Raja Silat Jilid 34

 
Jilid 34

Nona ini sangat menawan hati tetapi bagaimana mungkin bisa berdiam seorang diri di tengah lembah yang amat sunyi ini??"

Berpikir akan hal itu dia lantas tersenyum.

"Cayhe Liem Tou sedang lewat di gunung ini harap nona suka memberi petunjuk yang berguna" katanya. Gadis yang ada dihadapannya segera tertawa cekikikan sambungnya dengan cepat.

"Lembah mati hidupku ini selamanya belum pernah kedatangan orang asing, kau mau pergi kemana? ada urusan apa datang kemna? bilamana bukannya aku mencegah dengan cepat ada kemungkinan kau sudah ditelan oleh Gien jie!'

Mendengar perkataan tersebut Liem Tou segera menjulurkan lidahnya memperlihatkan rasa ketakutan.

Yang nona maksudkan apakah ular yang memancarkan sinur keperak perakan tersebut?" tanyanya.

Dengan perlahan gadis itu mengangguk,

Pikiran Liem Tou dengan cepat berputar, mendadak dia mundur satu langkah kebelakang dan sengaja memperlihatkan rasa ketakutan,

'Nona memelihara seekor ular yang demikian besar dan tinggal dil embah mati hidup ini. apakah kau ingin menghadang diriku untuk merampok harta kekayaanku ? cayhe adalah seorang sastrawan yang miskin, harap nona suka melepaskan satu jalan hidup buat diriku."

Sehabis berkata kembali dia menjura memberi hormat.

Sewaktu nona itu mendengar Liem Tou minta ampun kepadanya dia lantas tertawa cekikikan, jawabnya.

"Tidak mungkin walaupun gien jie itu kelihatannya amat galak tetapi selamanya belum pernah makan orang dia sudahh berjaga selama ratusan tahun lamanya dikelilingi rumput mati bidup itu selamanya belum pernah meninggalkan lembah ini"

Liem Tou cuma memandangi dirinya tanpa menjawab, mendadak gadis itu menghentikan perkataannya sedang sang mata dengan liar nya menyapu dirinya sekejap. "Baiklah !' ujarnya kemudian, "Kau adalah orang asing pertama yang mendatangi lembah ini maka aku akan anggap kau sebagai tetamu dan memberi keistimewaan kepadamu untuk beristirahat di daiam lembah, tetapi besok pagi kau harus berangkat, mau tidak?

Liem Tou berpikir sebentar, dia merasa tidak urung hari ini tidak berhasil menemukan si kakek tna berambut putih itu, dia lantas mengangguk dan mengikuti gadis itu masuk kedalam lembah,

Sttelah berjalan beberapa saat lamanya, mendadak Liem Tou teringat kembali kalau kerbaunya masih ada didepan, diapun merasa tidak erak untuk membawanya serta tanpa seijin gadis tersebut, teriaknya kemudian:

'Nona mengijinkan aku untuk beristirahat disini cayhe merasa sangat berterima kasih sekali, tetapi bolehkah kerbauku ini dibawa serta masuk ke dalam ?"

"Binatang tak berpikir. tidak boleh ! bilamana kau berani membawanya masuk aku akan segera perintahkan Gien jie untuk menggigitnya"

Liem Tou tidak dapat berbuat apa apa, terpaksa dia meninggakan kerbaunya di luar lembah dan memesannya beberapa kata.

Setelah itu dia baru meloncat turun ke bawah lembah, setelab melewati suatu tanah rerumput yang tebal sampailah dia orang di sebuah kebun bunga yang lebat. dengan langkah yang perlahan dia melanjutkan perja anannya ke depan.

Sang gadis dengan memimpin Liem Tou berjalan masuk ke dalam kebun bunga itu dan berjalan putar balik tidak menentu.

Lama kelamaan Liem Tou merasa juga kalau keadaan agak aneh, dia tahu bunga banga itu pisti bukanlah tumbuh dengan sendirinya tetapi diatur sesuai dengan barisan Kioe Koa Pat Kwa yang amat aneh sakali.

Gadis itu tidaK mengucap sepatah katapun. dia membawa dia orang jalan berputar putar sebentar mundur atau ke kiri atau kekanan, sedang Liem Tou sambil mengingat ingat barisan tersebut mengikuti terus dari belakangnya.

Liem Tou pernah mempelajari barisan Kioe Kong Pat Kwa dari kitab pusaka Toa Loo Cin Keng. tetapi saat ini semakin berjalan dia merasa hatinya semakin terperanjat karena barisan tersebut dia sama sckali tidak mengerti, dia cuma bisa mengingat, ingatannya dengan paksa tetapi dengan demikian pula rasa terkejutnya terhadap gadis itu semakin terjadi.

Pikirnya;

"Sewaktu bertemu muka tadi jelas ilmu me ringankan tubuhnya jauh lebih tinggi satu tingkat dari diriku ditambah lagi barisan yang aneh dan sukar untuk dipecahkan ini bilamana dia sengaja mengaturnya buat diriku maka aku tak akan berkutik lagi."

Berpikir sampai disini diam diam Liem Tou menghela napas panjang dan sambungnya lagi:

"Heai'.,. perduli bagaimanapun akn sudah mencuci tangan dan bukan manusia dunia kang ouw lagi. walaupun kepandaian silat dari gadis ini amat tinggi asalkan aku tidak bergerak melawan dirinya bukankah urusan sudah jadi beres??'

Bilamana dia tidak berpikir masih tidak mengapa, setelah berpikir akan hal itu hatinya jadi semakin bingung jalan yang diingatnya tadipun kini sudah terlupakan sama sekali. Tetapi dia masih bisa tersabar diri, "Nona!' tanyanya "Kenapa kita harus berputar putar terus di dalam kebun ini apakah rumahmu masih jauh ?"

Mendengar perkataan tersebut gadis itu segera tersenyum. Baru berjalan beberapa langkah apakah kau sudah merasa lelah maka tetus terang saja aku beri tahu kepadamu, perjalanan masih belum ditempub separuhnya kebetulan sekali ini hari kau bisa nenerjang kemari, bilamana di dalam waktu biasanya pemandangan di daiam lembah ini tidak bakal bisa terlihat jelas."

Bunga rumput pohon dan kayu bisa dipan ang dan diraba kenapa bisa tidak kelihatan apakah kau benar adalah setan dan tempat ini adalah dunia halus?"

Gadis itu segera menghentikan langkahnya dan putar hadan

'Kau jangan bicara sembarangan lagi". bentaknya keras.

Bilamana aku adalah setan maka kau tidak bakal bisa hidup sampai sekarang ."

Liem Tou cuma bisa menjulurkan lidahnya dan menjadi tenang kambali. dia kembali ikut berputar dan berjalan beberapa lama. Mendadak dihadapannya muncullah seekor ular raksasa yang berwarna merah dengan tubuh sebesar gentong air elihatannya sangat menyeramkan sekali.

Tidak terasa Liem Tou merasa rada cemas dia pura pura memperlibatkan rasa terperanjatnya yang bukan alang kepalang.

Gadis itu ketika melihat Liem Tou tidak berani ikut maju ke depan lantas menggoda.

"Kau takut yaaa ? tadi aku sudah bilangkan kalau gien jie tidak bakai melukai orang sebelum dapat perintahku."

Liem Tou yang didalam hati bermaksud untuk memancing lebih jelas lagi akan persoalan tersebut segera ujarnya:

'Keadaan amat menyeramkan dan membuat orang jadi merasa takut. sebenarnya daun merah yang dijaga olehnya itu barang pusaka apa?" Bilamana membicarakan soal dedaun merah itu kau janganlah lerlalu pandang remeh barang itu, dedaun itu bernama rumput mati dan hidup, dan nama dari lembah mati hidup inipun timbul karena daun tersebut.

Walaupun daunnya kecil tetapi bilamana dimakan oleh orang yang berlatih ilmu silat maka sama saja dengan mendapat tambahan sepuluh tahun latihan, setiap orang yang makan dedaunan ini pasti akan mati satu kali bilamana orang yang bisa makan maka dia akan mati selama satu tahun lamanya; sebaliknya bilamana yang makan daun itu adalah seorang yang memiliki tenaga dalam maka selama tiga lima hari atau satu bulan dia akan mati hal ini tergantung bagaimana dahsyatnya tenaga dalam yang dimiliki.

Mendengar sampai disitu tidak tertahan lagi Liem Tou segera menjerit kaget tetapi dalim hati dia merasa setengah percaya setengah tidak dia tidak percaya kalau didalam kolong langit benar benar ada semacam rumput mati hidup yang bisa mematikan manusia untuk sementara waktu.

'Perkataan dari nona ini cayhe merasa rada tidak percaya" seruaya keheranan. "Bilamana seorang manusia makan ratusan lembar daun utu bukankah dia akan sadar kembali setelah ratusan tahun kemudian? "

Betul perkataanmu benar sekali! teriak gadis itu dan sangat kegirangan. "Memang begitu adanya bahkan akupun pernab makan seratus. "

Tetapi baru saja berbicara sampai kata kata seratus mendadak dia menutup mulutnya tak berbicara.

Dengan rasa tertegun Liem Tou memandang dirinya lalu gumamnya seorang diri :

"Kalau bagitu apakah nona sudah berusia di atas seratus tahun ?" Mendengar perkataan itu air muka gadis tersebut segera berubah jadi merah padam.

'Sesukamu mau bicara bagaimana poyoknya aku belum sampai berubah jadi seorang nenek tua yang sudah reyot" bentaknya.

Sambil berkata dia lantas memetik beberapa lembar daun mati hidup dan diserahkan kepada Liem Tou

Aku seoraru diri hidup di lembah ini. setiap hari kecuali bermain denga gien jie paling banter duduk bersemedi, sedang supek sendiripun setiap tahun cuma datang satu kali aku benar benar merasa rada kesepian. ini hari kau suka datang hatiku merasa amat girang, beberapa lembar daun ini aku hadiahkan kepadamu".

Liem Tou segera menerima daun itu dan langsung dimasukkan Ke dalam mulutnya.

"Eei - - eei tak bisa jadi, tak bisa jadi" Teriak gadis itu dengan terperanjat. "Kalau mati yaa mati, tapi jangan mati disini, bila mana kau ada disini bagaimana dengan mayatmu ?'

'Nona harap berlega hati' ujar Liem Tou sambil tertawa. ""Bilamana aku sungguh sungguh mau mati juga tak akan mati ditengah gunung yang begitu sunyi sehingga jadi setan gentayangan, kau tak usah berteriak aku sendiri juga tak akan melakukannya,"

"Aku masih mengira kau adalah seorang yang jujur"ujar gadis itu lagi sambil tertawa. "Tak disangka kau pun sama sekali tak jujur."

Liem Tou lantas menyimpan beberapa lembar daun itu ke dalam sakunya lalu mengikuti gadis itu masuk kedalam lembah tersebut.

Terlihatlah di tiga bagian tempat itu ditutupi dengan dinding batu yang tigginya ada beberapa kaki, sedang dinding sebelah kiri terukir empat kata :

"Daripada hidup lehih baik mati."

Di atas kata kata "Mati" tertancaplah sebilab pedang kuno yang menembus ke dalam batu itu sehingga tinggal gagangnya saja yang tertinggal di luar:

Liem Tou merasa keberanan. barusaja dia bermaksud untuk menanyakannya gadis tersebut sudah meloncat ke tengah batu itu dan mengangkat sebuah batu yang amat besar

"Tamu terbormat, silahkan masuk !" teriaknya sambil menggape.

Belum sempat Liem Ton memberi jawaban dia sudah masuk terlebih dulu ke dalam. terpaksa Liem Tou pun ikut masuk ke dalam.

Tampak ruangsn dinding di dalam gua tersebut amat besar. kursi maupun meja terbuat dari batu tersebar di tempat itu.

Gadis itu lantas menuding kes ebuah kursi batu dan persilahkan Liem Tou untuk duduk disana. sedang dia sendiri dengan gesitnya menekan sebuah tombol membuka sebuah pinty dan berjalan masuk ke dalam.

Tidak sedang lama kemudian dia sudah keluar dengan membawa buah buahan segar.

Melihat akan hal itu Liem Tou jadi keheranan, dalam hati pikirnya diam diam :

"Aku disebabkan hendak mencari si kakek berambut putih itu sudah memasuki tempat tinggalny. gadis ini aku tidak tahu siapakah namanya dan bagaimana dahsyat kepandaian silatnya, aku hsrus baik baik menyelidiki dia orang dan mencari tahu bagaimana keadaannya." Baru saja dia berpikir sampai disitu dan hendak mengucapkan sesuatu mendadak gadis tersebut sudah mengerutkan wajahnya, dengan pandangsn yang amat tajam dan dingin dia pandang wajah Liem Tou tak berkedip.

"Siapakah namamu aku sudah tabu bahkan akupun mengetahui kalau kau memiliki kepandiaian silat yang amat tinggi. Sekarang aku mau tanya padamu, sebetulnya karena urusn apa, kau telah berani mendatangi gunung

Hong san ini ? Bilamana kau berani berbohong, hmmm hmm! Jangan harap kau orang bisa lolos dari lembah ini."

Liem Tou yang melihat dia orang berubah seratus delapan puluh derajat hatinya merasa rada berdesir.

Diam diam lantas pikirnya di hati : "Ini hari aku benar benar sudah bertemu dengan setan."

Tetapi dia bernyali besar dan berkepandaian tinggi, Walaupun menhadapi peristiwa itu, hatinya masih tetap tenang tenang saja "Nona harap kau jangan menaruh banyak curiga" ujarnya sambil tertawa.

Aku Liem Tou benar benar lewat di tempat ini dan bertemu secara kebetulan saja, sedang mengenai ilmu silat cayhe cuma pernah berlatih beberapa hari saja, tetapi sekarang aku sudah mengunci tanganku keadaanku mirip seperti orang biasa."

Sepasang mata gadis itu dengan amat dunginuya memandang tajam wajahnya lalu mendengus dengan amat dinginnya.

"Kau sungguh sungpuh tidak suka berbicara baikla. aku mau memperlihatkan semacam barang keppdamu."

Sembari berkata dengan perlahan dia menekan sebuah botol di dinding sebelah kanan dengan perlahan dinding tersebut membuka sebingga terlihatlah pemandangan didalamnya, Pemuda itu hanya merasakan hatinya berdesir bulu kuduk pada berdiri mendadak dia bangkit berdiri sedang tenaga dalamnya disalurkan ke seluruh tubuh siap siap meng-hadapi segala kemungkinan.

Kiranya dibalik pintu itu adalah sebuah ruagan batu yang tidak begitu luas tetapi saat ini sudab dipenuhi dengan kerangka manusia bahkan kerangka itu ada suatu keistimewaannya yaitu disetiap batok kepalanya terteralah lima buah lubang.

Sekali pandang saja Liem Tou sudah dapat melihat kalau orang orang itu mati karena terkena cengkeraman yang mematikan.

Gadis itu sewaktu melihat sikpp Liem Tou. yang merasa tegang pada wajahnya segera terlihat satu senyuman yang sangat dingin.

"Kau sudah melihat jelas barang barang itu, lebih baik mengaku terus terang"

"Kalau begitu aku beritahukan kepadanya saja urussn ini tak ada hubungannya maupun sangkut paut dengan dirinya," demikian pikir Liem Tou dihati.

Karenanya dia lantas menjawab :

"Aku mendatangi gunung Hing san adalah hendak mencari seseorang . . .

Siapa tahu sewaktu dia hendak mengatakan tentang si kakek berambut putih itu mendadadak terdengarlah suara dengusan kerbaunya berkumandang datang disusul dua suara aneh yang menusuk telinga mengiringinya

.

Air muka cadis itu rada jadi melengak teriaknya. "Kau jangan bergerak dari sini, kerbaumu ada urusan

biarlah aku pergi melihatnya sebentar" Sehabis berkata tampak bayangan hijau berkelebat keluar dari dalam ruangan batu itu.

Siat itu suara mendengus kerbaunya semakin lama semakin keras sampai akhirnya hanya terdengar suara pekikan yang mengerikan.

Dengan adanya suara itu Liem Tou tidak dapat menahan sabar lagi, ujung kakinya segera menutul permukaan tanah lalu meluncur keluar dari ruangan dan menerjang ke antara pepohonan :

Tetapi pada saat yang bersamaan pula tampak sinar keperak perakan berkelebat ular bear berwarna keperak perakan itu sudah menghalangi perjalanannya.

Dalam hati Liem Tou tahu kalau ular ini sangat pandai sekali, dengan cepat dia menjura ke arahnya.

'Gien jie . silahkan mundur kerbauku mendapatkan susah, aku mau pergi menolong dirinya.

Ular berwarna keperak perakan itu masih tetap melingkar dihadapannya tanpa bergerak, cuma sepasang matanya yang besar berwarna kehijauan dengan tajamnya memperhatikan diri Liem Tou,

Saat ini kerbaunya berteriak semakin keras lagi babkan kedengarannya berada dalnm keadaan ysng amat berbahaya,

Liem Tou merasakan batinya berdebar amat keras, dengan cepat serunya kembali :

Gien jie cepat Kau menyiagkirlah kerbauku sudah terjadi peristiwa, teus terang aku beritahukan kepadamu aku tak dapat menahan sabar lagi."

Ular yang berwarna keperak perakan itu masih teiap bergoyang kekanan dan kekiri tiada hentinya. Liem Tou merasa hatinya semakin khe ki bentaknya kemudian. "Gien jie cepat memberi jalan, kalau tidak aku tidak akan membuat sungkan sungkan lagi terhadap dirimu. Walaupun aku sudah mengunci tangapku, tetapi di daiam ilmu meringankan tubuh masih bisa digunakan. aku tidak akan takut kepadamu."

Selesai berkata Liem Ton segera meloncat ke atas setinggi lima enam kaki ingin melompati ular tersebut, tetapi gerakan dari ular itu amat cepat laksana kilat, mendadak dia meluruskan tubuhnya ke atas schingga tergantung ditengah jalan dan tepat menghalaagi perjalanan dari Liem Tou,

Liem Tou ingin sekali menghajar ular itu dengan menggunakan ilmu telapaknya tetapi dia sudah mengunci tangannya bila berbuat demikian bukankah sama saja melanggar perkataan sendiri ?

Didaiam keadaan yang kepepet terpaksa dia meloncat turun kembali ke tempat semula sedang ular itupun lantas melingkat kembali seperti keadaan semula.

Semakin dipikir Liem Tou merasakan hatinya semangkin panas, batinnya.

'Ini hari tidak nyana aku bisa dihalangioleh seekor ular dan sama sekali tidak punya cara untuk menghindarinya. bilamana bukannya aku mengunci tangan terlebih dahulu sejak tadi sudah kuhancurkan ular terkutuk ini."

Pada saat itulah dalam hati Liem Ton rada sedikit bergerak, meadadak dia teringat kembali akan pedang yang tertancap di atas dinding sebelah kiri itu, kenapa tidak segera mengambil pedang itu dan digunakan untuk menakut nakuti dirinya lalu dengan mengambil kesempatan itu keluar dari lembah ?

Berpikir sampai disitu dia tiba tiba meloncat ke depan siap- siap mencabut ke luar pedang itu waktu itulah mendadak tampak bayangan hijau berkelebat, gadis itu sudah balik kembali ketempat tersebut. "Gien jie cepat menyingir ?" bentaknya keras "Liem Tou? kiranya kau hendak mencari supekku. kini dia sudah datang dan kau boleh bertemu muka dengan dirinya".

"Siapakah supekmu ?* tanya Liem Tou kebingugan setelab lama dia berdiri tertegun

Sudah tentu Oei Tiap supek, kecuali dia ada siapa lagi ? jawab sang gadis dengan lincahnya.

Baru saja dia selesai berkata dari antara pepobonan munculnya seorang kakek tua berambut putih, begitu bertemu dengan Liem Lou dia lastas tertawa terbabak bajak.

'Haa - - - Ha ahli -waris dari Thio Too Long apa kabar selama perpisahan ini?

Liem Tou sewaktu melihat orang itu bukan lain adalah si orang tua berambut putih yang dicarinya kesana kemari tak menentu hatinya merasa sangat girang, mendadak dia jatuhkan diri berlutut di atas tanah dan menjalankan pengormatan besar.

'Heng san cianpwee !' ujarnya. 'Berkat perkataan dari cianpwee aku Liem Tou jadi sadar kembali dan mengetahui kalau dosaku amat berat. pada sebulan yang aiu di atas gunung Cing Shia di depan umum sudah mengunci tanganku dan angkat sumpah berat untuk melakukan perjalanan jauh datang ke gunung Heng san mencari cianpwee dan minta maaf atas segala perbuatan yang telah aku lakukan.

Masih mendingan kalau siorang tua beram but putih itu tidak mendengar perkataan itu, setelah mendengar perkataan itu dia jadi amat gusar, ujung jubahnya dikebutkan kedepan Segulung angin pukulan yang amat dahsyat dengan cepatnya menyembur dari samping tubuh sang pemuda.

Lien. Ton yang sudah punya maksud untuk tidak melawan begitu angin pukulan tersebuf melanda datang, tubuhnya segera terhantam jatuh dan berjumpalitan diatas tanah. "Liem Tou cepat kau menggelinding pergi dari sini, kau jangan bertemn muka lagi di sini, aku tidak akan menerima caramu yang sangat luar biasa itu. bentak si orang tua berambut putih dengin kasarnya. "Tahukah kau Oey Poh si bocah cilik itu dikarenakan hendak mencari si orang tua telah berlari ke seluruh gunurg Heng san dan kini terjatuh ke dalam jurang sebuah tulang kakinya telah patah?

L'em Tou yang mendengar perkataan ini segera merasakan telinganya jadi mendengung dan hatinyapun ikut merasa kuatir atas keselamatsn dari Oey Poh, tetapi dia masih tetap memohon :

"Cianpwee, kedatangan boanpwee kali ini benar benar timbul dari dasar lubuk batiku, cianpwee suka memaafkan dosa dosaku "

Si orane tua berambut putih itu tetap marah marah tetapi tak sepatah katapun yang dicapkan keluar, mendadak tangannya diulapkan ke depan dari gerombolan perpohonan segera bergema datang suara yang amat menyeramkan dan mendirikan bulu kuduk.

Dari antara gerombolan pepohonan muncullah dua ekor gorilla berwarna kuning yang amat besar, sambil pentangkan mulutnya lebar lebar kedua ekor binatang itu lantas berjalan mendekati diri Liem Tou.

Melihat hal tersebut Liem Tou jadi amat terperanjat dengan pandangan yang amat tajam diapun lantas memperhatikan kedua ekor binatang buas tersebut.

Kedua ekor gorilla itu sambil menggerak gerakkan tangannya mendesak semakin mendekat sedang Liem Tou selangkah demi selangkah mundur ke belakang.

Mendadak kera raksasa yang ada disebelah kiri menjerit lalu bagaikan sambaran angin saja menyambar dada Liem Tou. Dengan cepat Liem Tou tundukkan badannya untuk menghindar, siapa tahu kera raksasa itu amat cerdik dadanya ditekuk kedepan kakinya menyapu membuat sang pemuda jatuh terpukul rubuh ke atas tanah.

Begitu tubuh Liem Tou jatuh ke atas tanah si kera raksasa itu pun lantas berhenti menyerang dan berdiri disamping sambil bertepuk tangan kegirangan.

Liem Tou dengan rasa amat malu merangkak bangun dia tahu kedua ekor kera raksasa ini sengaja mendapat perintah untuk mengganggu dirinya. karena itu dengan cepat dia maju ke depan menjura kepada si orang tua berambut putih itu.

"Kedatangan dari boanpwee kali ini adalah benar benar timbul dari dasar hatiku, harap cianpwee suka memaafkan perbuatanku dan mengampuni dosa dosa diri Liem Tou!"

Si orang tua berambut patih itu tetap tak memandang sekejap pun terhadap diri sang pemuda.

Pada saat itu mendadak kaki kanannya mengencang dengan tanpa mengeluarkan sedikit suara pun dia sudah kena diangkat oleh kera raksasa itu dan dibanting ke atas tanah.

Liem Tou tak kuat menahan bantingan tersebut seketika itu juga tubuhnya terlempar sejaub dua kaki dan mendekam di atas tanah dengan kepala pening dan dada turun naik tak menentu.

Tetapi Liem Tou tetap bersabar, dia kembali merangkak bangun dan ujarnya kepada si orang tua berambut putih itu:

"Kalau memangnya cianpwee tidak bermaksud untuk memaafkan dosaku, kenapa sudah menyuruh binatang binatang berbulu itu untuk mempermainkan diriku?"

Si orang tua berambut putih itu masib tetap tidak menggubris. "Hii . . ,hii Liem Tou" seru gadis itu tiba tiba sambil tertawa cekikikan. 'Tadi kau bi-lang kau sudah mengunci tanganmu sekarang tentunya kau tahu bukan kalau mengunci tangan adalah suatu perbuatan yang amat sulit sekali?"

Setelah mendengar perkataan dari gadis itu Liem Tou segera merasa hatinya rada tergerak, agaknya dia sudah memahami akan sesuatu tetapi tidak mengerti apa maksudnya.

Waktu itulah kedua ekor kera raksasa itu kembali sudah mendadak maju dari belah kiri dan sebelah kanan.

Kini Liem Tou sudah bersiap sedia, menanti kedua ekor kera raksasa itu hampir mendekati tubuhnya meadadak dia berkelebat menghindar.

Kali ini kera raksasa itu menubruk tempat yang kosong, dengan cepat mereka berdua saling menempelkan tangannya lalu putar tubuh satu lingkaran, dengan gesitnya kembali mereka menghalangi di depan tubuh Liem Tou.

Sejak semula Liem Tou sudah memperhatikan akan hal ini. dia orang mana suka membiarkan dirinya tercengkeram, tubuhnya dengan cepat berputar dan muudur dua langkah ke belakang.

Siapa tahu kera raksasa itu amat gesit tanpa diduga sama sekali oleh Liem Tou, mendadak dia putar tubuh meloncat ke depan sedang yang lain sejak tadi sudah berjongkok di atas tanah menanti.

Separuh kaki Liem Tou belum sempat mencapai permukaan tanah tubuhnya sudah keburu kena dicengkeram dan dilempar ke depan segulung tenaga dorongan yang amat keras segera membuat tubuhnya terlempar sejauh tiga empat kaki.

Tetapi kali ini Liem Tou berhasil berjumpalitan di tengah udara dan dengan entengnya melayang turun ke atas tanah, tetapi air mukanya sudah berubah sangat hebat sepasang alis nya dikerutkan Rapat rapat sedang matanya dengan melotot lebar lebar memperhatikan kedua ekor kera raksasa itu tanpa bergerak.

Kedua ekor kera raksasa itu sewaktu melihat mereka gagal merubuhkan Liem Toa kembali menerjang dari kedua belah sisi.

Sampai saat ini Liem Tou tak dapat menahan sabar lagi, dia segera menoleh ke arah si orang tua berambut putih dan teriaknya

"Heng san cianpwee, walaupun aku Liem Tou sudah banyak melakukan perbuatan dosa tetapi orang yang aku bunuh kebanyakan adalah manusia manusia laknat yang berhati kejam bilamana kau terus menerus menghina dan mempermainkan diriku aka merasa sangat tidak terima."

Kedua ekor kera itu tanpa mengucapkan kata kata lagi segera berebut maju ke depan untuk mencecar kembali serangan serangannya.

Liem Tou tidak dapat menahan diri lagi" sepasang matanya segera melancarkan sinar yang amat tajam.

Kalian binatang terkutuk. cepat tahan. bentaknya keras.

Tetapi Iwekangnya dengan tanpa tersaa sudah disalurkan kedalam tangannya siap siap melancarkan serangan mematikan.

Tetapi sewaktu dia menoleh ke arah si orang tua berambut putih itu tampaklah wajahnya pada saat ini sudah berubah sangat hebat sepasang biji matanya yang jeli dan tajam dengan seramnya lagi memperhatikan diri Liem Tou.

Sedang gadis itupun entah sejak kapan air mukanya berubah hebat dan penuh diliputi oleh napsu membunuh. Liem Tou segera merasakan hatinya bergidik. teringat akan tindakannya mengunci tangan, hatinya merasa semakin berdebar.

Dengan perlahaa lahan dia menarik kembali tenaga iweekangnya saat itulah kedua ekor kera raksasa itu sudah menyerang datang. Liem Tou tepaksa mundur untuk menghindarkan diri.

"Bilamana demikian terus menerus harus sampai kapan urusan baru selesai? pikir pemuda itu di hati.

Lim Tou segera mengerutkan alisnya rapat rapat, mendadak teringat olebnya pedang yang tertancap di atas dinding tersebut, Kenapa tidak menggunakan pedang tersebut untuk menakut nakuti kera tersebut?'' pikirnya.

Tanpa ragu ragu lagi dia lantas meloncat ke depan dan mencabut keluar pedang itu, diantara berkelebatnya sinar kebiru biruan yang menyilaukan mata diselingi suara dengungan yang memekikkan telinga.

Liem Tou jadi merasa amat terkejut dan dia tahu pedang itu bukanlah barang biasa melainkan sebilah pedang pusaka yang sangat berbarga sakali.

Sewakiu dia merasa keheranan mengapa sebilah pedang pusaka yang demikian bagusnya ditancapksn di atas tebing batu itu oleb sang gadis serta si orang tua berambut putih mendadak terdengarlah suara kedua orang itu sudah membentak keras :

Jangan ! Cepat tancapkan kembali ke tempat semula"

Dengan rasa amat tegang mereka berdua menerjang ke depan dengan gerakan yang sangat cepat lalu bersaha merebut kembali pedang ke biru biruan yang ada di tangan Liem Tou itu. Liem Tou yang lagi menyekal pedang mana sukaa direbut begitu saja, dengan gesitnya dia pun miring ke samping satu langkah untuk menghindar

'Kalian sudah memaksa kera kera itu untuk mangganggu aku, apakah aku tidak boleh menggunakan pedang untuk berjaga diri?'" bentaknya.

"Heeeeeeiiii Liem Tou !" ujarnya

si orang tua berambut putih itu sambil menghela napas panjang "Aku si orang tua selamanya berhati welas kasih, sebenarnya kali ini aku hendak gunakan sepasang kera itu untuk mencoba keteguhan hatimu yang lagi mengunci tangan, tidak disangka kau sudah mendatangkan bencana, mulai saat ini mungkin bakal memaksa kau terjerumus kembali ke dalam kancah pemburuhan yang lebih mendalam, heeii ! Sudah terlambat' ! Sudah terlambat !"

Sehabis berkata dia lantas duduk bersila menghadap ke arah dinding tebing itu.

Gadis itupun dengan cepat menggape diri Liem Tou sambil ujarnya:

"Heeei kau cepat kemari dan duduklah dibelakang supekku."

Liem Tou yang melihat mereka tak bermaksud lagi untuk merebut pedang tersebut bahkan menanggapi urusan itu dengan begitu tegang terpaksa dia mengundurkan diri di belakang si orang iua berambut puth itu:

Pada saat itulah dari balik dinding batu terdengar suara tertawa yang amat menyeramkan berkumandang keluar. suara tersebut kedengarannya sangat menusuk telinga.

Air muka gadis itu segera memperlibatkan rasa ketakutan, gumamnya seorang diri: "Bilamana dia berar benar keluar maka di kolong langit pada saat ini tidak bakal ada orang yang dapat menguasainya."

Mendengar perkataan itu Liem Tou jadi melengak. "Siapakah dia orang? kenapa kalian begitu takut terhadap

dirinya ?" tanyanya keheranan.

"Bilamana dikatakan maka dia adalah suciku" jawab gadis itu sambil memandang sekejap ke arah Liem Tou. "Tetapi dia sudah memperoleb seluruh kepandaian silat dari ayabku. mundurnya partai Heng san pay justru karena dia, wajahnya amat cantik sekali laksana bidadari tetapi hatinya kejam bagaikan kalajengking, apalagi kini dia sudah makan ratusan lembar daun mati hidup dan dikurung dalam ratusan tahun oleh ayahku. bilamana dia berhasil keluar dari kurungan itu maka tenaga dalamnya tidak bakal ada yang bisa menandingi.

sekalipun supekku memiliki ilmu lweekang Thay Ih sin Kang yang amat lihay dapatkah dia menguasai dirinya masih merupakan satu persoalan yang sulit."

Berbicara sampai disitu dia berhenti sebentar untuk kemudian balik tanyanya:

'Bagaimana dengan ilmu pedangmu? sampai waktunya kau boleh pergi menghadapinya. Dia paling takut dengan pedang Lan Berg Kiam yang ada ditanganmu itu'.

Mendengar perkataan tersebut Liem Tou segera merasakan hatinya tergetar amat keras Tidak.,. tidak bisa' teriaknya.

"Aku sudah mengunci tanganku. aku cuma menakut ingin nakuti diri kera kera tersebut dengan pedang ini saja padahal aku tidak bakal melukal siapapun."

Gadis itu rada melengak tangannya dengan cepat menyambar merampas kembali pedang Lan Beng Kiam itu kemudian serunya dengan amat gusar: 'Kalau memang kau orang tidak suka turun tangan lebih baik jangan berdiri saja disana, terus terang aku katakan kepadamu, bilamana sampai suciku berhasil meloloskan diri dari kurungan tersebut maka suatu bencana akan menimpa seluruh dunia kangouw, Tumpukan tulang yang baru saja kau lihat adalah tulang tulang dari anak murid Heng san Pay yang terbinasa ditangan suciku. kau kira di daiam urusan ini kau orang dapat loloskan diri ?"

Liem Tou yang mendengar dia berkata demikian keras, merasakan adanya suaiu keseriusan dalam urusan ini, hatinya pun ikut merasa cemas jaga akhirnya.

'Apa benar perkataanmu itu ?' tanyanya. 'Aku sudah bersumpah tidak bargebrak lagi dengan orang lain, apakah karena urusan ini aku harus melanggar sumpahku sendiri ?

Gadis, itu cemberut makinya:

"Suciku bisa lolos dari kurungannya semua ini disebabkan karena kau oranp terlalu usil tangan dan mencabut keluar pedang yang ada di atas tebing itu, dia orang bakalan dapat mendatangkan bencana yang amat besar bagi dunia persrilatan. Coba aku mau tanya , dalam persoalan ini apa kau masih mau berpeluk tangan saja? Biarpun kau sudah pernah bersumpah atau belum lebih balk kau sedikit tahu situasi dan keadaan!'

Keringat dingin mulai mengucur keluar membasahi keningnya, hal ini benar benat membingungkan jalan pikiran Liem Tou

Pada saat itulah dinding yang semuia tertututp rapat dengan perlahan lahan mulai bergeser ke samping disusul dengan suara tertawa yang amat seram bergema datang.

Gadis itu kelihatan mulai merasa tegang tangannya mulai menepuk pundak si orang tua berambut putih itu.

"Oei Tiap supek titli dengan membawa pedang ada disini.!" Orang tua berambut putih itu mengangguk perlahan, sepasang telapak tangannya dengan perlahan lahan diangkat ke depan dada siap siap menghadapi sesuatu.

Liem Tou yang melihat kejadian itu segera mengerti kalau dia orang tua hendak melancarkan satu pukulan yang mematikan atau sedikit dikitnya melukai orang saar suci dari gadis itu keluar atau pada saat pintu dinding terbuka lebar.

Setelah melihat jelas kejadian itu mendadak dalam hati Liem Tou bergerak suatu ingatan teringat gerakan gadis itu yang menepuk nepuk pundak Oei Tiap loojien suatu akal berkelabat datang.

Mendadak dia menjatubkan diri duduk bersila di belakang tubuh si orang tua berambut putih itu,

"Asalkan aku tidak turun tangan sendiri untuk melukai orang hal ini tak bisa diartikan melanggar sumpahku sendiri, tetapi dengan begitu akupun bisa membantu menyalurkan tenaga dalam padanya" demikian pikirnya di hati.

Berpikir sampai disitu tenaga dalamnya segera disalurkan ke depan, sepasasg telapak tangannya ditempelkan pada punggung orang tua berambut putih itu,

Selurub tubuh orang tua berambut putih itu segera bergetar dengan keras air mukanya yang semula amat tegang kinipun sudah tersenyum, diikuti tertawa yang amat membisingkan telinga.

"Haa . ,haaa , . „ Boen Ing Aku Oei Tiap supek sudah lama menantikan kemunculanmu kembali dari dinding kurungan tersebut.

Dari balik dinding segera berkumandang datang suara tertawa aneh yang amat menyeramkan, disusul dengan suara yang amat nyaring dan merdu berkumandang keluar,

Terima kasih supek yang sudah lama menantikan kedatanganku, tetapi kau orang tua belum juga mati bukan ? selama stratus tahun ini aku merasa seperti di dalam impian saja kau tidak merasa kelamaan bukan?"

Sekali lagi Oei Tiap Loojien tertawa terbahak bahak.

Boen Ing ! di atas ada langit di bawah ada tanah gunung dan air tetap berdiri dan me ngalir sepanjang jaman, selama seratus tahun ini pibak Heng san Pay benar benar sudah

kau hancurkan, tetapi keadaannya malah semakin menjadi tenang, siancay.! siancay!"

'Ehmm - - tidak kusangka si tulang tua masih juga ada disini. Boen Ing hampir keluar lagi dan kali ini akan membuat para ornng Bu Lim pada melongo semua." jawab suara dari balik dinding itu.

Mendadak Oei Tiap Loo jien dengan amat gusar berteriak keras, bentaknya :

'Boen Ing, apa kau selama seratus tabun ini belum merasa menyesal juga dan tetap ingin mercelakai orang ? sekalipun kini kau sudab menjadi seorang jagoan tanpa tandingan di kolong langit, tetapi tahukah kau bahws manusia punya tenaga Thian yang punya kuasa ?"

"Heee - - heee - - - siapa yang mambasmi diriku ? Boen Ing sudab dibinasakan Thian pada seratus tahun yang lalu."

Suaranya mendadak berubah jadi amat kasar dan keras, bentaknya ;

'Oei Tiap supek kau jangan terlalu banyak bicara lagi, beritahu segera padaku apa kah It Tiap suhu masih hidup di dunia? aku harus mengucapkan terima kasih atas budi dicabutnya pedang Lan Beng Kiam tersebut, siapa orangnya yang baru saja melakukannya? Heee... heee.. orang itu sudah membantu aku sehingga dapat melihat sang surya kembali. orang itu punya jodoh dengan aku maka dialah yang akan kukerjakan seielah seratus tahun diam terus" Liem Tou yang mendengar perkataan itu segera mengerutkan alisnya rapat rapat, dia belum pernah bertemu dengan orang yang ada di balik dinding tetapi jika didengar dari suara tertawanya yang amat memuakkan itu hatinya terasa amat mangkel.

'Siapa yang maui kau nenek tua gila aku Liem Tou mencabut pedang Lan Beng Kiam dikarenakan tidak tahu kau ada disana . . . Hmm ! jikalau aku tahu kau berada disana tidak bakal aku mau melakukannya."

Liem Tou jangan bicara lagi !" cegah gadis ada di sampingnya dengan gugup. 'Dia bilang sudah maui dirimu, tidak menginginkan nyawamu."

Mendengar perkataan itu Liem Tou agak melengak, tetapi dia adalah seorang yang cerdik. bukan saja menjadi gugup atau terkejut malahan air mukanya memperlihatkan rasa yang bergirang hati.

"Hey orang yang aaa di balik dinding kau dengarlah ! pedang Lan Beng Kiam akulah orangnya yang mencabut keluar, aku bernama Liem Tou, kau bilang orang yang pertama kau maui adalah diriku jikalau aku tidak suka padamu bagaimana?

Dinding batu itu perlahan demi perlahan mulai nembuka lebar hanya di dalam sekejap saja sudah terbuka suatu celah yang hanya cukup untuk dilewati seorang saja.

Dari balik celah yang kecil itulah mendadak berkelebat keluar dua titik cahaya yang berkilauan.

'Heee - ? heee - - Liem Tou ! Liem Tou! bagus. bagus sekali heee - - heee kau tidak suka padaku tapi aku suka padamu kecuali bila kau bukan lelaki ! biarmana lelaki jangan harap kau bisa lolos dari tanganku."

"Aku tak mau, kau hendak berbuat apa ? tantang pemuda itu sambil terrawa. "Liem Tou kau tak maui aku, aku tetap menginginkan dirimu sebelum orang pertama aku dapatkan tak akan aku mencari yang ke dua"' teriak Boen Ing tiba tiba dengan suara yang amat keras.

Justru Liem Tou menginginkan dia bicara begitu, tak terasa lagi hatinya merasa amat girang.

"Bagus sekali, aku mau libat apa kau suka bohong atau tidak,"

Tetapi dia mendadak teringat kembali akan sesuatu, kini dia sudah mengunci tangannya bagaimana mungkin bisa melawan dirinya ? batinyapun jadi amat murung.

Dinding batu kembali bergeser beberapa coen ke samping sinar matanya yang amat tajam dari Liem Tou segera dapat melihat di dalam dinding tersebut dimana duduk bersila seorang gadis berusia dua puluh tahun dengan rambut yang amat panjang terurai sepanjang pundak, wajahnya amat pucat dan menyeramkan walaupun panca inderanya normal tetapi dari sepasang matanya memancar keluar cahaya yang amat tajam sekali.

Liem Tou yang melihat cahaya tajam yang memancar keluar dari sepasang matanya itu dalam hatinya merasa tergetar keras pikirnya:

'Jika ditinjau dari tajamnya cahaya mata jelas bahwa tenaga dalam yang berhasil dia latih sudah mencapai pada taraf kesempurnaan, kemungkinan di kolong langit pada saat ini tak ada seorangpun yang dapat menandingi dirinya, bilamana dia sampai berhasil meloloskan diri dari tempat itu maka keadaan akan semakin runyam".

Sewaktu dia lagi berdiri terpesona itulah terdengar gadis yang berada disisinya sedang tersenyum padanya.

"Liem Tou caramu ini memang amat bagus sekali ' ujarnya. 'Tetapi bilamana dia sungguh-sungguh keluar dari kurangannya mana kau dapat lolos dari ceagkeramaannya, apalagi pada saat ini kau sudah mengunci tangan".

Beberapa parkataan ini sudah jelas menunjukkan rasa kekuatiran terbadap keselamatan dari diri Liem Tou tetapi karena perkataan itu pula pemuda ini merasa hatinya tertusuk dan tak bisa mengucapkan sepatah katapun.

"Akhirnya dia menggelengkan kepalanya dengan perlahan. "Mati atau hidup ditentukan oleh Thia. Aku Liem Tou cuma

bisa menghadapi dirinya dengan seluruh tenaga,"

Gadis itu pun bisa melihat kemurungan dalam hati Liem Tou.

"Eei kau jangan takut,'* hiburnya. "Walau pun supekku pernah kau pukul tetapi dia sama sekali tidak marah. sampai tiba waktnnya aku serta supek akan bantu dirimu dengan sekuat tenaga, sekalipun misalnya kau berhasil ditawan diapun akan mencabut nyawamu setelah kau kawin dengan dirinya, kau harus ingat baik baik jangan sekali kali kawin dengan dirinya,"

Berbicara sampai disini air mata gadis itupun berubah menjadi meran padam agaknya dia merasa malu juga.

Diam diam Liem Tou pun lantas mengingat baik baik perkataan itu dalam hati dia pun merasa sangat berterinaa kasih kepada dara itu.

Pada saat itu pula celah dinding kembali membuka beberapa depa lebarnya,

"Hey Boen Ing keluarlahl" Teriak Oei Tiap Loojien dengan keras,

Bukannya keluar sebaliknya Boen Ing tetap duduk bersila dengan amat tenangnya.

Kali ini Liem Tou tidak berani berlaku gegabah lagi, diam diam tenaga dalamnya dihimpun dan disalurkan masuk melalui punggung Oei Tiap Loojien, bersamaan itu pula bisiknya kepada orang tua itu.

"Oei Tiap Loojien, hajar dulu ketempat kosong untuk mencoba kekuatan kita.'"

Dengan perlahan Oei Tiap Loojien meng-angguk

"Boen Ing !" bentaknya kembali. "Sejak semalam. It Tiap suhu sudah beritahu padaku kau lebih baik mati dari pada hidup aku lihat lihat baik kau matikan saja maksud hatimu itu.

Sembari bicara tangan kanannya menuding ke arah depan menghajar dinding batu itu.

Segulung angin pukulan yang amat santar menggulung ke depan dengan dahsyatnya, dengan disertai suara desiran yang amat memekikkan telinga, pukulan itu masuk ke dalam celah dinding,

Liem Tou hanya melihai Boen Ing sedikit menggerakkan tubuhnya angin pakulan yang amat santar lewat dari bawah kakinya menghajar dinding sebeiah dalam

Kecepatan dan kegesitan Boen Ing sewaktu menghindari dilakukan dengan amat cepat bagaikan kilat , jelaslah bahwa tenaga dalam nya tidak rendah.

Pikiran Liem Tou segera berputar. mendadak kepada Oei Tiap Loojien bisiknya.

"Dia sudah menphindar. kelihatanrya di dalam ruangan itu masih ada tempat kosong coba kau seranglah dia sekali lagi dengan menggunakan ilmu pukulan Siang Heng Ciang Hoat. kita lihat dia akan menghindar lagi ke arah mena!"

Ternyata Oei Tiap Loojien benar benar mendengarkan perkataannya, telapak kirinya berputar melancarkan satu pukulan dahsyat ke dalam celah. Keistimewaan dari pukulan Sian Hong Ciang Hoat ini justru karena bisa membelok maka akan membuat orang sulit untuk menghindar.

Tetapi Boen Ing yang lulus dari perguruan Heng San Pay sudab tentu memahami akan ilmu pukulan 'Sian Hong Ciang Hoat' tersebut. maka terdengarlab dia bersuit aneh ujarnya.

'Oei Tiap Supek kau masih ketinggalan jauh !"

Bersama itu sepasang telapak tangannya bersama sama didorongkan ke depan, tanpa memperdulikan lagi datangnya angin pukulan berputar dari Oei Tiap Loojien dan melancarkan serangan balasan ke depan.

Segulung angin pukulan laksana menggulungnya ombak di tengah samudra dengan sangat cepatnya menggulung keluar.

Gadis yang berada di sisi Oei Tiap Loojien begitu dia melihat orang tua dalam keadaan bahaya segera dengan pedang Lan Beng Kiamnya membentuk serentetan cahaya kebiru biruan menutup ke depan, bersamaan itu ia melancarkan satu pukulan dengan menggunakan ilmu "Thay Ih Sin Kang" menyambut datangnya serangan musuh.

"Bangsat kau berani melawan !" Bentak Oei Tiao Loojien pada saat yang amat kritis itu.

Terburu dia menarik kembali angin pukulan berputar di tangan kirinya bersamaan itu pula telapak kanannya dengan disertai teraga dalam yang amat dahsyat mendesak ke depan.

Kini tenaga pukulan Oei Tiap Loojien adalah merupakan tenaga gabungan, walaupun dia hanya menangkis dengan telapak tangan sebelah tetapi kedahsyatannya melebihi satu pukulan.

Seketika itu juga tiga gulungan angin pukulan yang amat dahsyat bertemu menjadi satu disertai suara ledakan yang menggetarkan bumi, tanah terasa bergeser, pepohonan dan dedaunan pada roboh sedang batu dan pasir beterbangan memenuhi angkasa, Oei Tiap Loojie ? serta gadis itu segera merasakan selutuh tubuhnya tergetar keras, tangannya jadi kaku dan linu.

Boen Ing pun untuk sementara tertahan oleh pukulan itu, tangannya pun terasa kaku dan linu membuat air mukanya yang sejak semuia sudah pucat pasi kini semakin menghijau. cuma saja di daiam sekejap sudah pulih kembali seperti sedia kala.

Kini celah di hidung sudah terpentang lebar lebar dan dia pun sudah bangun berdiri sehingga saling berhadap hadapan dengan Oei Tiap Loojien.

Saat saat inilah merupakan detik detik yang menentukan apakah Boen Ing berhasil meloloskan diri atau tidak, karena itu air mukanya berubah menjadi tegang.

Keadaan dari Oei Tiap Loojien pun sama saja. dia yang semula duduk bersila kini sudah bangun berdiri dan memperkuat kuda kudanya seluruh perhatian dipusatkan ke depan dan sedikitpun tidak berani berayal. Gadis berbaju hijau itupun dengan mencekal kencang kencang pedang Lan Beng Kiam berdiri di samping orang itu. sepasang matanya memandang tajam ke pihak musuh diapun sudah bersiap siap menghadapi serangan.

Kurang lebih seperminuman teh mendadak Liem Tou nerasakan di belakang tubuhnya berdesir datang suara yang amat perlahaa, hatinya rada bergidik kiranya ular raksasa yang berwarna keperak perakan itu entah sejak kapan sudah melata ke samping tubuhnya.

Walaupun saat ini Liem Tou merasakan hatinya terkejut bercampur nceri dia tidak berani juga meninggalkan tempat ini. cuma saja alisnya dikerutkan rapat rapat. tiada hentinya sang mata melirik ke arah ular tersebut Waktu itu pula gadis berbaju hijau itu pun melihat munculnya ular raksasa berwarna keperak perakan itu wajahnya segera memperlihatkan rasa kegirangan

Mendadak terasa angin serangan berkelebat dari atas kepalanya diiringi suera pekikan nyaring yang menyayatkan hati. bayangan kuning berkelebat kiranya kedua ekor gorella milik Oei Tiap Loojien sudah menerjang ke arah celah dinding tersebut bersamaan itu pula dengan diiringi suara desiran ular berwarna keperak perakan itu sudah meluncur ke dalam celah.

Ketiga ekor binatang itu bagaikan kilat cepatnya sudah meryerang ke arah Boen Ing agaknya perempuan itu sendiripuu sama sekali tidak menyangka akan hal ini.

Diiringi suara teriakan ngeri yang menyayatkan hati sinar merah memancar ke empat penjuru, kedua ekor gorela itu sudah mencelat ke tengah udara dan menggeletak tak bergerak lagi di atas tanah.

Gadis berbaju hijau yang melihat kedua ekor gorila tersebut sudah mati di tangan Boen Ing lantas tarik hawa murninya diam diam.

"Supek, kapan kita mau turun tangan ? teriaknya.

Pedang Lan Beng Kiamnya menuding ke depan, tanpa memperdulikan keselamatan dirinya sendiri dia sudah menubruk ke arah dalam celah batu dinding tersebut.

Oei Tiap Loojien yang selama ini tidak bergerak bukannya tidak mengerti akan waktu. Justru sebaliknya sedang menunggu kesempatan seperti ini.

"Boen Ing, ini hari adalah hari kematianmu,! bentaknya keras

Sepasang telapak tangannya didorong kedepan dengan sejajar dada, angin pukulan dari Oei Tiap Loojien serta Liem Tou yang meru pakan dua orang jagoan aneh Bu lim sudah tentu amat dahsyat sekali. Boen Ing yang melihat datangnya serangan tersebut dia lantas bersuit nyaring mendadak tubuhnya menyusut ke belakang sehingga lebih rendah beberapa kali lipat dan berbasil menghindarkan diri dari angin pukulan yang amat dahsyat itu dan tubuhnyapun dengan cepat menyusup keluar.

Di dalam seejap mata itulah... Braaak. Dengan diiringi suara bentrokan yang amat keras angin pukular dari Oei Tiap Loojin dan Liem Tcu tergetar miring ke samping dengan diikuti tubuh Boen Ing yang menyusup ke samping.

Si gadis berbaju hijau yang melihat akan hal itu segera bentaknya keras.

"Perempuan siluman! Boen Ing kau ingin melarikan diri kemana"

Dan pedangnya dengan cerat dibabat ke arah pinggang Boen Ing dengan kecepatan luar biasa, maka terdengarlah suara jeritan ngeri yang menyayatkan hati dari perempuan itu. Dan tubuhnya perempuan itupur meluncur ke tengah lembah sehingga di tengah tumpukan bunga kini hanyalah tinggal lima buah jari kaki yang masih berceceran darah segar.

Kiranya babatan pedang Lan Beng Kiam dari gadis herbaju hijau itu tidak berhasil mengenai sasarannya dengan tepat tetapi berhasil membaabat putus kelima buah jari kaki perempuan itu sehingga ia berhasil melarikan diri ke dalam barisan bunga,

Gadis berbaju hijau itu tidak berdiam diri sampai di situ saja. sambil mencekal pedangnya erat erat iapun mengejar ke barisan bunga itu.

'Supek cepat kemari'Teriaknya keras. 'Been Ing tiak pahamakan barisan bunga tersebut. jangan sampai lepaskau dia pcrgi. ayoh, cepat kita binasakan dirinya"

Oei Tiap Loojien yang melihat gadis berbaju hijau itu bukanlah tandingan dari Boen Ing. "Cing jie kembali" Cegahnya dengan suara yang amat keras. "Boen Ing sudah melarikan diri ke dalam barisan bunga" Sam Nie Kioe Kong Khie Ban Toa Tin. sekalipun saat ini ada sepuluh orang Boen Ing juga tidak bakal berhasil meloloskan diri, lebih baik kau cepat cepat menolong Gien jie lebih dulu"

Si gadis berbaju hijau yang tahu kalau pedang Lan Beng Kiam yang berada ditangannya pada saat ini adalah merupakan sebuah senjata tajam yang paling ditakuti oleh Boen Ing dalam hati bukannya merasa jeri terbadap dirinya tetapi karena Gien jienya terluka maka dia putar badan berjalan kembali.

Tampaklah babwa ular peraknya melingkar menjadi satu agaknya sedang merasakan suatu penderitaan yang amat hebat.

Dengan perlahan Oei Tiap Loojien pun berjalan ke samping kedua ekor kera raksasa peliharaannya itu hatinyapun merasa bergidik juga karena kera raksasa yang sudah berhasil dilatih kebal terhadap segala macam senjata tajam kini ternyata sudah binsa di bawah cengkeraman maut dari Boen Ing sehingga batok kepalanya meninggalkan bekas lima buab lubang berdarah yang mengerikan.

Teringat kelincahan serta kecerdikan dari kedua ekor kera raksasa peliharaannya ini Oei Tiap Loojien merasakan hatinya jadi kecut, sambil membelai bulu halus berwarna kuning dari keranya itu air matanyapun bercucuran dengan amat derasnya,

Cing jie ! kedua ekor kera raksasa ini sudah mati, gien jie mu baik baik saja bukan?"

Gadis berbaju hijau yang sedang melihat ularnya melingkar menjadi satu itupun dalam hatinya lantas tahu kalau binatang kesayangannya itupun tentu sedang terluka parah. Dengan sangat telitinya dia memeriksa seluruh tubuh ular tersebut hatinya merasa bertambab pedib seperti ditusuk tusuk, kiranya bagian tujuh coen dari ular raksasa tersebut sudah terbakar hangus dan sekalipun dewa juga tak mungkin dapat menolongnya lagi," 

Kini metdengar pertanyaan dsri Oei Tiap Loojien dengan amat sedihnya lalu dia menjawab *

"Gien jie sudah kena dihajar dan hangus tujul coenrya, setentar lagi diapun pasti akan mati ."

Karena sedihnya Oei Tiap loojien menundukkan kepalanya, sepatah katapun tak dapat diucapkan keluar.

Liem Tou yang melihat kedua orang itu sedang meneteskan air mata buat sepasang kera raksasa serta ular raksasanya diapun tak terasa sudah teringat kembali akan kerbau nya kenapa dia mendengus terus ? apakah kerbaunyapun ikut terancam bencana ?

Lama selali Oei Tiap loojien termenung mendadak dia meloncat bangun dan teriaknya dengau keras:

"Apakah Gin jie benar benar hendak mati? kaiau bagitu cepatlan babat putus ekornya dan hisaplah darah pusakanya. barang yang amat berharga ini tak boleh dibuang dengan begitu saja."

Tidak , , , tidak , , , " teriak gadis berbaju hijau itu dengan suara yang amat keras ' Bagaimana aku tega untuk menghisap darah gien jie? sekalipun darah Gien jie lebih berharga dari apapun aku tak akan mau menghisapnya hal ini benar benar adalah suatu perbuatan yang amat menyeramkan".

Mendengar akan perkataan itu Oei Tiap Loojien segera mengerutkan alisnya rapat rapat ujarnya.

"Cing jie kau jangan terlalu bodoh, ini adalah suatu kesempatan yang tidak bakal terjadi lagi selama ribuan tahbun. kau ingin men-cari ke mana kesempatan yang baik ini?" Ujarnya denpan kesal. 'Apalagi sewaktu ayahmu menangkap Gien jie kemari karena tujuannya juga karena ingin menghisap darah pusakanya ! kini dia sudah hampir mati, hawa mujijatnyapun semakin hari akan semakin buyar, bilamana kau tidak cepat cepat menghisapnya menanti dia sampai putus napas, walaupun darab bisa kau hisap tetapi kegunaannya tidak bakal ada"

Gadis berbaju hijau itu tetap berdiri tegak. tiba tiba dia lempar pedang Lan Beng Kiamnya ke atas tanah dan meloncat ke depan.

'Aku tidak bisa berbuat demikian' teriaknya keras. Bilamana kau hendak menghisap darahnya turun tanganlah sendiri'.

Hanya dalam Beberapa kali loacatan saja dia sudah menerjang masuk ke dalam barisan bunga.

'Eeeei Cing jie ! kau hendak pergi ke-mana 1" teriak Oei Tiap Loo jien dengan amat cemas' Berhati hatilah jangan kau sampai bertemu dengan Boen Ing, kau bukanlah tandingannya."

Aku memang sedang mencari dirinya, dia sudah terluka - - aku tidak takut pada dirinya lagi" Teriak Cing jie dari tempat kejauhan.

Oei Tiap Loo jien yang mendengar Cing jie hendak pergi mancari si perempuan iblis itu hatinya semakin kecut.

"Cing jie kembali - - Cing jie kembali - -kau tidak boleh manempuhh bahaya ! '

Kali ini ia tidak mendengar lagi suara jawaban dari Cing jie, tidak memungut pedang Lan Beng Kiam dengan cepat Oei Tiap Loo jien enjotkan tubuhnya mengejar masuk ke dalam barisan bunga itu.

Kini tinggal Liem Tou seorang diri berdiri di antara mayat ke dua ekor kera raksasa itu. sambil termangu mangu dia memandang ke arah ular raksasa yang lagi menggeliat diantara batu batuan dengan amat kerasnya, jelas sekali dia lagi menderita suatu kesakitan luar biasa.

Kini waktu sudah menunjukkan kentongan kelima. sinar sang surya pun secara samar samar sudah muncul di ufuk timur;

Pedang Lan Beng Kiam yang menggeletak diatas tanah memancarkan keluar cahaya biru yang berkilauan. baru saja Liem Tou mendengar dengan jelas selurub perkataan diucapkan oleh Oei Tiap Loojien maupun gadis berbaju hijau itu.

Kini melihat penderitaan dari ular raksasa yang mendekati sekarat itu lantas merasa kan sayang buat darah mujijatnya itu, walau pun begitu hatinya masih tetap ragu ragu untuk bertindak selanjutnya.

Waktu dengan perlahan berganti Liem Tou yang melihat Oei Tiap Loojien serta ga dis berbaju hijau yang masuk ke dalam barisan bunga sama sekali tidak menunjukkan gerak gerik apapun dan telah melihat ular raksasa itu semakin mendekati ajalnya tak terasa lagi gumamnya:

"*Apakah ini yang dinamakan nasib? apa mungkin darab mujijat dari ular raksasa iru milikku? buat apa aki merasa ragu ragu lagi?

Berpikir sampai disitu. hatinyaoun menjadl rada lega. tanpa membuang wakiu lagi dia memungut pedang Lan Berg Kiam tersebut dan berjalan menndekati sisi tubuh ular rakstsa yang hampir mendekati ajalnya itu.

Tangannya dengan kecepatan bagaikan kilat menyambar ke depan menyenkram ekornya lalu dengan sekuat tenaga dipencet sehingga tulang ekornya jadi patah.

Dengan menimbulkan suara yang amat aneh ular itu seketika itu jatub tak sadarkan diri. Tidak membuang waktu lama lagi, pedang ditangan kanannya menyambar memutuskan ekor ular itu lalu dihisapnya darah segar itu kuat kuat.

Suatu cairan yang dingin serta manis dengan lancarnya mengalir masuk ke dalam perut melalui tenggorokannya disusul suatu hawa panas mengalir keluar dari pusarnya.

Diapun tidak merasakan bal hal yang diluar dugaan dengan lahapnya darah tersebut dihisapnya sampai kering, setelah itu baru menghembuskan napas panjang panjang.

Setelah melepaskan mayat sang ular dengan perlahan dia baru menggerak gerakkan badannya.

Siapa tahu pada Saat itulah tububnya sempoyongan hampir hampir tidak kuat untuk berdiri tegak sedangkan perutnyapun amat panas dan sakit seperti diiris iris!

"Apakah yang sudah terjadi ?" pikirnya di hati 'Apa mungkin Oei Tiap Loo Jien sengaja mengatur jebakan ini untuk pancing aku masuk kedalam perangkap ? kalau memanng demikian habis sudah diriku ?'

Sejak menerjunkan dirinya ke dunia kang ouw Liem Tou selalu saja menemui musuh musuh yang hendak mencabut nyawanya. oleh karena itu setiap kali bertemu dengan manusia manusia yang berhati licik itu setiap kali dia lantas terpikir ada kemungkinan sudah kena dibokong oleh musuh.

Pada saat itulah merdadak dari tempat kejauhan berkumandang datang suara suitan yang amat nyaitng jelas itulah suara suitan dari Boei Ing diikuti bergemanya suara bentakan yang berulang kali dari Oei Tiap Loo jien.

Waktu itu sang surya memancarkan sinarnya ke selaruh jagat raya-membuat pandangan di dalam lembah tersebut terutama pepohonan diatur menuiut barisan 'Sam Nie Kioe Kong Khei Boen Toa Tin,' itu kelihatan begitu indah dan menawan.