--> -->

Raja Gendeng Eps 21 : Perawan Bayangan Rembulan

 
Eps  21 : Perawan Bayangan Rembulan


Padepokan Tiga Guru. Malam gelap gulita. Langit hitam pekat.

Di kaki bukit Talang Hijau dimana Padepokan Tiga Guru berada, beberapa pelita yang terpasang untuk menerangi halaman depan padepokan telah lama dihempas angin.

Seolah-olah tidak menghiraukan keadaan alam.

Di tengah halaman depan ada seorang kakek yang tingginya sekitar dua tombak sedang duduk bersila di atas gundukan batu pipih.

Kedua tangannya diletakan di atas lutut.

Sementara tangan kanan tampak sibuk memutar tasbih yang terbuat dari tulang yang memancarkan cahaya putih redup.

Dengan mata terpejam mulut si kakek yang terlindung kumis dan janggut putih itu terus berkemak-kemik memanjatkan doa kepada para dewa. Waktu berjalan terus, hembusan angin tambah menggila.

Tubuh kurus jangkung si kakek berguncang keras.

Walau keadaan alam tidak bersahabat tapi si kakek tidak peduli.

Dia tetap diam terpaku di tempatnya sambil terus memutar tasbih dan memanjatkan doa-doa pujian. Tiba-tiba kilat menyambar.

Kemudian disusul dengan suara gelegar petir. Mendadak hujan turun laksana tercurah dari langit.

Dalam keadaan seperti itu dari mulut si kakek jangkung terdengar ucapan bernada permohonan. "Hyang Jagad Dewa Bathara! Kuasamu meliputi segala.Lindungilah kami guru penghuni kaki bukit Talang Hijau ini dari malapetaka susulan. Jangan pula segala malapetaka yang menimpa seluruh murid

terjadi pada diri kami. Mohon perlindungan dan keselamatan kami khususnya diriku ini agar dapat menebus semua dosa kesalahan yang telah kami lakukan dimasa lalu!"

Baru saja si kakek jangkung selesai mengucapkan doa permohonannya, tiba-tiba saja satu dentuman dahsyat menggelegar di depannya.

Dalam suasana gelap dan di bawah curah hujan bebatuan dan pasir bermuncratan membumbung tinggi lalu luruh kembali.

Dan sebagiannya mengguyur tubuh kurus yang hanya terlindung selembar pakaian putih bersih lapuk. Si kakek yang kaget seketika membuka matanya.

Menatap ke depan terlihat satu lubang besar menganga ke dalam.

"Ledakan yang baru terjadi adalah kekuatan yang baru saja dikirim oleh seseorang" Batin si orang tua di dalam hatinya dengan perasaan cemas.

Baru saja si kakek jangkung yang dikenal dengan nama sebutan Ki Jangkung Reksa Menggala berkata demikian, pintu padepokan panggung berlantai tinggi berderit terbuka.

Di bawah temaram cahaya pelita yang berasal dari ruang dalam muncullah seorang kakek bertubuh pendek berpunuk berambut putih di depan pintu.

Sekejab matanya menyapu pandang ke arah halaman tempat dimana saudaranya Ki Jangkung Manggala Reksa berada.

Kemudian dengan perasaan khawatir dia berseru.

"Ki Jangkung Reksa Manggala. Hujan bercampur badai rupanya masih akan berlangsung lama.

Keadaan diluar tidak aman. Padepokan ini pun tidak akan bisa menahan hembusan angin yang kian menghebat. Sebelum keadan semakin bertambah parah. Sebaiknya kau, aku dan adik Ragil Ijo tinggalkan tempat ini. Kita harus menyingkir ke Kulon Watu Cadas untuk sementara waktu. Esok setelah badai gila ini mereda kita bisa kembali dan mencari murid-murid kita yang hilang."

Jawaban yang terdengar dari mulut saudara tuanya sungguh diluar dugaan si kakek berpunuk mirip unta ini.

"Aku tidak mau meninggalkan tempat ini seperti pengecut! Jika manusia-anjing itu yang menjadi penyebab dari kekacauan alam. Biar aku akan menghadapinya seorang diri.Menjajal kehebatan dan keganasannya bagiku merupakan sebuah permainan yang menarik. Tidak ada yang perlu ditakuti walau dari dua puluh murid kita sebagian diantaranya telah menemui ajal dan sisanya lenyap tidak diketahui keberadaannya."

"Kau pergilah secepatnya bersama Ragil Ijo. Esok bila cuaca membaik dan menemukanku mati di sini, kau dan Ragil Ijo dapat menguburkan jasadku secara layak" kata Ki Jangkung Reksa Manggala dengan suara bergetar diliputi dendam amarah.

"Kakang! aku tidak mau kau mati. Semua kekacawaan alam yang sedang terjadi atas kehendak dewa. Bukan manusia yang melakukannya. Lagi pula manusia mana yang sanggup mendatangkan topan, petir dan hujan sehebat ini!"

Ucap Ki Jalung Upas. Tidak disangka-sangka di tengah gemuruh angin dan hujan kakek bertubuh jangkung ini bangkit berdiri.

Kemudian sambil bertolak pinggang dia berseru.

"Ki Jalung Upas! Apa yang kau ketahui tentang manusia yang satu itu. Kepandaiannya di atas manusia biasa. Ilmu kesaktiannya dapat dipergunakan untuk menghancurkan gunung-gunung. Dia juga pernah membuat gelombang laut dan menenggelamkan musuhnya yang melarikan diri menggunakan perahu. Jangan pernah membantah perintahku! Lekas tinggalkan padepokan ini sebelum terlambat!"

Bentak Ki Jangkung Reksa Menggala.

Walau sadar ucapan saudara tuanya tidak dapat dibantah, Namun Ki Jalung Upas terombang-ambing dalam keraguan.

Dia merasa tidak tega meninggalkan saudaranya untuk menghadapi bahaya yang muncul dengan tidak terduga seorang diri. Selagi Ki Jalung Upas tertegun terombang- ambing dengan berbagai pertimbangan.

Dibelakangnya tiba-tiba muncul seorang kakek tua bertubuh gemuk luar biasa memakai pakaian berwarna hijau, wajah dan rambutnya putih kehijauan.

Kakek yang raut wajahnya seperti orang yang tersenyum ini menyeruak keluar melewati Ki Jalung Upas yang berdiri tak jauh di depan pintu.

Sesampainya diberanda depan.

Tanpa menghiraukan deru dan hujan, tiba-tiba saja dia keluarkan suara ringkikan aneh.

Begitu mulut meringkik selayaknya kuda merah, seluruh rambut putih kehijauan yang memenuhi batok kepala orang tua ini berjingkrak tegak.

Melihat berjingkraknya rambut adiknya, Ki Jalung Upas segera maklum.

Ragil Ijo tidak suka mendengar perdebatan yang terjadi antara dirinya dengan saudara tuanya. "Dikegelapan maut mengintai. Murka alam tidak memilih siapa yang baik siapa yang jahat. Alam

selalu memberikan kehidupan, matahari menyinari siapa saja tanpa membedakan. Manusia suka berbuat salah. Belajar dari kesalahan baru dapat ditemukan jalan menuju kebaikan."

Setelah berucap demikian dia melirik ke arah Ki Jalung Upas. Selanjutnya dia layangkan pandang ke halaman yang gelap. Dalam kegelapan dia masih dapat melihat Ki Jangkung Reksa Menggala. Lalu pada orangtua yang duduk di halaman itu, dia berkata.

"kakangku, Ki Jangkung Reksa Menggala. Setiap orang selalu mempunyai pilihan dalam hidupnya. Dalam hidupnya manusia juga harus memilid tujuan. Tanpa tujuan hidup tidak berarti apa-apa karena hanya menghabiskan waktu dengan sia-sia. Yang dikatakan Kakang Ki Jalung Upas rasanya cukup jelas. Hujan dan badai ini membawa kemurkaan dari alam. Alam murka entah pada dirimu atau mungkin juga terhadap diriku. Aku tak ingin berpanjang kata. Karena masih ingin hidup. Aku bersama kakang Ki Jalung Upas segera hendak menyingkir ke kulon Watu Cadas! Ingin aman ikutlah bersama kami. Bila hendak mencari petaka, berbuatlah sekehendak hatimu"

Wajah tua penuh keriput berubah merah kelam.

Ki Jangkung Reksa Menggala tahu seumur hidup Ragil Ijo dikenal sebagai manusia paling pendiam. Bila sekarang dia bicara seperti itu, mungkin saja karena kesalahan atau juga rasa sayang seorang adik terhadap kakaknya.

Tapi Ki Jangkung Reksa Menggala bukan orang yang suka diatur walau itu buat kepentingan dirinya sendiri, maka sambil menahan amarah dia berseru.

"kau dan Ki Jalung Upas adalah orang yang mementingkan diri sendiri. Pembunuh itu telah membantai murid-murid kita. Dia akan segera muncul di Padepokan kita. Seperti yang telah aku katakan pada Ki Jalung Upas. Kau juga sebaiknya segera angkat kaki dari sini. Jangan lupa kembali kemari bila badai telah mereda."

Ragil Ijo keluarkan suara ringkikan panjang. Dua tangan tiba-tiba digerakan ke atas.

Wuut!

Tahu-tahu entah dari mana datangnya ditangan kanan Ragil Ijo tergenggam sebuah tongkat berwarna hijau.

Sedangkan di tangan kiri tergenggam benda hitam berupa batok. Keduanya bukan lain adalah dua senjata yang menjadi andalan kakek ini. "Aku pergi sekarang!"

Kakek Ragil Ijo berpamitan. "Aku juga."

Ucap Ki Jalung Upas tidak mau ketinggalan. Selesai berkata, keduanya bungkukkan badan sebagai tanda penghormatan pada saudara tua mereka.

Setelah membungkuk tiga kali mereka pun memutar tubuh. Wuuus!

Belum sempat mata Ki Jangkung Reksa Menggala berkedip, sosok kedua adiknya lenyap dari pandangan mata.

Seperginya mereka Ki Jangkung Reksa Menggala menghela nafas. Dalam kegelapan dia memperhatikan keadaan sekelilingnya.

Hembusan angin kencang dan curah hujan yang luar biasa deras tiba-tiba saja mereda. Si Kakek menjadi terheran-heran.

"Topan, angin ribut dan hujan mengapa mendadak berhenti, seperginya kedua adiknya? Apakah semua ini berhubungan dengan mereka ataukah hanya kebetulan belaka?"

Membatin Ki Jangkung Reksa Menggala dalam kebimbangan.

Dia lalu diam berusaha memikirkan keanehan demi keanehan yang baru saja terjadi. Sampai kemudian langit kembali terang.

Bintang-bintang kembali bermunculan di langit.

Ki Jangkung Reksa Menggala dongakan kepala menatap ke langit. Dia melihat bulat sabit di sebelah timur.

Entah mengapa setelah menatap bulan tiba-tiba bulu tengkuknya meremang tegak. Si kakek yang tadinya berdiri kini duduk kembali ke tempat semula.

Pada saat itulah tiba-tiba saja terdengar suara lolong anjing di kejauhan. Kaki bukit Talang Hijau jaraknya cukup jauh dari belantara lebat.

Lima belas tahun Ki Jangkung Reksa Menggala menetap di tempat itu.

Walau sekalipun dia tidak pernah mendengar suara anjing melolong atau kawanan anjing berkeliaran.

Bahkan tidak seorangpun dari penduduk setempat yang tinggal tidak jauh dari Padepokan ini yang suka memelihara anjing.

"Perasaanku tidak enak. Sepertinya ada yang mengawasi halaman ini dan mengintai gerak- gerikku!"

Membatin si kakek dalam hati.

Baru saja hatinya berkata demikian, tiba-tiba di antara desir angin berhembus, terendus bau busuknya bangkai.

Terkejut orangtua ini melompat bangkit dari batu yang didudukinya. Belum sempat dia mengetahui dari mana bau busuk menyengat berasal. Tahu-tahu dari arah depan dan belakangnya terdengar suara mengorok.

Ketika Ki Jangkung Reksa Menggala menatap ke depan yang dilanjutkan dengan gerakan menoleh ke belakang.

Kejut dihati kakek bertubuh tinggi ini bukan kepalang.

Dia melihat di depan sana sedikitnya lima sosok laki-laki muda entah dari mana datangnya melangkah menghampiri.

Dibelakangnya terlihat pula lima pemuda lain dengan membawa lentera bergerak mendekati. Anehnya sepuluh sosok muda yang datang dari dua arah yang berlawanan itu mempunyai wajah yang sangat mirip dengan sepuluh muridnya yang hilang beberapa pekan yang lalu.

Yang membedakan Kesepuluh pemuda yang datang, melangkah tertatih-tatih dengan gerakan kaku ini semuanya berpakaian putih lusuh tidak berjahit.

Pakaian dalam keadaan kotor dipenuhi tanah merah becek.

Di sana-sini dihiasi lubang memanjang berupa sayatan namun lebih mirip dengan cabikan.

Dibalik pakaian yang tercabik terlihat ada cairan dan lelehan darah menghitam menebar bau busuk. Ki Jangkung Reksa Menggala sejenak hanya diam tercengang dan belalakan mata.

Namun ketika melihat para pemuda berpenampilan selayaknya mayat yang baru bangkit dari liang kubur ini tambah mendekat.

Sementara tangan mereka terjulur seolah-olah menggapai dan memeluknya, maka dengan tengkuk bergidik dia segera melompat ke samping hindari jangkauan tangan-tangan kotor yang menggembung bengkak dipenuhi lendir tersebut.

"Siapa kalian?"

Tanya ki Jangkung Reksa Menggala sambil memperhatikan sepuluh pemuda yang kini memutar arah dan kembali merangsak ke arahnya.

Tidak ada yang menjawab.

Dua orang yang memegang lentera berbentuk aneh berwarna merah berkilauan hentikan langkah.

Kedua orang yang agaknya bertindak sebagai pimpinan itu menatap ke arah si kakek dengan kedua matanya yang menggembung bengkak seolah hendak meletus.

Kemudian salah seorang yang bertubuh tegap dan berdiri di sebelah kiri keluarkan suara mengorok.

Ketika mulutnya terbuka terdengar suaranya yang parau disertai semburan belatung berwarna kuning kehijauan.

"Ki Jangkung! Guru me-nga-pa...guru bersama dua guru lainnya tidak membantu menolong menyelamatkan kami?"

"Meng-a-pa gu-ru..." kata pemuda yang mengikut dibelakangnya pula bersamaan.

"Kalian... apakah kalian ini benar-benar muridku? Apa yang telah terjadi? Aku dan adik adikku telah mencari kalian kemana-mana, tapi upaya yang kami lakukan sia-sia. Kalan menghilang bagai ditelan bumi. Dan saat inipun masih ada sedikitnya sepuluh saudara seperguruan kalian lainnya yang belum kembali!"

Jawab KI Jangkung Reksa Menggala dengan suara terbata-bata.

"Badai yang datang malam itu, guru!" berkata pemuda yang berada di sebelah kanan juga memegang lentera.

"Badai itu sama dengan yang datang malam ini guru. Badai membawa kami ke suatu tempat aneh, Di tempat itu kekuatan apa saja yang dimiliki oleh manusia menjadi tidak berarti. Tempat itu dingin, sepi dan asing. Kami mengalami kesengsaraan panjang. Kami seperti anak ayam yang kehilangan induk."

Belum sempat pemuda yang sekujur tubuhnya menggembung laksana hendak meletus selesaikan ucapan, Ki Jangkung Reksa Menggala tiba-tiba menyela.

"Aku tidak tahu tempat apa yang kalian maksudkan itu? Aku juga ragu apakah kalian semua benar murid-muridku? Aku melihat wajah dan tubuh kalian berbeda dengan murid-muridku yang hilang!"

"Kami murid-muridmu! Mengapa kini tiba-tiba guru tidak mengakui? Bersikap seakan tidak mengenal kami adalah sebuah sikap yang sangat tidak terpuji!"

Kata sepuluh pemuda yang berdiri di depan si kakek. Ki Jangkung Reksa Menggala terdiam.

Dalam diam dia dapat merasakan kemarahan dalam diri setiap orang itu.

Tapi sebagai seorang guru yang berpengalaman, Ki Reksa Menggala segera berusaha menenangkan mereka.

"Kalian dengar?! Siapa yang tidak mengakui kalian sebagai muridku. Aku hanya tidak mengerti apa yang telah terjadi? Dan satu yang paling mengganggu pikiranku. Mengapa keadaan kalian seperti mayat-mayat yang baru bangkit dari liang 1 kubur?"

Tanya si kakek.

"Tua bangka bodoh! Apakah kau masih belum mengerti juga bahwa sebenarnya kami memang sudah mati!"

Jawab semua orang di depan Ki Reksa Menggala hingga membuatnya tercengang kaget. Rasa kejut di hati Ki Jangkung Reksa Menggala tidak berlangsung lama.

Selesai sepuluh mulut menebar bau busuk mengucapkan kata yang sama. Tiba-tiba terdengar suara seruan.

"Ki Jangkung Reksa Menggala. Sebelum ajal datang menjemput. Ingat-ingatlah semua dosa kesalahan yang pernah kau lakukan dimasa lalu. Setelah ingat maka sekarang hadapilah mayat- mayat muridmu sendiri. Hi..hi..hi."

Dalam kaget si kakek layangkan pandang ke satu jurusan tempat dimana suara itu datang. "Siapa yang bicara?!"

Serunya dengan suara lantang. "Siapa yang bicara?"

Menyahuti suara itu dengan berdengus.

"Siapa aku apakah bagimu masih penting? Aku adalah mimpi burukmu! Aku kematian yang tidak mengenal kata ampun Hihi hi!" "Hm, kaukah yang membunuh mereka, lalu kau buat seolah mereka ini hidup kembali. Bangkit dari kematian untuk menyerang diriku!"

Teriak si kakek  dengan penuh kemurkaan.

"Membunuh murid-muridmu adalah langkah yang keliru. Aku tidak akan pernah menjawab pertanyaanmu itu. Yang jelas kuasa pemilik langit bumi meliputi segalanya. Dia berkehendak berbuat apa saja!"

Sahut suara itu dingin.

"Kurang ajar! Jangan pernah menggurui tua bangka ini. Siapapun dirimu jika punya nyali sebaiknya unjukan diri. Kau boleh mengatakan kesalahan apa saja yang pernah kulakukan kepadamu!"

Geram Ki Jangkung Reksa Menggala tambah jengkel

"Kau ingin melihat bagaimana tampang rupaku? Apakah kau masih punya waktu melakukannya? Apakah kau tidak sadar saat ini maut mula menjulurkan tangannya siap membetot nyawa busukmu? Hik hik hik!"

Ucapan lantang suara perempuan lenyap.

Dari arah yang sama sekali lagi terdengar suara lolong mengerikan. Ki Jangkung Reksa Menggala rupanya masih penasaran.

Namun baru saja mulutnya hendak terbuka, Dari arah samping kanan dan kiri berpasang-pasang tangan berkelebat menyambar siap menjadikan tubuh dan wajahnya hancur tercabik-cabik

"Mahluk-mahluk celaka! Selagi hidup menjadi muridku.Setelah mati mengapa hendak membuat celaka diriku!?"

Dengus Ki Jangkung Reksa Menggala.

Secepat kilat orang tua ini menarik kakinya ke belakang.

Kepala disentakan sedangkan dua tangan dihantamkan ke depan dan samping dengan sepuluh jemari terkembang.

Serangan yang dilakukan orang tua ini bukan serangan biasa. Selain menggunakan sebagian tenaga sakti yang dia miliki.

Si kakek juga menggunakan jurus maut Merapi Mendidih yang dibarengi dengan pukulan Selaksa Lahar Melanda Lautan.

Akibat yang ditimbulkannya sungguh mengerikan.

Selain dari kedua tangan si kakek menyemburkan cahaya merah laksana luapan lahar gunung meletus.

Dari tangan itu pula menderu hawa panas yang segera menghantam ketiga arah dimana mayat-mayat bersirebut merangsak maju menyerang si kakek.

Semburan luapan cahaya merah laksana muncratan lahar gunung menyambar dari pinggang ke atas.

Sementara serbuan hawa panas bercampur deru angin yang dilepaskan si kakek menghantam bagian tubuh sebelah bawah.

Melihat bahaya mengancam diri mereka. Sepuluh mayat hidup tertegun.

Namun rupanya makluk penghuni liang kubur ini mengetahui bahaya besar mengancam keselamatan mereka.

Terbukti mereka berserabutan selamatkan diri. Walau gerakan makluk-makluk itu terkesan kaku dan lambat.

Namun ketika sadar mendapat ancaman bahaya, mereka ternyata dapat bertindak cepat. Tidaklah heran pada saat cahaya merah laksana kipas menderu menghantam tubuh mereka. Mayat-mayat itu segera jatuhkan diri sama rata dengan tanah.

Justru tindakan yang mereka lakukan merupakan sebuah kesalahan karena walau mereka dapat menyelamatkan diri dari jurus Merapi Mendidih hingga serangan itu menjadikan sebagian bangunan Padepokan hancur porak poranda dilalap api.

Tapi mereka tidak bisa lolos dari pukulan Selaksa Lahar Melanda Lautan. Tanpa ampun ketika pukulan berkiblat menderu kedepan.

Mayat-mayat yang selamatkan diri dengan merebahkan dirinya sama rata dengan tanah ini menjadi sasaran empuk pukulan si kakek

Wuus! Buuum!

Begitu pukulan Selaksa Lahar Melanda Lautan yang dilepaskan orang tua itu melabrak tubuh lawan-lawannya.

Seketika itu juga sepuluh mayat tenggelam dalam luapan cairan merah mendidih yang mendadak muncul dari dalam tanah.

Para mayat menjadi panik.

Mereka segera bangkit dan berusaha selamatkan diri.

Namun tindakan yang dilakukan oleh mayat-mayat itu nampaknya sia-sia saja karena dalam waktu yang singkat cairan mendidih yang muncul ke permukaan tanah menelan tubuh mereka.

Luapan cairan mendidih yang menelan tubuh mereka akhirnya menyisakan satu pandangan mengerikan.

Panasnya cairan yang bersumber dari ilmu kesaktian si kakek ternyata tidak hanya membuat rambut dan kulit mayat-mayat itu menjadi rontok. Seluruh daging pembalut tulang disekujur tubuh leleh bertanggalan menebar bau busuk menyengat luar biasa.

Tulang belulang dan rangka tubuh yang tadinya bersusun rapi satu demi satu rontok berjauhan. Tak kuasa menahan bau busuk dan menyaksikan tulang merah jatuh bergugusan meninggalkan raga yang hancur.

Ki Jangkung Reksa Menggala pun melompat mundur menjauh halaman itu.

Dari jarak yang aman si kakek lalu layangkan pandang ke arah luapan cairan merah yang melanda halaman.

Perlahan cairan panas mengerikan itu lenyap.

Anehnya setelah halaman kering tulang belulang yang bertanggalan dari setiap tubuh setiap mayat ternyata juga raib tidak meninggalkan bekas.

Ki Jangkung Reksa Menggala hanya bisa menyaksikan dibeberapa tempat dimana mayat-mayat tadi berada, ada kepulan asap tebal meliuk membubung ke udara menebar bau tulang terbakar.

"Aneh! Mengapa terasa segala sesuatunya berlangsung cepat? aku tidak meragukan kehebatan jurus-jurus maut serta ilmu pukulan sakti yang kumiliki. Tapi..." belum lagi sempat Ki Jangkung Reksa Menggala menyelesaikan ucapannya.

Serta merta terdengar suara mengiang ditelinga kanannya.

"Wahai anak manusia bernama KI Jangkung Reksa Menggala. Jangan kau layani tipuan-tipuan mata. Semua yang terjadi di sini berlangsung dalam ketidakwajaran. Kau harus segera tinggalkan tempat ini. Pergilah ke arah utara. Orang yang sedang mempermainkanmu bukanlah lawannmu yang sepadan."

Terang suara ngiangan itu.

Ki Jangkung Reksa Manggala diam tertegun.

Dibawah cahaya bulan yang temaram matanya melirik kesegala penjuru sudut.

Jelas suara mengiang ditelinganya berbeda dengan suara pertama yang didengarnya tadi, sesaat sebelum mayat-mayat muridnya melakukan serangan.

"Ada orang memanggilku anak manusia. Padahal usiaku sudah lanjut-menjadi seorang kakek. Tapi siapa yang bicara dengan menggunakan ilmu mengirimkan suara itu? Suaranya samar, jauh dan tak dapat diduga. Apakah laki-laki ataukah perempuan yang bicara?"

Membatin si kakek dalam hati.

Selagi dia menduga-duga. Lagi-lagi terdengar suara mengiang di sebelah kiri.

"Ki Jangkung! Jangan menduga dengan hatimu, jangan berpikir dengan otakmu. Lakukan saja yang aku perintahkan!"

"Perintah apa? Kau Siapa?"

Tanya Ki Jangkung Reksa Menggala melalui ilmu mengirimkan suara pula

"Jangan tolol! siapa diriku tidak penting. Saat ini yang terpenting adalah menyelamatkan selembar nyawamu. Atau kau ingin hidupmu berakhir sebagaimana yang dialami oleh kedua adikmu Ki Jalung Upas dan Ragil Ijo?!" Dengus suara mengiang membuat Ki Jangkung Reksa Menggala terperangah kaget, mata melotot sedangkan mulut ternganga.

Dia ingin mengucapkan sesuatu tapi tidak ada suara yang keluar.

"Tunggu apalagi. Pergi ke arah utara. Lakukan saja yang aku perintahkan. Pergunakan ilmu tipuan mata Menghapus Jejak yang kau miliki. Lekas atau kau tidak bakal sempat melakukannya!" desak suara mengiang tidak sabar.

Ki Jangkung Reksa Menggala dapat merasakan kekhawatiran orang yang bicara melalui ilmu mengirimkan suara itu. Namun rasa tidak percaya akibat kehilangan dua saudara membuat hatinya terguncang. Dia tidak habis mengerti bagaimana kedua adiknya yang baru saja menyingkir ke tempat yang dianggap aman demi keselamatan mereka justru malah kehilangan nyawa?

siapa yang membunuh mereka?

Dan lagi pula bagaimana orang yang bicara itu bisa tahu dia mempunyai ilmu Tipuan Mata Menghapus Jejak?

"Jangan menduga dengan hatimu. Jangan berpikir dengan otakmu!"

Desis si kakek mengulang ucapan orang. Baru saja mulut ki Jangkung Reksa Menggala terkatub.

Sekonyong-konyong-dari empat penjuru arah terdengar suara raungan menggelegar merobek kesunyian.

Ki Jangkung Reksa Menggala terkesima. Memandang kejurusan mana suara raungan berasal.

Dia melihat ada empat cahaya merah terang seolah kumpulan bara raksasa muncul dibalik gelap.

Si kakek tidak lagi sempat berpikir apa dan makluk apa yang muncul dalam rupa seperti nyala bara itu karena saat itu pula suara mengiang kembali menyentak ditelinga kirinya

"Manusia bodoh!"

"Diberi jalan malah memilih menentang bahaya menyongsong bala. Kalau kau mati bagaimana kau bisa tahu siapa yang membunuh kedua adikmu dan sebab apa dia dibunuh! Lekas pergi! Maut telah muncul diempat penjuru sudut. Lakukan sekarang atau tidak sama sekali!"

Ki Jangkung Reksa Menggala bukanlah manusia pengecut.

Si kakek pun menyadari dirinya memiliki ilmu serta kesaktian yang tinggi.

Tapi dia ternyata termakan dengan ucapan orang yang bicara melalui ngiangan suara. Dua adiknya telah menemui ajal.

Ternyata inilah yang membuatnya segera lakukan apa yang diperintahkan orang. Sebelum empat bara raksasa menderu ke arahnya.

Ki Jangkung segera rangkapkan kedua tangan didepan dada. Begitu dua tangan menyentuh dada, si kakek pejamkan matanya. Wuuus! Hanya sesaat sebelum empat bara dalam bentuk bola raksasa yang menderu dari atas ketinggian menghantam tubuh ki Jangkung Reksa Menggala.

Sosok si kakek mendadak raib, lenyap dari pandangan mata.

Empat bara raksasa secara bersamaan menderu lalu saling hantam dengan sesamanya ditempat mana si Jangkung Reksa Menggala tadinya berdiri.

Gleger!

Terdengar suara dentuman dahsyat mengerikan.

Tanah berpasir dihalaman itu bermuncratan membubung tinggi ke udara, bertaburan sedemikian rupa dalam keadaan merah membara.

Tak jauh disebelah depan padepokan berlantai panggung berdinding papan beratap ilalang hancur porak poranda dalam bentuk kepingan dikobari api. Untuk beberapa saat lamanya kegelapan temaram disekitar Padepokan tiga guru terang benderang dilamun kobaran api.

Ditempat dimana ledakan menggelegar terjadi tertihat sebuah lubang besar menganga dalam. Hanya beberapa kejaban sebelum kobaran api yang melahap puing-puing padepokan padam.

Tiba-tiba terdengar suara lolong yang disertai dengan munculnya tiga sosok berupa mahkluk berkaki empat berbulu hitam bertubuh besar.

Tiga sosok yang ternyata adalah tiga anjing inilah yang sempat keluarkan suara lolongan sebelum munculkan diri dihalaman itu.

"Grauuung!"

Tiga anjing hitam seukuran anak kerbau tiba-tiba keluarkan suara lolongan untuk kedua kalinya.

Mata yang merah jelalatan gelisah, mulut terbuka memperlihatkan taring-taring yang tajam sedangkan lidahnya terjulur ditengah hela nafasnya yang mengengah.

Selagi tiga anjing hitam besar jelalatan memperhatikan padepokan yang porakporanda.

Dari balik kegelapan tiba-tiba berkelebat satu sosok tubuh berpakaian ringkas terbuat dari kulit yang juga berwarna hitam.

Ketika sosok berambut panjang tergerai jejakkan kaki didepan tiga anjing bermata merah. Ketiga mahkluk yang kelihatan ganas ini keluarkan suara mengiuk manja.

Ketiga anjing segera datang menghampiri.

Kemudian selayaknya tiga orang anak kecil pada ibunya, ketiganya menggosok- gosokan kepala dan badan di kaki sosok berpakaian hitam.

Sosok berambut panjang mengusap dan membelai kepala dan bulu-bulu tebal mahluk yang selalu menemaninya setiap kali bulan muncul dilangit

"Sama seperti diriku.Kalian harus bersabar."

Kata si rambut panjang yang ternyata adalah seorang perempuan berwajah cantik. Tiga anjing yang ukurannya setinggi pinggang perempuan tersebut merintih lirih. Tanpa menghiraukan rintihan ketiga anjing hitam dia lanjutkan ucapannya.

"Malam ini dia lolos dari kematian. Tapi aku pastikan usianya tidak akan lebih lama dari datangnya bulan purnama kedepan. Aku yakin ada seseorang yang telah menyuruhnya menyelamatkan diri. Tapi siapa?"

Tanya perempuan itu seolah ditujukan pada dirinya sendiri. Perempuan itu terdiam.

Tiga anjing hitam yang menjadi kepanjangan tangan dalam setiap menjalankan keinginannya tiba-tiba dongakan kepala.

Tiga hidung yang bertengger di atas moncong lancip basah mengendus. Menghadap ke arah angin yang datang dari utara.

Ketiga mahluk itu tiba-tiba keluarkan suara menggereng.

Sebagai orang yang sangat mengenali tabiat kebiasaan ketiga binatang itu si perempuan cantik tentu saja dapat mengerti makna setiap suara ketiga anjing tersebut.

"Hmm, jadi dia melarikan diri lalu pergi ke utara."

Kata perempuan itu sambil menatap tiga mahluk yang memandangnya.

Memang diantara perempuan dan tiga anjing yang selalu muncul dan menemaninya dimalam hari telah terjalin suatu ikatan batin yang kuat.

Sehingga walau salah satu atau tiga anjing itu memperdengarkan suara tertentu, perempuan muda berpakaian hitam ini ternyata dapat memahami maknanya.

"Wahai tiga mahluk sahabatku,"

Berkata perempuan berambut panjang ditujukan pada tiga anjing didepannya.

"Mengapa Ki Jangkung Reksa Menggala tidak mengungsi ke Kulon Watu Cadas sebagaimana yang dilakukan oleh kedua adiknya?"

Salah satu anjing menggereng lalu si perempuan manggut-manggut. "Seseorang memintanya pergi ke utara. Begitu menurutmu?"

Gumam si rambut panjang.

"Utara daerah yang jarang kita sambangi.Ada beberapa sesepuh yang sangat disegani berdiam di sana.Salah satunya adalah Gusti Ratu Penguasa pantai utara. Tapi perburuan ini belum berakhir dan dimanapun orang itu berada harus kita cari tanpa terkecuali."

"Tidak ada gunanya lagi kita berlama- lama ditempat ini.Sebaiknya kita pergi, kita harus menyusun rencana. Setiap orang tidak terkecuali siapapun orangnya yang pernah berurusan denganku dimasa lalu harus kita singkirkan secepatnya. Mereka harus diberi hukuman yang setimpal!"

Geram perempuan itu.

Sebagai jawaban tiga anjing keluarkan suara lolong panjang.

Tidak lama kemudian tiga mahluk itu berkelebat ke arah lenyapnya perempuan cantik yang selalu mereka ikuti.

******

Kulon Watu Cadas terletak di ujung barat Karang Ngampel. Pagi hari saat matahari sembulkan diri diufuk langit sebelah timur suasana dikawasan itu terasa Sunyi namun sejuk.

Dalam kesunyian sejauh mata memandang yang terlihat adalah hamparan bukit- bukit batu dan onggokan cadas.

Ditempat tertentu beberapa jenis tumbuhan liar tumbuh subur menghijau. Tidak seluruh kawasan Kulon Watu Cadas merupakan sebuah daerah gersang.

Terbukti agak disebelah utara terdapat sebuah sungai berair jernih selayaknya kaca.

Dan ketika matahari pagi merambat naik mengikuti titik edarnya, Ditepi sungai yang jernih dipenuhi bebatuan.

Seorang pemuda berpakaian kelabu berambut gondrong sebahu terlihat duduk disana sambil membasuh diri. Tidak lama setelah selesai membasuh wajah dan mengeringkan rambut panjangnya, si pemuda yang tak lain Sang Maha Sakti Raja Gendeng adanya segera hendak tinggalkan tempat itu.

Tapi segala keinginannya terpaksa diurungkan begitu mata sang pendekar melihat sebuah benda berbentuk bulat mirip dengan kelapa timbul tenggelam terseret arus sungai yang tidak begitu deras.

Karena air sungai dalamnya hanya setinggi lutut dan jernih pula.

Tentu saja Raja dibuat terkejut ketika melihat benda yang timbul tenggelam yang terbawa arus itu ternyata adalah potongan kepala manusia.

Terdorong oleh rasa kaget, heran bercampur keingintahuan membuat Raja segera melesat ke atas bebatuan di tengah sungai tempat dimana potongan kepala itu berada.

Begitu kaki menjejak batu, dengan tubuh sedikit membungkuk tangannya bergerak menyambar ke dalam air.

Wuus!

Raja berhasil meraih potongan kepala itu.

Kepala diangkat dengan memegang rambutnya yang putih laksana perak. Sesaat dia memperhatikan bagian wajah.

Raja tertegun ketika mengetahui potongan kepala ditangannya adalah kepala milik seorang kakek.

Yang membuat Raja bergidik ngeri adalah ketika dia melihat sepasang mata kepala tanpa badan dalam keadaan melotot ketakutan, mulut ternganga tanpa lidah dan didalam rongga mulut yang terbuka dipenuhi genangan darah kental.

Raja segera membawa potongan kepala ke tepi sungai. Namun baru saja kakinya menjejak pinggiran sungai itu. Tiba-tiba saja dia mendengar suara berdesis. Ketika sang pendekar menatap ke arah kepala dalam genggamannya.

Dia melihat kepala tanpa tubuh itu mengeluarkan kepulan asap menebar bau daging hangus terbakar.

Terkejut tidak mengerti dengan segala keanehan yang terjadi.

Dengan gerakan cepat dia campakan benda mengerikan ditangannya ke tanah. Potongan kepala menggelinding, kepulan asap tambah menebal.

Bersamaan itu terdengar pula suara grek...!

grek...!

Kepala bergoyang dan menggeletar hebat lalu... Blaar!

Kepala meledak hancur menjadi kepingan.

Raja melompat mundur sekaligus terhenyak.Beberapa saat dia hanya terdiam terpaku sementara tatap matanya memandang penuh rasa tidak percaya dengan segala keanehan yang terjadi didepannya.

"Kakek tua yang malang. Siapa yang telah menghabisinya dengan cara demikian keji? Apa dosa dan kesalahan yang telah dilakukannya?"

Membatin Raja setelah dapat menguasai diri.

Tak lama setelah memperhatikan puing-puing batok kepala serta otak hangus yang berserakan.

Sang Maha Sakti Raja Gendeng segera layangkan pandang ke jurusan hulu sungai dimana tempat potongan kepala terbawa arus.

"Kepala berasal dari sana. Kemungkinan bagian tubuhnya ada di hulu sana. Jika aku ikuti sungai ini ke arah hulu, kemungkinan besar aku bisa menemukan potongan tubuh juga mencari tahu mengapa kakek itu dibunuh dan siapa pula yang membunuhnya!"

Berpikir sejauh itu.Raja pun kemudian melangkah cepat telusuri tepian sepanjang sungai. Bagian hulu sungai ternyata berakhir di sebuah tebing batu.

Di bawah tebing terdapat sebuah lubang sepemasukan tubuh orang dewasa. Dari lubang itulah sumber mata air utama yang mengalir hingga ke hilir.

Raja memperhatikan sumber mata air sekilas. Dia berpikir mungkin saja ada gua tersembunyi di balik dinding tebing itu.

Namun dugaan itu tidak menggerakkan hatinya untuk melakukan sesuatu. Semua perhatian sang pendekar justru lebih tertuju ke arah dinding tebing sebelah kirinya.

Di bawah tebing sebelah kiri dia melihat ada jalan setapak memasuki sebuah celah sempit yang dipisahkan oleh bukit tandus.

Tanpa membuang waktu pemuda ini melangkah menuju ke sana. Celah yang lebarnya tak lebih dari dua kali tubuh orang dewasa ini ternyata mengarah pada sebuah gua tersembunyi.

Melihat sekilas gua itu memang menjadi tempat yang baik untuk bersembunyi. Namun sebelum Raja memutuskan untuk masuk ke dalam gua, dia melihat ceceran darah di depan gua.

Pemuda itu segera jongkok, sejenak dia memperhatikan ceceran darah sedangkan hidungnya mengendus berusaha membaui.

"Jelas! Darah ini adalah darah manusia!" Batin Raja sambil bangkit berdiri.

Lalu dia layangkan pandang ke dalam bagian gua.

Dia melihat ada nyala pelita di dalam gua itu pertanda ada seseorang yang tinggal di sana. Sambil menghela nafas Raja melangkah dekat mulut gua itu.

Setelah sampai di depan mulut gua sambil bersikap waspada dari segala kemungkinan pemuda itu berucap.

"Siapa pun yang berdiam di dalam gua ini. Aku Sang Maha Sakti Raja Gendeng memohon restu hendak masuk ke dalam. Aku tidak bermaksud mengganggu. Kedatanganku hanya ingin menanyakan sesuatu yang cukup penting!"

Setelah berkata demikian sang pendekar menunggu. Tidak terdengar adanya jawaban.

Kesunyian sesekali dipecahkan oleh suara desau angin yang menghempas celah dua lamping tebing yang membentang dikedua sisi jalan setapak itu.

Dengan bersabar diri sang pendekar menunggu. Kemudian dia mengulangi ucapan yang sama.

Karena dari dalam gua tidak kunjung terdengar jawaban juga. Raja memutuskan masuk ke dalam gua. Sambil melangkah kaki mulut terucap.

"Lebih baik aku masuk saja. Terserah penghuni gua nantinya mau berkata apa. Aku sudah meminta izin. Tapi tidak ada yang menjawab. Mungkin penghuni tempat ini terdiri dari orang-orang tuli. Siapa peduli!"

"Paduka Gusti Raja Gendeng!"

"Eeh, kaukah yang bicara lewat suara mengiang itu Jiwa penghuni hulu pedang ?"

Tanya Raja sedikit terperanjat

"Benar paduka. Saya jiwa penghuni pedang. Bukan jiwa perempuan yang ikutan bergabung yang tinggal bersama saya."

Raja tersenyum. Teringat olehnya Jiwa Perempuan mahluk baru yang kini tinggal di dalam hulu pedang Gila. "Bagaimana keadaan perempuan itu. Apakah dia kerasan tinggal dalam satu ruangan bersamamu?"

Tanya sang pendekar sementara bibirnya tetap menyunggingkan senyum

"Perempuan cerewet itu nampaknya sudah kerasan tinggal dalam ruangan bersama saya paduka.Cuma sejak dia menetap bersama saya, waktu saya untuk istirahat jadi terganggu. Beberapa hari belakangan saya jadi kurang tidur?" keluh sang Jiwa sahabat Raja.

"Begitu. Bukankah dengan adanya jiwa perempuan bersamamu, kau tidak lagi kesepian. Kau bisa berhangat-hangat, sementara aku berdingin-dingin sambil memeluk mimpi buruk. Mengapa malah mengeluh? Apakah jiwa perempuan yang cantik itu bersikap dingin padamu?" 

Sindir Raja sambil menahan tawa.

"Paduka bicara apa? Kami tidak mengenal arti sebuah kemesraan karena kami hanya jiwa. Setiap jiwa yang tidak mempunyai tubuh kasar tentunya- tidak memiliki nafsu."

Tukas jiwa Pedang.Raja manggut-manggut sementara mulutnya sempat melongo.

"Aku baru mengerti. Kalau demikian buat apa ada jiwa perempuan cantik bersamamu. Tanpa nafsu dan keinginan sampai lumutan pun diantara kalian tidak bakal ada rasa saling tertarik."

Gumam sang pendekar

"Ya. Itulah kenyataan yang berlaku dalam kehidupan dunia kami. Tetapi memang ada sedikit yang membuat saya terganggu,"

Jawab Jiwa.

"Apakah dia mengganggu waktu istirahatmu?" Tanya Raja.

"Bukan. Saya merasa terganggu karena jiwa perempuan tidurnya selalu mengigau dan mendengkur. Nafasnya selalu berbunyi seperti seruling batang padi."

Jelas sang jiwa. Penjelasan jiwa pedang tentu saja membuat Raja tak kuasa menahan tawa.

"Oh ho ho. Bagus itu. Harusnya kau merasa terhibur karena mendengar nafasnya seperti seruling.

Anggap saja suara dengkurannya sebagai gendang. Jadi jangan menganggap suara apapun yang keluar dari jiwa perempuan sebagai gangguan. Lebih baik anggap saja sebagai pengganti irama tetabuhan dan gamelan yang merdu."

"Aduh Paduka ini bukannya membela kepentingan saya. Paduka malah menganggap keluhan aya sebagai gurawan."

"Makanya jangan terlalu diambil hati. Jika selalu memikirkan segala gangguan yang ditimbulkan jiwa perempuan nanti kau bisa jadi kurus dan mati mengenaskan. Lagi pula jiwa perempuan mengorok dan mendengkur bukan atas keinginannya sendiri."

Kata Raja, Jiwa Pedang terdiam. Raja pun kemudian lanjutkan ucapannya.

"Jiwa sahabatku, aku harap nantinya kau tidak usah lagi berkeluh kesah. Saat ini aku sedang berusaha mencari tahu keberadaan bagian tubuh dari potongan kepala yang kutemukan ditengah sungai."

Terang Raja.

"Saya tahu. Saya tidak akan mengeluh lagi. Tapi satu lagi kebiasaan buruk jiwa perempuan yang perlu saya katakan pada paduka."

Kata sang jiwa

"Kebiasaan buruk apa lagi?"

Tanya Raja dengan kening berkerut tanda tidak mengerti. Sepi sejenak. Raja merasa sepertinya Jiwa Pedang ragu untuk menjawab pertanyaan.

Setelah didesak barulah Raja mendengar suara mengiang lirih terkesan malu-malu di telinganya. "Jiwa perempuan tidurnya suka mengangkang. Selain itu mulutnya yang-bau jengkol kerap terbuka

melongo."

"Ha ha ha Bagus itu jadi kau bisa melihat pemandangan bebas. Kalau-aku jadi kau bisa-bisa aku mementang mata sepanjang malam!"

Sahut sang-pendekar diringi gelak tawa.

"Paduka sungguh keterlaluan. Saya bukan laki-laki mata keranjang." dengus mahluk halus penghuni pedang jengkel.

"Makanya jangan bicara menyangkut urusan pribadi. Kekurangan yang lain tak perlu kau utarakan. Lagi pula bagimana kalau ucapanmu atau ucapanku sampai didengar oleh jiwa perempuan."

"Dia tidak akan mendengar karena saat ini saya lihat jiwa perempuan masih tidur. Yang merepotkan air liurnya mengalir kemana-mana."

"Sudah bersihkan saja. Siapa tahu suatu saat kelak air liur jiwa perempuan laku dijual. Ha...ha.." kata sang pendekar seenaknya sendiri.

Jiwa sahabatnya menggerutu. Namun gerutuan jiwa penghuni pedang itu hanya samar ditelinga sang pendekar. Sampai kemudian tawa Raja lenyap dan langkahnya terhenti saat matanya melihat satu pemandangan mengerikan di tengah ruangan gua.

"Paduka, ada apa? Jantung paduka berdegup keras, aliran darah bergemuruh laksana curah air terjun."

Tanya jiwa sahabatnya.

"Jangan berlebihan. Kau ada-ada saja. Mana ada darah manusia yang mengalir bergemuruh seperti air terjun."

Tukas Raja.

"Lihat ke depan sana. Keluarlah dari tempatmu.!" "Baiklah Paduka."

Jawab jiwa pedang. Raja kemudian merasakan ada desir angin halus melintas di samping telinganya.

"Kau sudah keluar dari ruangan butut tempat tinggalmu?"

"Paduka sudah tahu. Apakah Paduka ingin saya memeriksa dua sosok yang tergeletak di lantai gua ini?"

Tanya jiwa.

"Sebaiknya kita memeriksa bersama-sama." Tukas Raja.

"Apapun yang menurut paduka baik, saya pasti selalu mengikuti." Sahut jiwa penghuni pedang tanpa ragu.

Dua sosok yang tergeletak dilantai gua itu tak lain adalah dua tubuh yang dipenuhi luka cabik bermandikan darah.

Satu diantaranya seorang kakek berambut dan berwajah hijau. Raja memperkirakan kakek ini berusia sekitar tujuh puluh tahun.

Sedangkan kakek yang mempunyai benjolan berupa punuk di atas bahunya kemungkinan juga seorang kakek yang usianya tidak terpaut jauh dari kakek berwajah hijau

"Paduka! Orang berpunuk ini mengalami luka cabikan disekujur tubuh. Selain itu dadanya robek besar dan kepalanya juga raib entah kemana."

Kata jiwa penghuni pedang.

Tidak seperti biasanya, sang Jiwa yang selalu bicara dengan suara mengiang kali ini berucap dengan suara tercekat.

Sang Maha Sakti Raja Gendeng diam membisu. Seumur hidupnya dia belum pernah melihat orang terbunuh dengan keadaan mengerikan seperti itu. Raja pun belum bisa menduga siapa pembunuh keji berdarah dingin yang melakukan pembantaian dengan cara seperti binatang buas itu.

Apakah manusia yang melakukannya ataukah binatang. Hilangnya kepala yang seharusnya bertengger pada laki-laki berpunuk segera mengingatkannya pada potongan kepala yang ditemukannya disungai.

"Dua orang yang terbunuh ini semuanya sudah tua. Aku menemukan potongan kepalanya seperti sengaja dihanyutkan disungai."

Gumam Raja sambil memperhatikan segenap penjuru ruangan gua.

"Ada dua pelita menempel di sudut sebelah kiri dan sebelah kanan dinding gua. Tidak ada perabotan terkecuali dua buntalan besar. Ini berarti orang yang terbunuh bukan penghuni tetap gua itu melainkan orang yang mungkin kemalaman dan menggunakan gua sebagai tempat istrahat.Jiwa sahabatku. Coba kau periksa isi kedua buntalan itu!"

Perintah Raja.

"Baiklah Paduka. Perintah Gusti segera saya laksanakan!" Jawab jiwa Pedang Gila.

Masih dengan berdiri tegak ditempatnya.

Raja memperhatikan ke arah kedua buntalan itu.

Dia lalu melihat satu demi satu buntalan bergerak- gerak, Raja maklum jiwa sahabatnya sedang melakukan tugasnya.

Sementara menunggu jiwa menyelesaikan tugasnya perhatian Raja kini tertuju ke arah sebuah tongkat berwarna hijau dan sebuah batok hitam terbuat dari tempurung kelapa.

Tertarik dengan keberadaan kedua benda itu. Sang pendekar pun datang menghampiri.

Tongkat dan batok dipungutnya.

Ketika kedua benda berada dalam genggamannya. Tiba-tiba saja kening Raja mengernyit.

Dia merasakan ada hawa panas mengalir dari tongkat sedangkan dari batok membersitkan hawa dingin sejuk

"Hmm, ternyata tongkat dan batok ini bukan benda biasa. Kedua benda ini merupakan dua senjata yang menyimpan kesaktian yang cukup tinggi, Pemiliknya pastilah salah satu diantara dua orang terbunuh itu."

Pikir Raja sambil layangkan pandang ke arah dua mayat kakek yang tidak dikenalnya. Tidak berselang lama setelah memperhatikan dua mayat didepannya.

Kini mata Raja kembali tertuju pada dua senjata yang biasa dipergunakan oleh kaum pengemis itu. Penasaran dia mengendus batok di tangan kiri, lalu mengendus tongkat hitam. "Mengapa mereka dibunuh dan siapa pula pem bunuhnya?"

Pikir sang pendekar terdiam.

Selagi pemuda itu bingung mencari tahu siapa pembunuh kedua kakek malang. Pada saat itulah terdengar suara ngiang di telinganya.

"Paduka. Dua buntalan itu berisi beberapa perangkat pakaian dan bekal makanan yang hanya cukup untuk kebutuhan satu hari. Semuanya dalam keadaan basah. Berarti mereka datang ke gua ini di tengah curah hujan lebat."

Jelas jiwa.

"Dan mereka dalam keadaan terburu- buru." sambung Raja. "Saya kira juga demikian."

Sahut jiwa.

"Ada sesuatu yang mereka takuti. Kedua kakek ini jelas bukan orang biasa, mereka pasti memiliki ilmu kesaktian tinggi. Mungkinkah ada yang mengejar atau mungkin mereka diburu untuk dibunuh." Gumam Raja.

"Kemungkinan seperti itu bisa saja terjadi paduka. Saya juga menduga demikian. Yang perlu kita cari tahu darimana asal mereka? Mengapa mereka sampai melarikan diri ke tempat terpencil seperti ini?"

"Kau benar jiwa. Kita harus tinggalkan tempat ini secepatnya."

Ucap murid Ki Panaraan Jagad Biru dan Nini Balang Kudu itu. Dia lalu menghampiri mayat yang anggota tubuhnya telah hancur namun masih lengkap dengan kepalanya. Melihat ini jiwa tiba-tiba ajukan pertanyaan.

"mengapa dua senjata itu gusti tidak bawa serta?"

"Aku sudah punya senjata,mahluk tolol. Dengan membawa batok dan tongkat nanti orang mengira aku ini Raja pengemis. Kau suka diriku ini menjadi tertawaan orang desa atau dikejar-kejar bocah sedusun?"

"Jangan sampai seperti itu paduka. Meminta pada orang lain boleh-boleh saja tapi bila benar benar terdesak atau kepepet ha..ha..ha.." jawab jiwa disertai gelak tawa.

"Mahluk sinting! Gelo betul." Gerutu Raja.

Kemudian tanpa bicara lagi Raja balikan badan. Tapi belum sempat melangkah tinggalkan ruangan yang sejuk itu, tiba-tiba sang pendekar mendengar suara ngiang berupa seruan tertahan.

"Paduka lihat! Dibelakang gusti!"

Raja terkejut namun dengan cepat palingkan kepala menatap ke belakangnya. "Astaga!"

Mata sang pendekar terbelalak, mulut ternganga tercengang ketika melihat sosok mayat berwajah hijau tempat dimana dia meletakan tongkat dan batok tiba-tiba merentak bangkit.

Sekejaban mata dengan bersusah payah mayat itu telah duduk.

Mulut yang berlumur darah mengerang sedangkan mata memandang kosong ke arah sang pendekar.

"Aku sudah memastikan tadi dia benar-benar telah mati. Lalu mengapa orang yang sudah mati dapat hidup kembali. Edan... ataukah mataku dan mata Jiwa sahabatku yang salah melihat?"

Batin Raja sambil memutar tubuh kembali berbalik kebelakang menghadap ke arah sosok mayat.

Mayat dipenuhi luka mengerikan yang tak lain adalah Ragil Ijo tiba-tiba saja berucap.

"Bila dia datang kematian bisa terjadi dimana-mana.Dia lembut namun bisa berubah menjadi iblis pencabut nyawa.Wahai, kau pemuda berambut gondrong.Bantulah aku menemukan saudara tuaku yang bernama Ki Jangkung Reksa Menggala. Bila bertemu dengannya katakan Ragil Ijo dan Ki Jalung Upas adiknya tidak bisa membantu juga tidak bisa menguburkannya bila dia mati."

Kata si kakek dengan suara terbata-bata. "Orangtua kau datang dari mana?"

Tanya Raja

"Aku berasal dari padepokan Tiga Guru di kaki bukit Talang Hijau." Jawab Ragil Ijo.

"Apa yang terjadi? Siapa yang memperiakukanmu seperti ini. Cepat katakan!" Bersusah payah Ragil Ijo membuka mulut hendak menjawab.

Tapi tiba-tiba saja kakek itu mendekap lehernya sendiri.

Dari mulut bukan lagi terdengar suara jawaban melainkan suara mengorok hebat.

Mata si kakek mendelik kaki melejang-lejang, tubuh menggelepar dan kedua tangan tampak sibuk menarik sesuatu yang mencekik lehernya.

Karena Raja memang tidak dapat melihat apa yang sedang dialami oleh Ragil Ijo diapun berteriak ditujukan pada jiwa sahabatnya.

"Jiwa apa yang kau lihat. Dia seperti berusaha menyingkirkan sesuatu dari lehernya. Lekas katakan padaku!"

Secepat kilat sang pendekar menyerbu kedepan. Maksudnya hendak menolong Ragil Ijo agar dapat terbebas dari penderitaan. Belum sampai pemuda ini kehadapan Ragil Ijo, Jiwa penghuni pedang berseru.

"Paduka. Jangan mendekat! Saya melihat ada satu sosok samar mencekik orang tua itu.

Menjauhlah paduka. Serahkan semua ini pada saya. Biarkan saya yang akan memberi pelajaran pada sosok yang tak bisa paduka lihat itu."

Seru jiwa sahabat sang pendekar.

Terdorong keinginan untuk membantu menyelamatkan orang dari penderitaan, tanpa peduli Raja terus merangsek maju, Dua tangan yang telah teraliri tenaga dalam dengan cepat dijulur ke depan yaitu kebagian leher tempat dimana tangan yang dia perkirakan tidak terlihat itu berada.

Tapi baru saja jemari tangan sang pendekar menyentuh Ragil Ijo. Tiba-tiba saja dia merasa ada angin menyambar dari arah depan.

Dees! Dees!

Satu pukulan tidak terlihat dengan kekuatan luar biasa menghantam kedua tangan Raja. Karena tidak melihat siapa yang menyerang, sementara Ragil Ijo sendiri terlihat terus berusaha membebaskan lehernya dari cekikan dengan wajah pucat ketakutan.

Sang pendekar pada waktu bersamaan kembali mendengar suara deru menyambar ke bagian dadanya. Tidak ingin dibuat celaka untuk kedua kalinya. Tanpa menghiraukan kedua lengannya yang sakit akibat dihajar serangan yang tak terlihat. Raja melompat kebelakang sekaligus dorongkan dua tangan kedepan. Segulung angin menderu disertai berkiblatnya cahaya putih berkilau laksana perak. Tidak mau bersikap ayal, ternyata Raja melepaskan pukulan Badai Es kearah mana lawan dia perkirakan berada.

Sambaran cahaya putih berkilau laksana perak menghantam ke depan. Namun lawan yang tidak terlihat oleh Raja tapi dapat dilihat oleh jiwa sahabatnya dengan tidak diduga mempergunakan Ragil Ijo sebagai perisai untuk melindungi diri.

Tiba-tiba saja Raja melihat tubuh si kakek terangkat naik ke atas. Kemudian tubuh itu diputar laksana titiran. Dalam jarak sedekat itu mustahil bagi Raja untuk menarik balik serangan yang sudah terlanjur dilepaskan.

Tanpa ampun lagi Hmu Pukulan Badai Es yang dilancarkan Raja menghantam tubuh Ragil Ijo membuat si kakek menjerit.

Jeritan lenyap.

Tubuh Ragil Ijo meluncur deras ke bawah lalu ambruk dalam keadaan membeku memutih diselimuti es.

"Keparat! Mahluk pengecut! Siapapun dirimu harap unjukan diri!"

Geram Raja. Sebagai jawaban terdengar suara gema tawa mengikik disertai ucapan lirih namun dingin.

"Pemuda gondrong berpedang! Harap jangan ikut campur dengan segala urusanku! Jika kau tetap melakukannya, kelak kau akan kubuat menyesal seumur hidupmu. Hik hik hik!"

"Siapa dia? Suaranya seperti suara perempuan. Apakah mungkin dia dedemit penguasa tempat ini?

Dia tidak mau unjukan diri tapi malah bicara mengancam segala!" Geram Raja.

"Paduka! Sekarang mahluk itu ada didepanku. Sebaiknya paduka keluar tinggalkan gua. Biarkan saya yang meringkusnya!" teriak jiwa dengan suara keras membuat sang pendekar merasakan telinganya jadi pengang.

Sambil mengusapi telinga kanannya yang panas, Raja tiba-tiba berkata.

"kemana saja kau sejak tadi. Kau yang bisa melihat dia tapi bertindak lambat. Sekarang kau meminta aku keluar dari ruangan ini selayaknya pengecut yang lari meninggalkan medan laga?"

Damprat pemuda itu kesal.

"Maafkan saya paduka. Bukannya saya bersikap lalai berlaku lengah. Tapi saya hanya ingin memastikan apakah mahluk yang mencekik kakek muka hijau adalah mahluk sejenis saya atau bukan."

Jawab jiwa.

"Lalu... Ternyata dia bukan seperti saya atau seperti jiwa perempuan." Terang sang jiwa.

"Jadi seperti apa? Seperti nenekku atau seperti kuntilanak?" Dengus sang pendekar tambah kesal

"Dia tidak ubahnya seperti bayangan.Bayangan yang dikirimkan seseorang dalam rupa serba hitam. Tampaknya bayangan itu seperti bayangan seseorang dibawah cahaya matahari tapi dalam ujud angker menyeramkan."

Penjelasan sang jiwa karuan saja membuat sang Raja delikan matanya.

"Apa? Cuma bayangan kiriman seseorang tapi nyaris membuatku celaka. Edan! Apakah kau tidak bergurau jiwa ?"

Tanya Raja masih belum bisa percaya. "Mana mungkin saya bergurau paduka Raja!"

Dengan masih diliputi perasaan marah juga penasaran,Raja menyela.

"Ialu tunggu apa lagi. Cepat ringkus mahluk itu. Seret dia. Kalau perlu nanti kita bisa menjadikannya sebagai pepes."

Melihat Raja bicara sendiri mahluk berupa bayangan berwarna hitam gelap namun kasat mata itu diam-diam terkejut.

Apalagi ketika mengetahui ternyata pemuda gondrong itu bicara dengan mahluk yang tidak bisa dilihatnya.

Karena tidak dapat melihat jiwa yang berdiri menghadang didepannya, mahluk gaib yang datang dari dunia kesesatan ini jadi bicara sendiri.

"Pemuda gondrong bernama Raja itu adalah manusia biasa namun memiliki ilmu serta kesaktian yang tinggi. Tapi ada mahluk yang tidak dapat kulihat yang berbeda sekali dengan si gondrong. Dia juga bukan mahluk sembarangan. Apakah aku perlu menghadapi mahluk bernama jiwa ini. Urusan ditempat ini telah kuselesaikan dengan sebaik- baiknya. Ragil Ijo bahkan telah mampus. Dia tidak bakal lagi bisa mengatakan siapa yang telah membuatnya celaka! Sebaiknya aku kembali bergabung dengan tiga sahabat di lereng Merapil"

Baru saja sosok bayangan hitam memutuskan demikian.

Tiba-tiba saja dia merasa ada sesuatu yang berkelebat kearahnya. Bayangan hitam tersentak, tapi cepat palingkan kepala.

Tidak terlihat olehnya ada dua kepalan tangan sebesar bukit melabrak kearahnya. Dua tinju sebesar bukit melabrak kearahnya

Sreek!

Bayangan hitam mengerang kesakitan.

Mahluk aneh dari alam gelap ini menggeliat dari himpitan tinju lalu hantamkan kedua kaki dan tangan ke arah kepalan tangan lawan.

Tetapi jangankan hancur terkena tendangan dan pukulannya, bergeserpun kepalan tangan itu tidak. Malah kini bayangan hitam merasakan lawan menekan sosoknya dengan lebih keras. Sang bayangan megap-megap.

Himpitan sedemikian hebat membuat sekujur tubuhnya laksana mau meledak

"Jahanam! Ilmu kesaktian apa yang dimiliki oleh mahluk dar ­ alam roh ini.Mengapa aku menjadi tak berdaya?!" pikir bayangan hitam.

"Sudah kukatakan kau tidak bisa lolos dariku, bayangan jelek!" Dengus jiwa sahabat Raja.

Bayangan hitam menggeram walau tidak bisa mendengar apa yang dikatakan Jiwa Pedang.

Sebaliknya dalam hati dia berkata.

"Aku harus meloloskan diri. Hanya dengan ilmu Bayangan merubah Ujud aku bisa lolos!"

Selanjutnya tanpa menunggu lebih lama bayangan hitam merapal mantera ilmu sakti yang dimiliki. Hanya sekejap setelah selesai membaca mantera, jiwa sahabat Raja tiba-tiba merasakan tinju besarnya yang menindih bayangan hitam mendadak amblas melesak ke dalam tanah

"Kurang ajar! Pengecut itu melarikan diri!" Geram jiwa.

Secepat kilat dia angkat tinjunya yang terpendam dalam tanah.

Penasaran sekali lagi jiwa memperhatikan ke tempat mana lawan tadinya berada. Dia tidak menemukan mahluk yang dicari.

Namun dikejauhan jiwa mendengar suara gelak tawa mengejek.

Jiwa sahabat Raja menggeram. Sementara itu karena tidak dapat melihat ujud nyata jiwa sahabatnya, Raja hanya bisa melihat lantai tanah amblas berlubang dalam membentuk sebuah tinju besar.

Dan sebelum Raja sempat merasakan getaran pada lantai gua yang dipijaknya.

Tidaklah heran ketika melihat lubang berbentuk kepalan tangan dia berjingkrak kaget sedang dari mulutnya terdengar seruan.

"Pukulan siapa yang menimbulkan lubang sebesar ini? Jiwa... memangnya kau berada dimana?

Mengapa kedengaran suara tawa perempuan seperti mengejek dikejauhan?"

Tanya sang pendekar dengan mata jelalatan liar menatap keseluruh penjuruh ruangan. "Paduka, saya disini persis dihadapanmu dalam keadaan berhadap-hadapan. Gusti, lubang di

lantai gua itu adalah bekas tinjuku. Saya bermaksud menghancurkan bayangan hitam tadi dengan ilmu Tinju Dewa Mendera Bumi. Tapi mahluk itu berhasil lolos dengan menggunakan ilmu bayangan merubah ujud. Setelah melarikan diri, dikejauhan dia memang mengejek saya. Bagaimana menurut paduka apakah saya harus mengejarnya?"

Tanya jiwa

"Biarkan tak usah dikejar." Cegah sang pendekar, Kemudian sambil mengusapkan wajahnya dia berkata.

"Kau mempunyai ilmu yang hebat. Tubuhmu tidak terlihat oleh manusia, namun keberadaanmu dapat dibuktikan. Malah bekas tinjumu sebesar itu, tubuhmu sebesar apa? Bagaimana kau bisa keluar masuk dan berdiam dihulu pedang yang kecil dan sempit. Jangan-jangan kau ini seperti angin atau seperti kentut yang bisa menyelinap kemana-mana? Ha..ha.ha!"

"Paduka ada-ada saja, Tubuh halus saya tidak sebesar seperti yang gusti bayangkan. Tinju saya bisa sebesar itu karena saya menggunakan ilmu kesaktian. Jika tidak ya tinju saya biasa-biasa saja."

Jawab jiwa tersipu.

"Malah tinju saya jauh lebih besar dari tinju Jiwa sahabat paduka itu."

Tiba-tiba saja terdengar ngiang suara perempuan menimpali. Karena sebelumnya sang pendekar juga sering bicara dengan yang baru berucap maka mendengar ngiangan suaranya Raja tersenyum.

"Jiwa perempuan? Ternyata kau sudah bangun dari tidurmu?"

"Benar, Saya baru terjaga, namun bukan berarti saya seorang gadis pemalas paduka?"

Menyahuti jiwa perempuan yang saat itu telah keluar dari hulu pedang lalu dengan gerakan ringan segera melompat dan duduk

"Perempuan kurang ajar pandai bicara.Jangan berani duduk dibahu paduka rajaku!" geram jiwa sahabat Raja yang mendadak menjadi sangat marah melihat jiwa perempuan duduk uncang-uncang kaki dibahu Raja.

Walau sang pendekar sendiri tidak dapat melihat dua mahluk yang menjadi sahabatnya itu dan bukannya dia tidak merasakan kehadiran jiwa perempuan, justru dia dapat mengetahui jiwa perempuan menggunakan bahu kirinya sebagai tempat kedudukan, karena sambaran angin dan rasa hangat dibagian bahunya.

Jiwa perempuan juga tidak mempunyai tubuh kasar. Walau mahluk berambut panjang berdada bagus berpinggul menawan itu duduk Raja tidak merasa repot atau bahunya merasa terbebani oleh berat tubuh gadis itu.

Tapi demi sebuah kewibawaan dan untuk menjaga perasaan jiwa sahabatnya. Pemuda itu tiba-tiba saja berkata sambil menatap ke bagian bahu kirinya.

"Jiwa perempuan. Kau jangan bersikap kurang ajar terhadap gusti rajamu. Biar gendeng begini aku tetap seorang raja.Menyingkirlah dari bahuku atau aku akan menyuruh jiwa sahabatku menggebukmu!"

"Paduka, tap...bukankah laki-laki senang berdekatan dengan seorang gadis seperti saya. Apalagi saya cantik paduka?"

"Paduka. Biarkan saya memberi pelajaran pada jiwa perempuan yang tidak tahu diri ini." seru jiwa pedang. Kemudian sekonyong-konyong Raja mendengar suara deru angin berkesiuran dibahu kirinya. Sang pendekar bahkan segera merasakan ada hawa dingin luar biasa dahsyat menyambar bagian atas bahunya. Jiwa telah melakukan serangan terhadap jiwa perempuan.

Walau Raja tahu yang diincar bukanlah dirinya melainkan jiwa perempuan yang duduk diatas bahu. Namun pemuda ini rupanya khawatir juga bila dia juga ikut terkena serangan nyasar jiwa sahabatnya.

Disaat jiwa perempuan keluarkan seruan, lalu gelindingkan tubuh selamatkan diri. "Woalah mati aku mak!"

Pada waktu bersamaan Raja yang tidak tahan gempuran hawa dingin luar biasa yang walaupun sebenarnya tidak ditujukan kepadanya segera menggerakkan tangan kanannya ke atas bahu

Plak! Dess!

"Ugkh... tobat ampun! Maafkan saya gusti! " kata jiwa dengan suara tertahan.

Dilantai gua jiwa sahabat Raja jatuh menggelinding. Tangannya yang membentur tangan Raja terasa sakit seperti dipanggang di atas bara menyala. Rasa sakit yang dialami sang jiwa karena Raja menggunakan tenaga dalam berhawa panas yang didukung ilmu pukulan Badai Serat Jiwa yang mempunyai sifat panas.

"Jiwa kau tidak apa-apa?"

Bertanya sang pendekar yang diam-diam khawatir dengan keselamatan jiwa sahabatnya.

Jiwa pedang bangkit berdiri, Dua tangan yang bentrok dengan lengan rajanya menjadi lunglai. Namun tentu hanya jiwa perempuan saja yang bisa melihat jiwa pedang.

Jiwa perempuan merasa iba.

Menyesal atas segala sikapnya yang kurang santun maka mewakili jiwa pedang dia menjawab. "Paduka. Jiwa pedang sahabat paduka sedang meringis kesakitan. Mulutnya monyong sabagai

tanda tidak senang. Maafkan saya karena tidak berlaku sopan dengan duduk dibahu paduka."

"Usir saja dia paduka. Jika tetap bersama kita jiwa perempuan nampaknya akan membuat banyak masalah." dengus jiwa pedang sahabat raja.

Raja manggut-manggut tapi juga menggeleng. Sambil tersenyum dia menjawab.

"jiwa pedang sahabatku. Jiwa perempuan telah menyatakan penyesalannya. Dia juga telah menjadi sahabat kita berdua. Kita bertiga tergabung menjadi satu kekuatan. Tiga dalam satu atau satu dalam tiga. Dalam satu kebersamaan untuk memerangi kejahatan. Itulah sebabnya aku menyebut diri kita menjadi tiga satu tiga. Kalau jiwa perempuan tidak bersama kita lagi berarti kita tinggal berdua dalam mengendalikan satu pedang yaitu pedang gila. Apa kata dunia persilatan bila kita mengusir Jiwa Perempuan. Nanti dunia persilatan menjadi heboh. Tidakkah demikian jiwa sahabatku?" Ucapan Raja ini membuat jiwa sahabatnya tak kuasa menahan tawa.

Mulut tertawa namun dua tangan tetap terkulai. Melihat ini jiwa perempuan segera jatuhkan diri di depan Raja.

Dengan tangan dirangkapkan didepan dada.

Setelah tundukan kepala sebagai tanda penghormatan, jiwa perempuan berujar.

"Gusti, saya berterimakasih atas kemurahan hati paduka. Saya juga berterima kasih pada jiwa sahabat gusti sejati. Tapi apa yang bisa saya lakukan untuk menyembuhkan tangan sobat jiwa pedang yang terkulai lumpuh?!"

"Hah, apa? Tangan Jiwa terkulai. Aku tidak melihat kalian. Aku juga tidak tahu apakah kalian berdua saat ini sedang menungging membelakangi aku. Atau mementang mulut unjukan gigi. Namun mengapa tidak seseorangpun diantara kalian yang memberi tahu.?"

Tanya Raja.

Kemudian seolah ditujukan pada diri sendiri Raja menggumam,

"aneh. Dua tangan mengalami cidera tapi dia juga masih bisa tertawa." "Maafkan saya gusti." sahut sang jiwa sambil melangkah mendekati.

"Kami tidak sedang mengolok-olok atau mengejek gusti.Sekarang saya lebih menyadari kita adalah tiga kekuatan yang tergabung dalam satu pedang. Atau satu pedang tergabung dalam satu kekuatan. Mulai sekarang dengan penuh kerelaan saya menerima jiwa perempuan tinggal bersama dalam hulu pedang sakti. Saya menganggapnya sebagai saudara.Apakah ini lebih baik paduka?"

Kata jiwa pedang setengah bertanya.

"Itulah yang aku mau. Ternyata walau kadang suka bertindak keblinger adakalanya kau dapat berpikir lempang juga. Ha ha ha." kata Raja diiringi gelak tawa

"Gusti, terima kasih aku ucapkan." ujar jiwa perempuan.

Mahluk alam gaib ini lalu balikan badan menghadap jiwa pedang. "Kepadamu juga kuucapkan banyak terima kasih"

"Ho ho ho. Cukup sekali saja terimakasihnya. Kalau terlalu banyak aku bisa dibuat repot membawanya."

Sambut jiwa sahabat Raja. Mendengar semua itu Raja pun lega.

"Semua persoalan diantara kita ternyata telah dapat diselesaikan dengan sebaik-baiknya. Karena masih banyak urusan yang harus kita kerjakan, kita harus tinggalkan tempat ini secepatnya. Kita akan mencari kakek yang bernama Ki Jangkung Reksa Menggala untuk menyampaikan amanat yang diberikan oleh adiknya Ragil 1jo. Nanti...bila bertemu dengannya aku juga akan bertanya rahasia apa sebenarnya yang tersimpan dibalik kematian adik-adiknya."

"Saya setuju, paduka. Tapi bagaimana dengan dua tangan jiwa pedang yang terkulai?" Tanya jiwa perempuan prihatin. "Oh, ya aku sampai lupa."

Kata Raja sambil menggaruk kepala.

"Jiwa sahabatku. Apakah kau mendengarku?" Tanya Raja.

"Saya mendengar juga memperhatikan gusti." sahut jiwa melalui suara mengiang. "Bagus. Kau dengar baik-baik. Untuk menyembuhkan kedua tanganmu yang lemas tidak

bertenaga cukup kau meludahi tangan itu tiga kali. Dan jangan lupa pula kau sebut pula namaku tiga kali juga."

Ucap Raja tanpa senyum bahkan wajahnya terlihat bersungguh-sungguh.

"Ha..." jiwa perempuan berjingkrak kaget dan keluarkan seruan tak percaya. Jiwa pedang sendiri tercengang dan sempat meragu.

Kedua mahluk alam gaib itu menatap Raja dengan heran. Karena tidak melihat mereka, Raja segera balikan badan.

Sambil melangkah lebar tinggalkan gua pemuda itu menggumam.

"Orang memberi obat penawar malah tidak mau percaya. Kalau tidak segera diobati, nantinya bukan cuma dua tangan saja yang terkulai layu. Tapi senjata pusakanya pula bisa ikutan layu. Kalau sudah begitu, gadis mana yang mau denganmu! ha ha ha!"

Jiwa perempuan terperangah saking kagetnya mendengar ucapan Raja. Jiwa pedang sendiri wajahnya pucat.

Sambil berlari mengikuti yang kemudian disusul oleh jiwa perempuan.

Jiwa pedang segera ludahi kedua lengannya sambil tidak lupa menyebut nama sang maha sakti Raja Gendeng sebanyak tiga kali.

Setelah mendapat semburan ludah, tiba-tiba kedua tangan jiwa mengepulkan asap putih. Ketika kepulan asap lenyap sebagaimana yang diucapkan oleh Gusti rajanya.

Kedua tangan jiwa pedang ternyata pulih sebagaimana sebelumnya.

Saking girang, jiwa berseru

"Gusti. Kedua tangan saya pulih. Saya malah merasakan tenaga tangan saya makin bertambah besar."

"Kau benar-benar sudah pulih, Jiwa pedang?" bertanya jiwa perempuan merasa lega. "Ya,paduka Raja gendeng ternyata memang hebat." memuji jiwa pedang sambil melompat lalu

melayang kembali masuk kedalam hulu pedang. "Hebat apanya?"

Kata Raja sambil senyum senyum "Gusti hebat dalam menentukan obat."

Yang menyahuti jiwa perempuan. Saat itu gadis berwajah jelita ini juga tengah melesat menuju ke arah hulu pedang menyusul Jiwa sahabat Raja.

Sambil terus melangkah menelusuri jalan setapak di antara dua lamping tebing enak saja sang pendekar berujar.

"Dua tanganmu sudah tidak terkulai. Sudah pulih malah tenagamu bertambah besar. Coba periksa juga bagian yang lain, apakah ikutan bangkit tidak terkulai lagi?"

Jiwa pedang yang tahu ucapan Raja tanpa sadar meraba bagian bawah tubuhnya. Dia tercengang ketika dapati bagian tubuh sebelah bawah juga ikut bangkit.

Takut juga gugup jiwa tiba-tiba berseru, "Gusti mengapa bisa terjadi seperti ini?"

"Ha ha ha. Itu adalah akibat sampingan dari penawar yang aku berikan. Lagi pula perlu apa diributkan. Setiap laki-laki adalah normal saja bila pusakanya bangkit sewaktu-waktu."

"Hei, apa yang kalian ributkan? Saya tidak mengerti."

Tanya jiwa perempuan yang sudah berada dihulu pedang sambil tatap jiwa pedang.

"Perempuan jangan ikut campur. Ini urusan laki-laki. Lagi pula gadis yang masih perawan pasti masih belum berpengalaman. Ha ha ha,"

Sahut Raja.

"Perawan? Perawan apa maksudnya?"

Tanya jiwa perempuan tambah bingung

"Gusti! mahluk seperti kami mana mengerti arti perawan." ucap Jiwa pedang pula. "Sebaiknya kalian mahluk-mahluk selembut kutu tak usah tahu segala kepentingan manusia

normal. Lebih baik diam dalam ketololan. Ha ha ha."

Ucap sang pendekar diiringi gelak tawa. Dua mahluk penghuni pedang hanya bisa menggeleng sambil menggumam.

"Manusia memang aneh."

******

DI suatu kawasan hutan Randu Blatung ada sebuah pohon raksasa berusia ribuan tahun.

Saking besarnya pohon berwarna kehijauan ditumbuhi lumut itu tak dapat dipeluk oleh sepuluh laki-laki dewasa.

Pohonnya berdaun rindang penuh cabang dan akar-akar bergelantungan.

Pada waktu-waktu tertentu terutama pada malam hari sering mengeluarkan suara-suara aneh. Terkadang terdengar suara seperti lolong anjing.

Namun ada kalanya terdengar seperti suara orang menangis atau tertawa tiada henti.

Penduduk yang menetap tidak begitu jauh dari pohon tidak ada yang berani mendekati pohon berbatang hijau itu. Mereka menganggap pohon angker tersebut dihuni oleh mahluk halus atau dedemit. Apapun pendapat penduduk dusun tentang pohon hijau.

Yang jelas ketika matahari telah bergeser ke bagian langit sebelah barat.

Di atas cabang pohon satu sosok berupa seorang kakek bertubuh kurus bercelana pendek sebatas lutut duduk diam tidak bergerak.

Yang aneh dengan penampilan kakek itu adalah dia tidak seperti manusia pada umumnya. Sekujur tubuh orang tua ini mulai kaki hingga kepala berwarna hijau ditumbuhi lumut tebal. Yang tidak tertutup lumut hanya bagian wajahnya saja.

Tidak ada yang mengetahui keberadaan kakek berlumut ini pada hal dia telah menghabiskan waktu bersemadi di atas pohon raksasa bercabang tiga selama lebih dari tiga puluh tahun.

Karena demikian lamanya dia melakukan tapa di tempat itu. Tidaklah mengherankan bila sekujur tubuhnya ditumbuhi lumut juga terlilit akar pohon hijau.

Tapi di sinilah awal kehebatan yang dimiliki oleh kakek yang bernama Bayu Biru namun lebih dikenal dengan sebutan Ki Lumut. Tiga puluh tahun melakukan tapa.

Si kakek bukan saja tidak pernah turun meninggalkan cabang yang dijadikannya tempat bertapa.

Tapi juga Ki Lumut tidak pernah makan.

Makan minumnya berasal dari sari akar-akaran yang melilit disekujur tubuhnya, tidak hanya akar yang memberinya makan minum.

Lumut yang tumbuh menempel diseluruh penjuru pohon juga memberikan sumbangan atas kelangsungan hidup si kakek.

Berkat keajaiban lumut itu pula dia mempunyai ilmu dan tenaga dalam yang berasal dari lumut.

Jadi tidaklah aneh bila tubuh si kakek juga diselimuti lumut. Siang itu adalah hari ketiga hari berakhirnya tapa Ki Lumut.

Kini adalah waktu yang tepat menuju dunia kebebasan.

Tapi walau hari berakhirnya tapa telah usai, namun masih belum terlihat tanda-tanda bahwa Ki Lumut mulai terjaga dari alam bawah sadarnya.

Hingga matahari semakin condong mendekat bilik peraduannya. Ki Lumut tetap diam tidak bergeming ditempatnya.

Kemudian sesuatu yang tidak terduga pun terjadi.

Cabang pohon yang menjadi tempat kedudukan Ki Lumut yang tadinya diam tidak bergerak tiba-tiba mengeluarkan suara berderak aneh.

Terdengar suara berderak disusul dengan bergoyangnya seluruh bagian pohon mulai dari batang, cabang, ranting dan daun.

Sejenak kemudian dari arah bagian akar pohon terdengar suara deru laksana hujan yang diikuti oleh suara langkah-langkah seperti terompah yang menopang tubuh besar mahluk tinggi dan berat.

Pohon bergetar.

Ada hawa aneh bergerak, menjalar dari bagian batang sebelah bawah lalu naik ke atas menyerbu keseluruh bagian pohon.

Adanya aliran hawa aneh itu membuat dedaunan lebat yang melindungi bagian pohon rontok seketika.

Ribuan daun berguguran.

Namun herannya ketika reruntuhan daun melayang siap hendak jatuh ke tanah. Tiba-tiba saja dedaunan yang rontok hilang lenyap tidak meninggalkan bekas.

Runtuhnya daun yang melindungi bagian pohon serta adanya sengatan hawa aneh di kedua kaki juga bokong si kakek yang bersentuhan dengan cabang pohon membuat Ki Lumut buka matanya lebar-lebar.

Setelah membuka mata.

Ki lumut memperhatikan keadaan di sekitarnya juga pohon yang dijadikannya tempat bertapa.

Mata orang tua itu terbelalak lebar ketika sadar pohon rindang yang ditempatinya selama ini ternyata telah menjadi gundul tanpa daun.

Meninggalkan ranting yang meranggas

"Oala...pantas saja aku merasakan tubuhku yang adem sejuk kepanasan.Tidak kusangka daun pohon hijau ini ternyata rontok tanpa sebab."

Kata ki Lumut sambil geleng kepala. Sejenak orangtua ini terdiam.

Dalam diam dia memperhatikan diri sendiri.

Si kakek terkejut ketika melihat sekujur tubuhnya ternyata berwarna hijau ditumbuhi lumut "Astaga! Apa yang menjadi hajat kaulku dulu sekarang benar-benar terbukti. Aku bertapa sampai

lumutan."

Cemas bercampur takut wajahnya ikutan ditumbuhi lumut si kakek mengusap bagian mukanya. Dia tersenyum lega ketika dapati bagian wajah licin-licin saja tanpa lumut walau penuh keriput "Dulu orang memanggilku Ki Lumut.Sekarang aku lumutan benaran. Masih bagus wajahku tidak

ikut lumutan." gumam si kakek.

Sekali lagi dia menatap sekujur tubuhnya yang hanya terbalut celana pendek yang sudah lumutan.

Menatap cukup lama kebagian celana tiba-tiba saja wajah orang tua ini berubah cemas. "Waduh celaka.Celanaku sudah lumutan. Bagaimana kalau yang didalamnya juga ikut lumutan?

Bukankah lumut lebih suka tumbuh di tempat yang sejuk.?" Batin Ki Lumut. Berpikir sejauh itu Ki Lumut ulurkan tangan ke bawah maksudnya hendak menyingkap celana mengintai ke bagian dalam.

Tapi pada waktu bersamaan terdengar suara membentak

"Tua bangka bernama Ki Lumut. Jangan bertindak gila selama kau berada di atas pohon ini." Tak menyangka ada orang yang mengetahu perbuatannya dan membentaknya pula.

Ki Lumut kaget setengah mati, lalu dengan cepat jauhkan tangan ke atas

"Eeh, siapa yang bicara. Orang apa hantu? Dedemit atau setan?" sentak Ki Lumut dengan suara terbata.

"Tua bangka gila. Aku adalah pemilik, pelindung, sekaligus jiwa dari pohon yang kau jadikan tempat bertapa. Kau menetap di pohon hijau, pohon paling keramat di dunia selama tiga puluh tahun. Kau numpang makan, kencing juga numpang hajat besar ditempatku ini.Kurang ajarnya kau sampai tidak mengenalku?"

Bentak suara itu.

Ki Lumut diam tertegun.

Dalam diam dia menyadari sekaligus mengetahui suara yang didengarnya memang berasal dari dalam batang pohon.

Sadar yang bicara adalah yang empunya pohon.

Ki Lumut cepat rangkapkan dua tangan, lalu menjura kebagian batang pohon disebelah bawah dengan posisi menungging.

"Maafkan aku. Aku telah membuatmu repot. Aku mulai tahu akar-akar yang melekat ditubuhku ini yang telah memberi aku makan minum. Namun mengenai buang hajat baik yang besar maupun yang kecil aku sama sekali tidak merasakannya. Entah bila terjadi diluar kesadaranku!"

Kata si kakek dengan suara ketakutan.

"Kakek renta sialan. Kembali duduk seperti semula. Jangan menungging selayaknya orang bunting yang susah melahirkan!"

"Bb... baik."

Jawab Ki Lumut lalu cepat-cepat duduk kembali.

Setelah kembali bersila di tempatnya ki Lumut menelan ludah beberapa kali kemudian memberanikan diri ajukan pertanyaan.

"Aku tidak habis mengerti mengapa daun pohon hijau ini rontok semuanya? Adakah semua ini berhubungan dengan diriku?"

"KI Lumut, Pohon hijau ini kemungkinan sudah muak menopang tubuhmu selama tiga puluh tahun."

"Oh. Penjelasanmu itu membuatku sedih." Kata Ki Lumut sambil tundukan wajahnya. "Jangan bersedih hati orang tua aneh.Ingat Hari ini adalah masa berakhir waktu yang kau tentukan sesuai keinginanmu.Keinginanmu untuk melakukan tapa selama tiga puluh tahun telah terpenuhi. Tanda itu ditunjukkan dengan rontoknya daun pada pohon kehidupan ini."

"Lalu..!"

"Sudah waktunya bagimu untuk meninggalkan tempat ini. Kau tidak punya hak lagi berada di sini.

Dan nantinya begitu kau pergi, pohon ini akan lenyap, sirna secara ajaib." Terang suara dari dalam pohon.

"Hah,bagaimana bisa?"

Tanya ki Lumut tercengang

"Semesta milik yang Mahakuasa. Dia berbuat sekehendak hati dengan kasih sayangnya. Kelak seratus tahun yang akan datang pohon ini akan muncul tumbuh kembali dalam keadaan berbeda." "Sungguh mengagumkan. Aku sendiri sudah kerasan tinggal di sini. Kalaupun harus pergi, aku harus pergi kemana? Aku tidak punya tujuan. Orang-orang di dusun Trinil kemungkinan sudah tidak mengenali diriku lagi. Aku pergi sekian lama untuk mencari pengalaman hidup. Tapi sampai tubuhku

jadi lumutan begini aku merasa belum mendapatikan apa-apa."

Ujar ki Lumut suaranya sedih memelas

"Manusia tidak tahu membalas budi. Apakah kau belum menyadari dalam dirimu kini menyimpan sebuah kekuatan luar biasa.Kau telah menjadi manusia sakti. Dan ketahuilah, lumut yang tumbuh disekujur tubuhmu bukan sembarang lumut. Lumut itu dapat melindungi tubuhmu dari ancaman serangan orang yang memusuhimu."

Terang suara gaib dari dalam pohon.

"Oh begitu? Tapi... mengapa telapak kakiku juga ditumbuhi lumut?"

Tanya si kakek. Rupanya dia khawatir kalau-kalau dengan tumbuhnya lumut ditelapak kaki membuatnya tidak dapat berjalan.

"Mengapa kau mengurusi hal sekecil itu?"

Terdengar suara bentakan hingga membuat pohon hijau bergetar. "Eeng....apakah ada masalah yang lebih besar yang patut untuk diurus?" Ki Lumut dengan takut-takut balik bertanya.

"Tentu ki Lumut.Karena itu kau tak perlu kembali ke dusun Trinil tanah kelahiranmu. Bagi manusia tiga puluh tahun adalah waktu yang culup lama.Semua kerabatmu telah mati. Lebih baik kau melakukan sesuatu yang berguna untuk menolong sesama."

"Tunggu!"

Sergah ki Lumut."

"Tadi kau mengatakan ada masalah besar yang layak untuk diurus. Persoalan apa? Apakah menyangkut makanan lezat atau berhubungan dengan perempuan cantik?" kata orang tua itu bersemangat  

"Urusan besar yang kumaksudkan adalah menyangkut keselamatan seseorang dan juga dunia persilatan."

"Aku tidak mengerti. Aku tidak tahu siapa orang yang kau maksudkan."

"Ki Lumut. Dengar baik-baik. Saat ini ada seorang kakek tua sedang menuju ke sini. Kakek itu bernama Ki Jangkung Reksa Menggala. Seseorang sedang memburunya."

Menerangkan suara gaib dari dalam pohon.

Kemudian suara itu menjelaskan segala yang terjadi di masa lalu juga semua apa yang pernah dilakukan oleh ki Jangkung Reksa Menggala.

Setelah mendengar penjelasan suara dari dalam pohon, ki Lumut diam tertegun sambil menggeleng kepala.

"Aku tidak menyangka ada manusia tega berbuat sekeji itu.Menurutku ki Jangkung Reksa Menggala memang sudah selayaknya dibunuh karena perbuatan yang telah dilakukannya. Perlu apa melindungi orang tua itu? "

"Dia memang pernah melakukan dosa kesalahan besar ki Lumut. Mengingat segala kesalahannya sudah selayaknya dia dihukum berat. Tapi ketahuilah ki Jangkung Reksa Menggala mengetahui satu rahasia besar.Bila dia sampai menemui ajal sebelum bertemu dengan orang yang tepat, maka rahasia itu akan ikut terkubur bersama dengan kematiannya."

Terang suara gaib dari dalam pohon. "Lalu kau mau aku berbuat apa?"

Tanya si kakek

"Kau harus menemuinya. Aku sendiri pernah bicara dengannya melalui ilmu mengirimkan suara.Aku memintanya pergi meninggalkan padepokan tiga guru dan terus berjalan menuju utara. Dan seperti yang aku katakan dia sedang dalam perjalanan menuju tempat ini."

"Huh, tugas yang kelihatannya mudah namun sebenarnya tidak gampang. Aku yang sudah lumutan begini diminta melindungi orangtua juga. Tapi sekarang aku ingin tahu siapa sebenarnya orang yang ingin membunuh kakek jangkung itu?"

"Siapa yang hendak membunuhnya tidak kuketahui secara pasti. Dia muncul dimalam hari bersama sahabatnya tiga mahluk pembunuh. Satu yang patut engkau ingat ki Lumut. Orang yang terlihat baik belum tentu tidak jahat.Orang yang terlihat lemah lembut bukan berarti tidak kejam.Dia hidup dibawah bayang-bayang rembulan. Jika rembulan berlalu dia menjadi lemah. Namun ketika rembulan munculkan diri dia muncul dengan jati diri yang berbeda."

"Kau harus berhati-hati. Karena mahluk dan manusia yang kelihatannya baik bisa saja menjadi ganas melebihi binatang buas!"

Jelas suara dari batang pohon. "Apakah kau sudah mengerti semua yang aku katakan, ki Lumut?"

Tanya suara itu setelah melihat ki Lumut berdiam diri namun dengan kepala terangguk-angguk. "Sudah-sudah mengerti walau belum bisa memahami seluruhnya." jawab ki Lumut sambil

menyeringai.

"Kau tak usah berkecil hati. Mestinya kau akan paham juga. Sekarang kau boleh turun dari pohon

ini."

"Hah apa? Pohon tertalu besar, mana mungkin aku bisa turun seperti dulu. Lagi pula sekujur

tubuhku terlilit begini banyak akar."

Ucap ki Lumut sambil memperhatikan akar-akaran yang melibat sekujur tubuhnya. "Segalanya menjadi lebih mudah bila para dewa menghendaki. Sekarang pejamkan matamu.

Begitu matamu terbuka kau akan berada di atas tanah. Setelah berada di atas tanah jangan hiraukan lagi apapun yang terjadi pada pohon ini."

"Memangnya apa yang hendak terjadi?" Tanya ki Lumut penasaran.

"Sudah jangan terlalu banyak bertanya. Lakukan saja yang aku perintahkan. Sekarang pejamkan matamu!"

Sesuai dengan perintah suara gaib dalam pohon, Ki Lumut segera memejamkan matanya. Baru saja mata dipejam.

Secepat kilat akar-akar yang melilit sekujur tubuh kakek ini memancarkan cahaya hijau sejuk. Lalu...

Sreet! Sreet!

Bersamaan dengan memancarnya cahaya itu, seluruh akar berubah menjadi lentur, kemudian meliuk meloloskan diri dari libatan.

Ketika semua akar terlepas. Terdengar suara deru.

Ki Lumut dengan sendirinya terdorong ke bawah kemudian jatuh ke bawah pohon dengan dua kaki menjejak tanah terlebih dahulu.

"Buka matamu Ki Lumut. Sekarang berjalanlah lurus ke depan. Jangan pernah membelok ke kiri atau ke kanan. Semoga dewa memberimu berkah di balik setiap pertolongan yang kau berikan kepada sesama.!"

Kata suara dari dalam pohon.

Ki Lumut membuka mata sambil menghela nafas pendek.

Mata terbelalak lebar mulut berdecak kagum ketika dapati dirinya telah berada di bawah pohon

itu. Secepat kilat dia segera hendak balikan badan menghaturkan hormat sekaligus terima kasih. Namun tiba-tiba terdengar seruan.

"Jangan berbalik. Lekas pergi. Pohon ini akan menuju kehidupannya di alam gaib.!"

Suara seruan belum lagi lenyap. Dibelakang Ki Lumut tiba-tiba terdengar suara bergemuruh laksana bendungan air bah yang jebol.

Pohon besar itu bergoyang keras dan mengamblaskan diri ke dalam tanah. Ki Lumut yang takut kwalat bergegas tinggalkan tempat itu.

Tetapi setelah suara gemuruh aneh lenyap.

Sesampainya di kejauhan si kakek memberanikan diri menatap ke arah pohon yang baru ditinggalkannya.

"Oh Jagat Dewa Bathara!"

Ki Lumut berseru tertahan ketika dapati kenyataan pohon hijau raksasa lenyap tidak meninggalkan bekas. D tempat dimana pohon tadinya berdiri terlihat sebuah lapangan yang luas dalam keremangan matahari senja.

"Pohon hijau raib. Oh bagusnya aku tidak ikut lenyap bersama pohon itu. Kalau tidak selamanya aku hanya gentayangan tersesat di dunia kegelapan."

Gumam Ki Lumut sambil mengusap dada dan julurkan lidah.

Ki Lumut sama sekali tidak mengetahui ketika lidahnya dijulur.

Lidah itu juga berwarna kehijauan ditumbuhi lumut. Di dalam kegelapan di malam buta.

*****

Satu sosok seorang nenek berpakaian hitam pekat melayang laksana terbang.

Bergerak cepat tanpa suara selayaknya seekor burung sedang menelusuri jurang Tawang Mangu.

Sesaat kemudian setelah memasuki ketinggian kawasan lembah, si nenek yang memakai jubah sakti yang dapat menjadikannya melayang-layang melihat hamparan kabut tebal dan udara dingin yang menyengat.

Walau tubuh menggigil akibat udara dingin yang memenuhi kawasan lembah.

Namun si nenek terus saja melayang sambil tetap mengembangkan kedua tangannya.

Saat memasuki kawasan lembah, sekali lagi orang tua ini melayangkan pandang ke segenap sudut penjuru.

Sekelumit senyum tipis menghias di wajahnya yang putih licin yang masih menyisakan kecantikan dari masa lalu.

"Batu-batu menjulang, putih bertabur cahaya laksana gumpalan intan dan mutiara. Ada pondok berdiri di antara bukit batu. Tidak salah itulah tempat ked ­aman si tua Resi Cadas Angin." Membatin si orang tua dalam hati.

Sadar tempat yang dituju telah berada di depan mata si nenek yang dikenal dengan sebutan si jubah terbang dan memiliki nama asli Nini Buyut Amukan ini segera menarik dua simpul tali jubah yang melingkar di bagian pinggangnya.

Sreet!

Ketika kedua tali ditarik lalu dibuhul kembali. Jubah hitam yang dalam keadaan terpentang lebar itu pun segera menguncup menciut dengan sendirinya.

Bersamaan dengan menguncupnya jubah.

Tubuh Nini Buyut Amukan pun meluncur lebih cepat ke bawah. Kaki disentakan, tangan diayun ke bawah.

Wuut!

Secepat kilat tubuh Nini Buyut berputar.

Setelah berjumpalitan sebanyak tiga kali akhirnya dia jejakan kaki di halaman pondok yang bersih terawat dan menebarkan aroma harum semerbak.

Sesaat setelah jejakan kedua kaki Nini Buyut Amukan arahkan perhatian pada pondok yang sunyi.

Di depan pintu pondok dia melihat sebuah pelita yang menyala terang pancarkan cahaya putih berkilau.

"Orang tua hebat hidup di tempat yang sunyi bergemilang harta namun tetap memilih membujang di usia yang tidak muda lagi. Andai aku bukan sahabatnya, mungkin sejak dulu aku sudah jatuh hati padanya. Lalu kupinang dia untuk kujadikan suami. Hik hik!"

Gumam Nini Buyut sambil tertawa.

Tawa Nini Buyut seketika lenyap begitu ingat dengan tujuannya.

Sambil membuang jauh tentang segala kenangan indah di masa muda orang tua ini segera melangkahkan kaki mendekati pintu pondok. Sesampainya di depan pintu pondok Nini Buyut Amukan mengetuk pintu sebanyak tiga kali.

Karena tak kunjung terdengar jawaban.

Dia pun lalu berseru memanggil nama sahabatnya

"Resi Cadas Angin.Apakah kau ada di dalam? Aku sahabatmu Nini Buyut Amukan datang menyambangi. Ada perkara yang sangat penting yang hendak aku bicarakan denganmu."

Sunyi.

Tidak terdengar jawaban.

Hanya suara desau angin sesekali memecah keheningan.

Nini buyut Amukan berpikir sebagai seorang tamu adalah tidak pantas bila dia harus sampai mendobrak pintu secara paksa. Tidak ada jalan lain.

Si nenek pun terpaksa memutar otak memikirkan apa kebiasaan Resi itu dalam hidup kesehariannya.

"Telaga mendidih dan kobaran api bumi."

Desis Nini Buyut Amukan menyebut dua tempat yang biasa disambangi Resi Cadas Angin. Terutama malam hari ketika pikirannya kalut dipagut berbagai masalah.

Tidak menunggu lama Nini Buyut Amukan segera memutar badan lalu berjalan menuju ke arah telaga mendidih untuk mencari sahabatnya.

Setelah melewati jalan setapak yang dipenuhi bebatuan putih berkilau. Akhirnya Nini Buyut Amukan sampailah di tepi telaga.

Saat itu cahaya bulan memantulkan cahaya kuning sejuk.

Sambil menghela nafas Nini Buyut Amukan melayangkan pandang kesegenap penjuru telaga yang cukup luas itu.

Tapi Nini Buyut Amukan tidak melihat tanda-tanda keberadaan sahabat yang dicarinya.

Sejauh-jauh mata memandang dia hanya melihat kepulan uap panas dan gelegak air mendidih diseluruh permukaan telaga itu.

"Dia tidak berada disini! Apakah mungkin dia berada di sumber Api Bumi?" Batin Nini Buyut Amukan.

Berpikir begitu si nenek segera memutar arah.

Setengah berlari dia menuju ke arah sumber api bumi yang jaraknya cukup jauh dari telaga mendidih. Ketika orang tua ini hampir mencapai tempat yang dituju.

Dia melihat cahaya merah benderang. Cahaya yang berasal dari jilatan lidah api panas luar biasa yang menyembur dari dalam perut bumi.

Semakin dekat langkah si nenek dengan sumber api berpijar hawa panas terasa sangat menyengat.

Karena panas yang sedemikian hebatnya maka dalam jarak sepuluh tombak dari pusat semburan api, Nini Buyut Amukan hentikan langkah. Dari tempatnya berdiri dia layangkan pandang menatap ke pusat semburan api.

Si nenek terkesiap sekaligus geleng-geleng kepala ketika melihat di atas semburan api tepat diketinggian tumpukan batu membara duduk seorang laki-laki berpakaian putih berambut dan berjanggut putih.

Luar biasanya walau kakek itu duduk di atas tumpukan batu membara yang dikobari api, namun sekujur tubuh bahkan pakaian putih yang melekat ditubuhnya sedikitpun tidak hangus terbakar.

si kakek terlihat demikian tenang seolah dia berada di sebuah tempat yang sejuk dan menyenangkan. "Orangtua hebat.Agaknya dia telah menyempurnakan ilmu Cadas Karang yang dipelajarinya selama ini. Buktinya dia sanggup berlama-lama duduk di atas batu ditengah kobaran api yang panasnya sepuluh kali lipat dari api biasa. Orang yang memiliki ilmu kesaktian tinggi sekalipun tak mungkin selamat bila berlama-lama berada di atas sumber api bumi itu."

Kata si nenek disertai decak kagum. Baru saja si nenek selesai berucap.

Tiba-tiba saja kakek yang duduk ditengah kobaran api membuka matanya, Karena sekujur tubuh si kakek tenggelam diselimuti api.

Nini Buyut Amukan tidak melihat bahwa orang yang dikunjunginya menatap kearahnya. Justru pada waktu bersamaan Nini Buyut Amukan tiba-tiba berseru.

"Resi Cadas Angin!"

"Harap sudahi segala kegilaan yang kau lakukan. Aku ingin bicara denganmu menyangkut urusan yang sangat penting!"

Seruan yang keras itu membuat suara Nini Buyut Amukan memantul keseluruh penjuru tebing menimbulkan gema susul memyusul.

Si nenek yang dibuat pengang oleh suaranya sendiri segera tutup kedua telinganya. "Sahabat tua, aku tidak tuli. Bicara di lembah ini tidak perlu berkeras-keras. Aku tahu pada

akhirnya kau akan datang padaku. Semua yang kukatakan dulu kini terbukti sudah. Gadis yang lemah itu kini tidak hanya menjadi sakti. Tapi dia juga telah berubah menjadi mahluk ganas yang sudah tidak layak disebut manusia. Ha ha ha!" kata kakek di atas kobaran api yang memang Resi Cadas Angin adanya.

Sekali kakek ini gerakan kedua kaki yang bertumpangan di atas lutut.

Seketika itu juga tubuhnya melesat lalu berdiri tegak dua langkah di depan Nini Buyut Amukan.

Si nenek terkejut sekaligus melangkah mundur ketika merasakan satu sengatan hawa panas menebar dari tubuh kakek berwajah bening kemerahan itu.

"Ada apa Nini Buyut Amukan, sobatku. Apakah tubuhku yang baru ku garang ini berbau gosong?" Tanya Resi Cadas Angin disertai senyum.

"Agaknya kau telah menyempurnakan ilmumu. Aku menjauh bukan karena tubuhmu menebar bau daging hangus. Aku hanya tidak tahan dengan panas yang menebar dari sekujur tubuhmu."

Jawab Nini Buyut Amukan. "Oh begitu,maafkan aku."

Ucap Resi Cadas Angin. Sejenak bibir yang tertutup kumis putih laksana kapas terkatub, si kakek lalu melakukan beberapa usapan kesekujur tubuhnya.

"Wuus!"

Seiring dengan usapan yang dilakukannya. Hawa panas menyengat mendadak lenyap berganti dengan hawa sejuk.  

"Bagaimana? Apakah sudah sejuk?" Tanya Resi tersenyum ramah.

Nini Buyut Amukan mengangguk, namun wajahnya tiba-tiba berubah muram.

Melihat perubahan di wajah si nenek, Resi segera maklum kehadiran sahabat lamanya itu tentu dengan membawa sebuah beban yang cukup berat.

Tak ingin berlama-lama.

Resi Cadas Angin segera berkata.

"Aku mempunyai satu tempat yang bagus. Tempat itu sangat cocok dipergunakan untuk membicarakan urusan penting. Lekas ikuti aku."

Si kakek lalu melesat menuju ke arah utara lembah. Tidak jauh dibelakangnya Nini Buyut amukan mengikuti.

Dalam perjalanan ke arah tempat yang dituju. Dalam hati Nini Buyut Amukan berucap, "Sobatku yang satu ini. Bukan cuma ilmu kesaktiannya saja yang bertambah hebat. Sekarang

ilmu kecepatan gerak dan ilmu meringankan tubuhnya semakin mantap. Tidak sedikit para sahabatku yang punya ilmu hebat. Namun satu demi satu mereka dihabisi oleh gadis iblis itu." geram Nini Buyut Amukan.

Tempat bagus yang dimaksudkan oleh Resi Cadas Angin terletak sebuah ceruk dalam terlindungi oleh kerimbunan pohon dan dedaunan lebat. Untuk mencapai tempat itu si kakek dan Nini Buyut Amukan harus melewati sebuah aliran sungai bening yang cukup dalam. Beberapa bebatuan yang menonjol membelintang ditengah aliran sungai berfungsi sebagai jembatan untuk menyeberang. Resi Cadas Angin memberi tahu sungai itu dihuni oleh beberapa buaya besar. Dan salah satu buaya penghuni sungai itu adalah seekor buaya siluman berwarna putih yang konon penjelmaan dari seorang bidadari cantik yang mendapat kutukan oleh dewa di kayangan.

Pada waktu tertentu buaya putih penguasa dari seluruh buaya yang tinggal di sepanjang aluran sungai menampakan diri. Resi Cadas Angin sendiri tidak terlalu akrab namun juga tidak bermusuhan dengan siluman buaya itu.

Walau mereka tinggal tidak berjauhan, keduanya lebih memilih lebih menyibukan diri dengan urusan masing-masing, Ketika Nini Buyut Amukan sampai dalam ruangan besar dibalik legukan tebing di atas sungai.

Si nenek sempat menyinggung keberadaan buaya siluman itu. Tapi Resi yang telah duduk di depan si nenek nampaknya kurang berkenan membicarakan sang siluman.

"Aku tidak mengurusi apa yang bukan menjadi urusanku. Siluman Buaya Putih itu setahuku telah menghilang sepekan yang lalu. Aku tidak tahu apa yang terjadi. Mungkin saja dia melakukan hajat meluluskan kaulnya yaitu mencari puteri Manjangan Putih." Terang Resi dengan suara lirih terkesan berhati-hati. Nini Buyut Amukan maklum.

Sahabatnya berlaku waspada bahkan terkesan segan membicarakan siluman buaya itu karena pembicaraannya akan didengar buaya buaya lain.

Karena semua buaya di sungai tunduk pada siluman buaya putih.

Bisa jadi segala yang didengar oleh kawanan buaya disampaikan kepada gusti ratunya. "Untuk apa siluman itu mencari puteri Manjangan Putih?"

Tanya Nini Buyut Amukan.

"Aku tidak tahu. Mungkin saja dia ingin bertanya tentang keberadaan sebuah tumbuhan langka bernama Anggrek Mayat."

Terang Resi Cadas Angin.

"Anggrek Mayat? Seumur hidup baru kali ini aku mendengar ada bunga bernama Anggrek Mayat.

Yang ku tahu hanya anggrek bulan dan yang lainnya."

"Anggrek Mayat bukan tumbuhan liar biasa.Bunga itu tumbuh didaerah tertentu.Aku sendiri cuma tahu sedikit tentang Anggrek Mayat. Kabarnya bunga itu dapat dipergunakan untuk mengobati penyakit ganas.Anggrek Mayat juga bisa dipergunakan untuk melenyapkan segala bentuk kesialan diri dan masih banyak lagi kegunaannya."

"Apakah mungkin mahluk siluman itu menduga Puteri Manjangan Putih mengetahui tempat bertumbuhnya bunga Anggrek Mayat?"

Tanya si nenek.

Demikian tertariknya Nini membicarakan tentang sang siluman serta Anggrek Mayat yang disebutkan Resi Cadas Angin.

Sampai-sampai dia lupa dengan urusannya sendiri.

"Nini, aku heran.Sebenarnya kau kesini untuk membicarakan urusan orang lain ataukah kau sendiri punya persoalan yang membutuhkan bantuanku?"

Kata Resi mengingatkan.

Nini Buyut Amukan tersentak kaget. Seakan baru ingat dengan diri sendiri serta masalah besar yang dibawanya. Nenek berkulit putih berwajah licin ini segera membuka mulut.

"Resi Cadas Angin maafkan aku karena sudah bicara melantur tidak karuan. Aku yakin kau sudah bisa menduga maksud kedatanganku kesini."

Sambil berkata demikian si nenek menatap wajah kakek di depannya.

Resi menghela nafas. Sepasang mata yang tajam menatap lurus ke arah kegelapan di sekitarnya. sang Resi sambil menghembuskan nafas dalam-dalam.

"Apapun yang terjadi diluar sana, sedikit banyak aku telah mendengar juga mengetahui. Aku juga telah menyirap kabar saat ini sedang terjadi kekacauan besar di rimba persilatan. Kekacauan itu bermula dari terbunuhnya beberapa tokoh penting di tanah Dwipa di kawasan timur dan tengah. Hampir semua tokoh yang terbunuh itu adalah mereka yang beraliran putih. Sejauh ini tak ada yang bisa mengetahui siapa yang membunuh mereka. Yang pasti pembunuhan selalu terjadi bersamaan waktunya dengan munculnya bulan di langit. Kejadiannya dimulai dari satu hari bulan dan berakhir setelah empat belas hari bulan. Orang-orang yang terbunuh itu keadaannya sungguh mengenaskan. Setiap korban bagian tubuhnya selalu tercabik.Mata melotot seperti melihat jembalang atau hantu. Sebagai orang yang berada di luar lembah apakah kau sudah mengetahui atau sedikitnya menemukan petunjuk siapa pembunuh keji itu?"

Tanya Resi Cadas Angin sambil tatap wajah nenek di depannya dalam-dalam. Ditanya seperti itu membuat si nenek terdiam.

Dia sadar tidak cukup banyak petunjuk yang didapatnya.

Dia malah lebih kagum pada sang Resi yang ternyata cukup banyak mengetahui apa yang terjadi.

Sambil menghelas nafas pendek Nini Buyut Amukan menjawab.

"Pembunuh itu datang bersamaan dengan munculnya bulan hingga berakhirnya bulan purnama.

Walau kuakui tidak banyak pengetahuanku tentang hal itu. Tapi aku yakin orang yang telah menghabisi tokoh-tokoh aliran putih masih manusia juga. Beberapa sahabat yang berhasil kuhubungi mengatakan... Tunggu!"

Sergah Resi Cadas Angin,

"Aku ingin memastikan apakah sahabat yang kau temui itu pernah berhadapan langsung dengan pembunuhnya?"

Tanya Resi.

Nini Buyut Amukan anggukan kepala.

"Benar. Mereka adalah orang yang terpaksa tinggal dipengasingan untuk menghindari kejaran mahluk-mahluk itu.."

"Mahluk-mahluk? Apakah maksudmu?" Tanya Resi tidak mengerti.

"Kukatakan mahluk karena menurut mereka. Pembunuh itu selalu muncul dimalam hari, Kedatangannya selalu didahului oleh kehadiran tiga mahluk besar berbulu hitam, berujud tiga ekor anjing."

"Tiga anjing pembunuh!"

Desis si kakek kaget

"Benar. Melihatmu terkejut seperti ini apakah berarti sebenarnya kau telah mengetahui tentang tiga mahluk yang kusebutkan?"

"Aku tidak pernah bertemu dengan tiga mahluk itu. Aku melihat mahluk itu dalam semadiku.Merekalah yang mencabik dan membunuh korban-korbannya." jelas si kakek "Apakah kau melihat juga hanya tiga mahluk berujud anjing itu saja yang melakukan

pembantaian? Menurut beberapa sahabat setelah tiga anjing pembunuh muncul.Biasanya datang seseorang bermata putih, berwajah cantik luar biasa namun rambutnya juga putih."

"Ya, ya. Kukira dia seorang gadis, seorang perawan yang menjadi pimpinan kawanan anjing pembunuh itu."

Jawab Resi Cadas Angin.

"Aku tidak tahu. Aku melihat gadis itu dalam semediku. Aku melihat dia berdiri diantara kegelapan dibawah bayangan rembulan. Aku melihat senyumnya yang dingin menggidikan. Aku mendengar tangisnya yang pilu, aku juga mendengar tawanya penuh kedukaan."

"Tangis pilu, tawa duka?"

"Kehadirannya sangat menakutkan. Mungkin saja dia muncul dalam rupa yang lebih mengerikan. Ini bisa dilihat bahwa orang-orang yang terbunuh itu kebanyakan matanya mendelik. Seolah mereka melihat setan paling angker di dunia."

"Perawan Bayangan Rembulan." Gumam Resi Cadas Angin. "Apa? Kau barusan bicara apa?"

"Aku menyebutnya sebagai Perawan Bayangan Rembulan karena dia selalu muncul bersamaan dengan munculnya bulan dilangit. Dia tidak menampakkan diri secara terang-terangan. Tapi memilih berdiri dibalik bayang-bayang rembulan."

"Tapi siapakah dia sebenarnya?"

Tanya Nini Buyut Amukan dengan kening mengernyit.

"Harusnya kau yang mencari tahu siapa dia. Kau hidup di dunia bebas tidak terkurung di dalam lembah sepertiku."

"Aku tahu. Tapi apakah gadis itu bukan jelmaan siluman buaya putih atau sang bidadari yang mendapat murka para dewa yang dikirim ke dunia?"

Tanya si nenek curiga

"Tapi tadi kau mengatakan Siluman Buaya Putih itu menghilang dari sungai ini beberapa pekan yang lalu."

"Itu benar."

"Kau yakin bukan?"

"Satu yang perlu kujelaskan padamu. Pembunuhan yang beruntun itu juga mulai terjadi sekitar lima belas hari yang lalu. Belum lama memang namun korbannya sudah banyak."

"Kita tidak bisa mengatakan Perawan Bayangan Rembulan adalah siluman buaya putih sebelum kita mendapat bukti yang kuat antara Perawan Bayangan Rembulan dan siluman buaya putih sesungguhnya mahluk yang sama." Jelas Resi Cadas Angin.

"Baiklah. Aku bisa menerima semua alasan yang kau ucapkan. Namun kedepannya aku masih bingung tindakan apa yang harus kulakukan. Aku berharap dengan menyambangi tempat tinggalmu dapat membantu aku mencari gadis yang kau sebut sebagai Perawan Bayangan Rembulan itu."

Resi Cadas Angin gelengkan kepala.

Matanya terlihat bimbang, wajah diliputi rasa ragu

"Kalau kau tidak mau membantu. Tidak mengapa. Aku akan mencari gadis iblis berhati keji itu." Ucap si nenek memutuskan.

Resi Cadas Angin tersenyum.

"Nini Buyut Amukan, kelakuan dan sifatmu yang dulu masih juga belum berubah. Kau selalu memutuskan apa yang belum kutetapkan. Kau sudah menduga-duga ketika melihat raut tampang rupaku. Padahal aku belum bicara apa-apa. Tapi kau sudah menyimpulkan sendiri seakan-akan keputusanku sesuai dengan prasangka hatimu."

"Bagaimana suasana hati manusia dapat kita ketahui hanya melalui gambaran wajah dan tatap matanya."

"Kenyataannya matamu mengatakan sebagaimana yang aku katakan!" dengus si nenek tak mau mengalah.

Si kakek tersenyum sambil menggeleng kepala.

"Aku ingin tahu mengapa kau bersikeras ingin mencari Perawan Bayangan Rembulan? Padahal nama sebenarnya gadis itu dan dimana dia menetap pun kau tidak tahu?"

"Resi Cadas Angin, tidakkah kau mengerti. Gadis keji itu cepat atau lambat bakal menghabisi kita?"

Kata Nini Buyut Amukan pula.

"Kalaulah benar. Apa yang harus ditakutkan? Aku tidak khawatir dengan ancamannya. Aku juga tidak risau dengan bahaya yang mengancam yang mungkin bakal kualami. Yang menjadi perhatianku adalah siapakah Perawan Bayangan Rembulan itu? Mengapa dia melakukan pembunuhan hanya disetiap munculnya bulan dilangit? Mengapa dia tidak melakukan pembunuhan dimalam-malam yang lain?"

"Satu lagi yang tidak kalah pentingnya, apa yang dia cari? Gerangan apapula yang menyebabkan dia menjadi seorang pembunuh?"

"Maksudmu jika seseorang tega membunuh orang lain tentu ada sebab dan alasannya, begitu?" Kata Nini Buyut Amukan dengan mata mendelik.

Resi tersenyum. Dengan sikap yang arif dia menjawab.

"Setidaknya memang demikian. Seseorang tidak mungkin begitu dingin melakukan tindakan dengan membabi buta. Apalagi menghabisi sekian banyak manusia yang tidak berdosa. Pasti ada sebabnya."

Jelas Resi Cadas Angin yang membuat Nini Buyut Amukan tidak sabar. Sambil mendengus dia menyela,

"Aku tidak mau bicara selayaknya nelayan merajut jala. Kau tahu orang yang membuat jala selalu merajut dari pangkalnya,"

"Eh apa hubungannya jala dengan ucapanku, Nini?" Tanya Resi Cadas Angin heran juga bingung.

Si nenek tertawa dingin.

"Aku mengucapkan dengan bahasa yang paling mudah. Tidakkah kau sadar apa yang kau ucapkan itu bakal menghabiskan waktu dengan percuma? Ucapanmu secara tidak langsung menyuruhku menyelidiki siapa gadis itu, mengapa dia membunuh tokoh-tokoh aliran putih? Dan mencari tahu dimana tempat tinggalnya? Mengapa kau tidak katakan sekalian gadis itu anak siapa, kapan terlahir dan apakah kedua orangtuanya masih hidup?"

Ujar Nini Buyut Amukan jengkel.

"Ha ha ha! Nini.. nini. Begitu saja kau sudah sangat marah. Aku tidak memintamu melakukan semua itu. Setiap orang punya hak mengemukakan pendapatnya masing-masing. Aku hanya sekedar memberi gambaran Nini Buyut Amukan. Lagipula kau tak usah ambil peduli apalagi mencari Perawan Bayangan Rembulan itu?"

"Astaga! Aku tidak menyangka kau bakal bicara seperti itu. Dunia persilatan berada dalam ancaman besar tapi kau enak saja menyuruhku agar tidak terlalu ambil peduli?"

"Manusia seperti apakah dirimu ini Resi Cadas Angin? Kau yang kupandang sebagai salah satu tokoh yang dapat membantu menghentikan sepak terjang gadis iblis itu dan tiga anjing pengikutnya mengapa bicara seperti itu? Sungguh tak kusangka."

Sentak Nini Buyut Amukan dengan mata terbelalak tak percaya.

"Nini kau jangan salah paham. Aku tidak mungkin berpangku tangan bersikap pasrah melihat semua kekacawan yang terjadi diluar sana. Tapi kau juga harus tahu dalam wangsit petunjuk yang kuterima. Untuk mengakhiri kejahatan yang dilakukan oleh Perawan Bayangan Rembulan bukan urusan semudah membalikan telapak tangan. Dan yang lebih penting, tiga anjing pembunuh yang bersamanya bukan mahluk biasa."

Terang Resi Cadas Angin. Mendengar itu Nini mendengus sambil memperlihatkan seringai buruk. "Kau telah menerima wangsit. Betapa mudahnya manusia sepertimu menerima wangsit. Aku

pernah bersemadi berpuluh-puluh hari perut kelaparan dan tubuh lemas. Kau tahu apa yang kudapat? Bukannya wangsit tapi setumpuk kotoran kelelawar!"

Geram Nini Buyut Amukan dengan wajah cemberut mulut mendengus. Walau merasa geli mendengar ucapan Nini Buyut Amukan.

Namun Resi berusaha menahan diri agar tidak sampai keterlepasan tawa. Setelah memberi waktu pada si nenek untuk menenangkan diri.

Barulah si kakek berkata.

"sobatku, tentang semadimu itu, mungkin kau bersemadi di tempat yang salah." "Memang! Ketika itu aku memilih bersemadi didalam gua kelelawar. Aku ingin tahu apakah

petunjuk dewa bisa didapat ditempat seperti itu. Ternyata tidak. Dewa tidak berkenan memberi petunjuk di tempat yang kotor."

"Sudahlah. Jangan berkecil hati. Aku akan tetap membantu dirimu dalam menyelesaikan semua ini. Hanya saja kau harus tahu, sesua8 dengan petunjuk yang kudapat. Satu-satunya orang yang bisa membantu menghentikan segala kekejian yang dilakukan gadis itu hanyalah seorang pendekar bernama Raja, yang dikenal dengan sebutan Sang Maha Sakti Raja Gendeng 313."

Jelas Resi Cadas Angin seadanya.

Walau hatinya galau namun penjelasan sekaligus jawaban yang diberikan oleh Resi Cadas Angin sedikit memberi harapan bagi si nenek. Setelah sempat terdiam, akhirnya Nini Buyut Amukan berkata.

"Baiklah,aku memilih mengikuti apa yang kau katakan. Mudah-mudahan datangnya petunjuk sebagaimana yang kau katakan benar adanya."

"Aku lega mendengar ucapanmu Nini Buyut Amukan sahabatku." Kata Resi Cadas Angin sejujurnya.

Nini Buyut Amukan diam tidak menanggapi. Si nenek kemudian bangkit. Baru saja si nenek hendak berbalik badan. Tiba-tiba saja Resi Cadas Angin berseru.

"Nini... kau hendak kemana?"

Nini Buyut Amukan ketawa. Dengan sikap acuh dia berkata.

"Aku tidak mungkin mendekam di tempat ini sebagaimana yang kau lakukan selama ini. Aku harus pergi."

Ucapan tegas Nini Buyut Amukan membuat si kakek menghela nafas sambil menggeleng.

"Nini. Cuaca di lembah tidak menentu. Datangnya pagi masih terlalu lama. Aku tahu kau datang ke lembah ini dengan mudah, tapi untuk keluar dari lembah apakah semudah saat kau turun?"

"HI hi! Percuma saja aku punya jubah terbang. Dengan jubah ini aku tentu bisa melewati tebing lembah kapan saja aku mau!" jawab si nenek

"Baiklah."

Resi Cadas Angin mengalah.

"Aku memang tidak bisa menahanmu. Kau boleh pergi sekarang!"

Kata Resi Cadas Angin. Kemudian tanpa menoleh lagi si nenek tinggalkan ruangan dibalik legukan. Sesampainya dimulut legukan, dia tidak lagi menyeberangi sungai dengan melompati batu-batu yang bersembulan dipermukaan air sebagaimana kedatangannya. Melainkan segera pentang kedua tangannya. Ketika dua tangan di pentang,

sret! set!

Bagian lengan jubah sebelah bawah tiba-tiba mengembang. Kemudian dari dalam jubah longgar terkembang yang lentur laksana sayap kelelawar itu menderu angin yang akhirnya mengangkat tubuh si nenek menuju ketinggian.

Begitu dia mengibaskan kedua tangannya maka selayaknya burung yang kepakan dua sayap. Wuus!

Nini Buyut Amukan tiba-tiba melambung tinggi. Setelah sempat berputar tiga kali si nenek terus melesat ke atas melewati tebing-tebing batu yang membentang disebelah kiri dan kanannya. Sekejab kemudian sosoknya raib dari pandangan mata.

Melihat kehebatan jubah yang dimiliki Nini Buyut Amukan, Resi Cadas Angin pun berdecak kagum.

"Jubah sakti jubah terbang. Sungguh beruntung dia memiliki jubah sehebat itu. Sayang suratan nasib dan perjalanan hidupnya tidak semulus gerakannya ketika berada di udara. Aku selalu berdoa semoga dia selamat dan dapat melewati masa tua dengan damai."

Setelah berkata demikian, Resi Cadas Angin kemudian melangkah tinggalkan tempat itu.

*****

Suara kecipak air, deru angin dan teriakan monyet-monyet membuat Raja terjaga dari tidurnya. Kawasan Gondang yang ditumbuhi pepohonan dengan daun-daun lebat menghijau memang dihuni oleh beberapa jenis binatang.

Diantaranya terdapat pula binatang buas seperti harimau dan anjing liar. "Sudah siang rupanya."

Gumam Raja sambil mengusap matanya, Raja yang tidur di atas cabang pohon menggeliat. Kemudian segera duduk sambil menatap ke segala penjuru.

Tatap matanya terhenti tertuju ke satu sudut dimana tergeletak sebuah peti besar berwarna kecoklatan.

Peti itu tergeletak dibawah pohon besar.

Tidak terlihat isinya karena mulut peti tertutup rapat. Penasaran ingin mengetahui apa gerangan isi peti tersebut.

Raja bangkit berdiri. Kemudian selayaknya orang hutan dia bergelayutan melompat dari satu akar tumbuhan merambat ke akar yang lain.

Sesampainya ditempat yang dituju,sang pendekar melompat turun lalu jejakan kedua kaki tidak jauh dar ­ tempat dimana peti itu berada.

Sang pendekar diam-diam terkejut ketika melihat ke arah peti mati itu. Demikian banyak lalat-lalat hijau mengrubuti penutup peti.

Disamping kehadiran lalat-lalat, Raja juga mengendus adanya bau bangkai busuk menyengat "Apa isi peti ini?" gumam Raja.

"Gusti."

Tiba-tiba terdengar suara mengiang ditelinganya. Dan itu adalah suara jiwa perempuan "Saya telah memeriksa bagian dalam peti. Saya dapati sedikitnya ada tiga mayat bertumpuk

dalam peti itu. Dua mayat laki-laki dan satunya mayat perempuan." Menerangkan jiwa perempuan.

"Bagaimana keadaan mereka? Apa yang menjadi penyebab kematian mereka?"tanya Raja kaget. Lagi-lagi terdengar suara mengiang tapi di- telinga kanannya. Kali ini jiwa pedang yang ber- bicara.

"Menurut perkiraan saya. Mayat-mayat tewas sekitar empat hari yang lalu. Mereka terbunuh bukan oleh senjata. Sepertinya tubuh mereka dipenuhi luka bekas cabikan. Hem,"Raja mengusap tengkuknya yang mendadak terasa dingin.

"Mereka dibantai oleh binatang buas. Tapi jika benar binatang yang Perawan Bayangan Rembalan 109 membantainya mengapa mayatnya dimasukan kedalam peti. Binatang mana yang bisa melakukan tindakan sebagaimana yang dilakukan oleh manusia?"

Gumam Raja dengan kening berkerut "Itulah yang membingungkan."

Kata jiwa perempuan.

"Mungkin sebaiknya kalian membuka peti itu. Aku ingin melihat siapa mereka!" Perintahnya.

"Huek, baunya busuk sekali gusti. Saya takut gusti pingsan!" Jawab jiwa perempuan.

"Mencium bau busuk seperti itu bisa membuat kepala gusti pening." Timpal jiwa pedang pula.

"Tapi bagaimanapun aku harus tahu siapa mereka, bukan?" Tukas Raja kesal.

"Tak usah dibuka kami bisa menerangkan. Melihat pakaian yang melekat ditubuh mereka, nampaknya ketiga orang itu bukan orang biasa. Mungkin saja mereka pejabat atau pembesar."

"Pejabat atau pembesar katamu, sobatku?" Sentak Raja.

Dia terdiam sambil mengingat-ingat Kawasan Gondang memang masih menjadi bagian wilayah Kadipaten Salatigo.

Dan Kadipaten itu dipimpin oleh adipati Cakra Abiyasa.

Konon sang adipati adalah seorang pemimpin besar yang sangat berpihak pada kepentingan rakyatnya.

"Tapi siapa tiga mayat dalam peti? Apakah kerabat adipati atau pembesar serta keluarganya yang berasal dari daerah lain?"

"Tubuh tercabik. Jika pelakunya binatang buas harusnya mayat-mayatnya dibiarkan begitu saja.

Mungkinkah pembunuhnya manusia namun bertingkah laku selayaknya mahluk buas?"

Kata Raja tampak tidak puas

"Tidak tertutup kemungkinan seperti itu dan bisa saja terjadi paduka."

Sahut jiwa perempuan

"Jika benar demikian, siapa orang itu?"

"Paduka, seperti yang saya katakan. Akhir akhir ini dikawasan kadipaten memang tersirap kabar menggegerkan dengan terbunuhnya tokoh-tokoh aliran putih. Mereka dibunuh, dihabisi dengan semena-mena."

Terang jiwa pedang.

"Membunuh tanpa sebab dan alasan yang tidak jelas. Manusia atau mahluk apa yang tega berbuat sekeji itu?"

Geram Raja sambil kepalkan tinjunya.

"Saya menaruh dugaan pembunuhnya manusia juga tetapi ada mahluk lain yang menyertainya." "Jiwa perempuan. Apa maksud ucapanmu?"

Tanya sang pendekar dengan kening berkerut tanda tidak mengerti.

"Maafkan saya gusti. Saya bukan sekedar menduga. Tetapi ditengah bau busuk menyengat ini saya mengendus adanya aroma kejahatan manusia dan kejahatan binatang di dalam kematian mereka."

"Hm, ternyata penciumanmu sangat tajam, jiwa perempuan. Aku kagum padamu," Puji Raja.

"Penciumannya tajam karena mungkin saja dia masih punya hubungan dengan anjing, gusti.

Anjing penciumannya selalu tajam." Celetuk jiwa pedang sambil tergelak.

"Jiwa kurang ajar. Mahluk cantik sepertiku mana ada hubungannya dengan anjing yang suka julurkan lidah."

Damprat jiwa perempuan disertai suara bak bik buk pukulan dan suara mengaduh. "Apa yang kalian lakukan. Berhenti berselisih!" Hardik Raja Gendeng.

Sambil menoleh kebelakang dia delikan mata kearah mana kedua jiwa dia perkirakan berada.

Suara bergedebukan berhenti. Lalu ada suara mendengus marah.

"Habisnya gusti,saya tidak senang dia menyebut saya satu golongan dengan anjing." Kata Jiwa perempuan selayaknya seorang anak yang mengadu pada orang tuanya.

"Ya sudah. Jangan hiraukan dia. Nanti kalau jiwa pedang bicara ngaco tidak karuan biar kubetot anunya lalu kuberikan pada kawanan anjing hutan."

Sahut Raja sambil menahan geli

"Ah gusti teganya dirimu. Tapi bagaimana gusti bisa melakukannya melihat saya saja gusti tidak bisa?"

Kata jiwa pedang.

"Sudah! Jangan bergurau terus."

Bentak Raja. Kemudian kepada jiwa perempuan dia berkata, "Sekarang lanjutkan ceritamu."

"Ya...seperti yang saya katakan. Pembunuh orang didalam peti itu adalah manusia dan binatang berkaki empat."

"Apakah kau bisa menduga mengapa mereka dibunuh?"

"Saya merasakan ada hawa kemarahan dan dendam dalam diri sang pembunuh, Saya juga meyakini gusti dia hanya membunuh dimalam hari."

"Dimalam gelap?"

"Tidak. Di dalam bulan muncul dilangit sampai berakhirnya bulan purnama. Siang hari dia adalah manusia biasa yang baik hati.."

"Membunuh disaat munculnya bulan dilangit? Jiwa pedang, kau tahu apakah hubungan antara munculnya bulan dengan tingkah laku seseorang?"

Tanya Raja kepada jiwa sahabatnya.

"Menurut saya, secara langsung tidak ada gusti. Pelakunya saya perkirakan juga bukan laki-laki.

Tidak ada pria yang datang bulan. Kalau perempuan mungkin." Jawab jiwa pedang.

"Jadi menurutmu pelakunya perempuan?"

Tanya Raja penasaran. "Saya baru menduga tapi tidak berani memastikannya." Ucap jiwa pedang.

"Satu yang membuat saya tidak mengerti. Mengapa dia membunuh hanya pada waktu-waktu tertentu saja. Mungkinkah kehadiran bulan mengubah tingkah laku seseorang hingga membuatnya liar tidak terkendali?" "Bukankah tadi saya juga menanyakan hal yang sama?" "Saya tahu gusti."

"Apa yang harus kulakukan. Aku tidak suka melihat pembunuhan yang semena-mena." Sekali lagi Raja tatap peti mati di depannya.

Belum sempat kedua mahluk alam roh itu menjawab. Tiba-tiba saja terdengar suara gemuruh langkah kuda yang dipacu cepat menuju ke arah dimana sang pendekar berada.

Dalam kejut Raja tidak punya kesempatan untuk menghindar atau menyingkir ke tempat yang aman. Derap suara kuda lenyap, ketika sang pendekar menatap ke depan. Tahu-tahu dia melihat rombongan orang berkuda yang jumlahnya mencapai belasan orang telah mengepung tempat itu

"Peti mati itu jelas milik keluarga adipati. Lihatlah ada cap bersimbol burung gagak pada dinding sebelah atas penutup peti."

Seru seorang perempuan tua gemuk berpakaian kuning, berambut disanggul mirip sarang lebah.

Memperhatikan sekilas pada perempuan tua gemuk itu, Raja segera menyadari bahwa perempuan itu bukan pemimpin rombongan orang berseragam perajurit Kadipaten.

Ketika memandang ke arah sebelahnya Raja melihat dua kakek tua berpakaian putih berhidung mancung mirip paruh burung.

Di sudut paling sebelah kanan duduk di atas kuda seorang gadis cantik berpakaian seragam berwarna kecoklatan berkulit putih mulus berdada Indah.

Gadis ini mengikat kepalanya dengan selembar kain berwarna coklat bersimbol burung gagak di sebelah depan.

Lalu dibelakang mereka berempat terlihat puluhan prajurit bersenjata lengkap berupa pedang, tombak dan golok.

Agaknya gadis jelita itulah yang bertindak sebagai pimpinan rombongan pengawal Kadipaten. Merasa tidak melakukan sesuatu.

Dengan tenang Raja tersenyum unjukkan sikap ramah pada mereka.

Tapi orang-orang itu menyambut dingin keramahan Raja, sebagian malah bersikap tidak bersahabat ada pula yang terlihat curiga.

"Peti mati sudah ditemukan."

Berkata nenek gemuk berpakaian kuning berkilat.

"Melihat lalat-lalat menggerubuti peti, Serta lenyapnya dua kereta kuda berisi harta benda. Aku yakin Rara Sintren, Raden Salya dan ki Bangor Madung telah menemui ajal."

Wajah cantik gadis jelita berpakaian coklat berubah merah mengelam.

Untuk diketahui Raden Salya yang disebut nenek berpakaian kuning yang bernama Limbuk Ayu atau lebih dikenal dengan sebutan Gembala Akhirat itu tak lain adalah paman si gadis.

Raden Salya juga masih terhitung kerabat dekat Adipati Cakra Abiyasa, Sedangkan Rara Sintren adalah gadis yang menjadi tunangan Raden Salya.

Walau gadis ini memanggil Raden Salya dengan sebutan paman, namun usia sang raden sepantaran dengan gadis itu.

Sedangkan orang yang bernama ki Bangor tak lain adalah bendahara Kadipaten yang bertugas mengurus upeti dan harta kekayaan kadipaten Salatigo.

Orang yang disebut terakhir walau usianya hampir tujuh puluh tahun dikenal sebagal orang yang cerdik juga memiliki ilmu kepandaian tinggi.

Raden Salya dan tunangannya bukan manusia lemah. Keduanya termasuk pendekar muda yang gagah berani.

Di kawasan tanah Dwipa bagian tengah sampai ke timur, keduanya termasuk orang yang sangat disegani karena ketinggian ilmunya.

Dua kereta kuda lenyap.

Tiga orang berpakaian tinggi terbunuh.

"Kalau belum melihat isi peti itu dengan mata kepala sendiri haruskah aku percaya?"

Dengus dara cantik bernama Bunga Jelita namun juga dikenal dengan julukan Bunga Kembang Selatan itu ketus

"Gusti Bunga..."

Berkata kakek berambut putih berhidung bengkok bersenjata arit besar. "Jika ingin bicara, bicaralah kakek Bagus Lara Arang."

Ucap sang dara tidak sabaran.

"Eh baik. Menurut hemat saya. Peti yang raib dari tempat penyimpanannya beberapa hari yang lalu itu kemungkinan memang berisi mayat. Untuk meyakinkan apakah orang-orang yang kita cari ada di dalamnya tidak ada cara lain kecuali membukanya."

"Aku setuju!"

Sambut kakek bungkuk hidung mancung yang berada disebelah Bagus Lara Arang "Kalau setuju, mengapa kau tidak turun secepatnya Demang Sapu Lengga!"

Kata si nenek gembrot sambil mengipasi pahanya yang basah keringatan.

"Aku? Bukankah ada pengawal bersama kita. Atau...tidakkah sebaiknya kita suruh saja pemuda gondrong berpedang yang berdiri dibawah pohon itu."

Kata ki Demang Sapu Lengga sambil menunjuk ke arah Raja yang sedari tadi berdiri tegak di sana. Semua mata kini arahkan perhatian pada sang pendekar.

Raja yang semula berniat tinggalkan tempat itu jadi terhenyak kaget. Belum lagi dia sempat bicara apa-apa. Nenek berpakaian kuning tiba-tiba membuka mulut memanaskan suasana yang sejuk

"Setelah penutup peti dia buka. Sebaiknya kita tangkap dia. Sebelum kita datang dia sudah berada di sini. Aku curiga dialah yang telah membunuh kerabat adipati."

"Bukan mustahil dia pula yang merampas tiga peti harta bawaan lalu menyembunyikannya ditempat lain."

"Benar seperti yang diucapkan Limbuk Ayu, pemuda gondrong itu patut digantung!"

Seru Bagus Lara Arang membuat keadaan tambah memanas. Terpancing ucapan si nenek, belasan prajurit berkuda berlompatan dari kuda masing-masing.

Dengan gerakan yang cepat namun teratur mereka menyebar, tahu-tahu mereka telah mengurung Raja dengan senjata terhunus.

Melihat keadaan yang tidak menguntungkan, sang pendekar pun angkat bicara.

"Kalian semua dengar. Jangan ada seorang pun yang melempar fitnah busuk kepadaku. Aku tidak tahu apa yang kalian bicarakan, aku bahkan tidak tahu apa-apa."

Bunga Jelita yang sedari tadi tetap tenang tidak termakan ucapan kaki tangannya ini terus memperhatikan Raja.

Sebaliknya Limbuk Ayu, ki Demang Sapu Lengga dan Bagus Lara Arang setelah saling melempar pandang tertawa terbahak-bahak. Ki Demang malah sambil mengumbar tawa berujar.

"Lihatlah si gondrong itu. Dia bertingkah selayaknya orang tolol, mengaku tidak tahu apa-apa bahkan tidak mengerti apa yang kita bicarakan.Apakah dia juga tidak melihat pemimpin kita yang cantik?"

"Mana ada pencuri yang mengaku! Lebih baik ringkus dia, bila melawan bunuh." Seru Limbuk Ayu dengan suara melengking dan lantang.

Sebelas prajurit yang terpancing ucapan Limbuk Ayu serentak merangsak maju.

Melihat ini Raja yang dibuat kesal oleh ucapan-ucapan nenek gemuk dan dua kakek itu diam-diam alirkan tenaga dalam kebagian kaki juga kedua tangannya.

Tapi selagi para pengawal bergerak mengurung, tiba-tiba terdengar suara bentakan merdu. "Tahan!"

Para pengawal yang mengenal baik suara pemimpinnya seketika hentikan langkah. "Pengawal-pengawal tolol. Siapa sebenarnya yang menjadi pimpinan kalian?"

"Aku atau kedua nenek dan kakek itu?" Tanya sang dara dengan sikap wibawa. Para pengawal tundukan kepala.

Sementara Limbuk Ayu yang telah lama memendam ganjalan di hati pada Bunga Jelita dalam hati mendamprat

"Gadis keparat. Kalau tidak mengingat dirimu adalah kemanakan adipati, sejak dulu-dulu kau kupesiangi.Setidaknya kubuat cacat wajahmu yang cantik itu baru aku merasa puas."

Sementara Bagus Lara hanya diam menggerutu. Sebaliknya, Ki Demang Sapu Lengga dalam hati membatin.

"Sebetulnya akulah yang patut menjadi kepala pengawal dibawah perintahnya. Bila menuruti keinginan hati. Orang sepertiku tidak selayaknya rasanya tidak malu bila kukatakan bahwa aku menaruh hati kepadanya. Apalagi sejak istriku meninggal dan sudah lama aku hidup sendiri. Aku suka padanya, keindahan tubuhnya sulit untuk kulukiskan. Pinggulnya bagus, dadanya juga besar. Akh...tapi sungguh keparat. Sejak tadi dia hanya terus menatap si gondrong sialan. Siapa monyet satu ini ?"

Geram ki Demang Sapu Lengga sambil usap-usap janggutnya yang meranggas memutih "Gusti Ayu...maafkan kami semua. Kami sekarang menunggu perintah gusti."

Kata pengawal yang bertubuh paling tegap.

"Bagus. Kalian dengar. Aku tidak mau menghukum seseorang sembarangan." Ucap Bunga Jelita. Kemudian pada Raja gadis ini berkata.

"Ki sanak, bolehkah aku tahu siapa dirimu dan apa yang kau lakukan di tempat ini?" Terlanjur kesal Raja menyahuti.

"Sungguh pertanyaan yang bagus, aku tidak melakukan apapun. Peti mati itu memang sudah teronggok membusuk begitu aku datang."

Bunga Jelita manggut-manggut walau hatinya geram melihat sikap Raja yang dianggapnya menyebalkan.

"Mungkin begitu. Lalu apakah ki sanak tidak mau memperkenalkan nama?"

Tanya Bunga Jelita tambah geram

"Namaku, ha ha ha. Orang menyebutku sang maha sakti Raja Gendeng, Aku lebih suka menyebut diriku pendekar Maha sakti 313."

Merasa tidak mengenal nama dan julukan sang pendekar, mereka semua tertawa terbahak- bahak. Bunga Jelita terdiam, kening berkerut. Mencoba mengingat-ingat apakah dia pernah mendengar dan mengenal nama dan julukan yang aneh itu.

"Aku pernah mendengar munculnya seorang pendekar aneh dari laut pantai selatan, Apakah pemuda ini orangnya?"

Belum lagi Bunga Jelita mengucapkan sesuatu, tiba-tiba saja ki Demang Sapu Lengga berteriak. "Sang Maha Sakti Raja Gendeng, pendekar Maha Sakti 313. Puah nama dan julukan apa itu?

Kukira dia hanya seorang pemuda gila yang kebetulan kesasar ketempat ini." "Kalau pendekar mustahil. Orang gila mungkin saja."

Timpal Limbuk Ayu disertai derai tawa.

"Ha ha ha! Bicaralah sesuka hati sampai gigi kalian tanggal." Kata Raja.

"Aku lebih suka tidak melayani orang seperti kalian!"

Berkata begitu sang pendekar segera hendak tinggalkan tempat itu. Namun belum sempat melangkah. Bunga Jelita yang mulai menaruh curiga padanya segera berseru. "Cegah dia, jangan biarkan pergi."

Sebelas prajurit dengan gerakan cepat segera berlompatan maju. Tombak, pedang dan golok menderu membabat dan menusuk dari segala penjuru.

"Manusia-manusia tolol! Hea...!"

Teriakan Raja ini dibarengi dengan gerakan memutar tubuh. Lalu sambil berputar dia kibaskan kedua tangannya ke arah senjata dan para prajurit yang menyerangnya.

Beberapa tombak, berpentalan diudara dalam keadaan patah menjadi beberapa bagian. Pedang dan golok terpelanting.

Limbuk Ayu bahkan sampai delikan mata ketika dapati kuda yang dia tunggangi ambruk dengan perut terburai dirobek dengan pedang pengawal yang ditendang Raja.

Walau tubuhnya gemuk gombrot, namun dengan gerakan enteng dia berjumpalitan selamatkan

diri.

Sebaliknya, beberapa pengawal yang mengalami patah kaki atau bagian lengannya terluka

nampak kesakitan dengan wajah pucat dan perih.

"Aku tidak membunuh! Aku juga tidak punya silang sengketa dengan kalian., Tetapi kalau kalian semua tetap memaksa jangan salahkan aku jika jatuh korban orang yang tidak berdosa di tempat ini."

Teriak Raja

"Dia sudah sangat kelewatan. Tindakannya itu sungguh sebuah penghinaan bagi kita semua." seru Ki Demang Sapu Lengga.

Orang tua itu kemudian berpaling pada Bagus Lara Arang.

Sekali dia anggukan kepala, keduanya secara serentak melompat dari atas kuda masing-masing. Melihat kedua kakak beradik itu bertindak nekat ingin menghabisi Raja.

Sang pendekar yang saat itu berdiri dibelakang peti mati segera gerakan ujung kaki menendang bagian bawah peti.

Peti berat itu melambung di udara.

Menderu sebat ke arah kedua kakek yang melesat diketinggian.

Melihat peti siap menghantam diri mereka keduanya segera dorongkan kedua tangan masing masing kedepan.

Dua larik cahaya biru terang membersit dari tangan Ki Demang.

Sedangkan dari telapak tangan Bagus Laras Arang menderu segulung angin dingin menebar hawa dingin luar biasa.

Wut! Blak! Der! der!

Ketika semua serangan itu menghantam peti mati. Kedua kakek ini dibuat kaget bukan main.

Dua pukulan ganas yang dilancarkan kakek itu ternyata tidak sanggup menghalau apalagi menghancurkan peti.

Pukulan sakti mereka seolah amblas seperti membentur busa karet tebal.

Keduanya sama sekali tidak tahu bahwa diam diam Raja telah lindungi peti mati dengan menggunakan ilmu Selubung Inti Es.

Tindakan ini sengaja dia lakukan untuk memberi pelajaran pada kedua kakek itu. Melihat peti tidak dapat mereka hancurkan.

Kedua kakek itu bertindak nekat dengan melompati bagian atas peti. Namun belum sempat niat mereka terlaksana.

Tiba-tiba saja dari tempatnya berdiri Raja gerakan jemari tangannya.

Gerakan jarak jauh yang dilakukan Raja membuat peti berisi mayat meluncur deras menimpa tubuh kedua lawannya.

"Keparat. Apa yang dilakukan gondrong sinting itu?"

Tanya ki Demang kaget. Dia bertindak cepat dengan menahan peti agar tidak menimpa tubuhnya. Hal yang sama juga dilakukan oleh Bagus Lara Arang. Tapi mengingat kaki kedua kakek ini mengapung diketinggian gerakan menahan yang mereka lakukan sia-sia.

Ketika Raja dorongkan jemari tangan ke arah peti. Kedua lawan merasa berat peti bertambah berlipat ganda. Melihat hal ini Limbuk Ayu segera melompat memberi bantuan. Namun tindakannya kalah cepat dan tahu-tahu.

Bruk!

Peti mati jatuh menimpa kedua tubuh kakek itu. Penutup peti terbuka. Dari dalam peti menggelinding tiga sosok mayat yang dalam keadaan mengembung bengkak membusuk dan dipenuhi luka-luka mengerikan.

"Huek.. huek!"

Bagus Lara Arang perutnya bergulung mual lalu muntah. "Singkirkan benda keparat ini dari kami."

Teriak ki Demang Sapu Lengga.

Perajurit pengawal yang selamat dari kemarahan Raja segera datang memberi bantuan. Sedangkan Bunga Jelita terkejut ketika melihat sang pendekar tidak berada lagi di tempatnya. Menyesal tidak mengetahul banyak tentang diri penmuda itu.

Gusar pula melihat para pengikutnya yang gegabah, Bunga Jelita turun dari kudanya. Saat itu peti mati telah berhasil disingkirkan dari tubuh-tubuh Ki Demang dan Bagus Lara Arang.

Gadis itu juga melihat Limbuk Ayu tengah meneliti mayat-mayat yang bergeletakan di depannya.

Mengetahui Bunga Jelita datang menghampiri, nenek ini berkata.

"Gusti benar dugaan kita. Ketiga mayat ini memang benar orang yang kita cari."

Sang dara diam memperhatikan

"Masukan kembali mayat dalam peti. Kita harus membawanya kembali ke Kadipaten, Aku akan melaporkan kejadian ini pada paman Adipati."

Tegas bunga Jelita sambil balikan badan kembali ke kudanya. "Bagaimana dengan pendekar gila itu?"

Tanya ki Demang yang sudah berdiri dan sibuk membersihkan diri dari cairan berbau busuk. "Dia telah pergi. Lebih baik urus saja para pengawal yang terluka. Naikan mereka ke atas kuda

masing-masing."

Perintah si gadis. Kepergian Raja yang bak ditelan bumi menimbulkan kegegeran diantara mereka.

"Mungkin saja pemuda itu setan penunggu tempat ini."

Kata Limbuk Ayu sambil mengiringi pengawal terluka yang dibawa kuda di depan. Ki Demang memilih diam.

Kakek itu sepertinya merasa jerih juga.

Sedangkan Bagus Lara Arang memilih memacu kudanya lebih cepat takut dihadang mahluk-mahluk halus penunggu hutan.

TAMAT