereka berdua yang berjalan semakin mendekat itu.

Pada waktu itulah Oei Tiap Loojien mendadak menemukan beberapa lembar cabikan kain yang sudah kumal dan hancur segera dia jadi sadar kembali apa yang sudah terjadi

Kiranya Boen Ing bukannya sengaja bermaksud untuk melepaskan pakaiannya hingga berada didaiam keadaan telanjang bulat tetapi karena pakaian itu yang sudah berusia ratusan tahun lebih itu kini sudah tentu hancur karena lapuk sehingga sewaktu tadi dia melarikan diri saking tergoncangnya membuat kain itu semakin koyak dan terlepas semua.

Walaupun pada saat ini Oei Tiap Loo jien bermaksud hendak melenyapkan dirinya tetapi dia pun merasa dirirnya tidak tega demi melihat dia dalam keadaan telanjang bulat.

Setelah memandang sekejap kearah Cing -jie akhirnya dia melepaskan jubahnya sendiri dan dengan mengerahkan tenaga dalamnya-yang kuat dia melemparkan kearahnya .

„Boen Ing cepat terima pakaian itu dan pakailah untuk kemudian terimalah kematianmu”

Boen Ing lantas menerima pakaian tersebut, dan air mukanya menampilkan suatu senyuman tawar serta dingin.

Setelah selesai berpakaian dia bargun ber diri dengan perlahan dan berjilan dua lang kah kedepan Oei Tiap Loojien. "Supek !"" ujarnya sambil menjatuhkan diri berlutut. "Boen Ing sudah dikurung selama seratus tahun oleh suhu walaupun hanya makan dedaunan mati hidup bagaikan berada dalam impian dan berasa apapun, tetapi pada sepuluh hari yang lalu aku sudah sadar kembali dan didalam tempo yang singkat itu lah aku mulai merasa menyesal terhadap kekejaman serta perbuatan jahat yang pernah ku lakukan tempo hati. asalkan kini supek suka mengampuni dosa Boen Ing maka sutit li mu lai saat ini juga akan menyesali dosaku dan berganti berbuat baik."

Memang Oei Tiap Loojien adalah benar benar seorang tua yang amat ramah, begitu mendengar perkataan itu dia sama sekali tak merasa ragu. Wajahnya berubah kegilangan dan teitawa tergelek dengan kerasnya.

Sekalipun demikian didalam pandangan gadis berbaju hijau itu sama sekali berbeda, peristiwa yang telah silam kini kembali ber kelebat memenuhi benaknya.

Boen Ing sebenarnya adalah murid keempat dari It Tiap Loo jien, pada mulanya dia sangat pendiam halus dan berbudi, wajahnya pun sangat cantik bahkan memiliki kecerdasan yang luar biasa didalam ilmu silat karena itu dia memperoleh kasih sayang yang luar biasa dari It Tiap Lao jien yang menurun kan seluruh kepandaian silat kepadanya.

Siapa tahu setelah tenaga dalam Boen Ing memperoleh kemajuan yang amat pesat itu lah sikapnya mendadak berubah.

Secara diam diam diapun mengadakan hubungan gelap dengan Toa suheng serta Jie suheng, setelah mengadakan hubungan lantas membinasakarnya Demikianlah sejak itu mu rid murid It Tiap Loo jien yang paling di andalkan pun mulai lenyap tak berbekas.

Semula It Tiap Loo j'en memiliki dua puluh orang anak murid, hanya didalam jangka waktu tiga bulan saja sudah ada separuh bagian yang lenyap tak berbekas, tetapi waktu itu It Tiap Loojien sama sekali tidak mencurigai diri Boen Ing.

Lewat beberapa bari kemudian kembali dua orang muridnya lenyap, walaupun hati It Tjap Loojien merasa cemas tetapi tak bisa berdaya apa apa

Akhirnya ia mengumpulkan seluruh anak mu ridnya yang ada disana untuk merundingkan persoalan itu

Siapa tahu pada saat perienuan itulah secara terbuka Boen Ing sudah menceritakan hal yang sebenarnya, walaupun It Tiap Loo jien pun berada disana dia berhasil juga membinasakan saudara saudara seperguruan lainnya bahkan Boen Ing berhasil juga melolos-kan diri.

Karena persoalan itu It Tiap Loojien jadi terpukul hatinya, didalam keadaan sedih itulah dia lantas mengundang suhengnya Oei-Tiap Loojien untuk mencari mengelilingi seluruh gunung Heng san tapi hasil yang diperoleh hanya nihil.

Pada suatu hari It Tiap Loojien teringat kembali dengai diri Cing jie yang berada di dalam lembah mati hidup, mereka lantas putar haluan untuk berangkat kesana.

Pada saat itulah mereka menemukan Boen Ing lagi mengejar Cing jiu untuk dibunuh.di dalam keadaan gusar It Tiap Cinjien segera turun tangan menolong Cing jie dan menangkap diri Boen Ing dengan menggunakan barisan bunga "Sam Nie Kioe Kong Khei Bun-Toa Tin" yang memaka n waktu cukup lama dalam mengatur barisan itu.

Menurut maksud It Tiap Cinjien waktu itu dia hendak turun tangan membinasakan perempuan tersebut tetapi hal ini berhasil dicegah oleh Oei Tiap Loojien.

Berkat ketekunan dia kesabaran dari Oei Tiap Loojien ini akhirnya dia berhasil mengetahui juga mengapa silcap serta sifat Boen Ing bisa berubah menjadi begitu buas. Kiranya pada suatu hari disebuah guha di atas gunung dia Boen Ing sudah bertemu tiga orang toosu, dan saat itulah Boen Ing diperkosa bergantian bahkan setiaphari yang membuat dia menjadi hampir mati lemas.

Karena peristiwa itulah dia jadi membenci setiap orang lelaki, dan tak terhindar lagi Heng San pay mengalami hari naasnya.

Oei Tiap Loojin yang mendengarkan kisah dari Boen Ing ini hatinya merasa amat kasian dan memberi kemurahan hati buat dirinya

Dia menyerahkan seratus lembar daun mati hidup dan mengurung dirinya selama seratus tahun lamanya.

It Tiap Cingjien pun kkusus membuatkan sebush ruangan batu yang didepannya ditancapkan pedang Lan Beng Kiam sebagai pencegahnya.

Dia tahu dalam seratus tahun kemudian bilamana Boen Ing muncul kembali karena sudah memakan dedaun mati hidup maka tenaga dalamnya akan memperoleh kemajuan yang amat pesat, dan waktu itulah cuma pedang Lan Beng Kism saja yang paling ditakutinya.

Bersamaan itu pula dengan tidak sayang nya It Tiap Cing jien mengurung diri Cing Jie pula diruangan lain agar setelah sembilan puluh delapan tahun kemudian sewaktu dia sadar dari tidurnya ia memiliki tenaga daiam yang tidak berada dibawah Boen Ing.

Walaupun cara ini amat bagus sekali tetapi Ie Tiap Cinjien sudah salah memperhitungkan sesuatu, dia tidak sampai berpikir bahwa tenaga dalam Cing jie yang semula memang sudah kalah satu tingkat dari Boen Ing walaupun sudah lewat seritus tahun kemudian juga akan tetap kalah satu tingkat'

Dengan pandangan yang amat tajam Cing jie sigadis berbaju hijau itu memperhatikan diri Boen Ing tajam tajam. Mendadak dia menemukan kesepuluh jari kakinya yang terpapas waktu itu mengalirkan darah yang amat deras, hatinya jadi melengak.

"Kenapa jari kaki yang terpapas itu mengeluarkan darah dengan begitu derasnya."

Pikirnya dengan cepat terputar mendadak teringat olehnya kalau pada waktu itu pasti lah dia lagi menyalurkan hawa murninya.

'Supek, berhati hatilah" bentaknya.

Dengan terburu buru diapun melancarkan satu kali pikulan dahsyat kearah depan.

Terdengar Boen Ing tertawa seram, tubuh nya berkelebat menghindarkan diri dari serangan tersebut.

Pada saat itulah Oei Tiap Loojen sudah merasa akan sesuatu hal yang tak beres, 'Celaka !' teriaknya.

Tubuhnya segera bergerak mcloreat sejauh satu kaki bersamaan itu pula sambil putar badan sepasang telapaknyapun didorong kedepan.

Siapa tahu Boen Ing sudah menggunakan ilmu pukulan berputar yang amat lihay dari Heng San Pay untuk menghindar kebelakang tubuh Oei Tiap Loojien, cengkeramannya dengan disertai desiran tajam menyengkeram batok kepala orang tua itu.

Walaupun Oei Tiap Loojien jadi orang amat sabar dan ramah tetapi menghadapi peiempuan cabul yang memiliki kepandaian silat yidq amat dahsyat ini tidak berani berlaku ayal, dengan sekuat tenaga dia meloncat kedepan.

Boen Ing yang melihat cengkeramannya mencapai pada sasaran yang kosong dia kembali tertawa seram, dengan gerakan tubuh berputar dia melayang kembali satu kaki ke samping , setelah mengibaskan pukulan Oei Tiap Loo jien mendadak telapak kirinya dengan menggunakan jurus "Shia Kwa Kiem -Tha' atau menggantung miring pagoda emas, menghajar kedepan.

Melihat datangnya serangan tersebut Oei Tiap Loo jien segera mendengus dingin.

"Dengan menggunakan ilmu pukulan Sian-Hong Ciang'Hoat untuk menghadapi aku orang tua, bukankah hal ini saja mencari - - -'

Belum habis dia berkata telapak kanan Boen Ing dengan menggunakan jarus poo –Hong Can Gwat atau angin taupan membabat rembulan kembali melancarkan serangannya kedepan.

Kali ini serangan yang digunakan adalah jurus serangan dari ilmu telapak Thay lh Ciang Hoat.

Dua gulung angin pukulan yang-satu jurus yang lain berputar dengan amal cepatnya -menggencet seluruh tubuh Oei Tiap Loejien.

Dalam hati Oei Tiap Lojien marasa amat terperanjat pikirnya ,

'Ilmu telapak angin berputar serta ilmu telapak Thay Ih.Ciang adalah ilmu dahsyat dari Heng Sin Pay kami kini dia bisa melancarkannya dengan cara berpisah dari kiri maupun kanan sungguh merupakan suatu gabungan yang luar biasa"

Untuk beberapa saat lamanya dia jadi kebingungan sendiri sehingga berdiri termangu mangu ,

'Boen Ingg kau jangan berbuat terlalu kejam 'Bentak Cing jie pada waktu itu dengan suara yang merdu.

Diapun melancarkan satu pukulan yang tepat dan memusnahkan datangnya serangan dahsyat Thay Ih Ciang Hoat sebaliknya Oei-Tiap Loo jien sendiri sambil putar badan menghadang datangnya pukulan Sian Hong-Ciang dari Boen Ing itu'

Kini Boen Ing bisa menghadapi dua orang musuh sekaligus bahkan bisa memisahkan tenaga dalamnya menjadi dua bagian tanpa menunjukkan kalau tenaga dalamnya lebih tinggi dari tenaga dalam kedua orang itu.

Boen Ing yang melihat kedua orang itu berhasil memunahkan serangannya dengan suatu kerja sama yang erat. sifat buasnya muncul kembali dihatinya rambutnya yang panjang dengan cepat dilingkarkan pada lehernya,

'Supek l' bentaknya dengan suara yang amat mengerikan. 'Hari ini aku Boen Ing akan bertanding dengan dirimu."

Sehabis berkata kesepuluh jari tangannya dipentangkan lebar lebar; bagaikan jepitan besi segera menubruk kearah Oei Tiap Loo-jien.

Sambil putar badan melancarkan serangan semuanya dilakukan dengan gerakan yang amat mengejutkan.

Oei Tiap Loo jien hanya merasakan segulung angin berdesir lewat. Boen Ing dengan menggunakan jurus "Tong Im Mie Puhi atau awan gelap menutupi jagat mencengkeram batok kepala Oei Tiap Loo jien, serangannya amat ganas dan kejam.

Oei Tiap Loojien yang diserang kepalanya kontan jadi marah ?, bentaknya

”Cing jie. Kau jangan turun tangan dulu!'

Ilmu telapak Thay It Ciang Hiat dengan cepat dikerahkan keluar, dengan mengguna kan jurus jurus ’Coan Yen Leng Siauw' atau burung walet menembus awan serta 'Kiem -Hong Yau Wei' atau tawon emas goyang ekor menyambut datangnya dua cengkeracran Boen Ing si perempuan berambut panjang itu, membentangkan cengkeramannya kesamping dan meloncat kekiri. Sepasang telapak tangan Oei Tiap Loojien dengan menimbulkan angin pukulan amat santar berturut turat melancarkah tiga pukulan mengancam bagian bagian tubuh yang berbahaya dari perempuan tersebut

Boen Ing tertawa ringan tubuhnya melayang ketengah udara kemudian dengan beberapa kali kelebatnya saja sudah dapat menghirdarkan diri dari serangan itu.

Oei Tiap Loojien yang kini sudah berusia melewati seratus tahun dan selamanya belum pernah bertempur dengan demikian seru nya terhadap orang lain, kini hawa amarah mya sudah berkobar membuat dia orang dengan tiada hentinya rrelancarkan serangan-serangan berantai.

Agaknya memang Boen Ing punya maksud untuk pancing dia melancarkan serangan dengan sekuat tenaga dia sama sekali tidak menghindar maupun membalas sebaliknya berusaha untuk mempertahankan diri saja .

Cing jie sigadis berbaju hijau yang menonton jalannya pertempuran dari samping lantas bisa melihat dengan jelas walaupun serangan serangan daii Oei Tiap Loojien amat dahsyat dan kuat bahkan setiap serangan mengancam bagian tubuh yang berbahaya tapi cukup perempuan itu meloncat atau menghindar berhasil juga menghindarkan diri dari serangan itu tanpa membuang tenaga, hal ini berarti pula kalau kepandaian perempuan itu jauh lebih tinggi setingkat dari si arang tua

Hatinya mulai merasa kuatir rnengenai ke selamatan Oei Tiap Loojien, dengan pandangan tak berkedip ia memperhatikan terus gerakan tubuh Boen Ing yang lagi berputar dan meloncat.

Hanya didalam sekejap saja Oei Tiap Loojien sudah habis melancarkan serangkaian ilmu pukulan Thay Ih Ciang tetapi menjawil ujung baju Boen Ing pun tak berhasil, hatinya pun menjadi semakin gusar. Untung dia adalah seorang kakek tua yang sudah berusia lanjat dan berpengalaman walau pun berada dalam keadaan amat gusar tetapi dia masih dapat berjaga diri. dia tidak ingin memaksa orang muda dan punya maksud untuk mengadu jiwa dengan dirinya.

Boen Ing pun lama kelamaan mengetahui juga bilamana dia bertempur secara begitu terus terusan maka hasil yang diperoleh adalah nihil. maka segera dia tertawa dengan seramnya.

”Heee .hieee „ . . Oei Tiap Supet" serunya dengan dingin, ”Kiranya kau pun tidak lebih cuma begini saja, dimanakah letak kegagahanmu tempo hari sewaktu menangkap aku Boen Ing? apakah dikarenakan kekurangan sebilah pedang Lam Beng Kiam milik suhu kau sudah luntur semangat ?"

Baru berbicara sampai disitulah mendad&k gadis berbaju hijau itu dapat melihat kalau darah yang mengalir keluar melalui jari jari kakinya yang terpapas itu semakin deras, tidak kuasa lagi teriaknya : "Supek, bersiap siaplah menghadapi serangannya ”

Gerakan tubuh Boen Ing pun telah jauh berubah, dari kedudukan bertahan kini berubah jadi,kedudukan menyerang, dengan tangan kirinya dia melancarkan ilmu telapak Sian Hong Ciang sedang tangan kanannya melanjutkan serangan dengsn menggunakan ilmu Thay Ih Ciang, dua gulung angin pukulan laksana menggulungnya ombak ditengah samudra satu lurus satu berputar menekan tubuh Oei Tiap Loojien.

Seketika itu juga daerah seluas sepulun kaki dari sana sudah terkurung rapat oleh angin pukulannya.

Maka dengan paksakan diri Oei Tiap Loo jien rrenerima juga dua serangannya itu, tetapi tak terasa olehnya tubuhnya sendiri sudah meloncat sejauh dua kaki lebih. "Boen Ing ' bentaknya dengan keras. "Darimana kau dapatkan ilmu gabungan dari ke dua buah kepandaian telapak tangan ini?"

Dari air muka yang pucat itu Boen Ing terlintaslah satu senyuman tawar, mendadak jeritnya dengan seram.

'Oei Tiap kau si orang tua yang tidak mati mati, sepatutnya kalau kau belajar ilmu silat lima puluh tahun lagi."

Sembari berbicara sepasang telapak tangan nya sudah dihantamkan kedepan pula, tetapi kali ini dia bermaksud untuk merusak dan menghancurkan diri Oei Tiap Loojien maka itu serangannya baru sampai ditengah jalan dari gerakan telapak sudah berubah jadi gerakan mencengkeram dan berebut maju ke depan,

Didalam keadaan yang amat terburu buru Boen Ing melancarkan dua buah pukulan yang berbeda kearah kiri Oei Tiap Loojien lantas merasa amnt payah sekali.

Pada saat ini dia cuma bisa menghindar kesamping meloncat kepinggir saja untuk, meloloskan diri dari kejarau angin pukulan dari perempuan tersebut.

Belum habis suatu ingatan didalam benak nya mendadak sepasang cengkeraman dari Boen Ing sudah mengancam pula didepan dadanya,

"Aaaa . . . !" teriaknya kaget air mukanya seketika itu juga terubah jadi pucat pasi, di dalam keadaan yang amat gugup itulah sepasang telapaknya dipentangkan lebar lebar, "Boen Ing, kau berani!" bentaknya keras.

Baru saja perkataan itu selesai diucapkan lengan kirinya telah terasa amat sakit, lima jari tangan kanan Boen Ing yang laksana jepitan besi sudah mencengkeram kedalam daging lengannya dalam dalam, saking sakit nya air muka Oei Tiap Loojien yang sudah purat pasi itu kini berubah menjadi kehijau hijauan Melihat keadaan yang amat kritis yang mengancam jiwanya dia cepat cepat ambil satu keputusan

Hawa murninya dengan cepat disalurkan! memenuhi seluruh tubuh, lengan kanannya mendadak membalik dan mengirim satu pukulan yang amat dahsyat kedepan.

Saat ini adalah saat kritis yang mengancam jiwanya tanpa memperduli kesopanan lagi telapak tangan tepat menyapu kearah kedua bukit teteknya.

Cing jie si perempuan berbaju hijau yang ada disamping kalangan sewaktu melihat supeknya Oei Tiap Loojien berada didalam keadaan yang sangat bahaya segera membentak keras, sepasang tangannya dengan menggunakan jurus Tay Lang Tui Tan, atau memisahkan ombak mendorong perahu menghantam kedepan.

Segulung angin pukulan laksana dingin baja dengan cepatnya menggulung kedepan menekan purggung Boen Ing.

Boen Ing yang tangannya sebelah masih menancap didalam daging lengan Oei Tiap Loo-jien maka kini cuma tersisa tangan kirinya saja untuk melawan musuh, tak perduli bagaimana juga sukar buatnya untuk menerima datang nya dua gulung angin pukulan itu.

Didalam keadaan amat terperanjat itulah telapak kirinya menangkis datangnya pukulan Oei Tiap Loojien, tetapi sebentar kemudian dia merasakan pukulsn tersebut berat bagaikan gunung Thay san yang membuat telapak kirirya tergetar keras dan menjadi linu.

Sedang waktu itu angin pukulan dari Cing jiepun sudah tiba, maka sambil mengigit kencang bibirnya dia berkelit kesamping.

Oei Tiap Loojien sama sekali tak menduga kalau dia bisa berbuat demikian, maka kuda kudanyapun tergempur sehingga tubuhnyapun ikut berputar Dengan demikian keadaannya pada saat ini tepat berhadap hadapan dengan datangnya angin pukulan dari Cing jie itu Untuk menarik kembali serangannya tidak sempat. . . Braaaak,

. ! " dengan amat tepatnya pukulan tersebut bersarang pada punggung Oei Tiap Loojien.

Dengan kedahsyatan dari tenaga dalam Cing jie hasil latihan selama seratus tahun lebih walaupun menggunakan kasiat dari dedaun tetapi Oei Tiap Loojien tidak bakal sangguo menerima datangnya pukulan itu Kepalanya terasa pening dan dadanya jadi mual tidak tertahan lagi dia muntahkan darah segar.

Boen Ing yang lagi mencengkeram lengan Oei Tiap Loojien hingga tembus kedalam dagingnya begitu melihat adanya cahaya merah menyambar datang hatinya jadi kaget, dia tahu bilamana dirinya tidak menghindar maka darah segar tersebut pasti akan mengotori wajahnya

Didalam keadaan cemas tangannya sedikit tergetar segumpil lengan Oei Tiap Loojien kotan tersayat lepas dari tempatnya semula sedang dia sendiri meloncat mundur sejauh dua kaki.

Keadaan dari Oei Tiap Loojien pada saat ini benar benar amat mengerikan sekali, dia tak kuat untuk berdiri lebih lanjut tak kuasa lagi lantas rubuh keatas tanah, air mukanya berubah jadi pucat bagaikan mayat.

Melihat kejadian itu Cing jie sigadis berbaju hijau itu jadi amat terperanjat. "Supek! supek " teriaknya kaget.

Dengan cepatnya dia lantas menubruk kedepan

"Ce . . , cepat . . . cepat . . . bimbing aku , , kedalam , , kedalam barisan , , bunga ”

Didalam hati Cing jie mengerti bilamana saat ini dia tak menolong Oei Tiap Loojien lolos dari sana maka keadaan dari orang tua sangat berbahaya sekali. Dengan cepat dia dongakkan kepalanya ke atas terlihatlah Boen Ing yang merupakan gadis amat cantik saat ini didalam pandangannya kelihatan amat mengerikan dan menyeramkan sekali !

Dengan gupup Cing jie menyambar tubuh Oei Tiap Loojien sambil enjotkan tubuhnya lari kedalam barisan bunga

”Hee . , „ hee . . . Cing moay l kau Hendak melarikan diri kemana ?' Tanya Boen Ing sambil tertawa dingin. "Cepat bawa aku mencari Liem Tou, aku mau pakai dan kerjain dirinya terlebih dulu”

Sepasang pundaknya sedikit bergerak bagai kan bayang bayang setan saja dengan kencangnya membuntuti terus dari belakang tubuh gadis berbaju hijau itu dia tidak melancarkan serangan tetapi juga tidak meninggalkan diri Cing jie pada jarak lebih dari satu kakipun.

Kiranya semula Boen Ing pun pernah tertawan didalam barisan bunga itu sehingga diapun tahu bagaimana dahsyatnya barisan bunga tersebut, bilamana tak ada orang memimpin jangan harap bisa lolos dari barisan bunga itu, karenanya dia berusaha untuk membututi terus dirinya.

Cing jie yang melihat Boen Ing membuntuti terus tiada hentinya dalam hati benar benar merasa amat cemas

Kini mendengar perkataan tersebut dia lantas mencibirkan bibirnya.

”Siapa yang menjadi adik Cing mu? Hmm! jangan mimpi aku suka membawa kau lolos dari barisan bunga ini."

"Heee,„ heee Cing moay kau jangan marah” seru Boen Ing lagi sambil tersenyum' ”Aku tetap akan mengikuti dirimu terus bilamana kau berhasil lolos dari barisan bunga ini maka akupun bisa pula untuk lolos dari sini kecuali bila kau serta Oei Tiap Loojien rela untuk mengawani aku bersama sama mati terkurung disini," Sehabis berkata kembali dia tertawa seram

Cing jie yang mendengar perkataannya sedikitpun tidak salah dalam hati mulai mengambil keputusan pikirnya.

"Perempuan cabul Boan Ing aku akan ada jiwa dengan dirimu walaupun tenaga dalamku kalah satu tingkat dari dirirmu tapi belum tentu bisa menderita kekalahan".

Mendadak teringat kembali olehnya pedang pusaka Lan Beng Kiam tersebut, dia merasa bilamana ada pedang itu maka dirinya tidak usah takut terhadap dia lagi.

Sewaktu dia lagi melamun seorang diri itu lah mendadak terdengar Oei Tiap Loojien yang ada didalam rangkulan merintih.

"Cing jie kau jangan cemas, bawalah terus dirinya kedalam pusat barisan Sam Nie Kioe Kong Khie Bun Toa Tin ini bilamana ada kesempatan cepat cepat meloloskan diri '.

Cing jie segera menurut perkataannya dan berlari menuju kepusat barisan itu.

Kedahsyatan dari barisan bunga "Sam Nie Kioe Kong Khei Bun Toa Tm' ini benar benar luar biasa sekali, semakin lama Boen Ing dibuat semakin kebingungan dan dia merasa keadaan semakin tak beres.

Terlihatlah Cing jie sebertar miring ke samping mendadak mundur kekiri tiga langkah kekanan empat langkah kadang kadang pula maju berputar mundur melingkar.

Hanya didalam sekejap saja Boen Ing sudah tidak mengerti manakah utara manakah selatan tetapi dia cuma tahunya mengikuti gerakan dari Cing jie terus menerus gadis itu bertindak bagaimana diapun mengikuti dengan cara yang sama. Seluruh perhatianrya pada saat ini benar benar terpusatkan pada langkah langkah Cing jie matanya melorot lebar lebar tak ber-kedip sedikitpun.

Tidak lama kemudian mereka sudah tiba pada pusat barisan tersebut, sewaktu Cing-jie hendak minta petunjuk dari Oei Tiap -Loo jien itulah mendadak hatinya jadi terperanjat sekali'

Kira nya entah sejak kapan, Oei Tiap Loo jien sudah jatuh tidak sadarkan diri tetapi bibirnya masih sedikit bergerak gerak.

Dalam hati gadis itu jadi amat cemas sekali.

”Supek ! supek ! kau jangpn mati, cepat bangun. , , bangun

, , bangunlah” Teriaknya.

Lama sekali baru kelihatan Oei Tiap Loo jien sedikit bergerak kemudian dengan perlahan menjadi sadar kembali.

"Cing jie !" ujarnya tanpa tenaga. 'Aku , , aku , . aku tidak akan mati dengan demikian saja tetapi aku tidak . , tidak dapat ber tahan lebih lama lagi, tetapi , , ."

Cing jie yaa» mendengar dari nada suara nya rada tidak panya harapan dengan gugup lantas teriaknya.

"Supek cepat kau bilang tapi kenapa ?'

Lama sekali Oei Tiap Loo jien memejam kan matanya, akhirnya dia membuka matanya kembali.

'Cuma darah pusaka dari Gien jie atau tiga lembar dedaun mati hidup yang bisa melindungi sisa hidupku ini, tetapi Gien jie ada kemungkinan sudah binasa.'

Waktu itu Cing jie cuma kepingin melindungi nyawa dari Oei Tiap Loo jien, maka tidak 'berpikir panjang lagi sehabis mendengar perkataan itu dia meloncat kesamping kiri memetik tiga lembar dedaun mati hidup lalu dimasukkan kedalam sakunya. Ketika dilihatnya Boen Ing masih membuntuti terus dari jarak satu kaki dibelakangnya dalam hati benar benar merasa amat gusar -maka sembari melancarkan satu pukulan dahsyat tubuhnyapun meloncat kedepan sejauh tiga kaki lebih .

Dia tidak berani berdiam lebih lama lagi sambil menarik hawa murninya panjang panjang tanpa menoleh lagi dia segera mengerahkan ilmu meringankan badan berlari ke depan.

Baru saja tubuhnya hampir keluar daii barisan bunga ini mendadak berdesirnya angin menyampok ujung pakaiannya Boen Ing kira nya sambil mengebut ngebutkan ujung baju nya membuntuti terus dibelakang tubuhnya

Cing jie amat gemas sambil balik badan dan dia kirim satu pukulan lagi kedepan.

'Boen Ing aku akan hajar kau sipereripuan cabul!" bentaknya.

Boen Ing hanya berdiam diri saja tubuhnya mendadak berkelebat menghindar kesamping.

"Siauw Giok Cing ! ujarnya dengan dingin. "Kau sudah papas putus jari kakiku soal ini aku masih, belum menagih rekening dengan dirimu, kini bilamana kau sudah membawa aku keluar dari barisan ini maka hutang itu akan aku anggap lunas, aku tak akan merca ri dirimu lagi dan hanya mencari Liem Tou seorang."

Si gadis berbaju putih itu segera melotot kan matanya lebar-lebar, dia pada saat ini benar-benar kepingin mengadu jiwa dengan dianya tetapi berhubung ada Oei Tiap Loojien didalam rangkulannya membuat hatinya jadi bingung.

Pada saat itu dia merasa serba susah mendadak Oei Tiap Loojien merintih perlahan ujarnya : 'Cing jie, aku rasa diriku tidak kuat bertahan lebih lama lagi, cepatlah kau serahkan dedaun mati hidup kepadaku, tiga tahun kemudian kita akan bertemu kembali!'

Beberapa perkataan dari Oei Tiap Loojien inilah 'segera membuat Cing jie jadi sadar, pikirnya :

"'Kenapa aku harus membuang waktu di-sini? Cepat entah Gien jie sekarang sudah mati atau belum ?”

"Tidak supek !" sahutnya kepada si orang tua itu, "Bagaimanapun juga kita harus pergi melihat dulu apakah ular raksasa itu masih hidup atau sudah mati."

Tanpa memikirkan apakah Boen Ing nanti ikut keluar dari barisan bunga itu atau tidak dia lantas putar badan, dengan beberapa kali loncatan saja dia sudah keluar dari barisan bunga tersebut,

Boen Ing pun dengan cepat ikut meloncat keluar dari barisan itu. kemudian mendongakkan kepalanya dan tenawa terbahak bahak.

"Mulai saat inilah aku Boen Ing baru benar benar bisa melihat matahari lagi."

Mendadak wajahnya berubah jadi amat serius, lalu menoleh sekejap memandang ke arah Cing jie.

Waktu itu Cing jie sudah tiba disamping celah celah batu, melihat ekor ular tersebut sudah putus sedangkan Lam Beng Kiam telah lenyap tidak berbekas dalam hatinya lantas tahu kalau pedang tersebut tentulah sudah diambil oleh Liem Tou dan sekalian menghisap darah pusaka itu.

Saking sedihnya tidak kuasa lagi dia meneteskan air mata, kepada Oei Tiap Loojien ujarnya dengan sedih :

”Soepek ' Kita sudah ditakdirkan untuk berpisah kembali selama tiga tahun, Itu namanya nasib. Akh Liem Ton kau sungguh menggemaskan.” Pada saat itulah mendadak Boen Ing memutar mutarkan biji matanya tiba tiba t

Bangan nama Heng San Pay. Tetapi dia bafts saJa «linm n darah ular raksasa itu eda ke

snungkinaa tiga hari kemudian baru sadar » baiklah kau melindungi dirinya.'

bicar© sampai disitu keadaan Oei Tiap -iLoojien sudah semakin parah lagi  napasnya

^fj,to« n„tmV hpr Sersengkai eengkaJ tidak karuan jelas sebera '^n

p ' . . . „ ,fm nnms,-va tar lagi dia tidak kuat mempertahankan diri

4dgl

•astb " Akn . . Melihat kejadian tersebut Cing jie Jadi - amat terperanjat dengan terburu buru dia -

ke|uaf ketiga lembar dedaun ma

• d dlkuHyah dula dimulutoyti

setelah itu baru dimasukkan kedalam mulut padfl radis tersebut.

"Cing mcsy! Dimana Liem Tou?

Baru saja Cirg jie hendak menjawab men dadak tcdengar Oei Tiap Loojien sudah men^ gerakkan bibirnya berbicara

<

Oei Tiap Loojien untuk ditelan. Sampai waktu itu Cing jie benar benar ti dak dapat menahan tetesan air matanya yang

"Cing jie l' pesannya. "Ba»k baiklah kau menga'ir keluar semakin deras, lindungi Liem Tou. dia e emiliki ilmu silat "Ooow, supek! salamat tinggal** serunya se yang amat lihay apalagi pernah minum darah dih A&fa .,.! tiga tahun bukanlah suatu jang pusaka dari ular raksasa tersebut lain kali bo waktu yang pendek,.

leh digunakan sebagai seorang pembantumu un Ah muka Oei Loojien lantas melintas satu tuk menangkap Boen Ing kembali kedalansenyuman yang amat sedih dengan perlahan lembah serta mesieghkkau kembali kecernei'dia mengangguk.


"Hey CitJg moay kau masin tak suka b\c® n e y uiug uiuc*.» •-— — - i

ra" Tercengar Boen Ing membentak lagi de mg, menutup matanya dan menutup pern. i,gan suaranya yang amat keras. Sebetulnya pasannya.

Sehabis berbicara dia mengbela napas r&n m

Liem Ton sudah pergi kemana - perkataaJ

yang sudah aku ucapkan tak baiat kupungkiri dah menutup pernapasannya kali ini tak se

,. hnfir «i r mntnnvn kembali.

Cmg jie yang melihat Oei Tiap Loojien su butir air matanya keluar, air mukanya ber-

CinJ jie mana suka menggubris dirinya ubah jadi dingin bagaikan es, sambil membo n--. T;#n f DOtiE tubuh Oei TiaD Loniien dia b

,tariU Cmg jie sigadis berbaju hijau itu sama anga kali tidak mengambil gubris, dia tetap menu

. _1. n. se

Cing jie mana suka inengguDris ainnya «ja.n u...e.u uuBa? ivQiJ oautu,i saat ini dari tenggorokan Oei Tiap Loojien pong tubuh Oei Tiap Loojien dia berjalan mengeluarkan suara yang perlahan kembali i masuk kedalam ruangan batu tersebut, dia membuka matanya dan b-rkata deogai *Hey c,ng m£)ay , kau dengar tjdak pef_ amat halus seperti suara nyamuk. kattanku ?? terdengar Boen Ing siperempuan

"Masih ada lagi Cing jie! alat rahasia da- cabul itu membentak kembali, ri ruangan batu tentu kau sudah meigetahu' dengan amat jelas bukan ? didalam rtangai

tersebut sudah disembunyikan suatu rangkai ,up mulutnya rapa(. rapati an ilmu silat yang amat dahsyat dari suhu di hulu. semasa hidupnya dia tak pernah berkati Melihat s.kap tersebut dalam hati Boen sebaliknya menjelang kematiannya dia b J ^ ™la, memecahkan sendiri persoalan ter berkata tetapi aku serta ayahmu sudah per™! ^nt- akhirnya terdengar dia bergumam se memeriksa sekeliling tempat ini dan hasilnjj ng ln »

nihil, cobalah kau periksalah sekali lagi dt "Ooouw , . . kiranya Liem Tou ada didalam ngan teliti, bila mana kau berhasil mempel sana, tempe hari suhu pernah membawa ain jarinya ada kemungkinan masih bisa meng» masuk kesana. katanya tempat itu ruangan sai diri Boen Ing. bersemedi dari sucow ya tempo hari bahkan

RS : 33" Selama setatus tahun ini Boen Ing di-sudbh dipasangi dengan alat rahasia  yang -(kurung didalam ruangan batu disisi kiri dari

ruangan sekarang, hatinya sudah benar berat de. merasa jeri terhadap tempat itu. kini dibc-baI kar hatinya oleh perkataan Cing jie dalam I hati diam diam mulai berpikir:

"Cuma mengandaikan kau Giok Cing se-percaya bisa mengurung

amat bahaya

Sembari bergumam sendiri mendadak ngan beberapa kali lonc. tan dia sudah ada diluar ruangan batu itu.

Dikarenakan Liem Tou duduk dipojokan maka dipandang sepintas lalu dari tempat lu orar'S aku tidak aran sudah tentu tak akan aapat ditemukan. Qir'ku.

Baru saja Bon Ing melangkahkan kakinyal Pikirannya dengan cepat berputar tanpa kedalam ruangan batu iiu mendadak seperti Pikir la8J diapun ikut membuntuti dari arah relah teringat akan sesuatu mata dengan terjtelakang.

buru buru dia kebelakang. mengundurkan diri kembali

Mendadak sepasang matanya dapat melihat iLiem Tou yang lagi duduk bersila menyandar

"Kenap?, tidak masuk ?"" ejek Cing jie de|psda f'indin£» agaknya dia sudah berada di n;gan nada yang amat dingin.

• 'Kau Boen Ing sudah mempunyai tenaga dalam hasil latihan seratus tahun, apakah, cuma sebuah ruangan batu yang demikian kfj cilnya bisa mengurung dirimu?"

dalam keadaan lupa segala segalanya. Melihat wajahnya yang amat serius, keren dan berwibawa itu tidak kuasa lagi dalam hatinya timbullah suatu perasaan menghormat.

Saat itu Cing-jie pun lagi berdiri disain-

Ujung kakinya sedikit menutul tanah dengan Ping memandang kearah Liem Tou dengan

amat cepatnya dia sudah berkelebat dari samping tubuhnya, lewau

bandingan melongo.

Boen Ing yang jaraknya masih rada jaul tidak bisa melihat keadaan yang sebeiiarnyi dari Liem Tou sebaliknya Cing jie sejak se mula sudah dapat melihat kalau diantara per napasan pemuda itu secara  samar  samaa mengalir keluar dua gulung asap yang amal tipis, hal ini menunjukkan kalau tenaga da lam sang pemuda  sudah berhasil di latih hingga mencapai pada tarif kesempurnaan bej simaan itu pula wajah  yang tampan dari Liem Tou sudah menarik perhatian Cing jieJ

Hatinya waktu itu lagi bergolak hebat, dil merasa cemas dan benci atas kekurangan rjaran Liem Tou yang sudah menghisap hatisj darah Gien-jie tetapi diapun merasa senangi dengan wajah yang ganteng dari pemuda ter-J sebut sehingga tak terasa dia lupa meletakkan tu.buh Oei Tiap Loojien keatas tanah.

Matanya dengan terpesona memandang ke-arah pemuda itu tak berkedip sedang mu-lutnyapun tak mengucapkan sepatah kata pun.

!PaJa saat itulah teTfiengat Boen Ing ter tawa ringan menyadarkan lamunan dari gadis ters-ebut.

"Licin To^' teriaknya dengan keras. 'Aku datang hendak mengerjakan dirimu buat apa kau buang waktu untuk bersemedi disini ?" Sambil berkata dia mengebutkan ujung ju bahnya daa berjalan mendekati diri Liem ™ Tou-

Cing jie yang berdiri riisisinya menjadi fea^et, teringar kembali kata kata terakhir Oa Tiap Loo jien yang minta "agar dia me lindungi baik baik pemuda it» membuat hati nya jadi tergetar, tubuhnya dengan cepat ma ju dua langkah kedepan meighalangt didepan ?tubuh pemuda itu.

'Boen Ing !' Bentaknya dengan keras .Bila tmana kau berani mengganggu seujung rambutnya aku tidak akan berlaku sungkan sung kan lagi terhadap dirimu/

Sehabis membentak keras dia lantas mele takkan tubuh Oei Tiap Loo jien keatas tanah dan berjalan kesamping tuouh Liem Tou.

4i

Tiba tiba sinar msfanya terbentur de" ngan pedang Lan Beng Kiam yang terletak dilisi pemuda tersebut, hatinya jadi amatgi rang tandannya dengan kecepatan yang luar biasa menyambar kedepan memungut pedang itu lalu putar badannya.

Waktu itulah Boen Ing sudah berada kujang lebih lima depa dari tempatnya saat ini..

Pedangnya dengan cepat digetarkan kede pan yang memancarkan cahaya biru menyi laukan mata dengan menggunakan jurus Sun Yen To Liem" atsu tiga walet menembus hu tar. berturut turut ? dia melancarkan tiga kali tusukan memaksa Boen Ing berturut -turut mundur sejauh tujuh delapan tindak.

"G:ok Cing V Bentak Boen Ing dengan gu sar. Oei Tiap Loo supek terh.ka ditanganmu. tentang hal ini aku sama tekali tidak mencari urusan dengan .dirimu, hanya saja ter hadap Liem Tou aku tidak bisa lepas tangan, aku sudah berkata kepadanya dan perkataan ini tidak bakal bisa dilanggar Liem Tou pasti aku dapatkan, bilamana kau meniesak aku leb li lanjut jaragan salahkan aku berlaku tidak sungkan legi terhadai diTimu."

Cing jie yang ada pedarg hiv Beng Kipm ditanp^nnyadslEni fcaii merasa arrat rrartap»

"Boen Ing ! Ksu suka pergi attu tidak itu brusanrru. terus terang saja aku Siauw Giok-Cing katakan, aku sama sekali tidak takuti dirimu," sahutnya dingin.

Boen Ing yang melihat Liem Tou kini ada dihadapannya justru Cing jie berdiri dihadap annya dengan menegang pedang Lan Beng Kiam membuat sifat buasnya timbul kembali.

'Cing moay ! Jangan ksu salahkan enci log mu tidak berbudi" bentaknya keras.

3ubahnya yang lebar digetarkan kedepan melancarkan satu angin pukulan kedepan. ber samaan itu pula tanpa mbmikirkan urusan yang lain dia menubruk kearah depan

Cing jie tertawa ditgin, pedaag Lan Beng Kiamnya digetarkan ke depan menutup da. tangnya serangan tersebut, dengan disertai desiran angin dinrin serta c; baya biru yang menyilaukan mata dia mengancam seluruh-bagian bagian bahaya dari tubuh Boen Ing yaig memaksa dia terdesak dan bertut turut mundur beberapa tindak keberakang.

Cing jie yang melibat serangannya berbasil memaksa musuhnya mundur dari tempat semula berturut turut dia lalu melancarkan kembali serangan berantai.

JDari jurus "Yen Tiap Leng Po" atau kupu indah terbang melaypng mendadak berubah ja di jurus 'Shia Yang Lok Jiet' atau sang raja lenyapkan jagat serta 'Mong Ay Hwee Hong5' at8u senja merendah pelangi beterbangan me rraksa Boen Ing jadi kalang kabut dan kelabak an dengan sendirinya Diam diam perempuan itu jadi terperanjat, terburu buru dia mengundurkan diri ke-belakang dengan cepat. Walaupun kedua ujung bajunya yang lebar kena dibabat pula oleh Cmg jie sehingga putus, tubuhnya cepat ce pat malayang jatuh ketana'i.

Setelah rasa terkejutnya bisa ditenangkan sinar mata yang taji m dengan amat gusarnya lantas melosoti diri Siauw Giok Cing tak ber kedip.

'Hmm! h mm ! Boen Ing. kau masih mempunyai kepandaian apa lagi ? . . . ayoh keluarkan*" Ejek Cing jie dengan suara yang sa ngat dingin.

Yang paling ditakuti kini oleh Boen Ing adalah periang pusaka Lan Beng Kiam tersebut ia tahu bilamana dirinya harus bergebrak melawan Cing jie dengan menggunakan tangan kosong maka didalam sepuluh bagian pasti sembilan bagian akan menemui kerugian

Sinar mata berputar tiada hentinya, me sda dak pandangannya berhenti pada kedua belah ujung bajunya terpapas diatas tanah itu.

Cing jie diam diam merasa terkejut pula. pikirnya : "Kedua potongan baju itu tak boleh dida patkan kembali

olehnya, kalau tidak pedang Lan Beng Kiamku ini berhasil dia

kuasai!"

RS 35

49

e

pati dia lantas rrerasa kaget bukan main.

Celaka. . .' ' Pedangnya dengan cepat digerakkan me-

Berpikir sampai disitu dia lantas maju b berapa langkah kedepan. Siapa tahu baru saja dia menggerakkan bs dannya gerakan Boen Ing jauh lebih cepat kncarkan seluruh jurus kepandaian yang per lagi, sembari bergerak maju perempuan itu n?h dipelajarinya selama ini, cahaya ke b'm pun melancarkan satu pukulan dahsyat kede • biruan yang amat menyilaukan mata dengan pan. membentuk setengah lingkaran  busur me -

Cing jie terpaksa menyabetkan pedangnya ngnrung seluruh tubuh gadis itu terutama di kedepan untuk menangkis

;angannya terasa - ri Liem Tou serta Oei Tiap Loojie.

tergetar keras tub^hnyapun mundur satu langkah. Baru saja tubuhnya hendak maju kembali waktu itulah

Boen Ing sudah berhasil mere but sobekan ujung jubah itu dan menggera kan tangannya menyambar kearah depan de ngan amat samar.

Kain adalah semacam benda lunak yang bi| Sa bergerak dan berputar dengan luwes dan lemas senjata ini justeru merupakan Rawan dari senjata senjata keras seperti toya golok pedang dan lain lainnya.

Cing jie melihat Boen Ing berhasil mere j but sobekan ujung baju tersebut bahsan kini menyerang dengan amat gencarnya di dalam

Untuk beberapa saat lamanya walaupun Brei Ing mempunyai sobekan ditangan masih tak berbasil juga mengadakan penyerang ari.

Akhirnva dia meloncat kesamping meng -hentikan serangannya, sambil memandang ke arah Cing jie ujarnya dengan dingin.

'Cing moay! aku lihat Liem Tou itu sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan di ri*nu, buat apa kau orang mati matian me -lindungi dirinya?' Melibat pihak mnsuh menarik kembali se tangannya, Cing jie pun lantas menarik pula pedang Lan Beng Kiamnya dan berdiri tak tergerak disana.

5J.

"Boen Ing!" sahutnya. "Orang lela'ci amar1 banyak sekali dikolong langit, kenapa jus-teru kau meaginginkan dirinya?'

"Aku sudah bilang dia adalah orang yand melepaskan diriku dari dinding ba'u itu .na!.a, aku Boen Ing akan memerahkan badanku !• e padanya, hal ini adalah suatu hal yang luar biasa baginya" seru Bcea log dengan gusar.

Cing j e yang mendengar perkataannya -itu suatu akal muncul didalam benaknya.

?'Liem Tou adalah tamu pertama yang mej masuki lembah mati bicup ini, lebih baik kuu lenyapkan ingatan ini saja ! jawabnya. "Boen Ing . , , aku mau memperlihatkan se! macam barang kepadamu, sukakah kau orang untuk nelihatrya?"

"Kau menginginkan aku melihat ap^?'' 'Sealah melihat tentunya kau bakal tahu

dengan sendirinya, buat apa kau banyak ber tanya?''

Sembari berkata dia maju dua langkah ke depan sambil menenteng pedangaya.

Boen Ing tetap berdiri tak bergerak, sepasang matanya dengan amat lajam memper hatikan stl ruh tubuh Ciag jie agaknya dia 1 gi memeriksa apakah perbuatan ini merupakan satu akal atau bukan.

"Heeee... hecee .. kalau kau tidak suka me l-.hat juga tak mengapa' ejek Cing jie samb l tertawa dingin. "Pokoknya semuapun pp-rnan meneiina perbuatan yang baik." 'Kau bilang apa?' teriak Boen Ing dengan kebtnguiigaa set- lah mendengar perkataan ter sebut Ayo'n cepat bawa aku pergi kesana, aku akan mengubah maksudku terlebih dulu. Lie n Tou, akan aku tinggalkan dulu,., tetapi bilamana kau men pu ainku heeee... heeee.., jangan harap kau bisa lolo* dari kematihnmu.""

Dengan dinginnya Cing jie mendengus, dia tidak menjawab.

Pedang Lan Beng Klam nya segera dituding kan kearuh dinding batu tersebut sambil ka u nya:

"Disebelah sana aku beritahu padamu cara

nrfuk menggerakkan alat rafasia tersebar, sudah tentu kau bakal melibat dengan sendirinya."

Boen Ing ternyata sungguh sungguh melakukan apa yang ditunjuk olsh Cing jie itu, dia berjalan mendekati dindrng itu dan mulai meraba permukaannya ytng halus dan -amat dingin.

'Setengah depa disebelah kiri tempat itu dua kaki diatas rabalah kebawah, kau akan bisa melihat barang tersebut."

Boen Ing yang mendengar perkataan tersebut jadi ragu ragu dengan cepat ia menoleh

"Kau tidak lagi menggunakan siasat bukan?" tanyanya ragu ragu!

Dalam hati Cing jie sudah mempunyai satu kemantapan, mendadak dia putar badan ber diri menghadap keluar pintu sedang tangan kirinya ditempelkan pada pintu batu itu.

"Kau pergi lihatlah sendiri, aku tidak ingin memberitahukan kepadamu, tetapi bilamara kau tidak tega akupun tidak ingin memaksa.**

5 i

Boen Ing berdiam diri beterapa saat lama aya setelah dirasakan tiada yeng aneh dia baru mengikuti perunjuk itu Tangannya dengan perlahan mulai meraba dinding itu tentu dengan hati amat tegang, dia tak mengetahui apakah yang hendak ditun jukkan Cmg jie kepadanya.

Tetapi walaupun dia sudah meraba beber» pa saat lamanya dinding bata itu tetap dinding batu tak ada sebuah bendapm yang due muinya

Dalam hati ia merasa ditipu, dongan amat gusarnya dia lantas menoleh kearah belakang.

Mendadak • - "Kliik , , ,!' dinding batu itu membuka kesamping sehingga terlibatlah sua tu pemandangan yang lain daripada yang lain di balik tempat tersebut.

Boen Ing jadi terperanjat, dengan tergesa gesa dia mengundurkan diri dua langkah kebe lakang sedang telapak tangannya disilangkan didepan dada siap siap menghadapi sesuatu.

Tampaklah berpuluh pu'uh sosok kerangka manusia bertumpukan dibalik dinding itu. di aus batok kepala setiap kerangka manusia

itu tertertlab I:die Hiab bekas cer<rterama^ jari yang tajam, sekali pan d! n g stja dia Tan ns tahu kalau barang barang ilu adalab basil peninggalan dari perbuatannya peda se. seratus tahtin yang lalu.

I

Boen Ing !" terdengar suara tertawa dari Cmg jie berkumandang datang. "Lebih baik kau beristirahat lagi selama seiatus talam ditempai tarsebut '<

Kegusaran Boen Ing benar benar memun

Semula dia agak tertefun. tetapi bWtvj, cak denoan mengerahkan seluruh tenaga da

tidak ko8sa lagi, dia donpakksn kepalanya tertiwa tergalak dengan amat seramnya. Tetapi psda saat itu'th mendadak rusnpats jadi re'ap gulita terburu buru dia n emutar badannya kebeh kang.

Cirg j'e, Liem Tou serta Tiap Loo jien yang serrula ada d'sana saat ini telah lenyap tak herbek8S sedang dindirg ruangan tertutup de ngan amat rapatnya

Boen Ing lantas merasakan hatinya teigi tar keras, dengan amat gmprnya dia m e m bentak keias.

"Giok Cing, kau gunaVan akal uutuk m< jebak akr, aku tictk nian rrei yt Cifciurusa ini !

Tubuhnya dengan cepat menubruk maj kedepan irertiekati dirding semula , , ,

lam yang dimilikinya dia menghajar kearah dinding tersebut.

"Brakk . ..!'dengan disertai suara bentrok anyarg amat keras sehingga memekikkan te linga dinding batu yang amat tebal itu gum pai sebagian kecil karena terhajar pukulan ter sebut, tetapi dinding itu tetap rapat tidak bergeming sedikitpun juga.

Bilamana Boen Ing tak melancarkan serang an ini ada kemungkinan dia masih bisa lolos dari sana, tetapi dengan tergetarnya seluruh dinding maka ?emua alat rahasia yang ada disana mulai berjalan, dia benar kini terkurung diruangau batu itu.

Seketika itu juga dia merasa hatinya mence los, dia merasa benci dan mendongkol terha dap Cing jie , . , . kepingin sekali dia meng hajar sampai  mati gadis itu .saat ini juga te

tapi jusferu sayang dia kini fak dapat kelu:m

c . . . , , , , lama fremudipn dis mulai merasakan lengan-

Seluruh tulangnya pada berkeruruk sakmg.'nya ,,„„ tenRga dalqTflT,y, hfiW8. gusarnya deagan kalapnya dia menerjang kj Sambi! met1sne(a PFpsg sedih ,err)aksB Boen arah pintu batu yang belum merapat seluruiL mP1iarJk Vembq1i tanp9rnyq d„n amannya yang kini cujaa tinggal sebuah celah"

yang kecil saja.

Dengan sekuat tenaga Ungmnya meacekl ram pintu itu dan dengan sekuat tenaga aiti riknya kearah saujptng.

W-iKtu ini kekuatan lengan Boja Iag adi beribu ribu kati beratnya seharusnya dengiif kekuatan yang amat oesar itu tariannya in akan berhasil membuka pintu Datu itu teuf pi keadaan sama setali diluar dugaannya dia gagal didalam pekerjaannya mi.

dane Tce rah pintu h a Mi vatjg Itu dengan mata mendelong.

mulai merapat ( X ) ooo ( X )

KITA tinggelkan Bo*n Ing terisbih dft-tnn'u yung lerkuiung dalam ruangan batu ter-lebnr.

Marilah kita kemb&H pada Cing jie yans dapat membuka mangan batu lainnya setelah berbasil "lemanaii h«ti Boen Ing dengan meng

Justru karena dia mengerahkan tenaga mur gmskan kedua puluh sc sok tulang belulang ninya sekuat tenaga membuat darah yang m» ^ Cenat cepat dia mengikuti tubuh Liem n^alir keluar melalui bekas jari kakinya yanj Tou S£rt8 Oei Tiap Looj:en masuk kedalam terpapas semakin deras seluruh permukaan ruangan tersebut lalu menutup kembali ruang

tanah telah dibasahi dengan ceceran darah se gar yang kotoi, Perbuatan yang sia sia dari Boen Ing ini mana kuat bertahan lebih lama lagi?? tidak an itu sehingga terhindar dari ancaman Boen

jlcg

Setelah berada didalam ruangan itu baru dia dapat menghela naprs panjang dan me mandang kearab dia orang itu dengan ter

5 8

mangu mangu kemudian ia bangun berdiri dan mengetuk tiga kali pada ujung sebuai dinding

'Kraaaak , . - !" dengan menimbulkan suara yang nyaring mendadak ditempai itu tej buka kembali sebuah lorong rahasia yang amat panjang.

Keadaan didalam itu amat gelap sehingga tak dapat melihat lima jarinya sendiri, dengan hapalnya Cing jie menggendong tubaa Oei Tiap Loojien lalu berjalan menuju ke-] ujung lorong yang merupakan sebuah dinding batu kembali.

Entah dengan cara yang bagaimana kembali dia menendang dinding itu beberapa kali sehingga terbukalah sebuah pintu rahasia.

Dibalik piniu itu merupakan sebuah ruang ah Datu yang terdapat empat buah peti mati berjejer jejer, tanpa pikir panjang lagi Cing jie lantas membuka sebuah peti mati yang pai ling kiri dan memasukkan tubuh Oei Tiap-, Loojien kedalamnya yang kemudian ditutupi kembali batu penutupnya,

Setelah semuanya selesai diatur ia baru bes: lutut memberi hormat.

"Supek kau baik baiklah beristirahat sela aia tiga tahun.

D.dalam liga tahun ini Cing-

jie tak akan meninggalkan lembah sarang se tapakpun " Sehabis berkatadia 'alu bangun berdiri dan keluar dari ruangan tersebut menuju kesisi Liem Tou.

Terlihat olehnya napas pemuda itu sangat lemah dan keadaannya mirip sekali dengan pernapasan orang yang sedang bersemedi saja tak terasa lagi dalam hati dia m diam pikirnya.

"Apakah setelah minum darah pusaka dari ular perak itu dia lantas berhasil melupakan segala-galanya? biarlah aku coba dirinya apa kah dia memberikan reaksi atau tidak !"

Cing jie adalah putri kesayangan dari It Tiap Cmjien Ciang bun jien angkatan kesebe las hari Heng san Pay pada seratus tahun yang lelu bilamana dihitung usianya pada saat ini sudah hampir mencapai seratus tahun.

Kesembilan puluh d-lapan lembar dedautJ mati b;dup membuat dia tetap berada dalam ke"dP8n mrda dan kelihatannya baru berusia „ tujib ee'.ar&n belas tahunan.

Sejfk memasuki lembah samnai wskm itu tak nernah dia meninggalkan tempat tersehu'» sudah temu terhadap urusan dunia kanrouw dia sama sekaii rok berpenga'sman, spa lagi dia masih memiliki sifat kekanak kanakan*.

Setelah berpikir akar. hal itu dia Innus uluTkan tangannya untuk mengelut wajah Liem Tou, terasa olehrya wajah pemuda tersebut amat paras seperti dibakar sedang hawa udara yang dihembuskan keluar dari lubang hidung terasa amat dingin menggigilkan.

Semakin dipegang Cng jie merasa semakin tertarik, akhirnya dia tidak ingin melepaskan wajah pemuda itu lagi.

Tetapi lama kelamaan tiba tiba dalam hati Cing-jie terjadi suatu penbthan, dan perasaan ini adalah perasaan yang muncul untuk pertama kalinya selama seratus tahun ini, dia merasa hatinya berdebar debar 'dengan kerasnya. Kiranya setiap gali s ya n? telah msag;..-jakdiWaja tentu akan timbul suatu perasaan yang istimewa terfajdap setiap lelaki.

Cmg jie yang merana dan me nbelai tubuh Liem Tou s semula hanya bermaksud untuk menggoda dan ingm tahu saja tanpa m&'csud yang lain, tetapi lama kelamaan dtrengah ke unyiau itu dia me npunyat suatu perasaan aneh.

Hawa lelaki yang sangat aneh dan sukar di lukiskan yang tersiar dalam tuouh Liem Tou membuat hatinya tergetar, dia merasa raaa taicut dan bercampur dengan rasa sangat ter jarik karena bau yang diciumnya iai suatu bau yang amat merangsang dan me nisat ha tinya.

betelah berpikir termangu mangu beberapa saat lamanya tak kuasa lagi sspasan™ pipinja Ciaag jie berubah Jadi merah padan, sepa sang matanya dengan melotot lebar lebar memperhatikan diri LiemToi lak berkidip.

Urusan anehpun lantas terjadi dideoan m a ta Liem Tou yang ada dibadapannya pada su at ini ternyata sudah berubah menjadi seorang pemuda yang begitu tampan dan begitu me - nariV.

Dengan amat tajam Cing jie memperhatikan terus diri pemuda tersebut, mendadak di dalam beraknya muncul suatu cara untuk raen coba diri Liem Tou.

Dia merendahkan badannya dan berjongkok diatas tanah lalu meniupkan hawa kedalam hidung pemuda tersebut,