Raja Gendeng Eps 20 : Dendam Orang Orang Sinting

 
Eps 20 : Dendam Orang Orang Sinting

Di sepanjang alur anakan sungai Boko malam terasa dingin.

Di dalam kegelapan yang hanya diterangi oleh cahaya bintang satu sosok bayangan berpakaian serba merah berlari cepat di antara kerapatan pepohonan.

Tak jauh dibelakangnya seekor kuda berbulu hitam dipacu cepat oleh penunggangnya mengikut sosok yang berlari itu.

Si penunggang kuda adalah seorang gadis berpakaian biru ringkas, berwajah ayu dengan rambutnya yang panjang.

Walaupun di sepanjang jalan si gadis penunggang kuda menggerutu.

Namun anehnya orang yang berlari didepannya tidak menghiraukan sama sekali gerutuan si gadis.

"Kita sudah melakukan perjalanan seharian jika kau tidak mau berhenti sebentar supaya kudaku dapat beristirahat. Aku tidak akan mengikutimu lagi kakang"

Kata si gadis yang bernama Sakantili atau lebih dikenal dengan sebutan Peri Halilintar. Seperti telah dikisahkan dalam episode "Seruling Halilintar"

Gadis ini adalah salah seorang penjaga penjara di kaki gunung Dieng.

Penjara yang merupakan kerangkeng besi menyala itu dihuni oleh satu mahluk luar jagad yang sangat kejam bernama Bethala Karma.

Peri Halilintar tidak sendiri. Dia dibantu oleh sahabatnya yang bernama Sora Magandala. Peri Halilintar kemudian melarikan dir untuk mencari bantuan karena tidak sanggup menghadapi Bethala Karma yang telah lolos dari kerangkeng besi menyala itu.

"Kakang, apa kau tidak merasa lelah ? Lihatlah, kudaku sudah kelelahan. Lidahnya terjulur, mulutnya berbusa dan telinganya berkeringat. Kuda itu akan celaka bila kita terus memaksanya berlari."

Sosok berpakaian merah yang dipanggil kakang itu hanya mendengus. Dia masih terus saja berlari. Akhirnya dia berhenti juga ketika sampai di suatu tempat yang keadaannya porak poranda "Kecepatan larimu sungguh luar biasa, kudaku hampir tidak sanggup mengikutimu. Tetapi

mengapa tiba-tiba kau berbaik hati menghentikan larimu?"

Tanya Peri Halilintar sambil menarik tali kekang kuda untuk menghentikan lari kudanya.

Bukannya menjawab, laki-laki yang berusia tiga puluhan berkulit dan berambut merah digelung ke atas dan dikepang seperti tanduk itu malah memberi tanda telunjuk dimulutya sebagai isyarat agar Peri Halilintar tidak berbicara.

Melihat sikap pemuda itu tentu saja membuat Peri Hallintar menjadi kesal, Tapi kekesalan itu terpaksa ditelannya lagi, ketika melihat keadaan di sekitar anakan sungai Boko daiam keadaan hancur.

Pohon-pohon bertumbangan saling tumpang tindih. Tanah dan batu-batuan berserakan.

Dimana-mana terdapat lubang menganga seolah-olah di tempat tersebut telah terjadi gempa dan angin ribut.

Melihat keadaan ini sang dara dengan heran menatap ke arah pemuda berambut digelung melengkung seperti tanduk itu.

Si pemuda yang tak lain adalah Tanggul Api yang dikenal juga dengan sebutan Seruling Halilintar itu tiba-tiba dongakkan kepala.

Matanya dipejamkan.

Hidungnya mengendus berusaha membaui sesuatu. "Tidak salah!"

"Tetapi aku tidak percaya jika orang sudah mati dapat bangkit dan gentayangan membuat kerusakan serta melakukan pembunuhan !"

Kata Tanggul Api sambil menggelengkan kepalanya.

"Saudaraku! Bicara sendiri tidak karuan. Siapa yang barusan kau maksud sudah mati dapat bangkit kembali ?"

Tanya Peri Halilintar bingung juga heran. Seakan baru sadar bahwa dia tidak sendiri di tempat itu Tanggul Api palingkan kepala menatap saudaranya. Dengan mata berkaca-kaca dia berkata dengan suara lirih tertekan.

"Saudaraku Peri Halilintar. Aku memang yakin bahwa tidak mungkin orang yang sudah mati dapat berubah. Guruku sudah mati. Mayatnya tidak mungkin dapat berubah menjadi beruang setelah disemayamkan di dalam peti. Guru pasti masih hidup. Dia mengambil Seruling Halilintar yang pernah diberikannya kepadaku. Lalu melakukan pembunuhan dengan seruling tersebut ."

Kata Tanggul Api.

"Bagaimana kau tahu kalau gurumu Ki Agung Saba Biru masih hidup dan membuat kekacawan serta pembunuhan dengan seruling mautmu itu ?"

Tanya Peri Halilintar tidak mengerti

"Aku tidak tahu rahasia yang disembunyikan guru terhadapku. Sudah lebih dari satu purnama aku tidak pernah keluar dari tempatku. Aku hanya menunggui peti mati guru. Dan memang di luar aku kerap mendengar adanya pembunuhan dengan memakai Seruling Halilintar.Sang pembunuh bahkan telah membantai penduduk dusun bambu dengan menghancurkan rumah-rumah serta membakarnya."

"Menurutmu itu perbuatan siapa? Karena aku tidak pernah melakukan semua kejahatan itu." Peri Halilintar diam tetegun.

Ada sesuatu yang mengusik hatinya, Dan ini membuatnya tak dapat menahan diri untuk bertanya,

"Selama ini apakah kau tidak pernah tahu bahwa gurumu itu jahat ?"

Tanggul Api tersenyum sambil menggigit bibir

"Sebagai murid aku tidak tahu bagaimana watak guru sebenarnya. Guru sifatnya pendiam. Apa yang ada di dalam benaknya tidak ada yang tahu. Tetapi yang lebih mengherankan apa maksud tujuan guru melakukan semua ini?"

"Saudara seperguruanmu kakek Tunggul Angin mungkin telah mengetahui kejahatan gurumu. "

Ujar Peri Halilintar

"Dan daripada rahasia kejahatan itu terbongkar maka Tunggul Angin dibunuhnya." "Ya.....Tunggul Angin pasti dibunuh oleh guru sendiri."

Sambung Tanggul Api dengan geram.

"Jika benar gurumu masih hidup dan dia melakukan kejahatan dengan seruling Halilntar tersebut, maka orang-orang rimba persilatan akan menuduh kau yang melakukan pembunuhan itu."

Kata Peri Halilintar merasa iba. "Mengapa kau berkata seperti itu?" Tanya Tanggul Api tidak mengerti.

"Hik hik hik. Walau kau dapat membuat rambut dikepalamu menyala api, namun kau belum mampu berpikir dengan jernih, Apa kau lupa. Seruling Halilintar adalah milikmu. Semua orang di rimba persilatan hanya tahu bahwa yang mempergunakan senjata itu bukan gurumu tetapi kau"

"Ah...mengapa aku tidak berpikir sampai sejauh itu!" Kata Tanggul Api sambil mengetuk keningnya sendiri. "Sekarang apa yang hendak kau lakukan ?"

Tanya Peri Halilintar disertai tatapan tajam. Tanggul Api diam, tidak segera menjawab. "Huhh....Dimana aku harus mencari guru Ki Agung Saba Biru. Mengapa guru harus membunuh

Tunggul Angin ? Apa yang dicarinya ?"

Tanya Tanggul Api seolah kepada dirinya sendiri.

"Kita telah melakukan perjalanan selama dua hari, namun tanda-tanda dimana beradanya gurumu sampai saat ini belum ditemukan."

Keluh Peri Halilntar yang hatinya masih gelisah.

Karena gadis ini merasa khawatir dengan lolosnya mahluk luar jagad yang bernama Bethala Karma dari kerangkeng besi menyala.

Dia tahu Bethala Karma akan mencari Mutiara Tujuh Setan dan akan banyak korban jika menghalangi keinginannya ini.

"Aku bingung jika kutinggalkan saudaraku ini seorang diri dia akan mengalami nasib yang buruk. Tetapi bila tetap bersamanya aku tidak dapat mencari bantuan untuk menghalangi maksud Bethala Karma"

Pikir Peri Halilintar yang merasa serba salah.

Di luar dugaan tiba-tiba saja Tanggul Api menjawab pertanyaan Peri Halilintar. "Aku telah melihat tanda-tanda kehadiran guru. Lihatlah...!"

"Tempat ini telah hancur. Pohon pohon seperti diterjang angin. Tanah yang porak poranda. Tetapi ini semua bukan disebabkan oleh murka alam, melainkan akibat dari pukulan Seruling Halilintar.Guruku menggunakan Seruling Halilintar untuk menghancurkan tempat ini dan melakukan pembunuhan.Aku tahu dari aroma serta jejak yang ditinggalkannya. Aku juga tahu kemana seruling itu dibawa."

"Sekarang ikuti aku!" "Hah...ikut kemana lag ­ ?"

Tanya Peri Halilintar dengan terkejut.

Tidak ada jawaban. Ketika Peri Halilintar melihat ke depan ternyata Tanggul Api telah meninggalkan tempat itu.

"Saudara gila. Gurunyapun pasti lebih gila lagi.."

Dengus Peri Halintar sambil menggebah kudanya menyusul Tanggul Api..

******

Dalam perjalanan menuju reruntuhan Candi kuno yang terletak di sebelah selatan Gerobokan.

Laki-laki berpakaian hitam berkulit gelap ini sebenarnya sangat merisaukan keselamatan sahabatnya Peri Halilintar yang terpaksa ditinggalkan sendirian di kaki gunung Dieng. Dia melihat adanya tanda-tanda buruk yang muncul beberapa hari terakhir.

Kemungkinan Bethala Karma momok nomor satu yang paling ditakuti dikawasan itu benar-benar telah lolos dari dalam ruang penahanan penjara api.

Kerisauannya makin bertambah, ketika dia bertemu dengan kakek pertapa di sebuah gua ditepi sungai Serayu bernama Lisang Geni.

Si kakek selama ini menyimpan kitab batu bertulis.

Kitab itu dikenal dengan nama kitab Tanda Pembaca Datangnya Malapetaka.

Kitab yang disimpannya di dalam gua itu tiba-tiba saja hangus terbakar dengan sendirinya.

Terbakarnya kitab menjadi sebuah petunjuk penting bagi sang pertapa bahwa Bethala Karma sang mahluk pembawa murka yang datang dari luar jagad akan bebas dari penjara api.

Mahluk yang memiliki anggota tubuh serba ganda itu bakal terlepas dari delapan paku bumi yang membelenggunya.

Setelah mendapat penjelasan dari Lisang Geni.

Atas kesepakatan Lisang Geni dan muridnya menyusul utusan dari puncak Papandayan yang dipercaya untuk menyerahkan Mutiara Tujuh Setan ke tangan Tiga Setan Putih.

Karena sebelumnya tiga mahluk dari luar bumi inilah yang telah membawa Mutiara Tujuh Setan itu ke dunia manusia.

Setelah melakukan perjalanan berhari-hari, Sora Magandala akhirnya sampai di reruntuhan candi kuno tempat dimana Tiga Setan Putih melakukan tapa selama belasan tahun.

Namun setibanya di tempat itu Sora Magandala justru menjadi terkejut ketika melihat candi tua dalam keadaan hancur porakporanda.

Tiga Setan Putih yang dicari hilang lenyap. Tiga Setan entah kemana.

Dan yang lebih mengejutkan lagi adalah ada dua jenazah orang yang sangat dikenalnya tergeletak kaku ditempat itu.

Kedua jenazah yang dalam keadaan mengenaskan itu bukan lain adalah jenazah Lisang Geni dan muridnya Nilam Suri.

Sementara seekor kuda yang menjadi tunggangan Nilam Suri dalam keadaan sedang merumput tidak jauh dari kedua mayat itu.

"Sesuatu yang sangat mengerikan telah terjadi di tempat ini."

Membatin Sora Magandala. Sisa-sisa perkelahian sengit, reruntuhan candi berubah menjadi puing-puing berserakan.

"Semua menjadi petunjuk adanya satu serangan yang luar biasa hebat dialami oleh kakek Lisang Geni dan Muridnya?"

"Tapi siapa pembunuh itu? Tidak mungkin yang melakukannya adalah Tiga Setan Putih karena mereka adalah mahluk baik-baik. Sangat mustahil mereka tega menghabisi orang-orang yang sebenarnya berada di pihak mereka!" Batin Sora Magandala.

Baru saja hati berkata demikian.

Tiba-tiba saja terdengar suara raungan menggeledek datang dari ujung sebelah timur reruntuhan candi.

Karena sudah sangat mengenal suara yang terdengar itu maka Sora Magandala menjadi tercekat "Celaka! Dia benar-benar telah bebas dan sekarang telah mencapai tempat ini!"

Sentak lakilaki itu.

Tanpa menunggu lama Sora Magandala segera berkelebat tinggalkan mayat kedua sahabatnya.

Namun baru saja sosoknya berkelebat menuju ke balik semak belukar, mendadak terdengar suara bentakan yang disertai suara berat langkah kaki

"Manusia jahanam bernama Sora Magandala. Dari jauh aku telah mencium bau tubuhmu. Sekarang kau hendak lari kemana? Dunia ini terlalu sempit buatmu. Dan aku pasti bisa menemukanmu!"

"Bethala Karma mahluk laknat. Mengapa iblis keji sepertimu bisa muncul di rimba persilatan seperti ini."

Umpat Sora Magandala.

Namun tanpa mempedulikan ucapan orang dia terus melarikan diri dari kejaran.

Tidak lama setelah Sora Magandala lenyap dibalik kerapatan pohon serta semak belukar.

Di tempat dimana tadinya Sora Magandala berada tahu-tahu telah berdiri tegak satu sosek mahluk aneh.

Sosok yang datang bertubuh tinggi besar.

Sekujur tubuhnya dipenuhi sisik kasar berwarna perak kemerahan. Sosok ini memiliki dua buah kepala.

Satu kepala bertengger di leher sebelah kanan dan satunya bertengger di sebelah kiri.

Setiap kepala mempunyai hidung, mulut dan sepasang mata dengan satu titik kecil berwarna merah ditengah putih mata.

Dia juga mempunyai telinga lebar tipis tak ubahnya seperti telinga gajah.

Selain mempunyai dua kepala, mahluk itu juga mempunyai dua pasang tangan,dua pasang kaki.

Karena jarak antara dua kaki depan dengan dua kaki yang sebelah belakang letaknya tidak berjauhan maka ketika berlari suara langkah kakinya terdengar berisik, bergedebukan seakan yang berlari lebih dari satu orang.

Berdiri tegak di antara mayat Lisang Geni dan muridnya, mahluk luar jagad yang ditempat asalnya merupakan panglima perang paling kejam itu jelalatan memperhatikan keadaan sekelilingnya.

Kemudian berkatalah mulut yang berada di sebelah kiri. "Aku dapat merasakan tiga perwira pengkhianat itu tadinya berada di sini dalam waktu yang cukup lama."

Mulut dikepala sebelab kanan menggeram.

Hidung keluarkan suara berdengus membuat udara di sekitarnya yang dingin sejuk berubah menjadi panas

"Aku sependapat. Jahanam yang telah memendam dan menjebloskan kita ketiganya memang pernah berada di sini. Tapi mereka telah pergi.:Mungkin mereka meninggalkan tempat ini tiga hari yang lalu. Mereka telah mengetahui Bethala Karma dan kembarannya satu badan telah lolos"

"Apa yang harus kita lakukan? Nampaknya di tempat ini telah terjadi kekacawan kecil sepeninggal tiga perwira pengkhianat itu!"

Kata mulut di kepala kiri tidak sabaran. Kepala sebelah kanan terdiam.

Tapi dua mata yang berupa hanya dua titik merah ditengah mata tiba-tiba melirik ke arah lenyapnya Sora Magandala.

Dia pun berseru

"Kita biarkan dulu tiga perwira yang menghalangi kita mendapatkan Mutiara Tujuh Setan, Sekarang kita harus membuat perhitungan dengan dengan manusia yang bernama Sora Magandala tadi."

"Maksudmu?"

Tanya mulut yang disebelah kiri

"Jangan berlagak tolol saudara kembar satu badan. Sora Magandala dan temannya Peri Halilintar yang telah melarikan diri itu adalah dua orang telah dipercaya Tiga Setan Putih mengawasi kita selama berada dalam kerangkeng penjara besi menyala. Dia harus kita habisi.Dia membuat kita tidak pernah punya kesempatan menghirup udara bebas untuk mengambil Mutiara Tujuh Setan yang kita inginkan"

Dengus kepala yang kanan. Mulut dikepala yang kiri menyeringai. Dua mata berputar liar. Hidung mendengus seperti suara kerbau yang dihela dengan paksa.

"Aku suka. Membunuh adalah sebuah pekerjaan yang paling menyenangkan dalam hidupku! ha ha ha!" "Aku setuju. Dia pasti belum jauh dari sini!" Menyahuti mulut dikepala yang kanan.

Dua kepala menoleh, dua pasang mata saling memandang Lalu... Wuuus!

Sekali dua pasang kaki dihentak.

Terdengar suara bergedebukan yang disusul dengan getaran selayaknya gempa. Sosok tinggi yang tubuhnya serba dua itu lenyap di balik kelebatan pohon.

Tidak berselang lama, sesampainya di tempat yang dicurigai dia berlari cepat membentuk sebuah lingkaran luas.

Sementara dari mulutnya menyembur cairan yang segera berubah menjadi kobaran api begitu menyentuh benda apa saja disekitarrnya.

Agaknya mahluk luar jagad bernama Bethala Karma ini sengaja mempersempit ruang gerak orang yang menjadi incarannya. Kobaran api membumbung tinggi, menjilat reranting, rumput, semak belukar juga pepohonan yang berdiri di atasnya.

Melihat itu Sora Magandala yang walau berada cukup jauh di luar lingkaran kobaran api segera maklum dia bisa celaka

"Perangkap maut.Bethala Karma rupanya hendak memanggangku hidup-hidup. Dia pasti sangat mendendam pada diriku!"

Dari balik pohon besar tempat dimana dia berlindung, julurkan kepala.

Sepasang mata di pentang, memperhatikan Bethala Karma yang saat itu berdiri tegak di bengah kobaran api.

Rupanya mahluk ini menyadari lawan yang menjadi incarannya tidak berada ditempat yang mereka bakar.

Kemudian di tengah kobaran api yang panas membara, mahluk yang kuat bertahan dari sengatan jilatan api itu mengangkat dua tangannya di sebelah depan.

Dengan cepat jari telunjuk dia acungkan lurus searah dengan kedua bahunya.

Lalu dengan gerakan laksana sebuah gasing raksasa berputar, Bethala Karma memutar tubuh. Melihat ini Sora Magandala keluarkan seruan tertahan,

"celaka! Dia mempergunakan ilmu Mencari Sasaran Menunjuk Arah."

Walau tidak mengenal seluruh ilmu kesaktian hebat yang dimiliki Bethala Karma. Namun Sora Magandala mengenal beberapa ilmu sakti yang dikuasai lawan. "Dengan menggunakan dua jari itu dia akan segera tahu dimana aku bersembunyi!" Pikir Sora Magandala.

Lalu dia mengendap-endap menyelinap dari satu pohon ke pohon lainnya. Gerakan berputar yang dilakukan Bethala Karma sekonyong-konyong terhenti. Dua bahunya bergoyang, dua telunjuk bergabung menjadi satu.

Telunjuk mengarah ke tempat dimana Sora Magandala sembunyikan diri.

Mendadak dari kedua ujung jari mahluk itu membersit dua larik cahaya hitam tipis nyaris tidak terlihat mata.

Dan cahaya itu melesat tanpa suara, lalu menembus pohon besar.

Di balik pohon Sora Sora Magandala mendadak merasakan ada hawa dingin yang menebar dari balik pohon.  

Lalu menyambar tubuhnya bagian bawah hingga membuat kedua kakinya sulit bergerak.

Mendapati dua kakinya sulit bergerak seolah menempel ke bumi, Sora Magandala tentu saja menjadi terheran-heran.

Dengan sekuat tenaga dia menarik dan menggerakkan kakinya. Hasilnya sia-sia.

Merasa dengan menggunakan seluruh tenaga kasar tetap tak sanggup menggerakan kakinya maka diapun segera mengerahkan tenaga dalam ke bagian kaki.

Sekuat tenaga Sora Magandala menarik, mengangkat atau menggeser kaki. Tetap saja kaki itu seperti dipantek ke bumi.

"Semua ini pasti akibat pengaruh ilmu yang dipergunakan Bethala Karma lewat serangan jari telunjuknya. Dalam keadaan begini apa yang bisa kulakukan?"

Batin Sora Magandala.

"Ha ha ha! Kau sudah dapat merasakan akibat dari serangan ini?" Seru Bethala Karma disertai gelak tawa.

Baru saja suara gelak tawa mahluk itu memecah kesunyian pagi, seperti kilat menyambar tahu-tahu Bethala Karma sudah berdiri tegak sejarak tiga langkah di depan Sora Magandala.

Melihat mahluk itu berada di depan mata, Sora Magandala berusaha bersikap tenang. Dia pandangi Bethala Karma tanpa rasa takut.

Sang mahluk menyeringai.

Dua mulut serentak memperlihatkan giginya yang runcing tajam berwarna hitam. Seringai menakutkan lenyap.

Sepasang mata yang disebelah kiri menatap ke arah mata yang di sebelah kanan. Selagi dua mata saling pandang.

Diam-diam Sora Magandala berkata pada dirinya sendiri.

"dua mahluk kembar, menetap dalam satu badan. Sudah lama aku berusaha membunuh mereka. Tapi aku tidak tahu dimana titik kelemahannya, Karena alasan itulah sampai pagi ini aku bersama Peri Halilintar tetap tak mampu untuk menghabisinya."

"Apa yang ada dalam benakmu Sora Magandala? Apa kau hendak berbuat licik untuk melarikan diri? Ha ha ha. Kau telah kukunci dengan ilmu Mencari Sasaran Menunjuk Arah. Dengan ilmu kuncian itu kau tidak akan bisa kemana-mana. Bahkan tidak bisa menggeser sedikitpun tubuhmu."

Kata mulut dikepala sebelah kanan. "Ajalmu segera tiba!"

Menimpali kepala di sebelah kiri.

Sadar dengan kebenaran ucapan Bethala Karma. Sora Magandala merasa bahwa dengan kedua tangannya yang masih bebas bergerak dia bisa menghadapi Bethala Karma.

Dia tidak mau menyerah begitu saja.

Bersikap pasrah menerima kematian bukanlah sikap seorang satria.

Sora Magandala segera mengusir segenap kebimbangan dan rasa takutnya, dia tidak perduli sebab setiap mahluk yang hidup pasti akan mati.

Cepat atau lambat datangnya kematian tidak menjadi persoalan. Tidaklah heran, dengan suara lantang laki-laki itu berkata.

"mahluk haus darah dari luar jagad. Aku tidak takut padamu. Yang takut sebenarnya adalah dirimu. Kau takut padaku?"

Setelah berkata begitu Sora Magandala meludah. Mendengar ucapan bernada mengejek, Bethala Karma menggelengkan kepala.

"Mengapa engkau katakan aku takut padamu?" Bertanya mulut dikepala yang kanan.

"Ya, mengapa kau berkata begitu?" Menimpali mulut yang dikiri.

"Mengapa? Kau punya dua kepala, dua otak Tetapi tolol! Tindakan memasung kakiku hingga menempel di tanah adalah tindakan pengecut? Bangsa kami manusia tidak pernah berlaku culas seperti yang kau lakukan padaku."

Ucapan Sora Magandala membuat kepala di sebelah kiri merasa tersinggung sekaligus geram. "Dia menuduh kita sebagai pengecut dan tolol? Kita adalah seorang panglima perang gagah

berani. Di negeri setan belum pernah ada yang menuduh kita seperti ini. Tidak terkecuali kakek moyang setan yang janggutnya menjulai hingga terseret-seret menyapu tanah."

"Ssst! Jangan diambil hati ucapannya. Dia sengaja memanasi agar kita membebaskannya dari pengaruh ilmu yang memantek kakinya. Kau tahu, dia dan sahabatnya Peri Halilintar telah membuat hidup kita susah. Selagi tak berdaya kita bunuh saja manusia yang satu ini. Baru kemudian kita pergi mencari gadis itu. Selanjutnya kita cari tiga perwira pengkhianat dan juga Mutiara tujuh Setan. Jika Mutiara Tujuh Setan telah kita temukan kita bisa angkat kaki dari negeri manusia ini secepatnya."

Kata mulut yang dikepala sebelah kanan.

Rupanya ucapan itu masuk akal bagi kepala yang sebelah kiri. Terbukti kepala itu manggut manggut tanda setuju.

Lalu tidak ubahnya dengan orang yang tertarik sesuatuu, mata kepala yang kiri melirik ke arah tubuh sebelah atas Sora Magandala.

Dengan suara berbisik dia berbicara pada kembarnya.

"Aku memilih kapalanya,kujadikan oleh-oleh saat kembali ke negeri kita." Tidak mau kalah, kepala yang kanan menyahuti,

"terserah kau mau ambil yang mana. Kalau aku lebih memilih telapak kakinya untuk kujadikan jimat atau kepala yang lain juga boleh."

"Nanti sekembalinya ke negeri aku akan menggunakannya untuk menakut-nakuti burung setan kuntul yang selalu mengusik ketentraman putri-putriku!"

"Anakmu juga anak kita."

Tukas kepala sebelah kiri bersungut-sungut. Mulut dikepala yang kanan tersenyum.

Tanpa menghiraukan senyum kepala kembaran.

Kepala yang kiri tiba-tiba angkat tinggi sepasang tangan yang berada di sebelah belakang. "Aku menginginkan kepalamu saat ini juga!"

Teriak mulut dikepala kiri menggeledek

"Aku juga menginginkan bagian tubuhmu sebelah bawah." Sambut mulut dikepala yang kanan tidak mau kalah.

Lalu dua tangan yang berada di bagian depan milik kepala di sebelah kanan dipentang lebar.

Lima jemari kanan dan kiri diacungkan ke arah bagian perut Sora Magandala. Sora Magandala tercekat.

Terlebih ketika melihat betapa sepasang tangan dari kepala yang sebelah kiri telah berubah menjadi hitam pekat menebar asap aneh berbau busuk luar biasa.

Mendapat ancaman dari dua arah sekaligus.

Sora Magandala diam-diam segera menyiapkan dua pukulan sakti.

Dua tangan yang telah teraliri tenaga dalam segera disilangkan ke depan dada.

Bethala Karma melangkah maju dengan satu lompatan disertai pekik raungan melengking.

Sora Magandala melihat betapa dua tangan mahluk bertubuh kembar itu telah meluncur deras akan mencengkeram ke arah kepala sedangkan dua tangan yang lain yang ditumbuhi kuku-kulku tajam dan panjang bergerak berusaha menjebol perut dan mencengkeram ke bagian kaki.

Angin dingin menderu mendahului gerakan empat tangan sang mahluk. Empat tangan berubah menjadi bayangan hitam dan merah.

Serangan itu dengan menggerakan tangan ke atas dan juga ke bawah.

Dari dua tangan Sora Magandala membersit empat larik cahaya hijau terang.

Dua menyambar sepasang tangan yang siap membetot kepalanya sedangkan dua cahaya hijau lainnya menghantam sepasang tangan yang mencari sasaran di sebelah bawah

Tam! Tam! Dheer! Karena Bethala Karma sengaja tidak menangkis tetapi lebih memilih lanjutkan serangannya, maka serangan berupa tangkisan yang dilakukan oleh Sora Magandala dengan telak mengenai sasaran.

Betapa terkejutnya hati Sora Magandala ketika melihat pukulan yang dilancarkannya ternyata hanya membuat tubuh lawan bergetar.

Sementara dua tangan yang mengenai pukulan itu hanya mengepulkan asap hitam tanpa mengalami cedera barang sedikitpun.

Sadar pukulan sakti Ekor Naga Membelah Gunung yang dilepasnya tidak dapat menghalau musuhnya,maka Sora Magandala segera siapkan pukulan kedua yang jauh lebih dashyat yang dikenal dengan nama Lima Payung Pelangi.

Selagi Bethala Karma sedang memperbaiki posisinya.

Pada saat itu pula Sora Magandala tidak sia-siakan kesempatan.

Dengan tangan sebelah kanan dia menghantam mahluk itu empat kali berturut-turut.

Sementara tangan kiri segera pula diputar membentuk sebuah perisai berupa cahaya warna-warni seperti Lima Payung raksasa.

Bethala Karma yang dapati dirinya diserang oleh empat cahaya sekaligus menggeram marah.

Empat tangan di angkat, lalu sambil mendorong tangan ke depan sambuti serangan cahaya warna warni.

Dua puluh jemari tangan yang dikepal terbuka. Rrret!

Wuus! Wuus! Buum!

Satu dentuman dashyat menggelegar mengguncang tempat itu.

Payung cahaya yang dijadikan Sora Magandala sebagi perisai hancur menjadi kepingan asap. Tangan kiri laki-laki itu hangus sebatas siku.

Sedangkan tangan yang dipergunakan untuk melepaskan pukulan dikobari api. Tak jauh di depannya, Bethala Karma menyeringai sambil geleng-geleng kepala.

Kemudian dengan sikap seolah tidak merasakan sakit apapun mahluk satu ini melangkah maju, Dalam keadaan tidak berdaya dimana kedua tangan mengalami cidera luka bakar yang mengerikan, Sora Magandala ternyata adalah manusia yang gagah berani dan sangat gigih.

Terbukti dengan segenap sisa kekuatan yang dia miliki, laki-laki itu berkata.

"kau boleh mengambil bagian-bagian tubuhku. Tapi demi para dewa kau tak akan permah menguasai jiwaku"

"Hergk...aku tidak butuh jiwa busukmu. Yang kuinginkan adalah kepalamu saat ini juga!" Teriak mulut yang dikepala kiri geram.

Dua tangan berkelebat diikuti dua tangan lainnva, sepasang tangan menyambar ke bagian kepala, sedangkan yang sepasang lagi menyambar ke bagian perut.

Dengan mempergunakan sikunya, Sora Magandala mencoba selamatkan diri dengan menangkis serangan itu.

Namun dalam keadaan cidera demikian rupa semua tindakan yang dia lakukan hanya sia-sia saja

Breet! Kreet!

Terdengar suara robeknya kulit serta berderaknya tulang leher yang patah. Perut laki-laki itu robek besar.

Darah menyembur dari luka mengerikan dibagian leher juga dibagian perut. Tanpa suara, tanpa jeritan Sora Magandala tersungkur roboh.

Melihat ini mulut di kepala yang kiri tertawa tergelak-gelak, sedangkan mulut dikepala yang kanan menyeringai puas.

Suara gelak tawa mulut dikepala yang bagian kiri seketika lenyap ketika tiba-tiba terdengar suara deburan ombak dan tiupan angin.

Terkejut kalau tidak dapat dikatakan terganggu dua pasang mata berpandangan.

"Di sini jauh dari laut. Mengapa ada suara deburan ombak seolah kita berada ditepi pantai?" Tanya mulut dikepala yang kanan.

"Hem. Dunia manusia memang lebih aneh dari dunia kehidupan para setan. Buat apa diambil peduli?" menyahuti mulut dikepala yang kiri, acuh

Baru saja mulut dikepala yang kanan hendak berkata, tiba-tiba terdengar suara orang berkata, "Kekejaman, ketidakadilan memang kerap terjadi di tengah kehidupan. Tapi membunuh manusia

yang tidak berdaya dan dalam keadaan terpantek pula kakinya, jelas sebuah tindakan pengecut. Iblis sekalipun mustahil mau bertindak seperti itu!"

"Sialan! Siapa yang bicara? Kami bukan iblis tapi setan!"

Sahut Bethala Karma dengan menggunakan suara kedua mulutnya.

Satu mulut saja bila sedang bicara bisa membuat telinga menjadi pengang. Apalagi yang kini buka suara dua mulut sekaligus.

Suara Bethala Karma yang menggelegar membuat daun di pepohonan gugur rontok. Tapi suara itu rupanya tidak berpengaruh bagi orang yang memberi teguran.

Terbukti terdengar suara tawa sebagai balasan.

Dua pasang mata saling berpandangan. Bethala Karma heran.

Namun yang membuatnya lebih heran lagi suara gemuruh deburan ombak tiba tiba raib seiring dengan terdengarnya tawa orang yang datang.

"Dua mulut kita berbicara berbarengan. Hanya mahluk sejenis kita yang dapat menahan suara kita. Apakah orang yang bicara dengan kita setan juga?"

Bisik mulut dikepala yang kiri

"Mungkin dia malah buyutnya setan, siapa perduli?"

Dengus mulut dikepala yang kanan. Secepat kilat dia menoleh, menatap dibalik rumpun pepohonan dimana suara berasal.

"Aku tidak punya waktu berdiam di tempat ini selayaknya mahluk tolol. Harap lekas tunjukan diri.

Kalau tidak.."

Belum sempat Bethala Karma selesaikan ucapannya, dari balik pohon terdengar suara menyahuti "Kalau tidak, apa kau hendak membunuhku juga? Mahluk sombong!"

Setelah berkata demikian dari balik pohon berkelebat satu bayangan hitam.

Demikian cepat gerakan sosok ini hingga belum sempat mata Bethala Karma mengedip di depannya tiba-tiba sudah berdiri seorang kakek tua renta bertubuh kurus berpakaian serba hitam.

Orangtua ini berambut putih panjang menjela.

Di atas kepalanya bertengger sebuah kupluk yang dibalut dengan selembar kain hitam terlipat.

Di atas bibir dihiasi kumis tipis dibagian dagu yang lonjong dipenuhi bulu-bulu yang putih panjang namun terpelihara.

Mengetahui orang yang datang bukanlah mahluk sebagaimana dirinya. Bethala Karma tambah belingsatan.

Kepala yang dikanan berkata.

"kukira dedengkotnya setan yang datang menghampiri kita. Tidak tahunya hanya kakek tua renta bau tanah. Satu telah kita buat mampus. Satunya lagi menunggu giliran untuk di pesiangi! sungguh orang tua tolol yang tak pernah melihat tingginya langit."

Menyahuti mulut dikepala yang kiri.

Seusai berucap demikian dia menatap ke depan.

Kepala yang disebelah kanan ikutan menatap ke arah yang sama.

Melihat mahluk yang anggota tubuhnya serba sepasang ini menatap ke arahnya, si kakek yang tak lain adalah Ki Ageng Sadayana segera maklum yang berdiri di depannya tidak lain adalah Bethala Karma.

Makluk luar jagad yang di tempat asalnya adalah seorang panglima besar.

Kini dia melihat Bethala Karma ternyata telah berhasil lolos dari ruang penjara api yang terdapat di kaki gunung Dieng.

"Apakah aku pernah mengenalmu?"

Bentak Bethala Karma dengan mata mendelik. Ki Ageng Sadayana yang sempat tertegun dan teringat dengan asal mula munculnya mahluk itu perlahan tengadahkan wajah menatap ke arah Bethala Karma. Seulas senyum yang sempat menghias bibirnya lenyap seketika.

Tanpa ragu Ki Ageng Sadayana anggukkan kepala.

*****

Malam terasa sunyi di kawasan kali Kresek.

Bulan memancarkan cahaya redup di kaki langit timur.

Bintang-bintang bertaburan berkelip selayaknya kunang-kunang dimalam hari.

Disebuah pendataran batu-batu hijau yang ditumbuhi lumut, terlindung di bawah pohon beringin besar ada tiga lelaki berpakaian putih berkepala botak plontos selayaknya biksu.

Ketiganya duduk diam dalam keadaan bersila dan dalam posisi silang berhadap-hadapan. Dengan mata terpejam tiba-tiba pria yang ditengah keningnya terdapat sebuah tanda berupa titik aneh bersimbol bintang membuka mulut.

"Menunggu datangnya petunjuk dari para dewa dengan berdiam ditempat ini sampai seratus tahun ke depan pun rasanya sebagai suatu upaya yang sia-sia."

Mendengar ucapan itu pria di sebelah kiri yang keningnya terdapat tiga tanda bintang dengan cepat menyahuti.

"Mengapa kau berkata begitu perwira satu?"

Belum sempat pria bertanda satu bintang dikening menyahuti.

Sekonyong-konyong orang satunya lagi yang dikeningnya terdapat dua tanda bintang menyela. "Dia berkata demikian karena dia sadar kita ini setan. Para dewa tidak menyukai mahluk seperti

kita karena perbuatan nenek moyang kita di masa lalu!"

"Husst...jangan bicara ngaco. Manusia sendiri tidak selamanya baik. Mereka juga sama seperti kita. Ada yang baik dan ada juga yang jahat. Dan kita bukanlah setan durjana. Kita tiga setan baik, tiga setan putih yang rela mempertaruhkan nyawa demi menyelamatkan suatu benda dari tangan jahat mahluk yang bernama Bethala Karma. kita harus bersabar, setiap petunjuk tidak selalu datang dari langit. Tapi bisa juga datang dari bumi."

Sergah pria dengan tiga tanda yang tak lain adalah Perwira ketiga. Sebagaimana dikisahkan dalam episode sebelumnya.

Adapun ketiga pria berpakaian putih dan perpenampilan layaknya sebagai biksu itu tak lain adalah Tiga Perwira Setan yang di rimba persilatan dikenal dengan sebutan Tiga Setan Putih. Mereka ini dulunya adalah perwira yang berasal dari istana kuno dari luar jagad.

Mereka meninggalkan negerinya karena terjadi kekacauan luar biasa di negerinya. Mereka membawa sebuah benda keramat yang dikenal dengan nama Mutiara Tujuh Setan. Awalnya mereka terdiri dari tujuh perwira.

Tapi dalam pelariannya menuju kehidupan manusia, mereka dikejar oleh Bethala Karma dan pasukan tangguh berkuda.

Empat perwira terbunuh di tangan Bethala Karma.

Pasukan Bethala Karma yang jerih menghadapi kemarahan ketiga perwira tu kembali ke istana setan.

Lewat sebuah tipu muslihat tiga perwira setan ini akhirnya sanggup melumpuhkan Bethala Karma dan menjebloskannya dalam kerangkeng penjara besi menyala.

Bethala Karma sendiri sebenarnya adalah seorang panglima perang tertinggi di istana kuno.

Ketiga perwira dan empat perwira lain yang berhasil dibunuhnya tidak lain adalah bekas bawahannya sendiri.

Bethala Karma yang gila perang diketahui oleh ketiga perwira itu ingin membunuh raja guna mendapatkan Mutiara Tujuh Setan yang dapat menjadikan dirinya tidak tersentuh kematian. Dan dia dapat menjadi penguasa seluruh alam kehidupan.

Niat busuk Bethala Karma telah tercium oleh tiga perwira setan itu dan juga empat perwira lain yang tewas terbunuh.

Tiga Perwira Setan atau Tiga Setan Putih, sesampainya di rimba persilatan menitipkan Mutiara Tujuh Setan pada seorang kakek bernama Raga Sontang dan Ki Ageng Sadayana.

Sedangkan untuk menjaga penjara dimana Bethala Karma disekap Tiga Perwira Setan mempercayakannya pada Peri Halilintar dan Sora Magandala.

Sebelum ketiga perwira setan itu memutuskan untuk melakukan tapa brata di reruntuhan candi tua yang terletak di Gerobokan, mereka juga menitipkan sebuah Kitab Batu bertulis.

Isinya antara lain merupakan petunjuk penting tentang keamanan atau tanda-tanda terbebasnya mahluk sakti itu.

Kitab Batu bertulis itu terbakar dengan sendirinya di tempat penyimpanan dalam gua di tepi sungai Serayu.

Kejadian ini juga sebenarnya telah diketahui oleh ketiga perwira setan itu.

Mereka mulai khawatir ketika utusan yang dipercaya oleh Raga Sontang ternyata tidak kunjung munculkan diri di reruntuhan candi tua.

Mereka sama sekali tidak tahu bahwa setelah meninggalkan reruntuhan candi telah terjadi kekacauan di tempat itu.

Durganini gadis bertubuh mirip kera kehilangan saudaranya bernama Durgandala, dia sendiri jika tidak ditolong oleh tujuh mahiuk aneh penghuni Mutiara Tujuh Setan sudah menemui ajal.

"Segala yang dikatakan oleh perwira tiga memang benar. Dewa mengabulkan permohonan semua mahluk."  

Ujar perwira satu setelah sempat terdiam cukup lama.

"Selagi masih bisa nafas dan bisa kentut rasanya kita selalu punya harapan untuk melenyapkan Bethala Karma.Bantuan bisa datang dengan tidak terduga.Pemuda aneh berambut gondrong bernama Raja itu bukankah telah berjanji untuk menolong dan membantu kita." berkata perwira tiga penuh harapan.

Merasa yang diucapkan perwira tiga ada benarnya, perwira dua manggut-manggut Sambil mengusap wajahnya yang lonjong berdagu selayaknya kawanan lebah bergelayut dia berujar pula.

"Maafkan aku karena telah menyimpulkan segala sesuatu dengan tergesa-gesa. Aku tahu banyak manusia berkepandaian tinggi yang telah membantu kita. Mereka tidak hanya sakti dan berkepandaian tinggi. Mereka juga orang baik berhati polos. Mutiara Tujuh Setan harus kita bawa kembali ke istana kuno. Namun kita tidak bisa lkembali ke negeri kuno bila Bethala Karma tidak kita singkirkan!"

"Kau benar perwira dua. Bethala Karma memang harus dibunuh. Jika kita tidak melakukannya maka kitalah yang akan dihabisinya. Dia mahluk yang sangat berbahaya, paling keji. Kekejiannya bukan hanya terhadap sesama kita tetapi juga pada setiap orang yang dijumpainya."

Kata perwira itu.

"Aku berharap. Mudah-mudahan Raja bisa mengakhiri sepakterjang Bethala Karma. Jika sang mahasakti Raja Gendeng bisa membunuhnya. Berarti di masa yang akan datang kita tidak akan berurusan lagi dengan panglima perang keparat itu."

Geram perwira Tiga yang diam-diam merasa jerih melihat kekuatan bekas pimpinan tertingginya itu. Perwira dua dan perwira satu bersungut-sungut membenarkan ucapan sahabat mereka. Setelah itu ketiganya diam tercenung.

Angin dingin berhembus sepoi-sepol.

Ditengah kesunyian yang hanya dikuti suara gemericik air. Tiba-tiba saja terdengar suara orang meniup seruling.

Tiga perwira setan tersentak kaget.

Mereka saling memandang heran tidak menyangka di tempat terpencil sunyi seperti itu ternyata masih ada orang lain

"Siapa yang meniup seruling?"

Bertanya perwira satu seraya menatap dua sahabatnya silih berganti. Perwira dua angkat bahu disertai gelengan kepala.

"Suara seruling itu merdu. Tapi ada rasa sedih penasaran dan kebingungan peniupnya." Gumam perwira Tiga yang mempunyai ilmu dapat membaca emosi dari nada suaranya. "Ditempat kita tidak ada peniup seruling semerdu itu. Tapi irama seruling kini berubah sedih. Aku jadi terbawa ikutan sedih. Huk huk huk!"

Kata perwira Dua dengan air mata berlinangan.

"Hei, Jangan terbawa arus irama seruling, Kau bukan setan bodoh. Pergunakan kekuatan untuk melenyapkan pengaruh suara apa saja yang datang dari sekitar kita!"

Seru setan perwira satu.

Perwira ini tidak sadar bahwa saat itu dia sendiri juga sebenarnya ikut menitikkan air mata. Ketika dua perwira sahabatnya melihat air mata meleleh menuruni kedua pipi perwira satu,

perwira tiga tidak kuasa menahan gelak tawa.

"Dua mahluk cengeng. Kau dan dia sama saja. Sama-sama mudah dihanyutkan oleh perasaan." ujar perwira tiga yaitu perwira paling tinggi diantara dua perwira lainnya.

Merasa malu sambil cepat seka air mata kedua perwira itu segera kerahkan tenaga dalam dan menyalurkannya ke kedua belah telinga masing masing. Ketika aliran tenaga sakti menutup liang telinga mereka. Dari setiap lubang telinga tiba-tiba mengepul asap berwarna merah pekat. Melihat ini perwira tiga segera berseru.

"He...asap yang keluar dari telinga kalian berwarna merah. Aku berani menjamin peniup serulingnya pasti berpakaian dan berpenampilan serba merah."

"Bagaimana kau bisa tahu?" Tanya perwira Dua heran.

"Ha ha ha. Apa kau lupa bahwa aku ini setan yang serba tahu?" Jawab perwira tiga sekenanya.

"Sssst. Suara seruling makin mendekat. Perwira tiga kau jangan tertawa lagi. Bersiaplah menghadapi segala kemungkinan!"

Kata perwira dua.

Dia langsung bangkit. Dua temannya mengikuti.

Dengan sikap waspada ketiganya menatap ke satu jurusan tempat dari mana tiupan seruling berasal. Penantian mereka tidak berlangsung lama.

Sekejap kemudian seiring dengan lenyapnya suara seruling. Di depan mereka tahu-tahu telah berdiri dua sosok tubuh.

Satu perempuan muda dan satunya pria. Lelaki itu berpakaian dan berambut merah dikepang ke atas melengkung seperti tanduk.

Di tangannya ada sebuah seruling.

Tiga Perwira Setan sama sekali tidak mengenal siapa adanya lelaki berpenampilan serba merah

ini. Namun ketika mereka alihkan perhatian pada gadis berambut panjang awut-awutan berpakaian biru, membekal cambuk yang tergantung dipinggangnya.

Ketiga perwira itu merasa lega.

Sambil tersenyum perwira tiga melangkah maju, lalu membungkukkan tubuh sebagai tanda penghormatan.

Mewakilii dua sahabatnya, perwira tiga berseru,

"Anak dara bernama Sakantili, biasa dijuluki Peri Halilintar. Salam hormat kami atas kedatanganmu juga sahabat yang bersamamu ini. Kami tidak mengira bertemu denganmu di sini. Maafkan kami karena tidak bisa memberikan jamuan apa pun padamu dan sahabat itu. "

Ketika berucap, mata perwira tiga menatap dengan heran pada pemuda berambut merah yang diriasi seperti tanduk.

Melihat perwira tiga dan lirikan dua perwira lainnya yang sepertinya memendam rasa curiga pada pemuda di samping nya, si gadis yang bukan lain memang si Peri Halilintar adanya cepat membalas salam orang itu dengan membungkukkan badan dalam-dalam.

"Paman perwira satu, dua dan tiga tidak perlu berprasangka pada pemuda yang bersama saya ini.

Dia adalah saudara saya. Namanya Tanggul Api. Dunia persilatan mengenalnya sebagai Seruling Halilintar!"

Menjelaskan sang dara.

Diluar dugaan mendengar disebutnya julukan Tanggul Api, tiga perwira setan bersurut mundur. Mata terbelalak mulut tercengang tak percaya.

Melihat para perwira setan ini terkejut bukan olah-olah maka Peri Halilintar kerutkan keningnya. Heran bercampur rasa tidak mengerti dia membuka mulut ajukan pertanyaan.

"Hei, apa yang terjadi dengan paman bertiga? Aku mengatakan sebutan saudaraku, lalu mengapa kalian mendelik kaget seperti melihat hantu jelek polos telanjang?"

Saling berpandangan. Perwira dua melangkah maju. Setelah berada disamping Perwira tiga dia hentikan langkah.

"Peri Halilintar! Apakah kau masih sahabat kami. Apakah kau juga masih bisa kami percaya menjalankan suatu amanat besar yaitu menjaga kerangkeng penjara api dijurang sempit di kaki gunung Dieng?"

Tanya perwira itu dalam keraguan.

Pertanyaan perwira dua terasa aneh, namun Peri Halilintar yang menyadari Tiga Perwira Setan nampaknya kurang menyukai kehadiran Tanggul Api buru-buru jawab pertanyaan orang.

"Segala amanat tetap dijalankan dengan sebaik-baiknya. Tapi mungkin paman bertiga sudah tahu, mahluk laknat yang saya jaga telah lolos dari kerangkeng penjara.Aku sendiri hampir dibuatnya celaka. Dan belakangan setelah sampai di reruntuhan candi tua tempat dimana paman bertiga selama ini melakukan tapa ternyata tempat itu telah porak poranda, Saya tidak tahu gerangan apa yang telah terjadi. Tapi saya menemukan jenazah seorang kakek bernama Ki Agung Saba Biru. Jenazah itu memang tidak terlihat ujud kasarnya lagi, tapi saudara saya ini tahu kakek itu telah terbunuh di sana."

Walau terkejut mendengar penjelasan Peri Halilintar, ketiga perwira tetap bersikap tenang.

Perwira satu yang memilih sikap tetap berdiri di belakang dua perwira sahabatnya segera menjawab.

"Ketika kami tinggalkan candi tua, di sana tidak ada kejadian apapun. Tidak ada perkelahian dan tidak ada seorangpun yang menjadi korban."

"Tapi kenyataannya guruku terbunuh di tempat itu. Reruntuhan candi tua kami lihat dalam keadaan porak poranda!"

Sentak Tanggul Api.

Sejak tadi sebetulnya dia merasa tidak suka dipandangi selayaknya orang yang telah melakukan kejahatan besar.

"Mengenai nasib kakek yang adalah gurumu itu kami tidak tahu. Kami ikut merasa prihatin atas kepergiannya. Kau boleh merasa tersinggung dengan cara kami memandangimu tetapi kami juga punya alasan sendiri mengapa bersikap seperti itu padamu?"

Tegas perwira tiga hingga membuat suasana berubah menjadi tegang.

"Mengapa kalian tidak menyukai aku. Memangnya kesalahan apa yang telah aku lakukan?" Tanya Tanggul Api tambah kesal.

"Ya, mungkin sekarang aku telah kehilangan sahabat Sora Magandala karena membantu kalian paman. Kalau saudaraku telah melakukan kesalahan, Kesalahan apakah yang telah dia lakukan?"

Peri Halilintar ajukan pertanyaan pula.

"Saudaramu itu. Bukankah kau mengatakan saudaramu dengan sebutan Seruling Halilintar?" Tanya perwira dua.

"Itu benar."

"Apakah kau tidak tahu selama ini manusia yang berjuluk Seruling Halilintar telah melakukan serangkaian perbuatan keji? Membunuh orang orang yang tidak bersalah juga membuat rata dusun bambu tempat kami menanam kebajikan?"

Ucap perwira tiga, Mengertilah Tanggul Api dan Peri Halilintar mengapa ketiga perwira itu merasa tidak suka kepadanya.

Tapi karena terlanjur marah, Tanggul Api berkata kepada saudaranya.

"Kau lebih mengenal bagaimana watak ketiga perwira edan itu. Jelaskan padanya apa yang telah terjadi. Jangan pula lupa, katakan pada mereka bahwa aku sendiri telah kehilangan seruling sakti itu selama lebih dari satu purmama." Dengus Tanggul Api sambil sentakan kepala dan layangkan perhatian ke tempat lain. Melihat saudaranya kesal, Peri Halilintar berkata menggoda.

"Untung kau tidak kehilangan seruling yang satunya lagi ya saudaraku. Kalau tidak hidupmu tambah menyebalkan. Hik hik..."

Tanggul Api tak menghiraukan gurawan saudaranya. Melihat kemarahan saudaranya tidak surut juga, Peri Halilintar segera menatap ke arah tiga perwira setan. Setelah menghela nafas sambil memperhatikan sekeliling sekilas, sang dara berkata.

"saudaraku itu bukan pembunuh. Seruling Halilintar telah lenyap selama lebih dari empat pekan pada saat dia sedang dirundung duka atas kematian gurunya."

Belum sempat Peri Halilintar menyelesaikan ucapannya, perwira satu tiba-tiba memotong "Hei sahabat peri, harap kau tidak bicara ngaco!"

"Apanya yang ngaco?" Sahut gadis itu pula.

"Bukankah tadi kau mengatakan gurunya sudah mati?"

Kata perwira tiga dengan suara lembut karena tidak menginginkan terjadi ketegangan antara mereka.

"Memang benar."

"Kalau sudah tiada,mengapa tadi kau dan saudaramu itu ada menyebut bahwa Ki Agung Saba Biru kemungkinan tewas di reruntuhan candi tua tempat pertapaan yang telah kami tinggalkan," menyela perwira satu.

"Memangnya guru saudaramu itu ada berapa?"

Perwira satu bertanya pula. Mendapat pertanyaan bertubi-tubi dari perwira setan itu, Peri Halilintar menatap pada saudaranya.

"Apa yang terjadi memang membingungkan. Tetapi lebih baik bicarakan dengan mereka apa adanya."

Pinta Tanggul Api perlahan.

"Begini... sebuah kejadian yang sulit dimengerti agaknya tengah dialami oleh saudaraku ini." kata Peri Halilintar.

Selanjutnya dia menceritakan semua yang dialami oleh Tanggul Api termasuk juga tewasnya Tunggul Angin serta mayat Ki Agung Saba Biru dalam peti mati yang ketika dibuka ternyata isinya adalah seekor beruang mati.

Selesai Peri Halilintar menjelaskan, perwira satu tiba-tiba menjelaskan pada perwira dua. "Aku merasa ada sesuatu muslihat di balik kematian Ki Agung Saba Biru. Dia tidak mati. Dia

berpura-pura mati. Lalu mengambil kembali seruling yang telah diberikan kepada muridnya untuk melakukan serangkaian kejahatan, sehingga muridnya yang harus menanggung akibatnya walau bukan dia yang melakukan pembunuhan dengan seruling maut itu!" Ucap perwira dua.

"Kalau dugaan kalian benar. Ada sesuatu yang sangat penting dirahasiakan Ki Agung Saba Biru dari muridnya. Mungkin.mungkin saja guru Tanggul Api melakukan pembunuhan dengan satu tujuan. Yaitu ingin mendapatkan mutiara tujuh setan."

Timpal perwira Tiga.

Mendengar ucapan mereka, Tanggul Api yang sempat mendengarnya merasa tersinggung "Kalian tiga perwira setan. Beraninya menuduh guruku melakukan tindakan tidak terpuji. Aku

mengetahui guruku tidak punya keinginan apaapa atas benda itu!"

Sentak Tanggul Api sambil memperhatikan tiga perwira di depannya dengan tatap mata tidak suka.

"Maafkan aku dan dua temanku ini, anak muda."

Sela perwira dua sambil menjura dalam-daiam. Belum sempat perwira ini menyelesaikan ucapannya. Perwira tiga sebagai perwira tertinggi dibandingkan dengan dua perwira lainnya tiba-tiba memotong.

"Anak manusia yang bernama Tanggul Api. Maafkan kami sekali lagi bila telah lancang bicara.

Terus terang kami tidak menuduh gurumu. Gurumu mungkin tidak mempunyai keinginan untuk memiliki mutiara setan. Tapi bagaimana kalau ki Agung Saba Biru melakukan semua ini atas perintah seseorang...?"

"Gurumu menerima perintah untuk mendapatkan mutiara dengan imbalan sesuatu. Misalnya imbalan kehidupan abadi atau imbalan ilmu sakti yang dapat membuat awet muda."

Kata perwira satu pula. Tanggul Api diam tercenung.

Setelah sempat berpikir dia pun mengajukan pertanyaan.

"Siapa yang dapat memberikan kehidupan abadi. Manusia sakti mana yang punya kemampuan menjadikan seorang tua bangka keriputan menjadi muda kembali?"

Bentak Tanggul Api.

Melihat kemarahan saudaranya tambah memuncak, Peri Halilintar merasa tidak enak hati pada tiga perwira itu.

Tidak ingin kesalahpahaman berlanjut, Peri Halilintar cepat berucap,

"Tiga setan putih sahabatku. Katakan terus terang padaku juga pada saudaraku ini. Siapa yang dapat memberikan kehidupan abadi pada Ki Agung Saba Biru?"

"Yang dapat melakukannya tentu saja Bethala Karma." Jawab perwira dua.

"Siapa Bethaia Karma?" Tanya Tanggul Api nad penasaran.

"Bethala Karma adalah mahluk yang baru saja terlepas dari kerangkeng api yang berada dalam pengawasanku selama belasan tahun."

Terang Peri Halilintar membuat Tanggul Api tambah meradang. Seakan tidak percaya dia tatap gadis di sampingnya.

Dengan mata terbelalak Tanggul Api menggeram

"Mahluk jahat.Bagaimana kau bisa mengatakan bahwa guruku telah bersekutu dengannya? " "Peri Halilintar.Kami tidak sekedar menduga."

sela perwira tiga tanpa keraguan.

Tanpa memberi kesempatan pada Tanggul Api dan sang dara, perwira berkepala plontos itu melanjutkan.

"Tanggul Api, kau harus percaya bahwa gurumu sebenarnya belum mati. Ketika kau menunggui peti matinya. Sebenarnya gurumu berada di tempat yang lain. Dia pergi membawa seruling, senjata andalanmu."

"Jadi dia telah menipu aku?"

Geram Tanggul Api marah tapi masih juga belum percaya.

"Mungkin dia tidak bermaksud memperdaya atau menipu dirimu. Yang dilakukannya itu menyangkut kepentingan pribadi. Dia tidak ingin tersentuh kematian. Dia ingin hidup abadi. Kemudian datang tawaran menjanjikan dari Bethala Karma."

"Tunggu...!"

Potong Peri Halilintar. Perwira tiga hentikan ucapan.

Sambil menatap Peri Halilintar dia pun bertanya.

"Aku dan dua perwira setan tidak pernah merahasiakan apa pun darimu Peri Halilintar. Bila ada sesuatu yang tidak berkenan katakan pada kami."

"Ya. saya memang ingin tahu bagaimana caranya Bethala Karma menemui Ki Agung Saba Biru. Sementara Bethala Karma sendiri selama ini berada dalam kerangkeng menyala dan terus menerus dalam pengawasanku dan sahabatku Sora Magandala?"

Tanya Peri Halilintar tidak mengerti.

Pertanyaan sang dara itu membuat tiga perwira setan itu saling pandang. Setelah ketiganya saling senyum, perwira satu membuka mulut.

"Ketahuilah, sahabat.Tubuh Bethala Karma bisa saja terperangkap dalam kerangkeng baja membara. Namun sukmanya bisa mengembara gentayangan kemana-mana. Disaat berada di luar raganya sukma itu bisa menjelma menjadi siapa saja. Aku menaruh dugaan, sukma Bethala Karma telah menemui gurumu, Tanggul Api." Terang perwira itu sambil menatap Tanggul Api.

"Guruku bukan manusia lemah. Aku tidak percaya dia bisa diperdaya oleh Bethala Karma!" Kata Tanggul Api dengan suara berdengus.

"Percaya atau tidak. Kami telah menjelaskan sebagian besar tentang Bethala Karma dengan benar. Dan kami bukanlah mahluk yang suka berdusta!"

Tegas perwira tiga.

"Setan mana yang tidak pernah berdusta, heh!" Dengus Tanggul Api tambah kesal.

Setelah berkata demikian, Tanggul Api tiba-tiba melompat maju. Dua tangan mengepal disertai pengerahan tenaga dalam.

Melihat Tanggul Api menunjukkan gelagat menyerang, Peri Halilintar melompat maju sambil membentak

"Saudaraku, apa yang hendak kau lakukan?" Tak kalah dingin Tanggul Api menjawab,

"Aku ingin menghancurkan mulut setan-setan itu!"

"Jhe...sial! Dia hendak menghancurkan mulut kita yang bagus ini!" Kata perwira satu.

Perwira dua dan tiga tidak menanggapi sebaliknya setelah menyeringai mereka cibirkan bibir ke depan.

Di luar dugaan bibir mereka menjulur panjang laksana mulut karet. Lalu...

Clepot! Nyyua...!

Tidak dapat dihindari lagi pipi kiri-kanan Tanggul Api terkena kecupan bertubi-tubi membuat pemuda itu tambah marah.

Sementara itu perwira satu melihat kelakuan kedua sahabatnya tertawa tergelak-gelak.

Tapi tawa perwira ini lenyap ketika melihat dua perwira di depannya mengusap bibir mereka yang mengepulkan asap seperti terbakar.

"Apa yang terjadi?"

Pikir perwira satu dan segera mendatangi.

Sampai di depan mereka perwira ini memperhatikan.

Ternyata bibir kedua perwira itu terlihat monyong bengkak mengembung seperti diantuk lebah. Melihat ini perwira satu tak kuasa menahan gelak tawa.

"Bibir kalian? Mengapa jelek monyong begitu? Ha ha ha..."

"Sialan! Dia memiliki ilmu yang dapat menjadikan pipinya sepanas bara api. Bagusnya tidak lama bibir ini mendarat di pipinya."dengus perwira satu penasaran.

"Aku juga seharusnya tidak jadi jontor begini. Bukankah kita-kita ini berasal dari api!" Ucap perwira tiga.

Kemudian tanpa bicara lagi perwira tiga monyongkan bibirnya lebih ke depan. Dengan menggunakan hidungnya dia meniup bibir itu.

Asap biru mengepul meniup bibir itu.

Ketika kepulan asap lenyap, bibir perwira tiga kembali ke bentuk semula. Melihat atasannya berhasil sembuhkan luka sendiri, perwira duapun ikut meniup. Asap kuning menderu bercampur ingus, menyapu ke bagian mulutnya.

Ketika tebaran asap lenyap, bibir perwira dua pun kembali ke bentuk semula. "Dia tidak percaya pada kita." kata perwira tiga sambil mengusap bibirnya. "Kalau begitu kita turuti saja apa yang menjadi keinginannya."

Menyahuti perwira dua.

"Harap tidak ada perkelahian diantara kita!"

Sentak Peri Halilintar menengahi. Sekali bergerak gadis ini telah berada ditengah Tanggul Api dan para perwira itu. Melihat saudaranya menghalangi keinginannya, Tanggul Api berseru,

"Saudaraku harap segera menepi. Jangan halangi niatku menggebuk orang yang telah menghina guruku."

"Mengapa harus berkelahi? Masih banyak urusan penting yang harus diselesaikan!" "Harusnya memang demikian!"

Ucap perwira tiga memberi dukungan. "Sebenarnya kau berpihak pada siapa?"

Tanya Tanggul Api disertai sorot mata kecewa pada Peri Halilintar.

Sang dara tersenyum

"Aku berada di pihak yang benar. Kau adalah saudaraku dan mereka adalah sahabat-sahabatku.

Percayalah semua ini hanya salah pengertian saja." "Huh!"

"Aku kecewa. Tapi demi menghormatimu, aku mengalah. Sekarang kalau mau bicara dengan mereka bicara saja. Tapi jangan ajak diriku membicarakan urusan mereka."

Dengus Tanggul Api.

Setelah berucap demikian dengan wajah muram pemuda itu melangkah tinggalkan perwira setan dan Peri Halilintar. Dia lalu duduk di bawah pohon yang letaknya agak jauh dari tempat ketiga perwira berada.

"Sebelumnya harap maafkan kami karena telah membuat saudaramu marah." Kata perwira tiga mewakili sahabatnya. Peri Hallilintar tersenyum.

Dia kemudian duduk di atas sebuah batu besar yang bagian atasnya terlihat datar selayaknya bangku. Melihat sang peri duduk para perwira mengikutinya. Setelah saling duduk dalam posisi berhadapan, Peri Halilintar segera menceritakan semua kejadian di kaki gunung Dieng.

"Saya seorang diri dan tidak sanggup menghentikan Bethala Karma. Mahluk satu itu terlalu tangguh. Aku hampir dibuatnya celaka!"

Terang Peri Halilintar, Cukup lama tiga perwira setan terdiam mendengar penjelasan si gadis.

Mereka dapat memaklumi tingginya ilmu kesaktian Bethala Karma Walau mereka tahu ilmu kesaktian Peri Halilintar tidak dapat diragukan.

Namun Bethala Karma bukan lawan bagi gadis cantik itu.

Belasan tahun yang lalu pun para perwira itu nyaris terbantai seluruhnya jika tidak menggunakan muslihat.

"Kami semua tidak pernah menyalahkan dirimu sahabat. Bethala Karma memang bukan lawan yang mudah. Ilmunya luar biasa, kami tiga perwira walau menyerang sekaligus tidak dapat mengalahkannya."

"Artinya kita harus mencari bantuan lagi. Jika tidak, cepat atau lambat dia pasti bakal menghabisi kita!"

Sahut Peri Halilintar. "Ya."

Sahut perwira dua.

"Kita telah banyak kehilangan orang-orang dekat kita. Saat ini saya sendiri curiga, tidak tertutup kemungkinan sahabatmu Sora Magandala telah tewas di tangannya"

"Bagaimana kau bisa berkata begitu?" Tanya perwira dua heran.

Peri Halilintar tersenyum. Bibir tersenyum namun hati terasa bersedih. "Firasatku mengatakan demikian. Biasanya firasat ini tidak meleset." Terang sang dara. Tiga perwira setan sama tundukan kepala.

"Jika yang kau katakan itu benar, kami bertiga turut berduka juga merasa bersalah. Jika Sora Magandala tidak kami libatkan dalam urusan dengan Bethala Karma, kemungkinan dia tidak akan mengalami nasib seperti itu."

Ucap perwira dua dengan mata berkaca-kaca. Peri Halilintar menggeleng.

"Jangan menyalahkan diri sendiri. Anggap saja semua ini merupakan takdir dan kehendak dewa. Sekarang adalah apakah paman bertiga tidak menemukan mutiara itu atau adakah orang yang diutus oleh kakek Raga Sontang telah menyerahkan benda kramat itu pada kalian?"

Tiga perwira setan saling berpandangan. Hampir serentak mereka menggeleng. Mewakili dua perwira lainnya, perwira satu membuka mulut berterus terang.

"Utusan kepercayaan kakek Raga Sontang kemungkinan memang telah meninggalkan Papandayan. Tapi utusan itu belum juga sampai di reruntuhan candi kuno. Kami tidak tahu apa yang terjadi dengannya. Kerena tidak kunjung datang kami memutuskan untuk menyusulnya. Sementara seorang pendekar bernama Raja yang juga dikenal dengan julukan Sang Maha sakti Raja Gendeng saat ini sedang mencari Bethala Karma."

Jelas perwira dua.

"Sang Maha Sakti Raja Gendeng?" Desis Peri Halilintar.

"Nama itu akhir-akhir ini sering dibicarakan orang. Kabarnya dia seorang pendekar hebat. Tapi agak aneh dan suka berbuat gila. Benarkah kalian bertemu dengannya?"

Tanya Peri Halilintar seolah tidak percaya.

"Ya, dia telah bertemu dengan kami." menjawab perwira tiga.

Perwira itu kenudian menceritakan tentang wangsit yang telah diterima oleh salah seorang dari mereka.

"Dia bersedia membantu kami." kata perwira tiga pula.

"Walau pemuda itu mau membantu paman bertiga, apa yang terjadi nanti kita belum tahu. Yang jelas masih banyak masalah yang harus diselesaikan,"

"Kau benar Peri Halilintar. Tidak jelas siapa orang yang sebenarnya yang dipercaya mengantar Mutiara Tujuh Setan pada kami. Bethala Karma terus mengincar benda itu," kata perwira tiga.

"Ki Ageng Sadayana sahabat kakek Raga Sontang dari Pangandaran hingga saat ini belum kita ketahui kabar beritanya. Mengapa orang tua itu seolah menutup mata dengan semua urusan yang berkaitan dengan Mutiara Tujuh Setan?"

Tanya perwira satu pula.

"Jika dia tahu mutiara Tujuh Setan telah dibawah turun dari puncak Papandayan. Seharusnya sekarang atau dua hari yang lalu orangtua itu telah menemui kita di candi tua."

Sela perwira dua dalam keraguan. Peri Halilintar tertegun dan berkata dalam hati.

"apapun yang terjadi di puncak Papandayan, Ki Ageng Sadayana pasti telah mengetahuinya.

Malah tidak tertutup kemungkinan penguasa sekaligus sesepuh di Pangandaran itu telah mengatur muslihat untuk mencegah berbagai pihak yang berniat menguasai Mutiara Tujuh Setan."

"Anak dara sahabat kami, apa yang sedang kau pikirkan?"

"Aku tak dapat menebaknya. Namun aku bisa merasakan saat ini pikiranmu mengembara Jauh ke suatu tempat."

Kata perwira dua membuat. Peri Halilintar kaget

"Eh...eng...maafkan diriku. Aku memang memikirkan Mutiara Tujuh Setan dan juga kakek bernama Ki Ageng Sadayana itu.Mudah-mudahan beliau tidak berdiam diri membiarkan para sahabat bertiga menghadapi kesulitan dalam menyelamatkan benda itu."

"Karena itu kita harus melawan Bethala Karma. Apapun yang bakal terjadi kita harus menyingkirkan mahluk satu itu. Sehingga kalian dapat kembali ke negeri kalian dengan membawa kembali Mutiara Tujuh Setan dalam keadaan aman."

Kata Peri Halilintar. Mendengar ucapan sang dara, tiga perwira setan terlihat menghela nafas lega. Sambil tersenyum perwira satu berkata.

"Aku sudah menduga kau gadis yang baik. Sekian lama membantu kami, kau tidak menuntut imbalan apaapa. Mewakili teman-teman aku mengucapkan banyak terima kasih yang mendalam. Kami pasti tidak akan melupakan budi kebaikanmu untuk selama-lamanya."

"Iya..andai aku punya anak yang gagah." berkata perwira tiga.

"Rasanya aku ingin mengambilmu sebagai menantu. Sayang, putraku tidak ada yang gagah dan tampan. Selain itu kepalanya bertanduk pula."

Ucapan perwira tiga membuat dua sahabatnya yang lain tak kuasa menahan tawa. Peri Halilintar tersipu. Wajahnya bersemu merah, namun ia cepat berkata.

"sudah! Jangan bicara melantur tak karuan kejuntrungannya. Lebih baik kita berangkat dan mencari orang yang kita yakin membawa benda keramat itu."

"Benar. Kita memang harus menemukan pembawa mutiara sebelum Bethala Karma menemukannya lebih dulu."

Timpal perwira tiga.

Semua orang yang duduk di bebatuan itu segera bangkit. Peri Halilintar segera mendatangi Tanggul Api.

selanjutnya mereka bersama-sama meninggalkan tempat itu.

******

Di Tepi hutan Alas Tegalan Pura Anom.

Pada malam menjelang pagi hujan turun rintik-rintik.

Di sebuah dangau tak terawat tempat dimana para pencari rotan biasa beristrahat.

Seorang gadis bertubuh pendek berpakaian hijau berwajah cantik namun ditumbuhi bulu-bulu halus duduk termenung di depan pintu berlantai panggung.

Sesekali si gadis yang bukan lain adalah Durganini ini menatap kegelapan di sekeliling dangau. Tidak ada tanda tanda yang mencurigakan dilihatnya.

Yang ada hanyalah suara gemerisik daun yang bergoyang atau kelepak kelelawar yang kembali ke sarangnya. Durganini menghela nafas dalam.

Hembusan angin bercampur embun bertiup, membuat tubuh gadis itu menggigil.

Diapun meraih topi caping yang terbuat dari anyaman bambu yang tergeletak di lantai. Topi itu didekapnya untuk untuk mengusir hawa aneh yang memancar dari dalam tubuhnya.

Sejurus kemudian dia melirik ke arah ruangan tempat dimana seorang pemuda berambut gondrong berpakaian kelabu tergeletak telentang dalam keadaan tidur terlelap.

Tidur pemuda itu sesekali terusik oleh suara dengkuran dan racauannya sendiri.

Sesekali pula terdengar suara gumaman yang tidak jelas

"Pagi datang tidak akan lama lagi. Dari semalaman aku tidak pernah bisa memejamkan mata.

Apa yang harus kulakukan? Membangunkan dia sebelum waktunya?"

Pikir Durganini, gadis kepercayaan kakek Raga Sontang yang nyaris kehilangan nyawa karena mempertahankan Mutiara Tujuh Setan.

Sebagaimana diketahui Mutiara Tujuh Setan sengaja dia simpan di dalam tubuhnya. Selagi Durganini tenggelam dalam lamunannya.

Tiba-tiba pemuda di sampingnya yang tidak lain adalah sang Maha Sakti Raja Gendeng kembali mengigau.

"Nyam...nyam...enak!"

"Hei, apanya yang enak? Apakah kau mendapat makanan dari Bidadari? Lekas bangun. Sebentar lagi matahari munculkan diri. Aku telah menjagamu hampir semalaman." kata Durganini.

Raja menggeliat. Mulutnya komat-kamit, mata juga masih terpejam. Namun dari mulutnya itu tidak terdengar sepatah katapun ucapan.

"Bangun!"

Teriak Durganini yang diam-diam merasa tertarik dengan ketampanan dari pendekar yang satu

ini.

Raja tersentak. Mata terbuka lebar. Secepat kilat dia bangkit lalu selayaknya orang bingung dia

memperhatikan si gadis dan dangau tak berdinding itu. "Heh. Memangnya kita berada dimana?"

Tanya Raja sambil mengusapi kedua matanya.

"Kita di tepi hutan. Kalau tidak salah namanya Alas Tegalan Pura Anom. Kau kira kita berada dimana?"

Kata Durganini bertanya pula. Sang pendekar menggaruk rambutnya. Sambil senyum senyum sendiri dia menjawab.

"Oh, kukira kita berada di sebuah penginapan mewah. Aku malah sempat bermimpi disuguhi hidangan enak dan lezat oleh para gadis cantik. Tidak tahunya aku berada di dalam dangau butut tanpa makanan atau minuman yang bisa diseruput. Mungkin memang sudah menjadi nasib kura dan siput."  

Mendengar ucapan Raja, kening Durganini mengkerut. Dari mulut mungilnya meluncur ucapan. "Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan. Atau mungkin kau suka bicara seorang diri

selayaknya seorang yang kehilangan akal?"

"Bicara sendiri tidak ada yang melarang. Aku kadang melakukannya namun tidak berarti hilang akal. Kalau sedikit gila memang ya. Ha ha ha!"

Sahut Raja disertai gelak tawa.

"Pemuda sinting! Pantas kau dijuluki Raja Gendeng. Julukan itu sangat sesuai dengan dirimu." dengus Durgadini

Setelah berkata demikian Durganini segera melompat turun dari dangau. Melihat ini Raja ikutan bangkit dan segera hendak mengikutinya. Namun belum sempat dia melangkahkan kaki. Durganini tiba tiba menegur

"Mau apa kau?"

"Aku mau ikut denganmu."jawab Raja enteng disertai kedipan mata.

Berdebar hati dara cantik yang dipenuhi bulu itu. Tapi dia mencoba mengabaikan perasaan hatinya.

"Jangan bertindak gila? Aku bukan mau pergi. Aku cuma ingin membersihkan diri di sungai itu!" Kata si gadis sambil menunjuk ke arah sungai.

Sang Maha Sakti Raja Gendeng julurkan kepala dan menatap ke arah yang dimaksud. Dibalik semak dan pepohonan dia memang melihat ada sebuah sungai.

Raja tidak tahu apakah air di sungai itu jernih atau tidak. Saat itu suasana masih terang-terang tanah.

Dan matahari belum munculkan diri di ufuk timur.

"Siapa yang hendak berbuat gila. Gadis berbulu sepertimu walau cantik apanya yang menarik.

Kalau kau mau mandi memangnya aku tidak boleh ikutan mandi? Siapa tahu kau butuh bantuan menggosok daki di tubuhmu yang ditumbuhi bulu. Dari pada batu yang kau pakai untuk menggosok. Lebih baik pakai tanganku untuk menggosoknya. Kujamin semuanya jadi bersih. Ha ha ha!"

Wajah yang ditumbuhi bulu-bulu halus namun lebat itu nampak merah padam. Sambil menelusuri jalan setapak menuju sungai Durganini menjawab,

"pendekar gendeng mata keranjang. Jangan berbicara melantur. Jangan pula berbuat gila. Kau boleh menunggu aku di situ. Kalau mau mandi, sebaiknya kita mandi gantian saja. Sekarang kau yang berjaga-jaga. Apakah sudah cukup jelas?"

"Sangat jelas sekali. Kebetulan aku belum tuli, Tapi mandi bersama-sama menurutku lebih enak.

Kita bisa saling bersama-sama menjaga dan mengawasi. Ha ha ha!" Kata pemuda itu diiringi tawa menggoda. "Diam! Berani melanggar perintah aku tidak segan membunuhmu!" sentak gadis itu mengancam "Baiklah! Aku patuhi perintahmu. Biar aku duduk di sini menjagaimu sambil membayangkan

gadis-gadis cantik yang menemuiku di dalam mimpi" setelah berkata demikian, Raja duduk bersender pada tiang penyangga dangau.

Durganini lenyap dari pandangan. Sang pendekar menghela nafas.

Dan selagi pemuda ini tenggelam dalam pikirannya. Tiba-tiba Raja dikejutkan oleh terdengarnya suara bertengkar untuk berebut tempat. "Aku sudah lama menetap di hulu pedang gila ini. Dan kau perempuan cantik mengapa tetap memaksakan diri agar bisa tinggal bersamaku dalam ruang sempit dihulu pedang ini?"

Raja mengenali suara yang didengarnya itu adalah suara sang jiwa sahabatnya yang bersemayam di hulu pedang.

Dia hendak membuka mulut. Namun pemuda ini segera urungkan niatnya ketika tiba-tiba dia dengar ada suara lain yang menanggapi ucapan jiwa sahabatnya.

"Aku tahu. Tapi berilah kesempatan kepadaku untuk tinggal juga di hulu pedang ini. Aku tidak mungkin berkeliaran di luar sana. Aku baru saja melarikan diri.."

"Melarikan diri dari siapa?" Tanya sang jiwa penasaran.

"Seseorang yang memiliki ilmu kesaktian dan kepandaian tinggi terus mencari, mengejar dan ingin menangkapku."

Jawab jiwa bersuara perempuan.

"Dia manusia atau mahluk seperti kita?" Tanya jiwa sahabat Raja.

"Manusia, sama seperti gusti rajamu. Tapi dia sangat jahat. Itulah sebabnya aku melarikan diri dan berusaha menghindar darinya."

Terang jiwa perempuan.

"Hmm, apapun persoalan yang kau hadapi kukira itu menjadi urusanmu sendiri. Seperti yang kukatakan ruangan tempat tinggalku ini terlalu sempit. Aku tidak mau berdesak-desakan berbagi tempat denganmu. Lagi pula aku laki-laki dan kau perempuan."

"Kau jiwa laki-laki dan aku perempuan. Berada di suatu ruangan berdesak-desakan bukankah enak? Kau harusnya merasa beruntung karena aku cantik sekali. Sedangkan wajahmu biasa-biasa saja. Mahluk roh diseluruh alam kehidupan saja terpesona melihat kecantikanku, masakan kau tidak? Hik hik hik"

Kata jiwa perempuan diringi gelak tawa.

"Kau gadis yang sulit diatur. Beberapa kali kau datang mengusik ketentramanku. Sekarang kau terus mengemis agar aku berbagi tempat dengan mu. Mana mungkin?" Kata jiwa sahabat Raja bersikeras dengan pendiriannya.

"Tolonglah aku! Jiwa dan hatiku tidak seburuk tingkahku. Ijinkanlah aku tinggal bersamamu di hulu pedang ini!"

Kata jiwa perempuan dengan suara memelas

"Kau mahluk kesasar. Mengapa tidak tinggal saja di pohon-pohon selayaknya hantu, kuntilanak atau dedemit?"

Dengus jiwa sahabat Raja.

Karena tidak dapat melihat wujud kedua mahluk halus itu sambil senyum-senyum Raja terus mendengarkan.

"Kalau nasehatmu itu aku turuti, cepat atau lambat orang itu pasti menemukan diriku lagi."kata jiwa perempuan.

Ada kekhawatiran dalam ucapannya

"Kau cantik tapi tubuhmu bau jengkol. Bagaimana aku bisa menetap bersamamu?"

Dengus jiwa sahabat Raja

"Kalau pagi atau siang hari memang begitu. Tapi percayalah bila malam hari aku adalah mahluk yang paling harum diseluruh bumi.Bolehkan aku tinggal di sini, didalam hulu pedang ini bersamamu?" kata jiwa perempuan merengek

"Kalau kuizinkan, apa imbalan yang bisa kudapat?" Tanya jiwa pedang gila.

Terdengar suara tawa mengikik.

Tawa itu kemudian lenyap lalu terdengar ucapan.

"Aku bisa membantu gusti rajamu dalam menghadapi masalah yang sulit. Mungkin saja kelak aku jatuh cinta padamu. Kau bisa menjadi kekasihku. Tapi bila disuruh memilih aku lebih suka kepada gusti rajamu itu. Dia tampan, gagah dan seorang pendekar, Kukira itu yang lebih kusukai."

Jawab jiwa perempuan seadanya.

"Gadis cantik sialan. Dasar genit. Tapi terus terang aku tidak bisa memutuskan sendiri apakah kau boleh menetap bersamaku dalam hulu pedang ini atau tidak. Tanya saja pada gusti rajaku yang mulia, sang Maha Sakti Raja Gendeng!"

Ujar jiwa sahabat sang pendekar.

"Kau saja yang bicara padanya. Lihatlah!"

"Orangnya sedang melamun dan mungkin saja sedang mendengarkan ucapan kita."

Mendengar ucapan jiwa perempuan yang bersikeras yang ingin ikut tinggal dalam hulu pedang.

Raja tiba-tiba menggeliat, mulut menguap lebar.

Tak terduga dia membuka mulut ajukan pertanyaan.

"Ada apa ribut-ribut? Walau tidak melihat, aku sudah mendengar apa yang kau bicarakan. Jiwa sahabatku, Jika ada orang yang memaksa meminta tinggal bersama. Mungkin kau sebaiknya berlapang hati berbagi tempat dengannya."

"Paduka raja, saya ribut dengannya karena saya tidak mau tinggal bersama dengan gadis cerewet ini."

Jawab jiwa.

"Dia mengaku dirinya cantik, apa seperti itu yang kau lihat?"

Tanya Raja sambil senyum-senyum "Dia memang cantik gusti."

"Jika cantik mengapa kau tidak mau berbagi tempat dengannya?" Tanya pemuda itu lagi.

"Eh eng...anu paduka. Anu dia bau jengkol!" Jawab jiwa dengan suara terbata.

"Anu apa maksudmu? Apakah anunya berberbau jengkol? Jangan bersikap tidak terpuji jiwa sahabatku."

Ucap Raja sambil menahan tawa di hati. Jiwa sahabat Raja tambah gugup "Bukan...bukan itu. Maksud saya tubuhnya bau jengkol"

Sambil senyum-senyum Raja berucap.

"kalau begitu suruh saja dia mandi. Berendam di sungai sebelah sana bersama Durganini seharian penuh masa bau tubuhnya tidak hilang juga!"

"Ah, gusti ada-ada saja."

"Aku tidak mengada-ada. Mungkin saja yang dikatakannya benar. Seorang berilmu sangat tinggi sedang mengejar dirinya. Coba tanyakan padanya apakah dia seorang pelarian yang telah melakukan kesalahan besar?"

Belum sempat jiwa sahabat Raja menjawab. Raja mendengar jiwa perempuan berkata.

"Paduka Raja. Saya bukan pelarian. Saya terpaksa melarikan diri dari orang itu karena dia sering bersikap hendak berbuat kurang ajar terhadap diri saya!"

Raja terdiam, namun keningnya berkerut.

Dia berpikir mahluk jiwa perempuan diyakininya bukan mahluk lemah.

Sama seperti jiwa sahabatnya dia pastilah mahluk sakti tanpa badan kasar.

Jika manusia yang mempunyai raga dan tubuh kasar dapat mempermainkannya bahkan dapat berlaku kurang ajar terhadapnya.

Siapapun adanya orang yang pernah menjadi majikan jiwa perempuan pastilah bukan orang sembarangan.

Raja menduga kemungkinan saja orang itu mempunyai ilmu kesaktian jauh lebih tinggi dibandingkan dengan kesaktian yang dia miliki? "Paduka Raja, apa keputusan paduka? Apakah perempuan bau jengkol ini paduka izinkan tinggal bersama diri saya dalam hulu pedang?"

Tanya jiwa sahabat Raja dalam rupa ngiangan.

"Tunggu jiwa sahabatku. Aku masih ingin bertanya pada jiwa perempuan kesasar yang minta tinggal bersamamu itu!"

Kata Raja.

"Silahkan paduka. Saya menunggu apapun keputusan paduka!" Ucap jiwa penghuni pedang gila.

"Jiwa perempuan aku tidak melihat rupamu namun mendengar apapun yang kauucapkan!"

Berkata sang pendekar dengan suara lirih namun jelas

"Saya mengerti gusti.Memangnya gusti hendak bertanya apa? Apakah gusti ingin tahu selain cantik saya bahenol atau tidak. Lalu ingin juga tahu apakah dada saya rata atau munjung..."

Belum sempat jiwa perempuan menyelesaikan ucapan.

Jiwa penghuni pedang cepat memotong sekaligus mendamprat.

"Mahluk gelo. Jangan berani bicara sembarangan pada gusti rajaku. Biar gendeng begitu paduka benar-benar seorang raja!"

Bentak sang jiwa marah. Melihat kemarahan sahabatnya, Raja hanya senyum-senyum saja.

Namun dia sendiri cepat menambahkan.

"Aku adalah orang yang suka bergurau, namun bergurau tidak pada tempatnya bisa membuatku melupakan permohonanmu itu, jiwa perempuan cantik."

"Gusti, maafkan saya. Sekarang saya siap mendengar untuk menjawab apa yang gusti ingin tanyakan pada diri saya."

Kata jiwa perempuan dengan suara takut. Raja manggut-manggut. Sebelum ajukan pertanyaan dia melirik ke arah sungai tempat dimana Durganini bersegar diri. Setelah itu dia membuka mulut.

"apapun yang terjadi denganmu termasuk juga segala masalah yang kau alami. Aku merasa ikut prihatin. Sekarang aku hanya ingin bertanya apakah kau sebelumnya pernah tinggal disebuah tempat atau...!"

"Saya menetap pada sebuah senjata berhawa jahat yang selalu dipergunakan oleh pemiliknya untuk menebar kejahatan. Pemilik senjata sebenarnya manusia juga seperti diri paduka. Namun orang yang mengenalnya menyebutnya sebagai iblis!"

Menyahuti jiwa perempuan.

"Dapatkah kau mengatakan siapa orang yang kau maksudkan itu?" Tanya sang pendekar.

"Tid... tidak. Saya tidak berani mengatakannya sekarang. Tapi saya berjanji, jika paduka mengizinkan saya tinggal bersama jiwa sahabat paduka kelak saya akan beri tahu. Tidak hanya itu saya juga akan membantu paduka dalam menghadapi berbagai kesulitan yang bakal paduka hadapi sebagaimana yang dilakukan jiwa penghuni pedang sahabat Paduka."

Ucap jiwa perempuan bersungguh hati. "Hem, begitu."

Gumam sang pendekar sambil manggut-manggut.

"Aku mungkin memberi izin. Tapi kalian tidak ada ikatan suami istri. Tinggal dalam satu ruangan yang sama dalam hulu pedang. Bagaimana kalau kalian akhirrnya saling tertarik? Lalu kau menjadi hamil?"

Tanya Raja dengan suara sumbang dalam keraguan.

"Ih,amit-amit. Mahluk seperti saya tidak seperti manusia paduka. Manusia punya nafsu sedangkan saya tidak!"

Sahut jiwa sahabat Raja.

"Yang dikatakannya benar paduka. Kalau saya terus terang memang mempunyai nafsu sedikit sedikit! Hik hik hik!"

Sahut jiwa perempuan pula sambil tertawa.

"Nah seperti yang saya katakan. Perempuan satu ini sinting dan gila paduka." Sahut jiwa penghuni pedang.

"Ha ha ha. Jiwa sahabatku, bukankah lebih enak tinggal satu ruangan dengan perempuan sinting?"

Kata Raja diringi tawa.

"Hah! Paduka jangan berkata begitu. Saya tidak mau berbagi dengan perempuan ini!"

Kata jiwa bersikeras dengan pendiriannya. Mendengar ucapan jiwa, Raja sempat dibuat bingung.

Namun setelah berpikir sejenak dengan sikap berwibawa dia berucap.

"jiwa sahabatku aku ingin bertanya kepadamu, kepada siapakah engkau patuh?" Pertanyaan itu karuan saja membuat jiwa penghuni pedang tersentak kaget.

Buru-buru dia menjawab. "Tentu saja pada paduka Raja."

"Kalau kau memang sahabatku dan patuh pada perintahku. Aku memutuskan kau harus memberi kesempatan kepada jiwa perempuan tinggal dalam hulu pedang bersamamu!"

Tegas Raja.

"Perempuan seperti dia apakah pantas? "

"PantaÅŸ tidaknya kita harus menguji. Kau dan dia keluarlah dari hulu pedang." Perintah Raja.

Walau tidak mengerti, jiwa pedang dan jiwa perempuan keluar dari hulu pedang patuhi perintah sang pendekar. Raja hanya merasakan desis angin dua kali berturut-turut lewat ditelinga yang kiri juga yang disebelah kanan.

"Kami sudah keluar, saat ini saya ada di sebelah kanan paduka sedangkan perempuan itu ada di depan sebelah kiri paduka!"

Menerangkan jiwa penghuni pedang

"Kalian berada di depan mataku pun aku tak mungkin bisa melihat terkecuali atau kehendak para dewa. Sekarang aku ingin agar kalian bisa menjelma, memperlihatkan diri dalam bentuk apapun!"

"Apakah permintaanku ini dapat dilakukan?"

Dua sosok gaib yang berdiri didepan Raja saling pandang. Jiwa penghuni pedang yang asli menganggukkan kepala.

"Aku bisa paduka. Saya akan memperlihatkan diri dalam bentuk cahaya biru. Warna itu adalah warna keadaan diri saya."

Menerangkan Jiwa sahabat Raja. "Bagaimana dengan dirimu jiwa perempuan?"

Tanya Raja sambil menatap ke arah mana jiwa perempuan berada.

"Hik hik hik. Tentu saja saya bisa paduka. Karena saya suka yang serba hijau seperti ulat.

Sekarang saya akan menampakan wujud saya dalam rupa cahaya hijau!" "Lakukanlah!"

Perintah sang pendekar tak sabaran.

Dengan sikap seolah-olah ingin unjuk kehebatan masing-masing, jiwa penghuni pedang dan jiwa perempuan kerahkan tenaga sakti yang mereka miliki.

Begitu tenaga dalam dialirkan keseluruh tubuh tanpa jasad mereka. Tiba-tiba saja...

Byar! Byarr!

Dua cahaya tiba-tiba muncul di depan Raja.

Satu cahaya berwarna biru dan satunya lagi berupa cahaya hijau.

Munculnya dua cahaya berpijar disusul dengan adanya sebuah proses pembentukan diri berupa masing-masing satu sosok tubuh samar terlindung cahaya.

Sosok samar dalam naungan cahaya biru berwujud seorang laki-laki muda berbadan kurus sedangkan satunya lagi berupa sosok perempuan berpakaian serba hijau.

Baik perempuan maupun laki-laki di depan Raja samasama berwujud sosok samar yang baik tubuh maupun wajahnya tidak dapat dilihat dengan jelas

"Hei, kalian berdua seperti bayang-bayang saja."

Gumam sang pendekar sambil tersenyum. Raja kemudian menatap ke arah sosok jiwa sahabatnya. Kepada mahluk dari alam roh itu dia berucap. "kau muncul di hadapanku, sayang aku tidak bisa melihatmu. Rupa dan raut wajahmu pun tidak lebih dari sekedar bayang-bayang."

"Paduka, saya sama seperti dia. Karena tidak mempunyai tubuh kasar atau jasad. Keadaannya ya seperti ini. Saya harap paduka tidak kecewa!"

Jawab jiwa penghuni pedang. Raja menggumam sambil mengusap dagunya yang ditumbuhi bulu-bulu halus. Diapun kemudian alihkan perhatian pada jiwa perempuan yang berdiri di sebelah kirinya.

"Kau juga. Wajahmu juga tidak dapat kukenali. Dengan keadaan seperti ini bagaimana mungkin jiwa pedang bisa mengatakan kau mempunyai wajah cantik, berkulit putih lembut. Pada hal yang kulihat saat ini dari tubuh sebelah atas sampai kekaki warnanya hijau semua. Penampilanmu mengingatkan aku pada kotoran kerbau. Bagaimana jiwa sobatku bisa mengatakan dirimu cantik? He he he."

Kata Raja disertai tawa mengejek.

"Paduka. Karena saya dan dia sama-sama tidak mempunyai tubuh kasar. Tentu saja keadaan kami tidak terlihat secara nyata. Kami tidak sempurna. Saya memang cantik. Malah saya memiliki wajah paling cantik di antara jiwa-jiwa perempuan yang lain"

"Dia benar gusti. Jiwa perempuan tidak berdusta. Dia memang sangat cantik. Kuntilanak dari liang kubur sekalipun tidak dapat menandingi kecantikannya. Ha ha ha!"

Kata jiwa pedang sambil bergurau.

"Jiwa penghuni pedang sialan. Aku yang sudah cantik begini malah dibandingkan dengan hantu.

Harap kau tidak menghinaku seperti itu lagi.Kalau tidak....!" kata jiwa perempuan namun tidak meneruskan ucapannya.

Sebaliknya mahluk dalam naungan cahaya hijau melirik ke arah Raja yang termangu tertegun sambil kedip-kedipkan matanya. Karena wujudnya hanya berupa sosok samar terlindung cahaya, tentu sang pendekar melihat kedipan itu secara samar pula.

Bersikap selayaknya orang yang terkejut.Raja berseru.

"hei, kenapa dengan matamu. Mengapa berkedip seperti itu? Kelilipan ya, ha ha ha!"

"Gusti. Jangan diambil peduli. Dia bukan kelilipan, perempuan genit memang selalu begitu sering kedipkan mata."

Potong jiwa pedang sambil unjukan jiwa cemberut "Jangan dengar ucapannya gusti."

"Jiwa sobat gusti itu sebenarnya merasa iri dengan kecantikan saya."

Tukas jiwa perempuan tidak mau kalah. Karena kedua jiwa tidak ada yang mau mengalah, sang maha sakti Raja Gendeng yang tidak mau dibuat pusing oleh ocehan mereka tibatiba bangkit berdiri

"Kalian berdua sebaiknya menjauh. Mengambil jarak. Jangan saling pandang karena tatapan mata memiliki sejuta makna."

Walau tidak mengerti mengapa gusti rajanya meminta mereka menjaga jarak namun kedua mahluk itu dengan patuh mengikuti apa yang diperintahkan Raja.

Setelah melihat kedua mahluk itu saling menjauh Raja pun berujar.

"jiwa sobatku dan jiwa perempuan yang kelak menjadi sahabatku juga. Kalian dengar baik-baik.

Aku tidak mau melihat kalian terus bertengkar."

Tegas Raja sambil menatap kedua mahluk itu silih berganti.

"Maafkan saya dan jiwa perempuan yang tidurnya selalu mendengkur itu paduka. Mungkin saya membuat paduka kesal."

"Aku kesal? Aku tidak kesal pada kalian. Aku hanya ingin kalian menjadi akur." Sahut Raja sambil menahan tawa.

"Saya juga minta maaf gusti."

Timpal Jiwa perempuan sambil bungkukan badan menjura dalam-dalam.

"Hem, baiklah. Aku tak ingin mendengar kau dan jiwa sahabatku berselisih tempat tinggal.

Kepada jiwa pedang harap suka berbagi dengan sesama. Tapi untuk menentukan layak tidaknya jiwa perempuan untuk bersama-sama dengan kita. Aku mau ada sebuah penjajakan yang cukup adil" terang Raja hingga membuat jiwa perempuan dan Jiwa pedang saling pandang.

"Penjajakan bagaimana yang paduka maksudkan?" Karena tidak mengerti jiwa pedang ajukan pertanyaan.

"Aku ingin kau dan jiwa perempuan memperlihatkan kepadaku kehebatan yang kalian miliki." "Apakah saya juga perlu memperlihatkan kehebatan yang lain. Seperti memperdengarkan suara

saya yang merdu misalnya. Hik hik!"

Kata jiwa perempuan disertai tawa namun cepat katupkan mulutnya ketika melihat jiwa pedang delikan mata kepadanya.

"Jangan beriebihan, Jiwa perempuan."

Tukas jiwa pedang. Kemudian diapun berkata.

"paduka mengapa saya harus berkelahi dengannya? Menurut manusia laki-laki dan perempuan tidak boleh berkelahi. Tapi kalau bergumul itu memang tidak dilarang dan itupun tidak memakai senjata."

"Jangan bicara ngaco. Aku sama sekali tidak mengerti apa yang kau bicarakan kecuali sedikit." Ucap Raja sambil menahan senyum.

"Ketahuilah, mulai sekarang aku mau kalian berdua tinggal dalam satu hulu pedang. Karena kalian hanya terdiri dari tubuh halus selembut angin maka aku yang menjadi pengendali kalian, Kalian berdua harus patuh pada aturanku, aturan seorang raja walau cuma Raja Gendeng. Aku berharap kita bertiga dapat bersatu menjadi satu kekuatan." "Bila kita saling memberi dukungan satu sama lainnya, maka setiap persoalan yang kita hadapi dapat diselesaikan dengan sebaik-baiknya."

Jelas Raja.

Dua mahluk dari alam roh itu sama anggukkan kepala tanda setuju. "Saya setuju. Saya sangat mendukung keputusan paduka itu."

Kata jiwa perempuan. Tidak mau kalah jiwa pedang melangkah maju dan buru-buru berucap.

"saya juga ikut mendukung. Tiga kekuatan bergabung menjadi satu, mengemban tugas dalam satu tujuan yaitu demi tegaknya sebuah keadilan. Kedengarannya bagus sekali."

"Ya. Tiga kekuatan tergabung dalam satu pedang. Dan aku lebih suka menyebutnya 313. Apakah kalian setuju?"

Tanya Raja sambil menatap dua mahluk yang berdiri mengambang di depannya. "Tiga satu tiga. Menurut paduka apakah bukan angka yang aneh?"

Tanya jiwa perempuan.

"Tiga jiwa melebur dalam satu kesepakatan. Kita setiap saat bisa saling menjaga, saling mengingatkan. Pedang gila dapat kita jadikan pedoman sekaligus alat untuk mengatasi persoalan, bila lidah tidak bisa lagi diharapkan untuk mencapai kata sepakat. Aku rasa tidak ada yang aneh." gumam sang pendekar.

Baru saja Raja selesai berucap, tiba-tiba jiwa perempuan, mahluk cantik ini mendehem.

Mendengar ini Raja pun berkata.

"Apa yang hendak kau sampaikan?"

"Anu paduka. Saya ingin mengatakan jika paduka berkenan menerima diri saya dan jiwa pedang sudi berbagi tempat dengan saya. Saya pasti akan ikut berjuang bersama paduka dalam keadaan senang dan susah."

"Oh bagus itu. Aku senang mendengarnya." Sambut Raja disertai tawa.

"Tiga Satu Tiga. Kelak dikemudian hari orang akan mengenal sang maha sakti Raja Gendeng pendekar tiga satu tiga. Saya setuju paduka. Tapi kemudian apa yang harus aku lakukan paduka?"

Berkata jiwa pedang. Dalam hati dia berharap junjungannya tidak meminta melakukan sesuatu yang membahayakan.

Raja manggut-manggut Mata menerawang. Sementara matahari pagi terlihat semakin tinggi. "Bagaimana kalau aku meminta kalian menunjukkan kehebatan masing-masing?"

Kedua jiwa yang berada di depannya melengak kaget "Gusti. Apakah keputusan itu tidak keliru?"

Sentak jiwa perempuan.

"Apakah saya tidak salah mendengar gusti!" Kata jiwa pedang pula.

"Tidak ada yang keliru dan aku yakin telingamu tidak salah mendengar jiwa sobatku."

Tegas Raja. Dua mahluk alam roh didepannya saling tatap, sekujur tubuh samar dalam ujud cahaya tampak bergetar.

Tiba-tiba saja jiwa perempuan berjumpalitan mundur sambil keluarkan seruan.

"Cihui ahah...siapa yang takut. Orang ingin mengetahui kehebatan saya. Biar hanya perempuan tapi saya ini bukan perempuan sembarangan."

Kata mahluk itu sambil melenggang lenggokkan tubuhnya menari-nari. Melihat jiwa perempuan yang sepert mengejeknya, jiwa pedang pun merasa di tantang.

"Aku juga tidak takut pada perempuan bau sepertimu. Lihat serangan!" Teriak jiwa pedang.

Baru saja jiwa pedang hendak menyerang jiwa perempuan. Tiba-tiba gadis itu berseru.

"Hei, jangan buru-buru. Kau hendak menyerangku dibagian tubuh yang mana? Yang disebelah atas atau yang disebelah bawah? Kalau yang disebelah atas pasti indah dan jika yang disebelah bawah kujamin sangat menyeramkan. Hik hik hik."

Goda jiwa perempuan disertai tawa mengakak "Gadis mesum sialan!"

"Jika kuserang semuanya memang mengapa?" Geram Jiwa pedang dengan suara berdengus "Jika begitu serakah namanya. Hi hi hil" Sahut jiwa perempuan.

Sambil mengumbar tawa dia kembangkan kedua tangan bersikap selayaknya orang yang siap memeluk.

Raja yang mendengar ucapan jiwa perempuan menjadi geli. Sambil sembunyikan senyum dia palingkan kepala ke jurusan lain.

Selagi sang pendekar menoleh, kesempatan itu dipergunakan jiwa pedang untuk menyerang jiwa perempuan.

Serangan yang dilancarkan jiwa pedang yang datangnya secepat kilat menyambar menderu ke bagian kaki.

Disebelah atas serangan dua tangan jiwa pedang melanda bagian kepala dan bahu kiri lawannya.

Melihat empat serangan ganas datang bersamaan dan berlangsung cepat luar biasa. Tidak ada pilihan lain lagi bagi jiwa perempuan.

Sambil melompat mundur hindari tendangan kaki dan hantaman dua tangan, jiwa perempuan lambungkan tubuh ke atas. Empat serangan ganas lolos dari sasaran.

Namun dengan memutar tubuh dan hentakan kaki tahu-tahu jiwa pedang telah berada di depan lawan berdiri sejajar berhadap-hadapan.

Tidak ingin celaka keduluan orang, jiwa perempuan tarik dua tangan ke belakang. Begitu dua tangan bergerak ke depan tahu-tahu...

Desss! Dessss!

Dua pukulan telak mendarat tepat di dada jiwa pedang.

Membuat mahluk itu terjungkal ke belakang tapi hebatnya sambil menahan sakit, kakinya masih sempat berkelebat menyambar pinggul jiwa perempuan.

Dheg...!

"Ughk..!"

Jiwa perempuan menjerit tertahan, dia jatuh terbanting. Tapi belum sempat tubuhnya yang seringan kapas itu menyentuh tanah, tiba-tiba dia sentakan kedua kaki. Gerakan kaki ini diringi dengan gerakan kepala.

Wuut!

Dilain kejap jiwa perempuan telah bangkit berdiri.

Memandang ke depan dan dilihatnya jiwa pedang telah tegak pula dengan tubuh setengah membungkuk menahan sakit di bagian perutnya.

Tapi di luar dugaan jiwa pedang tiba-tiba dorong kedua tangan ke arah jiwa perempuan. Dua gulung cahaya berbentuk bundar pipih seperti meteor berwarna biru redup berkiblat. Jiwa perempuan yang tadinya sempat tersenyum mengira lawan tidak berdaya tercekat. "Bola Akherat Melanda Bumi!"

Desis jiwa perempuan yang rupanya mengenali dua pukulan sakti yang dilakukan lawannya itu. Konon dedengkotnya iblis sekalipun pasti binasa kalau sampai terkena serangan sehebat itu. Tak ingin mati konyol. Jiwa perempuan segera geser kaki kirinya ke belakang.

Kaki kanan di tekuk membentuk kuda-kuda.

Sedangkan dua tangan dijulurkan lurus ke depan, Dua ibu jari lalu diacungkan dan selanjutnya dua ibu jari diputar sebat.

Cahaya hijau terang menderu bergulung- gulung membentuk sebuah lingkaran bundar selayaknya sarang laba-laba.

Raja yang melihat betapa panas cahaya hijau berbentuk jaring raksasa itu segera merasakan sekujur tubuhnya dilumat api.

Sambil berdecak penuh kagum pemuda ini segera melompat mundur untuk menghindari sengatan hawa panas luar biasa itu. Baru saja sang pendekar berdiri di tempat yang aman.

Dua cahaya biru yang melesat dari tangan jiwa pedang menghantam jaring raksasa yang berasal dari putaran dua telunjuk jiwa perempuan.

Buuum! Buuuum! Wuarkh...!

Ledakan keras berdentum menggelegar dua kali berturut-turut disusul dengan suara jerit mengerikan.

Dua sosok tubuh berupa cahaya biru dan hijau sama-sama terpelanting jauh ke belakang.

Guncangan hebat disertai getaran keras luar biasa membuat tempat itu porak poranda seperti dilanda gempa.

Raja sendiri bila tidak berlaku waspada dengan menyalurkan tenaga dalam ke bagian tangan dan sekujur tubuhnya lalu menahan ledakan dengan gerakan mendorong kedua tangan ke depan, kemungkinan besar bisa ikut dibuat celaka.

Berkat perlindungan dan sikap pertahanan diri yang dilakukannya, sang pendekar hanya terpental sejauh tiga tombak lalu jatuh terduduk dengan sekujur tubuh serasa luluh lantak

"Edan. Mengapa mereka sepertinya hendak saling bunuh? Aku hanya minta mereka untuk saling menjajal kemampuan masing-masing. Tapi mengapa yang terjadi seperti ini?"

Desis Raja dengan nafas megap-megap, wajah pucat dan dada serasa mau meledak.

Khawatir terjadi sesuatu yang tidak diingini, terdorong oleh keinginan untuk memulihkan diri secepatnya, pemuda itu segera duduk bersila pejamkan kedua mata.

Sambil mengatur aliran darah yang kacau sang pendekar mengatur nafasnya.

Setelah kekuatannya pulih dan segala kekacauan yang terjadi dalam alur nafas dan aliran darah menjadi normal kembali, murid nenek sakti Nini Balang Kudu dan Ki Panaraan Jagad Biru sang manusia setengah dewa itu layangkan pandang ke depan.

Dia melihat di tengah kepulan asap dan kobaran api kawasan seluas lebih dari dua ratus tombak dalam keadaan hancur porak poranda.

Sebagian pohon hancur menjadi kepingan dan sebagian lagi ludes dimakan api.

Lubang-lubang sebesar kubangan kerbau terdapat dimana-mana dalam keadaan menganga hitam dipenuhi asap.

Penasaran tidak melihat kedua jiwa itu, pemuda ini lalu bangkit.

Tapi baru saja dia hendak memutar tubuh sambil layangkan pandang ke segenap penjuru arah, tiba-tiba saja sang pendekar merasakan rasa sakit yang nyeri luar biasa pada bagian telapak tangannya.

Heran bercampur rasa ingin tahu membuat Raja mengangkat tangan kanannya lalu memperhatikan bagian telapak tangan yang sakit.

Keningnya berkerut dan dua matanya membelalak lebar dalam keheranan juga perasaan tidak percaya.

Dia melihat di telapak tangan terdapat dua luka aneh, seperti luka torehan benda panas yang menyala.

Pada bagian luka yang menghitam tertera angka 313. Sadar dengan ucapannya sendiri.

Dan merasa apa yang terjadi dengannya semua telah direstui para dewa. Rajapun tiba-tiba jatuhkan diri berlutut di atas tanah.

Dengan suara bergetar dan tangan dirangkap ke depan dada dari dalam mulutnya terdengar ucapan.

"Aku Sang Maha Sakti Raja Gendeng pewaris tahta istana pulau es di kawasan pantai selatan mengucapkan banyak terima kasih atas restu yang diberikan dewa. Aku dan dua jiwa sahabatku memang telah bersumpah untuk mengikat persaudaraan dalam sebuah kekuatan untuk memyelesaikan setiap masalah yang kami alami. Semoga tanda ini menjadi isyarat yang baik untuk melanjutkan perjuangan di masa yang akan datang."

"Waduh, mati aku."

Pekik jiwa pedang yang jatuh terpental akibat sambaran petir.

Jiwa perempuan walau tubuhnya menjadi miring hanya bisa mengomel begitu terkena sambaran petir.

Raja mengerang.

Tangan yang terajah secara aneh dengan tiga angka ganjil 313 terasa meleleh akibat hantaman petir itu.

Tapi dia kemudian merasa heran sendiri ketika telapak tangan yang tadinya terasa nyeri tiba-tiba berubah menjadi sejuk.

Ketika sang maha sakti memperhatikan telapak tangan untuk kesekian kalinya dia dibuat melongo tercengang.

"Wah, angka-angka di telapak tanganku tiba-tiba lenyap. Dan aku dapat merasakan dari telapak tanganku ada hawa aneh sejuk mengalir kesekujur tubuhku. Apa yang telah terjadi?"

Pikir Raja.

Pemuda itu sama sekali tidak tahu guratan luka yang terbentuk di telapak tangannya terjadi akibat dia berusaha menghalau dua pukulan sakti sekaligus.

Pukulan pertama yang berusaha dihalau sang pendekar adalah pukulan sakti Bola Akherat Melanda Bumi yang menderu dari tangan jiwa pedang.

Sedangkan yang kedua adalah serangan bertahan jiwa perempuan untuk melindungi diri. Jiwa perempuan menggunakan dua jari telunjuknya yang pada akhirnya membentuk jaring raksasa yang memancarkan cahaya hijau terang.

Sebenarnya ilmu perisai diri yang digunakan gadis alam roh itu bukan ilmu sembarangan.

Di alam roh ilmu yang dipergunakan oleh jiwa perempuan dikenal dengan nama Para Jiwa Datang Jiwa Kembali.

Ilmu ini sifatnya menahan serangan yang datang sekaligus juga sanggup membalikkan serangan hingga dapat membahayakan penyerangnya.

Harusnya jiwa pedang menemui nasib celaka ketika serangannya berbalik menghantam diri sendiri.

Tapi mengingat keduanya hanya menguji kemampuan masing-masing dan tidak bermaksud ingin saling bunuh.

Dan akibat kesepakatan yang disetujui baik oleh Raja, jiwa pedang maupun jiwa perempuan, maka atas kuasa para dewa Raja mendapat tiga tanda luka membentuk tiga buah angka keramat 313 itu.

Agaknya sang pendekar telah menyadari kejadian aneh yang dialami oleh dirinya sehingga dalam sekejab kemudian aliran hawa dingin sejuk yang menjalar kesekujur tubuhnya lenyap.

Dia lalu menatap ke arah jiwa pedang dan jiwa perempuan. "Kalian berdua apakah baik-baik saja?"

Tanya pemuda itu.

Sambil duduk menjelepok di atas tanah Jiwa pedang yang sosoknya dalam keadaan awut-awutan tidak karuan rupa itu manggut-manggut.

Dengan nafas masih memburu dia menjawab. "gusti, saya hanya semaput, hampir pingsan saja."

"Saya juga gusti. Saya merasa sekujur tubuh halus saya seperti mau copot bertanggalan. Dia menyerang dengan ilmu pukulan yang sangat berbahaya."

Dengus jiwa perempuan sambil mengusapi beberapa bagian tubuhnya yang dipenuhi lubang di sana-sini.

"Kalian kuminta menunjukkan kemampuan yang kalian miliki, bukan selayaknya orang yang mau saling bunuh seperti ini." kata Raja.

"Aku saja hampir menjadi korban."

"Tidak mengapa gusti. Kenyataannya gusti Raja tidak kekurangan sesuatu apa. Tapi gusti...." kata jiwa Pedang

"Tapi apa jiwa sobatku?"

Tanya Raja sambil tatap jiwa pedang juga jiwa perempuan di depannya

"Begini gusti. Saya dan dia telah cukup lama unjuk diri di depan gusti. Penampakan diri walau dalam ujud cahaya bagi kami adalah sesuatu yang tidak biasa. Selain itu penampakan diri kami terlalu banyak menguras tenaga.Dalam keadaan seperti ini kami mengalami serangan hawa dingin yang sangat hebat."

Terang jiwa pedang. "Lalu"

"Lalu-lalu. Gusti ini bagaimana." Sela jiwa perempuan.

"Sekarang tentu saja kami ingin kembali ke wujud sebenarnya, wujud gaib mahluk alam roh." "Oh tentu saja. Aku tidak pernah melarang kalian kembali ke dunia halus, dunia lelembut. Yang

terpenting di antara kita telah terjadi sebuah kesepakatan. Kita akan selalu mendukung dalam susah dan duka."

"Jadi senangnya... kapan gusti!"

"Jangan ngawur jiwa perempuan. Kita masih harus menyelesaikan tugas. Mutiara Tujuh Setan harus dikembalikan ke tangan orang yang paling berhak. Aku telah berjanji pada Tiga Setan Putih atau tiga perwira setan untuk membantu menyelesaikan masalah yang mereka hadapi. Sekarang kembalilah kalian berdua ke hulu pedang!"

"Terima kasih gusti." kata jiwa pedang dan jiwa perempuan berbarengan.

Dua mahluk rangkapkan kedua tangan. Setelah tundukan kepala sebagai tanda penghormatan, mereka melangkah mundur.

Raja melihat masing-masing dari kedua jiwa itu melangkah mundur saling menjauh. Kemudian masih sambil rangkapkan kedua tangan keduanya pejamkan mata

Dan.. Wuuus! Wuuus!

Dua sosok jiwa lenyap. Dan Raja mendengar suara mengiang di telinganya.

"Kami sudah kembali. Dan kami sekarang akan memulai hidup berdampingan dengan damai." Kata jiwa pedang.

"Benar paduka. Dia sekarang bersikap lebih bersahabat dengan saya." Kata jiwa perempuan pula.

"Aku senang mendengarnya. Mudah-mudahan kelak kalian berjodoh. Ha ha ha!" Gurau sang pendekar di sertai gelak tawa.

*****

Untuk sementara kita tinggalkan Raja yang menunggu di tepi dangau, serta gadis berpakaian ungu Durganini yang sedang mandi di sungai.

Kembali pada Ki Ageng Sadayana dan Bethala Karma sang mahluk terkutuk dari luar jagad. Setelah sadar Bethala Karma adalah makluk yang selama ini telah menimbulkan banyak masalah. Akhirnya tanpa merasa gentar Ki Ageng Sadayana memberanikan diri untuk berterus terang.

Setelah mengetahui bahwa kakek berpakaian hitam berambut panjang menjela ini adalah salah satu orang yang ikut membantu Tiga Perwira Setan juga menyelamatkan Mutiara Tujuh Setan yang menjadi incarannya, maka murka Bethala Karma bukan kepalang.

Kemudian berkatalah mulut yang terdapat di sebelah kiri dengan suara menggembor.

"Tua bangka keparat! Disaat aku hampir menemukan jejak ditangan siapa Mutiara Tujuh Setan itu berada. Tiba-tiba kau memunculkan diri ditempat ini, bertingkah selayaknya seorang pahlawan ingin membela kematian Sora Magandala, sang penjaga penjara api tempat dimana aku di- kurung selama belasan tahun. Harusnya aku pergi ke tempat dimana pembawa mutiara itu berada saat ini. Tapi karena kehadiranmu segala keinginanku jadi tertunda. Kau telah melakukan kesalahan besar Ki Ageng Sadayana. Tindakanmu membantu Tiga Perwira pengkhianat itu sudah membuatmu harus dibunuh.

Siapa yang akan membelamu?"

"Ya, siapa yang akan melindungimu dari kami?"

Kata mulut yang berada di kepala yang kanan pula tak kalah dingin. Ki Ageng Sadayana tertawa dingin.

Dengan sikap tenang pula dia berkata.

"Aku tidak takut pada mahluk sepertimu. Atas restu dewa aku bisa melindungi keselamatan diriku sendiri."

"Begitu? Aku ingin tahu seberapa dekat hubunganmu dengan para dewa. Apakah sedekat kuku jariku Ini dengan urat nadi di lehermu? Shaaaa!"

Geram Bethala Karma.

Sambil katubkan kedua mulutnya, Bethala Karma hentakan empat kaki kembarnya sekaligus.

Dengan gerakan yang luar biasa cepat, tahu-tahu sepuluh jari tangan kiri depan belakang menyambar ke batang leher Ki Ageng Sadayana.

Sementara itu sepuluh jari tangan kanannya mencari sasaran dibagian dada dan perut. Tindakan yang dilakukan oleh Bethala Karma ternyata tidak cukup sampai di situ saja. Sambil menyerang dibagian tubuh sebelah atas, kedua kaki menyambar ganas kaki si kakek.

Tendangan itu bukan tendangan biasa karena Bethala Karma menggunakan ilmu tendangan maut yang dikenal dengan nama Gunting Bahala Melanda Langit.

Bila tendangan itu mengenai sasaran. Ki Ageng Sadayana bukan hanya kehilangan kedua kakinya.

Tapi juga bisa membuatnya tewas seketika dengan kaki leleh membusuk keracunan. Dari deru angin yang datang menghantam mendahului gerakan kaki lawan.

Agaknya Ki Ageng Sadayana maklum dengan ganasnya tendangan lawan. Sebaliknya serangan jari tangan yang mengincar bagian leher dan dada serta perutnya tidak dapat dipandang enteng.

Sekali sepuluh jari membeset lehernya atau sepuluh jari lain mencabik dada juga perutnya, maka si kakek dapat tewas seketika.

Sadar lawan bermaksud menghabisinya dengan tiga serangan mautnya sekaligus, si kakek segera sentakan tubuhnya kebelakang, Dalam keadaan jungkir balik menghindari dari serangan lawan, Ki Ageng Sadayana masih sempat hantamkan kedua tangan sambuti serangan kaki dan tangan orang dengan pukulan sakti Menghalau Bala Mengubur Bencana.

Dari telapak tangan Ki Ageng Sadayana kemudian menderu dua gelombang angin dashyat menebar hawa dingin luar biasa.

Dua gelombang angin bergulung-gulung melabrak ke arah lawan.

Di belakangnya menyusul dua larik cahaya biru memapas ke arah kaki Bethala Karma.

Ditengah jalan cahaya biru bergerak menyilang laksana gunting raksasa menyambut dua kaki ganda lawan.

Bethala Karma menggeram.

Dua pasang tangan yang tadinya dipergunakan untuk menyerang kini dia gerakan sedemikian rupa memapaki dua gulung angin yang siap menghantam bagian tubuh sebelah atas.

Sementara dua kaki yang dipergunakan untuk menendang dipergunakannya untuk menyambuti sambaran cahaya biru.

Wuuus! Glaar! Rerrt! Braak!

Suara dentuman menggelegar disusul dengan suara berderaknya tendangan yang menghantam cahaya biru.

Bethala Karma meraung keras. Tubuhnya terhuyung ke belakang.

Tangan bergetar, dua kaki mengepulkan asap berwarna kebiruan. Namun dia tidak mengalami cidera yang berarti.

Tidak jauh didepannya sejarak empat tombak dimana lawan berdiri dengan tubuh terhuyung. Ki Ageng Sadayana jatuh terjengkang dengan wajah pucat.

Pakaian hitamnya tampak hangus tercabik dan terlihat hangus di beberapa bagian.

Benturan dua tenaga sakti yang berlangsung dalam beberapa kejaban mata membuat si kakek merasakan seluruh tubuhnya disebelah luar seperti luluh lantak.

Belum sempat orang tua ini bangkit, selagi dia menghimpun tenaga sambil mengatur nafasnya, Bethala Karma telah berdiri didepannya sambil tertawa tergelak-gelak

"Kakek tua kaki tangan tiga perwira pengkhianat. Ajal telah berada di depan mata. Jika kau masih punya ilmu yang menjadi andalan. Lebih baik segera tunjukan sebelum terlambat!"

Teriak mahluk itu dengan suara menggeledek. Ki Ageng Sadayana tidak menjawab.

Ketika melihat lawan mengangkat dua kaki sebelah kanan tinggi-tinggi dan kaki itu siap menghantam remuk dadanya.

Ki Ageng Sadayana segera mengerahkan aji kesaktian Pelumpuh Raga Penghancur Jiwa.

Sambil meniup telapak tangan kiri kanan, si kakek yang terkapar di atas tanah segera gulingkan

diri.

Sementara kakinya berkelebat menyambar dua kaki kiri Bethala Karma yang bertumpuh di atas

tanah.

Tep! Kreeept!

Dua tangan berkelebat menyambar.

Sekedipan mata dua kaki Bethala Karma yang dipergunakan untuk menopang berat badan telah kena di- cengkeram oleh Ki Ageng Sadayana.

Begitu kaki lawan berada dalam cengkeramannya. Si Kakek meniup kaki itu dua kali berturut-turut.

Kejut dihati Bethala Karma bukan olah-olah ketika dia dapati dua kaki dalam cengkeraman lawan ternyata sulit untuk dilepaskan walau dia meronta sekuat tenaga.

Lebih celaka lagi ketika lawan meniup kaki dalam cengkeraman, tiba-tiba saja sang mahluk merasakan sekujur tubuhnya berubah kaku seperti patung dan tak dapat bergerak sama sekali.

"Tua bangka gila. Ilmu apa yang kau pergunakan ini?" Teriak sang mahluk dalam kemurkaan.

Dia menggeliat dan meronta sambil diam-diam kerahkan tenaga dalam dan mengalirkannya keseluruh tubuh.

Bukannya menjawab, sekali lagi si kakek meniup.

Tiupan kali ini disusul dengan sentakan tangan maksudnya untuk membuat roboh mahluk itu.

Si kakek berpikir begitu mahluk itu roboh dia akan segera hantamkan dua pukulan ke kedua kepala mahluk bertubuh serba kembar ini.

Jangankan ambruk, sesuai keinginannya, tubuh Bethala Karma sedikitpun tidak bergeming. Di lain pihak.

Begitu menerima tiupan yang ketiga, Bethala Karma tiba-tiba merasakan sekujur tubuhnya seperti seekor ular raksasa yang tidak kelihatan. Lilitan itu semakin lama semakin bertambah kuat, membuatnya semakin sulit bernafas, sementara seluruh tulang-tulangnya seakan hendak remuk siap bertanggalan. Selagi Bethala Karma berusaha keras meloloskan diri dari jeritan ilmu aneh yang diterapkan lawannya, Ki Ageng Sadayana yang merasa gagal merobohkan lawan, segera bangkit berdiri.

Sekali kakek ini menghentakan kaki, seketika itu juga sosok Ki Ageng mendarat di kedua bahu lawan.

Sambil alirkan tenaga dalam kebagian kedua tangan, Ki Ageng Sadayana pentang kedua tangan ke samping.

Dua tangan yang telah berubah merah laksana bara itu lalu digerakan berbarengan menghantam kepala yang disebelah kiri juga yang disebelah kanan Bethala Karma.

Tapi apa yang terjadi kemudian sungguh menjadi kenyataan yang tidak pernah diperhitungkan oleh orangtua itu.

Dia mengira ilmu ajian Pelumpuh Raga Penghancur Jiwa benar-benar telah berhasil membuat lawan tidak berdaya, sehingga si kakek berlaku sedikit lengah.

Beberapa saat kemudian setelah kena ilmu aneh lawan. Bethala Karma memang sempat tidak berdaya.

Tapi mahluk yang datang dari luar jagad itu, segera memutar otak mencari cara meloloskan diri dari pengaruh ilmu lawan.

Merasa terdesak dan terancam bahaya besar, mahluk itu segera mengerahkan ilmu sakti yang disebut Dalam Kegelapan Melepas Segala Bencana. Ketika Bethala Karma mengerahkan ilmu saktinya.

Dari bagian tangan dan kaki mahluk itu terlihat kepulan asap berwarna biru.

Kemudian terdengar desiran halus seperti mata pedang yang membabat putus benda-benda tak terlihat yang melilit tubuhnya.Tidaklah mengherankan, saat kaki Ki Ageng Sadayana menjejak bahu lawan dan dua tangannya yang merah membara siap membuat remuk kedua kepala mahluk itu.

Bethala Karma bertindak cepat mendahului serangan ganas lawannya.

Dua pasang tangan bergerak, menderu dengan kecepatan laksana kilat menyambar ke bagian perut.

Serangan ini disusul dengan serangan dua tangan lainnya dan kali ini yang di arah adalah bagian bawah perut Ki Ageng Sadayana.

Terkejut tidak menyangka lawan bisa lolos dari perangkap mematikan ilmu Pelumpuh Raga Penghancur Jiwa.

Dalam kagetnya Ki Ageng Sadayana terpaksa batalkan serangan, lalu gerakan tangan ke bawah menangkis serangan ganas yang mengarah ke bagian perutnya.

Plak..! Deees!

Benturan keras terjadi membuat Bethala Karma terjajar.

Dan tanpa menghiraukan tangannya yang seakan remuk akibat benturan dengan lawan.

Ki Ageng Sadayana mempergunakan kesempatan ini untuk berjumpalitan selamatkan diri ke belakang.

Sayang gerakan yang dilakukan si kakek walau terbilang cepat namun masih kalah cepat dengan sambaran tangan lawan.

Kreeees! Craaas!

Tanpa ampun lagi selain serangan jari-jari lawan berhasil menyambar robek tubuh sebelah bawah Ki Ageng.

Salah satu kakinya juga terbetot tanggal ditarik oleh tangan di sebelah kanan. "Arkh..."

Raungan Ki Ageng Sadayana melengking setinggi langit.

Tubuh orangtua itu jatuh terhempas dengan luka robek mengerikan bermandikan darah. Melihat lawan roboh Bethala Karma melangkah lebar menghampiri.

Sejenak dia tatap orang tua yang tidak berdaya itu.

Puas memperhatikan keadaan lawan dia dongakkan kepala lalu ketawa terbahak- bahak. "Pada akhirnya setiap orang yang berpihak pada tiga perwira setan harus menemui ajal di-

tanganku. Sekarang kau benar-benar merasakan bagaimana pedihnya pembalasanku. Tapi aku bukanlah mahluk yang tidak punya perasaan. Aku akan menyudahi penderitaanmu"

Berkata demikian Bethala Karma ayunkan lima jemari tangannya yang ditumbuhi kuku runcing mencuat panjang. Dalam keadaan tidak berdaya Ki Ageng tidak sanggup menghindar dari serangan maut itu

Crass!

Tanpa ampun lima kuku mencuat hitam menghujam dibagian tenggorokan Ki Ageng Sadayana. Ketika lawan menyentakan jemari tangannya darah kembali menyembur dari tubuh si kakek. Ki

Ageng Sadayana tewas seketika dengan mata terbeliak Cuahhhh!

"Hanya membuang waktu saja."

Dengus Bethala Karma sambil meludah. Kemudian tanpa menoleh lagi mahluk bertubuh serba dua ini berkelebat tinggalkan tempat itu.

******

Kembali ke dangau tempat dimana Raja berada. Setelah sekian lama Raja menunggu terrnyata Durganini gadis kerdil yang sekujur tubuhnya ditumbuhi bulu-bulu halus lebat tidak kunjung kembali dari sungai.

Sang pendekar jadi curiga.

Jangan-jangan telah terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada gadis itu. Diapun memutuskan untuk menyusul Durganini yang belum juga kembali.

Namun baru saja beberapa tindak Raja melangkah Durganini datang. Berdiri tegak di depan sang pendekar. Gadis ini menatap Raja dengan pandangan heran bercampur curiga.

Ditatap seperti itu tentu saja membuat Raja jadi salah tingkah.

"Heh, apa yang terjadi denganmu? Kau kesambet setan penghuni sungai? Mengapa engkau menatap aku selayaknya orang menatap pencuri?"

Gurau sang pendekar disertai senyum.

Walau Raja tetap bersikap ramah seperti biasa. Namun gadis ini sedikitpun tidak bergeming.

Sebaliknya dengan mata nyalang Durganini layangkan pandang ke seluruh penjuruh arah. Kemudian dengan tidak disangka-sangka dari mulutnya terdengar ucapan,

"Apa yang terjadi denganmu? Tempat ini luluh lantak seperti baru terjadi perang besar. Ketika di sunga ­ aku bahkan mendengar teriakan dan dentuman. Aku tidak melihat musuh dan kau tidak kekurangan sesuatu apa. Mengapa bisa begini?"

"Ah itu rupanya. Kau curiga padaku dan kau sepertinya takut. Percayalah aku tidak menggigit, tidak ada yang perlu ditakuti. Yang kau saksikan ini hanya masalah kecil menyangkut dua orang sahabatku yang sedang berusaha menyesuaikan diri."

Jawab Raja tenang.

"Masalah kecil katamu? Jangan mengira aku tidak melihat adanya perkelahian di tempat ini?" Dengus Durganini sinis.

Dalam hati dia berkata,

"pendekar ini menyembunyikan sesuatu dariku. Tadi aku sangat mempercayainya, namun sekarang aku harus bersikap waspada!"

" •o sahabatku hanya bersenda gurau, jangan diambil hati."

"Ho. Betul. Ini masalah kecil. Dua Sosok berupa cahaya biru dan hijau itu? Mahluk seperti apakah mereka?"

Tanya Durganini sambil tatap mata Raja dalam-dalam.

Raja terkejut tak menyangka Durganini melihat jiwa pedang dan Jiwa perempuan.

"Mereka eng... mereka itu mahluk dari kehidupan gaib. Mereka tidak jahat. Selama ini bahkan salah satu di antaranya bahkan sering membantu aku!"

Terang pemuda itu. Raja kemudian menjelaskan siapa mereka. "Lalu mengapa mereka terlibat perkelahian hebat seperti itu?"

"Mereka tidak berkelahi, hanya mencari keringat. Sekarang mereka telah kembali ke hulu pedang?"

Kata Raja sambi menunjuk ke arah hulu pedang di punggungnya. Durganini memandang ke arah hulu pedang itu.

"Mahluk-mahluk tadi tinggal di dalam pedangmu?" Desisnya disertai tatapan tidak percaya.

Raja mengangguk.

Sambil tersenyum dia berkata,

"Mereka adalah mahluk-mahluk sinting. Menetap di hulu pedang gila bukanlah sesuatu yang aneh.

Kau tidak usah merisaukan mahluk-mahluk itu.Dan yang paling penting lagi kau tidak usah curiga kepadaku. Sekarang ini sebaiknya kita lanjutkan saja perjalanan. Aku ingin segera bertemu dengan tiga perwira setan."

"Setelah kau menyerahkan Mutiara Tujuh Setan tugasku hanya tinggal satu lagi yaitu menyingkirkan Bethala Karma, mahluk keji yang konon di negeri asalrnya adalah seorang panglima perang yang kerap menyulut bibit pertikaian dimana- mana."

Mendengar ucapan Raja, Durganini diam membisu.

Dalam diam dia merasa senang untuk segera menyerahkan mutiara tujuh setan pada tiga perwira setan. Setelah mempertimbangkan akhirnya Durganini berucap.

"Baiklah aku turuti keinginanmu. Aku tidak mau membawa-bawa mutiara ini lagi. Aku tidak mungkin sanggup melindungi benda keramat di dalam tubuhku ini lebih lama. Tapi harap jangan berkecil hati bila aku tidak bisa mempercayai kamu sepenuhnya."

Mendengar pengakuan polos dari Durganini, Raja malah tertawa terkekeh

"Percaya atau tidak percaya aku tidak peduli. Karena tiga perwira setan pernah memintaku untuk membantu menyelesaikan masalah yang mereka hadapi. Sudahlah, mari kita lanjutkan saja perjalanan ini. Mudah-mudahan kita bisa bertemu dengan mahluk-mahluk botak itu secepat mungkin."

Kata Raja.

Belum sempat Durganini menjawab.

Tiba-tiba Raja mendengar suara mengiang ditelinga kanan. "Gusti...saya melihat ada orang datang kemari."

Raja tercekat.

Jelas yang baru bicara melalui suara mengiang tadi adalah jiwa pedang. Belum hilang rasa kagetnya kini terdengar pula suara mengiang di telinga yang kiri.

"Gusti. Yang datang ada tiga. Semua berpakaian putih, kepala botak plontos. Saya juga melihat ada tanda di kening mereka berupa rajah berbentuk titik hitam. Dan titik tanda itu ada yang satu, dua dan tiga"

"Terima kasih. Kalian telah memberi tahu." Kata Raja melalui suara mengiang pula.

Raja pun lalu tersenyum. Melihat pemuda itu tidak kunjung beranjak dari tempatnya. Sebaliknya malah senyum-senyum sendiri, Durganini pun mendamprat.

"Apa yang terjadi padamu? Mengajak diriku pergi tinggalkan tempat ini. Tapi tidak juga jalan malah senyum-senyum sendiri seperti orang gila."

Senyum sang pendekar seketika lenyap.

Sambil menatap ke satu tempat jurusan di depannya dia menjawab,

"Kita tidak jadi pergi. Lebih baik kita tunggu saja di sini. Mereka nampaknya sedang menuju ke sini."

"Heh, bagaimana kau bisa tahu? Apakah mahluk-mahluk aneh yang bersamamu yang memberi tahu engkau?"

Baru saja Raja hendak anggukan kepala sekaligus membuka mulut tiba-tiba di kejauhan terlihat tiga bayangan putih berlari cepat menuju ke arah mereka.

Walau ketiga sosok serba putih itu berlari kencang namun Raja yang sebelumnya pernah bertemu segera kenali siapa mereka adanya.

Lain halnya dengan Durganini.

Gadis ini memang belum pernah bertemu dengan mahluk yang dikenali dengan nama Tiga Setan Putih atau tiga perwira setan.

Melihat tiga sosok bayangan berlari menuju ke arah mereka diam-diam dia segera kerahkan tenaga dalam dan mengalirkannya ke bagian kedua belah tangan juga kaki.

Durganini siap menyerang atau membela diri.

Namun segala kerisauan dihatinya perlahan-lahan berangsur surut ketika melihat Raja menyambut kedatangan ketiga pria itu dengan senyum.

Setelah bungkukan badan sebagai tanda penghormatan yang dibalas dengan sikap yang sama oleh ketiga pria itu maka Raja berkata,

"Sahabat bertiga datang tepat pada waktunya."

Raja memperkenalkan Durganini pada tiga pria itu yang bukan lain adalah tiga perwira setan. "Saya dan dia baru saja hendak pergi mencari kalian dan ternyata kami beruntung karena tidak

harus menguras tenaga dan membuang waktu lebih lama."

"Aku perwira tiga, bertindak mewakili sahabatku perwira satu dan perwira dua mengucapkan banyak terima kasih atas segala bantuan yang pendekar berikan."

Ujar perwira tiga yang di keningnya terdapat tiga rajah berupa titik hitam. "Jangan berterima kasih padaku" Sergah sang pendekar. "Berterima kasihlah pada Durganini. Dia yang telah dipercaya oleh Ki Raga Sontang untuk membawa Mutiara Tujuh Setan dan menyerahkannya pada sahabat bertiga."

Terang sang pendekar sambil melirik pada Durganini. Si gadis tersipu. Sebelum Durganini sempat membuka mulut, Raja melanjutkan ucapannya.

"Dia telah banyak berkorban dan telah kehilangan saudaranya. Dia bahkan hampir menemul ajal demi mempertahankan mutiara yang dibawanya."

Penjelasan Raja membuat tiga perwira setan terhenyak. Serentak mereka menghadap ke arah Durganini.

Sambil menjura ketiganya berkata,

"kami Tiga Perwira Setan tidak akan melupakan segala jasa besarmu Durganini. Kami mengucapkan rasa terima kasih yang tiada terhingga atas segala pengorbananmu!"

Setelah ketiganya berkata demikian, perwira tiga sebagai perwira tertinggi dari dua perwira lainnya menambahkan.

"Aku secara pribadi mengucapkan turut berduka dan keprihatinan mendalam atas tewasnya saudaramu."

Durganini anggukan kepala.

Sambil menghela nafas gadis ini lalu berujar,

"mungkin sudah menjadi suratan takdir saudaraku tewas di tangan iblis Momok Laut Biru. Tapi iblis itu sendiri juga menemui ajal di tangan raja.Aku dan dia telah berusaha melakukan tugas dengan sebaik-baiknya."

"Kita telah bertemu. Mutiara Tujuh Setan saat ini berada di dalam tubuhku. Kalian bertiga lebih tahu bagaimana cara mengambilnya!"

Tiga perwira setan diam-diam terkejut.

Tapi rasa heran mereka hanya berlangsung sesaat. Ketiganya kemudian saling berpandangan.

Sejenak sunyi. Raja memilih diam.

Demikian juga dengan Durganini. Rasanya tidak ada tempat yang aman di dunia ini. Kenyataan itu disadari benar oleh tiga perwira setan.

Mereka tahu Durganini menyimpan mutiara dalam tubuhnya semata-mata untuk melindungi mutiara dari tangan-tangan orang yang tidak bertanggung jawab.

"Tiga Perwira!"

Berkata sang Maha sakti Raja Gendeng memecah kesunyian. Tiga perwira sama mengangkat wajah dan memandang ke arah sang pendekar.

"Dengan segala kesengsaraan Durganin telah melakukan tugas yang diberikan kakek Raga Sontang dengan baik. Sekarang bagaimana caranya kalian mengambil mutiara dari dalam tubuhnya Durganini terserah perwira bertiga. Kalau aku yang diminta melakukannya mana mungkin karena aku pasti tidak tega membedah tubuhnya."

Kata Raja lalu berjingkrak ngeri.

Durganini hanya senyum-senyum saja melihat kelakuan Raja.

Namun belum sempat gadis ini mengatakan sesuatu, perwira satu telah melangkah maju "Sahabat Raja. Kami mengenal Mutiara Tujuh Setan selayaknya mengenal diri kami sendiri.Untuk

mengambil mutiara dari dalam tubuh Durganini tidakiah sulit."

Perwira satu lalu memandang ke arah dangau yang sebagian atapnya lenyap akibat ledakan. Tapi lantai dangau yang cukup tinggi masih dalam keadaan baik.

Seakan mengetahui apa yang dipikirkan perwira satu, perwira tiga kemudian membuka mulut. "Durganini harus berbaring di lantai dangau itu. Begitu berbaring kami akan mengeluarkan

Mutiara Tujuh Setan lalu kami akan membawa kembali ke istana Kuno di negeri kami. Mutiara itu adalah lambang kebersamaan sekaligus kebahagiaan bagi seluruh penduduk negri."

"Cara seperti itu memakan waktu." Perwira dua tiba-tiba membuka ucapan.

Semua orang sekarang perhatiannya kini tertuju pada sang perwira. "Apakah paman mempunyai cara yang lebih baik?"

Tanya Raja.

Perwira dua anggukan kepala Kepada Durganini, sang perwira yang usianya hampir sembilan ratus tahun namun memiliki penampilan seperti orang yang berusia empat puluh tahun itu berujar,

"Durganini! sebaiknya engkau duduk. Bersikap sesantai mungkin. Duduk selayaknya orang yang bersemadi."

Pinta perwira dua, Walau sempat ragu namun setelah melihat Raja meyakinkannya dengan anggukan kepala gadis ini patuhi juga permintaan perwira dua.

Setelah duduk bersila, Durganini pejamkan mata.

Dibawah pengawasan Raja yang semakin bersikap waspada denga segala kemungkinan yang akan terjadi, tiga perwira segera melangkah maju.

Perwira tiga duduk dengan jarak tidak lebih dari satu langkah di depan Durganini. Sedangkan perwira satu duduk dibelakang agak di sebelah kiri si gadis.

Kemudian perwira dua duduk agak disebelah kanannya perwira satu.

Dengan duduk di tiga sudut ketiga perwira itu lalu julurkan sepasang tangannya masing-masing tepat sejajar antara rongga perut dan rongga dada.

Walau ujung jemari tangan mereka tidak sampai menyentuh si gadis.

Namun ketiga perwira ini segera mengetahul di sebelah mana letaknya mutiara sakti berada. "Agak di atas tepat di pertengahan dada."

Gumam perwira tiga lebih memastikan. Dua perwira anggukan kepala. "Pergunakan mantra pemanggil"

Seru perwira satu.

Sementara itu Raja yang berdiri agak jauh dibelakang mereka mulai gelisah dan dicekam rasa tegang.

Tiga perwira setan angkat tangan tinggi- tinggi.

Mulut berkomat-kamit, jemari tangan mulai bergetar sementara mantra-mantra dan doa mulai dipanjatkan membuat suasana disekitarnya dicekam suasana mistis.

Bersamaan dengan doa dan mantra yang dibaca berulang kali maka jemari tangan para perwira itu kini bergerak turun ke jurusan mana mutiara tersimpan.

Walau jemari-jemari yang bergetar itu tidak menyentuh bagian tubuhnya namun Durganini dapat segera merasakan sekujur tubuhnya merinding.

Perlahan namun pasti seiring dengan menggigilnya tubuh sang dara. Dibagian tubuh yang sebelah dalam terjadi pergolakan hebat.

Mutiara Tujuh Setan yang mendekam di dalam dada yang tadinya diam kini mulai bergerak, mengayun membentur tubuh bagian dalam di sebelah kiri dan kanan.

"Ugk..."

Durganini mengaduh. Tiba-tiba saja dekap dadanya yang berdenyut sakit. Melihat ini sang Maha Sakti Raja Gendeng berubah cemas. Dia khawatir dengan keselamatan si gadis.

Bagusnya dalam keadaan dimana Durganini terlihat seperti sangat menderita, perwira tiga tiba-tiba berkata,

"Semuanya tenang.Keadaan ini tidak akan berlangsung lama. Mutiara Tujuh Setan akan keluar dari tubuhnya. Aku akan memanggil pulang tujuh mahluk penghuni mutiara itu."

Selesai berucap demikian tanpa mengalihkan perhatiannya dari Durganini, perwira tiga berseru ditujukan pada Raja.

"Sobat pendekar sang maha sakti. Lindungi kami berempat dari mara bahaya yang datang dari sekeliling kita. Dalam keadaan seperti ini kami tidak mungkin bisa membantu."

"Lakukan saja tugasmu dengan sebaik-baiknya paman perwira. Urusan di luar itu menjadi tanggung jawabku."

Jawab Raja.

Perwira tiga dan dua perwira lainnya hanya sempat mengangguk. Saat itu pula dari mulut mereka terdengar ucapan.

"Tujuh mahluk sakti penghuni mutiara setan. Kami bertiga perwira penyelamat mengharapkan kalian segera keluar dari tubuh gadis yang tidak berdosa ini. Kami akan membawa kalian bersama mutiara kembali ke istana Kuno di negeri kita. Jangan membuat ulah, jangan mempersulit keadaan. Keluarlah dengan segera. Jangan lupa membawa serta mutiara rumah keabadian bagi kalian!"

Tiga mulut perwira mengatup bersamaan.

Tiga pasang telapak tangan menengadah, jemari di acungkan lurus ke tubuh Durganini dari arah depan, samping dan belakang.

Kemudian telapak tangan yang berkembang itu bergerak mendorong ke atas. Durganini merasakan isi bagian tubuhnya terdorong ke atas seperti hendak terbongkar.

Rasa sakit yang luar biasa membuatnya sulit bernafas.

Kejadian yang dialaminya ini sangat berbeda dengan yang dahulu ketika para penghuni mutiara yang terdiri dari tujuh kepala lucu tanpa badan keluar dengan sendirinya untuk memberikan pertolongan kepada Durganini.

Namun segala penderitaan yang dialami Durganini ternyata tidak berlangsung lama.

Ketika tiga perwira setan tiba-tiba balikan telapak tangan masing-masing lalu tangan dijulur dan ditempelkan di punggung.

Satu hawa dingin sejuk mengalir deras dari tangan tiga perwira. Sesuatu bergerak meluncur keluar.

"Hoek..."

Sebuah benda berwarna putih berkilau melesat dari mulut Durganini.

Perwira Tiga yang duduk di depannya gerakan tangan kanan menyambar benda putih berkilau yang tiada lain adalah Mutiara Tujuh Setan adanya.

Sambil memegang mutiara dalam genggaman, perwira tiga berseru ditujukan pada dua perwira sahabatnya.

"Kalian Bantu Durganini pulihkan diri. Aku akan mengamankan mutiara ini!" "Baiklah...!" perwira satu dan dua menjawab bersamaan.

Mereka kemudian menolong Durganini yang terkulai tidak sadarkan diri. Belum sempat perwira tiga memyimpan mutiara tujuh setan dibalik kotak putih yang terletak dibalik pakaiannya.

Tiba-tiba saja terdengar suara raungan dahsyat disertai berkiblatnya cahaya merah menggidikan.

Cahaya merah yang menderu dari balik semak belukar ditengah jalan memecah diri menjadi empat bagian. Satu cahaya menghantam perwira tiga. Dua cahaya lain menghantam perwira dua dan satu. Sedangkan satu cahaya lagi menghantam Raja.

Melihat serangan mengarah pada dirinya, sang pendekar bukan mengkhawatirkan keselamatannya sendiri, sebaliknya pemuda ini justru mengkhawatirkan keselamatan Durganini dan tiga perwira lainnya.

Tapi mengingat jarak antara dirinya dan Durganini terlalu jauh, Raja memutuskan untuk menangkis serangan itu. Dia menghantam dua cahaya yang mengarah ke dua perwira yang sedang menolong Durganini.

"Paman berdua lekas menyingkir!"

Teriak Raja. Sementara dia sendiri segera melompat ke depan sambil menghantamkan dua tangannya. Tangan kiri melepas pukulan Badai Es sedangkan tangan kanan melepas pukulan sakti Badai Laut Selatan.

Segulung angin dahsyat disertai suara deru mengerikan laksana amukan ombak di laut. Deru angin melanda dua cahaya merah yang siap menerjang ke arah dua perwira. Kedua perwira itu sendiri juga menangkis dua serangan cahaya merah dengan pukulan Dibalik Gelap Ada Cahaya.

Sementara sambil bergulingan selamatkan diri perwira tiga dorongkan salah satu tangannya menghalau cahaya yang siap melabrak menggulung tubuhnya

Buuum! Buuuum! Gleeeger!

Terdengar suara ledakan menggelegar empat kali berturut-turut. Kawasan dimana ledakan terjadi mengalami guncangan seperti dilanda gempa hebat.

Kepulan debu, pasir, asap dan kobaran api bertebaran memenuhi segenap penjuru membuat keadaan jadi gelap gulita.

Ditengah kekacawan dan kegelapan yang terjadi. Satu sosok tubuh melesat cepat diketinggian lalu jejakan kaki diantara perwira tiga yang jatuh terhenyak, perwira satu dan dua yang berkaparan dan Raja yang jatuh berlutut.

Ketika kepulan asap dan debu berangsur lenyap. Semua orang yang melihat dan berada di tempat itu terkecuali sang maha sakti Raja Gendeng sama melengak begitu melihat dihadapan mereka berdiri tegak seorang laki-laki bertubuh tinggi bertelinga lebar dengan sekujur tubuh ditumbuhi sisik tebal berwarna hitam kecoklatan.

Sosok yang hanya menggunakan celana pelindung aurat itu memiliki bagian tubuh serba dua dan memiliki sepasang mata pada setiap kepala, dua pasang tangan juga dua pasang kaki.

Melihat kedua perwira yang bertindak membantu Durganini dan perwira tiga merasa jerih atas kehadiran mahluk itu sang pendekarpun ajukan pertanyaan.

"Paman perwira, memangnya dedemit berkulit macam ular itu siapa? Mengapa kalian nampak resah?"

"Dialah panglima perang Bethala Karma. Dia dijuluki sang penghancur. Dia yang membunuh empat sahabat kami. Dia datang bukan hanya ingin mengambil Mutiara tujuh Setan di tanganku ini. Dia juga ingin menghabisi kami!"

Jawab perwira tiga "Hmm, begitu."

Dengus Raja sambil menatap mahluk tinggi berkepala dua yang saat itu menatap tajam ke arah mutiara yang berada di tangan perwira tiga.

"Mahluk jelek begini rupa mengapa harus ditakuti?" Kata sang pendekar.

Kemudian kepada tiga perwira itu dia berkata,

"kalian boleh merasa jerih. Karena itu sebaiknya menyingkirlah. Jaga mutiara dan gadis itu.

Biarkan aku yang akan menghadapinya!"

"Tapi pendekar, dia sangat ganas dan berbahaya."

Kata perwira satu. Kemudian tanpa menunggu lagi dia dan perwira dua menyingkir sambil membopong Durganini.

"Dia tak dapat dipandang sebelah mata, Raja. Bagaimana mungkin aku bisa berpangku tangan membiarkan kau menghadapi bahaya seorang diri?"

Kata perwira tiga sambil bangkit dan siap hendak bergabung dengan teman-temannya. "Paman perwira tiga. Aku akan memandangnya dengan dua buah mata. Kuharap turuti semua

permintaanku. Selamatkan Mutiara Tujuh Setan. Kalian hanya boleh membantu bila aku benar-benar telah dibuatnya tidak berdaya!"

Teriak sang pendekar jadi hilang kesabarannya.

Dengan berat hati perwira tiga segera turuti permintaan Raja.

Namun setelah bergabung dengan dua perwira lain dan berhasil memulihkan Durganini dari pingsannya, ketiga perwira ini diam-diam membuat rencana.

Bethala Karma rupanya merasa tidak senang dengan tindakan yang dilakukan Raja.

Pembunuh dari luar jagat ini lalu berseru dengan suara lantang hingga membuat pengang telinga orang yang mendengarnya.

"Ternyata ada satu lagi manusia yang ingin mencari mampus! Kau tidak tahu siapa diriku?" "Aku sudah mendengar sepak terjangmu. Mendengar kekejian yang kau lakukan membuat semua

bulu disekujur tubuhku merinding. Tapi sebagai manusia dan seorang raja pula, mengapa harus takut dengan mahluk buruk sepertimu?"

Tanya pemuda itu disertai seringai dingin. "Kau seorang raja sungguhan?"

Sentak Bethala Karma dengan mata mendelik tidak percaya.

"Ehh, setan kunyuk. Kau kira aku raja bohongan? Tentu saja aku raja. Dibandingkan dirimu yang hanya seorang panglima perang. Maka kedudukanku jauh lebih tinggi dibandingkan dirimu."

Jawab Raja sambil tertawa mengekeh.

"Sekarang lebih baik kau bertutut didepan rajamu. Dengan begitu mungkin aku hanya meminta sepasang tangan, sepasang kaki, sepasang telinga dan satu kepalamu ha ha ha!"

"Pemuda gila tidak tahu diri. Beraninya kau bicara begitu pada Bethala Karma? Sekarang juga kau harus serahkan selembar nyawa busukmu!"

Teriak sang mahluk dalam kemurkaan.

Belum lagi suara teriakannya lenyap, Bethala Karma telah melompat ke depan.

Dengan gerakan enteng dua tangan disebelah kiri menyambar ganas berusaha membeset bagian bahu hingga ke perut Raja.

Mendapat serangan secepat itu Raja segera berkelit menghindar. Serangan pertama dapat dihindari pemuda ini.

Namun belum sempat dia berdiri tegak dua tangan yang disebelah kanan menderu mengancam dua titik mematikan ditubuh sang pendekar.

Tak ingin celaka Raja segera pergunakan jurus Tarian Sang Rajawali yang digabungkan dengan jurus Tangan Dewa Menggusur Gunung.

Ketika tubuhnya meliuk-liuk hindari serangan selayaknya orang menari, Raja lalu hantamkan tangannya ke depan.

Terdengar suara deru mengerikan menyertai jotosan yang dilakukan sang pendekar.

Di depannya tanpa menghiraukan deru angin dan dua tinju lawan Bethala Karma terus merangsak maju.

Plak! plak! desss!

Dua benturan keras terjadi.

Dan satu jotosan Raja yang sanggup menembus dan mendarat di dada lawan hanya membuat Bethala Karma terdorong mundur dua langkah.

Walau tubuhnya sempat terguncang tapi mahluk itu dengan seketika dapat melakukan serangan balik.

Kali ini bukan hanya dua pasang tangannya yang bergerak menghantam, tapi juga dua kaki depan kanan dan kiri ikut melepaskan tendangan.

Mendapat serangan bertubi-tubi sang pendekar terpaksa melompat mundur.

Tapi lawan nampaknya sudah tidak memberi kesempatan pada Raja untuk meloloskan diri dari serbuan serangannya.

Dan ketika melihat Raja berkelit hindari serangan empat tangan, secepat kilat kaki kiri menderu mencari sasaran dibagian perut raja.

Decesss! Ugkh...! Sang Maha Sakti Raja Gendeng yang baru mengikrarkan diri sebagai Raja Gendeng 313 terpental ke atas dengan tubuh setengah membungkuk dengan rasa sakit yang luar biasa.

Tapi tanpa menghiraukan segala penderitaan yang dirasakannya Raja segera berlaku sigap begitu melihat Bethala Karma lancarkan lagi pukulan tangan kosong ke arahnya.

Melihat dua tangan terjulur siap menghantam hancur kedua kakinya, Raja Gendeng 313 segera menangkis serangan itu dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanan dia kibaskan sekaligus melepas pukulan Kabut Kematian.

Dua tangan beradu keras dengan Raja, benturan yang terjadi mengakibatkan guncangan keras pada kedua belah pihak

Selagi Raja jungkir balik diudara akibat bentrokan tenaga dalam, Bethala Karma melihat segulung cahaya merah redup disertai tebaran asap putih berbau harum yang mematikan.

Sang mahluk menggeram.

Tiga perwira dan Durganini yang mendapat isyarat dari Raja segera menutup jalan nafas.

Sebaliknya Bethala Karma dengan sikap congkak segera kibaskan tangan ke depan menghalau tebaran asap dan serangan cahaya merah yang mengincar kedua kepalanya.

Byaaar!

Benturan cahaya merah dengan kibasan tangan membuat keadaan disekitarnya kembali dilanda guncangan.

Pecahan cahaya merah berpentalan ke segenap penjuru. Bethala Karma menyeringai dingin.

Namun seringainya lenyap seketika begitu dia merasakan nafasnya menjadi sesak dan lehernya terasa sakit laksana dicekik.

Mahluk itu mendelik.

Dua pasang tangan berusaha menggapai sekaligus melakukan usapan dilehernya. Melihat ini Raja tidak menyia-nyiakan kesempatan.

Sambil lambungkan tubuhnya dekat lawan dia menghantam dada lawan dengan tendangan bertubi-tubi.

Terdengar suara bak, bik, buk berulangkali. Bethala Karma jatuh terjengkang.

Menyangka lawan terluka parah, pemuda ini tidak memberi kesempatan lagi.

Selagi tubuh yang menggelepar berusaha bangkit, kesempatan itu segera dipergunakan oleh Raja dengan menghantam tubuh tinggi besar tersebut dengan pukulan sakti Cakra Halilintar.

Diantara ilmu pukulan sakti yang dimiliki pendekar.

Dua pukulan maut yang dilepaskan Raja termasuk pukulan yang paling dashyat. Tidaklah aneh ketika Raja hantamkan tinju kirinya. Dari tangan yang terkepal menderu ganas serangkum cahaya biru disertai semburan hawa panas luar biasa.

Sebaliknya, dari tangan kanan sang pendekar melesat satu cahaya putih kemerahan berbentuk bulat pipih bergerigi berbentuk cakra.

Mendapat dua serangan dashyat itu Bethala Karma hanya sempat menggerakan empat kakinya secara bersilangan untuk menghalau dua pukulan dahsyat lawannya. Akibat yang kemudian ditinggalkan oleh serangan Raja sungguh mengerikan.

Tubuh lawan yang terkena pukulan Seribu Jejak Kematian amblas lenyap ke dalam bumi.

Sebaliknya, empat kaki yang dipergunakan untuk menangkis serangan Cakra Halilintar terbabat putus menjadi empat bagian. Kutungan empat kaki jatuh berpelantingan tak jauh dari tubuh Bethala Karma yang amblas terpendam.

Menyangka lawan menemul ajal, Raja segera balikan badan menghadap ke arah tiga perwira dan Durganini yang berdiri dengan sikap waspada.

"Pendekar! Kami yakin, Bethala Karma tidak bisa dihabisi dengan cara semudah itu."

Seru perwira tiga. Dua perwira lainnya anggukan kepala. Namun mereka lebih memilih pusatkan perhatian ke arah lubang menganga dimana asap tebal masih mengepul.

"Apakah betul demikian? Bagaimana mungkin orang yang terkena pukulanku masih bisa hidup lagi dan...!"

Ucapan kaget sang pendekar terhenti sampai di situ karena mendadak dia melihat bahwa kutungan empat kaki tiba-tiba melayang disertai deru mengerikan menuju ke arah lubang.

"Astaga! Semua pemandangan ini sangat sulit untuk kupercaya!" Sentak Raja dengan mata terbelalak dan mulut menganga. "Raja, pergunakan senjatamu!"

Teriak Durganini yang diam-diam mengihawatirkan keselamatan pendekar itu.

"Kita harus membantunya. Kita habisi Bethala Karma dengan menggunakan mutiara ini." Kata perwira tiga pada dua perwira sahabatnya.

"Hanya itu jalan satu-satunya yang paling baik." Jawab kedua perwira itu hampir bersamaan.

Sementara di depan sana, dari balik kepulan asap yang membubung dari lubang menganga. Tiba-tiba Bethala Karma menyeruak kembali.

Raja melihat walau sebagian sisik yang memenuhi sekujur tubuh Bethala Karma mengelupas hangus.

Namun mahluk ini tidak kekurangan suatu apa.

Malah empat kakinya yang tanggal kini telah menyatu seperti semula.

Dengan sikap mengancam sang mahluk melangkah maju, Sementara dari mulutnya terdengar ucapan menggembor.

"Hanya kau manusia yang satu-satunya hampir membuat diriku celaka! Sekarang terimalah kematianmu!"

Berkata demikian Bethala Karma tiba- tiba acungkan dua puluh jari tangannya. Dia juga membuka mulut lebar-lebar. Melihat lawan siap semburkan cairan mematikan dari tangan, mulut juga ke empat matanya.

Perwira dua berseru.

"pendekar, lindungi dirimu dengan senjata. Dia hendak menghabisimu dengan Cairan Beracun Neraka Mendidih."

Seru perwira tiga menyebut nama serangan yang dilakukan Bethala Karma "Kedua jiwa sahabatku. Sekarang saatnya untuk bertindak!"

Kata Raja melalui ilmu mengirimkan suara. "Kami telah siap dari tadi!"

Jawab jiwa pedang dan jiwa perempuan bersamaan.

Cahaya kuning keemasan tiba-tiba memancar dari hulu pedang berpindah dalam genggaman Raja.

Ternyata pancaran cahaya emas itu berasal dari pedang gila yang kini berada dalam genggaman pendekar.

Tanpa menghiraukan senjata yang tergenggam di tangan pemuda itu, sambil menghambur ke depan Bethala Karma menahan nafas sekaligus pancarkan cairan mautnya dari seluruh ujung jemari tangan, mulut juga empat mata yang terdapat di dua kepala.

Cairan putih menyembur dari bagian-bagian tubuh mahluk itu disertai suara desis mengerikan.

Hebatnya lagi ketika semburan cairan laksana curah hujan itu bergesekan dengan udara, cairan putih berubah menjadi semburan cahaya merah yang panasnya seratus kali lipat dari panas api biasa.

Dua perwira setan segera menarik Durganini menuju ke tempat yang aman. Sedangkan perwira Tiga segera melangkah maju siap membantu pemuda itu.

Didepan sana Raja segera memutar senjata membentuk sebuah perisai pertahanan kokoh. Deru mengerikan dan pancaran cahaya emas menyertai berkelebatnya senjata sakti itu.

Sementara Jiwa pedang dan jiwa perempuan segera pergunakan senjata aneh berupa Payung Gaib Dewa Naga.

Senjata gaib itu, sebenarnya tersimpan di dalam hulu pedang.

Selama menghuni pedang gila, jiwa pedang baru kali ini mempergunakan senjata kasat mata itu bersama jiwa perempuan.

Mendapat perlindungan payung dari atas. Dan perisai pedang yang dilakukan oleh Raja sendiri.

Membuat semburan cairan yang memancar dari beberapa bagian tubuh Bethala Karma bukan saja tak sanggup mengenai lawannya.

Lebih celaka lagi sebagian malah berbalik menghantam diri sang mahiuk, membuat Bethala Karma kaget lalu melompat menghindar selamatkan diri disertai sumpah serapah.

Berbaliknya cairan yang seharusnya mengenai diri sang pemilik menghantam tempat kosong membuat tanah menyala dilamun amukan api.

"Jahanam, itu punya ilmu apa dia? Mengapa seperti ada perisai yang tidak terlihat melindungi nya. Aku tak yakin hanya dengan memutar pedang sanggup membuatnya lolos dari serangan mautku!"

Geram Bethala Karma.

Namun tidak ada waktu baginya untuk berpikir lama.

Kemarahan yang mengalir diseluruh tubuhnya membuat mahluk itu berlaku nekat.

Tanpa menghiraukan sambaran pedang yang berkelebat menderu mengincar bagian-bagian yang mematikan di tubuhnya dia merangsak maju.

Melihat lawan, Raja merasa inilah kesempatan terbaik untuk menyerang kembali. Tiba tiba saja dia langsung melompat sambil tusukan pedang ke arah dada.

Serangan ini sebenarnya hanya tipuan saja. Begitu lawan berkelit.

Pedang dia arahkan ke bagian perut. Crakkk!

Jresss!

Pedang menembus perut Bethala Karma. Tapi hebatnya dia tidak tewas menemui ajal.

Sebaliknya malah sempat lakukan serangan balik. Satu jotosan mengenai dada sang pendekar.

Membuat pemuda itu terpelanting sedangkan pedangnya terlepas dari genggaman dan masih menancap di perut lawan.

Terpental jatuh dalam keadaan terbanting, Raja merasa dadanya terasa remuk. Dari mulut menyembur darah segar.

Masih bagus pemuda ini memakai baju sakti pelindung dirinya. Kalau tidak kemungkinan Raja telah menemui ajal.

Satu lagi kelebihan pakaian sakti yang menempel ditubuhnya.

Walau saat itu Raja menderita cidera di bagian dalam, Namun pakaian pelindung berwarna kelabu segera bereaksi membantu menyembuhkan luka dibagian dalam dengan waktu yang terbilang singkat "Gila betul.Bagaimana mungkin dia bisa selamat dari pukulan maut dan beracun Selaka Bunga Mayat? Kalau tidak melihat dengan mata kepala sendiri mana mungkin aku..."

Belum sempat Bethala Karma menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba saja dia melihat perwira tiga berlari kearahnya sambil berseru.

"Mahluk jahanam itu, kalau dia tidak dihantam dulu dengan Mutiara Tujuh Setan, dia tidak akan mengenal kata mati!"

Sambil berteriak demikian sang perwira juga berteriak ditujukan pada sang pendekar, "ambil pedang pergunakan pedangmu!"

Mendengar teriakan sang perwira. Raja pun berteriak ditujukan kepada jiwa pedang melalui suara mengiang.

"Jiwa pedang lekas datang padaku."

"Saya dan jiwa perempuan sedang berusaha. Tapi mahluk jelek ini seperti yang gusti lihat mencengkeram pedang dengan erat.."

Menatap ke arah Bethala Karma.

Raja memang melihat sang mahluk menggenggam erat pedang gila yang baru dia tarik lepas dari perutnya.

Sementara itu ketika melihat perwira tiga datang menyerang dengan melemparkan Mutiara Tujuh Setan ke arahnya, Bethala Karma dengan menggunakan dua tangan kembar di sebelah kiri berusaha menangkap Mutiara yang menderu sebat ke arahnya.

Tapi mengingat perhatian Bethala Karma terbagi dua antara memegangi pedang yang di- anggapnya aneh dan datangnya serangan.

Tentu saja usahanya untuk menangkis sekaligus menangkap Mutiara Tujuh Setan tidak berjalan sesuai dengan yang dia inginkan.

Apalagi setelah menyambitkan mutiara, perwira tiga dengan dibantu oleh perwira dua menyusul datang dengan masing- masing melakukan tendangan yang tertuju ke bagian kaki Bethala Karma.

Sesaat mahluk ini menjadi bingung tidak tahu mana yang harus dia hadapi.

Mutiara yang memancarkan cahaya putih terang yang diikuti tujuh cahaya lain dibelakangnya berkelebat menderu.

Bethala Karma yang hendak menggunakan Pedang Gila untuk menangkis jadi terperangah sendiri.

Pedang gila bukannya bergerak ke arah yang dia inginkan melainkan melesat berlawanan arah.

Hulu pedang dalam genggaman bahkan memancarkan cahaya panas mengerikan membuat sang mahluk memekik kaget dan lepaskan senjata itu.

Begitu terlepas, pedang melesat ke arah pemiliknya. Bethala Karma menggeram.

Segala kegilaan yang terjadi pada pedang itu benar-benar membuat sang mahluk menjadi bingung.

Tapi dia tidak punya waktu berpikir lebih lama.

Dia harus bisa menangkis sekaligus menangkap Mutiara Tujuh Setan. Sambil menatap ke arah mutiara yang berpijar.

Dua tangan dipakai untuk menangkis sedangkan dua tangan lainnya dia pakai untuk menangkap mutiara itu.

Tapi yang terjadi kemudian sungguh diluar dugaan.

Di saat perhatian Bethala Karma sepenuhnya tertuju kepada mutiara.

Tiba-tiba perwira tiga dan perwira dua menghajar kakinya, membuat sang mahluk terguncang. Tangkisan dan cengkeramannya meleset.

Tanpa ampun Mutiara Tujuh setan menghantam dada, amblas dan menembus puggung sebelah belakang.

Satu lubang menganga mengerikan menghiasi dada Bethala Karma.

Sementara mutiara terus melesat ke arah ketinggian lalu berbalik kembali ke arah perwira tiga.

Raja yang telah menggenggam pedang dan berada tidak jauh dari Bethala Karma segera mengambil tindakan.

"Sekaranglah saatnya!" Teriak pemuda itu.

Laksana kilat dia melompat ke arah lawan, pedang menderu bertabur cahaya emas menyilaukan lalu membabat ke arah lawannya.

Dalam keadaan luka parah Bethala Karma berusaha hindari tebasan pedang namun gerakan yang dia lakukan ternyata kalah cepat dengan serangan pedang.

Creees! Breeest!

Ujung pedang mengoyak bahu kiri hingga ke dada mahluk itu. Bethala Karma meraung setinggi langit.

Dia yang telah kehilangan sebagian besar kesaktiannya akibat dihantam Mutiara Tujuh Setan oleh perwira tiga roboh.

Ketika tubuhnya memyentuh tanah mahluk ini berkelojotan sebentar.

Lalu entah dari mana datangnya api tiba-tiba muncul memberangus bagian luka dan melalap sekujur tubuhnya.

Setelah kobaran api lenyap.

Jasad sang mahluk pun ikut raib tidak meninggalkan bekas. Raja yang sempat tertegun segera sarungkan pedang ke belakang punggungnya. Ketika pemuda ini balikan badan.

Dia melihat perwira satu, Durganini dan perwira dua sedang duduk mengelilingi perwira Tiga.

Selain itu Raja juga melihat diatas tangan perwira Tiga dimana Mutiara Tujuh Setan tergeletak bermunculan tujuh cahaya berwarna wami dalam rupa sosok mahluk berkepala botak namun memiliki bagian tubuh jauh lebih kecil dari ukuran kepalanya.

Ketujuh mahluk berwarna merah, biru, kuning, putih, jingga, coklat dan ungu itu melayang-layang diantara para perwira dan Durganini sambil tertawa senda gurau.

"Ketujuh mahluk inikah penghuni Mutiara Tujuh Setan?" Tanya Raja begitu berada dihadapan mereka.

Tujuh mahluk mutiara hentikan gerakan.

Menatap kearah Raja dengan malu-malu, silih berganti, mulut mereka membuka mengucapkan sesuatu dalam bahasa yang tidak dimengerti Raja dan Durganini.

Kemudian... Wuus!

Tujuh mahluk penghuni mutiara amblaskan diri ke dalam mutiara lalu lenyap dari pandangan mata.

Cahaya terang yang dipancarkan mutiara meredup.

Perwira tiga menyimpan benda keramat itu kedalam kotak putih lalu menyimpannya di balik pakaian.

Diikuti oleh teman-temannya, perwira ini bangkit berdiri.

Setelah menghadap ke arah Raja dan Durganini yang berdiri di samping pendekar itu ketiganya menjura hormat.

"Tujuh mahluk setan penghuni mutiara tadi mengucapkan banyak terima kasih tidak terhingga padamu juga Durganini."

Terang perwira itu.

"Kami tidak mungkin membalas budi kebaikanmu berdua. Terutama jasa-jasamu paduka Raja pendekar." kata perwira dua pula.

"Mudah-mudahan yang mahakuasa yang membalasnya." Timpal perwira satu pula.

"Aku melakukan sesuai kemampuanku. Tapi yang lebih banyak membantu adalah Raja." Kata Durganini sambil melirik pemuda disampingnya.

"Aku ho ho ho...manusia geblek sepertiku mana bisa berbuat apa-apa kalau tidak direstui dewa.

Kuharap kalian tidak usah berlebihan. Berterima kasihlah pada dewa yang telah melindungi kita semua." Mendengar ucapan Raja, tiga perwira serentak dongakkan kepala menatap ke langit. "Ya, kami berterima kasih pada para dewa juga," berkata tiga perwira bersamaan.

Baru saja mereka berucap demikian, serombongan burung lewat terbang di ketinggian. Cairan hangat mengguyur wajah dan hidung mereka.

Tiga perwira sama mengusap cairan sama menjilat dengan lidah masing-masing. "Huh, apaan ini, hangat dan asin."

Dengus perwira tiga.

Setelah melihat kawanan burung dan pandang tiga perwira di depannya sang pemuda dan Durganini tertawa tergelak-gelak

"Kalian telah direstui sekawanan burung, buktinya mereka bersuka hati dengan mengencing kalian, ha ha ha..."

"Apa?" sentak ketiga perwira itu dengan mulut melongo terbodoh. "Kalian perwira hebat, tapi bodoh. Hi..hi.. hi..."

Kata Durganini sambil tergelak.

Tiga perwira usap usap kepala yang botak plontos. Tidak lama kemudian ketiganya berpamitan pada Raja dan gadis berbulu itu.

"Kami akan segera kembali ke negeri kami. Semoga setelah tewasnya Bethala Karma negeri kami menjadi aman tenteram."

Kata perwira tiga mewakili dua saudaranya.

"Aku mengucapkan selamat jalan. Dalam perjalanan aku juga berharap tidak lagi ada kawanan burung yang buang hajad di atas kepala botak paman bertiga!"

Sahut Raja sambil tersenyum.

Tiga perwira kini tertawa namun cepat bungkukan badan tiga kali lalu... des!

Sekejaban mata ketiganya lenyap dari hadapan Raja dan Durganini, Seperginya tiga perwira setan.

Durganini dengan berat hati memilih berpisah dengan Raja. Gadis itu berniat menyambangi makam saudaranya Durgandala. Sedangkan Raja kembali melanjutkan perjalanan.

TAMAT