Raja Silat Jilid 33

 
Jilid 33

KECUALI sipenjahat raga merah serta Thiat Bok Thaysu semua orang yang hadir di atas gunung Cing Shia ini terutama para Toosu Bu tong pay tiada seorangpun yang tak menjulurkan lidahnya melihat kedahsyatan tersebut.

Thian Pian siauw cu yang melihat serangannya tak mencapai pada hasil hatinya merasa tak puas. sainbil bersuit panjang sekali lagi dia menubruk kearah Liem Tou.

"Ke Siauw cu, tahan!" Sekali lagi bentak Liem Tou dengan amat gusar.

Tetapi waktu ini pikiran Thian Pian siauw cu lagi kacau, mana dia orang suka mendengar perkataannya.

Tubuhnya merendah kuda kudanya diperkuat mendadak sepasang telapak tangannya di-dorong kedepan melancarkan satu pukulan yang maha dabsyat. Sampai pada detik itu Liem Tou tak bisa menahan sabar lagi, ilmu saktinya lalu dipentangkan dengan tanpa menghindar lagi dia menyambut datangnya angin pukulan itu.

Pada saat itulah mendadak terdengar Lie-Loojie membentak keras :

"Sutit! jangan turun tangan jahat."

Liem Tou jadi terperanjat dengan terburu-buru hawa pukulannya yang delapan bagian dikurangi dengan dua bagian, tetapi pada saat yang bersamaan pula dua gulung angin pukulan bertemu menjadi satu . . .

"Bluumm .. . ,” disertai suara getaran yang amat keras Liem Tou yang harus menarik kembali dua bagian tenaganya kontan tergetar mundur tiga langkah kebelakang

Tetapi Tbian Pian siauw cu yang melancarkan serangan dengan sepenuh tenaga segera menjerit ngeri tubuhnya tergetar mundur tujuh delapan langkah kebelakang lalu disertai suara jeritan yang keras tubuhnya tak kuasa untuk berdiri lebih lama dan jatuh keatas tanah.

Air mukanya pada sat ini sudah berubah jadi pucat pasi bagaikan mayat, dadanya berombak sedang sepasang matanya terbelalak lebar-lebar, lama sekali dia mempertahankan dirinya dan terakhir tak kuasa dari mulutnya muntahkan darah segar.

Pada saat itulah Kiem jie sudah berlari mendatang dia yang melihat luka Thian Pian siauw cu amat berat segera menangis tersedu-sedu.

“Suhu! suhu . .” Giok jie yang ada dipelukan sigadis cantik pengangon kambingpun segera meroata coba berlari kesamping Thian Pian siauw cu, tetapi keburu dicegah oleh sigadis cantik pengangon kambing.

"Giok jie kau jangan pergi." ujarnya dengan suara yang amat halus, “luka suhumu tak terlalu berat, cuma hawa murninya saja yang tsrbuyar karena hatinya lagi jengkel, asalkan mau beristirahat dulu untuk beberapa hari dia pasti akan sembuh dengan sendirinya. Kau jangan kesana walaupun saat ini dia terluka tetapi untuk memukul kau sampai mati bukanlah satu pekerjaan yang sukar baginya”

Akhirnya Giok jie berhasil dicegah kepergiannya oleh si gadis cantik pengangon kambing tetapi sudah menangis tersedu-sedu dengan amat sedihnya.

Saat itu Thian Pian siauw cu pun berusaha meronta untuk bangun tetapi berhasil dicegah oleh Kiem jie .

“Suhu kau orang tua terluka lebih baik jangan sembarangan bergerak" Teriaknya. "Untuk sementara baik baiklah kau beristirahat sehingga hawa murni bisa berkumpul kembali."

Akhirnya Thian Pian siauw cu gelengkan kepala kemudian dengan paksakan diri bangkit berdiri lalu menghembuskan napas panjang panjang.

Tangannya diangkat dengan perlahan keatas dan digoyang goyangkan dua kali.

Kiem jie yang melihat sikap suhunya amat aneh dia jadi tercengang . "Suhu kau sudah terluka apa maumu ?”

Air muka Thian Pian siauw cu yang sudah berubah pucat pasi kini jadi kehijau hijauan, mendengar perkataan itu matanya lantas melotot lebar- lebar.

"Kiem jie apa kaupun tidak suka mendengarkan perkataan suhumu? kau juga sudah tidak mau nyawamu lagi?"

Kiem jie tidak dapat berbuat apa apa terpaksa dia goyangkan dua kali panji hitam itu.

Terdengarlah suara pekikan burung rajawali, kawanan burung elang yang tidak sampai terluka dan pada tersebar kini mulai mengumpul kembali.

Bukan begitu saja bahkan kawanan elang yang terluka dan tersembunyi diantara rerumput atau liangpun pada berjalan keluar dan berlari mendekati diri Thian Pian siauw cu. Ketiga ekor burung elang yang terikat dan ada di tangan Lie Siauw Ie pun meronta sekencang-kencangnya.

Thian Pian siauw cu sungguh tidak malu disebut sebagai seorang ahli didalam binatang, ternyata burung burung itu berhasil dia latin sehingga begitu terlukapun asalkan melihat tandanya lantas pada berkumpul mendatangi.

Kepandaian dan mujijat dari Thian Pian siauw cu ini seketika itu juga membuat suasana di puncak pertama gunung Cing Shia jadi sunyi senyap, sampai Liem Tou sendiripun, dengan termangu mangu memandang dirinya, dia ingin melihat apa yang hendak dikerjakan olehnya terhadap kawanan burung elang tersebut.

Jelas pada saat ini Thian Pian siauw cu dibuat terharu oleh kesetiaan burung burung elangnya. lama sekali dia berdiri termangu-mangu ditempat sedang dari kelopak matanya tiada hentinya menetes keluar titik titik air mata.

Menangisnya Thian Pian siauw cu boleh dikata merupakan satu peristiwa yang amat besar didalam dunia persilatan.

Tiba tiba, dengan sedihnya Thian Pian siauw-cu membentak.

“Laaaa Kaaa Caaa... , Cau CiO Koook Cii Soou , , , Hu Loo Heei haaa hiii ..."

Semua orang yang mendengar suara itu pada melengak dan dibuat tercengang semuanya tetapi kawanan burung elang yang ada disana sesudah mendengar suara tersebut mulai jadi gaduh.

Si gadis cantik pengangon Kambing yang mendengar suara itupun dibuat melongo-longo, buru buru dia bertanya kepada Giok-jie.

"Giok jie, apa yang dikatakan oleh suhumu?”

Giok jie yang semula memang lagi menangis kini telah mendengar suara aneh dari Thian Pian siauwcu itu menangis semakin keras lagi. Dengan gugup si gadis cantik pengangon kambing segera menasehati dan menghibur dirinya. setelab lewat beberapa saat lamanya baru dia berhenti menangis,

Suhu bilang "Kalian sudah ikut aku Ke-Hong selama beberapa puluh tahun lamanya, kini aku ke Hong menemui kekalahan ditangan orang lain apalagi melukai diri kalian aku benar benar merasa amat berdosa. sekarang aku mau pulang dan tak dapat mengobati dirimu lagi, kalian boleh pergi bebas

! menanti setelah luka kalian bisa disembuhkan terbanglah kembali ke gunung asalmu !"

Thian Pian Siauwcu, yang melihat kawanan burung itu berpekik dan hiruk pikuk tiada hentinya air mukunya segera berubah membesi.

“Kooook Laaa hiii , . ! Huuu Haaaa Suuu Hii !!" bentaknya. Dia bilang : "Bosan, kalian cepat pergi !' ujar Giok jie menjelaskan.

Kawaran burung elang yang kena dimaki terpaksa pada bubaran dan mencari keselamatannya sendiri-sendiri.

Setelah dilihatnya kawanan burung elang itu sudah pada bubaran Thian Phian siauw-cu baru menggapai kearah ketiga ekor burung elang raksasanya.

Setelah burung itu mendekat Thian Piaa siauw cu serta Kiem jie masing masing menungcang seekor burung dan menoleh sekejap kearsh Giok-jie.

“Suuhuu . !" Teriak Giok-jie dengan sedihnya.

"Hmm! Aku sudah tidak maui murid seperti kau, kapan saja bilamana aku bertemu kembali dengan dirimu saat itulah waktu kematian bagimu !” ancam Thian Pian siauw-cu sambil mendengus dingin.

Setelah itu kepada Liem Tou dengan bencinya dia menambahkan:

"Liem Tou! Dengan sakit hati ini lain kali pasti akan aku balas!" "Ke Siauw cu! Tiga tahun kemudian aku bisa datang mencari dirimu tetapi bilamana didalam tiga tahun ini aku mendengar kau melakukan perjalanan di Bu-lim.,, heee heee,,. jangan dikata diujung langit sekalipun diluar angkasa aku Liem Tou bisa pergi mencari dirimu untuk bikin perhitungan !"

Thian Pian siauw cu tertawa serak dengan sedikit goyangkan tangan ketiga ekor burung burung elang itupun lantas terbang keangkasa diikuti oleh kawanan burung elang yang tidak terluka dari belakangnya.

Setelah Thian Pian Siauw cu pergi dari sana, dengan sedihnya Liem Tou segera menghela napas panjang. Tetapi sebentar kemudian dia teringat kembali akan diri Thiat Bok Thaysu serta sipenjahat naga merah.

“Hmm ! Kedua orang bajingan tua ini jauh lebih buas sepuluh kali lipat jika dibandingkan dengan Thian Pian Siauw cu, aku harus basmi dirinya sehingga di Bu lim pun kekurangan dua orang pentolan penjahat lagi.”

Karenanya tanpa banyak berbicara lagi dia lantas menggapai kearah Tniat Bok Thay su serta sipenjahat naga merah.

“Mari - - - mari - - mari - - ! Bukankah kalian lagi mencari aku Liem Tou untuk bikin perbitungan ? Aku tidak mau banyak cakap lagi, kalian mau berkelahi satu demi satu ataukah dua orang maju berbareng ?”

Si penjahat naga merah maupun Thiat Bok Thaysu yang mendengar perkataan tersebut pada merasa jeri.

Liem Tou pukul rubuh Thian Pian siauw-cu dengan mengandalkan tenaga Iweekangnya yang amat linay apalagi dengan menggunakan jarum pohon siong menghancurkan kawanan burung elang hal ini membuktikan bagaimana kedahsyatan ilmu silat yang dimiliki olehnya karenanya sudah tentu baik si penjahat naga merah maupun Thiat Bok Thaysu merasa nyalinya dibuat pecah oleh kejadian itu. Seballknya Liem Tou yang didalam hati sudah punya maksud untuk melenyapkan kedua orang pengacau dunia kangouw itu melihat mereka berdua rada ketakuran tanpa banyak cakap lagi segera maju kedepan dengan langkah lebar, sembari berjalan gumamnya :

“Aku tak dapat meninggalkan kedua orang ini disini. mereka bardua adalah pengacau Bu~lim yang harus dibasmi !"

"Liem Tou tunggu dulu !" tiba tiba terdengar si penjahat naga merah membentak keras. "Coba kau dengarkaa dulu ! Baru saja kau bergebrak dengan Thian Phian siauw cu. walaupua behasil menangkan pertempuran ini tetapi tenagamu sudah berkurang, kami tidak ingin menggunakan cara roda berputar untuk gencet dirimu, aku lihat lebih baik lain kali saja kita baru bertempur !"

Liem Tou yang mendengar perkataan tersebut segera mengetahui kalau mereka berdua sudah merasa jeri tapi malu untuk mengutarakannya keluar, tak kuasa lagi dia sudah tertawa terbahak bahak dengan kerasnya.

"Haaa . . . haaa . . . Hey penjahat naga merah, bajingan tua Thiat bok lebih baik jangan gunakan cara seperti ini" serunya dengan wajab berubah adem. 'Perduli kalian mau bergebrak atau bakal melepaskan ilmu silat kalian yang kejam itu, terutama bajingan tua Thiat Bok !"

Sembari berkata tubuhnya sudah menerjang kehadapan sipenjahat naga merah serta Thiat Bok Thaysu.

Thiat Bok Thaysu dengan sepasang mata yang sudah berubah menghijau dengan tajamnya memperhatikan terus diri Liem Tou, mendadak bentaknya keras :

“Cie Liong sutit, cepat lari !”

Bersamaan waktunya sepasang cengkeramannya dilancarkan kedepan, tampaklah sepuluh gulung hawa hitam dengan cepatnya meluncur kedepan.

Liem Tcu dengan tergesa gesa kebutkan tangannya kedepan, segulung angin pukulan yang dahsyat segera menyambar kedepan memunahkan datangnya angin serangan berwarna hitam ini.

Si penjahat naga merah yang secara tiba-tiba mendengar Thiat Bok Thaysu suruh dia pergi semula rada tertegun dibuatnya, dan didalam sekejap mata itu pula Thiat Bok Thaysu sudah turun tangan.

Dia tahu Thiat Bok Thaysu yang memiliki kepandaian silat amat tinggipun masih merasa rada takut terhadap Liem Tou, dia tahu sekalipun dirinya ada disana juga sama sekali tak berguna.

“Susiok, sutit turut perintah !" teriaknya kemudian. Dia lantas putar tubuh dan meloncat sejauh dua kaki.

Empat orang Tocsu dari Bu tong sewaktu melihat sipenjahat naga merah itu hendak melarikan diri segera berteriak keras dan pada mengurung kedepan menghalangi jalan perginya.

“Siapa yang berani menghalangi aku, mati, yang tahu diri cepat singkirkan diri kesamping” bentaknya keras.

Tangannya dengan cepat berputar mencabut keluar cambuk naga merahnya lalu dengan menggunakan jurus 'Tok Coa Jui Tong" atau ular berbisa keluar dari gua serta jurus "Ban Liong Yu Sin' atau naga perkasa berputar badan. Satu menyerang yang satu berjaga sehingga kelihatan sangat dahsyat sekali.

Waktu itu ada seorang Toosu yang sama sekali tidak menduga datangnya sambaran cambuk yang amat dahsyat dari sipenjahat naga merah berkumandang keluar, terdengar suara jeritan ngeri yang menyayatkan hati berkumandang keluar sepasang matanya sudah kena ditembusi sehingga darah segar memancar keluar dengan amat derasnya.

Para Toosu Bu tong pay yang melihat serangan mereka tidak mempunyai hasil malah sebaliknya terluka, dengan gusarnya segera membentak keras kemudian bersama-sama menerjang kedepan.

Pedang panjang mereka dengan menggunakan gerak menusuk, membabat, membacok, menorok menerjarg kedepan, hawa pedang memeruhi angkasa diselingi suara teriakan serta bentakan yang memekikkan telinga. suasana benar benar sangat ramai.

Tetapi si penjahat naga merah yang sudah mempunyai psngalaman didalam menghadapi musuh musuhnya yang sama sekali tak terpengaruh oleh teriakan teriakan tersebut.

Saat ini dia tak ingin bergebrak lebib lanjut, sambil mendengus dingin tubuhnya yang besar dan gemuk itu segera berkelebat ketengah udara dan melayang pergi melalui atas kepala para Toosu Bu tong pay.

"Kau mau lari kemana !" bentak Ciat Siauw Thaysu itu ciangbunjien dari Bu tong pay dengan cepat.

Ujung jubahnya segera dikebutkan kedepan melancarkan satu pukulan yang amat dahsyat sekali.

Siapa tahu justru dengan meminjam tenaga pukulan itulah tubuh si penjahat naga merah berkelebat semakin menjauh hal ini membuat Ciat Siauw thaysu jadi berieriak-teriak gusar. “Heng dan jie Yu cepat halangi dirinya, jangan beri kesempatan buat dia orang untuk melarikan diri. nyawa dari Leng Cu Ci dari Bu tong pay tidak dapat lenyap dangan sia sia ditangannya !"

Heng san Jie Yu yang ada disudut Timur tanpa banyak cakap lagi segera meloncat keluar dari sisi sebelah kanan lalu bersama-sama mendorongkan telapak tangannya melancarkan satu pukulan dahsyat yang mematikan.

Si penjahat naga merah sudah tentu tak merasa takut terhadap mereka berdua. melihat datangnya pukulan dari mereka berdua dia lantas salurkan tenaga murninya siap-siap menghajar kedua orang itu. Mendadak , ..

Suara teriakan ngeri yang meyayatkan hati bergema datang dari diri Thiat Bok Thaysu dia jadi sangat terperanjat dan cepat cepat menoleh kebelakang.

Tampaklah bayangan tubuh yang kurus dan hitam dari Thiat Bok Thaysu dengan cepatnya berlari mendatang kearahnya, kesepuluh jarinya masih meneteskan darah segar. "Susiok !" teriak sipenjahat naga merah dengan keras.

Pada saat itulah angin pukulan yang keras dan Heng san Jie Yu sudah menyambar datang dan menusuk wajahnya dengan terburu buru sipenjahat naga merah balas melancarkan satu pukulan kedepan.

Pukulan yang dilancarkan tanpa pemusatan mana mungkin mendatangkan tenaga yang penuh? Tubuhnya seketika itu juga terpukul mundur sejauh empat langkah dengan sempoyongan.

Pada waktu itulah si Thiat Bok Thaysu sudah menubruk datang, wajahnya yang berwarna hitam pekat sudah berubah jadi keabu-abuan.

"Aaa - - aaku - - aku sudah cscad” serunya dengan suara gemetar.

Si penjahat naga merah segera memperhatikan dirinya lebih teliti lagi terlihatlah kesepuluh jari Thiat Bok Thaysu sudah pada putus semua. Tidak ragu-ragu lagi ilmu jari Hek Khie Ci Kang yang paling diandalkan olehnya sudah dipunahkan oleh Liem Tou.

Melihat hal itu sudah tentu sipenjahat naga merah tak berani bertempur lebih lanjut dengan gemasnya dia melototi sekejap diri Heng San Jie Yu lalu sambil menarik ujung baju Thiat Bok Thaysu bagaikan tiupan angin berlalu cepat-cepat lari turun dari puncak. 

Pada saat itulah terdengar suara bunyian Sie poa yang dipukul pulang pergi disusul munculnya tiga orang diatas puncak bukit tersebut sembari bernyanyi nyanyi:

"Membaca buku selaksa jilid, melakukan perjalanan selaksa li. Sebuah sie poa menghitung selaksa peristiwa."

Tampaklah munculnya sisiucay buntung, si pengemis pemabok serta Thiat Sie sianseng disana.

Si penjahat naga merah yang melihat ditempat itu sudah kcdatangan lagi tiga orang musuh lamannya bagaikan seekor kerbau giia dengan gusarnya segera berteriak keras:

"Bagus sekali kedatanganmu !"

Cambuknya bagaikan kalap menubruk kedepan, melihat kehebatan tersebut didalam hati sisiucay buntung, sipengemis pemabok serta Thiat Sie sianseng tahu bilamana mereka harus satu melawan satu pasti bukanlah tandingan dari sipenjahat naga meiah, karena mereka bertiga lantas bersama-sama tertawa terbahak bahak, kipas, sie poa serta tongkat Tah Kauw Pang bersama-sama menyambar ke depan menghalangi perjalanannya.

Ssketika itu juga cambuk naga merah kipas, sie poa serta tongkat Tah Kauw Pang bertemu menjadi satu.

Si siucay buntung, si pengemis pemabok serta Thiat Sie sianseng hanya merasakan telapak tangannya menjadi sakit dan amat linu sebaliknya si penjahat naga merah sendiri terpukul mundur satu langkah kebelakang sepasang matanya melotot lebar lebar.

Pada saat itulah Heng san Jie Yu mendadak muncul dibelakang tubuhnya.

“Hantam !” teriak mereka dengan keras.

Walaupun kesepuluh jari tangan Thiat Bok thaysu sudah dipunahkan oleh Liem Tou tetapi kepandaian silat maupun lweekangnya tidak sampai ikut punah, dan bagaimana pun kepandaiannya jauh lebih tinggi dari pada si penjahat naga merah, mendengar suara bentakan tersebut bagaikan kilat cepatnya dia sudah meloncat kesamping. Tetapi si penjahat naga merah rada terlambat satu tindak .

. .

"Braak . , ,!” dengan amat dahsyatnya dia sudah kena dihantam hawa pukulan yang amat dahsyat dari Heng san Jie Yu kemudian diiringi suara teriakan kesakitan yang amat keras tubuhnya rubuh keatas tanah.

Si pengemis pemabok yang berada paling dekat dengan dia orang dengan cepat hantamkan toya Tah Kaw Pang keatas tubuhnya.

"Anjing tua. kembalikan dendam satu pukulan semasih ada digunung Wu san !" bentaknya keras,

Dengan menggunakan jurus 'Thay san Ya Ting' atau gunung thay san menekan bumi dia hantam tubuhnya Si penjahat naga merah segera mendengus berat, tubuhnya kelejetan sebentar kemudian menghembuskan napas panjang- panjang “Ouww , , mati aku !” serunya tersengkal sengkal.

Pinggangnya menarik kebelakang kakinya lurus kedepan napasnya seketika berhenti !

Pada waktu itulah dari atas gunung ditempat kejauhan secara samar samar terdengar suara teriakan yang amat menyeramkan. 'Cie Liong sutit . , Cie Liong sutit. ,”

Tetapi si penjahat naga merah sudah mati, siapa yang mau menyahut ? siapa yang bisa menyahut ? suasana yang amat sunyi disekeliling puncak itu seketika itu juga diramaikan oleh suara teriakan serta suara pantulan

tersebut membuat separuh puncak gunung Cing Shia seketika itu juga dipenuhi suara panggilan Cie Liong sutit. Lewat beberapa saat kemudian suara teriakan tersebut baru berhenti, tampaklah sesosok bayangan hitam dengan amat cepatnya meluncur kebawah puncak. 

Semua orang dapat melihat kalau bayangan tersebut bukan lain adalah Thiat Bok Tbaysu yang sudah pergi kini balik kembali. Sewaktu dilihatnya si penjahat naga merah sudah msnemui ajalnya dia lantas memperdengarkan suara jeritan setan yang amat mengerikan sekali.

Sebentar kemudian tubuhnya sudah meloncat bangun lagi lalu menubruk kearah Liem Tou yang berdiri termangu mangu diatas Puncak gunung.

“Kembalikan nyawa keponakan muridku, kembalikan nyawa keponakan muridku!” jeritnya dengan suara yang keras.

Kini kesepuluh jari tangannya sudah putus bilamana dia ngotot melancarkan serangan juga maka darah yang mengalir didalam tubuhnya akan ikut mancur kedepan dengan demikian bukan saja pukulan itu sia-sia belaka ada kemungkinan darahnya akan memancur deras dan akhirnya mengancam keselamatannya.

"Bajingan tua Thiat Bok! aku sudah membuka satu jalan kehidupan untukmu apa kau merasa tidak cukup ? bilamana aku harus menghitung pula dengan kematian dari sucouwku "Auw Hay Siang hiap" Hay Cong maka kau tidak ada hak untuk hidup ayoh cepat pergi !"

Thiat Bok Thaysu saat ini sudah hilang kesadarannya gerak geriknya lebih mirip dengan seorang gila, dia orang mana mau mendengarkan nasehat dari Liem Tou tunuhnya dengan cepat berputar dengan menggunakan gerakan 'Oei Li Kuk' menubruk kearah Liem Tou.

Dengan gesitnya Liem Tou segera menyingkir beberapa depa kesamping untuk menghindarkan diri dari serangannya itu.

“Bajingan tua Thiat Bok!" bentaknya keras.

“Aku lihat lebih baik kau orang suka mendengarkan nasehatku saja!"

Dengan seramnya Thiat Bok Thaysu bersuit panjang serangannya semakin gencar lagi meneter diri sang pemuda.

Lama kelamaan Liem Tou jadi gusar juga melihat sikapnya yang tidak mau tahu itu, pikirnya: "Aku tidak mau bunuh dirinya hal ini dikarenakan aku tidak ingin terlibat didalam soal pembunuhan maksudku Cuma memunahkan ilmu jari beracunnya lalu lepaskan jalan kehidupan buat dirinya adalah satu maksud yang baik kenapa dia orang begitu tidak tahu diri dan sengaja mau mencari mati? Baiklah, biarlah aku kabulkan permintaannya, bagaimanapun manusia semacam ini tiada berguna untuk tetap tinggal di dunia lebih lama.”

Setelah mengambil keputusan, napsu untuk membunuh semakin meliputi wajah sang pemuda.

“Bajingan tua Thiat Bok!” serunya kemudian dengan dingin, “Sebenarnya aku Liem Tou punya maksud untuk melepaskan satu jalan kehidupan buat dirimu tetapi bilamana kau tidak mau juga jangan salahkan aku turun tangan kejam kepadamu!”

Thiat Bok Thaysu yang dikarenakan ilmu jari Hek Khie Ci Kang yang dilatihnya selama tiga puluh tahun berhasil dipunahkan oleh Liem Tou ditambah pula melihat si penjahat naga merah menemui ajal dibawah kerubutan Tionggoan Sam Koay serta Heng San Jie Yu hatinya benar-benar tertusuk dan kena rangsangan sehingga kepingin sekali dia menubruk diri Liem Tou.

Kini mendengar perkataan tersebut bukannya menjadi takut sebaliknya malah menubruk semakin ganas lagi memaksa Liem Tou kembali harus berteriak keras. “Baiklah, aku akan kabulkan permintaanmu itu.”

Sehabis berkata mendadak tubuhnya maju satu langkah kedepan, telapak tangannya dengan perlahan didorong kesamping siap-siap melancarkan satu pukulan yang mematikan.

Tetapi bersamaan waktunya pula terdengar suara pekikan burung rajawali berkumandang.

“Hey Liem Tou! terdengar Thiat sie sian seng berteriak secara mendadak. 'Waktu ajalnya masih belum tiba, Ke siauw cu datang kembali !"

Angin pukulan ypng hendak dihantamkan ketubuhnya dengan cepat ditarik kembali, ketika dia dongakkan kepalanya keatas tampaklah Thian Pian siauw cu dengan menunggang seekor burung rajawali dan melayang pula rajawali lain tak berpenumpang.

Dia meiayang berputar satu kali diatas puncak itu kemudian ayunkan sebuah benda kearah Liem Tou.

Dengan terburu buru Liem Tou mundur satu langkah kebelakang, tangannya dengan cepat menyambar menerima benda itu yang bukan lain adalah separuh bagian mutiara yang diberikan Liem Tcu kepadanya.

Liem Tou yang menerima sambitan mutiara tersebut rada tertegun dibuatnya.

“Liem Tou !” terdengar Thian Pian siauw cu sudah membuka mulut berkata:

“Sudah tentu kau tahu bukan apa maksudku? Thiat Bok hweeio aku bawa pergi!"

Liem Tou yang mendengar perkataan tersebut semakin tertegun lagi dibuatnya, mendadak dia melemparkan kembali separuh bagian mutiara itu keatas.

"Sebenarnya aku tidck ingin mencabut nyawa bajingan tua Thiat Bok itu, kau bawalah dia pergi. Ssedang barang ini aku kembalikan kepadamu ada kenungkinan bisa menolong satu kali nyawamu, Dikemudian hari bilamana kau buang dengan demikian saja bukankah terlalu sayang?”

Thian Pian siauw cu menerimanya dltaangan tapi sebentar kemudian dia sudah tertawa seram.

“Siapa yang mau barangmu yang jelek ini” teriaknya.

Dengan cepat tangannya diayunkan kedepan separuh bagian mutiara tersebut dengan menimbulkan suara dssiran yang amat keras segera menyambar kearah Giok-jie yang ada disamping tubuh si gadis cantik pengangon kembing itu. “Wan moay, hati-hati!” teriak Liem Tou dengan sangat terperanjat.

Si gadis cantik pengangon kambing yang melihat munculnya kembali Thian Pian siauw cu disana sejak semula sudah berjaga jaga akan hal tersebut.

Sejak kecil dia sudah berlatih tenaga dalam, walaupun psda saat ini tidak bisa menandingi diri Thian Pian siauw cu tetapi senjata rahasia yang disambitkan oleh Thian Pian siauw cu itu bertenaga dalam yang cukup dahsyat.

Dengan gesitnya si gadis cantik pengangon kambing menyambut sambitan tersebut, hatinya benar benar merasa teramat gemas.

'Enoi Ie !" terisknva mendadak.

"Cepat kau kasih beberapa batang Kioe Cu Gien Ciam kepadaku sebagai hadiah !”

"Wan moay. sudahlah tidak usah ! biarkanlah dia orang untuk kali ini" cegah Liem Tou dengan cepat

Pada saat itulah burung elang yang ada di samping Thian Pian siauw cu sudah menyambar kebawah dan cengkeraman bajanya itu dengan amat cepat mencengkeram tubuh Thiat Bok thaysu lalu dibawa terbang ke angkasa.

Kedua ekor burung rajawali itu dengan cepat melayang jauh meninggalkan permukaan dan semakin lama semakin menjauh hingga akhirnya lenyap dibalik awan.

Peristiwa yang terjadi digunung Cing shia kini sudah selesai, Liem Tou pun bisa menghembuskan napas panjang. Tionggoan sam Koay, Heng san Jie Yu serta Ciat siauw thaysu sekalian segera pada berdatangan memberi selamat kepada Liem Tou. teiapi Liem Tou yang ada dipuncak gunung dengan termangu-mangu memandang keangkasa. wajahnya sama sekali tak berperasaan.

Semua orang jadi merasa keheranan, Cuma Thiat si sianseng seorang saja yang dengan diam diam menganggukkan kepalanya, tetapi ada kalanya pula gelengkan kepalanya berulang kali.

Lewat seperminum teh kemudian mendadak Liem Tou putar badannya dan berjalan menuju kesisi Lie Loojie yang masih duduk diatas tanah itu dia tetap tak mengucapkan sepatah katapun.

Pertama pertama pemuda itu kerahkan dulu tenaga dalamnya untuk melancarkan jalan darah didalam dadanya setelah dirasanya luka tersebut tak terganggu dengan seriusnya dia mundur tiga langkah kebelakang lalu jatuhkan diri berlutut diatas tanah.

"Supek!" ujarnya dengan nada kesedihan, "Sutit sudah berbuat banyak kesalahan banyak melakukan pembunuban yang sangat berdosa.

Supek! harap kau orang tua suka mengijinkan keponakanmu untuk mengunci telapak tanganku dan bersumpah selamanya tidak bakal melukai siapapun kemudian aku mau berangkat menuju kegunung Heng san guna minta maaf kepada siorang tua berambut putih itu."

Sejak semula Liem Tou sudah merundingkan urusan ini dengan Lie Loojie, tetapi Lie Siauw Ie beserta sigadis cantik pengangon kambing sama sekali tidak tahu kini mendengar perkataan tersebut dalam hati merasa rada diluar dugaan. "Engkoh Liem, apa kau sudah gila ?” teriak sigadis cantik pengangon kambing tidak bertahan lagi.

Liem Tou cuma berlutut saja didepan Lie Loojie tanpa mengucapkan sepatah katapun. dia sama sekali tidak menggubris perkataan dari dara itu,

“Tia ! jangan sekali lagi kau orang tua gubris dirinya." teriak si gadis cantik pengangon kambing lagi kepada diri Lie Loojie. "Seorang lelaki sejati buat apa belajar ilmu silat kalau tidak digunakan untuk berkelahi? apalagi menolong orang yang lemah dan menindas yang kuat adalah satu pekerjaan mulia dan tugas kita sebagai kaum pendekar, dia masih berusia begitu muda bagaimana dapat mengunci telapak tangannya untuk mengundurkan diri dari dunia Kang ouw ? bukankah hal itu sama sekali tidak pantas ?"

Beberapa perkataan ini seketika itu juga membuat Liem Tou jadi merasa semakin menyesal lagi, alisnya dikerutken rapat rapat, tetapi tak sepatah katapun yang diucapkannya keluar.

"Wan jie tutup mulut, kau mengerti soal apa ?" bentak Lie Loojie kepada puterinya.

Si gadis cantik pengangon kambing segera mencibirkan bibirnya.

"Aku tidak mengerti ya, tidak mengerti, sejak jaman dahulu ada siapa yang pernah mengunci tangannya sendiri dengan usia sebesar engkoh Liem? apalagi musuh besarnya sangat banyak. Tidak mengunci tangan saja keadaannya sudah amat berbahaya apalagi setelah dia mengunci tangannya bagaimana kalau musuh musuh tangguhnya pada berdatangan mencari balas?"

Beberapa perkataan yang dikatakan sigadis cantik pengangon kambing ini pun diucapkan keluar karena merasa kuatir terhadap keselamatan dari Liem Tou hal ini membuat Lie Lo jie yang mendengarpun merasa hatinya ikut berdebar debar.

"Sibocah perempuan ini kiranya benar sudah jatuh cinta kepada Liem Tou. ternyata dia pikirkan terus buat keselamatannya” demikian plkirnya dihati.

"Suhu !" terdengar Lie Siauw Ie yang selama ini bungkam pun kini angkat bicara. "aku lihat hati adik Tou pun rada ragu- ragu harap suhu suka pikirkan tiga kali sebelum bertindak.” Lie Loo-jie segera mengangguk, dia termenung berpikir sebentar sedang wajahnya memperlibatkan rasa ragu ragu yang tidak menentu,

Waktu itu Tionggoan Sam Koay. Heng san Jie Yu, Thiat siauw thaysu serta para toosu dari Bu tong pay sudah pada mengerubung datang suasana jadi sunyi senyap mereka semua lagi mendengarkan perkataan dari Lie-Loo jie.

Lama tekali Lie loo jie termenung berpikir keras, mendadak bertanya :

"Liem Tou, apakah kau benar benar sudah mengambil keputusan untuk berbuat begini? perkataan dari Wan-jie tadi sangat beralasan sekali. kau harus pikir masak masak !"

Sejak memukul rubuh siorang tua berambut putih dari gunung Heng san, selama ini Liem Tou merasakan dalam hatinya tidak tenang, kini setelah mendengar perkataan tersebut dia lantas anggukkan kepalanya berulang kali, air mata mulai mengucur keluar dengan amat derssnya. "Keponakanmu Liem Tou mengerti kaiau aku sudah berbuat salah dan selama beberapa hari ini aku selalu merasakan hatiku tidak tenang. Sejak semula supek sudah mengetahui akan urusan ini dan sekarang peristiwa di-atas gunung Cing sia sudah selesai harap supek suka mengabulkan permintaanku ini”

Dengan perlahan dia lantas menoleh ke-arah Lie Siauw Ie serta si gadis cantik pengangon kambing.

"Enci Ie, adik Wan ! Bilamana aku tidak berbuat demikian, tidur maupun makan tak akan tenang !"

Lie Siauw Ie serta si gadis cantik pengangon kambing yang melihat biji mata Liem Tou memperlihatkan rasa cinta dan harapannya yang besar tidak kuasa lagi sudah dibuat tergerak hatinya, mereka berduapun lantas turut meneteskan air mata.

Lie Loo jie yang melihat keadaan dari mereka berdua hatinya rada tergerak mendadak dia menarik bangun diri Liem Tou.

"Sutit ! Urusan ini lebih baik kita undur-kan beberapa saat kemudian, aku masih ada beberapa perkataan yang diucapkan dulu kepadamu," katanya. Liem Tou jadi melengak dibuatnya. mendadak terasalah Lie Loo jie yang lukanya sudah sembuh teiah menarik badannya menjauhi tempat itu lalu membisikkan sesuatu ke telinga sang pemuda.

Orang orang yang berada disebelah sisi cuma bisa melihat air muka Liem Tou sebentar berubah memerah sebentar lagi berubah menjadi pucat, sebentar murung, ada kalanya dia sedikit mengangguk ada kalanya dia gelengkan kepalanya, hanya didalam sekejapan saja dia telah berubah berpuluh puluh kali, akhirnya dia mengangguk dan tundukkan kepalanya.

Semua orang tidak mengerti sebenarnya telah terjadi urusan apa dengan kedua orang itu, dengan mata melotot mereka pada memandang kearah pemuda tersebut.

Cuma Thiat sie sianseng seorang saja yang wajahnya diliputi senyuman, dia memandang diri Lie loo-jie lalu memandang pula Liem Tou.

Setelah itu sepasang matanya dialihkan keatas wajah Lie Siauw Ie serta si gadis cantik pengangon kambing dan mulutnya memuji tiada hentinya.

Si gadis cantik pengangon kambing yang hatinya masih polos sama sekali tak pikirkan urusan ini, dia cuma memandang kearah Lie loo-jie serta Liem Tou tanpa menunjukkan reaksi.

Sebaliknya Lie Siauw Ie yang lebih waspada tak terasa sudah melirik sekejap ke arah Thiat Sie sianseng.

Thiat Sie sianseng yang melihat Lie Siauw Ie lagi memandang kearahnya dia lantas menunjukkan muka setan kepadanya.

Lie Siauw Ie segera merasakan hatinya rada jengkel, dengan gemasnya dia melototi dirinya lalu melengos ke samping.

Thiat Sie sianseng sama sekali tidak jadi tersinggung, matanya kembali dialihkan keatas wajah sang pemuda. Mendadak, senyuman yang menghiasi wajahnya lenyap dengan perlahan lahan, diganti dengan wajah yang serius dan tegang, gumamnya:

'Terang terangan wajahnya bercahaya dan merupakan waktu yang amat baik buat dirinya disegala bidang, kenapa mendadak hawa hitam kembali msnyelimuti wajahnya?'

Waktu itu Lie Loo jie sambil tertawa gembira menggandeng tangan Liem Tou untuk berjalan mendekat, semua orang dengan ributnya lantas menanyakan sudah terjadi urusan apa

. . kenapa mereka harus berbisik bisik?

"Saudara saudara kalian tidak usah bertanya lagi, sampai waktunya kalian bakal tahu dengan sendirinya” seru Lie Loo- jie sambil tertawa.

Sehabis berkata mendadak dia menuding kearah utara dan sambungnya lagi:

“Tetapi aku boleh beritahu kepada saudara-saudara sekalian asal-usul dari Liem Tou ada kemungkinan kalian belum mengetahui jelas, dia adalah putra dari sute-ku si pancingan sakti, tempo hari karena sute menemui kekalahan di tangan Ke Hong sejak itu dia berdiam di perkampungan Ie Hee Cung di gunung Ha Mo san dan jadi guru ilmu sastera disana. karenanya sejak itu dia sudah menjadi pendaduk diperkampungan Ie Hee Cung, tidak disangka tahun yang lalu dia sudah meninggal, sedang Liem Tou pun diusir turun gunung oleh cungcu tiga tahun kemudian pada bulan Tiong Ciu adalah waktu baginya untuk kembali ke perkampungan, sampai waktunya bagaimana kalau kita memberi selamat kepadanya dengan secawan arak ?*.

Semua orang pada berteriak setuju dan berdatangan untuk memberi selamat kepada Liem Tou.

Diantara mereka cuma Thiat sie sianseng seorang saja yang tertawa terbahak bahak.

"Haaa haaa hey si cangkul pualam Lie Sang, kau tak usah

banyak jual mshal, sie poa rongsokan ini sudah bisa tahu apa yang sedang kau pikirkan pada saat ini, tetapi aku rasa urusan ini tidak bakal dapat selancar yang kau duga, sampai waktunya pasti akan terjadi sesuatu . .”

"Thiat Sie, aku selamanya paling percaya kepadamu, sebenarnya akan terjadi urusan apa ?" tanyanya dengnn keras.

Thiat sie sianseng cuma menjulurkan lidahnya dan gelengkan kepalanya berulang kali.

'Nasib . nasib ! Rahasia langit tak boleh dibocorkan, tetapi aku setuju bila Liem Tou mengunci tangannya pada saat ini untuk menebus dosanya, walaupun didepan mata akan terjadi satu peristiwa seru tetapi cuma agak terkejut tanpa gangguan sedikit apapun.'

Selesai berkata mendadak dia menoleh kearah Liem Tou dan teriaknya kembali dengan suara yang keras :

"Liem Tou, kau jangan takut ! Orang budiman tentu akan dilindungi oleh Thian, asal hati lurus segalanya pasti akan berhasil. Baiklah ! Biar besok saja ikut minum arak kegiranganmu. Sekarang kita mohon diri lebih dahulu !”

Selama ini Liem Tou selalu memandang Thiat sie sianseng seperti dewa dan selama ini pula Thiat sie siangseng sebagai seorang cianpwee yang benar benar membekas dihatinya.

Setelah mendengar perkataannya tadi dia mengangguk berulang kali.

Kini mendengar dia orang hendak pergi dia segera merasakan hatinya rada menyesal tidak kuasa lagi dua titik air mata segera mengucur keluar dengan amat derasnya. “Tunggu dulu!” teriaknya mendadak.

Dengan cepat dia maju beberapa langkah kaki ke depan dan berlutut di hadapan Thiat Sie sianseng.

“Budi yang cianpwee berikan kepada Liem Tou benar-benar membuat aku merasa berterima kasih sekali, kini boanpwee belum punya suhu, mohon kau orang tua suka menerima diriku sebagai muridmu!” Tidak kuasa lagi air mata bercucuran dengan derasnya, tetapi dengan kejadian inilah seketika itu juga dapat membuat semua orang yang ada di kalangan jadi melengak dibuatnya.

Lie loojie serta Thiat Sie sianseng sendiripun sama sekali tidak menyangka kalau pemuda tersebut telah bertindak demikian.

Seketika itu juga suasana didalam kalangan jadi sunyi tak kedengaran sedikit suara pun, berpuluh puluh pasang mata dengan tajamnya mempersilahkan diri Liem Tou.

Sedang Liem Tou sendiri dengan tiada hentinya menjalankan penghormatan besar.

Setelah termenung beberapa saat lamanya Lie Loojie-lah yang pertama-tama terbahak-bahak.

"Liem Tou kalau memangnya betul betul berhasrat untuk angkat kau sebagi gurunya, Thiat Sie! kau terimalah sudah ! bukankah dengan demikian kita bakal jadi satu keluarga!”

Selama ini sie-phoa dari Thiat Sie sianseng amatlah cocok dan liehay, tetapi walaupun sudah dipukul pulang pergi amat lama tidak berhasil juga untuk memperoleh jawaban.

Setelah berdiri tertegun beberapa saat lamanya mendadak diapun tertawa terbahak-bahak,

"Haaaa . , . haaaa . . . muridku kau bangunlah !"

Liem Tou yang mendengar dia orang sudah menyetujui hatinya jadi amat girang sekali, dengan cepat diapun memberi hormat kepada siucay buntung serta sipengemis pemabok setelah itu baru berjalan dengan perlahan menuju ke puncak, berlutut dan memberi hormat ke atas langit.

"Liem Tou sejak ini mengunci tanganku. kalau tidak mati tidak akan aku gunakan !" ujarnya kepada semua orang dengan suara yang amat nyaring.

Begitu perkataan tersebut diucapkan keluar mendadak Thiat Sie sianseng berteriak keras. "Muridku sumpahmu ini terlalu berat !” sembari berkata air matanya mulai mengucur keluar dengan amat derasnya.

Melihat kejadian tersebut, semua orarg jadi keheranan dibuatnya, pada saat itulah dengan secara mendadak dari sisi puncak berkelebat datang berpuluh-puluh sosok manusia.

“Liem Tou aku mau lihat kau orang hendak lari kemana lagi" bentaknya dengan keras.

Diikuti munculnya berpuiuh puluh orang dari golongan Kiem Tien Pay yang pada mengerumun datang. Dengan dipimpin oleh "Auw-Hay Ong". Ciang Cau serta Auw Hay Ong Bo mereka bersama sama mengerubut datang.

Dua orang empat bilah telapak tangan bersama-sama melancarkan serangan dahsyat menghajar Liem Tou yang ada diatas puncak.

Dengan cepat Liem Tou meloncat menyingkir dari tekanan hawa pukulan tersebut, teriaknya :

"Ciang loocianpwee dan Auw Hay Tie Ong, kedatanganmu sudah terlambat, maaf aku Liem Tou tak dapat melayani dirimu lagi karena aku sudah mengunci tanganku dihadapan umum !"

"Liem Tou aku tidak akan perduli kau sudah mengunci tangan atau tidak, ini hari aku harus lenyapkan kemangkelan hatiku” seru Ciang Cau sambil membentak dengan suara yang keras.

Sembari berkata telapak tangannya membalik melancarkan satu pukulan dahsyat yang memekikkan telinga sedang Auw Hay Ong Bo melancarkan satu pukulan menghantam dari sisi Liem Tou.

Sekali lagi Liem Tou meloncat mundur sejauh dua kaki lebih.

Saat itulah mendadak terdengar si pengemis pemabok sudah memhentak keras.

“Loo ciang, kenapa kau begitu tidak tahu diri ? Liem Tou sudah mengunci tangannya di hadapan umum seharusnya boleh dikata dia sudah mengundurkan diri dari dunia Kang ouw tetapi kenapa kau masih juga mau pukul dirinya? sekalipun kau Loo ciang berhasil memukul mati Liem Tou apa kau kira wajahmu masih bersinar ?"

Sembari berkata bersama-sama dengan si-pengemis pemabok si siucay buntung serta Thiat sie sianseng bergerak maju kedepan.

“Liem Tou sudah mengunci tangannya dihadapan umum dan kita semua adalah saksinya" sahut si pengemis pemabok. "Siapa saja yang berani melancarkan serangan dengan menggunakan kesempatan sewaktu dia lagi mengunci tangannya kami akan turun tangan membantu dirinya."

Kiem Thien Ong, Ciang Cau yang melihat secara mendadak Tionggoan Sam Koay munculkan dirinya walaupun mengetahui kalau kepandaian silat mereka sangat tinggi dan tidak dapat diganggu geraknya tapi bagaimana mungkin mereka merasa takut kepadanya?

Mendengar perkataan tersebut dia lalu mendengus berat, baru saja hendak menjawab tampaklah Ciat Siauw thaysu telah munculkan dirinya.

"Walaupun pinceng tolol. tapi selamanya tak pernah bicara bohong," ujarnya sambil merangkap tangannya memberi hormat. " Liem-Tou kini sudah benar benar tutup tangannya, bilamana Ciang sicu punya ganjalan sakit hati apa apa janganlah turun tangan pada saat ini, harap kau orang suka memegang peraturan Bu lim dan bersabar untuk sementara !" “Ciang sicu kalau bisa berbuat demikian maka rejeki bakal banyak diterima olehmu”

Siauw lim pay merupakan suatu partai dari golongan lurus yang angkat nama bersama-sama dengan Bu-tong-pay, walau pun pada saat ini namanya tidak begitu cemerlang tetapi sebagai ciangbunjien dari Siauw Lim pay dengan kedudukannya yang amat tinggi tidak bisa dipandang begitu saja. Ditambah lagi hubungan persahabatan antara Siauw Lim pay, Bu tong pay serta Heng san pay sangat erat sekali, bilamana mengharuskan satu memusuhi tiga partai peristiwa ini bukanlah satu persoalan yang mudah untuk diselesaikan.

Auw Hay Ong Bo yang melihat Ciat Siauw Thaysu pun mengajukan diri untuk membela Liem Tou segera merasakan urusan tidaklah semudah apa yang dipikirkan, tidak terasa dia mulai termenung berpikir keras sepasang matanya dibentangkan lebar memperhatikan diri Tionggoan Sam-koay serta Ciat Siauw thaysu empat orang, dalam hati mulai mengambil suatu keputusan.

Kebanyakan urusan akan hancur di tangan perempuan, Auw Hay Ong Bo yang melihat suaminya tidak mengambil tindakan apa apa bahkan hatirya mulai merasa ragu ragu mendadak menghantam toyanya kearah depan dengan sekuat tenaga, teriaknya:

"Eeeeei, dimanakah kegagahanmu tempo hari?”

Tidak perduli segala-galanya lagi, toyanya segera dihantamkan kedepan mengancam Tionggoan Sam Koay serta Ciat siauw thaysu empat orang.

“Yang kami cari adalah Liem Tou. Siapa yang suruh kalian banyak ikut campur dalam urusan ini?” makinya dengan gusar. “Cepat mundurkan diri kebelakang, kalau tidak Loo-nio akan segera hancurkan kalian semua."

Tionggoan Sam Koay, serta Ciat siauw thaysu yang berada dalam keadaan tidak siap sedia mendadak diserang secara serabutan dalam hati jadi terperanjat dengan cepat mereka mengundurkan diri tiga langkah ke belakang dan berdiri tertegun.

“Haa, siapa yang suka menghalangi perbuatanmu ?” seru Thiat sie sianseng secara tiba tiba. 'Terus terang saja aku memberitahukan kepada kalian; Liem Tou adalah anak muridku, siapa saja yang berani mengganggu barang seujung rambutnya pun, aku lihat kalian dari pihak Kiem Tien Pay apakah masih bisa banyak bacot lagi !'

Auw Hay Ong Bo sudah angkat toyanya keatas, baru saja perkataan Thiat Sie sianseng selesai diucapkan toyanya segera dihantamkan kedepan, bersamaan pula tangan kirinya tanpa membuang waktu sudah melancarkan ilmu jari "Yen Yie Toan Hun Ci' untuk menghajar tubuh Thiat Sie sian seng.

Thiat Sie sianseng sudah lama berkelana didalam dunia kang ouw. pengetahuannyapun amat luas, bagaimana mungkin tidak mengetahui kelihayan dari ilmu tunggal Kiem Tien Pay ini, tubuhnya segera miring kesamping untuk menghindar.

Tetapi baru saja dia berhasil meloloskan diri dari sambaran toya tersebut totokan jari mendadak datang.

Sie poa ditangannya bagaikan kilat cepatnya disilangkannya didepan dada 'Tak" dengan menimbulkan suara yang amat nyaring totckan jari tangan itu sudah terhajar diatas sie poa tersebut sehingga terasalah segulung tenaga tekanan mendorong tubuhnya kebelakang.

Tubuhnya segera tergetar amat keras, dengan cepat dia meloncat kesemping untuk menghindarkan diri. sedang dalam hati diam diam pikirnya.

"Nenek gila ini sungguh lihay sekali !”

Auw Hay Ong Bo sama sekali tidak mau menggubris keadaan dihadapan matanya dia tetap mengejar kearah Thiat Sie sianseng.

Siucay buntung serta sipengemis pemabok yang ada disamping mana suka melepaskan dia dengan begitu saja, kipas serta toya Tah Kauw Pangnya dengan cepat dihadangkan ke depan.

'Ong Bo kau jangan marah dulu; apakah urusan ini tak dapat dirundingkan kembali?'

'Siapa yang suka berunding dengan kalian?' teriak Auw Hay Ong Bo sambil melototkan matanya lebar lebar, “Puteriku menemui ajalnya ditangan Liem Tou, apa kalian kira setelah dia mengunci tangannya lalu urusan bisa dibereskan dengan begitu saja ? Hmm! Urusan didalam dunia ini tiada yang bisa diselesaikan dengan begitu mudahnya !”

Toya berkepala naganya ssgera diangkat siap siap dihantamkan kembali kedepan.

Loojie dari Heng San Jie Yu yang sifatnya paling berangasan, sejak semula sudah merasa tidak puas atas tindakan Auw Hay Ong Bo yang sama sekali tidak pakai aturan itu, tidak kuasa lagi mendadak teriaknya keras:

“Saudara saudara dari Bu tong pay, ayoh serbu ! ini hari kita harus membasmi habis para bajingan dari partai Kiem Tien pay yang tidak pakai aturan dan merupakan manusia-manusia kasar ini mari kita hancurkan mereka dan lihat apakah mereka bisa melakukan perbuatan jahat lagi.”

Setelah mendengar suara teriakan tersebut, maka seluruh kalangan jadi gempar, para toosu dari Bu tong pay benar- benar mendengar perkataan dan mulai menyebar membentuk barisan Ngo heng Pek Lo tin dan mengurung rapat-rapat kesepuluh orang dari partai Kiem Tien Pay.

Orang dari pihak Kiem Ten Pay sendiri pun sama sekali tidak menyangka kalau orang yang ditemuinya di puncak pertama gunung Cing shia semuanya pada membela Liem Tou bahkan situasi berubah dengan demikian cepatnya ditambah pula beberapa orang pentolannya bukan lain adalah jago-jago berkepandaian tinggi yang sudah terkenal didalam dunia kangouw, bilamana sungguh-sungguh bertempur ada kemungkinan mereka bakal mendapat kerugian yang amat besar.

Orang-orang dari golongan Kiem Tien Pay dengan rasa amat terperanjat dan rasa tegang pada memandang kearah tengah kalangan, sedang Auw Hay Ong Bo sendiri pun mengetahui keadaan yang dihadapinya saat ini sangat tidak menguntungkan dirinya. Demi keselamatan dari orang-orangnya bagai ayam jago yang kalah bertanding dengan lemasnya dia turunkan kembali tongkatnya kebawah, sepasang matanya dengan tidak hentinya memperlihatkan keadaan disekeliling tempat itu.

Kiem Tien Auw Hay Ong, itu Ciang Cau pun jadi rada kebingungan menghadapi situasi seperti ini, saat inilah terlihat olehnya Lie-Loo jie dengan diapit oleh Lie Siauw Ie serta sigadis cantik pengangon kambing sudah maju kedepan sambil tertawa gembira.

"Loo Ciang, aku lihat didalam urusan ini lebih baik sudahlah” katanya. "Bilamana pada mulanya puteri kesayanganmu itu tidak terlalu memaksa Liem Tou dia pun tidak sampai membinasakan puterimu, apalagi Liem Tou pun tidak terlalu jelek hubungannya dengan kau orang serta partay Kiem Tien Pay, coba kau pikirlah. sewaktu pertempuran si luar kota Tang Yang tempo hari apakah Liem Tou melukai orang orangmu ? waktu itu aku bisa melihat seluruh kejadian itu dengan amat jelas sekali.'

Berbicara sampai disini mendadak dia berhenti dan tidak dilanjutkan kembali.

Auw Hay Ong Ciang Cau, merasa pikirannya menjadi sedikit terang, dia tahu kepandaian silat yang dimilikinya amat jauh berbeda dengan kepandaian silat yang dimiliki Liem Tou. wajahnya tidak terasa menjadi panas, lama sekali dia tidak mengucapkan sepatah katapun.

"Tia, dimana engkoh Liem ?" tiba tiba terdengar si gadis cantik pengangon kambing menyela.

Beberapa perkataan itu segera dapat didengar oleh Auw Hay Ong suami isteri serta Tionggoan Sam Koay. mereka bersama sama menoleh kebelakang. Tetapi bayangan tubuh dari Liem Tou sudah lenyap tak berbekas. entah sejak kapan dia telah meninggalksn tempat itu.

Semua orang tanpa terasa lagi pada saling berpandangan tanpa mengucapkan sepatah katapun, diam diam mereka merasa amat menyesal.

Tetapi pada saat itu pula terdengarlah dari kejauhan berkumandang datang suara dengusan kerbau.

'Aaah, kerbau dari engkoh Liem !" teriak sigadis cantik pengangon kambing lagi tak terasa,

Hanya didalaam sekejap saja Liem Tou dengan menunggang diatas kerbaunya sudah munculkan dirinya diatas puncak kedua gunung Cing Shia. dari tempat kejauhan dia menggoyang goyangkan tangannya. Kepada Thiat Sie sianseng Lie Loo jie, Lie Siauw Ie serta sigadis cantik pengangon kambing,

"Harap kalian suka jaga diri baik-baik, aku pergi dulu." terdengar suara dari Liem Tou berkumandang datang, Diikuti suara dengusan kerbaunya yang amat keras. hanya didalam sekejap saja dia sudah lenyap tak berbekas,

Gunung Heng-san bernama Lam Gak letaknya disebelah barat Siang Kang yang berhubungan dengan bagian tengah dari Auw Lam- Ketujuh puluh dua puncaknya berdiri dengan gagahnya memanjang dari kota Tiang Sah hingga ke kota Heng Yang.

Pemandangan diatas gunung Heng san amat terkenal dan sebagai tempat pemandangan ketiga ysng paling indah diatasnya ada air terjun Pek Liong Than yang memancarkan airnya dengan amat deras, disamping itu terdapat pula tempat terkenal seperti Hok Yen Si, Hauw Pauw Sian, perpustakaan Jip Hauw Su Yuan. Mo Cing Thay, Pan San Ting, kuil Sian Tok Koan, tebing Si Ci Yen, pintu Lam Thian Boen dan tempat tempat lain yang indah.

Kesemuanya ini hanya pancak Coe Yong-Hong yang paling curam dan berbahaya, bilamana berdiri diatas puncak tersebut maka seluruh pemandangan disekeliling tempat itu bisa kelihatan dengan amat jelas.

Gunung Heng san penuh diliputi oleh hutan belantara yang amat lebat disamping tebing-tebing yang curam dengan batu- batu cadas yang tajam, diatas puncak yang penuh di liputi dengan rumput putih dengan batu cadas yang tajam tampaklah sesosok bayangan manusia berjalan kedepan dengan langkah perlahan disusul dengan seekor kerbau yang amat kuat, orang itu sudah tentu Liem Tou adanya.

Sejak Liem Tou meninggalkan gunung Cing shia dan keluar dari daerah Chuan Tiong masuk Siang Hoay, selama didalam perjalanan tidak pernah membuang waktu lagi, dia terus melanjutkan perjalanannya ke gunung Heng san.

Dia sudah ada sstu bulan lamanva berada diaras gunung Heng san dan mrnjajaki kurang lebih dua ratus lie jauhnya di sekeliling gunung tersebut tetapi bayangan dari orang tua berambut putih itu msih tidak ketemu.

Selama sebulan ini dia merasa badannya sudah amat lelah, untung saja diatas gunung Heng san itu banyak terdapat kuil kuil apalagi ada pula kerbaunya yang bisa ditunggangi, kalau tidak ada kemungkinan walaupun dia memiliki kepandaian silat yang amat tinggi juga tidak bakal kuat untuk menahannya.

Saat ini dibawah sorotan sinar rembulan yang remang dia berjalan mengikuti tebing tebing yang curam. setapak demi setapak dia maju terus kedepan sedang dalam hati tiada hentinya menghibur dirinya:

"Luas gunung Heng-sa tidak lebih Cuma dua ratus lie saja kecuali dia tidak punya maksud untuk bertemu muka dengan diriku, kalau tidak aku pasti bisa menemukan dirinya.” Sembari berpikir dia maju terus kearah depan.

Tetapi dia sama sekali tidak tahu kalau di belakang tubuhnya pada sat ini sudah mengikuti terus dua ekor gorilla yang amat besar sekali seperti manusia. Kelihatannnya kedua ekor gorilla itu sangat cantik sekali, gerak-geriknya amat lincah dan membuntuti sang pemuda itu dengan amat berhati- hati. Karena itulah selama ini Liem Tou sama sekali tidak merasakan akan bahaya tersebut, dia melanjutkan perjalanannya kedepan.

Sedangkan kedua ekor gorilla itupun agaknya tidak bermaksud untuk mencelakai diri Liem Tou tetapi mereka mengikuti terus tiada hentinya.

Liem Tou yang pikirannya cuma mengetahui untuk mendapatkan kakek berambut putih diatas gunung Heng san sama sekali tidak pernah memikirkan akan hal ini, walaupun kini Liem Tou sudah mengunci tangannya tetapi terhadap binatang yang biasa dia masih bisa menghadapinya.

Setelah berjalan kembali beberapa saat lamanya mendadak dihadapannya muncul sebuah lembah yang tidak begitu dalam, didalam lembah itu tumbuhlah berbigai bunga serta dedaunan yang segar dan indah.

Walaupun saat ini Liem Tou masih agak jauh dari lembah tersebut tetapi bau harum bunga sudah terasa amat menusuk hidung membuat semangatnya jadi berkobar kembali, sambil memandang kelembah itu dengan terpesona dalam hati dia menghela napas tiada hentinya

“Aaah. lembah ini sungguh indah sekali laksana di sorga, aku Liem Tou bilamana bisa berada disini sekalipun mati juga tak akan menyesal."

Tidak terasa lagi dia sudah berdiri termangu-mangu memandang lembah tersebut dengan terpesona, sedang sang kerbau sewaktu dilihatnya didalam lembah itu tersebar rerumputan demikian segarnya tak terasa mulai mendegus perlahan.

Sewaktu Liem Tou lagi memandaag ke arah lembah dengan terpesona itulah mendadak tampak serentetan sinar keperak perakan ber kelebat keluar dari dalam lembah disusul sebuah benda yang amat panjang menerjang datang. Liem Tou jadi sangat terperanjat, dia tahu benda itu pastilah seekor ular yang berwarna keperak perakan dan sangat berbisa tidak terasa lagi seluruh perhatiannya ssgera di pusatkan menjaga terjadinya sesuatu.

'Gien jie, jangan pergi!” secara samar samar terdengar suara yang amat merdu berkumandang datang.

Ular itu baru saja meluncur separuh jalan mendadak putar kepala dan laksana kilat yang menyambar berkelebat kembali ketempat semula,

Saat itulah Liem Tou baru tahu kalau didalam lembah tersebut bukan saja ada penghuninya bahkan memelihara juga seekor ular besar yang berwarna keperak perakan.

Tidak terasa Liem Ton semakin dibuat tertegun lagi oleh kejadian tersebut.

Pada saat Liem Tou lagi berdiri termangu mangu itulah mendadak dari belakang tubuhnya berkumandang datang suara seorang perempuan yang lagi membentak nyaring, “Lelaki liar dari mana yang sudah datang kemari ? berani mencari gara gara kedalam lembah mati hidup ini?”

Sewaktu Liem Tou dapat mendengar didalam lembah gunung laksana sorga ini ternyata ada seorang gadis bahkan nama lembah itupun belum pernah terdengar dia jadi termangu-mangu.

Dengan cepat dia menoleh kebelakang dan disekelilingnya tetapi tak tampak sesosok bayangan manusiapun tidak kuasa lagi dia sudah bergumam seorang diri:

"Apanah aku benar benar sudah menemui setan?”

“Siapa yang setan? kau baru benar-benar setan!” teriak orang itu lagi dari belakang tubuhnya

Dari nada suaranya yang polos dan lucu jelas menunjukkan kalau orang itu adalah seorang bocah perempuan yang masih muda. Liem Tou merasa semakin terperanjat lagi, pikirnya: "Jika didengar dari nada suaranya sudah jelas dia seorang bocah perempuan yang masih kekanak kanakan, tetapi bagaimana bisa memperoleh kepandaian silat yang begitu lihai? kenapa sampai bayangan tubuhnya pun sama sekali tidak kelihatan?”

Pikirannya dengan cepat berputar, dengan cepat dia menoleh kebelakang.

Tetapi kembali terdengar suara cekikikan sedang bayangannya lenyap kembali tak berbekas.

Tidak terasa hatinya merasa rada kheki juga, bentaknya: “Kalau memangnya kau bukan orang setan kenapa tidak suka unjukkan diri untuk bertemu?”

"Hii-.. hii.. hii. .. kau sendiri yang tak dapat melihat diriku, sekarang harus mau salahkan siapa lagi ?" sahut orang itu sambil tertawa cekikikan.

Mendadak terasa bayangan hijau berkelebat mendatangi dihadapannya sudah berdiri seorang gadis berbaju hijau yang baru berusia enam tujuh belas tahunan. wajah gadis itu amat cantik dan menawan hati. dengan sikap setengah tertawa setengah tidak terutama sepasang matanya yang bulat besar memandang kearah Liem Tou tak berkedip, Tidak terasa lagi Liem Tou merasa hatinya rada tergetar, pikirnya :