-->

Raja Gendeng Eps 16 : Kitab Pedang Darah

 
Eps : 16 Kitab Pedang Darah


Di sebelah Tenggara Purworejo di kaki sebuah bukit. sinar matahari terasa sangat menyengat. Angin yang berhembus menerbangkan debu dengan aroma tanah kering yang menyesakan dada. Dalam suasana yang kurang bersahabat ini terlihat ada satu sosok tubuh tinggi besar,

bertelanjang dada di mana sekujur tubuhnya ditumbuh bulu lebat, Sosok yang berwujud laki-laki ini tampaknya sedang berlari cepat seolah dikejar setan.

Anehnya....

sambil berlari diatas bahunya duduk bertengger seorang laki-laki yang bertubuh pendek katai, berkumis tipis berpakaian hijau dan bibirnya selalu mengulum senyum.

Laki-laki itu berusia hampir enam puluh tahun.

Dia adalah Gagak Anabrang, penguasa kaya yang kunci gudang hartanya saja tidak kuat dipikul oleh tiga kuda gemuk sekalipun. Sepanjang jalan semenjak mereka meninggalkan tepi sindang yang berada dikawasan Alas Sindang Pantangan laki-laki pendek yang bertengger di bahu si tinggi besar terus menerus berceloteh mencaci maki.

Adapun oang yang menjadi pelampiasan caci maki dan sumpah serapah laki-laki pendek diatas bahu itu adalah si tinggi besar yang selalu memanggul dan mengantarkannya kemana diapun dia pergi.

"Aku telah melakukan sebuah ketololan yang besar dengan mengharapkan seorang bekas sahabat untuk mau menolong dan bekerja sama denganku. Tetapi ketololan yang paling besar justru ada pada dirimu hai.. .kudaku. Kau tidak bisa berenang dan kelemahan dari ilmu kesaktianmu disebabkan oleh air sehingga kau kalah dari mahluk keparat bernama Orang Mati Dari Makam Setan."

Geramnya sambil kepalkan tinju. Sedangkan jemari tangan kirinya mencengkeram rambut orang yang didamprat dengan kuat-kuat. Si tinggi besar yang bukan lain bernama Lor Gading Renggana menggeram keras. Rasa sakit yang luar biasa akibat cengkeraman Gagak Anabrang membuat dia meronta dan kepalanya yang kecil digeleng-gelengkan.

"Junjungan.... Segala kesalahan bisa dilimpahkan kepada saya. Saya bisa menerima hanya bila junjungan mencaci maki. Tetapi saya mohon jangan memegang rambut saya dengan cara seperti itu. Karena sakitnya dapat membuat saya menjadi lupa diri.!"

Seakan tersadar akan pantangan untuk menyentuh kepala Lor Gading Renggana maka sambil mendengus Gagak Anabrang lepaskan cengkramannya.

"Aku masih menghormati untuk tidak menyentuh rambutmu.Semua kejadian ini. Karena aku merasa kecewa dan marah akibat kejadian yang tidak menyenangkan yang kita alami di Alas Sindang Pantangan."

Kata Gagak Anabrang dengan suara keras menggembor marah. Mendengar ucapan sang majikan laki laki tinggi besar berkepala kecil yang selalu menutup matanya dengan kain hitam itu diam tidak menjawab.

Bagaimanapun dia tidak akan melupakan kejadian yang memalukan yang dialaminya saat menyeberangi sindang menuju pulau Damai. Pulau Damai sudah dihuni oleh seorang Ratu selama puluhan tahun. Ratunya dikenal dengan nama Ratu Edan.

Sebagaimana dikisahkan dalam episode sebelumnya, kedatangan Gagak Anabrang beserta pengikut setia sekaligus tunggangannya adalah untuk meminta bantuan kepada Ratu Edan. Tetapi diluar dugaan dalam perjalanan menuju ke singgasana Ratu Edan disaat mereka diatas perahu tiba tiba muncul Mahluk Kubur yang dikenal dengan sebutan Orang Mati dari Makam Setan.

Mahluk itu membuat perahunya tenggelam. Si tinggi besar abdi setianya Gagak Anabrang yang bernama Lor Gading Renggana bahkan sempat tenggelam. Kemarahan Gagak Anabrang itu bukan karena perbuatan Orang Mati Dari Makam Setan yang telah menghadangnya.

Tetapi karena Orang Mati Dari Makam Setan meramalkan bahwa dia dan putrinya Arum Dalu akan mendapat malapetala dari perbuatannya sendiri. Sayang sebelum Gagak Anabrang melampiaskan kemarahannya. Orang Mati Dari Makam Setan telah lenyap dari hadapannya.

Tidaklah heran untuk melampiaskan segala kekesalannya, sepanjang jalan laki-laki katai ini menumpahkan kemarahannya kepada sang pengikut setianya.

Angin panas bercampur debu menderu. Lor Gading Renggana semakin mempercepat larinya.

Tetapi tiba tiba saja dia menghentikan larinya ketika mendengar suara raungan menggeledek yang disertai bentakan luar biasa kerasnya.

"Manusia licik, jahanam bernama Gagak Anabrang! Dicari-cari sulit ditemukan. Tidak dicari ternyata datang sendirit Hei.. .apa kabar, keparat? Apakah kau telah siap menerima kwalat?" teriak satu suara menggelegar yang membuat merinding tengkuk orang yang mendengarnya

"Mahluk Setan darimana yang demikian berani bersikap kurang ajar. Berani bicara tidak sopan pada manusia agung seperti diriku."

"Suaranya berpindah-pindah dan ilmu memindahkan suaranya cukup hebat. Tapi dia tidak layak bicara seperti itu kepadaku."

Bisik Gagak Anabrang

"Siapapun yang bicara lancang, junjungan patut memberi ganjaran dengan merobek-robek mulutnya sampai menjadi serpihan tak terbentuk."

Timpal Lor Gading Renggana sengit.

Laki-laki ini kemudian hentikan langkahnya dan memandang sekeliling. Dia terkejut. Panas terik yang terasa membakar mendadak lenyap, Hembusan angin terhenti.

Ketika Lor Gading dan Gagak Anabrang sama dongakkan kepala menatap ke langit.

Kedua orang ini kaget setengah mati saat mengetahui langit ternyata diselimuti mendung tebal. Mendung itu bukan berwarna hitam sebagaimana seharusnya melainkan berwarna merah darah.

Dan rasa kaget dihati keduanya semakin menjadi-jadi ketika melihat di atas ketinggian sana sejarak seratus tombak ada sebuah benda merah besar.

Benda itu adalah sebuah perahu yang mengapung sedemikian rupa sambil bergoyang-goyang.

Lor Gading Renggana yang seumur hidupnya belum pernah melihat ada perahu bisa melayang bergerak diatas ketinggian tiba-tiba berkata.

"Astaga"!

"Apakah mungkin mataku salah melihat. Bagaimana bisa perahu yang seharusnya berada didalam air ada diatas ketinggian. Gusti junjungan. apakah engkau tahu siapa pemilik perahu itu?"

Mendapat pertanyaan demikian Gagak Anabrang tidak menjawab.Dia menelan ludah, mata terus menatap lurus kearah perahu merah berlayar lebar dan berbendera darah.

Tidak lama setelah dapat menguasai diri, Gagak Anabrang membuka mulut. Dengan suara lirih dia menjawab.

"Apa yang kau lihat, segala yang kau saksikan saat ini bukan lain adalah sebuah benda keramat bernama Perahu Setan. Perahu itu adalah satu-satunya benda yang bisa melayang di ketinggian.

Biasanya dimana perahu itu munculkan diri, penghuni sekaligus pemiliknya selalu ikut menyertai. Aku mengenal sang pemilik. Dia pernah menitipkan murid kesayangannya padaku, Sayang kedua murid penghuni perahu tewas saat menjalankan tugas di Tretes!"

"Apakah junjungan tidak mengenal siapa nama penghuni perahu setan itu?"

Tanya Lor Gading yang segera ingat dengan peristiwa lenyapnya dua saudara kembar Ayudra Bayu dan Ayudra Tirta yang terbunuh ditangan seorang pendekar aneh bernama raja dan dikenal dengan sebutan Sang Maha Sakti Raja Gendeng.

Gagak Anabrang tersenyum.

Dalam senyum diwajahnya jelas terlihat bayang-bayang rasa bersalah. Sambil gelengkan kepala dia pun menjawab.

"Aku sering bertemu dengannya. Kejadian itu berlangsung beberapa tahun yang lalu. Namun aku tidak pernah melihat wajahnya. Jangankan melihat wajahnya, namanya saja aku tidak kenal. Dia mahluk aneh misterius. Semua orang di rimba persilatan ini cuma mengenalnya sebagai penghuni perahu setan!"

Lor Gading anggukan kepala namun merasa tidak puas.

Baru saja laki-laki lugu kalau tidak dapat dikatakan bodoh ini hendak membuka mulut ajukan pertanyaan, tiba-tiba saja dari atas terdengar suara menderu.

Mendengar suara bergemuruh, Gagak Anabrang kembali dongakan kepala. Mendadak laki-laki yang duduk diatas panggulan itu berseru. "Menyingkir! Perahu itu sepertinya jatuh dan hendak menimpa kita!"

Mendengar teriakan sang majikan. Lor Gading Renggana segera melompat kesamping dan mencari tempat yang aman.

Gerakan cepat dan serba mendadak itu membuat Gagak Anabrang nyaris terjungkal. Dugaan Gagak Anabrang bahwa perahu siap menghantam mereka ternyata tidak terjadi.

Setelah perahu meluncur keras dari ketinggian, sejarak dua tombak dari tanah gerakan sang perahu tiba-tiba terhenti.

Bersamaan dengan terhentinya perahu dari dalam bangunan kecil mirip pondok yang terdapat didalam perut perahu itu sekali lagi terdengar suara tawa mengguntur. Lor Gading terhuyung, pengaruh tawa membuat telinganya berdenyut sakit, sedangkan kepala serasa mau meledak.

Dengan cepat dia segera menyalurkan tenaga sakti kebagian telinganya. Pengaruh tawa lenyap.

Sementara diatas bahu tubuh, Gagak Anabrang sempat bergetar, namun hanya dalam waktu sekejap dia telah dapat menguasai diri.

"Sahabat penghuni perahu setan!"

Berkata sipendek ini sambil memendam kemarahan dihati.

"Lama kita tak bertemu. Begitu munculkan diri kau mengumbar tawa melontarkan segala caci maki. Gerangan apa yang telah membuatmu menjadi marah?"

Tanya Gagak Anabrang risau. Dari dalam perahu terdengar suara terompah berjalan.

Kemudian satu kepala dan wajah terlindung topeng tipis berwarnah merah bergambar tengkorak muncul di bibir perahu.

Tanpa basa basi dari mulut yang terlindung topeng menyembur ucapan. "Manusia laknat yang tak kenal balas budi. Jangan pura-pura tidak tahu sebab musabab yang menjadi pangkal kemarahanku, karena kau selama ini dikenal sebagai manusia licik culas yang pandai berpura-pura."

"Sahabat. Setiap ada masalah masih bisa kita bicarakan baik-baik. Begitu juga setiap persoalan pasti ada jalan keluarnya.!"

"Manusia kerdil jahanam! Aku bukan sahabatmu! Dan kesalahanmu sudah jelas tidak dapat dicari jalan keluarnya. Terkecuali kau bersedia menggorok lehermu sendiri. Apakah kau telah siap?"

Tanya orang berpakaian serba merah dari dalam perahu. Melihat majikannya dihina sedemikian rupa, Lor Gading Renggana rupanya merasa tersinggung. Dengan perasaan geram dia berseru,

"Manusia pengecut sembunyikan wajah dibalik topeng.Siapapun dirimu kau tidak pantas mengatakan itu pada junjunganku!".

Penghuni Perahu Setan menyeringai.

Dia menatap Lor Gading Renggana beberapa jenak lamanya. Tak lama kemudian dia mengumbar tawa dingin.

"kau hanya manusia bodoh, Dimataku kau tak lebih dari seekor keledai dungu yang rela dijadikan alat tunggangan oleh bangsat licik Gagak Anabrang. Harap kau tidak ikut campur urusan ini. Atau kau akan mati sia sia tanpa ada yang mengenalmu!" kata penghuni Perahu Setan dengan angker

"Keparat! Aku siap mengadu..."

Belum selesai Lor Gading Renggana berucap Gagak Anabrang menggebrak rusuknya dengan kaki kiri sebagai isyarat agar dirinya diam.

Dengan memendam segenap kemarahan di hati Lor Gading Renggana terpaksa katupkan mulutnya.

Melihat pengikut setianya terdiam, Gagak Anabrang segera melompat dari bahu Lor Gading Renggana.

Dengan gerakan ringan tanpa suara laki-laki itu jejakan kaki diatas batu. "Penghuni Perahu Setan!"

Berkata Gagak Anabrang.

"Maafkan aku jika kau menganggap diriku bersalah. Sejauh ini aku hanya bisa menduga apa yang menjadi sebab kemarahanmu."

"Bagus kalau kau sudah tahu. Dengan begitu aku tidak perlu membuang waktu berlama-lama bicara denganmu!"

Dengus orang diatas perahu setan. Gagak Anabrang menghela nafas. Menatap sejenak kearah perahu.

Dia melihat penghuni Perahu Setan telah berdiri di haluan. Anehnya walau orang berpakaian dan berjubah merah ini berdiri dengan sikap seenaknya sendiri perahu tidak miring kekiri apalagi terjungkir kearah pemiliknya.

"Gagak Anabrang!"

Sentak orang diujung perahu memecah keheningan. Mendengar namanya disebut, laki laki pendek itu angkat kepala dan memandang kearah lawan bicara.

"Apakah kau sudah tahu mengapa aku menemuimu?" "Aku sudah tahu walau sekedar menduga."

Menyahuti laki laki pendek itu dengan suara serak parau.

"Bila sudah tahu berarti kau sekarang sudah bisa mengatakannya."

"Ya. Aku menaruh dugaan kuat kehadiranmu ini punya hubungan erat dengan kematian dua murid kembarmu yang bernama Ayudra Bayu dan Ayudra Tirta."

Jawabnya tanpa ragu.

Seperti telah dikisahkan dalam episode Misteri Perawan Siluman, kedua pengikut setia Gagak Anabrang yang tak lain adalah murid penghuni Perahu Setan tewas terbunuh ditangan Raja.

Sebagaimana yang telah dikisahkan pula kematian saudara kembaran itu menimbulkan kemarahan besar Penghuni Perahu Setan.

"Kedua muridku yang kutitipkan kepadamu telah tewas. Tapi mengapa kau tak pernah memberi kabar kepadaku. Kau menganggap kematian mereka sebagai angin lalu saja. Dan lebih celakanya lagi kau tidak pernah berusaha mencari sekaligus menghabisi pembunuh kedua muridku itu.Bahkan sampai hari ini sang pembunuh laknat itu berkeliaran bebas seolah tidak tersentuh tak dapat diadili."

Mendengar ucapan penghuni Perahu Setan. Gagak Anabrang buru buru rangkapkan kedua tangan, tundukan kepala dan berkata.

"Orang tua hebat yang selalu menutupi wajah.Maafkan aku jika tidak segera memberikan kabar padamu tentang kematian kedua muridmu itu.Bukannya aku melupakan pesanmu dulu bahwa aku harus menjaga murid yang kau titipkan padaku dengan sebaik baiknya. Aku tidak bisa mengabarimu karena aku tidak bisa mencapai Bukit Awan Cadas Setan. Aku tidak punya sayap, sementara tempat kediamanmu berada diatas ketinggian langit. Sedikitpun aku tidak pernah menganggap kematian dua saudara kembaran itu sebagai angin lalu. Karena selama mengabdi kepadaku telah banyak tugas yang dapat mereka selesaikan dengan sebaik baiknya. Aku juga tidak bermaksud membiarkan saja pendekar aneh yang telah menghabisi kedua muridmu.Namun kau tahu sendiri akhir akhir ini telah terjadi berbagai urusan pelik yang membuat kepalaku serasa mau pecah!"

"Begitu ? Ha ha ha. Bukankah segala masalah yang muncul dalam kehidupanmu akibat perbuatanmu sendiri? Dimasa muda kau telah banyak menabur angin. Apakah keliru bila sekarang kau menuai badai?1"

Kata penghuni Perahu Setan disertai gelak tawa dingin mengejek. Melihat orang menertawakan dirinya dalam hati sebenarnya Gagak Anabrang marah bukan main.

Namun demi mengingat siapa orang yang dia hadapi ini dia memilih untuk bersikap sabar menahan diri.

"Kesalahan yang berulang bukanlah suatu kekeliruan. Aku mengaku salah atas semua langkah yang ku tempuh dikehidupan masa laluku. Tapi nasi terlanjur menjadi bubur. Terlepas dari rasa suka tidak suka aku harus memikul segala resiko."

"Kau tidak hanya harus menanggung resiko, kau juga harus membayar hutang nyawa atas kematian kedua muridku itu, Gagak Anabrang?!"

Kata penghuni Perahu Setan dingin.

Kejut di hati Gagak Anabrang bukan kepalang.

Sedikitpun dia tidak menyangka orang diatas haluan perahu bakal bicara seperti itu.

Mana mungkin dia mempertanggung jawabkan kematian kedua saudara kembaran itu, sedangkan kematian mereka bukan akibat tindakannya melainkan karena terlibat perkelahian maut dengan sang maha sakti Raja Gendeng.

Berpikir sampai disitu,dengan mulut mengulum senyum. Gagak Anabrang pun berujar.

"Orang tua. Aku yakin kau cukup bijaksana dalam memandang kepergian murid-muridmu. Yang membunuh mereka bukan aku. Mengapa aku yang harus bertanggung jawab? Keputusanmu itu tidak adil"

"Adil?! Sejak kapan kau mengenal kata keadilan? Manusia culas sepertimu masih tidak punya malu meminta keadilan padaku?" sentak orang di atas perahu sinis.

"Junjungan! Mengapa banyak bicara? Saya tidak melihat ada jalan keluar dari tuntutannya. Kita berdua dia sendiri, bila maju bersama-sama kita pasti bisa menghabisinya."

Ucap Lor Gading Renggana lirih namun cukup jelas terdengar ditelinga majikannya. "Jangan bertindak bodoh. Selusin manusia berkepandaian sepertimu. Belum tentu sanggup

membuatnya cidera apalagi sampai dapat membunuhnya."

Jawab Gagak Anabrang melalui ilmu menyusupkan suara. Peringatan itu membuat Lor Gading Renggana terdiam. Sementara penghuni diatas perahu tidak sabar melihat kedua orang itu saling berbisik, segera berteriak menggeledek.

"Gagak Anabrang! Aku sudah berpikir dan mempertimbangkan. Anggap saja hutang nyawa diantara kita menjadi impas Asalkan. !"

Sang penghuni Perahu sengaja tidak menyelesaikan ucapannya.

Sebaliknya sepasang mata yang terlindung kedok itu menatap ke arah Lor Gading dan majikannya silih berganti.

Lor Gading ternyata sangat penasaran.

Terdorong rasa ingin tahu yang sedemikian besar, tanpa ragu diapun ajukan pertanyaan. "Bicara jangan berbelit-belit. Sebaliknya kau berterus terang. Kami bukan manusia pengecut. Aku sendiri bahkan tidak gentar menghadapimu!"

Ucap Lor Gading dengan suara lantang.

"Manusia tolol bermulut besar. Aku menghendaki nyawamu sebagai pengganti nyawa salah satu muridku!"

Tegas Penghuni Perahu Setan.

Setelah berkata demikian dia palingkan kepala kearah Gagak Anabrang. Pada laki-laki itu dia berucap.

"Hutang nyawa yang kau tanggung baru kuanggap lunas bila kau bersedia memotong kedua kakimu yang tidak berguna itu. Apakah kau siap?"

Tak pernah menduga orang bakal bicara seperti itu. Gagak Anabrang diam-diam menjadi kaget. Namun orang seperti dia mana mau merelakan kedua kakinya menjadi buntung.

Dia bahkan tidak rela bila harus kehilangan sepotong jemarinyapun. Gagak Anabrang terdiam. Dalam diam otaknya berpikir cepat.

Setelah itu tanpa ragu lagi dia pun berkata,

"Majikan Penghuni Perahu kramat.Tidak satupun manusia di dunia ini yang sanggup menghidupkan orang yang sudah mati.Aku tahu kematian kedua muridmu sulit dicari gantinya. Tetapi sebagai tanda penyesalanku.Bagaimana bila aku memberikan sebagian harta yang dimiliki kepadamu. Tidak hanya sekedar harta yang melimpah, aku juga sanggup mencarikan selusin gadis cantik untukmu."

Mendengar tawaran yang diajukan Gagak Anabrang sekujur tubuh Penghuni Perahu Setan bergetar hebat. Mata mendelik besar, sedangkan darahnya serasa menggelegak sampai ke ubun- ubun.

"Kau mengajak menukar nyawa muridku dengan gadis cantik dan emas. Bagaimana bila aku lebih berbaik hati dengan memberikan hidangan emas mendidih? Ha... ha...?"

Teriak Penghuni Perahu Setan dengan suara lantang diselingi gelak tawa.

Selagi gelak tawa Penghuni Perahu mengguncang seluruh penjuru perbukitan, perahu yang yang ditumpanginya tiba-tiba bergerak cepat, meluncur deras kearah kedua orang dibawahnya.

Kemudian secepat kilat menyambar.

Perahu Setan lakukan gerakan menjungkir ke bawah.

Dari dalam perahu sekonyong-konyong terdengar suara gemuruh disertai suara gelegak seperti cairan mendidih. Gagak Anabrang dan Lor Gading yang belum tahu apa yang akan dilakukan Penghuni Perahu cepat menatap ke atas.

Wajah kedua orang ini berubah pucat tegang.

Mata Lor Gading yang terlindung kain hitam terbelalak lebar. Ketika melihat ada cairan berwarna kuning keemasan mengepul asap panas dan kobaran api turun dari atas. Gagak Anabrang menyadari agaknya cairan itulah yang dimaksudkan lawan sebagai hidangan emas mendidih.

"Menyingkir! Selamatkan dirimu!"

Teriak laki-laki itu ditujukan pada pengikut setianya.

Dia sendiri dengan gerakan cepat luar biasa segera berkelebat menjauh hindari guyuran cairan emas yang menderu laksana curah bendungan yang jebol.

Lor Gading yang mempunyai kecepatan luar biasa dalam setiap gerakan tidak mau mengambil resiko.

Sambil melompat tinggi hindari guyuran dia hantamkan kedua tangannya ke arah curahan cairan lengket luar biasa panas dan mematikan itu. Dari telapak tangan Lor Gading menderu segulung angin dasyat laksana topan mengamuk. Angin itu seperti benteng raksasa yang terus bergerak melabrak ke depan menyongsong datangnya curahan cairan mendidih.

Wuus!

Tak dapat dihindari lagi dua pukulan sakti yang dikenal dengan nama Selaksa Topan Melanda Bumi dilepaskan Lor Gading melabrak cairan yang dimuntahkan perahu.

Satu dentuman keras menggelegar di udara.

Cairan panas membara muncrat tercerai berai bertaburan diudara. Perahu sempat terguncang, terdengar suara caci maki sang pemilik.

Namun perahu yang mengapung diketinggian itu tidak mengalami kerusakan sedikitpun, Dalam sekejab posisi perahu kembali seperti semula.

Perahu meluncur ke depan mengejar Lor Gading.

Sementara orang yang dikejar sang perahu dalam keadaan kalang kabut hindari muncratan cairan yang bertaburan di segenap penjuru.

Cairan emas mendidih yang berjatuhan begitu menyentuh tanah langsung menyala membakar apa saja yang terdapat disekitarnya.

"Keluar dari tempat itu. Pindah ke tempat yang lebih aman!"

Seru Gagak Anabrang ketika menyaksikan betapa Lor Gading terpaksa melompat hindari Jilatan api yang bermunculan disekitarnya.

Lor Gading lakukan apa yang diperintahkan junjungannya.

Namun pada waktu yang sama dari atas perahu Setan tiba-tiba terdengar suara teriakan keras disertai melesatnya sang penghuni perahu

"Apakah kau hanya mampu berteriak? Jahanam kecil terimalah ajalmu"

Gagak Anabrang terkesiap. Menatap ke arah datangnya suara dia melihat perahu Setan kini bergerak sendiri menyerang Lor Gading. Sementara dari arah depan dia melihat lawan telah melesat deras ke arahnya.

Dua tangan terjulur, sepuluh jari tangan berkuku panjang berwarna merah terang siap menghantam ke lima bagian tubuh yang mematikan.

Melihat betapa bagian jari hingga pangkal lengan lawan yang terlindung lengan jubah berubah merah mengerikan.

Gagak Anabrang menyadari Penghuni Perahu telah mengerahkan tenaga dalam sekaligus ilmu sakti pada kedua tangannya itu.

Sambil mendengus dia berkata.

"Kau hendak merampas nyawaku dengan ilmu keji Seribu Bala Merampas Nyawa? Siapa takut!"

Berkata demikian Gagak Anabrang segera geser kaki kiri ke samping. Dua tangan cepat ditariknya ke belakang. Kemudian ketika melihat sepasang tangan menyambar lima titik mematikan dibagian wajah dan leher, dia pun segera menghantamkan kedua tangan sambuti serangan lawan.

Dua larik cahaya hitam menggidikkan menderu berputar meliuk mencuat ke depan tak ubahnya soperti mata bor yang siap menembus lempengan baja.

"Hmm, Masih juga kau mempergunakan ilmu rongsokan Keris Cahaya Menembus Langit Tujuh?"

Seru lawan mengejek. Tidak menyangka orang mengenali jenis ilmu sakti yang dipergunakannya untuk menyerang, Gagak Anabrang segera lipat gandakan tenaga dalam didalam serangannya.

Cahaya hitam redup yang berputar lurus siap menjebol tangan menembus dada lawan membersitkan cahaya terang.

Suara deru disertai kilatan cahaya menyambar ganas ke arah Penghuni Perahu Setan. Hawa panas dan dingin menerpa silih berganti.

Tapi penghuni perahu setan berlaku cerdik.

Sesaat sebelum dua cahaya hitam yang bergerak berputar menembus kedua tangan dan mencelakai bagian tubuhnya yang lain, dia sentakan dua tangannya ke samping sekaligus hentakan kepala ke belakang.

Ketika kepala ditarik kebelakang bagian tubuh sebelah bawah tentu saja mengikutinya. Dua serangan menyambar dan lewat di atas dada sang penghuni Perahu.

Gagak Anabrang terkejut bukan main tak menyangka lawan dapat meloloskan diri dari serangannya.

Dua cahaya hitam terus melesat ke atas lalu meledak setelah mencapai ketinggian.

Melihat serangannya gagal. Gagak Anabrang segera siap menyerang lawan dengan ilmu andalan yang lain.

Tapi baru saja dia kepalkan tinju tangan kanan dan dorongkan tangan kiri.

Dengan tidak terduga dua kaki lawan yang mengapung di udara melesat menyambar menghantam dada dan bahu kirinya. Mendapat serangan secepat itu sehebat apapun gerakan Gagak Anabrang untuk menghindar tetap saja kalah cepat dengan datangnya serangan.

Buuk! Dess!

Dua tendangan dengan telak menghantam tubuhnya, membuat Gagak Anabrang yang bertubuh kecil jatuh terpelanting, lalu terguling-guling sambil keluarkan suara menggerung kesakitan.

Melihat lawan terjatuh, Penghuni Perahu Setan meluncur ke bawah. Begitu kedua kaki menjejak tanah dia menatap ke arah perahu.

Pada benda merah angker yang selalu melayang diudara itu dia berseru sekaligus memberi perintah.

"Perahu keramat perahu pembawa tuah pengukir bala. Habisi mahluk tolol berkepala kecil itu!"

Perintah bersambut. Sang perahu yang tadinya menyerang Lor Gading dengan kecepatan biasa mendadak berubah menjadi beringas, bergerak tidak teratur menyerang lawan dengan membenturkan diri ke tubuh yang menjadi sasaran. Tanpa menghiraukan perahu angker miliknya. Penghuni Perahu Setan cepat palingkan kepala menatap ke arah Gagak Anabrang

"Luar biasa! Orang lain yang terkena tendangan Geledek Hitam pasti sudah mampus atau setidaknya tubuh menjadi hangus dan bakal menderita cacat cidera seumur-umur. Ternyata kau sanggup menahan seranganku. Hebat... benar-benar hebat!" puji Penghuni Perahu Setan.

Mulut memuji namun hati memaki. Gagak Anabrang menyeringai. Diam-diam dia harus mengakui, walau sebelumnya dia telah melindungi diri dari gempuran dengan pengerahan tenaga dalam keseluruh tubuh. Tetapi tendangan lawan benar-benar membuat tubuh dibagian dalam serasa rontok bertanggalan.

Bahu dan dada yang kena ditendang bahkan sempat mengalami patah serta cidera parah. Namun berkat ilmu kesaktian yang dia miliki. Hanya dalam waktu tak sampai sekedipan mata patahan tulang dibahu juga dibagian rusuknya sembuh. Kini sambil menyeringai dan sikap menantang. Gagak Anabrang berkata,

"Mahluk kurang ajar. Walau ilmu kesaktianmu selangit tembus. Tapi aku telah membuktikan ternyata kehebatan ilmumu itu kosong belaka."

"Kau akan menyesali segala ucapanmu itu. Aku bersumpah kau tidak bakal lolos dari kematian!" Teriak Penghuni Setan marah bercampur geram.

Tidak menunggu lama laki-laki berpakaian serba merah ini segera angkat kaki kanannya. Bersamaan dengan gerakan kaki, dua tangan menderu ke atas.

Kedua siku ditekuk.

Sejurus kemudian dengan tangan terpentang tak ubahnya seperti rajawali yang siap mengepakkan sayapnya, tangan dan sekujur tubuh lalu bergetar. Asap tebal berwarna merah seperti darah menebar dari sekujur tubuh disertai aroma harum stanggi.

Lalu....

Kik-kik-kik...

Wuus!

Diawali dengan suara lengkingan aneh tubuh Penghuni Perahu Setan tiba-tiba memudar lalu raib menyatu dengan kepulan asap merah.

Mula-mula tebaran asap yang menyatu dengan tubuh penghuni Perahu Setan berputar,lalu meliuk bergulung gulung menerjang ke arah Gagak Anabrang

"Mahluk licik!"

Si pendek kerdil mendamprat begitu asap menderu siap menggulung tubuhnya. Namun dengan cepat dia segera lambungkan diri ke udara.

Saat tubuhnya melambung dia juga kibaskan dua tangannya ke bawah mencoba memusnahkan serangan asap dengan Ilmu Sakti Kipas Neraka Mendera Bumi.

Seketika itu juga dari sepuluh jemari tangan Gagak Anabrang menderu cahaya hitam kemerahan berbentuk dua kipas raksasa menebar hawa panas luar biasa.

Kedua kipas itu melabrak asap merah yang bergulung berbentuk jaring raksasa. Bum!

Bum! Tam! Tam!

Terdengar suara dentuman menggelegar bertubi-tubi.

Hamparan asap merah serta merta musnah menjadi tebaran asap yang tercerai berai. Tempat di sekitar terjadinya ledakan mengalami guncangan hebat luar biasa.

Namun aneh.

Tidak terdengar suara raung atau jerit kesakitan lawannya.

Gagak Anabrang melayang ke bawah,jejakan kaki tak jauh dari tempat terjadinya ledakan.

Dia melihat dua buah lubang menganga dalam berwarna hitam menebar bau busuk. Tapi dia jadi heran sendiri ketika menyadari lawan yang diserang dan ternyata hilang.

"Dia bukan hantu atau setan. Mana mungkin bisa menghilang?!" desis laki-laki itu.

Tanpa menunggu lebih lama dia segera memutar kepala edarkan pandangan. Belum lagi sempat menemukan orang yang dicari. Tiba-tiba saja dia mendengar suara desir halus datang menyambar dari arah sebelah kirinya.

Secepat kilat dia menoleh. Wajah Gagak Anabrang sontak berubah pucat. Kejut dihatinya bukan kepalang melihat penghuni Perahu Setan ternyata telah berada semakin dekat dengan dirinya. Sementara dua tangan yang telah berubah sebesar batang kelapa menderu mencari sasaran dibagian perut dan kepalanya. Gagak Anabrang sadar. Jika kepalan tangan berbentuk tinju itu sampai menghantam salah satu bagian tubuhnya. Dapat dipastikan bagian yang menjadi sasaran bakal remuk mengerikan.

Tidak ada lagi waktu untuk berpikir lebih lama. Gagak Anabrang selamatkan diri dengan menghindar kesamping, kepala dimiringkan, Secepat kilat kaki digeser membentuk kuda-kuda.

Sambil mengalirkan kekuatan sakti yang dibarengi pengerahan tenaga dalam ke bagian tangan dan kaki, laki-laki itu kerahkan ilmu ajian ganas yang dikenal dengan nama Petaka Melanda Bumi.

Dua tangan tergetar. Cahaya hitam kelabu memancar dari kedua tangannya, menebarkan hawa aneh yang membuat darah tersirap dan jantung berhenti berdetak, Penghuni Perahu Setan sempat merasakan pengaruh serangan setan itu.

Namun dia tidak gentar. Dua tangan terus berkelebat mengincar sasaran di dada. Wuuk!

Tinju sebesar batang kelapa melabrak, namun dengan gerakan gesit lawan berhasil berkelit menghindar. Penghuni Perahu Setan menggeram, tangan kiri menukik tajam kebawah siap menggetok batok kepala lawan. Melihat serangan itu Gagak Anabrang sadar kali ini ia tak mungkin sempat mengelakan serangan itu.

Tidak ada pilihan lain. Dua tangan digerakan keatas, kemudian dengan posisi bersilangan tangan itu dipergunakan untuk menangkis.

Cahaya redup disertai tebaran hawa aneh menyesakkan dada menebar dari kedua tangan Gagak Anabrang. Penghuni Perahu Setan tampaknya hanya sesaat saja sempat terpengaruh pancaran hawa aneh itu.Namun sekejap kemudian dia telah dapat menguasai diri dan terus menyerang.

Satu benturan luar biasa keras tak dapat dihindari lagi. Gagak Anabrang meraung kesakitan.

Tubuhnya yang pendek amblas kedalam tanah hingga sebatas leher. Kedua lengan yang bersilangan dan beradu keras dengan tinju lawan menggembung bengkak. Laki-laki itu terkulai nafasnya megap-megap namun dia masih berusaha membebaskan diri dari himpitan tanah yang menjepit tubuhnya.

Tak jauh didepan,Penghuni Perahu Setan sempat terhuyung, tangan tergetar wajah dibalik topeng pelindung nampak pucat. Namun mulut menyeringai. Dengan sikap mengancam, Penghuni Perahu Setan mendekati. Sekejap kemudian dia telah berdiri di depan Gagak Anabrang. Dengan tatapan dingin dia berkata.

"Harusnya kau sudah mampus ditanganku. Namun diluar dugaanku Iimu kesaktianmu ternyata hebat juga. Kau sanggup menahan pukulan Tinju Iblis Melanda Matahari. Seumur hidup baru kau seorang yang dapat bertahan. Tapi sekarang tidak ada lagi harapan bagimu. Ajal bagimu cuma sekedipan mata." dengusnya dingin. Gagak Anabrang tidak menjawab. Dua tangannya yang bengkak membiru masih bebas bergerak.

Dan dengan sekuat tenaga sambil bertumpu kepada kedua tangannya dia mencoba keluar dari pendaman.

Pada saat itu Penghuni Perahu Setan telah mengangkat kedua tangannya. Tangan yang telah kembali keukuran normal nampak memancarkan cahaya merah redup berkilau. Melihat datangnya serangan dalam hati Gagak Anabrang membatin.

"Celaka! Dia hendak menghabisi aku dengan pukulan Neraka Memanggil." Desisnya dalam hati.

Gagak Anabrang agaknya menyadari betapa dahsyatnya ilmu serangan lawan.

Dia sadar dalam keadaan bebas bergerak sekalipun dia tidak sanggup menahan serangan ilmu yang satu ini.

Apalagi kini dirinya dalam keadaan terjepit di tanah. Ingat dengan ajal yang ada di depan mata.

Diam-diam Gagak Anabrang lindungi diri dengan ajian sakti Tirai Gaib Sukma Hitam. Terdengar suara desis.

Satu selubung tak terlihat kasat mata muncul melindungi diri Gagak Anabrang.Dalam keadaan seperti itu diam-diam dia memanggil Patijara.

Seperti di- ketahui, Patijara adalah mahluk setengah manusia yang dapat berubah menjadi burung hitam besar.

Mahluk Sakti itu bertugas memata-matai beberapa tokoh sakti yang dianggap bakal menjadi saingan bagi Gagak Anabrang untuk mendapatkan Dadu Sirah Ayu.

Kelebihan lain yang dimiliki Patijara dia juga dapat memberi bantuan disaat Gagak Anabrang berada dalam ancaman besar sebagaimana yang dialaminya saat itu.

"Patijara dimanapun dirimu berada kuharap segera datang kemari. Aku butuh bantuanmu!" batin Gagak Anabrang dalam hati.

Sunyi.

Tidak ada jawaban.

Di udara juga tidak terdengar suara pekikan burung jejadian yang dikenalnya. Tak jauh didepannya Penghuni Perahu Setan tiba-tiba berseru

"Inilah kematian yang kujanjikan!"

Seruan itu dibarengi dengan kibasan dua tangan yang menggeletar hebat. Lalu..

Wreet! Wuuus! wuuus! Desss!  

Cahaya merah redup menggidikan berkiblat menderu disertai suara gemuruh luar biasa.

Melihat serangan luar biasa ganas itu, walau telah lindungi diri dengan ajian pelindung diri Tabir Gaib Sukma Hitam.

Namun Gagak Anabrang masih juga dorongkan tangan keatas mencoba menahan serangan lawan dengan pukulan sakti Palu Bumi Membela Langit

Buuum!

Satu ledakan keras berdentum mengguncang tempat itu. Pelindung perisai gaib robek hancur menjadi kepingan asap. Tanah disekeliling Gagak Anabrang terbongkar.

Laki-laki itu merasakan kepala hingga sebatas pinggang seakan remuk hancur menjadi kepingan.

Wajah panas seperti diberangus kobaran api.

Sementara tiga tombak dari tempatnya berada, Penghuni Perahu Setan berdiri sempoyongan.

Pakaian disebelah depan robek terkena serangan Palu Bumi Membelah langit yang dilancarkan lawan.

Walau sempat merasakan betapa hebatnya pukulan Palu Bumi Membelah Langit. Namun Penghui Perahu Setan tidak menderita cedera sedikitpun.

Sambil menggerung marah karena pakaian kesayangannya dibuat rusak oleh lawan, dia segera hendak melompat ke depan untuk menghabisi Gagak Anabrang dengan satu serangan jahat yang benar-benar dapat menamatikan riwayatnya.

Sayang belum sempat niatnya terlaksana tiba- tiba saja terdengar suara menggelegar. Dalam keadaan lemah, Gagak Anabrang menoleh menatap kearah terjadinya ledakan.

Dia menyeringai ketika mengetahui ledakan itu ternyata berasal dari serangan pengikutnya yang menghantam bagian sisi depan perahu setan.

Melihat perahunya dibuat retak dan dua tiang penyangga layar patah hancur bergugusan,murka sang penghuni Perahu Setan bukan kepalang

"Keledai dungu sialan! Beraninya kau rusak perahuku! Sekarang terimalah ajalmu!" Raung penghuni Perahu Setan.

Seketika itu juga dia melompat kearah Lor Gading Renggana. Serangan maut yang tadinya untuk menghabisi Gagak Anabrang kini dia hantamkan kearah Lor Gading.

"Pukulan keji. Menyingkir!"

Seru Gagak Anabrang dengan suara tersendat wajah pucat tegang. Diluar dugaan.

Seruan peringatan dengan segala khawatirannya itu tidak dihiraukan oleh Lor Gading. Dia sebelumnya kewalahan menghadapi serangan perahu setan yang dapat menyerang dengan sendirinya malah balikan badan.

Ketika melihat cahaya biru gelap disertai berkelebatnya bayangan-bayangan aneh berbentuk sosok tangan bayangan.

Lor Gading yang selalu yakin dengan ilmu yang dimilikinya malah tekuk kaki depan.

Dua tangan dia tarik kebelakang, lalu dengan kecepatan laksana kilat menyambar dia dorong tangan itu kedepan menghantam dengan ilmu pukulan paling sakti bernama Senandung Maut Bisu.

Tidak ada gemuruh tidak ada deru angin.

Hanya satu bayangan membentuk tembok sepanjang dan setinggi tiga tombak melesat ke lawan.

Terk! Teet! Teet!

Terdengar seperti suara-suara hancur ketika cahaya seperti tembok membentur cahaya biru redup.

Penghuni perahu setan keluarkan suara lolong sekaligus lipat gandakan tenaga sakti ketika merasakan ada satu dorongan keras melabrak kearahnya.

Cahaya redup berpijar.

Penghuni Perahu Setan goyangkan kepala.

Begitu kepala bergoyang sosok-sosok bayangan berbentuk tangan melesat berpencar mencari jalan sendiri-sendiri melewati cahaya hitam berbentuk tembok dan terus melesat menghantam Lor Gading Renggana.

Dalam keadaan pikiran terpusat pada serangan kearah penghuni Perahu Setan.

Lor Gading tentu saja tidak mungkin sanggup menghindari serangan puluhan tangan bayangan itu. Dengan telak sedikitnya lima bayangan hitam menghantam tubuhnya. Buk!

Buk! Pyar!

"Huaarkh. "

Lor Gading Renggana menjerit setinggi langit ketika lima bayang-bayang membentur tubuhnya. Sedikitpun dia tidak menduga kelima bayangan tangan ternyata hancur menjadi air saat membentur beberapa bagian tubuhnya.

Dan air adalah merupakan pantangan dari segenap ilmu yang dimiliki Lor Gading. Air itu pula yang membuat kesaktiannya lepas musnah. Tanpa ampun Lor Gading terhuyung.

Darah menyembur dari lima luka di tubuhnya.

Belum sempat laki-laki ini mengembalikan keseimbangan. Cahaya biru menyapu tembok hitam cahaya ilmu sakti miliknya. Tembok cahaya musnah.

Sisa serangan lawan terus melabrak menghantam tubuhnya. Des!

Byar!

Lor Gading Renggana sekali lagi menjerit.Namun jeritannya lenyap bersamaan dengan ambruknya tubuh yang besar itu. Dia berkelojotan sekejap dengan seluruh tubuh dipenuhi luka.Sampai akhirnya terdiam selamanya.

Kematian Lor Gading Renggana ternyata membuat lawan masih belum puas.

Teringat pada perahu yang mengapung dalam keadaan miring ditinggian membuat kemarahan penghuni Perahu Setan makin menjadi.

Mulut dibalik kedok menyeringai ketika dia ingat masih ada satu orang lagi yang harus dihabisi.

Cepat dia balikan badan. Namun dengan mata mendelik wajah dibalik topeng tercengang ketika melihat betapa Gagak Anabrang yang dalam keadaan cedera berat didalam lubang telah lenyap.

Selagi penghuni Perahu Setan mencari dan menatap beberapa penjuru. Diketinggian dia mendengar suara pekikan keras.

Tidak menunggu dia mendongakkan kepala.

Kejut dihati penghuni Perahu Setan bukan kepalang begitu menyaksikan diatas langit melesat dengan kecepatan luar biasa seekor burung hitam besar.

Dikedua kaki burung yang tidak dikenalnya menggantung sosok yang dicarinya. "Gagak Anabrang!"

Serunya dengan suara menggeledek.

"Mahluk sialan itu. Tak pernah kusangka ternyata kau banyak pengikut banyak kaki tangan."

Dalam keadaan terluka. Gagak Anabrang yang terus dibawa menjauh oleh manusia jejadian berupa burung besar menjawab.

"Kau bukan Dewa pencabut nyawa. Aku masih hidup dan pasti kematianku bukan ditanganmu Hek hek hek !"

Penghuni Perahu Setan menggeram saking marahnya kaki dihentakkan sehingga membuat tanah tergetar seperti dilanda gempa.

"Bangsat kerdil.Hari ini kau lolos,namun ingat kau masih berhutang satu nyawa lagi padaku!" teriaknya lagi.

"Mahkluk kentut bau.Tak usah mengancam tak usah menagih hutang apapun padaku.Kedua muridmu itu hanya manusia tolol yang tidak berguna. Buat apa kau meratapi kematian mereka? Bukankah kau lebih baik membunuh diri. Hua... hua... hua..."

Ucapan bernada ejekan itu membuat penghuni Perahu Setan tambah gusar. Namun dia tidak mungkin mengejar. Pertama Gagak Anabrang dan burung yang membawanya telah jauh. Sedangkan yang kedua kalaupun dia dapat mengejar dengan Perahu Setan, Kecepatan yang tinggi selama dalam pengejaran bisa memperparah kerusakan perahunya.

Tidak ada pilihan lain.

Dengan ilmu kesaktiannya Penghuni Perahu Setan harus memperbaiki kerusakan perahu secepatnya. Sambil menahan segala kejengkelan dihati,Penghuni Perahu Setan akhirnya balikan badan menghadap kearah perahu.

Perahu itu masih mengapung, namun karena ada beberapa bagian yang rusak membuat perahu miring oleng. Pada benda merah angker itu Penghuni Perahu Setan berkata.

"Perahu keramat perahu kesayanganku. Turunlah kebawah. Orang yang membuatmu rusak telah kubuat mampus. Sekarang aku akan memperbaiki kerusakanmu!"

Seakan mengerti bahasa manusia. Seolah mempunyai nyawa dan telinga.

Perahu bergerak sesuai permintaan penghuninya.

Tak lama Perahu Setan pun berada dihadapan pemiliknya.

******

Kembali pada sebuah padang yang sempat porak poranda akibat datangnya serangan badai hitam.

Sebagaimana telah diceritakan pada episode Ratu Edan. Ketika sang Ratu berhasil keluar melewati terowongan tembus jalan rahasia dari pulau Damai.

Kakek muka jerangkong yang dikenal dengan Raden Pengging Ambengan minta diberi kesempatan untuk melihat keadaan diluar mulut terowongan.

Kakek sakti yang mempunyai penglihatan mata batin tajam itu lalu memeriksa keadaan diluar mulut terowongan rahasia.

Raden Pengging menyimpulkan keadaan aman-aman saja.

Entah apa yang dialami oleh sikakek. Yang jelas dia tidak menyadari bahwa penglihatan batinnya ternyata tidak sanggup memantau atau menembus segala sesuatu yang ada di sekitarnya.

Kejadian ini diperkuat oleh sebuah kenyataan.

Keadaan dipadang hijau itu sebenarnya tidak betul betul dalam keadaan sebagaimana yang diduganya. Karena beberapa saat sebelum sang Raden munculkan diri, di tempat itu telah hadir beberapa orang yang di antaranya Raja Pedang,Dedemit Rawa Rontek, juga pendekar namun Sang Maha Sakti Raja Gendeng.

Disalah satu sudut tersembunyi .Raja sebenarnya merasa senang melihat kemunculan kakek yang sebelumnya dia ketahui sempat bersembunyi bersama dua orang lainnya dipohon Batu Hitam.

Tetapi sang pendekar, yang mengetahui kehadiran dua orang yang tak dikenalnya yaitu Raja Pedang dan Dedemit Rawa Rontek, menjadi gelisah. Apalagi Raja telah merasakan adanya sesuatu yang tidak wajar sedang melanda kawasan disekitar padang rumput.

Ketidak wajaran yang sempat dilihat oleh Raja Gendeng itu tak lain berupa munculnya tebaran asap aneh dari sebuah pohon beringin besar yang terdapat disebelah kiri padang rumput.

Walau Raja tidak dapat memastikan apakah rombongan kecil Raden Pengging saat itu ada bersamanya.

Namun dia khawatir sesuatu yang mengerikan bakal terjadi.

Mengingat jauh sebelumnya Raja memang berniat ingin membantu sekaligus memberikan pertolongan bagi Raden Pengging juga pada gadis malang bernama Dadu Sirah Ayu serta kakek gendut bernama Kelut Birawa. Pemuda ini sebenarnya hendak memberi tahu tentang keanehan serta kehadiran orang lain ditempat itu pada sikakek.

Sayang belum lagi apa yang menjadi niatnya dapat terlaksana,Raden Pengging Ambengan menghilang.

Tak lama kemudian orang tua itu telah muncul kembali bersama tiga orang lainnya. Pada saat itulah sesuatu yang menjadi kekhawatiran Raja terjadi.

Dedemit Rawa Rontek kaki tangan Penghuni Perahu Setan tiba-tiba keluar dari persembunyiannya begitu melihat Dadu Sirah Ayu berada diantara dirombongan kecil itu.

Mahkluk hijau tinggi besar yang sebelumnya sempat dilihat Raja sempat berusaha menghancurkan pohon batu, kini berusaha keras menangkap Dadu Sirah Ayu.

Kejutan besar yang dialami si kakek dan para sahabatnya ternyata tidak sampai disitu saja.Selagi mahluk berkulit hijau Dedemit Rawa Rontek menyerang.

Dari balik pohon besar,muncul penunggang kuda merah berpakaian hitam bertopeng.

Begitu munculkan diri bersama kudanya yang dapat mencetuskan api.Sang penunggang kuda yang tak lain adalah Raja Pedang menyerbu kearah Dadu Sirah Ayu dan rombongan.

Melihat ini tentu saja Sang Maha Sakti pewaris tahta istana pulau Es tidak tinggal diam.

Sambil melesat keluar dari tempat persembunyian dia menyerang Raja Pedang dengan dua pukulan sakti sekaligus.

Raja Pedang pun terlempar dari kuda.

Namun pada saat itu muncul pula kekacauan yang lain. Tiba-tiba saja dari arah pohon beringin muncul tebaran asap dan kabut yang kemudian disusul dengan deru pusaran angin hitam laksana badai.

Kegelapan muncul menyelimuti seluruh penjuru tempat.

Semua orang yang ada di padang rumput tak dapat lagi melihat dimana kawan dimana lawan.

Di tengah kekacauan setiap serangan yang dilakukan oleh orang yang berada ditempat itu sangat mustahil mengenal sasaran yang dapat menolong atau melindungi Dadu Sirah ayu.

Si mahluk yang datang bersama badai akhirnya berhasil melarikan Dadu Sirah Ayu dari tempat itu. Kini di tengah padang rumput yang porak poranda untuk yang kedua kalinya. Raja segera menghampiri si kakek jerangkong Raden Pengging Ambengan.

Ketika Raja duduk bersimpuh di samping orang tua itu, dia melihat si kakek belum juga siuman.

Sementara disudut yang lain si gendut Kelut Birawa dan gadis cantik berdandan menor yang tak lain adalah Ratu Edan masih saja meratap tangisi Dadu Sirah Ayu

"Dua orang yang disana masih juga meratap seperti orang gila.Sedangkan yang satunya disini pingsannya lama sekali. Jangan-jangan kakek ini nyawanya amblas ke akhirat."

Ucap Raja bersungut-sungut. Sambil pasang wajah asam pemuda itu ulurkan tangan. Dengan jemari tangan disentuhnya urat nadi dileher si kakek. Dia geleng kepala sambil berucap.

"Darah masih berdesir, jantung masih berdenyut.Rupanya pencabut nyawa masih enggan menjemput nyawanya. Hmm.. sebaiknya aku segera menolong."

Tanpa berpikir lama,Raja segera melakukan totokan dibagian rusuk kiri dan rusuk kanan. Tak lupa pemuda ini kemudian menotok bagian dada tepat kearah jantung si kakek.

Setelah totokan dilakukan tiba-tiba saja terdengar suara degupan jantung yang sangat keras. Pemuda ini tersentak, beringsut mundur menjauh.

Mata memandang melotot kearah Raden Pangging sedangkan mulut berkata.

"Walah degup jantungnya bertalu-talu seperti suara gendang. Orang tua kurus kerempeng begini bagaimana suara jantungnya sekeras itu?!"

Sebelum segenap keheranan dihati Raja lenyap.

Dia melihat sepasang mata si kakek yang menjorok kedalam rongga berkedip-kedip. Sejurus kemudian dengan gerakan kaku selayaknya orang mati dia bangkit.

Wuus! Bleg!

Sang Maha Sakti Raja Gendeng melongo.Dia bahkan hampir tidak dapat menahan geli saat melihat, dari kedua telinga hidung dan mulut orang tua itu mengepulkan asap hitam tebal.

"Aduh biyung. Sakit sekali dada dan kedua ketiakku ini.Rasanya seperti ditusuk tombak." keluh si kakek dengan pandangan bingung.

"Baru sakit seperti tertusuk tombak sudah mengeluh. Bagaimana kalau sakitnya seperti dinjak gajah.Mungkin kau sudah melolong seperti anjing.Ha ha ha!"

Sahut sang pendekar disertai gelak tawa. Kaget bercampur heran Raden Pengging palingkan kepala menatap kearah Raja. Melihat pemuda gondrong berpakaian kelabu duduk tak jauh di sebelahnya dia menjadi heran sekaligus curiga.

"Kau? Siapa dirimu ini?"

"Saya? Ah aku cuma seorang pengembara."

"Pengembara?" desis si kakek lalu pandangi pemuda itu dengan tatapan tajam menyelidik. "Kau agaknya yang telah membantu aku?"

"Ya.Aku mengetuk dada dan ketiakmu yang bau itu kek." sahut Raja seenaknya sendiri.

Anehnya Raden Pengging tidak merasa tersinggung mendengar ucapan Raja. Sebaliknya dia berujar.

"Untuk segala kebaikanmu aku ucapkan terima kasih!"

"Ha ha ha. Orang tua aneh. Aku mengetuk tubuhmu dengan keras. Bahkan kuda sekalipun pasti menemui ajal kalau kuketuk seperti itu. Bukannya marah kau malah berterima kasih,"

Lagi-lagi sang pendekar mengumbar tawa tergelak. Mendengar suara gelak tawa Sang Maha Sakti Raja Gendeng, tangis Ratu Edan dan Kelut Birawa pun berhenti.

Kedua orang ini menoleh ke jurusan dimana Raja dan Raden Pengging berada. Kemudian kedua orang itu saling berpandangan. Sementara Raden Pengging tiba-tiba ajukan pertanyaan.

"Anak muda. Apapun yang telah kau lakukan. Sebelumnya aku sudah melihat kau bermaksud menolong kami. Siapa namamu?"

"Nama? Orang jelek yang ada didepanmu ini bernama Raja. Orang-orang dirimba persilatan mengenalku dengan sebutan Sang Maha Sakti Raja Gendeng."

"Nama dan julukan aneh. Seorang raja,sakti dan gendeng pula. Agaknya kau cocok bersahabat dengan gadis berpakaian biru itu ?" gumam si kakek sambil arahkan pandang pada Ratu Edan.

"Gadis yang riasan wajahnya babak belur menyedihkan itu ? Memangnya siapa dia?" "Dia biasa disebut Ratu Edan, Penguasa alas Sindang Pantangan. Namaku sendiri Raden

Pengging Ambengan. Sedangkan kakek bertubuh gendut yang disana itu bernama Kelut Birawa." Menerangkan si kakek.

Raja manggut-manggut.

Dia lantas saja ingat dengan Si Jubah Sakti dan Jubah Api dua pengikut Sang Ratu yang pernah memberikan pertolongan sekaligus ingin membunuhnya.

Ketika Raja menanyakan tentang kedua orang itu.

Sang Pendekar itu justru mendapatkan jawaban yang mengejutkan.

"Benar Jubah Sakti dan Jubah Api adalah pengawal setia Ratu Edan sahabatku itu. Tapi keduanya telah tewas dalam menjalankan tugas " terang Raden Pengging. Si kakekpun lalu menceritakan musnahnya singgasana Ratu Edan dan terbunuhnya dua pengawal setia yang kemungkinan dihabisi oleh Penghuni Perahu Setan.

Raja diam tertegun. Dia tak lupa betapa hebat dan ganasnya Penghuni Perahu Setan saat terlibat bentrok dengan Iblis Betina Muka Dua.Diapun bahkan selalu ingat mahluk misterius itu yang juga menghendaki nyawanya. Sebagai pengganti nyawa dua muridnya yang terbunuh ditangan Raja. Penghuni Perahu Setan telah mengirim Arwah Kaki Kuda dan Singa Tetua untuk menghabisi sang pendekar. Tapi sebagaimana telah diketahui kedua utusan yang keadaan sebenarnya dua mayat yang dibangkitkan dari kematian menemui ajal ditangan Raja.

Selagi Raja tercenung mengingat berbagai kejadian yang pernah dialaminya. Tiba-tiba saja Raden Pengging keluarkan seruan kaget.

"Astaga ! Gadis lugu itu ? Kemana dia pergi?" desis si kakek

"Badai hitam yang menyerang kita telah membawanya pergi entah kemana." Menerangkan Raja namun masih ragu.

Dia ragu apakah benar ada seseorang yang mempunyai ilmu kepandaian hebat datang bersama badai Hitam untuk menculik Dadu Sirah Ayu, gadis jelita dambaan para siluman

"Badai...mungkin kau benar.Penculik datang bersama Badai ciptaannya sendiri.Badai muncul, menyerang tempat ini bukan atas kehendak dewa.Jelas seseorang menggunakan Badai untuk mengambil Dadu Sirah Ayu dari kami." ucap Raden Pengging Ambengan dengan suara parau bergetar.

"Orang tua." Sela Raja.

"Aku yakin kau memiliki pengetahuanmu dan pengalaman luas. Menurut sepengetahuanmu apakah ada orang di dunia persilatan ini yang memiliki ilmu yang bisa mendatangkan badai Hitam?"

Raden Pengging Ambengan terdiam,kening berkerut dan dia terlihat berusaha keras untuk mengingat-ingat. Belum sempat si kakek jerangkong menjawab, tiba-tiba terdengar suara seseorang.

"Langit menurunkan rahmat dan hujan. Bumi menumbuhkan segala sesuatu yang menjadi harapan. Badai asalnya dari laut, didaratan satu- satunya mahluk yang dapat menciptakan Badai, lalu datang dan pergi atau membuat kekacawan dengan badai badai itu kuyakin dialah orangnya...!"

Sang pendekar dan Raden Pengging Ambengan tercekat hampir bersamaan mereka palingkan kepala dan sama menatap kearah datangnya suara.

Raden Pengging anggukkan kepala.

Sementara Raja tercengang melongo begitu melihat gadis berpakaian biru yang tadinya bertangisan dengan si kakek gendut kini telah berdiri tegak tak jauh di depannya.

Dibelakang gadis cantik berdandan medok itu berdiri pula si gendut Kelut Birawa. Karena sadar yang baru bicara itu adalah gadis berpenampilan aneh itu. Tanpa menungggu lama sang pendekar pun membuka mulut ajukan pertanyaan.

"Kalau tidak salah dengar, tadi kau ada mengatakan tahu orangnya. Siapakah orang yang kau maksud itu perempuan aneh?!"

Ditanya begitu rupa. Ratu Edan bukannya menjawab, sebaliknya malah menatap Raja dengan sorot mata menyelidik. Diluar dugaan tiba-tiba saja dia berkata,

"Eeh...kau sendiri siapa? Enak saja kau bicara sembarangan kepadaku. Apa kau tidak mengenal tata krama dan peradatan. Harusnya kau menghormat pada ratumu, lalu memperkenalkan diri sambil berlutut dibawa kakiku tiga kali.Baru kemudian aku putuskan apakah orang jelek sepertimu layak bicara denganku!"

Sang pendekar menyeringai sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal. Dalam hati dia merasa geli juga gemas melihat tingkah si gadis.

Belum lagi sang pendekar membuka mulut, tiba-tiba si gendut yang berada di belakangnya melangkah maju.

Setelah berdiri di samping Ratu Edan si kakek berkata,

"Lihatlah Ratu...dia malah cengar-cengir mengejekmu.Sikap yang ditunjukannya itu menjadi suatu pertanda bahwa sebenarnya dia tak memandang muka pada Ratu secantik dirimu. Sudah jangan banyak tanya, lebih baik kita gebuk saja dia beramai-ramai.Lagi pula aku curiga,tidak tertutup kemungkinan dia sebenarnya kaki tangan orang yang telah menculik Dadu Sirah Ayu."

Tuduhan tidak beralasan yang dilontarkan si gendut membuat telinga Raja jadi merah,wajah tegang namun dia segera mengumbar tawa tergelak

"Lihatlah betapa kurang ajarrnya dia. Kita hendak menggebuk dia malah tertawa." Kata Kelut Birawa sambil delikan mata.

Ratu Edan menyeringai. Sambil menatap tajam pada Raja gadis itu angkat tangan kanannya tinggi-tinggi bersikap seolah hendak melepaskan satu pukulan berbahaya.

Namun setelah menyadari bahwa pemuda gondrong itu ternyata memiliki wajah tampan,dalam hati dia berkata.

"Dia masih sangat muda,wajahnya tampan pula. Kalau aku buru-buru membunuhnya atau membuatnya cidera aku yang rugi sendiri. Nanti aku tidak bisa kenalan. Padahal kalau aku bersikap baik padanya, siapa tahu dia menjadi kekasihku!"

"Ratu, tunggu apa lagi. Hantam saja pemuda aneh ini dengan satu pukulanmu yang paling sakti.

Kujamin urusan jadi beres 1" Tegas Kelut Birawa memanasi "Hik hik!"

Ratu Edan cepat turunkan tangan batal menghantam. Sambil tertawa enak saja dia menjawab. "Bagaimana pukulan keras ku ganti dengan pukulan lunak lembut?!" Kata gadis itu sambil kedipkan mata pada si Gendut.

"Eeh,apa maksudmu? Memangnya kau memiliki pukulan yang lemah dan lembut?"

Tanya sikakek melongo. Tawa Ratu Edan makin bertambah keras. Setelah tawanya berhenti, gadis ini lanjutkan ucapannya.

"Kakek bodoh.Setiap perempuan pasti punya pukulan lembut.Kalau kupukul dia dengan dadaku. Aku yakin dia tak bakal mengalami nasib celaka.Hik hik!"

"Oh kalau dipukul memakai yang satu itu. Jangankan dia aku mau sekali" sambut si gendut sambil ulurkan lidah basahi bibir.

"Tua bangka bau liang kubur. Memukulmu dengan dada bisa membuatku mendapat sial selama seratus hari...!"

"Orang-orang gila. Bukannya memikirkan nasib orang yang harus dilindungi, sebaliknya malah bicara yang tidak-tidak!"

Dengus Raja.

"Apa? Kau berani memaki tua bangka ini. Memangnya siapa kau? Rupanya kau sudah bosan hidup?"

Hardik Kelut Birawa dengan mata mendelik. "Aku bosan melihat tampangmu gendut!"

Rungut sang pendekar. Kelut Birawa tambah gusar. Dia melangkah maju dengan sikap mengancam. Melihat sikap pongah yang ditunjukan Kelut Birawa, kakek pertapa dari Kaliwungu ini membentak.

"Kau hendak berbuat apa pada pemuda yang jelas-jelas unjukan itikat baik hendak membantu kita Kelut? Jangan bertindak tolol! Pemuda yang mengaku bernama Raja ini ada dipihak kita. Sama sekali dia bukan kaki tangan mata-mata musuh. Apa yang dikatakannya memang benar. Kita harus memikirkan nasib Dadu Sirah Ayu, gadis yang menjadi incaran para siluman dan selama ini berada dalam perlindunganmu!"

Orang yang dibentak melengak kaget seolah baru menyadari dia telah kehilangan orang yang menjadi tanggung jawabnya.

Kelut Birawa pandang kakek jarangkong yang duduk di depan Raja.Dia melihat tatapan mata Raden Pengging yang angker namun tertuju pada Raja.

"Maafkan saya,sahabatku."

Kata si gendut.Dia lalu menoleh ke belakang, memberi isyarat pada Ratu Edan untuk bergabung. Setelah ke empat orang duduk saling berhadap-hadapan, Raden Pengging kemudian memperkenalkan si gendut dan Ratu Edan pada Raja demikianpun sebaliknya.

"Anak muda.Maafkan tua bangka ini juga Ratu Edan karena banyak bergurau dan tak memandang muka padamu." kata Kelut Birawa bersungguh- sungguh. "Tidak dipandang muka oleh orang sepertimu aku juga tidak merasa rugi. He he he." Sahut sang pendekar disertai tawa.

"Sudah jangan bergurau," sergah Raden Pengging.

Orang tua ini lalu alihkan perhatian pada Ratu Edan. Pada gadis ini si kakek bertanya. "Tadi kau belum menjawab pertanyaan sahabat muda yang satu ini."

"Maksudmu?"

Tanya Ratu Edan yang sudah sangat lama menjalin ikatan sahabat dengan Raden Pengging Ambengan.

"Apakah kau lupa, Ratu. Tadi kau mengatakan satu hanya ada satu mahluk didunia ini yang mempunyai ilmu dapat mendatangkan badai hitam."

"Yang aku katakan memang benar, orang tua" Jawab Ratu Edan tanpa ragu.

"Dapatkah kau jelaskan pada kami siapa orang yang kau maksudkan itu?" Tanya Kelut Birawa tidak sabar.

"Ya. Orang yang telah menyerang kita dan yang membawa kabur Dadu Sirah Ayu adalah mahluk alam arwah,raja dari seluruh arwah tersesat diseluruh penjuru liang lahat. Dunia persilatan mengenalnya dengan sebutan Yang Terlaknat Dari Alam Baka!"

Jawaban yang diberikan oleh Ratu Edan karuan saja membuat Kelut Birawa dan Raden Pengging Ambengan tersentak kaget.

Keduanya saling tercengang, saling pandang diliputi ketegangan. Melihat ini Ratu Edan jadi heran.

"Kakek berdua. Kalian ini kenapa? Mendengar jawabanku kalian seperti orang melihat iblis menakutkan?"

Tanya si gadis heran.

"Jika mengetahui sesuatu sebaiknya kakek berdua mau berterus terang." Kata Raja tidak sabaran.

Kelut Birawa menghela napas.

Wajahnya masih membayangkan kekhawatiran mendalam. Menatap kearah Raden Pengging Ambengan dilihatnya orang tua itu justru melihat kearahnya, Seakan mengetahui apa yang ada dibenak masing-masing. Kelut Birawa membuka mulut.

"Kau saja yang mewakili aku bicara. Kalau aku yang menyampaikan,aku khawatir ucapanku malah melantur karuan."

"Lebih baik kakek berterus terang, jangan terlalu banyak membuang waktu. Aku takut sesuatu yang tidak diinginkan terjadi pada gadis malang itu." desak Raja.

Raden Pengging Ambengan anggukkan kepala tanda membenarkan. Kemudian sambil menatap orang-orang disekitarnya dia berkata,

"Mahluk Yang disebutkan oleh sahabat Ratu Edan bukan lain adalah mahluk paling jahat yang menguasal alam kesesatan liang lahat. Gagak Anabrang dulu pernah mengikat perjanjian dengan Yang Terlaknat Dari Alam Baka hingga membuatnya menjadi kaya raya. Sebagai imbalan Gagak Anabrang harus mengorbankan putri satu-satunya pada Yang Terlaknat. Aku tidak tahu apa yang terjadi. Tapi aku menaruh dugaan besar, kemungkinan Gagak Anabrang hendak mengingkari janjinya karena rasa cinta, kasih sayang pada anak tunggalnya. Gagak Anabrang mencari gadis pengganti untuk dipersembahkan pada Yang Terlaknat pada malam sabtu kliwon bulan sabit ke tujuh. Pilihan jatuh pada Dadu Sirah Ayu karena hari kelahirannya sama persis dengan hari kelahiran putri Gagak Anabrang yang bernama Arum Dalu."

Terang si kakek.

Tidak lupa orang tua ini juga menceritakan betapa malapetaka baru bakal menimpa dunia persilatan bila niat Yang Terlaknat berhasil menjadikan gadis itu sebagai tumbalnya.

"Orang tua." sergah sang pendekar begitu Raden Pengging menjelaskan segala sesuatunya. Si kakek menoleh, dua orang lainnya juga menatap Raja.

"Yang kudengar.Orang yang menginginkan Dadu Sirah Ayu tidak hanya Gagak Anabrang maupun Yang Terlaknat saja. Aku melihat Penghuni Perahu Setan juga sangat menginginkan Dadu Sirah Ayu. Apakah mungkin penghuni Perahu Setan punya hubungan tertentu dengan mahluk terlaknat itu?"

Raden Pengging dengan tegas gelengkan kepala.

Sebelum sempat menjawab, Ratu Edan tiba-tiba menyela

"Gagak Anabrang menginginkan Dadu Sirah Ayu karena dia terikat perjanjian dengan Yang Terlaknat Dari Alam Baka.Sedangkan Yang Terlaknat menginginkan Arum Dalu dan Dadu Sirah Ayu sekaligus. Aku tahu pasti Penghuni Perahu Setan tidak punya kaitan apapun dengan dua orang yang kusebutkan.Walau dia juga berusaha mendapatkan Dadu Sirah Ayu.Keinginan untuk mendapatkan gadis perawan itu semata-mata untuk kepentingan diri sendiri."

"Kemungkinan dia tahu manfaat hebat yang bisa didapat bila bisa mendapatkan darah, daging maupun tulang belulang Sirah Ayu. Penghuni Perahu Setan tidak ingin punya saingan. Dia menganggap dirinya paling hebat. Dan satu-satunya masalah besar yang bakal dia hadapi adalah bila Yang Terlaknat berhasil menjadikan Dadu Sirah Ayu sebagai tumbalnya. Dan rupanya pula dia tahu Yang Terlaknat dari Alam Baka bisa menjadi tidak terkalahkan!"

Terang Kelut Birawa.

"Malam sabtu kliwon bulan sabit ke tujuh masih satu hari ke depan. Waktu yang kita miliki sangat sempit. Gadis itu harus kita selamatkan. Satu- satunya cara adalah kita harus mengejar Yang Terlaknat yang pergi bersama badai Hitam"

Kata sang pendekar. "Yang dikatakannya benar. Namun kita tidak tahu kemana mahluk terkutuk itu membawa Dadu Sirah Ayu pergi."

Sahut Ratu Edan.

"Mungkin dia membawanya ke liang lahat!" Kelut Birawa menduga.

"Tidak. Aku tahu sebuah tempat rahasia yang menjadi satu-satunya jalan bagi Yang Terlaknat untuk melakukan upacara tumbal. Tempat itu terletak antara langit dan bumi."

"Antara langit dan bumi? Maksudmu tempatnya menggantung di awan sahabat Pengging?" Tanya Ratu Edan ingin kepastian.

"Aku tidak mengatakan demikian. Tapi keberadaannya memang seperti itu tidak diatas tidak juga terlalu dibawah. Jadi ditengah-tengah."

Sang Ratu kemudian memperhatikan diri sendiri. Setelah itu dari mulutnya yang kemerahan meluncur ucapan.

"Kalau yang ditengah-tengah pastilah ada. Apakah kau hendak menyebut sebuah bukit?" tanya gadis itu menahan geli.

Kelut Birawa tertawa bergelak mendengar ucapan polos Ratu Edan. Sementara Raja hanya senyum-senyum lalu cepat palingkan kepala ke jurusan lain. Sementara Raden Pengging Ambengan wajahnya bersemu merah, namun mata mendelik penuh teguran.

"Kalian dengar! Tidak ada yang lucu, tak ada pula yang pantas untuk ditertawakan." Mendengar ucapan si kakek yang penuh wibawa semua orang jadi terdiam. Tidak berlama-lama

Raden Pengging Ambengan segera lanjutkan ucapan.

"Aku memang hendak menyebutkan adanya sebuah bukit. Tapi bukit yang dimaksud sama sekali tidak kembar dan tak ada hubungannya dengan benjolan bisul didadamu, Ratu. Bukit yang menjadi tempat suci itu tak lain adalah bukit Segala Puji Segala Serapah!"

Mendengar nama aneh yang disebutkan si kakek semua orang terdiam melongo tapi hati diliputi tanda tanya.

"Aku baru mendengar ada bukit dengan nama seaneh itu. Dipuji juga disumpah serapah." desis sang pendekar lalu menatap pada Raden Pengging dalam-dalam.

"Dimanakah tempat itu berada?" Tanya Raja lagi.

Raden Pengging diam sejenak kedua mata dipejam.

Dada yang terlindung pakaian lurik cokelat nampak kembang kempis.

Tak lama kemudian setelah mata terbuka, sambil mengusap janggutnya yang panjang memutih dia menjawab.

"Bukit Segala Puji Segala Serapah terletak di Timur Purworejo. Dari sini kita bisa berjalan lurus menuju ke arah matahari tenggelam. Siang hari bukit yang dimaksudkan tak dapat dilihat kasat mata. Pada malam hari orang yang hendak memasuki Bukit Segala Puji Segala Serapah harus melewati celah batu aneh yang dikenal dengan nama Batu Kawin Silang Madu." 

"Andai tak melewati batu yang kau sebutkan apakah tidak ada jalan lain untuk mencapai bukit tersebut."

"Tidak. Hanya Batu Kawin Silang Madu satu-satunya jalan untuk mencapai bukit tersebut. Tapi jalan di celah batu itu sulit ditembus terkecuali oleh sesorang yang menguasai inti sebuah kitab sakti Pedang Darah."

Menerangkan si kakek hingga membuat tiga orang lainnya menjadi tercengang. Ratu Edan gelengkan kepala, namun per-hatiannya kemudian tertuju pada Raja juga pedang yang tergantung dipunggungnya.

Tiba-tiba saja si gadis berseru.

"Hei.... lihat ! Bukankah sahabat aneh kita ini ada membekal pedang. Kulihat pedang dipunggungnnya juga bukan pedang sembarangan. Ada rebawa aneh juga yang menyelimuti senjata itu. Kita tinggal memastikan apakah dia pernah belajar jurus-jurus pedang yang berasal dari Kitab Pedang Darah!?"

Raden Pengging dan Kelut Birawa ikut menatap kearah raja. Si Gendut tiba tiba saja membuka mulut.

"Mengenai bekal membekal pedang, aku sendiri malah sudah membawa pedang sedari lahir. Tapi pedangku tumpul tak banyak berguna karena aku memang belum kawin. Jadi soal kitab pedang darah aku tak tahu apa isinya. Ha. ha... ha!"

"Kakek bermulut mesum. Kau tak perlu membicarakan senjata karat tak berguna milikmu," Dengus Ratu Edan.

"Masih bagus dijadikan sebagai pajangan. Atau kalau perlu berikan saja kepada anjing hutan Ha..ha..ha..!" sambung Raja sambil tertawa.

"Ternyata kau sama saja gilanya dengan tua bangka yang satu ini."

Kata Raden Pengging Ambengan sambil ikutan menahan geli

"Tentang kegilaan mungkin saja bisa sama, tapi soal senjata punyaku masih lebih bagus dan mulus."

Sahut Raja lagi lagi diringi gelak tawa berderai

"Hmm, pantas kau dijuluki Raja gendeng. Ternyata otakmu memang tidak beres."

Gumam Ratu Edan sambil unjukan wajah marah padahal diam-diam dia mulai merasa suka pada pemuda itu

"Kembali pada kitab pedang darah." Ujar Raden Pengging. "Aku yakin kau tidak mengetahui ilmu sakti yang terdapat dalam kitab Pedang Darah." "Apakah benar demikian Raja Gendeng?"

Tanya Kelut Birawa sambil tatap wajah sang pendekar dengan sorot mata mengejek. "Semuanya memang betul. Aku memang tidak mengenal kitab Pedang Darah apalagi menguasai

jurus-jurus yang terkandung di dalamnya. Jurus pedang yang kumiliki pasti berbeda dengan jurus jurus pedang yang terkandung dalam Kitab Pedang Darah."

"Kalau demikian kesulitan besar masih belum teratasi. Kita tak dapat mencapai Bukit Segala Puji Segala Serapah, bila kita tak mampu membuka pintu gaib pembuka jalan Batu Kawin Silang Madu." gumam Raden Pengging bingung.

"Lalu dimana dan bagaimana caranya menemukan kitab Pedang Darah?"

Tanya kelut Birawa.Orang tua ini diam-diam semakin cemas memikirkan nasib Dadu Sirah Ayu. "Tak ada yang tahu. Kabarnya kitab Pedang Darah selalu muncul satu hari sebelum datangnya

malam bulan sabit ketujuh. Orang yang berjodoh dengan kitab itu adalah orang yang sangat menguasai ilmu pedang."

Terang Raden Pengging Ambengan

"Kalau begitu mungkin saja Raja Pedang orangnya."

Sentak Ratu Edan kaget

"Bisa saja dia, atau mungkin Raja.Tapi Raja Pedang sangat mustahil mau bekerja sama dengan kita.Sebelum munculnya Badai Hitam bukankah kita semua sama melihat Raja Pedang berniat ingin mencelakai Dadu Sirah Ayu,"

Kata Ratu Edan. "Ya."

"Kemudian aku berusaha menghadang menghalangi maksud keinginannya. Tapi cobaan datang bertubi-tubi, aku dapat membuatnya terjatuh dari kuda.Lalu dia pergi secara diam-diam dan

terburu-buru.Aku yakin ada sesuatu yang sangat merisaukannya.Karena alasan itu sekarang aku ingin mengejarnya!"

Tegas sang pendekar.

"Apakah kau tidak punya keinginan pergi bersama kami menuju ke Bukit Segala Puji Segala Serapah?"

Tanya Ratu Edan sambil memendam kekecewaan dihati. Pemuda itu tersenyum lalu bangkit berdiri.

"Aku merasa senang bisa menyertaimu juga sahabat yang lain. Tapi tanpa jalan keluar yang pasti aku tak bisa menolong gadis malang itu. Raja Pedang harus kutemukan karena aku yakin dia mengetahu rahasia tentang kitab Pedang Darah."

Raden Pengging, Kelut Birawa dan Ratu Edan saling melempar pandang. Mewakili dua sahabatnya, Kelut Birawa akhirnya berkata.

"Baiklah karena niatmu untuk membantu kami adalah tulus semata, mudah mudahan kau bisa bertemu dengan Raja Pedang. Bila rahasia kitab Pedang Darah telah kau dapatkan aku mohon kau segera menyusul kami ke timur Purworejo."

"Jika demikian aku tidak akan mengecewakan harapan kalian semua."

Setelah berkata begitu, sang Pendekar rangkapkan dua tangan di depan dada sebagai tanda penghormatan.

Begitu kepala dibungkukkan. Dess..!

Terdengar suara desis panjang disertai lenyapnya Sang Maha Sakti Raja Gendeng dari hadapan mereka.

Melihat semua ini, Kelut Birawa tercengang. Ratu Edan melongo.

Sedangkan Raden Pengging diam-diam berkata.

"Pemuda sakti luar biasa. Dibalik keluguan dan tingkahnya yang aneh, ternyata dia mempunyai ilmu kesaktian yang luar biasa hebat."

Pujinya tanpa sadar.

"Kalau begini aku jadi malu."

Celetuk Ratu Edan sambil tutupi wajahnya dengan jemari tangan. "Kau malu apa suka."

Gurau Kelut Birawa sambil tersenyum.

"Segala sesuatu menyangkut isi hati dan perasaanku buat apa kau perduli!"

Dengus gadis itu sinis

"Sudah. Tak perlu berbantahan. Sudah waktunya kita tinggalkan tempat ini!" Raden Pengging kemudian berdiri.

Dua sahabatnya pun mengikuti. Kemudian tanpa bicara lagi mereka tinggalkan padang rumput yang porak poranda itu.

*****

Laki-laki bertopeng hitam, berpakaian hitam yang terlindung jubah berwarna merah itu duduk diam di tepi sebuah sumur tua.

Dalam kegelapan menjelang pagi, angin dingin berhembus membuat rambut panjangnya yang berwarna separuh hitam separuh putih berkibar-kibar.

Tidak jauh dari tempat di mana laki-laki bertopeng itu duduk, ada seekor kuda berbulu hitam yang matanya tertutup kain dengan pelana warna merah keluarkan ringkikan lirih. Kuda yang warna bulunya dapat berubah merah bila sedang dilanda kemarahan itu bukanlah kuda sembarangan.

Mahluk satu itu termasuk satu- satunya kuda yang mampu berlari dengan kecepatan kilat. Di samping kehebatannya dalam berlari, kaki kuda juga dapat mencetuskan api.

Sang pemilik kuda ini bukan lain adalah Si Raja Pedang.

Dia dikenal dengan sebutan Topeng Hitam Selaksa Maut dan memiliki nama asli Saba Pendera.

Kudanya diberi nama Kuda Sakti atau kuda Kroya.

Lalu gerangan apa yang dilakukan oleh Raja Pedang di depan sumur tua itu? Sebagaimana telah diketahui dalam episode'Ratu Edan'.

Sebelumnya Raja Pedang yang menyimpan dendam kesumat mendalam terhadap Gagak Anabrang sempat berada di padang rumput yang tak jauh dari mulut jalan rahasia yang menghubungkan antara Pulau Damai tempat kediaman Ratu Edan dengan kehidupan dunia luar.

Keberadaannya di tempat itu ternyata bukanlah karena kebetulan semata.

Sehari sebelumnya dia telah berada di tepi sumur tua yang dikenal dengan nama sumur Penentuan Kehendak.

Tapi selagi Raja Pedang menunggu datangnya petunjuk tentang tanda-tanda kemunculan Kitab Pedang Darah, tiba-tiba dia melihat mahluk tinggi berkulit hijau yang mempunyai lima tanduk di lima titik tubuhnya, melintas di tempat itu.

Mahluk hijau tidak mengetahui keberadaan Raja Pedang di depan Sumur itu.

Sang mahluk yang di kenal dengan sebutan Dedemit Rawa Rontek dan merupakan salah satu pengikut Penghuni Perahu Setan ternyata hanya melintas dikawasan sumur. Selanjutnya sang mahluk terus menuju ke sebuah padang rumput yang letaknya tidak jauh dari sumur Penentuan Kehendak.

Kehadiran Dedemit Rawa Rontek menarik perhatian si Raja Pedang. Untuk lebih memastikan gerangan apa yang dilakukan mahluk itu. Raja Pedang diam-diam mengikutinya.

Seperti telah dikisahkan dalam episode sebelumnya.

Ternyata Dedemit Rawa Rontek datang ke padang rumput untuk merampas Dadu Sirah Ayu dari para sahabat gadis itu. Raja Pedang pada akhirnya juga tahu di padang rumput itu hadir seorang pemuda lain yang hingga saat ini belum dia ketahui apakah pemuda gondrong berpedang itu juga punya kepentingan terhadap gadis yang menjadi calon tumbal persembahan.

Bentrok yang sempat terjadi antara dirinya dengan si gondrong berpedang yang bukan lain adalah Sang Maha Sakti Raja Gendeng telah membuatnya bisa menarik kesimpulan, bahwa pemuda berpakaian kelabu jelas bukan pemuda sembarangan.

Ilmu kesaktian serta tenaga dalamnya luar biasa tinggi.

Satu yang belum dia ketahui apakah pemuda aneh itu sangat ahli dalam menggunakan pedang? Tidaklah heran setelah merasa gagal membunuh Dadu Sirah Ayu serta munculnya badai hitam aneh, Raja Pedang akhirnya memutuskan untuk meninggalkan tempat itu dan kembali ke sumur tua.

Dalam perjalanan kembali ke sumur tua, Raja Pedang sempat bertanya-tanya dalam hati siapa pemuda berpedang itu.

Apakah dia orangnya yang akhir-akhir ini sering menjadi pembicaraan tokoh- tokoh rimba persilatan termasuk juga empu Balawa sang pembuat pedang untuknya.

Walau penasaran ingin menjajal sekaligus ingin mengetahui kehebatan Raja.

Namun Raja Pedang harus mendahulukan tujuan utamanya yaitu untuk mendapatkan sebuah petunjuk penting yang tersimpan dalam kitab Pedang Darah.

Sementara waktu terus berlalu. Kegelapan disekitarnya berangsur sirna.

Di ufuk langit sebelah timur semburat merah jingga muncul sebagai pertanda datangnya sang fajar.

Dikejauhan sayup-sayup terdengar suara kokok ayam hutan. Raja Pedang tetap duduk diam ditempatnya.

Sesekali diantara hela nafas, bibirnya berkemak kemik membaca mantra-mantra penghubung sekaligus penyambung dengan kehidupan alam bawah penghuni sumur. Setelah itu dari mulutnya terdengar suara ucapan perlahan namun cukup jelas

"Aki sabda Aki penunjuk. Kepada waktu yang mendatangkan juga yang mengakhiri. Berkah para dewa melimpah ruah. Kelebihan diberikan dewa pada sumur tua bernama sumur Penentuan Kehendak. Aku datang membawa harap juga rasa kecewa Kepada dunia. Jalan lurus menuju yang Satu. Tapi aku memilih banyak jalan karna aku tak berdaya menentang kata jiwa panggilan hati. Wahai kitab dalam genggaman jemari Gaib. Petunjuk kunanti sebagai bekal jalan pembuka menuju bukit Terjanji.

Langkahku adalah langkah keliru berbalut salah. Karena asaku telah lenyap binasa dalam harap cinta. Aku melebur dalam sukma amarah. Kemarahan kubina dalam nafsu celaka memperdaya. Tapi aku menjadi lebih tak perduli karena yang kuinginkan hanya tinggal sepotong asa nyanyian darah."

Suara sang Raja Pedang yang meratap menghiba lalu lenyap, Sejenak sunyi menggantung dikawasan sumur tua.

Tapi penantiannya tidaklah berlangsung lama.

Dari dalam sumur yang gelap tiba-tiba terdengar suara menderu disertai tebaran angin panas yang mencuat keluar dari bagian dasar sumur tua ke permukaan.

Wajah terlindung dibalik topeng tercekat.

Mata dibuka lebar menatap kearah sumur tua. Sekonyong konyong dia melihat ada cahaya terang berwana biru memancar dari bagian dasar sumur yang tidak terukur dalamnya.

Kemudian suara deru angin lenyap.

Namun cahaya biru terang tetap memancar dari dalam sumur. Raja Pedang terus memandang ke permukaan sumur tua.

Dia mendengar suara gema langkah kaki yang demikian jauh seolah-olah berasal dari perut bumi.

Tapi tak berselang lama suara langkah kaki semakin bertambah jelas.

Bersamaan dengan terdengarnya suara langkah itu kilau cahaya biru yang berasal dari dasar sumur naik kepermukaan.

Semakin lama cahaya biru semakin medekat ke permukaan sumur. Seiring dengan itu Raja Pedang tetap arahkan perhatian ke arah sumur. Wuuuss!

Apa yang ditunggu tunggu akhirnya hadir ke permukaan persis dihadapan Raja Pedang. Cahaya biru yang datang ternyata bukan berasal dari sebuah benda maupun kitab sakti.

Sang cahaya kiranya berbentuk satu sosok tubuh yang tak dapat dilihat baik wajah ataupun ujud kasarnya.

Walau Raja Pedang hanya melihat satu sosok samar dalam cahaya.

Namun pemuda ini segera rangkapkan tangan didepan dada lalu bungkukkan badan tiga kali sebagai tanda penghormatan.

"Saya ucapkan selamat datang wahai yang diutus dan yang dipercaya. Aku siap menerima petunjuk. Aku ingin menuju bukit terjanji."

Kata Raja Pedang.

Dia lalu angkat kepala.

Menatap kedepan dia melihat cahaya biru berujud sosok tubuh itu bergetar dan berkeredut pada setiap tepinya.

Tidak lama kemudian tangan dibalut cahaya benderang terlihat terangkat naik sampai dibahu tubuh dalam cahaya itu.

Pelan namun jelas terdengar suara bergemuruh seperti suara ribuan tawon pindah sarang. Suara gemuruh seperti suara kawanan lebah lenyap.

Kini terdengar ucapan.

"Raja Pedang terlahir dengan nama Saba Pendera.Setelah melihat masa lalumu yang pedih dan juga tidak menyenangkan, aku sebagai mahluk penghuni alam bawah bisa memaklumi mengapa kau penuh rasa kecewa dibalik semua harapan yang kau bangun. Tapi perlu kiranya kau ketahui, Bukit terjanji yang kau maksudkan tak lain adalah sebuah tempat yang juga dikenal dengan nama Bukit Segala Puji Segala Serapah."

"Bukit Segala puji Segala Serapah?" Desis Raja Pedang tersentak kaget.

Dengan tatap mata tak percaya dia kembali membuka mulut, "Bukankah Bukit Segala Puji Segala Serapah merupakan sebuah kawasan yang selama ini menjadi tempat bersemayamnya mahluk jahanam dengan sebutan yang Terlaknat Dari Alam Baka? Tempat itu juga biasa dijadikan tempat pemujaan, sesaji dan tumbal persembahan?"

"Kau benar Raja Pedang. Pujian datang dari manusia. Sumpah serapah juga datang dari manusia.

Bila manusia punya banyak peruntungan ,mereka selalu memuji dewa. Namun bila kemalangan, musibah ketidakberuntungan menghampiri kehidupan manusia, prasangkanya pada dewa menjadi buruk, mulut melontarkan cerca kemarahan dan sumpah serapah. Mereka tidak sadar bahwa penderitaan,kebahagian,kesenangan serta kesengsaraan semua itu adalah cobaan dewa semata."

"Lalu apa artinya aku ada disini? Jika kebaikan tidak bisa saya dapatkan disana? Perlu apa aku diberi tahu tentang rahasia yang tersimpan dalam kitab Pedang Darah?"

Kata Raja Pedang tak kuasa menahan rasa kecewanya.

"Raja Pedang. Bukit terjanji adalah sebuah tempat untuk membuat dan mengikat sebuah perjanjian. Perjanjian apapun boleh dilakukan ditempat itu. Jika kau ingin bertemu dengan arwah orang- orang yang kau cintai tempatnya bukan disana. Tempat itu bukan juga tempat yang damai. Tapi kau patut mengetahui rahasia dalam kitab untuk sampai dibukit terjanji atau Bukit Segala Puji Segala Serapah." ujar sosok dalam cahaya.

"Mengapa?"

"Kau harus didampingi seseorang. Untuk mencapai bukit terjanji hanya ada satu jalan gaib yang terkunci. Kunci untuk membuka jalan itu hanya bisa diketahui di dalam Kitab Pedang Darah."

"Jika disana tidak ada kebahagiaan. Bila disana aku tidak dapat bertemu arwah ayah ibu, adik dan juga kekasihku yang terbunuh ditangan Gagak Anabrang, aku tak perlu kesana. Dengan begitu aku tak lagi membutuhkan kunci petunjuk dalam kitab Pedang Darah."

Sahut Raja Pedang.

Rasa kecewa membuat setiap ucapannya berapi-api.

"Raja pedang. Aku hanyalah mahluk yang diutus. Kau tidak bakal pernah mencapai kebahagian apapun jika kau tidak peduli dengan nasib orang lain. Kau juga tak bakal bisa melihat apalagi bertemu dengan arwah orang-orang yang kau cintai bila kau tetap memperturutkan hawa napsu, amarah dan dendam kesumat."

Ujar sosok arif dalam cahaya.

"Terserah apa katamu. Aku tidak perduli. Jika aku tak dapat melihat arwah keluargaku, maka sekarang aku lebih baik mencari Gagak Anabrang. Aku harus membunuhnya.!"

"Jangan. Seperti yang kukatakan kau harus membantu seseorang menembus pintu gelap bernama Batu Kawin Silang Madu."

"Pintu aneh apa itu? Baru kali ini aku mendengarnya!" Dengus Raja Pedang tidak puas "Nanti kau akan tahu sendiri."

"Aku sudah katakan tidak peduli. Aku batalkan niat pergi ke Bukit terjanji!"

Kata Raja Pedang sambil berusaha menindih kegusarannya

"Hhm, begitu. Lalu apakah kau tetap bersikeras hendak mencari Gagak Anabrang?" "Tentu aku tidak pernah ragu untuk melakukannya."

"Kau menjadi sombong karena kemarahanmu Raja Pedang. Kau mengira dirimu hebat." "Aku tidak terkalahkan. Semua orang di rimba persilatan tahu tentang kelebihan serta

kecepatanku dalam menggunakan pedang.!"

"Manusia picik, pikiran gelap hati gelap, Kau lupa diatas langit masih ada langit. Aku baru mengakui kehebatanmu bila kau bisa mengalahkan seorang ahli pedang juga.!"

Raja Pedang tercekat sekaligus merasa tertantang. Dengan mata mendelik dia berkata.

"Tidak ada yang sanggup mengalahkan aku. Hadapkan orang itu padaku. Dan aku berjanji akan menghabisinya dalam waktu tidak lebih dari sepuluh jurus."

"Bagaimana kalau kau tak bisa mengalahkannya?" Tanya sosok dalam cahaya.

Raja Pedang meludah karna merasa direndahkan

"Aku bersedia mematuhi segala perintahnya dalam waktu dua kali bulan purnama!" sahut Raja Pedang penasaran

"Kau lihat keatas. kebetulan sekali orangnya memang tengah mencari dirimu."

Terdorong oleh rasa penasaran maka tanpa ragu Raja Pedang segera dongakan kepala menatap kearah yang ditunjuk sosok dalam cahaya.

Belum lagi dia sempat melihat sesuatu diketinggian tiba- tiba terdengar suara menggelegar omelan.

"Hoei!.... orang yang punya niat ingin menculik Dadu Sirah Ayu kekasihku. Beberapa saat yang lalu kau mengancam ingin mencari dan mengadu pedang denganku. Kau kira dirimu hebat ya? Kini aku sudah datang. Walau kau ahli pedang.. aku tidak takut dengan orang bermulut angkuh sepertimu. Kau mau mengadu pedang yang mana? Yang atas atau yang bawah? Mengadu pedang yang atas jelas kau kalah hebat, sedangkan bila menggunakan pedang yang dibawah kujamin kau cepat loyo.

Ha.ha.ha..!"

Raja Pedang terdiam, Mata dibalik topeng terus memperhatikan.

Akhirnya dia melihat satu sosok berpakaian kelabu meliuk-liuk, melesat tak karuan juntrungan. Sementara tangan bergelayut pada sebuah benda yang memancarkan cahaya kuning berkilauan.

Walau sosok yang barusan bicara berada diatas ketinggian, namun Raja Pedang diam-diam terkejut ketika menyadari orang yang melayang diketinggian ternyata dibawa melesat oleh pedang dalam genggaman. "Seumur hidup aku belum pernah melihat ada senjata hebat yang bisa membawa terbang pemiliknya. Orang satu ini siapa dia? Caranya bicara melantur tak karuan, seenaknya sendiri. Seolah langit bumi merupakan milik bapak moyangnya. Betul-betul edan sulit dipercaya."

Membatin Raja Pedang dalam hati.

Tapi sebagai satu satunya orang yang mewarisi jurus-jurus pedang sakti dari seorang guru bernama Dewa Pedang, Raja Pedang merasa tertantang.

Dengan suara lantang dan tanpa menghiraukan sosok dalam cahaya yang masih berada di depannya Raja Pedang tiba-tiba berteriak,

"Orang gendeng yang berada di ketinggian. Memangnya gadis incaran mahluk gaib itu benar-benar kekasihmu?!"

"Sudah tahu mengapa bertanya?"

Jawab orang diatas yang tak lain Raja Gendeng.

Dan tentu ucapan sang pendekar hanya dusta belaka karena dia sendiri sebenarnya belum sempat berkenalan dengan Dadu Sirah ayu

"Oh. Kasihan sekali nasib kekasihmu itu. Aku sama sekali tidak bermaksud menculiknya seperti yang dilakukan oleh mahluk-mahluk sialan itu. Aku cuma ingin membunuhnya! ha.ha.ha."

Tukas Raja Pedang disertai gelak tawa

"Apa?! Bukan mau menculik tapi hendak membunuh. Ternyata kau lebih kurang ajar lagi. Mengapa kau hendak membunuhnya?"

Tanya Raja Gendeng. Sementara itu ia tidak lagi berputar meliuk diketinggian melainkan berdiri mengapung sambil silangkan pedang Gila didepan dada.

"Rupanya kau sama tololnya dengan pengawal pelindung gadis itu. Kau ingin tahu mengapa aku berniat membunuhnya?"

"Cepat katakan saja jangan membuat aku jadi penasaran."

"Sebabnya tak lain aku tak ingin gadis itu jatuh ketangan mahluk-mahluk iblis yang hendak menjadikannya sebagai tumbal persembahan. Karena aku tahu jika hal itu sampai terjadi, maka para iblis akan menguasai dunia persilatan."

"Gadis itu tak bersalah. Dia juga tidak ingin mendapat celaka, Bila ada cara lain untuk menolongnya, mengapa harus dibunuh?"

Tanya Raja.

"Dasar Goblok. Karena aku tidak tahu cara lain maka aku harus membunuhnya. Tapi gara-gara ulahmu itu semua niatku jadi tak kesampaian,"

"Setelah keinginanmu tak tercapai kau mau apa?"

Tanya sang pendekar sengaja memanasi "Jangan banyak mulut. Cepat kau turun kemari!" "Kau meminta aku mengabulkan!" Jawab Raja.

Kemudian pada senjata dia berkata.

"Pedang Gila. Kau sudah mendengar. Bawa aku turun kesana. Jangan sampai dia mengira aku pengecut!"

Sebagaimana yang diinginkan sang pendekar, Pedang Gila pun membuat gerakan. Ketika pedang bergerak tentu saja tangan rajapun ikut pula bergerak

Set! Wuut! Jlik!

Dengan gerakan tanpa suara. Raja jejakan kaki tak jauh didepan Raja Pedang. Cahaya pedang meredup.

Dengan acuh sang pendekar masukan pedang ke dalam rangkanya. "Pedang itu? Apakah dia dapat bergerak sesuai dengan perintahmu?" Tanya Raja Pedang.

"Kalau benar memangnya kenapa? Apakah Pedangmu tak bisa kau perintah atau kau suruh untuk melakukan sesuatu?"

Tanya pemuda itu sambil tersenyum mengejek. Raja Pedang tidak menjawab. Tentu saja dia harus mengakui pedang sakti miliknya yang dikenal dengan nama Penggebah Nyawa buatan ahli pedang empu Balawa tidak dapat bergerak sendiri. Walau demikian senjata saktinya tetap saja punya banyak kelebihan.

"Anak muda. Sejak tadi kau berbicara sesuka hati kepadaku. Apakah kau tidak tahu dengan siapa kau berhadapan?"

"Aku seorang Pendekar. Namaku Raja sedangkan kau sendiri siapa?" Tanya sang pendekar.

"Pemuda tolol. Kau buka telingamu lebar-lebar. Akulah orang yang dijuluki Raja Pedang." Dengus laki-laki itu.

Tidak disangka sangka tiba-tiba Raja tertawa tergelak-gelak

"Raja Pedang? Jadi kau orangnya yang sempat membuat geger dunia persilatan beberapa waktu belakangan? Kupikir kau raja monyet atau raja topeng. Ha.ha.ha.!"

Tawa sang pendekar mendadak terhenti karena sekonyong konyong dia merasakan ada hawa hangat menerpa telinga kanannya.

Terkejut sang pendekar segera menoleh menatap kearah datangnya tiupan angin.

Dia menyaksikan sejarak setengah tombak diatas permukaan mulut sumur tua berdiri mengambang sesosok tubuh tak jelas bentuk, rupa, maupun wajahnya karena dilingkupi cahaya biru terang berkilau.

Tanpa sadar sang pendekar melompat mundur, kaget.

Saat berada diketinggian bersama Pedang Gila yang membawanya melayang sebetulnya Raja sudah melihat cahaya biru sekaligus keberadaan Raja Pedang.

Namun dari atas sang pendekar hanya bisa menduga cahaya biru yang dilihatnya kemungkinan adalah sebuah pelita yang dimiliki Raja Pedang.

Sedikitpun dia tidak menduga cahaya itu berujud sosok tubuh manusia. "Kau takut melihatnya?"

Tanya Raja Pedang begitu melihat sang pendekar menatap kearah sosok bayangan tubuh dalam balutan cahaya. Seakan tersadar dari lamunanya. Sang maha sakti gelengkan kepala,mulut tersenyum sekaligus berujar.

"Cahaya bagus. Sayang matahari sudah hampir terbit. Coba kalau gelap gulita aku merasa tidak perlu bersusah payah membuat api unggun ."

"Edan, Baru kali ini aku bertemu manusia tolol sepertimu. Yang kau lihat itu bukan manusia sepertimu atau sepertiku. Dia adalah utusan yang dipercaya dari alam bawah,"

Dengus Raja Pedang. Sang pendekar hanya senyum-senyum saja walau dirinya disebut tolol. "Utusan dari alam bawah. Apakah maksudmu bawah sumur atau bawah kubur?"

Gumam pemuda itu membuat Raja Pedang menjadi marah.

Tapi beruntunglah sebelum kemarahan penunggang kuda kroya itu memuncak ke ubun-ubun, sosok dalam lingkupan cahaya itu berkata,

"Anak manusia bernama Raja putra pewaris istana Pulau es, bergelar Sang Maha Sakti Raja Gendeng.Dengarlah baik-baik waktuku tidak lama. Begitu matahari terbit menampakkan diri aku harus sudah kembali ketempat asal."

Tidak menyangka sosok dalam cahaya mengetahui siapa dirinya juga asal- usulnya,diam-diam sang pendekar kaget.

Raja Pedang sendiri tercengang ketika mengetahui siapa pemuda gondrong itu adanya.

"Raja Gendeng.Bukan hanya namanya saja Raja, tapi dia masih putra seorang raja.Aku pernah mendengar adanya istana kuno dipulau es.Ternyata keberadaan pulau es bukannya legenda tapi istana itu benar-benar ada."

Batin Raja Pedang.

"Mahluk yang datang bersama cahaya. Siapa pun adanya dirimu, aku menghaturkan hormat padamu."

Berkata demikian sang pendekar segera bungkukan tubuh dalam-dalam. Setelah menjura sebagai tanda penghormatan, pemuda ini lalu berkata.

"Apapun yang hendak kau sampaikan aku sudah siap mendengar.!" "Baiklah Putra darah biru yang rendah hati. Kedatanganku disini masih ada hubungannya dengan segala petaka yang bakal terjadi di puncak bukit Segala Puji Segala Serapah."

"Ah. Rasanya seperti kebetulan. Aku sendiri saat ini sedang dalam perjalanan menuju kesana.

Beberapa sahabat bahkan sudah berangkat terlebih dahulu."

Terang sang pendekar. Diapun lalu menceritakan semua kejadian yang dialami oleh Dadu Sirah Ayu gadis calon tumbal persembahan pada malam sabtu kliwon bulan sabit ketujuh.

Tak lupa dia juga menceritakan kesulitan yang dialam termasuk juga melewati jalan satu-satunya menuju kebukit Segala Puji Segala Serapah.

"Menurut Raden Pengging Ambengan, celah jalan yang menuju bukit yang bernama Batu Kawin Silang Madu tak mungkin dapat dilewati atau ditembus oleh siapapun terkecuali oleh seorang ahli pedang yang telah diberi petunjuk. Petunjuk bisa didapat dari kitab Pedang Darah. Sampai saat ini aku tidak tahu dimana kitab itu adanya."

Ketika berkata demikian Raja melirik ke arah Raja Pedang.

Merasa diperhatikan dia buru-buru menjawab. "Kitab Pedang Darah tidak ada padaku!" "Kalau merasa tidak menyimpan mengapa harus gusar?"

Tukas sang pendekar dengan suara dihidung.

"Sudah. Jangan berbantah-bantahan. Diantara kalian mungkin saja punya sifat dan pendirian bertolak belakang. Satu seperti minyak dan satunya lagi seperti air. Tapi sebagai orang yang sangat handal dalam menguasai jurus-jurus pedang, kalian berdua wajib membuka jalan satu-satunya yang menuju kepuncak bukit Segala Puji Segala Serapah."

"Lalu apa yang harus aku lakukan? Bicara terus terang, aku tak akan suka dibawah perintah pemuda itu walau dia seorang pangeran calon raja"

"Kalau aku suka-suka saja. Yang paling aku tak sukai aku tidak mau bekerja dibawah bendera apa-lagi dibawah ketiak.He he he."

Sahut Raja tenang- tenang saja.

"Betul saja dugaanku, pemuda satu ini benar- benar gila. Dia mungkin lebih gila dari senjata saktinya." geram Raja Pedang.

"Raja Pedang!"

Tegas sosok dalam cahaya.

"Segala apa yang menjadi ganjalan dihatimu pada Raja bisa diselesaikan nanti. Sekarang kau dengar baik-baik. Saat ini aku membawa Kitab Pedang Darah. Dalam Kitab itu terdapat sembilan puluh sembilan halaman,berisi sembilan puluh sembilan kebaikan dan jalan hidup. Juga sembilan jurus Pedang langka, sembilan ilmu pengobatan dan sembilan jalan kematian. Diantara sekian banyak wasiat ada satu kunci rahasia tetapi berguna untuk membuka pintu rahasia yang tersimpan didelapan penjuru angin. Batu Kawin Silang Madu termasuk salah satu rahasia alam gelap yang tak mungkin dibuka atau ditembus oleh orang yang memiliki ilmu kesaktian hebat sekalipun. Satu-satunya cara untuk sampai ke Bukit Segala Puji Segala Serapah adalah diantara kalian berdua harus menguasai jurus kunci Kitab Pedang Darah. Siapapun nantinya yang paling tepat menggunakan jurus itu patut disebut pemimpin. Setelah mempelajari jurus kunci kitab ditubuhnya akan muncul sebuah tanda merah.Sedangkan orang yang ditubuhnya muncul tanda hijau,maka orang itu harus mendampingi orang yang dipercaya oleh kitab untuk memimpin pembuka jalan,"

Terang sosok dalam cahaya.

"Menjadi pemimpin atau menjadi kaki tangan tidak masalah. Yang terpenting Bukit Segala Puji Segala Serapah harus segera dihancurkan. Jika tidak tempat itu akan menjadi sarang bagi setiap mahluk terlaknat membuat rencana menebar kejahatan." kata Raja.

"Pasti aku yang akan memimpin tugas ini. Karena aku seorang Raja Pedang, sedangkan dia cuma seorang Raja Gila. Ha.ha.ha."

Tukas Raja Pedang disertai tawa tergelak

"Aku tidak bisa mengatakan apapun.Segala takdir kehendak sepenuhnya terpulang pada para dewa di kayangan. Kepada siapa kunci dalam Kitab Pedang Darah ketemu jodoh semuanya tergantung kepada kerendahan hati salah satu diantara kalian."

Tegas sosok dalam cahaya sehingga membuat Raja Pedang terdiam.

Sementara sang maha Sakti Raja Gendeng sendiri cuma bisa tersenyum dan garuk kepala.

*****

Untuk sementara kita tinggalkan Raja Pedang dan Sang Maha Sakti Raja Gendeng.

Kini kita lihat dulu bagaimana nasib Gagak Anabrang yang menderita cedera berat akibat serangan ganas Penghuni Perahu Setan.

Setelah menderita luka dalam dan luka di sekujur tubuhnya, Gagak Anabrang yang dikenal sebagai tokoh hitam sangat disegani karena ketinggian dan kehebatan ilmunya, diam-diam harus mengakui Penghuni Perahu Setan ternyata bukan lawan yang mudah baginya.

Karena dia dibuat cidera sedemikian rupa, maka kemarahan sekaligus dendamnya kepada Penghuni Perahu Setan sedalam laut setinggi langit.

Dia berpikir bagaimana caranya agar dapat membalas segala rasa sakit hati dan dendam kepada mahluk misterius itu.

Rasa penasaran di hati Gagak Anabrang makin menjadi ketika dia ingat lawan telah membunuh Lor Gading Renggana, pengikutnya yang paling setia.

Sambil melayang-layang berada dalam cengkraman burung berbulu hitam besar yang ujut aslinya seorang pemuda tampan yang usianya tiga puluh tahun, Gagak Anabrang berusaha berpikir jernih.

Dalam keadaan dibawa melayang dia merasakan sekujur tubuh seperti remuk, nafas sesak dan dari mulut masih meleleh darah.

"Cepat, bawalah aku pulang, Patijara!"

Kata laki-laki pendek itu dengan nafas mengengah. "Kaaaak!"

Sang mahluk jejadian keluarkan suara pekikan keras sebagai tanda mengerti. Kemudian selayaknya manusia biasa burung hitam besar itu berkata,

"saya dapat merasakan junjungan Gagak Anabrang mengalami cidera cukup parah." "Bukan cuma parah, aku malah hampir mampus kalau kau tak segera datang.Hari ini aku

berhutang nyawa padamu. Segala hutang baru lunas bila aku telah mengawinkanmu dengan Arum Dalu anakku. Kau tak usah khawatir. Aku juga akan memberimu harta yang banyak. Kau pasti senang dan tak bakal hidup susah sampai keanak cucu!"

"Tapi junjungan!"

"Tapi apa Patijara? Kau tidak suka pada anakku?"

"Bukan begitu. Saya tidak mungkin menikah dengan putrimu karena junjungan telah terikat perjanjian dengan Yang Maha Terlaknat dari Alam Baka"

"Hah apa? Kau tidak mau terima tawaranku karena tahu aku terikat perjanjian dengan setan kuburan itu.Kau mengira aku bakal rela menyerahkan putriku satu-satunya pada mahluk itu?"

Dengus Gagak Anabrang merasa tersinggung.

"Junjungan. Saya tidak mengharapkan apa-apa dari junjungan. Lagipula junjungan harus ingat Malam sabtu kliwon tinggal sehari lagi. Saya telah melakukan pengintaian junjungan."

"Pengintaian apa?"

Sentak Gagak Anabrang sambil mendekap dadanya yang berdenyut sakit.

"Saya telah melihat adanya satu kesibukan luar biasa di bukit terjanji, Bukit Segala Puji Segala Serapah." kata Patijara sambil terus melayang menuju kesebuah gedung megah mirip sebuah istana kuno yang tidak lain adalah gedung milik Gagak Anabrang.

Berada dalam cekalan sepasang kaki burung jelmaan itu, Gagak Anabrang tiba-tiba berkata, "Kau melihat kesibukan luar biasa? Kawasan Bukit Segala Puji Segala Serapah kuketahui sebagai

kawasan yang tertutup terlindung tabir dan kabut aneh.Jangankan dirimu, Penghuni Perahu Setan yang mempunyai ilmu kesaktian selangit saja tak mampu menembus daerah itu. Bagaimana kau bisa mengatakan bisa melihat segala yang terjadi disana?"

"Saya tidak mengatakan melihat segalanya. Saya mengatakan adanya kesibukan. Dengan menggunakan ilmu yang saya miliki, sebagai mata-mata saya telah melakukan penyusupan. Memang hanya roh saya yang datang kesana. Tapi persiapan acara tumbal persembahan benar-benar akan dilakukan ditempat itu. Bukit Segala Puji Segala Serapah."

"Aku berterima kasih karena engkau telah memberi tahu. Aku yakin mahluk satu itu telah mempersiapkan segalanya.Perjanjianku dengannya memang segera berakhir,namun tentunya setelah aku menyerahkan putriku satu satunya. Aku tidak akan membiarkan itu semua terjadi."

"Junjungan. Saya lihat disana ada dua altar yang dipersiapkan. Artinya akan ada dua calon korban yang dipersembahkan!"

Terang Patijara.

"Satu altar akan ditempati oleh anakku satunya lagi pasti bakal ditempati oleh gadis terpilih. Dan gadis itu tak lain Dadu Sirah Ayu. Kurang ajar sekali! Yang Teriaknat dari Alam Baka ternyata tidak hanya licik, tapi juga serakah. Aku harus mengerahkan segala daya untuk menggagalkan semua rencananya."

"Junjungan tak mungkin bisa masuk ke kawasan bukit karena jalan satu-satunya menuju bukit terlindung oleh satu tabir kekuatan aneh yang sukar untuk ditembus!"

Menerangkan Patijara hingga membuat Gagak Anabrang diam membisu. Tidak berselang lama Gagak Anabrang telah dibawa memasuki bangunan megah miliknya.

Sebelum menjejakan kaki, Patijara jatuhkan orang yang berada dalam cengkramannya dengan gerakan yang lembut.

Gagak Anabrang jatuh bergulingan.

Karena merasakan sakit pada luka- lukanya. Gagak Anabrang lontarkan caci maki sumpah serapah.

Patijara sedikitpun tidak merasa tersinggung.

Malah begitu burung jejadian ini jejakan kaki, dia segera melipat kedua sayapnya.

Selanjutnya begitu kepala ditundukkan, seketika itu juga sosoknya berubah keujud yang asli, yaitu ujud seorang pemuda tampan berkulit bersih berhidung mancung berpakaian hitam.

Setelah kembali pada tubuh yang asli, Patijara memutar tubuh dan siap membawa Gagak Anabrang memasuki bilik peraduannya.

Patijara juga berniat memanggil beberapa tabib yang mempunyai hubungan erat dengan Gagak Anabrang.

"Lebih baik kau masukan aku kedalam ruang Penyembuhan dan keajaiban. Aku tidak butuh tabib, aku juga tidak ingin didampingi oleh siapapun termasuk oleh istri-istriku!"

Sentak laki-laki tua itu tegas.

"Kalau junjungan sudah menghendaki demikian, maka dengan senang hati saya akan membawa junjungan ke taman belakang!"

Setelah berkata demikian Patijara segera membopong majikannya. Sekejab kemudian keduanya lenyap dari pandangan mata.

Ruang penyembuhan dan keajaiban yang dimaksudkan Gagak Anabrang tak lain adalah sebuah bangunan kecil mirip puri. Letaknya di sebelah kiri halaman belakang terpisah dari ruangan induk.

Ketika Gagak Anabrang sampai di tempat itu, Patijara hanya diperkenankan mengantar sampai di depan pintu.

Dengan patuh dan setia pemuda itupun akhirnya memilih menunggu dengan duduk diatas kursi kayu yang terdapat dibawah pohon.

Sambil meluruskan punggungnya yang terasa pegel, pemuda itu kitarkan pandang memperhatikan keadaan diseluruh penjuru halaman.

Sekilas sesuatu terlintas sekaligus mengusik benaknya. Hari sudah mulai siang.

Matahari bahkan bersinar cerah.

Biasanya pada saat seperti ini bagian belakang yang berfungsi sebagai tempat memasak beberapa abdi wanita terlihat sibuk mempersiapkan hidangan untuk santapan majikannya yang terdiri dari sembilan istri, putri juga Gagak Anabrang sendiri.

Tapi pemandangan saat itu terasa benar benar berbeda.

Tidak terlihat kesibukan para abdi, tidak terdengar tawa dan gurauan.

Bahkan bangunan megah itu terkesan sunyi seolah telah ditinggalkan penghuninya. Rasa heran dan curiga membuat Patijara merasa tidak tenang di tempat duduknya. Dia pun lalu bangkit, berjalan perlahan-lahan menuju kearah dapur.

Ketika membuka pintu di ruangan besar itu dia dibuat tercengang. Patijara tidak menemukan seseorang pun terkecuali genangan darah yang telah membeku. Sebagai orang yang memiliki indra penciuman setajam burung elang, sekali melihat dia segera dapat memastikan bahwa genangan darah yang itu adalah genangan darah berceceran manusia.

"Apa yang terjadi?" desis pemuda itu sambil menelan ludah basahi tenggorokan yang mendadak terasa kering.

Pemuda itu pun tambah penasaran. Seakan lupa dia harus menunggu Gagak Anabrang keluar dari dalam Ruang Penyembuhan dan Keajaiban. Patijara lalu bergegas memeriksa semua halaman gedung yang luas. Karena tidak menemukan sesuatu yang berarti dia lalu memutuskan untuk memeriksa bagian dalam gedung megah itu.

Sementara itu Gagak Anabrang sendiri sesampainya di dalam puri dengan tertatih-tatih segera duduk besilah. Dua tangan diletakan diatas lutut. Mata yang terpejam menghadap ke arah sebuah batu besar berwarna biru. Letak batu besar itu menempel pada dinding di depannya.Selain batu besar biru seluruh penjuru dinding juga dipenuhi dengan batu-batu seukuran kepalan tangan seorang bocah yang juga berwarna biru. Semua batu yang menempel memenuhi dinding ruangan itu dikenal sangat ampuh dalam memulihkan cidera berat, ringan bahkan remuk tulang sekalipun. Sambil memejamkan matanya laki-laki kerdil ini diam-diam menghimpun tenaga dalam yang dia miliki. Dalam waktu sekejab, sekujur tubuh Gagak Anabrang bergetar. Seiring dengan bergetarnya tubuh, dari mulutnya terdengar suara.

"Batu-batu bertuah, batu sakti penyembuh dari semua derita sakit dan luka. Aku adalah junjungan sekaligus orang yang mempunyai kuasa atas dirimu. Sembuhkan aku dari segala luka. Luka ringan luka berat, luka diluar luka didalam, luka yang diatas juga luka yang dibawah. Sekarang juga dan bersegeralah..!"

Baru saja orang tua itu selesai berucap, seketika itu juga batu besar yang menempel pada dinding memancarkan cahaya biru terang namun sejuk. Memancarnya cahaya biru pada batu besar segera pula diikuti oleh puluhan batu-batu kecil yang terdapat disekeliling batu besar. Gagak Anabrang menarik nafasnya lalu seketika itu pula seluruh cahaya yang memancar dari batu tersedot masuk menembus mulut,dada,kepala dan sekujur tubuhnya.

Gagak Anabrang terguncang.

Dari ubun-ubunnya mengepul asap tipis berwarna kebiruan. Sementara dia merasakan rasa sakit dibagian dada, kepala juga bagian tubuh di sebelah bawah lenyap. Ketika dia membuka mata dan memperhatikan ternyata luka dibagian luar hilang tidak berbekas.

"Terima kasih! Kalian telah membantu diriku. Perasaanku lebih segar, lebih muda hingga membuatku merasa seolah baru dilahirkan kembali."

Kata laki-laki itu dengan mulut sunggingkan seringai puas. Seakan mempunyai telinga dan mengerti apa yang dikatakan Gagak Anabrang.

Begitu mendengar ucapannya, pijaran cahaya yang memancar baik dari batu besar maupun batu kecil tiba-tiba meredup dengan sendirinya.

Ketika seluruh cahaya batu padam hingga membuat keadaan di dalamnya ruangan Penyembuhan dan Keajaiban gelap gulita, Gagak Anabrang segera bangkit.

Setelah tegak berdiri dia pun memutar badan siap tinggalkan tempat itu.

Namun pada waktu yang sama laki-laki itu mendengar suara ketukan keras disertai seruan seseorang.

"Junjungan! Celaka! Sebuah malapetaka besar kiranya telah terjadi di tempat kediaman junjungan..!"

Teriak orang itu memberi tahu. Walau tidak melihat siapa yang bicara dan mengetuk pintu. Tapi dari suaranya Gagak Anabrang mengenali suara itu.

Dengan perasaan kaget namun hati diliput tanda tanya dia membentak.

"Patijara. Celaka apa maksudmu? Siapa yang celaka? Aku dalam keadaan baik-baik saja. Apakah engkau yang celaka?"

"Bukan itu maksud saya junjungan. Cepatlah keluar saya akan memberi tahu!"

Jawab orang itu yang bukan lain memang Patijara. Gagak Anabrang tambah penasaran. Diapun segera membuka pintu.

Ketika pintu terbuka dia melangkah keluar. Pintu ialu ditutupnya lagi.

Gagak Anabrang membalik badan.

Tahu-tahu Patijara telah berada di depannya dengan tubuh membungkuk sebagai tanda penghormatan, namun pemuda itu sendiri nampak menggigil.

Wajah pucat sepasang mata membayangkan kecemasan luar biasa.

"Lekas katakan apa yang terjadi?" sentak Gagak Anabrang sambil menatap tajam pemuda di depannya.

"Semua orang yang ada di dalam gedung tewas. Tubuh mereka dipenuhi luka bekas cabikan. Saya melihat darah dimana-mana, potongan tubuh para abdi saya dapati berserahkan di ruang belakang!"

Terang Patijara membuat Gagak Anabrang tercengang. Laki-laki itu diam tertegun.

Beberapa saat lamanya dia tak kuasa berkata-kata.

Barulah setelah dapat menguasai diri, Gagak Anabrang buka mulut ajukan pertanyaan. "Apa yang terjadi? Siapa yang membunuh mereka."

"Saya tidak tahu,junjungan." Jawab Patijara.

"Bagaimana dengan istri-istriku?"

"Sembilan istri junjungan semuanya tewas dengan leher terkoyak, perut robek dada menganga." "Apa?? Semuanya terbunuh? Tidak satupun disisakan untukku?"

Desisnya dengan mata terbelalak tak percaya.

Diapun lalu ingat dengan putrinya Arum Dalu. Gadis cantik yang selalu mengurung diri menderita cacat berupa kudis dan bila disiang hari tubuhnya menebar bau busuk bangkai.

"Bagaimana dengan nasib Putriku?!"

"Saya tidak tahu. Saya sudah memeriksa kamarnya. Pintu dalam keadan terbuka dan kamar itu kosong,"

Terang Patijara.

"Seseorang pasti telah menculiknya."

Desis Gagak Anabrang sekedar menduga. Sejurus lamanya dia terdiam, kening berkerut otak berpikir.

"Aku tidak yakin kalau kaki tangan dar ­ Yang Teriaknat Dari Alam Baka, telah datang ketempat kediamanku ini, untuk membunuh semua istri juga pembantu setia kemudian menculik serta membawa pergi putriku Arum Dalu."

"Saya tidak bisa menyimpulkan apa-apa. Saat ini musuh ada dimana-mana, apapun bisa terjadi pada Putri junjungan. "  

"Kau benar. Tapi ucapanmu itu bukan dengan maksud menyindirku bukan? Kau tentu tidak hendak mengatakan bahwa musuhku ada dimana-mana dan aku termasuk orang yang paling dibenci didunia ini bukan.!"

Dengus Gagak Anabrang dengan mata mendelik. Patijara gelengkan kepala.

"Saya bicara sebenarnya. Sama sekali tidak punya maksud menyindir junjungan!!"

"Baiklah. Aku percaya. Sekarang temani aku. Ingin kulihat bagaimana keadaan di dalam sana." Patijara tidak berani melarang walau dia sadar setelah melihat mayat sembilan istrinya Gagak

Anabrang pasti terguncang. Dia hanya berniat mengikuti. Namun belum jauh Gagak Anabrang meninggalkan bangunan berbentuk puri itu, tiba- tiba dia dan Patijara dikejutkan dengan suara bentakan melengking yang disertai dengan bau busuk menusuk.

Bau bangkai.

Patijara hentikan langkah, demikian juga dengan Gagak Anabrang yang berada tiga langkah di depannya.

"Tidak ada yang perlu diperiksa, tidak ada lagi yang perlu diteliti. Aku telah mengakhiri semua kepalsuan hidup diatas segala derita yang dirasakan oleh banyak orang juga penderitaanku sendiri!" kata satu suara keras melengking menyimpan amarah dan kebencian.

Gagak Anabrang dan Patijara saling pandang. Hampir bersamaan pula mereka layangkan pandang kearah bagian belakang gedung tak jauh didepan mereka.

Gagak Anabrang yang merasa mengenali suara itu segera berseru, "Anakku Arum Dalu. Bukankah kau yang baru saja bicara?"

Gaung suara Gagak Anabrang yang melengking lenyap. Sunyi menyelimuti.

Namun sekejab kemudian terdengar jawaban.

"Aku manusia malang ini bukan anakmu. Hidupmu hanya memikirkan dirimu sendiri. Aku menderita tapi ayah hidup gemilang dalam kemewahan atas semua penderitaanku."

"Semua prasangkamu tidak benar, anakku!" Bantah Gagak Anabrang.

"Yang terjadi bukanlah sebuah prasangka. Penderitaanku karena hasil perbuatanmu ayah. Kau telah bersekutu dengan iblis, kau bahkan telah mengikat perjanjian dengannya. Dan sebagai imbalan atas bantuan yang dia berikan hingga membuatmu menjadi kaya. Kau telah berjanji akan memberikan diriku sebagai tumbal persembahan!"

Dengus suara dibalik gedung kalap

"Anakku. Kalaupun semua itu benar. Tapi ayah telah menyadarinya. Ayah bersumpah tidak akan menyerahkan dirimu pada siapapun juga" "Orang tua pendusta!"

Teriak sang anak, Hampir bersamaan dengan teriakan itu tiba-tiba terdengar suara gemuruh dari dalam bangunan megah.

Lalu....

Buuum! Buuuum!

Dua ledakan menggelegar menghantam dinding bangunan yang kokoh.

Dinding itu hancur luluh lantak berubah menjadi kepingan yang bertaburan. Seiring dengan hancurnya tembok, bagian atapnya juga berpelantingan kesegenap penjuru arah.

Kepulan asap,debu bercampur pasir mengepul tinggi menghalangi pandangan.

Dari balik dinding yang runtuh satu sosok tubuh melesat keluar, bergerak secepat kilat dan menyambar dan jejakan kaki tak jauh didepan Gagak Anabrang dan Patijara.

Ketika kepulan debu dan tebaran asap lenyap, baik Patijara maupun Gagak Anabrang sama melihat di depannya berdiri tegak seorang gadis berkulit putih, bergaun hijau, wajah pucat sekujur tubuh ditumbuhi bulu-bulu halus dan borok bersembulan. Melihat kehadiran gadis ini Patijara diam-diam palingkan wajahnya kejurusan lain sementara dalam hati dia berkata.

"Gadis inikah yang hendak dijodohkan denganku? Otak Gagak Anabrang sebenarrnya sudah gila. Jangankan tidur dengannya, berdiri dekat-dekatan begini saja sudah membuatku hampir tidak kuasa menahan muntah."

Batin Patijara.

Sementara itu melihat putrinya berdiri di siang bolong ditengah terik matahari, Gagak Anabrang yang mengetahui kelemahan anaknya dengan perasaan cemas berucap.

"Anakku. Kau tahu tubuhmu tak akan kuat menerima sengatan matahari. Kulitmu bakal melepuh, meleleh dan aku tidak sanggup melihat penderitaanmu!"

Sepasang mata gadis yang merah nyalang menatap Gagak Anabrang penuh rasa benci.

"Kau membiarkan ibuku Rai Nini mati ditangan pertapa itu. Kau tidak berbuat apa-apa, bukankah begitu ayah?"

Tukas Arum Dalu.

"Aku benci meng- akui diriku sebagai keturunanmu. Aku juga sangat marah karena ulahmu ibu menemui ajal. Karena itu aku bunuh semua istrimu yang lain juga pembantu serta pengikutmu."

"Dugaanmu bahwa ayah mengabaikan kematian ibumu tidak benar. Ayah telah berusaha membalas dendam. Mencari pertapa itu bukan perkara mudah. Kau harus mengerti dengan berbagai kesulitan yang ayah hadapi. Ayah bahkan memberimu maaf walau kau telah membunuh sembilan istri ayah." "Aku tidak butuh maafmu. Harusnya aku membunuh ayah, tapi mengingat dosa ayah setinggi gunung, Biarlah ayah dibunuh oleh musuh-musuh ayah yang lain. Sementara aku hanyalah gadis yang malang. Tubuhku menebar harum semerbak dimalam hari. Tapi disiang begini tubuhku jauh lebih busuk dari bangkai!"

"Kau tidak usah berkecil hati. Ayah akan memberikan obat yang tepat untukmu. Setelah kau sembuh kau bisa menikah dengan Patijara,pemuda baik hati ini. Bukankah begitu Patijara?" kata Gagak Anabrang sambil melirik kearah pemuda di sebelahnya.

Dengan terpaksa demi menyenangkan perasaan Arum Dalu, Patijara cepat anggukan kepala.

Namun Arum Dalu sadar anggukan kepala pemuda itu bukan keluar dari dasar lubuk hati yang paling tulus.

Tidaklah mengherankan dengan sinis dia menanggapi,

"Manusia Palsu. Aku tahu kau tidak suka padaku. Laki-laki mana yang sudi mempersunting gadis busuk.Seperti yang kukatakan harusnya aku membunuh ayah juga semua sahabat dekatnya. Tapi aku memilih jalan hidupku sendiri Yang Terlaknat Dari Alam Baka tak mungkin bisa menjadikan aku sebagai tumbal persembahannya. Dan engkau ayah tak punya hak mengatur hidupku. Aku dengan segala penderitaan yang kualami menjadi milik diriku sendiri!"

Teriak Arum Dalu dengan tubuh terguncang dan mata berkaca-kaca. Sesuatu diluar dugaan tiba-tiba terjadi.

Tubuh si gadis tampak mengepulkan asap tipis menebar bau kulit terbakar.

Sambil menangis tanpa menghiraukan tubuhnya yang tak kuat oleh sengatan matahari dia jatuh berlutut.

Tangisnya makin bertambah keras

"Anakku. Sudah kukatakan kau tidak bisa tahan berada diluar rumah disiang bolong begini, Masuklah kedalam anakku. Di dalam aman, tempatnya teduh."

Kata Gagak Anabrang.

Patijara sebenarnya siap hendak menolong, membawa Arum Dalu kedalam ruangan. Tapi dia tak berani melakukanya Karena takut gadis itu marah.

Akhirnya dia hanya bisa berdiri diam "Aku tidak butuh nasehat."

Teriak Arum Dalu sambil menahan rasa sakit akibat sengatan matahari yang mulai membakar sekujur tubuh dan pakaian yang melekat di badannya.

"Kau hendak berbuat apa?"

Tanya Gagak Anabrang makin cemas "Aku ingin menyusul ibu!"

Sahut arum dalu. Ucapan itu disertai dengan gerakan dua tangan yang sedemikian cepat menghantam kepala. "Arum. jangan..." pekik Gagak Anabrang.

Dia mencoba mencegah dengan cara melompat dan meraih tangan Arum Dalu yang menderu kebagian kepala.

Patijara juga berusaha melakukan tindakan penyelamatan. Sayang gerakan Arum Dalu ternyata sangat cepat luar biasa Praak!

Terdengar suara kepala berderak remuk. Darah dan isi kepala bermuncratan di udara, menghambur keseluruh penjuru lalu berjatuhan diatas tanah. Gagak Anabrang menjerit meratapi anaknya yang nekat mengakhiri hidup.

Dia berlutut disamping Arum Dalu yang terus dikobari Api.

Gadis itu diam tidak bergerak

"Mengapa kau memilih jalan seperti ini? Huk.huk.huk!"

Ratap laki-laki itu dengan hati luluh hancur ditinggal putri yang dia cintai. Arum Dalu yang telah menemui ajal tentu tidak dapat menjawab.

Patijara tundukan kepala sebagai tanda prihatin. Seolah ikut berduka.

Panas terik tiba-tiba sirna.

Langit menjadi gelap tertutup mendung tebal. Kilat menyambar,petir menggelegar.

Seiring dengan turunnya hujan tubuh Arum Dalu mendadak raib menjadi tebaran kabut. Gagak Anabrang terkesima.

Patijara juga tercengang.

******

Kembali ke sumur tua tempat dimana Raja Pedang dan sang pendekar berada. Saat itu matahari nyaris munculkan diri di ufuk langit sebelah timur.

Sementara itu kini Sang Maha Sakti Raja Gendeng dan Raja Pedang telah berdiri berhadap- hadapan.

Keduanya dipisahkan oleh sumur tua. Diatas sumur itu sejarak setengah tembok dari mulut sumur berdiri mengambang sosok samar dalam naungan cahaya biru.

"Aku tidak bisa menunggu lebih lama!" Berkata Raja Pedang tidak sabaran.

"Aku masih bisa menunggu sampai kapan saja. Mulai sekarang sampai besok hingga besoknya lagi pasti akan kuladeni. Tapi aku juga sebenarnya khawatir. Kata orang berdiri atau duduk terlalu lama kaki bisa tumbuh akar." Sela sang pendekar dengan mulut tersenyum.

Mendengar ucapan Sang Maha Sakti, diam-diam Raja Pedang menjadi geram. Tapi dia tidak melakukan apapun, hanya matanya saja yang menatap dengan mata mendelik pada pemuda di depannya.

"Kalian semua harus bersabar, karena aku pun tidak akan berada disini lebih lama lagi!" Kata sosok dalam cahaya.

Setelah berkata begitu sosok samar yang diselimuti cahaya itu tampak mengeluarkan sesuatu dari balik pakaiannya yang tembus pandang.

Raja Pedang dan Raja Gendeng menatap kearah sosok itu dengan tidak berkedip. Ketika tangan yang disusupkan dibalik pakaian biru ditarik keluar? Kedua orang sama melihat di tangan sosok dalam naungan cahaya tergenggam sebuah benda berbentuk empat persegi berwarna merah juga memancarkan cahaya merah terang.

"Kitab Pedang Darah!" Desis Raja Pedang.

"Apakah kitab itu hendak kau serahkan pada kami?"

Tanya pemuda yang selalu melindungi wajah dengan topeng itu.

"Tak seseorangpun diantara kalian yang sanggup menyentuh kitab ini. Sekali kalian menyentuhnya, maka sekujur tubuh kalian bakal mengucurkan darah yang tidak dapat dihentikan. Dengar baik- baik...rahasia jurus kunci kitab ada dihalaman terakhir. Aku akan membukanya untuk kalian.:Begitu halaman itu kubuka. Isi jurus kuncian pembuka seluruh tabir gaib yang terdapat dalam halaman ini dengan sendirinya segera melebur dalam bentuk cahaya.Cahaya yang melebur berbentuk dua warna yaitu warna hijau dan merah. Warna hijau mewakili bumi sedangkan warna merah mewakili kehidupan di dalam bumi itu sendiri.Dua cahaya yang berasal dari jurus yang melebur itu dalam waktu bersamaan akan menghampiri kalian.Aku hanya ingin mengingatkan hendaknya masing- masing dari kalian menyiapkan diri untuk menerima jurus-jurus kuncian ini."

"Seperti yang kukatakan. Bila penyerapan jurus kunci pembuka rahasia alam gaib merasuk sekaligus menyatu dalam pikiran kalian, tandanya adalah dengan munculnya warna merah berbentuk bulat bundar bergambar langit bumi. Tetapi bila jurus kunci pembuka tabir tidak berjodoh dengan orang itu, maka di telapak tangan kirinya akan muncul warna hijau saja bergambar bumi bulat.

Siapapun yang ditangannya muncul gambar bumi berwarna hijau, maka dia ditakdirkan untuk membantu atau mendampingi orang yang di tangan kirinya muncul tanda merah bergambar langit bumi. Kitab halaman terakhir segera kubuka.Apapun yang terjadi kalian harus siap menerimanya!"

"Pemuda tolol itu ,mana mungkin orang gendeng aneh seperti dia mendapat kehormatan menerima jurus kunci pembuka tanda merah itu."

Batin raja pedang dalam hati. Diapun lalu kerahkan tenaga dalam yang disertai dengan pengerahan tenaga sakti kesekujur tubuh.

Dua mata dipentang menghadap lurus kearah sosok samar dalam cahaya. Sementara kedua tangannya disilangkan di depan dada.

Diseberang sumur tua. Raja justru malah bersikap tenang dan pasrah dengan apapun yang akan terjadi.

Dia berpikir kalaupun mendapatkan tanda hijau juga tidak mengapa. Menjadi pengikut ataupun pendamping juga tidak menjadi persoalan.

Yang terpenting dia dapat membantu membebaskan Dadu Sirah Ayu dan menyelesaikan tugas dengan sebaik-sebaiknya.

Dengan penuh kepasrahan namun dengan semangat ingin menolong sesama. Raja diam-diam kerahkan hawa murni yang disertai pengerahan tenaga sakti kebagian kepala hingga kesekujur badan.

Dua mata memandang kedepan, sedangkan dua tangan diangkat tinggi dengan gerakan seperti menyambut sekaligus menghormat. Sikap aneh yang ditunjukkan Raja itu membuat Raja Pedang menyeringai mengejek.

"Dia memang edan sungguh edan.Buktinya bagaimana menyambut jurus baru saja dia tak tahu caranya."

Batin Raja Pedang dengan tatapan dingin.

"Raja Pedang dan Sang Maha Sakti, Kitab Pedang Darah segera kubuka. Kalian bersiap-siap lah menyambut jurus kuncian pembuka tabir gaib kegelapan."

Seru sosok dalam cahaya. Raja Pedang anggukan kepala.

Sedangkan sang pendekar hanya tersenyum-senyum sambil menatap kedepan.

Tidak sampai sekedipan mata, sepasang tangan samar sosok dalam cahaya bergerak. Kitab berwarna merah darah pun segera dia sibakkan tepat di halaman terakhir.

Begitu kitab terbuka, Raja Gendeng melihat dengan jelas satu sosok tinggi berpakaian serta berpenampilan serba merah sedang memainkan jurus-jurus yang belum pernah ia lihat seumur hidupnya.

Segala gerakan yang dilihat dalam waktu sesingkat itu terekam dalam benaknya dengan baik.

Sementara dalam waktu bersamaan Raja Pedang juga melihat sosok aneh dalam halaman kitab.

Sosok yang ujud dan penampilannya mirip manusia dan mirip binatang buas itu ternyata juga sedang memperagakan junus-jurus aneh.

Jurus yang sama sekali baru pertama kali dilihat oleh Raja Pedang. "Mengapa harimau dan kodok yang memperagakan jurus itu?" Batin Raja Pedang terheran- heran.

Semua yang dilihat pemuda itu meresap masuk amblas terpatri dalam ingatan. Namun selagi Raja Pedang dibuat terheran-heran.

Seiring dengan terdengarnya suara menderu,dari halaman kitab Pedang Darah melesat dua larik cahaya hijau dan merah menuju ke arahnya, Dari halaman yang sama pula dua cahaya hijau merah melesat menderu ke arah sang pendekar.

Secepat kilat, masing-masing dua cahaya menghantam dada dan kening Sang Maha Sakti. Sedangkan dua cahaya lain menghantam bagian yang sama di tubuh Raja Pedang.

Sebagaimana yang telah diingatkan oleh sosok dalam cahaya sang utusan dari Alam Bawah.

Keduanya tidak diperkenankan menghindar, menangkis atau balik menyerang kedua cahaya yang memancar dari kitab.

Hanya sikap pasrah yang diwajibkan bagi mereka.

Tanpa ampun lagi begitu dua cahaya menghantam dada dan kening mereka.

Kedua tokoh yang sama-sama memilki ilmu serta tenaga dalam luar biasa tinggi ini pun terguncang.

Raja Pedang menggerung ketika merasakan keningnya seperti dipantek besi menyala. Sedangkan dadanya seperti hangus terbakar. Kilatan cahaya merah dan biru menyelimuti tubuh

Raja Pedang.

Sedangkan kuda Kroya, mahluk tunggangan Raja Pedang meringkik ketakutan melihat majikannya mengalami keadaan yang demikian hebat.

Tidak jauh didepannya, Raja Gendeng sempat merasakan betapa dada dan keningnya seperti diguyur segunung cairan es.

Tapi sebagai orang yang pernah hidup ditempa dan digembleng di Istana Pulau Es yang sejuk pemuda ini tidak begitu terpengaruh oleh hantaman dua cahaya itu.

Dia malah senyum-senyum sambil leletkan lidah Set!

Trat! Trat!

Serangan dua cahaya yang tak lain bertujuan menyatukan jurus kunci inti Pedang Darah ke dalam diri kedua satria tingkat tinggi perlahan namun pasti mulai meredup.

Pijaran dan kilatan-kilatan cahaya merah dan hijau kemudian padam, Raja Pedang jatuh terduduk dengan sekujur tubuh mengepulkan asap.

Satu tangan mendekap kening, satunya lagi mendekap dada.

Rambut yang disebelah hitam separoh putih berdiri tegak awut- awutan sedangkan wajahnya nampak pucat tegang. Raja jauh didepannya sang pendekar masih tegak berdiri. Kedua lututnya goyah dan kesemutan.

Dada terasa lapang sedangkan kepala walau tidak terasa sakit namun pandangan mata sempat berkunang-kunang.

Karena tidak mengalami sesuatu yang berarti pemuda ini segera memandang ke permukaan sumur tua tempat dimana utusan dari Alam Bawah masih berdiri disana, mengambang dalam keadaan terombang-ambing sambil memegang kitab Pedang Darah dimana halaman terakhirnya dalam keadaan hangus menghitam.

Setelah dapat menguasai diri dari segala guncangan yang terjadi sosok dalam cahaya menutup kitab.

Tangan kemudian dia gerakan ke kiri dan kanan Wuus!

Kitab Pedang Darah raib dari genggaman.

Sosok yang mengambang itu pun tersenyum kepada Raja juga kepada Raja Pedang.

"Aku telah menyampaikan amanat dari penguasa Alam Bawah. Masing-masing dari kalian telah mendapatkan sekaligus menguasai jurus kunc pembuka tabir gaib. Tetapi apapun yang kalian dapatkan di tangan kiri masing-masing, tidak ada yang boleh merasa lebih tinggi atau merasa lebih rendah.Karena semua yang kalian dapatkan hanyalah merupakan takdir semata."

Terang sang utusan. Tanpa menunggu sosok samar dalam cahaya dongakkan kepala menatap ke langit.

Matahari telah muncul diketinggian.

"Sekarang sudah tiba waktunya bagiku untuk tinggalkan tempat ini. Kuharap kalian dapat bekerja sama, saling membantu dan kalau mungkin menjadi dua sahabat yang baik dan saling menolong.

Selamat tinggal, semoga kalian selalu beruntung dan dalam lindungan para dewa." Utusan Alam Bawah menghela nafas.

Kemudian tanpa menoleh lagi dia membalikkan badan, dua kaki yang mengapung dihentakan. Sebagaimana kedatangannya.

Kini terdengar suara bergemuruh.

Sosok dalam cahaya biru terang bergerak turun amblaskan diri masuk ke dalam sumur. Sumur tua yang semula terang kini menjadi gelap temaram.

Suara gemuruh juga lenyap.

Kemudian terdengar suara langkah terompah bergerak menjauh. Segalanya pun berubah sunyi..

****

Di seberang sumur. Raja Pedang duduk terlolong. kiri. Diseberang tak jauh didepannya. Raja yang sempat dibuat penasaran segera mengangkat tangan

Cukup lama dia memperhatikan tangan itu.

Kemudian Raja pun tersenyum ketika melihat tanda merah dalam lingkaran bundar bergambar separoh langit separoh bumi.

Tanpa sadar dia melonjak kegirangan, mulut berseru keluarkan ucapan.

"Aha... tanda ditanganku ternyata merah. Ada gambar langit bumi. Jurus kunci pembuka tabir gelap dalam kitab Pedang Darah telah kukuasai. Aku bahkan masih ingat sosok merah besar dalam halaman kitab seperti menari nari memainkan jurus inti itu padaku!"

Raja tertawa, wajah tambah sumringah. Pemuda itu bahkan mulai menari-nari.

Raja Pedang yang tersentak kaget mendengar ucapan sang pendekar segera dekatkan telapak tangan ke depan wajah.

Agak lama dia menatap dan memperhatikan tangan kirinya. Tiba-tiba saja terdengar seruan....

"Sial! Tanda ditangan kiriku berwarna hijau.Hanya gambar bumi dalam lingkaran tangan langit.

Aku...aku mana mungkin jadi kacungmu!" sentak Raja Pedang.

Matanya menatap nanar tak percaya pada Raja. Sang pendekar hentikan gerakan tariannya.

Sambil berkacak pinggang, mulutnya mencibir.

"Terima saja takdirmu. Mungkin kau terlalu angkuh dan gelap mata hingga dewa menentukan kau harus membantu aku dalam menyelesaikan masalah besar di bukit Segala Puji Segala Serapah!"

Ucapnya mengingatkan. "Tidak. Mana mungkin."

Tukas Raja Pedang sambil gelengkan kepala.

"Apanya yang tidak? Apanya yang mana mungkin? Kau harus bisa menerima kenyataan."

"Aku jauh lebih hebat dan lebih sakti darimu. Aku tak terkalahkan. Itu yang membuatiu dijuluki Raja Pedang!"

Sentaknya sambil bangkit berdiri.

"Oh begitu? Aku cuma si geblek tolol. Menggunakan pedang kurasa hanya asal-asalan. Kalau kau tidak mau menerima keputusan dewa ya sudah. Tapi aku perlu bertanya padamu,"

Ujar Raja disertai senyum.

"Kau mau bertanya apa Raja Gila?"

"Aku mau bertanya, Ketika halaman sembilan sembilan dibuka. Aku yakin kau pasti melihat sosok yang sedang meragakan jurus-jurus aneh dalam kitab itu... Yang kau katakan memang benar, Lalu. " "Siapa yang kau lihat memainkan jurus itu?"

Tanya sang pendekar sambil kedap-kedipkan matanya. Tanpa ragu Raja Pedang langsung menyahut.

"Aku melihat harimau dan kodok yang memeragakan jurus kuncian itu."

"Ha ha ha! Cocok dan tepat. Lambang, simbol yang kau lihat dengan yang aku lihat berbeda jauh. Itu berarti dihatimu tidak ada ketulusan. Kau masih angkuh dan punya sifat mengagulkan diri."

"Mengapa kau berkata seperti itu?"

"Apakah kau tidak tahu. Harimau adalah simbol keperkasaan,kemarahan dan kesombongan.Sedangkan kodok adalah lambang keangkuhan,mau menangnya sendiri.Tapi perut dan otaknya terlalu dekat dengan tanah. Ha ha ha!"

"Pendekar sedeng, manusia sialan! Kau merendahkan aku? Aku tidak bisa menerima. Aku baru mau membantu dan menjadi kaki tanganmu bila aku sudah mengetahui kehebatanmu!"

Kata Raja Pedang dengan sikap menantang

"Oh betapa sedih aku mendengarnya.Padahal dimataku kau tidak lebih dari harimau ompong dan kodok buduk. Boleh saja kau menjajal kebodohanku dalam menggunakan pedang.Tapi sebaiknya beri aku waktu untuk melakukan sesuatu."

Setelah berkata begitu tanpa menunggu lagi. Raja segera balikkan badan dan bergegas menuju ke semak belukar dibalik pohon.

Menyangka Sang Maha Sakti hendak meninggalkannya. Raja Pedang berseru membentak "Hei, pengecut kau mau kemana?"

"Aku.. aku mau kencing dan buang hajat dulu. Kau mau ikut atau kau menjagai aku yang hendak kencing? Silahkan saja, Ha ha ha!"

Sahut sang pendekar diringi gelak tawa.

Wajah yang terlindung topeng itu berubah merah padam. Dia menggeram pertanda marah. "Raja gila gendeng, edan sialan! Kusangka kau mau minggat melarikan diri!"

Rutuk Raja Pedang sambil kepalkan kedua tinjunya. Dibalik pohon Raja menanggapinya dengan tawa dingin. 

Tamat