Raja Silat Jilid 32

 
Jilid 32

Kedua orang dara itu lantas menyahut dan maju kedepan.

Liem Tou lantas memberi pesan beberapa patah kata kepadanya akhirnya si gadis cantik pengangon kambing mengundurkan diri ke samping ayahnya untuk melindungi keselamatan dari Lie Loo jie sedangkan Lie Siauw Ie bertindak sebagat saksi.

Lie Siauw Ie serta si gadis cantik pengangon kambing yang mendengar Tbian Pian siauw cu hendak menggunakan cara ini untuk bertanding dalam hati merasa amat kuatir sekali buat diri Liem Tou, air muka mereka berubah semakin tegang. pertandingan yang berada diluar ilmnu silat ini siapa pun tiada yang merasa punya pegangan untuk memenangkannya. Padahal Thian Pian Siauw cu sendiripun tidak punya pegangan yang kuat untuk menangkan pertandingan ini, cuma saja dia yang mengerti babak kedua pasti akan menemui kekalahan lantas memikirkan sstu cara, yang unik bersamaan pula diapun sudah menang satu kali sekalipun babak ini menemui kekalahan di tangan Liem Tou dia masih punya satu kesempatan terakhir untuk menangkan Liem Tou, karenanya dia tidak merasa begitu tegang seperti diri Liem Tou.

Tangannya segera digape, mendadak dari sisi puncak meloncat keluar seorang bocab cilik berbaju putih yang meloncat ke samping Liem Tou dan Siauw Ie. Bocah cilik ini juga bertindak pula sebagai saksi.

Lie Loo jie sendiripun merasa keringat dingin mulai mengucur keluar membasahi seluruh tubuhnya. Walaupun dia terluka tetapi dengan paksakan diri berdiri juga untuk menonton pertandingan itu.

Pertandingan dimulai dengan Thian Pian siauw cu yang menyambit semua orang melihat dia mencocokkan tempat serta tenaganya dahulu kemudian dengan menimbulkan desiran yang amat keras batunya dengan sangat tepat sekali melayang sejauh dua ratus tindak.

Dia merasa amat puas sekali dengan hasil yang didapatkan ini, dengan pandangan mengejek dia memperhatikan diri Liem Tou lalu tertawa dengan kerasnya.

Haaa . . . haaa . . . sekarang giliranmu serunya

Dengan termangu mangu Liem Tou memandang batu sebesar kepalan yang ada ditangannya dia merasa tidak punya pegangan untuk menangkan diri Thian Pian siauw cu, tetapi lemparan ini akan menentukan nasib selanjutnya.

Liem Tou benar benar merasa amat tegang keningnya sudah penuh dibasahi oleh peluh yang menetes keluar dengan amat derasnya, sewaktu dia hendak melemparkan batunya itulah tiba tiba . . . .

' Tahan!" terdengar Lie Loo jie membentak keras. Setelah itu dengan langkah yang sempoyongan dia berjalan mendekati diri Lem Tou.

"Sutit, hatimu merasa tegang pikiran tidak tenang. bagaimana bisa lemrar jauh batu ini ?" tegurnya. "Ingat ! menyambit batu adalah menggantungkan tenaga dari jari, pergelangan tangan, pinggang serta kaki lalu bersama sama mendorong ke depan, kalau tidak begitu kau bakal kalah, oleh karena itu pikiran barus tenang hati harus mantap sehingga dengan demikian baru bisa menangkan pertandingan babak ini."

Karena lukanya belum sembuh dan sekarang dia harus banyak berbicara napas dari Lie Loo jie jadi tersengal sengal, dengan perlaban dia mengundurkan diri dua langkah ke belakang. "Ingat! Pantangan yang penting hati tak boleh tegang !" peringatnya.

Agaknya Thian Pian siauw cu sudah merasa tidak sabaran lagi, dia segera lertawa dingin tiada hentinya.

"Lie Sang, kedahsyatan tenaga dalam Liem Tou apa perlu kau ajari lagi ?" ejeknya.

"Ke Hong, kau bangsat berhati licik apa ini yang disebut pertandingan tenaga pukulan?" Balas ejek Lie Loo jie sambil tertawa dingin. "Bilamana sungguh sungguh mengadu tenaga pukulan, cukup satu setengah jurus saja sudah lebih dari cukup untuk mencabut nyawamu"

Thian Pian Siauw cu tidak suka beribut lagi dengan Lie Loo jie. dia segera menoleh dan memandang ke arah Liem Tou yang siap siap hendak menyambitkan batunya.

Liem Tou ternyata menurut saja apa yang sudah dinasehatkan oleh Lie Loo jie pikiran nya segera dipusatkan hawa murninya disalurkan ke seluruh badan lalu dikerahkan ke arah jari tangan kanannya serta pergelangan tangannya.

Seluruh jalan darah maupun urat urat nadi penghalang tubuhnya sudah berhasil ditembusi, sudah tentu hawa murninya dengan amat lancar sakali berhasil disalurkan ke arah pinggang serta kakinya.

Setelah pikirannya berhasil ditenangkan, hawa murninya disalurkan keseluruh tubuh kemantapan hatinya semakin bertambah, rasa tegang yang semula meliputi hatinyapun jadi lenyap tak berbekas Mendadak „. . . !

"Enci Ie, lihat baik baik 1" teriaknya keras.

Tubuhnya maju dua langkah ke depan pinggangnya sedikit ditekuk tangannya diayunkan ke depan.

Sreeet . . . dengan disertai suara desiran yang amat tajam batu itu bagaikan berkelebatnya sinar kilat dengan cepatnya meluncur ke depan.

Hanya dalam sekejap saja batu itu sudah melampaui batas dari Thian Pian siauw cu dan jatuh beberapa puluh kali di depannya.

Lie Siauw Ie yang melihat kejadian ini saking girangnya lalu berteriak teriak:

Akh . . . adik Tou kau menang . „ . . kau menang teriaknya keras.

Semangat Lie Loo jien pun berkobar kemboali, karena hatinya lega badanpun tak kuasa lagi jatuh terduduk kembali ke atas tanah

Liem Tou sendirpun segera menghembuskan napas panjang, keringat yang membasahi keningnya setetes demi setetes meluncur keluar hagaikan curahan hujan. membuat seluruh pakaiannya jadi basah kuyup.

Dengan kemenangan ini ketegangan yang mencekam seluruh hati Liem Tou pun jadi buyar dia lalu menoleh memandang kearah Thian Pian siauw cu yang lagi berdiri termangu manggu.

Wajahnya kelihatan amat kesal, kini tinggal satu babak saja. bila dia menang masih tidak mengapa, bila kalah . . .

Untuk pertama kalinya pada ujung bibir Liem Tou tersungging satu senyuman.

Ke siauw cu sekarang menang kalah sudah seimbang, dan kini aku ingin menjajal barisan burung terkutukmu itu ujarnya sambil tertawa.

Heee .... heee baik kau jangan memandang rendah burung

burung eangku. me reka bisa menghancurkao selurub tubuhmu hingga koyak koyak Teriak Thian Pian siauw cu sambil tertawa dingin.

Saat ini semangat dari Liem Ton sudah berkobar kobar mendengar perkataan itu dia lantas tertawa terbahak bahak dengan amat nyaringnya. Haaa . . . haaa . . . Ke siauw cu. aku lihat binatang binatang berbulu itu semuanya panya sifat ganas dan buas, aku mau tinggali seekor saja untuk kau bawa pulang.

Mendadak pikiran licik kembali berkelebat di dalam benak Thian Pian Siauw cu denggan meminjam kesempatan inilah dia kepingin mencari kemenangan di dalam babak yang terakhir ini.

Bagus sekali, kita putuskan demikian saja, bentaknya dengan suara yang keras. Bilamana kawanan burung elang itu kau basmi sehingga ketinggalan seekor saja maka angaap saja aku yang kalah sejak ini hari Thian Piaa siauw cu tidak bakal muncul kembali di dalam Bu lim, bilamaaa masih ada seekor saja yang berhasil terbang di angkasa maka kaulah yang bakal kalah.

Begitu perkataan tersebut diucapkan keluar. Lie Loo jie. Lie Siauw Ie maupun si gadis cantik pengangon kambing jadi merasa terkejut.

Burung elang adalah jago dari ratusan burung, merekapun bisa terbang bagaikan kilat cepatnya di angkasa, sekalipun kepandaian silat dari Liem Tou sangat tinggi jangan harap bisa basmi kawanan burung itu hingga musnah, kecuali dia bisa terbang pula.

Lie Loo jie tahu bilamana Liem Tou dengan tanpa berpikir menerima juga tantangan ini, maka hal ini sama saja dengan bunuh diri.

Tanpa banyak pikir lagi dia lalu meloncat kedepan, bentaknya, "Ke Hong ! Kau manusia tidak tahu main, hmmm ! Mukamu suegguh tebal sekali sehingga perkataan seperti inipun bisa kau ucapkan keluar, bilamana Liem Tou adalab seorang malaikat yang bisa terbang di atas la-git dia pun tak akan bertanding kepandaiaa dengan kau keledai tua yang bermuka tebal"

Thian Pian siauw cu yang melihat Lie Loo jie kembali mau ikut- ikutan, dalam hati merasa amat gusar.

"Lie Sang, aku bukannya lagi bertanding dengan dirimu buat apa kau banyak bicara" bentaknya dengan keras.

"Janji diantara kita belum diselesaikan apakah kau ingin diselesaikan sekarang juga? bilamana kau memang punya nyali ayoh sekarang juga kita mulai".

Perkataan dari Thian Pian siauw cu ini sungguh licik sekali. terang terangan dia tahu luka Lie Loe jie masih belum sembuh dan tak dapat bertanding tapi dia sengaja memanasi hatinya. Lie Loo jie mana bisa kuat menahan bakaran hatinya. dia lantas kebutkan ujung jubahnya ke depan dan membentak keras.

"Baik, K.e Hong! terimalah seransanku ini Sepasang tangannya di pentangkan lebar lebar dengan menggunakan jurus "Shia Yang Lok Ing.' atau jalan bengkok menjatuhkan elang menubruk kearah Thian Pian siauw cu.

Tbian Pian Siauwcu yang melihat datang nya serangan itu segera tenawa dingin, tubuhnya merendah ke bawah sepasang telapaknya diangkat siap siap melancarkan satu pukulan mematikan.

Liem Tou yarg melihat Lie Loojie tanpa memikirkan nyawanya sendiri sudah menubruk ke depan hatinya jadi anat terkejut. 'Supek! jangan . .. bentaknya keras.

Tubuhnya dengan menubruk ke depan, tangannya den«gn amat tepat sekali merangkul pinggang Lie Loojie lalu bersalto di tengah udara dan kembali ke tempat semula.

Supek luka dalammu belum sembuh saat ini tak leluasa untuk oergerak dengan orang ujarnya kepada Lie Loojie.

Walaupun Thian Pian Siauwcu berhati kejam tetapi sutit percaya masih bisa menangkap dirinya, harap supek sudah menonton saja di samping.

Lie Loojie masih tak mau tahu, air muka nya sudah berobah jadi hijau membesi.

Aku benar benar merasa tak tahan melihat kelicikan dari Ke Hong bangsat tua itu bagaimana mangkin kau bisa membasmi burungnya yang begitu banyak apalagi ada di tengah udara ?. Supek soal ini sutitmu sudah punya perhitungan sendiri aku pasti tidak akan meninggalkan barang seekor burungpun yang bisa dibawa pulang, aku percaya bila menghadapi mereka, mungkin sekarang supek masih tidak percaya coba nanti lihatlah sendiri.

Walaupun dalam hati Lie Lo jie masih me rasa ragu ragu tetapi mau tidak mau terpaksa dia harus mengangguk juga dan duduk kem bali ke atas tanah.

si gadis cantik pengangon kambing dengan cepat bantu dia kembali untuk melancarkan jalan darahnya.

Setelah itu Liem Tou baru putar badannya dan berkata kepaia Thian Pian Siauwcu dengan suara nyaring.

"Ke Siauwcu, menang kalah harus ditentukan oleh babak ketiga ini sekarang kau boleh kerahkan seluruh tenagamu!". Dalam hati diam diam Thian Pian siauw cu merasa amat girang sekali melihat siasatnya termakan oleh pemuda itu. Mendadak dia angkat tangan kanannya ke atas kemudian disusul suara pekikan burung rajawali yang amat keras.

Tampak dua orang bocah cilik satu putih satu merah dengan masing masing membawa sebuah panji kecil berlari mendatang.

Yang lelaki membawa panji hitam sedang yang perempuan membawa panji kuning masing masing berdiri disebelah Timur serta sebelah Barat dari puncak pertama itu.

Liem Tou yang takut kawanan burung elang itu melukai orang orang yang menonton di samping apalagi terhadap diri Lie Loo jie, dia lantas berseru memberi peringatan:

"Saudara saudara Too yu dari Bu tong pay sekarang harap berhati hati! binatang buas dari Ke siauw cu sudah mendapatkan latihan yang keras dan memilliki kecepatan yang luar biasa, sedikit salah epasang mata dapat terhajar buta. badan terkoyak koyak. barang siapa yang membawa ssnjata rahasia lebih baik siap siap di tangan saja untuk menghadapi suatu menungkinan".

Setelah itu kepada Lie Siauw Ie serta si gadis cantik pangangon kambig ujarnya:

Enci Ie, Wan moay baiklah lindungi supek jangan sampai ditunggangi kesempatan itu oleh kawanan burung elang, senjata rahasia Kioe Cu Gin Ciam dari enci Ie pun boleh digenggam di tangan untuk siap siap menghadapi musuh. Thian Pian siauw cu yang melihat sikap tegang dari Liem Tou tidak kuasa sudah tertawa ringan.

Liem Tou lebih baik tidak usah merasa kuatir buat orang lain, aku tidak akan menggunakan kesempatan ini menyerang mereka ejeknya dengan suara keras.

Sekarang kau bersiap siaplah. kedatangan dari burung burung elangku amat cepat jangan dikata dibasmi hingga habis cukup untuk menghadapipun belum tentu kau bisa.

Terimakasih atas peringatanmu sahut Lirm Tou dengan jengkel Terhadap barisan burungmu ini aku Liem Tou sudah pernah menemuinya.

Thian Pian siauw cu tidak menjawab lagi dia cuma tertawa ringan kemudian mengulapkan tangannya.

Kiem jie serta Giok jie keduanya orang bocah cilik itu segera mengangkat tinggi tinggi panji kuning serta panji hitam tersebut.

Setelah ditringi suara pekikan burung rajawali yang amat besar, dari empat penjuru sisi puncak pertama gunung Cing Shia ini segera terdengar suara dengungan yang amat keras menubruk mendatang.

Melihat hal itu Liem Tou segera bersuit nyaring sehingga suaranya terpantul keseluruh penjuru, tetapi dengan suara suitannya yang amat nyaring ini pula semua orang diam diam memuji atas kesempurnaan dari tenaga dalam Liem Tou.

Sehabis bersuit nyaring Liem Tou segera gerakan badannya berlari menubruk kearah kawanan burung elang yang ada disisi puncak itu.

Kawanan burung elang itu sama sekali tidak menggubris bahkan sebaliknya terbang kembali ke angkasa.

Beribu ribu burung elang seketika itu juga memenuhi seluruh angkasa sehingga suasana dengan sendirinya ikut jadi gelap pula.

Para jago yang hadir di atas puncak pertama gunurg Cing Shia sewaktu melibat kejadian ini semuanya dibua tercengang. sebaliknya saking bangganya Thian Pian siauw cu tertawa tergelak tiada hentinya.

Di dalam pandangan semua orang Liem Tou lagi menubruk kearah kawanan burung elang, padahal yang sebetulnya dia sedang berlari menuruni puncak pertama untuk menuju ke puncak kedua dimana tumbuh pohon siong yang amat besar itu.

Dia tahu kawanan burung elang yang amat banyak itu bilamana hendak dibasmi dengan menggunakan tenaga pukulan serta ilmu me ringunkan tubuh tidak mungkin bisa berhasil, karenanya dia lari menuju ke pohon siong yang amat besar itu untuk memungut jarun jarum pohon siong.

Tidak lama kemudian dia sudah tiba d bawah pohon siong itu dan naik keatas pohon untuk kemudian dengan menggunakan jubahnya membungkus satu buntalan besar jarum jarum pohon siong, bilamana menurut jumlahnya dia ada persediaan satu kali lipat lebih banyak dari burung elangnya.

Setelah itu Liem Tou baru berlari kembali ke atas puncak pertama.

Thian Pian siauw cu yang melihat Liem Tou memungut sebegitu banyak jarum pobon siong air mukanya segera berubah sangat hebat, beberapa bulan yang lalu kawanan burung elangpun kebanyakan musnah dibawah serangan jarum itu. kini melihat Liem Tou hendak menggunakan cara yang sama untuk musnahkan kawanan burung elangnya hal ini membuat dia jadi terperanjat.

"Liem Tou, kau hendak menggunakan cara yang paling kejam dan tak berbudi ini untuk menghadapi kawanan burung elangku ?" tanya dengan suara gemetar mendengar perkataan itu Liem Tou jadi melengak.

"Bukankah dia lagi bertanding dengan aku ? Kenapa dia mengucapkan kata kata ini ?" pikirnya.

Dia lantas menduga kalau kawanan burung elang ini ada kemungkinan setiap hari bergaul dengan Thian Pian Siauw cu sehingga hatinya tidak tega melihat kawan kawannya itu dibasmi.

Berpikir sampai disini tidak kuasa lagi dia lantas tertawa terbahak bahak.

"Haa - -haa - -Ke siauw cu. kau merasa tidak tega dengan nyawa nurung burung elangmu ini bukan ?"

Thian Pian siauw cu tahu dia sudah salah bicara, karenanya sekalipun mendengar perkataan itu mulutnya tetap membungkam.

Saat ini kawanan burung elang sudah mengitari tiga kali ke puncak gunung Cing Shia ini, kelihatannya sebentar lagi mereka akan melancarkan serangannya.

Pada saat itulah tiba tiba Liem Ton tei ingat kembali dengan kata kata dari si orang tua berambut putih dari Heng san pay, tanpa terasa hatinya jadi tergetar amat keras.

"Thian Pian Siauw cu Bentaknya secara tiba tiba. "Kalau memanguya kau mmpunyai ikatan persahabatan dengan kawanan burung elangmu itu akupun tidak akan memaksa. Aku Liem Tou tidak akan banyak membunuh, aku cuma melukai kawanan burung burung elangmu saja tanpa sekalian mencabut nyawanya, bagaimana ?"

Thian Pian siauw cu segera merasakan hatinya tergetar, dengan cepat .dia anggukkan kepalanya berulang kali

Liem Tou selama hidupnya aku belum pernah menaruh rasa kasihan kepada siapa. Tidak disangka ini hari menaruh rasa tidak tega terhadap kawanan burungku, ada kemungkinan ini disebabkan karena mereka adalah aku sendiri yang piara.....

baiklab sikapmu yang begitu baik hati ini hatiku jadi rasa dikalahkan, kalau begitu kau harus barhati-hati.

Selesai berkata dia lantas bersiul kembali, seketika itu juga muncullah tiga ekor burung elang yang amat besar dari ujung langit yang kemudian mengitari di atas kepala Thian Pian siauw cu dan masing masing dengan memencar di Timur, Barat dan Selatan berputar putar di sekeliling tempat itu. Semakin lema kepungan dari kawanan burung elang itupun semakin menyempit sepasang cakar yang runcing dari kawanan burung elang itupun dengan tiada hentinya mengancam tubuh Liem Tou yang berada di tengah kalangan. Dengan cepat Liem Tou meraup dua genggam jarum pohon siong untuk siap siap menghadapi musubnya. . terdengarlah burunp elang yang ada disebelah Timur berpekik nyaring disusul panji hitam dari bocah le aki itu dikibarkan dengan dipimpin oleh burung elang raksasa yang ada di Timur kawanan bnrung itu mulai menerjang datang ke atas kepala Liem Tou kurang lebih lima kaki tinginya.

Walaupun kawanan burung itu berada kurang lebih lima kaki tingginya dari atas permukaan tanah tetapi rumput pada bergoyang tersambar sayap yang kuat dari burung burung tersebut.

Menanti setelah kawanan elang dari seluruh penjuru mulai bergerak, udara jadi gelap, angin menyambar dengan kencangnya membuat hati setiap orang tergetar seperti hendak copot, sungguh lidak disangka barisan burung elang yang disusun oleh Thian Pian siauw cu bisa demikian ganas dan dahsyatnya.

Setelab ketiga ekor rajawali besar itu lewat mendadak si bocah lelaki itu mengerakkan kembali panji kuningnya dan menunjuk ke arah utara. ,

Tiga ekor burung elang yang rada kecil dengan kecepatan yang luar biasa menerjang ke atas kepala Liem Tou Lalu mencar menjadi dua arah dari kiri dan kanan mulai menunjukkan gaya yang menakjupkan.

Liem Tou yang melihat kejadian itu lantas tersenyum.

"Ke siauw cu !" ujarnya sambil tertawa. "Tidak aneh kalau kau orang merasa begitu sayang terhadap kawanan burung itu, kiranya merekapun sangat menyenangkan sekali." Kedua ekor burung elang itu semakin lama terbang semakin rendah, saat ini jaraknya tinggal beberapa kaki saja.

Barn Saja Liem Tou hendak memuji kembali mendadak kedua ekor burung elang itu menutup kembali sepasang sayapnya lalu bagaikan kilat cepatnya meluncur ke arah Liem Tou.

Liem Tou jadi amat terperanjat, untuk malancarkan serangan dengan menggunakan jarum pobon siong sudah tak sempat lagi dengan terburu buru sepasang matanya dipejamkan rapat rapat.

'Binatang kau sungguh licik sekali . .makinya. ,

Tetapi belum habis dia berkata mendadak kepalanya terasa amat sakit sepeiti dipukul martil besar dan sakitnya luar biasa. '"Aduh !' teriaknya tak tertahan lagi, jarum jarum ditangan

kirinya dengan serabutan segera disambitkan kedepan. Entah serangan itu mencapai hasilnya atau tidak tetapi dia dapat mendengar pada waktu itu Thian Pian siauw cu lagi tertawa tergelak-gelak dengan amat kerasnya.

Liem Tou merasa kebanyakan sarangannya tadi tidak mencapai pada hasilnya sewaktu matanya dipentangkan kembali tampaklah sepasang burung elang tersebut sudah kembali lagi ke tempatnya semula.

Dalam hati Liem Tou benar benar merasa amat gusar, dia lantas menoleh ke arah Thian Pian Siauwcu.

' Ke Siauwcu bentaknya dengan keras Kau jangan tertawa dulu, ketiga ekor burung elang itu aku mau nyawanya !".

Sekali lagi Thian Pian Siauwcu tertawa tcrbabak bahak. "Asalkan kau punya kepandaian. butung burung elang yang ada di angkasa boleh kau tangkap semua".

Di tengah suara tertawa panjangnya yang amat keras itulah sepasang tangannya kembali diangkat ke atas.

Panji hitam yang ada di tangan bocah putih itupun segera dikebutkan berulang kali.. Dari sebelah timur, barat serta selatan segera terdengar suara pekikan burung elang yang amat keras sekali berkumandang datang disusul berkelebatnya berpuluh-pulub bayangan hitam di atas kepala Liem Tou. Kawanan burung elang itu dengan memecah jadi empat kelompok dan masing masing kelompok memecah jadi tiga tingkat bersama sama terbang mendatangi dan semakin terbang semakin rendah.

Dengan mencekil kencang-kencang dua genggaman jarum pohon siong Liem Tou dengan tenangnya menanti serangan musuh dia tak berani berlaku gegabah lagi.

Seluruh perhatian dari para jago yang hadir di atas puncak pertama gunung Cing Shia pun mulai tersedot keatas kawanan burung itu, suasana menjadi sunyi senyap tak kedengaran sedikit suarapun.

Diam diam dalam hati Liem Tou mulai berpikir.

"Aku tadi sudah menyanggupi untuk tidak menyambut nyawa kawanan burung itu melainkan cuma melukai saja, tapi jarum jarum ku disambitkan kebagian mananya sehingga tidak sampai membuat kawanan burung itu jadi pada mati?

Setelah berpikir pulang balik akhirnya dia merasa bahwa melukai sayap adalah jauh lebih baik lagi. apalagi asalkan setiap sayap terhajar sebatang jarum maka burung burung elang itu tidak bakal terbang.

Baru saja dia berpikir sampai disitu, tingkat yang paling bawah dari kawanan burung burung elang itu sudah berada kurang lebih sepuluh kaki di atas kepala Liem Tou. Asal saja sedikit menerjang ke bawah maka hanya di dalam sekejap saja mereka akan mencapai pada sasarannya.

Liem Tou yang melihat kejadian itu jadi tidak sabaran lagi, mendadak dia dongakkan kepalanya membentak :

Hey burung elang mulai serang, Liem Too sudah menanti tidak sabar lagi.

Baru saja dia selesai berteriak dari antara kawanan burung elang itu ada salah seekor burung yang berkaok kaok beberapa kali dan dikepalai oleh burung itu bersama sama dengan kawanan burung lainnya segera menyeraug ke bawah, bahkan keempat rombongan itu bersama sama menerjang k ebawah.

"Bagus sekali kedatanganmu !" Bentak Liem Tou dengan keras Menanti burung elang itu sudah ada pada dua kaki tingginya mendadak sepasang telapak tangannya bersama sama menyambar ke depan dua genggaman jarum pohon siong dengan disertai suara desiran yang amat keras segera menyambar ke arah atas.

Kawanan burung elang yang lagi terbang di atas kepala Liena Tou pun bersama sama berpekik keras lalu berjatuhan ke atas tanah.

Ketepatan dari serangan Lien Tou ini sungguh luar biasa sekali. bagian yang kena hajar bukan lain adalah kedua belah sayapnya sehingga sebagian besar kawanan burung elang itu pada rontok.

Pentolan burung elang yang mengeluarkan suara pekikan tadipun terkena hajar sayap-nya, dia berusaha untuk terbang kembali ke angkasa tetapi walaupun sudah berusaha beberapa waktu tidak berhasil juga, akhirnya sang tubuh tidak kuat lagi dan jatuh ke dalam semak belukar.

Lapisan pertama gagal kembali lapisan ke dua menerjang ke bawah bahkan jumlahnya kali ini jauh lebih banyak dari lapisan pertama.

Beribu ribu ekor burung elang bersama sama menerjang kebawah. terpaksa Liem Tou meraup jarum jarum itu tiada hentinya sambil menghajar burung burung elang itu.

Bagaikan curahan hujan kawanan burung elang itu pada rontok jatuh ke tanah dan ke dalam semak belukar.

Sisanya dua lapis sewaktu melihat kawan kawannya tidak berhasil juga melukai Liem Tou mereka tidak terbang jauh sebaliknya beterbangan disekeliling tempat itu.

Dengan demikian Liem Tou jadi terkurung dari empat penjuru, di atas kepalanyapun masih ada tiga lapis kawanan elang yang berjumlah ribuan mendesak terus kebawah.

Di dalam sekejap saja, sambaran angin berkelebat memenuhi angkasa, udara jadi gelap sehingga membuat hati setiap orang jadi berdebar debar.

Wektu itu ketiga ekor burung elang dan rajawali yang ada di Utara, Selatan, Timur Barat pun ikut memperkuat barisan, panji hitam yang ada di tangan anak lelaki itupun di goyangkan semakin keras lagi membuat suasa hati jadi sedemikian tegang dan jadi semakin gaduh.

Liem Tou berdiri ditengah kalangan tak bergerak, seluruh perhatiannya dipusatkan ke arah burung itu, tangannya erat erat mencekal jarum pobon siong dan matanya mendelong tak berkedip.

Kembali terdengar suara pekikan nyaring dari burung rajawali, kawanan burung elang yang ada di lapisan kedua bagaikan menerima perintah bersama sama menubruk ke bawah dengan dahsyatnya.

Hanya didalam sekejap saja beribu ribu ekor burung bersama sama menyerbu kebawah sehingga suasana menjadi amat ramai

Liem Tou yang melihat serangan dari kawanan burung itu makin lama semakin gencar dia takut tidak dapat menguasai waktu lagi maka dengan terburu buru dia menyambitkan segenggam jarum menghajar jatuh puluhan burung elang yang ada di paling depan.

Bersamaan itu pula tangan kirinya meraup buntalan itu dan mengundurkan diri dari situ.

Dengan berturut turut dia menyambitkan kembali senjata jarumnya ke atas sehingga menghajar pecah satu lapisan. dengan mengambil kesempatan itulah dia mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya untuk berkelebat keluar dari kepungan.

Melihat Liem Tou meninggalkan kalangan di dalam anggapan Thian Pian Siauw cu dia sudah ketakutan.

"Haaa . . . haaa Liem Tou." ejeknya. "Kawanan bururgku

belum mati separuh, bagaimana kau sudah melarikan diri ? Kalaa begitu omongan besarmu tadi tidak lebih hanya seperti kentut belaka !"

"Hmnjm ! Kau tidak usah banyak omong, nanti lihat saja hasilnya," seru Liem Tou sambil mengnndurkan diri dari situ. Kiranya walau Liem Tou sudah meninggalkan kalangan tapi dia tidak pergi jauh sebaliknya cuma berputar disekeliling tempat itu.

Sudah tenlu kawanan burung elang tidak mau melepaskan mangsanya dengan begitu saja, dengan tiada hentinya mereka mengejar dan mengurung diri Liem Tou.

Dengan mergambil kesemratan itulah sembari lari Liem Tou melancarkan serangan mautnya, hanya didalam sekejap saja kembali beratus ratus burung elang rontok ke bawah.

Dengan adanya kejadian itu kawanan burung elang lainnya tidak berani terbang terlalu mendekat, setiap ada kesempatan mereka baru menerjang ke bawah dan bilamana tidak hanya terbang saja di angkasa menunggu saatnya.

Tidak Lama kemudian Liem Tou bisa juga melihat sikapnya itu, kepercayaan pada dirinya sendiripun semakin bertambah, mendadak sambil putar tubuh bentaknya keras :

"Kau binatang berbulu, ayoh pada turun semua !". Di antara suara bentakan yang keras bukannya dia mengundurkan diri sebaliknya malah semakin mendesak ke depan, jarum jarum ditangannya dengan tiada hentinya menghajar kedepan sehingga hanya dalam sekejap saja kembali beratus ratus ekor burung rontok ke atas tanah.

Dengan kejadian ini semangat bertempur dari kawanan elang lainnyapun jadi rontok, dengan disertai suara pekikan yang amat keras mereka pada putar badan dan mengundurkan diri dari sana.

Melihat akan kejadian ini Thian Pian siauw cu jadi jengkel, dia membentak keras lalu bersuit panjang, bocah cilik yang membawa panji hitam itu pun lantas meloncat ke tengah udara lantas menggoyang goyangkan panji tersebut dengan keras sebanyak tiga kali.

Ketiga ekor burung rajawali serta ketiga elang besar itupun lalu berpekik nyaring parub dan cakarnya yang tajam dipentangkan, sayapnya dikibas kibaskan dengan keras kemudian dengan ganasnya melukai kawanan elang yang mundur itu hingga koyak koyak.

Kawanan elang lainnya yang melihat kejadian ini jadi serabutan terpaksa mereka balik kembali untuk menyerang Liem Tou.

Melihat ptristiwa ini Liem Tou jadi gusar, dengan kerahkan tenaga murninya dia melancarkan seranean menghajar ketiga ekor rajawali serta ketiga ekor burung elang yang ada dibelakang kawanan burung rajawali itu.

Tetapi elang elang itu ada puluhan kali tingginya, sekallpun sudah kerahkrn tenaga sepenuhnya jarum jarum itu tak berhasil juga mengenainya. melihat hal itu hatinya jadi sedikit bergerak.

Dengan tanpa banyak pikir lagi dia memungut beberapa pecahan batu lalu sambil bersuit panjang dia meloncat ke atas dan melancarkan serangan ke depan

.

"Binatang. kau masih tidak suka menyerah!" bentaknya. Dengan memisah jadi tiga jurusan pecahan batu itu meluncur ke depan bagaikan kilat menyambar.

Siapa tahu ketiga ekor burung rajawali itupun amat cerdik, sambil kerah paruh, atau cakar atau pukulan sayapnya burung burung itu memukul jatuh datangnya serangan batu itu.

Liem Tou sama sekali tidak menyangka kalau rajawali itu demikian pandaiannya, serangan yang dilancarkan dengan begitu dahsyatnya bagaimana mungkin bisa mereka pukui jatuh dengan begitu mudahnya ? sekalipun jagoan berkepandaian tinggi dari Bu lim belum tentu bisa melakukannya.

Lism Tou yang melihat serangannya tidak mencapai hasil, tnbuhnyapun dengan kecepatan meluncur ke bawah, tetapi sewaktu dia menundukkan kepala - - - permukaan tanah sudah tak kelihatan karena tertutup oleh kawanan burung elang yang amat rapat dan berjajar menutupi pandangan tersebut.

Kini tubuh Liem Tou ada di tengah udara dan mendapatkan gencetan serangan dari enam penjuru, apalagi ketiga ekor burung rajawali serta ketiga ekor burung elang raksasa itu. Sewaktu dilihatnya tubuh Liem Tou masih mengambang di tengah udara, dengan bangganya mereka lantas berpekik nyaring lalu menubruk ke depan dengan amat dahsyatnya. Di tengah kebutan sayap yang amat keras, tiupan angin kencang melanda datang, dengan hebatnya. Liem Tou tahu keadaannya pada saat ini sangat berbahaya sekali.

Tangannya segera diayunkan ke bawah menyambitkan segenggam jarum ke arah bawah sehingga terbuka satu lubang kecil.

Dengan meminjam kesempatan itulah tubub nya lantas berjungkir balik dan meluncur ke arah bawah dengan mengambil jalan lubang yang baru saja dibuka dengan paksa itu.

Walaupun dia cepat gerakan burung burung elang itu jauh lebih cepat lagi, lubang kosong yang baru saja berhasil dia tembusi kini sudah tertutup rapat kembali,

Liem Tou jadi amat terperanjat, telapak tangannya dengan cepat dihancamkan ke bawah. Ksemudian tubuhnya pun mendesak turun.

Tetapi pada saat itulah bayangan hitam berkelebat dengan terburu buru Liem-Tou miringkan kepalanya ke samping, sebuah cakar besi dengan cepat menyambar datang lewat di samping badannya.

Liem Tou benar benar dibuat terperanjat.

"Untung !" teriak diam diam. 'bilamana aku kurang waspada sepasang mataku sudah kena dihajar."

Ketika dia menoleh kearah mana datangnya serangan, tampaklah olehnya kembali salah seekor burung elang di antara ketiga elang yang tadi mematuk kepalanya. hatinya benar benar jadi gusar bercampur mendongkol.

Bersamaan waktunya elang raksasa yang kedua kembali menyerang datang. melihat kedatangannya yang amat ganas dan kuat Liem Tou merasa hatinya bergerak.

Dilihatnya burung itu berada di atas kepalanya kurang lebih satu kaki sedang kini tubuhnya sendiripun sudah mulai meluncur kebawah Diam diam dia tarik napas panjang kemudian dengan ujung kaki kiri menutul kaki kanan tubuhnya dengan amat cepat nya dia meluncur naik setinggi dua kaki ke atas.

Dengan demikian burung burung elang raksasa yang semula terbtmg di atas kepalanya kini malab terbang di bawah kakinya.

Tepat sewaktu burung elang itu terbang lewat di kakinya dengan megambil kesempatan ini Liem Tou lantas kerahkan ilmu bobot seribu katinya sehingga tuhubnya dengan amat tepat terjatuh di atas punggung elang itu, tangan kirinya mencekal bungkusan jarum tangan kanannya mencekal kencang-kencang leher elsng tersebut.

Elang itu sama sekali tidak menyangka Liem Tou bisa menggunakan cara tersebut di dalam keadaan terkejut. Sayapnya dihantam hantamkan dengan serabutan, pekikan nyaring bergema tiada henttnya dan barusaha melemparkan tubuh Liem Tou dari atas punggungnya.

Tetapi Liem Tou kini sudah mantapkan hatinya, sekalipun meronta-ronta Liam Tou temp memegang leher elang itu tak lepasnya.

'Haaa . . . haaa ayoh sekarang keluarkan pula keganasanmu aku mau lihat kau bisa ganas seperti apa !" seru Liem Tou dengan amat bangga.

Elang raksasa yang tak berhasil melepaskan diri dari cekalan Liem Tou jadi kelabakan dibuatnya, dengan diiringi suara pekikan yang amat nyaring dia segera mementangkan sayapnya lebar lebar dan menerjang ke tengah udara.

Liem Tou yang baru untuk pertama kali-nya menungang burung elang raksasa segera merasakcan kesenangan yang luar biasa hatinya amat kegirangan.

Tetapi sewaktu melihat burung elang itu semakin terbang menjauh hatinya jadi berdesir juga, pikirnya :

"Kalau aku dibawa pergi maka kawanan burung elang lainnya tak dapat aku hancurkan semua" bukankah dengan demikian aku sudah menemui kekalahan di tangan Thian Pian Siauw cu

?? ?". Teringat akan hal ini hatinya jadi amat cemas, teriaknya dengan amat gugup

"Hey binatang, ayoh cepat kembali, ayoh cepat kembali!'. Tetapi burung elang itu sama sekali tidak menggubris, dengan cepatnya dia menerjang terus ke tengab awan.

Saat inilah Liem Tou baru merasakan badannya amat dingin sehingga terasa menusuk tulang. Keadaan di sekelilingnya cuma kelihat awan yang menebal setinggi langit yang tak ada ujung pangkalnya, sedikit bayangan daratanpun tak kelibatan. Dalam hati Liem Tou merasa amat cemas sepasang kakinya mendadak menjepit perut elang itu lalu membentak keras : "Cepat kembali, kalau tidak aku segera bereskan nyawamu". Si elang raksasa yang merasa kesakitan bukannya melayang ke bawah sebaliknya malah menerjang semakin ke atas, kecepatannyapun semakin bertambah.

Sedangkan Liem Tou sendiri waktu itu hatinya benar benar merasa amat kacau, bilamana dirinya sungguh menggencet mati burung elang raksasa ini bukankah dengan begitu tubuhnyapun akan ikut jatuh dari tengah udara??? waktu itu apakah nyawanya masih ada.??

Mendadak teringat kembali sepasang mata dari elang itu, satu ingatan berkelebat di hati nya, dengan cepat dia tekan leher burung elang raksasa itu ke bawah sehingga memaksa penglihatan burung itupun jadi ke bawah. Burung elang raksasa itu segera meronta tetapi tak ada hasilnya, untuk berhenti bergerakpun tidak mungkin karenanya dengan cepat dia merubah arah jadi menerjang ke arah bawah.

Liem Tou yang melihat percobaannya berhasil hatinya menjadi girang sekali.

Dengan cepat dia paksa elang itu menoleb ke kiri dengan sendirinya burung itupun belok ke kiri.

Dengan adanya penemuan ini dalam hati Liem Tou merasa semakin mantap lagi, dia tahu bagaimanapun juga elang itu sudah menuruti perintahaya.

Daya meluncur dari elang raksasa itu pun semakin cepat berpuluh puluh kali lipat. hanya di dalam sekejap saja dia sudah menembus keluar dari lapisan awan sehingga terlihatlah kembali bayangan puncak puncak gunung yang berjajar bahkan kelihatan pula beribu ribu ekor burung elang beterbangan di antara puncak.

Dengan terburu buru Liem Tou segera mengalihkan buntalan jarum itu ke antara lutut nya setelah itu dengan menggunakan tangan kirinya memegang leher elang untuk memberi petunjuk arah, tangan kanannya mulai meraup segenggam jarum pohon siong.

Pikirnya diam diam dihati:

"Kali ini walaupun kawanan barung elang itu jauh lebth banyakpun jangan harap bisa lolos dari jarunku."

Hatinya jadi teramat girang, dengan nyaringnya dia bersuit nyaring dan menerjang masuk ke dalam ronbongan kawanan elang itu dan menerjang sana menghantam ke sini, jarum jarum di sebelah tangan kanannyapun

dengan cepat di sambit ke depan dan berulang kali sehingga kawanan burung itu seketika itu juga jadi kacau balau.

si gadis cantik pengangon serta Lie Siauw Ie yang semula melihat Liem Tou melancarkan serangannya dengan menggunakan batu candas di dalam anggapan mereka serangannya ini pasti mencapai hasil.

Siapa sangka bukannya burung elang itu terluka sebaliknya kawanan burung elang itu segera bergerombol menutupi pandangan sehingga bayangan dari Liem Tou jadi lenyap.

Mereka cuma mendengar suara pekikan nyaring serta bentakan Liem Tou yang amat keras membuat keringat dingin mulai mengucur keluar membasahi tububnya.

Dan terakhir setelah kawanan burung elang itu memisah bayangan tubuh dari Liem Tou lenyap tak berbekas, di dalam ingatan mereka segera menganggap Liem Tou sudah dikoyak koyak oleh kawanan burung elang itu kemudian didaharnya sampai habis.

Saking kaget dan takutnya mereka pada melongo, air mukanya berubah pucat pasi bagaikan mayat dengan nada yang amat sedih teriaknya kepada Lie Loo jie.

Tia - -suhu - !" dimana engkoh Liem? adik Tou ? dia sudah pergi kemana ?"

Lie Loo jie sendiripun tidak mengetahui apa yang terjadi. Di dalam hati diapun merasa terkejut bercampur gusar. mendadak mata nya bisa menangkap seekor burung elang dengan cepatnya meluncur ke tengah angkasa ke mudian menembus awan dan lenyap dari pandangan.

Lie Loo jie bisa melihat di atas panggung burung elang itu terdapat setitik bayangan hijau, kemungkinan itu adalah buntalan jarum pohon siong yang dibawa Liem Tou.

"Ie jie Wann jie kalian jangan cemas "Teriak nya dengan keras sambil menuding keatas. "Coba kau lihat bukankah Liem Tou dengan menunggang burung elang itu sedang meluncur ke tengah angkasa ? Tunggu sebentar, dia segera akan kembali lagi."

Wal&upun Lie Siauw Ie serta si gadis cantik pengangoan kambing tidak melihat elang itu meluncur ke angkasa tetapi mereka pun mau setengah percaya setengah tidak dan memandang ke angkasa dengan melongo.

Ssbaliknya Thian Pian siauw cu yang melihat bayangan tubuh Liem Tou sudah lenyap tak berbekas dia tidak memeriksa lebih teliti lagi, di dalam anggapannya Liem Tou sudah terkubur di dalam perut kawanan burung elangnya sehingga hatinya merasa amat bangga.

"Haa - -haa - Liem Tou. Liem Tou" ejeknya sambil tertawa terbahak bahak "Walau pun kepandaianmu sangat tinggi tetapi jangan harap bisa menangkan kawanan burung elangku, tidak disangka kau sudah menemui ajal sehingga tulangpun ikut lenyap - sungguh sayang ! sungguh sayang ! sungguh patut dikasihani !"

Mendengar ejekan itu Lie Siauw Ie segera merasakan hatinya seperti digodam dengan martil besar.

"Hey orarg she-Ke, kau bilang apa ?" bentaknya dengan gusar.

"Haaa . , . haaa . . tentunya kau adalah kekasih dari Liem Tou bukan" seru Thian Pian siaw cu sambil tertawa keras. "Terus terarg aku beritahu padamu, dia sudah habis disikat oleh kawanan burung elangku, dan selamanya tak akan kembali lagi, lebih baik kau mencari kekasih yang lain saja !"

Lie Siauw Iem ana bisa kuat mendengar ejekan yang menusuk telinga ini, saking jengkelnya seluruh tubuh sudah gemetar, air mukanya berubah pucat pasi bagaikan mayat untuk beberapa saat lamtnya tak sepatah katapun bisa diucapkan keluar.

Dengan cepat si gadis cantik pengangon kambing membimbing dirinya lalu memberi nasehat dengan suara perlaban.

Lie Loo-jie yang mendengar perkataan menghina dari Thian Plan siauw cu ini hatinya merasa amat gusar.

"Ke Hong!" bentaknya dengan keras. 'Kau sebagti seorang yang mempunyai nama bear di dalam Bulim juga bisa bisanya berbicara begitu kotor dengan seorang dari angkatan muda". Haaa .... haaa . . . Lie Sang aku bilang Liem Tou sudah terkubur di dalam perut kawanan elang itu dan selamanya tidak akan kembali lagi. apakah perkataanku ini adalah salah ? Teriak Thian Pian siauw cu sambil tertawa terbahak bahak.

Lalu apa itu maksudnya mencari kekasih ??" ayo cepat jawab maki Lie Loo jie lagi.

Baru saja Thian Pian siauw cu hendak menjawab, mendadak terdengar si gadis cantik pengangon kambing sudah menjerit jerit lagi.

' Coba lihat engkoh Liem sudah kembali."

Saking girangnya tidak tertahan lagi dia lantas berteriak memanggil.

Enkoh Liem engkoh Liem ! Engkoh Liem !"

Thian Pian siauw cu, Lie Loo jie serta Lie Siauw Ie segera menoleh kearah dan sedikit pun tidak salah terlihatlah Liem Tou dengan memegang elang raksasa itu bagaikan kilat cepatnya sudah meluncur ke bawah kemudian menerjang ke arah kawanan burung elang.

Bersama itu pula beratus ratus ekor burung elang pada rontok ke atas tanah tak bergerak lagi.

Tidak sampai seperminum teh lamanya kawanan burung elang itu sudah ada separob bagian yang musnah, Thian Pian Siauwcu jadi amat terperanjat, dia tahu sebentar kemudian kawanan elangnya pasti akan terbasmi habis oleh Liem Tou.

Sepasang tangannya dengan cepat diulapkan berulang kali panji panji kuning serta hitam ditangan kedua oiang bocah cilik itupun dikibarkan berulang kali.

Ketika kawanan burung elang itu melihat dikibarnya bendera kuning, bagaikan mendapat karunia dengan disertai suara pekikan yang amat nyaring pada bubaran ke angkasa Kiranya panji hitam yang ada d tangan bocah lelaki itu digunakan sebagai tanda menyerang sedangkan panji kuning digunakan untuk nengundurkan burung-burung tersebut.

Kawanan burung elang yang lagi dibantai kocar kacir oleh Liem Tou begitu melihat dikibarnya panji kuning segera pada terbang menyingkir.

Liem Tou yang ada di atas burung elang sewaktu melihat kawanan burung elang lainnya pada bubaran hatinya jadi kaget teringat akan janjnya dengan Thian Pian siauwcu tadi asalkan ada seekor saja yang lolos maka, dia terhitung kalah dalam hati semakin cemas lagi.

Didalam keadaan seperti ini Liem Tou segera membentak keras dengan cepat dia putar leher elang tunggangnya secara serabutan sedang jarum ditangannya pun disambitkan secara telengas.

Hanya didalam sekejap saja kawanan burung elang yang ada disekeliling tempat itu sudah tersapu habis, kini tinggal beberapa puluh ekor elang saja yang sudah keburu bubaran. Pada saat itulah Thian Pian siauwcu tanpa pakai aturan lagi segera memerintahkan bocah perempuan itu untuk mengebutkan panji kuning itu tiga kali. Melihat tanda tersebut kawanan elang lainnya lantas pada meluncur kebawah dan bersembunyi ditempat tempat yang terlindung.

"Liem Tou jadi amat gusar, makinya dari atas punggung elang itu.

'"Ke Siauw cu kau orang sungguh licik sekali, bilamana kau tidak melepaskan kawanan burungmu jargan dikata aku Liem Tou sekalipun dewa malaikat pun jangan harap bisa mengapa ngapakan kawanan burung tersebut!

'Haaa . .. haaa . .. Liem Tou ! itukan salahmu sendiri. apa sangkut pautnya dengan aku? ' teriaknya Thian Pian Siauw cu sambil tertawa.

Liem Tou sekalipun tahu dirinya kena ditipu tapi dia tak bisa berbuat apa apa.

'Baru saja dia bermaksud untuk meloncat turun dari punggung burung elang itu dan ribut dengan Thian Pian siauw cu, mendadak tampaklah olehnya kedua orang bocah cilik berbaju putih dan merah yang ada dipuncak gunung.

Satu ingatan segera berkelebat dihatinya. dengan cepat dia tepuk elangnya untuk menyambat ke depan.

Si bocah lelaki yang diserang secara mendadak hatinya jadi amat gusar.

"Buat apa kau jual lagak? Coba lihat aku tahan dirimu" makinya dengan keras.

Tangannya dengan cepat digape mengundang bocah perempuan itu.

'Giok moay ! teriaknya. 'Mari kita bersama sama turun tangan menawan dirinya, coba lihat dia bisa jual lagak tidak".

Sewaktu bocah perempuan itu melihat kawanan burung burung mereka sudah hampir sebagian besar terluka di tangan Liem Tou sehingga kini cuma tingpal beberapa ekor saja dalam hati sudah merasa jengkel.

"Kiem koko... betul sekali perkataanmu' Teriaknya setuju. "Bocah cilik ini sangat kurang ajar sekali, kau didepanlah biar aku yang ada dibelakang. Bilamana dia berani datang lagi jangan kasih dia meloloskan diri.

Waktu itu Liem Tou dengan menunggang elang itu sudah menyambar datang lagi.

Kiem jie serta Giok jie dua orang hersama sama segera membentak keras, tubuhnya berkelebat menghalangi datangnya sambaran dari Liem Tou itu.

Thian Piauw siauw cu yang ada ditempat kejauhan sawaktu melihat kejadian ini dalam hati merasa amat terkejut, teriaknya dengan keras:

Kiem jie Giok jie, jangan. Liem Tou sangat lihay.

Tetapi keadaan sudah terlambat. Kiem jie serta Giok jie sudah meloncat ke atas

Haaa ? . . haaa .. . Ke Siauw cu, sudah terlambat, lebih baik kau cepat cepat lepaskan kawanan burungmu itu seru Liem Tou sambil tertawa keras

Sehabis berkata dia meloncat turun dari punpgung elang tersebut dan menyambar tubuh Giok jie, setelah itu baru meloncat kembali ke atas punggung elang itu dan melayang kembali ke tengah angkasa.

Tiba tiba . ..

Akh, celika .. . teriaknya tertahan.

Dengan cepat dia memutar burung elangnya menuju ke arah Lie Loo jie. Lie Siauw Ie serta si gadis cantik pengangon kambing. kemudian mengitari di atas kerala mereka tiada hentinya, telapak tangannya sudah disilangkan di depan dada siap melancarkan serangan.

Thian Pian Siauw cu yang melihat Liem Tou menawan Giok jienya dalam hati jadi tercenpang, tapi sebentar kemudian hawa marah sudah berkobar di hatinya.

Dengan cepat diapun bsrmaksud untuk menerjang ke arah Lie Siauw Ie serta si gadis cantik pengangon kambing untuk menawan salah satu di antara mereka untuk paksa Liem Tou melepaskan diri Giok jie.

Siapa tahu sejak semula Liem Tou sudah memikirkan sampai disitu sehingga dia lalu memutar tubuh elangnya dan terbang keliling diatas kepalanya untuk melindugi mereka bertiga. Thian Pian siauw cu merasa kecundang di dalam hatinya jadi amat gusar sekali, bentaknya.

Liem Tou. iiu terhitung kepandaian macam apa? ayoh cepat lepaskan Giok jie"

'Ha . . . ha ... Ke siauw cu, kau sendiri yang mulai main akal- akalan, bilamana ini bari kau tidak melepaskan kawanan burung elang itu akupun tidak bakal melepaskan Giok jie, kalau tidak ..."

Sekali lagi dia tertawa terbahak bahak. sebaliknya Giok jie yang kena ditawan menangis semakin keras, ditengah suara tangisan itu secara samar samar membawa rasa sakit yang luar biasa.

Thian Pian siauw cu segera merasakan hatinya seperti diiris iris, dengan gusar nya dia meraung, kemudian tanpa memperdulikan semuanya lagi segera menerjang ke arah Lie Loo jie.

Liem Tou yang menunggang burung elang di angkasa selama ini terus menerus memperhatikan keadaan dari Lie Lo jie, kini melihat Thian Pian siauw cu dengan mengandung rasa gusar menerjang ke depan dengan gesitnya dia lantas kirim satu pukulan ke bawah

Thian Pian Siaiw cu segera merasakan segulung angin pukulan yang amat dahsyat menghajar badannya, dia mendengus berat, telapak tangannya dengan cepat diangkat menangkis datangnya serangan tersebut.

Siapa tshu baru saja dia kirim satu pukulan mendadak angin pukulan yang amat lunak tadi kini sudah berubah jadi keras, dia jadi sangat rerperanjat.

ULtuk menarik kembali serangannya tak sempat, terpaksa dengan keras lawan keras dia menerima serangan tersebut. "brak. ,..!." dengan menimbulkan suara bentrokan yang sangat keras, tubuhnya mundur tiga langkah ke belakang.

Sekali lagi Liem Tou tertawa terbahak-bahak. "Ha ha .

. . Ke Siauw cu ! kau masih jauh ketinggalan lebih baik kau pulang gunung dulu untuk berlatih kembali tiga tahun, ada kemungkinan waktu itu kau baru punya harapan".

Pikiran Thian Pian Siauw cu yang tajam dengan cepat berputar

, mendengar perkataan dari Liem Tou itu dia jadi amat girang.

"Liem To, apakah pekataanmu itu sungguh sungguh ?" teriaknya.

Liem Ton sama sekali tidak menyangka kalau Thian Pian Siauw cu kembali meng-atur jebakan, dia lantas tertawa terbahak bahak.

"Siapa yang berkata lagi main main dengan kau orang."

Dengan Cepat Thian Pian siauw cu loncat mundur sejauh tiga kaki lalu menjura kepada diri Liem Tou.

"Terima kasih atas kesudianmu untuk menarik kembali pertandingan ini dan mengijinkan aku Ke Hong untuk bertanding kembali tiga tahun kemudian, anggap saja dalam babak ketiga ini kembali aku orang menemui kekalahan." Burung burung elang sisanya tidak usah kau hancurkan lagi dan sekarang harap kau suka melepaskan Giok jie, aku Ke Hong bersumpah selama tiga tahun tidak akan keluar gunung. Mendengar perkataan itu kembali Liem Tou merasa dirmya tertipu, tetapi perkataan sudah diucapkan untuk menarik kembalipun tidak leluasa karenanya dia cuma bisa memaki atas kejujuran dirinya sendiri sehingga setiap kali harus menemui kerugian.

Dergan gemasnya dia menghela napas panjang dan lepaskan Giok jie ke atas tanah, mendadak teringat olehnya akan satu hal sehingga tak terasa teriaknya keras.

"Kalau memangnya Ke Siauwcu bermaksud begitu. perkataan yang sudah kukatakan selamnya tidak akan ditarik kembali, tetapi ketiga ekor burung elang itu harus kau tinggalkan disini. apa yang aku Liem Tou katakan selamanya tidak bisa berubah kembali."

Walaupun Thian Pian siauw cu menyayangkan ketiga ekor burung elang itu tapi untuk kcelamatannya sendiri dia tidak bisa untuk tidak serahkan keluar.

Setelah termenung sebentar mendadak dia bersuit sedih, mendengar suara suitan itu ke tiga ekor burung elang itu dengan gagahnya segera terbang mendatang dan berdiri di atas telapak tangan Thian Pian siauw cu.

Dengan suara yang halus Thian Pian siuw cu mengucapkan beberapa patah kata kepada burung burung elang itu.

Liem Tou yang mengetahui atas kelihyan burung burung elang itu segera berseru dengan keras:

"Ke siauw cu, cepat kau ikat burung elang itu erat erat !" Terpaksa Thian Pian siauw cu melakukan seperti apa yang diminta.

Setiap bangsa burung bilamana sepasang kakinya sudah diikat maka sekalipun ada sayap tak akan bisa terbang.

Liem Tou lantas suruh si gadis cantik pengangon kambing menerimanya dan melepaskan Giok jie ke atas tanah.

Thian Pian siauw cu yang melihat G;ok jie sudah dilepaskan dia lattas menggape ke arahnya :

"Giok jie, kau kemarilah !" Giok jie yang melihat air muka Thian Pian siauw cu sudah berubah jadi hijau membesi sehingga jelek dilihat, dalam hati merasa agak gemetar, selamanya tidak pernah dia melihat perubahan air muka dari Thian Pian siauw cu sehingga sedemikian rupa.

Walaupun di dalam hati Giok jie merasa hatinya bergidik dia pun tidak berani untuk tidak maju kedepan, selangkah demi selangksh dia berjalan ke hadapan Thian Pian siauw cu lalu tekuk lutut dan jatuhkrn diri berlutut dihadapannya dan menangis tersedu sedu. 

Dengan sepasang mata yang sudah berubah memerah lama sekali Thian Pian siauw cu melototi diri Giok jie, mendadak teriaknya dengan keras:

"Giok jie, meninggalkan tempat tugas tak mendengarkan perintah guru tahukah apa dosanya ?"

Dengan jatuhkan diri mendekam di atas tanah, Giok jie menangis tiada hentinya membuat Kiem ji yang ada ditempat kejauhan pun tidak terasa lagi ikut melelehkan air mata.

si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie yang melihat bocah itu amat bagus dan memiliki dasar belajar silat yang kuat pula membuat hati rada menaruh kasihan,

Thian Pian siauw cu yang tidak mendengar jawaban dari Giok jie, hatinya semakin gusar lagi.

"Giok jie ayoh kau bilang ! tahukah dosa mu ?" Terpaksa Giok jie menganggukkan kepalanya.

Kalau sudah tahu berdosa ayoh angkat kepalamu !" Bentak Thian Pian Siauw cu lagi

.

Giok jie menurut dan angkat kepalanya tampaklab diatas pipinya yang putih dan halus sudah penuh dibasahi air mata. Dengan dinginnya Thian Pian siauw cu memandang sekejap kearahnya. alisnya dikerutkan rapat rapat lalu melengos kesamping.

Beberapa saat kemudian dia baru menoleh kembali dengan wajah yang buas.

"Giok jie!' Teriaknya dengan ketus. "Tahukah kau orang hampir hampir suhumu tidak punya muka untuk bertemu di depan orang ?"

Giok jie menangis semakin menjadi. Tak sepatah katapun yang dijawab olehnya.

Mendadak Thian Pian siauw cu maju dua langkah ke denan, sepasang matanya melotot lehar lebar sedaag telapak tangan kananpun dengan perlahan lahan diangkat ke atas.

Lie Siauw Ie maupun si gadis cantik pengangon kambing yaag melihat kejadian ini diam diam merasa amat terkejut.

"Ke Siauw cu, kau mau berbuat apa ?" Tiba tiba terdngar Liem Tou membentak.

Sehabis membentak tubuhnya dengan kecepatan bagaikan kilat berkelebat menerjang ke arah depan.

Tetapi pada saat itulah bagiikan meng-gulung ombak ditengah samudra dengan dahsyatnya Thian Pian siauw cu melancarkan satu pukulan ke arah depan.

Liem Tou yang dalam hati ingin menolong orang melihat datangnya pukulan itu dia lantas kiiim pula satu pukulan ke arah depan.

Brack * - dengan disertai suara bentrokan yang amat keras tubuh Thian Pian-siauw cu tergetar mundur sejauh tujuh, delapan langkah jauhnya sehingga jatuh terduduk.

Tetapi angin pukulan yang dilancarkan olehnya kedepanpun segera mendatangkan satu angin taufan yang menghajar atas permukaan tanah, pasir serta batu pada beterbangan membuat Giok jie yang masih ada disitu terkena hajaran sebuah batu cadar dan jatuh tidak sadarkan diri.

Lie Siauw Ie maupun si gadis cantik pengangon kambing tidak terasa lagi sudah pada berebut maju ke depan untuk menolong Giok jie.

Keadaan jadi amat kacau masing masing pada turun tangan menolong diri Giok jie yang jatuh pingsan.

Di sebelah sana Liem Toa yang berhasil memukul mundur Thian Pian siauw cu ke arah belakang segera membentak dengan amat gusar.

"Ke siauw cu aku sama sekali tidak menyangka kalau hatimu sebenarnya amat kejam apa salahnya dia orang dengan dirimu? Kenapa kau turus tangan kejam terhadap dirinya ?"

Thian Pian siauw cu yang tergetar mundur ke belakang, setelah berhasil menenangkan pikirannya dia lantas salurkan hawa murninya mengelilingi seluruh tubuhnya satu kali, setelah ditemui kalau dirinya tidak terluka sambil mengerutkan alisnya rapat rapat dia baru berteriak gusar :

"Liem Tou ! Soal itu kan urusan pribadiku, apa sangkut pautnya dengm dirimu? Kau orang sungguh keterlaluan sekali. Ini hari sekalipun harus bermandikan darah diatas pun cak gunung Cing Shia ini aku Ke Hong juga akan adu jiwa dengan dirimu !"

Sehabis berkata dia kerahkan hawa murninya sehingga membuat tulang tulang di seluruh badannya bergerutuk amat nyarng, telapak tangannya mendadak membesar beberapa kali lipat kemudian dengan menggunakan sepuluh bagian tenaga murni bagaikan tiupan angin taufan dia menghajar ke arah depan.

Melihat datangnya serangan tersebut Liem Tou segera tertawa dmgin.

"Ke siauw cu !" Bentaknya dengan keras "Aku Liem Tou sudah buka satu jalan kehidupan buat dirimu. bilamana kau tidak suka menurut janganlah salahkan aku Liem Tou akan turun tangan telengas."

Sehabis berkata dia menyingkir beberapa kaki ke samping, angin pukulan dari Thian Pian siauw cu pun segera menghajar ke atas tanah sehingga kembali menimbulkan sambaran angin tajam yang membuat pasir dan tanah pada beterbangan.