Raja Gendeng Eps 23 : Misteri Cinta Hitam

 
Eps 23 : Misteri Cinta Hitam


Pondok bambu beratap ilalang yang terletak dikaki bukit kecil terasa begitu sunyi. Angin dingin menderu muncul tak lama setelah mentari beranjak ke balik peraduannya. Ditengah kesunyian yang kadang diselingi gemerisik dedaunan dirumpun pohon bambu.

Dari atas ketinggian tiba-tiba satu sosok berpenampilan serba putih nampak melayang menuju ke arah pondok.

Hanya dalam waktu tak sampai sekedipan mata, sosok yang ternyata adalah seorang kakek bersorban dan berambut putih itu telah jejakkan kedua kaki dua tombak di depan pondok.

Sejenak dia menatap ke arah pintu pondok yang dalam keadaan tertutup.

Si kakek yang dikenal dengan nama Resi Cadas Angin dari Lembah Batu Cadas Putih atau juga Lembah Batu Berkilau ini menghela nafas sambil dongakkan kepala.

Pondok ini sepertinya telah lama ditinggalkan oleh penghuninya.

"Tidak kuduga Nyai Pulungan akhirnya berlepas diri dari kesibukan mengurus Kunti Seroja. Tapi kemana nenek itu pergi?"

Ujar sang Resi didalam hati.

Kali ini dia layangkan pandang kesegenap penjuru halaman pondok berlantai tinggi.

Tatap matanya kemudian terpaku kebagian samping tempat dimana sebuah gundukan tanah merah teronggok dibawah keteduhan pohon berdaun rindang

"Pusara? Lima belas tahun yang lalu aku datang kesini. Tidak kelihatan ada pusara di tempat ini?

Apakah mungkin itu pusara Nyai Pulungan?" Resi Cadas Angin menduga-duga.

Terdorong rasa penasaran dan keinginan tahuan yang mendalam si kakek balikkan badan lalu melangkah lebar dekati pohon.

Sesampainya dibawah pohon, si kakek tertegun.

Ada gundukan tanah yang menandakan pusara, sebuah kubur yang masih baru.

Tidak ada nisan dikepala pusaran tapi ada sebuah batu yang ditulis dengan guratan tangan.

Karena tulisan dibatu pengganti nisan begitu halus, dari tempat si kakek berdiri tulisan itu tidak terbaca.

Diantara tebaran bunga-bunga yang telah mengering Resi Cadas Angin kitari makam, dekati batu dikepala makam.

Sambil berjongkok dan ulurkan kepala si kakek lalu membaca tulisan yang tertera di batu itu. "Telah meninggalkan dunia dengan tidak tenang KUNTI SEROJA' Semoga arwah membalas dan

darah yang tertinggal menjadi kepanjangan tangan untuk mengungkap kebenaran." Usai membaca nama sang penghuni kubur serta pesan aneh yang ditinggalkan. Resi Cadas Angin bangkit berdiri.

Dia menghela nafas. Kening berkerut.

Cukup lama si kakek berpikir.

Sebagai seorang sahabat lama, sang Resi tahu benar yang menoreh tulisan dibatu pengganti nisan tentulah orang yang memiliki tenaga dalam sangat tinggi.

Manusia biasa mana mungkin bisa menulis batu dengan guratan kuku. Tapi tulisan itu bukan dibuat oleh Nyai Pulungan.

Tulisan Nyai Pulungan selalu berdiri tegak sedangkan tulisan dibatu miring setengah rebah. "Siapakah yang menulis di batu? Kunti Seroja perempuan malang itu telah meninggalkan dunia.

Mati dengan tidak tenang? Bagaimana mungkin?"

Gumam Resi Cadas Angin sambil mengusap janggutnya yang putih menjela.

"Aku datang untuk menanyakan sesuatu yang sangat penting pada Nyai Pulungan dan juga kepada Kunti Seroja yang selama ini diasuhnya. Tapi nenek itu telah pergi dan perempuan gila asuhannya juga telah berpulang. Mungkin aku datang terlambat tidak ada lagi orang yang dapat dijadikan tempat bertanya maka sulit untuk mencari penyebab semua malapetaka ini. Perawan Bayangan Rembulan... Pembunuh berdarah dingin mustahil dia yang melakukan segala kekejian ini. Aku merasakan ada hawa amarah dan dendam kesumat serta kebencian yang demikian hebat. Segala kejahatan itu mendapat dukungan penuh dari kuasa alam gaib. Apa yang harus kulakukan? Aku tidak mungkin membiarkan Nini Buyut Amukan bersama adipati Cakra Abiyasa dari Salatigo saja yang berjuang menghadapi sang pembunuh. Dengan cara apapun segala kekacauan harus dihentikan!" Gumam Resi Cadas Angin. Baru saja si kakek berucap demikian tiba-tiba saja terdengar suara berdesir yang disertai suara tawa tergelak-gelak.

Lalu ada lima buah benda berwarna putih berkilau yang panjangnya tidak lebih dari satu jengkal menderu ke arah lima bagian tubuh.

Merasakan ada bahaya mengancam,si kakek cepat memutar tubuh lalu melesat kedepan sambuti serangan senjata rahasia tersebut

Trep! Trep! Treep!

Sekali tangan kanan kiri bergerak menyambar, lima senjata berkilau yang ternyata jarum perak telah berada dalam genggaman si kakek.

Resi Cadas Angin menyempatkan diri memperhatikan senjata maut itu sekilas.Kemudian sambil kertakan rahang si kakek sambitkan kembali senjata rahasia itu ke arah mana datangnya serangan.

Karena sang Resi menggunakan tenaga dalam jauh lebih besar dari serangan senjata rahasia yang dilancarkan orang, maka lima batang jarum mekesat kembali dengan kecepatan laksana kilat

"Keparat tua jahanam! Kau betul-betul mencari mampus!"

Teriak satu suara yang diiringi dengan munculnya cahaya merah dari kegelapan menyambut sekaligus memapaki senjata yang berbalik

Brees! Blaam!

Satu letupan keras mengguncang kesunyian ketika pukulan sakti menghantam lima senjata yang disambitkan Resi Cadas Angin.

Dikegelapan terdengar suara makian.

Tanpa perduli dengan caci maki yang dilontarkan orang. Resi Cadas Angin segera angkat tangannya diatas kepala.Tenaga sakti disalurkan kebagian tangannya. Sepuluh jari hingga ke pangkal lengan si kakek tampak pancarkan cahaya putih benderang pertanda orang tua itu telah siap menghantam orang dengan satu pukulan mematikan.

Belum lagi si kakek sempat hantamkan kedua tangannya ke depan.Tiba-tiba saja terdengar seruan,

"Resi Cadas Angin! Apakah kau sudah menjadi gila ingin membunuh teman lama dengan pukulan Telapak Matahari?!"

Seruan itu lalu disusul dengan tawa cekikikan.Tawa seorang perempuan

"Nenek sinting kurang ajar! Aku sudah menduga memang kaulah orangnya yang bersikap ceroboh.Tapi..."

Resi Cadas tidak lanjutkan ucapan melainkan segera turunkan kedua tangan batalkan serangan. Dua tangan memutih kembali seperti semula.Memandang ke arah kegelapan,sang Resi melihat sosok bayangan hitam berkelebat ke arahnya lalu jejakkan kaki sejarak tiga langkah di depan kakek itu.

Walau sudah mengenali suara orang dan tau siapa yang datang.Tak urung Resi Cadas Angin terperangah dan belalakan mata ketika melihat.

perempuan renta berpakaian serba hitam berambut putih digelung ke atas itu tampak tidak seperti biasanya. Berdiri dengan bertumpu pada tongkat hitam yang juga menjadi senjata andalannya,wajah si nenek nampak pucat kebiruan. Pakalan disebelah depan hangus berlubang seperti bekas terbakar. Sedangkan tangan kirinya dalam keadaan terluka parah terkulai tidak berdaya.

"Nyai Pulungan! Apa gerangan yang menimpa dirimu. Kau terluka parah dan sepertinya menderita keracunan hebat.Siapa yang melakukan semua ini?"

Sentak sang Resi.

Dengan perasaan cemas si kakek segera menghampiri nenek di depannya.

Nyai Pulungan yang juga dikenal dengan sebutan Si Gila Dari Kalayan,bukannya menjawab pertanyaan Resi Cadas Angin malah sebaliknya tertawa mengekeh.

"Jangan mendekat! Jangan sentuh perempuan cantik ini. Aku tidak apa-apa.Hik hik hik!"

Dengus si nenek. Dia berusaha menghindar ketika si kakek ulurkan tangan bermaksud membantunya menuju ke arah batu dihalaman pondok.

"Nyai,kau terluka parah. Kau menderita keracunan hebat. Cepat duduk dibatu itu. Aku bermaksud baik,ingin membantu mengobati luka dan melenyapkan racun jahat yang mendekam disekujur tubuhmu!"

Terang Resi Cadas Angin dengan wajah tegang juga cemas.Tawa Nyai Pulungan lenyap. Tapi wajahnya masih menyeringai.

Dengan tatap matanya yang kosong namun sembunyikan rasa curiga si nenek menjawab, "Kau ingin membantu aku ya. Akhir-akhir ini memang ada beberapa orang begitu berbaik hati

mau membantu dan ingin memberikan pertolongan Hik hik hik. Seumur hidup baru kali ini aku merasa mujur ada yang memperhatikan.Sayang...!"

Nyai Pulungan tidak selesaikan ucapan,melainkan segera melangkah dengan tertatih-tatih ke arah batu bundar yang sebelumnya biasa didudukinya.

Setelah duduk dan Resi Cadas Angin mengikuti duduk pula dibatu yang berada di depan si nenek. Nyai Pulungan lanjutkan ucapan,

"Sayang pertolongan selalu datang terlambat? Kau lihat kubur di bawah pohon itu?!" Ujar si nenek sambil melirik ke arah makam di bawah pohon.

Resi Cadas Angin anggukkan kepala

"Kunti Seroja adalah gadis asuhanmu yang kau angkat sebagai murid. Walau semasa hidupnya mengalami sakit ingatan namun kau mengasuhnya seperti merawat anak kandungmu sendiri" "Walau tidak pernah mengatakan dia gila namun kau pasti mengetahui gerangan apa yang membuatnya menjadi gila."

"Ssst!"

Nyai Pulungan letakkan tongkat dalam genggaman. Menggunakan tangan yang utuh dia tempelkan jemari telunjuk dibibir sebagai isyarat agar Resi Cadas Angin diam.

"Jangan pernah membicarakan orang yang telah pergi.Kunti Seroja memang sudah kuanggap sebagai anakku sendiri. Hanya aku yang tahu pangkal deritanya."

"Dan menurutmu apakah kematian menjadi jalan yang terbaik dari pada hidup di dalam derita kesengsaraan batin yang tiada batasnya?"

"Nyai Pulungan,apa maksudmu? Apakah Kunti Seroja menemui ajal karena membunuh diri?"

Tanya Resi Cadas Angin sambil tatap wajah si nenek di depannya lekat-lekat. Wajah kusam dan mata yang selalu menatap kosong itu berpaling ke jurusan lain. Dengan sikap tidak perduli Nyai Pulungan membuka mulut,

"Bagi orang yang sakit ingatan mati atau dibunuh,apa bedanya? Siapa yang perduli dengan orang gila?"

Dengus Nyai Pulungan dengan nafas mengengah

"Nyai aku masih sahabatmu. Jangan bicara berbelit-belit. Aku sendiri tidak percaya Kunti Seroja bunuh diri.Dia pasti telah dihabisi oleh seseorang. Katakan padaku Nyai,siapa yang telah membunuhnya?"

Desak si kakek.

Nyai Pulungan menyeringai. Tubuhnya nampak bergetar.

Tiba-tiba saja dia palingkan kepala lalu tatap wajah kakek didepannya dengan wajah dingin penuh amarah.

"Resi Cadas Angin! Mengaku sahabat tapi tidak pernah datang pada saat dibutuhkan. Sekarang kau muncul disini. Pasti ada niat tertentu yang membawa langkahmu ke tempat ini. Harap kaulah yang berterus terang karena aku tidak membutuhkan rasa simpatimu!"

"Mengapa kau berkata begitu?" Tanya Resi Cadas Angin.

"Aku memang datang dengan membekal tujuan."

"Kalau demikian jangan hiraukan apa yang telah terjadi ditempat ini.Sebaliknya katakan saja apa keinginanmu!"

Dengus Nyai Pulungan acuh.

Mendengar ucapan Nyai Pulungan tak urung Resi Cadas Angin merasa jadi tidak enak sendiri. Apalagi mengingat dia telah sekian lama tak pernah menyambangi sahabatnya yang satu ini. Jika sekarang si kakek datang membawa sebuah kepentingan.

Nyai Pulungan bisa saja menganggap sang Resi datang hanya bila ada maunya saja. Sikap ragu Resi Cadas Angin membuat nenek itu jadi tidak sabar.

"Resi....disaat aku sekarat,menderita cidera dan keracunan hebat begini rupa."

"Cepat katakan apa yang menjadi hajat kepentinganmu? Jangan malah ragu. Berdiam diri mengulur waktu. Sikapmu akan mempersempit kesempatanmu?!"

Sentak Nyai Pulungan membuat Resi Cadas Angin merasa serba salah. Tapi dia pun kemudian menyadari yang dikatakan nenek didepannya memang benar adanya.

Akhirnya dengan meng abaikan semua perasaan di hati dia membuka mulut.

"Nyai Pulungan,maafkan bila aku bicara pada waktu yang kurang tepat. Terus terang kedatanganku kesini memang membawa suatu hajat kepentingan. Dan kepentingan itu bukan menyangkut diriku,namun menyangkut keselamatan orang banyak."

Terang si kakek yang disambut dengan senyum dingin si nenek

"Kau selalu perduli dengan penderitaan orang lain. Hebat. Sejak dulu kau memang begitu. Di dunia ini jarang sekali orang yang sepertimu. Lalu apa hubungannya denganku?"

"Nek...!"

Kata Resi Cadas Angin sambil menghela nafas pendek.

"Apakah kau masih ingat sekitar dua puluh tahun yang lalu. Ada seorang gadis cantik yang menjadi dambaan banyak lelaki tiba-tiba hamil? Dia hamil tanpa suami.Anehnya gadis itu mengaku tidak tahu siapa yang membuatnya hamil.Yang jelas saat itu dia tinggal bersama seorang saudara perempuannya yang bernama Rai Cempaka..."

Belum sempat si kakek selesaikan ucapan.

Nyai Pulungan delikan mata pada Resi Cadas Angin.

Kemudian dengan tubuh bergetar dia menatap sayu ke arah kubur Kunti Seroja

"Rai Cempaka adalah istri Demang Sapu Lengga, orang kepercayaan adipati Cakra Abiyasa dari Salatigo. Dan gadis malang yang baru saja kau bicarakan itu tak lain adalah Kunti Seroja."

"Aku sudah mengatakan jangan mengungkit kehidupan orang yang sudah mati. Segala rahasia dan derita nasibnya aku yang tahu."

"Kalau begitu kau juga pasti tahu siapa ayah dari jabang bayi yang dikandung Kunti Seroja?"

Tanya si kakek dengan sikap hati-hati,takut menyinggung perasaan Nyai Pulungan. Sepasang mata hampa si nenek tampak meredup. Dia menghela nafas dalam.

"Aku tidak suka membicarakan semua ini. Aku tidak tahu mengapa kau tanyakan masa lalu itu?"

Kata Nyai Pulungan sambil geleng kepala

"Aku tidak bermaksud mengungkit,apalagi mengungkap aib orang yang telah tiada. Aku hanya ingin tahu kemana bayi yang dilahirkan oleh Kunti Seroja. Apakah bayi itu meninggal,dibuang atau dibunuh untuk menghapus rasa malu keluarga Ki Demang?"

Tanya Resi Cadas Angin dengan suara perlahan namun tegas. Pertanyaan si kakek membuat wajah Nyai Pulungan berubah muram. Sambil berusaha menahan rasa sakit akibat luka luka yang dideritanya. Nyai Pulungan menjawab.

"Dibuang,dipelihara atau dibunuh apa bedanya? Setahuku bayi itu dibawa ke hutan oleh Rai Cempaka dan suaminya yaitu Ki Demang Sapu Lengga."

"Saat dibawa ke hutan apakah Kunti Seroja tahu anak yang dilahirkannya akan dibunuh oleh kakak dan kakang iparnya?"

Desak Resi Cadas Angin ingin kepastian. Sekali lagi Nyai pulungan diam.

Dia berpikir haruskah menjawab pertanyaan Resi Cadas Angin.

Bukankah dulu dia pernah berjanji pada Kunti Seroja untuk merahasiakan pengalaman pahit yang dialami oleh gadis itu?

Tapi dilubuk hatinya yang paling dalam Nyai Pulungan juga merasa tidak mungkin dapat membalaskan dendam kesumat kepada orang yang melakukan aib terhadap diri Kunti Seroja.

Terlebih lagi Nyai Pulungan merasa hidupnya tak mungkin dapat bertahan lebih lama lagi. Belum sempat si nenek memutuskan sesuatu, tiba-tiba Resi Cadas Angin membuka mulut Nyai... "aku tidak mau memaksa. Jika kau memang tidak ingin menceritakan rahasia tentang Kunti

Seroja,tidak mengapa."

Si kakek lalu memperhatikan luka-luka ditubuh Nyai Pulungan. Terakhir perhatiannya tertuju kebagian lengan nenek itu.

Diantara sekian banyak luka yang diderita Nyai Pulungan,Resi Cadas Angin melihat luka dilengan kanan nenek itulah yang paling parah.

"Racun telah menyebar keseluruh tubuhnya. Aku tidak mungkin bisa menyelamatkan Nyai Pulungan dari kematian, Bahkan tabib dewa obat yang terkenal pun mustahil bisa menolongnya."

Membatin Resi Cadas Angin dalam hati. Baru saja si kakek membatin, tiba-tiba Nyai Pulungan terbatuk-batuk beberapa kali. Nafas si nenek megap-megap. Wajahnya yang pucat semakin bertambah pucat kebiruan.

Melihat Nyai Pulungan dalam keadaan lemah lunglai, Resi Cadas Angin segera melompat dari tempat duduknya. Tangan kanan dijulur menyambar sekaligus menahan bahu nenek itu agar tidak jatuh tersungkur kedepan.

"Kau harus istirahat. Aku punya obat penawar racun, tapi aku tidak yakin bisa menolongmu!"

Berkata demikian Resi Cadas Angin segera baringkan tubuh si nenek diatas batu. Si kakek segera menotok beberapa jalan darah didada Nyah Pulungan untuk membantu agar jalan nafas sang Nyai menjadi lebih longgar. "Aku tidak mungkin tertolong,bukankah begitu Resi Cadas Angin?" Tanya Nyai Pulungan.

Dengan tatap mata yang sayu dia memperhatikan kakek di depannya. Resi Cadas Angin diam tidak menjawab.

Dia merasa iba melihat penderitaan nenek itu.

Sikap diam sang Resi membuat Nyai Pulungan tersemyum. Bersamaan dengan senyumannya dia berkata,

"Resi! Aku tidak mungkin bisa mengabulkan keinginan Kunti Seroja. Luka-luka ini membuat aku tidak bisa membalaskan segenap rasa sakit hati dan dendam kesumat atas malapetaka yang menimpa gadis itu.Aku berharap kau mau melanjutkan keinginan Kunti Seroja mencari dan membunuh orang yang telah membuatnya ternoda..."

Gumam Nyai Pulungan dengan suara tersendat. Resi Cadas Angin raih dan genggam jemari tangan kiri si nenek yang dingin.

"Apa saja yang ingin kau sampaikan aku s ­ap mendengar. Jika kau punya keinginan yang harus kulakukan aku juga siap membantumu!"

Tegas si kakek membuat wajah pucat yang tergeletak diatas batu terlihat lega. Dengan sikap lebih tenang namun tubuh menggigil akibat luka dan racun di tubuhnya Nya Pulungan berujar,

"Resi...seseorang yang telah membuat Kunti Seroja hamil adalah orang yang memiliki ilmu guna-guna berupa ilmu pelet yang dikenal dengan nama Segala Rindu. Ilmu Segala Rindu jauh lebih dahsyat dari ilmu pelet Buluh Perindu.Siapapun yang terkena pelet Segala Rindu akan menjadi lupa segalanya. Korban pelet ini jadi lupa diri,hilang rasa malu dan diluar kesadarannya rela melakukan apa saja kepada orang yang telah mengguna-gunainya,termasuk juga melakukan hubungan badan."

"Jadi Kunti Seroja telah terkena pengaruh pelet Segala Rindu hingga membuatnya hamil dan melahirkan anak!"

Tanya si kakek sambil tatap wajah nenek di depannya.

Walau tidak menyangka apa yang menjadi awal aib yang menimpa Kunth Seroja, Namun Resi Cadas Angin tidak menjadi kaget.

Ilmu pelet Segala Rindu memang kekuatannya sepuluh kali lipat dari ilmu Buluh Perindu.

Jangankan manusia biasa,manusia berkepandaian dan memiliki tenaga sakti tinggi atau bahkan binatang paling liar sekalipun dapat dibuat bertekuk lutut.

Ditangan orang yang salah pelet Segala Rindu bisa berakibat malapetaka bagi korbannya. Nyai Pulungan anggukkan kepala.

"Jika Kunti Seroja menjadi korban ilmu pengasih itu. Berarti dia mengenal orang yang telah berbuat aib terhadapnya?"

Gumam Resi Cadas Angin. "Tidak! Dia hanya mengenal orang itu bertopeng. Datang ditengah malam,masuk ke dalam kamarnya,mematikan lampu lalu merayu Kunti di atas tempat tidur. Kunti Seroja jadi terbuai.Perbuatan terkutuk itu berlangsung diluar kesadaran Kunti."

Terang Nyai Pulungan.

"Tentunya perbuatan itu dilakukan berulang kali" "Ya. Kau benar."

"Jadi sampai dia hamil,melahirkan kemudian hilang ingatan Kunti Seroja tetap tidak mengetahu siapa laki-laki bertopeng yang bercinta dengannya?"

Tanya Resi Cadas Angin terheran-heran.

"Tidak. Ki Demang Lengga sebagai kakak ipar sangat murka mengetahui aib yang menimpa adik istrinya. Kabarnya dia memerintahkan sepasukan kademangan untuk mencari laki-laki bertopeng.Topeng itu ditemukan di tempat kediaman kepala penjaga bernama Sumantri.Demang Sapu Lengga tanpa pertimbangan menghukumnya dengan hukuman mati."

"Kemarahan Ki Demang Sapu Lengga tidak berakhir sampai disitu saja. Ketika Kunti Seroja melahirkan seorang bayi perempuan. Bayi itu dibawanya ke hutan. Dia tidak sendiri melainkan bersama Rai Cempaka istrinya."

"Seperti yang kau ketahui Rai Cempaka adalah kakak kandung Kunti Seroja" "Bayi itu benar-benar dibunuh?"

Tanya Resi Cadas Angin ingin kepastian.

"Kabarnya begitu.Tapi menurut salah seorang pengawal kademangan yang sepekan kemudian ditemukan tewas mengenaskan. Ketika Ki Demang hendak menghabisi sang jabang bayi malang,tiba tiba hujan turun deras disertai petir. Kemudian dari kegelapan muncul sosok-sosok aneh dalam rupa mahluk angker berkaki empat.Mahluk itu menyerang Ki Demang juga membunuh Rai Cempaka istrinya. Kemudian mahluk-mahluk itu membawa sang bayi pergi entah kemana."

Jelas si nenek.

Resi Cadas Angin manggut-manggut sambil mengusap tengkuknya yang mendadak terasa dingin.

"Sungguh kejadian tragis memilukan. Setiap bayi yang terlahir kedunia ini adalah suci. Walau bayi itu hasil hubungan gelap sekalipun. Tidak ada anak jadah. Yang jadah adalah kedua orang tuanya."

Pikir si kakek.

Merasa kurang puas Resi Cadas Angin kembali ajukan pertanyaan,

"Nyai Pulungan. Aku ingin tahu apakah karena anaknya dibuang sehingga Kunti Seroja hilang kewarasannya?"

Nyai Pulungan menghela nafas yang kembali menyesak sementara sekujur tubuhnya serasa luluh lantak. Dalam keadaan sekarat sedapat mungkin dia berusaha bertahan.

Dengan suara tersendat dijawabnya juga pertanyaan si kakek Resi

"kegilaan terjadi bersebab dari aib yang diderita Kunti Seroja. Keguncangan jiwanya makin menjadi ketika dia mengetahui anaknya hendak dihabisi. Dan dia menjadi gila ketika tahu saudaranya terbunuh.Sepeninggal saudara kandungnya aku merasa iba terhadapnya."

"Aku tidak ingin dia tinggal bersama Demang Sapu Lengga, karena aku tidak begitu yakin dengan sikap lakilaki itu."

"Apakah mungkin Ki Demang terlibat dalam aib yang dialami adik iparnya?" Tanya Resi Cadas Angin menduga-duga.

"Aku tidak tahu. Tapi Demang Sapu Lengga sendiri sebenarnya jarang di rumah. Waktunya banyak tersita di kadipaten Salatigo. Dia termasuk salah seorang kepercayaan adipati Cakra Abilyasa."

"Bagaimana dengan topeng itu? Apakah topeng yang dipakai oleh laki-laki durjana saat menemui Kunti Seroja hanya topeng biasa ataukah topeng yang memiliki keistimewaan tertentu?"

Mata si nenek terbelalak sebentar seperti kaget,namun kemudian meredup lagi seperti pelita yang kekurangan minyak

"Apakah kau pernah mendengar sebuah topeng aneh dikenal dengan nama Topeng Pemasung Jiwa?"

Tanya si nenek.

Pertanyaan itu karuan saja membuat Resi Cadas Angin terlonjak kaget.

Bahkan genggaman tangannya pada jemari Nyai Pulungan terlepas,membuat tangan si nenek menjulur terkulai.

Sebagai salah satu tokoh tua berusia lanjut dan tahu banyak tentang perkembangan dunia persilatan.

Tentu saja dia banyak mengetahui berbagai jenis senjata hebat.

Tokoh tokoh sakti baik dari golongan hitam maupun putih juga mengerti tentang benda-benda aneh sakti yang menyimpan atau memiliki kekuatan tertentu. Salah satu benda itu adalah Topeng Pemasung Jiwa.

"Nek. "

Kata Resi Cadas Angin dengan suara lirih,sementara jemari tangan sengaja ditempelkan ke atas kening Nyai Pulungan. Sambil alirkan tenaga dalam ke kepala si nenek untuk membantu menyegarkan ingatannya. Resi Cadas Angin lanjutkan ucapan.

"Topeng Pemasung Jiwa termasuk salah satu benda langka peninggalan Raja Topeng Kalidiga.Topeng itu dibuat sekitar lima abad yang silam.Sepeninggalnya Raja Topeng yang tewas tak diketahui rimbanya,keberadaan Topeng Pemasung iwa tidak diketahui dimana rimbanya.Topeng itu seolah hidup,punya jiwa,nyawa dan jalan pikiran sendiri." "Berada ditangan yang benar,Topeng Pemasung Jiwa dapat dipergunakan untuk menyembuhkan orang yang sakit. Mereka yang ingin tetap awet muda dan mempunyai umur panjang juga bisa menggunakan topeng selama waktu tertentu asalkan tahu caranya."

"Tapi sekali Topeng Pemasung Jiwa dipergunakan untuk melakukan kejahatan.Siapapun yang kemudian memakainya,orang itu akan menjadi sangat jahat.Dia tidak dapat lagi membedakan baik dan buruk karena jiwa dan raga juga pikirannya terpasung tunduk pada kekuatan topeng."

Terang si kakek membuat Nyai Pulungan jadi cemas dan ini ditandai dengan semakin tersengalnya nafas si nenek

"Astaga! Kau harus melakukan sesuatu,Resi. Kau harus mencari tahu apakah benar dulu,sekitar delapan belas tahun yang lalu Ki Demang Sapu Lengga membuang Topeng bersama bayi yang hendak dibunuhnya."

"Jadi benar topeng yang dipergunakan oleh orang yang merusak masa depan Kunti Seroja memang Topeng Pemasung Jiwa?"

"Ya."

"Jika demikian aku harus menemui Ki Demang. Tapi dimana laki-laki itu tinggal? Aku yakin dia tidak menetap lagi di Kedung Wetan."

"Yang kutahu Ki Demang bergabung dengan adipati Cakra abiyasa untuk membantu penguasa Salatigo itu menangkap Perawan Bayangan Rembulan. Kau bisa menemui adipati. Jika tujuanmu baik gusti adipati akan berkenan mempertemukanmu dengan Ki Demang."

"Kau sendiri bagaimana? Terus terang aku cuma mempunyai penangkal racun biasa. Untuk memusnahkan racun yang mendekam pada bagian luka juga yang menyebar di seluruh tubuhmu dibutuhkan dua puluh kali obat yang lebih kuat dari yang kumiliki!"

Ucap Resi Cadas Angin prihatin.

Si nenek tiba-tiba gelengkan kepala.

"Jangan pikirkan tua bangka ini. Lakukan saja apa yang aku pinta padamu. Aku rela mati asalkan kau bersedia mengabulkan semua permintaanku!"

Ujar Nyai Pulungan pasrah.

"Hmm baiklah. Tapi sebelum aku pergi. Aku ingin mengajukan beberapa pertanyaan padamu." "Pertanyaan apa?"

Tanya si nenek.

Sekali lagi Resi cadas Angin genggam jemari tangan Nyai Pulungan. Disertai tatap ingin tahu,orang tua ini kemudian berkata.

"murid sekaligus anak angkatmu Kunti Seroja telah menemui kematian. Sejak menginjakkan kaki di tempat ini aku merasakan hawa kematiannya yang tidak wajar, juga kegelisahan arwahnya.

Katakan siapa yang telah membunuhnya?!" "Kau mempunyai pengalaman mata batin yang demikian luas, Resi. Perasaanmu sangat lembut. Dan anak angkatku itu tewas dibunuh oleh sekawanan mahluk kegelapan. Mahluk-mahluk itulah yang dulu telah membawa bayi Kunti Seroja ketika hendak dibunuh oleh Ki Demang Sapu Lengga."

Terang si nenek.

"Tiga anjing pembunuh! Ketiga mahluk itu bukanlah anjing biasa. Mereka mahluk sesat yang ganas dan kejam. Biasanya mereka muncul dimanapun Perawan Bayangan Rembulan datang menebar kejahatan. Jadi jelas sudah Perawan Bayangan Rembulan ternyata memang anak Kunti Seroja.

Tapi..yang mengherankan mengapa gadis itu tega menghabisi ibu kandungnya sendiri?"

Kata Resi Cadas Angin tidak mengerti. Sepasang mata si nenek yang redup terbuka lebih lebar.

Dengan suara parau dia berucap.

"Kau tahu tentang tiga anjing pembunuh? Mereka memang bukan mahluk mahluk biasa.Mereka malah dapat bicara selayaknya manusia.Namun satu yang harus kau ketahui, walau memang benar Perawan Bayangan Rembulan adalah anak dari Kunti Seroja, tapi bukan dia yang membunuh ibunya."

"Saat tiga anjing pembunuh datang,gadis itu tidak ada bersama mereka. Aku sendiri datang terlambat. Perawan Bayangan Rembulan berada dalam kuasa dan cengkeraman pengaruh jahat."

"Kau harus menolong membebaskan dirinya dari belenggu kekuatan jahat yang menguasainya." "Nyai Pulungan, Perawan Bayangan Rembulan adalah gadis liar yang sangat berbahaya.

Bagaimana mungkin kau bersimpati pada seorang pembunuh?!" Tanya Resi Cadas Angin terheran heran.

"Kau masih belum mengerti juga. Perawan Bayangan Rembulan sejak kecil berada dalam asuhan mahluk keji. Mahluk-mahluk itu tahu siapa dia dan apa yang terjadi padanya. Aku yakin mereka telah menceritakan asal muasal kehidupan gadis itu. Gadis yang semasa kecilnya diberi nama Nila Seroja,sebuah nama yang tidak jauh berbeda dengan nama ibunya. Amarah dan dendam, kebencian telah ditiupkan ke dalam diri Nila Seroja. Karena dia sendiri berada dalam kekuasaan iblis. Ini yang membuatnya makin merajalela."

"Mahluk-mahluk pembunuh itu menguasai dan mengendalikannya?"

"Tidak Resi. Anjing pembunuh mungkin hanya mendidik, mengawal dan membuat Perawan Bayangan Rembulan menjadi ganas seperti sekarang. Tetapi aku menduga dia berada dalam kendali topeng yang menutupi wajahnya."

"Topeng Pemasung Jiwa maksudmu?!"

Sentak Resi Cadas Angin dengan mata mendelik tak percaya.

"Ya,aku melihat topeng itu. Topeng yang menutupi wajah dibalik rambut panjang seorang gadis berpakaian hijau yang terbuat dari anyaman pandan.Kau harus menghentikan semua ini,tapi jangan membunuh Perawan Bayangan Rembulan, karena bila pengaruh kekuatan jahat yang berasal dari topeng dapat dilenyapkan gadis itu bisa menjadi baik." Terang Nyai Pulungan terlihat begitu yakin. Penjelasan si nenek membuat si kakek menjadi heran.

Tapi karena tidak mau mengecewakan harapan Nyai Pulungan.

Walau jauh dilubuk hati tidak sepenuhnya mendukung keinginan si nenek, namun Sang Resi tetap anggukkan kepala.

"Baiklah,Nyai. Aku berjanji akan membalaskan sakit hati Kunti Seroja,dan juga akan mencari tahu siapa sebenarnya yang berbuat keji pada anak angkatmu. Untuk mengungkap misteri dibalik aib itu tentu aku harus tahu siapa pemilik ilmu Segala Rindu."

Mendengar janji yang diucapkan Resi Cadas Angin,Nyai Pulungan tersenyum sambil meringis menahan sakit.

"Aku sudah yakin kau memang orang yang sangat perduli dengan penderitaan orang lain. Terima kasih. Dan semoga dewa membalas segala kebaikanmu"

"Jangan bicara tentang balas budi nek. Aku belum melakukan apa-apa.Sekarang lebih baik katakan saja siapa yang telah membuatmu terluka."

Bertanya Resi Cadas Angin sambil menatap tubuh yang terkulai itu. Wajah layu didepannya tampak menggigil.

Bibir bergetar hendak mengucapkan sesuatu. Namun tidak sepatah katapun keluar dari mulutnya.

Sadar Nyai Pulungan dalam keadaan sekarat. Resi Cadas Angin segera tempelkan dua jari telunjuknya ditenggorokan si nenek.

Dia segera salurkan hawa sakti kebagian tenggorokan sekaligus mengalirkannya ke dada orang tua itu

"Bicaralah. Melihat keadaanmu yang seperti ini, tidak ada lagi yang bisa kuperbuat untukmu,Nyai.

Maafkan aku."

Nyai Pulungan kedipkan matanya lentik dengan gerakan lemah.

Dia merasa tenggorokannya yang panas kering laksana terbakar berubah sejuk. Nafasnya juga terasa lebih ringan.

"Resi,tubuhku beberapa hari ke depan akan segera membusuk. Dan orang yang telah membuatku mengalami cidera begini parah tak lain adalah Perawan Bayangan Rembulan dan mahluk mahluk yang selalu bersamanya."

"Hah,apa? Astaga! Gerangan apa yang ada dalam benakmu? Kau telah dibuat cidera begini parah namun masih meminta aku untuk menolong gadis iblis itu!"

Sentak sang Resi kaget sambil geleng-geleng kepala.

"Apa yang telah dilakukannya padaku....semua ini bukan urusanmu. Mungkin aku memang sudah layak harus menerima nasib seperti ini." Jawab si nenek lemah. "Mengapa dia membencimu?!" Geram Resi Cadas Angin.

"Aku-aku tidak tahu. Sama seperti ketidak tahuan mengapa mahluk-mahluk itu membunuh Kunti Seroja yang tak lain adalah ibu dari Perawan Bayangan Rembulan."

"Kau tidak tahu ataukah memang ada sesuatu yang kau sembunyikan nek?" Kata si kakek curiga.

"Tidak. Aku tidak menyembunyikan sesuatu. Mungkin gadis itu merasa malu karena dia dilahirkan bukan dari sebuah ikatan perkawinan. Dan dia juga pasti sedang mencari tahu siapa ayahnya. Aku... aku."

Nyai Pulungan belum sempat menyelesaikan ucapannya.

Diawali dengan suara seperti tercekik. Tubuh si nenek pun kemudian terkulai. "Nyai.."

Sang Resi berseru sambil menggoyang tubuh kurus renta itu. Namun si nenek telah berpulang.

Resi Cadas Angin menghela nafas. Dia lalu merapikan tangan Nyai Pulungan yang terkulai dan meletakkan kedua tangan itu di depan dada. Sesaat setelah dua kaki dirapikan dan dua tangan itu di atas dada.

Angin tiba-tiba menderu, bertiup keras menyapu tubuh Nyai Pulungan yang diam tidak bergerak dan...

Wuus!

Seketika itu juga sosok mayat Nyai Pulungan lenyap.

Resi Cadas Angin walau sempat kaget melihat apa yang terjadi namun segera dapat menguasai diri. Dia tahu Nyai Pulungan pergi dengan membawa kebaikan. Kebaikan itu pula yang membawa jasadnya menuju kesuatu tempat.

Tempat yang sejuk nyaman dan damai. Tanpa menunggu lama sang Resi segera bangkit berdiri. Kemudian tanpa menoleh-noleh lagi dia berkelebat tinggalkan tempat itu.

*****

Dalam sebuah ruangan yang diterangi cahaya serba biru. Kakek bertubuh tinggi berpakaian putih itu duduk bersila sambil sandarkan punggungnya pada dinding ruangan batu. Sekujur tubuh si kakek yang bukan lain adalah Ki Jangkung Reksa Menggala terus menggigil. Wajah pucat kedinginan.

Selama beberapa hari Ki Jangkung disekap diruangan yang luar biasa dingin. Untuk menjaga agar tidak mati kedinginan,si kakek memang terus menerus kerahkan tenaga dalam berhawa panas yang dapat melindungi tubuhnya dari kebekuan.

Tapi pengerahan tenaga dalam yang berlangsung secara terus menerus membuat hampir semua kekuatan yang dimiliki Ki Jangkung terkuras.

Apalagi selama itu dia tidak diberi makan dan minum. Akibatnya daya tahan Ki Jangkung tambah lemah. Ki Jangkung Reksa Menggala perah beberapa kali mengamuk berusaha menjebol pintu dan dinding ruangan. Banyak pukulan sakti dilepaskannya namun sampai napasnya mau putus dan tenaga luar dalam terkuras habis upayanya hanya sia-sia.

"Ratu Buaya Putih, Bidadari Selaka Merah. Siapapun setan betina itu memang perempuan yang tidak punya hati dan perasaan. Aku tidak tahu apa yang dia inginkan. Padahal aku sudah mengatakan tidak tahu dimana tempat berdiamnya puteri Manjangan Putih. Dan juga tidak tahu dimana tempat bertumbuhnya Bunga Anggrek Mayat."

Geram si kakek sambil mengusap wajahnya yang dingin laksana es.

Ki Jangkung Reksa Menggala terdiam sejenak, mata menerawang menatap kosong ke arah dinding tembok yang atos luar Dlasa. Dia lalu berpikir.

"Bunga Anggrek Mayat! Untuk apa Ratu Buaya Putih mencari Bunga Anggrek Mayat? Mungkin saja dia membutuhkan bunga itu untuk suatu kepentingan. Kudengar Bunga Anggrek Mayat memiliki beberapa khasiat luar biasa untuk melenyapkan penyakit. Apakah Ratu siluman itu sedang sakit. Tapi kelihatannya dia dalam keadaan baik-baik saja. Ada rahasia apa...?"

Baru saja Ki Jangkung Reksa Menggala menduga-duga tiba-tiba saja terdengar suara menderu yang disusul dengan terbukanya pintu ruangan.

Menatap ke arah pintu. Ki Jangkung melihat dua dari lima Penjaga Terpilih yang pernah menangkapnya berdiri tegak dengan sikap angker.

Yang membuat Ki Jangkung merasa heran.

Ketika bertemu dengan kedua penjaga itu pada malam sebelumnya tubuh mereka dipenuhi sisik gelap kecoklatan.

Tapi yang dilihatnya kali ini lain kedua penjaga tersebut sekujur tubuh dan pakaian yang melekat ditubuh mereka berubah hijau ditumbuhi lumut tebal.

Segera saja Ki Jangkung ingat dengan kakek yang hendak menolongnya.

Kakek aneh bertubuh lumutan itukah yang membuat mereka menjadi seperti itu. Belum sempat Ki Jangkung ajukan pertanyaan.

Tiba-tiba salah seorang diantara mereka membentak

"Orang tua bernama Ki Jangkung Reksa Menggala. Ternyata daya tahanmu luar biasa. Seharusnya kau sudah mati membeku dalam ruangan ini. Sekarang sebaiknya kau berdirilah ratu kami siluman buaya putih ingin bertemu."

Ucapan pengawal itu disambut oleh sang teman dengan berkata.

"Kau beruntung kakek jangkung. Gusti ratu berkenan membiarkanmu hidup lebih lama. Jika tidak ada sesuatu yang ingin diketahuinya darimu,jangan harap kau masih bisa bernapas sampai hari ini!"

Ki Jangkung Reksa Menggala sunggingkan senyum sambil pencongkan bibirnya. Tanpa menghiraukan ucapan kedua penjaga itu sebaliknya dia membuka mulut "Hidup mati bukan ditentukan oleh satu mahluk pun. Aku juga tidak bakal mati ditangan bidadari kesasar seperti ratumu itu. Dan kalian berdua agaknya mempunyai peruntungan yang jauh lebih buruk dariku. Aku tahu kalian tentunya telah mendapat hadiah dari kakek bernama Ki Lumut itu.Buktinya tubuh kalian berubah menjadi hijau lumutan, Ha ha ha!"

Mendengar ucapan Ki Jangkung wajah kedua penjaga berubah kelam menghijau.

Dengan geram salah seorang diantaranya melompat maju,tangan terjulur menderu ke wajah si kakek.

Tak menyangka mendapat serangan, Ki Jangkung yang tengah mengumbar tawa tidak sempat menghindar

Plak!

Satu tamparan keras mendarat di pipi si kakek membuat tubuh orang tua itu tergetar namun tidak terasa sakit sedikitpun.

Ketika penjaga lanjutkan serangan dengan tendangan. Ki Jangkung dengan geram sambut serangan itu dengan sikunya.

Duuk!

Siku dan kaki beradu keras.

Penjaga itu terdorong mundur sekaligus keluarkan seruan kaget. Di tempat duduknya Ki Jangkung menyeringai sambil mengusap janggut putihnya, Penjaga yang penasaran hendak merangsak maju,namun temannya yang berdiri di depan pintu gelengkan kepala sambil goyangkan jari telunjuknya.

"Hentikan. Kita hanya diperintahkan menjemput,tidak untuk menyakiti atau melukai...!" "Tapi Rengga Wiluya,kakek ini memang harus diberi pelajaran. Gara-gara temannya si kakek

lumutan itu,tiga sahabat kita menemui ajal dimangsa lumut yang tumbuh ditubuh mereka. Bukan tidak mungkin kita juga akan mengalami nasib sial seperti mereka."

Sahut pengawal itu.

"Jangan takut. Kita tak akan mati karena kita telah memakan buah Simalaka. Menurut ratu buah itu dapat menangkal lumut beracun ditubuh kita."

Jawab Rengga Wiluya tenang. Mendengar ucapan kedua penjaga Ki Jangkung Reksa Menggala jadi tahu lumut yang tumbuh ditubuh mereka adalah lumut beracun.

"Ki Lumut bukan manusia sembarangan. Walau tidak mampus saat ini kelak kalian juga pasti bakal menemui ajal ditangannya."

Ejek Ki Jangkung Reksa Menggala. Rengga Wiluya tidak menanggapi.

Sebaliknya dia malah acungkan lima jemari tangannya ke arah Ki Jangkung. Secepat kilat menyambar dari lima jemari tangan Rengga Wiluya membersit lima larik cahaya putih menebar asap menyerupai kabut. Lima cahaya itu lalu menggulung tubuh si kakek. Walau Ki Jangkung telah berusaha selamatkan diri dengan bergulingan ke samping, namun karena tubuhnya lemah maka gerakan yang dilakukan si kakek menjadi lamban. Tes!

Treet!

Lima cahaya putih berputar menggulung tubuhnya. Si kakek menjerit. Badannya terasa seperti dilibat oleh ular besar yang tidak terlihat wujudnya. Ki Jangkung meronta sambil mengerahkan tenaga dalam. Si kakek diam-diam menjadi kaget sebab serangan cahaya itu ternyata tidak hanya membuat tubuhnya sulit bergerak,namun juga membuat tenaga dalamnya hilang lenyap.

"Astaga! Penjaga itu ternyata memiliki kesaktian tidak berada dibawahku. Dia bahkan sanggup melenyapkan tenaga saktiku!"

Batin Ki Jangkung Reksa kaget. Tentu saja Ki Jangkung tidak tahu bahwa Rengga Wiluya sanggup melakukan semua itu,karena ratu Siluman telah membekalinya dengan ilmu ajian Pelumpuh Ilmu Pelenyap Daya.

Walau ilmu ajian itu tidak mengakibatkan kematian atau cidera pada korbannya.

Namun yang terkena pengaruh ilmu ajian Pelumpuh Ilmu Pelenyap Daya tidak akan mampu menggunakan tenaga dan kesaktian yang dimilikinya selama tiga purnama.

Ki Jangkung Reksa Menggala akhirnya jatuh terkulai, Melihat si kakek tidak berdaya. Rengga Wiluya dan Jumeneng segera datang menghampiri.

Tanpa banyak bicara kedua orang ini kemudian menggotong Ki Jangkung dan membawanya keluar dari ruangan penyekap.

"Mahluk-mahluk bersisik,hendak kalian bawa kemana diriku ini?"

Teriak Ki Jangkung ketika mendapati dirinya dibawa berputar-putar menelusuri lorong panjang berbau amis dan lembab.

"Tutup mulutmu! Kami akan membawamu ke neraka perut bumi!"

Jawab Jumeneng yang masih memendam rasa geram pada Ki Jangkung.

Bukannya takut,si kakek malah tertawa tergelak-gelak

"Bagus. Bawalah aku ke neraka manapun yang kalian suka asalkan jangan kalian masukkan aku kedalam perut busuk nenek moyangmu! Ha ha ha!"

Buuk!

Bukan jawaban yang didapat Ki Jangkung melainkan sebuah jotosan keras yang mendera bagian rusuk sebelah kirinya.

Yang menjotos kakek itu tak lain adalah Jumeneng.

Ki Jangkung yang dalam keadaan tidak berdaya hanya sanggup keluarkan suara erangan menahan sakit karena dadanya seperti mau meledak. Tidak terima diperlakukan seperti itu.

Sekali lagi Ki Jangkung mendamprat. "Mahluk jahanam! Semoga kalian terkutuk selamanya!"

Geram si kakek dengan napas tersengal. Mendengar caci maki si kakek Jumeneng kembali hendak menghajar,namun dicegah oleh Rengga Wiluya dengan berkata,

"Biarkan saja tua bangka ini mengoceh sesukanya. Jika gusti ratu menganggapnya tidak berguna lagi kematian pasti segera menjemputnya."

Jumeneng hanya mendengus mendengar ucapan sahabatnya.

Sementara itu masih ditempat yang sama namun dalam ruangan lain yang dikenal dengan nama Ruang Kesempurnaan Pengabdian.

Seorang gadis cantik berpakaian putih tipis berambut panjang dengan mahkota berlambang buaya diatas kepala duduk tenang diatas sebuah singgasana batu pualam berukir buaya besar.

Tidak jauh didepan sang ratu duduk dalam keadaan berlutut seorang laki-laki berpakaian hitam berusia sekitar lima puluh tahun.

Laki-laki tua ini berbelangkon hitam bernama Ki Demang Sapu Lengga.

Dia yang sejak tadi berlutut dilantai putih yang dingin itu, tiba-tiba memberanikan diri mengangkat wajah sekaligus tatap sang ratu yang duduk diatas singgasana kebesaran.

"Gusti Ratu. "

Berkata Ki Demang sambil rangkapkan kedua tangan di depan dada.

"Sudah dua hari saya berada diistanamu yang megah ini. Sebagai tamu, gusti belum memberi tahu kepentingan apa yang membuat gusti ratu mengundang saya ke sini. Mohon maaf dan kebijaksanaan ratu. Saya sangat sibuk di kadipaten. Dengan segala hormat saya harap gusti menyampaikan maksud gusti sekarang juga!"

Setelah berkata demikian Ki Demang Sapu Lengga turunkan dua tangan dan tundukkan kepala. Jauh di dalam hati orang tua ini berujar.

"Ratu Siluman Buaya Putih. Yang aslinya adalah seorang bidadar ­ yang diusir dari dewa kayangan karena selalu melanggar segala pantangan dan aturan yang berlaku disana. Andai aku bisa mengambil hati, memenuhi segala keinginannya. Tidak tertutup kemungkinan seperti rencanaku semula untuk memperalatnya agar mau membantuku menyingkirkan Perawan Bayangan Rembulan.

Gadis pembunuh itu, jangan-jangan memang benar dia bayi yang dulu gagal kubunuh."

Sementara di atas tempat duduknya yang nyaman, sang ratu tersenyum aneh setelah mendengar ucapan Ki Demang Sapu Lengga.

Tanpa beranjak dari tempatnya namun dengan tatapan tajam, sang ratu dari sekalian para buaya tiba-tiba membuka mulut.

"Mengapa terburu-buru. Apakah kau benar sangat sibuk ki Demang?"

Walau ucapan sang ratu terdengar aneh di telinga Ki Demang, orang tua ini segera menjawab dengan anggukkan kepala. "Begitulah kenyataannya, gusti. Apa lagi sekarang ini keamanan kadipaten jadi terganggu dengan terbunuhnya tokoh-tokoh penting golongan putih. Gusti pasti sudah mendengar betapa ganasnya Perawan Bayangan Rembulan."

Jelas Ki Demang dengan suara lirih namun jelas. Walau mendengar semua ucapan Ki Demang Sapu Lengga dan ratu buaya mengetahui serentetan peristiwa besar yang melanda dunia persilatan.

Namun gadis ini tidak menghiraukannya. Sebaliknya sambil tersenyum mengejek ratu siluman buaya putih berujar.

"Ki Demang Sapu Lengga, menurut pengakuanmu kau adalah manusia yang sangat sibuk luar biasa. Apakah kesibukanmu melebihi penguasa besar di sebuah negeri? Apakah dirimu orang penting sehingga banyak orang membutuhkanmu. Dan aku membawamu kesini meminta izin pada adipati Cakra Abiyasa apakah juga suatu kehormatan besar bagiku. Tidak! Dimataku kau bukanlah tamu besar. Kau Cuma manusia gila yang yang telah menimbulkan berbagai masalah. Aku tahu siapa dirimu Ki Demang. Aku telah mengetahui sepak terjangmu sejak lama. Hi hi hi!"

Ucapan sang ratu yang tidak terduga itu tentu saja membuat Ki Demang tak kuasa menutupi rasa kagetnya.

"Gusti ratu, apa maksud gusti. Kalau saya tidak dipandang sebagai tamu yang dihormati, lalu gusti memandang seperti apa?"

Tanya orang tua itu dengan hati berdebar diliputi perasaan was-was.

Ratu buaya kembali mengumbar tawa bergelak membuat Ki demang yang sedari tadi kerap tundukkan kepala jadi menatap ke arahnya dengan pandangan tidak mengerti.

"Ki Demang, ketahuilah aku menculikmu secara baik-baik. Aku minta izin pada adipati untuk menghindari pertumpahan darah yang tidak perlu. Kini kau menjadi tawananku. Sebagai tawanan aku bisa memperlakukan dirimu sesuka hati, termasuk juga membunuhmu!"

Penjelasan ratu buaya putih itu bagi Ki Demang tidak ubahnya seperti tamparan keras yang menghantam wajahnya.

Sebagai manusia yang telah puluhan kali menaklukan wanita baik secara terang-terangan maupun melalui jalan halus.

Ki Demang tentu tidak bisa menerima dirinya diperlakukan seperti itu.Kemarahan membuatnya jadi melupakan tujuan.

Harga diri tidak rela dipermalukan menjadikan Ki Demang mengabaikan muslihat dan rencana yang disusunnya semenjak dijemput oleh sang ratu.

Dengan wajah merah kelam dan suara tertahan laki-laki itu bangkit berdiri.

"Gusti ratu. Jika saya diperlakukan seperti tawanan dan tidak lagi dipandang sebagai tamu yang dihormati, maka saya lebih memilih untuk angkat kaki tinggalkan tempat ini."

"Oh begitu? Bagaimana kau bisa keluar dari singgasana dibawah sungai Gropak ini? Setiap jalan penuh rahasia dan setiap pintu diliputi misteri. Segala rahasia kuncinya ada ditanganku. Dan kau tidak akan bisa pergi kemanapun, Ki Demang!"

Tegas Ratu Buaya Putih.

"Bidadari Gila, mahluk siluman! Ternyata kau seorang pengecut. Nama besarmu sangat ditakuti, kau sama sekali tidak ada harganya dimataku!"

Teriak Ki Demang Sapu Lengga dengan tubuh menggigil rahang bergemeletukkan menahan amarah.

Mendapat caci maki begitu rupa, gadis jelita bergaun putih itu ternyata tetap tenang. Malah kemudian dengan bibir mengurai senyum dia menjawab,

"Orang tua. Tidakkah kau menyadari segala petaka yang terjadi di rimba persilatan sebenarnya kaulah yang menjadi biang penyebabnya? Saat ini kau sendiri sesungguhnya takut dengan

bayang-bayang perbuatan masa lalumu. Kekejian dan segala kejahatanmu catatannya ada padaku, Mengingat kehidupanmu di masa lalu, masih pantaskah bagiku untuk menempatkanmu sebagai tamu yang kuhormati?"

Pertanyaan juga ucapan ratu buaya membuat si kakek terdiam. Dalam hati dia berkata.

"Bagaimana mungkin ratu siluman itu bisa tahu sepak terjangku dimasa lalu? Padahal

satu-satunya orang yang paling tahu kehidupanku yang dulu hanyalah seorang sahabat bernama Ki Jangkung Reksa Menggala.Mungkin Ki Jangkung juga berada dalam tawanan ratu buaya putih lalu Ki Jangkung bercerita tentang dirinya."

Ki Demang berpikir sambil menduga-duga.

Dia harus tahu mengapa ratu buaya membawanya ke tempat itu, memisahkan dirinya dengan orang orang penting dikadipaten.

Padahal selain berniat memburu Perawan Bayangan Rembulan, Ki Demang juga punya hasrat dan cinta terpendam pada Bunga Jelita yang cantik kepala pengawal adipati sekaligus keponakan sang adipati.

"Aku harus mengalah!" Pikir Ki Demang.

Kemudian dengan suara berubah melunak, orang tua itu ajukan pertanyaan.

"Baiklah, aku siburuk kelakuan tak ingin berbantah-bantahan dengan gusti ratu. Sekarang yang ingin saya ketahui, apa sebenarnya tujuan gusti ratu membawa saya kesini?"

"Manusia ular kadut. Rupanya dia bisa melunak juga. Aku bukan perempuan bodoh yang dapat ditipu."

Pikir ratu buaya.

Hati berkata demikian namun sambil tersenyum dia berkata, "Ki Demang seperti yang kau katakan aku membawa dirimu ke istanaku dengan satu tujuan. Jika kau mau menunjukan kerja sama yang baik.Kemungkinan besar aku akan memberi imbalan yang layak sebagai balasan.Sebaliknya bila kau membangkang dan tidak mematuhi apa yang aku mau, aku bisa berlaku kejam"

"Katakan apa yang ingin ratu ketahui dari diri saya."

Ratu buaya putih bangkit berdiri dari singgasana kebesaran yang di dudukinya.

Dia kemudian melangkah menghampiri Ki Demang dengan langkah lembut dan lemah gemulai sehingga membuat Ki Demang menahan nafas melihat pinggul indah yang melenggang lenggok dan dada yang putih menyembul bergoyang.

Tiga langkah didepan Ki Demang, ratu siluman hentikan langkah.

Orang tua itu mengendus aroma harum semerbak menebar dari tubuh sang ratu. Bersikap acuh setelah tatap wajah orang didepannya ratu buaya putih berkata,

"Kau pernah mendengar nama puteri Manjangan Putih atau kau mungkin pernah mendengar bunga langka bernama Bunga Anggrek Mayat?" pertanyaan itu membuat Ki Demang tersentak kaget sambil belalakkan mata.

"Kau terkejut? Berarti kau mengetahui dua hal tadi yang kusebutkan!"

Ucap sang ratu sambil julurkan lidah basahi bibir yang merah tanpa polesan.

"Sa-saya-saya sungguh tidak tahu apa yang ratu maksudkan. Saya... memang mengenal puteri Manjangan Putih. Tapi dia bukan manusia. Dia mahluk alam gaib."

Jawab Ki Demang dengan terbata-bata.

"Jadi kau tidak tahu pula dimana tempat bertumbuhnya Bunga Anggrek Mayat?"

Pancing ratu buaya putih sambil mengulum senyum. Ki Demang tundukkan kepala. Dia tidak berani bertatapan mata dengan gadis didepannya.

"Demang! Jika seorang ratu mengajakmu bicara, jangan coba-coba sembunyikan wajah.

Pandanglah aku, apakah wajahku buruk menakutkan?" Tanya gadis itu.

Ki Demang gelengkan kepala.

"Tidak! Gusti ratu sangat cantik. Saya tidak berani memandang gusti karena takut jatuh hati." "Tua bangka kurang ajar! Bersikap polos selayaknya dewa padahal dirimu adalah laki-laki bejat.

Kau tidak layak bicara seperti itu didepan seorang ratu. Lebih baik jawab, dimanakah tempat tumbuhnya Bunga Anggrek Mayat?"

"Saya tidak tahu."

Sahut Ki Demang Sapu Lengga. "Pendusta,"

Maki Ratu buaya dalam hati. "Aku tahu kau bertbohong. Kau tahu tempat dan kapan berkembangnya Bunga Anggrek Mayat.

Namun aku melihat kau menyimpan sesuatu, sesuatu yang membuatmu takut." Ratu siluman itu melangkah maju.

Setelah jarak diantara keduanya terpaut tak lebih dari dua jengkal, gadis ini hentikan langkah.

Berhadap hadapan dalam jarak sedekat itu membuat Ki Demang dengan leluasa dapat melihat kemolekan tubuh gadis cantik tersebut.

Dia juga melihat dada ratu yang bergerak naik turun seiring dengan hela nafasnya.

Aroma harum semerbak membuat darah Ki Demang menggelegak sedangkan jantungnya berdetak lebih keras.

Ki Demang lalu melangkah mundur untuk menghindari timbulnya keinginan buruk yang sewaktu-waktu bisa muncul dari dirinya.

Melihat Ki Demang seperti itu sambil menyeringai ratu buaya berucap,

"Kau suka ya dengan keindahan tubuhku? Hi hi hi. Segalanya bisa diatur asalkan kau mau membantu aku menunjukkan tempat bertumbuhnya Bunga Anggrek Mayat."

"Tidak. Saya tidak tertarik dengan kecantikan gusti ratu. Saya juga tidak tahu dimana Bunga Anggrek Mayat tumbuh."

"Manusia penipu. Hati menyatakan suka mulut menjawab tidak."

Sambil mendamprat begitu tidak terduga ratu buaya putih gerakan tangan kiri. Plak!

Satu tamparan keras mendarat dipipi Ki Demang. Orang tua itu menjerit kesakitan.

Namun hebatnya pipinya tidak terluka, tubuhnya juga tidak jatuh terpelanting. Dia tetap tegak berdiri tidak ubahnya seonggok batu karang atos.

Ratu buaya putih sendiri diam-diam menjadi kaget.

Tamparannya itu bukanlah tamparan biasa. Jangankan manusia, gajah sekalipun dapat menemul ajal bila terkena ilmu tamparan Selendang Geni.

"Jangan pernah lagi menamparku!"

Geram Ki Demang dengan mata mendelik sambil usap-usap pipinya yang kena tamparan.

Ratu buaya menyeringai dingin

"Bukan cuma menampar, aku juga bisa membuat remuk batok kepalamu!"

Dengus gadis itu

"Berani memperlakukan saya seperti itu lagi,saya sumpah akan melawanmu!"

Kata Ki Demang tidak kalah sengit

"Manusia lancang tidak tahu tingginya gunung. Kau hendak unjuk gigi pamer kekuatan didepanku.

Baiklah, ingin kulihat apakah kau layak menjadi orang yang harus kuhormati!" Sambil berkata demikian ratu buaya putih memutar tubuh lalu kibaskan tangan kesegenap penjuru ruangan.

Byar! Byaar!

Satu keanehan luar biasa tiba-tiba terjadi didepan Ki Demang Sapu Lengga. Ruangan besar mendadak raib.

Sebagai gantinya Ki Demang dapati dirinya berada disebuah lapangan luas dipenuhi bebatuan dan pasir putih.

Sayup-sayup dikejauhan si kakek juga mendengar suara bergemuruh seperti suara deburan ombak yang menghempas dinding karang dipantai.

"Bagaimana semua ini bisa terjadi? Memangnya aku berada dimana?"

Kata Ki Demang tanpa sadar

"Jangan hiraukan dimana kau berada.Sekarang sudah waktunya untuk memperlihatkan kehebatanmu. Jika kau dapat mengalahkan aku maka akan kuangkat kau sebagai sahabat.Bahkan tidak tertutup kemungkinan kau akan kujadikan suami. Sebaliknya jika kau kalah, hem, rasanya aku bebas memperlakukanmu sekehendak hatiku."

Ucap ratu siluman dingin.

"Gadis sombong! Kau akan segera tahu siapa diriku sebenarnya. Heaa...!"

Ki Demang tutup ucapan sambil lancarkan satu serangan kilat yang dikenal dengan nama Halilintar Melanda Bumi.

Serangan itu bukan hanya mengandalkan kecepatan gerak namun juga disertai pukulan dan tendangan menggeledek yang menghantam dalam waktu bersamaan. Melihat datangnya serangan ganas ini Ratu siluman buaya putih sempat menyeringai.

Namun seringai dibibirnya lenyap seketika begitu dia merasakan datangnya sambaran hawa panas luar biasa disertai dua kekuatan besar melanda secara tindih menindih

"Hmm, boleh juga!"

Sang dara mendengus namun cepat lambungkan diri ke udara.

Satu tendangan dan satu pukulan sakti menghantam tepat dimana sang ratu tadinya berdiri. Bumm!

Des!

Satu ledakan keras menggema ketika pukulan melanda batu besar dibelakang sang ratu. Tendangan yang dilancarkan Ki Demang juga tidak mengenai sasaran.

Sadar lawan dapat meloloskan diri Ki Demang menggeram.

Segera dia berbalik lalu dorongkan dua tangannya sekaligus ke atas.

Dua gulungan cahaya merah laksana darah menderu dari telapak tangan Ki Demang. Kedua cahaya berkiblat serta merta menebar membentuk kabut lalu siap membuntal Ratu buaya putih dari bagian kaki hingga ke ujung kepala.

"Ilmu Kuncup Langit! Huh, siapa takut!"

Teriak sang ratu yang rupanya mengenal ilmu sakti yang dipergunakan Ki Demang. Walau terkejut tak menyangka lawan mengetahui ilmu andalan yang dipergunakannya. Namun orang tua itu pantang bersurut langkah.

Dia tetap lanjutkan serangan malah lipat gandakan tenaga dalam yang dimilikinya.

Sang ratu menyadari bahwa pancaran cahaya merah yang menebar menjadi kabut dan sekaligus akan menggulung tubuhnya itu mengandung racun ganas luar biasa.

Jika tidak segera dimusnahkan kabut merah bercahaya itu dapat membuat dirinya celaka. Tidak menunggu lama dara cantik itu segera lakukan gerakan berputar.

Dua tangan dipentang sekaligus disapukan dengan gerakan menghalau Wuut!

Rett! Byaar!

Satu ledakan keras mengguncang kawasan itu. Sang ratu tergetar.

Tubuh jungkir balik tidak karuan namun masih dapat jatuhkan diri dengan dua kaki menjejak tanah terlebih dahulu.

Tidak jauh didepannya Ki Demang Sapu Lengga yang tadinya berdiri sudah jatuh terpelanting dengan mulut semburkan darah.

Hebatnya walau orang tua ini menderita cidera didalam dan tubuh di bagian luar terasa panas meleleh seperti dibakar, namun dengan cepatnya dia dapat berdiri tegak lagi.

Dengan wajah pucat dan seka lelehan darah kental dengan punggung tangannya si kakek memandang ke depan.

Melihat lawan tidak kekurangan sesuatu apapun diam-diam dia terkejut. "Tidak mungkin. Seharusnya dia sudah mampus."

Geram orang tua itu penasaran. Ratu buaya tersenyum,

"Kau boleh memiliki segunung ilmu sakti, Ki Demang.Tapi segala ilmu saktimu jadi tidak berguna selama aku mengetahui penangkalnya. Hik hik!"

"Ratu sialan! Aku belum kalah! Sekarang bersiap-siaplah untuk menemui penjaga neraka!"

Berkata demikian Ki Demang segera alirkan tenaga dalam ke arah kedua tangannya. Secepat kilat dia julurkan tangan kanannya diudara. Sambil berkemak-kemik diapun berter ­ak,

"Datanglah! aku membutuhkanmu!" Traat! Teriakan Ki Demang seakan bersambut dengan munculnya satu cahaya merah menyilaukan. Cahaya menderu menghampiri lima jari yang terkembang.

Ketika Ki Demang meraih cahaya itu, cahaya lenyap berubah menjadi sapu berwarna hitam bergagang panjang.

Melihat senjata ditangan Ki Demang, ratu buaya putih tertawa terkekeh.

"Manusia rendah tak punya derajat. Kau memang pantas menjadi tukang sapu dipasar atau dijalanan. Konon kudengar senjatamu itu sangat hebat. Sudah banyak musuhmu yang menjadi korban! "

"Ya dan kau bakal menjadi korban selanjutnya!"

Selesai berucap demikian Ki Demang memutar senjata ditangannya.

Sapu menderu. Cahaya hitam berkiblat disertai suara bergemuruh laksana ribuan lebah mengamuk.

Ki Demang melompat ke depan menyerang lawan dengan tusukan dan kibasan sapu.

Bagian ujung sapu yang dapat lentur seperti bulu dan mengeras laksana kawat baja itu menyambar kebagian wajah lalu bergerak turun siap mencabik bagian tubuh disebelah bawah.

Diserang dengan cara sehebat itu dan berlangsung cepat pula, Ratu siluman buaya putih tetap bersikap tenang.

Dengan mengandalkan jurus-jurus Bidadari Melayang Di Awan yang digabung dengan jurus Buaya Sakti Menembus Pusaran Air gadis ini bergerak kesamping, kaki menendang, dua tangan dengan lemah gemulai bergerak seperti burung kepakkan sayaphya.

Selanjutnya dua tangan melesat ke depan menyongsong datangnya serangan sapu sakti dengan gerakan seperti menyibak.

Sapu ditangan Ki Demang yang tadinya siap menembus melukai sekujur tubuh gadis itu bergetar disertai suara dengung mengerikan.

Kibasan tangan dan tendangan yang dilakukan lawan membuat arah sapu berbelok menghantam tempat kosong.

Byaar!

Sapu sakti menghantam batu besar disamping ratu buaya.

Ki Demang terhuyung ke depan terdorong tenaganya sendiri, Dengan menggunakan siku kanan ratu buaya hantam punggung orang tua itu

Buuk!

Hantaman keras membuat Ki Demang tersungkur.

Wajahnya dipenuhi luka mengucurkan darah akibat mencium tanah. Tapi tanpa mengeluh dia masih sanggup balikkan badan.

Ketika melihat lawan melayang ke arahnya siap lakukan totokan yang melumpuhkan, Ki Demang sambar sapu yang tergeletak disampingnya.

Sapu dikibaskan keatas dari kiri ke kanan dengan gerakan membabat.

Angin luar biasa dingin menyambar bagian perut sang ratu membuat gadis ini segera batalkan serangan sekaligus lakukan gerakan jungkir balik kebelakang.

Walau ratu buaya putih luput dari tebasan ratusan ujung sapu, namun gaun putih dibagian bawah tepat diatas pusar kena sehingga robek besar.

Setelah jejakan diri dengan wajah pucat, ratu siluman menjadi sangat marah ketika melihat gaun kesayangannya menjadi rusak

"Tua bangka edan! Lebih baik kau lukai diriku dari pada kau rusak gaunku yang langka ini." Geram gadis itu sambil menatap garang ke arah Ki Demang.

Penuh rasa percaya diri, KI Demang Sapu Lengga bangkit berdiri. Dia tersenyum lalu senjatanya dilintangkan di depan dada.

"Sebentar lagi bukan cuma gaunmu yang robek, juga mulut dan wajah angkuhmu itu. Ha ha ha! Kau akan bertekuk lutut dan rela melakukan apapun sesuai keinginanku. Dan tidak ada keinginan yang lebih besar dalam hatiku ini selain tidur bersamamu!"

Kata Ki Demang.

Dia sama sekali tidak sadar ucapannya itu menunjukkan sifat aslinya. Ratu siluman buaya putih tersenyum

"Ucapanmu itu akan membuatmu menyesal seumur hidup. Aku sudah tidak sabar sekaligus ingin melihat apa yang dapat kau perbuat dengan sapumu itu?"

Dengus Ratu siluman buaya dengan wajah kelam tenang. Inilah yang ditunggu oleh Ki Demang.

Sikap orang yang memandang enteng biasanya bisa menjadi bumerang bagi orang itu sendiri.

Sambil komat-kamit merapal mantra aji Pamungkas, Ki Demang salurkan seluruh tenaga dalam yang dia miliki ke sapu ditangan dan juga kedua kakinya.

Sapu hitam memancarkan cahaya angker. Kedua kaki yang teraliri tenaga dalam menggeletar sehingga tanah yang dipijaknya mengepulkan asap.

Sekejap sapu dikembang, Ki Demang bergerak. Tubuh orang tua itu mendadak lenyap berubah menjadi bayang-bayang.

Sekejab kemudian ratu siluman buaya putih melihat benda seperti kipas berkilat yang diiringi tendangan menggeledek melabrak lehernya. Kagum melihat kecepatan lawan bergerak.

Satu jotosan menyerangnya, tidak membuat gadis ini berlaku lengah.

Ratu buaya putih bersiaga melindungi diri dengan ilmu Siluman Bercermin Sakti, dia segera tekuk kaki kanan dan tarik kaki ke belakang.

Bersamaan dengan itu sang ratu memutar tubuh, tangan didorong ke arah sapu, jotosan juga tendangan lawannya.

Wuus!

Segulung hawa aneh tidak terlihat menderu, berubah menjadi tameng tak terlihat yang melindungi sang ratu dari kepala hingga ke kaki.

Tiga serangan ganas datang melabrak sang ratu, namun Ki Demang dibuat terkesima.

Semua serangannya tepat mengenai sasaran tetapi herannya tidak dapat menerobos hawa aneh yang melindungi sang Ratu.

Marah bercampur heran, Ki Demang lipat gandakan tenaga dalamnya pada sapu sakti sehingga senjata itu membersitkan cahaya hitam berkilau menggidikkan.

Sambil memusatkan perhatian kebagian tubuh lawan ratusan ujung sapu yang berubah kaku laksana baja dia tusukkan ke arah perut sang ratu.

Craak!

Tak sampai seujung kuku sapu menyentuh sasaran, Ki Demang mendengar suara berdentring keras.

Sapu sakti seperti membentur tembok yang tidak terlihat "Tidak mungkin!"

Teriak KI Demang ketika menyadari lawan tak dapat dilukai. Penasaran dia campakkan sapu ditangannya lalu kembali menghantam lawan dengan ilmu pukulan Karang Penggempur Cadas Lintang.

Di rimba persilatan ilmu pukulan yang dimiliki Ki Demang ini adalah salah satu ilmu paling ganas yang sangat ditakuti oleh lawan dan disegani oleh kawan kawannya.

Tapi ketika dua pukulan melabrak ke depan.

Ki Demang hanya sanggup membuat perisai yang melindungi ratu siluman buaya putih berpijar. Selagi Ki Demang dibuat tercekat.

Kesempatan itu dipergunakan oleh Ratu buaya lancarkan totokan ke bagian tengkuknya. Dan ketika Ki Demang melihat jemari tangan yang lembut berkelebat menyambar.

Orang ini segera jatuhkan diri.

Sayang gerakan penyelamatan yang dilakukan Ki Demang kalah cepat dengan datangnya totokan lawan.

Orang tua itupun kemudian ambruk tidak berkutik. Tubuhnya menyentuh tanah.

Kepalanya mendadak terasa menjadi berat dan panas sekali.

Mata mendelik, mulut hendak mengucapkan sesuatu namun tidak sepatah katapun yang keluar dari bibirnya.

"Tua bangka tolol! Punya ilmu baru semata kaki saja sudah berani jual lagak didepanku! Sekarang rasakan... Bila dibiarkan maka totokanku itu bisa membuat kepalamu meledak, karena seluruh darah ditubuhmu mengalir ke kepala. Tapi aku masih berbaik hati sebab aku akan mempertemukanmu dengan sobat lamamu! Hi hi hi!"

Ki Demang terkejut. Dia hendak bertanya siapa sahabat yang dimaksudkan oleh sang ratu.

Namun lidahnya terasa kelu dan kepala semakin terasa panas hingga membuat Ki Demang tambah tidak berdaya. Ratu siluman buaya putih jentikkan tangan ke udara. Tiba-tiba hamparan tanah luas raib berganti dengan ruangan tempat dimana singgasana ratu buaya putih berada.

Walau terkejut melihat perubahan ini Ki Demang hanya sanggup mengerang.

*****

Dibalik gerbang alam gaib, malam terasa lebih panjang. Udara menjadi sangat dingin dan butiran embun bagai rintik hujan berjatuhan dari langit.

Dalam suasana sedemikian rupa Sang Maha Sakti Raja Gendeng 313 yang saat itu berada ditengah hamparan tanah luas yang dipenuhi nisan nisan dan pepohonan besar, layangkan pandang ke segenap penjuru arah. Tidak ada satupun mahluk yang muncul setelah guncangan dan suara raungan menggetarkan tempat tersebut. Bahkan gadis yang terikat dalam tiang pancang dengan pakaian hancur tidak karuan dan tubuh dipenuhi bilur-bilur luka seperti bekas cambukan tiba-tiba raib.

"Aneh! Aku tidak sedang bermimpi. Jelas tadi aku mendengar suara teriakan dan lolongan, Aku juga melihat gadis itu. Dia terpasung dalam kesengsaraan. Mengapa gadis itu hilang bersama lenyapnya suara-suara aneh!"

Membatin Raja.

Selagi murid Ki Panaraan Jagad Biru dan Nini Balang Kudu dari Istana Es itu bicara sendiri, tibatiba terdengar suara mengiang dari jiwa dalam hulu pedang.

"Gusti, apa yang gusti pikirkan?"

"Gadis itu? Mengapa tiba-tiba saja dia lenyap? Apa benar yang kulihat tadi cuma bayangan saja?"

Kata Raja setengah bertanya.

"Tidak gusti. Gadis itu nyata adanya. Dia berada dalam perlindungan alam gaib dibawah kekuasaan mahluk jahat. Mahluk yang selama ini merawat, membesarkan dan memberinya berbagai ilmu aneh. Malam hampir pagi gusti. Siang hari dia tidak akan munculkan diri di dunia kehidupan manusia. Tapi... munculnya bulan dilangit masih akan terus berlanjut hingga tujuh hari ke depan. Dan dia akan terus membunuh jika tidak ditolong." Bisik Jiwa Pedang yang diam-diam tanpa sepengetahuan dan perintah Raja Gendeng 313 telah melakukan penyelidikan.

Mendengar penjelasan sahabatnya kening Raja berkerut, mata melirik ke belakang ke arah pedang tergantung dipunggungnya.

"Mengapa aku harus menolong seorang pembunuh? Menolongnya dari apa?" Tanya pemuda itu dengan heran.

"Menolong membebaskannya dari cengkeraman kuasa jahat juga melepaskan jiwanya dari pengaruh gelap Topeng Pemasung Jiwa"

Kata satu suara perempuan.

"Siapa yang bicara? Mengapa suaranya serak seperti orang yang baru menelan kodok.?" "Saya gusti. Saya Sinta..."

"Cinta? Mahluk alam gaib dari mana?" Tanya Raja curiga.

Terdengar suara mengikik, lalu disusul ucapan.

"Bukan cinta gusti. Saya Sinta Dewi, tapi cukup panggil Sinta atau Dewi saja. Saya adalah jiwa perempuan. Masa paduka lupa yah..."

"Hem... ternyata mahluk roh seperti kamu mempunyai nama, Mengapa suaramu berubah dan mengapa baru sekarang memperkenalkan namamu padaku?"

"Maaf gusti, suara saya berubah karena suasana disini yang tidak menyenangkan. Adapun tentang nama, terus terang sebelumnya saya takut nama saya diketahui orang banyak. Saya tidak ingin orang yang mencari saya menemukan keberadaan saya. Harap dimaafkan dan saya berharap gusti juga memaklumi kealpaan saya."

Kata Sinta yang sebelumnya oleh Raja selalu dipanggil Jiwa Perempuan. Sambil menghela nafas, Raja berkata.

"Tentang masa lalumu, kelak bila ada kesempatan aku ingin mendengarnya. Aku juga penasaran siapa sebenarnya manusia sakti yang membuatmu takut dan memperlakukan dirimu dengan tidak pantas."

"Terima kasih atas simpati dan perhatian gusti. Tapi gusti tidak jatuh cinta pada saya kan?" Kata Sinta sambil menahan tawa.

Raja menyeringai.

Belum sempat dia menjawab, Jiwa Pedang tiba tiba menyela.

"Perempuan genit kurang ajar. Masih banyak gadis cantik punya jiwa punya raga. Mereka gadis baik-baik. Mengapa paduka Raja harus jatuh cinta pada mahluk kesasar gentayangan sepertimu!"

"Hik hik hik! Tidak perlu marah. Sebagai mahluk alam roh kau sendiri bisa melihat diriku memang cantik bukan? Aku sering melihatmu kerap meneteskan air liur bila memandangku!" "Aku bukan meneteskan air liur, aku cuma mau muntah melihatmu.!" Jawab Jiwa Pedang sengit.

Melihat keadaan semakin runyam, Raja membuka mulut berujar.

"Sudah. Kalian tidak perlu mengungkit kekurangan masing-masing. Sesama mahluk halus kalian harusnya sadar bahwa kita bertiga harus saling melengkapi kekurangan masing-masing. Tiga dalam satu. Satu dalam tiga. Jadi 313 Apakah kalian lupa?"

"Gusti, mohon maafmu. Saya tidak lupa tapi dia yang suka melupakan dan merasa hebat sendiri."

Kata Jiwa Pedang bersungut-sungut

"Ya, tak perlu berkecil hati sahabat Jiwa Pedang. Dia memang hebat, malah ketika kentutpun suaranya lebih hebat dari petir. Ha ha ha!"

Sahut sang pendekar sambil tertawa.

"Ah, paduka. Tak saya sangka gusti pernah mendengar saya buang angin. Saya malu jadinya." Raja diam tidak menanggapi.

Dia berpikir sejenak dan segera ingat dengan ucapan Sinta.

"Eh, kau. Bukankah tadi kau mengatakan ada kuasa jahat yang mengendalikan diri gadis itu?" "Memang benar gusti."

Jawab Sinta.

"Memangnya gadis itu siapa?"

"Dia adalah Perawan Bayangan Rembulan. Gadis itu akan terus membunuh orang-orang yang sangat dia benci."

"Hmm, dia lagi? Mengapa tiba-tiba saja dia menghilang, Jiwa Perempuan... eh Sinta!"

Tanya sang pendekar sementara itu tatap matanya Jelalatan menatap liar kesegenap penjuru sudut.

Sinta diam tidak menjawab. Suara menderu tiba tiba memecah keheningan. Lalu terdengar hela nafas berat.

"Dia tidak menghilang. Seseorang yang sudah terbiasa hidup di alam gaib, melenyapkan diri bukanlah sesuatu yang sulit..."

Menerangkan Sinta. Jiwa Pedang tidak mau ketinggalan ikut menambahkan,

"Apalagi Perawan Bayangan Rembulan berada dalam perlindungan mahluk mahluk kegelapan, gusti. Dan mahluk yang selalu menjaganya tidak mau ada manusia seperti gusti mendekati perawan yang menjadi peliharaannya."

"Hm, siapa sebenarnya Perawan Bayangan Rembulan itu?" Tanya sang pendekar penasaran.

"Saya tidak begitu mengenalnya gusti." Jawab Sinta sang jiwa perempuan. "Bagaimana denganmu Jiwa Pedang?" Tanya Raja sambil melirik ke belakang.

"Saya tidak tahu banyak tentang gadis itu. Namun menurut apa yang saya dengar, Perawan Bayangan Rembulan aslinya bernama Nila Seroja. Dia adalah yang terlahir dari hubungan gelap alias tidak jelas, remang-remang, samar-samar."

"Mengapa kau mengatakannya demikian? Memangnya siapa orang tua gadis itu?" Tanya Raja Gendeng 313 diliputi rasa ingin tahu.

"Ibunya adalah perempuan bernama Kunti Seroja, sedangkan ayahnya hingga saat ini masih menjadi tanda tanya. Ada yang mengatakan ayah gadis itu adalah kepala penjaga kademangan orang kepercayaan Ki Demang Sapu Lengga. Dan kepala penjaga itu telah dibunuh oleh Ki Demang karena dianggap telah membuat aib besar di tengah keluarga Ki Demang."

"Apa hubungan Ki Demang dengan perempuan bernama Kunti Seroja itu? Mengapa dan atas alasan apa Ki Demang menghabisi kepala penjaganya?"

"Kunti Seroja adalah adik ipar Ki Demang karena kakak Kunti Seroja yang bernama Rai Cempaka adalah istri dari Ki Demang Sapu Lengga. Ki Demang menghabisi orang kepercayaan bukan tanpa alasan. Menurut kabar kehamilan yang dialami oleh Kunti Seroja terjadi diluar kehendaknya. Ketika seorang laki-laki datang di balik peraduannya, laki-laki itu meniupkan ilmu sesat, ilmu pemikat yang disebut Segala Rindu. Dengan menggunakan ilmu pemikat Segala Rindu, wanita segarang singa sekalipun dapat rasa takluk, bertekuk lutut dan rela menuruti keinginan si pemilik ilmu termasuk juga melakukan hubungan badan. "

"Dan Kunti Seroja mengetahui atau mengenal laki-laki yang mengajaknya bercinta?!" Potong Raja.

"Tidak gusti. Orang itu memakai topeng. Kehamilan Kunti Seroja membuat geger Katemenggungan dan kabarnya cepat menyebar hingga ke kadipaten Salatigo tempat dimana Ki Demang mengabdikan diri. Merasa dipermalukan Ki Demang kemudian berusaha membongkar misteri dibalik Cinta Hitam itu Dan ketika Ki Demang menemukan topeng aneh yang dikenal dengan nama Topeng Pemasung Jiwa di tempat kediaman kepala penjaga. Orang kepercayaan itupun dihukum gantung."

Terang Jiwa Pedang.

"Katakanlah kepala penjaga kedemangan pelakunya dengan ditemukannya bukti Topeng sakti di rumahnya. Apakah laki-laki itu mempunyai ilmu penakluk hati bernama Segala Rindu?" .

"Mengapa gusti bertanya demikian?" Kata Jiwa Pedang tidak mengerti.

"Karena ilmu pemikat Segala Rindu bukan ilmu pemikat biasa. Tidak sembarangan orang yang memilikinya. Ilmu seperti itu lebih dahsyat dari ilmu Buluh Perindu. Dan di rimba persilatan hanya beberapa orang saja yang memilikinya."

Ujar Raja terheran-heran.

"Gusti tidak percaya kepala penjaga itu memikat Kunti Seroja lalu mengajaknya melakukan hubungan terkutuk?"

Sinta yang sedari tadi diam mendengarkan kini bertanya pula.

"Bukannya tidak percaya. Aku curiga ada suatu rahasia yang tersembunyi dibalik kehamilan Kunti Seroja. Andai saja aku bisa bertemu dengan perempuan itu mungkin kita bisa mendapatkan penjelasan lebih banyak darinya."

Sahut Raja dengan mata menerawang ke depan.

"Gusti, Kunti Seroja sudah tidak waras lagi sejak melahirkan anaknya. Kegilaannya makin menjadi begitu dia tahu Rai Cempaka bersama Ki Demang membawa bayi yang dilahirkannya ke hutan untuk dibunuh."

Terang Jiwa Pedang.

"Kunti Seroja saat ini pun sudah tewas. Dia dibunuh oleh penjaga Perawan Bayangan Rembulan." Kata Sinta sang jiwa perempuan.

Sang pendekar tertegun

"Bagaimana kau bisa mengetahuinya?"

"Hi hi hi. Saya ini mahluk yang suka gentayangan, tidak seperti Jiwa Pedang yang lebih banyak menghabiskan waktu di hulu pedang."

Sahut Sinta diiringi gelak tawa.

"Jika benar Kunti Seroja ibu dari Perawan Bayangan Rembulan, Mengapa dia membiarkan mahluk-mahluk penjaganya membunuh ibu kandungnya sendiri. Apakah menurut kalian berdua kejadian ini tidak aneh?"

Tanya pendekar 313.

"Menurut saya, kemarahan dan kebencian gadis asuhan mahluk kegelapan itu sudah melampaui batas. Pengaruh dan kuasa jahat yang menguasai jiwanya telah membuatnya tak dapat lagi membedakan mana lawan dan mana orang yang seharusnya dia hormati."

Jawab Sinta.

"Disamping itu Jiwa Perawan Bayangan Rembulan juga telah terpasung oleh kekuatan topeng yang sering dipakainya. Dan munculnya bulan dilangit juga menjadi salah satu penyebab mengapa gadis itu semakin tidak terkendali. Jadi tidaklah keliru bila Sinta mengatakan kita harus menolong membebaskan Nila Seroja dari pengaruh jahat topeng dan menjauhkan dirinya dari mahluk-mahluk yang selalu menyertainya."

Ucap Jiwa Pedang pula bersemangat. Raja anggukkan kepala sambil dongakkan kepala menatap ke langit. Dilangit bulan tetap diam terpaku diketinggian, seolah bulan tidak kunjung bergeser dari tempatnya.

"Kita memang harus menemukan gadis itu. Tapi kemana kita akan mencarinya?"

"Orang seperti dia berada dimana saja. Alam gaib dan dunia kehidupan manusia tidak ada bedanya."

Kata Jiwa Pedang lirih.

Belum sempat sang pendekar menanggapi ucapan sahabatnya.

Tiba-tiba saja terdengar suara raungan dahsyat disertai dengan bermunculnya beberapa sosok gelap dibalik pepohonan besar yang tumbuh meranggas.

Raja yang sejak awal terus berlaku waspada, menahan nafas sambil layangkan pandang kesegenap sudut penjuru.

Dalam waktu singkat tidak sampai sekedipan mata tak jauh didepannya telah berdiri empat mahluk besar berbulu hitam setinggi pinggang orang dewasa.

Empat mahluk ini bukan lain adalah kawanan anjing besar bermata merah yang semuanya memandang ke arah Raja.

Mulut menyeringai terbuka.

Lidah terjulur meneteskan air liur.

"Keempat mahluk ini, mungkin yang menjadi pengasuh sekaligus pengawal Perawan Bayangan Rembulan. Mereka tampaknya bukan mahluk biasa!"

Membatin sang pendekar dalam hati.

"Paduka harus berhati-hati. Saya dapat merasakan mereka adalah mahluk sakti yang tidak dapat dipandang sebelah mata. Banyak korban yang sudah berjatuhan."

Kata Jiwa Pedang melalui suara mengiang. Dugaan Jiwa Pedang tidak berlebihan.

Malah Raja Gendeng 313 kemudian terkejut.

Salah satu mahluk berwujud anjing itu tiba-tiba berkata selayaknya manusia.

"Anak manusia terlahir dengan nama Raja, biasa disebut Sang Maka Sakti Raja Gendeng 313. Kau telah bertindak gegabah. Terlalu jauh untuk mencampuri apa yang menjadi urusan kami.Mengapa kau berani berlaku lancang masuk ke dunia kehidupan kami?!"

Tanya mahluk itu dingin disertai tatapan tajam menggidikkan. "Siapa kau?"

Tanya pemuda itu sambil menatap ke empat mahluk itu silih berganti.

"Aku adalah Sapta Buana, yang disampingku bernama Rengga Buana. Disebelahnya Cakra Buana dan paling ujung bernama Sekti Buana. Kami adalah penguasa kawasan ini. Apa yang kau cari disini?" "Aku....aku sedang mencari orang yang selama ini telah melakukan berbagai pembunuhan dimalam munculnya bulan. Aku juga tidak bermaksud lancang dengan memasuki kawasan alam gaib ini."

Empat mahluk yang ternyata bersaudara itu saling tatap satu sama lain. Kemudian yang bernama Cakra Buana melangkah maju. Mewakili tiga saudaranya dia berkata,

"Tindakanmu memasuki wilayah kami saja sudah cukup memberi alasan pada kami untuk membunuhmu, Tapi kematianmu bisa ditunda. Satu pertanyaan yang harus kau jawab dengan sejujur jujurnya. Mengapa kau mencari gadis itu? Apa hubunganmu dengannya?!"

"Hubungan..."

Raja tiba-tiba jadi gagap.

"Katakan saja gusti adalah kekasihnya."

Tiba tiba Sinta memberi kisikan. Entah maksud gadis alam roh itu hanya bergurau atau sungguhan.

Yang jelas ketika Raja mengatakan sebagaimana yang disarankan Sinta.

Empat mahluk tiba-tiba dongakkan kepala. Dari mulut terdengar suara lolong raungan diikuti tawa dingin menggidikkan. Ditengah gelak tawa Sekti Buana berujar,

"Kau seorang pewaris tahta. Begitu kabar yang kami dapat dari alam gaib. Tapi mengapa kau begini bodoh? Nila Seroja yang di kenal dengan sebutan Perawan Bayangan Rembulan adalah gadis yang sangat benci pada manusia termasuk pada ayah ibunya sendiri, apalagi lagi lelaki muda seperti dirimu.Apakah otakmu sudah tidak berguna, dan jalan pikiranmu sempit. Dan satu hal yang harus kau ingat baik-baik. Mulutmu itu ternyata bicara ngaco!"

"Aku tidak berbohong!" Bantah Raja.

"Kau memang tidak berbohong, mungkin saja kau pura-pura jatuh hati kepadanya. Jadi jelas kau telah berdusta!"

Teriak Sekti Buana

"Kalau kau tidak percaya, hadapkan gadis itu padaku, Dia pasti mengatakan bahwa aku kekasihnya."

Tukas Raja.

Mulut berucap demikian namun didalam hati sesungguhnya dia tertawa.

Semua yang diucapkannya ini sebenarnya adalah untuk memancing sekaligus mencari tahu dimana keberadaan Perawan Bayangan Rembulan.

Dan ternyata Cakra Buana kemudian termakan ucapan sang pendekar, dengan berkata.

"Saat ini Nila Seroja tidak berada di alam gaib. Dia pergi sesaat setelah melihat kehadiranmu.

Kau tidak perlu tahu kemana dia pergi" "Yang jelas...!"

Belum sempat Cakra Buana selesaikan ucapan. sang pendekar memotong.

"Dia gentayangan lagi di dunia kehidupan manusia untuk membunuh. Dia telah membiarkan kalian menghabisi ibunya, kini mungkin saja dia mencari ayahnya."

"Kau tahu apa tentang ayahnya? Apakah kau tidak tahu ayahnya termasuk orang yang paling dia benci. Cepat atau lambat orang itu pasti dapat kami temukan karena kami sebenarnya mengenal siapa ayah Nila Seroja!"

Ujar Sapta Buana.

"Hm, kalau demikian mengapa kalian tidak mengatakannya padaku. Dengan demikian aku bisa membantu mencar ­ laki-laki yang menjadi penyebab Nila Seroja terlahir ke dunia ini."

"Pemuda tolol. Jangan pura-pura bersikap baik ingin memberi jasa setelah melakukan pelanggaran di tempat ini? Ketahuilah kami tidak menerima kebaikan manusia. Kami harus membunuh setiap manusia yang sepertimu!"

Teriak Sekti Buana marah.

Sang Maha Sakti Raja Gendeng 313 golang goleng kepala. Walau dia tidak merasa gentar menghadapi empat mahluk itu.

Tapi setelah mengetahui orang yang dia cari ternyata tidak lagi berada di tempat itu maka dia memutuskan harus segera keluar dari gerbang alam gaib itu.

Setelah berpikir sejenak sang pendekar akhirnya berkata,

"Wahai empat mahluk.Aku tidak punya silang sengketa dengan kalian. Jika aku dianggap melakukan kesalahan karena telah memasuki gerbang alam gaib yang menjadi wilayah kekuasaanmu, aku mohon maaf. Sekarang aku merasa tidak punya kepentingan lagi di tempat ini.Aku permisi!"

Raja mau berlalu...segera balikkan badan siap tinggalkan tempat itu. Belum sempat pendekar 313 ayunkan langkah.

Dibelakangnya terdengar suara raungan menggelegar yang dibarengi dengan menderunya hawa dingin luar biasa.

Laksana kilat Raja palingkan kepala ke belakang.

Dia melihat empat anjing hitam masing masing mengangkat dua kaki depan. Dari setiap mata mereka membersit cahaya merah.

Delapan cahaya yang keluar dari mata itu menderu disertai tebaran hawa dingin yang siap menembus delapan bagian tubuh Raja pada titik yang mematikan. Mendapat serangan ganas sedemikian rupa.

Tanpa pikir panjang lagi Raja melompat kesamping kiri lalu tubuhnya menyentuh tanah dia bergulingan menjauh dari delapan cahaya merah. api. Delapan cahaya luput dari sasaran.

Dua diantaranya menghantam batu nisan hingga hancur menjadi kepingan.

Tiga lainnya menghantam pohon besar hingga pohon berderak tumbang dalam keadaan di kobari

Tiga cahaya sisanya menghancurkan pohon kamboja berbunga merah yang tumbuh ditempat itu. Melihat lawan lolos dari serangan ganas, Sapta Buana dan Rengga Buana segera menyerbu ke depan.

Saat itu Raja yang baru saja berdiri tegak segera geser kaki kirinya ke belakang.

Sambil salurkan tenaga dalam dan mengalirkannya ke tangan dan kaki dia gunakan jurus Tarian Sang Rajawali.

Dua tangan dikembang, tubuh melenggang lenggok.

Kaki kanan kemudian diangkat ke atas ke kanan atau ke depan laksana ekor burung yang ditiup angin.

Kedua lawan menyerang Raja dengan kibasan cakar tajam yang mencuat dari ujung kakinya. Serangan ini dengan mudah dapat dihindari oleh Raja.

Sadar serangannya dapat dihindari oleh Raja, mereka merangsak kembali dengan gerakan menerkam. Mahluk yang bernama Sapta membuka mulutnya lebar-lebar.

Empat taring putih kemerahan mengincar batang leher pemuda itu. Sedangkan dua kaki depan menyambar siap merobek dada pendekar 313.

Disebelah bawah ancaman datang dari Rengga. Mahluk satu ini arahkan kuku-kukunya ke arah perut sedangkan mulutnya siap menggigit putus kaki lawan.

Tidak ingin celaka Raja melesat ke atas, dua tangan dihantamkan ke arah Sapta lalu dikibaskan ke bawah menangkis serangan Rengga.

Duuk! Rett!

Lengan Raja beradu keras dengan kaki Rengga.

Disebelah atas pukulan yang dilancarkan pemuda itu berhasil menghantam bagian moncong depan sang mahluk.

Sapta terdorong keras ke belakang.

Rengga terhuyung beberapa langkah namun tidak satupun dari keduanya mengalami cidera. Melihat ini Cakra dan Sekti tidak tinggal diam.

Disertai lolongan panjang keduanya menyerang Raja dari belakang. Melihat empat mahluk sakti menyerang dalam waktu bersamaan.

Sang pendekar semakin melipat gandakan tenaga dalam ke bagian tangannya.

Begitu jejakkan diri lalu menggunakan jurus Tangan Dewa Menggusur Gunung pemuda ini segera balikkan badan sambil dorongkan dua tangannya ke empat lawan sekaligus.

Empat cahaya berbentuk empat telapak tangan raksasa memancarkan cahaya putih berkilau laksana batu gunung yang dilontarkan, menderu membeset udara disertai gemertak mengerikan.

Mendahului melesatnya cahaya berbentuk tangan, ada cahaya panas luar biasa menebar membuat daun-daun pepohonan layu rontok menjadi bubuk. Melihat serangan lawan laksana gunung runtuh,

Empat mahluk sama berteriak

"Kunyuk gondrong itu ternyata bukan orang sembarangan, Dia hendak menghabisi kita dengan Tangan Dewa Menggusur Gunung. Jangan berlaku lengah. Kita hajar dia dengan ilmu ajian Bala Kiriman Alam Gaib!"

Teriak empat mahluk.Teriakan itu disertai dengan gerakan memutar tubuh. Empat mahluk berwujud anjing berputar seperti gasing.

Wuus!

Cahaya hitam legam menyelimuti diri mereka.

Gerakan berputar keempat mahluk itu disertai dengan melambungnya tubuh mereka ke atas. Lalu tubuh itu meluncur turun dengan kaki menjejak tanah.

Empat anjing besar kini berubah wujud menjadi empat mahluk hitam tinggi berpenampilan selayaknya manusia, namun mempunyai hidung pesek dengan dua lubang hidung yang demikian besar.

Ke empat mahluk jelmaan empat anjing besar ini lakukan gerakan seperti orang menari. Tubuh mereka miring ke kiri dan ke kanan.

Setiap tangan berpegangan dengan sesamanya.

Sementara dari mulut mereka yang hitam dengan gigi seukuran mata pisau terdengar suara racauan.

"Maut hitam maut putih. Yang bersemayam di delapan istana kesengsaraan. Kesesatan datang memanggil. Bunuh habisi manusia yang bernama Raja. Musnahkan raganya. Biarkan jiwanya menjadi budak kami Selama-lamanya.."

Suara racau dan ucapan lenyap.

Delapan tangan yang saling berpegangan terlepas.

Serentak mereka jatuhkan diri, lalu masing-masing tangan ditancapkan ke tanah.

Ketika kuku-kuku jemari menembus tanah, dari bagian atas kepala tepat di ubun-ubun membersit cahaya hijau angker disertai kepulan asap tebal yang bergulung-gulung mengelilingi tubuh mereka.

Pada waktu bersamaan serangan Raja berupa empat cahaya putih berkilau berbentuk telapak tangan raksasa yang terkembang menghantam tubuh mereka.

Buum!

Satu ledakan dahsyat mengguncang tempat itu. Tanah dan bebatuan serta batu-batu nisan hancur berpelantingan menjadi puing di udara. Raja sendiri sempat terdorong mundur sejauh tiga langkah.

Pemuda ini dibuat terperangah tercengang ketika melihat empat lawannya duduk. Ia keadan menjelepok di tanah dalam keadaan tidak kekurangan sesuatu apapun.

Raja sendiri merasa serangan sakti yang dilancarkannya seperti menghantam satu tembok baja yang tidak kelihatan.

"Astaga! Kekuatan apa yang melindungi mereka? Mengapa jurus saktiku tak sanggup menembus pertahanan mereka?!"

Batin Raja.

Tidak ada waktu bagi pemuda ini untuk berpikir lebih lama.

Terlebih saat dia melihat dari ubun-ubun empat mahluk hitam membersit cahaya biru menyilaukan.

Empat cahaya biru yang semula diperkirakan siap menyerang dirinya ternyata seperti kilat melesat ke langit.

Sesaat setelah empat cahaya mencapai ketinggian.

Dari delapan penjuru arah muncul cahaya benderang membentuk alur panjang seperti selendang.

Ketika delapan cahaya dengan warna yang sama menyatu dengan empat cahaya yang melesat dari ubun-ubun empat mahluk itu.

Terjadi getaran keras luar biasa disertai suara berdengung menyakitkan telinga.

Gabungan dari empat dan delapan cahaya itu kemudian berputar diudara membentuk arus pusaran angin topan dengan ekor lancip disebelah bawah dan mulut mirip corong raksasa disebelah atas.

Melihat pemandangan aneh luar biasa yang belum pernah disaksikan seumur hidupnya ini. Raja sempat tertegun.

Namun dia sadar inilah awal petaka mengerikan dari sebuah ilmu langka yang dipergunakan oleh empat lawannya.

Dugaan Raja Gendeng 313 ternyata memang tidak berlebihan.

Ketika empat mahluk hitam bangkit berdiri dan dongakkan kepala menatap ke arah pusaran angin topan biru.

Tiba-tiba saja mereka berlompatan ke arah Raja. Hanya dalam waktu sekejap Raja telah dikepung.

Sementara empat mahluk masing-masing acungkan jari telunjuk ke arah sang pendekar.

Mulut membuka lalu berseru ditujukan ke pusaran arus badai topan yang berputar sebat diatas ketinggian.

"Pembunuh dari delapan penjuru. Habisi pemuda gondrong didepan kami sekarang juga!" Seruan itu bergema merobek kesunyian malam. Pusaran angin menggemuruh menderu hebat ke tempat dimana Raja berdiri.

Melihat ekor pusaran angin melesat siap mencabik kepala hingga tubuh Raja disebelah bawah. Empat mahluk hitam sama berlompatan menjauh.

Dari jarak yang dianggap cukup aman mereka mengawasi. Sementara itu ketika merasakan ada hawa dingin luar biasa yang menekan tubuhnya dari sebelah atas.

Raja pun segera dorongkan tangannya ke atas melepas ilmu pukulan Badai Es dan pukulan sakti Badai Laut Selatan.

Tidak kalah dahsyat dari tangan kanan pemuda itu berkiblat cahaya putih disertai deru kabut dingin tebal.

Sedangkan dari tangan kiri Raja bergemuruh angin laksana topan mengamuk dilautan. Melihat ini empat mahluk terkesima.

Mereka sedikitpun tidak menyangka lawan ternyata memiliki lilmu hebat yang hampir sama dengan yang mereka miliki.

"Jarang sekali ada manusia mempunyai ilmu sebagaimana yang dimiliki pemuda itu." Kata Sekti Buana dengan suara tercekat ditenggorokan.

"Ilmu kesaktian apapun yang dia miliki, kita harus menghabisinya. Jika serangan yang pertama ini gagal membunuhnya kita serang dengan jurus yang lain!"

Dengus Sapta sinis.

Sementara itu disaat Raja Gendeng 313 menghantam serangan topan yang datang menghantamnya dari ketinggian, Sinta tiba-tiba saja berkata ditujukan pada Jiwa Pedang.

"Kita harus segera keluar dari hulu pedang. Paduka Raja nampaknya tidak mungkin menghadapi semua ancaman seorang diri. Kita serang saja empat mahluk jahanam yang berada disana."

"Aku memang memutuskan untuk keluar dari hulu pedang. Namun mencampuri urusan gusti Raja, saya mana berani. Aku takut gusti tersinggung karena campur tangan kita. Hayo kita keluar, tapi jangan jauh-jauh."

Kata Jiwa Pedang.

Dua mahluk alam roh itu kemudian melesat keluar tinggalkan hulu pedang.

Tapi belum jauh mereka meninggalkan pedang, tiba-tiba saja angin dingin luar biasa menyambar sekaligus menindih tubuh mereka. Kedua mahluk yang wujudnya tidak terlihat ini berusaha keras menahan hantaman angin yang dapat membuat wujud halus mereka hancur menjadi serpihan.

"Hantam!"

"Hancurkan ekor badai yang hendak menembus batok kepala gusti Raja!" Teriak Jiwa Pedang.

Tentunya suara mahluk alam roh ini hanya bisa didengar oleh Raja dan Sinta. Sementara itu empat mahluk hitam terlihat kebingungan. Mereka melihat bagaimana ekor badai yang hendak menembus batok kepala terguncang terombang-ambing hendak meledak.

Mereka tidak tahu bahwa selain pukulan Badai Es dan pukulan sakti Amukan Badai Laut Selatan yang dilancarkan Raja, Pada saat yang sama Sinta dan Jiwa Pedang juga menghantam pusaran angin topan itu dengan ilmu kesaktian mereka masing masing.

Cahaya putih yang disertai kepulan uap es terus menekan ke atas.

Dari tangan kiri menderu bergemuruh angin dahsyat tindih menindih, membuat kawasan di tempat itu hancur porak poranda

"Bunuh! Bunuh!"

Teriak empat mahluk hitam ditujukan pada pusaran topan itu.

Seiring dengan teriakan itu tiba-tiba muncul lagi empat pusaran angin baru.

Sekejap kemudian empat pusaran angin bergabung menyatu dengan pusaran angin raksasa.

Kekuatan tambahan itu membuat daya hantam pusaran angin yang menyerang Raja semakin bertambah besar.

Tubuh Raja Gendeng 313 bergetar dan mandi keringat, padahal hawa dingin disekitar demikian mencucuk.

Kedua kaki Raja pun dengan cepat amblas hingga sedalam lutut. "Kurang ajar! Mereka menggunakan ilmu setan!"

Gerutu sang pendekar. Kemudian pemuda ini berkata kepada dua jiwa yang menjadi sahabatnya, "Lakukan sesuatu! Hantam ekor pusaran angin yang bertengger diatas ubun-ubunku!"

"Paduka! Kami sudah melakukannya. Dan sekarang kami akan melakukan serangan secara penuh!"

Sahut Jiwa Pedang dan Sinta berbarengan.

Kedua mahluk alam roh ini kemudian melesat tinggi ke udara.

Setelah mereka mengambang didepan gemuruh angin menggidikkan, keduanya segera kibaskan kedua tangan ke depan.

Dua kekuatan dahsyat, namun tidak terlihat menderu, berkelebat laksana kilat menyambar memutus ekor pusaran angin biru yang menggilas kepala Raja.

Pada waktu bersamaan sang pendekar yang telah lipat gandakan tenaga dalamnya juga kembali dorongkan dua tangan ke atas melepas dua pukulan sakti susulan.

Wuues! Rerr! Gleger!

Satu ledakan keras berdentum mengguncang tempat itu, membuat kawasan yang dipenuhi bebatuan nisan itu tambah porak poranda. Raja berteriak keras.

Tanah yang dipijaknya terbongkar membuat sebuah kubangan seperti daun. Tubuh pemuda ini terlempar, mulut menyemburkan darah.

Walau tubuh disebelah luar yang terlindung pakaian sakti tidak mengalami cidera sedikitpun namun tubuh disebelah dalam serasa remuk.

Raja jatuh tergelimpang, sementara Sinta dan Jiwa pedang yang jungkir balik tak karuan akibat guncangan luar biasa hebat itu, akhirnya sama sama jatuh terduduk.

Dua mahluk dari alam roh ini sama berpandangan, nafas megap-megap.

Wajah pucat namun tidak terlihat lelehan cairan apapun dari mulut masing-masing. Segera saja setelah sama menghirup nafas dalam-dalam, keduanya pun bangkit berdiri.

Sekejab mereka menatap ke segenap penjuru sudut.

Terlihat empat mahluk hitam jelmaan empat anjing pembunuh bergelimpangan akibat guncangan yang ditimbulkan oleh ledakan.

Namun keempat mahluk kegelapan bernama Sapta, Rengga, Cakra dan Sekti ini dalam sekejab sudah tegak kembali.

Sambil membersihkan tubuhnya dari tanah yang melekat, keempat mahluk ini melangkah maju ke tempat dimana Raja Gendeng 313 berada.

Melihat ini Sinta segera lesatkan diri ke arah Raja.

Tidak mau kalah Jiwa Pedang juga melakukan tindakan yang sama. "Gusti, apakah gusti baik-baik saja!"

Tanya Jiwa Pedang yang saat itu telah berdiri menghadang empat mahluk yang menghampiri Raja.

Mendengar suara mengiang ittu, Raja yang sempat alirkan hawa murni kebagian luka disebelah dalam menyeringai.

"Aku! Aku dalam keadaan setengah baik dan setengahnya lagi tidak. Tapi aku merasa bersyukur masih bernafas hingga saat ini. Aku tahu kalian ada didepanku untuk melindungiku. Harap kalian menyingkir.Aku telah merasakan kehebatan empat mahluk itu. Dan aku akan menyelesaikan semua ini sampai tuntas!"

Kata Raja sambil mengerang. Sang pendekar kemudian bangkit. Wajahnya tampak kelam membesi. Ditatapnya wajah lawan satu demi satu. Sementara melihat lawan bicara seorang diri mereka pun saling berpandangan.

"Pemuda itu agaknya memang gila. Lihatlah dia bicara sendiri!" Kata Cakra Buana.

"Dia tidak gila." Sahut Sekti Buana. "Aku yakin dia memang tidak sendirian. Ada mahluk lain yang bersamanya dan tidak terlihat oleh kita. Mahluk itu telah membantu pemuda ini hingga serangan kita dapat dibuatnya musnah."

Timpal Sapta Buana pula.

"Sebagai mahluk alam gaib, bagaimana mungkin kita tak dapat melihat para pengacau sahabat kunyuk gondrong itu ?"

Tanya Cakra Buana dengan heran.

"Entahlah, Harusnya kita mencari tahu, tapi kita tidak ada waktu untuk menyelidik. Kita harus menghabisinya sekarang juga. Setelah urusan disini selesai kita bisa menyusul Nila Seroja sekaligus membantunya menemukan Bunga Anggrek Mayat!"

Ujar Sapta seolah mengingatkan.

Tiga saudaranya mengangguk tanda setuju. Setelah berada tidak jauh. Keempat mahluk hentikan langkah didepan Raja,

Sedangkan tidak jauh dari samping kanan kiri mereka, berdiri mengawasi dua sahabat Raja. "Aku sudah gatal tangan ingin menggebuk mahluk-mahluk hitam jelek itu."

Geram Jiwa Pedang sambil banting kakinya yang mengapung sejengkal diatas tanah.

"Jangan bertindak gegabah. Kalau tanganmu gatal mengapa tidak digaruk saja. Gusti Raja sudah berpesan agar kita jangan ikut campur dulu."

Jawab Sinta

"Bagaimana bila mereka melakukan pengeroyokan seperti tadi?"

Tanya Jiwa Pedang merasa tidak dapat menerima

"Kita lihat saja. Kalau gusti Raja dikeroyok sampai babak belur, baru aku tidak akan berdiam diri!"

Sahut Sinta sambil tersenyum "Gadis gelo, tolol."

Gerutu Jiwa Pedang.

Ditempatnya berdiri sang pendekar tiba-tiba saja berkata,

"Sekarang aku semakin bertambah yakin, memang kalianlah yang menjadi biang penyebab kekacawan selama ini. Aku jadi ingin tahu mengapa gadis itu suka membunuh tokoh-tokoh golongan putih? Apa salah dan dosa mereka?"

"Anak muda, siapapun dirimu seharusnya jangan mencampuri urusan kami. Kau tidak perlu menyalahkan Nila Seroja. Dia menjadi seperti itu karena orang-orang golongan putih selama ini selalu berpangku tangan, bersikap tidak perduli terhadap penderitaan yang di alaminya.Ketika aib menimpa ibunya semua urusan diserahkan pada Ki Demang. Hampir semua orang di kadipaten Salatigo takut pada kekuasaan Ki Demang.Dan satu lagi yang harus kau ketahui, Nila Seroja sangat benci pada ibunya karena Kunti Seroja telah berbuat aib yang memalukan itu." "Tetapi aib itu terjadi diluar kehendaknya. Kalian pernah mendengar tentang ilmu penakluk hati yang bernama Segala Rindu?"

Tanya sang pendekar sambil menatap lawannya satu demi satu.

Empat mahluk hitam bersaudara sama berpandangan, kemudian hampir bersamaan pula mereka anggukkan kepala.

"Siapa pemilik ilmu sesat celaka itu memang belum diketahui. Tapi kami sedang menyelidik.Karena kehamilan Kunti Seroja bukanlah perbuatan kepala penjaga yang bernama Sedayu.Tetapi karena ulah laki-laki lain. Kami sudah hampir mengetahui siapa orang itu, namun untuk menemukan keberadaannya tidak mudah."

Terang Rengga Buana.

"Hampir mengetahui, artinya kalian mencurigai seseorang. Kalau tidak keberatan boleh aku tahu siapa orang itu?"

"Sungguhpun kau menunjukkan itikad baik, tap ketahuilah kami tidak bersahabat dengan manusia. Terkecuali kau mau bergabung untuk menjadi kaki tangan kami! Bagaimana maukah kau menjadi pelayan kami?"

Tanya Sekti Buana disertai senyum dingin.

"Kurang ajar! Anjing hitam itu menghina raja kita!" Geram Sinta sambil kepalkan tinjunya.

"Ssst,jangan berisik. Penghinaan itu sama seperti angin busuk yang berlalu. Tidak melukai tapi hanya meninggalkan aroma yang tidak sedap."

Sahut Jiwa Pedang.

Kemudian tidak terduga dengan secepat kilat menyambar dia melesat.

Tangan kirinya menampar mulut Sekti Buana membuat mahluk satu ini terkejut. Mulut menyumpah tangan mengusapi bibirnya yang bengkak jontor.

"Keparat mana yang berani menampar mulutku!" Tanya Sekti Buana setengah berteriak.

Tiga temannya juga sama tersentak kaget. Sedangkan Raja yang tahu semua itu adalah perbuatan salah satu sahabat gaibnya, hanya tersenyum.

"Tidak terlihat siapapun. Namun pemuda itu memang tidak sendiri. Pasti yang menampar mulutmu adalah kawan sialan Raja gila itu!"

Jawab Sapta Rengga.

"Mahluk jahanam! Siapa kau? Bagaimana mungkin sesama mahluk alam gaib kami tidak dapat melihatmu?"

Geram Sekti Buana kalap.

Tidak ada jawaban. Hanya Raja seorang yang mendengar suara cekikikan. Hahahihi. Sementara itu dengan enteng Raja Gendeng 313 menyela,

"Makanya punya mulut harus dijaga, jangan suka bicara sembarangan. Ha ha ha" "Pemuda edan, katakan siapa temanmu? Mengapa dia tidak terlihat oleh kami?"

Hardik Cakra Buana jadi hilang kesabarannya

"Kau tidak dapat melihatnya, saudaramu yang lain juga? Mungkin saja matamu sudah lamur, belekan atau buta."

"Monyet satu ini sungguh kelewatan. Aku tidak akan memberinya ampun!" Dengus Rengga Buana kalap. Belum lagi gema suaranya lenyap.

Tiba-tiba saja Rengga Buana kibaskan tangan kanannya ke depan dengan satu gerakan menampar sekaligus mencakar.

Walau cakra Buana tidak beranjak dari tempatnya namun Raja dapat merasakan betapa satu gelombang angin keras melabrak dan mencakar wajahnya. Mendapat serangan aneh seperti itu Raja angkat tangan ke atas lalu mengayunkannya ke bawah.

Des!

Satu benturan keras terjadi. Rengga Buana terhuyung.

Sementara Raja merasakan lengan tangannya menjadi ngilu seperti membentur benda keras luar biasa.

Selagi sang pendekar meniupi lengannya.

Tiga lawan yang lainnya merangsak maju berbarengan menyerang Raja dengan pukulan bertubi-tubi disertai dengan dengan tendangan ganas.

Cahaya hitam, biru dan kuning menderu dari tangan ketiga lawan, sementara disebelah bawah tendangan keras datang bertubi-tubi.

Mendapat serangan seganas dan secepat itu. Raja hanya sempat menangkis tanpa sempat membalas, sehingga tendangan keras dan dua pukulan menggeledek menghantam punggung, dada dan juga kakinya.

Raja menjadi terjajar.

Selagi tubuhnya terhuyung, pada saat itu pula dari arah samping sebelah kiri satu pukulan telak mendarat di bahunya.

Sang pendekar jatuh terpelanting.

Mulut menyeringai, tangan kanan dekap bahunya yang serasa remuk.

Secepat kilat dia mengusap bahunya dengan menggunakan ilmu Pelenyap Luka Pembasuh Jiwa. Hanya dengan sekali usapan bahu yang cidera seketika sembuh.

Tapi belum sempat pemuda ini bangkit.

Empat mahluk hitam bersaudara itu telah melesat lagi ke arahnya sampil melepas pukulan ganas mematikan.  

Delapan cahaya merah kehitaman menderu ganas menyambar dari delapan arah disertai tebaran hawa panas yang luar biasa.

Sulit bagi Raja untuk bisa lolos.

Melihat kenyataan ini. Jiwa Pedang dan Sinta tidak tinggal diam.

"Kembali ke Pedang Gila! Bantu paduka Raja, biarkan aku yang akan mengacaukan perhatian empat mahluk jelek itu!"

Teriak Sinta ditujukan pada Diwa Pedang "Baiklah!"

Jawab Jiwa Pedang.

Selesai berkata mahluk alam roh ini lambungkan diri diketinggian. Belum sempat Jiwa Pedang melesat turun dekati Sang pendekar.

Pada saat itu, Raja telah menghunus senjata sakti Pedang Gila lalu diputarnya untuk menangkis delapan pukulan ganas yang melabraknya. Cahaya kuning menyilaukan menderu sebat menimbulkan guncangan serta tebaran hawa panas dan hawa dingin silih berganti.

Sampai akhirnya benturan keras pun tidak dapat dihindari lagi Buum!

Ledakan dahsyat kembali mengguncang tempat itu. Empat mahluk hitam berpelantingan.

Raja sendiri sempat mengalami guncangan namun berkat hawa sakti yang mengalir dari pedang serta aliran tenaga dalam yang melindungi dirinya membuat pemuda itu tidak mengalami cidera yang cukup berarti,

Akibat pengaruh ledakan yang luar biasa itu. Jiwa Pedang yang semula berniat kembali ke hulu pedang sempat terpental jauh ke atas.

Namun dia tidak mengalami luka, walau sempat tergetar. Berbeda dengan Sinta.

Sang jiwa perempuan yang tadinya berniat menyerang lawan dari belakang justru tidak sempat melakukan niatnya.

Gadis alam roh ini cepat melompat mundur ketika melihat Raja mengeluarkan senjata yang menjadi andalannya.

"Empat mahluk berpelantingan. Mudah mudahan saja gusti tidak mengalami sesuatu yang menghawatirkan. Kepulan asap dan debu-debu yang berterbangan ini menghalangi penglihatanku Jangan-jangan mereka. "

Batin Sinta.

Dia tidak melanjutkan ucapannya,lalu pandangi keadaan disekelilingnya. Tiba-tiba saja dia berseru,  

"Gusti...empat mahluk jelek itu nampaknya hendak angkat kaki dari sinit"

Apa yang dikatakan Sinta tidak berlebihan. Empat mahluk itu harus segera menyusul mendampingi Nila Seroja

Wuus!

Empat mahluk bersaudara raib dari pandangan mata. Jiwa Pedang dan Sinta hendak melakukan pengejaran.

Namun ketika mereka minta ijin pada sang pendekar, pemuda itu justru gelengkan kepala. "Tidak usah dikejar. Kita sudah tahu apa yang mereka cari."

Ujar Raja sambil masukkan kembali pedang ke dalam rangka yang tergantung dipunggungnya. "Tapi gusti. Empat mahluk jejadian tadi bisa menimbulkan malapetaka bila mereka dan Perawan

Bayangan Rembulan tetap berkeliaran di rimba persilatan!" Kata Jiwa Pedang.

Saat itu dia telah berdiri didepan Raja tak jauh dari Sinta.

"Tidak hanya Nila Seroja yang harus kucari, aku juga harus menemukan Ratu Siluman Buaya Putih yang menginginkan Anggrek Mayat."

Terang Raja membuat Jiwa Pedang terdiam "Lalu apa tindakan gusti selanjutnya?"

Tanya Sinta ingin tahu

"Kita harus keluar dari tempat ini. Kalian yang paling tahu bagaimana keadaan dialam gaib.

Karena itu bimbinglah aku menuju dunia kehidupan manusial"

"Baiklah, kalau itu memang keinginan gusti. Kami berdua setuju. Kita bisa keluar melalui pintu dimana kita masuk."

Ujar Jiwa Pedang.

Raja anggukkan kepala.

Dia lalu mendengar suara angin berdesir dan aroma tidak sedap makanan bercampur harumnya tubuh wanita.

Ke arah itulah langkah Raja tertuju.

Tidak lama melangkah, gerbang alam gaib ternyata telah berada di depan mata.

*****

Acara pemakaman Raden Salya dan kekasihnya Rara Sintren serta seorang abdi bernama Ki Bangor Wadung dilakukan dengan sangat sederhana namun hikmat.

Menjelang malam Adipati yang berusia hampir enam puluh tahun berpakaian dan berbelangkon lurik berkumis tipis itu memimpin rombongan perajurit dan pengawal kadipaten Salatigo.

Mereka menuju Manggar Glagah yaitu sebuah kawasan hutan yang menurut orang-orang kepercayaannya merupakan salah satu jalan keluar masuk yang sering dilewati oleh Perawan Bayangan Rembulan dan mahluk pengiringnya.

Sambil menunggang kuda putih berbulu lebat, adipati nampak berbincang-bincang dengan Bunga Jelita gadis cantik berpakaian cokelat.

Bunga Jelita adalah kemenakan adipati yang selama ini dipercaya sebagai pemimpin pasukan.

Dibelakang mereka ada seorang perempuan gemuk luar biasa berambut keriting mirip sarang lebah berpakaian kuning bernama Limbuk Ayu.

Disamping Limbuk Ayu duduk diatas kuda hitam seorang kakek berhidung mirip paruh burung bersenjata arit.

Kakek ini dikenal dengan nama Ki Bagus Lara Arang.

Sebagaimana telah diketahui, kedua orang ini adalah para pembantu kepercayaan adipati. Keduanya ditugaskan untuk mendampingi Bunga Jelita yang juga dikenal dengan sebutan Bunga

Kembang Selatan untuk melakukan berbagai tugas penting.

Dibelakang ke empat tokoh penting kadipaten mengiringi sedikitnya lima puluh orang pengawal berpakaian coklat bersenjata lengkap.

Sementara itu sambil menggebah kudanya, adipati Cakra Abiyasa membuka mulut berucap,

"Aku masih belum tahu maksud dari ratu siluman buaya putih itu membawa pergi Ki Demang Sapu Lengga. Sang ratu telah memintanya secara baik baik kepadaku."

"Mungkin karena Ki Demang punya hubungan sangat dekat dengan paman. Tapi saya mencium gelagat, ratu buaya putih memiliki tujuan yang sangat penting. Bisa saja Ki Demang mengetahui sesuatu rahasia yang sangat dibutuhkan oleh ratu."

Sahut Bunga Jelita yang sudah lama tidak menyukai KI Demang. Kening adipati berkerut. Belum sempat membuka mulut, nenek gendut dibelakangnya menyela,

"Maaf kalau aku dianggap lancang. Aku dan Ki Bagus Lara Arang adalah sahabat Ki Demang.

Dalam banyak masalah dia sering berterus terang. Jika benar Ki Demang menyimpan sebuah rahasia yang ingin diketahui Ratu Buaya putih, tapi rahasia mengenai apa?"

"Kurasa Ki Demang orang yang berhati lurus. Tapi siapa yang bisa menjajaki hati Ratu buaya.

Sejak Ki Demang dibawa oleh ratu buaya perasaanku tidak enak. Jangan-jangan..." Kata Ki Bagus Lara Arang pula.

"Hi hi hi. Kalian berdua sama saja. Aku mempunyai firasat Ki Demang bukan manusia suci, bukan pula orang tua berbudi luhur."

"Aku sependapat dengan nenek Limbuk Ayu tentang Ki Demang!"

Kata Adipati palingkan kepala ke arah Bunga Jelita. Pada sang kemenakan dia berucap, "Bunga, paman harap kau tidak curiga berlebihan." "Berlebihan apa maksud paman?!"

"Ucapanmu bahwa Ki Demang mempunyai rahasia penting yang tidak pernah diberitahukan pada kita itu sebagai sesuatu curiga yang berlebihan!"

Ucapan sang paman membuat dara cantik rupawan tersenyum.

"Saya tahu Ki Demang adalah sahabat paman dan sahabat nenek Limbuk Ayu juga Ki Bagus Lara Arang. Tapi walau saya bukanlah sahabatnya saya lebih tahu gerak-gerik dan tingkah laku Ki Demang."

Jelas gadis itu. Sambil terus menggebah kudanya Bunga Jelita melanjutkan,

"Saya mencium gelagat Ki Demang diam-diam menaruh rasa suka pada saya.. Ini bisa dibuktikan ketika saya bicara dengan pemuda yang bernama Raja. Saya melihat dia tidak senang tatap matanya juga menyiratkan rasa cemburu."

"Gila! Tapi Ki Demang sudah beristri." Sela Limbuk Ayu.

"Saya tahu. Rai Cempaka adalah istrinya yang sah. Tapi perempuan itu sudah mati... Dan berapa banyak istri gelapnya? Juga berapa banyak anak gadis yang menjadi korban kebejatannya? Saya menaruh curiga tidak tertutup kemungkinan anak yang dilahirkan oleh Kunti Seroja adik dari Rai Cempaka adalah anaknya. Anak dari hasil hubungan cinta hitam. Tapi kemudian dia menimpakan kejadian terkutuk itu kepada kepala penjaga kademangan."

"Kau bicara apa Bunga?"

Sentak adipati Cakra Abiyasa kaget tak menyangka keponakannya bicara seperti itu. "Gusti adipati yang diucapkan oleh pemimpin pengawal adalah fitnah yang paling keji yang

pernah saya dengar!"

Teriak Ki Bagus Lara Arang marah

"Sebagai sahabat kami tidak bisa menerimanya." Tukas Limbuk Ayu pula dengan mata mendelik.

Melihat kakek dan nenek gemuk tunjukkan kemarahannya. Adipati Cakra Abiyasa sontak tarik kekang kendali kuda. Lari binatang tunggangan sekonyong-konyong terhenti.

Melihat ini Bunga Jelita juga ikut hentikan kudanya.

"Gusti, kami mohon keadilan. Kami tidak suka sahabat kami difitnah. Bagi kami fitnah jauh lebih jahat dari penyakit ayan, eh maksud saya fitnah itu lebih keji dari pembunuhan."

Ujar Ki Bagus Lara Arang sambil hentikan kudanya.

"Saya ingin Bunga bisa membuktikan ucapannya. Jika tidak kami memutuskan akan menyudahi hubungan kita sampai disini saja." Ancam Limbuk Ayu pula.

Adipati terdiam. Dia menatap Bunga Jelita, nenek serta kakek yang berada dibelakangnya.

Dalam keadaan kacau seperti sekarang ini tentu adipati membutuhkan banyak tenaga untuk mengatasi persoalan besar yang mereka hadapi. Jika kedua orang itu memutuskan meninggalkan mereka, adipati bakal kehilangan dua tenaga penting.

Disisi lain selain menyayangi keponakannya, dia juga percaya pada kejujuran Bunga. Gadis itu tidak mungkin bicara sembarangan.

Apa yang diucapkannya berdasarkan bukti serta kenyataan. Mungkin saja Bunga melihat gerak-gerik Demang yang tidak beres.

Dan kecurigaan Bunga Jelita terhadap aib yang dialami Kunti Seroja pastilah bukan tanpa alasan.

Walau demikian satu yang disesalkan adipati.

Seharusnya Bunga tidak mengungkapkan semua yang menjadi ganjalan hatinya di depan kedua sahabat Ki Demang karena itu jelas menyakiti hati dan perasaan mereka.

Tidak ingin terjadi perpecahan diantara mereka, adipati pun segera berusaha menenteramkan suasana dengan berkata,

"Sahabat Limbuk Ayu dan Ki Bagus Lara Arang. Kalian jangan pergi. Saya harap kalian tetap bersatu dengan kami. Maafkan kelancangan Bunga, mungkin dia salah menilai orang. Percayalah tidak satupun diantara kita yang berniat merendahkan Ki Demang, apalagi dia sahabatku juga."

Ujar adipati.

Laki-laki ini kemudian alihkan pandang pada Bunga Jelita. Kepada kepala pengawal pasukan itu dia berkata,

"Bunga, harap kau minta maaf pada kedua sahabatku itu."

Sang dara menoleh, memandang ke arah kedua kakek dan nenek yang sedang menatapnya dengan sikap tidak senang.

Bunga berpikir buat apa minta maaf karena yang dikatakannya adalah benar.

Dan kedua orang itu memang manusia penjilat yang suka mencari muka demi keuntungan diri sendiri

"Bunga tunggu apa lagi!" Seru adipati kesal.

Dihardik begitu rupa sang dara malah tersenyum.

Belum lagi senyumnya lenyap tiba-tiba saja diketinggian langit diatas pucuk pepohonan menderu selarik cahaya merah kehijauan.

Cahaya itu meluncur deras ke bawah, menerobos melewati cabang dan daun-daun pohon di kanan kiri jalan. Melihat ini puluhan pengawal segera mengambil posisi siaga sambil menghunus senjata ditangan masing-masing.

Empat kuda tunggangan orang-orang penting kadipaten itu meringkik keras. Para penunggangnya berlompatan turun.

Sebagai pimpinan tertinggi adipati Cakra Abiyasa segera mengambil tindakan.

Sedangkan Limbuk Ayu dan Ki Bagus Lara Arang yang masih memendam rasa kesal diam berpangku tangan sambil memperhatikan keadaan.

Melihat cahaya merah kehijauan berbentuk lonjong pipih siap menghantam kudanya. Adipati segera menghantam cahaya itu dengan pukulan sakti Kilat Langit.

Tidaklah mengherankan ketika dua tangan dihantamkan ke atas.

Dari kedua telapak tangan Cakra Abiyasa menderu dua larik cahaya biru menebar hawa panas dan langsung menghantam cahaya merah kehijauan yang datang dari ketinggian langit.

Buum!

Suara dentuman menggelegar disertai kilatan cahaya.

Kemudian terdengar suara seperti pecahan batu berhamburan jatuh menimpa dedaunan kering. Pecahan batu yang panas itu langsung membakar dedaunan.

Dan yang terakhir satu lempengan benda putih selebar dan seukuran telapak tangan orang dewasa jatuh persis di depan adipati dalam keadaan mengepulkan asap putih tebal disertai aroma bau harum stanggi.

Tidak hanya adipati, Bunga Jelita, nenek Limbuk Ayu dan Ki Bagus Lara Arang juga menatap pecahan benda yang jatuh di depan pimpinan mereka.

Sementara para pengawal lebih memperhatikan keadaan disekitar berjaga-jaga dari setiap ancaman yang datang.

Kepulan asap dan tebaran aroma stanggi lenyap.

Tanpa menyentuh adipati bungkukkan badan mencoba mengenali benda itu lebih seksama. "Pecahan batu nisan? Bagaimana bisa jatuh dari langit?"

Gumam sang adipati dengan suara parau bergetar

"Perawan Bayangan Rembulan! Pasti dia yang melakukan ini! Gadis itu ada disekitar sini!"

Seru Bunga Jelita yang sudah sangat mengenali tandatanda kehadiran gadis yang sangat ditakuti karena kekejamannya itu.

Ki Bagus Lara Arang usap tengkuknya yang mendadak terasa dingin. Limbuk Ayu meludah sementara darahnya sempat berdesir.

Adipati Cakra Abiyasa menggumam namun cepat layangkan pandang ke segenap penjuru.

Para pengawal saling pandang, namun segera angkat pelita ditangan kiri tinggi-tinggi, mata dipentang mengawasi. "Tidak ada suara lolongan anjing. Biasanya mahluk-mahluk jahanam pengiringnya muncul lebih dulu untuk membuka jalan!"

Terdengar suara Ki Bagus memecah ketegangan. "Tapi aku merasakan dia berada disekitar sini"

Sahut Bunga Jelita dengan suara perlahan namun jelas. Adipati Cakra Abiyasa yakin pemimpin pengawalnya tidaklah berdusta. Karena itu dia hendak mengajukan pertanyaan. Belum sempat adipati bertanya.

Tiba-tiba terdengar suara gelak tawa melengking disertai lolongan. Walau telah bersikap waspada suara lolongan itu tak urung membuat setiap orang terkesima.

"Apa yang kalian ributkan? Membicarakan masa lalu orang yang kelam dan hitam adalah sebuah aib serta kesalahan yang tidak dapat dimaafkan. Dan kalian semua pantas mati ditanganku!"

Kata satu suara sesaat setelah suara tawa dan lolongan lenyap. "Siapa kau? Mengapa tidak segera tunjukkan diri?!"

Hardik Limbuk Ayu tidak sabaran.

"Nenek gendut tolol, apa matamu sudah buta? Aku berdiri disini sejak tadi bagaimana kau tidak bisa melihatku?"

Walau marah dirinya dikatakan gendut tolol, tak urung dikuti oleh yang lainnya Limbuk Ayu menatap ke arah datangnya suara.

Kini dia melihat diatas sebatang pohon doyong berdiri tegak seorang perempuan berambut panjang riap-riapan berpakaian hitam dilapisi dedaunan hijau yang dirajut sedemikian rupa.

Wajah gadis itu tidak terlihat jelas karena terlindung selembar topeng tipis berwarna putih kecoklatan.

"Kalian mencariku, semua orang mencari diriku. Andai saja kalian sadar seumur hidup kalian pasti tidak suka bertemu denganku!"

Kata gadis diatas batang pohon dingin. "Gadis setan!"

Membentak Ki Bagus Lara Arang dengan mata mendelik garang. Gadis berpakaian hitam yang sebelah luarnya ditambal dengan rajutan daun, menyeringai. Tapi dia tidak terpancing atau menjadi marah termakan ucapan orang.

"Banyak malapetaka yang kau timbulkan, tidak sedikit yang telah menjadi korbanmu.

Tokoh-tokoh golongan putih kau bunuh, diantaranya adalah dua pemimpin padepokan Tiga Guru. Belakangan kau juga menghabisi Raden Salya, kekasihnya juga seorang abdi. Mengapa kau melakukan semua ini?"

"Tua bangka bernama Bagus Lara Arang. Dengar baik-baik ucapanku ini! Yang putih tidak selamanya terlihat putih. Mereka semuanya orang yang patut mati. Begitu juga dengan kakek yang bernama Resi Cadas Angin dan Nini Buyut Amukan yang kalian kenal dengan sebutan Si Jubah Terbang. Karena aku hadir kedunia akibat perbuatan terkutuk dan nista, maka orang yang telah membuatku terlahir ke dunia harus mati! Ibuku Kunti Seroja yang bodoh dan menjadi gila telah menemui ajal ditangan para sahabat yang juga pembimbingku. Tapi masih ada satu orang lagi yang paling bertanggung jawab atas kelahiranku. Dan orang itu patut dibunuh dengan seribu tusukan pedang!"

Jawab Perawan Bayangan Rembulan dingin.

Walau tercengang tak menyangka pembunuh berdarah dingin itu tega membunuh ibu kandungnya sendiri.

Tapi ucapan sang dara tentang orang yang paling bertanggung jawab atas aib yang menimpa ibunya menimbulkan tanda tanya tersendiri dihati adipati Cakra Abiyasa.

"Anak gadis apakah kau punya nama?"

"Hik hik hik! Adipati, kau bukan sanak bukan kadangku, perlu apa kau tahu namaku?" "Perempuan iblis, apakah kau tidak bisa bicara sedikit sopan pada gusti adipati?!"

Teriak Limbuk Ayu yang merasa marah melihat cara Perawan Bayangan Rembulan bicara dengan adipati.

Tapi gadis itu bersikap acuh.

Sang dara yang bernama Nila Seroja ini lalu sebutkan namanya.

Setelah mengetahui nama orang, adipati kemudian ajukan pertanyaan lagi.

"Tadi kau mengatakan ada satu orang yang paling bertanggung jawab atas kehadiranmu di dunia ini. Kau juga mengatakan akan membunuhnya dengan seribu tusukan pedang.Kalau boleh tahu, siapakah orang yang kau maksudkan? Apakah orang itu ada diantara kami?!"

Pertanyaan sang adipati membuat Ki Bagus Lara Arang diam-diam menjadi heran.

Seumur hidup selain mencari keuntungan untuk diri sendiri, dia merasa tidak pernah melakukan perbuatan keji pada perempuan atau wanita manapun.

Ditempat itu hanya dia dan adipati yang lelaki,

"Lalu apa maksud pertanyaan penguasa kadipaten Salatigo itu?"

"Adipati, sesungguhnya kejahatan bermula dari sebuah kesalahan, keinginan yang disertai nafsu terkutuk. Sifat seperti itu kulihat tidak terdapat pada dirimu, juga tidak pada pemimpin pasukanmu yang cantik rupawan itu. Orang yang kucari dan kuduga menjalin hubungan cinta hitam dengan Kunti Seroja yang mau tidak mau harus harus kuakui sebagai orang yang telah melahirkan aku, saat ini memang tidak bersama kalian."

Tapi beberapa waktu yang lalu jelas dia selalu bersama kalian.

"Ki Demang.... Ki Demang Sapu Lengga. Apakah dia orang yang kau maksudkan itu?" Sentak Bunga Jelita yang segera saja ingat dengan sikap Ki Demang yang mencurigakan. "Bunga, kau bicara apa? Kuharap kau tidak lagi menyinggung Ki Demang yang membuat dua sahabat yang bersama kita jadi tersinggung!"

Bentak adipati Cakra Abiyasa sambil melirik ke arah Limbuk Ayu dan Ki Bagus Lara Arang.

Ketika Bunga menyebut nama Ki Demang, Perawan Bayangan Rembulan berjingkrak namun sepasang mata dibalik topeng mendelik nyalang.

"Manusia jahanam satu itu mengapa bisa mendapat simpati dihati adipati? Atau kalian mengira keparat satu itu adalah manusia suci, orang baik baik berjiwa polos."

Kata sang dara ditujukan pada adipati, Limbuk Ayu juga Ki Bagus Lara Arang.

Jika adipati dapat bersikap sabar mendengar ucapan orang sebaliknya kakek dan nenek gemuk jadi tersinggung.

Ki Bagus Lara Arang malah melompat maju, mendahului si nenek dia berteriak,

"Gadis iblis! Mulutmu kelewat berbisa. Berani kau menghina Ki Demang Sapu Lengga berarti sama dengan menghina kami."

"Hik hik hik! Aku bicara kenyataan. Apa yang dikatakan oleh kepala pengawal kadipaten juga merupakan kenyataan. Ki Demang memang manusia jahanam. Dimana keparat itu sekarang berada? Mengapa dia tidak bersama kalian?"

Tanya sang dara dingin.

"Dimana Ki Demang berada itu bukan urusanmu, Nila Seroja," Jawab Adipati.

"Walau kau telah melakukan banyak pembunuhan, namun aku masih bisa memberimu pengampunan asalkan saja kau segera angkat kaki dari hadapanku dan berjanji tidak akan membunuh lagi!"

"Gusti, mengapa kau bicara seperti itu? Untuk semua dosa-dosanya dia pantas dibunuh sepuluh kali!"

Sentak Limbuk Ayu merasa tidak senang mendengar ucapan sang adipati.

"Aku juga lebih memilih berkelahi dengannya sampai mati dari pada membiarkannya melenggang bebas!"

Teriak Ki Bagus Lara Arang pula merasa tidak terima. Belum sempat Adipati bicara.

"Dua manusia bodoh yang sudah bosan hidup. Aku berjanji bakal mempercepat kematian kalian."

Kata Nila Seroja ditujukan pada kakek dan nenek. Kemudian pada adipati sekali lagi sang dara ajukan pertanyaan

"Katakan padaku dimana Ki Demang Sapu Lengga!"

"Mengapa kau mencarinya? Dia dijemput dan dibawa oleh Ratu Siluman Buaya Putih!" Sahut Bunga Jelita. Dalam keremangan yang hanya diterangi oleh cahaya bulan sebelas jari. Wajah yang terlindung Topeng Pemasung Jiwa itu sontak berubah kelam.

Topeng tipis itu juga memancarkan cahaya coklat, merah dan hitam berkilau

"Ratu sialan itu.Dia pasti membawa Ki Demang karena orang tua itu mengetahui keberadaan puteri Manjangan Putih.Hanya puteri Manjangan Putih yang dianggap paling mengetahui tempat bertumbuhnya Bunga Anggrek Mayat. Ratu bodoh, kelak dia akan tahu siapa yang lebih pintar dan siapa yang lebih dulu mendapatkan tanaman bunga langka itu. Ratu siluman buaya, kau tidak akan bisa melenyapkan kutukan dewa, selamanya kau akan tetap menjadi ratu buaya. Kau tidak bakal pernah bisa menjadi bidadari lagi. Kau bakal tinggal di dunia ini selamanya dan tak bakal bisa kembali ke kayangan."

Batin Nila Seroja.

Sang dara yang ternyata cukup banyak tahu riwayat kehidupan ratu siluman buaya putih itu kemudian menatap ke depan.

Saat itu puluhan pengawal, setelah mendapat isyarat dari adipati nampak bergerak mengepung dirinya.

Melihat semua ini Nila Seroja menyeringai.

Dia lalu melirik ke arah Bunga Jelita sekilas, lalu berkata kepada dara jelita itu. "Perintahkan pada anak buahmu untuk menjauhiku!"

"Dia tidak punya kuasa apa-apa lagi untuk memerintah pengawal kadipaten, Mulai saat ini aku yang akan memimpin langsung semua pasukan!"

Tukas adipati Cakra Abiyasa.

Ucapan itu bukan hanya membuat Bunga Jelita tersentak terperangah.

Perawan Bayangan Rembulan yang berdiri dibatang pohon juga diam diam menjadi heran. "Mengapa paman bicara seperti itu?!"

Tanya Bunga Jelita dengan suara bergetar dan tatap mata tidak percaya.

Adipati Cakra Abiyasa tidak menjawab. Sebaliknya dengan suara lantang pada puluhan perajurit bersenjata yang telah mengepung Nila Seroja, dia berseru.

"Tangkap Perawan Bayangan Rembulan! Bila dia melawan bunuh!"

Seruan itu disambut gegap gempita para pengawal. Tanpa berpikir panjang lagi mereka segera menyerbu ke arah pohon miring dimana lawan berada.

"Hihihi! Tanpa rembulan, malam seharusnya dalam keadaan gelap gulita. Dengan rembulan seluruh kekuatan menyatu dengan jiwaku. Dalam Bayangan rembulan kuasa kegelapan mengobarkan amarah dan nafsu membunuh. Yang hina terlahir bukan dari kehendak diri sendiri. Segala hasrat menjadi laknat tanpa cinta tulus dan putih. Tiada kebaikan dalam kejahatan, tiada kejahatan dalam kebaikan. Maka barang siapa yang kubenci dan berpihak pada orang yang kudendam, sekaranglah saat yang tepat bagi ajal dan kematian baginya."

Selesai berucap demikian sang dara segera lakukan gebrakan dengan memutar tubuh ke kiri lalu kibaskan kedua tangan ke arah para penjaga yang menyerang ke arahnya.

Puluhan senjata yang menghujam tubuh Nila Seroja memang tidak ubahnya seprti curah hujan lebat.

Senjata menderu siap menghunjam disetiap bagian tubuh gadis itu.

Serangan itu masih disusul dengan tendangan yang mengarah ke bagian kepala, dada juga punggungnya.

Tapi apa yang terjadi kemudian sungguh sesuatu yang sangat diluar perhitungan adipati dan semua mata yang menyaksikannya.

Sepuluh perajurit pengawal rata-rata memiliki ilmu kesaktian cukup tinggi dibuat jatuh terpelanting terkena sambaran tangan Nila Seroja.

Tubuh serta bagian wajah yang terkena sambaran kuku-kuku jemari sang dara terluka parah. Luka-luka itu segera berubah biru lalu menghitam.

Pengawal yang menjadi korban keganasan Nila Seroja berteriak kesaktian namun teriakan mereka lenyap begitu nafas terputus.

Melihat sepuluh pengawalnya menjadi korban, adipati Cakra Abiyasa tercengang. Dari mulut terdengar ucapan.

"ilmu Racun Iblis... bagaimana dia bisa memilik ilmu hantu itu?" Desisnya.

"Seperti yang aku katakan, dia memang pantas dibunuh berulang kali karena kekejiannya!"

Seru nenek Limbuk Ayu

"Aku juga sudah gatal tangan ingin mematahkan lehernya! Selama dia masih hidup, aku tak akan bisa hidup tenteram!"

Kata Ki Bagus Lara Arang tak kalah sengit.

Bunga Jelita yang berdiri tak jauh dari kedua kakek dan nenek itu diam membisu.

Dalam diam dia bersikap waspada dari segala kemungkinan yang tidak diinginkan. Sementara itu mendengar ucapan Limbuk Ayu dan Ki Bagus Lara Arang.

Nila Seroja tiba-tiba melesat ke atas, lalu dari ketinggian dia kembali menghantam para pengawal yang mengeroyoknya dengan dua pukulan ganas mematikan.

Melihat dua larik cahaya merah menderu laksana luapan gelombang laut menggila.Bunga Jelita berteriak ditujukan pada para perajurit sambil berusaha selamatkan mereka dengan dorongkan kedua tangannya menangkis.

"Berpencar! Cari tempat yang aman"

Teriakan itu disusul dengan menderunya segulung cahaya biru dari kedua telapak tangan Bunga Jelita. Para perajurit pengawal berlarian selamatkan diri. Tapi beberapa diantaranya tidak sempat menghindar.

Tidaklah heran ketika pukulan sakti yang dilepaskan oleh Nila Seroja beradu keras dengan pukulan yang dilepaskan Bunga Jelita, terdengar suara dentuman menggelegar disertai guncangan yang sangat keras luar biasa, Belasan pengawal berpentalan ke berbagai arah dalam keadaan terluka parah dan sebagian diantaranya menemui ajal.

Bunga Jelita sendiri yang juga dijuluki Bunga Kembang Selatan jatuh terjungkal dengan sekujur tubuh terasa seperti terbakar sementara tubuh disebelah dalam seperti remuk.

Gadis ini segera merangkak bangkit, duduk bersila untuk menghimpun kekuatan untuk menyembuhkan cidera didalam.

Selagi pemimpin pengawal kadipaten itu berusaha memulihkan diri.

Pada saat yang sama Nila Seroja telah berada di atas kepala Limbuk Ayu dan Ki Bagus Lara Arang.

Laksana elang kelaparan gadis ini menyambar ke arah kedua kakek nenek itu sambil hantamkan kaki dan ayunkan kedua tangan kebagian bahu dan kepala lawan.

"Kau hendak membunuhku berulang kali!"

Seru Nila Seroja ditujukan Limbuk Ayu. Kemudian pada Ki Bagus dia berteriak,

"Kau hendak mematahkan leherku! Hik hik hik! Apakah kalian mampu melakukannya? Melukai diriku pun kalian tak bakal bisa!"

Belum lagi suara Nila Seroja lenyap, tiba-tiba kedua kaki dan tangannya terjulur memanjang sedangkan dari setiap kuku jemarinya mencuat kuku panjang runcing dan berwarna kehitaman pertanda kuku-kuku itu mengandung racun yang ganas.

Merasakan sambaran angin dingin menderu dibagian bahu dan kepala.

Limbuk Ayu cepat melompat mundur, rundukkan badan sekaligus kibaskan tangannya ke atas, Hawa panas luar biasa disertai berkiblatnya cahaya biru melesat dari telapak tangan si nenek.

Tidak mau bersikap ayal, ternyata Limbuk Ayu pergunakan pukulan sakti Menyapu Badai. Wuus!

Dherr!

Sekali lagi kawasan tempat itu diguncang satu ledakan keras membuat pepohonan hancur bertumbangan, sebagian diantaranya hangus terbakar sementara sedikitnya lima pengawal tewas menemui ajal dalam keadaan hangus terpanggang.

Limbuk Ayu jatuh terduduk.

Tubuh disebelah atas serasa remuk, nafas megap-megap sedangkan dari bagian kepala belakang mengucur darah hitam kemerahan.

Ketika si nenek mengusap lelehan darah dan memperhatikan tangan yang berlumur darah kejut dihati si nenek bukan alang kepalang.

"Gadis jahanam itu! Bagaimana mungkin dia masih bisa melukai diriku!"

Desis si nenek dengan mata terbeliak tidak percaya. Luka menganga dikepalanya tidak menimbulkan rasa sakit yang luar biasa.

Dan dia menyadari luka itu mengandung racun jahat.

Dengan kesaktian serta pengalaman yang dimiliki rasanya sangat mengherankan bila dia dapat dilukai dengan semudah itu.

Selagi adipati Cakra Abiyasa dibuat terpana dengan kecepatan Nila Seroja saat menyerang. Selagi Limbuk Ayu berusaha memusnahkan racun ganas dalam lukanya.

Ki Bagus Lara Arang justru tengah berusaha keras menghindar sekaligus membalas serangan kuku-kuku lawan yang menderu siap menyambar lehernya.

Rupanya setelah melihat nasib yang dialami Limbuk Ayu sahabatnya. Ki Bagus tidak mau mengulang kesalahan yang dilakukan nenek itu.

Tanpa banyak pertimbangan dia segera pergunakan celurit besar yang tergantung dipinggangnya.

Ketika sepuluh kuku berkelebat, celurit besar diayunkannya ke atas lalu dia babatkan kesamping ke bagian kedua tangan sang dara.

"Hi hi hi! Dengan senjata butut itu kau hendak membunuhku!" Teriak Nila Seroja.

Dua tangan tibatiba ditarik seiring dengan gerakan melambungkan diri ke atas. Serangan celurit yang menderu hanya mengenai tempat kosong.

Si kakek yang penasaran segera genjot tubuhnya. Begitu badan si kakek melambung menyusul lawan.

Dia lepaskan satu pukulan tangan kosong mengandung tenaga dalam tinggi yang disusul dengan serangan celurit yang menabas ke bagian pinggang lawan.

Satu yang tidak disadari oleh Ki Bagus Lara Arang.

Saat si kakek mengejar lawannya, Diam-diam Nila Seroja alirkan hawa sakti ke bagian topeng yang melekat diwajahnya.

Topeng yang semula nampak biasa-biasa saja tiba-tiba memancarkan cahaya redup angker menggidikkan.

Kemudian dengan gerakan cepat si gadis balikkan badan lalu hadapkan wajahnya ke arah lawan yang berada satu tombak dibawahnya.

"Ki Bagus awas serangan!"

Teriak Adipati setelah melihat keanehan terjadi pada topeng itu Si kakek terkejut. Tapi dia yang tidak tahu bahaya besar yang ditimbulkan pada topeng malah terus lanjutkan serangan.

Sess!

Pukulan tangan kosong yang seharusnya menghantam tubuh Nila Seroja tak disangka-sangka tersedot amblas ke dalam topeng.

Kemudian dari permukaan topeng membersit cahaya merah hitam dan biru.

Cahaya itu bergulung-gulung laksana mata bor menyambar ke arah celurit sekaligus tubuh pemiliknya.

Dalam keadaan mengapung diketinggian sulit rasanya bagi kakek ini untuk menghindar apalagi selamatkan diri.

Sekejab itu juga Ki Bagus Lara Arang tergulung deru cahaya topeng. Dalam keadaan diri laksana digulung pusaran angin topan.

Ki Bagus berusaha menyelamatkan diri dengan mengerahkan seluruh tenaga sakti yang dia miliki.

Sementara Limbuk Ayu yang berusaha untuk menolong justru jatuh terjengkang terkena sambaran hawa panas yang memutar tubuh Ki Bagus.

Bersusah payah Limbuk Ayu mencoba bangkit berdiri, tapi akibat pengaruh racun yang menjalar disekujur tubuhnya membuat orang tua ini urungkan niat namun tetap berlaku waspada.

Pada kesempatan itu adipati yang melihat apa yang dialami oleh Ki Bagus segera menghantam dengan pukulan sakti ke bagian tengah cahaya yang menggilas tubuh si kakek.

Hebatnya serangan yang dilancarkan adipati buyar ditengah jalan malah sebagian pukulan berbalik menyerang sang adipati sendiri dengan kekuatan berlipat ganda.

Adipati Cakra Abiyasa segera melompat kesamping jatuhkan diri. Terdengar letusan keras berdentum.

Adipati selamat namun beberapa pengawalnya kembali meregang nyawa akibat terkena ledakan. Laki-laki setengah baya itu cepat bangkit berdiri.

Memandang ke depan dia melihat Ki Bagus Lara Arang keluarkan raungan kesakitan. Darah mengucur dari mulut, telinga, hidung dan matanya.

Jeritan si kakek terputus.

Tubuhnya kemudian terhempas persis di depan Limbuk Ayu dalam keadaan hangus mengepulkan asap menebar bau daging terbakar.

Menyaksikan kematian Ki Bagus Lara Arang, para pengawal yang hanya bersisa beberapa orang saja nyalinya jadi ciut.

Penuh rasa takut mereka tinggalkan tempat itu. "Hei, kalian hendak kemana?!" Ayu Seru Bunga Jelita memanggil sisa pengawalnya agar kembali.

Namun tak satupun diantara pengawalnya yang menghiraukan seruan pimpinannya. Sementara itu setelah menghabisi Ki Bagus Lara Arang.

Nila Seroja melayang turun lalu jejakkan kaki tak jauh didepan adipati, Bunga Jelita juga Limbuk

"Kalian semua mengira dapat menghabisi aku semudah membalikkan telapak tangan!" Kata gadis itu sinis.

Bunga Jelita yang baru sembuh dari luka yang dia derita membuka mulut,

"Kau sangat hebat. Kesaktianmu tinggi sekali. Sayang semua kekuatan yang kau miliki dipergunakan untuk jalan yang salah. Kau pembunuh berdarah dingin yang haus darah. Jika kau ingin menghabisi kami semua mengapa tidak segera kau lakukan!"

Kata gadis itu sambil diam diam menyiapkan beberapa kuntum bunga selatan yang selama ini merupakan senjata rahasia yang paling diandalkannya.

Diluar dugaan Nila Seroja menjawab,

"Gadis cantik jelita. Agaknya aku tidak bakal membunuhmu. Aku yakin kau tidak berpihak pada tua bangka bernama Ki Demang Sapu Lengga. Tapi kedua orang itu, adipati dan nenek gendut sialan itu jelas sahabat dekatnya. Karena itu mereka orang-orang yang patut kiranya untuk dihabisi!"

"Tapi adipati adalah pamanku."

Tukas Bunga Jelita. Nila Seroja tersenyum dingin.

"Seandainya dia ayahmu, akupun tidak akan segan-segan menghabisinya!!" Jawab sang dara ketus.

"Kalau begitu kau juga harus membunuhku!"

Tegas Bunga Jelita membuat adipati merasa terharu. Bagaimanapun dia tidak ingin melihat Bunga celaka. Itulah sebabnya sang adipati berkata,

"Bunga, lebih baik kau menyingkir. Kau tidak perlu lagi melibatkan diri dalam urusan ini. Aku tidak ingin kau celaka. Ki Demang sahabatku juga sahabat nenek itu, tapi jelas dia bukanlah sahabatmu!"

"Paman!"

Berkata Bunga Jelita ditujukan pada sang paman.

"Mungkin kita punya pandangan dan pendapat yang berbeda. Dalam banyak hal terlebih menyangkut Ki Demang Sapu Lengga. Paman menganggapnya sebagai orang baik-baik, tapi aku berpendapat sebaliknya karena aku sering bersamanya. Diluar semua perbedaan itu, aku tidak mungkin membiarkan paman mengadapi kesulitan seorang diri. Karena itu aku tetap memutuskan disini dalam keadaan sesulit apapun."

Setelah berucap demikian Bunga Jelita segera mencabut pedang yang tergantung dipinggangnya. Karena Bunga salurkan tenaga dalam kebagian hulu pedang terlihatlah pedang itu pancarkan cahaya putih berkilau.

Melihat Bunga Jelita berlaku nekat, Nila Seroja tersenyum.

"Aku tidak menghendaki kematiannya. Entah mengapa aku merasa suka dengan sikap gadis jelita yang satu ini. Tapi apa boleh buat, jika dia terlalu memaksa aku akan mengambil tindakan tegas!!"

Batin Perawan Bayangan Rembulan.

Sementara melihat Bunga merangsak maju. Nenek gendut Limbuk Ayu yang menderita hebat akibat keracunan tiba-tiba melompat bangkit.

"Gadis ingusan! Kau tidak layak bergabung dengan kami apalagi berniat menghabisi gadis itu.

Dia bagianku. Siapa saja yang mencoba membantah maka dia akan kubunuh!" Ancam si nenek.

Ucapan Limbuk Ayu ini sebenarnya membuat adipati merasa tersinggung, namun demi memuaskan hati nenek itu adipati segera melangkah maju hampiri Bunga Jelita dan menariknya ke tempat aman.

"Terima kasih kalian mau menghormati keputusanku!" Kata Limbuk Ayu disertai seringai buruk.

Bunga dan pamannya saling tatap, namun mereka tidak mengucapkan barang sepatah katapun.

Sementara itu Limbuk Ayu sudah mencabut senjata andalannya berupa sebuah kipas terbuat dari perak.

Senjata ditangannya itu tentulah bukan senjata biasa.

Kedahsyatan kipas peraknya membuat nama besar Limbuk Ayu cukup disegani dipesisir pantai utara.

"Dengan kipas butut itu kau hendak menghabisi aku, nenek gemuk jelek!" Kata Nila Seroja sambil tatap kipas ditangan lawannya.

"Pembunuh keji, jangan banyak bicara. Terimalah ajalmu!" Teriak Limbuk Ayu.

Sebelum gema teriakan si nenek lenyap.

Dengan gerakan ringan seolah kapas tubuh gemuk gendut itu berkelebat ke arah Nila Seroja.

Si nenek mengawali serangan dengan tendangan menggeledek ke arah pinggang sambil lepaskan satu jotosan dengan tangan kiri.

Angin dingin bersiutan menyertai tendangan dan jotosan.

Tapi jotosan Limbuk Ayu dapat ditepis sedangkan tendangan yang seharusnya menghantam remuk pinggang lawan hanya mengenai rajutan daun sebelah luar yang melekat di pakaian hitam Nila Seroja.

Plak! Breet!  

Si gadis terhuyung.

Rajutan daun pelapis pakaian disebelah dalam robek besar, membuat perut sang dara tersingkap terbuka.

Sadar pakaian kesayangannya kena dibuat robek oleh si nenek gendut. Nila Seroja gusar bukan main.

Tapi belum sempat dia merangsak maju membalas serangan Limbuk Ayu. Lawan telah berada di depan mata sedangkan kipas di tangan menderu.

Sesaat lagi kipas perak itu menyambar topeng yang menutupi wajah, senjata maut ini tiba tiba membuka.

Sret!

Terbukanya kipas mengeluarkan angin menderu, sementara setiap ujung kipas yang runcing bergerigi laksana mata tombak menghujam.

Melihat serangan ganas itu Nila Seroja sentakkan wajahnya ke belakang, sementara dua tangan didorongkan ke depan sekaligus membuat gerakan mencakar.

Serangan kilat yang dilancarkan sang dara tentu saja diluar dugaan si nenek.

Tapi Limbuk Ayu tetap berlaku nekat, sambil menangkis kedua serangan lawan dia kembali lanjutkan serangan kipas ke bagian dada setelah sambaran kipas yang yang pertama gagal menghantam wajah Nila Seroja

Plak! Bret! "Akh...!"

Limbuk Ayu menjerit tertahan.

Lengan tangan yang dipergunakan untuk menangkis robek besar.

Lima luka bekas cakaran kuku jemari tangan tampak mengucurkan darah berwarna merah kehijauan.

Di depan sana lawan berdiri tegak sambil perhatikan pakaian disebelah dada yang juga robek terkena sambaran ujung kipas si nenek.

"Tua bangka keparat! Sekali lagi kau telah membuat rusak pakaianku!" Geram gadis itu.

Dengan gerakan cepat dia tutupi dada putihnya yang tersingkap.

Melihat kesempatan ini Limbuk Ayu segera melompat ke depan menyerang lawan dengan segenap kekuatan yang dimilikinya.

Melihat tindakan nekat yang dilakukan Limbuk Ayu, Perawan Bayangan Rembulan dongakkan wajah ke langit. Setelah menatap bulan beberapa kejaban lamanya.

Dari mulutnya terdengar suara raung dan lolongan menggidikkan, Seiring dengan itu topeng yang melindungi wajah memancarkan cahaya warna-warni menyilaukan mata.

Ketika sang dara arahkan wajahnya pada Limbuk Ayu. Dari bagian topeng melesat cahaya panas luar biasa.

Cahaya itu secara bertubi-tubi menghantam kipas hingga hancur menjadi kepingan yang dikobari

api.

Limbuk Ayu berusaha selamatkan diri, namun karena menderita keracunan yang sangat parah

gerakan si nenek jadi lamban.

Tanpa ampun tubuh perempuan gemuk itu terbabat ambruk dalam keadaan hangus disebelah pinggang juga perutnya.

Sungguhpun Bunga Jelita kurang begitu suka pada sahabat pamannya.

Namun demi melihat kematian Limbuk Ayu yang mengenaskan dia menjadi sangat marah. "Gadis keji! Hiaa..."

Teriak Bunga gusar. Sambil berteriak Bunga Jelita menyerang lawan. Pedang ditangan berkelebat membabat, membacok dan menusuk.

Kilatan cahaya disertai suara menderu menyertai setiap gerakan pedang. Namun sungguhpun Bunga Jelita memiliki jurus-jurus pedang handal dan kecepatan gerak yang luar biasa. Namun Nila Seroja bukanlah lawan yang sepadan buat sang dara cantik.

Setelah beberapa jurus Nila Seroja sengaja menghindar dari serangan lawan. Tiba-tiba saja gadis ini hentakkan kedua kakinya lalu dengan gerakan sulit diikuti kasat mata tangannya terjulur.

Dalam sekejab mata pedang kena dihantam hingga terlepas dari genggaman pemiliknya. Selagi Bunga Jelita terkejut melihat apa yang terjadi. Pada saat itu satu hantaman keras mendarat ditengkuknya.

Dees! "Uagkh..."

Si gadis menjerit keras, segala yang dilihatnya seketika menjadi gelap. Bunga Jelita jatuh terkapar dalam keadaan diam tidak bergerak.

Menyangka Bunga menemui ajal, adipati Cakra Ablyasa sangat murka. "Manusia laknat, kau harus menebus segala dosa-dosamu!"

Bentak adipati sambil menghunus senjata saktinya berupa keris berluk sembilan bernama Kanjeng Pamulangka.

Mengawali serangan adipati memutar keris ditangan.

Cahaya hitam menggidikkan memancar dari keris, sedangkan dari ujung senjata ada hawa aneh menderu menghantam ke arah Nila Seroja. Seringai dingin sang dara seketika lenyap ketika mendapati sambaran hawa aneh yang melesat dari ujung keris sehingga membuat sekujur tubuhnya menjadi kaku, sulit untuk digerakkan.

"Adipati jahanam! Bagaimana mungkin keris ditangannya bisa membuat tubuhku menjadi seperti ini!" Desis Nila Seroja kaget.

Sadar lawan telah terkunci oleh serangan kerisnya, adipatipun segera alirkan hawa sakti ke tangan kanan.

Tak lama kemudian setelah tangannya berubah menjadi biru redup. Adipati menghantam lawan dengan pukulan Gama Sangga Buana.

Selama ini belum pernah seorang lawan pun yang dapat menyelamatkan diri dari ilmu pukulan yang dimiliki oleh adipati.

Dan ketika cahaya biru redup melesat ke arahnya. Nila Seroja tiba-tiba saja berkata,

"Segala kekuatan yang berada di bulan dan kegelapan yang dapat diteranginya.Wahai topeng pelindung dan penyelamat jiwaku.Musnahkan adipati dan semua kekuatan yang dimunculkannya."

Wueer! Dreez!

Topeng yang melekat diwajah tiba-tiba berkeredutan.

Asap mengepul disertai memancarnya cahaya hitam kuning dan biru. Begitu Nila Seroja gelengkan kepala.

Maka dari bagian depan topeng menderu tiga larik cahaya.

Dua diantara cahaya menghantam pukulan serta keris di tangan adipat sedangkan satu cahaya melesat dari topeng, adipati lipat gandakan tenaga dalam yang dimilikinya.

Benturan keras tak dapat dihindari lagi.

Ledakan dahsyat menggelegar mengguncang tempat itu. Adipati jatuh terpelanting sejauh tujuh tombak.

Keris ditangan terlepas dan jatuh terhempas dalam keadaan menghitam mengepulkan asap.

Sang adipati mengerang, dia mencoba bangkit sambil tatap bagian perutnya yang juga mengepulkan asap.

Matanya terbelalak ketika dapati perutnya berlubang besar dipenuhi kucuran darah.

"Hi hi hi! Tak ada seorang pun yang bisa membuatku celaka. Kini kau telah menyaksikannya sendiri. Aku mengucapkan selamat tinggal padamu!"

Kata Nila Seroja yang tahu-tahu telah berada di depan adipati.

Laki-laki itu berusaha mengucapkan sesuatu tapi dia yang dalam keadaan setengah rebah akhirnya terkulai.

Adipati Cakra Abiyasa tewas dengan mata mendelik.

Setelah adipati tewas, kawasan hutan yang porak poranda menjadi sepi. Sayup-sayup dikejauhan terdengar tawa dingin mengikik.

Tawa penuh kemenangan Perawan Bayangan Rembulan

Tamat