-->

Raja Gendeng Eps 25 : Petaka Lembah Tanpa Suara

 
Eps 25 : Petaka Lembah Tanpa Suara


Istana Kebahagiaan berdiri menjulang.

Siang hari udara di kawasan Lembah tempat dimana istana berdiri terasa sejuk. Panas matahari hampir tidak terasa.

Di dalam satu ruangan istana yang bernama Kehormatan Utama sang puteri penghuni istana duduk dengan menyandarkan diri ke dinding.

Puter itu berwajah ayu, berambut putih laksana perak dan bergaun indah berwarna putih pula. Tampaknya dia sedang memejamkan matanya. Wajah sang puteri terlihat pucat.

Keningnya mengucurkan keringat akibat bentrok tenaga sakti dengan Nila Seroja dan tiga pengasuhnya.

Puteri ini adalah puteri Manjangan Putih mengalami guncangan di bagian tubuhnya sebelah dalam.

Tidaklah heran setelah Nila Seroja membawa ketiga pengasuhnya menyingkir dari halaman istana, puteri cantik yang diatas kepalanya bertengger mahkota putih bersimbol tanduk manjangan ini segera duduk bersila memulihkan diri.

Seperti diketahui dalam episode Topeng Pemasung jiwa, Nila Seroja yang juga dikenal dengan sebutan Perawan Bayangan Rembulan bersama para pengasuhnya yang terdiri dari Rengga, Sekti dan Cakra Buana berhasil memasuki pintu gaib yang tersembunyi di pohon Darah.

Pintu yang mereka tembus itu menuju ke Istana Satu atau Istana Kebahagiaan. Sesampainya di lembah, Nila Seroja memerintahkan pengasuhnya untuk melakukan penggeledahan ke dalam istana.

Belum sempat perintah itu dilaksanakan, Penghuni Istana telah menyerang mereka dengan suara alunan kecapi.

Berkat gabungan kekuatan ke empat orang itu akhirnya suara kecapi lenyap setelah beradu keras dengan suara teriakan yang keluar dari masing masing mulut ke empat orang itu.

Tiga pengasuhnya kemudian menyerbu masuk ke dalam istana guna mencari Puteri Manjangan Putih.

Namun mereka diserang oleh sosok bayangan hitam di dalam ruangan yang gelap.

Keinginan untuk menangkap Puteri Manjangan Putih tidak tercapai. Ketiga pengasuh malah dilempar keluar istana dalam keadaan terluka tidak sadarkan diri.

Kembali pada Puteri Manjangan Putih.

Setelah merasa luka dalamnya pulih, Puteri membuka matanya.

Tak jauh di depan diatas lantai istana bertingkat dua itu tergeletak sebuah alat musik yang tidak lain adalah kecapi.

Kecapi dalam keadaan rusak berat. Beberapa talinya putus.

Puteri Manjangan Putih menghela nafas berat lalu berdiri dan segera tinggalkan lantai yang berlapiskan permadani.

Kembali kesinggasana tempat kedudukan yang dilapisi beludru berwarna biru. Puteri ini layangkan pandangannya ke arah pintu yang terbuka.

"Aku tidak ingin ada pertumpahan darah di tempat yang diberkahi dengan kebahagiaan ini.

Orang-orang dari alam dunia luar itu datang membawa kejahatan.Bunga Anggrek Mayat adalah bunga keramat. Bunga itu sedang dicari oleh gadis yang kerap menebar darah bersama para pengikutnya.

Bukan mustahil akan menyusul orang lain yang memiliki keinginan yang sama. Apa yang harus kulakukan.?"

"Tidak mudah mengusir orang-orang seperti itu sendirian. Mereka orang-orang sakti yang membekal niat jahat. Kawasan istana Satu sekarang berada dalam ancaman bahaya. Apakah lebih baik jika aku meninggalkan istana ini untuk sementara waktu?"

Baru saja sang puteri berpikir demikian, tiba-tiba muncul seorang wanita renta berpakaian hitam bertopi mirip jubah.

Melihat kehadiran si nenek renta sang puteri tersenyum.

Dengan anggukan kepala gadis ini memberi isyarat agar si nenek duduk di kursi yang terdapat di depannya. Orang tua yang wajahnya tertindung topi jubah segera lakukan apa yang diperintahkan.

Setelah duduk si nenek berkata.

"Jalan pintu rahasia di pohon Darah telah banyak diketahui orang. Gusti puteri harus meninggalkan istana secepatnya."

"Saya juga ingin tahu apakah gusti dalam keadaan baik-baik saja?"

Bertanya lagi si nenek sambil menatap kecapi yang tergeletak dilantai ruangan.

Wajah si nenek mengernyit ketika melihat kecapi itu mengalami kerusakan yang cukup parah.

Dawai-dawainya putus.

"Ini pertanda orang yang menyerang suara petikan kecapi tidak dapat dipandang sebelah mata." "Aku tidak apa-apa, Nyai Sentika. Lawan di luar memang cukup berat juga, namun aku sanggup

mengatasi. Bagaimana dengan dirimu. Bukankah beberapa saat yang lalu pengasuh Nila Seroja melakukan penyerbuan di ruangan bawah?"

Tanya Puteri Manjangan Putih. Sementara tatap matanya memandang si nenek yang ternyata bernama Nyai Santika itu dari kepala hingga ke ujung kaki.

Si nenek tersenyum.

"Tiga orang pengasuh gadis bertopeng itu memang sangat tangguh. Tapi mereka kurang cerdik. Saya melumpuhkan mereka dengan Harum Bunga Surga. Begitu mereka terbius dan menjadi lemah, saya langsung menyerang dan melemparkan ketiga kakek itu keluar. Mereka kemudian segera pergi. Tapi firasat saya mengatakan mereka pasti akan kembali."

Puteri Manjangan Putih mengangguk perlahan sambil menghembuskan nafas pendek. Dua matanya menerawang menatap langit-langit ruangan putih dipenuhi ukiran indah berupa manjangan betina

"Nila Seroja atau Perawan Bayangan Rembulan dan pengasuhnya hanya muncul di malam hari saat bulan ada di langit.Sebentar lagi fajar menyingsing. Nila Seroja pasti akan bersembunyi tidak jauh dari sini selama sehari penuh."

"Jika begitu kita harus menggeledah kawasan lembah, gusti puteri. Kita pasti bisa menemukan mereka."

Usul Nyai Sentika.

Tapi usul itu tidak disetujui oleh Puteri Manjangan Putih

"Jika kita berada diluar istana akan lebih berbahaya karena yang datang menyambang tempat kita bukan cuma gadis itu saja. Aku bisa merasakan hadirnya orang lain selain dari mereka. Dan yang baru hadir ini juga menginginkan Bunga Anggrek Mayat."

Mendengar Puteri berkata Nyai Santika jadi penasaran.

"Gusti puteri apakah saya boleh melihat apa saja orang-orang yang gusti maksudkan?"

"Tentu saja, Nyai Santika. Kau adalah satu satunya orang yang paling kupercaya dan paling dekat denganku. Kau boleh menggunakan air dari Cawan Jiwa untuk melihat apakah yang kukatakan ini benar ataukah keliru."

Setelah berkata demikian puteri ulurkan tangannya ke arah jendela yang terbuka. Untuk diketahui jendela yang berada di belakang kursi kebesaran itu bukanlah jendela biasa.

Dari jendela tersebut bila puteri Manjangan Putih menghendaki dapat mendatangkan langsung benda-benda sakti yang konon dari nirwana.

Begitu tangan dijulur, terdengar suara desir halus dari jendela.

Seiring dengan itu sambil pejamkan mata sang puteri berucap lirih namun jelas

"Berkah para dewa meliputi segala.Aku adalah puteri yang diutus sebagai penyampai kebenaran di dalam kebaikan sejati.Aku menginginkan Cawan Jiwa bersama air berkah di dalamnya sekarang juga!"

Baru saja Puteri Manjangan Putih berkata demikian.

Dari luar jendela muncul satu bayangan berupa dua buah tangan bertabur cahaya menyilaukan.

Di atas tangan raksasa itu ada sebuah benda berbentuk cawan berwarna emas yang luar biasa besarnya.

Cawan melayang memasuki jendeia, kemudian jatuh tanpa suara diatas sebuah batu bundar berukir berbentuk meja.

"Terima kasih permintaanku telah dikabulkan. Utusan, silahkan kembali ke Nirwana!"

Bayangan tangan raksasa yang memancarkan cahaya lenyap dari depan jendela lalu terdengar suara langkah kaki menderu dikejauhan langit.

Puteri Manjangan Putih membuka mata.

Menatap cawan yang ukurannya sepuluh kali cawan biasa dengan bibir tersenyum. Dengan diikuti Nyai Santika puteri bangkit dan menghampiri Cawan Jiwa yang terisi penuh air berwarna bening.

Tanpa bicara sepatah kata pun puteri mengembangkan tangan kanannya. Tangan yang mengembang digerakkan di atas permukaan mulut cawan.

Air bening di dalam cawan bergetar hebat.

Sambil terus tegak berdiri sang puteri tiba tiba berkata ditujukan pada cawan di depannya "Wahai air kemurahan, wahai Cawan Jiwa Perlihatkan padaku siapa saja orang yang berhasil

menembus pintu gaib dan kini telah berada di wilayah kediamanku!" Selesai sang puteri membuka mulut.

Air di dalam Cawan Jiwa tiba-tiba bergolak hebat seperti mendidih.

Warna warni pelangi bermunculan silih berganti pada air cawan yang tadinya bening sejuk.Gelegak air di dalam cawan lenyap, warna biru, merah putih kuning, jingga juga hijau lenyap.

Air di dalam cawan kembali bening.

Di permukaan air secara berturut-turut bermunculan sosak orang-orang yang telah memasuki kawasan Istana Satu Istana Kebahagiaan. Mula-mula yang terlihat dipermukaan air dalam Cawan Jiwa adalah Nila Seroja dan tiba-tiba anjing pengasuhnya.

Karena sang puteri telah tahu siapa mereka, Bahkan telah terlibat adu kekuatan gaib dengan mereka maka diapun segera berujar.

"Yang kau perlihatkan itu telah kami ketahui. Munculkan gambar orang yang lainnya!"

Pinta Puteri Manjangan Putih. Gambaran orang yang ada dipermukaan air lenyap, Selanjutnya Cawan Jiwa bergetar diikuti dengan guncangan air yang ada di dalamnya.

Sejurus kemudian dipermukaan air muncul seorang nenek dan seorang pemuda berambut gondrong. Puteri Manjangan Putih dan Nyai Santika memperhatikan lebih seksama.

Semakin lama keduanya pun dapat melihat gambar di dalam air itu menjadi lebih jelas. Ternyata pemuda itu berpakaian kelabu.

Wajahnya cukup tampan, tampang lugu dan terlihat selalu cengengesan saat bicara.

Di samping si pemuda adalah seorang nenek berumur sekitar tujuh puluh tahun, memakai pakaian hitam lebar mirip jubah sedangkan bagian lengannya membentang jubahnya mirip sayap kelelawar.

Selain memiliki wajah yang sangat cantik selayaknya gadis yang berusia empat puluh tahun, nenek ini juga menyanggul rambutnya.

"Siapa pemuda gondrong itu?"

Tanya Nyai Santika. Sekejab dia melirik ke arah puteri yang berdiri disebelah kanannya. Namun kemudian perhatiannya kembali tertuju ke arah air dalam cawan.

"Pemuda ini adalah orang yang sering muncul dalam semediku. Dalam tidurku dia juga kerap datang lewat mimpi. Datang dan pergi seperti setan gentayangan. Tapi dia adalah manusia berhati jujur berjiwa polos. Aku sangat yakin kedatangannya membekal maksud baik. Mungkin saja dia hendak membantu. Namun mengingat sifat serta wataknya yang angin-anginan siapa yang bisa menduga hatinya?"

Jelas sang puteri bimbang. "Apakah dia memiliki julukan?" Tanya Nyai Santika.

"Hamba kurang yakin pemuda gondrong Itu mempunyai iImu kesaktian yang bisa diandallkan" "Hmm..ilmu kesaktian?"

Gumam sang puteri

"Aku memang belum pernah bertemu dengannya. Namun aku sudah mengetahui riwayat dan asal usulnya.Dia masih keturunan raja, jadi dia bisa disebut pangeran.Dia berasal dari Istana dingin yang disebut Istana Es.Namanya Raja dan lebih dikenal dengan sebutan Sang Maha Sakti Raja Gendeng

313. Orangnya memang aneh, banyak lagaknya, konyol mungkin juga menyebalkan. Namun ilmu kesaktiannya tidak diragukan.Sahabatku Nini Balang Kudu yang menetap di dasar laut pantai selatan itu adalah salah seorang gurunya."

"Apa? Jadi dia muridnya nenek bawel Nini Balang Kudu yang mempunyai peliharaan seekor naga sakti raksasa bernama Naga Putih?" Desis Nyai Santika kaget.

Mulut si nenek ternganga seolah tidak percaya dengan apa yang barusan didengarnya. Puteri Manjangan Putih mengangguk sambil tersenyum.

"Walau sudah lama aku menjalin hubungan dengan Nini Balang Kudu, tapi dalam belasan tahun belakangan ini aku tidak pernah menyambanginya. Bila bertemu dengan pemuda aneh itu, aku tidak akan mengatakan bahwa aku adalah sahabat gurunya."

"Lalu siapa nenek cantik yang bersama pemuda itu? Apakah mungkin kekasihnya?" Tanya Nyai Sentika lagi.

Si nenek melihat wajah ayu puteri disampingnya bersemu merah. Namun itu hanya sekilas saja.

Sekali lagi puteri tersenyum.

"Aku belum pernah melihat nenek yang satu itu. Dia dan Raja cocok jalan bersama. Keduanya sama-sama orang sinting. Lihat saja sambil berjalan mereka bergandengan tangan segala."

Ucap sang dara.

Lalu palingkan kepala ke arah jendela.

"Gusti, bagaimana kalau nenek itu memang kekasihnya?"

"Aku tidak perduli. Yang penting kedatangannya kesini tidak sama dengan Nila Seroja." "Bukankah pemuda itu selalu bersahabat dengan orang baik-baik?"

"Aku belum tahu. Pemuda polos seperti dia bisa saja dimanfaatikan oleh orang-orang licik. Dia bisa masuk dalam perangkap dan tipu muslihat orang lain"

"Kasihan dia. Seorang pewaris tahta tapi mengapa tampangnya terlihat seperti orang gila? Diluar sana yang namanya rimba persilatan, banyak sekali tokoh-tokoh sakti yang mempunyai tingkah laku aneh. Dan Raja adalah salah satu diantara yang aneh itu...!"

"Aneh tapi sakti itu tidak mengapa gusti. Kalau aneh karena mabuk itu baru gila namanya."

Celetuk Nyai Sentika, Si nenek kemudian tertawa, menertawakan gurauannya sendiri. Puteri diam membisu. Kembali perhatiannya tertuju pada air didalam Cawan Jiwa.

"Perlihatkan gambar yang lain!"

Tiba-tiba Puteri Manjangan Putih berseru.

Air dalam cawan kembali bergetar demikian juga dengan cawan emas yang menjadi wadahnya.

Perlahan namun pasti didalam cawan kembali muncul seraut wajah seorang gadis dan juga seorang kakek.

Yang membuat Puteri Manjangan Putih melengak kaget, begitu juga dengan Nyai Sentika. Mereka mengenal dengan baik salah seorang diantaranya.

"Gusti puteri... lihat...bukankah kakek yang bersama gadis bergaun merah bermahkota indah dengan symbol buaya itu, Ki Demang Sapu Lengga?" Sentak Nyai Sentika setengah berteriak. Walau sempat terkejut melhat kemunculan KI Demang Sapu Lengga, Puteri Manjangan Putih anggukkan kepala.

"Orang tua itu menyalahi aturan, melanggar Janji. Dulu dia merengek-rengek meminta agar aku memberinya ilmu Segala Rindu. Dia beralasan istrinya yang bernama Rai Cempaka yaitu kakak dari Kunti Seroja bermain gila dengan laki-laki lain yang lebih tampan dan lebih muda. Tidak disangka semua alasan itu hanya tipu muslihatnya saja. Dia ternyata menggunakan ilmu pemberianku untuk berbuat maksiat. Sudah ratusan anak gadis yang jatuh dalam pelukannya. Dan aku curiga mungkin Kunti Seroja hamil dan melahirkan juga akibat perbuatannya. Sudah saatnya ilmu pemberianku itu kucabut kembali. Dia juga harus mempertanggung jawabkan perbuatan dosanya kepadaku juga kepada para dewa."

Geram Puteri Manjangan Putih dengan wajah merah padam mata berkilatan menahan kegusaran. "Ki Demang benar-benar tua bangka yang tidak tahu membalas budi kebaikan orang."

Nyai Sentika ikut geregetan.

"Seandainya saya adalah gusti puteri. Saya tidak Cuma akan memusnahkan ilmu yang telah diberikan. Saya juga bakal memenggal kepala yang diatas juga yang disebelah bawah biar dia tahu rasa agar setiap melihat gadis cantik dia cuma bisa gigit jari. Hik hik hik!"

Tidak terpengaruh ucapan si nenek, sang puteri menanggapi.

"Kebahagiaan tidak pernah ada bila kita berdiri diatas penderitaan orang lain. Biarlah para dewa yang memberikan balasan setimpal atas apa yang diperbuat oleh Ki Demang"

"Tapi mengapa Ki Demang bersama perempuan muda bergaun merah itu gusti? Apakah mungkin perempuan itu Istri barunya? Kudengar Kunti Seroja telah meninggal belasan tahun yang lalu."

Kemudian sang puteri memperhatikan gambar dipermukaan air cawan dengan lebih seksama.

Terlihat ada untaian rantai melilit dileher Ki Demang dan salah satu ujung rantai itu ada dalam genggaman gadis bergaun merah. Sang puteri lalu tersenyum dan berucap.

"Seorang istri mana mungkin membelenggu leher suaminya dengan rantai selayaknya seekor anjing. Ki Demang pasti telah menjadi tawanan gadis itu. Dengan ilmu kesaktian yang dia miliki, rasanya mustahil Ki Demang dapat takluk oleh gadis berusia muda itu!"

Kata Nyai Sentika yang tahu banyak kehebatan si kakek. Dengan mata menerawang menatap kejauhan diluar jendela, Puteri Manjangan Putih berkata.

"Ingatlah dengan ujar-ujar di atas langit masih ada langit. Setinggi apapun ilmu serta kehebatan seseorang pasti ada saja yang bisa mengalahkannya. Ki Demang kena batunya. Karena Ratu Buaya jelas-jelas bukan tandingannya."

Mendengar ucapan sang puteri sepasang alis mata Nyai Sentika berkerut tajam. "Apakah gusti puteri mengenal gadis itu?"

Tanya si nenek sambil tatap wajah sang puteri dalam-dalam "Melihat mahkota yang bertengger diatas kepalanya, aku dapat memastikan dia adalah Ratu Siluman Buaya. Aku menaruh dugaan, kedatangannya kemari adalah untuk mendapatkan bunga Anggrek yang akan digunakan untuk melenyapkan pengaruh kutukan yang menimpanya selama ini."

"Eh, apa maksud gusti."

Bertanya Nyai Sentika dengan hati diliputi perasaan tidak mengerti.

Puteri Manjangan Putih yang menghela nafas sebentar lalu melanjutkan perkataannya. "Dulunya dia adalah seorang bidadari. Tapi karena selalu melanggar aturan di kayangan dengan

pergi ke dunia kehidupan manusia, maka dewa pun mengutuknya dan menempatkannya di dunia ini." Sang Puteri kemudian menceritakan kejadian masa lalunya yang dilakukan oleh sang ratu.

Selesai menjelaskan riwayat gadis itu, Puteri Manjangan Putih berterus terang

"Aku memang tidak mengenal Ratu Buaya Putih. Segala kisah manusia bisa kuketahui lewat petunjuk dan wangsit yang datang dari langit.Melihat kehadiran Ratu Buaya. Saat ini lebih baik aku pergi."

"Gusti puteri hendak kemana?" Puteri tidak segera menjawab.

Dia berjalan mundar mandir, agaknya dia tengah berpikir apa tindakan terbaik yang harus diambilnya, Langkah Puteri Manjangan Putih kembali berhenti tepat di depan di mana sebelumnya dia berdiri.

"Aku akan pergi ke Lembah Tanpa Suara!"

Mendengar disebutnya nama Lembah itu, si nenek terperangah.

"Apa? Mengapa gusti malah hendak berada ditempat bertumbuhnya Bunga Anggrek Mayat? Tidak seorang pun yang dibenarkan bicara keras di lembah itu. Selain dapat membangunkan ular raksasa penjaga Anggrek Mayat, suara atau ucapan keras orang yang datang ke tempat itu dapat membahayakan orang itu."

Kata si nenek.

"Bicara keras tidak boleh, tapi berbisik tidak dilarang. Kau mengetahui rahasia itu tapi orang luar termasuk Ki Demang tidak mengetahuinya, Aku tidak suka mengotori tanganku dengan darah karena aku tetap ingin bahagia. Bila ada yang kusakiti berarti nikmat kebahagiaan yang kurasakan akan ikut berkurang."

"Lembah itu akan menjadi sebuah tempat kebinasaan bagi orang-orang yang suka berbuat kerusakan di rimba persilatan. Saya kira ini adalah rencana yang sangat baik. Tapi bagaimana dengan nasib orang-orang yang mungkin saja berada di pihak gusti puteri?"

"Masalah itu semuanya aku serahkan pada dewa." Jawab Puteri Manjangan Putih.

"Sudah saatnya kita harus tinggalkan istana ini!" "Eeh, tunggu!"

Seru Nyai Sentika saat dilihatnya sang puteri hendak berlalu "Ada apa lagi, Nyai?"

Tanya si gadis tanpa menoleh

"Apakah gusti puteri tidak ingin melihat lagi ke dalam Cawan Jiwa. Siapa tahu masih ada yang lain yang datang ke sini."

Gadis itu tersenyum

"Kehadiran mereka sudah cukup. Mudah mudahan kehadiran yang lainnya menjadi kabar baik!"

Setelah berkata demikian Puteri Manjangan Putih memberi isyarat pada Nyai Sentika untuk mengikutinya. Tanpa banyak bicara si nenek pun menyusulnya.

Seperginya kedua orang ini. Cawan Jiwa yang berada diatas meja mendadak lenyap dari pandangan mata.

*****

Berkat Ilmu Menjajak Raga yang dimilikinya. Ki Lumut Adayana dan Bunga Jelita yang bergelayut dipunggungnya berhasil menyusul ke arah mana sosok anjing hitam yang memancarkan cahaya merah biru dan kuning di bagian kepala itu pergi. Setelah yakin orang yang mereka ikuti turun di kawasan luas yang ditumbuhi berbagai pohon menjulang tinggi, Ki Lumut segera sentakkan terompah sakti yang telah membawanya terbang diketinggian.

Dua terompah yang terpasang dikedua kaki tiba-tiba bergetar.

Ada satu tenaga luar biasa besar yang keluar dari dari dua terompah menyentakkan kakinya ke bawah, Ki Lumut dan Bunga Jelita meluncur laksana meteor yang jatuh dari langit. Begitu kaki menjejak tanah Bunga Jelita yang bergelayut dipunggung melepaskan diri.

Ki Lumut segera simpan terompah sakti ke dalam kantong perbekalannya. Tanpa bicara satu sama lain, kedua orang ini pun menatap kesekelilingnya.

Bila Ki Lumut dibuat tertegun begitu matanya membentur pohon besar berbatang, berdaun dan bercabang merah. Sebaliknya Bunga malah keluarkan seruan kaget ketika melihat dua lubang sedalam pinggang berukuran luar biasa besar berbentuk telapak tangan

"Pohon Darah! Ternyata orang yang kita ikuti datang ke tempat ini. Tapi aku hanya bisa merasakan bau keringatnya.Orangnya entah ke mana?"

Kata kakek yang sekujur tubuhnya ditumbuhi lumut hijau itu. Tanpa menghiraukan ucapan Ki Lumut sebaliknya gadis cantik yang luar biasa berpakaian cokelat berambut hitam panjang malah berseru.

"Lihat kek Aku melihat telapak tangan raksasa. Bila telapak tangannya saja sebesar gajah orangnya sebesar apa?"

Kata Bunga terkagum-kagum. Walau merasa kesal ucapannya diabaikan orang. Tak urung Ki Lumut memutar tubuh balikkan badan.

Sejurus kemudian dia menatap ke arah yang ditunjukkan Bunga Jelita. Gadis yang juga dijuluki Bunga Kembang Selatan Ini lagi-lagi berucap.

"Hebat bukan kek? Aku tidak begitu percaya ada manusia raksasa berdiam disekitar tempat ini."

Ucapan itu membuat Ki Lumut tak kuasa menahan gelak tawa. Bunga menjadi heran. Dalam keheranannya dia bertanya,

"Memangnya ada yang lucu dalam ucapanku kek?" Pertanyaan itu membuat si kakek hentikan tawanya.

"Gadis cantik bau kencur. Aku yakin kencingpun kau belum lempang."

Gurau si kakek, membuat Bunga tersinggung lalu jewer telinga Ki Lumut yang licin.

Ki Lumut berteriak kesakitan, padahal jeweran yang dilakukan Bunga tidak menimbulkan rasa sakit sama sekali.

"Jangan tarik telingaku, bisa putus nanti. Apa kau tidak takut kualat?" Jeweran dilepas. Sambil bersungut-sungut Bunga Jelita mendamprat.

"Kakek sinting! Bicara ngaco kurang ajar. Memangnya kau tahu dari mana kencingku belum lempang?"

Ki Lumut tertawa namun segera menjawab.

"Aku cuma bergurau. Aku baru tahu, gadis secantikmu ternyata gampang naik darah." "Ya sudah, kau jangan bergurau terus."

Dengus Bunga Jelita lalu kembali menatap ke arah dua lubang bekas telapak tangan. Setelah memperhatikan bekas telapak tangan si kakek menjelaskan.

"Ketahuilah hanya manusia di jaman dulu dan dulu sekali yang mempunyai tangan sebesar itu. "

"Lalu bekas telapak tangan siapa Ini?"

Potong Bunga. Si kakek tidak segera menjawab. Ia menatap keadaan sekelilingnya.

Setelah itu dia tengadahkan wajah ke atas, cuping hidungnya bergerak-gerak mengembang mengempis mendengus

"Hmm, ternyata belum lama berselang di sini telah terjadi satu pertempuran hebat.Aku bisa membaui aroma siluman yang terluka mungkin juga sudah mampus"

Ki Lumut Julurkan kepala menatap ke arah lubang bekas telapak tangan yang di sebelah kiri. Dia melihat legukan lebih dalam di telapak tangan itu.

Bentuknya seperti bekas tubuh seseorang.

"Lubang ini baunya sangat tajam.Mungkin ada siluman yang menemul ajal." "Jika benar mengapa mayatnya tidak terlihat?" Tanya Bunga Jelita terheran-heran.

Ki Lumut tersenyum

"Namanya juga siluman. Selagi hidup saja kau tidak bisa melihat wujudnya apalagi sudah mati?

Tapi mungkin saja setelah kematiannya dia menghilang.Kejadian seperti ini adalah sesuatu yang biasa di alam mereka."

"Bila benar ada mahluk yang dibunuh, siapa yang melakukannya?"

"Telapak tangan ini. Hanya ilmu kesaktian Tangan Dewa Melanda Bumi saja yang bisa seperti ini.

Di rimba persilatan hanya ada satu orang yang mempunyai ilmu sehebat itu. Orang yang kumaksudkan tak lain adalah Resi Cadas Angin."

Ki Lumut kemudian menceritakan siapa resi hebat yang satu itu.

Ki Lumut kemudian melanjutkan ucapannya

"Ya, kemana perginya Resi Cadas Angin, itu perlu kita selidiki."

Jawab Ki Lumut sambil perhatikan pohon Darah, sementara hidung kembang kempis mendengus.

Bunga Jelita pun bertanya.

"Pohon itu apakah kakek tertarik?"

"Memangnya gila apa tua bangka sepertiku tertarik pada pohon, Di dunia ini apakah sudah tidak ada lagi nenek cantik yang kutarik-tarik!"

Sahut Ki Lumut lalu tertawa cengengesan.

"Rasanya tidak ada kek. Begitu melihatmu, nenek yang sudah matipun pasti kaget!" Bunga Jelita pun tertawa.

"Dengarlah! Mungkin kau tidak pernah tahu bahwa pohon Darah adalah jalan masuk satu satunya menuju ke Istana Satu."

"Tapi pohon yang satu ini empuk dan ada lubangnya." "Apa?! Istana Satu memang ada dialam gaib."

"Tapi kek, tak usah bergurau dengan mengatakan bahwa pohon Darah adalah jalan menuju ke istana. Apa kau sudah gila?"

"Bagaimana kita bisa menembus pohon? Pohon manapun di dunia ini pasti keras kek" "Apa maksud ucapanmu?"

Tanya Bunga tidak mengerti. Bukannya menjawab.

Sambil senyum-senyum. Ki Lumut sebaliknya malah berjalan mendekati pohon. Pohon kemudian diketuk-ketuk.

Si kakek menyeringai.

Pohon diketuknya lagi, kemudian telinga ditempelkan di batang pohon lalu dia menyeringai lagi. "Orang tua ini agaknya memang gila sungguhan." Batin Bunga Jelita gelisah juga tidak sabar.

"Apa kataku, Pohon ini baru saja mengatakan memang pohon ini satu-satunya penghubung menuju Istana yang kita cari."

Apa yang dikatakan Ki Lumut sebenarnya bukan sesuatu yang berlebihan. Sebagai orang yang pernah melakukan tapa di pohon Hijau tentu saja dia paham dengan bahasa pohon. Tapi bunga yang tidak tahu tentang kehidupan Ki Lumut mana mau percaya begitu saja.

"Kek, tidak ada waktu bagi kita untuk berlama lama di sini. Jalan menuju ke Istana Satu harus segera kita temukan karena Perawan Bayangan Rembulan pasti telah sampai di sana."

"Jalanan yang mana lagi. Pintu gaib itu adanya di sini," Ki Lumut tetap bersikeras.

"Aku tidak melihat ada lubang aku tidak melihat ada jalan di batang pohon."

"Ucapanmu membuat aku ingat ujar-ujar yang mengatakan. Manusia asalnya dari lubang, lalu mencari lubang dan kembali ke lubang. Ha ha ha!"

"Ujar-ujar gila dari mana itu?1"

Dengus Bunga jadi hilang kesabarannya "Tentu saja ujar orang yang gila lubang!"

"Kek, jika kau tidak segera hentikan bualan kosongmu, aku bersumpah akan meninggalkanmu sendirian di tempat ini!"

Ancam sang dara sambil bersiap-siap tinggalkan tempat itu

"Eh tunggu. Maafkan tua bangka ini yang kerap bicara melantur. Tapi... tapi aku tidak bergurau.

Aku akan minta pohon Darah ini membuka jalan untuk kita!"

Tegas Ki Lumut khawatir gadis jelita itu benar-benar meninggalkannya, Ki Lumut ketuk pohon tiga kall, lalu mengusap pohon dengan jarinya hingga mengeluarkan darah.

Byar!

Begitu pohon diusap.

Tiba-tiba dari batang pohon memancar cahaya merah terang yang disusul dengan munculnya pintu berkabut.

Kaget tidak menyangka dengan kebenaran yang diucapkan Ki Lumut.

Gadis itu tercengang dengan mata terbelalak "Oh sungguh mengagumkan. Kau hebat kek!"

Puji Bunga tanpa sadar

"Sudah jangan memuji, lekas ikuti aku. Pintu alam gaib ini tak akan terbuka lama. Begitu lenyap kita kesulitan untuk membukanya kembali!"

Walau sempat ragu-ragu, namun Bunga Jelita akhirnya ikuti juga perintah Ki Lumut. Dia berjalan dibelakang kakek ini.

Dan ketika Bunga melewati pintu yang berkabut, dia merasakan hawa sejuk memasuki rongga dadanya lalu pikirannya menjad lebih tenang.

******

Bagi Raja bertemu dan melakukan perjalanan bersama dengan Nini Buyut Amukan yang juga dikenal dengan sebutan Si Jubah Terbang justru menambah pengalaman baru yang cukup mengesankan.

Nini Buyut adalah seorang sahabat tua yang enak diajak bicara. Disamping itu sifat dan wataknya juga tidak jauh berbeda dengan Raja. Si nenek suka bergurau.

Bicaranya polos dan ceplas-ceplos.

Kadang melantur kemana-mana diselingi dengan gelak tawa.

Kini sambil mengayunkan langkah menelusuri jalan bertingkat seperti anak tangga, kedua orang ini bergegas menuju lembah.

Tak jauh di depan sana sebuah bangunan putih.

Tatanannya indah mirip dengan anggunnya sebuah bangunan candi.

"Nek,kita sudah hampir sampai. Tapi... apakah benar bangunan yang ada di lembah sana itu memang Istana Satu?"

Suara Raja memecah keheningan. Nini Buyut Amukan tidak segera menjawab. Diperhatikannya bangunan yang megah itu tanpa sadar mulutnya berdecak kagum. "Siapakah yang membangun istana ini? Orangnya pasti memiliki cita rasa seni yang sangat

tinggi. Dan aku yakin ini memang Istana Satu tempat tinggal Putri Manjangan Putih."

"Kalau bangunan itu ternyata hanya sebuah candi yang tidak berpenghuni. Lalu di mana kita bisa menemukan Puteri Manjangan Putih."

Tanya pemuda itu ragu

"Keraguan dapat membuat seseorang menjadi lemah dan tak akan pernah bisa mendapatkan apa yang dia inginkan. Hatiku mengatakan bangunan indah itu bukan candi, tapi istana. Kalau tidak percaya lekas ikuti aku!"

Seru si nenek Nini Buyut Amukan kemudian hentakkan kakinya.

Hentakan kedua kaki membuat tubuh Nini Buyut melambung lalu melesat laksana terbang menuju ke halaman Istana Satu. Karena Raja tidak memiliki jubah yang bisa menerbangkannya sebagaimana yang dimiliki Nini Buyut.

Pemuda itupun tertinggal jauh "Nek, tunggu.Jangan kau perlakukan aku seperti bocah tolol. Dengan jubah itu kau bisa melesat diudara.Bagaimana dengan aku, aku tidak punya jubah juga tidak punya sayap,"

Seru Raja sambil berlari mengejar Nini Buyut Amukan. Si nenek tertawa mengikik.

"Siapa bilang kau tidak punya sayap. Bukankah lelaki punya burung, bukankah burung punya sayap. Dengan burung itu sekarang terbanglah! Susul aku!" sahut si nenek lalu tertawa

tergelak-gelak.

"Nenek sial! Jangan sebut burung bodoh yang satu itu. Tentu saja dia tidak becus terbang, kemampuannya hanya mencari sangkar.Dia juga cuma mampu membuat perempuan sepertimu masuk angin nek."

Jawab Raja tak kalah konyol.

"Masuk angin bagaimana maksudmu, aku tidak mengerti!"

Sambil melayang si nenek pentang daun telinganya lebar-lebar berlagak selayaknya orang yang

tuli.

"Kura-kura tua dalam perahu, berpura-pura tidak tahu. Si burung biasanya cuma menyantet

kaummu, membuat perutnya melembung. Bunting nek apakah kau tidak tahu bagaimana orang hamil? Ha ha ha!"

"Pendekar geblek, raja goblok. Enak saja kau bicara. Kalau tidak ada perempuan sepertiku kau kira dunia ini bisa ramai. Siapa yang melahirkan bayi?"

Kata Nini Buyut Amukan yang saat itu sudah jejakkan kaki dihalaman istana.

"Kau betul nek. Laki-laki mana yang bisa melahirkan. Perempuan memang punya jasa dan andil besar dalam membuat sesak dunia. Tidak peduli bayi yang dilahirkan atas hubungan sah atau hubungan gelap. Yang penting bisa melahirkan saja, apakah begitu nek."

Sindir Raja. Plak!

Satu tamparan keras mendarat di pipi Raja. Sang pendekar yang baru sampai dengan nafas terengah-engalh delikkan matanya

"Nek, kau ini sudah gila atau apa? Aku baru saja berhasil menyusulmu. Bukannya memberiku hadiah ciuman sebaliknya kau malah menamparku. Gelo betul!"

Maki Raja Gendeng 313 sambil mengusap pipinya yang kemerahan. Si nenek tertawa terkekeh.

Di tatapnya pemuda disampingnya.

"Betul kau minta dicium. Ciumanku bisa membuatmu terlena. Kau bakal terus mengejarku, minta dicium lagi dan menjadi lupa diri hingga tak dapat membedakan siang atau malam.Hi hi hi!"

Goda si nenek sambil julurkan lidahnya yang merah. Melihat tatap muka si nenek yang sayu dan lidah merah yang terjulur itu Raja malah bergidik ngeri.

Tanpa sadar dia melangkah mundur menjauh dari si nenek, membuat Nini Buyut Amukan senyum senyum penuh arti,

"Tidak! Jangan nek.Dari pada kau cium lebih baik aku mengucapkan terima kasih saja!"

Kata Raja terbata-bata

"Pemuda bau kencur. Mukanya merah, mata ketakutan. Aku yakin dia memang belum pernah mencium atau dicium. Dia masih perjaka tong-tong kalau gadis namanya perawan ting-ting. Aku tidak memungkiri dia memang tampan. Sejak awal bertemu aku memang sudah tertarik padanya.Aku menyukainya.Tapi apakah patut tua bangka sepertiku jatuh cinta pada pemuda yang pantas menjadi cucuku?"

Batin si nenek gelisah.

Dalam hati Nini Buyut Amukan merasa menyesal mengapa dia terlahir duluan.

Melihat Nini Buyut diam tertegun sambil menatap padanya dengan sorot mata aneh, Raja tambah tidak tenang

"Nek, memangnya kau kenapa? Apa kau kesurupan dedemit penunggu lembah? Awas bila kau berpikir macam-macam padaku!"

Raja mengancam. Si nenek menggeleng.

"Tidak. Aku berpikir satu macam saja tapi yang kupikirkan yang enak-enak saja. Yang tidak enak buat apa aku pikirkan. Hik!"

"Yang satu macam itu apa nek?" Tanya Raja penasaran.

"Hus, jangan tanya rahasia wanita!"

Si nenek lalu cepat-cepat tempelkan telunjuknya di depan bibir. Setelah degup Jantungnya reda, Nini Buyut Amukan menatap ke arah pintu Istana Satu.

"Istana Kebahagiaan!"

Begitu kalimat yang tertera pada pintu istana.

"Istana Satu, apakah ini juga yang disebut Istana Kebahagiaan nek?" Bertanya sang pendekar sambil memperhatikan tulisan besar-besar itu.

"Hmm, benar. Bukankah di dalam hidupnya setiap orang berusaha untuk mencari dan mendapatkan kebahagiaan. Kebahagiaan menjadi nomor satu. Tanpa kebahaglaan bagaimana ketentraman hidup bisa diraih?"

"Kau benar juga nek. Otakmu ternyata cukup encer. Masih bagus cairannya tidak meluber ke telinga. He he he!"

"Dasar gendeng. Apakah kau tidak bisa bicara yang menyejukkan hati tua bangka ini!" Rutuk Nini Buyut bersungut-sungut. "Kalau hatimu mau sejuk, atau kau suka yang sejuk-sejuk datang saja ke pulauku nek. Kita bisa berendam dan bersejuk diri karena disana banyak es. Ha ha ha!"

"Kunyuk sinting. Letak pulau dimana kau pernah dilahirkan pun jarang orang mengetahuinya.

Pulaumu itu seperti pulau hantu. Tapi sudahlah...!" Nini Buyut menghela nafas dalam.

"Kita harus menemui Puteri Manjangan Putih dan memberitahukan kemungkinan bahaya yang mengintainya "

"Bukan kemungkinan nek. Bahaya besar memang sedang mengincarnya dan para musuh sudah pula memasuki kawasan ini"

Tegas Raja. Nini Buyut manggut-manggut membenarkan.

"Pintu istana dalam keadaan tertutup, Tidak terlihat adanya penjaga atau pengawal. Tapi mungkin saja orang yang hendak kita temui berada di dalamnya. Sekarang mari kita kesana!"

Raja diam membisu. Saat itu dia telah berjalan mendahului si nenek "Setan! Aku mengajak dia sudah duluan."

Nini Buyut Amukan lalu bergegas menyusul Raja. Ketika keduanya sampal di depan pintu istana, Raja dan si nenek sama berpandangan.

"Ucapkan salam dulu nek, perkenalkan diri kita. Katakan pula bahwa kita orang baik-baik. Baru kalau tidak ada yang menjawab kita masuk."

Entah mengapa Nini Buyut Amukan kali ini menurut saja apa yang dikatakan Raja. Membuat hati Raja Gendeng 313 menjadi geli. Tapi ucapan dan saran yang asal-asalan itu ternyata membawa akibat yang menakjubkan.

Tiba-tiba saja terdengar jawaban berupa suara mengiang yang seolah datang dari seluruh penjuru langit.

"Orang-orang jujur lagi diberkati. Tata kerama sangat penting artinya sebagai lambang jati diri orang yang hidup. Orang yang sudah mati mana mengenal tata kerama dan santun. Kalian boleh masuk ke Istana Kebahagiaan. Carilah apa yyang kalian inginkan. Bila tidak ditemukan kalian boleh pergi. Berkah kebahagiaan akan menyambut kehadiran kalian di istana. Rasa bahagia jangan sampai membuat kalian lupa diri apalagi menjadi gila."

Suara itu lenyap. Di depan mereka pintu istana terbuka dengan sendirinya.

Semilir hawa sejuk menerpa mereka membuat keduanya saling pandang dengan hati dan pikiran tenteram dipenuhi kebahagiaan.

"Amboi. aku bahagla sekali nek.Aku belum pernah merasakan kebahagiaan sedahsyat ini.Seluruh tubuhku jadi tenteram dan damai. Bahkan aku merasa rambutku pun ikut bahagia."

Kata Raja sambil kembangkan kedua tangan lebar-lebar dan seyum-senyum sendiri. Nini Buyut Amukan tatap pemuda di depannya. Dia sendiri mengakui memang merasakan kebahagiaan yang luar biasa.

Otak jadi lempang dada tambah lapang, Namun dia tidak merasakan kebahagiaan sebagaimana yang diucapkan Raja.

Yang membuat Nini Buyut tambah heran lagi.

Dia juga melihat sekujur tubuh Raja dipenuhi kilatan cahaya dan taburan bunga dan kerlip cahaya mirip bintang dikejauhan langit.

"Aku bahagia, kau juga. Tapi tubuhmu."

Seru si nenek

"Eng, memangnya ada apa dengan tubuhku? Aku sedang bahagia nek, jangan diajak bicara nanti kebahagiaanku lenyap!"

Sahut Raja namun diam diam dia memperhatikan dirinya sendiri. Dia tidak melihat kilatan cahaya, taburan bunga maupun kerlip cahaya seperti bintang.

"Nek kau bergurau lagi ya?" Nini Buyut jadi gelagapan.

Semua keanehan yang ada dalam diri pemuda itu mendadak lenyap. Kebahagiaan yang dia rasakan juga ikut raib.

"Keanehan ditubuhmu menghilang. Sungguh luar biasa."

Puji Nini Buyut disertai decak kagum. Raja menghela nafas. Sambil geleng kepala pemuda ini berkata.

"Nek... gara-garamu yang bicara terus kebahagiaanku jadi hilang. Kau ini sungguh keterlaluan nek"

Geram pemuda itu.

"Jangan menyalahkan. Aku memang melihat sesuatu telah terjadi padamu. Tapi aku tidak bisa mengatakan apa?"

"Kau mabuk ya nek? Minumnya kapan? Mengapa bicaramu jadi melantur seperti ini?"

"Jangan mengada-ada. Tua bangka sepertiku mana pernah mabuk. Kalaupun mabuk paling juga mabuk asmara."

Jawab si nenek sambil senyum senyum "Kapan nek...?"

Tanya Raja Curiga

"Eng... anu, dul... dulu sekali." Jawab Nini Buyut terbata-bata.

"Yang sudah lama sudah basi jangan dibicarakan lagi nek. Tapi sudahlah sekarang sebaiknya kita periksa seluruh ruangan yang terdapat di istana ini."

"Bangunan ini bertingkat-tingkat. Apakah kita akan memeriksa semuanya?" "Ya nek. Sebaiknya kita berbagi tugas saja. Nanti kita bertemu di sini lagi." Usul Raja.

Setelah terdiam dan berpikir sejenak, Nini Buyut Amukan akhirrnya mengangguk setuju. Keduanya lalu berpisah.

Raja menuju bangunan disebelah atas sedangkan Nini Buyut Amukan melakukan pemeriksaan di seluruh ruangan bawah. Tidak sampai sepemakan sirih Nini Buyut Amukan sudah muncul lagi ditempat semula dan disusul dengan Raja.

Sang Maha Sakti Raja Gendeng 313 mengangkat bahu dan gelengkan kepala. "Diatas tidak ada nek."

Jelasnya lesu.

"Di bawah juga tidak ditemukan." Timpal Nini pula.

"Mungkin puteri Manjangan Putih sudah pergi. Lebih baik kita cari di tempat lain saja nek." "Baiklah, aku setuju. Mari kita tinggalkan tempat ini!"

Nini Buyut Amukan kemudian memutar tubuh lalu bergegas menuju pintu.

Sesampainya di depan pintu si nenek berharap ada sekelumit kebahagiaan datang menghampiri. Namun kebahagiaan itu tidak pernah lagi singgah mengisi hati dan pikirannya sampai dia dan Raja telah melangkah jauh tinggalkan istana Kebahagiaan.

******

Pertempuran dengan Sapta Buana penguasa kawasan gaib Kehidupan Yang Terlupakan menjadi salah satu perkelahian paling seru dalam hidup Resi Cadas Angin.

Jika saja dia tidak segera menggunakan ilmu pukulan sakti Tangan Dewa Melanda Bumi maka dirinya pasti bakal menemul ajal di tangan mahluk keji itu.

Apalagi Sapta Buana memakai topeng hitam yang dikenal dengan nama Topeng Pembunuh, saat menyerang, Dengan mengenakan topeng itu maka segala kekuatan gaib berdatangan mendukung Sapta Buana untuk menghabisi sang Resi.

Sejauh itu Resi Cadas Angin, kakek berpenampilan serba putih ini masih belum mengetahul bahwa Sapta Buana yang telah dibuat remuk gepeng itu ternyata masih bisa bangkit dari kematian berkat topeng yang melekat di wajahnya.

Kehebatan Topeng Pembunuh itu adalah kelebihan kesaktiannya yang dapat memulihkan jasad Sapta Buana.

Mengembalikan tulang belulang serta memulihkan tubuhnya yang remuk redam.

Berjalan sendirian di kawasan yang cukup asing mengharuskan Resi Cadas Angin bertindak lebih waspada.  

Dia menyadari butuh tindakan yang cepat untuk mencegah agar pertumpahan darah tidak terjadi dilembah atau kawasan yang diberkati oleh para dewa itu.

Ingat semua kekejian yang pernah dilakukan oleh Perawan Bayangan Rembulan maupun Ratu Siluman Buaya Putih, orang tua ini pun mempercepat langkahnya.

Dari sekedar berjalan cepat diapun kemudian berlari. Disuatu tempat, ditikungan jalan menuju lembah sesiur angin disertai serangan tidak terlihat menerpa tubuhnya.

Resi Cadas berjumpalitan kebelakang menghindari serangan gelap sambil pukulkan dua tangan ke depan menangkis serangan orang.

Bum!

Satu ledakan keras menggelegar mengguncang kawasan itu membuat dinding tebing ditikungan jalan runtuh.

Sebagian tanahnya bermuncratan kesegenap sudut penjuru sementara asap mengepul membumbung tinggi memenuhi udara.

Dengan gerakan yang enteng setelah sempat terguncang, Resi Cadas Angin yang perkasa itu jejakkan kedua kakinya diundakkan pertama jalan bertingkat.

Menatap ke depan dia melihat sesosok tubuh berupa seorang kakek berpakaian mewah warna hitam memakai blangkon duduk bersimpuh.Kakek ini tidak berdaya karena dilehernya digelayut rantai tak ubahnya seperti anjing piaraan.

Sedangkan ujung rantai yang lain berada dalam genggaman tangan gadis bergaun merah dengan mahkota bersimbol buaya putih yang bertengger di atas kepalanya. Sekali melihat Resi ini segera maklum siapa adanya gadis itu.

Juga kakek yang dirantai yang tak lain adalah Ki Demang Sapu Lengga, orang yang selama ini menjalin hubungan yang sangat dekat dengan adipati Salatiga Cakra Abiyasa.

Kepulan asap kini benar-benar lenyap.

Keadaan udara menjadi bersih dan menebarkan aroma harum semerbak bunga-bunga indah yang sedang bermekaran.

Resi Cadas Angin melangkah maju. Tiga tombak di depan Ratu Buaya dan Ki Demang langkahnya berhenti.

Belum sempat si kakek membuka mulut Ratu Buaya telah mencecarnya dengan pertanyaan. "Kakek tua, berpakaian putih berkumis dan berjanggut putih. Apakah aku mengenalmu?" "Dia adalah Resi Cadas Angin, pertapa dari Lembah Batu Pijar. Bagaimana kau bisa tidak

mengenalnya Ratu!"

Yang menyahut bukan Resi Cadas tetapi Ki Demang. Sebagai imbalan Ki Demang Sapu Lengga mendapat satu tendangan keras di punggung belakangnya. Ki Demang menggeliat keras, rasa sakitnya bukan kepalang.

"Ratu jahanam! Aku memberitahu mengapa kau malah menghajarku!" Teriak Ki Demang dengan mata mendelik dan wajah garang.

Plak!

Satu tamparan mendarat dimulut Ki Demang, membuat darah menyembur dari bibir yang pecah.

Ketika Ki Demang meludah bukan cuma darah yang tersembur tapi juga dua buah giginya tanggal akibat tamparan ikut keluar.

Dengan dingin dan tenang tanpa meghiraukan penderitaan yang dirasakan Ki Demang, Ratu Buaya menjawab.

"Bukan kau yang kutanya, mengapa kau yang menjawab? Kau hanya seorang pecundang. Tugasmu hanya menunjukkan dimana Puteri Manjangan Putih dan tempat bertumbuhnya Bunga Anggrek Mayat berada."

Geram sang Ratu.

Dia lalu berbalik menghadap ke arah Resi Cadas. "Orang tua kau belum menjawab pertanyaan!"

"Orang tua malang itu sudah berbaik hati menjawab pertanyaanmu. Tidak salah apa yang dikatakannya, aku memang Resi Cadas Angin. Kau tidak mengenalku tapi aku mengenalmu, Ratu Siluman Buaya Putih. Akhir-akhir ini aku juga banyak mendengar tentang kejahatanmu!"

Walau terkejut tak menyangka orang mengetahui siapa dirinya.

Namun Ratu Buaya malah tertawa tergelak-gelak

"Hi hi hi. Kau menuduh orang secantik dan sebaik diriku telah melakukan kejahatan besar.Memangnya kejahatan apa yang telah kulakukan Resi?"

Tanya gadis itu dengan sikap mencemo'oh

"Kamu telah membunuh tokoh-tokoh dunia persilatan karena mereka tidak dapat menunjukkan dimana beradanya Bunga Anggrek Mayat."

"Oh rupanya itu maksudmu.. Kalau memang benar kau mau apa? Mau mengadili aku, memangnya kau penegak keadilan dari kerajaan mana?"

"Untuk mengadili orang yang besalah, tidak perlu menunggu amanat dari kerajaan. Alu bisa melakukannya sendiri!"

Jawab Resi Cadas Angin. Mendengar ucapan Resi Cadas Angin, Ki Demang merasa mendapat kesempatan yang baik untuk meminta pertolongan. Tanpa membuang waktu diapun segera berkata dengan suara memelas agar yang mendengarnya merasa iba.

"Resi Cadas, rasa syukur kupanjatkan pada para dewa. Kau datang pada waktu yang tepat. Aku mohon bebaskan diriku dari Ratu sesat ini.Dia telah menipu diriku lalu menawan dan memperlakuanku seperti ini. Jika kau mau menolong, aku bersumpah akan menjadi hambamu yang paling setia!" Selali lagi Ki Demang mendapat tendangan dari Ratu Buaya. Namun kakek ini tidak perduli.

Dia berusaha menarik ujung rantai yang ada dalam genggaman sang Ratu. Namun Sang Ratu tiba-tiba saja menyalurkan hawa panas ke rantai itu.

Rantai besi putih berpijar.

Pijaran menjalar cepat ke arah rantai yang melilit leher Ki Demang. Orang tua yang ilmu kesaktiannya dilumpuhkan oleh Ratu Buaya tentu saja tidak dapat melindungi dirinya sendiri.

Begitu hawa panas menyerang leher Ki Demang masih sempat berseru dengan wajah kesakitan. "Resi Cadas, tolong. "

Jeritan lenyap, Ki Demang tidak sadarkan diri. Melihat sikap Resi Cadas Angin yang diam tidak memberikan pertolongan, Ratu Buaya menjadi heran.

"Katanya kau mau menolong. Mengapa kau biarkan aku menyakitinya?"

Resi Cadas Angin tersenyum. Sambil melipat kedua tangan di depan dada dia menjawab. "Kau dan dia sama jahatnya. Malah kejahatan Ki Demang sangat luar biasa."

"Apa maksudmu?"

"Rupanya kau belum pernah mendengar tentang Misteri Cinta Hitam? Seorang laki-aki bertopeng menggunakan Ilmu Segala Rindu untuk merayu seorang wanita bernama Kunti Seroja. Lalu gadis itu terbuai, mereka lalu melakukan hubungan terkutuk berulang kali. Perempuan itu hamil tanpa mengetahui siapa laki-laki yang tidur dengannya.Dan tahukah kau wahai ratu, perempuan yang kumaksudkan adalah adik ipar Ki Demang"

"Oh ceritamu sungguh luar biasa. Apakah benar Ki Demang yang telah melakukannya?"

"Aku tidak mengatakan demikian, tapi dari semua penyelidikanku. Dugaanku mengarah ke dia.

Telah banyak korban yang disebabkan oleh perbuatan Ki Demang. Dan aku curiga Ki Demang mempunyal ilmu penakluk wanita bernama Segala Rindu mengingat hubungannya dengan Puteri Manjangan Putih di masa lalu."

"Apakah Puteri Manjangan Putih memberikan ilmu itu kepada tua bangka ini?" Tanya Ratu Buuaya sambil menunjuk laki-laki tua yang terkapar di depannya.

"Mungkin saja. Dulu ketika hubungan persahabatan diantara mereka masih terjalin dengan baik." "Lalu anak yang dilahirkan dari hubungan itu kemana?"

Tanya sang dara yang diam-diam tertarik juga mendengar cerita Resi Cadas Angin.

"Si anak yang lahir dari hubungan gelap itu kemudian hendak dibuang. Tapi seorang dari dunia kehidupan lain mengambilnya, mengasuh dan mendidiknya sehingga menjadi besar. Sampai kemudian dia muncul membuat kekacauan di malam munculnya bulan di langit!"

Penjelasan Resi menimbulkan keterkejutan luar biasa di hati Ratu Buaya.

Dia sama sekali tidak menyangka bahwa saingan beratnya untuk mendapatkan Bunga Anggrek Mayat tidak lain adalah gadis yang terlahir dari cinta hitam. "Tua bangka ini sudah selayaknya mati!"

Berkata demikian Ratu Buaya Putih tiba-tiba angkat tangannya. Begitu diangkat dari tangannya memancar cahaya hijau redup.

Ratu Buaya siap menghantam Ki Demang yang pingsan dengan pukulan beracun "Tunggu!"

Cegah Resi Cadas Angin.

Merasa dihalangi, Ratu Buaya pun membentak.

"Resi... kau mengatakan tua bangka tidak berguna ini bersalah. Tapi mengapa malah melarangku membunuhnya?!"

Si kakek tersenyum. Tanpa perduli dengan sikap Ratu Buaya, orang tua ini berkata.

"Bersalah tidaknya seseorang itu harus dibuktikan. Walau pun menurut dugaanku dia orangnya yang membuat Kunti Seroja menderita sengsara batin sampai akhir hayatnya. Namun aku butuh bukti."

"Bukti apakah Ki Demang memiliki ilmu Segala Rindu harus ditanyakan kepada puteri Manjangan Putih. Dia pasti mau memberitahu jika dulu pernah memberikan ilmu pemikat itu pada KI Demang"

"Mengapa harus bertele-tele. Lebih baik bunuh secepatnya. Kemudian tentang kebenarannya itu boleh kau tanya kepada Puteri Manjangan Putih dan itupun bila dia masih hidup, Hik!"

Ucapan Ratu Buaya membuat kening Resi Cadas Angin berkerut dalam. Tidak sabar dia bertanya. "Ratu Buaya, apa maksud ucapanmu?"

"Resi tujuanmu kemari adalah untuk mencari kebenaran dan mengadili mereka yang bersalah.

Tapi aku bukanlah orang sepertimu. Aku datang untuk mendapatkan Bunga Anggrek Mayat. Bunga itu untuk melenyapkan pengaruh kutukan yang terjadi atas diriku. Aku telah muak menjadi penguasa mahluk buaya yang menjijkan. Dan kau pasti tahu bahwa aku sebenarnya adalah seorang bidadari cantik. Hanya bunga itu yang sanggup memusnahkan pengaruh kutukan dewa."

"Jika hanya itu yang kau inginkan mengapa harus melakukan banyak pembunuhan." Ucap Resi Cadas Angin menyesalkan.

"Aku membunuh siapa saja yang berusaha menghalangi keinginanku!"

Teriak Ratu Buaya marah

"Ratu, dengarlah.Aku bisa membantumu mendapatkan bunga itu asalkan kau mau bersabar. Akan kubicarakan keinginanmu pada Puteri Manjangan Putih. Aku yakin dia perduli dengan nasibmu!"

"Hmm, begitu. Kau lupa, walaupun aku tidak membunuh Puteri Manjangan Putih, pasti akan ada orang lain yang bakal membunuhnya."

"Apakah Perawan Bayangan Rembulan itu yang kau maksudkan?" Tanya si kakek "Kau kira siapa?"

Sentak Ratu Buaya

"Jika demikian kita harus bisa mencegahnya!"

Ujar Resi Cadas Angin. Diluar dugaan Ratu Buaya malah mengumbar tawa. Sambil ketawa terkekeh dia berkata.

"Tidak semua mahluk mempunyai hati sebaik dirimu Resi. Sikap tulusmu merupakan kemuliaan seorang manusia. Tapi dalam hal urusan kita, aku dan kau sama-sama memiliki cara yang jelas-jelas berbeda. Aku akan menemui gadis itu dan mudah-mudahan tua bangka ini cukup berguna untuk membantu. tidak! aku akan menghanguskan tubuhnya!"

Kata Ratu Buaya mengancam.

"Ratu Buaya, kau tahu sesungguhnya kau adalah gadis yang baik. Kesalahanmu di masa lalu hanya karena kerap melanggar aturan kayangan. Jika kau mendengar saranku, akan banyak orang yang membantumu, percayalah.Tapi kau berniat menghabisi puteri Manjangan Putih. Dengan sangat menyesal aku kehilangan simpati terhadap jalan takdirmu"

Mendengar ucapan si kakek wajah Ratu Buaya berubah kelam. Tanpa dia sadari ada air mata bergulir menuruni pipinya. Namun Ratu Buaya berusaha bersikap tegar, buru-buru dia seka air mata yang mengalir di pipinya.

"Orang tua, aku akan mempertimbangkan semua saranmu. Tapi suasana hati dan keputusanku semua tergantung pada keadaan. Jika keadaan tidak berpihak padaku, jangan pernah menyesal bila aku terpaksa membunuhmu juga!"

"Aku percaya kau memang gadis yang baik. Mudah-mudahan dewa memberikan yang terbaik untukmu"

"Hu!, tak usah bicara manis. Sudah sejak lama para dewa di kayangan marah dan gusar atas perbuatanku. Sekarang aku harus pergi!"

Ucap Ratu Buaya

"Bagaimana dengan orang tua yang menjadi tawananmu?" Tanya si kakek.

Dalam hati dia berharap agar Ratu Buaya mau menyerahkan Ki Demang padanya. Di luar dugaan Ratu Buaya gelengkan kepala

"Tidak! Ki Demang tetap sebagai tawananku. Dia lebih mengenal Puteri Manjangan Putih. Itu sebabnya aku membawanya ke tempat ini."

Tegas sang dara bergaun merah. "Tindakanmu itu sangat kusesalkan."

Ujar Resi Cadas Angin sambil mengurut dada

"Lalu apa yang hendak kau perbuat Resi? Hendak membunuhku? Ketahuilah tidak seorangpun manusia yang sanggup membunuhku!"

"Aku percaya. Lagi pula aku memang tidak punya niat untuk membunuhmu." "Kau boleh pergi, Ratu Buaya."

"Terima kasih atas kebaikanmu. Aku tidak akan melupakannya!"

Setelah berkata demikian Ratu Buaya sentakkan rantai dalam genggamannya. Begitu rantai tersentak ke atas, tubuh Ki Demang melayang dan jatuh di pundaknya.

Kemudian tanpa menoleh lagi sang Ratu berkelebat menuju ke arah bangunan yang terdapat di tengah lembah.

"Kasihan gadis itu. Mudah-mudahan dia tidak mengambil jalan kekerasan untuk memperoleh bunga yang diinginkannya."

Kata Resi Cadas Angin seorang diri. Sekejab dia memandang ke arah lembah yang sunyi. Si kakek yakin Puteri Manjangan Putih sudah tidak ada lagi di Istana Satu.

"Petunjuk dar ­ semediku, dikawasan ini ada satu lagi lembah yang lain. Lembah tempat tumbuhnya Bunga Anggrek Mayat. Aku harus mencari dan menemukan lembah itu!"

Ucap Resi Cadas Angin lalu melangkah pergi.

******

Lembah Tanpa Suara keadaannya jauh berbeda dengan Lembah Kebahagiaan.

Lembah Tanpa Suara sebenarnya adalah sebuah danau besar yang berair bening sejuk.

Di tengah pulau ini hanya tumbuh pohon besar berdaun lebar mirip dengan daun talas. Diantara pepohonan itu tumbuh pula beraneka jenis bunga, namun setiap bunga baik daun maupun bunganya berwarna merah biru.

Setiap bulan purnama tiba dibagian tengah pulau terapung itu tumbuh mekar sebuah pohon raksasa berdaun panjang.

Batang dan daun serta rantingnya mirip dengan anggrek.

Tidak seperti tanaman Anggrek pada umumnya yang tumbuh bergelayut menopang pada pohon atau tanaman lainnya.

Pohon Anggrek yang sangat istimewa ini justru muncul dipermukaan tanah berpasir.

Setiap bulan purnama kuntum bunga anggrek bakal mekar dengan jumlah tidak lebih dari tiga kuntum.

Dan bila ini mekar maka seluruh penjuru lembah akan dipenuhi aroma bau setanggi. Aroma wewangian yang biasa dipergunakan untuk mayat.

Itulah sebabnya Anggrek ajaib yang muncul dan mekar disaat bulan purnama penuh tersebut dinamakan Bunga Anggrek Mayat. Tidak sembarangan orang bisa memetik bunga yang memiliki banyak khasiat itu.

Mengingat setiap anggrek muncul ditanah pasir akan dikuti dengan munculnya seekor ular raksasa bersisik merah.

Ular besar yang dikenal dengan nama Sang Penghela biasanya akan melingkari tumbuhan anggrek, lalu menjaganya sampai kuncup bunga yang mekar menjadi layu.

Seluruh batang daun dan bunga akan kembali raib menjelang fajar menyingsing diufuk langit sebelah timur.

Selama ratusan abad berlalu, bunga Anggrek Mayat memang kerap muncul di pulau itu. Tumbuh dengan cepat, keluar putik lalu bermekaran dan lenyap kembali menjelang pagi. Selama itu tidak seorang manusiapun yang mengusiknya.

Mungkin karena tumbuhnya sang bunga ajaib di alam gaib sehingga tidak seorang pun manusia yang sanggup menyambangi tempat itu.

Yang jelas Nila Seroja alias Perawan Bayangan Rembulan telah berhasil menemukan pintu alam gaib yang kemudian disusul dengan kehadiran para tamu tidak diundang lainnya.

Puteri Manjangan Putih seperti telah diketahui telah lama menetap di Lembah itu. Dia yang sudah sangat memahami seluk beluk pulau lalu memilih tempat yang aman untuk dijadikan tempat peristirahatan sementara.

Tempat yang dipilihnya dan kemudian ditunggui menjadi tempat tinggal adalah sebuah pohon besar, dipenuhi banyak cabang dan berdaun rindang. Pohon itu letaknya tidak jauh dari tanah berpasir tempat dimana Bunga Anggrek Mayat biasanya muncul, tumbuh dan berkembang.

Sebagai penguasa kawasan, sang puteri tentunya tidak takut pada ular Merah Raksasa yang dikenal dengan nama Sang Penghela, karena ujar tersebut sangat mengenal dirinya bahkan tunduk pada setiap perintahnya.

"Matahari sebentar  lagi tenggelam  dibalik peraduannya."

Kata Puteri Manjangan Putih ditujukan pada Nyai Sentika abdi setia yang baru saja menutupi bangunan sederhana yang selesai dibangun di cabang pohon.

Ketika bicara suara sang puteri berbisik.

Untuk diketahui bicara dengan suara keras menjadi pantangan besar saat berada di Lembah Tanpa Suara ini.

"Begitu matahari tenggelam, bulan pun muncul di langit. Saya tidak nyaman dengan munculnya bulan dilangit, gusti."

Dengan suara berbisik pula Nyai Sentika menjawab.

"Orang-orang pasti berdatangan kemari" ujar sang puteri pula.

Dia menatap keseluruh penjuru danau melalui dinding pondok yang terpasang hanya setengahnya saja. Setelah itu perhatian puteri cantik berambut perak ini beralih ke arah tanah luas berpasir

"Jika orang-orang yang datang mencari gusti di istana Kebahagiaan, lalu tidak menemukan gusti, maka dengan segala upaya mereka pasti bakal menyisir seluruh kawasan. Saya khawatir mereka akan menemukan lembah ini."

"Aku tidak takut dengan mereka. Aku justru takut pada derita kesengsaraan yang bakal mereka alami.Mereka tidak tahu pantangan dan larangan jika mereka datang dengan suara keras apalagi dengan suara berteriak-teriak. Tidak hanya Si Ular Raksasa yang akan melumat mereka, para penghuni dasar danau juga bakal murka."

Gumam sang puteri.Wajah gadis ini jelas-jelas membayangkan kekhawatiran.

Lain halnya dengan Nyai Sentika, begitu puteri Manjangan Putih menyebut Ular raksasa merah yang biasanya melingkari Bunga Anggrek Mayat dan juga para penghuni dasar danau, wajah nenek ini menjadi berubah pucat dan banyak bersimbah keringat.

Tengkuknya mendadak dingin. Kemudian dengan berbisik namun suara bergetar dia berujar. "Mereka adalah musuh yang sudah selayaknya mati gusti. Mengapa gusti risau?"

"Orang seperti Nila Seroja memang musuh kita, begitu juga dengan Ratu Buaya, Dia juga membekal maksud yang tidak baik.Tapi bagaimana dengan orang-orang yang tidak bersalah yang datang ke sini dengan dengan niat yang tulus yaitu ingin membantu kita. Mereka tidak layak menjadi korban!"

"Apakah maksud gusti pemuda gondrong itu?" Tanya Nyai Sentika.

Ketika berucap dia sengaja memerhatikan wajah sang puteri untuk memastikan bagaimana raut wajah junjungannya.

Puteri Manjangan Putih tersenyum

"Pemuda itu memang keturunan raja, dia adalah seorang pangeran. Jangan mengira aku tertarik padanya. Aku dan dia beda alam. Dia manusia sedangkan aku mahluk alam gaib.Lagi pula sudah ada seseorang yang menaruh hati pada pemuda itu walau dia sendiri tidak mengetahuinya."

Jelas sang puteri seadanya.

"Memangnya siapa gadis yang gusti maksudkan?" Bertanya Nyai Sentika penasaran.

"Gadis itu berwajah cantik luar biasa. Ilmu kesaktiannya cukup hebat. Bahkan dia pernah menjadi kepala pasukan kadipaten Salatigo. Namanya Bunga Jelita suka disebut juga Bunga Kembang Selatan. Saat ini gadis yang sangat baik itu telah memasuki kawasanku. Kedatangannya kemari hendak mencari Perawan Bayangan Rembulan yang telah membunuh pamannya."

"Jika demikian dia tidak boleh mati sia-sia ditempat ini!" Ucap Nyai Sentika menyayangkan "Hidup matinya seseorang tidak ada yang bisa memberi jaminan. Semua tergantung pada takdir masing-masing. Ada kalanya orang baik pendek umurnya, sebaliknya orang jahat malah dikaruniai panjang umur."

"Ya, saya juga sering melihat demikian gusti. Jika begitu yang kuasa tidak bersikap adil" "Bukan demikian."

Sergah sang puteri disertai senyum.

"Orang baik pendek usianya karena yang kuasa menganggap kebaikannya sudah cukup sebagai bekal kehidupan di alam sana. Orang jahat panjang umur yang kuasa sengaja memberinya usia panjang untuk bertobat. Sayang sangat sedikit manusia yang memikirkannya."

"Gusti benar juga. Tetapi saya ini kan termasuk orang baik, mengapa saya berumur panjang?

Padahal usia saya hampir dua ratus tahun."

"Mungkin untukmu merupakan sebuah pengecualian."

Bisik sang puteri

"Pengecualian. Apa maksud gusti?"

Tanya Nyai Sentika penasaran ingin tahu.

"Mungkin karena kau belum mendapatkan jodoh, Makanya yang kuasa dan para dewa memberimu umur panjang!"

Jawab gadis itu sambil tersenyum.

"Ah, gusti ada-ada saja, Gusti sendiri mengapa tidak segera mencari jodoh?"

Sindir si nenek

"Aku. Apakah kau lupa tanpa jodoh pun aku sudah sangat-sangat bahagia.. Bukankah orang yang mencari jodoh tujuannya selain untuk mendapatkan keturunan juga untuk mencari kebahagiaan. Kalau orang sepertiku sudah bahagia, buat apa jodoh untukku?"

Si nenek manggut-manggut namun masih penasaran, dia menjawab. "Untuk menambah lagi kebahagiaan yang ada gusti."

"Hidup terkadang tidak seindah yang diharapkan. Apa yang kita dapat belum tentu sesuai dengan yang kita inginkan. Kebahagiaan bisa ditemukan dari kebajikan-kebajikan yang diperbuat oleh setiap orang. Janganlah memberi bila kita mengharap balasan. Semakin banyak berharap, semakin banyak kekecewaan datang."

"Apa yang gusti katakan memang betul."

"Ah sudahlah, Lebih baik kita bersiap-siap menghadapi datangnya malam. Oh ya apakah kecapi baruku telah siap?"

"Oh maaf gusti. Kecapi memang sudah selesai dan siap pula untuk menghibur gusti. Namun tertinggal dibawah pohon itu."

"Tolong kau ambil!" "Bukankah suara kecapi bisa membangunkan mahluk-mahluk di dalam danau?"

Kata si nenek cemas

"Jangan khawatir. Aku hanya ingin kecapi itu menemaniku di sini." Jawab Puteri Manjangan Putih sambil tersenyum.

"Jika demikian saya akan mengambilnya."

Lalu nenek itu menjura hormat pada sang puteri. Setelah melangkah mundur dan balikkan badan dia tinggalkan pondok kayu tersebut.

******

Setelah sampai dihalaman Istana Satu yang juga adalah Istana Kebahagiaan, Ki Lumut dan Bunga Jelita segera melakukan pemeriksaan ke bagian dalam istana.

Ketika berada di dalam istana seperti yang dialami oleh Raja maupun Nini Buyut Amukan, Bunga dan Ki Lumut sama sekali tidak merasakan adanya rasa kebahagiaan yang datang menghampiri jiwa mereka.

Ki Lumut malah merasa gerah kepanasan sehingga begitu orang yang mereka cari tidak ditemui, si kakek segera mengajak dara cantik itu bergegas keluar.

Sebelumnya beberapa saat yang lalu Ratu Buaya Putih juga telah masuk ke dalam istana itu. Tapi selain sang ratu tidak mendapati orang yang dicari Ratu Buaya malah merasakan kepalanya pusing luar biasa.

Bagian kepala menggembung bengkak, membesar laksana bola karet seperti mau meledak. Tidak hanya itu dadanya juga ikutan menggembung seperti mau meletus.

Ratu Buaya yang seumur hidupnya tidak pernah mengalami kejadian seaneh itu menjadi ketakutan.

Takut terjadi sesuatu dengan kepala dan dadanya dia segera berlari keluar. Ketika sampai diluar satu keanehan lagi-lagi terulang kembali.

Kepala maupun dada yang melembung besar dari ukuran normal itu mengempis. Tetapi kemudian dari liang telinga dan juga pusarnya terdengar bunyi suara.

Pret! Pret...!

Bertalu-talu. Marah bercampur perasaan tidak mengerti sang Ratu pun berteriak.

"Kurang ajar. Tidak ada seekor kunyuk pun di dalam istana itu lalu mengapa telinga dan..." Ratu tidak melanjutkan ucapan, sebaliknya mengusap dadanya yang menonjol tegak.

"Mengapa telinga dan pusarku bisa mengeluarkan suara seperti orang kentut. Apa kata orang bila sampai melihat semua kekonyolan ini."

"Gusti ratu ada apakah?" Tanya Ki Demang Sapu Lengga yang rupanya sudah sadarkan diri dari pingsannya. "Tua bangka tak berguna. Aku tidak bicara denganmu!"

Geram Ratu Buaya yang tambah gusar

"Sesuatu yang tidak menyenangkan agaknya terjadi di istana terhadap dirimu. Aku melihat hiburan yang asyik."

Kata Ki Demang. Si kakek nampaknya sudah tak perduli lagi dengan keadaan dirinya "Apa maksudmu?"

Teriak Ratu Buaya.

Dia menyambar rantai yang tergeletak di tanah. Rantai ditarik hingga leher Ki Demang ikut tersentak. Tapi Ki Demang makin tidak perduli.

Sambil tergelak gelak dia menjawab.

"Sesuatu yang sangat luar biasa dibawah lehermu.Aku suka yang besar-besar. Ha ha ha!" Dees!

Satu hantaman yang keras mendarat di bahu Ki Demang, membuat tawanya lenyap berganti raungan.

Ki Demang terkulai tidak sadarkan diri

"Tua bangka hina, kelak kematianmu akan kubuat sangat menyakitkan!"

Geram Ratu Buaya. Sambil meludahi wajah si kakek, gadis ini kemudian menyeret Ki Demang tinggalkan tempat Itu.

Dia tidak perduli lagi walau tubuh si kakek kotor penuh debu dan bilur-bilur luka akibat bergesekan dengan pasir.

****

Kembali pada Bunga Jelita dan Ki Lumut. Setelah keluar dari istana. Ki Lumut kemudian berjalan ke arah sebatang pohon berbuah lebat yang terdapat diseberang halaman istana.

Buah pohon itu bentuknya seperti cempedak, namun buah yang masak menebar aroma seperti sawo matang.

Ki Lumut yang sudah kelaparan tanpa banyak bicara segera memetik beberapa buah, lalu mengupasnya dengan jemari tangan.

Ketika si kalek hendak memakan buah tesebut. Sebuah batu melayang menghantam tangannya. Buah yang siap masuk ke mulut terjatuh.

Si kakek menjerit sambil kibas-kibaskan tangannya yang tertimpa batu.

"Hei, mengapa kau menggangguku? Aku kelaparan, buah ini bisa menjadi penangsal perut" Gerutu Ki Lumut setelah mengetahui yang melemparnya adalah Bunga Jelita.

"Orang tua bodoh. Makan buah itu walaupun hanya sebutir saja bisa membawamu keliang kubur.

Lihat! Semua buah dalam keadaan utuh, tidak terlihat ada musang atau sebangsa kampret yang menggerogotinya? Mengapa, karena buah ini sangat beracun."

Mendengar ucapan Bunga, Ki Lumut segera campakkan semua buah di tangannya. Dia lalu duduk bersandar di bawah pohon. Wajahnya terlihat letih, matanya membayangkan rasa kecewa.

"Memangnya buah mirip cempedak menebar harum sawo masak itu buah apa?" Tanya Ki Lumut penasaran.

Sang dara tidak segera menjawab.

Sebaliknya dia duduk menghadap ke arah Ki Lumut. Setelah layangkan pandang ke atas pohon dia berujar,

"Nama pohon ini adalah Buah Mabok Sampai Mati. Siapa yang memakannya mula-mula akan merasakan kepalanya pusing, perut mual dan panas seperti terbakar selayaknya orang yang mabok. Dalam waktu singkat sekujur tubuh korbannya akan mengeluarkan api.Dan kau bisa mati dalam keadaan hangus seperti dipanggang diatas kobaran api."

"Eeh, bagus aku tidak sempat memakannya. Kalau kau tidak memberi tahu, sekarang ini aku past sudah jadi almarhum!"

Desis Ki Lumut dengan mata terbelalak

"Kau berhutang nyawa padaku. Ingat baik-baik kek." Jawab Bunga Jelita sinis.

"Ya, aku memang berhutang nyawa.Kelak aku akan membayarnya dengan beras. Tapi ngomong ngomong dari mana kau bisa tahu buah ini adalah buah maut?"

Ki Lumut. Rupanya dia penasaran. Si gadis cemberut

"Enak saja hutang nyawa dibayar beras. Tapi biarlah tidak mengapa. Anggap saja aku tidak menghutangkan apa pun padamu."

"Terima kasih, kau baik sekali. Tapi kau belum menjawab pertanyaanku."

Ki Lumut menuntut

"Buah Mabok Sampai mati biasa tumbuh di daerah selatan. Tempat yang sangat diyakini menjadi kumpulan para mahluk lelembut. Aku tidak heran bila buah itu ada di sini, Karena kita juga berada di alam gaib."

Menerangkan si gadis

"Nama buahnya lucu juga ya. Baru sekali ini aku mendengarnya."

Si kakek lalu menggaruk kepalanya "Lucu tapi mematikan."

"Sekali lagi aku berterima kasih. Aku tidak tahu apa jadinya jika tidak bersamamu!" "Kau boleh menyimpan rasa terima kasihmu orang tua. Tapi lihatlah! Sekejab lagi hari akan berganti malam.Puteri yang kita cari tidak ada di istana. Aku takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan terhadapnya.Apalagi kita juga tidak menjumpai Nila Seroja di tempat ini."

Ucapan Bunga membuat Ki Lumut segera ingat dengan tujuannya semula.

Orang tua ini terdiam sambil berpikir

"Malam ini adalah malam bulan purmama penuh. Nila Seroja pasti sedang berada di puncak kekuatannya. Apalagi Nila Seroja memiliki Topeng Pemasung Jiwa. Tanpa topeng itu saja kesaktiannya sudah sangat luar biasa.Bila topeng terus itu melekat diwajahnya, apakah aku dan gadis ini sanggup menghadapinya?"

"Kek, memangnya kau sedang memikirkan apa? Berpikir boleh boleh saja tidak dilarang.Tapi harus diingat waktu kita tidak banyak"

"Eeh, Iya. Maaf.Aku hanya merisaukan gadis yang telah membunuh pamanmu itu. Jangan-jangan dia telah menemukan puter ­ Manjangan Putih dan membawanya pergi"

"Apakah kau mengendus tanda-tanda kehadiran Nila Seroja di sekitar sini?" Tanya Bunga curiga.

"Walau samar namun aku yakin gadis itu memang pernah menyambangi istana ini. Dan ditempat ini telah terjadi bentrokan yang cukup hebat"

"Lalu..!"

"Kita harus menemukan sang puteri maupun Nila Seroja secepatnya."

Tegas Ki Lumut. Bunga Jelita bangkit. Dengan kesal dia hentakan kakinya di depan si kakek hingga membuat tanah bergetar dan debu berterbangan.

"Kau..sudah gla atau apa?"

"Aduh kek. Kau ini bagaimana. Kita harus segera menemukan mereka tetapi sementara ini kita sendiri tidak mempunyai petunjuk tentang keberadaan mereka!"

Jawab gadis itu kesal. Ki Lumut tersenyum. Dia lalu membuka kantong perbekalannya. Sepasang terompah sakti dia keluarkan dari kantong bututnya yang lusuh.

"Buat apa keluarkan terompah yang cuma bisa membawa kita terbang."

Kata Bunga Jelita yang tambah kesal melihat kelakuan Ki Lumut "Eit jangan salah."

Sahut K Lumut sambil goyang-goyangkan jari telunjuknya di depan hidung. "Kau belum tahu kehebatan lain yang dimilik terompah ini."

"Apa maksudmu kek? "

"Terompah saktiku memiliki banyak keistimewaan. Selain dapat membawa terbang kesuatu tempat, terompah ini juga dapat mencari tahu dimana keberadaan Puteri Manjangan Putih. Jika aku berkata. "Cari Puteri Manjangan Putih,"

Lalu meniup terompah tiga kali maka terompah sakti akan mengantar kita ke tempat Puteri Manjangan Putih itu berada."

Terang si kakek sambil senyum senyum.

"Ucapan itu bersungguh-sungguh atau gurauan saja?" Bunga Jelita tampak ragu-ragu.

"Siapa bergurau?"

"Jika kau tidak bergurau mengapa kalau bicara selalu tersenyum kek." Dengus sang dara.

"Aku memang sudah begini dari sananya. Mau diapakan lagi! Tapi sudahlah sekarang sebailknya kita cari Puteri Manjangan Putilh dengan memakai terompah."

"Ayo... pegang pundakku! Aku akan membawamu serta."

"Aku membonceng di punggungmu lagi? Kau yang keenakan aku yang rugi." "Rugi bagaimana?"

Tanya Ki Lumut tidak mengerti.

Dia tatap wajah gadis di depannya yang wajahnya merona merah.

"Jangan berlagak bodoh, kek. Aku bergelayut di punggungmu, sementara gerakan terompah kadang berayun tak karuan. Bukankah dadaku kerap menempel, bersentuhan dengan punggungmu yang lumutan itu kek?1"

"Ho ho ho. Oalah... kukira apa. Begitu saja kok ribut. Aku ini sudah tua, kau sudah kuanggap seperti cucuku sendiri. Mana mungkin aku tega membayangkan yang tidak-tidak. Lagi pula punggungku ini sudah mati rasa. Jika tidak mau digendong dibelakang apa kau mau kugendong di sebelah depan?"

"Kakek kurang ajar. Siapa sudi?!"

Dengus Bunga Jelita lalu palingkan wajah ke jurusan lain.

"Siapa yang kurang ajar. Kalau kau kugendong, bukankah menjadi sama-sama enak. Ha ha ha!" Goda Ki Lumut sambil tertawa terkekeh.

"Bicaramu makin tak karuan kek. Walaupun kau telah menolongku, tapi bukan berarti aku tak boleh menghajarmu"

Ancam gadis itu sengit. Melihat Bunga kesal Ki Lumut pun hentikan tawanya. Kemudian dia berkata.

"Sudah. Kalau tak mau bergelayut di punggungku, kau boleh memegangi kakiku, atau mau memilih berjalan kaki? Silahkan saja, Mungkin kau akan butuh waktu beberapa purnama untuk menemukan Nila Seroja atau bahkan tak bakal menemukannya sama sekali"

Bunga Jelita terdiam. Dia melihat matahari sudah mulai tenggelam menghiasi langit. Inilah malam terakhir Nila Seroja muncul.

Di malam gelap gadis itu tak mungkin gentayangan dikehidupan manusia

"Nila Seroja harus bertanggung Jawab atas kematian pamanku juga para tokoh persilatan yang tewas ditangannya. Ki Lumut mungkin saja benar, waktunya sangat sempit. Biarlah tidak mengapa aku menumpang di punggung yang lumutan itu, demi arwah orang-orang yang dibunuh oleh Perawan Bayangan Rembulan"

Sesudah Bunga memutuskan lalu tatap kakek di depannya dan berkata. "Mari kita berangkat kek!"

"Hah, sudah berubah pikiran kau rupanya?"

Si kakek menyambut gembira keputusan Bunga.

Tanpa menunggu dia menyebut nama Puteri Manjangan Putih tiga kali setelah itu dia meniup terompah juga sebanyak tiga kali.

Terompah bergetar memancarkan cahaya biru redup. Si kakek segera memakainya.

Satu dikaki kiri satunya lagi di kaki kanan.

Melihat terompah telah terpasang Bunga pun segera hampiri Ki Lumut, dua tangan dilingkarkan dileher si kakek

"Sudah siap?"

Tanya orang tua itu ditujukan pada dara di belakangnya. "Ya."

Jawab Bunga singkat. Ki Lumut hentakan kaki Wuus!

Secepat kilat tubuh Ki Lumut terangkat naik. Sesampainya diketinggian terompah melesat ke tempat tujuan.

*****

Malam belumlah larut benar.

Tapi di kawasan Lembah Tanpa Suara atau dikenal juga dengan Lembah Hanya Berbisik suasananya terasa sunyi mencekam.

Dikesunyian diatas sebuah pohon di tengah pulau. Puteri Manjangan Putih duduk tenang menghadap ke arah pintu pondok kayu berlapis daun yang terbuka sambil memeluk kecapi. Saat itu sang puteri sedang duduk menghadap ke arah timur.

Dihadapannya terdapat hamparan luas tanah pasir berjarak tidak kurang dari seratus tombak. Kilau cahaya bulan menerpa hamparan pasir luas yang membuat butiran pasir berpendar menyilaukan warna keemasan.

Angin dingin bertiup semilir.

Perhatian sang puteri terus tertuju ke arah tanah pasir tempat di mana Bunga Anggrek Mayat akan tumbuh dan berkembang hanya dalam waktu semalam. Di dalam pondok di atas pohon, tidak jauh belakang Puteri Manjangan, Nyai Santka abdi setia yang selalu mendampinginya tiba-tiba berbisik

"Bunga Anggrek belum memperlihatian tanda tanda akan munculkan diri.Tapi diempat penjuru arah para tamu yang tidak diundang sudah berdatangan. Saya khawatir bakal terjadi pertumpahan darah di tempat ini gusti puteri?1"

Nenek berjubah itu cemas. Puteri Manjangan Putih menghela nafas dalam dalam. Wajahnya begitu tenang tanpa gelisah sedikitpun.

Tatap matanya tertuju lurus ke tanah pasir di mana terlihat ada cahaya-cahaya aneh muncul silih berganti.

Cahaya bergerak membentuk lingkaran selayaknya riak air dalam telaga. Cahaya-cahaya itu lalu lenyap.

Dan tiba-tiba seluruh permukaan tanah pasir bergetar. Di tengah tanah pasir muncul cahaya hijau terang yang disusul dengan munculnya kuncup dan helai daun sekaligus tiga buah batang seukuran lengan.

Tidak sampai sekedipan mata proses berlangsung kini di tengah pasir telah tumbuh pohon anggrek raksasa berdaun hitam.

Pohon anggrek itu bercabang tiga, Masing-masing cabang ditumbuhi setangkai bunga tunggal yang masih berupa kuntum dan belum mekar.

Nyai Sentika yang ucapannya belum ditanggapi sang puteri terkesima. Seumur hidup baru kali ini dia melihat langsung tumbuhnya Anggrek Mayat "Bunga telah muncul, sebentar lagi Ular merah raksasa segera menyusul!"

Gumam Puteri Manjangan Putih. Apa yang dikatakan sang dara cantik ternyata benar-benar menjadi kenyataan.

Tidak berselang lama setelah sang bunga muncul tiba-tiba saja terdengar suara desis mengerikan.

Dari dalam tanah tak jauh dari tempat bertumbuhnya bunga terjadi guncangan keras. Guncangan itu melanda seluruh penjuru lembah danau.

Air danau bergelombang.Sekeliling lembah juga ikut terguncang Wuus!

Tanah pasir tersibak membentuk sebuah lubang menganga hitam.

Dari balik lubang muncul satu kepala bertanduk berwarna merah, bersisik keras. Kemunculan kepala disusul dengan munculnya anggota tubuh dibagian belakang. Ular raksasa yang ukurannya lebih besar dari pohon kelapa ini memutar kepala menatap kesegenap penjuru.

Mulutnya dipenuhi gigi-gigi runcing terbuka.

Lidahnya yang bercabang merah seperti darah terjulur keluar masuk mengendus. Tidak seperti biasanya, mahluk ini terlihat resah.

Tapi setelah meliuk-liuk dan goyangkan badannya ular raksasa merah yang bernama Sang Penghela itu segera melingkarkan diri kesekeliling pohon anggrek

"Lihatlah Sang Penghela. Matanya yang merah terus terbuka. Agaknya dia telah mencium gelagat yang kurang baik."

Puteri Manjangan Putih berbisik.

"saya katakan tadi, gusti. Di tempat ini memang telah muncul para tamu yang tidak diundang." Menyahuti Nyai Sentika dengan berbisik pula.

"Apakah Perawan Bayangan Rembulan dan Ratu Buaya telah hadir?"

Bertanya sang puteri tetapi perhatiannya tetap tertuju ke arah anggrek dan ular penjaga tanaman.

"Ya. Malah selain mereka masih ada Pendekar berpedang. Nenek Jubah Terbang, lalu seorang Resi bernama Resi Cadas Angin, kemudian gadis jelita yang gusti pernah ceritakan juga datang bersama kakek bertubuh hijau lumutan. Dua orang yang saya sebutkan terakhir itu kini dalam perjalanan dan melayang-layang diketinggian."

"Lengkap sudah!" Kata sang Puteri.

"Aku takut pantangan dilanggar. Mereka adalah orang-orang yang tidak mengerti aturan dan tata kerama."

"Maksud gusti puteri?"

"Maksudku bila mereka bicara dengan suara keras, bukan dengan berbisik, maka seluruh penghuni Lembah Tanpa Suara akan murka. Ular merah raksasa itu juga. Bagaimana dengan kita?"

Tanya Nyai Sentika.

Nenek ini rupanya mencemaskan keselamatan Puteri Manjangan Putih.

"Aku adalah pemilik seluruh penghuni kawasan. Mereka hanya tunduk patuh pada perintahku termasuk juga ular merah raksasa pasti akan melindungiku juga.Jangan khawatir tentang keselamatan kita. Justru keselamatan pendatang yang tidak berdosa yang aku risaukan!"

"Biarkan saja mereka celaka. Biar pula takdir yang menentukan nasib mereka." Kata Nyai Sentika. Entah mengapa orangtua ini tiba-tiba saja menjadi geram "Benar. Biarkan dewa memilih mana yang pantas hidup dan mana yang patut mati!" Sahut Puteri Manjangan Putih. Sementara itu disebelah selatan Lembah, Nila Seroja sedang mendekam dibalik gundukan batu tinggi bersama tiga orang pengiringnya.

Selain dapat merasakan guncangan keras saat munculnya Anggrek Mayat dan ular merah, wajah yang terlindung topeng tipis coklat Pemasung Jiwa itu nampak berseri-seri.

Bunga Anggrek Mayat ternyata tumbuh di pulau terapung di tengah danau.

"Bunga aneh itu baru saja muncul, tapi mengapa ada ular merah raksasa yang menjaganya?" Kata Nila Seroja.

Sebelumnya dia sempat mengurus tiga pengiringnya yang terluka dan jatuh pingsan akibat serangan Nyai Sentika ketika mereka mencoba menerobos masuk ke Istana Kebahagiaan.

Beruntung Nila Seroja dapat memusnahkan pengaruh racun Bunga Surga yang mendekam ditubuh ketiga pengiringnya, sehingga nyawa mereka terselamatkan.

"Ular raksasa itu bukan cuma bertugas melindungi bunga tetapi mungkin juga penguasa tempat ini." Sahut Rengga Buana.

"Kami bertiga akan menghabisi ular merah. Engkau yang memetik bunga sesaat setelah bunga mekar."

Ucap Cakra Buana pula.

"Kau bisa melewati danau dengan melayang kekuatan Topeng Pemasung Jiwa akan membawa menyeberang ke pulau. Sedangkan kami bersama sama menyeberangi danau itu dengan ilmu dan kekuatan kami."

Nila Seroja manggut-manggut. Sejenak dia menatap ke langit. Bulan purnama penuh hampir mencapai titik tertinggi. Langit biru terang bersinar tanpa setitik awan.

"Bunga Anggrek Mayat akan mekar saat bulan mencapai titik tertinggi. Itulah waktu yang paling tepat bagi kita untuk mengambilnya. Tapi.. Bukan hanya kita saja yang berada disini."

"Maksudmu?"

Tanya Sekti, Cakra dan Rengga Buana hampir bersamaan.

"Ratu Siluman Buaya Putih. Gadis itu juga berhasrat mendapatkan Bunga Anggrek Mayat guna memusnahkan pengaruh kutukan dewa yang terjadi padanya."

"Jika dia dapat merepotkan kita mengapa kita tidak berbagi saja dengan dia?"

Usul Sekti Buana. Nila Seroja delikkan matanya membuat kakek itu diam katubkan mulut rapat-rapat

"Mengapa harus berbagi dengan ratu sialan itu? Padahal kalian tahu diantara tiga kuntum bunga yang bakal mekar. Hanya ada satu kuntum yang paling dahsyat khasiatnya, Dan aku tidak tahu dari tiga kuntum itu yang mana yang paling berkhasiat. Bukankah lebih baik bila aku ambil tiga tiganya sekaligus?" Kata Nila Seroja .Ketiga kakek pengiring itu manggut-manggut membenarkan ucapan gadis mereka.

"Tapi semua itu membutuhkan perjuangan yang sangat berat!" Gumam Rengga Buana.

"Kita berempat, Ratu Buaya Putih kemungkinan datang sendiri. Apa yang perlu ditakutkan?" Kata Sekti Buana memberi semangat.

"Walau begitu kita tidak boleh mengabaikan Puteri Manjangan Putih pemilik tempat ini!" Kata Cakra Buana mengingatkan.

Nila Seroja tersenyum. Dia tidak merasa risau dengan puteri Manjangan Putih.

Karena dia tahu disaat bulan purnama bersinar penuh, kesaktian Topeng Pemasung Jiwa berada pada puncaknya.

Topeng itu bakal menjadi senjata yang sangat mematikan.

"Aku tahu apa yang harus aku lakukan.Malam ini Puteri Manjangan Putih sekalipun tak akan bisa menghentikan keinginanku!"

Tegas Nila Seroja penuh semangat.

******

Tubuh babak belur Ki Demang Sapu Lengga disandarkan dibawah sebatang pohon.

Ratu Buaya Putih sendiri saat itu berada di sebelah timur lembah berdiri tegak menghadap ke arah lembah.

Walau dia merasakan guncangan dan getaran keras beberapa saat sebelumnya tapi si gadis tidak menghiraukannya.

Perhatiannya mula-mula tertuju ke seluruh penjuru danau yang bening dan tenang.

Setelah tidak menemukan tanda-tanda adanya bunga yang dia cari, Ratu Buaya arahkan pandangannya ke tanah pasir luas yang terdapat ditengah danau tersebut.

Disaat itulah sang Ratu melihat ada sesuatu yang bergerak.

Walau jaraknya jauh tetapi dia dapat melihat benda yang bergerak menyeruak dipermukaan pasir yang tak lain adalah bunga. Pohon bunga anggrek berwarna hitam.

Wajah sang ratu berseri, namun senyumannya lenyap begitu dia melihat mahluk merah besar muncul ditempat itu seiring dengan munculnya bunga

"Ular....Ya, aku yakin sekali yang menggeliat dan meliuk adalah ular merah."

Munculnya ular yang segera melingkari pohon anggrek membuat sang Ratu menjadi tidak mengerti.

Diapun menghampiri Ki Demang, sambil berjongkok disamping si kakek. Ratu Buaya tepuk tepuk pipi Ki Demang yang agaknya tertidur dalam kesengsaraan tersebut "Bangun! Aku butuh penjelasanmu!"

Kelopak mata yang menggembung bengkak dan lebam membiru membuka. Melihat Ratu Buaya ada disampingnya dia bertanya,

"Apa lagi yang kau inginkan dariku? " "Bunga Anggrek Mayat ada di pulau itu."

Ratu Buaya lalu menunjuk ke arah yang dimaksud.Dengan matanya yang nyaris tertutup si kakek menatap ke tengah danau.

"Kau sudah melihatnya?"

Ki Demang anggukkan kepala.

"Tapi ada ular merah raksasa yang menyertai kemunculannya.Mahluk itu apakah si empunya bunga?"

"Semoga kau ditelannya!"

Dengus Ki Demang sinis. Ratu Buaya menggeram, tangan diangkat siap hendak menampar.

Namun tiba-tiba dia urungkan niat mengingat keadaan Ki Demang yang sudah lemah tidak berdaya "Jawab saja apa yang aku tanya." Mengenai hidup matiku kau perduli apa?"

Geram sang ratu sengit. Ki Demang seka bekas darah kental yang masih ada disudut bibirnya.

Setelah itu barulah dia menjawab.

"Walau aku pernah bersahabat dengan puteri Manjangan Putih, bukan berarti aku tahu segalanya. Aku hanya bisa menduga ular raksasa merah memang penjaga Bunga Anggrek Mayat. Tanyakan saja pada siempunya tempat.Satu lagi, mengingat luasnya danau di lembah ini bagaimana kau bisa menyeberang ke pulau itu? He he he!"

"Aku bisa menggunakan tubuhmu sebagai rakit." Jawab Ratu Buaya dingin.

KI Demang sendiri terdiam begitu mendengar ucapan Ratu Buaya.

Dia pernah mendengar dari puteri Manjangan Putih bahwa dikawasan istana Satu ada sebuah danau yang didalamnya dipenuhi mahluk-mahluk berbisa.

Tidak hanya ular dengan berbagai ukuran tapi ada pula mahluk langka yang terdiri dari Kalajengking dan Kelabang air.

Kedua binatang itu memiliki racun sepuluh kali lebih ganas dari kelabang dan kalajengking yang hidup di darat. Membayangkan semua itu diam-diam si kakek bergidik ngeri

"Aku sudah tidak sabar menunggu bulan berada diatas kepala.Bunga baru mekar disaat bulan mencapai titik tertinggi. Begitu seluruh penjuru kawasan lembah ini dipenuhi wangi aroma setanggi. Itu pertanda Bunga Anggrek Mayat mulai merekah. Kau bersiap-siaplah!"

"Tapi mohon jangan pergunakan aku sebegal rakit hidup untuk menyeberang. Dan jangan berbicara dengan suara yang keras!"

Pinta Ki Demang. Seumur hidupnya baru kali ini dia meratap pada seorang wanita. Karena biasanya gadis-gadis yang jadi korbannya yang selalu meratap minta agar tidak dinodai

"Hemm...!"

Ratu Buaya keluarkan suara berdengus.

Dan ucapan Ki Demang terlalu menggelitik keingin tahuannya. "Mengapa aku tidak boleh bersuara keras?"

"Ya. Karena itu merupakan pantangan keras. Lembah ini bernama Lembah Hanya Berbisik atau Lembah Tanpa Suara.Suara yang keras bisa membuat marah mahluk-mahluk penghuni dasar danau."

Walau kurang percaya, namun Ratu Buaya Putih diam-diam terkejut juga mendengar ucapan Ki Demang

"Pantas lembah ini terasa sunyi walau aku bisa merasakan banyak orang-orang bersembunyi disekeliling lembah"

Gumam Ratu Buaya dalam hati

"Baiklah Kalau kau tidak membuat ulah. Aku akan menggunakan bambu sebagai rakit.Sekarang ikut denganku. Bantu aku mengumpulkan bambu."

"Terima kasih kau mau percaya. Aku tidak akan berulah!"

Janji Ki Demang. Walau sudah tidak berdaya namun jika ada kesempatan dia akan membalas mencelakai gadis bergaun merah itu

******

"Nek, Lembah ini aneh nek. Tidak ada tumbuhan dibawah sana, tapi ada sebuah danau yang mengelilingi pulau!"

Celetuk Raja Gendeng 313 sambil mengusap wajahnya yang keringatan. Padahal saat itu udara dingin sejuk.

Si nenek berjubah hitam yang mendekam dicabang pohon yang berada disebelah bawah cabang pohon yang diduduki Raja, mendengus

"Baru melihat pemandangan seperti ini saja sudah ribut. Apa kau belum pernah melihat ada danau ditengah lembah?"

Ucap si nenek yang adalah Nini Buyut Amukan

"Emm, belum nek. Yang pernah kulihat adalah lembah penuh semak berikut dua bukit aneh tapi indah."

Jawab Raja polos namun sambil senyam senyum.

"Bocah gendeng sialan! Dalam keadaan seperti Ini masih sempat-sempatnya kau bergurau.?" Nini Buyut tiba-tiba julurkan tangan siap hendak mencubit. Namun Raja telah bergeser berpindah ke cabang yang lain, hindari cubitan si nenek.

Anehnya setiap gerakan yang dilakukan sang pendekar sedikitpun tidak membuat cabang ataupun daun bergoyang.

Si nenek merasa takjub dengan limu meringankan tubuh yang dimiliki Raja. "Nek...!"

"Nak-nek-nak-nek. Memangnya aku nenekmu. Pantasnya aku ini jadi kekasihmu! Hik hik" Sahut si nenek. Walau ucapannya sekedar gurauan belaka namun hati si nenek berdebar-debar.

Darahnya berdesir.

"Mau bicara apa kau?" "Anu nek."

Raja ragu-ragu.

"Memang anumu digigit semut?"

"Tidak nek, tidak kenapa-kenapa cuma bangun saja" "Hah apa?!"

Nini Buyut berjingkrak kaget dan belalakkan mata. "Gendeng sjalan. Kau jangan membuatku takut!" "Justru kaulah yang membuat si anu ketakutan." Sahut Raja pula.

"Tapi bukan itu maksudku nek. Aku hanya heran mengapa lembah ini sunyi. Padahal kita tahu ada beberapa orang ditempat Ini"

"Aku tidak tahu sebabnya. Tapi aku melihat pada pohon besar di tengah pulau ada sebuah pondok"

"Pondok diatas pohon itulah yang hendak aku katakan kepadamu, nek." "Mengapa pondok berdiam disana dan kelihatannya pondok itu masih baru" "Lebih baik kita menyelidik"

"Caranya sampai kesana?" Raja terlihat bimbang.

"Kau ini mengapa tolol sekali. Aku memiliki Jubah Terbang, Lekas kau peluk punggungku! Kita tidak punya banyak waktu, Sekejab lagi bunga yang baru tumbuh akan bermekaran,"

Berkata demikian Nini Buyut Amukan tepuk-tepuk punggungnya. Walau sempat ragu. Raja segera melompat dan bergelayut di punggung Nini Buyut Amukan.

Begitu tangannya bergelayut dibahu kiri kanan Nini Buyut. Nenek ini segera kibaskan dua tangan kebelakang dengan gerak seperti orang yang berenang

Wuus! Dengan kecepatan luar biasa tubuh si nenek dan Raja yang berada disebelah atasnya melesat menyeberangi danau yang luas.

Angin menderu deru menampar wajah dan mengibarkan jubah sakti si nenek. "Wooh.. pemandangan dari atas sini indah ya nek."

Celetuk pemuda itu girang.

"Indah dengkulmu. Aku sengsara karena menggendongmu, kau pikir aku ini binatang tunggangan apa?"

Maki si nenek

"Kau ini bagaimana nek. Kau yang minta kini malah marah-marah. Kau pikir diatas sini dibelakangmu apa aku tidak sengsara,?"

"Apa yang menyengsarakanmu!" Sambut si nenek dingin.

"Ah kau pura-pura tidak tahu. Bau ketekmu nek bikin aku sengsara. Memangnya sudah berapa tahun kau tidak mandi?!"

Tanya Raja sambil menahan gelak tawa. "Bocah gendeng sial! Memangnya aku kerbau atau apa.

Kuceburkan ke bawah sana baru tahu rasa." Ancam si nenek membuat Raja ketakutan.

Dia takut Nini Buyut Amukan benar-benar membuktikan ancamannya.

Tak urung si nenek tersenyum.Jantungnya berdetak tak keruan. Andai saja tidak merasa malu.

Nini Buyut Amukan mau saja membawa Raja terbang selama berhari-hari. Tenggelam dalam angan-angannya si nenek terus melesat.

Diatas punggung Raja berkata dihati.

"Andai aku punya burung seperti nenek ini. Euenak eh... tapi bukankah aku juga mempunyai teman burung Rajawali putih?"

Segera saja Raja Gendeng 313 teringat dengan burung kesayangannya yang menetap di Pulau Es.

Seutas benang halus berwarna putih laksana perak melesat dari arah pondok diatas pohon. Benang itu melesat ke arah Nini Buyut Amukan yang sedang berada diketinggian.

Demikian halusnya sampai-sampai Nini Buyut dan Raja tidak dapat melihat gerakan benang yang menjerat kedua kaki nenek itu.

"Eh, apa-apaan ini?!"

Seru si nenek. Seruan keras membuat permukaan danau yang tenang bergelombang "Memangnya ada apa denganmu nek."

Raja cepat palingkan kepala menatap kearah jurusan kaki Nini Buyut yang ternyata walau sudah tua masih mulus licin. "Ada benang nek. Menjerat betis mulusmu!" "Ya, aku baru melihatnya. Benang sialan."

Jawab Nini Buyut sambil berusaha memutuskan tali dengan mengerahkan tenaga dalam kebagian kakinya.

Tapi tali yang melilit betis hingga mata kakinya terlalu alot tak dapat putus walau Nini Buyut menyentakkannya berulang kali.

Malah Nini merasakan betis yang terlilit tali benang serasa mau putus. Selagi Nini Buyut berusaha keras melepaskan diri dari libatan benang, tiba tiba satu sentakan yang sangat keras luar biasa menyeret tubuh mereka.

Tak kuasa melawan, Nini Buyut dan Raja yang berada dalam gendongan si nenek tertarik kearah pondok di atas pohon

Wus! Bruk!

Kejadian selanjutnya berlangsung dengan cepat.

Nini Buyut dan Raja jatuh bergedebuk diatas lantai pondok yang berukuran cukup luas. Si nenek yang jatuh terguling megap-megap tertindih Raja.

Namun dia segera singkirkan Raja yang jatuh terlentang menindih tubuhnya sambil mengusapi keningnya yang bengkak benjol

"Siapa kalian!"

Sentak Nini Buyut Amukan sambil melepaskan lilitan benang aneh di kaki.

Kedua orang yang duduk didalam pondok tanpa penerangan dan hanya mengandalkan pantulan cahaya rembulan itu tersenyum, cepat tempelkan jari telunjuk di depan bibir

"Ssstt! Kalian berdua hampir membuat kekacauan. Kalian terlalu berisik seperti dua monyet kelaparan!"

Kata nenek berjubah yang telah menjerat Nini Buyut.

"Sial nek, kita dikatakan dua monyet kelaparan. Kita kan bukan monyet ya nek cuma mirip dikit

lah"

Gerutu Raja sambil duduk dan memperhatikan nenek berjubah dan gadis bergaun putih di depan

pintu.

"Diam. Kau yang monyet, aku bukan."

Nini Buyut yang terpengaruh ucapan nenek jubah hitam menggeram marah tapi suaranya berbisik.

Bagi Raja ini merupakan pemandangan yang lucu.

Ingin tertawa tapi tidak berani, akhirnya dia melepasikan tawa diperut hingga perutnya bergoyang-goyang "Apakah kau yang bernama Raja? Dan mempunyai julukan Sang Maha Sakti Raja Gendeng 313?"

Tanya gadis bergaun putih dengan mahkota putih berukir gambar manjangan. Sang pendekar mengorek hidungnya yang mengganggu jalan nafas.

Kemudian dengan menggunakan jari yang sama dia acungkan tangan keatas

"Siap, saya memang orang yang seperti anda sebutkan.Apakah kau orangnya yang bernama Puteri Manjangan Putih?"

Tanya Raja sambil memperhatikan.Gadis yang memangku kecapi itu anggukkan kepala.

Begitu mengetahui gadis dihadapannya memang puteri yang dicari, Nini Buyut Amukan segera jatuhkan diri berlutut didepan gadis itu

"Maafkan kami dua orang bodoh yang tak menyadari tingginya gunung di depan kami.

Kedatangan kami kemari untuk membantu bukan untuk mencari keributan,"

Jelas Nini Buyt mengutarakan maksud kedatangannya. Sementara Raja sendiri tidak mengikuti tindakan si nenek

"Kalian dua orang baik. Tapi kepolosan kalian dengan bicara lantang seenaknya sendiri hampir membuat murka penghuni danau."

Kata Puteri Manjangan Putih sambil melirik Raja. "Puteri, maaf jika aku tak hormat padamu." Sambil tersenyum Puteri Manjangan menjawab.

"Tidak mengapa, penghormatan kepada seseorang itu sama dengan menghormati dirinya sendiri."

"Oh pendapatmu benar. Aku memang orang yang kurang hormat pada diri sendiri. Tapi. "

Berkata demikian Raja melirik ke arah nenek berjubah berkulit hitam.

"Tapi siapa nenek yang bersamamu ini. Dia telah menjerat nenek cantik sahabatku hingga membuatnya tidak berdaya."

"Bocah gendeng, sudahlah mengapa urusan kecil dibesar-besarkan."

Tegur Nini Buyut merasa tidak enak hati

"Tidak mengapa nek. Dia patut mengetahui siapa yang bersamaku. Nenek disebelahku ini bernama Nyai Sentika seorang abdi yang telah membantuku dalam berbagai masalah selama puluhan tahun."

Menerangkan sang puteri.

Selanjutnya dia menceritakan semuanya yang telah terjadi juga tentang munculnya Perawan Bayangan Rembulan bersama pengikutnya.

Tidak lupa puteri Manjangan Putih juga menceritakan tentang kedatangan Ratu Siluman Buaya Putih.

"Orang-orang itu rasanya sudah berada disekeliling lembah. Disamping itu aku juga melihat seorang kakek berpakaian putih disisi sebelah utara Lembah."

Mendengar penjelasan sang puteri, Nini Buyut Amukan tiba-tiba memotong

"Kakek yang gusti sebutkan itu harap jangan disakiti.Dia sahabatku. Dia bahkan paling banyak berjuang untuk mengatasi kemelut dan pembunuhan yang menimpa tokah-tokoh golongan putih."

"Aku sudah tahu kalian datang ingin membantu.Agar tidak terjadi kesalahan dengan orang segolongan khususnya terhadap penghuni danau aku akan meminjamkan Mutiara Ular."

"Mutiara itu akan kutempelkan dikening kalian berdua. Batu ini akan nyala begitu kalian menggunakan tenaga dalam."

Puteri Manjangan Putih kemudian ulurkan dua tangannya.

Begitu genggaman tangan dibuka, pada masing-masing tangan terdapat sebuah batu besar seukuran ujung jari kalajengking.

Tanpa bicara batu Mutiara Ular itu kemudian segera rekatkan dikening Raja dan Nini Buyut Amukan.

Mata sang pendekar berkedap-kedip begitu merasakan ada hawa sejuk luar biasa menjalar disekitar kening lalu merambat kesekujur tubuhnya. Hal yang sama juga dirasakan oleh Nini Buyut

"Ooh..sejuk nek."

Ucap Raja lirih tapi suaranya berdesis.

"Tapi... tapi mengapa suaraku ada perubahan ya.?"

"Suaramu mendesis seperti pasangan pengantin dimalam pertama. Hik Hik" Sambut si nenek tapi cepat tekap mulutnya.

"Memangnya dimalam pertama pengantin itu ngapain nek?"

Tanya Raja polos. Puteri Manjangan Putih tersenyum namun cepat palingkan wajah kejurusan tanah berpasir. Nyai Sentika Justru cemberut.

"Pemuda tolol. Malam pertama pengantin ya berperang tanpa senjata." Gerutu si nenek.

"Sudah. Hentikan pembicaraan konyol itu.!" Nyai Sentika mendengus.

"Aku bisa memaklumi kebiasaan orang-orang aneh seperti kalian. Tapi sekarang sudah waktunya bersiap diri. Bulan purnama beberapa kejaban lagi akan sejajar dengan kepala. Bunga Anggrek Mayat akan mekar. Bila kalian mendengar suara aneh disertai tebaran aroma wangi setangi.Aroma itu berarti datang dari kuntum anggrek yang mekar. Artinya itulah waktu bagi kalan untuk menunjukkan diri sebagai seorang sahabat yang benar-benar berpihak pada kebenaran!"

Terang sang puteri. Nyai Sentika bangkit, mendekat ke pintu yang terbuka lalu memandang ke atas

"Bulan telah mencapai titik tertinggi! Lihat ke tanah pasir!" Seru orang tua itu namun tetap dengan suara berbisik.

Seketika semua orang yang berada di pondok kayu itu jadi tegang namun pentang mata lebar lebar.

Demikian juga dengan orang-orang yang menunggu berjaga di sekeliling lembah pusatkan perhatian ke arah tanah pasir.

Di tengah keheningan dan suasana tegang yang menggantung diudara. Tiba-tiba saja terdengar suara berkerotokan.

Tanah berpasir mengalami guncangan keras luar biasa.

Kuncup bunga lalu merekah dan ada asap menyerupai kabut menebar dari tiga kuntum yang bermekaran.

Kabut yang tak lain adalah serbuk sari bunga menyebar keseluruh penjuru lembah. Semua orang dapat mengendusnya.

Sang ular Merah raksasa mulai menggeliat lalu bergerak melingkari bunga yang baru bermekaran.

Disaat seperti itulah tiba-tiba keheningan disentakkan dengan terdengarnya suara teriakan "Bunga yang didamba telah mekar. Sekarang saatnya memetik bunga itu!"

Belum lagi habis gaung teriakan yang datang dari arah utara melesat satu Sosok tubuh diketinggian, disusul dengan sosok lainnya.

Mereka berusaha menyeberangi danau dengan berlari atau berjalan dipermukaan air. Lalu ada suara teriakan lain terdengar.

Dan teriakan itu datang dari sebelah timur lembah

"Siapa yang berani menyentuh Bunga Anggrek Mayat harus melangkahi mayatku lebih dahulu!"

Seketika itu pula dipinggir danau sebelah timur lembah terlihat sebuah rakit bambu meluncur membelah danau.

Diatas perahu dengan kecepatan luar biasa mendayung seorang gadis bergaun merah dengan dibantu oleh seorang kakek.

Kedua orang ini tak lain adalah Ratu Buaya dan Ki Demang Sapu Lengga.

Teriakan teriakan yang kemudian datang dari berbagai penjuru lembah membuat puteri ManJangan Putih yang masih berada diatas pondok kayu keluarkan ucapan,

"Celaka! Pantangan tidak bicara keras telah dilanggar. Aku tidak bertanggung jawab lagi dengan kemarahan penghuni danau!"

Setelah berkata demikian sang puteri palingkan kepala ke arah Raja dan Nini Buyut. Pada kedua orang ini dia berkata,

"Lindungi tiga tangkai anggrek dari tangan orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Jangan takut dengan ular merah.Batu ular Biru dikening kalian menjadi tanda bagi semua penghuni tempat ini agar tidak menyerang kalian!"

Selesai berkata begitu sambil memeluk kecapi ditangannya dengan dikuti Nyai Sentika. Puteri Manjangan Putih berkelebat kesebelah sisi lain tanah berpasir,

Melihat penguasa kawasan pergi, Raja dan si nenek pun segera lakukan tugas yang diperintahkan.

Selagi kedua orang ini melesat ke arah ular raksasa yang menggeliat bangkit, kekacauan justru terjadi ditengah danau.

Ratu Buaya dan Ki Demang juga tiga pengasuh Nila Seroja yang tengah menyeberangi danau disisi lain dengan caranya masing-masing dikejutkan dengan bergolaknya air danau.

Danau menggelegak seolah mendidih. Airnya yang bening berubah keruh.

Air bermuncratan menghantam laksana cambuk.

Sementara pada waktu bersamaan dari dasar danau melesat keluar ribuan mahluk berbentuk panjang dengan berbagai ukuran dan warna.

Mahluk-mahluk yang terdiri dari ular ganas berbisa itu menyerang siapapun yang mencoba mengarungi danau.

Tidak hanya ular yang muncul, tapi ada kalajengking dan kelabang berwarna biru.

Mahluk-mahluk itu menyemut bertumpuk, menggunung seperti sekawanan laron yang bertebaran mencari sasaran.

Resi Cadas Angin yang saat itu ikut menyeberangi danau dari arah sisi sebelah utara dengan menggunakan sepotong kayu termasuk salah satu korban keganasan mahluk-mahluk tersebut.

"Mahluk-mahluk aneh, yang keluar karena merasa terusik oleh teriakan itu tidak dapat membedakan mana kawan mana lawan. Hiaa!"

Teriakan si kakek sambil mengandalkan kecepatan gerak disertai pengerahan ilmu meringankan lambungkan tubuhnya ke atas. Dari ketinggian sementara kaki masih tetap berpijak pada potongan kayu yang melekat dibawah kasutnya.

Resi Cadas terpaksa mengumbar pukulan sakti berhawa panas mematikan. Begitu si kakek menghantam ke permukaan danau yang dipenuhi ular dan kalajengking juga kelabang beracun. Berturut-turut dari telapak tangannya menderu hawa panas disertai kilatan cahaya putih mematikan

Buum! Buum!

Pukulan Sengatan Matahari yang dilepaskan Resi melabrak mahluk-mahluk dipermukaan danau.

Dentuman dahsyat melanda danau dikawasan sebelah utara.

Pukulan yang melanda menimbulan gelombang besar. Air danau seperti mendidih. Sebagian air muncrat memenuhi udara. Ratusan mahluk berkaparan mati dalam keadaan hangus. Air danau menjadi merah kehijauan dipenuhi darah mahluk-mahluk itu. Bau anyir menebar kemana-mana. Tapi muncratnya air sempat menyambar tubuh Resi Cadas membawa serta beberapa kalajengking kelabang yang lolos dari maut itu dan jatuh menempel dipakaian si kakek.

Resi segera menepisnya. Namun ada dua kalajengking yang berhasil menyelinap masuk ke balik pakaiannya luput dari perhatian Resi. Tanpa ampun kedua binatang itu menyengatnya. Sang resi mengeluh tertahan namun segera meremas kedua binatang tersebut.

Dia segera menarik baju putihnya ke atas. Mata si kakek terbelalak ketika mengetahui kedua binatang yang diremas ternyata kalajengking.

Seketika itu ada hawa dingin dan rasa nyeri luar biasa menjalar kesekujur tubuh. Si kakek segera menotok jalan darah disekitar luka didada.

Sementara dalam keadaan terhuyung dia berusaha mencapai pulau, Resi Cadas Angin terus kerahkan tenaga dalam dan berusaha memusnahkan racun dengan menelan beberapa obat berwarna merah.

Tapi ternyata pengaruh racun jauh lebih hebat dari obat yang dimakannya. Si kakek jadi limbung.

Dia tidak kuasa lagi mengendalikan potongan kayu yang dijadikan tumpuan berpijak.

Tidak terbayangkan betapa ganasnya racun kalajengking penghuni danau hingga orang yang memiliki kesaktian luar biasa tinggi seperti Resi Cadas Angin sekalipun tidak berdaya.

Tanpa ampun tubuh si kakek melayang-layang kebawah siap tercebur kedalam danau dan bakal menjadi santapan mahluk-mahluk penghuninya. Namun disaat yang menegangkan itu dari ketinggian tiba-tiba terdengar seruan yang disusul dengan munculnya Ki Lumut serta Bunga Jelita yang melayang menggunakan terompah sakti.

"Kek selamatkan kakek baju putih itu. Dia resi Cadas Angin sahabat almarhum pamanku!" "Ya-ya. Tambah berat saja beban buat si tua bangka ini!"

Sahut Ki Lumut walau mulut kakek lumutan itu berkata demikian, namun dia penuhi permintaan sang dara dibelakangnya.

Ki Lumut menukik tajam, lalu bergerak lurus ke arah Resi Cadas yang nyaris kehilangan kesadarannya.

Sebelum sang resi tercebur kedalam air, Ki Lumut sudah berhasil menyambar tubuh si kakek. Dia lalu membawanya ke tempat aman.

Tapi karena kawasan pulau telah dipenuhi mahluk mahluk berbisa Ki Lumut terpaksa menyangkutkan tubuh sang resi di cabang pohon tak jauh dari pondok kayu tersembunyi.

"Sekarang kita cari siapa lagi?"

Tanya Ki Lumut yang kembali melayang.

Bunga Jelita tidak menjawab. Tapi segera layangkan pandang ke bawah. Matanya jelalatan mencari-cari lalu berseru. "Kau lihat orang yang melesat mendekati pohon anggrek itu?"

"Ya, aku melihatnya. Dia memakai topeng dan topeng itu memancarkan cahaya "

"Itulah orangnya yang bernama Nila Seroja. Jangan biarkan dia mengambil bunga itu. Bila dia sampai memakannya tak ada seorangpun yang sanggup mengalahkannya. Dan jangan lupa kek Tanggalkan topengnya. Rampas topeng itu!"

"Tapi dibawah sana aku juga melihat ada nenek berjubah. Bukankah nenek itu sahabatmu? Dan pemuda yang berdiri dekat ular raksasa, mengapa ular tidak menelannya. Mereka seperti bersahabat."

Ki Lumut terheran-heran

"Lihat ada sesuatu menyala dikening nenek dan pemuda itu." Kata Bunga dengan jantung berdebar.

Entah mengapa dia merasa gembira sekaligus bahagia melihat Raja tak kekurangan sesuatu apa.

"Itu batu Mustika Ular. Batu itu yang membuat ular merah tidak menyerang. Tapi dari mana dia mendapatkannya!"

Tanya Ki Lumut heran.

"Sudah jangan banyak bicara.Lihat yang disebelah sana itu disudut kiri tanah pasir. Ada gadis berpakaian putih dan nenek berjubah diserang oleh tiga kakek pengasuh Nila Seroja. Kau bisa kesana bantu gadis bergaun putih itu. Dia puteri Manjangan Putih.

"Bagaimana kau bisa tahu?"

"Mahkota yang bertengger dikepalanya. Walau samar mahkota itu bersimbol manjangan. Nenek berjubah itu pasti pembantunya.Turunkan aku dekat pohon itu, aku ingin membantu Raja!"

"Baiklah."

Si kakek kemudian turunkan Bunga Jelita diatas pohon rendah tak jauh dari tempat tumbuhnya bunga anggrek Mayat.

Setelah menurunkan gadis itu. Ki Lumut segera melesat ke arah Puteri Manjangan Putih Menghadapi serangan tiga pengasuh Nila Seroja ternyata cukup membuat sang puteri kerepotan juga.

Padahal ketiga kakek yang lain adalah Rengga, Cakra dan Selkti Buana saat ibu telah terluka parah.

Disekujur tubuhnya terutama dibagian kedua telapak kaki sampai ke betis berlubang dipenuhi cabikan.

Tapi tak ada darah yang keluar.

Luka-luka bekas cabikan itu akibat serangan mahluk penghuni danau. Ketiganya ternyata kebal berhadap serangan berbagai mahluk berbisa.

Dan keistimewaan yang dimiliki ketiga mahluk gaib ini setiap kali diserang atau disengat, mahluk penyerang malah mati.

Ketiga kakek yang menggunakan ilmu berlari cepat diatas air ini ternyata sanggup melewat amukan para penghuni danau.

Bahkan pergolakan air yang menghantam seperti cambuk, tak sanggup menghancurkan mereka.

Padahal sebelumnya ketiga orang ini sempat pingsan ketika diserang oleh Nyai Sentika dengan asap pembius.

Lalu gerangan apa yang membuat mereka berubah jauh lebih hebat dari sebelumnya?

Sebabnya tak lain karena Nila Seroja menyalurkan sebagian kekuatan Topeng Pemasung Jiwa kedalam diri mereka.

Sementara itu Ratu Buaya Putih nampaknya harus berjuang keras membebaskan diri dari amukan penghuni danau.

Sebagai ratu penguasa air dia tahu apa yang harus dilakukan.

Dalam kemarahan luar biasa, Ratu Buaya memberi perintah pada Ki Demang agar mendayung rakit bambu lebih cepat.

Sementara Ratu sendiri tiba-tiba berteriak keras.

"Aku adalah ratu dari sekalian buaya. Aku penguasa setiap kehidupan yang berada didalam air.

Kalian para penghuni telaga, dengarlah! Jangan ada yang mencoba mengganggu, menjauhlah dariku'" Lalu sang ratu pukulkan tangannya ke dalam air tujuh kali berturut-turut.

Berbarengan dengan gerakan tangan menyentuh air dari kedua telapak tangannya memancar cahaya putih menyilaukan.

Ketika pancaran cahaya menyentuh air, seketika itu pula cahaya berubah menjadi buaya-buaya berwarna putih.

Kawanan jelmaan cahaya segera memangsa ular-ular dan kalajengking juga kelabang hijau.

Menghadapi serangan buaya, kawanan penghuni air ada yang terus menyerang tapi sebagian melarikan diri.

Semua pemandangan mengerikan ini tentu tidak lepas dari perhatian Ki Demang yang terus mendayung perahu dengan tubuh gemetaran.

Orang tua ini takjub namun juga takut.

Tapi rasa takjub akhirnya berubah menjadi terkejut begitu dia melihat beberapa mahluk melata itu ternyata bergerak ke arahnya.

Didera rasa takut, Ki Demang berteriak

"Ratu, mahluk-mahluk itu hendak menyerangku."

Sang Ratu menyeringai dingin. "Aku cuma mengatakan mereka agar tidak menyerangku. Jadi bukan berarti mahluk mahluk itu tidak harus menyerangmu. Tapi tidak usah takut mampus. Lihatlah bagian tepi telaga sudah dekat. Aku akan melemparmu kesana. Jika nasibmu mujur, mudah-mudahan didarat sana tidak ada mahluk lain yang menunggumu." Kata Ratu Buaya sinis.

Si kakek manggut-manggut.

Dalam takutnya orang tua itu sampai terkencing-kencing. Dengan suara gemetar dia berucap.

"Ratu, Jangan biarkan aku mati. Lindungi aku!" Ratu Buaya tidak perduli.

Sekali cengkeram tengkuk orang tua ini kena dicekalnya.

Kemudian tanpa bicara lagi sang Ratu melemparkannya ke daratan. Ki Demang melayang dan jatuh diatas gundukan tanah tinggi.

Kepala terantuk batu mengucurkan darah.

Sambil menyeringai Ratu Buaya menepikan rakit, kemudian dengan gerakan ringan dia melompat ke darat.

Tanpa memperdulikan Puteri Manjangan Putih, Nyai Sentika dan Ki Lumut yang terlibat perkelahian dengan pengikut Nila Seroja, Ratu Buaya berkelebat mendekati tempat tumbuhnya pohon Anggrek Mayat.

Sementara itu Nila Seroja yang telah sampai lebih awal didekat tumbuhnya anggrek terpaksa harus menunda keinginannya untuk mendapatkan bunga yang menjadi incaran, karena pada saat itu Raja telah menghadangnya.

Sambil menyeringai Raja Gendeng 313 berujar.

"Gadis bertopeng yang telah menimbulkan banyak kekacauan. Bunga itu aku yang punya, kalau kau memaksa Ingin mendapatkannya, kau harus menciumku lebih dulu sebanyak sepuluh kali Ha ha ha!"

Merasa dihalangi Nila Seroja menggeram.

"Gondrong keparat.Memangnya siapa dirimu, berani menghalangi.?" "Aku... aku adalah penguasa tempat ini!"

Jawab Raja asal-asalan.

"Penguasa gila! Sekarang terimalah kematianmu!"

Sambil berkata demikian gadis ini kibaskan kepalanya kesamping.

Seketika itu juga dari permukaan topeng menderu segulung angin dahsyat menebar cahaya merah kecoklatan. Sang pendekar tertawa tergelak melihat serangan yang ganas itu.

Dia hantamkan kedua tangannya ke depan dengan pukulan sakti Badal Serat Jiwa. Dari kedua tangan itu menderu satu gelombang angin laksana badai, Dua kekuatan sakti beradu keras diudara menimbulkan suara ledakan berdentum.

Nila Seroja terdorong mundur sejauh tiga tombak, lalu terjatuh dengan tubuh terhuyung dan dada sesak bukan main. Tak Jauh di depannya Raja Gendeng 313 mengalami guncangan keras.

Dada terasa sakit bukan main sedangkan isi perut laksana terbongkar. Guncangan akibat bentrok dua kekuatan sakti itu juga membuat Nini Buyut Amukan yang berdiri tidak jauh dari Raja juga jatuh terpelanting.

Selagi Raja memulihkan guncangan yang terjadi dibagian dalam.

Dan Nini Buyut Amuan berusaha bangkit, Nila Seroja yang siap untuk melancarkan serangan susulan, batalkan serangannya ketika melihat Ratu Buaya berlari cepat menuju ke arah Bunga Anggrek Mayat.

Dia lalu memutar tubuh berlari meninggalkan sang pendekar dan Nini Buyut Amukan. Hanya sekejab dia telah berdiri menghadang gerakan Ratu Buaya.

Dengan penuh kemarahan gadis ini membentak.

"Ratu jahanam! Bunga itu adalah miliku! Jika berani mengambilnya kau akan mampus!"

Selesai berucap gadis ini segera kerahkan hawa sakti topeng diwajahnya. Cahaya merah kehitaman berpijar dari topeng itu. Namun pada kesempatan yang sama, Ratu Buaya masih sempat menjawab sambil jatuhkan diri hindari sergapan cahaya dingin yang memancar dari topeng lawannya

"Gadis sinting! Bunga Anggrek Mayat bukan milik nenek moyangmu! Aku hanya ingin sembuh dari kutukan. Kau tidak punya hak apa pun atas bunga itu!"

Baru saja mulut Ratu Buaya berkata demikian di atasnya cahaya merah kehitaman menyambar punggung sang Ratu.

Wus!

Serangan Nila Seroja luput. Belum sempat sang Ratu bangkit, Nila Seroja melompat ke arahnya dan kembali lancarkan serangan dengan menggunakan topengnya.

Melihat bahaya besar mengancam keselamatan Ratu Buaya, Nini Buyut Amukan dan sang pendekar 313 entah mengapa tergerak untuk memberi bantuan.

Mungkin karena keduanya merasa sang Ratu sebenarnya tidak punya maksud jahat. Maka ketika melihat dua larik cahaya memancar membeset udara siap menghantam batok kepala Ratu Buaya, Nini Buyut Amukan segera kibaskan ujung jubah terbangnya ke arah Nila Seroja.

Dari kedua ujung jubah menyambar segulung hawa panas luar biasa melabrak ke arah dua larik cahaya yang siap meremukkan kepala Ratu Buaya.

Dari arah samping, tak kalah hebatnya Raja goyangkan kedua tangannya yang dijulur lurus ke depan searah dengan dada. Dari kejauhan terdengar suara genta.

Suara itu bukan saja menyakitkan gendang telinga namun juga membuat semua orang yang berada di tempat itu terpaksa tekab dadanya masing-masing yang mendadak terasa nyeri dan seperti mau meledak.

Selagi orang-orang dibuat terkesima dan Nila Seroja sendiri sempat tertegun. Dari telapak tangan sang pendekar melesat berturut-turut tiga cahaya berwarna kuning berkilau berbentuk benda seperti genta.

Itulah ilmu pukulan sakti Genta Gaib yang ganas dan jarang dipergunakan oleh sang pendekar.

Tiga cahaya genta berkelebat Laksana Kilat menyambar ke arah dua larik cahaya yang membersit dari topeng ditambah serangan jubah yang dilancarkan oleh Nini Buyut Amukan, membuat keremangan didaratan yang dikelilingi sindang itu berubah terang benderang.

Benturan mengerikan mengguncang tempat itu. Tiga sosok tubuh sama terpelanting. Orang orang yang berada disekitar tempat terjadinya ledakan jatuh bergeletakkan.

Ratu Buaya sendiri merasa tubuhnya di bagian punggung laksana tercabik menjadi serpihan. Dia yang terkena pengaruh langsung ledakan itu tentu saja menderita. Ratu Buaya mengerang.

Dia tahu dirinya telah ditolong dan dibantu oleh nenek berjubah dan pemuda gondrong itu. Jika kedua orang itu tidak datang menolong mungkin nyawanya telah amblas atau setidaknya menderita cedera berat.

Sambil menyeringai dan alirkan hawa sakti ke bagian punggungnya, Sang Ratu bangkit berdiri Ketika menatap kesekelilinginya yang terilhat hanyalah kepulan asap dan pasir yang bertebaran memenuhi udara.

Tapi tidak lama kemudian kepulan asap lenyap. Sang Ratu melihat Raja duduk bersila. Ada lelehan darah kental disudut bibir pemuda itu. Sang Ratu merasa cemas melihat keadaan orang yang menolongnya apalagi ketika melihat Nini Buyut Amukan terkapar tidak bergerak.

Setelah sempat bimbang siapa yang harus ditolong lebih dahulu, Ratu Buaya pun kemudian memutuskan untuk menolong Nini Buyut Amukan. Gadis itu segera menghampiri si nenek. Sementara tak jauh dari mereka, Nila Seroja ternyata masih tegak berdiri dalam keadaan tubuh mengepulkan asap namun agaknya gadis ini tidak mengalami cedera barang sedikitpun.

Melihat ini Ratu Buaya yang sudah bersimpuh disamping Nini Buyut Amukan segera keluarkan seruan ditujukan pada sang pendekar. "Topeng! Topeng jahanam itu harus disingirkan dari wajahnya." Sang Ratu memberi tahu. Mendengar teriakan Ratu Buaya,, Nila Seroja menggeram marah.

Sedangkan sang Ratu sendiri tanpa memperdulikan keselamatannya lagi segera menolong si nenek dengan salurkan hawa sakti ke dada Nini Buyut Amukan.

"Ratu tolol! Dan semua orang bodoh ditempat ini. Kalian tidak akan bisa mengalahkan aku!"

Teriaknya lantang. Sambil rangkapkan dua tangan di depan dada, sekali lagi Nila Seroja salurkan tenaga sakti ke bagian wajahnya yang terlindung topeng.Melihat kilatan kilatan cahaya memancar dari topeng Pemasung Jiwa, Raja yang baru memulihkan diri secepat kilat bangkit.

Diam-diam pemuda ini kerahkan tiga perempat dari seluruh tenaga dalam yang dimilikinya ke bagian tangan dan kaki.

Sementara itu demi mendengar teriakan Nila Seroja, Ular raksasa merah menjadi murka dan keluarkan desisan panjang.

Nila Seroja yang tubuhnya membelakangi sang mahluk secepat kilat balikan badan.

Dia melihat ular raksasa meliukkan tubuhnya, kepala menjulur melesat cepat ke arah gadis itu, mulutnya terbuka dan lidahnya terjulur keluar masuk melewati gigi-giginya yang runcing tajam.

Binatang ini siap menelan Nila Seroja. Si gadis tercekat.

Dengan gerakan lincah dia mencoba kesamping selamatkan diri. Tapi gerakan gadis ini terlambat.

Mulut ular raksasa sudah sedemikian dekat dengan tubuhnya. Jadi secepat apapun si gadis menghindar.

Tak urung lidah sang mahluk berhasil menyambar dan melibat tubuhnya. Sekali lidah yang bercabang ini menggulung, tubuh Nila Seroja lenyap amblas masuk ke dalam rongga mulut mahluk itu.

Melihat lawan telah menjadi korban keganasan ular raksasa, Ratu Buaya Putih yang berhasil membantu Nini Buyut Amukan pulih dari cideranya segera bangkit.

Kemudian tanpa bicara dia melompat ke arah bunga Anggrek yang jaraknya hanya terpaut dua tombak di depannya.

Tapi secepat kilat Raja segera menghadangnya

"Ratu Buaya Putih! Kami sudah menolongmu, kami juga tahu apa keinginanmu. Kau tidak perlu merampas bunga Anggrek itu. Bicara saja secara baik baik dengan Puteri Manjangan Putih. Puteri pasti akan membantu!"

Kata Raja. Ucapan sang pendekar membuat Ratu Buaya hentikan langkah. Dia ragu untuk melanjutkan niatnya.

Apalagi saat itu dia teringat dengan ucapan Resi Cadas Angin.

Resi itu mengatakan bila minta bunga Anggrek secara baik-baik Puteri Manjangan Putih akan menolongnya.

Setelah menatap Nini Buyut Amukan yang sudah tegak berdiri juga pandangi pemuda di depannya dia lalu berujar

"Aku setuju saranmu, namun harap kau mau membantu aku membicarakan persoalan bunga pada Puteri Manjangan Putih!"

Si nenek dan sang pendekar tersenyum.

"Kami pasti membantu niat baikmu itu." ujar si nenek "Sekarang bergabunglah dengan kami"

Ucap Raja pula.

"Karena kau adalah gadis yang baik." Ratu Buaya tersipu malu. Segala keangkeran diwajahnya seketika lenyap. Tanpa ragu dia melangkah mendekati kedua orang itu.

Baru saja sang ratu sampai di depan mereka, ular raksasa yang tadinya mulai tenang tiba-tiba saja menggelepar dan meronta.

Sang mahluk mendesis meliuk tidak karuan soolah sedang merasakan sakit yang luar biasa.

Raja dan Nini Buyut Amukan terperangah. Tak kalah kejut Ratu Buaya berseru "Apa yang terjadi dengan ular itu?"

Belum sempat Raja membuka mulut. Sekonyong-konyong terjadi ledakan menggeledek dari bagian perut ular.

Raja segera mencabut pedang, Ketiga orang ini kemudian sama arahkan pandang kepada sang mahluk. Mereka melihat perut ular raksasa jebol membentuk lubang besar.

Darah dan serpihan daging berpentalan bertaburan di udara. Selagi semua orang terbelalak terkesima melihat kejadian mengerikan serta nasib buruk yang dialami ular raksasa.

Saat itu pula dari perut yang menganga lebar berkelebat keluar satu sosok tubuh berpakaian hitam berhias jalinan daun.

Sosok yang keluar, menjebol perut sang ular tak lain adalah Nila Seroja.

Ya, gadis itu berhasil menembus dinding perut ular itu dengan menggunakan kekuatan cahaya yang memancar dari topengnya.

Ketika menjejakkan kaki sekujur tubuh gadis itu bersimbah cairan lendir dan darah. Hanya topeng yang melekat diwajahnya saja yang tetap bensih tak tersentuh cairan dalam perut ular. Nila Seroja menggeram.

"Binatang tu memang hebat, tapi aku tak pantas mati. Kalianlah yang pantas mati ditanganku!" Selesai berucap demikian. Nila Seroja langaung menerjang ke depan.

Dia menyerang sang pendekar, Ratu Buaya juga Nini Buyut Amukan berbarengan. Serangan gadis ini memang ganas sekali.

Terbukti serangannya membuat tiga lawan menjadi terdesak. Sementara itu selagi Ratu Buaya berusaha keras membantu Raja dan Nini Buyut Amukan menghadapi gempuran dahsyat Nila Seroja, di tanah pendataran tinggi tampak Ki Demang Sapu Lengga jatuh akibat dilempar oleh sang ratu, Saat itu Ki Demang Sapu Lengga bangkit berdiri.

Melihat perkelahian sengit dan Nila Seroja tampaknya berada di atas angin.

Kakek ini menjadi khawatir Nila Seroja akan membunuh mereka semua "Aku harus membantu Ratu Buaya dan pemuda gondrong itu!"

Pikir Ki Demang.

Lupa bahwa sebagian ilmu kesaktiannya telah dilumpuhkan oleh Ratu Buaya, Ki Demang Sapu Lengga malah melesat ke arah tempat di mana pertempuran terjadi. Selagi tubuhnya berkelebat mengambang diudara diapun berseru ditujukan pada sang Pendekar.

"Anak muda, Jika kau tidak bisa menyigkirkan topeng dari wajahnya. Pergunakan pedangmu, penggal kepala gadis itu!"

Tanpa diberi tahu sekalipun sesungguhnya Raja memang telah bersiap untuk menggunakan enjata yang menjadi andalannya.

Sementara mendengar teriakan Ki Demang. Ratu Buaya tercengang. Tapi kemudian gedis ini tertawa. Sambil tertawa tergelak dia menanggapi ucapan si kakek

"Ki Demang agaknya selain takut, kau memang sudah gila. Bagaimana kau tega menyuruh pendekar muda itu memenggal kepala Nila Seroja? Apakah kau pura-pura lupa bahwa sesungguhnya gadis itu adalah darah dagingmu sendiri. Kau telah bercinta dengan ibunya. Kau taklukkan Kunti Seroja dengan ilmu Pengasih Segala Rindu. Bahkan kau juga tidak bisa memungkiri bahwa Topeng Pemasung Jiwa yang ada adalah topeng milikmu. Hi hi hi!"

Ucapan polos Ratu Buaya yang memang mengetahui sepak terjang Ki Demang di mase lalu itu mebuat kaget semua orang, termasuk juga Nila Seroja.

Gadis itu menggeram. Dia palingkan kepala ke arah Ki Demang yang masih melayang diudara.

Dengan penuh rasa benci dan kemarahan luar biasa, Nila Seroja berkata

"Jadi memang dialah bangsat jahanam yang telah membuatku terlahir kedunia?" Teriak gadis itu.

"Tua bangka keparat! Sudah waktunya kau mampus di tanganku!" Sambil berkata demikian Nila Seroja mengusap topeng di wajahnya Wuss!

Tiga larik cahaya merah kebiruan membersit dari topeng, melesat deras ke arah Ki Demang. Melihat tiga alur cahaya siap meghantam tiga titik di bagian tubuhnya.

Ki Demang sekuat tenaga berusaha selamatkan diri dengan jatuhkan tubuhnya kesamping. Tapi tak terduga datangnya serangan ternyata Jauh lebih cepat dengan gerakan yang dilakukan Ki Demang.

Satu cahaya melesat menghantam kepala kakek sedangkan sisanya menghantam dada dan perut kakek itu.

Kejadian yang berlangsung cepat itu membuat Raja Gendeng 313 dan yang lainnya terkesima, Ki Demang meraung setinggi langit.

Tubuhnya melayang jatuh dalam keadaan dikobari api. Begitu terhempas Ki Demang tidak bergerak lagi

"Lunas sudah hutangmu, tua bangka mesum"

Dengus Nila Seroja sinis, lalu Nila Seroja berbalik menghadap ke arah lawan-lawannya.

"Setelah tua bangka itu mampus, sekarang tiba giliran kalian untuk menghadap penjaga neraka!" Sambil berucap demikian Nila Seroja dorongkan kedua tangannya ke arah Nini Buyut Amukan dan Ratu Buaya Putih.

Dari sepuluh ujung jemari tangannya seketika menderu sepuluh larik cahaya biru terang.

Lima cahaya membabat Ratu Buaya, sedangkan lima larik cahaya lainnya menghantam ke arah Nini Buyut Amulan. Mendapat serangan ganas seperti itu, Nini Buyut dan Ratu Buaya segera mengerahkan pukulan sakti masing-masing.

Raja tidak tinggal diam.

Dia mencabut pedangnya,Begitu pedang berada dalam genggaman dia segera alirkan tenaga dalam ke hulu pedang.

Byaar!

Senjata berwarna kuning keemasan itu memancarkan cahaya kuning berkilau memedihkan mata.

Raja merangsak maju dan pedang diputar dengan gerakan membabat dan menusuk ke arah lawan.

Terdengar suara gaung laksana suara amukan naga dan kepakan sayap rajawali. Nila Seroja terkesiap.

Perhatiannya pada Ratu Buaya dan si nenek kini jadi terpecah.

Tak ingin celaka tertembus senjata lawan, gadis ini molompat mundur sambil lepaskan tendangan menggeledak ke bagian perut lawan. Tusukan pedang luput, namun pada waktu yang sama pukulan si nenek dan ratu Buaya menghantam lima larik cahaya biru yang dilepaskan oleh sang dara.

Ledakan keras kembali mengguncang tempat itu membuat Nila Seroja terhuyung. Melihat lawan kehilangan keseimbangan sang pendekar melompat ke depan sambil babatkan pedang ke leher lawan.

Ukh...!

Sambaran hawa dingin dan kilatan cahaya pedang menghantam wajah yang terlindung topeng.

Tapi Nila Seroja cepat berkelit hindari sambaran ujung pedang yang siap menebas lebernya.

Sayang walau dia dapat menyelamatkan leher, tak urung pedang masih dapat merobek bahunya. Jika sebelumnya pukulan sakti dan serangan senjata tak sanggup membuat cedera gadis ini.

Tapi kini Nila Seroja dibuat terperangah ketika mendapat pedang ditangan lawan ternyata dapat merobek bahunya.

"Pedang jahanam itu... bagaimana mungkin dapat membuatku terluka?"

Desisnya kaget. Tak ada waktu bagi dirinya untuk berpikir lebih lama karena saat itu dengan menggunakan jurus Tangan Dewa Menggusur Gunung. Raja hantamkan tangan kirinya ke pinggang si gadis, sedangkan pedang di tangan kanan ditusukkan ke arah perut.

Tidak ada pilihan lain selagi Ratu Buaya dan Nini Buyut Amukan jatuh terguling-guling akibat guncangan yang ditimbulkan oleh ledakan, Nila Seroja berjumpalitan ke belakang. Begitu menjejak ke tanah dan selamat dari tusukan pedang sambil berdiri tegak si gadis ini pancarkan cahaya yang bersumber dari topengnya.

Sebelum cahaya yang berpijar di topeng membersit.

Tiba-tiba terdengar satu teriakan merdu

"Seperti yang dikatakan Ratu Buaya! Rampas topeng itu, karena benda laknat diwajahnya itu memang menjadi sumber kesaktiannya!"

Semua orang menatap ke arah datangnya suara.

Dan ternyata yang bicara adalah Bunga Jelita. Sambil menggenggam pedang di tangan gadis ini sebenarnya sedari tadi hendak turun tangan. Namun mengingat Nila Seroja diserang oleh tiga orang berkepandaian tinggi, Bunga Jelita urungkan niatnya.

******

Sementara itu mengetahui ular raksasa merah tewas di tangan Nila Seroja, maka Puteri Manjangan Putih menjadi sangat geram. Dia lalu berseru ditujukan pada Nyai Sentika yang sedang menghadapi Sekti Buana

"Nek, cepat habisi penjahat dari alam gaib itu. Pergunakan seluruh kesaktianmu. Dan mulai hari ini pantanganku untuk tidak membunuh sudah tidak berlaku lagi!"

Setelah berucap demikian sang puteri kini berkata ditujukan pada KI Lumut

"Kakek lumutan berterompah sakti. Kau boleh gunakan kekuatanmu. Habisi dia dan jangan cuma menghindar!"

Ki Lumut tersenyum sambil anggukkan kepala. Kakek ini lalu melesat ke depan.

Kaki dan tangan berkelebat menyambar ganas ke arah lawan membuat Cakra Buana menggeram marah. Secepatnya Cakra Buana melompat mundur sehingga dua serangan Ki Lumut luput dari sasaran.

Setelah lolos dari serangan ganas, Cakra Buana balik menghantam Ki Lumut dengan serangan. "Di balik Kegelapan Malapetaka Melanda."

Tidak terlihat ada deru angin atau pijaran cahaya dari tangan Cakra Buana.

KI Lumut tidak melihat adanya bahaya mengancam dirinya namun lakukan lompatan tinggi.

Disaat itulah tanpa disadarinya pukulan Dibalik Kegelapan Malapetaka Melanda menghantam tubuh si kakek

Dees! Akh...!

Ki Lumut menjerit keras. Tubuhnya terjungkal, darah menyembur dari mulut. Orang tua ini jatuh terbanting.

Melihat lawan terkapar seperti tidak berdaya dengan penuh keinginan membunuh Cakra Buana kembali akan menyerang lagi.

Kai ini serangan dilakukan dari jarak yang dekat sekali. Melihat ini Puteri Manjangan Putih menjadi cemas.

Dia yang sedang bertempur dengan Rengga Buana segera memetik kecapinya. Semua kekuatan dari kecapi diarahkan langsung pada Rengga Buana.

Si kakek yang siap menyerang dengan tendangan kilat tiba-tiba terpelanting roboh dihantam suara kecapi.

Tubuh orang tua itupun kemudian meledak hancur berubah menjadi kepingan asap.

Selagi Puteri Manjangan Putih berhasil menghabisi lawan dan siap hendak membantu Ki Lumut.

Tiba-tiba saja Ki Lumut melompat bangkit. Dari mulutnya menyembur cairan hijau. Semburan cairan melesat siap menghantam tubuh Cakra Buana, tapi kakek ini masih dapat menghindar.

Walau lolos dari semburan cairan hijau pertama namun Cakra Buana ternyata tidak melihat adanya semburan susulan .Tanpa ampun sekujur tubuh Cakra Buana kena dihantam cairan mematikan yang disemburkan Ki Lumut.

Cakra Buana meraung dan tubuhnya meleleh terkena cairan.

Untuk sesaat seperti orang gila yang bingung. Cakra Buana berlari tak tentu arah, tapi kemudian dia ambruk dan tewas mengenaskan.

Melihat dua temannya tewas, Sakti Buana menjadi murka.

Kini semua kemarahannya dia tumpahkan pada Nyai Sentika. Tendangan dan pukulan keras dilancarkannya. Beberapa diantaranya menghantam tubuh si nenek.

Tapi akibat kemarahan yang membabi buta itu membuat Sekti Buana bertindak ceroboh.

Ketia dia merangsak maju sambil menghantam dada dan rusuk lawan, Secepat kilat Nyai Sentika jatuhkan diri.

Ketika punggung si nenek menyentuh tanah. Si nenek menghantam lawan dengan pukulan Kipas Neraka.

Cahaya merah seperti kipas mengembang menderu, bergulung-gulung menyambar ke arah kakek itu. Sekti Buana terkesima, dia menghindar sambil batalkan serangan.

Walau berusaha menyelamatkan diri pukulan lawan masih saja menyambar tubuhnya. Sekti Buana terpelanting dengan tubuh dikobari api.

Suara jerit mengerikan bergema dari mulut si kakek.

Begitu tubuh Sekti Buana menyentuh tanah sosoknya meledak jadi kepingan. Melihat kematian Sekti Buana membuat Puteri Manjangan Putih merasa lega. Sang puteri kemudian menyuruh Bunga Jelita turun dari atas pohon.

Setelah mereka berkumpul, sekarang semua perhatian tertuju ke arah tanah berpasir dimana sang pendekar, Ratu Buaya Putih dan Nini Buyut Amukan tengah bertempur menghadapi Nila Seroja. Pada saat itu Bunga Jelita justru teringat pada Resi Cadas Angin.

Kakek itu tergeletak dalam keadaan tidak sadarkan diri, dan ketika Bunga Jelita memberitahukan keadaan sang Resi pada sang puteri.

Puteri Manjangan Putih segera perintahkan Nyai Sentika untuk menjemput resi sepuh itu.

*****

Sementara di tempat terjadinya pertempuran, Nila Seroja terlihat makin bertambah murka.

Kemurkaannya makin menjadi-jadi setelah mengetahui tiga pengikutnya menemui ajal.

Dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh sambil kerahkan segenap kesaktian yang dia milik si gadis kembali menyerang lawan-lawannya dengan pukulan ganas yang disertai tendangan menggeledak.

Melihat lawan mengamuk tak ubahnya banteng betina gila, Raja segera menggunakan jurus Senandung Sang Maha Dewa.

Ini adalah jurus pamungkas dari semua jurus silat yang dia miliki. Tubuh sang pendekar berkelebat laksana bayang-bayang.

Pada waktu yang bersamaan Raja mengibaskan pedang Gila ke arah lawan.

Pedang menderu, menusuk membabat juga membacok kebagian tubuh paling mematikan,

Melihat betapa hebatnya gerakan Raja serta ganasnya pedang di tangan pemuda itu, Nila Seroja segera alirkan tenaga sakti kebagian topengnya.

Seketika cahaya merah, biru dan hitam melesat dari topeng tiga kali berturut-turut. Melihat serangan cahaya topeng, Raja segera memutar pedang ke depan menyambut.sambaran cahaya Pedang gila bergetar mengeluarkan suara berdengung dan pijaran cahaya kuning terang.

Benturan pun tidak dapat dihindari lagi Glaar!

Buum!

Ledakan keras mengguncang tempat itu membuat Nila Seroja terpelanting dan pemuda ini terhuyung ke belakang.

Jika Nila Seroja hanya mengalami guncangan tanpa menderita cedera sedikit pun.

Sebaliknya Raja merasa sekujur tubuhnya seperti remuk, Selagi sang pendekar terhuyung, si gadis pergunakan kesempatan ini untuk menyerang lagi sang pendekar. Nila Seroja rupanya maklum diantara tiga lawan yang dihadapinya.

Hanya Raja dan Ratu Buaya yang paling tinggi ilmunya. Melihat lawan bergerak ke arahnya tanpa menghiraukan rasa sakit yang mendera tubuhnya, pemuda itu hantamkan tangan kiri ke depan sedangkan pedang dibabatkan ke arah pinggang lawan

"Mampuslah kau!"

Teriak Nila Seroja sambil kembangkan kedua tangan menyambut pukulan yang dilancarkan Raja. Blak!

Benturan tenaga dalam membuat Nila Seroja bergetar.

Sayangnya walau dia berhasil mematahkan pukulan sang pendekar, namun dia tidak bisa lolos dari sabetan pedang Raja.

Crees! Uh!

Pedang berhasil menggores perut gadis ini.

Namun pada waktu yang sama dari bagian topeng membersit dua cahaya merah menggidikkan.

Jarak yang demikian dekat antara Raja dengan lawan membuat pemuda itu mustahil sempat selamatkan diri dari hantaman dua cahaya.

Mellhat ini. Ratu Buaya tidak tinggal diam.

Dengan menggunakan pukulan Sakti Ratu Buaya Mengguncang Bukit, si gadis menghantam tubuh Nila Seroja.

Sementara dari sebelah kiri Nini Buyut Amukan juga melepasan pukulan Badai Menggulung Awan.

Cahaya biru menderu bergulung-gulung dari tangan si nenek.

Dari tangan Ratu Buaya terlihat pula cahaya putih berkelebat menyambar ke arah lawan Buum!

Buum!

Dua serangan yang dilancarkan si nenek maupun Ratu Buaya amblas musnah setelah membentur tubuh lawannya.

Sedangkan sang Ratu dan si nenek jatuh terhenyak sambil tekab dada masing-masing "Celaka, pemuda itu!"

Desis sang Ratu. Dalam keadaan cidera dibagian dalam dia hanya bisa terbelalak. Nini Buyut Amukan mustahil dapat menolong. Karena si nenek juga mengalami cidera berat.

Dalam keadaan di mana puteri Manjangan Putih dan yang lainnya tak mungkin bisa ulurkan bantuan karena jarak yang terpaut jauh.

Raja tiba-tiba menggeram ditujukan pada Pedang Gila

"Pusaka sahabatku, terbanglah dan tembus dada Nila Seroja tepat dibagian jantung!" Wuus!

Seiring dengan ucapan sang pendekar.

Tiba tiba pedang ditangannya pancarkan cahaya lebih terang. Senjata yang bisa bergerak dengan sendirinya itu selanjutnya melesat dan menembus dada sebelah kiri sang dara.

Walau dada dan jantung tertembus pedang mustika, namun Nila Seroja masih sanggup mengendalikan dua cahaya yang menderu diudara.

Raja terkesima karena merasa pantulan dua cahaya yang bersumber dari topeng membuat kedua kaki dan tangannya serasa lumpuh sulit untuk digerakkan.

Selagi semua orang berpekikan ngeri dan ada pula yang palingkan muka tak sanggup membayangkan nasib tragis Raja yang siap dipanggang dua cahaya dari topeng sakti.

Tiba-tiba terjadi keanehan dalam diri sang pendekar, Dari balik pakaian pemuda itu tepat dibagian dada mambersit cahaya merah terang namun ukurannya tidak lebih besar dari batang lidi.

Cahaya halus itu melesat ke depan dan menghancurkan dua serangan Nila Seroja. Sejurus kemudian membersit dua cahaya lainnya dari bahu kiri dan kanan sang pendekar.

Cahaya kedua dan ketiga menderu sebat ke depan, menyusul cahaya pertama yang tidak saja sanggup menghancurkan serangan cahaya topeng namun juga menyentuh topeng di bagian kening. Titik cahaya merah menembus topeng itu, membuat Nila Seroja terguncang.

Kemudian dua titik cahaya berikutnya menghantam tepat di dada gadis itu.

Setiap pasang mata yang menyaksikan kejadian itu sama melihat betapa titik cahaya yang menyentuh kening Nila Seroja kemudian berubah membesar membentuk sebuah angka tiga berwarna merah terang.

Munculnya angka tiga disusul dengan angka satu dan tiga pada dada Nila Seroja yang dihantamkan cahaya merah ke dua dan ke tiga.

"313...!"

Desis Puteri Manjangan Putih terpana "Dia pendekar 313...?!"

Sentak yang lainnya kagum. Selagi semua orang dibuat terkagum-kagum.

Ketika angka yang terus mengembang membesar menjalar kesekujur tubuh gadis itu.

Si gadis menggema ketika merasakan keanehan luar biasa menyerang seluruh tubuhnya. Tapi tanpa menyadari bahaya yang mengancam dirinya.

Dia tetap bertindak nekat.

Dengan sekuat tenaga dia melompat sambil pukulkan kedua tangan ke depan. Bersamaan dengan itu Nila Seroja Juga menyerang dengan menggunakan topengnya.

Baru saja dua tangan terjulur, tiba-tiba dari ujung tangan, kepala tubuh hingga ke kaki mengalami sebuah kejadian yang sangat luar blasa.

Tangan, kepala, badan hingga ke kaki retak mengalami kehancuran secara berturut-turut tidak ubahnya seperti sebongkah kaca kristal yang terhempas di dinding. Pecahan tubuh yang membeku laksana butiran kristal bening itu berhamburan ke segenap penjuru. Nila Seroja menemui ajal tanpa sempat berteriak. Topeng yang menempel di keningnya jatuh terpental ke dalam telaga.

Sedangkan pedang milik Raja yang menembus dada hingga ke jantung lawan melayang jatuh ke bawah.

Sebelum Pedang Gila terhempas. Raja menggumam ditujukan pada senjata sakti itu. "Kembali ke rangkamu!"

Pedang melayang, berputar diketinggian, lalu amblas masuk ke dalam rangkanya. Pemuda ini layangkan pandangan kesekelilingnya.

Dia melihat serpihan-serpihan tubuh lawan yang berkilauan disekelilingnya. Dia tertegun.

Dia ingat tadi ketika pantulan cahaya topeng mengunci tubuhnya hingga membuatnya tidak mampu bergerak.

Raja merasa dirinya tak bisa berbuat apa untuk menyelamatkan diri.

Pada saat itulah dia merasakan ada sesuatu dari dalam tubuhnya, bergerak ke arah dada dan kedua bahunya.

Sesuatu yang berupa kekuatan sakti itu bekerja dengan sendirinya diluar kesadaran.

Kekuatan sakti yang muncul dalam bentuk cahaya, lalu membentuk tiga buah angka setelah menyentuh tubuh lawan itu adalah ilmu kesaktian yang baru memperlihatian jati dirinya bila sang pendekar benar-benar dalam keadaan tidak berdaya

"313.. bukankah aku memang Sang Maha Sakti Raja Gendeng 313..." Batin sang pendekar dalam hati.

Pemuda itu lalu menggaruk kepala.

Memandang ke arah Ratu Buaya dan Nini Buyut Amukan. Kedua orang itu ternyata telah pulih dari cideranya dan kini telah berdiri tak jauh di depannya.

"Pemuda hebat, Pendekar 313..aku tidak menyangka ternyata kau memiliki pedang sakti dan ilmu sakti yang membuat Nila Seroja berubah seperti serpihan kristal."

Memuji Ratu Buaya Putih

"Pemuda gendeng, tidak disangka diam-diam ilmumu setinggi gunung."

Kata Nini Buyut Amukan pula sambil tersenyum

"Ah.. engkau terlalu memuji. Sebaiknya kita menemui Puteri Manjangan Putih dulu. Urusan Ratu Buaya harus kita sampaikan pada sang ratu."

Ujar sang pendekar. Sambil senyum-senyum dan kedap-kedipkan matanya. Nini Buyut anggukkan kepala.

Kemudian mereka bertiga segera menemui Puteri Manjangan Putih. Gadis itu menyambut kedatangan Raja dan sahabatnya dengan tatapan kagum

"Kau telah melakukan seuatu yang sangat besar artinya bagi kedamaian. Demikian pula dengan sahabat lain, Mewakili kebahagiaan dan kedamaian aku mengucapkan terima kasih"

Raja memperhatikan orang-orang disekelilingnya lalu menjawab,

"Hanya bantuan kecil yang bisa kuberikan. Oh ya, aku belum mengenal kakek berlumut dan gadis jelita berpakaian cokelat. Tapi.. eh, tunggu. Kalau gadis yang itu bukankah kepala pengawal kadipaten Salatigo yang pernah bertemu denganku?"

Bunga Jelita tersipu malu. Diikuti tatap mata Nini Buyut Amukan yang menyimpan rasa cemburu dia menjawab.

"Maafkan orang-orangku yang telah salah menduga waktu itu." Raja tertawa sambil mengangguk.

Tapi kemudian dia menoleh pada Ratu Buaya. Tidak lama perhatiannya kembali tertuju pada Puteri Manjangan Putih.

Dengan dibantu oleh Nini Buyut Amukan. Raja menjelaskan keinginan Ratu Buaya pada sang puteri.

Setelah mendengar penjelasan dari Raja dan si nenek. Diluar dugaan Puteri Manjangan Putih berkata,

"Walau Ratu Buaya pernah melakukan kejahatan. Aslinya dia gadis yang baik"

Sang puteri lalu memberi Isyarat pada Nyai Sentika untuk memetik setangkai bunga anggrek. Tanpa bicara Nyai Sentika lakukan apa yang diminta Puteri Manjangan Pubh.

Tidak lama si nenek telah kembali dengan membawa sekuntum bunga anggrek berwarna hitam legam namun menebar bau harum semerbak.

Atas perintah puteri Manjangan, bunga lalu diserahkan pada Ratu Buaya. Setelah menerima bunga pemberian, Ratu Buaya mengucapkan terima kasih pada sang puteri

"Bawalah bunga itu pergi. Kau sudah tahu cara menggunakannya, Begitu memakan bunga Anggrek Mayat tubuhmu akan mengalami demam beberapa hari tapi tidak mengapa karena kutukan dalam dirimu akan lenyap."

Sang puteri memberi tahu. Ratu Buaya anggukkan kepala.

Setelah menjura pada sang puteri dan berpamitan pada yang lainnya dia pun berkelebat tinggalkan tempat Itu.

Setelah Ratu Buaya pergi, Ki Lumut tiba-tiba berkata.

"Aku Ki Lumut Adayana ingin mengatakan bahwa sahabat Resi Cadas Angin menderita keracunan akibat sengatan kalajengking hijau. Jika tidak lekas ditolong nyawa Resi Cadas bisa amblas. Aku mohon gusti puteri berkenan menolong." "Jangan takut. Aku bisa menolong.Nanti kami akan mengurusnya"

"Tua bangka itu berlaku ceroboh. Kalau tidak, mustahil bisa diantuk kalajengking."

Gerutu si nenek

"Biar saja nek, dari pada Resi yang mengantukmu. Kau bisa dibuatnya hamil. Ha ha ha!" Sahut Raja disertai tawa tergelak-gelak.

Nini Buyut cemberut.

Yang lainnya tak kuasa menahan geli mendengar gurawan Raja.

Bunga Jelita tersenyum malu-malu. Setelah merasa tidak ada lagi urusan ditempat itu.

Akhirnya Raja berpamitan pada Puteri Manjangan Putih

"Kau boleh pergi pendekar. Tapi yang lainnya harus tinggal untuk sementara waktu.Resi Cadas Angin harus ada yang menemani!"

Terang sang puteri. Semua orang mengangguk setuju.

Sebelum pergi Raja kedipkan matanya pada Bunga Jelita, membuat wajahnya berubah merah dan dia juga tersipu.

Melihat tingkah laku Raja, Nini Buyut Amukan berujar.

"Eeh pemuda gendeng, kenapa cuma dia saja yang kau kedipi, aku mana?!" Raja tertawa tergelak-gelak.

Kemudian dengan seenaknya pemuda ini segera balikkan badan. Sekejab saja tubuhnya berkelebat, sosoknya lenyap dari pandangan mata.

Sesampainya dikejauhan Raja mendengar suara mengiang ditelinganya.

"Kau mendapat tambahan ilmu baru dari Istana Satu. ilmu itu bernama imu Kebahaglaan." Raja terdiam.

Suara yang didengarnya adalah sara puteri Manjangan putih. Sambil berlari melalui suara mengiang dia menjawab.

"Terima kasih puteri. Kau baik sekali. Tapi harusnya aku dapat tambahan Ilmu dapat ciuman pula.

Ha ha ha!"

TAMAT