Raja Gendeng Eps 15 : Ratu Edan

 
Eps 15 : Ratu Edan


Malam bulan sabit ke enam.

Satu hari menjelang pengorbanan tumbal yang harus ditepati oleh Gagak Anabrang. Dengan ditemani oleh Lor Gading Renggana pengikut paling dekat dan paling disayang.

Laki-laki bertubuh pendek berpakaian serba hijau dan berkumis tipis ini berlaku nekat dengan memasuki kawasan Sindang Pantangan.

Sejak berada di tepi sindang si pendek kerdil yang selalu murah senyum itu sudah nampak gelisah.

Sebagai seorang abdi yang paling setia berpikiran polos kalau tidak dapat dikatakan bodoh, Lor Gading Renggana dikenal sebagai manusia sakti bertubuh besar.

Kecepatannya dalam berlari tidak diragukan lagi.

Tidaklah mengherankan bila majikannya selalu mengandalkan laki-laki besar itu karena kecepatan dan kekuatannya.

"Cepatlah kau kayuh perahu ini. Antarkan aku ke pulau Damai tempat kediaman Ratu Edan!" Perintah Gagak Anabrang begitu memasuki perahu.

Lor Gading Renggana yang bertubuh hitam ditumbuhi bulu-bulu lebat keluarkan suara mengorok. Dengan menggunakan sepuluh jemari tangannya yang besar-besar seperti pisang. Lor Gading

Renggana mulai mengayuh.

Sekali dua tangan mendayung perahu melaju membelah permukaan sindang yang dalam dan berair sejuk .Sambil terus mengayuh perahu dengan dua tangan yang berotot kekar dengan lugu Lor Gading ajukan pertanyaan.

"Gusti junjungan. Mengapa kita hendak menuju ke pulau Damai. Bukankah kawasan pulau dan hutan di sekitarnya dikenal sebagai daerah paling terlarang dimasuki tetamu asing tidak diundang?"

Mendapat pertanyaan seperti itu dari pengikut setianya yang sakti namun tolol, Gagak Anabrang mengumbar tawa bergelak

"Tahu apa kau tentang segala daerah terlarang? Ketahuilah olehmu daerah paling terlarang bagiku paling enak untuk dimasuki. Terbukti istriku sampai sembilan, Ha ha ha...!"

"Junjungan. Saya tidak mengerti. Mohon jelaskan pada saya maksud ucapan gusti junjungan itu?"

Kata Lor Gading Renggana sambil terus mendayung. Di luar dugaan wajah yang murah senyum itu berubah menjadi masam. Dia meludah sekaligus berkata.

"Perlu apa aku memberi segala penjelasan. Kau hanya kacung suruhan. Tugasmu menjalankan perintahku dan tidak lebih dari itu!"

Dengus Gagak Anabrang lalu palingkan kepala menatap lurus ke arah pulau Damai yang saat itu telah berada di depan mata.

Lor Gading Renggana sama sekali tidak tersinggung apalagi marah mendengar ucapan majikannya.

Sebaliknya dia manggut-manggut sambil katubkan mulutnya.

Perahu didayung cepat membuat benda sepanjang dua tombak dengan lebar tidak lebih dari setengah tombak itu laksana terbang dipermukaan air.

Melihat pembantu setianya melakukan tugas dengan bersemangat. Gagak Anabrang tertawa tergelak-gelak. Sambil tertawa laki-laki pendek itu membuka mulut.

"Ini yang aku mau. Tidak banyak bicara tapi banyak kerja. Ha ha ha!"

Lor Gading Renggana atau yang biasa disapa Lor Gading saja oleh Gagak Anabrang diam tidak menanggapi.

Namun selagi Gagak Anabrang mengumbar tawa bergelak, tiba-tiba saja dari balik kegelapan di balik pepohonan yang tumbuh subur di kawasan pulau terdengar suara bentakan menggelegar.

"Semua tamu tidak diundang! Siapapun orangnya bila berani memasuki pulau yang menjadi tempat kediamanku. Sudah selayaknya mendapat hukuman berat dariku!"

Gagak Anabrang tercekat.

Mulut terkatub dan suara tawanya lenyap seketika.

Tanpa menunggu dia memandang ke satu jurusan tempat dari mana suara teriakan mengandung teguran berasal.

Mata jenaka sosok laki-laki bertubuh pendek itu berputar liar, lalu terbelalak melotot seakan hendak melompat dari dalam rongganya.

Ketika itu dia melihat sebuah benda hitam kecoklatan berbentuk bulat lonjong seperti keranjang menderu dan berputar ganas menuju ke arahnya.

Suara deru menggidikkan menyertai berputarnya benda yang ternyata memang keranjang yang terbuat dari anyaman rotan kasar.

Melihat keranjang rotan itu, Gagak Anabrang yang sangat memahami tabiat pemilik pulau yang aneh segera maklum orang yang dicarinya memang berada di dalam keranjang yang berukuran cukup besar.

Mengingat kedatangannya tidak membekal maksud yang buruk maka sebelum keranjang rotan menyambar kepalanya, Gagak Anabrang yang duduk dibagian depan perahu segera berseru.

"Ratu Edan penguasa Alas Sindang Pantang harap tidak salah faham. Aku Gagak Anabrang bersama pembantuku Lor Gading datang hendak menyambangimu dengan maksud baik.Jangan menyerang kami. Kumohon!"

"Aku sudah menduga, aku juga sudah melihat. Yang satu bertubuh besar seperti kerbau dungu.

Dan satunya lagi yang bertingkah selayaknya penguasa dunia bertubuh kuntet. Siapa lagi kalau bukan penguasa paling kaya di seluruh tanah Dwipa."

Kata suara dari balik keranjang yang masih terus berputar.

Walau hati merasa marah dihina begitu rupa, namun Gagak Anabrang merasa lega karena Ratu Edan masih mengenali dirinya. Dengan mulut mengumbar senyum dia berkata.

"Ratu Edan... perkenankan diriku jejakkan kaki di bibir pulau. Izinkan aku bicara denganmu! Jangan menyerang jangan pula mencelakai. Karena aku benar-benar datang dengan membawa maksud damai."

Ucap Gagak Anabrang.

Diatas ketinggian bergerak naik turun, keranjang rotan yang bagian lingkarannya dipenuhi gerigi laksana mata pisau berputar perlahan dan berhenti didekat perahu yang semakin mendekati bibir pulau. Dalam keadaan mengapung diketinggian.

Dari balik keranjang yang dikenal dengan sebutan singgasana Ratu Edan terdengar jawaban bernada mencemo'oh.

"Lima belas tahun sudah aku tidak melihat batang hidungmu. Lima belas tahun hubungan kita sebagai sahabat sudah kau lupakan."

"Persahabatan menjadi putus karena kau tidak mau mengikuti jalan hidup yang kupilih!" Potong Gagak Anabrang.

"Buat apa aku mengikuti jalan hidupmu yang penuh dosa bergelimang darah penderitaan orang lain."

"Tapi kau sudah melihat sendiri. Kini hidupku benar-benar mengalami perkembangan yang pesat.

Aku menjadi kaya bahkan orang yang paling kaya di seluruh tanah Dwipa."

"Hik hik hik. Aku tahu. Semua kekayaanmu itu kau dapatkan dari hasil persekutuan dengan Yang Terlaknat Dari Alam Baka dan menindas rakyat dengan berbagai beban upeti yang menyengsarakan." Dengus orang di balik keranjang sinis.

Gagak Anabrang menelan kemarahannya.

Kalau saja tidak mengingat hubungan persahabatan lama ingin sekali dia melabrak orang di dalam keranjang rotan itu.

Namun mengingat dia mempunyai suatu maksud yang tidak dapat dihindari maka laki-laki itu memilih untuk mengalah.

Sambil mengulum senyum dia berkata, "Sahabatku. Aku tidak ingin berdebat denganmu.Yang terpenting sekali lagi aku mohon izinkan aku jejakkan kaki di pulaumu."

"Tidak, kau harus ingat. Tempat tinggalku ini pulau yang suci. Tidak sembarang orang boleh masuk, apalagi manusia sepertimu."

Penegasan orang di dalam keranjang rotan yang tak lain adalah Ratu Edan itu membuat wajah yang selalu tersenyum ramah itu berubah menjadi merah padam. Sekali lagi sambil menahan rasa kecewa di hati, Gagak Anabrang berkata.

"Ratu Edan. Sungguh kau tidak memandang muka padaku. Kau tidak mau mengingatku sebagai seorang sahabat? Aku datang dengan suatu maksud dan ingin menyampaikan suatu permintaan."

"Lain dulu lain sekarang. Kalau ingin mengatakan sesuatu lebih baik kau katakan sekarang.

Perintahkan kacung suruhanmu itu untuk berhenti mendayung. Kalau tidak aku akan menghancurkan kedua tangannya,"

Kata Ratu Edan mengancam.

"Gusti Junjungan. Saya lagi senang- senangnya mendayung mengapa dilarang? Saya tidak senang. Dan mengapa tidak gusti perintahkan pada saya untuk menghancurkan perempuan di dalam keranjang itu?"

Tanya Lor Gading Renggana tampak tidak puas.

"Kau diam. Jangan bertingkah. Ikuti perintahku tak usah membantah. Cepat, berhentilah mengayuh perahu!"

Hardik Gagak Anabrang.

Walau hati menggerutu, tidak puas juga kecewa, namun Lor Gading Renggana memang tidak punya pilihan lain.

Dengan menahan segenap kegusaran laki-laki bertubuh besar berkepala kecil dan bodoh itu cepat angkat tangannya untuk tidak mengayuh perahu lagi.

Bersamaan dengan itu dari mulutnya keluarkan ucapan menggembor. "Sekarang apakah kau puas? Aku sudah tidak mengayuh perahu sialan ini!"

Mendengar ucapan Lor Gading ditujukan pada dirinya, sang Ratu yang berada di ranjang rotan siap hendak mendamprat. Namun dia yang berada di atas ketinggian segera urungkan niat ketika melihat disekeliling perahu yang ditumpangi Gagak Anabrang dan pengikut setianya itu tiba-tiba bermunculan gelembung-gelembung aneh.

Selagi Penguasa Alas Sindang Pantangan ini tertegun dan bertanya-tanya dalam hati. Tiba-tiba air bergolak seperti mendidih.

Seiring dengan itu perahu yang ditumpangi Gagak Anabrang tiba-tiba berputar-putar cepat laksana titiran seolah mereka terjebak dalam arus pusaran air.

Kejut dihati Gagak Anabrang dan Lor Gading bukan kepalang. Kedua orang itu saling berpandangan dengan wajah pucat "Gusti junjungan, apa yang terjadi?"

Tanya Lor Gading sambil cepat cengkeram kedua sisi perahu, berusaha menjaga keseimbangan perahu agar tidak terbalik atau tenggelam.

Gagak Anabrang gelengkan kepala.

Menyangka kejadian yang dialaminya merupakan tipu muslihat Ratu Edan, laki-laki ini cepat dongakkan kepala menatap ke atas ketinggian.

Dengan mata mendelik dia berteriak pada sosok berpakaian serba biru yang duduk di dalam keranjang.

"Jahanam! Apa yang kau lakukan terhadap perahu kami, Ratu Edan?"

Dalam keterkejutannya Gagak Anabrang ternyata tidak lagi menghiraukan apa yang menjadi maksud kedatangannya. Kemarahan karena merasa direndahkan juga dipermainkan membuatnya kalap dan gelap mata.

"Hik hik hik! Sindang luas yang mengelilingi pulauku memang dipenuhi perangkap yang dapat membuat seseorang celaka. Namun semua perangkap maut itu saat ini sedang tidak kupergunakan. Aku sendiri tengah berpikir gerangan apa yang terjadi dengan perahumu dan apa pula yang berada di kedalaman air sana."

"Perempuan edan penipu, ratu gila! Siapa yang percaya dengan bualanmu! Mampuslah kau...!"

Teriak Gagak Anabrang lalu hantamkan kedua tangan ke atas tepat ke arah keranjang rotan tempat di mana Ratu Edan duduk bersila.

Melihat Gagak Anabrang menyerang dengan ilmu pukulan sakti ganas, Ratu Edan menyadari bahwa bekas sahabatnya itu memang punya niat keji ingin membuatnya celaka.

Ratu Edan menggeram sedangkan mulutnya mendamprat.

"Diberi ingat bukannya segera mencari selamat. Sebaliknya malah melontarkan fitnah laknat menuduh diriku yang tidak berbuat jahat. Dasar manusia sesat dan bejat."

Teriak Ratu Edan.

"Aku mengenal semua ilmu yang kau miliki, Gagak Anabrang. Aku bahkan mengenal isi perutmu sampai dengan warna kotoranmu. Kau hendak menghabisi aku dengan pukulan sakti Palu Bumi Membelah Langit? Kau mengira seberapa hebat kekuatan palumu.Bila kau tidak segera minta maaf pada gusti ratumu dan menarik balik seranganmu. Bukan mustahil para dewa bakal mendampratmu.Hik hik hik!"

Berkata begitu Ratu Edan yang berada di dalam keranjang sakti itu goyangkan benda yang didudukinya.

Keranjang Rotan bergoyang keras, lalu berputar meliuk dan menghindar dari serangan yang datang.

Dua pukulan ganas menebar hawa panas memancarkan cahaya biru berbentuk palu menderu namun gagal mengenai sasaran.

Ketika dua pukulan mencapai titik tertingginya, cahaya berbentuk palu akhirnya meledak menjadi kepingan.

Udara disekitarnya tergetar.

Keranjang rotan yang dikenal dengan sebutan Singgasana Ratu Edan terguncang akibat ledakan dan sempat pula terombang-ambing.

Melihat lawan lolos bukannya menyadari kekeliruan yang dia lakukan. Sebaliknya Gagak Anabrang malah bertambah penasaran.

"Mungkin kau tahu semua jenis ilmu pukulanku yang dulu, namun apakah kau tahu juga ilmu kesaktianku yang baru. heaaaa. !"

Sambil keluarkan seruan keras Gagak Anabrang lambungkan tubuhnya ke udara.

Dan ketika laki laki itu melesat ke atas ketinggian lalu pun kembali hantamkan tinjunya ke arah Ratu Edan.

Gagak Anabrang sudah terbapar amarah.

Dia tidak menyadari ketika perhatiannya tertujuh ke arah Ratu Edan yang berada di dalam keranjang sakti, perahu yang ditumpanginya semakin terseret ke dalam pusaran air.

Pusaran itu semakin lama semakin menyedot ke dasar air.

Walaupun Lor gading berusaha keras mempertahankan perahu agar tidak terbalik atau tenggelam, tapi ketika Gagak Anabrang lambungkan diri ke udara perahu jadi kehilangan keseimbangan.

Perahu oleng dan sebelum perahu amblas lenyap tersedot pusaran arus Lor Gading sempat berseru kepada majikannya.

"Gusti junjungan. Perahu tak dapat saya pertahankan! Saya... blep. !"

Lor Gading yang selalu menutupi wajahnya dengan kain hitam itu amblas lenyap bersama perahunya. Sementara dari tangan Gagak Anabrang yang terkepal saat itu menderu satu cahaya aneh berkelok-kelok tak ubahnya kilat. Cahaya itu terus melesat siap menghancurkan keranjang dan penghuninya. Ratu Edan diam-diam terkejut. Dalam hati dia berkata. "Ilmu serangan apa yang dipergunakan si kerdil ini. Bentuknya seperti cambuk, tapi juga mirip petir. Dia telah berlaku nekat. Tidak hanya nekat tetapi juga tolol. Dia tak tahu perahu yang ditumpanginya telah amblas tersedot sesuatu yang berada di bawah sana."

Hati berkata begitu, namun mulut menyeringai sunggingkan senyum mengejek

"Gagak Anabrang.Hebat juga seranganmu. Apakah ini ilmu pukulan sakti yang baru? Tapi ketahuilah, walau aku tidak mengenal ilmu pukulanmu yang satu ini. Namun aku tahu cara menghancurkannya!"

Seru Ratu Edan lagi-lagi disertai tawa mengikik.

Dan sesaat sebelum kilatan cahaya menghantam hancur keranjang sakti termasuk diri sang ratu.

Perempuan berpakaian serba biru itu kibaskan tangan kanannya ke bawah tepat ke arah di mana kilatan cahaya datang menggebu.

Dua buah benda seukuran rambutan berwarna hitam pekat menebar bau aneh menusuk berkelebat dan langsung menyambar serangan yang dilakukan Gagak Anabrang.

Benturan keras tak dapat dihindari lagi.

Bersamaan dengan itu terdengar pula suara letupan. Dher!

Dher!

Di atas ketinggian Ratu Edan tertawa mengikik.

Sementara di bawahnya tepat dipermukaan air Gagak Anabrang yang sempat terjajar akibat terjadinya ledakan kini dibuat terkesima ketika menyadari tidak ada lagi tempat baginya untuk berpijak

"Lor Gading...di mana kau?" Pekiknya.

Sekuat tenaga dia berusaha menahan diri agar tidak sampai jatuh tercebur ke dalam air.

Dan berkat ilmu meringankan tubuhnya ditambah dengan ilmu Kodok Mengapung di atas air maka walaupun pada akhirnya terjatuh tetapi tidak membuatnya tenggelam.

Sambil menyumpah Gagak Anabrang segera menggerakkan kedua tangan mengayuh diri yang melembung seperti karet menuju ke tepian.

Melihat upaya yang dilakukan penguasa kaya raya yang satu ini. Ratu Edan tak kuasa menahan tawanya.

"Hei sahabatku. Melihat dirimu bertingkah seperti kodok membuatku tak kuasa menahan tawa dan juga merasa iba. Kau dikenal sebagai orang sakti berkepandaian tinggi, banyak orang yang takluk padamu. Tapi kini kau tidak lebih daripada seekor kecoak yang tidak berdaya. Hi hi hi...!"

Mendengar ucapan yang bernada mengejek Gagak Anabrang sangat murka. Dia menjadi geram, sementara sambil terus menuju ke tepi mulutnya berucap.

"Di dalam air segenap kekuatan yang kumiliki tak dapat kugunakan sepenuhnya. Tapi bila berada di daratan, jangan harap kau bisa lolos dari kematianmu!"

"Kedengarannya sangat menyeramkan. Tapi. "

Belum sempat sang Ratu menyelesaikan ucapannya. Tiba-tiba dia mendengar suara mengiang di telinganya.

"Gusti Ratu. Dimana Gusti berada. Harap kembali secepatnya! Istana Damai diserang dan dihancurkan orang. Kami tidak mungkin bisa bertahan lebih lama. Orang yang datang menyerang sangat sakti luar biasa dan rasanya kami berdua tak mungkin bisa menahannya lebih lama."

Ratu Edan yang sangat mengenali suara orang yang baru menyampaikan pesan diam-diam dibuat tercekat.

Seketika dia menatap ke arah bangunan yang terdapat di tengah pulau. Kejut dihati ratu berwajah cantik yang berdandan menor itu bukan kepalang ketika melihat dalam gelapnya malam muncul kobaran api menjulang tinggi

"Celaka...istanaku. !"

Desisnya.

"Aku harus ke sana!"

Kata sang ratu memutuskan.

Tanpa membuang waktu lagi sang ratu yang masih gadis ini segera menggoyangkan keranjang sakti yang didudukinya.

Keranjang yang tadinya hanya melayang berputar-putar disekitar sindang kini melesat cepat menuju ke tengah pulau.

Melihat lawan pergi. Gagak Anabrang yang saat itu telah berhasil menyelamatkan diri ditepi sindang berteriak.

"Perempuan pengecut! Hendak kemana kau? Hendak melarikan diri selayaknya pengecut?!" "Sahabatku. Sebenarnya aku masih ingin melanjutkan perkelahian denganmu sampai seribu jurus.

Sayang masih ada kepentingan lain yang harus aku selesaikan. Maafkan aku, mudah- mudahan kau masih hidup sampai malam sabtu kliwon bulan sabit ke tujuh sehingga aku dapat membunuhmu! Hi hi hi. !"

Sahut Ratu Edan. Ternyata walau hatinya cemas sang Ratu masih juga sempat bergurau. "Gadis gila! Selagi masih ada kesempatan aku ingin mengatakan sesuatu yang sangat penting

padamu!"

"Simpan saja keinginanmu di dalam perutmu, kalau perlu biarkan sampai membusuk!" "Betul-betul perempuan jahanam"

Geram Gagak Anabrang sambil membanting kakinya. Hantaman kaki yang dilakukan dalam keadaan dilamun amarah dan kecewa membuat tanah disepanjang tepian sindang mengalami guncangan dahsyat laksana dilanda gempa.

Tapi Gagak Anabrang masih juga penasaran hingga dia melontarkan caci maki dan sumpah serapah.

Segala kemarahannya kemudian mereda begitu dia ingat dengan Lor Gading Renggana Karena tak mungkin dapat menyusul Ratu Edan yang berada diseberang sindang, Gagak Anabrang pun kini layangkan pandang ke tengah sindang.

Setelah menatap ke tengah sindang dalam waktu yang cukup lama Gagak Anabrang tidak menemukan orang yang dicari. Dia yang menyangka kemalangan pengikutnya merupakan perbuatan Ratu Edan segera mendamprat.

"Ratu Edan. Jika Lor Gading Renggana sampai celaka apalagi tewas aku bersumpah akan mempesiangi tubuhmu yang cantik dan mulus itu!"

Geramnya sambil kertakkan rahang. Laki-laki cebol ini diam sejenak.

Lalu tercenung, mata menatap kosong sedangkan pikiran kusut dipenuhi berbagai macam persoalan.

Selagi Gagak Anabrang tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan.

Tak jauh di depannya tiba-tiba dia melihat muncul gelembung- gelembung air ditepi sindang. Bersamaan dengan itu sayup-sayup dia mendengar ada suara orang berkata.

"Gagak Anabrang! Apakah kau cemas memikirkan nasib manusia tolol piaraanmu yang selama ini kau jadikan kuda? Ketahuilah... dia berada dalam cengkeramanku. Semula aku berniat menculiknya, namun setelah lama kurenungkan ternyata dia adalah mahluk tidak berguna maka dengan sangat senang aku mengajaknya berjalan-jalan dalam air melihat pemandangan indah di dasar sindang. Tapi karena terlalu rewel dan tidak menurut, maafkan aku bila terpaksa berbuat jahil."

Ucapan lenyap disusul dengan gelak tawa. Merasa ada yang menertawakan disaat diri dalam keadaan kalut.Gagak Anabrang mendamprat.

"Iblis busuk bersembunyi di dalam sindang. Siapapun dirimu cepat tunjukkan diri!"

"Pengikutmu! Kau lupa pada pengikut setiamu. Dia dulu yang muncul baru kemudian aku menyusul mengikuti. Ha ha ha!"

Gagak Anabrang hanya bisa mendelik.

Tangan terkepal mengeluarkan suara berkeretekan. Suara tawa lenyap.

Kemudian seakan dimuntahkan dari perut bumi.

Satu tubuh besar yang bukan lain adalah Lor Gading melesat ke udara.

Air ditepian sindang muncrat bertebaran membumbung mengikuti gerakan Lor Gading, lalu luruh berjatuhan di permukaan menimbulkan riak-riak kecil.

Melihat tubuh Lor Gading hampir menghempas diatas bebatuan, Gagak Anabrang tak ingin pengikut setianya itu mengalami nasib celaka.

Dengan gerakan yang enteng sambil mendengus dia berkelebat menyambar Lor Gading.

Ketika tubuh berat Lor Gading berhasil diraihnya dia segera membawanya ke tempat yang aman. Lor Gading lalu dia turunkan dari pondongan.

Laki-laki berkepala kecil itu megap-megap sambil mengomel, Gagak Anabrang segera menekan dada Lor Gading yang diketahuinya masih hidup.

Namun sekujur tubuhnya dipenuhi luka-luka lembam bengkak seperti bekas pukulan. "Bangun... bangun bodoh! Mengapa tubuhmu yang biasanya kebal segala macam pukulan kini

babak belur tak karuan begini?"

tanya Gagak Anabrang terheran-heran.

Orang yang ditanya walau mendengar namun tak bisa menjawab.

Sebaliknya dia terbatuk-batuk beberapa kali kemudian dari mulut dan hidung semburkan cairan bercampur beberapa ekor ikan kecil yang ikut tersedot amblas ke perut saat Lor Gading berusaha selamatkan diri. Setelah muntahkan semua air yang masuk ke dalam rongga pernafasan dan perutnya. Lor Gading Renggana akhirnya sadar sepenuhnya.

Dia pun segera bangkit.

Setelah duduk sambil senderkan punggung pada batu dibelakangnya. Lor Gading membuka mulut menjawab pertanyaan junjungannya.

"Maafkan saya gusti junjungan. Saya-saya bukan saja tidak bisa berenang. Tapi segala ilmu kesaktian saya menjadi lemah bila berada di dalam air. Saya tidak berdaya. Saya bahkan tidak bisa melawan ketika orang menggebuk dan mencubiti tubuh saya."

"Memangnya apa yang terjadi? Siapa yang menyerangmu di dalam air?"

Tanya Gagak Anabrang. Sejenak dia nampaknya lupa dengan orang yang bicara melalui suara ngiangan.

Lor Gading menghela nafas. Tidak lama setelah jalan nafasnya menjadi lebih baik dia berkata. "Saya tidak tahu siapa mahluk yang bersembunyi dalam air itu. Sebelum perahu ditenggelamkan

dan menyeret, membetot saya ke dalam air. Saya melihat wajah. Wajah yang pucat seperti mayat, berpakaian seperti pocongan. Saya hanya bisa menduga kemungkinan dia pocong penunggu sindang!"

"Pocong penunggu sindang. Dia mengetahui kelemahan ilmu serta kelemahanmu yang tidak bisa berenang. Aku yang menjadi majikanmu tidak mengetahui tentang hal ini. Edan...!"

Geram Gagak Anabrang.

"Gusti junjungan. Maafkan saya sekali lagi. Saya memang tidak pernah menceritakan karena takut junjungan mencelakakan saya." Jawab Lor Gading terbata-bata.

"Takut aku celakai? Nyatanya kau hampir dibuat celaka orang lain."

Damprat Gagak Anabrang. Secepat kilat dia bangkit berdiri. Lalu dengan mata melotot menatap ke arah sindang dia berteriak

"Hai kunyuk yang mendekam dalam sindang cepat tunjukkan dirimu agar aku dapat melihat rupa tampangmu!"

"Jangan hanya berani bicara dengan suara mengiang saja!" Sunyi.

Tidak ada jawaban.

Gagak Anabrang terus menunggu dengan hati penasaran.

Sementara itu Ratu Edan yang berada dalam keranjang diketinggian menuju kembali ke sebuah bangunan berlantai panggung yang disebutnya istana Damai.Sang Ratu sebenarnya sempat melihat ada sebuah benda lain melayang melesat menembus kegelapan malam.

Dia tidak sempat memperhatikan benda apa gerangan yang berkelebat di sisi sebelah kirinya itu, karena perhatiannya sendiri saat itu tertuju ke arah kobaran api yang telah membakar bangunan cukup megah yang menjadi kesayangannya.

Dugaan Ratu Edan ternyata tidak berlebihan.

Benar saja ketika dia hampir mendekati halaman ,sang ratu melihat bangunan besar berlantai panggung berbentuk rumah adat Minang Kabau itu telah musnah dilalap api. Hanya tinggal puing dan beberapa tiang penyangga yang tersisa.

Ratu Edan menggeram. Dua tangan ditekankan ke arah dua sisi mulut keranjang sakti. Begitu ditekan keranjang bergerak turun ke bawah.

Satu tombak sebelum keranjang menyentuh halaman. Ratu Edan segera melesat keluar tinggalkan benda aneh yang selalu membawanya kemanapun dia pergi.

Begitu jejakkan kaki di halaman istana gadis berpakaian biru ini dongakkan kepala menatap ke keranjang.

"Melambunglah yang tinggi, kembali ke tempat peristirahatanmu. Jika aku membutuhkan aku akan memanggilmu."

Kata sang Ratu.Seakan mempunyai nyawa mata dan telinga, keranjang sakti itu bergoyang-goyang

Lalu....

Wuus!

Sekali keranjang melesat menuju ke ketinggian, hanya sekedipan mata lenyap dari pandangan. Ratu Edan segera berlari mengitari halaman istananya, mata jelalatan liar mencari-cari "Jubah sakti dan Jubah Api, di mana kau. ?" Seru sang Ratu memanggil nama dua orang kepercayaan yang selama ini bertugas menjaga istananya.

Tidak ada jawaban.

Ratu Edan dengan hati cemas segera berlari menuju ke halaman belakang.

Di sana dia melihat dua sosok tubuh terkapar, jubah hangus dan tubuh dalam keadaan hancur nyaris tidak berbentuk.

Ratu Edan yang masih mengenali sosok yang berada di depannya segera datang menghampiri. Dia bersimpuh, tubuh yang dalam posisi rebah miring ditelentangkan.

Kemudian dia melihat seraut wajah bersimbah darah nampak megap-megap. Rambut panjang yang biasa terlindung topi jubah hangus.

"Jubah Sakti apa yang terjadi? Siapa yang melakukan semua kekejian ini?"

Tanya sang Ratu. Si Jubah Sakti yang aslinya adalah seorang gadis pemalu berusaha menjawab. Tapi banyaknya gumpalan darah yang menyekat menyumbat batang tenggorokan membuat si

Jubah Sakti jadi kesulitan untuk menjawab.

Ratu Edan membuat beberapa totokan di bagian paru-paru dan jantungnya. Dengan suara terbata-bata Jubah Sakti akhirnya membuka mulut.

Dengan suara bergetar dia berkata. "Gus... Ratu Edan ."

"Gus apa? Katakanlah siapa orang yang melakukan ini agar kau tidak pergi dengan sia-sia." Desak sang Ratu.

"Gus-ti... iblis itu datang dari langit. Dia membawa bendera darah. Dia datang dan bertanya apakah gusti Ratu menyembunyikan seorang gadis keramat bernama Dadu Sirah Ayu!"

"Gadis keramat? Dadu Sirah Ayu... oh rupanya gadis dambaan para siluman itu yang diincarnya.

Tapi siapa monyet gila itu? Dengan apa dia sampai kemari?" Tanya Ratu Edan sambil menatap pengawalnya lekat-lekat "Perahu Setan. !"

"Apa? Dia naik perahu. Perahu Setan itukah yang kau maksudkan?" Tanya Ratu Edan dengan suara menyentak.

Tidak ada jawaban.

Sang Ratu mengguncang bahu pengawalnya. Kepala itu justru terkulai.

Jubah Sakti tewas dengan mata mendelik. Ratu Edan diam terkesima.

Nafasnya tersengal, tatap mata meredup, Dia menarik nafas sambil menggeleng berulang kali. Tidak ada kata-kata yang terucap.

Namun jelas Ratu Edan cukup terguncang melihat kematian pengawalnya. Kemudian dengan jemari tangannya dia mengusap kedua mata yang terbuka itu. Sebelum bangkit berdiri.

Dari mulutnya terdengar ucapan.

"Maafkan aku Jubah Sakti. Aku tidak melupakan apa terjadi malam ini. Aku bersumpah demi ibuku yang telah menjadi memedi, kematianmu tidak akan sia-sia."

Ratu Edan akhirnya bangkit.

Dengan langkah gontai dia menghampiri si Jubah Api. Setelah mendekat dan berada di depan Jubah Api. Ratu Edan kembali dibuat tercengang.

Dia melihat Jubah Api keadaannya jauh lebih mengenaskan dibandingkan Jubah Sakti. Sekujur tubuh Jubah Api selain hangus juga dipenuhi luka seperti direjam.

Badan tercabik- cabik, kepala rengat, hidung amblas remuk. Hanya jubahnya saja yang masih utuh.

Seperti diketahui jubah yang dipakai oleh laki-laki muda satu ini bukan cuma sekedar jubah pelindung tubuh, tapi juga merupakan jubah yang dapat mencetuskan api.

Dan jubah itu tidak akan hangus walau diberangus kobaran api sehebat apapun

"Semua kejadian ini menjadi malapetaka yang sangat berat bagiku. Hilang sudah istanaku yang damai. Apa yang terjadi dirimba persilatan? Mengapa diriku ikut terseret ikut terbawa-bawa?"

Ucap Ratu Edan sedih. Gadis ini diam termenung.

"Perahu Setan? Pasti bangsat misterius yang berada di dalam Perahu Setan itu yang telah menghabisi kedua pengikutku! Tadi aku melihat ada benda melesat diketinggian. Pastilah itu tadi adalah Perahu Setan!"

Geram Ratu Edan. Sejurus dia terdiam.

Terpikir olehnya apakah harus menguburkan jenazah kedua penjaganya lebih dulu ataukah segera lakukan pengejaran.

Ratu Edan memilih langkah kedua.

Namun selagi dia berniat tinggalkan mayat kedua pengikutnya tiba-tiba sang Ratu mendengar suara dengung halus dibelakangnya.

Laksana kilat Ratu Edan balikkan badan sambil mengangkat tangan siap lancarkan pukulan sakti.

Tapi segala niatnya menjadi urung begitu dia melihat tiga kunang-kunang terbang mengapung di depannya.

Memperhatikan tiga kunang-kunang yang dua kurus dan satu gemuk, kening Ratu Edan jadi berkerut.

Seumur hidup dia menetap tinggal dipulau damai belum pernah sekalipun dia melihat ada kunang-kunang muncul di tempat itu. "Tiga kunang-kunang!"

Ratu Edan membentak.

"Jika kalian datang dengan membekal maksud yang baik, kuharap segera tunjukkan diri. Tapi bila kalian datang ingin membuat kekacauan, aku bisa membuat tubuh kalian hancur lebur."

"Jangan! Jangan hancurkan kami. Aku sahabatmu!"

Tiba-tiba terdengar suara dari salah satu kunang-kunang yang berada di bagian depan. "Kami orang baik. Jangan dibuat hancur. Jelek-jelek begini aku juga masih ingin hidup lebih

lama!"

Timpal kunang-kunang bertubuh gemuk yang bukan lain adalah wujud penjelmaan seorang kakek bertubuh gendut Kelut Birawa.

Ratu Edan yang sedang dirundung duka dan perasaan kalut tidak sempat berpikir jernih. Walau terkejut tak menyangka kunang- kunang bisa bicara.

Namun sambil turunkan tangan kanannya yang teraliri tenaga dalam dia berkata. "Sahabatku! Siapapun dirimu harap tunjukkan diri. Jangan membuatku berlaku nekat berbuat

gila!"

"Baiklah!"

Kata kunang-kunang yang berada di depan.

Binatang malam itu kemudian memutar tubuhnya tiga kali.

Cahaya biru yang memancar dari kunang-kunang menyala lebih terang. Gerakan kunang-kunang pertama diikut oleh dua kunang-kunang lainnya. Lalu....

Byar! Byar!

Tiga kunang-kunang keluarkan suara berdesis disertai kepulan serta tebaran asap biru. Ketiga mahluk lenyap.

Begitu tebaran asap biru sirna di depan Ratu Edan berdiri tegak seorang gadis cantik bersama dua orang kakek.

Ratu Edan hanya mengenali salah satu kakek itu, namun dia tidak kenal dengan kakek gendut berpakaian putih tak terkancing serta gadis cantik bergaun putih berenda.

"Raden Pengging Ambengan sahabatku!" serunya gembira.

"Maafkan aku, aku kira dirimu siapa? Tidak biasanya kau datang dengan menyaru menjadi kunang-kunang." kata Ratu Edan.

Lalu sang Ratu palingkan kepala menatap ke arah Kelut Birawa dan gadis cantik yang bukan lain adalah Dadu Sirah Ayu. "Siapa dua sahabat itu?"  

Raden Pengging Ambengan tersenyum "Dia adalah sahabatku."

Jawab si kakek kurus berpakaian lurik bertubuh kurus kering macam jerangkong itu. Selanjutnya Raden Pengging Ambengan memperkenalkan Kelut Birawa Juga Dadu Sirah •yu.

Ratu Edan manggut-manggut. "Lama kita tidak bertemu." Kata Ratu Edan.

"Saat kau muncul ditempat ini. Keadaanku kacau sekali. Istana Damai hancur menjadi debu dibakar orang."

Terang sang Ratu dengan wajah murung.

Raden Pengging, Kelut Birawa juga Sirah Ayu layangkan pandang berkeliling.

Ketika melihat dua mayat tergeletak tak jauh disebelah kanannya gadis ini menjadi kaget lalu tanpa sadar dekati Kelut Birawa dan bersembunyi di belakang orang tua itu.

"Tidak apa-apa, gadis ayu. Kedua mayat itu adalah para pengawalku."

Menerangkan sang Ratu

"Kekacauan apa yang terjadi di sini. Apakah baru saja terjadi kebakaran dahsyat? Wah kita datang terlambat, sahabatku jerangkong,"

Celetuk Kelut Birawa.

Di panggil kakek jerangkong oleh sahabatnya Kelut Birawa, Raden Pengging sama sekali tidak menanggapinya.

Karena dia tahu Kelut Birawa bermaksud bergurau.

Sebaliknya dengan menunjukkan keperihatinan mendalam dia membuka mulut ajukan pertanyaan.

"Aku turut merasa prihatin atas semua musibah dan malapetaka ini Ratu Edan. Semoga para dewa di kayangan sana memberikan ketabahan hati padamu. Tapi aku ingin mendengar apakah kau telah tahu siapa gerangan yang telah membakar istanamu dan membunuh Jubah Sakti dan Jubah api?"

Gadis cantik berdandan menor itu manggut-manggut sambil menggigit bibir yang dipoles sejenis pewarna berwarna merah menyolok.

Walau hatinya dirundung sedih dan kemarahan serasa membakar rongga dada, namun dengan seketika gadis periang ini dapat melenyapkan segala kegalauan di hati.

Dengan sikap tegar dia menjawab.

"Aku sudah tahu. Ada yang ingin kutanyakan padamu. Apakah kau pernah mendengar kehadiran seorang tokoh aneh tidak bernama. Orang itu selalu datang dan pergi dengan menumpang sebuah perahu berwarna darah. Perahu itu dikenal dengan nama perahu Setan."

Ditanya sedemikian Raden Pengging yang memiliki pengalaman luas dan penglihatan mata batin tajam terdiam. Hanya sepasang matanya yang cekung menjorok ke dalam yang berkedap- kedip.

Belum sempat Raden Pengging menjawab, Sirah Ayu tiba-tiba berkata.

"Kakek! Raden penghuni perahu Setan bukankah salah satu diantara orang jahat yang menginginkan diriku?"

"Kau benar."

Menyahuti si kakek. Kemudian ditujukan pada Ratu Edan dia berkata.

"Aku tidak mengenal siapa mahluk misterius penghuni Perahu Setan. Dibandingkan Gagak Anabrang dia sama bejatnya. Meskipun tidak mengenal namun aku tahu penghuni Perahu Setan itu diam di sebuah tempat asing antara langit dan bumi. Dan tempat itu dikenal dengan nama Awan Cadas Setan. Tidak disangka mahluk sesat itu ternyata telah datang ke Istana Kesayanganmu.

Apakah dia ada mengatakan sesuatu?"

Kata si kakek disertai tatap mata menyelidik

"Aku tidak sempat bertemu. Saat dia datang menghancurkan tempat ini aku sedang berada dikawasan sindang, karena disana muncul Gagak Anabrang...!"

Jelas Ratu Edan. Sirah Ayu menjadi kaget mendengar penjelasan Ratu Edan. "Ih Iblis itu. Aku takut...!"

Kata Dadu Sirah Ayu dengan tubuh mengkeret menggigil ketakutan. "Jangan takut."

Sahut Kelut Birawa berusaha menenangkan. Kemudian pada Ratu Edan si gendut ajukan pertanyaan.

"Apakah kau telah membunuh manusia jahat yang satu itu Ratu?"

"Tidak. Aku belum sempat menghabisinya. Saat itu tiba-tiba salah satu pengawal penjaga istana memanggilku."

"Sayang. Harusnya bangsat yang satu itu mendapat hukuman berat atas segala dosa dan kesengsaraan yang telah diperbuatnya kepada banyak orang."

"Dia pasti bakal mendapat hukuman."

Jawab Ratu Edan. Kemudian pada Raden Pengging sang Ratu menerangkan.

"Menurut Jubah Sakti sebelum menghembuskan nafasnya yang terakhir, penghuni Perahu Setan datang kemari karena ingin mengetahui apakah aku menyembunyikan Dadu Sirah Ayu."

"Orang yang dimaksudkan mahluk itu adalah saya Gusti Ratu. Karena saya banyak orang tidak bersalah menjadi korban. Saya merasa sedih dan mungkin jalan terbaik untuk mengakhiri semua ini adalah dengan kematian saya sendiri. Kalau saya mati, tentu tidak akan ada lagi pertumpahan darah." Ucap Sirah Ayu polos namun juga bersedih hati. "Hus! tidak boleh bicara begitu gadis cantik." Sergah Ratu Edan sambil tersenyum.

"Kita disini semuanya adalah sahabat. Antara satu dengan yang lain harus saling melindungi." "Benar yang dikatakan Ratu, kita memang harus saling melindungi. Jangan menyalahkan diri

sendiri. Kau sama sekali tidak berdosa. Sirah Ayu."

Kata Raden Pengging memberi dukungan. Walau jauh dilubuk hati merasa gundah, namun dukungan-dukungan yang diberikan oleh orang-orang disekelilingnya membuat Sirah Ayu jadi lebih bersemangat untuk bertahan hidup.

"Terima kasih. Kalian adalah orang yang sangat baik. Aku selalu berdoa semoga semua diberi umur dan kesehatan yang panjang,"

Kata Sirah Ayu polos.

"Jangan lupa pula doakan tua bangka ini agar mendapat jodoh. He he he!"

Celetuk Kelut Birawa sambil tertawa terkekeh

"Sahabat Kelut....Dalam keadaan seperti ini jangan bicara melantur tak karuan. Ingat kita harus menceritakan semua masalah yang terjadi pada sahabat Ratu Edan.Siapa tahu dia mau membantu dan bersedia ikut mencari jalan keluarnya."

"Ya-ya ya. Tidak mengapa. Di sini bebas bicara asalkan sopan. Mungkin kakek gendut itu sudah gatal dan kepengen segera kawin. Aku hanya punya satu usul. Kalau dia mau, aku bisa menjodohkannya dengan ratu empot-empot."

Ujar Ratu Edan sambil menahan geli.

"Eh, gusti Ratu ternyata kau baik sekali. Memangnya siapa Ratu Empot-empot itu. Apakah dia masih gadis atau sudah janda?"

Tanya Kelut Birawa dengan mata berbinar.

"Aku berani menjamin dia masih gadis. Ratu empot-empot itu tidak lain adalah harimau betina penunggu Alas Sindang Pantangan di sebelah utara."

Terang sang Ratu lalu tertawa tergelak-gelak

"Ah teganya gusti. Jangan karena tubuhku gemuk besar aku hendak dikawinkan dengan harimau.

Bisa-bisa malam pengantin tubuhku babak belur bersimbah darah."

Karena jalan pikirannya seperti bocah tujuh tahun, Sirah Ayu yang ikut mendengar jadi terheran dan ajukan pertanyaan.

"Memangnya malam pengantin itu malam apaan kek?" Sambil bersungut-sungut Kelut Birawa menjawab seadanya. "Malam pengantin adalah malam... membelah durian"

Karuan saja semua orang disekeliling si gendut jadi ikutan tertawa. Walau tidak mengerti apa yang ditertawakan, dengan polos sekali lagi Sirah Ayu bertanya "Duriannya banyak kek?!"

"Tidak! Cuma satu tapi gondrong. Ha ha ha!"

"Aneh. Memangnya ada durian yang..." belum sempat Sirah Ayu menyelesaikan ucapannya. Raden Pengging cepat-cepat memotong

"Sudah. Jangan bergurau terus. Kita sedang berada dalam kesulitan besar. Selain itu sahabat Ratu Edan juga baru saja mendapat musibah. Kuharap kau selalu ingat dengan tujuan utama Kelut?!"

Raden Pengging memperingatkan membuat si gendut manggut-manggut, mulut dikatub dan dia terlihat berubah bersungguh-sungguh. Sekejab suasana berubah sunyi. Namun kesunyian tidak berlangsung lama. Ratu Edan tiba-tiba ajukan pertanyaan.

"Apapun masalah yang kalian hadapi, aku ingin sahabat Raden Pengging mau berterus terang." "Tapi aku merasa tidak enak di hati karena saat ini sebenarnya kau sendiri sedang tertimpa

musibah."

Sang ratu tersenyum. Dia segera berujar.

"Aku masih cukup kuat menerima cobaan ini. Jangan hiraukan segala yang terjadi ditempat ini.

Sekarang katakan saja bantuan apa kiranya yang dapat kuberikan."

Tegas gadis itu tanpa ragu. Mendengar ucapan Ratu Edan. Raden Pengging Ambengan menghela nafas lega. Dia menatap Kelut Birawa. Tapi si kakek yang tahu arti tatapan mata itu cepat berkata.

"Kau saja. Bila aku yang bicara menyampaikan semua masalah yang kita hadapi bisa-bisa mulutku bicara melantur lagi."

"Baiklah."

Raden Pengging mengalah.

"Jauh-jauh kami datang ke sini adalah untuk meminta bantuan darimu."

Secara gamblang orang tua itu kemudian menceritakan duduk perkara yang sebenarnya. Selesai Raden Pengging menuturkan semua yang terjadi, Ratu Edan nampak diam tercenung sementara perhatiannya tertuju pada Dadu Sirah Ayu.

"Kurasa ini bukan perkara mudah. Yang kita hadapi adalah iblis-iblis gelap mata dan rela melakukan segala cara untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Tapi engkau dan rela melakukan segala cara untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Tapi engkau dan sahabatmu tidak mungkin terus menghindar dari mereka. Karena cepat atau lambat salah satu dari mereka pasti akan menemukannya. Satu satunya cara yang paling baik adalah menghadapi mereka."

Tukas Ratu Edan tanpa ragu- ragu

"Tapi bila itu dilakukan dapat membahayakan keselamatan Sirah Ayu."

Jawab Raden Pengging khawatir. Si gadis tersenyum

"Dalam setiap masalah selalu ada resiko yang harus ditanggung. Aku tidak setuju bila kalian selalu bersembunyi atau lari dalam menghadapi masalah. Lagi pula..." Ujar Ratu Edan sambil menghela nafas.

"Bagiku semua ini sudah kepalang basah. Kehancuran istanaku juga terbunuhnya dua pengawal membuat aku merasa sedih. Penghuni Perahu Setan harus mempertanggung jawabkan perbuatannya. Selain itu Gagak Anabrang yang juga menginginkan Sirah Ayu untuk dijadikan tumbal persembahan bukan lagi sahabatku. Seperti yang kukatakan sebaiknya kita hadapi mereka bersama-sama."

"Jadi gusti Ratu mendukung kami?"

Tanya Kelut Birawa dengan perasaan lega. Yang ditanya tertawa lalu baru menjawab.

"Pertama kuharap kau tidak memanggilku dengan sebutan gusti ratu. Panggil aku ratu saja. Dan yang kedua aku tentu tidak membiarkan sahabatku menghadapi kesulitan seorang diri"

"Oh terima kasih Ratu Saja."

Ucap Kelut Birawa sambil rundukkan kepala berulang kali.

"Cukup kau memanggilnya dengan Ratu, tidak memakai kata saja! Dasar tua bangka tolol."

Dengus Raden Pengging cemberut "Iya... maaf..."

"Sudahlah. Masalah kecil saja dipersoalkan. Mari kita pergi dari sini. Aku khawatir kehadiran kalian telah diketahui orang lain. Sekarang sebaiknya ikuti aku. Aku punya jalan rahasia yang bisa kita lewati agar kita bisa keluar dari pulau Damai dengan aman."

Sambil berkata begitu. Ratu Edan kemudian balikkan badan lalu menuju ke arah timur pulau yang dikelilingi sindang luas itu.

Tanpa banyak bicara Raden Pengging dan yang lainnya segera mengikuti.

****

Sebenarnya tidak sulit bagi Maha Sakti Raja Gendeng untuk menyusul Raden Pengging dan rombongan bila dia mau mempergunakan Pedang Gila senjata sakti yang dapat membawanya melayang terbang.

Sebagaimana yang telah dituturkan pada episode sebelumnya, setelah Jiwa yang bersemayam di hulu pedang mengabarkan kakek sakti dari Kaliwungu menyelinap pergi dengan merubah diri menjadi kunang-kunang.

Raja yang sempat melihat Dedemit Rawa Rontok dan Iblis Betina Muka Dua terlibat perkelahian sengit., karena ingin mendapatkan Dadu Sirah Ayu yang dibawa masuk menyelinap ke dalam pohon batu.

Akhirnya memutuskan untuk menyusul Raden Pengging, Kelut Birawa juga Sirah Ayu yang menjadi incaran banyak tokoh.

Niat sang pendekar hanya satu yaitu ingin membantu sekaligus menolong ketiga orang itu dari segala kesulitan yang dialaminya. Tetapi menyusul tiga orang yang berubah menjadi kunang-kunang ternyata bukan perkara mudah....

Terlebih lagi Pedang Gila ketika melakukan pengejaran ternyata lebih memilih melayang di atas pucuk-pucuk pohon yang tinggi sehingga sukar bagi pemuda ini untuk mengawasi tiga kunang-kunang yang terbang diantara semak belukar.

"Jiwa dalam hulu pedang! Kita telah kehilangan jejak ketiga kunang-kunang itu."

Kata si gondrong sambil tetap mengangkat pedang ke atas sementara matanya jelalatan liar menatap ke arah hutan lebat yang terdapat di bawahnya.

"Mencari dan berusaha menyusul tiga kunang-kunang bukan perkara mudah paduka Raja. Mereka hanya mahluk kecil yang suka terbang rendah. Jika saya mengikuti mereka dengan melayang di tempat yang rendah di antara pepohonan lebat. Saya takut paduka terluka karena terbentur pohon atau tersangkut semak berduri."

Satu ngiangan terdengar di telinga Raja. Dan suara ngiangan itu bukan lain berasal dari sang Jiwa mahluk alam gaib penghuni hulu Pedang Gila.

"Pedang Gila, apakah perlu aku mengalirkan tenaga dalam ke badan pedang supaya dapat memancarkan cahaya yang dapat menerangi kegelapan?"

"Saya rasa tak perlu, gusti. Cahaya yang kelewat besar bisa mengundang perhatian musuh. Dan gusti tak usah cemas. Saya yakin tidak lama lagi kita bisa menemukan mereka!"

Raja terdiam, dua tangan masih berpegangan pada hulu pedang.

Sementara pedang yang membawanya melesat melayang di atas ketinggian membuat rambut Raja berkibar-kibar sementara tubuhnya mulai menggigil kedinginan.

Tetapi tanpa menghiraukan dinginnya udara pemuda ini kembali layangkan pandang ke bawah. Dia melihat ada sebuah padang rumput liar tidak jauh di depan di bawah sana.

"Sebaiknya kita turun. Aku ingin memastikan apakah mereka melewati padang rumput itu atau tidak."

Pedang dalam genggaman mengeluarkan suara bergemerincing aneh disertai getaran lembut.

Bagi Raja isyarat-isyarat yang diberikan pedang merupakan sebuah pertanda yang tidak baik. "Saya rasa padang rumput itu bukanlah tempat yang aman. Bukankah gusti telah menerima

isyarat yang diberikan badan pedang?!" Sang Jiwa memberi ingat.

"Aku tahu. Tapi aku tidak perduli. Aku tidak mau kau harus terus menerus membawaku melayang seperti ini seekor burung."

"Maaf gusti, Mengenai yang gusti sebutkan bukankah gusti memilikinya."

"Jangan bicara ngaco. Lakukan saja apa yang aku perintahkan. Turunkan aku di tepi padang rumput itu!" Kata Raja tidak sabaran.

"Baiklah! Kalau gusti Raja sudah berkata begitu saya mana berani menolak. Sekarang bersiap-siaplah! Saya akan membawa paduka turun ke padang rumput di bawah sana."

Kata sang Jiwa memperingatkan.

Raja anggukkan kepala lalu semakin mempererat cekalannya pada hulu pedang. Arah pedang tiba-tiba berbalik menghadap kebawah.

Ketika Pedang Gila meluncur deras ke bawah terdengar suara bergemuruh dan gemerincing menyakitkan telinga tak ubahnya seperti suara genta kematian.

Seluruh badan pedang memancarkan cahaya kuning berkilauan memerihkan mata yang memandangnya.

Dua tombak sebelum ujung pedang menghujam ke bumi, Raja segera menyentakkan pedang ke atas.

Pedang menggeletar sementara pemuda itu sendiri berjumpalitan sebanyak tiga kali lalu menjejak tanah berumput tanpa suara sedikitpun.

Suara gemerincing genta lenyap,pancaran cahaya meredup lalu padam. Seet!

Treek!

Sekali tangan sang pendekar bergerak, pedang telah lenyap masuk ke dalam rangkanya. Tanpa membuang waktu sang pendekar segera memperhatikan keadaan di sekitarnya.

Pada kesempatan itu dia juga berkata ditujukan pada sang jiwa.

"Pasang matamu, jangan sampai tidur. Perhatikan keadaan di sekitar sini. Bila melihat ada tanda-tanda tiga kunang-kunang yang kita cari munculkan diri kau harus segera memberi tahu,"

"Baiklah paduka Raja. Izinkan saya melakukan penjelajahan." Jawab Jiwa Pedang lalu segera lenyap dengan suara desir angin. Kemudian sunyi.

Hanya desiran angin malam dan suara serangga yang terdengar.

"Aku tidak melihat tanda-tanda keberadaan mereka.Mungkinkah mereka melewati padang rumput ini? Atau mereka menempuh jalan yang lain?"

Pikir Raja sambil menduga-duga. "Paduka!"

Tiba-tiba saja Raja mendengar suara sang Jiwa Pedang. "Kau telah kembali?"

"Begitulah paduka."

Sahutnya dengan suara bergetar.

"Suaramu serak parau. Apakah ada sesuatu yang membuatmu menjadi cemas?" Tanya Raja penuh rasa ingin tahu.

Raja merasakan ada hawa hangat berbentuk satu sosok yang tak terlihat mendekatinya. Lalu ada dengus nafas lembut menyapu daun telinga sebelah kiri.

Walau tidak melihat mahluk tak kasat mata itu. Raja tahu Jiwa Pedang hendak membisikkan sesuatu padanya tetapi karena tak kuasa menahan geli pemuda itu lalu menggeser kaki kesamping, tangan ditekapikan ke telinga kiri mulut berucap mendamprat,

"Hei jangan kurang ajar. Hembusan nafasmu membuat aku kegelian. Kalau mau bicara ya bicara saja jangan sampai menyentuh telingaku."

"Paduka. Saya sedang tidak bergurau. Saya ingin menyampaikan sesuatu yang sangat penting tapi saya khawatir orang-orang itu mendengar pembicaraan kita!"

Raja menyeringai. Sambil mengusapi telinganya dia berkata. "Kau hendak bicara apa?"

"Sebelumnya saya ingin bertanya apakah paduka melihat sesuatu?" Karena memang tidak melihat apa-apa, Raja langsung menggeleng.

"Paduka tidak melihat, namun saya menyaksikan tak jauh dari sini dibalik pohon tepat dibelakang paduka ada dua orang mendekam di sana. Yang membuat saya heran kedua orang itu tidak mempunyai detakan jantung. Mereka hidup namun jantung diam dalam kebekuan. Tidak pula terdengar desiran darah yang mengalir diseluruh bagian tubuhnya."

Penjelasan sang Jiwa Pedang membuat sang pendekar jadi tertegun. "Punya jantung tapi tidak berdetak, sudah begitu hidup lagi," Gumam Raja.

"Menurutmu mereka siapa?"

Tanya pemuda berpakaian kelabu itu sambil melirik ke samping tempat dimana Jiwa Pedang berada.

"Saya tidak berani memastikan gusti Raja. Namun menurut saya mereka hantu." "Rupanya itu yang membuatmu gentar?" tanya Raja lagi.

"Bukan begitu, gusti. Terus terang saya memang tidak suka dengan hantu. Menurut pengalaman saya hantu adalah roh orang yang mati tersesat. Segala yang menyesatkan membuat mahluk seperti saya tidak menyukainya."

Mendengar pengakuan Jiwa bukannya merasa takut. Sebaliknya sang pendekar malah mengumbar tawa bergelak. Tidak mau berlama-lama sambil tertawa dia berseru ditujukan pada orang yang dimaksudkan Jiwa Pedang.

"Aku tidak takut dengan segala hantu kesasar. Kalau benar hantu, kedua kakinya pasti tidak menyentuh tanah. Siapapun yang bersembunyi dibalik pohon sebaiknya.cepat keluar. Rajamu tidak punya waktu untuk menunggu lebih lama." "Astaga! Paduka bukannya pergi setelah saya beri tahu sebaliknya malah menantang." Bisik Jiwa.

Rupanya dia cemas dengan sikap Raja yang dianggapnya ceroboh. "Kau tenang saja. Aku ingin tahu siapa mereka."

Sang pendekar kemudian menatap ke arah jurusan di mana satu pohon besar berdiri tegak dibalik keremangan cahaya.

Tiba-tiba saja dia mendengar suara mengorok, serta suara desis aneh.

Bersamaan dengan itu dari balik kegelapan pohon berkelebat dua sosok bayangan ke arah sang pendekar.

Tidak sampai sekedipan mata dengan gerakan ringan seperti kapas dua sosok tubuh tinggi berwajah aneh berkulit cokelat kemerahan dan satunya lagi berkulit hitam telah berdiri tegak di depan Raja.

Melihat penampilan dan keadaan kedua sosok itu aneh dan juga mengerikan, tanpa sadar murid Ki Panaran Jagad Biru dan nenek bawel Nini Balang Kudu itu melompat mundur.

Dia juga menahan nafas karena hidungnya mencium bau busuk menyengat. Bau busuk mayat!

"Hei...kalian ini manusia ataukah hantu yang baru terlepas dari neraka. Pantas saja sahabatku jadi ketakutan."

Tanya Raja sambil menatap memperhatikan kedua sosok di depannya lebih seksama.

"Yang satu wajah dan keadaan tubuhnya seperti kuda, pakaian hangus perut dan dada bekas dijahit benang kasar. Satunya lagi wajahnya pucat seperti mayat. Kepala dan bahu seperti pernah dibelah, lalu dijahit kasar oleh orang yang bukan ahlinya. Tidak hanya tubuh menebarkan bau busuk, wajah kalian juga ternyata tidak sedap untuk dipandang. Lekas katakan padaku siapa diri kalian?"

Kedua laki-laki yang bukan lain adalah Arwah Kaki Kuda dan Singa Tetua saling pandang sesamanya. Kemudian dengan suara serak parau tersendat-sendat salah satunya menjawab.

"Kami hanya menerima perintah. Kami bahkan tidak bisa mengingatkan siapa diri kami..." "Tugas kami hanya membunuh seseorang!"

Menyahuti Singa Tetua.

Raja tertegun sambil menggaruk kepalanya.

Tidak bisa mengingat nama namun tahu tugas yang harus dilakukan.

"Betul-betul edan.Kalian bukan lagi manusia. Kalian berdua adalah orang mati yang dibangkitkan oleh seseorang dari kematian. Siapa yang membuat kalian dapat hidup kembali."

Yang ditanya sekali lagi saling berpandangan.

"Kami tidak diizinkan memberi tahu. Tapi kami menyebutnya gusti junjungan." Kata Arwah Kaki Kuda. Raja terdiam.  

Dia berpikir sambil berusaha mencari tahu siapa orang yang telah mengutus mereka. Seperti telah dikisahkan dalam episode Misteri Perawan Siluman.

Sesungguhnya Arwah Kaki Kuda dan saudara tuanya yang bernama Singa Tetua itu telah tewas dibunuh oleh Raja Pedang di Lembah Batu Gamping.

Tapi ketika Si Raja Pedang berlalu setelah membantu Kelut Birawa dan Sirah Ayu meninggalkan lembah itu muncul Perahu Setan dan mahluk misterius penghuninya.

Kedua mayat bersaudara itu kemudian dibawa ke sebuah kawasan hutan jati.

Setelah itu mahluk misterius penghuni Perahu Setan menjahit luka-luka yang menjadi penyebab kematian kedua orang itu.

Dengan segenap ilmu sesat yang dimiliki, Penghuni Perahu Setan akhirnya dapat menghidupkan mereka.

Karena pernah mengalami kematian maka kedua bersaudara itu mengalami kerusakan otak hingga ingatannya menjadi terbatas.

Penghuni Perahu Setan kemudian mengisi mereka dengan paku sakti yang dipantekkan ketubuh mereka hingga membuat kekuatan Arwah Kaki Kuda dan Singa Tetua menjadi berlipat ganda dari sebelumnya.

Setelah mendapat bekal tambahan ilmu baru, kedua orang ini lalu diperintahkan untuk mencari dan membunuh Raja.

Seperti telah dikisahkan sebelumnya, penghuni Perahu Setan sangat mendendam pada Raja karena sang pendekar telah membunuh dua bersaudara kembar Ayudra Bayu dan Ayudra Tirta yang ternyata adalah murid-murid kesayangan tokoh misterius itu.

Setelah tidak mendapatkan jawaban siapa yang mengutus kedua mahluk tersebut maka Raja akhirnya palingkan kepala ke belakang.

Sambil memandang ke arah Pedang Gila yang tergantung dipunggungnya pemuda ini ajukan pertanyaan.

"Aku penasaran siapakah yang telah membangkitkan kedua orang mati ini? Hai Jiwa Pedang kau yang tahu berbagai perkara terang maupun tersembunyi. Apakah kau telah tahu siapa orang yang berada di belakang mereka."

"Tak usah bingung paduka. Paduka pasti masih ingat beberapa waktu yang lalu paduka Raja pernah membunuh dua manusia kembar orang suruhan Gagak Anabrang di desa Tretes."

"Oh ya-ya... kejadian yang membuat aku nyaris tenggelam itu memang tak mungkin bisa kulupakan. Aku sendiri bahkan masih mengkhawatirkan bagaimana nasib Kabut Hitam yang terseret arus. Apakah dia selamat atau tidak tertolong."

"Mengenai nasib Kabut Hitam saya rasa dia dalam keadaan baik-baik saja. Dia berada di suatu tempat yang sangat jauh dari sini. Saya hanya berharap gusti dapat melupakan Kabut Hitam untuk sementara ini. Terkecuali gusti memang ada rasa suka pada gadis yang dikutuk menjadi anjing itu." "Enak saja kau bicara. Aku tidak menaruh perasaan apa-apa terhadapnya. Perasaanku padanya adalah biasa-biasa saja. Lagi pula aku belum gila jatuh cinta pada seekor anjing walaupun aku tahu

ujud sebenarnya adalah seorang gadis. Heh...!" dengus Raja mencibir.

"Weleh gusti Raja tak usah marah. Saya kan hanya baru sekadar menduga."

"Sudah. Lebih baik kau katakan siapa orangnya yang telah membuat kedua orang mati ini berjalan. Apakah Perahu Setan?"

"Ah, gusti ternyata sudah tahu. Namun perlu kiranya saya luruskan. Yang membangkitkan mereka bukan Perahu Setan melainkan orang yang menghuni perahu itu sendiri."

"Penghuni perahu? Tidak seorangpun manusia yang tahu apakah orang dalam perahu yang konon dapat melesat di udara itu dedemit, iblis ataukah manusia. Namun siapapun dia adanya bila sanggup mengirimkan air bah yang menenggelamkan desa Tretes dan kemudian membangkitkan orang-orang ini aku yakin dia adalah mahluk yang sangat luar biasa."

"Tidak hanya luar biasa, Penghuni Perahu Setan juga merupakan orang yang sangat ditakuti di rimba persilatan. Gusti...!"

"Kau mau bicara apa?" Tanya Raja.

"Maafkan saya bila dianggap bicara lancang. Sebenarnya Perahu Setan sangat menghendaki kematian gusti. Tapi disamping itu dia juga menginginkan Dadu Sirah Ayu gadis dambaan para siluman yang pergi bersama kedua kakek dalam pohon batu itu."

"Aku tidak mengerti mengapa Dadu Sirah Ayu dikejar-kejar oleh mahluk dari alam lelembut." "Bukan cuma mahluk siluman yang menginginkannya. Gagak Anabrang juga menginginkan Sirah

Ayu untuk dijadikan tumbal persembahan pada Yang Terlaknat Dari Alam Baka."

"Tapi bukankah menurut riwayat perjanjian dengan diraja alam baka, Gagak Anabrang seharusnya mempersembahkan putri tunggalnya yang bernama Arum Dalu kepada yang Terlaknat sebagai balas budi atas bantuan mahluk alam baka. Karena selama ini telah banyak membantu Gagak Anabrang dalam memperkaya diri."

"Itu memang benar paduka Raja, namun Gagak Anabrang nampaknya hendak ingkar janji. Dia terlalu sayang pada putri tunggalnya. Jadi dia bermaksud menukar Arum Dalu dengan Dadu Sirah Ayu sebagai persembahan. Gagak Anabrang lupa, Yang Terlaknat Dari Alam Baka sesungguhnya tahu segala rencana juga muslihatnya. Jadi dua-duanya memang dikehendaki oleh mahluk itu."

Raja menganggukkan kepala tanda mengerti.

Sementara itu Arwah Kaki Kuda dan Singa Tetua yang semula dibuat terheran-heran melihat Raja seperti bicara terus pada diri sendiri akhirnya tak dapat menahan diri. Keduanya merasa diremehkan.

Dengan marah Singa Tetua melangkah maju, lalu hentikan langkah tiga tindak di depan Raja.

Begitu Singa Tetua mendekat tercium bau busuk yang semakin santar membuat sang pendekar merasakan perutnya bergulung mual lalu cepat tekap hidungnya.

"Mahluk busuk. Cukup sampai disitu saja. Tubuhmu bau, aku mau muntah!" Dengus Raja dengan suara dihidung.

"Gemkh... gondrong aneh yang suka bicara sendiri seperti orang gila, aku tak punya waktu berada di tempat ini lebih lama."

"Siapa yang meminta kau di sini berlama-lama. Terus terang aku lebih suka bila kau dan si muka kuda lekas angkat kaki dari hadapanku!"

Sahut Raja disertai seringai.

"Bicaramu kelewat sombong, mulutmu begitu menghina. Aku hanya ingin ajukan pertanyaan sekali saja."

Kata Singa Tetua.

"Mau bicara atau bertanya tidak ada yang melarang. Apa yang hendak kau tanyakan?" Sebelum menjawab Singa Tetua yang mengalami kerusakan otak paling parah berpaling pada

Arwah Muka Kuda. Pada saudaranya itu dia berkata. "Apa yang hendak kita tanyakan?"

Arwah Kaki Kuda melangkah maju beberapa tindak. Setelah berada disamping Singa Tetua dia berhenti. Sejenak dia menatap sang pendekar dengan pandangan kosong namun curiga.

"Kami ini bertanya siapa dirimu ini?" "Aku?"

Desis Raja lalu menunjuk dirinya sendiri.

"Namaku sangat panjang. Susah bagi kalian yang sudah mati untuk mengingatnya." Jawab Raja disertai seringai mengejek.

"Sepanjang apapun namamu cepat sebutkan!"

Hardik Arwah Kaki Kuda jadi tidak sabaran. Sambil menggaruk kepala, tersenyum senyum sang pendekar menjawab.

"Aku dikenal dengan nama Raden Cokro Baculo Satu Mangku Jando Sekali Dua atau Tigo."

Mendengar Raja sebutkan namanya. Arwah Kaki Kuda dan Singa Tetua jadi bingung. Mereka saling tatap sama berpandangan.

"Nama aneh. Mengapa Baculo mengapa Jando?" Desis Singa Tetua.

"Ha ha ha! Tentu saja laki-laki punya culo atau cula. Culanya dari dulu sampai sekarang memang satu. Adanya bukan di kepala tapi di..." kata-katanya belum selesai sang pendekar sudah tertawa mengekeh.  

"Paduka mengapa masih juga mengajak orang mati bergurau. Mereka harus dihabisi karena mereka sangat berbahaya."

Kata Jiwa memberi bisikan. "Kau mau aku berterus terang?"

Kata Raja sambil melirik ke arah hulu pedang.

"Mengapa tidak? Mereka berdua, paduka juga tidak sendiri. Bila paduka mengijinkan saya siap membantu."

"Hmm, kau benar. Akan tiba waktunya bagimu untuk melakukan sesuatu." Jawab Raja.

Arwah Kaki Kuda yang tidak tahu juga tidak melihat sang pendekar bicara dengan sang Jiwa Pedang tiba-tiba berseru.

"Lihatlah, orang gila ini kembali bicara sendiri. Aku tidak percaya dia bernama Raden Cokro Baculo Satu. Melihat tampangnya aku yakin dia adalah orang yang kita cari."

"Memangnya siapa yang kalian cari?"

"Kami mencari pemuda dengan ciri-ciri sepertimu. Pemuda itu bernama Raja biasa menyebut diri sebagai Sang Maha Sakti Raja Gendeng?!"

Terang Singa Tetua.

"Kalau merasa yakin akulah yang kalian cari dan diperintahkan untuk dibunuh, mengapa tidak segera kalian lakukan?!"

"Hah, jadi kau orangnya yang bernama Raja Gendeng?!"

Seru Arwah Kaki Kuda dengan mata melotot. Raja manggut-manggut sambil tertawa mengejek "Kurasa harus kukatakan memang benar akulah orangnya. Ha ha ha!"

"Sialan! Gondrong bangsat ini telah menipu mengerjai kita! Mari kita bersatu merebut pahala.

Bunuh dia!"

Teriak Singa Tetua ditujukan pada saudaranya.

Mendengar ucapan Singa Tetua. Arwah Kaki Kuda segera mengambil tindakan dengan mendahului menyerang Raja.

Walau gerakan sang Arwah kelihatan kaku, namun dalam menyerang ternyata dia mempunyai kecepatan sepuluh kali lipat dibandingkan saat sebelum mengalami kematian.

Melihat serangan datang berupa dua tinju hitam yang siap melabrak bagian tubuhnya di sebelah atas, Raja sempat tercengang, namun dia tidak punya waktu untuk berpikir lebih lama.

Sambil menarik kaki kiri ke belakang pemuda ini cepat rundukkan kepala. Satu tinju menderu ganas lewat hanya seujung rambut di atas kepala.

Lolos dari serangan pertama tahu-tahu tangan kiri Arwah Kaki Kuda berkelebat menyambar ke bagian dada sang pendekar.  

Hawa dingin luar biasa menderu dan sambaran hawa dingin itu pun membuat dada Raja terasa ngilu seperti ditusuk ribuan pedang.

Raja menggeram, secepat kilat dia lipat gandakan tenaga dalam dan kesaktian yang dimiliki. Lalu dengan menggunakan jurus Kepakan Sayap Rajawali sambil miringkan tubuhnya ke kiri,

tangan kanan dia angsurkan ke depan menangkis sambaran jari tangan sedangkan tangan kiri meluncur ganas menyusup ke bawah mencari sasaran dibagian perut.

Plak! Crak!

Benturan keras terjadi bersamaan masuknya serangan tangan kiri Raja ke bagian perut lawan. Benturan itu membuat keduanya terjajar.

Raja menyeringai mengernyit kesakitan.

Diam-diam Sang Maha Sakti Raja Gendeng dibuat terkejut.

Dia tak menyangka tangkisan yang dilakukannya membuat tangannya seperti membentur batu karang.

Sedangkan serangan tangan kiri yang mengenai perut seakan menghantam tumpukan kapas tebal.

"Edan! ilmu kesaktian apa yang dia miliki? Mengapa tubuhnya bisa keras atos sementara tubuh yang lain menjadi lunak seperti bukit kapas?!"

Rutuk sang pendekar dalam hati. Sambil leletkan lidah Raja melangkah mundur. Ketika Dia menatap ke depan dia melihat Arwah Kaki Kuda menyeringai dingin. Bentrok pukulan seakan tidak dirasakannya sedikitpun.

"Kau selayaknya mati di tangan kami. Dan kau tidak berarti apa-apa di mataku!"

Kata laki- laki itu dengan suara berdengus

"Aku juga jadi ingin menjajal kehebatannya! Hiaa...!" Teriak Singa Tetua.

Mendengar suara teriakan Singa Tetua, sang pendekar cepat palingkan kepala memandang ke sebelah kanannya.

Sekali lagi Raja dibuat terperangah ketika melihat Singa Tetua tahu-tahu telah berada di depannya sambil kibaskan dua tangannya yang merah menebar cahaya panas menghanguskan.

"Mayat sialan! Sudah mati mengapa serangannya luar biasa ganas?" gerutu sang pendekar.

Namun kali ini dia sudah bersikap waspada. Dan bukannya menghindari serangan sebaliknya dengan menggunakan ilmu pukulan sakti Badai Es dan Badai Serat Jiwa dengan nekat dia menyongsong menyambuti serangan itu. Kibasan tangan Singa Tetua memancarkan kobaran api merah benderang membuat keadaan disekitarnya yang gelap temaram jadi terang benderang. Sebaliknya dua tangan raja yang diangsurkan ke depan juga telah berubah memutih disertai kepulan hawa dingin dan rebawa aneh yang membuat nafas Singa Tetua seperti terhenti.

Dua tangan saling beradu. Bentrok itu menimbulkan goncangan dahsyat luar biasa. Arwah Kaki Kuda yang berniat hendak membantu saudaranya sempat terjajar. Tapi setelah sempat terhuyung namun masih dapat menguasai diri, Arwah Kaki Kuda siap menyerang Raja lagi. Dari arah belakang dia mencoba menyerang dengan satu hantaman keras mengarah kepada punggung Raja.

Raja yang tengah berusaha untuk menghabisi Singa Tetua ternyata melihat niat culas Arwah Kaki Kuda. Sambil menahan dorongan keras Singa Tetua, pemuda itu berseru ditujukan pada sang Jiwa.

"Sahabatku. Aku bukan orang yang serakah menghadapi musuh seorang diri. Sekarang tiba waktunya bagimu. Singkirkan mahluk jelek yang bermulut dan berpenampilan seperti kuda itu!"

Sebagai jawaban Raja mendengar suara mengiang ditelinganya.

"Asyik! Saya memang sudah menanti kesempatan ini sejak tadi paduka. Selamat bersenang-senang!"

"Apa? Bersenang-senang gundulmu bau menyan!" Damprat sang pendekar.

Mulut berkata begitu namun dia lipat gandakan tenaga sakti ke bagian tangannya.

Di punggung belakang. Pedang Gila keluarkan suara berkerotakan disertai gemerincing aneh seperti gempa.

Lalu....

Seet! Cring! Sing!

Senjata sakti yang memiliki banyak kelebihan itu melesat keluar disertai tebaran cahaya kuning kemilau memedihkan mata. Begitu pedang melesat senjata ini langsung menghadang gerak langkah Arwah Kaki Kuda.

"Pedang aneh? Bagaimana senjata itu bisa bergerak tanpa ada yang mengendalikan ?1" Pikir Arwah Kaki Kuda.

Tak ingin celaka dia yang tadinya bermaksud menghantam punggung lawan dengan satu pukulan dahsyat terpaksa urungkan niat.

Kemudian dengan gerakan enteng dia lambungkan diri, tangan terjulur siap menangkap bagian hulu pedang.

Tetapi kenyataan yang dihadapinya kemudian benar-benar membuat sang Arwah jadi tercengang dan terpaksa menarik tangan yang hendak menangkap bagian hulu pedang ke belakang.

Tanpa pernah dia duga, seolah mempunyai mata yang dapat melihat, pedang itu berbalik, mata pedang lakukan gerakan menusuk dan membabat dari atas ke bawah. "Betul-betul edan!"  

Pekik Arwah Kaki Kuda sambil berjumpalitan ke belakang selamatkan diri. Sementara itu berkat pengerahan tenaga sakti yang berlipat ganda, dua tangan Raja yang menempel ketat pada telapak tangan lawan kini mulai tergetar.

Hawa dingin luar biasa disertai kepulan asap menyerupai kabut es membubung dan menggulung habis api yang membara di kedua tangan lawan.

Singa Tetua tampak mulai kewalahan, sedikit demi sedikit tubuhnya mulai terdorong mundur.

Sementara serangan hawa dingin yang berlangsung terus menerus kini berpindah ketangannya dan mendesak hawa panas yang memancar dari tubuhnya.

Singa Tetua menyadari andai lawan menyerang hanya dengan pukulan Sakti Badai Es dia dapat bertahan, tetapi karena sang pendekar Raja Gendeng juga menyerang dengan pukulan sakti yang lain maka dada Singa Tetua menjadi sesak seperti mau meledak.

Selagi Singa Tetua mencoba terus bertahan. Tiba-tiba saja lawan berteriak.

"Kau mungkin saja sanggup bertahan dari ilmu badai Es, tapi kau pasti tidak akan selamat dari pukulan Badai Serat Jiwa. Setiap orang yang sudah mati jelas tidak mempunyai jiwa. Jika hanya jiwa titipan yang mendekam dalam tubuhmu, maka kau akan celaka. Hieaaah...!"

Sambil berteriak sang pendekar hentakan tangannya yang menempel ketat dengan telapak tangan lawannya.

"Wuaarkh...!"

Singa Tetua meraung keras.

Satu dorongan tenaga luar biasa besar tak sanggup lagi ditahan oleh Singa Tetua.

Walau dia telah melipat gandakan tenaga dalam dan mengalirkannya ke bagian tangan tetap saja masih tidak sanggup mengatasi serangan lawan.

Tanpa ampun lagi Singa Tetua terdorong mundur lalu jatuh terlempar seperti dicampakkan oleh satu tangan yang luar biasa besar.

Di tempatnya berdiri. Raja terlihat tegang seperti arca batu.

Dua matanya menyorot tajam menatap ke arah lawan yang saat itu berusaha bangkit.

Singa Tetua pada akhirnya sanggup berdiri tegak, namun dari mulut dan hidungnya menyembur darah kental berwarna hitam menebar bau busuk menyengat.

Apa yang dialami oleh Singa Tetua ternyata tidak hanya sampai disitu saja. Sebagian tubuhnya mengalami kerusakan yang parah.

Wajah pecah-pecah nyaris tidak berbentuk.

Kelopak mata meleleh seperti lilin terbakar, dua mata gondal-gandil nyaris tanggal dari rongganya. Namun patut diakui, sang mayat hidup ternyata memang mempunyai daya tahan yang sangat luar biasa.

Terbukti tanpa menghiraukan keadaan tubuhnya yang berserabutan menjadi serpihan diwarnai lelehan cairan busuk.

Singa Tetua kini balikkan badan lalu kembali menyerang Raja. Tidak mau bersikap ayal.

Melihat lawan lakukan serangan maka dengan menggunakan jurus Tangan Dewa Menggusur Gunung sang pendekar segera merangsak ke depan.

Dua tangan yang dipentang berbentuk cakar berkelebat ke atas lalu meluncur ke bawah dan menyerang lawan pada bagian tubuh yang dianggap lemah.

Sementara itu Arwah Kaki Kuda sendiri saat itu dihadapkan pada pilihan sulit.

Ketika saudaranya dibuat jatuh terpental dan mengalami luka-luka disekujur tubuhnya akibat bentrok tenaga sakti.

Dia sebenarnya ingin memberi bantuan, tetapi Pedang Gila ternyata selalu merintangi jalannya.

Mengingat berkali- kali gagal menangkap pedang itu ditambah keinginan untuk membantu saudaranya selalu dihalangi.

Arwah Kaki Kuda pun akhirnya menjadi sangat murka.

"Pedang Gila sialan keparat! Jika aku tidak bisa menguasaimu, maka jalan satu-satunya yang paling baik adalah dengan menghancurkanmu!"

Geram Arwah Kaki Kuda. Sebagai jawaban.

Pedang Gila meliuk dan menari-nari di udara.

Badan pedang tiba-tiba berubah melentur meliuk ke sana kemari disertai getaran aneh serta suara berdengung menyakitkan telinga. Melihat pedang unjukkan sikap mengejek Arwah Kaki Kuda katubkan mulut.

Kaki kanan yang berada di depan ditekuk.

Segera dia alirkan tenaga dalam saktinya ke bagian kaki dan ke bagian dua tangannya. Tangan kemudian diangkatnya tinggi- tinggi.

Perlahan tangan itu bergerak turun.

Bersamaan dengan itu sepuluh jari dia acungkan ke arah senjata. Seet!

Pedang Gila yang berada di atas ketinggian dan berjarak sekitar dua tombak dari Arwah Kaki Kuda nampak bergetar.

Sang Jiwa yang mengendalikan pedang itu keluarkan seruan kaget ketika dia merasakan pedang tersedot oleh satu kekuatan tidak terlihat yang muncul dari jemari tangan lawan. "Mayat sialan! Dia menggunakan ilmu sesat Liang Lahat Menyedot Arwah!"

Desis Jiwa Pedang tetapi tentu saja lawan tidak bisa mendengar ucapannya itu. Dugaan Jiwa Pedang tidak berlebihan. Arwah Kaki Kuda saat itu memang menggunakan ilmu Liang Lahat Menyedot Arwah yaitu ilmu titipan pemberian Penghuni Perahu Setan.

"Dia hendak menguasai Pedang Gila! Hmm, mahluk seperti dia harus kuberi pelajaran setimpal!" Berkata begitu Jiwa penghuni hulu pedang segera mengerahkan segenap kekuatan yang dia miliki.

Berkat usaha yang dilakukan Jiwa Pedang, Arwah Kaki Kuda tiba-tiba merasakan gerakannya menyedot senjata seperti dihadang oleh satu tembok tebal yang tidak terlihat.

"Tidak! Tidak mungkin senjata itu dapat bertahan. Pasti ada kekuatan lain yang mengendalikan pedang itu! Hii..." gerutu Arwah Kaki Kuda.

Sekali lagi dia salurkan tenaga sakti ke bagian dua tangannya. Dengan sekuat tenaga tangan yang dijulurkan ke depan dia sentakan ke belakang.

Wuus!

Sang Jiwa Pedang terkejut. Keinginannya untuk mengendalikan sekaligus menahan pedang lenyap begitu tenaga yang luar biasa besar menariknya. Pedang meluncur deras ke arah Arwah Kaki Kuda.

Sang Arwah menyeringai. Merasa berhasil mendapatkan keinginannya dia pun cepat mengulur tangan menyambar hulu pedang. Namun diluar dugaan secepat kilat arah pedang berbalik. Selagi daya sedot tangan lawan mengendor karena salah satu tangan dipergunakan untuk menangkap pedang.

Pedang dengan leluasa menderu disertai suara berdentring lalu menyambar ganas kedua tangan lawannya. Arwah Kaki Kuda tidak sempat menyelamatkan kedua tangannya walau dia sudah menarik tubuhnya ke belakang

Crass! Cras! Pluk!

Dua tangan terbabat putus hingga sebatas siku. Tidak terdengar jeritan walau darah busuk menyembur dari kutungan kedua tangan. Bagian yang terputus jatuh ke tanah. Arwah Kaki Kuda hanya bisa mendelik, menatap ke arah tangannya dengan mulut ternganga.

"Tanganku! Walah tanganku buntung...!" Teriak taki-laki itu meraung.

Tapi kehilangan tangan tidak membuat Arwah Kaki Kuda menjadi surut. Dengan kedua kakinya kini dia mengamuk, menendang.sekaligus menerjang. Tetapi semua serangan sekarang dengan mudah dapat dihindari Pedang Gila. Malah pada satu kesempatan sang pedang tiba-tiba berputar sebat.

Cahaya kuning keemasan berpijar. Setelah berputar diudara tiga kali.

Pedang Gila keluarkan suara raungan sekaligus menderu membabat leher Arwah Kaki Kuda. Walau telah berusaha menghindar dari tebasan pedang dengan membungkukkan tubuh.

Namun ujung pedang tetap saja menembus leher sang arwah. Arwah Kaki Kuda terhuyung.

Mata mendelik.

Dua tangan yang buntung menggapai kian kemari berusaha menekap luka namun dia tak mampu melakukannya.

"Iih... bau sekali...!"

Rutuk sang Jiwa Pedang lalu cepat sentakkan diri dan menjauh dari lawannya. Setelah pedang yang menembus leher tercabut.

Arwah Kaki Kuda bukannya ambruk ke tanah. Satu keanehan tiba-tiba saja terjadi.

Selagi pedang melayang menggantung diketinggian tiba-tiba saja tubuh sang Arwah nampak menggelepar.

Bersamaan dengan itu seluruh badan menggelembung bengkak urat-urat darah bersembulan keluar seolah hendak meletus.

Mata mendelik memberojol dari rongganya, Cairan darah kental memancar dari luka "Apa yang terjadi?"

Sentak jiwa yang bersemayam dalam hulu Pedang Gila.

Mahluk yang tidak mempunyai tubuh kasat atau tidak berjasad itu diam memperhatikan. Di depannya Arwah Kaki Kuda terus mengalami sebuah proses yang tidak wajar.

Wajah yang membengkak semakin tambah membesar. Terdengar suara berkerokokan lalu terjadilah ledakan dahsyat. Kepingan, serpihan dan potongan tubuh berhamburan diudara. Bau busuk bangkai tambah menyengat.

Dan ketika seluruh kepingan tubuh yang bertebaran memenuhi udara luruh di tanah.

Tiba-tiba ditempat Arwah Kaki Kuda tadinya berdiri muncul satu sosok hitam berbulu, berkepala aneh mirip kepala buaya namun mempunyai kaki mirip kaki harimau.

"Mahluk jejadian? Aku yakin mahluk ini penjelmaan dari Paku Sakti yang ditancapkan penghuni Perahu Setan ke dalam tubuh Arwah Kaki Kuda. Paku itu pula yang membuatnya dapat hidup kembali. Hiaaa. "

Seru Sang Jiwa Pedang disertai pekikan keras. Tidak menunggu lebih lama.

Pedang Gila kembali berkelebat, bergerak menyerang tepat disaat sang mahluk hitam berkepala buaya merangsak maju.  

Sementara itu Raja yang sedang menghadapi gempuran Singa Tetua, diam-diam menjadi terperanjat melihat kehadiran mahluk yang menyerang Pedang Gila.

"Bila Arwah Kaki Kuda yang telah hancur dapat berubah menjadi mahluk menjijikkan seperti itu.

Mungkin saja Singa Tetua pun akhirnya akan berubah menjadi mahluk yang sama. Aku harus hancurkan dia sebelum berubah menjadi sosok tak karuan."

Bulat dengan keputusannya Raja segera melompat ke depan. Dengan tangan kiri pemuda ini menghantam dada Singa Tetua.

Namun dengan gerakan aneh Singa Tetua mengelak sehingga serangan luput. Selanjutnya Singa Tetua juga hantamkan tinjunya ke dada lawan.

Raja berkelit, namun baru saja dapat menghindari pukulan, tiba-tiba kaki lawan telah melabrak perutnya.

Dess!

Pemuda itu jatuh terbanting. Perutnya nampak mengepulkan asap.

Rasa panas seperti terbakar menjalar kesekujur tubuh.

Namun berkat pakaian sakti yang melekat ditubuhnya, dengan cepat hawa panas yang dideritanya lenyap terserap pakaian itu.

Melihat lawan tidak kekurangan sesuatu apa, Singa Tetua menggeram, dia melompat maju, kaki dihentakkan hendak menginjak dada sang pendekar.

Tak ingin celaka pemuda ini segera bergulingan menjauh.

Serangan luput namun sebelum sempat bangkit berdiri lawan telah mencecarnya dengan tendangan bertubi-tubi.

Tidak tinggal diam, pemuda ini segera menangkis tendangan lawan dengan mempergunakan kedua sikunya.

Tapi benturan demi benturan yang terjadi ternyata menimbulkan rasa sakit luar biasa. Raja merasa kedua tangannya seperti menghantam balok baja.

Kedua siku menggembung bengkak. Lenyap sudah kesabaran pemuda ini.

Sambil berteriak murka, pemuda ini sentakan kakinya ke depan. Begitu kaki menyentuh tanah tiba-tiba dia melambung ke atas.

Selagi tubuhnya melesat, Singa Tetua menghantam dengan jari-jari terkembang. Gerakan luar biasa cepat yang dilakukan Singa Tetua ternyata tidak sempat dihindari Raja.

Tanpa ampun sepuluh jemari tangan menghunjam dada sang pendekar. Singa Tetua rupanya bermaksud hendak menjebol dada Raja. Namun keinginannya itu tidak mudah untuk dilakukan karena pakaian yang melindungi dada pemuda itu ternyata sulit untuk ditembus. Bahkan semakin keras Singa Tetua hunjamkan

kuku-kukunya ke dada Raja malahan dia merasakan ada hawa aneh menyerang dirinya.

Hawa aneh itu justru membuatnya megap-megap dan bagian tubuhnya menjadi sakit seperti ditusuk-tusuk.

Melihat lawan seperti kebingungan.

Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh sang pendekar.

Dengan tinju terkepal dia menghantam Singa Tetua dua kali berturut-turut.

Serangan yang diarahkan ke bagian dada lawan itu tidak sempat dihindari oleh Singa Tetua. Duk!

Duuk!

Akibat pukulan luar biasa keras yang dilakukan Raja membuat satu benda berwarna hitam sepanjang satu jengkal yang tak lain adalah Paku Sakti Inti Jiwa yang pernah dipendam oleh Penghuni Perahu Setan terpental keluar dari bagian punggung Singa Tetua.

Paku itu kemudian jatuh berdenting lalu lenyap setelah menyentuh tanah. Singa Tetua terhuyung.

Punggungnya menganga lebar.

Raja menyeringai sekaligus berkata.

"Benda laknat itu yang membuatmu dapat hidup. Sekarang aku mau melihat apakah kau masih sanggup bertahan!"

Sekali lagi sang pendekar menghantam.

Tidak tanggung-tanggung dia sengaja menyertakan ilmu pukulan Seribu Jejak Kematian dalam serangannya.

Wuus!

Tangan kanan menderu meluncur deras melabrak dada, Walau telah berusaha menangkis serangan. Singa Tetua yang dalam keadaan sempoyongan tak mampu membendung serangan Raja.

Brak! Kraak! "Uuuk...!"

Terdengar tulang-tulang rusuk berderak berpatahan.

Singa Tetua muntahkan darah hitam lalu jatuh terjengkang dan tidak berkutik lagi. Setelah yakin lawannya benar-benar menemui ajalnya, Pemuda ini memutar tubuh.

Ketika menatap ke depan dia melihat Pedang Gila senjata sakti yang menjadi andalannya tampak sedang berjuang keras untuk merobohkan lawan.

Namun setiap sang pedang melakukan serangan, ketika serangannya membentur tubuh lawan selalu terdengar suara berdenting.

Seakan pedang menghantam potongan besi.

Melihat ini Raja mencemooh sekaligus memberi kisikan melalui ilmu menyusupkan suara. "Jangan berlaku tolol. Mahluk yang kau hadapi adalah jelmaan paku sakti yang tadinya

mendekam dalam tubuh Arwah Kaki Kuda. Tusuk dia! Tusuk tepat dibagian dada!"

"Tentang asal-usulnya saya sudah tahu paduka. Cuma saya memang lupa tentang kelemahan yang satu ini. Terima kasih telah mengingatkan!"

Raja mengangguk sambil pencongkan mulutnya. Sementara itu mahluk hitam agaknya tambah penasaran karena usahanya menghancurkan pedang tidak juga membuahkan hasil.

Mahluk ini jadi kalap. Secara naluri dia berpikir jika tak dapat menghancurkan pedang maka dia lebih memilih untuk menangkapnya. Dengan segenap kekuatan yang dia miliki dia terus mengejar sambil julurkan tangannya. Beberapa kali tangan menyambar, nyaris berhasil mencengkeram hulu pedang. Namun pedang dengan gesit bergerak lincah berkelit menghindar dari sergapan. Sampai kemudian mahluk hitam keluarkan suara lolongan aneh. Bersamaan dengan terdengarnya suara lolongan kaki dihentakkan. Tubuh sang mahluk membal melenting di udara. Gerakan kilat yang dilakukan sang mahluk yang tidak terduga membuat Jiwa yang mengendalikan Pedang Gila terkesima. Apalagi saat itu tangan mahluk yang berkelebat itu siap menangkap hulu senjata.

"Sekarang waktunya. Menghindar ke bawah dan tusuk dadanya!" Seru Raja yang juga ikut tercekat.

Wuus!

Pedang meluncur ke bawah.

Lalu bergerak ke samping, bersamaan dengan itu ujung pedang menderu berkelebat ke bagian dada.

Walau telah berusaha keras hindari serangan sambil melesat ke belakang.

Namun akibat cahaya keemasan yang memancar dari Pedang Gila membuat sang Mahluk jadi kesilauan dan cepat lindungi matanya dengan kedua tangan.

Kelengahan yang hanya berlangsung sesaat tidak disia-siakan lagi oleh Pedang Gila. Bress!

Mahluk hitam meraung panjang.

Tubuhnya yang berada satu tombak di atas tanah meluncur deras ke bawah. Ketika tubuh sang mahluk jatuh di tanah terdengar suara berkerontongan. Mahluk hitam raib meninggalkan kepulan asap.

Raja segera melangkah mendatangi.

Sementara Pedang Gila yang sempat berputar diketinggian akhirnya melayang menuju rangkanya. Srek!  

Pedang bertengger kembali masuk ke rangka yang tergantung dipunggung pemuda itu. "Bagus! kau telah melakukan tugasmu dengan sebaik-baiknya."

Ucap Raja memuji.

"Semua itu berkat petunjuk gusti. Kalau tidak mungkin aku sudah kena ditawan."

Sahut Jiwa

"Ya. Bagus sekali ternyata kau cukup tahu diri."

Sambil berkata demikian. Raja pandangi kepulan asap yang mulai sirna. Dan ketika tebaran asap benar-benar sirna. Pemuda ini melihat sebuah paku hitam dalam keadaan hangus

"Paku sakti itu kini benar-benar menjadi benda rongsokan yang tidak berguna." Dengus Raja.

Sang Pendekar pun balikkan badan lalu tinggalkan padang rumput yang hijau.

*****

Jalan rahasia yang dimaksudkan oleh Ratu Edan ternyata merupakan sebuah alur berbentuk gua terowongan yang cukup panjang.

Terowongan itu sangat dingin, bagian lantainya digenangi air sedalam mata kaki.

Walau sangat dingin dan rembesan air menetes sepanjang waktu dari langit-langit gua terowongan itu.

Namun keadaan didalamnya tidaklah gelap gulita sebagaimana yang dibayangkan oleh Sirah Ayu maupun si gendut Kelut Birawa.

Banyak sekali jamur api, yaitu jamur putih yang memancarkan cahaya terang yang tumbuh disepanjang dinding di kanan kiri terowongan itu.

Jadi tidak ada alasan mereka bakal tersesat. Walau demikian orang bisa saja tersesat akibat banyak lorong bercabang yang terdapat dalam terowongan itu.

Ratu Edan sebagai orang yang paling mengetahui rahasia serta seluk beluk terowongan itu berjalan memimpin di depan.

Sedangkan di belakang sang Ratu mengikuti Dadu Sirah Ayu, di belakangnya lagi ada Kelut Birawa.

Sedangkan paling belakang dari rombongan kecil itu adalah Raden Pengging Ambengan. Orang tua bertubuh kurus kering macam jerangkong ini bertindak lebih waspada.

Rupanya dia khawatir ada yang menguntit perjalanan mereka.

Kekhawatiran yang dirasakan oleh si kakek rasanya tidak berlebihan karena dia menyadari tidak sedikit orang-orang rimba persilatan yang terus mencari mereka. Berbeda dengan Kelut Birawa. Sejak bersama Raden Pengging apalagi Ratu Edan kini telah bergabung dengan mereka, si kakek tampak lebih tenang dari sebelumnya.

Mungkin karena si gendut ini merasa kini dia tidak lagi berjuang seorang diri dalam melindungi gadis dambaan siluman itu.

Setelah cukup lama menelusuri terowongan yang panjang itu. Makin ke dalam airnya semakin tinggi hingga menyentuh dada. Melihat kenyataan ini, Kelut Birawa tiba-tiba berkata.

"Ratu... mengapa air di terowongan ini menjadi dalam? Air di sini jernih sekali tapi sengat dingin.

Herr.... Apakah tidak ada ularnya?"

Tanya si kakek. Matanya menatap ke sekelilingnya. Dua tangan dilipat ke dada sedangkan gigi mulai bergemeletukkan.

"Ular? Mungkin saja ada. Siapa berani memastikan. Tapi kalaupun ada ular atau lintah aku tidak begitu khawatir."

Jawab Ratu Edan tenang, sementara perhatiannya tertuju lurus ke arah terowongan di sebelah depan.

"Apakah ada yang lebih membuatmu khawatir Ratu?"

Tanya Sirah Ayu yang berada persis di belakang Ratu Edan. Gadis cantik berdandan menor menyolok itu anggukkan kepala. Tanpa menoleh dia menjawab.

"Aku takut sewaku-waktu langit- langit diatas terowongan ini runtuh." "Hah, bagaimana kau bisa berkata begitu?"

Sentak Kelut Birawa kaget. "Ketahuilah,"

Ucap sang Ratu acuh.

"Saat ini kita berada persis di bawah sindang. Itu sebabnya air di sini jauh lebih dalam dibandingkan bagian terowongan sebelumnya. Kalian bisa membayangkan bagaimana jadinya bila langit- langit yang disebelah atas itu jebol dan rontok. Air di dalam sindang akan menerobos masuk tidak ubahnya seperti bendungan air bah yang jebol. Manusia berkepandaian selangit sekalipun tak mungkin sanggup menahan luapan air sindang yang tak terkira banyaknya."

Raden Pengging diam-diam merasa tegang. Tapi dia sendiri lebih memilih menutup mulut.

Sedangkan Dadu Sirah Ayu lebih tercekat. Wajahnya pucat membayangkan kecemasan.

"Ih mengerikan sekali. Mengapa kau tidak mengatakan pada kami bahwa terowongan ini ada di bawah sindang?"

Tanya si gendut bersungut-sungut.

"Kalau kuberi tahu juga tidak ada gunanya. Hanya terowongan ini jalan satu-satunya yang paling aman. Para jahanam itu berkeliaran di luar sana. Aku dan Sirah Ayu bisa saja menumpang Keranjang Sakti milikku. Tapi keranjang itu tidak bisa membawa kalian berdua. Lagipula Perahu Setan saat ini berkeliaran di mana-mana."

"Apakah benar kau mempunyai keranjang yang bisa melesat diketinggian?" Tanya Kelut Birawa.

"Aku pernah memberi tahu dirimu, mengapa masih bertanya lagi? Semula aku bermaksud menitipkan Sirah Ayu di dalam keranjang itu untuk dibawa ke suatu tempat yang aman. Itu sebabnya aku membawa kalian menemui Ratu Edan. Tapi... sekarang aku baru ingat, bukan keranjang milik Ratu Edan saja yang bisa melayang diudara. Sebaliknya Penghuni Perahu Setan ternyata mempunyai alat berupa perahu aneh yang dapat melayang di langit."

"Maaf, aku hanya sekedar ingin bertanya. Mungkin juga aku terlalu cerewet. Namun siapa tahu sewaktu-waktu aku bisa menumpang di keranjang milik Ratu. Seumur hidup aku belum pernah merasakan bagaimana perasaanku bila berada diketinggian. Apakah kepalaku pusing, perut mual seperti mabuk laut."

Kata Kelut Birawa polos.

"Orang tua bukankah kau punya burung? Mengapa harus menumpang dikeranjangku?" tanya Ratu Edan menggoda.

"Oala, ratu jangan keterlaluan. Kalau yang satu itu biarpun butut bulukan sahabat Raden Pengging juga punya. Tapi dia mana bisa terbang karena tidak punya sayap. Yang kutahu sepanjang hari kebiasaannya tidur terus terkecuali bila ada perempuan cantik."

"Memangnya bila melihat perempuan cantik kenapa?" "Yang disitu biasanya manggut-manggut!"

Sahut Kelut Birawa lalu tertawa mengekeh. Sebagai gadis yang berpikiran selayaknya bocah, Dadu Sirah Ayu hanya bisa melongo mendengar gurauan kedua orang itu. Sebaliknya Raden Pengging yang pada dasarnya tak suka bergurau tiba-tiba saja menegur.

"Aku tahu kalian berdua senang bercanda. Tapi bergurau pada saat kita dihimpit kesulitan kurasa bukan pada tempatnya!"

"Raden Pengging. Aku tidak mau menjadi kurus sepertimu. Lihatlah tubuhmu mengapa tidak bisa menjadi gemuk sepertiku. Itu karena kau selalu dilanda ketegangan. Dalam hidup seharusnya kau lebih banyak tersenyum atau tertawa biar badanmu sedikit gemukan."

"Banyak tertawa? Biar orang menyangka diriku gila? Dasar tua bangka tolol!" Dengus si kakek lalu cepat palingkan wajah ke jurusan lain.

Seakan tidak perduli, Kelut Birawa malah tertawa terkekeh-kekeh. Tawa si kakek lenyap.

Suasana dalam terowongan itu kini berubah sunyi. Hanya kecipak air saja yang terdengar. Ke empat orang itu terus berjalan.

Mereka lalu berbelok memasuki alur sebelah kiri terowongan, sementara semakin jauh memasuki terowongan genangan air menjadi tambah dangkal.

Cukup lama mereka berjalan dengan tubuh basah kuyup menggigil kedinginan. Akhirnya mereka sampai di ujung terowongan.

Sampai disini Raden Pengging yang berada dibagian paling belakang tiba-tiba berkata. "Tunggu!"

Ratu Edan hentikan langkah.

Tangan yang sudah terlanjur siap menyibak semak dan reranting tumbuhan merambat yang menutupi mulut terowongan rahasia cepat ditariknya kembali.

Dia menoleh kebelakang, menatap pada kakek berwajah dingin bermata cekung dengan tatapan heran.

"Ada apa orang tua?"

Bertanya sang Ratu dengan tatapan tidak mengerti.

"Kita sudah jauh meninggalkan pulau. Bahkan terowongan ini berada di ujung Alas Sindang Pantangan daerah yang menjadi kekuasaanku."

Menerangkan si gadis. "Aku tahu."

Tukas Raden Pengging. Si kakek kemudian cepat melanjutkan ucapannya.

"Aku sudah mengawasi keadaan diluar sana dengan mata batinku. Dan aku melihat ada orang yang berkeliaran diluar sana."

"Apakah mereka mengetahui keberadaan kita ditempat ini?" Tanya kelut Birawa cemas.

"Aku tidak dapat memastikan."

Jawab Raden Pengging. Orang tua ini kemudian melangkah maju. Setelah melewati Dadu Sirah Ayu yang terlihat dicekam ketakutan dan Kelut Birawa akhirnya dia berhadap-hadapan dengan Ratu Edan.

"Biarkan aku melihat keadaan diluar. Aku curiga orang-orang diluar sana sedang mencari kita!" Kata si kakek.

"Bagaimana dengan kami, orang tua? Aku bukan manusia pengecut dan rela mendekam ditempat ini seperti seekor tikus yang takut dengan burung hantu!"

Kata Ratu Edan apa adanya.

"Aku juga tidak takut. Apa yang terjadi harus kita hadapi bersama-sama. Aku dan Sirah Ayu telah muak melarikan diri menghindari kejaran."

Dengus Kelut Birawa. "Aku tahu, tapi tunggulah sebentar, Biarkan aku memeriksa keadaan di luar sana."

Kata Raden Pengging. Ratu Edan, Dadu Sirah Ayu juga Kelut Birawa saling pandang. Merasa tidak punya pilihan lain mereka pun anggukkan kepala memberi persetujuan.

Raden Pengging tersenyum, lalu balikkan badan melangkah menuju ke mulut terowongan. Setelah menyibak dan menyingkirkan semak belukar yang menutupi mulut terowongan akhirnya dia sampai di depan pintu sebelah luar terowongan tersebut. Di depan terowongan terdapat sebuah padang lontar yang cukup luas. Sementara dikejauhan sana terlihat sebuah bukit ditumbuhi pohon-pohon menjulang tinggi.

Angin dingin berhembus sepoi-sepoi. Sementara sejauh mata yang memandang yang terlihat hanyalah hambaran kabut.

Sunyi mencekam.

Tidak terlihat tanda-tanda kehadiran orang lain di tempat itu, membuat hati sang Raden bertanya-tanya apakah mata batinnya telah melihat sesuatu yang salah?

Seumur hidup mempelajari dan menguasai berbagai ilmu. Beberapa diantara ilmunya itu ada yang sampai usang karatan karena jarang dipergunakan dan lupa dipuasai. Demikian banyak ilmu yang dia jadikan pegangan juga dia kuasai, malah sang Raden sampai lupa dengan sebagian ilmu yang dimiliki. Namun mengenai penglihatan batin, biasanya selalu tepat tidak ada yang meleset.

Lalu mengapa segala yang dilihatnya saat berada dalam terowongan seakan tidak menjadi kenyataan?

*****

Di tepi sindang di seberang pulau Damai, Gagak Anabrang semakin tidak sabar menanti lebih lama. Memandang dengan mata mendelik ke arah sindang sekali lagi orang tua bertubuh pendek cebol itu berteriak

"Mahluk jahanam yang menggagalkan niatku menyeberang ke pulau. Harap lekas unjukkan diri!" Sebagai jawaban dia melihat gemuruh air di tepi sindang disertai munculnya gelembung.

Air pun kemudian bergolak hebat seolah mendidih.

Sekejab kemudian terlihat satu sosok bayangan melesat keluar dari dalam air lalu melambung tinggi diudara.

Setelah sempat mengapung diketinggian sosok tubuh berpakaian merah memakai topi mirip pocongan orang mati itu telah jejakan kaki tak jauh dari Lor Gading Renggana yang terduduk bersandar di batu dekat Gagak Anabrang.

Melihat kehadiran sosok kurus tinggi berwajah pucat tak bersemangat selayaknya orang yang sudah mati itu, Lor Gading Renggana langsung melompat bangkit. Sambil menunjuk ke arah laki-laki itu si tubuh besar berkepala kecil itupun berkata.

"Gusti junjungan! Inilah bangsatnya yang telah menenggelamkan perahu kita juga diri saya!" Gagak Anabrang anggukkan kepala.

Dia menatap memperhatikan sosok didepannya dari ujung kepala hingga ke ujung kaki.

Dalam hati Gagak Anabrang sesungguhnya terkejut ketika menyadari bahwa mahluk yang baru keluar dari dalam sindang ternyata walau berpakaian tetapi tubuhnya sedikitpun tidak basah.

"Dia bukan hantu penghuni sindang. Seseorang yang bisa membuat tubuh serta pakaiannya tetap kering walau cukup lama mendekam dalam air tentulah bukan manusia biasa. Siapa kunyuk serba merah yang satu ini?" membatin si orang tua dalam hati.

Gagak Anabrang melangkah maju. Sejarak dua tombak langkahnya terhenti begitu dia merasakan ada hawa aneh menyerang tubuhnya.

"Berdekatan dengannya membuatku seperti berada di sebuah pemakaman. Tengkukku merinding seakan malaikat pencabut nyawa berdiri di atas ubun-ubun."

Erangnya lirih.

Tapi Gagak Anabrang segera gelengkan kepala. Dengan tatapan dingin diapun ajukan pertanyaan.

"Orang berpakaian merah, memakai topi seperti pocong berwajah selayaknya orang yang sudah menemui ajal. Siapakah dirimu ini? Mengapa kau mengacaukan perjalanan kami? Bukan hanya mengganggu, kau juga hampir membuat celaka pengikut setiaku, Apakah kiranya dosa kesalahanku kepadamu hingga kau berani membuat perkara denganku!"

Mendengar pertanyaan Gagak Anabrang. Orang berpakaian merah dongakkan kepala lalu tertawa dingin. Kemudian dengan sikap selayaknya orang yang melantunkan bait-bait syair dia berujar.

"Manusia selalu bertingkah gila. Berbuat dosa dianggap biasa. Sampai tubuh binasa tetap tidak merasa kesesatan telah menguasainya. Gagak Anabrang namanya tersohor ke seluruh penjuru tanah Dwipa. Menumpuk kekayaan melebihi segala. Ketahuilah, orang mengenalku dengan sebutan si orang Mati Dari Makam Setan. Memang kau tidak berbuat salah juga dosa terhadap diriku. Dosa kesalahanmu hanya pada orang-orang yang telah kau bunuh dan juga mereka yang pernah kau sengsarakan. Hidupmu bergelimang harta tetapi jangan lupa pula dengan dosamu yang sedalam lautan selangit tembus."

Dengus orang berpakaian merah bertopi mirip pocongan berapi-api.

Mendengar ucapan orang, wajah yang selalu murah senyum itu tiba-tiba berubah tegang.

Mata mendelik garang, tangan terkepal mengeluarkan suara gemeretak,pipi menggembung pelipis bergerak-gerak

"Orang mati dari Makam Setan. Bersikap dan bertingkah seolah dirimu seorang dewa kematian. Apa perlumu mengingatkan diriku tentang segala dosa kesalahan. Kau bukan sanak bukan kadangku, tapi mulutmu bicara tak karuan seolah aku suka mendengarnya.Kau telah membuat kesalahan, bukannya berlutut minta ampun. Apa kau mengira aku bisa memaafkan segala tindakan yang kau lakukan kepada kami?!" Hardik Gagak Anabrang.

"Junjungan! Tak usah banyak bicara, serahkan dia kepada saya. Dan saya bersumpah akan menghabisinya dalam waktu tidak sampai tiga jurus!"

Kata Lor Gading yang rupanya sangat mendendam pada orang Mati dari Makam Setan

"Ha ha ha! Aku telah sering mendengar keluhan, rintih, penderitaan dan kesengsaraan para penghuni kubur.Orang bertubuh besar, berkepala kecil mata ditutup kain hitam. Aku tahu kau hebat, kesaktianmu sangat tinggi. Tapi jangan lupa aku mengetahui kelemahan dari ilmu kesaktianmu.Kuharap kau jangan banyak mulut menjilat perhatian majikanmu. Kau harus ingat, jika aku menghendaki.Saat kutenggelamkan di dalam sindang sesungguhnya waktu itu sangat mudah bagiku untuk menghabisimu.Semudah membalikkan telapak tangan!"

Tegas Orang Mati dari Makam Setan. Ucapan itu membuat Lor Gading Renggana terdiam. Dia menyadari apa yang diucapkan orang memang benar adanya.

Tidak pula dapat dia pungkiri saat dirinya berada dalam air itulah waktu yang paling lemah dimana dengan mudah dia dapat dibuat celaka.

Diam-diam Lor Gading merinding.

Setelah bicara pada Lor Gading, kini Orang Mati dari Makam Setan palingkan kepala menatap ke arah Gagak Anabrang.

Pada laki-laki itu dia berujar.

"Orang pendek. Aku tidak perlu minta ampun padamu. Dan kau harus tahu takdir kematianku bukan berada ditanganmu. Karena itu kau tidak bisa membunuhku!"

"Begitu?!"

Sentak Gagak Anabrang, mulut tersenyum namun hati tidak puas

"Aku hanya ingin memberi kabar padamu. Bahwa segala muslihatmu tidak akan berhasil. Kau tidak mungkin bisa mengingkari janjimu dengan iblis itu...!"

"Iblis mana yang kau maksudkan, Orang Mati?"

Tanya Gagak Anabrang. Orang Mati dari Makam Setan tersenyum.

"Jangan pura-pura orang tua, karena sebenarnya kau tahu apa yang aku maksudkan. Kau telah membuat perjanjian dengan Yang Terlaknat Dari Alam Baka.Mahluk yang satu itu adalah raja dari segala raja kesesatan, Kau harus menepati janji karena selama ini dia telah membantumu menjadi orang yang sangat kaya. Karena sumpah janjimu dulu maka pada malam sabtu kliwon tepat bulan sabit ke tujuh yang akan jatuh besok malam, kau harus membawa anak satu-satunya yang kau cintai ke Bukit Segala Puji Segala Serapah. Di sana kau harus menyerahkan putrimu yang bernama Arum Dalu!"

Mendengar penjelasan Orang Mati, Gagak Anabrang diam-diam tercengang. Dia berpikir bagaimana mungkin laki-laki berwajah pucat seperti mayat itu bisa mengetahui segala rahasia penting yang dipendamnya selama bertahun- tahun itu. Bukankah saat perjanjian dia buat bersama Yang Terlaknat Dari Alam Baka yang tahu hanya dirinya juga almarhum istrinya, Rai Nini.

Apakah mungkin Orang Mati Dari Makam Setan adalah kaki tangan Raja diraja alam baka itu. Merasa penasaran Gagak Anabrang pun berkata.

"Orang Mati dari Makam Setan. Sedikitpun aku tidak menyangka ternyata kau mempunyai pengetahuan luas. Kau mengetahui perjanjian itu bukanlah sebuah kebetulan. Apakah kau datang membawa amanat Yang Terlaknat?"

"Aku tidak punya hubungan apapun dengan mahluk yang satu itu." "Jika begitu perlu apa kau datang menemuiku?"

Tanya Gagak Anabrang dengan sorot mata curiga.

"Aku datang hanya ingin mendampingi beberapa orang yang kuanggap sebagai sahabat." "Apakah kau bisa katakan siapa yang kau sebut sebagai sahabat itu?"

Desak Gagak Anabrang curiga. Sebagai jawaban dia cepat gelengkan kepala. "Sayang aku tak bisa menjawab pertanyaanmu."

"Ha ha ha. Aku tidak perduli. Bagaimana pun aku tetap ingin menangkap gadis dambaan para siluman yang bernama Dadu Sirah Ayu. Gadis itu terlahir pada malam sabtu kliwon tepat pada malam bulan sabit ke tujuh. Hari kelahirannya sama persis dengan kelahiran putriku!"

Kata Gagak Anabrang bersemangat. Orang Mati dari Makam Setan tersenyum dingin.

"Aku melihat segala niatmu itu tidak akan terlaksana. Memperebutkan gadis istimewa itu hanya bakal membuat begitu banyak darah yang tertumpah. Kau dengan segala ilmu yang kau miliki ini tidak mungkin dapat mencapai keinginanmu. Kau akan tewas, kematianmu berakhir di ujung sebuah pedang."

Sepasang Mata Gagak Anabrang terbelalak tidak percaya. Darahnya menggemuruh. Jantung berdetak keras. Nafas memburu dilanda kemarahan.

"Aku akan mati di ujung sebuah pe- dang? Bedebah jahanam sok tahu? Pedang siapa yang sanggup melukai tubuhku? Apakah senjata milik Raja Pedang?"

Teriak Gagak Anabrang sengit.

"Waktunya akan tiba. Jawaban tak perlu diminta karena nantinya bakal datang sendiri. Selamat tinggal orang pendek jelek. Ha hu... ha hu...!"

"Hei, keparat! Tunggu kau hendak pergi kemana?" Bentak laki-laki itu.

Percuma saja Gagak Anabrang berteriak mencegahnya.

Orang Mati dari Makam Setan tak ubahnya seperti segumpal kapas telah melayang diketinggian. Melihat ini Lor Gading segera hendak menghantam dengan satu pukulan sakti mematikan.

Namun dia terpaksa urungkan niatnya dan hanya bisa menggeram begitu melihat sejarak tujuh tombak diketinggian Orang Mati dari Makam Setan hilang raib berubah menjadi kepulan asap putih. "Dia telah memperdayai kita. Mengapa kita percaya dengan segala bualannya, junjungan!" kata

Lor Gading.

Gagak Anabrang balikkan badan, lalu menatap dengan pandangan mata mendelik pada pengikut setianya itu.

"Memperdayai apa? Semua yang di- katakannya memang benar. Gilanya lagi dia mengetahui masa laluku. Jangan banyak bicara. Lekas bawa aku pergi dari tempat jahanam ini!"

Perintah Gagak Anabrang. "Junjungan. "

"Diam! Lakukan saja apa yang aku minta!" sentaknya marah.

Lor Gading tak berani membantah. Dengan terbungkuk-bungkuk dia hampiri majikannya. Setelah Gagak Anabrang melompat lalu duduk bertengger di atas kedua bahunya. Dengan kecepatan luar biasa dia berlari sambil memanggul sang majikan.

*****

Kembali pada Raden Pengging Ambengan. Kakek renta itu tengah berdiri diam tercenung memikirkan segala keganjilan yang dirasakan disekitarnya.

Sebenarnya pemandangan batin yang sempat dia lihat saat berada dalam mulut terowongan tidak keliru.

Tidak salah pula mata batinnya melihat diluar jalan rahasia memang sudah ada beberapa sosok bercokol di sana. Tetapi kehadiran beberapa sosok di empat penjuru sudut bukan karena mengetahui keberadaannya di mulut terowongan. Beberapa sosok yang saling mengintai dan mendekam dibalik semak belukar lebar semata- mata karena melihat kepulan aneh berupa kabut putih dari sebatang pohon beringin yang terdapat di tengah padang.

Ketika Raden Pengging memunculkan diri, kepulan kabut mendadak raib dan pohon beringin yang sempat bergetar berhenti bergoyang. Tapi karena sebagian kabut tipis aneh yang sempat menebar ke berbagai penjuru maka membuat penglihatan semua orang yang berada di tempat itu menjadi samar sehingga tak bisa melihat secara jelas.

Sang Raden kemudian memutuskan untuk kembali menemui para sahabatnya. Sementara itu hal yang sama juga dialami oleh sang pendekar.

Raja yang awalnya berniat hendak memasuki Alas Sindang Pantangan, tiba- tiba jadi urungkan niat ketika dia melihat ada seorang penunggang kuda berambut separoh hitam separoh putih duduk diam diatas kudanya. Sama seperti dirinya penunggang kuda itu membekal sebilah pedang yang tergantung di- punggungnya. Hanya saja dia tidak dapat mengenali siapa adanya penunggang kuda.

Di sudut yang lain muncul lagi satu sosok aneh yang sebelumnya pernah dilihat oleh sang pendekar. Adapun sosok yang datang berpenampilan aneh ini, selain tubuhnya besar tinggi, kulitnya juga hijau. Di bagian kening terdapat satu tanduk berwarna hitam runcing.

Mata hanya satu tepat di tengah kening sedangkan di kedua siku juga kedua lututnya ditumbuhi tanduk. Raja yang memang pernah melihat mahluk tinggi besar ini tanpa sadar berseru.

"Dedemit Rawa Rontek, mahluk suruhan Penghuni Perahu Setan. Apa yang dilakukan keparat satu ini. Rupanya dia tidak mamp s saat berkelahi dengan nenek dari liang kubur yang menyebut dirinya dengan Iblis Betina Muka Dua. Jadi siapa yang mati? Nenek itu? Aku tidak khawatir dengan dedemit serba hijau itu. Yang aku risaukan adalah penunggang kuda Hitam itu. Kelihatannya semua ini terjadi tidak secara kebetulan. Pasti ada sesuatu yang menjadi alasan."

Baru saja sang pendekar bicara seperti itu. Tiba-tiba tanah bergetar, pohon beringin besar di tengah padang juga ikut bergoyang.

Mata pemuda itu terbelalak ketika dia melihat ada kabut muncul disekitar pohon. Kemunculan kabut itu menimbulkan perasaan aneh.

Tubuh Sang pendekar sempat menggigil sementara tengkuknya jadi merinding.

Sebagai seorang pendekar yang telah berbekal ilmu sakti termasuk sihir dan bekal ilmu gaib, Sang Maha Sakti Raja Gendeng sadar ada orang yang tengah mengerahkan ilmu jahat berupa ilmu sirapan yang dapat mengacaukan pandangan mata.

Tidak menunggu lama, Raja pun segera membaca mantra penangkal.

Dia tidak terpengaruh, namun hatinya penasaran mengapa orang melancarkan sirapan padahal tidak ada orang yang menjadi sasaran.

Kehadiran Raden Pengging yang tiba-tiba dan munculkan diri dari jalan rahasia memberikan titik terang serta gambaran jelas bagi raja.

Kakek itu muncul. Jelas dia tidak sendiri.

Raden Pengging pasti bersama kakek gendut berpakaian putih.

Dimana ada kakek gendut pasti ada gadis dambaan para siluman bersamanya. Ingat sampai disini, wajah sang pendekar berubah tegang.

"Semua ini pasti berhubungan erat dengan Dadu Sirah Ayu. Ah celaka...!" sentak Raja tambah cemas.

Dia segera hendak memberi isyarat pada si kakek jerangkong dengan berteriak.

Namun dia khawatir teriakannya mengundang perhatian si penunggang kuda dan mahluk berkulit hijau.

Belum sempat sang pendekar mengambil keputusan, dari tempat di mana kakek jerangkong munculkan diri, kini dia datang lagi bersama tiga orang yang lainnya.

Raja hanya mengenal kakek gendut bersama gadis bergaun putih yang selayaknya puteri itu.

Dia tidak mengenal gadis berpakaian biru berdandan menor mencolok. Keempat orang itu sempat terlihat bercakap-cakap.

Sampai kemudian semuanya jadi terkesima ketika mendengar suara teriakan Dedemit Rawa Rontek

"Lama dicari-cari baru sekarang kutemui..."

Sambil berteriak demikian Dedemit Rawa Rontek berlari ke arah Dadu Sirah Ayu. Walau langkahnya berat dan menimbulkan getaran pada tanah yang dipijak, namun gerakannya cepat bukan main.

Melihat ini, Raden Pengging Ambengan, Ratu Edan dan Kelut Birawa terkesiap namun cepat berpencar melindungi Sirah Ayu.

Dari tempatnya berada Raja tidak tinggal diam.

Selagi Dedemit Rawa Rontek bergerak mendekati rombongan kecil itu dia berseru. "Dedemit bertanduk itu menjadi bagianku. Kalian berempat segera tinggalkan tempat ini.

Lindungi gadis malang berpakaian putih. Kuperhatikan tempat ini tidak aman!" Sambil berteriak raja berkelebat.

Selagi melesat ke arah Dedemit Rawa Rontek pemuda ini segera menghantam mahluk itu dengan dua pukulan sakti sekaligus.

Cahaya putih berkiblat seperti badai mengamuk.

Sedangkan dari tangan kanan membersit selarik cahaya merah menggidikkan. Cahaya itu menderu membabat kedua kaki Dedemit Rawa Rontek.

Tak pernah menyangka ada orang datang menyerang. Dedemit Rawa Rontek menggerung marah.

Sambil tetap berlari mendekati Dadu Sirah Ayu yang dilindungi oleh tiga sahabatnya, dia segera menekuk sikunya.

Begitu siku dilipat.

Dari kedua tanduk yang tumbuh di tempat itu menderu setidaknya empat larik cahaya hitam menggidikkan.

Dua dari cahaya hitam membabat cahaya putih yang siap melabrak wajahnya sedangkan dua cahaya lainnya menghantam cahaya merah yang melesat dari tangan kanan Raja.

Ledakan keras berdentum menggema dikesunyian pagi.

Raja yang mengapung di- ketinggian terjajar lalu jatuh terpental namun masih sempat selamatkan diri.

Tak jauh di depan sana. Dedemit Rawa Rontek terhuyung, gerakan berlarinya jadi tertahan. Dua tanduk ditangan seperti remuk.

Satu terasa dingin sedangkan tanduk yang satunya lagi seperti hangus terbakar. Tapi sang Dedemit punya daya tahan tubuh yang luar biasa.

Bersikap seolah tidak merasakan sakit apa-apa dia kembali menyerbu ke arah Dadu Sirah Ayu dan ketiga sahabatnya.

Namun pada saat itu, Kelut Birawa dan Ratu Edan dengan sikap melindungi telah membawa gadis itu berlari menjauh dari tempat terjadinya pertempuran.

Raden Pengging Ambengan yang masih bertahan di tempat semula diam-diam merasa lega karena ada orang yang tidak dikenal agaknya berniat memberi bantuan.

Tapi segalanya kemudian berubah menjadi kacau.

Dari bawah pohon tempat dimana orang berkuda hitam berada terdengar suara teriakan. "Orang-orang tolol! Dadu Sirah Ayu sudah selayaknya menjadi milikku."

Suara teriakan lenyap. Terdengar suara derap langkah kuda berlari yang dipacu dengan cepat. Melihat kehadiran orang berkuda sang pendekar tersentak kaget.

Perhatiannya kini terpecah.

Dia yang semula berniat menghadang langkah Dedemit Rawa Rontek kini terpaksa balikkan badan siap menyerang sang penunggang kuda yang tak lain Raja Pedang adanya.

"Kau menginginkan gadis itu! Langkahi dulu mayatku!"

Seru Raja, Secepat kilat dia lambungkan tubuhnya ke udara. Begitu tubuh melambung dia pun segera menarik tangannya ke belakang. Tetapi belum sempat pemuda ini menyerang. Raja Pedang dengan satu serangan mematikan pada waktu yang sama tiba-tiba terjadi guncangan-guncangan yang disertai ledakan menggelegar.

"Jahanam! Apa yang terjadi."

Diatas punggung kuda si Raja Pedang berteriak kaget. Kuda meringkik lalu jatuh tersungkur. Raja Pedang terpaksa selamatkan diri dengan melompat dari atas kuda.

Menatap ke sekitarnya pemuda bertopeng itu jadi terkesima.

Di tengah suara ledakan-ledakan mengguntur yang bermunculan di tempat itu, dia juga melihat pohon beringin besar berguncang hebat.

Pohon itu lalu meledak disertai munculnya pusaran angin besar hitam yang sangat luar biasa. Asap tebal menebar bau menyengat muncul di mana-mana.

"Selamatkan Sirah Ayu...selamatkan dia..."

Teriak Raden Pengging begitu menyadari pusaran angin hitam raksasa bergerak menerjang ke arah Dadu Sirah Ayu.

Raja mencoba menghalangi. Sang pendekar terjengkang. Angin terus menerus mengejar ke arah Kelut Birawa yang berlari dibelakang Dadu Sirah Ayu dan Ratu Edan.

Raja mencoba bangkit.

Namun baru saja pemuda ini hendak mengejar ada satu benda hitam menabrak tubuhnya. Benda itu hancur meledak menimbulkan tabir asap hitam.

Melihat ini Raden Pengging Ambengan kembali dibuat tercekat.

Dia pun berlari mengejar para sahabatnya sambil melepaskan pukulan sakti ke arah pusaran angin hitam raksasa.

Satu cahaya biru terang menderu, melesat ke arah angin hitam.

Tapi serangan si kakek tidak berarti apa-apa karena begitu menyentuh pusaran angin langsung musnah.

Malah pusaran angin itu melabrak tubuhnya membuat Raden Pengging jatuh terjungkal, nafas megap-megap dan dia hanya bisa melihat kegelapan di sekelilingnya.

Dalam keadaan yang bertambah kacau.

Di tengah hingar bingar suara ledakan dan ditengah deru pusaran angin yang menggilas apa saja.

Tiba-tiba terdengar pekikan Dadu Sirah Ayu yang dilanda ketakutan luar biasa.

"Mahluk keparat yang datang bersama pusaran angin! Hendak kau bawa kemana gadis itu?"

Teriak satu suara. Dan yang bersuara bukan lain adalah Ratu Edan. Teriakannya lenyap berubah menjadi raung kesakitan. Lalu terdengar pula suara deru bergemuruh yang bergerak menjauh disertai gelak tawa penuh kemenangan.

"Akulah raja, akulah penguasa abadi di alam kegelapan. Tidak seorang pun yang berhak atas diri gadis ini. Aku yang pantas mendapatkannya. Aku yang akan menjadikannya sebagai tumbal sesuai menuju keabadian. Ha ha ha!"

Suara teriakan di tengah gemuruh pusaran angin lalu lenyap. Raja mengerang marah.

Dia berusaha bangkit, namun sekujur tubuhya yang menjadi korban ledakan benda hitam serasa luluh lantak.

Selagi sang pendekar berusaha mencari tahu bagaimana nasib orang-orang yang bersama Raden Pengging. Pada saat itu dia mendengar suara ringkik kuda disusul dengan ucapan menggeledek mengancam dari sang penunggang kuda.

"Pemuda gondrong berpedang! Kau telah mencampuri sebuah perkara yang bukan menjadi urusanmu. Aku tak akan melupakan kejadian hari ini. Kelak aku akan mencari dan membunuhmu!"

"Kurang ajar! Kepalaku berdenyut sakit seperti mau meledak. Sekujur tulang ditubuhku serasa remuk seperti bertanggalan. Ada orang yang mengancam diriku. Apakah dikira aku takut. Katakan siapa namamu!"  

Geram sang pendekar sambil kepalkan tinjunya. Terdengar derap suara langkah kuda yang berlari menjauh.

Dikejauhan tempat dimana pusaran angin hitam pergi terdengar jawaban. "Aku adalah si raja Pedang! Ingatlah baik-baik, aku Raja pedang!"

Sang Pendekar yang telinganya masih pengang akibat ledakan, menggerutu.

"Apa? Raja Pisang. Sialan baru menjadi raja pisang saja sudah berani mengancam seorang raja sungguhan. Edan sekali!"

Teriak pemuda itu.

Lalu tanpa menghiraukan keadaan di sekitarnya pemuda ini pejamkan mata. Perlahan-lahan dia menghimpun tenaga sakti.

Setelah itu dia segera mengalirkannya ke seluruh tubuh.

Hawa dingin sejuk mengalir kebagian- bagian tubuh yang terasa sakit. Setelah merasakan keadaannya lebih baik, lalu dia membuka mata.

Mula-mula dia memperhatikan diri sendiri.

Dia merasa lega ketika sadar tidak ada bagian tubuhnya yang terluka.

"Pakaian sakti ini. Pakaian ini yang melindungiku dari kehancuran akibat ledakan." batin Raja.

Sang pendekar kemudian memandang kesekitarnya. Dia melihat kepulan asap dan tebaran kabut pekat telah sirna. Menatap ke arah Dedemit Rawa Rontek, ternyata mahluk berkulit hijau itu sudah tidak berada di tempatnya.

"Kemana perginya mahluk jelek satu itu? Apakah mungkin dia bersekutu dengan mahluk yang datang bersama pusaran angin?"

Pikir Raja.

Sulit menduga, sulit pula untuk membuktikan.

Merasa pusing sendiri pemuda itu menatap kejurusan sebelah kanan.

Dia melihat kakek jerangkong dalam keadaan rebah entah pingsan entah sudah dijemput.

Sebaliknya ketika dia menatap ke arah sebelah kiri di ujung padang, pemuda ini menyaksikan gadis berpakaian serba biru berdandan menor justru sedang bertangis-tangisan dengan kakek gendut berpakaian putih.

Baik si kakek maupun si gadis berpakaian biru yang tiada lain adalah Ratu Edan wajah dan pakaiannya kotor bercelemongan dipenuhi debu.

Pakaian yang melekat di badan robek dan hancur di beberapa tempat.

"Celaka gusti! Gadis malang itu... di... dia terlepas dari perlindungan kita. Hu hu hu." kata Ratu Edan sambil menangis tersedu-sedu.

"Bagaimana ini! Pasti tidak selamat!" Seru si gendut sambil sesunggukan. Merasa menyesal. Raja hanya bisa gelengkan kepala. Dengan langkah gontai dihampirinya Raden Pengging.

Dia lalu berjongkok dan memeriksa denyut nadi tangan si kakek "Ah syukurlah dia hanya semaput. Cuma pingsan dan tidak mati."

Pemuda itu lalu bangkit berdiri. Sambil berdiri tegak dia pandangi Ratu Edan dan Kelut Birawa yang juga bertangisan. Diam-diam dia berkata.

"Akan kutunggu mereka sampai berhenti menangis. Kalau perlu dari pagi ini sampai pagi lagi mereka bertangisan. Baru setelah itu mereka kuajak bicara. Manusia-manusia aneh. Menangis saja bisa kompakan. Dasar sinting dan Gila."

Gerutu raja lalu menggaruk kepala sendiri. 

TAMAT