-->

Raja Gendeng Eps 22 : Bidadari Penebar Maut

 
Eps  22 : Bidadari Penebar Maut


Berjalan lurus menuju ke utara.

Pesan penguasa penghuni pohon Hijau diingat baik-baik oleh Ki Lumut.

Kakek berpakaian biru berbadan kurus berwajah muram yang sekujur tubuhnya ditumbuhi lumut ini terus saja mengayunkan langkah.

Menatap ke depan dia melihat jalan setapak berliku-liku laksana jejak panjang yang ditinggalkan ular raksasa.

Sejauh mata memandang belum kelihatan tanda-tanda kehadiran orang yang hendak ditemui. Si kakek menggaruk rambutnya yang berwarna putih kehijauan yang ditumbuhi lumut.

"Sudah sejauh ini aku berjalan, tetapi mengapa orang itu belum juga kelihatan batang hidungnya?

Penguasa pohon Hijau mengapa tidak memberiku tugas yang ringan-ringan saja? Mengapa aku diperintahkan menemui orang yang tidak pernah aku kenal," lalu Ki Lumut menggaruk rambutnya.

Memandang ke belakang si kakek tercengang.

Dia melihat bekas jejak kakinya sendiri menjadi berwarna hijau karena ditumbuhi lumut "Astaga! Bagaimana mungkin lumut langsung tumbuh di jejak bekas kakiku, jangan-jangan?"

Belum sempat ki Lumut selesaikan ucapannya dengan penasaran orangtua itu berjalan menghampiri batang pohon tumbang yang terdapat di sebelah kanan jalan.

Sambil membungkuk si kakek menjulurkan tangan ke batang pohon tumbang itu dengan telapak tangannya.

Seer! Baru saja telapak tangannya menyentuh dengan seketika batang pohon yang tumbang berwarna kecoklatan segera berubah menghijau ditumbuhi lumut

"Gawat! Apa jadinya bila semua yang kusentuh berubah menjadi lumut? Mengapa bisa begini?"

Gumam Ki Lumut sambil memperhatikan kedua telapak tangan dan seluruh tubuhnya yang ditumbuhi lumut tebal.

"Orang bertapa ratusan tahun malah ada yang sampai ribuan tahun biasa-biasa saja, Aku sendiri hanya sekitar tiga puluh tahun melakukan tapa, mengapa tubuhku menjadi lumutan tak karuan rupa seperti ini?"

Batin si kakek seakan lupa dengan tugas yang seharusnya dia lakukan. Baru saja batin bicara demikian, tiba-tiba terdengar suara bentakan sayup-sayup dikejauhan.

"Tua bangka bodoh. Sejak muda sampai menjadi tua lumutan, mengapa kau tetap pelihara ketololanmu? Jika sekujur tubuhmu telah ditakdirkan menjadi hijau lumutan begitu, apakah masih ada yang perlu disesali?"

Merasa mengenali suara orang yang bicara, Ki Lumut yang sudah lupa dengan nama aslinya nampak tergagap dan cuma dapat menyebut kata anu... beberapa kali.

"Memangnya anumu kenapa?"

"Apakah ditumbuhi lumut juga? Kalau betul artinya kau telah mendapat karunia, Ki Lumut. Mana ada di dunia ini yang punya anu sampai lumutan walau orang itu mandinya cuma satu tahun sekali? Ha ha ha!"

Berkata suara di kejauhan diringi tawa tergelak. Si kakek bersungut-sungut sambil cibirkan mulutnya.

"Dia bertanya apakah anuku ikut lumutan juga. Mana aku tahu? Ingin sekali aku memeriksanya. Tapi aku takut dan kalaulah benar yang satu itu juga ditumbuhi lumut. Tamat sudah riwayat hidupku. Walau aku dikaruniai usia yang panjang mana ada perempuan yang sudi menjadi kekasihku? Kalau benda pusaka karatan atau bulukan sekalipun masih bisa diasah, tapi kalau yang satu itu sudah lumutan digosok dengan cara apapun lumutnya tetap tumbuh lagi...tumbuh lagi. Dasar sial!"

Geram Ki Lumut penasaran.

"Jangan menyesali segala yang telah terjadi. Tidak pula perlu mengutuk diri sendiri. Kelak kau akan mensyukuri segala kelebihan yang telah dianugerahkan kepadamu."

Ucap penguasa pohon Hijau seakan datang dari kejauhan di dalam bumi. Sebagaimana telah diketahui dalam episode Perawan Bayangan Rembulan'.

Hanya beberapa kejab setelah Ki Lumut meninggalkan cabang pohon Hijau yang dijadikan tempat bertapa selama tiga puluh tahun.

Pohon yang memiliki berbagai keajaiban itu tiba-tiba mengamblaskan diri ke dalam tanah. "Penguasa pohon Hijau, mahluk sialan. Bagaimana dia bisa mengatakan segala kemalangan yang menimpa diri tua bangka ini sebagai sebuah anugerah?"

Dengus Ki Lumut dalam hati. Seolah mendengar ucapan si kakek, lagi-lagi terdengar suara bentakan.

"Banyak sekali manusia di dunia yang tidak pernah mensyukuri nikmat yang diberikan Yang Mahakuasa. Seperti dirimu yang suka berkeluh kesah sepanjang hidup. Dalam jiwamu yang rapuh tidak ada rasa sabar dan ketabahan hati."

"Aku!"

Ki Lumut berujar sambil menunjuk dirinya sendiri

"Diam! Sekarang dengar baik-baik. Saat ini orang yang harus kau temui berada tidak jauh lagi dari sini. Lekas pergi dan temui dia."

"Baiklah, aku akan temui orang bodoh yang kau maksudkan itu." Jawab si kakek.

"Tidak perlu menghina orang lain.Karena sebenarnya kau dan dia tidak ada bedanya." "Apa?"

Sentak si kakek sambil delikan matanya. "Sudah temui saja dia. Jangan banyak bicara!"

Walau hati diliputi rasa kesal karena kerap disebut dirinya tolol, namun Ki Lumut hanya bisa memendam segenap kegusaran itu di dalam hatinya. Tanpa bicara, tanpa menoleh-noleh lagi si kakek segera berkelebat tinggalkan tempat itu.

Sementara itu pada waktu yang sama disebuah tikungan jalan yang berhadapan langsung dengan sebuah jurang menganga dalam.

Seorang kakek bertubuh tinggi dengan punggung sedikit melengkung berpakaian putih tampak berjalan dengan tergesa-gesa.

Sambil menelusuri jalan di tepi jurang,orang tua berambut dan berjanggut putih ini acapkali menoleh ke belakang.

Setelah yakin tidak ada seseorang yang mengejar atau membuntutinya diapun memperlambat langkah.

"Aku tidak mungkin terus menghindar sepanjang sisa hidupku. Apapun yang telah terjadi seharusnya kuhadapi dengan lapang dada dan hati tulus. Aku tidak bisa mengubah masa lalu. Perilaku buruk dimasa lalu telah kutebus dengan perbuatan baik. Ya...aku telah bertobat. Rasanya sekarang tidak perlu lagi untuk menghindari kenyataan."

Pikir si kakek yang bukan lain adalah Ki Jangkung Reksa Menggala.

Seperti yang telah dikisahkan dalam 'Perawan Bayangan Rembulan' Ki Jangkung Reksa Menggala pendiri padepokan Tiga Guru adalah salah satu pengasuh padepokan itu bersama dengan dua saudaranya yang lain yang bernama Ki Jalung Upas dan Ragil Ijo. Beberapa waktu sepekan sebelum hujan badai menyerang padepokan.

Puluhan muridnya ditemukan tewas mengenaskan tak jauh dari padepokan. Kemudian sebagian muridnya raib tidak diketahu rimbanya.

Malam berikutnya saat angin ribut menghantam kawasan tempat tinggalnya Ki Jangkung Reksa Menggala segera memerintahkan kedua saudaranya untuk sementara waktu mengungsi ke Kulon Watu Cadas.

Keduanya pergi meninggalkan padepokan Ki Jangkung Reksa Menggala yang tetap tinggal sendirian.

Pada saat dalam kesendirian itu di halaman pedepokan tiba-tiba muncul tanda-tanda hadirnya bencana.

Badai dan hujan tambah menggila, dikejauhan terdengar suara lolongan menggidikan.

Sebelum malapetaka benar-benar hadir dihadapan si kakek sayup-sayup dia mendengar suara mengiang di telinganya.

Suara mengiang itu memintanya segera tinggalkan padepokan dan berjalan ke utara.

Walau Ki Jangkung Reksa Menggala telah bertekat untuk menghadapi segala kemungkinan terburuk berikut akibatnya.

Namun akhirnya dia mengikuti juga apa yang disarankan oleh orang melalui suara mengiang. Berjalanlah si kakek ke arah utara.

Selama berjalan dikegelapan malam buta hingga berganti siang. Ki Jangkung Reksa Menggala tidak pernah bertemu dengan seorangpun sebagaimana yang telah dikatakan suara mengiang.

Kini setelah berjalan cukup jauh menelusuri jalan setapak berliku di bibir jurang, Ki Jangkung Reksa Menggala merasa letih sendiri.

Keletihan yang bercampur aduk dengan rasa kecewa karena tidak kunjung bertemu dengan orang tersebut maka si kakek memutuskan berteduh.

Sambil berteduh dibawah pohon yang tumbuh menempel di dinding jurang sebelah atas Ki Jangkung Reksa Menggala layangkan pandang kebawah dimana kawasan jurang membentang luas di depannya.

Sambil menatap kosong dikejauhan, dia menggumam

"Masa lalu? Tanpa masa lalu mustahil ada masa sekarang, Setiap orang pernah melakukan kesalahan di dalam hidupnya.Besar kecilnya kesalahan mungkin masih bisa ditebus.Yang Mahakuasa kasihNya meliputi segala. Andai saja aku tidak pernah menjalin hubungan dengan Ki Demang...pasti aku dapat hidup dengan tenang dan baik-baik saja.Aku tidak akan ikut terjerumus pada perbuatan yang buruk."

Pikir Ki Jangkung Reksa Menggala sambil menghela nafas dalam. Baru saja si kakek berkata demikian tiba-tiba saja seluruh permukaan tebing jurang tempat dimana jalan setapak berada mengeluarkan suara bergemuruh mengerikan disertai guncangan hebat. Ki Janglung Reksa Menggala terperangah kaget lalu melompat bangkit.

Secepat kilat dia dongakan kepala menatap tebing disebelah atas.

Mata si kakek mendelik lebar ketika melihat bebatuan dan dinding tebing mulai runtuh berguguran.

Malah sebagian batu itu meluncur deras ke arahnya seolah siap hendak membuat tubuhnya remuk.

Tidak ingin celaka, dengan kecepatan luar biasa Ki Jangkung Reksa Menggala berlari ke arah mana tadi dia datang, Walau kecepatan Ki Jangkung Reksa Menggala dalam berlari tidak diragukan lagi. Namun beberapa batu seukuran kepalan tangan masih sempat menimpa bahu dan kepalanya.

Menyiasati keadaan seperti ini si kakek segera mempergunakan tangan. Sambil berlari dia memutar tangan diatas kepala untuk melindungi diri.

Dengan segenap tanda tanya memenuhi benaknya atas segala keanehan yang terjadi ini akhirnya Ki Jangkung Reksa Menggala berhasil keluar dari jalan setapak di tepi jurang.

Walau si kakek telah berada di tempat yang aman namun guncangan-guncangan keras masih terus terjadi.

Pohon-pohon bertumbangan, sementara dari sebuah pendataran Ki Jangkung Reksa Menggala masih melihat adanya ledakan-ledakan keras disertai munculnya tebaran asap hitam dan putih.

"Mengapa alam menjadi berubah tidak bersahabat? Apakah langkahku selalu membawa kesialan dimanapun diri ini berada?"

Kata Ki Jangkung Reksa Menggala dengan nafas mengengah hati dipagut rasa cemas dan takut.

Dengan hati diliputi keheranan, Ki Jangkung Reksa Menggala menatap nanar keadaan di sekelilingnya.

Ketika pandangan si kakek tertuju ke arah bekas ledakan dimana asap putih hitam bertaburan memenuhi udara, orang tua ini terhenyak. Dia melihat di atas bekas terjadinya ledakan berdiri dengan dua kaki mengambang mahluk-mahluk berujud aneh.

Mahluk-mahluk berwujud buaya itu berukuran besar dan berada dua tombak di depannya.

Mahluk-mahluk itu tidak berjalan dengan empat kaki sebagaimana seharusnya, melainkan berdiri dengan dua kaki belakang yang didukung dengan ekornya yang panjang besar bergerigi.

"Tidak salahkah apa yang kulihat ini? Atau mungkin mata tuaku yang mulai lamur salah melihat?"

Menggumam Ki Jangkung Reksa Menggala dengan suara serak bergetar.

Si kakek lalu menelan ludah basahi tenggorokannya yang mendadak kering. Dia juga mengusap kedua matanya dengan punggung tangan berulang kali. Alam menyimpan kehidupan dan rahasia. Sedangkan kehidupan sebagian menjadi sebuah misteri tersembunyi yang tak terungkapkan. Ki Jangkung Reksa Menggala pun kemudian dihadapkan pada sebuah kenyataan lain.

Mahluk-mahluk berwujud buaya yang tadi sempat dilihatnya mendadak lenyap.

Sebagai gantinya di tempat dimana buaya-buaya tadinya berdiri, bermunculan sedikitnya lima laki-laki berambut panjang menjela berjingkrak kaku berdiri tegak.

Kelima laki-laki itu masing-masing memiliki wajah yang dingin angker, berpakaian hitam dan cokelat berwajah licin tanpa cambang kumis dan jenggot.

Ketika Ki Jangkung Reksa Menggala menatap sekujur tubuh kelima lakilaki itu. Dia melihat sebuah pemandangan yang tidak lazim.

Benar kelima sosok di depannya memiliki kaki dan tangan lengkap dengan kelima jari-jari di masing-masing bagian, tapi di antara jemari mereka ditumbuhi selaput kulit tipis yang berfungsi sebagai alat untuk berenang.

"Orang-orang ini kemungkinan adalah siluman buaya. Apakah mungkin mereka datang dari sungai di dasar jurang?"

Pikir Ki Jangkung Reksa Menggala sambil mengusap janggutnya yang putih meranggas. Si kakek lalu terdiam, namun mata tetap memperhatikan sambil berlaku waspada.

Sejenak dia lalu ingat dengan siluman buaya putih yang konon ratunya segala buaya.

Tapi siluman buaya putih yang konon merupakan jelmaan seorang bidadari itu menetap di sebuah tempat mirip sindang namun luas sekali.

Tempat itu dikenal dengan nama Kedung Ombo dan terletak di lembah batu-batuah atau batu pijar.

Ki Jangkung Reksa Menggala segera ingat dengan jalan setapak di tepi jurang. Tiba-tiba dia menepuk keningnya sendiri.

"Astaga. Mengapa baru terpikir olehku? Bukankah saat ini aku berada di tepi jurang Batu Batuah?"

Batinnya dalam hati.

Baru saja hati berkata demikian, lima laki-laki berkulit gelap tadi melesat ke arahnya. Sejarak dua langkah didepan si kakek kelimanya berhenti..

Kemudian salah seorang di antaranya yang berdiri di sebelah tengah dan memiliki tubuh paling tinggi membuka mulut.

"Orangtua, kami diperintahkan untuk membawamu ke tempat kami. Pemimpin kami sedang menunggu kedatanganmu."

"Kalian ini siapa? Siapa pimpinanmu dan apa urusannya dengan diri saya?" Tanya Ki Jangkung Reksa Menggala curiga.

Orang yang berdiri di sebelah kiri si tinggi ganti membuka mulut. "Pimpinan kami adalah ratu dari sekalian ratu. D ­a asalnya seorang bidadari. Dan kami adalah pengikut yang paling setia."

Terang laki-laki itu dengan suara dingin angkuh. Ki Jangkung Reksa Menggala tersenyum sambil cibirkan mulut

"Aku sudah bisa menduga siapa kiranya ratumu itu. Tapi aku tidak akan mengikuti kalian. Aku tetap di sini untuk menentukan sendiri kemana diriku akan pergi!"

Ketus Ki Jangkung Reksa Menggala. Lima laki-laki saling pandang. Orang yang berdiri di sebelah kanan terlihat tak kuasa menahan marah mendengar ucapan Ki Jangkung Reksa Menggala. Sambil melangkah maju mulutnya keluarkan ucapan.

"orangtua, apakah kau orangnya yang bernama Ki Jangkung Reksa Menggala?" "Itu benar."

Menyahuti si kakek

"Hm, berarti kami datang pada orang yang tepat. Kami datang menjemput dan kau harus ikut!" tegas yang bertubuh tinggi.

Ki Jangkung Reksa Menggala menyeringai sinis.

"Aku harus mengikut seperti sapi tolol. Menghadap majikan kalian untuk kepentingan apa? Kenal dengan ratu kalian pun aku tidak. Harap jangan mengganggu. Aku hendak melanjutkan perjalanan!"

Dengus si kakek bersiap melangkah tinggalkan tempat itu. Kelima laki-laki segera menghalangi "Kau tidak boleh pergi kemana-mana orangtua. Terkecuali bila urusan ratu kami denganmu telah

selesai."

Kata si tinggi.

"Dan itupun bila ratu berkenan mengampuni selembar nyawamu!" Timpal lainnya.

Si kakek yang tadinya berusaha menahan diri dengan bersikap sabar kini tak kuasa menahan kekesalan.

"Kalian semua..!"

Geram Ki Jangkung Reksa Menggala sambil menatap mereka satu demi satu

"Kalian mahluk siluman sungguh tidak mengenal peradaban. Orang tidak mau mengapa dipaksa?" "Siapa yang memaksa, kami hanya ditugaskan untuk menjemputmu!"

Kata yang berdiri di sebelah kiri si kakek

"Kalau dia tidak mau menurut kita seret saja!" tegas salah satu dari mereka. Kelima laki-laki keluarkan suara berdengus.

Tanpa diperintah oleh sang pemimpin empat lainnya segera menyebar bergerak melakukan pengepungan.

Tapi belum sempat mereka menyerang Ki Jangkung Reksa Menggala, tiba-tiba saja terdengar suara ucapan yang disertai gelak tawa.

"Mengapa cuma kakek Ki Jangkung Reksa Menggala itu saja yang dijemput? Aku juga mau ikutan dijemput. Apalagi kalau penjemputnya berkenan membawaku ke surga. Ha ha ha!"

Bukan cuma Ki Jangkung Reksa Menggala kelima mahluk siluman itupun ikut melengak kaget mendengar ucapan dan gelak tawa tersebut.

Serentak mereka dongakan kepala menatap ke arah datangnya suara.

Semua orang melihat satu sosok bayangan muncul dari balik kelebatan hutan lalu melesat ke arah mereka.

Belum sempat semua mata berkedip.

Di depan mereka antara Ki Jangkung Reksa Menggala dan lima utusan siluman buaya telah berdiri seorang kakek kurus berpakaian biru bercelana setinggi lutut sementara sekujur tubuhnya ditumbuhi lumut. Merasa tidak mengenal kakek itu.

Tapi sadar orang berlumut sepertinya berpihak padanya.

Ki Jangkung Reksa Menggala segera rangkapkan kedua belah tangan, sambil menjura dia berujar.

"Kakek Lumutan, Siapapun diri ki sanak, aku Ki Jangkung Reksa Menggala mengucapkan banyak terima kasih karena kisanak mau datang menolongku!"

Si kakek yang memang Ki Lumut adanya diam diam merasa lega ketika Ki Jangkung Reksa Menggala menyebut namanya.

"Diakah orang yang harus kucari dan kubantu seperti yang diperintahkan penguasa pohon Hijau?

Lalu siapa lima laki-laki yang tubuhnya menebar bau anyir ini?"

Pikir ki Lumut sambil memperhatikan kelima laki-laki disekelilingnya satu-satu. Merasa tidak mengenal mereka, ki Lumut cepat menghadap Ki Jangkung Reksa Menggala. Tanpa menunggu dia menjawab,

"Maafkan aku kakek jangkung. Apakah kau berasal dari Padepokan Tiga guru?" "Benar."

"Kalau begitu benarlah kau orang yang aku cari dan harus kubantu."

Jelas Ki Lumut Dengan singkat si kakek menceritakan perintah yang diterimanya dari penguasa pohon Hijau. "Karunia dewa besar sekali. Aku senang bertemu orang aneh sepertimu. Sekarang tidak ada lagi kerisauan dihatiku."

"Senangnya sebaiknya disimpan dulu. Bukankah kelima orang ini datang menjemput dan ingin membawa dirimu ke tempat mereka?"

"Benar."

Jawab Ki Jangkung Reksa Menggala. "Kalau mereka memaksa." Kata ki Lumut sambil mengurai senyum.

"Sebaiknya kita gebuk saja mereka bersama-sama."

Merasa kehadiran mereka tidak dipandang sebelah mata oleh Ki Lumut. Kelima siluman menjadi marah. Ditujukan kepada si kakek lumutan yang jadi pimpinan siluman itu berseru.

"Tua bangka lumutan? Siapa dirimu? Mengapa mencampuri urusan kami?"

Ki Lumut pura-pura kaget lalu putar tubuh menatap ke arah laki-laki tinggi. "Eeh, jangan berteriak, aku tidak tuli. Jaga mulutmu yang bau bangkai itu?" Kata ki Lumut tenang.

"Barusan kau bertanya siapa aku? Oh sayang sekali, aku tidak pernah ingat namaku. Tetapi boleh kau panggil saja si tua bangka ini dengan nama Ki Lumut. Terus terang aku tidak ingin ikut campur urusanmu. Kedatanganku ke sini untuk membantu dia, demikian amanat yang diberikan kepadaku!"

"Kau menjalankan amanat, sedangkan kami melakukan tugas. Mana yang lebih penting?" Hardik pemimpin rombongan.

"Terang saja amanat yang lebih penting dari tugas. Kalian mahluk-mahluk bodoh mengapa tidak saja kembali ke sungai. Di sana lebih dingin, lebih sejuk. Mengapa gentayangan di daratan yang lebih panas?"

Ejek Ki Lumut membuat orang-orang itu tambah marah "Kakek sialan! Kau benar-benar mencari mampus!" Teriak pimpinan utusan tak kuasa menahan diri.

"Bunuh kakek berlumut itu dan bawa kakek Jangkung Reksa Menggala secepatnya dari sini!" Teriaknya ditujukan kepada ke empat pengikutnya.

Serentak tiga pengikut bersirebut menyerang Ki Lumut dari tiga arah sekaligus.

Mendapati dirinya diserang sedemikian rupa, Ki Lumut malah tetawa terkekeh

"Apakah kalian hendak menggebuk diriku sampai pingsan? Apakah kalian kelak tidak menyesal bila tua bangka ini nantinya merubah penampilan kalian menjadi sesuatu yang baru.Hak hak hak!"

"Kakek tua Lumutan. Kami bahkan tidak akan menyesal jika harus membunuhmu!"

Seru laki-laki yang menyerang dari arah depan. Sambil berkelit hindari hantaman tinju yang siap meremukkan dada juga selamatkan diri dari tendangan yang datang dari arah belakang dan samping sebelah kanan. Ki Lumut membuka mulut.

"Weleh... melayangkan nyawa manusia tidak seperti melenyapkan nyawa nyamuk. Mulut busuk bau bangkai. Kalian menjual tua bangka ini membeli!"

Berkata demikian Ki Lumut tiba-tiba jatuhkan diri sama rata dengan tanah. Secepat kilat dia gulingkan diri hindari hantaman kaki lawan.

Wuus! Set! Duk!  

Bletak!

Demikian cepat gerakan jatuhkan diri yang dilakukan Ki Lumut.

Lawan yang menyerang dari arah depan tak sempat tarik tangan yang seharusnya menghantam remuk dada Ki Lumut. Sebaliknya tinju itu malah menghantam teman sendiri yang tadinya menyerang ki Lumut dari arah belakang, Laki-laki itu mengumpat menyalahkan temannya yang bertindak gegabah.

Selagi tubuhnya terhuyung dari arah samping kaki teman satunya lagi mendarat di pinggangnya. Tanpa ampun laki-laki itu jatuh terjengkang.

Sumpah serapah berhamburan dari mulutnya.

"Kalian berdua apakah sudah gila semua? Mengapa aku yang kalian jadikan bulan-bulanan dan bukan kakek itu!"

Maki laki-laki itu sambil bangkit berdiri. Dua temannya yang merasa keterlepasan tangannya segera meminta maaf. Sebaliknya melihat kekacauan yang terjadi di antara mereka si kakek sekali lagi tertawa.

"Hadiah menarik belum lagi kubagikan, mengapa kalian bersiteru saling menyalahkan, ha ha ha!" "Kakek jahanam! Jika kami tidak menghabisimu hari ini rasanya tidak pantas bagi kami berlima

menyebut diri Lima Penjaga Terpilih!"

Geram ketiga orang itu hampir berbarengan. Ki Lumut manggut manggut. Sambil mengusap janggutnya yang lumutan.

"Ya ya ya kini aku baru tahu ternyata kalian dijuluki Lima Penjaga Terpilih. Sebuah gelar yang angker membuat berjingkrak rambutku. Sekarang aku ingin menjajal kehebatan sampean bertiga. Kalau perlu yang dua lagi ikut bergabung juga boleh!"

Selesai berucap Ki Lumut dengan gerakan ringan melesat ke udara. Di ketinggian dia berjumpalitan tiga kali.

Untuk menahan daya luncur tubuhnya dua kaki dikembang.

Kemudian dia meniup tiga lawan yang berusaha mengejarnya sambil lepaskan pukulan tangan kosong.

Si kakek dorongkan pula telapak tangannya dengan gerakan seperti orang yang menahan sesuatu dari bawah.

Wuuus! Ser!

Ser!

Tiga tiupan aneh yang diluncurkan Ki lumut ke arah tiga lawan bukanlah tiupan biasa. Walau tiupan itu tidak disertai dengan terdengarnya deru angin. Namun dua lawan yang tidak sempat hindari tiupan seketika jadi terhenyak, bagian tubuh mulai kepala hingga kedua bahu laksana ditindih bukit batu.

Dalam kejut tidak menyangka lawan menyerang dengan akibat sehebat itu.

Kedua siluman itu segera batalkan serangan lalu dorongkan kedua tangan ke atas. Tapi kenyataan yang mereka alami sungguh luar biasa.

Semakin besar mereka salurkan tenaga dalam dan berusaha membuyarkan pengaruh tiupan lawan.

Semakin besar pula himpitan yang menekan dari atas mereka.

Sampai tubuh mereka basah keringatan, upaya melenyapkan pengaruh serangan lawan tidak kunjung membuahkan hasil.

Melihat hal ini salah seorang temannya yang berhasil lolos dari tiupan segera mengambil tindakan menolong kedua temannya dengan melompat tinggi sambil melakukan satu tendangan keras disertai pukulan yang mengarah ke bagian kepala ki Lumut.

Walau tangan dan kaki si kakek bebas bergerak, namun saat itu dia sedang memusatkan perhatian pada dua lawannya.

Tak ingin celaka, ki Lumut terpaksa berhenti meniup, lalu sambil meluncur ke bawah dia balikan tubuh, dua tangan dijulur sambut serangan lawan.

Plak! Des!

Dua pasang tangan beradu keras membuat keduanya sama-sama terdorong ke belakang. Selagi tubuh terhuyung tendangan yang dilancarkan lawan mendarat di perut ki Lumut.

Si kakek yang seharusnya jatuhkan diri dengan kedua kaki terlebih dulu menyentuh tanah malah terpelanting.

Melihat ini dua lawan yang kena dikerjai oleh Ki Lumut dengan tiupan segera merangsak maju lalu menyerang Ki Lumut dengan jotosan dan serangan bertubi-tubi.

Sementara itu pemimpin Lima Penjaga Terpilih dengan dibantu oleh seorang temannya nampaknya sedang berusaha keras meringkus Ki Jangkung Reksa Menggala.

Sebagaimana perintah dari ratu Siluman Buaya Putih penguasa tertinggi dari sekalian buaya, mereka hanya ditugaskan untuk menjemput bukan untuk melukai.

Karena dia memiliki satu rahasia besar yang harus diketahui oleh sang ratu. Mengingat Ki Jangkung Reksa Menggala bukan orang yang berkepandaian rendah.

Untuk meringkus dan melumpuhkan orangtua itu tidak mudah.Sepuluh jurus berlalu tanpa terasa. Sejauh itu belum ada tanda-tanda Ki Jangkung Reksa Menggala dapat dilumpuhkan.

Sebaliknya karena dua lawan hanya berusaha melumpuhkan dengan totokan, hal ini menjadi keuntungan tersendiri bagi Ki Jangkung Reksa Menggala. Walau kepandaian dan tenaga sakti lawan sangat tinggi, si kakek tetap masih berada di atas angin. Kesempatan ini dipergunakan Ki Jangkung Reksa Menggala dengan sebaik-baiknya.

Ketika melihat pimpinan penjaga melesat cepat ke arahnya sambil lancarkan totokan dan tamparan keras yang mengincar bagian dagunya.

Dengan gerakan lincah dia berkelit, dua tangan kemudian dia dorong ke depan melepas pukulan Raja Api Turun Gunung.

Melihat gumpalan api menyambar ke arahnya disertai tebaran hawa panas luar biasa, kepala penjaga segera jatuhkan diri sama rata dengan tanah.

Semburan lidah api raksasa menderu dibelakang punggung laki-laki itu, memberangus pakaian disebelah belakang namun tak sanggup mencidrai kulit punggung lawan yang atos tebal.

Lidah api terus menderu, membakar semak dan pohon di belakang kepala penjaga.

Selagi Ki Jangkung Reksa Menggala tercengang karena pukulannya tidak mengenai sasaran.

Kesempatan itu dipergunakan oleh kepala penjaga dan temannya untuk melakukan serangan balik.

Satu sentakan dilakukan kepala penjaga, membuat tubuhnya yang menelungkup meluncur deras mendekati lawan.

Bersamaan dengan itu dua tangan berkelebat menyambar kedua kaki Ki Jangkung Reksa Menggala.

Si kakek yang ketika itu sedang lancarkan satu jotosan untuk memapaki satu serangan pengikut kepala penjaga terkesiap begitu tiba-tiba melihat datangnya serangan yang dilakukan kepala penjaga.

Dia sendiri berhasil menghantam wajah pengikut itu hingga membuatnya terjajar dengan mulut dan hidung mengeluarkan darah.

Namun Ki Jangkung Reksa Menggala tak sempat selamatkan kakinya dari cekalan keras yang dilakukan kepala penjaga.

Sekali lawan sentakan tangannya seperti pohon ditebang Ki Jangkung Reksa Menggala pun ambruk.

Sekuat tenaga kakek itu meronta berusaha bebaskan kedua kaki dari cengkeraman lawan sambil menghantam kepala penjaga dengan menggunakan kedua tangannya yang bebas bergerak.

Tapi di sinilah kehebatan kepala penjaga Dengan sigap dia lakukan tiga totokan di beberapa bagian tubuh Ki Jangkung Reksa Menggala.

Dan Ki Jangkung Reksa Menggala semakin tak berdaya ketika pengikut kepala penjaga yang dibuat remuk hidung dan bibirnya menambahkan satu totokan di tengkuk kakek itu.

"Ingin sekali kuhabisi orang yang telah meremukan hidungku ini, kepala." Geram laki-laki itu sambil tekan mulut dan hidungnya yang mengucurkan darah "Kalau kau ingin menghabisinya. Kau harus sabar menunggu sampai gusti ratu selesai mengorek keterangan penting dari mulutnya."

"Sekarang selagi tua bangka Ki Lumut itu dibuat sibuk oleh teman-teman kita, secepatnya kita bawa dia pergi dari sini!"

Tegas kepala penjaga. Secepat kilat dia mengangkat dan meletakkan Ki Jangkung Reksa Menggala di atas bahu. Tanpa menunggu keduanya membalikan badan. Baru tiga langkah berjalan sosok mereka telah lenyap.

"Ki Jangkung Reksa Menggala! Duhai celaka dunia. Para pengecut jahanam. Kemana kalian hendak membawa kakek kenalan baruku itu!"

Teriak Ki Lumut.

Tanpa menghiraukan lawan dia balikkan badan lalu berlari ke arah lenyapnya dua siluman yang membawa Ki Jangkung Reksa Menggala.

Tapi gerakan Ki Lumut seketika terhenti karena tiga gerakan pengawal laksana kilat melompat menghadang.

Ki Lumut Cemas, takut terjadi sesuatu yang tidak dinginkan pada orang yang seharusnya dia lindung maka Ki Lumut menjadi marah besar ketika melihat lawan menghalangi keinginannya.

"Mahluk-mahluk sialan! Walau cuma penjaga ternyata kalian memiliki ilmu kepandaian yang sangat tinggi. Tapi kini aku tidak segan-segan lagi menghabisi kalian semua"

Geram Ki Lumut murka.

Sambil melangkah mundur satu tindak dia kepalkan dua tinjunya, Rrrt!

Terdengar suara berderit seperti suara pintu lapuk yang terbuka.

Tiga penjaga sama berpandangan saling tatap satu sama lain dengan hati diliputi keheranan "Kalian harus mampus. Makanlah lumut-lumut ini. Heahhh!"

Teriakan Ki Lumut disertai gerakan mendorong dua tangannya. Ketika tangan menderu jemari yang terkepal serentak terbuka. Wuuus!

Dua gulung cahaya berhamburan diudara laksana ribuan kunang-kunang yang menerangi kegelapan.

Tebaran cahaya hijau berhawa dingin luar biasa kemudian bergerak menyerang ketiga penjaga.

Di tengah jalan gulungan cahaya memecah diri menjadi tiga membentuk alur yang kemudian berubah seperti tiga selendang berwarna hijau.

Bagian ujung depan alur cahaya laksana kepala ular berbisa meliuk lalu melibat menggulung tubuh lawannya.

Melihat bahaya datang mengancam ketiga penjaga itu tidak punya waktu untuk berpikir lebih lama.  

Mereka hantamkan tangan masing-masing dengan tujuan menghancurkan serangan si kakek.

Serangkum hawa panas disertai membersirnya cahaya biru, hijau dan kuning menderu dari tangan ketiga lawan, Tiga benturan keras tidak dapat dihindari menimbulkan suara ledakan menggelegar.Cahaya kuning, hijau dan biru luluh lantak berhamburan di udara berubah menjadi kepingan bunga api dan kepulan asap tebal.

Tiga penjaga jatuh terjengkang. Belum sempat ketiganya bangkit, mereka dibuat terkesima ketika dapati tiga cahaya berbentuk selendang ternyata tidak dapat mereka hancurkan. Sebaliknya terus melesat ke arah mereka dengan kecepatan berlipat ganda.

Tidak ingin celaka.

Salah seorang diantaranya segera mengambil saku pakaian.

Benda itu kemudian disambitkan ke benda hitam dari balik arah tiga cahaya pipih yang bersumber dari serangan si kakek.

Benda itu menyambar tiga selendang Buum!

Untuk kedua kalinya terjadi ledakan yang mengerikan. Tiga cahaya selendang musnah.

Ki Lumut sendiri terjungkal.

Sementara kepulan asap yang menebar memenuhi udara sempat terhirup oleh mereka. Huk huk huk!!

"Tinggalkan tempat ini! Kakek gila itu tak perlu dilawan!"

Seru suara dari seorang pengawal

"Para pengecut kurang ajar. Kemana kalian hendak lari!" Teriak Ki Lumut yang baru saja dapat berdiri.

Dia hendak mengejar ke arah lawan lawannya.

Tapi dalam keadaan gelap tertutup asap dia tidak tahu pasti kearah mana tiga pengawal melarikan diri.

Kepulan asap hijau lenyap.

Setelah menyapu pandangan kesekitarnya Ki Lumut cuma bisa memaki dan mencak-mencak sendiri

"Kurang ajar. Kemana aku harus mencari Ki Jangkung Reksa Menggala. Mahluk-mahluk itu membawa Ki Jangkung Reksa Menggala ke alam gaib. Aku tidak bisa menyusul, tidak bisa menghilangkan diri seperti setan.Bagaimana ini?"

Gumam si kakek. Dalam bingung dia hanya bisa tepuk kepalanya sendiri.

******

Dari hanya lari biasa lalu berkelebat dengan gerakan secepat terbang, Sang Maha Sakti Raja Gendeng 313 akhirnya berhenti disebuah lembah kecil di kaki bukit Ngampel.

Udara terasa sejuk walau matahari saat itu hampir mencapai titik tertingginya. Pemandangan indah yang menghijau dan suara gemercik air pancuran dimulut lembah sama sekali tidak dia hiraukan.

Mata sang pendekar sebaliknya menatap kesegenap penjuru sudut. Akhirnya Raja menghela nafas kecewa.

"Aku mendengar suara jeritan perempuan. Suara minta tolong datangnya dari tempat ini. Tapi mengapa tidak terlihat seorangpun di sekitar sini?"

Gumam sang pendekar heran.

"Gusti Raja. Gusti, tiba-tiba lari meninggalkan medan pertempuran hamba kira karena takut pada nenek gemuk gembrot itu. Tidak tahunya Gusti meninggalkan musuh karena disini ada orang yang membutuhkan pertolongan."

Kata jiwa perempuan yang berbicara melalui suara mengiang.

"Apa kau tidak mendengar seperti yang aku dengar? Tadi ada orang menjerit minta tolong dan suaranya itu suara perempuan."

Tegas Raja tanpa keraguan.

"Maaf Gusti. Mungkin telinga saya memang mengalami sedikit gangguan. Saya cuma mendengar memang ada suara orang yang berteriak minta lontong!"

"Lontong itu makanan atau mahluk?" "Jika mahluk, lelaki ataukah perempuan?" Tanya Raja polos.

Jiwa perempuan tertawa tergelak-gelak.

Belum lagi lenyap suara gelak tawanya, terdengar ada suara mendamprat.

Walau berupa ngiangan juga tetapi membuat telinga Raja Gendeng jadi pengang. "Jangan dengarkan gadis sinting itu Gusti. Dia memang maunya bergurau terus."

"Jiwa pedang sahabatku, kau boleh bicara aku tidak melarang. Tapi jangan berteriak seperti itu Telingaku bisa tuli, tahu?"

Dengus Raja ditujukan pada penghuni hulu Pedang Gila.

"Gusti maafkan saya. Mungkin saya terlalu bersemangat hingga bicara sekeras itu. Tapi saya sendiri juga sama seperti gusti telah mendengar suara perempuan berteriak. Dan suara yang saya dengar itu datangnya dari sini."

"Seperti yang terlihat, tidak ada siapapun di tempat ini. Di sebelah sana memang ada pancuran tempat mandi, namun tidak ada satupun rumah berdiri di tempat ini."

Ucap jiwa perempuan. Raja diam tertegun.

Dalam diam dia ingat dengan Bunga Jelita, gadis cantik berambut hitam, berkulit putih berhidung bagus.

Gadis itu masih terhitung kemenakan Adipati Cakra Abiyasa.

Dipercaya sebagai pimpinan pasukan dalam usianya yang masih belia, Bunga Jelita sudah bersikap lebih dewasa dalam mempertimbangkan segala sesuatunya.

Berbeda dengan tiga pembantunya yang terdiri dari Limbuk ayu, dan dua kakek, satunya bernama Demang Sapu Lengga.

Ketiga orang ini bersikap gegabah dan bertindak selayaknya seorang pemimpin perompak "Bunga jelita...hemm, nama yang bagus secantik orangnya."

Batin Raja sambil senyum senyum sendiri.

"Gusti, apakah gusti kembali mendengar suara dan agaknya ada orang yang bergurau hingga membuat gusti senyum-senyum sendiri?"

Tanya Jiwa perempuan membuat Raja cepat gelengkan kepala lalu menjawab.

"Tidak! Aku tidak mendengar apa-apa. Aku cuma mendengar suara kentutku sendiri. Sengaja kutahan agar kau dan jiwa pedang tidak mendengar-jadi suaranya kecil sekali nyaris tak terdengar. Dan itu yang membuatku tertawa."

Jawab pemuda itu berdusta.

"Ah Gusti ada-ada saja. Saya dan jiwa pedang percaya tidak percaya."

Timpal jiwa perempan ikutan tertawa. Namun tawa mereka hanya berlangsung sekejab karena sekonyong-konyong mereka mendengar suara orang meratap

"Tolong...tolonglah aku.Aku takut sekali. Siapapun yang mendengar suaraku mohon tolonglah jangan biarkan aku seperti ini!"

Mendengar suara jeritan memelas, Raja memutar tubuh balikan badan menghadap ke arah bukit tempat dimana suara yang didengarnya berasal.

"Kalian mendengar suara itu?"

Bertanya sang pendekar ditujukan pada kedua jiwa penghuni hulu pedang. "Ya." "Kami memang mendengarnya,"

Menyahuti jiwa pedang.

"Sepertinya suara itu datang dari arah bukit bukan dibagian luar tapi dibagian dalam." Tegas jiwa perempuan "Dari dalam bukit?" Gumam raja.

"Apakah mungkin ada ruangan di dalam bukit?"

"Aku tidak melihat gua atau sesuatu yang dapat dijadikan tempat berlindung." kata Raja heran. "Gusti. Kalau gusti mengijinkan biarkan saya yang menyelidik ke bukit itu. Tidak membutuhkan

waktu lama saya pasti segera kembali." Ujar jiwa pedang.

"Baiklah.cepat lakukan!"

"Harap gusti suka menunggu beberapa kejaban." Pinta jiwa pedang.

Raja anggukan kepala.

Dia kemudian merasakan ada desiran halus melintas di atas bahunya.

Pada saat Jiwa Pedang melakukan tugasnya, Jiwa Perempuan menunggu sambil menemani Raja.

Untuk yang ketiga kalinya sang pendekar mendengar suara rintihan itu.

"Mengapa tidak ada yang menolong? Mengapa hidupku sengsara begini? Dimanakah manusia berbudi, dimana kebaikan bertahta? Mengaku suci sesungguhnya berdosa. Tiada dosa karena tidak merasa. Orang-orang terlihat bijak pandai mempermainkan lidah. Menipu diri bersembunyi dibalik kepalsuan. Siapa yang agung, siapa yang putih jika kesalahan selalu bersarang di diri?"

Suara pekik memelas kemudian lenyap. Sang pendekar terdiam sambil berusaha menyikapi setiap ucapan yang baru didengarnya.

"Siapa dia? Ucapannya seperti menyindir seseorang. Kata-katanya itu apa mungkin ditujukan kepadaku. Aku tidak pernah merasa diriku ini bersih dari dosa. Hmm, sungguh ucapannya menyentuh walau dia tidak menyebut siapa orang yang dia maksudkan!"

Sekali lagi Raja menatap ke arah bukit "Gusti Raja."

Tiba-tiba terdengar suara mengiang datang dari arah depan sang pendekar. "Kau sudah kembali jiwa pedang?"

Kata pemuda itu sambil menatap ke depan tepat dimana jiwa pedang dia perkirakan berada. "Benar Gusti!"

Menyahuti jiwa pedang.

"Apakah kau menemukan sesuatu yang mungkin cukup penting?"

"Begitulah gusti. Dibalik hijaunya pepohonan yang tumbuh dilereng bukit saya melihat ada sebuah pintu terbuka. Pintu itu menghubungkan sebuah tempat atau dunia yang disebut dunia kesesatan."

"Maksudmu kau melihat pintu alam gaib terbuka? Dan pintu gaib itu kebetulan ada dilereng bukit?" "Ya, memang demikian gusti," Jawab jiwa pedang.

"Hah benarkah yang kau katakan, jiwa pedang? Ada pintu alam gaib dibukit itu dan dalam keadaan terbuka pula?"

Sentak jiwa perempuan seakan tidak percaya. "Aku tidak berdustal"

"Aku percaya padamu." Ucap jiwa perempuan.

"Tapi sebagai sesama mahluk yang berasal dari alam roh, kau juga tahu dunia kehidupan manusia yang bersifat fana ini berdampingan dengan dunia yang tak terlihat kasat mata yang dibatasi dengan sebuah tirai. Ada tabir pemisah juga pintu penghubung. Pintu penghubung antara kehidupan nyata dengan kehidupan mahluk selalu terkunci rapat. Tidak seorangpun manusia yang bisa memasuki pintu itu terkecuali hanya beberapa orang yang memiliki kelebihan dan keistimewaan tertentu.

Mendengar ceritamu aku menjadi penasaran. Jangan-jangan ada sesuatu yang tidak beres. Kalau saja gusti Raja mengijinkan..."

Belum sempat jiwa perempuan menyelesaikan ucapannya, sang pendekar tiba-tiba menyela. "Jiwa perempuan. Aku tahu maksud ucapanmu. Akupun merasa ada yang tidak beres. Sekarang

kau kuberi waktu untuk melihat ke sana. Apapun yang kau temukan hendaknya secepatnya kembali dan memberi tahuku!"

Tegas pemuda itu.

"Terima kasih Gusti berkenan memberi kesempatan pada saya. Saya mohon diri dan segera kembali!"

Setelah berkata demikian, jiwa perempuan segera berkelebat tinggalkan Raja dan Jiwa Pedang.

Sambil menggerutu Raja tekap hidungnya begitu mengendus bau jengkol. Bersamaan dengan berlalunya Jiwa Perempuan, Jiwa Pedang menggerutu.

"Mahluk jorok. Cantik-cantik makanan kesukaannya serba bau. Sungguh dia mempermalukan kaumnya sendiri."

"Sudahlah, jangan mengeluh. Kau rupanya lupa banyak manusia, tidak lelaki atau perempuan memang menyukai yang serba bau dan jorok. Ha ha ha!"

Sahut Raja disertai gelak tawa.

Jiwa Pedang yang tidak mengetahui maksud Ucapan Raja hanya bisa diam melongo.

*****

KEPERGIAN Jiwa Perempuan memang tidaklah terlalu lama.

Raja telah mengendus bau tidak sedap yang menerpa hidungnya bersama hembusan angin. Seketika itu juga Raja menyadari mahluk alam Roh yang konon menurut Jiwa Pedang memiliki wajah ayu rupawan telah kembali.

Tidak menunggu lama buru-buru pemuda ini ajukan pertanyaan.

"Bagaimana? Apakah yang kau di sana lihat sama dengan yang dilihat Jiwa Pedang?" Jiwa perempuan tidak segera menjawab pertanyaan Raja. Sebaliknya dia malah bergurau.

"Wah, gusti hebat. Sekarang sudah bisa melihat diri saya yang cantik. Buktinya gusti tahu saya kembali."

"Melihat gundulmu! Aku tahu kedatanganmu karena aroma tubuhmu yang bau!"

Dengus Raja lalu palingkan perhatian ke jurusan bukit "Jawab saja pertanyaannya!"

Perintah Jiwa Pedang ikutan kesal. "Ya,ya baiklah."

Kata Jiwa Perempuan. Kemudian pada sang pendekar dia menjelaskan segala yang dilihatnya. "Ada seorang gadis terperangkap di alam gaib katamu?"

Desis Raja dengan kening berkerut mata terbelalak.

"Jadi gadis itu yang berteriak minta tolong? Lalu gadis itu pula yang mengucapkan katakata seolah-olah hidup tidak berpihak padanya? Apakah dia mahluk lelembut?"

"Tidak gusti. Dia mempunyai jiwa dan raga sebagaimana manusia yang lain."

"Bagaimana dia bisa tersesat ke sana? Apakah penghuni kegelapan yang membawanya ke sana?" Tanya sang pendekar heran.

"Saya tidak mengerti gusti." Jawab Jiwa Perempuan.

"Waktu saya ke sana, saya tidak melihat siapapun. Bagaimana gadis itu tiba-tiba muncul disana?"

Tidak kalah heran Jiwa Pedang ikut bertanya.

"Matamu mungkin sudah lamur Jiwa Pedang. Gadis itu bukan muncul tiba-tiba. Dia memang ada di sana. Tidak jauh dari pintu gerbang yang terbuka. Dia berada di bawah pohon aneh dalam keadaan tidak berdaya, Tangan dan kaki dipentang, terikat pada sebuah tiang pancang. Tempat itu sunyi, dingin dan aku mencium hawa kematian. Juga ada hawa amarah, penderitaan, kesengsaraan hidup kebencian dan dendam, Hanya aku tidak bisa meyakinkan diriku dari mana semua rebawa keburukan itu datang."

Terang Jiwa Perempuan yang ternyata mempunyai perasaan lebih peka dari Jiwa Pedang. Jiwa Pedang terdiam.Raja justru ingin mengetahui lebih jauh.

"Gadis yang kau lihat itu agaknya membutuhkan pertolongan" Gumam Raja. "Menurut saya memang demikian gusti."

Jawab Jiwa Perempuan, Mungkin karena sesama wanita Jiwa Perempuan terkesan lebih semangat.

Berbeda dengan Jiwa Pedang yang tidak mudah terbawa arus perasaan tetapi lebih mengutamakan pikiran dan akal sehat.

"Gusti, apa yang gusti hendak lakukan?" Bertanya Jiwa Pedang seolah ingin kepastian.

"Gadis itu siapapun dia pasti butuh bantuan kita." "Bagaimana kalau ini semua hanya jebakan, gusti?"

Kata Jiwa Pedang membuat Raja tertegun dan keheranan.

"Jebakan? Siapa yang menjebak? Bagaimana kau bisa bicara seperti itu, Jiwa sahabatku?" Raja mendengar helaan nafas dalam Jiwa Pedang. Mahluk alam roh itu pun berujar.

"Alam Nyata dan alam gaib mempunyai batas. Ada ketentuan serta aturan yang tidak boleh dilanggar oleh masing-masing penghuninya. Manusia penghuni alam nyata tidak bisa seenaknya gentayangan dialam gaib. Penghuni alam gaib juga demikian. Memang aneh bila ada gadis yang memiliki tubuh kasar bisa terperangkap di alam gaib. Saya merasa ada yang tidak beres. Pasti ada sesuatu dibalik keberadaannya di tempat itu." terang Jiwa Pedang

"Makanya kita harus ke sana. Kita tolong gadis itu. Setelah kita berhasil membawa gadis itu dari sana, baru kita bertanya apa yang menjadi pangkal sebab segala kemalangan yang dialaminya."

Ujar Jiwa Perempuan.

"Apa yang dikatakan Jiwa Perempuan ada benarnya juga, Jiwa Pedang. Kita selamatkan dulu gadis

itu."

"Saya tidak berani membantah keputusan gusti,walau hati kecil saya mengatakan tidak. Dan

sebagai sahabat yang selalu mendukung saya tetap akan mengikuti gusti sungguhpun gusti memutuskan untuk pergi ke akhirat. He he he...!"

"Kurang ajar. Jadi kau menyuruhku mati secepatnya? Kawin saja aku belum, Merasakan betapa serunya malam pertama cuma sebatas angan-angan. Masih banyak gadis-gadis cantik, tidak sedikit janda-janda kedinginan. Kalau aku mati kepagian siapa yang akan mengurusi mereka? Ha ha ha!"

Dengus sang pendekar disertai gelak tawa "Gila...." rutuk Jiwa Perempuan.

Merasa kesal mendengar gurauan kedua orang itu maka Jiwa Perempuan langsung menimpali. "Serahkan saja pada bandot-bandot tua pelalap daun muda dan kakek-kakek bau tanah pasti

beres. Hik hik hik!"

"Beres kepalamu bau menyan, Jiwa Perempuan. "

Sahut Jiwa Pedang kembali mengekeh

"Yah, dia benar.Kalau diserahkan pada bandot tua mana ada gadis yang suka dengan bau kambing.Diserahkan pada kakek-kakek aku malah jadi iba, jangan-jangan baru mendayung perahu setengah jalan, si kakek malah putus nafasnya."

"Hah, apa. Apakah setiap kakek suka berperahu?"

Tanya Jiwa Perempuan polos

"Jangankan kakek bandotan, yang sudah lumpuh tidak bisa apa-apa dan sudah bau tanah juga masih mau."

Celetuk Jiwa Pedang lagi-lagi ketawa.

Setelah bicara melantur tak karuan kejuntrungannya, tiba-tiba saja Raja berkata.

"Sudah Jangan diteruskan. Apa nanti kata orang, melihat aku bicara sendiri sambil tertawa begini dikiranya aku gila."

"Bukankah gusti sudah dikenal dengan nama Raja Gendeng. Apakah Gendeng bukan berarti gila?"

Sahut Jiwa Perempuan.

"Gendeng-gendeng begini aku ini Raja sungguhan. Sudahlah! Sekarang kalian lebih baik kembali ke hulu pedang. Aku hendak menuju ke bukit itu."

Setelah berkata demikian, murid nenek bawel Nini Balang Kudu yang berdiam di dasar laut selatan ini segera berkelebat tinggalkan lembah dan pancuran bambu.

Karena petunjuk yang diberikan oleh Jiwa Perempuan dan Jiwa Pedang maka untuk menemukan penghubung pintu menuju alam gaib itu tidak begitu sulit.

Ketika berdiri di depan pintu aneh berbentuk bundar, bening, seolah dilapisi air, Raja melihat kepulan asap tebal berwarna putih laksana hamparan kabut. Sambil berkemak-kemik membaca doa-doa sebagaimana yang pernah diajarkan gurunya ketika berada di gua mayat es,sang pendekar julurkan tangan kanannya.

Maksudnya hendak menyentuh tabir tipis seperti lembaran air membeku. Namun tiba-tiba dia merasakan sekujur tubuhnya jadi merinding.

"Aku merasa seperti hendak masuk menuju ke alam kematian. Ada hawa dingin aneh menebar dari balik pintu gerbang alam gaib ini." membatin Raja dalam hati.

"Ketuklah pintu tiga kali, ucapkan salam sebagaimana biasanya orang yang bertamu!"

Sekonyong-konyong Raja dikejutkan oleh terdengarnya suara orang bicara. Dan suara itu bukan ngiangan dari kedua jiwa sahabatnya.

"Baiklah." gumam sang pendekar sambil menghembuskan nafas dalam-dalam.

Tanpa peduli siapa saja yang baru bicara, Raja mengetuk tabir tiga kali lalu mengucap salam tiga

kali.

Ketika jemari tangan menyentuh tabir bening itu,tabir bergoyang membentuk gelombang

selayaknya sebuah benda menyentuh permukaan air. "Tamu dipersilakan masuk. Yang masuk sulit keluar. Yang tersesat tak pernah pulang. Terkecuali bagi mereka yang berhati lurus, berniat tulus dan membaktikan diri dalam kebaikan!*"

Suara itu lenyap lalu.. Seer!

Seperti pecahan butiran kaca, tirai bening sesejuk air itu luruh berhamburan jatuh ke bawah.

Memandang ke depan dengan hati berdebar. Raja melihat dibalik pintu gaib ternyata yang ada hanyalah kegelapan semata.

Tidak ada lampu, tidak ada nyala pelita.

"Di luar sana di dunia kehidupanku, bukankah masih siang hari?" Batin Raja.

"Gusti. Jangan banyak berpikir. Gusti baru saja hendak memasuki sebuah kehidupan penuh dengan kesesatan dan tipuan mata. Masuk saja, kami akan selalu berjaga-jaga. Jika ada bahaya kami kami akan memberi tahu!"

Terdengar suara mengiang di telinga Raja. Pemuda ini tahu, Jiwa Pedang baru saja berbicara.

Sambil anggukan kepala tanpa ragu Raja segera melangkahkan kaki.

Berjalan memasuki dunia gaib yang dibalut dengan kegelapan abadi. Sang pendekar merasakan nyawanya seperti terbang.

Tubuh mengkeret merinding seakan dia memasuki alam kematian, Tapi dengan segenap keberanian yang dia miliki dan didukung oleh rasa percaya diri yang sangat tinggi maka sambil melangkah lebih ke dalam Raja diam-diam salurkan tenaga dalam kebagian tangan.

"Apakah kalian bisa melihat di dalam kegelapan seperti ini?"

Bertanya Raja ditujukan pada kedua sahabatnya yang berdiam di hulu pedang. "Bisa."

Jawab Jiwa Perempuan.

"Kami bisa melihat dalam segala keadaan, gelap dan terang tidak ada bedanya karena kami tidak mempunyai raga kasar seperti gusti!"

Kata Jiwa Pedang pula. "Mahluk halus." Gumam pemuda itu.

"Banyak mahluk dunia gaib bisa menampakkan wujud, tapi mereka butuh kekuatan besar untuk menampilkan wujud mereka."

Pikir sang pendekar.

Baru saja pemuda ini berpikir demikian.

Kemudian menggerakkan kepala dan matanya ke segenap penjuru sudut. Tiba-tiba saja suasana gelap pekat yang menyelimuti kawasan itu berubah menjadi temaram. Kemudian perlahan namun pasti diketinggian langit muncul satu cahaya.

Cahaya itu berwarna kuning keemasan.

Walau tidak seterang matahari namun cukup membantu penglihatan sang pendekar untuk mengenali apa saja yang berada di sekitarnya.

"Matahari muncul! Mengapa cahayanya meredup seperti obor?" Kata Raja seakan ditujukan pada dirinya sendiri.

"Gusti. Ditempat ini matahari muncul hanya sekejab mata dalam sehari. Bila sekarang gusti dapat melihat semua yang berada disekeliling gusti itu bukan karena bantuan matahari. Lihatlah ke langit!"

Saran Jiwa Perempuan. Perlahan Raja dongakkan kepala. Menatap ke langit dia tidak menemukan matahari melainkan bulan. Bulan yang dilihat Raja bukanlah bulan sabit atau bulan purnama melainkan bulan berbentuk aneh, bulan berbentuk gambar hati yang setengah retak.

Melihat kearah bulan dalam bentuk yang sedemikian ganjil, Raja tersenyum malah tak kuasa menahan tawa.

Tapi tiba-tiba dia merasakan ada tangan yang tidak tertihat mendekap mulutnya.Raja meronta dan siap hendak mendamprat. Namun sebelum suaranya terlepas dari mulut, terdengar suara mengiang mendahului.

"Tidak ada yang lucu. Tak ada yang patut ditertawakan. Yang gusti saksikan bukan sebuah kelucuan tapi sebuah keanehan, dimana mahluk seperti saya pun baru sekali ini melihatnya!"

Kata Jiwa Perempuan memberi tahu. Raja tertegun sekaligus menelan ludah. "Begitu? Tapi jauhkan tanganmu yang bau itu dari mulutku!"

Dengus Raja dengan suara di hidung. Dia kemudian merasakan tangan Jiwa Perempuan diangkat menjauh dari wajahnya. Memandang ke langit dengan wajah dibayangi rasa tidak mengerti pemuda itu tiba-tiba menggumam.

"Bukan bulan sabit, tapi bulan retak. Mengapa bulan muncul dalam keadaan seperti itu?" "Gusti, bulan ditempat ini walau sama seperti bulan di dunia kehidupan gusti. Namun di tempat

ini kehadiran bulan dengan bentuknya itu mewakili suasana para penghuninya. Bulan bergambar separoh hati menurut pengalaman saya menggambarkan Suasana hati seseorang atau lebih yang memiliki ilmu kesaktian tinggi sedang diliputi dendam kesumat dan amarah yang luar biasa.

Kemarahan menimbulkan kebencian yang hebat. Kebencian dikuti dengan keinginan untuk membunuh. Dibalik semua yang saya sebutkan, ada sesuatu yang ingin diraih dan hendak didapatkan. Tapi orang itu cemas karena sesuatu yang ingin dia dapatkan terrnyata juga menjadi incaran seseorang yang mempunyai kekuatan dan kesaktian yang sama."

Terang Jiwa Pedang. "Pengetahuanmu tentang dunia gaib lebih baik dariku. Coba katakan mahluknya yang membuat penampilan bulan seperti itu?"

Tanya Raja.

"Sulit untuk menduganya gusti. Saya hanya bisa merasakan seseorang datang dari dunia dingin.

Satunya lagi datang dari daratan sunyi penuh benci. Yang dari daratan sunyi saya tidak bisa tahu siapa dia, karena dia dilindungi oleh kekuatan kekuatan jahat yang selalu mendukung setiap langkahnya."

"Yang dari dunia dingin itu? Apakah tidak keliru kalau kukatakan orang itu hidupnya di air?" Tanya Raja.

"Hmm ternyata biarpun gendeng otak gusti cukup pandai untuk menafsirkan sesuatu." Kata Jiwa Pedang sambil menahan tawa.

"Jiwa Pedang. Jangan bicara berpanjang kata sampai lidah terjulur mulut berbusa-busa. Katakan saja yang jelas dan singkat, biar gusti Raja tidak keburu pegal mendengarnya."

Tukas Jiwa Perempuan. Rupanya mahluk yang satu ini sudah tidak sabar melihat Jiwa Pedang yang dilihatnya terlalu berbelit-belit dalam berkata-kata. Pada hal saat itu Jiwa Perempuan mulai merasakan kehadiran mahluk-mahluk lain dikeremangan itu.

"Baik saya tahu. Sekarang biar saya perjelas lagi."

Kata Jiwa Pedang tanpa menghiraukan ucapan Jiwa Perempuan.

"Seperti yang gusti katakan kekuatan itu satunya memang berasal dari kehidupan air." "Lalu yang dari daratan apakah datang dari tempat ini?"

Tanya sang pendekar tidak sabar

"Saya tidak sanggup menjajakinya. Seperti yang saya katakan, ada tiga kekuatan jahat yang melindunginya. Tidak hanya melindungi, dimasa kecil menjadi membawa kebencian, tiga kekuatan itu pula yang mengasuhnya."

"Semua yang kau katakan, sangat menarik. Namun aku belum puas karena masih banyak pertanyaan yang mengganjal hati. Sekarang sebaiknya kita temukan dulu gadis yang dilihat Jiwa Perempuan."

Setelah memutuskan demikian, Raja ajukan pertanyaan pada Jiwa Perempuan. "Kau yang paling tahu dimana gadis itu..."

Belum sempat sang pendekar selesaikan ucapan, tiba-tiba saja Jiwa Pedang melalui suara mengiang berseru

"Gusti, kita terkepung..."

Walau sejak awal memasuki pintu gaib. Raja telah bersikap waspada tak urung sang pendekar sempat terperangah mendengar seruan Jiwa Pedang.

Sambil melangkah ke depan satu tindak pemuda ini lipat gandakan tenaga dalam dan mengalirkannya ke kedua belah tangannya. "Mereka ada dimana!"

Seru Jiwa Perempuan pula.

Karena belum melihat siapa yang datang, Raja memilih diam tetapi juga segera memerintahkan kedua sahabatnya untuk mempersiapkan diri.

Tiba tiba saja terdengar suara raungan.

Seiring dengan terdengarnya suara itu, bulan sebelah diketinggian langit memancarkan cahaya lebih terang.

Terangnya cahaya disertai dengan munculnya suara bergemuruh mengerikan yang datang dari segenap penjuru sudut yang gelap.

******

Iring-iringan rombongan kecil berkuda yang dipimpin oleh dara jelita berpakaian cokelat itu akhirnya memasuki alun-alun kadipaten Salatigo.

Menyusul dibelakang si gadis berkuda yang tak lain adalah Bunga Jelita yang juga dijuluki Bunga Kembang Selatan itu, seorang nenek gemuk gembrot berpakaian kuning berambut disasak ke atas mirip sarang lebah.

Disebelah nenek gemuk yang bernama Limbuk Ayu mengiringi dua orang kakek berhidung mancung mirip paruh burung.

Kakek yang berpakaian putih yang hidungnya terluka bersenjata arit besar tak lain adalah Bagus Lara Arang.

Sedangkan kakek di sebelahnya bersenjata sapu berpakaian hitam mewah selayaknya bangsawan keraton bernama Ki Demang Sapu Lengga.

Walau antara Ki Demang dengan kakek Bagus Lara Arang mempunyai kemiripan wajah, namun diantara keduanya tidak mempunyai hubungan darah.

Agak dibelakang orang-orang ini ada sebuah kereta kuda sederhana memuat sebuah peti mati yang dikawal oleh beberapa penjaga yang juga menunggang kuda.

Iring-iringan rombongan kemudian memasuki halaman pendopo tempat kediaman Adipati Salatigo Cakra Abiyasa.

Beberapa penjaga yang bersiaga di gerbang langsung bungkukkan badan sebagai tanda penghormatan begitu melihat siapa yang datang.

Dara cantik itu kemudian hentikan kuda.

Setelah melompat turun dari punggung kuda yang menjadi tunggangannya dan menyerahkan kuda pada seorang perawat kuda, Bunga Jelita segera memberi perintah pada dua kakek dan nenek untuk mengurus peti mati.

"Gusti, apakah tidak sebaiknya kami bertiga juga ikut menghadap gusti Adipati?" Berkata si nenek gembrot Limbuk Ayu.

Ki Demang sendiri hendak ikutan bicara namun urung.

Hanya tatap matanya saja menatap gadis jelita pimpinan penjaga dengan dada bergemuruh darah berdesir

"Nek, kau dan Ki Demang juga Bagus Lara Arang baru boleh menghadap Adipati bila selesai menurunkan peti berisi tiga jenazah!"

Tegas Bunga Jelita.

Selanjutnya tanpa bicara lagi dia segera bergegas menuju ke dalam. Limbuk Ayu hanya bisa menggerutu, Ki Demang dan Bagus Lara Arang menggeleng sambil menggumam tidak jelas.

"Turunkan peti. Letakkan di ruang Prabon. Mudah-mudahan Adipati segera memutuskan kapan tiga jenazah dalam peti dikuburkan."

Kata Limbuk ayu ditujukan kepada beberapa pengawal.

Enam pengawal pengiring dibantu dengan penjaga dalam kadipaten segera melakukan tugasnya. Pada kesempatan itu Bagus Lara Arang tiba-tiba membuka mulut tanggapi ucapan Limbuk Ayu. "Kalau tidak lekas dikubur, seluruh pendepokan sampai alun-alun bakal dipenuhi bau busuk

menyengat."

Tak ketinggalan Ki Demang ikut pula menimpali

"Siapa yang bisa hidup berdekatan dengan bangkai. He he he!"

Berkata begitu si kakek meludah sambil usap-usap janggutnya yang meranggas.

Sementara itu Bunga Jelita setelah melewati beberapa pintu yang dijaga ketat oleh pengawal dalam kadipaten akhirnya sampai di sebuah ruangan luas yang dipenuhi perabotan mewah berukir.

Ditengah ruangan seorang laki-laki berpenampilan rapi berpakaian lurik berkumis tebal duduk tenang menghadap ke arah lukisan besar bergambar pemandangan gunung dan bulan.

Ketika melihat kehadiran Bunga Jelita,laki-laki gagah berbelangkon dan selalu menyelipkan keris dibalik punggungnya itu tersenyum.

Sang dara yang masih terhitung kemenakannya itu segera berlutut, sambil rangkapkan tangan di depan dada gadis inipun berucap.

"Terimalah hormat saya, paman!"

Laki-laki berusia sekitar lima puluh lima tahun yang adalah adipati Salatigo Cakra Abiyasa tersenyum.

"Bunga kembang Selatan kemenakanku, engkau tidak perlu bersikap dan menghormat seperti itu bila cuma kita berdua yang ada di dalam ruangan ini. Kau adalah puteri kakanda Daeng Anjasmoro, artinya kau darah dagingku. Aku telah menganggap dirimu sebagai puteri kandungku sendiri, karena seperti yang kau ketahui aku tidak punya keturunan. Istriku semuanya mandul, lalu menjadi gila." Ucap Adipati dengan mata menerawang mengenang.

Namun kemudian dia gelengkan kepala. Kembali menatap ke arah sang dara yang bersimpuh di depannya. Adipati lanjutkan ucapan.

"Sudah, jangan berlebihan. Duduklah di atas kursi itu."

Sang Adipati menunjuk sebuah kursi yang berderet diseberang permadani merah. "Terima kasih paman!"

Bunga Jelita bangkit berdiri. Setelah itu duduk di atas kursi yang dimaksud. Adipati yang memang sudah menanti kedatangannya segera ajukan pertanyaan.

"Tiga hari kau dan rombongan kecil juga tiga nenek dan kakek kepercayaanku pergi. Apakah kau sudah mendapatkan titik terang mengenai nasib Raden Salya saudaramu yang juga kemenakanku?

Aku juga ingin tahu bagaimana nasib Rara Sintren kekasih Raden Salya dan juga pengiring setia Ki Bangor Madung."

Mendapat pertanyaan seperti itu walau sudah menduga tetap saja membuat wajah si gadis berubah muram.

Setelah sempat terdiam beberapa saat lamanya Bunga Jelita kemudian berujar,

"suratan takdir, hidup mati dan jodoh manusia sudah ada yang mengaturnya.Namun tentang bagaimana nasib orang-orang yang kita cintai dengan berat hati saya katakan mereka semua tidak tertolong.Maafkan saya paman!"

Ucap Bunga Jelita dengan suara serak tercekat.

Mendengar penjelasan gadis berkepandaian tinggi itu Adipati menghela nafas dalam lalu tundukkan kepala.

"Mereka terbunuh...tubuh mereka tercabik cabik sebagaimana korban lainnya. Yang membuat saya menjadi marah mereka ditumpuk dalam satu peti mati."

Terang gadis itu lagi.

Kemudian tanpa diminta Bunga Jelita menceritakan tentang raibnya tiga peti emas, uang kepingan dan tatakan perak.

Tak lupa dia juga menceritakan tentang keberadaan seorang pemuda berkepandaian luar biasa, mengaku bernama Raja dan menyebut dirinya dengan Sang Maha Sakti, Raja Gendeng 313.

Setelah mendengar penjelasan kemenakannya yang juga kepala pasukan kadipaten, Adipati mengusap wajahnya yang muram dan juga seka kedua matanya yang sempat berkaca-kaca.

"Semua ini ujian yang berat bagiku juga buat kita semua." Kata Adipati sambil tatap gadis didepannya.

"Jika harta benda lenyap dirampok kawanan begal, aku tidak peduli. Tapi bila nyawa ikut dirampok, manusia sakti mana yang bisa menggantikannya?" "Paman! Jika Raden Salya, kekasih dan pembantunya dirampok. Perampoknya jelas bukan penjahat biasa. Saya yakin ini ada hubungannya dengan pembunuh keji yang peri lakunya seperti binatang buas yang disebut dengan Perawan Bayangan Rembulan. Sejauh ini kita tidak tahu siapa gadis berdarah dingin itu. Mengapa dia membunuh pada waktu bulan timbul, mengapa yang dia bunuh hanya orang-orang yang kita anggap berperilaku baik dan selalu hidup di jalan yang lurus?"

"Perawan Bayangan Rembutan?"

Gumam Adipati mengulang ucapan Bunga Jelita.

"Siapa dia? Mengapa dia kelihatannya liar tidak terkendali?"

"Paman. Bila mengandalkan diri kita untuk mengatasi semua bencana yang terjadi, kita tidak bakal sanggup melakukannya. Alangkah baiknya bila meminta bantuan beberapa tokoh sakti seperti Nini Buyut Amukan nenek sakti berjubah terbang atau...!"

Sebelum dara cantik ini sempat selesaikan ucapan, Adipati tiba-tiba menyela.

"Aku telah menghubungi nenek itu dan dia berjanji memberi bantuan secepatnya. Malah dia berencana akan mengajak salah seorang sahabatnya bernama Resi Cadas Angin."

"Resi Cadas Angin yang tinggal di lembah Batu Pijar di dasar jurang Argoboyo itu?" Sentak Bunga Jelita kaget tapi juga lega.

Walau usia Bunga Jelita masih muda, namun dia sangat mengenal beberapa tokoh sakti aliran putih.

"Di antaranya adalah dua yang disebutkan sang paman."

"Benar, Bunga Jelita... mungkin sekarang Nini Buyut Amukan telah menemui sobat karibnya itu karena aku telah bertemu dengan si nenek tiga hari yang lalu."

"Jika mereka membantu, mungkin dalam waktu yang tidak lama kita dapat mengetahui sekaligus meringkus Perawan Bayangan Rembulan itu, paman."

Ucap Bunga Jelita dengan wajah berseri seri

"Aku harap demikian. Namun diluar sana apa yang terjadi tidak sesederhana yang kita pikirkan."

Sahut Adipati dengan wajah muram dan dua matanya setengah dipejam seolah ada beban berat yang memenuhi benaknya.

Melihat sang paman bermuram durja, Bunga Jelita pun tak kuasa menahan diri untuk bertanya. "Apa maksud paman. Persoalan yang kita hadapi sudah sangat jelas. Kita harus menangkap

Perawan Bayangan Rembulan. Karena dia biasa muncul dimalam datangnya bulan dilangit, kita tinggal menunggu dan memburunya. siang hari kita bisa melepas lelah!"

Mendengar ucapan Bunga Jelita yang penuh semangat, Adipati cepat gelengkan kepala. "Masalah kita tidak hanya datang dimalam hari. Sekarang siang hari pun muncul masalah baru." Jelas Adipati Cakra Abiyasa.

"Apa maksud paman?" Tanya gadis itu dengan kening berkerut. Laki-laki yang duduk di atas kursi kebesaran itu tidak menjawab.

Sebaliknya dia terdiam dengan mata menerawang.

Mata itu menembus jendela terbuka yang menghadap ke arah halaman.

Diam ditengah kebisuan, dengan mulut Adipati melongo membuat sang dara jelita kesal menunggu sehingga jadi hilang kesabarannya.

Tapi selagi dia siap melanjutkan ucapan, tiba-tiba dengan suara lirih seakan takut didengar oleh orang lain Adipati berujar,

"persoalan tidak hanya datang dari Perawan Bayangan Rembulan. Apakah kau belum mendengar tentang munculnya seorang Gadis Jelita.Gadis itu dijuluki Bidadari Penebar Maut."

"Apakah mungkin Bidadari Penebar Maut adalah orang yang sama dengan Perawan Bayangan Rembulan?"

Tanya bunga jelita.

Adipati menggeleng. Setelah sandarkan punggungnya pada bantalan kursi yang empuk lembut, Adipati kembali melanjutkan.

"Bidadari Penebar Maut mempunyai tujuan yang jelas, dia mencari seorang gadis bernama Puteri Manjangan Putih."

"Puteri Manjangan Putih," desis Bunga Jelita sambil berpikir apakah dia pernah mengenal nama itu. Tiba-tiba dara jelita itu tersentak.

"Astaga! Paman. Sepertinya saya pernah mendengar puteri yang paman maksudkan. Tapi mengapa Bidadari Penebar Maut mencari Puteri Manjangan Putih?" "Aku tidak tahu."

Kata Adipati terus terang.

"Memangnya Puteri Manjangan Putih menetap dimana?"

Tanya laki-laki itu sambil menatap Bunga Jelita lekat-lekat

"Puteri Manjangan Putih tidak tinggal di dunia atau alam fana seperti kita.Puteri itu sejenis mahluk halus. Menurut yang saya dengar dia berdiam di sebuah istana alam gaib. Istana itu bernama Istana Satu Jagad Kelanggengan!"

"Kalau yang kau katakan itu memang benar adanya. Seharusnya Bidadari Penebar Maut tidak boleh membunuh setiap orang yang ditanyainya!"

"Mengapa orang-orang itu dibunuh?"

"Karena mereka selalu memberi jawaban tidak tahu ketika ditanya." "Perempuan keji!"

Desis Bunga Jelita gusar. "Saya heran mengapa Bidadari Penebar Maut itu mencari Puteri Manjangan Putih? Mungkinkah dia mempunyai kepentingan tertentu? Yang saya tahu seorang bidadari selalu berperilaku santun, berwajah cantik.Jangankan membunuh, menyakiti seekor semutpun dia tidak akan sanggup melakukannya."

"Mungkin saja bidadarinya gila, atau ada sesuatu dalam dirinya yang membuatnya hilang kewarasan lalu membunuh!"

"Mungkin. Semua itu bisa saja terjadi paman!"

Sahut Bunga Jelita, Adipati anggukan kepala. Setelah terdiam sejenak dia ajukan pertanyaan. "Oh ya, mengenai pemuda yang kau ceritakan itu bagaimana? Apakah dia mungkin kaki-tangan

Perawan Bayangan Rembulan?"

Pertanyaan sang paman membuat ingatan Bunga Jelita segera terbayang wajah tampan pemuda yang dianggapnya aneh itu.

"Andai saja Limbuk Ayu dan Bagus Lara Arang serta ki Demang tidak bertindak gegabah menuduh pemuda itu membunuh Raden Salya,kekasih juga pembantunya. Dia mungkin saja bisa diminta bantuannya untuk menyelidiki Perawan Bayangan Rembulan atau Bidadari Penebar Maut. Sayang..!" gumam sang dara menyesalkan.

"Eh ditanya mengapa malah diam?!" suara sang Adipati memecah keheningan. "Hem, maafkan saya paman."

Bunga Jelita tersipu sambil benahi sikap duduknya.

"Seperti yang saya katakan telah terjadi kesalahpahaman antara nenek Limbuk Ayu, dua kakek dengan pemuda itu. Menurut saya, pemuda itu berhat polos. Sifatnya aneh, cenderung angin-anginan. Tapi dia memiliki kesaktian luar biasa tinggi."

"Aku juga tidak yakin dia telah berbuat jahat pada kerabat kita. Andai saja Raja Gendeng 313 bisa kita minta bantuannya..."

"Saya juga berpikir demikian, paman. Tapi tiga orang itu telah membuat keadaan berkembang tidak sesuai dengan yang saya harapkan!"

Baru saja Bunga Jelita berucap seperti itu, tiba-tiba saja terdengar suara teriakan dari halaman depan pendopo.

"Ada buaya datang menyerang!"

Teriak seseorang dihalaman luar pendopo. Kedua orang yang sedang berbicara dalam ruangan pertemuan tersentak kaget, saling berpandangan.

Adipat yang mengenal benar suara Limbuk Ayu melompat bangkit sambil berucap. "itu suara Limbuk Ayu!"

"Biarkan saya menangani semua ini" kata Bunga Jelita yang dengan seketika beranjak dari tempat duduknya. "Aku ingin melihat."

"Sebaiknya aku ikut serta, anakku!" Tegas Adipati.

Keduanya kemudian bergegas tinggalkan ruangan itu.

Mereka sama sekali tidak tahu bahwa selama keduanya terlibat pembicaraan serius, sesungguhnya pembicaraan mereka itu didengarkan oleh seseorang yang mengintai mereka.

Ketika Adipati dan kepala pasukan berlalu, sang pengintai keluar dari tempat persembunylan. Sambil mengendap-endap menuju halaman belakang orang ini diam-diam berkata.

"Lebih banyak rahasia yang kuketahui daripada yang diketahui oleh Adipati dan kemenakannya yang cantik. Aku tidak takut pada Adipati. Aku malah berhasrat pada Bunga Jelita. Suatu saat aku bisa mendapatkannya. Ancaman yang aku takutkan datangnya dari gadis jahanam itu. Harusnya dulu dia kubunuh. Mestinya sejak kecil dia kuhabisi. Kini dia menjadi duri dalam daging. Dan celakanya disaat seperti ini, Ki Jangkung Reksa Menggala tidak pernah terlihat batang hidungnya. Orang suruhanku yang menyambangi Padepokan Tiga Guru mengatakan bahwa tempat itu telah porak poranda. Ki Jangkung Menggala raib ditelan bumi. Dua adiknya Ki Jalung Upas dan Ragil Ijo malah ditemukan terbunuh ditempat pengungsian di sebuah gua di Kulon Watu Cadas. Satu terbunuh dengan kepala lenyap dan satunya lag mampus dengan tubuh tercabik."

Kata orang ini dengan bergidik dan usap tengkuknya.

Tanpa menunggu lama, orang ini segera berkelebat melewati pintu belakang.

Tidak ada orang atau pengawal Adipati yang melihatnya karena pengawal yang biasanya berjaga di tempat itu sedang berkumpul di halaman depan pendopo.

Ketika Bunga Jelita dan pamannya sampai dihalaman depan.

Mereka melihat halaman yang luas itu telah penuh dikepung puluhan pengawal dengan senjata terhunus, Penjagaan ketat juga dilakukan oleh pengawal yang berada di luar benteng kediaman Adipati.

Di antara mereka bahkan ada yang bersiaga di atas tembok benteng.

Melihat kehadiran Adipati dan kepala pasukan para penjaga segera memberi jalan pada keduanya untuk melangkah lebih kedepan.

Adipati segera disambut oleh Bagus Lara Arang, ki Demang Sapu Lengga dan Limbuk Ayu. "Rasanya binatang itu bukan binatang biasa, gusti."

Limbuk Ayu memberi penjelasan. Sang Adipati diam tidak menanggapi.

Sebaliknya dia memandang ke halaman yang telah dikepung pengawal.

Di depan sana Adipati dan Bunga Jelit melihat seekor buaya besar berdiri dengan empat kaki, mulut terbuka dengan sikap mengancam. Disekeliling buaya berwarna putih itu bergelimpangan sedikitnya lima pengawal dengan tubuh dipenuhi luka cabikan penuh darah dan dalam keadaan tidak bernyawa.

"Dari mana dia datang?"

Tanya Bunga Jelita dengan sikap waspada. "Tidak ada yang tahu datangnya darimana mahluk keparat itu. Dia muncul tiba-tiba dan menyerang pengawal kita!"

Jawab Bagus Lara Arang.

Lain halnya dengan Adipati sendiri.

Melihat kulit buaya yang tidak lazim, dia segera maklum buaya yang berada di hadapannya jelas bukan binatang biasa.

Tidaklah mengherankan walau lima pengawalnya telah menjadi korban, Adipati tanpa kemarahan dengan sikap bersahabat malah menjura sebagai tanda penghormatan.

Setelah itu dia berkata.

"Aku tidak tahu, angin apa yang telah membawamu ke sini, ratu dari sekalian buaya. Andai ada yang bisa kulakukan agar tidak terjadi pertummpahan darah.Aku lebih suka memenuhi segala kepentinganmu dan memilih jalan damai, wahai Bidadari Selaka Merah!"

Mendengar ucapan Adipati yang polos dan tidak menyangka bahwa laki-laki itu mengenal sang mahluk tentu saja membuat kaget dua kakek, nenek, pengawal dan juga Bunga Jelita.

Sebaliknya mahluk berujud buaya berwarna putih perak itu juga diam-diam tidak kalah terkejutnya. Sementara setelah dapat menguasai diri si nenek gemuk gembrot Limbuk Ayu dengan perasaan tidak suka dalam hati berkata.

"Adipati manusia lemah yang lebih mementingkan sikap dan perasaan. Dia tidak patut menjadi adipati. Sudah tahu mahluk jahanam itu membunuh lima pengawalnya. Masih juga dia memberi angin bicara manis-manis dengan buaya keparat itu!"

Dia menjadi geram tidak puas. Tidak jauh disamping si nenek, Ki Demang Sapu Lengga yang sedari tadi perhatiannya tidak pernah lepas dari buaya siluman diam-diam berkata.

"Siluman Buaya Putih, ratu penguasa dari sekalian buaya. Jika benar apa yang dikatakan Adipati mahluk jejadian itu adalah Bidadari Selaksa Merah, mungkin dia bisa kumanfaatkan untuk menyingkirkan bahaya besar yang mengancam diriku. Tapi aku harus tahu dulu, apa maksud kedatangannya di tempat ini."

Batin si kakek sambil mengelus janggutnya.

Sementara Bagus Lara Arang terpaku diam ditempatnya.

Sang mahluk itu merasa tidak ada gunanya lagi menyembunyikan diri dalam ujud jelmaan.

Tidaklah heran, sesaat setelah mendengar ucapan Adipati tiba-tiba dia menguik panjang lalu memutar tubuh tiga kali berturut-turut. Menyangka sang buaya hendak menyerang, puluhan pengawal semakin meningkatkan kewaspadaannya. Malah barisan pengawal yang berjejer di atas tembok mengangkat busur lengkap dengan anak panahnya.

Sewaktu-waktu bila keadaan berubah memburuk mereka telah siap menghujani buaya jejadian itu dengan panah.

Wuus!

Dugaan semua orang yang ada pendopo maupun yang berada di atas benteng ternyata meleset. Tiga kali tubuh ratu buaya berputar.

Sosoknya mendadak raib tenggelam dalam pusaran angin yang dibuatnya sendiri. Sekejab kemudian ketika gerak berputar dan deru halaman angin berhenti maka di depan mereka berdiri tegak seorang gadis berwajah rupawan berambut hitam panjang tergerai dengan sebuah mahkota kecil bertengger di atas kepalanya.

Gadis yang memakai kain berupa gaun berwarna merah itu tersenyum dingin pada orang-orang yang menatapnya.

Hanya kepada Adipati dia menunjukkan sikap bersahabat.

Melihat siluman buaya itu telah berubah ujud dalam rupa yang sebenarnya, Adipatipun diam-diam merasa lega.

"Benar seperti yang telah kuduga. Ternyata engkau memang Bidadari Selaka Merah." Gumam Adipati disertai senyum.

"Aku memang mengetahui siapa dirimu, Adipati Salatigo. Sesungguhnya maksud kedatanganku kemari bukan untuk membuat kekacauan atau menumpahkan darah pengawalmu."

Ucap sang dara sambil melirik ke arah lima prajurit yang terbujur kaku di depannya.

"Tidak ingin menumpahkan darah. Kenyataannya kau telah membunuh para pengawal itu. Malah turut kabar yang aku dengar akhir-akhir ini kau juga menebar maut dimana-mana. Ini menambah kekacauan di tengah kekacauan yang telah ada."

Dengus Limbuk Ayu dengan wajah menunjukkan rasa tidak senang. "Nenek...harap jangan bicara dulu."

Cegah Adipati yang merasa ucapan si nenek hanya akan memperkeruh keadaan, Ditegur demikian si nenek langsung terdiam.

"Bidadari Selaka Merah tidak akan membunuh siapapun tanpa sebab!" "Aku juga berpendapat demikian!"

Tidak disangka-sangka Ki Demang ikut menimpali, membuat Limbuk Ayu merasa gusar.

Dalam hati dia bertanya mengapa Ki Demang yang biasanya selalu memberi dukungan kini malah berpihak pada orang yang tidak dikenalnya.

Hanya kakek Bagus Lara Arang yang melihat semua kejanggalan itu dengan pikirannya yang jernih "Ratu buaya atau Bidadari Selaka Merah. Siapapun dia pasti kehadirannya membawa maksud yang tidak baik. Sedari tadi kulihat diam-diam dia terus melirik pada Ki Demang. Apakah mungkin dia punya kepentingan tertentu dengan kakek berwatak bunglon itu?"

Batin si kakek

"Maafkan sahabatku nenek Limbuk Ayu bila ucapannya tidak berkenan di hatimu!"

Kata Adipati. Si nenek tambah kesal mendengar ucapan Adipati yang terkesan mengalah terus.

Namun dia hanya bisa diam sambil bersungut-sungut. Sementara itu, setelah mendengar ucapan sang Adipati, ratu buaya putih tak kuasa menahan tawa.

Guncangan hebat melanda halaman dan bangunan di belakangnya.

Para pengawal kadipaten terpaksa melindungi diri mereka dengan menutup telinga dengan jari tangan masing-masing.

Hanya orang-orang yang memiliki tingkat tenaga dalam tinggi saja yang sedikit terpengaruh oleh tawa sang ratu.

"Kau sangat bijaksana, aku suka itu!" Ucap ratu buaya putih.

Setelah menatap si nenek dan melirik ke arah yang lainnya, mahluk siluman itu berkata. "terus terang, aku tidak menyangkal, aku telah membunuh banyak orang beberapa hari

belakangan ini. Tapi pembunuhan yang kulakukan memiliki satu tujuan yaitu membebaskan diri dari sebuah penderitaan menyakitkan sepanjang sisa hidupku."

"Ratu Buaya atau Bidadari Selaka merah. Penderitaan apa yang membuatmu menjadi seorang pembunuh?"

Tanya Adipati disertai tatapan tajam penuh ingin tahu.

"Hi hi hi. Sayang aku tidak bisa mengatakannya. Tapi aku ingin berterus terang bahwa kedatanganku kemari karena mempunyai kepentingan dengan seseorang. Aku ingin meminjamnya untuk beberapa hari...!"

"Bidadari, ratu buaya putih atau siapapun dia. Aku merasa dia menyembuyikan sesuatu. Siapa orang yang hendak dipinjaminya?"

Batin Bunga Jelita setelah itu perhatiannya tertuju sambil menatap pada kakek nenek serta orang-orang yang berada di sekitarnya.

"Maafkan aku bila lancang berbicara. Sebagai kepala pasukan kadipaten aku mempunyai hak untuk mengetahui siapakah orang yang engkau inginkan, ratu buaya?"

Gadis cantik ratu buaya itu menatap wajah Bunga Jelita, lalu tersenyum sinis. Setelah julurkan lidah basahi bibir, dengan sikap acuh dia menjawab,

"kau masih begini muda, telah dipercaya menjadi kepala pengawal pasti kau memiliki ilmu kesaktian yang cukup diandalkan.Siapa namamu?" "Sial! Perlu apa dia tanya nama segala?"

Gerutu Bunga Jelita dalam hati. Tapi walau hatinya kesal, Bunga Jelita kemudian sebutkan namanya.

"Bunga Jelita, nama yang bagus dan secantik orangnya." Gumam ratu siluman buaya putih.

"Baiklah, karena Adipati telah menunjukkan sikap bekerja sama. Terus terang kukatakan, kedatanganku kemar ­ adalah ingin bertemu sekaligus menjemput orangtua yang bernama Ki Demang Sapu Lengga!"

Mendengar disebutnya nama Ki Demang, maka semua orang yang berada di sana menjadi geger tidak terkecuali Adipati sendiri

"Demang!"

Bagus Lara Arang yang jarang berbicara tiba-tiba membuka mulut.

"Rupanya peruntunganmu hari ini lumayan bagus. Ada orang berkenan bertemu dan menjemputmu.

Yang menjemput adalah seorang bidadari dan ratu pula. Andaikan aku juga ada yang menjemput dan gadis cantik pula, mana kuasa tua bangka ini menolak Ha ha ha!"

"Tua bangka edan. Nanti datang penjemputmu tapi sang penjemput itu hanya menghendaki nyawa lapukmu. Hik hik!"

Tukas Limbuk Ayu lalu pencongkan mulutnya. "Sudah. Jangan lagi ada yang bicara tak karuan!" Seru Adipati sambil angkat tangannya.

Semua orang terdiam.

Adipati turunkan tangan sambil menghadap ke arah ratu siluman buaya dia ajukan pertanyaan. "Ratu, aku tidak tahu kesalahan apa yang telah dibuat oleh sahabatku Ki Demang. Kalau boleh

aku tahu?"

"Mungkin saja KI Demang, si kakek pelalap daun muda itu hendak dijadikan kekasihnya," kata Bagus Lara Arang dalam hati.

Sedikit banyak Bagus Lara Arang mengetahui apa yang selalu dilakukan sahabatnya yang satu ini dari masa muda sampai sekarang.

Dia juga tahu bahwa selama ini KI Demang sangat ingin mendapatkan Bunga Jelita. Tapi belum tahu bagaimana caranya.

Sementara itu sambil mengurai senyum, ratu siluman buaya putih menanggapi ucapan Adipati dengan berkata

"dia tidak punya kesalahan apa-apa padaku. Sementara waktu aku ingin membawanya kesuatu tempat. Aku ingin menanyakan beberapa hal penting padanya. Hanya itu, tidak lebih. Setelah urusanku dengannya selesai, maka aku akan mengembalikannya ke sini." Tegas ratu siluman.

Adipati sebenarnya ingin mengatakan tenaga Ki Demang sangat dibutuhkan di kadipaten mengingat semakin meningkatnya ancaman bahaya yang dilakukan oleh Perawan Bayangan Rembulan.

Tapi Adipati memilih menelan kembali kata-kata yang hendak dia ucapkan demi menjaga keselamatan mereka semua.

"Ratu siluman buaya putih atau Bidadari Selaka Merah. Aku tidak menghalangi niatmu membawa Ki Demang. Tapi tanyakan sendiri pada yang bersangkutan apakah dia bersedia ikut denganmu?" setelah berucap demikian.

Adipati berpaling pada Ki Demang. Bunga Jelita, Limbuk Ayu, juga Bagus Lara Arang, ikutan menatap kakek itu. Si kakek yang telah mempunyai sebuah rencana. Mula-mula bersikap acuh namun kemudian sambil pura-pura unjukan wajah ketakutan dia berujar,

"Aku... memangnya aku hendak dibawa kemana?" Ki Demang pun terlihat gugup.

"Tenang, bila ada bidadari yang juga ratu berkenan membawamu, kau tidak perlu takut. Kau lebih beruntung dibandingkan dengan diriku!"

Goda Limbuk Ayu.

"Ikutlah bersamanya Ki Demang.Seorang ratu tidak mungkin menemuimu jika tidak ada masalah penting yang ingin dia bicarakan!"

Kata Bunga Jelita. Mendengar itu Ratu Siluman Buaya Putih tersenyum. Tanpa banyak bicara lagi, setelah mengucap terima kasih pada Adipati, sang ratu berkata ditujukan pada Ki Demang.

"Orangtua, kau tak usah takut dan jangan pula berprasangka buruk terhadapku. Selama kau ikut dengan baik, aku jamin tak ada lagi darah tertumpah atau nyawa yang melayang sia-sia."

"Memangnya aku hendak dibawa kemana?"

Tanya si kakek. Dalam hati dia berkata,

"aku sering mendengar segala kehebatanmu. Selama aku bersamamu,kemungkinan besar Perawan Bayangan Rembulan tidak bakal bisa mengusikku. Biarkan saja dia membunuh dan menghabisi orang lain, aku tidak"

"Kau tak perlu bertanya, nantinya kau akan tahu akan kubawa kemana." sahut ratu siluman.

Dalam keraguan yang dibuat-buat, Ki Demang masih sempatkan diri menatap orang-orang yang berada disekitarnya.

Memandang ke Limbuk Ayu, si nenek cibirkan bibirya.

Memandang ke arah Bagus Lara Arang, kakek itu malah acungkan jari kelingkingnya.

Menatap pada Bunga Jelita justru dia tidak sanggup melakukannya karena mata yang indah itu membuat jantungnya berdebar dan wajah cantik Bunga Jelita membuat pikirannya tambah kacau.Ketika terakhir kali dia berpaling pada Adipati, lakilaki gagah yang selalu bersikap bijaksana itu berujar.

"Pergilah. Semoga kau cepat kembali Ki Demang!" "Terima kasih gusti."

Hanya itu jawaban yang sempat diucapkan oleh Ki Demang.

Ketika tiba-tiba muncul deru angin dari tubuh ratu siluman buaya. Semua orang dengan tergesa-gesa menyingkir, mundur menjauh ke tempat yang lebih aman.

Dalam suasana tegang semua orang memandang ke arah dara bergaun merah dan Ki Demang yang diam mematung ditempatnya berdiri.

Pusaran angin tambah menggila. Lalu...

wusss! wusss!

Dua kali terdengar suara deru mengerikan, para penjaga berhamburan jatuhkan diri agar tidak tersapu gemuruh angin itu.

Tapi hempasan hempasan yang terjadi tidak berlangsung lama.

Ketika deru angin lenyap maka suasana kembali tenang, seolah tidak terjadi apa-apa.

Semua mata kini tertuju ke tempat dimana ratu siluman dan Ki Demang berada. Ki Demang lenyap.

Ratu siluman buaya putih atau sang bidadari penebar maut juga tidak berada ditempatnya "Mereka telah pergi. Andai aku bisa ikutan dengan ratu siluman tadi?"

Berkata Limbuk Ayu dengan mata menerawang ke arah lenyapnya dua orang tadi. "Jangan bicara ngaco, nek. Ratu siluman tidak berkenan membawamu karena tubuhmu

berat.Terkecuali kalau kau bersedia dijadikan santapan buaya-buaya pengikutnya.ha ha ha!" Sambut Bagus Lara Arang disertai gelak tawa.

Sambil delikan mata, Limbuk Ayu membuka mulut siap mendamprat.

Namun pada saat itu Bunga Jelita cepat menukas

"Kalian jangan ada lagi yang bergurau.Saat ini masih banyak urusan yang harus kita kerjakan.Mayat saudaraku Raden Salya bersama kekasih dan abdinya harus dikuburkan."

"Yang dikatakan Bunga Jelita memang benar." Adipati menambahkan.

"Selain itu kita juga harus bersiap menghadapi datangnya malam. Bulan purnama masih akan muncul sampai sepekan ke depan. Aku belum tahu apakah sahabatku Nini Buyut Amukan dan Resi Cadas Angin telah mengambil tindakan atau tidak. Dan aku berharap semoga pemuda yang kalian temui berada di pihak kita. Sekarang hendaknya kita lakukan upacara pemakaman sebelum hari berganti malam."  

Setelah berkata demikian Adipati tinggalkan tempat itu.

Bunga Jelita dengan dibantu para pengawal dan para abdi dalam segera mengerjakan semua persiapan pemakaman.

*****

Terperangkap dalam satu ruangan dingin luar biasa membuat pemuda berpakaian merah, berambut tegak melengkung ke atas tak ubahnya tanduk itu benar-benar tidak berdaya.

Dengan kekuatan yang dia miliki si pemuda yang tak lain adalah Tanggul Api atau yang yang lebih dikenal dengan sebutan Seruling Halilintar berusaha menjebol pintu putih yang terbuat dari lempengan batu pipih. Celakanya pintu tempat dia dan saudaranya dikurung keras laksana baja,tetapi ketika pintu berderak tiba-tiba terdengar suara gemuruh serta kucuran air yang memancar disetiap celah dari pintu yang bergeser.

"Nampaknya kita tidak mungkin selamat walau pintu ini berhasil kujebol dengan paksa!"

Kata Tanggul Api kepada gadis cantik berpakaian biru, berambut panjang awut-awutan yang tidak lain adalah Peri Halilintar.

Seperti telah diceritakan dalam episode "Dendam Orang-orang Sinting."

Peri Halilintar yang telah bertemu dengan Tiga Perwira Setan sebenarnya tengah dalam perjalanan menemukan orang yang dipercaya oleh Raga Sontang untuk menyerahkan mutiara Tujuh Setan pada ketiga perwira iu.

Namun dalam perjalanan, Tanggul Api yang tidak menyukai ketiga perwira itu lebih sering memisahkan diri dari rombongan.

Terkadang dengan menggunakan seruling bambu biasa, pemuda ini kerap meniup seruling di malam hari.

Sebenarnya Tanggul Api memilki seruling sakti yang dikenal dengan nama Seruling Halilintar. Seruling Halilintar pemberian gurunya Ki Ageng Saba Biru lenyap karena dicuri.

Yang mencuri gurunya sendiri yang berpura-pura mati.

Sang guru mempergunakan seruling untuk melancarkan serangkaian pembunuhan keji.

Walau awalnya Tanggul Api tidak percaya Ki Ageng Saba Biru telah berbuat jahat dengan membunuh banyak orang termasuk juga menghabisi Durgandala sang pembawa Mutiara Tujuh Setan.

Namun lambat laun Tanggul Api sadar, gurunya telah diperalat Bethala Karma.

Ki Agung Saba Biru melakukan semua itu karena dijanjikan akan diberi ilmu langka yang menjadikan dirinya kembali muda dan tidak mengenal kata mati.

Gurunya tewas di reruntuhan candi kuno (dalam episode tujuh mutiara setan & seruling halifintar) tetapi Tanggul Api tidak menemukan Seruling Halilintar dalam tubuh kaku sang guru.

Untuk mencari seruling sakti itu kembali maka Tanggul Ap rela bergabung dengan Peri Halilintar. Seperti telah diketahui Seruling Halilintar sebenarrnya ada pada Raja Gendeng 313.

Pemuda ini sengaja menyimpannya untuk dikembalikan kepada pemiliknya yaitu Tanggul Api. Sayang dalam perjalanan bersama tiga perwira setan, sesuatu yang tidak diinginkan terjadi Per

Halilintar yang saat itu sedang membujuk Tanggul Api agar tidak lebih banyak menyendiri ternyata keduanya dihantam cahaya putih aneh yang muncul dari langit.

Cahaya itu meringkus kedua tubuh sehingga membuat mereka tidak berdaya. Lalu cahaya itu membawa keduanya ke sebuah ruangan aneh.

Kuatnya kesaktian yang datang bersama pancaran cahaya melenyapkan ingatan perwira setan bahwa mereka telah kehilangan Peri Halilintar dan Tanggul Api.

Bahkan sampai ketiga perwira itu bertemu dengan Raja dan dapatkan mutiaranya kembali ketiga perwira itu tidak pernah menyinggung kehadiran Peri Halilintar dan saudaranya.

Kembali pada Tanggul Api.

Setelah menyadari menghancurkan pintu penyekapan justru dapat membuat celaka diri mereka maka pemuda itu menggerutu tak karuan menyalahkan nasib sambil berjalan mondar-mandir di depan Peri Halilintar.

Melihat sikap Tanggul Api yang dianggapnya menjadi sebab mereka terkurung, sang dara tiba tiba membuka mulut.

"kebencianmu pada Tiga Perwira Setan berbuah keburukan bagi kita berdua. Andai saja kau selalu bersama ketiga perwira itu, tidak memisahkan diri. Kemungkinan besar kita tidak terperangkap di tempat ini."

Kata-kata Peri Halilintar walau diucapkan dengan lembut namun membuat wajah dan telinga Tanggul Api menjadi panas.

Tiba-tiba Tanggul Api balikkan badan. Memandang pada dara di depannya dengan mata mendelik sengit dia berkata.

"aku benci pada setan-setan gundul itu. Di dunia mana setan berhati baik? Semua setan musuh manusia. Mengapa kau berpihak padanya? Mengapa kau tidak memihak pada kepentinganku?"

"Kebencianmu adalah kebencian membabi buta. Kau lupa atau juga tidak menyadari bahwa tidak sedikit dari manusia yang bertingkah laku seperti setan? Hik hik hik!"

"Mengapa kau berkata begitu?" Tukas Tanggul Api gusar.

"Jangan memandangiku seperti itu. Rupanya kau masih belum sadar juga bahwa kau sudah banyak ditipu, saudaraku. Apalagi gurumu sendiri menipumu."

"Sudah, jangan lagi singgung masalah itu. Guruku telah tewas, Seruling Halilintar tidak aku ketahui dimana beradanya. Aku harus mendapatkan senj ¤taku itu."

"Kalau kau masih penasaran dengan seruling sakti yang lenyap, mengapa kau membawa-bawa seruling besi itu?"

"Mengapa? Aku sudah terbiasa hidup dengan seruling. Aku juga butuh hiburan saat menyendiri.Sebelum seruling yang asli kutemukan, tidak mengapa seruling yang biasa ini menemani sebagai penggantii!"

Jawab Tanggul Api sambil mengusap seruling besi putih yang terselip di pinggangnya. Peri Halilintar tersenyum sambil geleng kepala.

"Sejak kecil setiap lelaki pasti punya seruling. Tentu saja lelaki tidak bisa berpisah dengan serulingnya. Lain dengan perempuan. Mana ada permpuan yang punya seruling. Itu sebabnya perempuan setelah dewasa harus mencari seruling sebagai teman hidup."

Kata Peri Halilintar sambil senyum-senyum sendiri.

"Kau ini bicara apa? Kau mengira terperangkap di tempat ini sesuatu yang patut ditertawakan?"

Kata Tanggul Api yang tidak bisa mendengar jelas ucapan Peri Halilintar akibat suara gemuruh diluar ruangan seperti suara hujan deras.

Sang dara cantik bangkit berdiri.

Dia menatap ke langit-langit ruangan yang bocor.

Memandang ke arah pintu batu yang digedor paksa oleh Tanggul Api dilihatnya semakin banyak air yang merembes masuk ke dalam.

Malah kini lantai ruangan telah tergenang air setinggi mata kaki "Ada suara aneh di atas langit-langit. "

Gumam Tanggul Api.

"Mungkin saja itu adalah arus air sungai tapi bisa jadi itu suara pusaran air. Mahluk yang telah menculik dan membawa kita kemari kurasa sejenis siluman. Dia menetap dibalik dasar sungai.

Sayang aku tidak dapat melihat dengan jelas bagaimana ujudnya." kata Peri Halilintar.

"Aku hanya melihat sekilas. Mahluk itu adalah seekor buaya, buaya putih yang besar sekali.

Mengapa dia membawa dan menyekap kita. Siapa mahluk itu? Dia pasti bukan buaya biasa!" "Mahluk jejadian, sebangsa siluman. Aku sendiri tidak mengerti mengapa dia membawa kita

kemari?"

Jawab Tanggul Api. Peri Halilintar terdiam.

Sekali lagi dia menatap ke arah pintu.

Entah mengapa, gadis pemberani itu tiba-tiba saja menjadi gelisah.

Dalam kegelisahan Peri Halilintar mencoba berpikir mengapa mahluk yang tidak mereka kenal tiba-tiba datang menjemput, melumpuhkan mereka dengan cahaya putih.

Selagi Peri Halilintar tenggelam dalam pikiran yang tiada menentu. Tiba-tiba saja suara gemuruh diluar ruangan berhenti.

Tanggul Api dan Peri Halilintar saling berpandangan

"Suara gemuruh lenyap. Tapi sekarang terdengar suara langkah kaki!"

Kata Tanggul Api

"Ada orang yang datang. Siapapun dia, aku harus menghabisinya agar kita dapat keluar dari tempat dingin celaka ini!" geram sang dara.

"Apakah kau sanggup?"

Tanya Tanggul Api sambil menyeringai dingin seolah mengejek "Apa maksudmu?"

Sentak dara cantik itu sambil diam-diam alirkan tenaga sakti ke bagian tangannya.

Tapi gadis ini kemudian dibuat kaget sendiri ketika menyadari pada puncak pengerahan tenaga dalam.

Segala kekuatan yang dia miliki mendadak lenyap, amblas entah kemana. "Sudah kau coba?"

Tanya Tanggul Api. Kemudian tanpa menunggu jawaban saudaranya dia melanjutkan ucapan. "Tiba-tiba saja kekuatanmu hilang.Tenagamu amblas lenyap hingga menjadikanmu seperti

manusia biasa yang tak punya kekuatan apa-apa. Ketahuilah...tempat ini seperti dilindungi oleh satu tabir kekuatan dahsyat tidak terlihat yang sanggup melenyapkan kesaktian kita.Siapapun penguasa di sini, karena mampu melemahkan kekuatan kita maka berarti dia juga bisa menghabisi kita semudah membalikan telapak tangan."

Peri Halilintar diam membisu.

Dalam kebisuan muncul satu pertanyaan mengapa orang menculik dan mengurung mereka di sebuah tempat yang dapat membuat mereka mati kedinginan.

Suara langkah kaki kembali terdengar.

Tidak lama kemudian pintu bergoyang disertai getaran seperti ada sesuatu yang hendak menembus ke dalam.

Peri Halilintar dan Tanggul Api melangkah mundur menjauhi pintu. Dua mata dipentang lebar.

Walau menyadari tenaga dalam mereka lenyap namun keduanya tetap bersikap waspada. Sampai akhirnya...

Set!

Satu cahaya putih menembus pintu batu melesat masuk ke ruangan dalam.

Setelah berputar di depan kedua orang itu beberapa kali akhirnya cahaya itu lenyap.

Sebagai gantinya di depan mereka berdiri tegak seorang gadis berwajah cantik rupawan berpakaian merah, berkasut merah berambut panjang dengan mahkota perak bersimbol buaya bertengger di atas kepalarnya.

Hadir di depan Tanggul Api dan saudaranya dalam ujud yang asli. Gadis ini tersenyum.

Peri Halilintar yang menyadari gadis bermahkota buaya merupakan penguasa tempat itu tanpa dapat menahan diri segera mengajukan pertanyaan.

"Mengapa engkau memperlakukan kami seperti ini?" Tanya gadis itu sambil tatap dara di depannya.

Gadis bergaun merah tersenyum. Sebelum menjawab pertanyaan orang dia tatap Tanggul Api yang berdiri di sebelah kiri Peri Halilintar.

Kemudian sambil tengadahkan wajah, menatap ke langit-langit ruangan, gadis berpakaian merah itu menjawab.

"Di tempat asalku dikayangan aku biasa dikenal dengan nama Bidadari Selaka Merah. Tapi aku bukanlah bidadari yang baik. Aku sering melanggar pantangan tidak mengindahkan aturan para dewa. Kesukaanku yang sering pergi ke dunia kehidupan manusia menjadi puncak kemurkaan dewa. Aku dikutuk kemudian dibuang ke dunia dalam rupa seekor buaya. Walau ake menjadi ratu dari sekalian buaya namun kehidupan dunia tidak membuatku merasa bahagia. Aku ingin melenyapkan kutukan itu."

Ujar Bidadari Selaka Merah atau ratu buaya siluman sambil menatap kedua orang di depannya silih berganti.

Kemudian dengan sikap acuh dia lanjutkan ceritanya.

"Untuk melenyapkan kutukan tidak mudah, karena aku harus mendapatkan bunga Anggrek Mayat. Pada hal dimana bunga itu berada hanya seorang gadis bernama puteri Manjangan Putih yang tahu. Celakanya aku tidak tahu siapa dia dan dimana sang puteri menetap. Di rimba persilatan, hanya kakek bernama Si Jangkung Reksa Menggala dari padepokan tiga guru yang tahu. Kakek itu kmudian dijemput oleh pengawalku. Aku telah menanyai tua Jangkung."

"Namun dia mengaku untuk mendapatkan Bunga Anggrek Mayat, selain harus menemui puteri Manjangan Putih aku juga harus mencari seseorang yang bernama Tanggul Api. Orang yang dimaksud sangat pandai meniup seruling. Dengan meniup seruling saktinya tepat di bawah pohon tumbuhnya Anggrek Mayat maka bunganya akan segera bertumbuh dan segera berkembang!"

Peri Halilintar terdiam dalam kejut.

Sekarang dia baru mengerti rupanya keterampilan meniup seruling yang dimiliki Tanggul Api itulah yang menjadi pangkal penyebab mereka diculik. Tanggul Api yang tidak suka dilibatkan dengan urusan orang lain, lalu menggeleng gelengkan kepalanya begitu selesai mendengar penjelasan Ratu siluman buaya putih

"Kau bidadari licik curang!" ini?" Geram pemuda itu dengan suara berdengus.

"Sedikitpun aku tidak tahu menahu dengan urusanmu, mengapa kau memperlakukan kami seperti

Sang dara bergaun merah tersenyum. Tenang saja dia menjawab.

"siapa yang licik? Siapa yang curang? Kau mengira dirimu siapa? Saat ini kalian tidak bisa berbuat apapun. Aku telah melumpuhkan semua kekuatan yang kamu miliki. Aku cuma meminta bantuanmu. Begitu bunga Anggrek Mayat kudapatkan dan kutukan atas diriku lenyap kalian pasti kulepaskan."

"Kau mengira aku mau membantu?"

Kata Tanggul Api disertai seringai mengejek. Ratu siluman tersenyum.

"Kau pasti mau. Suka atau tidak suka kau harus melakukannya. Kalau tidak pembunuhan bisa menimpa diri siapa saja. Aku juga segera bertumbuh dan segera berkembang!"

Peri Halilintar terdiam dalam kejut.

Sekarang dia baru mengerti rupanya keterampilan meniup seruling yang dimiliki Tanggul Api itulah yang menjadi pangkal penyebab mereka diculik

"Diam! Kau tahu apa tentang hidup matinya seseorang.Bila aku mau kau bahkan tak bisa mempertahankan nyawamu"

"Gadis keparat! Kau cuma mahluk pengecut.kalau kau punya nyali, kembalikan kekuatan kami" "Aku masih bisa berkelahi denganmu sampai seribu jurus!"

"Gadis sombong! Jaga sikapmu. Kau tidak tahu siapa aku."

Dengus ratu siluman dingin dengan penuh kegusaran, gadis ini menatap pada Tanggul Api. Dia berkata.

"aku ingin mendengar keputusanmu sekarang juga" "Keputusanku?"

Tanggul Api tiba-tba menyeringai sambil menggaruk kepalanya.

"Sebagai ratu siluman apakah kau tidak bisa melihat bahwa seruling halilintar tidak ada padaku dan telah lenyap dan tidak tahu dimana keberadaannya. Aku sendiri sedang mencari seruling sakti itu"

Terang Tanggul Api seadanya. Ratu siluman tersenyum.

Sekilas dia melirik pada seruling berwarna putih yang terselip di pinggang kiri Tanggul Api, Cukup jelas seruling itu bukan seruling sakti halilintar.

Seruling yang asli berwarna hitam legam.

Tapi karena ingin kepastian sang ratu siluman arahkan pandangan matanya tepat pada seruling sekaligus kerahkan ilmu melalu mata untuk menjajaki seruling dipinggang Tanggul Api.

Tidak ada getaran, tidak terasa adanya hawa panas atau hawa dingin yang menandakan seruling menyimpan kekuatan tertentu.

"Seruling biasa! Cuma mainan rongsokan." Batin ratu siluman.

"Aku percaya. Senjata itu memang tidak ada padamu. Padahal hanya dengan meniup Seruling Halilintar di tempat tumbuhnya bunga, barulah kuntum Anggrek Mayat mau merekah. Seruling Halilintar harus ditemukan. Aku yakin berada ditangan seseorang. Seruling Halilintar bakal kita temukan dalam waktu yang tidak lama."

"Lagak bicaramu sombong sekali. Aku dan saudaraku Peri Halilintar telah mencari seruling yang hilang kemana-mana. Sudah sekian lama namun kami tidak menemukannya."

Tukas Tanggul Api sambil tersenyum dingin.

"Aku percaya. Hik hik hik. Dengan ilmu kepandaianmu yang cuma setinggi lutut mana mungkin kalian bisa menjajaki dimana beradanya seruling sakti itu!"

Sahut ratu siluman mencemooh.

Melihat sikap sang ratu yang tidak memandang sebelah mata sebenarnya Peri Halilintar menjadi sangat kesal.

Demikian juga Tanggul Api, namun mereka menyadari bahwa dalam keadaan diri lemah kehilangan ilmu kesaktian maka tentu sangat mustahil melawan mahluk siluman itu

"Anggaplah hilangnya Seruling Halilintar menjadi masalah yang bisa diselesaikan.Sekali lagi aku ingin kepastian apakah kau mau membantuku, Tanggul Api?"

Si pemuda tidak segera menjawab. Dia melirik pada saudaranya seolah minta pendapat. Tapi dilihatnya Peri Halilintar malah mengangkat bahu.

"Keputusan ada di tanganmu. Mengapa harus menunggu pendapat orang lain?" Kata ratu siluman itu.

Karena terus di desak, sambil menghela nafas dia membuka mulut

"Kalau aku bersedia, imbalan apa yang aku dapatkan dan jika menolak apa yang akan terjadi denganku?"

Tanya Tanggul Api.

"Hik hik hik. Menolak berarti kau akan menyakskan derita menyakitkan sebelum ajalnya yang akan dialami oleh saudaramu Peri Halilintar, Setelah dia kukirim ke neraka baru giliranmu, Kau akan kubuat mati mengenaskan. Tetapi...bila kau mau membantu, menunjukkan sikap kerja sama yang baik. Kau akan kupindahkan ke tempat yang layak bersama saudaramu. Kau bebas bersenang-senang di istana bawah air ini."

"Kalian juga bisa melihat tempat penyiksaan para pembangkang di dalam kolam yang penuh dengan buaya rakus kelaparan!" "Gadis keji!"

Sentak Tanggul Api dengan tengkuk dingin wajah pucat tegang.

"Sebaiknya tunjukkan saja sikap bekerja sama. Aku tidak mau mati ditempat ini dalam keadaan tidak berdaya. Lakukan apa yang dia mau agar kita dapat bebas dari ruangan ini."

Tegas Peri Halilintar melalui suara mengiang. Merasa tidak punya pilihan lain Tanggul Api pun mengangguk setuju.

Melihat ini ratu siluman tertawa lega.

"Bagus. Ternyata kau lebih memilih mencari selamat dari pada mendapat celaka. Karena itu aku akan memindahkan kalian dari ruangan ini. Sekarang pejamkanlah mata kalian. Sudah waktunya kalian meninggalkan ruangan yang dingin ini."

Walau tidak suka diperintah namun terpaksa keduanya segera pejamkan matanya. Begitu mata dipejam.

Baik Tanggul Api maupun Peri Halilintar merasa tubuh mereka seperti diangkat lalu dibawa melewati lorong-lorong yang sejuk dibawah air.

*****

Kembali pada Raja yang pada saat itu telah melewati pintu gaib.

Saat itu bulan sebelah berbentuk separoh hati yang retak memancarkan cahaya lebih benderang dari sebelumnya.

Suara raung dan lolongan terdengar bersahut-sahutan.

Suara gemuruh langkah kaki orang berlari yang menggantikan suara lolongan menggidikkan datang dari segenap penjuru.

Raja yang berdiri tegak dengan ditemani dua mahluk alam roh sahabatnya segera alirkan tenaga dalam ke bagian tangan dan kaki siap menghadapi segala kemungkinan terburuk. Angin dingin disertai tebaran debu pekat tiba tiba berhembus.

Suasana yang sebelumnya sejuk nyaman berubah menggelisahkan. Lalu sang pendekar mengendus aroma busuk menyengat.

Ketika kepulan debu dan hembusan angin lenyap.

Raja mendapati dirinya telah dikepung dari segala penjuru.

Sambil menahan nafas pemuda ini memperhatikan orang-orang disekelilingnya.

Dia melihat mahluk-mahluk berpakaian hitam, bersenjata aneh berbentuk melengkung, bergagang panjang dan lancip dibagian ujungnya. Mahluk-mahluk yang datang ternyata bukanlah manusia biasa sebagaimana dirinya.

Tubuh mereka hanya terdiri dari onggokan tulang bersusun yang dibalut kulit tipis. Bagian kepala hanya berupa rongga hitam-dalam dengan mata amblas terbalut kulit hitam. Rambut yang dilapisi lendir menjijikkan menebar bau busuk hanya terdiri dari beberapa helai. Di bawah pimpinan sosok bertubuh tinggi berkulit gelap.

Mahluk yang mengenakan jubah hitam itu membekal rantai yang melilit kedua lengan juga palu godam berwarna hitam berkilat

"Mahluk-mahluk ini semuanya tengkorak dan tulang belulang!"

Desis Raja Gendeng 313 dengan mata jelalatan memperhatikan orang-orang disekelilingnya. "Paduka. Mereka adalah orang mati. Kami menyebutnya sebagai bagian kehidupan yang dilupakan

oleh Yang Hidup. Nampaknya mereka berada dalam satu kendali sang penguasa alam gaib." Terdengar suara mengiang di telinga Raja. Itu adalah suara jiwa perempuan.

"Gusti... Jiwa pedang ikut berbicara. Saya melihat yang menjadi pemimpin adalah mahluk yang bernama Sangkala. Dia dikenal dengan sebutan Penggebah Jiwa. Mahluk ini adalah salah satu dari sekalian mahluk paling keji penyiksa di alam baka!"

Terang jiwa pedang. Raja menggumam sambil mengusap wajahnya yang keringatan. Dengan suara serak parau pemuda ini berkata.

"Kalian membawa aku kesasar ke dunia kehidupan menyeramkan seperti ini. Dimana gadis itu?" "Jangan pikirkan gadis yang berteriak minta tolong itu paduka. Lebih baik pikirkan saja

keselamatan diri paduka. Saya rasa itulah yang paling utama!" Ucap jiwa perempuan.

"Kurang ajar. Kalau begini aku kelihatan sepert orang tolol. Niat hendak menolong malah kini disibukkan dengan mengurus bahaya diri sendiri."

Gerutu Raja bersungut-sungut

"Tenang Paduka, kami bersama paduka. Apapun terjadi kita harus menghadapinya bersama-sama,"

Kata jiwa perempuan dan jiwa pedang berbarengan.

Selagi Raja berbicara dengan kedua sahabatnya, semua mata tujukan perhatiannya pada pemuda

itu.

Sosok berjubah yang jadi pemimpin dan lindungi wajah dengan kerudung putih tiba- tiba

melangkah maju.

Berdiri tegak dua tombak di depan Raja.

Sambil bertolak pinggang mahluk satu ini menguap lebar selayaknya orang yang dilanda kantuk berat.

Dibalik rongga mulut dan gigi yang hitam, menyembur bau busuk menyengat.

"Mahluk mengantuk. Menebar bau busuk. Apa yang dilakukannya? Hendak merangkul aku" Dengus Raja yang segera tekab hidungnya demi menghindari bau busuk menyengat "Anak manusia! Katakan apa kepentinganmu datang ke alam gaib," Tanya mahluk itu tanpa menghiraukan ucapan Raja.

"Bagus, kau menyebutku anak manusia. Kalau menyebut anak setan seperti guru menyebutku wah aku bisa marah besar,"

Kata pemuda itu sambil menyeringai.

"Aku, Sangkala... Penggebah Jiwa dan Penyiksa Arwah bertanya, mengapa kau bergurau? Kau kira tempat ini merupakan sebuah panggung lucu- lucuan,"

Geram Sangkala dengan suara serak lantang dan tersendat-sendat. Raja menggeleng sambil mengusap dagunya.

"Setan kuburan juga tahu ini adalah tempat yang paling tidak menyenangkan sedunia. Kau kira aku bergurau?"

Jawab Raja sambil pencongkan mulutnya.

"Kau bertanya apa kepentinganku datang ke sini. Hmm. aku memang tidak kesasar, tersesat juga tidak. Aku datang karena ada orang minta tolong. Suaranya perempuan. Entah setan, entah arwah gentayangan,"

Raja terdiam sebentar. Kemudian lanjutkan ucapan.

"Sampai di sini orang itu tidak terlihat. Karena tidak menemukan orang yang hendak ditolong, dari pada mengganggu ketenangan saudara-saudara sebaiknya aku undurkan diri."

Raja kemudian memutar tubuh bersikap seperti orang yang hendak tinggalkan tempat itu. "Terlambat!"

Teriak sangkala dingin.

"Siapa yang berani datang tanpa diundang tak akan bisa kembali. Kau telah ditentukan untuk menjadi teman penghuni kegelapan dan kesengsaraan. Kau tidak mungkin selamat terkecuali punya nyawa rangkap."

"Oh sayang sekali, nyawaku cuma satu lembar. Walau punya selembar nyawa tentu saja aku bisa selamat karena sejak kecil aku sering bertemu dengan orang bernama Selamat! Ha ha ha!"

Jawab pemuda itu disertai gelak tawa. "Gusti!"

Kata jiwa perempuan. "Apa?"

Sahut raja.

"Mengapa dalam keadaan seperti ini gusti masih juga bergurau!"

"Orang yang tidak pernah tersenyum atau ketawa dalam hidupnya biasanya cepat mati. Ha ha

ha!" Jawab Raja sekenanya. Melihat Raja bicara sendiri.

Mula-mula Sangkala dan pengikutnya mengira Raja Gendeng 313 adalah pemuda yang gila kurang waras.

Namun kemudian terpikir olehnya Kemungkinan pemuda itu tidak datang sendiri. Ada yang menemani tapi siapa?

Sebagai penghuni alam gaib, mengapa dia tidak bisa melihatnya? Sangkala lupa kehidupan alam gaib memiliki beberapa tingkatan.

Tingkat jiwa atau alam roh jelas tiga tingkat berada di atas alam gaib yang dihuni oleh sangkala dan mahluk sejenis dengannya.

"Anak muda! Lekas sebutkan, siapa namamu!" Kata mahluk berjubah itu.

"Aku adalah pangeran.Aku adalah rajamu.Harusnya kau tunduk pada Raja dan kau boleh menyebutku paduka Raja Gendeng 313. ha ha ha."

"Raja Gendeng alias Raja Gila. Beraninya orang tidak waras memasuki dunia kami. Dia patut untuk dihabisi, tetua Sangkala."

Berkata salah satu pengikutnya tidak sabaran sambil acung-acungkan senjatanya yang melengkung

"Dia mungkin Gendeng tapi tidak gila. Dan dia tidak sendiri.Ada mahluk tidak terlihat bersamanya Habisi pemuda itu, bunuh siapapun yang datang bersamanya,"

Teriakan Sangkala disambut gegap gempita para pengikutnya.

Kemudian dengan suara riuh mereka berlompatan maju, merangsak ke arah sang pendekar, lalu menghujani pemuda itu dengan serangan dan tebasan senjata yang datang dari segala penjuru.

Melihat junjungan yang juga sahabatnya terancam bahaya, jiwa perempuan dan jiwa pedeng tidak tinggal diam.

Sesama mahluk alam roh itu berkata. "sekaranglah saatnya pesta tulang di mulai." "Kau mau memilih bagian yang mana?"

Tanya Jiwa perempuan pada jiwa pedang

"Gadis sinting, Jiwa konyol sjalan. Kau kira diriku ini sebangsa anjing atau apa? Tentu saja aku memilih melenyapkan semua mereka tanpa pandang bulu. Pokoknya bulu apa saja aku sikat."

"He he he" "Kau juga gila!"

"Sudah! Sekarang kita bertindak." Sahut jiwa pedang. Dalam gaibnya kedua jiwa melayang meninggalkan hulu pedang dengan kecepatan laksana terbang.

Kemudian dengan kesaktian yang mereka miliki mereka mulai menghantam mahluk-mahluk penyerang yang menghujani Raja dengan senjatanya.

Beberapa senjata berhasil direbut Jiwa pedang dan jiwa perempuan kemudian bahkan memanfaatkan salah satu senjata lawan untuk menyerang mahluk-mahluk itu.

Ketika Raja melihat senjata bergerak dengan sendirinya dia tahu pastilah jiwa pedang dan jiwa perempuan telah bertindak mendahului melakukan tugasnya.

Sedangkan bagi Sangkala dan para pengikutnya, melihat senjata milik dua di antara mereka melayang di udara sambil menyerang mereka sendiri tentu merupakan keanehan yang membingungkan.

"Seperti yang kukatakan, ada mahluk yang tak terlihat yang menyertai pemuda gendeng itu. Mahluknya ada dua itu dibuktikan dengan dua senJata yang mengamuk membantai kalian .Walau tidak terlihat aku yakin, mereka bisa dihabisi,"

Kata Sangkala dalam kemurkaan.

Laki-laki berjubah hitam tinggi yang tubuhnya terdiri dari tulang terbalut kulit tipis ini kemudian melompat melewati para pengikutnya.

Melihat dua rangkum cahaya dingin menggidikan, Jiwa Pedang dan Jiwa Perempuan yang menggunakan senjata rampasan, menyadari, walau mereka tidak kelihatan tetapi serangan Sangkala itu bisa membuat mereka celaka atau sedikitnya terluka, maka mereka segera mengubah gerakan.

Tiba-tiba senjata yang tadinya siap hendak menyerang kini berputar arah.

Bergerak cepat laksana titiran membentuk sebuah perisal diri disertai deru suara mengerikan Bum!

Bum!

Dua dentuman keras melanda kawasan yang sunyi itu. Dua senjata hancur menjadi kepingan.

Jiwa Pedang dan Jiwa Perempuan terlempar jatuh, terguling-guling dengan dada seolah remuk amblas dan sekujur tubuh menggigil.

Hancurnya senjata di tangan mereka membuat Sangkala tidak tahu dimana kedua lawannya jatuh

"Aku mahluk gaib, lalu siapa mereka, bila mahluk dari alam gaib juga seharusnya aku dapat melihat ujud mereka."

Jelalatan Sangkala pentang mata memandang ke sekeliling.

Dia menggeleng sambil menggeram kecewa. Mahluk berjubah ini kemudian ballkan badan. Menghadap ke arah Raja yang sedang dikerubuti oleh para pengikutnya. Sangkala diam-diam memperhatikan dan tersenyum.

Dia tidak tahu ketika itu Jiwa Pedang dan Jiwa Perempuan telah bangkit.

Setelah melihat Raja menghadapi banyak pengikut Sangkala, keduanya sepakat untuk menghabisi mahluk tinggi itu. Sementara Raja sendiri tampaknya tidak mau bersikap ayal dalam menghadapi mahluk bertingkah aneh itu.

Ketika serangan datang dari segala penjuru dan sambaran senjata datang laksana hujan, dengan menggunakan jurusan Delapan Bayangan Dewa Raja Gendeng 313 berkelit hindari serangan.

Hantaman, tebasan dan tusukan senjata mengenai tempat kosong.

Tapi kemanapun pemuda ini bergerak, lawan terus mengejar sambil melancarkan pukulan dan tendangan maut. Deru angin panas, kilatan-kilatan cahaya yang memancar dari pukulan yang dilepaskan dari para pengikut Sangkala beberapa kali dapat dihindarinya.

Tapi pemuda ini kemudian terdesak.

Menggunakan jurus Tangan Dewa Menggusur Gunung, Raja segera dorongkan kedua tangan ke depan sekaligus memutar tubuhnya.

Des! Des! Des!

Pukulan beruntun yang dilancarkan secara susul menyusul membuat belasan lawan berpelantingan dengan kepala melesat tanggal, lengan patah dan tubuh yang berupa onggokan tulang hancur berserakan.

Tapi pada kesempatan yang sama walau Raja bergerak dengan kecepatan seperti bayang-bayang sesuai dengan jurus yang di pergunakannya.

Beberapa lawan yang membokong dari belakang berhasil babatkan senjata ke punggung pemuda itu. Crack!

Hantaman senjata yang mendera punggung tak sanggup melukai tubuh Raja yang terlindung pakaian sakti.

Tetapi ketika lawan yang berada di depan menyerangnya dengan pukulan tangan kosong ke bagian wajah, Raja tidak sempat menghindar.

Sang pendekar terjajar.

Pipinya yang terkena pukulan seperti digarang di atas tumpukan bara.

Selagi pemuda ini terhuyung, geleng-geleng kepala sambil mengusapi wajahnya karena tak menyangka kena dipukul.

Kesempatan itu dipergunakan para pengikut Sangkala. Serentak mereka merangsak maju. Senjata ditangan diayun, kaki bergerak menendang mengincar sasaran bagian tubuh sebelah bawah.

Sementara sebagian di antara mereka melompat tinggi lalu menyerang bagian kepala Raja yang tidak terlindung pakaian.

Rupanya mahluk-mahluk ini tahu pakaian sakti pemuda itu sulit untuk ditembus.Sehingga mereka memutuskan untuk menyerang bagian tubuh yang terbuka.

Melihat datangnya serangan laksana curah air bah.

Dengan tubuh bersimbah keringat pemuda ini segera alirkan seluruh tenaga dalam yang dia miliki.

Dua tangan menggeletar, kaki bergerak lincah menendang sekaliigus menangkis. Dan sebelum semua serangan dahsyat menghantam sekujur tubuhnya.

Sambil berkemak-kemik membaca mantra ajian, pemuda ini memutar tangannya dan menyilangkan kedua tangan itu ke depan dada.

Dua tangan bergetar dan tampak berubah biru menyilaukan.

Kemudian sambil berteriak menyebut ilmu pukulan sakti yang dilepasnya.

Raja memutar tubuh sambil menghantam kedelapan penjuru arah. Satu gelombang angin dahsyat disertai munculnya gelombang panas bersama melesatnya cahaya biru menderu ke segenap penjuru arah.

Puluhan pengikut Sangkala tercekat dihantam gelombang cahaya biru dan angin panas membakar yang datang dari pukulan sang pendekar.

Diantara mereka ada yang mempergunakan senjata untuk melindungi diri.

Tapi yang bersikap nekat banyak yang berpelantingan dengan tubuh terceral berai. Melihat dahsyatnya serangan yang hampir menyapu habis semua pengikutnya.

Sangkala yang saat itu menghadapi gempuran sengit dari Jiwa Pedang dan Jiwa Perempuan keluarkan suara raungan murka

"Pemuda gondrong jahanam! Ilmu kesaktian apa yang kau miliki? Bagaimana mungkin sebagian besar pengikutiku terbantai di tanganmu,"

Teriak Sangkala sambil hindari serangan ganas yang dilancarkan Jiwa Perempuan. Ditempatnya berdiri Raja tersenyum dingin.

Kini dia acungkan kedua tangannya ke atas.

Dua tangan yang tadinya berwarna biru terang kini berubah menjadi merah redup menggidikkan "Tadi aku menghajar pengikutmu dengan pukulan Seribu Jejak Kematian."

Kata Raja menyebut nama pukulan sakti yang dipergunakannya.

"Sekarang aku akan menghabisi sisanya dengan pukulan sakti Cakra Halilintar"

Lalu secepat Raja berbicara secepat itu pula dia menghantam sisa pengikut Sangkala. Dua kilatan cahaya berwarna merah bertepi putih berkiblat.

Ketika melesat cahaya berbentuk Cakra bundar itu berputar sebat laksana topan yang berhembus menyapu daratan.

Suara gemuruh dan guncangan keras melanda kawasan seluas seratus tombak. Mahluk-mahluk angker mirip jerangkong hidup dalam kemarahan melihat temannya menemul ajal segera campakkan senjata ditangan masing masing, lalu geser salah satu kaki ke depan.

Dengan kedua kaki ditekuk mereka menyambut serangan lawan dengan hantamkan tangannya masing masing ke depan. Cahaya-cahaya hitam redup membersit dari telapak tangan yang hanya berupa rangkaian tulang yang terbalut kulit itu.

Hawa dingin menebar menyertai berkelebatnya puluhan cahaya hitam. Sebelum dua serangan sakti beradu di udara.

Hawa panas yang berasal dari pukulan sakti Raja Gendeng 313 saling bentur dan saling tindih dengan hawa dingin lawan.

Cahaya merah dan cahaya hitam akhirnya beradu keras di udara.

Guncangan dan dentuman yang terjadi akibat beradunya dua kekuatan membuat tempat di sekitar terjadinya pertempuran seperti dilanda gempa bumi hebat.

Raja jatuh terjengkang dengan dua tangan terasa panas. Dada menjadi sesak,namun secepatnya dia bangkit berdiri.

Menatap ke depan melihat puluhan sisa pengikut Sangkala berpelantingan dengan tubuh terceral berai.

Tak satupun mahluk-mahluk tengkorak itu tersisa.

Melihat kenyataan ini, Sangkala menjadi marah

"Kau dan dua sahabatmu yang tidak terlihat itu sama jahanamnya. Kalian semua harus merasakan pembalasan dariku,"

Teriak Sangkala dengan suara bergaung. Mahluk itu kemudian rentangkan tangannya.

Tangan bergetar, dua mata di dalam rongga melotot nyalang.

Dalam sekejab dari dua tangan, tubuh terutama dari bagian kepala mengepul asap tebal berwarna hitam pekat.

Melihat apa yang dilakukan lawan, Jiwa Pedang yang mengenali ilmu yang dipergunakan lawan jadi tercekat.

"Celaka, dia menggunakan ilmu iblis Menjejak Rasa Mengejar Arwah! Walau kita tidak kelihatan tapi dia bisa membuat kita semua menemui ajal."

"Aku tahu cara menolak ilmu itu."

Menyahuti Jiwa Perempuan sambil mengusap tengkuknya yang mendadak terasa dingin. Segala keresahan yang terjadi antara Jiwa Pedang dan Jiwa Perempuan rupanya sempat didengar oleh Raja.

Sambil melompat ke depan Sangkala, pemuda inipun berseru ditujukan pada dua sahabatnya. "Kalian menyingkir! Kembalilah ke hulu pedang. Aku akan menjajal kehebatan mahluk satu ini." "Tapi Gusti..."

Jiwa Pedang menjawab dengan ragu-ragu.

"Saya sanggup menangkal ilmu Menjejak Rasa Mengejar Arwah, gusti,"

Kata Jiwa Perempuan pula "Turuti perintahku. Cepat..."

Teriakan Raja membuat kedua mahluk alam roh itu segera sadar. Raja bersungguh-sungguh dengan ucapannya.

Walau dengan berat hati keduanya segera memenuhi perintah sang pendekar.

Raja yang sedang mengerahkan tenaga dalam siap melepas pukulan Sakti Kabut Kematian yang digabung dengan pukulan Cakar Sakti Rajawali hanya sempat merasakan ada sambaran angin di kedua telinganya pertanda kedua jwa telah kemball ke hulu pedang. Sekejap saja tangan kiri pendekar mengepulkan kabut putih yang disertai pancaran cahaya biru kehijauan.

Sedangkan tangan kanannya yang dipentang membentuk cakar nampak memancarkan cahaya putih menyilaukan.

Ketika Sangkala mengayunkan kedua tangan kedepan bergerak sedemikian rupa seperti orang yang menepuk, Dari sepuluh jemari tangan mahluk berjubah itu terdengar suara berdesis tidak ubahnya seperti suara ular raksasa yang tidak terlihat ujudnya.

Walau tidak melihat ada cahaya atau sambaran hawa panas atau menderu dingin dari tangan lawan.

Namun Raja tahu sesungguhnya ada bahaya besar sedang mengancam jiwanya.

Tidak menunggu lebih lama, dia dorongkan tangan kiri sekaligus hantamkan tangan kanan kedepan menyambut serangan Menjejak Rasa Mengejar Arwah yang dilakukan oleh lawannya.

Cahaya biru disertai kabut bergulung, menderu sedemikian rupa ke arah Sangkala.

Sedangkan dari tangan kanan Raja melesat cahaya putih berbentuk seperti cakar rajawali raksasa, Di tengah perjalanan sebelum mencapai sasaran.

Cahaya biru kehijauan dan cahaya putih berbentuk cakar bergetar dan mengalami guncangan hebat seperti membentur sesuatu.

Raja sendiri sempat terhuyung akibat guncangan itu.

Dan dia merasakan seluruh tubuh serta batok kepala seperti diremas. Setelah lipat gandakan tenaga dalam yang dimiliki.

Pemuda ini kembali menghantam melepas serangan susulan Rrrt! Berrt! Buumm!

Serangan susulan yang dilancarkan Raja ternyata diluar perhitungan Sangkala.

Mahluk berjubah yang juga berasal dari suatu tempat yang dikenal dengan nama Kehidupan Yang terlupakan itu segera melompat jatuhkan diri sama rata dengan tanah.

Sebagian pukulan yang berbalik akibat benturan yang dahsyat menyambar setengah jengkal di atas punggungnya.

Serangan itu kemudian menghantam gundulan batu dibelakang Sangkala. Batu hancur bertabur menjadi kepingan.

Dibalik batu bermunculan ulat belatung sebesar jari kelingking sepanjang sejengkal, Belatung berwarna kuning kehijauan kemudian menyebar seperti rombongan perajurit besar yang siap tempur. Raja tidak menghiraukan kehadiran belatung belatung itu.

Selagi Sangkala bersiap bangkit, Raja segera menerjang sambil menghantam lawan dengan pukulan tangan kosong.

Sangkala yang baru berdiri tegak menyambut serangan Raja dengan kecepatan kilat.

Benturan keras terjadi berulang kali, membuat telapak tangan dan lengan Raja yang beradu keras dengan lengan lawan yang terdiri dari tulang terbalut daging bengkak lebam.

Selagi Raja menyeringai sambil memperhatikan lengannya yang sakit luar biasa. Sangkala berhasil susupkan satu jotosan telak ke dada Raja.

Jotosan yang disertai tendangan yang mengenai perut membuat Raja terjajar.

Pemuda ini mendelik menahan sakit luar biasa. Dia masih beruntung karena bagian tubuhnya terlindung pakaian sakti.

Kalau tidak, dada yang kena jotosan pasti remuk dan perutnya di bagian dalam hancur. Walau begitu, masih ada darah yang meleleh di bibirnya.

Melihat lawan menderita luka bagian dalam, Seperti kerasukan Sangkala bertambah beringas dan tambah nafsu untuk menghabisi lawan.

Dengan langkah lebar setengah melayang mahluk berjubah ini segera julurkan tangan dan mencekal leher Raja.

Raja yang baru saja dapat menguasai diri merasakan lehernya seperti dijepit oleh sebuah jepitan raksasa.

Pemuda ini mendelik.

Dalam waktu singkat kerasnya jepitan membuat kepalanya serasa mau meledak. Sangkala menyeringai.

Dia berpikir sekali saja menggerakan kepala itu kekiri dapat dipastikan kepala lawan pasti patah. Tapi mahluk itu lupa dan tidak sempat melihat dua tangan Raja yang bebas bergerak segera meraih pedang yang tergantung di punggungnya.

Sangkala hanya sempat mendengar suara menderu disertai kilauan cahaya emas berkelebat diudara.

Dan ketika cahaya kuning yang tak lain adalah Pedang Gila menderu membabat ke arah pinggang Sangkala.

Mahluk ini hanya bisa mendelik dan merasakan adanya hawa dingin menembus pinggangnya. Jeritan Sangkala melengking laksana jeritan serigala di malam buta.

Tubuh disebelah bawah yang terbabat nyaris putus ambruk disusul dengan bagian tubuh sebelah atas.

Ketika tubuh itu menyentuh tanah, tiba-tiba saja sosok yang terdiri dari susunan tulang belulang dan tengkorak itu mengepulkan asap, Munculnya asap disertai dengan kobaran api.

Api padam dan sosok yang cuma berupa tulang belulang dan kulit itu lenyap ditiup angin. Ditempatnya berdiri sang pendekar segera sarungkan pedang ke dalam rangkanya.

Sejenak dia mengusapi lehernya yang sakit dan tampak merah. Setelah itu dua tangan diturunkan kedada.

Diam-diam Raja salurkan hawa sakti untuk menyembuhkan luka dibagian dalam.

Tidak berselang lama setelah rasa sesak didada lenyap, pemuda ini menatap ke arah dikejauhan di depannya.

Samar-samar tak jauh dari sebuah pohon meranggas tanpa daun namun dengan cabang dipenuhi reranting dan akar menjuntal dia melihat satu sosok tubuh.

Sosok yang tadinya tidak terlihat itu entah sejak kapan berada di sana.

Yang jelas sosok yang kaki dan tangannya terikat ditiang pancang itu berambut panjang awut-awutan.

Terdorong rasa ingin tahu, pemuda ini melangkah mendatangi.

Langkahnya terhenti dua tombak di depan sosok yang ternyata seorang gadis berkulit kecoklatan.

Yang membuat Raja merasa iba, selain tubuhnya berbilur luka seperti bekas cambukan, gadis ini juga nyaris telanjang.

"Siapa yang melakukan kekejian ini terhadapmu," Tanya Raja ditujukan pada gadis ditiang pancang. Raja menunggu.

Sesekali terdengar suara deru angin.

Dengan segala kesengsaraan yang dialaminya si gadis membisu seolah mati

Kemudian sebagai jawaban sayup-sayup terdengar suara lolong anjing dan jerit mengerikan.

Suara-suara itu seakan datang dari neraka kegelapan.Raja leletkan lidah .Telan ludah basahi tenggorokannya yang mendadak kering.

Dalam keraguan dia menghela nafas "Mati!"

Mati.

Mungkinkah gadis itu telah menemui ajal? Ikuti dalam kisah selanjutnya.

Tamat