Raja Gendeng Eps 19 : Seruling Halilintar

 
Eps 19 : Seruling Halilintar


Batu Cadas Angin.

Hari telah beranjak malam. Suasana terasa sunyi mencekam.

Dalam kegelapan terlihat pepohonan menjulang tinggi meranggas menyeramkan tak ubahnya seperti patung-patung raksasa bisu.

Sementara di bawah pohon beringin merah ada seorang lelaki duduk bersila sambil menyandarkan punggungnya di batang pohon.

Lelaki ini berpakaian merah dan berambut kaku tegak bergelung menyerupai tanduk yang juga berwarna merah.

Tidak jauh didepannya teronggok sebuah peti mati hitam terbuat dari jati Lawas. Karena mulut peti ditutup rapat maka tidak ada yang tahu apakah peti mati berisi mayat ataukah dalam keadaan kosong.

Yang jelas laki-laki yang usianya sekitar tiga puluh tahun itu sesekali terlihat mengusap dan memeluk peti.

Bahkan air matanya meleleh bergulir menuruni pipinya. Dia menangis.

Tapi tangisnya tanpa suara.

Lama duduk dibawah pohon membuatnya menjadi bosan.

Sambil menghela nafas dia menyusut air matanya dengan punggung tangan. Selanjutnya dengan tatapan tajam menusuk dia layangkan pandang ke arah jalan setapak yang membentang tak jauh di depannya yang dipagut kegelapan.

"Sudah sejak pagi bocah itu pergi. Seharusnya dia sudah kembali lagi kesini sebelum matahari terbenam. Tapi sampai hari menjadi malam dia masih belum juga datang. Gerangan apa yang terjadi?"

Membatin laki-laki berambut merah melengkung seperti tanduk itu. Sejenak dia tundukan kepala, mencoba berpikir apakah yang telah dialami bocah yang menjadi suruhannya.

Sesuatu yang menjadi kebiasaan sang bocah tiba-tiba terlintas dalam benaknya, membuat

laki-laki itu menggeleng keras lalu menepuk keningnya sehingga mengeluarkan Suara berderak seperti remuknya batok kepala.

Prak! Prak!

Satu pemandangan mengerikan benar-benar terjadi, Kepala dan wajah yang bulat aplk tampak mencong, miring sana sini tidak beraturan.

Tulang dibagian dahi bahkan menyembul tak karuan.

Tapi tidak ada darah yang keluar baik dari hidung maupun telinga yang menandakan pecahnya kepala akibat tamparannya sendiri.

Dan Laki-laki itu sedikit pun tidak merasa kesakitan.

"Dalam kepala ada otak, namun otak ini terkadang tidak berguna disesatkan rasa sedih dan kecewa yang berlarut-larut. Tapi kalau kubiarkan kepala ini mencong wajah miring tak berbentuk, tidak hanya manusia, setan pun jadi takut memandangiku. Sebaiknya kubetulkan lagi bentuk wajah dan kepalaku ini seperti semula,"

Berkata demikian lalu dia kembangkan kedua telapak tangannya.

Kemudian mulut berkemak-kemik membaca mantra yang dikenal dengan nama Kembali Ke Asal.

Untuk sekedar diketahui ilmu Kembali Ke Asal di masa itu merupakan ilmu langka yang hanya dimiliki oleh beberapa tokoh persilatan saja.

Selesai membaca mantra dia meniup telapak tangan kiri kanan. Lalu meludahinya masing-masing sebanyak tiga kali.

Kedua tangan diangkat lalu disapukan keseluruh wajah juga bagian kepala. Krek!

Kreek!

Terdengar tulang-tulang yang hancur berderak, bertautan dan menyusun kemball ke tempat masing-masing.

Ketika dua tangan diturunkan, wajah dan bagian kepala yang remuk kembali ke bentuk semula. Laki-laki yang dikenal dengan nama Tanggul Api itu tersenyum. Yang aneh ketika dia tersenyum justru air mata menetes deras membasahi pipinya.

"Bocah keblinger bernama Tunggul Angin! Gerangan apa yang terjadi dengan dirimu? Kuminta kau pergi mencari benda yang kubutuhkan. Dan segera kembali. Mengapa tak kunjung pulang? Aku tak bisa menunggu! Penantian yang lama membuat arwah jadi gelisah dan jasadnya segera membusuk!"

Dengus Tanggul Api tidak sabar. Perlahan dia bangkit berdiri.

Mata dikedip lalu memandang ke sekelilingnya.

Dua telinganya yang agak lebar namun tipis bergerak-gerak berjingkat. Dia mendengar suara desir.

Jelas bukan desiran angin biasa.

Suara sangat halus itu jelas datangnya karena kehadiran seseorang. Datangnya tidak dari satu arah namun dari dua arah sekaligus.

Satu dari sebelah kiri dan satunya dari sebelah kanan.

Yang dari kanan desirannya lebih halus pertanda siapapun orangnya yang hadir dibalik kegelapan itu mempunyai tenaga dalam serta ilmu mengentengi tubuh yang sudah sangat sempurna.

Yang disebelah kiri suaranya lebih kasar.

Bisa jadi dia kedatangan tamu bertubuh gemuk. Tidak mau menunggu.

Tanggul Api membentak.

"Bocah tolol! Kau sudah tahu jalan ke pohon ini. Mengapa memilih menerobos semak seperti pencuri pikun. Kau datang dari dua arah, apa arwahmu sudah minggat meninggalkan tubuhmu yang bau itu?!"

Ucapan Tanggul Api sebenarnya bukan sungguh-sungguh ditujukan pada Tunggul Angin kakek renta yang kerap dipanggilnya bocah.

Ucapan itu adalah sindiran yang ditujukan pada orang yang datang lalu mendekam di dua tempat

Sret!

Terdengar suara langkah kaki bergegas berlalu, Tanggul Api kembali berucap menyindir. "Baru datang, Maksud belum diutarakan mengapa buru-buru pergi?"

Lalu Tanggul Api kembali membuka mulut, kali ini ditujukan pada sosok disebelah kanan. "Mengintai bergelap-gelap diri, apa yang dinanti. Perampok tengik! Aku hanya punya peti mati

dan satu mayat orang terpuji. Jika ada kepentingan cepat munculkan diri. Tak ada keperluan harap tahu diri dan angkat kaki."

Tidak ada jawaban baik dari sebelah kirl maupun sisi sebelah kanan.

"Yang satu pergi, tapi aku merasa ada sesuatu yang ditinggalkan. Satunya lagi mungkin sudah bosan hidup,"  

Membatin Tanggul Api.

Dia menunggu sebentar namun laki-laki ini tidak ingin membuang waktu maka dua tangan diangkat tenaga dalam diam-diam dialirkan ke tangan dan sekujur tubuh

Byar!

Kegelapan di bawah pohon beringin merah mendadak berubah terang benderang, saat rambut panjang bergelung melengkung ke depan seperti tanduk memancarkan cahaya merah terang.

"Aku bukan orang yang senang bergurau. Aku sedang dirundung duka. Jika ada orang yang menginginkan jalan menuju ke aherat sekarang juga aku akan menunjukkannya!"

Setelah berkata demikian, Tanggul Apl hantamkan kedua tangannya yang menyala yang dikobari api. Wout! Wut! Wuus!

Dua larik cahaya merah seperti ular besar menyambar ke tempat sosok mendekam diperkirakan bersembunyi.

Dua api panas menyambar membakar semak dan pohon hingga membuat suasana menjadi terang.

Sesaat sebelum dua serangan Tanggul Api mengenal sasaran, terlihat satu bayangan serba hijau berkelebat menghindar selamatkan diri.

Seiring dengan itu terdengar pula orang merutuk.

"Sekian lama tidak bertemu. Kini apa yang hendak kau lakukan kepadaku, kakang Tanggul Api?" "Bukan cuma hendak mencederai, juga hendak mengirimku ke akherat."

"Walah sudah ketertaluan sekali?"

Mendengar orang menyebut namanya dan suaranya suara perempuan membuat Tanggul Api kernyitkan alisnya.

Dia batalkan serangan ke dua dan matanya memandang lurus ke depan.

Mata Tanggul Api membulat besar ketika melihat di depannya tahu-tahu, telah berdiri seorang gadis cantik berpakaian biru ringkas berambut panjang namun awut-awutan.

"Adik Peri...Peri Halilintar. Benar-benar kaukah yang kulihat ini?"

Desis Tanggul Api seakan tidak percaya. Si gadis yang memang Peri Halilintar adanya anggukkan kepala sambil rangkapkan kedua tangan di depan dada. "Aku memang saudaramu, kakang Tanggul Api,"

Menyahuti Peri Halilintar sementara perhatiannya sedang tertuju ke arah peti mati yang tergeletak di depannya. "Musibah apa lagi yang menimpa saudaraku satu ini. Mengapa sekarang ada peti bersamanya?

Siapa yang terbujur dalam peti itu?"

Membatin sang dara. Dia yang tahu sifat serta watak Tanggul Api tidak berani bertanya. Setelah memperhatikan peti kini perhatiannya tertuju pada laki-laki yang tegak dua tombak di depannya.

"Kulihat wajahmu diliputi kabut kesedihan. Padahal kedatanganku bukan untuk mengucapkan turut berduka cita. Kau menangis dan mungkin tangismu telah berlangsung berhari-hari. Tapi!... saudaraku, bukannya mau mencampuri urusanmu Aku hanya ingin tahu apa yang telah terjadi di dalam kehidupanu?"

Tanggul Api menggumam, kepala digejeng. Kemudian dengan suara lirih tertahan dia menjawab. "Saudaraku. Lama kita tidak bertemu..."

Lalu Tanggul Api dongakkan kepala, wajah menengadah ke langit. Kedua matanya menjadi hangat.

Ada air mata menggenang di sana. Air mata itu coba disembunyikannya.

Namun sekecil apapun perubahan yang terjadi pada wajah Tanggul Api dapat dilihat oleh Peri Halilintar.

Sang dara sebenarnya ingin bertanya gerangan apa yang membuat sang kakak berduka. Tetapi dia memilih diam.

"Adikku. Aku sedih karena telah ditinggal oleh orang yang sangat dekat dengan hidupku!"

Mendengar ucapan Tanggul Apl, Peri Haliintar dapat menduga bahwa orang yang dimaksud pastilah orang yang ada di dalam peti mati itu.

Dia tahu bahwa Tanggul Api telah tinggal di kawasan Cadas Angin selama belasan tahun.

Di tempat sepi dan gersang ini dia tinggal bersama dengan seorang kakek aneh yang dikenal dengan nama Ki Agung Saba Biru.

Orang tua itu adalah gurunya.

Selain itu masih ada pula seorang kakek aneh yang bernama Tunggul Angin.

Walau usianya tua, Tunggul Angin suka bicara melantur tak keruan seperti seorang bocah.

Dia masih terhitung adik seperguruan Tanggul Api karena menjadi murid yang paling belakang. "Kakang, aku ingin bertanya apakah dukamu karena sebab kematian saudara seperguruanmu

Tunggul Angin?"

Mendengar itu Tanggul Angin tertawa tergelak-gelak.

Dan anehnya setiap kali tertawa Justru air matanya menetes

"Jangan bicara dan bertanya tentang bocah bangkotan bodoh itu? Sebab bukan dia yang terbujur di dalam peti mati itu,"

Kata Tanggul Api sambil menunjuk ke arah peti. "Kalau dia yang menemui ajal menghadap diraja cacing tanah, maka dukaku akan segera hilang seperti diterpa panas matahari. Tetapi.... huk... huk... huk..."

"Tapi apa?"

"Yang terbujur di dalam peti mati itu apakah gurumu?"

Desak Peri Halilintar sambil menggaruk rambutnya yang tidak gatal.

"Setiap orang di dunia ini pasti akan mati dan orang yang ditinggalkan juga merasa sedih.

Kakang.... sudah berapa harikah gurumu ini berpulang?" Tanya sang dara penasaran.

"Sett... bertanya jangan keras-keras,"

Kata Tanggul Api sambil tempelkan jari telunjuknya di depan bibir.

Melihat sang kakak mulai menunjukkan gelagat dan tingkah yang aneh Peri Halilintar menggerutu dalam hati.

"Sial! Penyakit gilanya kumat lagi."

"Jika begitu kejadiannya pertolongan dan bantuan apa yang bisa kuharapkan dari orang yang tidak waras?"

"Aku tidak ingin guru terjaga. Yang aku mau beliau dapat tidur nyenyak di alam sana." Tanggul Api lanjutkan ucapan.

"Dia adalah orang tua yang baik padaku juga pada bocah bangkotan itu. Mengapa orang baik-baik usianya tidak panjang. Mengapa orang yang sering berbuat jahat panjang usianya?"

Tanggul Api lalu menatap sang dara, memperhatikan wajah dan tatapan mata bening itu seolah berusaha mencari jawaban disana.

Peri Halilintar menggaruk kepala.

Dia merasa iba, prihatin dan sedih melihat saudaranya.

Tak ingin berlarut-larut, sang dara sengaja mengalihkan pembicaraan dengan tidak menjawab pertanyaan sang kakak.

"Kakang. Apa yang menjadi penyebab tewasnya gurumu, apakah karena sakit ataukah karena dibunuh?"

"Dibunuh?"

Desis Tanggul Api tercengang kaget. Dia goyang-goyangkan jari telunjuknya sambil menggerutu tidak jelas.

"Tentu saja beliau menghembuskan nafas terakhir karena usianya tua. Tapi... .aku ingin guruku hidup kembali. Aku ingin dia tetap bersamaku. Karena itu aku telah memerintahkan Bocah Bangkotan Tunggul Angin untuk mencari dan menemukan Mutiara Tujuh Setan. Benda kramat itu yang konon menyimpan kehebatan diantaranya juga dapat dipergunakan untuk menghidupkan orang yang sudah mati. Bila Tunggul Angin mendapatkan Mutiara Tujuh Setan maka guruku pasti bisa hidup kembali." Segala ucapan Tanggul Api membuat mata Per Halilintar terbelalak. Dengan tak percaya gadis ini langsung memberi teguran.

"Kakang. Sedikitpun aku tidak pernah menyangka otakmu kini sudah tidak lempang lagi. Tidak ada gunanya menyuruh kakek Tunggul Angin mencari benda kramat yang sedang menjadi Incaran banyak tokoh sakti itu. Sadarlah kakang, sejak dulu hingga sekarang setiap kehidupan selalu berakhir dengan kematian., Kau tidak boleh melanggar apa yang telah digariskan oleh dewa. Menghidupkan gurumu yang sudah tiada jelas merupakan perbuatan menentang kehendak Yang Kuasa. Kuharap kau segera menguburkan gurumu Ki Agung Saba Biru. Kasihan kakek itu. Dengan membiarkan tergeletak di dalam peti mati sama saja menyiksa jasadnya dan membuat arwahnya menjad tidak tenang."

"Ha ha ha. Kau tahu apa tentang kehidupan di alam sana? Guruku baru dua puluh hari terbaring dalam peti mati."

"Ha! Apa? Dua puluh hari kau bilang baru?"

Sentak sang dara dengan mata terbelalak. Tunggul Api manggut-manggut.

Dengan sikap selayaknya orang yang tidak melakukan kesalahan tenang saja dia berkata, "Adikku kau terlalu cerewet. Aku harap jangan mencampuri unusanku! Tapi... hem, tunggu.

Sekarang aku ingat."

Gumam Tanggul Api. Wajah yang murung itu tiba-tiba berubah sumringah.

"Bukankah... bukankah kau yang selama ini dipercaya menjaga mahluk dari luar jagad. Mahluk itu kalau tidak salah dikurung dalam penjara disebuah jurang membara di kaki gunung Dieng. Bukankah mahluk yang kau jaga itu sebelumnya hendak merampas Mutiara Kramat dari tujuh perwira? Aku yakin kau tahu dimana Mutiara Kramat itu berada?"

Mendengar pertanyaan Tanggul Api jantung Peri Halilintar berdegup kencang.

"Jauh-jauh aku datang ingin mengharap uluran tangannya, sungguh tak pernah kusangka kehadiranku disini malah menambah masalah," batin sang dara penuh sesal.

"Mengapa kau diam? Sikap diammu itu sudah merupakan pertanda bahwa kau tahu keberadaan mutiara itu"

"Kau bermaksud mendapatkan dan menguasai benda yang bukan menjadi milikmu?!" kata Peri Halilintar mulai hilang kesabaran

"Tidak. Aku hanya ingin meminjam sebentar saja.Mutiara Tujuh Setan berguna untuk mengembalikan nyawa guruku!"

Jawab Tanggul Api polos sambil titikkan air mata.

"Kakang Tanggul Api. Mungkin saja aku tahu dimana adanya mutiara kramat Mutiara Tujuh Setan, Tapi ada dua masalah penting yang kiranya perlu kau ketahui. Pertama menyangkut gurumu yang telah berpulang. Mengingat beliau menghembuskan nafas karena sakit dan usia tua harap kau merelakan kepergiannya. Yang kedua perbuatanmu hendak membangkitkan orang yang telah mati adalah melawan kehendak takdir, Sebelum terlambat dan terlanjur melakukan kesalahan besar batalkan saja keinginanmu!"

Mendengar ucapan Peri Halilintar rupanya Tanggul Api tidak dapat menerima. Wajah yang sedih, tampang yang murung dan diliputi kebingungan itu mendadak berubah menjadi beringas

"Kkk...kau.. bukannya membantu mencarikan jalan keluar malah sebaliknya membuat pikiran yang kusut ini jadi tak karuan. Apakah sudah bosan hidup, sehingga berani mencegah keinginanku?"

"Kakang, aku hanya mengingatkan karena aku adalah adikmu"

"Diam! Setiap orang yang tidak berada dipihakku, dia adalah musuhku. Setiap musuh aku wajib menyingkirkannya!"

Teriak Tanggul Api.

Peri Halilintar mencoba bersikap sabar.

Dia berpikir ada keanehan menguasai diri sang kakak.

Sesuatu yang sangat jahat tapi sang dara tak dapat memastikannya.

Belasan tahun yang lalu Tanggul Api memang telah menderita gangguan ingatan. Namun kegilaannya hanya setahun sekal.

Dan kini setelah menjadi murid Ki Agung Saba Biru penyakitnya tak kunjung sembuh malah terkesan makin menjadi-jadi.

Peri Halilintar menggigit bibir sambil pandang Tanggul Api yang berubah beringas dan liar. Suasana tegang menyelimuti kegelapan yang dingin.

Tanggul Api masih memperihatkan gerak gerik yang tidak wajar.

Sementara itu Peri Halilintar tengah berpikir apakah sebaiknya dia tinggalkan saja Tanggul Api seorang diri.

Namun tiba-tiba saja Tanggul Api palingkan kepala ke arah pepohonan di sebelah kiri. Patut diakui pendengaran Tanggul Api memang setajam pendengaran gajah.

Terbukti dia kemudian membentak.

"Sudah dua kali aku mendengar tanda-tanda kehadiran orang. Siapa yang bersembunyi disitu, harap segera tunjukkan diri"

Dikegelapan terdengar suara erangan. Semak belukar bergoyang. Daun-daun bergetar. Lalu ada sosok bergerak mendatangi.

Tanggul Api angkat tangan kanannya. Siap melepas satu pukulan mematikan. Memperhatikan sosok tersebut segala kemarahan karena ucapan sang adik seketika lenyap. Tangan yang diangkat segera diturunkan. Sambil berjalan menyongsong ke arah sosok yang datang dia berseru kaget.

"Tunggul Angin, adik seperguruanku Bocah Bangkotan. Apa yang terjadi padamu?" Bruuuk!

Bukannya menjawab orang yang ditanya malah ambruk jatuh berkelukuran di tanah yang becek. Peri Halintar terkesima. Tanggul Api jatuhkan diri berlutut disamping sosok kakek berpakaian serba putih berambut putih bertampang bodoh

"Mengapa beginl?1"

Tanya Tanggul Api sambil meletakkan kepala kakek yang sekujur tubuhnya dipenuhi luka dan darah itu.

Si kakek yang memang Tunggul Angin dan biasa dipanggil Bocah Bangkotan nampak megap megap.

Tenggorokannya yang berlubang keluarkan suara mengorok, dari hidung dan mulut darah terus mengucur, Sementara ketika Tanggul Api memeriksa sekujur tubuh orang tua itu dia melihat ada luka menganga di sekitar dada sebelah kiri dan perut di sebelah bawah.

Dalam keadaan dipenuhi luka dan banyak kehilangan darah. Tunggul Angin membuka mata. Dia memaksakan diri untuk bicara.

Peri Halilintar mendekat, duduk diantara Tunggul Angin yang tergeletak dan Tanggul Api yang memangkunya.

Menatap sekilas pada orang tua itu Peri Halilintar cepat berkata.

"Aku merasa pertolongan apapun yang diberikan tak mungkin bisa menyelamatkan nyawanya.

Lebih baik kakang segera tanya siapa yang melakukan semua ini padanya!." Saran Sang dara. Tanggul Api diam membisu.

Namun seakan melupakan amarah gila yang hampir sempat membuatnya gelap mata, Tanggul Apl turuti juga usul adiknya.

"Tunggul Angin. Aku mohon bila kau mendengar jawablah pertanyaanku ini." kata laki-aki itu. Mata yang setengah membuka setengah terkatub itu mendadak terbelalak-lebar.

Bukannya menjawab, sebaliknya mata si kakek berputar mencari-cari.

Kemudian pandangan mata yang kosong itu tertuju ke arah peti mati hitam yang tergeletak di sampingnya.

Peri Halilintar melihat ada rasa takut yang sedemikian rupa di wajah si kakek hingga membuatnya membatin.

"Mengapa dia seperti ketakutan melihat peti mati itu."

"Bocah bangkotan jawab pertanyaanku. Mengapa kau terus menerus memandang ke pet mati guru kita? Katakan. Katakan siapa yang telah membuatmu mengalami cedera begini parah?"

Tanya Tanggul Api.

Lagi-lagi terdengar suara mengorok.

Peri Halilintar dan Tanggul Api kemudian bahu membahu meletakkan kedua tangannya

masing-masing ke kepala dan dada kanan Tunggul Angin. Hampir bersamaan mereka salurkan tenaga dalam dan hawa murni ke tubuh Tunggul Angin. Hawa hangat mengalir deras ke tubuh si kakek. Tunggul Angin megap-megap.

Mata yang mendelik terlihat lebih tenang namun tiba-tiba dari mulutnya terdengar suara teriakan.

"Aku tidak akan mati penasaran saudaraku bila kau segera membuka penutup peti mati dan memeriksa isinya. Kumohon lakukanlah pemintaanku ini...!"

Teriakan Tunggul Angin lenyap, kepala terkulai lalu diam tidak bergerak lagi

"Jangan! Kau jangan pergi. Hanya kau temanku satu-satunya yang paling penurut di dunia ini!" Seru Tanggul Api histeris sambil memeluk tubuh Tunggul Angin yang bergelimang darah.

Tapi tidak selayaknya orang yang berduka Tanggul Api malahan melampiaskan duka citanya dengan mengumbar tawa bergelak. Peri Halilintar yang sudah paham benar dengan kebiasaan itu sejenak diam membiarkan.

Setelah cukup lama berselang sang dara menepuk bahu Tanggul Api sekaligus berkata. "Dia telah pergi. Siapapun yang belah membunuhnya aku akan berusaha membantu untuk

mencarinya. Tapi lakukan dulu apa yang telah diamanatkannya." "Amanat? Pernahkah dia menyampaikan amanat?"

Tanya Tanggul Api dengan mata jelalatan selayaknya orang kehilangan ingatan.

"Apakah kau lupa, sebelum menghembuskan nafas yang terakhir. Tunggul Angin meminta agar kau membuka penutup peti mati gurumu."

"Membuka penutup peti, bukankah menurut guru merupakan sebuah pantangan besar. Mana aku berani melakukannya. Lagi pula apa hubungan kematiannya dengan kematian guru?"

"Apa hubungannya? Barangkali itu yang harus kita cari tahu. Mungkin saja kematian kakek ini berkaitan erat dengan gurumu."

"Aku tidak mengerti. Bagaimana bila permintaannya tidak kukabulkan?" Tanya Tanggul Api dengan mata menerawang.

"Oh itu yang paling berbahaya. Melanggar permintaan orang yang sudah mati bisa membuatnya arwahnya gentayangan penasaran mencarimu. Lebih baik kau penuhi saja permintaannya."

"Apakah... apakah...!"

"Sudah jangan banyak tanya. Lebih baik kabulkan permintaannya," Desak Peri Halilintar tidak sabar.

"Tapi aku takut!"

Menyahuti Tanggul Api sambil sembunyikan wajah. "Aku takut kwalat!"

"Hi hi hik. Karena aku bukan murid gurumu, biar aku saja yang membuka penutup peti itu. Aku tidak takut kena kualat,"

Tegas Peri Halilintar. Setelah didesak terus akhirnya Tanggul Api mengalah. Dia mengizinkan adiknya untuk membuka peti mati itu.

Peri Hallilintar bangkit berdirl, lalu dekati peti dan berdiri di sampingnya. Sekilas mata sang dara yang bening indah memperhatikan penutup peti.

Dia mendapati penutup peti dipasak dengan empat buah paku terbuat dari kayu nibung. "Kau tidak ingin mendekat untuk melihat apa yang kulakukan ?"

Bertanya sang Peri seraya bungkukan badan julurkan tangan. Empat pasak yang terdapat di empat penjuu sudut diraba. Dibelakangnya Tanggul Api tidak bergerak dari tempatnya. Dia tetap duduk memangku kepala Tunggul Angin.

"Kau saja yang buka. Kau yang membuat keputusan aku tidak mau ikutan kena tulah." Sahut laki-laki itu dengan suara bergetar berbalut ketakutan.

Peri Halilintar tersenyum, dalam hati dia berkata.

"Dalam keluguan dan ketidakberesan otaknya dia menerima apa saja yang diajarkan guru nya.

Tapi aku merasakan ada sesuatu yang tidak beres telah ditanamkan dalam diri saudaraku ini."

Peri Halilintar tegak kembali. Sambil menatap ke arah peti, dua tangan diangkat tinggi. Telapak tangan dibuka sementara diam-diam dia alirkan tenaga dalam ke bagian kedua tangannya.

Set!

Tangan sang Peri tiba-tiba bergetar dan pancarkan cahaya berkilau. Ilmu Mencabut Tulang Didalam Raga dia terapkan. Dua tangan ditekan ke bawah lalu disentakkan ke atas. Seketika itu juga terdengar empat paku berderak dan....

Wous! Wous!

Empat paku melesat di udara lalu lenyap dalam kegelapan. Peri Halilintar kembali gerakkan tangan kebagian penutup peti. Ketika tangan disentakkan kesamping, penutup peti yang berat itu melayang kesamping jatuh di atas rerumputan. Peri Halilintar turunkan kedua tangan, kepala dijulur sepasang menatap ke dalam peti itu.

Tiba-tiba saja dia, berseru.

"Lihat! Peti mati ini. Tidak ada jenazah gurumu di dalamnya. Hanya ada seekor beruang hitam besar tergeletak kaku tak bernyawa!"

Seruan itu karuan saja membuat Tanggul Api berjingkrak kaget, lalu melompat dari tempat duduknya dan bergegas menghampiri

"Tidak mungkin. Aku dan bocah bangkotan yang meletakkan jenazah guru kami ke dalam peti mati ini. Kemana jenazah itu pergi? Mengapa berubah menjadi beruang?"

Desis Tanggul Api terheran-heran. Seakan tidak percaya dengan penglihatannya sendiri, ditatapnya peti mati itu berulangkali. "Saudaramu telah mencium ada yang tidak beres dengan kematian guru kalian.Mungkin saja dia mengetahui sesuatu.Sayang dia tidak sempat mengatakannya padamu,"

Gumam Peri Halilintar. Tanggul Api tatap wajah gadis itu dengan kening berkerut serta hati diliputi keheranan.

"Sesuatu yang tidak beres apa? Guruku telah meninggal bila sekarang berubah menjadi beruang mungkin semua ini sudah menjadi kehendak para dewa."

Peri Halilintar tersenyum sambil menggeleng.

"Gurumu tak mempunyai ilmu beruang bukan?" tanya si gadis sambil menatap sang kakak lekat lekat

"Semua ilmu kesaktian serta jurus silat yang dia miliki tak berhubungan dengan beruang." "Itu berarti kau harus menyelidiki gerangan apa yang tersembunyi dibalik semua ini." "Bagaimana dengan kematian saudara seperguruanku bocah bangkotan?"

"Emm, aku belum bisa mengambil kesimpulan apa-apa kakang. Tidak seorangpun diantara kita yang tahu siapa yang telah menyerangnya.Hanya saja permintaannya agar kita membuka peutup peti gurumu sebagai sesuatu yang aneh.Mungkin saja kematiannya berhubungan dengan menghilangnya guru kalian dari peti itu"

"Aku bingung, aku tidak mengerti.Ha ha ha!"

Tanggul Api bangkit berdiri sambil tertawa tergelak-gelak. Mulut tertawa, namun mata dan hati menangis.

Peri Halilintar yang sadar jiwa kakaknya dalam keadaan terluka segera menyusul bangkit "Jangan bersedih, jangan pula berduka.Terimalah semua ini sebagai kenyataan hidup. Marilah kita

bersama-sama menguburkan jenazah adik seperguruanmu Tunggul Angin."

"Aku tidak tahu lagi apa yang harus kulakukan. Aku bingung, otakku seperti mendidih. Kumohon, apapun kepentinganmu menyambangiku disini. Tolong bantu aku!"

Ucap Tanggul Api suaranya memelas dan terlihat lebih sering menarik-narik rambut merah di kepalanya.

Tanpa bicara lagi.

Peri Halilintar segera membuat sebuah kubur untuk Tunggul Angin menyusul sebuah kubur berikutnya diperuntukkan buat sang beruang.

Menjelang tengah malam setelah acara pemakaman selesai, kedua bersaudara namun lain guru itu duduk melepas lelah.

"Aku tahu kedatanganmu kemari pastilah membawa kabar yang sangat penting. Andai saja kita berdua bisa saling mendukung dan saling membantu."

Kata Tanggul Api dengan mata menerawang.

"Ya. Kita memang harus saling bantu. Terus terang kedatanganku kesini membawa suatu maksud. Aku butuh bantuanmu." "Bantuan apa saudaraku?" Tanya Tanggul Apl.

"Kau tahu selama ini Tiga Setan Putih yang juga dikenal dengan Tiga Perwira Setan mempercinyaiku untuk menjaga penjara api digunung Dieng. Seperti kau ketahui dalam penjara itu mendekam seorang panglima ganas bernama Bethala Karma, sang mahluk dari kerajaan istana kuno di luar jagat."

Peri Halintar kemudian menceritakan segala kejadian di kaki Dieng serta kemungkinan buruk yang ditimbulkan akibat lolosnya Bethaia Karma.

"Kini dia bebas berkeliaran mengincar Mutiara Tujuh Setan. Aku telah mencoba untuk menyingkirkannya. Tapi karena seorang diri aku tidak sanggup untuk menyingkirkannya."

"Bukankah Bethala Karma juga dijaga oleh seorang temanmu?"

"Temanku yang bernama Sora Magandala ketika kejadian tidak berada di tempat. Dia sedang menemui seseorang bernama Lisang Geni. Orang tua sekaligus pertapa yang tinggal di sebuah gua ditepi sungai Serayu, Orang tua itu menyimpan sebuah kitab batu bertulis. Kitab itu merupakan kitab tanda. Pada salah satu halamannya memuat riwayat tentang kemunculan Bethala Karma dan Mutiara Tujuh Setan, Konon bila kitab terbakar dengan sendirinya berarti itu merupakan pertanda lolosnya Bethala Karma dari ruang penjara dan tempat pemasungan, tidak mungkin dicegah lagi"

"Kemungkinan kitab yang kau sebutkan itu memang telah terbakar. Buktinya Bethala Karma telah berkeliaran bebas."

Ujar Tanggul Api yang diikuti angguklkan kepala Peri Halilintar.

"Aku ingin membantu, tapi aku tidak lagi memiliki senjata yang menjadi andalanku" Mendengar pengakuan Tanggul Api sang dara terkesima.

"Senjata itu, Seruling Halilintar maksudmu?" sentak Peri Halilintar

"Ya.Seruling Halilintar hilang raib dari tempat penyimpanan beberapa malam yang lalu."

Ujar Tanggul Api

"Mungkin kau lupa meletakkannya?"

Tanggul Api dengan tegas menggeleng

"Tidak Aku yakin diambil oleh seseorang yang mempergunakan kesempatan selagi aku berduka cita."

Peri Halilintar terdiam.

Dia sadar betul betapa dahsyatnya senjata yang bernama Seruling Halilintar itu, Seandainya jatuh ke tangan orang yang tidak bertanggung jawab tentu saja dapat menimbulkan malapetaka.

"Diambil atau dicuri, akibatnya sama saja. Siapapun yang mengambil Seruling itu pasti mempunyai maksud dan tujuan tertentu" Kata Peri Halilintar setelah terdiam cukup lama

"Itulah yang aku takutkan. Apalagi beberapa hari belakangan aku mendengar ada kekacauan besar di dusun Bambu tak jauh dari utara Gerobokan.Seseorang membunuh penduduk setempat dengan membabi buta.Orang itu kudengar mempergunakan seruling untuk menghabisi mereka.Aku khawatir semua ini sebuah fitnah keji yang dialamatkan kepadaku!"

"Jika begitu kau harus selalu bersama denganku. Kita selesaikan masalahmu dan masalahku bersama-sama."

"Mengapa aku harus selalu bersamamu?" tanya Tanggul Api tidak mengerti.

"Kakang, apakah kau lupa. Ingatanmu selalu timbul tenggelam. Orang mengenalmu sebagal manusia yang kurang waras. Sebuah fitnah dengan mudah dialamatkan padamu karena kekuranganmu itu."

"Yang kau katakan itu rasanya cukup bisa diterima. Baiklah..."

Kata Tanggul Api sambil menepuk bahu Peri Halilintar yang duduk di sampingnya

"Sambil mencar ­ siapa pembunuh adik seperguruanku juga menemukan kembali Seruling Halintar, aku memutuskan untuk mengikuti saja kemanapun kau pergi."

Peri Halilintar tersenyum.

Sejenak dia dongakkan kepala memandang ke langit. Setelah itu sambil berdiri dia berkata,

"Menunggu datangnya pagi masih terlalu lama. Alangkah baiknya kita berangkat sekarang." "Aku setuju. Aku juga sudah tidak sabar mencari jawaban dari semua keanehan ini."

Sahut Tanggul Api.

******

Desa Umbul Tirta dikegelapan menjelang pagi terasa dingin mencucuk. Hamparan kabut tipis menyelimuti desa itu hingga ke kaki bukit Saguling. Suasana pinggiran desa di jalan setapak terasa sunyi.

Hamparan sawah dan ladang membentang seluas mata memandang.

Di tengah jalan becek yang diguyur hujan hingga tengah malam tadi, sosok bayangan tibatiba muncul, berlari dengan kecepatan luar biasa seperti dikejar setan.

Setelah jauh meninggalkan jalan di tepi desa, Sosok yang berlari di sebelah belakang tiba-tiba membuka mulut disela-sela nafasnya yang tersengal.

"Saudaraku Durgandala desa Umbul Tirta telah kita lewati. Di depan sana kalau tidak salah adalah bukit Saguling.Dibalik bukit kita sudah memasuki kawasan Gerobokan.Sesampainya disana kita hanya tinggal mencari sebuah patung monyet putih."

"Patung yang menurut kakek Raga Sontang merupakan petunjuk satu-satunya menuju ke tempat pertapaan Tiga Setan Putih." "Lalu.."  

Tanya orang berpakaian kelabu yang melindungi kepalanya dengan topi caping.

"Hampir semalaman kita terus berlari. Mengingat tempat yang kita tuju tidak jauh lagi dari sini alangkah baiknya kita melepas lelah barang sejenak,"

Papar sosok berpakaian hijau yang juga lindungi kepala dengan topi yang sama. "Baiklah!"

Si baju kelabu hentilkan larinya mata jelalatan memperhatikan keadaan disekitar. Setelah yakin tidak ada sesuatu yang mencurigakan dua bersaudara yang tak lain adalah

Durgandala dan Durganini memutuskan untuk melepas lelah di bawah pohon tak jauh dari tepi sebuah sungai.

"Aku ingin segera menyelesaikan tugas berat yang diamanatkan oleh Raga Sontang ini secepatnya."

Berucap Durganini sambil mengusap perutnya.

"Tugas kita sangat berat dan tidak mudah. Salah-salah kita yang menjadi tawanannya. Andai saja aku tidak terikat hubungan sahabat yang begitu erat dengan kakek Raga Sontang. Aku past menolak permintaannya"

"Aku mengerti.Sebagai saudara senasib aku selalu siap membantu. Mudah-mudahan tidak ada musuh yang mengejar kita."

Kata Durganini

Sebagaimana telah diceritakan dalam episode sebelumnya.

Atas permintaan Raga Sontang si juru kunci yang menjaga Mutiara Tujuh Setan di puncak Papandayan, dua mahluk setengah manusia setengah monyet bertubuh pendek dipenuhi bulu dan memiliki ekor yang selalu disembunyikan diballk pakaiannya itu, dititipi sebuah mutiara.

Mutiara itu adalah Mutiara Tujuh Setan yang harus diserahkan kepada Tiga Setan Putih yang dikenal dengan sebutan Tiga Perwira Setan.

Dalam perjalanan membawa mutiara menuju candi kuno di Gerobokan.

Sebagai amanat yang dipesankan Raga Sontang mereka diminta singgah ke desa Bambu untuk menamui seseorang bernama Tanggul Api yang juga dikenal dengan sebutan Seruling Halllintar.

Menurut kakek itu Tanggul Api adalah satu-satunya orang yang dapat dipercaya mengantar mereka ke tempat tujuan dengan aman, Seperti diketahui.

Sesampainya di ddsun Bambu mereka tidak menemukan orang yang dicari.

Sebaliknya malah mendapati keadaan dusun yang kacau, porak poranda rata dengan tanah sementara sebagian besar penghuni itu tewas terbantai.

Sadar keadaan di tempat itu tidak aman dan ada belasan orang tidak dikenal melakukan pengintaian diseluruh penjuru dusun. Jadi untuk menghindari sesuatu yang tidak diinginkan keduanya segara angkat kaki tinggalkan tempat itu.

Seperginya Durgandala dan Durganini muncullah Sang Maha Sakti Raja Gendeng.

Raja yang hendak menolong penduduk yang terluka diserang oleh Lohpati dan pengikutnya. Tapi setelah mengetahui siapa Raja dan mengingat hubungan baik antara Lohpati dengan guru

Raja yaitu Nini Balang Kudu dimasa lalu.

Lohpati pun berbalik memberi dukungan pada sang pendekar.

Lohpati yang takluk pada Raja pewaris tahta pulau Es itu akhirnya tewas dibunuh oleh penyerang gelap.

"Aku merasa belum benar-benar aman selama benda titipan ini belum sampal ke tangan Tiga Setan Putih,"

Ucap Durganini setelah sekian Lama keduanya tenggelam dalam kebisuan. Durgandala menghela nafas lalu menghembuskannya dalam-dalam.

"Aku setuju dengan pendapatmu! Sekarang sebaiknya kita jangan terlalu lama beristirahat. Kita lanjutkan saja perjalanan."

"Mengapa terlalu terburu-buru. Keringat yang mengucur belum kering di badan. Tubuhku lengket bau asem. Aku ingin mandi disungai itu sebentar." kata Durganini.

Dia bangkit berdiri lalu berjalan menuju tepi sungai. Baru saja dia melepas topi yang menutupi rambut panjang hitamnya yang berkeluk bergelombang Durgandala bergegas menghampiri.

Sambil menepuk lembut bahu saudaranya dia berkata.

"Jangan lakukan! Lebih baik batalkan keinginanmu. Kau bisa mandi bersegar diri, kalau perlu sehari penuh puaskan diri berendam. Malah sampai kembung juga tidak mengapa, tapi nanti setelah tugas selesai."

Merasa keinginannya mendapat halangan Durganini menjadi marah. Ditepisnya jemari tangan Durgandala yang menyentuh bahunya.

Sambil balikkan tubuh hingga keduanya sama berhadap hadapan Durganini mendamprat. "Ada apa dengan dirimu. Aku merasakan tempat ini aman. Tidak ada yang perlu dirisaukan."

"Aku merasakan sebaliknya. Tempat ini tidak aman, aku bahkan merasakan ada yang mengawasi gerak-gerik kita."

Ucapan Durgandala karuan saja membuat Durganini delikkan mata. Namun belum sempat mendamprat, tiba-tiba saja terdengar suara gelak tawa yang disertal munculnya satu sosok berpakaian biru ringkas bertubuh tinggi.

Kakek ini berkulit biru dan memakai ikat kepala berupa ular laut berwarna biru. Ular berbisa mematikan itu sengaja dililitkan bergelung melingkar disekeliling lingkaran kepala sementara bagian kepala menghadap ke arah depan. Selain memakai ikat kepala dari ular, di bagian lehernya juga bergelung menggelantung seekor ular berkulit cokelat bertotol kuning.

Mahluk mematikan sepanjang tak lebih lima jengkal itu bergelayut manja sambil julurkan lidahnya yang bercabang.

"Jika merasa berat mengemban sebuah amanat mengapa semua tidak diserahkan saja pada orang yang lebih mampu memikul amanat itu? Ha ha ha,"

Kata si kakek diringi gelak tawa menggema.

Terkejut juga tidak menyangka dengan kehadiran kakek berkulit biru yang tidak dikenal.

Durgandala dan Durganini sama berpandangan.

Gadis yang sekujur wajah dan tubuhnya ditumbuhi bulu lebat kecoklatan itu segera kenakan topi caping yang dia tanggalkan.

Perlahan dia melangkah mundur dari setiap kemungkinan terburuk sambil diam-diam alirkan tenaga ke bagian tangan

"Aku tidak tahu siapa orang tua digelanduti ular itu. Tapi melihat jenis ular yang melingkar di kepala dan menggelantung dilehernya mahluk melata itu pasti berasal dari laut." kata Durgandala melalul ilmu menyusupkan suara.

"Mungkin saja dia memang datang dari lautan sebab aku mencium sesuatu yang amis seperti bau ikan.Bisa jadi dugaanmu memang tidak keliru." menyahuti Durganini melalul ilmu menyusupkan suara pula.

Merasa dirinya dibicarakan orang si kakek berkulit biru tiba-tiba hentikan tawanya. Mata yang kereng angker melirik silih berganti menatap kepada kedua orang di depannya.

"Kalian merasani aku? Tak perlu berkasak kusuk didepanku. Katakan siapa kalian berdua ini?

Tubuh kalian aneh. Kalian seperti manusia namun juga mirip kunyuk" "Siapa kami tak perlu kau tahu? Kau sendiri siapa?!"

Kata Durgandala balas bertanya.

"Kunyuk kurang ajar. Aku bertanya kau malah balik bertanya. Ketahuilah dan pentang telinga baik baik. Aku adalah Aki Tiga Samudra. Orang mengenalku dengan sebutan Iblis Momok Laut Biru." terang kakek itu membuat Durganini dan Durgandala diam-diam terkejut.

Walau belum pernah berjumpa. Namun nama besar Iblis Momok Laut Biru dikenal luas di dunia persilatan. Tokoh ganas yang satu ini dalam kehidupannya memang lebih banyak menghabiskan waktu menebar maut di Selatan.

"Celaka kita telah bertemu dengan iblis paling Jahat dari laut selatan." Desis Durganini.

"Apakah kita sanggup melenyapkan manusia jahanam yang satu ini?" Bisik dara bertubuh pendek itu resah. "Jangan risau. Apapun yang terjadi kau harus menyelamatkan diri dari tempat ini secepatnya." pesan Durgandala dengan berbisik pula.

"Apa lagi yang kalian bicarakan? Lekas jawab siapa kalian?!" hardik Iblis Momok Laut Biru tidak sabaran.

Sadar betapa orang yang dihadapi bukan tokoh sembarangan melainkan seorang dedengkot paling ditakuti, Durgandala memilih bersikap lunak dengan menjawab.

"Orang tua, maafkan kami berdua bila tidak melihat tingginya gunung di depan mata. Kami adalah dua bersaudara, namaku Durgandala sedang saudaraku Durganini. Kami orang biasa tidak punya sesuatu yang berharga."

Jawaban itu membuat Iblis Momok Laut Biru terdiam, memperhatikan kedua orang didepannya silih berganti. Tiba-tiba dia tersenyum sinis. Dengan tatapan dingin dia menyela.

"Mengaku bodoh dan tak punya barang berharga.. Aku tahu kau dan saudaramu itu hendak pergi ke Gerobokan. Beberapa hari yang lalu kaiian pasti baru saja meninggalkan puncak Papandayan setelah bertemu dengan seorang kakek penipu tengik bernama bernama Raga Sontang. Tua bangka itu telah menitipkan sesuatu pada kalian berdua. Bagaimana sekarang bisa mengatakan kalian tak punya sesuatu yang berharga?" geram Iblis Momok Laut Biru.

"Celaka! Dia tahu apa yang kita bawa. Raga Sontang melakukan sesuatu pada orang tua satu ini yang mungkin membahayakan dirinya. Itu yang membuatnya menuduh kakek Raga Sontang penipu."

Pikir Durganini.

"Aku tidak tahu bagaimana nasib sahabatku Raga Sontang. Yang jelas walau nyawa harus berpindah dengan badan aku tidak akan membiarkan jahanam ini merampas mutiara keramat."

batin Durgandala pula.

Setelah bulat dengan keputusannya Durgandala melangkah maju. Masih dengan hormat dia ajukan pertanyaan.

"Orang tua, maaf kami sama sekali tidak tahu apa yang kau maksudkan." "Kurang ajar!"

Teriak Iblis Momok Laut Biru sambil kepalkan tinjunya.

"Kalian pasti tahu apa yang aku maksud. Mutiara Tujuh Setan, benda sakti dari luar jagad itu.

Bukankah sekarang ada pada kalan?"

"Tidak. Benda yang kau cari sama sekali tidak ada pada kami!" Jawab Durganini tegas.

"Kalau tidak percaya ini silahkan periksa kantong perbekalan yang kami bawa."

Durgandala ikut meyakinkan lalu turunkan kantong berwarna hitam yang tergantung dipunggung.

Kantong itu selanjutnya dilemparkan dekat kaki Iblis Momok Laut Biru.

Melihat tindakan yang dilakukan saudaranya Durganini ikutan serahkan kantong. Kantong kedua juga jatuh di depan kaki kiri Iblis Momok. Kakek itu menatapnya sekilas, lalu memperhatikan dengan dengan seksama dua orang di depannya

"Apa kau tidak menyembunyikan benda yang kucari dibalik pakaian atau tubuhmu yang lain?" tanya Iblis Momok Laut Biru curiga

"Orang tua, orang seperti kami mana berani menipumu." Sahut Durganini.

"Orang tua. Kami sudah bicara jujur. Mohon jangan menyuruh melepaskan semua pakaian yang melekat di tubuh kami. Tubuh kami jelek dan tak patut dipandang oleh orang tua segagah dirimu." timpal Durgandala

Mendengar itu Iblis Momok Laut Biru mengumbar tawa bergelak. Sambil tetap tertawa dan raih dua kantung dikakinya dia berujar.

"Tentu saja aku tidak suka melihat tubuh burukmu. Tapi bagaimana dengan tubuh polos perempuan saudaramu itu. Kulihat sekujur tangan dan kakinya ditumbuhi bulu. Tidak ada salahnya bila aku bisa melihat apakah bagian tertentu ditubuhnya juga dipenuhi bulu. Ini pasti menarik. Aku pasti suka. Ha ha ha!"

Iblis Momok Laut Biru julurkan lidah basahi bibir. Tenggorokan naik, turun.

Andai saja wajah Durganini tidak dipenuhi bulu-bulu halus kecoklatan, Iblis Momok Laut Biru tentu dapat melihat betapa wajah si gadis berubah merah dibakar kemarahan.

Melihat Durganini marah, Durgandala memberi isyarat dengan kedipan mata agar adiknya menahan diri.

Sementara itu di depan sana Iblis Momok Laut Biru baru saja selesai menggeledah kantong barang milik Durgandala.

Di kantong itu dia hanya menemukan beberapa perangkat pakaian dan makanan serta buah-buahan.

Tanpa memandang pemiliknya kantong dicampakkan ke sungai. Melihat ini Durgandala sudah tentu menjadi marah

"Hei mengapa dibuang?" Bukannya menjawab.

Iblis Momok Laut Biru sebaliknya malah tertawa tergelak-gelak. Durgandala hanya bisa menatap geram ketika kantong perbekalannya hanyut.

Iblis Momok Laut Biru periksa lantong kedua.

Karena dalam kantong inipun tak ditemukan apa yang dicari sambil membanting kantong bekal Durganini dia berteriak.

"Dua monyet jahanam! Kalian dan Raga Sontang sama-sama penipu yang tidak patut untuk dimaafkan!"  

Belum lagi gema teriakannya lenyap kakek itu ulurkan tangannya ke depan. Sreet!

Sungguh mengejutkan.

Tiba-tiba saja dari lima ujung jemari tangannya mencuat kuku panjang runcing berwarna kebiruan.

"Apa yang hendak dilakukannya? Kuku-kuku itu pasti mengandung racun mematikan!"

"Siapa diantara kalian yang mau menanggalkan seluruh pakaian agar bisa terlihat apakah benda yang kucari ada atau tidak ditubuh salah satu dari kalian!"

"Kau gila! Mana mungkin kami sudi meLakukannya!" Teriak Durgandini jadi hilang kesabaran.

"Diminta baik-baik kalian menolak, apakah harus dipaksa dengan mencabik pakaian kalian dengan kuku-kulu ini?"

Geram Iblis Momak Laut Biru berang. Tak kalah sengit dengan suara lantang Durgandala berteriak.

"Kami memilih menyabung nyawa denganmu dari pada harus menanggung malu!" Jawaban ini membuat kemarahan Iblis Momok Laut Biru menjadi tidak terbendung.

Disertai teriakan menggeledek si kakek pun segera menyerang Durgandala dan Durganini. Iblis Momok Laut Biru mulai melakukan serangan kepada Durgandala dan saudaranya.

Tak jauh dari tepi sungai tempat berlangsungnya perkelahian sengit.

Seorang pemuda berpakaian kelabu berambut gondrong yang bukan lain adalah Raja adanya, sedang menelusuri semak belukar disepanjang aliran sungai.

Kemunculannya dari bagian hilir sungai atas petunjuk Tiga Setan Putih atau Tiga Perwira Setan. Sebagaimana diketahui sebelumnya.

Sang pendekar bertemu dengan Perwira Setan atas kehendak mereka di sebuah candi tua.

Ketiga perwira berkepala botak pelontos yang dikeningnya masing terdapat rajah hitam berupa titik sesuai dengan pangkat dan jabatannya.

Ketiganya secara terang-terangan meminta bantuan pemuda itu.

Perwira tertinggi yaitu perwira Tiga malah mengharap agar Sang Maha Sakti Raja Gendeng selalu bersama dengan mereka. Di perjalanan perwira Satu dan perwira Dua berubah pikiran.

Karena untuk menemukan orang kepercayaan yang membawa Mutiara Tujuh Setan dari puncak Papandayan akan memakan waktu yang lama maka ketiga perwira itu lalu sepakat berbagi tugas. Tiga perwira tetap bergerak menuju ke wilayah barat tanah Dwipa sedangkan Raja diminta untuk mencari seorang pertapa yang berdiam disebuah gua di tepi sungai Serayu.

"Kami berharap setelah kau bertemu dengan orang tua itu dia bisa memberi petunjuk penting bagaimana caranya melenyapkan panglima kuno Bethala Karma. Kami bertiga tak mungkin bisa membunuh Bethala Karma. Bethala Karma saat ini pasti telah meloloskan diri dari ruang penjara dikaki gunung Dieng." terang perwira Tiga sebelum mereka berpisah.

"Aku tidak tahu apakah aku mampu menolong tiga setan botak seperti kalian dari segala kesulitan. Yang jelas aku akan berusaha sedapat mungkin agar kalian tidak kecewa."

Sahut Raja.

"Terima kasih. Terima kasih...kau adalah raja yang baik. Manusia tinggi ilmu rendah hati.Kami tiga perwira setan mengucapkan terima kasih!"

Tiga perwira kemudian sama menjura.

Raja menanggapi ucapan bernada sanjungan itu dengan tawa sambil menggaruk kepalanya. "Kalian tiga mahluk kesasar pandai sekali memuji orang, membuat kepalaku mekar melembung

seperti mau meledak. Tapi...ya sudah. Dari pada terus menerus menerima pujian hingga membuat lupa diri, sebaiknya aku memohon diri saja, Ha ha ha!"

Setelah berkata begitu sang pendekar balikan badan dan... Wuss!

Terdengar suara menderu halus.

Sosok sang pendekar lenyap dari pandangan mata dengan meninggalkan kepulan asap kelabu. Tiga perwira setan yang semula terkagum-kagum melihat kecepatan bergerak,

sekonyang-konyong tekab hidung masing-masing ketika asap kelabu tercium oleh mereka "Huh, bau apa ini? Baunya busuk sekali!" dengus perwira Dua dengan suara dihidung. "Huek.. mungkin inilah yang oleh manusia disebut-sebut sebagai kentut."

Menyahuti perwira Tiga sambil melompat kebelakang hindari terjangan asap kelabu.

"Sial! Pendekar itu konyol sekali. Kita memuji dan menyanjungnya tapi dia malah menghadiahi kita dengan angin berbau busuk."

Gerutu perwira Satu bersungut-sungut

"Sudahlah. Anggap saja apa yang diberikan pada kita sebagai sebuah pertanda niat baik hati yang lapang untuk membantu.Bukankah sesuatu yang keluar dari bawah pertanda sebuah kelegaan hati bagi orang yang mengeluarkannya, Ha ha ha!"

Kata Perwira Tiga sambil tertawa geli.

Setelah itu ketiga Setan Putih kemudian hilang lenyap dari pandangan.

******

Sementara dipinggir sungai. Raja yang masih ingat dengan segala ulahnya pada Tiga Setan Putih terlihat senyum-senyum sendiri.

Namun senyum dibibirnya lenyap begitu mendengar perdebatan sengit yang terjadi antara Durgandala, Durganini dan Iblis Momok Laut Biru. Perdebatan yang dilanjutkan dengan perkelahian itu membuat Raja hentikan langkah lalu memutuskan untuk mencari tahu siapa saja orang orang itu.

"Dua orang muda, satu perempuan satunya lagi laki-laki. Bertopi caping penampilan dan tampang seperti monyet. Siapa mereka. Siapa pula kakek berpenampilan serba biru itu?"

Kata sang pendekar sambil terus memperhatikan dengan pandangan tak berkedip. Seer!

Angin berdesir.

Ada hawa dingin aneh seperti langkah kaki melintas di samping telinganya.

Membuat Sang Maha Sakti Raja Gendeng menoleh kesamping, mata melirak-lirik penasaran. "Perasaan ada yang lewat? Tidak ada orang, hembusan angin pun tak terasa. Lalu siapa yang

melintas dekat telingaku tadi?"

Gumam Raja sambil mengusap telinganya. Sekali lagi pemuda ini menatap ke depan.

Dan tiba-tiba dia merasa ada sesuatu yang menggelitik tengkuknya membuat sang pendekar kegelian.

"Apa mungkin ada mahluk halus tinggal di sekitar sini, mahluk itu tidak senang karena aku sempat kencing sambil berlari. Kini dia marah dan mulai menjahili aku!"

Trak!

"Aduh edan! Kurang ajar sekali siapa yang telah menimpuk kepalaku?" Gerutu Raja sambil mengusapi kepalanya yang tertimpa buah jambu batu. Diperhatikannya buah yang jatuh disamping kakinya.

Dia dongakkan kepala menatap ke atas ternyata ditempat itu tidak ada pohon jambu.

"Siapa yang melempar kepalaku dengan buah Jambu? Setan? Siapa yang meniup-niup telinga lalu mengusap tengkukku. Apakah setan juga! Dasar setannya memang setan usil yang tidak tahu diri."

Raja mengomel dan belingsatan sendiri.

Pada saat itu juga sang pendekar tiba-tiba mendengar suara menguap selayaknya orang yang baru saja terjaga dari tidurnya.

Ingat dengan Sang Jiwa sahabatnya yang bersemayam dalam hulu pedang Gila. Raja manggut-manggut mulut terikatup menahan segenap rasa kesal dihati.

Mengira yang berbuat usil adalah Jiwa dalam pedang, maka segera tangannya diulur, rangka pedang ditepuk dengan keras.

"Aduh...paduka Raja ada apa ini? Mengapa marah-marah tanpa sebab?" Pekik satu suara.

Tentu saja hanya Raja seorang diri yang bisa mendengar suara pekikan itu. "Jangan berlagak jadi mahluk tolol." Geram Raja.

"Mengapa kau suka berbuat jahil di saat aku sedang mencari tahu tentang orang-orang yang sedang saling serang itu."

"Paduka Raja, mana berani saya berbuat seperti itu pada paduka. Saya baru saja terjaga setelah sempat jatuh pingsan akibat menghirup bau busuk yang paduka hadiahkan pada ketiga perwira gundul itu"

"Bau busuk!"

Raja menyeringai, hati tertawa namun wajah tetap cemberut unjukkan sikap berwibawa selayaknya seorang raja.

"Jadi kau ikutan mabok? Aku tidak menyangka mahluk sepertimu bisa kelenger mencium angin gembus"

"Angin gembus apa," ujar Jiwa Pedang kesal

"Mahluk bodoh, Angin gembus itu ya angin yang berbau tidak sedap,"

Terang Raja sambil menahan tawa, Jiwa dalam pedang ikutan tertawa lepas sambil berkata. "Ah paduka ada-ada saja."

"Dengar ya... Boleh saja kau tertawa sampai hilang suaramu. Tapi aku tetap meminta kejujuran" kata sang pendekar mendengus.

Tawa Jiwa dalam hulu pedang mendadak lenyap. "Apa maksud paduka Raja,"

Tanya mahluk yang tidak memiliki jasad itu.

"Bicara dan mengakulah! Bukankah kau yang telah berbuat jahil padaku?" "Tidak. Saya tidak tahu apa-apa paduka, sumpah."

"Begitu?!"

Raja terdiam. Setelah sesaat dia bertanya lagi.

"Aku percaya dengan sumpahmu. Tapi sebagai mahluk halus apakah kau melihat mahluk lain gentayangan di sekitar tempat ini."

"Tidak. Saya tidak melihat mahluk lain terkecuali setan botak yang bersembunyi dibalik celana depan paduka."

"Mahluk sialan! Aku sungguh-sungguh bertanya kau malah bergurau. Kalau yang satu itu memang sudah ada disana sejak aku lahir tolol" geram Raja sambil kepalkan tinjunya.

"Weleh, paduka. Kenapa akhir-akhir ini suka marah-marah. Mungkin karena paduka belum punya kekasih ya? Kasihan! Orang segagah paduka ternyata belum laku juga."

"Jangan bicara ngaco. Katakan siapa yang berbuat usil padaku. Kau pasti tahu."

Jiwa dalam pedang menggumam tidak jelas "Apa yang kau lakukan disitu? Tiduran lagi ya?" "Tidak paduka. Saya sedang mengorek telinga saya yang gatal."

"Oh dasar mahluk edan bukannya menjawab pertanyaanku malah mengorek telinga,"

Geram sang pendekar

"Paduka Raja, sebenarnya saya ingin mengatakan sesuatu pada paduka.Sesuatu yang tidak hanya mengusik ketentraman saya, tapi juga kini telah mengganggu paduka."

"Sesuatu apa? Sesuatu menyangkut kehadiran mahluk lain yang terus gentayangan mengikuti kita."

"Mahluk itu tidak punya tempat tinggal, Dia ingin tinggal menetap dalam pedang gila ini bersama saya. Tapi saya larang karena kehadirannya hulu pedang yang saya tempati menjadi bertambah sempit.Saya tak mau berdesak-desakan,"

Terang Jiwa pedang seadanya.

Penjelasan Sang Jiwa tentu saja membuat Raja terperangah "Mahluk sejenismu?"

"Bukan sejenis. Maksud saya sama-sama mahluk berupa jiwa tapi tidak sejenis karena dia adalah perempuan,"

Terang Jiwa lagi. Raja tersenyum.

"Oh begitu? Jadi mahluk yang kau sebutkan Itu yang telah menjahili aku," Kata Raja mulai mengerti.

"Ya.Tapi sekarang dia sudah pergi. Saya yakin dia bakal datang lagi merengek dan memohon agar saya mau berbagi tempat dengannya."

"Oalah. Kalau bersempit-sempit, berdesakan bersama perempuan bukannya enak? Aku saja mau masakan kau menolak?"

Kata Raja disertai senyum mencibir.

"Paduka, maaf beribu kali maaf, berhimpitan dengan perempuan apalagi dalam keadaannya saling berhadap-hadapan tentu saja enak. Tapi paduka perempuan itu cerewet bawel sekali. Selain itu nafasnya bau terasi paduka."

"Bagus itu. Kau hanya tinggal mencari cabenya saja lalu buat dia menjadi sambal. He he he." Goda Raja sambil menahan tertawa.

"Paduka. Untuk sementara jangan hiraukan kehadiran perempuan bawel itu. Bukankah paduka tadi mengatakan sedang mencari tahu siapa orang yang tertibat perkelahian sengit di pinggir sungai itu?"

Merasa dingatkan Raja cepat anggukkan kepala.

"Benar. Aku tidak tahu siapa mereka. Sebagai mahluk galb pengetahuanmu lebih luas karena kau bisa pergi gentayangan kemana-mana dalam waktu yang begitu cepat."

"Jadi paduka berharap saya mencari tahu siapa mereka?" "Ya.  

"Kapan paduka?"

"Sekarang bodoh. Masa besok!" Gerutu sang pendekar tidak sabaran.

"Baiklah. Paduka tunggu sebentar.Kabar yang paduka inginkan segera paduka dapatkan." Raja lalu mendengar seperti suara langkah kaki bergerak cepat meninggalkan pedang.

Tidak lama kemudian ada angin halus berdesir menyambar ditelinga sebelah kanan. Raja merasakan sesuatu yang lembut menjejak dan berdiri dibahunya.

"Hei, kau berdiri dibahuku ya?" Sentak pemuda itu.

"Saya adalah mahluk yang tidak mempunyai bobot dan berat. Sesekali bolehkan berdiri dibahu paduka Raja. Harap jangan dianggap sebagai tindakan kurang ajar tidak mengenal sopan. Saya tetap menaruh hormat pada paduka walaupun kini saya berada dibahu paduka,"

Jawab Jiwa.

"Ya. Sudah tidak mengapa. Asal tidak menginjak-injak kepalaku berarti masih termasuk mahluk waras yang mengenal peradatan."

Celetuk sang pendekar sambil cemberut. "Kau sudah mendekati mereka?" "Sudah."

"Berarti kau sudah mengetahui siapa mereka?" Tenya pemuda itu.

"Ya."

"Hebat. Tidak percuma punya sahabat, sepertimu. Sekarang katakan siapa kakek berpenampilan serba biru itu?"

"Kakek berkulit biru berbau amis berkalung ular laut itu bernama Aki Gede Samudera, dikenal dengan sebutan Iblis Momok Laut Biru. Dia tokoh sesat di kawasan laut selatan. Guru paduka Nini Balang Kudu yang berdiam didasar laut selatan pasti mengenal kakek busuk satu ini."

"Orang dari laut mengapa sekarang gentayangan di daratan? Apa yang dia cari?" "Dia mencari Mutiara kramat. Mutiara Tujuh Setan."

Jelas Jiwa.

Setelah sempat terdiam dia melanjutkan.

"Sebelumnya kakek itu telah datang ke puncak Papandayan paduka. Ini dapat saya cium dari bau belerang diantara tebaran bau amis tubuhnya. Dan dua orang muda bertubuh pendek itu. Mereka adalah dua bersaudara yang dipercaya oleh kakek penjaga mutiara berama Raga Sontang. Mereka dipercaya mengantar mutiara itu untuk diserahkan pada pemiliknya yaitu Tiga Setan Putih." "Eeh, tiga setan gundul itu bukan pemilik mutiara yang sebenarnya. Mereka hanya bertugas menyelamatkan mutiara dari tangan Bethala Karma,"

Tegas Raja.

"Walau bukan pemilik tetap saja keberadaan benda yang telah menimbulkan kegegeran tersebut karena perbuatan mereka bertiga."

"Ya, ya,"

"saya tahu paduka. Masalah kecil saja diributkan." Dengus sang Jiwa membuat Raja mengulum senyum. "Kau melihat mutiara kramat ada pada mereka?" Tanya sang pendekar lagi.

"Saya tidak melihatnya. Namun saya dapat merasakan ada satu getaran yang memancar dari dalam tubuh salah seorang dari mereka."

"Tubuh yang mana? Tubuh yang laki-lakd atau tubuh yang perempuan?"

"Yang perempuan paduka. Saya mencoba mencari tahu dengan menyusup merasuk kedalam diri perempuan yang bernama Durganini itu. Tapi sebuah kekuatan yang luar biasa hebat menolak saya, melemparkan saya keluar dari tubuh mereka"

"Mungkin dia mempunyai ilmu yang dapat menangkal kehadiran mahluk halus sepertimu"

"Tidak paduka. Saya tahu Durganini mempunyai ilmu serta tenaga dalam yang cukup tinggi. Tapi dia dan juga kakek serba biru itu tak bisa melihat keberadaan saya. Jangankan mereka, paduka sendiri tak pernah bisa melhat bagaimana keadaan diri saya."

"Ya, aku tahu. Tapi kalau aku mau, aku pasti bisa mempergunakan salah satu ilmuku. Dengan ilmu Itu aku dengan mudah dapat melihat tampang rupamu"

"Jangan paduka, aku bisa malu."

Sela sang jiwa gugup Raja tersenyum, namun segera pula berucap.

"Aku merasa getaran aneh yang memancar dari tubuh perempuan berbulu bernama Durganini itu pastilah berasal dari Mutiara Kramat. Mutiara Tujuh Setan. Dua manusia berpenampilan aneh. Mereka telah berlaku cerdik dengan menyembunyikan mutiara di dalam tubuh salah satu dari mereka."

"Itulah yang saya maksudkan gusti. Tadi juga saya hendak mengatakan demikian."

"Pendapat kita sama. Bagusnya Mutiara Keramat tidak membuat ulah. Seandainya mutiara dapat memancarkan kesaktiannya saat berada di dalam perut Durganini. Saya tidak dapat membayangkan bagaimana nasib gadis itu."

"Gadis katamu?"

Desis sang pendekar. Sepasang allis matanya tiba-tiba terangkat naik. Dia menoleh menatap ke bagian bahunya tapi yang ditatap tidak kelihatan.

"Gusti paduka sepertinya kaget. Memangnya ada apa paduka?" Bertanya sang Jiwa dengan terheran-heran.

Senyum-senyum sambil menggaruk kepala Raja membuka mulut.

"Tidak! Aku cuma heran, bagaimana kau tahu perempuan berbulu itu masih gadis?"

Pertanyaan Sang Maha Sakti Raja Gendeng membuat sang Jiwa tak kuasa menahan gelak tawanya.

Sambil tertawa dengan suara bergetar malu malu lirih perlahan dia menjawab.

"Maaf gusti jangan bilang siapa-siapa. Saya tahu dia masih gadis karena ketika berusaha menyusup merasuk ke dalam dirinya saya tidak lewat ubun-ubun, tapi lewat bawah. Jadi jangan heran saya mengatakan perempuan itu masih gadis."

"Mahluk sialan kurang ajar. Bagusnya dia tidak sedang kedatangan tamu. Pantas saja sedari tadi sejak kau ada disampingku aku mencium bau!"

Gerutu Raja sambil menahan gelak tawa.

"Paduka ada-ada saja. Perempuan itu... eh maksud saya gadis itu baunya harum paduka!" "Sudah! Aku tak mau bergurau. Sekarang aku tahu apa yang seharusnya aku lakukan. Kita harus

membantu kedua orang itu. Tapi sebelum itu aku ingin memastikan apakah hanya kita dan mereka saja yang berada di tempat ini?"

"Paduka ingin saya melakukan penyelidikan lagi?"

"Kalau kau tidak berkeberatan lakukanlah. Tapi hati-hati, aku berpendapat kita tidak sendiri.

Naluriku mengatakan bakal terjadi sesuatu yang luar biasa mengerikan di tempat ini!" "Baiklah paduka, saya mengerti. Saya juga tahu apa yang seharusnya saya lakukan." Setelah berkata demikian sang Jiwa pun bergegas pergi.

Raja mengusap bahunya sambil mengendus-endus dan mengira-ngira ditempat mana tadinya sang Jiwa berdiri

"Uh kurang ajar.Ternyata bau pesing.Jangan-jangan penghuni hulu pedang sahabatku itu ngompol!"

Gerutu Raja.

****

Ketika Iblis Momok Laut Biru menyerang Durgandala dengan sapuan lima kuku jemari tangannya yang mencuat tajam.

Lima larik cahaya biru berkiblat mendahului datangnya serangan kuku ke bagian leher Durgandala.

Hawa dingin disertai menebarnya bau amis menyengat turut menyambar, membuat Durgandala tersentak, namun cepat jatuhkan diri hindari terjangan lima cahaya dan tebasan lima kuku. Lima cahaya biru menghantam diudara kosong.

Iblis Momok menggeram. Penasaran dia kibaskan tangan kiri ke bawah sementara kaki kanan menghantam ke arah Durgandala.

Tiga serangan datang dalam waktu bersamaan. Durgandala rasanya sulit untuk bisa lolos dari sergapan. Tapi dia tidak mau celaka menerima nasib.

Selagi dua serangan menyambar mengincar bagian punggung dan bahunya.

Sementara tendangan kaki siap membuat remuk dadanya pemuda itu segera lakukan satu gerakan yang membuat tubuhnya menggelinding kesamping.

Sreet! Sreet! Douk!

Sepuluh kuku jemari tangan menghunjam tepat dimana Durgandala berada. Tanah terbelah asap tebal berwarna kebiruan menebar.

Tanah di tempat dimana kuku menghunjam terlihat hangus. Durgandala tidak sepenuhnya lolos, dari serangan maut.

Dia sendiri terkena sambaran tendangan lawan.

Sambil meringis namun tanpa menghiraukan rasa sakit yang luar biasa secepat kilat dia bangkit.

Sementara itu melihat saudaranya terancam bahaya.Durgandini yang tidak jauh berada di belakangnya tidak tinggal diam.

Selagi Iblis Momok Laut Biru berusaha keras mencabut kuku kukunya yang menghunjam ditanah, kesempatan itu dipergunakan sang dara.

Dia lakukan satu lompatan tinggi dan hantamkan kedua tangan ke wajah lawan.

Ketika dua tangan menghantam dari telapak tangan Durganini menderu dua larik cahaya merah pekat menebar hawa panas luar biasa.

Dua cahaya itu langsung menderu siap menghajar batok kepala Iblis Momok. Mendapati dirinya diserang sedemikian rupa Iblis Momok menggerung.

Tak ingin celaka.

Dia terpaksa membetot kuku-kukunya yang terjepit ditanah. Empat kuku terlepas yang lainnya putus bergugusan.

Sakit akibat putusnya kuku tidak dihiraukannya. Sebaliknya sambil melipat tangan.

Kukunya dia angsurkan sekaligus didorong ke depan. Byar!

Byar! Dua pukulan sakti yang dikenal dengan nama Kera Langit Menguncang Gunung yang dilontarkan Durganini amblas buyar tak sanggup membuat celaka lawannya.

Iblis Momok terhuyung, lengan baju biru hangus mulai dari pangkal hingga ke ujung lengan. Tapi dibalik pakaian yang hangus sikunya tidak menderita cidera barang sedikitpun,

Durganini terkesima, selagi lawan berusaha mengimbangi diri agar tidak sampai jatuh terjengkang. Kesempatan ini dipergunakan oleh Durganini dan Durgandala melakukan serangan ganas beruntun berbarengan.

"Dua kunyuk jahanam! IImu kesaktian yang kalian miliki boleh saja selangit tembus. Tapi berhadapan dengan Iblis Momok Laut Biru kalian bisa berbuat apa?"

Geram kakek itu begitu melihat dua lawan yang menyerang berkelebat cepat mengitari tubuhnya seperti bayang-bayang.

Sementara pukulan dan tendangan beruntun yang memancarkan cahaya merah dan biru silih berganti melabrak tubuh kakek itu. Melihat datangnya tendangan dan pukulan mengeledek Iblis Momok menyambut semua serangan itu.

Benturan kaki dan tangan yang menghantam lengan dan tubuh Iblis Momok membuat Durganini dan Durgandala terdorong mundur lalu jejakkan kaki dengan wajah tercengang.

Setiap tendangan, pukulan maupun jotosan yang mendarat di tubuh lawan seperti membentur tembok baja.

"Dia mempunyai lmu Tameng Baja Menahan Badai!" Seru Durganini memberitahu.

"Aku juga menduga demikian!" Menyahut Durgandala tak kalah kaget.

"Bagus! Kalian cerdik tapi tolol! Sekarang terimalah ajalmu!"

Berkata begitu secepat kilat Iblis Momok Laut Biru pentang tangan hingga sejajar dengan bahu.

Secepat tangan dipentang, secepat itu pula dua tangan digebrakkan kedepan dengan gerakan menepuk.

Hebatnya lagi tanpa bergerak bergeser dari tempatnya berdiri. Dua tangan Iblis Momok tiba-tiba menjulur panjang seolah karet.

Dua tangan menyambar yang sebelah kiri menghantam Durganini sedangkan tangan disebelah kanan menyambar ganas ke arah Durgandala

"Celaka! ilmu setan apa lagi yang dipergunakannya!"

Rutuk Durgandala sambil melambungkan tubuh ke atas hindari serangan. Melihat apa yang dilakukan Durgandala, Iblis Momok mengumbar tawa bergelak.

"Kalian tak mungkin bisa lolos dari ajian saketi Ular Laut Melintas Samudra," seru Iblis Momok Laut Biru menyebut nama ilmu sakti yang dipergunakannya. Yang diucapkan kakek itu ternyata memang tidak berlebihan.

Terbukti kemanapun kedua bersaudara itu berusaha menghindar sambil menghantam dengan pukulan sakti tetap saja kedua tangan itu tak dapat dihentikan.

Malah dua tangan si kakek terus menggeletar terjulur sambil meliuk liuk tak ubahnya ular raksasa yang merambah kawasan hutan.

Dees! Dess!

Dua pukulan keras melabrak.

Durgandala yang mengambang diketinggian dengan mengandalkan ilmu meringankan tubuhnya menjadi tak berdaya seperti sehelai daun kering ditiup badai.

Jatuh terpelanting.

Wajah hancur bagian tulang dada melesak amblas.

Laki-laki itu diam tidak berkutik begitu menyentuh tanah.

Sementara tidak jauh disebelah kirinya Durganini juga mengalami nasib yang tidak jauh berbeda dengan saudaranya.

Walau dada gadis itu tidak sampai remuk namun hantaman keras yang mendera perutnya membuat gadis ini terpelanting, jatuh menyerangsang di atas pohon lalu diam tidak bergerak.

Sambil menyeringai Iblis Momok sentakkan dua tangan hingga tangan-tangan yang tadinya terjulur panjang kembali menyusut ke bentuk semula

"Dua mahluk tolol tidak berguna!"

Geram kakek itu sambil pandangi Durgandala yang telah menemui ajal. Setelah itu dengan tatapan dingin dongakkan kepala menatap ke arah pohon tempat di mana Durganini tersangkut. "Siapa diantara mereka yang membawa mutiara itu?"

Geram Iblis Momok yang menyangka kedua lawan semuanya menemul ajal. Iblis Momok jadi bingung.

Dia berpikir mungkinkah mutiara itu disembunyikan di tubuh. Kalau benar apakah dia harus membedah tubuh mereka.

Iblis Momok Laut Biru tidak pernah menyadari bahwa Mutiara Tujuh Setan tersimpan didalam perut Durganini. Selagi si kakek terombang-ombing dalam kebingungan.

Tiba-tiba tanpa diketahui dari mana datangnya tahu-tahu di depan orang tua itu menggelinding satu sosok tubuh berambut gondrong.

Setelah menggelindingkan diri sosok yang datang dan tak lain adalah Sang Maha Salti Raja Gendeng itu segera duduk.

Sekejab dia menatap Iblis Momok dengan acuh dan kemudian mengumbar tawa tergelak-gelak. Ditengah kegalawan dan hati yang diliputi rasa penasaran luar biasa Iblis Momok Laut Biru menjadi marah sekali, ketika melihat kehadiran pemuda itu Gondrong

"kurang ajar! Siapa dirimu. Kau datang pada waktu yang tidak tepat. Lekas angkat kaki dari hadapanku sebelum kutendang remuk bokongmu?"

Walau Iblis Momok memandangnya dengan mata mendelik garang. Namun Raja terus saja tertawa-tawa.

Malahan sambil menunjuk-nunjuk wajah orang tua itu sang pendekar berkata,

"Orang tua pakaian biru kulit juga biru Wajahmu yang jelek. kulihat makin bertambah buruk kalau marah-marah begini. Orang sepertimu tidak layak mencelakai dua manusia aneh itu. Kau layak dibunuh atau enaknya kau membunuh diri saja yah... Ha ha ha!"

"Pemuda jahanam! Beraninya kau bicara seperti itu pada Iblis Momok Laut Biru? Apa kau sudah bosan hidup, heh..."

Hardik si kakek sambil berkacak pinggang.

Raja pura-pura unjukkan wajah kaget, namun mulut mengulum senyum

"Ternyata kau ini iblis ya...tapi mengapa ada momoknya. Julukanmu cukup angker. Sayang aku tidak takut padamu.Aku sudah tahu apa yang kau cari"

"Memangnya aku mencari apa?"

Sentaknya

"Kau..kau mencari sebuah mutiara, mutiara tu adalah benda keramat yang disebut Mutiara Tujuh Setan. Sayang benda yang kau inginkan bukanlah milikmu juga bukan milik tokoh manapun di rimba persilatan ini. Kau bermaksud merampas. Buktinya kedua orang yang kau duga membawa mutiara itu tewas."

"Yang satu tewas, paduka. Tapi yang satunya saya kira masih hidup. Sesuatu yang berada dalam dirinya telah melindungi gadis itu dari kematian."

Kata Jiwa.

"Ya, aku juga tahu."

Tanpa sadar Raja menyahut dengan suara keras.

Iblis Momok Laut Biru tercengang. Menyangka Raja bicara dengan dirinya diapun membentak "Kau tahu apa?"

Raja tersenyum. Sambil menggaruk kepala dia menjawab. "Eng... aku tahu tubuhmu bau amis"

Jawaban sang pendekar membuat Ibilis Momok makin bertambah marah.

"Gondrong keparat. Ditanya nama tidak mau menjawab. Kini menghina diriku. Kau benar-benar mencari .."

Belum sempat Iblis Momok selesaikan ucapan sang pendekar tiba-tiba. "Maksudmu aku benar- benar ingin mencari mati?" Sementara selagi Raja dan Iblis Momok Laut Biru terlibat pembicaraan sengit, ketegangan diantara mereka makin bertambah meningkat.

Tanpa disadari oleh kedua orang yang berada dipinggir sungai, pada saat itu di atas pohon dimana Durganini yang terjatuh dalam keadaan menyangsang, tubuhnya mulai bergerak bergoyang-goyang.

Kemudian terdengar ada suara berkata.

"Tubuhnya dingin, nafasnya seperti berhenti. Kalau tidak cepat ditolong gadis yang telah menanam budi jasa besar pada kita ini bakal celaka."

Setelah suara itu lenyap terdengar suara yang lain suara kedua.

"Bukan cuma jasa besar. Dia telah mempertaruhkan nyawa ketika membawa kita. Kita harus membawanya pergi, menggotongnya bersama-sama. Kita bertujuh, mustahil tak kuat membawa Durganini ke tempat yang aman"

Kemudian terdengar pula suara ke tiga. Suara itu lebih nyaring kecil cempreng mirip suara seorang bocah.

"Jangan buru-buru. Aku ingin tahu kita mau membawa penolong kita ini kemana?"

"Tentu saja menjauh dari sini. Mumpung perhatian Iblis Momok Laut Biru tertuju pada paduka Raja aneh yang datang membantu."

Kemudian terdengar suara lainnya.

"Memangnya pemuda gondrong itu seorang raja."

"Iya. Dia pewaris tahta sebuah istana. Dari namanya saja sudah menandakan dia seorang raja, tapi raja yang banyak pikiran."

"Jadi seperti yang kita lihat dia tidak waras kan. Hik hik! Hik hik hik!" Kata suara satunya lagi.

"Sekarang jangan banyak bicara. Gadis ini harus segera kita selamatkan," Terdengar lagi suara orang pertama.

"Kalau begitu kita harus menggotongnya beramai-ramai" menyahuti suara lainnya. Sunyi.

Tubuh Durganini yang menyangsang terdiam. Namun kemudian tubuh itu terutama di bagian dada nampak berguncang. Lalu dari dalam tubuh itu sendiri terdengar lagi suara orang bercakap-cakap kali ini cukup serius. Dangan berisik.

"Orang-orang itu nanti dengar. Kalau Iblis Momok yang mendengar kita semua bisa celaka.

Bukankah kita semua setan-setan di dalam mutiara keramat."

"Iya. Kita bertujuh, makanya orang menyebutnya sebagai Mutiara Tujuh Setan." Kata suara yang lainnya pula.

"Baiklah. Jangan ribut. Kita harus keluar dari tubuh gadis ini. Sebaiknya kita lakukan secepatnya sebelum musuh-musuh yang lain datang, bermunculan disini" "Setuju!"

Kata beberapa suara bersamaan

"Karena saya yang keenam aku seenam saja. Hi hi hi!"

Suara-suara aneh yang berasal dari tubuh bagian dalam Durganini untuk yang kesekian kalinya kembali lenyap.

Lalu dari dalam tubuh itu sendiri terdengar suara seperti tenggorokan diketuk disertai suara saling menyalahkan.

"Bodoh! Ini namanya dinding tenggorokan. Usah diketuk nanti sakit. Kita jangan menembus tenggorokan, lebih baik keluar lewat mulut saja."

"Ya, dia memang bodoh. Bangsa manusia suka memelihara kambing tapi si biru ini lebih senang memelihara ketololannya."

"Sudah. Begitu saja diributkan. Apa kalian tuli aku sudah bilang jangan berisik,"

Mendamprat suara pertama

"Kami tidak berisik, cuma ribut sedikit," Suara yang lain menyahuti.

"Jangan bicara melulu. Buka mulutnya. Kita akan keluar!"

Tidak berselang lama setelah terdengarnya suara dari dalam tubuh Durganini mulut si gadis yang tadinya tertutup tiba-tiba terbuka.

Kemudian dari mulut yang terbuka berturut-turut melesat, melayang keluar tujuh warna warni berbentuk bulat lonjong samar mirip kepala.

Dari masing-masing cahaya merah, putih, kuning, biru, hitam, ungu dan ingga tampak sosok kepala botak plontos tanpa rambut dan tanpa anggota tubuh yang yang lain.

Mahluk-mahluk yang terdiri dari tujuh warna ini mempunyai mata, hidung, mulut.

Bedanya dengan manusia biasa mereka mempunyai daun telinga lebar. Ketika tujuh mahluk cahaya berbentuk kepala keluar dari mulut Durganini, ketujuh sosok dalam cahaya itu melesat mengitari tubuh Durganini.

"Kita harus segera membawanya pergi!"

Kata sosok kepala berwarna putih sambil julurkan lidahnya yang panjang menjuntai berwarna putih terang.

"Mari. Aku setuju saja. Kita gotong dia beramai-ramai! " Menyahuti sosok kepala bercahaya merah.

"Kami setuju!"

Lima kepala lainnya memberi dukungan.

Tujuh cahaya berupa kepala yang tadinya bergerak beriring-iringan kemudian menyebar. Dua menuju ke arah kaki Durganini yang menjuntai, Dua lagi mengambil tempat disebelah kiri dan kanan perut sang dara. Dua lainnya menuju ke bagian bahu sedangkan satu sosok kepala berwarna hitam menuju ke bagian kepala si gadis.

"Sekarang!"

Kata kepala yang putih memberi aba-aba.

Begitu aba-aba diberikan setiap mulut di bawah hidung tujuh kepala terbuka.

Lalu dari setiap mulut menjulur lidah panjang yang segera melibat merangkul setiap bagian tubuh Durganini.

Dalam belitan lidah yang bertugas menggantikan fungsi tangan, tubuh Durganini perlahan-lahan mulai terangkat.

Tujuh Mahluk cahaya penghuni Mutiara Tujuh Setan tiba-tiba memberi isyarat dengan saling mengedipkan matanya.

Selanjutnya....

Wuus!

Dengan kecepatan luar biasa, ke tujuh mahluk dan Durganini lenyap dari pandangan mata.

Semua kejadian berlangsung cepat dan aneh itu ternyata tidak luput dari perhatian tiga sosok yang mendekam tidak jauh dari pinggiran sungai.

Sosok pertama bersembunyi dibalik sebatang pohon tiba-tiba menyeringai.

"Setelah sekian lama mencari, ternyata pencarianku tidak sia-sia. Benda keramat yang dipesan ada bersama seorang gadis tubuh berbulu selayaknya monyet. Aku akan segera dapatkan benda itu, lalu mempersembahkannya pada yang mulia Bethala Karma. Dia pasti senang kemudian menepati janjinya memberi hadiah berupa ilmu sakti ajian Gelap Ngampar."

Setelah berkata begitu sosok berpakaian yang serba hitam layangkan pandang ke arah Iblis Momok Laut Biru yang saat itu mulai terlibat perkelahian sengit dengan Raja.

"Biarkan saja mereka berkelahi sampai mampus. Aku harus segera mengikuti ke arah lenyapnya gadis bernama Durganini tadi."

Setelah bulat dengan keputusannya sosok yang mendekam itu juga segera mengendap-endap menyelinap pergi. Sementara disudut sebelah selatan sungai, seorang kakek tua renta memakai pakaian berupa selempang berwarna kuning berambut dan berjanggut putih tiba-tiba saja membuka mulut,

"Tujuh Mutiara Setan. Aku yakin gadis yang tidak sadarkan diri itu pastilah orang yang dipercaya oleh kakek Raga Sontang di gunung Papandayan untuk mengantar Tujuh Mutiara Setan pada pemiliknya Tiga Setan Putih."

"Apakah guru tidak mengenal mereka?"

Bertanya gadis berpakaian putih berwajah cantik yang memiliki rambut panjang hitam digelung. "Muridku Nilam Suri" menyahuti si kakek yang tak lain adalah Lisang Geni, sang pertapa banyak menghabiskan waktu dengan menetap disalah satu gua dikawasan sungai Serayu.

"Aku tidak mengenal mereka, namun dari ciri-cirinya mungkin mereka adalah dua bersaudara yang dikenal dengan nama Durgandala dan Durganini. Sayang saudaranya Durgandala sepertinya tidak terselamatkan, sedangkan gadis itu sendiri nasibnya belum jelas."

"Dia diselamatkan oleh tujuh cahaya yang keluar dari dalam tubuhnya. Mungkinkah tujuh cahaya berupa sosok tujuh kepala yang kita lihat itu berasal dari Mutiara Tujuh Setan?"

Tanya Nilam Suri sambil menatap gurunya

"Aku tidak begitu yakin, namun mungkin saja memang demikian.Mutiara kramat dihuni oleh tujuh mahluk aneh namun sakti. Mahluk-mahluk yang hanya terdiri dari kepala saja namun mereka hidup selayaknya mahluk lainnya."

Terang kakek Lisang Geni.

"Gadis itu cerdik. Menyimpan benda berharga di dalam tubuhnya. Namun aku masih mengkhawatirkan keselamatannya juga keselamatan benda itu guru."

Kata Nilam Suri berterus terang.

"Aku juga demikian. Apalagi di samping pendekar bernama Raja Gendeng. Iblis Momok yang terlibat perkelahian sengit tadi terlihat ada seseorang mendekam dibalik semak belukar di sebelah sana. Sosok itu kini telah lenyap."

Ucap Lisang Geni sambil menunjuk ke arah yang dimaksud. Nilam Suri menatap sekilas kejurusan yang dimaksud.

Dia tidak tahu ada orang lain yang melakukan pengintaian mengawasi semua kejadian yang berlangsung.

Jauh dilubuk hati dia akui gurunya memang mempunyai penglihatan yang cukup tajam.

Dan kini dia melihat Durganini yang tersangkut di atas pohon dalam keadaan entah masih hidup atau sudah mati dan digotong beramai-ramai dengan menggunakan belitan lidah.

Timbullah keinginan Nilam Suri untuk segera menyusul Mahluk-mahluk itu.

Tidak dapat menahan ganjalan di hatinya maka si gadis pun lalu ajukan pertanyaan. "Guru apakah kita akan terus berada disini?"

Lisang Geni yang sedang memperhatikan jalannya pertarungan sengit itu tersentak kaget. Tapi tanpa berpaling pada muridnya dia menjawab.

"Kita akan menyusul gadis berbulu itu Dia perlu dibantu, tapi jangan bertindak tolol melewatkan jalannya pertarungan yang sedang berlangsung. Lihat..! Iblis Momok Laut Biru adalah manusia yang paling ditakuti di kawasan laut selatan. Lautan menjadi wilayah kekuasaannya. Dilaut siapa yang tidak mengenal Iblis Momok. Tapi didarat coba lihat pemuda bernama Raja itu agaknya bukan bocah ingusan sembarangan." "Memangnya guru melihat ada ingus dihidung pemuda itu?!"

Ucap Nilam Suri yang segera ikutan menatap ke arah seberang sungai. "Murid geblek!"

Mendamprat si kakek dengan wajah cemberut.

Nilam Suri tersenyum namun cepat tutup mulutnya agar tidak sampai keterlepasan tawa. "Dia masih sangat muda, dapat dikatakan sebagai bocah ingusan. Tingkah-lakunya aneh

selayaknya orang bingung. Tapi ternyata Iblis Momok Laut Biru tidak mudah menaklukkan pendekar yang satu ini. Terbukti walau beberapa jurus perkelahian telah berlangsung namun kakek itu belum mampu menjatuhkan apalagi membuat cidera lawannya."

Gumam Lisang Geni kagum ada geli juga ada ketika melihat bagaimana Raja berbuat ulah dengan segala tingkahnya yang membuat lawan jadi tambah kalap.

"Pemuda itu, hem... ternyata dia sangat tampan sekali. Mengapa aku tidak memperhatikannya sedari tadi."

Batin Nilam Suri lalu anggukkan kepala.

"Benar saja kau pasti tertarik padanya. Orang seperti dia memang pantas menjadi kekasihmu!" Celetuk Lisang Geni.

Walau tidak memperhatikan bagaimana reaksi wajah Nilam Suri namun Lisang Geni terlihat bersungguh-sungguh.

Wajah dara cantik itu sempat merona merah dia mengulum senyum.

Dengan pandangan tetap tertuju ke arah Raja yang tengah menghadapi gempuran dahsyat Iblis Momok enak saja dia berujar.

"Menjadi kekasih pemuda segagah dia pastilah menjadi dambaan setiap gadis. Apalagi mengingat namanya mungkin saja dia memang keturunan raja sungguhan. Gagah, sakti tampan dan pewaris tahta? Kalau saja dia benar-benar menjadi kekasihku, rasanya seperti orang yang bermimpi kejatuhan seribu bintang, bulan dan matahari kek "

"Sebegitu banyak benda langit yang jatuh menimpamu. Besok kau hanya tinggal nama saja." Sahut gurunya.

"Itu hanya perumpamaan guru. Guru selalu ketinggalan. Ilmu kesaktian yang kau turunkan padaku tidak sehebat yang dimiliki oleh pemuda itu. Sedangkan ilmu pemikat, ilmu pellet aku juga tidak punya. Mana mungkin aku bisa mendapatkan pemuda seperti dia! "

"Kelak seandainya dia mau jadi kekasihmu apakah kau mau?!"

Pancing Lisang Geni sambil tatap mata muridnya tanpa berkedip. Diperhatikan begitu rupa membuat Nilam Suri tersipu malu. Sambil dekap wajahnya dia menjawab,

"Guru! bagaimana berani saya menolak. Hik hik hik." "Sudah kuduga kau memang gadis genit dan memalukan." "Iih guru. Dijodohkan dengan pemuda tampan tak punya kebecusan apa-apa asalkan masih ada nafasnya aku juga tak akan menolak. Hik hik hik!"

"Sudah-sudah! Bicara berlama-lama denganmu bisa membuat telingaku jadi gatal. Lebih baik kita susul Durgandini dan tujuh mahluk yang membawanya pergi!"

"Eeh guru yang memulai, mengapa sekarang jadi marah? Sejak dulu sudah murid bilang, segeralah mencari jodoh biar guru tidak marah-marah melulu,"

Gurau Nilam Sari.

Lisang Geni hanya mendengus.

Dia lalu bangkit berdiri balikkan badan dan tinggalkan tempat itu.

Melihat gurunya pergi Nilam Suri segera hampiri kuda hitamnya yang ditambat disebatang pohon.

Kuda itu sedang merumput ketika sang dara menghampirinya.

Lalu melompat ke punggung kuda dan segera tinggalkan tempat itu.

Di pinggiran sungai yang tenang berpemandangan indah keadaannya telah porak poranda. Bebatuan hancur berserakan.

Belasan pohon besar roboh, sebagian hancur selebihnya hangus dikobari api.

Perkelahian sengit antara Sang Maha Sakti Raja Gendeng dan Iblis Momok Laut Biru semakin lama berlangsung tambah seru menegangkan.

Yang membuat Iblis Momok tidak habis mengerti, serangannya yang dilancarkan berupa pukulan tendangan yang dialiri tenaga dalam tingkat tinggi ternyata masih belum bisa menciderai lawannya.

Lebih celaka lagi lawan selalu membalas setiap serangannya dengan jurus-jurus serta pukulan maut yang tak kalah hebatnya.

Setelah pertarungan itu berlangsung lebih dari dua puluh jurus, Iblis Momok Laut Biru melihat bahwa sebagian jurus maupun pukulan sakti yang dipergunakan oleh pemuda itu seolah-olah bukan sesuatu yang asing baginya.

Apalagi saat sang pendekar berhasil meloloskan diri dari sergapan serangan sakti si kakek yang dikenal dengan nama Ombak Bergulung Menyapu Daratan.

Bahkan Raja melakukan serangan balasan dengan pukulan amukan Badai Laut Selatan yang digabungkan dengan pukulan paling dahsyat bernama pukulan Cakra Halilintar.

Merasa mengenali kedua jenis pukulan itu Iblis Momok Laut Biru segera melompat mundur. Begitu jejakkan kaki dia segera alirkan tenaga dalam ke bagian kaki.

Dua tangan yang juga telah teraliri tenaga dalam penuh langsung dipentang, selanjutnya diputar membentuk sebuah perisai pertahanan diri yang kokoh.

Dari tangan kiri Raja yang seperti kepakan sayap Rajawali raksasa itu, menderu segulung angin luar biasa dahsyat ke bagian perut si kakek dengan disertai tebaran hawa dingin yang membuat tubuh menggigil dan gigi bergemeletukan.

Belum lagi lenyap kejut dihati Iblis Momok Laut biru atas serangan pertama ini, dari tangan kanan sang pendekar tiba-tiba berkiblat serangkum cahaya aneh berwarna merah kebiruan berbentuk pipih seperti cakra raksasa.

Setiap sisi dari cahaya itu memancarkan kilatan-kilatan cahaya lain laksana kemunculan kilat sebelum datangnya halilintar.

"Cakra Halilintar!"

Teriak Iblis Momok Laut Biru yang segera lipat tenaga dalamnya untuk menyambut satu serangan ganas lawannya.

Wuut! Wuut!

Dua tangan yang tadinya diputar membentuk perisai pertahanan kokoh tiba-tiba saja dihantamkan ke depan

Byar! Bluum! "Wuarkh..."

Dua pekikan keras menggema diantara dentum suara ledakan yang terjadi.

Batu-batu hancur berpelantingan, tebing kali bersama air dalam aliran sungai muncrat membumbung tinggi diudara.

Pasir, debu dan puing-puing kayu yang hancur terbakar membubung tinggi diudara. Asap tebal membubung.

Lalu terdengar suara orang terbatuk-batuk di tengah kegelapan asap. Matahari menjelang siang makin meninggi.

Ketika kepulan asap lenyap tempat di mana Iblis Momok tadinya berdiri terlihat satu lubang besar menganga hitam dan dalam, Iblis Momok sendiri ketika itu terpental sejauh tiga tombak dalam keadaan tubuh setengah rebah.

Wajahnya berselemot jelaga hitam.

Pakaian biru kesayangan hangus tercabik-cabik.

Mulut meleleh darah kental, hidung patah miring ke kiri.

Ular kuning kecoklatan yang bergelung melingkar dileher terlepas dan merayapi leher dalam keadaan lunglai.

Sedangkan ular yang melingkar melilit dibagian kepala hancur hangus menjadi kepingan.

Sejarak lima tombak dari tempat dimana ledakan terjadi Sang Maha Sakti Raja Gendeng jatuh terduduk dengan kedua kaki ditekuk.

Nafasnya megap-megap seperti mau putus, wajah pucat sekujur tubuh laksana dipanggang, Tertatih-tatih dia bangkit berdiri.

Walau akhirnya bisa tegak bahunya miring ke kiri. Bahu miring kepala ikut miring.

Tidak mau keterusan miring dan agar tidak membuatnya dijuluki pendekar teleng atau tengleng dia ulurkan dua tangan.

Tangan yang kiri memegang batok kepala sedangkan tangan yang kanan mendekap dagu. Lalu...

Krrek! Kreek!

Dua tangan digerakan serentak.

Kepala dan bahu kembali seperti sediakala. Sebelum pemuda ini layangkan pandang ke depan. Dia memperhatikan dirinya sendiri.

Walau sempat mengalami guncangan luar biasa hebat dibagian tubuh sebelah dalam namun tidak ada cidera sedikit pun di bagian tubuh sebelah luar.

Selain berkat perlindungan dewa pastilah pakaian sakti yang melekat ditubuhnya yang membuat tubuh luarnya tidak terluka.

Sebagainmana diketahui pakaian sakti yang dikenakan Raja didapat di sebuah gua aneh tidak berpenghuni.

Pakaian yang dikenal dengan nama Jubah Kencana Agung itu peninggalan seorang manusia sakti beberapa abad yang silam.

"Aku tidak apa-apa, wheeh...!"

Seru Raja sambil berjingkrak kegirangan. Kemudian sambil senyum-senyum dia memandang ke depan. Melihat Iblis Momok Laut Biru mengalami cidera dan dalam keadaan rebah dia berjingkrak lagi.

"He... kakek jahat! Ternyata, wheeh! Keadaanmu lebih menyedihkan. Kasihan sekali. Apa perlu kutolong berdiri "

Ucapan yang biasa-biasa ini bagi Iblis Momok sebagai satu penghinaan sekaligus tamparan keras yang membuat wajah birunya yang diselimuti jelaga tambah mengelam.

Setelah menghimpun tenaga dalam dan alirkan hawa sakti ke sekujur tubuh Iblis Momok segera bangkit.

Baru saja berdiri tegak, Raja menyambutnya dengan ucapan.

"Ular yang menjadi ikat kepalamu. Oalah, ular itu agaknya sudah menemui ajal. Sekarang yang tertinggal cuma ular yang bergelayut di leher! Tinggal satu. Itupun sudah loyo. Jangan-jangan ular keramat yang mendekam dibawah perutmu juga ikutan lemas. Kalau benar dugaanku rasanya itu jauh lebih bagus, karena kudengar selama ini kau kerap menculik gadis-gadis desa untuk kau jadikan pemuas kebejatanmu. Tidak cuma gadis saja yang kau culik. Bayi-bayi juga kau jadikan sasaran untuk menambah ilmu kesaktian!"

Dengus Raja, mulut dimonyong-monyong lalu menyeringai mengejek.

Tidak menyangka lawan mengetahui kebiasaannya. Iblis Momok Laut Biru diam-diam terkejut.

Namun kemarahannya membara karena hidungnya patah dan satu ular kesayangannya mati. "Pemuda gondrong jahanam! Seumur hidup aku malang melintang di dunia persilatan belum

pernah kutemui manusia sepertimu. Siapa dirimu? Lekas jawab pertanyaanku!"

Hardik si kakek dengan mata mendelik

"Sabar aku akan jawab pertanyaannya." kata Raja tenang. Setelah menggaruk kepala dia melanjutkan.

"Bukannya aku takut padamu tetapi aku takut pada itumu. "

Raja lalu menunjuk ke pakaian bagian bawah perut Iblis Momok yang hancur. Menatap ke arah itu si kakek tercekat ketika mendapati auratnya ternyata sudah tidak terlindung pakaian lagi. Kalang kabut dengan menggunakan daun lebar dia berusaha lindungi auratnya.

Melihat ini sang pendekar tidak kuasa menahan gelak tawa.

"Dibalik celana luar tenyata kau tidak pernah memakai celana dalam ya...!! pantas saja banyak sekali gadis yang menjadi korbanmu. Anumu kecil tapi gila banget mengapa sangat banyak anak gadis orang yang menjadi korban. Ha ha ha!"

Merasa terlanjur malu, kakek ini menggeram

"Monyet gondrong jahanam dari mana kau tahu segala perbuatanku!"

"Ha ha ha. Begitulah yang selama ini kudengar tentangmu. Setan saja menaruh geram padamu jika kau meniduri istri dan anak-anaknya,"

Gurau Raja sambil tergelak-gelak.

"Keparat. Tutup mulutmu. Lebih baik kau berterus terang punya hubungan apa kau dengan perempuan renta yang bernama Nini Balang Kudu?!"

Tanya si kakek. Mendengar pertanyaan itu tawa sang pendekar lenyap. Dalam kaget tak menyangka orang mengenal siapa gurunya Raja tertegun.

"Lekas jawab!"

Hardik Iblis Momok Laut Biru tambah tidak sabar. Raja tersenyum.

"Nini Balang Kudu. Ah nenek bawel itu. Aku sering memanggilnya Emak. Panggilan itu yang membuatnya marah besar. Aku yakin diusianya yang renta dia belum pernah punya anak. Dia lebih suka tidur dengan ikan-ikan dan seekor naga di dasar laut selatan. Nenek itu kalau tidak salah adalah guruku!" "Pemuda keparat. Bicara berbelit-belit dengan guru sendiri saja tidak ingat. Dasar gendeng!" "Hah... itu nama akhirku. Aku adalah Raja seorang raja tapi sayang, gendeng. Jadi aku biasa

dipanggil Raja Gendeng." Ucap Raja seadanya.

"Raja Gendeng dari Istana Pulau Es? Apakah kau orangnya?!"

Sentak Iblis Momok Laut Biru kaget. Tidak kalah terkejutnya Raja pun berseru.

"Eech, bagaimana kau bisa tahu? Apakah kita masih saudara dan apakah kau adalah kakekku?"

Gurau sang pendekar dengan mulut dimonyong-monyongkan. Iblis Momok Laut Biru diam membisu. Dalam hati dia berujar,

"Gurunya aneh yang disebutnya nenek bawel itu adalah satu-satunya yang paling aku segani.Aku tidak pernah membuat urusan dengannya, Namun kalau aku bunuh pemuda yang menjadi muridnya ini, dia bisa muncul kapan saja untuk menuntut balas kematian muridnya," 

Pikir si kakek sambil usap-usap janggutnya yang biru namun telah menghitam dipenuhi jelaga. "Mutiara Kramat, Mutiara Tujuh Setan.Sejak lama aku ingin memiliki benda itu.Haruskah aku

batalkan segala keinginan demi menghindari pemuda ini? Aku belum melihat apakah pemuda ini punya kehebatan lain disamping ilmu warisan Nini Balang Kudu? Aku harus mencoba aku harus menjajal apakah dia layak disebut Sang Maha Sakti!" kata Iblis Momok penasaran.

"Orang tua. Kulihat kau sibuk mengelus jenggot. Aku tahu kau tengah berpikir, menimbang- nimbang. Hatimu diliputi keraguan, namun sesungguhnya rasa penasaranlah yang membuatmu tetap bercokol dihadapanku. Perlukah kita bertarung sampai ada yang mati, atau cukup bersalaman saja untuk mempererat tali persahabatan diantara kita?!" kata Raja sambil pencongkan mulutnya.

"Aku bukan sahabatmu! Lihat serangan!"

Teriak Iblis Momok Laut Biru dengan suara menggeledek

"Ah ternyata kau lebih memilih mencari celaka dari pada bahag ­a...!"

Sang pendekar tidak sempat selesaikan ucapan karena pada saat itu dengan kekuatan penuh lawan telah melesat ke arahnya sambil kirimkan dua jotosan sekaligus.

Melihat dua tinju menderu, Raja segera miringkan tubuh ke samping sekaligus menarik kepala kebelakang.

Dua tinju menderu, lewat setengah jengkal di depan wajah pemuda itu.

Karena dua jotosannya tidak mengenai sasaran maka tiba-tiba Iblis Momok membuka tangannya yang terkepal.

Wuus!

Ketika dua tangan dibuka, menyemburlah asap hitam pekat menebar bau amis menyengat. Curiga tebaran asap mengandung racun ganas.

Raja segera jatuhkan diri kebelakang, lalu tutup jalan napasnya. Tetapi sayang sebagian asap sempat terhirup olehnya.

Membuat mulut sampai ke dadanya terasa dingin seperti ditusuk-tusuk. Kelabakan sambil bergulingan hindari tendangan lawan, pemuda ini langsung kerahkan hawa sakti dan lakukan satu totokan di tengah dada.

Semua gerakan pencegahan yang dilakukannya berlangsung cepat tak terlihat oleh lawan.

Iblis Momok Laut Biru yang melihat Raja bangkit dalam keadaan beriutut sambil mendelik dan dekap tenggorokannya, dia tertawa dingin.

"Kau telah menyedot asap Cumi Biru Laut Hitam. Tidak ada obat penangkal bisa membuatmu lolos dari kematian. Bahkan gurumu nenek hebat Nini Balang Kudu tak bakal sanggup menolong. Ha ha ha!"

"Kkk... kau... Iblis keji...!" seru Raja sambil menunjuk-nunjuk dan mata mendelik bersikap seolah dia memang menderita keracunan hebat.

"Ya-ya, aku iblis. Iblis yang akan menghapus nama besar anak manusia yang dijuluki Sang Maha Sakti. Ha ha ha!"

Jawab si kakek. Menyangka lawan benar-benar termakan serangan asap beracunnya. Dengan disertai pengerahan tenaga dalam penuh ke bagian kaki. Iblis Momok melompat. Dua tendangan sekaligus dilancarkan kakek ini.

Satu tendangan mengarah ke dada sedangkan satu tendangan mengarah ke bagian kepala. Deru angin dingin menyertai tendangan si kakek.

Raja pun maklum lawan memang berhiat membunuhnya.

Dalam keadaan berdiri dengan kaki berlutut, pemuda ini sedikitpun tidak bergeser dari tempatnya.

Dengan menggunakan jurus Senandung Sang Maha Dewa yang berintikan gerak lemah lembut warisan Ki Panaraan Jagad Biru pemuda ini angsurkan dua tangan ke depan.

Lalu dengan gerak lambat namun terarah tangan yang kiri dia angsurkan ke depan, sedangkan tangan kanan dilambai ke samping ke kanan, kiri, ke bawah dan selanjutnya dilintangkan kebagian kepala.

Dua kaki laksana batang pohon menghantam mengepruk kepala dan mendera dada sang pendekar

Wuus! Plak! Duuk!

"Cailyaaa...!"

Bersamaan dengan itu terjadilah benturan menggeledek. Lalu terdengar suara jerit raungan menyayat. Di tempatnya Raja nampak terguncang dengan wajah pucat.

Sementara di depannya, Iblis Momok Laut Biru justru jatuh terpelanting.

Dia berguling- gulingan di atas tanah sedangkan dua tangan dipergunakan untuk mendekap sekaligus mengusap telapak kaki yang dipergunakan menghantam dada Raja.

"Tidak mungkin. Harusnya kepala dan dadamu remuk, tapi mengapa seperti ada kekuatan hebat di dadamu yang menghantam kakiku!"

Teriak si kakek.

Dia bangkit namun jatuh lagi.

Sementara kaki kirinya menggembung bengkak seperti buah kelapa. Sang pendekar yang tidak mengalami cidera segera bangkit berdiri. Berpura-pura perduli dia melangkah mendatangi.

Setelah itu sambil bersiul dia usap-usap bajunya yang kena ditendang.

"Baju sakti kok dilawan! Baru kaki yang digunakan untuk menggebuk. Besi sekalipun bisa meleleh. Iblis Biru apakah kau tidak melihat atau merasakan pakaian yang melekat ditubuhku ini bukan pakaian biasa. Ini baju sakti oleh-oleh kemurahan dewa. Dewa saja bersikap baik padaku, kau justru hendak membuatku celaka! Ha ha ha!"

Pengakuan polos sang pendekar diam-diam membuat Iblis Momok Laut Biru menjadi kaget. Tapi rasa sakit akibat serangannya itu yang membuatnya tidak menghiraukan perkataan Raja.

Tak sanggup menahan derita sakit yang luar biasa, si kakek pun segera berusaha menyembuhkan telapak kakinya yang remuk.

Kasut dibuka, bibir komat-kamit.

Dia menyemburkan ludahnya ke bagian yang sakit tiga kali.

Seketika kaki kembali keukuran semula sedangkan bagian yang remuk juga pulih kembali.

Raja yang memperhatikan tindakan si kakek tanpa sadar bertepuk tangan sambil keluarkan seruan memuji.

"Ilmu... hebat! Ilmu langka!"

"Hmm... aku memiliki beberapa ilmu langka namun aku tidak punya baju sakti serta pedang hebat yang pernah menjadi rebutan para tokoh- dunia persilatan itu. Salah satunya Maha Iblis Dari Timur dulu juga menjadikan pedang sebagai incarannya. Kalau bisa dapatkan pakaian dan pedang dipunggung murid Nini Balang Kudu ini, rasanya tidak mendapatkan Mutiara Setan tidak jadi apa." pikir Iblis Momok Laut Biru menghibur diri sambil diam-diam melirik ke arah pakaian dan pedang Raja

"Kakek Iblis. Mengapa diam!! Hm.. otak dibalik batok kepalamu berpikir mengatur muslihat mencari akal. Sebagai orang muda yang murah hati, aku nasehatkan sebaiknya kau segera angkat kaki dari hadapanku dan kembali ke laut." kata Raja sambil semburkan ludah yang mengandung sisa racun berwarna hitam.

"Kau menipu aku, berpura-pura keracunan padahal segar bugar tidak kekurangan sesuatu apa." Geram si kakek penasaran.

"Asap Cumi Biru Laut Hitam bukan racun biasa. Semua tokoh diberbagai rimba persilatan mengetahui betapa keji dan ganasnya racun itu. Tapi tubuhku memang dapat menangkal semua jenis racun. Dan pakaian ini juga menyerap dan bisa menawarkan dengan cepat. Racunmu boleh saja mematikan, namun tidak berarti apa-apa buatku. Sekarang apa lagi yang kau tunggu?"

"Pendekar gendeng sialan! Aku mau minta semua benda berharga yang ada ditubuhmu." Teriakan Iblis Momok disambut dingin oleh Raja Sambil menyeringai dia menjawab.

"Tadi kau hendak merampas nyawaku. Sekarang kau mengemis minta benda berharga. Tua bangka ngacok!"

"Keparaat...!"

Teriak si kakek. Bersamaan dengan teriakannya orang itu segera goyangkan kedua bahunya. "Bunuh pemuda itu dengan sekali patukan, Kuning!"

Seru Iblis Momok ditujukan pada ular kuning kecoklatan yang bergelayut melingkari lehernya.

Laksana anak panah yang melesat dari busurnya, ular kuning berbisa mematikan itu melesat ke arah Raja.

Melihat serangan ular, Raja gelengkan kepala.

Tanpa menoleh dia berseru pada Jiwa penghuni hulu pedang gila.

"Wa... ular itu bagianmu! Habisi mahluk melata itu dan beri pelajaran pada kakek berambut macam ijuk itu!"

Perintah sang pendekar. Setelah ditunggu sang pedang ternyata tidak beranjak dari tempatnya. "Jiwa... apa yang kau tunggu!"

Teriak Raja yang membuat Iblis Momok bertanya dalam hati pada siapa Raja berbicara. "Perintah itu ditujukan padaku, paduka?!"

Tiba-tiba terdengar suara ngiang di telinganya. Suara jiwa dalam pedang

"Sial. Kau pikir pada siapa aku bicara?!" geram Raja lalu cepat jatuhkan diri hindari patukan ular yang mengincar matanya.

"Maafkan saya paduka. Paduka memanggil saya Wa. Saya mengira paduka bicara pada si Wara.

Lain kali panggil saja sebutan lengkap saya."

"Sudah. Lakukan perintahku! Ular itu berbalik lagi sekarang!" Desis sang pendekar tidak sabar.

"Perintah dilakukan, pelajaran segera di berikan!" Jiwa dalam pedang menyahuti.

Trek! Criing!  

Pedang itu tiba-tiba melesat keluar dari rangkanya, memancarkan cahaya kuning berkilau laksana taburan emas.

Kemudian dengan kecepatan luar biasa pedang menderu, bergerak dengan sendirinya, membuat liukan diketinggian sebanyak tiga kali sekaligus membabat ular yang siap menghunjam punggung Raja.

Diserang dengan kecepatan seperti itu dalam gerakan yang sulit dibaca, ular piaraan Iblis Momok Laut Biru masih mencoba berkelit hindari tebasan.

Namun gerakan menyelamatkan diri tidak banyak menolong. Pedang Gila membabat seperti hembusan angin.

Crass! Pluk!

Tiga kali pedang berkelebat.

Tiga bagian tubuh sang mahluk terkutung dan jatuh bergedebukan diatas tanah.

Semua pemandangan mengerikan yang terjadi pada ularnya membuat Iblis Momok tercekat, mulut ternganga mata mendelik tak percaya.

"Gila! Bagaimana mungkin ada senjata bisa menyerang mahluk sekali perintah saja. Jelas!

Senjata milik pemuda ini bukan senjata biasa,"

Desis Momok Iblis, Walau si kakek sadar dirinya memiliki ajian yang membuat setiap luka atau tubuh yang terpotong dapat dikembalikan ke bentuk semula.

Namun mengingat pendekar yang dia hadapi juga memiliki tingkatan ilmu kesaktian tidak berada dibawahnya.

Apalagi dengan pedang aneh yang dimilikinya bukan mustahil dia bisa menemui ajal ditangan lawan.

"Aku telah kehilangan dua mahluk kesayanganku. Hari ini aku menyudahi perkelahian. Tapi ingat, kelak aku akan kembali mencarimu Raja,"

Ucap Iblis Momok tidak puas.

Setelah itu tanpa bicara lagi dia segera balikkan badan. Sebelum si kakek lenyap dari pandangannya. Raja berkata.

"Aku tidak takut dengan ancamanmu. Pergilah yang jauh, cari pakaian yang bagus. Ha ha ha!" Dengan segenap rasa penasaran Iblis Momok Laut Biru berkelebat tinggalkan tempat itu.

Seperginya si kakek Raja segera memerintahkan pedang Gila kembali ke tempatnya. Pemuda itu lalu memandang berkeliling.

Dia heran dan tertegun ketika mendapati hanya jasad Durgandala saja yang berada di sana sementara tubuh Durganini yang tersangkut di cabang pohon hilang raib entah kemana. "Jiwa!"  

Ucap Raja tiba-tiba.

"Saya paduka Raja Gendeng." Menyahuti jiwa penghuni pedang. "Paduka ingin saya melakukan sesuatu."

"Tidak. Aku cuma merasa heran. Kemana lenyapnya gadis yang tersangkut dipohon itu?" "Oh gadis itu? Sejak tadi sebenarnya saya ingin melaporkan kejadian itu pada gusti, karena

paduka sedang berkelahi dengan kakek bau itu, saya takut perhatian paduka jadi terpecah. Terus terang gadis itu dibawa pergi oleh tujuh cahaya berbentuk sosok kepala yang keluar dari mulutnya. Saya tidak tahu apakah cahaya itu adalah penghuni dari Mutiara Tujuh Setan yang berusaha menolong."

"Kemana dia dibawa? Durganini yang telah membawa Mutiara Tujuh Setan menyimpan mutiara di dalam perutnya."

"Saya juga menduga demikian gusti. Tujuh mahluk aneh itu telah membawa Durganini menuju ke utara."

"Bukit itu juga ada di utara. Kalau begitu kita ikuti!" Kata pendekar khawatir.

"Silahkan gusti paduka. Saya kan cuma mendompleng. Dibawa kemanapun saya ikut asal jangan ke akherat saja."

Jawab sang Jiwa.

Mahluk tak berujud penghuni hulu pedang ini sebenarnya hendak memberitahu. Seperginya Durganini ada tiga sosok mencurigakan menyusulnya.

Namun tidak ingin membuat Raja bertambah cemas dia lebih memilih diam.

*******

Berjalan dengan tertatiih-tatih laki-laki berpakaian hitam dan memakai kedok yang juga berwarna hitam itu menyusuri tepian anakan sungai.

Di satu tempat dia yang hanya terlihat bagian mata hidung dan mulut itu hentikan langkah. Nafasnya mengengah.

Dia merasa haus luar biasa.

Melirik ke arah anakan sungai yang berada disisi sebelah kirinya dia menelan ludah. Sesekali wajah dibalik kedok tipis meringis kesakitan.

Dilihat sekilas tubuh disebelah depan dari laki- laki berkedok itu memang dalam keadaaan utuh tidak kekurangan sesuatu apa. Namun di bagian punggung belakang dibalik pakaian yang robek hangus menganga terdapat sebuah luka mengerikan berupa luka bakar merah kehitaman.

Luka itu tidak hanya menghanguskan sebagian kulit tapi juga tembus ke daging.

Derita luka parah yang dialaminya inilah yang membuatnya tidak dapat bergerak dengan leluasa. Apa sebenarnya yang terjadi dengan laki laki yang dikenal dengan sebutan Pembunuh Tanpa

Bayangan.

Sebagaimana telah dikisahkan dalam episode sebelumnya Mutiara Tujuh Setan.

Sang Maha Sakti Raja Gendeng sedang berusaha mencari tahu tentang orang yang memesan mutiara keramat pada Lohpati dan para pengikutnya Lohpati yang sebelumnya berniat membunuh dan menghabisi sang pendekar jadi batalkan niat bahkan tahluk pada Raja.

Laki-laki dari gunung Kidul yang dikehidupan masa lalunya sering ditolong oleh Nini Balang Kudu yaitu nenek aneh yang tak lain adalah guru Raja baru saja hendak memberi tahu siapa orang yang telah memesan mutiara itu padanya.

Tapi segala niat tulus Lohpati tidak terlaksana karena tiba-tiba muncul serangan gelap yang mengakibatkan tewasnya Lohpati juga beberapa pengikutnya.

Raja sempat melakukan pengejaran sekaligus menghantam pembokong gelap itu dengan pukulan sakti Badai Serat Jiwa dan pukulan Cakar Sakti Rajawali.

Tapi pembokong gelap yang menghabisi Lohpati dengan mempergunakan Jarum Nibung Hitam itu lenyap.

Raja tidak pernah tahu bahwa dua pukulan yang dilepaskannya ternyata mengenai punggung Pembunuh Tanpa Bayangan.

Namun sang pembunuh walau mengalami luka parah terus melarikan diri. Kini setelah tak kuasa menahan dahaga yang luar biasa akibat panas hebat yang ditimbulkan luka dipunggung sang pembunuh segera berjalan menuju ke bibir anakan sungai Air sungai ternyata cukup sejuk dan jernih.

Diantara bebatuan bahkan terlihat ikan-ikan berenang disana.

Laki-laki itu ulurkan dua tangan, telapak tangan dipentang, jemari dirapatkan.

Dengan menggunakan kedua tangan yang menggantikan fungsi batok Pembunuh Tanpa Bayangan segera dekatkan telapak tangan yang penuh air ke mulut

Srheegkh!

Genangan air ditangan tersedot masuk amblas kedalam tenggorokan. Berulang kali dia menghirup air yang bening sejuk.

Rasa dahaga perlahan berangsur lenyap.

Pembunuh Tanpa Bayangan menghela nafas. Sakit dipunggungnya makin menjadi. Sambil menggigit bibir dia layangkan pandang ke depan.

Dibagian lebih kehilir aliran anak sungai terdapat sebuah jurang. Terdengar pula suara bergemuruh laksana curah hujan.

Dalam keadaan sakit, sementara pikiran terombang-ambing tidak menentu. Tanpa banyak membuang waktu dia segera berjalan menuju aliran sungai.

Sampai di tepi jurang dia melihat sedikitnya ada tiga air terjun yang berasal dari tiga sungai besar yang berada disebelah timur, utara dan barat.

Dari ketinggian diatas tebing, memandang ke bawah dia tidak dapat melihat bagian dasar jurang akibat tertutup uap air terjun yang mengepul membubung melewat mulut jurang.

Dia lalu jatuhkan diri, berlutut di tengah anakan sungai tanpa hiraukan celananya yang basah hingga sebatas pinggang

"Aku telah gagal melakukan tugas! Guruku pasti marah besar. Dia tidak akan senang mendengar kegagalan." gumam laki-laki itu dengan wajah tertunduk mata menatap kosong.

"Aku tidak takut pada guru. Tapi bagaimana dengan manusia aneh yang mengaku sebagai Seruling Halilintar itu? Bukankah Mutiara Tujuh Setan dia yang memesannya? Dia bisa marah besar bahkan mungkin membunuhku jika tahu aku tidak mendapatkan barang yang dipesannya."

Pikirnya lagi, Ingat dengan keganasan Seruling Halilintar sebagaimana yang dia saksikan ketika berada di dusun bambu.

Diluar kesadarannya Pembunuh Tanpa Bayangan bergidik ngeri.

"Aku harus menyelamatkan diri dari manusia yang satu itu. Dia bukan manusia melainkan mayat hidup, Mayat iblis!"

Kata Pembunuh tanpa Bayangan dengan suara bergetar. Dia mengusap tengkuknya yang mendadak berubah dingin. Merasa seperti ada yang mengawasi.

Secepat kilat dia bangkit berdiri. Baru saja dia mampu berdiri tegak tiba-tiba saja terdengar suara alunan seruling.

"Siapa yang meniup seruling!"

Sentak Pembunuh Tanpa Bayangan dengan suara serak tercekat ditenggorokan. Dengan tatapan nanar bercampur rasa cemas dia layangkan pandang.

Memandang keadaan di sekitarnya namun tidak terlihat ada orang lain di tempat itu. "Mungkinkah dia? Bila dia orangnya yang meniup seruling mengapa suaranya biasa-biasa saja

tidak menggeledek seperti suara Halilintar?" Pikir Pembunuh Tanpa Bayangan curiga.

Segala tanya dihati belum sempat terjawab ketika terdengar suara menyentak disertai berkelebatnya satu sosok bayangan

"Mutiara tidak didapat, malah luka yang didapat. Hampir mampus pula. Dan lebih pengecutnya lagi melarikan diri melepas tanggung jawab!" Hardik suara itu lantang.

Terkejut malah nyaris terkencing-kencing Pembunuh Tanpa Bayangan seketika menoleh menatap ke satu pohon yang terdapat diseberang sungai.

Matanya mendelik besar ketika melihat diatas cabang pohon duduk bertengger seorang kakek berpakaian serba merah berwajah tirus berdagu lancip.

Dengan sepasang matanya yang cekung menjorok seakan amblas ke dalam rongganya.

"Orang tua, maafkan aku. Tugas yang kau berikan telah kulakukan, benda yang kau minta belum kudapat. Aku sendiri kena dicidrai oleh seorang pemuda aneh bernama Raja yang dijuluki Sang Maha Sakti Raja Gendeng."

Sepasang alis mata yang menjulai mengernyit. Kakek diatas pohon terdiam sambil mengingat-ingat

"Sang Maha Sakti Raja Gendeng. Nama itu akhir-akhir ini semakin sering menjadi buah bibir pembicaraan dunia persilatan. Sekali waktu aku ingin menjajaki kehebatannya. Mendengar dia punya senjata aneh berupa sebuah pedang. Pedang itu malah disebut-sebut sebagai pedang Gila."

Sambil gelengkan kepala si kakek mengusap janggutnya. Sambil menatap Pembunuh Tanpa Bayangan si kakek berucap.

"Segala halangan yang kau alami selagi melakukan tugas bukan menjadi urusanku. Yang jelas kau telah gagal mengemban amanat pesanan."

"Aku tahu orang tua. Harap beri aku kesempatan. Biar semua kubicarakan dengan guruku yang berdiam tak jauh dari tempat ini. Aku yakin guru pasti mau membantu mengambil alih tugas yang kau berikan, Lalu segalanya menjadi beres."

"Ha ha ha! Percuma saja kau dijuluki sebagai Pembunuh Tanpa Bayangan jika selalu mengandalkan gurumu. Aku tidak bisa menunggu. Segala urusanku tak dapat ditunda. Kegagalan ini bisa menjadi menjadi kendala bagiku untuk mendapatkan ilmu sakti yang bisa membuatku hidup dalam keabadian."

"Menurutmu apa yang seharusnya aku lakukan orang tua. Saat ini aku terluka parah, butuh waktu untuk menyembuhkan luka dipunggungku ini."

Ucap Pembunuh Tanpa Bayangan parau.

Si kakek dicabang pohon dongakkan kepala lalu tertawa tergelak-gelak. Puas dia mengumbar tawa dengan tegas dia berkata.

"Lukamu tidak usah disembuhkan." "Maksudmu?"

Tanya Pembunuh Tanpa Bayangan tercengang.

"Luka itu perlu dibuat lebih parah dan berdarah-darah! Ha ha ha!"

Walau sudah menduga namun Pembunuh Tanpa Bayangan tetap saja tak dapat menutupi rasa kagetnya.  

Sadar orang berniat menghabisinya. Laki-laki itu tidak tinggal diam.

Dengan segenap keberanian yang bangkit dengan sendirinya akibat direndahkan orang, tiba-tiba Pembunuh Tanpa Bayangan berteriak lantang.

"Tua bangka aneh, siapapun dirimu aku tidak takut padamu.. Jika kau tetap ingin membunuhku lebih baik kuhabisi kau sekalian!"

Pembunuh Tanpa Bayangan menutup ucapannya dengan menghantam si kakek dicabang pohon. Dua pukulan sekaligus dilepaskannya. Angin menderu disertai berkiblatnya cahaya hitam menggebu.

Mendapati dirinya d ­serang dengan pukulan sakti yang sangat ganas. Bukannya bergerak hindari serangan orang tua itu sebaliknya malah ganda tertawa.

"ilmumu hebat namun belum mencapai tahap sempurna!" Si kakek memuji sambil mencibir.

Kemudian si kakek katupkan bibirnya.

Mulut menggembung dan ketika dua pukulan memancarkan cahaya hitam redup melabrak siap menggulung tubuh kurus kering itu.

Si kakek tiba-tiba meniup Pruaah!

Wuus! Blar!

Dari mulut yang meniup menderu gelombang angin dahsyat memupus lenyap dua pukulan yang dilancarkan oleh Pembunuh Tanpa Bayangan.Lalu angin tiupan terus melabrak apa saja yang terdapat di depannya.

Melihat datangnya serangan balik tiupan yang dilakukan lawan menghantam ke arahnya, maka Pembunuh Tanpa Bayangan segera melompat kesamping, bergulingan di atas air selamatkan diri

Buum!

Angin dahsyat mengenai air menimbulkan suara ledakan air membubung muncrat tinggi. Pembunuh Tanpa Bayangan yang berada tak jauh dari ledakan tergontai-gontai.

"Masih adakah seranganmu yang lebih hebat!" Teriak si kakek sambil berdiri berkacak pinggang.

Maklum dengan kehebatan lawan, tanpa bicara lagi Pembunuh Tanpa Bayangan langsung lambungkan tubuhnya ke atas.

Saat laki-laki ini mengapung diketinggian dia meraih sesuatu dari balik pakaiannya. Dua tangannya berkelebat dan dikibaskan ke arah pohon

Seet! Seet!  

Selusin benda hitam berbentuk runcing pipih seperti jarum yang tak lain adalah senjata rahasia Jarum Nibung Hitam yang sangat terkenal itu melesat, menghantam di dua belas titik bagian mematikan yang terdapat ditubuh si kakek Orang tua yang sudah mengetahui kehebatan senjata rahasia itu ternyata tidak mau bersikap gegabah.

Dengan cepat dia bergeser ke arah cabang pohon yang lain. Sambil berpindah dia cabut sebuah senjata berwarna hitam.

Senjata yang panjangnya tidak lebih dari dua jengkal itu tak lain adalah sebuah seruling sakti. Seruling lalu diputar membentuk sebuah perisai pertahanan yang kokoh.

Terdengar suara deru dan berkiblatnya cahaya hitam menggidikkan dari senjata maut itu.

Selain itu bergeseknya udara pada setiap lubang seruling menimbulkan getaran serta gaung suara menggeledek.

Selusin senjata rahasia hancur bertabur menjadi kepingan. Pembunuh Tanpa Bayangan menjerit keras.

Sambaran cahaya hitam dan guncangan serta ledakan suara seruling membuat sekujur tubuhnya terutama dibagian dalam serasa luluh lantak tercabik-cabik.

Darah menyembur dari mulut, hidung telinga juga mata. Setiap pori-pori ditubuhnya juga mengucurkan darah.

Gaung suara seruling membuat tempat disekelilingnya hancur porak poranda. Sekuat apapun Pembunuh Tanpa Bayangan bertahan, akhirnya dia ambruk.

Tubuhnya melayang jungkir balik lalu jatuh ke dalam sungai. Si kakek tertawa dingin.

Memandangi lawan yang mulai terseret arus anak sungai sampai akhirnya lenyap kedalam air terjun.

Orang tua ini lalu berkata.

"Tidak boleh ada jejak yang ditinggalkan. Gara-gara manusia tolol itu. Urusan mengejar tujuh mahluk kepala jadi tertunda."

Sambil simpan seruling dibalik punggungnya, sekali sentakan kaki dari cabang pohon yang dipijaknya maka sosok si kakek lenyap tidak meninggalkan bekas.

*****

Setelah melayang dengan kecepatan laksana kilat cahaya menyambar, tujuh cahaya dalam rupa kepala tanpa badan akhirnya sampai di sebuah pedataran luas dikelilingi reruntuhan candi kuno. Tempat yang sebelumnya dipergunakan oleh Tiga Setan Putih atau Tiga Perwira Setan untuk melakukan tapa selama belasan tahun itu terlihat sunyi.

Tujuh kepala yang sesungguhnya penghuni Mutiara Tujuh Setan yang memboyong Durganini dengan menggunakan belitan lidah untuk beberapa jenak lamanya melesat berputar-putar diketinggian candi kuno.

Tujuh hidung pesek yang masing-masing terdapat di atas mulut yang ternganga serentak mengendus membaui.

Mata kepala putih berkedip.

Karena lidahnya terjulur sulit baginya untuk bicara.

Cahaya berbentuk kepala putih yang bertindak sebagai pimpinan memberi isyarat dengan anggukkan kepala.

Enam kepala lain yang berwarna hitam, merah, biru, kuning jingga dan ungu ikutan mengangguk sebagai isyarat mereka segera turun bersama.

Dalam keadaan bergayut menggelantung bergontai-gontal sosok Durganini dengan libatan lidah ditujuh bagian tubuhnya perlahan-lahan bergerak turun.

Ke tujuh mahluk ini sengaja memilih tempat yang aman yaitu dengan meletakkan Durganini di celah lingkaran reruntuhan candi.

Karena ada tembok disekeliling tempat dimana si gadis akan diletakkan maka orang diluar candi tidak akan bisa melihat. Tubuh diam Durganini dengan perlahan diletakkan di pedataran batu.

Tujuh lidah terjulur yang bertindak menggantikan fungsi tangan ditarik lepas. Slep!

Lepas dari beban yang berat tujuh lidah kembali masuk kedalam rongga mulut masing- masing ke tujuh mahluk itu.

"Lidahku kelu, maunya terjulur terus seperti lidah anjing guk-guk."

Kata kepala botak hitam "Mahluk tolol,"

Mendamprat kepala yang berwarna merah polos.

"Anjing saja ingin menjadi setan biar tidak kelihatan. Masakan kau ingin menyamai anjing." "Aku tidak mengatakan ingin jadi anjing, aku cuma berkata lidahku maunya terjulur terus seperti

lidah anjing,"

Kata si hitam.

"Sudah jangan ribut terus. Kita sesama setan jangan sampai meniru tingkah laku manusia. Kalau bisa manusialah yang harus meniru tingkah laku dan perbuatan setan."

Tukas kepala biru. "Jangan berisik." Berkata kepala jingga.  

"Nanti gadis ini bangun."

"Memang kita mengharapkan dia terjaga. Kalau dia mati Mutiara Keramat yang menjadi tempat tinggal kita tidak mungkin lagi kita biarkan mendekam dalam tubuhnya."

Kata kepala kuning.

"Jangan cuma bicara. Gadis ini telah mempertaruhkan nyawanya untuk menyelamatkan Mutiara Tujuh Setan. Sekarang sudah saatnya kita menolong dia dari cideranya karena serangan Iblis Momok Laut Biru." kata setan biru.

"Kalian semua tunggu apa lagi." Berkata kepala putih.

Dalam keadaan mengambang diudara kepala putih memperhatikan setiap penjuru sudut.

Sama seperti yang dia lakukan ketika berada diketinggian, hidung peseknya kembang kempis berusaha mengendus membaui.

Melihat kepala putih bersikap acuh kepala merah tiba-tiba membuka mulut, lidah dijulur keluar masuk seperti lidah ular, baru kemudian bertanya.

"Kau sendiri apa yang kau lakukan? Jangan mentang- mentang jadi ketua kau lebih banyak diam berpangku tangan."

Ucapan itu membuat kepala putih bersungut- sungut. Dengan wajah cemberut dia berkata. "Aku lebih tahu apa yang kalian tidak ketahui. Aku membaui Tiga Perwira Setan yang telah

membantu kita keluar dari istana Kuno. Sepertinya mereka pernah tinggal disini dalam waktu yang sangat lama. Tapi mengapa mereka tidak kelihatan?! Aku juga merasakan mereka memang pernah di sini. Mungkin mereka telah pergi untuk menjemput kita,"

Timpal kepala biru

"Kita datang mereka pergi. Aku takut Bethala Karma tiba-tiba muncul di tempat ini," Ucap kepala hitam sambil memperlihatkan wajah cemas.

"Jangan mau tunduk apalagi patuh pada mahluk yang satu itu. Aku tidak mau menjadi budaknya, menuruti segala perintah dan melakukan segala kejahatan yang dilakukannya. Hik hik!"

Kata kepala ungu

"Hanya gadis itu yang sanggup membantu kita mencari jalan keselamatan."

Berkata kepala putih sambil memperhatikan tubuh diam Durganini. Setelah itu perhatiannya beralih pada enam kepala lainnya

"Aku tidak mau kehilangan waktu. Kita semua harus membantu mengobati cidera yang dialami Durganini. Lakukan semua cara, sementara aku sendiri akan masuk lagi ke dalam tubuhnya memeriksa cidera dibagian dalam."

Ucap kepala putih. Enam kepala sama mengangguk.

Setelah itu mereka bergerak melayang mengitari tubuh Durganini.

Pemeriksaan dengan cara menempelkan telinga kesetiap anggota tubuh yang dianggap cidera dilakukan dari bagian kepala si gadis hingga ke bagian kaki.

Sementara itu kepala putih segera pula amblaskan diri ke dalam mulut Durganini. Setelah bergerak mundar-mandir meneliti bagian dalam tubuh yang terluka.

Enam Kepala yang lakukan pemeriksaan dibagian luar tiba-tiba mendengar mengiang. Suara kepala putih.

"Dia menderita cidera di bagian perut. Kulihat perabotan di dalam perutnya nyaris berantakan.

Aku akan melakukan perbaikan dari dalam sedangkan kalian membantu dari luar!" Kepala putih memberi perintah.

"Kami siap!"

Jawab enam kepala di luar bersahutan.

Enam kepala bergerak cepat mengitari bagian atas perut.

Semakin lama gerakan itu tambah menghebat hingga sosok-sosok berupa kepala itu kini terlihat menjadi enam cahaya warna warni.

Tubuh Durganini tergetar. Sesekali nampak terguncang.

Sekali lagi terdengar suara mengiang kepala putih memberi tahu. "Sekarang!"

Des!

Satu benturan lembut terjadi diperut sebelah dalam.

Di bagian luar enam cahaya menyambar sekaligus lakukan usapan lembut dipermukaan perut tubuh Durganini.

Setelah melakukan usapan lembut enam cahaya lambungkan diri diketinggian, lalu berputar tiga kali hingga ke enam cahaya itu kembali kebentuk semula.

Dipedataran batu tubuh Durganini terlihat mengepulkan asap tipis kehitaman. Dada yang semula diam, kini terlihat bergerak turun naik.

Bersamaan dengan terbukanya sepasang mata si gadis dari mulutnya terdengar suara erangan. "Hugkh... sakit!"

Keluh gadis itu.

"Tidak! Segala luka dan sakit yang kau alami telah kami sembuhkan,"

Kata kepala biru yang kini mendekat menghampiri. Lima kepala lain mengikut. Enam mahluk berupa kepala sekarang berjejer mengambang di depan sang dara hingga membuat Durganini terkejut namun cepat ajukan pertanyaan "Ka-kalian siapa?"  

Tanya gadis itu heran.

Namun segala takutnya seketika lenyap ketika melihat enam kepala botak berlainan warna itu ternyata bersikap ramah dan kelihatannya mereka lucu-lucu.

Kepala yang berwarna biru bergerak maju.

Mewakili teman-temannya dia membuka mulut

"Kami adalah Enam setan penghuni Mutiara Keramat.Jumlah kami sebenarnya ada tujuh, cuma teman kami yang satunya lagi berada di dalam perutmu memperbaiki sekaligus menyembuhkan luka tubuhmu dari bagian dalam"

"Kalian bertujuh?!"

Desis Durganini. Enam kepala serentak mengangguk. Heran namun penuh takjub dia berujar, "Kalian penghuni Mutiara Keramat. Karena penghuninya ada tujuh, itu yang membuat mutiara

keramat disebut sebagai Mutiara Tujuh Setan?"

"Apa yang kau katakan benar, gadis baik. Kami merasa telah berhutang budi besar terhadapmu." kata kepala hitam.

"Oh tidak. Aku hanya melakukan tugas, aku menjalankan amanat yang diberikan kakek Raga Sontang. Kakek itu sahabat saudaraku Durgandala..."

Begitu nama Durgandala dia sebut si gadis tiba-tiba ingat dengan pemuda itu. Dia mencari-cari namun sekarang baru disadarinya saat ini dia tidak berada disekitar sungai melainkan di sebuah tempat yang tidak dikenalnya.

"Dimana saudaraku Durgandala. Saat ini aku ada dimana?" Tanya Durganini kebingungan.

Mata sang dara jelalatan, memperhatikan keadaan disekelilingnya tapi dia hanya melihat reruntuhan batu bekas Candi kuno.

"Tenang!"

Kata kepala putih yang berada di dalam tubuh Durganini, membuat gadis ini kaget lalu mendekap meremas perutnya.

"Waduh sakit. Jangan diremas! Aku bisa tergencet!" "Heh, ada yang bicara dari dalam perutku? Siapa?" Tanya Durganini lebih kaget lagi.

Enam kepala menyeringai mengurai senyum.

"Yang baru bicara adalah sahabat kami, kepala putih, gadis baik. Dialah yang telah menyembuhkan luka diperutmu dari sebelah dalam. Izinkan dia keluar. Kepala putih adalah pimpinan kami!"

"Aku tidak mengerti, aku bingung. Silahkan. Lakukan apa saja yang kalian kehendaki!" Kata Durganini pasrah. Baru saja sang dara selesai bicara tiba-tiba saja dia merasakan ada sesuatu yang hangat sejuk bergerak naik melewati tenggorokan.

Bersamaan dengan itu pula dirongga mulutnya ada yang mendesak. Durganini tercekat dengan mulut ternganga.

Wuss!

Satu kepala berwarna putih melesat keluar dari mulut si gadis.

Anehnya walau tadinya dia berada di dalam perut, namun kepala putih gundul itu tidak kehilangan sesuatu apa.

Kepala yang licin tanpa rambut juga wajahnya tidak basah. "Tujuh setan penghuni mutiara!?"

Gumam Durganini tegang.

"Ya. Kamilah tujuh mahluk penghuni mutiara keramat."

Terang kepala putih disertai anggukkan kepala oleh enam kepala lainnya. Tanpa membuang waktu kepala putih lanjutkan ucapan.

"Durganini sang penyampal amanat.Menjawab pertanyaanmu yang belum dijawab oleh enam sahabat kami.Terus terang saat ini kau berada di halaman candi kuno."

Sepasang mata Durganini terbelalak lebar.

Dia yang sudah tidak merasakan sakit apapun dibagian perut akibat hantaman Iblis Momok Laut Biru segera saja ingat dengan tiga Setan Putih yang harus ditemuinya ditempat tersebut

"Kakek Raga Sontang meminta kami menyerahkan Mutiara Tujuh Setan yang kusimpan dalam tubuhku pada Tiga Perwira Setan atau Tiga Setan Putih yang menetap di tempat ini. Aku telah sampai ke tujuan. Berarti tugasku mengantar kalian boleh dibilang hampir selesai."

Tujuh kepala saling pandang. Serentak mereka gelengkan kepala.

"Ketika kami datang Tiga Setan Putih sudah tidak ada lagi di tempat ini, gadis baik."

Kata kepala biru

"Mereka entah pergi kemana?" Menimpali kepala ungu.

"Mungkin saja mereka menyusulmu."

Ucap kepala merah

"Jadi pekerjaan ini sia-sia. Dan kalian masih harus menjadi tanggung jawabku?" Gumam Durganini terlihat kecewa.

"Bukan kami. Yang menjadi tanggung ja wabmu adalah Mutiara Keramat. Tapi boleh dikata kami juga karena kami memang penghuni mutiara itu," ujar kepala hitam.

"Aku tidak perduli walau harus memikul amanat sampai satu purnama ke depan.Tapi aku harus melakukannya berdua.Dimana saudaraku? Durgandala," tanya gadis itu sambil menatap kepala yang berjejer mengambang tak jauh di depannya.

"Durganini, saudara... saudaramu itu tewas saat bertarung dengan Iblis Momok Laut Biru.

Maafkan kami tidak sempat menolong!" kata tujuh kepala bersamaan. "Apa?!"

Durganini memekik kaget, sepasang mata mendelik besar, mulut ternganga dan dia tidak mampu berkata-kata.

"Semua yang kau katakan memang benar.Semua ini sudah takdir. Engkau harus tabah," kata kepala putih.

"Saudaraku Durgandala tewas dan aku masih hidup? Lalu apa artinya bagiku?" berkata gadis itu disela isak tangis.

Melihat Durganini menangis.

Tujuh pasang mata saling pandang

"Aku tidak tahu bagaimana caranya membuat perempuan tidak bersedih," kata kepala putih "Biasanya kepala merah yang pintar membujuk. Bukankah dia setan yang suka menggoda wanita?

Dia paling bisa menyenangkan perasaan wanita," ucap setan kuning sambil cibirkan mulut julurkan lidah.

Belum sempat kepala merah menjawab. Tiba- tiba saja Durganini hentikan tangisnya. Setelah mengusap air mata yang mengalir disela bulu-bulu yang tumbuh dipipi gadis ini berkata,

"Kalian benar.Mungkin semua ini sudah takdir kehendak para dewa. Sekarang hanya tinggal aku. Apapun yang terjadi aku harus menyerahkan Mutiara Keramat pada Tiga Setan Putih. Dan kalian tujuh makluk penghuni Mutiara Tujuh Setan. Kuharap kalian.segera kembali ke dalam mutiara. Jangan gentayangan seperti ini selayaknya bocah-bocah nakal yang sulit diatur."

"Aneh. Kita yang usianya sudah ribuan tahun disamakan dengan bocah." gumam setan hijau. "Ikuti saja apa maunya." sentak kepala merah.

Walau mendengar ucapan dua kepala itu namun Durganini memilih diam. Dalam diam tiba-tiba dia mendengar ada suara gerakan berupa desir angin dari luar lingkaran batu, reruntuhan candi.

Suaranya tidak datang dari satu arah melainkan dari dua arah sekaligus. Bahkan sayup-sayup dikejauhan gadis ini juga masih mendengar langkah kaki mendekati.

"Celaka! Siapapun yang datang kesini past telah mengetahui keberadaanku di tempat ini." pikir sang dara.

Dia melirik ke depan. Dilihatnya tubuh kepala beraneka warna kini telah bergabung membentuk satu kelompok, lalu berputar cepat tak ubahnya titiran. Semakin lama putaran semakin bertambah cepat.

Seiring dengan terdengarnya suara deru halus, tujuh kepala lenyap berubah menjadi tujuh cahaya indah menakjubkan. Durganin terkesima sekaligus, merasa kagum. Selagi dia terpesona dengan segala keindahan yang terpentang di depannya si gadis mendengar ucapan dari balik tujuh warna cahaya itu.

"Gadis baik. Kami akan kembali ke dalam Mutiara Keramat. Mulai saat ini apapun yang terjadi padamu kita akan menghadapinya bersama-sama!"

Sadar yang bicara tidak lain adalah tujuh mahluk penghuni mutiara maka gadis itu pun anggukkan kepala.

Wuus! Plaash!

Gabungan tujuh cahaya mengamblaskan diri masuk ke dalam tubuh Durganini, membuat si gadis terguncang keras namun dia tidak merasakan sakit apa-apa. Bagian tubuh tempat dimana tujuh cahaya menghunjamkan diri terasa dingin sejuk.

Dan anehnya lagi Durganini sekarang merasakan tubuhnya menjadi enteng, penglihatan tambah terang dan segala kesedihan yang sempat dia rasakan akibat kehilangan saudaranya mendadak lenyap.

Bangkit berdiri dengan tubuh seringan kapas, Durganini mencoba menyelinap dari lingkaran batu reruntuhan candi. Namun selagi mengitari lingkaran dibagian dalam mencari celah yang dapat dilewatinya, tiba-tiba saja terdengar suara gelak tawa merobek kesunyian.

Walau telah merasakan tanda-tanda kehadiran orang lain di tempat itu. Tak urung sang dara dibuat tercekat mendengar suara gelak tawa yang membuat tanah disekitarnya bergetar keras laksana diguncang gempa.

Durganini katubkan mulut. Diam-diam dia alirkan tenaga dalam ke bagian tangan, bersikap waspada dari segala kemungkinan. Belum sempat menduga siapa adanya gerangan yang datang di luar dihalaman luas yang sunyi terdengar ada suara orang berkata,

"Si jahanam tolol telah kubuat mampus, karena hidup pun rasanya percuma saja karena dia tak becus dalam melaksanakan tugas. Tapi gara-gara menyelesaikan urusan dengan kecoak busuk itu, urusanku untuk mendapatkan mutiara Tujuh setan jadi tertunda."

Didalam ruang lingkaran candi yang runtuh, Durganini diam merunduk. Dalam hati dia berkata, "Siapapun orang itu pasti sudah mengetahui akulah yang membawa mutiara tujuh setan,

Mudah-mudahan para dewa melindungi dan tujuh setan penghuni Mutiara ikut membantu." pikir gadis itu.

Baru saja si gadis berpikir demikian, dari luar lingkaran batu kembali terdengar ucapan.

"Aku tidak bisa ditipu. Tujuh mahluk aneh berupa kepala jelas kulihat menuju ke arah sini. Mereka memboyong gadis berbulu monyet itu dengan lidahnya."

"Menggotong dengan lidah? Benarkah tujuh mahluk penghuni mutiara keramat membawaku dengan lidah. Aku tidak tahu, tapi orang diluar tahu. Celaka?!" desis Durganini tambah cemas.

Kemudian lagi-lagi si gadis mendengar ucapan.

"Aku tidak melihat dia disekitar sini. Halaman kosong. Tapi kemungkinan dia disembunyikan di suatu tempat. Ada banyak sekali bagian-bagian candi yang cukup baik dijadikan tempat bersembunyi.Untuk menemukan orang yang membawa Mutiara Tujuh Setan, jalan yang paling baik adalah menghancurkan sisa-sisa candi hingga sama rata dengan tanah!"

Di dalam lingkaran batu bundar berbentuk sumur Durganini semakin meningkatkan kewaspadaannya.

Sementara itu diluar sosok yang bicara yang tak lain adalah seorang kakek berpakaian serba merah bertubuh kurus kering berjanggut dan berambut putih diam-diam angkat kedua tangannya.

Tangan dijunjung diatas kepala, tenaga sakti disalurkan ke bagian tangan dan dua kaki. Dua pasang mata dipentang, menatap lurus ke arah reruntuhan candi berbentuk lingkaran tempat dimana Durganini mendekam.

Dalam waktu sekejap kedua tangan itu telah berubah hitam menggidikkan. Dari setiap jemari tangan mengepulkan asap hitam disertai tebaran bau kemenyan.

"Muncullah segala yang bersembunyi" teriak si kakek yang belum lama berselang baru saja menghabisi Pembunuh Tanpa Bayangan.

Belum lagi teriakannya lenyap.

Dua tangan yang berubah hitam menggidikkan segera dia hantamkan ke depan. Wuus!

Dua larik cahaya hitam berkiblat, menderu dengan kecepatan luar biasa siap menghantam ke arah sasaran yang dituju.

Namun selagi dua larikan cahaya yang berbentuk alur panjang itu bergerak setengah jalan.

Tiba-tiba saja terdengar suara kuda meringkik disertai berkelebatnya dua sosok tubuh yang datang dari samping sebelah kiri dan kanan si kakek.

"Datang dengan membawa kekacauan seharusnya orang sepertimu dipendam lama dalam liang kubur."

Ada suara yang menggerutu.

Dua cahaya merah menggidikkan berkiblat dari dua arah bertawanan, memotong gerakan dua cahaya hitam yang dilepaskan oleh si kakek berpakaian merah. Hawa panas luar biasa menebar diudara, bergulung-gulung bersama sambaran cahaya merah yang datang menerjang.

Benturan dahsyat tak dapat dihindari. Dua ledakan berdentum mengguncang tempat itu.

Tanah bergetar, batu-batu bertebaran memenuhi udara. Si kakek terhuyung, dari mulut semburkan rutuk serapah.

Disebelah kiri sosok gadis berpakaian putih jatuh terguling, Disebelah kanan si gadis sosok kakek berpakaian berupa selempang kuning yang tiada lain adalah Lisang Geni guru gadis yang bernama Nilam Suri terhuyung namun segera dapat mengimbangi diri.

Lingkaran batu reruntuhan candi sebagian runtuh. Namun Durganini yang mendekam dibalik lingkaran belum terlihat.

Durganini merasa ada orang datang membantu, diam-diam hatinya merasa lega. Dari tempat persembunyiannya dia berusaha mencari tahu siapa gerangan yang datang ulurkan bantuan.

Sementara ditempat masing-masing dalam jarak yang tidak berjauhan kakek berpakaian merah, Lisang Geni maupun Nilam Suri saling melempar pandang.

Si kakek yang merasa ada orang yang mencoba mencampuri urusannya tanpa menunggu lebih lama langsung membentak.

"Siapa kalian? Apakah aku mengenal orang-orang sepertimu?"

"Mungkin kau tidak mengenali wajahku, orangtua. Tapi aku sangat mengenali wajahmu." menyahuti Lisang Geni.

Nilam Suri yang telah merasakan betapa hebatnya tingkat tenaga dalam yang dimiliki oleh kakek berpakaian merah tak tahan memendam segenap rasa ingin tahu.

Segera saja dia ajukan pertanyaan pada Lisang Geni, "Guru... memangnya siapa kakek bermuka mayat itu?" Tanpa ragu Lisang Geni menjawab,

"Dialah manusia yang bernama Ki Agung Saba Biru..."

Mendengar disebutnya nama itu kagetlah Nilam Suri dibuatnya. Dengan mata terbelalak seolah tidak percaya tiba-tiba saja gadis ini berucap.

"Ki Ageng Saba Biru? Bukankah turut kabar yang kita dengar guru Tanggul Api juga guru Tunggul Angin telah berpulang menemui ajal sekitar satu purnama yang lewat. Tanggul Api yang juga biasa disebut seruling Halilintar mengabarkan kematian gurunya pada para sahabat dekat termasuk kita.Bagaimana mungkin orang yang dikabarkan telah mati kini bisa gentayangan di tempat ini?"

Lisang Geni geleng-gelengkan kepala sebagai tanda rasa tidak mengerti.

"Itulah yang aku tidak mengerti. Orang mati dapat bangkit dari kematiannya lalu gentayangan mencari sebuah benda yang bukan miliknya. Jelas ada sesuatu yang disembunyikan. Kematian itu hanya muslihat namun Tanggul Api tidak pernah mengetahui tentang hal ini!"

"Ha ha ha! Tanggul Api hanya murid yang bodoh. Dia tidak tahu apa pun rencana dibalik kematianku. Dia tak pernah tahu dengan segala rencana tua bangka ini." kata si kakek yang tidak lain Ki Agung Saba Biru adanya.

"Mengapa kau menginginkan Mutiara Tujuh Setan, orang tua? Apa benda yang kau cari itu atas pesanan seseorang? Siapa yang memesannya? Sungguh aku tahu orang tua sepertimu tak lagi membutuhkan Mutiara Tujuh Setan. Bukankah demikian?" tanya Lisang Geni sambil menatap tajam pada orang tua berwajah angker di depannya. "Dia berserikat, bersekutu dengan iblis." sentak Nilam Suri sinis.

Bukannya menjawab. Kakek berwajah tirus berdagu lancip ini sebaliknya malah tertawa tergelak-gelak.

"Dugaanku ternyata benar. Kita berdua harus melindungi gadis pengemban amanat dari perbuatan jahat!" kata si gadis lagi membuat Ki Agung Saba Biru hentikan tawa, palingkan kepala dan menatap dengan mata mendelik ke arah dara itu.

"Gadis cantik, mulutmu pandai bicara, otakmu cerdik juga. Tapi apakah kau dan gurumu ingat siapa aku? kalian berdua aku sendiri. Tapi kujamin nyawa kalian segera lepas dari badan jika aku menghendakinya."

"Tua bangka bermulut lancang! Siapa takut padamu!" teriak Nilam Suri.

Bersamaan dengan ucapannya itu dia mencabut pedang yang tergantung di pinggang. Sambil melompat ke arah si kakek dengan kecepatan laksana kilat menyambar dia babatkan pedang ke leher lawan yang disusul dengan satu tusukan ke bagian dada.

Kilauan cahaya putih menyertai berkelebatnya senjata ditangan Nilam Suri.

Menyerang dengan menggunakan jurus Kilat Menyambar Puncak Gunung. Serangan itu sebenarnya tidak dapat dipandang sebelah mata. Tapi yang dihadapi oleh Nilam Suri adalah tokoh sakti yang memiliki ilmu tinggi serta pengalaman yang luas.

Mendapati pedang menderu mengancam keselamatannya, si kakek malah ganda tertawa.

Kemudian hanya dengan menggeser salah satu kaki dan miringkan tubuhnya, dua serangan itu hanya lewat sejengkal di depan wajahnya.

Selag ­ Nilam Suri tersentak kaget dan berusaha kibaskan pedangnya kesamping, si kakek tiba-tiba balas menyerang sambil hantamkan tinjunya kearah Nilam Suri.

Melihat ini Nilam Suri melompat ke belakang hindari serangan, namun gerakannya yang sangat cepat ternyata masih kalah cepat dengan lawannya.

Dess!

Tinju Ki Agung Saba Biru bersarang telak dibahu gadis itu, membuatnya jatuh terpelanting sambil meringis kesakitan.

Melihat muridnya terjatuh hanya dalam satu gebrakan saja, Lisang Geni segera maklum dengan kesaktian yang dimiliki lawan. Dia segera menyerang. Tidak tanggung- tanggung, begitu kakinya membal dan tubuhnya melambung dia langsung kirimkan dua pukulan yang disusul dengan sapuan ke arah kaki lawan.

Dua serangan menderu melabrak tubuh Ki Agung Saba Biru sementara dibagian bawah kedua kakinya juga menjadi incaran tendangan lawan. Mendapat serangan mendadak begitu rupa membuat Ki Agung sempat terkejut, namun sambil melompat ke atas hindari terjangan kaki dia gerakan tangan kiri sambuti dua jotosan lawan.

Duuk! Duuk!

Benturan keras terjadi membuat keduanya sama terdorong mundur.

Namun tanpa menghiraukan rasa sakit yang dialaminya Lisang Geni memutar badan. Kaki yang tadinya gagal mengenai sasaran kembali berkelebat, sementara tangan kiri dengan jurus Memupus Kabut Pekat dikibaskan ke wajah lawan.

Ki Agung Saba Biru yang tadinya tersenyum sinis ketika bentrok dengan tinju lawan terkesiap. Tamparan dan tendangan susulan yang dilakukan lawan ternyata dua kali lebih cepat dari serangan sebelumnya.

Tidak ingin celaka terkena salah satu serangan itu, dia berusaha melompat kebelakang selamatkan diri.

Namun diluar sepengetahuan Ki Agung Nilam Suri yang sempat terpental ternyata telah bangkit. Dengan kemarahan meluap gadis ini juga ikut menyerang Ki Agung dengan menggunakan pedangnya.

Wuus! Des!

Terkejut tak menyangka mendapat dua serangan dari dua arah sekaligus maka perhatian Ki Agung sampat terpecah. Tidaklah mengherankan dia hanya sempat hindar ­ pukulan Lisang Geni namun dia tidak kuasa menyelamatkan kedua kakinya dari tendangan si kakek. Orang tua ini jatuh terjengkang.

Selagi tubuhnya terguling-guling Nilam Suri mencercanya dengan tusukan dan bacokan pedang. Tidak kepalang tanggung gadis ini bertindak, dia barengi pula dengan tendangan menggeledek ke bagian kepala dan rusuk lawannya.

Angin menderu menyertai tendangan itu. Ki Agung Saba Biru menggerung keras. Satu gerakan cepat dilakukannnya hingga membuat tubuh si kakek melambung diudara.

Tapi secepat apapun dia selamatkan diri, tak urung ujung pedang Nilam Suri masih sempat merobek pakaian merah sehingga menggores bagian pinggangnya.

Darah mengucur.

Sumpah serapah dan caci maki berhamburan dari mulut orang tua itu.

Dengan kemarahan meluap, selagi tubuhnya mengambang dia dorong dua tangannya sekaligus ke dua arah.

Cahaya biru kehitaman berkiblat, deru angin panas bergulung-gulung menyertai berkiblatnya cahaya itu. Satu menghantam ke arah Lisang Geni sedangkan satunya lagi melabrak ke arah Nilam Suri.

Dapati dirinya diserang sedemikian rupa Nilam Suri segera pergunakan pedang ditangan untuk melindungi diri. Dengan tangan kiri dia mencoba menangkis serangan itu dengan pukulan sakti Gemuruh Awan Merapi.

Sementara Lisang Geni tidak mau bertindak ayal. Melihat Ki Agung Saba Biru menghantamnya dengan serangan mematikan, dia segera dorongkan tangannya ke atas sambut pukulan lawan dengan pukulan sakti Luapan Air Bah Melanda Gunung.

Suara gemuruh laksana luapan air sungai yang menjebol bendungan terdengar memekilkan telinga.

Suara itu makin bertambah angker menggidikkan akibat suara menderu yang berasal dari pukulan Ki Agung.

Hawa panas menyambar Ki Agung dari sisi sebelah kiri tempat dimana Nilam Suri berada. Sementara hawa dingin luar biasa melabrak Ki Agung dari sebelah kanannya.

Sadar mendapat perlawanan hebat, sementara tubuh mulai terguncang akibat dorongan yang datang dari dua arah sekaligus, Ki Agung Saba Biru lipat gandakan tenaga dalam ke bagian tangan.

Ketika dua tangan kembali dihentakkan, terdengar....

Buum! Buum!

Dua ledakan berdentum mengguncang tempat itu. Api, debu dan pasir berhamburan memenuhi udara.

Si kakek angker terpelanting tinggi. Sesampainya dipuncak ketinggian tubuhnya meluncur kebawah.

Sekeras apapun Ki Agung berusaha agar dapat jatuh dengan kedua kaki terlebih dulu menyentuh tanah, namun tetap saja dia terjatuh dalam keadaan duduk terhempas.

Si kakek menggerung sambil menggeliat kesakitan dia usapi pantatnya

*****

Tujuh tombak di depan Ki Agung Saba Biru, Nilam Suri jatuh terkapar sama rata dengan tanah.

Pedang ditangan terlepas dari genggaman. Sebagian pakaian putihnya nampak hangus berlubang dibeberapa tempat hingga memperlihatkan kulitnya yang putih mulus.

Ki Agung menyeringai melihat kemolekan tubuh sang dara. Sadar dirinya sempat jadi perhatian, sambil menyumpah dia tutupi lubang menganga di bawah dada. Sementara ketika kakek itu layangkan pandang ke samping kirinya dia melihat Lisang Geni sudah duduk bersila sambil rangkapkan dua tangan di depan dada, pertanda orang tua ini juga mengalami guncangan dibagian tubuh sebelah dalam.

"Murid dan guru. Kedua orang ini memiliki tingkatan ilmu serta tenaga dalam yang tidak dapat dipandang sebelah mata. Aku harus menggunakan Seruling Halilintar untuk menghabisi mereka secepatnya!" batin Ki Agung Saba Biru.

Sambil menyeringai sinis, Ki Agung bangkit berdiri. Selanjutnya dengan suara angker dia berkata,

"Kalian berdua termasuk lawan yang tangguh bagiku. Tapi hidup kalian tidak akan berlangsung lama!"

"Tua bangka keparat! Aku tidak takut mati!" jawab Nilam Suri yang segera berdiri tegak sambil silangkan pedang di depan dada.

"Kami akan menghalangi segala niatmu. Mutiara Tujuh Setan harus dikembalikan ke tangan orang yang berhak!" dengus Lisang Geni pula.

Dari balik pinggangnya orang ini mengambil sebilah senjata aneh berupa payung berwarna hitam.

Melihat senjata memancarkan cahaya hitam angker, Ki Agung Saba Biru pun segera maklum senjata ditangan Lisang Geni bukan senjata sembarangan.

"Bagus! Kalau masih ada lagi, keluarkanlah semua senjata yang kalian miliki!" seru si kakek.

Sejauh itu dia masih belum mengeluarkan senjata mematikan berupa seruling yang tersembunyi dibalik punggungnya,

"Kakek berselempang dan sahabat dara ber pakaian putih. Kalian mempertaruhkan nyawa untuk melindungi Mutiara Tujuh Setan, maka aku sebagai pembawa amanat menyatakan bergabung dengan kalian berdua!" terdengar seruan dari balik reruntuhan batu candi,

Ki Agung menyeringai dan arahkan pandang ke tempat dimana suara berasal.

Lisang Geni terkejut. Nilam Suri terbelalak dengan mulut ternganga ketika melihat dari balik lingkaran batu muncul seorang gadis bertubuh pendek, wajah dan sekujur tubuh penuh ditumbuhi bulu-bulu lebat seperti bulu monyet.

Gadis itu mengenakan pakaian hijau dan dia bukan lain adalah Durganini.

"Kau... memang kaulah orangnya yang dipercaya membawa Mutiara Tujuh Setan dari puncak Papandayan untuk diserahkan kepada Tiga Setan Putih yang seharusnya ada di sini." kata Ki Agung Saba Biru diiringi senyum kemenangan.

"Tidak ada yang harus ditutup-tutupi. Kau tahu dan dua orang sahabat itu juga tahu," jawab Durganini sambil melirik pada Nilam Suri dan Lisang Geni silih berganti.

"Celaka! Gadis berbulu ini agaknya tidak tahu betapa jahatnya kakek satu ini." batin Lisang Geni cemas.

Bila sebelumnya kakek ini rela mati.

Kemunculan Durganini justru menimbulkan kekhawatiran tersendiri di lubuk hatinya. "Bagus!" kata Ki Agung Saba Biru. "Orang yang dipercaya membawa benda mustika telah muncul sendiri, Sekarang serahkan Mutiara Tujuh Setan kepadaku!"

"Kau tidak akan pernah mendapatkan!" sahut Durganini dengan suara berdengus. "Kalau begitu mampuslah!" teriak Ki Agung.

Bersama dengan teriakannya itu secepat kilat dia melesat ke arah Durganini. Dua tangan yang terpentang meluncur dan menyambar kepala gadis itu dengan gerakan mencengkeram. Melihat tindakan yang dilakukan lawan, Lisang Geni dan Nilam Suri tiba-tiba saja memotong laju gerak si kakek dengan serangan pedang dan serangan ujung payung.

Melihat serangan dua senjata itu, Ki Agung menggerung marah.

Sambil menarik balik serangan dia mencabut senjata dipunggungnya. Ketika Ki Agung kibaskan senjata ditangan. Suara menderu mengerikan disertai kiblatan cahaya hitam bergaung diudara.

Seiring dengan itu dari setiap lubang yang bergesekan dengan udara menggebu hawa dingin disertai dentuman-dentuman menggeledek tak ubahnya serangkaian halilintar menyambar bumi.

"Ngung!" Trak!

Ting! Ting!

Payung sakti ditangan Lisang Geni hancur menjadi kepingan dilabrak suara gaung yang berasal dari tangan Ki Agung.

Tidak hanya itu akibat yang ditimbulkan oleh seruling maut itu, pedang ditangan Nilam Suri juga patah menjadi tiga bagian terkena getaran suara menggeledek yang berasal dari seruling.

Kejut dihati murid dan guru bukan kepalang.

Sekuat tenaga keduanya mencoba bertahan. Dalam kesempatan itu Durganini yang melihat kedua penolongnya terhuyung segera datang membantu.

Tapi selagi sang dara merangsak maju sambil menghantam seruling ditangan si kakek, tiba-tiba saja Ki Agung meniup senjata itu.

Suara menggeledek yang ditimbulkan oleh seruling ditangan Ki Agung tidak hanya membuat orang-orang disekitarnya terguncang dengan sekujur serasa luluh lantak.

Namun juga membuyarkan perhatian Lisang Geni, Nilam Suri juga Durganini.

Dan yang lebih mengerikan lagi ledakan-ledakan menggelegar yang ditimbulkan oleh seruling membuat kawasan disekitar candi kuno porak poranda.

Keganasan yang ditimbulkan oleh seruling Halilintar membuat Lisang Geni menyadari, Jangankan muridnya dia sendiri juga tak mungkin sanggup bertahan.

Karena itu dia berteriak ditujukan pada Nilam Suri juga Durganini

"Kalian berdua lekas tinggalkan tempat ini. Aku akan menahannya!" seru Lisang Geni. Nilam Suri tidak kuasa menjawab. Langkah gadis itu terhuyung, tubuh limbung sempoyongan. Dari mulut, hidung dan sekujur tubuhnya meneteskan darah.

Kejadian mengerikan yang dialami Nilam Suri juga gurunya memang tidak sampai terjadi pada Durganini. Gadis itu hanya terguncang. Telinga tidak terasa sakit, tubuh dibagian dalam justru terasa sejuk. Semua ini berkat campur tangan kekuatan Mutiara Tujuh Setan yang ikut membantu melindungi Durganini dari pengaruh serangan Seruling Halilintar.

"Tak ada yang dapat menahanku! Kalian semua harus mampus. Ha ha ha!"

Ki Agung Saba Biru tiba-tiba keluarkan seruan Sambil berucap demikian tiupan seruling semakin menjadi-jadi. Setiap suara yang keluar dari ujung seruling membuat udara seperti dicabik-cabik.

Nilam Suri tak kuasa bertahan. Tubuhnya ambruk bermandikan darah.

Kejadian yang sama juga menyusul pada Lisang Geni. Si kakek itu akhirnya roboh tak berkutik. Melihat Durganini sanggup bertahan dari serangan seruling mautnya, diam-diam Ki Agung Saba

Biru menjadi heran.

Dia tidak habis mengerti bagaimana gadis itu bisa bertahan, Tapi si kakek tidak sempat berpikir lebih lama.

Melihat Durganini diam terpaku menyaksikan orang-orang yang siap membelanya, roboh.

Kesempatan itu dipergunakan si kakek menyambar ke arah sang dara. "Kau ikut aku." teriak Ki Agung.

Durganini tersentak. Menatap ke depan dia melihat lima jemari tangan kanan telah terjulur siap menyambar kepalanya. Dalam jarak sedekat itu apalagi serangan si kakek berlangsung dengan kecepatan laksana kilat, tidak ada kesempatan baginya untuk melawan.

Tak ada pilihan lain, selagi dari balik perut sang dara ada hawa panas aneh yang hendak mencuat keluar, Durganini cepat jatuhkan diri lalu bergulingan menjauh

"Kau tidak dapat lari dariku!" geram Ki Agung Saba Biru

"Kakek muka mayat, kau juga tak mungkin terlepas dari tanganku! Ha ha ha!" Satu suara menggeledek disertai tawa tergelak-gelak meng-gema di udara.

Ki Agung Saba Biru terkejut bukan main.

Namun belum sempat dia menatap ke arah suara yang datang, tahu-tahu satu tamparan keras mendarat telak diwajahnya disertai dua tendangan yang menghantam dada dan perutnya

"Wuargkh...!"

Si kakek yang tidak sempat menghindar menjerit tertahan. Dia jatuh terpelanting. Tapi tanpa menghiraukan wajahnya yang merah kelam akibat tamparan serta nafasnya yang sempat menyesak juga perutnya yang terasa mulas, dia bangkit berdiri dengan kemarahan yang menggeledek.

Memandang ke depan ke arah Durganini ada seorang pemuda gondrong berdiri tegak membelakangi gadis itu. "Siapa kau jahanam!"  

Hardik Ki Agung Saba Biru.

"Kau sendiri siapa? Setan kuburan?" sambut pemuda gondrong berpakaian kelabu yang bukan lain adalah Raja adanya.

Ki Agung tambah kesal.

Tanpa sadar dia mengusap pipinya yang kena ditampar. Dalam hati dia berkata,

"Pemuda ini lagaknya seperti orang gendeng. Cengengesan, senyum-senyum seperti mengejek.

Tapi harus kuakui dia memiliki tendangan yang sangat hebat."

Penasaran Ki Agung melangkah maju. Lang- kahnya terhenti tiga tindak didepan Raja. "Apakah aku mengenalmu?!"

Ki Agung ajukan pertanyaan.

Sang pendekar menyeringal, lalu menjawab.

"Sesama setan masakan tidak saling kenal. Tentu saja kita saling mengenal walau cuma dalam mimpi burukmu. Ya... aku adalah minmpi terburukmu, kakek muka setan!"

Dihina sedemikian rupa Ki Agung Saba Biru marahnya bukan kepalang. Terlebih ketika menyadari pemuda itu telah menggagalkan niatnya.

"Kisanak! Siapapun dirimu aku berterima kasih kau telah telah sudi datang membantu." Tidak jauh dibelakang Durganini tiba-tiba berucap.

"Bantuan tidak seberapa, kuharap jangan berterima kasih," sahut pemuda itu. Dia menatap gadis itu sekejap lalu kedipkan matanya.

"Sebaiknya kau menepi. Beri kesempatan padaku untuk bergurau dengan kakek hantu ini!" ujar Raja.

Si gadis senyum-senyum, namun teringat pada Nilam Suri dan Lisang Geni diapun bergegas mendatangi mereka dan segera memeriksa keadaannya.

Durganini merasa menyesal ketika tahu baik Nilam Suri maupun gurunya ternyata telah menemui

ajal.

"Orang-orang yang selalu berusaha membantuku banyak yang menemui ajal. Jangan-jangan

pemuda itu juga.."

Dengan perasaan sedih dia menatap ke arah sang pendekar.

Sementara itu Ki Agung Saba Biru nampaknya sudah tidak lagi dapat bersabar hati, "Kau yang memulai dan kau juga yang harus menanggung akibatnya!" teriak kakek itu.

"Akibat apa? Serulingmu memang hebat, tapi perlu apa takut karena aku juga punya suling walau sulingku tidak berbunyi. Ha ha ha!" sahut Raja membuat lawannya tambah geram

Wuut!

Ucapan Raja disambut si kakek dengan jotosan mengarah ke mulut. Melihat mulutnya hendak dijotos, sang pendekar segera palingkan wajah, kaki digeser kesamping.

Dengan jurus Tangan Dewa Menggusur Gunung dia dorong tangan kanan ke depan sambuti jotosan lawan.

Duuk!

Benturan keras membuat tubuh keduanya tergetar. Raja sendiri segera kibaskan tangannya yang nyeri akibat benturan.

"Tenaga dalamnya sangat tinggi. Dalam usia yang masih sangat muda dia telah memiliki tenaga dalam sehebat itu."

Batin Ki Agung Saba Biru yang sempat merasakan betapa dari kepalan tangan hingga kepangkal lengan terasa kesemutan.

"Apalagi yang kau tunggu? Kau mengaku kalah? Kalau demikian lekas berlutut didepanku.Semoga rajamu ini memberi pengampunan!" teriak Raja.

"Jahanam tengik! Mampuslah..." Wuut!

Ki Agung Saba Biru akhiri ucapan dengan disertai satu lompatan ke depan. Melihat lawan menyerang dengan kecepatan sulit diikuti kasat mata, pemuda ini segera melompat mundur, Namun selagi sang pendekar belum siap dengan kuda-kudanya, pukulan tangan kosong yang dilakukan si kakek secara beruntun datang dari seluruh penjuru arah.

Melihat lawan mengandalkan serangan yang berlangsung cepat, dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh yang didukung oleh jurus-jurus yang menjadi andalannya pemuda ini berkelebat menghindar. Sesekali dia membalas pukulan dan menahan tendangan dengan jurus Tarian Sang Rajawali dan Tangan Dewa Menggusur Gunung.

Semua serangan si kakek hanya mengenai tempat kosong.

Melihat ini si kakek lalu melambungkan tubuhnya. Dan dibarengi dengan gerak berjumpalitan tangan kiri orang tua itu menderu siap mengepruk kepala Raja.

"Aih, remuk kepalaku!" seru Raja, namun dia segera selamatkan kepala dengan miringkan tubuh.

Serangan lewat disamping bahu. Kesempatan ini dipergunakan sang pendekar dengan mendorong sikunya ke dada lawan.

Duuk! "Hegkh. "

Ki Agung mendelik ketika rusuknya kena dihantam siku lawan. Nafasnya menjadi sesak. Itulah yang membuatnya melompat mundur.

Raja tidak memberi hati. Dia segera merangsak maju. Tapi gerakan menyerang pemuda itu tiba-tiba jadi tertahan. Malah sejurus kemudian tubuhnya terseret, terdorong kembali ketempat semula begitu Ki Agung pergunakan Seruling Halilintar untuk menyerangnya. Suara gaung mengerikan serasa membuat kepala pecah, telinga remuk dan tubuh dibagian dalam hancur menjadi kepingan sekali lagi melanda tempat itu.

Raja katubkan mulut. Lindungi telinga dengan mengerahkan tenaga dalam penuh. Tapi guncangan-guncangan yang ditimbulkan seruling yang kini mulai ditiup oleh si kakek membuat sang pendekar jatuh bangun.

Disaat diri terombang-ambing oleh pengaruh getaran suara seruling yang ditiup oleh si kakek, sang pendekar segera menutup indra pendengaran dengan tenaga sakti.

Daun Tangkai Petir yang dia susupkan ke liang telinga begitu sampai ditempat itu juga bergetar, maka dia segera kerahkan segenap daya dan kekuatan untuk bertahan.

Tapi semakin pemuda ini berusaha bertahan, tubuhnya semakin mengalami guncangan luar biasa.

Otot-otot dan pembuluh darahnya bersembulan seperti mau meletus.

Sedangkan pakaian sakti yang menempel ditubuhnya tampak mengepulkan asap kelabu.

Tanpa disadari oleh lawan seperangkat pakaian kelabu itu membuat satu tabir pelindung yang menjadikan sang pendekar mampu bertahan.

"Harusnya tubuh keparat gondrong itu tercerai berai. Kekuatan apa yang melindungi tubuhnya," batin si kakek sambil terus meniup serulingnya sekaligus lipat gandakan tenaga dalam dengan tiupannya.

"Celaka! Aku tak mungkin hanya bertahan! Kakek itu harus dihentikan. Kalau tidak aku bisa bahaya!" pikir Raja.

Dalam keadaan bertahan dengan kaki yang dihunjamkan ke tanah, pemuda itu sempatkan diri melirik ke arah Durganini.

Diam-diam dia merasa heran melihat Durganini ternyata mampu bertahan dari gaung suara seruling. Si gadis tertunduk, namun sedikitnya ada tujuh cahaya tipis aneh menyelimuti sekujur tubuh sang dara.

"Sahabatku Jiwa dalam pedang Gila. Lekas keluar! Habisi si kakek yang meniup seruling itu!" kata sang pendekar ditujukan pada Jiwa yang berdiam dalam hulu pedang Gila yang tergantung

dipunggungnya.

"Gusti paduka. Sudah menjadi takdir. Kita memang sebaiknya menyelesaikan segala sesuatu bersama-sama."

Sreek!

Seketika cahaya kuning menyilaukan memancar diudara seiring dengan berkelebatnya pedang. Pedang menderu, bergerak dengan sendirinya tanpa kendali pemiliknya.

Pedang berwarna keemasan tercabut dari dalam rangkanya, lalu melesat ke arah si kakek laksana anak panah yang terlepas dari busurnya. Melihat ini Ki Agung Saba Biru terkejut.

"Senjata jahanam! Bagaimana mungkin bisa melesat tanpa ada yang mengendalikan?!" Desis Ki Agung terkejut.

Tak ingin celaka ditembus pedang maka dilipatgandakan tenaga sakti dalam tiupan serulingnya. Tiupan yang makin menghebat membuat keadaan disekitarnya serasa dilanda kiamat.

Ditempatnya terduduk Durganini tambah terguncang. Tubuh jungkir balik seperti ada yang menendang.

Raja sendiri menggeram hebat.

Kaki depan ditekuk, tangan dikepal. Dalam posisi satu kaki berlutut, dia kerahkan tenaga dalam penuh kedua belah tangannya. Dua tangan yang terkepal kemudian berubah menjadi biru terang.

Perlahan dua tinju diangkat tinggi siap dihantamkan ke tanah melepas pukulan sakti Seribu Jejak Kematian.

Selagi sang pendekar berusaha keras mengatasi kekacauan yang ditimbulkan oleh tiupan seruling, pedang Gila yang melesat ke arah Ki Agung Saba Biru tiba-tiba bergetar terpengaruh getaran hebat yang ditimbulkan seruling yang ditiup si kakek. "Seruling itu mengacaukan perasaan dan menghambat gerakan pedang Gila."

Batin jiwa yang mengendalikan pedang. "Heaa..."

Sang Jiwa keluarkan suara teriakan yang tak pernah didengar oleh lawan.

Pengerahan tenaga sakti tambahan yang dilakukan Jiwa pengendali pedang membuat pedang Gila bergetar keras. Tapi tak lama kemudian seiring dengan gerakan Raja yang menghantam tanah dengan dua tinjunya maka membuat pedang Gila dapat melesat kembali.

Si kakek terkejut ketika merasakan ada hawa panas menyengat melabrak kedua kakinya. Dan dia tambah kaget ketika melihat pedang Gila menderu ganas siap menembus jantungnya.

Orang tua ini segera pergunakan seruling yang tadinya ditiup untuk menangkis. Cahaya hitam berkiblat disertai suara berdengung tak berkeputusan.

Trang!

Seruling sakti dan pedang Gila berbenturan keras, menimbulkan suara berdentring dan percikan

api.

Ki Agung terhuyung... Namun dia tidak dapat mengimbangi diri karena dua kaki yang menjejak

tanah tiba-tiba lumpuh sulit digerakkan.

Diudara pedang yang bergetar akibat benturan berputar, lalu berbalik menyerang si kakek.

Tidak ada kesempatan untuk selamatkan diri,ki Agung kembali kibaskan seruling kearah punggung.

Gerakan menangkis yang dilakukan sekenanya ini membuat sang pedang dengan mudah dapat menghindarinya.Berhasil menghindar pedang menukik tajam dari atas menembus bahu.

Crass!

Tanpa ampun ujung pedang amblas ke dalam bahu hingga ke dada.

Ki Agung Saba menjerit setinggi langit.Sebelum tubuhnya ambruk dan seruling ditangan terlepas dari genggaman,pedang gila melesat meninggalkan tubuh lawan.

Setelah berputar tiga kali diketinggian pedang itu kembali masuk kedalam rangkanya.

Raja bangkit berdiri setelah mengucapkan terima kasih pada jiwa yang telah membantunya. Dengan perasaan letih pemuda ini menghampiri tubuh diam lawannya.

Setelah itu dia menatap ke arah seruling maut yang tergeletak tidak jauh disamping si kakek. Seruling Halilintar dipungutnya,lalu dia selipkan dibalik pinggang sebelah kiri.

"Senjata sakti, hebat tapi berbahaya bila berada ditangan orang seperti dia."

Batin sang pendekar.Sambil menghela nafas pemuda ini balikan badan.Maksudnya hendak menghampiri Durganini dan menanyakan keadaannya.

Namun gadis itu ternyata telah berdiri dihadapannya.

Dibalik bulu- bulu halus Raja melihat wajah sang dara yang pucat dan menyisakan ketakutan. "Bagaimana keadaanmu?" bertanya sang pendekar.

"A..aku baik-baik saja.Kau pendekar hebat. Jika kau tidak datang menolong aku tak tahu apa jadinya."

Ucap Durganini sambil menatap kagum pada Raja.

"Ha ha ha. Kau lewat memuji," sahut Raja sambil tertawa.

"Kita harus segera menemui Tiga Setan Putih. Bila Mutiara Tujuh Setan memang ada padamu kita harus menyerahkan pada mereka."

Raja memberi tahu.

"Mutiara itu memang ada padaku. Aku senang kau menemani, tapi kemana harus mencari Tiga Setan Putih. Bukankah sebelumnya mereka tinggal ditempat ini?" tanya sang Dara heran,

"Aku tahu tempatnya. Tiga setan gundul itu tidak kemana-mana. Ha ha ha," jawab sang pendekar disertai gelak tawa

Durganini manggut-manggut.

Dia ikutan tertawa walau tidak tahu apa yang ditertawakan Raja 

Tamat