Raja Gendeng Eps 26 : Putera Pendekar Sesat

 
Eps 26 : Putera Pendekar Sesat


Dikaki gunung Kendeng kobaran api terus melahap tiga bangunan. Asap hitam mengepul membubung tinggi memenuhi penjuru langit.

Ada suara teriakan marah bercampur kebencian bergema di halaman depan bangunan. Mayat mayat bergelimpangan saling tumpang tindih di atas genangan darah.

Mayat-mayat itu adalah mayat para pengikut Sugriwa Wisesa yang dikenal dengan julukan Pendekar Sesat.

Tidak jauh dari bangunan yang terbakar ada beberapa penunggang kuda.

Mereka adalah para tokoh persilatan dari Timur yang duduk diatas kudanya masing masing dengan sikap waspada.

Di belakang mereka berdiri berjejer puluhan perajurit bersenjata lengkap yang mengepung bangunan tersebut.

Seorang laki-laki berpakaian merah berusia sekitar lima puluh tahun yang berdiri tidak jauh dari bangunan segera berteriak

"Keluarkan semua orang yang berada di dalam gedung.Cepat kosongkan gedung, karena langit-langit bangunan akan runtuh"

Dengan bantuan beberapa orang muridnya, laki-laki berpakaian merah yang dikenal dengan nama Pranajiwa ini mengeluarkan satu sosok tubuh yang penuh dengan luka.

Luka itu akibat pukulan dan sabetan senjata tajam.

Lalu mereka menggantung tubuh orang itu kepala dibawah dan kaki menghadap ke atas. Tubuh itu dingin dan dalam keadaan tanpa nyawa.

Karena posisinya terbalik maka dari mulut dan hidungnya menyembur darah.

"Mayat Pendekar Sesat keparat ini memang pantas diperlakukan seperti hewan yang ada di gubuk jagal!"

Teriak Pranajiwa kalap seperti dirasuki setan. Kemudian dia berseru kepada para muridnya. "Bawa keluar mayat-mayat pengikut Pendekar Sesat, mereka juga pantas mendapat perlakuan

yang sama dengan ketuanya.!"

Mendengar perintah itu dengan semangat para murid Pranajiwa menyeret kaki tangan Pendekar Sesat dari dalam bangunan.

Yang masih hidup dibunuh tanpa menghiraukan ratapan minta ampun mereka.

Masih dengan meregang nyawa berkelojotan beberapa laki-laki maupun perempuan pengikut Pendekar Sesat ini juga mengalami nasib yang sama, mereka semua digantung terbalik dengan kepala dibawah.

Semua yang hadir ikut melakukan pengepungan merasa miris dan ngeri melihat tindakan yang dilakukan oleh Pranajiwa.

"Prana.....tindakanmu sangat berlebihan. Kami semua tahu bahwa betapa terguncang hatimu karena kehilangan kedua anak gadismu. Tetapi apakah tindakanmu ini bisa mengembalikan kehidupan kedua anakmu?"

Bertanya seorang kakek berpakaian putih yang duduk di atas kuda dengan sikap kurang senang. Pranajiwa merasa geram tidak puas.

Lalu palingkan kepala menatap si kakek dengan berkata.

"Sahabat Giring Sabanaya dan para sahabat lainnya.Kedua puteriku memang tidak mungkin hidup lagi, tetapi Pendekar Sesat itulah yang membuat kedua puteriku terjerumus ke dalam perbuatan nista. Jadi para jahanam pantas diperlakukan seperti ini walau mereka telah menjadi mayat!"

Beberapa tokoh sesepuh yang ikut dalam penyerbuan itu hanya bisa menghela nafas dan menggeleng-gelengkan kepala dan saling berbisik. Selagi orang-orang di atas kuda membicarakan kemurkaan Pranajiwa yang terlihat sadis itu, dari depan pintu bangunan muncul seorang lelaki muda dengan tergopoh-gopoh.

Pemuda itu berseru kepada orang-orang yang berada disitu.

"Putera Pendekar Sesat tidak ada di dalam gedung. Dia tidak dapat ditemukan, yang ada hanya beberapa perempuan...!"

Mendengar seruan ini semua orang yang hadir menjadi geger.

Selagi mereka tercengang dan tidak percaya dengan seruan tersebut, tiba-tiba dari bagian belakang gedung terdengar suara teriakan.

"Anak Pendekar Sesat melarikan diri...Dia ada di belakang sini. " "Jangan biarkan lolos." Teriak satu suara lainnya. "Bunuh!"

"Cincang hingga lumat!"

Teriak orang yang dibagian belakang sambil menghunus senjatanya lalu melakukan pengejaran. "Celaka....jangan sampai bocah itu lolos"

Sentak Pranajiwa

"Anak itu tidak bisa lari jauh."

Kata Giring Sabanaya. Kemudian dia berseru kepada orang orang yang berada di sekelilingnya. "Segera kejar dan tangkap bocah itu!"

"Jangan sampai terjadi sesuatu yang tidak diinginkan di kemudian hari " Setelah itu Giring Sabanaya tarik tali kekang kudanya.

Kuda meringkik keras.

Dengan diikut rombongan lainnya mereka bergerak menuju kearah lenyapnya anak Pendekar Sesat.

Pranajiwa sendiri dengan dikuti para muridnya telah lebih dahulu menghambur ke bagian belakang gedung.Dia bergabung dengan puluhan orang yang sedang melakukan pengejaran.

Suara hiruk piluk dan deru suara kuda merobek kesunyian. Setiap orang saling berlomba mengejar sang bocah buruannya.

Tujuannya hanya satu yaitu berusaba menangkap atau membunuhnya "Pasukan pemanah harap berada di depan."

Teriak Pranajiwa dengan lantang sambil terus memacu kudanya. "Para pemanah..maju...!"

Teriak seorang laki-laki gagah bernama Ariamaja.

Dia berusia sekitar tiga puluh tahun dan berpakaian biru.

Di tanah Dwipa dia dikenal dengan julukan Kaki Seribu karena mempunyai kecepatan berlari yang sangat hebat.

Dua belas pasukan pemanah terlihat bergerak maju.

Sementara pemuda remaja itu berlari masuk ke kawasan hutan lebat yang gelap.

Putera pendekar Sesat yang bernama Pura Saketi ini mempunyai kecepatan lari dan ilmu meringankan tubuh yang cukup tangguh walau usianya masih sangat muda.

Namun karena yang mengejarnya juga para tokoh persilatan maka tidak beberapa lama Pura Saketi tersusul. Pemuda remaja ini tidak memperdulikan para tokoh yang mengejarnya.

Dia terus saja berlari dengan sekuat tenaganya karena dia dihujani oleh lemparan golok dan tombak. Sementara itu kakek Giring Sabanaya dan beberapa tokoh yang bersamanya terus berusaha menyusul Pranajiwa dan para muridnya.

Pada saat itu Pranajiwa telah memerintahkan pasukan pemanah untuk menyerang Pura Saketi. "Kita harus segera melenyapkan keturunan Pendekar Sesat ini. Arahkan semua panah ke

tubuhnya. Habisi dia ! Jangan sampai lolos " Baru saja Pranajiwa memberi perintah.

Puluhan anak panah berhamburan mengarah ke sekujur tubuh Pura Saketi. Seiring dengan panah-panah itu para pengejar menyerbu dengan beringas.

Di bagian depan Pura Saketi yang sudah tahu adanya bahaya besar yang menimpa dirinya, berusaha mempercepat larinya.

Ketika dia melihat ada serangan anak panah walau dengan wajah pucat dan perasaan takut dia segera mencabut pedang pendek yang terselip di pinggangnya.

Sambil terus berlari dia membabatkan pedangnya ke belakang. Tring..!

Traang..!

Terdengar suara pedang beradu keras dengan anak panah.

Beberapa panah hancur berpentalan kena babatan pedang Pura Saketi.

Namun ada serangan susulan anak panah yang menderu siap menembus tubuhnya. Di saat itu Pura Saketi sampai di tepi sebuah jurang dalam menganga di depannya.

"Aku tidak mau mati di tangan mereka! Aku tidak bersalah....aku tidak bersalah.Ayahku yang berbuat jahat mengapa aku juga harus dibunuh"

Sesudah berkata demikian tanpa berpikir panjang lagi segera Pura Saketi melompat ke dalam jurang.

Ketika dia melompat ke dalam jurang ada dua buah anak panah yang tepat menembus tubuhnya.Bocah itu pun menjerit setinggi langit.

Melihat ini para pemanah bersorak kegirangan.

Mereka yakin bahwa Pura Saketi pasti tewas terkena panah. Apalagi dia juga jatuh ke dalam jurang yang dalam.

Orang-orang berdiri menunggu di tepi jurang, kemudian Pranajiwa pun tiba dengan disusul oleh Giring Sabanaya.

Di situ terlihat ada ceceran darah dengan disertai patahan anak panah , golok dan tombak. "Bocah itu tidak akan selamat! Jurang ini adalah jurang Watu Remuk Raga. Dalamnya lebih dari

seratus tombak"

Kata Ariamaja. Dia sebenarnya tidak setuju kalau putera Pendekar Sesat harus dibunuh pula. "Dia sudah terluka. Di bawah sana jurang dipenuhi dengan batu-batuan tajam yang terjal.

Pendekar berkepandaian tinggipun tidak mungkin dapat berhasil lolos dari maut jika terjun ke dalam jurang itu"

Kata Giring Sabanaya sambil mengelus elus jenggot putihnya yang panjang. "Semua masalah sekarang sudah selesai."

Kata seorang laki-laki berpakaian hitam yang kedua matanya selalu berkedap kedip. Orang tua ini adalah salah satu sahabat Pranajiwa yang berasal dari Pasuruan.

Mendengar ucapan orangtua yang dijuluki si Kedip Mata. Pranajiwa menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Menurut firasat dan perasaanku bocah itu mungkin masih hidup" Kata Pranajiwa.

Mendengar perkataan Pranajiwa semua orang menjadi diam dan tenggelam dengan pikirannya masing-masing.

Sampai kemudian seorang gadis berpakaian warna warni dengan kipas ditangannya melangkah maju.

Melihat sang dara yang disebut Dewi Kipas Pelangi menghampiri Pranajiwa maka semuanya memusatkan perhatian kearahnya.

"Paman Pranajiwa sahabatku. Alangkah baiknya jika kita menyudahi pengejaran bocah itu sampai disini. Sebab sangat kecil sekali kemungkinan bocah itu hidup kecuali dia memiliki nyawa sembilan rangkap. Tidak ada satupun mahluk hidup yang bisa selamat bila terjatuh ke bawah sana."

"Hmm, mungkin apa yang kau dan para sahabat katakan memang benar. Aku harap bocah itu sudah mampus sehingga tidak lagi menyusahkan kita di kemudian hari"

Sahut Pranajiwa setelah berpikir cukup lama.

"Jadi semua hutang darah dan nyawa Pendekar Sesat terhadap kita sudah selesai" Kata Giring Sabanaya dengan perasaan lega.

"Kita sekarang kembali ke bangunan tadi untuk menemul tujuh tokoh dari Puncak Akherat.

Mereka telah banyak membantu kita.Tanpa bantuan ke tujuh tokoh kita mungkin belum bisa menghabisi Pendekar Sesat dan para pengikutnya."

"Baiklah. Kita semua sepakat untuk kembali menemui ke tujuh tokoh dari Puncak Akherat karena mereka telah membantu tanpa pamrih."

Jelas Ariamaja yang sudah mengenal sifat ke tujuh tokoh tersebut.

Setelah mendengar penjelasan Ariamaja maka para tokoh dan seluruh yang hadir meninggalkan jurang Watu Remuk Raga.

Sesampainya mereka di halaman bangunan yang hancur porak poranda itu masih terlihat kepulan asap dan tumpukan bara yang menyala.

Ternyata tempat itu menjadi sunyi karena ke tujuh tokoh dari Puncak Akherat telah pergi. Di tempat itu masih tergantung mayat Pendekar Sesat dan para pengikutnya. "Ke tujuh tokoh Puncak Akherat benar-benar telah pergi. Mereka merasa telah selesai membantu dan segera berlalu dari tempat ini."

Gumam Ariamaja menyayangkan.

"Pranajiwa, aku Giring Sabanaya bersama para sahabat lainnya mohon pamit. Semoga kau betap tabah walau harus kehilangan kedua puterimu itu "

"Penyebab kematian kedua anakmu telah mendapat ganjaran yang setimpal dengan perbuatannya. Dan kita harus menyadari bahwa setiap ada kehidupan pasti ada kematian. Hanya setiap orang akan merasakan datangnya kematian itu berbeda-beda."

"Jika berminat datanglah menyambangi gubukku di Batu Balapulang. Kau masih ingat bukan? Di sana udaranya sejuk karena banyak gunung tinggi."

Pranajiwa hanya menganggukkan kepalanya, tidak menyahut Si Kedip Mata juga ikut berkata . "Maaf Pranajiwa, aku juga akan kembali ke Pasuruan bersama dengan pengikutku"

"Aku tidak punya sanak tidak punya kadang maka aku akan meneruskan pengembaraan. Siapa tahu bisa bernasib baik bertemu jodoh.Hihihi.."

Kata si gadis yang berjuluk Dewi Kipas Pelangi, lalu buru-buru tutupi wajahnya dengan kembangkan kipas kecil di depan hidungnya.

"Hei...kalau memang belum ketemu jodoh, aku bersedia menjadi pasangan jodohmu."

Sahut Ariamaja sambil mengulum senyum. Dewi kipas Pelangi pandangi pemuda itu sejenak. Lalu dengan seenaknya dia berkata .

"Kau hanya punya ilmu lari cepat seperti kuda. Ilmu kesaktianmu masih jauh dibawahku. Aku mendambakan pasanganku memiliki kesaktian lebih dariku, karena setiap laki-laki sudah sewajarnya berada di atas dan perempuan selalu dibawah. Hi...hi.....hi. !"

Ucapan sang dara karuan saja membuat suasana diwarnai dengan gelak tawa. "Dasar gadis genit."

Kata Giring Sabanaya sambil geleng kepala. "Sudahlah dia hanya bergurau,"

Menengahi Pranajiwa Sebelum rombongan berpisah untuk kembali ke tempatnya masing-masing, Pranajiwa sambil menjura hormat berkata .

"Tidak ada sesuatu yang layak yang dapat kuberikan kepada kalian. Dan aku hanya mengucapkan terima kasih atas bantuan kalian semuanya"

"Ha..ha...ha...Tidak usah sungkan atau merasa berhutang budi, Pranajiwa. Sebagai sahabat kita sudah selayaknya saling membantu."

Kata Giring Sabanaya mewakili orang-orang di sekelilingnya.

Setelah berkata demikian si kakek bersama para muridnya menggebah kudanya meninggalkan tempat itu. "Paman Pranajiwa, aku juga mohon pamit."

Ujar Dewi Kipas Pelangi segera siap pergi. Namun belum sempat langkahkan kakinya Pranajiwa berkata.

"Dewi, lebih baik menetap saja beberapa hari di kediamanku."

"Terima kasih, paman . Aku tidak bisa berlama-lama disini, karena aku masih mempunyai tugas yang harus diselesaikan."

Selesai berkata sang dara berkelebat tinggalkan tempat itu. Tidak mau ketinggalan Ariamaja pun berpamitan kepada Pranajiwa.

"Kau boleh pergi, Ariamaja!"

Kemudian pemuda itu anggukkan kepala dan memutar tubuh.

Begitu kakinya diayunkan maka dalam sekejab dia lenyap dari pandangan.

Pranajiwa kemudian melompat ke punggung kudanya dan tinggalkan tempat itu bersama dengan para muridnya.

Keadaan di banguan itu kembali sunyi.

Yang terdengar hanya gemeletak sisa-sisa kayu yang terbakar.

******

Tepat seperti dugaan orang-orang yang menginginkan kematiannya.

Jurang tempat di mana Pura Saketi menceburkan diri memang sangat dalam sekali. Di samping itu di bagian dasar jurang dipenuhi batu-batu hitam runcing.

Mahluk apapun jika sampai terperosok kedalamnya pasti akan mengalami celaka dengan tubuh tertembus batu-batu tajam berbentuk seperti mata tombak. Si bocah sendiri tidak dapat memikirkan apa yang bakal terjadi dibawah sana, karena jurang itu dalam keadaan gelap gulita.

Jangankan untuk melihat dibagian dasarnya, untuk melihat kedua sisi tebingnya saja tidak bisa.

Bagi bocah itu yang terpenting adalah bisa menyelamatkan diri dari kejaran Prana Jiwa dan orang-orang yang tergabung bersamanya.

Dia tidak ingin mati ditangan orang yang sangat dendam kepada ayahnya. Si Bocah merasa tidak bersalah karena dia tidak pernah tahu segala urusan serta tindakan keji yang dilakukan ayahnya si Pendekar Sesat.

Melompat ke jurang adalah satu-satunya jalan yang terbaik bagi sang bocah, Bagaimana nasibnya nanti setelah terhempas ke jurang Pura Suketi tidak perduli. Kematian setiap saat dapat terjadi kepada setiap mahluk yang bernyawa.

Itu kata-kata yang sering di dengarnya dari mulut ayahnya.

Jadi benar apa yang pernah dikatakan pendekar Sesat pada dirinya. Kematian itu kini memang menghampiri sang ayah.

Dia tewas dibunuh oleh tujuh tokoh dari puncak Akherat. Walau ayahnya adalah seorang pendekar yang memiliki ilmu kesaktian luar biasa, namun Tujuh Tokoh dari Puncak Akherat itu ternyata bukan manusia sembarangan.

Kekuatan mereka laksana topan yang sanggup menghancurkan gunung yang kokoh. Dan gunung itu bisa diibaratkan sebagai ayahnya.

Saat itu telah satu panah menembus pahanya dan satunya lagi menghunjam di bagian perut hingga tembus ke pinggang belakang, si bocah merasakan derita sakit yang sangat luar biasa.

Sambil menjerit panjang tubuh Pura Saket terus melayang dalam keadaan jungkir balik tak karuan menuju ke dasar jurang. Dan nampaknya nasib buruk segera dialami oleh bocah itu karena tepat dimana dirinya terjatuh terdapat puluhan batu runcing yang siap mencabik dirinya.

Suara jerit menyayat Pura Saketi ternyata mengusik perhatian satu sosok tubuh yang mendekam direlung dasar tebing sebelah kiri. Tempat dimana sosok itu mendekam dengan jatuhnya Pura Saketi sebenarnya cukup jauh.

Sosok dalam gelap direlung dasar tebing tiba-tiba membuka mulut berucap sendiri.

"Puluhan tahun aku terjebak terkurung ditempat celaka ini. Selama itu jangankan manusia, seekor monyet sekalipun belum pernah ada yang kesasar ke tempat ini!"

Sosok yang duduk sambil mendekam itu lalu bangkit.

Dia melangkah keluar tinggalkan ceruk yaitu cekungan dalam di bagian dasar tebing.

Memandang ke atas matanya yang sudah sangat terlatih dalam kegelapan segera melihat adanya satu sosok tubuh melayang-layang sejarak dua puluh tombak di depannya.

Sosok itu ternyata seorang kakek bercelana hitam dan memakai rompi hitam tak terkancing yang telah lapuk dimakan usia.

Si kakek belalakkan matanya yang cekung menjorok ke dalam rongganya.

Mulutnya menyeringai, wajah yang angker kotor dihiasi cambang janggut lebat tak terurus tampak kaku kelam seperti hantu kegelapan.

"Hmm, ada mahluk kesasar jatuh ke jurang ini. Kalau kubiarkan dia pasti mampus ditembus

batu-batu runcing. Seseorang mencampakkan atau membuangnya. Dunia sudah gila dan banyak orang orang tidak punya hati, membuang mayat sembarangan seperti anjing membuang kotoran!"

Setelah berucap demikian si kakek menggaruk rambutnya yang panjang riap-riapan tak terurus.

Orang tua ini lalu senyum-senyum sendiri, tapi kemudian dia malah berteriak sambil melontarkan caci maki.

Entah siapa yang dimakinya.

Yang jelas suaranya bergaung mengerikan seperti suara setan gentayangan penghuni dasar jurang.

Bersungut-sungut orang ini memutar tubuh siap kembali ke dalam ceruk tempat di mana tadinya dia mendekam. Tapi sekali lagi si kakek mendengar suara jerit menyayat. Alis matanya berjingkrak tegak mendengar teriakan itu.

"Setan alas. Siapa memangnya bangsat yang jatuh itu? Mengapa menjerit? Belum mati rupanya dia!"

Sambil menggeram demikian dia memutar tubuh, mata menatap nyalang. Dia melihat akar tumbuhan merambat bergelantungan menjuntai tidak jauh dari tempat dimana dirinya berada.

"Ingin kulihat siapa kunyuk yang jatuh itu? Apakah dia pantas ditolong ataukah lebih layak menjadi dendeng lezat pengisi perutku. Puluhan tahun aku hanya makan kodok dan ular berbisa. Sesekali mendapat hidangan istimewa merupakan anugerah dari setan. Ha ha ha!"

Orang tua itu tidak hanya mengumbar tawa.

Tapi seketika tubuhnya melesat melambung ke arah akar tumbuhan gantung disisi kiri jurang.

Begitu ujung akar gantung kena dicengkeramnya si kakek pun mengayunkan tubuhnya hingga melambung jauh ke atas.

Sebelum tubuh Pura Saketi benar-benar jatuh dibebatuan tajam orang tua itu telah menyambarnya.

Pura Saketi selamat.

Leher si bocah kena dicekal.

Sambil melayang turun sementara tangan kiri tetap memegangi ujung akar dia lemparkan bocah itu jatuh terpelanting tepat di depan tempat yang dia tinggal.

Sakit akibat tertancap dua anak panah ditambah rasa sakit luar biasa akibat dilemparkan orang membuat Pura Saketi tidak sadarkan diri.

Si kakek mendengus, pegangan pada ujung akar gantung dilepas.

Tubuhnya melayang ke arah mana si bocah terjatuh lalu jejakkan kedua kakinya tanpa suara. Tanpa perasaan dengan mata jelalatan dia pandangi bocah itu.

Sepasang mata yang menerawang kosong itu menyipit ketika melihat ada dua anak panah menancap di perut juga paha si bocah.

Selain kedua anak panah itu pakaian biru si bocah bagian punggung robek besar. Ada beberapa luka bekas sayatan dan bacokan yang terus meneteskan darah.

Si kakek yang semula tidak tertarik dengan keberadaan si bocah dan berniat hendak mempesiangi bocah itu pada keesokkan harinya kin mendekat menghampiri si bocah.

Dia kemudian berjongkok disamping Pura Saketi yang tidak sadarkan diri.

Setelah memperhatikan luka dipunggung dan mengamati dua anak panah yang menembus bagian tubuh disebelah bawah, tiba-tiba dia menyeringai.

"Beberapa orang mungkin telah menjadikan bocah ini sebagai binatang buruan.Dia diserang dan dihujani panah dari belakang. Apa dosanya hingga membuat bocah ini diperlakukan sekeji itu." Sejenak orang tua ini terdiam.

Dia lalu meraba nadi dipergelangan tangan Pura Saketi. Nadi masih berdenyut walau lemah.

"Bocah hebat, ternyata dia belum mampus, tidak modar walau mengalamali luka yang sangat sangat parah. Tapi siapa dia, anak siapa? Aku tidak perduli sekalipun dia anak setan. Aku tetap akan menjadikannya santapan yang lezat."

Wajah si kakek angker aneh nampak berseri-seri. Dia julurkan ludah basahi bibir. "Santapan besar, rejeki besar. Bocah ini dagingnya pasti enak..."

Setelah berkata demikian sambil tertawa cengengesan, si kakek segera patahkan ujung sebelah belakang panah yang menancap di pangkal paha Pura Saketi.

Kemudian dari arah depan panah ditariknya.

Setelah mencabut anak panah pertama dia segera mencabut anak panah kedua yang menancap di perut.

Ketika anak panah dicabut ada darah mengucur dari kedua luka itu.

Melihat darah mengalir dari luka mata si kakek jadi belingsatan selayaknya orang kehausan. "Darahnya pasti manis!"

Membatin orang tua itu dalam hati.

Tangan lalu dijulur siap menampung darah. Namun mendadak orang tua ini urungkan niat. Selintas pikiran dibalik akalnya yang memang tidak waras muncul.

"Bagaimana bila bocah ini ternyata bisa kumanfaatkan, mungkin dia akan berguna. Aku bisa membalaskan segala dendam dan sakit hati kepada para jahanam yang membuat diriku tenggelam ditempat ini selama-lamanya. Aku harus memeriksa tulangnya. Siapa tahu dialah orang yang kutunggu-tunggu selama ini."

Selanjutnya tanpa banyak cakap, si kakek segera julurkan jemari tangannya ke arah bagian belakang leher Pura Saketi.

Lima jemari tangan ditempelkan lalu digerakkan lurus sejajar dengan tulang belakang hingga sampa ­ kebagian pinggul, Tangan ditarik.

Wajah aneh muram berseriseri, sepasang mata yang kosong berbinar-binar.

"Aku dapat! Aku mendapatkan orang yang cocok untuk mewarisi segala ilmu yang ada padaku.

Bocah ini tulangnya yang sangat bagus malah nyaris sempurna. Pantas dia sanggup bertahan hidup. Sekarang aku harus menyembuhkan dari luka, pesta besar makanan lezat terpaksa aku urungkan, Bocah ini pantas menjadi muridku. Aku harus mewariskan segala ilmu kesaktianku padanya!"

Kata si kakek sambil mengumbar tawa tergelak.

Jurang yang sunyi mencekam berubah menjadi hingar bingar diwarnai gaung tawa orang tua itu.

Kedua sisi jurang bergetar seolah mau runtuh. Kawanan kelelawar yang mendiami sisi sebelah barat jurang yang gelap berhamburan terbang, sebagian diantaranya bahkan berkaparan tewas tak sanggup menahan pengaruh tawa manusia aneh itu.

Tawa si orang tua kemudian berhenti.

Dengan wajah sumringah selayaknya bocah yang mendapatkan mainan bagus, orang tua itu segera mengusap luka-luka di punggung Pura Saketi.

Sungguh hebat dan mengagumkan kesaktian yang dimiliki oleh kakek ini. Dengan sekali usapan saja luka dipunggung lenyap.

Dan ketika dia mengusap luka bekas ditembus anak panah dibagian perut dan pinggang lalu dilanjutkan pada luka dibagian paha di bocah.

Kedua luka itupun mendadak raib tanpa bekas sedikitpun. Walau si kakek sanggup menyembuhkan luka dengan mudah.

Namun Pura Saketi masih belum tunjukkan tanda-tanda sadarkan diri.

"Bocah ini terlalu banyak kehilangan darah. Itu yang membuatnya tidak segera sadarkan diri.

Tapi aku punya tempat yang bagus untuk memulihkannya dari segala derita yang masih tersimpan!" Sambil berkata demikian dia segera cekal lengan kanan Pura Saketi.

Selanjutnya sambil menyeret si bocah dia melangkah cepat menuju ke sebelah selatan ujung dasar jurang.

******

Puteri Manjangan Putih yang cantik memang sangat berwibawa. Ratu Buaya juga cantik sayang tidak menarik.

Yang paling cantik memesona tentunya Bunga Jelita.

Kecantikannya begitu sempurna, sayang dia pemalu dan ada kutil dibagian tumitnya. Mengingat gadis-gadis cantik itu membuat hidup terasa lebih indah dan bermakna.

Tapi segala keindahan yang sempat menari dalam benak Raja menguap lenyap begitu saja saat terlintas bayangan Nini Buyut Amukan menari-nari di depan matanya.

Nenek itu memang cantik, tapi genitnya luar biasa. Dua kali Raja sempat kecolongan dicium oleh si nenek.

Uh, ciumannya membuat Raja merinding dan rambut di kepalanya serasa seperti mau berguguran.

Pemuda itu bergidik.

Ciuman itu rasanya masih menempel, membekas dipipi, membuat Sang Maha Sakti Raja Gendeng 313 tanpa sadar mengusap pipi kirinya sehingga pipinya menjadi merah.

"Dicium gadis jelita merupakan sebuah anugerah. Tapi kalau Nini Buyut yang mencium rasanya seperti ditimpa musibah. Duh biyung...!" Sang pendekar mengusap wajahnya yang keringatan sambil terus ayunkan langkah. Tapi tidak berselang lama langkah pemuda itu terhenti.

Raja tertegun, memperhatikan sekelilingnya dengan tatap mata heran. Dia melihat pedataran luas yang ditumbuhi beberapa pohon tinggi.

Tidak ada bangunan atau seorang manusia di tempat itu.

Suara angin menderu-deru, namun anehnya Raja sama sekali tidak merasakan hembusannya. "Tempat apakah ini? Mengapa aku bisa kesasar ditempat ini tanpa menyadarinya?"

Gumam Raja heran.

"Mungkin ketika melamun, pikiranku dipenuhi gadis cantik dan nenek cantik itu sehingga tanpa kusadari langkah kaki membawaku ke tempat ini. Apakah mungkin aku telah tersesat disebuah tempat asing? Mungkinkah ini yang namanya neraka?"

Membatin Raja Gendeng 313.

Baru saja hatinya berkata demikian. Tiba-tiba saja disekelilingnya bermunculan titik api. Raja tertegun dan merasa heran.

"Api.. ada api bisa muncul dari dalam tanah?"

Kata pemuda itu lirih. Dia menatap kesekelilingnya.

"Astaga! Titik api muncul disekelilingku. Bagaimana kalau titik api itu tiba-tiba membesar? Oalah, aku bisa terpanggang hidup-hidup!"

Bhel! Wuus!

Secara mengejutkan sesuai dengan apa yang dikhawatirkan oleh Raja. Titik-titik api yang menyembur dari dalam tanah tiba-tiba membesar, menggeliat bergoyang seperti ular menari. Kobaran api tambah membesar lalu menyerang sang pendekar dari dari segala penjuru.

Mendapat serangan yang tidak terduga dan tak tahu dilakukan oleh siapa. Dalam keheranannya Raja segera lambungkan tubuhnya ke atas.

"Edan! Mengapa yang aku ucapkan berubah menjadi kenyataan. Tempat apakah ini? Mengapa alam menanggapi ucapanku dengan sebuah bukti yang membingungkan begini?"

Raja tidak sempat mencari jawaban atas semua keanehan yang terjadi. Karena saat itu jilatan lidah api terus mengejar ke arahnya.

Tidak ada pilihan lain.

Sambil terus lambungkan diri dari sambaran api pemuda ini segera hantamkan dua tangannya melepas pukulan Badai Es.

Dari kedua telapak tangan Raja menderu dua gelombang angin dahsyat bergulung-gulung disertai hawa dingin luar biasa melabrak sambaran api,

Brees! Blep!

Serangan lidah api yang datang dari bawah padam.

Raja pun melesat turun lalu jejakkan kaki tidak jauh dari tempat dimana titik api muncul "Huuu..ternyata aku tidak boleh bicara sembarangan. Mulut ini dilarang celamitan. Tapi apakah

benar demikian, apa benar aku berada disebuah tempat keramat?" Batin Raja sambil menghembuskan nafas dalam-dalam.

"Aneh memang aneh... api tidak mungkin muncul begitu saja. Segala sesuatu sekecil apapun pasti ada penyebabnya. Lalu siapa yang melakukan semua ini?"

Sekali lagi pemuda ini layangkan pandang.

Dikejauhan tiba-tiba saja dia melihat benda berkilau yang dipantulkan oleh cahaya matahari.

Benda berkilau itu seperti lempengan kaca Karena cahayanya terarah pada Raja maka pemuda ini pun menjadi kesilauan

"Benda apa itu?"

Raja segera melindungi matanya dengan telapak tangan.

"Mungkin yang punya tempat itu tidak senang aku berada di sini. Mengapa aku tadi melantur, pikiranku melayang teringat pada gadis-gadis cantik itu. Oalah.. apakah mungkin aku sudah tertarik pada Bunga Jelita, gadis cantik pemimpin pasukan kadipaten Salatigo? Baru bertemu gadis Salatigo saja aku sudah ngaco tidak karuan. Bagaimana kalau bertemu gadis Sala empat?"

Raja menyeringai dan berpikir sejenak lalu memutuskan untuk meninggalkan tempat itu.

Baru saja sang pendekar berniat tinggalkan tempat itu, tiba-tiba terdengar suara lengkingan menggeledek disertai sambaran angin keras.

Andai Raja tidak bersikap waspada, tubuhnya pasti sudah terjengkang kebelakang disapu hantaman angin yang melabraknya.

"Kurang ajar! Siapa yang telah menyerangku?" Seru sang pendekar merasa dipermainkan.

Dia menatap tajam ke arah dimana kilau cahaya muncul. Kilau cahaya lenyap. Suara lengkingan juga ikut raib.

Keadaan berubah menjadi sunyi.

Tapi kesunyian itu tidak berlangsung lama. Sekejab kemudian terdengar ada orang berkata.

"Wahai, pemuda gondrong berpakaian kelabu. Aku tidak perduli kau siapa dan datang dari mana. Seandainya kau dikirim oleh Iblis Gila sekalipun aku tidak perduli. Karena aku yakin jahanam satu itu kini telah mampus. Apapun yang menjadi tujuanmu datang ke tempat ini. Kuharap kau jangan pergi begitu saja seperti angin."

"Siapa yang bicara. Suaranya terdengar seperti suara orang yang berada didalam sumur atau liang lahat. Tapi dari getaran suaranya itu aku merasakan seperti suara penderitaan. Siapakah dia?" Gumam Raja sambil menatap ke arah datangnya Suara.

Pemuda ini tiba-tiba ingat pada dua jiwa penghuni hulu pedang sahabatnya. "Jiwa Pedang! Cari tahu siapa orang yang baru saja bicara denganku!"

Baru saja sang pendekar berucap demikian, tiba-tiba saja ada semilir angin berdesir menyambar bahu sebelah kanannya.

Beberapa helai rambut panjang pemuda itu berkibar-kibar disertai terdengarnya suara mengiang ditelinga kanan sang pendekar.

"Gusti... memanggil saya. Saya telah menghadap."

Kata Jiwa Pedang sang mahluk alam roh yang selalu bicara dengan Raja melalui suara mengiang.

Raja anggukkan kepala.

Belum sempat dia membuka mulut ada lagi angin berhembus ditelinga kiri pemuda itu yang disusul dengan terdengarnya mengiang suara perempuan.

"Gusti, Jiwa Pedang boleh saja disuruh-suruh dan diajak bicara? Saya, Sinta Dewi mohon diajak bercakap-cakap saja tapi jangan disuruh."

Mendengar ucapan mengiang sang jiwa perempuan yang bernama Sinta Dewi itu. Raja pun tersenyum.

"Kau hanya mau diajak bercakap-cakap, tapi tak mau melakukan sesuatu untukku? Apa gunanya kau bergabung dengan kami?"

"Bukan begitu gusti. Saya inikan gadis cantik. Saya tidak mau melakukan tugas yang berat.

Kalau yang ringan dan yang enak-enak saya pasti mau gusti!"

"Jangan dengarkan perempuan gila itu gusti. Dia gadis yang sangat cemburu terlebih bila melihat ada gadis cantik bersama gusti."

Kata Jiwa Pedang membuat Raja tak kuasa menahan tawa.

"Siapa bilang saya cemburu. Saya hanya merasa iri saja melihat manusia terutama gadis gadisnya yang cantik. Coba kalau saya mempunyai tubuh, punya raga yang dapat dilihat, pasti banyak laki-laki yang jatuh cinta pada saya.Hi hi!"

Kata gadis alam roh itu disertai tawa.

"Sudah, Bicara dengan gadis sepertimu memang menyebalkan!" Sentak Jiwa Pedang Kesal.

"Aku tidak mau bergurau terutama pada saat seperti ini, Sinta." Tukas sang pendekar. Kemudian pada Jiwa Pedang dia berkata.

"Jiwa sahabatku juga kau Sinta. Apakah kalian tahu siapa yang baru saja bicara dan menyerangku tanpa alasan yang jelas?"

"Hmm, kita akan segera mencari tahu. Di depan sana ada sebuah lubang menganga dalam. Segala masalah datangnya dari lubang itu bukan dari tanah tempat dimana gusti berada." Jelas Jiwa Pedang.

"Lubang? Mengapa banyak sekali orang yang suka mencari lubang atau berada dalam lubang.

Seperti jangkrik saja. Hik hik!"

Ucap mahluk alam roh itu sambil tertawa.

"Jangan bicara ngaco. Betapapun manusia tidak dapat melupakan asal usulnya bukan?" Sambut Raja.

Dengan wajah bersungguh-sungguh Raja kemudian lanjutkan ucapannya.

"Aku ingin kalian mencari tahu siapa orang yang mendekam di dalam lubang itu, seperti yang dikatakan Jiwa Pedang?"

"Tidak bisa gusti. Justru gusti yang harus segera ke sana?" Kata Jiwa Pedang.

"Apa maksudmu?"

Tanya Raja tidak mengerti.

"Begini. Walau saya dan Sinta tidak datang ke tempat itu. Dari sini kami sudah melihat memang ada orang mendekam dalam lubang. Orang itu berada di tengah kobaran api menyala."

"Ada orang berada di tengah kobaran api. Dan orang tersebut sanggup bertahan hidup? Aneh dan luar biasa!"

Desis sang pendekar heran sekaligus takjub.

"Wahai... mengapa kau tetap berada disitu seperti orang tolol? Kau tersenyum. Mulut bicara sendiri apa kau memang gila sungguhan?"

Sekali lagi terdengar suara ucapan ditujukan pada Raja.

"Eeh, memangnya siapa dirimu? Apakah ucapanmu ditujukan padaku? Mengapa kau menganggap aku orang gila?"

Kata pemuda itu pura-pura tidak mendengar ucapan orang dengan jelas

"Kau mengira hanya dirimu saja yang berada di tempat ini. Tempat ini terbuka. Tidakkah kau menyadari betapa rawannya tempat ini? Kau mencari mampus berani berada di alam terbuka?

Mengapa tidak segera mencari tempat yang aman, tempat untuk berlindung dari intaian berpasang pasang mata yang haus nyawa dan darah."

"Andai yang melihatmu cuma satu pasang mata mungkin kau bisa selamat. Tapi bagaimana bila yang melihat kehadiranmu berpasang-pasang mata. Tidak sedikit orang yang berkepandaian luar biasa hebat menemui ajal di tempat ini. Kalau mau selamat segera datanglah kepadaku.Kediamanku yang dingin sejuk ini.Ha ha ha!"

Raja terkesima dan terheran-heran mendengar ucapan orang yang terasa aneh dan membingungkan. "Apa maksud ucapannya?"

Tanya pemuda itu ditujukan pada dua mahluk alam gaib sahabatnya.

"Tidak ada siapa-siapa disekitar ini. Orang itu mungkin sengaja menakuti-nakuti gusti Raja." Terdengar suara mengiang di telinga kiri Raja.

"Tapi tunggu... mungkin saja dia tidak bergurau...!" Sentak Jiwa Pedang.

"Aku tidak melihat apa-apa, kau sendiri melihat apa Jiwa Pedang?" Tanya Raja.

"Ha ha ha! Segalanya jadi terlambat. Dasar manusia bodoh! " Seru orang yang berada dikejauhan di depan sana.

Kreeak...!

Terdengar suara jerit mengguntur diketinggian langit. Siang yang panas mendadak berubah menjadi gelap. Terkejut mendengar suara teriakan yang menyakitkan gendang-gendang telinga.

Raja Gendeng 313 dongakkan kepala menatap ke langit.

Pemuda ini tersentak. Mata terbelaiak, mulut ternganga menatap dengan penuh rasa tidak percaya pada apa yang dilihatnya diketinggian sana.

Di atas awan seolah datang dari atas langit ketujuh bermunculan sedikitnya lima mahluk berwujud seperti elang namun mempunyai sayap tidak ubahnya kelelawar. Sedemikian besarnya kelima mahluk hitam itu sehingga bentangan kedua sayapnya sanggup menghalangi cahaya matahari yang menyentuh kawasan luas yang berada di bawahnya.

"Aku tidak pernah melihat ada mahluk sebesar dan seaneh ini. Jiwa pedang sahabatku! Paman Pelintas Samudera sekalipun besarnya tidak sama seperti mereka?"

Desis Raja dengan suara bergetar.

Pelintas Samudera adalah seekor Rajawali berbulu putih. Binatang itu berdiam di Pulau Es.

Namun bila dibutuhkan sewaktu-waktu dapat dipanggil oleh Raja

"Rajawali Putih binatang tunggangan gusti ukurannya memang sedikit lebih kecil. Tapi dia jauh lebih gesit, lebih cepat dan mungkin lebih sakti."

Jawab Jiwa Pedang yang memang mengenal burung Rajawali sahabat Raja.

Berbeda dengan Sinta Dewi Gadis alam roh itu tentunya tidak mengenal Sang Pelintas Samudera.

Tidaklah heran diapun bertanya.

"Pelintas Samudera? Rajawali Putih.. memangnya gusti memiliki burung piaraan yang lain? Selain yang asli?!"

"Gadis kurang ajar! Kau tak tahu apa-apa tentang kehidupan masa lalu gusti Raja. Lebih baik diam! Kelima mahluk itu nampaknya siap turun kemari untuk memangsa gusti Raja!" Sentak Jiwa Pedang cemas. Sinta terdiam.

Dia yang saat itu berdiri mengapung disebelah kiri Raja memandang ke atas. Ternyata Jiwa Pedang memang tidak bicara berlebihan.

Saat itu kelima mahluk elang bersayap kelelawar, terbang berputar membubung tinggi dan siap melabrak ke bawah.

Begitu kelima mahluk luar biasa ini jungkirkan kepala kebawah.

Kelimanya melesat kebawah dengan kecepatan seperti kilat menyambar disertai suara bergemuruh mengerikan.

Ketika kelima mahluk raksasa melesat sambil kibaskan dua sayap ke arah Raja. Suara bergemuruh terdengar disertai dengan hembusan angin dingin luar biasa hebat.

Satu mahluk saja kepakan sayap sudah membuat pepohonan rontok dan bebatuan berterbangan diudara.

Apalagi kelima mahluk itu datang menyerbu sekalipun dengan paruh besar ternganga bergerigi ditambah bentangan sayap yang tipis tajam tentu sangat membahayakan keselamatan sang pendekar.

Tidak ada kesempatan bagi Raja untuk memikirkan kelima mahluk pemangsa itu lebih lama.

Dia pun jatuhkan diri, bergulingan kesamping dekat pohon besar rimbun yang berada tidak jauh disebelah kanannya. Sambil bergulingan pemuda ini sempatkan diri hantamkan kedua tangannya ke arah lima mahluk penyerang yang saat itu telah berada diketinggian sekitar tiga tombak

Wuus! Wuut!

Tidak kepalang tanggung.

Raja menghantam kelima mahluk itu dengan pukulan sakti Badai Serat Jiwa dan pukulan Cakar Sakti Rajawali.

Lima cahaya kemilau berwarna putih dan biru menderu dari telapak tangan kiri Raja sedangkan dari telapak tangan kanannya berkiblat pula lima larik cahaya putih menyilaukan menebar hawa panas luar biasa.

Sepuluh cahaya menghantam kelima mahluk.

Tapi belum mencapai sasaran yang dituju serangan itu kandas dihantam sayap kelima mahluk itu "Wah, celaka! Seranganku dapat mereka halau dengan mudah!"

Desis Raja yang baru saja mencapai bawah pohon.

Belum sempat pemuda ini berdiri tegak kelima mahluk keluarkan pekikan keras.

Sayap-sayapnya yang tajam menghantam bagian sebelah atas yang dijadikan tempat berlindung pemuda itu. Hrih..! Breees!

Laksana dibabat selusin pedang yang luar biasa tajamnya, pucuk pohon, ranting, cabang hingga bagian batang di sebelah atas hancur berguguran.

Puing-puing dan potongan kayu berpentalan diudara, lalu melayang jatuh menimbulkan kegaduhan.

Raja melesat ke tempat yang aman, sementara lima mahluk begitu gagal pada serangan pertama segera membubung tinggi siap lancarkan serangan kedua

"Mahluk-mahluk itu mempunyai senjata mematikan. Dua pukulan yang kulepaskan jangankan mencederai, menyentuh pun tidak sanggup!"

Desis Raja sambil julurkan lidah namun perhatiannya tetap tertuju ke angkasa

"Biarkan kami membantu, gusti. Mereka bukan mahluk yang tidak mengenal mati. Pasti ada cara untuk menghabisinya!"

Kata Jiwa Pedang

"Mereka berada diketinggian. Pukulan saktiku yang paling hebat sekalipun tidak mungkin bisa menjangkaunya!"

"Kami akan menyerang dengan pedang Gila!"

Sahut Sinta

"Bagus kalau kalian mau membantu, Tidak bersikap diam saja seperti mahluk-mahluk yang bodoh!"

Sahut Raja sambil menyeringai

"Bantuan diberikan. Pedang siap menebas kepala mahluk-mahluk itu!" Suara mengiang Jiwa Pedang dan Sinta terdengar bersamaan

Sringg!

Terdengar suara pedang dicabut dari rangka yang tergantung dipunggung sang Pendekar.

Pedang meliuk-liuk di udara, lalu melesat mengejar ke arah kelima mahluk raksasa yang kini telah berbalik arah, kepala menghadap ke bawah, menukik tajam siap menyambar sasarannya.

Dari sebelah bawah Pedang Gila yang sesungguhnya dapat bergerak dengan sendirinya, kini berada dalam kendali Jiwa Pedang juga Sinta yang terus mengiringi dari sebelah belakang.

Pedang Gila terus menderu dengan kecepatan luar biasa.

Cahaya kuning kemilau laksana cahaya emas menembus kesegenap penjuru, membuat mata kelima mahluk yang berwarna kecoklatan kesilauan.

Gerakan kelima mahluk sempat tertahan. "Hantam yang di tengah terlebih dahulu!" Sinta memberi tahu Jiwa Pedang. "Aku tahu. Kau hantam segera dua mahluk yang berada di sebelah kirimu. Kalau perlu dengan segala kekuatanmu!"

Perintah Jiwa Pedang.

Setelah berkata demikian Jiwa Pedang menggenggam bagian hulu pedang erat-erat.

Pedang kemudian diayun membabat kepala dan sayap mahluk paling besar yang agaknya bertindak sebagai pimpinan.

Mahluk itu berkelit, tapi paruhnya membuka berusaha menyambar pedang yang menderu ke arahnya.

Gerakan paruh burung ternyata kalah cepat dengan gerakan senjata.

Begitu luput dari paruh pedang melesat membabat leher sang mahluk yang besarnya hampir sama dengan batang kelapa.

Craas! Breet!

Tidak hanya kepala yang kena dibabat putus bagian sayap sebelah kiri juga ikut kena ditebas.

Kepala melesat melayang jatuh.

Darah hitam menyembur.

Sepotong sayap sepanjang belasan tombak yang putus ikut melayang, bagian tubuh itu menyusul kemudian. Melihat pimpinannya menemui ajal, empat mahluk menjadi murka, Dua lainnya segera meluncur deras ke bawah ke arah Raja.

Sedangkan yang dua lagi tertahan oleh Sinta yang telah berubah menjelma menjadi sosok serba putih.

"Selesaikan mahluk bersayap yang kepalanya paling botak itu!" Teriak Jiwa Pedang.

"Jangan cerewet! Aku sedang mengusahakannya!" Sahut Sinta.

Dan tentu saja pembicaraan yang terjadi diantara kedua mahluk alam gaib itu hanya bisa didengar oleh Raja saja.

Sosok serba putih tembus pandang jelmaan Sinta tiba-tiba melesat ke depan.

Melewati paruh dan kepala sang mahluk lalu bertengger diatas leher kokoh sang mahluk. Lalu dengan kekuatan penuh dia menghantam batok kepala sang mahluk.

Walau telah berusaha menghindar namun mahluk ini tidak sempat selamatkan kepalanya yang dikepruk. Sang mahluk memekik keras.

Kepalanya berderak hancur.

Dalam keadaan berkelonjotan mahluk ini melayang jatuh.

Sementara pada waktu yang sama Jiwa Pedang juga berhasil menghantam punggung mahluk lainnya. Disebelah bawah, suara berdebum jatuhnya mahluk-mahluk raksasa itu terdengar susul menyusul.

Tanah bergetar, debu-debu dan pasir bermuncratan di udara. Apa yang dilakukan oleh kedua jiwa sahabatnya memang sempat membuat Raja Gedeng 313 merasa lega.

Namun dia sendiri saat itu tengah menghadapi serbuan ganas dua mahluk bersayap lainnya.

Dengan sepasang sayapnya yang lebar dan tajam luar biasa, kedua mahluk menghantam silih berganti.

Walau telah menggunakan Jurus Tangan Dewa Menggusur Gunung yang dipadukan dengan jurus Tarian Sang Rajawali, namun Raja agak kewalahan menghadapi gempuran kedua mahluk itu. Apalagi kedua lawan menggunakan juga paruhnya yang tajam melengkung untuk menyerang.

Raja terpaksa melompat menghindar sambil melepaskan pukulan Cakra Hallillintar

"Setan alas! Aku sungguh-sungguh dibuat repot oleh serangan mahluk ini. Kalau Cakra Halilintar tidak sanggup menghantar mereka ke liang kubur. Kemungkinan aku yang bakal menjad korban, Mati dalam kebahagiaan? Andai itu bisa kualami!"

Dua cahaya laksana kilat menyambar, menderu dari setiap ujung jemari tangan sang pendekar, kilatan cahaya terang benderang menebar hawa panas bukan kepalang lalu menghantam dua mahluk yang mengayunkan sayap dan paruh ke arahnya

Blar! Buum!

Dua serangan sakti melabrak kedua mahluk Itu, membuat keduanya terguncang keras, terdorong melambung diketinggian sambil keluarkan pekikan keras .Mahluk itu terluka namun tidak mati.

Malah kini terlihat bertambah beringas dan kembali menyerang Raja dengan segenap kekuatan yang mereka miliki

"Mati bahagia.... mati bahagia..."

Seru Raja yang kembali salurkan tenaga dalam kebagian kedua belah tangan, Selagi Raja siap hendak menggempur kedua lawan dengan ilmu sakti Seribu Jejak Kematian.

Disaat itulah tiba-tiba dia merasakan ada keanehan terjadi pada dirinya. Tiba-tiba saja sekujur tubuhnya bergetar.

Pemuda ini kemudian bergoyang, mulut tersenyum. Sementara tanpa dia sadari ada rasa bahagia luar biasa yang mendadak muncul dari dasar relung hati.

Sekujur tubuhnya memancarkan cahaya putih. Bukan hanya tubuhnya saja yang putih berkilau tetapi rambutnya juga berkilau memutih laksana perak

"Oh dewa, aku bahagia...betapa aku teramat sangat bahagia. Terima kasih dewa kau penuhi jwa ragaku dengan kebahagiaan!"

Seru Raja sambil tertawa tergelak-gelak. "Kebahagiaan datang menghampiri Jiwa yang tulus dalam keikhlasan. Bila kebahagiaan bersemayam dalam diri seseorang yang tidak mengagulkan kedudukan, keturunan dan berjalan di bumi dengan kepala menunduk. Siapapun yang telah mencapai tujuan yang tertinggi ini, maka dia tidak akan tersentuh oleh bencana, marabahaya serta kejahatan yang dilakukan oleh sesama mahluk hidup!"

Berkata satu suara. Dan Raja ingat suara itu adalah suara puteri Manjangan Putih.

"Gadis itu... Jadi benar seperti yang dikatakannya bahwa aku telah mewarisi ilmu Kebahagiaan saat berada di Istana Satu?"

Desis sang pendekar dengan takjub sambil memperhatikan diri sendiri.

Untuk lebih jelas siapa adanya puteri Manjangan Putih dapat diikuti episode 'Perawan Bayangan Rembulan'

Raja pun terus tersenyum dalam kebahagiaan yang sulit untuk dilukiskan dengan kata-kata.

Segala keanehan yang terjadi pada Raja tidak hanya membuat Jiwa Pedang dan Sinta yang siap mengembalikan pedang ke rangkanya tertegun.

Sebaliknya dua mahluk bersayap itu pun sempat beliakkan kedua matanya

"Sinta..kau lihat mengapa tiba-tiba tubuh gusti dipenuhi cahaya putih. Dan rambutnya itu..bagaimana bisa ikut memutih?"

Desis Jiwa Pedang heran.

"Aku tidak khawatir dengan perubahan rambutnya. Yang mengherankan mengapa dia terus tertawa. Maut mengancam di depan mata dia kok malah tertawa. Jangan-jangan paduka Raja sudah menjadi gila sungguhan!"

Timpal Sinta.

Selagi kedua sahabat Raja dibuat terpana dengan perubahan yang terjadi pada diri sang pendekar.

Dua mahluk bersayap yang menyerang ternyata sudah dapat menguasal diri. Kemudian tanpa menghiraukan keanehan yang terjadi pada lawan.

Keduanya pun segera menyerang dengan hantaman paruh dan kepakan sayap.

Melihat serangan ganas kedua mahluk, sang pendekar malah lindungi wajah sambil berujar, "Oalah... rupanya ada saja yang merasa sirik melihat orang bahagia!"

Karena Raja tidak berusaha menyelamatkan diri atau bergeser dari tempatnya.

Dengan telak serangan kedua lawannya menghantam tubuh Raja dari kepala hingga ke kaki. Namun apa yang terjadi kemudian sungguh sangat luar biasa.

Begitu sayap dan paruh kedua mahluk menyentuh tubuh dan kedua bagian bahu Raja, Seketika itu pula kedua mahluk bersayap menjerit keras.

Tubuh mereka terpelanting seperti ada dua kekuatan luar biasa besar menghantam mereka. Kedua mahluk jatuh bergedebukan.

Tubuh mereka dirayapi api dari bagian paruh dan sayap yang kemudian menjalar memberangus bagian tubuh lainnya. Dua mahluk menjerit keras, menggelepar lalu meledak berubah menjadi serpihan daging hangus.

Raja tercengang

"Hei.. kebahagiaan yang kurasakan bahkan sanggup menghancurkan kedua mahluk itu. Aneh..." Desis Raja sambil memperhatikan dirinya sendiri yang masih diselimuti cahaya.

"Ilmu Kebahagian. Jadi benar aku telah mewarisi ilmu langka yang bernama Ilmu Kebahagiaan?" Perlahan dia menarik kembali tenaga sakti yang disalurkan kesegenap penjuru tubuh.

Bersamaan dengan penarikan tenaga dalamnya seketika itu juga cahaya yang memancar dari tubuhnya lenyap.

Bahkan rambutnya yang berwarna putih laksana perak kembali berubah ke warna semula. Raja merasa terharu.

Ingat dengan kemurahan hati Puteri Manjangan Putih. "Terima kasih dewa, terima kasih Puteri Manjangan Pubih!" Gumam pemuda itu berulang kali.

Pemuda ini kemudian memanggil pedangnya.

Dan kemudian Pedang Gila menderu ke arah punggung lalu Treek!

Pedang Gila langsung masuk ke dalam rangkanya, Sementara Jiwa Pedang dan Sinta sudah berdiri di depannya

"Gusti... kami telah membunuh tiga mahluk bersayap itu. Dan gusti membunuh dua diantaranya tanpa menyentuhnya. Semua itu sangat menakjubkan. Apa yang telah gusti lakukan?"

Tanya Sinta sambil menatap Raja penuh arti dan kekaguman. Tentu saja Raja tidak melihat betapa Sinta menatapnya dengan wajah berseri dan mata berbinar-binar, karena sang pendekar memang tidak dapat melihat kedua mahluk alam roh itu.

Dia hanya bisa merasakan kehadiran mereka dan mendengar suara mereka saja.

"Benar gusti. Kami Ingin tahu ilmu apa yang gusti gunakan. Tidak biasanya tubuh gusti bercahaya seperti itu. Dua mahluk bersayap binasa hanya karena mereka menghantam tubuh gusti!"

Ucap Jiwa Pedang pula.

Raja menggaruk kepala lalu tersenyum

"Aku mendapat berkah ketika berkunjung ke Istana Satu, Istana Kebahagian. Berkat kemurahan dewa ketika berada di Istana Satu aku dikarunia ilmu langka bernama Illmu Kebahagiaan. Imu tadi yang telah membunuh dua mahluk dan itu bekerja dengan sendirinya begitu aku menyebut kata Bahagia' berulangkali. Aku merasakan kedamaian yang luar biasa berkat ilmu itu. Aku seperti berada di surga yang paling indah."

Ucap Raja Gendeng 313 dengan wajah cerah sumringah

"Luar biasa.Kebahagiaan menjadi tujuan setiap manusia.Untuk mencapainya tidaklah mudah. Gusti mendapatkan anugerah itu. Tidak semua manusia yang telah memiliki kepandaian tinggi sekalipun yang memilikinya."

Kata Jiwa Pedang

"Sudah selayaknya gusti bersyukur dan kita semua mensyukuri amanah yang langka ini." Kata Sinta pula,

"Ya... syukur... syukur!"

Sambut Raja dengan kepala terangguk-angguk.

"Hei...gondrong aneh. Selain gendeng ternyata kau pemuda hebat. Seumur hidup aku berada di tempat ini. Baru kau seorang yang sanggup membunuh kelima mahluk buas itu. Kau punya senjata aneh yang bisa terbang. Tubuhmu pun bisa memancarkan cahaya. Segala keganjilan yang ada padamu sungguh membuatku kagum. Kemarilah wahai gondrong. Kau harus mengenalku dan kau harus pula tahu siapa aku!"

Seru suara dari dalam lubang dikejauhan sana.

"Orang itu sejak tadi terus saja bicara. Aku jadi penasaran dan ingin tahu siapa sesungguhnya dia."

Setelah berkata begitu Raja berkata kepada kedua sahabat gaibnya.

"Kalian kembalilah ke hulu pedang. Jangan bicara kalau aku tidak bertanya." "Baiklah, gusti."

Sahut Jiwa Pedang dan Sinta. Pemuda ini kemudian merasakan ada desir angin melewati bahu menuju ke arah pedang yang bergantung di punggungnya. Setelah kedua sahabat kembali ke tempatnya. Dia pun bergegas menuju ke lubang dari mana suara berasal.

****

Di balik relung tebing. kakek angker yang kerap, tertawa, menangis atau bicara seorang diri ini ternyata mempunyai sebuah tempat rahasia. Tempat ini biasanya dipergunakannya untuk memperdalam jurus-jurus maut dan ilmu kesaktiannya.

Berbeda dengan keadaan jurang di mana Pura Saketi terjatuh yang selalu diselimuti kegelapan. Sebaliknya tempat rahasia yang terletak disebelah dalam relung tebing ini ternyata selalu terang karena ada semburan api yang berpijar dari setiap sudut.

Puluhan tahun terjebak ditempat itu si kakek tidak pernah tahu seberapa luas tempat yang diberinya nama Ruang Menyusun Rencana ini.

Dia sendiri tidak pernah menyelidiki keseluruhan penjuru sudut kawasan yang dipenuhi bebatuan dan juga beberapa gua. Si kakek yang dikenal dengan sebutan Iblis Kolot hanya mempergunakan tempat yang berpenerangan ini untuk melatih dirinya.

Dua hari sejak Pura Saketi terjatuh, Iblis Kolot sengaja membaringkan si bocah di satu tempat yang gelap sempit namun memiliki udara yang hangat. Tindakan ini dilakukan untuk membuka jalur darah, memperbaiki otot serta tulang punggung si bocah yang mengalami kerusakan.

Beberapa hari kemudian ketika si bocah tersadar dan tubuhnya sudah pulih seperti sediakala, Iblis Kolot membawa Pura Saketi ke tempat luas yang memiliki penerangan alami ini. Di bawah semburan api yang serba merah, Pura Saketi yang saat itu duduk di atas batu bundar perlahan angkat kepala dan menatap kedepan. Telinganya mendengar suara langkah-langkah kaki mendekat ke arahnya.

Bocah remaja itu terkesiap ketika melihat sosok seorang kakek berambut panjang riap-riapan berdiri tegak sambil menyeringai dan berkacak pinggang.

"Kau terkejut melihat diriku? Apakah tampangku tidak sedap dipandang? Ataukah wajahku tidak setampan ayahmu dan tidak secantik ibumu?"

Kata Iblis Kolot dengan suara menggembor memecah keheningan. Pura Saketi terdiam. Selain bingung karena tidak tahu dirinya berada dimana. Dia pun merasa takut melihat kakek berwajah angker menyeramkan itu.

Dari penampilannya si kakek tidak layak disebut manusia. Dia lebih pantas disebut setan kubur yang baru bangkit dari neraka.

"Dimana diriku? Siapa kakek ini?"

Batin Pura Saketi sambil berusaha keras mengingat-ingat.

"Aku terjatuh, aku menceburkan diri ke jurang. Ada dua anak panah menembus perut dan pahaku!"

Pura Saketi lalu mengusap perut sambil meraba bagian pahanya yang tertembus panah.

Diam-diam dia terkejut tapi juga bersyukur ketika dapati perutnya tidak terluka dan pahanya baik-baik saja.

Dua anak panah lenyap.

Dan dia dalam keadaan tidak kekurangan sesuatu.

"Siapa yang menolongku? Kakek yang berdiri dihadapanku inikah?" Pikir si bocah.

"Bocah keparat! Ditanya tidak menjawab kau malah melamun seperti orang tolol!" Hardik si kakek. Matanya mendelik belingsatan.

"Eeh... maafkan aku... kek. Aku memang kaget. Aku terkejut bukan melihat wajahmu, aku hanya bertanya-tanya mengapa aku berada di sini."

Jawab Pura Saketi gelagapan walau dia telah berusaha bersikap tenang. Si kakek mendengus, lalu tertawa-tawa dan memaki tidak karuan.

"Manusia aneh. Keadaannya seperti orang yang tidak waras. Mungkinkah dia gila?"

Pikir Pura Saketi. Baru saja si bocah berkata di dalam hati, tawa Iblis Kolot serta merta terhenti.

Matanya yang merah mendelik ke arahnya.

"Bocah keparat! Jangan membicarakan aku walau cuma di hati " "Maaf kek..!"

"Maaf? Apakah hanya kalimat itu yang bisa kau katakan. Kepalamu tidak terluka. Otakmu utuh tubuhmu bahkan tidak kekurangan sesuatu. Tapi... kalau aku tidak menolongmu, kau sudah mampus didasar jurang. Kau pasti telah jadi arwah gentayangan yang cuma bisa memendam rasa penasaran selama langit terbentang."

Gerutu Iblis Kolot.

Pura Saketi beringsut mundur karena dengan tidak diduga tiba-tiba kakek itu datang mendekat.

Si kakek kemudian duduk begitu saja, menjelepok di atas sepotong batu tak jauh dari batu bundar yang diduduki si bocah, Karena jaraknya yang demikian dekat Pura Saketi dapat mengendus bau tubuh si kakek.

Bau busuk keringat yang menandakan orang yang di depannya ini tidak pernah tersentuh air selama puluhan tahun. Takut menyinggung perasaan orang yang tidak dikenalnya, Pura Saketi memilih berdiam diri

"Bocah, kau telah selamat. Dan kau berhutang nyawa padaku. Sebelum aku memutusaian untuk melakukan sesuatu terhadapmu. Sebaiknya katakan padaku siapa yang telah melemparmu dar atas jurang sana?"

Pertanyaan itu segera mengingatkan si bocah dengan kejadian yang dialami ayahnya dan para pengikutnya.

"Aku menceburkan diri ke jurang kek. Tindakan itu untuk menghindari kejaran orang-orang yang menginginkan kematianku,"

Kata Pura Saketi membuat Iblis Kolot tertegun lalu geleng geleng kepala.

"Kau tidak gila. Pasti ada alasan yang kuat yang membuatmu bertindak nekat! Jawab pertanyaanku, jangan ngaco jangan berdusta!"

Pura Saketi memberanikan diri tatap wajah orang di depannya.

"Orang-orang itu telah membunuh ayahku. Setelah ayah dan pengikutnya terbunuh mereka juga hendak menghabisi aku."

Jelas si bocah.

Dia pun lalu menceritakan siapa ayahnya dan siapa siapa saja yang telah melakukan penyerbuan ke tempat tinggal mereka.

Selesai mendengar penuturan Pura Saketi, Iblis Kolot yang juga dikenal dengan julukan Iblis Gila tak kuasa menahan tawa. Suara tawa si kakek membuat tanah dan dinding-dinding batu berguncang keras. Suara itu juga mirip dengan suara raungan mahluk penghuni neraka.

Mendengar tawa si kakek si bocah bergidik dan usap tengkuknya yang terasa dingin. Tawa si kakek kemudian lenyap, mata angker aneh itu tertuju lurus ke arah Pura Saketi. Kemudian bibir yang tertutup kumis dan janggut tebal kotor itu membuka.

"Nama Pendekar Sesat rasanya tidak asing ditelingaku. Aku sangat suka dengan segala tingkah dan perbuatannya. Ayahmu kerap menebar kejahatan di delapan penjuru angin, Selain itu dia juga gemar mengumpulkan perawan dan gadis cantik. Dia bebas bertindak semaunya. Banyak orang takut dengan kekejamannya. Andai aku hidup di luar jurang ini aku pasti sudah bergabung dengannya.

Berpesta pora menebar angkara murka juga salah satu kegemaranku!"

Mendengar ucapan Iblis Kolot, sadarlah Pura Saketi manusia seperti apa orang yang berada di hadapannya itu.

Dia yang tadi hendak ajukan pertanyaan mengapa si kakek bisa berada didasar jurang maut tersebut terpaksa batalkan keinginan dan telan pertanyaannya kembali

"Bocah siapa namamu?"

Tanya Iblis Kolot sambil memegang bahu Pura Saketi. "Namaku Pura... Pura Saketi.. kau sendiri siapa kek?" Si bocah sebutkan nama dan balik bertanya.

"Apa perlunya kau tahu namaku? Orang memanggilku dengan sebutan Iblis Kolot, namun mereka yang berseberangan jalan hidupnya denganku memanggilku Iblis Gila!"

Dia berharap Pura Saketi terkejut begitu mendengar namanya.

Tapi si bocah ternyata diam saja karena dia tidak pernah mengenal nama Iblis Kolot

"Kau tidak kaget.Jika orang lain pasti bisa mati mendadak begitu mendengar namaku.Tapi aku tidak perduli. Dimataku ayahmu, Pendekar Sesat itu adalah manusia yang sangat luar biasa.Kau harus bisa membalas kematian ayahmu!"

Tegas Iblis Kolot bersemangat. Mendengar ucapan ini justru Pura Saketi langsung terdiam "Apa yang kau pikirkan. Aku bisa mengajarimu jurus-jurus hebat dan mewariskan ilmu pukulan

sakti yang sulit dicari tandingannya."

"Kek... mengapa aku harus membalas kematian ayahku? Bukankah apa yang dialaminya sudah sepadan dengan segala yang diperbuatnya, Tidak terhitung berapa banyak yang terbunuh ditangannya. Ayah juga kerap menculik gadis-gadis cantik. Pranajiwa telah kehilangan dua putrinya. Yang lain kehilangan sanak dan kerabat. Bila kemudian mereka bergabung dan menyerang ayah.

Sebagai anak, saya sendiri tidak dapat menyalahkan mereka yang telah menghabisi ayah!"

Diluar dugaan tiba-tiba Iblis Kolot menampar Pura Saketi hingga membuat bocah itu terpelanting.Pipinya menjadi merah. Lima jari Iblis Kolot membekas di pipi itu.

Darah mengucur dari bibir Puri Saketi yang terluka.

Dengan tubuh menggigil di dera rasa takut juga kemarahan si bocah bangkit. Sambil mengusap pipinya yang panas si bocah bertanya dengan suara bergetar.

"Kek mengapa kau menamparku? Apa salahku..." Iblis Kolot menggeram.

Tangan terjulur siap mencekik leher si bocah, namun entah mengapa dia ragu dan cepat tarik kembali tangannya.

"Bocah tolol, anak yang tidak berguna dan tak berbakti pada orang tua. Ayahmu mati dibunuh orang, kau bersikap tenang dan tidak perduli. Kau malah beranggapan yang dialami oleh ayahmu sebagai sesuatu yang lumrah dan sesuai dengan apa yang telah diperbuatnya? Jadi kau tidak punya keinginan untuk menuntut balas pada orang-orang yang menganggap dirinya seperti manusia suci?"

Pura Saketi terdiam.

"Kau hanya diam? Anak seperti apa dirimu ini?!" Sembur si kakek lagi tambah kesal.

"Kau harus melakukan sesuatu agar arwah ayahmu bisa tenang di alam sana."

"Watak dan pendirian Iblis Kolot ternyata tidak berbeda dengan sifat ayahku. Mengapa aku harus bertemu dengan orang tua seperti dia?"

Lalu si bocah berkata.

"Apa yang harus aku lakukan? Pentolan para penyerbu itu ilmunya cukup tinggi. Di samping itu mereka juga dibantu oleh Tujuh Tokoh...!"

"Tujuh Tokoh Dari Puncak Akherat."

Iblis Kolot menyambung ucapan Pura Saketi. Si bocah anggukkan kepala.

"Manusia-manusia jahanam itu. Akan tiba waktunya bagiku untuk melenyapkan mereka dari dunia ini." Kata Iblis Kolot sambil kepalkan tinjunya

"Kakek... kau bicara apa? Memangnya kau mengenal Tujuh Tokoh Dari Puncak Akherat?"

Tanya Pura Saketi

"Perlu apa kau tanyakan hal itu.Lebih baik pikirkan dirimu sendiri. Mulai sekarang kau harus menjadi muridku.Aku akan menggembleng dan menjadikanmu manusia yang jauh lebih hebat dari ayahmu. Aku memiliki ilmu, jurus serta pukulan pukulan sakti.Dalam beberapa purnama ke depan aku yakin kau telah mewarisi segala ilmu yang kumiliki"

"Tapi kek...ilmu kesaktian hanya membuat seseorang menjadi takabur! Aku tak mau menjadi seperti ayahku!"

"Kalau kau tidak mau menuruti perintahku, aku menganggapmu sebagai anak yang tidak berguna. Jika tidak berguna buat apa kau berada di sini? Lebih baik kujadikan kau sebagai santapanku Ha ha ha!"

Ancaman Iblis Kolot tentu bukan cuma sekadar gertak belaka.

Sebab puluhan tahun yang silam selama malang melintang dirimba persilatan tidak sedikit bayi yang dijadikan korbannya. Pura Saketi terdiam lagi, Dalam diam rasa takut kembali datang menghantui.

Tapi dia sadar.

Dia memang tidak punya pilihan lain.

Perlahan dia mengangkat wajah lalu tatap wajah kakek angker. "Apakah benar kau hendak mengangkatku sebagai murid?"

Dalam keraguan si bocah ajukan pertanyaan

"Mengapa tidak? Kau bakal menjadi manusia yang hebat. Nantinya kau tidak dikejar atau diburu seperti binatang, tapi kaulah yang akan bertindak sebagai pemburunya. Ha ha ha!"

"Hm,kalau memang sudah menjadi keputusanmu. Aku tak akan menolak.Segalanya kuserahkan padamu kek."

"Ha ha ha! Bagus... bagus..."

Sambut Iblis Kolot lalu peluk Pura Saketi untuk mengungkapkan kegembiraannya.

Hari-hari selanjutnya bocah remaja itupun berada dalam gemblengan si kakek. Karena pada dasarnya Pura Saketi memang memiliki susunan tulang yang bagus, otot yang lentur serta jantung dan jalur darah yang baik. Ditambah si bocah juga pernah mendapat pelajaran ilmu silat dari ayahnya. Maka semua jurus-jurus silat, ilmu pukulan yang diturunkan oleh Iblis Kolot dapat diserapnya dalam waktu yang tidak lama.

Di samping mewariskan berbagai ilmu kesaktian yang dia miliki. Tak lupa Iblis Kolot juga secara terus menerus menanamkan rasa benci di hati Pura Saketi terhadap musuh-musuh ayahnya. Lambat laun seiring dengan bertambahnya usia, Pura Saketi yang tumbuh menjadi pemuda remaja telah berubah menjadi ganas dan liar yang memiliki watak tidak jauh berbeda dengan gurunya.

*****

Enam purnama setelah peristiwa penyerbuan gedung milik Pendekar Sesat.

Saat matahari hampir tenggelam Pranajiwa kedatangan seorang kakek bertubuh pendek cebol berambut putih, berjanggut putih panjang menjulai sampai kelutut. Di pinggang orang tua ini tergantung sebuah kendi perak dan mulutnya terselip pipa.

Pranajiwa berkenan menyambut kedatangan sang tamu. Laki-laki tinggi berpakaian merah ini kemudian mempersilahkan tamunya duduk di- pendopo depan. "Sebelumnya diantara kita tidak pernah bertemu. Kalau boleh tahu siapa namamu, orang tua dan datang dari mana?"

Tanya Pranajiwa yang duduk bersila di depan sang tamu.

Sementara si kakek cebol yang merasa senang disambut dengan sopan oleh pemilik rumah segera mencabut pipa yang terselip di bibirnya.

Sebelum menjawab orang tua ini bungkukkan kepala dalam-dalam.

Sambil tersenyum dia menjawab

"Apalah artinya sebuah nama? Tapi baiklah, biar tidak penasaran kau boleh memanggilku Si Jenggot Panjang.Sesuai dengan sebutanku, kau bisa melihat sendiri betapa jenggotku memang panjang."

Ujar si kakek sambil mengelus jenggotnya yang putih berkilau.

Kemudian si kakek melanjutkan

"Dari mana aku datang saat ini rasanya tidak begitu penting.Bukankah demikian Pranajiwa? Dan benarkah Pranajiwa adalah namamu?"

Pranajiwa menganggukkan kepala.

"Namaku memang Pranajiwa. Lalu apa maksud kedatanganmu, orang tua?" Tanya Pranajiwa dengan bibir tersenyum namun hati curiga.

Si Jenggot Panjang tersenyum pula.

"Sebelum mengatakan apa tujuanku datang ke sini, aku ingin bertanya terlebih dulu. Apakah saat ini kau masih berduka memikirkan kematian kedua putrimu?"

Pertanyaan itu karuan saja membuat Pranajiwa terkejut.

"Dari mana Si Jenggot Panjang bisa mengetahui bahwa dia telah kehilangan dua puterinya?" Selagi Pranajiwa bertanya-tanya dalam hati, Si Jenggot Panjang kembali tersenyum.

Dengan sikap seakan mengetahui apa yang dipikirkan Pranajiwa, Si Jenggot Panjang berujar. "Jangan mencoba mencari tahu bagaimana aku bisa mengetahui apa yang terjadi dengan

keluargamu.Bagi orang sepertiku tidak ada yang bisa disembunyikan di dunia ini. Pemilik bumi selalu melihat rahasia yang tersembunyi di dalam dada manusia, Aku hanya bisa memberi saran bahwa semua yang dimiliki munusia sesungguhnya hanya pinjaman saja."

"Orang tua aneh ini banyak tahu,"

Berkata Pranajiwa sambil layangkan pandang ke halaman di depan pendopo yang luas, Lalu dia terdiam

"Mengapa diam Pranajiwa? Jika hendak mengatakan sesuatu janganlah ragu."

"Kakek jenggot panjang. Terus terang aku tidak mungkin menyesali kepergian kedua puteriku Surindah dan Sarindi. Berkat bantuan Tujuh Tokoh dari Puncak Akherat dan dengan dukungan para sahabat dari beberapa daerah, Pendekar Sesat serta kaki tangannya berhasil kami tumpas. Tidak ada keturunannya yang kubiarkan hidup agar arwah kedua puteriku bisa tenang di alam sana. Mengapa kau bertanya hal itu orang tua?"

Pertanyaan ini membuat Si Jenggot Panjang tersenyum.

"Aku datang diutus oleh seseorang yang disanjung karena keagungannya,"

Jawab si kakek

"Siapakah orang yang kau maksudkan itu?"

"Emm, memang seharusnya kau mengetahui siapa dia, Namun aku telah disumpah untuk tidak menyebutkan nama orang yang mengutusku.Melanggar pantangan berarti merupakan pengkhianatan. Aku tidak berani mengatakan orangnya. Yang bisa kukatakan adalah Kuasa Agung sangat pemurah, Beliau mengasihi sesama, penolong sejati dan bersedia memberikan bantuan pada siapapun dan kapan pun bila diminta."

"Kedengarannya Kuasa Agung seperti dewa penolong. Lalu apa hubungannya dengan diriku?" Tanya Pranajiwa tidak mengerti.

Si Jenggot Panjang lagi-lagi menebar senyum

"Pranajiwa, aku tahu sebenarnya hingga saat ini kau masih selalu memikirkan anak-anakmu.

Kalau kau menghendaki, aku bisa memberimu jalan keluar dan mengembalikan kedua puterimu"

Ucapan Si Jenggot Panjang tentu sambil mengejutkan Pranajwa "Maksudmu...kau bisa menghidupkan mereka kembali?"

Sentak Pranajiwa dengan wajah tercengang mulut ternganga.

"Bukan aku yang mempunyai kemampuan sehebat itu. Yang dapat melakukannya adalah Kuasa Agung."

"Apakah Kuasa Agung benar bisa menghidupkan orang yang sudah mati? Kedua puteriku tewas sudah delapan Purnama yang lalu."

"Selama kematiannya tidak lebih dari dua belas purnama, Kuasa Agung pasti bisa mengembalikan kehidupan puterimu.Kuasa Agung bukanlah manusia biasa. Kesaktiannya meliputi segala."

"Lalu...apakah aku dapat bertemu dengannya?"

Tanya Pranajiwa seakan telah kehilangan pertimbangan akal sehat

"Hari baru saja berganti malam Pranajiwa. Aku bisa mengantar dirimu bertemu dengan Kuasa Agung sekitar tengah malam nanti. Tengah malam adalah waktu yang tepat dimana Kuasa Agung bakal berkenan mengabulkan permintaan setiap orang yang memohon."

"Mengapa menunggu tengah malam. Aku sudah tidak sabar untuk bertemu dengan kedua puteriku!"

"Kau harus bersabar. Sekarang kau harus mempersiapkan perjalanan. Sebelum pergi kumpulkan seluruh muridmu, Bagaimanapun mereka harus menjaga rumahmu selama kau pergi bersamaku!"

Kata Si Jenggot Panjang. Kegembiraan membayangkan bakal bertemu dengan anak-anaknya dirasakan melebihi kebahagiaan Pranajiwa ketika memenangi pertempuran melawan Pendekar Sesat.

Tidaklah heran dia segera mempersiapkan bekal yang dibutuhkan dan menyuguhi tamunya dengan makanan dan minuman yang lezat.

Pranajiwa mengumpulkan murid-murid dan pengikutnya. Begitu belasan murid berkumpul di halaman Pranajiwa berkata.

"Aku pergi untuk waktu yang tidak ditentukan. Kemana aku pergi bersama orang tua ini kalian tidak perlu tahu, Aku hanya meminta pada kalian semuanya. Selama aku tidak berada di tempat, kalian harus tetap berada di rumah ini. Berlatih seperti biasa dan boleh menggunakan senjata."

"Guru, apakah guru tidak hendak membawa serta beberapa murid?"

Tanya salah seorang muridnya yang bertubuh tegap tinggi. Si Jenggot Panjang yang sedari tadi diam memperhatikan sambil mencicipi hidangan yang tersedia, tiba-tiba menyela.

"Kami hanya berdua. Guru kalian sudah menjelaskan, kalian harus menjaga tempat tinggalnya.

Boleh terus berlatih, malah menggunakan senjata pun tidak dilarang!" Setelah berkata demikian Si Jenggot Panjang mengambil pipanya.

Setelah mengisi mulut pipa yang bulat bundar dengan serbuk berwarna hitam lalu dinyalakannya.

Si kakek menyedot pipa yang terselip diujung bibir dalam-dalam, lalu hembuskan nafas dengan tiupan lembut. Asap kelabu bergulung-gulung menebar memenuhi udara diseluruh penjuru halaman.

Murid-murid Pranajiwa mengendus aroma harum semerbak seperti bau kemenyan dan kelembak.

Sesaat setelah menghirup asap pipa Si Jenggot Panjang, mereka merasa tubuh mereka menjadi enteng.

Semua kejadian ini tentu tidak sempat diperhatikan Pranajiwa.

Karena selesai berpesan pada sang murid, orang tua ini segera mengambil dua kuda terbaik yang terdapat dikandang belakang rumah berlantai panggung itu.

Kegembiraan memang membuat orang kerap berlaku lengah hingga hilang kewaspadaannya. Pranajiwa yang memang masih kalut dilanda kesedihan dan merasa tidak puas walau Pendekar

Sesat yang menjadi penyebab kematian orang-orang yang dicintainya telah binasa itu teryata mudah termakan ucapan Si Jenggot Panjang.

Entah apa yang dilakukannya bersama Si Jenggot Panjang setelah tengah malam tiba.

Yang pasti pada keesokan paginya, begitu matahari menampakkan diri dilangit timur, tempat kediaman Pranajiwa yang terpelihara rapi, berubah menjadi bangunan tua yang ditumbuhi rerumputan liar.

Di bagian halaman terdapat belasan patung batu dalam keadaan berdiri, rebah bahkan ada pula yang bergelimpangan.

Setiap patung ada yang memegang senjata, baik berupa tombak, pedang juga golok. Tidak semua patung dalam keadaan utuh.

Sebagian diantara patung ada yang terluka dibagian leher, ada yang terbelah di bagian dada, ada yang robek dibagian perut hingga bagian isi perut berserabutan keluar.

Satu yang membuat orang yang melihatnya menjadi heran. Kemana perginya murid-murid Pranajiwa?

Mengapa di halaman darah kental bertaburan memenuhi tempat itu?

Dan yang lebih mengherankan lagi, rumah dan halaman kini dipenuhi oleh sarang laba-laba.

Para tetangga yang bersebelahan dengan tempat kediaman Pranajiwa dibuat terkejut melihat keanehan itu.

Orang sedusun datang silih berganti ingin menyaksikan peristiwa menggemparkan tersebut.

Menjelang siang ada seorang penunggang kuda bertubuh kekar bertelanjang dada sampai ke tempat itu.

Beberapa penduduk masih berada di halaman berkumpul bergerombol sibuk membicarakan kejadian yang mereka anggap tidak wajar itu.

Si pemuda bercelana biru berambut panjang.

K ©dua matanya dilindungi dengan dua buah batok yang dibentuk mirip kaca mata, ketika sampai di halaman rumah Pranajiwa dia segera menghentikan binatang tunggangannya.

Kehadiran pemuda asing ini tentu saja menarik perhatian orang-orang di halaman itu.

Setelah memperhatikan, mereka terkejut ketika melihat binatang berbulu cokelat yang menjadi tunggangan pemuda gondrong itu ternyata tidak mempunyai mata alias buta.

Walau matanya tertutup dua batok sebesar telur, ternyata pemuda itu tahu dirinya diperhatikan. Tiba-tiba saja dengan suara dingin dia membentak.

"Apa yang kalian lihat? Lekas pergi, tinggalkan tempat ini!"

Tak ingin mencari perkara dengan si pemuda asing, mereka segera berlalu tinggalkan tempat itu.

Halaman rumah Pranajiwa kini menjadi sunyi, sesunyi di pemakaman.

Si pemuda kembangkan dua lengannya yang kekar sambil hirup nafas dalam-dalam.

Dia lalu menatap ke tanah yang dipenuhi genangan darah yang menebar bau anyir amis luar biasa.

Setelah itu perhatiannya beralih ke arah patung-patung itu.

Hebatnya walau kedua mata tertutup dua batok, namun dia dapat melihat semua yang berada di sekelilingnya dengan jelas.

Tiba-tiba saja pemuda itu menggerutu.

"Aku datang terlambat. Patung-patung ini aslinya pasti murid Pranajiwa. Mereka jadi gila sehingga saling bunuh sesamanya. Darah bertebaran memenuhi halaman sebelum mereka berubah menjadi patung. Sesuatu yang ditebarkan oleh mahluk itu membuat murid-murid Pranajiwa kehilangan akal sehat. Mereka berubah seperti sekawanan anjing gila yang melihat teman sendiri seperti melihat setan menakutkan."

Kata pemuda itu geram. Si pemuda kemudian layangkan pandang ke segenap sudut halaman. "Benar dugaanku. Halaman ini telah dipenuhi sarang laba-laba, semuanya bisa terjadi hanya

dalam waktu semalam. Dia datang ke rumah ini kemarin sore, membujuk, pura-pura menghibur, memberi harapan pada Pranajiwa yang dirundung sedih. Ilmu dan kekuatan jahat telah menjadikan halaman ini dipenuhi semak belukar dan membuat rumah menjadi bangunan tua. Aku yakin sebelum dia datang semuanya dalam keadaan bagus dan baik-baik saja."

Setelah berkata begitu perhatian pemuda ini lalu beralih ke pendopo depan. Dia melihat piring dan mangkuk tanah tergeletak di atas tikar pandan yang sudah kusam warnanya. Sebelumnya tikar itu dalam keadaan masih baru. Tanpa bicara pemuda ini melangkah lebar hampiri anak tangga yang menghubungkan bagian pendopo.

Setelah berada diundakkan tangga teratas dia berusaha mengendus. Walau samar namun dia masih mencium aroma kelembak dan kemenyan.

"Bangsat, setan itu telah menyerang murid- murid Pranajiwa dengan Asap Pelenyap Kesadaran.

Kemudian dia menggunakan Ilmu Sesat Batu Beku. Kemana bangsat itu pergi saat ini. Pranajiwa manusia tolol yang sudah terhanyut oleh perasaan dan tidak mau berpikir sedikit saja. Mana ada manusia yang sanggup menghidupkan orang yang sudah mampus. Terkecuali bila ada campur tangan iblis!"

Si pemuda lalu melangkah lebar menuju ke arah tikar butut lusuh. Setelah memerhatikan sisa hidangan yang terdapat di piring maka si gondrong ini semakin bertambah yakin, semua yang terjadi di tempat itu berlangsung kurang dari satu malam.

"Semua muslihat busuk ini harus dihentikan! Dia akan terus melancarkan rencana jahatnya.

Sebelum dia berubah menjadi manusia yang lain aku harus menemukannya!" Setelah berkata demikian pemuda ini bergegas turun.

Sesampainya di halaman dia segera melompat ke atas punggung kudanya yang buta. Selanjutnya kuda dipacu tinggalkan halaman itu.

*****

Gejolak api yang panas luar biasa seperti tidak dirasakan oleh sosok kakek tua berpakaian serba merah dan berambut merah.

Api yang berkobar tidak hanya memberangus lubang sempit seukuran tubuhnya tetapi juga membakar tubuh si kakek.

Melihat apa yang terjadi pada diri orang tua berambut merah itu. Raja Gendeng 313 sempat terkesima.  

"Orang tua ini, siapakah dia? Tangan dan kaki dalam keadaan dipentang terbelenggu rantai.Manusia dengan kesaktian sehebat apapun mana mungkin dapat bertahan hidup dipanggang di atas kobaran api."

Pikir Raja.

"Akhirnya kau mau datang juga pemuda hebat. Kau lolos dari incaran kematian bahkan sang pembawa maut yang mengincarmu malah menemu ajal. Ha ha ha... Kau pasti dewa atau mungkin juga masih titisan dewa. Anak muda cepat mengaku kau ini titisan dewa apa?"

Tanya si kakek sambil tatap wajah pemuda yang berdiri tujuh tombak di depannya dengan mata yang merah membara dan mengepulkan asap.

"Aku titisan dewa katamu? Kalaupun aku titisan dewa, aku ini titisan Dewa Gendeng. Ha ha ha...!"

Jawab Raja diiringi tawa terkekeh. Sepasang mata yang merah mendelik besar.

"Jadi... jadi kau bukan titisan dewa. Lalu siapa?" Bentak si kakek marah.

"Aku, aku bernama Raja dan aku putera seorang Raja."

Jelas sang pendekar membuat si kakek malah tidak kuasa menahan tawa.

"Kau anak raja. Mungkin... mungkin saja kau anak seorang raja gila dan kau sendiri pangeran gendeng. Ha ha ha. "

Raja tersenyum

"Siapapun dirimu bahkan seandainya engkau anak setan pun aku tidak perduli. Aku hanya ingin tahu apa yang membuatmu sampai dikawasan Tua, kawasan dari bagian masa lalu yang tersisa. Kau mencari sesuatu? Mungkin mencari benda berharga, barang keramat, peninggalan penting masa lalu atau ingin melihat legenda Patung Maha Dewa yang tersohor itu?"

Bertanya si kakek disertai tatapan penuh selidik. Raja menyeringai.

"Tidak satupun dari semua yang kau sebutkan yang menjadi incaranku. Aku tidak membutuhkan benda keramat karena setiap laki-laki pasti memilikinya."

Sahut Raja sambil tersenyum penuh arti.

Ucapan sang pendekar membuat mata yang melotot itu menyipit. Si kakek terdiam dan berpikir sejenak.

Tiba-tiba saja dia tertawa terkekeh.

"Hooo...betul-betul manusia aneh tolol dan gila. Jadi itu yang kau maksudkan, Pusaka keramat yang bisa bangkit." "Gelo betul pemuda gendeng sialan. Tapi rasanya aku mulai menyukai sifatmu."

"Kau suka, tapi aku muak melihatmu! Katakan siapa dirimu, mengapa kau dirantai dan digarang dalam kobaran api?"

Tanya sang pendekar. Dalam hati dia berkata.

"Hebat dia tidak mati terbakar. Ilmu kesaktian apa yang membuatnya tetap bertahan hidup. Dia tidak kesakitan, tidak merintih apalagi menjerit"

Yang ditanya bersikap acuh. Setelah menatap pedang berhulu emas yang tergantung dipunggung Raja si kakek menjawab.

"Orang menyebutku Si Gembala Api tapi itu dulu, seratus tahun yang lalu. Sekarang diusiaku yang hampir dua ratus lima puluh tahun apakah masih ada orang yang mengenal diriku? Ha ha ha!"

"Dua ratus lima puluh tahun. Usianya sama dengan umur guruku Ki Panaraan Jagad Biru. Dulu aku mengira gurulah orang satu-satunya yang memiliki usia panjang. Ternyata di tempat yang aneh ini masih ada orang berumur panjang!"

Batin Raja.

Diam-diam dia merasa kagum melihat si kakek. Setelah hatinya berkata demikian, Raja lalu ajukan pertanyaan.

"Kakek gembala sapi... eh api. Apa sesungguhnya yang terjadi dengan dirimu? Apakah sengaja mengikat kaki tanganmu, lalu memanggang tubuhmu? Aku tahu api yang memberangus tubuhmu itu adalah api yang keluar dari perut bumi, panasnya mungkin sepuluh kali lebih panas dari api biasa!"

"Apa kau kira aku sengaja mengikat lalu membakar diri di api abadi!" Damprat si kakek sambil delikkan mata.

"Jangan mengira diriku sama gilanya seperti dirimu! Aku tidak gila. Memang panas api membuat otakku serasa mendidih, Aku ingin sekali memberitahu siapa orang yang telah membuatku sengsara seperti ini."

"Jadi walau tahan api kau masih juga merasakan kesengsaraan kek? Kukira kau sedang bersenang-senang!"

Sahut Raja dengan mulut terpencong.

"Gondrong sialan! Aku belum selesai bicara jangan memotong. Ada yang yang memperlakukan aku seperti ini. Tapi aku tidak mau menceritakan siapa orang itu sekarang. Kau harus menolongku lebih dulu, memutus empat rantai celaka yang mengikat tangan dan kakiku."

"Oalah... sejak tadi kau selalu menghina diriku, sekarang ujung-ujungnya minta tolong. Memangnya rantai itu terbuat dari apa? Mengapa orang sakti seperti dirimu tak sanggup memutuskannya?"

Ejek Raja sambil memonyongkan bibir dan kedap- kedipkan matanya. Melihat tingkah Raja yang terkesan mengejeknya si kakek menjadi kesal.

"Gondrong gila, Raja sialan. Kau mengira aku sedang bergurau! Cepat pergunakan pedangmu untuk memutus rantai-rantai ini. Lihatlah sekejab lagi hari berubah menjadi malam. Di saat itu mahluk- mahluk buas sisa-sisa kehidupan di masa lalu akan bermunculan mencari mangsa. Jika keberadaanmu diketahui oleh mahluk-mahluk itu. Tamatlah sudah riwayatmu!"

Berkata Si Gembala Api sambil unjukkan wajah ketakutan.

"Ha ha ha! Kau jangan menakut-nakuti aku Gembala Api. Kau sendiri sudah sangat lama berada di sini, mungkin sudah ratusan tahun. Tapi anehnya mengapa kau masih hidup? Mahluk-mahluk itu apa tidak suka dengan rasa dagingmu? Atau mereka takut dengan bau ketekmu? Ha ha ha!"

"Pemuda sinting! Bagaimana aku bisa membuatnya yakin? Dia mengira aku bergurau. Padahal tampangku bukan tampang orang tolol."

Geram si kakek dalam hati.

Dengan perasaan kesal si kakek akhirnya berucap.

"Dengar, anak muda. Mahluk-mahluk itu tidak memangsaku karena aku berada di atas api.

Mereka takut api. Tapi bagaimana denganmu. Apakah kau juga ingin bergabung bersamaku, mendinginkan diri di api abadi ini?"

Sindir Si Gembala Api sinis. Di dalam hatinya Raja merasa ragu untuk menolong.

Raja merasa kalau kakek itu bukan orang baik-baik sebab mana mungkin ada orang yang begitu tega memperlakukannya dengan kejam.

Tapi kalau Si Gembala Api orang jahat, dosa kesalahan apa yang telah diperbuatnya sehingga membuatnya harus menjalani hukuman seberat ini?

"Kau tak mau menolong. Kau takut aku ini orang jahat? Tapi kau sendiri sudah tidak punya waktu untuk angkat kaki dari Alam Tua ini.Matahari hampir tenggelam. Sekejab lagi mahluk-mahluk jahanam bakal muncul untuk mempesiangi tubuhmu. Aku hanya bisa menonton, tak mampu menunjukkan tempat perlindungan yang aman untukmu dari incaran mereka.Kasihan sekali...! Kau masih begitu muda, kencing baru lempang tapi kawin pun kau belum. Mati dalam keadaan tercabik, tulang belulang tercerai berai, apa enaknya?"

Gumam Si Gembala Api dan kali ini tidak ada senyum dan tawa yang keluar dari mulutnya. "Kurasa apa yang dikatakannya memang benar. Banyak tulang belulang berserakan ditempat ini."

Raja kemudian memperhatikan sekelilingnya.

Sekejab kemudian perhatiannya tertuju ke arah Si Gembala Api.

"Orang tua, aku akan membebaskanmu dari belenggu rantai, tapi ingat semua ini kulakukan bukan karena aku takut pada mahluk-mahluk yang kau sebutkan itu. Tapi apakah kau bisa mengendalikan api yang membakar tubuhmu?" "Apa maksudmu?"  

Tanya Si Gembala Api tidak mengerti.

"Sebagai seorang gembala selayaknya pengembala yang lain. Tentu yang digembalakannya selalu menurut, tunduk patuh pada pengembalanya. Jika kau mengaku sebagai Pengembala Api, tentu saja api itu seharusnya tunduk pada perintahmu!"

Kata pemuda itu penuh arti

"Ha ha ha! Kau mengujiku. Tentu api ini bisa mengecil bahkan kubuat padam sesuai dengan keinginanku. Yang membuat aku tidak mengerti mengapa aku harus melakukannya?"

"Jangan berlagak bodoh, kakek Gembala Api. Kau tahan api aku tidak tahan. Udara disekelilinginu panas membara, bagaimana aku bia mendekatimu?"

Tanya pemuda itu membuat si kakek terangguk angguk tanda mengerti. Ingin rasanya dia menepuk kepala tapi tak bisa.

"Kau benar. Baiklah... baik... aku akan memadamkan api ini!"

Sambil berkata demikian si kakek lalu mengucapkan sesuatu yang hanya si kakek sendiri yang tahu maknanya.

Begitu selesai berucap dia meniup ke kanan kirinya masing-masing satu kali. Suara angin tiupan menderu.

Terdengar Suara....

Blepp!

Apipun padam seketika. "Luar biasa, menakjubkan." Puji Raja dalam hati.

"Sudah. Api sudah padam. Tunggu apa lagi?" tanya Si Gembala Api tidak sabar. "Ada satu pertanyaan jawabnya dengan julur kek. Kau harus menjawab" "Pertanyaan apa? Jangan mempermainkan diriku!"

Geram Si Gembala Api kesal.

"Tidak ada yang bermaksud mempermainkan, tidak ada pula yang dipermainkan! Aku heran, jika kau bisa memerintah api menurut kehendakmu. Mengapa kau biarkan diri dipanggang begitu rupa mengapa kau tidak memadamkannya sejak dulu."

Raja lalu pandangi Si Gembala Api dengan sorot mata heran.

"Kau hebat, tapi aku tidak menyangka di balik kesaktian yang kau miliki terrnyata kau juga manusia bodoh. Ketahuilah, jika aku membiarkan api padam, di malam hari mahluk-mahluk itu pasti menyerangku.Mungkin aku sudah lama mampus jika aku melakukan seperti yang kau katakan. Api abadi ini melindungi diriku dari keganasan mahluk-mahluk itu.Yang menjadi persoalan bagiku bukanlah apinya. Aku tidak dapat ke mana-mana karena empat rantai sialan ini! Aku telah melakukan berbagai cara untuk membebaskan diri, namun rantai ini tidak dapat hancur." "Mungkinkah pedang Gila dapat menghancurkan empat rantai itu?"

Batin sang Pendekar.

"Hmm, baiklah! Aku akan membantu membebaskanmu dari rantai sialan itu!" Raja Gendeng 313 kemudian melangkah maju.

Dia lalu berdiri tiga langkah di depan si kakek.

Pada jarak sedekat itu sang pendekar masih dapat merasakan adanya hawa panas yang menyengat.

Diam-diam Raja salurkan tenaga dalam berhawa dingin untuk melindungi sekujur tubuhnya. Tanpa bicara pemuda ini lalu mencabut Pedang Gila.

Ketika pemuda itu salurkan hawa sakti kebagian hulu pedang, senjata mustika itu tiba-tiba pancarkan cahaya kuning menyilaukan.

Hawa dingin menebar kesegenap penjuru arah.

Melihat kilauan Pedang Gila si kakek pun diam- diam merasa takjub lalu tanpa sadar mulutnya berseru memuji.

"Senjata sakti, senjata hebat. Di balik kemilauan ada alur ukiran berbentuk naga di sisi pedang sebelah kiri, lalu di sebelah kanan badan pedang kulihat ada ukiran burung Rajawali. Luar biasa, apakah kedua simbol mahluk langka itu mempunyai makna!"

Raja anggukkan kepala.

"Naga adalah lambang kekuasaan dan kebijaksanaan, sedangkan Rajawali adalah simbol keperkasaan dan kehormatan diri. Di samping itu kedua binatang yang terakhir dipedangku sebenarnya adalah dua sahabat yang sewaktu- waktu bisa hadir dihadapanku bila aku menghendakinya."

Raja kemudian mengangkat pedang tinggi-tinggi.

Pedang itu diarahkannya ke arah rantai yang mengikat tangan kanan si kakek "Tunggu...setelah melihat senjata dan mendengar ceritamu. Aku jadi ingin tahu apakah benar

dirimu ini adalah Sang Maha Sakti Raja Gendeng 313?" Tanya si kakek.

Walau terkejut tapi Raja segera menjawab.

"Kau hanya membuang-buang waktuku saja orang tua. Tapi yang kau tanyakan memang betul Hiya..."

Dengan dibarengi teriakan keras melengking Raja melompat ke depan.

Lalu secepat kilat pedang dihantamkan ke arah rantai. Kibasan pertama membuat rantai putus menjadi dua. Bunga api berpijar dan serpihan rantai bertabur diseluruh penjuru arah.

Demikian pula dengan tebasan kedua, ketiga dan ke empat. Begitu empat belenggu rantai dibuat hancur berantakan, si kakek pun bebas lalu melompat menjauh dari lubang pendaman.

Sedangkan Raja segera masukkan kembali pedang ke rangkanya.

Memandang ke arah lubang, tempat yang baru ditinggalkan kembali mengobarkan api. Si Gembala Api bersikap tidak perduli. Sebaliknya kakek itu malah berjingkrak kegirangan.

Raja tertawa melihat Si Gembala Ap berjingkrakan beberapa kejab lamanya. Tapi kemudian dia khawatir dengan keadaan disekitarnya yang mulai gelap.

"Kegelapan mulai menyelimuti tempat ini. Apakah mahluk-mahluk yang dikatakan Si Gembala Api benar-benar muncul di tempat ini?"

Raja yang tahu betapa ganas dan berbahayanya binatang tersebut akhirnya tidak bisa menahan diri dan segera berkata.

"Orang tua aku aku tidak bisa menunggu. Aku tidak peduli dengan kegembiraanmu itu, tetapi sesuai janjimu, tunjukkanlah di mana tempat persembunyian yang aman dari gangguan

mahluk-mahluk itu!"

Ucapan Raja seakan membuat si kakek baru menyadari bahwa saat itu senja telah berganti malam.

"Astaga! Mengapa tidak mengingatkan aku sejak tadi. Aku larut dalam kegembiraan karena hancurnya rantai yang telah membuatku tidak berdaya selama puluhan tahun. Dan pedangmu memang sebuah pedang hebat. Apa nama senjata mu itu?"

Tanya si kakek sambil melirik ke arah pedang yang tergantung di punggung Raja. "Lebih baik kau tak usah mengetahuinya. Kau terlalu banyak mulut orang tua. Lihat

disekelilingmu.Suasana makin bertambah gelap, kau tidak takut dimangsa mahluk raksasa ganas seperti yang kubunuh itu!"

"Lima mahluk telah mati, tapi sisanya masih banyak lagi. Maaf, kegembiraan terkadang membuatku hilang kewaspadaan. Sudah waktunya bagiku untuk membalas kebaikanmu. Ikuti aku dan jangan terlalu jauh dariku!"

Pesan Si Gembala Api. Walau tidak sabar melihat sikap si kakek yang terlalu banyak bicara, namun sang pendekar tetap patuhi apa yang diperintahkan orang.

Si Gembala Api memutar tubuh lalu bergegas melewati bukit-bukit berbatu, Raja segera mengikutinya.

Dari hanya berjalan si kakek kemudian berlari.

Sementara Raja yang terus membayangi langkah orang tua itu sesekali layangkan pandang memperhatikan keadaan disekitarnya.

Tanpa menghiraukan hawa dingin yang luar biasa akhirnya Si Gembala Api memasuki sebuah kawasan hutan yang tidak seberapa luas namun banyak pepohonan menjulang tinggi tumbuh di sana. "Masih jauhkah tempat yang kita tuju, orang tua!"

Bertanya sang pendekar dengan tubuh menggigil menahan hawa dingin bukan kepalang.

Raja yang pernah dibesarkan di Istana Tua Pulau Es memang menyadari keadaan di kawasan itu ternyata jauh lebih dingin dibandingkan di tempat asalnya.

"Mengapa? Kau sudah hampir beku rupanya atau kau takut binatang-binatang ganas itu menyergapmu?"

Kata si kakek acuh.

"Mahluk-mahluk apa? Apakah matamu tidak melihat bahwa dilangit sana banyak cahaya bermunculan. Ada cahaya merah ada pula yang biru dan itu bukanlah bintang. Bintang mana ada yang berpasang-pasangan!"

Dengus Raja membuat Si Gembala Api terkejut sekaligus dongakkan kepala menatap ke langit. Begitu si kakek dongakkan kepala.

"Astaga!"

Wajah orang tua ini seketika berubah menjadi pucat.

Langit malam tampak gelap gulita seolah ditutup mendung tebal pekat.

Dan cahaya berpasang-pasangan yang bertebar di angkasa yang disangka sebagai binatang berpasang- pasangan, sama sekali memang bukan cahaya bintang.

Itu tak lain adalah bias dari puluhan pasang mata mahluk yang ukurannya sedikit lebih kecil dari lima mahluk yang dibunuh oleh Raja.

Namun mereka jauh lebih ganas.

Kehadiran mahluk-mahluk itulah yang membuat langit menjadi gelap

"Mereka muncul di langit dalam jumlah yang jauh lebih banyak dari biasanya. Makandor.. si terkutuk! Mereka pasti telah mengendus darah dan kematian Simujud!"

"Makandor... Simujud? Apa maksudmu orang tua?" Tanya Raja tidak mengerti.

Sementara pemuda itu terus saja berlari.

Sambil berlari sesekali dia memperhatikan mahluk-mahluk bersayap panjang yang wujudnya mirip dengan burung pemakan bangkai.

"Simujud adalah nama lima mahluk yang kau bunuh.Sedangkan Makandor adalah mahluk-mahluk yang saat ini memenuhi langit. Tidak seorang pun yang tahu dari mana asal mereka, ada yang mengatakan mereka berasal dari neraka."

Menerangkan si kakek sambil mempercepat larinya hingga membuat gerakan orang tua ini laksana terbang.

"Makandor mengendus kematian Simujud. Binatang itu muncul dan sepertinya hendak memangsa bangkai Simujud?" Gumam Raja Gendeng 313 bergidik ngeri.

"Jika Makandor yang mati, Simujud yang memangsanya, demikian juga sebaliknya. Jika kau yang mati kau juga akan dimangsa Simujud atau Makandor. Di Kawasan Tua ini berlangsung proses alam yang sejati. Siapa yang kuat dialah yang menang. Saling memangsa diantara sesama adalah kejadian yang biasa."

Jelas Si Gembala Api. Raja menggumam.

Saat itu tiba-tiba terdengar suara pekikan di langit.

Suara pekikan pertama disambut dengan pekikan yang datang dari segenap penjuru arah.

Di satu titik diketinggian sana Raja menyaksikan kawanan Makandor sang mahluk berleher panjang berleher botak membentuk satu kelompok besar.

Setelah berputar tiga kali, secara serentak mahluk-mahluk itu menukik tajam kebawah ke arah lima mahluk yang bergeletakkan tanpa nyawa.

Suara bergemuruh dari seluruh gerakan mahluk-mahluk itu tidak ubahnya seperti air terjun. Dan ketika kawanan Makandor mencapai bangkai lima Simujud, merekapun segera memangsa

burung-burung raksasa yang ukurannya jauh lebih besar dari gajah.

Klik! Kraak!

Suara-suara menggidikkan itu terus berkumandang ditengah kegelapan yang tidak bersahabat. "Masuk ke sini!"

Teriak Si Gembala Api tiba tiba.

Sang pendekar yang perhatiannya terbagi hampir menabrak si kakek di depannya yang ternyata berhenti mendadak lalu membuka pintu besar berbentuk bundar.

Pintu besar dan berat terbuka.

Si Gembala Api buru-buru melompat ke dalam.

Raja tidak segera mengikuti tindakan yang dilakukan oleh si kakek melainkan melayangkan pandangan mata kesegenap penjuru arah.

Walau dalam keadaan gelap namun Raja masih dapat melihat di depannya berdiri sebuah bangunan tua yang sepenuhnya terbuat dari batu.

Bangunan itu menjulang tinggi dengan lima menara lancip menjulang ke langit. Walau bangunan tua itu telah dipenuhi lumut, memandang ke arah ukiran-ukiran samar yang menghias setiap bagian dindingnya.

Sang pendekar maklum bangunan kuno itu bukan bekas sebuah istana, melainkan mirip dengan sebuah tempat perlindungan.

"Pemuda gendeng! Apalagi yang kau tunggu? Lekas masuk atau Makandor yang kelaparan akan mengetahui keberadaanmu. Bila mereka menyerbu kemari tidak sepotong tulangmu akan tersisa. Cepat masuk!"

Teriak si kakek cemas. Raja tersentak dari lamunannya dan segera bergegas masuk. Sesampainya di balik pintu, si kakek segera menutup pintu.

Tertutupnya pintu utama membuat suasana di dalam ruangan gelap gulita. Raja dongakkan kepala.

Sayup-sayup dia mendengar suara gemercik air dikejauhan.

Dia juga mengendus aroma lembab dan bau khas bangunan tua yang ditinggalkan oleh penghuninya.

"Tidak ada penerangan dan kita seperti orang buta tolol yang tak bisa melihat hidung sendiri." Gerutu Raja yang merasa gerakannya tak bisa leluasa.

"Diam! Aku harus mengunci pintu ini. Ada beberapa pelita ditempat ini. Aku akan mencarinya. Kau diam saja di situ, jangan bergerak kemanapun kalau tidak ingin kesasar ke tempat yang bisa membuatmu celaka!"

Si Gembala Api memperingatkan lalu memasang semua kunci.

Setelah itu dia berjalan menuju ke arah pelita yang tersembunyi di sudut ruangan. Rupanya si kakek telah terbiasa berada ditempat itu.

Terbukti walau gelap gulita dia dapat menemukan pelita yang dicarinya.

Dengan menggunakan kedua tangan yang digosok satu dengan yang lain pelita pun akhirnya menyala.

Si kakek lalu berjalan menuju ke arah pelita lain yang tergantung di dinding. Ketika cahaya dua pelita menerangi, kini sang pendekar dapat melihat keadaan disekitarnya.

Raja terhenyak menyaksikan lantai ruangan dipenuhi tumpukan tulang belulang serta tengkorak manusia. Di beberapa sudut terlihat pula sosok berpakaian lengkap dalam keadaan duduk memeluk pedang atau tombak.

Walau terpisah dari onggokan tulang dan tengkorak yang menumpuk di tengah ruangan. Sosok berpakaian lengkap itu juga telah menemul ajal

"Apa yang terjadi ditempat ini? Mengapa ruangan ini dipenuhi tulang dan tengkorak? Apakah ini kubur kuno? Mengapa orang-orang ini dikubur di dalam bangunan, bukan di tanah makam?"

Tanya Raja sambil tatap orang tua yang kini berdiri di depannya. Si Gembala Api tidak menjawab.

Wajahnya muram, dia kemudian melangkah ke sudut kiri ruangan.

Si kakek duduk di sana sementara perhatiannya tertuju ke arah tumpukan tulang di tengah ruangan.

Setelah sempat mengalihkan perhatian ke arah onggokan tulang berpakaian lengkap yang terdapat di beberapa sudut penjuru. Sambil menghela nafas dalam-dalam si kakek berkata. "Bangunan ini luasnya hanya sejauh mata memandang. Ada lima menara menjulang sebagai jalan

keluar masuk udara yang dibutuhkan untuk kepentingan orang-orang yang hidup di dalamnya. Tempat ini bukan istana. Ini adalah benteng pertahanan yang dibuat oleh orang-orang yang hidup sebelum jamanku."

Jelas si kakek membuat Raja bingung dan tidak mengerti. "Mengapa mereka membangun benteng?"

"Benteng dibangun sebagai tempat perlindungan terakhir!"

"Perlindungan terakhir? Mereka berlindung dari mahluk-mahluk pemangsa itukah?"

"Salah satunya. Makandor dan Simujud adalah salah satu pemangsa yang harus dihindari oleh orang-orang yang pernah bertahan di sini. Tapi masih ada mahluk buas lain yang tak kalah ganasnya. Mahluk itu tak lain adalah sisa kehidupan purba dari sebuah lembah gelap yang letaknya tidak jauh dari sini. Manusia sisa masa lalu itu bukan Cuma pemangsa, mereka juga menjadikan orang-orang ditempat ini seperti hewan ternak. Para perempuan dipaksa untuk melakukan hubungan cinta, begitu perempuan-perempuan itu hamil lalu melahirkan. Anak-anaknya dijadikan santapan dan ibunya juga dijadikan hidangan."

Jelas si kakek lagi membuat Raja jadi bergidik

"Puluhan purnama manusia dari kehidupan masa lalu itu melakukan pengepungan. Mereka memang tidak dapat menghancurkan dan masuk ke dalam benteng ini. Tapi orang-orang yang bertahan di dalam sini lambat laun kehabisan makanan.Mereka tidak bisa keluar sekedar mengumpulkan buah-buahan. Satu demi satu mati bergelimpangan.Banyak yang mati karena menderita sakit dan kelaparan."

"Tapi mereka yang mempunyai daya tahan tubuh serta ilmu kesaktian juga terpaksa hidup dalam kesengsaraan.Beberapa diantaranya menjadi gila.Sisanya dengan terpaksa bertahan hidup dengan memakan bangkai sesamanya sendiri!"

Kata Si Gembala Api dengan berurai air mata. Raja terdiam.

Dia lalu hampiri kakek itu dan duduk di sampingnya. Sejenak Sang Pendekar tidak mampu berkata-kata.

Semua penjelasan yang diucapkan Si Gembala Api benar-benar tidak pernah terlintas dalam benaknya.

"Adakah manusia yang terpaksa memakan mayat sesamanya demi bertahan hidup? Kenyataan itu sungguh mengerikan."

"Apa yang terjadi kemudian kek? Apakah manusia kegelapan yang datang dari masa lalu itu masih ada hingga sekarang?" Tanya Raja sambil tatap wajah kakek disampingnya dalam-dalam

"Puluhan tahun yang lalu terjadi gerhana bulan di tempat ini.Bersamaan dengan terjadinya gerhana datang pula gempa bumi hebat. Orang- orang di dalam benteng selamat.Sedangkan manusia sisa kehidupan purba yang mengepung benteng menemui ajal.Mereka raib di telan bumi."

"Kejadian yang luar biasa, tapi mengapa berlangsung secara bersamaan?" Gumam Raja dengan diliputi tanda tanya.

Si kakek terdiam, kedua kaki yang bersila diluruskan.

Mata menerawang dan dia nampaknya berusaha keras mengingat rangkaian kejadian di masa lalu yang demikian tragis

"Semuanya ini tidak terjadi secara kebetulan." Kata Si Gembala Api mengenang.

"Kawasan tua ini dulunya adalah sebuah tempat yang aman dan sangat makmur. Aku adalah pemimpin di tempat ini. Tapi dalam kemakmuran setiap orang selalu dibayang-bayangi rasa cemas karena di tempat ini terpendam sebuah kitab langka terbuat dari batu. Kitab batu itu menurut peramal kami terpendam jauh di dalam bumi. Dan kitab batu bakal muncul tepat pada saat gerhana bulan dan bumi dilanda gempa hebat."

"Apakah yang terjadi kemudian, apa tetap sama seperti yang diramalkan oleh peramalmu?" "Ya."

"Apa nama kitab itu kek?"

"Kitab itu tidak bernama namun di dalamnya berisi serangkaian kata-kata berupa aksara aneh.

Aksara itu bernama Aksara Iblis. Aksara Iblis adalah aksara sakti yang tidak dapat dipahami oleh kebanyakan manusia sungguh pun manusia itu mempunyai pengetahuan yang luas dan segunung. Aksara Iblis hanya diketahui maknanya oleh Raja Iblis atau juga orang yang kemungkinan berjodoh dengan kitab."

"Lalu kitab Aksara Iblis itu apakah benar-benar keluar dar ­ dalam bumi?"

"Yang dikatakan peramalku memang benar. Kitab muncul dari tanah yang terbelah akibat guncangan gempa. Kemudian kitab melesat guna mencari jodohnya. Sampai sekarang aku sendiri tidak tahu dimana jatuhnya Kitab Aksara Iblis. Di saat malapetaka melanda Kawasan Tua ini, di tengah kepanikan dan hiruk pikuk rakyatku yang berlarian menyelamatkan diri. Kulihat kitab itu melayang ke arah barat."

"Bagaimana kau bisa memastikan bahwa yang kau lihat itu adalah kitab bukan benda lain semisal senjata bertuah?"

"Aku berani mengatakan karena benda itu memancarkan cahaya merah membara. Ini sesuai dengan apa yang dikatakan oleh peramalku."

Terang si kakek hingga melenyapkan keraguan di hati sang pendekar. "Jadi kitab melayang ke arah barat. Sampai saat ini apakah kitab itu telah menemukan jodoh- nya?"

"Aku tidak bisa memastikan. Aku bukan peramal dan peramalku itu sayangnya sudah tiada." Sesal Si Gembala Api.

"Kau tidak berusaha mencarinya?"

Tanya Raja kembali

"Bagaimana aku bisa mencari? Sehari setelah gerhana dan gempa bumi hebat aku berusaha menguburkan rakyatku yang berkaparan tewas di luar benteng.Tadinya mereka ada di dalam sini. Tapi gempa membuat mereka panik dan berlari meninggalkan benteng. Tiba-tiba muncul mahluk-mahluk pemangsa seperti yang terlihat di luar tadi."

"Sebelumnya mahluk-mahluk itu tidak pernah ada. Mereka datang memangsa orang yang telah mati dan yang masih hidup. Di tengah kekacauan dan serbuan mahluk itu datang pula seorang kakek. Aku mengenalnya sebagai Iblis Kolot. Dunia persilatan juga mengenalnya dengan sebutan Iblis Gila!

Dia datang untuk meminta kitab Aksara Iblis.Karena apa yang dia minta tak dapat kuberikan, akhirnya kami terlibat pertempuran sengit."

"Iblis Kolot memang sangat luar biasa, Selusin manusia sakti yang memiliki ilmu kepandaian setara denganku belum tentu sanggup mengalahkannya. Aku kalah, dia lalu memasungku, mengikat tangan dan kakiku dengan rantai yang disebutnya Rantai Akherat. Dia lalu membakar tubuhku di atas api abadi, Dan perlu kiranya kau tahu. Dari sekian banyak senjata ternyata hanya pedangmu saja yang sanggup menghancurkan rantai sialan itu."

"Iblis Gila?" Gumam Raja.

"Ya, Iblis Gila atau Iblis Kolot adalah dua nama sebutannya." Terang si kakek.

"Tapi kemana perginya Iblis Kolot?"

Tanya Raja ingin kepastian. Si kakek menggeleng.

"Pastinya aku tidak tahu. Namanya juga iblis, sudah tua dan gila pula. Namun belakangan kerena sifatnya yang serakah ingin menguasai Kitab Aksara Iblis membuatnya selalu bentrok dengan banyak tokoh persilatan. Tidak sedikit tokoh-tokoh persilatan yang hebat yang mati di tangannya. Tapi ketika beberapa tokoh sakti bersatu melawan Iblis Kolot. Dia dibuat bertekuk lutut. Aku tidak tahu apakah dia tewas atau tidak. Yang jelas para tokoh yang mengeroyoknya melemparkan kakek itu ke sebuah jurang."

"Di mana letak jurang itu dan apa namanya?" Tanya Raja.

Dia berpikir kalau pun Iblis Kolot memang pernah dilempar ke dasar jurang setidaknya Raja bisa mencari dan menemukan jasadnya.

Si kakek tertegun. Tapi kemudian segera menjawab.

"Seperti yang kudengar jurang itu bernama Jurang Watu Remuk Raga. Letaknya tidak jauh dari Surokarto."

"Jika tempat yang kau sebutkan betul-betul ada, berarti kita masih bisa mencarinya. Hanya dengan menemukan jasad Iblis Kolot kita bisa memastikan Kitab Aksara Iblis apakah berada ditangannya"

"Tetapi aku tidak mungkin meninggalkan tempat ini untuk mencari keberadaan kitab. Jika kitab Aksara Iblis jatuh ke tangan orang berjiwa sesat berwatak telengas maka dunia persilatan berada dalam ancaman malapetaka baru yang jauh lebih mengerikan dari gempa hebat yang pernah melanda Kawasan Tua ini."

Gumam si kakek.

Nada ucapannya menyiratkan kehawatiran yang mendalam

"Kalau yang kau katakan memang benar. Mengapa kau tidak mau ikut bersamaku, kek? Tempat ini bukanlah tempat yang aman. Mahluk-mahluk itu selalu muncul tidak terduga. Bagaimana kau bisa hidup tenang dengan adanya kehadiran mereka?"

Kata Raja tidak mengerti.

Untuk pertama kalinya Raja melihat si kakek tersenyum. Sambil tersenyum dia berkata.

"Aku sudah sangat tua. Kematian bagiku bukan sesuatu yang meresahkan. Ada seseorang yang akan menemanimu. Kau pasti akan suka pergi bersamanya. Jika aku bersamamu, kau pasti cepat bosan menatap wajah tua penuh keriput dan tak sedap dipandang ini."

Tiba-tiba Raja memotong.

"Memangnya di tempat kuno seperti ini masih ada sesuatu yang sedap dipandang?" Ejeknya.

"Tentu. Walau tempat ini angker menyeramkan tetapi masih ada pemandangan bagus yang enak dilihat. Aku akan mempertemukanmu dengannya. Tapi sebelum itu masih banyak rahasia yang harus kau ketahui. Benteng ini sangat luas, kau harus tahu semuanya. Sekarang ikutilah denganku!"

Kata Si Gembala Api.

Orang tua ini kemudian bangkit.

Dia meraih pelita lalu menyerahkannya pada Raja.

Setelah menerima pelita pemberian si kakek, Raja segera mengikuti di belakangnya. Tepat seperti yang dikatakan Si Gembala Api, benteng kuno itu memang sangat luas. Menuju lebih ke dalam suasananya bertambah dingin.

Namun Raja tidak melihat onggokkan tengkorak atau tulang lagi. Yang ada hanyalah mayat-mayat yang membeku, lukisan dan patung juga perlengkapan alat untuk memasak.

"Sebelumnya kami ada beberapa kelompok masyarakat. Kami juga bergabung dengan ras manusia lain yang semuanya membutuhkan tempat perlindungan. Setiap kelompok memiliki kepandaian juga ketrampilan tertentu seperti membuat senjata, panah juga busurnya. Serangan sisa-sisa orang kuno, serta dua kawanan mahluk Makandor dan Simujud telah menghabiskan segalanya. Banyak orang kehilangan nyawa dengan sia-sia diluar sana, sedangkan mereka yang tetap bertahan dibenteng ini nasibnya juga tidak jauh lebih baik."

Jelas si kakek.

Raja memilih diam untuk mendengarkan semua penjelasan si kakek.

Sampai kemudian baik dirinya maupun Si Gembala Api dikejutkan oleh munculnya cahaya dari sudut sebelah kanan benteng.

Cahaya itu menyambar ke arah mereka. "Awas!"

Teriak si kakek lalu melompat kesamping sambil jatuhkan diri.

Raja yang tidak sempat menghindar terpaksa dorongkan tangan kanannya ke depan. Sambil memegang pelita di tangan kiri, tangan yang didorong lalu dilambaikan ke bawah, Byar!

Satu benturan keras antara tangan sang pendekar dengan cahaya yang mengarah kebagian dadanya terjadi.

Terjadi ledakan keras yang membuat lantai dan langit-langit ruangan mengalami guncangan keras. Raja terjajar, tangannya terasa linu namun rasa sakit lenyap begitu dia salurkan hawa sakti ke lengannya.

"Kau tidak apa-apa?"

Tanya si kakek yang tahu-tahu sudah berdiri

"Tidak, aku baik-baik saja. Memangnya siapa yang menyerang kita?" Orang tua ini cemas, lalu menatap heran ke arah di mana cahaya berasal.

"Aku sendiri heran. Sebaiknya kita periksa. Aku yakin tidak ada siapapun di sana. Mungkin semua ini adalah pertanda. "

"Pertanda apa?"

"Aku tidak begitu yakin. Setahuku disudut sana hanya ada kubur Kalamurti peramal kami yang tewas lima puluh tahun yang lalu. Jika ada yang tidak beres akan terjadi dirimba persilatan maka ditempat itu bakal muncul tanda-tanda. Aku lebih suka menyebutnya Isyarat Alam Gaib. Dan isyarat itu diberikan oleh almarhum Kalamurti. Coba kita lihat dulu apakah disekitar kuburnya muncul tanda- tanda tertentu." Kemudian tanpa menunggu persetujuan Raja, si kakek bergegas menuju tempat yang dimaksudkannya.

Pusara Kalamurti ternyata hanya berupa gundukan tanah seluas setengah tombak dengan panjang kurang dari dua tombak.

Tidak ada tanda atau pun batu nisan.

"Inilah kubur satu-satunya di dalam benteng di tengah ruangan yang cukup luas" Menatap ke pusara terlihat pusara itu mengepulkan asap.

Sementara di sekitar pusara juga terlihat beberapa patung.

Keberadaan patung disamping kubur Kalamurti menimbulkan tanda tanya sekaligus keheranan di hati si kakek karena sebelumnya patung-patung tersebut memang tidak berada di tempat itu.

Raja yang diam-diam memperhatikan kakek disampingnya tiba-tiba saja berkata. "Ada apa? Kau takut pada patung-patung itu?"

"Seribu patung yang paling seram pun tidak membuatku takut. Apakah kau tidak memperhatikan beberapa patung yang berjejer di sekeliling makam itu masih baru dan seperti baru diletakkan oleh seseorang. Di tempat ini tidak ada kehidupan. Dan patung ini jika kau memperhatikan dengan mata batinmu sesungguhnya bukan patung sungguhan."

"Kalau bukan sungguhan memangnya semua patung itu adalah jejadian?" Tanya Raja tidak mengerti. Si kakek menganggukkan kepala.

"Peramal Kalamurti telah mengirimkan tanda tanda dari alam arwah. Setiap tanda yang dia kirimkan merupakan gambaran tentang semua yang akan terjadi di dunia persilatan."

"Hebat! Betapa tinggi rasa perduli peramal sahabatmu itu. Walau kini beliau telah berada di alam arwah namun masih sempat memberikan tanda kepadamu!"

Kata Raja sambil tersenyum

"Aku tidak bergurau. Aku menaruh dugaan kuat, selain Kitab Aksara Iblis bakal menemukan jodohnya, di dunia persilatan akan muncul persoalan baru. Apa bentuk persoalan yang kumaksudkan aku tidak dapat mengatakannya dengan pasti."

"Kau harus mencari tahu mengapa Kalamurti mengirimkan tanda dalam rupa patung-patung ini."

Ucapan Si Gembala Api membuat Raja menjadi bingung juga penasaran. Namun jauh dilubuk hati dia pun ingin tahu apakah patung-patung yang mengelilingi pusara Kalamurti memang bukan patung sungguhan. Raja tatap wajah kakek di depannya.

"Boleh aku menyentuh patung di depanku ini kek?" Pertanyaan itu membuat si Gembala Ap tertawa dingin.

"Kau meragukan ucapanku. Kau tidak percaya patung-patung ini hanyalah bayangan? Kau boleh menyentuhnya, kalau perlu kau sentuh semua patung itu hingga kau bisa tahu apa yang bakal terjadi!" Tegas si kakek tanpa ragu sedikit pun. Raja menahan nafas. Dia pun segera julurkan tenaga dalam ke tangan kiri kanan.

"Lakukan saja, mengapa ragu? Tidak perlu menggunakan tenaga dalam untuk melindungi tanganmu karena patung-patung itu tidak bisa menyakitimu!"

Raja mengangguk.

Dalam hati dia merasa takjub tak menyangka Si Gembala Api tahu dia menggunakan tenaga dalam untuk menjaga setiap kemungkinan yang tidak dinginkan.

Sambil melangkah maju tangan pun kemudian diusapkan ke badan patung yang terdiri dari laki-laki dan perempuan.

Begitu setiap ujung jemari menyentuh.

Tiba-tiba terjadi sesuatu yang benar-benar berada di luar dugaan sang pendekar Byar!

Byar!

Patung yang tersentuh tangannya mendadak hancur menjadi kepingan cahaya. Patung yang disentuh lenyap, puing-puing patung yang berupa cahaya juga ikut raib. "Aneh... aku seperti menyentuh bayangan."

Desis Raja,

Dengan tercengang dia kembali tatap wajah si kakek

"Kau boleh sentuh semuanya. Lihatlah kejadian yang sama akan terulang kembali."

"Tidak kek. Cukup sudah. Ternyata kau tidak bicara dusta. Patung itu hanya sebuah bayangan yang dikirim dari alam gaib. Peramal sahabatmu itu ternyata sangat luar biasa. Sudah menjadi arwah saja masih sanggup mengirim pesan. Tapi mengapa tanda yang dia kirimkan berupa patung, bukan yang lain."

"Semuanya ini memang menjadi sebuah misteri. Seperti yang telah kukatakan aku tidak bisa membaca atau mengartikan isyarat yang diberikan oleh almarhum sahabatku itu. Kaulah yang harus mencari tahu apa yang terjadi di luar sana."

"Baiklah orang tua, aku akan berusaha menyingkap semua rahasia yang kutemukan di tempat ini.

Setiap petunjuk sekecil apapun yang kakek berikan mudah-mudahan menjadi sebuah jalan untuk menemukan titik terang dari segala ganjalan dilubuk hatimu. Tapi orang tua, haruskah aku pergi ke barat?"

"Pergilah ke barat ke jurang Watu Remuk Raga karena kemungkinan besar disanalah semua pangkal sebab bermula. Iblis Kolot bukanlah manusia. Dia adalah manusia iblis, iblis tua yang selalu berusaha mencari jalan untuk menghancurkan rimba persilatan. Kitab Aksara Iblis harus kau temukan. Seandainya kau beruntung menemukan kitab Aksara Iblis. Segera serahkan kepada sesepuh dunia persilatan yang bernama Kanjeng Empu Basula. Hanya sang Kanjeng yang sanggup memusnahkan kitab yang menjadi penyebab timbulnya segala angkara murka."

Terang Si Gembala Api

"Bagaimana bila kitab telah menemukan jodohnya?"

Mendapat pertanyaan itu si kakek terdiam dan wajahnya membayangkan kekhawatiran yang mendalam.

"Aku tidak ingin mengatakan dan tidak pernah pula berharap kitab bisa menemukan jodohnya. Namun bila kejadian itu benar-benar terjadi maka menjadi tanggung jawabmu untuk menghancurkan orang yang mewarisi kitab Aksara Iblis!"

"Rasanya ini bukan tugas yang ringan. Tapi aku akan berusaha melaksanakan amanat yang kau berikan dengan sebaik-baiknya."

Janji pemuda itu. "Bagus."

Si Gembala Api tersenyum sambil menepuk bahu Raja.

"Aku percaya dengan kemampuan yang kau miliki. Sekarang ikut denganku!" Perintah si kakek.

Tanpa bicara sedikitpun dia mengikuti orang tua itu. Mereka terus berjalan melewati ruang demi ruang.

Kemudian keduanya sampai di depan sebuah pancuran yang menjadi sumber air satu-satunya di benteng itu.

Raja melihat di depan pancuran ada sebuah kolam berair bening dan sejuk.

Rupanya suara gemercik air pancuran itulah yang tadi terdengar oleh Raja ketika berada di balik pintu benteng.

"Tanpa air tak satupun mahluk bisa bertahan hidup, namun air saja tidak cukup buat seseorang untuk bertahan hidup. Kau lihat dibalik pancuran. Perhatikan baik-baik!"

Tegas si kakek sambil menunjuk ke balik pancuran.

Ada dinding, dindingnya seperti pintu. Mungkin pintu rahasia namun sudah ditumbuhi lumut tebal.

"Memangnya di balik dinding itu ada makanan, kek?" Tanya Raja.

"Edan. Yang ada dalam pikiranmu ternyata hanya makanan saja!" Gerutu si kakek. Senyum-senyum pemuda itu menjawab.

"Kau mengatakan air tidak cukup membuat seseorang bisa hidup. Harus ada makanankan? Aku bertanya makanan kau malah tersinggung."

Sambil bersungut-sungut si kakek menjawab pula.

"Sudah. Jangan banyak tanya. Sebaiknya lihat apa yang akan kulakukan!" Sambil berucap demikian si kakek tiba-tiba melangkah lebar melewati pancuran air. Ketika air pancuran mengguyur tubuhnya ternyata tubuh si kakek tidak menjadi basah.

Sebaliknya sekujur tubuhnya malah mengepulkan asap tak ubahnya seperti besi membara yang dicelupkan ke dalam air.

Tanpa menghiraukan Raja yang terus memperhatikan gerak geriknya, Si Gembala Api Segera menyingkirkan lumut yang menempel pada dinding.

Begitu dinding bersih dari lumut, si kakek segera pula mendorongnya. Di balik dinding yang bergeser tampak sebuah pintu terbuka.

Ada cahaya terang memancar dari balik pintu.

Si kakek menoleh ke belakang lalu memberi isyarat pada Raja untuk mengikutinya.

Sambil lindungi matanya yang kesilauan akibat pancaran cahaya yang datang dari ruangan dalam pemuda itu segera menyusul si kakek

"Ruangan yang sejuk, indah dan nyaman!" Gumam Raja memuji.

Segera saja mata pemuda itu menjelajah kesegenap penjuru ruangan.

Dia melihat di seluruh dinding ruangan yang luar biasa luas dipenuhi tumbuhan yang sedang berbuah lebat. Buah yang bergelantungan di setiap tangkai merah kuning dan ada pula yang berwarna biru ranum seperti buah anggur.

Melihat buah yang bergelantungan. Raja julurkan lidah basahi bibir.

Dia berpikir buah-buahan yang terdapat disetiap tangkai itu pasti enak dan lezat. Si kakek yang mengetahui apa yang ada dalam benak Raja segera menyikutnya.

"Jangan pernah berpikir kau bisa mencicipi sebutirpun dari buah-buahan itu. Kau tidak berhak memetiknya. Buah-buahan yang ada di sini semuanya hanya bisa dimakan oleh orang yang istiwewa!"

Menerangkan si kakek

"Istimewa bagaimana kek? Memangnya aku bukan tamu istimewa?" Rungut Raja sambil memendam rasa kecewa.

"Kau bukan tamu, kau hanya orang kesasar. Sudah... sekarang lupakan tentang segala rasa laparmu. Kau lihat di tengah ruangan itu!"

Kata si kakek sambil layangkan pandang ke tengah ruangan. Raja melihat ke tengah ruangan. Terlihat ada sebuah tempat tidur berkasur tebal dilapisi kain berwarna kuning.

Diatas tempat tidur terbentang sebuah kelambu tipis tembus pandang juga berwarna kuning gading.

Karena kelambunya demikian tipis, maka Raja dapat melihat orang yang berada di dalamnya, Di balik kelambu tergeletak satu sosok seorang gadis dalam keadaan tertidur pulas, Gadis itu berambut panjang.  

Wajahnya cantik mempesona, berleher jenjang, berpinggul dan berdada bagus "Siapa dia?"

Tanya Raja yang tidak dapat menahan diri

"Dulu ketika Iblis Kolot datang ke sini, dia hanya seorang bocah berumur dua tahun.Tidak kusangka kini dia sudah besar, tumbuh menjadi gadis dewasa yang cantik.Dia diasuh oleh peri kayangan. Dan peri itu kemungkinan telah meninggalkannya begitu dia sudah mampu mengurus diri sendiri."

Jelas si kakek.

Sambil menatap ke arah ranjang di mana sang dara cantik dibuai mimpi si kakek melanjutkan. "Namanya Anjarsari. Dia adalah satu-satunya wanita keturunan terakhir yang selamat dari

malapetaka puluhan tahun yang silam. Sekarang aku akan membangunkannya. Begitu dia terjaga aku akan memberi tahu, dia harus ikut bersamamu!"

"Memangnya apa yang bisa dilakukan gadis seperti dia? Aku bisa pergi sendiri dan tidak perlu direpotkan oleh siapapun."

Jawab Raja.

"Hus!, kau tidak boleh bicara begitu. Gadis itu umurnya sepantaran denganmu, siapa tahu dia berjodoh denganmu!"

Ucap si kakek sambil tatap pemuda itu dengan penuh arti. Raja pencongkan mulutnya.

Belum sempat dibangunkan si kakek tiba-tiba saja gadis di atas ranjang berkelambu menggeliat. Setelah menggeliat lalu menguap, si gadis tiba-tiba bangun dan duduk di atas tempat ketidurannya.

Setelah merapikan pakaian dan rambut yang menutupi wajah, gadis itu tiba-tiba menoleh ke arah dimana Raja dan Si Gembala Api berdiri.

Dia terkejut begitu melihat ada orang berada di dalam ruangan itu dan tengah memperhatikannya pula.

Kelambu disingkapkan.

Seraut wajah cantik di balik kelambu terlihat tambah mempesona, membuat hati sang pendekar bergetar, jantung berdegup lebih cepat dan darah mudanya berdesir.

Sambil menahan marah gadis itu memperhatikan si kakek dan Raja silih berganti.

Dia rasa-rasa masih mengenal Si Gembala Api walau sekian lama diantara mereka tidak pernah bertemu.

Namun pemuda yang bersama si Gembala Api itu siapakah? Tidak ingin terombang-ambing oleh perasaannya sendiri.

Gadis berkulit putih bersih bermata indah itu segera membuka mulut ditujukan pada si kakek "Orang tua...aku seperti mengenal dirimu?"

"Aku merasa kau bukan orang yang asing bagiku."

"Dua puluh tahun adalah waktu yang lama bagi tua bangka ini berada di luar sana. Semua itu karena ulah Iblis Kolot. Aku beruntung dapat bertahan hidup dalam liang pemasungan api abadi. Jika tidak dipasung di api kemungkinan aku sudah dimangsa oleh Simujud dan Makandor."

"Binatang-binatang sisa kehidupan masa lalu itu masih berkeliaran?"

Tanya gadis itu, sikapnya terlihat tenang namun wajahnya membayangkan kekhawatiran. Si kakek anggukkan kepala.

"Iblis Kolot membuat semuanya menjadi hancur. Kau pastilah Si Gembala Api pemimpin rakyat kita."

"Kau benar. Ternyata ingatanmu cukup baik." Memuji si kakek.

Sementara Raja hanya diam mendengarkan. Dalam diam pemuda itu sesekali mencuri pandang pada si gadis. dan setiap kali dia menatap hatinya selalu bergetar.

"Apa yang terjadi dengan diriku. Mengapa hatiku jadi gelisah seperti ini. Padahal sebelumnya aku juga sering bertemu gadis cantik. Dan aku tidak merasakan sesuatu yang aneh seperti aku melihatnya."

Batin sang pendekar. Gadis itu bangkit berdiri.

Sekejab dia melirik ke arah Raja, namun kemudian dia bersikap acuh.

Perhatiannya kini kembali tertuju pada si kakek

"Semua ingatan dan kenangan tentang kehebatanmu selalu diceritakan oleh Peri Indah. Dia pula yang mengatakan engkau masih hidup, tapi aku kurang begitu percaya. Setelah peri pengasuhku pergi sekarang aku baru mempercayainya, Aku senang melihatmu orang tua, tapi kehadiranmu diruangan pribadiku dengan membawa serta orang yang tak kukenal membuatku tidak suka."

Kata si gadis berterus terang.Walau Raja merasa tersinggung dengan sikap Anjarsari yang dianggapnya congkak dan sombong namun Raja membalasnya dengan senyum.

Ucapan sang dara sendiri bagi si kakek membuatnya merasa tidak enak hati pada Raja, maka buru-buru dia menyela.

"Anjarsari, bukankah itu namamu sejak kecil?" Sebagai jawaban si gadis anggukkan kepala.

"Ketahuilah, pemuda ini yang telah menyelamatkan aku, menghancurkan rantai yang mengikat tangan dan kakiku. Namanya Raja, Raja Gendeng 313. Tepatnya begitu, dia bukan pemuda sembarangan. Dia bahkan sanggup membunuh dua mahluk iblis itu tanpa menyentuhnya."

Puji si kalkek kagum. Berbeda dengan Si Gembala Api yang pernah merasa ditolong. Sebaliknya Anjarsari malah cibirkan mulutnya.

"Kau membawa orang gila ke ruangan ini? Penjelasanmu sama sekali tidak membuatku merasa kagum padanya. Aku yakin dia seorang pemuda lemah. Dan aku ingin menjajal kehebatannya sehingga aku bisa menilai apakah dia layak berada dihadapanku!"

Kata Anjarsari ketus.

Ucapan itu karuan saja membuat wajah sang pendekar berubah merah. Dia lalu melangkah maju.

Kali ini dia lebih memilih menatap langit-langit kelambu.

Dia tidak berani beradu pandang dengan Anjarsari gadis congkak yang memuakkan namun sanggup membuat hati sang pendekar berdebar-debar.

"Gadis angkuh, kau mengagulkan diri, merasa hebat karena kau tidak pernah melihat betapa luasnya bumi dan birunya langit. Kau seperti katak di bawah tempurung, merasa hebat sendiri. Aku pun tidak perlu bersahabat dengan gadis sepertimu!"

Tegas Raja, namun entah mengapa hatinya menjadi bimbang. Dia malah takut tidak melihat Anjarsari lagi diwaktu yang akan datang.

"Gila! Mengapa aku Jadi begini." Gerutu Raja.

Mendengar ucapan sang pendekar, si gadis malah tersenyum memperlihatkan sederet giginya yang rapi, putih menawan.

"Beraninya kau bicara seperti itu. Siapa yang sudi bersahabat denganmu. kau mana pantas menjadi teman gadis secantikku!"

Dengus Anjarsari tanpa perasaan. Raja menggaruk rambutnya yang tidak gatal.Melihat sikap Anjarsari yang kasar serta menyaksikan kegelisahan Raja, si kakek buru-buru membuka mulut.

"Tunggu... tenang... mengapa kalian malah bertengkar. Aku belum bicara dan menjelaskan niat kedatanganku ke sini.

"Kek... lebih balk tidak usah kau ceritakan. Aku tidak mau pergi bersama kuntilanak cantik itu!"

Tukas Raja kesal

"Hah... apa. Apa maksud ucapannya kek. Lekas jelaskan. "

Desak Anjarsari tidak sabar. "Hmm, begini. !"

Sambut Si Gembala Api.

Orang tua ini terdiam sesaat namun kemudian segera menceritakan semua keinginannya serta perintah yang harus dilakukan oleh Raja dan gadis itu.

Selesai mendengar penjelasan Si Gembala Api, Anjarsari pun tak kuasa menahan gelak tawanya. Sambil terkekeh dan pegangi perutnya yang kaku karena banyak tertawa, Anjarsari pun menjawab  

"Memangnya dia siapa? Apakah sudah tidak ada lagi manusia hebat di negeri kita ini yang layak melakukan sebuah tugas berat?"

"Manusia hebat di negerimu? Ha ha ha! Kau mana bisa membangkitkan para tokoh yang sudah menemui ajal untuk mencari kitab juga mencari Iblis Kolot!"

Tukas Raja disertai tawa dingin.

Kemudian pada si kakek pemuda itu berujar.

"Sudahlah kek. Aku ini cuma manusia tolol, dia lebih hebat dariku. Mengapa tidak kau perintahkan saja dia untuk menyelesaikan setiap amanat yang kau berikan padaku."

Berkata demikian Raja segera balikkan badan dan melangkah tinggalkan ruangan itu.

Si kakek terkejut

"Hei... kau mau kemana?!"

Si Gembala Api lalu tarik tangan Raja mencegah sang pendekar agar tidak pergi "Biarkan saja kek. Dia cuma bisa merajuk seperti anak kecil!"

Ejek Anjarsari sambil mencibir. Mendengar ucapan itu membuat langkah Raja terhenti. Cepat pemuda ini balikkan badan, kemudian dengan tatapan tajam menusuk dia berkata.

"Gadis sombong! Aku bisa membuatmu bertekuk lutut tanpa menggunakan senjataku ini!" "Hmm, begitu. Kek, bukankah ada-ruangan luas yang bisa kita gunakan untuk menguji

kehebatannya? Aku yakin dia cuma bermulut besar. Dan aku ingin membuktikan bahwa yang kukatakan ini benar adanya!"

Kata Anjarsari tetap angkuh.

Walau bingung dan merasa tidak enak pada sang pendekar, Si Gembala Api menjawab.

"Baiklah, Jika memang yang menjadi keinginanmu. Sekarang juga kita bersama-sama menuju ke ruangan pengujian...!"

Ujarnya mengalah. Akhirnya bersama-sama mereka bertiga tinggalkan ruangan ketiduran yang dipenuhi buah buahan itu.

Dalam perjalanan menuju ruangan yang dimaksud dalam hati Raja berucap.

"Aku harus mengesampingkan perasaan aneh tolol yang memenuhi hatiku ini. Dia harus diberi pelajaran agar bisa menghargai orang lain."

*****

Tidak sampai tiga puluh purnama berada dalam gemblengan Iblis Kolot, Pura Saketi yang kini telah tumbuh menjadi seorang pemuda remaja telah berhasil menyerap sekaligus menguasai

jurus-jurus silat tangguh serta ilmu pukulan sakti yang diberikan oleh orang tua itu.

Mendidik pemuda dengan berbagai ilmu olah kanuragan, Iblis Kolot sendiri tidak mengalami banyak rintangan yang berarti. Setiap ilmu yang diturunkan si kakek gila ini dengan mudah dapat diserap oleh Pura Saketi. Semua kemajuan pesat yang dialami oleh Pura Saketi bukan karena dia memiliki susunan tulang dan otot yang bagus saja tapi juga karena sebelumnya dia memang telah mewarisi ilmu olah kanuragan yang diturunkan oleh ayahnya Pendekar Sesat.

Dan siang itu kakek berambut panjang riap- riapan memanggil muridnya. Pura Saketi mendapati si kakek aneh sedang duduk di atas batu di tengah sebuah lapangan berumput hijau.

Begitu sampai di hadapan Iblis Kolot sambil rangkapkan kedua tangannya. "Guru memanggil saya?"

Bertanya Pura Saket sambil tatap wajah si kakek yang muram. Iblis Kolot anggukkan kepala sebagai jawaban.

"Tadi malam guru mengatakan semua ilmu sakti yang guru miliki telah diberikan padaku semuanya."

"Yang kau katakan benar, Pura Saketi. Kau telah memperoleh jurus Kuda Kuda Iblis yang hebat, juga jurus keramat Bayang Bayang Senja. Di samping itu kau telah mendapatkan ilmu pukulan Sungsang Jiwa, Pukulan Iblis Menembus Langit dan juga pukulan Bara Neraka. Setelah semua ilmu kuturunkan padamu maka hubungan antara diriku dengan dirimu boleh dikatakan berakhir sampai di sini. Tapi ingat untuk menyempurnakan semua ilimu yang telah kuberikan padamu, kau harus menemukan kitab Aksara Iblis. Aku tidak tahu di mana keberadaan kitab luar biasa itu, tapi firasatku mengatakan kitab berada disekitar kawasan ini. Aku tidak bisa membantu, namun kau sendiri yang harus menemukannya sebelum kitab ditemukan oleh orang lain."

Terang si kakek dengan berbinar-binar menyimpan harapan.

"Guru pernah mencarinya. Guru mengatakan kitab tidak guru temukan!"

Ujar Pura Saketi

"Itu benar. Mungkin kitab itu tidak berjodoh denganku, tapi aku yakin kitab itu berjodoh denganmu!"

"Guru, apakah mungkin kitab bisa kutemukan mengingat kawasan Jurang Watu Remuk Raga ini sangat luas!"

Jawab Pura Saketi dalam keraguan.

Tidak disangka-sangka mendengar ucapan Pura Saketi, si kakek delikkan mata. Dari mulutnya terdengar suara menggerung dan lolongan.

Setelah menangis tersedu-sedu, orang tua ini kemudian tertawa terbahak-bahak.

"Pemuda jahanam! Jangan kau mengakui aku sebagai gurumu bila kau bersikap lemah di depanku. Ucapanku tidak boleh kau bantah. Jangan kau buat kecewa arwah Pendekar Sesat ayahmu. Kau juga jangan membuatku marah!"

Teriak si kakek gusar. Dalam kemarahannya dia menghantam batu yang dia duduki. Batu hancur menjadi kepingan.

Dinding jurang terguncang, bagian dasar jurang bergetar seperti dilanda gempa bumi hebat. Pura Saketi menyeringai.

Dia tidak gentar dengan kemarahan gurunya karena dalam keseharian si kakek pun memang sering bertingkah aneh. Namun dia berpikir mengabulkan perintah orang yang dianggapnya sangat berjasa adalah sesuatu menjadi keharusan.

"Kau harapanku satu-satunya, Pura Saketi. Setiap orang yang telah memperlakukan dirimu seperti binatang harus mendapat ganjaran yang setimpal. Dan diluar musuh-musuhmu aku juga masih punya musuh yang harus disingkirkan. Aku punya rencana besar... aku punya rencana. Tapi rencanaku itu tidak akan berjalan sesuai dengan keinginanku bila kau belum menguasai ilmu hebat yang tersimpan dalam Aksara Iblis."

"Hmm, baiklah. Aku akan mencari kitab yang kau maksudkan, tapi apakah aku boleh mengetahui rencana besar yang kau maksudkan itu?"

Tanya Pura Saketi sambil tatap orang tua yang kini telah berdiri di depannya. Iblis Kolot menyeringal. Dalam hati dia berkata.

"Anak ini tidak boleh tahu apa yang menjadi rencanaku. Dia bisa kujadikan sebagai kepanjangan tangan. Tapi sebelum rencanaku berjalan sebagaimana yang seharusnya, aku harus menjadi sesuatu yang lain. Sesuatu yang membuatnya tak dapat menolak kehadiranku. Aku akan menguasainya, memanfaatkan raganya untuk memuluskan setiap keinginan yang telah lama terkubur dalam sanubariku. Orang tolol yang telah mengeroyokku dulu dan melemparkan aku ke dalam jurang ini adalah orang yang patut mendapat ganjaran dari semua perbuatannya terhadap diriku."

"Guru... mengapa diam, apa yang ada dalam benakmu!" Tanya Pura Saketi.

Pertanyaan itu membuat Iblis Kolot tersentak dan segera tersadar dari lamunannya.

"He, aku tidak memikirkan apa-apa. Aku senang melhatmu berhasil menguasai ilmu yang aku turunkan."

Jawab Iblis Kolot penuh dusta.

"Aku tidak dapat mengatakan apa yang menjadi rencanaku!"

Lanjutnya lagi

"Lalu... apakah sekarang aku harus memenuhi kewajibanku, mencari dan menemukan Kitab Aksara Iblis?"

"Kau memang harus melakukannya. Tapi sebelum kau meninggalkan tempat ini aku punya satu permintaan yang harus kau lakukan. Jika permintaanku kau patuhi, maka aku akan menganggap hutang nyawa dan budi antara dirimu dengan diriku impas." Merasa tidak mengerti maksud ucapan Iblis Kolot, dengan kening berkerut Pura Saketi pun bertanya.

"Apa maksudmu orang tua. Aku berhutang nyawa padamu, aku juga berhutang budi terhadapmu.

Dan semua itu tidak mungkin bisa kubayar lunas sampai kapanpun."

Iblis Kolot tersenyum. Dia merasa ucapan Pura Saketi sebagai sebuah kemenangan baginya "Pura Saketi, perlu kiranya kau tahu. Segala hutang piutangmu terhadapku tentu saja bisa kau

bayar lunas. Dan semua itu tidak membutuhkan waktu yang lama!"

Ucap si kakek diringi senyum

"Guru, apa maksudmu? Andai saja aku bisa melunasi semua hutangku sekarang tentu aku segera melakukannya karena aku tidak mau pergi dari sini dengan membawa beban yang mengganjal di hati!"

"Ha ha ha! Bagus. Aku juga ingin melihat apakah kau bisa melakukannya!" Dengus si kakek.

"Cepat katakan!"

Desak Pura Saketi terkejut bukan main. Matanya mendelik, mulut ternganga, bibir bergetar namun tidak sepatah katapun yang keluar dari bibirnya.

"Mengapa? Apakah ada yang aneh? Permintaanku adalah sesuatu yang menjadi keharusan. Kau harus membunuhku! Hanya itu satu-satunya cara untuk membalas semua hutang budimu kepadaku!"

"Guru... apakah kau sudah gila?"

Sentak pemuda itu sambil melangkah mundur mundur.

"Ha ha ha! Aku gila, sinting edan kan?! Bukankah kau sudah lama mengetahuinya. Aku hidup dalam ketidakwarasan. Dan kau termasuk orang yang beruntung karena bertemu dengan si gila ini!"

Jawab Iblis Kolot sambil melangkah maju.

"Kau boleh menyuruh melakukan apa saja. Tapi membunuhmu, menghabisi guru sendiri adalah sesuatu yang mustahil bisa kulakukan!"

Sahut Pura Saketi.

"Murid tolol, tidak berguna. Mengapa kau masih juga terpengaruh oleh perasaanmu? Bukankah sudah kukatakan bahwa diantara kita tidak ada ikatan?"

"Guru... aku tak sanggup melakukannya. Lebih baik aku menghabisi seribu musuh dari pada harus membunuhmu. Aku tidak bisa... aku tak sanggup. Maafkan aku!"

Setelah berkata demikian Pura Saketi balikan badan lalu menghambur lari tinggalkan gurunya. Melihat pemuda itu tidak memenuhi keinginannya. Iblis Kolot menjadi kecewa dan murka. "Murid keparat! Hendak kemana kau?"

Teriak Iblis Kolot sambil banting kakinya. Kaki yang menghentak amblas ke dalam tanah.

Batu-batu bertebaran, seluruh penjuru jurang bergetar dilanda guncangan hebat "Maafkan aku guru! Aku lebih baik mencari Kitab Aksara Iblis saja!"

Sahut pemuda itu dikejauhan

"Bocah edan. Kembali! Kau harus membunuhku!" Seru Iblis Kolot geram.

Tapi hanya desir angin yang terdengar.

Pura Saketi walau mendengar teriakan Iblis Kolot tidak menjawab.

Sebaliknya dari sekedar berlari cepat pemuda itu kini mengerahkan tenaga dalam kebagian kaki, membuat gerakannya bertambah cepat lalu lenyap dari pandangan Iblis Kolot.

Dengan segala kekecewaannya Iblis Kolot menggerung.

Tapi dia tidak mau tenggelam dalam kekesalan terlalu lama. "Harus ada cara agar dia bisa membunuhku. Tapi bagaimana...!" Pikir Iblis Kolot bimbang.

Dia pun lalu menarik kakinya yang amblas di tanah.

Setelah sempat mondar mandir Iblis Kolot lalu hentikan langkah.

Kakek gila ini lalu tersenyum begitu selintas akal muncul dari dalam benaknya

"Yang ini pasti bisa. Dia tidak akan tahu. Hanya dengan cara itu aku bisa mati di tangannya.

Setelah aku mati barulah semua rencanaku bisa berjalan. Aku akan mengejarnya, aku akan menyusulnya!"

Tegas Iblis Kolot sambil menatap ke arah lenyapnya Pura Saketi.

Sambil berlari di dalam hatinya Pura Saketi bertanya-tanya, mengapa Iblis Kolot ingin mati. "Apakah sang guru sudah bosan hidup? Tetapi mengapa aku yang harus membunuhnya?"

Iblis Kolot memang bukan manusia waras. Kegilaannya sudah Pura Saketi ketahui sejak lama, Memang orang tua itu gila, namun menghabisi orang yang telah banyak menanam budi kepadanya adalah sesuatu yang sulit untuk dilakukan.

Lelah berlari lelah pula dia berpikir. Pemuda itu pun lalu hentikan langkahnya. Sejurus dia memandang ke belakang.

Tidak terlihat tanda-tanda sang guru menyusulnya.

Pemuda ini menghela nafas sambil mengusap keringat yang membasahi wajah. Pura Saketi lalu memutuskan untuk beristirahat di bawah sebatang pohon berdaun rindang.

Di bawah pohon itu tubuhnya dibaringkan. Dengan bantal kedua tangan mata menerawang. Tiba-tiba dia berkata.

"Mengapa guru memilih mati. Jika benar dia punya rencana besar, bukankah rencana itu bisa dilakukan bersamaku? Aku tidak akan mau lagi bersikap pasrah seperti dulu. Aku harus mencari orang-orang yang telah menghabisi ayahku. Mereka pantas mendapat hukuman yang setimpal. Semua orang yang pernah bermusuhan dengan ayah harus dibunuh, Kelak bila aku telah menguasai kitab Aksara Iblis aku akan habisi semua tokoh rimba persilatan. Aku bisa menjadi penguasa tunggal dan menjadi raja diraja didunia persilatan. Akan kubuktikan bahwa Pura Saketi putra Pendekar Sesat lebih hebat dari almarhum ayahnya!"

Pura Saketi kemudian terdiam. Bibir tersenyum.

Banyak rencana memenuhi benaknya.

Dalam keadaan hati dipenuhi rencana, si pemuda ternyata tidak sadar kalau tidak jauh dari tempatnya berbaring berdiri tegak seorang kakek tua renta berpipi cekung berambut putih.

Kakek itu berterompah butut, tangan kanan bersitekan pada tongkat hitam berukir kepala tengkorak. Setelah menatap sejenak pada Pura Saketi, si kakek bercelana setinggi lutut tiba-tiba menyeringai.

"Sudah lama aku tidak membunuh! Lama pula aku tidak pernah bertemu dengan seseorang yang layak dibunuh.Tidak disangka hari ini aku menemukan manusia kesasar yang siap mampus!"

Dengus kakek itu dingin. Pura Saketi terkejut.

Dia menyangka yang datang dan bicara adalah gurunya. Secepat kilat pemuda ini bangkit.

Menatap ke depan dia terkesima.

Orang yang berdiri di depannya ternyata bukan Iblis Kolot.

Orang tua itu sama sekali tidak dikenalnya "Siapa kau?"

Hardik si pemuda. Si kakek tersenyum.

"Aku adalah orang yang haus darah. Aku membunuh siapa saja yang berani menginjakkan kaki di daerah yang menjadi kekuasaanku!"

Dengus si kakek ketus

"Bukankah daerah ini masih termasuk bagian dari wilayah kekuasaan Iblis Kolot?" Tanya pemuda itu heran.

"Aku tidak mengenal orang yang kau sebutkan. Kau berada di tempat yang salah, maka sudah selayaknya mampus di tanganku!"

Berkata demikian si kakek geser kaki kirinya ke samping, tongkat dilintangkan di depan dada siap menyerang. Melihat ini Pura Saketi menjadi gusar. Cepat pemuda itu membuka mulut.

"Kau belum menjawab pertanyaanku. Katakan siapa dirimu?!" Si kakek angker bertelanjang dada dongakkan kepala lalu tertawa tergelak-gelak

"Ha ha ha! Kau bertanya siapa aku? Akulah orangnya yang dijuluki El Maut Kaki Seribu,"

Sahut si kakek

"El Maut Kaki Seribu? Guru tidak pernah mengatakan ada orang dengan julukan seperti dia? Mengapa guru tidak pernah mengatakan kalau di dalam jurang ini juga dihuni oleh orang lain?"

Bertanya Pura Saketi di dalam hati.

"Anak muda, sudah waktunya bagimu untuk menghadap diraja akherat! Sekarang bersiap- siaplah untuk mampus!"

Berkata demikian tiba-tiba si kakek melompat ke depan lalu tusukkan tongkat di tangannya ke bagian wajah dan tenggorokan Pura Saketi.

Melihat serangan datang demikian cepat, Pura Saketi tidak punya kesempatan lagi bicara lebih banyak.

Dia terpaksa rundukkan kepala, kaki ditarik ke belakang sedangkan tangan digerakkan ke atas menangkis serangan tongkat.

Pada waktu bersamaan pemuda ini juga pergunakan tangan kirinya untuk menghantam dada lawan.

Dua serangan tongkat El Maut Kaki Seribu melesat sejengkal di atas kepalanya.

Tidak mengenai sasaran, tongkat melesat ke samping lalu menggebuk rusuk pemuda itu. Pura Saketi tarik tangan kanan yang gagal menangkis tongkat, lalu dengan menggunakan siku dia menangkis hantaman tongkat

Tak!

Benturan antara tongkat dan siku membuat Pura Saketi tergetar, sikunya menggembung bengkak sakit luar biasa.

Si kakek sendiri terjajar.

Tapi Pura Saketi segera merangssak maju, tangan kiri meluncur deras menyusup hindari tinju lawan lalu...

Dess!

Dengan telak tangan kiri pemuda itu menghajar dada si kakek, membuat orang tua itu terdorong ke belakang sejauh satu tombak.

Selagi El Maut Kaki Seribu kehilangan keseimbangan, pemuda ini melesat ke udara lalu disaat tubuhnya melayang dia lancarkan tendangan ke arah kepala lawan.

Tendangan ini sebenarnya hanyalah tipuan saja karena ketika lawan menangkis dengan kibasan tongkat justru Pura Saketi menarik balik tendangannya, kemudian sebagai gantinya dia dorongkan dua tangan ke arah lawan melepas pukulan Iblis Menembus Langit.

Segulung angin menebar hawa luar biasa dingin menderu. Menyertai serbuan hawa dingin itu membersit pula cahaya biru kehitaman berbentuk seperti mata pedang dan melesat cepat menebas mencari sasaran ditiga bagian tubuh lawan.

Melihat serangan ini si kakek keluarkan seruan kaget.

Tapi dia segera memutar tongkat di tangan, menjadikan tongkat itu sebagai perisai pertahanan yang kokoh.

Cahaya hitam memancar dari tongkat bergulung-gulung disertai angin ribut.

Dan ketika serangan Pura Saketi menghantam tongkat yang berputar melindungi tubuh si kakek maka terdengar suara dentuman menggeledek.

Lembah di dasar jurang mengalami guncangan keras.

Batu-batu dasar jurang mengalami guncangan hebat seperti dilanda kiamat.

Batu-batu dan pepohonan yang berada di sekitarnya hancur porak-poranda, bertebaran diudara dalam keadaan menyala dikobari api.

El Maut Kaki Seribu terjatuh dengan kedua kaki tertekuk.

Pura Saketi yang sempat mengalami guncangan keras terjatuh dengan dua kaki terlebih dulu menyentuh tanah.

"Tua bangka jahanam! Kau belum tahu siapa aku!"

Teriak pemuda itu sambil dekap dadanya yang mendenyut sakit. Si kakek tergelak-gelak. Secepat kilat dia bangkit berdiri.

Dengan menggunakan tongkat yang telah hancur dibagian ujungnya tanpa membuang waktu orang tua ini melesat ke depan.

Walau serangan tongkat berlangsung sangat cepat.

Namun berkat jurus keramat Bayang Bayang Senja, Pura Saketi dengan mudah sanggup menghindari tusukan maupun sambaran tongkat.

Namun si kakek yang menyadari betapa tangguh lawan yang dihadapinya tiba-tiba merubah jurus silatnya Ketika tongkat gagal melukai lawan, El Maut Kaki Seribu lebih banyak mengandalkan kecepatannya dalam bergerak Sambil menghuyungkan tubuhnya ke kiri atau ke kanan kakek ini terus merangsak maju.

Tiba-tiba tongkat meluncur menusuk ke bagian perut, Pura Saketi menghantam tongkat itu dengan pukulan Bara Neraka,

Seketika itu pula dari kedua tangan di pemuda yang telah berubah merah laksana bara menderu hawa panas luar biasa.

Disaat tongkat menusuk perutnya, tangan si pemuda menghantam tongkat itu. Kraak!

Byar!

Tongkat tak dapat melukai perut Pura Saketi. Sebaliknya senjata andalan si kakek hancur bertebaran menjadi puing berserakan dalam keadaan dikobari api.

Setelah menghancurkan senjata lawan. Tangan kanan dia dorongkan ke wajah lawan.

Namun tindakan yang dilakukannya ini kalah cepat dengan datangnya serangan El Maut Kaki Seribu

Des! Des!

Dua pukulan ganas mendera dada dan perut pemuda itu.

Pakaian Pura Saketi hancur dibagian depan, dada dan perutnya terguncang keras.

Sambil menahan rasa sakit luar biasa pemuda ini berusaha menguasai diri setelah sempat kehilangan keseimbangan.

Kesempatan ini kembali dipergunakan si kakek untuk menyerang lawan. Tiba-tiba tubuh si kakek melambung tinggi.

Kaki kanan terlanjur lalu dihantamkan ke arah lawan dengan tendangan bertubi-tubi. Pura Saketi menggeram.

Dalam kemurkaannya dia salurkan tenaga dalam ke kedua belah tangan. Dengan tangan kiri tendangan itu di- tangkisnya.

Sedangkan dengan tangan kanannya dia lepaskan pukulan yang tidak kalah ganas dari serangan si kakek

Duuk! Duuk!

Dua benturan keras terjadi, membuat keduanya terguncang.

Tapi ditengah kemarahan yang meluap tiba-tiba Pura Saketi melompat ke arah si kakek. Kemudian dengan tangan kanan yang berubah merah laksana bara pemuda ini menghantam. El Maut Kaki Seribu coba hindari serangan dengan berjumpalitan ke belakang.

Tapi pukulan Sakti Bara Neraka yang dilancarkan pemuda itu telah menderu menembus dua kakinya dan menghantam selangkangan si kakek

Dess! Raak!

Kerasnya pukulan dan tepat mengenai sasaran membuat El Maut Kaki Seribu menjerit setinggi langit.

Tubuhnya terguncang jungkir balik tidak karuan lalu jatuh tergelimpang di tanah. Orang tua ini megap-megap.

Dari mulut, telinga dan lubang hidungnya menyemburkan darah. Melihat lawan terkapar tidak berdaya si pemuda segera menghampiri.

Dia menatap lawan disertai seringai dingin.

"Berurusan denganku ternyata hanya mem-buatmu berhadapan dengan kematian"

Geram Pura Saketi. Si kakek lalu dicengkeramnya.Sekali rambut disentak kepala dan tubuh lawan terangkat naik.

Di saat itulah satu keanehan terjadi. Tiba-tiba seluruh tubuh orang tua itu bergetar. Takut lawan berniat melakukan serangan mematikan, Pura Saketi lepaskan jambakan rambut. Si kakek sekali lagi terhempas. Tapi begitu menyentuh tanah satu perubahan tidak terduga terjadi pada diri El Maut Kaki Seribu.

Sekonyong-konyong ujudnya berubah kembali ke sosok yang asli. Sosok Iblis Kolot.

Pura Saketi kaget bukan main "Guru... kau..."

Pemuda itu keluarkan seruan tertahan. Dalam kaget dia menghampiri sang guru dan jatuhkan diri disamping Iblis Kolot.

"Bagaimana yang menjadi korban adalah dirimu? Padahal yang kuserang jelas-jelas El Maut Kaki Seribu?"

Sentak pemuda itu seolah tidak percaya. Iblis Kolot tersenyum. Dengan suara tersendat kemudian dia berkata.

"Aku bisa merubah diri menjadi apa saja. Itulah satu-satunya ilmu yang tidak pernah kuberikan padamu. Kau tak usah bersedih, apalagi merasa bersalah. Semua ini memang menjadi keinginanku. Aku ingin mati di tanganmu. Keinginan itu tak mungkin terlaksana selama aku sebagai Iblis Kolot Ha ha ha...!"

"Tapi guru, mengapa kau ingin mati, mengapa?" Pekik pemuda itu.

"Kelak kau akan tahu mengapa aku menginginkan kematianku. Aku..." Iblis Kolot berusaha keras ingin menyelesaikan ucapan.

Namun bukan ucapan yang keluar dari mulut melainkan semburan darah merah kehitam-hitaman.

Iblis Kolot terkulai.

Pura Saketi meraung sejadi-jadinya.

Tapi bersamaan dengan terkaparnya Iblis Kolot satu perubahan yang luar biasa aneh sekonyong konyong terjadi pada diri kakek ini.

Tubuh yang terkapar diam tiba-tiba menggeletar.

Ada asap tebal mengepul dari ujung kepala hingga ke ujung kaki. Asap berwarna merah kelabu kemudian membumbung tinggi, tergulung-gulung di udara.

Tidak disangka-sangka kepulan asap merah kelabu itu kemudian bergerak ke arah kepala tepat di bagian ubun-ubun Pura Saketi.

Si pemuda yang tidak mengetahui tentang keanehan yang terjadi tidak sempat menghindari asap merah kelabu yang menerpa ubun-ubunnya.

Begitu asap menyentuh ubun-ubunnya, dia merasakan ada satu hawa dingin luar biasa bergerak di dalam kepalanya, Hawa aneh itu kemudian menjalar kesekujur tubuh di sebelah bawah.

Pura Saketi beliakkan mata.

Tubuh merinding disertai guncangan dibagian tubuh sebelah dalam. "Apa yang terjad...?"

Sentak pemuda itu, heran, kaget juga bingung. Sebagai jawaban.

Tiba-tiba saja terdengar suara gelak tawa dari mulut pemuda itu.

Tawa yang terdengar bukan lagi tawa Pura Saketi, melainkan tawa arwah Iblis Kolot

"Inilah yang kumaksud. Dengan terbunuh ditanganmu, berarti aku bisa menitipkan arwahku di dalam ragamu.Mulai sekarang kita berbagi tempat. Dalam satu raga terdapat dua mahluk hidup. Satu arwahku dan satu lagi sukmamu. Ha ha ha..."

Pura Saketi tercengang. Dia merasa aneh pada dirinya sendiri. "Aku ketitipan arwah? Dan arwah itu adalah arwah guruku sendiri!"

Membatin si pemuda kaget. Masih tidak percaya dengan kenyataan yang terjadi pemuda ini menatap ke arah di mana tubuh Iblis Kolot terbujur.

Sekali lagi dia dibuat terguncang ketika sadar jasad gurunya ternyata telah lenyap tidak meninggalkan bekas

"Guru... guru...Rencana dan muslihat apa sebenarnya yang tersimpan dalam benakmu!" Teriak Pura Saketi penasaran.

Tidak ada jawaban.

Hanya desir angin yang terdengar. 

Tamat