-->

Raja Gendeng Eps 27 : Aksara Iblis

 
Eps 27 : Aksara Iblis


Membunuh gurunya bukanlah menjadi kehendak Pura Saketi karena kematian itu memang sangat diinginkan sendiri oleh Iblis Kolot.

Pura Saketi yang kini telah berusia tujuh belas tahun sebenarnya tidak habis mengerti mengapa Iblis Kolot memilih mati ditangannya, bukan membunuh diri.

Seandainya sang guru tidak beralih rupa menjadi sosok yang tidak dikenalinya sebagai El Maut Kaki Seribu, dia tentu tidak mau meladeni kakek itu dalam perkelahian.

Entah memang bersikap mengalah atau karena berlaku lengah, Iblis Kolot pun tewas ditangannya.

Semuanya telah terjadi.

Iblis Kolot jasadnya lenyap sedangkan arwahnya kini menumpang didalam raga Pura Saketi. Dia tidak tahu apa yang akan terjadi nanti.

Sejak merasuk, menyatu dalam tubuhnya beberapa saat yang lalu, sang arwah yang berada dalam tubuhnya memang belum menunjukkan sikap dan gelagat aneh yang mengganggu dirinya.

Tak lama kemudian pemuda berpakaian biru berambut panjang kaku dan memakai ikat kepala warna biru ini menghela nafas. Waktu bergulir dengan cepat.

Kehidupan terus berlanjut.

Perlahan pemuda ini bangkit berdiri. Saat itu kegelapan mulai menyelimuti kawasan lembah yang dikelilingl jurang cadas. Mataharipun hampir tenggelam dilangit sebelah barat.

Di kaki langit bola penerang jagat hanya tinggal berupa bola merah yang tinggal setengahnya saja.

"Aku harus pergi dari tempat ini! Lembah Jahanam ini tidak lagi menjadi tempat yang pantas untukku!"

Ingat pada gurunya pemuda ini tersenyum. Tiba-tiba dia berkata.

"Sebusuk apapun sifatmu, aku tetap menghormatimu, guru. Kitab Aksara Iblis akan kucari. Bila berjodoh pasti selalu ada jalan untuk mendapatkannya"

Setelah berkata demikian dia pun langkahkan kaki. Tetapi baru tujuh tindak kakinya melangkah.

Tiba-tiba saja kesunyian menjelang malam dipecahkan oleh suara deru angin.

Pepohonan diseluruh penjuru bergoyang keras, hawa dingin dikaki lembah makin bertambah dingin. Pura Saketi tidak perduli karena perubahan cuaca ditempat itu adalah sesuatu yang sudah biasa dialaminya.

Tapi seketika kemudian dia berlari mengikuti arah hembusan angin tiba-tiba saja terlihat kilat menyambar.

Sambaran kilat disusul dengan gelegar petir. "Mengapa alam tidak bersahabat denganku!"

Gerutu pemuda itu sambil terus mengayunkan langkah kakinya.

Sambil berlari Pura Saketi menatap ke atas.Dibawah bayang-bayang jurang yang menjulang tinggi, dia melihat langit diselimuti mendung hitam.

Sekali lagi kilat menyambar, petir berdentum serasa merobek gendang telinga.

Pemuda ini memaki karena kaget namun dia terus saja berlari mengikuti hembusan angin.

Ketika hujan deras tiba-tiba turun, pemuda ini sesaat menjadi ragu karena tidak tahu kemana harus berlindung.

Terlanjur basah pemuda inipun meneruskan larinya, Semakin lama larinya semakin dipercepat.

Disatu tempat sesampainya disebuah perbukitan batu lari. Pura Saketi terhenti.

Dia tertegun ketika melihat ada satu cahaya berwarna merah benderang memancar dikejauhan, Ke arah cahaya itulah angin yang bertiup dilembah berhembus.

"Cahaya merah itu, apakah mungkin nyala dari sebuah pelita? Apa ada pondok disana? Tapi jika memang itu cahaya pelita mengapa cahayanya sangat terang sekali?"

Pikir Pura Saketi.

Sejenak dia diam,namun setelah sempat terombang-ambing dalam kebimbangan akhirnya dia memutuskan untuk menuju ke arah datangnya cahaya.

Dia berlari lagi.

Tapi cahaya yang dilihatnya itu sekonyong-konyong mendadak lenyap dari pandangan.

Pemuda ini jadi kesal juga penasaran

"Cahaya lenyap seperti ditiup setan. Ada orang pandai agaknya sengaja mempermainkan diriku.

Kurang ajar!"

Geram Pura Saketi sambil kepalkan kedua tangannya.

Dalam gelap ditengah hujan deras tanpa memperdulikan pakaiannya yang basah kuyup. Pura Saketi berkata.

"Guruku mengatakan jurang ini seperti lingkaran setan.Siapa yang terjebak didalamnya tak mungkin bisa kluar.Apakah benar demiklan? Bukankah setiap masalah pasti ada jalan keluarnya. Guruku gila, tapi aku bukan manusia bodoh. Aku yakin ada jalan menuju dunia yang bebas."

Lalu Pura Saketi kembali menatap ke arah dimana sumber cahaya muncul. Dia terkejut, matanya terbelalak begitu mengetahul cahaya yang lenyap kini muncul kembali.

Tapi cahaya itu tidak datang dari jurusan yang sama melainkan telah bergeser agak disebelah kiri. Dan cahaya merah ini seperti lebih dekat.

Tidak percaya dengan penglihatannya sendiri, Pura Saketi mengusap matanya. Tempat munculnya cahaya tidak berubah.

"Aku tidak mau dipermainkan. Siapa saja yang berani melakukannya pasti kuhajar. Kalau perlu kubunuh sekalian!"

Geram pemuda itu.

Setelah berkata demikian dia salurkan tenaga dalam ke arah kedua kakinya. Ketika kaki kanan dihentakkan ditanah

Wuus!

Seketika Pura Saketi lenyap, namun sekejab kemudian dia telah berlari diatas pucuk pepohonan.

Dari ketinggian pohon dia dapat melihat jauh ke depan.

Saat itu jarak antara dirinya dengan cahaya semakin bertambah dekat.

Dan pemuda ini menjadi heran ketika menyadari bahwa pancaran cahaya merah ternyata berasal dari balik dinding tebing.

Mengetahul hal ini si pemuda perlambat larinya.

Kemudian dia hentikan langkah setelah jejakkan kaki tidak jauh dari dinding tebing yang menyala.

Menatap ke arah tebing didepannya dia merasakan ada getaran hawa aneh menerpa kedua matanya. Pura Saketi merasakan kedua matanya menjadi panas seperti mau meletus. Si pemuda keluarkan seruan kaget sekaligus dekap kedua matanya.

"Apa yang terjadi dengan mataku!" Desis Pura Saketi dicekam rasa takut. Dia takut matanya menjadi buta.

Tetapi tidak berselang lama kemudian pemuda ini menjadi heran sendiri ketika dapati kedua mata yang tadinya panas berubah menjadi sejuk.

Rasa panas lenyap berganti dengan getaran hawa dingin sejuk yang kemudian menjalar kesekujur tubuhnya. Pura Saketi pun menjadi heran sendiri ketika merasakan tubuhnya tiba-tiba berubah menjadi ringan.

Perlahan-lahan dia turunkan kedua tangan yang menekap wajah dan memandang ke depan.

Cahaya merah terang yang memancar di dinding kini tampak meredup.

Rasa ingin tahu membuatnya julurkan tangan ke arah dinding tebing didepannya. "Ada sesuatu yang tersembunyi dibalik dinding tebing ini!"

Batinnya didalam hati.

Perlahan namun pasti dengan sikap hati-hati jemari tangan yang telah dialiri tenaga dalam dia tancapkan ke dinding itu.

Tanah tebing yang keras luruh bergugusan.

Si pemuda melihat didepannya kini terdapat sebuah lubang empat persegi.

Didalam lubang tergeletak sebuah benda aneh berwarna biru kemerahan berkilau seperti lempengan batu namun bentuknya mirip dengan sebuah kitab.

"Kitab Aksara Iblis! Mungkinkah benda itu kitab yang dimaksudkan oleh guruku?" Pikir Pura Saketi.

Dengan jantung berdebar, pemuda ini julurkan tangannya lebih dalam.

Dia lalu menggerakkan jemarinya untuk menggapai lempengan benda aneh biru kemerahan.

Belum sempat jemari tangannya menyentuh benda, tiba-tiba dari dalam lubang menderu satu gelombang angin panas dan dingin luar biasa hebat. Deru angin itu tidak hanya mendorong tangannya tapi juga menghantam tubuh Pura Saketi membuat tubuhnya terdorong sejauh tiga tombak ke belakang.

Andai pemuda ini tidak berlaku waspada, dia pasti sudah terjengkang dengan kepala menghantam batu yang terdapat dibelakangnya.

"Benda itu menyerangku!. Apakah mungkin dia tidak mau disentuh?" Gumam Pura Saketi sambil dekap dadanya yang mendenyut sakit.

Penasaran pemuda itu bergerak lagi, melangkah mendekati lubang. Benda biru kemerahan masih berada ditempatnya. Tapi benda itu kini berpedar, memancarkan cahaya gemerlapan seolah hidup

"Mungkin ini adalah kitab Aksara Iblis. Tapi aku tidak bisa menyentuhnya. Apa yang harus kulakukan?!"

Kata Pura Saketi sambil julurkan lidah basahi bibirnya yang dingin.

Disaat pemuda ini bingung tidak tahu bagaimana caranya mengambil benda didinding tebing.

Sayup-sayup dia mendengar suara ngiang ditelinganya.

"Setiap mahluk tidak terkecuali siapa dan bagaimana bentuknya pasti ingin dihormati.Bila kau bersikap sopan, maka apa yang kau lihat didepanmu sudah ditakdirkan menjadi milikmu.Berbuatlah sebagaimana layaknya seorang tamu yang baik.!"

Pura Saketi terkejut.

Dia tidak melihat ada seseorang disekitar tempat itu. "Lalu siapa yang bicara?"

Pura Saketi terdiam, dia mencoba untuk memahami kata-kata yang didengarnya.

Begitu menyadari apa yang seharusnya dia lakukan, maka tiba-tiba saja dia jatuhkan diri, berlutut menghadap ke arah lubang tempat dimana lempengan benda berkilau mirip sebuah kitab berada.

"Siapapun yang bicara denganku, aku mengucapkan terima kasih karena baru diberi ingat." Setelah itu pada benda didepannya dia berkata pula.

"Wahai mustika yang memancarkan cahaya. Jika yang kulihat ini memang Kitab Aksara Iblis dan berjodoh denganku, aku mohon diberi izin, diberi kesempatan untuk memilikinya.Tapi jika Kitab tidak berjodoh denganku, aku mohon pergilah yang jauh dan jangan pernah lagi memperlihatkan diri dihadapanku sampai kapanpun!"

Selesai berucap demikian Pura Saketi tundukkan kepala dengan sikap menghormat. Setelah itu dia duduk bersimpuh didepan lubang empat persegi yang berada didepannya.

Sambil menahan nafas dengan wajah tegang dia menunggu. Penantiannya ternyata tidak berlangsung lama.

Tiba-tiba terdengar suara menderu, hawa panas dan dingin menebar menyertai suara deru itu. Satu keanehan tiba-tiba terjadi.

Benda yang tergeletak didalam lubang tiba-tiba bergerak meninggalkan tempatnya lalu melayang ke udara.

Setelah sempat melayang berputar-putar diatas kepala Pura Saketi, akhirnya jatuh ke atas pangkuannya, Pura Saketi buka matanya lebar-lebar.

Menatap ke arah pangkuannya dia melihat benda itu masih memancarkan cahaya merah redup namun sejuk.

Si pemuda memperhatikannya dengan seksama. Dengan sangat hati-hati benda dipegangnya dengan kedua tangan. Bentuknya seperti lempengan batu namun mirip dengan kitab.

Tapi tidak ada halaman dalam kitab.

"Namun pada permukaannya terlihat jelas tulisan-tulisan aneh berupa aksara yang tidak dapat kumengerti artinya.Mungkin inikah yang disebut dengan Aksara Iblis?!"

Kata Pura Saketi.

Sejenak lamanya dia hanya membolak balik kedua sisi lempengan.

Satu demi satu setiap kata yang tertera dipermukaan lempengan diteliti.

Dia juga terus berusaha mencari tahu makna setiap aksara yang tertera di kedua sisi lempengan

itu.

"Tidak satupun aksara pada kitab ini kuketahui maknanya. Mungkin Aksara Iblis hanya diketahui

oleh bangsa iblis dan golongannya. Tapi kitab ini sangat kotor tertutup tanah merah. Aku akan membersihkannya!"

Setelah berkata demikian Pura Saketi mengusap sisi sebelah atas lempengan batu yang dipenuhi aksara aneh sebanyak tiga kali. Setelah sisi sebelah atas bersih dan tulisan makin terlihat jelas, Pura Saketi membalik lempengan kitab lalu membersihkan sisi sebelah bawah dengan usapan sebanyak tiga kali pula. Diluar dugaan satu kejadian aneh yang sungguh luar biasa pun tiba-tiba terjadi. Lempengan it bergetar keras. Setiap baris tulisan yang pada kedua bagian permukaannya bergerak seolah hidup disertai pjaran cahaya warna warni.

Seiring dengan itu getaran yang terjadi di seluruh penjuru lempengan semakin bertambah keras, kedua tangan Pura Saketi yang memegang kedua sisi lempengan kitab batu bergetar.

Setiap aksara terus bergerak, menggeliat, berputar atau bertarian saling kejar dipermukaan kedua kitab batu, laksana sekumpulan cacing gila yang mencari jalan keluar dari kitab Batu.

Pura Saketi terkesima, dia terus memegangi kitab batu itu erat-erat. Namun pada waktu yang bersamaan dia juga merasakan ada hawa aneh menjalar merayap ke arah kedua tangannya. Dari tangan hawa aneh terus menjalar kesekujur tubuhnya. Pemuda itu merasa seluruh pembuluh darah disekujur tubuhnya laksana dipenuhi oleh satu kekuatan dahsyat. Dia merasa sekujur tubuhnya laksana mau meledak

"Apa yang terjadi...!"

Teriak pemuda itu panik. Tidak tahan dengan hawa aneh yang menyerbu masuk kedalam tubuhnya, dia pun segera melepaskan kedua tangannya yang mencekal kitab batu.

Tapi dia terkejut sendiri. Kedua tangan yang memegang kedua sisi batu tidak dapat dilepas, menempel begitu ketat seolah telah diberi perekat.

"Tidak.... mengapa jadi seperti ini..." Pura Saketi keluarkan seruan kaget. Disaat si pemuda dibuat bingung tidak tahu apa yang harus dilaku- kannya, tiba-tiba saja dia melihat kitab pancarkan cahaya merah benderang dan semua aksara aneh yang tertera pada kedua permukaannya berlompatan meninggalkan tempatnya masing-masing lalu menyerbu masuk kesekujur tubuh Pura Saketi. Sambaran setiap aksara bercahaya yang mengamblaskan diri kebagian telapak tangan dan sekujur tubuh itu menimbulkan penderitaan yang tiada terkira dahsyatnya bagi Pura Saketi.

Pemuda itu merasa sekujur tubuhnya seperti dihantam ditembus ribuan batang jarum membara.

Pura Saketi menjerit, menggeliat dan menggelepar, sementara cahaya merah yang bersumber dari aksara yang menyatu dengan dirinya membuat tubuhnya pancarkan cahaya merah mengerikan.

"Hraaaakh..... huaakh. "

Pura Saketi meraung laksana puluhan harimau tertembus anak panah. Tubuhnya terjengkang kebelakang. Kitab batu ditangan terlepas, terpental dan jatuh tak jauh disampingnya.

"Akh..... akh. "

Pura Saketi terus meraung, bergulingan ditanah selayaknya orang yang kerasukan.

Sekujur tubuh laksana hancur tercabik didera hawa panas dan dingin yang menyerang dari dalam silih berganti.

Didera rasa sakit yang sedemikian hebat pemuda ini pun akhirnya tidak sadarkan diri. Begitu putra Pendekar Sesat ini pingsan.

Pergolakan dalam tubuhnya mereda.

Bersamaan dengan itu sekujur tubuh yang merah membara berangsur surut, cahaya yang memancar ikut meredup lalu lenyap meninggalkan kepulan asap tipis berwarna kemerahan.

Kilat menyambar, petir bergemuruh. Hujan deras mendadak terhenti.

Lalu dikejauhan sana dibawah alam sadarnya sayup-sayup dia mendengar ada satu suara berkata,

"Anak manusia bernama Pura Saketi. Aksara iblis telah menyatu dalam tubuhmu, mengalir dalam darah, mengisi setiap sendi, tulang dan ototmu. Kau telah menguasai seluruh isi kitab Aksara Iblis.

Segala kehebatannya telah bersatu dengan dirimu. Sejak saat ini tidak bakal ada seorang pun yang bisa menandingimu. Tapi harus dingat dengan ilmu kesaktian yang kau miliki sekarang ini, jalan hidupmu tidak lagi sepenuhnya berjalan sesuai dengan keinginanmu."

"Ada kehendak lain yang berkuasa dan kerap mengambil alih. Namun kau tak usah takut karena kau adalah pewaris ilmu yang sangat langka itu.Mulai saat ini kau bebas berbuat sekehendak hati.Kau juga bebas membalaskan ÅŸegala rasa sakit hati dan dendam kesumat pada orang-orang yang memusuhimu.Tapi kau juga harus ingat selalu saja diatas langit masih ada langit, diatas ilmu hebat masih ada yang jauh lebih hebat.Dalam setiap kekuatan pasti ada kelemahannya, begitu pula setiap ilmu pasti ada penangkalnya. Aku hanya bisa mengatakan selamat kepadamu. Ha ha ha!" Suara gelak tawa menggema memenuhi relung hati dan batok kepala pemuda itu.

Pura Saket tersentak, kedua matanya terbuka dengan tiba-tiba. Suara tawa yang didengarnya raib, merasa heran pemuda ini bangkit. Setelah terduduk diatas tanah pemuda itu memperhatikan diri sendiri. Thdak ada luka, tidak terlihat ada darah menetes ditubuhnya.

Bahkan pakaian biru yang melekat ditubuhnya tetap utuh. "Aku selamat. Rasa sakit disekujur tubuhku bahkan lenyap." Desis pemuda itu.

"Apakah benar aku telah mewarisi kitab Aksara Iblis?" Dia memandang sekelilingnya.

Perhatiannya kemudian tertuju ke arah lempengan batu yang tergeletak disampingnya. Itulah kitab Aksara Iblis.

Tapi kitab itu kini hanya tinggal sepotong batu membara yang menghitam di ke empat sisinya. Tidak ada lagi aksara yang tertera dikedua sisinya.

Semuanya polos dan licin-licin saja.

"Benar.... Aksara Iblis telah menyatu dengan tubuhku. Ternyata akulah pewaris Aksara Iblis... ha ha ha!"

Teriak Pura Saketi sambil tertawa tergelak-gelak.

Diapun kemudian bangkit berdiri, menatap sejenak ke arah kegelapan disekitarnya lalu tersenyum.

Huup!

Rasa ingin tahu karena telah memiliki ilmu Aksara Iblis membuat Pura Saketi ingin mencoba dan segera salurkan tenaga dalam kebagian kedua tangannya.

Byar!

Begitu tenaga sakti mengalir deras dikedua belah tangannya.

Saat itu juga ditelapak tangannya memancarkan cahaya merah benderang yang disertai dengan bermunculan aksara-aksara aneh yang timbul tenggelam silih berganti.

Pemuda ini merasa takjub melihat huruf-huruf yang muncul silih berganti dibagian telapak tangan hingga ke pangkal lengan.

Setiap kali aksara muncul menggantikan aksara sebelumnya terlihat cahaya merah dan biru berpijar menyilaukan.

"Aksara Iblis.... Ha ha ha...! Akulah satu satunya pewaris ilmu itu!"

Teriak Pura Saketi diiringi tawa terkekeh. Setelah merasa yakin dengan apa yang didapatnya diapun segera menarik balik tenaga dalamnya. Pijaran cahaya dikedua tangan lenyap. "Aku akan keluar dari jurang ini. Para jahanam itu harus kutemukan!"

Sambil berkata demikian tiba-tiba saja dia melompat ke arah dinding tebing. Anehnya begitu telapak tangan menyentuh dinding yang terjal dan licin tidak seperti sebelumnya, kini kedua telapak tangannya bisa menempel pada dinding itu.

"Kini aku bisa... sebelumnya aku dan guruku tak pernah dapat mendaki jurang ini. Ha ha ha!" Seru pemuda itu kegirangan.

Sebelumnya ketika masih bersama Iblis Kolot, dia memang pernah berusaha memanjat tebing jurang.

Tapi segala upaya mereka tidak pernah membawa hasil. Sekarang seperti cicak yang merayap ditembok, Pura Saketi bahkan dapat merayap cepat menuju ke bagian puncak tebing jurang.

Dan semua Ini dia lakukan dalam waktu yang tidak lama. Setelah berhasil menggapai mulut jurang.

Dalam kegelapan Pura Saketi bergegas tinggalkan tempat itu.

*****

Ruangan tempat latih tanding dalam benteng di Kawasan Tua cukup luas.

Dahulu ruangan ini pernah dipergunakan untuk mendidik penduduk Kawasan Tua dengan berbagai ketrampilan silat dan ilmu kedikdayaan.

Karena ruangan itu terlindung dari cahaya matahari maka keberadaannya menjadi lembab berdebu.

Disekeliling ruangan terpajang deretan rak berisi tombak, toya, pedang, golok juga beberapa senjata lainnya.

Walau sebagian senjata telah berkarat, namun keadaannya masih layak dipergunakan. Ketika Raja Gendeng 313 yang didampingi kakek berpakaian merah berambut merah masuk kedalam ruangan, suasana sunyi terasa mencekam.

Tak jauh dibelakang kedua orang itu seorang gadis berwajah cantik berkulit putih bersih berpakaian kuning gading tampak mengiringi.

Si kakek yang tak lain adalah Si Gembala Api pemimpin kawasan Tua yang porak poranda itu bergegas menuju ke bagian tengah ruangan.

Sesampainya disana dia meniup ke dua arah sekaligus.

Satu ke arah dinding disebelah kiri sedangkan satu tiupan lagi ke arah dinding sebelah kanan. Seketika itu juga dari mulut kakek Gembala Api melesat dua titik cahaya merah.

Kedua titik cahaya itu berubah membesar dan menyambar dua pelita yang terdapat dikedua sudut dinding

Byar! Byar!  

Kegelapan dalam ruangan seketika berubah menjadi terang. Si Gembala Api menatap Raja lalu berkata,

"Apa kau masih ingin berkelahi dengan Anjarsari? "

"Aku sebenarnya tidak berniat berkelahi, tapi gadis congkak itu yang ingin menjajal ilmu kesaktianku. Kalau mengikuti kata hati aku tidak mau membuang tenaga sia-sia. Aku juga takut nanti ada yang terluka!"

Jawab Raja lalu layangkan pandang ke arah gadis cantik berpakaian kuning gading yang bernama Anjarsari.

Si gadis delikkan mata.

Justru pada saat mata yang indah itu melotot membuat wajahnya tambah mempesona. Melihat mata si gadis, hati Raja berdebar-debar.

"Pemuda gondrong, raja dari sekalian orang gendeng! Kalaupun ada yang terluka atau mengalami nasib celaka bukan aku orangnya. Orang sepertimu mana mungkin sanggup melawan aku. Aku ini gadis yang hebat! Jangankan sendiri, dua orang sepertimu tak mungkin bisa mengalahkanku"

Dengus Anjarsari penuh rasa percaya diri.

"Anjarsari... kau tidak boleh takabur. Bersikap santunlah pada setiap orang termasuk kepada Raja."

Tegur Si kakek merasa kesal dengan perkataan sang dara.

"Huh apa? Mengapa harus bersikap baik pada pemuda ini? Dimataku dia bukanlah seorang raja, dia pantas menjadi pesuruh setia yang harus mematuhi segala perintahku!"

Sahut Anjarsari sengit.

Rupanya dia merasa tidak senang dengan teguran Si kakek Gembala Api. Ditempatnya berdiri sang pendekar merasa telinganya menjadi gatal.

Ingin sekali dia mendamprat tapi entah mengapa hati kecilnya merasa tidak sanggup melakukannya.

Seperti dikisahkan dalam episode Putera Pendekar Sesat.

Sejak pertama kali Raja melihat gadis itu hatinya menjadi gelisah.

Jantung berdegup keras terutama ketika pandangan mata mereka bertemu. Selama hidup rasanya Raja belum pernah merasakan perasaan seaneh ini. Raja tertarik pada gadis angkuh ini, dia begitu takjub pada keelokan parasnya.

Tapi yang membuatnya muak mengapa sifat Anjarsari bertolak belakang dengan kecantikannya.

Andai yang bicara seperti itu pada dirinya gadis yang lain bukan Anjarsari mungkin sudah didampratnya.

"Anehnya... mengapa aku koq jadi diam saja dihina gadis ini? Apa nanti kata kedua mahluk alam roh sahabatku?"

Batin sang pendekar sambil menggaruk kepalanya.

Jiwa Pedang dan Sinta Dewi sama berpandangan ketika mendengar ucapan Anjarsari.

"Aku tidak mengerti, seharusnya gusti Raja menampar saja mulut gadis berpakaian kuning tahi itu. Mengapa dia diam, buat apa dia mengalah. Padahal gadis itu sudah berbicara sangat keterlaluan!"

Rutuk Sinta dengan wajah cemberut. Jiwa Pedang perhatikan Sinta didepannya lalu tersenyum. "Mengapa kau yang menjadi marah, gusti yang didamprat  malah diam saja seperti kerbau dicocok

hidungnya. Jangan-jangan gusti tertarik pada gadis berpakaian kuning itu!"

Kata Jiwa Pedang lalu menatap ke arah gadis yang kini telah berdiri tidak jauh didepan Raja. Entah sengaja memanasi hati Sinta entah memuji Anjarsari, Jiwa Pedang kemudian berkata lagi. "Gadis itu memang cantik "

"Kurang ajar! Memangnya aku tidak cantik? Dasar lelaki pantang melihat dada bagus jidat licin!" Geram Sinta sambil delikkan matanya.

Jiwa pedang tertawa.

Suara tawa atau pun pembicaraan mereka tentu saja tidak dapat didengar oleh Anjarsari ataupun si kakek. Hanya Raja yang mendengar ucapan mereka.

Tapi sang pendekar bersikap acuh

"Ya-ya-ya, kau memang tak kalah cantik dibandingkan dengan gadis yang berpakaian kuning. Sayang kau suka makanan yang bau.Dan maaf bila aku tidak keliru bicara, sebenarnya kau merasa cemburu melihat gusti kita menaruh hati pada Anjarsari?"

"Hah, apa?"

Sentak gadis alam roh itu. Wajahnya bersemu merah.

Lalu buru-buru dia palingkan kepala ke jurusan laiin

"Hm, ternyata betul kataku.Selama ini diam- diam kau menaruh hati pada gusti Raja. Kasihan, cinta belum terucap yang dicinta agaknya telah Jatuh hati pada pandangan pertama dengan gadis lain! He he he."

"Diam! Perlu apa kau mengetahui apa yang ada dalam hatiku. Kau bukannya menghibur sebaliknya malah mengejekku, Mahluk tidak berguna!"

Geram Sinta.

Sinta lalu melayangkan tinjunya ke bagian bahu Jiwa Pedang.

Tapi sambil tertawa Jiwa Pedang telah berkelebat  lenyap dari tempatnya.

Sinta menggeram, tapi dia hanya bisa mendamprat karena saat itu terlihat Jiwa Pedang sudah duduk diatas senjata. Sementara itu Anjarsari sudah berdiri ditengah ruangan sambil berkacak pinggang tiba-tiba membentak.

"Pemuda gondrong bernama Raja, coba lihat deretan senjata yang terpajang di- sepanjang dinding itu?"

Tanpa menjawab Raja menatap ke deretan senjata yang tersusun rapi ditempatnya masing-masing.

Setelah itu dia anggukkan kepala

"Bagus! Kau boleh menggunakan semua senjata itu, kalau pedang yang tergantung dipunggungmu belum cukup untuk kau jadikan senjata!"

"Anjarsari, bukankah kau sekedar hendak mengujinya? Mengapa harus menggunakan senjata?"

Tukas si kakek tampak tidak puas dengan sikap gadis itu

"Memang! Aku tidak butuh senjata. Dialah yang membutuhkan senjata itu, kek." Dengus Anjarsari. Si kakek melangkah maju, dan berkata,

"Jika begitu aku memutuskan keinginan saling menjajaki kekuatan harus dibatalkan!" Mendengar si kakek berkata seperti itu. Anjarsari justru menjadi kesal dan marah. "Orang tua! Kau tidak layak mengatur aku!"

"Apa?!"

Sentak Si kakek Gembala Api.

Si kakek yang semula berusaha menahan diri melihat tingkah laku Anjarsari yang menjengkelkan, kini menjadi hilang rasa sabarnya.

"Anjarsari, apakah kau lupa bahwa sampai hari ini pun aku masih menjadi pemimpin di Kawasan Tua ini? Suka atau tidak suka kau harus patuh pada perintahku!"

"Hi hi hi! Semua orang yang selalu mematuhimu telah mati. Mereka binasa dilanda gempa hebat.

Mereka tewas dimangsa Simujud, Makandor juga orang liar dari kehidupan lalu. Aku adalah satu satunya orang yang tersisa yang tidak akan pernah tunduk pada perintah siapapun. Kau menyingkirlah..biarkan aku memberi pelajaran pada si Raja edan ini"

"Kau sungguh keterlaluan...!"

Geram Si Gembala Api dengan gigi bergemeletukan saking marahnya.

Melihat suasana yang semakin memanas, Raja tentu saja tidak bisa membiarkan. Pemuda itu melangkah maju, lalu memberi isyarat pada si kakek untuk menepi.

"Maafkan saya orang tua, bukannya aku tidak menghormatimu. Tapi mengabulkan permintaan gadis yang keras kepala itu adalah lebih baik!"

Kata Raja Walau tidak meinginkan terjadinya perkelahian akhirnya si kakek mengalah karena yakin Raja pasti dapat menundukkan Anjarsari.

Disamping itu dia tahu sang pendekar tidak ingin mencelakai Anjarsari meskipun kata-kata gadis itu berulang kali merendahkannya.

"Hi hi hi! Lihatlah... dia lebih berani dibandingkan dirimu kek." Kata gadis itu.

Kemudian kepada Raja, Anjarsari berseru.

"Kau boleh menggunakan senjata manapun yang kau suka atau kau lebih suka menggunakan pedangmu. Semua itu terserah kepadamu!"

"Aku tidak akan menggunakan senjata yang manapun termasuk juga pedang dipunggungku ini. Kalau terpaksa aku akan menggunakan pedang pusaka paling keramat yang tidak menyakitimu. Ha ha ha..."

Sahut Raja lalu tertawa tergelak.

Sambil berkata Raja geser kaki sebelah kanan kesamping. Kemudian dia julurkan tangan, Jemari melambai sebagai isyarat dia telah-telah siap menerinma tantangan Anjarsari.

Melihat ini sang dara cantik menggeram,

"Aku akan membuatmu babak belur dalam waktu lima jurus. Setelah itu lima jurus berikutnya akan membuatmu menemui ajal!"

Berkata demikian tiba-tiba Anjarsari hentakkan kedua kakinya. Melihat ini Si Gembala Api berseru,

"Anjarsari, aku tidak ingin melihat ada yang terluka diantara kalian berdua!"

Sia-sia saja si kakek bicara karena pada saat itu, Anjarsari telah berada didepan Raja dengan dua tangan melesat sepuluh jarinya terkembang. Raja melihat sepuluh jari tangan sang dara berubah memutih laksana perak. Sepuluh jari mencari sasaran dibagian wajah, bahu juga leher sang pendekar.

Melihat serangan, Raja sentakkan kepala kebelakang, lalu dari bawah tangan didorong ke atas menangkis serangan lawan.

Plak! Plak!

Bentrokan keras membuat keduanya terdorong ke belakang.

Tapi hebatnya dengan kecepatan luar biasa kaki kiri Anjarsari masih sempat menyapu pinggang Raja.

Walau sang pendekar telah berusaha menghindar, namun perutnya masih kena ditendang lawan. Raja terdorong kesamping,perut yang kena ditendang terasa mulas namun tidak dihiraukannya. Sebaliknya sambil tersenyum dia berkata,

"Tendanganmu geli-geli enak. He he he! Makin ditendang makin geli, makin enak."

"Pemuda sinting! Ternyata kau memiliki tenaga dalam yang sangat tinggi. Tendanganku tadi sebenarnya sanggup menghancurkan batu karang, tapi mengapa dia tidak cidera?!"

Gerutu Anjarsari dalam hati. Dengan penasaran dia lipat gandakan tenaga dalamnya. Dua tangan dan kaki yang telah dialiri tenaga sakti kemudian bergerak cepat dan mengeluarkan deru dan sambaran hawa dingin menusuk. Selanjutnya dengan menggunakan jurus Walet Sakti Menghempas Ombak. Anjarsari melambung tinggi. Selagi tubuhnya mengambang diudara, kedua kaki menghantam bertubi-tubi ke dada dan kepala Raja. Sang pendekar yang saat itu telah menggunakan jurus Tarian Sang Rajawali meliukkan tubuhnya sambil menggerakan kepala ke kanan dan kekiri menghindari tendangan lawan. Bersamaan dengan gerakan itu tangan diputar ke atas berusaha menangkis tandangan tersebut. Disaat kedua kaki Raja bergerak lincah mirip dengan gerakan burung besar yang melompat-lompat diatas air, tiba-tiba pemuda ini sentakkan bahunya ke depan. Serangkum hawa panas menderu dari bahu Raja, melabrak ke atas menyambar ke arah Anjarsari.

Tapi pada waktu yang sama gadis itu juga dorongkan kedua tangan ke bawah tepat dimana Raja

berdiri. Dua larik cahaya putih menyilaukan menderu melesat sedemikian cepat menghantam hawa panas yang melesat dari bahu Raja.

Melihat kejadian ini disudut ruangan Si Gembala Api keluarkan seruan kaget. "Astaga! Kalian seperti dua musuh bebuyutan yang hendak saling bunuh!"

Teriakan si kakek tenggelam lenyap ditelan dentuman keras akibat beradunya dua serangan sakti. Langit-langit dan dinding ruangan terguncang, lantai bergetar seperti hendak amblas kebumi.

Anjarsari terdorong keras akibat bentrok tenaga dalam. Hebatnya gadis ini tidak mengalami cidera bahkan dia masih jatuhkan diri dengan dua kaki terlebih dulu menyentuh lantai. Ketika gadis ini menatap ke depan, diam-diam dia terkejut melihat Raja masih berdiri tegak.

Walau disudut bibirnya ada lelehan darah, namun Raja jelas tidak mengalami luka yang berarti. Si Gembala Apl yang terus mengikuti jalannya perkelahian segera menyadari bahwa Raja nampaknya tidak sungguh-sungguh menghadapi gempuran Anjarsari. Pemuda itu lebih banyak mengalah.

Mengapa?

Setidaknya pertanyaan seperti itu mengusik pikiran si kakek. Raja yang begitu tangguh dan perkasa lebih banyak mengalah. Malah Raja terkesan memberi keleluasaan bagi Anjarsari sehingga membuat gadis itu mengira dirinya lebih unggul, lebih hebat dari lawannya.

Sebenarnya Si Gembala Api sangat menyayangkan sikap Raja seperti ini karena jauh dilubuk hati si kakek berharap Raja dapat menjatuhkan Anjarsari secepatnya agar gadis berhati congkak dan suka bicara ketus itu dapat segera menyadari sikap kasarnya.

Tapi orang tua ini tidak mungkin memberi tahu Raja. Sambil mengelus dada, SI Gembala Api hanya diam memperhatikan tindakan selanjutnya yang akan dilakukan oleh Anjarsari atau pun Raja Gendeng 313.

"Lima jurus telah berlalu! Jika kau masih memiliki jurus atau pukulan yang lebih hebat dari yang sudah kau pergunakan, keluarkan saja! Aku ingin melihat apakah mulut besarmu sesuai dengan kesaktian yang kau miliki!"

Kata Raja sambil mengumbar senyum mengejek.

"Nah, harusnya paduka  bersikap tegas  seperti  itu. Kami sebagai  sahabatmu  senang mendengarnya."

Tiba-tiba terdengar suara mengiang ditelinga kiri sang pendekar dan itu adalah Sinta. Kemudian ditelinga kanan, Raja mendengar suara mengiang Jiwa Pediang

"Gusti jangan membuat malu kaum lelaki. Laki laki kedudukannya kan selalu diatas perempuan dibawah.Begitu yang seharusnya. Kalaupun gusti punya perasaan tertentu terhadapnya lebih baik kesampingkan dulu perasaan itu.Terhanyut oleh kata hati apalagi rasa suka hanya membuat seseorang menjadi lemah He he he."

"Kalian diam!"

Sentak sang pendekar tanpa sadar, membuat si kakek heran dan Anjarsari yang merasa ucapan itu ditujukan padanya segera menjawab

"Kakek itu boleh diam. Tapi tidak demikian denganku. Sekarang bersiap-siaplah menerima gebukanku!"

Seru sang dara.

Seruan itu dibarengi dengan gerakan tubuh Anjarsari. Gadis itu tiba-tiba melesat kedepan.

Selagi tubuhnya menghambur dengan gerakan seperti orang yang hendak memeluk, kedua tangannya berubah memutih berkilau laksana perak.

Melihat cara lawan menyerangnya, Raja terkesima.

"Jurus apa yang dipergunakan oleh si tinggi hati ini. Mengapa dia seolah hendak memelukku!" Pikir Raja.

Selagi Raja dibuat tertegun, Si Gembala Api dalam kejutnya keluarkan seruan.

"Astaga! Bukankah kau menggunakan jurus Merengkuh Matahari? Dengan jurus itu gajah sekalipun bisa celaka! Sungguh keterlaluan!"

Raja yang tidak tahu betapa hebatnya serangan yang dilakukan Anjarsari segera lindungi diri dengan pengerahan tenaga dalam keseluruh tubuh.

Pada waktu bersamaan dia juga kibaskan tangannya ke depan melepas pukulan Badai Es.

Hawa dingin disertai tebasan gumpalan-gumpalan cairan seperti es yang bertabur memenuhi udara menderu ke depan menghantam Anjarsari.

Namun serangan Badai Es itu dengan mudah dapat dimusnahkan oleh Anjarsari.

Raja melompat mundur, dua tangan diangkat ke atas siap melepaskan pukulan berikutnya. Namun sebelum dua tangan Raja sempat bergerak menghantam lawan dengan pukulan Badai

Serat Jiwa.

Dua tangan mulus yang memancarkan cahaya menyilaukan itu telah merengkuh tubuhnya. Rengkuhan berupa pelukan ketat itu dalam keadaan biasa tentu membuat yang dipeluk menjadi senang.

Apalagi yang memeluk adalah seorang gadis cantik. Sinta sendiri sempat merasa iri melihat tindakan yang dilakukan Anjarsari.

Tapi baik Sinta maupun Jiwa Pedang kemudian tidak dapat menyembunyikan rasa kagetnya begitu mendengar Raja berteriak kesakitan.

Sementara sambil menggeliat berusaha membebaskan diri dari pelukan lawan, Raja menghantam kedua bahu Anjarsari

"Kau tidak akan lolos dari kedua tanganku ini. Mula-mula tubuhmu panas seperti dipanggang diatas bara, lalu mengalami sesak nafas, Setelah itu kepalamu seperti dihantam palu membara. Kesudahannya tubuhmu akan meledak menjadi kepingan daging hangus!"

Geram Anjarsari sambil memperhebat pelukannya.

Semua yang dikatakan gadis itu memang tidak berlebihan. Raja merasakan tubuhnya seperti dibakar, nafasnya sakit, tenggorokan laksana dijepit besi membara dan kepalanya laksana dihantam palu bertubi-tubi.

"Kraaah...!"

Raja Gendeng 313 meronta.

Pukulan pada kedua bahu Anjarsari hanya membuat gadis itu terguncang, tapi tidak membuatnya cidera.

"Aku harus memberi pelajaran pada si angkuh ini!" Geram Raja dalam hati.

Diam-diam sambil menepis kedua tangan yang melingkari dadanya pemuda itu segera kerahkan tenaga sakti berhawa dingin dari bagian pusarnya. Hawa dingin dengan cepat menyebar keseluruh tubuh.

Raja terus melipat gandakan tenaga dalamnya hingga membuat tubuhnya menggigil diselimut es.

Apa yang dilakukan sang pendekar membuat Anjarsari terkejut.

Dia yang menggunakan jurus Merengkuh Matahari yang mengandalkan kekuatan berhawa panas segera merasakan adanya hawa dingin menyerang tangan, dada dan tubuhnya

"Pemuda keparat ini... ilmu apa yang dipergunakannya? Mengapa seranganku melemah.?!" Selagi Anjarsari bertanya dalam hati sambil lipat gandakan hawa sakti ke bagian tangan.

Tiba-tiba saja satu tamparan keras mendarat diwajahnya, membuat gadis ini tersentak kebelakang.

"Kurang ajar! Siapa yang menamparku?" Pekiknya. Dia melirik kesekelilingnya.

Tidak ada orang yang membantu Raja, hanya terlihat Si Gembala Api sedang berdiri disudut ruangan.

Hanya Raja yang tahu salah seorang dari sahabatnya telah berbuat nekat diluar kehendaknya menampar Anjarsari.

"Jiwa pedangkah yang melakukannya? Tidak mungkin. Kurasa Sinta, gadis alam roh itu mungkin tidak suka aku dipeluk seperti ini."

Pikir sang pendekar. Dugaannya tidak berlebihan.

Sinta rupanya tidak tega melihat Raja menderita kesakitan luar biasa akibat dipeluk Anjarsari. Disamping itu tindakannya juga akibat didorong oleh rasa cemburu.

"Tidak ada yang menampar, mengapa Anjarsari memaki? Siapa yang dimakinya? Mungkinkah Raja Gendeng 313 menggunakan ilmu yang lain?"

Batin Si Gembala Api. Si kakek tidak sempat berpikir lebih lama. Saat itu dia melihat Raja tiba-tiba memutar tubuh.

Dua tangan yang dijepit oleh kedua lengan Anjarsari tiba-tiba menghantam kebelakang tepat ke bagian perut sang dara.

Serangan jurus Merengkuh Matahari yang dilakukan Anjarsari musnah.

Hantaman kedua tangan Raja membuatnya terpental kebelakang.Anjarsari jatuh bergelimpang dengan tubuh menggigil beku.

Begitu bebas dari pelukan lawan. Raja segera melompat ke depan.

Sambil menjejakkan kaki dia angkat tangannya siap menghantam dengan pukulan Cakra Halilintar.

Melihat serangan ini walau dengan tubuh menggigil kedinginan. Anjarsari menyambutnya dengan pukulan maut Tangan Peri Sakti Menjunjung Bumi!

Dua pasang tangan dihantamkan ke depan. Dua pukulan sakti bentrok di udara.

Hawa panas dan dingin luar biasa saling tindih, saling dorong lalu... Buum!

Satu ledakan mengguncang ruangan itu, membuat dinding hancur, retak dan sebagian langit langit runtuh.

Pijaran cahaya bermentalan memenuhi seluruh penjuru. Asap tebal memenuhi udara.

"Celaka! Mengapa kalian justru hendak saling bunuh! Edan! Sinting semua!" Maki Si Gembala Api. Kepulan asap lenyap. Si kakek tahu tahu telah berada ditengah ruangan.

Memandang kesebelah kiri dia melihat Anjarsari rebah terlentang. Sebagian tubuhnya amblas kedalam lantai yang atos.

Pakaian gadis itu robek dibeberapa bagian.

Sedangkan dari mulut dan hidungnya meleleh darah kental pertanda gadis ini menderita cidera dibagian dalam

"Kau hendak mencari mati?!" Seru si kakek marah.

Dia lalu menatap kesebelah kanan ruangan.

Dia melihat Raja duduk bersila dalam keadaan tidak kekurangan sesuatu, hanya rambut panjangnya berjingkrak ke atas.

Wajahnya pucat dipenuhi debu.

Si Gembala Api segera ulurkan tangan, membantu Anjarsari keluar dari lantai yang jebol. "Aku harus membantumu memulihkan diri"

Tegas kakek itu. Dia lalu berjongok, tangan terjulur siap ditempelkan dipunggung gadis itu.

Namun dengan ketus Anjarsari berkata,

"Aku bisa mengurus diriku sendiri. Lebih baik kau ambilkan pakaian baru dikamarku!" Anjarsari kemudian duduk bersila.

Dua tangan diletakkan dilutut, mata dipejamkan, Kemudian perlahan dia salurkan hawa sakti ke bagian dada dan perutnya.

Si Gembala Api meski kesal terpaksa menurut perintah Anjarsari.

Tapi orang tua ini kemudian merasa ragu pergi karena khawatir kedua muda mudi itu kembali saling serang.

Seolah mengerti Raja yang telah bangkit berdiri segera memberi isyarat pada orang tua itu dengan kedipan mata.

"Aku tidak akan menyerangnya. Walaupun dia terus memaksa, aku akan melayaninya tanpa pukulan, tanpa senjata dan tanpa pakaian melekat dibadan. He he he!"

Ujar sang pendekar melalui suara mengiang. Si Gembala Api menyeringai. Sambil geleng-geleng kepala dia tinggalkan ruangan itu.

Seperginya si kakek, Anjarsari buka kedua matanya yang terpejam.

Dia menghela nafas dalam-dalam lalu menatap Raja yang berdiri tak Jauh didepannya "Ketahuilah..walau kau sangat hebat namun aku belum kalah. Kelak pada suatu saat kau pasti

bertekuk lutut!" Dengusnya.

"Terserah apa katamu. Aku tidak perduli siapa yang kalah siapa yang menang. Aku hanya ingin menyudahi segala kegilaan yang baru saja terjadi. Lagi pula sudah waktunya aku angkat kaki dari tempat ini."

Tegas Raja

"Bagus. Kalau perlu pergilah yang jauh dan kita jangan pernah bertemu lagi."

Sahut Anjarsari sambil mencibir

"Ee eeh... kalian tidak boleh pergi sendiri-sendiri. Bukankah aku sudah mengatakan kalian harus pergi bersama-sama!"

Sahut satu suara.

Kedua orang itu sama-sama palingkan kepala, menatap ke arah pintu. Ternyata yang baru bicara adalah Si gembala Api.

Orang tua itu datang  dengan membawa  seperangkat pakaian  bagus milik  si  gadis.

Sama seperti pakaian yang melekat dibadan  si gadis, pakaian itu juga  berwarna kuning gading.

Si kakek juga membawa kantong perbekalan untuk Anjarsari

"Gadis aneh, keras kepala, sombong dan angkuh. Warna yang disukai semuanya serba kuning mengingatkan aku pada sesuatu benda yang sering terapung di sungai. Hik hik!"

Celetuk Sinta yang saat itu telah kembali ke hulu pedang

"Biar saja dia suka dengan warna yang serba kuning.Tetapi sayangnya aku tidak dapat melihat apakah dia juga membiarkan giginya berwarna kuning."

Sahut Jiwa Pedang.

Raja yang mendengar perkataan Jiwa Pedang berucap lirih

"Seharusnya aku menyerangnya dengan cahaya kuning. Siapa tahu setelah tubuhnya menjadi kuning dia bisa berubah menjadi benda yang berharga."

Didepan sana, Si Gembala Api menyerahkan pakaian kepada Anjarsari.

Setelah menerima pakaian dari si kakek. Anjarsari berlari ke sudut yang gelap, lalu mengganti pakaiannya. Menunggu Anjarsari kembali, Si Gembala Api letakkan buntalan berisi perbekalan dan beberapa pakaian dilantai.

Kemudian kepada Raja dia berpesan

"Kau harus lebih banyak mengalah juga bersabar dalam menghadapinya.Anjarsari sesungguhnya gadis yang baik. Akibat dari masa lalu yang keras penuh tantangan yang membuat sifatnya menjadi demikian.Jagalah dia baik-baik, perlakukan dia seperti adikmu atau yang lebih baik dari sekedar saudara."

"Aku tidak tahu apakah bisa tabah dan sabar menghadapinya kek. Jika bersamanya terus menerus mungkin aku bisa cepat tua dan lekas mati kek."

Jawab Raja polos. "Mengapa begitu?" Tanya si kakek tidak mengerti. Sambil menyeringai Raja menjawab. "Kalau aku makan hati setiap hari apa tidak lekas tua dan cepat mati!" Ucapan Raja membuat si kakek tersenyum.

"Apa benar dengan begitu bisa cepat mati? Ha... ha... ha...!" Setelah berganti pakaian Anjarsari muncul kembali.

Raja sempat terpesona melihat penampilan si gadis.

Setelah bersalin pakaian Anjarsari terlihat lebih anggun dan lebih cantik. Walau demikian sikapnya pada Raja Gendeng 313 tetap saja angkuh dan acuh

"Kau menyuruh aku pergi bersama dia.?"

Tanya Anjarsari tiba-tiba sambil tatap wajah orang tua yang berdiri disebelah kirinya

"Ya memang seharusnya demikian. Iblis Kolot harus ditemukan. Hidup atau mati mahluk yang satu itu tetap saja bisa menimbulkan masalah"

Kata Si Gembala Api.

"Sebenarnya aku tidak suka melakukan amanat yang kau berikan, orang tua!" Anjarsari berterus terang.

"Tapi mengingat jasa-jasamu dimasa lalu, aku akan melakukan apa yang kau perintahkan."

Keputusan gadis itu membuat si kalek merasa lega "Dia akan menjagamu!"

Terangnya sambil memandang ke arah Raja. Anjarsari menatap sekilas ke arah Raja lalu mendengus

"Aku bisa menjaga diri sendiri!"

Sahutnya sengit "Aku percaya."

Si Gembala Api lalu menyerahkan kantong perbekalan kepada Anjarsari "Berikan padanya. Biarkan dia yag membawa bekalku itu"

"Benar kek. Biarkan aku yang membawa kantong perbekalan.Sekarang tunjukkan jalan rahasianya agar kami dapat keluar dari kawasan ini dengan aman"

Si kakek anggukkan kepala. Setelah menyerahkan kantong perbekalan pada sang pendekar, kakek ini memberi isyarat pada Raja dan Anjarsari untuk mengikutinya. Si Gembala Api membawa mereka menelusuri sungai dingin didalam tanah.

Sungai itu gelap gulita namun dalamnya hanya selutut.

Si kakek yang dikenal dengan ilmunya yang dapat mengeluarkan api segera kerahkan tenaga dalam kebagian tangan. Dua tangan si kakek menyala terang dikobari api.Dengan menggunakan api yang memancar dari tangan orang tua itu mereka berjalan menuju ke hilir sungai.

Setelah menempuh perjalanan cukup jauh akhirnya mereka tiba dimulut sebuah air terjun. Terdengar suara bergemuruh seperti hujan dari air yang jatuh menimpa bebatuan di dasar jurang sana.

"Kek, apakah kami harus terjun ke bawah sana seperti air diujung muara sungai ini?"

Bertanya sang pendekar sambil tatap kegelapan dibawahnya. Si Gembala Api menggeleng. Dia menoleh kesamping lalu menunjuk ke arah lereng berbatu dipenuhi undakan tangga.

"Kau dan dia bisa lewat tempat itu. Dulu aku yang membuatnya. Tujuannya adalah sebagai jalan untuk melarikan diri bila Kawasan Tua tak dapat lagi dipertahankan. Tapi bencana dan

mahluk-mahluk itu telah memusnahkan impianku. Kaumku musnah, hanya aku dan Anjarsari saja yang tersisa."

Terang Si Gembala Api mengenang.

"Baiklah. Aku mengucapkan selamat tinggal. Kami akan pergi!" Raja berpamitan.

"Aku juga kek."

Kata Anjarsari. Si kakek anggukkan kepala sambil menepuk bahu dara cantik itu "Pandai-pandailah menjaga diri, Semoga dewa melindungimu, Anjar."

Pesan Gembala Api. Anjarsari tersenyum mencibir. Dia melangkah tinggalkan Penguasa Kawasan Tua dengan dikuti Raja yang memilih berjalan tidak Jauh dibelakangnya.

"Hari ini Anjarsari membenci pemuda itu. Tapi siapa tahu kelak dewi cinta mempersatukan mereka. Begitulah yang selalu menjadi harapan tua bangka ini."

Gumam Si Gembala Api sambil tatap kedua orang itu.

******

Setelah ikut terlibat dalam melakukan penyerbuan dikediaman Pendekar Sesat enam purnama, gadis berpakaian warna-warni yang dikenal dengan dengan sebutan Dewi Kipas Pelangi sebagaimana telah dikisahkan dalam episode Putera Pendekar Sesat segera melanjutkan pengembaraan menuju ke utara.

Setelah menempuh perjalanan berhari-hari, sampailah gadis ini disebuah pondok sederhana di lereng gunung Bismo.

Niatnya datang ke tempat itu adalah untuk memberi kabar tentang telah tewasnya Pendekar Sesat pada salah seorang sesepuh Rimba Persilatan yang pada masa itu paling berpengaruh ditanah Dwipa.

Adapun orang yang dimaksud tak lain adalah Kanjeng Empu Basula.

Tapi ketika Dewi Kipas Pelangi sampai ditempat yang dituju, ternyata pondok dalam keadaan sunyi. Pintu pondok tertutup rapat. Dewi Kipas Pelangi kemudian berjalan berkeliling disekitar pondok mengharap bisa menemukan orang yang hendak ditemuinya.

Dugaannya keliru.

Orang yang dicari tidak ditemukan.

Sebaliknya dibelakang pondok dia menemukan ceceran darah yang telah mengering.

Ceceran darah yang telah menempel dibebatuan dan dinding pondok yang terbuat dari anyaman bambu itu diteliti, diendus dan diamati dengan seksama.

Jelas darah itu bukan darah binatang tapi darah manusia.

Melihat keadaan ceceran darah itu kemungkinan terjadinya kira-kira tujuh hari yang lalu.

Dewi Kipas Pelangi menduga jangan-jangan telah terjadi sesuatu dengan orang yang hendak ditemuinya.

Dia lalu bergegas kembali ke depan pondok. Sesampainya didepan pintu dia memanggil sang kanjeng.

Tapi sampai suaranya serak parau dari dalam tidak kunjung terdengar jawaban. "Apa yang terjadi dengannya?"

Pikir Dewi Kipas Pelangi.

Tidak ingin berlama-lama gadis ini mendorong pintu didepannya. Ternyata walau tertutup rapat pintu tidak dikunci dari dalam.

Pondok terbuka.

Dari dalam pondok menebar hawa aneh yang sangat tajam menusuk seperti bau damar yang terbakar.

Begitu mengendus aroma tajam ini kening sang dara tampak berkerut.

"Seingatku Kanjeng tidak suka aroma kemenyan, kelembak atau damar. Siapa yang datang dan kemana perginya Kanjeng Empu Basula?!"

Membatin sang Dewi.

Saat itu matahari sudah berada diketinggian.

Suasana didalam pondok walau tanpa penerangan cukup terang.

Sambil menduga-duga kemungkinan yang akan terjadi, Dewi Kipas Pelangi memperhatikan kesegenap penjuru pondok.

Tidak banyak barang berharga didalam pondok.

Walau sang kanjeng dulunya berasal dari keluarga bangsawan.

Namun kakek  yang satu  itu  telah lama  meninggalkan  segala  bentuk kemewahan  dunia.

Dia lebih memilih meninggalkan rumahnya yang mewah, lalu mengasingkan diri dan menetap di lereng Bisma.

Semua kesederhanaan sikap dan jalan hidup sang kanjeng dapat dilihat dari perabotan serta peralatan yang dibutuhkan untuk kepentingan sehari-hari. Piring, mangkok, cangkir dan lainnya semua terbuat dari gerabah.

Dalam ruangan yang tidak berkamar itu juga hanya ada sebuah balai ketiduran terbuat dari anyaman bambu, berlapiskan jerami dan kapas.

Disamping itu ada beberapa perangkat pakaian tergantung di pojok dinding. Setelah cukup lama memperhatikan setiap penjuru pondok.

Kini dia semakin yakin sang kanjeng setidaknya telah meninggalkan tempat kediaman lebih dari sepekan.

"Apakah Kanjeng pergi untuk suatu kepentingan? Bagaimana kalau dia diculik atau dihabisi oleh seseorang?"

Sang Dewi menggelengkan kepala mencoba membantah kemungkinan buruk yang sempat terlintas dalam benaknya.

"Kanjeng adalah orang yang sangat baik. Sepengetahuanku beliau tidak mempunyai musuh. Tapi kejahatan dan kekejaman bisa saja bermula dari sebuah persoalan yang sangat sepele."

Kata Dewi Kipas Pelangi. Si gadis terdiam.

"Darah yang kutemukan dibelakang pondok itu. Apa itu darahnya Kanjeng.Aneh perasaanku tidak enak, firasatku mengatakan sesuatu telah terjadi atas dirinya. Kemana aku harus mencari, kemana aku harus menyusul. Aku tidak pernah tahu dimana biasanya Kanjeng menghabiskan waktu."

Batin Dewi Kipas Pelangi lagi.

Setelah tidak menemukan orang yang dicari, sang Dewi kemudian melangkah keluar tinggalkan pondok.

Sesampainya diluar segera dia ingat dengan Jati tua yang tertetak ditepi telaga kecil, Disana ada sebuah bangku panjang tempat sang kanjeng melepas penat pada hari-hari tertentu.

Tidak menunggu lama setelah menutup pintu kembali, Dewi Kipas Pelangi segera bergegas menuju ke telaga itu. Sesampainya ditelaga ternyata sang Dewi juga tidak melihat orang yang dicari.

Bangku panjang kosong, beberapa helai daun kering bertabur diatas bangku pertanda tempat itu tidak lagi pernah disambangi, Namun ketika Dewi Kipas Pelangi berniat hendak tinggalkan tepian telaga, sudut matanya melihat ada ada guratan beberapa baris kata yang agaknya dibuat dengan tergesa-gesa.

Penasaran sang Dewi  mendekatinya.

Setelah memperhatikan dengan seksama dara ini makdum walau coretan dibuat dengan tangan terburu-buru jelas yang membuatnya adalah orang tua yang dicari,

Diapun lalu membacanya.

"Pendekar Sesat memang bisa dihentikan. Apalagi banyak orang bergabung dalam penyerbuan.

Aku mendengar tujuh tokoh penting dari Puncak Akherat juga ikut memberi dukungan. Pendekar Sesat mustahil bisa menyelamatkan diri. Manusia bejad kelakuan rendah budi pekerti itu bisa dibuat binasa, namun yang namanya kejahatan selalu muncul tidak terduga. Aku tidak bisa menunggu kabar darimu, Dewi. Saat ini ada kepentingan mendesak. Aku harus pergi untuk mencegah terjadinya pertumpahan darah yang jauh lebih besar, Aku tidak dapat membiarkan orang lain melakukan kejahatan baru. Aku juga merasakan bahwa kitab Aksara Iblis akan segera menemukan jodohnya.Semua ancaman kalau aku mampu akan kuhentikan.Kepadamu aku meminta segeralah hubungi tokoh-tokoh yang pernah bergabung dalam penyerbuan ditempat kediaman Pendekar Sesat.Ingatkan mereka bahwa Iblis yang lain akan muncul menggantikan sepak terjang Pendekar Sesat. Kau tak usah mencari aku. Lakukan saja perintahku."

Pesan terakhir sampai disitu.

Di ujung sebelah kanan pesan tertera nama sang Kanjeng. Dewi Kipas Pelangi tertegun.

Dia tidak tahu siapa iblis yang dimaksudkan oleh Kanjeng Empu Basula.

Adapun mengenal kitab Aksara Iblis yang disebut-sebut dalam pesan yang dibuat oleh sang Kanjeng, Dewi Kipas Pelangi memang pernah mendengarnya.

Beberapa belas tahun yang lalu kitab Aksara Iblis memang pernah membuat geger dunia persilatan.

Banyak tokoh baik golongan hitam dan golongan putih yang berusaha mendapatkan kitab tersebut.

Tapi tidak seorangpun yang berhasil mendapatkan kitab itu, bahkan keberadaannya pun sampai saat ini tidak ada yang mengetahuinya.

"Kanjeng telah pergi. Jadi aku tidak tahu ceceran darah siapa yang kutemukan dibelakang pondoknya. Seharusnya aku mencari tahu apakah ada seseorang yang tewas disekitar sini. Tapi perintah Kanjeng agar segera menghubungi orang- orang yang terlibat dalam penghakiman Pendekar Sesat nampaknya tidak dapat ditunda lagi!"

Setelah mempertimbangkan, gadis ini akhirnya memutuskan untuk segera menghubungi beberapa tokoh penting antara lain. Si Kedip Mata yang berdiam di Pasuruan, Giring Sabanaya, Ariamaja juga Pranajiwa.

Mengingat letak tempat tinggal Pranajiwa berada tidak begitu jauh dari gunung Bismo tempat dimana dirinya berada saat itu, maka kesanalah Dewi Kipas Pelangi lebih dulu pergi.

Dalam perjalanan panjang yang cukup melelahkan itu. Sang Dewi sebenarnya merasa tidak tenang.

Dia merasakan seperti ada orang yang mengikutinya.

Anehnya walau dia berusaha mencari tahu siapa adanya sang penguntit tersebut namun dia tidak bisa menemukan orangnya. Sedangkan keanehan lain, Dewi Kipas Pelangi melihat langit tampak merah.

Suasananya lengang tanpa hembusan angin, padahal sehari sebelumnya suasananya biasa saja. "Alam telah memberikan tanda-tandanya. Yang kusaksikan sesuai dengan apa yang pernah

dikatakan Kanjeng. Maut mengintai siapa yang lengah. Namun siapa yang akan menjadi korban."

Baru saja Dewi Kipas Pelangi berucap demikian, tiba-tiba saja terdengar suara pekikan keras diketinggian langit .

Terkejut gadis ini lalu layangkan pandangan menatap ke arah ketinggian. Dia melihat seekor elang berbulu hitam melayang-layang diatas sana.

Burung itulah yang tadi keluarkan suara memekik. Elang diatas terbang berputar-putar. Pasti tidak jauh disekitar sini ada sekelompok orang.

Membatin sang Dewi didalam hati.

Dia lalu memutuskan mengikuti searah terbangnya sang elang. Sampai disebuah bukit kecil langkah gadis ini terhenti.

Memandang ke arah kejauhan diantara pepohonan dijalan setapak dia melihat dua penunggang kuda, tidak ada rombongan lain.

Hanya dua penunggang kuda itu.

Salah satu penunggang kuda yang berada didepan berpakaian merah berambut panjang.

Sedangkan dibelakangnya mengikuti seorang penunggang kuda lainnya berpakaian putih bertubuh pendek cebol.

Dewi Kipas Pelangi menahan nafas. Jantungnya berdetak lebih keras.

Dia merasa mengenali sang penunggang kuda berpakaian merah, namun dia tidak mengenali orang bertubuh pendek yang mengiringi dibelakangnya.

Karena jarak antara bukit dengan jalan yang dilalui kedua orang berkuda terpaut cukup jauh, maka agar dugaannya tidak keliru. Dewi Kipas Pelangi segera berkelebat menyusul kedua penunggang kuda itu.

Setelah jarak mereka hanya terpaut sekitar sepuluh tombak, gadis ini hentikan larinya. Dia memperhatikan kedua orang itu. Sang Dewi tersenyum.

"Dugaanku tidak meleset. Orang tua berkumis rapi memakai ikat kepala merah itu bukan lain adalah paman Pranajiwa."

Si gadis segera saja hendak berseru memanggil orang berpakaian merah yang memang Pranajiwa adanya.

Tapi entah mengapa mulut yang hendak dibuka terkatub  kembali.

"Ada kakek cebol berjanggut pajang menjula mengikuti dibelakang paman Pranajiwa, aku tidal mengenalnya. Mereka memacu kuda tanpa bicara. Sepertinya mereka sedang tergesa-gesa. Dan paman Prana... mengapa dia seperti orang melamun. Terus memacu kuda tapi pandangan matanya kosong!"

Pikir Dewi Kipas Pelangi.

Segera saja sang Dewi ingat dengan pesan diatas batu yang ditinggalkan Kanjeng di tepi telaga "Aku tidak dapat membiarkan orang lain melakukan kejahatan baru."

Kata-kata itu seperti menari dipelupuk matanya

"Aku harus menemui paman Pranajiwa.Aku tidak perduli dia bersama siapa.Amanat Kanjeng Empu Basula harus kusampaikan. Dengan demikian paman Prana dapat membantu menyebar pesan Kanjeng pada sahabat yang lain."

Setelah berpikir demikian, Dewi Kipas Pelangi melompat ke jalan menghadang Pranajiwa sambil berseru

"Paman...paman Prana? Engkau hendak kemana? Kebetulan sekali kita bertemu disini. Tadinya aku hendak ke rumah paman!"

Kata si gadis sambil tersenyum. Kuda tunggangan meringkik keras melihat kemunculan sang dara ditengah jalan.

Melihat ini si kakek kerdil berjanggut panjang selutut dengan pipa cangklong berselip di bibirnya menggebrak kudanya, Kuda bergerak maju.

Kini orang tua itu berada disamping kuda yang diduduki Pranajiwa. Tidak menghiraukan kakek berjanggut panjang sang Dewi berucap ditujukan pada Pranajiwa.

"Paman kau tidak menjawab pertanyaanku. Kau hendak kemana?!"

Yang ditanya menatap ke arah Dewi. Sang dara melihat betapa mata itu kosong dan seperti orang bingung.

"Ada yang tidak beres telah terjadi terhadap diri paman Prana."

Menduga Dewi dalam hati. Dia lalu melirik pada kakek disamping Pranajiwa. Belum sempat membuka mulut si kakek telah mendahului.

"Anak gadis siapa kau? Apakah kau mengenal laki-laki yang bersamaku ini?" Tanya kakek ingin penjelasan.

"Kau sendiri siapa orang tua? Tentu saja aku mengenalnya karena paman Pranajiwa sahabatku!"

Jawab Dewi Kipas Pelangi

"Kau tidak menjawab semua pertanyaanku. Tapi baiklah, aku adalah Si Jenggot Panjang." Si kakek menyebut namanya.

"Aku Dewi Kipas Pelangi!" Terang sang dara pula.

"Mengapa dia menjadi seperti ini.?" Si Jenggot Panjang bersikap acuh. Tanpa menjawab pertanyaan Dewi Kipas Pelangi, sebaliknya dia melirik pada Pranajiwa lalu ajukan pertanyaan.

"Pranajiwa, apakah kau mengenal gadis yang mengaku sebagai sahabatmu itu?" Yang ditanya melirik sebentar pada Dewi. Diluar dugaan dia menjawab.

"Aku tidak mengenal gadis itu!"

"Paman... aku Dewi sahabatmu. Mengapa kau berubah menjadi seperti ini?" Seru sang dara kaget.

"Sesuatu yang hebat agaknya telah dialami paman Prana. Tapi apa?" Batin Dewi Kipas Pelangi.

Dia memperhatikan orang tua itu lebih seksama.

Dia lalu melihat dekat telinga kiri Pranajiwa tertancap sebuah benda berwarna putih berkilat.

Benda itu sebelumnya tak pernah dilihat oleh sang Dewi. Apakah mungkin benda yang tertancap dibelakang telinga itu yang menjadi penyebabnya.

"Ada yang tidak beres. Mungkin saja kakek itu telah melakukan sesuatu kepada paman Prana" Membatin Dewi Kipas Pelangi dalam hati.

"Anak gadis, mungkin saja kau mengenal Pranajiwa. Tapi ketahuilah... saat ini dia mengalami satu guncangan batin yang sangat luar biasa."

Terang si kakek tiba- tiba, membuat sepasang alis mata Dewi yang lentik berkerut. "Guncangan batin? Apa yang membuatnya terguncang?"

Tanya sang Dewi yang menaruh curiga pada Si Jenggot Panjang. Kakek itu tersenyum.

"Sebagai sahabat apakah kau lupa, Pranajiwa telah kehilangan kedua puterinya. Kematian puterinya membuatnya seperti ini. Dia lupa ingatan, Pranajiwa bahkan hampir lupa dengan namanya sendiri"

Dewi Kipas Pelangi tertegun.

Dia berpikir bukankah kematian kedua puterinya telah ditebus dengan kematian Pendekar Sesat.

Pada saat berpisah beberapa purnama yang lalu Pranajiwa dalam keadaan baik-baik saja.Tidak ada yang ganjil

"Aku tidak lupa, Dia memang telah kehilangan kedua anaknya.Tapi kejadiannya telah lama berlalu, mengapa gilanya baru sekarang?"

Tanya Dewi Kipas Pelangi sambil tatap mata Si Jenggot Panjang.

"Kalau itu aku tidak tahu. Aku bukan orang yang mengerti jalan pikiran seseorang. Harap dimaafkan!"

"Lalu kau mau membawanya kemana?"

Tanya sang Dewi.Belum sempat Si Jenggot Panjang menjawab. Tiba-tiba Pranajiwa membuka mulut,

"Kami berdua akan ke kuburan. Si Jenggot Panjang telah berjanji padaku. Dia akan membangkitkan kedua anakku. Dia bisa  menghidupkan kedua anakku yang  sudah mati. Ha ha ha!"

Ucapan itu tentu saja membuat Dewi Pelangi terperangah sekaligus menyadari ada sesuatu yang tidak beres telah dilakukan Si Jenggot Panjang berhadap diri Pranajiwa.

Sementara Si Jenggot Panjang diam menggeram mendengar ucapan pranajiwa.

"Kurang ajar! Harusnya dia tidak bicara seperti itu. Kalau dia diam saja semua pasti berjalan sesuai rencana."

"Orang tua! Aku tidak tahu apakah paman Pranajiwa yang gila ataukah dirimu? Apa yang telah kau perbuat terhadapnya? Kau bisa menghidupkan orang yang sudah mati? Puah....Membuat hidup seekor kutu busukpun kujamin kau tak akan mampu melakukannya. Hendak kau apakan dia? Siapa kau sebenarnya?"

Teriak Dewi Kipas

"Kau tidak perlu tahu. Sebaiknya engkau menyingkir jika tidak ingin mati"

Teriak Si Jenggot Panjang yang merasa sebagian tipu muslihatnya telah diketahui gadis itu. Sret!

Teriakan Si Jenggot Panjang disambut dengan melesatnya kipas dari balik pinggang Dewi Kipas Pelangi.

Melihat kipas terkembang ditangan sang Dewi. si kakek tersenyum sambil mengelus jenggot panjangnya.

"Kau hendak menyerangku  dengan  kipas  cantik itu?" Kata Si Jenggot Panjang mencibir.

"Aku bahkan akan mencabik mulut busukmu jika kau tetap bicara dusta! Aku bukan orang bodoh.

Benda yang menancap dibelakang telinga paman Prana pasti yang menjadi penyebab hilangnya ingatan orang tua itu. Sungguh keji perbuatanmu. Sekarang lebih baik jawab saja pertanyaanku, hendak kau bawa kemana paman Prana!"

Hardik sang Dewi tak kuasa lagi menahan kemarahannya.

"Gadis berparas elok, Kalau kau ingin tahu, lebih baik kau ikut bergabung bersama kami. Disana nanti sesampainya ditempat yang kami tuju kau juga akan tahu semuanya..! Ha ha ha!"

Jawab Si Jenggot Panjang diiringi gelak tawa. Seet!

Byar!

Sambil menggerung tanpa banyak bicara lagi Dewi Kipas Pelangi melesat ke arah si kakek.

Kipas ditangan dikibaskan ke depan, membabat ke arah tenggorokan orang tua itu disertai suara desir aneh dan kilatan cahaya tujuh warna. Diatas kuda Si Jenggot Panjang tersenyum, tanpa bergeser dari tempat duduknya dia menarik tubuhnya kebelakang hindari tebasan ujung kipas yang tenyata dipenuhi deretan pisau tajam runcing berkilat terkena pantulan cahaya matahari.

Serangan sang Dewi luput, lewat seujung kuku dari wajah si kakek.

Orang tua ini segera pukulkan tangannya ke tangan lawan yang memegang kipas. Namun diluar dugaan sang Dewi tiba-tiba memutar tubuh kesamping.

Begitu tubuh berbalik ikut berputar lalu kembali menyambar tubuh si kakek dari sebelah bawah hingga ke atas.

Orang biasa mendapat serangan begitu rupa pasti tidak mungkin lolos dari kematian. Tapi Si Jenggot Panjang ternyata bukan orang tua sembarangan.

Melihat kipas yang terkembang berbalik siap menjobol dadanya.

Dia jatuhkan dirinya dalam keadaan rebah sama rata dengan punggung kuda. Setelah itu kaki kanannya dihantamkan ke depan mencari sasaran di pinggang lawan.

Menyadari serangan keduanya gagal malah lawan menghantamnya dengan tendangan keras sang Dewi segera menyambut tendangan itu dengan tinju tangan kiri.

Plak! Duuk!

Benturan keras antara tangan dan kaki lawan membuat sang Dewi terdorong ke belakang.

Dia membuat gerakan jungkir balik hingga dapat jatuhkan diri dengan kedua kaki menjejak tanah terlebih dahulu.

Tanpa menghiraukan sakit akibat benturan ditangannya, gadis ini segera kerahkan tenaga dalam kebagian kaki dan tangannya.

Memandang ke depan dia melihat lawan telah berdiri diatas kudanya sambil berkacak pinggang "Kau cukup lincah! Tenaga dalammu boleh juga!"

Si Jenggot Panjang memuji.

"Tapi kau masih belum cukup tangguh untuk menghadapi lawan sepertiku. Sekejab lagi kau akan roboh. Setelah tidak berdaya akan kutancapkan pula jarum Sukma Kelana sehingga kaupun bakal kehilangan ingatan seperti sahabatmu Pranajiwa."

"Kalau aku suka aku akan tidur denganmu, setelah bosan kau akan dijadikan budak Sang Kuasa Agung.Ha ha ha...!"

Setelah berkata demikian dengan gerakan seperti orang melompat kedalam air, Si Jenggot Panjang melesat ke arah sang Dewi.

Tangan kiri dipentang siap dihunjamkan ke bagian ubun-ubun gadis itu. Sedangkan tangan kanan melesat lancarkan totokan dibagian tengkuk dan punggung gadis ini.

Dua serangan yang dilancarkan Si Jenggot Panjang bukan sembarangan, Sergapan lima jari yang menghujam dibatok kepala lawan dikenal dengan serangan Peremuk Tulang Pelumpuh Jiwa.

Mahluk apapun yang menjadi korbannya dapat dipastikan seluruh tulang belulangnya meleleh dan bakal mengalami kematian secara mengenaskan.

Sementara totokan yang dilakukan Si Jenggot Panjang juga tidak kalah dahsyatnya.

Orang yang menjadi korbannya tidak hanya kehilangan kesadarannya tapi juga bisa membuatnya linglung seumur hidup.

Dewi Kipas Pelangi menyadari betapa ganasnya serangan lawan.

Dari sambaran angin  dan  kilatan  cahaya  yang membersit dari  semua  jemari  lawan  saja  sang Dewi maklum semua serangan itu ganas dan keji.

Tidak menunggu lama, gadis itu tekuk kaki depannya.

Dengan menggunakan tenaga luar dan dalam dia kebutkan kipas ditangan ke atas sementara sambil miringkan tubuh kesamping dia memutar kepalanya.

Serangan Si Jenggot Panjang yang seharusnya menghantam batok kepala gadis itu luput.

Totokan yang mengarah kebagian tengkuk juga meleset. Tapi totokan yang meluncur dibagian punggung masih mengancam. Tidak ada pilihan lain, gadis ini jatuhkan diri ke tanah.

Begitu kedua siku menyentuh tanah dia cepat berbalik. Tiga jengkal diatasnya Si Jenggot Panjang yang melihat tiga serangan mautnya tidak mengenal sasaran segera pergunakan kakinya untuk menendang tubuh sang Dewi.

Diserang dalam jarak sedekat itu dan berlangsung sedemikian cepat. Dewi Kipas Pelangi segera hantamkan tinju tangan kirinya ke arah kaki si kakek

Duuk!

Kaki Si Jenggot Panjang kena jotos.

Si kakek tersentak, namun tiba-tiba saja dia hentakkan kakinya yang lain. Dess!

"Ugkh...!"

Gadis itu terlempar ke atas terkena tendangan si kakek.

Perut yang kena ditendang serasa remuk. Nafas sang dara juga sesak bukan main.

Selagi tubuhnya meluncur ke bawah, si kakek yang sudah jejakkan kaki segera menyerbu ke arahnya dan kini lepaskan satu pukulan keras yang mengarah ke dada sang Dewi. Walau perut didera rasa sakit luar blasa, namun gadis ini sempat melihat pukulan yang dilancarkan kakek itu.

Sambil menggeram dengan menggunakan kipas yang masih tergenggam ditangan kanannya dia menyambut serangan yang datang dengan jurus Kipas Penangkal Hujan.

Ketika kipas dikebutkan ke arah deru angin yang memancar dari telapak tangan si kakek.

Terlihat tujuh cahaya warna warni mirip pelangi berlesatan dari setiap helai kipas.

Ke tujuh cahaya indah namun ganas itu terus menghantam pukulan si kakek. Deru angin dan hawa dingin yang dilepaskan Si Jenggot Panjang tersapu musnah.

Tiga cahaya yang terdiri dari merah, biru dan ungu yang melesat bersama empat cahaya lainnya meledak menjadi serpihan.

Tapi empat cahaya yang tersisa terus meluruk deras ke arah si kakek. Seperti empat mata pisau tajam cahaya itu menghujani tubuhnya.

Sambil semburkan sumpah serapah Si Jenggot Panjang kibaskan kedua tangan ke depan.

Gerakan menghalau yang dilancarkan kakek ini mampu memusnahkan tiga cahaya, namun satu yang luput dari sambaran Si Jenggot Panjang menembus dada orang tua itu.

Terdorong oleh cahaya yang menghantam dada membuat si Jenggot Panjang terjungkal kebelakang.

Pakaian putih disebelah dada robek dan hangus, darah menyembur dari luka menganga. Hebatnya dalam keadaan terluka ditembus cahaya Si Jenggot Panjang masih sanggup berdiri.

Sejenak, selagi  Dewi Kipas Pelangi bangkit berdiri setelah  sebelumnya terjatuh  dengan  dua kaki tertekuk.

Orang tua itu perhatikan luka didadanya.

Mata cekungnya mendelik besar saat menyadari dirinya terluka parah "Gadis keparat! Baru kau seorang yang bisa melukai aku seperti ini!"

Geramnya sambil menelan ludah. Tapi orang tua itu kemudian menyeringai. Sambil menatap ke depan dia tiup kedua telapak tangannya.

"Kau mengira bisa membunuhku? Ha ha ha!" Si Jenggot Panjang umbar tawa tergelak.

Dia merobek pakaian disebelah depan hingga luka yang menganga terlihat jelas. Kemudian dengan menggunakan kedua telapak tangannya yang telah ditiup, dia mengusap luka itu. Setelah diusap sebanyak tipa kali, si kakek segera turunkan kedua tangannya.

Dewi Kipas Pelangi terkesima sekaligus keluarkan seruan kaget. Luka didada lawan lenyap seketika tidak meninggalkan bekas sedikitpun.

"ilmu tipuan iblis!"

Seru sang Dewi tidak percaya dengan penglihatannya sendiri.

"Ha ha ha! Aku sudah mengatakan bukan perkara mudah untuk membunuhku!" Dengus Si Jenggot Panjang.

Berkata demikian si kakek segera silangkan dua tangan didepan dada. Mulut yang terlindung kumis putih tertutup rapat.

Pipa yang terselip dibibirnya tiba-tiba menyala.

Si Jenggot Panjang menyedot pipanya dalam-dalam. Setelah itu dia melompat ke depan dan kembali menyerang. Dua pukulan disertai tendangan yang mengandung tenaga dalam tinggi dihantamkan sekaligus.

Begitu tangan dan kaki berkelebat, menderu tiga larik cahaya berbentuk alur berulir seperti cambuk.

Masing-masing serangan melabrak ke bagian dada, wajah juga lutut sang Dewi.

Mendapat tiga serangan ganas yang berlangsung bersamaan, Dewi Kipas Pelangi melompat kebelakang sekaligus lambungkan tubuhnya ke udara.

Selagi melesat diketinggian dia menangkis serangan yang mengarah dibagian wajah dengan tangan kiri.

Dengan tenaga dalam penuh kipas dikebutkan dari atas ke bawah.

Deru angin laksana amukan badai disertai kilatan tujuh cahaya menghantam ke arah si kakek, membuat tubuh kerdilnya tergontai namun serangan yang dilancarkannya tidak mengendur.

Tidak dapat dihindari terjadi benturan keras disertai ledakan hebat. Gadis itu jatuh terbanting, sekujur tubuhnya serasa remuk.

Tak jauh didepannya Si Jenggot Panjang berdiri tergontai, kedua pipinya melem-bung seperti meletus. Selagi Dewi Kipas Pelangi mencoba bangkit berdiri.

Kesempatan itu dipergunakan oleh si kakek untuk menghembuskan asap pipanya yang terkumpul dirongga mulut

Puuh!

Asap putih kelabu bergulung menebar memenuhi udara.

Sebagian menyerbu ke arah sang dara hingga sang Dewi mengendus aroma aneh seperti bau damar.

Khawatir si kakek menebar asap beracun, sang Dewi segera tutup jalan nafasnya.

Tapi tindakan ini cukup terlambat karena sebagian asap sempat terhirup olehnya. Hanya dalam waktu sekejab Dewi Kipas Pelangi tiba-tiba merasakan tanah yang dipijaknya bergoyang, pandangan mata berkunang-kunang dan kepala terasa berat berdenyut.

Gadis ini limbung.

Sekuat tenaga dia bertahan agar tetap sadarkan diri. Tapi gadis ini kemudian jatuh terduduk.

Didepannya dia melihat Si  Jenggot Panjang menyeringai.

Sambil keluarkan sesuatu dari kantong kecil berwarna hitam dia keluarkan benda kecil tipis, namun runcing.

Itulah Jarum Sukma Kelana yang ganas mengandung racun keji yang sanggup menghilangkan ingatan seseorang

"Jarum ini akan membuatmu gila seperti Pranajiwa.Ha ha ha!"

Si kakek  kemudian melangkah  mendatangi. Dalam keadaan  diri terancam  bahaya, Dewi Kipas Pelangi berusaha bangkit untuk menghindari si kakek. Tapi baru saja berdiri dia jatuh lagi. "Kau tidak bisa kemana-kemana. Asap itu adalah sejenis pembius. Kini racunnya mengalir

diseluruh tubuhmu!"

Dengus si kakek. Tangan kiri Si Jenggot Panjang lalu dijulur, tangan kanan siap tancapkan jarum Sukma Kelana.

Namun sebelum tangan si kakek sempat menyentuh lengan Dewi Kipas Pelangi.

Tiba-tiba saja keheningan yang mencekam dikejutkan oleh derap suara langkah kuda. Jika sang Dewi terkejut menyangka yang datang adalah temannya  si Jenggot Panjang.

Sebaliknya si kakek kaget tidak mengira ditempat terpencil seperti itu ternyata masih ada juga orang yang lewat. Si Jenggot Panjang batalkan niatnya.

Cepat orang tua ini balikkan badan.

Memandang ke depan tahu-tahu sejarak satu tombak didepannya berdiri tegak seekor kuda berbulu hitam.

Diatas kuda duduk seorang pemuda bertelanjang dada, bercelana panjang warna cokelat bersepatu dari kulit ular.

Mata pemuda itu terlindung dua batok kelapa berwarna hitam seukuran telur dijalin sedemikian rupa hingga bentuknya seperti kaca mata.

Walau mata tertutup dua batok tapi dia dapat melihat dengan jelas. Menatap ke arah kuda si kakek melihat dua rongga besar menganga. Bola mata kuda amblas lenyap.

Tapi yang mengagumkan walau tidak mempunyai biji mata namun kuda itu dapat berlari secepat topan berhembus. Melihat kuda dan penunggangnya wajah Si Jenggot Panjang berubah pucat pasi.

Sekujur tubuh gemetar, dengan suara terbata, orang tua ini berkata,

"Kau... Mengapa kau berada disini? Bukankah kau adalah Pemburu Dari Neraka?!"

Pemuda diatas kuda berkaca mata batok tersenyum dingin. Sedingin wajahnya dia menjawab, "Kau sudah tahu, mengapa bertanya lagi. Aku selalu ada dimana pun kau membuat rencana.

Bukankah demikian suratan takdir yang telah ditentukan?"

"Siapa Pemburu Dari Neraka? Aku tidak dapat melihatnya dengan jelas. Pandanganku kabur, apa saja yang kulihat berbayang."

Membatin Sang Dewi. Diam-diam gadis ini kerahkan tenaga dalam untuk melenyapkan pengaruh asap pembius yang mendekam dalam tubuhnya.

Tapi usahanya tidak memberikan hasil yang cukup berarti.

Ingin rasanya dia tinggalkan tempat itu secepatnya selagi masih ada kesempatan.

Namun rasa ingin tahu gerangan apa yang terjadi selanjutnya membuat sang Dewi batalkan keinginannya. Sementara itu Si Jenggot Panjang yang agaknya merasa sungkan terhadap Pemburu Dari Neraka sedang memutar otak mencari cara untuk meloloskan diri dari pemuda itu.

Dia tidak ingin pergi dengan tangan hampa.

Jika Dewi Kipas Pelangi tak dapat dibawanya serta, setidaknya Pranajiwa harus ikut bersamanya. Walau memiliki ilmu kesaktian tinggi, Si Jengot Panjang rupanya tidak ingin terlibat bentrok dengan Pemburu Dari Neraka.

Ini karena dia menyadari pemuda itu bukan manusia biasa.

Dia dapat dibaratkan sebagal malaikat pembunuh atau malaikat pencabut nyawa. Dulu dalam kehidupan sebelumnya diantara keduanya pernah terlibat bentrok.

Tapi dari belasan kali perkelahian, hanya sekali saja Si Jenggot Panjang berhasil mengalahkan Pemburu Dari Neraka

"Aku tidak punya silang sengketa denganmu, mengapa kau selalu mencampuri urusanku?" Tanya si kakek akhirnya.

Suara orang tua itu melunak karena diam-diam dia mengharapkan pengertian pemuda diatas kuda.

Pemburu Dari Neraka tersenyum. Dia menatap ke arah Dewi Kipas Pelangi.

Walau matanya tertutup dua batok namun pemuda ini dapat melihat gadis itu menderita keracunan.

Tanpa bicara dia mencabut sesuatu dari balik pinggang celananya, Kemudian sang pemburu melompat turun dari atas kuda.

Dihampirinya Dewi Kipas Pelangi, benda yang diambil dari balik celana kemudian ditusukkan ke atas kepala gadis itu.

Bless!

"Akh... apa yang kau lakukan padaku?" Teriak sang Dewi kaget namun curiga.

"Aku baru saja menancapkan Jarum penangkal diubun-ubunmu. Dengan adanya jarum itu disana, kau jadi terlindung dari segala bentuk kejahatan, terutama kejahatan kakek itu. Kelak kau tidak akan pernah sakit, usiamu tambah panjang dan segala jenis racun tidak bakal sanggup menyakitimu."

Terang Pemburu Dari Neraka.

Setelah berkata demikian pemuda ini lalu balikkan tubuh.

Tapi begitu menghadap ke tempat dimana Si Jenggot Panjang berdiri. Ternyata kakek itu telah lenyap.

Bukan Cuma Si Jenggot Panjang saja yang raib tanpa jejak.

Kuda yang dia tunggangi, Pranajiwa dan kudanya juga ikut lenyap.

"Mahluk culas jahanam! Kemanapun kau pergi aku pasti selalu menemukanmu!" Geram pemuda itu. Pemuda itu layangkan pedang. Si Jenggot Panjang tetap tidak kelihatan.

Namun sayup-sayup dikejauhan dia mendengar suara langkah dua kuda.

"Dia telah sampai dikejauhan! Jahanam betul. Kelak aku akan menggantungkannya di neraka!"

Ancam sang pemburu, Wajah pucatnya berubah menjadi merah padam. Tanpa menunggu, selagi sang Dewi merasakan penglihatannya mulai pulih, sakit dikepalanya berangsur lenyap.

Pemburu Dari Neraka bergegas menghampiri kudanya. Melihat ini Dewi Kipas Pelangi berseru,

"Hei..tunggu. Kau hendak pergi kemana? Aku perlu bicara denganmu" Pemburu Dari Neraka tidak perduli.

Dia yang telah duduk diatas kuda segera lambaikan tangannya di udara.

Kemudian entah darimana datangnya tahu-tahu ditangan pemuda itu telah tergenggam sebuah bendera dan sebuah gulungan kulit terikat pita merah.

Pita berikut lembar gulungan kulit dilemparkannya ke depan sang Dewi, lalu jatuh menancap dekat kaki si gadis.

"Aku tidak punya waktu menjelaskan padamu. Tapi semua yang menjadi petunjuk yang dapat kau jadikan pegangan ada dalam lembaran pesan itu. Jika kau pandai membawa diri, takdir akan membawamu menuju keselamatan dunia akherat. Namun bila kau menghambakan diri, rela diperbudak oleh hawa nafsumu. Kelak kau akan bertemu denganku di neraka paling jahanam!"

Selesai berucap demikian Pemburu Dari Neraka menggebah kudanya. Kuda meringkik keras dan serta merta lenyap dari pandangan.

Terkejut mendengar ucapan pemuda itu ditambah kaget melihat kuda yang bisa berlari secepat badai. sang Dewi tidak sanggup berkata- kata.

Bahkan mengucapkan terima kasih pun tidak karena merasa tertegun.

Setelah menenangkan diri gadis ini segera raba ubun-ubunnya yang dipaku orang. Dia terkejut dan heran.

Jarum yang ditancapkan tadi tenyata tidak ada diubun-ubunnya. Benda penangkal itu raib dalam tubuhnya.

"Aneh! Tadi jelas-jelas aku merasakan kepalaku ditancapi jarum. Bendanya raib, bekasnya pun tak dapat kurasakan."

Kata sang Dewi.

Lalu tanpa banyak berpikir. Dewi Kipas Pelangi simpan kipasnya yang robek dibeberapa tempat. Dia melihat didepannya ada bendera kuning dan gulungan kulit berpita merah segera diraihnya.

Gulungan kulit diletakkan diatas pangkuan. Bendera kuning berbentuk segitiga dengan panjang tidak lebih dari tiga jengkal dipentang.

Mula-mula terlihat permukaan bendera yang polos. Entah mengapa tiba-tiba hatinya tergerak untuk merentang bendera dibawah sinar matahari. Bendera pun diangkat tinggi-tinggi. Sang Dewi memperhatikan permukaan bendera.

Walau samar gambar itu terlihat berupa peti mati. Diatas peti mati terdapat tulisan.

"Kematian pasti datang di setiap kehidupan Insan.Aku berkuasa atas kematian itu.Karena aku adalah waktu. Barang siapa yang menyia-nyiakan aku, hidupnya berakhir dengan penyesalan"

Selesai membaca tulisan samar diatas gambar tembus pandang peti mati yang berwarna hitam dan putih, Dewi Kipas Pelangi mengusap tengkuknya yang mendadak jadi dingin.

"Pesan yang sarat akan makna. Diakah yang membuatnya?!" Membatin sang Dewi didalam hati.

"Aku termasuk orang yang bisa menjadi bagian dari kematian itu. Aneh aku tidak pernah memikirkannya. Padahal dia datang dan pergi menghampiri setiap orang."

Kata sang dara.

Meremang tengkuk sang dewi.

Bendera kematian dilipatnya lalu diselipkannya dibalik kantong perbekalan. Gulungan kulit diatas pangkuan lalu dibukanya.

Dia melihat gejolak api yang menyala-nyala serta hidangan makanan lezat perempuan cantik telanjang, kilau harta dan juga kursi yang mewah.

Aneh walau hanya sekilas melihatnya, sang Dewi segera mengerti makna gambar diatas lembaran kulit itu. Tapi semua gambar yang mengisahkan kehidupan dunia itu tidak berdiri sendiri.

Diatasnya masih tertera untaian baris kalimat yang ditulis dengan indah dengan warna hitam menyolok.

Dengan tangan gemetar Dewi Kipas Pelangi membaca tulisan itu

"Jika usia adalah dosa. Jika harta adalah racun. Jika cinta adalah nafsu. Jika kedudukan adalah angkara murka. Jika keindahan adalah wanita. Jika semua yang dicinta adalah fitnah. Jika hidangan yang lezat adalah bangkai menjikkan. Maka semua itu adalah kegelapan. Yang merasa mulia sesungguhnya hina. Yang merasa bersih sesungguhnya kotor. Yang merasa suci sesungguhnya ternoda. Yang merasa adil sesungguhnya curang. Yang merasa amanat sesungguhnya menipu.

Kemuliaan datangnya dari hati yang putih. Yang putih mustahil bercampur dengan yang hitam. Kini Angkara murka ada didepan mata. Siapa yang lengah dia bakal celaka"

Tulisan yang tertera diatas lukisan aneh berakhir sampai disitu. Dewi Kipas Pelangi terdiam sambil merenung.

Dia berpikir setiap kata sarat dengan makna, tapi kata-kata itu bukan hanya untuk dirinya sendiri, melainkan ditujukan pada setiap orang.

"Pemburu dari Neraka. Siapapun dia adanya mungkin bukan manusia seperti diriku. Aku akan menyimpan pesan ini agar kelak aku bisa menyampaikannya pada yang lain."

Kata sang Dewi. Gulungan kulit kembali disimpul dengan pita merah, lalu dia selipkan dibalik kantong perbekalan.

Sambil berdiri gadis ini berujar,

"Nampaknya keadaan semakin runyam.Kehadiran Pemburu Dari Neraka merupakan sebuah pertanda dunia persilatan sedang berada dalam ancaman bahaya besar. Aku harus menghubungi sahabat yang lain.Mudah-mudahan paman Prana dapat diselamatkan oleh pemuda itu."

Berkata demikian Dewi Kipas Pelangi pun kemudian berkelebat tinggalkan tempat itu.

******

Hulu kali Bayan ditengah malam sunyi. Sesekali angin berhembus.

Sementara suara gemercik air menghadirkan perasan sejuk dihati kakek yang bernama Randu Wulih itu.

Hampir dua puluh tahun sejak peristiwa malam jahanam ditepi Jurang Watu Remuk Raga.

Orang tua yang usianya kini mencapai sembilan puluh tahun ini memutuskan mengundurkan diri dari dunia persilatan.

Setelah berhasil mencelakai dengan melempar musuh bebuyutan bersama sahabatnya. Dia lalu menentukan jalan hidupnya sendiri.

Dia merasa lega karena Iblis Kolot musuh dari banyak tokoh golongan hitam dan putih menemui ajal didasar jurang Kini, sambil menghabiskan sisa hidupnya Randu Wulih memilih hidup dengan bercocok tanam.

Disamping itu si kakek itu juga lebih banyak mendekatkan diri pada Sang Hyang Pencipta. Malam bertambah larut.

Embun menetes dari pucuk dedaunan.

Tapi entah mengapa Randu Wulih yang saat itu duduk dekat perapian malas beranjak dari pelepah kelapa yang didudukinya.

Dia luruskan kedua kaki, wajah ditengadah ke atas, mata menatap ke langit.

Bintang bertabur dilangit biru, bulan pancarkan cahaya kuning kemilau. Si kakek tersenyum menatap indahnya bulan.

Tapi senyumnya seketika lenyap ketka mendengar suara burung pungguk dibalik rumpun bambu.

Randu wulih merasa terusik, dia memandang ke arah rumpun bambu yang lebat. Dalam hati dia berujar,"

"Setiap bulan terang aku selalu mendengar suara burung itu, tapi mengapa kali ini mendengar suaranya hatiku jadi gelisah?" Semilir angin dingin tiba-tiba berhembus. Perhatian si kakek kini beralih ke pondoknya. Baru saja si kakek hendak bangkit.

Tiba-tiba saja dia mendengar suara orang menghembuskan nafas dibelakangnya. Randu Wulih cepat palingkan kepala memandang ke belakang.

Dia melihat seorang pemuda berpakaian biru telah berdiri disana.

Orang tua ini pun bangkit berdiri. Sambil tatap pemuda berambut panjang didepannya dalam hati dia berkata,

"Pemuda ini nampaknya bukan orang sembarangan, Dia muncul begitu saja, aku bahkan tidak mendengar suara langkahnya. Sungguh mengagumkan!"

Diapun melangkah maju, lalu ajukan pertanyaan.

"Orang muda, kalau boleh aku tahu siapa dirimu? Mengapa kau muncul malam-malam begini.

Apakah kau tersesat atau bagaimana?"

Melihat sikap si kakek yang ramah, pemuda itu pun tersenyum. Dia rangkapkan dua tangan dan bungkukkan badan sebagai sikap hormat, baru kemudian menjawab.

"Maafkan saya kek. Aku kesasar dan kemalaman di jalan."

Karena pemuda itu bersikap sopan, Randu Wulih pun berpikir tidak ada salahnya menghormat tamu.

"Oh begitu? Siapa namamu?"

Tanya Randu Wulih "Nama saya Pura Saketi."

Pemuda itu menjawab dengan polos. "Kakek sendiri siapa?"

Si pemuda bertanya pula. "Aku Randu Wulih."

Singkat si kakek menjawab

"Apakah saya boleh melewatkan malam disini, kek."

Sambil berkata dia hampiri perapian yang hampir padam. Randu Wulih tambahkan beberapa potong kayu bakar untuk membuat api lebih besar. Si kakek anggukkan kepala.

"Tidak ada yang melarang, kau boleh disini. Kalau mau kau boleh menginap dipondokku. Didalam sana ada dua tempat tidur. Tempatnya sederhana, namun cukup baik untuk melepas penat."

"Aku berterima kasih atas kebaikanmu kek."

Pura Saketi yang sudah berjongkok didepan perapian julurlkan tangan ke dekat api.

Rupanya dia ingin mengusir hawa dingin yang mulai menggigit

"Kalau boleh tahu, kau ini sebenarnya hendak kemana?" tanya si kakek ketika ingat dengan tujuan si pemuda.  

"Saya hendak ke selatan!" "Ke Selatan?"

Pikir Randu Wulih.

"Diselatan ada gunung tinggi bernama gunung Bismo disebelah Puncak Akherat. Di tempat itu berdiam tujuh Tokoh."

"Ada kepentingan apa dia kesana. Apakah dia hendak menemui tujuh tokoh sakti itu?"

Pikir Randu Wulih bimbang. Dia menjadi resah. Semilir angin berhembus namun malam ini membuat hati si kakek tambah gelisah.

"Dia seperti pemuda  baik-baik, tapi  mengapa  sejak  dia muncul  perasaanku malah  tak tenang?"

Sekali lagi si kakek melirik ke depan. Diseberang perapian Pura Saketi dilihatnya duduk dengan terkantuk-kantuk. Baru saja si kakek hendak menyuruh si pemuda beristirahat dalam pondoknya.

Tiba-tiba saja tubuh Pura Saketi berguncang keras tangan dan kedua kaki bergetar, tengkuk berjingkrak sepasang mata mendelik merah.

Melihat Pura Saketi yang menghawatirkan selayaknya orang yang dirasuki mahluk halus, si kakek segera bergegas hampiri pemuda itu.

"Apa yang terjadi dengan dirimu? Kau tidak sakit tapi seperti orang yang dirasuki mahluk halus."

Berkata demikian Randu Wulih julurkan tangannya. Tapi baru saja jemarinya menyentuh bahu pemuda itu. Tiba-tiba ada hawa panas luar biasa menyengat jemari tangan si kakek.

Randu Wulih bersurut mundur. Tangannya yang sakit seperti dipukul dia kibaskan. Selagi Randu Wulih terkesima dalam keheranan. Pura Saketi bangkit berdiri. Wajah pemuda itu tidak lagi ramah, tatap matanya nyalang memandang ke arah Randu Wulih dengan sorot penuh benci.

Ketika Pura Saketi membula mulut, maka suara yang keluar dari bibir pemuda itu bukan lagi suara aslinya melainkan suara seorang kakek.

"Randu Wulih, apakah kau masih ingat dengan diriku?"

SI Kakek terkejut. Suara serak dan berat itu rasa-rasa seperti dikenalnya. "Tidak mungkin dia?"

Pikir Randu Wulih

"Dia sudah mati, tidak mungkin bisa merasuk menyusup dalam diri pemuda ini!" Randu Wulih melangkah mundur sambil mengusap wajah dan tengkuknya yang dingin. "Randu Wulih, bagaimana? Apakah kau sudah ingat siapa aku?"

Teriak arwah yang merasuki Pura Saketi

"Aku ingat tapi tidak begitu yakin. Bagaimana kau bisa berada dalam raga pemuda ini?" Tanya Randu Wulih tegang.

Bukannya menjawab sang arwah tiba-tiba saja tertawa dingin. "Kau tahu siapa pemuda ini? Dia adalah muridku, murid yang kudidik semasa aku berada di jurang Watu Remuk Raga. Aku memang sudah mati, tapi arwahku ini menumpang menetap didalam tubuhnya.Dengan demikian aku bisa membalaskan dendamku pada musuh-musuhku!"

"Hmm, semasa hidup kau manusla paling sesat. Setelah menjadi arwah pun ternyata kau bertambah sesat. Tapi hingga sekarang aku masih tidak percaya kau berhasil lolos dari maut setelah kami melemparmu ke dalam jurang!"

"Tua bangka tolol! Cidera berat ternyata tidak membuatku mati. Sejak saat itu aku bersumpah bakal mengangkat seorang murid. Kelak muridku kuminta untuk membunuhku agar aku bisa menjadikan raganya sebagai tumpangan arwahku. Kini aku berada dalam diri muridku, dengan demikian aku bisa menggunakan ilmu baru yang dia miliki. Selain itu aku juga bisa menggabungkan ilmuku dengan ilmu muridku! Ha ha ha!"

Kata Arwah Iblis  Kolot  melalui mulut muridnya.

Randu Wulih mendengus geram. Dia meludah sambil tatap pemuda didepannya. Ditujukan pada diri Pura Saketi yang sebenarnya. Randu Wulih berucap,

"Wahai anak muda, kau berkuasa atas dirimu sendiri. Jangan biarkan dirimu diperbudak oleh arwah gurumu. Sukmamu berhak mengusir dia karena sukmamu yang paling berhak atas tubuhmu!"

Mendengar ucapan si kakek tubuh Pura Saketi bergetar hebat seperti tengah terjadi pergulatan di dalam.

Tapi sukma si pemuda merasa tidak berdaya untuk mendesak keluar arwah Iblis Kolot yang memang tangguh.

"Murid bodoh! Jangan pernah dengarkan ucapan tua bangka itu!"

Teriak arwah Iblis Kolot. Pemuda itu tiba-tiba menggerung sambil menggebuk dadanya sendiri.

Dan yang sebenarnya gerakan menggebuk itu dilakukan oleh arwah Iblis Kolot untuk memberi pelajaran pada sang murid.

Habis menggebuk dada. Pura Saketi jadi batuk-batuk sendiri.

Tapi matanya kemudian menatap dingin pada Randu Wulih yang tegak tidak jauh didepannya. "Ketahuilah Randu Wulih, sukma muridku tidak berdaya menolak kehadiran arwahku. Dia tidak pernah tahu apa yang menjadi rencanaku sejak dulu. Dia menghabisi aku sesuai dengan keinginanku,

karena setelah terbunuh arwahku bisa menetap ditubuhnya. Dan keuntungan yang kudapatkan banyak sekali. Diantaranya aku menjadi lebih muda. Aku bisa menikah dengan kekasihku. Selain itu aku juga bisa mencari bekas musuh-musuhku dengan mudah."

"Mahluk laknat! Memangnya ilmu baru apa yang didapat oleh muridmu?"

Tanya si kakek

"Ha ha ha. Ilmu yamg kumaksudkan adalah ilmu Aksara Iblis!"

Mendengar disebutnya nama ilmu tersebut. Diam-diam Randu Wulih terkesima. Dia bertanya dalam hati apakah ilmu itu yang dulu dicari-cari oleh Iblis Kolot? Randu Wulih merasa tidak ada gunanya lagi berpanjang kata.

Arwah Sesat Iblis Kolot yang berada dalam diri Pura Saketi harus dimusnahkan untuk selamanya. Walau dia sadar Iblis Kolot adalah lawan yang tangguh semasa hidupnya.

Apakah kini setelah menjadi arwah gentayangan dia masih sehebat dulu. Untuk membuktikannya si kakek yang sejak tadi telah salurkan tenaga dalam kebagian tangan segera merapal mantra ajian Macan Benggala.

Tubuh si kakek tiba-tiba saja meliuk laksana lilin yang digarang diatas bara api.

Begitu jatuhkan diri dan bergulingan sebanyak tiga kali diatas tanah. Seketika itu juga sosoknya telah berubah menjelma menjadi seekor harimau besar berbulu belang putih kecoklatan.

Harimau jejadian itu kemudian menggeram, lalu melompat ke arah Pura Saketi dengan gerakan menerkam.

Kaki depan harimau itu berkelebat dikibaskan kekiri dan ke kanan dalam gerakan mencabik. Iblis Kolot tertawa mengekeh.

Semasa hidupnya ketika dulu berhadapan dengan Randu Wulih dia pernah merasakan betapa ganas harimau jejadian jelmaan Randu Wulih.

Tapi kini Randu Wulih hanya sendirian.

Tidak ada teman atau sahabat-sahabatnya di tempat itu.

"ilmu ajianmu yang sudah usang itu jangan lagi kau pergunakan untuk melawan aku! Percayalah seribu ilmu yang jauh lebih hebat boleh kau pergunakan saat ini. Namun kau tetap saja ditakdirkan celaka ditanganku!"

Kata Iblis Kolot.

Berkata demikian tanpa beranjak dari tempatnya berdiri Pura Saketi yang berada dalam pengaruh dan kendali arwah Iblis Kolot tiba-tiba lambaikan tangan kirinya menyambuti sambaran dua cakar kaki depan harimau itu.

Wuut!

Tidak ada sambaran angin atau deru cahaya.

Namun harimau itu tiba-tiba saja merasakan seperti ada satu tembok raksasa menghadang didepannya.

Walau dia berusaha menerobos tembok itu dengan menghantamkan kedua kaki depannya yang dipenuhi kuku-kuku kokoh dan tajam ternyata sia sia.

"Ha ha ha! Setelah kau merubah diri menjadi mahluk jejadian, Ternyata kau tetap tidak mampu menembus ilmu Benteng Iblis Berlapis-lapis"

Dengus Iblis Kolot. Sambil berkata demikian Iblis Kolot hantamkan tangan kanannya ke tubuh sang harimau dengan gerak cepat yang disertai ilmu pukulan Iblis Menembus Langit. Sang harimau jelmaan Randu Wulih tiba-tiba merasakan ada hawa dingin luar biasa menyambar tubuhnya.

Sambaran hawa dingin itu disertai munculnya dua larik cahaya biru kehitaman. Sang harimau menggeram.

Dengan mulut ternganga memperlihatkan taring-taring yang tajam, dua kaki yang berada didepan dia dorong ke arah lawan menyambut pukulan ganas yang dilancarkan Iblis Kolot

Wuut! Wuut!

Sang harimau tercekat.

Dua kaki yang dia dorong seperti menghantam bantalan kapas tebal.

Sementara cahaya biru kehitaman terus melesat menyambar ganas ke arahnya disertai suara menderu laksana guruh dilangit. Tidak ingin celaka sang harimau bantingkan tubuhnya ke samping.

Tapi gerakan harimau itu kalah cepat dari datangnya serangan. Dees!

Satu pukulan luar biasa keras menghantam tubuh di bagian pinggang.

Harimau besar itu terpelanting, bergulingan laksana dihantam topan lalu jatuh terjengkang dengan mulut semburkan darah.

Harimau jejadian menggerung dahsyat.

Sekali dia menggulingkan tubuhnya wujudnya kembali berubah menjadi sosok Randu Wulih yang asli. Orang tua ini dengan terbungkuk-bungkuk segera bangkit berdiri.

Sambil kerahkan tenaga sakti yang bersumber dibagian pusarnya dia seka darah yang meleleh dikedua sudut bibirnya.

Dibawah terangnya sinar rembulan Randu Wulih memandang ke depan.

Wajahrnya pucat dan nafas mengengah laksana orang yang baru lolos dari kejaran setan. "Ha ha ha! Kau hampir tidak berdaya. Dalam dua gebrakan lagi, nyawamu kubuat amblas!" Seru Iblis Kolot dalam diri Pura Saketi. Kemudian tiba-tiba saja pemuda itu melangkah maju. Sambil keluarkan suara menggembor, dua tangannya dijulurkan ke depan.

Begitu dua tangan dijulur dari ujung jemari hingga kebagian pangkal lengan mendadak berubah merah laksana bara api.

Randu Wulih terkesiap.

Si kakek sadar Iblis Kolot telah menggunakan ilmu Bara Tangan Iblis.Benda apapun yang kena dicengkeram atau dipukul pasti akan meleleh, apalagi tubuh manusia maka seketika bisa hangus.

Tidak ingin celaka, Randu Wulih segera lindung diri dengan ilmu Inti Es Puncak Simeru. Begitu hawa dingin luar biasa mengalir disekujur tubuh Randu Wulih, kaki tangan, hingga ke rambutnya berubah memutih laksana beku. Tidak membuang waktu Randu Wulih tiba-tiba menyerbu ke depan.

Ketika lawan berada dalam Jangkawan dua pukulan dilancarkannya sekaligus. Hawa dingin menebar, dua tangan terus meluncur menerobos mencari sasaran dibagian dada lawan.

Tetapi Iblis Kolot tiba-tiba saja silangkan kedua tangan untuk melindungi dada. Duuk!

Plak!

Terhadang oleh gerakan tangan lawan, dua pukulan Randu Wulih membentur lengan Pura Saketi.

Secepat kilat dia memutar tubuh, lalu lambungkan diri ke atas dan dengan gerakan berputar dia menghantam wajah lawannya.

Des!

Satu tendangan telah membuat pemuda yang dikendalikan arwah gurunya terguncang. Namun tendangan itu tidak membuatnya terluka.

Sebaliknya dengan cepat dia menyambar pinggang Randu Wulih. Orang tua ini segera lakukan gerakan jungkir balik untuk menghindar dari jangkawan lawan. Sayang karena tubuhnya berada diatas dan kaki tidak menjejak tanah gerakan menyelamatiaan diri yang dilakukan Randu Wulih tentu saja kalah cepat dari gerakan tangan Pura Saketi.

Walau gagal mencekal pinggang, kini malah kaki si kakek yang kena dicekal.

Tangan yang membara itu kemudian diputar membuat tubuh Randu Wulih ikut berputar. Ketika lawan menyentakkan tangannya ke atas.

Tubuh Randu Wulih ikut tersentak dan melambung tinggi. Selagi si kakek kehilangan keselmbangan.

Tiba-tiba dia merasakan tubuhnya meluncur ke bawah dengan kecepatan luar biasa. Buuk!

"Heek...!"

Si kakek menjerit tertahan.

Bantingan keras yang dilakukan Iblis Kolot membuat tubuhya amblas, melesak ke dalam tanah. Orang tua ini merasa kepalanya laksana remuk, tubuh luluh lantak disertai rasa sakit luar biasa.

Sekuat tenaga tanpa menghiraukan rasa sakit luar biasa yang melanda setiap bagian tubuhnya dia berusaha keluar dari pendaman.

Disaat itu si kakek merasakan ada rasa myeri yang sangat luar biasa dibagian rusuk sebelah kiri.

Ketika dia berhasil keluar dari himpitan tanah dia memperhatikan rusuknya.

Dia melihat darah meleleh dan ada dua tulangnya yang menyembul keluar. Dua tulang rusuk patah.

Ini yang membuatnya sulit bernafas

"Iblis jahanam! Setelah menjadi arwah gentayangan pun ternyata dia tak kalah hebat dibandingkan semasa hidupnya.Malah kini kekuatannya menjadi berlipat ganda!"

Geram Randu Wulih. Merasa sulit berdiri orang tua ini kemudian duduk bersimpuh.

Menatap ke depan dia melihat Pura Saketi yang berada dalam kendali Iblis Kolot menyeringai dingin

"Kau sudah tidak berdaya. Dan mungkin kau baru menyadari setelah aku berada dalam diri Pura Saketi muridku ini, aku jadi memiliki dua kekuatan sekaligus yang membuatku makin hebat.Kekuatan itu adalah kekuatanku sendiri yang ditambah dengan kesaktian muridku., Ha ha ha!"

Kata Iblis Kolot. Mahluk alam roh ini kemudian angkat tangannya tinggi-tinggi. Setelah berada diatas kepala tangan diputar tiga kali berturut-turut.

Melihat apa yang dilakukan lawan.

Randu Wulih segera maklum saat itu lawan siap menyerangnya dengan ilmu pukulan Bara Neraka.

Selagi tangan yang berputar berubah merah disertai kepulan asap tebal itu belum dilontarkan ke dirinya, maka kesempatan itu segera dipergunakan oleh Randu Wulih untuk mengerahkan ilmu ajian Selaksa Gempa.

Tiba-tiba Iblis Kolot menggeram, sambil melesat ke depan dia pukulkan kedua tangannya berturut-turut ke arah si kakek. Randu Wulih yang terluka parah sedikitpun tidak beringsut dari tempat duduknya.

Dua tangan yang telah teraliri tenaga dalam tinggi tiba-tiba saja dia pukulkan ke tanah. Buum!

Buum!

Dua ledakan berdentum mengguncang tanah tepat dimana kudanya berada. Guncangan itu kemudian disusul dengan guncangan berikutnya yang lebih dahsyat.

Pukulan Bara Neraka yang seharusnya menghantam Randu Wulih luput dan terus melesat menghantam pohon besar yang terdapat dibelakang si kakek.

Pohon berderak hancur, lalu ambruk disertai suara bergemuruh. Randu Wulih mendengus, tangan sekali lagi menghantam tanah.

Kali ini guncangan yang lebih dahsyat disertai gemunuh laksana badai mengamuk melanda kawasan itu.

Pura Saketi yang berada dalam kendali arwah Iblis Kolot jatuh terpelanting. Kepala terhempas ke batu, bongkahan batu besar hancur namun dia masih sanggup berdiri.

"Randu Wulih manusia jahanam! Dulu kau tidak mempunyai ilmu ini. Katakan padaku ilmu kesaktian apa yang kau miliki hingga membuat bumi serasa jungkir balik seperti ini?1"

Teriak Iblis Kolot yang berulang kali jatuh bangun akibat guncangan. "Inilah ajian Selaksa Gempa. Ilmu paling baru yang berhasil kumiliki!" Dengus Randu Wulih disertai seringai dingin. "Begitu?!"  

"Kau punya lmu kejutan, lalu apakah kau mengira muridku ini tidak memilikinya? Ha ha ha!" Seru Iblis Kolot.

Seperti yang dilakukan Randu Wulih. Iblis Kolot pun jatuhkan diri dengan kedua kaki berlutut diatas tanah.

Seiring dengan itu kedua tangan kemudian disatukan lalu dia letakkan di depan kening. Mulut berkemak-kemik.

Begitu tubuh bergetar disertai guncangan yang datang dari dalam diri sekujur tubuh Pura Saketi tiba-tiba berubah merah mengerikan.

Sekejab kemudian seiring dengan munculnya cahaya merah disekujur tubuh maka ditelapak Pura Saketi hingga ke bagian lengan atas membersit cahaya biru benderang berkilau menyilaukan.

Cahaya biru yang bermunculan silih berganti memenuhi kedua tangan dan menjalar kesekujur tubuh berbentuk huruf-huruf atau aksara yang tidak dapat dibaca dan diketahui maknanya.

Melihat keanehan yang luar blasa, Randu Wulih tercengang sekaligus tanpa sadar keluarkan seruan kaget.

"Aksara Iblis...?!"

Yang dikatakan Randu Wulih memang tidak berlebihan. Saat itu Arwah Iblis Kolot yang bersemayam dalam diri Pura Saketi memang tengah mengerahkan ilmu ganas yang didapat muridnya dari Kitab Aksara Iblis.

"Apa yang harus kulakukan? Ajian Selaksa Gempa yang kukerahkan untuk menghabisi Iblis Kolot dan murid yang ditumpanginya tiba-tiba kehilangan fungsinya."

Batin si kakek.

Tidak ada kesempatan bagi orang tua ini berpikir lebih lama. Saat itu Iblis Kolot telah mendorong kedua tangan muridnya ke depan.

Wuus!

Dari kedua tangan puluhan cahaya berbentuk aksara menderu bersama gelombang angin panas dan cahaya merah. Randu Wulih terkesima namun cepat memutar kedua tangan untuk melindungi diri dalam jurus Harimau Sakti Menghalau Topan. Angin dingin bergulung-gulung, sebagian melindungi si kakek dan sebagiannya lagi bergerak melabrak ke depan. Tapi semua upaya yang dilakukan Randu Wulih ternyata hanya sia-sia. Ketika kilauan cahaya biru laksana ratusan lebah berbisa dan berbentuk aksara melabrak ke arah orang tua itu.

Tubuh orang tua itu seperti dihantam muntahan lahar mendidih. Randu Wulih meraung kesakitan.

Dimulai dari dua tangan yang dipergunakan untuk melindungi diri. Cahaya biru Aksara Iblis yang disertai deru cahaya merah memberangus sekujur tubuhnya. Orang tua ini Jatuh tergelimpang. Tubuh meledak hangus berubah menjadi puing-puing yang bertebaran dikobari api. Melihat lawan tewas mengenaskan, Iblis Kolot menyeringai. Seringai itu tentu saja terpancar lewat wajah Pura Saketi murid yang ditumpanginya. Perlahan dia bangkit berdiri. Sambil tatap tubuh hangus yang berserakan itu, tiba-tiba dia berkata,

"Satu musuh bebuyutan telah musnah. Tapi masih ada musuh lama yang harus kuhabisi. Ha ha ha!" Sambil tertawa dia lalu menatap ke arah diri sendiri. "Kau telah berjasa besar muridku."

Katanya sambil menepuk dada.

"Kalau tidak menggunakan  tubuhmu mana  mungkin arwahku bisa membalaskan semua dendamku. Satu urusanku telah selesai. Sekarang tubuhmu yang kupinjam segera kukembalikan. Jiwamu boleh mengambil alih tubuhmu sepenuhnya. Selamat tinggal. Ha ha ha..."

Setelah berkata demikian tiba-tiba terjadi guncangan hebat pada diri Pura Saketi.

Kemudian dari ubun-ubun si pemuda melesat keluar satu cahaya merah berbentuk samar sosok berupa seorang kakek berambut panjang awut-awutan berpakaian berupa rompi.

Itulah sosok arwah Iblis Kolot.

Tapi semua kejadian itu hanya berlangsung sekejaban mata saja. Sosok cahaya merah kemudian melesat seperti terbang ke langit.

Setelah ditinggalkan arwah sesat yang sempat menguasal raganya, Pura Saketi pun akhirnya sadarkan diri. Dia terheran-heran melihat keadaan disekitar yang porak poranda seperti baru dilanda topan hebat.

Dia juga sempat tertegun melihat puing-puing tubuh yang dikobari api. "Apa yang telah terjadi di tempat ini?"

Pura Saketi tak ubahnya seperti orang hilang ingatan tertegun. Dia berusaha keras mengingat. "Aku...tadi aku melihat guruku datang. Dia.. dia memaksa masuk mengambil alih tubuhku. Aku

berusaha bertahan tapi kemudian aku tidak ingat apa-apa. Jadi dia telah mengambil alih tubuhku sementara waktu.Kakek yang kutemui tidak kukira adalah musuhnya.Guru membunuhnya, dia menghabisi Randu Wulih dengan menggunakan tubuhku. Dia juga menggabungkan kekuatannya dengan kekuatanku. Akhirnya seperti ini, dia menjadi yang tidak terkalahkan. Mahluk licik. Tapi aku tidak menyesal, aku juga turut merasa senang karena dia berhasil menghabisi lawannya. Ha ha ha!"

Kata Pura Saketi sambil tertawa mengekeh.

Setelah mengumbar tawa pemuda ini lalu diam. Dia tiba-tiba teringat dengan musuh-musuh ayahnya. Sambil menyeringai dingin dia berkata,

"Sudah waktunya membuat perhitungan pada para jahanam pembunuh ayahku.Aku harus pergi sekarang juga!"

Pikir Pura Saketi. itu. Tanpa menoleh-noleh lagi pemuda ini segera balikkan badan lalu melangkah tinggalkan tempat *****

Pedataran Pasir Mandang sebelah Kulon Situbanda dipagi hari terasa sejuk.

Disiang hari daratan luas yang ditumbuhi pohon lontar itu terasa panas laksana dilautan api.

Pagi itu setelah berhasil meloloskan diri dari kejaran Pemburu Dari Neraka, si Jenggot Panjang bersama Pranajiwa sampai didepan sebuah patung putih bertubuh manusia berkepala singa.

Tidak jauh dari belakang patung berdiri kokoh sebuah gapura yang terbuat dari susunan tengkorak kepala manusia.

Gapura itu sudah tua namun masih kokoh dan merupakan satu-satunya jalan yang menghubungkan ke sebuah kawasan aneh yang dikenal dengan nama Pintu Selatan.

Setelah menghentikan kuda dan memastikan keadaan disekitarnya aman-aman saja, kakek ini segera melompat turun dari kudanya.

Dia lalu menghampiri patung berkepala singa.

Si kakek cebol anggukkan kepala pada patung, lalu berlutut sambil bungkukkan kepala dalam-dalam sebagai tanda penghormatan.

Kepada sang patung dia berucap.

"Aku si Jenggot Panjang baru kembali dari sebuah perjalanan jauh. Mohon Kalima Bara mengijinkan saya bertemu dengan yang mulia, Kuasa Agung!"

Setelah berkata begitu Si Jenggot Panjang angkat kepalanya. Dia lalu berdiri sambil menatap patung putih didepannya.

Sekonyong-konyong terdengar suara raungan menggelegar seperti raungan singa dikejauhan. Mata patung yang terpejam tiba-tiba membuka seiring dengan lenyapnya suara raungan itu. Kemudian seakan datang dari perut sang patung tiba saja terdengar ada suara berkata, "Mahluk bodoh. Mengapa pergi terlalu lama? Kuasa Agung sudah tidak sabar menanti

kedatanganmu.!"

"Maafkan saya, Kalima Bara!!" Menyela si kakek.

"Aku terlambat karena dalam perjalanan ada sedikit hambatan.Tapi jangan khawatir, aku yakin Kuasa Agung tidak akan marah karena saya kembali dengan membawa serta orang yang dinginkan Kuasa Agung!"

Sambil berkata demikian Si Jenggot Panjang menoleh ke belakang dan menunjuk Pranajiwa yang duduk diam diatas kuda.

"Aku sudah melihat. Hawa yang menebar dari tubuhnya telah masuk kedalam alur nafasku. Dan aku sudah memastikan dia adalah orang yang terlahir pada malam sabtu pon lima puluh tahun yang lalu. Laki-laki itu adalah orang yang dimaksudkan oleh Kuasa Agung. Lekas bawa dia masuk. Aku mengendus ada seseorang yang mencarimu. Siapa dia?"

Tanya suara dari patung manusia berkepala singa.

"Hmm, bagus bila Kalima Bara mengetahui saya dikuntit orang."

Ujar Si Jenggot Panjang dengan perasaan lega. Dia kemudian lanjutkan ucapannya.

"Adapun orang yang mengikuti aku tak lain adalah pemuda gila yang datang dari dunia lain. Dia dikenal dengan sebutan Pemburu Dari Neraka!"

"Apa?!"

Sentak suara dari dalam patung kaget.

"Pemuda gila yang kau sebutkan itu sama sekali bukan orang sembarangan. Dia bisa membuat kita celaka! Dasar tua bangka tolol tidak berguna!"

Maki suara dalam patung. Disebut tua bangka tolol tidak berguna, Si Jenggot Panjang menggeram. Wajah pucatnya memerah, pipa cangklong yang terselip disudut bibir berjingkrak bergetar.

"Mahluk jahanam! Beraninya dia memaki aku seperti itu. Andai kedudukannya tidak lebih tinggi dariku. Aku pasti sudah melabraknya. Namun mengingat hubungan dekatnya dengan Kuasa Agung, biarlah aku mengalah."

Hibur diri sendiri S Jenggot Panjang sambil mengelus dada.

"Tunggu apa lagi.! Pintu Selatan telah kubuka, kawasan Rahasia siap menyambut kedatanganmu Tapi... jangan bawa kuda jahanam itu karena kudanya telah ditandai oleh orang yang mengejarmu!"

Kata Kalima Bara yang bicara melalui patung berkepala singa.

Walau terkejut tidak menyangka Kalima Bara lebih mengetahui dua kuda tunggangan telah ditandai orang.

Namun Si Jenggot Panjang mendengus. Dia lekas balikkan badan.

Berjalan cepat menghampiri Pranajiwa, sesampainya didepan laki-laki itu dia berkata.

"Kau harus turun dari kuda. Kedua kudamu ini kita tinggalkan disini saja. Nanti akan ada yang mengurus!"

Pranajiwa yang hilang ingatan akibat ditusuk Jarum Sukma Kelana dibelakang telinganya anggukkan kepala.

"Kita hendak kemana? Rasanya kita tidak menuju ke makam kedua putriku!" Kata orang tua itu dengan suara terbata mata menatap kosong.

"Manusia jahanam. Orang lain bila sudah ditusuk dengan Jarum Sukma Kelana seluruh ingatannya lenyap. Tapi orang yang satu ini cukup luar biasa. Dia memang tidak bisa mengingat yang lain, namun ternyata kedua puterinya erat terpatri dalam ingatannya."

Rutuk Si Jenggot panjang. Walau hati mengumpat namun sambil tersenyum dia menjawab. "Prana... ini adalah jalan yang aman. Sebentar lagi kita pasti sampai dimakam puteri puterimu!"

Kemudian tanpa memberi kesempatan lagi pada Pranajiwa mengucapkan sesuatu, si kakek sambar lengan Pranajiwa.

Si Jenggot Panjang membawa Pranajiwa berlari melewati gerbang Pintu Selatan dengan gerakan laksana terbang.

Merasakan tubuhnya dibawa melayang, Pranajiwa tergelak-gelak.

"Wah hebat. Ternyata kau bisa melayang. Padahal kau tidak punya sayap. Ha ha ha!"

Sebagai jawaban Si Jenggot Panjang totok jalur darah dileher Pranajiwa hingga membuat orang tua itu tak sanggup lagi keluarkan suara.

"Hatiku sedang tidak senang, aku lebih suka melihatmu diam seperti orang mati!" Geram si kakek lalu mempererat cekalannya pada lengan Pranajiwa.

Laki-laki itu menjerit sambil delikkan matanya.

Namun suaranya hanya sampai sebatas tenggorokan saja.

Sepeninggalnya Si Jenggot Panjang, dari mata patung kepala singa tiba-tiba membersit dua larik cahaya ke arah dua kuda yang ditinggalkan.

Dua binatang yang memang sudah gelisah seperti tidak betah berlama-lama di tempat itu keluarkan ringkikkan kaget ketika melihat ada cahaya putih menyambar ke arah mereka.

Sambil meringkik kedua kuda menghambur lari selamatkan diri.

Namun datangnya serangan cahaya itu ternyata jauh lebih cepat dari gerakan kedua kuda. Zees!

Zees! Byar!

Suara kedua mahluk itu lenyap, tubuh mereka meledak hancur menjadi serpihan daging tidak berbentuk.

Darah bermuncratan kesegenap penjuru, menebar kesegenap penjuru, menebar bau amis menusuk.

Secercah senyum samar membias dibibir patung.

Dan sepasang mata yang membuka perlahan menutup rapat. Suasana di Pintu Selatan kembali sunyi.

******

Kabar tentang tewasnya Randu Wulih salah satu sesepuh dunia persilatan dengan cepat tersebar luas. Disamping itu peristiwa lenyapnya Pranajiwa dalam waktu hampir bersamaan menimbulkan kegegeran tersendiri bagi para sahabat yang pernah ikut bergabung dalam penyerbuan ke gedung milik Pendekar Sesat.

Apa sebenarnya yang telah terjadi.

Apakah peristiwa tewasnya Randu Wulih dan lenyapnya Pranajiwa berhubungan erat antara satu dengan yang lainnya.

Yang pasti ketika matahari mulai condong diufuk langit sebelah barat.

Seorang pemuda berpakaian biru ringkas membekal busur dan anak panah dipunggungnya memacu kudanya melewati jalan desa.

Tidak lama kemudian sampailah pemuda ini dihalaman rumah besar berlantai panggung yang tidak lain adalah tempat kediaman Pranajiwa.

Pemuda yang bukan lain adalah Ariamaja segera hentikan lari kudanya.

Dia merasa lega karena dihalaman depan yang ditumbuhi semak belukar dan dipenuhi sarang laba laba telah menunggu dua orang yang sangat dikenalnya.

Kedua orang itu tak lain adalah kakek yang matanya kerap berkedip dikenal dengan sebutan Si Kedip Mata.

Dan satunya lagi adalah kakek berambut dan berpakaian serba putih yang dikenal dengan nama Giring Sabanaya.

Sambil tersenyum Ariamaja melompat turun dari atas kudanya. Dia lalu menghampiri kedua orang tua itu.

Setelah rangkapkan kedua tangan sambil menjura hormat, pemuda ini pandangi kedua orang didepannya.

Dia melihat wajah tegang dan muram itu. "Apa yang terjadi kek?"

Tanya Ariamaja ditujukan pada Giring Sabanaya. Si kakek memaksakan diri untuk tersenyum. "Seperti yang kau lihat. Rumah ini seperti sudah setahun ditinggalkan oleh pemiliknya. Halaman

dipenuhi semak, sarang laba-laba ada dimana-mana. Dan patung-patung itu,!"

Giring Sabanaya kemudian menunjuk ke arah deretan patung yang berdiri dengan berbagai gerakan tak jauh dari pendopo utama.

"Kau tahu sahabat Pranajiwa bukanlah pematung. Mengapa halaman rumahnya tiba-tiba dipenuhi patung? Belasan murid Pranajiwa lenyap. Aku belum memeriksa patung patung itu, tapi aku menduga murid Pranajiwa telah berubah menjadi patung atau seseorang telah menjadikan mereka sebagai patung...!"

Si Kedip Mata kemudian menambahkan.

"Aku telah menanyai beberapa tetangga terdekat.Menurut mereka dua hari yang lalu Pranajiwa masih berkumpul dengan murid-muridnya.Kemudian malamnya seorang tamu datang. Ciri-ciri orang itu bertubuh pendek namun berjenggot panjang.Dan dia adalah seorang kakek yang bibirnya terselip pipa cangklong."

"Keesokan harinya tamu misterius itu lenyap, Pranajiwa juga lenyap dan dihalaman rumah Pranajiwa para tetangganya menemukan keadaan yang seperti ini!"

Terang Si Kedip Mata. Ariamaja terdiam, perhatiannya tertuju ke arah patung-patung. Dalam hati dia berkata.

"Sesuatu yang sangat luar biasa telah terjadi ditempat ini. Orang tua, tamu misterius itu yang jadi biang perkara. Dia mungkin saja membawa pergi paman Prana, tapi untuk dan keperluan apa?"

Ariamaja lalu tatap Si Kedip Mata dan Giring Sabanaya silih berganti.

"Dari diri-ciri yang disebutkan orang disekitar sini. Apakah kakek berdua mengenal siapa orang tua berjenggot panjang itu."

Giring Sabanaya tatap Si Kedip Mata, lalu keduanya menggeleng. "Aku tidak mengenal kakek itu."

Kata Si Kedip Mata.

"Aku pun demikian. Yang membuatku heran apakah Pranajiwa mengenal tamunya. Kalau memang kenal, kemana perginya Pranajiwa? Apakah dia bersama kakek itu. Dan mengenai murid-muridnya...!"

Belum sempat Giring Sabanaya selesaikan ucapan Ariamaja sudah memotong

"Tentang murid-muridnya aku hanya bisa menduga mungkin saja telah dirubah menjadi patung oleh tamunya."

Si Kedip Mata melongo terpana.

"Bagaimana kau bisa mengatakan demikian?!" Tanya orang tua itu tidak percaya.

"Hmm, mungkin saja dugaanmu benar anak muda. Untuk lebih memastikan sebaiknya kita teliti dulu patung-patung itu!"

Giring Sabanaya memberi dukungan. Ketiganya lalu mendekati puluhan patung.

Kemudian mereka berpencar memeriksa patung manapun yang mereka inginkan

"Semua patung ini memiliki ekspresi yang berbeda-beda.Ada yang tercengang, ada pula yang membuat gerakan orang yang berkelahi. Semua wajah patung menghadap ke arah pendopo. Ini menunjukkan dipendopo ada seseorang yang menjadi pusat perhatian mereka.Dan aku yakin sekali mereka tak lain adalah para murid paman Pranajiwa!"

Terang Ariamaja yang memang memiliki kecerdikan mengagumkan.

"Untuk membuktikan ucapanmu. Aku akan menghancurkan salah satu patung ini!" Giring Sabanaya memutuskan. "Heh apa? Bagaimana kalau patung itu masih hidup?" Kata Si Kedip Mata cemas dalam kehawatiran.

"Jika masih hidup tentu jantungnya berdegup, lalu hidungnya menghembuskan nafas."

Giring Sabanaya dekatkan telinganya ke dada patung. Tidak ada suara degup jantung yang didengarnya.

"Jika mereka memang murid Pranajiwa, saat ini kupastikan mereka semuanya telah mati!" Jelas si kakek. Kemudian tanpa bicara lagi dia segera menghantam tubuh patung.

Byaar!

Patung berderak hancur menjadi kepingan.

Di balik kepingan sebelah dalam terlihat daging, otot dan tulang. Ketiga orang ini bergerak mundur sambil tekap hidung masing-masing. Bau anyir busuk menebar.

Mereka terbelalak.

"Benar kataku. Patung ini adalah manusia, mereka semuanya pasti murid-murid paman Prana.

Bangsat mana yang bertindak sekeji ini, merubah manusia menjadi patung!" Geram Ariamaja sambil kepalkan tinjunya.

"Pasti kakek yang menjadi tamu di rumah ini.!"

Menyahuti Giring Sabanaya. Orang tua ini juga ikut menjadi gusar.

"Kita harus mencari dan menemukan kakek itu. Aku yakin saat ini dia membawa Pranajiwa dalam perjalanan menuju sebuah tempat!"

Kata Si Kedip Mata.

"Kalau benar untuk apa kakek itu membawanya?" Tanya Ariamaja.

"Aku tidak tahu, kita harus menyelidikinya!" Jawab Si Kedip Mata.

Giring Sabanaya manggut-manggut. Usul Si Kedip Mata boleh juga.

Namun saat itu mereka tidak hanya dihadapkan oleh lenyapnya Pranajiwa.

Kematian tokoh tua Randu Wulih yang disebut sebut akibat serangan Aksara Iblis juga perlu mendapat perhatian penting. Ketika Giring Sabanaya menyinggung masalah kematian tokoh yang satu ini baik Ariamaja maupun Si Kedip Mata sama terdiam

"Aku yakin hilangnya Pranajiwa dan kematian Randu Wulih tidak memiliki kaitan.Mungkin saja pelakunya adalah orang yang berbeda."

Ucap Si Kedip Mata. "Orang tua berdua." Ariamaja membuka  mulut.

"Bukankah Aksara Iblis berasal dari sebuah kitab yang dulu pernah menjadi benda yang sangat dicari oleh iblis sesat bernama Iblis Kolot atau Iblis Gila?"

"Hmm, yang kau katakan memang benar. Tapi Iblis itu telah mati, mayatnya dilempar ke jurang oleh beberapa tokoh aliran putih."

Tegas Giring Sabanaya

"Apakah tokoh yang engkau maksudkan termasuk Randu Wulih?" "Itu betul."

"Kalau demikian mungkin saja Iblis Kolot belum mati. Dia hidup didasar jurang sana dan menemukan kitab yang dia cari. Kitab itu dia pelajari dan kini dia muncul untuk membuat perhitungan."

Duga Ariamaja. Ucapan si pemuda membuat kedua kakek terkejut.

"Mungkin, bisa jadi Iblis Kolot selamat dari kematian. Lalu dia menemukan kitab yang dicari. Astaga! Jika semua yang kau katakan ini menjadi kenyataan, rimba persilatan benar-benar berada diambang malapetaka besar."

Desis Si Kedip Mata.

"Lalu apa yang akan kita lakukan?" Tanya Giring Sabanaya.

"Kita harus menghubungi tujuh Tokoh Sakti di Puncak Akherat. Aku berpikir mereka lebih banyak mengetahui semua yang terjadi dimasa lalu. Yang kudengar mereka pun dulu pernah ikut terlibat ketika menghadapi Iblis Kolot!"

Ujar Ariamaja. "Aku setuju.!"

Tanpa keraguan Giring Sabanaya memberi dukungan.

"Tapi apakah tidak sebaiknya kita kembali dulu ke rumah masing-masing untuk membuat persiapan yang lebih matang. Disamping itu kita juga bisa membawa pengikut

sebanyak-barnyaknya." Usul Si Kedip Mata.

"Kita sekarang sedang menghadapi urusan penting. Tak ada lagi murid yang harus dikorbankan." Ujar Giring Sabanaya tidak setuju.

"Kita bertiga harus bisa menyelesaikan semua ini."

Tegasnya lagi "Tapi tunggu!"

Seru Ariamaja ketika melihat dua kakek itu siap menuju kudanya masing-masing. Kedua kakek hentikan langkah. Tanpa menoleh Si Kedip Mata ajukan pertanyaan. "Apakah masih ada yang hendak kau tanyakan?"

"Benar. Aku ingin mendengar bagaimana kakek berdua bisa mengetahui semua yang sedang terjadi?"

Tanya pemuda itu. Kedua kakek sama tersenyum.

"Oh itu rupanya. Apakah Dewi Kipas Pelangi tidak mengabari dirimu? Dia datang melewati alam mimpi, Gadis pengembara itu mengatakan semua apa yang dia dengar dan yang dilihatnya kepadaku juga pada kakek itu!"

Terang Giring Sabanaya.

"Dia tidak pernah muncul di hadapanku, walau hanya dalam mimpi." Jawab Ariamaja polos.

"Hohoho. Kalau demikian dia memang tidak berjodoh denganmu. Padahal dia gadis yang luar biasa."

Ucap Si Kedip Mata pula.

"Dia hebat. Bisa menyampaikan kabar lewat mimpi dan tidak semua orang sanggup melakukannya."

Puji Ariamaja dalam hati. Dan dalam hati pula dia berkata lagi,

"Sebenarnya aku menyukainya. Tapi kalau dia tidak tertarik padaku, apakah aku harus menarik atau membetot tangannya. Bagaimana kalau bagian tubuh yang lain ikutan terbetot? Apa mungkin aku bisa menahan diri."

Pikir Ariamaja sambil senyum-senyum. Bagusnya kedua kakek itu sudah memacu kuda tinggalkan tempat itu. Kalau mereka melihat Ariamaja senyum-senyum sendiri bisa-bisa kedua kakek menganggap dirinya mendadak jadi gila.

"Mungkin sudah menjadi suratan nasib si bujang lapuk ini. Jangankan bisa menyunting gadis cantik. Mencari janda saja sulitnya minta ampun."

Gerutu Ariamaja disertai tawa tergelak.

Kemudian tanpa menunggu lebih lama diapun menyusul kedua kakek yang telah meninggalkannya.

*****

Tewasnya dua kuda yang dibunuh oleh Patung Kalima Bara membuat Pemburu Dar ­ Neraka benar-benar kehilangan jejak Si Jenggot Panjang. Langkah pemuda bermata ditutup dua batok ini terhenti sebelum sampai di Pintu Selatan yaitu satu-satunya jalan yang menghubungkan ke sebuah tempat yang bernama Kawasan Rahasia.

Merasa lelah setelah melakukan perjalanan siang dan malam dalam beberapa hari, pemuda ini pun kemudian menambatkan kudanya dibatang pohon yang ukurannya tidak lebih besar dari lengan orang dewasa. Si Pemuda sendiri kemudian duduk sambil menyandarkan punggungnya dibawah pohon teduh. "Kemana lenyapnya bangsat tua itu? Aku tahu dia bisa menghilang, tapi aku telah memberi tanda

pada dua kuda tunggangan mereka. Jika kuda masih hidup, aku pasti bisa menemukan jejak Si Jenggot Panjang. Lalu apakah dia tahu aku telah menandai dua kuda, kemudian dia membunuh kedua binatang itu dan meneruskan perjalanan dengan berjalan kaki?!"

Pemburu Dari Neraka terdiam sambil berpikir.

"Sayang, jika aku sampai gagal mencegah kakek itu dan dia berhasil membawa Pranajiwa menemui Kuasa Agung. Dua kekuatan iblis akan muncul di rimba persilatan ini. Jika keduanya bersatu, rasanya tidak akan ada seorangpun yang mampu menghentikan kejahatan mereka."

Gumam sang Pemburu cemas.

Lelah berpikir, ditambah kelelahan setelah menempuh perjalanan panjang membuat Pemburu Dari Neraka tertidur lelap.

Baru saja sang pemburu pulas dibuai mimpi, ditempat itu tiba-tiba muncul seorang gadis berpakaian kuning gading berwajah cantik.

Dibelakang sang dara cantik mengikuti seorang pemuda gondrong yang tak lain adalah Sang Maha Sakti Raja Gendeng 313 di punggungnya tergantung sebilah pedang berangka emas dengan hulu terbuat dari batu pualam biru berukir Naga dan Rajawali Sedangkan gadis yang berjalan didepannya tak lain adalah Anjarsari, si angkuh dari kawasan tua.

Melihat kuda cokelat tertambat dan sedang merumput kedua orang ini hentikan langkah.

Setelah menatap kuda Anjarsari berjingkrak kaget

"Kau lihat kuda  itu hai  rajanya orang gila.  Kuda itu  tidak mempunyai  mata.Kedua matanya  hanya berupa rongga besar hitam mengerikan. Tapi bagaimana dia bisa merumput?!"

Walau heran sekaligus takjub melihat kuda yang cacat mata, namun Raja yang kerap dipanggil rajanya orang gila oleh Anjarsari justru menunjuk ke arah pohon rindang tempat dimana Pemburu Dari Neraka melepas lelah.

"Kuda itu memang aneh, tapi yang tak kalah aneh adalah pemuda di bawah pohon sana. Mungkin dia pemiliknya."

Timpal Raja sambil menunjuk ke bawah pohon. Anjarsari menatap ke arah yang dimaksud.

"Aku tidak melihat keanehan dalam diri pemuda itu. Terkecuali dia memang tidak memakai baju.

Kalau ada gadis yang tidak berbaju, baru aku menganggapnya sebagai sesuatu yang aneh!"

Dengus Anjarsari cemberut

"Ah, kau perhatikan baik-baik sahabatku..." "Aku bukan sahabatmu!"

Tukas Anjarsari.

"Kalau tidak mau kupanggil sahabat apakah kau mau menjadi kekasihku!" Ucap Raja sambil mengulum senyum.

"pemuda gila sinting. Jadi sahabat saja aku tidak sudi. Apalagi kau jadikan kekasih." Damprat Anjarsari ketus.

Raja menyeringai. Tanpa menghiraukan kekesalan orang dia berkata lagi.

"Pemuda itu... aku tidak tahu apakah matanya juga buta.Tapi dia terlihat aneh karena melindungi dua matanya dengan dua batok.Penampilannya mengingatkan aku pada bajak laut.Bajak laut biasanya menutupi sebelah matanya.Tapi dia tutup kedua matanya sekaligus. Jangan-jangan dia rajanya perompak dilaut!"

"Hi hi hi! Kau benar juga. Dia perompak yang kesasar. Kasihan apa yang dilakukannya disini?

Melarikan diri dari kejaran perajurit kerajaan ataukah sedang pelesir didaratan mencari nenek nenek kesepian!"

Gurau Anjarsari. Untuk pertama kalinya Raja melihat gadis itu tertawa. Justru tawa itu membuat darah sang pendekar berdesir-desir.

"Aneh. Dia memaki aku tidak marah. Dia merendahkan aku, aku juga tidak tersinggung. Malah aku ingin selalu berada didekatnya. Mungkinkah aku menyukainya. Ataukah ini yang namanya jatuh cinta. Kalau benar jatuh cinta apakah cintaku ini cinta monyetan ataukah cinta macan garong."

Pikir sang pendekar.

Selagi Anjarsari tertawa geli dan disaat Raja tenggelam oleh kegelisahan tiba-tiba pemuda dibawah pohon menggeliat. Secepat kilat dia bangkit berdiri. Tidak terduga dia membentak bertanya.

"Siapa kalian berdua?"

"Heh... matanya tertutup batok kelapa, bagaimana dia bisa melihat kita?" Kata sang pendekar.

"Mungkin matanya dapat menembus batok. Aku tidak suka pada orang ini. Aku tidak tahu kenapa? Memandangnya berlama-lama membuat aku merasa seperti dilempar ke atas kobaran api. Aku tidak tahu tempat itu dimana, tapi lihatlah bulu-bulu halus ditangan serta dibagian tengkukku merinding."

Ujar Anjarsari.

Suaranya lirih namun cukup jelas. Raja memperhatikan Anjarsari. Benar yang dikatakannya.

Bulu-bulu halus dilengannya meremang.

"Berlindunglah di belakangku. Biar aku yang bicara!" Ucap Raja sambil mengusap hidungnya dengan ibu jari.

"Gadis berpakaian kuning dan pemuda gondrong berpakaian kelabu. Kalian belum menjawab pertanyaanku. Katakan siapa kalian?"

Desak Pemburu Dari Neraka tak sabar.

"He he he. Aku adalah Raja, Orang menyebutku Raja Gendeng 313. Dan teman yang tidak bersahabat denganku ini  bernama Anjarsari. Kau sendiri  siapa pemuda  mata  batok?" Tanya Sang pendekar sambil mengulum senyum.

"Raja Gendeng 313. Apakah kau yang dijuluki Sang Maha Sakti dari Istana Pulau Es? Tempat itu adanya dikawasan pantai selatan."

Sang pendekar diam-diam terheran-heran tidak menyangka orang mengetahui asal-usulnya. Sebaliknya Anjarsari yang baru mendengar julukan Raja disebut orang walau merasa kagum namun pura-pura acuh.

"He he he. Kau hebat mata batok. Orang-orang memang menyebutku demikian. Lalu kau sendiri siapa?"

Raja mengulangi pertanyaannya.

Pemburu Dari Neraka tidak menjawab. Sekali kakinya bergoyang, tahu-tahu dia telah berada didepan Raja dan Anjarsari.

"Hmm, mengagumkan. Kau bergerak secepat itu. Setan saja tidak bisa melakukannya." Mulut memuji tapi bibir menyeringai.

"Aku... aku adalah seorang pemburu. Orang mengenalku dengan nama Pemburu Dari Neraka." Kata pemuda itu memperkenalkan diri.

"Hah... bagaimana kau bisa kesasar kedunia ini. Memangnya ada mahluk penghuni neraka yang lepas dari kawasanmu hingga kau gentayangan tidak karuan?"

Ucap sang pendekar lalu tertawa. Dua mata yang tertutup dua batok tatap pemuda didepannya.

Tiba-tiba saja sang pemburu berujar,

"Nama sebutanmu menjadi buah bibir di penjuru bumi.Lagak bicaramu cukup menyebalkan.Tapi aku tidak punya waktu untuk bergurau, Raja. Aku datang kemari untuk mencari seorang kakek bernama Si Jenggot Panjang. Apakah kau pernah bertemu atau melihatnya?"

"Aku tidak melihatnya. Bukankah begitu Anjarsari?"

Kata pemuda itu sambil melirik gadis disampingnya. Anjarsari anggukkan kepala. "Mengapa kau mencari kakek itu?"

Tanya Sang dara.

"Dia mahluk yang sangat berbahaya. Dia bisa merubah-rubah  diri menjadi siapa  saja. Tapi dia bukan manusia seperti kalian. Dia hanya seorang pembangkang yang meloloskan diri dari pengawasanku untuk membuat kekacauan di rimba persilatan!"

Terang sang Pemburu.

Pemuda itu kemudian juga menceritakan apa yang sedang dilakukan oleh Si Jenggot Panjang, juga termasuk keinginan Kuasa Agung.

Tak lupa dia juga menceritakan tentang munculnya seorang pemuda sakti yang memiliki ilmu Aksara Iblis. Selesai menerangkan segala sesuatunya, Pemburu Dari Neraka berkata, "Orang dengan kepandaian seperti dirimu harus bersikap waspada. Pemuda yang telah mewarisi ilmu Aksara Iblis itu sangat berbahaya. Dan lebih berbahaya lagi bila dia bergabung dengan Kuasa Agung. "

"Tapi siapa Kuasa Agung yang kau maksudkan itu?" Tanya Anjarsari dengan hati diliputi rasa ingin tahu.

Belum sempat Pemburu Dari Neraka menjawab pertanyaan sang dara cantik. Tiba-tiba saja terdengar suara berdesir di udara.

Suara berdesir kemudian disusul dengan suara bergemuruh. Baik Pemburu Dari Neraka, Raja maupun Anjarsari terperangah.

Hampir bersamaan ketiganya menatap ke arah datangnya suara.

Memandang ke arah timur mereka sama melihat puluhan bola api sebesar kerbau melesat deras ke arah mereka.

Cepat sekali datangnya bola api itu.

Dalam waktu singkat puluhan bola api berjatuhan menghantam diri mereka. "Selamatkan diri! Cari tempat berlindung!"

Seru Raja ditujukan pada Anjarsari dan sang Pemburu.

Di tengah hujan bola api dalam keadaan diri dicekam rasa tegang. Tanpa banyak pertimbangan Anjarsari segera berlari kebalik batu besar.

Raja sendiri segera melempar buntalan kantong besar perbekalan tidak jauh dari Anjarsari.

Kemudian dengan gerakan lincah yang disertai pengerahan jurus Delapan Bayangan Dewa pemuda ini segera hantamkan tangannya ke arah bola-bola api yang meluruk deras ke arahnya.

Dentuman-dentuman keras menggelegar merobek udara. Puluhan bola api dibuat hancur porak poranda.

Puing-puing api bertaburan memenuhi udara.

Sementara Pemburu Dari Neraka yang berada tidak jauh dari tempat dimana Raja berada melakukan tindakan yang bertolak belakang dengan yang dilakukan sang pendekar.

Bila Raja menghantam bola-bola api dengan pukulan sakti.

Sebaliknya sang Pemburu merubah diri menjadi tiga kali lebih besar dari ukuran tubuhnya. Kepala sepuluh kali lebih besar sedangkan mulutnya dua puluh kali lebih besar dari mulut yang asli. Melihat bola api bertabur meluncur deras menghantam ke arahnya. Sang Pemburu buka mulutnya lebar-lebar.

Diapun lalu membuat gerakan menghirup. "Hruuh!"

Seketika itu juga puluhan bola api yang bertebaran diudara tersedot menuju mulutnya lalu secara susul menyusul puluhan bola api amblas ke dalam mulut lenyap tanpa bekas.

"Astaga! Mahluk seperti apa pemuda satu itu. Dia menyedot dan menelan puluhan bola api, seolah bola api yang membara adalah makanan yang lezat! Gila...!"

Batin Raja takjub.

Ditempatnya mendekam, Anjarsari diam-diam berkata,

"Pemburu Dari Neraka ternyata mahluk langka. Api saja dia telan apalagi manusia. Hih, sungguh mengerikan!"

Si gadis bergidik ngeri. Selagi Raja dan Anjarsari dibuat terkagum kagum, Pemburu Dari Neraka tiba-tiba hembuskan nafas dalam-dalam. Kepulan asap hitam tebal bergulung-gulung. Dari mulut terdengar suara seperti orang bersendawa.

"Edan! Dia makan api sampai kekenyangan!"

Seru Raja Gendeng 313. Mata sang pendekar mendelik ketika melihat pandangan tertutup asap dipenuhi jelaga.

"Aku sudah tahu... asal api bisa kuendus. Api api ini berasal dari Kawasan Rahasia. Aku harus kesana. Semua ini pasti perbuatan Kuasa Agung."

Seru Pemburu Dari Neraka. Raja hanya bisa mendengar suara pemuda itu. Kegelapan akibat asap yang dihembuskan Pemburu Dari Neraka membuat dia tak bisa melihat dimana posisi sang pemburu.

"Tapi. "

Raja tidak lanjutkan ucapannya ketika tiba-tiba dia mendengar suara langkah kuda dipacu cepat.

Kemudian suara itu tidak terdengar lagi.

Ketika kepulan asap yang menutupi pandangan lenyap dan serangan bola api mendadak berhenti.

Anjarsari berseru.

Sambil berdiri dia menunjuk ke atas ketinggian langit. "Lihat... sang Pemburu dan kudanya melesat ke langit!"

"Astaga. Pemuda itu benar-benar bukan manusia. Lihatlah dia seperti sibuk menghantam sesuatu.

Ada api meledak disana-sini. Pantas tak ada lagi bola api yang jatuh kesini." Gumam sang pendekar.

"Bagaimana dia bisa mencapai ketinggian. Apakah Kuasa Agung bersemayam di atas awan?!" Tanya Anjarsari yang saat itu telah berdiri disamping Raja.

"Aku tidak tahu. Semua yang dia katakan tentang Sang Kuasa Agung masih asing ditelingaku.

Aku sendiri takjub tapi lebih banyak herannya. !"

Gumam sang pendekar sambil tatap sang Pemburu yang semakin jauh. "Apa yang membuatmu heran?"

"Tidak. Anu..."

Raja mengusap wajahnya yang basah baru kemudian menjawab.

"Dia punya kuda yang bisa membawanya terbang. Aku sendiri punya burung. Tapi burungku bodoh sekali. Jangankan terbang terjaga dari tidurnyapun sehari cuma dua kali. Ha ha ha!"

"Pemuda kurang ajar! Burung tolol seperti itu bagusnya dibuang saja. Hi hi hi!" Gerutu Anjarsari.

Wajahnya menjadi merah namun dia tak kuasa menahan tawa. 

TAMAT