Raja Gendeng Eps 28 : Sang Arwah

 
Eps 28 : Sang Arwah


Arwah Iblis Kolot menyusup masuk menguasai dan mengendalikan raga muridnya.

Sukma sang murid Pura Saketi yang tak lain adalah putra Pendekar Sesat telah berusaha bertahan agar keberadaannya didalam raga sendiri tak terganggu oleh kehadiran arwah Iblis Kolot gurunya.

Tetapi arwah sesat itu tanpa kesulitan yang berarti sanggup mengambil alih Raga Sang murid.

Selama raganya berada dalam cengkeraman kekuasaaan arwah Iblis Kolot, Pura Saketi tidak dapat mengingat apa-apa.

Dia bahkan tidak tahu apa yang dilakukan tubuhnya sendiri yang dikendalikan arwah sesat itu.

Ingatan Pura Saketi pulih kembali setelah arwah sang guru keluar meninggalkan raganya (Baca episode "Aksara Iblis"

Kejadian seperti ini dialaminya ketika bertemu dengan seorang kakek bernama Randu Wulih di hulu kali Gondang.

Pura Saketi yang semula tersesat kehilangan arah menyatakan keinginannya menumpang bermalam di depan pondok Randu Wulih.

Karena memang tidak punya silang sengketa, Pura Saketi bersikap selayaknya seorang tamu. Disaat dia duduk didepan api bara berhadap-hadapan dengan Randu Wulih.

Tiba-tiba muncul satu cahaya merah kehitaman kearah pemuda remaja itu. Ketika cahaya menyentuh ubunubunnya.

Pura Saketi sempat melihat bayangan sosok gurunya. Selanjutnya dia merasakan seluruh tulang belulang mulai dari batok kepala hingga ke tulang ekor laksana dialiri cairan es.

Di luar sepengetahuan pemuda ini.

Itulah saat dimana arwah gurunya mengambil alih raganya.

Mahluk alam arwah yang terbunuh di tangan muridnya sendiri ini ternyata memang mempunyai silang sengketa dan dendam kesumat dimasa lalu dengan Randu Wulih. Tidaklah mengherankan bila arwah Iblis Kolot dengan menggunakan ilmu kesaktiannya sendiri.

Dan digabungkan dengan Ilimu Aksara Iblis dari dalam tubuh Pura Saketi dapat menghabisi lawan yang sangat dia benci itu.

Adapun perihal bagaimana arwah Iblis Kolot bisa mengetahui muridnya telah berhasil mendapatkan sekaligus menguasal ilmu hebat dari Kitab Aksara Iblis.

Sebabnya tidak lain karena setelah menjadi arwah, kakek sesat itu terus membayang-bayangi kemanapun Pura Saketi pergi.

Kini setelah jauh meninggalkan pondok kediaman Randu Wulih.

Pemuda remaja berpakaian biru berambut panjang lurus namun kaku itu berdiri tegak dengan bersandar pada pohon jati tua meranggas gersang.

Dari lereng bukit denga leluasa Pura Saketi memperhatikan lembah dimana terdapat sebuah persawahan dan ladang hijau.

Diantara sawah dan ladang terdapat sebuah jalan mengulir berkelok-kelok laksana ular. Uuara dingin sejuk dipagi itu.

Beberapa petani tampak sibuk menguras tanamannya.

Dipepohonan burungburung berkicau memecah keheningan yang damai.

Semua pemandangan indah dan suasana alam yang bersahabat ternyata tidak menarik perhatian Pura Saketi.

Saat itu perhatiannya hanya tertuju ke ujung jalan disebelah utara tempat dimana tiga penunggang kuda memacu binatang yang tunggangannya dalam keadaan tergesa-gesa.

Terhalang oleh jarak yang demikian jauh.

Pura Saketi tidak dapat memastikan siape saja ketiga penunggang kuda itu.

Dia hanya bisa melihat para penunggang kuda itu masing-masing berpakaian putih, satunya lagi berpakaian hitam dan terakhir yang berada di bagian paling belakang berpakaian biru ringkas.

Kening Pura Saketi mengernyit.

Dia berusaha mengingat-ingat apakah pernah bertemu atau berurusan dengan orang-orang berpenampilan seperti mereka.

Pemuda itu jadi curiga terlebih setelah melihat ketiga penunggang kuda ternyata semakin memacu tunggangannya walau jalan ditengah persawahan itu licin berlumpur.

Tidak menunggu lebih lama dengan sekali menghentakkan kakinya.

Pura Saketi berkelebat kearah jalan yang siap hendak dilalui oleh ketiga orang berkuda. Hanya dalam sekedipan mata Pura Saketi telah menghadang di tengah jalan.

Tiga kuda meringkik keras.

Dua kuda yang berada paling depan yang ditunggangi kakek berpakaian putih dan berambut putih mengangkat dua kaki depannya tinggi-tinggi. Demikian juga dengan kuda yang ditunggangi oleh kakek berbaju hitam yang kedua matanya kerap berkedip.

Andai kedua kakek ini tidak bersikap waspada dapat dipastikan keduanya terlempar dari kuda dan jatuh ke sawah berlumpur yang ditumbuhi padi menghijau.

Sementara pemuda yang mengikuti dibelakang berlaku sigap.

Melihat orang tiba-tiba muncul menghadang ditengah jalan segera mengambil tindakan dengan menarik tali kekang kudanya.

Kuda cokelat itu berhenti, namun tetap keluarkan ringkikan keras.

Tiga orang yang duduk diatas kuda yang bukan lain adalah Giri Sabanaya kakek berpakaian putih, Si kedip Mata orang tua berpakaian hitam membekal toya juga seorang pemuda membekal busur dan anak panah bernama Ariamaja.

Sebagaimana telah diketahui dalam cerita sebelumnya.

Tiga orang bersahabat ini memang tengah dalam perjalanan menuju ke puncak Akherat. Niat mereka adalah untuk menghadap sekaligus menemui para sesepuh tua yang dikenal dengan sebutan Tujuh Tokoh.

Ketiganya yang baru saja menunggalkan tempat kediaman Pranajiwa berniat menyampaikan kabar tentang terjadinya serangkaian peristiwa aneh termasuk lenyapnya Pranajiwa, berubahnya murid-murid Pranajiwa menjadi patung serta munculnya seorang pemuda sakti dijuluki Pemburu Dari Neraka.

Selain itu mereka juga hendak mengabarkan tewasnya Randu Wulih, salah satu tokoh tua yang konon disebut-sebut sebagai Tujuh Tokoh dari aliran putih itu.

Kini melihat ada seorang pemuda belia menghadang ditengah jalan.

Baik Ariamaja, Giring Sabanaya dan Si Kedip Mata akhirnya saling berpandangan.

Tiga tombak didepan mereka Pura Saketi menatap ketiganya dengan sorot mata tak berkedip. Bila awalnya ketiga orang berkuda itu tak begitu menarik perhatiannya.

Sejurus kemudian laksana melihat mahluk menakutkan sepasang mata Pura Saketi mendelik besar.

Rambut kaku panjang berjingkrak tegak, kaki tersurut dua tindak ke belakang.

Merasa mengenali siapa adanya ketiga orang didepannya tiba-tiba Pura Saketi sunggingkan seringai dingin.  

Melihat pemuda itu perlihatkan gelagat aneh, Giring Sabanaya melalui ilmu menyusupkan suara ajukan pertanyaan pada Ariamaja.

"Pemanah yang tidak pernah meleset!"

Kata Giring Sabanaya menyebut julukan Ariamaja.

"Aku rasa-rasa mengenal pemuda ini, mungkin juga aku pernah melihat atau bertemu dengannya.

Namun aku lupa kapan dan dimana?"

Mendengar suara mengiang dari kakek itu Ariamaja segera menjawab melalui ilmu mengirimkan suara pula.

"Penglihatanmu tidak keliru kakek Giring. Celaka bagi kita karena aku bisa menduga pemuda berpakaian biru itu adalah orang yang terkena panahku sepuluh purnama yang lalu. Dia masuk ke jurang dan ketika itu kita semua menganggap dia telah menemui ajal dalam jurang itu."

Jawaban Ariamaja membuat Giring Sabanaya berjingkrak saking kagetnya. Si Kedip Mata yang hanya diam namun dapat mendengar pembicaraan dua sahabat melalui suara mengiang kernyitkan alisnya.

"Jika dia orangnya. Berarti pemuda ini adalah putra Pendekar Sesat yang tewas dalam penyerbuan yang kita lakukan. Bagaimana mungkin dia bisa selamat?"

Tanya Si Kedip Mata.

Belum sempat kedua sahabat menjawab.

Pura Saketi kembangkan kedua tangannya lalu tertawa tergelak-gelak. Tawa pemuda itu kemudian lenyap.

Dengan wajah garang dan tatapan dingin menusuk Pura Saketi kembangkan kedua tangan, busungkan dada sekaligus keluarkan ucapan.

"Bicara berbisik melalui suara mengiang. Berlagak bodoh seperti monyet kudisan. Sepuluh purnama bukanlah waktu yang lama. Aku mendengar apa yang kalian bicarakan. Dan kalian bertiga pasti masih ingat siapa aku. Saat itu aku adalah orang yang menjadi buruan. Kau.... kau dan para sahabatmu telah memperlakukan aku seperti binatang hina.!"

Teriak Pura Saketi sambil menunjuk tiga orang didepannya satu demi satu. Si Kedip Mata gebrak kudanya hingga merangsak maju sejarak satu tombak. Setelah memperhatikan Pura Saketi, orang tua ini membuka mulut,

"Jadi kau anak Pendekar Sesat? Iblis apa yang telah berkenan menyelamatkan dirimu didasar jurang Watu Remuk Raga sana hingga membuatmu selamat. Malah kulihat kau tidak menderita cidera sedikitpun!"

Pura Saketi keluarkan suara berdengus. Mulut menggembor marah, namun yang terdengar adalah suara raungan menggidikkan. Tiga kuda meringkik ketakutan. Namun tiga mahluk itu masih dapat dikendalikan penunggangnya.

"Kau... kau bertanya siapa yang telah menolong dan menyelamatkan aku he... tua bangka yang matanya terus berkedip? Ha ha ha... Yang menolong menyelamatkan aku memang bukan dewa congkak. Tepat seperti ucapanmu, yang menolong aku adalah iblis. Dan iblis itu bernama Iblis Kolot...!"

Pengakuan Pura Saketi karuan saja menimbulkan kegemparan dihati Giring Sabanaya dan Si Kedip Mata.Terkecuali Ariamaja yang bersikap tenang karena memang tidak mengenal tokoh yang baru disebut Pura Saketi.

Sebagai orang yang telah berusia lanjut, kedua kakek itu tentu saja tak akan pernah melupakan nama besar momok nomor satu rimba persilatan yang satu itu

"Iblis Kolot alias Iblis Gila. Jahanam terkutuk itu ternyata tidak mampus setelah dulu dibuat babak belur dan dilempar ke jurang yang sama oleh para tokoh sepuh. Tidak disangka-sangka dia menyelamatkan putra almarhum pendekar Sesat.Malah dia kemungkinan telah mengangkat pemuda ini menjadi muridnya?"

Batin Giring Sabanaya.

Sebaliknya Si Kedip Mata malah bersikap acuh. Sambil tersenyum orang tua itu ajukan pertanyaan.

"Iblis Kolot ternyata menyelamatkanmu dari kematian.Apakah dia juga mengangkatmu monjad muridnya?"

Pertanyaan si kakek dijawab Pura Saketi dengan semburan ludah.

Dengan tatapan nyalang, wajah membersitkan rasa benci, Pura Saketi menggeram. "Pertanyaanmu itu akan segera terjawab begitu nyawa busuk terlepas dari raga lapukmu, Kedip

Mata.!"

Pura Saketi cepat palingkan kepala ke arah Ariamaja. Lalu pada pemuda itu dia berteriak menggeledek.

"Kau.... Kau yang telah melukai kaki dan perutku. Aku bersumpah kematianmu akan kubuat paling menyakitkan!"

Diancam begitu rupa tidak membuat Ariamaja jadi takut. Dengan sikap tenang dia malah menjawab.

"Iblis Kolot boleh mewariskan seribu ilmu butut rongsokan padamu. Tapi aku bukanlah manusia pengecut yang harus melarikan diri dari pemuda ingusan sepertimu!"

"Sombong!"

Pekik Pura Saketi dalam gelegak amarah yang tak tertahankan. Dua tangan tiba-tiba mengepal.

Wajah merah kelam, sekujur tubuh bergetar sebagai pertanda pemuda itu telah siap lancarkan serangan. "Siapa diantara kalian yang ingin mampus duluan?!" Teriaknya kalap.

Giring Sabanaya, Si Kedip Mata saling tatap.

Dalam keadaan biasa mereka adalah orang-orang yang sering bersikap adil dalam setiap perkelahian. Mereka tidak pernah mengeroyok.

Tapi kali ini rupanya mereka sama menyadari siapa lawan.

Dalam menghadapi putra bekas musuh besarnya ketiganya punya pandangan yang sama yaitu maju bebarengan.

Maka ketika mendengar ucapan Pura Saketi, serentak ketiganya menjawab. "Aku yang ingin mati duluan!"

Tiga mulut keluarkan teriakan yang sama. Tiga kuda digebrak. Binatang-binatang itu merangsak maju, menerjang ke arah Pura Saketi dalam waktu bersamaan.

"Jahanam pengecut!"

Pura Saketi keluarkan seruan tertahan sambil menghindari terjangan tiga kuda.

Terlambat sedikit saja pemuda ini menghindar tubuhnya pasti amblas remuk terinjak kaki kuda yang besar-besar itu.

Gerak yang dilakukan Pura Saketi memang sungguh cepat luar biasa. Dia menerobos melewati bagian bawah perut kuda.

Hebatnya lagi dia masih sempat menghantam kaki sebelah depan binatang tunggangan lawanlawannya secara berturut-turut

Krak! Krak! Krak!

Terdengar tulang belulang berpatahan.

Ketiga kuda meringkik kesakitan lalu ambruk seperti pohon besar tumbang "Kurang ajar!"

Teriak Giring Sabanaya gusar.

Kakek ini segera menyelamatkan diri dengan berjumpalitan menjauh dari kuda.

Si Kedip Mata yang kudanya ikut ambruk dengan bertumpu pada toya yang bersitekan pada tanah becek lambungkan diri ke udara.

Sambil melambung tubuhnya berputar, dan karena jaraknya demikian dekat dengan Pura Saketi maka secepat kilat dia hantamkan kakinya ke wajah pemuda itu.

Tidak menyangka lawan yang selamatkan diri masih sanggup melancarkan serangan, Pura Saket sentakkan kepala ke belakang.

Tendangan yang siap meremukan wajahnya luput namun ujung kaki Si Kedip Mata masih sempat melabrak dadanya.

Dees!

Tendangan keras itu hanya membuat Pura Saketi terhuyung. Dia menyumpah lalu balas melakukan serangan.

Namun Si Kedip Mata telah melompat menjauh. Pukulan Pura Saketi hanya menghantam angin.

Tak jauh dibelakang pemuda itu, Ariamaja yang terjatuh dari kudanya dengan sebelah kaki bertumpu pada tanah segera bangkit. Selagi dua sahabatnya merangsak maju mengepung Pura Saketi, kesempatan ini dipergunakan oleh Ariamaja untuk melepaskan dua batang anak panahnya ke punggung lawan.

Dua anak panah melesat tanpa suara siap menembus bagian punggung dan pinggang lawan.

Tapi lawan nampaknya menyadari adanya bahaya mengancam datang dari belakang. Tanpa menoleh namun sambil menggeram dia miringkan tubuh sekaligus balikkan badan sedemikian rupa.

Dan dua tangannya bergerak menyambar kedua anak panah itu. Tep!

Tep!

Sekali renggut dua anak panah tertangkap.

Sebelum tubuh yang berputar miring menyentuh tanah, Pura Saketi tiba-tiba kibaskan anak panah lawan yang sedang dipegangnya. Dua anak panah kini berbalik dengan kecepatan berlipat ganda siap menembus dada Ariamaja.

"Jadah!"

Rutuk Ariamaja.

Secepat kilat dia menggunakan busur yang tergantung dilengan kanan untuk menghalau serangan dua anak panah.

Traak! Trak!

Dua batang anak panah hancur berpentalan. Ariamaja katubkan bibirnya.

Wajah si pemuda agak pucat.

Hampir saja dia celaka oleh senjatanya sendiri. Sambil lintangkan busur di depan dada.

Ariamaja memandang ke depan.

Dia melihat lawan berdiri berkacak pinggang, mata mendelik garang wajah dingin kaku. "Mengaku manusia berbudi, bertingkah selayaknya orang suci. Tapi perbuatanmu membokong dari

belakang benar-benar perbuatan keji, pengecut!" Teriak Pura Saketi dengan geram

"Untuk menyingkirkan manusia busuk sepertimu tidak perlu menggunakan segala aturan?!" Sambut Ariamaja sengit.

"Mengapa banyak bicara! Habisi dia dengan segala cara kalau perlu yang paling keji sekalipun!"

Seru Si Kedip Mata. Selanjutnya tanpa banyak bicara lagi, orang tua ini segera putar toya ditangan hingga mengeluarkan suara menderu berkesiuran. Toya yang berubah jadi bayang-bayang itu tiba-tiba melambung seiring dengan melesatnya tubuh si kakek ke depan. Ketika lawan berada dalam jangkawannya, toya menderu sebat siap mengepruk kepala Pura Saketi. Patut diakui, serangan si Kedip Mata dengan mengandalkan jurus Toya Mengikis Karang, ini sangat ganas dan berbahaya sekali.

Apalagi pada waktu yang sama dari arah samping Giring Sabanaya ikut menyerang Pura Saketi dengan pukulan Badai Putih Melanda Bukit. Ketika si kakek dorongkan kedua tangannya ke arah lawan. Berturut-turut dari telapak tangannya menderu cahaya putih berkilau disertai tebaran hawa dingin yang membuat sekujur tubuh seperti ditindih gumpalan awan sedingin es.

Sementara dari arah belakang Ariamaja yang tidak ingin menggunakan busur dan anak panah, karena takut terkena teman sendiri segera pula ikut melancarkan serangan yang tak kalah dahsyatnya. Dengan gerakan kaki yang bergerak secepat setan berlari, pemuda ini lalu tusukkan dua jari tangannya ke batok kepala lawan. Dua jari menderu membeset udara memancarkan cahaya biru terang. Serangan yang dilakukan Ariamaja ini dikenal dengan nama jurus Menembus Kegelapan Dasar Bumi'. Jangankan batok kepala, lempengan baja sekalipun dapat ditembusnya.

Tiga serangan ganas datang dalam waktu bersamaan. Pertama serangan tongkat yang siap meremukkan batok kepala. Yang kedua serangan Giring Sabanaya berupa cahaya putih dingin yang siap melabrak tubuh dari dada hingga ke kaki. Serangan ketiga adalah tusukan dua jari yang siap menembus bagian belakang batok kepala pemuda itu.

Tidak ingin mati konyol, Pura Saketi geser kakinya kesamping. Dengan menggunakan jurus Kuda Kuda Iblis warisan almarhum gurunya dia mencoba meloloskan diri dari ketiga serangan itu.

Bersamaan dengan itu Pura Saketi cepat sekali alirkan tenaga dalam kebagian dua tangannya. Reeet!

Seketika dua tangan berubah merah membara. Hawa panas menghampar sepuluh kali lipat dari panas api biasa. Pura Saketi memutar tubuh sambil mengibaskan kedua tangan. Giring Sabanaya yang mengetahui ilmu pukulan yang dipergunakan Pura Saketi tiba-tiba berseru.

"Awas! Dia menggunakan pukulan Bara Neraka! Ilmu itu pasti didapatkannya dari Iblis Kolot!"

Sambil berteriak si kakek lipat gandakan tenaga dalamnya lalu terus mendorongkan dua tangannya ke depan.

Si Kedip Mata yang toyanya sempat tersentak keatas dan tangan yang memegang toya terasa panas kesemutan terus menekankan lagi toyanya ke bawah dengan gerakan mengepruk. Ariamaja yang sempat merasakan ganasnya sambaran hawa panas dari lengan lawan yang diputar sebat melanjutkan serangan dengan mengerahkan seluruh tenaga luar dalam kebagian jari.

"Manusia-manusia gila dan tolol! Hiyaaa. !"

Teriak Pura Saketi.

Menyertai teriakannya Pura Saketi hantamkan sepasang tangannya tiga kali berturut-turut.

Ketika tangan dihantamkan ke arah toya.

Senjata ditangan Si Kedip Mata terpental lepas dari genggaman, lalu melayang jatuh berkerontangan dalam keadaan dilalap api.

Tak ingin celaka Si Kedip Mata hantamkan lagi pukulan ganas ke arah pemuda itu. Tapi pukulan yang dilancarkannya kandas di tengah jalan.

Serangkum hawa panas menghantam kakek itu hingga membuatnya terpelanting.

Tidak jauh disebelahnya Giring Sabanaya tidak lagi sempat memikirkan apa yang terjadi dengan sahabatnya.

Orang tua ini terus mendorong kedua tangan menyambuti sambaran cahaya merah yang menerjang ke arahnya.

Dari arah belakang Ariamaja lipat gandakan tenaga dalam dan tusukkan jemarinya ke kepala lawan.

Tapi ketika Pura Saketi keluarkan teriakan melengking. Tubuhnya tiba-tiba melambung ke dara.

Berbarengan dengan gerakan tubuh melambung, dua tangan dikibaskan ke empat penjuru arah sekaligus

Wuus! Byaar!

Cahaya merah bergulung menghantam Giring Sabanaya dan Ariamaja.

Serangan yang dilancarkan kakek itu musnah, sebaliknya kibasan tangan Pura Saketi melabrak tubuhnya.

Walau dia telah berusaha selamatkan diri dengan menjatuhkan diri, namun tak urung pakaian disebelah belakang dan punggungnya dikobari api. Giring Sabanaya bergulingan untuk memadamkan api yang membakar punggungnya.

Sementara itu Ariamaja sendiri menggerung kesakitan.

Serangan dua telunjuk yang mengarah ke kepala lawan dapat dipatahkan.

Sedangkan telunjuk itu sendiri hangus menghitam mengepulkan asap menebar bau daging terbakar.

Sakit luar biasa yang ditimbulkan oleh hangusnya dua telunjuk membuat Ariamaja terus melolong. Tapi karena tak kuasa menahan sakit yang tiada tertahankan.

Ariamaja segera mencabut pedang pendek yang terselip dibalik pakaiannya. Secepat kilat dia memotong jari telunjuk sebelah kiri.

Setelah itu pedang digenggam ditangan kiri.

Kemudian mata pedang diayunkan ke telunjuk sebelah kanan.

Ariamaja segera menotok jalan darah yang terdapat dibagian kedua telunjuknya untuk mencegah agar darah yang keluar dari dua luka terhenti.

Pemuda ini kemudian bangkit.

Sambil menyimpan pedang pendeknya Ariamaja melangkah mundur sejauh tiga tindak. Setelah itu dia mengambil tiga batang anak panah sekaligus dan membidik sasarannya.

Pura Saketi menyeringai sambil bertolak pinggang.

Memandang ke jurusan dimana Giring Sabanaya bantingkan tubuhnya dilihatnya kakek itu sudah duduk bersila.

Pakaian putih disebelah belakang berlubang hangus. Kulit dipunggung juga melepuh.

Tapi orang tua ini hanya menderita luka bakar dibagian luar, setelah kerahkan tenaga dalam dia bangkit.

Wajah Giring Sabanaya merah kelam, rahang bergemeletukan, pipi menggembung sepasang mata mencelet garang. Ketika Pura Saketi menatap ke arah Si Kedip Mata sudah pula berdiri tegak, Wajah si Kedip Mata yang pucat tampak tegang.

Sedangkan kedua tangan si Kedip Mata yang bersilangan di depan dada telah berubah berwarna biru.

"Ya-ya-ya... Orang-orang tolol terhanyut dalam kemurkaan. Sepertinya aku tak harus membuang banyak tenaga. Sekali menggebrak tiga bangsat yang telah membunuh orang tuaku bakal mampus! Ha ha ha!"

Berkata demikian Pura Saketi salurkan tenaga dalam ke arah dada, mulut berkomat-kamit membaca mantra.

Belum lagi mantra-mantra selesai diucapkan.

Dari arah samping sebelah kiri Ariamaja yang dikenal sebagai pemanah yang tidak pernah gagal telah melepaskan tiga anak panahnya.

Ketika tiga anak panah menyambar ke arah Pura Saketi, tidak terdengar suara deru dan desing. Namun hebatnya pemuda ini segera menyadari ada bahaya besar datang dari arah sampingnya. Dengan kecepatan tak dapat diikuti kasat mata dia memutar tubuh.

Bersamaan dengan memutar badan dia berseru, "Aksara Iblis!" Byar!

Seketika satu perubahan mengerikan terjadi pada diri pemuda itu. Tiba-tiba diseluruh permukaan tubuhnya berubah menjadi merah.

Bersamaan dengan perubahan kulitnya, muncul pula kilatan kilatan cahaya timbul tenggelam silih berganti.

Kilatan cahaya putih redup itu muncul dalam bentuk aksara aneh kuno yang sulit dimengerti maknanya oleh semua orang yang ada disitu.

"Aksara Iblis!"

"Dia telah menguasal ilmu Aksara Iblis! Lekas bunuh sebelum dia membuat malapetaka lebih hebat lagi pada orang lain!"

Teriak Giring Sabanaya. Si kakek dengan menggunakan ilmu pukulan Luapan Lahar Gunung Meletus segera menyerbu ke arah Pura Saketi.

Si Kedip Mata yang sempat terkejut mendengar ucapan Giring Sabanaya segera mencabut pedangnya.

Dengan menggunakan pedang itu dia melompat ke depan lalu tusukkan pedang. Sementara seiring dengan bermunculannya Aksara Iblis ditangan dan sekujur tubuhnya, Pura Saketi menyambut serangan tiga anak panah dengan membusungkan dadanya.

Anak-anak panah itu dengan telak menghujani dada dan perutnya.

Tetapi kejut dihati Ariamaja bukan olah-olah begitu melihat tiga anak panahnya langsung berubah hangus manjadi bubuk bertebaran begitu menyentuh tubuh lawannya.

Selagi Ariamaja terkesima melihat kejadian yang sulit dipercaya ini. Dari tubuh Pura Saket berlesatan cahaya putih berbentuk aksara aneh.

Diudara cahaya-cahaya itu menderu berubah menjadi puluhan aksara yang kemudian menghujani tubuh Ariamaja.

Untuk menyelamatkan dir ­ dar ­ puluhan aksara berbentuk cahaya maut, Ariamaja terpaksa hantamkan tangan kiri melepas pukulan Panah Sakti Melanda Langit.

Tapi pukulan itu kandas ditengah jalan.

Puluhan cahaya berupa aksara terus menderu menyerbu ke arahnya. Ariamaja memutar busur ditangan untuk melindungi diri.

Dres!

Busur hancur menjadi kepingan.

Puluhan cahaya dalam rupa aksara iblis melibas tubuhnya membuat pemuda ini menjerit dan tubuhnya ambruk dipenuhi puluhan lubang menganga hangus mengerikan.

Melihat Ariamaja menemui ajal, Giring Sabanaya dan Si Kedip Mata bukannya batalkan serangan sebaliknya dengan kemarahan luar biasa keduanya menyerbu ke arah pemuda itu.

Melihat kedua lawan nekat menyerang, Pura Saketi sengaja memasang badan dengan berdiri bertolak pinggang.

Ujung pedang ditangan Si Kedip Mata menancap dilehernya, tapi tak sanggup menembus walau Si Kedip Mata terus mendorong pedang itu dengan kekuatan berlipat ganda.

Sementara itu pada waktu yang bersamaan pukulan Giring Sabanaya juga melabrak tubuh Pura Saketi. Tapi ketika si pemuda menggoyang badannya, pukulan sakti Giring Sabanaya musnah.

Sebaliknya dari tubuh Pura Saketi menderu puluhan cahaya bergemerlapan menghantam tubuh orang tua itu.

Selagi Giring Sabanaya mencari selamat dengan melompat kesamping, pedang Si Kedip Mata yang menempel dileher pemuda ini dijalari cahaya dalam rupa aksara-aksara aneh.

Pedang meleleh seperti lilin terbakar.

Dalam kejut Si Kedip Mata melompat mundur ke belakang.

Namun belum sempat dia jejakkan kaki, belasan cahaya membersit dari tangan, wajah, tubuh dan kaki pemuda itu.

Cahaya Aksara Iblis menghantam tubuh Si Kedip Mata, membuat si kakek terjungkal meregang nyawa tanpa sempat berteriak lagi.

Tak jauh disampingnya Giring Sabanaya juga ternyata tidak sanggup selamatkan diri dari kematian karena hantaman puluhan cahaya Aksara Iblis ternyata datangnya lebih cepat dari gerakan si kakek Orang tua ini hanya mampu delikkan mata ketika puluhan cahaya amblas menembusi sekujur tubuhnya.

Tiga lawan tewas mengenaskan dengan tubuh dipenuhi luka hangus mengepulkan asap. Pura Saketi menarik balik tenaga dalam yang dia salurkan kesekujur tubuh.

Begitu tenaga sakti kembali ke pusar.

Kulitnya yang memerah laksana bara kembali ke bentuk semula.

Bersamaan dengan itu seluruh aksara yang bermunculan silih berganti baik yang ditangan atau dipenjuru tubuh lainnya ikut lenyap.

Pura Saketi menyeringai dingin.

Sambil menatap sinis ke arah mayat-mayat bekas musuhnya dia berujar,

"Segalanya baru dimulai. Mudah-mudahan aku bisa menemukan semua musuh ayahku tanpa terganggu oleh kehadiran arwah guru yang kerap memanfaatkan ragaku."

Sambil berkata demikian tanpa menunggu lebih lama Pura Saketi sang pewaris ilmu ganas Aksara Iblis tinggalkan tempat itu.

***** Memasuki kawasan Rahasia yang bernama Pintu Selatan kakek berpakaian putih berambut dan berjenggot panjang putih menjela terkesan lebih berhati-hati dalam melangkah.

Walau si kakek Kerdil telah mengenal dengan baik daerah itu, namun salah sedikit saja menentukkan arah, dia bisa tersesat ke alam Arwah.

Siapa saja tersesat ke alam arwah.

Selama lamanya orang tersebut tidak mungkin bisa kembali ke alam fana. Di alam arwah dia akan menderita kesengsaraan ditengah kehidupan para arwah sesat yang ganas dan kejam.

Tidaklah mengherankan setelah melewati patung putih berwujud manusia berkepala singa. Sambil terus menggandeng tangan Pranajiwa yang berjalan mengekor di belakang, si Jenggot

Panjang bertubuh kerdil ini pentang matanya lebar-lebar.

"Batu Gila... Dimana beradanya batu tanda yang menjadi jalan masuk menuju Pura Suci!" Membatin Si Jenggot Panjang didalam hati.

Sekali lagi si kakek layangkan pandang.

Baru saja sepekan kawasan itu dia tinggalkan untuk menjemput Pranajiwa sang calon sembahan. Ternyata banyak sekali terjadi perubahan di kawasan yang dipenuhi bebatuan dan pasir itu "Setiap waktu kuasa gaib melakukan perubahan pada permukaan dan pemandangan di tempat ini.

Aku yang bukan orang asing saja dibuat pangling dengan pemandangan yang berubah ubah."

Setelah berucap dalam hati. Si Jenggot Panjang utusan Penguasa atau Kuasa Agung hentikan langkahnya.

Begitu si kakek berhenti, Pranajiwa yang mengikuti disebelah belakang ini juga berhenti.

Mata kakek berpakaian merah itu tampak kosong karena telah dicuci otak dan pikirannya dengan racun Jarum Sukma Kelana.

"Makam kedua putriku.... Kurasa letaknya tidak disini..."

Bibir kering yang terkatub rapat itu tiba tiba berucap. Si Jenggot Panjang mendengus, dia menoleh kebelakang menatap wajah Pranajiwa dengan mata mendelik mulut membentak.

"Kita melewati jalan pintas. Jalan terdekat menuju makam kedua putrimu!" Ucapan Dia Si Jenggot Panjang hanya dusta belaka.

Seperti telah diceritakan dalam episode Putera Pendekar Sesat'.

Si Jenggot Panjang mengaku sekaligus menjanjikan dapat menghidupkan kembali kedua putri Pranajiwa yang menemui ajal setelah dinodai oleh Pendekar Sesat.

Pendekar Sesat sendiri akhirnya menemui ajal setelah digempur oleh tokoh-tokoh sakti yang bersahabat dengan Pranajiwa.

Karena kecintaannya yang demikian besar pada kedua putrinya, Pranajiwa seperti kehilangan akal sehat. Dia lupa tak ada satu manusia pun yang mampu menghidupkan orang yang telah mati. Termakan oleh bujukan Si Jenggot Panjang, Pranajiwa mengikut saja kemanapun Si Jenggot

Panjang pergi.

Dalam perjalanan bersama si kakek kerdil, Pranajiwa berhasil disirap dan dicuci otaknya dengan Jarum Sukma Kelana.

Setelah dibentak Pranajiwa jadi terdiam.

Kepala mengangguk membenarkan ucapan Si Jenggot Panjang. Si kakek sendiri kembali menatap ke depan.

Tidak sabar diapun berkata,

"Wahai sang Kuasa Agung, aku tidak melihat Batu Gila, batu tanda masuk jalan menuju ke Puri Suci. Bimbinglah aku! Aku datang membawa orang yang kau pesan!"

Si Jenggot Panjang lalu diam menunggu. Tiba-tiba saja terdengar suara orang seperti menggumam.

Kemudian disusul dengan suara deru angin.

Bersamaan dengan suara deru angin, tanah disekeliling mereka berputar. Pepohonan, bebatuan tinggi ikut berputar pula.

Kemudian muncul pula kabut dimana-mana. Udara panas dan dingin datang silih berganti.

Si Jenggot Panjang merasa kepalanya jadi pening.

Pranajiwa sebaliknya malah tertawa seperti anak kecil yang berada diatas ayunan. Kemudian terdengar suara lolongan dan suara pekik burung hantu.

Si Jenggot Panjang usap wajah dan tengkuknya yang mendadak menjadi dingin. Suara gemuruh dan lolong anjing lenyap.

Gerakan tanah dan pemandangan yang berputar mendadak terhenti.

Lalu sayup-sayup seolah datang dari dalam perut bumi terdengar ada satu suara berkata. "Batu tanda masuk telah kutunjukkan padamu. Pemilik Pura Suci telah menunggu. Palingkan

kepala, arahkan perhatian kesebelah selatan. Yang kau cari pasti kau temukan!" "Terima kasih. !"

Si Jenggot Panjang bungkukkan badan. Dia lalu memutar langkah.

Menatap ke arah selatan terlihat sebuah benda berwarna hitam setinggi pinggang berwujud patung mencuat berdiri dipermukaan tanah.

Patung berwujud manusia tanpa wajah tanpa rambut terus bergoyang selayaknya orang menari. Mungkin karena selalu bergoyang tak mau diam, patung batu itu disebut Batu Gila atau Batu

Tanda masuk. Si Jenggot Panjang tersenyum.

Si kakek segera melangkah menghampiri sambil terus mencekal tangan Pranajiwa. Sesampainya didepan Batu Gila, si kakek hentikan langkah.

Sedangkan Pranajiwa demi melihat patung batu dapat bergoyang aneh dia malah senyum-senyum sendiri.

"Orang ini bisa menari, aku juga ingin ikutan menari!" "Diam! Jangan bicara jika tidak kuminta!"

Dengus Si Jenggot Panjang sambil mempererat cekalannya pada lengan Pranajiwa, membuat orang tua itu meringis kesakitan.

Tanpa menghiraukan ringisan Pranajiwa. Si Jenggot Panjang ulurkan tangannya ke arah Batu Gila.

Kepala patung lalu ditekannya dengan telapak tangan kiri. Seketika Batu Gila berhenti bergoyang.

Malah batu itu kemudian amblas lenyap dari pandangan.

Seiring dengan lenyapnya Batu Gila terdengar suara bergemuruh seperti lempengan batu berat bergeser.

Si Jenggot Panjang melangkah mundur ketika tanah didepannya bergerak, bergeser membentuk sebuah lubang empat persegi.

Dibalik lubang menganga terdapat undakan anak tangga menuju ke ruangan dibawah tanah. Melalui tangga itulah Si Jenggot Panjang menuntun Pranajiwa.

Ketika kedua orang ini sampai diundakan anak tangga paling bawah, pintu batu bergeser menubup.

Byar!

Ruangan yang gelap seiring dengan menutupnya pintu rahasia berubah menjadi terang. Si Jenggot Panjang terus melangkah.

Setelah melewati dua belokan, sampailah keduanya didepan sebuah bangunan megah bertingkat berwarna merah darah dengan bentuk seperti sebuah puri besar.

Disekeliling bangunan tidak berbeda seperti dialam bebas, terdapat pemandangan yang cukup indah.

Banyak pepohonan dan bunga tumbuh disana.

Sepengetahuan Si Jenggot Panjang semua tumbuhan yang terdapat ditempat itu dulunya berasal dari jiwa orang-orang yang terbunuh ditangan Kuasa Agung.

Tidaklah mengherankan tanaman yang tumbuh ditempat itu hanya mempunyai satu nama yaitu pohon atau bunga Jiwa

"Sang Kuasa Agung, aku telah sampai.Mohon dapat menghadap secepatnya!" Ucap Si Jenggot Panjang.

"Mengapa banyak peradatan. Bawa masuk tamu kita! Aku menunggu di ruang Penyempurnaan!" Menyahuti satu suara tidak sabaran.

"Maafkan aku!"

Si Jenggot Panjang bungkukkan badannya. Karena memang sudah mengetahui tempat yang dimaksudkan oleh Penguasa Kawasan, si kakek pun menuntun Pranajiwa menuju ke Ruang Penyempurnaan. Sesampainya didepan pintu serba merah, orang tua ini hentikan langkah. Dia menatap ke arah dua penjaga. Penjaga ditempat itu memiliki wujud yang cukup membuat merinding tengkuk orang yang melihatnya. Tubuh kedua penjaga, baik kaki maupun kepala berbentuk manusia. Namun tangan-tangan mereka berbentuk seperti kaki dan tangan kalajengking.

Disamping itu dibagian ujung tulang belakang tumbuh ekor yang ujungnya lancip runcing tak ubahnya seperti sengat kalajengking.

"Buka pintu!"

Perintah si kakek. Kedua penjaga berwujud aneh itu masing masing jauhkan tombak dari pintu merah.

Dengan wajah dingin keduanya mengangguk pada Si Jenggot Panjang.

Begitu kedua penjaga bergeser kesamping memberi jalan pada Si Jenggot Panjang dan Pranajiwa.

Pintu merah terbuka.

Angin dingin berhembus menebar bau amis darah, membuat Pranajiwa tersedak dan keluarkan suara seperti mau muntah. Si Jenggot Panjang yang sudah terbiasa dengan segala bebauan di tempat itu sedikitpun tidak terpengaruh.

Dia segera menarik Pranajiwa lalu membawanya memasuki sebuah ruangan besar yang ternyata adaiah sebuah kolam luas berwarna merah yang dikenal dengan kolam Darah Kepedihan.

Melihat pemandangan didepannya tidak seperti yang diharapkan, Pranajiwa ajukan pertanyaan. "Mana kuburan kedua putriku. Aku tidak melihat pusara, aku hanya melihat telaga sejuk!" "Manusia linglung. Kolam darah dianggapnya telaga sejuk!"

Gerutu Si Jenggot Panjang.

Mulut tersenyum namun mata menatap ke sudut ruangan dimana sebuah ranjang empuk berwarna merah berada.

Ranjang itu kosong.

Si kakek dongakkan kepala, menatap ke langit-langit dia melihat sesosok tubuh berwujud manusia dalam rupa perempuan muda berkaki tiga pasang mirip kalajengking bergelayut bergelantungan dilangit-langit ruangan.

Melihat mahluk setengah manusia setengah kalajengking berkaki dan bercapit merah menggelantung disana, si Jenggot Panjang segera jatuhkan diri beriutut dilantai.

Dengan suara bergetar kakek ini berkata.

"Maafkan aku sang Kuasa Agung. Aku sama sekali tidak ingin mengganggu istirahatmu!"

Rupanya Si Jenggot Panjang menyadari. Setiap kali melepas lelah perempuan separoh kalajengking yang disebutnya Sang Kuasa Agung biasa menghabiskan waktu dengan cara bergelantung dilangit langit ruangan. Sang Kuasa Agung tanggapi ucapan si kakek dengan tersenyum.

Tiga pasang kaki bergerak, merayap menuju tembok. Sekejab kemudian dia telah duduk diatas ranjang merah.

"Bangunlah, Jenggot Panjang! Mendekat kepadaku, bawa calon persembahan kehadapanku!"

Perintah perempuan yang ternyata masih muda, berwajah cantik berdagu runcing sambil kibaskan rambut panjangnya ke belakang.

Si kakek anggukkan kepala. Perlahan dia berdiri.

Sambil menuntun Pranajiwa, Si Jenggot Panjang melangkah menghampiri Sang Kuasa Agung. Sesampainya didepan sang dara, Si Jenggot Panjang segera duduk bersila.

Pranajiwa yang tidak mengenal siapa adanya Kuasa Agung hanya tegak berdiri laksana patung. Setelah pandangi gadis yang duduk diranjang merah, Pranajiwa tiba-tiba berkata,

"Mengapa aku dibawa ke tempat ini. Mengapa yang ada didepanku bukan pusara? Gadis berkaki kalajengking ini memangnya siapa?"

Melihat orang bicara sembarangan.

Si Jenggot Panjang hantam lutut belakang Pranajiwa, membuat orang tua itu jatuh berlutut sedangkan matanya menatap kaget pada kakek disebelahnya

"Berlutut dan menghormatiah pada Sang Kuasa Agung.Beliau adalah orang yang jauh lebih penting dan lebih mulia dibandingkan kedua puterimu!"

Pranajiwa terlihat bingung. "Aku,... aku tidak mengerti. "

Dengan terbata-bata Pranajiwa berucap. Si Jenggot Panjang hendak membuka mulut mendamprat. Namun Sang Kuasa Agung goyangkan tangan kanannya yang berbentuk capit sebagai isyarat agar orang tua itu diam

"Dia tidak mengenalku, Jenggot Panjang. Tapi orang yang bernama Pranajiwa ini segera menyadari bahwa seluruh kekuasaan sesungguhnya berada dalam genggamanku."

"Aku mengerti Sang Kuasa Agung. Orang tua ini agaknya telah ditakdirkan untuk menjadi jodohmu!"

Mendengar ucapan Si jenggot Panjang, sepasang alis Sang Kuasa Agung yang hitam mencuat nampak mengerut  

"Apakah kau lupa, jodoh dan calon pasanganku masih berada di luar kawasan Rahasia Pintu Selatan. Yang kubutuhkan dari Pranajiwa cuma darah dan saripati kehidupannya. Dia terlahir pada malam sabtu pon. Dan itu sudah sesuai dengan syarat yang kubutuhkan untuk mencapai kesempurnaan diri. Kau tahu aku tak mau menjadi mahluk bodoh, aku mau menjadi manusia yang utuh. Hanya darah dan sari kehidupan orang itu yang bisa membuat wujudku sempurna!"

"Aku tahu Sang Kuasa Agung." "Bagus."

Kata Sang Kuasa Agung.

Sambil menatap ke arah Si Jengot Panjang gadis ini kemudian bertanya,

"Sahabatku, kau orang yang paling kupercaya. Sekarang aku ingin mendengar dari mulutmu.

Ketika kau berada di alam bebas rimba persilatan, apakah kau telah menyirap kabar tentang keberadaan kekasih, calon suamiku itu?"

Pertanyaan yang tidak disangka-sangka ini membuat Si Jenggot Panjang terdiam. Seperti diketahui ketika melakukan tugas yang diberikan oleh Sang Kuasa Agung. Dalam perjalanan mencari dan menemukan Pranajiwa.

Kakek ini juga berusaha menyelidik keberadaan kekasih dambaan hati gadis yang dihormatinya.

Tapi ketika si Jenggot Panjang menyirap kabar bahwa orang yang dikasihi Sang Kuasa Agung ternyata telah menemui ajal di Jurang Watu Remuk Raga sekitar delapan belas tahun yang silam.

Maka perhatian Si Jenggot Panjang selanjutnya hanya tertuju pada Pranajiwa. Tidaklah mengherankan bila kemudian dengan polos si kakek menjawab.

"Sang Kuasa Agung! Maafkan aku jika semua yang aku sampaikan ini nantinya tidak berkenan dihatimu!"

"Kau hendak mengatakan apa Jenggot Panjang? Aku sudah siap mendengar penjelasanmu. Jika yang kau sampaikan itu ternyata memang sesuatu yang buruk, aku berusaha menerimanya dengan tabah!"

Ucap Sang Kuasa Agung disertai senyum. Si Jenggot Panjang menghela nafas dalam sambil tatap gadis yang duduk diatas ranjang merah.

"Begini Sang Kuasa Agung. Terus terang aku memang tidak berhasil menemukan keberadaan kekasihmu. Tapi aku telah menyirap kabar bahwa orang yang kau rindukan ternyata telah tewas belasan tahun yang lalu. Dia dibunuh lalu dilemparkan ke dalam Jurang Watu Remuk Raga oleh orang yang menyebut dirinya Tujuh Tokoh Dari Puncak Akherat. Ketujuh tokoh itu kabarnya juga dibantu oleh para sahabat mereka!"

Walau telah menyatakan dirinya siap mendengar kabar yang paling buruk sekalipun, tak urung penjelasan Si jenggot Panjang membuat hati Sang Kuasa Agung terguncang. Cukup lama gadis ini terdiam, wajah kaku tegang mata berkilau membersitkan rasa sedih dan amarah.

Tiba-tiba dia bangkit.

Sambil tatap si Jenggot Panjang yang bersimpuh didepannya. Seakan tidak percaya gadis ini menggumam.

"Aku tidak percaya kekasihku bisa dibunuh orang? Dia sudah tewas, tapi jika benar dirinya menemui ajal. Mengapa hingga saat ini aku merasa dia masih hidup?"

"Sang Kuasa Agung apa yang aku katakan bukanlah sebuah dusta. Apa yang kusampaikan sesuai dengan kenyataan di dunia persilatan. Jika orang-orang yang kutemui itu berdusta tentu saja yang aku katakan padamu merupakan sebuah kekeliruan. Untuk kesalahan itu aku siap menerima ganjaran darimu!"

Kata Si Jenggot Panjang bersungguh-sungguh.

Sang Kuasa Agung tentu saja tidak mau menjatuhkan tangan kejam pada sahabatnya.

Tapi dia masih belum percaya kekasih pujaan hatinya yang bernama Iblis Kolot sudah mati. Apalagi beberapa purnama belakangan dirinya kerap bermimpi bertemu dengan kakek itu. Dalam mimpi Iblis Kolot kerap mengajak mengunjungi tempat tempat berpemandangan indah. Di akhir mimpi biasanya Iblis Kolot selalu mengajaknya bercinta.

"Sahabatku...!"

Akhirnya Sang Kuasa Agung membuka suara.

"Kalau yang kau dengar dan katakan memang betul adanya. Berarti aku merasa tidak ada gunanya lagi mempercantik diri, memperbagus penampilan! Jika kekasih yang kudamba benar telah tewas yang perlu kulakukan saat ini adalah mencari dimana kubur orang yang kucinta itu berada...!"

Si Jenggot Panjang tentu saja merasa terkejut demi mendengar ucapan Sang Kuasa Agung. Dengan heran namun hati diliputi rasa penasaran si kakek membuka mulut ajukan pertanyaan. "Sang Kuasa Agung, apakah ucapanmu itu berart kau tidak jadi menggunakan darah dan sari pati

kehidupan Pranajiwa untuk merubah wujud penampilanmu menjadi seorang gadis yang sempurna?" Pertanyaan Si Jenggot Panjang kali ini disambut senyum dingin oleh gadis itu. Setelah menatap

Pranajiwa dari rambut hingga ke ujung kaki beberapa jenak lamanya. Sang Kuasa Agung kembali tatap Si Jenggot Panjang sambil berkata,

"Kini aku tidak lagi membutuhkan kesempunaan. Tapi orang yang kau bawa kehadapanku ini bukan berarti tidak memiliki guna."

"Lalu...?"

"Hi hi hi! Aku tidak lagi ingin membiarkan perjalanan jauh yang kau lakukan demi menjemput orang ini menjadi sesuatu yang sia-sia, Jenggot Panjang. Aku tetap akan menggunakan darah, saripati kehidupannya untuk kepentingan yang lain. Disamping itu aku juga akan memanfaatkan jantungnya untuk menghadirkan bala kekuatan lain...!"

"Untuk apa bala kekuatan yang lain itu? Bukankah engkau sudah begini perkasa?"

"Kau tidak tahu, setelah kekasihku terbunuh aku tidak mungkin lagi berdiam diri dikawasan Rahasia Pintu Selatan ini. Sudah saatnya bagiku untuk pergi ke alam luar sana, alam yang oleh manusia disebut dengan dunia persilatan!"

"Apa yang akan kau lakukan?" Tanya Si Jenggot Panjang.

Si kakek sungguh tidak mengerti dengan perubahan rencana yang dilakukan oleh gadis yang sangat dihormatinya itu.

"Apa yang akan aku lakukan?!" Ucap gadis itu.

Matanya yang hitam angker dengan sedikit lingkaran putih dikeliling titik hitam matanya berputar liar.

Mulut menyeringai sunggingkan senyum.

Sedangkan sepasang capit yang menggantikan fungsi tangan bergerak-gerak mengeluarkan suara gemeletak aneh membuat tengkuk si kakek menjadi dingin.

"Jenggot Panjang, ketahuilah.Kalaupun aku tidak bisa menemukan letak kubur kekasihku itu, aku akan mencari arwahnya. Aku yakin arwah kekasihku masih mengembara gentayangan di alam fana karena kekasihku itu tak bakal tenang dan tak bisa kembali ke alam arwah bila musuh-musuh yang telah membuatnya terbunuh masih berkeliaran bebas."

Si Jenggot Panjang terdiam, namun otaknya berpikir cepat.

Sebagai orang yang selama ini dikenal sangat dekat dengan Sang Kuasa Agung. Sedikit banyak dia bisa menduga jalan pikiran gadis itu.

"Hmm, jadi Sang Kuasa Agung berniat membawa arwah kekasihmu ke tempat ini?" Ucap Si Jenggot panjang.

"Tepat!"

Sahut Sang Kuasa Agung sambil anggukkan kepala.

"Namun itu cuma salah satu dari rencanaku. Rencana yang lainnya, aku akan membawa arwah kekasihku kemudian memasukkannya ke tubuh orang yang tepat dan menarik.Aku akan membantu setiap keinginannya untuk membalas dendam kesumat kepada musuh-musuhnya!"

"Tapi Sang Kuasa Agung, mencari keberadaan arwah kekasihmu itu bukan pekerjaan yang mudah?"

Ucapan Si Jenggot Panjang disambut si gadis dengan tawa dingin.

"Hik hik hik! Aku mengetahui sebuah rahasia penting yang tak pernah terlintas dalam pikiranmu atau pikiran manusia yang lain, Jenggot Panjang. Dengan kesaktian yang kumiliki aku bisa menjajaki keberadaan arwah kekasihku!"

"Aku percaya dengan ucapanmu. Percuma kau disebut Sang Kuasa Agung jika hanya memiliki pengetahuan yang sempit dan kekuasaan yang serba terbatas."

Si Jenggot Panjang memuji.

Kemudian dengan pandangan penuh rasa kagum si kakek berujar,

"Karena rencanamu berubah dari yang pertama. Sekarang aku ingin tahu kapan engkau akan mewujudkan semua keinginanmu itu Sang Kuasa Agung?"

"Aku akan melakukannya sekarang!"

Setelah memutuskan demikian Sang Kuasa Agung kemudian berdiri. Dia memberi isyarat pada Si Jenggot Panjang. Si kakek ikut bangkit lalu mendekati Pranajiwa yang masih berdiri tegak dengan pandangan kosong kepada Sang Kuasa Agung.

Melihat Si Jenggot Panjang dan Sang Kuasa Agung datang menghampiri, Pranajiwa yang sudah tidak mampu lagi berpikir tentang baik buruk dan bahaya yang tengah mengancamnya malah tersenyum.

"Aku telah dipertemukan dengan gadis cantik berkaki dan bertangan aneh. Aku bahagia, kebahagiaan akan semakin lengkap bila aku diijinkan bertemu dengan kedua putriku!"

Kata Pranajiwa sambil senyum-senyum sendiri.

"Racun Jarum Sukma Kelana sepertinya telah melumpuhkan akal dan kesadarannya, Jenggot Panjang. Dia tidak menghiraukan semua pembicaraan kita."

"Begitulah Sang Kuasa Agung. Dia tidak menyadari sebentar lagi nyawanya amblas ke neraka lapisan ketujuh."

Sahut Si Jenggot Panjang disertai seringai dingin. Kuasa Agung anggukkan kepala. Dalam hati dia mengagumi kehebatan Racun Jarum Sukma Kelana yang dimiliki oleh sahabatnya itu.

Tapi Sang Kuasa Agung segera berkata.

"baringkan Pranajiwa ke ranjang indah kesayanganku!" "Baiklah Sang Kuasa Agung!"

Menyahuti Si Jenggot Panjang. Orang tua ini kemudian segera menuntun Pranajiwa dan membawanya ke ranjang merah disampingnya.

Ketika Si Jenggot panjang meminta Pranajiwa baringkan tubuhnya di ranjang itu. Si Jenggot Panjang melihat Pranajiwa terlihat bingung dan ragu-ragu.

"Mengapa aku harus tidur di ranjang ini. Kapan aku bisa melihat kedua putriku?" Tanya orang tua itu.

Seperti diketahui, ketika Si Jenggot Panjang membujuk, menjemput dan membawa Pranajiwa dari tempat kediamannya.

Si Jenggot Panjang mengaku sanggup menghidupkan kembali kedua putri Pranajiwa yang sudah mati.  

Pranajiwa yang dirundung duka berkepanjangan atas kematian putrinya ternyata termakan begitu saja ucapan kakek ini.

Di tengah malam Pranajiwa kemudian mengikut saja kemana Si Jenggot Panjang membawanya pergi. Sekarang setelah otaknya dicuci dengan Racun Jarum Sukma Kelana, segala ingatannya lenyap. Pertanyaan Pranajiwa segera dijawab oleh kakek itu.

"Kau ingin segera bertemu dengan kedua anakmu. Salah satu caranya kau harus segera berbaring di ranjang Penyempurnaan ini.!"

"Oh begitu ya...?!" Sahut Pranajiwa.

Wajahnya seketika berubah berseri-seri.

Tidak menunggu lebih lama, Pranajiwa kemudian baringkan tubuhnya diatas ranjang merah. Begitu kepala dan punggungnya menyentuh kasur yang empuk.

Tiba-tiba saja ranjang mengeluarkan suara gemuruh aneh.

Hampir bersamaan dengan terdengarnya suara bergemuruh itu, dari bagian atas dimana kepala pranajiwa tergeletak serta bagian bawah ranjang dimana kaki orang tua itu berada muncul

masing-masing satu-satu rantai berwarna hitam. Rantai itu bergerak dengan sendirinya disertai suara bergemerincing.

Setiap rantai kemudian merayap seolah hidup menjalar seperti ular lalu melingkari kaki dan tangan Pranajiwa.

Pranajiwa yang tidak pernah menyadari malapetaka besar akan segera terjadi atas dirinya malah tersenyum-senyum.

"Aku akan bertemu dengan anak-anakku. !"

Desis Pranajiwa.

"Ya, kerinduanmu segera terobati. Sekarang pejamkanlah matamu!" Perintah Si Jenggot Panjang.

Selayaknya orang yang berada dalam pengaruh sirapan, Pranajiwa kemudian pejamkan kedua matanya.

Begitu mata terpejam.

Sang Kuasa Agung melangkah mendekati.

Tiga Pasang kakinya yang tidak beda dengan kaki kalajengking mengeluarkan suara gemeletak aneh begitu bersentuhan dengan lantai.

Si Jenggot Panjang yang mengetahui tindakan apa yang hendak dilakukan Sang Kuasa Agung segera melangkah ke sudut ruangan.

Dari tempat ini dengan tatapan tak berkedip dia mengawasi Sang Kuasa Agung angkat kedua tangannya yang berbentuk capit.

Capit sebelah kiri yang menggantikan fungsi tangan lalu disapukan ke wajah Pranajiwa. Terdengar suara desir halus ketika tangan capitnya mengusap lembut wajah Pranajiwa. Setelah diusap Pranajiwa terlihat lebih tenang.

Bibir Sang Kuasa Agung yang merah dengan garis hitam pada bagian tepinya mengurai senyum. Senyum lenyap, bibir itu kini berkemak-kemik membaca mantra-mantra sakti.

Selesai membaca mantra, dua tangan capit ditiup tiga kali berturut turut. Begitu ditiup kedua tangan pancarkan cahaya merah terang.

Sang Kuasa Agung tidak menunggu lebih lama.

Dua tangan merah berkilau itu selanjutnya dihujamkan ke dada tepat ke arah jantung Pranajiwa Wuus!

Blees!

Kedua tangan berbentuk capit seketika itu pula amblas masuk menembus rongga dada.

Begitu kedua ujung capit menyentuh jantung yang berdenyut, maka seketika itu juga mengalir hawa panas dan hawa dingin dari jantung Pranajiwa.

Orang tua yang dadanya ditancapi kedua tangan Sang Kuasa Agung tampak menggeletar. Mata yang terpejam mendelik besar.

Dari mulut Pranajiwa serta merta terdengar suara jerit raungan mengerikan. Dia menggelepar dan meronta.

Tap gerakannya tidak berarti apa-apa karena kedua tangan dan kaki terbelenggu rantai besi hitam. Sebuah proses mengerikan mulai berlangsung.

Seluruh darah yang mengalir ditubuh Pranajiwa kini tersedot amblas memasuki dua tangan Sang Kuasa Agung.

Darah itu kemudian mengalir dari tangan keseluruh tubuh sang dara.

Seiring dengan tersedotnya seluruh darah Pranajiwa, terlihat pula cahaya putih ikut tersedot keluar dari tubuh orang tua malang itu.

Seluruh cahaya yang berhasil disedot paksa dari tubuh Pranajiwa kemudian juga ikut menyatu kedalam diri gadis itu.

Darah dan cahaya putih sari kehidupan Pranajiwa habis tidak tersisa, membuat sekujur tubuh orang tua ini berubah kering kerontang mengerikan bagaikan mayat yang dijemur dipadang pasir.

Pranajiwa diam tidak bergerak, mulut mendelik mata ternganga.

Tapi dia belum sepenuhnya menemui ajal karena jantung masih berdenyut.

Dia berada diujung ambang batas kehidupan yang luar biasa menyakitkan. Sang Kuasa Agung tersenyum.

Dia kemudian sentakkan kedua tangannya. Begitu tangan ditarik lepas dari dada Pranajiwa.

Kini di tangan capit sebelah kanan tergeletak sebuah benda merah kecoklatan.

Benda yang tak lain adalah Jantung Pranajiwa itu masih berdenyut "Ambil kendi!"

Seru Sang Kuasa Agung ditujukan pada Si Jenggot Panjang.

Dengan wajah pucat, tengkuk bergidik ngeri, si kakek segera bergegas menuju ke ruangan lain.

Tidak berselang lama dia telah kembali lagi dengan membawa kendi berwarna hitam tertutup kain berwarna merah.

Si Jenggot Panjang serahkan kendi pada gadis didepannya.

Sang Kuasa Agung buka penutup kendi, lalu masukkan jantung yang masih berdenyut hidup ke dalam kendi itu.

Kendi kembali ditutup.

Si gadis kembali serahkan kendi kepada si kakek disertai ucapan. "Masukkan kendi ke dalam Kolam Darah Kehidupan!"

Si Jenggot Panjang terima kendi itu tanpa bicara sepatah katapun.

Rupanya orang tua ini masih merasa ngeri melihat pemandangan yang belum lama berlalu. Si Jenggot Panjang lalu menuju ke kolam berwarna merah yang terdapat ditengah ruangan,

Sambil membungkuk si kakek memasukkan kendi kedalam kolam berwarna merah.

Begitu menyentuh air dalam kolam, kendi bergoyang disertai suara degup jantung yang berada di dalamnya.

Perintah telah dilakukan, orang tua itu kemudian kembali menemui Sang Kuasa Agung.

Sesampainya didepan gadis itu, si Jenggot Panjang kembali dibuat tertegun.

Dia melihat Sang Kuasa Agung mengusap dada yang berlubang bolong mengerikan. Begitu diusap dada yang berlubang kering tak berdarah menutup rapat.

"Luar biasa!"

Desis Si Jenggot Panjang tanpa sadar. Sang Kuasa Agung menyeringai. Dia balikkan badan menghadap ke arah si kakek. Pada orang tua itu Sang Kuasa Agung berkata.

"Biarkan raga kosong ini ada diruangan ini. Siapa tahu kelak setelah bertemu dengan arwah kekasihku aku membutuhkannya."

"Apapun keputusan Sang Kuasa Agung, aku mematuhinya." Jawab Si Jenggot Panjang.

Suaranya serak parau.

"Bagus! Sekarang saatnya kau pergi bersamaku mencari orang yang aku cintai."

Tegas Sang Kuasa Agung yang kini wajahnya lebih berseri dan jauh lebih cantik dari sebelumnya. Tanpa membantah Si Jenggot Panjang anggukkan kepala. Keduanya pun segera berlalu tinggalkan ruang serba merah itu.

*****

Setelah terlibat perkelahian sengit dengan Si Jenggot Panjang dan nyaris dibuat celaka oleh kakek kerdil yang selalu menyelipkan pipa dibibirnya itu, Dewi Kipas Pelangi yakin Pranajiwa tidak lagi mengenalnya.

Pranajiwa yang bersama Si Jenggot Panjang dalam keadaan tidak wajar.

Sebelum peristiwa penyerbuan bersama yang kemudian menewaskan Pendekar Sesat, antara Pranajiwa dan gadis ini sudah terjalin persahabatan akrab yang telah berlangsung lama.

Dia merasa heran ketika bertemu dengan Pranajiwa dalam perjalanannya bersama Si Jenggot Panjang, Pranajiwa justru tidak mengenali siapa dirinya.

Dewi Kipas Pelangi merasa ada sesuatu yang sangat luar biasa telah dialami sahabatnya Pranajiwa.

"Tatapan paman Prana kosong. Wajah dan kulitnya pucat agak kebiruan. Apa yang telah dilakukan oleh SI Jenggot Panjang terhadap paman Pranajiwa? Siapa Si Jenggot Panjang itu dan kemana paman Pranajiwa hendak dibawa?"

Pikir gadis cantik bersenjata kipas berpakaian warna-warni ini.

"Hanya ada satu kemungkinan yang terlintas dalam benakku. Kakek berjenggot panjang itu mungkin telah mencuci otak paman Prana dengan semacam racun jahat sehingga paman Prana kehilangan ingatannya. Jika dugaanku benar. Apa tujuan Si Jenggot Panjang melakukannya?"

Kata Dewi Kipas Pelangi heran.

Sampai disini Dewi Kipas Pelangi terdiam.

Dia teringat dengan pemuda berpenampilan aneh yang menutup kedua matanya dengan batok kelapa berwarna hitam.

Pemuda penunggang kuda buta yang membantu menyelamatkannya dari serangan Si Jenggot Panjang itu bukankah mengatakan dia sedang memburu Si Jenggot Panjang untuk kemudian mengembalikannya ke tempat asal si kakek

"Pemburu Dari Neraka, begitulah dia menamakan diri.Jika demikian apakah mungkin Si Jenggot Panjang adalah penjahat besar yang lolos dari neraka?"

Kata Dewi Kipas Pelangi menduga-duga.

"SI Jenggot Panjang sepertinya gentar pada pemuda berkaca mata batok itu. Pemburu Dari Neraka ternyata jauh lebih tangguh.Setelah mendengar pembicaraan antara pemuda itu dengan Si Jenggot Panjang, aku tahu Pemburu Dari Neraka mengetahui banyak tentang riwayat hidup kakek itu.Aku harus menyusul Pemburu Dari Neraka. Bukankah setelah menolongku dia mengejar Si Jenggot Panjang.?"

Dewi Kipas Pelangi diam dalam keraguan. Wajah cantiknya seketika berubah tegang, membayangkan perasaan ngeri ketika mengingat bendera Kematian serta wasiat Hidup dan kematian yang diberikan Pemburu Dari Neraka sesaat sebelum meninggalkannya.

Si gadis tiba-tiba raba punggungnya.

Bendera simbol kematian dan gulungan kulit berisi wasiat masih tersimpan di situ.

"Aku takut bertemu dengan Pemburu Dari Neraka. Tapi aku harus segera mencarinya agar bisa mendapat petunjuk tentang Si Jenggot Panjang. Paman Pranajiwa sedang berada dalam ancaman bahaya besar dan kehilangan ingatannya. Dia tidak menyadari ada bahaya mengincarnya."

Lalu Dewi Kipas Pelangi menghela nafas panjang. Namun saat itu matahari sudah mulai condong ke langit sebelah barat. Dia memikirkan tindakan yang akan dilakukannya.

Setelah mengenyampingkan rasa takutnya gadis ini memutuskan untuk menyusul Pemburu Dari Neraka ke selatan ke arah lenyapnya Si Jenggot Panjang bersama Paman Pranajiwa.

"Andai saja aku mempunyai kuda yang bisa berlari cepat, mungkin sebelum malam nanti aku sudah berhasil menyusul mereka!"

Baru saja Dewi Kipas Pelangi berkata demikian, tiba-tiba dari ujung jalan yang membentang disepanjang tepian sungal berbatu terdengar suara kuda meringkik.

Dewi Kipas Pelangi terkejut, namun segera palingkan kepala dan menatap ke arah datangnya suara.

Wajahnya berubah berseri saat dilihatnya seekor kuda berbulu hitam berlari cepat menuju ke arahnya.

Melihat kuda gemuk berbulu putih pada kedua telinganya itu sang Dewi berseru,

"Hitam.. ah... bagaimana kau bisa menemukan aku disini. Jauh-jauh kau meninggalkan Blora apakah kakek Sepuh yang menyuruhmu?"

Kuda hitam hentikan larinya.

Binatang itu meringkik keras, kepala diangguk-angguk seakan membenarkan apa yang ditanyakan orang.

Dew Kipas Pelangi dekati kuda, membelai kepala lalu mengusap bulu hitam tebal dileher kuda. Saat itulah dia mengendus bau harum kemenyan, bau khas yang biasa dipakai gurunya kakek

Sepuh untuk menyalakan pendupaan di malam hari.

Untuk diketahui sang kuda yang bernama Angin Puyuh itu memang binatang tunggangan Dewi Kipas Pelangi. Dalam pengembaraan kali ini Dewi Kipas Pelangi tidak membawa serta kuda itu.

Agaknya sang guru menyadari pentingnya kuda bagi muridnya sehingga kakek Sepuh segera memerintahkan Angin puyuh menyusul majikannya.

Si gadis kemudian menatap ke arah pelana yang bertengger dipunggung binatang itu. Dia melihat dibelakang pelana terdapat sebuah kantong perbekalan. Kantong ditarik diturunkan kemudian diperiksa isinya.

Di dalam kantong terdapat beberapa perangkat pakaian bekal juga jenis kipas. Dewi Kipas Pelangi tersenyum, bersyukur atas kebaikan gurunya.

Kipas miliknya selama ini telah mengalami kerusakan hebat akibat bentrok dengan Si Jenggot Panjang.

Diantara tiga kipas dalam kantong bekal dia mengambil kipas paling bagus dengan alur tujuh warna.

Ketujuh warna itu tak lain adalah warna pelangi

"Terima kasih guru atas segala kebaikanmu. Murid tak mungkin bisa membalas semua kebaikan ini seumur hidupku.!"

Sambil berkata demikian Dewi Kipas Pelangi selipkan senjata itu dibalik pinggang pakaiannya.

Mulut kantong ditutup, dikat kembali selanjutnya diletakkan diatas punggung kuda. "Angin Puyuh, apakah kau telah siap menempuh perjalanan denganku?"

Tanya gadis itu sambil menepuk punggung kuda. Kuda hitam meringkik lalu mengangguk.

Si gadis tersenyum.

Dengan gerakan ringan dia segera naik ke atas punggung kuda. Setelah tali kekang kuda berada dalam genggaman.

Entah mengapa sang Dewi merasa bimbang.

Dia ingat dengan Tujuh Tokoh dari Puncak Akherat

"Apakah aku harus menemui mereka teriaebih dulu sekalian memberi kabar kepada para sesepuh dunia persilatan itu? Puncak Akherat terlalu jauh dari sini karena terletak di sebelah barat Gunung Bismo.Dibutuhkan waktu setidaknya tiga hari untuk mencapai tempat itu. Dalam rentang waktu itu bisa jadi paman Prana tidak dapat diselamatkan lagi!"

Pikir Dewi Kipas Pelangi.

Setelah sempat bimbang dalam keraguan, gadis ini kemudian memilih lebih mengutamakan keselamatan Pranajiwa.

Sebelum pergi, Dewi Kipas Pelangi tengadahkan wajahnya menatap matahari di langit sebelah barat.

Dia melihat langit yang merah disaput warna merah darah. Padahal ketika itu matahari masih jauh dari titik tenggelamnya.

"Warna merah biasanya hanya muncul bila matahari hampir tenggelam. Alam memberikan tanda-tanda akan munculnya bencana.Dan yang kulihat dilangit sana memberi sebuah arti ada bahaya besar yang sedang mengancam beberapa tokoh penting rimba persilatan.Aku berharap kekhawatiranku adalah sebuah kekeliruan. Tapi jika dugaanku benar malapetaka apalagi yang akan terjadi di tanah Dwipa setelah tewasnya Pendekar Sesat?"

Sambil dibayang-bayangi rasa cemas, gadis ini pun kemudian menggebah kudanya. Kuda hitam meringkik lalu berlari ke arah yang dinginkan oleh sang Dewi.

Melihat kuda berlari tidak seperti biasanya.

Sambil menggebah binatang itu Dewi Kipas Pelangi berseru ditujukan pada Angin Puyuh "Berlarilah secepat angin sesuai dengan nama sebutanmu. Aku sedang mengejar sahabat yang

berada dalam tawanan seseorang."

Angin Puyuh keluarkan ringkikan keras.

Tiba-tiba binatang ini angkat kaki depannya hingga membuat si gadis nyaris terpelanting. Lalu...

Wuus!

Secepat angin berhembus secepat itu pula kuda berlari.

*****

Dalam episode sebelumnya diceritakan bagaimana Sang Maha Sakti Raja Gendeng 313 bersama Anjarsari bertemu dengan pemuda bertelanjang dada bercelana biru berkaca mata batok kelapa.

Pemuda ini menunggang kuda yang kedua matanya juga buta. Dia mengaku dirinya sebagai Pemburu Dari Neraka.

Dalam pertemuan yang tidak terduga itu, tiba-tiba mereka diserang ratusan bola api yang seakan datang dari langit.

Raja Gendeng 313 dan sahabatnya Anjarsari, gadis cantik berpakaian kuning gading memang tidak tahu siapa yang menyerang mereka dengan bola api.

Yang jelas serangan itu dikendalikan dari jarak jauh oleh seseorang yang memiliki ilmu kesaktian yang sangat tinggi.

Berbeda dengan Raja, Pemburu Dari Neraka ternyata telah mengetahui siapa yang melakukan serangan dari jarak jauh itu.

"Serangan Sang Kuasa Agung!"

Sang pemburu menyebut nama orang yang menyerang mereka.

Kemudian Pemburu Dari Neraka tiba-tiba melakukan sebuah tindakan yang benar sulit dipercaya.

Ditengah-tengah bola api yang menghujani dirinya juga diri Raja Gendeng 313, Pemburu Dari Neraka bersama binatang yang menjadi tunggangannya melesat diketinggian.

Sambil menghalau serangan bola api sang pemburu bersama kudanya terus berkelebat menuju langit disebelah barat. Serangan bola api lenyap, Raja yang ditinggalkan bersama Anjarsari tertegun.

Sambil geleng geleng kepala pemuda itu menatap kejurusan lenyapnya Pemburu Dari Neraka. "Seumur hidup, baru kali ini aku melihat ada orang bersama kudanya bisa melesat terbang diketinggian. Siapa pemuda aneh dengan mata tertutup batok itu? Apakah dia benar-benar datang dari neraka sungguhan?"

Gumam Raja.

Dia lalu memperhatikan keadaan disekelilingnya.

Banyak pohon-pohon yang hangus meranggas sebagian dalam keadaan dikobari api, sedangkan sebagian lagi tinggalkan berupa onggokkan bara yang mengepulkan asap.

Udara disekitar tempat itu masih terasa panas. Raja menatap kesebelah belakangnya.

Murid Ki Panaraan Jagad Biru dan nenek bawel Nini Balang Kudu ini melihat Anjarsari, gadis yang didada pakaiannya bergambar sulaman benang sutera putih bergambar hati yang retak itu duduk diatas batu.

Wajah si gadis tampak pucat dan basah berkeringat.

Seperti diketahui ketika serangan bola api datang sang pendekar memintanya untuk bersembunyi dibalik batu besar, tempat satu-satunya yang paling aman.

Anjarsari, si cantik yang berasal dari Kawasan Tua yaitu sebuah tempat aneh sisa kehidupan masa lalu memang tidak mengalami cidera sedikitpun. Tetapi setelah lolos dari maut mengapa Anjarsari cemberut dan seperti memendam kekesalan pada Raja.

Penasaran Raja datang menghampiri. Dia lalu duduk disamping gadis itu. Anjarsari mendengus, lalu menggeser punggungnya.

Wajah dipalingkan menatap ke jurusan lain.

Sang pendekar yang sudah merasa terpesona ketika melihat Anjarsari untuk pertama kalinya dalam benteng di Kawasan Tua itu menatap si gadis sambil menggaruk kepala.

"Memangnya ada apa?" Tanya pemuda itu.

Bukannya menjawab, Anjarsari malah mendengus.

"Oh, kalau sedang marah begini, ternyata wajahmu tampak semakin cantik!" Kata sang pendekar menggoda

Plak!

Satu tamparan keras tiba-tiba mendarat di pipi Raja gendeng 313.

Terkejut tak menyangka bakal mendapat tamparan, Raja menjadi terkesima. Dia mengusap pipinya yang memerah bekas tamparan.

Kalau saja bukan Anjarsari gadis yang telah menarik hatinya, pemuda ini pasti sudah marah besar atau setidaknya Raja sudah mengomel tak karuan.

"Mengapa kau menamparku? Apa salahku?!" Tanya Raja sambil berdiri. Dia menatap Anjarsari.  

Diluar dugaan dara cantik berdada bagus bertubuh sintal ini malah balas menatap, membuat jantung Raja berdebar keras laksana tebing sungai yang runtuh

"Sial! Mengapa aku selalu tak kuat bersitatap dengannya.Jantungku berdebar dan tangan ini bawaannya ingin memeluk saja!"

Batin sang pendekar didalam hati. "Mengapa aku menamparmu?" Dengus Anjarsari kemudian.

"Apakah kau tidak sadar telah memperlakukan diriku seperti orang tolol? Kau telah mempermalukan aku didepan si pemuda mata batok. Kau pikir aku ini gadis lemah ya? Kau pikir aku tidak mengerti ilmu silat dan tak punya ilmu kesaktian hingga kau menyuruhku berlindung seperti gadis desa bodoh yang tidak bisa melakukan apa-apa?"

Damprat Anjarsari sambil menunjuk-nunjuk wajah sang pendekar.

Walau hati selalu berdebar-debar setiap kali melihat Anjarsari tetapi ketika ditunjuk-tunjuk seperti itu oleh sang dara karena tak ubahnya seperti keledai bego membuat Raja menjadi kesal.

Dia pun balas menunjuk, tapi yang ditunjuknya langit bukan wajah Anjarsari.

"Kalau cuma itu yang menjadi ganjalan dihatimu mengapa musti marah? Aku sudah tahu kau memiliki ilmu tinggi. Bukankah kehebatanmu telah teruji saat berada dalam benteng itu?"

"Jika sudah tahu mengapa tidak kau biarkan aku ikut membantu? Apakah kau lupa bermain api adalah salah satu kesukaanku?!"

Kata Anjarsari dengan mata mendelik. Raja Gendeng 313 tertawa terkekeh. Sambil tertawa dia tanggapi ucapan gadis itu dengan berkata,

"Maaf aku lupa. Seingatku kau lebih suka bermain cinta. Bermain api bisa membuat seorang terbakar, bermain cinta membuat orang jadi merasa enak. Ha ha ha!"

"Pemuda gila! Mengapa aku harus bersama orang gendeng sepertimu?" Geram Anjarsari kesal.

"Mungkin,mungkin saja kita memang berjodoh!"

Jawab Raja sesuka hati membuat hati si gadis tambah jengkel.

Tiba-tiba dia bangkit. Tangan diulur ke depan. Sebelum tangan bergerak melakukan sesuatu. Raja segera berkata,

"Kau hendak menamparku lagi ya? Pipiku sebelah mana yang ingin kau tampar? Atau kau ingin menghajarku sampai babak belur?"

Anjarsari menggeram, tapi perlahan dia turunkan tangannya.

"Aku muak bersamamu, lebih baik aku pergi dan jalan sendiri saja!"

Berkata begitu tiba-tiba saja Anjarsari balikkan badan dan siap melangkah pergi. Tapi baru saja dia hendak mengayunkan langkah, tahu-tahu raja telah menghadang di depannya

"Jangan nekat pergi sendiri. Kita datang ke tempat ini berdua, kalau hendak pergi atau ingin mampus sekalipun harus berdua pula. Aku tidak ingin terjadi sesuatu denganmu!"

Ujar Raja dengan wajah membayangkan rasa khawatir. Anjarsari hendak mendamprat lagi.

Namun setelah melihat Raja dan menatap wajahnya.

Si gadis maklum Raja memang bersungguh-sungguh dengan ucapannya. Anjarsari sedikit lebih luluh.

Dia batalkan niatnya

"Baiklah, demi menghormati amanat Si Gembala Api, kita akan selalu bersama. Sampai saatnya aku merasa muak dan lebih memilih untuk sendiri! Sekarang katakan apa rencanamu?"

"Hmm, begitu lebih bagus. Jadi kita bisa berdua dua lebih lama." Gurau Raja.

"Katakan saja apa rencanamu? Kau ingin menyusul Pemburu Dari Neraka yang terbang ke langit bersama kudanya?"

Ejek Anjarsari.

"Aku bukan mahluk yang punya sayap. Punya seekor burung pun itu tak bisa terbang."

Kata pemuda itu sambil senyum-senyum

"Jangan bergurau, aku tidak suka. Dari pada bergurau aku lebih suka berkelahi!" Sang pendekar pura-pura unjukkan wajah kaget.

Pemuda ini segera menyahut,

"Berkelahi, bertempur sampai berdarah-darah aku juga suka. Tapi aku lebih senang bila berkelahi tanpa senjata. Apalagi berkelahi dengan gadis cantik.He he he!"

Plak!

Satu tamparan lagi mendarat di pipi Raja, membuat pemuda itu terhuyung mata mendelik besar seolah tidak percaya sudah dua kali mendapat tamparan.

"Kau..!"

"Kenapa? Kau mau marah dan balas menamparku? Jangan suka ngaco bila bicara denganku.

Katakan saja apa rencanamu?!" desak Anjarsari geram.

Sebelum menjawab pemuda itu mengusap pipinya yang kemerahan. Sambil berjalan mondar mandir didepan Anjarsari dengan wajah tertunduk.

Melihat Raja bertingkah selayaknya orang kalah perang. Anjarsari diam-diam merasa geli ada, kasihan juga ada.

"Memangnya kau kehilangan sesuatu atau mungkin ada barangmu yang terjatuh?" Tanya gadis itu. Tiba-tiba Raja tekab celana dibagian depan, wajah pura-pura membayangkan perasaan cemas, namun setelah itu dia malah senyum-senyum perlihatkan wajah lega.

"Oh ternyata tidak ada yang hilang. Satu satunya yang tersimpan di situ masih ada dan untungnya tidak jatuh, He he he!"

Anjarsari menggeram dan hanya bisa kepal kedua tangannya tak tahu harus bicara apa menghadapi pemuda yang konyol ini.

"Kalau barang bututmu tidak hilang. Sekarang aku ingin tahu apa yang hendak kau lakukan?

Orang telah menghujani kita dengan api, kuharap kau bersikap jantan mencari tahu keberadaan orang yang telah menyerang kita!"

Raja mengangguk setuju.

Mula-mula dia menatap ke langit tempat dimana Pemburu Dari Neraka lenyap. Setelah itu dia alihkan perhatian ke arah barat.

"Serangan api datang dari sana. Aku tidak tahu apakah kita yang dijadikan sasaran ataukah pemuda yang menamakan diri sebagai Pemburu dari Neraka?"

"Kita tidak mengenal siapa Sang Kuasa Agung. Apakah orang yang dimaksudkan pemuda pemburu itu manusia ataukah bukan, kita juga tidak tahu. Tapi seperti yang dikatakan oleh Si Gembala Api, aku justru khawatir orang yang berada dibalik serangan itu adalah mahluk keji yang bernama Iblis Kolot atau Iblis Gila!"

Ucap Anjarsari pula.

"Iblis Kolot lenyap puluhan tahun yang lalu.Apakah dia masih hidup hingga sekarang. Tidak satupun diantara kita yang mengetahuinya."

"Aku tahu. Tapi kalau benar yang menyerang kita bukan Iblis Kolot, lalu siapa? Mungkinkah Sang Kuasa Agung bukan Iblis Kolot? Apakah mungkin dia adalah orang yang sama sekali tidak punya hubungan dengan Iblis Kolot?"

Tanya si gadis.

Raja Gendeng 313 terdiam.

"Aku tidak dapat memastikannya... aku. "

Belum sempat pemuda ini menyelesaikan ucapannya, terdengar suara derap langkah kuda dipacu cepat melewati jalan dimana keduanya berada.

Anjarsari dan Raja cepat menoleh memandang ke arah dari mana suara kuda berasal. Mata sang pendekar dipentang lebar-lebar ketika melihat dikejauhan seekor kuda berbulu hitam berlari cepat ke arah dimana mereka berada.

Belum sempat mereka mengetahui siapa penunggang kuda berpakaian warna-warni itu. Tiba tiba...

Wuus! Kuda dan penunggangnya tahu-tahu telah melintas didepan mereka dan terus berlari kencang. "Kuda hitam itu sangat cepat, namun kecepatannya berlari masih berada jauh dibawah kuda buta

yang ditunggangi Pemburu dari Neraka.." gumam Raja kagum.

"Tapi siapa dia? Penunggang kuda itu sangat tergesa-gesa, bahkan seperti tidak melihat kita." Ujar Anjarsari.

"Bukan tidak melihat, tapi dia mengabaikan. Dia pasti sedang mengejar sesuatu yang sangat penting!"

"Dia seorang wanita. Berpakaian warna-warni. Bagaimana kalau kita menyusulnya?" "Aku setuju."

Sahut Raja.

"Tapi apakah kau bisa berlari secepat itu?"

Tanya Anjarsari dengan mulut mencibir terkesan meremehkan.

Raja tersenyum

"Aku bukan kuda. Tapi siapa yang bisa mengukur kecepatanku dalam berlari!" Sahut Raja.

Dia lalu menoleh kesamping.

Mulut sang pendekar ternganga ketika menyadari ternyata Anjarsari sudah tidak berada lagi disampingnya

****

Mencari sekaligus menemukan orang-orang yang telah membunuh ayahnya bagi Pura Saketi bukanlah pekerjaan mudah.

Tugas ini cukup berat mengingat orang-orang yang berkomplot melakukan serangan di tiga gedung utama tempat tinggal ayahnya dulu, tidak berdiam disatu tempat.

Musuh-musuh utama ayahnya datang dari beberapa penjuru kawasan.

Ada yang tinggal digunung, lembah, bukit dan malah ada yang tidak tetap tinggal disatu tempat.

"Aku masih ingat"

Ujar Pura Saketi yang saat itu duduk diatas sebuah pondok tua yang tampaknya memang sudah lama ditinggalkan oleh penghuninya.

"Orang yang paling bertanggung jawab atas kematian ayahku Pendekar Sesat adalah Pranajiwa. Dialah yang menghasut, menghujat, menghubungi lalu mengumpulkan tokoh-tokoh aliran putih yang masih terhitung sahabatnya. Tujuh Tokoh Dari Puncak Akherat menurut kabar ikut bergabung dalam penyerbuan itu juga karena diundang oleh Pranajiwa. Sayang waktu itu aku hanya sekilas saja melihat mereka. Aku sudah hampir lupa dengan wajah ketujuh tokoh itu.Tapi aku tahu dimana gunung Bismo, aku harus mencapal puncak gunung Bismo sebelum matahari terbit esok pagi.Dan di sebelah barat gunung ada satu tempat yang diselimuti kabut abadi disanalah Puncak Akherat berada!" Pura Saketi tiba-tiba menyeringai.

Wajah pemuda itu terlihat dingin angker.

Semilir angin disiang hari terasa sejuk, Pura Saketi layangkan pandangan ke depan. Terlihat sekelompok manjangan sedang merumput.

Tapi kawasan binatang itu tiba-tiba seperti terusik, sang pejantan mengangkat kepalanya tinggi-tinggi. Kemudian seakan melihat sesuatu kawanan manjangan berlarian menghambur menyelamatkan diri.

Diatas pondok, Pura Saketi yang diam memperhatikan kerutkan kedua alis matanya. Tidak kelihatan ada sesuatu yang muncul setelah berlalunya kawanan manjangan tadi. Sambil memendam rasa heran pemuda ini bangkit.

Dengan berdiri diatas lantai pondok yang tinggi dia bisa melihat keadaan disekitarnya lebih jelas. Sambil menghela nafas kecewa pemuda ini lalu duduk lagi.

Angin semilir berhembus.

Ketika itulah Pura Saketi mencium aroma harum kembang melati. Merasa heran dia memandang ke jurusan mana angin datang.

Dia tidak melihat ada melati hutan tumbuh disana.

"Aroma bunga penghantar orang mati. Bangsat mana yang telah bosan hidup berani menggoda dengan wewangian seperti ini?!"

Pura Saketi menggeram. Entah mengapa dia demikian yakin ada seseorang hadir ditempat itu.

Padahal tidak terlihat kehadiran satu orangpun.

"Aku Pura Saketi, Putra Pendekar Sesat! Jangan menguji kesabaranku karena aku orang yang tidak punya perasaan. Lekas tunjukkan diri, atau kau ingin aku membuat tubuhmu hancur lebur!"

teriak pemuda itu sambil menatap beringas ke arah dimana bau harum melati berasal. Tidak ada perubahan, tidak ada satupun awaban yang terdengar.

Suasana hening.

Demiladan heningnya hingga terasa mencekam. Di tengah keheningan tiba-tiba saja muncul kabut. Kabut bergerak bergoyang mengikuti arah hembusan angin namun kemudian berhenti diam mengapung di atas kelebatan pucuk ilalang.

Melihat kehadiran kabut aneh itu Pura Saketi terkesima. Kedua mata menatap lurus ke depan.

Dia mengusap tengkuknya yang mendadak berubah dingin. Selanjutnya dia merasakan ada satu sosok yang sangat dikenalnya berkelebat di pelupuk matanya.

"Guru"

Desis Pura Saketi sambil menyebut nama Iblis Kolot.

"Sepertinya kau tidak pernah meninggalkan diriku, kau bahkan terus mendekam di dalam tubuhku. Aku merasa kau benar-benar sangat dekat. Apakah kau hendak memberi peringatan padaku atau kau ingin mengambil alih, menguasai lalu memanfaatkan tubuhku seperti yang pernah kau lakukan terhadapku!"

Kata pemuda itu.

Sebagai jawaban Pura Saketi kini malah berubah gelisah. Seiring dengan kegelisahan yang melanda hatinya.

Kabut yang mengapung di atas serumpun pupuk ilalang tiba-tiba saja memudar. Gumpalan kabut lenyap.

Sebagai gantinya di atas rumput ilalang muncul satu pemandangan lain yang membuat Pura Saketi terbelalak tercengang.

"Kapan dia datang? Mengapa tiba-tiba dia sudah ada di sana? Siapa Dia? Apakah aku pernah mengenalnya?"

Pikir Pura Saketi.

Saat itu di atas serumpun Pucuk Ilalang duduk bersila seorang kakek berpakaian putih bercelana hitam.

Di leher orang tua berambut putih dengan ikat kepala putih itu tergantung untaian tasbih.

Dengan matanya yang cekung selayaknya orang yang tidak pernah tidur dia menatap lurus ke arah Pura Saketi.

Kakek berwajah pucat itu duduk mengapung tanpa menyentuh ilalang yang berada dibawahnya. "Siapa kau? Apakah kau dedemit penguasa tempat ini?"

Sentak Pura Saketi curiga. Kakek di atas pucuk ilalang tersenyum. Namun senyum itu lenyap dalam sekejab berganti dengan seringai iba.

"Anak muda yang bernama Pura Saketi, putra almarhum seorang Pendekar hebat tapi tersesat.

Aku bukan dedemit seperti yang kau duga."

"Hah, bagaimana dia bisa mengetahui namaku? Dia juga tahu siapa orang tuaku! "

Batin Pura Saketi. Walau heran, Pura Saketi sedikitpun tidak takut kepada orang yang sudah mengetahui siapa dirinya. Dengan suara lantang dia berkata,

"walau kau mengenal aku. Jangan mengira aku tidak bisa menjatuhkan tangan kejam kepadamu.

Lekas beritahu siapa dirimu?!"

"Anak muda, kau memang tidak mengenal siapa aku, tapi jelas gurumu mengenal siapa aku.

Orang menyebutku Kanjeng Empu Basula."

Menerangkan si kakek yang alis, kumis dan jenggotnya juga sudah memutih. Tanpa memberi kesempatan kepada Pura Saketi, orang tua aneh mengaku bernama Kanjeng Empu Basula itu lanjutkan ucapannya.

"Sesungguhnya kau dulu tidak sejahat ayahmu. Tetapi pengalaman hidup menyakitkan yang kau rasakan ditambah pengaruh kuat iblis Kolot telah merubah dirimu menjadi manusia yang penuh dendam dan paling keji!"

"Diam!"

Pura Saketi tiba-tiba membentak. Secepat kilat dia bangkit berdiri. Sambil bertolak pinggang dia kembali menghardik.

"Kanjeng Empu Basula! Siapapun dirimu aku tidak perduli! Sekarang aku ingin bertanya padamu apa hubunganmu dengan almarhum guruku?"

"Hubunganku dengannya?!"

Ucap Kanjeng Empu Basula. Si kakek tersenyum. Pura Saketi kemudian melihat betapa mata dan wajah si orang tua menyiratkan kegetiran. Sambil menghela napas dalam-dalam orang tua ini lanjutkan ucapan.

"Aku dan almarhum gurumu saling mengenal dekat.Kami tidak bersahabat, tapi di antara kami juga tidak terjalin rasa permusuhan. Namun antara aku dan Iblis Kolot memang mempunyai pemikiran berbeda dalam memandang hidup ini."

"Tidak bermusuhan juga tidak bersahabat, lalu apa?"

Dengus Pura Saketi. Tiba-tiba dia menjadi sangat geram karena merasa Kanjeng Empu Basula mempermainkannya.

"Aku tidak akan mengatakannya padamu, karena saat ini kau tidak sendiri.!" "Apa maksudmu?"

Tanya Pura Saketi tidak mengerti

"Ha ha ha. Anak muda apa kau tidak merasa bahwa ada sesuatu yang mendekam berebut tempat dengan jiwamu. Apakah kau juga tidak merasa bahwa arwah gurumu ada di dalam dirimu dan

sewaktu-waktu arwah itu mengambil alih ragamu untuk kepentingan dirinya? Sampai sekarang ketahuilah arwah Iblis Kolot bersamamu, bersemayam berdampingan dengan ragamu. Dan semua itu menmbuatmu tidak nyaman."

Kejut hati Pura Saketi bukan kepalang. Sungguh dia tidak menyangka Kanjeng Empu Basula ternyata mengetahui riwayat hidup gurunya.

Hebatnya lagi si kakek tahu arwah gurunya ada dalam dirinya.

"Pantas! Terkadang aku merasa asing, aku seperti bukan diriku sendiri. Aku bahkan tidak ingat apa yang telah aku lakukan?"

Batin Pura Saketi .Dia lalu teringat dengan Randu Wulh, kakek yang terbunuh di tangannya sendiri tapi bukan atas keinginannya, tapi atas keinginan arwah Iblis Kolot. Walau semua yang dikatakan Kanjeng Empu Basula benar adanya.

Namun pemuda itu ingin tahu apa tujuan Kanjeng Empu Basula ingin menemuinya "Orang tua! Mengapa kau menemuiku?" "Aku tidak menemul dirimu, anak muda. Aku ingin bertemu dan bicara dengan arwah Iblis Kolot yang bersemayam dalam dirimu."

Jawab si kakek tanpa keraguan. Ucapan itu membuat Pura Saketi merasa tersinggung karena diabaikan dan dipandang dengan sebelah mata. Pemuda itu kepalkan tinjunya. Mulut terkatub. Pipi mengembung dan mata berubah merah menyala.

"Orang tua,kau sungguh keterlaluan. Bagaimana kau merasa yakin bahwa arwah guruku berada di dalam ragaku?!"

Geram pemuda itu.

"Pura Saketi! Apakah kau lupa kau telah membunuh gurumu. Kau membunuh karena tidak menyangka orang yang menyerangmu diujung Lembah jurang Watu Remuk Raga adalah gurumu. Kematian itu sebelumnya telah diminta Iblis Kolot. Kau tidak mengabulkannya. Dengan Ilmu Iblis Bersalin Rupa dia menyamar wujudnya menjadi orang yang tidak kau kenal sehingga dia terbunuh. Tapi kau tidak usah merasa bersalah atau bersedih hati karena kematian Iblis Kolot di tanganmu memang sudah direncanakannya."

Terang Kanjeng Empu Basula ketika melihat Pura Saketi tundukkan wajah dan terlihat sedih mendengar penuturan si kakek

"Aku tak tahu apa maksudmu tentang segalanya telah direncanakan?" Ucap Pura Saketi dengan suara perlahan.

"Ya, gurumu telah merencanakan kematiannya sedemikian rupa. Dia mengetahui, jika dia mati ditanganmu arwahnya dapat menumpang di dalam ragamu. Begitu ragamu berada dalam kekuasaannya, maka dia segera melakukan pembalasan pada musuh-musuh besarnya.!"

Pura Saketi merasa ucapan Kanjeng Empu Basula merupakan sebuah tamparan keras yang membuat merah wajahnya.

Tidak hanya itu.

Tibatiba saja Pura Saketi merasakan kedua telinganya menjadi pengang berdengung. Lalu muncul pemberontakan dan kemarahan di dalam diri pemuda itu.

Dan semua kemarahan itu bukan atas kehendak hatinya sendiri "Wuaakh..!"

Di bawah tatapan tajam mata Kanjeng Empu Basula, Pura Saketi tiba-tiba mengerang. Dua tangan berubah kaku, mata mendelik, sekujur tubuh mengejang.

Pura Saketi tidak dapat mengingat apa-apa lagi.

Namun pada waktu yang sama tiba-tiba terdengar suara gelak tawa menggeledek.

Dan suara tawa itu sama sekali bukan suara tawa si pemuda karena tawa yang terdengar adalah suara serak seorang kakek.

Kanjeng Empu Basula yang menyadari dan mengenal suara tawa orang segera maklum bahwa arwah Iblis Kolot yang bersemayam dalam diri Pura Saketi kini sudah mengambil alih raga pemuda itu.

"Tua bangka jahanam bernama Kanjeng Empu Basula!" Mendamprat arwah Iblis Kolot yang menguasai raga muridnya.

"Kau bicara selayaknya orang suci, membongkar semua rencana yang telah lama kususun. Kau sama sekali tidak menghargai diriku"

"Iblis Kolot!"

Sahut Kanjeng Empu Basula sambil tatap Pura Saketi yang berdiri di atas pondok.

"Mengapa kau lakukan semua inl? Kau tidak mengenal kata insyaf hingga akhir hayatmu dan itu merupakan sesuatu yang sangat menyedihkan!"

"Ha ha ha! Buat apa kau mengurusi diriku? Aku tidak akan pernah berhenti untuk menuntut balas pada orang-orang yang memusuhiku."

"Jika demiklan mengapa kau memanfaatkan tubuh muridmu sebagai tempat berdiam arwah sesatmu?"

"Jahanam! Jangan sebut lagi aku sebagai arwah sesat.!" Teriak Iblis Kolot melalui mulut sang murid.

"Kanjeng Empu Basula, ketahuilah banyak sekali keinginanku selagi hidup yang tak bisa terpenuhi gara-gara musuh-musuhku. Di antara keinginan itu adalah hidup bersama kekasihku di kawasan Rahasia Pintu Selatan. Itu salah satunya. Aku sudah tua, muridku masih muda. Aku juga menginginkan Kitab Aksara Iblis, Kitab yang paling kucari dan menjadi incaran banyak Tokoh di masa itu.Kitab tidak kutemukan. Namun aku berpikir muridku pasti bakal berjodoh dengan Iimu Aksara Iblis..."

"Astaga! Semua itukah yang tersembunyi dibalik muslihatmu?" desis Kanjeng Empu Basula dengan mata terbelalak tak percaya

"Ha ha ha! Kau tak usah kaget dulu Kanjeng! Aku belum selesai dengan ceritaku! " kata arwah Iblis Kolot.

Kanjeng Empu Basula lalu berdiam diri mencoba mendengarkan Sang arwah yang mengendalikan diri Pura Saketi lalu melanjutkan.

"Terrnyata dugaanku benar. Muridku bisa menemukan dan berhasil mewarisi isi Kitab Aksara Iblis..."

"Apa..?"

Sentak si kakek tercengang. Arwah Iblis Kolot tertawa terbahak-bahak. Dia merasa senang dapat memberi kejutan-kejutan pada Kanjeng Empu Basula.

****

Kanjeng Empu Basula merasa sudah waktunya memberi peringatan keras pada Arwah Iblis Kolot. Si kakek memutuskan untuk menunggu. Karena Arwah Iblis Kolot tak kunjung bicara. Kanjeng Empu Basula pun akhirnya membuka mulut.

"Iblis Kolot! Setelah kau tahu muridmu menguasai ilmu sesat itu, lalu apa rencanamu?"

Di atas lantai panggung pondok tua Pura Saketi tersenyum. Dan senyuman itu tentunya bukan senyum si pemuda melainkan senyum arwah Iblis Kolot.

"Apakah kau tahu alasan apa yang membuatku berhasrat menguasai raga muridku?" Kanjeng Empu Basula menjawab dengan gelengan kepala.

"Ketahuilah, dengan berada dalam tubuh muridku ini, di samping ilmu kesaktian yang kumiliki dan telah kuwariskan padanya.Aku juga bisa menggunakan Ilmu Aksara Iblis yang telah dikuasainya.Selain itu, mengingat aku ingin hidup bersama kekasihku bukankah aku lebih baik gunakan tubuh muridku ini. Dia masih muda, lebih kuat dan lebih perkasa untuk bisa bercinta dengan kekasihku .. Sang Kuasa Agung, Jika aku tetap bertahan dalam Raga lapukku, mana mungkin semua itu bisa kulakukan! Ha ha ha!"

Kata Arwah Iblis Kolot

"Gila! Kau betul-betul gila, Iblis Kolot. Aku tidak menyangka kau tetap tak berubah!" Kata Kanjeng Empu Basula dengan suara bergetar dilanda amarah.

"Lalu!"

Arwah Iblis Kolot menyeringai.

"Kau hendak menghalangi atau mencegah semua niatku?!"

"Aku sudah tua, sebenarnya aku pun tidak mau mencampuri urusan orang lain. Tapi semua perbuatanmu sangat keterlaluan. Dengan hormat aku minta batalkan saja keinginanmu. Aku juga berharap tinggalkanlah tubuh muridmu agar dia bisa hidup secara wajar!"

"Kentut!"

Sambut Arwah Iblis Kolot tidak senang. "Kau tidak perlu menasehati aku!"

"Tapi kau bukan musuhku!"

Sahut Kanjeng Empu Basula dengan suara tinggi

"Dan apakah kau sadar bahwa aku juga bukan sahabatmu. Kau tidak bisa menghentikan aku Kanjengt. Aku tahu IImu Kesaktianmu sangat-sangat tinggi. Ilmu yang kumiliki bahkan berada dibawahmu.Tapi jangan kupa, dengan meminjam IImu Aksara Iblis yang dimiliki muridku, aku bahkan mampu membuat tubuhmu hancur lebur!"

"Bagaimana caranya?"

Tanya Kanjeng Empu Basula pura-pura tidak mengerti

"Ha ha ha! Tua bangka tolol. Bukankah saat ini aku mengambill alih tubuhnya. Raga muridku berada dalam kekuasaanku sepenuhnya. Jadi apa sulitnya menggunakan Ilmu itu karena aku berada dalam tubuhnya?" "Tapi Iblis Kolot, kau tidak mungkin bisa mewujudkan semua impianmu!"

Sambut Kanjeng Empu Basula dingin. Sepasang mata Pura Saketi mendelik besar. "Apa maksudmu?!"

Tanya Arwah Iblis yang menguasai raga Pura Saketi.

"Karena aku mencegahnya. Merintangi semua keinginan jahatmu adalah tugas yang harus kulakukan saat ini!"

Arwah Iblis Kolot tersenyum sambil pencongkan mulutnya

"Kanjeng Empu Basula! Dulu Ilmu Kesaktianmu memang jauh lebih tinggi dariku. Tapi setelah IImu Aksara Iblis ada dalam diri muridku ini, apa yang bisa kau lakukan? Sebaiknya menyingkirlah sekarang juga!"

Teriak Iblis Kolot murka.

Bukannya turuti perintah sang arwah. Sebaliknya Kanjeng Empu Basula tiba-tiba bangkit berdiri. Sambi berdiri tegak di atas pucuk ilalang kakek itu tiba-tiba ulurkan tangannya ke atas.

Secepat tangan kanan dijulur secepat itu pula tangan bergerak memanjang menggapai ke arah bagian ubun-ubun lawan dengan jemari terpentang. Melihat tangan kakek terjulur sedemikian rupa dan pancarkan cahaya biru terang.

Dalam kendali arwah Iblis Kolot, Pura Saketi tiba-tiba melesat ke belakang lantai pondok

"Ilmu Tangan Sakti menjangkau Matahari memang ilmu yang hebat.Tapi ilmu itu kini sudah tidak berguna lagi untuk melawanku!"

Teriak Arwah Iblis Kolot.

Sambil berteriak demikian, dia hentakan kedua kakinya ke lantai pondok yang terbuat dari bambu.

Sementara tangan Kanjeng Empu Basula yang gagal mencengkeram ubun-ubun lawan kini terus melesat siap menjebol dada lawannya.

Wuus!

Iblis Kolot lambungkan tubuh yang dikuasainya ke atap pondok.

Sementara akibat hentakan kaki, seluruh lantai pondok berlesatan ke arah si kakek. Puluhan potongan bambu terus menderu mengeluarkan suara berdesing menggidikkan.

Di tengah jalan bambu-bambu itu bergerak menyerang sepuluh titik mematikan di tubuh si kakek.

Kanjeng Empu Basula bersikap tenang.

Tanpa bergerak dari tempat di mana dia berdiri.

Tangan kanan yang gagal mengenai sasaran kini ditarik kembali.

Ketika tangan itu bergerak mundur, tangan sebelah kiri dijulur ke depan menggulung sedemikian rupa hingga puluhan batang bambu berhasil dilibat tangan itu lalu disambitkan ke Arwah Iblis Kolot. Di atas atap pondok lawan keluarkan tawa mengekeh.

Melihat puluhan bambu menyerang dengan kekuatan berlipat ganda, Arwah Iblis Kolot segera menghantamnya dengan pukulan Sungsang Jiwa. Dari telapak tangan Pura Saketi seketika menderu segulung hawa panas luar biasa disertai suara deru mengerikan.

Braas! Pyaar!

Puluhan bambu hancur menjadi kepingan. Arwah Iblis Kolot tidak menunggu lebih lama. Selagi serpihan bambu bertabur di udara.

Dia melesat kearah si kakek.

Sambil melayang dia pergunakan ilmu pukulan sakti Iblis Menembus Langit.

Seperti diketahui ilmu yang dipergunakan oleh sang arwah dalam tubuh muridnya ini merupakan salah satu ilmu langka yang kehebatannya berada setingkat di atas ilmu Bara Neraka.

Semasa hidupnya dulu jarang sekali ada lawan yang bisa lolos dari maut bila terkena pukulan itu.

Tetapi Kanjeng Empu Basula adalah orang yang paling mengenal siapa Iblis Kolot, dia juga mengetahui semua ilmu yang dimiliki lawan.

Tidaklah mengherankan ketika cahaya biru kehitaman datang melabrak laksana ombak raksasa yang siap menggulung disertai sengatan hawa dingin luar biasa.

Orang tua ini segera menggoyangkan badannya.

Begitu tubuh digoyang serangan ganas datang menghantam. Buum!

Satu ledakan keras mengguncang tempat itu. Ilalang dan semak belukar terbongkar berhamburan di udara dalam keadaan dikobari api.

Ditempat terjadinya ledakan menganga sebuah lubang besar dalam keadaan mengepulkan asap dan dikobari api.

Sang arwah Iblis Kolot yang menyangka lawan tewas menemui ajal terkena pukulannya mengumbar tawa tergelak.

Tapi tawanya lenyap saat dia menyadari tidak terlihat sepotong tubuhpun tergeletak disekitar ledakan.

Sambil jejakkan kaki ke tanah, secepat kilat dia balikkan badan. Sang arwah delikkan matanya.

"Tidak mungkin!"

Teriak sang arwah ketika melihat Kanjeng Empu Basula ternyata telah berdiri tepat didepannya. Si kakek tersenyum, tapi dia tidak lagi sendiri. Disampingnya berjejer empat kakek berwajah sama yang semuanya sama tersenyum

"Kau harus bertobat. Kau sudah mengetahui semua. Ilmu yang kau miliki tidak satupun yang sanggup mencelakai aku!"

Kata Kanjeng Empu Basula. Ketika satu mulut berkata, empat mulut kembarannya juga mengucapkan kata-kata yang sama.

"Ilmu Sekembar Rupa?" Desis sang arwah.

"Dengan menggunakan ilmu itu aku jadi tidak bisa membedakan mana Kanjeng Empu Basula yang asli. Tapi jika kuhantam kelimanya sekaligus, pasti aku bisa mengetahui mana Kanjeng yang asli!"

Batin sang arwah. Dia lalu melompat mundur. Dua tangan dilintangkan ke depan dada. Sepuluh jemari tangan yang terbuka tiba-tiba dikepal,

Reeert!

Begitu masing-masing tangan terkepal,kedua tangan sang arwah berubah merah laksana bara. "Aha, ilmu Bara Neraka! Sudah lama aku mengetahui ilmu yang satu itu namun baru kali ini aku

melihatnya sendiri!"

Seru Kanjeng Empu Basula.

Lima mulut dari wajah dan tubuh yang sama berseru.

Namun sebelum seruan lenyap kelima kakek kembaran itu secara berbarengan menyergap ke depan.

Secepat kilat mereka meringkus, tahu-tahu Pura Saketi yang berada dalam kendali arwah gurunya dapat diringkus.

Sang arwah murka bukan main.

Dia meronta sambil menghantam ke arah lawan-lawannya.

Tapi pukulan dan tendangan yang dilepaskannya seperti menghantam bayangan saja.

"Keparat! Pukulan dan tendanganku seperti menghantam angin, padahal jelas-jelas menghantam tubuh mereka. Jadi mana yang asli dari kelima kakek kembar ini?"

Geram Sang arwah.

Sambil berkata demikian dia segera menghantam orang yang mencekal bahunya. Wuus!

Lagi-lagi pukulan Bara Neraka seperti menghantam bantalan kasur empuk. Serangan lenyap menjadi asap.

Sementara kedua kaki telah kena dipegang oleh dua kembaran sang kanjeng, menyusul kepala yang dicengkeram erat oleh kakek yang berada dibelakang.

Selanjutnya tangan kanan kiri berhasil pula dipelintir ditelikung ke belakang.

Hebatnya walau kedua tangan yang ditelikung dalam keadaan merah membara dua kembaran Kanjeng Empu Basula ini seakan tidak merasakan sakit atau panas juga tidak mengalami cidera.

Empat kakek memegangi, satu kini berdiri didepan sang arwah.

Pura Saketi mendelik besar, rahang bergemeletuk, pipi menggembung.

Arwah yang menguasai raga pemuda itu lalu mendamprat

"Kanjeng empu jahanam! Manusia pengecut yang bersembunyi dibalik bayangan kembaran!

Hendak kau apakan diriku?!"

Tanpa menghiraukan makian sang arwah, Kanjeng Empu Basula memberi isyarat pada empat kembarannya.

Isyarat itu segera ditanggapi kembaran si kakek dengan mengangkat tubuh Pura Saketi. Kini kedua kaki si pemuda tidak lagi menjejak tanah.

Dia dibopong oleh empat kembaran Kanjeng Empu Basula dalam keadaan rebah miring. "Aku membawamu pergi ke suatu tempat yang bernama Liang Lahat Pintu Seribu. Aku akan

jebloskan dirimu bersama murid yang kau tumpangi! Kau tak akan menemukan jalan keluar. Kau butuh seribu tahun untuk bisa lolos dari tempat terkutuk itu!"

Terang salah satu kembaran Kanjeng Empu Basula.

Sang arwah menggeram. Dia merasa jerih karena mengenal tempat yang disebutkan oleh Kanjeng Empu Basula. Ketakutan sang arwah membuat wajah Pura Saketi berubah pucat tegang.

"Kurang ajar! Aku tidak sudi kau masukkan kedalam Liang Lahat Pintu Seribu!" Erang sang arwah.

Diam-diam dia kerahkan tenaga luar dalam ke bagian kaki dan kedua tangannya.

Walau tenaga dalam telah dikerahkan kesekujur tubuh, sang arwah tidak dapat membebaskan diri dari cekalan lima kakek kembaran yang meringkusnya.

Dia merasa ada lima kekuatan aneh yang berasal dari tubuh lima kakek kembaran mengunci setiap gerakan yang dilakukannya.

"Gila.... Bagaimana mungkin dia bisa melemahkan aku dengan cara seperti ini.? Aku mahluk hebat muridku juga manusia paling sakti. Aku tidak percaya Kanjeng Empu Basula bersama bayangan kembarannya bisa membuat kami seperti ini!"

Diam-diam sang arwah segera gabungkan kekuatannya sendiri dengan kekuatan muridnya. Dua kekuatan sakti milik sang murid bersatu.

Sang arwah menggeliat, tubuh Pura Saketi yang ditumpanginya juga ikut menggeliat. Hawa panas dan hawa dingin menyerang empat bayangan kembaran, membuat sosok mereka bergetar.

Hal ini diketahui oleh kembaran satunya lagi yang berdiri persis didepan Pura Saketi. Tiba-tiba saja dia dorongkan tangannya ke perut pemuda itu

Des!

"Ukh... jahanam terkutuk!" Sang Arwah menyumpah ketika merasakan hawa dingin luar biasa dari telapak tangan bayangan kembaran kelima menembus pusarnya.

Sang arwah seperti tidak berdaya.

Tapi kemarahan yang hebat kini mengalir dalam tubuh arwah Iblis Kolot. Kemarahan itu kemudian menjalar dalam diri Pura Saketi yang ditumpanginya "Aksara Iblis. "

Mulut Pura Saketi berdesis menyebut dua kata keramat.

Seketika itu satu kekuatan mengalir dahsyat disekujur tubuh si pemuda. Empat bayangan kembaran yang memegangi Pura Saketi terkejut sekali ketika merasakan hawa aneh menjalar ke tangan dan tubuh mereka.

"Dia menggunakan ilmu Aksara Iblis!"

Salah satu bayangan kembaran keluarkan seruan kaget.

Tiga lainnya yang ikut memegangi unjukkan wajah terkesima.

Satu bayangan kembaran yang tidak ikut memegang segera berusaha mengambil tindakan dengan hantamkan telapak tangannya yang telah teraliri tenaga dalam ke wajah Pura Saketi.

Sekali kena dihantam, wajah lawan pasti hancur tidak berbentuk karena bayangan kembaran Kanjeng Empu Basula menggunakan ilmu pukulan sakti yang dikenal dengan nama Peremuk Tulang Penghancur Segala.

Tapi baru saja tangan yang memancarkan cahaya putih berkilau menderu siap menghantam wajah.

Sekonyong-konyong tubuh Pura Saketi berubah merah mengerikan.

Kemudian dari sekujur tubuhnya pula memancar cahaya-cahaya berkilau berbentuk huruf berupa aksara aneh yang tak diketahui maknanya.

Aksara yang muncul silih berganti itu kemudian membersit, menderu menghantam keseluruh arah dalam rupa cahaya putih dan merah kehitaman.

Melesatnya aksara cahaya disertai suara bergemuruh luar biasa mengerikan.

Hawa panas dan dingin menebar ganas, menyengat dan menghujam juga menghantam apa saja. Empat bayangan kembaran yang memegangi Pura Saketi berpekikan menjerit kesakitan.

Sosok mereka berpelantingan dalam keadaan hancur berkeping-keping. Demikian juga dengan bayangan kembaran yang berada didepan Pura Saketi. Terlepas dari tangan orang-orang yang meringkusnya.

Pura Saketi terhempas jatuh ke tanah. Tapi secepatnya dia bangkit berdiri.

Memandang kesekelilingnya.

Dia melihat empat bayangan kembaran Kanjeng Empu Basula yang hancur berantakan lenyap menjadi asap.  

Tapi tidak jauh didepan dia melihat kakek itu.

Kanjeng Empu Basula walau pakaian putihnya robek robek disebelah dada dan celana hitamnya gosong di sebelah bawah terrnyata hanya menderita cidera, tidak tewas seperti yang dinginkan oleh sang arwah.

Dia melihat darah meleleh diwajah sang Kanjeng.

Wajah orang tua itu juga pucat

"Dia tidak mampus, tapi hanya menderita didera saja!" Geram sang arwah dengan nafas mengengah.

Mahluk ini lalu memperhatikan tubuh raga yang ditumpanginya. Dia tidak melihat lagi warna merah disekujur tubuh sang murid.

Selain sang arwah juga tidak melihat aksara bercahaya yang tadinya muncul silih berganti di tubuh itu!

Sang arwah yang tadinya hendak menghabisi Kanjeng Empu Basula akhirnya berpikir lain. Dia tidak bisa menduga mengapa kehadiran Aksara Iblis tidak bisa dipertahankan lebih lama.

Walau penasaran dan dia masih merasa yakin mampu menghabisi Kanjeng Empu Basula yang luar biasa sakti itu. Untuk sementara sang arwah memutuskan untuk menyingkir.

Tanpa bicara lagi Pura Saketi balikkan tubuhnya. Sekali pemuda ini berkelebat.

Sosoknya lenyap dari pandangan mata.

Kanjeng Empu Basula tatap kepergian lawan tanpa maksud mengejar. Saat itu sang Kanjeng sendiri menderita cedera dibagian dalam.

Tapi bukan karena cedera itu yang membuatnya urung mengejar.

Kanjeng yang sudah mengetahui rahasia besar dibalik kedahsyatan ilmu Aksara Iblis nempaknya lebih memilih waktu yang paling tepat untuk melenyapkan kekuatan Aksara Iblis.

"Tidak cuma Aksara Iblis saja yang harus kulenyapkan. Arwah Sesat Iblis Kolot pun harus disingkirkan. Kalau perlu Pura Saketi ikut dihabis pula karena jalan pikiran dan hatinya telah diracuni oleh gurunya semasa hidup."

Kanjeng Empu Basula kemudian duduk diatas tanah. Sambil duduk bersila, dua telapak tangan dikembang.

Telapak tangan kemudian dia tempelkan diatas tanah. Tidak seperti lazimnya orang yang menyembuhkan luka dalam dengan menggunakan hawa sakti dari tubuhnya sendiri.

Sebaliknya si kakek menyembuhkan lukanya dengan menggunakan hawa sakti yang berasal dari bumi.

Cara seperti ini jarang dimiliki oleh tokoh-tokoh rimba persilatan walau tokoh tersebut memiliki ilmu kesaktian luar biasa tinggi.

Hanya sekejab cedera yang dialami Kanjeng Empu Basula pun pulih.

Si kakek kemudian angkat kedua tangannya dan langsung diarahkan ke udara. Sambil pejamkan mata si kakek menghirup udara dalam-dalam.

Dari seluruh penjuru terdengar suara desir lembut.

Cahaya warna-warni bermunculan dari alam disekitarnya, lalu berkumpul membentuk dua alur indah, satu tertuju ke telapak tangan sebelah kiri sedangkan satunya lagi tertuju ke telapak tangan kanan.

Setelah kekuatan sakti yang dia kumpulkan dari alam bersatu, Kanjeng Empu Basula menyedot semua kekuatan itu dengan kedua telapak tangannya.

Srep!

Dua telapak tangan seolah berubah menjadi pusaran yang menghisap apa saja yang terdapat disekitarnya.

Dua kekuatan alam yang membentuk cahaya indah dengan cepat amblas lenyap tersedot telapak tangan sang Kanjeng.

Si kakek tersenyum.

Dua tangan disapukan ke wajah.

Kini dia merasa tubuhnya menjadi lebih ringan, seluruh panca indera lebih tajam.

Kanjeng juga merasakan tubuhnya lebih segar selayaknya pemuda yang berumur delapan belas tahun.

"Semua kekuatanku telah pulih berkat bantuan alam semesta. Terima kasih dewa karena telah menciptakan segalanya tanpa sia-sia."

Setelah berkata demikian Kanjeng Empu Basula bangkit berdiri. Sebelum beranjak pergi tiba-tiba dia ingat dengan ucapan arwah Iblis Kolot.

Mahluk sesat itu mengatakan dia ingin mempersunting kekasihnya. Kanjeng Empu Basula menjadi risau.

"Jika Arwah Iblis Kolot dan Sang Kuasa Agung bersatu, maka mereka bisa berubah menjadi dua alat pembunuh yang tiada duanya. Aku harus menemui pemuda itu. Pendekar dari Istana Es itu harus tahu ancaman bahaya yang akan terjadi!"

Pikir si kakek.

Orang tua ini lalu memutar tubuh. Seketika sosoknya lenyap dari pandangan.

*****

Kawasan disekitar pondok berubah sunyi. Setelah melesat diketinggian bersama kuda tunggangannya.

Pemuda tegap bercelana biru bertelanjang dada yang dikenal dengan sebutan Pemburu Dari Neraka ini terus mengikuti bekas alur tempat dimana munculnya bola api.

Sambil memacu kuda mengikuti alur hitam panjang kemerahan. Pemburu Dari Neraka mengejar kemana ujung alur serangan bermula.

Disatu tempat yang terlindung awan putih tebal Pemburu Dari Neraka hentikan kudanya. Dia melihat ada sesuatu memantul dibalik awan putih.

Ketika pemuda ini mendekatinya, ternyata dibalik awan putih terdapat sebuah benda tipis mirip kaca bening.

Pemburu Dari Neraka memperhatikan benda pipih mirip kaca yang tersembunyi dibalik awan putih itu sekilas

"Batu pualam kaca!" Desisnya heran.

"Seseorang sengaja meletakkan batu ini dibalik awan. Benda ini gunanya adalah untuk memantulkan sesuatu yang datang dari bawah sana. Jadi kini segalanya semakin jelas, serangan bola api bukan datang dari langit...!"

Pikir pemuda yang kedua matanya terlindung dua batok kelapa yang berwarna hitam berbentuk mirip kaca mata.

Dia menatap ke bawah.

Nun dikejauhan sana dia melihat sebuah pendaran cahaya dipenuhi batu dan pasir. Pasir-pasir itu berkilauan dan dia melihat kepulan asap diantara bebatuan itu.

"Seseorang yang memiliki kepandaian luar biasa tinggi telah melakukan serangan dari tempat itu. Siapapun dia tentu adalah orang yang sangat hebat. Aku harus turun kembali. Aku akan menyelidiki tempat itu!"

Setelah berkata demikian, Pemburu Dari Neraka menggebah kudanya sambil acungkan telunjuk ke arah kejauhan dibawah sana. Sang kuda tunggangan agaknya memahami isyarat itu.

Terbukti dia mengayunkan kepala.

Setelah kepala dan tubuh sebelah depan menghadap ke bawah, binatang itupun meringkik keras lalu berlari dengan kecepatan yang sangat luar biasa.

Tidak sampai sekedipan mata, kuda buta dengan pemuda yang dua matanya tertutup batok telah jejakkan ke empat kakinya diatas tanah berbatu.

Pemburu Dari Neraka layangkan pandang kesegenap penjuru

"Tempat ini sama seperti yang kulihat saat berada diketinggian langit. Tapi mengapa aku merasa ada sesuatu yang janggal. Pohon-pohon, bebatuan dan hamparan pasir disini?"

Gumam pemuda itu. "Jangan-jangan semua yang kulihat ini hanyalah tipuan. Seseorang dengan ilmu kesaktian yang dia miliki sengaja membuat tiruan yang sama persis dengan tempat yang kulihat diatas tadi!"

Pemburu Dari Neraka tersenyum getir.

"Untuk membuktikan dugaanku memang tidak meleset, sekarang aku akan melakukan sesuatu!"

Tiba-tiba saja pemuda itu mengangkat kedua tangannya. Sambil tetap duduk diatas kuda dua tangan segera diputar sebat. Tangan berkelebat laksana dua buah gasing yang berputar disertai suara berdesir keras. Berputarnya kedua tangan kemudian disusul dengan munculnya badai. Ketika semakin membesar bergulung-gulung seiring dengan makin bertambah cepatnya kedua tangan diputar.

Pemburu Dari Neraka lalu goyangkan kedua tangannya kesamping.

Wuus!

Badai menerjang pepohonan yang tumbuh disekitar tempat itu, menghancurkan apa saja yang dilaluinya sampai kemudian terdengar suara letupan keras disertai kepulan asap

Byar! Byar!

Hembusan badai lenyap. Pepohonan yang tadinya hancur berderak berserakan serta bebatuan yang berpentalan mendadak raib. Tempat itu seketika manjadi kosong tandus. Pemburu Dari Neraka kini merasa dirinya terdampar disebuah tempat dan alam yang sama sekali jauh berbeda dengan tempat sebelumnya.

Ternyata tepat seperti dugaannya, dia memang telah termakan tipuan pandangan yang dilakukan seseorang.

"Jelas semua tipuan ini bukan dilakukan oleh Si Jenggot Panjang. Tapi orang yang melakukannya adalah seseorang yang disebut Sang Kuasa Agung. Tapi dimana tempat persembunyian Sang Kuasa Agung? Aku harus mencari dan menemukan tempat itu. Aku tidak ingin Si Jenggot Panjang berkeliaran bebas lebih lama karena dia bisa membuat kekacauan dimana-mana?"

Pemburu Dari Neraka kemudian memutar kuda. Tali kendali kuda disentakkan dan dia siap menghambur tinggalkan tempat itu.

Tapi kuda itu tiba tiba keluarkan ringkikkan keras.

Kedua kaki depan diangkat tinggi, bulu-bulunya yang tebal berjingkrak "Hei ada apa?! "

Sang pemburu keluarkan seruan kaget.

Memandang ke depan dia melihat satu mahluk luar biesa besar berkulit putih berkepala singa jantan telah menghadang didepannya.

Sosok bertubuh manusia berkepala singa yang tak lain adalah Kalima Bara sang penjaga Kawasan Rahasia Pintu Selatan keluarkan raungan menggelegar hingga membuat tanah bergetar dan kuda cokelat milik si pemuda meringkik ketakutan. Bagaimana mahluk penjaga yang bernama Kalima Bara ini bisa berada didepan sang pemburu.

Seperti telah diceritakan dalam keadaan biasa Kalima Bara wujudnya bisa berubah menjadi patung putih.

Patung itu biasanya menempatkan diri di samping Gerbang Rahasia.

Tetapi ketika Sang Kuasa Agung dan Si Jenggot Panjang memutuskan untuk meninggalkan puri dibawah tanah yang menjadi tempat kediaman Sang Kuasa Agung.

Gadis itu yang merasa gagal menghabisi Pemburu Dari Neraka dengan menggunakan bola api, akhirnya memutuskan untuk mengerahkan penjaga utamanya ini.

Setelah membaca mantra dan mengusap punggung patung sebanyak tiga kali, maka berubahlah patung itu ke wujudnya yang asli.

"Mahluk ini yang dipercaya untuk menjaga kawasan. Berarti Kawasan Rahasia Pintu Selatan letaknya berada disekitar sini.!"

Batin Pemburu Dari Neraka.

"Kau telah memasuki daerah terlarang wahai pemuda bermata batok!"

Kata Kalima Bara dengan suara menggereng "Kau siapa?"

Tanya pemuda itu dingin.

"Aku adalah orang yang diberi kuasa penuh untuk menjaga keamanan Kawasan Rahasia. Namaku Kalima Bara!"

"Sebuah nama yang aneh, seaneh penampilanmu." Gumam sang pemburu.

"Jika kau penjaga kawasan rahasia, berarti majikanmu tidak berada di tempat? Kemana dia pergi?

Apakah dia bersama Si Jenggot Panjang, buruanku yang telah meloloskan diri dari neraka?"

Mahluk tinggi besar ini diam-diam terkejut tak menyangka pemuda berkuda itu ternyata mencari orang yang menjadi sahabat Sang Kuasa Agung.

"Dia tidak boleh tahu Si Jenggot Panjang bersama Sang Kuasa Agung."

Pikir Kalima Bara. Laki-laki yang hanya bercelana selutut bertelanjang dada ini menyeringai. "Aku tidak tahu apa maksudmu. Seingatku tidak ada orang yang namanya seperti yang kau

sebutkan di tempat ini!"

Jawab Kalima Bara berdusta.

Pemburu Dari Neraka tersenyum

"Aku tahu kau bohong dan bermaksud menipu. Tapi tidak mengapa.Setelah tahu majikanmu tidak berada di tempat, tidak ada gunanya lagi aku berada di tempat ini lebih lama. Sebaiknya menyingkirlah karena aku segera hendak pergi!"

"Kau telah masuk ke tempat ini seenaknya. Apakah sekarang kau mengira bisa pergi sesuka hati? Tinggalkan dulu kepalamu, setelah itu kubiarkan tubuh dan kuda anehmu berlalu dari sini!" Wajah Pemburu Dari Neraka seketika mengelam.

Sepasang mata berkilat tajam mencorong. Ada kilatan-kilatan lidah api yang memancar dari bola mata sang pemburu yang terlindungi batok. Andai saja Kalima Bara mengetahui siapa sang pemburu yang sesungguhnya.

Jangankan berani bicara seenak sendiri.

Berhadapan dengan pemuda itu saja sudah merupakan sebuah pantangan. Apalagi dia tidak berdiri di pihak yang benar.

Karena Sang Kuasa Agung dimana dia mengabdikan diri adalah mahluk sesat yang kejahatannya tidak berbeda dengan kejahatan yang pernah dilakukan oleh kekasihnya Iblis Kolot

"Kau meminta aku meninggalkan kepalaku?!" Berkata Pemburu Dari Neraka dingin.

"Kau tidak tuli, kau sudah mendengar apa yang aku katakan!" Sahut Kalima Bara tak kalah dingin.

Di atas kuda Pemburu Dari Neraka menyeringai dan seringai itu demikian dingin menggidikkan. Seringai sang pemburu lenyap.

Dia segera angkat tangan.

Dua tangan kemudian mencengkeram kepalanya sendiri erat-erat. Setelah itu dua tangan diputar.

Begitu kedua tangan membetot kepala dengan keras terdengar suara Krak berulang kali. Tulang leher patah.

Kepala lepas.

Urat dan daging dibagian leher berserabutan mengerikan. Darah menyembur dari leher yang sudah tidak berkepala lagi. Kalima Bara terkejut, mata terbelalak mulut ternganga.

Belum hilang rasa kaget. Pemburu Dari Neraka telah melemparkan kepalanya ke arah Kalima Bara.

Mahluk berkepala singa melompat kesamping hindari terjangan kepala yang dilemparkan pemiliknya.

Kepala jatuh menggelinding disamping kakinya. Kalima Bara kembali bergidik.

Memandang ke depan dia melihat tangan Pemburu dari Neraka sedang mengusap-usap lehernya yang buntung.

Tersentuh oleh usapan tangan sang pemburu, semburan darah tiba saja berhenti. Berhentinya darah disertai dengan pancaran cahaya putih benderang. Ketika cahaya lenyap, tahu-tahu dileher yang terpotong itu telah bertengger kepala yang baru. Kepala itu sama persis dengan kepala yang tergeletak didepan kaki Kalima Bara.

Mulut, hidung mata yang terlindung dua batok kelapa tak ada perbedaan sama sekali. "Ilmu tipuan....Kau hendak menipu aku dengan ilmu rongsokan itu?"

Teriak Kalima Bara tidak percaya dengan penglihatannya sendiri. Diatas kuda sang pemburu mengumbar tawa dingin.

"Aku tahu mahluk sepertimu memang sulit dibuat percaya. Jika kau sudah bosan hidup, aku telah siap membantu. Kau mau pergi kemana? Kealam arwah ataukah ke neraka?!"

Tanya Pemburu Dari Neraka. Sebagai jawaban Kalima Bara tiba-tiba keluarkan suara raungan menggeledek.

Secepat kilat tubuhnya melesat.

Dengan gerakan menerkam dua mulut dipentang lebar dia menyerang sang pemburu. Yang diserang tertawa ganda.

Sedikitpun dia tidak bergeming dari tempatnya.

Karena tidak berusaha mengelak atau hindari serangan.

Sepuluh jemari tangan Kalima Bara yang berkuku runcing tajam laksana mata pisau menghujam kedua bahu sang pemburu.

Sementara mulut yang bertaring menghujam dibatok kepala Pemburu Dari Neraka disebelah atas.

Sekali mulut bergerak menggigit dan sepuluh kuku runcing disentakkan pastilah urat bahu, kulit dan daging berserabutan keluar.

Demikian juga wajah sang pemburu pasti hancur mengerikan. Tapi dugaan Kalima Bara ternyata meleset. Kuku tajam yang dipergunakan untuk mencabik putus bergugusan.

Sedangkan gigi-gigi yang runcing yang menghujam dibagian wajah lawan malah patah menjadi serpihan.

Selagi mahluk berkepala singa ini dibuat terpana.

Secepat kilat tangan Pemburu Dari Neraka berkelebat menghantam dada.

Tidak menyangka mendapat serangan seperti itu, Kalima Bara masih berusaha selamatkan diri dengan melompat kesamping. Tapi gerakan ini kalah cepat dengan gerakan tangan Pemburu Dari Neraka.

Tanpa ampun pukulan sang pemburu menghantam dada Kalima Bara. Manusia setengah singa itu meraung dahsyat.

Tubuhnya terlempar.

Dada yang kena dipukul lawan berlubang, hangus menghitam mengepulkan asap tebal. Kalima Bara yang terluka parah mencoba bangkit. Tapi baru saja berdiri tubuhnya ambruk lagi. Sang pemburu tersenyum

"Kau memang hebat, namun orang sepertimu Jelas bukan lawanku.Sekarang pergilah ke neraka.

Mudah-mudahan kelak kau bertemu dengan diriku disana!" Dengus Pemburu Dari Neraka.

Tiba-tiba saja pemuda ini acungkan jari telunjuknya ke arah Kalima Bara.

Mahluk berkepala singa yang sedang meregang ajal itu hanya sempat melihat ada dua larik cahaya putih membersit ke arahnya.

Tanpa bisa menghindar cahaya itu menyambar tubuhnya. Wuus!

"Arrgkh..."

Kalima Bara kembali meraung, namun jeritannya terputus seiring dengan kobaran api yang membakar tubuhnya.

Mahluk berkepala singa itu melejang berkelojotan sejenak namun kemudian terdiam untuk selama-lamanya.

Pemburu Dari Neraka mendengus. Tanpa menoleh lagi dia menggebah kudanya dan tinggalkan tempat itu.

*****

Sementara itu si penunggang kuda hitam berpakaian warna warni yang tidak lain adalah Dew Kipas Pelangi terus memacu kudanya.

Tanpa disadari oleh sang Dewi semakin lama bergerak kuda itu justru mendekat ke arah Pintu gerbang Kawasan Rahasia Pintu Selatan.

Tetapi hanya terpaut jarak beberapa ratus tombak ke gerbang itu dia hentikan kuda hitamnya yang bernama Angin Puyuh. Dewi Kipas Pelangi menatap ke depan.

Saat itu dia melihat dikejauhan didepan sana ada suara menderu.

Pepohonan bergoyang, ranting dan daun daun yang berserakan diatas tanah juga mulai beterbangan.

Bersamaan dengan itu angin tiba-tiba berhembus menerjang ke arah Dewi Kipas Pelangi.

Bersamaan dengan hembusan angin dia juga melihat didepan sana tanah yang tadinya berwarna coklat tiba-tiba berubah menghitam.

Gadis itu terkesima. Dia menatap ke langit.

Tidak terlihat tanda-tanda hujan akan turun. Langit bersih.

Di ufuk langit sebelah barat dihiasi warna merah. Matahari memang sudah hampir tenggelam.

Dewi Kipas Pelangi sekali lagi menatap ke arah kejauhan didepan sana.

Dia melihat warna hitam yang menutupi seluruh penjuru permukaan tanah semakin luas.

Dan warna hitam itu seolah hidup, bergerak merayap seperti ribuan pasukan perang yang siap bertempur.

Terdorong oleh rasa ingin tahu, dia melompat ke atas cabang pohon yang terdapat diatasnya.

Dari ketinggian pohon gadis ini dapat melihat dengan lebih jelas.

Tiba-tiba saja gadis ini bergidik ngeri ketika menyadari bahwa yang bergerak merayap memenuhi seluruh penjuru tempat itu tenyata bukan bayangan melainkan sosok mahluk berbisa yang tidak lain adalah ribuan kalajengking berwarna hitam.

Walau dalam keadaan merayap, namun ribuan mahluk itu memiliki kecepatan dua puluh kali lipat dari kalajengking biasa.

Dalam kagetnya melihat kalajengking sebanyak itu, si gadis berkata.

"Aku tidak pernah melihat kalajengking sebanyak ini. Mereka seperti perajurit kerajaan yang sedang dalam perjalanan untuk melakukan penyerbuan? Tapi dari mana asal mahluk-mahluk ini? Apakah mungkin mereka berada dalam kendali seseorang?"

Baru saja Dewi Kipas Pelangi berkata begitu, sekonyong-konyong dibarisan paling belakang dia melihat seorang kakek tua.

Kakek itu bertubuh pendek kerdil.

Dewi Kipas Pelangi yang merasa mengenali siapa adanya kakek berpakaian putih membuka mata lebar-lebar.

Lalu dia berseru,

"Astaga! Bukankah orang berambut putih, berpakaian putih itu adalah Si Jenggot Panjang? Dia berjalan diantara puluhan ribu kalajengking hitam.Dia seperti sedang bercakap-cakap, tapi siapa yang diajaknya bicara?"

Si Gadis kembali memperhatikan dengan lebih seksama.

"Tidak kelihatan Si Jenggot Panjang bersama orang lain.Lalu mengapa Si Jenggot Panjang bersikap seperti orang yang sedang bicara?"

Dewi Kipas Pelangi memang tidak pernah tahu bahwa saat itu Si Jenggot Panjang tidak sendiri.

Dia bersama dengan Sang Kuasa Agung, gadis berwajah cantik berkaki kalajengking berwarna merah. Dia tidak bisa melihat Sang Kuasa Agung karena gadis itu berjalan dengan melindungi dirinya dengan ilmu Selubung Galib Mata Kosong.

Jadi walau Dewi Kipas Pelangi memandang dengan mata mendelik sekalipun dia tidak bakal bisa melihat sosok Sang Kuasa Agung. Demi melihat Si Jenggot Panjang yang berjalan ditengah ribuan kalajengking, gadis itu tiba-tiba saja ingat dengan Pranajiwa. Dia tidak melihat Pranajiwa bersama Si Jenggot Panjang

"Celaka! Kakek kerdil berpipa itu....Dia tidak bersama paman Prana. Apa yang terjadi dengan paman sahabatku itu? Dibunuhkah dia atau Si Jenggot Panjang menyembunyikan paman Prana disuatu tempat?"

Pikir sang Dewi.

Selagi sibuk memikirkan keselamatan Pranajiwa tanpa disadari oleh gadis itu, iring-iringan ribuan kalajengking ternyata semakin dekat dengan tempat dimana dirinya berada.

Dewl Kipas Pelangi tiba-tiba ingat dengan Angin Puyuh yang dengan setia menunggu di bawah pohon.

Khawatir dengan keselamatan binatang itu diapun berseru ditujukan pada kudanya.

"Angin Puyuh cepat tinggalkan tempat ini. Menyingkirlah yang jauh. Tempat ini sebentar lagi segera dipenuhi oleh ribuan kalajengking"

Angin Puyuh sepertinya memahami ucapan Dewi Kipas Pelangi. Terbukti binatang itu meringkik lembut. Kuda hendak berfari namun urung. Agaknya binatang itu mengkhawatirkan keselamatan majikannya.

"Cepatlah pergi, kau tidak perlu merisaukan diriku. Aku bisa menjaga diri!" Seru Dewi Kipas Pelangi cemas.

Setelah mendengar ucapan si gadis, tanpa ragu lagi Angin Puyuh segera menghambur lari selamatkan diri. Sang Dewi merasa lega.

Kini dia menatap kembali ke arah Si Jenggot Panjang. Matanya terbelalak mulut ternganga.

Si Jenggot Panjang yang dilihatnya tiba-tiba raib menghilang entah kemana.

"Tidak mungkin! Tadi aku melihatnya dengan jelas. Dia berjalan diantara ribuan kalajengking itu.

Lalu bagaimana tiba-tiba dia menghilang?"

Gumam Sang Dewi heran. Sambil berpikir matanya sibuk mencari-cari. Namun tatap matanya yang tertuju ke arah kejauhan tiba-tiba dialihkan ke bawah pohon tempat dimana dia berada. Dia mendengar suara gemerisik riuh dari kawanan binatang yang merayap.

"Celaka! Iring-iringan kalajengking ternyata telah memenuhi tempat ini. Apa yang harus aku lakukan? Mudah-mudahan mereka tidak mengetahui keberadaanku!"

Batin Dewi Kipas Pelangi. Sambil menahan nafas dia memandang ke bagian bawah pohon.

Dia melihat diantara ribuan kalajengking itu yang berada dibarisan paling depan ternyata berukuran luar biasa besar.

Besarnya hampir sama seukuran paha orang dewasa.

Sang Dewi hanya bisa menduga kemungkinan kalajengking besar itu bertindak sebagai panglima perang. Celakanya diluar dugaan pemimpin dari ribuan kalajengking itu ternyata mengetahui keberadaan Dewi Kipas Pelangi.

Salah satu dari pemimpin mereka mengitari pohon.

Capit besar berwarna hitam mengkilap membuka menutup seolah memberi tahu kawannya.

Sedangkan bagian ekornya beruas dengan ujung halus ditumbuhi bulu-bulu halus kaku bergerak tersonggeng ke atas dan ke bawah.

Isyarat itu disambut dengan suara gegap gempita.

Ribuan kalajengking berbondong-bondong mendatangi pohon.

Kemudian sebagian kawanan memanjat pohon dengan cara merayap, sedangkan sebagian lagi saling tindih menindih membuat ketinggian dengan cara menumpuk diri

"Celaka! Mahluk-mahluk itu ternyata sangat cerdik. Mereka berusaha mencapai cabang pohon ini dengan cara berkerumun menumpuk diri. Kini mereka telah berada dibawahku! Aku tidak takut pada mereka, tapi jumlahnya yang sedemikian banyak membuatku merasa jijik!"

Dewi Kipas Pelangi mencoba berpikir mencari jalan selamat. Saat itu tubuhnya telah basah bersimbah keringat dingin. Wajah pucat dan tegang sedangkan mata terus menatap ke arah timbunan kalajengking yang nyaris mencapai kedua kakinya.

"Tidak ada tempat untuk menghindar!" Desis sang Dewi sambil menggigit bibir.

Dia lalu berdiri. Sebelum binatang-binatang itu berhasil meraih kakinya, dia segera mencabut kipas yang terselip dipinggangnya.

Sambil berseru dia kembangkan kipas yang memiliki tujuh alur warna indah Sret!

Dengan mengerahkan tenaga dalam penuh, kipas dikibaskan ke arah ribuan kalajengking yang tertimbun membuat ketinggian. Tujuh larik cahaya warna warni menebar hawa dingin luar biasa menderu dari ujung kipas, lalu menghantam ribuan kalajengking yang berada dibawahnya hingga membuat ribuan kalajengking buyar berpentalan kesegenap penjuru arah.

Sebagian kalajengking tewas menemui ajal, sebagian lagi terluka parah. Anehnya kawanan kalajengking yang lain tidak menjadi jera.

Binatang-binatang itu kembali berkumpul dan kali ini mereka berlesatan diudara menyerang sang Dewi dengan menggunakan capit dan sengatnya.

"Kurang ajar! Enyahlah kalian dari hadapanku!" Teriak si gadis sambil sibuk mengebutkan kipasnya.

Begitu terkena sambaran kipas ratusan kalajengking dibuat berkaparan. Tapi yang datang menyerang dari pohon jumlahnya lebih banyak lagi.

Celakanya pada waktu yang sama kalajengking yang berusaha menyerbu ke arah Dewi dengan merayap memanjat pohon kini hampir mencapai gadis itu "Haaaa...! Pergi... pergilah kalian semua!"

Teriak Dewi Kipas Pelangi kalut.

Tak ada pilihan lain. Sambil menyerang dengan menggunakan kipas gadis ini mulai mengumbar pukulan-pukulan sakti.

Walau serangan kipas dan pukulan yang dilepaskannya telah merenggut banyak korban. Tapi serbuan binatang-binatang itu seakan tidak pernah habis.

Mereka terus menyerang dari bawah dengan cara melesatkan diri seperti jangkerik. Merasa cabang pohon yang dijadikan tempat berpijak sudah semakin tidak aman.

Apalagi kalajengking yang memenuhi cabang dan batang pohon jumlahnya makin berlipat ganda, Maka gadis ini melesat ke cabang pohon yang lebih tinggi yang berada diatas cabang tempat dia berpijak.

Begitu dia jejakkan kaki dicabang sebelah atas saat itulah Dewi Kipas Pelangi melihat seorang pemuda berambut gondrong berpakaian kelabu duduk diatas pucuk pohon sambil ucang-ucang kaki sementara mulut mengumbar senyum.

Pemuda itu tidak sendiri.

Tak jauh dicabang yang diduduki si gondrong duduk pula seorang gadis cantik beranmbut panjang berpakaian kuning gading.

Didada pakaiannya terdapat sulaman emas bergambar hati yang retak.

Dalam ketakutan melihat serbuan kalajengking yang menjadi-jadi, Dewi Kipas Pelangi tidak lagi sempat berpikir apakah dia mengenal kedua orang itu.

"Siapa kalian? Apakah kalian berdua yang mengendalikan mahluk-mahluk celaka yang berada dibawah itu?"

Hardik Dewi Kipas Pelangi curiga.

Dia menatap pemuda itu dan gadis disebelahnya silih berganti.

Si gadis geleng kepala sambil mengangkat bahu, Bagi Dewi Kipas Pelangi gerakan tubuh dara berpakaian kuning merupakan isyarat bahwa mereka tidak ada hubungannya dengan ribuan kalajengking.

Sambil tersenyum si pemuda yang duduk menyandarkan punggung dipucuk pohon berkata, "Aku bernama Raja sedangkan sahabatku yang cantik itu bernama Anjarsari. Apakah kau lupa

ketika berkuda kau telah melewati kami! Kudamu sangat cepat. Kuda hebat. Siapakah nama kuda itu?"

"Kudaku bernama Angin Puyuh!" Jawab Dewi Kipas Pelangi kesal.

Sekali lagi dia tatap ke bawah. Dia melihat ribuan kalajengking terus menyerbu bahkan hampir mencapai cabang pohon yang baru dijejaknya. "Lalu namamu siapa?"

Tanya Anjarsari.

"Mengapa kalian terus bertanya disaat aku hampir mati ketakutan? Aku jijik melihat mahluk mahluk itu!"

Teriak sang Dewi gusar.

"Oh jadi kau butuh bantuan.?"

Kata Raja dengan sikap santai terkesan tidak peduli.

"Setelah kami bantu agaknya kau mau memperkenalkan diri kepada kami, bukankah begitu sobat?"

Berkata demikian Raja melirik ke arah gadis disebelahnya. Tapi Anjarsari malah palingkan wajah. "Ternyata Anjarsari tidak suka aku bicara dengan gadis berkipas ini."

Batin Raja

"Cepat bantu aku! Lakukan sesuatu!" Pekik sang Dewi lagi tambah tidak sabar.

"Baiklah, karena temanku ini sedang tidak enak hati. Biarlah aku yang akan membantumu!" Berkata begitu Raja Gendeng 313 bangkit dari cabang pohon yang tadinya dia duduki.

Pemuda ini angkat tangannya tinggi-tinggi.

Dua tangan yang telah dialiri tenaga dalam pancarkan cahaya biru terang.

Hawa panas menghampar membuat Dewi Kipas dan Anjarsari cepat menyingkir dengan melompat ke cabang pohon di sebelah kiri Raja.

Tanpa menghiraukan kedua gadis itu, dua tangan kemudian dihantamkan ke bawah tiga kali berturut-turut. Ketika kedua tangan dihantamkan ke bawah, Enam larik cahaya melesat laksana kilat, berkelebat menderu berputar laksana titiran dalam bentuk seperti cakra.

Enam cahaya bersumber dari pukulan sakti Cakra Halilintar kemudian melabrak ribuan makhluk berbisa itu, memberangus mereka disertai ledakan menggelegar.

Ribuan kalajengking berpelantingan hancur lebur dalam keadaan dikobari api. Walau yang mati jumlahnya ribuan namun yang tersisa ternyata lebih banyak lagi. Mereka yang selamat kini menjadi murka.

Seperti anak panah kalajengking yang berukuran besar lesatkan diri kearah Raja dan kedua gadis yang berada tidak jauh disebelahnya.

Dewi Kipas Pelangi tidak tinggal diam.Anjarsari pun juga ikut membantu sang pendekar.

Sang Dewi yang tadinya tidak menyangka kawanan Kalajengking dapat di lumpuhkan dengan menggunakan pukulan berhawa panas kini segera mengumbar pukulan Kipas Api Melanda Gunung.

Ketika dua telapak tangannya yang terkembang dihantamkan ke bawah. Maka puluhan kalajengking besar hancur luluh dalam keadaan hangus. Karena ketiga orang ini terus mengumbar pukulan sakti berhawa panas luar biasa ke arah makhluk-makhluk berbisa di bawah pohon.

Maka setiap pukulan selalu disertai ledakan membuat suasana berubah hiruk pikuk. Kawanan Kalajengking hitam sebagian besar akhirnya menemui ajal di tangan mereka. Sebagian kecil yang selamat kocar-kacir menyelamatkan diri.

Melihat sisa-sisa binatang itu berlarian selamatkan diri. Raja Gendeng 313,Dewi Kipas Pelang saling pandang.

"Kalajengking, Ular berbisa dan sebagian makhluk melata ternyata memang takut dengan api" Kata Anjasari.

"Aku tidak tahu. Kalau kalian berdua tidak memberi bantuan mungkin aku sudah mati ketakutan."

Ucap Sang Dewi

"Tadinya kami mengikutimu. Kulihat kau begitu tergesa-gesa." Tukas Raja.

"Jadi kalian datang bukan untuk menolong?"

Tanya Dewi Kipas Pelangi sambil menatap Raja, lalu melirik ke arah Anjarsari. "Mengikuti sambil menolong."

Menyahuti Anjarsari dingin.

"Ya memang benar seperti yang dikatakannya." Timpal Raja pula.

"Ya aku memang sedang mengejar sesuatu. Terlalu panjang ceritanya. Mungkin kita harus pergi dari sini. Tempat ini dipenuhi bau amis dan busuk. Bangkai ribuan Kalajengking yang bertimbun di bawah sana membuat aku mau muntah!"

Kata Sang Dewi berterus terang.

"Kami tidak keberatan. Tapi sebutkan dulu siapa namamu?!" Desak Anjarsari.

"Oh ya, aku sampai lupa. Aku bernama Dewi. Orang menyebutku Dewi Kipas Pelangi!" terang gadis itu.

"Hmm, sebuah nama yang bagus. Secantik orangnya." Anjarsari memuji.

Raja manggut-manggut. Kemudian polos saja dia berkata.

"Dewi Kipas Pelangi. Namamu mengingatkan aku pada tukang sate dan penjual jagung bakar! Ha ha ha!" Sang Dewi delikkan matanya.

Mendengar gurauan sang pendekar sebaliknya Anjarsari malah ikutan tertawa. Melihat Anjarsari dan Raja terus tertawa, Dewi Kipas Pelangi tambah cemberut "Dasar orang-orang gila!" sang Dewi menggerutu lalu melesat tinggalkan pohon. Melihat gadis itu meninggalkan mereka, Raja hentikan tawanya lalu berteriak. "Hei kau hendak kemana?"

"Jangan ditanya. Kejar saja!"

Kata Anjarsari

"Hem, kau benar. Mari kita susul dia!"

Sahut Raja sambil berkelebat kearah lenyapnya Dewi Kipas Pelangi, tidak mau ketinggalan Anjarsaripun mengikuti pemuda itu.

TAMAT